Tes UKBI dan Pengajaran BIPA

Maryanto Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional

1. Pengantar Perkembangan bahasa Indonesia menuju bahasa internasional tampak sangat menggembirakan. Sebagai ilustrasi, di Australia bahasa Indonesia telah diangkat sebagai salah satu dari empat bahasa Asia prioritas (Cina, Indonesia, Jepang, dan Korea) yang perlu diajarkan di sekolah dasar dan menengah dengan sistem pendidikan Australia. Bahkan, di antara empat bahasa itu bahasa Indonesia direkomendasikan menjadi bahasa Asia pertama di Australia (lihat Kirpatrick, 1995). Yang sangat menarik dari pengangkatan itu adalah target yang ingin dicapai, baik dari segi kuantitas pemelajar maupun kualitas pemelajaran bahasa itu1. Dalam kaitan itu, diharapkan bahwa menjelang tahun 2006 siswa sekolah menengah yang mempelajari bahasa Indonesia di Australia akan berjumlah 40.000 and di antara jumlah itu harus ada 2000 siswa yang mencapai tingkat kemampuan yang disebut kemahiran vokasional (vocational proficiency)2. Perkembangan bahasa Indonesia tersebut memunculkan masalah yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). Masalah yang sangat mudah diidentifikasi adalah yang bertalian dengan bahan ajar yang digunakan oleh setiap institusi pengajaran BIPA dan bahan evaluasi yang dapat digunakan untuk memberi keputusan tentang kemampuan penutur asing dalam berbahasa Indonesia. Setakat ini tampaknya institusi pengajaran BIPA hanya menggunakan bahan ajar dan evaluasi yang mereka susun berdasarkan tujuan institusional masing-masing. Alhasil, masih ada kesenjangan interpretasi tentang hasil evaluasi terhadap kemampuan berbahasa Indonesia. Misalnya, apa yang disebut program BIPA I (Dasar) di satu institusi mungkin berbeda dari program itu di institusi lain. Tulisan ini hanya akan menyoroti masalah bahan evaluasi, sedangkan masalah bahan ajar tidak menjadi pokok bahasan. Fokus tulisan ini adalah pentingnya pengujian eksternal dalam konteks pengajaran BIPA, seperti halnya TOEFL dan IELTS dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Dalam kaitan itu, tulisan ini bermaksud memperkenalkan lebih lanjut sarana pengujian eksternal yang disebut UKBI (Uji kemahiran Berbahasa Indonesia). Ihwal UKBI yang akan dibahas mencakupi tujuan pengujian, ragam bahasa, komponen soal, sistem skor yang digunakan serta hasil analisis tentang validitas. Melalui tulisan ini diharapkan diperoleh implikasi pengujian eksternal itu dalam pengajaran BIPA. 2. Ihwal Tujuan UKBI UKBI bertujuan untuk memberikan penilaian standar3 kemampuan seseorang (pengguna bahasa Indonesia) dalam berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan
1

Menurut Moeliono (dalam komunikasi pribadi, 2001), ungkapan ‘pemelajar bahasa’ merupakan padanan ‘language learner’ dan ‘pembelajaran bahasa’ padanan ‘language learning’. Moeliono juga menyebutkan bahwa bentuk ‘pembelajaran merupakan padanan ‘instruction’ dan ‘pembelajar’ dipadankan ‘instructor’, bukan kata ‘learner’. Sehubungan dengan itu, sering terjadi kesalahan yang perlu diperbaiki dalam pemilihan bentuk-bentuk tersebut.
2

Seperti yang dikutip Kirkpatrick (1995), Kalvin Rudd (1994) telah mengembangkan skala yang sangat menarik dalam hubungan dengan pemeringkatan kemahiran berbahasa Indonesia. Menurutnya, peringkat terendah disebut kemahiran survival dan peringkat berikutnya dinamai kemahiran sosial. Peringkat kemahiran yang lebih tinggi disebut kemahiran vokasional.

1

Yang kedua adalah situasi pembelajaran bahasa kedua yang sering disejajarkan dengan situasi pembelajaran bahasa asing. dalam hal kemampuan berbahasa Indonesia situasi pembelajaran bahasa pertama. dikatakan bahwa kemahiran tertinggi hanya akan diperoleh oleh pengguna bahasa pertama atau penutur asli.kapan. dan bahasa asing menjadi kabur. Dalam kaitan itu. di mana. yang di dalamnya bahasa Indonesia tidak digunakan oleh masyarakat sebagai alat komunikasi sehari-hari. Kelompok terakhir. sering ditanyakan apakah UKBI hanya dapat mengukur kemampuan penutur asli bahasa Indonesia. sedangkan daerah lain di Indonesia. yaitu pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Sehubungan dengan tujuan itu. Kelompok pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama adalah peserta UKBI yang berasal dari daerah Jakarta dan sekitarnya atau yang sering disebut daerah Jabotabek (Jakarta. sering dikatakan bahwa ada dua situasi pemelajaran bahasa yang berbeda secara ekstrim. Bahkan. Dengan anggapan bahwa setiap penggunaan bahasa terjadi pembelajaran bahasa. Hal itu berarti bahwa kemampuan tertinggi tidak hanya dimiliki oleh pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kemampuan seseorang yang telah mempelajari bahasa itu sebagai bahasa kedua atau bahasa asing dapat terukur dengan UKBI. Kelompok terakhir itu menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi antarwarga negara. 1992: 74). secara umum dapat dikatakan bahwa pengguna bahasa pertama memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan pembelajaran daripada pengguna bahasa kedua/bahasa asing. melainkan bahasa daerah masing-masing. Yang pertama adalah situasi pemelajaran bahasa pertama yang biasanya dilakukan oleh penutur asli. dan bagaimana kemampuan itu diperoleh. Hal di atas telah diamati dengan menggunakan data tentang hasil UKBI. adalah peserta yang berasal dari luar wilayah Indonesia. Akan tetapi. Hasil pengamatan itu tampak pada tabel berikut. sarana pengujian itu dirancang dengan melihat situasi penggunaan bahasa Indonesia yang mungkin akan dihadapi peserta setelah menempuh ujian itu. Karena itulah pengguna bahasa pertama sering dijadikan tolok penggunaan bahasa yang ideal (McNamara. Pengguna bahasa Indonesia sebagai kedua atau asing yang telah mempelajari bahasa itu sebaik-baiknya mungkin sekali akan memiliki kemampuan yang lebih baik daripada pengguna bahasa Indonesia yang lain. dan Tangerang). merupakan tempat terjadinya penggunaan dan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. 1999). Tabel 1 Perbandingan skor perolehan UKBI berdasarkan pengguna bahasa Indonesia Bahasa Pertama Bahasa Kedua Bahasa Asing 468 475 398 430 455 323 3 Yang dimaksud dengan penilaian standar ialah penilaian yang menggunakan instrumen dan administrasi pengujian yang telah dibakukan serta menggunakan hasil penelitian empiris tentang reliabilitas dan validitas yang berkaitan dengan instrumen dan administrasi pengujian itu (Bachman. Bekasi. Namun. kedua. UKBI dirancang tanpa melihat secara langsung situasi apa atau kondisi apa yang telah mempengaruhi peserta UKBI dalam pemelajaran bahasa Indonesia. 2 . Daerah itu dapat dikatakan sebagai tempat terjadinya situasi penggunaan sekaligus pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama karena bahasa itu digunakan oleh masyarakat dalam komunikasi seharihari. Ada sepuluh hasil yang diambil secara acak untuk tiap-tiap kelompok pengguna bahasa Indonesia.

di antara pengguna bahasa asing itu terdapat satu orang memperoleh skor di atas rerata skor pengguna bahasa pertama. Bagi kelompok itu bahasa Indonesia.488 orang Indonesia atau 17. Jika aspek geografis dijadikan pertimbangan utama dalam pengembangan UKBI.066.08%).316 atau 67. kedua. ragam bahasa yang digunakan di dalam UKBI sering ditanyakan oleh pengguna sarana pengujian itu.262. 3 . orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama hanya berjumlah 23. Sementara itu. dan asing dapat terukur dengan instrumen UKBI.64%).29%). 3. sedangkan pengguna bahasa itu sebagai bahasa kedua dan asing masing-masing 446 dan 277. dan Banjar (1. dan asing terkait erat dengan aspek geografis.07% dari 158.520 atau 15. sedangkan yang menggunakan bahasa itu sebagai bahasa kedua berjumlah 107.74%). Batak (1.378 450 375 450 368 450 363 445 360 445 353 435 353 430 318 425 N = 30 Rentang skor = 162—900 318 300 260 260 255 240 213 198 Dari data hasil UKBI yang tercantum pada tabel di atas diketahui bahwa rerata skor pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama adalah 377.13% yang tercatat sebagai kelompok buta bahasa Indonesia.97%). Bali (1.4 Di antara pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua itu. Setiap kelompok itu sebenarnya dapat diperinci lebih lanjut berdasarkan daerah pengguna 4 Alwi juga mengutip bahwa pada tahun 1990 terdapat 27. Menurut hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik pada tahun 1990 (informasi terakhir yang diperoleh oleh Pusat Bahasa). Bahkan.26%). Akan tetapi. Delapan kelompok itu adalah penutur asli bahasa Jawa (38. perlu dicatat bahwa secara umum bahasa Indonesia digunakan di Indonesia sebagai bahasa kedua. Bugis (2. terdapat delapan kelompok besar yang dibedakan atas dasar bahasa pertamanya. Hasil UKBI itu menunjukkan bahwa kemampuan pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. akan muncul masalah yang terkait dengan ragam kedaerahan (regional) yang harus dipilih.80% (Alwi. Sehubungan dengan tujuan UKBI.640 jiwa (jumlah total penduduk Indonesia). Data itu memperlihatkan bahwa kemampuan pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua secara umum lebih baik daripada kemampuan pengguna bahasa pertama dan asing.23%). Sunda (15.802. Dalam kaitan itu. Minang (2. 2001). tidak dapat dipahami sehingga mereka tidak dapat menggunakan bahasa itu sebagai alat komunikasi. kedua. dari 10 orang pengguna bahasa pertama hanya ada satu orang yang memperoleh skor di atas rerata skor pengguna bahasa kedua. 1996. baik bentuk lisan maupun tulis. Madura (4.055.04%). telah disebutkan di atas bahwa penggunaan dan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Masalah Ragam Bahasa Indonesia Selain ihwal tujuan pengujian. pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa asing secara umum memiliki kemampuan yang jauh lebih rendah daripada rerata skor pengguna bahasa kedua.

Wier (1990:8) mengatakan. Namun. dalam pembentukan kata dan struktur kalimat) dan kompetensi tekstual (misalnya. Dengan demikian. “[…] adequately developed theories of communicative language use are not yet available”. dan Daerah Istimewa Yogyakarta. perlu dicatat bahwa UKBI berorientasi pada ragam sosial yang dimiliki oleh kelompok pengguna bahasa Indonesia yang mengaku dirinya terpelajar. bahasa Indonesia memiliki berbagai ragam sosial. yaitu Format Dialog Singkat (FDS). Elemen-elemen kemahiran berbahasa tersebut dijabarkan dalam materi UKBI setiap baterai soal. Hal itu berbeda dari uji kemahiran. yang mengatakan. dan 4 . Komposisi Materi Uji Masalah materi yang harus dikembangkan dalam uji kemahiran masih amat pelik. substitusi. Kompetensi itu juga mencakupi dua unsur di bawahnya. pemilihan ragam ini dalam pengembangan UKBI sangat tepat karena apa yang diujikan dalam sarana pengujian itu dapat menjadi ukuran penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan sekaligus dapat menjadi kerangka acuan dalam pengajaran bahasa itu sebagai bahasa asing. Pemilihan salah satu ragam kedaerahan dalam pengembangan UKBI agaknya kurang tepat. Format Pilih Arti (FPA). Format Ceramah Singkat (FCS). misalnya penggunaan pengacuan. Menurut Bachman. Format Pilih Tafsir (FPT). Masalah itu mungkin tidak serumit pengembangan materi uji dalam pengajaran BIPA. Butir-butir dalam satu baterai UKBI—terdiri atas 150 soal—dituangkan dalam sembilan format. Elemen kemahiran yang pertama disebut kompetensi organisasional yang mencakupi dua unsur di bawahnya. Karena tidak ada bahan ajar yang diberikan kepada peserta sebelum pengujian dilakukan. Hal serupa juga diakui oleh Anderson and Buck (1993). Dalam hubungan dengan ragam sosial itu. Format Pilih Benar (FPB). Ragam terpelajar ini diperoleh melalui pendidikan di sekolah dan selanjutnya disebut ragam bahasa tinggi (lihat Lapoliwa. Lapoliwa menyatakan bahwa ragam bahasa sekolah dianggap sebagai tolok pemakaian bahasa Indonesia yang benar sehingga disebut juga ragam baku atau standar. 4. 1998). sedangkan menurut analisis hasil UKBI di atas. Meskipun belum ada deskripsi yang lengkap tentang hakikat kemahiran berbahasa. setakat ini belum ada deskripsi yang komprehensif tentang konsep kemahiran berbahasa itu. Format Dialog Panjang (FDP). yaitu kompetensi gramatikal (misalnya. yaitu kompetensi dalam penggunaan fungsi bahasa dan kompetensi dalam penggunaan fungsi bahasa menurut konteks sosial. Format Pilih Salah (FPS). dan konjungsi dalam teks). Elemen kemahiran yang kedua disebut kompetensi pragmatik. uji kemahiran harus dikembangkan dari konsep kemahiran berbahasa secara umum. Format Isi Rumpang (FIR). penutur asli bahasa Indonesia belum dapat menjadi model yang ideal dalam penggunaan bahasa Indonesia. bahasa Jawa dapat dibedakan antara daerah Jawa Tengah. Jawa Timur. yaitu ragam bahasa yang berfungsi sosial sebagai kerangka acuan dalam berbahasa Indonesia. “there is a general lack of theoretical agreement on the nature of language proficiency”. Selain memiliki berbagai ragam kedaerahan. Misalnya. Materi uji yang dikembangkan dalam pengajaran BIPA biasanya diambil dari bahan ajar yang telah diberikan kepada peserta program pengajaran.bahasa daerah masing-masing. Yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah bahwa bahasa Indonesia memiliki berbagai ragam kedaerahan yang disebabkan oleh latar belakang bahasa pertama pengguna bahasa Indonesia. ada dua elemen kemahiran yang saling melengkapi. Misalnya. perancang UKBI telah mempertimbangkan deskripsi yang ditawarkan oleh Bachman (1990).

komposisi soal dalam baterai UKBI adalah sebagai berikut. Seksi Uji Kaidah (SUK).25 90 Seksi Tabel 2 Komposisi soal UKBI Bobot Soal 1.1 Sistem Skor Di atas telah disebutkan bahwa skor yang diberikan pada setiap butir soal disesuaikan dengan bobot soal. perlu disebutkan pada bagian ini bahwa ada dua macam sistem skor yang digunakan dalam pengujian. Namun. Jika semua peserta tahu semua perihal tujuan peserta tujuan materi. Tabel 3 Perbedaan antara NRT dan CRT Karakteristik Jenis pengukuran Jenis interpretasi Distribusi skor NRT Pengukuran dilakukan terhadap kemahiran atau kemampuan berbahasa secara umum Relatif: Kemampuan seorang peserta dibandingkan dengan kemampuan semua peserta yang lain.75 0. Dua sistem skor itu sering disebut sistem norm-referenced test (NRT) dan criterion-referenced tes (CRT). dan seksi uji pemahaman (SUP).25 6.25 3 2 2 3 1 2 2 1 5 21 0.5 6.25 8.75 17. perbedaan kedua sistem itu terletak pada karakteristik berikut.00 1 1 1 1 1 1 1 1 2 10 A SUD B C A SUK B C A SUP B C Jumlah Soal FDS FDP FCS FIS FPB FPS FPA FPT FBS 3 2 3 2 2 2 3 3 4 24 7 6 6 7 4 4 5 4 10 53 6 4 3 7 2 6 4 1 9 42 Rumus Skor maksimum UKBI: ∑ Bobot x 10 atau 90 x 10 = 900 4. Setiap baterai UKBI terdiri atas tiga seksi pokok yang disebut seksi uji dengaran (SUD). Alasan penggunaan bobot soal itu adalah bahwa setiap elemen kemahiran menuntut kemampuan yang berbeda-beda sehingga kemampuan dalam satu elemen kemahiran berbeda bobotnya dari elemen yang lain. sebelum pembobotan soal UKBI dibahas lebih lanjut. sedangkan sistem yang disebut terakhir mungkin digunakan dalam praktik pengajaran BIPA. Jika dilihat dari segi seksi dan formatnya.50 0.00 0. Sistem yang disebut pertama biasanya digunakan dalam pengujian kemahiran bahasa. Ada sebuah distribusi normal dari skor CRT Pengukuran dilakukan terhadap bahasa yang didasarkan pada khusus Absolut: kemampuan seorang dibandingkan hanya dengan pembelajaran tertentu.Format Bacaan Singkat (FBS).5 9.5 11. 5 . Menurut Brown (1989). seperti halnya UKBI. Format Jumlah Soal 20 15 15 20 10 15 15 10 30 150 Bagian BobotJumlah 12 9 9.

Dengan demikian. Hasil uji coba instrumen UKBI terhadap 54 ciri peuji itu menunjukkan bahwa skor rata-rata 506 dan simpangan baku 90. soal itu dianggap terlalu mudah. MJ. tetapi sangat memuaskan hasilnya. Namun. Peserta dari tiga jenjang pendidikan (JP) dipilih secara acak (random) berdasarkan tipe lembaga (TL) pendidikan. dan PA itu diperoleh dari sumber resmi yang berwenang untuk menyatakan kebenaran ciri itu. dan (3) Yang lain. semua harus diberi skor 100%. Peserta tidak tahu atau memiliki pengetahuan sedikit tentang apa yang diharapkan dalam soal tes. minat/jurusan (MJ). Kelompok norma itu terdiri atas pengguna bahasa Indonesia yang mengaku dirinya sebagai orang berpendidikan di Indonesia. Data tentang JP. soal dapat diberi bobot jika dijawab benar oleh 10%--90% dari seluruh peserta.Tujuan pengujian Pengetahuan tentang soal sekitar rerata. Soal yang berat diberi skor tinggi. Jika ada 90% yang menjawab butir soal yang benar. Soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar tidak diberi bobot skor. menengah. Karena UKBI menggunakan sistem NRT. (3) Tipe C dan juga ada tiga MJ yang dipilih. soal itu dianggap terlalu sukar. Prestasi akademik yang dipilih adalah (1) Prestasi Baik (PB) dan (2) Prestasi Kurang (PK).1. Ada tiga TL yang pilih. (2) Tipe B. Peserta mengetahui dengan pasti apa yang diharapkan dalam soal tes. yaitu (1) Tipe A. yaitu taraf kesukaran dan indeks daya beda. (2) SLA. dalam ujicoba instrumen UKBI diperoleh 54 ciri peserta (3 JP x 3 TL x 3 MJ x 2 PA ) dan kemudian setiap ciri diwakili oleh empat peuji sehingga terdapat 216 peuji (54 x 4). Tim UKBI menentukan pemeringkatan kemahiran berbahasa Indonesia sebagai berikut. Jika dilihat dari segi pendidikan. 6 . (2) Bahasa. Demikian pula. Peserta tersebar sepanjang kontinum kemampuan umum atau kemahiran. Ada dua hal yang menjadi pertimbangan dalam pembobotan soal. Teknik itu dilakukan dengan menentukan berapa persen dari peuji yang menjawab soal dengan benar. jika hanya ada 10% yang menjawab butir soal dengan benar. Setiap butir soal tidak memiliki bobot skor yang sama. dan prestasi akademik (PA) peserta yang bersangkutan. Tiga jenjang pendidikan itu disebut (1) SLP. Yang dinilai adalah jumlah materi yang diketahui atau dipelajari oleh setiap peserta. dan (3) PT). Dalam penentuan taraf kesukaran Tim UKBI menggunakan teknik yang sederhana. dan tinggi. sedangkan yang ringan diberi skor rendah. Tabel 4 Pemeringkatan Kemahiran berbahasa Indonesia Peringkat Predikat Rentang Skor I Istimewa 816—900 II Sangat Unggul 717—815 III Unggul 593—716 IV Madya 466—592 V Semenjana 346—465 VI Marginal 247—345 VII Terbatas 162—246 Pemberian skor dilakukan atas dasar pembobotan soal. pengguna bahasa Indonesia dapat diwakili oleh peserta uji menempuh pendidikan dasar. Atas dasar hasil uji coba itu. yaitu (1) Eksakta. skor uji diinterpretasi dengan mengacu pada kemampuan kelompok tertentu yang dinormakan. TL.

T data itu masih lebih kecil daripada batas kritis yang paling besar 0. sedangkan 100% peserta yang sangat mahir tidak dapat menjawab butir soal itu dengan benar. Kemampuan itu dihitung dengan indeks daya beda yang berjulat antara 1 dan –1. Untuk melihat konsistensi internal itu dapat dilakukan pengujian ulang terhadap dua kelompok peuji yang memiliki kesamaan ciri. Di atas telah disebutkan bahwa uji kemahiran berbahasa berorientasi ke depan. Misalnya.Daya beda adalah kemampuan setiap butir soal untuk memisahkan peserta yang sangat mahir dari peserta yang kurang mahir. konsistensi absolut sulit diperoleh karena kesalahan pengukuran mudah terjadi. tetapi uji kemahiran berorientasi ke depan pada apa yang mungkin akan dilakukan dalam penggunaan bahasa oleh peserta setelah pengujian berlangsung. kelelahan. Namun. Kemampuan uji kemahiran untuk memprediksi itu menunjukkan konsistensi eksternal. Sebaliknya. Oleh karena itu. Indeks daya beda 1 berarti bahwa 100% peserta yang sangat mahir dapat menjawab butir soal yang benar. UKBI terbukti sangat reliabel. mereka yang berpendidikan menengah itu lebih rendah daripada orang yang berpendidikan tinggi (perguruan tinggi). Misalnya.54 Rerata 550 480 Median 549 486 7 . Validitas Prediktif Uji keberhasilan program pengajaran berorientasi ke belakang pada apa yang telah dilakukan oleh peserta sebelum pengujian berlangsung. uji kemahiran harus memiliki konsistensi internal atau yang sering disebut reliabilitas. Reliabilitas juga dapat diketahui dengan menguji peserta secara berulang.01 (2.677). sebelum memiliki konsistensi eksternal.94 89. uji kemahiran digunakan dalam konteks prediksi. Jika hasil pengujian ulang sama dengan hasil sebelumnya. Butir soal yang berbobot nol itu juga dianggap soal yang belum jadi atau belum baku. Karena berorientasi ke depan uji kemahiran digunakan untuk memprediksi. Jika skor kelompok pertama sama dengan kelompok kedua. Tentu butir soal yang berindeks daya beda antara –1—0 tidak diberi bobot skor (bobot nol) karena dianggap tidak membedakan kedua kelompok peserta tersebut. Tabel 5 Hasil UKBI menurut jenjang pendidikan peserta Jenjang Jumlah Skor Skor Simpangan Pendidikan Peserta Tertinggi Terendah Baku PT SLA 36 36 666 666 378 324 76. Dengan Uji T diketahui bahwa T data (-1.5 (0. instrumen pengujian itu memiliki konsistensi internal. dll. Namun. Demikian pula. dapat mengganggu kinerja peuji dalam menempuh ujian dan hal itu tidak terkait dengan kemampuan berbahasa. Reliabilitas itu dibuktikan dengan membandingkan hasil uji dua baterai soal untuk dua kelompok (masing-masing 108 orang) yang memiliki kesamaan ciri. sedangkan 100% peserta yang kurang mahir tidak dapat menjawab butir soal itu dengan benar.850) jauh lebih kecil daripada batas kritis 0. Bahkan.602). kesehatan yang buruk. indeks daya benda –1 berarti bahwa 100% peserta yang kurang mahir dapat menjawab butir soal yang benar. 5. dapat diprediksi bahwa orang Indonesia yang berpendidikan dasar (sekolah lanjutan pertama) berkemampuan lebih rendah daripada mereka yang berpendidikan menengah (sekolah lanjutan atas). instrumen pengujian itu memiliki konsistensi internal. motivasi yang kurang.

6 0.5 0.8 Tabel di atas memperlihatkan bahwa perbedaan skor UKBI dan TOEFL yang diperoleh sebagian besar peserta hanya berkisar 0. hasil yang diperoleh tidak berbeda.6 0. yaitu nomor peserta 8.6 0.6 0. baik dalam UKBI maupun TOEFL. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Skor UKBI 0. dan 11. Hasil analisis dengan ANOVA juga menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan berbahasa ketiga jenis peserta itu sangat signifikan (F data 13.813).7 Indeks Skor TOEFL 0.6 0.7 0. Hasil uji kemahiran kedua bahasa itu tampak dalam tabel berikut.SLP 36 576 261 81.7 0.7 0. Alasan yang mendasari asumsi itu adalah bahwa komponen tugas kebahasaan yang harus dilakukan peserta selama ujian berlangsung kurang lebih sama sehingga ada korelasi antara kemampuan dalam berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris.90 452 473 Tabel di atas menunjukkan bahwa peserta UKBI yang berpendidikan tinggi (PT) memiliki kemampuan yang lebih baik daripada peserta yang berpendidikan di bawahnya (SLA dan SLP).6 0.5 0.5 0.6 0.6 0.8 0. Rerata peserta PT adalah 550. ada korelasi (0.779 (T(0. Dengan demikian. 8 . Misalnya.8 0. di antara 14 hasil uji kemahiran terdapat 3 hasil yang sama.7) antara kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tabel 6 Perbandingan hasil UKBI dengan hasil TOEFL No.7 0. 10. Dalam analisis itu diasumsikan bahwa meskipun objek bahasa yang diujikan berbeda (bahasa Indonesia dan Inggris). juga telah dilakukan analisis terhadap hasil UKBI dan TOEFL yang diperoleh oleh peserta yang sama.6 0. Untuk mengetahui konsistensi eksternal skor UKBI.046 jauh lebih kecil daripada batas kritis 2. baik dalam uji kemahiran berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.01)).6 0.1.7 0.5 0. tugas untuk menyimpulkan informasi yang secara implisit disebut dalam suatu teks ada.6 0. sedangkan peserta SLA dan SLP masing-masing 480 dan 452. Berdasarkan uji T diperoleh bahwa perbedaan kemampuan dalam berbahasa Indonesia dan Inggris tidak signifikan (T data 1.01) hanya 4. Bahkan.166 dan F(0.7 0.5 0.7 0.6 0.

Hans. 1996. Palmer. J. Penutup Pengujian internal yang dilakukan dalam pengajaran BIPA dapat dianggap belum cukup untuk mengevaluasi kemampuan penutur asing bahasa Indonesia. Solo. 9 . 1989.F. Sugiyono. Carol. McNamara. “Lafal Bahasa Indonesia baku”. 1998. London dan New York: Longman. Oxford: Pergamon Press. Daftar Bacaan Anderson. T. Brown. sarana pengujian eksternal harus memiliki validitas yang baik. Selain bahan evaluasi yang sekarang digunakan dalam pengajaran BIPA masih sangat bervariasi. dan Andrian S. Jakarta. Charles dan Gary Buck. Testing Language Performance. Bachman. sarana pengujian eksternal.. Communicative Language Testing: London: Prentice Hall. James Dean. Dengan demikian. Lapoliwa. “Improving ESL Placement Tests Using Two Perspectives”. Sarana pengujian eksternal seperti itu tidak perlu disesuaikan dengan bahan ajar tertentu yang disusun berdasarkan tujuan dari salah satu institusi pengajaran BIPA. ‘Standards in Testing: A Study of Practice of UK Examination Boards in EFL/ESL Testing’. Karena kemampuan berbahasa Indonesia tidak hanya diperoleh melalui pengajaran. 1999. Jakarta. Makalah Seminar Nasional VI Himpunan Pembina Bahasa Indonesia. Makalah dalam Kongres Linguistik National. Dalam ARAL Series. Measuring Second Language Performance”. Oxford: Oxford University Press. apa yang diujikan dapat menjadi kerangka acuan. 23/1:65—83. Selain itu. Andy. Pembelajaran tentu dapat dilakukan di luar program pengajaran. 1990. yaitu ragam bahasa Indonesia yang dimiliki oleh orang Indonesia yang terpelajar. seperti halnya UKBI.6. 1995. Pembinaan bahasa Indonesia dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia”. 1990. Sarana pengujian eksternal itu perlu beracuan pada penggunaan bahasa Indonesia standar. 1996. Oleh karena itulah. baik bagi pemelajar maupun pengajar BIPA dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Fundamental Considerations in Language Testing. 12:17—34. pengajaran BIPA hanya merupakan salah satu kegiatan yang memungkin kan penutur asing melakukan pembelajaran bahasa itu. Makalah dalam Kongres bahasa Indonesia VII. Cyril J. Oxford: Oxford University Press. Bachman. Lyle F. Brenden J. 1993. Wier. Language Testing 10/1:1— 27. Hasan. perlu disediakan bagi pemelajar yang sewaktu-waktu hendak mengukur kemampuannya dalam berbahasa Indonesia. Alwi. Language Testing in Practice. Pusat Bahasa. hasil pengujian internal tidak selalu mencerminkan kemampuan yang sesungguhnya dalam berbahasa Indonesia. Kirkpatrick. Lyle F. Dalam TESOL Quarterly. 1996. “Pengembangan Materi Uji dan Sistem Skor UKBI”. Masyarakat Linguistik Indonesia. “The Teaching and Learning of the Four Priority Asian Languages”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful