HUKUM MENGGERAKAN JARI TELUNJUK SAAT SHALAT DALAM TAHIYATUL AKHIR

retnoeno Uncategorized October 31, 2011 HUKUM MENGGERAKAN JARI TELUNJUK SAAT SHALAT DALAM TAHIYATUL AKHIR Jika kita perhatikan, saat duduk tasyahhud dalam shalat memang tidak semua orang menggerakkan jari telunjuk dengan cara yang sama. Ini semata-mata karena perbedaan ulama dalam memahami hadits. Perbedaan ini terjadi sejak zaman tabi‟in dan ulama mazhab. Perbedaan ini tidak menyebabkan tidak sahnya shalat dan tidak pula menyebabkan kesesatan, karena perbedaannya dalam hal furu‟iyah yang masing-masing mempunyai dalil hadits Rasulullah SAW. Adapun hadits yang dipahami berbeda-beda oleh ulama adalah hadits Rasulullah saw.: ‫:ع نهما هللا ر ضي عمر اب ن عن‬ ‫هللا ً ا ر ى‬ ‫مع ي‬ ‫ع ً ا ي ري‬ ‫ا وع ,ا يمنً ع ً وا يمنً ر‬ ‫ار و م ين‬ ‫م روا‬ ‫م‬ ‫ا او‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫اب ب‬ ‫وض‬ ‫–ا‬

Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR Muslim). Yang dimaksud dengan “membentuk angka lima puluh tiga” ialah suatu isyarah dari cara menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah disebut angka tiga, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk. Adapun penyebab terjadinya perbedaan ulama tentang cara isyarah dengan jari telunjuk saat tasyahhud apakah digerakkan atau diam saja dan kapan waktunya adalah karena ada hadits yang sama denga di atas dengan tambahan teks (matan) dari riwayat lain, yaitu hadits yang diceritakan dari Sahabat Wail RA: ‫م‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ر ها ر‬ ‫عى‬ – ‫حم روا‬

”….. Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerakgerakkanya sambil membaca doa.” (HR: Ahmad). Sedangkan hadits yang diriwayatk dari Ibn Zubair RA: ‫ًان ي‬ ‫وا ن ائ ي‬ ‫هللا‬ ‫ي‬ ‫مع‬ ‫ير ا و‬ ‫عا ا ب‬ ‫ر ها‬ – ‫او ب ى روا‬

“Bahwa Nabi SAW memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dan Al Nasai) Dari Hadits tersebut Imam Mazhab fiqh sepakat bahwa meletakkan dua tangan di atas kedua lutut pada saat tasyahhud hukumnya adalah sunnah. Namun juga para imam mazhab berbeda pendapat dalam hal menggenggam jari-jari dan berisyarat dengan jari telunjuk (Alawi Abbas al Maliki, Ibanahtul Ahkam, Syarh Bulughul Maram, Indonesia: al Haramain, Juz 1, h. 435-437. Dan lihat pula Al Juzayri, Kitab

Perselisihan mereka ini berkisar pada keafdalan (keutamaan) amalan. mengenggam jari kelingking. Menurut ulama mazhab Maliki. Menunjuk dengan jari telunjuk ini merupakan tanda atas ketauhidan dan keikhlasan. Beirut: Darul Fikr. Kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk sekali saja saat kalimat “illallah” ( ‫ ) هللا ا‬diucapkan: 4. Wallahu subhanahu wa ta‟ala a‟lam . Semua hal itu termasuk dalam sunnah hai‟ah yang tidak sepatutnya menghilangkan kekhusyu‟an dalam shalat. 1. h. kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk saat kalimat “Allah” ( ‫ ) هللا‬diucapkan ketika tasyahhud dan doa 5. Pendapat Syeikh Al-Albani. 2. Menurut ulama mazhab Syafi‟i. Hikmah memberi isyarah dengan satu jari telunjuk ialah untuk menunjukkan keEsa-an Allah dan karena jari telunjuk yang menyambung ke hati sehingga lebih mendatangkan kekhusyu‟an. Juz 1. Hukum Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Bertasyahud dalam Shalat Apa hukum menggerakkan jari telunjuk ketika bertasyahud dalam shalat? Apakah hal itu adalah bid‟ah? Jawaban Dewan Fatwa Para fuqaha bersepakat bahwa menunjuk dengan jari telunjuk ketika bertasyahud adalah sunah. kemudian meletakkannya kembali pada saat membaca lafadz “illallah” untuk menunjukan bahwa mengakat jari telunjuk itu menegaskan tidak ada Tuhan dan meletakkan jari telunjuk itu menetapkan ke-Esa-an Allah. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa cukup hanya menunjuk dengan jari telunjuk. bukan mengulang-ulang gerakkannya. Artinya. 227-228).Menurut mazhab Hambali. mengenggam jari kelingking. mengangkat jari telunjuk dilakukan pada saat membaca lafadz “Laa Ilaaha”. agar tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut. Perselisihan ini disebabkan adanya beberapa hadist yang menunjukkan beberapa cara dalam melakukan perbuatan itu. Imam al-Baihaqi menyatakan: ‫م :ا يه ي و ا‬ ‫ى‬ ‫مرا‬ ‫ر‬ ‫ار با‬ ‫ح ًا‬ ‫ار‬ ‫ا بير ابن ح‬ Kemungkinan maksud hadits yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud adalah isyarat (menunjuk). mengangkat jari artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan meletakkan jari telunjuk untuk menetapkan ke-Esa-an Allah. kemudian menggerakgerakkan secara seimbang jari telunjuk ke kanan dan ke kiri 3. bukan pada boleh tidaknya perbuatan itu. Hanya saja para ulama berselisih pendapat mengenai cara mengepalkan tangan dan cara menunjuk dalam tasyahud tersebut. Menurut ulama mazhab Hanafi.al-Fiqh „Ala Madzahibil Arba‟ah. bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud. sedangkan yang lain berpendapat bahwa dianjurkan pula untuk menggerakkannya. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). pada saat Tasyahhud tangan kanan semua jari digenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari di bawahnya lepas. 1424 H. jari manis dan jari tengah dengan ibu jari. jari manis dan jari tengah.

Mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya? Jawab : Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu hal yang perlu dibahas secara ilmiah. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. 3. Wallahul Musta‟an. niscaya mereka akan menemukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah. rincian masalahnya adalah sebagai berikut : Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis : 1. Wa`il bin Hujr. kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Quda mah. Imam Muslim dan lain-lainnya. Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakannnya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali. . Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerakgerakkannya. „Abdullah bin „Umar. Abu Muhammad As-Sa„idy. Maka yang perlu dibahas di sini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat hadits yang kedua (digerak-gerakkan). kitab Al-Ausath karya Ibnul Mundzir. padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu„ Syarah AlMuhadzdzab karya Imam An-Nawawy. Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. Hal ini merupakan perkara yang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu‟ belaka.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak. ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecahan maupun permusuhan diantara mereka. ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingga kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. 2. muamalah dan lain-lainnya.Hadits Mengerakan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud Pertanyaan Pertama: Terlihat dalam praktek sholat. Sa‟ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya. dari beberapa orang sahabat seperti „Abdullah bin Zubair.

Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no. Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du‟a no. akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin „Ajlan dari „Amir bin „Abdillah bin Zubair dari ayahnya „Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no. Hadits Pertama “Sesungguhnya Nabi Shalallahu „alaihi wasalam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”. Beliau rawi tsiqoh (terpercaya) yang tsabt (kuat) akan tetapi mukhtalit (bercampur) hafalannya diakhir umurnya.Hadits-Hadits yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali. Tarikh Baghdad dan lainlainnya.• „Amir bin „Abdillah bin Zubair. Sepanjang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut.989. Sebelum kami jelaskan dari mana sisi syadznya lafadz ini. Nama beliau „Abdul Malik bin „Abdil „Aziz bin Juraij Al-Makky seorang rawi tsiqoh tapi mudallis akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata A khbarani (memberitakan kepadaku). Kata Al-Hafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqoh „abid (terpercaya. An-Nasai dalam AlMujtaba 3/37 no. ahli ibadah).676. Derajat Hadits Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal tersebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari „Illat (cacat) dan tidak syadz. Baca : Al-Kawa kib An-Nayyirot.638. . Seorang rawi shoduq (jujur). Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) ini adalah lafadz yang syadz.• „ Abdullah bin Zubair. Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini sebagai Berikut:: Hajjaj bin Muhammad. Syadz menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk : • Pertama: Syadz karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayatan karena beberapa faktor.• Ibnu Juraij.127. • Muhammad bin „Ajlan. mungkin perlu kami jelaskan apa makna syadz menurut istilah para Ahlul Hadits. Sahabat.

879. riwayat dikeluarkan oleh Muslim no. Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Dan maksud “rawi yang lebih utama” adalah utama dari sisi kekuatan hafalan. Akan tetapi.1943.Demikianlah riwayat empat rawi tsiqoh tersebut menetapkan bahwa riwayat sebenarnya dari Muhammad bin „Ajlan tanpa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerakgerakkan).1935. „Abd bin Humaid no. riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-Darimy no. riwayat atau dari sisi jumlah.62.Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari „ Amir bin „Abdullah bin Zubair sebagaimana Muhammad bin „Ajlan juga meriwayatkan dari „Amir ini akan tetapi tiga orang . riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud no.Al-Laits bin Sa‟ad.133.Abu Kha lid Al-Ahmar.Yahya bin Sa‟id Al-Qothth on. Ad-Daraquthny dalam Sunannya 1/349.718. Dan perlu diketahui bahwa syadz merupakan salah satu jenis hadits dho‟if (lemah) dikalangan para ulama Ahli Hadits. Empat rawi tsiqoh tersebut adalah : a. Maksud “rawi maqbul” adalah rawi derajat shohih atau hasan. Ibnu Khuzaimah 1/350 no. Ibnu Abi Syaibah 2/485. Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194.1275 dan Al-Kubro 1/377 no.Muhammad bin „Ajl an walaupun ia seorang rawi hasanul hadits (hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya. Ahmad 4/3. Muhammad bin „Ajlan dalam riwayat Ziyad bin Sa‟ad keliru lalu menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). 3. Maka kami melihat bahwa lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) adalah lafadz yang syadz tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalahan dari Muhammad bin „Ajlan dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin „Ajl an karena beberapa perkara : 1. Abu „Awanah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132. Dan pengertian syadz dalam bentuk kedua adalah “Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utama darinya”.990. An-Nasai 3/39 no. d.1338 dan Al-Humaidy dalam Musnadnya 2/386 no. dan Al-Baihaqy 2/131. e.Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin „Ajl an dan mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). c. 4. b.1198. Ibnu Hibban no. 2.99. riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.• Syadz karena menyelisihi.133 dan Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/131. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/370 no.Riwayat Muhammad bin „Ajl an juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) .Sufyan bin „Uyainah. Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi‟ar Ashabul Hadits hal.

makna kalimat ini Katsir adalah dho‟if tapi bisa dijadikan sebagai pendukung atau penguat.rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dalam hadits „Abdullah bin Zubair adalah syadz dan yang menyebabkan syadznya adalah Muhammad bin „Ajlan. riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no. Derajat Hadits Seluruh rawi sanad Ibnu Hibban tsiqoh (terpercaya) kecuali Katsir bin Zaid. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah shalallahu „alaihi wasalam mengerjakannya”. Ibnu Hajar berkata : shoduq yukhti`u katsiran (jujur tapi sangat banyak bersalah). riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.Ziyad bin Sa‟ad.112. c.696.1161 dan AlBaihaqy 2/132. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal dari Ziyad bin Sa‟ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang tersebut di atas sangat kuat menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bin „Ajl an. b. Illat yang kedua ternyata Katsir bin Zaid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini.988. Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194-195 dan Abu „Aw anah 2/241 dan 246. Ini „illat (cacat) yang pertama. . Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi‟ dari Ibnu Hibban. Wallahu A‟lam. Abu Daud no. Para ulama ahli jarh dan ta‟dil berbeda pendapat tentangnya. Ibnu Khuzaimah 1/245 no. oleh karenanya riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin „Ajlan dianggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut. Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya.adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Tiga orang ini adalah : a. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/237 no. Hadits Yang Kedua “Dari Ibnu „Umar -radhiyallahu „anhu.Makhromah bin Bukair.879.„Utsman bin Hakim. maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin „Ajlan yang menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) telah menyelisihi tiga rawi tsiqoh tersebut.

riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu „Awanah 2/243. riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nasai 3/36 no. sebab tujuh rawi tsiqoh juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar. AlBaihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/174-175 no. Ibnu Majah 1/295 no. baca riwayatnya dalam „Ilal Ibnu Abi Hatim 1/108 no. 2.712. Sunan An-Nasai 3/36 no. Tujuh rawi tersebut adalah : 1. 7.Wuhaib bin Kh alid.1160.673-674 dan AthThobara ny dalam Ad-Du‟a no. riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408.Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . 4.987. Kesimpulan: Seluruh hadits yang menerangkan jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah .648. hanya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan yaitu hadits Wa`il bin Hujr dan lafadznya sebagai berikut : .193.712. Sunan Abi Daud no.Yahya bin Sa‟ id Al-Anshary.1938. Ibnu Khuzaimah 1/352 no.Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany : „Ubaidullah bin „Umar Al-‟Umary dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar juga tidak disebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) .294.1269. 5.292.245. Ibnu Khuzaimah 1/355 no. 3.719. Wallahu A‟lam. riwayat beliau dalam Al-Muwaththo‟ 1/88.580. Baca riwayat mereka dalam Shohih Muslim no.Syu‟bah bin Hajjaj. Sunan Al-Baihaqy 2/130 dan Syarh As-Sunnah Al-Baghawy 3/175-176 no.635.6. Al-Humaidy 2/287 no. Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits Mungkar.717.Imam Malik.1287. b. Ibnu Khuzaimah 1/352 no.Isma„il bin Ja‟far bin Abi Katsir. Ibnu Hibban no.675.913.Sufyan bin „Uyainah. Shohih Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no. Hadits-Hadits yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan Sepanjang pemeriksaan kami. Musnad Abu „Awanah 2/243.1189. Ibnu Khuzaimah 1/359 no. Abu „Awanah 2/243 dan 246 dan AlBaihaqy 2/132. Ibnu Abdil Bar 131/26.1266 dan Al-Kubro 1/375 no. „Abdul „Azi z bin Muhammad Ad-Darawardy. riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/287 no. Kedua : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab : a. An-Nasai 3/37 no. akan tetapi dari „Ali bin „Abdirrahman Al-Mu‟awy dari Ibnu „Umar. At-Tirmidzy no.Pertama: Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar. Abu „Awanah 2/245 no. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata.648. Shohih Muslim 1/408.

963 dan 1/376 no. maka saya melihat beliau mengerakgerakkannya berdoa dengannya”. An-Nasai 2/126 no.1860 dan AlMawarid no.1268 dan dalam Al-Kubro 1/310 no. Ibnu Khuzaimah 1/354 no. Wallahu A‟lam.208. Kesimpulan:Penyebutan lafazh yuharrikuha (jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa‟il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah . “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.1191.dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni‟ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam . Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga syadz dan penjelasannya adalah bahwa : Za`idah bin Qudamah adalah seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah.714.889 dan 3/37 no. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta‟ala. Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa‟ no. Derajat Hadits Zhohir sanad hadits ini adalah hasan. Semuanya meriwayatkan dari „Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Ad-Darimy 1/362 no. Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghda dy dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427. tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari „illat (cacat) dan syadz.). Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) . Semuanya meriwayatkan dari jalan Za`idah bin Qudamah dari „Ashim bin Kulaib bin Syih ab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no. <<<<Pendapat Para Ulama dalam Masalah Ini>>>> Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat : Pertama: Tidak digerak-gerakkan.82. Ketiga: Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas.485.Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran. Ath-Thobarany 22/35 no. Kedua: Digerak-gerakkan.1357. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya‟la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.

apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau. kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Kedua: Dengan tidak digerak-gerakkan.keadaan berdoa. Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. “Namun. Dan Syaikh AlAlbany – rahimahullahu ta‟ala. Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya. Kedua: Dalam hadits „Abdullah bin Mas‟ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih AlBukhory?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih AlBukhory yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya. dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah. maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah. dan Imam Muslim No.538 : ”Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan” .” Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah. asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk.dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak. Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz … (Arab) yang artinya berisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara : Pertama: Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan bahwa Ash Sholatu Tauqifiyah (sholat itu adalah tauqifiyah). maksudnya adalah tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur‟an maupun As-Sunnah. ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan. Penjelasannya adalah bahwa kata “berIsyaratt” itu mempunyai dua kemungkinan: Pertama: Dengan digerak-gerakkan. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan.

Wallahu A’lam. Al-Furu„ 1/386. Raudhah Ath-Tholibin 1/262. • Madzhab Hanafiyah lihat dalam: Kifayah Ath-Tholib 1/357.81 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/429-430. apakah hal tersebut ada tuntunan dalilnya dari hadits Rasulullah Shalallahu „alaihi wasalam ?. apabila hadits ini shohih (bisa diterima) maka berisyarat dengan telunjuk dalam duduk antara dua sujud adalah perkara yang disyariatkan tapi sebaliknya bila hadits ini lemah maka artinya perkara tersebut tidaklah disyariatkan. Pertanyaan Kedua: Dikalangan masyarakat ada sebagian orang yang berisyarat dengan jari telunjuknya pada saat duduk antara dua sujud sebagaimana berisyarat dengan jari telunjuk pada saat tasyahud. Al-Muhalla karya Ibnu Hazm 4/151. Derajat Hadits Berisyarat Saat Duduk Diantara Dua Sujud . karena itulah kami mengajak untuk melihat derajat hadits ini.• Madzhab Hambaliyah lihat dalam: Al-Mubdi‟ 1/162. Hadits ini diriwayatkan oleh „Abdur Razza q dalam Al-Mushonnaf 2/68 no. „Aunul Ma‟bud 3/196. yakni beliau memulai sholat dan beliau mengangkat kedua tangannya ketika beliau takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika beliau ruku‟ dan mengangkat tangannya ketika beliau berkata : “Samiallahu liman hamidah” dan beliau sujud kemudian meletakkan tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau kemudian beliau sujud … kemudian beliau duduk membaringkan kaki kirinya kemudian beliau meletakkan kedua tangannya. yaitu hadits Wa`il bin Hujr yang berbunyi :“Saya melihat Nabi shalallahu „alaihi wasalam takbir lalu beliau mengangkat tangannya ketika takbir. yang kiri di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya kemudian beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah kemudian beliau menggenggam seluruh jari-jarinya kemudian beliau sujud …”. Nailul Authar. Ath-Thobarany 22/34 no. Al-Fawakih Ad-Dawany 1/192. Kesimpulan: Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak digerakgerakkan. Hadits ini merupakan kunci penyelesaian dalam permasalahan ini.Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur‟an atau hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasalam yang shohih. Hasyiah Al-Bujairamy 1/218. Tuhfah Al-Ahwadzy 2/160.• Madzhab Malikiyah: Ats-Tsamar Ad Dany 1/127.2522. Lihat pembahasan di atas dalam :• Kitab Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu‟ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah . Jawab: Ada hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut. Semua meriwayatkan dari „Abdur Razzaq dari Sufyan Ats-Tsaury dari „Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.• Madzhab Syafiiyyah dalam: Hilyah Al-Ulama 2/105. Al-Inshaf 2/76. Subulus Salam 1/189. Ahmad dalam Musnad nya 4/317 dan lafadz di atas adalah lafadz beliau. Kasyful Qon a 1/356-357. Mughny Al-Muht aj 1/173. Al-Majmu„ 3/416-417. Al-Iqna„ 1/145. Hasyiah Al-Adawy 1/356.

78. Kedua: „Abdur Razzaq telah menyelisihi dua rawi dari Sufyan Ats-Tsaury yang kedua rawi meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsaury dan menyebutkan isyarat pada duduk antara dua sujud.Telah dijelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh „ Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. semakin menguatkan bahwa riwayat „Abdur Razzaq adalah riwayat syadz. Qois bin Rabi‟. sehingga riwayat ini tidak bisa diterima. „Abdul Wahid bin Ziyad.Ada riwayat yang menjelaskan bahwa tempat berisyarat hanya ketika tasyahud dan hal ini tersebut dalam riwayat Musa bin Abi Kats ir dan sebagian riwayat Syu‟bah bin Hajjaj. Karena itulah riwayat ini telah dilemahkan oleh dua orang ulama besar ahli hadits zaman ini yaitu Syaikh . Bisa dilihat dalam riwayat Bisyr bin Mufadhdhal. Maka bisa dipastikan bahwa riwayat „Abdur Razzaq terdapat kesalahan yang menyebabkan penyebutan berisyarat dengan telunjuk ketika duduk antara dua sujud dianggap syadz. 2. Ghailan bin J ami‟. Kesalahan yang terjadi dalam hadits ini mungkin berasal dari Sufyan Ats-Tsaury dan mungkin dari „Abdur Razzaq.Muhammad bin Yusuf Al-Firy aby. Riwayat dua orang rawi ini khususnya Al-Firy aby yang termasuk orang yang paling hafal riwayat-riwayat Sufyan Ats-Tsaury. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 3/35 no. riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318. akan tetapi ada tiga bentuk riwayat yang menjelaskan tempat berisyarat dengan telunjuk pada riwayat mereka : 1.Riwayat yang tidak menjelaskan dimana letak berisyarat dengan telunjuk tersebut tapi Zhohirnya hal tersebut dalam tasyahud. Zuhair bin Mu‟awiyah. 3. Sallam bin Sulaim. Akan tetapi.Dua riwayat di atas diselisihi oleh „Abdur Razzaq dalam periwayatannya dari Sufyan AtsTsaury dari „Ashim dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr kemudian menyebutkan isyarat dengan jari telunjuk pada duduk antara dua sujud. 2. Maka jelaslah lemahnya riwayat ini yang dijadikan sebagai dalil disyariatkannya berisyarat dengan telunjuk pada duduk antara dua sujud. tetapi beliau mempunyai awham (kesalahan-kesalahan) yang menyebabkan sebagian para ulama mengkritik beliau. Abu „Awanah. Dari uraian di atas sangat jelas bahwa riwayat „Abdur Razz aq dari Sufyan Ats-Tsaury yang menjelaskan bentuk ketiga. Sufy an Ats-Tsaury. Telah meyelisihi riwayat 22 orang rawi yang menjelaskan bentuk pertama maupun kedua.1264 dan Al-Kubro 1/374 no. Musa bin Abi Katsir. Dua rawi tersebut adalah : 1. Muhammad bin Fudhail. Dan yang meriwayatkan dari „Ashim bin Kulaib ada 23 orang rawi dimana 23 orang rawi ini sepakat menyebutkan bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam berisyarat dengan jari telunjuknya. 1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no. Ibnu „Uyainah dan „Abdullah bin Idris. meletakkan kesalahan pada „Abdur Razzaq adalah lebih beralasan karena dua hal : Pertama: „Abdur Razz aq walaupun seorang rawi tsiqoh (terpercaya) dan hafidz (seorang penghafal).„Abdullah bin Walid. Khalid bin „Abdullah Ath-Thahhan.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy itu adalah hadits Khaf af bin Ima„ dan di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang tidak dikenal maka ini secara otomatis menyebabkan hadits ini lemah. 2.Orang-orang Syafiiyyah sendiri tidak sepakat tentang sunnahnya mengangkat jari telunjuk ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat (). Pertanyaan Ketiga : Apakah ada tuntunan dalam hadits Rasulullah Shalallahu „alaihi wasalam ketentuan bahwa ketika disebutkan(). Namun tidak ada keraguan bahwa yang disyariatkan dalam hal ini adalah mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud hingga akhir.Dan hal yang sama disebutkan oleh Imam Ash-Shon‟ any dalam Subulus Salam 1/362 dan beliau tambahkan bahwa hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy. Kesimpulan : Tidak disyariatkan mengangkat telunjuk pada saat duduk antara dua sujud karena hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah hadits syadz (lemah). 3. jari telunjuk mulai diangkat pada ucapan () (tepatnya di ucapan huruf hamzah) ?. .Hal yang telah disebutkan bahwa dzohir hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam mengangkat jari telunjuk dari awal hingga akhir menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy tersebut sehingga ini semakin mempertegas lemahnya riwayat Al-Baihaqy tersebut. 4.Hal yang disebutkan oleh orang Syafiiyyah ini tidak disebutkan di dalam madzhab para ulama yang lain.1 yang menjelaskan bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam ketika duduk tasyahud beliau menggenggam jari-jari beliau lalu membuat lingkaran kemudian mengangkat telunjuknya. Jawab: Madzhab kebanyakan orang-orang Syafiiyyah menyatakan bahwa disunnahkan berisyarat dengan jari telunjuk kemudian diangkat jari telunjuk tersebut ketika mencapai kata hamzah) dari kalimat ().75-77 dan Tamamul Minnah hal.Al-Albany -rahimahullahu ta‟ala.12. maka dzohir hadits ini menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud sampai akhir.dan Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi‟iy -rahimahullahu ta‟ala-.214-216. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih yang sangat banyak jumlahnya yang telah tersebut sebagiannya pada jawaban pertanyaan no. karena Imam An-Nawawy dalam AlMajmu„ 3/434 menukil dari Ar-Rafi‟y (salah seorang Imam besar dikalangan Syafiiyyah) yang menyatakan bahwa tempat mengangkat jari telunjuk adalah pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir. Lihat : Al-Bisyarah hal. Adapun bantahan terahadap madzhab orang-orang Syafiiyyah maka jawabannya adalah sebagai berikut : 1. Ini menunjukkan bahwa yang dipakai oleh para ulama adalah mengangkat jari telunjuk pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir. Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu„ 3/434 dan dalam Minhaj Ath-Tholibin hal.

Wallahu A’lam.. Menyelisihi dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) . yang benar di dalam masalah ini adalah bahwa jari telunjuk disyariatkan untuk diangkat dari awal tasyahud hingga akhir dan tidak mengangkatnya nanti ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat () . . Dari Uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za’idah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharrikuha (digerak-gerakan) adalah SYADZ. + Catatan kesimpulan diatas: Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Wallahu A’lam. Kesimpulan 2: Tersimpul dari pembahasan diatas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah TIDAK DIGERAK-GERAKAN. Wallahu A‟lam.Kesimpulan: Jadi. Kesimpulan 1: Penyebutan lafadz yuharrikuha (Jari telunjuk digerak-gerakan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah LEMAH tidak bisa dipakai berhujjah.