MATERI TARTIL I

LEMBAGA KURSUS AL QUR’AN
YAYASAN MASJID AL FALAH
SURABAYA

BAB I
TARTIL

A. Pengertian Tartil
Pengertian Tartil secara bahasa berasal dari kata

ً‫ ْﺗـَﺮﺗ ِﻴْﻼ‬- ُ ‫ﻳـﺮﺗﱢﻞ‬-َُ ‫َر َﺗّﻞ‬yang

artinya serasi atau indah. Sedangkan arti secara istilah adalah membaca
perlahan-lahan sambil memperjelas tempat keluarnya huruf (makhraj), mengerti
cara berhenti dan memulai (waqof wal ibtida’), sehingga pembaca dan pendengar
dapat memahami dan menghayati kandungan Al-Qur’an.
Kesempurnaan tartil adalah

memcaba dengan seksama lafal-lafalnya

serta jelas huruf-hurufnya, dan satu huruf tidak ada yang tercampur dengan huruf
lain. Abu Daud meriwayatkan dari Ummu Salamah. Ia menceritakan tentang cara
Nabi saw. membaca Al-Qur’an adalah dengan bacaan yang perlahan satu huruf
demi satu huruf.
Diantara etika membaca Al-Qur’an yang disepakati oleh para ulama
adalah memperbagus suara saat membaca. Al-Qur’an tentunya adalah indah
bahkan ia amat indah. Namun, suara yang indah akan memambah keindahannya
sehingga menggerakkan hati dan menggoncangkan kalbu.
B. Dasar Hukum Mempelajari Tartil
Sesuai dengan firman Allah dalam surat (73) Al Muzzammil ayat 4

      

      

      

Artinya : “………Dan bacalah Al-Qur’an dengan Tartil.”
Dan sabda Rasulullah SAW. :

‫َﺻﻮاﺗِ ْﻜُﻢ‬
َْ ‫َزﻳـﱢْﻨـُﻮا اﻟْْﻘُﺮ َآن ﺑِﺄ‬
Artinya : “ Hendaklah kamu sekalian hiasi Al-Qur’an dengan suaramu yang
merdu.” (HR. At Turmudzi)
Dalam hadits ad-Darimi dikatakan,

‫َﺴﻦ ﻳ ُ ﺰِﻳ ُْﺪ اﻟْْﻘُﺮ َآن َ َﺣﺴﻨًﺎ‬
َ َ ‫اﳊ‬
ْ ‫اﻟﺼﱠﻮَت‬
ْ ‫ ِﻓَﺈﱠن‬،‫َﺻﻮاﺗِ ْﻜُﻢ‬
َْ ‫ﺴﻨـُﻮْ◌ا اﻟْْﻘُﺮ َآن ﺑِﺄ‬
ْ‫َﺣﱢ‬
“Perindahlah Al-Qur’an dengan suara kalian, karena dengan suara yang
bagus akan menambah keindahan Al-Qur’an.”
Ada bayak hadits yang sahih tentang hal itu bahwa jika pembaca tidak
indah suaranya, maka ia disunnahkan untuk mengusahakan semampunya untuk
membaca dengan indah, sebatas tidak sampai kepada memanjang-manjangkan.
C. Tujuan dan Hikmah Mempelajari Tartil
Dengan demikian tujuan Tartil tidak jauh dengan tujuan ilmu Tajwid yaitu ;
1. Agar pembaca dapat melafadlkan huruf-huruf hijaiyah dengan baik.
2. Agar dapat memelihara kemurnian bacaan Al-Qur’an.
3. Menjaga lisan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan salah arti
kandunan Al-Qur’an.
Dan hikmahnya membaca dengan Tartil

adalah memungkinkan perenungan

makna-makna yang terkandung didalam ayat-ayat yang kita baca.
D. Pengertian Tajwid
Secara bahasa Tajwid berasal dari kata :

‫ ﳚَُ ُﻮﱢد –ﲡَْﻮِﻳ ًْﺪا‬-‫َﺟَﻮﱠد‬

yang artinya membaguskan atau memperbaiki. Sedangkan menurut istilah Ilmu
Tajwid ialah melafadlkan huruf yang benar, sesuai makhraj, sifat, hukumhukumnya.
Tajwid sebagai disiplin ilmu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus
dijadikan pedoman dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya. Disaming

harus diperhatikan pula hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan
sesudahnya dalam pengucapannya. Oleh karena itu tidak dapat diperoleh hanya
sekedar dipelajari namun melalui latihan, praktek, dan menirukan orang yang baik
bacaannya.
Mempelajari Ilmu Tajwid hukumnya Fardlu Kifayah (wajib representatif)
yaitu kewajiban yang boleh dimiliki oleh sebagian orang muslim saja. Dan
mengamalkannya Fardlu ‘Ain (wajib personal) bagi setiap pembaca Al-Qur’an
(muslim).
Tujuan mempelajari Ilmu Tajwid adalah agar dapat membaca ayat-ayat AlQur’an secara benar (fashih), sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Serta dapat memelihara dari kesalahan-kesalahan ketika membaca.

BAB II
HUKUM NUN SUKUN ATAU TANWIN
Huruf Nun Sukun dan tanwin jika bertemu salah satu huruf hijaiyah maka
akan timbul empat hukum bacaan. Diantaranya adalah :
I. IDZHAR HALQI
Idzhar menurut bahasa berarti jelas (terang). Menurut istilah berarti
mengeluarkan huruf dari makhrajnya tampa dengung, yaitu apabila nun sukun
atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf Halqi ( HAMZAH, KHA’, KHO’, ‘AIN,
GHAIN, HA’) baik dalam satu kalimat atau dua kalimat, maka wajib di baca idzhar.

‫ءحخعغﻫ‬

‫‪Contoh :‬‬

‫ﻗَﺐ‬
‫ذَاو َ‬
‫َﺎﺳٍﻖ ا ِ َ‬
‫ء ‪ْ َ :‬ﻣﻦََاﻣﻦ –ﻏ ِ‬
‫ْﺤﺘـُﻮَن – َﻋﻠٌِْﻴﻢَﺣٌِْﻜﻴﻢ‬
‫ح ‪ :‬ﻳـ َ ﻨِ ْ‬
‫ﺎﻟِﺪا‬
‫ﻧَﺎرَاﺧ ً‬
‫خ ‪ْ ِ :‬ﻣﻦ َْﺧﻮٍف – ً‬
‫ع ‪ :‬اََﻧـْْﻌﻤَﺖ – َﲰٌِْﻴﻊَﻋﻠٌِْﻴﻢ‬
‫ُﻮن‬
‫اَﺟَْﺮُﻏﻴـﺮَْﳑْﻨـٍ‬
‫ِﻞ – ٌْ‬
‫غ ‪ْ ِ :‬ﻣﻦ ﻏﱟ‬
‫ُف َﻫ ٍﺎر‬
‫ﻫ ‪ْ ِ :‬ﻣُﻨـْﻬﻢ – ُﺟﺮٍ‬

IDHAR WAJIB
Idhar Wajib ialah nun sukun bertemu huruf YA atau WAWU dalam satu
kalimat yang terdapat pada empat kalimat / kata.
Contoh :

‫ﻗِ َْﻨـﻮا‬

‫ﺻَﻨـﻮ ٌان‬
ِْ

‫اَﻟ ﱡﺪﻧـْﻴ َ ﺎ ﺑـ ُ ْﻨـﻴ َ ُﺎن‬

           
           
              
             
              
             

Idhar Wajib ini tidak termasuk kelompok hukun nun sukun dan tanwin,
merupakan suatu perkecualian.

II. IDZGHOM
Idzghom menurut bahasa berarti memasukkan. Menurut istilah berarti
membaca dua huruf jadi satu seperti yang kedua dengan tasydid, apabila ada
nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf 6.
Bacaan Idzghom di bagi menjadi 2 macam :
1. Idzghom Bighunnah artinya masuk dengan dengung, apabila ada
nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf YA’, NUN, MIM,
WAWU.

‫ و‬,‫ م‬,‫ ن‬,‫ي‬
Contoh :

‫ َﺣﺒْﻞ ٌ ِ ْﻣﻦَ َﻣِﺴﺪ‬- ‫ ِ ﳑْﱠﻦَ ﻣ َﻨَﻊ‬: ‫م‬
‫ﺌِﺬَ وِاﻫﻴ ٍَﺔ‬
ٍ ‫ََْﻮﻣ‬-‫ ِ ْﻣﻦَ وٍاق ﻳـ‬: ‫و‬

‫ﺑـ َْ ﺮٌق َْﳚَﻌْﻠُﻮَن‬- ‫ َ ْﻣﻦ ﻳـ َ ْﻘُﻮُل‬: ‫ي‬
ً‫ِﻈَﺎﻣ َﺎﳔَِ ﺮة‬
ً ‫ﻋ‬- ‫ﻧِﻌٍﻤﺔ‬
َْ ‫ ِ ْﻣﻦ‬: ‫ن‬

2. Idzghom Bila Ghunnah artinya masuk dengan tidak dengung, yaitu
apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf LAM atau
RO’.

‫ ر‬,‫ل‬
Contoh :

‫َﻚ‬
َ ‫ ٌَْﺧﻴـﺮﻟ‬- ُ‫ِ ْﻣﻦ ﻟَُﺪﻧْﻪ‬: ‫ل‬
‫َﺣﻴﻢ‬
ٌْ‫ ﻏَْﻔٌُﻮرِر‬- ‫ ِ ْﻣﻦَ رﱢ ِْﻢ‬: ‫ر‬
CATATAN :
Apabila ada Nun Sukun bertemu huruf YA atau WAWU dalam satu kalimat
maka dibaca Idzhar Wajib. Terdapat pada empat kalimat / kata.
Contoh :

‫ﻗِ َﻨـْﻮا‬

‫ﺻﻨـْﻮ ٌان‬
َِ

‫ﺑـ ُ ْﻨـﻴ َ ُﺎن‬

‫اَﻟ ﱡﺪﻧـْﻴ َ ﺎ‬

al-baqoroh               
Ash-Shoff : 4            
              
ar Ro’du : 4              
                
             
al-An’am : 99                

III. IQLAB
Iqlab menurut bahasa berarti mengubah atau mengganti. Menurut istilah
berarti membaca nun sukun atau tanwin seperti mim mati, yaitu apabila ada
nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf BA’ baik dalam satu kata atau
dilain kata.

7

‫ب‬
Contoh :

‫ِ ْﻣﻦ ﺑـ َِْﻌﺪﻩ‬

dibaca

‫ـ ِ ﳑَْْﺒـِﻌﺪﻩ‬

‫َﺼﻴـﺮ‬
ٌِْ ‫ َﲰٌِْﻴﻊ ﺑ‬dibaca ◌ٌ ‫َﺼﲑ‬
ْ ِ ‫ـَﲰِْ ﻴـﻌ ُْﻤﺒ‬
VI. IKHFA’ HAQIQI
Ikhfa’ menurut bahasa berarti samar (menyamarkan). Menurut istilah
berarti membaca huruf antara jelas dan masuk tanpa tasydid dengan ghunnah
(dengung) pada huruf awal kira-kira 3 harokat. Apabila ada nun sukun atau
tanwin bertemu dengan salah satu huruf 15. Yaitu : TA’, TSA’, JIM, DAL, DZAL,
ZAI, SIN, SYIN, SHOD, DHOD, THO’, DHO’ , FA’, QOF, KAF.

‫تثج دذز سش صض طظ فقك‬
Contoh :

‫ْﺢ َْﺻَﺮﺻﺮ‬
ٍ ‫ ﺑﺮِﻳ‬- ‫ْﺼﻮرا‬
ًُْ‫َ ﻣﻨ‬

:‫ص‬

‫ﱠﺎت ﲡَْﺮِى‬
ٍ ‫ َﺟﻨ‬- ‫ُ َْﻣﻨُﺘـْﻬﻮَن‬

: ‫ت‬

‫ ﻗـُﻮﱠةٍ َْﺿًﻌﻔﺎ‬- ‫ُﻮد‬
ٌ‫ْﻀ‬
ْ ‫ َ ﻣﻨ‬: ‫ض‬
‫ﻠِﻤﺔ ﻃَﻴﱢﺒ ٍَﺔ‬
ٍ َ -‫ ﻳـ َ ﻨِْﻄْﻘُﻮَن َﻛ‬: ‫ط‬

ً‫ ٌَْﺧﻴـﺮﺛـََﻮاﺑﺎ‬- ‫ َ ْﻣﻨﺜ ًْـُﻮرا‬: ‫ث‬
‫ﻓَﺼﺒـﺮ َﲨٌِْﻴﻞ‬
ٌَْ - ‫ﻨَﺎﻛُﻢ‬
ْ ‫اَﳒَْ ﻴـ‬
ْ : ‫ج‬

ً‫ ﻇِﻼ ﻇَﻠِْ ﻴﻼ‬- ‫ْﻈُﺮوَن‬
ُْ ‫ اَﻓَﻼَﻳـ َ ﻨ‬: ‫ظ‬
‫ﻋُﻤﻰ ُﻓـَْﻬﻢ‬
ٌْ - ‫ْﻔﻘُﻮَن‬
ْ‫ ﻳـ ُ ِﻨ‬: ‫ف‬

ٌ‫َْﻨـﻮ ٌان َداﻧِ ﻴ َ ﺔ‬-ِ‫اَﻧْﺪًادا ﻗ‬
َ : ‫د‬
‫اْﻧﺘِﻘﺎم‬
َ ‫ َ ْﻋٌِﺰﻳـﺰ ذُو‬- ‫ ُ ﻣِﻨٌْﺬر‬: ‫ذ‬

‫ْﺐ‬
ٌ ‫َاب ﻗَﺮِﻳ‬
ٌ ‫ﻋَﺬ‬- ‫ِ ْﻣﻦْﻗـَﺒِﻞ‬

: ‫ف‬

ً‫ْﺴﺎً زَﻛِ ﻴﱠﺔ‬
-‫ْﻨَﺎْﺰـَﻔ‬
‫ﻟﻓَﺎََﻧـﻧ‬

: ‫ز‬

‫ﻋُ ﻠُﻮ َاﻛ ْﺒِﲑ‬- ‫ْﺘُﻢ‬
ْ ‫ِن َﻛﻨ‬
ْ ‫ا‬: ‫ك‬

‫ﻻًﺳﺪﻳ ًْﺪا‬
ِ َ ‫ ْﻗـَﻮ‬- ‫ِ ْﻣﻦ ِﺳ ْﺠﱢﻴٍﻞ‬
‫ُﻛ ٍﻦ َِﺷﺪﻳ ٍْﺪ‬
‫ ْر‬- ‫ﻓَﻤﻦ َﺷﻬَِﺪ‬
َْ

:‫س‬
:‫ش‬

Tingkat-tingkat bacaan Ikhfa’
Bacaan Ikhfa’ dibagi menjadi 3 tingkat :
1.

Ikhfa’ A’la

(‫ِﺧﻔْﺎء ْاَﻋﻠﻰ‬
َ ْ ‫)ا‬

artinya paling tinggi, yaitu bacaan Ikhfa’nya lebih

lama dari ghunnahnya, sedangkan hurufnya adalah :

8

‫ت د ط‬

2.

3.

(‫ِﺧﻔْﺎء ْاَدﱏ‬
َ ْ ‫ )ا‬artinya paling rendah, yaitu bacaan Ikhfa’nya lebih
pendek dari ghunnahnya, hurufnya adalah : ‫ق ك‬
Ikhfa’ Ausath (‫ﻂ‬
ْ ‫اَوﺳ‬
َ ْ ‫ِﺧﻔْﺎء‬
َ ْ ‫ )ا‬artinya tengah-tengah yaitu bacaan Ikhfa’ dan
Ikhfa’ Adna

Ghunnanya sama-sama / sedang. Sedangkan hurufnya adalah selain
huruf-huruf Ikhfa’ A’la dan Ikhfa’ Adna.

9

BAB III
GHUNNAH

Ghunnah menurut bahasa adalah suara yang keluar dari hidung,
sedangkan menurut Istilah ialah suara merdu yang dikeluarkan dari NUN dan
MIM dan cara membacanya dengan membunyikan sambil mendengung.
Apabila ada NUN dan MIM yang bertasydid maka dibaca mendengung
sedangkan ukuran bacanya 1 alif (2 harakat).

‫ّن‬

‫ّم‬

Contoh :

‫َﻤﺎﻳ ُْﺴِْﺮﻛُﻮَن‬
‫ ﻋﱠ‬-

‫ْﻬﺪى‬
َ ‫ ا ِ ﱠنَﻋﻠَْﻴـﻨَﺎ ﻟَُﻠ‬-

‫ﺎءك‬
َ ‫ﱠﺎﻣﻦ َﺟ‬
ْ َ‫ َ واَﻣ‬-

‫ﻠِﲔ‬
َ ْ ‫ﱠﺎﻛﻨُْﱠﺎﻣَﺮﺳ‬
ُ ‫ا ِ ﻧ‬-

10

BAB IV
HUKUM MIM SUKUN
Apabila ada mim sukun bertemu dengan salah satu huruf Hijaiyah, maka
hukum ada 3 bacaan:
1. Idzghom Mimi Mitslain (Idgham = masuk, Mimi = huruf mim)
Artinya memasukkan huruf yang sama jenisnya, yaitu apabila ada
mim sukun bertemu dengan huruf Mim.
Contoh :

‫َ ِوﻣُﻨـْْﻬﻢَ ْﻣﻦ ﻳـ َ ْﻘُﻮُل‬

‫َﺴﺒﺘُﻢ‬
َْ‫َ وﻟَ ْﻜُﻢَ ﻣﺎﻛ‬

‫ﻠِﻤْ َﲔ‬
ِ ‫ْﺘُﻢُ ْﻣﺴ‬
ْ ‫ﻛُﻨ‬

2. Ikhfa’ Syafawi (Ikhfa’ = samar-samar, Syafawi = bibir)
Artinya menyamarkan bacaan dibibir dengan mendengung, apabila
ada mim sukun bertemu huruf Ba’
Contoh :

‫ﺑِﺎﷲ‬
ِ ‫ﺘَﺼﻢ‬
ِْ ‫ا ِْﻋ‬

‫ِِﺠَ ٍﺎرة‬
َ‫ﺗ ِْْـَﺮﻣﻴْﻬِﻢ ﲝ‬

‫َﺎرِﺟْ َﲔ‬
ِ ‫ََوﻣُْﺎﻫﻢِﲞ‬

3. Idzhar Syafawi (Idhar = jelas, Syafawi = bibir)
Artinya membaca jelas dibibir dengan rapat tidak dengung, apabila
ada mim sukun bertemu dengan salah satu 26 huruf (selain Mim dan
Ba’)
Contoh :

‫ﱠﺎت‬
ْ ‫ ِﻋﻨَْﺪَ رﱢ ِْﻢ َﺟﻨ‬: ‫ج‬
‫ﺎﻓِﻈُﻮَن‬
ْ ‫ َﻋْﻠَﻴْﻬِﻢ َﺣ‬: ‫ح‬

‫اَﺷﺪَﱡﺧﻠًْﻘﺎ‬
َ ‫ْﺘُﻢ‬
ْ ‫ اَﻧـ‬: ‫أ‬
‫ْﺘُﻢ ﺗ ْـَﻌﻠَُْﻤﻮَن‬
ْ ‫ َ واَﻧـ‬: ‫ت‬
‫ﰒُﱠ ُﳝ ِْ ﻴﺘُ ْﻜُﻢ ﰒُﱠ ُْﳛ ْﻴِﻴﻜُْﻢ‬: ‫ث‬

11

BAB V
HUKUM IDZGHAM
Idzgham ialah memasukkan sesuatu pada sesuatu, atau mengucapkan
dua huruf menjadi satu, seperti huruf yang bertasydid. Idh-gham adalah bacaan
yang harus dimasukkan.
Bacaan Idzgham ada 3 macam :
1.

(‫ا ِ)ْدﻏَْﺎمُ ﻣ َﺘَﻤﺎ ﺛِ ْﻠَﲔ‬Idzgham Mutamatsilain (semisal)
Mutamatsilain (sama jenis) yaitu sama makhroj dan sifatnya. Huruf
pertama mati dan huruf kedua hidup (berharokat). Cara membacanya
huruf pertama masuk pada huruf kedua atau dengan mentasdidkan.
Contoh :

ْ‫ﺘَﺎﰊ‬
ِ ‫ﺒﱢﻜ‬
ِ ‫ﺘَﺎﰊْا ِ=ذَْﻫ‬
ِ ‫ﺑِﻜ‬
ِ ‫ا ِ ذَْﻫْﺐ‬

‫ﻗَﺪ دََﺧْﻠُﻮا = َ وﻗَ ﱠﺪ َﺧْﻠُﻮا‬
ْ ‫َو‬

                 
al-maidah 61
al-baqoroh 16            -
               
al-                
baqoroh 60

2.

(‫ﻧِﺴﲔ‬
ْ َ ‫ﺘَﺠﺎ‬
َ ‫ ا) ِ ْدﻏَْﺎمً ﻣ‬Idzgham Mutajanisain (sejenis)
Mutajanisain (sejenis) yaitu sama makhroj dan beda sifat. Cara
membacanya huruf pertama masuk pada huruf kedua atau dengan
mentasydidkan.
Contoh :

‫ذﻟِﻚ‬
َ ‫ﻳـ َ َﻠْﻬ ْﺚ‬ ‫ ذ‬ ‫ ْت‬-

‫ﲔ‬
َ ‫ﻗَﺪ ﺗَـَ ﺒـﱠ‬
ْ  ‫ ت‬ ‫ ْد‬-

‫ ا ِ ْذ ﻇَﻠَُْﻤﻮا‬ ‫ ظ‬ ‫ ْذ‬-

‫َﺖ َدَﻋْﻮﺗُ َﻜُﻤﺎ‬
ْ ‫اُﺟﻴﺒ‬
ِْ  ‫ د‬ ‫ ْت‬-

‫َﺐََﻣﻌﻨَﺎ‬
ْ ‫ْﻛ‬
‫ ا ِ ر‬ ‫ م‬ ‫ ْب‬-

ٌ‫َﺖ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔ‬
ْ ‫َﻗـﻠ‬ ‫ ط‬ ‫ ْت‬‫ْﺖ‬
َ ‫َﺌِﻦ ﺑ ََﺴﻄ‬
ْ ‫ﻟ‬ ‫ ت‬ ‫ ْط‬12

                 
al-baqoroh 256          
yunus 89            
                 
               
ash-shoff 14     
                 
al-maidah 28
                
              
al-‘arof 176 
               
hud 42    

3.

(‫ا) ِ ْدﻏَْﺎمَُﻣﺘَـﻘ ِﺎرﺑـ َْﲔ‬

Idzgham Mutaqoribain (berdekatan)

Mutaqoribain (berdekatan) yaitu dekat makhroj dan sifatnya. Cara
membacanya di Idghamkan atau ditasydidkan huruf yang pertama pada
kuruf yang kedua.
Contoh

‫َب‬
‫ ْﻗُﻞ رﱢ‬ ‫ ر‬ ‫ ْل‬‫اَﱂَْ ﳔَْ ﻠ ُْﻘ ْﻜُﻢ‬ ‫ ك‬ ‫ ْق‬            
al-mursalat 20      

13

BAB VI
HUKUM TAFKHIM DAN TARQIQ
I. Pengertian Tafkhim dan Tarqiq
Tafkhim berarti menebalkan, maksudnya adalah membunyikan huruf
tertentu dengan suara atau bacaan tebal. Sedangkan pengertian tarqiq
adalah menipiskan, yaitu membunyikan huruf tertentu dengan suara tipis.
Huruf yang dibaca tebal dan tipis (tafkhim dan tarqiq) adalah huruf Lam dan
Ra’.
II. Membaca Huruf Lam
Huruf Lam yang dibaca tebal dan tipis hanya terdapat pada lafadl Allah
atau yang disebut Lam Jalalah. Cara membaca lafadl Allah dibagi dua :

1.

Dibaca Tafkhim (tebal), jika lafadh Allah didahului harakat fathah atau
dlummah
Contoh :

َ ‫َ وﻳـ َْﻌ ﻠَُﻢ اﷲ‬
2.

ُ ‫ﻧَﺼﺮاﷲ‬
َْ

ُ ‫َ ُْرﺳﻮَل اﷲ‬

Dibaca Tarqiq (tipis), jika lafadh Allah didahului harakat kasrah.
Contoh :

ِ‫ْﺑِﺴِﻢ اﷲ‬

ِ‫ﻳﺎﷲَ ُْرﺳِﻮل اﷲ‬
ِ

III. Membaca Huruf Ra’
Cara membaca huruf Ra’ dibagi dua :
1. Dibaca Tafkhim (tebal)
-

( ‫)َ رﺑـﱠﻨَ ﺎ ًَْﺧﻴـﺮا‬
RA dlummah, RA dlummatain, (‫ﺒٌِﻴـﺮ‬
ْ ‫)َُروﻳ ًْﺪا َﻛ‬
RA fathah, RA fathatain,

(‫)اَرَﺳﻞ ﻗ ْـُﺮ َان‬
َْ
RA sukun didahului kasrah atau hamzah washal, (‫)ا ِْ رﺗَﺎﺑـ ُْ ﻮا‬
RA sukun didahului fathah atau dlummah,

RA sukun didahului kasrah bertemu huruf isti’la’,

14

(‫ﻃَﺎس‬
ٌ ‫)ﻗِْ ﺮ‬

Huruf Isti’la’ ada 7 :
‫ـ‬

‫خصضطظغق‬

RA sukun karena waqof didahului huruf mati. ( ‫َﺼِﺮ‬
ْ‫)َ واْﻟﻌ‬

2. Dibaca Tarqiq (tipis)
-

(ٍ‫) ْرِﺟٌﺲ ُ ْﺧﺴﺮ‬
RA sukun didahului kasrah, (‫ﱢﺮ‬
‫ﻓَﻜْﺒـ‬
َ ‫)ﻓِْ ْﺮﻋَﻮَن‬
RA kasrah, RA kasratain,

- RA hidup didahului YA dibaca waqaf, (ٍ‫ﺧﲑ‬
َْ

15

ٍ‫َﺼﲑ‬
ْ ِ ‫)ﺑ‬

BAB VII
HUKUM LAM TA’RIF

Lam Ta’rif atau Al Ta’rif ialah Alif dan Lam yang berada diawal kata benda
(Isyim). Adapun hukum bacaannya dibagi menjadi 2 macam :
1. Idh-gham Syamsiyyah
2. Idh-har Qomariyyah
1. Idh-gham Syamsiyah (Idh-gham = masuk, Syamsiyah = sebangsa
matahari)
Apabila ada (‫ )ال‬bertemu dengan salah satu huruf 14.
Dibaca lebur (Idhgham), ada tasdhid sesudah al.
Huruf Syamsiyah ada 14 :

‫تثد ذرز سشصض طظلن‬
Contoh :

‫ﺲ‬
ِ ‫َﲪ ِﻦ َ واﻟﺸْﱠﻤ‬
‫اﻟﺮ‬
ْ

‫َ واﻟﺘـْﱢﲔِ اَﻟﻀَﱡﺤﻰ‬

2. Idh-har Qamariyah (Idh-har = jelas, Qomariyah = sebangsa bulan)
Apabila ada (‫ )ال‬dirangkaikan dengan salah satu huruf 14.
Dibaca terang (‫( )ال‬Idzhar), ada sukun pada lam.
Huruf Qomariyah ada 14 :

‫بجح خعغ فقكم وﻫءي‬
Contoh :

ُ‫ُﻤﻌﺔُ اَﻟَ ْْﻌُِﺰﻳـﺰ اََﻟَْﺒـﻘَﺮة‬
َْ ‫اَﳉ‬
ْ ‫اَﳊ َْﻤُﺪ‬
ْ

16

BAB VIII
GHARIB DAN MUSYKILAT
Pengertian Gharaibul kalimat atau Musykilatul kalimat secara bahasa
berarti yang aneh, tidak biasa atau perkara susah yang samar jarang terjadi.
Maksudnya adalah suatu bacaan yang aneh dan tidak biasa yang tulisan dan
bacaannya berbeda. Pembaca harus hati-hati apabila terdapat bacaan tersebut.
1. Imalah

‫َﺣﻴﻢ‬
ٌْ‫َﻐَﻔٌُﻮر ِر‬
ْ ‫َْﺮﻫﺎَ و ُْﻣﺮ َﺳﻬﺎط ا ِ ﱠن رِﱠﰊ ﻟ‬
َ ‫ْﻛﺒـﻮﻓَِْﻴـﻬﺎ ْﺑِﺴِﻢ اﻟﻠِ ﻪ ﳎ‬
ْ‫ﻗَﺎل َُار‬
َ ‫َو‬

Q.S. Hud (11 : 41)
Bacaan Imalah (Imalah = condong/miring)
Artinya : memiringkan bunyi fathah pada kasrah
Di dalam Al-Qur’an hanya ada satu, yaitu di surat Hud ayat 41. Cara
membacanya adalah : huruf Ro’ harus dibaca miring RE seperti kata Sate
(dalam bahasa Jawa).
2. Isymam

‫ﺤﻮَن‬
ْ ‫َﻨﺼ‬
ِ ‫َﻚ ﻻَ ﺗَ ﺄَْﻣﻨﱠﺎﻋﻠََﻰ ﻳـ ُْ ُﻮﺳَﻒَ وا ِ ﱠن ﻟَﻪُ ﻟ‬
َ ‫ﺎﻧَﺎَﺎﺑﻣَﺎﻟ‬
َ ‫ﻗَﺎﻟُﻮا ﻳ‬
Q.S. Yusuf (12 : 11)
Bacaan Isyman (Isyman = mengumpulkan dua bibir)
Artinya : bibir mecucu di tengah-tengah dengung sebagai isyarat bunyi
dlummah.
Di dalam Al-Qur’an hanya ada satu, terdapat dalam surat Yusuf ayat 11. Cara
membacanya : Nun tasydid disuarakan antara fathah dan dhummah sambil
kedua bibir dimoncongkan kedepan (mecucu).
3. Tashil

‫ط‬

Q.S. Fushilat (41 : 44)

‫ْﺠﻤﱡﻲَ َوﻋِﺮﰊﱡ‬
ِ َ‫ ء َ اَﻋ‬....

Bacaan Tashil (tashil = memudahkan)
Artinya :meringankan bunyi hamzah yang kedua. Dalam Al-Qur’an ada satu,
terdapat dalam surat Fushshilat 44. Cara membacanya : Hamzah pertama
dibaca biasa, hamzah kedua disuarakan antara hamzah dan alif (samarsamar).
4. Naql
17

Q.S. Al-Hujurat 49 :11)

‫ج‬

‫َْﺎن‬
ِ ‫ف ﺑـ َْ َﻌﺪ ِاْﻷﳝ‬
ُ ‫ُﺴﻮ‬
ْ‫ ﺑِﺌَْﺲ ِاْﻻ ُْﺳﻢ اﻟ ُْﻔ‬....

Bacaan Naql (Naql = memindahkan)
Artinya : memindahkan harat kasrah dari ALIF ke LAM
Dalam Al-Qur’an hanya ada satu,

pada surat Al Hujurot ayat 11. Cara

membacanya : Lam sukun (al) diganti dengan harakat huruf hamzah
sesudahnya (i) sehigga menjadi (ali) kemudian huruf Hamzah kasroh dari kata
(ismu) dibuang, sehingga berbunyi (lismu) dan dihubungkan dengan (bi’sa)
maka dibaca bi’salismu.

5. Saktah
Saktah = berhenti sejenak tanpa bernafas. Selama dua kharakat/dua ketukan
kemudian melanjutkan bacaan.
Dalam Al-Qur’an ada empat saktah :

‫َﻴﱢﻤﺎ‬
ً ‫ِﻮﺟﺎ ﻗـ‬
ً‫َﻋ‬
(Q.S. Yasin : 52) ‫ﻗَﺪﻧَﺎ َﻫﺬا‬
ِ ‫َْﻣﺮ‬
(Q.S. Al-Qiyamah:27) ‫َ ْﻣﻦَ راق‬
(Q.S. Al-Mutoffifin : 14) ‫ان‬
َ ‫ﺑ َْﻞَ ر‬

(Q.S. Al-Kahfi : 1-2)

-

6. Nun Iwadl atau Nun Washol
Iwadl = pengganti, Washol = penyambung
Nun Iwadl ialah nun kecil yang tertulis dibawah kalimat yang berfungsi sebagai
penyambung kalimat berikutnya. Dengan cara: Merubah tanwin, jika
berhkarokat fathatain dibaca fathah, dhummatain dibaca dhummah, kasratain
dibaca kasrah dan jika fathah diikuti alif dibaca pendek. (Tanwin dianggap
hilang dan diganti dengan NI) dengan syarat :
a. Awal ayat jika ada nun Iwadl selamanya tidak dibaca.
b. Setiap ada nun Iwadl sebaiknya dibaca washol (sambung).

‫اﻟﱠﺬﻳ َْﻦ‬
ِ ← ‫اﻟﱠﺬﻳ َْﻦ‬
ِ‫ ن‬‫ ْﻗـًَﻮﻣﺎ ِناﻟِ ﻠﻪ ← ْﻗـََﻮم ِن اﻟِ ﻠﻪ‬18

‫َﺐ ← ﻓِْﺘـﻨَﺔُ ِن اﻧَـْﻘﻠ َُﺐ‬
ُ ‫ﻓِْﺘـﻨَﻪٌ ن اﻧَـْﻘﻠ‬‫َﻖ‬
‫اﳊ ﱡ‬
ْ ‫ﺌِﺬ ِن‬
ِ ‫َﻖ ← ﻳـ ََْﻮﻣ‬
‫اﳊ ﱡ‬
ْ ‫ﺌِﺬ ن‬
ِ ‫ ﻳـ ََْﻮﻣ‬           
al-baqoroh 180      
al-kahfi

              
88
an-najm 50     

                 
al-jumuah 11      

               
             
yusuf 8-9 

19

7. Sifr ‫ﺻﻔﺮ‬
(Sifr = kosong/bulat)
Maksudnya : kosong bacaannya tetapi tulisannya ada.
Sifr ada 2 :
1.

‫ ﺻﻔﺮ ﻣﺴﺘﺪﻳﺮ‬Sifr Mustadir

(Bulatan kecil)

Ialah bulatan kecil yang terdapat diatas huruf tidak berfungsi / dalam
keadaan waqof atau washol dibaca pendek.

Contoh :

‫ﺌَﺴﻮا‬
ُْ ‫ﻻَْﺗـَﻴ‬

‫ََوﻣﻠَﺌِ ﻪ‬

‫ََوﻣﻼﺋِﻪ‬
‫ﻻَﺗَﺎْﻳﺌَﺴﻮا‬
ُْ

               
yusuf 87      
al-kahfi23        

                
ar-ruum 39       
ad-dahr 4       
ad-dahr 16      

2.

‫ ﺻﻔﺮ ﻣﺴﺘﻄﻴﻞ‬Sifr Mustathil (Bulatan lonjong)
Ialah bulatan kecil diatas huruf yang berfungsi, jika waqof (berhenti) dibaca
panjang, jika washol (terus) dibaca pendek.
Contoh :

‫وﻗﻒ‬

‫وﺻﻞ‬

20

‫اﻧﺎ‬
‫ِﻟﻜﻨﱠﺎ‬

‫اﻟﻈﻨﻮﻧﺎ‬

‫ِﻦ‬
‫ﻟﻜﱠ‬

‫ان‬

‫َاَ◌ﻧﺎ‬

‫اﻟﻈﻨﻮن‬

ْ‫َلَ◌َ◌ﻛِ ﻨﱠﺎ‬
‫اﻟﻈﻨﻮﻧﺎ‬

‫ﻗﻮارﻳﺮا‬

‫ﻗﻮارﻳﺮ‬

‫ﻗﻮارﻳﺮا‬

al-kafirun 4      
al-kahfi 38         

            
al-akhzab 10    
ad-dahr 15         

21

BAB IX
BACAAN YANG PERLU DIPERHATIKAN

َ‫اﻧﺎ‬

A. Cara Membaca lafadz An

Semua Tulisan (Lafadh) ana

َ‫ اَﻧﺎ‬dibaca pendek jika washol dan

dibaca panjang apabila waqof. Kecuali empat kata dalam Al-Qur’an yang
tetap dibaca panjang yaitu:
1. Q.S. Ali Imron (3) : 119

      
2. Al-Furqon (25) : 49

          
3. Luqman (31) : 15

     
4. Az-zumar (39) : 17

          

B. Cara Membaca “I” ‫ِ◌ﺋـــﻰ‬
Semua tulisan

‫ ِ◌ﺋـــﻰ‬seharusnya dibaca panjang seperti lafadh

‫ ﺷــرﻛﺎﺋﻰ‬Kecuali tiga tempat yang ada dalam Al-Qur’an harus dibaca pendek
1. Q.S. yunus (10) : 15

   
2. Ar-Ruum (30) : 8

       
3. Asy-Syura (42) : 51

   

22

C. Cara membaca “U”

ُ‫ؤ‬

Dalam Al-Qur’an

ُ‫ؤ‬

seharusnya dibaca panjang satu alif, tetapi ada

beberapa tempat dalam Al-Qur’an yang harus dibaca pendek.
1. Q.S. Al-baqoroh (2) : 223

      
2. An-Nisa’ (4) : 11 & 22

         
3. Al-Maidah (5) : 18

       
4. Al-An’am (6) : 22

     
D. Cara membaca “U”

‫ؤُ ا‬

Semua tulisan ‫ ؤُ ا‬seharusnya dibaca panjang satu alif seperti lafadh

‫ﻓـَﺒ َ ُﺂؤا – َﺟُﺂؤا‬tetapi ada beberapa tempat dalam Al-Qur’an yang harus dibaca
pendek ketika washol dan dibaca sukun ketika waqof, lafadh-lafadh
tersebut antara lain :
1. Al-An’am (6) : 5

       
2. Al-An’am : 94

     
3. Hud (11) : 87

    
4. Yusuf (12) : 85

    

5. Ibrohim (14) : 21

23

    
6. An-Nahl (16) : 48

         
7. Toha (20) : 18

   
8. Ar-Rum (30) : 13

     
9. Al-Fathir (35) : 28

     

E. Cara membaca “U”

‫ا ُو‬

Ada beberapa lafadh ‫ ا ُو‬diawal kata yang harus dibaca pendek yaitu:
1. Q.S. Al-Baqoroh (2) : 5

         
2. Al-Baqoroh : 269

     
3. Toha (20) : 84

         
4. Al-Isro’ (17) : 5

         
5. At-Tholaq (65) : 4

      

24

25

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful