ISI 3.

1 Definisi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) keadaan ditemukannya mikrorganisme di dalam urin dalam jumlah tertentu. Dalam keadaan normal, urin juga mengandung mikroorganisme, umumnya sekitar 102 hingga 104 bakteri/ml urin. Pasien didiagnosis infeksi saluran kemih bila urinnya mengandung lebih dari 105 bakteri/ml (Coyle dan Prince, 2005).

Penderita infeksi saluran kemih tidak mengalami gejala, namun umumnya mempunyai gejala yang terkait dengan tempat dan keparahan infeksi. Gejala gejala dapat meliputi berikut ini, sendirian atau bersama-sama: 1) Menggigil, demam, nyeri pinggang, sering mual dan muntah (biasanya terkait dengan pielonefritis akut); dan 2) Disuria, sering atau terburu-buru buang air kecil, nyeri suprapubik dan hematuria yang biasanya terkait dengan sistitis (Schaeffer, 1994).

Beberapa istilah infeksi saluran kemih yang sering dipergunakan di dalam klinik ialah: (Tessy dkk, 2004). 1. Asymptomatic Significant Bacteriuria (ASB) ialah bakteriuria yang bermakna tanpa disertai gejala. 2. Bacterial cyititis ialah sindrom yang terdiri dari: a. sakit waktu kencing b. sering kencing (siang maupun malam) 3. Abacterial cystitis (urethra syndrome) ialah sindrom yang terdiri dari: a. sakit waktu kencing b. sering kencing tanpa disertai bakteri di dalam kandung kemih

uretritis (uretra). tumor ginjal. serta prostatitis (kelenjar prostat). kista ginjal. jenis dan lama penatalaksanaan. batu saluran kemih. yaitu bila terdapat hal – hal tertentu sebagai infeksi saluran kemih dan kelainan struktur maupun fungsional yang merubah aliran urin seperti obstruksi aliran urin . serta resiko terjadinya perburukan dan gejala sisa infeksi saluran kemih (Suwitra dan Mangatas. 2004). abses ginjal.3. yaitu bila infeksi saluran kemih tanpa faktor penyulit dan tidak didapatkan gangguan struktur maupun fungsi saluran kemih. Infeksi saluran kemih bagian atas terdiri dari pielonefritis yaitu infeksi yang melibatkan ginjal (Coyle dan Prince. 2004). residu urin dalam kandungan kemih (Suwitra dan Mangatas. Infeksi saluran kemih (ISK) dari segi klinik dibagi menjadi: 1. Terdapat perbedaan yang bermakna antara infeksi saluran kemih terkomplikasi dan tidak terkomplikasi dalam hal kebutuhan pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis. 2. . Infeksi sa luran kemih bagian bawah terdiri dari sistitis (kandung kemih). Infeksi saluran kemih terkomplikasi (complicated urinary tract infection). Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (simple/ uncomplicated urinary tract infection).2 Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih Dari segi anatomi infeksi saluran kemih dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu infeksi saluran kemih bagian atas dan infeksi saluran kemih bagian bawah. 2005).

batu ginjal. inflamasi atau pembesaran pada prostat. . disebut demikian bila sebelumnya terjadi infeksi pada ginjal yang akhirnya menyebar sampai ke dalam saluran kemih melalui peredaran darah.3. menopause. Enterococci dan Staphylococcus saprophyticus. 2.4 Patogenesis Secara umum mikroorganisme dapat masuk ke dalam saluran kemih dengan tiga cara yaitu: 1. kehamilan. Asenden yaitu jika masuknya mikroorganisme adalah melalui uretra dan cara inilah yang paling sering terjadi. 3. 2003). memiliki banyak pasangan dalam aktivitas seksual. Infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan abnormalitas struktural saluran kemih sering disebabkan oleh bakteri yang lebih resisten seperti Pseudomonas aeruginosa .3 Etiologi Mikroorganisme yang paling umum menyebabkan infeksi saluran kemih sejauh ini adalah E. immobilitas. coli yang diperkirakan bertanggung jawab terhadap 80% kasus infeksi. Enterobacter dan spesies Serratia. terutama pada pasien yang mendapatkan kateterisasi urin (Bint dan Berrington. Selain karena bakteri. faktor la in yang dapat meningkatka n resiko terjadinya infeksi saluran kemih antara lain. Organisme terakhir dapat ditemui pada kasus-kasus infeksi saluran kemih wanita muda yang aktif kegiatan seksualnya. dan bakteri Gram positif seperti Cocci. 2005). kurang masukan cairan dan kateterisasi (Knowles. penggunaan diafragma sebagai alat kontrasepsi. Bakteribakteri ini juga sering ditemui pada kasus infeksi nosokomial. 20% sisanya disebabkan oleh bakteri Gram negatif lain seperti Klebsiella dan spesies Proteus. kela inan pada urethra. Hematogen (desenden).

2007). Hal ini biasanya disebabkan kurang higienisnya alat ataupun tenaga kasehatan yang memasukkan kateter. Pengunaan kateter seringkali menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam kandungan kemih. 2005). . dan terdesak kencing yang biasanya terjadi bersamaan. Ditemukan juga enuresis nokturnal sekunder yaitu mengompol pada orang dewasa. prostatimus yaitu kesulitan memulai kencing dan kurang deras arus kencing. Orang lanjut usia yang sukar buang air kecil umumnya menggunakan kateter untuk memudahkan pengeluaran urin. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria. ngompol malam hari dan hambatan pertumbuhan sedangkan pada orang lansia juga malaise. polakisuria. Stranguria yaitu kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang yang sering ditemukan pada sistitis akut. 1992). inkontinensi.3. serta kadang-kadang perasaan kacau yang timbul mendadak (Tjay dan Rahardja. demam. demam. kolik ureter dan ginjal (Tessy dkk. Gejala pada anak-anak terjadi malaise umum. itulah sebabnya mengapa penderita infeksi saluran kemih cenderung meningkat pada rentang usia ini ( Romac. Polakisuria terjadi akibat kandungan kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 mL karena mukosa yang meradang sehingga sering kecing. Nokturia ialah cenderung sering kencing pada malam hari akibat kapasitas kandung kemih menurun. Tenesmus ialah rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong. Jalur limfatik. Nyeri suprapubik dan daerah pelvis. Nyeri uretra. 3. 2004).5 Gejala klinis Gejala klinis infeksi saluran kemih tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa gejala. jika masuknya mikroorganisme melalui sistem limfatik yang menghubungkan kandung kemih dengan ginjal namun yang terakhir ini jarang terjadi (Coyle dan Prince. sakit perut.

demam. Waktu paruh dengan pemberian oral. Sulfametoksazol dan Trimetoprim  Mekanisme Kerja Obat Mekanisme kerja sulfametoksazol dengan mengganggu sintesa asam folat bakteri dan pertumbuhan lewat penghambat pembentukan asam dihidrofolat dari asam para-minobenzoat. mencegah agar tidak terjadi rekurensi dan kerusakan struktur orga n saluran kemih (Junizaf.Gejala klinis infeksi saluran kemih sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut: (Tessy dkk. 1994). trimetoprim adalah 8-11 jam dan sulfametoksazol adalah 10-12 jam. et al..6 Terapi Tujuan dan pengobatan infeksi saluran kemih adalah untuk menurunkan morbiditas berupa simptom. 3. muntah. 1. atau nyeri di pinggang. Berikut ini adalah deskripsi beberapa agen antimikroba yang umum digunakan dalam terapi infeksi saluran kemih: 1. Pasien infeksi saluran kemih bagian bawah. Pasien infeksi saluran kemih bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala. Sekitar 44% trimetoprim dan 70% sulfametoksazol terikat dengan protein. 2004). menggigil. mual. rasa tidak enak. malaise. Dan mekanisme kerja trimetoprim adalah menghambat reduksi asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat.  Data Farmakokinetik Trimetoprim-Sulfametoksazol diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikitsedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik. Trimetoprim dimetabolisme menjadi . pengangkatan bakteri penyebab. 2.

bentuk yang lebih kecil dan sulfametoksazol mengalami biotransformasi menjadi senyawa tidak aktif. dan sefadroksil dapat diberikan per oral karena diabsorbsi melalui saluran cerna.  Data Farmakokinetik Obat ini berdifusi dengan baik di jaringan dan cairan tubuh. Beberapa . sefalosporin diibedakan menjadi 2 golongan. Contoh Sediaan : Amoksisilin. Sefalosporin  Mekanisme Kerja Obat Sefalosporin bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba. Sefaleksin. sefaklor. Ampisilin 3. sefradin. Obat ini diekskresi ke urin dalam kadar terapeutik. Contoh sediaan : Bactoprim (Combiphar). Primadex (Dexa Medica) 2. Sefalotin dan sefapirin umumnya diberikan secara intravena karena menimbulka iritasi pada pemberian intramuskular. tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.  Data Farmakokinetik Dari sifat farmakokinetik. Penisilin  Mekanisme Kerja Obat Penisilin bersifat bakteriasid yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel. Sefalosporin lainnya hanya dapat diberikan parenteral.

Perbandingan antar obat Sefalosporin generasi pertama : aktif terhadap kuman gram positif Sefalosporin generasi kedua : kurang aktif terhadap bakteri gram positif. Selain itu sefalosporin juga melewati sawar plasenta. Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh ke urin. kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui empedu. Oleh karena itu dosisnya harus disesuaikan pada pasien gangguan fungsi ginjal. terutama sefoperazon. Kadar dalam empedu umumnya tinggi. kadar sefalosporin generasi ketiga dalam cairan mata relatif tinggi. Hambatan ikatan ini menyebabkan hambatan sintesis ikatan peptida. seftisokzim. tapi lebih aktif terhadap bakteri gram negatif Sefalosporin generasi ketiga : aktif terhadap Enterobacteriaceae dan bakteri gramnegatif lainnya Contoh Sediaan : Sefaklor. tapi tidak mencapai vitreus. mencapai kadar yang tinggi dalam cairan serebrospinal. sehingga bermanfaat untuk pengobatan meningitis purulenta. mencapai kadar tinggi dalam cairan sinovial dan cairan perikardium. Tetrasiklin  Mekanisme Kerja Obat Tetrasiklin adalah bakteriostatik yang bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan pada ribosomal subunit 30S sehingga menghambat ikatan aminoasil-tRNA ke sisi A pada kompleks ribosomal.  Data Farmakokinetik .sefalosporin generasi ketiga misalnya moksalaktam. Pada pemberian sistemik. sefotaksim. dan seftriakson. Sefadroksil 4.

Nitrofurantoin  Mekanisme Kerja Obat Nitrofurantoin merusak dinding sel bakteri dan mengganggu metabolisme bakteri. Contoh Sediaan : Tetrasiklin. Fluorokuinolon  Mekanisme Kerja Obat Fluorokuinolon bekerja menghambat DNA gyrase sehingga sintesis DNA kuman terganggu. Contoh Sediaan : Nitrofurantion. Aminoglikosida berikatan dengan subunit ribosomal 30S dengan mengganggu sintesis protein melalui 3 cara yaitu : menghambat kompleks inisiasi.  Data farmakokinetik Nitrofurantoin diekskresikan di urin melalui filtrasi dan sekresi. Macrotal (Combiphar) 7. Doksisiklin 5.Tetrasiklin diabsorbsi 60-80%. dengan paruh waktu 6-12 jam. Aminoglikosida  Mekanisme Kerja Obat Aminoglikosida adalah bakterisid yang menghambat sintesis protein. Berikatan dengan protein sekitar 20-65%. . 6.

dan gangguan polisom menjadi monosom nonfungsional. Aztreonam . Karbapenem  Mekanisme Kerja Obat Karabapenem bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel Contoh Sediaan : Meropenem. Amikasin 8.kesalahan dalam membaca kode pada cetakan mRNA. Contoh Sediaan : Tobramisin.