BAB II PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA

A.

Pengertian Pembuktian Hukum pembuktian dalam hukum acara perdata menduduki tempat yang

sangat penting. Kita ketahui bahwa hukum acara atau hukum formal bertujuan hendak memelihara dan mempertahankan hukum material. Jadi secara formal hukum pembuktian itu mengatur cara bagaimana mengadakan pembuktian seperti terdapat di dalam RBg dan HIR. Sedangkan secara materil, hukum pembuktian itu mengatur dapat tidaknya diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu di persidangan serta kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti tersebut. Dalam jawab menjawab di muka sidang pengadilan, pihak-pihak yang berperkara dapat mengemukakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan dasar untuk meneguhkan hak perdatanya ataupun untuk membantah hak perdata pihak lain. Peristiwa-peristiwa tersebut sudah tentu tidak cukup dikemukakan begitu saja, baik secara tertulis maupun lisan. Akan tetapi, harus diiringi atau disertai bukti-bukti yang sah menurut hukum agar dapat dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain, peristiwa-peristiwa itu harus disertai pembuktian secara yuridis. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran

21

Universitas Sumatera Utara

peristiwa yang dikemukakan. 11 Pembuktian diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatu sengketa di muka pengadilan ( juridicto contentiosa ) maupun dalam perkaraperkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan ( juridicto voluntair ). Dalam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat menginginkan kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil untuk membuktikan dalil-dalil yang menjadi dasar gugatannya, maka gugatannya tersebut akan ditolak, namun apabila sebaliknya maka gugatannya tersebut akan dikabulkan. 12 Pasal 283 RBg/163 HIR menyatakan : “ Barangsiapa mengatakan mempunyai suatu hak atau mengemukakan suatu perbuatan untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, haruslah membuktikan adanya perbuatan itu.” Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya, sebab dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnya oleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan lagi. Dalam hal pembuktian tidak selalu pihak penggugat saja yang harus membuktikan dalilnya. Hakim yang memeriksa perkara tersebut yang akan menentukan siapa diantara pihak-pihak yang berperkara yang diwajibkan memberikan bukti, apakah pihak penggugat atau pihak tergugat. Dengan perkataan lain hakim sendiri yang menentukan pihak yang

11 H. Riduan Syahrani, Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, hlm. 83. 12 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Alumni, Bandung, 1983, hlm. 53.

Universitas Sumatera Utara

mana akan memikul beban pembuktian. Hakim berwenang membebankan kepada para pihak untuk mengajukan suatu pembuktian dengan cara yang seadiladilnya. 13 Dalam melakukan pembuktian seperti yang telah disebutkan di atas, para pihak yang berperkara dan hakim yang memimpin pemeriksaan perkara di persidangan harus mengindahkan ketentuan-ketentuan dalam hukum pembuktian yang mengatur tentang cara pembuktian, beban pembuktian, macam-macam alat bukti serta kekuatan alat-alat bukti tersebut, dan sebagainya. Hukum pembuktian ini termuat dalam HIR ( Herziene Indonesische Reglement ) yang berlaku di wilayah Jawa dan Madura, Pasal 162 sampai dengan Pasal 177; RBg ( Rechtsreglement voor de Buitengewesten ) berlaku diluar wilayah Jawa dan Madura, Pasal 282 sampai dengan Pasal 314; Stb. 1867 No. 29 tentang kekuatan pembuktian akta di bawah tangan; dan BW ( Burgerlijk Wetboek ) atau KUHPerdata Buku IV Pasal 1865 sampai dengan Pasal 1945.

B.

Prinsip Hukum Pembuktian Prinsip-prinsip dalam hukum pembuktian adalah landasan penerapan

pembuktian. Semua pihak, termasuk hakim harus berpegang pada patokan yang digariskan prinsip dimaksud. 1. Pembuktian Mencari dan Mewujudkan Kebenaran Formil Sistem pembuktian yang dianut hukum acara perdata, tidak bersifat stelsel negatif menurut undang-undang ( negatief wettelijk stelsel ), seperti dalam proses

13 Ibid., hlm. 53.

Universitas Sumatera Utara

hakim dibenarkan hukum mengambil putusan berdasarkan kebenaran formil. selain berdasarkan alat bukti yang sah dan mencapai batas minimal pembuktian. apabila hakim yakin bahwa apa yang digugat dan diminta penggugat adalah benar. Jakarta. tidak demikian dalam proses peradilan perdata. Hukum Pembuktian. Jakarta. hlm. Subekti. No. 2005. 15 Namun. perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai pegangan bagi hakim maupun bagi para pihak yang berperkara. kebenaran yang dicari dan diwujudkan hakim cukup kebenaran formil ( formeel waarheid ).pemeriksaan pidana yang menuntut pencarian kebenaran. Sehubungan dengan sifat pasif tersebut. sehingga kebenaran itu dianggap bernilai sebagai kebenaran hakiki. Yahya Harahap. hlm. tetapi penggugat tidak 14 R. fungsi dan peran hakim dalam proses perkara perdata hanya terbatas pada mencari dan menemukan kebenaran formil. 15 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 8 Tahun 1981. 498. kebenaran itu harus diyakini hakim. Pradnya Paramita. Pada dasarnya tidak dilarang pengadilan perdata mencari dan menemukan kebenaran materiil. Sinar Grafika. Oleh karena itu. 2007. Kebenaran yang dicari dan diwujudkan dalam proses peradilan pidana. Universitas Sumatera Utara . 16 Dalam rangka mencari kebenaran formil. 14 Sistem Pembuktian ini diatur dalam Pasal 183 KUHAP. dimana kebenaran tersebut diwujudkan sesuai dengan dasar alasan dan fakta-fakta yang diajukan oleh para pihak selama proses persidangan berlangsung. Hukum Acara Perdata. 16 M. Kebenaran yang diwujudkan benar-benar berdasarkan bukti-bukti yang tidak meragukan. PT. 9. Tugas dan Peran Hakim Bersifat Pasif Hakim hanya terbatas menerima dan memeriksa sepanjang mengenai halhal yang diajukan penggugat dan tergugat. a. Akan tetapi bila kebenaran materiil tidak ditemukan. Prinsip inilah yang disebut beyond reasonable doubt.

salah satu pihak dapat meminta bantuan kepada hakim untuk memanggil dan menghadirkan seorang saksi melalui pejabat yang berwenang agar saksi tersebut menghadap pada hari sidang yang telah ditentukan. dengan ketentuan : 17 1) Hakim tidak dibenarkan mengambil prakarsa aktif meminta para pihak mengajukan atau menambah pembuktian yang diperlukan. apabila saksi yang bersangkutan relevan akan tetapi pihak tersebut tidak dapat menghadirkan sendiri saksi tersebut secara sukarela.mampu mengajukan bukti tentang kebenaran yang diyakininya. terbatas pada tuntutan yang diajukan penggugat dalam gugatan. tetapi tetap berperan dan berwenang menilai kebenaran fakta yang diajukan ke persidangan. Makna pasif bukan hanya sekedar menerima dan memeriksa apa-apa yang diajukan para pihak. 2) Menerima setiap pengakuan dan pengingkaran yang diajukan para pihak di persidangan. kecuali sepanjang hal yang ditentukan undang-undang. Hakim tidak dibenarkan membantu pihak manapun untuk melakukan sesuatu. Cukup atau tidak alat bukti yang diajukan terserah sepenuhnya kepada kehendak para pihak. 3) Pemeriksaan dan putusan hakim. Hakim tidak boleh melanggar asas ultra vires atau ultra petita partium yang digariskan Pasal 189 RBg/178 HIR ayat 17 Ibid. 500 Universitas Sumatera Utara . Semuanya itu menjadi hak dan kewajiban para pihak. untuk selanjutnya dinilai kebenarannya oleh hakim. karena tidak didukung dengan bukti dalam persidangan. Misalnya berdasarkan Pasal 165 RBg/139 HIR. hlm.. maka hakim harus menyingkirkan keyakinan itu dengan menolak kebenaran dalil gugatan.

Pembuktian tidak dapat ditegakkan tanpa ada fakta-fakta yang mendukungnya.18 2) Fakta yang terungkap di luar persidangan. Putusan Berdasarkan Pembuktian Fakta Hakim tidak dibenarkan mengambil putusan tanpa pembuktian. b. Kunci ditolak atau dikabulkannya gugatan harus berdasarkan pembuktian yang bersumber dari fakta-fakta yang diajukan para pihak. Para pihak diberi hak dan kesempatan menyampaikan bahan atau alat bukti. hlm. Pembuktian hanya dapat ditegakkan berdasarkan dukungan fakta-fakta. 18 Ibid. 100 juta. Misalnya yang dituntut penggugat Rp. Apabila bahan atau alat bukti yang disampaikan di persidangan tidak mampu membenarkan fakta yang berkaitan dengan perkara yang disengketakan maka tidak bernilai sebagai alat bukti. 100 juta sesuai dengan tuntutan yang disebut dalam petitum gugatan. 200 juta. 501 Universitas Sumatera Utara . tetapi di persidangan terbukti kerugian yang dialami Rp. kemudian bahan atau alat bukti tersebut diserahkan kepada hakim.(3) yang menyatakan hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak diminta atau mengabulkan lebih daripada yang digugat. maka yang boleh dikabulkan hanya terbatas Rp. 1) Fakta yang dinilai dan diperhitungkan terbatas yang diajukan dalam persidangan.. Bahan atau alat bukti yang dinilai membuktikan kebenaran yang didalilkan pihak manapun hanya fakta langsung dengan perkara yang disengketakan.

. fakta yang dapat dinilai dan diperhitungkan hanya yang disampaikan oleh para pihak kepada hakim dalam persidangan. alat bukti yang dapat diajukan hanyalah yang mengandung fakta-fakta konkret 19 Ibid. Fakta yang demikian disebut out of court. Dengan kata lain. Universitas Sumatera Utara . fakta tersebut harus ditolak dan disingkirkan dalam mencari kebenaran atas perkara dimaksud. hanya terbatas pada fakta yang konkret dan relevan yakni jelas dan nyata membuktikan suatu keadaan atau peristiwa yang berkaitan langsung dengan perkara yang disengketakan. fakta yang bernilai sebagai pembuktian. Selain fakta harus diajukan dan ditemukan dalam proses persidangan. 501. fakta yang ditemukan hakim dari surat kabar atau majalah adalah fakta yang diperoleh hakim dari sumber luar. Misalnya. Meskipun banyak orang yang memberitahukan dan menunjukkan fakta kepada hakim tentang kebenaran perkara yang disengketakan. bukan dalam persidangan maka tidak dapat dijadikan fakta untuk membuktikan kebenaran yang didalilkan oleh salah satu pihak. selama fakta tersebut bukan diajukan dan diperoleh dalam persidangan maka fakta tersebut tidak dapat dinilai dalam mengambil putusan.hlm. Artinya. oleh karena itu tidak dapat dijadikan dasar mencari dan menemukan kebenaran. Hakim tidak dibenarkan menilai dan memperhitungkan fakta-fakta yang tidak diajukan pihak yang berperkara.19 3) Hanya fakta berdasar kenyataan yang bernilai pembuktian. Walaupun sedemikian banyak fakta yang diperoleh dari berbagai sumber.Di atas telah dijelaskan bahwa hanya fakta-fakta yang diajukan di persidangan yang dapat dinilai dan diperhitungkan untuk menentukan kebenaran dalam mengambil putusan.

dan relevan atau bersifat prima facie, yaitu membuktikan suatu keadaan atau peristiwa yang langsung berkaitan erat dengan perkara yang sedang diperiksa. Sedangkan fakta yang abstrak dalam hukum pembuktian dikategorikan sebagai hal yang semu, oleh karena itu tidak bernilai sebagai alat bukti untuk membuktikan sesuatu kebenaran. 20 2. Pengakuan Mengakhiri Pemeriksaan Perkara Pada prinsipnya, pemeriksaan perkara sudah berakhir apabila salah satu pihak memberikan pengakuan yang bersifat menyeluruh terhadap materi pokok perkara. Apabila tergugat mengakui secara murni dan bulat atas materi pokok yang didalilkan penggugat, dianggap perkara yang disengketakan telah selesai, karena dengan pengakuan itu telah dipastikan dan diselesaikan hubungan hukum yang terjadi antara para pihak. Begitu juga sebaliknya, kalau penggugat membenarkan dan mengakui dalil bantahan yang diajukan tergugat, berarti sudah dapat dipastikan dan dibuktikan gugatan yang diajukan penggugat sama sekali tidak benar. Apalagi jika didekati dari ajaran pasif, meskipun hakim mengetahui dan yakin pengakuan itu bohong atau berlawanan dengan kebenaran, hakim harus menerima pengakuan itu sebagai fakta dan kebenaran. Oleh karena itu, hakim harus mengakhiri pemeriksaan karena dengan pengakuan tersebut materi pokok perkara dianggap telah selesai secara tuntas.21 Akan tetapi, agar penerapan pengakuan mengakhiri perkara tidak keliru, perlu dijelaskan lebih lanjut beberapa hal antara lain sebagai berikut : 22 a. Pengakuan yang diberikan tanpa syarat.
20 Ibid., hlm. 502. 21 Ibid., hlm. 505. 22 Ibid., hlm. 505.

Universitas Sumatera Utara

Pengakuan yang berbobot mengakhiri perkara, apabila : 1) Pengakuan diberikan secara tegas Pengakuan yang diucapkan atau diutarakan secara tegas baik dengan lisan atau tulisan di depan persidangan. 2) Pengakuan yang diberikan murni dan bulat Pengakuan tersebut bersifat murni dan bulat serta menyeluruh terhadap materi pokok perkara, dengan demikian pengakuan yang diberikan harus tanpa syarat atau tanpa kualifikasi dan langsung mengenai materi pokok perkara. Apabila pengakuan yang diberikan bersyarat, apalagi tidak ditujukan terhadap pokok perkara, maka pengakuan tersebut tidak dapat dijadikan dasar mengakhiri pemeriksaan perkara. b. Tidak menyangkal dengan cara berdiam diri. Apabila tergugat tidak mengajukan sangkalan tetapi mengambil sikap berdiam diri peristiwa itu tidak dapat ditafsirkan menjadi fakta atau bukti pengakuan tanpa syarat, oleh karena itu sikap tergugat tersebut tidak dapat dikonstruksi sebagai pengakuan murni dan bulat karena kategori pengakuan yang demikian harus dinyatakan secara tegas barulah sah dijadikan pengakuan yang murni tanpa syarat, sedangkan dalam keadaan diam tidak pasti dengan jelas apa saja yang diakui sehingga belum tuntas penyelesaian mengenai pokok perkara oleh karena itu, tidak sah menjadikannya dasar mengakhiri perkara. c. Menyangkal tanpa alasan yang cukup. Dalam hal ini ada diajukan sangkalan atau bantahan tetapi tidak didukung

Universitas Sumatera Utara

dengan dasar alasan ( opposition without basic reason ) dapat dikonstruksi dan dianggap sebagai pengakuan yang murni dan bulat tanpa syarat sehingga membebaskan pihak lawan untuk membuktikan fakta-fakta materi pokok perkara dengan demikian proses pemeriksaan perkara dapat diakhiri. Akan tetapi perkembangan praktik memperlihatkan kecenderungan yang lebih bersifat lentur, yang memberikan hak kepada pihak yang berdiam diri atau kepada yang mengajukan sangkalan tanpa alasan ( opposition without basic reason ) untuk mengubah sikap diam atau sangkalan itu dalam proses persidangan selanjutnya, dan hal itu merupakan hak sehingga hakim wajib memberi kesempatan kepada yang bersangkutan untuk mengubah dan memperbaikinya. Lain halnya pengakuan yang diberikan secara tegas di persidangan. Pengakuan tersebut langsung bersifat mengikat ( binding ) kepada para pihak, oleh karena itu tidak dapat dicabut kembali ( onherroeppelijk ) dan juga tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi sesuai dengan ketentuan Pasal 1926 KUHPerdata. 23 3. Fakta-fakta yang Tidak Perlu Dibuktikan Tidak semua fakta harus dibuktikan. Fokus pembuktian ditujukan pada kejadian atau peristiwa hubungan hukum yang menjadi pokok persengketaan sesuai dengan yang didalilkan dalam fundamentum petendi gugatan pada satu segi dan apa yang disangkal pihak lawan pada sisi lain. 24 Sehubungan dengan itu, akan diuraikan hal-hal yang tidak perlu dibuktikan dalam pemeriksaan perkara perdata. a) Hukum positif tidak perlu dibuktikan Hal ini bertitik tolak dari doktrin curia novit jus atau jus curia novit, yakni
23 Ibid., hlm. 507. 24 Ibid., hlm. 508.

Universitas Sumatera Utara

Namun yang perlu diingat sehubungan dengan permasalahan ini adalah sebagai berikut : 25 i. dalam hukum acara perdata tidak diatur secara tegas. Jakarta. berita negara. yurisprudensi atau komentar hukum. ). 17. karena hal itu dianggap sudah diketahui hakim. 1978. Adapun pengertian fakta yang diketahui umum yaitu setiap peristiwa 25 A. b) Fakta yang diketahui umum tidak dibuktikan Mengenai fakta yang diketahui umum tidak dibuktikan. Pembuktian dan Daluwarsa ( terj. iii. hlm. Hakim harus melaksanakan hukum yang sesuai dengan kasus yang disengketakan. tidak boleh sedikitpun bertentangan dengan hukum positif maupun dengan hukum objektif yang berlaku. Intermasa. Pihak yang berperkara tidak perlu menyebut hukum mana yang dilanggar dan hukum mana yang harus diterapkan.pengadilan atau hakim dianggap mengetahui segala hukum positif. ii.. dan hukum yang harus diterapkan. Bahkan mengenai hukum kebiasaan pun tidak dapat dituntut pembuktiannya kepada para pihak yang berperkara. Hakim diwajibkan mencari dan menemukan hukum yang persis berlaku untuk diterapkan dalam perkara yang bersangkutan baik dari kumpulan perundang-undangan. Universitas Sumatera Utara . tetapi hal ini telah diterima secara luas sebagai suatu doktrin hukum pembuktian yang dikenal dengan notoir feiten atau fakta notoir. PT. Pitlo. Bahkan bukan hanya hukum positif tetapi meliputi semua hukum. Para pihak yang berperkara tidak dapat dituntut untuk membuktikan kepada hakim tentang adanya peraturan perundang-undangan maupun yurisprudensi yang berlaku terhadap perkara yang disengketakan.

27 c) Fakta yang tidak dibantah. Universitas Sumatera Utara . Bertitik tolak dari prinsip ini maka fakta yang tidak disangkal oleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan karena secara logis sesuatu fakta yang tidak dibantah dianggap telah terbukti kebenarannya. Tidak menyangkal atau membantah dianggap mengakui dalil dan 26 M. fakta yang diketahui hakim secara pribadi tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti tetapi harus didukung lagi oleh alat bukti lain untuk mencapai batas minimal pembuktian. untuk dipergunakan sebagai dasar hukum membenarkan sesuatu tindakan kemasyarakatan yang serius dalam bentuk putusan hakim. 511. Sehubungan dengan hal yang telah diuraikan di atas. 510. 26 Misalnya. hlm. fakta yang diketahui hakim secara pribadi tidak termasuk fakta yang diketahui umum.atau keadaan yang dianggap harus diketahui oleh orang yang berpendidikan atau beradab yang mengikuti perkembangan jaman. hlm. dan bahwa harga tanah di kota lebih mahal daripada harga tanah di desa. bahwa kejadian atau keadaan itu memang demikian. mereka dianggap harus mengetahui kejadian atau keadaan tersebut tanpa melakukan penelitian atau pemeriksaan yang seksama dan mendalam dan hal tersebut diketahui secara pasti berdasarkan pengalaman umum dalam kehidupan masyarakat. 27 Ibid. op cit.. yang wajib dibuktikan ialah hal atau fakta yang disangkal atau dibantah oleh pihak lawan. Yahya Harahap. merupakan fakta notoir bahwa pada hari minggu semua kantor pemerintah tutup. Oleh karena itu. tidak perlu dibuktikan Sesuai dengan prinsip pembuktian.

dilihat atau didengar hakim selama proses pemeriksaan persidangan berlangsung. Karena fakta atau peristiwa itu memang demikian adanya sehingga telah merupakan kebenaran yang tidak perlu lagi dibuktikan sebab hakim sendiri mengetahui bagaimana yang sebenarnya. hlm.fakta yang diajukan. 29 Ibid. Bukti Lawan ( Tegenbewijs ) Salah satu prinsip dalam hukum pembuktian yaitu memberi hak kepada pihak lawan mengajukan bukti lawan. 513. 28 d) Fakta yang ditemukan selama proses persidangan tidak perlu dibuktikan Fakta atau peristiwa yang diketahui. peristiwa itu tidak perlu dibuktikan karena hakim mengetahui dan mendengar sendiri hal tersebut. hal ini merupakan fakta yang tidak perlu dibuktikan. Misalnya. dialami. tidak perlu dibuktikan. hlm.. Universitas Sumatera Utara . Pasal 1918 KUHPerdata menyatakan : “ Suatu putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan mutlak.. Atau ketika tergugat menolak ataupun tidak mampu menunjukkan surat. tergugat tidak datang menghadiri sidang yang telah ditentukan. dengan 28 Ibid. bahkan hal tersebut tercatat dalam berita acara sidang. penggugat tidak perlu membuktikan fakta tersebut sebab hakim sendiri mengetahuinya dan bahkan hal tersebut telah dicatat pula dalam berita acara. 511. 29 4. dokumen asli maupun fotokopi alat bukti yang diajukannya. Atau misalnya apabila penggugat ataupun tergugat menyatakan pengakuan secara tegas di persidangan. karena hakim sendiri melihat dan mengetahui sendiri hal tersebut melalui persidangan.

dapat dibantah atau dilumpuhkan dengan bukti lawan. kecuali jika dapat dibuktikan sebaliknya. Beliau juga menambahkan bahwa bukti lawan adalah bukti yang sama mutunya dan sama kadarnya dengan bukti. Prinsip yang pertama. Pitlo menyatakan bahwa bukti lawan dapat dikemukakan juga dalam hal bukti yang diberikan mempunyai daya pembuktian wajib. Terdapat dua prinsip pokok yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan bukti lawan.mana seorang telah dijatuhkan hukuman karena suatu kejahatan maupun pelanggaran. bukti lawan selalu diartikan sebagai bukti penyangkal (contra-enquete ) yang diajukan dan disampaikan oleh tergugat di persidangan untuk melumpuhkan pembuktian yang dikemukakan pihak lawan. Semua bukti dapat disangkal ataupun dilemahkan. hlm. bukti lawan selalu dikaitkan dengan pihak tergugat. A. Pitlo. 30 Adapun tujuan utama pengajuan bukti lawan selain untuk membantah dan melumpuhkan kebenaran pihak lawan. semua alat bukti yang diajukan pihak lain. Oleh karena itu. Pasal 1918 KUHPerdata ini memberi hak kepada pihak lawan untuk mengajukan pembuktian sebaliknya terhadap pembuktian yang melekat pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. “ Dengan kata lain. Alat yang dipakai untuk memberikan bukti lawan adalah sama dengan alat yang 30 A. juga dimaksudkan untuk meruntuhkan penilaian hakim atas kebenaran pembuktian yang diajukan pihak lawan tersebut. Dalam teori maupun praktek. Pembuktian sebaliknya itulah yang dimaksud dengan bukti lawan atau tegenbewijs. 34. di dalam suatu perkara perdata dapat diterima sebagai suatu bukti tentang perbuatan yang telah dilakukan. dalam hal ini penggugat. Op cit. Universitas Sumatera Utara .

515. dan daya alat-alat itu sama kuatnya.. pada dasarnya pengajuan bukti lawan harus berdasarkan asas proporsional. 32 M. seperti alat bukti saksi maupun alat bukti yang mempunyai nilai kekuatan sempurna ( volledig bewijskracht ) seperti akta otentik atau akta di bawah tangan. Universitas Sumatera Utara . bukti lawan hanya dapat diajukan terhadap alat bukti yang mempunyai nilai kekuatan bebas ( vrijbewijs kracht ). Misalnya alat bukti sumpah pemutus ( beslissende eed ) yang disebut dalam Pasal 1929 KUHPerdata dan Pasal 182 RBg/155 HIR. Yahya Harahap. 35. Artinya bahwa bukti lawan yang diajukan tidak boleh lebih rendah nilainya dari bukti yang hendak dilumpuhkan. Hal ini tergantung pada ketentuan undang-undang. 33 Ibid. kesempurnaan dan nilai kekuatan pembuktian yang melekat padanya sama 31 Ibid. 31 Prinsip yang kedua. Apabila undang-undang menentukan nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti itu bersifat menentukan ( beslissende bewijs kracht ) atau memaksa ( dwingende bewijs kracht ) maka alat bukti tersebut tidak dapat dibantah maupun dilumpuhkan dengan bukti lawan. 32 Suatu hal yang perlu diperhatikan. op cit. 2) 3) alat bukti lawan yang diajukan sama jenis dengan alat bukti yang dilawan. 515. dianggap beralasan menentukan syarat ataupun kadar bukti lawan yang dapat diajukan untuk melumpuhkan bukti yang diajukan pihak lawan yaitu : 33 1) mutu dan kadar kekuatan pembuktiannya paling tidak sama dengan bukti yang dilawan. hlm. tidak semua alat bukti dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan. Dengan begitu. hlm. hlm. Sehubungan dengan hal itu pula..dipakai untuk memberikan bukti.

dengan tidak mengurangi kemungkinan diajukan dengan bukti sangkalan ( tengen bewijs). artinya alat bukti ini hanya mempunyai daya bukti permulaan ( kracht van begin bewijs ).kuatnya. Akan tetapi. 19. Universitas Sumatera Utara . CV Mandar Maju. Sebelum membahas lebih jauh mengenai macam-macam alat bukti. hlm. akan tetapi masih dapat dijatuhkan oleh bukti sangkalan. bukti sempurna mengakibatkan suatu pendapat hakim bahwa tuntutan penggugat benar dan harus diterima kecuali tergugat dengan bukti 34 Hari Sasangka. 2005. Jadi dengan bukti sempurna yang diajukan tersebut. Daya bukti permulaan saja tidak dapat menjadi dasar hakim bagi penerimaan suatu gugatan. Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata untuk Mahasiswa dan Praktisi. artinya tidak perlu lagi melengkapi dengan alat bukti lain. maka terlebih dahulu harus diketahui dan dimengerti beberapa pengertian tentang bukti dan juga beberapa teori pembuktian. Bukti lemah Bukti lemah adalah alat bukti yang dikemukakan penggugat yang sedikitpun tidak memberikan pembuktian atau memberikan pembuktian tetapi tidak memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk menerima dalil-dalil gugatan. Dengan demikian. 34 2. Jadi derajat bukti yang dibutuhkan belum tercapai oleh karena itu gugatan harus ditolak dan penggugat sebagai pihak yang kalah. persyaratan itu tidak mutlak apabila peraturan perundang-undangan menentukan lain maka syarat tersebut dapat disingkirkan. Bukti sempurna Bukti sempurna adalah bukti yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan telah sempurna. Bandung. 1. memberikan kepada hakim kepastian yang cukup.

.35 3. Dengan demikian tuntutan yang diajukan dianggap benar. bagi Pembuktian penggugat dengan atau alat bukti yang pasti/menentukan. maka hakim wajib untuk menyesuaikan keputusannya dengan pembuktian tersebut.. kecuali undang-undang sendiri secara tegas melarang diajukannya suatu alat bukti sangkalan. hlm.sangkalannya ( tengen bewijs ) berhasil mengemukakan alat bukti yang berdaya bukti cukup guna menyangkal apa yang dianggap oleh hakim telah benar. Bukti yang mengikat ( Verplicht Bewijs ) Dengan adanya alat bukti yang mempunyai daya bukti mengikat. beralasan dan dapat diterima.. 36 Ibid. suatu posisi yang tidak dapat diganggu gugat lagi. mengakibatkan tergugat mengemukakan alat bukti tersebut. maka terhadap pembuktian tersebut tidak diperbolehkan untuk memajukan bukti sangkalan. 20. Peluang pihak lawan untuk mengajukan bukti sangkalan tidak ada lagi. hlm. Pembuktian ini bertujuan untuk menggagalkan gugatan pihak lawan. Universitas Sumatera Utara . Bukti pasti/menentukan ( Beslissend Bewijs ) Akibat diajukan pembuktian dengan alat bukti yang mempunyai daya bukti pasti/menentukan. 37 5 Bukti sangkalan ( Tengen Bewijs ) Bukti sangkalan adalah alat bukti yang dipergunakan dalam bantahan terhadap pembuktian yang diajukan oleh lawan dalam persidangan. 19. 37 Ibid. 20. misalnya terhadap 35 Ibid. 36 4. Pada prinsipnya segala bukti dapat dilemahkan dengan bukti sangkalan. hlm. Contoh dalam hal ini adalah dalam hal adanya sumpah pemutus ( sumpah decissoir ).

Universitas Sumatera Utara . Sepanjang undang-undang tidak mengatur sebaliknya. hlm. 20. hakim yang memerintahkan kepada para pihak untuk mengajukan alat-alat buktinya. Teori hukum subyektif ( teori hak ) Teori ini menetapkan bahwa barangsiapa yang mengaku atau mengemukakan suatu hak maka yang bersangkutan harus membuktikannya. hakim bebas untuk 38 Ibid. 2. Namun. Asas audi et alteram partem atau juga asas kedudukan prosesuil yang sama dari para pihak dimuka hakim merupakan asas pembagian beban pembuktian menurut teori ini. Hakim harus membagi beban pembuktian berdasarkan kesamaan kedudukan para pihak.sumpah pemutus ( sumpah decissoir )yang diatur dalam Pasal 1936 KUHPerdata. Teori hukum objektif Teori ini mengajarkan bahwa seorang hakim harus melaksanakan peraturan hukum atas fakta-fakta untuk menemukan kebenaran peristiwa yang diajukan kepadanya. 3. Teori hukum acara dan Teori kelayakan Kedua teori ini bermuara pada hasil yang sama yakni hakim seyogianya berdasarkan kepatutan membagi beban pembuktian. 38 Seperti telah diuraikan di atas.. maka pembuktian dilakukan oleh para pihak bukan oleh hakim. dengan demikian hakim harus memberi beban kepada kedua belah pihak secara seimbang dan adil sehingga kemungkinan menang antara para pihak adalah sama. Ada beberapa teori tentang beban pembuktian yang menjadi pedoman bagi hakim : 1.

tanpa suatu alat bukti lain. Jadi yang berwenang menilai pembuktian yang tidak lain merupakan penilaian suatu kenyataan adalah hakim. Universitas Sumatera Utara . hlm. Teori pembuktian negatif Teori ini menginginkan adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat. Teori pembuktian bebas Teori ini menghendaki kebebasan yang seluas-luasnya bagi hakim. “ 3. tidak dapat dipercayai di dalam hukum.. dengan tidak ada suatu alat bukti lain. 39 2. yang bersifat negatif. “ Pasal 1905 KUHPerdata : “ Keterangan seorang saksi saja. dan hanya judex facti. atau setidak-tidaknya ikatan-ikatan oleh ketentuan hukum harus dibatasi seminimum mungkin. 40 Ibid. di muka pengadilan tidak boleh dipercaya. ( Pasal 306 RBg/169 HIR. Teori pembuktian positif 39 Hari Sasangka. Ketentuan tersebut membatasi hakim dengan larangan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. Terdapat 3 ( tiga ) buah teori bagi hakim di dalam menilai alat bukti yang diajukan oleh para pihak : 1. Pasal 1905 KUHPerdata ) 40 Pasal 306 RBg/169 HIR : “ Keterangan seorang saksi saja. Jadi hakim dilarang dengan pengecualian. di dalam menilai alat bukti. jujur. op cit. 23. 23. Hakim tidak terikat oleh suatu ketentuan hukum. tidak memihak. Menghendaki kebebasan yang luas berarti menaruh kepercayaan atas hakim untuk bersikap penuh rasa tanggung jawab. bertindak dengan keahlian dan tidak terpengaruh oleh apapun dan oleh siapapun. hlm.menilai pembuktian.

C. mengatur cara bagaimana mengadakan pembuktian seperti terdapat dalam RBg/HIR. suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat didalamnya. Pasal 1870 KUHPerdata ) 41 Pasal 285 RBg/165 HIR : “ Akta otentik. hlm. Berbeda dengan alat bukti dalam perkara pidana di mana alat bukti yang paling 41 Ibid. Disini hakim diwajibkan. yaitu suatu surat yang dibuat menurut ketentuan undangundang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berkuasa untuk membuat surat itu. “ Dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hukum pembuktian terdiri dari : 1. tetapi yang tersebut kemudian itu hanya sekedar diberitahukan itu langsung berhubung dengan pokok yang disebutkan dalam akta tersebut. dan juga tentang yang tercantum dalam surat itu sebagai pemberitahuan saja . tetapi dengan syarat.. mengatur dapat tidaknya diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu di persidangan serta kekuatan pembuktian dari bukti itu. maka alat bukti tulisan atau surat merupakan alat bukti yang paling utama dalam perkara perdata. 2. ( Pasal 285 RBg/165 HIR. teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim. Pembuktian materiil.Disamping adanya larangan. 23 Universitas Sumatera Utara . tentang segala hal yang tersebut di dalam surat itu. memberikan bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya dan sekalian orang yang mendapat hak daripadanya. Macam-Macam Alat Bukti Dari urutan alat-alat bukti dalam hukum acara perdata. Pembuktian formil. “ Pasal 1870 KUHPerdata : “ Suatu akta otentik memberikan di antara para pihak beserta ahli warisahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka.

sewa-menyewa. maka pihak yang diwajibkan membuktikan sesuatu berusaha mendapatkan orang-orang yang telah melihat atau mengalami sendiri peristiwa orang-orang yang harus dibuktikan tersebut. dalam perkara perdata alat bukti yang dianggap paling dominan dan determinan adalah alat bukti tulisan atau surat. sehingga bukti harus dicari dari keterangan orang-orang yang secara kebetulan melihat. tukar-menukar. surat. Sebaliknya. keterangan saksi. c. dalam praktek perdata misalnya dalam perjanjian jual-beli. sewa-menyewa.utama adalah keterangan saksi. perwasiatan. dan lain-lain ) dan ada pula orang-orang yang secara kebetulan melihat atau mengalami peristiwa yang dipersengketakan 42 Dalam Pasal 184 KUHAP dinyatakan alat-alat bukti dalam perkara pidana adalah : a. b. Orangorang tersebut mungkin saja pada waktu terjadinya peristiwa itu dengan sengaja telah diminta untuk menyaksikan kejadian yang berlangsung ( misalnya dalam perjanjian jual-beli. Universitas Sumatera Utara . penghibahan. Apabila tidak terdapat bukti-bukti yang berupa tulisan . keterangan ahli. Orang-orang tersebut di muka hakim diajukan sebagai saksi. 42 Hal ini dikarenakan seseorang yang melakukan tindak pidana selalu menyingkirkan atau melenyapkan bukti-bukti tulisan dan apa saja yang memungkinkan terbongkarnya tindak pidana yang dilakukan oleh para pelakunya. d. dan sebagainya orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut umumnya dengan sengaja membuat bentuk tulisan untuk keperluan pembuktian di kemudian hari jika diperlukan. e. mendengar. petunjuk. atau mengalami sendiri kejadian yang merupakan tindak pidana tersebut. asuransi. pengangkutan. misalnya apabila satu ketika timbul sengketa atas perbuatan tersebut maka dapat dibuktikan permasalahan dan kebenarannya dengan akta yang bersangkutan. keterangan terdakwa. Atas kenyataan tersebut. pinjam-meminjam.

dengan diucapkannya sumpah yang Universitas Sumatera Utara . Apabila tidak mungkin mengajukan saksi-saksi yang telah melihat atau mengalami sendiri peristiwa yang harus dibuktikan.tersebut. tetapi membebaskan penggugat dari kewajiban beban pembuktian untuk membuktikan dalil yang dimaksud. selain yang merupakan kesimpulan yang ditarik oleh hakim dari suatu peristiwa yang dipersengketakan yang disebut dengan persangkaan hakim. pada dasarnya tergugat bukan membuktikan kebenaran dalil tersebut. maka pembuktian dengan persangkaan dinamakan pembuktian secara tak langsung karena pembuktian yang diajukan tidak bersifat fisik melainkan diperoleh dari kesimpulan sesuatu hal atau peristwa yang terjadi di persidangan. Menyimpulkan terbuktinya sesuatu peristiwa dari terbuktinya peristiwa-peristiwa lain inilah yang dinamakan persangkaan. Bila pembuktian dengan tulisan dan kesaksian itu merupakan pembuktian secara langsung. dan dari peristiwa itu hakim dapat mengambil suatu kesimpulan. Persangkaan. dalam hal ini. Karena pada dasarnya pengakuan bukan berfungsi membuktikan tetapi pembebasan pihak lawan untuk membuktikan hal yang diakui pihak lain. Jika tergugat mengakui dalil penggugat. maka diusahakan untuk membuktikan peristiwa-peristiwa lain yang memiliki hubungan erat dengan peristiwa yang harus dibuktikan tadi. Pengakuan dan sumpah juga termasuk dalam kelompok pembuktian secara tak langsung. ada pula yang merupakan ketentuan undang-undang yang mengambil kesimpulankesimpulan seperti yang dilakukan oleh hakim yang disebut juga dengan persangkaan undang-undang. Sama halnya dengan sumpah.

tetapi dari sumpah itu disimpulkan kebenaran yang dijelaskan dari sumpah tersebut. 41. baik atas permintaan kedua belah pihak.“ Ada juga alat bukti yang tidak disebutkan dalam undang-undang yaitu foto. 43 Menurut surat Ketua Mahkamah Agung RI kepada Menteri Kehakiman RI Nomor 37/TU/88/102/Pid tanggal 14 Januari 1988. hlm. mikrofilm atau mikrofische dapat dijadikan alat bukti surat dengan catatan bila bisa dijamin keotentikannya yang dapat ditelusuri dari registrasi maupun berita acara. Universitas Sumatera Utara . yang dengan bantuan Panitera akan memeriksa sesuatu keadaan setempat. Hal tersebut berlaku terhadap 43 Hari Sasangka. kalau diadakan pemeriksaan seorang ahli. film. seperti yang ditentukan dalam pasal-pasal berikut : Pasal 180 RBg/153 HIR ayat (1) menyatakan : “ Jika dianggap dan berguna. rekaman video/tape/CD serta mikrofilm dan mikrofische. maka dapat ia mengangkat seorang ahli. op cit. sumpah bukan membuktikan kebenaran tentang apa yang dinyatakan dalam sumpah tersebut.“ Pasal 181 RBg/154 HIR ayat (1) menyatakan : “ Jika menurut pertimbangan pengadilan. sehingga dapat menjadi keterangan kepada hakim. maupun karena jabatannya. Dengan kata lain.menentukan ( decisoir eed ) atau sumpah tambahan ( aanvullend eed ) dari suatu peristiwa maka dapat disimpulkan adanya suatu kebenaran tentang hal yang dinyatakan dalam lafal sumpah. Selain lima macam alat bukti yang disebutkan dalam Pasal 1866 KUHPerdata maupun Pasal 284 RBg/164 HIR. maka Ketua dapat mengangkat seorang atau dua orang komisaris daripada pengadilan itu. bahwa perkara itu dapat menjadi lebih terang. RBg/HIR masih mengenal alat pembuktian lain yaitu pemeriksaan setempat dan keterangan ahli.

2. barang yang digunakan untuk membantu tindak pidana. Perdata ( keterangan saksi. Arief Mansur dan Elisatris Gultom. Oral Evidence a. dan keterangan terdakwa ). Konsep ini terutama berkembang di negara-negara common law. barang yang diperoleh dari suatu tindak pidana dan informasi dalam arti khusus ). terdapat beberapa doktrin pengelompokkan alat bukti. 4. 100. 3. Adapun menurut KUHPerdata maupun RBg/HIR alat-alat bukti dalam hukum acara perdata terdiri atas : 44 Dikdik M. Material Evidence a. keterangan ahli. yang membagi alat-alat bukti ke dalam kategori : 44 1. b. barang yang merupakan hasil dari suatu tindak pidana. Dalam sistem hukum pembuktian di Indonesia. PT. tetapi memperluas cakupan alat bukti yang masuk kategori documentary evidence. Pidana ( surat dan petunjuk ). hlm. pengakuan dan sumpah ). Universitas Sumatera Utara . Pidana ( keterangan saksi. Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi. Documentary Evidence a. Electronic Evidence Konsep pengelompokkan alat bukti menjadi alat bukti tertulis dan elektronik. b. Perdata ( surat dan persangkaan ). Bandung.perkara-perkara pidana maupun perdata. Perdata ( tidak dikenal ) Pidana ( barang yang digunakan untuk melakukan tindak pidana. Pengaturannya tidak melahirkan alat bukti baru. Refika Aditama. 2005. b.

Pasal 165 HIR. “ 46 3) Menurut Teguh Samudera. Pembuktian dan Daluwarsa ( terj. Intermasa. Pasal 167 HIR. antara lain: 1) Menurut A. Stb. Bukti Tulisan atau Surat Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian alat bukti tulisan. Pitlo. “ 45 2) Menurut Sudikno Mertokusumo. 45 Mr. Bandung. 1992. 37. Pasal 285 RBg sampai dengan Pasal 305 RBg.. Pitlo. Pada masa sekarang ini. Penerbit Alumni.. “ surat adalah suatu pernyataan buah pikiran atau isi hati yang diwujudkan dengan tanda-tanda bacaan dan dimuat dalam sesuatu benda. Dalam hukum acara perdata alat bukti tulisan atau surat diatur dalam Pasal 164 RBg/138 HIR. hlm. ). 46 Teguh Samudera. “ 47 4) Menurut H. 1867 Nomor 29 dan Pasal 1867 sampai dengan Pasal 1894 KUHPerdata. dengan maksud bahwa bukti-bukti tersebut dapat dipergunakan dikemudian hari terutama apabila timbul suatu perselisihan sehubungan dengan perjanjian tersebut. Riduan Syahrani. hlm. 47 Ibid. A. “ alat pembuktian dengan bentuk tertulis yang disebut dengan surat adalah pembawa tanda tangan bacaan yang berarti menerjemahkan suatu isi pikiran.a. 51. PT. Jakarta. “ alat bukti tertulis atau surat ialah segala sesuatu yang memuat tandatanda bacaan yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang dan dipergunakan sebagai pembuktian. 1978. Universitas Sumatera Utara . bukti tulisan dalam perkara perdata merupakan bukti yang utama dalam lalu lintas keperdataan. Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata. hlm. orang-orang yang terlibat dalam suatu perjanjian dengan sengaja membuat atau menyediakan alat-alat bukti dalam bentuk tulisan. 36.

Dengan demikian. op cit. “ 48 Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa alat bukti tulisan adalah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang merupakan buah pikiran atau isi hati dari orang yang membuatnya. Dan dengan penandatanganan itu seseorang dianggap menjamin tentang kebenaran dari apa yang ditulis dalam akta tersebut. Maka tidak setiap surat dapat dikatakan sebagai akta. Yang dimaksud dengan 48 H. alat bukti tulisan terdiri dari : 1. Alat pembuktian tertulis dapat dibedakan dalam akta dan tulisan bukan akta. Adanya tanda tangan dalam suatu akta adalah perlu untuk identifikasi yaitu menentukan ciri-ciri atau membedakan akta yang satu dengan akta yang lainnya. 91.“ alat bukti tulisan ialah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang dapat dimengerti dan mengandung suatu pikiran tertentu. Jadi. Riduan Syahrani. maka hal tersebut tidak termasuk sebagai alat bukti tertulis atau surat. Akta Yang dimaksud dengan akta adalah suatu tulisan yang dibuat dengan sengaja untuk dijadikan bukti tentang sesuatu peristiwa dan ditandatangani oleh pembuatnya. Maka surat yang dijadikan alat pembuktian ditekankan pada adanya tanda-tanda bacaan yang menyatakan buah pikiran. dan harus ditandatangani. Jadi dalam hukum pembuktian. yang kemudian akta masih dibedakan lagi dalam akta otentik dan akta di bawah tangan. walaupun ada sesuatu benda yang memuat tandatanda bacaan akan tetapi tidak menyatakan buah pikiran atau isi hati. hlm. unsur-unsur yang penting untuk digolongkan dalam pengertian akta adalah kesengajaan untuk membuatnya sebagai suatu bukti tulisan untuk dipergunakan oleh orang untuk keperluan siapa surat itu dibuat. Universitas Sumatera Utara .

Ditinjau dari segi hukum pembuktian akta mempunyai beberapa fungsi. Apabila perbuatan hukum yang dilakukan tidak dengan akta. 1945 KUHPerdata tentang sumpah di muka hakim. Dalam 49 M. 564. asal dikuatkan dengan suatu keterangan yang diberi tanggal oleh seorang notaris atau pejabat lain yang ditunjuk oleh undang-undang. Pengesahan sidik jari atau cap jempol oleh pihak yang berwenang dikenal dengan waarmerking. Akta Berfungsi sebagai Formalitas Kausa Maksudnya. 1682. Penandatanganan ini harus dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan dan atas kehendaknya sendiri. 1683 KUHPerdata tentang cara menghibahkan . Yahya Harahap. Universitas Sumatera Utara . maka perbuatan hukum tersebut dianggap tidak pernah terjadi.penandatanganan ialah membubuhkan suatu tanda dari tulisan tangan yang merupakan spesialisasi sesuatu surat atas nama si pembuat. b. untuk akta otentik sedangkan untuk akta di bawah tangan seperti dalam Pasal-pasal 1610 KUHPerdata tentang pemborongan kerja. Akta Berfungsi sebagai Alat Bukti Fungsi utama akta ialah sebagai alat bukti. 1851 KUHPerdata tentang perdamaian. Artinya tujuan utama membuat akta memang diperuntukkan dan dipergunakan sebagai alat bukti. hlm. 1767 KUHPerdata tentang meminjamkan uang dengan bunga. a. Sidik jari. op cit. Jadi akta disini maksudnya digunakan untuk lengkapnya suatu perbuatan hukum. suatu akta berfungsi sebagai syarat untuk menyatakan adanya suatu perbuatan hukum. 49 Dalam hal ini dapat diambil contoh sebagaimana ditentukan dalam Pasal-pasal 1681. cap jari atau cap jempol dianggap identik dengan tanda tangan.

tanpa akta peristiwa atau hubungan hukum yang terjadi tidak dapat dibuktikan. 565. tetapi dapat dibuktikan dengan keterangan saksi. segala aspek kehidupan dituangkan dalam bentuk akta. perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta perkawinan. 565. pengakuan ataupun dengan sumpah. 51 a) akta otentik Pasal 285 RBg/165 HIR menyebutkan bahwa : “ akta otentik. yaitu suatu surat yang dibuat menurut ketentuan undang50 Ibid. hak tanggungan hanya dapat dibuktikan dengan akta hak tanggungan sesuai ketentuan Pasal 10 UU No. hlm.. 4 Tahun 1999. Akta Berfungsi sebagai Probationis Kausa Artinya. dalam perjanjian jual-beli para pihak menuangkannya dalam bentuk akta dengan maksud sebagai alat bukti tertulis tentang perjanjian tersebut. Berbeda halnya dengan perjanjian jual-beli barang. persangkaan. Bila timbul sengketa.. Akta ini dapat di bagi lagi ke dalam akta otentik dan akta di bawah tangan.masyarakat sekarang. Pembuktiannya tidak digantungkan satu-satunya pada surat perjanjian jual-beli tertentu. Misalnya. Kedudukan dan fungsi akta tersebut bersifat spesifik. sejak semula telah tersedia akta untuk membuktikan kebenaran transaksi. 50 c. jaminan fidusia hanya dapat dibuktikan dengan akta jaminan fidusia berdasar Pasal 6 UU No. fungsi akta tersebut merupakan dasar untuk membuktikan suatu hal atau peristiwa tertentu. tidak harus dengan akta. Universitas Sumatera Utara . 51 Ibid. akta sebagai satu-satunya alat bukti yang dapat dan sah membuktikan suatu hal atau peristiwa. Jadi. Misalnya. hlm. 4 Tahun 1996.

dan berita acara pelanggaran lalu lintas yang dibuat oleh polisi. tetapi yang tersebut kemudian itu hanya sekedar diberitahukan itu langsung berhubung dengan pokok yang disebutkan dalam akta tersebut. camat. “ Dari kedua defenisi di atas ternyata ada akta otentik yang dibuat oleh dan ada yang dibuat di hadapan pegawai umum atau pejabat umum yang berkuasa membuatnya. dan polisi. sedangkan untuk membuat akta pejabat ( acte ambtelikj ) justru pejabatlah Universitas Sumatera Utara . yang berkuasa untuk membuat surat itu. dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya. yaitu camat dan notaris. Untuk membuat akta partai ( acte partij ) pejabat tidak pernah memulai insiatif. dan juga tentang yang tercantum dalam surat itu sebagai pemberitahuan saja . sedangkan akta otentik yang dibuat di hadapan pegawai/pejabat umum sering disebut dengan akta partai ( acte partij ). memberikan bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya dan sekalian orang yang mendapat hak dari padanya. “ Definisi ini tidak berbeda jauh dengan Pasal 1868 KUHPerdata yang menyatakan: “ suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang. Pejabat yang berwenang membuat akta otentik adalah notaris. yaitu panitera. tentang segala hal yang tersebut di dalam surat itu. juru sita. Akta otentik yang dibuat oleh pegawai/pejabat umum sering disebut dengan akta pejabat ( acte ambtelijk ). berita acara penyitaan dan pelelangan barang-barang tergugat yang dibuat oleh juru sita. panitera. pegawai pencatat perkawinan.undang oleh atau di hadapan pejabat umum. Berita acara pemeriksaan suatu perkara di persidangan pengadilan yang dibuat panitera. dan lain sebagainya. Sedangkan akta jual-beli tanah di buat di hadapan camat atau notaris merupakan akta otentik yang dibuat di hadapan pejabat umum yang berwenang selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT ). merupakan aktaakta otentik yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang.

Sedangkan untuk daerah luar Jawa dan Madura diatur dalam Pasal 286 sampai dengan Pasal 305 RBg. dan sebagainya. tidak dalam HIR. catatan mengenai rumah tangga. “ Pasal 1874 KUHPerdata. menyebutkan : “ sebagai tulisan-tulisan di bawah tangan dianggap akta-akta yang ditandatangani di bawah tangan. yaitu dengan insiatif sendiri membuat akta tersebut. hlm. register-register. 2. op cit. 56. b) akta di bawah tangan Akta di bawah tangan untuk Jawa dan Madura diatur dalam Stb. 29. termasuk dalam pengertian akta di bawah tangan. “ Demikian pula halnya Pasal 1 Stb. 29 menyatakan bahwa surat-surat. daftar. surat-surat urusan rumah tangga dan lain-lain tulisan yang dibuat tanpa perantaraan seorang pegawai umum. Misalnya. Jadi. surat urusan rumah tangga dan surat yang ditandatangani dan dibuat dengan tidak memakai bantuan seorang pejabat umum. 1867 No. Tulisan bukan akta. dan surat-surat lainnya yang dibuat tanpa bantuan seorang pejabat. akta di bawah tangan adalah akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan pejabat umum. akta pejabat berisikan tidak lain daripada keterangan tertulis dari pejabat. 52 Dalam Pasal 286 ayat ( 1 ) RBg. Oleh karena itu. yang dituangkan ( diformulasikan ) oleh pejabat ke dalam akta. 52 Hari Sasangka. dinyatakan : “ dipandang sebagai akta di bawah tangan yaitu surat.yang bertindak aktif. surat-surat. 1867 No. Sedangkan dalam akta partai berisikan keterangan para pihak sendiri. daftar ( register ). kuitansi. perjanjian sewamenyewa. Universitas Sumatera Utara .

hlm. 60. serta dalam Pasal 1895. 53 Menurut S. Dalam hukum acara perdata alat bukti saksi diatur dalam Pasal 165 RBg/139 HIR sampai dengan Pasal 179 RBg/152 HIR tentang pemeriksaan saksi. hlm. Ada beberapa pendapat mengenai kesaksian : Menurut A. Pitlo. 54 Ibid. keterangan-keterangan ini semata-mata bersifat obyektif. 60. b.. Walaupun tulisan atau surat-surat yang bukan akta ini sengaja dibuat oleh yang bersangkutan. M. kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah 53 Ibid.Tulisan bukan akta ialah setiap tulisan yang tidak sengaja dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan/atau tidak ditandatangani oleh pembuatnya. Amin. kesaksian hanya boleh berisikan apa yang dilihat oleh saksi dengan pancainderanya dan tentang apa yang dapat diketahui sendiri dengan cara yang demikian. Universitas Sumatera Utara . didengar dan dialaminya. Bukti dengan saksi-saksi Pembuktian dengan saksi dalam praktek lazim disebut kesaksian. 54 Menurut Sudikno Mertokusumo. Pasal 1902 sampai dengan Pasal 1912 KUHPerdata. tapi pada dasarnya tidak dimaksudkan sebagai alat pembuktian di kemudian hari.. Pasal 306 RBg/169 HIR sampai dengan Pasal 309 RBg/172 HIR tentang keterangan saksi. kesaksian hanya gambaran dari apa-apa yang telah dilihat.

Namun demikian. mengenai perjanjian pertanggungan/asuransi hanya dapat dibuktikan dengan polis ( Pasal 258 KUHD). sebagaimana diatur dalam Pasal 172 RBg/145 HIR. Pasal 174 RBg/146 HIR. Hakim karena jabatannya dapat memanggil saksi-saksi yang tidak diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara. 51. b.satu pihak dalam perkara. ini diatur dalam Pasal 165 RBg/139 HIR dan Pasal 1895 KUHPerdata. Anak-anak yang belum berusia 15 ( lima belas ) tahun. yang dipanggil di persidangan. Orang-orang yang tidak dapat didengar sebagai saksi adalah : a. serta Pasal 1909 dan Pasal 1910 KUHPerdata. kecuali bila undang-undang menentukan lain. Adapun alasan pembentuk undang-undang menentukan mereka tidak dapat didengar sebagai saksi adalah : a. ada beberapa orang yang tidak dapat didengar sebagai saksi dan yang dapat mengundurkan diri sebagai saksi. Mereka pada umumnya dianggap tidak cukup objektif apabila didengar sebagai saksi. Keluarga sedarah atau keluarga karena perkawinan menurut keturunan lurus dari salah satu pihak. 55 Teguh Samudera. c. hlm. 55 Pembuktian dengan alat bukti saksi diperbolehkan dalam segala hal. op cit. mengenai perjanjian pendirian perseroan firma di antara para persero firma itu sendiri yang harus dibuktikan dengan akta notaris ( Pasal 22 KUHD ). Misalnya. Universitas Sumatera Utara . Suami atau istri dari salah satu pihak meskipun sudah bercerai. d. Orang-orang gila meskipun kadang-kadang ingatannya terang atau sehat.

Misalnya. Adapun saksi menurut keadaannya. c. tetapi semata-mata hanya tentang hal itu saja yang dipercayakan karena martabat. yang mungkin akan retak apabila mereka memberikan kesaksian. pekerjaan dan jabatannya itu. Orang-orang yang dapat meminta dibebaskan memberi kesaksian adalah : a. Untuk mencegah timbulnya tekanan batin bagi mereka setelah memberikan kesaksian. yaitu saksi yang secara kebetulan melihat atau mendengar ataupun mengalami sendiri perbuatan atau peristiwa hukum yang menjadi perkara. b. saksi tersebut bukan diminta atau dipersiapkan oleh para pihak pada saat peristiwa tersebut dilakukan. pekerjaan atau jabatannya yang sah diwajibkan menyimpan rahasia. Keluarga sedarah menurut keturunan lurus dari saudara laki-laki dan perempuan dari suami/istri dari salah satu pihak. yaitu saksi yang pada saat perbuatan hukum tersebut Universitas Sumatera Utara . 2.b. Keluarga sedarah dan keluarga karena perkawinan tidak dapat ditolak sebagai saksi dalam perkara tentang perjanjian pekerjaan. advokat dan notaris. dapat digolongkan ke dalam : 1. Orang yang karena martabat. Untuk menjamin hubungan kekeluargaan yang baik. Saksi yang disengaja. Dengan kata lain. misalnya dokter. Saksi tidak disengaja. A pada saat datang ke rumah B secara kebetulan melihat B dan C mengadakan transaksi jual beli. Saudara laki-laki dan perempuan serta ipar laki-laki dan perempuan salah satu pihak. c.

tidak boleh secara tertulis dan diwakilkan oleh orang lain.. Misalnya. Dengan demikian. Dalam hal ini saksi tidak boleh menyimpulkan. Universitas Sumatera Utara . Pembuktian dengan persangkaan dilakukan bila terdapat kesukaran untuk mendapatkan saksi-saksi yang melihat atau mengalami sendiri peristiwa yang harus dibuktikan. 60. karena hal ini bukan dianggap sebagai kesaksian ( Pasal 308 RBg/171 ayat ( 2 ) HIR dan Pasal 1907 KUHPerdata ). hlm. membuat dugaan ataupun memberikan pendapat tentang kesaksiannya. Kesaksian juga harus dikemukakan dengan lisan dan secara pribadi di muka persidangan. Ketentuan ini ditafsirkan dari Pasal 166 ayat ( 1 ) RBg/140 ayat ( 1 ) HIR dan Pasal 176 RBg/148 HIR yang menentukan bahwa terhadap saksi yang telah dipanggil dengan patut dan tidak datang diberi sanksi dan terhadap saksi yang telah datang di persidangan tetapi enggan memberikan keterangan juga dapat diberi sanksi. dan lain-lain. Persangkaan-persangkaan Alat bukti persangkaan diatur dalam Pasal 310 RBg/173 HIR dan Pasal 1915 sampai dengan Pasal 1922 KUHPerdata. Misalnya. dengar dan alami sendiri serta alasan atau dasar yang melatarbelakangi pengetahuan tersebut.dilakukan telah diminta dengan sengaja oleh para pihak untuk menyaksikan perbuatan hukum tersebut. dalam perkara 56 Ibid. Mengenai kesaksian yang harus diberikan oleh saksi di muka persidangan adalah tentang adanya perbuatan atau peristiwa hukum yang saksi lihat. saksi harus memberitahukan sendiri apa yang diketahuinya. orang-orang yang diminta untuk ikut serta menyaksikan perjanjian jual beli. pembagian warisan. 56 c.

hlm. persangkaan hakim dalam perkara perceraian yang didasarkan alasan perzinahan. Sedangkan jika yang menarik kesimpulan tersebut undang-undang maka dinamakan persangkaan undang-undang. op cit. Universitas Sumatera Utara . 96. 57 Persangkaan dapat dibedakan sebagai berikut : 1. maka perbuatan perzinahan tersebut telah terjadi menurut persangkaan hakim. 58 Hari Sasangka. Misalnya. tidur bersama dalam satu kamar yang hanya punya satu tempat tidur. Persangkaan atas dasar kenyataan ( feitelijke/rechtelijke vermoedens atau praesumptiones facti ) Dalam hal ini hakimlah yang memutuskan berdasarkan kenyataan. 68. Maka untuk membuktikan peristiwa perzinahan hakim harus menggunakan alat bukti persangkaan. Persangkaan atas dasar hukum/undang-undang ( wettelijke/rechtsvermoedens atau praesumptiones juris ) 57 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata. atau peristiwa yang dikenal. op cit. 58 2. bahwa persangkaan tersebut terkait erat dengan peristiwa lain sehingga dapat melahirkan pembuktian. hlm.gugatan perceraian yang didasarkan pada perzinahan sangat sulit sekali untuk mendapatkan saksi yang telah melihat sendiri perbuatan tersebut. Jika yang menarik kesimpulan tersebut adalah hakim maka persangkaan tersebut dinamakan persangkaan hakim. Apabila seorang pria dengan seorang wanita dewasa yang bukan suami isteri. kearah suatu peristiwa yang belum terbukti. Persangkaan adalah kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah dianggap terbukti.

Universitas Sumatera Utara . 59 Persangkaan berdasarkan hukum ini dapat dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu : a. yaitu persangkaan berdasarkan hukum yang tidak memungkinkan pembuktian lawan. hlm.Dalam hal ini undang-undanglah yang menetapkan hubungan antara peristiwa yang diajukan dengan peristiwa yang tidak diajukan. Mengenai pembayaran sewa rumah. b.. maka dengan adanya 3 ( tiga ) surat tanda pembayaran 3 ( tiga ) angsuran berturut-turut. Terhadap benda bergerak yang tidak berupa bunga maupun piutang yang harus dibayar kepada si pembawa. terbitlah 59 Ibid. praesumptiones juris tantum. 4. Tiap tembok yang dipakai sebagai tembok batas antara 2 ( dua ) pekarangan dianggap sebagai milik bersama pemilik pekarangan yang berbatasan. sewa tanah. kecuali ada suatu alas hak atau tanda-tanda yang menunjukkan sebaliknya ( Pasal 633 KUHPerdata ). yaitu persangkaan berdasarkan hukum yang memungkinkan adanya pembuktian lawan. praesumtiones juris et de jure. maka suami dari perempuan yang melahirkan adalah ayahnya ( Pasal 250 KUHPerdata ). Tiap anak yang dilahirkan selama perkawinan. dan pada umumnya segala apa yang harus dibayar tiap tahun atau tiap waktu tertentu yang lebih pendek. tunjangan nafkah. 98. 3. maka barangsiapa yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya ( Pasal 1977 ayat ( 1 ) KUHPerdata ). bunga pinjaman uang. 2. Contoh-contoh persangkaan undang-undang : 1.

pengakuan adalah suatu keterangan yang diberikan oleh salah satu pihak dalam perkara. “ pengakuan adalah keterangan sepihak dari salah satu pihak dalam suatu perkara. “ pengakuan di muka hakim di persidangan merupakan keterangan sepihak baik tertulis maupun lisan yang tegas dan dinyatakan oleh salah satu pihak dalam perkara di persidangan yang membenarkan baik seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa. 102. Pasal 312 RBg/175 HIR. Ada beberapa pendapat mengenai defenisi pengakuan : 1) Menurut A. Pasal 313 RBg/176 HIR serta Pasal 1923 sampai dengan Pasal 1928 KUHPerdata. hak atau hubungan hukum yang diajukan oleh lawannya yang mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut oleh hakim tidak perlu lagi. “ 62 Jadi. dimana ia mengakui apa yang dikemukakan oleh pihak lawan atau sebagian dari apa yang dikemukakan pihak lawan. 61 Hari Sasangka. M. 102. atau hanya satu atau lebih daripada satu hak-hak atau hubungan yang didakwakan ( didalilkan ). d. baik secara lisan atau tertulis yang bersifat membenarkan peristiwa. hak atau hubungan hukum yang dikemukakan atau didalilkan oleh 60 A. “ 61 3) Menurut Sudikno Mertokusumo. “ pengakuan adalah suatu pernyataan tegas oleh seorang di muka sidang pengadilan. hlm. “ 60 2) Menurut S. Universitas Sumatera Utara . op cit. 62 Ibid.persangkaan bahwa angsuran-angsuran yang lebih dahulu telah dibayar lunas. Pengakuan Pengakuan sebagai alat bukti diatur dalam Pasal 311 RBg/174 HIR.. hlm. Pitlo. yang membenarkan seluruh dakwaan ( dalil ) lawan. op cit. atau hanya salah satu atau lebih daripada satu hal-hal yang didakwakan ( didalilkan ). Pitlo. hlm 150. kecuali dibuktikan sebaliknya ( Pasal 1394 KUHPerdata ). Amin.

Pasal 1927 dan 1928 KUHPerdata ). hak atau hubungan hukum yang didalilkan oleh lawan baik sebagian atau seluruhnya. Pengakuan di luar persidangan dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan. pengakuan merupakan suatu pembenaran terhadap peristiwa. Universitas Sumatera Utara . kecuali terbukti bahwa pengakuan tersebut adalah akibat dari suatu kekeliruan mengenai hal-hal yang terjadi. Pasal 1925. Pengakuan dapat terjadi di dalam dan di luar sidang pengadilan.000.000.00 ( satu juta rupiah ). Pengakuan tersebut mutlak. Dengan demikian. 1. Pasal 1926 KUHPerdata ). Dengan demikian pengakuan tersebut harus dinyatakan terbukti oleh hukum. penggugat menyatakan bahwa tergugat meminjam uang sebesar Rp. Pengakuan yang terjadi di dalam sidang pengadilan ( Pasal 311 RBg/174 HIR. pengakuan ini tidak dapat ditarik kembali. Sedangkan. pengakuan yang terjadi di luar persidangan ( Pasal 312 RBg/175 HIR. pengakuan yang dilakukan salah satu pihak di depan hakim dalam persidangan.pihak lain. Pengakuan murni adalah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan. tergugat mengakui bahwa ia memang meminjam uang kepada penggugat sebesar Rp. tidak ada syarat apapun. Pengakuan dibeda-bedakan sebagai berikut : 1. Misalnya.00 ( satu juta rupiah ).000. merupakan keterangan yang diberikan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata di luar persidangan untuk membenarkan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh pihak lawan.000. 1.

tetapi hutang tersebut sudah dibayar lunas. tetapi disertai dengan penjelasan tambahan yang menjadi dasar penolakan gugatan. hakim tidak bebas untuk menerima sebagian saja dan menolak sebagian lainnya. Misalnya. 1.000.000. Alat bukti pengakuan harus diterima seluruhnya. Universitas Sumatera Utara .000. Pengakuan dengan klausula adalah pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersifat membebaskan.000. pengakuan ini adalah jawaban tergugat yang memuat sebagian berupa pengakuan dan sebagian lagi berupa sangkalan atau bantahan. Dengan kata lain.2.00 ( dua juta rupiah ) melainkan Rp. ( Pasal 313 RBg/176 HIR. tetapi bukan Rp. 3.000. pembebasan atau kompensasi. Pengakuan dengan kualifikasi adalah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian tuntutan si penggugat. tergugat mengakui memang meminjam uang kepada penggugat sebesar Rp. Pengakuan ini sebenarnya adalah jawaban tergugat tentang hal pokok yang diajukan oleh penggugat. 3.000. Artinya pengakuan tidak boleh dipecah-pecah.000. 2. 3. sehingga merugikan orang yang mengakui hal itu. 2. Misalnya.00 ( tiga juta rupiah ).00 ( tiga juta rupiah ).000.00 ( dua juta rupiah ).000. Pasal 1924 KUHPerdata ). Keterangan tambahan atau klausula semacam itu dapat berupa pembayaran. penggugat menyatakan tergugat telah meminjam uang kepadanya sebesar Rp.000. tergugat mengakui memang telah meminjam uang kepada penggugat. penggugat menyatakan tergugat telah meminjam uang kepadanya sebesar Rp.00 ( satu juta rupiah ).

hlm. alat bukti sumpah ada dua macam : 63 64 65 66 A. op cit. yang disampaikan atas nama Yang Maha Kuasa. H. hlm. Tirtaamidjaja. “ Sumpah adalah pernyataan untuk memastikan sesuatu. Teguh Samudera. “ Sumpah pada umumnya adalah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat akan sifat mahakuasa daripada Tuhan. ia bersedia dikutuk Tuhan. Walaupun undang-undang tidak menjelaskan arti sumpah. 100. dan percaya bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya. “ 66 Dalam hukum acara perdata. op cit. Pitlo. Pasal 314 RBg/Pasal 177 HIR.e. bahwa jika orang yang mengangkat sumpah itu memberi keterangan yang tidak benar. 113. yaitu antara lain : 1) Menurut A. Universitas Sumatera Utara . Hari Sasangka. 172. Pasal 1929 sampai dengan Pasal 1945 KUHPerdata. “ Sumpah adalah suatu keterangan yang diucapkan dengan khidmat. Sumpah Alat bukti sumpah diatur dalam Pasal 182 sampai dengan Pasal 185 RBg/Pasal 155 sampai dengan Pasal 158 HIR. “ 65 4) Menurut Krisna Harahap. “ 63 2) Menurut Sudikno Mertokusumo. “ Sumpah adalah hal menguatkan suatu keterangan dengan berseru kepada Tuhan. Pitlo. hlm. para ahli hukum memberikan pengertiannya. “ 64 3) Menurut M. op cit. 95. hlm. Krisna Harahap. op cit.

Insiatif Universitas Sumatera Utara . terhadap pihak tersebut tidak boleh diminta alat bukti lain untuk menguatkan sumpah yang telah diucapkan. yakni : a) b) sumpah penambah/pelengkap ( sumpah suppletoir ) dan sumpah penaksir ( sumpah taxatoir ). 2. yang dimaksudkan sebagai alat bukti. maka dalam Pasal 314 RBg/177 HIR menyatakan bahwa apabila salah satu pihak telah mengucapkan sumpah baik dalam sumpah penambah atau sumpah pemutus. Sumpah Pemutus Sumpah pemutus disebut juga sumpah decissoir. praktik alat bukti sumpah baru dapat dilakukan apabila kedua belah pihak atau hakim telah putus asa dalam mencari alat-alat bukti lain untuk meneguhkan keterangan-keterangan kedua belah pihak. Kedua macam sumpah tersebut bermaksud untuk menyelesaikan perkara. Sumpah yang oleh hakim karena jabatannya. namun dibuka kemungkinan untuk memperoleh keterangan dari para pihak dengan diteguhkan dengan sumpah. 1. Sehubungan dengan hal itu. diperintahkan kepada salah satu pihak. yakni sumpah pemutus ( sumpah decissoir ). diatur dalam Pasal 183 RBg/156 HIR dan Pasal 1930 KUHPerdata.1. Walaupun para pihak tidak dapat didengar sebagai saksi. Di dalam hukum acara perdata para pihak yang bersengketa tidak boleh didengar sebagai saksi. Sumpah pemutus adalah sumpah yang diajukan oleh salah satu pihak yang berperkara kepada lawannya. Sumpah oleh salah satu pihak memerintahkan kepada pihak lawan untuk menggantungkan putusan perkara kepadanya.

hakim harus memperkenankan penyumpahan itu dan harus memberi putusan sesuai dengan bunyi sumpah tersebut. harus dikalahkan. Bila segala sesuatu untuk melakukan sumpah telah terpenuhi. apakah hal-hal atau kejadian-kejadian yang akan dilakukan dengan sumpah tersebut akan membawa pada penyelesaian perkara dan apakah benar-benar mengenai hal-hal dan kejadian-kejadian yang benar tidaknya memang dapat dikuatkan oleh sumpah dari pihak yang berperkara. “ Hakim tidak boleh menolak keinginan pihak-pihak yang berperkara untuk menyelesaikan perkaranya dengan sumpah pemutus. Pasal 1936 KUHPerdata menyatakan : Universitas Sumatera Utara . bila perbuatan yang dimintakan sumpah bukan merupakan perbuatan yang dilakukan bersama oleh kedua belah pihak. Hakim hanya mempertimbangkan. melainkan hanya dilakukan sendiri oleh pihak yang dibebani sumpah. maka sumpah tersebut tidak dapat dikembalikan kepada pihak lawan yang tidak ikut melakukan perbuatan.untuk membebani sumpah pemutus adalah dari salah satu pihak yang berperkara dan dia pulalah yang menyusun rumusan sumpahnya. Apabila perbuatan tersebut dilakukan kedua belah pihak. Akan tetapi. tetapi tidak bersedia. dapat mengembalikan sumpah tersebut kepada lawannya. Pasal183 RBg/156 HIR dan Pasal 1932 KUHPerdata menyatakan : “ barangsiapa yang diperintahkan mengangkat sumpah dan menolak mengangkatnya atau menolak mengembalikannya. Sumpah pemutus harus mengenai perbuatan yang dilakukan sendiri oleh pihak yang diperintahkan untuk bersumpah. ataupun barangsiapa memerintahkan mengangkat sumpah dan setelah kepadanya sumpah itu dikembalikan ia menolak mengangkatnya. pihak yang diperintahkan bersumpah.

hlm. op cit. Universitas Sumatera Utara . atau seorang yang kepada sumpahnya telah dikembalikan pemutusan perkaranya. maka tak dapatlah pihak lawan diterima untuk membuktikan kepalsuan sumpah itu. 119. a) Sumpah Penambah Sumpah penambah atau sumpah pelengkap disebut juga dengan sumpah suppletoir diatur dalam Pasal 182 RBg/155 HIR dan Pasal 1940 KUHPerdata.H. Jadi. S. Pihak mana yang harus diperintahkan oleh hakim untuk mengangkat 67 H.“ apabila seorang yang telah diperintahkan melakukan sumpah pemutus. 67 2. baik penggugat ataupun tergugat. tetapi masih belum mencukupi dan tidak ada alat bukti lain. Jika pihak yang dikalahkan menuduh bahwa sumpah yang diangkat pihak lawannya itu palsu. bila sudah ada permulaan pembuktian. demikian pula apabila telah ada alat bukti yang cukup.. Sumpah penambah adalah sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak yang berperkara untuk menambah atau melengkapi pembuktian peristiwa yang belum lengkap. Riduan Syahrani. sumpah penambah hanya dapat diperintahkan oleh hakim kepada salah satu pihak yang berperkara. sudah mengangkat sumpahnya. “ Pihak yang memerintahkan pihak lawannya untuk bersumpah harus dikalahkan. Jika tanpa ada bukti sama sekali maka hakim tidak dapat memerintahkan salah satu pihak yang berperkara untuk mengangkat sumpah penambah ini. tanpa ada kemungkinan untuk mengajukan alat bukti lain. maka ia dapat mengajukan pengaduan kepada aparat yang berwenang dan meminta supaya pihak yang mengangkat sumpah itu dituntut dalam perkara pidana atas dakwaan bersumpah palsu yang disebut dalam Pasal 242 KUHPidana.

dapat diambil beberapa perbedaan yang utama dari sumpah pemutus dengan sumpah penambah : 69 1) sumpah pemutus dibebankan oleh hakim atas insiatif para pihak dalam perkara. Universitas Sumatera Utara . sedangkan sumpah penambah harus ada permulaan pembuktian . 68 Hari Sasangka. tidak boleh mengembalikan sumpah tersebut kepada pihak lawan.. 116. 69 Ibid. artinya hakim bebas dalam memilih siapa dari pihakpihak yang berperkara yang akan dibebani sumpah. 2) sumpah pemutus hanya diperbolehkan apabila tidak ada suatu bukti apapun. ( Pasal 182 RBg/155 HIR ayat ( 1 ) dan Pasal 1941 KUHPerdata )68 Adapun apa yang dinyatakan dalam sumpah penambah tidak harus berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan secara pribadi oleh orang yang bersumpah. Hakim dapat memerintahkan sumpah penambah tersebut apabila ia berpendapat bahwa tuntutan atau tangkisan tidak terbukti dengan sempurna ataupun tuntutan atau tangkisan tersebut juga tidak sama sekali tidak terbukti. Dan kepada pihak lawan diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa sesuatu yang telah diteguhkan oleh sumpah tersebut adalah tidak benar.sumpah penambah adalah merupakan kebijaksanaan hakim yang memeriksa tentang duduk perkaranya. Dari apa yang telah diuraikan di atas. sedangkan sumpah penambah atas insiatif hakim sendiri . hlm. hlm 128. op cit. Pihak yang diperintahkan oleh hakim untuk mengangkat sumpah penambah. Dalam hal ini yang harus dipertimbangkan oleh hakim ialah pihak mana yang dengan sumpah penambah itu akan menjamin kebenaran peristiwa yang menjadi perkara.

6) sumpah pemutus memberikan bukti yang menentukan. Sumpah Universitas Sumatera Utara . diatur dalam Pasal 182 RBg/155 HIR dan Pasal 1940 KUHPerdata. 2. sedangkan dalam sumpah penambah yang menjadi obyek sumpah adalah perbuatan orang lain. Sumpah penaksir yaitu sumpah yang diperintahkan hakim karena jabatannya kepada penggugat untuk menentukan jumlah uang pengganti kerugian. sehingga perlu dipastikan dengan pembuktian. b) Sumpah Penaksir Sumpah penaksir disebut juga dengan sumpah taxatoir atau sumpah aestimatoir. yang dapat dilawan dengan bukti lain. sedangkan untuk sumpah penambah dapat dipengaruhi dengan adanya sumpah palsu . Dan untuk itu hakim harus menetapkan harga tertinggi ( Pasal 182 RBg/155 HIR ayat ( 2 ) dan Pasal 1942 KUHPerdata ). 5) dalam sumpah pemutus yang menjadi objek sumpah harus mengenai perbuatan pribadi ( meskipun dalam keadaan khusus juga dimungkinkan perbuatan orang lain ). bila jumlah uang pengganti kerugian yang diderita pihak tergugat tidak jelas. 4) sumpah palsu tidak dapat mempengaruhi akibat dari sumpah pemutus.3) sumpah pemutus dapat dikembalikan kepada pihak lain. sedangkan sumpah penambah memberikan bukti sementara. Sumpah penaksir ini diperintahkan oleh hakim. sedangkan sumpah penambah tidak dapat dikembalikan atau dialihkan ke pihak lain . Sumpah penaksir hanya dapat dibebankan kepada si penggugat bila si penggugat telah membuktikan haknya atas pembayaran kerugian.

kecuali apabila ada halangan yang sah. 120. Oleh karena sumpah pemutus dan sumpah penambah sama-sama bertujuan menyelesaikan perkara. maka dalam Pasal 314 RBg/177 HIR dinyatakan : “ Orang yang di dalam suatu perkara telah mengangkat sumpah. Universitas Sumatera Utara . orang itu tidak dapat diminta bukti lain akan meneguhkan apa yang dibenarkannya dengan sumpah. hlm... 70 Baik sumpah pemutus. misalnya pihak yang dibebankan sumpah tersebut sakit. sumpah penambah maupun sumpah penaksir harus dijalankan sendiri oleh pihak yang dibebankan sumpah tersebut. yang dibebankan. “ Artinya. 71 Pengangkatan sumpah harus dijalankan di dalam persidangan. hlm. bila tidak maka sumpah tersebut menjadi batal. kalau sumpah sudah dilakukan oleh salah satu pihak. Pengadilan Negeri memberi ijin kepada salah satu pihak untuk melakukan sumpah kepada seorang wakil berdasarkan surat kuasa ( Pasal 184 RBg/157 HIR ). Pelaksanaan sumpah harus diambil dihadapan pihak yang lain. surat kuasa tersebut harus berupa surat otentik yang secara seksama dan cukup menyebutkan bunyi lafal sumpah tersebut. Namun sebagai pengecualian yang disebabkan karena hal yang penting. 71 Ibid. maka pihak itu 70 Ibid. atau dibebankan kepadanya oleh hakim. setelah pihak tersebut dipanggil secara patut. maka pelaksanaan sumpah dapat dilakukan di rumah orang yang berhalangan dengan bantuan panitera/panitera pengganti untuk membuat berita acara ( Pasal 185 RBg/158 HIR ). atau ditolak kepadanya oleh lawannya. 126.tersebut dapat dipergunakan oleh hakim bila ia berpendapat bahwa alat bukti yang telah ada tidak dapat menetapkan besarnya kerugian tersebut.

tidak dapat lagi diperintahkan mengadakan bukti lain untuk meneguhkan apa yang sudah dibenarkannya dengan sumpah tersebut. sedangkan untuk membawa objek yang ingin dijelaskan tersebut ke depan persidangan tidak mungkin. dengan itu ia akan dapat mempertimbangkan sebaik-baiknya dan memberikan putusan yang seadil-adilnya. Jadi. Selain itu. hlm. misalnya bendabenda tetap. sehingga ia mengetahui dengan jelas segala seluk beluknya. maka pemeriksaan perkara dianggap selesai dan hakim tinggal menjatuhkan putusannya. Dengan melakukan pemeriksaan setempat hakim dapat melihat atau mengetahui secara langsung bagaimana keadaan atau fakta-fakta dari suatu perkara. bahkan dengan gambar atau sketsa sekalipun. Suatu pemeriksaan setempat dapat dilakukan dengan adanya alasan : 72 72 Ibid. f. 129. untuk mengetahui dengan jelas segala seluk-beluk suatu perkara kadang kala bukanlah merupakan hal yang mudah. Universitas Sumatera Utara .. Akan tetapi. dengan dilakukannya sumpah. Dalam keadaan yang demikian maka untuk mengetahui keadaankeadaan atau fakta-fakta dari perkara tersebut dengan sebaik-baiknya perlu dilakukan pemeriksaan setempat. Pemeriksaan setempat Hakim terutama pada Pengadilan Negeri sebagai judex facti harus memeriksa fakta-fakta dari suatu perkara dengan sebaik-baiknya. menurut peraturan hukum yang berlaku. terhadap satu keadaan kadang kala tidak bisa atau tidak begitu mudah dijelaskan secara lisan ataupun tulisan. apalagi bila keterangan yang disampaikan pihak-pihak yang berperkara bertentangan satu sama lain.

Pemeriksaan setempat diatur dalam Pasal 180 RBg/153 HIR. Dan apabila letak barang-barang yang hendak diperiksa tersebut di luar wilayah hukum dari pengadilan yang menangani perkaranya. hakim-hakim anggota. Keadaan-keadaan tersebut tentu saja tidak dapat diketahui dalam sidang pengadilan kecuali diadakan pemeriksaan setempat terhadap barang-barang tersebut. 2) letak suatu bangunan yang disengketakan. Jika dipandang perlu pemeriksaan setempat dapat dilakukan dengan mengikutsertakan aparat keamanan ( polisi ). Dalam praktek pemeriksaan setempat dilakukan oleh hakim ketua sidang. yang dimaksud dengan pemeriksaan setempat adalah pemeriksaan mengenai fakta-fakta atau keadaan-keadaan suatu perkara yang dilakukan hakim karena jabatannya di tempat objek perkara perdata. dan panitera pengganti serta dihadiri oleh pihak-pihak yang berperkara. dan para teknisi seperti juru ukur dan juru gambar dari Kantor Agraria untuk membantu demi kelancaran pemeriksaan setempat tersebut. bangunan atau barang sengketa tersebut. Seorang juru sita ( wakil ) yang ditunjuk secara sah oleh hakim Pengadilan Negeri untuk Universitas Sumatera Utara . yang sulit di bawa ke depan persidangan. 4) suatu kerugian yang timbul akibat perbuatan salah satu pihak terhadap suatu bangunan.1) selisih atau perbedaan batas-batas tanah yang disengketakan oleh penggugat maupun tergugat. 3) barang-barang yang sangat besar dan terletak di suatu tempat atau suatu bangunan. Jadi. kewenangan tersebut dilimpahkan kepada hakim yang wilayah hukumnya meliputi tanah.

Meskipun pemeriksaan setempat ini dilakukan hakim karena jabatannya. berwenang penuh untuk melakukan perintah tersebut dan hasil pemeriksaannya dapat menjadi keterangan bagi hakim yang bersangkutan dalam pemeriksaan dan pemutusan perkara yang dihadapinya. Walaupun tidak ditetapkan dalam Pasal 284 RBg/164 HIR.melakukan pemeriksaan setempat. hakim dapat mengangkat seorang ahli untuk dimintakan pendapatnya mengenai sesuatu hal pada perkara yang sedang diperiksa. Keterangan ahli Mengenai keterangan ahli diatur dalam Pasal 181 RBg/154 HIR yang menentukan jika menurut pertimbangan pengadilan suatu perkara dapat menjadi lebih jelas bila dimintakan keterangan ahli. Maksudnya tidak lain agar Universitas Sumatera Utara . atas permintaan pihak yang berperkara atau karena jabatan. pemeriksaan setempat sesungguhnya juga merupakan alat bukti karena pemeriksaan setempat disamakan dengan penglihatan hakim atau penyaksian hakim yang dapat dipakai sebagai pengetahuannya sendiri dalam usaha pembuktian yang kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada hakim. Pemeriksaan setempat bukan dilakukan oleh hakim secara pribadi. sebab pemeriksaan setempat tersebut dilakukan dalam upaya agar hakim memperoleh kepastian tentang peristiwa yang menjadi sengketa. namun pihak-pihak yang berperkara dapat memohon agar pemeriksaan setempat tersebut dilakukan. tetapi yang menentukan tetap hakim ketua sidang pengadilan. melainkan dilakukan karena jabatannya yang dilakukan jika dianggap perlu dan berguna bagi pemeriksaan suatu perkara. Keterangan ahli ini dikuatkan dengan sumpah. g.

keterangan ahli seringkali benar-benar membuktikan sesuatu hal. misalnya tentang sebab seseorang meninggal dunia atau tentang persamaan contoh barang yang ditawarkan dengan barang yang telah dijual. apalagi hal-hal yang menyangkut masalah nonhukum yang hanya diketahui oleh ahli dalam bidang tertentu. dimana kekuatan hukum masing-masing bukti ini dapat mempengaruhi 73 Ibid. Atas dasar ini maka keterangan ahli dianggap sebagai alat bukti. hlm. Kekuatan Hukum Pembuktian yang Melekat pada Setiap Alat-Alat Bukti Setiap alat bukti yang telah diuraikan sebelumnya memiliki kekuatan hukum. Sampai sekarang keterangan seorang ahli tidak dianggap sebagai alat bukti dalam perkara perdata sebab keterangan ahli bukan mengenai terjadi atau tidaknya suatu keadaan dalam suatu perkara. 135. 73 D. Meskipun demikian. Universitas Sumatera Utara . Dari ketentuan Pasal 181 RBg/154 HIR ayat ( 2 ) dikatakan bahwa keterangan ahli dapat berbentuk tertulis maupun lisan yang dikuatkan dengan sumpah. Apa yang diterangkan oleh ahli bukan merupakan fakta-fakta atau hal-hal yang dilihat. tetapi mengenai pendapat seseorang tentang sesuatu hal yang memerlukan keahlian. tidak berarti pendapat ahli akan begitu saja diabaikan oleh hakim. Namun kenyataannya dalam praktek. dialami maupun yang didengarnya sendiri untuk itu hakim tidak diwajibkan untuk menuruti pendapat ahli jika pendapat ahli itu berlawanan dengan keyakinannya..keterangan tersebut disampaikan seobjektif mungkin.

Kekuatan pembuktian ini berfungsi memberikan kepastian tentang peristiwa bahwa pejabat atau para pihak Universitas Sumatera Utara . a. yaitu : a. Dengan demikian berarti pembuktiannya bersumber pada kenyataan. sepanjang tidak terbukti kebalikannya. hakim dapat mengetahui langkah selanjutnya yang harus ia ambil sehubungan dengan alat bukti tersebut. diterima atau dianggap seperti akta dan diperlakukan sebagai akta. yaitu : 1. Kekuatan pembuktian formal Yang dimaksud dengan kekuatan pembuktian formal dari suatu akta yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas benar tidaknya pernyataan yang bertanda tangan pada akta tersebut. Jadi. Bukti Tulisan atau Surat Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa alat bukti tulisan atau surat ini dapat dibagi lagi ke dalam 3 ( tiga ) bagian. misalnya. surat itu harus diperlakukan seperti akta. Akta Kekuatan pembuktian akta dapat dibedakan ke dalam 3 ( tiga ) macam. kecuali ketidakotentikan akta itu dapat dibuktikan oleh pihak lain. b.penggunaan alat bukti tersebut dalam proses persidangan dan dengan adanya kekuatan hukum dari masing-masing alat bukti tersebut. Kekuatan pembuktian lahir Yang dimaksudkan dengan kekuatan pembuktian lahir yang disebut juga dengan kekuatan pembuktian keluar dari akta yaitu suatu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keadaan lahir bahwa suatu surat yang kelihatannya seperti akta. dapat dibuktikan bahwa tanda tangan yang ada di dalam akta tersebut dipalsukan.

Kekuatan pembuktian material Yang dimaksud dengan kekuatan pembuktian material akta yaitu suatu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas benar atau tidaknya isi dari pernyataan yang ditandatangani dalam akta. suatu akta hanya memberikan bukti terhadap si penanda tangan. Sedangkan terhadap orang lain atau pihak ketiga. memberi kepastian tentang materi akta. akta tersebut tidak mempunyai kekuatan bukti sempurna melainkan hanya sebagai alat pembuktian bebas. Berbeda dengan akta otentik yang dibuat oleh pejabat Universitas Sumatera Utara . Jadi. Maka dari sudut kekuatan pembuktian material. artinya penilaian kekuatan pembuktiannya bergantung pada pertimbangan hakim.menyatakan dan melakukan apa yang dimuat dalam akta tersebut. adalah benar dan bertujuan untuk mengadakan bukti untuk dirinya sendiri. Kekuatan bukti sempurna dari akta otentik partai ( acte partij ) hanya berlaku antara kedua belah pihak dan ahli warisnya serta orang-orang yang mendapatkan hak daripadanya. a) Akta otentik Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 285 RBg/165 HIR serta Pasal 1870 KUHPerdata disimpulkan bahwa akta otentik merupakan alat bukti yang mengikat dan sempurna. Dengan demikian berarti pembuktiannya bersumber pada keinginan agar orang lain menganggap isi keterangannya dan untuk siapa isi keterangan tersebut berlaku. Dengan demikian berarti pembuktiannya bersumber atas kebiasaan dalam masyarakat. bahwa peristiwa hukum yang dinyatakan dalam akta tersebut benar-benar telah terjadi. c. bahwa orang menandatangani suatu surat untuk menerangkan bahwa hal-hal yang tercantum di atas tanda tangan tersebut adalah keterangannya.

yaitu keterangan tentang apa yang ia alami. dan dilakukan oleh pejabat yang berwenang dalam pembuatan akta. maka akta otentik. akta ini juga mempunyai kekuatan bukti sebagai keterangan resmi dari pejabat yang bersangkutan. Pada umumnya akta pejabat ( acte ambtelijk ) tidak memiliki kekuatan pembuktian material. sampai ada pembuktian sebaliknya. b. Demikian juga tanda tangan pejabat pada akta otentik tersebut dianggap benar dan asli. c. Sebagai alat bukti. Kekuatan pembuktian formal akta otentik. Dalam arti formal. Kekuatan pembuktian lahir ini berlaku bagi setiap orang dan tidak terbatas pada para pihak saja. Dalam hal yang telah dapat dipastikan adalah tentang tanggal. Suatu akta yang secara lahir tampak sebagai akta otentik dan memenuhi syarat yang ditentukan. baik akta para pihak ( acte partij ) maupun akta pejabat ( acte ambtelijk ). tempat akta tersebut dibuat. Kekuatan pembuktian lahir akta otentik. a. keunggulannya terletak pada kekuatan pembuktian lahir. maka akta tersebut dapat dianggap sebagai akta otentik sampai terbukti sebaliknya.( acte ambtelijk ). Beban pembuktian terletak pada siapa yang mempersoalkan otentik atau tidaknya akta tersebut. didengar. kecuali akta yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Universitas Sumatera Utara . Kekuatan pembuktian material akta otentik. suatu akta otentik membuktikan kebenaran dan kepastian terhadap apa yang dilihat. Akta otentik ini berlaku terhadap setiap orang. dan keaslian tanda tangan yang dicantumkan dalam akta tersebut.

Sedangkan semua akta para pihak ( acte partij ) memiliki kekuatan pembuktian material. merupakan bukti yang sempurna seperti akta otentik. diwajibkan mengakui atau memungkiri tanda tangannya. Sedangkan terhadap ahli waris cukup dengan menerangkan bahwa ia tidak mengakui atau tidak mengenal tulisan atau tanda tangan tersebut. Akta pejabat ( acte ambtelijk ) ini tidak lain merupakan petikan atau salinan dari daftar aslinya. Kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim. dan orang-orang yang mendapat hak dari mereka. Tanda tangan dari si penanda tangan akta memberi pengesahan atas kebenaran isi materiil yang tertera ( tercantum ) dalam akta tersebut. akta tersebut bagi yang menandatangani ( mengakui ). Apabila tanda tangan tersebut diingkari atau tidak diakui oleh ahli warisnya maka menurut Pasal 1877 KUHPerdata hakim harus memerintahkan agar kebenaran akta tersebut diperiksa di muka Universitas Sumatera Utara . Kekuatan pembuktian lahir akta di bawah tangan. b) Akta di bawah tangan Pasal 288 RBg dan Pasal 1875 KUHPerdata menentukan bahwa bila tanda tangan suatu akta di bawah tangan telah diakui atau dianggap diakui menurut undang-undang. Bagi kepentingan dan terhadap pihak ketiga kekuatan pembuktian material ini diserahkan kepada pertimbangan hakim.Sipil. sampai dapat dibuktikan sebaliknya. a. sepanjang isinya sesuai dengan daftar aslinya. Menurut ketentuan Pasal 1876 KUHPerdata seseorang yang terhadapnya dimajukan akta di bawah tangan. ahli waris.

Kekuatan pembuktian formal akta di bawah tangan sama dengan kekuatan formal akta otentik. b. Dengan demikian akta di bawah tangan hanya memberikan pembuktian material yang cukup atau sebagai bukti yang sempurna terhadap orang yang menandatanganinya. Kekuatan pembuktian material akta di bawah tangan. Terhadap pihak ketiga. c. Oleh karena itu. akta di bawah tangan ini memiliki kekuatan pembuktian yang bebas. bahwa si yang bertandatangan dalam akta di bawah tangan tersebut menyatakan seperti apa yang ada di atas tanda tangan tersebut. isi semua pernyataan dalam akta di bawah tangan tersebut tidak dapat disangkal lagi. Dalam hal ini berarti telah terdapat suatu kepastian bagi siapa pun.pengadilan. akta di bawah tangan tidak memiliki kekuatan pembuktian lahir. Di samping itu. ahli warisnya atau orang yang mendapatkan hak dari Universitas Sumatera Utara . berarti isi keterangan akta di bawah tangan tersebut berlaku penuh terhadap si pembuat dan untuk siapa pernyataan tersebut dibuat. Bila tanda tangan dalam akta di bawah tangan ini diakui oleh yang bersangkutan maka akta tersebut memiliki kekuatan dan menjadi bukti yang sempurna. Kekuatan pembuktian formal akta di bawah tangan. Sehubungan dengan ketentuan Pasal 1875 KUHPerdata dan Pasal 288 RBg. maka hal tersebut berarti bahwa keterangan atau pernyataan di dalam akta tersebut adalah dibuat oleh si yang bertanda tangan tersebut. Bila tanda tangan dalam akta di bawah tangan tersebut telah diakui. karena tanda tangannya masih dapat disangkal oleh yang bersangkutan.

yaitu : a) Surat-surat yang dengan tegas menyebut tentang suatu pembayaran yang telah diterima . Universitas Sumatera Utara . bedanya terletak pada kekuatan bukti lahir atau kekuatan bukti keluar yang tidak dimiliki oleh akta di bawah tangan. Tulisan bukan akta RBg/HIR maupun KUHPerdata tidak mengatur secara tegas mengenai kekuatan pembuktian dari tulisan-tulisan yang bukan akta. Oleh karena itu. Yang dimaksud sebagai petunjuk ke arah pembuktian di sini adalah bahwa tulisan-tulisan tersebut dapat dipakai sebagai alat bukti tambahan ataupun dapat dikesampingkan dan bahkan sama sekali tidak dapat dipercaya. 2. Jadi. Namun. Sedangkan terhadap pihak ketiga kekuatan pembuktiannya adalah bergantung kepada penilaian hakim. dalam kekuatan pembuktian hampir sama dengan akta otentik. ada beberapa tulisan bukan akta yang oleh undangundang ditetapkan sebagai alat bukti yang mengikat. Akta di bawah tangan yang diakui isi dan tanda tangannya. tulisan-tulisan tersebut dapat dianggap sebagai petunjuk ke arah pembuktian. Walaupun tulisan atau surat-surat bukan akta ini sengaja dibuat oleh yang bersangkutan tapi pada dasarnya tidak dimaksudkan sebagai alat bukti di kemudian hari. yang disebut dalam Pasal 1881 ayat ( 1 ) sub 1 dan sub 2 serta Pasal 1883 KUHPerdata.mereka. dengan demikian tulisan bukan akta untuk dapat mempunyai kekuatan pembuktian sepenuhnya bergantung kepada penilaian hakim dengan kata lain tulisan bukan akta adalah sebagai alat bukti bebas ( Pasal 1881 ayat ( 2 ) KUHPerdata dan Pasal 294 ayat ( 2 ) RBg ).

Apabila akta yang asli tidak ada lagi atau hilang. Bila akta yang aslinya ada. yaitu : 74 a) Salinan-salinan pertama . salinansalinan atau ikhtisar-ikhtisar dari akta yang hilang itu kekuatannya hanyalah sebagai suatu permulaan pembuktian. dibuat oleh 74 H. Riduan Syahrani. hlm. Universitas Sumatera Utara . salinan-salinan atau ikhtisar-ikhtisar tersebut dapat disesuaikan dengan aslinya. S.H. c) Catatan-catatan yang dicantumkan oleh seorang kreditur pada suatu alas hak yang selamanya dipegangnya jika apa yang ditulis itu merupakan suatu pembebasan terhadap debitur . 99. d) Catatan-catatan yang dicantumkan kreditur pada salinan suatu alas hak atau tanda pembayaran.b) Surat-surat yang dengan tegas menyebutkan bahwa catatan yang telah dibuat adalah untuk memperbaiki suatu kekurangan di dalam sesuatu alas hak ( titel ) bagi seseorang untuk keuntungan siapa surat itu menyebutkan suatu perikatan . b) Salinan-salinan yang dibuat atas perintah hakim dengan dihadiri kedua belah pihak atau setelah kedua belah pihak dipanggil dengan sah . op cit. Kekuatan pembuktian suatu tulisan pada asasnya terdapat pada akta yang asli. c) Salinan-salinan tanpa perantaraan hakim atau di luar persetujuan para pihak. kecuali salinan-salinan yang disebutkan di bawah ini yang dapat memberikan kekuatan yang sama dengan aslinya.. asal saja salinan atau tanda pembayaran ini berada dalam tangan debitur. yang untuk ini selalu dapat diperintahkan untuk menunjukkannya. dan sesudahnya pengeluaran salinan-salinan pertama.

75 Ibid. Dalam praktek pemeriksaan perkara di pengadilan sekarang ini seringkali alat bukti tulisan yang diajukan bukan tulisan aslinya. melainkan hanya fotokopinya yang telah dilegalisir oleh panitera pengadilan. Selanjutnya. atau oleh pegawaipegawai yang dalam jabatannya menyimpan akta-akta yang asli dan berwenang memberikan salinan-salinan. melainkan bagi perkara seluruhnya. Praktek yang demikian dalam dunia peradilan. Karena ada dikenal asas unus testis nullus testis. Bukti dengan saksi-saksi Tentang kekuatan pembuktian dengan saksi diatur dalam Pasal 306 RBg/169 HIR dan Pasal 1905 KUHPerdata yang menyatakan bahwa keterangan seorang saksi saja tanpa adanya suatu alat bukti lain. tidak boleh dipercaya di dalam hukum. dan dengan menunjukkan tulisan aslinya di muka persidangan. Artinya. bila tidak bukti tulisan tersebut akan dikesampingkan oleh hakim ( Putusan Mahkamah Agung tanggal 28 Agustus 1975 No. seorang saksi bukan saksi. dan tidak ada keberatan asalkan fotokopi yang diajukan sebagai bukti tersebut benar-benar sesuai dengan tulisan aslinya.. seorang saksi saja tanpa ada alat bukti lain adalah tidak cukup. 75 b. kecuali telah berada di atas kertas segel. perlu dikemukakan bahwa tulisan yang disampaikan kepada pengadilan harus diberi materai. Universitas Sumatera Utara . Maksud pasal ini bukan mengharuskan agar setiap peristiwa atau hak dibuktikan dengan lebih dari seorang saksi. 100. hlm. sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang telah mengenal mesin fotokopi. 983 K/Sip/1972 ).notaris yang dihadapannya akta itu telah dibuat.

Dengan kata lain. Sifat dari persangkaan undang-undang tidak dapat dibantah. Jadi. Persangkaan-persangkaan Melalui persangkaan-persangkaan suatu peristiwa tersebut dibuktikan secara tidak langsung yaitu dengan perantaraan pembuktian-pembuktian peristiwa lain. Kedua jenis persangkaan ini memiliki kekuatan bukti yang berbeda. Seperti telah diuraikan sebelumnya. keterangan-keterangan saksi tersebut dapat menghasilkan bukti yang sah dan sempurna. c. Jika keterangan 2 ( dua ) orang saksi atau lebih dihubungkan satu sama lain serta mempunyai arti dan maksud yang sama. oleh karena itu. Akan tetapi apabila menurut pertimbangan hakim keterangan dari seorang saksi saja telah dianggap memadai karena dapat dipercaya dan didukung dengan bukti-bukti lain yang sah. kesimpulan yang ditarik dari suatu persangkaan undang-undang tersebut berwujud pembuktian yang pasti dan menentukan dimana hakim terikat untuk menerima kebenarannya serta terikat untuk menjadikan persangkaan undang- Universitas Sumatera Utara . penilaian beberapa saksi yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah satu sama lain tentang berbagai macam peristiwa yang digunakan untuk membuktikan sesuatu peristiwa atau hak diserahkan pada pertimbangan hakim. alat bukti saksi mempunyai kekuatan pembuktian yang bebas. keterangan dari seorang saksi tersebut dapat dianggap sebagai bukti sempurna. bahwa alat bukti persangkaan dapat dibedakan ke dalam 2 ( dua ) jenis yaitu persangkaan undang-undang dan persangkaan hakim.keterangan seorang saksi saja tanpa disertai bukti yang lain tidak cukup kuat untuk membuktikan suatu dalil yang harus dibuktikan.

diserahkan sepenuhnya kepada penilaian hakim. Dalam hal ini kekuatan pembuktian apa yang akan diberikan kepada persangkaan hakim tertentu. nilai kekuatan pembuktian dari persangkaan undang-undang yang tidak dapat dibantah bersifat sempurna. Pengakuan Pengakuan dibagi atas 2 ( dua ) macam. Pasal 1922 KUHPerdata telah menegaskan hal tersebut. berarti satu persangkaan saja tidak mencukupi batas minimal pembuktian. yang menyerahkan nilai persangkaan kepada pertimbangan hakim. baik pengakuan tersebut diucapkan sendiri maupun diucapkan oleh seseorang yang istimewa dikuasakan untuk melakukannya.undang ini sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan. satu persangkaan ditambah dengan satu alat bukti lain. Karena nilai kekuatan pembuktiannya bebas. bahwa pengakuan yang diucapkan di hadapan hakim di dalam persidangan menjadi bukti yang cukup untuk memberatkan orang yang mengaku tersebut. mengikat dan menentukan. hal ini diatur dalam Pasal 1921 KUHPerdata. Sedangkan persangkaan hakim sebagai alat bukti memiliki kekuatan pembuktian bebas. dengan demikian. Dengan demikian. d. apakah sebagai alat bukti yang sempurna atau alat bukti permulaan atau sama sekali tidak memiliki kekuatan sama sekali. Menurut ketentuan Pasal 311 RBg/174 HIR dan Pasal 1925 KUHPerdata. pengakuan yang Universitas Sumatera Utara . yaitu pengakuan yang dilakukan di depan sidang pengadilan dan pengakuan yang dilakukan di luar sidang pengadilan. paling tidak harus ada dua persangkaan agar terpenuhi batas minimal pembuktian atau paling tidak.

Universitas Sumatera Utara . meskipun sesungguhnya belum tentu benar. Tiap-tiap jenis sumpah ini juga memiliki kekuatan pembuktiannya masing-masing. kecuali bila pengakuan tersebut merupakan suatu kekhilafan mengenai hal-hal yang terjadi. Hal ini berarti. Pengakuan di depan sidang tidak dapat ditarik kembali. telah dijelaskan bahwa ada 3 ( tiga ) jenis sumpah.dilakukan di depan sidang mempunyai kekuatan bukti yang sempurna dan mengikat. e. bila dikehendaki agar dianggap pengakuan tersebut ada maka harus dibuktikan lebih lanjut dengan saksi atau alat-alat bukti lainnya. akan menentukan kekuatan mana yang akan diberikannya kepada suatu pengakuan dengan lisan yang diperbuat di luar hukum. bahwa penilaiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim. sumpah penambah dan sumpah penaksir. Dengan kata lain pengakuan di luar sidang merupakan bukti bebas. Bila pengakuan di luar sidang pengadilan dilakukan secara tertulis. yaitu sumpah pemutus. Pengakuan di luar sidang pengadilan dapat ditarik kembali. akan tetapi karena adanya pengakuan tersebut gugatan yang didasarkan atas dalil-dalil itu harus dikabulkan. tulisan yang memuat pengakuan tersebut dapat digolongkan sebagai bukti tulisan bukan akta. Dalam Pasal 312 RBg/175 HIR. Sumpah Sebelumnya. Bagi pengakuan di luar sidang yang dilakukan secara lisan. hakim harus menganggap bahwa dalil-dalil yang telah diakui tersebut adalah benar. yang juga memiliki kekuatan bebas. Pasal 1927 dan Pasal 1928 KUHPerdata diatur mengenai pengakuan yang dilakukan di luar sidang. Pengakuan di luar sidang dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan.

sehingga terhadapnya dapat diajukan bukti lawan. Oleh karena itu. sehingga Pasal 1936 KUHPerdata melarang mengajukan bukti lawan terhadapnya.Makna sumpah pemutus memiliki daya kekuatan memutuskan perkara atau mengakhiri perselisihan. f. Dengan begitu. dan Fatimah Achmad. sumpah pemutus memiliki sifat dan daya litis decisoir 76 dan undang-undang melekatkan kekuatan pembuktian sempurna. 1985. Intisari Hukum Acara Perdata. Ghalia Indonesia. 62. mengikat dan menentukan kepada sumpah pemutus tersebut. Pemeriksaan setempat Secara yuridis formil. Jakarta. nilai kekuatan yang melekat padanya hanya sebagai keterangan yang menjelaskan tentang kepastian defenitif atas barang yang disengketakan. Namun. Namun demikian. Universitas Sumatera Utara . Pihak lawan dapat membuktikan bahwa sumpah tersebut palsu. Jadi. Sedemikian rupa daya kekuatan pembuktian memaksa yang dimilikinya. sehingga pada dasarnya tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian. Berbeda dengan sumpah pemutus. hlm. Leihitu. hasil pemeriksaan setempat bukan merupakan alat bukti karena tidak termasuk sebagai alat bukti yang disebut dalam Pasal 284 RBg/164 HIR dan Pasal 1886 KUHPerdata. Pasal 180 RBg/153 HIR ayat ( 1 ) menegaskan bahwa nilai kekuatan yang melekat pada hasil pemeriksaan setempat dapat dijadikan keterangan bagi hakim. sumpah penambah dan sumpah penaksir mempunyai nilai kekuatan pembuktian sempurna dan mengikat saja. berarti keterangan tersebut pada dasarnya tidak lain merupakan pembuktian tentang eksistensi dan keadaan barang yang 76 Izaac S. tidak sah sebagai alat bukti. bila suatu keterangan yang jelas dan defenitif dijadikan sebagai dasar pertimbangan.

secara formil. g. keterangan ahli berada di luar alat bukti. Pasal 284 RBg/164 HIR dan Pasal 1866 KUHPerdata tidak mencantumkan keterangan ahli sebagai alat bukti. hakim terikat untuk menjadikannya sebagai bagian dasar pertimbangan mengambil putusan. bila ia tidak mengikuti pendapat ahli tersebut. sesuai dengan isi Pasal 181 RBg/154 HIR bahwa jika menurut pertimbangan hakim suatu perkara itu dapat menjadi lebih jelas bila diadakan pemeriksaan terhadap seorang ahli.bersangkutan. dimana hakim tidak wajib mengikuti pendapat dari ahli tersebut jika pendapat tersebut berlawanan dengan keyakinannya. bila pendapat tersebut sesuai dengan keyakinannya. ia mengambil alih pendapat tersebut menjadi pendapatnya sendiri dan dijadikan sebagai bagian pertimbangan dalam putusan. Berarti. maka hakim dapat mengikuti pendapat ahli. Tetapi sifat daya ikatnya tidak mutlak. Akan tetapi. Namun. Dan terhadap setiap fakta yang ditemukan dalam persidangan. Dan oleh karena keterangan tersebut merupakan hasil yang diperoleh dari persidangan pemeriksaan setempat maka keterangan itu sama dengan fakta yang ditemukan di persidangan. Bila hakim mengikuti pendapat tersebut. Berarti. pendapat itu Universitas Sumatera Utara . pemeriksaan setempat memiliki kekuatan permbuktian bebas. maka ia dapat mengangkat seorang ahli baik atas permintaan para pihak maupun karena jabatannya. Keterangan ahli Sama halnya seperti pemeriksaan setempat. hakim bebas menentukan nilai kekuatan pembuktiannya. menurut hukum pembuktian tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian. Dari sini dapat dilihat bahwa terhadap hakim diberi kebebasan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pendapat ahli. Sedangkan. Oleh karena itu.

Dengan kata lain. keterangan ahli memiliki kekuatan pembuktian bebas.disingkirkan dan dianggap tidak ada. Universitas Sumatera Utara .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful