HUKUM MENGGERAKAN JARI TELUNJUK SAAT SHALAT DALAM TAHIYATUL AKHIR

retnoeno Uncategorized October 31, 2011 HUKUM MENGGERAKAN JARI TELUNJUK SAAT SHALAT DALAM TAHIYATUL AKHIR Jika kita perhatikan, saat duduk tasyahhud dalam shalat memang tidak semua orang menggerakkan jari telunjuk dengan cara yang sama. Ini semata-mata karena perbedaan ulama dalam memahami hadits. Perbedaan ini terjadi sejak zaman tabi‟in dan ulama mazhab. Perbedaan ini tidak menyebabkan tidak sahnya shalat dan tidak pula menyebabkan kesesatan, karena perbedaannya dalam hal furu‟iyah yang masing-masing mempunyai dalil hadits Rasulullah SAW. Adapun hadits yang dipahami berbeda-beda oleh ulama adalah hadits Rasulullah saw.: ‫:ع نهما هللا ر ضي عمر اب ن عن‬ ‫هللا ً ا ر ى‬ ‫مع ي‬ ‫ع ً ا ي ري‬ ‫ا وع ,ا يمنً ع ً وا يمنً ر‬ ‫ار و م ين‬ ‫م روا‬ ‫م‬ ‫ا او‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫اب ب‬ ‫وض‬ ‫–ا‬

Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR Muslim). Yang dimaksud dengan “membentuk angka lima puluh tiga” ialah suatu isyarah dari cara menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah disebut angka tiga, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk. Adapun penyebab terjadinya perbedaan ulama tentang cara isyarah dengan jari telunjuk saat tasyahhud apakah digerakkan atau diam saja dan kapan waktunya adalah karena ada hadits yang sama denga di atas dengan tambahan teks (matan) dari riwayat lain, yaitu hadits yang diceritakan dari Sahabat Wail RA: ‫م‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ر ها ر‬ ‫عى‬ – ‫حم روا‬

”….. Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerakgerakkanya sambil membaca doa.” (HR: Ahmad). Sedangkan hadits yang diriwayatk dari Ibn Zubair RA: ‫ًان ي‬ ‫وا ن ائ ي‬ ‫هللا‬ ‫ي‬ ‫مع‬ ‫ير ا و‬ ‫عا ا ب‬ ‫ر ها‬ – ‫او ب ى روا‬

“Bahwa Nabi SAW memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dan Al Nasai) Dari Hadits tersebut Imam Mazhab fiqh sepakat bahwa meletakkan dua tangan di atas kedua lutut pada saat tasyahhud hukumnya adalah sunnah. Namun juga para imam mazhab berbeda pendapat dalam hal menggenggam jari-jari dan berisyarat dengan jari telunjuk (Alawi Abbas al Maliki, Ibanahtul Ahkam, Syarh Bulughul Maram, Indonesia: al Haramain, Juz 1, h. 435-437. Dan lihat pula Al Juzayri, Kitab

al-Fiqh „Ala Madzahibil Arba‟ah. 227-228). mengangkat jari telunjuk dilakukan pada saat membaca lafadz “Laa Ilaaha”. bukan pada boleh tidaknya perbuatan itu. Hikmah memberi isyarah dengan satu jari telunjuk ialah untuk menunjukkan keEsa-an Allah dan karena jari telunjuk yang menyambung ke hati sehingga lebih mendatangkan kekhusyu‟an. kemudian meletakkannya kembali pada saat membaca lafadz “illallah” untuk menunjukan bahwa mengakat jari telunjuk itu menegaskan tidak ada Tuhan dan meletakkan jari telunjuk itu menetapkan ke-Esa-an Allah. Hukum Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Bertasyahud dalam Shalat Apa hukum menggerakkan jari telunjuk ketika bertasyahud dalam shalat? Apakah hal itu adalah bid‟ah? Jawaban Dewan Fatwa Para fuqaha bersepakat bahwa menunjuk dengan jari telunjuk ketika bertasyahud adalah sunah. 1424 H. Perselisihan ini disebabkan adanya beberapa hadist yang menunjukkan beberapa cara dalam melakukan perbuatan itu. Menunjuk dengan jari telunjuk ini merupakan tanda atas ketauhidan dan keikhlasan.Menurut mazhab Hambali. Semua hal itu termasuk dalam sunnah hai‟ah yang tidak sepatutnya menghilangkan kekhusyu‟an dalam shalat. Menurut ulama mazhab Syafi‟i. Wallahu subhanahu wa ta‟ala a‟lam . Perselisihan mereka ini berkisar pada keafdalan (keutamaan) amalan. Kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk sekali saja saat kalimat “illallah” ( ‫ ) هللا ا‬diucapkan: 4. Menurut ulama mazhab Hanafi. Menurut ulama mazhab Maliki. kemudian menggerakgerakkan secara seimbang jari telunjuk ke kanan dan ke kiri 3. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa cukup hanya menunjuk dengan jari telunjuk. 2. Imam al-Baihaqi menyatakan: ‫م :ا يه ي و ا‬ ‫ى‬ ‫مرا‬ ‫ر‬ ‫ار با‬ ‫ح ًا‬ ‫ار‬ ‫ا بير ابن ح‬ Kemungkinan maksud hadits yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud adalah isyarat (menunjuk). bukan mengulang-ulang gerakkannya. Juz 1. 1. Beirut: Darul Fikr. mengenggam jari kelingking. jari manis dan jari tengah. bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud. pada saat Tasyahhud tangan kanan semua jari digenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari di bawahnya lepas. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk saat kalimat “Allah” ( ‫ ) هللا‬diucapkan ketika tasyahhud dan doa 5. Pendapat Syeikh Al-Albani. mengenggam jari kelingking. Hanya saja para ulama berselisih pendapat mengenai cara mengepalkan tangan dan cara menunjuk dalam tasyahud tersebut. Artinya. sedangkan yang lain berpendapat bahwa dianjurkan pula untuk menggerakkannya. agar tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut. mengangkat jari artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan meletakkan jari telunjuk untuk menetapkan ke-Esa-an Allah. jari manis dan jari tengah dengan ibu jari. h.

Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerakgerakkannya. 3. Abu Muhammad As-Sa„idy. Sa‟ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya. Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakannnya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut. padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu„ Syarah AlMuhadzdzab karya Imam An-Nawawy. akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecahan maupun permusuhan diantara mereka. kitab Al-Ausath karya Ibnul Mundzir. karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Wa`il bin Hujr. ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. muamalah dan lain-lainnya. dari beberapa orang sahabat seperti „Abdullah bin Zubair. rincian masalahnya adalah sebagai berikut : Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis : 1. niscaya mereka akan menemukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali. 2. „Abdullah bin „Umar. Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya. Mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya? Jawab : Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu hal yang perlu dibahas secara ilmiah. ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingga kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan perkara yang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu‟ belaka.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. . kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Quda mah. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. Maka yang perlu dibahas di sini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat hadits yang kedua (digerak-gerakkan).Hadits Mengerakan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud Pertanyaan Pertama: Terlihat dalam praktek sholat. Wallahul Musta‟an. Imam Muslim dan lain-lainnya.

Hadits-Hadits yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali.989. mungkin perlu kami jelaskan apa makna syadz menurut istilah para Ahlul Hadits. Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin „Ajlan dari „Amir bin „Abdillah bin Zubair dari ayahnya „Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Sebelum kami jelaskan dari mana sisi syadznya lafadz ini. An-Nasai dalam AlMujtaba 3/37 no. . Nama beliau „Abdul Malik bin „Abdil „Aziz bin Juraij Al-Makky seorang rawi tsiqoh tapi mudallis akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata A khbarani (memberitakan kepadaku). Hadits Pertama “Sesungguhnya Nabi Shalallahu „alaihi wasalam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no.127.• „Amir bin „Abdillah bin Zubair. Syadz menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk : • Pertama: Syadz karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayatan karena beberapa faktor. Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) ini adalah lafadz yang syadz. Derajat Hadits Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal tersebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari „Illat (cacat) dan tidak syadz. Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini sebagai Berikut:: Hajjaj bin Muhammad. Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du‟a no. Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no.• „ Abdullah bin Zubair. Sahabat.638. akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Tarikh Baghdad dan lainlainnya.676. Sepanjang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut. Beliau rawi tsiqoh (terpercaya) yang tsabt (kuat) akan tetapi mukhtalit (bercampur) hafalannya diakhir umurnya. Seorang rawi shoduq (jujur). • Muhammad bin „Ajlan. ahli ibadah).• Ibnu Juraij. Kata Al-Hafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqoh „abid (terpercaya. Baca : Al-Kawa kib An-Nayyirot.

Yahya bin Sa‟id Al-Qothth on. An-Nasai 3/39 no. Ibnu Hibban no.• Syadz karena menyelisihi. Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi‟ar Ashabul Hadits hal.990.62.1943.99.1198. 4.Al-Laits bin Sa‟ad. „Abd bin Humaid no.718. Ibnu Abi Syaibah 2/485.1275 dan Al-Kubro 1/377 no. riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.1338 dan Al-Humaidy dalam Musnadnya 2/386 no.Muhammad bin „Ajl an walaupun ia seorang rawi hasanul hadits (hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya.Riwayat Muhammad bin „Ajl an juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . riwayat dikeluarkan oleh Muslim no. Ibnu Khuzaimah 1/350 no. Maksud “rawi maqbul” adalah rawi derajat shohih atau hasan. Akan tetapi.1935. b. e. c. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/370 no. Abu „Awanah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132.133. 2. riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud no. Ahmad 4/3. 3. Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194.133 dan Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/131.Sufyan bin „Uyainah.Demikianlah riwayat empat rawi tsiqoh tersebut menetapkan bahwa riwayat sebenarnya dari Muhammad bin „Ajlan tanpa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerakgerakkan).Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin „Ajl an dan mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Muhammad bin „Ajlan dalam riwayat Ziyad bin Sa‟ad keliru lalu menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). dan Al-Baihaqy 2/131.879. Maka kami melihat bahwa lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) adalah lafadz yang syadz tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalahan dari Muhammad bin „Ajlan dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin „Ajl an karena beberapa perkara : 1.Abu Kha lid Al-Ahmar. d. riwayat atau dari sisi jumlah. Empat rawi tsiqoh tersebut adalah : a. Dan maksud “rawi yang lebih utama” adalah utama dari sisi kekuatan hafalan.Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari „ Amir bin „Abdullah bin Zubair sebagaimana Muhammad bin „Ajlan juga meriwayatkan dari „Amir ini akan tetapi tiga orang . riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-Darimy no. Ad-Daraquthny dalam Sunannya 1/349. Dan pengertian syadz dalam bentuk kedua adalah “Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utama darinya”. Dan perlu diketahui bahwa syadz merupakan salah satu jenis hadits dho‟if (lemah) dikalangan para ulama Ahli Hadits.

c. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/237 no. Illat yang kedua ternyata Katsir bin Zaid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini.1161 dan AlBaihaqy 2/132.112.rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Para ulama ahli jarh dan ta‟dil berbeda pendapat tentangnya. Ini „illat (cacat) yang pertama.Makhromah bin Bukair. . Tiga orang ini adalah : a. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi‟ dari Ibnu Hibban. Ibnu Khuzaimah 1/245 no. Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dalam hadits „Abdullah bin Zubair adalah syadz dan yang menyebabkan syadznya adalah Muhammad bin „Ajlan.988. Wallahu A‟lam. Abu Daud no.879.„Utsman bin Hakim. Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin „Ajlan yang menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) telah menyelisihi tiga rawi tsiqoh tersebut. riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no. Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194-195 dan Abu „Aw anah 2/241 dan 246. Hadits Yang Kedua “Dari Ibnu „Umar -radhiyallahu „anhu. Derajat Hadits Seluruh rawi sanad Ibnu Hibban tsiqoh (terpercaya) kecuali Katsir bin Zaid. Ibnu Hajar berkata : shoduq yukhti`u katsiran (jujur tapi sangat banyak bersalah).Ziyad bin Sa‟ad.696. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal dari Ziyad bin Sa‟ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang tersebut di atas sangat kuat menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bin „Ajl an. oleh karenanya riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin „Ajlan dianggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut. makna kalimat ini Katsir adalah dho‟if tapi bisa dijadikan sebagai pendukung atau penguat. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah shalallahu „alaihi wasalam mengerjakannya”. b.

4. Ibnu Khuzaimah 1/359 no. riwayat beliau dalam Al-Muwaththo‟ 1/88. Baca riwayat mereka dalam Shohih Muslim no. riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu „Awanah 2/243. riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408.1269.245. Tujuh rawi tersebut adalah : 1. akan tetapi dari „Ali bin „Abdirrahman Al-Mu‟awy dari Ibnu „Umar.Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) .673-674 dan AthThobara ny dalam Ad-Du‟a no.6. 7. sebab tujuh rawi tsiqoh juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar. An-Nasai 3/37 no.987.Yahya bin Sa‟ id Al-Anshary. riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/287 no. Sunan An-Nasai 3/36 no. „Abdul „Azi z bin Muhammad Ad-Darawardy. Ibnu Hibban no.719.Wuhaib bin Kh alid. Ibnu Abdil Bar 131/26.Sufyan bin „Uyainah.580. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no. Kedua : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab : a. Shohih Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no.717.648. Sunan Abi Daud no.1266 dan Al-Kubro 1/375 no. Ibnu Majah 1/295 no. Shohih Muslim 1/408.913. At-Tirmidzy no. Abu „Awanah 2/243 dan 246 dan AlBaihaqy 2/132.193. 3. Wallahu A‟lam. 5.712.648. Ibnu Khuzaimah 1/355 no. riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nasai 3/36 no. Kesimpulan: Seluruh hadits yang menerangkan jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah .Imam Malik.712.1160.1189. Hadits-Hadits yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan Sepanjang pemeriksaan kami. Ibnu Khuzaimah 1/352 no.Isma„il bin Ja‟far bin Abi Katsir. Ibnu Khuzaimah 1/352 no.635.Syu‟bah bin Hajjaj.Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany : „Ubaidullah bin „Umar Al-‟Umary dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar juga tidak disebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits Mungkar.Pertama: Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar. 2. Musnad Abu „Awanah 2/243. baca riwayatnya dalam „Ilal Ibnu Abi Hatim 1/108 no.675. Al-Humaidy 2/287 no. Sunan Al-Baihaqy 2/130 dan Syarh As-Sunnah Al-Baghawy 3/175-176 no. AlBaihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/174-175 no.1938.292.1287. b. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata. Abu „Awanah 2/245 no. hanya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan yaitu hadits Wa`il bin Hujr dan lafadznya sebagai berikut : .294.

maka saya melihat beliau mengerakgerakkannya berdoa dengannya”. “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318.dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni‟ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam . Semuanya meriwayatkan dari jalan Za`idah bin Qudamah dari „Ashim bin Kulaib bin Syih ab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga syadz dan penjelasannya adalah bahwa : Za`idah bin Qudamah adalah seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya‟la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah. Semuanya meriwayatkan dari „Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.1191. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.1357. Kesimpulan:Penyebutan lafazh yuharrikuha (jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa‟il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah . Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) .208.1860 dan AlMawarid no.Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran.). Ketiga: Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas.963 dan 1/376 no. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no. Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa‟ no. Wallahu A‟lam. <<<<Pendapat Para Ulama dalam Masalah Ini>>>> Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat : Pertama: Tidak digerak-gerakkan. Derajat Hadits Zhohir sanad hadits ini adalah hasan.889 dan 3/37 no. Ath-Thobarany 22/35 no. An-Nasai 2/126 no. kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta‟ala.1268 dan dalam Al-Kubro 1/310 no. Kedua: Digerak-gerakkan.485.714. tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari „illat (cacat) dan syadz. Ibnu Khuzaimah 1/354 no. Ad-Darimy 1/362 no. Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghda dy dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427.82.

dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak.” Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut. maksudnya adalah tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur‟an maupun As-Sunnah. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara : Pertama: Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan bahwa Ash Sholatu Tauqifiyah (sholat itu adalah tauqifiyah). “Namun. Kedua: Dalam hadits „Abdullah bin Mas‟ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0. ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan. dan Imam Muslim No. Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau. Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya. Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz … (Arab) yang artinya berisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak.keadaan berdoa. kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih AlBukhory?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih AlBukhory yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya. Dan Syaikh AlAlbany – rahimahullahu ta‟ala. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk.538 : ”Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan” . maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Penjelasannya adalah bahwa kata “berIsyaratt” itu mempunyai dua kemungkinan: Pertama: Dengan digerak-gerakkan. Kedua: Dengan tidak digerak-gerakkan. dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk. asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah.

karena itulah kami mengajak untuk melihat derajat hadits ini. apabila hadits ini shohih (bisa diterima) maka berisyarat dengan telunjuk dalam duduk antara dua sujud adalah perkara yang disyariatkan tapi sebaliknya bila hadits ini lemah maka artinya perkara tersebut tidaklah disyariatkan.2522. yang kiri di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya kemudian beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah kemudian beliau menggenggam seluruh jari-jarinya kemudian beliau sujud …”.• Madzhab Syafiiyyah dalam: Hilyah Al-Ulama 2/105. Pertanyaan Kedua: Dikalangan masyarakat ada sebagian orang yang berisyarat dengan jari telunjuknya pada saat duduk antara dua sujud sebagaimana berisyarat dengan jari telunjuk pada saat tasyahud. Al-Furu„ 1/386. „Aunul Ma‟bud 3/196. Al-Iqna„ 1/145. • Madzhab Hanafiyah lihat dalam: Kifayah Ath-Tholib 1/357. Nailul Authar. Hadits ini merupakan kunci penyelesaian dalam permasalahan ini. Kasyful Qon a 1/356-357. Lihat pembahasan di atas dalam :• Kitab Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu‟ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah . Al-Majmu„ 3/416-417. Ath-Thobarany 22/34 no. Hasyiah Al-Bujairamy 1/218. Mughny Al-Muht aj 1/173. yakni beliau memulai sholat dan beliau mengangkat kedua tangannya ketika beliau takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika beliau ruku‟ dan mengangkat tangannya ketika beliau berkata : “Samiallahu liman hamidah” dan beliau sujud kemudian meletakkan tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau kemudian beliau sujud … kemudian beliau duduk membaringkan kaki kirinya kemudian beliau meletakkan kedua tangannya. Hasyiah Al-Adawy 1/356. Derajat Hadits Berisyarat Saat Duduk Diantara Dua Sujud . Wallahu A’lam. Kesimpulan: Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak digerakgerakkan. Jawab: Ada hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut. apakah hal tersebut ada tuntunan dalilnya dari hadits Rasulullah Shalallahu „alaihi wasalam ?. yaitu hadits Wa`il bin Hujr yang berbunyi :“Saya melihat Nabi shalallahu „alaihi wasalam takbir lalu beliau mengangkat tangannya ketika takbir. Tuhfah Al-Ahwadzy 2/160. Semua meriwayatkan dari „Abdur Razzaq dari Sufyan Ats-Tsaury dari „Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.• Madzhab Hambaliyah lihat dalam: Al-Mubdi‟ 1/162. Al-Muhalla karya Ibnu Hazm 4/151. Hadits ini diriwayatkan oleh „Abdur Razza q dalam Al-Mushonnaf 2/68 no. Al-Inshaf 2/76. Raudhah Ath-Tholibin 1/262.• Madzhab Malikiyah: Ats-Tsamar Ad Dany 1/127.81 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/429-430.Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur‟an atau hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasalam yang shohih. Ahmad dalam Musnad nya 4/317 dan lafadz di atas adalah lafadz beliau. Al-Fawakih Ad-Dawany 1/192. Subulus Salam 1/189.

Sufy an Ats-Tsaury. sehingga riwayat ini tidak bisa diterima.Telah dijelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh „ Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Kedua: „Abdur Razzaq telah menyelisihi dua rawi dari Sufyan Ats-Tsaury yang kedua rawi meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsaury dan menyebutkan isyarat pada duduk antara dua sujud. meletakkan kesalahan pada „Abdur Razzaq adalah lebih beralasan karena dua hal : Pertama: „Abdur Razz aq walaupun seorang rawi tsiqoh (terpercaya) dan hafidz (seorang penghafal). tetapi beliau mempunyai awham (kesalahan-kesalahan) yang menyebabkan sebagian para ulama mengkritik beliau. 1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no. Sallam bin Sulaim. „Abdul Wahid bin Ziyad. 2. Bisa dilihat dalam riwayat Bisyr bin Mufadhdhal. semakin menguatkan bahwa riwayat „Abdur Razzaq adalah riwayat syadz. Riwayat dua orang rawi ini khususnya Al-Firy aby yang termasuk orang yang paling hafal riwayat-riwayat Sufyan Ats-Tsaury.Riwayat yang tidak menjelaskan dimana letak berisyarat dengan telunjuk tersebut tapi Zhohirnya hal tersebut dalam tasyahud. akan tetapi ada tiga bentuk riwayat yang menjelaskan tempat berisyarat dengan telunjuk pada riwayat mereka : 1. Ibnu „Uyainah dan „Abdullah bin Idris. Akan tetapi. Ghailan bin J ami‟. Telah meyelisihi riwayat 22 orang rawi yang menjelaskan bentuk pertama maupun kedua. Maka jelaslah lemahnya riwayat ini yang dijadikan sebagai dalil disyariatkannya berisyarat dengan telunjuk pada duduk antara dua sujud. Maka bisa dipastikan bahwa riwayat „Abdur Razzaq terdapat kesalahan yang menyebabkan penyebutan berisyarat dengan telunjuk ketika duduk antara dua sujud dianggap syadz. riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318. Karena itulah riwayat ini telah dilemahkan oleh dua orang ulama besar ahli hadits zaman ini yaitu Syaikh . Abu „Awanah. Dua rawi tersebut adalah : 1. Qois bin Rabi‟.„Abdullah bin Walid. Dari uraian di atas sangat jelas bahwa riwayat „Abdur Razz aq dari Sufyan Ats-Tsaury yang menjelaskan bentuk ketiga.78.Ada riwayat yang menjelaskan bahwa tempat berisyarat hanya ketika tasyahud dan hal ini tersebut dalam riwayat Musa bin Abi Kats ir dan sebagian riwayat Syu‟bah bin Hajjaj. Zuhair bin Mu‟awiyah.1264 dan Al-Kubro 1/374 no. 2.Dua riwayat di atas diselisihi oleh „Abdur Razzaq dalam periwayatannya dari Sufyan AtsTsaury dari „Ashim dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr kemudian menyebutkan isyarat dengan jari telunjuk pada duduk antara dua sujud. 3. riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 3/35 no. Khalid bin „Abdullah Ath-Thahhan. Musa bin Abi Katsir.Muhammad bin Yusuf Al-Firy aby. Dan yang meriwayatkan dari „Ashim bin Kulaib ada 23 orang rawi dimana 23 orang rawi ini sepakat menyebutkan bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam berisyarat dengan jari telunjuknya. Muhammad bin Fudhail. Kesalahan yang terjadi dalam hadits ini mungkin berasal dari Sufyan Ats-Tsaury dan mungkin dari „Abdur Razzaq.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy itu adalah hadits Khaf af bin Ima„ dan di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang tidak dikenal maka ini secara otomatis menyebabkan hadits ini lemah. Adapun bantahan terahadap madzhab orang-orang Syafiiyyah maka jawabannya adalah sebagai berikut : 1. karena Imam An-Nawawy dalam AlMajmu„ 3/434 menukil dari Ar-Rafi‟y (salah seorang Imam besar dikalangan Syafiiyyah) yang menyatakan bahwa tempat mengangkat jari telunjuk adalah pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir. Ini menunjukkan bahwa yang dipakai oleh para ulama adalah mengangkat jari telunjuk pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir. Jawab: Madzhab kebanyakan orang-orang Syafiiyyah menyatakan bahwa disunnahkan berisyarat dengan jari telunjuk kemudian diangkat jari telunjuk tersebut ketika mencapai kata hamzah) dari kalimat ().dan Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi‟iy -rahimahullahu ta‟ala-.Hal yang telah disebutkan bahwa dzohir hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam mengangkat jari telunjuk dari awal hingga akhir menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy tersebut sehingga ini semakin mempertegas lemahnya riwayat Al-Baihaqy tersebut. Pertanyaan Ketiga : Apakah ada tuntunan dalam hadits Rasulullah Shalallahu „alaihi wasalam ketentuan bahwa ketika disebutkan(). 4. .Orang-orang Syafiiyyah sendiri tidak sepakat tentang sunnahnya mengangkat jari telunjuk ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat (). Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu„ 3/434 dan dalam Minhaj Ath-Tholibin hal. maka dzohir hadits ini menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud sampai akhir.Hal yang disebutkan oleh orang Syafiiyyah ini tidak disebutkan di dalam madzhab para ulama yang lain. 3.Al-Albany -rahimahullahu ta‟ala. Namun tidak ada keraguan bahwa yang disyariatkan dalam hal ini adalah mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud hingga akhir.75-77 dan Tamamul Minnah hal.1 yang menjelaskan bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wasalam ketika duduk tasyahud beliau menggenggam jari-jari beliau lalu membuat lingkaran kemudian mengangkat telunjuknya.12. jari telunjuk mulai diangkat pada ucapan () (tepatnya di ucapan huruf hamzah) ?.Dan hal yang sama disebutkan oleh Imam Ash-Shon‟ any dalam Subulus Salam 1/362 dan beliau tambahkan bahwa hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy. 2. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih yang sangat banyak jumlahnya yang telah tersebut sebagiannya pada jawaban pertanyaan no. Kesimpulan : Tidak disyariatkan mengangkat telunjuk pada saat duduk antara dua sujud karena hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah hadits syadz (lemah).214-216. Lihat : Al-Bisyarah hal.

. Wallahu A‟lam. . Kesimpulan 2: Tersimpul dari pembahasan diatas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah TIDAK DIGERAK-GERAKAN. Dari Uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za’idah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharrikuha (digerak-gerakan) adalah SYADZ. Wallahu A’lam. Wallahu A’lam.Kesimpulan: Jadi. yang benar di dalam masalah ini adalah bahwa jari telunjuk disyariatkan untuk diangkat dari awal tasyahud hingga akhir dan tidak mengangkatnya nanti ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat () . + Catatan kesimpulan diatas: Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Kesimpulan 1: Penyebutan lafadz yuharrikuha (Jari telunjuk digerak-gerakan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah LEMAH tidak bisa dipakai berhujjah. Menyelisihi dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful