P. 1
Metode Perhitungan Dan Pengukuran Arah Kiblat

Metode Perhitungan Dan Pengukuran Arah Kiblat

|Views: 55|Likes:
Published by i2b
ibadkadabrak.wordpress.com
ibadkadabrak.wordpress.com

More info:

Published by: i2b on Aug 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2012

pdf

text

original

METODE PERHITUNGAN DAN PENGUKURAN ARAH KIBLAT

H. Sriyatin Shadiq Al Falaky1 1. a. ATLAS PETA DUNIA DAN ASAL USUL MENGHADAP KIBLAT

1. b. ATLAS PETA DUNIA DAN ASAL USUL MENGHADAP KIBLAT

1

Drs. H. Sriyatin Shadiq Al Falaky, SH.MA. Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang, Anggota Badan Hisab Rukyat Provinsi Jawa Timur, Anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Yayasan Al Falakiyah Surabaya, Ahli Hisab Rukyat dan Kelender Islam, dan mengajar di berbagai tempat (di lingkungan Badilag/PTA/PA, Pusdiklat/Balai Diklat/Departemen Agama, PTAIS, Ormas Islam, Pondok Pesantren dan lain-lain). Alamat Rumah : Jalan Pagesangan IV Lapangan No. 107 Surabaya 60233 Jawa Timur, Telp 031-8294964, Telefax 031-8295298, HP. 081 23134935. Email : alfalakiyah@gmail.com. *). Pada bulan Oktober, Nopember, Desember 2008 dan Januari 2009 makalah ini disampaikan pada Kegiatan Orientasi, Pendidikan dan Pelatihan Hisab Rukyat di Surabaya (11-10-2008), Jombang (26-10-2008), Jakarta (111-2008), Makasar (8-11-2008), Surabaya (15-11-2008),Tanjungpinang Kep.Provinsi Riau (22-11-2008), Situbondo (29-11-2008, Lamongan (13-12-2008), Kediri (27-12-2008), Semarang (10-1-2009) dan Surabaya (171-2009).Palu, Malang, Mamuju.

2. ATLAS PETA DUNIA DAN ARAH KIBLAT

1500 B

1000

500

00

500

1000

1500 T

600 U
AMERIK A

600 U
EROP A
SAMUDRA ATLANTIK

ASI A 400

40

0

UTARA

MEKAH
AFRIK A

200 00 200 400 SAMUDRA PASIFIK
AMERIK A SELATA N

SAMUDRA PASIFIK

200 00 200

JAKARTA
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

400

600 S 1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T

600 S

Posisi Ka’bah di Masjidil Haram Mekah berada di belahan Lintang Utara (di Utara garis khatulistiwa) dan berada di belahan Bujur Timur (di Timur garis batas Bujur Internasional/GMT). Sedangkan Jakarta Indonesia berada di belahan Lintang Selatan (di Selatan garis khatulistiwa) dan berada di belahan Bujur Timur (di Timur Ka’bah dari garis batas Bujur Internasional). Arah Kiblat Jakarta menghadap ke Barat serong ke kanan dari titik Barat sejauh 25o08' (B – U). Kalau arah Jakarta atau kota-kota di Indonesia hanya menghadap lurus ke Barat arah mata angin (Barat lurus) merupakan KEKELIRUAN DAN KESALAHAN BESAR. Lihat posisi gambar peta di atas.

Banyak masjid, mushalla, surau dan lapangan tempat shalat di seluruh Indonesia masih menghadap ke Barat arah mata angin (Barat lurus). Usaha-usaha sudah dilakukan tetapi belum banyak berhasil karena kemauan para ahli hisab rukyat dan respon umat Islam rendah, sebagian umat Islam, tokoh dan ta’mir masih kokoh mempertahankan arah kiblat masjid yang sudah ada apa adanya tidak mau dirubah arah kiblatnya walaupun hanya menggeser/memiringkan. meluruskan dan membuat garis shafnya saja. Selain itu, sampai sekarang belum ada Instansi dan Lembaga di Indonesia yang berwenang, berhak dan bertugas untuk penentuan dan pengukuran arah kiblat, termasuk pemberian sertifikasinya. Kalaupun ada hanya Departemen Agama, tetapi tupoksi, tugas dan kewenangan belum mengikat, resmi dan sah. Departemen Agama hanya sebatas pada fasilitor saja. Mudah-mudahan ke depan akan lebih baik, generasi-generasi penerus menguasai ilmu falak, mengamalkannya dan peduli dalam penentuan, pengukuran dan pembenaran arah kiblat. Pelopor pertama gerakan membenarkan dan meluruskan arah kiblat di Indonesia adalah KH.A.Dahlan jauh sebelum mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. KH.A.Dahlan beserta murid-murid meluruskan dan memencengkan garis shaf arah kiblat Masjid Agung Keraton Yogyakarta.

2. b. Gambar Ka’bah
(B) Barat Rukun Magribi

(S) Selatan Rukun Yamani

(U) Utara Rukun Syami

Multazam

Pintu Ka’bah Maqom Ibrahim

Arah Indonesia
(Arah Tenggara)

(T) Timur Hajar Asawad

2. c. Gambar Ka’bah

Arah Indonesia
(Arah Tenggara)

2.e. Gambar Masjdil Haram dan Ka’bah

Sabda Nabi SAW : Artinya : Ka’bah (Baitullah) adalah kiblat bagi orang-orang di masjidil haram, masjidil haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk tanah haram (Mekah), dan tanah haram (Mekah) adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di barat maupun di timur. ( HR. Al Baihaqi dari Abu Hurairah).

3. Gambar Tongkat Istiwa, Bayangan Matahari dan Arah Kiblat
Pada tanggal 27 atau 28 Mei dan 15 atau 16 Juli saat Dzuhur di Mekah dapat dipakai acuan pengamatan bayang-bayang arah kiblat. WIB = Waktu Saudi + 4 jam

n Ze

it h

uh (Dz

ur)

(106 0 50’ BT, 0 6 10’ LS

Jakarta

)

’ 0 50 (39

h U) ek,a10 25’ L M BT 2

Deklinasi Matahari =Lintang Geografis Mekah

Menentukan arah kiblat dengan bayang-bayang matahari dengan bantuan alat tongkat istiwa.

888

Matahari : Setelah Dzuhur/Sore

U
Ka’bah

B
Bayangan setelah dzuhur/sore

T

S

Menentukan mata angin dengan tongkat istiwa dan arah kiblat

U

Ka’bah

Titik I

Titik II

B

T

S

Menentukan arah kiblat kompas dan busur
JAKARTA 6o10’ LS, 106o50’ BT

U
Ka’bah 64o51’44” U - B

Shaf

25o08’16” B - U

B

T

Shaf

S

4. Teori dan Algoritma Perhitungan Arah Kiblat2
a. Pengertian dan Asbabun Nuzul Menghadap Arah Kiblat Kata Arah Kiblat, dua kata ini yang akan dicari formulasi dan hitungan penentuannya. Kata arah berarti jurusan, tujuan dan maksud, yang lain memberi arti jarak terdekat yang diukur melalui lingkaran besar pada permukaan bumi, dan yang lain artinya jihad, syathrah dan azimuth. Sedangkan kata Kiblat berarti Ka’bah yang terletak di dalam Masjidil Haram kota Mekah. Para ulama sepakat menghadap ke arah kiblat merupakan syarat sahnya shalat, maka kaum muslimin wajib menghadap ke arah kiblat dalam melakukan ibadah shalat. Dengan demikian arah kiblat adalah suatu arah (kiblat di Mekah) yang wajib dituju oleh umat Islam ketika ibadah shalat.
QS. Al Baqarah (2) ayat 142, 143, 144, 145,148, dan 149

Surat al Baqarah ayat 144 : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Maksudnya ialah Nabi Muhammad SAW sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah). Juga diceritakan dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari: Dari al-Bara bin Azib, bahwasanya Nabi SAW pertama tiba di Madinah beliau turun di rumah kakek-kakek atau paman-paman dari Anshar. Dan bahwasanya beliau shalat menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah. Dan shalat pertama beliau dengan menghadap Baitullah adalah shalat Ashar dimana orang-orang turut shalat (bermakmum) bersama beliau. Seusai shalat, seorang lelaki yang ikut shalat bersama beliau pergi kemudian melewati orang-orang di suatu masjid sedang ruku. Lantas dia berkata: "Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah shalat bersama Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah." Merekapun dalam keadaan demikian (ruku) merubah kiblat menghadap Baitullah. Dan orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab senang beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Setelah beliau memalingkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal itu. Sesungguhnya sementara orang meninggal dan terbunuh sebelum berpindahnya kiblat, sehingga kami tidak tahu apa yang akan kami katakan tentang mereka. Kemudian Allah yang Maha Tinggi menurunkan ayat "dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu" (al-Baqarah, 2:143). Sabda Nabi SAW :
2

Baca buku Sriyatin Shadiq Al Falaky, Editor M.Syafii Al Falaky ; Metode Penentuan dan Pengukuran Arah Kiblat (Konsep, Teori dan Praktek) dalam proses cetak.

Artinya : Ka’bah (Baitullah) adalah kiblat bagi orang-orang di masjidil haram, masjidil haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk tanah haram (Mekah), dan tanah haram (Mekah) adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di barat maupun di timur. ( HR. Al Baihaqi dari Abu Hurairah). Kesemua empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali telah bersepakat bahwa menghadap kiblat salah satu merupakan syarat sahnya shalat. Bagi Mazhab Syafii telah menambah dan menetapkan tiga kaidah yang bisa digunakan untuk memenuhi syarat menghadap kiblat yaitu: 1. Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin) Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka'bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat dengan penuh yakin. Ini yang disebut sebagai “Ainul Ka’bah”. Kewajiban tersebut bisa dipastikan terlebih dahulu dengan melihat atau menyentuhnya bagi orang yang buta atau dengan cara lain yang bisa digunakan misalnya pendengaran. Sedangkan bagi seseorang yang berada dalam bangunan Ka’bah itu sendiri maka kiblatnya adalah dinding Ka’bah. 2. Menghadap Kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan) Seseorang yang berada jauh dari Ka'bah yaitu berada diluar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau kiraan. Ini yang disebut sebagai “Jihadul Ka’bah”. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan bertanya kepada mereka yang mengetahui seperti penduduk Makkah atau melihat tanda-tanda kiblat atau “shaff” yang sudah dibuat di tempat–tempat tersebut. 3. Menghadap Kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad) Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat Dzan nya maka ia boleh menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah Kiblat. Namun bagi yang dapat mengira maka ia wajib ijtihad terhadap arah kiblatnya. Ijtihad dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram. Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran menggunakan peralatan modern. Bagi lokasi atau tempat yang jauh seperti Indonesia, ijtihad arah kiblat dapat ditentukan melalui perhitungan falak atau astronomi serta dibantu pengukurannya menggunakan peralatan modern seperti kompas, GPS, theodolit dan sebagainya. Penggunaan alat-alat modern ini akan menjadikan arah kiblat yang kita tuju semakin tepat dan akurat. Dengan bantuan alat dan keyakinan yang lebih tinggi maka hukum Kiblat Dzan akan semakin mendekati Kiblat Yakin. Dan sekarang kaidah-kaidah pengukuran arah kiblat menggunakan perhitungan astronomis dan pengukuran menggunakan alat-alat modern semakin banyak digunakan secara nasional di Indonesia dan juga di negara-negara lain. Bagi orang awam atau kalangan yang tidak

tahu menggunakan kaidah tersebut, ia perlu taqlid atau percaya kepada orang yang berijtihad. b. Segitiga Bola dan Arah Kiblat Arah kota Mekah yang terdapat Ka’bah (sebagai kiblat kaum muslimin) dapat diketahui dari setiap titik di permukaan bumi ini berada pada permukaan bola bumi, maka untuk menentukan arah kiblat dapat dilakukan dengan menggunakan Ilmu Ukur Segitiga Bola (Spherical Trigonometri). Penghitungan dan pengukuran dilakukan dengan derajat sudut dari titik kutub utara, dengan menggunakan alat bantu mesin hitung atau kalkulator. Untuk perhitungan arah kiblat, ada 3 buah titik yang harus dibuat, yaitu : 1. Titik A, diletakkan di Ka’bah (Mekah) 2. Titik B, diletakkan di lokasi tempat yang akan ditentukan arah kiblatnya. 3. Titik C, diletakkan di titik kutub utara atau titik sumbu utara.. Titik A dan titik C adalah dua titik yang tetap (tidak berubah-ubah), karena titik A tepat di Ka’bah (Mekah) dan titik C tepat di kutub utara (titik sumbu), sedangkan titik B senantiasa berubah-rubah sesuai dengan lokasi tempatnya, mungkin berada di sebelah utara equator/khatulistiwa dan mungkin pula berada di sebelah selatannya, tergantung pada tempat mana yang akan ditentukan arah kiblatnya. Bila ketiga titik tersebut dihubungkan dengan garis lengkung pada lingkaran besar, maka terjadilah segitiga bola ABC, seperti gambar di bawah ini. Titik A adalah posisi Ka’bah (Mekah), titik B adalah posisi lokasi tempat/kota, dan titik C adalah kutub utara/titik sumbu. Gambar Segitiga Bola (ABC – abc) C bA aA cA BA

AA

Ketiga sisi segitiga ABC di samping ini diberi nama dengan huruf kecil dengan nama sudut didepannya (dihadapannya). Sisi BC dinamakan sisi a, karena berada di depan/ berhadapan dengan sudut A. Sisi CA dinamakan sisi b, karena berada di depan/berhadapan dengan sudut B. Sisi AB dinamakan sisi c, karena berada di depan/berhadapan dengan sudut C. Atau sudut di antara sisi b dan sisi c dinamakan sudut A, sudut di antara sisi c dan sisi a dinamakan sudut B, dan sudut di antara sisi a dan sisi b dinamakan sudut C. Sudut-sudut itu dihitung dengan derajat sudut.

Gambar Bola (ABC – diganti dan

Segitiga abc) di atas rubah sbb :

SURABAYA

Gambar di atas, dapatlah diketahui bahwa yang dimaksud dengan perhitungan arah kiblat adalah suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut B, yakni sudut yang diapit oleh sisi a dan sisi c. Pembuatan gambar segitiga bola seperti di atas sangat berguna untuk membantu menentukan nilai sudut arah kiblat bagi suatu tempat dipermukaan bumi ini dihitung/diukur dari suatu titik arah mataangin ke arah mataangin lainnya, misalnya diukur dari titik Utara ke Barat (U-B), atau diukur searah jarum jam dari titik Utara (UTSB). Untuk perhitungan arah kiblat, hanya diperlukan dua data tempat : 1). data lintang dan bujur Ka’bah (Mekah) φ = 21o 25’ LU dan λ = 39o 50’ BT. 2). Data lintang tempat dan bujur tempat lokasi/kota yang akan dihitung arah kiblatnya. Sedangkan data lintang dan bujur tempat lokasi/kota yang akan dihitung arah kiblatnya dapat diambil dari taqwim / daftar / peta / buku ilmu falak dan hisab rukyat yang menyantumkan lintang dan bujur tempat, atau dari GPS (global positioning system). c. Data dan Rumus Arah Kiblat yang Digunakan 1). Istilah yang digunakan : NO 1 2 INDONESIA lintang tempat bujur tempat ARAB ‫عرض البلد‬ ‫طول البلد‬ INGGRIS latitude longitude SIMBOL phi = Ø lambda = λ

2). Data lintang dan bujur Ka’bah (kota Mekah) yaitu : a. b. c. d. Atlas PR Bos : Lintang = 21o 30’ (LU) dan Bujur 39o 58’ (BT). H. Saaduddin Djambek : : Lintang = 21o 20’ (LU) dan Bujur 40o 14’ (BT). Departemen Agama : Lintang = 21o 25’ (LU) dan Bujur 39o 50’ (BT). Kedutaan Arab Saudi : 21o 25’ 15” LU dan Bujur 39o 49’ 29” BT.

e. Dr. M.Ilyas Abd.Ghani, Sejarah Mekah : 21o 25’ 19” LU dan Bujur 39o 49’ 46” BT. f. Sriyatin Shadiq Al Falaky (haji tahun 2004), GPS Vista (diukur pada dinding sudut/pojok Ka’bah antara rukun Yamani) : 21o 25’ 20” LU dan Bujur 39o 49’ 34” BT. g. Encarta 2003 : Lintang = 21o 25’ 16” LU dan Bujur 39o 49’ 32” BT. h. Google Earth 2007 : Lintang = 21o 25’ 21.15” (21o 25’ 21”) LU dan Bujur 39o 49’ 34.30” (39o 49’ 35”) BT. 3). Rumus arah kiblat Ada beberapa rumus perhitungan dan pengukuran arah dan azimuth kiblat yang digunakan. Rumus-rumus tersebut satu sama lain pada dasarnya satu dan sama, hasilnya pun mempunyai persamaan, hanya berbeda cara pandang menentukan titik sudutnya. Kalaupun penggunaan penghitungan rumus berbeda tetapi hasil akhir yang diperoleh tetap satu dan sama. Di bawah ini diberikan 2 (dua) rumus, antara lain sbb : 1. Cotan B = Cos Ptp Tan Pmk – Sin Ptp Sin (λtp – λ mk) Tan (λtp – λ mk) 2. Cotan B = Cotan b Sin a - Cos a Cotan C Sin C 3. Rumus bantu Sisi a (a) = 90o – φ tp Sisi b (b) = 90o – φ mk b = 90o – 21o 25’ = 68o 35’ (tetap) Sisi C (c) = λtp – λmk Keterangan : B = arah kiblat suatu tempat Q = arah kiblat suatu tempat O = lintang tempat P = lintang tempat M = Lintang Makah λtp = bujur tempat λmk = bujur Makah a = meridian yang melalui tempat peninjau/observer = 90 – P b. = meridian yang melalui Makah = 90 – Pmk C = bujur yang menghubungkan Makah dengan peninjau/ observer = selisih (λtp – λmk) 4). Langkah perhitungan Langkah-langkah perhitungan arah dan azimuth kiblat sebagai berikut : 1. Tentukan tempat atau kota yang akan ditentukan arah kiblatnya.

2. Tentukan data lintang dan bujur Ka’bah (Mekah) φ = 21o 25’ LU dan λ = 39o 50’ BT (tetap). 3. Tentukan data lintang tempat dan bujur tempat suatu tempat atau kota yang ditentukan arah kiblatnya. Daftar lintang dan bujur tempat tersedia pada atlas, buku hisab rukyat, buku ilmu falak, buku astronomi dan alat GPS ((global positioning system). 4. Buatlah lingkaran bola dunia untuk menggambarkan letak dan posisi tempat atau kota yang akan ditentukan arah kiblatnya. 5. Pergunakan salah satu rumus arah kiblat 6. Pergunakan alat mesin hitung seperti scientific calculator atau computer. 7. Buatlah blangko / kertas kerja perhitungan 8. Lalu lakukan perhitungan dengan bantuan alat mesin hitung 9. Buatlah rangkuman hasil perhitungan 10. Langkah terakhir, buatlah lingkaran bola dunia yang untuk menggambarkan garis yang menunjuk dan menghadap ke arah kiblat dan garis shafnya. 5). Contoh Perhitungan Arah dan Azimut Kiblat Pada Bab ini dijelaskan dan diberikan beberapa contoh perhitungan arah kiblat, dengan dimulai dengan pertanyaan, lalu dijawab. Perhitungan arah kiblat ini menggunakan alat bantu kalkulator dengan berbagai model typenya. Hal ini diharapkan para peserta didik mampu dan dapat secara leluasa, mudah dan terampil melakukan perhitungan dengan sebaik-baiknya. Contoh beberapa perhitungan arah kiblat sebagai berikut :

– Contoh menggunakan perhitungan dengan Rumus I :
1. Pertanyaan : Hitunglah arah kiblat kota Surabaya 2. Jawabnya : Langkah-langkah perhitungan yang ditempuh sebagai berikut : a. Data diketahui : 1). Lintang Ka’bah di Mekah (φ mk )= 21o 25’ 20” LU Bujur Ka’bah di Mekah (λ mk)= 39o 49’ 34” BT (tetap) 2). Lintang tempat Surabaya (φ tp) = - 7o 15’ 58” LS Bujur tempat Surabaya (λ tp) = 112o 45’ 05” BT b. Rumus yang digunakan 1). Cotan B = Cos Ptp Tan Pmk – Sin Ptp Sin (λtp – λ mk) Tan (λtp – λ mk) Atau : Cotan B = Cos Ptp Tan 21o 25’ 20”/ Sin (λtp - 39o 49’ 34”) – Sin Ptp / Tan (λtp - 39o 49’ 34”) 2). Data angka pada variabel dimasukkan dlm rumus: Cotan B = Cos - 7o 15’ 58” Tan 21o 25’ 20”/ Sin (112o 45’ 05” - 39o 49’ 34”) – Sin - 7o 15’ 20”/ Tan (112o 45’ 05” - 39o 49’ 34”) 3. Cara operasional pijat/tekan tombol kalkulator :

Type kalkulator (pilih salah satu) : Karce-131, 132, Karce S3500, Casine CS-212, Scientific, Casio fx 82 MS, 85 MS, 95 MS, 100 MS, 115 MS, 350 MS, 570 MS, 820 MS, 991 MS, 992S, 4000 P , 4500 P , 5000 P. Tekan atau pijat tombol kalkulator secara berurutan sesuai dengan typenya: Shift tan ( 1 / (Cos - 7o 15’ 58”Tan 21o 25’ 20”/ Sin (112o 45’ 05” - 39o 49’ 34”) – Sin 7o 15’ 58” / Tan (112o 45’ 05” - 39o 49’ 34”))) Exe Shift o’’65o 57’ 49.56” U - B atau 24o 02’ 10.44” B – U, dan Azimut kiblat 294o 02’ 10.44” UTSB. Keterangan : 1. U-B : diukur dari titik Utara ke arah Barat 2. B-U : diukur dari titik Barat ke arah Utara 3. UTSB : diukur dari titik Utara se arah jarum jam (Utara - Timur - Selatan – Barat) 4. a. tanda / bisa diganti : b. tanda Exe bisa diganti = c. tanda x-1 silakan dipijat shift (

– Contoh menggunakan perhitungan dengan Rumus II :
1. Pertanyaan : Hitunglah arah kiblat kota Surabaya 2. Jawabnya : Langkah-langkah perhitungan yang ditempuh sebagai berikut : a. Data diketahui :

1). Lintang Ka’bah di Mekah (φ mk )= 21o 25’ 20” LU Bujur Ka’bah di Mekah (λ mk)= 39o 49’ 34” BT (tetap) 2). Lintang tempat Surabaya (φ tp) = - 7o 15’ 58” LS Bujur tempat Surabaya (λ tp) = 112o 45’ 05” BT b. Rumus yang digunakan 1). Dicari dulu dengan rumus bantu : a = 90o – φ tp b = 90o – φ mk C = λtp - λ mk Nilai harga yang didapat : a = 90o – - 7o 15’ 58” b = 90o - 21o 25’ 20” C =112o 45’ 05’ - 39o 49’ 34” = 97o 15’ 58” = 68o 34’ 40” (tetap) = 72o 55’31”

2). Data angka pada variabel dimasukkan dalam rumus: Cotan B = Cotan b Sin a - Cos a Cotan C Sin C

Cotan B = Cotan 68o 34’ 40” Sin 97o 15’ 58” - Cos 97o 15’ 58” Cotan 72o 55’ 31”

Sin 72o 55’ 31”

c. Cara operasional pijat/tekan tombol kalkulator : Type kalkulator (pilih salah satu) : Karce-131, Karce S3500 Scientific, Casio fx 82 MS, 85 MS, 95 MS, 100 MS, 115 MS, 350 MS, 570 MS, 820 MS, 991 MS, 992S, 4000 P , 4500 P , 5000 P. Tekan atau pijat tombol kalkulator secara berurutan sesuai dengan typenya: 1 / Tan 68o 34’ 40” x Sin 97o 15’ 58” / Sin 72o 55’ 31” Exe - Cos 97o 15’ 58” x 1 / Tan 72o 55’ 31”Exe x-1 Exe Shift Tan Ans Exe Shift o’’65o 57’ 49.56” U - B atau 24o 02’ 10.44” B – U, dan Azimut kiblat 294o 02’ 10.44” UTSB. Keterangan : 1. U-B : diukur dari titik Utara ke arah Barat 2. B-U : diukur dari titik Barat ke arah Utara 3. UTSB : diukur dari titik Utara se arah jarum jam (Utara - Timur - Selatan – Barat) 4. a. tanda / bisa diganti : b. tanda Exe bisa diganti = c. tanda x-1 silakan dipijat shift (

3. Contoh Gambar Arah Kiblat Kota Surabaya
(U)Utara Ka’bah shaf

Kompas I (B) Barat (T) Timur

shaf Kompas II (S)Selatan

5.

ARAH KIBLAT KOTA SURABAYA, JOMBANG, TANJUNGPINAG , SITUBONDO DAN LAMONGAN.

JAKARTA,

MAKASAR,

a. Surabaya = 65o 57’ 50” U - B atau 24o 02’ 10”B – U, dan Azimut kiblat 294o 02’ 10” UTSB ( Lintang tempat : -7o 45’ 58”LS, bujur tempat : 112o 45’ 05” BT)

b. Jombang = 65o 47’ 27” U - B atau 24o 12’ 33”B – U dan Azimut kiblat 294o 12’ 33” UTSB ( Lintang tempat : -7o 32’ LS, bujur tempat : 112o 13’ BT) c. Jakarta = 64o 51’ 40” U - B atau 25o 08’ 20” B –U, dan Azimut kiblat 295o 08’ 20” UTSB. ( Lintang tempat : -6o 10’ LS, bujur tempat : 106o 49’ BT) d. Makasar = 67o 31’ 56” U - B atau 22o 28’ 04” B – U dan Azimut kiblat 292o 28’ 04” UTSB. ( Lintang tempat : -5o 09’ LS, bujur tempat : 119o 28’ BT) e. Tanjungpinang = 66o 54’ 07” U - B atau 23o 05’ 53” B – U dan Azimut kiblat 293 o 05’ 53” UTSB. ( Lintang tempat : 0o 55’ LU, bujur tempat : 104o 29’ BT) f. Situbondo = 66o 09’ 03” U - B atau 23o 50’ 57” B – U dan Azimut kiblat 293o 50’ 57” UTSB ( Lintang tempat : -7o 44’ LS, bujur tempat : 114o 01’ BT) g. Lamongan = 65o 55’ 21” U - B atau 24o 04’ 39” B – U dan Azimut kiblat 294o 04’ 39” UTSB (Lintang tempat : -7o 08’ LS, bujur tempat : 112o 25’BT)

7. HARI ARAH KIBLAT
Hari arah kiblat adalah pada waktu matahari berada di atas ka’bah yang terjadi dua kali dalam setahun pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli bayang-bayang benda berdiri tegak lurus MENUNJUK/MENGARAH ke arah kiblat. Hari arah kiblat juga disebut “hari rusdul kiblat”. Di Wilayah Indonesia Bagian Barat pada tanggal 28 Mei pukul : 16.17.56 WIB dan pada tanggal 16 Juli pukul : 16.26.43 WIB.

8. Aplikasi Program Arah Kiblat dengan Kalkulator Casio FX 4500 PA
a. Masukkan program sbb : AC MODE EXP FILENAME lalu tulis KIBLAT EXE lalu tekan L1 tulis rumus secara berurutan : Q = tan-1 ( 1 / ( cos P tan 21o 25’ 20” / sin (B - 39o 49’ 34”) - sin P / tan ( B - 39o 49’ 34”))): A“KIBLAT”= Q Δ A “KIBLAT” = 90 – Q Δ A “AZKIBLAT” = 360-Q Δ EXE b. Cara penggunaannya : Misalnya untuk kota Surabaya dengan Lintang : - 7o 15’ 58” dan Bujur : 112o 45’ 05”

‫’75 ‪AC FILE KIBLAT EXE P ? - 7o 15’ 58” EXE B ? 112o 45’ 05” EXE SHIFT o’’’65o‬‬ ‫”44.01 ’20 ‪49.56” EXE SHIFT o’’’ 24o 02’ 10.44” EXE SHIFT o’’’ 294o‬‬ ‫‪Maksudnya : 65o 57’ 49.56” (U – B) atau 24o 02’ 10.44” (B – U), dan Azimut kiblat‬‬ ‫‪(294o 02’ 10.44”) UTSB‬‬

‫هـذا ماتـيـسـرلي في هـذه الـمـسـألـة : فإن كـان صـوابا فـمـن الـلـه وإن كـان‬ ‫غـيـر ذلـك فـمـني ومـن الـشـيـطـان والـقـصـد الـوصـول إلي الـحـق والـلـه‬ ‫سـبـحـانـه آعـلـم والـحـمـد لـلـه رب الـعـالـمـيـن وصـلـواتـه عـلـي‬ ‫إمـامـنـاوحـبـيـبـنـامـحـمـد وآلـه وصـحـبـه وسـلـم‬

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->