P. 1
Peran Negara Dan Masyarakat Dalam Pembangunan Demokrasi Dan Masyarakat Madani Di Indonesia

Peran Negara Dan Masyarakat Dalam Pembangunan Demokrasi Dan Masyarakat Madani Di Indonesia

5.0

|Views: 12,225|Likes:
Buku ini merupakan himpunan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Nasional FISIP-UT 7 Juli 2011
Buku ini merupakan himpunan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Nasional FISIP-UT 7 Juli 2011

More info:

Published by: Rowland Bismark Fernando Pasaribu on Aug 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2015

pdf

text

original

Proceeding Seminar Nasional PERAN NEGARA DAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DEMOKRASI DAN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TERBUKA 2011

Hak Cipta  pada Universitas Terbuka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Kota Tangerang Selatan – 15418 Banten – Indonesia Telp. : (021) 7490941 (hunting) Fax. : (021) 7400147 Homepage : www.ut.ac.id Dilarang mengutip sebagian ataupun seluruh buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin dari penerbit Edisi Kesatu Cetakan pertama, Februari 2012 Tim Editor Ketua Anggota

: :

Anto Hidayat 1. Daryono 2. Liestyodono B. Irianto 3. Chanif Nurholis 4. Tri Darmayanti 5. Sri Sedyaningsih 6. Irsanti Widuri Asih 7. Yudith A. Frans Sofyanusuri

Tata Letak

:

300 SEM SEMINAR NASIONAL FISIP - UT 2011 (PROCEEDING)/ BNBB/ Anto Hidayat, dkk. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012. 650 hal: 21 cm. ISBN: 978-979-011- 690-0 I. Judul II. Anto Hidayat, dkk.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011
KATA PENGANTAR

iii

Selama lebih dari satu dasawarsa, perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami pasang surut yang ditandai oleh munculnya beragam konflik dan resistensi kelompok yang mengancam kehidupan berdemokrasi. Di sisi lain, proses demokrasi itu sendiri telah memberikan ruang bagi tumbuhnya masyarakat madani sebagai instrumen penting masyarakat demokratis. Proses tersebut membutuhkan pembelajaran, diskursus, dan inovasi yang tidak akan pernah berhenti guna mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera. Sebagai sumbangan terhadap diskursus dan inovasi pembangunan demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka (FISIP-UT) menyelenggarakan Seminar Nasional yang bertajuk “Demokrasi dan Masyarakat Madani”. Seminar Nasional FISIP-UT 2011 mengangkat tema: “Peran Negara dan Masyarakat dalam Pembangunan Demokrasi dan Masyarakat Madani di Indonesia”. Selain mengundang pembicara kunci dan nara sumber, Seminar Nasional dihadiri oleh para pemakalah yang berasal dari berbagai institusi, antara lain Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Sriwijaya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Pelita Harapan, Kementerian Keuangan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lembaga Administrasi Negara, Badan Kepegawaian Negara, ASM Bina Sarana Informatika, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Gadjah Mada, Politeknik Sakti Surabaya, Universitas Udayana, dan Universitas Terbuka. Buku ini merupakan himpunan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Nasional FISIP-UT 7 Juli 2011. Para pemakalah mengkaji berbagai permasalahan terkait dengan tema di atas dari berbagai perspektif yang terbagi ke dalam subtema berikut: (1) teorisasi demokrasi, negara bangsa dan masyarakat madani; (2) membangun masyarakat madani dan demokrasi; (3) pengembangan kapasitas infrastruktur demokrasi; dan (4) institusi dan kearifan lokal dalam tatanan demokrasi. Akhir kata, berbagai kajian yang terhimpun dalam buku ini diharapkan menjadi arena diseminasi dan pembelajaran bagi para akademisi, politikus, aparatus birokrasi, dan masyarakat umum. Ketua Panitia Semnas FISIP-UT 2011 Anto Hidayat, S.IP, M.Si

iv

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Laporan Dekan FISIP-UT Sambutan Rektor UT Tema: Teorisasi Demokrasi, Masyarakat Madani Negara Bangsa dan

iii iv viii xi

Teorisasi Demokrasi, Negara Bangsa, dan Masyarakat Madani Dalam Perspektif Undang-Undang Dasar 1945 Oleh: Anugrah Fazarianto ……………………………………………… Antara Demokrasi dan Determinan Pertumbuhan Ekonomi Oleh : Arif Budi Rahman ……………………………………… Building National Cohesiveness & Auto-Therapeutic Governance Through Good Societal Governance Oleh : Dadan Sidqul Anwar ……………………………………………..... Negara Kebangsaan dari Perspektif Komunikasi Oleh : Emrus Sihombing ………………………………………………................ Peluang Kesejahteraan di Negara Demokrasi oleh : Enceng, Meita Istianda ……………………………………………………... Perdebatan Teoritis Mengenai Civil Society di Negara-Negara Asia Oleh : Endang Sriningsih ………………………................ Masyarakat Madani dan Ideologi dalam Penerjemahan: Sebuah Perspektif Interdisipliner Oleh : Karnedi ……………... Masyarakat Madani: Tawaran Konseptual Untuk Indonesia Oleh : Samodra Wibawa, Pradhikna Yunik Nurhayati ……… . Monarkhi Konstitusional: Telaah Filsafati Oleh : Samodra Wibawa ……………………………………………………………...

1 17

30 63 79 98 119 130 146

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

v

Tema: Membangun Masyarakat Madani dan Demokrasi Pentingnya Pendidikan Multikultural untuk Mewujudkan Masyarakat Madani Oleh : Abednego Tri Gumono ………….... Penerjemah Sebagai Agen Perubahan: Mencermati Keterlibatan Penerjemah dalam Pengarusutamaan Perlindungan Hak Anak Di Nangroe Aceh Darussalam Oleh : Agus Riyanto …………………………………………………......... Demokrasi Bukan Milik Pemimpin Oleh : Andriyansah ……….. Membangun Demokrasi dengan Payung Etika Oleh : Arenawati …………………………………………………………... Fairplay Nasional dan Lokal dalam Pembangunan Demokrasi Oleh : Ayi Karyanya ………………………………....................... Antara Demokrasi dan Investasi Dibalik Gugatan Terhadap Status Keistimewaan Yogyakarta Oleh : Budi Wibawanto ….... Civil Society di Tengah Perubahan Politik Indonesia Oleh : Ignatius Ismanto ………………………………………………….... Membangun Masyarakat Madani dan Demokrasi: Suatu Strategi Pemberdayaan Masyarakat Madani Di Indonesia Oleh : Kusnadi …………………………………………………............... Kematangan Sosial dan Masyarakat Madani Oleh : Lilik Aslichati …………………………………………………………….. Membangun Masyarakat Madani dan Demokrasi Dalam Bingkai Konstitusionalisme Oleh : Manunggal K. Wardaya … Peningkatan Kualitas Demokrasi dalam Membumikan Civil Society di Indonesia: Pengalaman Satu Dasawarsa Oleh Ronny Basista ……………………………………………………... Peran dan Tantangan Civil Society dalam Reformasi Bidang Keamanan di Indonesia: Studi Atas Proses Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional Oleh : Sarah Nuraini Siregar …………………………………………………………….... Community Broadcasting Sebagai Upaya Menuju Knowledge 156

170 179 197 210 220 235

253 271 281

296

304

vi

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Based Society Oleh : Siti Samsiyah ……………..................... Etika Komunikasi Sebagai Tonggak Pembelajaran Demokrasi Oleh : Sri Sediyaningsih dan Ace Sriati Rahman Pentingnya Informasi pada Masyarakat Madani Oleh : Sri Suharmini …………………………………………………………... Membangun Masyarakat Madani Melalui Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Oleh : Suparman HL …………………………............. Dilema Penegakan Hak Asasi Manusia di Negara Demokrasi Oleh : Suryarama …………………………………....................... Prospek Demokratisasi Indonesia Antara Civil Society dan Political Society Oleh : Victor Silaen ....................................... Pendidikan Politik: Membangun Demokrasi, Negara, Bangsa, dan Masyarakat Madani dalam Pandangan Hatta Oleh : Zulfikri Suleman …………………………………………............. Tema: Pengembangan Kapasitas Infrastruktur Demokrasi Sistem Pelayanan Birokrasi yang Praktis Tidak Birokratis Oleh : Chafid Diyanto, Ali Rokhman …………………………….......... E-Government sebagai Sarana Demokratisasi dan Akuntabilitas dalam Pemerintah Lokal Oleh : Chasidin, Ali Rokhman ………………………………………………………….... Media Sosial Dan Politik: Sarana E-Democracy atau Sekadar Pepesan Kosong? Oleh : Irsanti Widuri Asih ………. Resiko Konflik Eksekutif - Legislatif Di Era Otonomi Daerah Terhadap Masyarakat di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu Oleh : Iqbal M. Mujtahid …………………………….. Fungsi Jejaring Pertemanan Sosial Facebook Sebagai Sarana Membentuk Masyarakat Madani dan Demokrasi Oleh : Rosalita Agustini ………………………………………….............. Peran Militer dalam Perjalanan Demokrasi di Indonesia Oleh: Suryo Wibisono, Swastha Darma ………………………………

317 326 339 349 363 384

409

423

432 452

466

478 485

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

vii

Membangun Masyarakat Madani Menuju Masyarakat Informasi Indonesia Dampak Sosial, Konsekuensi dan Kemungkinannya Oleh : Yasir Riady ………………………….. Tema: Institusi dan Demokrasi Kearifan Lokal Dalam Tatanan

499

Pengaruh Budaya Kerja Etnik Terhadap Budaya Kerja Keadilan dan Keterbukaan PNS dalam Membangun Masyarakat Madani dan Demokrasi (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat) Oleh : Aldri Frinaldi, Muhamad Ali Embi ………………………………………………………….......... Demokrasi Otonami Daerah: Kolaborasi Pemerintahan Pusat dan Kearifan Lokal Oleh : Fatia Fatimah, Purwaningdyah…...... Dua Ratus Tahun Demokrasi Desa: Potret Kegagalan Adopsi Nilai Demokrasi oleh Bangsa Indonesia Oleh : Hanif Nurcholis ………………………………………………………….................... Civil Society Dan Penanggulang Konflik Sosial Oleh: Heri Wahyudi ………………………………………………………….... Merajut Modal Sosial Membangun Kebersamaan Menuju Masyarakat Madani, Demokratis, dan Berkeadilan Oleh: Pardamean Daulay ………………………………………………... Kearifan Lokal Sebagai Bagian Dari Demokrasi dan Pembangunan Indonesia Oleh : Putri Amal Wijayanti, Ali Rokhman ………………………………………………………….... Desentralisasi, Modal Sosial dan Kelembagaan Lokal (Penanganan Konflik Pelanggaran Hak Cipta Asosiasi Pengrajin Cor Patung Kuningan Bejijong Kabupaten Mojokerto) Oleh : Tedi Erviantono ……………………………..... Signifikansi Masyarakat Multikultural Bagi Pengembangan Demokratisasi Oleh : Yulia Budiwati …………………….............

515 545

562 573

590

607

623 636

viii

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

LAPORAN DEKAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TERBUKA Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua. Yang Terhormat, Marsekal (Pur) Djoko Suyanto, S.IP, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia; Prof. Tian Belawati, Ph.D, Rektor Universitas Terbuka, beserta pimpinan Universitas Terbuka; Para panelis: 1. Daniel Sparinga, Ph.D., Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, 2. Bima Arya Sugiarto, Ph.D, Direktur Reform Institute, Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina, dan 3. Robert Endi Jaweng, M.Si, Manajer Hubungan Eksternal Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah. Para tamu undangan, para pemakalah, dan peserta Seminar Nasional FISIP-UT. Selamat Datang di Seminar Nasional FISIP-UT. Merupakan suatu kehormatan bagi FISIP Universitas Terbuka menghadirkan para nara sumber yang sangat kompeten terkait dengan isu demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia. Bapak Menkopolhukam Republik Indonesia sebagai pembicara utama dapat memberikan kepada kita informasi terkini tentang kebijakan pemerintah di bidang politik, hukum,dan keamanan. Demikian halnya dengan para panelis yang akan mengkaji secara kritis pembangunan demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia akan membuka wawasan dalam mengembangkan model demokrasi dan pembentukan masyarakat madani Indonesia. Tidak kalah pentingnya dalam forum ini adalah presentasi dan diskusi dari 44 pemakalah yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di dalam sesi paralel

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

ix

yang akan menyajikan dinamika dari pembangunan demokrasi di Indonesia. Hadirin yang berbahagia, Perkenankan saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Menkopolhukam Republik Indonesia, para panelis dan pemakalah, serta tamu undangan yang telah berkenan untuk berpartisipasi dalam forum akademik ini. Ucapan terima kasih sudah selayaknya saya sampaikan pula kepada rekan-rekan panitia yang telah bekerja keras hingga kegiatan Seminar Nasional dapat diselenggarakan dengan baik. Hadirin yang saya hormati. Kali ini Seminar Tahunan FISIP mengambil tema “Peran Negara dan Masyarakat Dalam Pembangunan Demokrasi dan Masyarakat Madani di Indonesia.” Tema tersebut dijabarkan dalam 4 kajian sebagai berikut: (1) teorisasi demokrasi, negara bangsa dan masyarakat madani, (2) membangun masyarakat madani dan demokrasi, (3) pengembangan kapasitas infrastruktur demokrasi, dan (4) institusi dan kearifan lokal dalam tatanan demokrasi. Dari forum ini diharapkan dapat diperoleh ide dan gagasan dalam mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang dicita-citakan. Dalam sejarah terbentuknya negara demokrasi di dunia tidak ada satu jalan pintas. Diperlukan suatu proses yang membutuhkan waktu, energi dan pemikiran kritis untuk memperkuat pilar-pilar demokrasi. Disamping itu, perbedaan karakteristik budaya, sosial, dan politik menuntut pula proses pembelajaran yang berkelanjutan dalam rangka penemuan bentuk dan sistem yang ideal. Kita beruntung dapat belajar dari negara-negara lain yang sukses maupun gagal dalam mewujudkan demokrasi selain juga dari pengalaman berdasarkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia sendiri. Dalam proses pencarian inilah maka ide, gagasan, dan pemikiran konstruktif dalam forum ini sangat diperlukan untuk menghindari terulangnya kegagalan dalam pembangunan demokrasi.

x

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Akhir kata tiada gading yang tak retak, sekiranya terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan ini, atas nama panitia saya menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. SELAMAT BERSEMINAR. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Dekan FISIP Universitas Terbuka Daryono, SH., MA., Ph.D.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011
SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS TERBUKA Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua.

xi

Yang terhormat Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, S.IP, Menteri Koodinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia sebagai keynote speaker pada Seminar Nasional FISIP UT kali ini. Yang terhormat para panelis: 1. Daniel Sparringa, Ph.D, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia; 2. Bima Arya Sugiarto, Ph.D, Direktur Reform Institute, Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina, dan 3. Robert Endi Jaweng M.Si, Manajer Hubungan Eksternal Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah. Yang terhormat para pimpinan di lingkungan UT, para tamu undangan, para pemakalah, dan peserta Seminar Nasional FISIP-UT. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama kita panjatkan puji syukur ke hadlirat Allah karena dengan karunia dan rahmat-Nya kita dapat berkumpul bersama di forum ilmiah ini. Selamat datang saya ucapkan kepada Anda semua, para peserta dan pemakalah Seminar, khususnya kepada Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, S.IP. yang merupakan alumni UT. Saya selaku Rektor menyampaikan penghargaan yang sangat tinggi atas kesediaan Bapak untuk tetap menjalin komunikasi dengan almamater melalui Seminar ini. Hal ini merupakan kontribusi nyata alumni dalam pengembangan almamater sehingga UT semakin dapat memberikan manfaat yang lebih besar dalam pembangunan bangsa dan negara. Hadirin yang berbahagia, Kehadiran Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, S.IP. sebagai keynote speaker merupakan kehormatan bagi kita semua, karena beliau merupakan pejabat Negara yang berkompeten dalam pembuatan kebijakan di bidang politik, hukum, dan keamanan. Selain itu,

xii

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kehadiran para nara sumber lain yang mewakili perspektif politik, sosial, maupun kebijakan publik akan memberikan wawasan yang komprehensif kepada kita mengenai tema seminar kita, yaitu membangun masyarakat madani. Disamping itu, seminar ini juga akan diperkaya dengan berbagai topik yang akan disajikan oleh para pemakalah dan seluruh peserta seminar yang akan melakukan kajian dari berbagai sudut pandang dan perspektif teori ilmu sosial secara lebih luas. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika saya berharap bahwa seminar ini dapat menjadi ajang kajian ilmiah atas topik demokrasi dan masyarakat madani yang berbobot sehingga hasilnya tidak saja memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan inspirasi lahirnya kebijakan yang visioner di Indonesia. Hadirin yang berbahagia, Seminar Nasional ini, selain merupakan salah satu bentuk kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dimana UT memiliki kewajiban untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta mendiseminasikannya kepada masyarakat luas; juga merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun UT yang ke-27 yang akan jatuh pada tanggal 4 September yang akan datang. Sebagai perguruan tinggi, UT merasa perlu untuk berkontribusi pada upaya pengkajian terhadap demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia yang dikaitkan dengan ciri khas UT sebagai Perguruan Tinggi Negeri yang bersifat terbuka dan jarak jauh. Peran UT menjadi sangat strategis untuk mendorong proses demokrasi dan pembentukan masyarakat madani dengan menyediakan akses pendidikan tinggi yang berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Kami mendorong FISIP-UT untuk terus melakukan kajian terhadap dua topik penting tersebut secara berkesinambungan. Dengan melakukan pengkajian secara terus menerus, kami berharap civitas academica UT bersama-sama civitas academica perguruan tinggi lainnya dapat menumbuh-kembangkan academic exercise bagi akademisi maupun praktisi ilmu sosial dan ilmu politik. Di samping itu, kajian-kajian seperti ini juga diharapkan dapat mengembangkan lebih lanjut konsep dan teori tentang demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia; serta mendesiminasikan hasil kajian tersebut kepada masyarakat- masyarakat yang lebih luas. Pada akhirnya, saya tentu

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

xiii

saja berharap, bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat tersebut dapat berkontribusi pada pencapaian masyarakat madani dan kehidupan demokrasi yang sehat di Indonesia. Akhir kata, sekali lagi saya sampaikan ucapan terima kasih kepada para pembicara dan para panelis, khususnya kepada Marsekal (Pur) Djoko Suyanto, S.IP yang berkenan menjadi keynote speaker dalam seminar ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada peserta seminar, para undangan, dan panitia yang dengan penuh semangat ikut menyukseskan acara Seminar Nasional ini. SELAMAT BERSEMINAR DAN SEMOGA SEMINAR INI MEMBERIKAN MANFAAT YANG BESAR BAGI PEMBENTUKAN MASYARAKAT MADANI YANG DEMOKRATIS DI INDONESIA. Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Rektor Universitas Terbuka Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed, Ph.D.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

1

TEORISASI DEMOKRASI, NEGARA BANGSA, DAN MASYARAKAT MADANI DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG DASAR 1945
Anugrah Fazarianto Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman fazar_ari@yahoo.com ABSTRAK
Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Dikatakan Kesatuan karena terbentuk dari pelbagai macam suku, etnis, bangsa dan bahasa, sedangkan dikatakan Republik karena merupakan Negara yang bersifat demokratis. Hal ini merupakan amanat dari para pendiri bangsa Indonesia yang sangat luhur tertuang di dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Demokrasi menjadi pilihan utama bangsa Indonesia pada saat ini, yang bertujuan membentuk masyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Setelah terjadinya perubahan UUD 1945, maka dengan tegas dinyatakannya bahwa kekuasaan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945. Dengan adanya tujuan terbentuknya masyarakat madani dimana keadilan dan kesejahteraan rakyat sangat fundamental dalam pelaksanaannya, maka hukum difungsikan sebagai satu-satunya alat yang digunakan sebagai pengendali dan pengawas prilaku masyarakat. Ciri dari Masyarakat madani adalah memiliki ruang publik yang bebas, toleransi, pluralisme, keadilan, partisipasi sosial, dan supremasi hukum. Tetapi dalam kenyataannya pada saat ini kehidupan berbangsa kita sudah semakin luntur dari nilai demokrasi dan masyarakat madani dengan adanya konflik horizontal yang semakin meluas. Parahnya lagi para penyelenggara Negara melupakan kewajiban yang utama yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia. Paper ini hendak menganalisa kenapa pelaksanaan pemerintahan sudah tidak sesuai dengan teorisasi demokrasi, Negara bangsa, dan masyarakat madani dalam perspektif UUD 1945. Perubahan UUD 1945 ini tidak sama sekali memberikan perubahan yang signifikan terhadap sistem pemerintahan yang ada di Indonesia. Hal ini dapat terwujud apabila adanya kesadaran dari penguasa pemerintahan untuk kembali kepada nilai demokrasi dan

2

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

masyarakat madani yang telah diamanatkan dalam Pancasila dan UUD 1945. Kata kunci: demokrasi, negara bangsa, masyarakat madani

PENDAHULUAN Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Dikatakan Kesatuan karena terbentuk dari pelbagai macam suku, etnis, bangsa dan bahasa, sedangkan dikatakan Republik karena merupakan Negara yang bersifat demokratis. Hal ini merupakan amanat dari para pendiri bangsa Indonesia yang sangat luhur tertuang di dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. kemudian sejak Indonesia merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara pada tanggal 17 Agustus 1945, para Pendiri Negara Indonesia (the Founding Fathers) melalui UUD 1945 (yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945) telah menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (selanjutnya disebut “NKRI”) menganut paham atau ajaran demokrasi, dimana kedaulatan (kekuasaan tertinggi) berada ditangan Rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dengan demikian berarti juga NKRI tergolong sebagai negara yang menganut paham Demokrasi Perwakilan (Representative Democracy). Penetapan paham demokrasi sebagai tataan pengaturan hubungan antara rakyat disatu pihak dengan negara dilain pihak oleh Para Pendiri Negara Indonesia yang duduk di BPUPKI tersebut, kiranya tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa sebahagian terbesarnya pernah mengecap pendidikan Barat, baik mengikutinya secara langsung di negara-negara Eropa Barat (khususnya Belanda), maupun mengikutinya melalui pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sejak beberapa dasawarsa sebelumnya, sehingga telah cukup akrab dengan ajaran demokrasi yang berkembang di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Tambahan lagi suasana pada saat itu (Agustus 1945) negara-negara penganut ajaran demokrasi telah keluar sebagai pemenang Perang Dunia-II. Demokrasi menjadi pilihan utama bangsa Indonesia pada saat ini, yang bertujuan membentuk masyarakat madani sesuai dengan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

3

Pancasila dan UUD 1945. Setelah terjadinya perubahan UUD 1945, maka dengan tegas dinyatakannya bahwa kekuasaan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945. Dengan adanya tujuan terbentuknya masyarakat madani dimana keadilan dan kesejahteraan rakyat sangat fundamental dalam pelaksanaannya, maka hukum difungsikan sebagai satu-satunya alat yang digunakan sebagai pengendali dan pengawas prilaku masyarakat. Gagasan tentang masyarakat madani (civil society) tampak semakin mendapat ruang dalam wacana pemikiran di Indonesia. Kendatipun wacana pemikiran ini baru digunakan sejak akhir dekade 1990–an. Hal ini dibuktikan oleh semakin luasnya lingkup mereka yang terlibat dalam perbincangan Civil society (masyarakat madani), tidak terbatas lagi pada lingkup kalangan intelektual dan lembaga swadaya masyarakat, melainkan juga melibatkan mereka yang dekat dengan kelompok politisi, birokrat dan militer. Berkembangnya wacana pemikiran tentang masyarkat madani terkait erat dengan ide besar tentang bagaimana mewujudkan masyarakat Indonesia baru. Namun dalam perkembangan pemikiran di Indonesia masih terjadi perbedaan persepsi dalam memadankan istilah Civil society dalam istilah Indonesia. Seperti Muhammad A. S. Hikam, menganggap perbedaan persepsi dalam memahami konsep Civil society dalam wacana pemikiran di Indonesia, merupakan suatu perkembangan pemikiran dari sebuah konsep yang coba di terapakan dalam konteks, suatu masyarakat tertentu dalam hal ini masyarakat Indonesia, dan belum adanya pengalaman masyarakat Indonesia dalam menerapkan konsep pemikiran masyarakat madani (civil society) dalam format kemasyarakatannya. Ciri yang penting dari Masyarakat madani adalah memiliki ruang publik yang bebas, toleransi, pluralisme, keadilan, partisipasi sosial, dan supremasi hukum. hal inilah yang menjadi pokok pelaksanaan demokrasi di Indonesia dengan maksud terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur. Tetapi dalam kenyataannya pada saat ini kehidupan berbangsa kita sudah semakin luntur dari nilai demokrasi dan masyarakat madani dengan adanya konflik horizontal yang semakin meluas. Parahnya lagi para penyelenggara negara melupakan kewajiban yang utama yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia. Pokok permasalahan ini pun hingga kini belum terselesaikan oleh pemerintah dan dapat dijadikan suatu pekerjaan

4

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

rumah (PR) bagi pemerintah yang mana dalam hal ini mereka lah yang mempunyai kewajiban untuk memenuhi kesejahteraan rakyat dan menyelesaikan semua masalah terkait dengan hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya maupun rakyat dengan rakyat. Paper ini hendak menganalisa kenapa pelaksanaan pemerintahan sudah tidak sesuai dengan teorisasi demokrasi, Negara bangsa, dan masyarakat madani dalam perspektif UUD 1945? Perubahan UUD 1945 ini tidak sama sekali memberikan perubahan yang signifikan terhadap sistem pemerintahan yang ada di Indonesia. Justru perubahan yang paling vital dalam UUD 1945 malah sangat ditekankan ke dalam aspek politiknya bukan yang terkait dengan pelaksanaan atau pemenuhan terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri. Hal ini dapat terwujud apabila adanya kesadaran dari penguasa pemerintahan untuk kembali kepada nilai demokrasi dan masyarakat madani yang telah diamanatkan dalam Pancasila dan pembukaan UUD 1945.

PEMBAHASAN 1. Ajaran Demokrasi

Sebelum paham atau ajaran demokrasi muncul, kehidupan bangsa, masyarakat dan negara di Eropa dilandasi oleh paham agama, atau dinamakan juga dengan “Teokrasi”, yang artinya pemerintahan/ negara berdasarkan Hukum/Kedaulatan Tuhan. Penyelewengan paham Teokrasi yang dilakukan oleh pihak Raja dan otoritas Agama, mengakibatkan kehidupan negara-negara di Eropa mengalami kemunduran yang sangat drastis, bahkan hampir-hampir memporakporanda seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negara disana. Ditengah situasi kegelapan yang melanda Eropa inilah JJ.Rousseau berpendapat bahwa landasan kehidupan bangsa/masyarakat tidak dapat lagi disandarkan pada kedaulatan Tuhan yang dijalankan oleh Raja dan Otoritas Agama, karena sesungguhnya kedaulatan tertinggi di dalam suatu negara/masyarakat berada ditangan rakyatnya dan bukan bersumber dari Tuhan. Bahkan negara/masyarakat berdiri karena semata-mata berdasarkan Kontrak yang dibuat oleh rakyatnya (Teori Kontrak Sosial). Salah satu asas dari gagasan kontrak sosial ialah bahwa dunia dikuasai oleh hukum yang timbul dari alam (nature) yang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

5

mengandung prinsip-prinsip keadilan yang universal, artinya berlaku untuk semua waktu serta semua manusia, apakah ia raja, bangsawan atau rakyat jelata. Teori kontrak sosial beranggapan bahwa hubungan antara raja dan rakyat didasari oleh suatu kontrak yang ketentuan-ketentuannya mengikat kedua belah pihak. Kontrak sosial menentukan di satu pihak bahwa raja diberi kekuasaan oleh rakyat untuk menyelenggarakan ketertiban dan menciptakan suasana dimana rakyat dapat menikmati hak-hak alamnya (natural rights) dengan aman. Di pihak lain rakyat akan menaati pemerintahan asal hak-hak alam itu terjamin. Pada hakikatnya teori-teori kontrak sosial merupakan usaha untuk mendobrak dasar dari pemerintahan absolut dan menetapkan hak-hak politik rakyat. Singkatnya ajaran/teori Kedaulatan Rakyat atau “demokrasi” ini mengatakan bahwa kehendak tertinggi pada suatu negara berada ditangan rakyat, dan karenanya rakyat yang menentukan segala sesuatu berkenaan dengan negara serta kelembagaannya. Atau dapat juga dikatakan sebagai ajaran tentang Pemerintahan Negara berada ditangan Rakyat. Ajaran Demokrasi adalah sepenuhnya merupakan hasil olah pikir JJ. Rousseau yang bersifat hipotetis, yang sampai saat itu belum pernah ada pembuktian empiriknya. Bahkan pada “Polis” atau “City State” di Yunani yang digunakan oleh Rousseau sebagai contoh didalam membangun Ajaran Demokrasi yang bersifat mutlak dan langsung, tidak dapat ditemui adanya unsur-unsur demokrasi. Oleh karenanya Logemann mengatakan bahwa Ajaran Demokrasi JJ.Rousseau sebagai “Mitos Abad XIX”, karena tidak memiliki pijakan pada kenyataan kehidupan umat manusia. Hal ini bertentangan dengan kenyataan dimana rakyat secara langsung dan mutlak (keseluruhan) memegang kendali pemerintahan negara. Karena justru kenyataannya menunjukan bahwa segelintir (sedikit) oranglah yang memegang kendali pemerintahan negara dan memerintah kumpulan orang yang banyak, yaitu rakyat. Benturan yang tidak terdamaikan antara Ajaran Demokrasi JJ.Rousseau (yang bersifat mutlak dan langsung) dengan kenyataan empirik kehidupan manusia (yang sedikit memerintah yang banyak), ditambah lagi sebagai akibat perkembangan lembaga negara menjadi “National State” yang mencakup wilayah luas serta perkembangan rakyatnya yang menjadi semakin banyak jumlahnya dan tingkat kehidupannya yang komplek, maka Ajaran Demokrasi

6

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

yang awalnya dicetuskan oleh JJ.Rousseau ini masih memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan. Langkah penyempurnaan terhadap Ajaran Demokrasi JJ.Rousseau yang terpenting dan merupakan awal menuju kearah demokrasi modern yaitu Demokrasi Perwakilan yang dikenal sampai kini, adalah dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat di Inggris pada pertengahan Abad XIII (1265). Pada Demokrasi Perwakilan, rakyat secara keseluruhan tidak ikut serta menentukan jalannya pemerintahan negara, tetapi rakyat mewakilkan kepada wakil-wakilnya yang duduk di Badan Perwakilan Rakyat untuk menentukan jalannya pemerintahan negara. Untuk menentukan siapakah individu-individu rakyat yang akan mewakili keseluruhan jumlah rakyat di Badan Perwakilan Rakyat ini digunakan mekanisme Pemilihan (Umum) yang bercirikan: a. Adanya 2 (dua) atau lebih calon yang harus dipilih ; b. Siapa yang mendapatkan suara terbanyak dari calon-calon yang ada, maka dialah yang akan duduk di Badan Perwakilan Rakyat guna mewakili mayoritas rakyat pemilih. Kemudian sesuai dengan perubahan waktu dan keadaan masyarakat di dunia tata-cara dan model Pemilihan wakil-wakil rakyat berkembang menjadi model-model pemilihan yang bervariasi, tetapi tetap berintikan kedua ciri di atas. Timbulnya variasi model demokrasi perwakilan ini menurut kacamata Ilmu Hukum Tata Negara bersumber dari perbedaan nilai-nilai dasar bersama yang dianut oleh rakyat pada masing-masing negara, dan secara khusus pada gilirannya tercermin melalui perbedaan pada sistem pembagian kekuasaan dan sifat hubungan antar lembagalembaga negara (terutama antara Lembaga Legislatif dan Lembaga Eksekutif), yang ditetapkan oleh masing-masing negara yang bersangkutan. Namun semua variasi model demokrasi perwakilan harus tetap berpegang pada 4 (empat) prinsip, yaitu : 1) Prinsip Kedaulatan Rakyat, dimana Konstitusi negara yang bersangkut harus menetapkan bahwa kekuasaan tertinggi (kedaulatan) berada ditangan rakyat ; 2) Prinsip Perwakilan, dimana Konstitusi negara yang bersangkut harus menetapkan bahwa kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat itu dilaksanakan oleh sebuah atau beberapa lembaga perwakilan rakyat ;

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

7

3) Prinsip Pemilihan Umum, dimana untuk menetapkan siapakah diantara warganegara yang akan duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat yang menjalankan kedaulatan rakyat itu, harus diselenggarakan melalui pemilihan umum . 4) Prinsip Suara Mayoritas, dimana mekanisme pengambilan keputusan dilaksanakan berdasarkan keberpihakan kepada suara mayoritas. Tanpa adanya ke-4 ciri pokok diatas secara lengkap, maka suatu tatanan kenegaraan tidak dapat dikatakan sebagai Model Demokrasi.

2.

Masyarakat Madani

Ada beberapa definisi masyarakat madani dari berbagai pakar di pelbagai negara yang menganalisa dan mengkaji fenomena masyarakat madani, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Zbigniew Rau Latar belakang kajiannya adalah pada kawasan Eropa Timur dan Uni Soviet. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengendalikan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul diantara hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara. Oleh karenanya, maka yang dimaksud masyarakat madani adalah sebuah ruang yang bebas dari pengaruh keluarga dan kekekuasaan negara. 2) Han Sung-joo Dengan latar belakang kasus korea selatan, ia mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan sukarela yang terbatas dari negara, suatu ruang publik yang mampu mengartikulasikan isu-isu polotik, gerakan warga negara yang mampu mengendalikan diri dan independen, yang secara bersam-sama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam Civil society ini.

8

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

3) Kim Sunhyuk Juga dalam konteks korea selatan, ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom dari negara, yang merupakan satuan-satuan dasar dari (re) produksi dan masyarakat politik yang mampu melakukan kegiatan politik dalam suatu ruang publik, guna menyatakan kepedulian mereka dan kemajukan kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan pengelolaan yang mandiri. Pelbagai batasan dalam memahami term masyarakat madani di atas, jelas merupakan suatu analisa dari kajian kontekstual terhadap performa yang diinginkan dalam mewujudkan masyarakat madani. Akan tetapi secara global dari ketiga batasan diatas dapat ditarik benang emas, bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri di hadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik (public sphere) dalam mengemukakan pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik. Sebagai sebuah gagasan, masyarakat madani adalah produk pengalaman sejarah, yakni sejarah masyarakat barat. Sepanjang sejarahnya, masyarakat madani mengalami berbagai model pemaknaan. Pertama, masyarakat dipahami sebagai sisitem kenegaraan. Pemahaman dikembangkan oleh Arisoteles (384-322M) Marcus Talius Cicero (106-43M),Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Arisoteles tidak memakai istilah civil society, tetapi koinoniepolitike, yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam pengambilan keputusan. Pada paruh kedua abad ke 8, Adam Ferguson (1767) memakai masyarakat madani sebagai visi etis dalam kehidupan bermasyarakat untuk memelihara untuk tanggung jawab sosial yang bercirikan solidaritas sosial dan yang terilhami oleh sentimen moral serta sikap saling menyayangi antar warga secara alamiah. Ketiga, Thomas paine (1972) milai memakai masyarakat madani dalam diametral dengan negara, bahkan masyarakat madani dinilai sebagai antitesis negara. Keempat, menurut Hegel, struktur sosial terbagi atas tiga entitas, yaitu keluarga, masyarakat madani, dan negara. Keluarga adalah ruang sosialisasi pribadi sebagai anggota masyarakat yang bercirikan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

9

keharmonisan. Masyarakat madani merupakan tempat berlangsungnya konflik pemenuhan kepentingan pribadi atau kelompok, terutama kepentingan ekonomi. Ia bukanlah wilayah praksis politik. Praksis politik hanya monopoli negara. Sementara negara adalah resresentasi ide universal yang bertugas melindungi kepentingan politik warganya dan berhak penuh untuk invervensi ke dalam masyarakat madani. Karl Marx (1818-1883) memehami masyarakat madani sebagai “Masyarakat borjuis” dalam hubungan produksi kapitalis, keberadaanya merupakan kendala bagi pembebasan manusia dari penindasan, karena itu, ia harus dilenyapkan untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Sedangkan Antonio Gramsci menempatkan masyarakat madani pada superstruktur, berdampingan dengan negara yang ia sebut sebagai political society. Masyarakat madani adalah tempat perebutan posisi hegemoni diluar kekuatan negara. Kelima, Alexis ‘De Tocqueville’ mengembangkan teori masyarakat madani yang dimaknai sebagai entitas penyeimbang kekuatan negara. Kemudian, dalam hal penyebutan karakteristik masyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasyarat yang menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani. Prasyarat ini merupakan satu kesatuan yang intergral menjadi dasar dan nilai bagi ekstensi masyarakat madani, yaitu: 1) Free public sphere Yang dimaksud dengan Free public sphere adalah adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Pada ruang publik yang bebaslah individu dalam posisinya yang setara mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan praksis politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran. Aksentuasi prasyarat ini dikemukakan oleh Arendt dan Habermas. Lebih lanjut dikatakan bahwa ruang publik secara teoritis bias diartikan sebagai warga negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik. Sebagai sebuah prasyarat, maka untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat madani dalam sebuah tatanan masyarakat, maka free public sphere menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan. Karena dengan madani, maka akan memungkinkan terjadinya pembungkaman kebebasan warga

10

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

negara dalam menyalurkan aspirasinya yang berkenaan dengan kepentingan umum oleh penguasa yang tiranik dan otoriter. 2) Demokratis Demokratis merupakan satu entitas yang menjadi penegak wacana masyarakat madani, dimana dalam menjalani kehidupan, warga Negara memiliki kehidupan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Demokrasi berarti masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras, dan agama. Prasyarat demokratis ini banyak dikemukakan oleh banyak pakar yang mengkaji fenomena masyarakat madani. Bahkan demokrasi merupakan salah satu syarat mutlak bagi penegakan masyarakat madani. Penekanan demokrasi (demokratis) disini dapat mencakup sebagai bentuk aspek kehidupan seperti politik, sosisl, budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. 3) Toleran Toleran merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain. Toleransi ini memungkinkan adanya kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang berbeda. Toleransi menurut Nurcholish Madjid yaitu merupakan persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tata cara pergaulan yang “enak” antara berbagai kelompok yang berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai “hikmah” atau “mamfaat” dari pelaksanaan ajaran yang benar. Azyumardi Arza pun menyebutkan bahwa masyarakat madani (civil society) lebih dari sekedar gerakan-gerakan pro demokrasi. Masyarakat madani juga mengacu ke kehidupan yang berkualitas dan tamaddun (civility). Civilitas meniscayakan toleransi, yakni kesediaan individu-individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

11

4) Pluralisme Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat madani, maka pluralisme harus dipahami secara mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang menghargai dan menerima kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pluralisme tidak bisa dipahami hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan pluralisme itu dengan bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan. Menurut Nurcholis Madjid, konsep pluralisme ini merupakan prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani. Pluralisme menurutya adalah pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatanikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Bahkan Pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan (check and balance). Lebih lanjut Nurcholish mengatakan bahwa sikap penuh pengertian kepada orang lain itu diperlukan dalam masyarakat yang majemuk, yakni masyarakat yang tidak monolitik. Apalagi sesungguhnya kemajemukan masyarakat itu sudah merupakan dekrit Allah dan desigh-Nya untuk umat manusia. Jadi tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama dengan sebangun dalam segala segi. 5) Keadilan Sosial (Sosial Justice) Keadilan yang dimaksud untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Hal ini memungkinkan tidak adanya monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan pada satu kelompok masyarakat. Secara esensial, masyarakat memiliki hak yang sama dalam memperoleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (penguasa). 6) Pilar Penegak Masyarakat Madani Pilar penegak masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi bagian dari sosial kontrol yang berfungsi mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Dalam penegakan masyarakat madani, pilar-pilar tersebut menjadi

12

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

prasyarat mutlak bagi terwujudnya kekuatan masyarakat madani. Pilar-pilar tersebut yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pers, Supremasi Hukum, Perguruan Tinggi dan Partai Politik. Lembaga swadaya masyarakat, adalah institusi sosial yang dibentuk oleh swadaya masyarakat yang tugas esensinya adalah membantu memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat yang tertindas. Selain itu, LSM dalam konteks masyarakat madani juga bertugas mengadakan empowering (pemberdayaan) kepada masyarakat mengenai hal-hal yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti advokasi, pelatihan dan sosialisasi programprogram pembangunan masyarakat. Pers, merupakan institusi yang penting dalam penegakan masyarakat madani, karena memungkinkannya dapat mengkritisi dan menjadi bagian dari sosial kontrol yang dapat menganalisa serta mempublikasikan berbagai kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan warga negaranya. Hal tersebut pada akhirnya mengarah pada adanya independensi pers serta mampu menyajikan berita secara objektif dan transparan. Supremasi Hukum, setiap warga negara baik yang duduk di formasi kepemerintahan maupun sebagai rakyat, harus tunduk kepada (aturan) hukum. Hal tersebut berarti bahwa perjuangan untuk mewujudkan hak dan kebebasan antar warga negara dan antara warga negara dengan pemerintah haruslah dilakukan dengan caracara yang damai dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Selain itu, supremasi hukum juga memberikan jaminan dan perlindungan terhadap segala bentuk penindasan individu dan kelompok yang melanggar hak asasi manusia, sehingga terpola bentuk kehidupan yang civilzed. Perguruan Tinggi, yakni dimana tempat civitas akademiknya (dosen dan mahasiswa) merupakan bagian dari kekuatan sosial dan masyarakat madani yang bergerak pada bidang jalur modal force untuk menyalirkan aspirasi masyarakat dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah, dengan catatan gerakan yang dilancarkan oleh mahasiswa tersebut masih pada jalur yang benar dan memposisikan diri pada rel dan realitas yang betul-betul objektif, menyuarakan kepentingan masyarakat (publik). Sebagai bagian dari pilar penegak masyarakat madani, maka Perguruan Tinggi memiliki tugas utama mencari dan menciptakan ide-

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

13

ide altenatif dan konsuktif untuk dapat menjawab problematika yang dihadapkan oleh masyarakat. Di sisi lain Perguruan Tinggi memiliki “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yang harus dapat diimplementasikan berdasarkan kebutuhan masyarakat (publik). Menurut Riswanda Immawan, Perguruan Tinggi memiliki tiga peran yang stategis dalam mewujudkan masyarakat madani, yakni pertama, pemihakan yang tegas pada prinsip egalitarianisme yang menjadi kehidupan dasar politik yang demokratis. Kedua, membangun political safety net, yakni dengan mengembangkan dan mempublikasikan informasi secara objektif dan tidak manipulatif. Political net ini setidaknya dapat mencerahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka terhadap informasi. Ketiga, melakukan tekanan terhadap ketidakadilan dengan cara yang santun, saling menghormati. Demokrasi serta meninggalkan cara-cara yang agitatif dan anarkis. Partai Politik, merupakan wahana bagi masyarakat untuk dapat menyalurkan aspirasi politiknya. Sekalipun memiliki tendensi politis dan rawan akan hemegomi, tetapi bagaimanapun sebagai sebuah tempat ekspresi warga negara, maka partai politik ini menjadi prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani.

3.

Demokrasi dan Masyarakat Madani dalam perspektif UUD 1945

Dalam masyarakat madani, warga negara berkerjasama menbangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat non-govermental untuk mencapai kebaikan bersama (public good). Karena itu, tekanan sentral masyarakat madani adalah terletak pada independensinya terhadap negara (vis a vis the state). Disinilah kemudian masyarakat madani dipahami sebagai akar dan awal keterkaitannya dengan demokrasi dan demokratisasi. Pemerintah tetap merupakan faktor yang krusial bagi demokratisasi dan pembaruan (reformasi) politik, yang merupakan agenda bagi berbagai gerakan dan kelompok dalam masyarakat. Seperti ditambahkan oleh Norton, reformasi politik itu penting untuk menjamin stabilitas yang statis, tapi stabilitas yang dinamis. Untuk menciptakan masyarakat madani yang kuat dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan demokrasi diperlukan strategi penguatan Civil society lebih ditujukan ke arah pembentukan negara secara gradual dengan suatu masyarakat politik yang demokratis-

14

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

partisipatoris, relektif dan dewasa yang mampu menjadi penyimbang dan kontrol atas kecenderungan eksesif negara. Dalam masyarakat madani, warga negara disadarkan posisinya sebagai pemilik kedaulatan dan haknya untuk mengontrol pelaksanaan kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat. Jadi membicarakan hubungan demokrasi dengan masyarakat madani merupakan risalah yang memiliki hubungan korelatif dan berkaitan erat. Dalam hal ini Arief Budiman mengatakan bahwa berbicara tentang interaksi antara masyarkat madani. Asumsinya adalah, jika masyarakat madani vis a vis negara relatif kuat maka dan masyarakat madani lemah maka demokrasi tidak berjalan. Dengan demikian, demokrasi, demokratisasi dipahami sebagai proses pemberdayaan masyarakat madani. Lebih lanjut Arief mengatakan bahwa proses pemberdayaan tersebut akan terjadi jika pertama apabila berbagai kelompok masyarakat dalam masyarakat madani mendapat peluang untuk lebih banyak berperan, baik pada tingkat negara maupun masyarakat. kedua, jika posisi kelas tertindas berhadapan dengan kelas yang dominan menjadi menjadi lebih kuat yang berati juga terjadinya proses pembebasan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Sesuai dengan UUD 1945, kedaulatan negara berada di tangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan UUD 1945, artinya kekuasaan negara dalam menjalankan pemerintahan haruslah sesuai dengan kehendak rakyat dan dalam melaksanakan pemerintahan pun harus sesuai dengan konstitusi negara yang menjadikan Indonesia sebagai negara hukum. pelaksanaan pemerintahan sesuai dengan kehendak rakyat dan sesuai dengan hukum yang berlaku ini merupakan pelaksanaan demokrasi yang sesuai dengan terciptanya masyarakat madani yang telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dapat terwujud di negara ini. Demokrasi yang sesuai dengan kehendak rakyat haruslah dibatasi oleh hukum, yang mana hal ini akan menimbulkan kesinambungan dalam terwujudnya negara yang berdasarkan hukum atau lebih dikenal dengan demokrasi konstitusional. Demokrasi konstitusional di Indonesia merupakan cita-cita dari pelaksanaan nilai-nilai yang terdapat di dalam Pancasila. Kesemua nilai tersebut bertujuan membentuknya masyarakat sejahtera, adil, dan makmur, yang merupakan perwujudan dari masyarakat madani. Hal mana tidak terlaksananya demokrasi yang baik dan belum terwujudnya

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

15

masyarakat madani tersebut dikarenakan belum terlaksananya supremasi hukum, kesejahteraan masih langkah di masyarakat miskin, partai politik masih mementingkan kepentingan golongan dari pada kepentingan masyarakat luas (baca: warga negara), pers pun masih terkesan dengan keberpihakannnya kepada mereka yang mempunyai kekuasaan dan uang, masyarakat Indonesia masih belum bisa toleran dan berfikiran pluralisme terhadap suatu perbedaan yang terjadi disekitar mereka, dan belum sama sekali terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk dapat terlaksananya perwujudan demokrasi yang baik dan masyarakat madani di Indonesia ini, maka perlulah dilakukan penyadaran terhadap pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahannya untuk selalu menyadari dan melaksanakan nilai-nilai yang terdapat di dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 yang memiliki nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh pemerintah. Dalam hal ini, penulis dapat menyarankan penyadaraan akan nilai-nilai Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 harus segara dilakukan agar tidak ada lagi pelaksaan tugas pemeritahan keluar dari nilai-nilai tersebut, yang pada akhirnya hanya dapat menyengsarakan rakyatnya.

SIMPULAN Hal mana tidak terlaksananya demokrasi yang baik dan belum terwujudnya masyarakat madani tersebut dikarenakan belum terlaksananya supremasi hukum, kesejahteraan masih langkah di masyarakat miskin, partai politik masih mementingkan kepentingan golongan dari pada kepentingan masyarakat luas (baca: warga negara), pers pun masih terkesan dengan keberpihakannnya kepada mereka yang mempunyai kekuasaan dan uang, masyarakat Indonesia masih belum bisa toleran dan berfikiran pluralisme terhadap suatu perbedaan yang terjadi disekitar mereka, dan belum sama sekali terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

16

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Azra, Azyumardi, Menuju Masyarakat Madani, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. _____________, Menuju Msyarakat Madani; Gagasan, Fakta, dan Tantangan, sebuah pengantar (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, cet ke-II, 2000 ), hal. V. Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008. Budiman, Arief, State and civil society, Clayton : Monash Paper Southeast Asia No. 22 Tahun 1990. Culla, Adi Surya, Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-cita Reformasi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999. Hikam, Muhammad AS., Demokrasi dan Civil society, Jakarta: LP3ES, 1999. ___________________, Islam Demokratisasi dan Pemberdayaan Civil society, Jakarta: Erlangga, 1999. Gelner, Ernest, Membangun Masyarakat Sipil, Prasyarat Menuju Kebebasan, Bandung: Mizan, 1995. Madjid, Nurcholish, Tuntutan Pengembangan Masyarakat Madani, KOMPAS, edisis Rabu 28 Juni 2000. Ruhardjo, M. Dawan, Masyarakat Madani : Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta: LP3ES 1999. Yara, Muchyar, Mencari Model Demokrasi ala Indonesia, Makalah pembicara panel pada Simposium “Membangun Negara dan Mengembangkan Demokrasi dan Masyarakat Madani”, yang diselenggarakan oleh Komisi Kebudayaan dan Komisi Ilmu-Ilmu Sosial, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Selasa, 8 Agustus 2006.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011
ANTARA DEMOKRASI DAN DETERMINAN PERTUMBUHAN EKONOMI Arif Budi Rahman Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan arifmof@yahoo.com ABSTRAK

17

Diskursus tentang keterkaitan antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi suatu negara telah menjadi topik menarik berbagai kalangan mulai dari akademisi, negara-negara donor, lembaga keuangan multilateral, hingga birokrat. Dalam karya tulis ini penulis akan membahas tentang perkembangan demokrasi di Indonesia serta keterkaitannya dengan lambannya laju pertumbuhan ekonomi nasional paska lengsernya Suharto. Meskipun di satu pihak Indonesia telah diakui sebagai negara demokrasi oleh berbagai institusi internasional terkemuka, namun di pihak lain laju pertumbuhan ekonomi nasional tidak sepadan dengan prestasi dimaksud. Berdasarkan pembahasan tersebut penulis berargumen bahwa ada beberapa variabel selain demokrasi sebagai prasyarat percepatan tingkat pertumbuhan ekonomi seperti tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang meliputi: akuntabilitas pemerintahan, stabilitas politik dan minimalisasi kekerasan, pemerintah yang efektif, peraturan yang berkualitas, dan pencegahan korupsi. Disamping itu, adanya kepemimpinan yang efektif yang mampu menciptakan program inovatif tanpa dibebani target politis jangka pendek juga akan menjadi katalisator utama pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional berkelanjutan. Kata kunci: demokrasi, determinan pertumbuhan ekonomi PENDAHULUAN Sejak kejatuhan rezim Suharto tahun 1998, Indonesia telah mencapai kemajuan cukup berarti dalam berdemokrasi. Berbagai prestasi tersebut nampak nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung,

18

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kebebasan berpendapat dan berserikat, serta desentralisasi kekuasaan kepada pemerintah daerah. Namun di lain pihak, performa ekonomi era reformasi justru belum mampu menyamai prestasi orde lama. Meskipun pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 5 persen pertahun dan nilai tukar rupiah juga terus menguat, namun kondisi ini masih dianggap kurang memadai untuk bisa menyerap angkatan kerja dan menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Paper ini akan berupaya untuk menganalisa keterkaitan antara sistem demokrasi di Indonesia dan performa ekonomi dalam masa lebih dari satu dekade paska lengsernya Suharto. Setidaknya ada dua pertanyaan utama yang akan coba dianalisa. Pertama, adakah korelasi antara sistem demokrasi dengan performa ekonomi suatu negara? Kedua, mengapa performa ekonomi Indonesia pasca Soeharto kurang begitu menggembirakan? Guna menjawab kedua pertanyaan di atas, penulis akan menggunakan sumber data sekunder (dokumen dan literatur) baik dari institusi lokal, nasional maupun internasional. Penulis berpendapat bahwa dalam jangka panjang ada korelasi positif antara demokrasi dan performa ekonomi. Untuk kasus Indonesia, lambannya pertumbuhan ekonomi dewasa ini dikarenakan absennya praktik good governance dalam mengelola negara, dimana demokrasi hanya merupakan salah satu bagian didalamnya. Adapun sistematika penulisan dalam paper ini adalah pertama pendahuluan, kedua studi literatur, ketiga pembahasan tentang korelasi antara transisi demokrasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan terakhir kesimpulan.

LANDASAN TEORI Diskursus korelasi antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi telah berlangsung cukup lama. Beberapa studi meyakini bahwa kebebasan politik akan mendorong munculnya kebebasan aktivitas ekonomi yang pada gilirannya akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi (Freedman, 1962). Namun beberapa studi lain menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan diantara dua variabel tersebut. Studi ekonometrik menggunakan data antar negera selama kurun waktu tahun 1960 – 1990 yang dilakukan oleh Barro (1996) menemukan bahwa keterkaitan antara demokrasi dan kesejahteraan ekonomi suatu negara, lebih merupakan hubungan antara demokrasi dan variabel-variabel pertumbuhan ekonomi yang lain seperti:

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

19

kemampuan menegakkan aturan hukum, menjamin pasar bebas, dan peningkatan kualitas SDM. Sedangakan menurut Abdellatif (2003) tata pemerintahan yang demokratis akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dengan cara menghambat pejabat-pejabat yang korup untuk memimpin, memfasilitasi kebebasan pers untuk memonitor praktik korupsi, serta menyebarkan informasi tentang perilaku korup pejabat pemerintah kepada masyarakat luas. Dengan demikian, pemerintah yang demokratis akan menjamin akuntabilitas pejabat publik. Setidaknya ada tiga mazab utama untuk membedah keterkaitan antara demokrasi dan pertubuhan ekonomi ini. Pertama, beberapa analis percaya bahwa ada hubungan kausalitas antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi. Semakin demokratis suatu negara maka hakhak ekonomi warga negara akan terjaga sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Jaminan kebebasan berusaha tiap individu ini akan menjaga keberlangsungan perputaran roda ekonomi yang merupakan kondisi ideal bagi masyarakat bebas (Friedman, 1962). Kedua, beberapa pakar lain meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi akan mendorong demokratisasi namun demokrasi itu sendiri justru akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Jadi demokrasi erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, namun sebaliknya bahwa pertumbuhan ekonomi tidak ada hubungannya dengan demokrasi. Beberapa negara kaya yang telah mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi justru tingkat pertumbuhan itu menurun paska penerapan sistem demokrasi. Sementara itu di negara-negara miskin non demokrasi justru akan menikmati pertumbuhan GDP tanpa terhalang sistem demokrasi itu sendiri. Singkatnya, “sistem diktator diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi” (Przeworski dan Limongi, 1997:177). Ketiga, pendapat lain mengatakan bahwa kaitan antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi bersifat non linear. Maksudnya, di negara miskin dengan pertumbuhan ekonomi rendah, demokrasi akan menjadi penghambat pembangunan. Sedangkan di negara dengan ekonomi yang lebih maju, demokrasi akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan negara non demokrasi dengan tingkat perekonomian setara (Barro 1996). Singkatnya, pemerintahan yang demokratis dalam artian tersedianya pemilu yang bebas dan adil akan memberikan kesempatan bagi warga negaranya untuk mengganti para pemimpin politik yang korup

20

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dan tidak bertanggung jawab secara damai dan reguler. Hal ini dalam jangka panjang tentu akan mendorong para pemimpin politik tersebut berusaha memerintah secara lebih efektif guna menarik dukungan mayoritas rakyat (Abdellatif, 2003). Disamping itu, sistem demokrasi juga menyediakan sarana atau instrumen non-pemilu seperti kebebasan berserikat dan kebebasan pers untuk memonitor jalannya roda pemerintahan dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintahan yang tidak demokratis pada umumnya terlalu tamak dalam mengeksploitasi sumber daya alam, korup, dan adanya distorsi ekonomi yang bermuara pada tingginya tingkat kemiskinan. Dalam kondisi demikian, minimnya investasi akan berdampak pada lambannya pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan mengancam kemampuan pemerintah dalam membiayai pendidikan, jaminan sosial, dan manajemen lingkungan yang bertanggung jawab dimana semua itu merupakan prasyarat utama bagi pembangunan berkelanjutan (Morita dan Zaelke, 2007).

TRANSISI DEMOKRASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA Menilik proses demokratisasi di Indonesia sepanjang lebih dari satu dasa warsa terakhir, nampak bahwa Indonesia telah melewati transisi politik dari rejim otoriter ke sistem demokrasi dengan tanpa kendala berarti. Banyak analis yang menyatakan salut dengan capaian tersebut mengingat Indonesia 13 tahun silam masih merupakan negara sentralistik yang tidak ada pemisahan kekuasaan secara jelas dan aturan perundangan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Apabila menggunakan parameter Dahl (1956) tentang demokrasi poliarkal yang terdiri atas pemilu luber dan terjadwal untuk menduduki jabatan publik, adanya peran serta masyarakat, kebebasan berekspresi dan memperoleh informasi, serta kebebasan berserikat, maka Indonesia bisa ditasbihkan sebagai negara full fledge demokrasi. Bahkan Freedom House, sebuah lembaga pembela hak asasi dan kebebasan sipil yang berbasis di Washington, yang setiap tahun secara teratur mengeluarkan indeks kebebasan demokrasi global telah menganugerahi Indonesia sebagai negara bebas (Freedom House, 2006). Faktor penunjang prestasi dimaksud adalah karena ada kemajuan dalam pemberian hak politik warga negara dan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

21

kebebasan sipil, kesuksesan pelaksanaan Pemilu tahun 2004 yang merupakan pemilu pertama dimana presiden bisa dipilih secara langsung oleh rakyat, dan penandatanganan perjanjian damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka setelah puluhan tahun berseteru. Ada beberapa catatan penting terkait perubahan lansekap politik Indonesia paska lengsernya Suharto. Pertama, ada transisi demokrasi secara damai dari Suharto ke wapres Habibie pada bulan Mei 1998. Kedua, paska peralihan kekuasaan tersebut, revisi dan amandemen konstitusi segera dilakukan. Amandemen ini memodifikasi struktur lembaga perwakilan (DPR) dari sistem yang problematik yang merefleksikan kurangnya konsensus menjadi lebih berorientasi ke aturan permainan yang telah disepakati (USAID, 2008). Apabila sistem sebelumnya MPR memiliki wewenang memilih presiden dan wakilnya, maka sekarang mereka dipilih langsung oleh rakyat (Hill dan Shiraishi, 2007). Ketiga, amandemen UU ini menjadi dasar hukum bagi serangkaian pemilu legislatif tahun 1999 dan pemilihan presiden secara langsung pertama tahun 2004. Transisi kepemimpinan nasional dari presiden Megawati Ke SBY secara damai, terbuka, dan relatif adil dipandang krusial sebagai pijakan reformasi tata kelola pemerintahan mendatang (Legawa, 20006). Empat, kini rakyat Indonesia bisa menikmati kebebasan politik secara ekstensif. Partai politik bermunculan dan berkompetisi secara bebas guna mendapatkan dukungan rakyat. Parlemen juga telah menjelma menjadi aktor politik kunci di negeri ini lantaran peningkatan wewenangnya sebagai lembaga yang mengawasi jalannya pemerintahan. Walaupun tingkat akuntabilitas anggota DPR itu sendiri masih menjadi problem, namun kemajuan tersebut sudah sangat bagus dibanding era depolitisasi ekstrem era Suharto (Hart, 2001). Lima, adanya kebebasan pers. Paska lengsernya Suharto, pemerintah menghapus semua restriksi terkait kebebasan media. Disahkan UU kebebasan media pada bulan Oktober 1999 telah meningkatkan kebebasan berpendapat di Indonesia (UNESCO, 2000). UU ini telah mengeliminasi segala aturan tentang perlunya lisensi penerbitan dan wewenang pemerintah untuk memberangus pers. Kini pers telah menjadi wahana efektif untuk komunikasi publik termasuk berbagai isu miring berbagai kebijakan pemerintah.

22

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Prestasi lain adalah semakin tumbuh-kembangnya berbagai organisasi kemasyarakatan sipil. Meningkatnya jumlah LSM untuk berpartisipasi dalam aneka diskursus publik seperti isu korupsi, advokasi, diseminasi informasi, promosi tata kelola pemerintahan yang baik, dan reformasi hukum menunjukkan bahwa mereka berperan penting dalam arus informasi dan proses monitoring aktivitas pemerintah maupun dalam mempengaruhi agenda pembangunan nasional. Enam, desentralisasi kekuasaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Disahkannya UU Pemda dan keuangan daerah telah memberikan kewenangan besar bagi pemda untuk mengelola pemerintahan dan keuangannya sendiri. Sebagai konsekuensinya, pemilih lokal telah menjadi pemain utama guna mengontrol akuntabilitas pejabat publik lokal karena sekarang mereka dipilih secara langsung. Segala capaian diatas sekaligus meruntuhkan adagium Islam dan demokrasi tak pernah sejalan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia telah mendemonstrasikan pada dunia bahwa tidak ada yang aneh dengan menjalankan ajaran Islam sekaligus berdemokrasi. Kendati prestasi demokrasi tersebut telah menempatkan Indonesia sebagai “negara normal” (McIntyre dan Ramage, 2008), ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal. Kemajuan ekonomi era reformasi dirasa lebih lambat bahkan termasuk yang paling tertinggal di antara negara tetangga (Aziz, 2008). Hal ini nampak dari tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) yang merefleksikan peningkatan standar kualitas hidup dan penurunan level kemiskinan. Walaupun studi ADB (2008) menggarisbawahi kemampuan ekonomi Indonesia untuk menangkis krisis ekonomi eksternal, pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya sekitar 5,1 persen pertahun, masih dibawah era Soeharto.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

23

Gambar 1; Pertumbuhah GDP (% pertahun)
Dikutip dari Bank Indonesia, 2009

Tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi ekonomi selama tiga dasa warsa kekuasaan Suharto memang sangat impresif (Sukma, 2003). Pertumbuhan ekonomi rata rata tercatat sekitar 7 persen pertahun. Income perkapita juga meningkat pesat dari US$70 pada tahun 1970 menjadi US$1000 di tahun 1996. Dan antara tahun 1970 hingga 1990, angka kemiskinan berkurang drastis dari 60 persen menjadi 15 persen (Schwarz, 1994). Bahkan Indonesia pernah ditasbihkan sebagai kekuatan ekonomi baru Asia oleh World Bank (WB, 1993). Sayangnya, krisis ekonomi pada tahun 1997 yang berujung pada lengsernya Suharto, telah berdampak pada sebagian besar rakyat Indonesia. Sekitar 38 juta orang jatuh di bawah garis kemiskinan, nilai mata uang rupiah merosot hingga 60 persen, dan angka pengangguran tercatat lebih dari 20 persen (IFRC, 2000). Ditengah kesulitan ekonomi yang mendera dan ketidakpuasan yang merajalela, sebenarnya Indonesia hanya mengalami konstraksi ekonomi pada tahun 1998. Pada masa sesudahnya indikator kunci makro ekonomi menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen.

24

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Indicator Voice and Accountability Political Stability Government Effectiveness Regulatory Quality Rule of Law Control of Corruption

1998 2000 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2009 16,3 9,1 37 6,3 38,5 9,1 38 3,4 38,5 44,2 42,8 43,3 48,3 6,3 14,4 13,9 18,3 24,1

20,4 36,4 34,5 34,5 44,7 39,7 45,1 46,4 46,7 38,5 36,1 25,9 27,8 26,8 36,6 43,9 44,2 42,9 22,4 24,8 17,6 13,1 16 19 27,6 24,3 28,1 30 34,4

10,2 15,5 19,9 20,9 25,2 33,3 28,1

Gambar 2: WORLDWIDE GOVERNANCE INDICATORS FOR INDONESIA (Percentile Rank)Source: World Bank (info.worldbank.org/governance/wgi/sc.chart.asp)

Kendati demikian, angka pertumbuhan ekonomi tersebut kurang memadai untuk bisa menciptakan kesempatan kerja dan menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan (McIntyre dan Resosudarmo, 2003). Menurut hemat kami, ketidakmampuan pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi sebagaimana pernah dicapai pada era sebelumnya adalah karena ketidakberdayaan pemerintah untuk menegakkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Good governance mencakup enam parameter dimana demokrasi merupakan bagian didalamnya. Elemen good governance tersebut meliputi: voice and accountability, political stability, government effectiveness, regulatory quality, rule of law, dan control of corruption (Kaufmann, et al, 2008). Dari gambar di atas nampak bahwa Indonesia masih lemah dalam penegakan hukum, kualitas regulasi, dan pemberantasan korupsi. Jika tidak ada kemajuan dalam pelaksanaan good governance ini dikawatirkan dalam jangka panjang akan terjadi pembalikan arah demokrasi. Berdasarkan kajian Asian Development Bank (ADB, 2000) praktik tata kelola pemerintahan yang baik sangat krusial karena

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

25

menyangkut tiga alasan: (i) good governance akan meningkatkan baik kuntitas maupun kualitas pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan jangka panjang, (ii) tata kelola yang baik juga meminimalisir tingkat risiko kerawanan ekonomi jika terjadi krisis. Ketiadaan informasi dan prosedur yang memadai bagi investor akan memicu kepanikan dan ketidakmampuan mengambil keputusan secara rasional. (iii) good governance dan tranparansi akan meningkatkan partisipasi dan keikutsertaan masyarakat dalam proses pembangunan. Sebagaimana diungkapkan oleh Przeworsky et al (1996), masalah keruwetan ekonomi dapat merongrong dan menjatuhkan rezim berkuasa baik di negara demokrasi maupun non demokrasi. Agar sistem domokrasi tersebut bisa langgeng diperlukan tidak semata institusi tapi juga norma, nilai, dan kultur demokrasi (Sukma, 2006). Kegagalan pemerintah menjalankan roda perekonomian dan mengatasi masalah sosial akan memberi legitimasi bagi aktor politik, bahkan militer, merongrong dan menjatuhkan pemerintah (McLeod dan McIntyre, 2007). Minimnya budaya demokrasi di Indonesia juga menjadi kekhawatiran para analis akan terjadinya setback di masa mendatang. Sebagai negara demokrasi baru, Indonesia masih rawan terjadi pembalikan. Negara demokratis yang miskin, khususnya dengan income perkapita kurang dari $1000 adalah sangat rawan. Przeworsky et al (1996) menegaskan bahwa “kemiskinan merupakan musuh utama demokrasi”. Kegagalan pemerintah menstabilisasi harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak, kedelai, BBM, dan listrik bisa mengguncang stabilitas pemerintahan dan mengancam kelangsungan hidup sistem demokrasi di Indonesia (USAID, 2008). Survei terbaru Indo Barometer (2011) yang menyatakan Orde Lama lebih baik dari kondisi saat ini setidaknya menguatkan argumen diatas. Hal lain yang juga urgen adalah keberanian pemerintah khususnya presiden untuk menciptakan program inovatif tanpa dibebani target politis jangka pendek. Perubahan politik dramatis tanpa disertai perubahan kultur terutama di jajaran birokrasi telah mengakibatkan inefisiensi karena para biroktar tersebut masih bekerja dengan paradigma lama dan doing business as usual (Synnerstrom, 2007).

26

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

SIMPULAN Paper ini telah memaparkan transisi demokrasi di Indonesia paska kejatuhan Suharto tahun 1998. Ada berbagai kemajuan cukup berarti dalam upaya menuju sistem pemerintahan yang lebih melibatkan rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai bentuk pengakuan tersebut, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara dengan kebebasan sipil dan hak politik terbaik di kawasan Asia (Rieffel, 2007). Namun demikian, kondisi ekonomi belum secerah prestasi demokrasi tersebut. Walaupun Indonesia selalu mencatat pertumbuhan GDP diatas 5 persen, angka itu masih belum memadai untuk menngimbangi derasnya angkatan kerja baru dan tingkat kemiskinan yang masih begitu tinggi. Argumen inti dalam paper ini adalah sistem demokrasi di Indonesia bisa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang bila dilengkapi dengan adanya kepastian hukum, akuntabilitas pemerintahan, stabilitas politik dan sosial, pemerintah yang efektif, peraturan yang berkualitas, dan pencegahan korupsi. Berbagai tantangan tersebut harus segera diatasi karena kekecewaan rakyat terhadap performa ekonomi yang tidak memuaskan bisa mendorong terjadinya setback.

DAFTAR PUSTAKA Abdellatif, A. M. (2003). Good Governance and Its Relationship to Democracy andEconomic Development, Paper presented at the Global Forum III on Fighting Corruption and Safeguarding Integrity, Seoul 20-31 May 2003. ADB (Asian Development Bank) (2000). Democracy, Good Governance and Transparency in the Asian Context, paper presented at the National Symposium on Democracy, Good Governance and Transparency in the Asian Context. Cambodia 14-15 March 2000. Available at: www.adb.org/Documents/Speeches/1999/Transparency/cam_sp eech.pdf ADB (Asian Development Bank) (2008). ADB and Indonesia 2008 Fact Sheet, March 2008. Available at http://www.adb.org/Documents/Fact_Sheets/INO.pdf Azis, I.J. (2008). Indonesia’s Slow Recovery After Meltdown. Asian Economic Papers, 7(1), pp 79-103

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

27

Bank Indonesia (2009), Outlook Ekonomi Indonesia: Krisis Finansial Global dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia, Biro Riset Ekonomi Bank Indonesia, Januari 2009, hal 23 Barro, R. J. (1996). Democracy and Growth, Journal of Economic Growth, 1(,Mar), pp. 1-27 Dahl, R. A. (1956). A preface to democratic theory, Chicago, University of Chicago Press. Friedman, M. (1962), Capitalism and Freedom, Chicago: University of Chicago Press. Freedom House (2006) Freedom in the World 2006, Available at: www.freedomhouse.org IFRC (International Federation of Red Cross and Red crescent Societies) (2000). Indonesia: Socio-Economic Crisis, Situation report no. 2 (final) period covered: 17 March 1999 - 30 September 2000. Available at http://www.ifrc.org/docs/appeals/99/099902.pdf. Hart, N.H. (2001). Anti -Corruption Strategies in Indonesia, Bulletin of Indonesian Economic Studies, 37(1), pp. 65–82 Hill, H and Shiraishi, T (2007), Indonesia After the Asian Crisis. Asian Economic Policy Review, Vol. 2, No. 1, pp. 123-141, June 2007 Indobarometer (2011), Evaluasi 13 tahun reformasi dan 18 bulan pemerintahan SBY-Boediono, Available at: http://www.indobarometer.com/ib/admin/upload_file/155/REFOR MASI%20DAN%20KINERJA%20SBY-BOEDIONOSURNAS%20IB%20%5BMEI%202011%5D.pdf Kaufmann, D, Kraay A, and Mastruzzi, M. (2008). Governance Matters VII: Governance Indicators for 1996-2007. Washington, D.C. World Bank Policy Research June 2008 Legawa, T. (2006). Establishing Good Governance: The Experience of Indonesia. Paper presented at the Workshop on Governance and Development, organized by Bangladesh Institute of Development Studies (BIDS) in partnership with the World Bank, DFID, the Netherlands Embassy and CIDA, Dhaka 11-12 November 2006

28

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Macintyre, A. and Ramage D (2008). Seeing Indonesia as a Normal Country : Implications for Australia. Barton ACT : Australian Strategic Policy Institute MacIntyre, A. and Resosudarmo, B. P. (2003). Survey of recent development, Bulletin of Indonesian Economic Studies, 39(2), pp. 133–156. McLeod, R & MacIntyre, A (2007), Introduction [to Indonesia: Democracy and the Promise of good governance]', in Ross H McLeod and Andrew MacIntyre (ed.), Indonesia: Democracy and the Promise of Good Governance, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore, pp. 1-17 Morita, S and Zaelke, D. (2007). Rule of Law, Good Governance and Sustainable Development. Presented at the Seventh International Conference on Environmental Compliance and Enforcement. Available at: www.inece.org/conference/7/ vol1/05_Sachiko_Zaelke.pdf> p. 16 Przeworski, A., Alvarez, M. E, Cheibub, J. A., and Limongi, F. (1996), What Makes Democracy Endure?, Journal of Democracy, 7(1), pp.39-55. Przeworski, A, and Limongi, F (1997) Modernization: Theories and Facts, World Politics, 49 (January, 1997): 155-183 Rieffel, L. (2007). Indonesia: Ten Years After the Crisis, The Brookings Institution. June 28, 2007. Available at: http://www.brookings.edu/opinions/2007/0628globaleconomics_ri effel.aspx Schwarz, A. (1994). A nation in Waiting: Indonesia in the 1990s, St Leonard, NSW: Allen & Unwin. Sukma, R. (2003). Democratic Governance and Security in Indonesia, Japanese Journal of Political Science, 4(2), pp. 241–255 Synnerstrom, S. (2007). The Civil Service: Towards Efficiency, Effectiveness and Honest’, in R. H. McLeod and A. MacIntyre (eds), Indonesia: Democracy and the Promise of Good Governance, Singapore, ISEAS, pp.160. UNESCO (2000). Indonesia: Learning the ropes of press freedom, February 2000. Available at http://www.unesco.org/courier/2000_02/uk/connex/intro.htm

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

29

USAID (United States Agency for International Development) (2008). Indonesia-Democracy and Governance Assessment: Final Report, June 2008. World Bank. (1993). The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy, Oxford, Oxford University Press

30

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

BUILDING NATIONAL COHESIVENESS & AUTO-THERAPEUTIC 1 GOVERNANCE THROUGH GOOD SOCIETAL GOVERNANCE Dadan Sidqul Anwar Lembaga Administrasi Negara dadan_sa@yahoo.com ABSTRACT
Post reformation era, Good Governance has become a new way of thinking in Indonesia’s public administration. Since then, the government has not become the only actor in managing public affairs. Instead, there are multiple actors including private and public were participating in managing government. Many people believe that this multiple actors approach could become a powerful strategy in improving regional and national development. Indeed, every actors including government, private and society has its strengths which can be shared and cooperated in order to achieve regional development goals especially society welfare. However, some actors may have personal or group interest which may contradict society interest. Either government apparatus or private actors could weaken regional and national development through their corrupt or rent seekers behavior. To resolute this problem the government has established good public government and good corporate government as norms and governing system. The role of society actors including NonGovernment Organization (NGO) also may have been infected by personal or group interest. Some of NGO’s may promote their role as representing people interest in order to get financial resources either from government or donors. But, in reality, they use the resources for their own interest. This phenomenon indeed may weaken regional and national development. This societal problem is worsen by the absent of governing system as it is in government or private. The wider implications are there are conflicts among societal actors as well as between government and societal actors. It is there fore the emergency of societal norms is very urgent. The norms that could be considered is Good Societal Governance
1 2

2

Paper presented in “Seminar Nasional FISIP UT 2011” The Head of Teaching Sub-Division, National Leadership Center, National Institute of PublicAdministration, Jakarta.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

31

that covers accountability, transparency, independency, responsiveness, and local wisdom. The norms are a new way to build national cohesiveness and auto-therapeutic governance for better Indonesia’s development. Key words: norms, societal governance, cohesiveness, auto-therapeutic

Introduction Good Governance (GG) has become global phenomenon in responding to weak institutional capacity and corruptive behavior of many government regimes in various countries. Some donors revealed the in-effective way in managing government as a crucial stumbling block in guaranting the effectivity of donors’ aids in developing countries. Monopolistic role in managing and delivering public services has positioned government in the strongest position that might lead to the misuse power in many developing countries. Unchecked and unbalaced of power may attract many government apparatus to do mis-behavior. Instead, the existence of other actors in managing government may increase check and balance system and so it may protect the country from mis-behavior and lead many actors to achieve countries’goals. This incorporating government, private and society in building the country is one of the nature of Good Governance. The tendency of adopting GG also has been experienced by Indonesia. The severe developmental problems of Indonesian economic crisis 1997/1998 and the demand of national and international actors have resulted in the shift of Indonesian way of managing government from government to governance approach. It is reflected in various reforms initiatives including changing from centralism to decentralism, local direct election for president, governor and major or municipal leader. These reform initiatives have brought Indonesia into one of the fourth biggest democratic countries in the world. The reforms, indeed, increase the interaction among government, private and society. However, the actors may still have mis-behavior in performing their role. From government side, Many corrupt apparatus. Terms of corruption, collusion and nepotism (KKN in

32

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Indonesian terms) have been treated as “common enemy” in many rethoric occasions. However, the cases seem still occur in Indonesian public administration. In private side, there were also many malpractices. There fore to overcome those problems, in government 3 scoupe, the norms of Good Public Governance has been advocated and even implemented to some extent. The norms cover (1) public participation; (2) law supremacy; (3) transparency; (4) stakeholders careness or responsiveness; (5) concencus orientation; (6) equality; (7) effectiveness and effeciency; (8) accountability; and (9) strategic vision. Those norms are even widen than those of World Bank’s 4 advocation . Since reform era, another actor, society which are usually represented by Non-Government Organizations (NGOs) has been placed in more respectful position afterbeing undermined through represive approach by New-Order Regime (Rejim Orde Baru). In this democratic era, NGOs could voice their interests freely and even their voices were usually appreciated. So, the position of NGOs in Indonesian political arena is powerful. Some NGO activists were even being rescruited in buraucratic structure. Say about Gusdur and others...there were opening for democratic door. However, the sweet era of NGOs has been undermined by some misbehavior NGOs. Some NGOs have role in criticizing government accountability, but some of them unaccountable. The term has been advocated by Bappenas and supported by international communities. In national and regional development context, The societal problem as it is indicated by some misbehavior NGOs may result in un-productive contribution. According to an official from Departement of Home Affairs, there are more 11.000 NGOs accross Indonesian regions. The big number of NGOs might be Indonesian resources in regional development,
3

The term has been advocated by Bappenas and supported by international communities. 4 Word Bank’s Good Governance covers accountability, participation, predictability and transparency.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

33

especially in supporting the implementation of local autonomy. 5 However, some of them, instead of representing people interests , they manipulate resources from sponsors or donors for their interests. The problems may be getting worsen since there is no norms as it is 6 3 in government or private . According to the background, indeed, the norms is needed to harmonize the role of societal actors, government and private in order to achieve national development goals. For this reason, this paper propose Good Societal Governance as new norms in synergizing national development actors. From Government to Governance The role of government in regional development can not be separated from canging role of government. In the past, the government approach in managing development is based on Weberian paradigm. The paradigm doctrine has put the government simultaneously as an actor and a machine of regional development (state-led regional development). It has some characteristics including structural procedural and bureaucratic approaches. Managing development is also monopolized by government. The approach is in line with Weberian Doctrine (1947) that “The state is a political community that monopolizes sovereignty over a territory and the legitimate use of force within its boundaries, and claims authority over all the people in it”. There fore the government was a hegemonic entity in development. The actors within government cover bureaucracy, military and policy, as well as legislative and yudicative institutions.However, the approach did not accommodate the role of wider stakeholders including societal organizations. In reality, the government based approach is failed to guarantee the existence of government that has better services toward society. The government tended to move very slow in responding societal needs. The government action is blocked by procedures, bureaucratuc matters, and giant organizational structures. In another word, the
5 6

Alleviating poverty Good Governance 7 Good Corporate Governance

34

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

government tends to think more on it’s self (selfish actor). Even, the state or region is exploited for personal and group interests. The phenomena is called by Hyden (1983) and Riggs (1964) as quoted by Batley (2004) as ‘economy of affection’ where the state or region is seen as vehicles to fulfill certain actors’ interests rather than national or regional public interests. Indeed, The condition might worsen developing countries in restoring their economy. There were two kinds of failed states which are “state-dominated development and stateless development” (World Bank, 1997, p.25) or “too much state and too litle state at the same time” (Larbi, 1999). Those condition has resulted in government paradigm shift from statebased approach (Weberian) to market-based approach. The newest approach, market, can be seen in some models including New Public Management, decentralization, privatization, and good governance. One of their principles is accomodating the role of private and society in development or state management. The models principally, strengthen accomodating the role of private and society in regional development. The interaction among those actors then is intitutionalized in Governance concept (tata kelola pemerintahan).

The Scope of Governance Governance is democratic and capitalist approach in managing regional development where the role of government is minimized (see Adrian, 1993) . The system hasd been design in more participative approach, but it is more complicated in terms of it’s actors and process of management. In this context, UNDP (2002, p. 9) defines governance as “the exercise of political, economic and administrative authority to manage a nation’s affairs. It is the complex mechanisms, processes, relationships and institutions through which citizens and groups articulate their interests, exercise their rights and obligations and mediate their differences”. The complicated interaction in governance system can be seen in involvement of various stakeholders in regional development. This complexity in “unmature democratic countries” may result in horizontal conflict. In addition, the process of regional development decision might be very slow because the decision takes long process through concencual decision However, the system may become a new arena in building checks

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

35

and balances among various actors by which abusing of power can be minimized. Each actors of regional development has each own role. The government has role in in building conducive climate for societal and economic life. The private has role in creating jobs. The society or Non-Government Organization (NGOs) have role in polithical and societal interaction and mobilizing societal resources to participate in polithical, social and economic development. Specifically the role of society, not only in terms of checks and balances toward the power of state and private but also strengthen those two actors. The society can control abusing power, exploiting natural resources, distributing equality and opportunity to increase the quality of societal life (see UNDP, 2002). By institutionalizing governance does not mean abolizing the hyrarcycal structure of government. Instead, the government structure could be completed by strengthening the role of society and private through market structure, network and community (Mrquette, 2004). Through market system, the society could behave as consumer. Through network, policy formulation could be done in participatory. Through community, society in community level can be more active in regional development. The implementation of governance can be seen successful if it’s implementation can contribute to achieving regional goals or resolve national or regional problems. Sound governance is...... wherein public resources and problems are managed effectively, efficiently and in response to critical needs of society (UNDP, 2002, p. 9). In line with this assertion, Koiiman (1999) argues that governance is all of those interactive arrangements in which public as well as private actors participate aimed at solving societal problems, or creating societal opportunities, and attending to the institutions in which these governing activities take place. In another word, governance is the way how to manage resources partcipatory, effectively and effeciently in responding or fulfilling societal needs. It means that Governance is not public management approach in which its focus is its self. Instead, governance focuses on satisfying and fulfilling public needs. Otherwise it would be meaningless. Whereas regional objectives is concencual agreement which can be integrating factor in synergizing government, private and society. Either society or private actors are part of governance actors. Similar to government’s role, both private

36

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

and society could become the agen of public services. Their role is essentialy complementing government’s role. They have common objective in fulfiling or satisfying public. So they sould cooperate and synergize each other and not beaten or ruin each other. Many believe that good governance or good decentralized 7 governance is the key for national and or regional development. Among prominent person, The Former Secretary General of The United Nations even believed that “good governance is perhaps the single most important factor in eradicating poverty and promoting development” (Graham, Amos, and Plumptre, 2003). Institutionally UNDP also believed that the establishment of good governance might contribute to sustainable human development by establishing the political, legal, economic and social circumstances for poverty reduction,job creation, environmental protection and the advancement of women (UNDP, 2001). It means that Good Governance or Good Decentralized Governance has been seen as a panacea for recovering developing countries including Indonesia from the crisis. However, since governance based regional development should be built based on three important regional actors (government, private and society), it might be difficult for those actors in achieving regional goals without the existence of regional governing system. The system has existed in governing government actors which is called in 8 Indonesia as Good Public Governance . Moreover, in private context, there is also a governing system which is called Good Corporate Governance. Those two governing systems have been advocated widely to various developing countries including Indonesia by various actors, especially donor communities. Nowdays, many regional development actos have accustomed to or familiarized with governance or Good Governance terms. Even, Indonesia has intitutionalized it extensively. Study by Legawa (2006) as quoted by Fernanda (2008) indicates extensive achievement in Indonesia’s Good Governence based on civil society, political society, government, bureaucracy, economic society and judiciary arena as follows:

7 8

Good Governance in regional context It is repeatedly mentioned by Bappenas, MenPAN, LAN and some other Indonesia’s government institutions.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

37

1.

Civil society: there has been a freedom of association, society free from discrimination, freedom of expression, respect governing rules, freedom of the media, and access for giving input in policy making. This profile embraces all the indicated good governance principles being implemented to provide democratic environment for the Indonesian society to live and grow. Political Society: the establishment of good governance has been provided through policies reflective of public presences (fairness principle), peacefull competition for political power (decency principle), and legislative function affecting policy (efficiency principle). Such a provision of good enough governance seems to be very essential for the development of political democracy in Indonesia. Government: the achievements have been reflected in the process of intragovernmental consultation (participation principles), personal security to citizens 8 Good Governance in regional context 9 It is repeatedly mentioned by Bappenas, MenPAN, LAN and some other Indonesia’s government institutions, (decency principle), security forces subordinated to civilian government (accountability principle). These arrangements of public service governance marked a significant loop in the tranformation of the Indonesian government since the fall of the Suharto regime.

2.

3.

4. Bureaucracy: the achievement of good governance has been reflected only significantly in the equal access to public services (fairness principles). Although it seems to be minimalist, but in practice the process of administrative reforms continue to be expanded persistently, given the relatively inflexible regulatory environment constraining bureucratic institutions. 5. Economic Society: good governance achievements have been reflected in the government consultation with the private sector (participation principle), regulations equally applied to all firms (fairness principle), government’s respect for property rights (decency principle), and regulations on private sector that reflect the interest of the public (accountability principle). To large extent such arrangements have already broken the crony system practized during the Suharto era, leaving behind collusion and nepotism practices. The economic society begins to be more

38

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

accountable and responsive to their customers with some sorts of social responsibilities being practized in order to achieve good corporate governance. 6. Judiciary: the establishment of good governance can only be proven effective in the implementation of decency principle of which international convention of human rights has been incorporated in national legal practices. However minimalist it is, but it is considered to be essential in protecting the interests of the people. Besides the current complex systems of judiciary, yet limited in the capacity given the size of the population, need to be carefully exercized in order to prevent negative externalities in the transition towards good judiciary governance. However, it seems that the relationship among the three regional development actors is still problematic and conflictual. In some area, among the actors there is tendency to blame each others. Such condition may indeed weaken regional development. Many resources may be lost because these unnecessary conflicts. Accordingly, one of important things which has forgotten by many donor communities is that society also need a governing system in order them to serve public or society. The society whic are usually represented by Non-Government Organizations (NGOs) may criticized goverment for its wrongdoings and abusing the power. In return, NGOs are also need to have integrity. Otherwise, NGOs may only pretend serving society but in reality they serve their interest. So, it may weaken regional development process.

The NGOs Role in Indonesia’s Development Economic crisis and reforms movement in 1997/1998 had resulted in more democratic governance. The demand for public participation increased. Since then, the growth of NGO’s sky-rocketed. The number of NGOs increased sharply from 3000 NGOs in 1998 to 19.000 NGOs in 2001 (LP3ES, 2001). The increase of NGOs had been brought by: first, the deficit integrity of government. Second, the requirement of donors for allocating resources (assistances and debt). Third, the existence of NGOs as the third powerful parties after state and private. “This powerful “Third Sector”, existing between the relms of government and business, is bringing an unprecedented vitality and

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

39

ability to bear on critical issues related to service and world peace. NGOs’ flexibility and connection to grassroots communities aid them in mobilizing resources quickly to affected areas. Their often single minded commitment and strong motivation affords them a civic power that other institutions may lack (WANGO, 2004). Before Indonesia’s independence day (1945), the role of NGOs had already existed in supporting Indonesian development. In the past 9 (1908), Boedi Oetomo had roles in Indonesia’s awakening . Another actor was Taman Siswa (1922). It had important role in developing Indonesian education in colonial domination era. In economic sector (trade) there were also Sarikat Dagang Indonesia (1905). It means that before government existed, the society had important role in developing Indonesia’s country. However, in the past, New Order Era (Orde Baru) there was sharp conflict or disharmony between government and NGOs. In this era, the government percept NGOs (Ornop) as enemies that always oppose government. After New Order Era ended and Democratization Era began, there was a shifting relation between Government and NGOs. In this new era, the NGOs (Lembaga Swadaya Masyarakat) are treated as a part of governance in achieving national goals. The basic principles of past NGOs was Non-Governmentalism. Meanwhile, the basic principles of recent NGOs is Auto-Governmentalism or selfgovernance (Fahrudin, 2003). Recently, there are various forms of NGOs. They have various forms of contribution in regional or national development. Among them, there are Community-Based Organizations (exp. Kelompok Tani, Kelompok Pengguna Air, Majelis Taklim), NGOs in society empowerment, NGOs in advocacy (exp.ELSAM, YLBHI, Urban Poor Consorsium, ICW, MTI), NGOs in network form (exp. Jaringan Advokasi Tambang), NGOs in studies (exp. CSIS, The Habibie Center, Syafii Ma’arif Institute), professionals or worker associations (exp. ISEI, AJI), Mass-Based NGOs (exp. Muhammadiyah, NU, HKTI). (Ismawan, 2008) The massive increase of NGOs does not guarantee that all NGOs have positive contribution to Indonesia’s development. Some big NGOs including TIFA Foundation, LP3ES and KPMM have reported
9

In some discourses it’s role is deba

40

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

that there are many “black and gray NGOs” that have no real commitment toward public interests. Instead, they tend to be selfinterested in the name of public. They can be categorized as “NGO pretenders”: BRINGO (Briefcase NGO), CONGO (Commercial NGO), FANGO (Fake NGO), CRINGO (Commercial NGO), GONGO (Government Owned NGO), MANGO (Mafia NGO) dan PANGO (Party NGO). This societal problem may have adverse impact to Indonesian regional development. The public can be manipulated and commercialized. The donors also can not allocate their resources through NGOs effectively and efficiently. Indonesia will have loss opportunities to get resources for better regional development. NGOs that seek to make virtue out of highlighting the failures of governments, business and other institutions subjected to the same degree of scrutiny that everyone else faces. They to need to be accountable for their action. NGOs are also strengthening their accountability so as to increase their legitimacy among policy makers and thus the effectiveness of their work (Anthony Adair, 1999 as quoted by Lloyd , 2005).

Good Societal Governance: A Norms for Building Cohesiveness & Auto-therapeutic Governance To overcome the problems mentioned earlier, a governing system to synergize and harmonize development actors in achieving national development is needed. Good Governance provides framework for governing system. In Indonesian case, it has already applied in government and private sphere. In government sphere, the governing system is known as Good Public Governance, whereas in private sphere the system is known as Good Corporate Governance. But, in societal sphere, the governing system has not existed yet. It produces conflicts, overlaps and distrusts among regional actors. Ideally, under governance framework, there is an auto-therapeutic mechanism among regional actors (see Picture 1). It must be understood that each actors in regional either government, private or society essentially has same focus which is serving society. It means that the core of either government, private or society role is serving society. The government has roles in various regional development sectors including politic, economic, social & cultural, defense sectors. All of its wide roles indeed must have impact on society welfare. In

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

41

private sphere there are also various regional development sectors including agriculture, industry, services, transportation, finance, etc. The same as government’s roles, all of private’s roles is expected to have impact on society welfare. Not only goverment and private who has various regional development roles but also society has various regional development sectoral roles. Their roles include politic, economic, social & cultural. Then, it can be seen that either private, government or society has almost the same sector roles. It is not not only their sectors which are similar, their focus is also essentially similar. Their focus is public services. It means that improving societal welfare is not only government’s role, responsibility and commitment, but also the role, resposibility and commitment of government, private & society. It is in line with the effort needed in order to achieve national and regional development objectives. Those actors should cooperate, synergize, complement, fix, substitute each other in achieving national and regional goals. The proses can be called as autotherapeutic mechanism in Governance.

Picture 1

42

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Concerning society sphere, there are some problems which may block autotherapeutic mechanism in Governance in order to acieve national 10 and regional development goals. First, not all societal actors have really represented societal needs and interests. To sponsors or donors either from local, national and international sources, they promote them selve as representing societal interests. But, in reality, after getting financial sources, instead of favouring society, they use big amount of financial sources for their interests without accountability to benefeciaries. Second, there is tendency of conflicts and overlapps inter-societal actors or among societal actors vis a vis government and private. Concerning societal actors, there are vaious group of actors which include LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Ormas (Organisasi Kemasyarakatan), Ornop (Organisasi NonPemerintah), Organisasi Profesi, Organisasi Adat, and etc. Each group of societal actors has its pride and confidence. Sometimes one group feels better than others. Third, there is tendency of distrust, blaming, ruining each others. Fourth, there is also stigmatization phenomena. It is easy for some actors to punish others as committing mis-behavior and public enemies. Those problems might come up because there is no governing system in societal actors which is agreed not only by some NGOs, but also wide NGOs and government. For this reson, Good Societal Governance as a new norm is proposed. The notion of Good Societal Governance has been initiated by The National Institute of Public Administration, The 11 Republic of Indonesia in 2008 . It offers the characteristics of Good

10

11

Since there is no agreed terms among Indonesia’s societal actors or between government and societal actors, some called them selves as LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), others called them as Ormas (Organisasi Kemasyarakatan), and the others called them selves as Ornop (Organisasi non-pemerintah). So, for this discussion we categorize them as societal actors. In global arena, the terms of Good Societal Governance or Norma Kesewadayaan Masyarakat is firstly introduced by Centre for International Administration Studies, National Institute of Public Administration, Indonesia, which is the writer of this paper is one of primary conceptors and writers. It could be seen ineither yahoo or google searching. The terms of societal governance then followed by many international writers. It means that our expectatio

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

43

Societal Governance, values and norms for the society to sustain selfPicture 2

governance and interactions with the public and the private sector; which cover transparency, accountability, responsiveness, synergy, and local wisdom in order to strengthen the framework of Good Governance and achieve national and regional development goals (see picture 2 for illustration). The norms of Good Societal Governance have been resulted through iterature studies and serial Focused-Group Discussions between 12 researcher of Centre for International Administration Studies , central and some local government officials from some regions in charge with societal matters (Kesbang Linmas Institutions); academicians, and NGOs’ representatives from some regions. The norms could be described as follows:

12

The address of Center for International Administration Studies is Jl. Veteran No. 10 Jakarta. Telp./Fax. 021-3504658

44

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

1) Accountability Norm As representative of societal interests who always control government accountability, societal actors must be accountable in performing their roles. They must prove that their roles are really dedicated for society and their financial management is free from corruptions or abusing for their interest in the name of public. Their accountability could become one of integrity pillars in strengthening societal movement for regional development. The integrity may result in high trust from society, government, and donors so as it will sustain their existence. Unlike conventional accountability system, The accountability system of societal actors is not limited accountability in the framework of principal and agent (owners or sponsors and doers or operators) but it has wider fame work. The Accountability system of societal actors covers not only accountability to principal but also accountability to beneficiaries. It means that society also should be informed their representative or societal actors, so the society could value their trust to these actors. The accountability system of societal actors generally could be seen in Picture 3 Based on the picture, social actor accountability system (SAAS) could be divided into three categories. First, vertical accountability, it is kind of accountability upward from societal actors to government, donors and internal management. This kind of accountability might have been being implemented by many NGOs, especially the accountability from social actors to donors. It might be because the social actors need financial sources sustainability. On another hand, the donors need the money to be allocated to beneficiaries based on their mission. Then, the two actors have very close relationship according to their interests. Second, horizontal accountability, it is the accountability from societal actors to other societal actors. Because of its sense of dignity, confidence and unwilling to be blamed, it might be difficult for one societal actor to be accountable to other societal actors. However, there are some limited societal actors who have commitment to do so. For example, KPMM in West Sumatera in followed by some NGOs members has designed code of ethics for societal integrity movement.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

45

The members should follow agreed rules written in their code of ethics.

Picture 3. Societal Actor Accountability System (SAAS)

Another big NGO, WALHI in The Center of Sulawesi has designed code of ethics for its members (some local NGOs). The code has become check and balance mechanism for the members. Disobeying this code means would be kicked out from its membership. 2) Transparency Norm

Transparency means societal actors should inform society about financial sources and their allocation as well as well as their performance in serving society. This openness is very meaningful to strengthen accountability and integrity of societal actors in regional development. There are some benefits of implementing transparency norm in improving Good Governance and regional development as follows: First, transparency could decrease asymmetric information (or lack of information) between societal actors and society (beneficiaries); as well as between societal actors and government (as a partner in regional development). Second, transparency could improve societal actor integrity in front of stakeholders. Third, transparency could become public media to demand societal actor accountability and become arena of public discourse or debate.

46

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Fourth, information could strengthen degree of transparency and openness of societal actors as medium for preventing corruption and unethical practices of societal actors in order to participate in regional development. In another world, through transparency, societal actors could be stimulated to serve public for better regional development. Through, transparency, it is easier for government and wider society to interact with societal actors in order to improve regional development 4) Responsiveness Norm

Responsiveness norm is the way how societal actors respond societal and national problems. Since ten years having been through reform, Indonesia has a big-bang government reform from centralization to decentralization. The degree of decentralization is also very deep. Its decentralization type is devolution which provide local autonomy to local governments. It also accommodate and recognize the role of private and NGOs in regional development through decentralized governance. The reform, to some extent, indeed has resulted some achievements. One of remarkable achievements is the increase of implementing democracy. Nowadays, president, governors, majors and head of municipalities are elected directly by people. The NGOs are also having bigger opportunities in voice as well as direct or indirect participation in government activities. Through many achievements in building democratic system, Indonesia has been positioned as the third biggest democratic countries in the world after USA and India. However, although building democratic system is necessary it is not enough in fulfilling societal life. There is another important thing has not been accomplished yet since ten-yers reform. The thing is societal welfare. Many surveys including LSI survey reveal that public is satisfied with fighting corruption efforts, political system and democracy. But, they are still unsatisfied in terms of their welfare. This phenomena risen the issue, how far the role not only government but also NGOs. After reform, local governments indeed have more resources for regional development. Moreover, The NGOs also have more actors as result of democratization. However, it seems that their roles is not enough in guaranting societal welfare. It might be because of lack of synergy among the actors. As the result, their potential resources could not be spent efficiently in regional development.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

47

As a matter of facts, there are some misbehavior NGOs. Indeed they declare them selves as representators of societal interests. But, it is just for their interest in order to get amount of money from donors or sponsors. It means that some NGOs tend to be selfinterested and donor interested. The phenomena indeed may be stumbling blocks in fulfilling societal needs. This phenomena may in turn weaken societal movement integrity be counter-productive toward achieving regional development goals. In short, responsiveness norm should become a societal movement code of conduct in order the movement to be in line with achieving regional development goals. 5) Public Participation or People Involvement Norm

People involvement is the way how people or society to participate in planning, implementation and evaluation of societal actors’ activities. It means that people involvement is prerequisite not only in government 13 14 activities but also in societal actors activities . Peole involvement in societal actors’ activities can also be categorized as multystakeholders approach in which many stakeholders are involved in societal activities especially the beneficiaries. People participation could be fruitful in: first, matching societal activities with society’s needs. The society know more about them selves. So, they could contribute more on needed programs in order to be effective. Second, society involvement could decrease asymmetric information (lack of information) between societal actors as society representative and society especially beneficiaries. Third, People involvement could become arena of checks and balances among actors in regional development. 6) Synergy Norm

In Good Governance framework, people involvement is one of its fundamental element. In Good Societal Governance framework, however, it is not only stop up until people involvement. Instead, the involvement of various actors require synergic interaction among
13

14

Many academic discourses tend to focus on people involvement in Government activities. It has been advocated by Central for International Administration StudiesNational Institute of Public Administration (Pusat Kajian Administrasi International – Lembaga Administrasi International) since 2008.

48

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

those actors. The synergic interaction is needed in order to deal with various regional problems effectively and efficiently. Un-synergic interaction among those actors means every single actor including individual societal actors, departmental units in governments tend to go conducting activities in separate ways without any coordination among them. It may result in overlapping programs, over-costs consuming,in-efficient and in-effective outcomes of program, misallocated resources. Overlapping may happen when the same approaches are used by some actors to deal with same problem. Indeed, it may result in Wasteful resources. Alternatively, the resources could in efficient resource allocation. It happens because every actor perceive that they know more about problem and its solution without sharing information with other actors. In fact, other actors are doing the same thing. Synergy can be seen based on stakeholder approach and program or project management approach. From stakeholder point of view, synergy can be built in some layers. The first layer, vertical synergy, it is form of synergy which is built among. Many academic discourses tend to focus on people involvement in Government activities. It has been advocated by Central for International Administration StudiesNational Institute of Public Administration (Pusat Kajian Administrasi International–Lembaga Administrasi International) since 2008. societal actors, donors and internal management. The expected outcome of vertical synergy is integrity and cohesiveness among actors and among their programs. They cooperate and coordinate in order to determine which program is appropriate, by whom it will be done and from whom the resources come from. It aims at serving society for better life. The second layer, horizontal synergy, it is form of synergy which is built among societal actors them selves. Indeed, every societal actors has its own finance, personnel, organization and services. However, they have to recognize and consider the existence of their societal actors colleagues in order societal movement to be more powerful and have more integrity. So, they will get more trust from wider stakeholders especially the society (more specific: the beneficiaries). Then, the expected outcome of horizontal synergy is societal actors movement would be more powerful and trusted. The third layer, downward synergy, it is form of synergy which is built between societal actors and societal actors and society or beneficiaries. Among those three layers, the third layer is the core of societal actors’ roles and even not only the the core of their roles but

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

49

also the core of governments and private roles. It is said so because the roles either societal actors, government and private essentially is at last serving society. So, in playing their roles, societal actors have to built synergy with society or beneficiaries. Even, it is a must. Societal actors may know societal problems, but society may know more the problems. The society who have been through the problems. So, they will know more the problems. For this reason societal actors should collaborate and cooperate with society. Otherwise, they would design programs for society which are in the field is unnecessary. The three layers has its own complication degree. The first layer, vertical synergy has the least complicated one. It is easy for societal actors to build synergy in internal management because it is the place where they run their Box 1 daily activities. Fictive NGOs in South Sumatera Synergy with donors A donor has given amount of significant or sponsors is also money to an NGO in North Sumatera rather easy. based on their agreement. After project Automatically, the period passed on, the donor wanted to societal actors will know the accomplishment of project. adjust their But, the donor could not keep in touch operations to donors’ anymore with the NGO. Then contact or sponsors’ number could not be accessed. The expectation. address is also not clear. So, The NGO Otherwise, they asked Government Province of North would not get Sumatera (Dinas Kesbang Linmas) to financial resources. get any information about the NGO. But, In another world, the because it has not registered yet, so the societal actors would Donor could not get such information. In behave as an arm this case the Donor worse of. The society length of donors or is also worse of because the needees has lost opportunity to get beneficial sponsors. If it is just resources. to be registered, the interaction between 15 societal actors and government is relatively easy . Nevertheless there are many NGOs have not been registered yet in Ministry of Home Affairs (Direktorat Jenderal Kesbang Linmas). It might reflect
15

In Indonesian case there are thousands NGOs are unregistered in Ministry of Home Affairs (MOHA) or Local Government. So, its really difficult to know the real exact numbers of NGOs.

50

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

unwillingness of some NGOs to be registered to the government body due to “unfinished stereotyping”. Some NGOs still treat government as their common enemy as it was in the past regime (Orde Baru). Some of them thought that registration is not necessary because they have no benefit from it. Regardless of these views, registration is needed partly because it may become data-base for strengthening positive interaction between societal government and societal actors in fulfilling society needs. The case of fictive NGOs in North Sumatera, see box 1, may become bad lesson. Synergy can also be developed based on project or program management stages.The first stage of synergy development is synergic planning. This stage is critical because it determines roadmap for the next stages. The synergic planning should be done by utilizing multy-stakeholders to guarantee the efectivity and efficiency of implemented programs or projects. It involves not only vertical stakeholders but also horizontal and downward stakeholders to synchronize their programs or projects and guarantee programs to be effective and efficient. The second stage is synergic implementation. Only synergic in planning may mad the programs or projects useless. The programs are really having effect if it is implemented efficiently and effectively. In order to do so, it requires synergic implementation. Who does what, with whom, to which targets must be clear in the field. Otherwise, the programs are useless. So, it is important to put the program into effect. The third important stage is synergic evaluation. It is also really required in order to guarantee the existence of checks and balances among stakeholders (either vertical, horizontal or downward stakeholders). Its existence might result in minimizing or preventing abusing resources for individual or group interests.Synergy also can be built in terms of target or object of programs or projects. It may be not efficient if too many same programs from many providers have the same target or object. It is better if various actors or providers distribute programs or projects to various objects or projects.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

51

Picture 3. Multy-Actors Synergy Map

In reality, however, generally, the synergy between societal actors and government in Indonesian case has not been achieved yet. It seems that some government institutions and some Societal actors are still in conflict situation. From government side, societal actors especially NGOs are seen as the cruel opposition enemy. From societal actors side, the government is seen as un-trusted actor. The government has decay agenda for apparatus interests rather than for society. Then, both of two parties are stereotyping each other. As result, in stead of building synergic cooperation between government and societal actors, there are some overlapping programs in dealing with public issues. 7) Local Wisdom

One of success factor of globalization effect on Indonesian development is modernization of various life dimensions. This achievement to some extent has benefit for the life of the nation. However, there are also some negative impact on social life. Its impact may harm not only this generation but also next generation (the future of Indonesia). One negative result of modernization is there are many alienated society in individualistic and materialistic life. It in turns degrades the life of spirit community selfhelp (gotong-royong) and increases individual ego, aggressive behaviors and conflicts.Such condition may indeed weaken the pivotal strength of the state. While, in fact Indonesian local values provide local wisdom which may have

52

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

more positive impacts on better social life. Some good practices could be found in Bali through Subak culture and in Padang through cultural-based development “adat bersandi sara dan sara bersandi kitabullah”. Making Good Societal Governance Work It important that Good Societal Governance as governing system for societal actors need to be derived into more operational and applicable instrument. For this purpose, Tabel 1 proposes instrumental guidance how to implement Good Societal Governance in the field. The proposal clarifies each norm, instrument to be applied and indicators to see the progress of implementing Good Societal Governance.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

53

54

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

55

56

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

57

In order to provide clearer guidance, Tabel 2 indicates the Do and Don’t in Good Societal Governance. It could become alternative indicators to measure how far the societal actors implement Good Societal Governance principles. Tabel 2: Do and Don’t in Implementing Good Societal Governance

58

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

59

60

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Those norms have been advocated to various stakeholders including some NGOs and government authorities in NTB and Samarinda (East Kalimantan). Most of them saw the implementation of GSG norm is very urgent. Even from the fact shows that within a month there are more than 2000 persons have visited the concept in the internet. Some of them downloaded it and said liked it. It is also has been ranked as one of the most explore for non-fiction category. But, indeed the effort is still not enough. Instead more effective advocacy is needed. Even, more institutionalized GSG is more needed.

CLOSING It is important that the cohesiveness among Indonesia’s development actors is prerequisite in order to build better Indonesian development. The absent, governing system in societal actors, however, may become stumbling block for better development. For this reason, Good Societal Governance could become an alternative solution to synergize various actors into more cohesive and auto-therapeutic interaction in achieving national goals. The concept has been appreciated and even followed by many stakeholders. However, more action is needed. One of the most important action is institutionalizing the concept including internalizing the concept in The New Law of Societal Governance. Another action is NGOs and local agreements of code of conduct; giving incentive for best societal actors in serving society for better development.

REFERENCE Adrian, Leftwich. 1993. Governance, Democracy and Development in The Third World. Third World Quarterly, 1993, Vol. 14 Issue 3, p605, 21p. Batley, RA. 2002. The Changing Role of the State in Development. The Companion to Development Studies, Editors: V Desai, R B Potter. Arnold: London. 135-139. Fahrudin, Wawan. 2003. Akuntabilitas dan Transparansi LSM dalamProses Transformasi Sosial Menuju Masyarakat Demokratis di Indonesia., CIVIC Vol.1 No.2 Agustus 200. http://www.fisip.ui.ac.id/pacivisui/repository/ civic/civic2/ 4Wawan.pdf

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

61

Fernanda, Desi.1998. Experience of Indonesia’s Governance Reforms: Is Good Governance a Myth or Reality? Paper presented on IIAS Specialised Conference, Ankara, June 23-26 2008. Graham, John; Amos, Bruce; and Plumptre, Tim. 2003. Principles for Good Governance in the 21st Century. Policy Brief No.15. August 2003. Institute on Governance. www.iog.ca/publications/policy briefs/ Hyden, G. 1983. No Shortcuts to Progress: African Development Management in Perspective. London, Heinemann. Ibrahim, Rustam. Agenda LSM Menyongsong Tahun 2000. Jakarta: Cesda, LP3ES,1997. Ismawan, Bambang. 2008. Memetakan Kontribusi Organisasi Masyarakat Sipil dalam Mencapai Cita-Cita Kemerdekaan. Paper presented on Seminar ”Harmonisasi Kemitraan antara Pemerintah dan LSM: Realitas dan Harapan”, Bandung, 23 Mei 2008. Koiiman, J. 1999. Socio-Political Governance: Overview, Reflections and Design. Public Management, Vol. 1, No.1, pp. 67-92. Larbi, G.A. 1999. The New Public Management Approach and Crisis States. Discussion paper 2 No. 112, Geneva, United Nations Research Institute for Social Development. Legawa, TA.. 2006. Establishing Good Governance: The Experience of. draft paper to be presented in the Workshop on Governance and Development, organized by Bangladesh Institute of Development Studies (BIDS) in partnership with the World Bank, DFID, the Netherlands Embassy and CIDA, Dhaka 11-12, November 2006 (http://www.sdnpbd.org/ sdi/issues/governance /governance/tommi%20legowo_Indonesia.pdf LPES. 2001. Direktori LSM 2001. Jakarta. LP3ES. Lembaga Administrasi Negara. 2008. Advokasi dan Pelembagaan Norma Kesewadayaan Masyarakat dalam rangka Good Governance. Lembaga Administrasi Negara. Mrquette. 2004. Governance: Introduction to Concepts, Principles and Institutions. International Development Department, University of Birmingham.

62

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Riggs, F. 1964. Administration in Developing Countries: The Theory of Prismatic Societies. Boston, Houghton Miflin. UNDP. 1997. Reconceptualising Governance. Discussion paper 2, Management Development and Governance Division, Bureau for Policy and Programme Support, United Nations Development Programme, New York January 1997. WANGO. 2004. Code of Ethics and Conduct for NGOs. World Association of Non- Governmental Organization. Weber, Max. 1947. The Theory of Social and Economic Organization. New York, Oxford University Press. World Bank. 1997. World Development Report 1997: The State in Changing World. New York, N.Y.: Oxford University Press.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

63

NEGARA KEBANGSAAN DARI PERSPEKTIF KOMUNIKASI Emrus Sihombing Universitas Pelita Harapan Emrus sihombing@gmail.com ABSTRAK Bentuk negara, termasuk Negara Kebangsaan merupakan konstruksi sosial sebagai produk proses komunikasi antar warga dalam suatu teritorial negara atau yang akan membentuk negara. Pada proses komunikasi tersebut terjadi negosiasi (pertukaran) menuju kesepakatan sosial dalam memandang bentuk kebersamaan yang dibangun dalam suatu negara. Dengan demikian, Negara Kebangsaan sebagai realitas sosial yang sangat cair, dapat berubah bahkan berganti menjadi antara lain bentuk negara ke-agama-an. Lihat saja indikasi perubahan tersebut dari upaya beberapa aktor politik di Indonesia melakukan sosialisasi politik dalam rangka terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII). Konstruksi maupun usaha penggantian bentuk negara pasti terjadi pada suatu dinamika sosial yang sangat complicated. Tidak hanya karena keinginan sekelompok kecil aktor sosial semata, tetapi adanya peluang terjadinya proses komunikasi politik menciptakan kondisi sosial, budaya, ekonomi, politik dan dinamika internasional yang kondusif mendorong tawaran ideologi yang melahirkan bentuk negara tertentu yang dianggap lebih mampu memenuhi kebutuhan warga negara dalam rangka menyelesaikan berbagai persoalan sosial kenegaraan daripada tanpa atau bentuk negara sebelumnya. Dengan demikian, adanya realitas NII di Indonesia sebagai produk proses komunikasi politik yang pernah dan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Dengan kata lain, NII merupakan produk sosial politik bersama, baik langsung maupun tidak langsung. Karena itu, proses konstruksi Negara Kebangsaan tidak hanya berlangsung pada saat awal perumusan bentuk negara saja, tetapi terus menerus sejak keinginan pembentukan negara hingga tanpa akhir. Kata kunci: negara kebangsaan

64

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Negara kita terdiri dari berbagai suku bangsa. Karena itu, para pendiri bangsa ini merumuskan bahwa Indonesia menganut sistem negara kebangsaan. Bukan negara keagamaan, atau bentuk lainnya. Indonesia sebagai negara kebangsaan tetap mengalami proses politik. Perjalanan proses politik di Indonesia masih fluktuatif. Kadang sesat stabil, kadang juga bergejolak.Mulai dari masa para kemerdekaan hingga kinitindakan radikalmasih terjadi. Belum ada tanda-tanda akhir dari tindakan yang dapat menewaskan rakyat tak berdosa itu. Kadang pemerintah seakan gamang bertindak tegas dan belum berani memberikan garansi keamanan bagi setiap wargadari aksi teroris. Kini rasa keamanan terus terusik. Keselamatan masyarakat berada pada siatuasi tidak pasti. Ancaman bom membayangi kehidupan keseharian kita. Apalagi lokasi penyebaran bom dilakukan dengan acak. Bahkan ada yang diduga bom ditanam berdekatan dengan jalan raya yang juga dilalui Presiden. Sebagai tindakan teror, tak seorang pun tahu pasti kapan dan dimana bom meledak. Aksi radikal dimotori teroris sudah berlangsung cukup lama di negara ini. Cepat atau lambat, tindakan tersebut dapat menjadi ancaman serius terhadap rasa kebagsaan kita.Dampaknya, mengganggu semua kehidupan sosial, seperti politik, ekonomi, budaya, keamanan dan kunjungan wisata. Energi bangsa terkuras menanggulangi aktivitas radikalisme. Program peningkatan kesejahteraan rakyat terbengkalai.Akibat lanjut, dapat meruntuhkan NKRI, dan boleh jadi memunculkan ideologi baru seperti NII. Perilaku teroris tidak hanya merusak sarana publik, tetapi lebih jauh menelan korban manusia. Sekejap seseorang bisa menjadi korban luka parah dan meninggal pada hitungan detik. Hak azasi hidup seseorang tercabut seketika dengan mudah oleh ulah segelintir orang tak bertangungjawab itu. Gerakan radikal ini tentu mempunyai agenda politik jangka panjang yaitu mengubah Indonesia dari negara kebangsaan menjadi bentuk lain. Bisa jadi membentuk NII. Kenyataan menunjukkan, sekalipun kerja keras Polri menghentikan aksi teroris telah dan sedang dilakukan, namun penyebaran dan ledakan bom masih tetap berlangsung. Melihat eskalasi penyebarannya, sasaran bom sudah tidak segmented. Tempat keramaian menjadi inceran utama. Bahkan, teroris merambah sasaran lebih luas. Lihat saja rumah ibadah - Mesjid dan Gereja -

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

65

misalnya, yang mereka sebut digunakan oleh para kafir, sudah menjadi target utama ledakan bom. Karena itu, tak terhindarkan setiap orang, apapun latar belakangnya, berpeluang menjadi korban radikalisme. Penyebaran dan peledakan bom di berbagai tempat publik mengacaukan keamanan dan sekaligus dapat menelan sebanyak mungkin korban manusia. Rasa keamanan warga menjadi sulit terwujud. Ini sebagai bukti, eksistensi teroris masih tetap masif di republik ini. Akankah realitas ketidakamanan warga di negara yang demokrasi, pluralis, kebangsaan, ramah, toleran dan menyepakati landasan Bhinneka Tunggal Ika ini terus eksis? Jika realitas itu terjadi, negara telah gagal melindungi segenap warga negara. Eksistensi negara antara ada dan tiada. Negara kebangsaan bisa terancam. Rasa curiga antar warga pun semakin meningkat. Efek lanjutannya, mendorong tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan institusi keamanan negara. Legitimasi pemerintah, cepat atau lambat, digerogoti secara sistemik sebagai dampak aksi teroris. Pada titik tertentu, kepercayaan rakyat terhadap pemangku kekuasaan negara semakin memudar, sebagai proses pembusukan rasa kebangsaan. Diperburuk lagi dengan semaraknya pejabat publik melakukan korupsi menggerogoti keuangan negara. Hal itu menjadi pendorongturunnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Kondisi patologi sosial tersebut sangat berkontribusi tumbuhnya radikalisme di negeri ini sebagai produk dari interaksi sosial melalui proses komunikasi antar partisipan yang dapat membetuk realitas sosial baru yang menolak negara kebangsan.

MANUSIA PUSAT REALITAS Proses sosial menunjukkan, termasuk konstruksi negara kebangsaan, manusia menjadi pusat dari realitas sosial. Hal ini sejalan dengan yang terjadi pada Zaman Renaisance, sebagai era manusia kembali pada tradisi Yunani, yang memberikan otonomi pada rasio memahami kehidupan. Manusia tidak lagi menjadi obyek pasif yang hanya dipahami dan dihayati, namun mempunyai kompetensi dan kemandirian bereksistensi secara aktif. Manusia sebagai penentu sentral dan sekaligus sebagai pusat dari realitas.Sebagai era subyektivitas yang telah mendorong gerakan humanisme, suatu gerakan yang melepaskan diri dari belenggu kekuasaan gereja.Gerakan ini mengajarkan, manusia pada prinsipnya adalah

66

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

bebas dan berkuasa penuh atas eksistensinya sendiri dan masa depannya (Abidin, 2002:26). Analisis terhadap manusia sebagai pusat realitas, membuat para ilmuwan mengkaji manusia dari berbagai perspektif.Diantara perspektif yang muncul berkaitan dengan obyek manusia adalah mengungkap nilai dan makna dari manusia tersebut.Paradigma ini melahirkan telaah kualitatif.Salah satu upaya yang dilakukan para ilmuwan memahami secara kualitatif terhadap manusia adalah pendekatan fenomenologi, salah satu pelopornya adalah Edmund Husserl. Husserl (dalam Abidin, 2002:141) berpandangan, manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang berkesadaran dan berkat aktivitas-aktivitas kesadarannya manusia mampu mengatasi dirinya dan menciptakan dunianya yang khas bagi dirinya. Jadi, sutu teritorial geografis tertentu bisa saja berbentuk nega kebangsaan atau di luar negara kebangsaan. Misalnya, adanya usaha pembentukan NII. Sebab, kesadaran manusia selalu terkait dengan suatu yang disadari. Kesadaran mengandung unsur ada suatu subyek, subyek terbuka untuk obyek, dan obyek itu ada.Karena itu, kesadaran menjadi intensionalitas. Hamersma (1983:117) mengemukakan hasil pemikiran Husserl tentang kesadaran yang dimiliki oleh manusia.Salah satu yang muncul sebagai hasil fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran. Kesadaran kita tidak dapat dibayangkan tanpa suatu yang disadari.Supaya ada kesadaran memang diandaikan tiga hal, yaitu bahwa ada suatu subyek, bahwa subyek ini terbuka untuk obyek-obyek, dan bahwa ada obyek-obyek. Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek, disebut “intensionalitas”, dari bahasa Latin intendere: “menuju ke”. Kiranya tidak tepat mengatakan bahwa kesadaran “mempunyai intensionalitas”.Kesadaran itu justru intensionalitas. Entah kita sungguh-sungguh melihat suatu pemandangan, entah hanya mengira melihat pemandangan itu, bila kita masih tetap menyadari perbedaan antara kedua kemungkinan ini maka kita tetap menyadari “sesuatu”. Untuk mengungkap tentang kesadaran manusia adalah dengan pendekatan fenomenologi. Analisis fenomenologis, menurut Mulyana (2001:63), adalah mengkonstruksi dunia kehidupan manusia “sebenarnya” dalam bentuk yang mereka alami sendiri. Realitas dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa anggota masyarakat berbagi persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

67

melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi. Itu semua untuk mengkonsgruksi lingkungan sosial yang mereka kehendaki bersama seperti membentuk negara kebangsaan atau kontra negara kebangsaan. Oleh karena itu, manusia memiliki konsep diri memandang dunia di sekitarnya sesuai dengan yang diinginkan berdasarkan kesadarannya. Dengan kesadarannya, manusia mampu mengelola tindakannya, sehingga tidak begitu saja menerima stimuli yang datang dari lingkungannya. Terkait dengan kesadaran yang dimiliki oleh manusia, Dewey, sebagaimana ditulis kembali oleh Veeger (1993:221), mengemukakan, pikiran manusia bukanlah sebagai fotocopy dunia luar, melainkan sebagai hasil tindakan manusia sendiri. Manusia selalu terlibat aktif dalam proses pengenalan. Ia mendapatkan kesadarannya pada hal-hal yang ada di luar dirinya. Dalam proses aktif ini pikiran manusia tidak hanya berperan menjadi “instrument” atau sarana untuk dapat bertindak, tetapi menjadi bagian dari sikap kelakukan manusia. Teori pengenalan ini menghasilkan suatu citra manusia yang dinamis, antideterministik, dan penuh optimisme. Manusia tidak secara prinsipil menerima begitu saja pengetahuannya dari luar, tetapi secara aktif dan dinamis membentuk sendiri pengetahuan dan kelakuannya. Lingkungan hidup dan situasinya tidak mendeterminir dia, tetapi merupakan kondisi-kondisi terhadap hal yang berkaitan dengannya dalam menentukan sikap. Gambaran manusia ini mengandaikan kepercayaan akan kemampuan manusia, yang mendasari optimisme. Oleh karena itu, aktor sosial, termasuk para politik, sebagai individu mampu berpikir dengan kesadarannya secara bebas berdasarkan konsep dirinya. Mereka tidak hanya sekedar mau menerima apa adanya pendapat-pendapat yang berasal dari lingkungan di mana mereka berada, tetapi juga mampu memberi kritik sesuai dengan sikap yang diambil berdasarkan pertimbangan kesadaran murni yang penuh. Hal tersebut sejalan dengan yang ditegaskan Schutz (dalam Mulyana, 2001:62) bahwa para aktor sosial menafsirkan sifat realitas yang relevan dengan kepentingan mereka.

IDEOLOGI KONSTRUKSI KOMUNIKASI Radikalisme merupakan tindakan politik.Sebagai tindakan politik, radikalisme mempunyai agenda ideologi tertentu.Jadi, ada usaha menggantikan ideologi yang sudah “mapan” dengan ideologi “baru”.

68

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Ideologi kebangsaan, misalnya, melalui radikalisme berganti menjadi ideologi baru, seperti ideologi ke-agama-an. Ideologi baru ini membawa seperangkat sistem ketatanegaraan yang berbeda dari ideologi yang sebelumnya. Sistem kekuasaan dan pemerintahan berubah.Pemegang kekuasaan pun pasti “pendatang baru”. Dalam suatu sistem sosial, termasuk sistem kenegaraan, selalu memiliki suatu ideologi. Dengan kata lain, suatu sistem sosial mempunyai ideologi yang disepakati melalui interaksi komunikasi sosial yang sangat panjang. Ideologi sebagai produk kesepakatan sosial dapat ditelusuri melalui awal lahirnya istilah ideologi.Istilah “ideologi” dipopulerkan filosof Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1796), pada masa revolusi Perancis. Artinya, “ilmu tentang ide-ide” yang mengkaji tentang asal usul, evolusi, dan hakekat ide (Reo M. Cristenson dkk 1971, 3-4; John B. Thompson 2004, 51; Jorge Larrain 1996, 7). Definisi ideologi dikemukakan oleh banyak pakar dari berbagai perspektif mereka. Raymond Williams sebagaimana dikutip James Lull (Alih Bahasa, Abadi, 1998; 3) mengemukakan ideologi sebagai “himpunan ide-ide yang muncul dari seperangkat kepentingan material tertentu atau, secara lebih luas, dari sebuah kelas atau kelompok tertentu”. Reo M. Cristenson dkk (1971; 5) mendefinisikan ideology is a belief system that explains and justifies a preferred political order for society, either existing or proposed, and offers a strategy (processes, institusional arrangements, program) for its attinment. Sedangkan menurut Magnis-Susena sebagaimana dikutip Alex Sobur (2001;62) ideologi dianggap sebagai sistem berpikir yang sudah terkena distorsi, entah disadari, entah tidak. Biasanya “ideologi” sekaligus dilihat sebagai sarana kelas atau kelompok yang berkuasa untuk melegitimasikan kekuasaannya secara tidak wajar. James Lull (Alih Bahasa Abadi, 1998;1-2) mengatakan, dalam pengertian yang paling umum dan lunak, ideologi adalah pikiran yang terorganisir, yakni nilai, orientasi, dan kecenderungan yang saling melengkapi sehingga membentuk perspektif-perspektif ide yang diungkapkan melalui komunikasi dengan media teknologi dan komunikasi antar pribadi. Dengan demikian, ideologi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem nilai yang terbentuk melalui interaksi sosial yang dapat merupakan sistem kepercayaan sebagai landasan bagi anggota sistem sosial (individu atau kelompok) melakukan suatu tindakan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

69

sosial dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, ideologi sebagai suatu kesepakatan sosial dan menjadi perekat suatu sistem sosial. Namun dalam tataran implementasi ideologi, terdapat dua pendekatan yang saling berbeda. Alex Sobur (2001;61) menyimpulkan pendapat Jorge Larrain, istilah ideologi mempunyai dua pengertian yang bertolak belakang. Secara positif, ideologi dipersepsi sebagai suatu pandangan dunia (worldview) yang menyatakan nilai kelompok sosial tertentu membela dan memajukan kepentingan mereka. Sedangkan secara negatif, ideologi dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu suatu kebutuhan melakukan penipuan dengan cara memutarbalikkan pemahaman orang mengenai realitas sosial. Artinya, bisa terjadi ideologi yang satu menjadi kontra ideologi lain. Selanjutnya, masih menurut John B. Thompson (2004;19), konsep ideologi dapat digunakan untuk merujuk cara-cara bagaimana makna digunakan, dalam hal tertentu, untuk membangun dan mempertahankan relasi kekuasaan yang secara sistematis bersifat asimetris – yang kemudian ia sebut ‘relasi dominasi. Ideologi, secara luas dinyatakan, adalah makna yang digunakan untuk kekuasaan. Karena itu, studi ideologi masyarakat menginvestigasi cara-cara bagaimana makna dikonstruk dan disampaikan melalui bentuk-bentuk symbol dalam jenisnya yang bervariasi, dari ungkapan bahasa seharihari hingga citra dan teks yang kompleks; ia mensyaratkan kita untuk menginvestigasi konteks sosial tempat diterapkan dan disebarkannya bentuk-bentuk symbol; dan ia menuntut kita mempertanyakan apakah, demikian juga bagaimana, makna yang dimobilisir bentukbentuk symbol digunakan, dalam kontekss tertentu, untuk membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Lebih lanjut John B. Thompson (2004; 51) mengemukakan, ideologi adalah sebuah sistem representasi yang berusaha mempertahankan keberadaan relasi kelas dominant melalui indvidu yang selalu berorientasi pada masa lalunya daripada masa depan, atau pada citra dan ide yang menyebunyikan relasi kelas dan berusaha mengelak dari kejaran kolektif perubahan sosial. Oleh karena itu, ideologi menurut John B. Thompson (2004; 90), sangat memperhatikan caracara bagaimana bentuk-bentuk symbol saling-menyilang dengan relasi kekuasaan. Memperhatikan cara ketika makna dikerahkan dalam dunia sosial dan diarahkan untuk mendukung individu atau kelompok yang menduduki posisi kekuasaan. Jika focus ini

70

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

didefinisikan secara lebih tajam: mempelajari ideologi berarti mempelajari cara-cara bagaimana makna diarahkan untuk membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Dengan demikian, ideologi sebagai produk proses sosial dengan menggunakan komunikasi menciptakan makna tertentu pada seperangkat simbol yang disepakati sebagai ideologi sekelompok sosial tertentu, atau suatu negara. Dengan demikian, ideologi suatu negara dapat berupa kenagsaan atau doktrin keagamaan tertentu. Realitas tersebut menunjukkan bahwa ideologi sangat cair dan dapat berubah dan bahkan berganti.Hubungan saling pengaruh antar ideologi menjadi hal yang wajar dari perspektif komunikasi.Lihat saja saling pengaruh antara ideologi demokrasi dengan komunisme. Atau atas dasar ajaran keagamaan tertentu.

KEBANGSAAN PRODUK KOMUNIKASI Negara Kebangsaan sebagai produk interaksi melalui komunikasi antar aktor sosial.Dari perspektif subyektif, semua manusia adalah aktor sosial. Manusia yang terlibat dalam proses komunikasi dipandang sebagai partisipan bukan komunikator dan komunikan. Sebab, setiap manasia mempunyai kehendak bebas, cita-cita, perasaan, kreatif dan sebagainya. Karena itu, aktor merupakan konsep sentral dalam kajian ilmu sosial.Ritzer (2003:506) mengemukakan batasan tentang konsep aktor, bahwa konsep agen atau aktor pada umumnya merujuk kepada tingkat mikro, atau aktor manusia individual, konsep ini pun dapat merujuk kepada kolektivitas aktor yang bertindak.Jadi, aktor dapat berupa individu, organisasi, kelas sosial tertentu, atau bangsa. Pada karya lainnya Ritzer (2005:1) menjelaskan, bahwa aktor adalah manusia yang melakukan tindakan sosial yang bertujuan menanamkan secara simbolis “sesuatu”, “identitas”, hubungan, dan penyajian kemampuan sekumpulan jaringan di dalam bermacammacam jaringan yang lain kepada manusia lain. Kemudian Ritzer (2005:2) menguraikan, tindakan sosial terjadi ketika adanya intervensi pikiran diantara suatu stimulus, seorang aktor dan respon mereka selanjutnya. Stimulus merupakan simbol yang ditangkap oleh aktor dari luar dirinya.Blumer (Sukidin, 2002) pun menegaskan bahwa individu merupakan aktor, bukan reaktor. Reaktor memandang perilaku manusia sebagai reaksi dari stimuli yang diterimanya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

71

Dengan demikian, tindakan manusia merupakan tindakan yang disengaja dan bermakna dalam hubungannya dengan manusia lain. Terkait dengan itu, Weber (dalam Mulyana, 2001:61) mengatakan, tindakan sosial merupakan perilaku manusia ketika dan sejauh individu memberikan suatu makna subjektif terhadap perilaku tersebut. Tindakan sosial merupakan perilaku manusia ketika dan sejauh individu memberikan suatu makna subjektif terhadap perilaku tersebut.Tindakan di sini bisa terbuka atau tersembunyi, bisa merupakan intervensi positif dalam suatu situasi atau sengaja berdiam diri sebagai tanda setuju dalam situasi tersebut. Tindakan bermakna sosial sejauh, berdasarkan makna subjektifnya yang diberikan oleh individu atau kumpulan individu, tindakan itu mempertimbangkan perilaku orang lain dan karenanya diorientasikan dalam penampilannya. Sehubungan dengan itu, negara kebangsaan pun menjadi produk interakasi melalui tindakan komunikasi antar partisipan komunikasi.

MENGGELORAKAN KEBANGSAAN Oleh karena ideologi sebagai realitas yang cair, melestarikan ideologi yang sudah eksis – Pancasila, NKR dan kebangsaan - perlu digelorakan melalui strtategi komunikasi politik agar tidak ada kesempatan sedetik dan sejengkal wilayah Indonesia dijadikan tempat tindakan radikal yang mengusik keamanan warga yang tujuan akhirnya adalah mematahkan Indonesia sebagai Negara kebangsaan. Untuk itu, diperlukan gerakan semesta dengan menyatukan seluruh kekuatan bangsa Indonesia menghadapi berbagai aksi radikalisme dalam bentuk dan motif apapun. Untuk mencegah, menyangkal dan menghentikan kesemenaan teroris sangat perlu digelorakan rasa kebangsaan dengan gerakan semesta mengubah radikalisasi menjadi de-radikalisasi (pluralismekebersamaan). Semua kekuatan bangsa dioptimalisasi membatasi ruang gerak perilaku anarkis baik yang “dibungkus” seolah-olah menegakkan kebenaran. Karena itu, tidak ada pilihan bagi bangsa ini, kecuali merapatkan barisan dan bergandengan tangan dengan satu bahasa dan tindakan dengan mengutuk serta menolak teroris. Jadi, jangan sampai ada perbedaan pandangan memberi ruang bagi gerakan radikal di bumi pertiwi ini. Ketika teroris melakukan bom bunuh diri di suatu rumah ibadah agama tertentu, misalnya, sangat

72

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kurang elok jika ada tokoh masyarakat, terutama elit politik, merespon dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut sebagai usaha memecah belah antar umat dari suatu agama tertentu. Pandangan semacam itu, dari perspektif hermeneutik, mengandung makna seolah tidak memberikan dukungan penuh menghentikan aksi teroris apapun motifnya. Namun beda maknanya jika para elit mengatakan, teroris harus ditolak, dikutuk, dihadapi dan dihentikan, apapun motif dengan kekuatan semesta bangsa. Sembari memberikan dukungan (baik moral dan informasi) secara penuh kepada aparat keamanan, khususnya kepolisian kita, menyingkap dan menghentikan semua aksi teroris. Pandangan kedua ini lebih tegas menolak radikalisme dalam bentuk dan motif apapun. Karena itu, menghentikan tindakan teroris, perbedaan pandangan politik, nilai dan kepentingan sesaat dan sempit mutlak harus dikesampingkan. Sekaligus menyatukan pikiran dan gerakan menolak berbagai manuver politik yang biasanya dilakukan secara laten. Ruang dan gerak teroris dapat diminimalisasi. Akhirnya dapat dihentikan. Sehubungan dengan itu, kekuatan bangsa harus bersatu padu mentawarkan ideologi, ajaran dan tindakan teroris, baik yang dilakukan perorangan, organisasi kemasyarakatan tertentu, maupun gerakan bawah tanah. Sehingga, secara natural rakyat mempunyai kemandirian menolak radikalisme dan tindakan cuci otak yang masif terjadi saat ini. Pada konstruksi sosial semacam itu, teroris hengkang karena frustasi. Untuk menjangkarkan hal tersebut bagi segenap warga Indonesia, gerakan semesta harus dimulai dari unit sosial yang paling mikro, seperti keluarga, RT, kelompok kecil diskusi ke-agamaan hingga organisasi sosial yang lebih makro, seperti lembaga pertahanan keamanan negara. Namun yang berada di garda paling depan tetap pemangku kekuasaan negara yaitu legislatif, eksekutif dan judikatif. Ketiganya harus sejalan dan sinergi. Tidak saling berseberangan dan menyalahkan menghadapi teroris. Peran legislatif tidak hanya membuat regulasi, tetapi jauh lebih baik memberikan dukungan politik penuh kepada aparat keamanan menangani teroris. Eksekutif di bawah koordinasi presiden melakukan deteksi dini, bertindak tegas dan cepat agar teroris tidak sempat melakukan aksinya. Meminimalkan atau kalau boleh tidak menimbulkan korban manusia. Sedangkan judikatif memberikan sanksi efek jera bagi pelaku teroris yang dapat menjadi rujukan juridisprodensi keputusan pengadilan berikutnya. Karena itu, gerakan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

73

semesta tidak sebatas slogan. Namun, menjadi kekuatan real, tumbuh dan berkembang pada setiap denyut kehidupan sosial. Untuk merealisasikan hal tersebut, menjadi sangat urgenmenyusun dan melakukan strategi komunikasi berkelanjutan membangun realitas sosial untuk mengkonstruksi makna dan kesadaran bagi seluruh warga tentang antara lain, bahwa Negara Indonesia adalah negara kebangsaan bukan negara agama. Selain itu, membentuk peta kognisi pada setiap warga bahwa Negara Kebangsaan Indonesia berdasarkan Pancasila dipastikan sejalan dengan ajaran agama apapun yang dianut oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, tindakan saling mengkafirkan, apalagi mengkafirkan orang tua sendiri tidak terjadi lagi.Yakinlah.

SUBURNYA KONTRA KEBANGSAAN Sebagaimana uraian di atas, negara kebangsaan sebagai produk sosial, maka suburnya kontra kebangsaan juga sebagai hasil dari interaksi sosial karena negara tidak mampu mengurus negara kebangsaan, sehingga menimbulkan berbagai masalah dalam suatu negara. Atau disebut sebagai patologi sosial. Di Indonesia, patologi sosial, yang mendorong suburnya kontra kebangsaan, sudah sangat kronis. Negara ini sedang dirundung berbagai masalah. Cilakanya, patologi sosial tersebut justru tumbuh dan berkembang pada lembaga-lembaga negara, yang seharusnya berfungsi menjaga, merawat dan mengobati patologi sosial tersebut. Sejumlah patologi sosial di Indonesia saat ini sedang berlangsung. Para elit politik di partai, misalnya, menjdi bagian dari patalogi sosial. Partai dan elit politik belum berfungsi maksimal sebagai solusi bagi Indonesia. Kenyataan menunjukkan, banyak elit politik menjadi virus bagi republik ini. Kalau lah kita sebagai anak bangsa melihat dengan mata hati tak akan tega menyaksikan perjalanan kehidupan bangsa kita yang masih tetap dari derita ke derita. Ibu Pertiwi tampak menangis tersendu-sendu meneteskan air mata menahan rasa sakit. Negeri ini sudah ibarat orang sakit kronis.Jangankan berjalan, berdiripun sudah tak mampu. Seakan bangsa ini berbaring di bale-bale anyaman bambu lapuk sebagai simbol ketakberdayaan fisik dan ketidak mampuan ekonomi menyembuhkan penyakit dari berbagai “virus”

74

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

korupsi. Padahal, bangsa ini dikaruniai Tuhan dengan melimbah sumberdaya alam. Virus korupsi telah menyebar ke semua sendi kehidupan sosial, baik secara horizontal maupun vertikal. Buktinya, begitu masifnya penyimpangan terjadi pada semua lembaga negara. Fakta menunjukkan, korupsi tidak hanya terjadi pada rana eksekutif sebagai pembuat kebijakan dan pelaksana program kesejahteraan rakyat, tetapi aparat lembaga penegak hukum yang seharusnya berfungsi sebagai "juri" malah turut korupsi, mulai dari kepolisian, kejaksaan sampai dengan hakim di pengadilan sekalipun memutuskan atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Sangat ironis.Karena itu, tidak asing lagi di negeri seribu pulau ini aparat hukum bisa “dibeli”. Seakan tak mau kalah, anggota DPR yang seharusnya melakukan fungsi pengawasan terhadap eksekutif dan kepada penegak hukum, juga ikut serta “menggelorakan” korupsi keuangan negara.Ditambah lagi tekuaknya dugaan mafia anggaran di DPR.Bahkan sederetan anggota DPR (sudah tak sedikit) diduga atau terlibat tindak pidana korupsi. Cilakanya, para pelakunya berasal dari beberapa partai besar. Bahkan ada politisi dari Partai Demokrat (PD) sebagai partai pemenang pemilu dan pemerintah, yang sudah menduduki jabatan publik di eksekutif dan legislatif ikut serta terlibat dugaan atau tindak pidana korupsi. Kenyataan ini menunjukkan, partai dan anggota DPR menjadi bagian sumber masalah korupsi bangsa ini. Padahal, seharusnya partai menjadi solusi dari karut maruknya penanganan korupsi di Indonesia. Kehadiran partai sangat dibutuhkan melakukan pengawasan agar republik ini terhindar dari ancaman kebangkrutan sebagai akibat keganasan kolaborasi aparat birokrasi dengan politisi koruptif melakukan "pencurian" uang rakyat. Oleh karena itu, tidak heran kehidupan politisi koruptif sangat mewah. Buktinya, bandingkan kekayaan materi dan gaya hidup para elit politik sebelum, sedang dan sesudah menduduki jabatan publik. Seringkali menjadi pertanyaan publik, bukankah gaya hidup dan kekayaan mereka jauh lebih mewah dari gaji dan penghasilan resmi? Dari mana kemewahan itu diperoleh? Atau bisa saja belum terbongkar karena garda kekuasaan melindungi mereka. Namun melihat realitas politik pragmatis yang diperankan oleh para aktor politik dan partai yang sedang terjadi di Indonesia saat ini dapat memunculkan keraguan dan pertanyaan, sudahkah partai menjadi solusi penuntasan korupsi bagi negeri ini?

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

75

Jawabnya masih belum. Padahal, sesungguhnya partai pasti dapat menjadi bagian dari solusi pemberantasan korupsi, sepanjang ada ideliasme, kemauan politik semua aktor politik dan partai membersihkan diri dari praktek korupsi serta menghidari perilaku politik transaksional yang pragmatis. Utamanya harus dimotori partai yang sedang berkuasa. Sayangnya, justru ada kader partai pemenang pemilu terlibat dugaan dan atau korupsi. Ketika masuk ke zaman kemerdekaan, bangsa ini menaruh harapan besar terjadi perbaikan kehidupan rakyat. Namun, gejolak sosial dan politik silih berganti memperebutkan kursi kekuasaan.Persaingan politik antar partai semakin terbuka.Seperti terjadi perang “saudara”.Agenda kesejahteraan rakyat tertinggal.Partai menjadi alat dan kenderaan meraih kekuasaan bagi para aktor politik.Tak terhindarkan partai menjadi bagian dari masalah bangsa ini. Gejolak politik semakin memanas, puncaknya yang dikenal sebagai “ Gerakan, 30 September” yang melibatkan kekuatan politik masyarakat dan militer. Disengaja atau tidak, konflik politik yang sangat genting tersebut sangat kondusif melahirkan pemimpin dari kekuatan militer.Pada saat itu muncul pemerintahan rezim orde baru (Orba) di bawah pimpinan Jenderal Suharto.Ia memobilisasi kekuatan militer meredam gejolak politik selama rezim Orba berlangsung. Pelanggaran hak azasi terjadi. Dalam perjalanan rezim Orba, praktek kekuasaan semakin menguat.Demokrasi dipasung.Pemilu sebagai “topeng” demokrasi.Otoritarian mewarnai semua kebijakan politik dan pemerintahan.Partai menjadi alat legitimasi kebijakan pemerintahan otoriter.Semua partai “milik” pemerintah.Pada saat itu, DPR menjadi “stempel” pemerintah.Partai pun menjadi bagian dari masalah negeri kita. Pada rezim Orba ini, sistem pemerintahan mendorong kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) pada berbagai aspek kehidupan sosial untuk kepentingan orang yang ada pada lingkaran kekuasaan.Akibatnya, KKN melahirkan sekelompok kecil warga negara yang menikmati kemewahan di tengah kemelaratan puluhan juta rakyat Indonesia. Partai tidak memiliki kuasa melakukan kontrol terhadap kekuasaan pemerintah.Harapan peningkatan kesejahteraan rakyat menjadi sirna. Pada rezim Orba, perilaku KKN semakin menggurita.Karena itu, gerakan penolakan terhadap Orba semakin masif. Kekuatan rakyat muncul diberbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia dengan agenda menurunkan kekuasaan dengan membawa isu perubahan melalui reformasi total terhadap seluruh penyelenggaraan negara. Rezim otoritarian pun runtuh.

76

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Reformasi memberikan angin segar mewujudkan keberpihakan kepada masyarakat yang selama ini tertindas baik secara politik mapun ekonomi. Namun apa daya, sepuluh tahun lebih reformasi, masih lebih dari 30 juta penduduk Indonesia miskin. Kebutuhan pangan pun belum terpenuhi. Jutaan rakyat sakit karena kekurangan gizi dan sangat rendahnya standart fasilitas kehidupan. Sepertinya derita rakyat tanpa akhir. Penderitaan rakyat tersebut sangat ironi di tengah kemewahan para politisi koruptif. Sementara partai belum melakukan tindakan tegas kepada kader yang diduga atau terlibat korupsi. Tampaknya partai belum menjadi solusi bagi bangsa memberantas korupsi. Bahkan sebaliknya, ada kader partai (sudah banyak) menjadi bagian dari jaringan korupsi. Anehnya pimpinan partai seakan melindungi kader dengan mengemukakan azas praduga tak bersalah. Publik menjadi bertanya. Ada apa dengan pimpinan partai? Ataukah pimpinan partai sudah “terpenjara” oleh kadernya sendiri? Padahal, pimpinan partai lebih leluasa menggali, menganalisa dan menyimpulkan apakah kadernya melakukan korupsi. Melalui pendekatan fenomenologi, sandiwara politik tidak sulit membongkarnya. Pendekatan ini mampu mengungkap hakekat sesungguhnya di balik perilaku politisi koruptif. Cepat atau lambat, suka tidak suka, patologi sosial tersebut sebagai salah satu dari “segudang” masalah di Indonesia yang dapat mendorong kondisi lahir nya kontra negara kebangsaan di Indonesia, seperti adanya usaha para aktor politik tertentu yang menginginkan Indonesia menjadi Negara Islam Indonesia (NII).

DAFTAR PUSTAKA Alex Sobur. 2001. Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya. Anton Bakker. 1984. Metode-Metode Filsafat, Jakarta .Ghalia Indonesia. Deddy Mulyana. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

77

Doyle Paul Johnson. 1990. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Jilid II. Alih Bahasa Robert M.Z. Lawang. Jakarta: Gramedia. George Ritzer-Douglas J. Goddman. 2003. Teori Sosial Modern. Edisi Keenam. Alih Bahasa Aliman dan. Jakarta:Prenada Media. Gregory Pence. 2000. A Dictionary of Common Philosophical Term. Birmingham: McGraw-Hill. Harry Hamersma. 1983. Tokoh-Tokoh Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia James Lull. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaam, Suatu Pendekatan Global. Alih Bahasa, A. Setiawan Abadi. Jakarta: Obor Indonesia. John B. Thompson. 2004. Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis Tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa. Ali bahasa Haqqul Yaqin. Yogyakarta:IRCiSoD. Jorge Larrain. 1996. Konsep Ideologi. Penerjemah Ryadi Gunawan. Yogyakarta: LKPSM. K. Bertens. 1981. Filsafat Barat Dalam Abad XX, Jilid I. Jakarta: Gramedia. K.J. Veeger. 1993. Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial Ata Hubungan Individu-Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. 1990. Tafsir Sosial Atas Kenyataan. Alih Bahasa Hasan Basri. Jakarta: LP3ES. Reo M. Cristenson, Alan S. Engel, Dan N. Jacobs, Mostafa Rejai, Herbert Waltzer. 1971. Ideologies and Modern Politics. New York: Dodd, Mead & Company. Roger Scruton. 1986. Sejarah Singkat Filsafat Modern Dari Descartes Sampai Wittgensteins. Alih Bahasa Zainal Arifin Tanjung. Jakarta: Panja Simpati. Tom Campbell. 1994. Tujuh Teori Sosial, Sketsa, Penilaian, Perbandingan. Alih Bahasa F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisus. William F. O’neil. 2001. Ideologi-ideologi Pendidikan. Alih Bahasa Omi Intan Naomi. Yogyakarta: Pusataka Pelajar.

78

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Zainal Abidin. 2002. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

79

PELUANG KESEJAHTERAAN DI NEGARA DEMOKRASI Enceng, Meita Istianda Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka enceng@ut.ac.id, meita@ut.ac.id ABSTRAK Sejak Reformasi bergulir pada tahun 1998, banyak perubahan subtansial yang terjadi pada bangsa Indonesia, seperti perubahan pada sistem ketatanegaraan dengan adanya amandemen UUD 1945, pemberian otonomi yang lebih luas kepada daerah, kebebasan pers, kebebasan beraspirasi, kebebasan mengakses informasi dan sebagainya, yang semuanya bertolak pada konsep ‘demokrasi’. Sebuah konsep yang dipersepsikan akan membawa bangsa ini menjadi sejahtera. Namun yang terjadi kesejahteraan masih jauh dari harapan. Konsep negara sejahtera tidak hanya mencakup deskripsi mengenai bagaimana sebuah negara memainkan peranannya dalam menyejahterakan warganya. Melainkan juga sebuah konsep normatif yang dipertanyakan warganya sampai sejauh mana keberpihakan negara terhadap warganya. Dengan fenomena di mana para elit kekuasaan sibuk berseteru berbagi kesejahteraan dan mempertahankan kekuasaannya, masih adakah porsi untuk rakyat. Cita-cita reformasi nampaknya telah jauh dari yang dicitakan semula. Salah satu keunggulan dari demokrasi adalah pengakuan yang sangat luas terhadap partisipasi warganya. Melalui peluang dari demokrasi ini, warga memiliki ruang publik untuk mengawal demokrasi. Di sinilah setidaknya penguatan terhadap peran Civil society dapat dikonstruksikan. Keberadaan Civil society yang kuat dapat mempertahankan demokrasi, sebaliknya jika Civil society lemah maka demokrasi akan gagal. Makalah ini membahas peran Civil society terkait dengan sistem demokrasi di Indonesia. Mampukah dengan public sphere yang tersedia, demokrasi di Indonesia akan membawa kesejahteraan bagi warganya. Kata kunci: demokrasi, civil society, kesejahteraan

80

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Pada saat ini hampir separuh negara di dunia mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi. Hal ini sesuai dengan survei Freedom House pada tahun 1991, yang menemukan bahwa 45% negara di dunia adalah negara demokratis, berarti terjadi peningkatan dari 1 sebelumnya 24,6% . Tulisan Juan Linz (“Transition to Democracy”, 1990) juga menegaskan bahwa demokrasi adalah the only game in town menjadikan demokrasi sebagai sebuah agenda baru bagi setiap 2 negara berkembang, hari ini dan di masa depan . Fenomena ini juga ditangkap Sorensen yang menyatakan, abad 21 merupakan musim semi demokrasi yang tidak saja berlangsung di belahan dunia yang sebelum perang dingin menganut paham Sosialisme, namun juga di negara-negara yang saat ini sedang berkembang menuju masyarakat 3 industrial . Demokrasi menjadi impian bagi rakyat yang diperintah oleh pemimpin-pemimpin otoriter. Karena demokrasi dianggap memberi peluang bagi seluruh individu dalam masyarakat akan kesetaraan, kebebasan dan kesejahteraan. Wacana demokrasi dengan peluang yang dimilikinya menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan. Karena individu mana yang tidak menginginkan adanya kesetaraan, kebebasan mengemukakan pendapat, mendapat keadilan dan juga kesejahteraan. Fakta empiris menunjukkan bahwa masyarakat yang hak-hak nya dibungkam, diperlakukan tidak adil dalam segala aspek, apalagi pada aspek kesejahteraan, cenderung ingin melakukan sebuah perubahan mendasar. Upaya perubahan ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran serta masyarakat. Jauh lebih dalam lagi, pada ranah teoritis peran serta masyarakat atau sering disebut dengan kata partisipasi politik masyarakat menjadi perhatian khusus. Salah satu keunggulan demokrasi adalah pengakuannya yang sangat luas terhadap partisipasi politik masyarakat. Pada konteks ini partisipasi politik masyarakat diharapkan dapat mengawal berjalannya pemerintahan

1

Rendy R. Wrihatnolo dan Riant Nugroho D, 2001, Demokrasi Bagi Negara-negara Berkembang, diakses dari http://www.bappenas.go.id/node/48/2248/demokrasibagi-negara-negara-berkembang-oleh-rendy-r-wrihatnolo-dan-riant-nugroho-d-/ pada tanggal 15 Juni 2011, pukul 17.35, hal.1 2 Ibid, hal. 2 3 Heru Nugroho, Pengantar Publikasi dalam Georg Sorensen, Demokrasi dan Demkratisasi (terj.) I Made Krisna, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 1

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

81

sehingga tujuan kesejahteraan sebagaimana dicita-citakan bersama tercapai. Perkembangan politik kontemporer Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari partisipasi politik masyarakat, dalam bentuk gerakan sosial. Melalui gelombang gerakan sosial Indonesia telah berhasil memaksa 4 rezim berkuasa untuk meletakkan kekuasaannya. Dan sekarang sudah 13 tahun Indonesia melalui masa itu (Reformasi 1998). Semangat reformasi pada waktu itu mengusung cita-cita menciptakan kehidupan rakyat Indonesia yang sejahtera sesuai amanat konstitusi. Namun, fenomena yang terjadi adalah rakyat Indonesia masih jauh dari sejahtera. Hampir 42 persen dari seluruh rakyat Indonesia hidup 5 di antara garis kemiskinan AS$1- dan AS$2-per hari. Atau sebagai contoh, BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta (16,0%) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta (17,8%) pada 6 Maret 2006. Melihat fenomena ini, Indonesia dapat dikatakan berada pada fase yang mengkhawatirkan. Cita-cita reformasi lebih banyak diselewengkan dalam bentuk korupsi, yang bukan saja tersentralistis tetapi juga terdesentralistis. Gurita korupsi membelit ke mana-mana, tidak hanya lapisan bawah tetapi mulai Pemimpin Daerah hingga Pemimpin Pusat, para elit politik, partai politik, DPR, hingga lembagalembaga yang seharusnya menjadi cermin keadilan paling akhir pun 7 dililit korupsi. Dalam kerangka teoritis proses yang sangat menentukan dari sekian banyak proses yang dilalui negara-negara demokrasi adalah fase transisi. Fase di mana terjadinya pertarungan yang sangat sengit antara kekuatan reformis sejati dengan kekuatan lama (yang bisa jadi dimainkan oleh aktor-aktor baru) yang ingin kembali ke pusat kekuasaan. Di masa-masa genting ini lah, kekuatan Civil society diharapkan dapat menjadi penyelamat proses demokratisasi. Pertanyaannya adalah kenapa harus civil society, karena Civil society
4 5

Peristiwa Reformasi 1998 INDOPOV, Laporan Analisis Kemiskinan di Indonesia: Era Baru dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia, Jakarta: World Bank, 2006, hal. 19 6 Marcus J. Pattinama, MAKARA, Jurnal Sosial Humaniora, Vol.. 13, No. 1, Juli 2009: 1-12. Hal.2 7 Lihat bagaimana korupsi juga terjadi lembaga yang menjadi ujung tombak keadilan seperti: Mahkamah Agung, Pengadilan, dsb.

82

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

adalah kekuatan potensial yang jauh berbeda dengan kekuatan masyarakat dalam pengertian umum. Dalam telaah teoritis yang menjadi fakor pembeda antara Civil society dengan masyarakat adalah dari segi kemandirian gerakan, kesadaran atas nilai-nilai peradaban yang dimilikinya. Secara umum makalah ini hendak membahas demokrasi di Indonesia dan kaitannya dengan kesejahteraan (negara sejahtera) yang menjadi harapan; peran apakah yang dapat dimanfaatkan oleh civil society.

Demokrasi yang Mensejahterakan Dalam pengertian yang sangat umum demokrasi diterjemahkan sebagai bentuk pemerintahan rakyat. Pengertian tersebut mengandung tiga dimensi. Pertama, pemerintahan dari rakyat; artinya pemerintahan yang sah atau memiliki legitimasi jika ada dukungan dan pengakuan dari rakyat. Keabsahan atau legitimasi tersebut dapat diperoleh melalui sebuah mekanisme pemilihan yang di dalamnya ada jaminan akan partisipasi politik rakyat secara otonom. Kedua, pemerintahan oleh rakyat berarti pemerintahan dalam menjalankan kekuasaannya atas nama rakyat. Oleh karena itu rakyat memiliki kewajiban dan hak untuk melakukan kontrol terhadap kerja-kerja yang dilaksanakan oleh pemerintah. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat; artinya dalam menyelenggarakan kepemerintahan, pemerintah selayaknya berorientasi pada kepentingan rakyat. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan setiap aspirasi yang muncul dari rakyat. Dari pengertian tersebut dapat ditarik satu kesimpulan bahwa prasyarat awal dan mendasar suatu negara dapat dikategorikan demokrasi adalah sejauh mana masyarakat mendapatkan haknya, khususnya dalam proses politik. Proses politik tersebut meliputi tiga tahapan pekerjaan, yaitu penyeleksian, pemilihan dan kontrol terhadap pejabat publik. Pada konteks tersebut, Andre Uhlin mengartikan demokrasi sebagai pemerintahan rakyat yang dilandasi 8 pada kontrol masyarakat dan kesetaraan politik .

8

Andres Uhlin, Demokratisasi di Indonesia: Peluang dan Hambatan. Jakarta: Jurnal Wacana Edisi 2 Tahun I, Insis, 1999.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

83

Lebih jauh, sistem politik demokrasi biasanya ditandai dengan beberapa kriteria atau ciri-ciri yang berlaku secara universal. Robert A. Dahl mengajukan lima kriteria demokrasi yaitu 1) persamaan hak pilih dalam menentukan keputusan kolektif yang mengikat, 2) partisipasi efektif, yaitu kesempatan yang sama bagi semua warga negara dalam proses pembuatan keputusan secara kolektif, 3) pembeberan kebenaran, yaitu adanya peluang yang sama bagi setiap orang untuk memberikan penilaian terhadap jalannya proses politik dan pemerintahan, 4) kontrol terakhir terhadap agenda, yaitu adanya kekuasaan eksklusif bagi masyarakat untuk menentukan agenda mana yang harus dan tidak harus diputuskan melalui pemerintahan, 5) pencakupan, yaitu terliputnya masyarakat dalam kaitannya dengan 9 hukum. Carter dan Hertz mengkonseptualisasi tujuh ciri demokrasi yaitu: 1) pembatasan terhadap tindakan pemerintah dengan menjamin terjadinya pergantian pemimpin secara berkala, tertib, damai, melalui alat-alat perwakilan rakyat yang efektif, 2) menghargai sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat yang berlawanan, 3) menjamin persamaan di depan hukum yang diwujudkan dengan sikap tunduk kepada rule of law tanpa membedakan kedudukan politik, 4) adanya kebebasan berpartisipasi dan beroposisi bagi partai politik, organisasi kemasyarakatan, masyarakat dan perorangan termasuk begi pers dan media massa; 5) adanya penghormatan terhadap hak rakyat untuk memberikan pendapatnya betapun tampak salah dan tidak popular, 6) penghargaan terhadap hak-hak minoritas dan perorangan, 7) penggunaan cara persuasive dan diskursif ketimbang koersif dan 10 represif. Apabila Carter dan Hertz mengkonseptualisasi ciri demokrasi, Ulf Sundhaussen menyebutkan tiga syarat demokrasi untuk suatu sistem politik, yaitu 1) jaminan atas hak seluruh warganegara untuk dipilih dan memilih dalam pemilu yang dilaksanakan secara berkala dan bebas, 2) semua warga negara menikmati kebebasan berbicara,

9

Robert A.Dahl, Dilema Demokrasi Pluralis antara Otonomi dan Kontrol (terj.), Jakarta: Rajawali Press, 1985, hal. 10-11 10 Gwendolen M.Carter dan John H. Herz, ‘Peranan Pemerintah dalam Masyarakat Masa Kini” dalam Budiardjo (ed), Masalah Kenegaraan, Jakarta: Gramedia, 1982, hal: 86-87

84

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

berorganisasi, memperoleh informasi dan beragama; 3) dijaminnya 11 hak yang sama di depan hukum. Dari keberagaman pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah ahli tadi, bila dikaitkan dengan peran serta masyarakat dalam berdemokrasi, dapat ditarik benang merah bahwa terdapat kesamaan dalam hal “mengawasi berjalannya pemerintahan”. Hal tersebut termaktub pada pernyataan: • Rakyat memiliki kewajiban dan hak untuk melakukan kontrol terhadap kerja-kerja yang dilaksanakan oleh pemerintah • Demokrasi sebagai pemerintahan rakyat dilandasi kontrol masyarakat dan kesetaraan politik. • Adanya kontrol terakhir terhadap agenda pemerintah. • Adanya penghormatan terhadap hak rakyat untuk memberikan pendapatnya betapapun tampak salah dan tidak popular. • Pemerintah harus mendengarkan setiap aspirasi yang muncul dari rakyat. Merujuk pernyataan tersebut, maka dalam prinsip negara demokrasi, tidak terdapat dominasi pemerintah yang berlebihan, maksudnya tidak setiap aspek kehidupan dikendalikan secara monopolistik dan terpusat oleh negara. Karena itu warga negara seharusnya terlibat dalam hal tertentu seperti pembuatan keputusan-keputusan politik, baik secara langsung melalui wakil-wakil pilihan mereka atau membentuk suatu komunitas untuk mendiskusikan, memproses, dan menyampaikan pendapat mereka secara tidak langsung (melalui peran civil society). Selain itu, mereka memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dan memperoleh informasi serta berkomunikasi. Hayek (Sorensen, 2003:12) mengatakan, tujuan tertinggi politik adalah kebebasan yang dapat tercapai hanya jika ada batas yang tegas 12 terhadap aktivitas pemerintah.

Negara Kesejahteraan Apa yang dimaksud dengan negara kesejahteraan? Apakah negara yang mensejahterakan rakyat atau negara menjadi sejahtera karena
11

Ulf Sundhoussen, “Demokrasi dan Kelas Menengah: Refleksi Mengenai Pembangunan Politik,” dalam Prisma, Jakarta: No.2, Tahun XXI, 1992, hal: 64. 12 Georg Sorensen, Demokrasi dan Demkratisasi (terj.) I Made Krisna, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 12

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

85

rakyatnya rajin bekerja? Ditinjau dari sisi pengorganisasian konsep negara kesejahteraan mencakup deskripsi mengenai sebuah cara pengorganisasian kesejahteraan (welfare) agar masyarakat menjadi sejahtera. Selain ditinjau dari sisi pengorganisasian (peran negara), negara kesejahteraan juga mengandung sebuah konsep normatif yang menekankan bahwa setiap orang harus memperoleh pelayanan sosial sebagai haknya. Namun, sebelum mendiskusikan apa itu welfare state (negara kesejahteraan), akan dibahas terlebih dulu konsep kesejahteraan (welfare). Merujuk pada Spicker (1995), Midgley, Tracy dan Livermore (2000), Thompson (2005), Suharto, (2005a), dan Suharto (2006b), pengertian 13 kesejahteraan sedikitnya mengandung empat makna . 1. Sebagai kondisi sejahtera (well-being). Pengertian ini biasanya menunjuk pada istilah kesejahteraan sosial (social welfare) sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material dan nonmaterial. Midgley, et al (2000: xi) mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai “…a condition or state of human well-being.” Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat dipenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari resikoresiko utama yang mengancam kehidupannya. Mengacu pada pelayanan sosial, di Inggris, Australia dan Selandia Baru, pelayanan sosial umumnya mencakup lima bentuk, yakni jaminan sosial (social security), pelayanan kesehatan, pendidikan, perumahan dan pelayanan sosial personal (personal social services). Sebagai tunjangan sosial yang, khususnya di Amerika Serikat (AS), diberikan kepada orang miskin. Karena sebagian besar penerima welfare adalah orang-orang miskin, cacat, penganggur, keadaan ini kemudian menimbulkan konotasi negatif pada istilah kesejahteraan, seperti kemiskinan, kemalasan, ketergantungan, yang sebenarnya lebih tepat disebut “social illfare” ketimbang “social welfare”.

2.

3.

13

Edi Suharto, Negara Kesejahteraan dan Reinventing Depsos, 2006, diakses dari www.depsos.go.id/unduh/NegaraKesejahteraan.pdf pada tanggal 14 Juni 2011 pukul 13.00, hal. 3-4

86

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

4.

Sebagai proses atau usaha terencana yang dilakukan oleh perorangan, lembaga-lembaga sosial, masyarakat maupun badan-badan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan (pengertian pertama) melalui pemberian pelayanan sosial (pengertian ke dua) dan tunjangan sosial (pengertian ketiga).

Di Indonesia, konsep kesejahteraan dalam konteks pembangunan nasional, dapat didefinisikan sebagai segenap kebijakan dan program yang dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha, dan Civil society untuk mengatasi masalah sosial dan memenuhi kebutuhan manusia melalui pendekatan pekerjaan sosial. Konsep kesejahteraan mengandung dimensi sosial dan ekonomi. Dimensi sosial mencakup tersedianya pelayanan hak-hak dasar bagi warga seperti papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Dimensi ekonomi mencakup tersedianya lapangan pekerjaan bagi warga, kepemilikan warga atas sumber-sumber produksi, maupun pendapatan ekonomi masyarakat (yang selalu diukur dengan PDB dan GNP). Kedua dimensi akan memberikan kontribusi kepada kesejahteraan secara merata dan adil kepada rakyat jika rakyat mempunyai akses terhadap sumber-sumber produksi dan distribusi ekonomi. Siapakah yang memiliki peran untuk mensejahterakan rakyat? Negara merupakan aktor pertama dan utama yang bertanggungjawab mencapai janji kesejahteraan, terutama dalam memainkan peran distribusi sosial (kebijakan sosial) dan investasi ekonomi (kebijakan ekonomi). Fungsi dasar negara adalah ”mengatur” untuk menciptakan law and order dan ”mengurus” untuk mencapai welfare. Dalam mencapai kesejahteraan, dibutuhkan peran negara untuk menciptakan pembangunan yang seimbang (balanced development), yaitu keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Untuk menjalankan fungsi kesejahteraan ini, negara tidak cukup dilengkapi dengan ideologi dan formasi birokrasi, tetapi juga butuh kapasitas dan peran negara yang betul-betul konkret. Dalam pandangan teori klasik tentang negara, peran negara dalam pembangunan, termasuk kesejahteraan. Negara kesejahteraan adalah sebuah model ideal pembangunan yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pemberian peran yang lebih penting kepada negara dalam memberikan pelayanan sosial secara universal dan komprehensif kepada

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

87

warganya. Negara berperan sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam melayani apa yang menjadi hak dasar warga negaranya. Konsep welfare state atau social service-state, yaitu negara yang pemerintahannya bertanggung jawab penuh untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar sosial dan ekonomi dari setiap warga negara agar mencapai suatu standar hidup yang minimal . Indikatornya dapat dilihat dalam regulasi dan instrumen fiskal negaranya. Seberapa jauh negara mengupayakan kesejahteraan rakyat dan akses keadilan atas sumber daya sosial, ekonomi, dan politik. Paham ini berperspektif pelayanan publik berbasis hak. Thoenes mendefinisikan welfare state sebagai “a form of society characterised by a system of democratic government-sponsored welfare placed on a new footing and offering a guarantee of collective social care to its citizens, concurrently with the maintenance of a capitalist system of production” . Menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (2006), ide dasar negara kesejahteraan beranjak dari abad ke-18 ketika Jeremy Bentham (1748-1832) mempromosikan gagasan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin the greatest happiness (atau welfare) of the greatest number of their citizens. Bentham menggunakan istilah ‘utility’ (kegunaan) untuk menjelaskan konsep kebahagiaan atau kesejahteraan. Berdasarkan prinsip utilitarianisme yang ia kembangkan, Bentham berpendapat bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan ekstra adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk. Menurutnya, aksi-aksi pemerintah harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kebahagian sebanyak mungkin orang. Spicker (1995:82), menyatakan bahwa kesejahteraan negara “…stands for a developed ideal in which welfare is provided comprehensively by the state to the best possible standards. Tokoh lain yang turut mempopulerkan sistem negara kesejahteraan adalah Sir William Beveridge (1942) dan T.H. Marshall (1963). Di Inggris, dalam laporannya mengenai Social Insurance and Allied Services, yang terkenal dengan nama Beveridge Report, Beveridge menyebut want, squalor, ignorance, disease dan idleness sebagai ‘the five giant evils’ yang harus diperangi (Spicker, 1995; Bessant, et al, 2006). Dalam laporan itu, Beveridge mengusulkan sebuah sistem asuransi sosial komprehensif yang dipandangnya mampu melindungi orang dari buaian hingga liang lahat (from cradle to grave). Pengaruh

88

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

laporan Beveridge tidak hanya di Inggris, melainkan juga menyebar ke negara-negara lain di Eropa dan bahkan hingga ke AS dan kemudian menjadi dasar bagi pengembangan skema jaminan sosial di negara-negara tersebut. Sayangnya, sistem ini memiliki kekurangan. Karena berpijak pada prinsip dan skema asuransi, ia tidak dapat mencakup risiko yang dihadapi manusia terutama jika mereka tidak mampu membayar kontribusi (premi). Asuransi sosial gagal merespon kebutuhan kelompok khusus, seperti orang cacat, orang tua tunggal, serta mereka yang tidak dapat bekerja dan memperoleh pendapatan dalam jangka waktu lama. Manfaat dan pertanggungan asuransi sosial juga seringkali tidak adekuat, karena jumlahnya kecil dan hanya mencakup kebutuhan dasar secara minimal. Dalam konteks kapitalisme, Marshall berargumen bahwa warga negara memiliki kewajiban kolektif untuk turut memperjuangkan kesejahteraan orang lain melalui lembaga yang disebut negara (Harris,1999). Ketidaksempurnaan pasar dalam menyediakan pelayanan sosial yang menjadi hak warga negara telah menimbulkan ketidakadilan. Ketidakadilan pasar harus dikurangi oleh negara untuk menjamin stabilitas sosial dan mengurangi dampak-dampak negatif kapitalisme. Marshall melihat sistem negara kesejahteraan sebagai kompensasi yang harus dibayar oleh kelas penguasa dan pekerja untuk menciptakan stabilitas sosial dan memelihara masyarakat kapitalis. Pelayanan sosial yang diberikan pada dasarnya merupakan ekspresi material dari hak-hak warga negara dalam merespon konsekuensi-konsekuensi kapitalisme.

Indonesia: Demokrasi dan Kesejahteraan Sistem demokrasi yang dianut Indonesia setelah merdeka, adalah Demokrasi Terpimpin, yaitu era dimana “politik menjadi panglima”. Presiden Soekarno memfokuskan pembangunan pada upaya peningkatan “persatuan dan kesatuan bangsa”. Fokus ini membuat perekonomian di Indonesia tidak tertata dengan rapi (miss management). Sebagai akibatnya perekonomian menjadi semakin hancur. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya defisit APBN dari tahun ke tahun sejak tahun 50-an hingga penggalan pertama tahun 1960-an, maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi nasional yang sangat merisaukan, dan puncaknya Presiden Soekarno harus turun dari pucuk pimpinan Indonesia. Keadaan ini

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

89

telah menumbangkan Orde Lama (Demokrasi Terpimpin) dan terbentuknya Orde Baru . Di era pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia memfokuskan diri pada pembangunan di “bidang perekonomian”. Ini ditandai dengan adanya grand planning pembangunan yaitu Repelita yang dimulai tahun 1969. Pada masa ini pembangunan perekonomian fokus pada upaya meningkatkan investasi luar negeri dan perdagangan. Perkembangan perekonomian Indonesia secara keseluruhan terlihat mengesankan. Secara umum, indikator makroekonomi menunjukkan perkembangan angka dan kondisi mutakhir yang sangat baik. Tidak ada pertanda yang membuat khawatir banyak pihak, terutama bagi pemerintah dan otoritas moneter. Indikator makroekonomi yang dimaksud adalah: pertumbuhan ekonomi, angka inflasi, nilai tukar rupiah, cadangan devisa dan neraca pembayaran. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 1980-an sampai tahun 1990-an perekonomian Indonesia mengalami kenaikan pesat. Kenaikan ini sebagian besar ditopang dari kontribusi eksploitasi sumber daya alam. Antara tahun 1985–1995 GDP Indonesia tumbuh 95% sementara inflasi dapat ditekan dibawah 10%. Pertumbuhan ekonomi ini, menurut Anwar A. (1996) dalam Munandar et al (2007), disebabkan karena meningkatnya konsumsi masyarakat serta kegiatan investasi baik PMDN maupun PMA serta beberapa sektor kegiatan perekonomian lainnya sejak tahun 1994 sampai dengan awal tahun 1997. Namun di sisi lain menurut Kwik Kian Gie (2009), pertumbuhan yang tinggi ini ternyata dibarengi oleh ketimpangan yang sangat besar antara Indonesia Bagian Barat dan Indonesia Bagian Timur, antara perusahaan besar dan perusahaan kecil, antara perkotaan dan perdesaan, antara kelompok etnis yang satu dengan kelompok etnis lainnya . Sistem pemerintahan yang sentralistis di masa Orde Baru, menyebabkan pembangunan ekonomi dengan nuansa KKN tumbuh subur, akibatnya utang pemerintah meningkat terus sampai pemerintah tidak mempunyai kekuatan dana untuk melakukan tugas pokok dan fungsinya dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, infrastruktur, pertahanan/keamanan dan sebagainya. Pembangunan ekonomi selama Orde Baru juga tidak mampu menghapus adanya ekonomi dualistik yang membuat tidak adanya hubungan sama sekali antara ekonomi perkotaan dan perdesaan.

90

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Masing-masing bekerja sendiri-sendiri dimana ekonomi perdesaan dan rakyat kecil tidak pernah disentuh oleh kebijakan maupun bantuan pemerintah dalam memakmurkan mereka . Adanya disparitas yang tinggi dalam pembangunan, pemerintahan yang KKN dan tingkat korupsi yang tinggi membuat terjadi delegitimasi terhadap pemerintah. Sehingga pemerintahan Orde Baru harus menutup lembarannya di tahun 1998. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah dengan kondisi kesejahteraan rakyat setelah Reformasi? Indonesia, di masa Reformasi, mendapat penghargaan dari dunia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Proses demokrasinya yang tidak terlalu banyak memakan ‘pertumpahan darah’, dihargai oleh negara-negara Barat. Demokrasi Indonesia telah menjadikan rakyat Indonesia terbuka (bebas), terbuka menerima pengaruh luar, terbuka dalam mengeluarkan pendapat, memperjuangkan hakhaknya, mendapat keadilan dan sebagainya. Namun demikian, apakah dengan demokrasi ini, rakyat Indonesia sekarang menjadi lebih sejahtera? Sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sebesarbesarnya? Tidak untuk segolongan orang atau elit berkuasa? Sehingga KKN menjadi hilang di bumi Indonesia? Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah, dan dari penelitian-penelitian akademik menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Data BPS bulan Maret tahun 2007 menunjukkan angka 37.168.300 orang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini sebagian besar bertempat tinggal di perdesaan (20,37%), tetapi ada pula kemiskinan di perkotaan (12,52%). Antara tahun 2002 – 2007, terdapat indikasi kuat bahwasanya meskipun terdapat kecenderungan positif dalam penanggulangan kemiskinan, tetapi ternyata implikasinya belum seperti yang diharapkan. Proporsi penduduk yang hampir miskin masih cukup tinggi, dan apabila terjadi sedikit 'gejolak', maka dengan sangat mudah mereka akan kembali menjadi miskin. Namun tidak dapat dipungkiri, kesenjangan dan disagregasi kemiskinan memang terjadi di Indonesia (Kuncoro, 2008) . Pada bulan September 2006, BPS mengumumkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia telah meningkat dari 16,0 persen pada

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

91

Februari 2005 menjadi 17,75 persen pada Maret 2006-tidak sejalan dengan turunnya angka kemiskinan secara teratur sejak krisis . Angka kemiskinan nasional ‘menyembunyikan’ sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42 persen dari seluruh rakyat Indonesia hidup di antara garis kemiskinan AS$1- dan AS$2-per hari-suatu aspek kemiskinan yang luar biasa dan menentukan di Indonesia. Dari hasil analis BPS menunjukkan bahwa perbedaan antara orang miskin dan yang hampir-miskin sangat kecil. Hal ini juga berarti bahwa kerentanan untuk jatuh miskin sangat tinggi di Indonesia: walaupun hasil survei tahun 2004 menunjukkan hanya 16,7 persen penduduk Indonesia yang tergolong miskin, lebih dari 59 persen dari mereka pernah jatuh miskin dalam periode satu tahun sebelum survei dilaksanakan. Empat puluh dua persen penduduk Indonesia hidup dengan penghasilan antara AS$1-dan AS$2-per hari. Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalah masalah yang lebih serius dibandingkan dari kemiskinan dari segi pendapatan. Apabila kita memperhitungkan semua dimensi kesejahteraan-konsumsi yang memadai, kerentanan yang berkurang, pendidikan, kesehatan dan akses terhadap infrastruktur dasar, maka hampir separuh rakyat Indonesia dapat dianggap telah mengalami paling sedikit satu jenis kemiskinan. Kemiskinan merupakan salah satu masalah serius dalam proses pembangunan nasional di Indonesia. Masalah ini seolah-olah tidak dapat dituntaskan secara serius, padahal pemerintah telah berupaya memperkenalkan berbagai paket dan program yang melibatkan sejumlah pakar kemiskinan nasional dan internasional. Hakikatnya belum ada keberlanjutan (sustainability) sistem penanganan kemiskinan baik dalam satu rezim kekuasaan maupun pada saat peralihan rezim. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), tahun 2005 ada 35,10 juta penduduk miskin. Kemudian data tahun 2006 menjadi 39,05 juta. Artinya jumlah penduduk miskin bertambah 3,95 juta. Pada tahun 2007 tercatat 37,17 juta orang. Data kemiskinan makro yang terakhir dihitung BPS adalah posisi Maret 2010 dan dirilis tanggal 1 Juli 2010. Jumlah dan persentase penduduk miskin dihitung per provinsi dengan garis kemiskinan yang berbeda‐beda. Di DKI

92

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Jakarta besaran garis kemiskinan mencapai Rp331.169 per kapita per bulan, sementara di Papua Rp259.128. Data di level nasional merupakan penjumlahan penduduk miskin di seluruh provinsi, sehingga jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta (13,33 persen dari total penduduk) dengan garis kemiskinan sebesar Rp211.726 per kapita per bulan. Pada bulan Maret 2011 BPS akan kembali melakukan pengumpulan data Susenas dan hasil penghitungan penduduk miskin akan dirilis tanggal 1 Juli 2011. Semenjak merdeka, Indonesia mengklaim dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi. Apapun nama untuk demokrasi tersebut: demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, atau demokrasi liberal. Namun, berdasarkan data BPS tentang kemiskinan di atas, maka sistem demokrasi di Indonesia nampaknya belum mampu menjadi instrumen yang dapat mensejahterakan masyarakatnya. Diperlukan pengaktifan ‘intrumen demokrasi’ lainnya untuk mewujudkan hal itu, yaitu civil society.

Civil society Civil society dalam konteks perkembangan sekarang, umumnya dianggap suatu kelompok masyarakat yang memiliki kemandirian terhadap berbagai kepentingan akan kekuasaan. Konsepsi Civil society dalam perjalanan perkembangannya selalu mengalami tarik menarik antara dua kutub. Kutub yang berpendapat Civil society berada pada wilayah negara. Dan kutub yang mengatakan civil soceity independen dari wilayah negara. Namun, dalam kaitannya dengan makalah ini kita tidak akan menarik garis lurus dengan menelusuri perdebatan konsepsi civil society. Konsepsi Civil society dalam makalah ini tidak mensinonimkan Civil society dengan negara, tetapi merujuk pada akar pemikiran Hegel yang mulai menganggap Civil society suatu ‘wilayah’ (sphere) perantara di antara wilayah ‘keluarga’ dan wilayah ‘negara’. Oleh karena itu ‘civil society’ dianggap sebagai perantara yang dapat mewakili kepentingan komunitas (masyarakat) dengan negara, pada saat lembaga-lembaga negara lainnya menjadi bungkam karena terkooptasi oleh sistem kekuasaan. Sehingga Civil society berkembang menjadi sarana untuk dapat melakukan perubahan-perubahan.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

93

Terkait dengan demokrasi, kehadiran Civil society menjadi salah satu faktor signifikan bagi berlangsungnya demokratisasi di suatu negara. Oleh karena itu, Civil society dilihat dari dua hal yaitu sebagai kondisi awal bagi berlangsungnya demokrasi dan juga sebagai kerangka kerja bagi setiap warga negara untuk mengartikulasikan kepentingannya yang dijamin oleh negara (Pietrzyk: 2003, hal.39) . Dalam konteks perubahan politik, di mana Civil society memiliki peran, Tocqueville melihat bahwa kehadiran Civil society sebagai perkumpulan yang independen dengan posisi yang kuat dari kehidupan individu dan negara. Hal ini menunjukkan bahwa Civil society dapat menjadi kelompok oposisi yang efektif bagi pemerintahan non-demokratis (Baker: 1998, hal. 82) . Namun Civil society tidak hanya sekedar perkumpulan yang bersifat bebas dari pengawasan negara, melainkan juga mampu berperan dalam membuat “ruang publik” lebih efektif dengan batasan-batasan yang ada dan harus dilindungi dari intervensi kekuatan pasar dan birokrasi. Pietrzyk sepakat dengan Cohen dan Arato yang melihat bahwa ada tiga bentuk dari Civil society sebagai sebuah ruang dari interaksi sosial antara ranah negara dan ekonomi, yaitu perkumpulan yang bersifat sukarela, gerakan sosial, dan sarana dari komunikasi publik (Pietrzyk: 2003, hal.40) . Ketiga bentuk ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam demokrasi liberal dengan perannya masingmasing. Pasar dan negara yang memainkan perannya berdasar aturan hukum menjadi prasyarat dari kebebasan dan juga civil society. Sebaliknya, negara yang korup dan pasar yang terindikasi korupsi dapat menjadi ancaman bagi civil society. Artinya, dukungan pemerintahan yang sewajarnya, pasar ekonomi yang berfungsi dengan benar dan kehadiran Civil society menjadi faktor penyeimbang bagi hadirnya demokrasi liberal di sebuah negara. Namun, kebebasan bagi Civil society tersebut masih harus dipertegas dengan beberapa syarat lainnya. Seperti aturan hukum dan pemerintahan yang baik dapat menjamin partisipasi individu dalam arena publik. Ruang partisipasi yang dijamin inilah sebagai sarana di mana setiap individu dapat menyampaikan berbagai kepentingannya secara leluasa, tanpa ada gangguan ataupun ancaman dari pihak lain. Hal penting lainnya, bahwa peran Civil society tidak sekedar sarana partisipasi publik dalam artikulasi berbagai kepentingan, melainkan juga arena bagi pendidikan politik dan penajaman pilihan-

94

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pilihan politik . Artinya Civil society memiliki peran signifikan dalam mendorong partisipasi politik warga negara secara aktif untuk mendorong kehidupan demokrasi yang lebih baik. Di sinilah Civil society dapat memposisikan diri sebagai pengontrol tindak tanduk negara, dan mengingatkan negara untuk berada pada jalur yang sesuai dengan cita-cita masyarakat. Larry Diamond, mengemukakan terdapat banyak fungsi yang dapat dilakukan oleh Civil society dalam praktek yang lebih nyata. (Diamond: 2003, hal.297-308) menyatakan, pertama, Civil society memberikan batasan kekuasaan negara, kontrol negara oleh masyarakat, dan menumbuhkan institusi-institusi politik demokratisi sebagai sarana yang efektif. Kedua, kehadiran Civil society sebagai pelengkap peran dari partai politik dalam merangsang partisipasi politik, meningkatkan efektivitas dan keterampilan demokrasi warga negara, termasuk di dalamnya adalah agenda pendidikan politik bagi warga negara Ketiga, adanya Civil society yang membangun banyak saluran politik di luar partai politik untuk mengartikulasikan, menampung dan merepresentasikan berbagai kepentingan. Keempat, Civil society nantinya dapat mendorong perubahan dari kekuasaan segelintir orang menjadi milik warga negara secara luas. Kelima, Civil society juga diharapkan dapat meringankan adanya polaritas potensi konflik politik dengan banyaknya teknis mediasi dan resolusi konflik yang dihasilkan dari berbagai peristiwa konflik. Keenam, Civil society juga menjadi sarana dalam menciptakan pemimpin-pemimpin masyarakat serta yang dapat berkontribusi dalam arena politik. Ketujuh, banyak Civil society memiliki tujuan pembangunan demokrasi yang jelas, terutama dalam perubahan-perubahan kelembagaan politik. Kedelapan, Civil society juga memiliki kontribusi dalam menyebarluaskan informasi kepada seluruh warga negara sehingga pengetahuan akan hak-hak warga negara dapat tersampaikan dengan baik. Kesembilan, Civil society nantinya juga membantu dalam membangun legitimasi sistem politik yang berbasiskan kepentingan sesungguhnya dari warga negara. Selain itu, yang tidak kalah penting dalam konsep Civil society adalah adanya partisipasi aktif dari semua warga negara baik yang tergabung dalam berbagai perkumpulan, organisasi atau kelompok lainnya.

SIMPULAN Demokrasi memang bukan obat mujarab untuk semua penyakit. Dia tidak dapat menjadikan suatu negara dalam hitungan belasan tahun

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

95

menjadi negara sejahtera. Namun demokrasi sebagai sistem, menyediakan sarana bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam setiap pelaksanaan pemerintahan. Sarana tersebut dapat diperankan oleh Civil society melalui ruang publik yang tersedia. Oleh karena itu, di alam demokrasi, komponen Civil society layak dimunculkan, apalagi manakala lembaga-lembaga negara yang seharusnya menjadi pelaku utama mensejahterakan rakyat mulai lupa pada fungsinya. Sebagaimana yang kita lihat dewasa ini. Indonesia yang menjalani sistem demokrasi sejak kemerdekaan, semakin terlihat tidak mampu mengemban amanat rakyat. Saatnya lah civil soceity menggalang diri, menampilkan kekuatan sebagai kontributor pembangunan sambil mengawal jalannya pemerintahan, agar sesuai dengan amanat konstitusi.

DAFTAR PUSTAKA Andrew Arato dan Michael W.Foley (ed.). The Civil society Reader, New England: University Press, 2003. Baker, Gideon, Civil society and Democracy: The Gap Between Theory and Possibility. Politics, Vol.18, No.2, 1998. Budiardjo, Mirriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta : Gramedia, 1986. Bessant, Judith, Rob Watts, Tony Dalton dan Paul Smith, Talking Policy: How Social Policy in Made, Crows Nest: Allen and Unwin, 2006. Carter, Gwendolen M. dan John H. Herz, ‘Peranan Pemerintah dalam Masyarakat Masa Kini” dalam Budiardjo (ed), Masalah Kenegaraan, Jakarta: Gramedia, 1982. Cohen, Jean L. dan Andrew Arato. Civil society and Political Theory, dalam Hodgkinson, Virginia A. dan Michael W.Foley (ed.). The Civil society Reader. University Press of New England, 2003 Dahl, Robert A., Dilema Demokrasi Pluralis antara Otonomi dan Kontrol (terj.), Jakarta: Rajawali Press, 1985. Diamond, Larry, Developing Democracy Toward Consolidation, Yogyakarta: IRE Press, 2003

96

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

INDOPOV, Laporan Analisis Kemiskinan di Indonesia: Era Baru dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia, Jakarta: World Bank, 2006. Kuncoro, AS, Kemiskinan: Kesenjangan Antar Provinsi. Project Officer untuk TARGETMDGs (BAPENAS/UNDP). MDGs News, Edisi 01/Juli-September 2008. Nugroho, Heru, Pengantar Publikasi dalam Georg Sorensen, Demokrasi dan Demokratisasi (terj.) I Made Krisna, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Pattinama, Marcus J., MAKARA, Jurnal Sosial Humaniora, Vol.. 13, No. 1, Juli 2009. Sorensen, Georg, Demokrasi dan Demokratisasi (terj.) I Made Krisna, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Spicker, Paul, Social Policy: Themes and Approaches, London: Prentice Hall, 1995. Suharto, Edi, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, Bandung: Refika Aditama, 2005. Sundhoussen, Ulf , “Demokrasi dan Kelas Menengah: Refleksi Mengenai Pembangunan Politik,” dalam Prisma, Jakarta: No.2, Tahun XXI, 1992. Uhlin, Andres, Demokratisasi di Indonesia: Peluang dan Hambatan. Jakarta: Jurnal Wacana Edisi 2 Tahun I, Insis, 1999.

Internet: Putra, M.Sofyan Yahya dkk, Masalah Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia, Yogyakarta: Program Magister Ekonomi Pembangunan UGM, 2010, hal. 5, diakses dari http://sofyan71sbw.files.wordpress.com/2010/05/distribusipendapatan-dan-kemiskinan-di-indonesia.pdf pada tanggal 15 Juni 2011 pukul 17.32 Suharto, Edi, Negara Kesejahteraan dan Reinventing Depsos, 2006, diakses dari www.depsos.go.id/unduh/NegaraKesejahteraan. pdf pada tanggal 14 Juni 2011 pukul 13.00

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

97

Wrihatnolo, Rendy R. dan Riant Nugroho D, 2001, Demokrasi Bagi Negara-negara Berkembang, diakses dari http://www.bappenas. go.id/node/48/2248/demokrasi-bagi-negara-negara-berkembangoleh-rendy-r-wrihatnolo-dan-riant-nugroho-d-/ pada tanggal 15 Juni 2011, pukul 17.35

98

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PERDEBATAN TEORITIS MENGENAI CIVIL SOCIETY DI NEGARA-NEGARA ASIA Endang Sriningsih Politeknik Sakti Surabaya e_sriningsih@yahoo.com ABSTRAK Di Asia, Civil society merupakan sebuah diskursus lama dan sekaligus baru. Dikatakan lama, karena jauh sebelum terminologi Civil society popopuler di kawasan Asia, masyarakat Asia sesungguhnya telah akrab bersentuhan dengan aneka bentuk asosiasi atau organisasi sosial, seperti keluarga, pers, keagamaan, dagang, sekolah, antara lain, yang muncul dan berkembang di luar negara (non-state organization). Dikatakan baru, karena sebenarnya masyarakat negara-negara Asia secara formal baru bersentuhan dengan terminologi civil society, yang lahir dari peradaban Barat, sekitar dasawrsa 1980-an dan 1990-an. Pada tahun-tahun tersebut, masyarakat di negara-negara Asia mulai mengenal dan sekaligus mereproduksi Civil society tidak sebatas sebagai wacana (discourse), melainkan sekaligus sebagai paradigma gerakan sosial (social movement) dalam melakukan perlawanan vis a vis dengan negara (state) yang kebanyakan dimonopoli oleh rezim oligarki. Dalam dinamikanya, perkembangan Civil society di Asia menunjukkan fenomena yang unik dan sekaligus kompleks, karena Civil society yang diartikulasikan oleh warga masyarakat di negara-negara Asia tidaklah sama persis dengan ekspresi Civil society di negara-negara Barat dan Amerika Latin. Konteks sosial, politik, dan budaya dapat diidentifikasi menjadi variable yang turut mengkonstruk perbedaan tersebut. Tulisan ini bermaksud menggali lebih jauh tentang apa dan bagaimana perdebatan teoritis mengenai Civil society di Asia. Kata kunci : teori civil society, negara-negara Asia PENDAHULUAN Civil society menjadi perbincangan, baik sebagai gagasan maupun gerakan sosial, mencuat seiring dengan maraknya gelombang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

99

demokratisasi yang melanda belahan dunia pada periode 1970-an. Dimulai dari Eropa Selatan (Spanyol, Portugal, dan Yunani) pada pertengahan 1970-an, Amerika Tengah dan Latin (Brazil, Argentina, Cile, Uruguai, Peru, Ekuador, Bolivia, Paraguai, Honduras, El Savador, Nikaragua, Guatemala, Mexico dan lain-lain) pada awal 1980-an, dan Eropa Timur (Polandia, Hungaria, Czekoslovakia, Rumania, Bulgaria, dan bekas Jerman Timur) pada awal 1990-an. Inilah fenomena yang oleh Samuel P. Huntington disebut-sebut sebagai “demokrasi gelombang ketiga” (the Third Wave of democracy) di mana antara tahun 1974 sampai 1990, setidaktidaknya 30 negara mengalami transisi dari rezim otoritarian dan 1 komunis ke demokrasi . Sedangkan negara-negara Asia secara formal baru bersentuhan dengan Civil society sekitar dasawarsa 1980-an dan 1990-an . Hampir semua ahli sependapat bahwa gagasan mengenai Civil society lahir di Eropa pada 1970-an. Dalam hal ini, Eropa bukan hanya sekedar menunjukkan tempat geografis, tetapi kenyataan ini juga merujuk pada aspek sosial-budaya, ekonomi dan politik yang bukan tidak mustahil membentuk dan mempengaruhi bangunan Civil society itu sendiri. Karenanya, seperti dinyatakan oleh seorang Sosiolog Turki Serif Mardin, Civil society itu impian Barat. Baginya Civil society berkaitan dengan aspirasi sejarah atau bagian dari sejarah sosial masyarakat Barat. Karenanya, gagasan Civil society secara keseluruhan belum tentu bisa dikembangkan pada situasi kemasyarakatan lain. Meskipun demikian, bukan berarti pula gagasan Civil society yang berakar dari tradisi Barat tidak bisa dikembangkan 2 di tempat lain, tentunya dengan beberapa penyesuaian . Pada periode ini, masyarakat di negara-negara Asia mulai mengonsumsi dan sekaligus mereproduksi Civil society tidak sebatas sebagai wacana (discourse), melainkan sekaligus juga sebagai paradigma gerakan sosial (social movement) dalam melakukan perlawanan secara vis a vis dengan negara (state) yang kebanyakan dimonopoli oleh rezim otoritarianisme.
1

2

Baca Samuel P. Huntington, Democacy’s Third Wave, dalam Larry Diamond and Marc F. Plattner (ed.) The Global Resurgence of Democracy, Baltimore and London: The Johns ty Press, 2004, hlm., 3. Baca Serif Mardin, Civil Society and Islam, dalam John A. Hall (ed.) Civil Society: Theory, History, Comparison, hlm., 278.

100

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Di Philipina muncul gerakan people power atau revolusi EDSA yang dilakukan afiliasi buruh, petani, mahasiswa, dan gereja, dalam rangka melakukan perlawanan terhadap rezim otoritarianisme Marcos (1986), di Indonesia lahir gerakan reformasi yang digalang oleh afiliasi mahasiswa, buruh, petani, dan elit agama, melawan rezim otoritarianisme Soeharto dengan Orde Baru-nya (1998), di Korea Selatan lahir pula gerakan oposisional yang beraliansi dengan elemen Civil society dalam perjuangannya mendelegitimasi rezim otoritarianisme (1987). Demikian pula halnya dengan fenomena Civil society di beberapa negara Asia lainnya seperti India, Malaysia, Singapura, Taiwan, Vietnam, Sri Lanka, Jepang dan Cina, dan sebagai perkecualian adalah Korea Utara yang sampai sekarang fenomena Civil society nyaris tidak mendapat ruang gerak. Dalam dinamikanya, perkembangan Civil society di Asia menunjukkan fenomena yang unik dan sekaligus kompleks. Dikatakan demikian, karena Civil society yang diartikulasikan oleh warga masyarakat di negara-negara Asia tidaklah sama persis dengan ekspresi Civil society di negara-negara Barat. Tentunya, apa yang diimaginasikan oleh masyarakat Barat dengan paradigma civil society-nya, tidak disangsikan, akan berbeda dengan apa yang diimaginasikan oleh masyarakat di negara-negara Asia yang mengadopsi paradigma tersebut. Konteks sosial, politik, budaya dan lainnya dapat diidentifikasi menjadi variabel yang turut mengkonstruk perbedaan tersebut. Satu hal yang menarik, sebagaimana dikemukakan Muthiah Alagappa dalam bukunya “Civil society and Political Change in Asia: Expanding and Contracting Democratic Spehre”, dinamika Civil society di negara-negara Asia, memunculkan ekspresi yang beragam dari waktu ke waktu. Civil society di Asia –agak berbeda dengan Civil society di Eropa dan Amerika— menampilkan karakter yang tidak monoton, kadang sangat kritis, reaktif, radikal, dan militan dalam memposisikan diri Vis a Vis dengan negara (state), namun kerap pula, 3 ia memposisikan diri bergandengan tangan dengan negara . A. Diskursus Teoritik Civil Society

Diskursus mengenai Civil society tidak pernah melahirkan satu konsepsi yang tunggal. Konsep Civil society di Eropa abad 19 dan 20
3

Edward Aspinall, Transformation of Civil Society and Democratic Breakthrough, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change................., hlm., 7385.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

101

muncul dalam konteks pembangunan ruang komersial dan negara modern. Hegel dan para pemikir abad pencerahan memahami Civil society sebagai pembangunan yang membawa dampak positif. Ia mengonseptualisasikan Civil society sebagai ruang (space) bagi relasi-relasi pasar, yang diatur oleh hukum sipil, yang menjembatani antara keluarga dan negara, yang dipergunakan oleh warga sebagai ruang untuk mencapai pemuasan kepentingan individu dan kelompok. Ia tersusun dari elemen-elemen keluarga, korporasi/ asosiasi, dan aparat administrasi/ legal. Karena berada pada posisi antara, maka Civil society belum mampu melakukan kontrol dan mengatasi konflik internal melalui politik. Kemampuan politik itu hanya dimiliki oleh negara, sebagai entitas penjelamaan ide universal dan karena itu 4 posisinya, secara logis mengatasi dan mengontrol civil society . Sedangkan Marx memahami Civil society sebagai arena alienasi dan eksploitasi yang untuk mengatasinya tidak ada jalan lain kecuali melalui revolusi. Sambil tetap mempertahankan konsep Civil society sebagai buergerliche gesellschaft, Marx mereduksinya dalam konteks hubungan produksi kapitalis, sehingga Civil society adalah kelas borjuis itu sendiri. Akibatnya, berbeda dengan Hegel, Marx menganggap Civil society pun sebagai kendala bagi pembebasan manusia dari penindasan. Hapusnya Civil society jadinya merupakan 5 tahapan yang harus ada bagi munculnya masyarakat tak berkelas . Sementara, Antonio Gramsci, dengan meminjam kategorisasi Marxis, merumuskan konsep Civil society yang justru berbeda dari rumusan Marx Perbedaan antara Gramsci dengan Marx, Gramsci sebatas memberikan penafsiran terhadap Civil society dari sisi ideologis (superstruktur), sedangkan Marx melihatnya dari relasi produksi (basis material). Karena itu, konsep Gramsci sebenarnya lebih dinamis karena dalam momen hegemoni tersebut selalu terbuka kemungkinan counter-hegemoni dari kekuatan di luar negara. Gramsci menyebut adanya “kesadaran berlawanan” (contradictory consciousness) dalam setiap momen hegemoni yang membuka

4

5

Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change..............., hlm., 27-30; Arif Budiman (ed.) State and Civil Society in Indonesia, Monash University: Centre of Southeast Asian Studies, 1990, hlm., 4. Arif Budiman (ed.) State and Civil Society.................., hlm., 4; Martti Muukkonen, Framing the Field: Civil Society and Related Concepts, dalam Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly, 2009, 38, Sage Publication, hlm., 687.

102

ISBN: 978-979-011- 690-0 •
6

peluang bagi perlawanan atasnya. Dengan membuat pembedaan antara negara dan civil society, Gramsci menekankan peran penting dukungan ideologi dan budaya yang disediakan oleh Civil society untuk mempertahankan diri dari kapitalisme Eropa. Menurut Gramsci, hegemoni kapitalisme itu tidak saja berwujud dalam bentuk material dan kekerasan fisik, tetapi juga didasarkan pada ukuran-ukuran konsensus, kerjasama, kolaborasi yang isunya bersumber dari 7 dukungan ideologi dan budaya . Dengan kata lain, Civil society dalam pandangan Gramsci, merupakan arena bagi pagelaran hegemoni di luar kekuatan negara yang disebutnya dengan political society. Melalui Civil society itulah aparat hegemoni beroperasi mengembangkan hegemoni untuk menciptakan konsensus dalam masyarakat. Dengan demikian Civil society lebih merupakan momen moral dari kekuatan dominan, sementara negara merupakan momen 8 politisnya . Sementara itu, Alexis de Tocqueville memandang Civil society sebagai kekuatan positif dalam menindaklanjuti demokrasi dengan catatan tercipta suatu kondisi kesamaan sosial dan saat bersamaan pemerintah pusat mengalami penurunan. Civil society dipahami pula sebagai kekuatan penyeimbang kekuatan negara. Di sini ia menekankan kesinambungan antara asosiasi dengan demokrasi, atau dalam terminologi kontemporer hubungan antara Civil society dengan demokrasi. Partisipasi dalam kelompok sosial dinilai mampu menghasilkan modal sosial (social capital) yang cukup vital bagi pembangunan demokrasi yang sehat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Civil society yang kuat 9 merupakan prasyarat bagi demokrasi yang efektif .
6

7 8

9

Muhammad AS Hikam, Islam, Demokratisasi & Pemberdayaan Civil Society, Jakarta: Erlangga, 2000, hlm., 118. Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change..................., hlm., 27-30. Lebih lanjut baca Antonio Gramsci, The Selections From the Prison Notebooks, London: Lawrence and Wishart, 1971. Konsepsi mengenai civil society sebagaimana dikemukakan di atas sebenarnya telah bergerak jauh dari asal usulnya yakni dalam filsafat Barat, menuju ke Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa Timur, Tengah dan Barat, Afrika dan tidak ketinggalan Asia. Pada permulaan 1980-an perdebatan mengenai civil society dibatasi pada sejarah ide-ide dalam filsafat politik Barat. Namun, seiring dengan gelombang kebangkitan ketiga gelombang demokratisasi, terutama sejak masuknya ruang publik sebagai salah satu legitimasi bagi negara-negara Eropa Timur dan Tengah Post-Soviet (Polandia, Ceko dan Hungaria), diskusi mengenai hubungan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

103

Apabila diperhatikan, konsepsi Tocqueville, yang dikembangkannya berdasarkan pengalaman Amerika, sepintas lebih dekat dengan konsep Hegel yang memandang Civil society sebagai gejala sosial dalam masyarakat modern. Namun jika diperhatikan seksama ia berbeda dengan Hegel. Menurut Tocqueville posisi Civil society tidak apriori subordinatif terhadap negara. Civil society dalam dirinya memiliki kekuatan politis yang dapat mengekang atau mengontrol kekuatan intervensionis negara. Civil society yang dimengerti sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dengan ciri-ciri kesukarelaan, keswasembadaan, keswadayaan dan kemandirian berhadapan dengan negara, justru merupakan sumber legitimasi keberadaan negara kendatipun tidak sepenuhnya mengontrol yang terakhir. Sebab bagaimanapun juga negara memiliki kapasitas berbeda dan lebih bersifat inklusif. Sementara civil society, dalam dirinya cenderung pluralistis sehingga eksklusivisme senantiasa 10 membayanginya . Apabila dicermati, setidaknya terdapat empat aspek penting yang terkandung dalam pengertian Civil society di atas, yaitu: pertama, adanya ruang publik bagi organisasi yang berasal dari institusi nonnegara, kelompok-kelompok non-pasar. Dalam hal ini Civil society mencakup baik organisasi voluntary maupun organisasi non-voluntary yang mendiami tempat yang terletak di antara negara, masyarakat politik (political society), pasar, dan masyarakat pada umumnya, dan 11 mengambil tindakan kolektif guna mengejar kepentingan publik . Kedua, sebuah ruang bagi komunikasi dan diskursus publik. Civil
antara individu, masyarakat, negara dan pasar kian marak. Demikian juga halnya dengan perdebatan mengenai civil society dan posisinya dalam politik. Civil society juga mulai masuk dalam diskursus pengambil kebijakan, intelektual, jurnalis, NGOs. Menyikapi kondisi ini, John Keane mengatakan bahwa “ini merupakan tanda bagi berakhirnya abad panjang dari pemikiran politik yang selama ini didominasi oleh ideologi statis” lalu muncullah kebangkitaan civil society, lahir kembali dalam skala luas, menempati posisi sentral dalam pemikiran politik kontemporer. Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change........, hlm., 2631. 10 Martti Muukkonen, Framing the Field: Civil Society and Related Concepts, dalam Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly, 2009, 38, Sage Publication, hlm., 687; Muhammad AS Hikam, Islam, Demokratisasi.................., hlm., 118-119. 11 Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change..................., hlm., 9; Rollin F. Tusalem, A Boon or a Bane ? The Role of Civil Society in Third- and FourthWave Democracies, dalam International Political Science Review, 2007; 28; Sage Publication, hlm., 363-364.

104

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

society adalah sebuah ruang yang nyata-nyata dipergunakan untuk memperjuangkan hak-hak sipil, diskursus politik, refleksi kritis dan pembentukan keadaan ideal-normatif melalui interaksi yang didasarkan pada ide-ide dan argumentasi. Ketiga, sebuah ruang bagi pemerintahan. Aspek ketiga ini mengidentifikasi Civil society sebagai sebuah ruang penting untuk pemerintahan sendiri yang bebas dari campur tangan negara. Keempat, sebuah cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi struktur dan aturan-aturan permainan politik. Aspek terakhir ini menggambarkan atensi terhadap peran tindakan kolektif dari organisasi Civil society dalam membentuk, memproteksi, dan memperluas ruang publik, memiliki kemampuan dalam membatasi diri dari kekuasaan negara, menciptakan tuntutan-tuntutan publik kepada negara, mempengaruhi sistem politik dan menstrukturasi hubungan-hubungan di antara para aktor dalam ranah yang berbeda. Penting dicatat di sini bahwa Civil society itu bukanlah sebuah kekuatan monolitik, melainkan kelompok dari aktor-aktor yang berbeda-beda yang memiliki kepentingan untuk memperluas 12 spektrum . Sementara itu, Jean L. Cohen dan Andrew Arato memahami Civil society sebagai ruang interaksi sosial bagi ekonomi dan negara yang terdiri dari lembaga-lembaga yang sangat dekat, seperti keluarga, organisasi-organisasi sukarela, gerakan sosial, dan bentuk-bentuk 13 komunikasi publik . Namun demikian, dengan menggunakan Polandia sebagai contoh kasus, Cohen dan Arato menekankan Civil society bukan hanya sesuatu yang berada di luar, tetapi juga sebagai lawan atas negara. Bahkan posisi sebagai lawan negara inilah yang menjadi pemicu gagasan mengenai Civil society secara dramatik. Disebutkan “the opposition of Civil society and state made its most dramatic return in Eastern Europe, particularly in ideology of the polish opposition from 1976 to the advent of the early solidarity and beyond”. Slogan-slogan perlawanan yang digunakan oleh solidaritas mencerminkan hal ini, seperti: masyarakat lawan negara, bangsa lawan negara, tatanan sosial lawan sistem politik, pays real against
12

13

Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change.................., hlm., 9; Anders Uhlin, Which Characteristics of Civil Society Organizations Support What Aspects of Democracy ? Evidence from Post-Communist Latvia, dalam International Political Science Review, 2009; 30; Sage Publication, hlm., 273-274. Jean L. Cohen and Andrew Arato, Civil Society and Political Theory, Cambridge, Mass: MIT Press, 1992, hlm., ix.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

105

pays legal or official, kehidupan publik lawan negara, kehidupan privat 14 lawan kekuatan publik, dan sebagainya . Jadi jelaslah bahwa di negara-negara di mana situasinya relatif berbeda dengan Eropa Timur, khususnya Polandia, bangunan Civil society bisa berbeda pula. Di kawasan Asia Pasifik, Muthiah Alagappa menggambarkan munculnya Civil society dikaitkan erat dengan tumbuhnya lembaga swadaya masyarakat. Siapa pun tahu bahwa tidak semua, bahkan mungkin juga tidak ada, lembaga swadaya masyarakat di Asia itu mempunyai kesepadanan ideologis dengan Solidaritas pimpinan Lech Walesa. Sampai tingkat tertentu, lembaga-lembaga swadaya tersebut tidak berfungsi sebagai ancaman terhadap negara. Bahkan, banyak lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai program kerja yang bersifat suplemen atau komplementer dengan program kerja 15 negara . Walaupun demikian, mesti harus tetap diakui bahwa gagasan mengenai Civil society juga mencakup ide tentang perlunya ruang publik yang tidak didominasi atau dikontrol oleh negara, sebagaimana ditegaskan Muthiah Alagappa. Pandangan ini sebanding dengan apa yang dipikirkan Ernest Gellner tentang Civil society di mana ia menegaskan bahwa Civil society mempunyai fungsi “to counterbalance the state” dan menjaga agar negara tidak 16 mendominasi atau melakukan atomisasi kepada masyarakat .

B.

Peran Civil society dalam Memperluas Ruang Demokrasi di Beberapa Negara Asia

Tulisan ini akan membahas peran Civil society dalam memperluas ruang demokrasi di negara-negara Asia yang Civil society nya dikategorikan telah memiliki legitimasi yang kuat antara lain Indonesia, Philipina, dan Korea Selatan. Keberadaan Civil society di
14 15

16

Jean L. Cohen and Andrew Arato, Civil Society ............., hlm., 31. Sebagai contoh, baca Tadashi Yamamoto (ed.), Emerging Civil Society in the Asia Pasific Community, Singapore: ISEAS, 1996; Philip J. Eldrige, Non-Goverment Organizations and Democratic Participation in Indonesia, Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1995. Muthiah Alagappa, Civil Society and Political Change..............., hlm., 9; Ernest Gellner, The Importance of Being Modular, dalam John A. Hall (ed.), Civil Society, Theory, History, Comparison, hlm., 32.

106

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

negara-negara Asia membawa dampak positif sekaligus negative bagi pembangunan demokrasi. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam pengalaman dan eksperimentasi gerak Civil society dalam membangun ruang demokrasi si negara-negara dunia ketiga tersebut.

1.

Civil society dan Perubahan Politik di Indonesia
17

Edward Aspinal mengkaji pengalaman Indonesia , menggambarkan dinamika Civil society relasinya dengan negara dalam membuka ruang demokrasi pada era orde lama, orde baru, dan sekilas perkembangannya pada era pasca Orde Baru, atau dikenal pula dengan sebutan era reformasi memang penting , namun demikian kehadirannya tidak senantiasa mensupport demokrasi. a. Era Orde Lama: Menjamurnya Civil society bukan jaminan bagi demokrasi Pada Era Orde Lama, periode 1950 sampai 1960-an, Indonesia dicirikan oleh kehidupan assosiasional. Pada era tersebut berbagai assosiasi Civil society dan organisasi tumbuh pesat. Tetapi disayangkan bahwa kehidupan aneka organisasi dan asosiasi tersebut dimobilisasi dan dipolitisasi sehingga mengakibatkan terjadinya polarisasi yang cukup tajam. Sebagaimana digambarkan para ahli bahwa kehidupan assosiasional masyarakat Indonesia saat itu terpolarisasi 18 kedalam politik aliran .Pada masa itu hampir tidak ada organisasi Civil society yang tidak berafiliasi dengan partai-partai politik, terutama Partai Nasionalis, Partai Islam, Partai Komunis, yang semuanya jelas berorientasi pada perebutan kekuasaan.

17

Edward Aspinal, Indonesia Transformation of Civil Society and Democratic Breakthrough, dalam Mutiah Alagapa (ed.) Civil Society and Change in Asia, hlm.63. 18 Istilah politik aliran, kali pertama diperkenalkan oleh Clifford Greetz , ketika mengamati perpolitikan di Indonesia pasca-kemerdekaan, dengan membandingkan dengan apa yang diamatinya di negeri Belanda, yang dikenal sebagai Veruilen/ Verzuiling. Aliran yang merupakan sebuah metafora dari kenyataan kehidupan sosial-politik di Indonesia pada masa pasca perang kemerdekaan partai politik melakukan mobilisasi massa dengan membentuk sejumlah auxiliary organization dalam rangka memenangkan Pemilu 1955. Baca Affan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000, hlm.125.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

107

Maka terjadilah konflik yang luar biasa antar Civil society dan juga antara Civil society dengan negara. Civil society saat itu sering hanya dijadikan kendaraan, bukan untuk melahirkan keadaban (civility) dan modal sosial (social capital). Keadaan itu memicu daya tarik dalam konflik sosio-politik yang melibatkan massa sampai akar rumput. Keberadaan Civil society dalam era Demokrasi Terpimpin itu justru banyak mendatangkan mudharat, tidak mendorong perubahan politik yang lebih demokratis, tetapi justru Civil society pada masa itu berperan merontokkan pilar19 pilar demokrasi (declaine democracy). Indonesia di bawah rezim Orde Lama pada periode 1950-an dan 1960-an diwarnai konflik antar dan intern Civil society yang disertai kekerasan yang dasyat yang pada gilirannya melibatkan pula rezim negara, yang kemudian memedarkan konflik yang bercorak horizontal maupun vertikal. Pertentangan antara petani miskin (landless) yang kebanyakan berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan tuan tanah (landlord) yang kebanyakan terdiri dari para kyai atau santri yang berafiliasi dengan NU, telah menyeret keterlibatan militer yang mem-back up kaum santri. Dalam konflik tersebut, PKI dengan BTI membuat slogan “perang melawan tujuh setan desa (seven village devils), termasuk di dalamnya kyai”. Tak kalah serunya, para kyai atau santri meng-counter-nya dengan “jihad melawan 20 ateis dan komunis” . Tercatat, konflik antar elemen Civil society yang melibatkan peran militer telah melahirkan pembunuhan besar-besaran baik yang dilakukan kalangan komunis terhadap santri, ataupun yang dilakukan santri dengan dukungan militer terhadap kalangan komunis. Pada September sampai dengan Oktober 1965, PKI telah melancarkan kudeta dengan menculik dan membunuh enam jenderal senior, saat bermasaan militer dan NU juga melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap PKI beserta simpatisannya. Tercatat sebanyak 500.000 sampai satu juta orang kebanyakan adalah anggota dan simpatisan PKI dibunuh. Konflik yang mencapai puncaknya pada peristiwa 19651966 inilah yang melahirkan perubahan politik dari Orde Lama ke 21 Orde Baru yang ditandai oleh naiknya rezim Soeharto .
19 20

Edward Aspinal, Indonesia Transformation……,hlm.62-63 Edward Aspinal, Indonesia Transformation..............., hlm., 67-68. 21 Edward Aspinal, Indonesia Transformation ................, hlm., 68-69.

108

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

b.

Era Orde Baru : Civil society Ditekan, Civil society Bertahan, dan Civil society Melawan Lahirnya era Orde Baru dengan Soeharto tampil sebagai presiden RI tidak bisa dilepaskan dari penggalan kelam sejarah pertikaian politik aliran yang diwarnai kekerasan. Seiring dengan naiknya Soeharto, maka gerbong militerlah yang menguasai pemerintahan dan selanjutnya memotong mata rantai politik aliran dan menyusun konsensus sosial dan politik dengan pendekatan kekerasan. Kepemimpinan militer, sebagaimana digambarkan oleh Richard Tanter, sebagai totaliran ambitions. Dalam konteks ini, militer yang menguasai negara berambisi untuk memperkuat dan memperluas kontrol negara atas kehidupan sosial. Hal ini dilakukan Orde Baru lebih dikarenakan khawatir memori konflik berdarah-darah sebagaimana peristiwa 22 kemanusiaan 1965-1966 . Pada era Orde Baru, Civil society dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu, pertama, organisasi tunggal berbadan hukum, seperti organisasi petani yang tergabung dalam HKTI (Himpunan Kerukunan Petani Indonesia). HKTI ini merupakan organisasi yang memiliki ketergantungan kepada pemerintah dan sekaligus memiliki afiliasi dengan Golkar. Kedua, organisasi semi berbadan hukum (semicorporist), sebuah organisasi yang independen dalam asal usul dan aspirasinya, namun berkompromi dengan negara agar bisa survive. Masuk dalam lingkaran organisasi ini antara lain NU dan Muhammadiyah. Ketiga, organisasi Civil society proto-oposisional, yakni organisasi yang memiliki kemandirian besar dari intervensi negara, namun sesekali mengadopsi pendirian kritis terhadap kebijakan dan tindakan yang dilakukan negara. Termasuk dalam kategori ini antara lain adalah organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam reformasi hukum (LBH), perlindungan lingkungan, dan 23 pembangunan alternatif bagi komunitas tertentu . Sementara itu, kehidupan asosiasional selama era Orde Baru ditandai oleh dua kecenderungan penting. Pertama, semakin kaburnya batasan-batasan antara negara dan civil society. Kekaburan ini merupakan produk dari peran sentral negara

22 23

Edward Aspinal, Indonesia Transformation.................., hlm., 71. Edward Aspinal, Indonesia Transformation.................., hlm., 71-72.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

109

dalam menciptakan restrukturisasi kehidupan sipil serta intervensi negara terhadap organisasi legal. Sebagai hasilnya, tantangan terhadap Orde Baru dicirikan oleh apa yang X.L. Ding gambarkan sebagai “institutional amphibiousness”, di mana institusi-institusi resmi atau semi resmi dimanfaatkan untuk tujuan melakukan counter terhadap tujuan yang dimiliki institusiinstitusi tersebut. Contoh yang paling nyata, pada permulaan 1990-an, ada upaya dari kelompok Islam modernis yang hendak mengkolonisasi negara dari dalam melalui Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dinahkodai oleh B.J. Habibie dan 24 juga atas sponsor dari Soeharto sendiri . Ciri kedua dari Civil society era Orde Baru adalah karakternya yang dapat dibilang defensif. Tidak banyak NGO ataupun elemen Civil society dihadapkan pada rezim Orde Baru yang sangat represif yang terang-terangan melakukan kontrol apalagi resitensi terhadap rezim negara. Sikap defensif semacam ini juga ditunjukkan secara jelas oleh NU. Sejak 1970-an, NU dikenal sebagai organisasi yang memiliki hubungan yang kerap berseberangan dengan negara yang dinilainya telah melakukan represi terhadap kehidupan umat Islam. Pada 1984, organisasi ini menunjukkan perubahan dalam membangun relasi dengan pemerintah. Terlebih lagi saat itu NU menjadi organisasi pelopor yang menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Hubungan antara NU dengan negara pun kian mencair dan menunjukkan kedekatannya. Konsekuensinya, Negara pun lebih perhatian dan banyak mengalokasikan program pembangunannya ke 25 pesantren NU . Pada akhir 1990-an, Civil society secara institusional dapat dikatakan kian melemah. Beragam elemen Civil society memiliki pandangan yang berbeda mengenai masyarakat yang ideal. Sebagai konesekuensinya, kelompok-kelompok tersebut menetapkan tujuan dan langkah-langkah perjuangan yang berbeda-beda pula. Tidak sebatas itu, kelompok-kelompok Civil society pada periode ini juga sangat tergantung dengan founding

24 25

Edward Aspinal, Indonesia Transformation..................., hlm., 72-73. Edward Aspinal, Indonesia Transformation..................., hlm., 73-74.

110

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dari luar maupun supporting dari negara guna mempertahankan 26 eksistensinya . Namun demikian, satu hal yang penting dicatat adalah bahwa represi rezim otoritarianisme Orde Baru dalam jangka panjang, tidak serta merta dapat melumpuhkan atau membuat tiarap kekuatan civil society. Tekanan yang besar dalam momentum tertentu telah memunculkan ledakan massa dalam melakukan perlawanan terhadap rezim negara otoriter. Gerakan reformasi 1998 yang ada di Indonesia yang berhasil menumbangkan rezim otoritarianisme Orde Baru merepresentasikan persoalan tersebut.

2.

Civil society dan Perubahan Politik di Philipina

Perkembangan Civil society di Philipina tidak dapat dipisahkan dari 27 people power atau revolusi EDSA (Evanigno De Los Santos Aveue) . Sebab , gerakan revolusi massa inilah yang berhasil menciptakan perubahan politik yang ditandai oleh tumbangnya rezim otoritariamisme Marcos, dan munculnya era transisi demokrasi. People Power di Philipina ditengarai berdampak luas dan sekaligus memberi inspirasi terhadap munculnya gerakan serupa dalam menumbangkan rezim otoritarianisme di Asia, termasuk Indonesia dalam gerakan reformasi 1998. Fenomena Civil society di Philipina sebenarnya telah lama tumbuh dan berkembang sebelum revolusi EDSA, mereka terdiri dari berbagai elemen mahasiswa, kaum buruh, petani, nelayan, dan berbagai organisasi sosial lainnya. Namun demikian gerakan Civil society ditekan sehingga tidak mempunyai cukup ruang untuk mengartikulasikan perlawanan karena begitu kuatnya kediktatoran Marcos yang hegemonik. Banyak elemen Civil society yang belum cukup kuat dan tersendat oleh perbedaan imaginasi mengenai masa

26 27

Edward Aspinal, Indonesia Transformation..............., hlm., 74-77. EDSA merupakan sebuah tempat yang menjadi tempat berkumpulnya elemen civil society dalam melancarkan gerakan kontra rezim dictator Marcos.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

111

depan demokrasi di Philipina, memilih untuk tiarap daripada 28 berhadap-hdapan secara vis a vis dengan negara . a. Revolusi EDSA 1 Pemerintahan diktator Marcos berlangsung selama 20 lebih tahun diwarnai dengan sistem pemerintahan yang hegemonik dengan karakter utama yang dominative, represif dan eksploitatif, dan tidak memberikan kebebasan berpendapat. Politik represif berhasil menciptakan kepatuhan, ketundukan, dan menekan setiap gerakan kontra pemerintah. Di sisi lain tindakan represif tidak selamanya mampu menciptakan kepatuhan, tetapi sebaliknya dapat melahirkan gerakan kontra-hegemoni. Situasi sosial politik inilah yang oleh banyak pihak diidentifikasi menjadi konteks bagi kemunculan gerakan people power yang dimotori 29 kekuatan Civil society 1980-an. Peristiwa ini bermula dari pembunuhan terhadap Benigno Aquino (1983), diikuti kemudian dengan demonstrasi besar-besaran di Manila (1983-1986) yang dimotori antara lain oleh Corazon Aquino yang menentang kediktatoran Marcos. Pada November 1985 Marcos mengumumkan pemilu sela yang akan dilaksanakan pada 1986. Pemilu berhasil dilaksanakan, tetapi muncul gelombang protes terhadap kecurangan manipulasi suara oleh kubu Marcos. Jenderal Fidel Ramos Wakil Staf Angkatan Bersenjata Philipina dan Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrille membelot, dan menyatakan bahwa pemenang 30 pemilu sebenarnya adalah Corazon Aquino . Saat itulah, Jaime Kardinal Sin lewat radio Veritas meminta umatnya untuk melindungi petinggi militer tersebut. Ribuan orang terdiri dari massa rakyat dari berbagai lapisan, elit politik, kelas menengah, kalangan bisnis, mahasiswa, buruh, dan elit agama (Gereja Katolik) turun ke jalan memenuhi Epifano de Dos Santos Avenue (EDSA) untuk melakukan perlawanan terhadap kediktatoran Marcos. Gerakan people power yang disebut-sebut

28

Jenifer C. Franco, The Philipines, Factious Civil Society and Compening Visions of Democracy, dalam Mutiah Alagappa, Civil Society and Political Change, hlm.99102 29 Jenifer C. Franco, The Philipines, Factious Civil Society and Compening Visions of Democracy…hlm.106-109. 30 Jenifer C. Franco, The Philipines, Factious Civil Society and Compening Visions of Democracy….hlm 109 - 111

112

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

sebagai revolusi EDSA inilah yang berhasil memaksa Marcos turun dari kursi kepresidenan. b. Revolusi EDSA 2 Keberhasilan people power dalam revolusi EDSA 1 dalam menumbangkan rezim otoritarianisme tidak serta merta memberi jaminan terhadap terbangunnya sistem kehidupan sosial politik yang betul-betul demokratis. Pada masa pemerintahan Corazon Aquino ini pula sesungguhnya elemen-elemen Civil society dalam mengawal pemerintahan yang demokratis telah terfragmentasi ke dalam berbagai kelompok. Mereka tidak memiliki pandangan dan kepentingan sama terkait dengan pembangunan demokrasi, yang kemudian memicu konflik 31 kepentingan di antara elemen civil society . Kondisi sosial-politik Philipina terus mengalami kemerosotan seiring dengan kemenangan Estrada dalam pemilu. Era pemerintahan Estrada dapat dikatakan mengalami kemunduran, kembali ke jalur otoritarianisme. Masyarakat mulai melakukan protes terhadap sistem perpolitikan pemerintahan Estrada yang tidak aspiratif terhadap kepentingan rakyat. Gerakan people power jilid 2 yang dipelopori Civil society bangkit kembali. Gerakan people power ini akhirnya berhasil menumbangkan rezim Estrada, dan melahirkan pemimpin baru Gloria Macapagal 32 Arroyo lewat pemilu Dinamika perkembangan Civil society berikutnya di Philipina mengalami pasang surut, dalam membangun power relation dengan negara ataupun dalam agenda perubahan politik, hampir seperti di Indonesia. Awal pemerintahan Arroyo masih dinilai demokratis, tetapi kemudian nampak adanya isu-isu korupsi, kolusi, dan nepotisme mulai mewarnai pemerintahan Arroyo. Hal ini memicu munculnya gerakan people power jilid 3. Namun, masyarakat Philipina nampaknya mulai jenuh dengan gerakan people power. Mereka mempertanyakan akankah perubahan politik di Philipina selalu dilakukan dengan cara-cara gerakan people power?

31

Jenifer C. Franco, The Philipines, Factious Civil Society and Compening Visions of Democracy….hlm 109 – 111 32 Jenifer C. Franco, The Philipines, Factious Civil Society and Compening Visions of Democracy….hlm 109 - 111

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

113

3.

Civil society dan Perubahan Politik di Korea Selatan

Fenomena gerakan Civil society di negara Korea Selatan ini sudah muncul pada tahun 1948, yaitu tiga tahun setelah Korea bebas dari olonialisme Jepang. Negara ini memasuki fase demokrasi liberal. Elemen-elemen demokrasi Liberal-seperti adanya konstitusi, pemisahan pemerintahan (legislative, Yudikatif, dan eksekutif), pemilu, partai politik, kelompok kepentingan, media – semuanya sudah ada pada permulaan republic. Periode berikutnya, terutama 1980-an, secara berturut-turut, Korea Selatan mengalami dinamika perubahan politik dari liberal demokratik menuju sistem pemerintahan otoritarian, dan kembali berhasil menciptakan perubahan politik 33 kearah yang lebih demokratis. a. Gerakan Civil society dan Perubahan Politik dalam Sejarah Korea Selatan Gerakan Civil society di Korea Selatan dapat dilacak dari sejarah 34 sejak periode kolonialisme Jepang tahun 1910-1945. Saat Jepang mengalami kemunduran pada Agustus 1945, autoritas Jepang memberikan kuasa kepada Yo Un Hyong untuk membentuk panitia persiapan penetapan negara baru (the Preparatory Commiteefor Establishing a New State), yang disebut Konjun, guna memposisikan kembali apparatus negara Jepang. Pada 8 September 1945, Republik Rakyat Korea dirayakan. Negara baru mengakomodasi perluasan eksplosif civil society. Komunis dalam hal ini memainkan peran instrumental dalam organisasi sosial, mereka tampil sebagai pimpinan sejumlah gerakan perjuangan bawah tanah melawan imperialism Jepang. Pada 15 Februari 1946, sejumlah organisasi sosial yang berbeda-beda telah mengalami perkembangan mencapai jumlah 35 organisasi. Kelompok-kelompok ini tidak serta-merta berada

33

Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.138-140 34 Imperialisme Jepang telah mendorong terbentuknya negara kolonial yang powerful dalam berhadapan dengan masyarakat Korea. Pemerintah kolonial memiliki kekuasaan tak terbatas, kuat, dan bagus organisasinya dibanding dengan sistem pemerintahan Korea asli prakolonial yang monarkhi. Imperialisme Jepang terkenal resistan, militant, dan oposisional terhadap civil society. Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.140

114

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

di bawah pengaruh Komunis, tetapi justru dicirikan dengan 35 tingginya tingkat fungsi dan otonominya . Munculnya pemerintahan di bawah angkatan bersenjata Amerika di Korea membawa bencana tersendiri bagi perkembangan organisasi civil society. Untuk memutus kedekatan hubungan antara Civil society dengan komunis, pemerintah militer Amerika secara sistematis merepresi dan mendepolitisasi civil society. Perang dinginpun terjadi saat kelompok Civil society Civil society yang dipelopori oleh the National Council of Labour Unions dan The National Federation of Peasant Unions merespon kebijakan opresif pemerintahan militer Amerika dengan demonstrasi dan 36 perlawanan keras. Periode pertengahan 1980, Korea Selatan kembali jatuh ke dalam sistem pemerintahan yang tidak demokratis. Konstitusi diamandemen untuk mengeliminasi pembatasan kekuasaan presiden, presiden menempati posisi dominan, pemilu berjalan tidak fair, kelompok kepentingan menjadi kaki tangan, keberadaan media dikontrol ktat oleh negara. Pada Juni 1987, pimpinan partai berkuasa Roh Tae Woo mengajukan delapan paket demokratisasi yang banyak menadopsi tuntutan partai oposisi dan kelompok-kelompok gerakan sosial. Hasilnya, sejumlah perubahan signifikan muncul dalam politik Korea Selatan sejak 1987. Seiring dengan perluasan kebebasan dan kekuatan sipil, Korea Selatan kian berhasil melewati transisi dari kebijakan otoritarian menuju demokrasi, dan bahkan sekarang menjadi salah satu negara Asia yang mampu mengkonsolidasikan demokrasi. b. Civil Society, Transisi, dan Konsolidasi Demokrasi Dinamika politik di Korea Selatan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu periode demokratisasi pertama (1956-1961), mahasiswa dan intelektual urban melakukan perlawanan terhadap represi dan korupsi yang dilakukan rezim otoritarian Syngman Rhee. Mahasiswa bersama partai oposisi progresif juga melakukan kampanye demokrasi. Periode demokratisasi kedua (1973-1980), sejumlah asosiasi nasional terdiri dari

35

Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.141 36 Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.142

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

115

kalangan intelektual, jurnalis, professional dan pemimpin agama memainkan peran penting dalam melawan rezim otoriter Park Chung Hee. Sedangkan pada periode demokratisasi ketiga(1984-1987), aliansi Civil society prodemokrasi terdiri dari mahasiswa, pekerja, dan gereja serta mendapat sokongan dari elas menengah. Kelompok-kelompok Civil society disatukan oleh asosiasi yang mencakup organisasi-organisasi regional dan nasional sehingga keberadaannya semakin kuat dan luas. Usaha yang dilakukan dalam melakukan perlawanan terhadap rezim otoritarian semakin sistematis, dan sekaligus menegosiasikan 37 tuntutan demokrasi yang mereka perjuangkan . Di bawah rezim Chun Doo Hwan, represi negara terhadap Civil 38 society berlangsung selama empat tahun (1980-1983) . Bersamaan dengan coup militer dan kekerasan terhadapgerakan 39 prodemokrasi di Kwangju pada Mei 1980. Akhir 1983, penindasan Chun terhadap Civil society berkurang secara signifikan, rezim otoritarian memutuskan untuk meliberalisasi kebijakan dengan memberikan kesempatan kepada para professor dan mahasiswa kembali ke kampus, dan menarik polisi militer dari kampus, dan merehabilitasi tahanan politik. Kebijakan baru pemerintahan Chun ini membawa implikasi terhadap bangkitnya kembali civil society. Pada periode itu pula, para politisi oposisi membentuk the New Korea Democratic Party (NKDP : Sinhan Minjundang) pada Januari 1985.Politik otoritarian di Korea Selatan telah jatuh, dan transisi demokrasipun mulai tumbuh, ditandai munculnya formasi NKPD 40 beserta penjajaran pemilihnya dengan kelompok civil society. Sementara itu, gerakan prodemokrasi Korea Selatan dalam kurun waktu 1886-1987 mengambil tiga bentuk yang berbeda.

37

Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.143-144. 38 Tahun 1980-1983 tersebut nyaris tidak ada barisan oposisi yang nyata dalam politik Korea Selatan.Partai-partai politik dikontrol secara ketat oleh rezim otoritarian. Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.145. 39 Rezim otoritarian melakukan pembersihan terhadap ribuan pejabat publik, politisi, professor, guru, pastor, jurnalis, dan mahasiswa atas dasar tuduhan korupsi, anjuran demonstrasi anti pemerintah dan usaha pemberontakan. 40 Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.145.

116

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Pertama, mulai awal 1986, para aktivis agama menuntut revisi perundang-undangan secara cepat. Para pastor Protestan membuat pernyataan yang intinya diperlukan drafting terhadap konstitusi yang menjamin pemilihan presiden, hak azasi manusia, dan keadiklan ekonomi. Kardinal Kim Su Hwan, awal Mei 1986 mengumumkan bahwa demokratisasi adalah jalan terbaik untuk membuat perdamaian bersama Tuhan. Kedua, kelompok oposisi NKPD berkampanye populer untuk mengumpulkan sepuluh juta tandatangan guna mendukung diadakannya revisi undangundang. Ketiga, kelompok Civil society bergabung dengan NKDP mensponsori sejumlah rapat umum massa dalam mendorong demokratisasi. Koalisi demokrasi besar yang digalang kelompok Civil society dan partai oposisi sukses memobilisasi warga masyarakat orea dari seluruh lapisan kehidupan, dengan slogan “turunkan rezim otoritarian militer dan bangkitlah pemerintahan demokratik”. Akhirnya, pada 29 Juni 1987, mobilisasi massa secara besarbesaran memenuhi hampir seluruh sudut kawasan di Korea Selatan, rezim otoritarian mengumumkan sebuah konsesi yang cukup dramatic guna memenuhi tuntutan kelompok Civil society dan partai oposisi. *emerintah juga mengadopsi tuntutan kelompok Civil society untuk diadakan pemilihan presiden secara langsung. Sebuah keberhasilan yang cemerlang telah diraih oleh kelompok-kelompok Civil society yang berbeda-beda di Korea Selatan telah memainkan peran krusial dalam mendobrak rezim otoritarian dan melahirkan sebuah era transisi menuju 41 demokrasi

SIMPULAN Dari beberapa peneliti mengenai dinamika perkembangan Civil society di beberapa negara di Asia dalam perannya menuju demokratisasi, menyiratkan suatu perbedaan kerangka teoritik jika dibandingkan dengan perspektif teoritik Civil society di Eropa yang dikemukakan Arato. Konsep Civil society yang berkembang di Asia
41

Sunhyuk Kim, South Korea: Confrontational Legacy Democratic Contributions, dalam Muthiah Alagappa, Civil Society and Political ….hlm.147.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

117

memang berasal dari Barat, terutama Eropa, hanya saja Civil society yang berkembang di Asia, dipastikan dalam perkembangannya sarat dengan perdebatan- dan kemudian yang banyak dijadikan acuan para peneliti tidaklah sama dengan pengalaman Eropa. Civil society di Asia tidak mutlak berhadap-hadapan dengan negara, ataupun diidentikkan dengan kelompok yang melakukan perlawanan terhadap negara yang otoriter. Dari hasil penelitian di Asia seperti tertulis di dalam makalah ini, fenomena Civil society di Asia itu menampakkan karakternya yang lebih luwes, daripada lugas/ tegas. Adakalanya Civil society bisa bergandengan tangan dengan negara, meski negara otoriter, namun sering kali pula Civil society berhadap-hadapan dengan negara. Banyak pengalaman negara-negara di Asia menunjukkan fakta tentang keberadaan Civil society yang menimbulkan berbagai dampak, tidak hanya membawa sisi terang (dampak positif), namun juga bisa membawa sisi gelap (berdampak negative). Civil society berdampak positif manakala pada periode tertentu tumbuh dan berkembang aneka asosiasi dan organisasi di luar negara dan secara kritis mereka bisa melakukan fungsi kontrol terhadap negara dalam proses-proses perubahan sosial. Sebaliknya, jika dalam periode tertentu Civil society kelihatannya tumbuh dan berkembang pesat, namun mereka lemah dan bahkan di dalam tubuh Civil society sendiri terlibat dalam konflik berkepanjangan, maka dalam hal demikian Civil society cenderung memberikan dampak negative bagi perubahan politik yang lebih demokratis.

DAFTAR PUSTAKA Alagappa, Muthiah (ed.). 2004. Civil society and Political Change in Asia : Expanding and Controlling Space Democratic.Stanford. California : Stanford University Press. Arato, Andrew. 2000. Civil Society, Constitution, and Legitimacy. Lanham, Md: Rowman & Littlefield. Budiman, Arif.1990. State and Civil society in Indonesia. Australia : enter of Shoutheast Asian Studies. Cohen, Jean L. and Andrew Arato. 1992. Civil society and Political Theory. Cambridge, Mass : MIT Press. Gramsci, Antonio.1971. The Selections From the Prison Notebooks. London : Lawrence and Wishart.

118

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Hall, John A. 1995. In Searh of Civil Society, dalam Johan A.Hall (ed.). Civil Society: Theory, History, Comparison. Cambridge, Massachussets: Polity Press. Haynes, Jeff. 2000.Demokrasi & Masyarakat Sipil Dunia Ketiga : Gerakan Politik Baru Kaum Terpinggirkan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Hikam, Muhammad A.S. 2000. Islam, Demokratisasi Pemberdayaan Civil society Jakarta: Erlangga. &

Huntington, Samuel P. 2004. Democacy’s Third Wave, dalam Larry Diamond and Marc F. Plattner (ed.) The Global Resurgence of Democracy, Baltimore and London: The Johns ty Press. Muukkonen, Martti. 2009. Framing the Field: Civil society and Related Concepts. dalam Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly. Mar 30. Sage Publication. Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo. Tusalem, Rollin F. 2007. A Boon or a Bane ? The Role of Civil society in Third- and Fourth-Wave Democracies. dalam International Political Science Review. 28; Sage Publication. Uhlin, Anders. 2009. Which Characteristics of Civil society Organizations Support What Aspects of Democracy ? Evidence from Post-Communist Latvia. dalam International Political Science Review. 30. Sage Publication.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

119

MASYARAKAT MADANI DAN IDEOLOGI DALAM PENERJEMAHAN: SEBUAH PERSPEKTIF INTERDISIPLINER Karnedi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka karnedi@ut.ac.id ABSTRAK Istilah Civil society ‘masyarakat madani’ atau ‘masyarakat sipil’ atau ‘masyarakat kewargaan’ termasuk ranah ilmu politik yang mengacu pada sebuah masyarakat yang ideal yang berbudaya, maju, dan modern. Setiap warga memiliki kesadaran yang tinggi tentang hak dan kewajibannya. Namun, bagaimana padanan terminologi itu diciptakan dalam bahasa Indonesia belum banyak dibicarakan orang. Makalah ini mencoba membicarakan tentang relasi ideologis berbagai istilah dalam domain Civil society khususnya dalam budaya politik Barat dengan padanan istilah yang sering digunakan dalam budaya politik di Indonesia. Dengan kata lain, analisis interdisipliner dalam makalah ini difokuskan pada kajian penerjemahan teks tentang Civil society dari bahasa asing ke bahasa Indonesia serta implikasi ideologisnya dalam perpolitikan di Indonesia. Data berupa teks dikumpulkan dari beberapa buku teks tentang Civil society dalam bahasa Inggris dan padanannya dalam bahasa Indonesia. Analisis teks dalam makalah ini menunjukkan bahwa pemilihan sejumlah padanan istilah yang terkait dengan domain Civil society dalam bahasa Indonesia mencerminkan ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah: apakah foreignization, yaitu sebuah ideologi yang lebih berorientasi pada bahasa dan budaya sumber ataukah domestication, yaitu ideologi yang berorientasi pada bahasa dan budaya sasaran. Temuan analisis teks dalam makalah ini turut memperkuat teori Civil society ‘masyarakat madani’ atau ‘masyarakat sipil’ atau ‘masyarakat kewargaan’ serta ideologi dalam penerjemahan teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Kata kunci: masyarakat madani, ideologi penerjemahan

120

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Sebagai sebuah konsep, ‘masyarakat madani’ merupakan sebuah padanan yang dipilih dan digunakan dalam berbagai wacana bidang sosiologi berbahasa Indonesia, di samping sejumlah padanan yang lain. Penelitian kebahasaan, khususnya kajian penerjemahan yang melibatkan penerjemahan teks dari bahasa Inggris (sebagai bahasa sumber) ke bahasa Indonesia (sebagai bahasa sasaran), dengan latar belakang sosio-historis pembentukan istilah ’madani’ sangatlah menarik, relevan, dan penting guna mengkaji kecenderungan pemilihan padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia yang sekaligus mencerminkan ideologis penerjemahan yang diadopsi oleh pencipta atau pengguna istilah itu dalam berbagai wacana sosiologi dan politik. Dengan kata lain, makalah ini menyajikan sebuah analisis komparatif yang melibatkan bahasa sumber, khususnya istilah Civil society dalam wacana, dan bahasa sasaran guna menginterpretasikan muatan ideologis penerjemahannya. KAJIAN PUSTAKA Definisi Civil society vs ‘Masyarakat Madani’ Secara etimologis, frasa masyarakat sipil merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris, Civil society yang diserap dari bahasa Latin civilas societas. Istilah Civil society pertama kali digunakan oleh Adam Ferguson (1723−1816) dalam sebuah tulisannya yang berjudul “An Essay on History of Civil Society” (1767). Konsep Civil society kemudian dikembangkan oleh beberapa filsuf yang lain sehingga kemudian melahirkan beberapa teori tentang konsep Civil society itu sendiri. Karni dalam Baso (1999) mencoba merangkum lima teori Civil society yang berkembang dalam budaya Barat. Hobbes dan Locke, misalnya, menganggap Civil society sebagai salah satu upaya bagi penyelesaian sekaligus peredam konflik antar kelompok masyarakat, sebuah misi yang biasanya diemban oleh negara. Di samping itu, Ferguson memandang Civil society sebagai sebuah upaya alternatif yang menjunjung tinggi tanggung jawab dan merupakan alat perekat sosial sehingga berbagai konflik dalam masyarakat dapat diselesaikan. Pada sisi lain, Paine melihat Civil

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

121

society yang berfungsi untuk membatasi ruang gerak negara. Hegel berpandangan bahwa Civil society merupakan sebuah entitas yang menggantungkan nasibnya pada negara dalam hal penyediaan intrumen hukum dan administrasi. Pandangan senada yang ingin melemahkan Civil society juga dikemukakan oleh Marx. Ia ingin melenyapkan civil society, sebuah masyarakat yang tidak mengenal kelas sosial. Gramsci merupakan tokoh lain yang memiliki pandangan yang hampir sama dengan Marx. Namun, Gramsci lebih menyoroti peran Civil society sebagai kekuatan pengimbang di luar kekuatan negara. Oleh karena itu, pandangannya itu lebih berdimensi ideologis. Pandangan Gramsci diperluas lagi oleh Habermas yang dikenal dengan konsepnya the free public sphere ‘ruang publik yang bebas’ yang memberikan akses seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk dapat melibatkan diri dalam setiap kegiatan publik. Tocquiville menyoroti peran Civil society yang dapat mengimbangi kekuatan negara yang sering kali berlebihan. Dengan kata lain, konsep Civil society yang bermula dari daratan Eropa pada abad ke17 M itu memiliki sebuah misi, yaitu ingin membebaskan diri (warga negara) dari pengekangan yang dilakukan oleh para rohaniwan dan para penguasa, dalam hal ini raja. Dalam “Glosarium Istilah Asing-Indonesia (2006), diberikan beberapa pilihan padanan untuk istilah civil society, tergantung pada bidang ilmu yang melatarinya. Misalnya dalam bidang Sosiologi, istilah Civil society dipadankan dengan dua alternatif padanan, yaitu masyarakat madani dan masyarakat sipil, masing-masing digunakan secara sengaja oleh penulis dengan cara pandang atau ideologi tertentu (world dview). Dalam ilmu Politik, padanan masyarakat sipil sengaja dipilih untuk mengkontraskannya dengan istilah militer. Dalam Filsafat, istilah yang sama dipadankan dengan istilah kelompok masyarakat. Bahkan, ada juga yang lebih memilih menggunakan istilah aslinya dalam bahasa Inggris, yakni Civil society dengan alasan-alasan tertentu. Dengan kata lain, melalui analisis strategi penerjemahan, kecenderungan dalam memilih padanan tertentu dapat mencerminkan posisi penulis teks atau pembicara dalam mengikapi atau mekanai fenomena sosial-politik yang berkembang. Istilah masyarakat madani pertama kali diperkenalkan oleh Dato Anwar Ibrahim mantan Menteri Keuangan dan Asisten Perdana

122

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Menteri Malaysia dalam sebuah simposium (1995) dengan judul “Islam dan pembentukan Masyarakat Madani”. Tidak seperti halnya istilah-istilah yang lain, istilah masyarakat madani bukan diciptakan oleh ahli bahasa/penerjemah, politikus, sosiolog melainkan oleh seorang pejabat pemerintah meskipun dalam kapasitasnya sebagai seorang ilmuwan dalam sebuah temu ilmiah. Penggunaan istilah yang dimaksud kemudian lebih dipopulerkan lagi oleh sejumlah intelektual muslim di Indonesia. Misalnya Nurcholish Madjid yang berpendapat bahwa konsep madaniyyah mengacu pada sebuah masyarakat yang memiliki budaya dan peradaban, Emil Salim, dan Amien Rais. Bahkan, sejumlah politikus seperti B. J. Habibie, Wiranto, dan SBY juga ikut mempopulerkan istilah tersebut dalam konteks sosio-politik di Indonesia.

Ideologi dalam Penerjemahan Melalui karya terjemahan, perspektif ideologis yang dianut oleh seorang penerjemah sering dapat diamati, terutama ketika bersentuhan dengan budaya sumber dan bahasa sumber. “Posisi” atau strategi penerjemahan yang dipilih boleh jadi lebih berorientasi pada BSa yang dikenal domesticating strategies of translation/domestication, atau lebih menunjukkan keberpihakan pada budaya sasaran dan bahasa sasaran yang disebut dengan foreignizing strategies of translation/foreignazation (Penrod 1993), seperti yang dikutip oleh Fawcett dan Munday (2009, h. 138). Namun, batasan kedua dikotomi itu telah ditinjau ulang oleh beberapa pakar di bidang kajian penerjemahan. Misalnya Venuti (1995a/1998b) mengkritik penerapan strategi penerjemahan di Amerika yang lebih didominasi oleh unsur-unsur budaya Anglo-Amerika. Dengan kata lain, perdebatan seputar penerapan strategi penerjemahan, terutama dalam konteks penerjemahan harfiah (literal translation) yang pengontrolan terhadap makna bersifat normatif sangat diutamakan. Penerjemahan bebas (free translation) cenderung dilandasi oleh motif ideologis: apakah bermotifkan agama atau terkait dengan kebijakan internal penerbit tertentu. Kecenderungan ideologis para pemangku kepentingan dalam industri penerjemahan antara lain dapat ditelusuri pada bagian kata pengantar dan daftar pustaka sebuah karya terjemahan, serta dalam materi pendukung lainnya (Baker 2006a/2007), seperti yang dikutip oleh Fawcett dan Munday (2009, h. 138–139).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

123

Batasan ‘ideologi’ dalam penerjemahan yang dijadikan acuan dalam disertasi ini mengacu pada definisi ideologi menurut beberapa pakar penerjemahan, yaitu Mason (1992) (1992), Hatim dan Mason (1997), dan Van Dijk (1998, h. 6), seperti yang dikutip oleh AlMohannadi (2008, h. 529–542), termasuk Tymoczko 2003 seperti yang dikutip oleh Munday (2007, h.197). Empirical studies must seek not to contrast disembodied entities or isolated phrases from the source text and target text but to trace generic, discoursal and textual developments which reveal ideologies and highlight the medeating role of the translator (Mason 1992, h. 34). A body of assumptions which reflects the belief and interest of an individual, a group of individuals, a social institution, etc. and which ultimately find expression in language (Hatim dan Mason 1997, h. 218). If we want to know what ideologies actually look like, how they work, and how they are created, changed and reproduced, we need to look closely at their discursive manifestations (Van Dijk 1998, h. 6). The ideology of a translation resides not simply in the text translated, but in the voicing and stance of the translator, and in its relevance to the receiving audience. These latter features are affected by the place of enunciation of the translator: indeed they are part of what what we mean by the ‘place’ of enunciation, for that ‘place’ is an ideological positioning as well as geographical or temporal one. (Tymoczko 2003) Keempat kutipan tersebut di atas melihat ideologi dalam kaitannya dengan kajian penerjemahan sebagai sebuah penelitian empiris sebab didasarkan pada data (subkorpus TSu dan subkorpus TSa) serta peran mediasi penerjemah sebagai individu yang memiliki kepentingan yang sekaligus mencerminkan cara pandang mereka (worldview) terhadap terjemahan sebagai manifestasi dari teks atau wacana. Di sisi lain, konsep ‘benar’, ‘berterima’, dan ‘baik’ dalam penerjemahan sangat ditentukan oleh tujuan [skopos] penerjemahan itu sendiri: apakah berorientasi pada BSu (ideologi foreignization) ataukah berorientasi pada BSa (ideologi domestication)? Hoed (2003, h. 11) menggarisbawahi sikap kita/penerjemah terhadap kedua dikotomi ideologi dalam penerjemahan yaitu domestication dan foreignization, khususnya dalam konteks penerjemahan teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, seperti yang terlihat pada kutipan berikut.

124

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

... ideologi dalam penerjemahan dalam masyarakat kita menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pembaca [needs analysis]. Dalam hal ini, sikap kita seharusnya terbuka pada kedua ideologi yang saya kemukakan di atas. Keduanya dapat memberikan dampak posisif atau pun negatif karena akhirnya karya terjemahan berperan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

METODOLOGI Makalah ini menerapkan metode kualitatif (Travers 2001, h. 4–5; William & Chesterman 2002, h. 64–65) berupa analisis teks (textual analysis) dalam bentuk studi kasus. Metode penelitian yang dimaksud digunakan untuk menjelaskan bagaimana terminologi yang terkait dengan Civil society diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Analisis komparatif yang didasarkan pada model komparatif (TSu ≈ TSa atau TSa ≈ TSu). Data yang dianalisis bersumber dari beberapa sumber, termasuk dari Internet.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini, dipaparkan analisis penerjemahan istilah Civil society dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Analisis yang dimaksud bertujuan untuk mengkaji ideologi penerjemahan yang diadopsi oleh penerjemah ketika menerjemahkan teks tentang civil society. Untuk keperluan analisis, telah dicuplik tiga paragraf yang berasal dari teks sumber dan terjemahannya dalam bahahsa Indonesia. Paragraf TSu (1) menjelaskan tentang batasan civil society, sedangkan paragraf TSa (1) adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak komputer yang tersedia di Internet dengan sedikit perubahan. TSu (1): Civil society is composed of the totality of voluntary social relationships, civic and social organizations, and institutions that form the basis of a functioning society, as distinct from the force-backed structures of a state (regardless of that state's political system) and the commercial institutions of the market. Together, state, market and Civil society constitute the entirety of a society, and the relations between these three components determine the character of a society

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

125

and its structure. 03/07/2011) TSa (1):

(http://en.wikipedia.org/wiki/Civil_society

tgl

Masyarakat sipil terdiri dari totalitas hubungan sosial yang bersifat sukarela, organisasi sipil dan sosial, dan lembaga yang membentuk dasar bagi masyarakat berfungsi, yang berbeda dari struktur yang didukung oleh kekuatan sebuah negara (terlepas dari sistem politik negara) dan institusi komersial pasar. Negara, pasar, dan masyarakat sipil secara bersama membentuk keseluruhan masyarakat, dan hubungan antara ketiga komponen itu menentukan karakter masyarakat dan strukturnya (terjemahan dengan perubahan). Berdasarkan padanan yang dipilih pada TSa (1), diketahui bahwa istilah Civil society diterjemahkan menjadi masyarakat sipil, termasuk padanan ’organisasi sipil dan sosial’ dan ’ sistem politik’. Pemilihan padanan itu, dengan pangkalan data yang sangat terbatas pada Wikipedia, mencerminkan posisi ideologis penerjemah yang bersangkutan yang lebih berorientasi pada bahasa Inggris sebagai bahasa sumber. Dengan kata lain, penerjemah mengadopsi ideologi foreignization, sebuah ideologi penerjemahan yang ingin mempertahankan ciri teks sumber dalam teks terjemahan atau teks sasaran. Analisis penerjemahan TSu (2) menjadi TSa (2) juga memperlihatkan sebuah bukti empiris bagaimana ideologi foreignization telah diadopsi. Misalnya pemilihan padanan civil society, filantropi, kolonialisme, dan feminism, partisipasi warga dan ruang publik. Semua padanan itu masih bernuasa bahasa dan budaya sumber, dalam hal ini budaya Barat meskipun telah mengalami penyesuaian sitem pelafalan dan ejaan bahasa Indonesia. TSu (2): The essays in Women, Philanthropy, and Civil society illustrate the extent to which government, the market, religion, colonialism, and feminism have shaped the role of female philanthropy and philanthropists in different national settings. By shifting the focus from organizations to donors and volunteers, the authors assess the relative importance of each of these factors in creating opportunities for citizen participation, as well as the role of female philanthropy in

126

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

opening a space for women in the public sphere (http://www.iupress.indiana.edu/product_info.php?products_id=20027 tgl 03/07/2011). TSa (2): Esai-esai dalam Wanita, Filantropi, dan Civil society menggambarkan sejauh mana pemerintah, pasar, agama, kolonialisme, dan feminisme telah membentuk peran filantropi perempuan dan dermawan dalam konteks nasional yang berbeda. Dengan menggeser fokus dari organisasi pada donor dan sukarelawan, penulis menilai pentingannya setiap faktor secara relatif dalam menciptakan peluang bagi partisipasi warga, serta peran dalam filantropi perempuan untuk membuka ruang bagi perempuan di ruang publik (terjemahan dengan perubahan). Sebaliknya, fenomena penerjemahan TSu (3) menjadi TSa (3) sangat menarik untuk dikaji. Istilah Civil society telah diterjemahkan menjadi ’masyarakat madani’. Secara sepintas, padanan itu berorientasi bahasa sasaran sebab istilah ’masyarakat madani’ telah dibakukan dalam bahasa Indonesia sehingga tidak lagi bernuasa asing. Namun, jika dicermati secara lebih mendalam, padanan itu sesungguhnya berasal dari bahasa asing ketiga, dalam hal ini bahasa Arab. Kata madani berasal dari kata madaniyah atau dengan kata madinah, sebuah nama kota di jazirah Arab yang memiliki latar belakang historis-religius yang sangat penting dalam Islam. Konsep ’masyarakat madani’ dalam budaya Arab menggunakan istilah almujtama’ al-madani. Pendek kata, padanan ’masyarakat madani’ pun sesungguhnya masih berorientasi pada bahasa sumber atau bahasa asing kedua sehingga dapat dikatakan bahwa penerjemah juga telah mengadopsi ideologi foreignization. Dengan ideologi yang dimaksud, penerjemah atau pengguna istilah itu ingin “menghadirkan” karakteristik dan makna teks sumber yang bernuasa atau memiliki pesan religious dalam teks sasaran. TSu (3): Civil society faces huge question marks as both a theory and a vehicle for social change, but I think it is precisely its flexibility and openness that makes it useful as a framework for exploring the great questions of the day, a function Civil society has performed since the days of the Ancient Greeks – the nature of the good society, the rights and

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

127

responsibilities of citizens, the practice of politics and government, and how to live together peacefully by reconciling our individual autonomy with our collective aspirations, balancing freedom and its boundaries, and marrying pluralism with conformity so that complex societies can function with both efficiency and justice. And because the essence of Civil society is collective action – in associations, through the public sphere, and across society – the debate that has grown up around this term reminds us that individual efforts and experiences can never substitute for the relationships of love, solidarity, sacrifice and friendship that are the essence of our true human nature. At a time when such relationships are severely strained by broader changes in society, international relations and the economy, this may be the most important lesson that Civil society has to teach (Michael Edwards 2004) TSa (3): Sebagai sebuah teori maupun sarana bagi perubahan sosial, masyarakat madani menghadapi tanda tanya besar. Namun, saya pikir faktor fleksibilitas dan keterbukaan yang terkandung di dalamnyalah yang membuatnya bermanfaat sebagai sebuah kerangka kerja untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan besar dewasa ini. Sebuah fungsi masyarakat madani telah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno, yakni sifat dari masyarakat yang baik, hak dan tanggung jawab warga negara, praktik politik dan pemerintahan, serta bagaimana hidup bersama secara damai dengan cara mendamaikan otonomi individu dengan aspirasi kolektif kita, menyeimbangkan kebebasan dengan batas-batasnya, dan pluralisme dengan nilai tradisional sehingga masyarakat yang kompleks dapat berfungsi secara efisien dan adil. Mengingat esensi masyarakat madani adalah tindakan kolektif melalui asosiasi, ruang publik, dan masyarakat, perdebatan yang telah berkembang di seputar istilah itu mengingatkan kita bahwa upaya individu dan pengalaman tidak pernah dapat menggantikan hubungan cinta, solidaritas, pengorbanan, dan persahabatan yang merupakan esensi dari hakikat manusia. Ketika hubungan itu sangat tegang karena perubahan besar dalam masyarakat, hubungan internasional dan ekonomi, pelajaran paling penting yang dapart dipetik adalah bahwa masyarakat madani harus memberi contoh (diterjemahkan oleh penulis).

128

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

SIMPULAN Konsep Civil society dengan masyarakat madani memiliki latar belakang sosio-historis berbeda. Secara ontologis, istilah ‘masyarakat madani’ memiliki ideologi penerjemahan foreignization yang bersifat religius. Masyarakat madani menekankan nilai-nilai: demokrasi, transparansi, toleransi, potensi, aspirasi, motivasi, partisipasi, konsistensi, komparasi, koordinasi, simplifikasi, sinkronisasi, integrasi, emansipasi, dan hak asasi (Usman 2002, Zatmiko). Di antara nilainilai itu, masyarakat yang demokratis (demokrasi) merupakan yang paling menonjol. Analisis teks dalam makalah ini menunjukkan bahwa pemilihan sejumlah padanan istilah yang terkait dengan domain Civil society dalam bahasa Indonesia (masyarakat madani, masyarakat sipil, civil society) mencerminkan sebuah ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah, yakni ideologi foreignization yang lebih berorientasi pada bahasa dan budaya sumber atau bahasa asing. Temuan analisis teks dalam makalah ini turut memperkuat teori Civil society ‘masyarakat madani’ atau ‘masyarakat sipil’ atau ‘masyarakat kewargaan’ serta teori ideologi dalam penerjemahan teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Al Al-Mohannadi, S. (2008). Translation and ideology. Social Semiotics 18(4), 529−542. “Civil society”. Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/Civil_society#Definition tgl 31/05/2011. Edwards. M. (2004). Civil society. Cambridge: Polity Press Fawcett, P., & Munday, J. (2009). Ideology. Dalam Baker, M. (Ed.). Routledge encyclopedia of translation studies (h. 137−140). London: Routledge. Hatim, B., & Mason, I. (1997). The translator as communicator. London: Routledge.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

129

Hoed, B. H. (2003, September). Ideologi dalam Penerjemahan. Makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional Penerjemahan, Tawangmangu. Mason, I. (1992). Discourse, ideology, and translation. Dalam de Beaugrande, A., & Heliel, M.H. (Eds.). Language, discourse and translation in the West and Middle East. Amsterdam: John Benjamins. Suharto, E. “Masyarakat madani: Aktualisasi profesionalisme community workers dalam mewujudkan masyarakat yang berkeadilan”. Diakses dari http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_16.htm tgl 20/06/2011. Tagela, U. “Civil society” dan demokrasi, untuk apa? Diakses dari http://mesa85.wordpress.com/2009/04/13/civil-society-dandemokrasi-untuk-apa/ tgl 31/05/2011 Usman, H. Hakikat masyarakat mandani (civil society). Makalah disajikan pada Orasi Ilmiah dalam Pembentukan HIMA Jurusan Pengembangan Sosial Masyarakat (PSM) STKS Bandung, Senin 21 Oktober 2002. Van Dijk, T.A. (1998). Ideology: A multidisciplinary Approach. London: Sage. Venuti, L. (1995). The translator’s invisibility. London: Routledge.Zatmiko, D. “Konsep Civil society dan masyarakat madani, apakah sepadan?” Diakses dari http://www.mitimahasiswa.com/berita-75konsep_civil_society_dan_masyarakat_madani__apakah_sepad an___bag._1_dari_2_.html tgl 31/05/2011

130

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

MASYARAKAT MADANI: TAWARAN KONSEPTUAL UNTUK INDONESIA Samodra Wibawa, Pradhikna Yunik Nurhayati Universitas Gadjah Mada samodra@ugm.ac.id, unique_glad2seeyou@yahoo.com ABSTRAK Makalah ini akan membahas berbagai konsep/pendapat/pemikiran tentang civil society/masyarakat madani, yakni masyarakat yang egaliter dan sederajat, di mana setiap orang berpartisipasi membangun dan mengembangkan diri dan lingkungan mereka. Setelah itu makalah ini akan mengungkapkan perkembangan penyerapan konsep tersebut di Indonesia, untuk kemudian menyodorkan pemikiran tentang bangunan masyarakat madani yang cocok untuk negeri ini. Istilah “civil society” dan “masyarakat madani” sebenarnya memiliki landasan sejarah yang sangat berbeda. Kata “societies civilis” pertama kali dicetuskan oleh Cicero (orator Yunani kuno, 106-43 SM), dan baru ditemukan serta dikembangkan-kembali oleh Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Baron de Montesquieu (1689-1755) dan Jean Jacques Rousseau (17121778). Di mata mereka kekuasaan monarki absolut dan gereja ortodok harus dicairkan. Gerakan yang dikenal dengan istilah renaissance ini terjadi sekitar abad ke-16 sampai dengan ke-18. Berbeda dengan Civil society yang lahir dari penentangan terhadap otoritarianisme pemerintah dab gereja tersebut, konsep masyarakat madani mengacu pada cara pengelolaan negara(-kota) Madinah pada era Nabi Muhammad tahun 622-630. Masyarakat madani lebih menunjuk pada penerapan nilai-nilai moral spiritual (wahyu Allah) dalam pengelolaan negara/masyarakat, dituntun oleh seorang figur kuat yang dipercaya oleh seluruh warga. Pertanyaannya kemudian, konsep seperti apa yang sebaiknya atau yang cocok untuk Indonesia? Kondisi-kondisi seperti apa yang mengharuskan kita memiliki konsep dan bangunan masyarakat madani yang berbeda dengan negara lain, baik di Eropa maupun Asia? Kata kunci: masyarakat madani, civil society, otoritarianisme, moral, spiritual

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

131

CIVIL SOCIETY Masa Renaissance di Eropa Renaissance (Lt. re-naitre, kelahiran kembali) merupakan titik awal Eropa mengalami transformasi peradaban dari masa kegelapan (dark age) menuju era baru yang tercerahkan (enlightenment). Zaman antara abad ke-16 hingga ke-18 ini ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru dalam ilmu, teknik, sosial, politik dan budaya, diilhami oleh kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno. Pada masa kegelapan pemikiran manusia sepenuhnya didoktrin oleh gereja, termasuk dalam pemerintahan, pengurusan atau pengelolaan negara. Zaman Renaissance memperkenalkan pandangan, bahwa manusia adalah majikan bagi dirinya sendiri, bukan budak dari raja yang nasibnya telah digariskan Tuhan. Nasib, penderitaan, dan kesengsaraan manusia bisa diperbaiki oleh kekuatan manusia, melalui akal dan bakatnya. Hal ini mengakibatkan agama diremehkan, terjadi sekularisasi. Semboyan mereka “Religion was not highest expression of human values”. Bahkan Leon Batista Alberti (14041472, Italia) berani mengatakan, “Man can do all thigs if they will.” (Setyaningsih: 2011).

Konsep Dasar Civil Society Kata “societies civilis” pertama kali dicetuskan oleh Marcus Tullius Cicero (106-43 SM, Yunani) yang digunakan untuk menunjuk pada masyarakat politik yang memiliki hukum untuk pergaulan antar individu. Hukum inilah yang menandai keberadaban suatu masyarakat. Pada zamannya, masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang tinggal di kota. Bahkan dikatakan bahwa proses pembentukan masyarakat sipil sebenarnya adalah pembentukan masyarakat kota. Pada jaman Renaissance ditemukan beberapa pemikiran tentang masyarakat yang akhirnya menjadi cikal bakal civil society. Thomas Hobbes (1588-1679, Inggris) dalam teori kontrak sosial berpendapat, dalam kondisi alamiah, manusia mempunyai hasrat untuk menguasai manusia lain. Untuk menghindari ancaman tersebut, manusia

132

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

membuat kondisi buatan dengan mempercayakan hak-hak mereka pada orang atau lembaga yang diberikan kedaulatan penuh untuk menjaga kesepakatan. Pemegang kedaulatan berhak memerintah demi keselamatan masyarakat dan tidak dapat digugat karena mereka bukanlah bagian dari masyarakat. Maka kontrak sosial bukanlah kontrak antara penguasa dan yang dikuasai, melainkan kontrak masyarakat sendiri, sehingga istilah yang digunakan adalah kontrak sosial. Sementara itu Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831, Jerman) 1 dalam buku Philosophy and Right, menempatkan negara dan masyarakat sipil dalam kerangka dialektika, yaitu keluarga sebagai tesis, masyarakat sipil sebagai antithesis, dan negara sebagai sintesis (Jatmiko:2008). Masyarakat sipil sebagai masyarakat bebas yang dapat memenuhi keinginan sejauh kemampuan adalah bagian terpisah dari keluarga dan negara. Dalam kerangka ini, masyarakat sipil adalah masyarakat bekerja yang ditandai dengan pembagian kelas sosial berdasarkan pembagian kerja. Negara sebagai jembatan antara masyarakat sipil dan keluarga melaksanakan fungsinya melalui hukum untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan tiap individu. Pembagian kerja inilah yang membuat oleh Karl Heinrich Marx, (18181883, Jerman) beranggapan bahwa masyarakat sipil tidak lebih dari masyarakat borjuis. Marx menganggap negara semata-mata alat bagi masyarakat borjuis untuk melanggengkan kekuasaan atas kaum buruh. Sedangkan para pemikir seperti Adam Ferguson (1723-1816, Skotlandia), Thomas Paine (1737-1809, Amerika) dan Alexis de Tocqueville (1805-1859, Prancis) memandang Civil society sebagai prasyarat untuk masyarakat demokratis dan pluralisme yang jelasjelas berlawanan dengan kediktatoran dan otoritarianisme. Dari berbagai konsep tentang civil society, Asrori S. Karni dalam Ahmad Baso (1999) menyimpulkan adanya lima teori civil society. Pertama, teori Hobbes dan Locke, yang menempatkan Civil society
1

Kebanyakan penulis mengatakan “negara” untuk apa yang sebenarnya lebih tepat disebut “pemerintah”. Sekalipun banyak penyebutan “negara” yang sebenarnya tidak tepat, istilah itu tetap digunakan di sini, khususnya untuk mempertahankan keaslian kutipan. Namun mulai sub judul ke-3 kami benar-benar membedakan negara dan pemerintah.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

133

sebagai penyelesaian dan peredam konflik dalam masyarakat. Jadi, Civil society disamakan dengan negara. Ke-dua, teori Adam Ferguson, yang melihat Civil society sebagai gagasan alternatif untuk memelihara tanggung jawab dan kohesi sosial serta menghindari ancaman negatif individualisme, berupa benturan ambisi dan kepentingan pribadi. Civil society dipahami sebagai entitas yang sarat dengan visi etis berupa rasa solider dan kasih sayang antar sesama. Ke-tiga, teori Thomas Paine, yang menempatkan Civil society sebagai anti-thesis negara. Negara harus dibatasi sampai sekecil-kecilnya, karena keberadaannya malah menimbulkan kejelekan, sekalipun memang diperlukan (necessary evil). Ke-empat, teori Hegel dan Marx, yang tidak menaruh harapan berarti terhadap entitas civil society. Konseptualisasi mereka tentang Civil society bukan untuk memberdayakannya atau menobatkannya tetapi lebih untuk mengabaikan dan bahkan melenyapkannya. Ke-lima, teori Tocquiville, yang menempatkan Civil society sebagai entitas untuk mengimbangi (balancing force) kekuatan negara, meng-counter hegemomi negara dan menahan intervensi yang berlebihan oleh negara. Perkembangan Konsep Civil society di Berbagai Negara Konsep Civil society yang muncul dari peradaban Eropa, diadaptasi oleh pakar-pakar dari belahan dunia yang lain, yang sudah tentu dipengaruhi kondisi sosio-kultural di masing-masing negara. Beberapa diantaranya dikemukakan disini (Tim ICCE UIN Jakarta:2005). Pertama, Zbigniew Rau (1955-sekarang) berlatar belakang kajian terhadap kawasan Eropa Timur dan Uni Soviet mengatakan, bahwa Civil society merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, di mana individu dan perkumpulan bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Interaksi ini berlangsung dalam suatu ruang yang bebas dari pengaruh keluarga dan kekuasaan negara. Ruang ini bercirikan individualisme, pasar dan pluralisme. Ke-dua, Han Sung-joo (tahun tidak diketahui) dengan latar belakang kasus Korea Selatan. Ia mengatakan bahwa, Civil society merupakan

134

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu. Selain itu, konsep ini menunjuk pada ruang publik yang mampu mengartikulasikan isu-isu politik, gerakan warga negara yang mampu independen dan mengendalikan diri, yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas mereka. Solidaritas di antara mereka pada akhirnya akan membnetuk kelompok inti dalam Civil society ini. Konsep yang dikemukakan oleh Han ini menekankan pada adanya ruang publik (public sphere) serta mengandung empat ciri dan prasyarat bagi terbentuknya civil society, yakni: pertama, diakui dan dilindunginya hak-hak individu dan kemerdekaan berserikat yang bebas dari intervensi negara. Ke-dua, adanya ruang publik yang memberikan kebebasan bagi siapapun dalam mengartikulasikan isu-isu politik. Ketiga, adanya gerakan-gerakan kemasyarakatan yang berdasar pada nilai-nilai budaya tertentu. Ke-empat, adanya kelompok inti di antara kelompok pertengahan yang mengakar dalam masyarakat yang menggerakkan masyarakat dan melakukan modernisasi sosial ekonomi. Ke-tiga, Kim Sunhyuk (tahun tidak diketahui), juga dalam konteks Korea Selatan mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan Civil society adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom terhadap negara. Kelompok dan gerakan ini mampu melakukan kegiatan politik dalam suatu ruang publik guna menyatakan kepedulian mereka dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan kemandirian. Definisi ini menekankan pada adanya organisasiorganisasi kemasyarakatan yang relatif otonom terhadap kekuasaan negara. Eksistensi organisasi-organisasi ini mensyaratkan adanya ruang publik (public sphere) yang memungkinkan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan tertentu. Ke-empat, Muhammad AS. Hikam (1958-sekarang) dengan latar belakang Indonesia, memegang konsep de ‘Tocquiville, berpendapat bahwa Civil society adalah wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self-generating), dan keswadayaan (self-

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

135

supporting), kemandirian tinggi terhadap dengan negara, dan keterikatan pada norma-norma atau nilai-nilai hukum. Sebagai ruang politik Civil society merupakan suatu wilayah yang menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung oleh kondisi kehidupan material, dan tidak terserap di dalam jaringan-jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas (the free public sphere). Tempat dimana transaksi komunikasi yang bebas bisa dilakukan oleh warga masyarakat. Ke-lima, Daniel Bell (1919-2011) dengan latar belakang Amerika, menyatakan bahwa Civil society memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, individu dan kelompok masyarakat memiliki kemandirian tinggi terhadap negara. Ke-dua, adanya ruang publik sebagai ruang bagi warga negara untuk terlibat politik aktif melalui wacana dan praksis berkaitan dengan kepentingan publik. Ke-tiga, ada kemampuan untuk membatasi kuasa negara agar tidak intervensionis (PMII Tulungagung:2010)

MASYARAKAT MADANI Lahirnya Masyarakat Madani Awalnya, Madinah bernama Yatsrib (Misrawi:2009). Yatsrib adalah kota yang sering menjadi perbincangan di dunia Arab karena kondisi masyarakatnya yang amat berbeda dengan kota-kota lain. Yatsrib adalah kota yang relatif aman, tentram dan damai. Pada mulanya, kota ini adalah wilayah kosong dimana orang-orang yang memiliki masalah baik konflik maupun ekonomi di negeri asal mereka kemudian melakukan eksodus. Para sejarawan menyebutnya sebagai kota formatif, yaitu kota yang dibentuk dan dibangun oleh orang-orang yang melakukan eksodus. Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah (622 M) disebabkan oleh semakin besarnya ancaman yang ditujukan kaum kafir Quraysh kepada kaum muslim. Masa-masa sulit Nabi di Mekkah untuk menyebarkan agama Islam ternyata mendapat sambutan dari penduduk Yatsrib pada masa itu. Berdasarkan wahyu Allah, Nabi

136

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Muhammad akhirnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah demi mempertahankan agama dan membangun masyarakat Islam yang lebih baik. Di Madinah lah kemudian dakwah Islam berjalan lebih kondusif dan jumlah pemeluknya semakin besar. Ketokohan Nabi yang begitu kuat akhirnya merelakan penduduk Yatsrib mengubah nama lama menjadi nama baru yang identik dengan Nabi dan pengikutnya, yaitu Madinah. Kota ini kemudian hari menjadi kota yang tidak hanya dimonopoli oleh kelompok tertentu, tetapi menjadi “milik bersama”, dimana keadilan, kebersamaan, dan kesetaraan menjadi sebuah komitmen untuk melahirkan peradaban dan tatanan baru. Madinah, akhirnya menjadi titik awal lahirnya zaman baru dimana setiap kelompok mencapai konsensus untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghargai, saling melindungi, serta mempunyai komitmen untuk menjaga keberlangsungan hidup tanpa diskriminasi dan eksploitasi. Periode Madinah yang ditandai dengan Piagam Madinah membuktikan bahwa Islam hadir bukan untuk menegasikan kelompok lain, tapi untuk bersama-sama membangun umat manusia tanpa mempedulikan latar belakang baik suku, ras, bahasa, agama, maupun nasionalitasnya. Konsep-konsep Dasar Masyarakat Madani “Orang-orang beriman tidak diperbolehkan membiarkan seseorang menanggung beban hidup yang berat di antara mereka. Mereka harus ditolong dengan cara yang baik… Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang pada agama mereka, dan begitu pula orang-orang Islam hendaknya berpegang pada agama mereka.. Jaminan Allah itu setara, melindungi yang lemah di antara mereka.” (Piagam Madinah, dalam Misrawi 2009 hlm.459). Mengacu pada beberapa poin Piagam Madinah tersebut, dapat disimpulkan bahwa moralitas yang dibangun masyarakat Madinah adalah moralitas publik yang tidak bersandar pada agama tertentu saja. Peradaban tinggi dapat terwujud karena adanya kehendak bersama untuk memulai kehidupan yang menjunjung tinggi persamaan, kesetaraan, keadilan, keadaban, serta toleransi.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

137

Menurut Robert N. Bellah (1972) dalam Zuhairi Misrawi (2009:35), Madinah merupakan salah satu bentuk pemerintahan modern yang melandaskan konstitusinya pada nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi. Piagam Madinah mampu membangun konstitusi atau konsensus yang berlandaskan kebhinekaan kelompok, baik suku maupun agama. Madinah adalah masyarakat berperadaban tinggi yang mempunyai konsensus untuk menerima perbedaan dan kemajemukan, serta pentingnya kesetaraan dan spirit kewargaan. Secara substantif, Madinah menjadikan musyawarah sebagai sebuah landasan dalam bermasyarakat, dimana demokrasi menemukan momentum yang tepat dalam tradisi Islam. Muhammad Jabir al-Anshari (1999) dalam Zuhairi Misrawi (2009:71) menguraikan bahwa ada tiga hal yang merupakan sendi peradaban Madinah, yaitu agama atau moralitas (al-din), kota (al-madinah), dan keadaban (al-madaniyyah). Salah satu kekhasanan dari peradaban Madinah adalah adanya moralitas publik yang bersumber dari nilainilai yang inheren dalam agama, agama mempunyai peranan penting dalam transformasi sosial. Hadirnya agama dalam ruang publik bukan untuk melakukan diskriminasi terhadap kelompok tertentu, tetapi untuk mewujudkan toleransi diantara berbagai kelompok masyarakat yang ada. Kota sebagai sebuah sistem masyarakat, menjadikan agama sebagai acuan nilai untuk membangun masyarakat yang beradab. Karen Amstrong (2002) dalam Zuhairi Misrawi (2009:31) mengatakan, “langkah Muhammad SAW untuk melaksanakan hijrah ke Madinah merupakan sebuah langkah revolusioner. Beliau berhasil menerapkan nilai-nilai Al Qur’an secara komprehensif. Hubungan antarkelompok yang sebelumnya dibangun diatas pertalian darah, kemudian diubah oleh Nabi berdasarkan ideologi yang sama. Nabi tidak melakukan pemaksaan kepada kelompok lain. Ia justru menyebut orang-orang Muslim, kaum pagan, dan Yahudi sebagai ummah, yang mana di antara mereka bersepakat untuk tidak saling menyerang dan menjamin kebebasan bagi setiap kelompok”. Nurcholis Madjid (1999) dalam Muhammad Ikhsan (2008) tidak membedakan antara Civil society dan masyarakat madani. Walaupun keduanya berangkat dari latar belakang yang berbeda, namun keduanya mengacu pada kehidupan masyarakat yang sopan, teratur,

138

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dan beradab. Masyarakat madani merupakan bangunan kebersamaan dimana masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang setara. Negara menghormati hak dan kewajiban tersebut dan semua kalangan memiliki kesadaran atas tanggungjawab dan peran yang dimiliki.

Perbandingan antara Masyarakat Madani dan Civil Society Walaupun Civil society dan masyarakat madani memiliki latar belakang yang berbeda, di Indonesia istilah masyarakat madani sering digunakan untuk menerjemahkan istilah civil society. Perbandingan antara Civil society dan masyarakat madani dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Persamaan dan Perbedaan Civil society dan Masyarakat Madani Civil Society Semangat Kebebasan Masyarakat Madani Ketundukan pada agama, moralspiritual Tidak dibatasi, negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat Tersedia

Peran negara

Dibatasi, masyarakat mandiri

Ruang publik, musyawarah, negosiasi, interaksi antar kelompok Pluralitas

Tersedia

Diakui

Diakui

Civil society lahir dari masa renaissance yang memiliki keinginan kuat untuk melepaskan diri dari dominasi gereja dan agama. Nilai-nilai

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

139

kebebasan individu maupun kelompok menjadi acuan dalam mengelola masyarakat. Sedangkan masyarakat madani merujuk pada sebuah tatanan masyarakat yang diatur oleh agama, dimana nilai-nilai moral dan spiritual menjadi landasan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat madani, negara lah yang bertanggung jawab terhadap urusan masyarakat (Zatmiko:2011). Negara bukan sekedar alat untuk menjamin dan menjaga kemaslahatan individu saja sebagaimana halnya liberalisme-kapitalisme, tetapi menjadi institusi yang mengurusi kebutuhan individu, jamaah, dan masyarakat sebagai satu kesatuan, baik urusan dalam maupun luar negerinya, sesuai dengan peraturan tertentu yang membatasi hak dan kewajiban masing-masing. Pada civil society, campur tangan negara dalam urusan individu dibatasi. Masyarakat mandiri dan tidak bergantung pada negara untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Ruang publik dan pluralitas, sama-sama mendapat tempat dalam Civil society maupun masyarakat madani. Ruang publik menjadi ruang interaksi antar kelompok untuk menegosiasikan kebutuhannya. Di ruang ini, perbedaan dan kemajemukan dapat terfasilitasi agar kesejahteraan individu maupun kelompok dapat tercapai.

MASYARAKAT MADANI INDONESIA Terbentuknya RI dan Impian Para Pendirinya Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran SoekarnoHatta sebagai proklamator Republik Indonesia dan Pancasila sebagai dasar negara. Diputuskannya Pancasila sebagai dasar negara, bukanlah hal yang mudah (Tim ICCE UIN Jakarta:2005). Tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, KH. Wahid Hasyim dari NU, dan KH. Achmad Sanusi dari PUI menolak Pancasila dan menginginkan Islam sebagai dasar negara. Sedangkan sekalipun Soekarno seorang muslim, ia tidak pernah mendasari perjuangannya dengan ideologi Islam. Didasari oleh semangat persatuan seluruh

140

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

rakyat Indonesia, Soekarno membangun semangat nasionalisnya kepada paham ideologi kebangsaan (nasionalisme). Konsep nasionalisme Soekarno mendapat banyak kritik dari para tokoh Islam. Bahkan Mohammad Natsir mengkhawatirkan nasionalisme Soekarno dapat menjadi sikap fanatisme buta kepada tanah air. Menghadapi kritikan tersebut, Soekarno meyakinkan bahwa nasionalisme yang dikembangkan bukanlah nasionalisme berwatak sempit, ataupun chauvinisme, tetapi bersifat penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, toleran, bercorak ketimuran, dan tidak agresif sebagaimana nasionalisme yang berkembang di Eropa. Perdebatan serius tentang dasar negara yang dimulai sejak sidang BPUPKI berlanjut hingga kemerdekaan diproklamasikan. Orang-orang Kristen yang sebagian besar berada di wilayah Indonesia timur menyatakan tidak bersedia bergabung dengan RI kecuali bila unsurunsur Islam dihapuskan dari Piagam Jakarta. Sila “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya” akhirnya diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejak itu Pancasila menjadi dasar negara Indonesia yang berkedaulatan. Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki kemajemukan baik suku bangsa, agama, kebudayaan, maupun bahasa, akhirnya dipersatukan oleh sebuah dasar negara yaitu Pancasila. Dasar negara yang diharapkan mampu mengakomodir kepentingan berbagai golongan sebagai perwujudan persatuan bangsa Indonesia. Praktik Bernegara Kita dan Kelemahannya Sejak kemerdekaan sampai sekarang, Indonesia sudah mengalami berbagai macam demokrasi. Mulai dari demokrasi parlementer (19451959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi Pancasila (19651998), sampai dengan demokrasi orde reformasi (1998-sekarang). Perkembangan demokrasi di Indonesia yang terus berubah tidak dapat dilepaskan dari penyesuaian demokrasi itu sendiri untuk dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai sisi kehidupan berbangsa dan bernegara (Tim ICCE UIN Jakarta:2005).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

141

Dimulai pada tahun 1945 (sebulan setelah proklamasi kemerdekaan), demokrasi parlementer pada akhirnya gagal mewujudkan demokrasi bagi Indonesia. Sistem demokrasi tersebut memberi peluang untuk dominasi partai-partai politik dan DPR. Karena fragmentasi partaipartai politik usia kabinet pada masa ini jarang dapat bertahan cukup lama, maka koalisi yang dibangun sangat gampang pecah. Hal ini mengakibatkan destabilisasi politik nasional. Akhirnya dikeluarkanlah Dekrit Presiden 5 Juli yang sekaligus mengakhiri sistem demokrasi parlementer. Demokrasi terpimpin periode 1959 mengangkat Presiden Soekarno menjadi Presiden seumur hidup berdasarkan ketetapan MPRS No. III/1963. Periode ini bercirikan dominasi presiden, terbatasnya peran partai politik, berkembangnya pengaruh komunis, meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik, serta tidak adanya fungsi kontrol kepada presiden. Demokrasi terpimpin pun akhirnya gagal membawa Indonesia menjadi negara yang demokratis. Absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin sehingga tidak adanya ruang kontrol sosial otomatis mengingkari nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Demokrasi Pancasila lahir sebagai upaya untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap UUD selama masa demokrasi terpimpin. Beberapa rumusan tentang demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut: a. Demokrasi dalam bidang politik pada hakekatnya adalah menegakkan kembali azas-azas negara hukum dan kepastian hukum. b. Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakekatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. c. Demokrasi dalam bidang hukum pada hakekatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM, peradilan yang bebas yang tidak memihak. Namun demikian, demokrasi Pancasila hanya berlaku sebatas retorika. Pada tataran praksisnya, rezim orde baru tidak memberikan ruang bagi kehidupan demokrasi. Demokrasi periode 1998 sampai sekarang, ditandai dengan meletusnya reformasi. Reformasi yang sukses menggulingkan rezim orde baru, diharapkan mampu menjadi titik balik bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Partisipasi masyarakat dalam momentmoment politik menjadi tolok ukur berjalannya demokrasi di Indonesia.

142

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Sayangnya, demokrasi yang sedemikian megah tidak ditopang oleh ekonomi yang baik dan kecerdasan intelektual yang mapan di tengah masyarakatnya. Berdasarkan pengalaman negara-negara yang demokrasinya sudah mapan, untuk mengukur tingkat kepercayaan publik pada institusi demokrasi tidak disandarkan pada banyaknya partisipasi masyarakat. Yang menjadi indikasi bagi institusi demokrasi tersebut adalah apakah partisipasi politik tersebut dilakukan secara sukarela, atau dibayar dan digerakkan. Demokrasi masa kini yang masih mengacu pada kuantitas dan angkaangka partisipasi masyarakat, pada akhirnya juga belum mampu membawa Indonesia ke kehidupan berdemokrasi seperti yang diharapkan. Demokrasi belum mampu menjadikan dirinya sebagai solusi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kesenjangan ekonomi yang tinggi, ketidakpercayaan publik terhadap institusi demokrasi, kesejahteraan rakyat yang masih sebatas retorika, menjadi pertanyaan kemudian. Arah demokrasi Indonesia sampai saat ini belum menemukan kejelasan. Masyarakat Madani: Tawaran Konseptual untuk Indonesia Barat dengan pengalaman buruknya terhadap dominasi gereja menjadikan sekularisme sebagai ideologi dalam menjalani kehidupan. Gereja yang dominan gagal membangun kepercayaan menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Maka dapat dimaklumi jika masa renaissance membuat masyarakat Eropa memisahkan kehidupan “dunia” dari campur tangan “Tuhan”. Namun demikian, trauma Barat terhadap agama/gereja tidak berarti bahwa agama buruk bagi kehidupan manusia. Sekitar seribu tahun sebelumnya, Madinah membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual agama mampu mengantarkan manusia ke kehidupan yang baik, termasuk menyatukan kelompokkelompok yang beraneka ragam coraknya. Walaupun Civil society dan masyarakat madani memiliki kesamaan, keduanya memiliki semangat yang berbeda (lihat Tabel 1 dan penjelasannya di atas). Kehidupan masyarakat pada periode Madinah, dibangun atas dasar persaudaraan, toleransi, serta integritas. Moralitas publik bersumber pada nilai-nilai yang sesuai dengan agama. Oleh karena itu Agama berperan penting dalam

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

143

transformasi sosial. Periode Madinah menunjukkan masyarakat berperadaban tinggi harus didasari oleh konsensus untuk menerima perbedaan dan kemajemukan dengan spirit kesetaraan dan kewargaan. Begitu juga dengan musyawarah sebagai landasan bermasyarakat, bukan semata-mata otokrasi dan ketaatan pasif. Indonesia dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila tidak dapat melepaskan diri dari nilai-nilai spiritualitas yang sejak dulu menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang sama dengan kondisi masyarakat Madinah memungkinkan Indonesia mengadopsi nilai-nilai masyarakat madani. Walaupun keberhasilan masyarakat madani tidak bisa dilepaskan dari peran besar Nabi Muhammad, konsep-konsep yang tertuang dalam Piagam Madinah juga dapat diadopsi Indonesia. Pertama, nilai-nilai spiritual. Masyarakat Madinah terdiri dari berbagai suku dan agama. Moralitas publik dibangun berdasarkan nilai-nilai spiritual yang meletakkan Tuhan sebagai sosok transenden tempat bergantungnya manusia. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia yang masyarakatnya menganut berbagai macam agama. Nilai-nilai spiritual dalam agama seperti toleransi dan tolong menolong pada dasarnya bersifat universal, sehingga dapat membawa manusia ke kehidupan yang lebih baik. Ke-dua, peran pemerintah. Bila konsep Civil society membatasi peran pemerintah dalam kehidupan masyarakat, masyarakat madani justru menyerahkan tanggungjawab kesejahteraan masyarakat pada pemerintah. Pemerintah menjadi institusi yang mengurusi kebutuhan individu dan masyarakat sebagai sebuah kesatuan. Pemenuhan kebutuhan individu tidak hanya berlandaskan semangat liberalismekapitalisme yang menjadikan kebebasan individu sebagai acuan dalam bermasyarakat. Pemerintah berfungsi untuk menjamin setiap individu mendapatkan hak dan kewajibannya secara setara. Setiap kelompok memiliki kesadaran atas peran dan tanggungjawab yang diemban. Hal ini telah sesuai dengan UUD 1945 dimana pemerintah bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat. Ke-tiga, adanya ruang publik. Ruang publik memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan memperjuangkan hak

144

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

serta kewajiban sesuai dengan hukum yang berlaku. Itu berarti kesempatan yang merata bagi masyarakat untuk mengakses lembaga publik termasuk fasilitas-fasilitasnya. Ruang publik juga memungkinkan masyarakat mengontrol jalannya pemerintahan. Karena masyarakat madani menjadikan musyawarah sebagai landasan dalam bermasyarakat, maka kediktatoran dan otoritarianisme tidak dapat ditolerir dalam pelaksanaan masyarakat madani. Ke-empat, pluralitas. Perbedaan adalah hal yang pasti. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan budaya membutuhkan toleransi sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. Karena manusia membutuhkan orang lain, maka kesadaran untuk menerima pluralitas (perbedaan) sebagai bagian dari kehidupan adalah hal mutlak. Penerimaan atas setiap perbedaan akan menimbulkan semangat persatuan sebagai konsekuensi atas kemajemukan Indonesia. Nilai-nilai spiritual, pemerintah sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat, ruang publik sebagai ruang interaksi sosial dan alat kontrol terhadap jalannya pemerintahan, serta kesadaran untuk menerima pluralitas sebagai sebuah kesatuan adalah konsep-konsep yang diadopsi dari masyarakat madani untuk diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Dengan terpenuhinya keempat aspek tersebut, maka kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Periode Madinah telah membuktikannya. *

DAFTAR PUSTAKA Baso, Ahmad. Civil society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran “Civil Society” dalam Islam Indonesia. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999 Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993 Menuju Demokrasi.

Halili. Masa Depan Civil society di Indonesia: Prospek dan Tantangan. CIVICS. Volume 3 Nomor 2 Desember 2006

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

145

Hikam, Muhammad AS. Demokrasi dan Civil Society. Jakarta: Pustaka LP3ES, 1999 Ikhsan, Muhammad. Nurcholis Madjid dan Pemikiran Masyarakat Madani. 19 Maret 2008 dalam http://wacanaislam.blogspot.com/ 2008/03/nurcholish-madjid-dan-pemikiran.html, dibuka tanggal 29 Juni 2011 Jatmiko, Heru Wahyu. Negara dan Masyarakat Sipil: Perspektif Hegel, Marx dan Gramsci. 27 November 2008 dalam http://gmnidki. multiply.com/journal/item/16, dibuka tanggal 26 Juni 2011 Misrawi, Zuhairi. Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. Jakarta: Kompas, 2009 Mowlana, Hamid. Masyarakat Madani: Konsep, Sejarah dan Agenda Politik. Yogyakarta: Shadra Press, 2010 PMII Tulungagung. Konsep Civil society dalam Perspektif Islam. 8 Juni 2010 dalam http://pmiitulungagung.wordpress.com/2010/06/ , dibuka tanggal 29 Juni 2011 Praja, Ageng Nata. Distorsi Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Dalam Perspektif Civil society di Kabupaten Grobogan. Tesis Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, 2009 Setyaningsih, Wahyu. Sejarah Renaissance. 10 Februari 2011 dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/10/sejarah-renaissance/, dibuka tanggal 19 Juni 2011 Tim ICCE UIN Jakarta. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, & Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada Media, 2005 Wibawa, Samodra. Siklus Politik Republik Indonesia: Akankah Sejarah Terulang? 22 Juni 2001 dalam http://opiniherry.wordpress. com/category /politik/ page/2/, dibuka tanggal 22 Juni 2011 Zatmiko, Dwi. Konsep Civil society dan Masyarakat Madani, Apakah Sepadan? 06 Juni 2010 dalam http://www.mitimahasiswa. com/berita-75-konsep_civil_society_dan_masyarakat_madani__ apakah_sepadan___bag._1_dari_2_.html, dibuka tanggal 21 Juni 2011

146

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

MONARKHI KONSTITUSIONAL: TELAAH FILSAFATI Samodra Wibawa Universitas Gadjah Mada samodra@ugm.ac.id ABSTRAK Keistimewaan Provinsi DIY, bagi para pendukungnya, harus diberikan atau diteguhkan-kembali oleh pemerintah RI tidak saja berdasarkan faktor historis, melainkan juga yuridis, filosofis dan sosiologis. Apakah keempat faktor ini memang benar secara ilmiah dan bukan retorika puitis belaka, ini semua perlu dipersoalkan. Makalah ini hendak mengupas faktor filosofisnya: Apakah suatu masyarakat dibenarkan untuk dikelola oleh sebuah keluarga saja secara turun-temurun (monarkhi), tidak oleh seluruh anggota masyarakat itu sendiri (republik)? Apakah monarkhi dapat dikelola secara demokratis, dan sebaliknya apakah republik tidak bisa diurus secara otoriter? Mana yang lebih baik: monarkhi demokratis ataukah republik otoriter? Pilihan-pilihan lain apa yang tersedia selama ini, dan kriteria apa yang sebaiknya dipegang untuk menuntun pemilihan itu? Kata kunci : monarkhi, konstitusional PENGANTAR Subjudul dari makalah ini semula adalah “telaah filsafati”, tapi penulis menyadari bukanlah seorang filosof atau ahli filsafat, sehingga subjudul itu terasa terlalu jauh dari jangkauan dan karenya diubah menjadi “sebuah renungan” saja. Renungan atas pernyataan Presiden SBY, bahwa monarkhi tidak cocok untuk sistem demokrasi (lihat misalnya RMOL, 1 Desember 2010), dan atas pendakuan para pendukung keistimewaan Jogja, bahwa penetapan Sultan sebagai gubernur secara filosofis dapat dibenarkan (lihat misalnya DPD, 3 September 2010). Keberanian penulis untuk menyentuh persoalan ini dikarenakan topik ini sedang aktual, terutama di Jogja, disamping latar belakang penulis sebagai civitas academica fakultas sosialpolitik, khususnya administrasi negara, sekali waktu pernah gemar

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

147

membaca buku filsafat dan agama, dan pernah menerjamahkan buku filsafat politik karya Gould (1993). Disadari bahwa diskusi seperti ini sebenarnya topik yang telah sangat kuno dan usang, namun harus diakui pula, bahwa hampir tidak ada pokok bahasan yang baru secara substansial dalam kehidupan kita di abad 21 ini, kecuali barangkali kemajuan teknologi informasi dan pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan manusia. Inti dari pendapat penulis adalah: monarkhie bisa saja demokratis, dan sebaliknya republik bisa saja otoriter. Tentu saja bentuk terbaik adalah republik yang demokratis. Tapi jika harus memilih salah satu di antara keduanya, tampaknya monarkhie demokratis lebih baik daripada republik otoriter.

MONARKHIE Monarkhie adalah suatu “negara” atau suatu sistem politik, sistem pemerintahan, sistem administrasi, yang kepalanya adalah raja –atau ratu atau pangeran atau apapun sebutan yang lain-- yang duduk dalam posisinya tidak karena dipilih oleh seluruh anggota sistem melainkan diangkat oleh kepala yang lama (biasanya adalah anak atau keluarga dari kepala tersebut) atau dipilih oleh sekelompok sangat kecil kelas penguasa. Dalam hal ini “negara” juga dapat dibaca sebagai propinsi, kota, kabupaten atau desa dan unit-unit politik lain. Dalam bentuknya yang terkecil, monarkhi terwujud dalam keluarga. Artinya, setiap keluarga pada dasarnya atau secara substansial adalah monarkhie. Bayangkan kita sekarang sedang membicarakan sebuah “negara” monarkhie khayalan yang pada tahun 2010 sudah berumur 1.000 tahun bernama Aloha, berpenduduk 100.000 jiwa, di bawah Raja Andro II. Andro II menjadi raja Aloha, karena dia memang anak tertua dari Andro I, yang karena sudah tua memilih lengser dan menjadi penulis buku administasi negara. Tigapuluh tahun sebelumnya Andro I naik tahta menjadi raja, karena dia adalah keponakan raja pada waktu itu yang tidak mempunyai anak. Dan seterusnya, pada periode sebelumnya proses pergantian kepala negara berlangsung seperti itu,

148

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

diselingi dengan satu-dua perebutan kekuasaan, invasi dan aneksasi oleh negara lain, untuk pada akhirnya saat ini kembali ke tangan keturunan raja “yang asli”. (Bandingkan dengan sejarah kemunculan negara-negara di Nusantara dalam Wibawa 2001.) Siapakah raja yang asli itu? Ialah seseorang yang bernama Ambo, yang pada tahun 1000 sebagai saudagar yang telah lelah berkeliling dari satu ke tempat lain membuka lahan bersama para pegawainya di suatu hutan di pinggir kali yang jauh dari kota yang paling dekat –sebuah negaramonarkhie pada waktu itu. Dia membangun rumah besar, lengkap dengan gudang dan rumah-rumah kecil tempat para pegawainya, yang keseluruhannya dikelilingi oleh sebuah benteng kokoh. Dia mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa, raja, kepala “negara”, tidak lagi menyetor pajak kepada kota-negara terdekat. Mengetahui adanya deklarasi sebuah negara baru, raja dari kota-negara terdekat (yang merasa memiliki wilayah itu) menyerangnya, tapi Ambo dapat bertahan dan malah mampu menyerang-balik dan melengserkan raja tersebut dari kursinya. Seluruh rakyat dari kota-negara terdekat tersebut lalu tunduk pada raja mereka yang baru, yakni raja dari bekas negara-tetangga. Kota-kota-negara yang jauh letaknya pun mengakuinya sebagai raja, mengundangnya dalam acara-acara yang mereka selenggarakan. Lokasi di mana benteng Raja Ambo berdiri lambat-laun menjadi pelabuhan yang ramai, tempat persinggahan para saudagar dari berbagai belahan dunia. Negara itu kaya, diurus secara benar, dan bertahan hingga saat ini. Dia bisa bertahan dari beberapa kali serangan begundal maupun invasi negara lain. Sekalipun pernah dianeksasi oleh raja lain, pada akhirnya negara tersebut dapat mandiri lagi. Meskipun satu-dua kali terjadi perebutan kekuasaan, itu hanyalah persoalan keluarga kerajaan saja, dan rakyat secara keseluruhan belum pernah sekalipun berusaha untuk melengserkan raja dari kekuasaannya. Rakyat puas dengan cara raja dan birokrasinya mengatur dan melayani rakyat. Tidak ada orang miskin, fasilitas kesehatan sangat memadai, para penganggur yang bertambah banyak jika terjadi krisis ekonomi terjamin oleh suatu sistem kesejahteraan sosial yang menenteramkan. Anak-anak, remaja dan pemuda dapat menemukan tempat yang cocok untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri. Ilmu dan teknologi berkembang pesat, dst. Ringkasnya, negeri monarkhie ini benar-

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

149

benar adil makmur merata, gemah ripah loh jinawi, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur...

REPUBLIK Kita lihat sekarang negara kecil lain yang saat ini berbentuk republik, sebut saja Bravo. Tentu saja negeri ini semula adalah monarkhie seperti Aloha. Namun pada 1930-an monarkhie ini dikelola secara keliru. Raja dan keluarganya menghambur-hamburkan harta untuk berbagai konsumsi yang sebenarnya tidak perlu, dan rakyat harus menanggungnya dengan membayar pajak yang dari hari ke hari semakin mencekik. Bahkan rakyat juga dipaksa untuk menanam komoditas yang laris di pasar internasional dan juga dipaksa untuk bekerja demi memenuhi mimpi-mimpi raja tanpa imbalan yang memadai. Raja kejam, despotik. Maka beberapa pemuda dan orangtua yang pemberani mengorganisir rakyat, melakukan pemberontakan, dan berhasil. Raja dan keluarganya dilengserkan, diusir dari negeri itu. Negara Bravo kemudian dikelola oleh suatu organisasi yang kepalanya dipilih oleh rakyat sendiri. Negara Bravo bukan monarkhie lagi, melainkan telah berubah menjadi republik. Kepala dari negara itu dijuluki presiden, bukan raja. Dipilih langsung oleh rakyat, presiden Republik Bravo tersebut menyusun kabinet yang terdiri dari para pendukung-setianya pada waktu melakukan kudeta, revolusi mendongkel raja yang lalim. Semua kerabatnya juga diangkat menjadi menteri dan pejabat-pejabat penting di setiap departemen. Cara rekruitmen seperti ini menular, diduplikasi hingga ke seluruh negeri. Pejabat mengangkat kerabat atau konconya sebagai pegawai. Hanya sangat sedikit orang yang benar-benar berkompeten di dalam birokrasi, dan sebegitupun karir mereka tidak dapat meningkat tanpa kedekatan personal dengan pejabat di atasnya. Meritokrasi boleh dikatakan tidak dapat dilihat, yang berlangsung adalah pemerintahan “kekeluargaan”. Akibatnya, dapat ditebak, negeri hampir tidak terurus. Para pejabat dan pegawai tidak mengerti, apa yang harus mereka kerjakan, kecuali cara menyedot uang negara untuk diri mereka sendiri. Rumah mewah berdiri di mana-mana, sementara fasilitas umum seperti sekolah, jalan

150

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

raya dan rumah sakit terbengkalai. Mobil-mobil modern ber-cc besar berseliweran di jalanan yang bobrok dan macet. Presiden sangat piawai memilih pengikut-pengikut setianya. Mereka semua bermental ABS (asal bapak senang) di satu sisi, dan korup serta self-oriented di sisi lain. Pemilu diselenggarakan secara teratur, tetapi tidak terbuka, tidak jujur dan tidak bebas. Secara halus para pejabat, dibantu tentara dan militer, mengarahkan, memandu dan memaksa rakyat untuk memilih partai pemerintah. Hasilnya: presiden duduk di kursinya selama 30 tahun. Dia baru turun dari kekuasaannya ketika beberapa orang dalam lingkaran kekuasaan merasakan bahwa ruang politik terlalu pengap, di samping adanya satu-dua orang yang telah lama memendam keinginan untuk duduk di kursi kepresidenan. Mereka secara sembunyi-sembunyi menjalin koalisi dengan partaipartai non pemerintah, LSM dan organisasi pemuda. Demonstrasi besar-besaran dapat diorganisasir, memperoleh dukungan yang luar biasa dari rakyat, sehingga polisi dan tentara kewalahan meredakannya –karena beberapa petinggi mereka juga sudah bosan dengan kepemimpin presiden. Kursi presiden yang kosong diduduki untuk sementara oleh salah seorang anggota elit yang telah merasa pengap tadi. Dia menyelenggarakan pemilu yang benar-benar bebas dan terbuka. Terbentuk parlemen baru, dan terpilih presiden baru. Harapan baru berhamburan di hati para warga. Tapi setelah sepuluh tahun rakyat tidak menjadi lebih sejahtera. Demokrasi yang tidak terkontrol memungkinkan para elit menipu rakyat. Memang tidak ada lagi paksaan dan intimidasi dalam setiap pemilu, tetapi berlangsung money politics dan distorsi informasi. (Rezim diktator menggunakan bedil dan pentungan untuk memaksa rakyat, rezim demokratis menelikung informasi untuk mengelabuhi rakyat! Lihat pembahasan tentang Neo Marxis dan non-decision making dalam Parsons 2005.) Kebebasan pada waktu pemilihan pejabat tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai terhadap kinerja pejabat itu. Para petugas pengawas tidak tahan terhadap jebakan suap, demikian pula para politisi di parlemen dapat dengan mudah diajak berkompromi dengan imbalan uang dalam berbagai bentuknya. Rakyat ditipu habishabisan, dan mereka tetap sengsara. Banyak rumah dan mobil

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

151

mewah, tapi fasilitas umum –sekolah, rumah sakit, bis kota, kereta api dll.-- terbengkalai. Elit politik suka –dan “terpaksa”-- pergi ke luar negeri, untuk wisata, berobat dan menyekolahkan anak mereka. Sebegitupun, mereka sesekali berkampanye menggunakan produk dalam negeri –sambil mengenakan sepatu dan jas import. Rakyat sengsara menunggu datangnya “ratu adil” lagi, tapi tampaknya kaum elit secara masif menikmati situasi itu.

PILIH MANA: REPUBLIK ATAU MONARKHIE? Pilih mana: republik atau monarkhie? Kalau cerita di atas disebar dalam suatu angket, dan warga disuruh memilih salah satunya, penulis yakin bahwa rakyat kebanyakan akan cenderung memilih monarkhie daripada republik sebagaimana digambarkan di atas. Tidak demokratis, rakyat tidak diberi hak mengawasi pemerintah(an), tapi pemerintah baik hati dan melayani dengan sungguh-sungguh, menciptakan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial. Dalam republik yang digambarkan di atas pada akhrinya yang tercipta hanyalah kebebasan politik (itupun sebenarnya hanya untuk sebagian kecil orang), tapi minus kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial. Pilih mana? Publik, menurut nalar sehat, mestinya memilih monarkhie –sekali lagi sebagaimana yang digambarkan di atas. Hanya saja, bagaimana bisa menjamin monarkhie yang menenteramkan, memakmurkan, mensejahterakan, memajukan seperti itu dapat berlangsung? Jadi, pilihannya memang bukan hanya monarkhie atau republik. Atau pilihannya bahkan bukan keduaduanya. Dengan kata lain, metodologis, keduanya bukan soal. Yang harus diusahakan keberadaannya adalah: ketenteraman, kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan. Bentuk negara tidaklah penting. Siapa yang duduk di kursi pemerintahan, bagi massa rakyat, tidaklah penting. (Lihat kecenderungan meningkatnya golput dari waktu ke waktu.) Karena itu, sebenarnya, siapa yang mempersoalkan bentuk negara? Ialah elit politik, mereka yang ingin berkuasa. Rakyat terbawa-bawa, menjadi figuran dalam perdebatan, percekcokan atau perebutan kekuasaan di antara elit itu.

152

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Mungkin bentuk negara berpengaruh terhadap kesejahteraan, tapi mungkin juga tidak. Pasti sudah ada hasil riset yang mengkomparasikan tingkat kesejahteraan negara monarkhie dengan negara republik, dan dugaan penulis hubungan pengaruhnya tidak signifikan, jika bukannya malah menyimpulkan bahw monarkhie cenderung sejahtera dibanding republik. (Ini kesan selintas menyaksikan Malaysia, Inggris, Spanyol, Brunei, Saudi Arabia. Tentu saja ada banyak faktor lain yang menentukan, termasuk sumberdaya alam dan industri).

MONARKHIE DEMOKRATIS Lalu, kalau yang lebih penting adalah kesejahteraan warga –dan itulah tujuan dibentuknya sebuah negara, harapan orang-orang berkumpul dalam suatu negara-untuk apa mempersoalkan monarkhie atau republik? Saya kira memang tidak ada gunanya, kecuali bahwa kita harus mengakui adanya sekelompok orang dalam setiap sistem sosial, sistem politik, yang bernafsu menjadi penguasa. Untuk mewadahi nafsu inilah bentuk negara perlu dipersoalkan, di mana –untuk kepentingan mereka inilah-pasti jawabannya mengarah pada preferensi republik dibanding monarkhie. Hanya saja, kedua bentuk negara ini hanya berbeda dalam hal pengisian orang puncak (orang No. 1) dalam negeri tersebut. Itupun bisa saja hanya simbolis: Sepertinya dia No. 1, tapi sejatinya yang paling menentukan adalah No. 2 dst. Raja atau kepala negara adalah No. 1, tapi yang sehari-hari mengambil keputusan tentang arah dan sepak-terjang negara adalah perdana menteri (No. 2). Jadi, untuk memberi wadah bagi ekspresi dan aktualisasi diri para “binatang politik” (zoon politicon), monarkhie dapat dipertahankan sebagaimana adanya, tapi di bawah raja ada seorang figur, pemerintah, yang dipilih dan/atau diperebutkan secara bebas oleh dan di antara rakyat pada umumnya dan “binatang politik” itu pada khususnya. Kiranya persoalan dapat dengan mudah dipecahkan. Raja tetap ada, tapi pemerintahan oleh rakyat. Mengapa raja harus dihapus? Tidak ada perlunya. Apalagi jika kita harus –sebagai masyarakat beradab-menghormati prestasi nenek-moyang raja tersebut, yang dahulu

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

153

membangun dan mengembangkan negara-kerajaannya –ya rumah tangganya, di mana rakyat semula adalah para pekerja raja atau orang yang menumpang hidup atau bahkan minta perlindngan di atas tanah raja. Sekali lagi, yang terpenting bagi rakyat, publik, adalah kesejahteraan. Khalayak umum tidak atau kurang peduli, siapa yang memerintah dan bagaimana dia bisa duduk di kursi tersebut. Yang mereka inginkan adalah pelayanan yang memuaskan dalam berbagai bidang. Bahkan rakyat mungkin tidak mempersoalkan seandainya pemerintah yang mengatur mereka saat ini berada di sana melalui kudeta berdarah. Semua itu mereka terima dan maafkan, sepanjang pemerintah tersebut menyejahterakan, termasuk menghukum secara adil. Sebaliknya, mereka akan marah, jika pemerintah yang mereka pilih dan bentuk sendiri ternyata pada akhirnya hanya memburu nafsu dan kepentingan kelompok mereka sendiri, melupakan seluruh janji manis selama masa kampanye. Artinya, berbalik kembali ke belakang, seandainya raja memerintah langsung tanpa ada perdana menteri yang membantunya, yang dipilih rakyat, juga tidak begitu diributkan oleh rakyat –sepanjang kesejahteraan dan keadilan tadi tertampilkan. LALU APA? Lalu apa? Persoalan sesungguhnya tentang negara adalah bagaimana mendorong, menjamin pemerintahnya –raja atau presiden atau perdana menteri-- sepenuh hati memperhatikan, melayani rakyat. Dalam hal ini orang mungkin akan tergesa-gesa mengatakan, bahwa untuk itu diperlukan demokrasi. Raja yang tidak terkontrol akan cenderung sewenang-wenang. Demikian juga presiden dan perdana menteri! (Jadi, sekali lagi, monarkhie atau republik tidaklah penting.) Kalau memang “kekuasaan harus dikontrol” disepakati sebagai hukum yang tak terbantahkan, maka mengatur negara, ya itulah administrasi negara, adalah persoalan bagaimana memberikan wewenang apa saja kepada pejabat siapa untuk melayani rakyat dan bagaimana mengontrol pejabat tersebut sehingga tetap terus melayani rakyat. Jadi persoalannya adalah: struktur administrasi, mekanisme pengelolaan negara! (Terhadap ini, tentu saja ada orang

154

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

yang segera menyergah: Tapi perilaku, motivasi, semangat, jiwa, geist juga atau lebih penting!)

POSTSCRIPTUM Artikel ini ditulis semula ditulis untuk mencari, apa sebenarnya alasan filosofis yang katanya mendasari perlunya Jogja tetap diistimewakan. Ditemukan, bahwa tidak ada alasan filosofis yang kuat, bahwa Jogja perlu tetap istimewa, dalam arti keluarga Sultan dan Pakualam harus tetap menjadi gubernur dan wakilnya di Jogja. Secara filosofis, kalau istilah ini benar, dan praktis monakhie atau republik tidak terkait secara jelas dengan demokrasi dan kesejahteraan. Monarkhie bisa saja demkratis dan mensejahterakan, persis sebagai republik. Karena itu alasan bagi tetap dipertahankannya Jogja sebagai provinsi istimewa adalah historis (jasa Jogja terhadap RI pada 1945-an) dan – mungkin-- politis (kehendak-saat-ini masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jogja pada khususnya?) serta hukum. Jika memang secara historis, politis dan hukum Jogja memang seharusnya tetap istimewa, maka kemonarkhiean provinsi Jogja harus dikondisikan untuk menjamin adanya demokrasi di satu pihak dan kesejahteraan masyarakat di pihak lain. Wacana tentang adanya gubernur yang dipilih sebagai “kepala pemerintahan” dan sultan sebagai “kepala provinsi” sepertinya berada pada jalan yang benar. Tapi harus dicatat, bahwa kalaupun keputusan kita saat ini adalah “monarkhie-demokratis-konstitusional” seperti itu, perlu diingat bahwa keputusan itu adalah keputusan kita-saat-ini –yang boleh direvisi oleh keputusan generasi pengganti kita. Kita tidak terikat pada keputusan yang dibuat oleh generasi pendahulu kita (lihat Paine 2000). **

DAFTAR PUSTAKA DPD (Dewan Perwakilan Daerah), “Jika Presiden Ragu-ragu, DPD Ajukan RUUK DIY”, 3 September 2010, dalam http://dpd.go.id/siaran_pers/jika-presiden-ragu-ragu-dpd-ajukanruuk-diy/, dibuka 30 Mei 2011

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

155

Gould, Carol C., Demokrasi Ditinjau Kembali, terjemahan Samodra Wibawa, Yogyakarta: Tiara Wacana 1993 Paine, Thomas, Daulat Manusia, terjemahan (terbit pertama kali tahun 1791), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 2000 Parsons, Wayne, Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan, terjemahan Tri Wibowo Budi Santoso, Jakarta: Prenada Media 2005. RMOL (Rakyat Merdeka Online), “Kritik Sistem Monarki, SBY Tampar Muka Sendiri”, 1 Desember 2010, dalam http://www. rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=10880, dibuka 22 Juni 2011 Wibawa, Samodra, Negara-negara di Nusantara: dari Negara Kota hingga Negara Bangsa, dari Modernisasi hingga Reformasi Administrasi, Yogyakarta: Gamapress 2001

156

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI Abednego Tri Gumono Universitas Pelita Harapan abednego_gumono@uph.edu ABSTRAK Indonesia adalah bangsa multidimensi dengan berbagai keragaman. Keragaman tersebut telah disatukan dalam sebuah terminologi Bhinneka Tuggal Ika serta Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara. Dalam perkembangannya, praktik berkehidupan berbangsa dan bernegara masih diwarnai oleh fragmentasi di setiap bidang kehidupan. Fragmentasi berpotensi kontra produktif terhadap cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Mencermati potensi-potensi keterpecahan bangsa yang dapat terjadi, dunia pendidikan terpanggil memberikan sumbangan pemikiran untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Makalah ini akan menjelaskan konsep dan praktik pendidikan multikultural sebagai jalan membentuk generasi yang menguasai konsep masyarakat madani. Menguasai konsep berarti mampu mendalami dan berinteraksi terhadap lingkungannya dalam bingkai masyarakat madani. Pendidikan multikultural menyajikan integrasi setiap mata pelajaran terhadap nilai-nilai multikultural. Kesimpulan dari makalah ini adalah pendidikan multikultural merupakan sarana pembentukan konsep masyarakat madani melalui pendidikan sehingga mampu mewujudkan cita-cita kesatuan masyarakat Indonesia sesuai dengan semangat Pancasila dan Undang Undang dasar 1945 Kata kunci: pendidikan multikultural, masyarakat madani PENDAHULUAN Lahirnya reformasi sebagai proses demokratisasi selain menyumbangkan terwujudnya negara yang lebih demokratis juga telah memicu konflik sosial. Kekebasan individu yang telah melupakan semangat kesantunan dalam pola berinteraksi dengan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

157

masyarakat mengakibatkan sendi-sendi hubungan antarsuku, agama, dan ras mulai goyah.Toleransi antarindividu semakin terancam dengan tereduksinya semangat menghargai dan menghormati kelompok masyarakat yang berbeda. Kondisi yang demikian tersebut memberikan rasa tidak aman, kebebasan individu tercerabut, serta menciptakan atmofir kebebasan yang makin sempit. Di sisi lain, kebebasan bereskpresi dalam kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa juga diwarnai dengan kekerasan demi kekerasan. Berbagai fakta tersebut muaranya kepada terjadinya kehancuran pluralisme sebagai karakteristik masyarakat madani. Masyarakat yang pluralis sebagai ciri kekuatan bangsa Indonesia pada dasa warsa terakhir justru menjadi ancaman fragmentasi. Munculnya semangat primordialisme semakin mengindikasikan dengan jelas gejala keterpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar semangat kebhinekaan tersebut. Dengan terancamnya keutuhan bangsa dalam bingkai pluralisme, keselamatan individu sebagai umat manusia juga semakin terancam. Ketimpangan dan kepincangan sosial di atas semakin rumit karena ketimpangan ekonomi terus melanda negara Indonesia. Angka kemiskinan pada tahun ini sekitar 31 juta penduduk. Meskipun pemerintah mengeklaim penurunan angka kemiskinan, namun hal tersebut dibantah oleh berbagai kalangan. Penurunan tersebut malahan disebut sebagai sesuatu hal yang fiktif. Ini artinya bahwa di dalam masyarakat Indonesia angka kemiskinan masih tinggi. Tak pelak lagi, kesenjangan ekonomi dalam masyarakat semakin mengaga sehingga mudah terjadi kerawanan sosial. Berbagai konflik dapat dengan mudah terjadi akibat kemiskinan dan keterpurukan ekonomi dalam sebagain besar masyarakat. Permasalahan ini juga masih diwarnai dengan fakta korupsi yang semakin merajalela. Ujung dari ketimpangan-ketimpangan tersebut adalah ketidakadilan sosial dimana setiap warga tidak secara proporsional mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Berbagai permasalahan yang muncul di atas, menunjukkan bahwa upaya mewujudkan masyarakat yang madani di dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, pendidikan multikultural penting diterapkan di

158

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

sekolah. Agus Rifai dalam makalah yang berjudul ”Perpustakaan dan Pendidikan Multikulturalisme”(2006, hal 1-2) menyatakan bahwa pada dasawarsa terakhir, wacana multikulturalisme menjadi isu penting dalam upaya pembangunan kebudayaan di Indonesia. Hal ini seperti dinyatakan Rifai didasarkan beberapa alasan. Pertama, bahwa secara alami atau kodrati, manusia diciptakan Tuhan dalam keanekaragaman kebudayaan, dan oleh karena itu pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman budaya tersebut. Dalam konteks ke-Indonesia-an maka menjadi keniscayaan bahwa pembangunan manusia Indonesia harus didasarkan atas multikulturalisme mengingat kenyataan bahwa negeri ini berdiri di atas keanekaragaman budaya. Kedua, bahwa ditengarai terjadinya konflik sosial yang bernuansa SARA (suku, agama, dan ras) yang melanda negeri ini pada dasawarsa terakhir berkaitan erat dengan masalah kebudayaan. Dari banyak studi menyebutkan salah satu penyebab utama dari konflik ini adalah akibat lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Menurut AlQadrie (2005), Profesor Sosiologi pada Universitas Tanjungpura Pontianak, berbagai konflik sosial yang telah menimbulkan keterpurukan di negeri ini disebabkan oleh kurangnya kemauan untuk menerima dan menghargai perbedaan, ide dan pendapat orang lain, karya dan jerih payah orang lain, melindungi yang lemah dan tak berdaya, menyayangi sesama, kurangnya kesetiakawanan sosial, dan tumbuhnya sikap egois serta kurang perasaan atau kepekaan sosial. Hal sama juga dikemukakan oleh Rahman (2005) bahwa konflik-konflik kedaerahan sering terjadi seiring dengan ketiadaan pemahaman akan keberagaman atau multikultur. Oleh karena untuk mencegah atau meminimalkan konflik tersebut perlu dikembangkan pendidikan multikulturalisme (Rifai, hal 1,2 2006). Ketiga, bahwa pemahaman terhadap multikulturalisme merupakan kebutuhan bagi manusia untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang. Pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung jawab besar, yaitu menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya. Bila kedua tanggung jawab besar itu dapat dicapai, maka kemungkinan disintegrasi bangsa dan munculnya konflik dapat dihindarkan. (Suara

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

159

Pembaruan: 09/09/04). Konflik antarbudaya yang disebut oleh Samuel P. Huntington (1993) sebagai benturan antar peradaban akan mendominasi politik global. Dalam bukunya yang terkenal, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, Hantington menyebutkan bahwa terjadinya berbagai konflik sosial dan etnis di berbagai belahan dunia antara lain disebabkan oleh perbedaan kebudayaan yang semakin nyata. Untuk menghindari benturan tersebut, atau setidaknya meminimalkan dampak dari benturan tersebut menurut salah seorang penulis lepas online, pemahaman tentang keanekaragaman kebudayaan, (www.penulislepas.com. Dalam Rifai 2006)

PENDIDIKAN MULTIKULTUR DAN MASYARAKAT MADANI Pendidikan Definisi operasional mengenai pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global (Tilaar, 1999, hal 28). Manusia adalah individu yang bereksisitensi. Eksistensi tersebut perlu digali dan dikembangkan secara meyeluruh, guna membangun manusia yang seutuhnya. Seutuhnya berarti bahwa individu dibentuk hingga mencapai tingkat integritas yang optimal. Individu yang berintegritas memiliki keseimbangan perkembangan rohani dan jasmani yang sehat. Penumbuhkembangan individu tersebut perlu memerhatikan konteks dimana individu hidup, tumbuh, dan berkembang. Artinya potensipotensi lokalitas menjadi faktor penunjang terbentuknya pertumbuhan individu melalui pendidikan. Berkaitan dengan penumbuhkembangan eksistensi peserta didik, pendidikan juga berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010). Hasil dari proses pendidikan yang diupayakan ini dapat memberikan kontribusi bagi

160

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

terwujudnya masyarakat madani dengan memerhatikan dimensi lokal, nasional, bahkan global. Multikultural Multikultural mengacu kepada pengertian suatu kondisi budaya yang beragam. Mahfud dalam bukunya yang berjudul ”Pendidikan Multikultural” menyebutkan bahwa multikulturalisme adalah sebuah paham yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya lain. Budaya satu dengan yang lain dapat menjadi kekuatan di tengah krisis multidimensi seperti pada masa sekarang ini. Eksistensieksistensi keragaman budaya dapat secara bersama-sama menjadi kekuatan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi semakin kokoh. Keragaman budaya tidak hanya melihat suatu fakta tentang adanya keragaman sukubangsa dan budaya namun harus dipandang dari aspek kesederajatan. Kesederajatan menjadi kata kunci yang sangat utama dalam rangka menghargai dan menghormati eksistensi antarbudaya tersebut. Sedangkan Menurut Parsudi Suparlan, akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. (2002). Kehidupan manusia atau individu yang hendak dibangun atas dasar budaya yang berlaku dimana individu tersebut. Dengan berpedoman kepada budaya setempat, realitas budaya dalam keragaman adalah suatu hal yang harus dilihat sebagai sesuatu yang pasti dan tak terelakkan. Di situlah individu harus hidup, tumbuh dan berkembang secara utuh dalam perspektif keragaman budaya.

Pendidikan Multikultural Pendidikan Multikultural berarti usaha menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik secara optimal dari aspek rohani dan jasmani, dengan memerhatikan keragaman budaya dengan prinsip kesederajatan. Sejalan dengan hal itu, Mahfud menjelaskan bahwa Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan zaman yang semakin kompleks, di mana egosentrisme, etnosentrisme, dan chauvinisme yang pada gilirannya memunculkan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

161

klaim kebenaran (truth claim) terus menggejala pada masing-masing individu. Dengan demikian, pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural senantiasa menciptakan struktur dan proses di mana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi (Mahfud, 2007). Arus globalisasi dengan ciri individualitas yang semakin tinggi, ditambah dengan relativitas budaya dan berpikir harus diatasi dengan pendidikan multikultur yang semakin intens dan konsisten, serta utuh. Hal ini penting dalam rangka mencapai cita-cita masyarakat madani di negara Indonesia yang multikultur. Dengan demikian, pendidikan multikultur memiliki tanggung jawab terhadap keutuhan keragaman budaza dalam mengindari konflik social serta pelanggagaran permasalahan hak asasi manusia. Lebih jauh Mahfud menyatakan bahwa pendidikan multikultural berfungsi sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualianpengecualian dalam proses pendidikan (Hilda Hernandez Dalam Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content ,1989) Atau dengan kata lain, bahwa ruang pendidikan sebagi media transformasi ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) hendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme dengan cara saling menghargai dan menghormati atas realitas yang beragam (plural), baik latar belakang maupun basis sosio budaya yang melingkupinya.

Masyarakat Madani Penjelasan Masyarakat madani dan karakteristiknya berikut ini diambilkan dari buku “Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Oleh Srijanti,dkk. Masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang di mana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini (Zbigniew Rau). Sementara Han Sung-Joo menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan kerangka hukum yang melindungi

162

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, warga yang independen, pergerakan yang mengakar dalam masyarakat. Di Indonesia, masyarakat madani didefinisikan sebagai sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat. Masyarakat mendorong daya usaha serta inisiatif individu baik dari segi pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintahan mengikuti undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu menjadikan keterdugaan atau predictability serta ketulusan atau transparency sistem. Lebih jauh Masyarakat madani menurut Rahardjo ialah masyarakat yang beradab. Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep Civil society juga berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622M. Masyarakat madani juga mengacu pada konsep tamadhun (masyarakat yang berperadaban) yang diperkenalkan oleh Ibn Khaldun dan konsep Al Madinah al fadhilah (Madinah sebagai Negara Utama) yang diungkapkan oleh filsuf Al Farabi pada abad pertengahan. Dalam memasuki milenium III, tuntutan masyarakat madani di dalam negeri oleh kaum reformis yang anti status quo menjadi semakin besar. Masyarakat madani yang mereka harapkan adalah masyarakat yang lebih terbuka, pluralistik, dan desentralistik dengan partisipasi politik yang lebih besar, jujur, adil, mandiri, harmonis, memihak yang lemah, menjamin kebebasan beragama, berbicara, berserikat dan berekspresi, menjamin hak kepemilikan dan menghormati hak-hak asasi manusia. Karakteristik Masyarakat Madani Adapun karakteristik masyarakat madani seperti yang dikemukakan Srijanti,dkk dalam buku ”Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi” sebagai berikut: 1. Free Public Share.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

163

Adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat 2. Demokratis Masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras, dan agama. 3. Toleran Kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lai yang berbeda. 4. Pluralism Masyarakat yang tidak monolitik. Adanya pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bond of civility). Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan (check and balance). (Nurcholis Madjid). 5. Keadilan Sosial Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL MASYARAKAT MADANI

DALAM

MEWUJUDKAN

Dunia pendidikan dewasa ini bisa terjebak pada pembentukan manusia dari segi intelektualitas saja. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang ditandai dengan persaingan pasar yang sangat bebas. Pertarungan ekomoni dengan konsep pasar bebas mau tidak mau membawa suatu negara untuk memacu diri dengan pencapaian penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semata. Pendidikan yang memfokuskan diri pada aspek intelektual semata akan berdampak pada terjadinya persaingan yang tidak sehat. Adanya

164

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kecurangan, ketidakjujuran dalam UAN menjadi bukti disorientasi pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan kemungkinan besar telah menjadi sarana agenda politik. Guna mencapai standar mutu pendidikan nasional yang telah ditetapkan malahan membuat sekolah-sekolah mengizinkan perbuatan curang terjadi di sekolah demi mencapai target tersebut. Target pencapaian secara nasional dengan demikian bisa jadi telah mengeliminir fakta kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu paradigma pendidikan perlu diubah. Tilaar menyatakan bahwa cita-cita reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia. Oleh sebab itu paradigma baru pendidikan nasional diarahkan kepada terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut (1999, hal.168). Pencapaian masyarakat madani tersebut harus memperhatikan keragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Oleh karena itu berikut ini dirancang mengenai pendidikan multikultural untuk mencapai masyarakat madani sebagai berikut:

A. Perancangan Kurikulum Ciri masyarakat madani adalah desentralistik. Dalam ranah pengembangan kurikulum pendidikan seharusnya pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memperhatikan kondisikondisi daerah dalam merancang kurikulum. Artinya, kurikulum dirumuskan dengan memperhatikan rakyat, berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat bukanlah objek pendidikan yang menerima mentah-mentah dari pusat, namun secara langsung atau pun tidak, kerangka pendidikan nasional itu dibangun atas nilai-nilai budaya yang beragam tersebut. Pemerintah berfungsi dalam mengawasi dan mengarahkan. Dengan mengikutsertakan potensi keragaman, maka proses demokratisasi pun terwujud. KBK yang berorientasi kepada kearifan lokal perlu ditingkatkan lagi guna optimalisasi kurikulum. Dengan mengikutsertakan rakyat maka, pendidikan bukanlah dikuasai pemerintah pusat, apalagi sebagai pipa saluran politik. Dewan Perwakilan Rakyat baik pusat maupun Daerah semestinya turut menyuarakan potensi keragaman lokal tersebut guna menyusun kerangka kurikulum nasional yang berorientasi keragaman tersebut. Sebagai suatu contoh, Kurikulum Berbasis

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

165

Kompetensi yang memberikan keleluasaan dalam pengembangan indikator pembelajaran adalah usaha nyata dalam mengoptimalkan potensi daerah masing-masing. Pemerintah dalam hal ini tidak bisa lepas tangan, karena daerah-daerah di Indonesia memiliki variabel budaya yang sangat berbeda, demikian pula dalam budaya pola pikir mereka. Buku-buku pelajaran mestinya bisa disesuaikan dalam formatnya sesuai dengan variabel daerah tersebut. Lebih jauh, Tilaar menguraikan dampak pendidikan sebagai berikut: a. positif desentralisasi

Desentralisasi manajemen pendidikan nasional akan mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian muatan lokal di daerah-daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan, dan dikembangkan. Desentralisasi manajemen pendidikan nasional akan mengembangkan kebudayaan nasional sebagai benteng tangguh menghadapi pengaruh global yang negatif. Sejalan dengan itu akan mengembangkan identitas bangsa Indonesia yang akan membuat ketahanan nasional. Desentralisasi manajemen pendidikan nasional akan mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam pengembangan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan bebas. Desentralisasi manajemen pendidikan nasional akan meningkatkan peran masyarakat swasta untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.

b.

c.

d.

B. Proses Belajar Negara Indonesia adalah negara Bhinneka Tunggal Ika dengan berbagai kekayaan budaya. Dengan adanya ragam budaya lokal ini, diharapkan dapat membentuk Kebudayaan Nasional. Proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah dapat menyelenggarakan

166

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

aktivitas yang mengacu kepada nilai-nilai apresiasi berupa menghargai dan menggemari kebudayaan yang beragam tersebut. Aneka budaya dapat dikembangkan dalam program sekola seperti Cultur Festival. Dengan apresiasi yang tumbuh terhadap keragaman budaya, maka kultur tersebut dapat menjadu suatu kekuatan di tengah krisis multidimensi. Konflik antarbudaya dan sukubangsa dapat dikikis melalui kegiatan apresiasi budaya nasional, kebudayaan yang dimiliki seluruh bangsa Indonesia.

C. Pembelajaran yang Terintegrasi Pembelajaran multikultural bukanlah semata-mata tanggung jawab guru-guru Sosiologi, Sejarah, maupun Geografi karena pencapaian masyarakat madani meliputi proses demokrasi yang luas. Di dalam pembentukan masyarakat madani harus utuh meliputi semua elemen ciri-ciri atau karakteristik masyarakat madani. Pembangunan masyarakat madani dalam ranah sekolah harus terintegrasi dalam seluruh bidang pelajaran. Di dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tercakup dimensi bahasa dan sastra yang sangat luas. Melalui karya sastra , anak-anak di sekolah dapat menggali nilai-nilai budaya suatu daerah, pola pikir, kebiasaan, serta tata cara hidup suatu masyarakat. Dengan memahami latar belakang budaya masyarakat yang berbedabeda, maka praktik berkehidupan diharapkan akan menghormati keragaman tersebut. Sebaliknya, pola pikir masyarakat yang tidak baik yang ditunjukkan tokoh-tokoh dalam suatu karya sastra dapat menjadi pelajaran moral yang penting bagi pertumbuhan karakter mereka. Nilai-nilai kerja keras, pantang menyerah, dan nilai pentingnya pendidikan dalam Laskar Pelangi misalnya dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan pola pikir yang positif. Dengan mempelajari puisi, anak-anak dapat memahami dan mempraktikkan bagaimana menghormati dan menjujung tinggi agama-agama lainnya, seperti yang ditunjukkan Chairil Anwar dalam karangan puisinya yang berjudul Isa. Meskipun Chairil Seorang yang menganut agama Muslim namun ia menciptakan puisi yang berisi kisah penyaliban Nabi Isa Almasih. Melalui pembelaran lawan kata atau antonim, anak-anak belajar berlaku sportif dan menghargai yang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

167

kalah. Ada kata kalah, demikian pula ada kata menang. Akan tetapi yang menang pun sebenarnya membutuhkan orang yang kalah. Tanpa kekalahan, kemenangan tidak bisa terjadi. Di sinilah filosofi pembelajaran antonim atau lawan kata tersebut. Anak-anak akan belajar bagaimana yang menang berhak menerima pujian sebaliknya, yang kalah belajar untuk lebih berusaha lagi. Melalui berbagai mata pelajaran, anak diajarkan tidak hanya pada ranah kognitif, terlebih dari itu diajarkan pula mengenai sikap seperti tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai makhluk individu yang harus memiliki suatu keterampilan guna menghadapi kehidupannya. Dalam arti ini, anak dilatih agar dapat mandiri dengan skill yang diperoleh dalam proses pendidikannya. Dengan demikian, pendidikan juga bermakna sebagai memanusiakan manusia. Manusia sebagai makhluk individu yang bertanggung jawab kepada dirinya sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Dengan penanaman nilai-nilai semacam itu, hasil yang dicapai adalah kontribusinya terhadap masyarakat terutama dalam menciptakan keamanan, kesejahteraan, dan ketentraman. Manusia yang berpendidikan adalah manusia yang dapat memberikan sumbangan-sumbangan positif terhadap kehidupan dan kelangsungan masyarakat. Aspek penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah terwujudnya pendidikan demokrasi. Masyarakat madani memiliki ciriciri individu-individu yang demokratis. Melalui praktik pembelajaran di sekolah, anak-anak dilatih mengembangkan sikap yang demokratis. Praktik pemilihan ketua kelas, pemilihan ketua OSIS, bahkan pengambilan-pengambilan keputusan dalam menentukan peraturan di kelas, dapat melibatkan seluruh siswa dalam suasana yang demokratis. Melalui pembelajaran demokrasi berarti melatih mereka untuk terbiasa menghargai pendapat, menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab, bersaing secara sehat dalam adu argumentasi, menyadari kesamaan hak, menyadari keberbedaan, serta kepatuhan kepada moral. D. Hasil yang Diharapkan Berbagai langkah seperti yang ditawarkan penulis di atas, maka hasil yang akan dicapai dalam pembentukan masyarakat madani melalui

168

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pendidikan multikultural adalah tercapainya sikap-sikap mengacu kepada karakteristik masyarakat madani antara lain :

yang

Pertama, terwujudnya masyarakat sebagai rumah persemaian bagi kebebasan berpendapat dalam keragaman budaya, agama, suku bangsa, dan ras. Kedua, terwujudnya suatu masyarakat yang saling menghargai, menghormati antara satu dengan yang lainnya sehingga tumbuh masyarakat yang damai, tentram dan aman guna menumbuhkembangkan manusia yang utuh. Ketiga, menciptakan masyarakat yang toleran dengan kesadaran penuh atas adanya keberbedaan dalam setiap dimensi. Keempat, terwujudnya kesatuan masyarakat dalam keberbedaan. Terciptanya masyarakat yang plural dengan tetap mengutamakan keselamatan bersama. Kelima, tercipta suatu keadilan sosial, kewajiban bagi stiap warga masyarakat. keseimbangan hak dan

SIMPULAN Dari penjelasan dan argumentasi di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: 1. Untuk mewujudkan masyarakat madani dalam bingkai pendidikan dapat dirancang pendidikan dengan memperhatikan perancangan kurikulum, proses pembelajaran, proses pembelajaran yang terintegrasi. Hasil yang diharapkan dari pendidikan multikultural adalah terbentuknya individu yang mandiri dan bertanggung jawab, terciptanya aspek kebebasan berpendapat dalam demokrasi yang santun, rasa saling meghormati dan menghargai, terciptanya kesatuan masyarakat, dan keadilan sosial yang merata.

2.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

169

DAFTAR PUSTAKA Kementerian Pendidikan Nasinal.1996-2010. Istilah.Jakarta : kemdiknas.go.id 1996. Daftar

Tilaar, H.A.R. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. 1999. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Rifai, Agus. Karya Ilmiah bagi Pustakawan. 2006. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Mahfud Choirul. Pendidikan Multikultural. 2007. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Srijanti,dkk. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. 2009. Jakarta: Salemba Empat.

170

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENERJEMAH SEBAGAI AGEN PERUBAHAN: MENCERMATI KETERLIBATAN PENERJEMAH DALAM PENGARUSUTAMAAN PERLINDUNGAN HAK ANAK DI NANGROE ACEH DARUSSALAM Agus Riyanto Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka ABSTRAK Penerjemah dan penerjemahan memiliki peran yang tidak kecil dalam setiap perubahan di dalam masyarakat. Bagaimana penerjemah dan penerjemahan terlibat dalam proses perubahan dapat dilihat, antara lain, dari seberapa jauh berbagai hasil penerjemahan yang ada mempengaruhi dan menjadi penentu dalam perumusan dan penetapan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Penerjemah, di samping menjadi penyampai atau perantara pesan, juga menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Paper ini mencoba mengeksplorasi keterlibatan penerjemah dalam upaya pengarusutamaan hak-hak anak di Nangroe Aceh Darussalam dan mencermati proses-proses yang terjadi dalam kaitannya dengan penerjemahan berbagai peraturan, konvensi, lesson-learned, the best practice dan panduan dan manual perlindungan anak yang dilakukan oleh Badan PBB untuk Urusan Anak UNICEF di propinsi tersebut pasca Tsunami 2004 sampai terbitnya kanun perlindungan anak di NAD pada tahun 2008. Diharapkan bahwa Paper ini akan membuka pemahaman terhadap peranan penerjemah dalam proses perubahan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Kata kunci: penerjemah, agen perubahan, pengarusutamaan, good governance. PENDAHULUAN Tsunami yang menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004 tidak hanya meluluhlantakkan Propinsi Aceh secara fisik, namun juga secara psikologis. Korban yang tewas sangat besar jumlahnya. Di

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

171

Aceh dan Sumatera Utara, korban tewas mencapai sekitar 167.000; 1 sepertiganya adalah anak-anak. (UNICEF, 2009) Sekitar setengah juga orang terkena dampak bencana tersebut dan harus mengungsi. Keadaan ini diperburuk oleh kenyataan bahwa sebelum tsunami, Aceh sudah mengalami konflik bersenjata selama hampir 30 tahun, dengan korban harta benda dan nyawa besar dan membuat sebagian besar penduduk di daerah konflik harus mengungsi. Dalam setiap bencana dan keadaan darurat, anak selalu menjadi kelompok korban yang paling rentan. Dalam konflik bersenjata mereka dilibatkan dalam konflik sebagai tentara anak-anak (combatant), sebagai pendukung operasi militer berupa pembawa logistik, kurir, ataupun mata-mata bagi pihak yang bertikai. Anak perempuan bahkan posisinya lebih rentan; beberapa kasus konflik bersenjata di belahan Afrika bahkan mempergunakan anak-anak perempuan di bawah umur sebagai kekuatan pendukung yang membantu menyiapkan makanan bagi pasukan bersenjata dan bahkan dipaksa melayani kebutuhan seksual pasukan. Dalam situasi darurat, anak juga menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap tindak kekerasan baik oleh sesama korban yang berusia dewasa, maupun oleh Negara. Anak terancam kehilangan berbagai hak dasar yang dimilikinya. UU Nomor 23/2002 Tentang Perlindungan Anak menyebutkan hak-hak anak antara lain berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat manusia serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Anak berhak atas nama, identitas diri dan status kewarganegaraan. Mereka juga berhak beribadah menurut agamanya, berpikir dan berekspresi sesuai tingkat kecerdasan dan 2 usianya dalam bimbingan orang tua. Beberapa laporan penelitian seperti (Retnowati, 2005), mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap anak di Aceh pasca tsunami 2006 menunjukkan angka kekerasan yang cukup mencengangkan. Dalam konteks inilah, UNICEF, sebuah badan PBB yang mengurusi masalah anak, menjalankan peran dan fungsi dalam melindungi dan membantu anak –anak yang menjadi korban dalam
1 2

UNICEF, Tsunami Report 5 Year Anniversary December 2009 UNICEF, UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak (Edisi Dua Bahasa), Jakarta, 2005

172

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dua bencana kemanusiaan tersebut. Dalam melaksanakan programprogramnya, UNICEF merujuk pada peran dasar yang dimandatkan kepada lembaga tersebut, yakni melindungi kepentingan dan hak-hak anak . Perlindungan anak, kemudian menjadi sangat penting dan menjadi salah satu fokus utama dari program kemanusiaan UNICEF di Aceh selama periode darurat, masa pemulihan dan masa rekonstruksi dan pembangunan kembali di propinsi tersebut. Program- program tsunami ini memanfaatkan program-program tanggap darurat yang secara khusus menangani kekerasan di Aceh sebagai pintu masuk untuk memperkuat sistem perlindungan anak di NAD. Misalnya, program unifikasi anak yang terpisah dari orang tua secara berangsur berkembang menjadi program yang berhasil memperkuat pelayanan kesejahteraan anak bagi anak rentan di propinsi tersebut. Program advokasi untuk Qanun Perlindungan Anak dimulai pada tahun 2006 ketika UNICEF, Pemerintah Indonesia dan LSM berkumpul untuk menyiapkan kerangka hukum perlindungan anak bagi Aceh. Melalui kerja sama dengan Biro Pemberdayaan Perempuan dan Dinas Sosial, UNICEF memberikan bantuan teknis, menyediakan bantuan konsultasi, memfasilitasi pertemuan dan rapat dengan DPRD dan juga mendukung partisipasi perwakilan dari anak Aceh (khususnya melalui Forum Anak di tingkat Kabupaten). Puncak dari upaya ini adalah disahkannya Qanun Perlindungan Anak NAD oleh DPRD dan Gubernur Aceh pada 30 Desember 2008. (UNICEF, 2009). Paper ini mencoba menggali keterlibatan penerjemah dalam proses advokasi, konsultasi, pertemuan dengan parlemen dan pemberian dukungan bagi forum anak di NAD. Sebagai lembaga internasional, upaya-upaya advokasi, fasilitasi dan pengenalan gagasan baru selalu melibatkan komunitas internasional dan pihak donor, dan peranan penerjemah dan penerjemahan menjadi layak untuk dikaji dan dieksplorasi. Paper ini merupakan upaya awal untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi bagaimana penerjemahan dan penerjemah berperan dalam berbagai upaya yang dilakukan oleh UNICEF dengan berbagai mitra dan para pemangku kepentingan. Penelaahan dokumen berupa email, surat menyurat, wawancara dengan responden (staf UNICEF dan penerjemah) serta berbagai

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

173

dokumen penerjemahan dilakukan guna mengumpulkan data terkait dengan peranan penerjemah dalam pengarusutamaan perlindungan anak di NAD.

KAJIAN PUSTAKA Penerjemahan merupakan kegiatan yang tidak pernah berdiri sendiri. Penerjemahan adalah proses dimana persoalan budaya, politik, dan ekonomi dan sosial senantiasa menjadi faktor yang penting. Tin Guo dalam studi yang berjudul Translation and Activism:Translators in the Chinese Communist Movement in the 1920s-30s, secara panjang dan lebar menggambarkan peranan penerjemah sebagai aktivis yang secara sengaja ikut mendorong perubahan dalam konteks sosial dan politik dan bagaimana dua orang penerjemah Cina –di tengah gerakan Partai Komunis Cina periode 1920-1930an menggunakan terjemahan sebagai alat untuk memicu dan memfasilitasi reformasi sosial dan perubahan politik di Cina pada awal 1920an. (Tin Guo, 2004). Kajian sosiologis penerjemahan memang belum banyak dilakukan. Kendatipun demikian, perdebatan mengenai peran penerjemah yang bukan semata-mata sebagai penyampai makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran sudah lama berlangsung. Beberapa ahli – terutama Hermans (1996), Pym (1998, 2007), Tymoczko (1999) dan Cronin (2002) – telah menyinggung peranan penerjemah sebagai agen perubahan sosial. Lebih belakangan, pakar sosiologi penerjemahan (misalnya Inghilleri 2005, Wolf 2007) bahkan telah membahas topik dan mengangkatnya ke permukaan dengan menekankan bahwa penerjemah tidak hanya pengasil teks dalam bahasa sasaran namun juga sebagai makhluk sosial yang merupakan subjek yang membangun dan dibangun (Wolf 2002: 33). Penerjemahan,dari sisi lain, juga tunduk pada kepentingan nasional sebuah negara. Dalam konteks Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993 (BHN, 1993, Yadnya, 2006) pun menyatakan bahwa Penulisan, penerjemahan, dan penggandaan buku pelajaran, buku bacaan, khususnya bacaan anak yang berisikan ceritera rakyat, buku ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terbitan

174

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

buku pendidikan lainnya digalakkan untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan dan memperluas cakrawala berpikir serta menumbuhkan budaya baca. Jumlah dan kualitasnya perlu terus ditingkatkan serta disebarkan merata di seluruh tanah air dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bersamaan dengan itu dikembangkan iklim yang dapat mendorong penulisan dan penerjemahan buku dengan penghargaan yang memadai dan jaminan perlindungan hak cipta. Jadi jelas bahwa penerjemahan dan penerjemah, tidak dapat lepas sama sekali dari kondisi dan kebutuhan sosial di tempat ia berada.

METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan purposive random sampling. Data dikumpulkan melalui komunikasi email periode 31 Mei 2004-24 Juni 2010. Dengan menggunakan kata kunci tertentu yang merupakan bagian dari sistem tersebut, email dengan empat konsultan asing ditarik untuk mengetahui frekuensi komunikasi antara penerjemah dan konsultan utama yang berkait dengan perlindungan anak. Dari email itulah kemudian dianalisis, dengan menarik kata-kata kunci tertentu, topik penerjemahan yang berkaitan dengan perlindungan anak di NAD. Di samping itu, wawancara singkat, karena keterbatasan waktu, juga dilakukan dengan beberapa staf sebagai responden, Wawancara melalui telepon ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang mengenai dokumen yang diterjemahkan tersebut.

PEMBAHASAN Selama periode 31 Mei 2004-19 Juli 2005, ada lima konsultan yang bekerja untuk bidang perlindungan anak dan terlibat dalam upaya pengarusutamaan hak anak dan advokasi terkait pembuatan Qanun. Selama periode itu, terdapat 58 komunikasi melalui email yang berkaitan dengan permohonan penerjemahan (dengan konsultan 1), sementara dengan konsultan 2 (yang ditempatkan di NAD), terdapat 170 komunikasi email untuk tujuan yang sama. Periode komunikasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

175

dengan konsultan 2 ini adalah 5 September 2006-5 Januari 2009). Untuk konsultan utama di Jakarta (Konsultan 3), ditemukan bahwa 124 kontak melalui email dilakukan antara 26 Juli 2005 – 21 September 2010). Seorang konsultan yang bekerja dalam waktu satu tahun (konsultan 4), melakukan kontak melalui email untuk keperluan permintaan penerjemahan sebanyak 136 kali selama periode 19 Juni 2009-24 Juni 2010). Adapun konsultan 5, melakukan hubungan komunikasi melalui email untuk keperluan yang sama sebanyak 89 kali selama periode 21 Agustus 2007-27 Oktober 2009. Berdasarkan topik email diketahui bahwa penerjemahan yang diminta mencakup penerjemahan dokumen hukum seperti UU, kebijakan, rencana strategis departemen terkait, Qanun atau peraturan daerah (dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris), atau Konvensi dan resolusi terkait hak-hak anak (dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia). Di samping dokumen hukum tersebut, berbagai komentar, penjelasan, catatan dan hasil pertemuan terkait hal di atas juga diproses penerjemahannya. Termasuk dalam dokumen hukum adalah panduan-panduan yang mengatur proses peradilan anak, dan laporan penelitian terkait peradilan anak. Di samping dokumen hukum di atas, berbagai laporan penelitian, evaluasi eksternal, dokumen panduan yang terkait dengan perlindungan anak juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk keperluan advokasi dan sebagai bahan “the best practice dan lesson learned di bidang perlindungan anak. Bahan terjemahan tersebut bersumber dari web-site atau dari berbagai pusat penelitian di luar negeri seperti di Mesir, Afrika Selatan, Irlandia dan Italia serta beberapa Negara lainnya. Untuk keperluan konsultasi, berbagai bahan dari Bahasa Indonesia seperti hasil pertemuan rapat pemangku kepentingan, draf panduan, hasil rapat, dan bahan-bahan pendukung lainnya juga diterjemahkan. Ini sering dilakukan karena Konsultan harus memberikan masukan-masukan berkenaan dengan apa yang menjadi pembahasan dan berbagai hal yang tengah berjalan dan dalam proses.

176

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PANDANGAN KE DEPAN Melalui berbagai proses yang panjang selama periode tersebut (2004-2010) dapat dikatakan bahwa sistem perlindungan anak sudah menjadi mainstream di NAD. Berbagai legislasi dan peringkat pelaksanaannya sudah terbentuk dan berlaku di NAD. Panduan, SPM, Qanun dan Sistem relatif sudah tertata dan tersedia. Dalam konteks ini, peranan penerjemah dan bahan penerjemahan cukup vital, mengingat bahwa dalam proses advokasi dan legislasi di propinsi tersebut, peranan berbagai badan dan lembaga internasional cukup besar. Ini dikarenakan adanya situasi khusus seperti konflik dan bencana alam yang luar biasa, yang memungkinkan terbukanya peranan lembaga internasional dalam proses pengarusutamaan hak-hak anak di NAD. Propinsi Aceh saat ini merupakan propinsi yang paling maju di seluruh Indonesia dalam hal perlindungan hukum anak (UNICEF, 2009). Dari berbagai pembahasan dan penelusuran di atas, dapat dilihat bahwa penerjemahan yang dilakukan oleh UNICEF terhadap berbagai dokumen cukup signifikan jumlahnya. Meskipun penelitian terhadap penerjemah yang terlibat belum dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa peranan penerjemah cukup signifikan mengingat banyaknya naskah-naskah penerjemahan tersebut. Sebagai contoh, terdapat 170 penerjemahan terkait Pusat Pelayanan Terpadu, yang mencakup bahan advokasi, draf peraturan gubernur, SPM PPT, Mekanisme Kerja, data base PPT, draf SKB lembaga terkait, dan sebagainya. Menjadi penting kemudian, dalam rangka untuk melihat lebih lanjut peranan mereka sebagai agen perubahan sosial, untuk mendalami dan meneliti bagaimana persepsi penerjemah dan persepsi pengguna jasa mereka terhadap peranan penerjemah dalam proses perubahan sosial sebagaimana disitir oleh Tymoczko di atas.

DAFTAR PUSTAKA Cronin, Michael. 2002. “The empire talks back: Orality, heteronomy and the cultural turn in interpreting studies”. In Translation and Power, M.Tymoczko and E. Gentzler (eds). Amherst and Boston: University of Massachusetts Press. 45–62.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

177

Hermans, Theo. 1996. “Norms and the determination of translation: A theoretical framework”. In Translation, Power, Subversion, R. A. Rodríguez and M. Carmen A.Vidal (eds). Clevedon:Multilingual Matters. 25–51. Inghilleri, Moira. 2005. “The sociology of Bourdieu and the construction of the ‘object’ in translation and interpreting studies”. The Translator 11 (2): 125–45. Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat (MPR) RI No. II/MPR/1993, tgl. 9 Maret 1983, “F. Kebijaksanaan Pembangunan Lima Tahun Keenam, Kesejahteraan Rakyat, Pendidikan dan Kebudayaan,” angka 2, Pendidikan, butir f. Pym, Anthony. 1998. Method in Translation History. Manchester: St Jerome. Pym, Anthony. 2007. “On the social and the cultural in translation studies”. In Sociocultural Aspects of Translating and Interpreting, A. Pym, M. Shlesinger and Z. Jettmarová (eds). Amsterdam and Philadelphia: John Benjamins. 5–30. UNICEF, Tsunami Report 5 Year Anniversary December 2009 UNICEF, UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak (Edisi Dua Bahasa), Jakarta, 2005 UNICEF, UNICEF Aceh-Nias, CFAN IV (Edisi Khusus), Jakarta 2009. Tymoczko, Maria,. 2000. “Translation and political engagement: Activism, social change and the role of translation in geopolitical shifts”. The Translator 6 (1): 23–47. Tymoczko, Maria. 2007. Enlarging Translation, Empowering Translators. Manchester and Kinderhook: St.Jerome. Tin Guo, (2005), Translation and Activism: Translators in the Chinese Communist Movement in the 1920s-30s, University of Aston, (Dissertation) Wolf, Michaela. 2002. “Translation activity between culture, society and the individual: Towards a sociology of translation”. CTIS Occasional Paper 2: 33–43. Ida Bagus Putra Yadnya, Implikasi Budaya Dalam Penerjemahan (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Bidang

178

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Ilmu Linguistik/Penerjemahan Pada Fakultas Sastra Universitas http://www.ottiaq.org/ Udayana), Denpasar, 2006 communications/autres_en.php.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

179

DEMOKRASI BUKAN MILIK PEMIMPIN Andriyansah Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka andriyansah@ut.ac.id ABSTRAK “Demokrasi” masih adakah demokrasi di negeri ini, rakyat sangat familiar dengan kata ini namun implementasi dalam berkehidupan dan berkenegaraan mungkin diketahui sebatas pemilihan Presiden atau kepala pemerintahan daerah. Demokrasi bukan hanya sebatas musyawarah untuk mufakat, bukan berarti bebas bertindak menurut pemahaman individu tetapi dibebaskan menurut undang-undang serta peraturan oleh Negara. Potret budaya demokrasi selalu membuat masyarakat mendengkur diri karena ketidakberdayaan. Tidak ada yang salah dengan cita-cita luhur bangsa ini untuk menuju Civil society. Demokrasi bukan hanya untuk kehidupan bernegara dan berbangsa tetapi harus menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat adil bukan hanya milik orang punya duit tapi adil juga milik rakyat kecil, berjalan tidaknya demokrasi bergantung pada pimpinan organisasi dari organisasi skala besar hingga organisasi berskala kecil. Pemimpinan yang arogansi tidak akan pernah mengimplementasikan demokrasi secara nyata. Arogansi berselimut demokrasi inilah yang akan melunturkan cita-cita luhur bangsa ini. Berkata mari bangkit sudah tidak tepat lagi diungkapkan tetapi mari melakukan, implementasi dari sila-sila dari Pancasila dalam memimpin dalam mewujudkan demokrasi hal ini harus dibuktikan demi cita-cita luhur bangsa sehingga bangsa ini, bukan negara yang selalu dipandang sebelah mata oleh dunia. Kata Kunci: cita-cita luhur, pemimpin, civil society

PENDAHULUAN Megawali tulisan ini, tidak salahnya jika refresh mengenai teori tentang demokrasi yang bermakna bahwa kekuasaan Untuk Rakyat.

180

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Atau disebutkan sebagai: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat oleh karena itu setiap orang, siapa pun dia, memiliki satu suara yang sama nilainya. Ditinjau sudut bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan. Jadi secara bahasa demis-cratein atau demos-cratos mempunyai makna bahwa pemerintahan rakyat atau kekuasaan rakyat. Menurut Hennry B. Mayo Sistem politik demokratis adalah sistem yang menunjukan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang secara diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemiliha-pemilihan yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjainnya kebebasan politik. Selain itu Maswadi Rauf 1997 menyatakan bahwa prinsip utama demokrasi adalah : a. Kebebasan/Persamaan (freedom/equality) Kebebasan dan persamaan adalah pondasi demokrasi. Kebebasan dianggap sebagai sarana mencapai kemajuan dengan memberikan hasil maksinal dari usaha orang tanpa adanya pembatasan dari pengguasaan. b. Kedaulatan rakyat (people’s soverignty) Dengan konsep kedaulatan rakyat, pada hakikatnya kebijakan yang dibuat adalah kehendak rakyat dan untuk kepentingan rakyat.

Demokrasi di Indonesia 1. Demokrasi Desa

Mohammad Hatta pernah menyampaikan bahwa desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan kepala desa dan adanya rembug desa. Itulah yang disebut “demokrasi asli”. Demokrasi desa memiliki lima unsur atau anasir, yaitu : a. rapat b. mufakat c. gotong-royong d. hak mengadakan proses bersama

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

181

e. hak menyingkirkan dari kekuasaan raja absolut Demokrasi Indonesia modern menurut Mohammad Hatta harus meliputi tiga hal, yaitu : a. demokrasi di bidang politik b. demokrasi di bidang ekonomi c. demokrasi di bidang sosial 2. Demokrasi Pancasila Sebagai ideologi nasional, pancasila berfungsi sebagai : a. Cita-cita masyarakat yang selanjutnya menjadi pedoman dalam mebuat dan menilai keputusan politik b. Alat pemersatu masyarakat yang mampu menjadi sumber nilai bagi produser penyelesaian konflik yang terjadi. Nilai-nilai demokrasi yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila tersebut adalah sebagai berikut. a. Kedaulatan Rakyat b. Republik c. Negara Berdasarkan atas Hukum d. Permintaan yang Kontitusional e. Sistem Perwakilan Demokrasi pancasila dapat diartikan secara luas maupun sempit, sebagai berikut. 1. Secara luas demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. 2. Secara sempit demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

PEMBAHASAN Di atas telah dijelaskan bahwa demokrasi menitik beratkan pada rakyat, sehingga rakyatlah yang mempunyai legitimasi kekuasaan. Prinsip utama demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian dituangkan ke dalam konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan dicirikan. Ciri-ciri ini yang kemudian dijadikan parameter untuk

182

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Pada dasarnya Bangsa kita Indonesia jauh sebelum kemerdekaan sudah mempunyai cita-cita atau gambaran yang ingin dicapai oleh bangsa ini. Landasan itu tidak lepasa dari cita-cita luhur bangsa.

Cita-Cita Luhur Sedari duduk di Sekolah Dasar kita sudah diakrabkan dengan “Citacita Luhur Bangasa”. Pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi di Indonesia merupakan karya monumental para tokoh pendiri negara (founding fathers) dengan visi masa depan dan berakar pada sejarah bangsa. Dengan Pancasila dan UUD 1945 Kita sebagai anak bangasa dan dunia luar bisa melihat wajah bangsa Indonesia. Pembukaan UUD 1945, dinyatakan dengan jelas dan tegas tentang cita-cita luhur dibentuknya negara Republik Indonesia yang berdaulat. Cita-cita luhur yang diamanatkan oleh UUD 1945 dituangkan dalam beberapa poin, antalain: 1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2. Memajukan kesejahteraan umum; 3. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Cita-cita tersebut sebenarnya adalah tugas paling pokok yang harus diwujudkan oleh Negara dalam hal ini adalah pemerintah yang sah. Dapatkah kita melihat realisasi dari cita-cita luhur bangsa Indonesia yang diamanatkan oleh UUD 1945 Dari Rezim Orde Lama hingga Orde Reformasi atau dapakaj kita melihat kegagalan merealisasikan cita-cita luhur banga Indonesia. Pertama, perlindungan dalam bidang ekonomi, sosial, politik, kesehatan, maupun keamanan yang diberikan oleh negara masih belum merata kepada segenap bangsa Indonesia, melainkan hanya untuk individu/kelompok tertentu terutama yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sedangkan, rakyat miskin yang bisa

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

183

kita lihat dari multidimensi untuk pangan,papan dan sandang seolah rakyat kecil dibutuhkan untuk keperluan pesta 5 (lima) tahun sekali denga Janji-janji para calon wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa pada saat kampanye yang berbunyi ”memperjuangkan rakyat kecil ”, ”membela kaum tertindas”, dan masih banyak lainnya bagus dalam redaksional, tetapi dalam kenyataannya janji tinggal janji ibarat lagu lidah memang tak bertulang. Hukuman bisa dibeli begitu kutipan lagu karya Bona Paputungan yang berjudul “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan” begitulah salah satu potret pelaksanaan demokrasi dinegara ini. Kedua, dalam hal memajukan kesejahteraan umum atau mewujudkan negara yang sejahtera (welfare state), pemerintah juga masih belum mampu merealisasikannya dengan baik. Kesejahteraan hanyalah dimiliki dan dimonopoli oleh segelintir orang/kelompok masyarakat. Memang aneh rasanya jika kesejahteraan hanya tersebar dan berkutat pada orang/kelompok yang memang telah mapan. Kemapanan tersebut hanya diwariskan kepada orang/kelompoknya saja, bukannya dibagi atau disebar kepada orang/kelompok lain yang masih terjerat kemiskinan. Tidak sedikit data yang coba di paparkan oleh media masa masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat PHK atau tidak sedikit warga Indonesia yang tertindas bahkan harus menerima hukuman pancung diluar negeri sebagai TKI/TKW demi mencari kesejahteraan. Membahas cita-cita luhur bangsa Indonesia, erat kaitannya dengan martabat bangsa adalah Martabat dan harga diri bangsa harus dijunjung dan dipertahankan oleh segenap bangsanya. Karena itu pula, kita wajib ikut mengangkat harkat, derajat, dan kedudukan yang terhormat bagi kemajuan bangsa. Sebab bangsa yang maju akan dihargai dan dihormati oleh bangsa lain Jadi jelas sesungguhnya citacita luhur bangsa Indonesia, bukan hanya berbicara untuk internal bangsa dari Sabang hingga Merauke tetapi untuk berkehidupan dengan Negara lain. Kaitannya untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa dikutip dari www.setneg.go.id bahwa pemrintah dalam rangka pemulihan perekonomian nasional dan pemeliharaan kesejahteraan rakyat. Sedangkan prioritasnya berturut-turut sebagai berikut :

184

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

1. Pemeliharaan kesejahteraan rakyat, serta penataan kelembagaan dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial. 2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. 3. Pemulihan ekonomi melalui peningkatan daya saing yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur, dan energi. 4. Peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya alam dan kapasitas penanganan perubahan iklim.

Pemimpin Pimpinan adalah merupakan suatu konsekuensi dari kedudukan atau status mereka, jadi merupakan suatu kekuasaan dari jabatan yang dipegangnya. Tanpa kedudukan semacam itu, para pemimpin (leader) masih dapat mencapai tujuan, apabila kekuasaannya itu betul-betul sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok yang dipimpinnya. Ensiklopedia Administrasi (disusun oleh staf Dosen Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gadjah Mada) mengatakan bahwa Pemimpin (Leader) adalah orang yang melakukan kegiatan atau proses mempengaruhi orang lain dalam suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi, yang diarahkan guna mencapai tujuan/tujuan-tujuan tertentu. Kita dapat saja berbeda dari beberapa pandangan di atas dalam memaknai konsep pemimpin, namun yang dapat penulis simpulkan bahwa dari rumusan diatas secara umum, pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi individu dan/atau sekelompok orang lain untuk bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

185

yang sama "pimpin". Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalamperan formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampumemimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinanbisa dimiliki oleh orang yang bukan "pemimpin".Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan,khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhiorang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demipencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memilikikecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga diamampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitastertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi "LEADER", yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah: 1. Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan. 2. Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekanrekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya. 3. Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada 4. Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya. Dalam pandangan manajemen kepeminpinan disebutkan bahwa untuk mengenali karakteristik atau ciri pribadi dari para pemimpin, para psikolog mengadakan penelitian. Mereka berpandangan bahwa pemimpin ini dilahirkan bukan dibuat. Secara alamiah bahwa orang yang mempunyai sifat kepemimpinan adalah orang yang lebih agresif.

186

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Lebih tegas, dan lebih pandai berbicara dengan orang lain serta lebih mampu dan cepat mengambil keputusan yang akurat. Pandangan ini mempunyai implikasi bahwa jika ciri kepemimpinan dapat dikenali. Maka organisasi akan jauh lebih canggih dalam memilih pemimpin. Hanya orang-orang yang memiliki ciri-ciri kepemimpinan sajalah yang akan menjadi manajer, pejabat dan kedudukan lainnya yang tinggi. Ukuran dalam pencarian ciri kepemimpinan menggunakan dua pendekatan 1. Membandingkan bawahan dengan pemimpin 2. Membandingkan ciri pemimpin yang efektif dengan yang tidak efektif. Fungsi-fungsi Kepemimpinan Perilaku pemimpin mempunyai dua aspek yaitu fungsi kepemimpinan (style leadership). Aspek yang pertama yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar berjalan efektif, seseorang harus melakukan dua fungsi utama yaitu : a. b. fungsi yang berkaitan dengan pemecahan masalah; fungsi-fungsi pemeliharaan (pemecahan masalah sosial).

Pada fungsi yang pertama meliputi pemberian saran pemesahan dan menawarkan informasi dan pendapat. Sedangkan pada fungsi pemeliharaan kelompok meliputi menyetujui atau memuji orang lain dalam kelompok atau membantu kemompok beroperasi lebih lancar. Gaya Kepemimpinan Indonesia sepanjang sejarah memiliki 6 orang presiden mulai dari Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan sekarang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun ada fakta lain yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki 8 orang presiden. Pada 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

187

pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan agar dibentuk pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI, atau lebih dikenal dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia. Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan untuk jabatan Presiden Indonesia Serikat sebagaimana dikutip dari http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9397. Untuk tidak meimbulkan pemahaman yang ganda kita sebut saja secara sah presiden Republik Indonesia, sudah mempunyai 6 (enam) presiden. Setiap manusia pada dasarnya tidak mempunyai kesamaan dalam pola piker. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor antara lain lingkungan dan ekonomi sehingga mempengaruhi gaya atau pola kepemimpinan. Gaya kepemimpinan meliputi: a. Gaya dengan orientasi tugas

188

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

b. Gaya berorientasi dengan karyawan. Pada gaya yang pertama pemimpin mengarahkan dan mengawasi melalui tugas-tugas yang diberikan kepada bawahannya secara tertutup, pada gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan gaya yang berorientasi pada karyawan lebih memperhatikan motivasi daripada mengawasi, disini karyawan diajak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan melalui tugas-tugas yang diberikan.

Ada beberapa teori yang dikutip guna keperluan penulisan makalah ini antara lain: 1. Teori X Dan Teori Y Dari McGregor Douglas McGrogor mengemukakan strategi kepemimpinan efektif dengan menggunakan konsep manajemen partisipasi. Konsep ini terkenal karena menggunakan asumsi-asumsi sifat dasar manusia. Pemimpin yang menyukai teori X cenderung menyukai bergaya kepemimpinan otoriter dan sebaiknya seorang pemimpin yang menyukai teori Y lebih cenderung menyukai gaya kepemimpinan demokratik. 2. Kisi-Kisi Manajerial Dari Blake Dan Mouton, dua gaya manajemen ini mendasari dua pendekatan pada manajemen yang efektif. Pada gambar dibawah menunjukkan jaringan ( kisi-kisi ) dimana pada sumbu horizontal adalah perhatian terhadap produksiproduski sedang pada sumbu vertical adalah perhatian terhadap orang (Karyawan). Penelitian Di Universitas Ohio State Dan Michigan Di universitas Ohio State, para peneliti mencoba mempelajari efektifitas dari perilaku kepemimpinan untuk menentukan mana yang paling efektif dari kedua Pendekatan Situasional “Contingency” Pendekatan ini menggambarkan tentang gaya kepemimpian yang tergantung pada faktor situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabel lingkungan lainnya. Mary Parker Follectt mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepemimpinan yaitu: a. b. pemimpin, bawahan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

189

c.

situasi juga pemimpin harus berorientasi pada kelompok.

Civil Society Kita masyarakat awam biasanya mengindetikan istilah awam bermakna sama dengan madani. Dikutip dari makalah yang berjudul “Civil society di Indonesia” oleh Nurul Azizah, 2009 bahwa Istilah masyarakat madani pertama kali dikemukakan oleh kelompok Nurcholis Majid (dan beberapa tokoh ICMC ) yang berarti masyarakat yang beradab, berakhlaq mutlak dan berbudi pekerti luhur. Madani dimaknai oleh adanya kota mainah yang diungkap dengan istilah madaniyah, tamaddun, dan hadharah yang berarti peradaban. Menurut piagam madinah ada 10 prinsip pembangunan masyarakat madani (Ukidi, 1998) yaitu : 1. Kebebasan agama.

2. Persaudaran seagama dan keharusan untuk menanamkan sikap solidaritas yang tinggi terhadap sesama. 3. Persatuan politik dalam dalam meraih cita-cita bersama.

4. Saling membantu dan semua orang punya kedudukan yang sama sebagai anggota masyarakat 5. 6. 7. Persamaan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara. Persamaan di depan hukum bagi setiap warga negara. Penegakan hukum.

8. Memberlakukan hukum adat yang tetap berpedoman pada keadilan dan kebenaran. 9. Perdamaian.

10. Pengakuan hak atas setiap orang/individu. Makna masyarakat madani (civil society) pada kelompok ini lebih menekankan pada suatu kondisi masyarakat yang sangat beradab dan bukan merupakan alat perjuangan untuk mengembangkan demokrasi atau kedaulatan rakyat. Dengan kata lain, nuansa dari pemaknaan civil socity disini (yang diterjemahkan dengan masyarakat

190

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

madani) lebih mengutamakan komplemen bagi negara. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya membangun masyarakat madani di Indonesia, diantaranya sebagai berikut : 1. Kebhinekaan masyarakat, dimana kelompok-kelompok masyarakat ada yang saling hidup berdampingan, tolong menolong, saling menghargai, dan dapat hidup dengan damai. 2. Terselenggaranya kehidupan yang demokratis baik dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dimana hak-hak warga negara diakui dan dilindungi, baik oleh aparat maupun oleh masyarakat sendiri. 3. Bahwa untuk memelihara tata dalam masyarakat maka hukum sebagai pranata pengatur kehidupan masyarakat guna menyelenggarakan kepastian hukum dan keadilan perlu dijunjung tinggi baik oleh anggota masyarakat maupun oleh pemerintah. 4. Untuk mewujudkan suasana tenteram dalam kehidupan bermasyarakat, maka hak-hak warga negara perlu diakui dan dilindungi baik oleh pemerintah maupun warga masyarakat. 5. Untuk mewujudkan masyarakat yang beretika dan bermoral tinggi, maka perlu adanya norma-norma dan nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi baik oleh warga negara maupun aparat pemerintah sehingga tindakan- tindakan tercela tidak dilakukan. Namun apabila terjadi juga, maka hukum diberlakukan kepada pelakunya, siapapun orangnnya. Karakteristik Civil Society Masyarakat madani Indonesia mempunyai karaktersitik tersendiri, yang bisa dilihat dari karaktersitik berikut ini: 1. Ruang Publik Yang Bebas

Maksudnya adalah wilayah dimana masyarakat sebagai warga Negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik. Warga negara harus mempunyai kebebasan untuk menyampaikan aspirasinya yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

191

2. Demokratisasi Untuk menumbuhkan demokritisasi dibutuhkan kesiapan anggoata masyarakat berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan kemandirian. Mekanisme demokrasi antar komponen bangsa, terutama pelaku politik praktis merupakan bagian yang terpenting menuju masyarakat madani. Keberadaan masyarakat madani hanya dapat ditunjang oleh negara yang demokratis. 3. Toleransi Toleransi adalah kesediaan individu untuk menerima pandanganpandangan politik dan sikap sosial yang berbeda. Toleransi merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang atau kelompok masyarakat lain yang berbeda. 4. Pluralisme Pluralisme adalah sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk disertai sikap tulus yang bahwa kemajemukan itu bernilai positif dan merupakan rahmat Tuhan. Tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama, dan sebangun dalam segala segi. 5. Keadilan sosial

Dalam hal ini adalah keseimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tiap-tiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (penguasa).

Civil society dan Demokrasi Hubungan antara masyarakat madani dengan demokrasi, menurut Dawam Bagaikar dua sisi mata uang, keduanya bersifat ko – eksistensi. Hanya dalam masyarakat madani yang kuatlah demokrasi dapat ditegakkan dengan baik dan hanya dalam suasana – suasana demokratislah Civil society dapat berkembang dengan wajar dikutip

192

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dari Siti Halimah dalam “Membentuk Masyarakat Madani yang Demokratis, Harmonis, dan Partisipatif” Menyikapi keterkaitan masyarakat madani dengan demokratisasi ini, larry Diamond secara sistematis menyebutkan ada 6 konstitusi masyarakat madani terhadap proses demokrasi. 1. Menyediakan wacana sumber daya politik, ekonomi, kebudayaan dan moral untuk mengawasi dan menjaga keseimbangan pejabat negara. Pluralisme dalam masyrakat madani, bila di organisir akan menjadi dasar yang penting bagi persaingan demokratis. memperkaya partisipasi politik dan meningkatkan kesadaran kewarganegaraan. ikut menjaga stabilitas negara. tempat menggembleng pimpinan politik. menghalangi dominasi rezim.

2. 3. 4. 5. 6.

Secara esensial Indonesia memang membutuhkan pemberdayaan dan penguatan masyarakat, secara komprehensif agar memiliki wawasan dan kesadaran demokrasi yang baik serta mampu menjunjung tinggi nilai – nilai Hak Asasi Manusia. Untuk itu, maka diperlukan pengembangan masyarakat madani dengan menerapkan strategi pemberdayaan sekaligus agar proses pembinaan dan pemberdayaan itu mencapai hasilnya secara optimal dan Negara sudah harus siap dengan program-progaram tersebut. Dalam hal ini menurut Dewan ada 3 (tiga) strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam meberdayakan masyarakat madani di Indonesia. 1. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran bangsa dan bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stablitas politik sebagai landasan pembangunan karena

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

193

pembangunan lebih – lebih yang terbuka terhadap perekonomian global membutuhkan resiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamanakan dari demokrasi. 2. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu rampungnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal dan secara bersama – sama diperlukan proses demokratis yang pada esensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka kelembagaan ini diciptakan , maka akan dengan sendirinya timbul masyarakat madani yang mampu mengontrol terhadap negara. 3. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat ke arah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dari strategi pertama dan kedua. Dengan begitu strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik, terutama pada golongan menengah yang makin luas. Jika ditelisik lebih jauh permasalahan antara masyarakat madani dengan demokrasi bangsa ini terletak pada kepercayaan. Dikutip dari Djamaludin Ancok, 2007 “Membangun Kepercyaan Menuju Indonesia Madani, Demokratis dan Damai”. Upaya membangun kepercayaan sebagai modal untuk membangun negara yang penuh kedamaian harus dilakukan semua institusi yang ada, yakni keluarga, pendidikan, masyarakat dan negara. Untuk melakukan ini semua diperlukan adanya visi bersama. Visi adalah cita-cita bersama dalam membangun negara. Ingin melihat negara ini menjadi negara yang seperti apa, yang lebih baik dari kondisi sekarang ini. Visi ini harus disusun atas keinginan semua pihak bukan disusun dari atas untuk melayani kepentingan bersama. Visi yang merupakan milik bersama akan mudah untuk disosialisasikan. Tentu saja secara teknis tidaklah mudah untuk membangun visi bersama dengan melibatkan semua pihak. Namun dengan meminta masukan dan tanggapan atas visi yang disusun oleh sekelompok elit akan lebih memudahkan untuk membuat suatu visi dimiliki bersama. Upaya menyadarkan setiap insan bahwa

194

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

keanekaragaman adalah sumber kekuatan di dalam membawa negara pada kemajuan harus dilakukan bersama dengan usaha yang tidak henti-hentinya. Hanya dengan kebersamaanlah semua keinginan akan menjadi kenyataan. Bila visi diturukan dari atas tanpa melibatkan kebersamaan akan menghantarkan visi tersebut pada kegagalan. Visi yang hanya diturunkan dari atas akan sangat sulit untuk mensosialisasikannya.

SIMPULAN Keeratan hubungan antara Pimpinan, demokrasi untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa menuju masyarakat madani akan lebih cepat tercapai jika para pimpinan tidak menafaatkan kekuasaan mereka untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan cita-cita bangsa. Demokrasi bukan semata untuk lipsing nyanyian tanpa suara untuk merebut hati rakyat, sehingga tidak pantas kalau demokrasi sering dikambing hitamkan untuk memfitnah, menyikut atau apalah namanya untuk menjatuhkan seseorang dari jabatannya. Pada prinsipnya demokrasi itu tidak bisa dijalankan hanya oleh pemimpin (single fighter) karena demokrasi bukan milik pimpinan tetapi milik rakyat dari rakyat untuk rakyat. Pemimpin yang baik harus bisa menerapkan dasar negara dalam setiap kebijakan ataupun keputusan. Civil society atau masyarakat madani di Indonesia sudah sangat familiar sekali dengan faham demokrasi namun ketidak puasan akan keadilan yang disebabkan kemiskinan dari berbagai dimensi memicu rakyat untuk membentuk parlemen jalanan dan hakim jalanan apabila mereka terusik dari kenyaman untuk pemilik modal. Untuk mewujudkan masyarakat yang makmur cita-cita luhur bangsa ini tidak perlu lagi diperdebatan karena sudah terangkum dalam Pancasila dan UUD 1945. Semua unsur harus mempunyai niat dan etikat baik untuk kemajuan bangsa bukan semata hanya untuk kemakmuran dan kejayaan golongan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan masyarakat madani yang jangan pernah diragukan kecintaan rakyat akan republik ini tanpa peralatan modern pun penjajah bisa disuri dari bumi pertiwi ini. Mewujudkan cita-cita luhur bangsa bukan pula tugas semata pemimpin bangsa namun bukan pula rakyat

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

195

menjadi objek isu demokrasi untuk kepentingan partai, golongan atau kepentingan pribadi. Demokrasi dari rakyat untuk rakyat,kalau lah cita-cita luhur ditegakan untuk kedalam dan keluar bangsa demi rakyat bukan tidak mungkin bangas Indonesia ini, bangsa yang paling disegani dan tidak ada yang menganggap sebelah mata terlebih menganggap bangsa ini, bangsa buruh. Bukan saatnya lagi berkata mari kita bangkit tetapi kini saatnya kita tunjukan kalau negara kita ini negara yang patut dicontoh menjadi kiblat perabadan dunia. DAFTAR PUSTAKA Alhaj, S.Z.S. Pargeran Dan Usmani Surya Patria, (1995), Pendidikan Pancasila. Jakarta. Azizy, Qodri Abdillah (2000) Masyarakat Madani Antara Cinta dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://coganinsan.multiply.com/journal/item/173/Realisasi_citacita_luhur_bangsahttp://id.wikipedia.org./wikipedia http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/membentuk-masyarakatmadani-yang-demokratis-harmonis-dan-partisifatif/ http://thuafialghifari.multiply.com/reviews/item/105 http://www.scribd.com/doc/16075778/Demokrasi http://www.scribd.com/doc/29047634/Martabat-Dan-Harga-DiriBangsa Kaelan. M.S., (2003) Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma. 2. Soeprapto, H.Z.A. BAB III Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Jakarta: BP- Pusat. Tim Penulis PPKn. 2004 Mhir PPKn SMU Kelas 3 Semester II. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Kartono, Kartini. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Suwondo, Kutut (2005). Civil society Di Aras Lokal. Salatiga : PT Pustaka Percik

196

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, Kompas Jakarta Februari 2001 hal 78 Winarto, (2007) Pendidikan Kewarganegaraan, Panduan Kuliah di Perguruan Tinggi, Paradigma Baru. Jakarta : PT Bumi Aksara. www.ancok.staff.ugm.ac.id/h-21/membangun-kepercayaan-menujuindonesia-madani-demokratis-dan-damai.html www.anakciremai.com www.setneg.go.id Zainun Kamal dkk, (2005), Islam Negara dan Civil Society, Jakarta: Paramadina

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

197

MEMBANGUN DEMOKRASI DENGAN PAYUNG ETIKA Arenawati Universitas Sultan Ageng Tirtayasa arena.dika@gmail.com ABSTRAK Demokrasi adalah suatu sistem pemeritahan dimana kekuasaan terletak pada mayoritas rakyat dan pelaksanaannya dilakukan melalui wakil-wakil yang terpilih. Demokrasi tidak sekedar teori mengenai pemerintahan atau bernegara, tetapi juga pandangan hidup yang terkandung dalam dasar-dasar moral. Reformasi telah membuka kran demokrasi, sehingga setiap warga negara memiliki kebebasan untuk berpendapat, keterbukaan informasi publik, dan yang paling terlihat adalah dilakukannya sistem pemilihan kepala daerah langsung.Tak dipungkiri bahwa demokrasi dapat membawa perubahan kea rah pemerintahan yang lebih partispatif dan terbuka. Tetapi disisi lain harga demokrasi harus dibayar dengan mahal. Untuk sebuah pemilihan kepala daerah harus dibayar dengan trilyunan rupiah, namun yang lebih parah adalah bahwa kata “demokrasi” dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politis, melakukan tindakan anarkis. Sehingga demokrasi yang kita agung-agungkan berubah menjadi “democrazy” .Untuk itu demokrasi yang kita bangun harus dilandaskan pada etika dan moral. Pertama demokrasi berlandaskan pada keyakinan nilai dan martabat manusia, sehingga melahirkan keyakinan diri, intelegensia, diskriminasi etis dan apresiasi estetika. Kedua, kebebasan dalam demokrasi diperlukan guna pengembangan moral, intelektual dan spiritual. Ketiga, menggunakan payung hukum untuk meghindarkan dari nafsu, prasangka dan hak-hak istimewa. Keempat demokrasi berlandaskan pada azas persetujuan , dimana perlu adanya control kerakyatan atas isu-isu kebijakan. Yang terakhir demokrasi harus menepati prinsip perbaikan dan kemajuan. Kata kunci : demokrasi, democrazy, etika

198

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Jatuhnya rejim Orde Baru pada tahun 1998, merupakan tonggak sejarahnya bangkitnya demokrasi di bumi Indonesia tercinta ini. Momentum ini telah membuka kran demokrasi di hampir semua bidang kehidupan. Pada saat ini Aspinall (2004) mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami saat yang demokratis. Reformasi yang gegap gempita tersebut memberikan secercah harapan akan munculnya tata kehidupan yang lebih demokratis, yang ditandai dengan munculnya banyak parpol baru, kebebasan berserikat, kemerdekaan berpendapat, kebebasan pers dan sebagainya (Purnaweni, 204:109). Masyarakat berada dalam euforia kebebasan, pers yang selama ini tersumbat menjadi corong informasi yang terbuka pada masyarakat, demonstrasi sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan seharihari. Reformasi ini telah memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk berbicara, menyatakan pendapat. Demokrasi dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai kebebasan untuk berbuat, masyarakat cenderung menjadi kebablasan, sehingga akhirnya menjadi anarki. Hakikat demokrasi belum dipahami benar oleh masyarakat, bagi mereka demokrasi adalah bebas alih kata democracy berubah menjadi democrazy. Demonstrasi yang berujung perusakan gedung milik pemerintah, pembakaran kendaraan dinas, bentrok antar warga, warga dan aparat, Konflik horizontal kerap mewarnai Pilkada seperti di Ambon, Tuban, jember dan lain-lain.Pemberitaan pers yang tidak berimbang , seringkali terlalu mendeskriditkan seseorang, sekelompok orang bahkan negara, menjadi pemicu demontrasi, konflik bahkan tindakan anarkis. Kesempatan berdemokrasi yang tidak dibarengi oleh pengetahuan demokrasi itu sendiri dan etika berdemokrasi inilah yang akhirnya berdampak anarki. Reformasi sistem pemerintahan dari sistem sentralistik menuju sistem desentralisasi yang nota bene mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi, diwujudkan dengan pemberian otonomi daerah secara luas. Pada saat ini ternyata masih belum berdampak sisgnifikan pada peningkatan kehidupan masyarakat. Dibukanya kran demokrasi, kebebasan pers, maraknya diskusi, seminar dan menjamurnya LSM

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

199

bukan jaminan bahwa kondisi akan semakin membaik, terutama dalam kehidupan berdemokrasi. Berbagai paradox berkembang di era reformasi terkait dengan kehidupan demokrasi. Menurut Suharso (2002) terdapat beberapa paradok yang patut dikritisi, pertama berkembangnya kekerasan politik, anarki, radikalisme, percekcokan missal yang sering dilanjutkan dengan adu fisik secara kolektif, pemaksaan kehendak dan berbagai perilaku menyimpang lainnya yang justru mencerminkan perilaku anti demokrasi. Politik zero sum game dalam rangka menenggelamkan lawan poltik menjadi praktek-praktek lazim yang menumbuhkan rasa takut untuk berbeda. Demokrasi nyaris tidak menjadi sebuah alam pikiran dan kearifan untuk toleran terhadap perbedaan. Gejala monopoli untuk menang sendiri mulai marak, bahkan sampai ke bentuk fisik , dengan menggunakan symbol-simbol milik partai, kendati harus memakai berbagai fasilitas publik. Kedua, berkembangnya konspirasi politik yang sangat pragmatis dengan mereka yang dulu anti demokrasi, yang diwarnai dengan semangat kental hanya sekedar demi meraih kemenangan Pemilu tanpa menunjukkan komitmen serius dalam mengagendakan demokrasi. Ketiga, demokrasi mulai dimasukkan hanya sekedar sebagai retorika politik ketimbang sebagai sebuah agenda politik. Ketiga keseragaman pada Orde Baru dihujat habis-habisan, kini sebagian kekuatan demokratik beragumentasi bahwa demokrasi tidak selalu berisi perbedaan tetapi juga kesamaan. Demokrasi tidak lagi sebagai alat yang harus diperjuangkan untuk mencerahkan kehidupan berbangsa dan bernegara tetapi lebih sebagai alat dan isu untuk meraih kekuasaan. Keempat ketika kultus individu yang diperagakan oleh rejim orde baru dihujat keras untuk dihabisi, kini sebagian masyarakat politik malah simbolisasi figure kepemimpinan yang membawa warna kultus individu. Pesona yang ditawarkan sebagai sebuah komoditas politik (Purnaweni, 2004:105). Tidak dipungkiri bahwa Reformasi tahun 1998 telah membawa banyak kebaikan dan perubahan fundamental dalam ketatanegaraan, terutama dengan dilahirkannya UU 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang kemudian diperbaharui oleh UU No. 32 tentang Pemerintahan Daerah. UU No. 32 tahun 2004 ini telah membuka kesempatan kepada Daerah Otonom untuk mengelola, mengurus

200

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerahnya. Undang-Undang ini juga memberikan kesempatan pada daerah otonom untuk melakukan pemilihan kepala daerah dan Anggota DPRD secara langsung. Demokrasi di tingkat lokal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi politik masyarakat di setiap daerah otonom. Otonomi daerah diklaim dapat memajukan demokrasi, dalam artian otonomi daerah menjadikan pemerintah lebih dekat dengan masyarakat, menjadikan dukungan masyarakat lebih nyata, menyediakan kesempatan-kesempatan yang sungguh-sungguh bagi adanya partisipasi masyarakat dalam proses politik dan membantu terbangunnya kebijakan-kebijakan dan pelayanan-pelayanan jasa yang lebih responsif (Said, 2005:23). Demokrasi menjanjikan peningkatan partsipasi masyarakat yang bermartabat, namun kenyataannya demokrasi di daerah yang diwujudkan dalam pemilihan kepala daerah langsung telah dinodai dengan politik uang, tekanan birokrasi, black campaign, calon kepala daerah yang tidak kredibel dan cenderung KKN, Panwaslu yang tidak netral dan kasus-kasus lain. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi belum berjalan sesuai dengan konsep demokrasi yang seharusnya. Demokrasi kita terpenjara oleh elit-elit politik nya yang berjiwa feodal sehingga tidak mampu menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang berkualitas. Demokrasi kita bahkan hanya menjadi sarana formalisasi kekuasaan rejim yang sama (Ismanto, 2010 : 56).Demokrasi kita masih abal-abal dan tidak beretika,etika demokrasi ternyata tidak hanya untuk rakyat tetapi juga untuk pemerintah yang berkuasa, partai politik dan juga anggota dewan. Kesalahan bukan pada konsep demokrasi tetapi bagaimana cara kita berdemokrasi.

DEMOKRASI DAN ETIKA Istilah Demokrasi berasal dari bahasa latin “ demokratia”. “Demos” berarti rakyat dan “kratos” berarti pemerintahan. Jadi demokrasi dapat juga prinsip pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Istilah demokrasi memiliki banyak pengertian . Demokrasi dikatakan sebagai sebuah bentuk pemerintahan dimana hak untuk menetapkan keputusan politik dilaksanakan secara langsung oleh seluruh rakyat dengan menganut prinsip-prinsip mayoritas (direct democracy).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

201

Demokrasi juga digambarkan sebagai bentuk pemerintahan yang dilaksanakan melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih dan bertanggung jawab kepaada rakyat (representative democracy( Sulastomo, 2007:6). Konsep lain tentang demokrasi menurut C.F. Strong : “ demokrasi adalah suatu system pemerintahan dalam mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya kepada mayoritas itu “(Fatwa, 200:75). Dengan kata lain, negara demokratis didasari oleh system perwakilan demokratis yang menjamin kedaulatan rakyat. Bahwa dasar demokrasi dalam pikiran barat dikembangkan oleh tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut, yaitu menuju tercapainya keadilan sosial dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat yang diperoleh dengan cara mengedepankan kebebasan politik. Yang paling esensi dalam demokrasi adalah pemerintahan itu harus merepresentasikan aspirasi rakyat, baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya di parlemen. Demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari sila keempat, yaitu “ kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan“. Oleh karena itu demokrasi di Indonesia dikenal dengan prinsip “permusyawaratan perwakilan”, permusyawaratan dari wakil-wakil rakyat. Disini peran DPRD menjadi sangat penting dalam perwujudan demokrasi. Namun demikian perwujudan demokrasi tidak hanya sebatas pelaksanaan pemerintahan dengan asas musyawarah dan mufakat oleh wakil rakyat. Tetapi demokrasi terkait dengan seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara, tentang pelaksanaan hukum, kebijakan ekonomi suatu negara, hubungan manusia belum lagi terkait dengan kelembagaan. Implemetasi prinsip demokrasi dan etika demokrasi tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan demokrasi suatu bangsa. Etika dan moral seringkali diartikan sama, etika sendiri berasal dari bahasa Yunani ethos, yang artinya kebiasaan atau watak, sedangkan moral (mores) diartikan sebagai cara hidup atau kebiasaan. Menurut The Liang Gie istilah etika dan moral bahwa keduanya sama, meskipun berasal dari dua istilah yang berbeda. Solomon (1987:2-

202

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

18) menggariskan bahwa etika merujuk kepada dua hal. Pertama, etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilainilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya. Kedua etika merupakan pokok permasalahan di dalam disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri, ia membutuhkan orang lain, oleh karena itu selain sebagai mahluk individu, ia adalah mahluk social. Aristoles menyebutnya dengan Zoon Politicon, mahluk yang senantiasa ingin hidup berkelompok. Dalam berhubungan dengan manusia lain harus ada norma yang mengatur, nilai-nilai apa yang digunakan, agar hubungan manusia dengan manusia lain berjalan dengan harmonis.Tujuan etika adalah memberitahukan bagaimana kita dapat menolong manusia didalam kebutuhannya yang riil yang secara susila dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu etika sosial tidak hanya mengharuskan pendalaman norma-norma sosial yang berlaku, tetapi juga tentang kebutuhan-kebutuhan manusia serta apa saja yang mendorongnya. Norma dalam etika sosial menjelmakan kewajiban manusia yaitu melakukan kebajikan (Kumorotomo, 1992 : 17-19). Demokrasi tidak terlepas dari etika, karena demokrasi bukan sekedar teori atau konsep mengenai pemerintahan atau negara semata. Demokrasi juga merupakan teori tentang manusia dan masyarakat manusia. Demokrasi juga merupakan pandangan hidup yang secara esensial terkandung dalam dasar-dasar moral. Menurut Kumorotomo (1992:55-57) dasar moral dalam berdemokrasi adalah: Pertama, demokrasi berlandaskan pada keyakinan nilai dan martabat manusia (worth and dignity of man). Kebenaran mempunyai landasan kebaikan dan kebaikan adalah sesuatu yang dianggap bernilai bagi manusia. Karena manusia sebagai pribadi punya keyakinan diri, intelegensi, diskriminasi etis, apresiasi estetika dan karakteristik-karakteristik unik lainnya, maka ia merupakan tujuan dari nilai tersebut. Dalam hal ini demokrasi harus menghargai hak-hak dasar manusia, perbedaan pendapat atau keyakinan, mengakui kehebatan, kepandaian orang lain bahkan lawan politik sekalipun. Demokrasi juga tidak melakukan pembedaan sikap dikarenakan perbedaan status sosial dan ekonomi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

203

yang melekat pada seseorang, tidak juga membedakan dari golongan mana, agamanya apa, dari daerah mana. Demokrasi membebaskan setiap warganya berekspresi dalam bentuk seni, seperti puisi, lagu, tarian, film. Tidak ada istilah bagi karya seni apabila berisi kritikan pada pemerintah. Demokrasi menjunjung nilai kebajikan untuk masyarakat banyak, tanpa melihat perbedaan. Kedua, karena sifat dan nilai manusia, demokrasi mengandung implikasi adanya konsep kebebasan.Manusia harus bebas berfikir dan mengungkapkan pikiran maupun perasaannya. Kebebasan bukan miliki negara atau kelompok dalam masyarakat. Tidak boleh adanya pencengkeraman kebebasan individu. Akan tetapi sekalipun kebebasan tidak bersifat absolute, kebebasan yang tidak terkendali dapat mengarahkan konflik. Kebebasan adalah Hak Asasi manusia, setiap warga negara bebas mengeluarkan ide, gagasan, kritikan, berbuat. Selagi kekebasan tersebut tidak melanggar hukum dan menganggu ketertiban masyarakat. Setiap warga negara juga diberi kebebasan untuk memilih siapa bupati atau walikota, siapa gubernur dan presiden yang nantinya akan memimpin mereka, siapa wakil rakyat yang duduk di DPR dan DPRD. Tidak boleh ada tekanan atau intimidasi bila pilihannya tidak sama dengan pilihan atasannya, kepala desanya bahkan orang tuanya pun sekalian. Warga negara diberi kebebasan, berserikat, berkumpul, membentuk kelompok selagi semua itu tidak bertentangan dengan hukum. Ketiga, persyaratan demokrasi adalah Rule of Law atau berdasarkan kepastian hukum , hal ini diwujudkan dengan manusia dapat menikmati kebebasan yang seluas-luasnya hanya apabila kebebasan tersebut tidak mengganggu kebebasan dan hak-hak orang lain. Demokrasi berada di tengah-tengah antara anarki dan tirani, tujuannya adalah keadilan, pemberian yang sepadan kepada setiap orang sesuai dengan hak-haknya. Aturan hukum hendaknya terhindar dari nafsu, prasangka dan hak-hak istimewa. Hukum bisa saja bersifat semena-mena dan tirani, atau mencerminkan kekuatan sekelompok mayoritas atau minoritas tertentu. Oleh karena itu demokrasi harus didasarkan pada asas persetujuan (principle of consent). Demokrasi mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat, agar negara dan masyarakat berada dalam keteraturan, ketertiban dan keamanan, maka diperlukan aturan. Aturan hukum dituangkan dalam undang-undang, peraturan

204

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

daerah, kitab hukum acara pidana dan perdata. Dengan adanya aturan hukum diharapkan demokrasi tidak bergerak menjadi democracy. Keempat, azas persetujuan ,demokrasi didasarkan pada pentingnya kontrol kerakyatan atas isu-isu kebijakan yang mendasar. Pemerintah harus memiliki kekuatan dan otoritas, tetapi kekuatan dan otoritas tidak boleh diselewengkan untuk kepentingan kelompok yang memiliki kekusaan. Asas persetujuan mensyaratkan kesediaan untuk memusyawarahkan perbagai persoalan. Demokrasi memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat sebagai pengawas bagi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Warga negara dalam hal ini adalah para professional, akademisi seharusnya diberi kesempatan untuk memberikan saran pada pemerintah apabila akan membuat kebijakan yang menyangkut kebutuhan dasar. Pemerintah tidak dapat semena-mena memutuskan sebuah kebijakan tanpa persetujuan DPR atau DPRD. Demokrasi Digital mungkin dapat menjadi suatu wacana positif untuk melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Kelima, prinsip perbaikan (betterment) atau kemajuan (progress). Demokrasi hendak melangkah dari apa yang ada menuju apa yang seharusnya. Demokrasi ditujukan untuk peningkatan kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik dari masyarakat.. Demokrasi juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, perbaikan kondisi ekonomi, partisipasi dalam pembangunan dan politik, dan upaya-upaya penegakkan hukum. Demokrasi diarahkan untuk perbaikan kondisi masyarakat diwujudkan dengan kesempatan yang luas untuk berpartisipasi aktif dalam setiap program pembangunan. Dengan demokrasi diharapkan kesejahteraan tidak hanya milik satu golongan tertentu tetapi milik semua warga negara. Yang terakhir, demokrasi didasarkan pada prinsip persamaan (the concept of equality). Prinsip ini diharapkan dapat menjebol temboktembok kelas, agama, jenis kelamin, warna kulit dan ras dalam kebijakan-kebijakan sipil dan politis. Azas ini menentang adanya diskriminasi dalam segala hal, karena demokrasi menempatkan setiap warga negara memiliki kesamaan dalam hukum, pelayanan publik, berpolitik, berpendapat dan lain-lain. Walaupun manusia berasal memiliki warna kulit yang berbeda, bahasa yang berbeda, isi kepala yang berbeda, status social ekonomi yang berbeda, bagi demokrasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

205

hal tersebut bukanlah untuk menjadikan pertentangan, tetapi hanya bentuk keberagaman yang membuat dunia ini menjadi berwarna. Keenam prinsip yang telah dijelaskan diatas, tidak akan berjalan menuju demokrasi yang ideal tanpa keterlibatan dan dukungan masyarakat, pemerintah, penegak hukum dan DPRD. Oleh karenanya setiap komponen harus memiliki etika dalam berdemokrasi. Setiap komponen memiliki norma-norma dan nilai –nilai etika yang harus ditaati dalam berdemokrasi.

NILAI-NILAI ETIKA DALAM DEMOKRASI Demokrasi pada hakikatnya adalah pengakuan terhadap perbedaan , sekaligus juga merupakan sebuah solusi mengatasi perbedaan itu sendiri. Karena apabila tidak dapat mengatasi perbedaan tersebut, dan membiarkan perbedaan menjadi semakin tajam, maka demokrasi akan menjadi anarki , atau “ democrazy”. Oleh karena itu demokrasi memerlukan etika, sebuah norma yang diakui bersama-sama, tanpa adanya norma yang mampu mengatasi perbedaan , makaa demokrasi akan gagal menyelesaikan permasalahan bangsa. Demokrasi akan menjadi sekedar impian ( Sulastomo, 2007 :23). Nilai etika demokrasi harus dimiliki oleh setiap warga negara, wakil rakyat, pemerintah (penguasa), partai politik dan penegak hukum. Nilai etika pertama , harus dimiliki oleh warga negara adalah perilaku menjunjung tinggi terhadap perbedaan. Dalam kehidupan sehari-hari dituangkan dalam sikap menghargai keberadaan orang lain, tidak boleh merasa benar sendiri, pintar sendiri dan mau menang sendiri. Setiap warga juga harus memiliki kemampuan mengakomodir perbedaan dengan mengakui kebenaran orang lain, kemenangan orang lain, berani mengakui kesalahan dan kekalahan, tidak boleh menuduh hal-hal yang sifatnya tidak benar pada orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita, curiga mencurigai satu sama lain. Terkait denga pilkada dan pemilu maka setiap penduduk tidak memilih wakil rakyat atau calon kepala daerah yang tidak kredibel, tidak menerima suap dari calon wakil rakyat atau kepala daerah, tidak merusak atribut partai yang bukan partai pilihannya,

206

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

tidak mempengaruhi dan memaksakan orang lain untuk memilih calon yang sama dengan kita. Nilai etika kedua adalah terkait nilai-nilai etis yang harus dimiliki oleh wakil rakyat, pada prinsipnya wakil rakyat berada di parlemen adalah sebagai wakilnya rakyat, maka hal utama yang harus dimiliki adalah mengutamakan kepentingan rakyat atau masyarakat banyak dibandingkan dengan kepentingan kelompok atau pribadi. Maka seorang wakil rakyat harus amanah, konsisten, tidak menerima suap atau apapun untuk kepentingan kelompok tertentu, jujur dan bertanggung jawab. Hal ini dapat di wujud selalu hadir tepat waktu dalam setiap sidang dan pada saat rapat, tidak tidur, internetan pada saat sidang, Terkait dengan pemilu dan Pilkada, bagi calon wakil rakyat tidak boleh money politik, tidak berbohong pada publik terkait pendidikan, latar belakang, menjelek-jelekkan lawan politik melalui black campaign . Nilai etika bagi pemerintah selaku penyelenggara pemerintahan dan pembuat kebijakan adalah membuat kebijakan yang mementingkan kepentingan masyarakat luas, selalu menampung aspirasi masyarakat, bertanggungjawab atas dana-dana publik, tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak memihak pada kelompok yang berkuasa, tidak membuat kebohongan publik, mengakui persamaan derajat, kedudukan dalam hukum bagi setiap warga negara, serta tidak mengesampingkan prinsip-prinsip Good Governance. Partai Politik oleh pemerintah diharapkan dapat menghidupkan semangat demokratisasi di Indonesia., banyak pihak berharap akan terjadinya perbaikan sistem pemerintahan dengan terakomodasinya aspirasi masyarakat di daerah dalam kebijakan dan program pembangunan. Namun harapan tersebut masih menjadi wacana panjang untuk diralisasikan, karena yang kita lihat justru maraknya panggung-panggung politik praktis, baik di pusat maupun di daerah yang tidak membawa misi pembangunan untuk rakyat, melainkan lebih berorientasi pada kekuasaan dan jabatan (Astuti 2009 : 177). Fenomena jual beli partai menjadi suatu trend politik di pusat dan daerah, praktek komersialisme partai ini menyebabkan anggota partai di dewan bukanlah orang-orang yang berkualitas. Oleh karena itu untuk membangun demokrasi maka praktek komersialisme di tubuh

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

207

partai harus dihapuskan, partai politik harus bertanggungjawab kepada anggota partai dan masyarakat, tidak memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi seseorang, partai politik harus amanah membawa aspirasi masyarakat, tidak meloloskan anggotanya yang tidak memenuhi syarat untuk dicalonkan, menghargai pendapat anggota partai dan pendapat partai lain, tidak merasa partai yang paling benar, paling baik, melaksanakan pemilu dan pilkada dengan jujur dan adil, yang di implemtasikan dalam transparansi dana kampanye, tidak mencuri start kampanye, tidak membohongi publik, tidak money politik, tidak melakukan kampanye hitam, menerima kekalahan dengan legowo dan mengurangi fanatisme partai. Penegakkan hukum adalah salah satu prinsip demokrasi yang harus dijalankan. Namun kadangkala proses penegakan hukum terkendala oleh pelaku penegakan hukum itu sendiri, yang tidak adil dalam memutuskan perkara. Beberapa masyarakat mengatakan bahwa hukum bisa dibeli, masalah suap sudah merupakan hal yang biasa. Bagaimana mungkin seorang penegak hukum yang menangani kasus korupsi, dia sendiri terlibat suap ! Untuk itu maka para penegak hukum harus menjadikan nilai-nilai etika dalam rangka perwujudan demokrasi. Nilai persamaan hak, keadilan, kejujuran diwujudkan dengan sikap tidak membedakan siapa yang menjadi terdakwa baik dalam pembelaan maupun dalam putusan pengadilan, tidak menerima suap, tidak kolusi dan nepotisme. Selain menjadikan etika sebagai dasar dalam membangun demokrasi perlu juga diberikan pemahaman hakikat demokrasi pada masyarakat di daerah, para fungsionaris partai politik dan organisasi masyarakat di tingkat lokal, karena pemahaman demokrasi dikalangan elit maupun masyarakat awam pada saat ini masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari sulitnya mewujudkan rotasi kekuasaan yang diselenggarakan dengan teratur dan damai.

SIMPULAN a. Saat ini kondisi demokrasi di negara kita masih jauh dari harapan demokrasi itu sendiri, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat, persamaan hak, meningkatnya partisipasi

208

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

b.

c.

masyarakat dalam keputusan publik, pemilu yang jujur dan adil. Rendahnya pemahaman elit politik dan masyarakat terhadap demokrasi, menyebabkan demokrasi menjadi salah arah, demokrasi tidak lagi sebagai amanah masyarakat, tetapi oleh elit politik dijadikan lalat untuk mendapatkan kekuasaan, bagi masyarakat euporia demokrasi membuat mereka menjadi anarki, sehingga demokrasi berubah menjadi democrazy. Agar demokrasi berjalan sesuai harapan maka perlu nilai-nilai atau norma-norma etika yang harus ditaati. Dalam Etika ada enam prinsip dasar dalam berdemokrasi , yaitu : Pertama demokrasi berlandaskan pada keyakinan nilai dan martabat manusia, sehingga melahirkan keyakinan diri, intelegensia, diskriminasi etis dan apresiasi estetika. Kedua, kebebasan dalam demokrasi diperlukan guna pengembangan moral, intelektual dan spiritual. Ketiga, menggunakan payung hukum untuk meghindarkan dari nafsu, prasangka dan hak-hak istimewa. Keempat demokrasi berlandaskan pada azas persetujuan , dimana perlu adanya kontrol kerakyatan atas isuisu kebijakan. Yang kelima demokrasi harus menepati prinsip perbaikan dan kemajuan. Dan yang keenam prinsip persamaan (concept of equality). Selain itu terdapat beberapa nilai, sikap yang harus dimiliki oleh warga negara, wakil rakyat, pemerintah, partai politik dan penegak hukum untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain: 1) Warga negara, menjunjung tinggi perbedaan yang diwujudkan dengan sikap tidak menang sendiri, mengakui kebenaran orang lain, mengakui kekalahan dan tidak memaksakan kehendak. 2) Wakil rakyat, amanah, jujur yang diwujudkan dengan sikap memperjuangkan kepentingan masyarakat luas, selalu menghadiri persidangan, mengikuti persidangan dengan baik, tidak menerima suap. 3) Pemerintah, amanah, bertanggungjawab, terbuka terhadap kritik, tidak membedakan pelayanan pada masyarakat, menerapkan prinsip good governance.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

209

4)

5)

Partai Politik, amanah, tidak melakukan komersialisasi untuk suatu kedudukan, jabatan, tidak mendahulukan kepentingan partai dan fanatisme partai. Penegak Hukum, adil, jujur diwujudkan dengan tidak menerima suap, memberikan keputusan yang adil dalam setiap perkara.

DAFTAR PUSTAKA Astuti, Woro. 2009. Meluruskan Demokrasi Lokal Menggagas Kepemimpinan Daerah Yang Ideal di Era Pilkada Langsung dalam Reformasi Birokrasi, Kepemimpinan dan Pelayanan Publik, Yogyakarta, Gava Media. Fatwa, A.M. 2004. Melanjutkan Reformasi Membangun Demokrasi , Jejak Langkah Parlemen Indonesia Periode 1999 – 2004, Jakarta, Raja Grafindo Persada Ismanto, Gandung. 2010. Habis Gelap Terbitkah Terang, Serang, Gong Publishing Kumorotomo, Wahyudi. 1992. Etika Administrasi negara, Jakarta, Rajawali Pers Purnaweni, Hartuti, 2004, Demokrasi Indonesia : Dari Masa Ke Masa, Bandung, Jurnal Administrasi Publik Volume 3 Nomor 2 Said, M. Mas’ud. 2005. Arah Baru Otonomi Daerah di Indonesia, Malang. UMM Pers Sulastomo. 2007. Membangun Demokrasi Mengelola Globalisasi Solomon, Robert C. 1987. Etika : Suatu Pengantar, Jakarta, Erlangga

210

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

FAIRPLAY NASIONAL DAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN DEMOKRASI Ayi Karyanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka ayi@ut.ac.id ABSTRAK Dalam praktik, kebijakan nasional oleh konstituen daerah-daerah tertentu dianggap menjadi penghambat dalam memajukan daerahnya, konstituen daerah tersebut menganggap bahwa kebijakan nasional telah menimbulkan ketidakseimbangan pembagian porsi dalam hubungan pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah. Kebijakan nasional sampai sekarang dinilai masih terlalu berat sebelah dan masih mencerminkan otokrasi sentral. Pengalaman menunjukkan, apabila hubungannya terfokus pada aspek politik semata, maka yang terjadi adalah timbulnya konflik yang mengancam pada disintegrasi bangsa. Peran lokal dalam pembangunan demokrasi merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sistem pemerintahan nasional. Dalam melaksanakan hak-hak otonom sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah sentral, peran lokal akan dapat menampung pluralisme yang ada dalam ruang lingkup nasional, mendorong partisipasi masyarakat dan memberikan pilihan bagi warga untuk berkiprah dalam pembangunan daerah masing-masing. Hakikat kebijakan nasional merupakan suatu keputusan untuk mengatasi berbagai permasalahan tertentu, untuk melakukan kegiatan tertentu atau untuk mencapai tujuan tertentu, dilakukan oleh suatu lembaga pemerintahan yang mempunyai wewenang dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan negara dan pembangunan demokrasi. Pengkajian dan analisa ilmiah tentang political fairplay nasional dan lokal dalam pembangunan demokrasi perlu dikembangkan agar terjadi sinkronisasi yang sinergis, tidak terjadi perbenturan atau konflik dalam pembuatan kebijakan antara penyelenggara Negara, baik di tingkat sentral maupun lokal. Kata Kunci: peran lokal, otokrasi sentral, pembagian kekuasaan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

211

PENDAHULUAN Upaya untuk mengaktualisasikan demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia melalui pendidikan kelihatannya masih harus menempuh jalan panjang. Pendidikan harus melakukan reorientasi dan berusaha menerapkan paradigma baru pendidikan nasional, yang tujuan akhirnya adalah pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis dan berpegang teguh pada nilai-nilai civility (keadaan). Masyarakat madani merupakan format kehidupan alternatif yang mengedepankan semangat demokrasi dan menjunjung nilai-nilai hak asasi manusia. Hal ini diberlakukan ketika Negara sebagai penguasa dan pemerintah tidak bisa menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia dalam menjalankan roda pemerintahannya. Di sinilah kemudian, konsep masyarakat madani menjadi alternatif pemecahan, dengan pemberdayaan dan pengembangan daya kontak masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada dasarnya nanti terwujud kekuatan masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan menegakkan konsep hidup yang demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia. Sosok masyarakat madani bagaikan barang antik yang memiliki daya tarik amat memesona. Kehadirannya yang mampu menyemarakkan wacana politik kontemporer dan meniupkan arah baru pemikiran politik, bukan dikarenakan kondisi barangnya yang sama sekali baru, melainkan disebabkan tersedianya momentum kondusif bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik. Masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis, dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya. Dalam hai ini, pemerintah memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreativitas warga Negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang terbentuk begitu saja. Masyarakat madani adalah konsep yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan memerlukan perjuangan yang terus-menerus. Pemilihan Umum merupakan sarana demokrasi untuk mewujudkan system pemerintahan Negara yang berkedaulatan rakyat. Pemerintahan yang dibentuk melalui system pemilihan umum akan

212

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

memiliki legitimasi yang kuat. Pemilihan Umum bertujuan untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga permusyawaratan atau perwakilan dan untuk membentuk pemerintahan. Pemilu yang demokratis merupakan sarana untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan mencapai tujuan Negara. Oleh karena itu , Pemilihan Umum tidak boleh menyebabkan rusaknya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. A. KAJIAN PUSTAKA

Masyarakat Madani Indonesia Masyarakat madani masih merupakan sebuah proses dalam rangka reformasi. Masyarakat madani adalah masyarakat yang mampu mengisi ruang publik sehingga dapat menjadi bumper kekuasaan Negara yang berlebihan. Dalam pemikiran reformasi, masyarakat madani merupakan tujuan dan pemerintah demokrasi. Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang berbeda-beda. Merujuk pada Bahmuller (1997), ada beberapa karakter atau ciri-ciri dari masyarakat madani, yaitu sebagai berikut: a. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif ke dalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. Menyebarkan kekuasaan, sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh Negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan Negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunteer mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. Tumbuh kembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rezim-rezim totaliter.

b.

c.

d.

e.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

213

f.

Meluasnya kesetiaan (loyality) dan kepercayaan (trust), sehingga individu-individu mengakui keterlibatan dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga social dengan berbagai ragam perspektif. (http://www.policy.hu/suharto/modul_a /makindo_16.html).

Dari berbagai ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis, dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya. Namun demikian masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah konsep yang cair yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangannya terus menerus. Bila kita kaji, masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat madani, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi masyarakat madani, yakni adanya democtratic governance (pemerintah demokratis yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian ( masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil resilience). Apabila diuraikan, dua kriteria tersebut menjadi tujuh prasyarat masyarakat madani, yaitu : a. b. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinnya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum di mana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dikembangkan.

c.

d.

214

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

e.

f.

g.

Adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringanjaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya.(http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_16.ht ml)

Tanpa prasyarat tersebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti pada jargon. Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat”sipilisme” yang sempit yang tidak ubahnya dengan faham militerisme yang anti demokrasi dan sering melanggar hak azasi manusia. Berbicara mengenai kemungkinan berlembaganya masyarakat madani di Indonesia diawali dengan kasus-kasus pelanggaran HAM dan pengencangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga-lembaga non pemerintah yang mempunyai kekuatan dan bagian dari social control. Sejak zaman orde baru dengan rezim demokrasi terpimpinnya Soekarno, sudah terjadi manipulasi peran serta masyarakat untuk kepentingan politisi dan terhegemoni sebagai alat legitimasi politik. Hal ini pada akhirnya melibatkan kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh anggota masyarakat diwarnai sebagai kontra-revolusi. Fenomena tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa di Indonesia pada masa Soekarno pun mengalami kecenderungan untuk membatasi gerak dan kebebasan publik dalam mengeluarkan pendapat. Sampai pada masa orde baru pun tekanan demokrasi dan penindasan hak asasi manusia tersebut luas bahkan seakan menjadi tontonan gratis yang bias dinikmati oleh siapa pun bahkan untuk

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

215

segala usia. Hal ini dapat dilihat dari berbagai contoh kasus pada masa orde baru berkembang. Misalnya kasus pembredelan lembaga pers, Seperti AJI, DETIK, dan TEMPO. Fenomena ini merupakan sebuah fregmentasi kehidupan yang mengekang kebebasan warga Negara dalam menyalurkan aspirasinya di muka umum, apalagi pada lembaga pers yang notabene memiliki fingsi sebagi bagian dari social control dalam menganalisa dan menyosialisasikan berbagai kebijakan yang betul-betul merugikan masyarakat. Di sisi lain, pada era orde baru banyak terjadi tindakan-tindakan anarkisme yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Hal ini salah satu indikasi bahwa di Indonesia pada saat itu tidak dan belum menyadari pentingnya toleransi dan semangat pluralisme. Melihat itu semua, maka secara esensial Indonesia memang membutuhkan pemberdayaan dan penguatan masyarakat, secara komprehensif agar memiliki wawasan dan kesadaran demokrasi yang baik serta mampu menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Untuk itu, maka diperlukan pengembangan masyarakat madani dengan menerapkan strategi pemberdayaan sekaligus agar proses pembinaan dan pemberdayaan itu mencapai hasilnya secara optimal. Dalam hal ini menurut Dewan ada 3 (tiga) strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat madani di Indonesia, yaitu : a. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stabilitas politik sebagai landasan pembangunan karena pembangunan lebih-lebih yang terbuka terhadap perekonomian global membutuhkan risiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari demokrasi. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu rampungnya tahap

b.

216

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

c.

pembangunan ekonomi. Sejak awal dan secara bersama-sama diperlukan proses demokratis yang pada esensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka kelembagaan ini diciptakan, maka akan dengan sendirinya timbul masyarakat madani yang mampu mengontrol terhadap Negara. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat kea rah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dari strategi pertama dan kedua. Dengan begitu strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik, terutama pada golongan menengah yang makin luas. (http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/ membentuk masyarakat madani yang demokratis,harmonis, dan partisipatif).

Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia adalah : a. b. c. d. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter Tingginya lapangan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang terbatas

Menerapkan Budaya Demokrasi Tantangan masa depan demokrasi di Indonesia adalah bagaimana mendorong berlangsungnya proses-proses yang diperlukan untuk mewujudkan nilai-nilai madani. Dalam kaitan ini, menurut Nurcholis, mewujudkan beberapa titik penting pandangan demokratis yang harus menjadi pandangan hidup bagi masyarakat yang ingin mewujudkan cita-cita demokrasi dalam wadah yang disebut masyarakat madani, civil society. Pandangan-pangan tersebut diringkas sebagai berikut : a. b. c. Pentingnya kesadaran kemajuan atau pluralism Berpegang teguh pada prinsip musyawarah Menghindari bentuk-bentuk monolitisme kekuasaan dan absolutisme

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

217

d. e. f. g. h.

Meyakini dengan tulus bahwa kemufakatan merupakan hasil akhir musyawarah Memiliki perencanaan yang matang dalam memenuhi basic needs yang sesuai dengan cara-cara demokratis. kerja sama dan sikap antar warga masyarakat yang saling mempercayai itikad baik masing-masing Pendidikan demokrasi yang lived ini dalam system pendidikan Demokrasi merupakan proses trial and error yang akan menghantarkan pada kedewasaan dan kematangan.(http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/memb entuk-masyarakat madani yang demokratis,harmonis dan partisipatif).

Dengan demikian, untuk menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara menuju peradaban baru Indonesia, negeri adil terbuka, maka demokrasi tersebut harus dibangun dengan seefektif mungkin. Dalam masyarakat madani, warga Negara bekerja sama membangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat non-govermental untuk mencapai kebaikan bersama (public good) karena pada independensinya terhadap Negara (vis a vis the state). Dari sinilah kemudian masyarakat madani dipahami sebagai akar dan awal keterkaitannya dengan demokrasi dan demokratisasi madani juga dipahami sebagai sebuah tatanan kehidupan yang menginginkan kesejahteraan hubungan antara membangun hubungan yang konsultatif bukan kontrontatif antara warga Negara dengan Negara. Negara Indonesia adalah Negara yang menerapkan demokrasi Pancasila. Artinya perilaku budaya demokrasi di Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi Pancasila. Perilaku budaya demokrasi di Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi Pancasila. Perilaku budaya demokrasi dapat diwujudkan dalam berbagai lingkungan kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat ataupun negara. Adapun contohnya sebagai berikut: 1. Lingkungan keluarga a. Sebagai kepala keluarga seorang ayah selalu berusaha bersikap adil kepada semua anggota keluarga.

218

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

b. Terbinanya sikap saling menyayangi, menghormati, dan menghargai antar anggota keluarganya c. Semua anggota keluarga melaksanakan kewajiban dengan baik dan bertanggung jawab. d. Memecahkan maslah keluarga dengan musyawarah 2. Lingkungan sekolah a. Ikut serta dalam kegiatan OSIS, PMR, Pramuka dan lain-lain b. Menghormati Kepala Sekolah , Guru dan karyawan c. Mengikuti kegiatan belajar dengan baik dan tertib d. Menaati tata tertib sekolah Lingkungan masyarakat dan Negara a. Melaksanakan peraturan yang berlaku, baik peraturan pemerintah pusat, daerah, maupun peraturan terendah b. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan c. Ikut serta dalam pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat d. Ikut serta dalam kegiatan musyawarah desa e. Membantu korban bencana alam (http://budaya-masyarakatmadani.blogspot.com/).

3.

DAFTAR PUSTAKA Azizi, AQodri Abdillah. 2000. Masyarakat Madani Antara Cita dan Fakta : Kajian Historis-Normatif. Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani: Yogyakarta : Pustaka Pelajar Habibie, B.J.1999. Keppres No. 198 Tahun 1998 Tanggal 27 Februari 1999, Jakarta. Hamim, Thoha, 2000. Islam dan Civil society (Masyarakat Madani): Tinjauan tentang Prinsip Human Rights, Pluralism dan Religious Tolerance, Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani: Yogyakarta : Pustaka Pelajar

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

219

Hidayat, Komaruddin dan Ahmad Gaus AF. 1998. Pasing Over: Melintas Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal.xiv Ismail SM. 2000. Signifikansi Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat Madani. Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani: Yogyakarta : Pustaka Pelajar http://budaya-masyarakat-madani.blogspot.com/). http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/membentuk-masyarakat madani yang demokratis,harmonis dan partisipatif http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_16.html

220

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

ANTARA DEMOKRASI DAN INVESTASI DIBALIK GUGATAN TERHADAP STATUS KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA Budi Wibawanto Universitas Pelita Harapan budi_wibawanto@uph.edu ABSTRAK Saat ini status keistimewaan Yogyakarta mulai dipertanyakan kembali oleh pemerintah pusat. Demi nilai Demokrasi, pemerintah pusat menganggap bahwa keistimewaan Yogyakarta harus ditinjau kembali, salah satunya adalah pemilihan secara langsung kepala daerah. Di sisi lain daya tarik yogyakarta sebagai kota pendidikan, kebudayaan dan pariwisata merupakan daya tarik yang cukup besar bagi investasi. Salah satu keistimewaan yang berhubungan dengan hal ini adalah bahwa staus terkait dengan kepemilikan tanah, dimana sebagian besar tanah di Yogyakarta dikuasai oleh Sultan dan Pakualam (Sultan atau Pakualam Ground). Sebagai akibatnya, kegiatan investasi harus sesuai dengan kebijakan keraton yang selama ini dikenal selalu berpihak kepada rakyat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya golongan masyarakat di Yogyakarta yang menolak usulan pemerintah untuk meninjau kembali status keistimewaan Yogyakarta. Jika kita kembali ke esensi dasar dari nilai demokrasi dimana yang paling utama adalah mengembalikan aspirasi masyarakat sebagai suoreme yang menentukan berbagai kegiatan lain yang mempengaruhi keputusan politik, maka status keistimewaan Yogyakarta seharusnya sudah tidak dipermasalahkan kembali. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas faktor-faktor apa yang mempengaruhi gugatan terhadap status keistimewaan yogyakarta, terutama dari sisi ekonomi atau kegiatan investasi. Disatu sisi kegiatan investasi merupakan salah satu hal yang penting dalam mewujudkan masyarakat madani, tetapi disisi lain dibutuhkan investasi yang berpihak kepada rakyat kecil, sehingga demokrasi bukan hanya demokrasi prosedural tetapi demokrasi substansial, dimana demokrasi akan berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Kata kunci: demokrasi, investasi, keistimewaan Yogyakarta

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

221

A.

PENDAHULUAN

Holobis kontul baris... Holobis kontul baris.... Jogja... Jogja... tetap Istimewa... Istimewa negerinya, istimewa orangnya... Jogja...Jogja...Tetap Istimewa, Jogja istimewa, untuk Indonesia. Itulah reaksi dari sebagian besar masyarakat Yogyakarta, ketika pemerintah pusat mempertanyakan kembali status keistimewaa Yogyakarta. Lagu ini merupakan spirit perlawanan masyarakat Yogyakarta untuk tetap mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta, yang telah melekat sejak tahun 1945. Kecintaan terhadap Sultan terlihat di seluruh wilayah Yogyakarta, yang terdiri dari 5 kabupaten dan kota. Aspirasi warga yang siap menggelar referendum masih terlihat cukup mencolok di berbagai wilayah. Masyarakat Yogyakarta yang selama ini hampir tidak pernah bergolak bisa jadi kondisinya akan terbalik jika pemerintah pusat tetap memaksakan kehendak untuk meninjau kembali status keistimewaan Yogyakarta. Aksi unjuk rasa yang mendukung Sri Sultan dan Pakualam sebagai gubernur dan wakil gubernur terus berlangsung. Pada intinya masyarakat menganggap masalah keistimewaan Yogyakarta sudah final dan tidak perlu dibicarakan kembali. Upaya penghapusan terhadap keistimewaan itu dianggap sebagai pengingkaran dan pengkhianatan terhadap sejarah, khususnya peran Sultan HB IX selama masa-masa awal berdirinya Republik ini. Tidak terkecuali semua anggota DPRD mendukung status keistimewaan Yogyakarta, termasuk partai Demokrat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang notabene merupakan partai pemerintah juga ikut mendukung keisitewaan Yogyakarta. Fenomena reaksi warga Yogya yang terkesan irasional pun, terdapat logika tertentu yang dapat menjelaskannya. Selain konsep kemanunggalan penguasa dengan dewa dalam satu sosok Raja ini, terdapat pula konsep kemanunggalan penguasa dengan rakyatnya, yang dimanifestasikan dalam ungkapan manunggaling kawula-Gusti. Konsep ini sesungguhnya adalah refleksi paham demokrasi pada masa kerajaan, di mana rakyat dan rajanya tidak dipecah-pecah dalam struktur kasta sosial, namun melebur menjadi satu konsep yang integral (manunggal). Dalam konsep kemanggulan tadi, terdapat sebuah belief system di kalangan rakyat jelata bahwa raja adalah

222

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

manusia yang suci, sakral, dan keramat, sedangkan rakyat adalah kelompok profan. Meskipun demikian, raja tidak semata-mata menjadi simbol negara, melainkan juga pemimpin nyata, baik dalam lapangan sosial, keagamaan, maupun pemerintahan. Dalam konteks semangat kebatinan seperti itu, maka tidak dapat dihindari lahirnya RUUK-DIY yang memisahkan jabatan Sultan dengan Gubernur, hingga menimbulkan resistensi fundamental dari rakyat Yogya, karena dikhawatirkan dapat memecah-belah kemanunggalan raja dan rakyat (kawula-Gusti). "Gusti" yang sebelumnya adalah Raja (merangkap Gubernur), menjadi bergeser ke sosok Gubernur yang bukan Sultan. Yogyakarta merupakan salah satu daerah berstatus istimewa dari empat daerah yang mendapat status daerah istimewa di Indonesia. Status istimewa tersebut disandang oleh Yogyakarta sebagai “kompensasi” atas bergabungnya Kesultanan Mataram dan Pakualaman ke dalam NKRI PADA TAHUN 1945. Sebagai bagian dari pemerintahan daerah di Indonesia, kedudukan Yogyakarta yang istimewa tersebut (khususnya dalam kepemimpinan politik dan pemerintahan) ditegaskan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah Pemerintah Pusat akan mengatur keistimewaan Yogyakarta. Niat pemerintah yang dituangkan dalam sebuah Rancangan Undangundang (RUU) itu menuai kritik dan penolakan dari sebagian rakyat Yogyakarta. Alasan pemerintah pusat untuk meninjau kembali status keistimewaan Yogyakarta adalah untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi. Polemik keistimewaan Yogyakarta itu berpusat pada kedudukan Sultan Hamengkubuwono X dan penerusnya sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah Pusat menginginkan gubernur DIY dipilih langsung melalui pemilihan umum, sedangkan rakyat Yogyakarta ingin Sultan ditetapkan langsung sebagai gubernur. Terdapat empat hal penting yang menjadi pembahasan dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta, yaitu bidang politik pemerintahan, kebudayaan, pertanahan dan tata ruang. Dalam makalah ini penulis akan mencoba membuat korelasi dua bidang yaitu bidang politik pemerintahan dan pertanahan. Dalam bidang politik pemerintahan, struktur pemerintahan yang ada sekarang berbeda dengan daerah propinsi lain. Dalam bidang pertanahan, DIY disebut

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

223

istimewa karena tanah di daerah ini mayoritas adalah tanah kraton (Sultan Ground atau Pakualam Ground). Tanah di DIY selain menopang kraton juga merupakan perlindungan bagi masyarakat ke bawah. Hal ini disebabkan karena sejak awal Sultan HB IX memberikan tanah-tanah tersebut untuk pemukiman penduduk (magersari). Dalam hal ini penulis ingin menekankan pada dua aspek tersebut di atas untuk melihat aa sebenarnya rasionalitas dan relevansi dari upaya untuk merubah status keistimewaan Yogyakarta.

B. 1.

PEMBAHASAN Monarki dan Demokrasi

Memanasnya RUUKY dimulai dari pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dilontarkan dalam rapat terbatas kabinet terkait dengan tidak boleh adanya monarki absolut dalam sistem demokrasi. Semua kepala daerah mulai dari gubernur, walikota/bupati harus melalui mekanisme pilkada langsung. Menurut pemerintah hal ini sesuai dengan semangat demokrasi modern yang banyak dianut oleh negara-negara saat ini. Dalam pelaksanaannya, sistem pemerintahan demokrasi ditandai oleh adanya pemilihan umum dimana rakyat bebas menentukan pilihan atas calon-calon wakil rakyat. Pergantian kepemimpinan yang berdasarkan pada keturunan atau dengan jalan mengangkat diri sendiri dianggap tidak wajar dalam suatu paham demokrasi. Dari pernyataan Presiden Yudhoyono jelas bahwa perbedaan pendapat dalam memandang status keistimewaan Yogyakarta antara pemerintah pusat dan masyarakat Yogyakarta adalah dalam memahami pelaksanaan monarki dan demokrasi di Yogyakarta. Ciri lainnya adalah dalam sistem demokrasi terdapat konsep pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif sehingga mencegah terjadinya konsentrasi kekuasaan pada satu institusi. Pembagian kekuasaan ini diikuti adanya mekanisme checks and balance diantara institusi-institusi yang ada. Pembagian kekuasaan secara horizontal adalah pembagian kekuasaan menurut

224

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

fungsinya dan ada hubungannya dengan doktrin Trias Politica. Trias Politica adalah suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan-kekuasaan sebaiknya tidak diserahkan keapda orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak-pihak yang berkuasa dan diharapkan hak-hak azasi warga negara lebih terjamin ( Miriam Budiardjo, 2000) Berdasarkan pada ciri-ciri negara demokrasi tersebut di atas, maka pemerintah pusat mencoba untuk membuat konsep demokrasi dalam kerangka keistimewaan Yogyakarta. Dalam konteks keistimewaan Yogyakarta, mekanisme checks and balance dilakukan antara lain melalui pemberian kewenangan kepada Parardhya untuk memberikan persetujuan dan penolakan atas kebijakan daerah yang terkait dengan substansi keistimewaan dan atas bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang telah memenuhi syarat kesehatan dan administrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, serta kewenangan mengajukan pemberhentian gubernur yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. Kewenangan-kewenangan tersebut ditambahkan pada kewenangan dan pola hubungan kewenangan antara eksekutif dan legislatif yang sudah ada Selama diluncurkan RUUKY telah menyulut kontroversi baik dalam lingkup politik nasional maupun lokal. Salah satunya menyangkut status Sri Sultan Hamengkubowono sebagai gubernur dan Sri Paku Alam sebagai wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Apakah langsung ditetapkan atau mengikuti prosedur demokrasi dengan pemilu kepala daerah langsung.Dalam draft RUUKY yang merupakan inisitatif pemerintah tertuang bahwa Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Paku Alam akan otomatis menempati posisi sebagai Parardhya. Di mana Parardhya merupakan kepala daerah yang mempunyai kewenangan meliputi pertanahan, kebudayaan, tata ruang dan pemerintah yang terkait dengan keistimewaan Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Paku Alam hanya menjadi simbol kultur sebagai identitas keistimewaan Yogyakarta. Sedangkan Gubernur dan Wakil Gubernur dipilih secara langsung melalui mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Gubernur dan Wakil Gubernur hasil pilkada inilah yang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

225

akan menjalankan tugas dan kewenangan sebagai kepala daerah tingkat provinsi. Sebagai konsekuensi dari pemisahan antara institusi monarki dengan demokrasi, maka hak penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari berada di tangan institusi yang dipilih rakyat. Sementara itu, institusi monarki sekalipun tidak lagi memegang kendali penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari, tetap dijamin dengan sejumlah kewenangan strategis sekalipun lebih terbatas. Sebagai penjabaran dari substansi keistimewaan Provinsi DIY sebagaimana telah dikemukakan, kewenangan institusi monarki yang dijalankan Parardhya ini terbatas pada keterlibatannya dalam memberikan persetujuan dan penolakan atas calon-calon gubernur dan wakil gubernur dan kewenangan untuk menolak kebijakan penggunaan Sultanaate grond and Pakualamanaat ground. Berdasarkan hal tersebut, konsep parardhya justru bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang ada saat ini di Yogyakarta. Konsep parardhya yang terdiri dari dua unsur yaitu Sultan dan Pakualam, dimana dua pihak tersebut mempunyai kewenangan untuk memberikan rekomendasi kepada gubernur dan mempertimbangkan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah. Selain hal itu, lembaga ini juga mempunyai hak untuk mempertimbangkan calon gubernur dan mempunyai hak veto. Hal ini menunjukan bahwa konsep tersebut justru merupakan bentuk anti demokrasi dan membentuk otoritarian baru. Penetapan langsung dwitunggal Sultan dan Pakualam sebagai gubernur dan wakil gubernur bukan tidak demokratis. DIY adalah daerah pertama yang membuat suatu badan perwakilan rakyat (DPRD) di Indonesia, sebagai representasi dari suara dan kepentingan rakyat. Lembaga ini menghormati hak-hak kultural dari Kesultanan dan Pakualaman demikian juga sebaliknya, mereka juga menghormati institusi DPRD sehingga kepentingan rakyat tetap bisa disuarakan. Hal ini berarti bahwa pemerintahan yang ada sekarang ini bukanlah sistem monarki absolut (dimana kekuasaan ada di tangan raja) tetapi sudah beralih ke demokrasi. Tetapi karena konsep parardhya dicetuskan, maka hal ini malah berjalan mundur ke arah konsep monarki absolut. Meskipun ada hukum yang akan mengatur,

226

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

besar kemungkinan akan muncul keputusan didominasi oleh sultan dan pakualam.

parardhya

yang

Semangat demokrasi juga bisa kita lihat dari Amanat Sultan HB IX, khususnya amanat yang mengatur tentang konsep Tahta Untuk Rakyat yang tercantum dalam Amanat 30 Oktober 1945. Konsep Tahta Untuk Rakyat menunjukkan dengan jelas terjadinya proses demokrasi di Yogyakarta. Dalam amanat tersebut dengan tegas dijelaskan bahwa Sulan dan Pakualam memegang kekuasaan yang dulunya dipegang oleh pemerintahan penjajahan Belanda diberikan kembali kepada Sultan dan Pakualam. Dengan demikian mereka berdualah yang kemudian memegang kekuasaan penuh atas pemerintahan di Yogyakarta. Tetapi kemudian Sultan HB IX dan Pakualam VIII menyerahkan kembali kekuasaan atas wilayah Yogyakarta kepada rakyat dengan jalan memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bersama-sama menjalankan roda pemerintahan di Yogyakarta. Maka dibentuklah Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia (KNI) DIY, sebuah badan perwakilan rakyat untuk mengatur dan membuat UU atas nama rakyat. Inilah perubahan kondisi sosial politik yang terjadi di Yogyakarta dimana telah terjadi peralihan orientasi sikap rakyat yang semula bersumber kepada Sultan menjadi sikap rakyat yang bersumber dari KNI (Selo Soemardjan, 1981). Dalam hal lain, pemerintah Yogyakarta juga mengadakan reformasi yang cukup fundamental pada tahun 1984 dalam kehidupan masyarakat desa (Poerwokusumo, 1984). Maklumat No. 7 tahun 1945 yang ditandatangani oleh Sultan dan Pakualam mengatur tentang reorganisasi dan regulasi kehidupan di daerah pedesaan. Dewan Kelurahan yang bertugas mewakili seluruh rakyat dalam daerah perwakilannya masing-masing untuk merancang dan menyusun aturan-aturan yang menyangkut wilayahnya. Dalam maklumat No. 14 tanggal 11 April 1946 pasal 6 diatur tentang tugas Dewan Kelurahan yang diantaranya adalah mengesahkan rencana anggaran dan peraturan tentang tanah dan perselisihan-perselisihan yang muncul karena masalah tanah. Pembentukan Dewan Kelurahan ini lebih menekankan kepada aspek keharmonisan dalam kehidupan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

227

demokrasi di desa, dimana dimana lebih menekankan kepada aspek persaudaraan bukan pada aspek persaingan atau kompetisi. Pada masa reformasi Mei tahun 1998, Sultan HB X mampu menenangkan puluhan bahkan ratusan ribu masyarakat Yogyakarta yang mulai resah dengan kondisi kepemimpinan nasional dengan mengadakan gerakan yang disebut sebagai pisowanan agung. Ketika reformasi 1998 menjelang runtuhnya rezim orde baru, dimana gelombang aksi demonstrasi mengarah ke anarkisme, Sultan HB X muncul dan mengendalikan situasi dengan menggelar orasi di AlunAlun Kraton Yogyakarta yang bersifat mendukung terjadinya proses reformasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Akibatnya rakyat Yogyakarta yang mulai anarkis berubah menjadi tenteram sehingga tercipta suasana yang cukup kondusif di Yogyakarta. Fakta yang paling aktual yang mencerminkan nilai demokrasi di Yogyakarta adalah fakta yang menyangkut tentang keberadaan golongan ahmadiyah. Pada saat Gubernur sebagai kepala pemerintahan di Jawa Barat dan JawaTimur mengeluarkan surat keputusan melarang segala aktivitas ahmadiyah di wilayahnya masing-masing, Sultan HB X sebagai Gubernur DIY dengan tegas mengatakan bahwa beliau tidak akan mengeluarkan surat keputusan pelarangan ajaran ahmadiyah di Yogyakarta. Alasannya adalah bahwa masyarakat Yogyakarta adalah masyarakat yang menghormati adanya setiap perbedaan dalam masyarakat, termasuk perbedaan paham dalam agama dan kepercayaan. Warga ahmadiyah tetap diberi kesempatan untuk tetap menjalankan aktivitasnya sesuai dengan hak asasi yang mereka miliki. Dari beberapa hal tersebut diatas dapat dikatakan bahwa pihak-pihak yang mencoba mempertentangkan antara konsep demokrasi dan monarki di Yogyakarta menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dan mempersempit esensi dari demokrasi itu sendiri. Beberapa pihak mempunyai pemahaman bahwa monarki itu kuno dan anti demokrasi. Sistem pemerintahan demokrasi yang berasal dari konsep masyarakat Barat adalah sistem pemerintahan dimana diakui hak-hak dari anggota masyarakat untuk mempengaruhi keputusan-keputusan politik baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada prinsipnya dalam demokrasi harus berkembang prinsip kedaulatan rakyat,

228

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

sedangkan pemilihan langsung pimpinan atau wakil rakyat merupakan salah satu intrumen untuk menuju ke arah kedaulatan rakyat. Walaupun demokrasi identik dengan pemilihan umum, tetapi kita sedang berbicara masalah perspektif visi (tujuan) yang lebih esensial dari pada prosedural yang tidak dapat menjamin ketentraman warganya. Pilkada hanya mencerminkan demokrasi prosedural yang tidak dapat menjamin tujuan demokrasi yang sebenarnya. Dasar hukum keistimewaan suatu daerah telah diatur pada pasal 18 (UUD 1945 belum diamandemen) yaitu dikatakan istimewa jika daerah itu memiliki apa yang disebut susunan asli. Jogja disebut istimewa karena sebelum bergabung dengan RI sudah memiliki sistem pemerintahan sendiri (Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo. 2010: 16). Dari fakta tersebut jelas bahwa Yogyakarta yang dilahirkan dari sistem monarki itu telah menjadi pelopor lahirnya demokrasi dan telah memelopori untuk mempraktikkannya di Indonesia.Terlepas dari penetapan Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur, segala pelaksanaan pemerintahan dilakukan secara demokratis termasuk sistem check and balance. Seluruh mekanisme pelaksanaan pemerintahan dan prinsip-prinsip demokrasi di Yogyakarta sama dengan provinsi lain di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut mungkin pemerintah pusat yang telah membuat RUUK Yogyakarta lupa bahwa sistem monarki yang berlaku di Kasultanan Yogyakarta adalah bukan monarki murni alias sekadar monarki budaya dan bukan monarki politis. Sultan menjadi raja di Yogyakarta adalah tuntutan budaya keraton bukan karena ambisi kekuasaan. Dan yang terpenting, meskipun Sultan berkuasa di Provinsi DIY namun memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap sistem politik-ekonomi yang berlaku di Indonesia. Kepatuhan Sultan untuk tetap datang jika diundang oleh Presiden ke Jakarta, Sultan juga lebih banyak berkantor di kantor gubernur daripada di Keraton Yogyakarta. Kedua, sistem monarki yang berlaku di Yogyakarta mungkin dipahami oleh pemerintah pusat sebagai sebuah kekhawatiran akan terjadinya simpul kekuasaan baru pada keluarga sultan. Karena dengan model pengangkatan langsung atau sultan sekaligus gubernur akan membuka peluang untuk munculnya kekuasaan yang tidak terbatas dan hanya tersentral pada keluarga keraton saja. Hal ini

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

229

dikhawatirkan akan menyebabkan tidak terkontrolnya kekuasaan keluarga Sultan terhadap Yogyakarta. Jika ada pemisahan antara pimpinan monarkhi dan pimpinan demokrasi, bisa jadi akan terdapat dualisme kepemimpinan (suryo kembar) yang nantinya akan memecah masyarakat sendiri. Atau pun bisa juga pemimpin di luar Sri Sultan dan Pakualam yang dipilih melalui pilkada akan kurang mempunyai legitimasi karena legitimasi Sultan dan Pakualaman sangat kuat. Meskipun sampai saat ini gubernur dan wakil gubernur DIY ditetapkan dan tidak melalui pemilihan langsung, bukan berarti suasana demokratis tidak ada dalam kehidupan amsyarakat Yogyakarta. Jika kita melihat fakta sejarah dari kehidupan masyarakat DIY sejak tahun 1945 hingga saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa DIY adalah salah satu daerah yang menjadi pelopor demokrasi di Indonesia.

2.

Status Pertanahan di Yogyakarta

Salah satu keistimewaan Daerah Istimewa Yang lain adalah terkait status kepemilikan tanah. Sebagian besar tanah di daerah Yogyakarta adalah aberstatus Sultan ground dan Pakualam ground. Sebagai akibatnya, penggunaan tanah tersebut harus mendapat persetujuan dari kedua tokoh tersebut yaitu Sultan dan Pakualam yang sedang bertahta. Salah satu pemanfaatan tanah keraton adalah untuk tempat tinggal rakyat Yogyakarta dengan status "magersari". Rakyat boleh memanfaatkan tanah, dengan kesadaran penuh bahwa status tanah itu adalah milik keraton. Masyarakat yang menempati tanah itu tidak memiliki sertifikat. Mereka hanya berbekal "Serat Kekancingan" atau surat yang dikeluarkan Keraton tentang penggunaan tanah. Keraton menugaskan sejumlah abdi dalem yang tergabung dalam satuan khusus pengelolaan tanah bernama "Paniti Kismo". Satuan khusus ini memiliki struktur organisasi yang tertata apik hingga tingkat desa. "Paniti Kismo" memiliki otoritas mengelola pemanfaatan tanah keraton untuk berbagai kepentingan dan kesejahteraan rakyat Yogyakarta. Dengan demikian masyarakat Yogyakarta dapat menempati atau menggunakan Sultan Ground dan Pakualam Ground secara gratis, tanpa membayar beban pajak. pemerintah daerah bersama

230

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Kesultanan dan Pakualaman berdasarkan prinsip penggunaan tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat berwenang mengatur pemanfaatan tanah baik meliputi tanah-tanah milik maupun tanah hak lainnya termasuk tanah Sultan Ground dan Pakualaman Ground. Berdasarkan asas UUPA, tanah-tanah DIY yang sudah atau belum dikonversi menjadi hak milik. “Sebagai konsekuensi Sultan dan Pakualam, pemilik tanah Sultan Ground dan Pakualaman Ground, berwenang untuk memberikan ijin pemanfaatan atau penggunaan tanah-tanah tersebut. Oleh karena itu secara administratif keraton dan Pakualaman memiliki hak untuk memberi kewenangan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil inventarisasi, luas tanah milik keraton sekitar 3.500 hektare. Konsepsi tanah keraton itu adalah tanah di DIY dikurangi tanah milik negara dan tanah masyarakat pribadi Selama ini yang terjadi adalah Sultan Ground menjadi kewenangan Kraton sepenuhnya. Kebijakan masalah tanah ditangani BPN sebagai instansi vertical dan sebagai bentuk perlindungan terhadap warga yang telah berpuluh-puluh tahun tinggal di SG, pemerintah daerah hanya bisa membantu memohonkan ke Kraton. Pemerintah daerah hanya melakukan pengkajian lokasi dan memberi rekomendasi ke Kraton. Selain itu juga memberikan kemudahan jika dalam persyaratannya harus disertai tanda tangan dari RT/RW atau lurah. Pengkajian lokasi ini diperlukan untuk menguatkan bahwa tanah yang dihuni warga benar-benar SG, belum bersertifikat dan bukan hak milik perorangan. Bahkan, Undang-undang Pokok Agraria seakan tidak kuasa menembus sistem pengelolaan mandiri terhadap tanah keraton atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ground. Berkaitan dengan masalah tanah, bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, maka kewenangan sepenuhnya ada pada pemerintah pusat. Jika mencermati ketentuan penyerahan urusan pertanahan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, maka sampai saat ini berdasarkan Perpres No. 10 Tahun 2006, urusan pertanahan menjadi urusan pemerintah pusat. Padahal jika dilihat dari jiwa dan ketentuan peraturan perundangundangannnya, maka masalah pertanahan masuk urusan pemerintah daerah. Selama ini, ada dualisme terkait status tanah kraton. Secara

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

231

yuridis formal, tanah kraton dinyatakan sudah dihapus dan menjadi tanah negara. Namun, di sisi lain, fakta menunjukkan tanah kraton masih eksis dan diakui baik itu oleh masyarakat maupun birokrasi, walaupun secara diam-diam. Oleh Karena itu pemerintah pusat memberikan solusi dengan menyusun RUUK Keistimewaan Yogyakarta. Salah satu ketentuan yang akan diatur dalam RUUK Keistimewaan Yogyakarta, pemerintah memberikan solusi tentang keistimewaan Yogyakarta terkait dengan status tanah. Menurut pasal 26 ayat 6, tata guna, pemanfaatan dan pengelolaan Sultan Ground akan diatur dengan peraturan daerah istimewa Yogyakarta, tetapi perda ini adalah perda yang dibuat oleh Gubernur yang dipilih secara langsung oleh masyarakat Yogyakarta. Hampir sama dengan masalah yang menyangkut kepala daerah, dipilih atau ditetapkan, lembaga parardhya yang terdiri dari Sultan dan Pakualam juga memiliki kewenangan yang menyangkut status pertanahan. . Tugas parardhya yang berhubungan dengan status tanah adalah pertama, merumuskan arah umum kebijakan mengenai kebudayaan, pertanahan dan penataan ruang bagi kepentingan umum dengan memperhatikan peraturan perundangan-undangan. Kebijakan umum berkaitan dengan tanah dan kebudayaan yang diberlakukan di Yogyakarta tidak semata-mata didasarkan atas peninggalan leluhur tetapi dimaksimalkan untuk kesejahteraan umum. Kedua, melakukan konsolidasi dan klasifikasi tanah-tanah Kesultanan dan Pakualaman untuk kemudian didaftarkan pada Badan Pertanahan Nasional. Baik secara langsung maupun tidak langsung masalah status tanah sangat berhubungan dengan kegiatan investasi yang kan masuk di suatu daerah. Dalam bidang investasi pihak pemerintah Yogyakarta juga tidak akan menerima kegiatan ivestasi yang tidak berpihak kepada rakyat. Misalnya saja ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh investor jika ingin berinvestasi di Yogyakarta, yaitu tidak menimbulkan dampak polusi, tidak membutuhkan lahan yang besar dan fokusnya kepada Unit Usaha Kecil dan Menengah. Padahal jika kita melihat kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan pariwisata, hal ini sangat baik untuk pengembangan kegiatan investasi. Tetapi untuk kegiatan investasi lahan atau tanah yang cukup besar menjadi

232

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

factor yang utama. Untuk saat ini sangat sulit untuk mencari lahan untuk investasi yang cukup luas karena adanya Sultan Ground atau Pakualam Ground. Saat ini, lembaga-lembaga pendidikan, social bahkan hampir semua perkantoran-perkantoran pemerintahan yang ada di Yogyakarta berdiri di atas Sultan Ground dan Pakualam Ground yang hampir terdapat di semua wilayah DIY, misalnya saja Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jika draft RUUK ini disetujui oleh DPR, tentu saja akan berdampak pada perubahan status sebagian besar tanah di Yogyakarta. Sultan dan Pakualam sudah tidak lagi memiliki kekuasaan yang besar dalam hal status tanah. Akibatnya pihak kraton yang selama ini dikenal sangat berpihak kepada rakyat, terutama mengenai pertanahan. tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mengatur penggunaan lahan di Yogyakarta, terutama yang menyangkut tanah milik kraton Status Pertanahan menjadi aspek yang penting untuk dibahas dalam RUUK DIY karena hal itu merupakan salah satu substansi Keistimewaan DIY. Altenatif yang diajukan oleh pemerintah melalui RUUK Keistimewaan yang menempatkan Sultan dan Pakualam dalam lembaga parardhya jelas akan berdampak pada perubahan status tanah di Yogyakarta. Parardhya mempunyai kewenangan untuk mengatur, tetapi pada akhirnya kewenangan terbesar ada pada pemerintah pusat melalui Badan Pertanahan Nasional. Oleh karea itu, di dalam RUUK tersebut harus dibahas secara detail tentang status Sultan Ground dan Pakualam Ground. Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan dalam pengaturan status kepemilikan tanah kraton. Pertama, dalam landasan hukum yang mengatur kedudukan tanah kraton, pihak kraton Yogyakarta adalah sebagai pemilik (mempunyai hak milik) atas tanah-tanah tersebut. Kedua, pihak kraton adalah sebagai pemegang hak untuk mengelola dan mengatur penggunaan Sultan gorund dan pakualam ground. Dengan demikian, secara administratif keraton dan Pakualaman memiliki hak untuk memberi kewenangan kepada masyarakat. Konsep yang ingin diatur dalam aspek pertanahan itu adalah tanah tersebut pada intinya masyarakat tetap dapat mengolah dan menempati tanah-tanah tersebut seperti saat ini.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

233

C.

SIMPULAN

Esensi demokrasi adalah adanya pengakuan, penghargaan dan persamaan hak-hak atas manusia secara universal. Sistem politik dan pemerintahan demokrasi secara sederhana diartikan sebagai pemerintahan yang memperoleh legitimasi dari rakyat, ditentukan oleh wakil-wakil rakyat dan diperuntukkan bagi kepentingan rakyat. Pembuatan peraturan atau perundangan dalam suatu negara tentu harus memperhatikan masyarakat yang akan terimbas oleh peraturan atau perundang-undangan tersebut. Kecuali jika negara tersebut erada dalam sistem pemerintahan yang otoriter dimana pemerintah cenderung memaksakan diri dalam membuat suatu peraturan untuk keuntungan segelintir orang yang berkuasa. Sistem atau nilai demokrasi tidak akan berarti jika hanya bersifat prosedural bukan substantif, dimana tujuan akhir dari demokrasi adalah kesejahteraan rakyat. Saat ini pemerintah pusat ingin merubah atau mengatur keistimewaan Yogyakarta dengan pemilihan gubernur secara langsung dengan alasan sesuai dengan nilai demokrasi. Tetapi disisi lain RUUK keistimewan Yogyakarta juga mengatur status pertanahan yang ada di Yogyakarta, dimana Sultan Ground dan Pakualam Ground harus diatur oleh negara melalui BPN. Padahal selama ini kraton yang menyangkut Sultan Gorund dan Pakualam Ground dikenal sangat berpihak kepada rakyat. Dengan demikian apa sebenarnya latar belakang pemerintah pusat menyusun RUUK Keistimewaan Yogyakarta, demokrasi atau masalah pertanahan yang jelas diakui atau tidak berhubungan dengan kegiatan investasi. Dari paparan di atas tidak ada alasan bagi pemerintah pusat untuk merubah atau mencabut status keistimewaan Yogyakarta demi tegaknya nilai-nilai demokrasi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo. 2010. Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya Merunut Sejarah, Mencermati Perubahan, Menggagas masa depan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo. 2011.Wasiat HB IX, Yogyakarta Kota Republik. Yogyakarta: Galang Press.

234

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Bodiardjo, Miriam (2000), Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Soemardjan, Selo (1981), Perubahan Sosial Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. di Yogyakarta,

Poerwokoesoemo, Sudarisman (1984), Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

235

CIVIL SOCIETY DI TENGAH PERUBAHAN POLITIK INDONESIA Ignatius Ismanto Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan ign.ismanto@uph.edu ABSTRAK Hubungan negara dan masyarakat di Indonesia selama kurun waktu
yang panjang dicirikan oleh dua aspek yang menonjol, yaitu: (i) peran dan otonomi negara yang demikian besar (omni potent) dalam mendorong perubahan sosial. Bahkan, negara merupakan satu-satunya kekuatan sosial yang dominan dalam masyarakat, dan (ii) luasnya cakupan intervensi negara dalam berbagai aspek kehidupan sosial (omni present). Peran dan otonomi negara serta luasnya cakupan intervensi negara itu ternyata tidak selalu menguntungkan bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Sejarah perkembangan politik Indonesia juga selalu membuka peluang bagi tumbuhnya berbagai organisasi sosial dalam memperjuangkan kepentingan sosial yang berkembang dalam masyarakat, seperti: organisasi buruh, organisasi tani, organisasi nelayan dan sebagainya. Namun, dalam struktur politik yang otoritarian, berbagai organisasi sosial itu tidaklah mudah bergerak untuk memperjuangkan kepentingan sosial mereka. Ironisnya, dalam sistem yang otoritarian itu, berbagai organisasi sosial itu lebih merupakan ”alat negara” untuk mengendalikan masyarakat daripada sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan sosial anggotanya. Bahkan dalam sistem politik yang otoritarian, pembentukan organisasi-organisasi sosial yang disponsori negara dapat menjadi strategi yang efektif dalam memecah belah masyarakat (devide and rule strategy). Bukan tidak mustahil, strategi politik memecah belah itu membawa implikasi yang luas, yaitu masyarakat yang terfragmentasi (fragmented society) dan karena tidak berdaya dalam mendorong perubahan sosial. Penguatan Civil society merupakan isu yang sangat strategis seiring dengan perubahan politik Indonesia. Perubahan politik Indonesia sejak 1998 tidak saja mengakhiri sistem politik yang otoritarian, tetapi juga membuka peluang bagi penguatan civil society. Pembangunan demokrasi hanya dapat diwujudkan bila ditopong oleh penguatan civi society. Tulisan ini mengkaji tantangan pembangunan Civil society di tengah perubahan politik Indonesia dewasa ini. Kata kunci: civil society, perubahan politik

236

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Civil society merupakan konsep yang awalnya berakar dari sejarah perkembangan demokrasi Eropa Barat. Kajian tentang Civil society itu juga digunakan dalam memahami proses transisi demokrasi pada sejumlah negara Komunis Eropa Timur. Kehancuran regim-regim komunis di Eropa Timur itu sering dikaitkan dengan kebangkitan Civil society yang menentang sistem sosialis arahan negara yang represif. Dalam perkembangannya, konsep itu-pun digunakan dalam mengkaji perubahan politik di sejumlah negara Amerika Latin. Bahkan, konsep itu kini-pun banyak digunakan dalam mengkaji proses demokratisasi yang melanda sejumlah negara-negara Asia Timur. Kajian tentang 1 Civil society di Indonesia merupakan isu yang relatif baru . Bahkan, Civil society dipandang sebagai ’the missing link’ dalam pembangunan demokrasi Indonesia. Mengingat bahwa perhatian terhadap pembangunan demokrasi Indonesia pada khususnya, dan Dunia Ketiga pada umumnya, umumnya lebih terfokus pada isu modernisasi ekonomi. Pembangunan ekonomi yang kapitalisitik diyakini sebagai pra-syarat dalam mendorong perubahan sosial, termasuk demokratisasi bagi Dunia Ketiga yang umumnya dihadapkan pada keterbelakangan ekonomi (economic backwardness) dan keterlambatan industrialisasi (late industrialization). Bahkan, kehadiran suatu regim otoritarian-pun dipandang sebagai tahapan yang sulit dihindari bagi Dunia Ketiga. Namun, kehadiran regim otoritarian itu dipandang hanya bersifat sementara (temporary), dan akan berakhir seiring dengan lahirnya kelas menengah yang berkembang sebagai dampak kemajuan ekonomi. Perhatian pada Civil society Indonesia menjadi fenomena yang menarik seiring proses transisi demokrasi yang berlangsung pada 1998. Tumbangnya regim otoritarian Orde Baru Soeharto tak lepas dari gerakan sosial yang dimotori oleh kalangan mahasiswa, dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang didukung oleh tokohtokoh masyarakat dari berbagai elemen kekuatan masyarakat. Berakhirnya regim otoritarian itu, karenanya, dipandang sebagai momentum yang sangat penting bagi kebangkitan Civil society di
1

Istilah ‘civil society’ di Indonesia sering digunakan secara silih berganti dengan istilah ‘masyarakat warga’ dan ‘masyarakat madani’

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

237

Indonesia. Bahkan, Civil society dipandang memainkan peran yang sangat strategis dalam mendorong transisi demokrasi. Namun, apakah Civil society selalu merupakan faktor yang mendukung bagi konsolidasi demokrasi?. Mengingat bahwa proses demokratisasi yaitu peralihan dari struktur otoritarian menuju struktur yang demokratis tidak selalu merupakan proses yang damai (peaceful process). Demokratisasi merupakan arena mobilisasi politik bagi kekuatankekuatan sosial yang tumbuh dalam masyarakat. Bukan tidak mustahil bahwa kekuatan-kekuatan sosial yang beragam itu-pun dalam realitas tidak selalu inklusif dan respek terhadap keragaman. Kajian ini membahas Civil society Indonesia yaitu dalam konteks perubahan sosial di Indonesia serta peluang dan tantangan Civil society dalam mendorong proses konsolidasi demokrasi Indonesia.

WARISAN SEJARAH OTORITARIAN YANG PANJANG Civil society sering dipandang sebagai elemen yang memainkan peran penting dalam mendorong demokrasi. Bahkan, kelangsungan suatu demokrasi sering dipandang hanya dapat dipertahankan bila didukung oleh kehadiran civil society. Larry Diamond (1994: 5) mendefinisikan Civil society itu sebagai ”the realm of organized social life that is voluntary, self generating (largely) self supporting, autonomous from the state and bound by a legal order or set of shared rules”. Civil society dibangun oleh sejumlah karakteristik, seperti: kegiatan social itu bersifat suka rela, tanpa paksaaan; kegiatan social itu bersifat otonom, tidak tergantung pada negara, dan kegiatan sosal itu menjunjung tinggi norma-norma hukum. Civil society dipandang sebagai ranah public yang menjembatani ranah negara dan ranah privat. Civil society menekankan pentingnya upaya kolektif (bukan individual) dalam mewujudkan atau memperjuangan gagasan, ide, dan harapan mereka. Menggalang kekuatan bersama dalam mewujudkan tujuan bersama merupakan ciri penting bagi civil society. Satu hal yang membedakan organisasi Civil society dan organisasi sosial lainnya yaitu bahwa Civil society lebih menekankan tujuannya dalam mewujudkan ’kepentingan publik’ daripada ’kepentingan orang per orang’ . Civil society memerlukan negara, tetapi Civil society tidak berkepentingan untuk meraih kekuasaan

238

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

negara. Civil society juga tidak berkepentingan terhadap persiangan politik dalam menduduki jabatan-jabatan politik pemerintahan. Sehubungan dengan itu, partai politik bukan merupakan elemen civil society. Meskipun sejumlah kalangan akademis ada pula yang menempatkan Civil society sebagai elemen penting dalam Civil society (Lihat Budiman, 2001; Shaw dalam Nyman, 2006: 6). Dalam tulisan ini, partai politik dipandang bukan sebagai elemen Civil society terutama karena salah satu fungsi dari partai politik adalah juga melakukan rekruitmen politik, yaitu menempatkan kader-kader partai dalam jabatan-jabatan publik. Civil sosciety dapat membangun kerjasama dengan partai politik yang memiliki kesamaan tujuan atau program-pogram yang diperjuangkan oleh partai politik. Namun, penting untuk dicatat bahwa kerjasama Civil society dan partai poltik itu tidak mengorbankan kemandirian kemandirian organisasi Civil society apabali membuat organisasi Civil society terko-optasi oleh kepentingan partai politik. Civil society mencakup beragam organisasi baik formal maupun informal serta menjangkau isu, sektor dan aspek kehidupan sosial yang luas, seperti: pendidikan, kebudayaan, perburuhan, lingkungan hidup dan lain-lain. Civil society bukan semata-mata konsep yang normatif. Civil society merupakan proses yang dinamis dan sangat kontekstual. Sehubungan dengan itu, proses perubahan politik menjadi aspek yang sangat penting dalam memahami kebangkitan Civil society di Indonesia. Kebangkitan Civil society dapat dikaji melalui pendekatan hubungan negara dan masyarakat. Pola hubungan negara dan masyarakat bukanlah suatu konsep yang statis, tetapi proses dinamis. Sehubungan dengan itu, ketidak-berdayaan atau-pun kebangkitan Civil society dapat dipahami dari hubungan negara dan masyarakat yang dinamis itu. Hubungan negara dan masyarakat di Indonesia selama kurun waktu yang panjang, yaitu hingga regim Orde Baru berakhir, dicirikan oleh 2 (dua) aspek yang menonjol, yaitu: (i) dominasi peran negara yang kuat (omni potent) serta (ii) luasnya jangkauan intervensi negara dalam berbagai aspek kehidupan sosial (omni present). Dalam hubungan negara-masyarakat yang dicirikan oleh dominasi peran negara itu, negara memainkan peran yang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

239

demikian signifikan dalam mendorong perubahan sosial. Negara pada masa regim Orde Baru merupakan satu-satunya kekuatan sosial yang dominan. Bahkan, konsep negara, baik pada masa regim Orde Baru maupun sebelum regim Orde Baru, merupakan negara yang relatif otonom. Negara yang otonom (autonomous state) yang dimaksud disini yaitu negara yang memiliki pengaruh yang besar dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakannya tanpa mendapat tekanan atau rintangan yang berarti dari elemen-elemen kekuatan sosial yang ada. Tak mengherankan bila sumber otonomi negara itu menjadi kajian yang menarik, yaitu: darimana otonomi negara itu diperoleh? Kajian strukturalist menjelaskan bahwa otonomi negara itu diperoleh karena warisan sejarah kolonialisme yang dialami Indonesia. Penjajahan Hinda Belanda atas Indonesia yang berlangsung selama 350 tahun telah menghancurkan kekuatankekuatan sosial masyarakat terjajah. Kolonialisme itu tidak menghasilkan kekuatan kapital yang berarti, seperti: tuan-tuan tanah mau-pun kalangan pedagang besar yang berskala internasional. Perusahan-perusaahan besar yang berkembang pada waktu itu yang umumnya bergerak pada sektor perkebunan dan pertambangan dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Kolonialisme yang panjang itu hanya menyisakan ’petani gurem’ dan ’pedagang kecil’ atau yang dikenal dengan istilah ’petty bourgeousie’. Negara Indonesia pasca kemerdekaan karenanya, merupakan satu-satunya kekuatan sosial yang dominan yang dicirikan oleh otonomi negara yang besar. Hamzah Alawi menjelaskan bahwa negara otonom itu merupakan ciri umum bagi negara Dunia Ketiga yang mengalami kolonialisme yang panjang. Selain warisan sejarah kolonialisme, konflik-konlik sosial serta fragmentasi kekuatan-kekuatan sosial juga ikut menentukan kelangsungan otonomi negara itu. Kegagalan Indonesia dalam membangun demokrasi pada tahap awal kemerdekaan, yang akhirnya mendorong Presiden Soekarno memperkenalkan ’Demokrasi Terpimpin’ (Guided Demokrasi) memberikan otonomi yang lebih besar bagi negara dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan sosial yang berkembang waktu itu. Demikian pula, krisis politik pada pertengahan 1960-an memberikan legitimasi bagi regim Orde Baru yang dipimpin oleh Letjen. Soeharto untuk melakukan restrukturisasi politik yang

240

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

secara sistematis semakin melemahkan kekuatan-kekuatan sosial yang ada. Bahkan, negara pada masa regim Orde Baru Soeharto merupakan negara yang jauh lebih otonom dibanding negara pada masa regim sebelumnya, yaitu regim Demokrasi Terpimpin Soekarno. Otonomi negara yang besar pada masa regim Orde Baru Soeharto itu terlebih didukung oleh meningkatnya kemampuan finansial negara sebagai dampak melimpahnya rejeki minyak pada masa awal 1970an hingga pertengahan 1980-an. Restrukturisasi politik yang ditempuh secara sistematis selama masa regim Orde Baru tidak hanya sekedar membatasi partisapasi kekuatan-kekuatan sosial dalam menentukan proses kebijakan publik tetapi juga melumpuhkan kekuatan mereka. Pengendalian terhadap kekuatan-kekuatan sosial yang berkembang dalam masyarakat itu ditempuh melalui sistem yang dikenal dengan sebutan koporatisme negara (state corporatism). Korporatisme merupakan konsep yang awalnya dikembangkan oleh Phillip Schmitters untuk menjelaskan mekanisme pengaturan berbagai kepentingan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Sistem korporatisme dapat dikembangkan dalam sistem politik yang demokratis maupun dalam sistem politik yang otoritarian dengan segala implikasi sosial yang menyertainya. Dalam sistem politik yang demokratis, pengaturan berbagai kepentingan yang berkembang dalam masyarakat umumnya diartikulasikan melalui organisasi-organisasi masyarakat yang tumbuh secara otonom. Dalam sistem politik yang demokratis itu, masyarakat relatif sulit untuk dijadikan alat bagi kepentingan hegemoni negara. Keberadaan organisasi-organisasi masyarakat itu mewakili kepentingan sosial yang berkembang dalam masyarakat dan karena itu kelangsungan mereka-pun sangat ditentukan oleh dukungan masyarakat dalam memperjuangkan kepentingan sosial mereka itu. Mekanisme pengaturan berbagai kepentingan sosial dalam sistem politik yang demokratis itu disebut ’societal corporatism’. Sebaliknya, dalam sistem politik yang otoritarian, keberadaan organisasi-organisasi masyarakat selalu menjadi target intervensi negara. Keberadaan mereka ditentukan, bahkan bila perlu diciptakan sendiri oleh negara. Aspek pengaturan (pengendalian) merupakan ciri utama bagi kelangsungan perkembangan organisasi-organisasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

241

kemasyarakatan itu. Bentuk pengendalian dan intervensi negara terhadap kelangsungan organisasi-organisasi kemasyarakat ditempuh melalui strategi exclusioanry dan strategi inclusionary. Strategi exclusionary ditempuh dengan mengabaikan atau bahkan bila perlu membubarkan atau melarang keberadaan organisasi kemasyarakatan yang kepentingannya dianggap bertentangan, mengganggu atau membahayakan bagi kepentingan negara. Sedangkan, strategi inclusionary ditempuh dengan menundukkan kepentingan organisasi kemasyarakatan itu dan memanfaatkan organisasi kemasyarakatan yang ditundukkan (proses ko-optasi) itu untuk mendukung tujuan dan kepentingan negara. Dengan demikian, keberadaan organisasi kemasyarakatan yang dikendalikan oleh negara itu sesungguhnya lebih merupakan alat (instrumen) bagi negara untuk mengendalikan masyarakat daripada sebagai sarana bagi para anggota organisasi tersebut untuk memperjuangkan kepentingan sosial mereka. Pengendalian oleh negara terhadap berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepentingan-kepentingan sosial yang berkembang di masyarakat itu disebut sebagai state corporatism. Berbagai sektor yang dianggap strategis untuk mendukung stabilitas politik bagi kepentingan pembangunan ekonomi selalu menjadi target intervensi negara. Sektor perburuhan, misalnya, merupakan sektor yang sangat strategis dalam mendukung industrialisasi tak pernah lepas dari interbvensi negara. Sejumlah organisasi buruh yang telah berkembang sejak 1950-an dan 1960-an, yang umumnya waktu itu memiliki jaringan hubungan afiliasi dengan partai-partai politik diatur kembali oleh regim Orde Baru. Bahkan organisasi-organisasi buruh yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), seperti: Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) dibubarkan. Demikian pula organisasi-organisasi buruh lainnya yang keberadaannya dianggap membahayakan bagi kepentingan negara tidak diakui oleh negara. Negara membentuk organisasi buruh dan hanya mengakui satu organisasi buruh tersebut yang dianggap sah dalam mewakili kepentingan buruh, yaitu yang disebut Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) yang kemudian restrukturisasi kembali menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). SPSI merupakan organisasi korporatis arahan negara dan karenanya juga tak banyak yang dapat diharapkan perannya dalam memperjuangkan

242

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kepentingan buruh. Ironisnya pula, organisasi buruh itu selama regim Orde Baru tak pernah dipimpin oleh aktivis buruh tetapi dipimpin oleh kalangan militer. Selain sektor perburuhan, sektor pertanian juga merupakan sektor yang strategis karena luas jangkauannya terhadap masyarakat pedesaan yang merupakan konsentrasi terbesar penduduk Indonesia, dan karenanya menjadi sumber mobilisasi dukungan politik yang penting. Keberadaan organisasi petani Himpunan Keluarga Tani (HKI) juga merupakan organisasi korporatis yang diakui sah oleh negara sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili kaum tani. Pengendalian organisasi-organisasi kepentingan sosial yang berkembang dalam masyarakat oleh negara yang demikian sistematis dan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, yaitu selama 3 dasawarsa -membawa dampak yang serius bagi masyarakat dewasa ini. Bahkan strategi exclusionary dan strategi inclusionary merupakan instrumen yang efektif untuk memecah-belah kekuatan-kekuatan sosial yang berkembang dalam masyarakat.

KRISIS POLITIK DAN KEBANGKITAN CIVIL SOCIETY Civil society dan demokrasi merupakan isu kajian yang semakin menarik perhatian kalangan Ilmu-Ilmu Sosial di Indonesia. Arief Budiman (2001: 2) menggambarkan Civil society dan demokrasi itu ibarat ”dua sisi dari satu mata uang”. Artinya, Civil society tidak dapat dipisahkan dari demokrasi. Suatu negara yang demokrasi dimungkinkan oleh kehadiran negara yang kuat (strong state) dan Civil society yang aktif yang membatasi sekaligus menjaga kekuasaan negara. Dalam masyarakat yang demokratis, negara juga membuka kemungkinan bagi kekuatan-kekuatan sosial dalam menyusun dan menjalan kebijakan-kebijakannya. Civil society merupakan elemen penting bagi demokrasi karena fungsi keberadaannya diharapkan dapat ikut serta mengawasi kekuasaan negara agar tidak dijalankan secara sewenang-wenang. Larry Diamond (1994: 7) menegaskan bahwa ”the first and most basic democratic function of Civil society is to provide the basis for the limitation of state power”.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

243

Dalam konteks realitas sosial Indonesia yang dicirikan oleh semakin menguatnya konsentrasi kekuasaan selama Orde Baru tentu sangatlah sulit bagi Civil society itu bersikap kritis terhadap praktekpraktek penyelenggaraan kekuasaan negara. Bila demikian, bagaimana menjelaskan bangkitnya kekuatan Civil society di tengah menguatnya regim otoritarian? Mengapa kebangkitan Civil society yang mengakhiri regim otoritarian pada 1998 itu dipicu oleh gerakan mahasiswa? Bagaimana regim otoritarian Orde Baru berakhir? – merupakan isu kajian yang penting, terutama dalam memahami (i) kebangkitan Civil society di Indonesia, (ii) peran mereka selama masa transisi demokrasi serta (iii) prospek mereka dalam mendorong konsolidasi demokrasi: peluang dan tantangan yang dihadapi di tengah persaingan politik dewasa ini. Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa berakhirnya regim otoritarian Orde Baru Soeharto tidak dipicu oleh bangkitnya kekuatankekuatan ekonomi yang menyertai kemajuan ekonomi Indonesia. Bank Dunia (1993) pernah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara Asia Timur yang mengalami ”keajaiban ekonomi”. Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan berlangsung dalam kurun waktu yang panjang pada masa regim Orde Baru telah memungkinkan bagi tumbuhnya kekuatan-kekuatan ekonomi nasional. Namun, kemajuan ekonomi yang menakjubkan itu tak mampu mendorong proses demokratisasi. Berbeda dengan sejarah demokrasi Eropa Barat, kebangkitan kapitalisme memainkan peran penting dalam mengakhiri sistem monarkhi. Barington Moore dalam jargonnya menyebutkan bahwa “no bourgeoisie, no democracy”. Dengan demikian, kekuatan kapital menjadi ujung tombak dalam mendorong perubahan sosial di Eropa. Bagaimana peran kekuatan kapital dalam mendorong perubahan sosial di Indonesia? Kekuatan kapital di Indonesia tidak memainkan peran yang berarti dalam mengakhiri regim otoritarian. Pembangunan ekonomi yang ditopang oleh peran dan intervensi negara yang besar dalam ekonomi merupakan faktor yang penting bagi lahirnya kalangan kekuatan ekonomi nasional. Seiring dengan kebijakan ekonomi yang protektif, peran dan intervensi negara merupakan faktor yang penting dalam mendorong proses akumulasi kapital. Sehubungan dengan itu, ’rent

244

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

seeking activities’ memainkan peran penting pada tahapan awal pembangunan kapital itu. Akses politik yaitu melalui koneksi politik merupakan basis yang penting dalam mendapatkan ’rent ekonomi’ (seperti: melalui lisensi monopoli, subsidi pemerintah maupun bentukbentuk kebijakan proteksi ekonomi lainnya). Rent seeking activities dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi yang legal maupun kegiatan ekonomi yang tidak legal. Pada tahap awal pembangunan ekonomi dan industrialisasi, berbagai kebijakan ekonomi yang protektif dapat diterima sebagai instrumen untuk melindungi industry yang baru berkembang (infant industry). Namun, seiring dengan kemajuan dan perkembangan ekonomi, mempertahankan rent-seeking activities dapat berkembang menjadi moral hazard dan sumber penyalahgunaan kekuasaan. Liberaliasi ekonomi yang ditempuh pemerintah pada pertengahan 1980-an membawa dampak politik yang menarik. Liberalisasi ekonomi itu mendorong internasionalisasi kapital yang memungkinkan kekuatan-kekuatan ekonomi nasional mampu menjalin jaringan internasional dengan kekuatan ekonomi global. Mereka yang mampu membangun jaringan dengan kekuatan ekonomi global itu tidak lagi menekankan koneksi politik. Mereka mulai menekankan pada pentingnya pelembagaan ekonomi yang transparan dalam pengelolaan ekonomi nasional di tengah ekonomi Indonesia yang telah berubah itu.. Kekuatan ekonomi yang relatif lebih siap dalam menghadapi liberalisasi ekonomi itu umumnya mereka yang telah mampu membangunan jaringan dengan kekuatan kapital internasional. Mereka umumnya adalah dari kalangan etis keturunan Cina. Mereka ini secara politik lemah. Dalam realitas sosial, perbedaan etnis dan agama ternyata tetap merupakan isu politik yang sensitif dalam politik Indonesia yang pluralistik. Sebaliknya, kalangan kekuatan ekonomi yang tidak mampu menjalin jaringan dengan kekuatan ekonomi internasional akan terancam kepentingan ekonomi mereka di tengah ekonomi Indonesia yang telah berubah itu. Mereka yang terakhir ini mempertahankan proteksi negara untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka, serta menentang kebijakan liberalisasi ekonomi itu dilanjutkan. Mereka yang terakhir inilah yang memenangkan persaingan politik dan karenanya melanggengkan koneksi politik sebagai basis kegiatan ekonomi dan bisnis mereka.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

245

Perubahan ekonomi Indonesia tidak didukung oleh perubahan politik yang berarti yaitu dalam melembagakan pengelolaan ekonomi yang transparan, sebagai isu demokrasi yang penting saat itu. Dalam ekonomi Indonesia yang telah berubah yaitu dengan semakin terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi yang lebih luas, kebijakan ekonomi yang protektif sangat rentan terhadap praktek-praktek penyalah-gunaan kekuasaan negara. Sikap kritis terhadap praktek-praktek penyalah-gunaan kekuasaan negara yang saat itu populer dikenal dengan akronim KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) muncul di kalangan perguruan tinggi. Kalangan intelektual atau akademisi merupakan arena yang relatif paling sulit dikendalikan oleh intervensi negara. Sehubungan dengan itu, kalangan cendekiawan atau intelektual ini memiliki kesempatan yang relatif lebih leluasa dalam menggalang elemen-elemen kekuatan sosial lainnya dalam menyikapi praktek-praktek KKN. Krisis moneter yang menghantam Indonesia pada 1997 dan berkembang menjadi krisis ekonomi merupakan ’blessing in disguise’. Krisis moneter itu tidak hanya merupakan dimensi ekonomi, yaitu penurunan secara tajam nilai mata uang rupiah terhadap nilai mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat. Krisis moneter ini juga sarat dengan muatan dimensi politik yaitu hilangnya kepercayaan masyarakat, yaitu masyarakat internasional dan masyarakat Indonesia terhadap regim (Johannen, Rudolph dan Gomez, 2000: 3245). Krisis moneter merupakan indikator rendahnya kepercayaan masyarakat, baik nasional dan internasional, terhadap regim suatu negara dalam menertibkan praktek-praktek penyalah-gunaan kekuasaan seiring dengan semakin terintegrasinya ekonomi negara tersebut ke dalam sistem ekonomi global. Krisis moneter yang akhirnya berkembang menjadi krisis ekonomi dan krisis politik membuka peluang bagi gerakan mahasiswa yang didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat untuk melancarkan gelombang demokratisasi. Dalam perubahan politik Indonesia, kalangan intelektual atau cendekiawan selalu memainkan peran penting dalam mendobrak perubahan. Kalangan intelektual dan cendekian inilah yang dikenal dengan sebutan ”the layers of exploiding soceity”, menggunakan konsep yang dikembangkan Guillermo O’Donnel dan Phillipe Schmitter dalam menggambarkan aktor Civil society yang

246

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

memainkan peran utama dalam mendorong perubahan menuju demokrasi (Bernhard dan Karakoq, 2007: 542).

KONSOLIDASI DEMOKRASI YANG RENTAN Dalam perubahan politik Indonesia, kalangan intelektual atau cendekiawan selalu merupakan elemen Civil society yang memainkan peran penting dalam mendobrak perubahan. Sebelum masa kemerdekaan, gerakan kebangkitan nasional yang diawal sejak 1908 yaitu dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo, dicetukkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 hingga terwujudkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 selalu dipelopori oleh kalangan cendekiawan, seperti mulai dari H.O.S Tjokroaminoto hingga Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir dan lain-lain. Demkian pula setelah masa kemerdekaan, perubahan politik yang genting dalam menentang konsentrasi kekuasaan serta praktek-praktek penyelenggaraan kekuasaan selalu menampilkan gerakan mahasiswa serta peran kalangan cendiawan sebagai ujung tombak pendobrak perubahan. Gerakan mahasiswa yang didukung oleh tokoh-tokoh berbagai elemen masyarakat-pun memainkan peran yang sangat penting dalam mengakhiri regim otoritarian Orde Baru pada 1998. Berakhirnya regim Orde Baru pada 1998 merupakan fenomena yang mengejutkan banyak kalangan pada waktu itu. Apakah perpecahan internal di dalam regim kekuasaan juga ikut berperan dalam berakhirnya regim Orde Baru? Nyman (2006: 60) menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa yang demikian efektif dalam mempersatukan berbagai organisasi kemahasiswaan yang amat beragam sangat sulit dicapai tanpa adanya dukungan orang-orang yang berpengaruh (Nyman, 2006: 60). Berakhirnya regim otoritarian Orde Baru yang diikuti oleh liberalisasi politik sekaligus juga membuka peluang bagi tumbuhnya beragam bentuk organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan yang menandai kebangkitan civil society. Perubahan politik pasca Orde Baru juga diikuti melemahnya sistem korporatisme arahan negara yang sebelumnya menjadi mekanisme utama dalam mengatur kepentingan-kepentingan sosial yang di berkembang dalam

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

247

masyarakat. Kini, SPSI (Serikta Pekerja Seluruh Indonesia) misalnya, bukan lagi menjadi satu-satu organisasi yang dianggap sah oleh pemerintah (negara) dalam menyalurkan dan memperjuangkan kepentingan buruh. Pasa Orde Baru telah mucul puluhan organisasi atau gerakan yang berjuang untuk memperjuangkan kepentingan buruh di tengah perubahan ekonomi dan politik Indonesia, seperti: Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Gabungan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Gaspermindo), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) dan lain-lain. Liberalisasi politik juga telah memungkinkan berkembangnya partai-partai politik baru pasca Orde Baru. Serangkaian pemilu sejak berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto juga telah memungkinkan Indonesia menempuh masa transisi secara damai. Bahkan, amandemen terhadap UUD 1945 menjadi acuan bagi restrukturisasi kekuasaan merupakan momentum penting bagi konsolidasi demokrasi. Namun, proses konsolidasi demokrasi itu merupakan isu yang sangat krusial dalam mengkaji tantangan bagi Civil society yaitu dalam ikut serta mendorong pembangunan demokrasi di Indonesia dewasa ini. Gerakan sosial dari berbagai elemen kekuatan serta kebangkitan Civil society sesungguhnya tidak berhenti setelah berhasil menumbangkan regim otorotarian. Sebaliknya, kehadiran Civil society justru sangat diperlukan pada tahapan kritis setelah tumbangnya otoritarianisme, yaitu pada saat memasuki tahapan transisi demokrasi hingga konsolidasi demokrasi. Pentingnya peran strategis Civil society pada tahap konsolidasi demokrasi ini juga mendapat pertahatian khusus dari kalangan akademik. Larry Diamond (1994: 7), misalnya, menegaskan bahwa: ”a vibriant Civil society is probably more essential for consolidating and maintaining democracy than for initiating it”. Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa proses demokratisasi, yaitu perubahan dari otoritarian menuju demokrasi yang umumnya dialami oleh sejumlah negara Dunia Ketiga, bukanlah suatu proses yang linear, yaitu memiliki pola yang baku dan dapat ditiru oleh negara lain. Demokratisasi merupakan proses yang panjang serta melibatkan berbagai aktor dengan berbagai kepentingan, bahkan tidak menutup kemungkin proses perubahan itu-

248

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pun merupakan hasil kompromi dengan kekuatan-kekuatan lama pendukung regim otoritarian. Proses demokratisasi yang berlangung sejak tumbangnya regim Orde Baru Soeharto-pun menjadi ‘arena’ persaingan, dan bahkan dampak persiangan itu membawa potensi yang tidak selalu menguntungkan bagi kekuatan civil society. Saat krisis ekonomi mulai menggerogoti legitmasi kekuasaan Orde Baru, berbagai organisasi sosial yang merupakan elemen kekuatan Civil society bersatu padu dalam membangun kekuatan bersama (collective action), yaitu menekan Presiden Soeharto untuk segera mengakhiri kekuasaan. Gerakan reformasi yang dimotori oleh kalangan mahasiswa dan didukung oleh berbagai elemen kekuatan sosial itu melancarkan gelombang demokratisasi, yaitu tidak saja menuntut Presiden Soeharto mengakhiri kekuasaannya tetapi juga mendorong perubahan politik yang telah memungkinkan regim otoritarian Orde Baru yang mampu bertahan hingga 32 tahun. Reformasi politik yang ditopang oleh liberalisasi politik itu memang telah membawa sejumlah peruhahan politik yang dramatis, antara lain: (i) militer sebagai institusi negara tidak lagi terlibat dalam politik praktis, (ii) restrukturisasi sistem kepartaian yang telah mengakhiri sistem kepartaian hegemonik selama masa regim Orde Baru, (iii) pemilihan presiden secara langsung yang untuk pertama kali diperkenalkan pada 2004. Namun, perubahan politik yang dramatis itu sesungguhnya tidak membawa perubahan yang berarti bagi pembangunan demokrasi di Indonesia. Pada masa regim Orde Baru, struktur kekuasaan lebih dicirikan pada ”one man show”. Sebaliknya, pada pasca Orde Baru struktur kekuasaan dicirikan oleh oligarkhi, yaitu kompromi elit-elit partai, khususnya yang berhasil memenangkan pemilu. Ironisnya, struktur kekuasaan yang oligarkhi yang dimungkinkan oleh peluang perubahan politik sejak 1998 justru semakin menjauhkan harapan reformasi politik sebagaimana awalnya diperjuangkan oleh kalangan civil society. Salah satu isu atau pertanyaan yang menarik dalam mengkaji peluang dan tantangan bagi Civil society dalam mendorong proses konsolidasi demokrasi saat ini adalah bagaimana organisasiorganisasi sosial yang merupakan elemen Civil society menyikapi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

249

mobilisasi politik yang digalang oleh partai politik. Pertanyaan itu penting diajukan mengingat bahwa partai politik dewasa ini merupakan aktor yang memainkan peran yang demikian penting dalam proses konsolidasi demokrasi. Salah satu fenomena menarik yang menyertai perubahan politik seiring dengan liberalisasi politik sejak 1998 adalah meningkatkan persaingan elit-elit politik. Partai politik, sebagaimana lazim dalam sistem politik yang demokratis, memainkan peran penting dalam menjalankan fungsi sosialisasi politik, pendidikan politik, penyederhanaan konflik hingga proses rekruitmen politik. Bagi elit-elit politik yang bersaing, partai politik menjadi satu-satu kendaraan politik menuju tampuk kekuasaan, yaitu dalam pemilu legislatif hingga pemilu presiden secara langsung. Ironisnya, persaingan elit-elit politik itu sangat rentan terhadap praktek-prakek politik kekuatan uang (money politics). Pemilu legislatif yang diiukuti oleh jumlah partai yang besar hanya menghasilkan fragmentasi kekuatan-kekuatan politik di DPR. Fragmentasi politik itu mendorong kepentingan politik dalam membangun koalisi partai baik di parlemen maupun dalam kabinet. Namun, koalisi partai itu selalu rentan terhadap perpecahan. Restrukturisasi sistem kepartaian dan sistem pemilu-pun telah 2 ditempuh dengan memberlakukan ”parlementary thershold ” dan 3 ”presidential threhold ” dalam membangun koalisi yang stabil (Mietzner, 2009: 106-109). Namun, pembentukan koalisi kabinet yang dimaksudkan untuk memperkuat dukungan politik pemerintah di parlemen hanya menjadi arena kompromi bagi partai-partai yang memenangkan pemilu. Pembentukan koalisi kabinet ini-pun tidak efektif dalam membangun stabilitas pemerintahan. Bahkan, koalisi kabinet hanya menjadikan presiden yang dukung oleh suara
2

3

Persyaratan jumlah suara dalam pemilu legislatif bagi partai politik untuk mendapatkan representasi politik di DPR. Dalam pemilu legislatif 2009, persyaratan parliamentary threshold itu ditetapkan sebesar 2,5 persen. Jadi partai politik yang gagal untuk meraih sedikitnya 2,5 persen suara dalam pemilu legislatif tidak dapat memiliki kursi di DPR. Persyaratan bagi partai atau gabungan partai untuk dapat mencalonkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Dalam pemilu presiden langsung tahun 2009, persyaratan ‘presidential threshold’ ditetapkan sebesar 20 persen suara dalam pemilu legislatif atau 25 persen kursi di DPR.

250

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

mayoritas rakyat itu tersandera oleh kepentingan-kepentingan partai. Meluasnya fenomena praktek-praktek korupsi yang melibatkan anggota DPR akhir-akhir ini semakin meningkatkan kekecewaan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan parlemen. Memperjuangkan kepentingan sosial siapakan sesungguhnya partai politik dan parlemen itu? Konsolidasi demokrasi hanya menjadi arena bagi kepentingan elit-elit partai dengan mengabaikan kepentingan konstituen pendukungnya. Sikap kritis bagi kalangan Civil society terhadap partai politik sangat diperlukan, terlebih dalam menyikapi fenomena maraknya kalangan pengusaha yang sekaligus berkepentingan terlibat langsung dalam kepengurusan partai politik. Keterlibatan kalangan pengusaha dalam kepengurusan partai lebih merupakan kepentingan sempit bisnis mereka yaitu dengan memanfaatkan kelemahan finansial partai daripada kepentingan mereka dalam membangun konsolidasi partai politik. Situasi ini semakin runyam bila sentimen etnis dan agama menjadi arena mobilisasi dukungan bagi elit-elit politik yang saling bersaing itu.

CATATAN PENUTUP Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada 1997 membawa dampak yang luas bagi perubahan politik di Indonesia. Krisis itu melemahkan legitimasi regim Orde Baru yang gagal dalam mengendalikan berbagai bentuk penyalah-gunaan kekuasaan negara. Krisis ekonomi yang berkembang menjadi krisis politik itu membuka peluang bagi kebangkitan Civil society Indonesia. Civil society telah memainkan peran yang sangat strategis yaitu mendorong transisi demokrasi secara damai. Namun, perubahan ekonomi dan perubahan politik Indonesia sejak 1998 membawa sejumlah tantangan yang serius bagi pembangunan demokrasi dan penguatan civil society. . Pertama, proses konsolidasi demokrasi yang semakin dikendalikan oleh kepentingan koalisi elit-elit partai yang memenangkan pemilu ternyata juga tak berhasil dalam mengatasi persoalan korupsi. Sebaliknya, korupsi justru semakin meluas dan semakin sulit dikendaikan. Korupsi tidak hanya terjadi pada lembaga eksekutif dan lembaga legislatif, tetapi juga telah merambah pada lembaga yudikatif

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

251

yang seharusnya menjadi pilar utama bagi penegakan hukum. Korupsi telah menggerogoti kehadiran negara yang kuat. Negara tidak hanya lemah dalam menegakan supremasi hukum. Bahkan, negara juga dihadapkan pada tantangan yang serius dalam memberikan perlindungan warganya, seiring dengan penggunaan kekerasan dalam masyarakat dalam mewujudkan kepentingannya. Kedua, pluralisme masyarakat Indonesia yang terdiri beragam latar belakang etnis, suku, agama, adat istiadat sesungguhnya bukanlah tantangan bagi pembangunan demokrasi. Namun, proses mobilisasi masyarakat seiring dengan terbukanya persaingan politik dengan menggunakan simbol-simbol agama serta latar belakang etnis dan suku sangat berpotensi memicu perpencahan masyarakat, yang pada akhirnya melemahkan kekuatan civil society. Ketiga, penyesaian perbedaan konflik dapat ditempuh secara damai yaitu melalui kompromi atau membangun kesepakatan antara pihakpihak yang bertikai. Namun, perbedaan kepentingan dan konflik acapkali juga ditempuh dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Bahkan, penggunaan kekerasan dalam penyelesaian perbedaan kepentingan dan konflik itu dilakukan tidak saja oleh masyarakat tetapi juga oleh negara. Di masa regim Orde Baru, perbedaan kepentingan antara masyarakat dan negara sering kali ditempuh dengan cara penggunaan kekerasan oleh negara. Perubahan politik pasca Orde Baru, penggunaan kekerasan oleh negara dalam mengatasi konflik antar masyarakat maupun antar masyarakat dan negara relatif menurun. Namun, penggunaan kekerasan oleh elemen masyarakat dalam menyelesaikan konflik dan kepentingan antar masyarakat justru semakin terbuka. Ironisnya, negara gagal dalam memberikan perlindungan bagi warganya saat konflik kekekerasan meledak. Peristiwa Cikesik pada 2011, misalnya, merupakan tantangan serius bagi negara, terutama dalam memberikan perlindungan rasa aman bagi warga negara. Dari sejumlah tantangan perubahan ekonomi dan politik Indonesia dapat disimpulkan bahwa konsolidasi demokrasi Indonesia tidak hanya memerlukan peran negara yang kuat tetapi juga keterlibatan aktif organisasi-organsiasi Civil society dalam mengawal proses konsolidasi demokrasi. Pendidikan politik terhadap masyarakat dalam

252

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

menyelesaikan konflik secara damai merupakan salah satu instrumen dalam mendemokrasikan elemen-elemen civil society. Dengan demikian, hubungan negara dan masyarkat bukanlah persaingan yang bersifat kalah dan menang (zero-sum struggle), namun hubungan yang saling melengkapi (complementary). Negara yang kuat (strong state) dan civl society yang kuat (strong civil society) merupakan elemen yang diperlukan bagi kelangsungan demokrasi.

DAFTAR PUSTAKA Bernhard, Michael dan Ekrem Karakoq, “Civil society and the Legacy of of Dictatorship”, World Politics, Vol. 59, Number 4, July 2007. Budiman, Arief, “Civil society and Democratic Governance: The Case of Indonesia”, JKAP, Vol. 5, (2), November 2001. Diamond, Larry, ”Toward Democratic Consolidation”, Journal of Democracy, Vol. 5, No, 3, July 1994. Johannen, Uwe, Jurgen Rudolph dan James Gomes. (2000). The Political Dimensions of the Asian Crisis, Singapore: Select Book Pte Ltd. Mietzner, Marcus, “Indonesia in 2008 Democratic Consolidation in Soeharto’s Shadow”, Southeast Asian Affair, Vol. 2009. Nyman, Mikaela, Democratizing Indonesia: The Challenges of Civil society in The Era of Reformasi, Compenhagen, Denmark: NIA

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

253

MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI DAN DEMOKRASI: SUATU STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA Kusnadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka koes@ut.ac.id ABSTRAK Masyarakat madani merupakan sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang demokratis, pluralistis,transparan dan partisipatif dimana peran infrastruktur dan suprastruktur berada dalam keseimbangan yang dinamis. Berbagai perubahan–perubahan sosialpolitik yang cukup signifikan terjadi oleh sementara orang dipandang sebagai pendorong proses demokratisasi dan perkembangan masyarakat madani namun, sebagian pendapat mengatakan prospek masyarakat madani dalam tahun-tahun mendatang kelihatannya belum serba pasti . Ada perkembangan tertentu yang menggembirakan kondusif , dan mendukung bagi pencipta masyarakat madani, tetapi pada saat yang sama ada juga perkembangan dan indikasi tertentu (social confliet) yang kurang menggembirakan yang pada gilirannya dapat menjadi Constraints bagi perkembangan masyarakat madani. Mewujudkan masyarakat madani merupakan suatu upaya mengangkat harkat dan martabat manusia pada posisi yang sebenarnya. Banyak tantangan yang harus dihadapi terutama dalam memberdayakan potensi yang ada pada diri manusia itu. Terutama, pada akhir-akhir ini ada indikasi negara sedang dihadapkan pada situasi krisis. Situasi ini terjadi karena melunturnya kohesivitas faksi-faksi elite dan krisis keuangan, yang tampaknya makin parah. Dalam situasi krisis ini, negara dipaksa untuk memberikan ruang gerak yang makin besar pada kelompokkelompok kritis masyarakat. Bukan saja karena adanya desakan internal dan eksternal, dalam makalah ini akan dibahas bagaimana strategi pemberdayaan yang tepat bagi perluasan kekuatan masyarakat madani di Indonesia. Kata kunci : strategi pemberdayaan, demokrasi, dan masyarakat madani

254

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan muncul, seperti demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang menjadikan manusia sebagai subjek. Pengembangan masyarakat sebagai sebuah kajian keilmuan dapat menyentuh keberadaan manusia yang berperadaban. Pengembangan masyarakat merupakan sebuah proses yang dapat merubah watak, sikap dan prilaku masyarakat ke arah pembangunan yang dicita-citakan. Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan yaitu terwujudnya masyarakat madani. Munculnya istilah masyarakat madani pada era reformasi ini, tidak terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama ini. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Pemerintah atau penguasa belum banyak memberi kesempatan bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal. Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan semua potensi sumber daya manusia mendapat kesempatan berkembang dan dikembangkan. Mewujudkan masyarakat madani banyak tantangan yang harus dilalui. Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat dalam mengangkat martabat manusia menuju masyarakat madani itu sendiri. ( M. Mawardi, 2008). Upaya untuk mengaktualisasikan demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia melalui pendidikan kelihatannya masih harus menempuh jalan panjang. Pendidikan haruslah melakukan reorientasi dan berusaha menerapkan paradigma baru pendidikan nasional, yang tujuan akhirnya adalah pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis dan berpegang teguh pada nilai – nilai civilitty (Keadaan). Apabila ingin membangun suatu tatanan masyarakat yang demokratis

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

255

maka setiap warga negara haruslah melalui karakter atau jiwa yang demokratis pula. Sebagai warga negara yang demokratis, hendaknya memiliki rasa hormat terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya Pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan, agama, dan ideologi politik. Selain itu, sebagai warga negara yang demokrat, seorang warga negara juga dituntut untuk turut bertanggungjawab menjaga keharmonisan hubungan antar etnis serta keteraturan dan keertiban negara yang berdiri diatas pluralitas tersebut. Setiap warga negara yang demokrat harus bersikap kritis terhadap kenyataan membuka diskusi dan dialog, bersikap terbuka, rasional, adil dan jujur. Dalam paham civil society, rakyat bukanlah subordinat negara melainkan partner yang setara masyarakat mempunyai peranan yang dalam segala hal.

MAKNA MASYARAKAT MADANI Menurut Azyumardi, bahwa kemungkinan akan adanya kekuatan civil sebagai bagian dari komunitas bangsa ini akan mengantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang yakni masyarakat madani. Merupakan wacana yang telah mengalami proses yang panjang. Ia muncul bersamaan dengan proses modernisasi, terutama pada saat terjadinya masa transformasi dari masyarakat feodal manuju masyarakat barat modern yang lebih terkenal lagi dengan civil society. Dalam mendefinisikan tema masyarakat madani sangat bergantung pada kondisi social cultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat madani merupakan bangunan tema terakhir dari sejarah bangsa Eropa Barat.Sebagai titik tolak, disini dikemukakan beberapa definisi masyarakat madani: a. Definisi yang dikemukakan oleh Zbigniew Rew dangan latar belakang kajiannya pada kawasan Eropa Timur dan Uni Sovyet. Ia mengatakan bahwa yang di maksud masyarakat madani merupakan suatu yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung bersaing satu sama lain guna mencapai nilainilai yang mereka yakini. Maka yang dimaksud dengan

256

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

masyarakat madani adalah sebuah ruang yang bebas dari pengaruh keluarga dan kekuasaan Negara. b. Han-Sung-Joo mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu. Perkumpulan suka rela yang terbatas dari Negara suatu ruang publik yang mampu mengartikulasi isu-isu politik. Gerakan warga Negara yang mampu mengendalikan diri dan indenpenden, yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi indentitas dan solidaritas yang terbentuk pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam civil society. Kim Sun Hyuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam msyarakat yang secara relatif. Secara global dari ketiga batasan di atas dapat ditarik benang emas, bahwa yang dimaksud dengan masyrakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri dihadapan penguasa dan Negara, yang memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, adanya lembagalembaga yang mandiri yang dapat mengeluarkan aspirasi dan kepentingan publik (Azyumardi, 2000).

c.

CIRI-CIRI MASYARAKAT MADANI Dalam makalah ini penulis mengacu pada pendapatnya Cicero, yaitu istilah masyarakat madani dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah civil society dalam filsafat politiknya dengan istilah societies 1 civilis yang identik dengan negara. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, maka warga negara Indonesia perlu
1

Dalam perkembangannya istilah civil society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang terutama bercirikan kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara serta keterikatan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi masyarakat. Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religius.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

257

dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtak, kritis argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat Bhinneka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujuradil, menyikapi mass media secara kritis dan objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara profesionalis,berani dan mampu menjadi saksi, memiliki pengertian kesejagatan, mampu dan mau silih asahasih-asuh antara sejawat, memahami daerah Indonesia saat ini, mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang dan sebagainya. Karakteristik masyarakat madani adalah sebagai berikut : 1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada publik. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku demokratis kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang lain. Demokratisasi dapat terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi yang meliputi : a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) b. Pers yang bebas c. Supremasi hokum d. Perguruan Tinggi e. Partai politik 3. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandanganpandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang/kelompok lain.

2.

258

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

4.

Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian yang proporsiaonal antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benarbenar bersih dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggungjawab. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

5.

6.

7.

Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang terbatas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi

Oleh karena itu dalam menghadapi perkembangan dan perubahan jaman, pemberdayaan civil society perlu ditekankan, antara lain melalui peranannya sebagai berikut :

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

259

1. 2.

Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan Sebagai advokasi bagi masyarakt yang “teraniaya”, tidak berdaya membela hak-hak dan kepentingan mereka (masyarakat yang terkena pengangguran, kelompok buruh yang digaji atau di PHK secara sepihak dan lain-lain) Sebagai kontrol terhadap negara Menjadi kelompok kepentingan (interest group) atau kelompok penekan (pressure group) Masyarakat madani pada dasarnya merupakan suatu ruang yang terletak antara negara di satu pihak dan masyarakat di pihak lain. Dalam ruang lingkup tersebut terdapat sosialisasi warga masyarakat yang bersifat sukarela dan terbangun dari sebuah jaringan hubungan di antara assosiasi tersebut, misalnya berupa perjanjian, koperasi, kalangan bisnis ( M. Mawardi, 2008)

3. 4. 5.

MASYARAKAT MADANI DAN DEMOKRASI Nurcholis mengatakan bahwa tantangan masa depan demokrasi di negera Indonesia ini adalah bagaimana mendorong berlangsungnya proses – proses yang diperlukan untuk mewujudkan nilai – nilai madani. Mewujudkan beberapa titik penting pandangan demokratis yang harus menjadi pandangan hidup bagi masyarakat yang ingin mewujudkan cita – cita demokrasi dalam wadah yang disebut masyarakat madani, civil society. meliputi :

1. 2. 3. 4.

Pentingnya Kesadaran kemajuan atau pluralisme Berpegang teguh pada prinsip musawarah. Menghindari bentuk – bentuk monolitisme dan absolutisme kekuasaan. Cara harus sesuai dengan tujuan sebagai lewan dan tujuan mengahalalkan segala cara.

260

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

5. 6. 7. 8. 9.

Meyakini dengan tulus bahwa kemufakatan merupakan hasil akhir musyawarah. Memiliki perencanaan yang matang dalam memenuhi basic needs yang sesuai dengan cara – cara demokratis. Kerjasama dan sikap antar warga masyarakat yang saling mempercayai iikad baik masing – masing. Pendidikan demokrasi yang lived ini dalam sistem pendidikan.. Demokrasi merupakan proses trial and error yang akan menghantarkanh pada kedewasaan dan kematangan.

Dengan demikian, untuk menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara menuju peradaban baru Indonesia, negeri adil terbuka, maka demokrasi tersebut harus dibangun dengan seefektif mungkin. Dalam masyarakat madani, warga negara bekerja sama membangun ikatan sosial, jaringan produkstif dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat non-gover mental untuk mencapai kebaikan bersama (public good) karena pada indepensinya terhadap negara. Dari sinilah kemudian masyarakat madani dipahami sebagai akar dan awal keterkaitannya dengan demokrasi dan demokratisasi masyarakat madani juga dipahami sebagai sebuah tatanan kehidupan yang menginginkan kesejahteraan hubungan antara warga negara dengan negara atas prinsip saling menghormati. Masyarakat madani berkeinginan membangun hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif antara warga negara dan negara. Hubungan antara 2 masyarakat madani dengan demokrasi. ( Nurcholis Majid, 2008) Menyikapi keterkaitan masyarakat madani dengan demokratisasi ini, Larry Diamond dalam Siti Halimah, secara sistematis menyebutkan ada 6 ( enam ) konstitusi masyarakat madani terhadap proses demokrasi. Pertama, ia menyediakan wacana sumber daya politik,
2

Menurut Dawam Bagaikan dua sisi mata uang, keduanya bersifat ko – eksistensi. Hanya dalam masyarakat madani yang kuatlah demokrasi dapat ditegakkan dengan baik dan hanya dalam suasana – suasana demokratislah civil society dapat berkembang dengan wajar.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

261

ekonomi, kebudayaan dan moral untuk mengawasi dan menjaga keseimbangan pejabat negara. Kedua, Pluralisme dalam masyrakat madani, bila di organisir akan menjadi dasar yang penting bagi persaingan demokratis. Ketiga, memperkaya partisipasi politik dan meningkatkan kesadaran kewarganegaraan. Keempat, ikut menjaga stabilitas negara. Kelima, tempat menggembleng pimpinan politik. Keenam, menghalangi dominasi rezim. Dalam masyarakat madani terdapat nilai – nilai yang universal tentang pluralisme yang kemudian menghilangkan segala bentuk kecendrungan partikularisme dan sektrarianisme. Hal ini dalam proses demokrasi menjadi elemen yang sangat signifikan yang mana masing – masing individu, etnis dan golongan mampu mengahrgai kebhinekaan dan menghormati setiap kebutuhan yang diambil satu golongan atau individu. Selain itu, sebagai bagian dari strategi demokratisasi , masyarakat madani memiliki perspektif sendiri dalam perjuangan demokrasi dan memiliki spekttrum yang luas dan berjangka panjang. Dalam perspektif masyarakat madani demokratisasi tidak hanya dimaknai sebagai posisi diametral dan antitesa negara, melainkan bergantung pada situasi dan kondisinya. Ada saatnya demokratisasi melalui masyarakat madani harus garang dan keras terhadap pemerintah, namun ada saatnya juga masyarakat madani juga harus ramah dan lunak. (Siti Halimah, 2007) Sedangkan Menurut pandangan Djamaludin Ancok, bahwa masyarakat madani dan demokratis memiliki ciri sebagai berikut: Masyarakat yang bebas dari penindasan (opresi). Banyak penindasan yang dilakukan di dalam masyarakat Antara lain adalah penindasan para penguasa pada rakyatnya, penindasan oleh pemilik modal pada mereka yang tidak bermodal, penindasan oleh negara berkuasa pada negara yang lemah, penindasan oleh mereka yang mempunyai pengetahuan pada mereka yang tidak mempunyai pengetahuan. Masyarakat yang bebas dari rasa takut. Kebebasan akan rasa takut tersebut meliputi bebas dari rasa takut akan diculik dihukum, atau dihabiskan nyawanya oleh oknum negara dikarenakan oleh perbedaan pendapat dengan pihak penguasa. Bebas dari rasa takut

262

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

akan teror yang ditebarkan oleh pihak lain pada anggota masyarakat yang dianggap berbeda pandangan politik, kepercayaan dan agama. Bebas dari rasa takut akan ancaman dari suku, agama atau kelompok lain yang berbeda. Pada era orde baru ketakutan akan dipenjara, diculik dan dihilangkan sangat besar. Beberapa aktivis mahasiswa telah menjadi korban penculikan, bahkan sebagian dari mereka tidak diketahui di mana keberadaanya. Banyak ilmuwan yang tidak berani mengeritik pandangan pemerintah karena takut dituduh melakukan tindakan subversif. Beberapa mahasiswa dan aktivitis diculik karena dianggap membahayakan kepentingan penguasa. Bebas dari perlakuan diskriminatif di muka hukum maupun hakhak pribadi. Pada negara yang multi kultur, multi agama, dan multi golongan seringkali terjadi perilaku yang mendiskriminasi suatu golongan. Sebagai contoh di Indonesia warga keturunan diwajibkan untuk memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, walaupun mereka sudah turun temurun lahir di Indonesia. Pernah juga terjadi diskriminasi terhadap pemeluk agama tertentu untuk melakukan ibadah sesuai dengan kemauan mereka. Berlakunya UU. no 22, tahun 1999 tentang Otonomi Daerah terasa mulai ada pengaruhnya terhadap diskriminasi suku. Pengutamaan putra daerah dalam jabatan pemerintah ataupun peluang ekonomi adalah salah satu bentuk diskriminasi atas orang dari suku luar. Suatu negara demokratis tidak mendiskriminasikan warganya untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, politik, dan agama. Selain itu tidak ada diskriminasi dalam pemberian kesempatan untuk bekerja, memperoleh pendidikan. Diskriminasi adalah sebuah tindakan tidak adil yang akan membuat orang merasa tidak memiliki negara ini. Bila perasaan diperlakukan tidak adil ini dipelihara terus maka jangan diharapkan masyarakat yang terdiskriminasi akan terlibat dalam pembangunan. Masyarakat yang transparan dalam proses berbangsa dan bernegara. Masyarakat berhak mengetahui kegiatan pemerintah, penganggaran, dan kemana dana dihabiskan. Masyarakat harus diberi tahu secara transparan atas segala penyelewengan yang dilakukan oleh pejabat negara. Dalam sejarah Indonesia seteah merdeka kasus korupsi tidak pernah dibuka pada masyarakat secara transparan. Temuan-temuan BPK, BPKP hanya disimpan dan tidak

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

263

ditindak lanjuti secara hukum. Kalau sekiranya dibuka pada publik, masyarakat bisa melakukan upaya tuntutan hukum. Upaya untuk menutupi kasus korupsi ini disertai dengan penekanan pada lembaga press melalui pemberangusan. Dalam suatu masyarakat madani tidak ada pemberangusan terhadap press. Press menjadi alat kontrol karena diberikan kebebasan untuk membuka informasi secara transparan pada masyarakat. Selama informasi yang disampaikan adalah benar (tentu saja dengan pertimbangan keselamatan rakyat, bukan pejabat) maka tidak ada pelarangan pemberian informasi pada rakyat oleh press.Pada era orde baru melalui Departemen Penerangan banyak koran dan majalah yang dilarang terbit karena menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan selera penguasa.. Pemerintah yang bermitra dengan masyarakat. Kegairahan anggota masyarakat di dalam kegiatan pembangunan yang konstruktif ditentukan oleh sejauh mana mereka diajak berpartisipasi sebagai mitra, sejak perencanaan pembangunan sampai pada pelaksanaan serta evaluasi hasilnya. Giddens ( 1998) melihat kemitraan antara masyarakat dan pemerintah ini adalah salah satu ciri dari masyarakat madani. Pandangan seperti ini amat ditekankan pula oleh penulis buku Reinventing Government (Osborne & Gaebler, 1992) yang menuntut agar pemerintah memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pembangunan, pemerintah hanya mengarahkan masyarakat bukan menggiring masyarakat atas kemauan pemerintah, dan pemerintah memberi wewenang kepada masyarakat bukannya memberikan segala atas kemauan pemerintah.Pada rezim orde baru pembangunan selalu dikuasai oleh Pemerintah. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat diatur oleh negara. Masyarakat diletakkan dalam posisi yang sangat lemah. Pemerintah melalui proyek Bantuan Presiden dan berbagai program lainnya seakan-akan menjadi sinter klas yang memberikan segalanya kepada rakyat. Pembangunan sangat sentralistik, yang semuanya diatur dari Pusat. Pendekatan pembangunan seperti ini didasari oleh asumsi bahwa masyarakat itu bodoh dan tidak kreatif. Banyak pranata sosial tradisional yang justru sangat efektif di dalam mengatasi kesulitan bersama dihancurkan oleh pendekatan pranata yang baru melalui kegiatan PKK atau P2KSS. Lembaga tradisional yang dibangun masyarakat seperti lumbung paceklik, perkumpulan kematian, perkumpulan yasinan

264

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

(baca Al-Quran), perkumpulan distribusi air pengairan, banyak yang menjadi hilang. Masyarakat madani adalah masyarakat yang membangun kepedulian (caring). Kepedulian (caring ) adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh siapa saja. Kepedulian ini dinyatakan pada kepedulian atas sesama, kepedulian si kaya pada si miskin, kepedulian mereka yang memiliki kesempatan pada kekuasaan atas mereka yang tidak memilikinya, kepedulian pada kelestarian lingkungan, dan kepedulian pada aturan norma hidup bermasyarakat (ethics). Tujuan membangun sebuah komunitas (termasuk negara) adalah untuk mensejahterakan setiap anggota komunitas tersebut. Program sosial yang berasal dari masyarakat untuk masyarakat seperti community development (pegembangan masyarakat) yang disponsori oleh kalangan industri adalah contoh dari kepedulian tersebut. Selain itu membangun institusi bisnis yang berdasarkan etika bisnis adalah salah satu wujud dari kepedulian. Kepedulian para pengusaha menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan sistim kapitalis akan membuat orang menjadi serakah dan hanya menjadi binatang ekonomi saja. Kritik tajam atas sistim kapitalis yang tidak memiliki kepedulian ini dengan gamblang disampaikan oleh banyak pakar. Sistim kapitalis telah membuat orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin, dan membuat kerusakan lingkungan yang sangat besar. Adalah tidak adil kalau pihak korporasi menjadikaya raya dengan melakukan kerusakan lingkungan dan pemiskinan pada masyarakat. (Djamaludin Ancok, 2007)

CARA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MADANI Dalam pemberdayaan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang demokratis dalam kerangka masyarakat madani, ada beberapa strategi pemberdayaannya. Adapun strategi pemberdayaan masyarakat madani di Indonesia, menurut Dawam ada tiga strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat madani di Indonesia, antara lain :

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

265

a.

Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stabilitas politik sebagai landasan pembangunan, karena Pembangunan-lebih terbuka terhadap perekonomian global – membutuhkan resiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari pada demokrasi. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu rampungnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal dan secara bersama-sama diperlukan proses demokratisasi yang pada essensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka kelembagaan ini diciptakan, maka akan dengan sendirinya timbul masyarakat madani yang mampu mengontrol negara. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat kearah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dari strategi pertama dan kedua. Dengan begitu strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik, terutama pada golongan menengah yang semakin luas. (Dawam, 1999)

b.

c.

Ketiga model strategi pemberdayaan masyarakat madani tersebut dipertegas oleh Hikam bahwa di era transisi ini harus dipikirkan prioritas-prioritas pemberdayaan dengan cara memahami targettarget group yang paling strategis serta penciptaan pendekatanpendekatan yang tepat di dalam proses tersebut. Untuk keperluan itu, maka keterlibatan kaum cendikia, LSM, ormas dan keagamaan dan mahasiswa, mutlak adanya. Lebih tegasnya sebagaimana tertera dalam strategi menurut Hikam dibawah ini:

266

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

a.

Pemetaan atau identifikasi permasalahan dasar menyangkut perkembangan masyarakat madani, khususnya kelompokkelompok strategis di dalamnya harus mendapat prioritas. Pada tahap ini diupayakan penelitian atau pengkajian yang mendalam baik secara umum maupun khusus terhadap potensi-potensi yang ada dalam masyarakat untuk menumbuh-kembangkan masyarakat madani. Umpamanya pemetaan terhadap segmensegmen kelas menengah yang diangap dapat menjadi basis bagi tumbuhnya masyarakat madani berikut organisasi di dalamnya. Kajian dan penelitian semacam ini sangat penting agar kita dapat dengan segera melakkan proses recovery dan penataan kembali setelah munculnya kesempatan karena jatuhnya rezim otoriter. Menggerakkan potensi-poensi yang telah ditemukan tersebut sesuai dengan bidang-bidang atau garapan masing-masing. Misalnya bagaimana menggerakkan komunitas pesantren di wilayah-wilayah pedesaan agar mereka ikut memperkuat basis ekonomi dan social lapisan bawah. Dalam tahapan ini, jelas harus terjadi reorientasi dalam model pembangunan sehingga proses penggerakan sumber daya di lapisan bawah tidak lagi berupa eksploitasi karena pola top-down. Justeru dalam tahapan ini sekaligus diusahakan untuk menghidupkan dan mengaktifkan keswadayaan masyarakat yang selama ini terbungkam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan parsipatoris karena. Pada tingkat kelas menengah, tahapan kedua ini diarahkan kepada penumbuhan kembali jika entrepreneur yang sejati sehingga akan muncul sebuah kelas menengah yang mandiri dan tangguh. Potensi demikian sudah cukup besar dengan semakin bertambah banyaknya generasi muda yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman dalam bisnis yang berlingkup global. Para professional muda ini, menurut pengamatan akan menjadi tulang punggung utama kelas menengah baru yang memiliki kepedulian besar terhadap kemandirian dan pemberdayan. Hal ini terbukti antara lain dengan munculnya kelompok solidaritas profesional muda yang mendukung gerakan reformasi. Mereka menuntut transparansi dan kemandirian dalam dunia bisnis di samping menunjukkan kepedulian terhadap nasib rakyat jelata di lapisan bawah. Hal

b.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

267

yang sama berlaku juga bagi organisasi kemasyarakatan yang telah berjasa menjadi saluran aspirasi masyarakat selama ini, seperti organisasi-organisasi social keagamaan dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Pengembangan kelompok ini sangat penting artinya karena merekalah yang biasanya berada di garis depan dalam membela nasib kaum tertindas. Melalui aktivitasaktivitas mereka, misalnya, permasalahan sosial seperti kemiskinan. Kelompok inilah yang menyuarakan aspirasi masyarakat tertindas baik secara langsung kepada pemerintah ataupun kepada publik secara keseluruhan. Pihak lain yang penting untuk dilibatkan pada tahapan ini adalah media massa yang berperan sebagai wilayah publik bebas yang menjadi tempat transaksi wacana publik. Media massa yang tidak terkontrol secara ketat dan selalu dalam ancaman pemberangusan oleh negara merupakan instrumen bagi proses pengembangan masyarakat madani. Sebab disana dimungkinkan penyaluran aspirasi dan pembentukan opini mengenai permasalahan yang berkaitan dengan kepentingankepentingan publik, di samping sebagai alat kontrol terhadap kekuasaan negara. Dengan tumbuhnya media massa yang memiliki kebebasan cukup luas, maka kehidupan publik akan senantiasa mengalami penyegaran dan masyarakat pun memiliki ruang untuk mengutarakan aspirasinya. Tentu saja, media massa juga memerlukan pengawasan dari publik sehingga ia tidak menjadi alat manipulasi kepentingan si pemilik, baik bagi penyebaran gagasan-gagasan dan informasi tertentu maupun sebagai bagian dari bisnis. Media massa yang tidak terkontrol sama sekali justru akan memiliki kemampuan agenda setting yang sangat kuat sehinga bias mendistorsi kehidupan politik. c. Dalam upaya pengembangan jangka panjang adalah mengupayakan agar seluruh elemen masyarakat madani memiliki kapasitas kemandirian yang tinggi sehingga secara bersamaan dapat mempertahankan kehidupan demokrasi. Dalam kaitan ini, agaknya kita perlu merenungkan kesimpulan John Keane dalam Democracy and Civil Society(1988) dikutip oleh Azyumardi Azra. bahwa ; Demokrasi bukanlah musuh bebuyutan ataupun teman kental kekuasaan negara. Demokrasi

268

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

menghendaki pemerintah untuk memerintah masyarakat sipil secara tidak berlebihan ataupun terlalu sedikit. Sementara itu, tatanan yang lebih demokratis tidak bias dibangun melalui kekuasaan negara, dan juga tidak bisa diciptakan tanpa kekuasaan negara. Masyarakat madani yang seperti ini dapat menjadi sumber input bagi masyarakat politik, seperti orsospol, birokrasi, dan sebagainya dalam pengambilan setiap keputusan publik. Pada saat yang sama, political society juga dapat melakukan rekruitmen politik dari kelompok-kelompok dalam masarakat madani sehingga kualitas para politisi dan elite politik akan sangat tinggi. Hubungan antara masyarakat madani dan political society, dengan demikian adalah simbiosis mutualisme dan satu sama lain saling memperkuat bukan menegaskan. Tentu saja diperlukan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan hubungan semacam ini, karena situasi ini mengadaikan telah terjadinya kesinambungan antara Negara dan rakyat. Proses pengembangan masyarakat madani akan tergantung kesuksesannya kepada sejauhmana format politik pasca reformasi dibuat. Jika format tersebut hanya mengulangi yang lama, kendati dengan ornamen-ornamen berbeda, maka pengembangan masyarakat madani juga hanya berupa anganangan belaka. Sayangnya, justru prospek inilah yang tampaknya sedang si atas angin. Kemungkinan terjadinya pemulihan dan konsolidasu rezim lama masih cukup besar menyusul menguatnya pemerintah transisi. (Hikam , 1999)

Adapun nilai – nilai dasar masyarakat madani antara lain adalah kebutuhan, kemerdekaan, hak asasi dan martabat manusia, kebangsaan, demokrasi, kemajemukan, kebersamaan, persatuan dan kesatuan, kesejahteraan, keadilan dan supermasi hukum, dan sebagainya. Dalam rangka memberdayakan masyarakat untuk memikul tanggung jawab pembangunan, peran pemerintah dapat ditingkatkan antara melalui : 1. Pengurangan hambatan dan landasan kreatifikasi dan partisipasi masyarakat. – landasan bagi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

269

2. 3.

Perluasan akses, pelayanan untuk menunjang berbagai kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Penghargaan program untuk lebih meningkatkan kemampuan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat berperan aktif dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumber daya produktif yang tersedia sehingga memiliki nilai tambah tinggi, guna meningkatkan kesejahteraan mereka. ( Siti Halimah, 2007)

SIMPULAN Upaya membangun kepercayaan sebagai modal untuk membangun negara yang penuh kedamaian harus dilakukan semua institusi yang ada, yakni keluarga, pendidikan, masyarakat dan negara. Untuk melakukan ini semua diperlukan adanya visi bersama. Visi adalah cita-cita bersama dalam membangun negara. Ingin melihat negara ini menjadi negara yang seperti apa, yang lebih baik dari kondisi sekarang ini. Visi ini harus disusun atas keinginan semua pihak bukan disusun dari atas untuk melayani kepentingan bersama. Visi yang merupakan milik bersama akan mudah untuk disosialisasikan. Tentu saja secara teknis tidaklah mudah untuk membangun visi bersama dengan melibatkan semua pihak. Namun dengan meminta masukan dan tanggapan atas visi yang disusun oleh sekelompok elit akan lebih memudahkan untuk membuat suatu visi dimiliki bersama. Upaya menyadarkan setiap insan bahwa keanekaragaman adalah sumber kekuatan di dalam membawa negara pada kemajuan harus dilakukan bersama dengan usaha yang tidak henti-hentinya. Hanya dengan kebersamaanlah semua keinginan akan menjadi kenyataan. Bila visi diturunkan dari atas tanpa melibatkan kebersamaan akan menghantarkan visi tersebut pada kegagalan.

DAFTAR PUSTAKA Azyumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta, Tim ICCE UIN, Jakarta, 2000. Azra Azyumardi. 2000. Menuju Masyarakat Madani (Gagasan, fakta, dan Tantangan). Remaja Rosdakarya. Bandung.

270

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Din Syamsuddin, 1999, Etika Agama dalam membangun Masyarakat Madani, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Hikam Muhammad, AS. 1999. Islam, Demokratisasi, Pemberdayaan Civil Society. Penerbit Erlangga, Jakarta. dan

Rahardjo,M. Dawam, 1996, Masyarakat Madani: Agama , Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta.:LP3ES, 1999.cet. ke.1. …………………...1996, Agama dan Masyarakat Madani, dalam Seri Dialog kebudayaan Penyuluhan Pembangunan PPS-IPB. 2001. Proseding Seminar “Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani. Bogor. Pustaka Wirausaha Muda Bogor Tim ICCE UIN Jakarta, 2003. Demokrasi, Masyarakat Madani. Yusuf, Y.1998. Azas-azas Teologi dan filosofis Masyarakat Madani, Makalah Seminar Pembanguan Akhlak Bangsa dalam Reformasi Menuju Masyarakat Madani, Padang : 28-29 November 1998 Siti Halimah, 2007, Membentuk Masyarakat Madani yang Demokratis, Harmonis, dan Partisipatif. Djamaludin Ancok, 2007, Membangun Kepercayaan Indonesia Madani, Demokratis, dan http;//ancok.staff.ugm.ac.id Menuju Damai,

M. Mawardi, J, 2008, Strategi Pemberdayaan Masyarakat Madani, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Volume 4, nomor 1, Juni 2008 Nurcholis Madjid, 2008, Cita – cita Politik Islam Era Reformasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

271

KEMATANGAN SOSIAL DAN MASYARAKAT MADANI Lilik Aslichati Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka lilik@ut.ac.id ABSTRAK Masyarakat madani pada dasarnya adalah sebuah komunitas sosial dengan fondasi dasarnya adalah keadilan dan kesetaraan. Bentuk masyarakat semacam ini diyakini mampu menumbuhkan masyarakat bangsa yang lebih baik, bermartabat, dan sejahtera. Karakteristik masyarakat madani adalah adanya: (a) demokratisasi, (b) partisipasi sosial, dan (c) supremasi hukum dalam masyarakat. Artinya, masyarakat atau warganegara harus kritis dan rasional dalam menyikapi penyelenggaraan pemerintahan, mampu berpartsipasi secara aktif dalam semua aspek pembangunan, dan ada pengaturan penyelenggaraan Negara yang peraturannya ditegakkan secara kuat dan tegas serta adil. Masyarakat madani akan terbentuk jika masyarakatnya secara mayoritas sudah memiliki kematangan sosial. Masyarakat yang matang adalah masyarakat yang mampu berpikir, bertindak, dan berperilaku sebagaimana laiknya orang dewasa. Kematangan sosial bukan sesuatu yang instan, melainkan terbentuk melalui suatu proses yang panjang. Agar terbentuk masyarakat madani yang benar-benar mampu mendukung naiknya martabat bangsa Indonesia, perlu ditumbuhkan kematangan sosial yang terencana, terprogram, dan sistematik sejak dini. Kata kunci : kematangan sosial, masyarakat madani

Perjalanan demokrasi di Indonesia terus dan sedang mencari bentuk terbaiknya. Selama pemerintahan orde baru kita merasakan demokrasi justru dijalankan dengan cara-cara yang anti demokrasi. Karakteristik adanya persaingan yang sehat dalam masa orde baru, tidak kita jumpai. Stabilitas dan keamanan atau istilah populernya ketika itu , aman terkendali, menjadi mantra untuk mengharamkan

272

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kontestasi politik. Jargon yang ditanamkan adalah politic no, economy yes. Pada era reformasi dengan model demokrasi langsung, memberikan angin segar munculnya persaingan politik. Walapun masih banyak fenomena kecurangan dalam setiap kontestasi, tetapi keran persaingan sudah terbuka. Terbukanya kontestasi ini memerlukan kematangan sosial, artinya secara emosional masyarakat harus dewasa. Masyarakat yang memiliki kematangan sosial akan mampu berpikir objektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab, serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang. Masyarakat semacam inilah yang akan menumbuhkan masyarakat madani yang kuat, yang mampu menjaga agar keran kontestasi sebagai bagian dari perjalanan demokrasi, tidak kebablasan.

MASYARAKAT MADANI Wacana publik tentang reformasi dan pengembangan budaya politik Indonesia umumnya bermuara pada gagasan tentang pembentukan masyarakat madani Indonesia. Akan tetapi harus diakui masih belum terdapat pemahaman yang sama di kalangan para ahli dan masyarakat Indonesia umumnya tentang apa sesungguhnya masyarakat madani tersebut. Sebagian besar ahli, bertitik tolak dari kerangka dan pengalaman Eropa Timur dan Amerika Latin, masih memandang "masyarakat madani" dalam posisi oposisional vis-a-vis negara, dan bahkan sebagai alternatif bagi Negara. Pengertian masyarakat madani sudah diperbincangkan sejak tahun 1990-an di kalangan kaum intelektual. Istilah masyarakat madani merupakan terjemahan dari istilah civil society, yang diartikan beragam, seperti “masyarakat sipil”,”masyarakat kewaganegaraan” dan “masyarakat warga”. Terjemahan “masyarakat sipil” digunakan sebagai lawan kata militer; terjemahan “masyarakat kewarganegaraan” pernah digunakan oleh Asosiasi Politik Indonesia (API) dalam seminar nasional di Kupang pada tahun 1995. Tetapi pada perkembangannya istilah-istilah itu kalah populer dengan istilah masyarakat madani.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

273

Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan “the sphere of voluntary activity which takes place outside of government and the market”, atau wilayah kegiatan yang dilakukan di luar wilayah pemerintah dan pasar. Ciri-ciri masyarakat madani adalah: 1. 2. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif ke dalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif. Dilengkapinya program-program pembangunan oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. Tumbuhkembangnya kreativitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter. Meluasnya loyalitas (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembagalembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif (Bahmueller, 1997).

3.

4.

5. 6.

7.

Dari beberapa ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya; dimana keadilan dan kesetaraan menjadi fondasinya. Meskipun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, tetapi terbentuk melalui suatu proses panjang dan perjuangan yang terus-menerus. Masyarakat madani tidak akan dapat melaksanakan fungsinya sebagai alat kontrol bagi negara untuk mempertanggungjawabkan kewajiban-kewajibannya kecuali ada

274

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

demokratisasi di dalam masyarakat itu sendiri. Menurut Suharto (2002) demokratisasi pada masyarakat madani pada dasarnya ada dua, yaitu democratic governance (pemerintahan yang dipilih dan berkuasa secara demokratis), dan democratic civilian (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai keamanan sipil, tanggungjawab sipil, dan ketahanan sipil). Menurut Chandoke (1995) demokratisasi merupakan karakter utama masyarakat madani, karena mekanisme demokrasilah yang mampu mengoreksi kecenderungan menyumbat masyarakat sipil oleh Negara. Untuk menumbuhkembangkan demokratisasi pada masyarakat madani, maka perlu ditumbuhkan partisipasi sosial yang benar-benar bersih dari rekayasa. Partisipasi yang bersih akan tumbuh bilamana terdapat iklim yang kondusif bagi terjaganya otonomi individu. Antitesa dari sebuah masyarakat madani adalah tirani yang memasung secara kultural maupun struktural kehidupan bangsa dengan menempatkan caracara manipulatif dan represif sebagai instrumentasi sosialnya. Akibatnya masyarakat pada umumnya tidak memiliki daya yang berarti untuk memulai sebuah perubahan, dan tidak ada tempat yang cukup luang untuk mengekpresikan partisipasinya dalam proses pembangunan. Tirani seperti inilah, berdasarkan catatan sejarah, secara permanen dihadapi oleh gerakan masyarakat sipil. Mereka senantiasa berusaha keras mempertahankan status quo tanpa mempedulikan rasa keadilan yang berkembang dalam masyarakat. Pada masa orde baru cara-cara mobilisasi sosial lebih banyak dipakai ketimbang partisipasi sosial, sehingga partisipasi masyarakat menjadi bagian yang hilang pada hampir seluruh proses pembangunan yang terjadi. Demokrasi tanpa adanya partisipasi social akan menjadi demokrasi pura-pura atau demokrasi semu. Hal lain yang tidak boleh dihindari adalah adanya supremasi hukum, karena hanya dengan kuatnya penegakan hukum sajalah keadilan dapat dijamin. Dengan demikian keadilan harus ditegakkan secara netral, dalam arti tidak boleh ada pengecualian dalam penegakan hukum. Apabila diurai, ketiga kriteria tersebut (demokratisasi, partisipasi social, dan penegakan hukum) menjadi tujuh prasyarat masyarakat madani sbb: 1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

275

2.

Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinnya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan. Adanya kohesivitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.

3.

4.

5.

6.

Ketujuh prasarat masyarakat madani tersebut akan tercapai jika para anggota masyarakat memiliki kematangan social (social maturity), karena masyarakat yang memiliki kematangan sosial akan mampu berpikir objektif, positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab, dan mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang. Anggota masyarakat yang matang lah yang mampu membuat masyarakat madani kuat.

KEMATANGAN SOSIAL (SOCIAL MATURITY) Teori kematangan sosial atau kadang juga disebut dengan kematangan emosional, pertama kali dicetuskan oleh Robert Kegan (1982) seorang psikolog Harvard melalui bukunya “The Evolving Self”, yang pada intinya menyatakan bahwa: 1. Kematangan sosial berkembang secara bertahap – sebagaimana halnya dengan kematangan kognitif – dimulai dari pemahaman

276

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

2.

3.

4.

5.

6.

sosial yang sederhana sampai dengan pemahaman sosial yang kompleks. Apresiasi lingkungan sosial dan emosi manusia sesungguhnya tidak cukup akurat untuk mengukur kompleksitas lingkungan sosial, tetapi mereka tetap merupakan representasi terbaik dari apa yang dapat dilakukan masyarakat pada waktu tertentu. Kemampuan untuk merasakan atau memahami apresiasi lingkungan sosial yang lebih kompleks akan berkembang seiring kematangan sosial. Jadi mula-mula seseorang hanya mampu memahami apresiasi lingkungan hanya dari sisi subjektif, kemudian secara bertahap menjadi mampu memahaminya dari perspektif yang berbeda-beda. Tahapan baru dari perkembangan sosial/emosional seseorang muncul ketika akhirnya mereka mampu melihat dirinya dalam perspektif sosial yang lebih besar dan luas dan mampu memahami segala sesuatu secara lebih objektif. Secara progresif tahapan ini semakin berkembang seiring kematangan diri, di mana subjektivitas makin berkurang dan tumbuh kemampuan menghargai orang lain dan masyarakat yang lebih luas. Secara teoretik tahapan ini berakhir seiring dengan kemampuan memahami sesuatu yang objektif secara objektif. Atau dengan kata lain ketika tingkat kematangan sosialnya sudah sama dengan kematangan sosial sebagian besar warga masyarakat lingkungannya.

TAHAPAN KEMATANGAN SOSIAL Kegan membagi tahapan perkembangan kematangan sosial dalam 5 tahap, yaitu: incorporative, impulsive, imperial, interpersonal, dan institutional. di mana bayi sudah mulai berlatih menggunakan reflex dan inderanya untuk mengenali bahwa di dunia ini ada hal-hal lain yang bukan dirinya. Fase incorporative. Pada awalnya, semua bayi sepenuhnya subjektif, mereka tidak tahu sama sekali cara menginterpretasi segala sesuatu. Mereka hanya bisa mengenali wajah orang tua dan orang-orang lain yang terdekat.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

277

Fase impulsive. Pada fase ini bayi sudah mulai berlatih menggunakan reflex dan inderanya untuk mengenali bahwa di dunia ini ada hal-hal lain yang bukan dirinya. Fase imperial. Pada fase ini anak menjadi “raja kecil” yang menuntut semua orang memenuhi semua kebutuhannya, karena yang ada pada kesadaran dirinya hanya dia yang memiliki kebutuhan. Anak tidak paham bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang mungkin sama. Fase interpersonal. Pada fase ini anak mulai memahami bahwa ada kebutuhan orang lain di luar sana yang juga harus dihormati dan dipenuhi. Anak juga sudah mampu melakukan koordinasi, integrasi, dan kerjasama dengan orang-orang lain untuk saling memenuhi kebutuhannya. Fase institusional. Pada fase ini anak sudah memiliki gagasan, prinsip, nilai, dan mampu membuat skala prioritas dalam memenuhi kebutuhannya. Nilai-nilai keberanian, kejujuran, empati, simpati, dan semacamnya sudah tumbuh kuat pada masa ini. Pada fase ini anak sudah mampu menempatkan dirinya diantara pergaulan keluarga, masyarakat sekitar, dan masyarakat yang lebih luas. Jika fase-fase itu berjalan dengan mulus, maka dapat diharapkan anak akan tumbuh menjadi pribadi atau orang dewasa yang matang secara emosional atau sosial. Pribadi-pribadi semacam inilah yang mesti ditumbuhkan agar masyarakat madani yang sehat dan kuat dapat terbentuk. Kematangan sosial bisa terkikis dan menular. Bagi kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian memasuki jenjang perkawinan, punya penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua. Namun, terutama dalam situasi menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat menyadari ataupun menyaksikan bahwa respons individu sering menunjukkan ketidakdewasaan. Seorang atasan bisa saja “mengecilkan” harga diri bawahannya sedemikian rupa, sehingga setiap individu yang menyaksikan kejadian tersebut bisa melihat bahwa sang atasan-lah yang tidak bijaksana. Seorang professional pun bisa tidak mengakui kesalahan yang dibuat, bahkan menuding

278

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

orang lain yang perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Bila dibahas lebih dalam lagi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri. Kenyataan yang perlu kita perhatikan adalah bahwa kematangan tidak diturunkan, bukan bawaan sejak lahir, tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih. Selain itu kematangan atau ketidakmatangan juga bisa terkikis dan menular. Bayangkan betapa menyedihkannya bila menyaksikan seorang yang sudah berangkat matang, kemudian merosot karena berada di lingkungan yang bobrok. Seorang ahli psikologi sosial bahkan menuliskan bahwa kematangan atau ketidakmatangan bisa merupakan ciri sekelompok orang, misalnya kelompok orang yang terlalu fanatik sehingga mempunyai keyakinankeyakinan yang tidak objektif lagi ataupun kelompok orang yang mempunyai norma yang jelas-jelas sudah tidak diterima masyarakat tetapi tetap membenarkannya, atau sekelompok orang yang maunya selalu mendesakkan keinginannya tanpa mau tahu dengan kepentingan kelompok masyarakat lainnya. Bahkan pemimpin atau penyelenggara negara juga bisa secara tidak matang menentukan arah politiknya, sehingga mengakibatkan penderitaan jutaan rakyat. Bagaimana cara menumbuhkan kematangan diri dan kematangan sosial? Eileen Rahman dan Sylviana Savitri, psikolog dari lembaga konsultansi pengembangan sumberdaya manusia Experd memberikan beberapa tip untuk menumbuhkembangkan kematangan, antara lain: 1. Pertajam Kesadaran

Seorang teman saya, membutuhkan waktu sangat panjang untuk meninggalkan pekerjaannya yang sangat nyaman namun tidak memancing tanggungjawab, bahkan memperlakukannya sebagai robot. Pekerjaannya demikian bertumpuk, sehingga selama lebih dari 5 tahun, ia tidak punya kesempatan menampilkan kemampuannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Ketika ia memberanikan dirinya untuk meninggalkan pekerjaan tersebut, ia merasakan banyak kekurangan dirinya, baik dalam ketrampilan teknis

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

279

dan juga hubungan interpersonal. ”Saya merasa dibutakan dalam lingkungan yang nyaman. Saya merasa ketinggalan” katanya. Untung saja teman kita ini masih mempunyai kemampuan untuk menyadari kekurangan dan mempunyai hasrat untuk mengembangkan diri. Hal yang sering terjadi adalah bahwa kenyamanan lingkungan kerja dapat menyebabkan orang tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecutnya, bahkan mengembangkan imaturitasnya sampai tua. Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau katahatinya, sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang ”dibutakan” dari realitas. 2. Perkuat Sifat Ksatria

Tindakan ”hara-kiri” (bunuh diri demi kehormatan) memang sudah tidak banyak terjadi di Jepang, negara di mana kebiasaan itu dilakukan oleh para Samurai di jamannya. Di jaman modern ini, mungkin budaya seperti itu tampil dalam bentuk budaya ”shame and guilt” alias malu, seperti.tindakan mengundurkan diri pejabat yang bertanggung jawab terhadap kejadian yang merugikan atau mencelakakan orang lain atau negara, sekedar untuk membuktikan sikap ksatrianya . Seorang ”guru” mengatakan”Maturity is humility. It is being big enough to say, ‘I was wrong’. And, when right, the mature person need not experience the satisfaction of saying, "I told you so." Berbeda dengan prestasi, individu memang tidak bisa ”pamer kematangan” dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan yang teruji. Sikap obyektif, positif, bertanggungjawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati. Bila seorang pimpinan ingin bersikap bijaksana, adil dan ”fair”, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati dan tidak menyatakan keras-keras,”Saya mengambil keputusan yang bijaksana, loh”. Kita, bangsa Indonesia, memang pintar-pintar, tinggal pe-er di depan mata adalah menjadi bangsa yang matang. (Eileen Rahman, KOMPAS, 10 Mei 2008)

280

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

DAFTAR PUSTAKA Blakeley, Roger and Suggate, Diana (1997). Development”, dalam Robinson,David (ed). “Public Policy

1997. Social Capital and Policy Development. Wellington: Victoria University, Institute of Policy Studies. Bahmueller, CF (1997), The Role of Civil society in the Promotion and Maintenance of Constitutional Liberal Democracy, http:civnet.org/civitas/panam/papers/ bahm.htm, diunduh pada tanggal 16 Juni 2011. Chandoke, Neera. 1995. Benturan Negara dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta: Wacana Kegan, Robert.1982. The Evolving Self: Problem and Process in Human Develompent. Harvard University Press Suharto, Edi. 2002. Masyarakat Madani: Aktualisasi Profesionalisme Community Workers dalam Mewujudkan Masyarakat yang Berkeadilan. Orasi Ilmiah dalam Pembentukan HIMA Jurusan Pengembangan Sosial Masyarakat (PSM) STKS Bandung, 21 Oktober 2002

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

281

MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI DAN DEMOKRASI DALAM BINGKAI KONSTITUSIONALISME Manunggal K. Wardaya Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman manunggal.wardaya@gmail.com ABSTRAK
Sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, sesungguhnyalah bangsa Indonesia terdiri dari pelbagai kerajaan besar kecil, dan ribuan etnis, suku, bangsa, dan bahasa. Namun demikian, para pendiri bangsa menyadari, bahwa keragaman, aneka perbedaan yang menjadi jiwa dan jati diri bangsa Indonesia tidaklah dianggap sebagai faktor yang memisahkan, namun justru mempersatukan. Negara yang dilahirkan, yang dicitakan sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945 adalah Negara bangsa, bukan format Negara lain seperti Negara agama, maupun Negara yang bersifat ras maupun etnis. Dalam perjalanannya, bangsa ini tak lepas dari berbagai persoalan yang ditimbulkan baik oleh faktor internal maupun nasional. Ketika pada masa Orde Baru orang terampas berbagai hak sipil dan politik serta hak ekonomi sosial budaya, di mana pelaku perampasan adalah Negara, kini situasinya telah amat berbeda. Kehidupan berbangsa kita semakin luntur, manakala konflik horizontal semakin menjadi dan meluas. Paper ini hendak menganalisa mengapa cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 tak juga terwujud walaupun kita telah memasuki masa yang dinamakan era reformasi. Perubahan UUD maupun reformasi birokrasi tak juga secara signifikan membawa kepada perbaikan hidup warga masyarakat secara ekonomi sosial budaya, maupun secara politik. Paper ini menawarkan, agar masyarakat yang dicitakan oleh Pembukaan UUD 1945 dapat terwujud, baik para penyelenggara Negara maupun warga Negara harus memegang teguh empat pilar demokrasi yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kata kunci: masyarakat madani, demokrasi, konstitusionalisme

282

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Konstitusionalisme, demikian Dictionary of American Politics, adalah “the doctrine that the power to govern should be limited by definite ad enforceable principles of political organization and procedural regularity embodied in the fundamental law, so that basic 3 constitutional rights of individuals ad groups will not be infringed” . Sementara itu, Carl J. Friedrich sebagaimana dikutip oleh Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa “constitutionalism is an institutionalised system of effective, regularized restraints upon 4 governmental action” . Adapun Ni’matul Huda menyatakan bahwa gagasan konstitusionalisme adalah terbatasinya kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan negara tidak 5 bersifat sewenang-wenang .Dari ketiga definisi yang diberikan itu, kiranya dapat diterima bahwa konstitusionalisme adalah suatu isme, suatu paham pembatasan kekuasaan negara dan terlindunginya hak dan kebebasan warga negara. Istilah “konstitusionalisme”, demikian Soetandyo Wignjosoebroto, sebenarnya tercipta akhir abad 18 yang menegaskan doktrin Amerika tentang Supremasi Undang-undang Dasar (konstitusi tertulis) di atas 6 undang-undang yang diundangkan sebagai produk badan legislatif .
3

4

5

6

Edward C. Smith & Arnold J. Zurcher, Dictionary of American Politics, Barnes & Noble, Inc., New York, 1966, hal. 93. Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme di Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta, 2006, hal. 25. Selanjutnya Jimly menyatakan bahwa basis pokok konstitusionalisme adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan berkenaan denghan negara. Soal persetujuan rakyat ini pula dinyataka oleh Soetandyo Wignjosoebroto yang mengatakan bahwa konstitusi hanya bisa dikatakan sebagai konstitusi yang sesungguhnya manakala ia berasal dari kesepakatan warga dan berisi jaminan kebebasan asasi dalam kehidupan bernegara. Lihat Soetandyo Wignjosoebroto, “Konstitusi dan Konstitusionalisem”, dalam http://soetandyo.wordpress.com/2010/07/10/konstitusi-dan-konstitusionalisme/, diakses pada 20 Juni 2011. Lihat Ni’matul Huda, UUD 1945 dan Gagasan Amandemen Ulang, Rajawali Pers, 2008, hal. 37. Soetandyo Wignjosoebroto, “Konstitusi dan Konstitusionalisme”, dalam Benny K. Harman & Hendardi (ed), Konstitusi dan Konstitusionalisme di Indonesia, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) & Jaringan Informasi Masyarakat (JARIM), Jakarta, 1991, hal. 2.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

283

Mengutip Harold Berman, Soetandyo mengatakan bahwa sebenarnyalah paham mengenai kekuasan negara ini telah berawal dari masa yang sangat lebih dini, yang telah dijumpai semasa berkembangnya negara-negara teritorial di bawah kekuasaan rajaraja dan dalam kehidupan polis-polis di Eropa Barat pada abad XI dan 7 XII. Dalam konstitusi-konstitusi negara kota itu diakui kekuasaan pemerintah (misalnya untuk menarik pajak, membuat uang, membentuk balatentara, membuat perjanjian damai dengan atau menyatakan perang terhadap polis lain); namun juga di lain pihak kekuasaan dibatasi oleh hak konstitusional warga kota (misalnya untuk memilih pejabat kota, mempersenjatai diri, membuat kebebasan 8 sipil, dan dilindungi oleh proses peradilan yang jujur dan adil). Sementara itu dalam banyak literatur hak asasi manusia diyakini bahwa terbatasinya kekuasaan untuk pertama kalinya terjadi di Inggris dengan ditandatanganinya sebuah piagam (charter), sebuah kesepakatan nan agung bernama Magna Charta pada 1215. Dalam piagam itu, Raja John (terpaksa) berbagi kekuasaan dengan para baron (bangsawan). Sama sekali tak bersangkut paut dengan hak rakyat jelata, Magna Charta adalah titik awal dimana kekuasaan raja tak lagi absolut, cikal bakal paham konstitusionalisme. Seorang raja yang tadinya berdaulat penuh dan bisa memerintah sekehendak hatinya kini harus berbagi dengan pihak lain. Salah satu diantara sekian hal yang disepakati oleh raja dalam Magna Charta adalah bahwa tak boleh seorangpun (terkecuali mereka yang berstatus ‘serf’, semacam budak) boleh dihukum kecuali atas aturan yang berlaku, suatu prinsip yang hingga kini masih dianut dan dikenal dengan asas legalitas. Dalam perjalanannya, terbatasinya kekuasaan melalui perjanjian yang elitis ini menemukan kembali maknanya dalam Revolusi Amerika dan Perancis. Revolusi Amerika meneguhkan kehendak rakyat Amerika untuk merdeka, lepas dari keterikatan dengan Kerajaan Inggris, dengan mendirikan sebuah negara serikat : The United States of America. Rakyat dalam 13 koloni Inggris di benua Amerika tersebut
7 8

Ibid. Ibid.

284

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

menolak otoritas Parlemen Kerajaan Inggris dan kemudian mengusir para pejabat kerajaan. Deklarasi kemerdekaan Amerika menegaskan paham bahwa semua manusia lahir sama dan berhak atas berbagai hak dasar, dan bahwa adanya negara justru untuk melindungi warga negara dari segala ancaman yang dapat mengurangi dan meniadakan penikmatan hak itu. Oleh karenanya, jika negara tak mampu atau bahkan gagal dalam menjalankan tugas fitrahnya melindungi warganya, ketidakmampuan itu bakal memberi legitimasi digantikannya pemerintahan dan sekaligus legitimasi munculnya 9 pemerintahan baru . Untuk pertama kalinya pula kemudian Amerika memiliki konstitusi yang kemudian diikuti pula oleh Perancis di mana ide-ide lama mengenai hirarki dan tradisi tergantikan oleh filosofi pencerahan mengenai kewarganegaraan dan hak asasi manusia. Revolusi Perancis (1789-1799) meneguhkan kehendak rakyat Prancis untuk lepas dari penindasan dengan slogan Egalite, Liberte, Fraternite. Sebagaimana dinyatakan oleh Carl Schmidt, sebuah konstitusi adalah suatu manifestasi kehendak rakyat yang tertinggi. Ia, konstitusi, oleh karenanya merupakan hukum tertinggi suatu bangsa. Di dalam konstitusi dinyatakan batas dan kewenangan penyelenggara negara dan jaminan hak asasi manusia yang meniscayakan terbatasinya kekuasaan. Berkaitan dengan ini, bisa jadi suatu negara memiliki konstitusi, memiliki hukum dasar dalam kehiduupan bernegara, namun difungsikan semata untuk melegitimasi keabsolutan kuasa. Konstitusi yang tidak berparadigma konstitusionalisme seperti demikian oleh karenanya adalah sekedar dokumen yang menjadi hukum dasar, dan memiliki cacat bawaan konstitusionalisme. Ia sekedar hukum yang tertinggi namun tetaplah saja melegitimasi kekuasaan elite. Jika diletakkan dalam konteks Indonesia, ide untuk membangun suatu negara bangsa yang demokratis berdasarkan konstitusi pula ada di
9

Paham ini sebenarnya berasal dari pemikiran Locke dalam risalah kedua bukunya Two Treatise of Government yang menyatakan bahwa penyalahgunaan kekuasaan yang sewenang-wenang memberikan kekuasaan pada rakyat untuk mengatur kembai keamanan dan keselamatan mereka. Lihat Pudja Pramana K.A, Ilmu Negara, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009, hal. 161.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

285

benak para pendiri bangsa manakala menyusun rancangan undangundang dasar. Draft konstitusi yang dirumuskan oleh Panitia Hukum 10 Dasar Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan (BPUPK) dan kemudian disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945 tersebut menjadi konstitusi tertulis pertama negeri ini, lahir dalam masa transisi dari alam penjajahan ke alam merdeka. Berisi aturan dasar negara modern bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945 yang asli amat disadari oleh para penyusunnya sebagai sesuatu yang belumlah sempurna dan 11 mesti disempurnakan . Sempat tidak berlaku dengan sendirinya karena berlakunya Konstitusi RIS 1949 sebagai hasil perundingan KMB di Den Haag (yang kemudian digantikan dengan UndangUndang Dasar Sementara 1950), UUD 1945 kemudian diberlakukan kembali melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 setelah Konstituante, sebuah badan perumus UUD yang terbentuk melalui pemilu 1955, diklaim oleh Presiden Soekarno menemui deadlock manakala berusaha merumuskan hukum dasar, sebagaimana dicitakan oleh para pendiri bangsa sekira 14 tahun sebelumnya.

10

11

Terjemahan dari bahasa Jepang DokurituZyunbiTyosa Kai tidak ada kata “Indonesia”, oleh karenanya makalah ini pula tidak membubuhkan huruf “I” dalam akronim BPUPK. Penambahan huruf “I” sebagai akronim dari “Indonesia” dalam BPUPKI menurut Ananda B. Kusuma adalah kurang tepat karena Badan ini dibentuk oleh Rikugun (Angkatan Darat Jepang), Tentara XVI, yang wewenangnya hanya meliputi Jawa dan Madura saja. Lihat Ananda B. Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945, edisi revisi, Badan Penerbit Fakultas Hukum Indonesia, 2009, hal. 1, catatan kaki no. 1. Dirumuskannya hukum dasar oleh badan ini sebenarnya di luar dari tujuan pembentukannya, yakni untuk melakukan usaha-usaha persiapan kemerdekaan. Lihat Jimly Asshiddiqie, Op.Cit., hal. 39. Soekarno dalam pidatonya di depan PPKI pada 18 Agustus 1945 mengatakan bahwa UUD 1945 adalah suatu revolutie grondwet, suatu undang-undang dasar darurat, pernyataan yang pula diamini oleh pendiri bangsa lainnya seperti Dr. Sam Ratulangi dan Mr Iwa Kusuma. Lebih lanjut, kesementaraan UUD 1945 juga tercermin Aturan Tambahan UUD 1945 sebelum perubahan yang pada Pasal II menyatakan bahwa “Dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menetapkan Undang-Undang Dasar.” Bacalah Ananda B. Kusuma, “Keabsahan UUD 1945 Pasca Amandemen”, Jurnal Konstitusi Vol. 4 No.1, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Maret 2007, hal.146-148.

286

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Perjalanan bangsa dan negara Indonesia di bawah UUD 1945melalui kepemimpinan Soekarno dan Soeharto menunjukkan bahwa segala sumber permasalahan bangsa sebenarnyalah berasal dari konstitusi yang memberikan kewenangan begitu besar kepada eksekutif (executive heavy),miskin dalam jaminan hak dan kebebasan asasimanusia, serta tidak menciptakan kehidupan berbangsa dan 12 bernegara yang demokratis . Secara formal, konstitusi (tertulis) memang ada dipunyai oleh bangsa ini, namun konstitusi itu tak memiliki ruh konstitusionalisme. Karena belum cukup memuat landasan bagi kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat, dan penghormatan HAM, dengan muatan pasal yang multitasfir dan membuka peluang penyelenggaraan negara yang otoriter, maka perubahan UUD 1945 menjadi tuntutan berbagai kalangan 13 14 masyarakat . Melalui empat kali perubahan , Indonesia kini memiliki konstitusi yang amat berbeda dengan konstitusi tertulis yang sebelumnya, yakni UUD 1945 yang diberlakukan kembali dengan 15 Dekrit Presiden 5 Juli 1959 . Jika perubahan UUD 1945 adalah sebuah upaya koreksi terhadap segenap penyimpangan yang terjadi di masa lalu, maka menjadi menarik dipertanyakan adalah bagaimana cita negara demokrasi diwujudkan dalam konstitusi? Jika kesengsaraan rakyat, dan segenap
12

13

14

15

Denny Indrayana menyebut UUD 1945 sebelum perubahan adalah dokumen yang otoriter. Baik Soekarno maupun Soeharto, demikian Denny, memanfaatkan Konstitusi otoriter demikian untuk memusatkan kekuasaan negara di tangan mereka sendiri. Lihat Denny Indrayana, Amandemen UUD 1945: Antara Mitos dan Pembongkaran, Mizan, Cetakan II, 2007, hal. 164. Lihat Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Sekretariat Jenderal MPR RI, 2006, hal. 4. Moh Mahfud MD mengatakan bahwa sebenarnya perubahan yangg dilakukan terhadap UUD 1945 hanyalah satu (1) kali, namun disahkan dalam empat (4) tahap. Perubahan, demikian Mahfud, hanya dilakukan sekali tetapi memakan waktu selama tiga tahun (199-2002), karena menurut Mahfud dalam kurun waktu tiga tahun tersebut MPR tidak pernah berhenti bersidang. Baca lebih lanjut dalam Moh Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, LP3ES, Jakarta, hal. Xii-xiii. UUD 1945 setelah Dekrit Presiden dilengkapi dengan Penjelasan, dimana Penjelasan ini tidak ada dalam UUD 1945 yang disahkan oleh PPK pada 18 Agustus 1945.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

287

pelanggaran hak sipil dan politik maupun hak ekonomi sosial budaya pula merupakan fitur masa lalu di bawah konstitusi yang tak demokratis, bagaimana visi UUD paska perubahan akan terwujudnya masyarakat madani? Tulisan ini adalah telaah singkat mengenai idee masyarakat madani nan demokratis dalam bingkai konstitusi dan konstitusionalisme. PEMBAHASAN Masyarakat madani kerapkali dikenal sebagai padanan/translasi kata 16 dari Civil Society . Nurcholish Madjid menyatakan bahwa masyarakat madani ini adalah mesyarakat berbudi luhur dan berakhlak mulia, masyarakat yang berperadaban. Aceng Kosasih menyatakan bahwa masyarakat madani adalah model masyarakat kota sebagaimana dibangun oleh Nabi Muhammad setelah hijrah ke 17 Madinah .Sementara itu,Marzuki Alie menyatakan bahwa masyarakat madani tidak saja mandirinya masyarakat manakala berhadapan dengan negara, melainkan pula terwujudnya nilai-nilai seperti keadilan, persamaan, kebebasan, dan kemajemukan 18 (pluralisme) . Dari dua definisi masyarakat madani sebagaimana dipaparkan di atas, tulisan ini menarik simpulan bahwa masyarakat madani adalah suatu kedaan terciptanyakehidupan bermasyarakat yang bermartabat dan sejahtera tercapai. Adakah visi masyarakat
16

17

18

Selain masyarakat madani, ada pula yang mentranslasi civil society sebagai masyarakat sipil. Mereka yang menggunakan istilah ini berargumen bahwa istilah civil society berasal dari Barat dalam masa modern, sehingga tak bisa diterapkan secara retroaktif ke dalam masyarakat muslim sebagaimana pengguna istilah masyarakat madani merujuk pada abad ke-7 dimana Nabi Muhammad mendirikan pemerintahan di Madina. Akan tetapi tak kurang mereka yang menggunakan istilah masyarakat sipil sebagai translasi civil society juga dikatakan sebagai tidak tepat, karena “sipil” dalam masyarakat sipil diartikan sebagai lawan dari militer, sesuatu yang sebenarnya bukan maksud dari civil society. Lihat Andi Faisal Bakti, “Islam and Modernity: Nurcholish Madjid’s Interpretation of Civil Society , Pluralism, Secularization, and Democracy”, Asian Journal of Social Science, Vol. 33 No. 3, hal. 489. Aceng Kosasih, “Konsep Masyarakat Madani”, http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011ACENG_KOSASIH/MASYARAKAT_MADANI.pdf diakses pada 1 Juli 2011. Marzuki Alie, “Pembaharuan Pendidikan Islam Demi Terwujudnya Masyarakat Madani”, Orasi Ilmiah Disampaikan dalam Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas Darul Ulum, Jombang , 16 Oktober 2010, hal.6.

288

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

berbudi luhur, berakhlak mulia, yang adil dan menghargai perbedaan, terdapat ruang bagi perbedaan dan tegaknya keadilan dalam Konstitusi kita? Tidak mau hidup terus menerus terjajah , bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya melalui Proklamasi 17 Agustus 1945, memanfaatkan situasi vacuum of power sehubungan dengan menyerahnya Jepang (yang kala itu menguasai negeri Nusantara) tanpa syarat pada pasukan Sekutu pada 14 Agustus 1945. Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa, dan oleh karenanya penjajahan haruslah dihapuskan. Sembari mengakui bahwa kemerdekaan yang diraih merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dinyatakan bahwa Indonesia yang dicitakan adalah negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dikaitkan dengan konsepsi masyarakat sipil sebagaimana dipaparkan di atas, rumusan dalam alinea II Pembukaan UUD 1945 sebenarnyalah suatu visi untuk mewujudkan Indonesia sebagai suatu negara madani.Selanjutnya, alinea IV Pembukaan UUD 1945 memuat tujuan didirikannya negara Indonesia yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Lebih lanjut dalam pembukaan UUD 1945 inilah memuat dasar negara Indonesia, yang kemudian melalui konvensi ketatanegaraan dikenal sebagai Pancasila. Pembukaan UUD 1945 sebagai bagian tak terpisahkan dari 20 konstitusi telah pula menegaskan bahwa negara yang dilahirkan ini
19

19

20

Keinginan untuk merdeka telah menjadi keinginan kuat para pendiri bangsa sebagaimana dapat dibaca dalam pledoi Ir. Soekarno di depan sidang pengadilan kolonial tanggal 30 Agustus di Bandung. Soekarno mengatakan bahwa “tidak ada satu rakyat negeri jajahan yang tidak ingin merdeka, tidak ada satu rakyat jajahan yang tidak mengharap-harapkan datangnya hari kebebasan”. Dikatakan pula oleh Soekarno bahwa “ kemerdekaan adalah syarat yang amat penting bagi kesempurnaan rumah tangga tiap-tiap negeri, tiap-tiap bangsa baik bangsa Timur maupun bangsa Barat, baik bangsa kulit berwarna maupun bangsa kulit putih”. Lihat Ir Soekarno, Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial, Departemen Penerangan Republik Indonesia, Daja Upaja, hal.83. Lihat Jimly Asshidiqqie, “Ideologi, Pancasila, dan Konstitusi”, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

289

adalah untuk mengabdi pada rakyat, mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya: rakyat melayani pemerintah. Pemerintah Negara Indonesia, demikian alinea IV Pembukaan UUD 1945, memiliki kewajiban untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pemerintah dan negara ini ada untuk melindungi rakyatnya. Dalam negara Indonesia rakyatlah yang berdaulat . Pilihan Republik sebagai bentuk negara menunjukkan bahwa di dalam negara Indonesia yang berdaulat adalah orang banyak, bukannya sedikit orang entah yang mengejawantah dalam monarki maupun oligarki, walau kalau ditilik sejarahnya, negara Indonesia berasal dari himpunan ratusan kerajaan besar kecil. Inilah cita negara demokrasi yang digagas oleh para pendiri bangsa, dan terus dipertahankan oleh MPR manakala melakukan perubahan terhadap UUD 1945 sejak 1999 hingga 2002. Cita masyarakat madani dan demokratis dalam Pembukaan UUD 1945 mengalami konkretisasi lagi dalam muatan pasal-pasal UUD 21 1945 . Pasal 1 ayat (2) menegaskan bahwa kedaulatan sebagai di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Pasal ini mengandungmakna falsafati bahwa sesungguhnyalah kekuasaan yang tertinggi ada di tangan rakyat, bukan oleh sekelompok orang saja. Rakyat, baik secara langsung maupun tidak 22 langsung menjadi pengurus atau penyelenggara negara . Dalam rumusan ini terlihat bahwa demokrasi yang dianut oleh Indonesia adalah demokrasi konstitusional, suatu format demokrasi yang mendasarkan pada hukum dan tidak melulu pada suara terbanyak yang berujung pada tirani mayoritas. Pelaku kedaulatan kini bukan lagi MPR,namun semua badan negara lainnya seperti Presiden, DPR, 23 DPD, dan bahkan lembaga peradilan seperti MA dan MK. Sementara itu, Pasal 1 ayat (3) menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Muatan pasal ini menegaskan bahwa Indonesia bukanlah negara kekuasaan (machstaat) melainkan negara hukum
21

22

23

Sebelum perubahan dikenal istilah “batang tubuh”. Kini istilah itu tidak ada lagi, melainkan cukup disebut dengan istilah “pasal-pasal”. Lihat Jimly Asshiddiqie, Komentar atas Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Sinar Grafika, Cetakan Pertama, Jakarta, 2009, hal. 10-11. Ibid.

290

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

(rechstaat). Pada mulanya, rumusan pasal ini ada dalam Penjelasan, namun seiring dengan perubahan UUD, maka materi penjelasan ini dimasukkan dalam pasal. Adapun negara hukum yang dimaksud di sini bukan melulu hukum yang mengedepankan kepastian hukum saja, namun juga keadilan. Dikatakan oleh Mahfud MD, negara Hukum Indonesia mengadopsi dua konsepsi negara hukum yang prismatik, menggabungkan idealisme negara hukumrechstaatdanrule of law. Hal ini juga ditegaskan dalam konstitusi yang dalam Pasal 24 di mana di sana ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Serangkaian jaminan hak asasi manusia, yang dirumuskan dalam Bab XA dari Pasal 28A hingga 28J mengenai Hak AsasiManusiamenegaskan karakteristik Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (3). Pengakuan dan jaminan atas hak dankebebasan asasi manusia ini adalah koreksi atas konstitusi pada masa lalu yang sama sekali tak memuat jaminan hak dan kebebasan manusia, yang dipercaya menjadi penyebab kekuasaan nan korup. Adanya hak asasi manusia dalam muatan konstitusi juga meneguhkan prinsip negara hukum bahwa kekuasaan adalah residu dari hak dan kebebasan dasar manusia. Dengan pengakuan hak dan kebebasan manusia dalam muatan konstitusi, maka tidak dibenarkan negara mengurangi, merampas hak dan kebebasan warga tanpa suatu alas hukum yang sah. Mengadopsi 24 norma-norma hukum hak asasi manusia yang berlaku internasional , dijamin pula berbagai hak yang terbilang sebagai non-derogable rights, ialah hak yang tidak bisa dikurangkan dalam keadaan apapun juga.
24

Non derogable rights adalah fitur hukum hak asasi manusia yang dituangkan dalam article 4 the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), salah satu instrumen hukum internasional yang dibilangkan sebagai the International Bills of Human Rights bersama dengan Universal Declaration of Human Rights dan the International Covenant on Economic Social and Cultural Rights (ICESCR). Keduanya telah menjadi bagian dari hukum domestik dengan ratifikasi melalui Undang-undang No. 11 dan 12 Tahun 2005. Dalam UUD 1945 ketentuan mengenai hak yang tak dapat dikurangkan dalam keadaan apapun ini dimuat dalam Pasal 28I.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

291

Sebagaimana dinyatakan oleh Petra Stockmann , empat perubahan UUD 1945 telah merestrukturisasi UUD 1945 secara signifikan. Perubahan yang paling jelas terlihat adalah adanya pemilihan umum (pemilu)yang free dan fairsebagaimana diatur dalam Pasal 22E. Kini, kesemua anggota DPR dan DPD bahkan Presiden dipilih oleh rakyat, kontras jika dibandingkan di masa sebelum perubahan dimana ada sebagian kursi DPR yang diduduki tanpa melalui Pemilu oleh militer dengan Fraksi ABRI-nya. Presiden menurut UUD 1945 sebelum perubahan dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), memungkinkan kesenjangan antara aspirasi rakyat di tingkat grassroot dan konstelasi politik di tubuh MPR yang dengan sendirinya 26 membuka peluang politik transaksional . Melalui pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, sebenarnyalah diimplementasikan prinsip rakyat mengatur dan memerintah dirinya sendiri. Dikatakan demikian karena melalui wakil-wakilnya yang dipilih di DPR, rakyat turut membentuk dan mewarnai undang-undang yang akan berlaku mengikat bagi dirinya sendiri, suatu kewenangan 27 yang dimiliki DPR berdasar Pasal 20 ayat (1) . Anggota-anggota DPR dan anggota-anggota DPD yang dipilih melalui Pemilu secara otomatis menjadi anggota MPR yang memiliki kewenangan mengubah dan menetapkan UUD. Pemilu guna memiilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 22C ayat (1)pula adalah
25

25

26 27

Petra Stockmann, The New Indonesian Constitutional Court: A Study into Its Beginnings And First Years of Work, Hans Seidel Foundation, Jakarta, 2007, hal.20. Lihat Moh Mahfud MD, Op.Cit., hal. 133. Sebelum perubahan , kewenangan membentuk undang-undang dimiliki oleh Presiden. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR” dan Pasal 20 ayat (1) yang menyatakan “tiap-tiap undangundang menghendaki persetujuan DPR”. Setelah perubahan, rumusan Pasal 5 ayat (1) berbunyi “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR”. Dengan demikian telah terjadi pergeseran kekuasaan substantif dalam kekuasaan membentuk undang-undang. Lihat Jimly Asshiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006, Jakarta, hal. 135. Lihat pula Saldi Isra, Pergeseran Fungsi Legislasi: Menguatnya Model Legislasi Parlementer Dalam Sistem Presidensial Indonesia, Rajawali Pers, 2010, Jakarta, hal. 3-5.

292

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

penyempurnaan terhadap Utusan Daerah yang dahulu mengisi keanggotaan MPR tanpa melalui jalur pemilu.Sesuai dengan Pasal 22D ayat (1) DPD memiliki kewenangan untuk mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan kekuasaan pusat dan daerah. DPD juga ikut membahas RUU terkait Pasal 22D ayat (1) di atas serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN dan RUU yang berkaitan dengan pajak, 28 pendidikan, dan agama . Tidak hendak diingkari bahwa kewenangan DPD dalam UUD 1945 hasil perubahan yang sekarang berlaku masih banyak menimbulkan ketidakpuasan, terutama karena kewenangannya yang sumir. Lebih lanjut dalam rangka memperkuat sistem pemerintahan Presidensial, maka Presiden dan Wakil Presiden Indonesia menurut Pasal 6A ayat (1) dipilih secara langsung dalam satu pasangan oleh 29 rakyat . Artinya siapapun pemegang kekuasaan pemerintahan di Indonesia pada hakekatnya adalah pilihan dari rakyat itu sendiri. Sekali terpilih dan dilantik, maka kewajiban presiden dan wakil presiden harus dijalankan, sebagaimana telah diucapkan dalam sumpah dan janji presiden dan wakil presiden yang tercantum dalam Pasal 9 ayat (1) UUD 1945. Sistem Presidensial yang dianut oleh Indonesia memang menghendaki agar seorang presiden dan wakil presiden memegang jabatannya dalam masa waktu tertentu (fixed term), membedakannya dengan sistem pemerintahan parlementer. Namun, bukan berarti seorang presiden dan/atau wakil presiden bisa semena-mena menjabat dan tidak bisa diberhentikan dalam masa jabatannya. Kekuasaan presiden bisa dipertanyakan manakala ia melakukan pelanggaran hukum maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau wakil presiden sebagaimana ditentukan

28

29

Namun begitu DPD tidak memiliki kewenangan untuk ikut menetapkan sebuah undang-undang sebagaimana dimiliki oleh DPR karena Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 telah memberikan kewenangan itu pada DPR. Ketentuan ini menunjukkan bahwa jabatan Presiden dan Wakil Presiden adalah satu kesatuan paket kepemimpinan.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

293

dalam Pasal 6 UUD 1945 . Walau telah terpilih secara demokratis, seorang presiden dan/atau wakil presiden dapat diusulkan untuk diberhentikan dalam masa jabatannya oleh DPR jika melakukan pelanggaran hukum dan atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai 31 presiden dan atau wakil presiden . Sementara itu, kontrol terhadap kekuasaan presiden dan DPR dalam pembentukan undang-undang diimbangi dengan diberikannya 32 kewenangan uji konstitusionalitas sebuah undang undang /peraturan 33 pemerintah pengganti undang-undang (perpu) terhadap undangundang dasar (constitutional review) kepada sebuah badan peradilan bernama Mahkamah Konstitusi (MK). Tidak seperti dalam rejim UUD 1945 sebelum perubahan, kini sebuah undang-undang maupun perpu dapat diujikan dan bahkan sampai berimplikasi pada dinyatakan tidak mengikat oleh MK jika dinilai bertentangan dengan konstitusi. Kewenangan menguji baik formil maupun materiil sebuah produk perundang-undangan olehMK ini penting sebagai imbangan ataskewenangan konstitusional DPR dan Presiden dalam bidang legislasi, agar pelanggaran hak konstitusional warga maupun HAM tidak terjadi melalui instrumen hukum perundangan. Melalui lembaga MK ini, sebuah muatan maupun keseluruhan undang-undang maupun perpu yang bertentangan dengan konstitusi dapat saja dibatalkan,
30

30

31

32 33

Syarat tersebut adalah bahwa calon Presiden dan Calon Wakil Presiden harus warga negara Indonesia sejak kelahirannya. Selain itu, tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 7A UUD 1945. Adapun syarat Presiden dan wakil Presiden sebagaimana telah diatur dalam Pasal 6 ayat (1) kemudian dijabarkan lagi dalam Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (LNRI tahun 2008 Nomor 76, TLN Nomor 4924). Pasal 24 C ayat (1) UUD 1945. Kewenangan MK untuk menguji Perpu tidak dijumpai secara ekpslisit dalam UUD 1945 maupun dalam UU MK. Namun begitu, melalui Putusan Nomor 138/PUU-VII/2009 MK menyatakan bahwa peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah pula menjadi kewenangan MK untuk mengujinya. Selengkapnya mengenai ini bacalah Manunggal K. Wardaya, “Perubahan Konstitusi Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi: Telaah atas Putusan Nomor 138/PUU-VII/2009, Jurnal Konstitusi Vol. 7 No.2, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2010, hal. 19-46.

294

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

yang berarti pula merupakan salah satu wujud perlindungan baik hak konstitusional maupun hak asasi manusia. Sebagai penjaga konstitusi (the guardian of the constitution), MK juga diberikan kewenangan lain oleh UUD 1945 yakni untuk memutus sengketa kewenangaan konstitusional lembaga negara yang 34 kewenangannya diberikan oleh UUD , memutus pembubaran partai 35 36 politik , dan memutus perselisihan tentang hasil pemilu . Selain empat kewenangan tadi, MK juga memiliki kewajiban konstitusional memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau wakil presiden telah melakukan pelanggaran hukum atau tak lagi memenuhi syarat 37 sebagai Presiden dan/atau wakil presiden . MK adalah peradilan tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final. Dalam konteks kewajibannya memutus pendapat DPR, Putusan MK adalah putusan hukum, yang oleh karenanya menghindarkan dari praktik ketatanegaraan masa lalu dimana pemberhentian presiden dilakukan 38 dengan kekuatan politik.

PENUTUP Cita negara madani dan demokratis nyata ada di dalam Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Idee
34

35

36

37

38

Diatur lebih lanjut dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 Tentang Pedoman Beracara Dalam Memutus Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara. Diatur lebih lanjut dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Prosedur Beracara Dalam Pembubaran Partai Politik. Diatur Lebih Lanjut Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 24 C ayat (2). Hukum acara terkait kewenangan ini telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009 mengenai Pedoman Beracara Dalam Memutus Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat Mengenai Pelanggaran Oleh Presiden Dan/Atau Wakil Presiden. Meski demikian patut diingat bahwa MK tidak berwenang memberhentikan seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden jika terbukti melanggar hukum dan atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pemberhentian adalah kewenangan MPR sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (3) UUD 11945.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

295

mengenai masyarakat madani dan demokratis yang tertuang dalam Pembukaan bahkan dipertahankan untuk tidak dirubah manakala bangsa ini melakukan reformasi konstitusi. Amandemen konstitusi sejak 1999 bahkan menunjukkan komitmen kuat bangsa yang semakin mengkristal untuk hidup bernegara secara demokratis. Jika Konstitusi adalah kesepakatan seluruh tumpah darah Indonesia, seharusnya konstitusi menjadi acuan, menjadi rujukan dalam setiap permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai suatu keputusan politik tertinggi bangsa Indonesia, konstitusi harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan terutama sekali oleh para penyelenggara negara. Dengan demikian, penyelesaian masalah dengan cara-cara yang inkonstitusional tidak akan terjadi. Konstitusi, tak terkecuali yang dimiliki oleh bangsa Indonesia pada dasarnya membatasi kekuasaan negara, suatu aturan dasar yang menjamin penikmatan hak dan kebebasan asasi manusia. Hal ini karena hanya dalam negara yang menganut paham kedaulatan rakyat berdasarkan konstitusi sajalah akan diharapkan terpenuhinya hak-hak warga negara dan hak asasi manusia. Terpenuhinya hak dan kebebasan dasar manusia ini pada gilirannya akan membawa kepada kesejahteraan dan keadilan, suatu cita dari masyarakat madani. Sebagai sebuah hukum dasar, konstitusi tentu terbuka untuk adanya perubahan sepanjang memang dikehendaki oleh rakyat. Adalah terpulang pada rakyat, sang pemilik kuasa, untuk menentukan way of life dalam kehidupan bernegara melalui saluran konstitusionalnya. Namun sekali konstitusi itu berlaku dan menjadi kesepakatan ia harus ditegakkan dan dijadikan rule of the game. Jika tidak, nilai-nilai luhur dalam konstitusi hanyalah hiasan belaka yang tidak pernah menemukan implementasi konkretnya.

296

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENINGKATAN KUALITAS DEMOKRASI DALAM MEMBUMIKAN CIVIL SOCIETY DI INDONESIA: PENGALAMAN SATU DASAWARSA Ronny Basista Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka ronbas@ut.ac.id ABSTRAK Dewasa ini perhatian kepada persoalan-persoalan politik sudah menjangkau masyarakat luas. Pemahaman terhadap wacana (discourse) politik pun tidak hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki disiplin ilmu politik saja, tetapi juga melewati batas kelimuan itu sendiri. Mahasiswa ekonomi, teknik dan disiplin ilmu lainnya membicarakan paradigma dalam ilmu politik. Kita tidak akan-atau paling tidak, sulit-menemukan di Singapura, misalnya, mahasiswa teknik sipil membicarakan sebuah teori dalam ilmu politik. Karena mereka tahu bahwa itu di luar, bahkan jauh melewati batas kompetensi keilmuannya. Di sisi lain, partisipasi politik masyarakat pascareformasi dilaporkan semakin menurun dari tahun ke tahun. Bila di awal reformasi jumlah pemilih (salah satu indikator partisipasi) dapat mencapai 70%, maka di sepuluh tahun berikutnya menunjukkan angka yang tidak mencapai 60%. Sementara itu tingkat partisipasi tidak dapat menunjukkan kualitas demokrasi itu sendiri manakala sikap masyakarat atas hasil dari proses demokrasi itu belum moderat. Sikap skeptis, tidak menerima kekalahan atas pemilu yang fair, unfairness, hingga perilaku destruktif merupakan antitesis dari demokrasi yang berkualitas. Sesungguhnya, perilaku moderat dalam berdemokrasi merupakan refleksi dari sebuah tatanan masyarakat madani (civil society). Tulisan ini meneropong pengalaman demokratisasi di Indonesia dalam 10 tahun belakangan dikaitkan dengan civil society. Bahwa demokratisasi merupakan sebuah proses yang multifaceted, itu tidak diragukan, dan bahwa keberhasilan proses demokratisasi akan sangat ditentukan seberapa jauh masyarakat memiliki nilai-nilai yang menopang demokrasi itu sendiri merupakan sesuatu yang perlu diingat. Dan, perlu pula untuk disadari bahwa masyarakat Indonesia merupakan campuran semua elemen sosial yang ada, sehingga menjadi salah satu kendala bagi proses demokratisasi. Meski demikian, kendala ini bukan berarti menyurutkan optimisme kita akan sebuah Civil society yang kita cita-citakan.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

297

Peningkatan kualitas demokrasi merupakan entry point menuju civil society.

CIVIL SOCIETY DAN DEMOKRATISASI Meski civil society memiliki banyak terminologi, namun pada dasarnya ia merupakan suatu space atau ruang yang terletak antara negara di satu pihak dan masyarakat di pihak lain, dan dalam ruang tersebut terdapat asosiasi warga masyarakat yang bersifat sukarela dan terbangun sebuah jaringan hubungan di antara asosiasi tersebut. Oleh karena itu, civil society dapat dikatakan sebagai suatu bentuk hubungan (interaksi) antara masyarakat baik berkelompok (kelompok sosial) maupun secara individu dengan negara, namun sifatnya independen terhadap negara, atau apa yang disebut sebagai hubungan yang egaliter (Gaffar, 1999). Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir pola interaksi tersebut telah menunjukkan kemandirian masyarakat terhadap negara. Selama proses politik berlangsung, baik itu pemilu maupun kegiatan unjuk rasa, warga masyarakat dapat melakukannya secara independen. Namun apabila dilihat dari derajat keotonomian masyarakat pemilih terhadap partai politik maka dapat dilihat rendah. Akses masyarakat terhadap partai politik amat lemah sehingga peran parpol amat dominan. Meskipun rakyat yang menentukan, sebagaimana jargon pemilu yang luber dan jurdil, namun tetap saja yang berperan penting itu elite dan partai politik. Bukannya konsolidasi demokrasi yang terjadi melainkan konsolidasi elite untuk mempertahankan status quo. Meski negosiasi elite menjadi penting bagi konsolidasi demokrasi tapi tidak bisa dimaknai sebagai proses politik yang hanya terjadi pada level prosedural dan institusi politik semata. Dalam perjalanannya bangsa ini telah mengalami berbagai macam kegiatan politik yang dibungkus demokrasi untuk mendapatkan pilihan terbaik yang diinginkan rakyat. Secara prosedural, mekanisme pemilu dan pemilukada yang didesain pemerintah sudah cukup mengakomodasi kepentingan masyarakat luas. Dalam implementasinya, baik pemilu legislatif maupun pemilukadai diwarnai oleh sikap maupun tindakan tidak bijak dari kalangan elite. Sementara

298

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

di kalangan rakyat, perilaku destruktif turut mengiringi kisah pilu pesta demokrasi itu. Sudah berapa banyak jiwa yang melayang akibat penolakan hasil pemilukada, termasuk juga harta benda. Dampak psikologis pun turut menyertai pascapemilukada. Potret yang ditampilkan elite direkam dengan baik oleh warga masyarakat, yang seringnya tidak memberikan teladan bagaimana berpolitik yang santun itu. Siap menang dan siap kalah hanyalah slogan pepesan kosong, karena pada dasarnya mereka (para elite) lebih banyak yang tidak siap kalah. Misalnya, awalnya pendukung menerima kekalahan sang jago, namun sang jago tidak mengakui kemenangan pesaingnya dengan melontarkan isu kecurangan. Bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik maka hal ini tidak diteruskan dengan tindakan anarkis. Sayangnya, masyarakat kita masih mayoritas fanatik sehingga perilaku destruktif mewarnai pertunjukan pemilukada. Potret buram pemilukada hanyalah satu dari segelintir fakta bahwa demokrasi yang kita bangun belum terkonsolidasi dan belum berkualitas. Sikap skeptis, tindakan anarkistis dan pola kegiatan destruktif menunjukkan bahwa ada masalah dalam tatanan demokrasi yang kita bangun. Suasana civil society tercederai saat suasana mencekam terjadi di Kabupaten Kuansing pascapemilukada. Kompetisi sepakbola Liga Indonesia antara PSPS Pekanbaru melawan Persiwa Wamenda terpaksa dihentikan karena pihak kepolisian tidak dapat mengeluarkan jaminan keamanan. Suasana di Kuansing saat itu benar-benar mencekam.

KONSOLIDASI DEMOKRASI Reformasi di berbagai bidang yang telah dimulai sejak 1999 sesungguhnya menjanjikan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Reformasi di bidang politik membuka lebar-lebar kran partisipasi politik rakyat. Demokrasi menjadi prosedur manifestasi kehendak rakyat. Reformasi di sektor ekonomi menjanjikan kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk terlibat dalam proses ekonomi yang selama ini dikuasai oleh kroni-kroni elit penguasa. Reformasi hukuum ketatanegaraan, reformasi budaya, reformasi birokrasi dan reformasi di berbagai sektor lainnya telah lebih dari satu

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

299

dasawarsa dilalui. Bila dilihat dari antusiasme masyarakat di awal berlangsungnya reformasi dengan apa yang terjadi saat ini tentulah kita merasa cukup miris. Sebab, partisipasi masyarakat terhadap proses politik, meski dalam bingkai demokrasi, semakin lama semakin menurun. Penurunan ini dibarengi oleh sikap skeptis dan ketidaksiapan masyarakat menerima hasil dari proses politik itu. Hal demikian di atas menimbulkan pertanyaan, apakah proses demokrasi yang kita lalui selama ini sudah dapat mendorong kualitas demokrasi menjadi lebih baik, yang tidak hanya pada level prosedural saja tetapi juga secara substansial? Pertanyaan ini wajar terlontar manakala kita menyaksikan berbagai peristiwa yang mengiringi pemilukada, misalnya. Begitu pula pemilu halnya dengan pemilu legislatif dan presiden. Selama era reformasi ini, perubahan politik terjadi secara drastis yang ditandai adanya kebebasan (otonomi), akses masyarakat terhadap lembaga negara, arena publik yang otonom, dan arena publik yang terbuka. Semuanya merupakan komponen pembentuk masyarakat madani. Hanya saja, perubahan itu dirasa masih bergerak pada level tata politik dan pemerintahan yang bersifat artifisial, bukan pada transformasi sosial politik menuju konsolidasi demokrasi yang bersifat fundamental dan substantif. Konsolidasi demokrasi yang matang amat dibutuhkan karena ia merupakan faktor signifikan sebagai upaya menuntaskan transisi demokrasi itu sendiri. Sebab, secara lazim, di negara dunia ketiga, transisi demokrasi yang berjalan acap kali tidak sempurna sehingga menjadi rentan. Konsolidasi demokrasi, menurut Larry Diamond (1999), menekankan proses pencapaian legitimasi yang kuat dan dalam sehingga semua aktor politik percaya bahwa pemerintahan demokratis adalah yang paling tepat bagi mereka. Konsolidasi demokrasi harus menyentuh dan berlangsung pada level masyarakat. Artinya, partisipasi masyarakat lebih diutamakan daripada kompetisi dan kompromi elite. Ruang partisipasi masyarakat tidak hanya dalam bentuk partisipasi pemilu dan pemilukada saja, tetapi digeser ke arah yang lebih substansial, yaitu memperjuangkan hak politik, sosial, dan ekonomi. Untuk memperjuangkan hak-hak tersebut, konsolidasi demokrasi harus diperluas ke wilayah civil society. Transformasi struktur sosial

300

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

politik tidak mungkin terjadi kalau kita masih mengandalkan para aktor elite, melainkan harus diletakkan dan digerakkan oleh civil society. Civil society harus mengalami “radikalisasi” yang tidak hanya berbasis pada kaum kelas menengah kota tetapi juga mampu mengorganisir dirinya secara integratif dan massif dengan gerakan rakyat. Kekuatan civil society untuk mendukung kualitas dan konsolidasi demokrasi harus mampu merebut dukungan massa rakyat yang selama ini hanya dimobilisasi untuk kepentingan partai politik.

UPAYA PENCERAHAN MELALUI BUDAYA POLITIK EVALUATIF Secara faktual peningkatan kualitas berdemokrasi di Indonesia memerlukan berbagai upaya yang serius dengan mengintervarisir beberapa persoalan, antara lain; a. Dalam tataran pemerintah 1. Belum solid dan optimalnya kinerja pemerintahan dalam proses penyelenggaraan demokrasi. 2. Belum optimalnya penyerapan perumusan kebijakan publik. aspirasi publik dalam

3. Masih menggejalanya korupsi, kolusi dan nepotisme di kalangan birokrasi pemerintahan sebagai penggerak demokrasi. 4. Masih lemahnya profesionalisme sumber daya aparatur pemerintah dalam pemberian layanan publik. b. Dalam tataran society/masyarakat 1. Masih menguatnya perilaku primordialistik (entitas) masyarakat yang menghambat pengembangan sistem demokrasi. 2. Masih lemahnya pendidikan politik dan budaya partisipatif masyarakat dalam memerankan fungsinya sebagai kekuatan public control.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

301

3. Belum meratanya kemampuan manajerial semokrasi sebagai kekuatan civil society.

infrastruktur

4. Belum optimalnya sinergi dan kinerja infrastruktur semokrasi dalam membangun civil society yang solid. c. Dalam tataran privat/swasta 1. Adanya perbedaan orientasi pelayanan publik antara pemerintah yang bersifat non profit dengan privat/swasta yang bernaluri mengejar profit menjadi kendala untuk membangun interrelasi sinergis dalam godd governance. 2. Godaan uang/materi yang mendorong timbulnya praktek KKN di kalangan birokrasi tidak jarang dimulai dari kalangan para pelaku bisnis di sektor privat/swasta. 3. Tingkat kepedulian privat/swasta untuk melakukan pemberdayaan masyarakat (empowering society) secara tulus cenderung diragukan komitmennya. Berbagai persoalan di atas menjadi tanggung jawab semua pihak yang berkepentingan dalam mewujudkan civil society. Sebagai pondasi awal pembentukan karakter individu maka budaya dan pendidikan politik itu mesti ditumbuhkan sejak dini di institusi paling rendah seperti keluarga dan sekolah. Budaya politik inilah yang harus ditumbuhkembangkan sejak usia dini. Budaya politik, kata Almond (1989), merupakan sikap individu terhadap sistem politik dan komponen-komponennya, juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam sebuah sistem politik. Budaya politik tidak lain daripada orientasi psikologis terhadap objek sosial, dalam hal ini sistem politik, kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam bentuk orientasi yang bersifat cognitive, affective dan evaluative. Orientasi kognitif menyangkut pemahaman dan keyakinan individu terhadap sistem politik dan atributnya, seperti tentang ibukota negara, lambang negara, kepala negara, batas-batas negara, dan seterusnya. Orientasi afektif menyangkut ikatan emosional yang dimiliki oleh individu terhadap sistem politik. Jadi menyangkut feelings terhadap sistem politik. Orientasi evaluatif menyangkut kapasitas individu dalam memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang

302

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

berjalan dan bagaimana peranan individu di dalamnya. Dengan sikap dan orientasi demikian terbentuklah budaya politik yang berbeda. Jika kognitif yang dominan maka terbentuk budaya politik parokial. Jika afektif maka terbentuk budaya subjektif. Sedangkan jika evaluatif maka akan terbentuk budaya yang partisipatif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut.

Budaya Politik Parokial Orientasi Politik Kognitif Afektif Evaluatif xxx xxx xxx Subjektif Partisipatif

Budaya politik yang demokratik, dalam hal ini budaya politik partisipatif, akan mendukung sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil. Budaya politik yang demokratik ini menyangkut suatu kumpulan sistem keyakinan, sikap, norma, persepsi dan sejenisnya, yang menopang terwujudnya partisipasi. Keyakinan akan kemampuan seseorang merupakan kunci bagi sebuah sikap politik. Keyakinan akan kemampuan tersebut merupakan kunci bagi terbentuk dan terpeliharanya demokrasi.

DAFTAR PUSTAKA Budiman, Arif, Teori Negara: Negara, Kekuasaan dan Ideologi, Bumi Aksara, Jakarta,1995. Djoharwinarlien, Sri, Pemahaman Ilmu Pemerintahan, Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, Yogyakarta, 1993. Gaffar, Afan, et al, Otonomi Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

303

Gaffar, Afan, Politik Indonesi: Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999. Gusnardi, Mohammad dan Bintan R. Saragih, Ilmu Negara, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1994. Liang Gie, The, Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia Jilid I, II, III, Liberty, Yogyakarta, 1993, 1994, 1995. MacAndrews, Colin, dan Ichlasul Amal (eds.), Hubungan Pusat Daerah dalam Pembangunan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994). MacAndrews, Colin, dan Mohtar Mas’oed, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: UGM Press, 1981). Mariun, Azas-azas Ilmu Pemerintahan, Seksi Penerbitan Fisipol UGM, Yogyakarta, 1998.

304

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PERAN DAN TANTANGAN CIVIL SOCIETY DALAM REFORMASI BIDANG KEAMANAN DI INDONESIA: STUDI ATAS PROSES RANCANGAN UNDANG-UNDANG KEAMANAN NASIONAL Sarah Nuraini Siregar Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sarah_nuraini@yahoo.com ABSTRAK Salah satu nilai penting dari demokrasi adalah terciptanya pemerintahan berdasarkan prinsip good governance. Aspek yang dapat dilihat dari prinsip ini dan terkait dengan keterlibatan Civil society adalah adanya partisipasi dari kelompok ini dan adanya akuntabilitas di berbagai bidang, termasuk bidang politik; khususnya dalam isu-isu mengenai keamanan. Hingga saat ini, masalah keamanan di Indonesia seolah masih hanya tersentuh di tataran elit pemerintahan dan militer. Padahal, lebih dari itu, peran Civil society pun juga berpengaruh agar persoalan keamanan menjadi tanggungjawab bersama, dengan diliputi kesadaran penuh seluruh elemen masyarakat. Makalah ini akan mencoba menganalisis bagaimana keterlibatan Civil society di Indonesia dalam “mengawal” isu keamanan. Studi kasus yang akan dilihat adalah keterlibatannya dalam proses pembahasan Undang-undang (UU) Keamanan Nasional di Indonesia, dan peran penting Civil society di dalam memantau proses UU tersebut. Kata Kunci: keamanan, keamanan nasional, militer, civil society, undang-undang

LATAR BELAKANG Reformasi Bidang Keamanan di Indonesia dimulai pada saat digulirnya Reformasi di Indonesia tahun 1998. Salah satu tuntutan reformasi di bidang keamanan adalah menciptakan militer yang profesional. Profesionalisme militer dapat dilihat dari beberapa hal,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

305

seperti tidak terlibat dalam bidang politik, tidak terlibat dalam bisnis militer, dan memiliki fungsi yang jelas akan perannya. Misalnya, peran militer (TNI) adalah di bidang pertahanan, serta peran polisi (Polri) di bidang keamanan. Asumsi ini pada akhirnya berdampak pada berdampak pada pergeseran kebijakan keamanan yang relatif signifikan. Hal ini dapat dilihat melalui perubahan konsepsi mengenai pertahanan dan keamanan di Indonesia. Pada tanggal 1 April 1999, Panglima ABRI saat itu, Jenderal TNI Wiranto membuat keputusan pemisahan Polri dari ABRI. Kebijakan panglima TNI itu dilanjutkan dengan membuat payung hukumnya melalui TAP MPR No. VI tentang Pemisahan TNI dan Polri dan TAP MPR VII tahun 2000 mengenai Peran TNI dan Peran Polri. Kebijakan melalui TAP MPR ini dijadikan landasan pemberlakuan kebijakan-kebijakan politik di bidang keamanan dan pertahanan, yaitu UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU TNI No. 34 tahun 2004 dan dibuatnya Buku Putih Pertahanan 1 tahun 2003. Adanya regulasi-regulasi baru diatas memang seolah-olah telah menciptakan tranformasi baru dalam penataan reformasi bidang keamanan di Indonesia. Tetapi, yang perlu disoroti lebih jauh adalah bahwa regulasi-regulasi belum tentu juga menciptakan sebuah sistem yang mengatur secara komprehensif penataan masalah keamanan di Indonesia. Padahal di sisi lain, adanya sistem tersebut dapat menciptakan pengelolaan dan penataan keamanan secara terpadu, sistematis, saling terkoordinasi. Jika sistem ini terlaksana, maka dampaknya adalah memberikan feedback rasa aman bagi negara dan masyarakat dari berbagai bentuk ancaman.
1

Pasal 2 ayat 3 TAP MPR RI No. VI/MPR RI/ tahun 2000 menyebutkan: “dalam hal terdapat keterkaitan kegiatan pertahanan dan keamanan, TNI da Kepolisian Republik Indonesia harus bekerjasama dan saling membantu.” Pasal 4 ayat 1 TAP MPR No. VII/MPR RI/ tahun 2000 : “TNI memberikan bantuan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan atas permintaan yang diatur dalam Undang-undang.” Pasal 9 ayat 1 : “dalam keadaan darurat, Kepolisian Negara Republik Indonesia memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dalam Undang-undang.”

306

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Sistem inilah yang kemudian populer dengan istilah Keamanan Nasional (Kamnas). Regulasi yang telah dijelaskan sebelumnya sebenarnya menunjukkan bahwa aspek keamanan di Indonesia merupakan konsep yang menyeluruh dan perlu diatur lagi dalam satu regulasi yang komprehensif. Namun sayangnya, di Indonesia UU mengenai Keamanan Nasional ini belum dibentuk, sementara di lain pihak, UU atau regulasi yang terkait dengan penjabaran dari elemenelemen Keamanan Nasional sudah disahkan, seperti UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, UU TNI No. 34 tahun 2002, UU Kepolisian Negara RI No. 2 tahun 2002, dan sebagainya. Padahal secara ideal, suatu negara perlu mengatur secara jelas apa yang dimaksud dengan Keamanan Nasional, barulah kemudian dijabarkan ke dalam beberapa UU lainnya. Selain itu, perumusan kebijakan keamanan nasional dilakukan minimal untuk memperkuat tiga pilar strategi yaitu pilar politik, ekonomi, dan militer. Ketiga pilar ini menyiratkan bahwa kebijakan keamanan nasional bersifat multidimensional yang harus dirancang oleh Pemerintah Pusat. Peran pemerintah pusat dan koordinasi antarinstitusi ini harus diatur secara tegas agar terdapat kejelasan tentang tataran kewenangan, bentuk koordinasi, serta akuntabilitas 2 publiknya. Koordinasi antara pemerintah pusat dengan institusi lainnya tersebut yang dapat melibatkan civil society. Pemerintah perlu mencermati masukan-masukan penting dari civil society mengenai regulasi Keamanan Nasional. Pembahasan berikutnya dalam makalah ini akan menganalisis bagaimana keterlibatan civil society di Indonesia dalam mengawal isu keamanan, terutama keterlibatan dan partisipasi kelompok ini dalam proses pembahasan RUU Keamanan Nasional (Kamnas).

REVIEW KONSEP CIVIL SOCIETY DAN KONSEP KEAMANAN Istilah Civil society (CS) mengalami banyak rekonstruksi konseptual. Wacana di Indonesia misalnya, istilah ini kerap diidentikan dengan
2

Andi Widjajanto (ed.), Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia, (Jakarta: Propatria, 2004), hlm. 51.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

307

istilah “masyarakat madani,” “masyarakat warga,”, dan terakhir terjemahan dari istilah CS itu sendiri, yakni “masyarakat sipil.” Konsep atau istilah terakhir ini dilihat banyak kalangan sebagai konsep dari Barat dan mengalami banyak perdebatan konseptual. Terlepas dari perdebatan tersebut, kekuatan CS tetap memiliki arti penting bagi suatu negara; terutama negara yang mengalami demokratisasi seperti Indonesia. Dalam era keterbukaan politik, keberadaan CS menjadi signifikan, karena ia adalah salah satu pilar kekuatan demokrasi. CS diharapkan dapat menjadi pelopor untuk membangun masyarakat demokratis, sehingga tercipta sistem politik 3 dan pemerintahan yang demokratis. Dengan demikian, dari pemikiran ini jelas terlihat bahwa keberadaan CS juga memiliki pengaruh kuat terhadap hubungan antara masyarakat dan negara. Secara empirik, salah satu keberadaan CS dapat dilihat melalui keberadaan Organisasi Non Pemerintah (baca: Ornop). Ornop dapat saling “berhadapan” dengan pemerintah, dan berjalan seiring dengan pemerintah pula dengan tujuan yang sama, yaitu mengawal proses demokrasi yang berjalan. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa peran penting Ornop dapat terjadi di berbagai sektor maupun bidang, termasuk salah satunya adalah bidang keamanan. Kemudian istilah atau konsep Keamanan. Pada tataran teoretik, keamanan secara sederhana adalah suasana “bebas” dari segala bentuk ancaman bahaya, kecemasan, dan ketakutan, termasuk bebas dari kemungkinan perang maupun dari ketimpangan struktural dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya. Dalam kajian tradisional, keamanan seringkali ditafsirkan sebagai bebas dari berbagai bentuk ancaman fisik (militer atau ancaman tradisional) yang berasal dari luar negara tersebut. Dalam konteks ini, kekuatan militer selalu dianggap 4 sebagai salah unsur yang penting dalam suatu negara.

3

Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-Cita Reformasi, (Jakarta: PT Rajagrafindo, 1999) hlm. 12-13. 4 Kusnanto Anggoro,”Keamanan dan pertahanan Negara Pada Milenium Ketiga,” dalam Stanley (ed), Keamanan, Demokrasi, dan Pemilu 2004, (Jakarta : Propatria, 2004) hlm. 36.

308

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Selanjutnya, konsep keamanan mulai dikaji secara mendalam dan mengacu pada istilah keamanan nasional. Secara mendasar, keamanan nasional merupakan perwujudan dari konsep keamanan secara menyeluruh yang terdiri dari empat dimensi, yaitu dimensi pertahanan negara, stabilitas dalam negeri, ketertiban publik, dan 5 keamanan insani (human security). Keamanan merupakan kebutuhan masyarakat. Keamanan nasional adalah manifestasi dari keamanan komprehensif yang menempatkan keamanan sebagai agenda penting yang mewajibkan pemerintah (negara) untuk mengelolanya. Keamanan nasional mengandung pengertian yang lebih luas, yang mencakup keamanan dalam negeri seperti menjaga 6 ketertiban, dan keamanan masyarakat secara luas. Namun ironisnya, fakta menunjukkan bahwa urusan keamanan seolah-olah hanya menjadi urusan elit politik atau pemerintah; atau hanya berada di lingkup pembahasan militer dan kepolisian. Padahal, keterlibatan dan partisipasi masyarakat memiliki arti penting bagi kualitas jaminan keamanan itu sendiri. Oleh karena itu, masalah keamanan; terutama pembahasan mengenai keamanan nasional selayaknya menjadi tema dan isu publik, sehingga masyarakat akan merasa menjadi bagian penting dari pengelolaan dan pelaksanaan keamanan. Disinilah kita dapat melihat peran penting Ornop; sebagai representasi dari publik (masyarakat) di luar negara. Dalam konteks keamanan, Ornop pun berperan dan dapat mempengaruhi regulasi mengenai keamanan; sepanjang masih berada dalam koridor dan prinsip demokrasi. Karena itulah, dari aspek konseptual; CS juga berperan penting dalam mengawal isu-isu keamanan. Dalam konteks Indonesia, peran CS dapat dilihat melalui keberadaan Ornop dalam mengawal Reformasi di bidang keamanan, terutama dalam mengawal RUU Keamanan Nasional.

5 6

Newsletter IDSPS (Seri 8) tahun 2008, hlm. 2. Theo L. Sambuaga, “TNI-Polri di Masa Perubahan Politik,” dalam Al Araf & Anton Aliabas, TNI-Polri di Masa Perubahan Politik, (Bandung: ITB, 2007) hlm. Viii.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

309

ANALISIS PERAN CIVIL SOCIETY (ORGANISASI NON PEMERINTAH) DALAM REFORMASI BIDANG KEAMANAN : PROSES RUU KEAMANAN NASIONAL Kondisi yang terjadi pada awal reformasi adalah negara, khususnya militer, berada pada posisi yang gencar dikritik oleh masyarakat. Militer dituntut agar berubah menjadi militer yang profesional. Militer tidak boleh lagi terlibat dalam bidang politik. Urusan keamanan masyarakat juga tidak lagi menjadi urusan militer (TNI), melainkan diambil alih oleh kepolisian. Atas dasar alasan inilah, maka Polri kemudian dipisahkan dari TNI sejak tahun 1999, dan kemudian disahkan melalui ketetapan MPR pada tahun 2000. Di lain pihak, pada masa ini, kelompok Ornop justru semakin kuat dari sisi legitimasi politik maupun sumber daya ekonomi. Dari sisi legitimasi, ia mendapatkan dukungan politik yang kuat dari masyarakat sipil. Dari sisi sumber daya, juga mendapat bantuan masyarakat internasional yang berkepentingan terhadap proses 7 demokrasi di Indonesia. Salah satu contoh Ornop yang mengkhususkan partisipasinya di bidang ini adalah Propatria Institute. Propatria Institute sejak awal kiprahnya merupakan ‘perkumpulan,’ atau ‘koalisi strategis’ dengan keanggotaan para individu dengan latar belakang akademisi, peneliti, aktivis, dan praktisi masyarakat sipil yang memiliki perhatian terhadap sektor keamanan. Dengan kondisi tersebut, Propatria Institute dapat dipandang sebagai organisasi yang memosisikan dirinya sebagai think tank yang fokus dalam memberikan masukan strategis kepada negara (eksekutif dan legislatif) selaku pembuat dan pelaksana kebijakan sektor keamanan –yang di dalamnya termasuk urusan 8 pertahanan. Pada saat RUU Keamanan Nasional menjadi wacana cukup kuat beberapa tahun terakhir ini, Propatria mencoba mendalaminya dan memberikan masukan pada pemerintah mengenai signifikansi dari
7

8

Lihat Muh. Haripin (tesis), Komunikasi Advokasi Organisasi Non-Pemerintah untuk Reformasi SektorKeamanan di Indonesia Pasca-Orde Baru (1999-2009). (Bandung: ITB, 2010) hlm. 86. Ibid. hlm. 89-90.

310

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

RUU ini. Ornop ini mencoba melakukan beberapa kegiatan untuk menghasilkan semacam academic paper yang mengulas konsep keamanan nasional, dan menekankan pentingnya konsep ini untuk segera diinstitusionalisasikan dalam bentuk regulasi. Hal ini dapat dilihat ketika Propatria berhasil menyusun working paper dari hasil working group Security Sector Reform mengenai “Kerangka Sistemik Keamanan Nasional.” Hasilnya adalah Propatria mengeluarkan wacana bahwa pada saat regulasi Keamanan Nasional dibahas, pemerintah juga perlu menciptakan semacam sistem Keamanan Nasional, yang merupakan bagian dari sistem nasional yang kokoh seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Dalam working paper tersebut, dijelaskan bahwa sistem keamanann nasional merupakan salah satu bagian dari sistem nasional yang dibangun untuk mencapai tujuan nasional di bidang keamanan, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Selain itu, masukan lainnya dari Ornop ini adalah bahwa istilah keamanan nasional juga harus meliputi empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu dimensi pertahanan negara, dimensi stabilitas dalam negeri, dimensi ketertiban publik, dan dimensi keselamatan insani. Empat dimensi ini harus menjadi bagian integral dari sistem keamanan nasional dengan tidak menghilangkan kemungkinan pengembangan sistem-sistem nasional lain yang dikembangkan oleh negara yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah keamanan di dimensi-dimensi spesifik dalam tingkatan eskalasi yang lebih rendah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka diperlukan pihak yang dapat menentukan pengaturan berbagai institusi dan hubungan antar institusi tersebut dalam melakukan pengelolaan keamanan nasional. Dari kajian Propatria, pihak tersebut dapat disebut sebagai Dewan Keamanan Nasional yang memiliki fungsi untuk mengukur kondisi keamanan nasional, membuat prediksi, membuat formulasi saran, tindakan, dan rekomendasi terhadap gangguan maupun ancaman keamanan di negaranya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

311

Suatu dewan keamanan nasional juga bertugas menganalisa isu-isu ancaman, darimana ancaman datang, dan bagaimana menghadapi ancaman tersebut. Lembaga ini bertugas memberikan masukan maupun rekomendasi kepada Presiden dalam pembuatan kebijakan umum pertahanan dan keamanan negara, menyusun kebijakan tentang pengerahan komponen pertahanan dan keamanan, serta menelaah resiko dari kebijakan yang ditetapkan. Tetapi ada fungsi yang lebih fundamental. Ketua dewan keamanan nasional adalah juga penasehat presiden dalam bidang keamanan (national security adviser) yang sehari-harinya berkomunikasi dengan Presiden. Dalam situasi krisis, keberadaan Dewan Keamanan Nasional sangat diperlukan, terutama ketika pemerintah menghadapi situasi darurat atau mendesak yang segera harus ditangani dengan segala resikonya, termasuk ketika harus menggunakan instrumen kekerasan dan memberlakukan keadaan darurat pada berbagai tingkatan di 9 suatu daerah yang mengalami gangguan keamanan. Ornop lainnya yang juga berpartisipasi dalam pembahasan RUU Keamanan Nasional antara lain IDSPS (Institute for Defense Security and Peace Sttudies), Elsam, Kontras, dan sebagainya. Salah satu yang menarik misalnya masukan dari IDSPS. Secara berkala, Ornop ini menerbitkan dokumen Newsletter yang mengulas satu persatu isu keamanan, termasuk masalah Keamanan Nasional. Dalam Newsletter edisi seri 8, bulan 06/2008, IDSPS mengulas mengenai wacana keamanan nasional secara singkat namun komprehensif. Dimulai dari pengertian keamanan nasional, pentingnya konsep ini di suatu negara, dan yang menarik adalah penekanan poinnya bahwa apakah keamanan nasional hanya berhubungan dengan militer. Pembahasan di poin tersebut dibantah oleh Ornop ini. Dalam penjelasannya, keamanan nasional tidak semata menjadi urusan militer, atau bahkan militer dan kepolisian. Militer hanya salah satu aspek penting dalam konsep keamanan nasional. Keamanan nasional
9

Edy Prasetyono, “Masalah-masalah Bidang Pertahanan dan Keamanan,” dalam makalah hasil diskusi dari makalah hasil diskusi dari http://www.propatria.or.id/ (diakses tanggal 12 Oktober 2009).

312

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

juga ditentukan oleh aktor dan aspek lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kelima aspek, baik yang berkaitan dengan militer maupun non militer, memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya, dan dapati dirinci pada tataran peran di tingkat individu, 10 nasional, regional, maupun internasional. Penjelasan dan argumen lainnya adalah mengacu pada analisis yang dikeluarkan oleh PBB. PBB menekankan perubahan konsep dan fokus keamanan dari keamanan yang menitikberatkan kepada keamanan negara menjadi keamanan masyarakat, dari keamanan melalui kekuatan militer menuju keamanan melalui pembangunan masyarakat, dari keamanan wilayah kepada keamanan manusia terkait dengan jaminan keamanan, pangan, pekerjaan, dan lingkungan. Wacana di atas memperlihatkan bahwa secara konseptual, istilah keamanan tidak lagi hanya berada di kisaran militer. Istilah ini dapat (dan perlu) mendapatkan perhatian dan masukan dari masyarakat, karena dalam perkembangannya, konsep keamanan justru lebih menyentuh kepentingan masyarakat (publik) secara keseluruhan. Oleh karena itu, keterlibatan CS dalam persoalan-persoalan keamanan di Indonesia sebenarnya adalah hal yang lumrah, dan diperlukan untuk mengkritisi dan melihat kembali apakah regulasiregulasi keamanan yang dibentuk oleh pemerintah memang ditujukan untuk menjawab kepentingan keamanan masyarakat. Namun demikian, pada akhirnya proses pembahasan RUU Keamanan Nasional berujung pada keputusan antara eksekutif dan legislatif, serta itikad baik dari pemerintah agar persoalan keamanan nasional segera dituntaskan dalam bentuk UU. Namun demikian, fakta lain juga memperlihatkan bahwa pembahasan RUU ini menuai perdebatan pelik, terutama antara TNI dan Polri. Bagi TNI, adanya UU mengenai Keamanan Nasional mutlak diperlukan karena terkait dengan eksistensi negara dan keselematan bangsa secara menyeluruh. Oleh karena itu, inisiator dari RUU Keamanan Nasional digulirkan oleh TNI. Substansi dari RUU ini—
10

Newsletter IDSPS (Seri 8) tahun 2008...Op.Cit.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

313

salah satunya—adalah melibatkan peran institusi negara yang memiliki wewenang paksa untuk mengkoordinasikan semua institusi yang terkait dalam menanggulangi masalah-masalah keamanan nasional. Di lain pihak, bagi Polri sendiri tidak ada istilah Keamanan Nasional dalam UUD 1945. Istilah yang resmi dianut adalah Pertahanan Negara dan Keamanan Negara, dimana secara tegas dinyatakan bahwa peran TNI adalah di bidang Pertahanan Negara, dan Polri di bidang keamanan. Dengan mengintrodusir istilah Keamanan Nasional dalam suatu UU—bagi Polri—akan mengacaukan pengertian baku 11 yang selama ini dianut dan bertentangan dengan konstitusi. Perdebatan ini akhirnya tidak berujung pada suatu kesepakatan antara pihak yang justru memiliki peran penting dalam masalah keamanan. Sementara di sisi lain, kalangan CS yang diwakili oleh Ornop telah berulangkali menekankan bahwa masalah Keamanan Nasional tidak bisa hanya melibatkan institusi keamanan. Kepentingan masyarakat perlu dilihat, dan oleh karena itu masukanmasukan dari Ornop untuk RUU ini juga semakin gencar dilakukan. Persoalan keamanan nasional harus melihat kepentingan besar (masyarakat) secara menyeluruh; tidak lagi melihat kepentingan parsial TNI maupun Polri, karena pada dasarnya kedua institusi ini jelas berada di bawah otoritas politik (pemerintahan sipil). Namun demikian, karena perdebatan yang terus menerus itulah, maka RUU Pertahanan dan Keamanan Negara, atau Keamanan Nasional (Kamnas) (inisiator oleh Dephan). Pembahasan ditunda, dan draft RUU berada di Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam). Berdasarkan fakta di atas, sulit untuk menyimpulkan bahwa pemerintah akhirnya memiliki itikad politik (political will) untuk mengatur sektor keamanan berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, terutama saat substansi RUU dari pemerintah tersebut dilihat dari sudut pandang masyarakat sipil. Pertama, petunjuknya adalah kritik, keberatan, dan penolakan yang gencar dari kalangan ornop, media, serta elemen masyarakat lainnya terhadap sebagian rancangan
11

Newsletter Komisi Hukum Nasional, Vol. 7 (Jan-Feb 2007) hlm. 10.

314

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kebijakan pemerintah yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokratis, sehingga pemerintah menarik kembali rancangan tersebut dari parlemen. Kedua, sebagian kebijakan regulasi lainnya tidak selesai, bahkan tidak sempat, dibahas oleh parlemen karena 12 berbagai alasan.

PENUTUP Penjelasan diatas memperlihatkan bahwa keterlibatan Ornop di Indonesia dalam pembahasan RUU Keamanan Nasional sudah terlihat signifikan. Partisipasi mereka—sebagai bagian dari CS setidaknya menunjukkan bahwa isu-isu mengenai keamanan juga memerlukan “pengawalan” dari publik (masyarakat). Oleh karena itu, wacana mengenai keamanan tidak hanya menjadi ranah militer, tetapi juga termasuk di dalamnya kalangan sipil (masyarakat). Namun demikian, harus diakui bahwa kekuatan Ornop tidak cukup kuat untuk benar-benar melakukan reformasi terhadap institusi keamanan negara. Slogan-slogan dan wacana keterlibatan dari ornop baru sebatas memaksa institusi militer mengikuti tren demokratisasi. Tetapi di lain pihak, ornop sendiri belum memiliki gambaran jelas tentang bagaimana seharusnya militer, kepolisian, dan intelijen Indonesia bekerja dalam sistem demokrasi. Dengan kata lain, dapat disimpulkan sementara bahwa tuntutan ornop pada saat itu lebih didasari oleh pertimbangan emosional dan euforia kebebasan, mengingat praktek kekerasan dan represi ABRI terhadap oposisi 13 selama Orde Baru berkuasa. Masalah lainnya adalah tidak ada konsensus di kalangan ormop mengenai prioritas Reformasi Sektor Keamanan; apakah advokasi kebijakan harus dimulai dari reformasi militer, kepolisian, atau intelijen. Praktek yang selama ini terjadi adalah advokasi Reformasi Sektor Keamanan lebih ditujukan kepada berbagai institusi secara sekaligus tanpa ada indikator keberhasilan (pencapaian) atau
12

Muh. Haripin (tesis), Komunikasi Advokasi Organisasi Non-Pemerintah untuk Reformasi SektorKeamanan di Indonesia...Op.Cit. 13 Ibid.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

315

parameter yang jelas dan terukur. Sebagai contoh, ada yang berpendapat bahwa UU TNI merupakan pencapaian atau klimaks reformasi militer, sedangkan di pihak lain ada yang menilai regulasi tersebut mengandung masalah sehingga reformasi militer masih jauh dari selesai. Tetapi, terlepas dari kelemahan-kelemahan Ornop diatas, bahkan juga terjadi problem internal dan relasi konfliktual dengan pemerintah, kalangan ornop tetap melakukan kegiatan seminar, pelatihan, siaran pers bersama, dan penerbitan buku. Kalangan ornop menyelenggarakan kegiatankegiatan tersebut guna berkomunikasi dengan masyarakat luas yang berada di ruang publik. Ini merupakan salah satu hal yang patut dilanjutkan untuk penguatan kapasitas CS sendiri, agar dapat terus mengawal isu-isu publik yang terkait dengan kepentingan masyarakat Indonesia secara umum.

DAFTAR PUSTAKA Araf, Al & Anton Aliabas, TNI-Polri di Masa Perubahan Politik, Bandung: ITB, 2007. Culla, Adi Suryadi, Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-Cita Reformasi, Jakarta: PT Rajagrafindo, 1999. Haripin, Muh. (tesis), Komunikasi Advokasi Organisasi NonPemerintah untuk Reformasi SektorKeamanan di Indonesia Pasca-Orde Baru (1999-2009). Bandung: ITB, 2010. Newsletter IDSPS (Seri 8) tahun 2008. Newsletter Komisi Hukum Nasional, Vol. 7, Jan-Feb 2007. Prasetyono, Edy., “Masalah-masalah Bidang Pertahanan dan Keamanan,” dalam makalah hasil diskusi dari makalah hasil diskusi dari http://www.propatria.or.id/ Stanley (ed), Keamanan, Demokrasi, dan Pemilu 2004, Jakarta : Propatria, 2004. TAP MPR No. VII/MPR RI/ tahun 2000. TAP MPR RI No. VI/MPR RI/ tahun 2000.

316

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Widjajanto, Andi (ed.), Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia, Jakarta: Propatria, 2004.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

317

COMMUNITY BROADCASTING SEBAGAI UPAYA MENUJU KNOWLEDGE BASED SOCIETY Siti Samsiyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka siti@ut.ac.id ABSTRAK Kurang lebih 300 juta jiwa, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbesar di wilayah Asia Tenggara. Mayoritas penduduk berdomisili di wilayah pedesaan. Diperlukan upaya keras bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakatnya. Peningkatan taraf hidup merupakan upaya pemerintah yang perlu didukung oleh berbagai pihak. Diantaranya sosialisasi program pemerintah, berupa peningkatan pariwisata, pertanian dan perekonomian. Namun mengandalkan dari upaya pemerintah saja tidak cukup, diperlukan waktu yang cukup lama untuk mensosilisasikan program pemerintah tersebut. Disini diperlukan kreativitas dari masyarakat untuk membantu program pemerintah meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Radio Komunitas (community broadcasting) merupakan cara yang cukup strategis bagi wilayah pedesaan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Diawali dari komunikasi yang sesuai dengan kultur mereka, informasi tersebut mereka serap dan pada akhirnya diimplementasikan ke dalam kehidupan mereka. Dengan harga 250.000/pemancar radio amatir low power ini dapat dibuat sendiri oleh masyarakat pedesaan. Dengan daya jangkau 10-20 km, radio komunitas dapat beroperasi dengan lancar dan suara jernih.Jika konsep ini terealisasi, masyarakat terutama wilayah pedesaan dapat melakukan pengaksesan informasi sesuai dengan kebutuhan. Indonesia akan mengalami pencepatan peningkatan informasi yang signifikan sehingga tercipta masyarakat yang berkualitas, dari sisi informasi, pengetahuan dan pada akhirnya pada kehidupan ekonomi mereka. Dengan demokratisasi informasi berarti membangun masyarakat madani melalui sarana akses informasi yang mudah dan terjangkau. Kata kunci: community broadcasting, knowledge based society

318

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Saat ini teknologi telah berkembang demikian pesat. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan pekerjaan di berbagai sektor. Sebuah pekerjaan yang didalamnya menghasilkan ribuan data dan tersebar di berbagai daerah/cabang dalam waktu yang relatif singkat dapat ditemukan kembali tanpa beranjak dari tempat. Keistimewaan seperti itu hanya dapat didapat dengan kemajuan teknologi. Ekses dari kemajuan teknologi juga dapat dilihat pada sektor informasi. Saat ini akses informasi demikian beragam, mulai dari televisi ratusan kanal televisi dapat kita saksikan, internet yang membrikan fasilitas akses informasi berabeka ragam, koran, majalah baik sajian secara manual maupun elektronik. Tak terkecuali media radio. Makin berkembangnya teknologi media radio turut berkembang demikian pesat, baik dari sisi jumlah maupun variasinya. Diantara variasi radio yang kita jumpau saat ini selain jalur AM, FM, juga dikenal radio satelit, radio komunitas. Untuk yang terakhir inilah pada dekade 90-an hingga sekarang makin besar jumlahnya. Hal tersebut disebabkan pembuatan radio jenis ini relatif mudah dengan harga yang murah, dan sangat fleksibel disesuaikan dengan komunitasnya. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan karakteristik wilayah yang tersebar dan penduduk yang beraneka ragam memerlukan beragam sarana akses informasi yang sesuai dengan letak geografis maupun kepentingan masyarakatnya. Untuk daerah tertentu yang dibatasi oleh pegunungan tidak semua sarana akses informasi dapat dimanfaatkan. Kondisi demikian menciptakan jenis kebutuhan media serta jenis informasi yang bebeda bagi seluruh masyarakat yang ada di daerah di seluruh Indonesia.

Informasi Informasi merupakan fungsi yang paling penting pada sebuah komunikasi massal. Radio sebagai sarana komunikasi massal menghasilkan informasi yang diserap oleh khalayak dalam waktu yang reltif singkat. Dengan karakteristik inilah radio memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lainnya. Diantaranya radio harganya

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

319

lebih murah, pesan yang disampaikan dapt didengar mulai wilayah pedesaan hingga wilayah perkotaan. Jika mayoritas masyarakat sudah menjadikan informasi sebagai salah satu kebutuhannya maka bisa dikategorikan masyarakat tersebut sudah menjadi masyarakat informasi. Masyarakatpun dapat memilih dan dapat mengakses berbagai jenis informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai media radio memiliki misi memberi informasi, mendidik dan menghibur. Maraknya radio komunitas saat ini merupakan bentuk dari demikratisasi informasi. Melalui sarana radio komunitas ini masyarakat dapat memilih jenis inforasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan. Bagaimanakah bentuk demokratisasi informasi untuk membangun masyarakat madani di Indonesia ?

Komunikasi Massa dan Media Massa Beberapa definisi komunikasi massa, antara lain: 1. Komunikasi massa adalah proses dimana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak (Ruben, 1992) Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang. (Bittner,1980) Komunikasi massa adalah suatu proses dalam komunikatorkomunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesanpesan secara luas, dan terus menerus menciptakan maknamakna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara (DeFleur dan Denis,1985)

2. 3.

Dari ketiga definisi tadi dapat diartikan bahwa unsur-unsur komunikasi yang digunakan dalam komunikasi massa terdiri dari: sumber, khalayak, pesan, proses, konteks dan media.

320

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Karakter komunikasi massa: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ditujukan pada khalayak yang luas, heterogen, anonim, tersebar dan tidak mengenal batas geografis-kultural. Bersifat umum, bukan perorangan atau pribadi. Kegiatan penciptaan pesan melibatkan orang banyak dan terorganisir. Pola penyampaian bersifat cepat dan tidak terganggu oleh waktu dan menjangkau khalayak luas. Penyampaian pesan cenderung satu arah. Kegiata komunikasi terencana, terjadwal dan terorganisasi. Penyampaian pesan bersifat berkala, tidak bersifat temporer. Isi pesan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, politik dsbnya).

Memahami komunikasi massa tidak akan terlepas dari media massa, karena objek kajian terbesar adalah pada peran dan pengaruh yang dimainkan media massa. Berikut adalah faktor-faktor yang mendasar dari media massa: 1. media massa merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lain yang terkait. Media juga merupakan industri sendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat. media massa merupakan sumber kekuatan-alat kontrol, manajemen, inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya. media merupakan forum atau agen yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional. media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan

2.

3.

4.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

321

bentuk seni dan simbol tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma. 5. media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.

Radio Siaran Perangkat radio komunikasi saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Begitu juga juga di Indonesia, radio komunikasi berfungsi sebagai alat komunikasi yang cukup efektif terutama didaerah-daerah terpencil yang sulit dilalui. Dari frekwensi kerjanya, radio komunikasi dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok yaitu : HF atau High Frequency Transceiver adalah radio komunikasi yang bekerja pada rentang frekwensi 0 sampai dengan 60 Mhz. Radio jenis ini mempunyai beberapa mode dalam operasinya yaitu, AM (Amplitude Modulation), FM (Frequency Modulation), USB (Upper Side Band) LSB (Lower Side Band) dan juga CW atau Continuous Wave yang dipakai untuk mengirim dan mendengarkan morse. Panjang gelombang radio ini mulai dari 7 sampai 160 meter (wave length). Radio jenis ini tidak memerlukan power yang besar untuk menjangkau jarak yang jauh, namun sayangnya rambatan gelombangnya tidak merata sehingga kurang cocok untuk komunikasi yang intents. Dalam penerapannya pada rentang frekwensi ini penggunaannya di bagi-bagi lagi dalam beberpa kategori, termasuk radio broadcast yang bekerja pada rentang 88.00 khz sampai dengan 107.00 khz baik itu pada mode AM (Amplitudo Modulation) maupun yang dengan radio FM (Frequency Modulation). Frekwensi di HF ini dibagi dan diatur penggunaannya oleh DisHub (sekarang DepKominfo) melalui Kepres Bersama. Termasuk didalamnya radio konsesi untuk perusahaan komersial. Khusus untuk perusahaan komersial, frekwensi radio HF bisa di pesan penggunaannya hanya oleh perusahaan yang mendaftar dan

322

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

membayar kapling frekwensi melalui peraturan yang berlaku. Pendaftrarannya juga di lakukan di Dinas Perhubungan. Penggunaan frekwensi ini di monitor oleh BalMon (Balai monitoring ) Frekwensi Radio. VHF atau Very High Frequency adalah radio komunikasi yang bekerja pada rentang frekwensi 130,000.00 Mhz sampai dengan 180,000.00 Mhz atau yang sering kita sebut radio 2 meteran karena panjang gelombang radionya adalah sekitar 2 meter. Karena kemudahan pemakaian dan kejernihan suaranya yang sempurna radio 2 meteran lebih cepat akrab dikalangan breaker. Radio 2 meteran relatif memerlukan power yang besar untuk mendapatkan jangkauan yang luas. Dan memerlukan antenna yang cukup tinggi untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Rambatan gelombang dari radio jenis ini cukup merata. Pada awal kemunculan radio ini diawal tahun 1970an, perangkat radionya masih mempunyai mode SSB, CW dan FM. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan permintaan pemakai yang cenderung mau gampang dan praktis akhirnya radio 2 meteran yang baru kebanyakan hanya dibekali dengan frequency FM. UHF atau Ultra High Frequency adalah radio komunikasi yang bekerja pada rentang frekwensi 430,000.00 Mhz sampai dengan 480,000.00 Mhz atau yang sering disebut radio U atau 70 centimeter karena panjang gelombangnya cuma 70 centimeter sehingga daya jelajahnya gelombangnya sangat merata, namun sayang jarak pancarnya yang tidak begitu jauh. Radio jenis ini banyak dipakai oleh polisi yang diperkuat dengan Radio Pancar Ulang di beberapa titik untuk membuat daya pancar yang merata diberbagai tempat. Power yang dibutuhkan juga mendekati radio 2 meter.

-

Radio Komunitas Radio komunitas merupakan media siaran yang berdirinya karena partisipatif dari masyarakat. Warga komunitas adalah pemilik radio komunitas, dan mereka yang menentukan sendiri acara-acara yang akan disiarkan. Karena itu biasa juga disebut sebagai radio partisipatif

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

323

( participatory radio). Semua ini dimungkinkan karena teknologi radio komunitas relatif sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar untuk mengoperasikannya. Menurut artikel yang disitir dari (http://lambdaradio. Wordpress.com) radio komunitas perlu ada karena 1. 2. 3. 4. Masyarakat memiliki hak komunikasi Masyarakat memiliki hak memeperoleh pemenuhan kebutuhan informasi yang benar. Masyarakat memiliki hak menyampaikan informasi berdasarkan kepentingannya dan/atau untuk menyampaikan pendapatnya. Fakta-fakta bahwa media massa yang dikembangkan oleh swasta tidak menjangkau wilayah pedesaan, hanya menjangkau wilayah ibukota kabupaten, dan terpusat di ibukota propinsi dan ibukota negara.

Radio komunitas juga mampu memangkas biaya-biaya sosialisasi program pemerintah desa, dan memberikan informasi terbaru tentang perkembangan mutakhir perpolitikan desa. Hasil kajian memperlihatkan bahwa media radio komunitas bertumbuh seiring dengan iklim keterbukaan yang lebih luas sejak era reformasi. Menurut Onno Purbo, jika impleemntasi radio pemancar kecil (kelas 10 watt-an) di pedesaan yang dioperasikan oleh masyarakat itu sendiri dan beranalogi pada bentuk koperasi bentuk ini merupakan terobosan yang luar biasa di dunia informasi elektronik rangka rangka memberdayakan bangsa dari sisi informasi dan pengetahuan. Dengan radio masyarakat yang kecil, mandiri dan terdistribusi masyarakat bisa saling belajar memalui radio tersebut . Yang perlu ditekankan di sini konsep radio masyarakat (public broadcasting) sifatnya tidak merupakan komunikasi satu arah yang represif tapi merupakan komunikasi dua arah yang juga interaktif diantara masyarakat pedesaan. Melalui radio komunitas akses informasi sangat terbuka bagi masyarakat sehingga informasinya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kehidupan mereka yang pada akhirnya terbentuk karakteristik masyarakat madani, adanya fenomena, (a)

324

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

demokratisasi, (b) partisipasi sosial, dan (c) supremasi hukum; dalam masyarakat.

KESIMPULAN Radio komunitas merupakan sarana akses strategis bagi masyarakat di wilayah manapun, dan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Dengan biaya yang murah dan perakitan yang dapat dibuat sendiri radio komunitas mampu menciptakan demokratisasi informasi pada masyarakat. Media komunitas mempunyai kegunaan bagi komunitas yang dilayaninya antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mendukung budaya setempat Menciptakan pertukaran opini secara bebas Mampu Menciptakan program yang variatif Merangsanga demokrasi dan dialog Mendukung pembangunan dan perubahan sosial Mempromosikan dan membentuk masyarakat madani Merangsang partisipasi melalui penyebaran informasi dan inovasi Berfungsi menghubungkan komunikasi di komunitas

Melihat manfaat radio komunitas maka sarana ini perlu dikembangkan sehingga tercipta masyarakat madani dengan kemapanan ekonomi, demokratisasi informasi dan menjunjung tinggi supremasi hukum dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Ardianto, Elvinaro Dkk. 2009. Komunikasi Pengantar. Bandung : Simbiosa Rekatama Media. Massa Suatu

Achmad, 2007. Literasi Informasi dan Aplikasi Library Software. Makalah dalam Seminar Perpustakaan Sekolah dp Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Budi Rahardjo, 2001. “Pergolakan Informasi di Indonesia akan sia-sia?”, Koran Tempo, (To be publish.)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

325

Bundy, A. 2001. For a clever country: information literacy diffusion in the 21 st century. < Akses dari hhtthttp://www.library.unisa. edu.au/about/papers/clever.pdf. MC Quail, Dennis Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, edisi kedua, Erlangga, Jakarta. Moss Sylvia Stewart L. Tubbs-, Human Communication: KontekKonteks Kom unikasi, Pengantar Dr. Deddy Mulyana, M.A Triartanto, A.Ius. 2010. Broadcasting Radio (Panduan Teori dan Praktek). Yogyakarta : Pustaka Book Publisher. Wahyudi. J.B. 1994. dasar-Dasar Manajemen Penyiaran. Jakarta : Gramdedia Pustaka Utama Undang-undang Republik Indonesia, Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan informasi publik, Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Lembaga Informasi Nasional, 2003. Jakarta. http://lambdaradio.wordpress.com ( diuduh 6 Mei 2011-pkl. 14.10) http:// ui.ac.id ( diunduh 6 Mei 2011-pkl 15.47) http://rbsfm.org/

326

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

ETIKA KOMUNIKASI SEBAGAI TONGGAK PEMBELAJARAN DEMOKRASI Sri Sediyaningsih, Ace Sriati Rahman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka dianb@ut.ac.id, acesr@ut.ac.id ABSTRAK Hampir setiap hari kita dihujani dengan pemberitaan mengenai ketidak puasan yang disalurkan melalui demonstrasi dan banyak diantaranya yang disalurkan secara anarkis. Pengungkapan ketidak puasan memang harus diberi tempat, demonstrasi salah satu tempat yang dapat digunakan untuk berwacana mengutarakan kekecewakan atau ketidakpuasan tersebut. Namun kecenderungan tindakan anarkhis dengan merusak apapun disekeliling mereka, sudah bukan hal yang dapat diterima lagi. Ini menunjukkan bahwa rasa toleransi diantara masyarakat sudah semakin menipis. Perbedaan pendapat hal yang wajar, yang tidak wajar adalah tatkala kita tidak bisa melihat dan menghargai perbedaan yang ada. Menghargai pendapat orang lain adalah salah satu elemen dalam hidup berdemokrasi, dan ini yang kurang dipahami dengan baik oleh masyarakat kita, bahkan juga oleh sebagian politisi dan pejabat negara kita. Untuk menganalisis fenomena ini, maka bahasan ini akan menggunakan kajian literatur mengenai etika media,untuk melihat bagaimana proses pembentukan etika yang terjadi , kemudian melihat bagaimaan suatu makna diolah oleh masyarakat yang ditinjau dari pembentukan makna, serta bagaimana masyarakat melihat suatu konflik baik konflik dalam dialog sampai yang anarkis dengan menggunakan teori realitas sosial. Dari kajian teoritis dan pendekatan konstruktivis penulis mencoba menganalisis fenomena etika komunikasi dalam pembelajaran proses Demokratisasi di Indonesia. Kata kunci: etika komunikasi, demokrasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

327

PENDAHULUAN Banyaknya unjuk rasa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini diawali dengan tumbangnya masa orde baru yang digantikan dengan masa reformasi pada tahun 1998. Sebelum tumbangnya era Soeharto, hampir tidak pernah ada berita mengenai unjuk rasa, kondisi masyarakat tentram dan damai seolah tidak ada gejolak yang muncul. Ternyata gejolak itu sudah tertumpuk berpuluh tahun, sehingga di saat ada kesempatan keluarlah gejolak yang sudah menahun tersebut dalam suatu gerakan yang sangat anarkis di tahun 1998. Reformasi digaungkan, namun sayangnya apa makna dari reformasi yang ditandai dengan adanya kebebasan berpendapat atau era keterbukaan sendiri tidak banyak dimaknai dengan benar oleh masyarakat kita, sehingga yang terjadi adalah banyaknya unjuk rasa yang disertai dengan kekerasan atau bahkan anarkis, baik yang dilakukan oleh para pengunjuk rasa maupun oleh aparat. Sekelumit gambaran tadi adalah suatu keadaan yang ada di lapisan masyarakat, di lapisan para pejabat negara baik dari sisi legislatif, yudikatif dan eksekutif itu sendiri, sering kita lihat melalui berita di televisi, adanya pengungkapan perbedaan pendapat yang memberi makna negatif. Artinya menimbulkan kesan bahwa para pejabat, anggota Dewan kita kurang atau bahkan tidak bisa menghargai perbedaan pendapat yang ada. Diskusi yang sering kita jumpai di berbagai stasiun TV, berita-berita mengenai kericuhan di rapat Dewan, di berbagai persidangan, menunjukkan tidak adanya saling menghargai terhadap pendapat pihak lain dengan cara yang baik. Kondisi-kondisi yang secara awam terlihat melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, mengusik hati penulis untuk mengupas masalah etika komunikasi dalam mewujudkan demokrasi dan masyarakat madani. Sebelumnya ada baiknya kalau kita samakan terlebih dahulu persepsi dari konsep masyarakat madani. Ada beberapa ahli yang mengatakan masyarakat madani identik dengan masyarakat sipil atau yang dikenal dengan civil society. Orang yang pertama kali mencetuskan istilah civil society adalah 1 Cicero (106-43SM) ,yaitu suatu komunitas politik yang beradab. Yang
1

Usman,Husaini,2007

328

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pasti lahirnya masyarakat sipil ini dikarenakan adanya anti kolonialisme, lemahnya pemerintahan, resistensi terhadap tekanan kekuasaan dan dan adanya keinginan akan pertumbuhan ekonomi, 2 meningkatnya suasana demokrasi, dan sebagainya. Sedangkan Nurcholis Madjid mengatakan bahwa masyarakat berbudi luhur atau berahlak mulia itulah masyarakat peradaban, masyarakat madani atau “civil society”. Dan masyarakat madani ini akan terwujud bila jika 3 cukup ada semangat keterbukaan dalam masyarakat. Oleh karena itu pada bahasan makalah ini, penulis akan menggunakan dua istilah tersebut sesuai dengan sumbernya. Intinya tidak ada perbedaan antara masyarakat madani dan masyarakat sipil atau civil society.

ETIKA KOMUNIKASI Etika didefinisikan sebagai suatu tanggung jawab moral untuk memilih, menentukan dan secara sukarela sesuai dengan kebenaran, nilai, kejujuran, kepercayaan, hukum dan juga segala sesuatu yang ada yang mungkin terjadi melalui transaksi komunikasi yang berpengaruh bagi kita dan pihak lain. Etika kalau mengacu pada teori adalah prinsip-prinsip yang abstrak di mana merupakan implikasi secara moral terhadap batasan-batasan perilaku kita (J. Vernon Jensen,1997) Dimensi etis mempengaruhi pengambilan keputusan ketika dua atau 4 lebih pilihan yang layak dan dapat dipilih secara bebas. Pike (1966) menempatkan dengan baik: "Tidak ada titik dalam menganalisis apa yang harus dilakukan jika mereka tidak berdaya untuk memilih apa yang akan mereka lakukan. Pilihan harus disengaja dan sukarela: komunikator kemudian dapat dievaluasi oleh nilai-nilai yang relevan. Keliru tanpa sengaja, menandai kegagalan seorang intelektual. Ketika pilihan adalah dengan kebetulan yang tidak disengaja, maka penilaian etika seorang komunikator adalah tidak berarti. Niat seorang komunikator adalah pertimbangan utama dalam penilaian etika. Etika sendiri dikatakan sebagai studi prinsip dan perilaku moral dan segala
2 3

Alagappa, 2004 Nurcholis, www.fortunecity.com/millennium/oldemill 4 Pike,1966, dalam Jensen Vemon,1997

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

329

sesuatu yang baik dan juga dikatakan sebagai philosophi moral yang berasal dari Yunani melalui kata etos, yang diimplikasikan terhadap 5 kebiasaan dan karakter. Sedangkan Thomas Cooper mengidentifikasikan 3 area yang memperhatiakn masalah etika dalam 6 komunikasi, yaitu truth, responsibility dan expression. , yang lebih ditekankan pada etika media. Walaupun demikian etika media massa apapun bentuknya akan memberikan pengaruh kepada perubahan sosial. Dalam tradisi Barat, para philosopher membagi beberapa tipe teori moral, yaitu good consequence for all, yang dikenal dengan etika 7 utilitarian, duties, human rights dan virtue . Hal ini mungkin lebih tepat diaplikasikan ke dalam media massa. Berbeda dengan etika komunikasi dalam keseharian komunikasi kita yang dikemukakan oleh 8 Lawrence Kohlberg dalam beberapa tahapan, yaitu obedience to authority, doing right, emphaty, conscience, moral reasoning, ethical principles. Mengenai komunikator, Burgoons dan Grice mengatakan bahwa komunikator yang kompetens adalah mereka yang merespon harapan 9 audiensnya. Menurut keduanya perilaku verbal dan non verbal diharapkan atau tidak dalam situasi dan budaya yang spesifik, oleh karenanya kegagalan seorang komunikator biasanya dikarenakan oleh kurangnya pemahaman tentang harapan yang ada, kurangnya motivasi untuk belajar dari harapan-harapan yang ada, membuat asesmen yang tidak akurat, berhadapan dengan konflik kepentingan dan menolak perilaku yang diharapkan dari audiensnya. Etika dalam berkomunikasi menurut Deetz, selalu mengikuti makna yang ada dalam proses interaksi di mana bahasa dan kesamaan 10 pengalaman direalisasikan.

5 6

Rohmann,2000 dalam,Alia, 2004 Cooper, 1989 7 Alia,2004 8 Kohlberg,1958, dalam Alia,2004 9 Burgoons dan Grice, dalam John dan Brant, 2003 10 Deetz,1990

330

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

DEMOKRASI DAN MASYARAKAT MADANI Pada tahun 80-an masyarakat sipil mulai dianggap sebagai sebagai kekuatan politik dalam hal perubahan mendasar geopolitik dan ekonomi global, serta adanya transisi demokrasi di seluruh dunia Oleh karenanya, masyarakat sipil dianggap sebagai memiliki potensi untuk membebaskan warga negara lainnya dari kekuasaan ekonomi dan politik. Oleh karenanya, masyarakat sipil dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memahami politik dan digunakan sebagai variabel kunci untuk menjelaskan perubahan politik yang demokratis, terutama di negara-negara berkembang. Dengan memahami masyarakat sipil akan memberikan pemahaman yang lebih jelas hubungan antar masyarakat dan pemerintah, dan bahwa itu memegang kunci untuk legitimasi politik pemerintah. Selain itu, mengemukakan bahwa tidak adanya masyarakat sipil yang kuat menghalangi reformasi politik yang berkelanjutan, perbaikan tata pemerintahan, dan layak negara11 masyarakat-ekonomi hubungan dalam mengembangkan. Bagaimana hubungan antara masyarakat sipil dan demokrasi? hal ini dapat dijelaskan melalui 4 hal, yaitu pertama sebenarnya tidak ada hubungan secara langsung antara masyarakat sipil dan demokrasi, kedua masyarakat sipil akan mendukung demokrasi ketika wacana demokrasi dalam krisis Ketiga, demokratis berperan bagi masyarakat sipil tatkala kita bicara soal kesempatan politik, perkembangannya dan peran masyarakat dalam suatu negara. Keempat, masyarakat sipil adalah suatu kondisi yang diperlukan tetapi belum cukup untuk 12 Jadi, pada intinya apa yang pengembangan demokrasi. diungkapkan Allagap, mengisyaratkan bahwa masyarakat sipil adalah pendukung terwujudnya demokrasi. 1. The “Self”
13

Dalam kajian psikologi, kita bisa membedakan antara “I” dan “Me” , di mana prinsipnya “I” adalah diri sendiri yang sangat personal dan

11 12

Allagapa, 2004 Alagappa, 2004 13 William James dalam Jonathan D.Brown,1998. William James adalah orang pertama yang merekomendasikan adanya sebutan “I” dan “Me”.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

331

tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Sedangkan “Me” adalah diri sendiri yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan mengacu pada siapa mereka dan apa yang mereka sukai. Keduanya samasama subyektif. “I” merupakan kerangka berpikir seseorang yang mengacu pada diri sendiri atau dalam psikologi disebut self-referent thoughts, yang biasanya dapat dilihat pada self-view, self-image, 14 identity dan self conception. Walaupun kedua istilah ini sangat penting dari segi self, namun para psikolog lebih cenderung menggunakan istilah “Me” bagi keseharian seseorang, karena “Me” sudah menyangkut keberadaan sseeorang, dan tidak mungkin orang hidup sendiri sebagai “Self” yang murni. Kalau berbicara soal Self, maka dapat dikategorikan ke dalam self secara materi, yaitu melihat diri kita sebagai sesuatu yang melekat pada tubuh kita, seperti tangan saya dan juga apa yang ada di luar saya namun saya miliki, seperti halnya anjing saya, anak saya dan sebagainya. Self yang dilihat secara sosial menitikberatkan pada bagaimana pihak lain menghargai diri kita dan ini yang biasa dikatakan sebagai identitas diri seseorang dan spiritual, yang lebih 15 mengacu pada diri kita sendiri secara psikologis.

2.

Makna symbol dan konteks dalam Interaksi

Symbol adalah barang atau pola yang apapun sebabnya bekerja pada manusia, dan berpengaruh pada manusia, melampaui pengakuan semata-mata tentang apa yang disajikan secara harafiah dalam bentuk yang diberikan itu. Simbolo memiliki maknanya sendiri atau nilainya sendiri dan bersama dengan ini daya kekuatannya sendiri 16 untuk menggerakkan kita” Esensi dari teori ini adalah setiap aktivitas atau kegiatan manusia selalu mengandung makna. Hal ini dikarenakan adanya berbagai kemampuan yang dimiliki oleh manusia, di antaranya kemampuan berpikir, berinteraksi dan melahirkan makna.
14 15

Brown,D.Jonathan, 1998,p.3 James, 1890 dalam Brown,1998 16 Dillistone,2002,p.19

332

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa interaksi simbolik didasarkan pada, pertama individu merespons suatu situasi simbolik baik itu obyek fisik dan obyek sosial berdasarkan makna yang dikandungnya, kedua makna adalah hasil dari interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada obyek melainkan dinegosiasikan melalui bahasa dan yang ketiga adalah makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. (Deddy Mulyana, 2004) Daya tarik interpersonal (interpersonal attraction); adalah aspek utama dalam kehidupan sosial kita, tidak hanya pada hubungan yang dekat/intim di mana dibentuk oleh orang lain tetapi juga dalam hubungan dengan teman bermain maupun teman kerja. (Nickey Jayes, 1994: 482). Komunikasi interpersonal sendiri merupakan proses transaksional pertukaran pesan dan negosiasi makna untuk menyampaikan informasi dan untuk memelihara suatu hubungan. Di sini fokusnya tidak hanya pada pertukaran pesan tetapi adanya kebersamaan antara interpretasi dan negosiasi. (Hanna,Hanttz,Wilson, 1995:4). Atau dapat dikatakan suatu proses yang mengacu pada pemahaman yang sama dan saling mempengaruhi. (Noorman Goodman, 1992:87) Setiap manusia tidak akan pernah terlepas dari interaksi. Demikian halnya proses pemahaman terhadap demokrasi dan masyarakat madani selalu menyertakan proses interaksi dalam pembentukannya. Proses interaksi yang terjadi melalui apa yang dinamakan simbol. Dalam proses interaksi simbolik mempunyai empat konsep utama, yaitu orang, secara individu atau kolektif bertindak berdasarkan makna dari suatu obyek, asosiasi yang dimiliki seseorang diperlukan untuk membentuk suatu proses dalam mengindikasikan satu dengan lainnya, tindakan sosial dikonstruksi melalui suatu proses di mana seseorang mengamati, menginterpretasikan situasi yang ada dihadapannya dan yang keempat adanya hubungan yang kompleks 17 dari berbagai organisasi, lembaga dan segala yang ada di dunia ini. Sehingga penciptaan symbol sendiri selalu berada dalam suatu konteks.
17

Blumer, 1969, hal 50

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

333

Apa hubungan antara konteks dan makna, Schutz mengatakan menjalin dunia ke dalam suatu narasi akan melahirkan makna. Pemulihan makna adalah kerja dari kontekstualisasi, karena makna akan melampaui batas yang nyata selama ada kesamaan antara 18 kenyataan dan strukstur aturan. Hal ini dipertegas lagi oleh Alan 19 Dundes bahwa struktur suatu konteks atau situasi sosial adalah pararel dengan struktur teks yang digunakan dalam suatu konteks. Hubungan antara teks dan konteks adalah hubungan antara bagian dan keseluruhan yang ada. Teori konteks melihat konteks sebagai suatu komposisi informasi yang membatasi percakapan individu atau melokalisasi ungkapan individu. Sedangkan teori discourse menyatakan bahwa discourse sebagai sarana penting yang sifatnya global yang tidak bisa dilokalisasi atau dibatasi, sehingga konteks yang sifatnya terbatas harus dapat dikombinasikan dengan komponen 20 discourse yang sifatnya global. Fokus dari konteks sebenarnya adalah kondisi yang sebenarnya, Glanzber merumuskannya sebagai :

Sentence + context = truth condition

Dengan rumusan tersebut, dapat diilustrasikan kalau seseorang berinteraksi dengan pihak lain dan menghasilkan suatu kepuasan bagi kedua belah pihak, maka hubungan antara sentence dan context akan menghasilkan kepuasan dalam berinteraksi. Hal ini menitikberatkan pada kepuasan melalui bagaimana mereka mengatakan, mengapa mereka mengatakan, dan bagaimana hubungan satu dengan lainnya. Orang berbicara tidak hanya dari apa yang dia tahu/pengetahuannya tetapi juga saat mereka berpartisipasi 21 termasuk saat berkomunikasi dalam situasi tertentu. Sebenarnya orang secara subyektif merepresentasikan situasi sosial di mana ia

18 19

Dauglas, 1973, 13 (dalam Marry hal 8) Alan Dundes, 1980, 25 (dalam Marry, hal 8) 20 Glanzberg, 2008, hal 2 21 Sediyaningsih, 2010

334

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

berada secara verbal, baik itu di rumah, di sekolah, membaca buku, parisipasi dalam rapat atau kejadian lainnya, yang disertai dengan situasi sosial sebagai suatu batasan dalam discourse, dikatakan oleh 22 Van Dijk, sebagai context model atau konteks. Kita menerima konteks sebagai kata yang saling berhubungan antara partisipasi dalam discourse dan situasi sosial. Dengan kata lain konteks bukan yang di sana tetapi yang di sini, ini adalah konstruksi mental dari mereka yang berpartisipasi, yang merupakan interpretasi dari suatu 23 situasi sosial, yang mau tidak mau juga merupakan bias ideologi. Foucoult mengelaborasikan discourse sebagai pengetahuan yang berbasis budaya atau sekumpulan tanda dan latihan-latihan yang 24 mengarahkan bagaimana kita hidup secara sosial. Jika budaya dapat dilihat sebagai peralatan hidup untuk menempatkan individu dalam masyarakat, maka yang dihasilkan adalah identitas dimana dicapai melalui kelompok dan individu dalam suatu kerangka yang 25 besar.

PEMBAHASAN Dari latar belakang teori yang ada apabila dikaitkan dengan kondisi wacana komunikasi yang berkembang saat ini, menunjukkan kalau komunikasi yang terjadi akhir-akhir ini sudah jauh dari etika komunikasi yang diharapkan. Dari beberapa jajak pendapat di harian nasional terkemuka, terjadi penurunan suara terhadap partai tertentu karena turunnya faktor kepercayaan, trust menjadi kunci utama dalam memilih seseorang atau memilih partai, di lain pihak adanya tanggungjawab yang dipersepsikan oleh masyarakat atau komunikan adalah mau berbuat dengan segera atau tegas terhadap setipa permasalahan yang muncul. Ini tidak dirasakan oleh masyarakat. Seorang komunikator pada prinsipnya harus memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga tatkala kepercayaan luntur maka lunturlah kredibilitas itu. Ditambahkan oleh Burgoons dan Grice mengatakan bahwa
22 23

Van Dijk, 1999 dalam www.discourse articles Essed,1991 dalam VanDijk 24 Goodwin and Duranti, 1992 hal 31, dalam Marry, hal 10 25 Burke, 1973, 293, dalam Marry, hal 10

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

335

komunikator yang kompetens adalah mereka yang merespon harapan 26 audiensnya. Tatkala harapan yang ada tidak mendapatkan respon nyata maka kembali lagi audiens kecewa. Seorang komunikator yang juga pemimpin harus dapat taat kepada otoritas, melakukan yang benar, empati, mempunyai hati nurani, penalaran moral, prinsip27 prinsip etika. Lawrence Kohlberg salah satu contoh tatkala Australia memberhentikan ekspor sapinya ke Indonesia dikarenakan proses pemotongan sapi di Indonesia kurang “hewani”, yang muncul justru komentar yang menyiratkan bahwa yang rugi justru Australia, karena mereka akan kehilangan 1,3 T setiap tahunnya. Dari wacana tersebut, sudah tergambar bahwa kita ini sering menghalalkan cara untuk meraih sesuatu tanpa melihat penderitaan pihak lain. Kita lupa binatang juga ciptaan Tuhan. Kasus terakhir mengenai kecurangan masal UAN di SD Gadel, Surabaya, membuka mata hati kita, bahwa kejujuran sebagai modal dasar suatu etika sudah hilang, kejujuran direspon dengan pengusiran oleh para tetangga terhadap Siami, seorang ibu yang melaporkan kecurangan, sehingga Siami dan keluarga harus mengungsi ke rumah orang tuanya. (Tempo, 2011). Ironis memang dan ini kenyataan yang kita hadapi. Hilangnya etika dalam menjalankan suatu kewajiban individual hanya untuk mendapatkan makna duniawi semata. Bagaimana kaitan antara etika dan masyarakat madani dalam mewujudkan demokrasi ? kita lihat kembali arti dari masyarakat madani, yang oleh Nurcholis dikatakan sebagai masyarakat yang berbudi luhur dan berahlak baik. Tatkala kedua hal ini luntur maka semakin jauh harapan kita dari trwujudnya masyarakat madani atau civil society. Salah satu pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat sipil adalah suatu kondisi yang diperlukan tetapi belum 28 cukup untuk pengembangan demokrasi. Rasanya tepat dibahas dalam diskusi ini, karena kalau kita bicara Negara pasti ada masyarakat di dalamnya. Dan keberadaan masyarakat madani inilah yang diperlukan untuk mewujudkan demokrasi.

26 27

Burgoons dan Grice, dalam John dan Brant, 2003 Kohlberg,1958, dalam Alia,2004 28 Alagappa, 2004

336

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Masyarakat madani yang ditandai dengan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban harus terus ditumbuhkan, biasanya yang kita sadari hanya hak, tetapi lupa kewajibannya. Masyarakat madani tidak sepenuhnya independen dari lingkungan yang lain, karena mayarakat madani akan dipengaruhi oleh kekuasaan, norma dan 29 Intinya masyarakat madani adalah rakyat kebijakan pemerintah. sebagai warga negara yang mampu belajar tentang aturan main melalui dialog demokratis dan penciptaan bersama batang tubuh 30 politik parsipatoris yang murni. Jadi, intinya rakyat mempunyai hak untuk meminta pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka atau pemerintah lakukan. Selalu ada keharmonisan, yang bebas eksploitasi dan penindasan dalam masyarakat madani, dan ini yang belum kita jumpai di negara tercinta ini. Bagaimana dengan etika komunikasi ? Etika adalah landasan moral untuk berperilaku. Dari pola yang sangat sederhana, setiap proses komunikasi selalu mengandung minimal empat unsur sumber, media, pesan dan penerima. Keempat unsur itu harus memiliki etika pada kompetensi masing-masing, ada trust, responsibity dan credibility. Apabila masing-masing unsur memiliki itu semua, terutama komunikatornya maka apapun yang diucapkan komunikator akan diterima dengan baik pula oleh penerimanya. Oleh karenanya, etika komunikasi sangan besar pengaruhnya terhadap wacana perwujudan masyarakat madani dan demokratis, karena melalui etika komunikasi itulah suatu interaksi akan terjadi dengan baik. Ada kepercayaan terhadap siapa yang mengatakan, ada tanggungjawab sosial, artinya setiap wacana yang dilontarkan harus disertai kondisi nyata, bukan hanya sekedar janji yang memberikan harapan, kedua ada kredibilitas atau kepiawaian dari yang menyampaikan. Demikian halnya etika komunikasi pada masyarakat sendiri, paling tidak masyarakat sebagai penerima informasi dalam komunikasi disebut penerima/receiver harus dapat mengolah informasi yang diterima secara bertanggungjawab, dan kredibel, artinya tidak mudah terhasut dan menghasut.

29 30

Alagappa, 2004 Havel dalam Hikam,1994

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

337

Demokrasi adalah cita-cita, masyarakat madani adalah bagian penting dalam demokrasi dan hanya komunikasilah kendaraan yang paling ampuh untuk menuju keduanya.

DAFTAR PUSTAKA Alia Valeria, Media Ethics and Social Change, Wdinburg University Pers, 2004 Cooper,Thomas.W, with Christians, Clifford G,Plude,Frances Forde and White,Robert A, Communication Ethics and Global Change, Longman,London, 1989 Deetz S. ( 1990). "Reclaiming the subject matter as a guide to mutual understanding: Effectiveness and ethics in interpersonal interaction". Communication Quarterly, 38, 226-243. Dillistone,F.W., The Power of Symbol, SCM Press Ltd.London, 1986 (Diterjemahkan oleh A.Widyamarta, 2002) Brown,D.Jonathan, The Self, McGraw Hill, 1998 Blumer, Herbert, Symbolic Interactionism, 1969 Muthiah Alagappa – editor, Civil society and Political Change in Asia: Expanding and Contracting Democratic Space, Stanford University Press. 2004. Jensen,Vemon, Ethical Issues in the Communication Process. , Lawrence Erlbaum Associates ,1997. Sediyaningsih, Sri, Dekontekstualisasi pembentukan Identitas Sosial Remaja melalui CMC, Disertasi, 2010 Sharkey W. F. ( 1992). "Use and responses to intentional embarrassment". Communication Studies, 43, 257-275.

Majalah, Internet dan Jurnal Nurcholis Madjid, Menuju Masyarakat Madani, www.fortunecity.com/millennium/oldemill, diunduh 20 Juni 2011 Tempo,Siami Bertahan di Kejujuran, Edisi 20-26, Juni 2011

338

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Usman Husaini, Menuju Masyarakat Madani Melalui Demokratisasi Pendidikan, masyarakatmadani8.blogspot.com, 18 Juli, 2007, diunduh 21 Juni 2011.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

339

PENTINGNYA INFORMASI PADA MASYARAKAT MADANI Sri Suharmini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka minuk@ut.ac.id ABSTRAK Kata informasi sering kali kita dengar, karena informasi merupakan sesuatu yang penting bagi sebagian masyarakat yang membutuhkannya. Informasi ini merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Dengan pengertian informasi tersebut, berarti informasi dapat merupakan hal yang penting digunakan oleh berbagai jenis masyarakat yang ada saat ini. Masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki "kemandirian aktivitas warga masyarakatnya" yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama, dengan mewujudkan dan memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan (persamaan), penegakan hukum, jaminan kesejahteraan, kebebasan, kemajemukan (pluralisme), dan perlindungan terhadap kaum minoritas. Dengan pengertian masyarakat madani yang demikian maka informasi merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan aktualisasi masyarakat madani tersebut. Di sini informasi dapat merupakan data baik dari berbagai segi yang dibutuhkan untuk mendukung aktualisasi masyarakat madani tersebut. Masyarakat madani dapat juga disebut masyarakat modern yang membuthkan sarana dan prasarana yang moden juga, sehingga untuk menjadikan masyarakat modern tidak terlepas dari teknologi informasi yang saat ini berkembang pesat sehingga teknologi informasi. Untuk mendukung kemandirian aktivitas warga masyarakat dalam masyarakat madani maka berbagai informasi akan sangat dibutuhkan, agar informasi yang dibutuhkan dapat cepat diperoleh diperlukan teknologi informasi sebagai sarananya. Dengan demikian informasi beserta teknologinya akan membantu aktualisasi masyarakat madani tersebut. Kata kunci: informasi, masyakarakat madani, teknologi informasi

340

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Informasi merupakan kata yang sering diucapkan maupun didengar, karena informasi mengandung berbagai data, rekaman baik yang tercetak maupun terekam dalam berbagai bentuk dan media. Informasi ini sangat berguna bagi siapa saja, dalam jenis masyarakat mana saja. Pada saat ini di Indonesia sedang marak istilah masyarakat madani. Dari berbagai bacaan dan pendapat menyatakan bahwa Masyarakat Madani merupakan model masyarakat kota yang paling maju saat ini. Kemajuan suatu masyarakat tidak dapat berdiri sendiri pasti ditunjang oleh beberapa unsur pendukung. Unsur pendukung yang sangat kelihatan dan sering digunakan adalah teknologi informasi dan komunikasi, selain itu berbagai bentuk informasi yang dihasilkan dari teknologi informasi maupun informasi yang didapat secara manual. Kedua unsur tersebut sangat menunjang kemajuan suatu masyarakat, demikian juga untuk masyarakat madani. Kemajuan model masyarakat Madani ini juga didukung oleh adanya berbagai informasi yang mendorong menjadi suatu masyarakat yang dipandang oleh banyak orang sebagai model masyarakat maju. Dengan latar belakang seperti tersebut diatas, maka untuk menjadi masyarakat maju diperlukan unsur pendukung. Salah satu unsure yang penting dalam kemajuan suatu masyarakat adalah informasi. Sehingga dalam kesempatan ini penulis akan memberikan suatu bahasan mengenai “pentingnya informasi dalam masyarakat Madani”.

MASYARAKAT MADANI Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu pada sekelompok orang yang hidup bersama dalam yang teratur dan setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama (Wikipedia). Dengan pengertian tersebut di dalam masyarakat ini ada berbagai jenis masyarakat diantaranya adalah masyarakat madani. Konsep Masyarakat Madani sangat identik dengan masyarkat kota yang mempunyai perangai dinamis, sibuk, berpikir logis, berpola hidup praktis, berwawasan luas, dan mencari-cari terobosan baru demi memperoleh kehidupan yang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

341

sejahtera (kosasih). Ada juga yang memberikan pengertian masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang berbudaya, maju dan modern, setiap warganya menyadari dan mengetahui hak-hak dan kewajibannya terhadap Negara, bangsa, dan agama serta terhadap sesama, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia (AnneAhira.com). Edi Suharto dalam tulisannya yang berjudul “Masyarakat Madani:Aktuallisasi Profesionalisme …” menyebutkan bahwa masyarkat madani adalah sebuah masyarakat demokratis di mana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya; di mana pemerintahnya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga Negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah konsep yang cair yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Dengan adanya proses yang panjang itulah masyarakat madani memerlukan dukungan berupa berbagai informasi dalam berbagai bentuk untuk memperkuat atau sebagai pegangan dalam perjuangannya membentuk suatu masyarakat yang mapan. Dari berbagai pengertian di atas maka ada beberpa ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Beberapa pengamat tentang masyarakat madani menyatakan bahwa cirri atau karakteristik dari masyarakat madani antara lain: 1. Free public sphere (ruang public yang bebas) yaitu masyarakat yang memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan public, mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasi kepada public. Demokratisasi yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga mewujudkan masyarakat yang demokratis. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandanganpandangan politik dan sikap social yang berbeda dalam

2. 3.

342

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

4.

5.

6.

7.

masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang/kelompok lain. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Keadilan social, yaitu keseimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya. Partisipasi social, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga masyarakat mempunyai kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggung jawab. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

Selain ciri dan karakteristik yang telah disebutkan di atas, ada karakteristik lain yang juga merupakan karakteristik dari masyarakat madani, sebagai berikut: 1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif kedalam masyarakat melalui kontrak social dan aliansi social. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternative. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh Negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan Negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. Tumbuhkembangnya kreativitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter.

2.

3.

4.

5.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

343

6.

7.

Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan oranglain dan tidak mementingkan diri sendiri. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembagalembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.

INFORMASI Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang maupun yang akan dating (Gordon B.Davis dalam Pengertian Informasi). Pengertian informasi dari Kamus Komputer dan Istilah Teknologi Informasi adalah keterangan, penerangan, data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu atau mendatang. Secara sederhana informasi diartikan sebagai sekumpulan data yang telah diolah sehingga mempunyai arti. Ada seorang ahli bernama Shannon yang mengatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang membuat pengetahuan kita berubah, yang secara logis mensahkan perubahan, memperkuat atau menemukan hubungan yang ada pada pengetahuan yang kita miliki. Definisi ini memberikan pengertian bahwa informasi dapat mengubah pengetahuan yang dimiliki seseorang, bias mengganti pengetahuan yang dimilikinya atau justru memperkuat dan menambah pengetahuan yang dimiliki seseorang. Dengan perubahan pengetahuan tersebut maka seseorang dapat mengubah pola hidupnya baik kearah yang positif maupun negative tergantung informasi yang diperolehnya (Saleh). Informasi merupakan energy bahan yang berpola (pattened matter energy) yang mempengaruhi probabilitas yang tersedia bagi seorang individu dalam pembuatan keputusan. Informasi tidak memiliki eksistensi fisik secara sendiri, dan hanya dapat diekspresikan dalam bentuk material (seperti tinta di atas kertas, buku) atau dalam bentuk energy, seperti impus atau gelombang elektrik (Melriezka). SulistyoBasuki dalam tulisannya yang berjudul “Informasi, Komunikasi dan Ilmu Perpustakaan dan Informasi” menyatakan bahwa informasi

344

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

merupakan data terpilih, terorganisasi dan teranalisis; merupakan hasil dari pengolahan data serta memberikan makna padanya. Dari berbagai pengetahuan dan pengertian informasi yang telah disebutkan di atas, maka informasi itu sebenarnya merupakan data atau fakta yang terorganisasi kemudian diolah dan dianalisis menjadi suatu pengetahuan yang berguna. Pengguna yang mendapatkan informasi yang sudah berubah menjadi pengetahuan tersebut dapat merubah pemikiran pengguna dari yang lama menjadi pemikiran baru. Untuk mengolah data, fakta dan menganalisis data yang telah terorganisasi menjadi suatu informasi yang bermanfaat diperlukan berbagai sarana, salah satu sarana yang dapat bekerja dengan cepat yaitu komputer lebih sering disebut dengan teknologi informasi dan komunikasi. Dapat disebut demikian karena komputer dapat digunakan sebagai sarana pengolah data yang cepat dan sekaligus dapat mengkomunikasikan kepada berbagai pihak apabila komputer tersebut terhubung dengan sarana telekomunikasi. Sarana ini telah berkembang dengan pesatnya sehingga merupakan sarana yang dibutuhkan banyak orang. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa teknologi inforamasi adalah istilah umum yang menjelaskan teknologi apapun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. Teknologi informasi merupakan pembangunan dan penggunaan komputer beserta teknologi berbasis komunikasi untuk memproses, menampilkan dan mengatur data beserta informasinya (Kamus Komputer dan Istilah Teknologi Informasi). Dengan pengertian teknologi informasi di atas, maka teknologi informasi ini mempunyai berbagai manfaat seperti cepat, konsisten, tepat, kepercayaan, meningkatkan produktivitas, melahirkan kreativitas. Sedangkan fungsinya adalah pengumpulan data, penampilan, pangkalan data, pencarian dan penghantaran. Dari manfaat dan fungsi teknologi informasi yang telah disebutkan tepatlah apabila teknologi informasi terutama komputer dijadikan sarana pengolah informasi yang cepat dan tepat, sehingga masyarakat saat ini akan sangat terbantukan dalam mencari informasi dengan sarana tersebut.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

345

Inovasi teknologi dapat menyokong secara nyata untuk memberikan akses yang lebih baik kepada layanan kesehatan, pendidikan, informasi dan pengetahuan, sebagaimana juga menawarkan variasi sarana yang lebih luas di mana masyarakat dapat berkomunikasi, sehingga mendukung promosi pemahaman yang luas dan peningkatan kualitas kehidupan warga dunia. Potensi teknologi informasi untuk memberdayakan masyarakat sangat besar. Hal ini dapat membantu membangun kapasitas dan keterampilan dalam menciptakan peluang kerja yang lebih banyak, membantu usaha kecil dan menengah, meningkatkan partisipasi serta menginformasikan pembuat keputusan pada setiap level melalui peningkatan pendidikan dan latihan, khususnya bila disertai dengan penghormatan sepenuhnya terhadap keanekaan bahasa dan budaya. Dengan demikian teknologi informasi tersebut dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh berbagai jenis masyarakat termasuk masyarakat Madani yang merupakan suatu masyarakat modern dan mempunyai akses yang luas.

INFORMASI DALAM MASYARAKAT MADANI Masyarakat Madani tidak terwujud begitu saja melainkan dibentuk melalui suatu proses sejarah yang panjang. Untuk mewujudkan suatu masyarakat Madani yang sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas diperlukan suatu dukungan berbagai informasi. Seperti telah diuraikan di atas bahwa informasi merupakan suatu data atau fakta yang diolah menjadi suatu pengetahuan yang berguna, di mana pengetahuan tersebut dapat merubah pemikiran manusia dari yang telah ada menjadi pengetahuan baru. Pengolahan data yang akan dijadikan suatu informasi bermanfaat tidak lepas dari sarana pendukungnya yaitu teknologi. Teknologi yang sedang marak kali ini adalah teknologi informasi dan sering disebut dengan komputer. Untuk saat ini masyarakat yang berkembang menjadi masyarakat maju tidak lepas dari informasi meupun teknologi informasi. Seperti masyarakat Madani yang merupakan masyarakat yang berbudaya, maju dan modern, pastilah membutuhkan informasi yang relevan,

346

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

cepat mengakses, tepat dalam pencarian informasi serta cepat dalam menghantarkan (transfer) informasi ke tempat lain, untuk melakukan hal tersebut di atas disertai dengan adanya teknologi informasi. Informasi yang telah berubah menjadi pengetahuan dengan bantuan teknologi informasi dapat merubah pemikiran suatu masyarakat dalam mewujudkan impian menjadi masyarakt maju yang diidamkan. Banyak sumber informasi yang mudah diakses oleh masyarakat agar mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut dapat diseleksi sesuai kebutuhan. Sumber informasi tersebut dapat berupa informasi tercetak maupun informasi digital. Informasi tercetak mudah ditemukan deberbagai tempat seperti perpustakaan. Sedangkan informasi digital dapat ditemukan dengan akses ke Internet menggunakan sarana teknologi informasi. Sehingga informasi dalam bentuk apapun untuk saat ini sangat mudah ditemukan. Teknologi informasi yang telah mengalami kemajuan begitu pesat, mempersempit dunia ini menjadi sebuah pasar global yang dampaknya dirasakan oleh di semua lini kehidupan. Dengan informasi yang dimiliki, masyarakat berjuang untuk mewujudkan masyarakat Madani sesuai dengan yang diinginkan. Dengan cara merebut kemampuan di bidang teknologi informasi serta mendorong masyarakat untuk mengatur penggunaannya secara mandiri, cita-cita membangun masyarakat Madani yang demokratis akan lebih mudah dicapai. Dengan berbagai ciri dan konsep masyarakat Madani yang telah diuraikan di atas, maka informasi sangat lekat dengan masyarakat tersebut. Karena masyarakat Madani yang maju sangat membutuhkan berbagai informasi yang relevan dengan cepat, tepat, terpercaya dan sesuai keinginan serta kebutuhan. Kecepatan dan ketepatan informasi yang diperoleh didukung oleh teknologi informasi yang canggih yaitu teknologi informasi. Dapat dilihat dewasa ini bahwa masyarakat sangat lekat dengan sarana teknologi informasi seperti laptop, handphone yang dapat mengakses informasi dimanapun berada. Dengan demikian dapat diartikan bahwa informasi ini sangat penting dan sangat dibutuhkan masyarakat.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

347

SIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. 3. Masyarakat Madani merupakan masyarakat yang identik dengan masyarakat kota yang modern Informasi memang penting dalam berbagai jenis masyarakat termasuk masyarakat Madani Kebebasan ruang public berarti masyarakat tersebut bebas dalam mengakses apapun termasuk informasi yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA Ciri-Ciri Masyarakat Madani. http://www.crayonpedia.org/mw/CiriCiri_Masyarakat_Madani akses 13-6-2011 Febrian, Jack, Farida Andayani. (2002). Kamus Komputer dan Istilah Teknologi Informasi. Bandung: Informarmatika. Kosasih, H. Aceng. Konsep Masyarakat Madani. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011ACENG_KOSASIH/MASYARAKAT_MADANI.pdf. akses 5-62011 Masyarakat. http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat download 5-72011 Memahami Pengertian Masyarakat Madani. AnneAhir.com http://www.anneahira.com/pengertian-masyarakat-madani.htm download 5-7-2011 Pengertian Informasi http://wawanjunaidi.blogspot.com/2011/03/pengertian-informasi.htm dowload 5-7-2011 Pengertian Masyarakat Madani. Images.fitrilife.multiply.multiplycontent.com/…/kn%202%20…..do c?.. download 13-6-2011 Suharto, Edi. Masyarakat Madani: Aktualisasi Profesionalisme Community Workers Dalam Mewujudkan Masyarakat yang berkeadilan.

348

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_16.htm akses 57-2011 Sulistyo-Basuki, dkk (2006) Perpustakaan dan Informasi Dalam Konteks Budaya. Depok: Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Indonesia.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

349

MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI MELALUI PENGUATAN NILAI-NILAI PANCASILA Suparman HL Akademi Sekretari dan Manajemen Bina Sarana Informatika suparman_hl@yahoo.com ABSTRAK Masyarakat madani di Indonesia diprediksi sebagai masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, bahasa, suku, dan agama. Pada era reformasi ini diarahkan untuk menuju masyarakat madani, untuk itu kehidupan manusia Indonesia akan mengalami perubahan yang fundamental yang tentu akan berbeda dengan kehidupan masyarakat pada era sebelumnya. Dalam masyarakat madani yang dicita-citakan, dikatakan akan memungkinkan "terwujudnya kemandirian masyarakat, terwujudnya nilai-nilai tertentu dalam kehidupan bermasyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan (pluraliseme)". Membangun masyarakat madani atau civil sociaty tidak hanya sekedar mengikutsertakan masyarakat sipil dalam membangun dan mempertahankan negara, namun diperlukan pendekatan negara (state approach) karena akibat reaksi dari berbagai kondisi politik di Indonesia yang semakin kompleks. Untuk mencapai masyarakat madani dengan kondisi masih banyak masyarakat yang kurang mampu dan kehisdupannya tidak belum nyaman, maka melalui pendekatan negara yang harus didukung melalui pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), pendekatan yuridis (juridical approach), dan pendekatan keamanan (security approach). Dalam melaksanakan pendekatan-pendekatan tersebut dibutuhkan sentuhan dan konsistensi dari nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam masing-masing silanya, dengan tidak membentuk kelompok individu yang mementingkan diri dan kelompoknya. Sehingga tujuan yang akan dicapai dalam masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa, dan bernegara menuju masyarakat yang berprikemanusiaan, berprikeadilan sosial, sejahtera, aman, dan sentosa. Kata kunci: masyarakat, madani, pancasila

350

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk ikut serta ambil peran dalam usaha untuk mewujudkan masyarakat berperadaban, masyarakat madani, civil society, dinegara kita tercinta, Republik Indonesia. Karena terbentuknya masyarakat madani adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk memahami akar pengertian masyarakat madani ada baiknya, kita tengok secara sepintas beberapa paradigma besar yang menjadi dasar perdebatan mengenai masyarakat madani, bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang mampu mengisi ruang publik dan dalam pemikiran reformasi ini masyarakat madani merupakan tujuan pemerintah demokrasi. Masyarakat madani sebagai konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris, ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani sering digunakan untuk menjelaskan “the sphere of voluntary activity which takes place outside of government and the market.” Dalam perkembangannya istilah civil society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang terutama bercirikan kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara serta keterikatan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi masyarakat. Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, masyarakat perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtak, kritis argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat Bhineka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujur-adil, menyikapi mass media secara kritis dan objektif, berani tampil dan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

351

kemasyarakatan secara profesionalis, berani dan mampu menjadi saksi, memiliki pengertian kesejagatan, mampu dan mau silih asahasih-asuh antara sejawat, memahami daerah Indonesia saat ini, mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang dan sebagainya. Oleh karena itu, menurut Nurcholis Madjid dalam Syahrudin (2010), terdapat beberapa pokok pikiran penting dalam pandangan hidup demokrasi, yaitu: 1. 2. Pentingnya kesadaran kemajemukan atau pluralisme Makna dan semangat musyawarah menghendaki atau mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan “kalah suara”. Mengurangi dominasi kepemimpinan sehingga terbiasa membuat keputusan sendiri dan mampu melihat serta memanfaatkan alternatif-alternatif. Menjunjung tinggi moral dalam berdemokrasi Pemufakatan yang jujur dan sehat musyawarah yang juga jujur dan sehat adalah hasil akhir

3.

4. 5. 6. 7.

Terpenuhinya kebutuhan pokok; sandang, pangan, dan papan. Menjalin kerjasama dan sikap yang baik antar warga masyarakat yang saling mempercayai iktikad baik masing-masing.

Merujuk pada Bahmueller (1997), bahwa ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya: 1. 2. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.

3.

352

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

4.

Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembagalembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.

5. 6.

7.

PENDEKATAN DALAM MASYARAKAT MADANI Untuk mencapai masyarakat madani, tidak hanya sekedar bahwa masyarakat dalam kehidupannya berlimpah kekayaan, tidak hanya sekedar yang penting tidak terganggu (aman dan terkendali), dan tidak hanya sekedar semua sudah diatur oleh peraturan dan perundang-undangan, namun bagaimana agar ketiga pendekatan tersebut dapat bersinergi dan berjalan bersama-sama serta setiap langkah dan gariknya dibarengi dengan penguatan nilai-nilai Pancasila di dalamnya, sehingga masyarakat madani dapat dicapai. A. Pendekatan Kesejahteraan (Prosperity Approach)

Menurut Suharto (2005) dikatakan bahwa pemberdayaan menunjukkan pada kemampuan orang khususnya kelompok lemah, sehingga mereka memiliki kemampuan atau keberdayaan dalam: a. Memenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom),dalam arti bukan hanya kebebasan dalam mengeluarka pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, kebodohan, kemiskinan. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatan dan memperoleh barang dan jasa yang diperlukan.

b.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

353

c.

Berpartisiapsi dalam proses pembangunan dan keputusan yang mempengaruhi masa depannya.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa pemberdayaan dapat dikatakan sebagai suatu "tujuan dan proses", sebagai suatu tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan (sosial/organisasi), yaitu masyarakat yang berdaya memiliki kekuasaan (kemampuan/otoritas) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat sosial, ekonomi, politik maupun psikologis. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai suatu proses. Sebagai proses, pemberdayaan berarti serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan terutama kelompok lemah dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari 2 aspek penting yaitu: Pertama, pemberdayaan sebagai proses mengembangkan kemandirian, keswadayaan, memperkuat posisi (bargaining position) terhadap setiap keputusan atau kebijakan pemerintah. Kedua sebagai proses memfasilitasi masyarakat dalam memperoleh akses terhadap sumber-sumberdaya,memberikan ruang gerak dan memberi dorongan untuk tumbuh dan berkembangnya kreasi, partisipasi dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

B.

Pendekatan Yuridis (Juridical Approach) hukum yaitu diberlakukan Fakta yuridis dan terbukti

Pendekatan yuridis dimaksudkan sebagai pendekatan semua peraturan perundang-undangan yang sah dan dimasyarakat diimplementasikan tanpa ada intervensi. adalah sesuatu yang sudah terjamin kebenarannya secara hukum adanya.

Dengan demikian agar landasan berlakunya kaidah hukum berupa peraturan perundang-undangan tersebut diakui dan dapat diterima masyarakat serta menjadi baik, maka kaidah hukum tersebut harus memenuhi unsur-unsur yuridis yang menyangkut:

354

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

1. 2. 3. 4.

Kaidah hukum itu harus pasti; Bentuknya harus berupa peraturan perundang-undangan; Memperhatikan tata urutan susunan berjenjang (hirarkhi); Adanya penegakan terhadap kaidah hukum tadi (rule of law).

Selain peraturan perundang-undangan harus memenuhi unsur yuridis, juga harus mengandung azas, sebagai berikut: 1. Pengayoman Yang dimaksud dengan “asas pengayoman” adalah bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka mencipyakan ketentraman masyarakat. 2. Kemanusiaan Yang dimaksud dengan “asas kemanusiaan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. 3. Kebangsaan Yang dimaksud dengan “asas kebangsaan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinnekaan) dengan tetap menjaga pronsip negara kesatuan Republik Indonesia. 4. Kekeluargaan Yang dimaksud dengan “asas kekeluargaan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. 5. Kenusantaraan Yang dimaksud dengan “asas kenusantaraan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan seantiasa

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

355

memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat didaearah merupakan bagisn dari sistem hukum nasioanl yang berdasarkan Pancasila. 6. Bhineka Tunggal Ika Yang dimaksud dengan “asas bhineka tunggal ika” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan kergaman penduduk, agama, suku, golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. 7. Keadilan Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsioanal bagi setiap warga negara tanpa kecuali. 8. Kesamaan Kedudukan Dalam Hukum dan Pemerintahan Yang dimaksud dengan “asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku ras, golongan, gender, atau status sosial. 9. Ketertiban dan Kepastian Hukum. Yang dimaksud dengan “asas ketertiban dan kepastian hukum” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. 10. Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan. Yang dimaksud dengan “asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan” adalah bahwa setiap muatan peraturan perundangundangan mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan

356

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

keselarasan, antara kepentingan individu, dan masyarakat, dengan kepentingan bangsa dan negara. C. Pendekatan Keamanan (Security Approach)

Dalam konsep-konsep tradisional, para ilmuwan biasanya menafsirkan keamanan yang secara sederhana dapat dimengerti sebagai suasana bebas dari segala bentuk ancaman bahaya, kecemasan, dan ketakutan- sebagai kondisi tidak adanya ancaman fisik (militer) yang berasal dari luar. Menurut Walter Lippmann (1999) merangkum kecenderungan ini dengan pernyataannya yang terkenal bahwa, “suatu bangsa berada dalam keadaan aman selama bangsa itu tidak dapat dipaksa untuk mengorbankan nilai-nilai yang dianggapnya penting (vital) .., dan jika dapat menghindari perang atau jika terpaksa melakukannya, dapat keluar sebagai pemenang.” Kenyamanan dan keamanan dalam kehidupan masyarakat akan tercipta rasa keberanian baik dalam meningkatkan kesejahteraan, maupun dalam menghadapi permasalahan hukum demi mencari keadilan yang seluas-luasnya.

PENGUATAN NILAI-NILAI PANCASILA Untuk membangun masyarakat madani perlu disadari bahwa betapa pentingnya penguatan pancasila sebagai idiologi bangsa, diera keterbukaan dan globlisasi saat ini. Para pemimpin negara dan lembaga tinggi negara sepakat untuk memperkuat Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegera. Akhir-akhir ini pancasila sebagai dasar negara, idiologi negara dan sikap hidup bangsa sudah mulai dilupakan sebagai jati diri bangsa, Pancasila tidak lagi mengakar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Akibatnya berbagai masalah yang melilit bangsa ini menjadikan Pancasila hanya sebagai simbol bukan sebagai idiologi negara, lihatlah betapa rentan kedaulatan negara ini takkala diterpa isu Negara Islam Indonesia (NII), negara langsung goyah, dan tengoklah sebagian elit politik yang haus kekuasaan sampai lupa diri dan tak

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

357

mampu pula mempertahankan harga diri akbiat skandal mega korupsi. Panggung politik sekarang dikuasai elit yang pragmatis, tetapi mereka hanya memikirkan dan mementingkan diri sendiri dan kelompoknya akibatnya bangsa ini kehilangan jati diri masa depan, bangsa ini hanya berjalan ditempat sehingga sulit mengembangkan diri pada masa mendatang. Reformasi kedodoran, terperangkap berbagai masalah, bahkan masyarakat bertanya-tanya mau dibawa kemana bangsa ini ke depan?. Nah, Pancasila dapat menjadi jawaban ditengah-tengah mengendornya kesadaran idiologi kebersamaan dalam keberagaman, Pancasila menjadi jalan tengah tarik ulur paham fundamentalis dan neoliberalisme, maka diperlukan penguatan dalam mereformulisasikan, atau dimaknai Pancasila sebagai idiologi, jati diri dan cinta kehidupan bangsa. Saatnya kita wajudkan kerinduan berbagai pihak pada arti penting nilai-nilai Pancasila agar dapat diimplementasikan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja hal ini menuntut penerjemahan Pancasila secara subtantif karena pengamalan Pancasila memiliki persoalan mendasar dan jangan lagi memperlakukan Pancasila sebagai pepesan kosong, jangan lagi kita sendiri tidak peduli lagi terhadap Pancasila, karena mempertahankan Pancasila, sebagai pedoman hidup dan falsafat negara Bangsa Indonesia menjadi tanggungjawab kita bersama. Berdasarkan realitas yang terjadi saat ini tentang semakin hilangnya karakter bangsa akibat nilai-nilai yang terkandung dalam Idiologi Pancasila sudah terpinggirkan, maka kondisi inilah para pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara terpanggil dilakukannya pertemuan pada hari selasa tanggal 24 Mei 2011 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Selain dari pemerintahan, juga akan hadir pimpinan Mahkamah Konstitusi sebagai tuan rumah, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat, pimpinan Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, serta pimpinan Komisi Yudisial, telah menyepakati rencana Aksi Nasional Sosialisasi dan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila secara

358

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

formal, yakni dengan mengimplementasikannya melalui pendidikan Pancasila dan Konstitusi. Semua lembaga negara berkomitmen secara aktif mengambil tanggung jawab menguatkan Pancasila sebagai ideologi negara sesuai peran, posisi, dan kewenangannya. Terdapat empat poin yang disepakati dalam pertemuan tersebut, yaitu: 1. Bahwa semua lembaga negara berkomitmen untuk secara aktif mengambil tanggung jawab dalam upaya menguatkan Pancasila sebagai dasar ideologi negara, sesuai dengan peran, posisi, dan kewenangan masing-masing. Bahwa Pancasila harus menjadi ideologi dan inspirasi untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, harmonis dan jauh dari perilaku mendahulukan kepentingan kelompok atau golongan. Bahwa Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah empat pilar yang harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwa diperlukan rencana aksi nasional yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk melakukan sosialisasi dan penguatan nilainilai Pancasila secara formal melalui pendidikan Pancasila dan Konstitusi.

2.

3.

4.

Bagi bangsa Indonesia, yang dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah Pancasila. Ini berarti bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolak ukur tentang baik buruk dan benar salahnya sikap, perbuatan, dan tingkah laku bangsa Indonesia. Nilai-nilai pancasila itu merupakan nilai intrinsik yang kebenarannya dapat dibuktikan secara objektif, serta mengandung kebenaran yang universal. Dengan demikian, tinjauan pancasila berlandaskan pada tuhan, manusia, rakyat, dan adil sehingga nilai-nilai pancasila memiliki sifat objektif dari apa yang benar-benar diprakteknya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

359

Menurut Yani (2011) bahwa nilai-nilai Pancasila dapat mencerminkan kehidupan dalam masyarakat madani yang diuraikan berdasarkan silanya:

1. Sila Ketuhanan yang Maha Esa
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Adanya hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup, menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing serta tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain. Dan perlu diketahui bahwa frasa Ketuhanan Yang Maha Esa bukan berarti warga Indonesia harus memiliki agama monoteis namun frasa ini menekankan ke-esaan dalam beragama.

2. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
Manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama haknya dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, dan keparcayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Karena itu dikembangkanlah sikap saling, mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa serta sikap tidak terhadap orang lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan. Manusia adalah sederajat, maka bangsa Indonesia merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

360

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

3. Sila Persatuan Indonesia
Menempatkan manusia Indonesia pada persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dengan menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, berarti manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa, bila diperlukan. Sikap rela berkorban untuk kepentingan negara dan Bangsa, maka dikembangkanlah rasa kebangsaan dan bertanah air Indonesia, dalam rangka memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Persatuan dikembangkan tas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia.

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan dan Perwakilan. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan masyarakat. Karena mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain. Sebalum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu diadakan musyawarah. Keputusan diusahakan secara mufakat. Musyarwarah untuk mencapai mufakat ini, diliputi oleh semangat kekluargaan, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Manusia Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musyawarah, karena semua pihak yang bersangkutan harus menerimanya dan melaksankannya dengan baik dan tanggung jawab. Keputusan-keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

361

Esa. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilainilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan, demi kepentingan bersama.

5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan soial dalam kehidupoan masyarakat Indonesia. Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Untuk itu dikembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain.

SIMPULAN Berdasarkan pembahasan mengenai membangunan masyarakat madani melalui penguatan nilai-nilai Pancasila, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, maka warga negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtak, kritis argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat Bhinneka Tunggal Ika. Untuk mencapai masyarakat madani, tidak hanya sekedar bahwa masyarakat dalam kehidupannya berlimpah kekayaan, tidak hanya sekedar yang penting tidak terganggu (aman dan terkendali), dan tidak hanya sekedar semua sudah diatur oleh peraturan dan perundang-undangan, namun bagaimana agar ketiga pendekatan tersebut dapat bersinergi dan berjalan bersama-sama sehingga dapat mencapai masyarakat.

2.

362

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

3.

Bagi bangsa Indonesia, yang dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah Pancasila. Ini berarti bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolak ukur tentang baik buruk dan benar salahnya sikap, perbuatan, dan tingkah laku bangsa Indonesia. Mewujudkan masyarakat madani belum dapat tercapai apabila hanya melalui pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), pendekatan yuridis (juridical approach), dan pendekatan keamanan (security approach) namun perlu dibekali dengan penguatan nilai-nilai Pancasila di dalamnya.

4.

DAFTAR PUSTAKA Blakeley, Roger dan Diana Suggate. 1997). Public Policy Development. dalam David Robinson, Social Capital and Policy Development, Victoria: Institute of Policy Studies, hal. 80 - 100. Bahmueller, CF. 1997. The Role of Civil society in the Promotion and Maintenance of Constitutional Liberal Democracy. Diambil dari: http:civnet.org/civitas/panam/papers/bahm.htm. (22 Juni 2011) Lippmann, Walter. 1999. Masyarakat Sipil. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Sahrudin, Jafar Shodiq. 2010. Masyarakat Madani. Diambil dari: http://jafarforeducation.blogspot.com/2010_11_01_archive.html (20 Juni 2011) Suharto. 2005. Konsep Membangun Marsyakat. Diambil dari: http://repository.upi.edu/operator/upload/s_ a0351_0606611_chapter2.pdf. (5 Juli 2011) Yani, Andai. 2011. Makna Sila-sila Pancasila. Diambil dari: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2069525-maknasila-sila-pancasila/#ixzz1QGYsiEOJ. (2 Juni 2011)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

363

DILEMA PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI NEGARA DEMOKRASI Suryarama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka suryarama@ut.ac.id ABSTRAK Jaminan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia sebagai Negara demokrasi mutlak diperlukan karena salah satu ciri negara demokrasi yakni adanya perlindungan HAM, misalnya hak untuk memilih partai politik dan hak untuk mendapat jaminan perlindungan hukum. HAM di Indonesia secara teoritis sudah dikenal sejak ditetapkannya UndangUndang Dasar 1945, misalnya dalam Pasal 28 menyatakan “ Kemerdekaan berserikat dan bekumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang”. Kurun waktu 1945 sampai 1999, Indonesia sebagai Negara demokrasi belum memiliki Undang Undang (UU) HAM. Perlindungan HAM secara yurisdis formal baru ditetapkan dengan Undang_undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Untuk melengkapi penegakan HAM, telah dibentuk Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Untuk membahas permasalahan diatas, penulis akan melakukan studi pustaka , dan studi dokumen. Studi pustaka dilakukan terhadap buku-buku, artikel dan sumber-sumber internet yang relevan, Studi dokumen dilakukan terutama terhadap dokumendokumen yang berhubungan langsung dengan histori lahirnya UU HAM dan Pengadilan HAM, serta faktor-faktor yang menyebabkan HAM kurang memperoleh perhatian dari pemerintah, hal itu diharapkan dapat menguak grand design penegakan HAM di Indonesia. Berdasarkan studi pustaka dan studi dokumen yang dilakukan, diharapkan dapat mengetahui bagaimana penegakan HAM sebelum dan sesudah lahirnya UU HAM serta proses peradilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia dalam kaitannya Indonesia sebagai Negara Demokrasi . Kata Kunci: peran negara, perlindungan HAM, negara demokrasi

364

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan pasang surut demokrasi itu sendiri. Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama, demokrasi liberal dimasa kemerdekaan, kedua adalah demokrasi terpimpin ketika Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah demokrasi pancasila pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Dan keempat adalah demokrasi langsung setelah reformasi tepatnya sejak 2004 ketika Presiden dipilih secara langsung dan tidak lagi melalui perwakilan. Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing berlakunya demokrasi tersebut pada dasarnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita. Demokrasi liberal ternyata pada saat itu belum bisa memberikan perubahan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Namun demikian, berbagai kabinet yang jatuh bangun pada masa itu telah memperlihatkan berbagai ragam pemikiran mereka yang cemerlang dalam memimpin Negara, namun mudah dijatuhkan oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Sementara demokrasi terpimpin yang dideklarasikan oleh Soekarno telah memperkuat posisi Soekarno secara absolut karena mendeklarasikan sebagai Presiden seumur hidup. Di satu sisi, hal ini berdampak pada kewibawaan Indonesia di forum Internasional yang diperlihatkan oleh berbagai manuver yang dilakukan Soekarno serta munculnya Indonesia sebagai salah satu kekuatan militer yang patut diperhitungkan di wilayah Asia. Namun pada sisi lain segi ekonomi rakyat kurang diperhatikan akibat berbagai kebijakan politik pada masa itu. (Irwan Prayitno, http/pas.org) Lain pula masa demokrasi Pancasila pada kepemimpinan Soeharto. Stabilitas keamanan sangat dijaga sehingga terjadi pemasungan kebebasan berbicara, melakukan demonstrasi dan mengkritik, hal itu dikategorikan sebagai pelanggaran HAM karena di Negara demokrasi tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat. Pada sisi lain, tingkat kehidupan ekonomi rakyat relatif baik. Hal ini tidak terlepas dari sistem nilai tukar dan alokasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga harga-harga barang dan jasa berada pada titik

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

365

keterjangkauan masyarakat secara umum. Namun demikian gejala korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin parah. Lembaga pemerintahan yang ada di tingkat legislatif, ekskutif dan yudikatif ikut terkena virus KKN. Selain itu, pemasungan kebebasan berbicara ternyata menjadi bola salju yang semakin membesar yang setiap saat siap meledak. Dan bom waktu itupun tiba setelah terakumulasi sekian lama akhirnya meledak dalam peristiwa reformasi pada bulan Mei 1998. Selepas kejatuhan Soeharto, selain terjadinya kenaikan harga barang dan jasa beberapa kali dalam kurun waktu 8 (delapan) tahun instabilitas keamanan dan politik serta KKN berjamaah terjadi kembali sehingga yang paling terkena dampaknya adalah rakyat kecil. Terlebih lagi penghargaan HAM hampir tidak tersentuh sama sekali. Era pasca reformasi pada kepemimipinan Presiden Abdurrachman Wahid dan Megawati Soekarno Putri merupakan masa transisi. Baru sejak tahun 2004, Negara Indonesia menjalankan sistem demokrasi langsung karena Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dipilih secara langsung. TEORI HAM Dalam sejarah umat manusia, pernah berlaku suatu sistem hukum tertulis pertama di dunia yang bernama Code Hammurabi yang ditulis beberapa ribu tahun sebelum Masehi yang menyimpulkan adanya hak-hak (rights) yang dipunyai anggota masyarakat, yaitu seperangkat aturan yang memberikan kekuasaan kepada manusia untuk dapat berbuat tanpa boleh dilarang. Teori lain menyatakan bahwa perkembangan konsepsi HAM baru dimulai sejak zaman kebudayaan Yunani, yaitu penulisan tentang hukum alam atau hukum kodrat (sekitar tahun 600-400SM). Dalam tulisan itu disebutkan bahwa para filsuf Yunani pada saat itu menerima hukum kodrat yang berdasarkan penilaian akal sehat yang berisifat ajeg (tidak berubah) sebagai dasar kehidupan bermasyarakat. Menurut pandangan ini bahwa manusia itu sama menurut sifatnya. (Koesparmono Irsan, 2009). Beberapa naskah yang dapat dikategorikan sebagai dokumentasi perkembangan HAM yaitu;

366

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

a.

Magna Charta (Piagam Agung 1215). Suatu dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan oleh Raja John Lackland dari Inggris kepada beberapa bangsawan bawahannya atas tuntutan mereka. Hak yang diberikan kepada para bangsawan ini merupakan konpensasi dari jasa-jasa kaum bangsawan dalam mendukung Raja John di bidang keuangan. Bill Of Rights (Undang Undang Hak 1689). Suatu undangundang yang diterima oleh Parlemen Inggris sesudah berhasil mengadakan perlawanan terhadap Raja James II, dalam suatu revolusi gemilang. Dalam analisis Marxis, Revolusi Gemilang dan Bill of Rights yang melembagakan adalah kaum borjuis yang hanya menegaskan naiknya kelas bangsawan dan pedagang diatas monarchi, sementara rakyat dan kaum pekerja (kaum proletar) tetap tertindas.

b.

c.

Declaration des droits de I’homme et du citoyen (Pernyataan hak manusia dan warga Negara, 1789) yakni suatu naskah yang dicetuskan pada permulaan Revolusi Perancis,sebagai perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dari rezim lama. Bill Of Rihts (Undang-undang Hak 1789) yakni suatu naskah yang disusun oleh rakyat Amerika tahun 1789 dan menjadi bagian dari UUD Amerika pada tahun 1791.

d.

Berdasarkan naskah-naskah dokumentasi diatas, maka perkembangan HAM abad XIII, XVII dan XVIII muncul sebagai akibat adanya kesewenang-wenangan penguasa. Dengan kata lain naskahnaskah itu merupakan ekspresi perlawanan terhadap penguasa yang dzalim.

SEJARAH PEMIKIRAN HAK-HAK ASASI DI INDONESIA Masalah penegakan HAM merupakan masalah yang bersifat mendunia, artinya masalah ini akan selalu dihadapi masyarakat internasional, tidak terkecuali Indonesia. Dengan demikian, persoalan HAM mengandung aspek universal dan lintas budaya. Setiap

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

367

konstitusi negara pasti mengatur mengenai jaminan terhadap perlindungan HAM warganegaranya karena negara sebagai organisasi kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Oleh karenanya perlu diatur dalam setiap konstitusi masing-masing negara karena jaminan perlindungan HAM merupakan salah satu ciri negara hukum. Ciri yang lain yaitu pemisahan kekuasaan, legalitas pemerintahan, dan peradilan yang bebas. Dalam sejarah tata negara Indonesia, persoalan HAM pernah menjadi bahan perdebatan yang serius, seperti digambarkan dibawah ini; (B. Hestu Cipto Handoyo, 2003) a. Dalam buku Prosedur dan Perubahan konstitusi, Sri Soemantri memberikan ilustrasi sbb: Moh. Hatta dan Moh. Yamin berpendapat bahwa hak tersebut (masalah HAM) perlu dirumuskan dalam konstitusi untuk menjamin warga negara terhadap tindakan sewenang-wenang dari pihak penguasa. b. Di lain pihak Soekarno dan Soepomo beranggapan, bahwa hakhak tersebut (masalah HAM) bertentangan dengan falsafah, negara dan bangsa.

Dengan menyampaikan konsep negara integralistik, Soepomo menjelaskan adanya tiga perspektif mengenai negara dan masyarakat, khususnya bila dihubungkan dengan penerapan HAM di dalam Konstitusi, yaitu; 1. 2. Perspektif individualistik, artinya negara merupakan masyarakat hukum yang berdasarkan kontrak. Perspektif kelas yang memandang negara sebagai alat golongan yang menguasai sistem ekonomi untuk menindas golongan lain. Perspektif Integralistik, yang menganggap bahwa fungsi negara bukan untuk melindungi kepentingan pribadi atau golongan, melainkan untuk melindungi kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

3.

368

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Perdebatan antara Moh. Hatta dan Soekarno tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman mengenai perlindungan HAM warganegara, dikalangan founding fathers masih diwarnai konsep dikotomi budaya barat dan timur. Bagi kalangan yang menolak bahwa HAM yang memang lahir di dunia Barat selalu dikonotasikan menganut paham individualisme dan liberalisme. Oleh karena itu tidak ada kepentingannya untuk dimasukkan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang menganut cita negara kekeluargaan. Berdasarkan perdebatan antara Moh. Hatta dan Soekarno, akhirnya dicapai kata sepakat bahwa konsep HAM diambilkan dari falsafah bangsa Indonesia sendiri, dan tidak menekankan pada hak-hak yang berkembang dan lahir di negara barat yang mencerminkan faham individualisme. Atas kesepakatan itu, HAM lalu dicantumkan dalam naskah UUD yang terdiri atas dua jenis HAM yaitu hak-hak klasik dan hak-hak sosial. 1. Hak asasi Klasik terdapat dalam 4 (empat) pasal yaitu: a. Pasal 27 ayat (1) : Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. b. Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan undang-undang. c. Pasal 29 ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. d. Pasal 30 ayat (1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. 2. Hak asasi sosial terdapat dalam 3 (tiga) pasal yaitu: a. Pasal 27 ayat (2) : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. b. Pasal 31 ayat (1) : Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

369

c.

Pasal 34 : Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Perbandingan Pengaturan HAM dalam Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia.

HAM Klasik Sosial

UUD 1945 4 Pasal 3 Pasal

KONS. RIS 1949 27 Pasal 8 Pasal

UUD 1950 28 Pasal 9 Pasal

Adanya perbedaan perumusan mengenai kedua kategori HAM yaitu klasik dan sosial kaena adanya perbedaan situasi dan suasana kebatinan dari para perumus masing-masing konstitusi, yaitu: 1. Perumus UUD 1945, situasi dan suasana kebatinan diliputi oleh kecintaan terhadap falsafah negara kekeluargaan (tertuang dalam Pembukaan UUD 1945). Perumus Konstitusi RIS dan UUD 1950, suasana kebatinan yang diliputi oleh perkembangan politik tingkat dunia, sebagai akibat munculnya pernyataan sedunia tentang HAM (Declaration Universal of Human Right) oleh PBB, tanggal 10 Desember 1948.

2.

Lahirnya penghargaan HAM di Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjalanan bangsa melalui reformasi tahun 1998. Diawali dengan keluarnya Ketatapan (TAP) MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM, yang berisi 44 pasal. Hal itu tidak terlepas dengan kesadaran sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempunyai tanggung jawab menghormati Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta menjamin dan menghormati hak asasi orang lain sekaligus sebagai suatu kewajiban. Oleh karena itu, hak asasi dan kewajiban manusia terpadu dan melekat pada diri manusia sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, anggota suatu bangsa dan warga Negara, serta anggota masyarakat bangsabangsa.

370

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Dalam UUD 1945 pasca amandemen pengaturan HAM terdapat pada 11 Pasal, mulai dari Pasal 28, 28 A sampai dengan Pasal 28J. Dalam pasal tersebut secara garis besar mengatur tentang hak berkumpul/berserikat, mempertahankan hidup, berkeluarga dan perlindungan dari kekerasan, mengembangkan diri, jaminan dan kepastian hukum, bebas beragama, bebas berkomunikasi/ memperoleh informasi, perlindungan diri dan keluarga dan martabat serta harta bendanya, kesejahteraan lahir batin/pesamaan keadilan/hak milik pribadi, hak hidup dan bebas dari perbudakan, serta tuntutan atas dasar hukum yang berlaku surut/ penghormatan identitas budaya, dan dalam Pasal 28J dinyatakan “wajib menghormati hak asasi orang lain serta tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dalam undang-undang” (Masyhur Effendi dan Taufani Sumana Evandri, 2007) Untuk mengimplementasikan Pasal 28, 28A sampai 28J UUD 1945, disusunlah UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Spirit hukum yang menjadi dasar penyusunan UU HAM termuat di dalam konsideran, terutama dalam menimbang. Pertimbangan utama yang dapat dicatat merupakan landasan filosofis sebagai manusia makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh Ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia, oleh penciptaNya dianugerahi hak asasi untuk menjamin keberadaan harkat dan martabat kemuliaan dirinya serta keharmonisan lingkungannya. Pengertian HAM dalam UU Nomor 39 Tahun 1999, diatur dalam Pasal 1 ayat (1), HAM adalah “seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. UU HAM meliputi 106 pasal yang secara rinci mengatur tentang hak hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, hak

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

371

anak, kewajiban adasr manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, pembatasan dan larangan. Pada bagian lain, kewajiban dasar dasar manusia hanya diatur terbatas, misalnya setiap orang yang ada di wilayah Negara Indonesia wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asassi manusia yang telah diterima oleh Negara Republik Indonesia. Pada bagian lain diatur pula tentang kewajiban dan tanggung jawab pemerintah ditentukan bahwa “Pemerintah wajib bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang HAM, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh Negara Republik Indonesia. Untuk menunjang penegakan HAM di Indonesia, diatur pula Komisi Nasional (Komnas) HAM yang dalam UU HAM terdapat dalam pasal 75 sampai dengan 99. Komnas HAM bertujuan mengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asassi Manusia, dan meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.(Pasal 75). Terkait dengan fungsi Komnas HAM, Komnas HAM bertugas dan berwenang melakukan: (Pasal 89 ayat 3): a. pengamatan pelaksanaan hak asasi manusia dan penyusunan laporan hasil pengamatan tersebut; b. penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia; c. pemanggilan kepada pihak pengadu atau korban maupun pihak yang diadukan untuk dimintai dan didengar keterangannya; d. pemanggilan saksi untuk diminta dan didengar kesaksiannya, dan kepada saksi pengadu diminta menyerahkan bukti yang diperlukan; e. peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang dianggap perlu;

372

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

f.

g.

h.

pemanggilan terhadap pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai aslinya dengan persetujuan ketua pengadilan; pemeriksaan setempat terhadap rumah, pekarangan bangunan, dan tempat-tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu dengan persetujuan ketua pengadilan; dan pemberian pendapat berdasarkan persetujuan ketua pengadilan terhadap perkara tertentu yang sedang dalam proses peradilan, bilamana dalam perkara tersebut terdapat pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah publik dan acara pemeriksaan oleh pengadilan yang kemudian pendapat Komnas HAM tersebut wajib diberitahukan oleh hakim kepada para pihak.

PENGADILAN HAM Untuk melengkapi perlindungan HAM di Indonesia, dibentuk Pengadilan HAM berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Dasar pembentukan UU Pengadilan HAM adalah sebagai amanat dari ketentuan Pasal 104 ayat (1) UU HAM. UU Pengadilan HAM diharapkan dapat melindungi hak asasi manusia, baik perseorangan maupun masyarakat, dan menjadi dasar dalam penegakan, kepastian hukum, keadilan, dan perasaan aman baik bagi perseorangan maupun masyarakat, terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pembentukan UU Pengadilan HAM didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut: 1. Pelanggaran hak asasi manusia yang berat merupakan "extra ordinary crimes" (kejahatan yang luar biasa) dan berdampak secara luas baik pada tingkat nasional maupun internasional dan bukan merupakan tindak pidana seperti yang diatur di dalam Kitab Undang undang Hukum Pidana serta menimbulkan kerugian baik materiil maupun immateriil yang mengakibatkan perasaan tidak aman baik terhadap perseorangan maupun masyarakat, sehingga perlu segera dipulihkan dalam mewujudkan supremasi hukum untuk mencapai kedamaian,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

373

2.

ketertiban, ketenteraman, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia; Terhadap perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat diperlukan langkah-langkah penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan yang bersifat khusus. Kekhususan dalam penanganan pelanggaran hak asasi manusia yang berat karena; a. diperlukan penyelidik dengan membentuk tim ad hoc, penyidik ad hoc, penuntut umum ad hoc dan hakim ad hoc; b. diperlukan penegasan bahwa penyelidikan hanya dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sedangkan penyidik tidak berwenang menerima laporan atau pengaduan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana; c. diperlukan ketentuan mengenai tenggang waktu tertentu untuk melakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan; d. diperlukan ketentuan mengenai perlindungan korban dan saksi; e. diperlukan ketentuan yang menegaskan tidak ada kadaluarsa bagi pelanggaran hak asasi manusia yang berat.

Pelanggaran hak asasi manusia yang berat misalnya kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang berdasarkan hukurn internasional dapat digunakan asas retroaktif, diberlakukan pasal mengenai kewajiban untuk tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: "Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis". Dengan ungkapan lain asas retroaktif dapat diberlakukan dalam rangka melindungi hak asasi manusia itu sendiri berdasarkan Pasal 28 J ayat (2) UUD 1945. Oleh karena itu Undang-

374

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

undang ini mengatur pula tentang Pengadilan HAM ad hoc untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-undang ini. Pengadilan HAM ad hoc dibentuk atas usul Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden dan berada dilingkungan Peradilan Umum. Disamping adanya Pengadilan HAM ad hoc, Undang-undang Pengadilan HAM rnenyebutkan keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan MPR-RI Nomor V/MPR/2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang akan dibentuk dengan undang-undang dimaksudkan sebagai lembaga ekstra-yudicial yang ditetapkan dengan undang-undang yang bertugas untuk menegakkan kebenaran dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran hak asasi manusia pada masa lampau, sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang undangan yang berlaku dan melaksanakan rekonsiliasi dalam perspektif kepentingan bersama sebagai bangsa. PERLINDUNGAN TERHADAP HAK ASASI MANUSIA Perlindungan terhadap hak asasi di Indonesia mengalami pasang surut atau maju dan mundur. Maju mundurnya itu ditentukan oleh kesadaran bangsa Indonesia. Pada awal kemerdekaan pada masyarakat pedesaan pelanggaran HAM tidak banyak terjadi disebabkan karena kesadaran akan nilai-nilai sosial budaya masih tinggi. Dalam masyarakat yang penuh dengan kekeluargaan dimana rasa tenggang rasa dan kebersamaan masih tinggi, social control masih jalan, agama menjadi pegangan hidup, maka pelanggaran HAM tidak akan terjadi. Munculnya pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia sebenarnya berakar dari dua hal; pertama menurunnya pengamalan nilai-nilai sosial budaya (Pancasila) dalam masyarakat, kedua sistem politik Indonesia yang tidak demokratis. Penurunan pengamalan nilai-nilai budaya/ nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat sejalan dengan masuknya nilai-nilai budaya asing yang berakar dari individualisme dan liberalisme.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

375

Dalam masyarakat yang berasaskan kekeluargaan dan demokratis hak-hak asasi manusia sudah terlindungi. Hak asasi manusia akan terancam bila terdapat kebebasan yang berlebihan dan tidak seimbang dengan kewajiban. Bung Karno berpendapat bahwa pemikiran tentang hak asasi manusia merupakan sumber individualisme dan liberalisme karena sangat menekankan kepada kebebasan manusia sebagai individu Pengamalan terhadap nilai-nilai sosial budaya atau Pancasila oleh penyelenggara negara dan masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memberikan jaminan terhadap hak asasi manusia. Masalahnya sekarang adalah pengamalan nilai-nilai sosial budaya atau Pancasila itu yang jauh dari harapan. Untuk itu sudah waktunya nilai-nilai sosial budaya atau Pancasila tadi dituangkan kedalam norma-norma yuridis yang mempunyai sanksi yang jelas dan tegas. Keberadaan bab-bab dan pasal-pasal tentang HAM dalam UUD 1945, Ketetapan MPR tentang HAM, undang-undang yang berkenaan dengan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia sudah merupakan langkah positif untuk itu. Pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia selama ini dan sulitnya melakukan penyelesaian disebabkan karena kurangnya peraturan perundang-undangan yang memberikan jaminan dan petunjuk dalam penyelesaiannya. Semenjak reformasi telah ada peraturan perundang-undangan yang memberikan jaminan dan petunjuk dalam penyelesaian masalah yang sehubungan dengan HAM diantaranya adalah UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia; dan UU No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Dalam penyampaian pendapat diatur dalam pasal 9 (1) UU No. 9 Tahun 1998 bahwa bentuk penyampaian pendapat di muka umum dapat dilaksanakan dengan bentuk: a. b. c. unjuk rasa atau demontrasi; pawai; rapat umum; dan atau

376

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

d.

mimbar bebas.

Penyampaian pendapat di muka umum tersebut wajib diberitahukan secara tertulis kepada Polri oleh yang bersangkutan, pimpinan atau penanggung jawab kelompok, selambat-lambatnya 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sebelum kegiatan dimulai (pasal 10 UU No. 9 Tahun 1998). Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum setiap warga negara harus memperhatikan kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 UU No. 9 Tahun 1998 beserta penjelasannya, diantaranya: a. menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain, maksudnya adalah ikut memelihara dan menjaga hak dan kebebasan orang lain untuk hidup aman, tertib, dan damai; aturan-aturan moral yang diakui umum, maksudnya adalah mengindahkan norma, agama kesusilaan, dan kesopanan dalam kehidupan masyarakat; mentaati hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, maksudnya adalah perbuatan yang dapat mencegah timbulnya bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum, baik yang menyangkut orang, barang maupun kesehatan; menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa, maksudnya adalah perbuatan yang dapat mencegah timbulnya permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suku, agama, ras, dan antar golongan dalam masyarakat. (http://www.unp.ac.id/ downloads/pkmb08/bab-7.pdf)

b.

c. d.

e.

Pembentukan lembaga yang mengurus persoalan HAM dan pelanggarannya juga merupakan upaya yang memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Lembaga-lembaga tersebut diantaranya Komnas HAM, pusat-pusat/Lembaga Kajian HAM yang terbentuk di berbagai daerah, LSM dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini di samping berupaya mensosialisasikan peraturan-peraturan tentang HAM juga menerima pengaduanpengaduan pelanggaran HAM dan meneruskan kepada lembaga

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

377

yang berwenang untuk memprosesnya. Upaya yang dilakukan selama ini terkendala oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya perangkat hukum, kurangnya bukti-bukti yang lengkap dan keterbatasan penegak hukum. Oleh karenanya bila telah terjadi pelanggaran hak asasi maka secepatnya dilaporkan kepada yang berwenang. Upaya yang sangat menentukan perlindungan terhadap pelanggaran HAM adalah melalui peradilan. Peradilan yang kuat akan memberikan perlindungan yang baik terhadap HAM dan berdampak positif terhadap tindakan-tindakan yang menjurus kepada pelanggaran HAM. Lembaga-lembaga pendidikan juga berperan dalam memberikan perlindungan terhadap HAM. Lembaga-lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan formal memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada pelajar, siswa atau mahasiswa tentang hak asasi manusia, prosedur yang harus ditempuh bila mengetahui adanya pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kepedulian terhadap hak asasi sudah berarti menekan peluang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Perlindungan terhadap hak asasi juga ditentukan oleh sistem politik yang dianut oleh suatu negara. Sistem politik yang demokratislah yang memberikan jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia terutama hak-hak sipil dan politik. Sebab hak-hak sipil dan politik tergolong hak-hak negatif artinya, hak-hak dan kebebasan yang dijamin di dalamnya akan dapat terpenuhi apabila peran negara dibatasi atau terlihat minus (Ifdhal Kasim, 2001: xi). Tetapi apabila negara berperan intervensionis seperti yang terdapat pada negaranegara yang otoriter pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik akan terjadi. Pengalaman negara Indonesia dengan mempraktikkan sistem politik yang tidak demokratis seperti pada zaman Orde Lama dan Orde Baru jelas memperlihatkan pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik. Contoh konkrit dapat dikemukakan diantaranya: pembubaran DPR hasil pemilu 1955 oleh presiden Soekarno tahun 1960, penolakan permohonan untuk mendirikan partai politik, pembekuan partai politik, pembredelan majalah dan koran, peristiwa Tanjung Priuk 1984. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia sebetulnya karena terjadinya pengabaian terhadap kawajiban asasi. Sebab antara hak

378

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dan kawajiban merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Bila ada hak pasti ada kewajiban, yang satu mencerminkan yang lain. Bila seseorang atau aparat negara melakukan pelanggaran HAM, sebenarnya dia telah melalaikan kewajibanya yang asasi. Sebaliknya bila seseorang/kelompok orang atau aparat negara melaksanakan kewajibanya maka berarti dia telah memberikan jaminan terhadap hak asasi manusia. Sebagai contoh di negara kita sudah punya UU No.9 tahun 1998 berkenaan dengan hak untuk menyampaikan aspirasi secara lisan dan tertulis. Disatu sisi undang-undang tersebut merupakan hak dari seseorang warga negara, namun dalam penggunaan hak tersebut terselip kewajiban yang perlu diperhatikan. Artinya seseorang atau kelompok yang ingin berunjuk rasa dalam undang-undang tersebut harus memberi tahu kepada pihak keamanan (Polisi) paling kurang 3 hari sebelum hak itu digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati hak orang lain seperti tidak mengganggu kepentingan orang banyak, mentaati etika dan moral sesuai dengan budaya bangsa kita. Contoh lain, dalam lingkungan kampus dapat saja terjadi mahasiswa yang melakukan kegiatan seperti diskusi yang bebas mengemukakan pendapat tetapi mereka dituntut pula menghormati hak-hak orang lain agar tidak terganggu. Begitu pula kebebasan untuk mengembangkan kreativitas, minat dan kegemaran (olah raga, kesenian, dll) tetapi hendaklah diupayakan agar kegiatan tersebut tidak mengganggu kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa atau warga kampus lainnya yang juga merupakan haknya. Banyak contoh lain dalam lingkungan kita baik di kampus maupun di dalam masyarakat yang menuntut adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Untuk itu marilah kita laksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita dan itu termuat dalam berbagai aturan/norma yang ada dalam negara dan masyarakat.

HUBUNGAN DEMOKRASI DAN HAM Dari berbagai uraian di atas, sesungguhnya dapat dilihat hubungan demokrasi dan HAM. Demokrasi mempunyai yang erat dengan HAM karena makna terdalam dari adalah kedaulatan rakyat, yaitu rakyatlah sebagai bagaimana keterkaitan demokrasi pemegang

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

379

kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara. Posisi ini berarti secara langsung, menyatakan adanya jaminan terhadap hak sipil, dan politik rakyat (Konvenan hak sipil dan politik) pada dasarnya dikonsepsikan sebagai rakyat atau warga negara untuk mencapai kedudukannya sebagai penentu keputusan politik tertinggi. Dalam perspektif kongkret ukuran untuk menilai demokratis atau tidaknya suatu negara, antara lain: berdasarkan jawaban atas pertanyaan seberapa besarkah tingkat kebebasan, kemerdekaan maksunya adalah kebebasan dan kemerdekaan dan hak sebagaimana dimaksudkan dalam kategori HAM sesuai tertuang dalam UUD 1945, yang menyatakan kebebasan untuk menyatakan pendapat, kemerdekaan untuk menganut keyakinan politik, hak untuk diperlakukan sama dihadapan hukum. Namun perlu diingat bahwa persoalan demokrasi bukanlah sebatas hak sipil dan politik rakyat, namun dalam perkembangannya, demokrasi juga terkait erat dengan sejauh mana terjaminnya hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya rakyat. Dalam perspektif yang lebih kongkret negara demokratis juga diukur dari sejauh mana negara menjamin hak-hak warga negara dalam mendapatkan penghidupan yang layak. Hal inilah yang secara langsung atau tidak langsung menegaskan bagaimana hubungan yang terjalin antara demokrasi dan HAM. Secara sederhana dapat dijelaskan, bahwa HAM akan terwujud dan dijamin oleh negara yang demokratis dan demikian pula sebaliknya, demokrasi akan terwujud apabila negara mampu menjamin tegaknya HAM (I Wayan “Gendo” Suardana, dalam http//gendo.multiply.com/journal).

REALITA PENGHARGAAN HAM DI NEGARA DEMOKRASI Realita demokrasi Indonesia saat ini sedang mengalami ujian yang berat, terutama pada masa transisi dari rezim otoriter menuju ke rezim demokrasi. Tantangan yang sedemikian besar seyogyanya dihadapi dengan secepat mungkin melakukan perubahan-perubahan dalam sistem pemerintahan yang mengerucut pada terwujudnya pemerintahan yang bersih. Bersih dalam arti mampu mendapatkan kehendak rakyat sebagai kehendak tertinggi, hal ini merupakan

380

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

konsekuensi logis dari konstitusi yang menegaskan kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Tapi apa yang bisa kita lihat bahwa setelah 66 tahun “Kemerdekaan Indonesia” ternyata belum cukup untuk membuat negara ini menjadi Negara yang demokratis, dalam artian mampu menjamin terwujudnya keberadaan HAM. Maka dapat dipastikan bahwa Indonesia masih dalam kategori negatif, sebab fakta dalam kehidupan negara bangsa kita, menyatakan gambaran yang jauh sebagai negara demokratis. Praktik jaminan perlindungan hukum di Indonesia masih tetap pada paradigma lama, dimana prinsip equality before law ( kesetaraan di hadapan hukum). Selain itu persyaratan dari penghargaan HAM belum pernah terwujud. Bebasnya para koruptor dari jeratan hukum masih ditoleransinya para pelanggaran HAM berat tanpa proses yang memadai. Diskriminasi hak-hak rakyat, terutama yang menyangkut rehabilitasi hak politik belum sepenuhnya dilakukan, misalnya, terabaikannya hak-hak korban kekerasan negara seperti Tanjung Priok tahun 1984, Tragedi Trisakti tahun 1998, Semanggi. Kasus-kasus kerakyatan akibat kekerasan Negara pada rezim Orde Baru seperti masalah; penggusuran dan perampasan tanah (Kedung Ombo) tidak pernah tuntas. Bahkan dalam pemerintah yang mengklaim dirinya demokratis dan reformis. Apabila sedemikian parahnya masalah penegakan HAM, sudah saatnya stake holders menjadi pejuang HAM di negeri ini. Karena pada dasarnya penegakan HAM dalam sebuah Negara Demokratis seluruhnya tergantung kepada keseriusan aparat yang kompeten yang setia kepada rule of law. Sehingga rakyat bukan lagi objek negara yang bisa dipermainkan tetapi adalah subjek yang hak-haknya sebagai warga negara dan manusia dijamin secara utuh.

SIMPULAN 1. Masalah penegakan HAM merupakan masalah yang bersifat mendunia, artinya masalah ini akan selalu dihadapi masyarakat internasional, tidak terkecuali Indonesia. Dengan demikian,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

381

2.

3.

persoalan HAM mengandung aspek universal dan lintas budaya. Setiap konstitusi negara pasti mengatur mengenai jaminan terhadap perlindungan HAM warganegaranya karena negara sebagai organisasi kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Lahirnya penghargaan HAM di Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjalanan bangsa melalui reformasi tahun 1998. Diawali dengan keluarnya Ketatapan (TAP) MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM, manademen UUD 1999 khususnya Pasal 28, 28A – 28 J yang mengatur perlindungan HAM. Kemudian disusunlah UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Spirit hukum yang menjadi dasar penyusunan UU HAM termuat di dalam konsideran, terutama dalam menimbang. Pertimbangan utama yang dapat dicatat merupakan landasan filosofis sebagai manusia makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh Ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia. Sebagai instrumen pendukung dibentuk Komisi Nasional (Komnas) HAM yang bertujuan mengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asassi Manusia. Dan untuk melengkapi perlindungan HAM di Indonesia, dibentuk Pengadilan HAM berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Demokrasi mempunyai keterkaitan yang erat dengan HAM karena makna terdalam dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat, yaitu rakyatlah sebagai pemegang kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara. Posisi ini berarti secara langsung, menyatakan adanya jaminan terhadap hak sipil, dan politik rakyat (Konvenan hak sipil dan politik) yang pada dasarnya dikonsepsikan sebagai rakyat atau warga negara untuk mencapai kedudukannya sebagai penentu keputusan politik tertinggi.

382

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

4.

Realita demokrasi Indonesia saat ini sedang mengalami ujian yang berat, terutama pada masa transisi dari rezim otoriter menuju ke rezim demokrasi. Setelah 66 tahun “Kemerdekaan Indonesia” ternyata belum cukup untuk membuat negara ini menjadi Negara yang demokratis, dalam artian mampu menjamin terwujudnya keberadaan HAM.

Masalah penegakan HAM, sudah saatnya stake holders menjadi pejuang HAM di negeri ini. Karena pada dasarnya penegakan HAM dalam sebuah Negara Demokratis seluruhnya tergantung kepada keseriusan aparat yang kompeten dan setia kepada rule of law.

DAFTAR PUSTAKA Cipto Handoyo, B. Hestu, 2003, Hukum Tata Negara Kewarganegaraan dan Hak Asasi Mamnusia (Memahami Proses Konsolidasi Sistem Demokrasi di Indonesia), Penerbit Universitas Atmajaya, Yogyakarta Effendi Masyhur, Sukmana Evandri, Taufani, 2010, HAM Dalam Dimensi/Dinamika yuridis, Sosial, Politik dan Proses Penyusunan/Aplikasi Hak HAM Dalam Masyarakat, Edisi Ketiga, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor http://www.unp.ac.id/downloads/pkmb08/bab-7.pdf http//gendo.multiply.com/journal- I Wayan “Gendo” Suardana Irsan, Koesparmono, 2009, Hukum dan Hak Asasi Manusia, Penerbit Yayasan Brata Bhakti, Jakarta. Irwan Prayitno, http/pas.org Ketetapan MPR-RI Nomor V/MPR/2000 Persatuan dan Kesatuan Nasional tentang Pemantapan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Undang Undang No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

383

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM www// xi.com-Ifdal Kasim

384

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PROSPEK DEMOKRATISASI INDONESIA ANTARA CIVIL SOCIETY DAN POLITICAL SOCIETY Victor Silaen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan victorsilaen@gmail.com ABSTRAK Tak dapat disangkal bahwa Indonesia pasca-Soeharto telah banyak mereformasi dirinya secara politik, termasuk mengembangkan sistemsistem baru dan membangun institusi-institusi baru yang mendukung demokrasi serta mewujudkan agenda-agenda modernisasi politik. Demokratisasi memang tengah bergulir deras, utamanya di aras struktural dan prosedural. Namun, memadaikah perkembanganperkembangan itu dalam rangka semakin memperkuat demokrasi Indonesia di masa depan? Banyak pemikir mengatakan bahwa demokrasi hanya bisa berkembang baik melalui penguatan Civil society (masyarakat sipil). Sedangkan menguatnya masyarakat sipil ditandai dengan kemunculan banyak organisasi non-pemerintah (ornop) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) di tengah masyarakat, dengan fokus isu yang beranekaragam. Dengan demikianlah demokrasi yang berkembang niscaya bercorak pluralistik. Di samping itu juga harus terdapat ciri-ciri lain seperti tingginya tingkat partisipasi politik masyarakat; terbukanya ruang-ruang publik yang luas dan bebas; terbentuknya masyarakat yang kritis (critical society). Civil society sesungguhnya lahir sebagai antitesis dari kelembagaan peran masyarakat di tahapan sebelumnya, yakni natural society (masyarakat alamiah) dan political society (masyarakat politik). Di negara yang demokrasinya sudah matang, masyarakat politik dan masyarakat sipil niscaya berelasi satu sama lain secara erat, karena keduanya saling membutuhkan. Kata kunci : masyarakat madani, demokrasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

385

PENGANTAR Upaya menjelaskan konsep demokrasi sedalam dan sedetail mungkin setidaknya harus mencakup tiga perspektif: sistemik-struktural, prosedural-mekanisme, dan budaya (ketiganya, harus diingat, selalu terkait dengan bidang politik). Tetapi, hakekat demokrasi itu sendiri sebenarnya apa dan bagaimana? Seorang filsuf, Bertrand Russell (1919), mengatakan demikian: jika orang berpikir mengenai demokrasi, maka ia akan langsung menghubungkannya dengan kebebasan yang cukup memadai bagi individu-individu dan kelompokkelompok untuk memilih ini dan itu. Orang bebas adalah orang yang mampu menentukan pelbagai hal untuk mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian ia mampu mewujudkan dirinya secara utuh, baik sebagai individu maupun sebagai pribadi. Seorang filsuf lainnya, Karl Popper (1945), mengatakan bahwa demokrasi bukanlah narasi agung tentang masyarakat sempurna. Narasi agung cenderung menolak potensi salah di dalam dirinya, sehingga tidak mungkin difalsifikasi. Dalam salah satu esainya, Popper berkata: “Demokrasi diterima bukan karena demokrasi mengandung kebaikan-kebaikan yang bersifat instrinsik. Kebaikan ini mungkin amat meragukan. Kita semata-mata menghindari kejahatan suatu kediktatoran. Kejahatan kediktatoran lebih pasti daripada kebaikan demokrasi. Bukan karena diktator pasti menyalahgunakan kekuasaannya, tapi karena diktator akan selalu melanggar hak asasi.” Jadi, menurut Popper, penerimaan demokrasi bukanlah karena demokrasi memastikan klaim pencerahan rasional, tapi semata karena di dalam demokrasi potensi salah diakui. Dari eksperimentasi inilah demokrasi akan terus begerak maju.

DEMOKRASI, SEBUAH PERADABAN Akan halnya ahli politik Samuel P. Huntington (1989) mengatakan bahwa pada intinya demokrasi adalah cara-cara untuk menetapkan 1 otoritas sekaligus membatasi otoritas tersebut. Dalam konteks ini
1

Salah satu tujuan demokrasi adalah membatasi kekuasaan. Jadi, pemerintah yang demokratis adalah pemerintah yang dibatasi kekuasaannya. Bagaimana caranya

386

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

hanya ada dua kemungkinan: entah penguasa dan rakyat identik (sebagaimana dalam “demokrasi langsung” di Yunani Kuno, 508 tahun Sebelum Masehi), atau para penguasa dipilih oleh rakyat yang memberikan suaranya. Atas dasar itu, pemilu (voting) dianggap sebagai kegiatan politis yang paling penting dan esensial untuk diselenggarakan secara periodik dan teratur oleh negara-negara yang menyebut dirinya demokratis. Dan pemilu yang bebas, jujur, adil, dan kompetitif hanya bisa berlangsung jika ada jaminan bagi kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, dan kebebasan pers -- termasuk kebebasan untuk mengkritik terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Jika ditelusuri kembali, dapat dikatakan bahwa pada awalnya demokrasi merupakan sebuah peradaban masyarakat yang dianggap 2 ideal sebagaimana pernah terjadi di Yunani Kuno. Selanjutnya, ia berkembang menjadi ide atau gagasan untuk membentuk suatu sistem atau pola pengelolaan kekuasaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Seiring waktu karena dipandang baik, penting, dan berharga bagi kehidupan, maka ia pun berkembang menjadi sebuah nilai yang dicita-citakan dan diperjuangkan perwujudannya oleh sebagian besar masyarakat dunia. Itu berarti, demokrasi tidak hanya ideal untuk diterapkan dalam tata-pemerintahan dan tata-kemasyarakatan, tetapi juga dalam kehidupan sesehari orang-perorang. Dengan demikian maka demokrasi bukan hanya berkait dengan aspek politik, tetapi juga budaya. Demokrasi sendiri, seiring waktu, memiliki sangat banyak pengertian. Namun, di antara banyaknya pengertian yang berbeda, terdapat juga sejumlah persamaan penting yang menunjukkan universalitas konsep demokrasi berdasarkan kriteria-kriteria yang menjadi cerminan perwujudan konsep tersebut. Henry B. Mayo, misalnya, mencatat
membatasi kekuasaan itu? Dengan membuat konstitusi. Maka dapatlah dikatakan bahwa pemerintah yang didasarkan konstitusi adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya. Lihat Miriam Budiardjo, Masalah Kenegaraan, Jakarta: Gramedia, 1982, hal. 52. Jadi, demokrasi bukanlah diawali dengan sebuah pemikiran oleh seseorang, seperti Marxisme bersumber pada Marx. Demokrasi diawali dengan sebuah peradaban masyarakat, yang seiring waktu dikembangkan terus-menerus berdasarkan dialektika pemikiran yang bermunculan tak habis-habisnya sampai sekarang.

2

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

387

setidaknya ada delapan ciri utama yang harus diperhatikan untuk menilai apakah suatu masyarakat bersifat demokratis atau tidak, yaitu: (1) adanya penyelesaian perselisihan dengan damai dan sukarela; (2) adanya jaminan bagi terjadinya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah; (3) adanya pergantian penguasa yang berlangsung secara teratur; (4) adanya pembatasan atas pemakaian kekerasan (paksaan) secara minimum; (5) adanya pengakuan dan penghormatan atas keanekaragaman; (6) adanya jaminan penegakan keadilan; (7) adanya upaya memajukan ilmu pengetahuan; (8) adanya pengakuan dan penghormatan terhadap 3 kebebasan. Sedangkan Carter dan Hertz menyebut tujuh ciri demokrasi, yaitu: (1) pembatasan terhadap tindakan pemerintah dengan menjamin terjadinya pergantian pemimpin secara berkala, tertib, damai, melalui alat-alat perwakilan rakyat yang efektif; (2) menghargai sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat yang berlawanan; (3) menjamin persamaan di depan hukum yang diwujudkan dengan sikap tunduk kepada rule of law tanpa membedakan kedudukan politik; (4) adanya kebebasan berpartisipasi dan beroposisi bagi partai politik, organisasi kemsyarakatan, masyarakat dan perorangan, termasuk bagi pers dan media massa; (5) adanya penghormatan terhadap hak rakyat untuk memberikan pendapatnya betapapun tampak salah dan tidak populer; (6) penghargaan terhadap hak-hak minoritas dan perorangan; (7) pengunaan cara persuasif dan diskursif ketimbang koersif dan 4 represif. Akan halnya Ulf Sundhaussen menyebutkan tiga syarat sebuah sistem politik yang demokratis, yaitu: (1) jaminan atas hak seluruh warga negara untuk dipilih dan memilih dalam pemilu yang dilaksanakan secara berkala dan bebas; (2) semua warga negara menikmati kebebasan berbicara, berorganisasi, memperoleh
3

4

Henry B. Mayo, An Introduction to Democratic Theory, New York: Oxford University, 1965, hal. 218-241; juga dalam Miriam Budiardjo (ed.), Masalah Kenegaraan, Jakarta: Gramedia, 1982, hal. 160-196. Gwendolen M. Carter dan John H. Herz, “Peranan Pemerintah dalam Masyarakat Masa Kini”, dalam Miriam Budiardjo (ed.), Masalah Kenegaraan, ibid, hal. 8687.

388

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

informasi, dan beragama; (3) dijaminnya hak yang sama di depan 5 hukum. Dari sejumlah pandangan di atas terdapat beberapa kriteria yang menjadi titik persamaan: (1) Penghargaan terhadap individu. Di sini demokrasi merupakan sebuah pandangan yang lebih menonjolkan aspek individu ketimbang kolektivitas; (2) Kebebasan dalam empat hal, yaitu berpendapat, berkumpul atau mengadakan rapat, kebebasan memperoleh informasi, dan kebebasan beragama; (3) Adanya persamaan kedudukan bagi setiap warga negara di depan hukum tanpa kecuali. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan hukum yang adil tanpa membedakan asal-usul maupun latar belakang sosial; (4) Adanya pemilihan pemimpin lembaga sosial dan pemerintahan yang dilakukan secara berkala; (5) Adanya hak yang dimiliki oleh setiap warga negara untuk dipilih dan memilih dalam pelaksanaan pemilu yang dilaksanakan secara berkala; (6) Adanya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan yang mengikat secara kolektif; (7) Adanya hak masyarakat untuk menyampaikan protes dan atau menjadi oposisi berhadapan dengan penguasa; (8) Adanya penghargaan terhadap cara persuasif ketimbang kekerasan dalam menciptakan perubahan; (9) Adanya penghargaan terhadap hak-hak minoritas dalam kehidupan politik; (10) Pentingnya cara musyawarah-mufakat dilakukan dalam penyelesaian setiap perkara dalam masyarakat. Semua kriteria di atas kiranya dapat dijadikan basis konseptual untuk menilai ada tidaknya demokrasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kriteria-kriteria tersebut mungkin sebagian belum terwujud, sementara sebagian lainnya sudah nampak meski dengan perwujudan yang masih minimal. Namun, tentu saja upaya mewujudkan berbagai kriteria demokrasi tersebut tergantung pada demokratisasi yang mewarnai perkembangan politik Indonesia sendiri.

5

Ulf Sundhoussen,”Demokrasi dan Kelas Menengah: Refleksi Mengenai Pembangunan Politik,” dalam Prisma, No. 2, Tahun XXI, 1992, hal. 64.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

389

DUA PERSPEKTIF DEMOKRASI Untuk lebih mengarahkan pemahaman tentang demokrasi, baiklah kita gunakan pendekatan perspektif sebagaimana disebut di atas. Pertama, perspektif sistemik-struktural. Dengan perspektif ini, yang dimaksud adalah bagaimana kekuasaan di suatu negara didistribusikan sedemikian rupa demi mencegah terjadinya otoriterisme atau absolutisme (yang niscaya menimbulkan totalitarisme, diktaturisme dan tiranisme). Memasuki Zaman Modern, timbullah gagasan tentang Trias Politica, dengan lembaga-lembaga negara yang bernama eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga lembaga inilah sejatinya yang menyelenggarakan negara; hanya saja dibedakan menurut fungsinya masing-masing, dan karena itu perlu ditata struktur kelembagaannya dan hubungan-hubungan antarlembaga itu sendiri. Di zaman yang semakin modern ini, secara non-formal gagasan Trias Politica itu di banyak negara maju telah berkembang menjadi Penta Politica (ketiga lembaga di atas ditambah lagi dengan pers dan polling sebagai penyambung lidah rakyat di satu sisi dan pengontrol kekuasaan di sisi lain). Kedua, perspektif prosedural-mekanisme. Yang dimaksud dengan perspektif ini adalah bagaimana cara atau proses membuat kebijakan publik maupun memilih elite-elite politik atau para pemimpin. Apakah rakyat diikutsertakan atau berhak memberikan suara-pendapatnya? Jika demokratis, maka cara atau prosesnya harus didesain sedemikian rupa sehingga seluruh rakyat berpeluang untuk mengambil bagian di dalamnya. Maka, voting pun akhirnya menjadi pilihan yang paling mungkin dan rasional. Sebaliknya, hampir tidak mungkin mempraktikkan apa yang disebut aklamasi atau musyawarah 6 (kecuali dalam demokrasi dengan ruang-lingkup yang sangat kecil). Sampai di sini, jika kedua perspektif tersebut berjalan baik di tengah kehidupan bernegara, padahal sementara itu kehidupan
6

Dengan logika sederhana saja sulit dibayangkan bagaimana suatu pemilihan, yang memberi kebebasan dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilih, apalagi dengan jumlah yang relatif banyak, dapat menghasilkan suara bulat (aklamasi). Sedangkan musyawarah, sebagai sebuah forum percakapan yang terbuka, tidak cocok dengan demokrasi. Karena, jika menyangkut pemilihan, demokrasi harus menjamin kerahasiaan setiap orang yang berpartisipasi di dalamnya.

390

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

masyarakatnya masih jauh dari apa yang dicirikan sebagai masyarakat modern, maka dapatlah dikatakan bahwa demokrasi tersebut semu adanya. Itulah demokrasi façade: yang tampak luarnya saja yang sudah demokratis, namun substansinya masih jauh dari demokrasi yang ideal. Menurut Jeff Hayness (1997), dalam Democracy and Civil society in the Third World Politics and New Political Movement, itulah fenomena politik modern yang semu: demokrasi yang tidak sungguh-sungguh demokratis. Sekedar politik reklame atau pencitraan.

PERSPEKTIF BUDAYA DEMOKRASI Idealnya, masyarakat tersebut juga harus memiliki budaya yang demokratis. Inilah perspektif yang ketiga. Perlu dijelaskan terlebih dulu bahwa kebudayaan suatu masyarakat secara mudah dapat dilihat melalui tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang dijadikan pedoman di dalam kehidupan mereka sesehari. Dengan tradisi yang dimaksud adalah kebiasaan-kebiasaan yang berlaku umum di dalam kehidupan sesehari dan diwariskan secara sosial dari generasi ke generasi. Sedangkan nilai dapat didefinisikan sebagai apa yang berharga dan penting dalam hidup dan demi membentuk suatu kehidupan yang baik dan bermakna. Nilai itu sendiri tak mungkin dapat bertahan an sich sebagai nilai di dalam kehidupan masyarakat jika tidak didukung oleh nilai-nilai lainnya (Steeman, 1973). Dengan kata lain, nilai-nilai apa pun atau yang mana pun selalu ada dan eksis di dalam sebuah sistem, yang karenanya satu sama lain tak mungkin dapat terpisah atau berdiri sendiri-sendiri secara fungsional. Independensi, misalnya, tak mungkin bertahan sebagai nilai jika tidak didukung oleh individualistik dan percaya akan kemampuan diri sendiri (selfreliance). Begitu pula independensi, tak mungkin ada jika tidak didukung dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri, penghargaan akan individualitas, dan kemandirian. Demikianlah seterusnya, sehingga jelaslah bahwa pada intinya, setiap nilai tidak mungkin dapat berdiri sendiri dalam operasionalisasinya tanpa didukung oleh nilai-nilai lainnya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

391

Lantas, nilai-nilai apakah yang harus mendukung keberlakuan budaya demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat? Mengambil contoh di Amerika Serikat (AS), demokrasi sebagai nilai budaya selalu berkait erat dengan kebebasan (freedom), independensi (kemandirian), individualistik, kesetaraan (equality), keanekaragaman (pluralism), dan kesamaan dalam kesempatan (equity in opportunity), di samping juga kompetisi, kejujuran, dan keadilan (Luedtke, 1981). Memang, tak dapat dipungkiri bahwa banyak hal dan peristiwa selama ini yang menunjukkan AS memiliki coreng-moreng dalam wajah demokrasinya. Sebut misalnya, kerusuhan di Los Angeles tahun 1992 yang terpicu oleh diskriminasi rasial, ketidaksetaraan pria dan wanita yang dampaknya melahirkan gerakan feminisme hingga kini, kecilnya kesempatan bagi kelompok masyarakat di luar golongan Orang Putih Protestan (disebut White Anglo Saxon Protestan/WASP) untuk menduduki posisi politis terhormat di pemerintahan, dan lain sebagainya (kendati sudah terpecahkan sejak 2008, dengan terpilihnya “si hitam” Barack Obama menjadi presiden). Meski demikian, hingga kini AS tetap dianggap sebagai kampiun demokrasi di dunia. Mengapa? Karena, dalam kehidupan sesehari masyarakatnya, semua nilai yang terkait dan mendukung budaya demokrasi itu selalu diperjuangkan untuk diwujudnyatakan, baik di dalam hubungan antarindividu maupun antarkelompok (Alexis de Tocqueville, 1969). Sehingga, demokrasi bagi mereka juga merupakan way of life yang begitu dihayati oleh setiap orang. Bagaimana dengan Indonesia? Memang, agak sulit mengidentifikasi nilai-nilai mana yang selama ini dijadikan acuan masyarakat pada umumnya. Sebab, kebudayaan di Indonesia begitu majemuknya. Sedangkan kebudayaan nasional hingga kini tak jelas yang mana. Kalaupun ada kebudayaan tertentu yang -- diakui atau tidak -- selama ini dijadikan acuan oleh masyarakat pada umumnya, itulah kebudayaan Jawa. Di dalam kebudayaan etnik mayoritas ini secara jujur harus diakui terdapat beberapa nilai yang tak lagi relevan dengan tuntutan demokrasi (Darmaputera, 1993). Pertama, yang terlalu menekankan pentingnya harmoni-selaras, sehingga cenderung menabukan perbedaan dan menghindari pertentangan. Akibatnya, bila terjadi konflik, kita tidak tahu harus bagaimana mengelolanya agar tidak berdampak destruktif. Kedua, yang terlalu menekankan

392

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pentingnya kebersamaan dan kekeluargaan. Akibatnya, semangat kemandirian dan kompetisi individual diperlemah. Ketiga, sungkan dan hormat berlebihan kepada orangtua atau yang dituakan (senioritas). Inilah nilai-nilai yang tak relevan lagi dengan tuntutan demokrasi. Seyogianya diusangkan, bukan karena tidak baik. Melainkan, karena tak cocok lagi dengan situasi dan kondisi kekinian. Demokrasi itu sendiri secara substantif (kerap disebut Demokrasi Sosial) meniscayakan adanya kebebasan, kesetaraan, independensi, dan penghargaan yang tinggi pada individualitas, sehingga juga memunculkan penerimaan atas nilai keanekaragaman (pluralistik atau kemajemukan). Tanpa memiliki dan menghayati nilai-nilai itu, masyarakat yang bersangkutan tak layak disebut demokratis. Bagaimana dengan kebebasan di masyarakat kita? Bagaimana pula dengan kesetaraan? Sudahkah setiap orang terbiasa dipandang maupun memandang orang lain berdasarkan kemampuan atau prestasinya (meritokrasi), dan bukan karena kekayaan dan kedudukannya? Apakah prinsip “setiap orang sama di muka hukum” (equality before the law) betul-betul terwujud? Bagaimana pula dengan independensi? Pada umumnya masyarakat kita masih terbiasa memandang orang dengan mengaitkannya pada keluarga, kerabat, atau kelompoknya. Sebaliknya diri sendiri juga terbiasa mengandalkan keluarga, kerabat atau kelompok yang dianggap dapat menambah bobot. Akan halnya penghargaan yang tinggi pada individualitas, ini pun masih belum menjadi nilai masyarakat pada umumnya. Tak pelak, nilai-nilai baru itu perlu diadopsi atau dikembangkan selekas mungkin. Untuk itu diperlukan proses panjang yang dapat mengubah pemikiran, sehingga masyarakat secara sukarela dapat menjadikannya sebagai acuan baru di dalam kehidupan sesehari. Inilah salah satu tantangan utama proses reformasi ke depan. Di dalam hal inilah sektor pendidikan dapat memberikan kontribusi yang sangat penting. Yakni, melaksanakan program “Pendidikan Demokrasi untuk Rakyat” – baik secara formal maupun non-formal. Di dalam pendidikan itu sendiri harus dibiasakan terjadinya dialog atau diskusi yang memberikan peluang sebesar-besarnya bagi setiap orang untuk berbicara. Harus diakui, bicara itu memang sulit. Dalam

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

393

konteks ini, yang dimaksud adalah speaking, bukan talking. Sepintas artinya serupa, padahal sebenarnya berbeda. Kalau orang ramai ngomong ngalor-ngidul, misalnya, itu namanya talking. Tapi, kalau orang bicara dengan santun dan kata-katanya sarat makna serta logis-sistematis, itulah speaking. Di AS, baik di rumah maupun di sekolah, sejak kecil setiap orang sudah dibiasakan untuk speak-up. Itulah salah satu ciri mereka, yang di sini dan sejauh ini masih belum kita sukai. Karena, dalam speak-up harus ada keberanian menanggung malu jika yang dibicarakan itu ternyata salah atau keliru. Bagi kita, bukankah malu itu sedikit hampir sama dengan aib yang harus dihindari? Daripada malu, bukankah lebih baik tidak bicara alias diam saja? Tak heran jika di ruang-ruang kelas setingkat perguruan tinggi pun lebih banyak mahasiswa yang gemar berdiam diri daripada berbicara. Dalam speak-up, juga harus ada kesiapsediaan untuk saling beradu argumen. Di dalam beradu argumen itu berarti ada perbedaan pendapat. Sebagai konsekuensinya, bisa timbul konflik setiap saat. Masalahnya bagi kita, konflik itu selalu berkonotasi antagonistikdestruktif, sehingga harus dihindari dengan segala macam cara. Padahal, sebenarnya, konflik dapat menjadi sumber yang potensial untuk mendorong terjadinya perubahan-perubahan positif di pelbagai aspek -- asalkan paham dan mampu mengelola konflik tersebut. Namun, karena kita lebih mengutamakan mufakat dengan jalan musyawarah, maka jika ada perbedaan pendapat, jalan tengahnya adalah tak bicara atau diam saja. Akibatnya, demokrasi belum sungguh-sungguh terwujud di dalam kehidupan sesehari. Lantas, bagaimana ia bisa menjadi way of life kalau tak selalu dieksperimentasikan? Sekaitan itulah, agaknya motto yang kerap kita agung-agungkan selama ini, yakni “diam adalah emas”, perlu diberi makna baru. Sebab, bicara dengan kebebasan merupakan hak asasi setiap orang. Karenanya, bicara dengan keberanian harus menjadi sikap kita ketika berbicara di mana saja, tentang apa saja, dan dengan siapa saja. Kalaupun yang dibicarakan itu ternyata salah atau keliru, tidak perlu malu atau merasa diri bodoh karenanya. Bukankah kebenaran tidak ada tanpa ada kesalahan atau kekeliruan? Kebenaran kerap tak

394

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

datang dari satu sumber. Dalam rangka mencari dan menemukannya itulah maka dialog atau diskusi dapat dijadikan wahananya. Sebab, dalam forum diskusi yang sesungguhnya, setiap orang berposisi dan berpeluang sama untuk mengemukakan pendapatnya. Itulah yang niscaya mendorong terjadinya dialog, yang secara implisit mengoperasionalisasikan nilai-nilai demokrasi tadi. Akan halnya demokrasi itu sendiri, betapapun rawan konflik, agaknya tetap merupakan alternatif terbaik demi menghindarkan terjadinya monopoli dalam menginterpretasi kebenaran. Sebaliknya ia niscaya menjadikan kita mampu bersikap toleran dan apresiatif terhadap perbedaan. Pada akhirnya, bukankah itu juga yang niscaya membuat kita rendah-hati? Dan bukankah karakter seperti itu sangat terpuji? Agar dalam realitas sosialnya demokrasi benar-benar bermakna sebagai sebuah peradaban masyarakat modern, maka terhadap budaya demokrasi pun perlu ditambahkan dua nilai pendukung: rasionalitas dan moralitas. Dengan rasionalitas niscaya setiap orang menggunakan hak-hak asasinya secara bertanggungjawab. Dengan moralitas niscaya setiap orang menjalani hidupnya secara tertib dan tidak mengabaikan orang-orang lain.

MEMPERKUAT DEMOKRASI Bagaimanapun harus diakui bahwa demokratisasi di Indonesia tengah bergulir deras, utamanya di tingkat struktural dan prosedural, yang terlihat dalam kemunculan banyak lembaga baru negara maupun kuasi-negara dan sistem pemilu yang semakin demokratis (pileg, pilpres, dan pemilu kada, yang disusul dengan diterimanya gagasan calon perseorangan dalam pemilu kada). Namun, memadaikah perkembangan-perkembangan itu dalam rangka semakin memperkuat demokrasi Indonesia di masa depan? Banyak pemikir mengatakan bahwa demokrasi hanya bisa berkembang baik melalui penguatan civil society. Konsep ini, dalam perkembangan pemikiran Barat, lahir dari pemikiran Cicero (tahun 106-43 Sebelum Masehi), yang pertama kali menggunakan istilah dalam bahasa Latin, civilis societas, untuk menggambarkan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

395

masyarakat kota yang penduduknya hidup di bawah hukum sipil (civil law). Lama sesudahnya, di zaman modern, konsep tersebut dihidupkan kembali oleh John Locke (1632-1704), Jean Jacques Rousseau (1712-1778), dan Friedrich Hegel (1770-1823). Namun, ada juga yang mengatakan bahwa di zaman itu istilah civil society (selanjutnya diterjemahkan sebagai “masyarakat sipil”) pertama kalinya dicetuskan oleh Adam Ferguson, seorang filsuf Skotlandia, penulis buku An Essay on the History of Civil society (1767). Konsep tersebut didasari amatan Ferguson terhadap proses transisi dari masyarakat aristokratis ke masyarakat komersial atau masyarakat industri. Ia sangat menekankan, pertama, pentingnya pembagian kerja (spesialisasi) di dalam masyarakat; kedua, peralihan orientasi dari kehormatan ke kepentingan; ketiga, kebebasan untuk mengejar kebajikan individual (Gellner, 1995). Sebagai pencetus, Ferguson memang tidak memberi penjelasan tuntas ihwal masyarakat sipil yang dimaksudnya. Namun, menelusurinya secara historis, dapat dikatakan bahwa gagasan masyarakat sipil bertolak dari suatu titik dalam sejarah pemikiran Barat, khususnya sejarah Modernisasi dan Pencerahan. Dalam proses itu, sejarah memunculkan manusia dengan individualitasnya yang otonom sebagai dasar untuk mencari pengetahuan. Saat itu manusia mulai bebas menggunakan rasionya dan berani menolak hegemoni dari pihak agama. Itu sebabnya kemunculan gagasan masyarakat sipil tak dapat dilepaskan akarnya dari semangat Protestanisme asketis: suatu semangat yang muncul karena doktrin keselamatan, hingga setiap individu tidak saja memperkokoh kemurnian kehidupan pribadinya, namun juga menciptakan asosiasiasosiasi bebas dalam gilda-gilda ekonomi. Iman akan pemilihan atau keselamatan ilahi diekspresikan melalui sikap dan tindakan mengelola hidup secara tertib dan rasional. Dengan demikian, dalam sejarah masyarakat sipil dapat ditelusuri adanya relasi kuat antara dimensi rohani dengan semangat rasional yang sudah akil-balik pada manusia modern (Seligman, 1992). Seiring perkembangan ilmu-ilmu sosial, beberapa ahli kemudian mencoba mengajukan rumusan tentang masyarakat sipil itu. Antara lain misalnya Alexis de Tocqueville (1969), seorang Perancis yang

396

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

berdasarkan amatannya terhadap masyarakat Amerika Serikat (AS), mendefinisikan masyarakat sipil sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan: kesukarelaan (voluntary); keswasembadaan (self generating); keswadayaan (self supporting); kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara; keterkaitan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warga masyarakat. Pencarian kebajikan secara individual yang tanpa pamrih, menurut de Tocqueville, memberikan sumbangan yang penting bagi kemunculan masyarakat sipil di AS. Itu pulalah yang membuat demokrasi menjadi sungguh-sungguh hidup di negara tersebut. Sedangkan Alfred Stepan (1996), ahli politik dari Amerika Latin, mendefinisikan masyarakat sipil sebagai arena tempat berbagai gerakan sosial (seperti himpunan ketetanggaan, kelompok perempuan, kelompok keagamaan, dan kelompok intelektual) dan organisasi kemasyarakatan dari semua golongan atau profesi (seperti ahli hukum, wartawan, serikat buruh, dan usahawan) berusaha menyatukan diri dalam suatu himpunan untuk dapat menyalurkan dan memperjuangkan pelbagai kepentingan mereka. Dalam perspektif hubungan society dan state, menurut sosiolog Daniel Bell (1989), masyarakat sipil niscaya memiliki fungsi kontrol terhadap negara, serta mampu mengimplementasikan prinsip checks and balances (pengawasan dan penyeimbangan). Dengan demikian jelaslah bahwa gagasan masyarakat sipil ini berkembang dilandasi semangat antidominasi dan antihegemoni negara. Seiring menguatnya masyarakat sipil, dengan definisi sebagaimana dijelaskan di atas, demokrasi yang berkembang niscaya bercorak pluralistik: ditandai dengan banyaknya pranata sosial politik yang terbentuk atas prakarsa masyarakat sebagai penyalur aspirasi mereka sendiri (Dahl, 1985). Di samping itu juga terdapat ciri-ciri lainnya, yakni: tingginya tingkat partisipasi politik masyarakat; terbukanya ruang-ruang publik yang luas dan bebas; terbentuknya masyarakat yang kritis (critical society). Yang terakhir ini tak mungkin tercapai tanpa melalui proses pencerahan yang membuat budaya masyarakat menjadi modernis: yang berciri rasional, universal, berorientasi achievement, dan imparsial. Di dalam masyarakat sedemikian, nilai-

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

397

nilai yang berkembang dan dihayati dalam kehidupan sesehari niscaya mencakup kebebasan, kesetaraan, individualistik, independensi, dan toleransi (Lerner 1958, Lipset 1963). Adapun proses menuju ke arah itu, menurut Lipset (1963), dapat didukung pencapaiannya melalui pendidikan, dengan instrumen-instrumen pendukung: urbanisasi (yang disebabkan oleh industrialisasi), literacy (angka melek huruf dan minat baca yang tinggi), pers (tentu saja yang 7 bebas), dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Huntington mengatakan secara ringkas bahwa prakondisi yang diperlukan untuk berkembangnya demokrasi yang sehat adalah: kemakmuran ekonomi, struktur sosial yang pluralistik, pengaruh relatif masyarakat terhadap negara, dan tersedianya budaya politik yang toleran dan kompromistik. Perihal kaitan antara demokrasi dan masyarakat sipil, dan bahkan masyarakat sipil dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan, telah lama dilihat sebagai fakta empiris oleh de Tocqueville. Ia melihat bahwa organisasi-organisasi kemasyarakatan yang tumbuh subur di AS pada pertengahan abad ke-19 merupakan “sokoguru” demokrasi, sementara masyarakat sipil merupakan unsur kesehatan budaya dalam masyarakat. Organisasi-organisasi itulah sebenarnya yang memberikan wujud konkret masyarakat. Sementara masyarakat itu sendiri bisa mempunyai posisi kuat dan independen dalam berhadapan dengan negara, karena organisasi-organisasi itu merupakan lembaga-lembaga yang mandiri, dalam arti mampu menghidupi diri sendiri dan tidak bergantung kepada negara. Akan halnya Larry Diamond mengatakan bahwa demokrasi seringkali harus dicapai melalui pengorbanan jutaan rakyat yang secara aktif melibatkan diri dalam gerakan kemasyarakatan (civic movement) dan gerakan media yang independen. Dengan kata lain, pencapaian demokrasi menuntut perjuangan, risiko pribadi, mobilisasi dan daya
7

8

8

Samuel P. Huntington, “The Change to Change: Modernization, Development, and Politics”, dalam Cyril E. Black (ed.), Comparative Modernization, A Reader, New York: The Free Press, 1976. Lihat artikel Larry Diamond, “Masyarakat Sipil dan Perjuangan untuk Menegakkan Demokrasi” dalam buku bunga rampai, Revolusi Demokrasi, yang disuntingnya sendiri (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994).

398

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

tahan dari banyak orang, dari rakyat. Dan demokrasi tersebut niscaya dapat menjadi langgeng jika ia didukung dengan berkembangnya masyarakat sipil yang bersemangat, gigih dan pluralistik. Masyarakat sipil itu sendiri memiliki tiga elemen pokok: rasional, otonomi individu, keberdayaan masyarakat. Jadi, pertama, harus ada pencerahan akal-budi sehingga mampu berpikir rasional (logis, tidak mitis). Kedua, setiap orang mampu menjadi individu yang otonom, yang mampu menentukan, memilih, dan memutuskan sendiri untuk dan dalam pelbagai hal. Ketiga, manakala individu-individu itu bergabung dan berjuang bersama, niscaya terbentuklah suatu masyarakat yang berdaya dalam menghadapi kekuatan-kekuatan eksternal yang berniat mengintervensi kehidupan mereka (baik itu dari negara/pemerintah atau pasar). Jadi, masyarakat sipil adalah masyarakat yang berdaya untuk mengurusi diri mereka sendiri demi kehidupan yang sebaik-baiknya, dan karena itu mereka harus menolak intervensi kekuatan-kekuatan eksternal dengan dalih apapun – apalagi jika kekuatan-kekuatan eksternal itu tak pernah diimbau untuk masuk ke dalam wilayahwilayah kehidupan mereka. Dengan demikian maka hakikatnya adalah dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Ia ada bukanlah untuk melawan negara/pemerintah, tetapi bila keadaan memaksa, masyarakat sipil dimungkinkan untuk melakukan perlawanan itu. Sekaitan itu, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka penting dan 9 perlu sekali dibangun semacam asosiasi sipil (selanjutnya digunakan istilah organisasi non-pemerintah atau ornop) sebanyak-banyaknya, yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan masyarakat itu sendiri. Di samping itu, melalui dan di dalam ornop, setiap anggota dapat belajar berdemokrasi, karena salah satu aktivitas utamanya adalah berdiskusi dalam rangka mempercakapkan pelbagai hal yang berkait dengan perjuangan mereka. Itulah sebabnya, ornop kerap dianggap

9

Dalam istilah yang lebih populer sering disebut sebagai LSM (lembaga swadaya masyarakat) atau ornop (organisasi non-pemerintah). Dalam tulisan ini, istilah yang digunakan adalah ornop, semata karena lebih mendekati istilah aslinya dalam Bahasa Inggris: non-government organization (NGO).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

399

juga sebagai “sekolah demokrasi” bagi rakyat – mereka belajar berdemokrasi bukan lewat buku-buku dan bukan pula di lembaga sekolah. Namun demikian, demi kemajuan para anggota ornop itu sendiri, maka setiap ornop sangat penting untuk secara terus-menerus memperhatikan hal-hal yang berkait dengan tata-organisasi seperti manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, perencanaan, evaluasi, deskripsi kerja, peraturan kerja, hierarki jabatan, struktur organisasi, pengembangan wawasan dan keterampilan, dan lainnya. Memang, sebuah ornop tak selalu perlu didasari oleh akta notaris (legitimasi hukum), tetapi bukan berarti ia mengabaikan profesionalitas. Karena, hal inilah yang sesungguhnya memperkuat legitimasi ornop tersebut, yakni legitimasi sosial (diakui manfaatnya dan diterima keberadaannya oleh para anggota serta masyarakat sekitar). Pokok-pokok pikiran di atas dapat dijelaskan dengan model sebagai berikut:

Organisasi nonpemerintah

Masyarakat Sipil

Demokrasi

membentuk

memperkuat

Masyarakat sipil sesungguhnya lahir sebagai antitesis dari kelembagaan peran masyarakat di tahapan sebelumnya, yakni natural society (masyarakat alamiah) dan political society (masyarakat politik). Dalam masyarakat alamiah, negara tidak ada, yang ada hanyalah sekelompok orang-orang yang saling berperang untuk mempertahankan kepentingannya, sementara hukum dan aturan tidak ada. Sedangkan dalam masyarakat politik, pengaturan kehidupan masyarakat diserahkan sepenuhnya kepada negara. Namun dalam perjalanannya kemudian, konsep masyarakat politik ini menimbulkan peran sentral negara yang melahirkan kesewenang-wenangan dan

400

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kediktaturan. Melihat situasi ini, timbullah pemikiran dari kaum intelektual. John Locke, misalnya, menyatakan bahwa kekuasaan negara tidak boleh mutlak. Hak hak dasar manusia seperti kemerdekaan, pemilikan pribadi dan hak atas kehidupan tidak boleh diintervensi oleh negara. Selanjutnya muncullah Rosseau dan Montesqieu, yang ketiganya kelak mengembangkan prinsip Trias Politica untuk mengelola kehidupan bernegara. Kembali pada tema pokok, negara demokrasi yang kuat dan sehat memerlukan masyarakat politik yang terkelola dengan baik dan mantap. Yang dimaksud dengan masyarakat politik adalah wilayah yang dikhususkan sebagai tempat bagi warga negara yang ingin bertarung memperebutkan kekuasaan maupun posisi-posisi strategis di lembaga-lembaga negara (legislatif dan eksekutif). Masyarakat politik itu sendiri merujuk pada dunia kepartaian, karena partailah yang menjadi kendaraan untuk meraih kekuasaan maupun posisiposisi strategis tadi melalui mekanisme yang disebut pemilu. Berdasarkan itulah kemudian mereka yang mendapat kekuasaan maupun posisi-posisi strategis tadi dapat terlibat dalam proses pembuatan kebijakan-kebijakan publik (Somjee, 1984). Di negara demokratis yang sudah maju, masyarakat politik dan masyarakat sipil niscaya berelasi satu sama lain secara erat, karena keduanya saling membutuhkan (Denny JA, 2006). Partai membutuhkan ornop agar lebih berakar di masyarakat, sementara ornop membutuhkan partai agar aspirasinya lebih dapat diartikulasikan ke dalam proses politik formal. Ornop mungkin berakar kuat di masyarakat, namun tidak dapat menyentuh negara jika tidak mempengaruhi partai. Begitulah yang terjadi di Amerika Serikat. Partai Republik dekat dengan ornop-ornop yang bergerak dalam isu agama dan yang mewakili industri besar. Ornop Christian Coalition, misalnya, mendekati Partai Republik agar praktik aborsi dilarang. Sementara Partai Demokrat dekat dengan ornop-ornop yang bergerak dalam isu perburuhan, lingkungan hidup, gender, dan multikulturalisme. Karena itulah ornop-ornop perburuhan kerap mendekati Partai Demokrat agar legislasi soal upah minimum diubah.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

401

Pentingnya masyarakat politik itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Partai Politik

Masyarakat Politik

Demokrasi

membentuk

memperkuat

DEMOKRASI SEJATI: SEBUAH REFLEKSI Demokrasi jelas merupakan sesuatu yang harus diperbarui terusmenerus (reforming), bukan sekali diciptakan langsung jadi (reformed). Ia tidak berjalan secara linear seperti garis lurus, karena dalam prosesnya kerap harus menghadapi benturan dan jalan penuh 10 Demokrasi yang sejati niscaya mendatangkan kebajikanliku. kebaikan bagi masyarakat pendukungnya. Namun, harus diingat bahwa demokrasi sama sekali bukan untuk menciptakan “surga dalam kehidupan di dunia”. Demokrasi tetap memiliki kekurangan dan kelemahan. Ia misalnya, cenderung membela yang kuat (karena metodenya yang menekankan voting), sehingga bertendensi menciptakan tirani mayoritas. Ketika kekuasaan mayoritas berubah menjadi hak, maka minoritas pun tertunduk di bawah tirani mayoritas 11 dan lahirlah ketidakadilan. Demokrasi juga tidak menjamin dihasilkannya para pemimpin yang baik (dalam arti seluas-luasnya); ia hanya menjamin bahwa pemimpin yang popular (juga dalam arti seluas-luasnya) niscaya terpilih. Begitu dalam hal pemilihan para elite, begitu pula dalam hal pembuatan kebijakan-kebijakan publik. Penyebabnya adalah metodenya yang menekankan voting itu tadi. Jadi, kalau banyak orang kecewa pada hasil-hasil demokrasi seperti itu, bukan berarti lantaran itu lalu demokrasi dapat disalahkan.
10

Robert Dahl, On Democracy (terj. A. Rachman Zainuddin), Jakarta: Obor, 2001, hal. 9-14. 11 James Fiskin, Tyranny and Legitimacy. A Critical of Political Theories, Baltimore: John Hopkins University Press, 1979.

402

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Berdasarkan itu maka sepatutnyalah wacana demokrasi dibiarkan bergulir dialektik terus-menerus sehingga produk-produk politik yang dihasilkannya niscaya lebih cocok dengan perkembangan zaman dan dapat memuaskan sebanyak-banyaknya warga di negara yang bersangkutan. Jadi, demokrasi memang harus dinamis dan akomodatif. Dan karena itulah, apa pun yang berkait dengan sistem dan prosesnya, baik para elite, konstitusi, peraturan perundangundangan, dan apa saja, tidak sekali-kali boleh disakralkan atau dianggap “sudah final” sehingga menutup peluang bagi terjadinya perubahan-perubahan yang lebih baik di masa depan. Didasarkan pada ketidakmungkinannya untuk mencapai finalitas itulah maka demokrasi berkait erat dengan rasionalitas. Karena ia juga merupakan sebuah peradaban, yang niscaya berorientasi pada kebaikankebajikan, maka ia berkait pula dengan moralitas. Jadi, sesungguhnya demokrasi hanyalah “alat” untuk mencapai kebahagiaan yang ingin diwujudkan oleh manusia di dalam kehidupannya di tengah kebersamaan. Dan kebahagiaan itu, yang utama, adalah jika potensi setiap orang diberi peluang untuk berkembang seluas-luasnya melalui pengakuan akan kebebasan, kesetaraan, dan keunikan individualitasnya. Dengan demikian, demokrasi juga bertujuan meningkatkan harkat-martabat manusia -tak hirau latar belakang ras, etnik, agama, jenis kelamin, atau golongannya.

PROSPEK DEMOKRASI Seiring waktu makin banyak orang yang bertanya tentang manfaat demokrasi di dalam kehidupan sesehari. Pertanyaan ini muncul karena kesejahteraan mayoritas rakyat tidak beranjak, sekalipun Indonesia telah menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Untuk apa demokrasi kalau orang hanya bebas berbicara dan berdemonstrasi tetapi kepentingannya tidak diperjuangkan, bahkan dukungan mereka dimanipulasi untuk mengegolkan kepentingankepentingan para elite politik saja. Apa manfaat demokrasi kalau politik uang masih terus berjalan, korupsi merajalela, dan para elite politik sibuk dengan kepentingannya sendiri dan kelompoknya?

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

403

Mengapa demokrasi yang terus-menerus didengungkan para elite itu tidak membawa keringanan pada penderitaan rakyat kecil? Lantas apa untungnya menggulirkan demokrasi terus-menerus jika di sisi lain kemiskinan justru kian bertambah dan ketidakadilan merebak di sanasini? Masihkah demokrasi harus terus-menerus dibanggakan di tengah kesulitan hidup sehari-hari? Harus dipahami bahwa demokrasi memiliki beberapa kelemahan. Pertama, ia cenderung pro kekuatan kapitalis yang mengusung liberalisasi pasar dan perdagangan bebas, sehingga cenderung 12 Apalagi bagi mengabaikan kelompok-kelompok yang lemah. Indonesia, negara yang belum kuat secara ekonomi dan yang selalu membutuhkan bantuan dari lembaga-lembaga donor internasional maupun negara-negara maju yang menjadi mitranya, maka tak dapat dihindari Indonesia pun niscaya selalu “tunduk” pada intervensi kekuatan-kekuatan (kapitalis) global tersebut. Kedua, menurut Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl (1993), demokrasi tidak dengan sendirinya lebih efisien secara ekonomis ketimbang bentuk-bentuk pemerintahan lainnya. Tingkat agregat pertumbuhan, tabungan, dan penanaman modal sangat mungkin tidak lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang bercorak nondemokratis. Demokrasi juga tidak otomatis lebih efisien secara administratif. Kapasitas demokrasi untuk mengambil keputusankeputusan relatif lebih lambat ketimbang rezim-rezim yang pernah digantikannya. Para aktor politik harus terlibat secara intensif untuk berkonsultasi. Demikianlah bahwa demokrasi memang tak otomatis mampu memberikan kesejahteraan yang cepat bagi rakyat. Demokrasi bahkan terkesan bertele-tele dalam memutuskan suatu perkara politik dan tidak responsif dengan tuntutan rakyat terhadap sistem pemerintahan yang cepat dirasakan hasilnya. Demokrasi juga mudah diidentikkan dengan kondisi perpolitikan yang serbakacau, khaotik, dan penuh pertikaian tanpa pernah dapat diprediksikan kapan berakhirnya. Mengapa demikian? Boleh jadi karena demokratisasi di
12

Seyla Benhabib, Democracy and Difference: Contesting the Boundaries of the Political, Princeton: Princeton University Press, 1996.

404

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

negara tersebut tak didukung oleh penghormatan atas HAM. Inilah demokrasi yang pincang. Di negara seperti ini biasanya terdapat kelompok yang secara statistik tergolong mayoritas dan minoritas. Dalam realitasnya pihak mayoritas cenderung tidak atau kurang menghormati pihak minoritas. Menurut ahli demokrasi Jack Lively, persoalan krusial yang lazim dihadapi dalam proses demokratisasi di negara berkembang adalah persoalan minoritas. Kelompok minoritas menjadi apa yang disebutnya excluded permanent minority karena 13 proses pengambilan keputusan selalu menenggelamkan mereka. Padahal, proses pengambilan keputusan dalam sistem yang demokratis selalu memperhitungkan suara mayoritas. Pertanyaannya, bagaimana jika keputusan mayoritas itu bertabrakan dengan ketentuan konstitusi atau hal-hal yang telah menjadi kontrak bersama para pendiri bangsa itu? Inilah dilema proses demokrasi yang kerap sangat memilukan bagi kelompok minoritas di suatu negara. Di era Orde Baru, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara di dunia yang termasuk dalam kategori pelanggar HAM berperingkat tinggi. Bahkan, pada 1998, Indonesia pernah ditempatkan, oleh AS, pada peringkat pertama sebagai negara yang pemerintahnya, dengan melalui agen-agennya, melakukan penganiayaan terhadap umat beragama serta membiarkan atau tidak menyelesaikan secara serius peristiwaperistiwa berdimensi SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang merugikan umat beragama tersebut. Selain Indonesia, yang juga disoroti AS saat itu adalah Sudan, Vietnam, Laos, Korea Utara, Cina, dan Kuba. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin negara yang berideologi Pancasila ini mendapat rapor yang penuh 14 “warna merah” untuk “pelajaran” tentang HAM?
13

Jack Lively, Democracy, New York: G.P. Putnam’s Sons, 1975.

14

Di Indonesia, landasan ideologi tentang HAM sebenarnya sudah ada sejak 1945. Yakni, di dalam Sila ke-2 Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Lihat bagian pengantar oleh Prof. Miriam Budiardjo dalam Drs. Saafroedin Bahar, Hak Asasi Manusia, Analisis Komnas HAM dan Jajaran Hankam/ABRI, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996. Sila ini dapat dimaknakan, bahwa tanpa adanya jaminan dan perlindungan HAM, maka warga negara Indonesia tidak mungkin hidup di dalam keadilan dan secara beradab.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

405

Masuk ke era pasca Orde Baru, berbagai pelanggaran HAM masih terus terjadi. Inilah ”cacat demokrasi” Indonesia dewasa ini. HAM tidak sungguh-sungguh ditegakkan, meski institusi-institusi penjaganya ada. Kelompok minoritas juga seakan menjadi warga kelas dua di negara ini. Maka, jangan heran jika hari-hari ini banyak orang yang lebih menyesali demokratisasi yang bergulir deras di pelbagai aspek kehidupan daripada mensyukurinya. Demokrasi dianggap identik dengan ketidaktertiban, ketidaksantunan, ketidakadilan dan yang semacamnya. Padahal, demokrasi sama sekali tak ada kaitannya dengan itu semua. Sebab, demokrasi justru merupakan reformasi peradaban masyarakat yang bertumpu pada rasionalitas dan moralitas. Tetapi, seiring demokrasi, mengapa integrasi republik ini justru kian rapuh dan negara terlihat begitu lemah memberi perlindungan kepada warganya? Beberapa kemungkinan ini dapat dikemukakan sebagai jawabannya. Pertama, adanya rongrongan dari pihak-pihak tertentu yang berniat menggantikan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Mereka tak sadar bahwa Pancasila telah membuktikan dirinya mampu menjadi perekat bangsa di masa lalu dan masa kini untuk tetap bersatu. Di masa depan, jika Pancasila diganti, maka bukan potensi disintegrasi an sich yang menjadi masalah, melainkan Indonesia yang bukan lagi Indonesia. Inilah yang tidak mereka pahami. Kedua, boleh jadi niat mencari alternatif dasar negara dan ideologi bangsa itu didorong oleh semangat kebebasan yang bertumbuh subur di era demokrasi ini. Namun, kebebasan tanpa diimbangi rasionalitas dan moralitas bukanlah demokrasi. Sebab, demokrasi tidak eksis di ruang hampa atau di hutan belantara. Ia ada di masyarakat, di tengah kita semua. Itu berarti kebebasan bukan saja harus mengindahkan, tetapi juga menghormati kesepakatan-kesepakatan hidup bernegara dan berbangsa yang telah terpatri menjadi hukum positif. Terkait itu, Mahathir Mohamad dalam Achieving True Globalisation (2004), mengatakan demikian: “Democracy, at least at present, is the best form of governance, but by no means a perfect one. In democracy, one has the freedom. When democracy is misunderstood, however, and freedom misinterpreted, the result is anarchy.” Jadi

406

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

jelaslah bahwa demokrasi tak relevan dengan anarki. Karena itulah demokrasi harus dihayati oleh individu-individu yang akal budinya telah akil-balik dan sadar akan sosiabilitasnya di tengah sesama yang beranekaragam. Ketiga, adalah fakta bahwa pemerintah sendiri cenderung melakukan pembiaran terhadap gerakan-gerakan yang mengancam pluralisme. Kita patut merenungi negara ini beserta aparat kepolisiannya karena kelalaian mereka dalam memberi rasa aman bagi sejumlah kelompok umat beragama yang kerap dihalang-halangi oleh para vigilante (kelompok warga yang gemar melakukan kekerasan dengan mengambil alih fungsi penegakan hukum). Sesungguhnya, dalam peristiwa-peristiwa yang sarat kekerasan itu, negara telah melakukan kejahatan. Dalam konteks ini kejahatan negara terbagi dua: dengan kesengajaan atau melalui tindakan aktif negara (by commission) dan tanpa kesengajaan atau melalui tindakan pembiaran negara (by omission). Sekedar menyebutkan contoh kasus, di masa-masa menjelang kejatuhan Soeharto tahun 1997-1998, negara pernah melakukan kejahatan by commission melalui tindakan penculikan maupun penembakan terhadap sejumlah aktivis pro-demokrasi. Sampai sekarang negara tak mampu memberikan pertanggungjawaban atas kejahatan dengan kesengajaan itu. Terkait itulah maka sebuah komisi khusus untuk rekonsiliasi nasional mendesak untuk dibentuk. Namun apa daya, di saat calon-calon komisionernya sedang diseleksi, undang-undang yang melandasi pembentukan komisi tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (tahun 2007). Sedangkan contoh untuk kejahatan by omission dapat dirujuk kepada catatan Setara Institute (sebuah ornop yang menggiati masalahmasalah HAM), berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan di 12 provinsi (dari Januari sampai Juli 2010), bahwa dari 200 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan yang mengandung 291 jenis tindakan, terdapat 38 tindakan pembiaran yang dilakukan oleh negara (by omission). Tindakan pembiaran itu bisa berupa pejabat pemerintah setempat yang tidak melakukan apa-apa untuk melakukan pencegahan atau mengantisipasi suatu peristiwa kekerasan, bisa juga berupa aparat kepolisian yang bertindak setengah hati atau tidak

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

407

berupaya maksimal dalam memberikan perlindungan terhadap warga yang membutuhkannya ketika peristiwa sedang terjadi. Kita patut berduka atas situasi dan kondisi Indonesia hari-hari ini yang kian tak ramah terhadap perbedaan. Toleransi nyaris mati. Padahal, sejak dulu Indonesia sangat heterogen, dan karenanya toleransi menjadi kebutuhan mutlak. Di era modern ini, di ruang-ruang publik manakah homogenitas absolut dapat kita temukan? Tak ada. Sebab, heterogenitas sudah merupakan keniscayaan hidup modern. Karena itulah, tak bisa tidak, kita harus belajar mengapresiasi kemajemukan dengan lapang-dada. Begitulah sejatinya toleransi, yang berasal dari kata “tolerare” (bahasa Latin), yang meniscayakan sikap menghargai harus aktif dan dimulai dari diri sendiri. Jadi dengan toleransi, kita sendirilah yang harus memulai untuk menghargai orang lain. Tapi, ia tak berhenti di situ. Sebab, toleransi akan menjadi bermakna jika diikuti juga oleh pihak lain, sehingga sifatnya menjadi dua arah dan timbal-balik (resiprokal). Banyak faktor yang menyebabkan kemampuan bertoleransi masyarakat kian melorot hari-hari ini. Sayangnya salah satu faktor tersebut justru agama, yang dihayati secara eksklusif sekaligus ekstrem dan naif. Bukankah sejak kecil umumnya kita diajar untuk tak perlu belajar mengenali kebenaran-kebenaran di dalam agamaagama lain? Alhasil, ketika dewasa, alih-alih bersahabat dengan mereka yang berbeda, kita cenderung bersikap curiga. Di sinilah letaknya salah paham besar itu. Dengan tuntutan untuk bertoleransi, kita tak diminta untuk mengamini kebenaran-kebenaran yang diajarkan agama-agama lain. Jelas, agama yang satu dan agama yang lain tak sama. Bahkan di dalam agama yang satu saja terdapat banyak denominasi bukan? Dengan itu maka yang diperlukan adalah kesediaan untuk mengakui hak asasi orang lain dalam menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Selebihnya kita juga harus menghargai dan menghormati kebenaran-kebenaran yang mereka imani. Dengan begitulah kita niscaya mampu bertoleransi, juga berempati, terhadap sesama yang berbeda. Amat disayangkan bahwa Indonesia dewasa ini telah menjadi negara yang cenderung membiarkan praktik-praktik kekerasan oleh kaum

408

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

vigilante (orang-orang yang kerap melakukan kekerasan untuk tujuan tertentu yang sebenarnya telah mengambilalih fungsi aparat penegak hukum) terjadi di mana-mana. Ironisnya, di saat-saat peristiwa yang melanggar HAM sesama warga itu terjadi, negara kerap absen. Pemerintah lumpuh ketika ada kelompok warga tertentu bersikap main hakim sendiri kepada kelompok warga lain yang memiliki keyakinan berbeda. Tak heran kini makin banyak orang yang bertanya: akan ke manakah demokratisasi Indonesia ini melangkah dan akan berbentuk seperti apakah demokrasi ini kelak?

DAFTAR PUSTAKA Benhabib, Seyla, Democracy and Difference: Contesting the Boundaries of the Political, Princeton: Princeton University Press, 1996. Budiardjo, Miriam Gramedia, 1982. (ed.), Masalah Kenegaraan, Jakarta:

Dahl, Robert, On Democracy (terj. A. Rachman Zainuddin), Jakarta: Obor, 2001. Diamond, Larry, “Masyarakat Sipil dan Perjuangan untuk Menegakkan Demokrasi” dalam Larry Diamond (ed.), Revolusi Demokrasi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994. Fiskin, James, Tyranny and Legitimacy. A Critical of Political Theories, Baltimore: John Hopkins University Press, 1979. Lively, Jack, Democracy, New York: G.P. Putnam’s Sons, 1975.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

409

PENDIDIKAN POLITIK: MEMBANGUN DEMOKRASI, NEGARA, BANGSA, DAN MASYARAKAT MADANI DALAM PANDANGAN HATTA Zulfikri Suleman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya zuleman2003@yahoo.com ABSTRAK Apabila istilah-istilah “demokrasi”, “negara-bangsa” dan “masyarakat madani” bisa diganti dengan “negara Indonesia yang bersatu, demokratis dan sejahtera”, Indonesia sampai dewasa ini masih menghadapi berbagai masalah dalam mewujudkannya. Berbagai masalah tersebut antara lain bersumber dari terabaikannya keharusan untuk mendidik rakyat agar menjadi warganegara yang sadar akan hak dan tanggungjawabnya dalam kehidupan bersama, yang merupakan keniscayaan dalam tatanan demokrasi yang bersatu dan menyejahterakan rakyat. Akibatnya, yang terjadi kemudian adalah kebebasan yang cenderung anarkhis sebagaimana kita alami selama era Reformasi sekarang ini, yang mencerminkan kecenderungan pelaku-pelaku yang lebih mementingkan hak daripada tanggungjawab. Tulisan ini ingin mengungkapkan pemikiran Mohammad Hatta mengenai pendidikan politik bangsa, gagasan yang sudah dilaksanakan Hatta bersama Sjahrir dan tokoh-tokoh lainnya sejak awal tahun 1930-an melalui organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Tujuan pengungkapan ini adalah untuk mengingatkan kita kembali bahwa berdemokrasi tanpa kehadiran pelaku-pelaku yang bertanggungjawab hanya akan menjauhkan kita dari tujuan-tujuan nasional yang hendak dicapai. Melalui kajian-kajian atas tulisantulisan Hatta yang relevan serta kegiatan Hatta melalui Pendidikan Nasional Indonesia, ingin dikemukakan nanti bahwa Hatta sudah sejak awal meyakini bahwa pendidikan politik merupakan langkah awal untuk membangun tatanan Indonesia yang bersatu, demokratis dan sejahtera. Kata kunci : demokrasi, pendidikan politik

410

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENGANTAR Apabila berbagai krisis yang mendera bangsa Indonsia sejak dua belas tahun belakangan ini, yang oleh sebagian kalangan dianggap mulai menyentuh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, dicermati, maka akar penyebabnya dapat dirumuskan dalam bentuk krisis moral yang menghinggapi, terutama, lapisan elit kepemimpinan kita. Tuna moralitas menyebabkan ketiadaan kesadaran untuk memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Sebaliknya, yang senantiasa mengemuka adalah klaim kebenaran sepihak sembari menafikkan keberadaan dan hak golongan lain. Padahal Hatta jauh hari sudah meyakinkan kita, “Syarat pertama untuk menjadi bangsa yang merdeka adalah keinsyafan, bahwa kita adalah satu bangsa yang bersatu padu, yaitu bangsa Indonesia, 1 yang bertanah air Indonesia” . Memang, salah satu kelemahan kita, khususnya dari kalangan generasi muda, adalah ketidakpedulian terhadap sejarah kehidupan bangsa. Tidak mengherankan apabila akhir-akhir ini muncul desakan untuk memperkuat program sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa. Padahal menurut sejarawan Sartono 2 Kartodirdjo , identitas suatu bangsa terkubur dalam sejarah masa lalu bangsa tersebut, dalam bentuk pemikiran, kejuangan dan teladan perilaku para bapak pendiri bangsa (the founding fathers). Dengan kata lain, penemuan dan pengembangan identitas kita sebagai bangsa Indonesia hanya dapat dilakukan apabila kita (pelajar, mahasiswa, pejabat dan masyarakat awam) memahami dengan baik sejarah masa lalu bangsa kita, khususnya pemikiran, kepribadian dan nilai-nilai kejuangan para pejuang kemerdekaan kita. Tulisan ini membahas pandangan Hatta tentang cara-cara membangun demokrasi, negara-bangsa dan masyarakat madani di

1 2

Lihat GATRA, 3 Oktober 1998, hal. 93. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jilid 2 (Jakarta: Penerbit Gramedia), 1990, hal XV.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

411

negara kita melalui pendidikan politik , yang menggambarkan pemikiran dan aktivitas Hatta, termasuk melalui PNI Baru, dalam mendidik rakyat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kita kembali bahwa sudah sejak sebelum kemerdekaan salah satu bapak pendiri bangsa kita memiliki konsepsi yang jelas tentang apa yang dalam konteks forum ini disebut demokrasi, negara bangsa dan masyarakat madani.

3

DEMOKRASI, NEGARA-BANGSA DAN MASYARAKAT MADANI Tentu tidak perlu dibahas panjang-lebar dalam tulisan singkat ini tentang keterkaitan demokrasi, negara-bangsa dan masyarakat madani. Demokrasi sebagai tatanan nilai sekaligus sistem pengelolaan pemerintahan yang mengutamakan kepentingan rakyat secara individual tumbuh dan berkembang di Eropa Barat dalam negara bangsa, bukan dalam tatanan imperium yang ekspansif, bukan pada masa Abad Pertengahan yang teokratis atau pada masa 4 monarkhi absolut-feodal. C.A. Leeds , menyebut pertumbuhan negara nasional sebagai salah satu kondisi yang mengawali perkembangan demokrasi di negara-negara Eropa Barat dan menambahkan bahwa perkembangan kesadaran nasional merupakan faktor yang esensial bagi perkembangan lembagalembaga demokrasi. Dengan demikian dapat dikemukakan, hanya dalam sistem negara-bangsalah tatanan demokrasi dapat tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain, membangun demokrasi sekaligus berarti – terlebih dahulu – membangun negara bangsa. Akan halnya masyarakat madani, tulisan ini tidak ingin melibatkan diri ke dalam perdebatan konseptual-teoritis. Cukup dikemukakan bahwa masyarakat madani identik dengan klas menengah dalam
3

4

Untuk maksud yang sama, Hatta atau penulis tentang Hatta menggunakan istilah ‘pendidikan’ dan ‘kaderisasi’; lihat Mestika Zed, “Hatta dan Kaderisasi”, KOMPAS, 9 Agustus 2002, hal. 38. Tulisan ini menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergantian dan untuk maksud yang sama. C.A. Leeds, Political Studies, 2nd edition (London: MacDonald & Evans, Ltd.), 1975, hal. 90.

412

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

terminologi kaum liberal, yaitu kekuatan-kekuatan non-negara yang sadar politik dan berfungsi sebagai penyeimbang terhadap kecenderungan kekuasaan negara yang koruptif. Dikaitkan dengan demokrasi, masyarakat madani adalah lapisan masyarakat umum yang oleh Dede Rosyada dkk. disebut sebagai salah satu penegak 5 demokrasi . Secara umum dapat dikemukakan, istilah-istilah “demokrasi”, ‘negara-bangsa” dan “masyarakat madani”, khususnya dalam konteks negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, dapat dirangkum ke dalam satu tatanan: negara nasional yang maju dalam berbagai bidang kehidupan serta mengalami proses demokratisasi dengan lancar. Untuk memudahkan pemahaman kita, dan terlepas dari setuju atau tidak setuju, negara-negara demokrasi Barat sekarang ini merupakan contoh terbaik dari pengertian yang dirangkum oleh ketiga istilah ini.

HATTA TENTANG PENDIDIKAN POLITIK Membangun negara nasional yang maju dan demokratis bukan merupakan hal yang baru bagi Hatta. Membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang merdeka (dalam arti luas), maju dan demokratis bahkan menjadi inti dari pemikiran politik Hatta, semacam obsesi yang senantiasa dipikirkan dan diperjuangkan oleh 6 seorang pemikir politik . Untuk itu, sudah sejak awal tahun 1930an Hatta mempersiapkan konsepsi untuk menjawab pertanyaan: Indonesia seperti apa yang hendak dibangun setelah kemerdekaan nanti. Hatta menjawab pertanyaan ini melalui tulisan panjang yang berjudul Ke Arah Indonesia Merdeka, yang dimaksudkan sebagai manifesto politik bagi perjuangan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Obsesi Hatta dapat dirumuskan dalam tiga kata sederhana: pendidikan politik bangsa.
5

6

Dede Rosyada dkk., Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, cetakan kedua (Jakarta: Prenada Media), 2005, hal. 119. Lihat A.R. Zainuddin, Pemikiran Politik Islam: Islam, Timur Tengah dan Benturan Ideologi (Jakarta: Penerbit Pensil-324), 2004, hal. 121-130.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

413

Gagasan Hatta tentang pendidikan politik bangsa terbentuk melalui kesadaran dirinya sebagai bagian dari bangsa terjajah. Peluang untuk melanjutkan pendidikan tinggi ekonomi di Rotterdam (19211932) telah memberikan iklim yang kondusif dalam proses pematangan kesadaran politiknya. Tahun 1925 Hatta menjadi bendahara dalam kepengurusan Perhimpunan Indonesia (PI). Tahun berikutnya Hatta menjadi Ketua PI dan menyampaikan pidato pelantikannya yang berjudul “Sistem Perekonomian Dunia dan Pertarungan Kekuatan” (Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen) yang berintikan pertentangan kepentingan yang tidak bisa didamaikan antara bangsa penjajah dengan bangsa terjajah. Hatta juga menghadiri dan berpartisipasi secara aktif dalam beberapa pertemuan internasional di Eropa, yang bertujuan memperkenalkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di fora internasional. Memang, selama sebelas tahun di Negeri Belanda, di samping mematangkan kemampuan intelektualnya, Hatta juga lebih memfokuskan perhatiannya pada pembentukan kesadaran dan solidaritas nasional serta memperkenalkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di masyarakat Eropa. Pemikiran Hatta tentang pendidikan politik bangsa ini didasarkan pada keyakinannya bahwa “politik di negeri terjajah terutama berarti 7 pendidikan” .Yang dimaksud di sini bukan pendidikan dalam arti formal saja melainkan pendidikan dalam pengertian yang seluas8 luasnya. Hatta menulis sebagai berikut : “Melalui pendidikan, rakyat kecil akan menyadari bahwa bukan hanya pemimpin yang memikul tanggungjawab, tetapi juga semua orang. Bukan hanya pemimpin saja yang harus berjuang, tetapi rakyat juga harus ikut serta. Ada faktor yang sering dilupakan, kemerdekaan Indonesia tidak dapat dicapai hanya oleh pemimpin saja, melainkan oleh usaha dan keyakinan massa. Nasib rakyat Indonesia terletak di tangan rakyat itu sendiri”
7

8

Lihat Adnan Buyung Nasution, “Jejak Pemikiran Hatta dalam UUD 1945”, KOMPAS, 9 Agustus 2002, hal. 37. Lihat Mavis Rose, Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama), 1991, hal. 99

414

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Hatta juga berkeyakinan bahwa perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia tidak hanya terbatas pada tercapainya kemerdekaan, melainkan akan berlanjut terus menjadi perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Ini merupakan perjuangan yang 9 panjang dan melelahkan. Hatta mengungkapkan keyakinannya , “Cepat atau lambat setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali, itulah hukum sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Hanya soal proses (waktu) dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaannya…”. Dengan kata lain, menurut Hatta, yang lebih penting adalah menyiapkan calon-calon pemimpin yang akan bertugas membangun bangsa di kemudian hari. Keyakinan Hatta tentang arti penting kaderisasi pemimpin ini diperkuat oleh kejadian setelah rentetan pemberontakan komunis tahun 1926-1927 di Sumatera Barat dan Banten, di mana pemerintah colonial Belanda dengan mudah berhasil mengatasi pemberontakan tersebut dan untuk masa selanjutnya melakukan pengawasan ketat terhadap gerakan kemerdekaan dengan menangkapi para pemimpinnya. Tindakan preventif dan represif pemerintah kolonial ini menyebabkan terjadinya kekosongan dalam kepemimpinan gerakan kemerdekaan, yang kemudian makin menyadarkan Hatta tentang arti penting pendidikan politik bagi calon-calon pemimpin dan rakyat pada umumnya. Di samping untuk mendidik para calon pemimpin dan rakyat pada umumnya, dalam sejarahnya, gagasan Hatta tentang pendidikan politik ini seringkali dibicarakan dalam kaitannya dengan perbedaan strategi dengan Soekarno. Berbeda dengan Soekarno yang memilih strategi penggalangan massa dalam perjuangan kemerdekaan, Hatta lebih memilih cara pendidikan politik secara sistematis untuk rakyat agar tumbuh kesadaran dan tanggungjawab bersama yang kuat dalam memperjuangkan cita-cita bangsa saat itu. Dengan kata lain, Hatta tidak setuju dengan cara-cara penggalangan massa karena cara tersebut hanya akan menciptakan ketergantungan rakyat terhadap

9

Ibid.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

415

pemimpinnya. Kata Hatta , “Pergerakan kita tidak boleh tinggal pergerakan pemimpin, yang hidup dan mati dengan pemimpin itu. Akan tetapi pergerakan kita harus menjadi ‘pergerakan pahlawanpahlawan yang tak punya nama’, artinya pergerakan rakyat sendir, yang tidak tergantung kepada nasibnya pemimpin”. Keyakinan Hatta tentang arti penting pendidikan politik ini di samping mengandung pengertian menentang penumpukan kekuasaan di tangan sang pemimpin yang berbau mitos, sehingga bertentangan dengan asas demokrasi, juga sekaligus mencerminkan prinsip mencerdaskan kehidupan bangsa dan pengutamaan kedaulatan rakyat. Hatta pada mulanya memang berbicara tentang pendidikan politik untuk para kader partai atau calon pemimpin. Tapi dengan keyakinannya tentang sistem banyak partai, ini sekaligus mencerminkan keyakinannya bahwa segenap komponen bangsa harus memiliki kesadaran politik dan karena itu juga tanggungjawab untuk memperjuangkan dengan teguh cita-cita bangsa, tidak hanya diserahkan kepada kemauan pemimpin dan kelompoknya. Dengan keyakinan seperti ini, dan usaha-usaha yang dilakukannya di masamasa berikutnya, Hatta sebenarnya sudah berpikir tentang penguatan apa yang sekarang dikenal sebagai masyarakat madani (civil society).

10

PENDIDIKAN POLITIK DALAM PRAKTEK Aktivitas politik Hatta juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan perjuangan kemerdekaan di Hindia Belanda. Sebagaimana diketahui, Soekarno dan kawan-kawannya mendirikan PNI tahun 1927 di mana di dalamnya ikut bergabung kawan-kawan Hatta di Perhimpunan Indonesia sebelumnya (Sartono, Ali Sastroamidjojo dan lain-lain). Tapi terdapat perbedaan mendasar antara apa yang dipikirkan Hatta dengan apa yang ditempuh Soekarno dengan PNInya. Bagi Hatta, perjuangan kemerdekaan berarti berjuang bersama rakyat melalui usaha menumbuhkan kesadaran politik rakyat agar
10

Lihat In Nugroho Budisantoso, “Hatta Tak Pernah Kembali Sebagai Dwitunggal”, KOMPAS, 1 Juni 2001, hal. 62.

416

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

nanti tumbuh tanggungjawab bersama. Sebaliknya, Soekarno mengartikan perjuangan kemerdekaan dalam arti berjuang memimpin rakyat, menggalang massa dan melakukan agitasi terhadap pemerintah kolonial. Hatta mencemaskan popularitas Soekarno yang dibangun di atas dukungan emosional rakyat yang masih belum terdidik. Ia menyarankan agar PNI melakukan pelatihan calon-calon pemimpin untuk tampil ke depan nanti seandainya Soekarno ditangkap pemerintah kolonial. Kata Hatta, “Tidak cukup kalau hanya ada satu Soekarno, sebaiknya ada ribuan 11 dan kemudian jutaan Soekarno” . Dengan pernyataan ini, Hatta ingin mengungkapkan keyakinannya bahwa yang lebih penting adalah berjuang dengan melaksanakan pendidikan politik untuk rakyat, bukan dengan mempovokasi rakyat yang masih bodoh dan terkebelakang. Apa yang dikhawatirkan Hatta kemudian menjadi kenyataan. Soekarno dan tiga pimpinan PNI lainnya (Gatot Mangkupradja, Maskun dan Supriadinata) bulan Desember 1929 ditangkap pemerintah kolonial dan khusus untuk Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Penangkapan Soekarno dan kawan-kawannya ini langsung meredupkan api perjuangan PNI. Sartono dan Anwari yang kemudian mengambil alih kepemimpinan PNI justru memerintahkan cabang-cabang PNI untuk mematuhi perintah pemerintah kolonial untuk menarik diri dari kegiatan-kegiatan politik.Bulan April 1931 Sartono membubarkan PNI dan menggantinya dengan Partindo (Partai Indonesia). Hatta kembali menyesali strategi perjuangan Soekarno dan amat kecewa dengan sikap Sartono ini yang dianggapnya sebagai penakut tapi sewenangwenang. Hatta mengungkapkan kekecewaannya dengan ungkapan 12 sebagai berikut : “Istilah ‘demokrasi’ selalu ada di bibir para pemimpin kita. Tapi dalam praktek tidak dilakukan. Rakyat dianggap sebagai keset untuk membersihkan kaki seseorang; mereka dianggap penting dalam hal bahwa mereka akan bertepuk sorak kalau seorang

11 12

Lihat Mavis Rose, op.cit., hal. 82 Ibid.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

417

pemimpin menyampaikan pidato yang bagus. Tetapi mereka tidak diajari bagaimana memikul tanggungjawab atau kewajiban mereka sendiri”. Hatta juga bertekad bahwa sekembali dari Negeri Belanda ia akan melibatkan diri dalam suatu kegiatan “pedagogi sosial” yang berintikan pendidikan rakyat dalam soal-soal politik, ekonomi dan sosial sehingga rakyat menyadari sepenuhnya martabat, hak dan kewajibannya. Dengan kata lain, pendidikan politik dimaksudkan untuk memperluas wawasan rakyat di berbagai aspek kehidupan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesadarannya sebagai warganegara yang bertanggungjawab. Pendidikan ekonomi bagi rakyat diperlukan untuk menggugah kesadaran tentang keterbelakangan mereka sekaligus member jalan untuk menemukan cara-cara pengelolaan ekonomi yang produktif untuk kemajuan mereka, misalnya melalui koperasi atau badan-badan usaha lainnya yang kelak dikenal sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara. Selanjutnya adalah pendidikan sosial bagi rakyat, yang oleh Hatta dimaksudkan untuk “mempertinggi keselamatan penghidupan bersama. Ini antara lain dengan member pelajaran umum dan memajukan kesadaran tentang arti disiplin, hemat, jujur, bersih, baik dalam arti kesehatan fisik mau pun bersih secara moral dan 13 batiniah” . Apabila yang terakhir ini adalah apa yang akhir-akhir ini diwacanakan oleh banyak kalangan sebagai pendidikan karakter bangsa, Hatta sesungguhnya sudah memikirkannya bahkan sejak delapan dekade yang lalu. Kita hanya perlu sedikit menyadari bahwa para bapak pendiri bangsa kita sudah menyiapkan warisan pemikiran, semangat kejuangan dan teladan perilaku tentang bagaimana mengelola kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Hatta mewujudkan tekadnya dengan menyuruh Sjahrir pulang terlebih dahulu ke Hindia Belanda untuk menghimpun kaum nasionalis yang tidak setuju dengan pemimpin-pemimpin Partindo, antara lain adalah kaum nasionalis di beberapa cabang PNI lama yang sudah mengorganisisir diri ke dalam kelompok-kelompok merdeka, bahkan ada yang sudah menggunakan nama Club
13

Lihat Mestika Zed, loc.cit.

418

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Pendidikan Nasional Indonesia. Bulan Desember 1931, melalui kongres di Yogyakarta, kelompok-kelompok ini menyatukan diri menjadi organisasi Pendidikan Nasional Indonesia dengan Sukemi sebagai ketuanya. Sjahrir menggantikan Sukemi sebagai ketua PNI Baru pada bulan Juni 1932, yang selanjutnya menyerahkan jabatan ini ke Hatta setelah Hatta kembali ke tanah air bulan Agustus 1932. Bersamaan dengan itu di terbitkan Daulat Ra’yat, koran PNI Baru yang terbit per sepuluh hari dan berfungsi sebagai media bagi anggota-anggotanya untuk menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Sungguh suatu kemunduran yang nyata bahwa, apabila para pejuang kemerdekaan dulu sudah menyadari bahwa suatu organisasi seharusnya memiliki media sendiri untuk menyebarkan ide-idenya kepada masyarakat, hal yang mencerdaskan tersebut hampir tidak kita temui pada organisasi (politik) sekarang ini. PNI Baru tumbuh menjadi organisasi yang baik dan rapi. Sebelum Hatta mengambil alih kepemimpinan PNI Baru, organisasi ini sudah memiliki 12 kantor cabang dan terus berkembang di bulan-bulan berikutnya. Enam bulan setelah Hatta bergabung dan menjadi ketua, PNI Baru sudah memiliki 66 pengurus cabang. Untuk masa dua tahun berikutnya Hatta dan kawan-kawannya aktif menyelenggarakan pendidikan politik untuk para kader dan rakyat biasa melalui PNI Baru dan Daulat Ra’yat sampai ditangkap pemerintah kolonial Belanda tahun 1934 dan bersama Sjahrir menjalani masa pembungan yang lama di Boven Digul (dua tahun) dan Banda Neira (enam tahun) sebelum dibebaskan Belanda tahun 1942 seiring dengan kekalahan Belanda terhadap kekuatan Jepang. Sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya, PNI Baru merupakan wadah bagi Hatta dan kawan-kawan sepahamnya untuk menyelenggarakan pendidikan politik, khususnya untuk para kader politik. Pendidikan politik ini dilaksanakan dalam bentuk kursuskursus kepemimpinan, ceramah, rapat umum, kongres, menerbitkan selebaran atau brosur dan mendirikan majelis-majelis yang bertugas untuk member informasi kepada masyarakat. Dapat kita lihat di sini, bagi Hatta, pendidikan politik bukan hanya sebatas pemikiran saja melainkan langsung dilaksanakannya. Khusus untuk para calon

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

419

kader, Hatta dan Sjahrir merancang 150 pertanyaan untuk menguji pemahaman para calon kader tentang isi risalah Ke Arah Indonesia Merdeka. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai dari yang paling 14 sederhana sampai ke istilah-istilah yang lebih abstrak, antara lain : Apa tujuan PNI Baru? Apa asas-asas PNI Baru? Apa yang dimaksud dengan nasionalisme? Apa yang dimaksud dengan kedaulatan rakyat? Apa yang dimaksud dengan demokrasi? Apa yang dimaksud dengan parlemen? Apa yang dimaksud dengan pemilihan umum? Siapa yang berhak memberikan suara dalam pemilihan umum? Apa yang dimaksud dengan liberalism? Apa yang dimaksud dengan individualism? Apa yang dimaksud oleh Montesqieu dengan otokrasi, oligarkhi, dan revolusi? Apa yang dipikirkan Montesquieu tentang kekuasaan? Mengapa Montesquieu berpendapat bahwa dalam sistem demokrasi tidak ada pemberontakan? Apa yang anda ketahui tentang Rousseau dan ajaranajarannya? Apa yang dimaksud dengan Revolusi Industri? Apa yang dimaksud dengan kartel? Apa yang dimaksud dengan trust Apakah landasan demokrasi Barat? Di bidang apakah tidak ada persamaan dalam Demokrasi Barat? Di bidang apakah terdapat persamaan dalam demokrasi Barat? Mengapa demokrasi politik saja tidak cukup? Secara umum dapat dikemukakan, kegiatan pendidikan politik yang diselenggarakan oleh Hatta dan kawan-kawnnya dimaksudkan untuk

14

Lihat J.D. Legge, Kelompok Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti), 1993, hal. 59-60.

420

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

membentuk kader nasionalis berwatak sosialis. J.D. Legge menduga, pendidikan politik oleh Hatta melalui PNI Baru ini mengingatkannya pada kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh Worker’s Education Association (WEA, Perhimpunan Pendidikan Kaum Buruh) yang berusaha melakukan mencerdasan di kalangan kaum buruh di Inggris di akhir abad ke-19. Penulis ini menambahkan, pendidikan politik oleh PNI Baru berakar pada tradisi sosial demokrasi Eropa dengan cirri-ciri: bersandar pada teori sosial sebagai pedoman aksi, kohenerensi pandangan dunia menurut analisis kapitalisme, imperialism dan munculnya fasisme serta pandangan tentang penderitaan bangsa Indonesia sebagai bagian dari tatanan global. Pendidikan politik yang diselenggarakan Hatta dan kawan-kawannya melalui PNI Baru memang tergolong singkat, hanya dua tahun, sampai ditangkapnya Hatta pada bulan Februari 1934, yang diikuti dengan penangkapan Sajhrir dan teman-temannya yang lain di bulan-bulan berikutnya. Tapi aktivitas politik mendasar dalam masa yang singkat ini telah menimbulkan momok di mata pemerintah colonial. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal pada bulan 15 Januari 1934, Penasihat Urusan Pribumi menegaskan , Pemimpin dengan kepribadian seperti Moh. Hatta selalu berbahaya. Dalam perbandingan, tokoh revolusioner seperti Dr. Tjipto Mngunkusumo masih kekanak-kanakan”. Hatta ditangkap bersama enam pengurus PNI Baru lainnya, yaitu Sjahrir, Bondan, Burhanuddin, Maskun, Suka Sumitro dan Murwoto. Bulan September 1934 giliran Koran Daulat Ra’yat yang dibrangus pemerintah colonial Belanda dan Murad sebagai pemimpin redaksinya juga ditahan. Bulan Januari 1935 Hatta dan keenam temannya diberangkatkan ke tempat pembuangan di Boven Digul, Irian. Dengan demikian berakhirlah kegiatan pendidikan politik Hatta dan kawan-kawannya melalui PNI Baru. Pengasingan Hatta selama lebih kurang delapan tahun tidak melemahkan komitmen pribadinya tentang arti penting pendidikan politik bagi bangsanya. Selama dua tahun pembuangan di Boven Digul Hatta tetap menyempatkan diri
15

Lihat Mavis Rose, op.cit., hal. 122.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

421

memberikan pengajaran kepada teman-temannya sesame tahanan atau meminjamkan buku-bukunya. Tapi program pengajaran ini memang tidak berlangsung secara rutin karena medan tahanan amat buas dan mendatangkan penyakit bagi tahanan, terutama penyakit malaria. Selama masa pembuangan di Banda Neira, Hatta dan Sjahrir juga aktif menulis dan memberikan kursus-kursus jntuk rakyat setempat. Selama masa pembuangan ini, Hatta antara lain memberikan kursus Bahasa Jerman, sedangkan Sjahrir memberikan kursus Bahasa Inggris. Selama masa pembuangan ini juga, majalah dan Koran yang dilanggani Hatta dan selesai dibacanya (De Groene Amsterdam, De Locomotief, Pemandangan, Java Bode, SK Suara Oemoem) disuruh kirim ke pejuang-pejuang politik yang masih ditahan di Boven Digul. Ini semua membuktikan bahwa, dalam kondisi apa pun, Hatta tetap tidak melupakan usaha-usaha untuk mencerdaskan bangsanya. Pendidikan politik adalah obsesi Hatta untuk membangun demokrasi, negara-bangsa dan masyarakat madani.

I’TIBAR BAGI KITA Pendidikan politik adalah konsep yang biasa, setiap orang menyadari arti pentingnya. Yang luar biasa dan visioner adalah konteks jamannya, dicetuskan Hatta sejak awal tahun 1930an, ketika bangsa Indonesia masih bergulat dengan keterjajahan, kemiskinan dan keterbelakangan. Bagi Hatta, merdeka adalah hukum besi sejarah. Yang jauh lebih penting lagi adalah menyiapkan anak bangsa sejak dini - melalui pendidikan politik agar menjadi warganegarayang terdidik, maju dan bertanggunjawab agar kemerdekaan yang kelak diraih dapat diisi dengan pembangunan nasional yang sejahtera dan berkeadilan. Begitulah cara Hatta membayangkan pembangunan negara nasional yang maju dan demokratis.

DAFTAR PUSTAKA Budisantoso, In Nugroho, “Hatta Tak Pernah Kembali Sebagai Dwitunggal”, KOMPAS, 1 Juni 2001

422

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

GATRA, 3 Oktober 1998. Leeds, C.A., Political Studies, 2 Evans, Ltd.), 1975.
nd

edition (London: MacDonald &

Legge, J.D., Kelompok Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti). Nasution, Adnan Buyung, “Jejak Pemikiran Hatta dalam UUD 1945”, KOMPAS, 9 Agustus 2002, Rose, Mavis, Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama). Rosyada dkk.Dede, Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, cetakan kedua (Jakarta: Prenada Media), 2005. Kartodirdjo, Sartono, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jilid 2 (Jakarta: Penerbit Gramedia), 1990. Suleman, Zulfikri, Demokrasi Untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta (Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS), 2010. Zed, Mestika, “Hatta dan Kaderisasi”, KOMPAS, 9 Agustus 2002. Zainuddin, A.R., Pemikiran Politik Islam: Islam, Timur Tengah dan Benturan Ideologi (Jakarta: Penerbit Pensil-324), 2004.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

423

SISTEM PELAYANAN BIROKRASI YANG PRAKTIS TIDAK BIROKRATIS Chafid Diyanto, Ali Rokhman Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Jenderal Soedirman aa_fido@yahoo.com ABSTRAK Berbicara masalah birokrasi, maka yang terbayang dibenak kita adalah setumpuk masalah yang kompleks di dalamnya. Dari mulai budaya kotor KKN, kualitas pelayanan yang buruk, pemborosan anggaran, dan lain sebagainya, termasuk prosedur layanan yang birokratis. Birokratis yang dimaksud di sini adalah, pelayanan yang bertele-tele, waktu yang lama, biaya yang mahal, dan terkadang disertai pungli atau bahkan suap. Dan nampaknya hal tersebut telah melekat erat pada tubuh birokrasi kita, itulah kenapa disebut ”pelayanan yang birokratis”. Yang menjadi pertanyaan, dapatkah sistem pelayanan yang birokratis tersebut dirubah menjadi lebih praktis? Diskresi, pemangkasan alur birokrasi serta persyaratan layanan yang lebih praktis adalah prasyarat yang harus ditempuh oleh jajaran birokrasi guna merubah sistem pelayanan yang birokratis menjadi lebih praktis. Hal ini menjadi urgen, terutama bagi lembaga atau birokrasi pemberi layanan secara langsung kepada masyarakat. Dari beberapa birokrasi pelayanan, perguruan tinggi adalah salah satu di antaranya. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, mereka berkewajiban memberikan pelayanan pendidikan kepada mahasiswa secara baik dan memuaskan. Dalam paper ini penulis mencoba menelaah upaya-upaya dalam mewujudkan perubahan sistem pelayanan yang birokratis menjadi praktis pada Perguruan Tinggi Negeri X. Kata Kunci : birokrasi, pelayanan yang birokratis, pelayanan yang praktis

424

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Reformasi birokrasi tidak dapat dikatakan sukses jika tidak disertai dengan sistem pelayanan publik yang berkualitas. Prosedur layanan birokrasi yang masih birokratis belum mampu memuaskan harapan masyarakat selaku pengguna layanan. Padahal secara hakikat, pelayanan yang berkualitas adalah hak masyarakat yang harus dipenuhi oleh birokrasi selaku aparatur negara. Semangat reformasi pelayanan publik harus dimiliki oleh aparatur birokrat, sehingga usaha peningkatan kualitas layanan akan berangkat dari motivasi dan kesadaran dalam diri birokrat selaku pemegang amanat itu sendiri. Namun yang terjadi sekarang di tubuh birokrasi kita, akibat reformasi pelayanan publik yang tidak diiringi dengan konsekuensi dan komitmen bersama, seperti reward and punishment dalam perjalanannya mengalami kepincangan. Sebagaimana diungkapkan oleh USAID (2009) bahwa : ”Reformasi pelayanan publik yang sepotong-potong saat ini melanggengkan inefisiensi birokrasi. Orang begitu berminat atas kedudukan di pemerintah daerah, tetapi karena kenaikan pangkat tidak didasari sistem meritokrasi, mereka kehilangan semangat untuk berkinerja baik. Akibatnya, banyak pegawai pemerintah tidak merasakan perlunya reformasi dalam pelayanan publik, karena waktu mereka akan banyak tersita tanpa imbalan kenaikan karir yang konkret dalam tugas-tugas tersebut.” Perjalanan panjang birokrasi kita di jaman Orde Baru pun sedikit banyak masih meninggalkan atsar-atsar negatif, salah satunya adalah melekatnya sistem sentralistik. Yang mana sistem sentralistik ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi kita. Sistem sentralisasi telah menempatkan sistem pelayanan publik yang dikembangkan menjadi sangat birokratis, formalism, dan berbelit-belit (Abied, 2010). Birokrat akan cenderung memosisikan diri sebagai penguasa ketika berhadapan dengan masyarakat sebagai pengguna layanan. Hal itu membuat kontrol publik menjadi lemah, sebab masyarakat pengguna jasa menganggap bahwa aparat birokrasi sebagai pihak yang paling tahu dan berkepentingan. Pada akhirnya, apapun yang dilakukan oleh

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

425

aparat dianggap wajar dan harus diterima. Implikasinya, pelayanan publik menjadi tidak responsive terhadap kebutuhan masyarakat. Cerminan kondisi seperti itulah nampaknya yang ada di seluruh lembaga birokrasi kita saat ini, baik itu di tingkat pusat maupun daerah, termasuk di dalam lembaga birokrasi pendidikan. Jika hal ini tetap dibiarkan, tentu akan menghambat perjalanan reformasi pelayanan publik itu sendiri, dari pelayanan publik yang birokratis menjadi praktis. Namun, di samping faktor tersebut, nampaknya masih banyak faktor lain yang menjadi kendala dalam mewujudkan pelayanan publik yang praktis tidak birokratis, terutama ketika sudah masuk ke dalam wilayah layanan publik tertentu, kita akan menemukan berbagai kendala yang cenderung bersifat spesifik dan praksis. Lembaga pendidikan sebagai penyedia layanan publik di bidang pendidikan memiliki tanggung jawab yang tidak jauh berbeda dengan lembaga pemerintah lainnya guna mewujudkan reformasi pelayanan publik tersebut. Bahkan, dapat dikatakan lembaga pendidikan secara moral dan etika lebih besar tanggung jawabnya, karena pendidikan adalah hak asasi manusia bagi seluruh rakyat. Melalui lembaga pendidikan juga akan dihasilkan output berupa Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan menambah dan menjadi energi baru dalam perwujudan reformasi birokrasi ke depannya. PEMBAHASAN Berdasarkan UU RI Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik Pasal 1 ayat (1) Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka

426

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundangundangan (Ratminto dan Winarsih, 2009 : 5). Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang berkewajiban menyediakan pelayanan publik adalah penyelenggara pelayanan publik dalam hal ini adalah aparatur pemerintah atau birokrasi. Berbicara masalah birokrasi, maka yang terbayang dibenak kita adalah setumpuk masalah yang kompleks di dalamnya. Dari mulai budaya kotor KKN, kualitas pelayanan yang buruk, pemborosan anggaran, dan lain sebagainya, termasuk prosedur layanan yang birokratis. Birokratis yang dimaksud di sini adalah pelayanan yang bertele-tele, waktu yang lama, biaya yang mahal, dan terkadang disertai pungli atau bahkan suap. Bahkan ada istilah : ”Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”. Dan nampaknya hal tersebut telah melekat erat pada tubuh birokrasi kita, itulah kenapa disebut ”sistem pelayanan yang birokratis”. Yang menjadi pertanyaan, dapatkah sistem pelayanan yang birokratis tersebut dirubah menjadi lebih praktis? Diskresi, pemangkasan alur birokrasi serta persyaratan layanan yang lebih praktis adalah prasyarat yang harus ditempuh oleh jajaran birokrasi guna merubah sistem pelayanan yang birokratis menjadi lebih praktis. Hal ini menjadi urgen, terutama bagi lembaga atau birokrasi pemberi layanan secara langsung kepada masyarakat. Dari beberapa birokrasi pelayanan, perguruan tinggi adalah salah satu di antaranya. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, mereka berkewajiban memberikan pelayanan pendidikan kepada mahasiswa secara baik dan memuaskan.

In today's competitive academic environment where students have many options available to them, factors that enable educational institutions to attract and retain students should be seriously studied. Higher education institutions, which want to gain competitive edge in the future, may need to begin searching for effective and creative ways to attract, retain and foster stronger relationships with students. (Hasan, 2008)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

427

Dari pengamatan penulis di sebuah Perguruan Tinggi Negeri X yang mungkin dapat menggambarkan secara garis besar pelayanan di lembaga pendidikan secara umum, dapat dipetakan beberapa aspek yang perlu dibenahi guna mewujudkan pelayanan yang praktis dari yang semula birokratis. Beberapa aspek tersebut antara lain: 1. SOP (Standar Operasional Prosedur) yang Jelas. Atmoko dalam makalahnya menulis bahwa Standar Operasional Prosedur adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instasi pemerintah berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Tujuan SOP adalah menciptakan komitment mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi pemerintahan untuk mewujudkan good governance. Belum adanya SOP Pelayanan yang jelas membuat kebingungan pada mahasiswa sebagai pengguna layanan maupun petugas pemberi layanan, terlebih bagi mereka yang tidak terbiasa memberikan layanan hal tertentu. Buku panduan akademik sebagai penghubung atau jembatan komunikasi antara petugas dengan mahasiswa belum berperan secara optimal. Di samping isi yang belum sistematis dan jelas, juga terdapat tumpang tindih bahkan ambiguitas dalam menafsirkannya. Dari pihak mahasiswa juga mayoritas tidak tahu apa itu isi buku panduan akademik, sehingga mereka sama sekali blank atau buta tentang prosedur layanan akademik. Hal itu juga tidak jarang dialami oleh petugas layanan, termasuk jajaran pimpinan, kebanyakan mereka enggan untuk sekedar membuka terlebih untuk mempelajarinya lebih dalam, mengoreksi kekurangan-kekurangannya. Sehingga akibat ketidaktahuan pimpinan, kadang banyak terjadi ketidaksesuaian antara kebijakan pimpinan dengan buku panduan akademik itu sendiri. Tentu ini aneh dan lucu, serta secara otomatis membuat hati petugas layanan yang berpegang pada buku panduan akademik menjadi masgul, karena di samping cenderung mereka dipersalahkan juga dipermalukan di hadapan mahasiswa. Diskresi dan Pelimpahan Wewenang

2.

428

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya tidak jarang petugas layanan termasuk pimpinan berhalangan atau mengalami kesibukan pekerjaan. Untuk itu perlu adanya tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat hal tersebut. Karena pada prinsipnya apapun yang terjadi, proses pemberian layanan akademik kepada mahasiswa harus tetap berjalan. Diskresi secara konseptual merupakan suatu langkah yang ditempuh oleh administrator untuk menyelesaikan suatu kasus tertentu yang tidak atau belum diatur dalam suatu regulasi yang baku (Dwiyanto, dkk., 2002 : 141). Adanya ketakutan pada sebagian besar kalangan petugas pelayanan di semua tingkatan pelayanan untuk melakukan diskresi membawa implikasi pada pola pengambilan keputusan pelayanan yang merugikan masyarakat dalam hal ini mahasiswa. Tindakan penundaan pelayanan masih tetap menjadi solusi pelayanan aparat birokrasi ketika menemui kesulitan dalam pemberian pelayanan (Dwiyanto, dkk., 2002 : 144). 3. Pemetaan Personil yang Tepat Pemetaan personil yang kurang tepat menyebabkan ada bagian layanan yang kekurangan personil ada yang kelebihan. Untuk bagian yang kekurangan personil, akan menyebabkan kelebihan beban pekerjaan dan penumpukan pengguna layanan. Akibatnya, pelayanan tidak berjalan optimal, lambat dan memberikan kesan pada pelanggan atau mahasiswa bahwa pelayanan dipersulit. Selain itu, kurangnya pemahaman pegawai dan pimpinan atas tugas serta prosedur administrasi juga tidak jarang menjadi kendala. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemetaan personil yang tepat, baik itu jumlah maupun kompetensi dan keahlian yang sesuai tugas dan pekerjaan. Motivasi Petugas Layanan Motivasi yang berangkat dari kesadaran diri akan menjadi modal besar bagi seorang administrator dalam melaksanakan pekerjaannya. Dalam memberikan pelayanan, pegawai harus menempatkan dirinya sebagai pelayan mahasiswa. Selayaknya penjual, kelangsungan hidup mereka tergantung pada pembeli atau pelanggan. Ketegasan dalam memberikan pelayanan

4.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

429

bukan berarti dengan menampilkan wajah seram dan angker. Ketegasan yang dibumbui dengan keramahan dan kebersahabatan tentu lebih tepat. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Samudra Wibawa dalam kuliahnya bahwa : ”Nampaknya kita patut meniru prinsip pelayanan seorang pramugari, dimana dia ramah tapi tegas, tegas tapi sopan”. 5. Sistem Reward and Punishment Penghargaan atau reward di sini tidak harus dimaknai dalam bentuk materi, penghargaan dari sisi moril dan karir juga penting untuk membangun motivasi dalam diri pegawai. Kurangnya penghargaan dari sisi moril dan karir di sinilah yang menyebabkan pegawai kurang termotivasi untuk melakukan terobosan baru dalam memberikan pelayanan. Mereka enggan bahkan cenderung apatis untuk mengembangkan ide-ide baru guna mewujudkan reformasi pelayanan. Kelonggaran dalam sistem punishmet di lingkungan birokrasi juga turut memupuk budaya buruk dalam pemberian layanan. Budaya tidak disiplin, lambat bahkan menunda layanan seringkali dilakukan oleh pegawai. Dengan mudahnya, pegawai meninggalkan tugas-tugasnya tanpa adanya pelimpahan wewenang yang jelas bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun, yang terkadang hanya untuk melakukan kepentingan pribadi semata.

Reformasi pelayanan pendidikan ini merupakan tantangan bagi lembaga pendidikan dan harus berangkat dari keinginan dari dalam diri lembaga itu sendiri, karena secara langsung pengguna layanan dalam hal ini mahasiswa tidak serta merta bisa melakukan tindakan exit and voice. Mahasiswa tidak bisa untuk keluar dari lembaga pelayanan pendidikan dan serta merta memilih pemberi layanan yang lainnya. Namun, jika hal ini dibiarkan lambat laun lembaga pendidikan negeri tersebut akan ditinggalkan oleh masyarakat. Masyarakat menuntut pelayanan pendidikan yang berkualitas sebagaimana mereka terima dari penyedia layanan privat lainnya, kualitas tinggi, kenyamanan, dan biaya yang rendah. Sebagaimana diungkapkan oleh Haworth & Conrad (dalam : Christine Wright, 2002) bahwa : They demand the same qualities in their education, as they receive from any other commercial establishment, high quality, convenience, service, and low costs.

430

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

SIMPULAN Reformasi pelayanan publik perlu terus didorong guna mewujudkan Good Governance. Perubahan dari pelayanan publik yang birokratis menjadi praktis adalah tantangan yang tidak mudah bagi birokrasi kita. Perlu adanya motivasi dan komitmen bersama dari seluruh stakholder yang ada, terutama jajaran birokrasi itu sendiri. Sistem pelayanan yang praktis dan responsive diharapkan mampu mengobati rasa dahaga masyarakat kita yang selama ini sudah gerah dan gundah dengan pemberian layanan yang birokratis, lambat, berbelit-belit dan cenderung dipersulit. Pelayanan publik di bidang pendidikan merupakan salah satu aspek yang urgen, di mana pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Oleh sebab itu, tidak semestinya pelayanan pendidikan masih bertahan dengan gaya pelayanan yang birokratis. Dari pengamatan penulis di sebuah Perguruan Tinggi Negeri X yang mungkin dapat menggambarkan secara garis besar pelayanan di lembaga pendidikan secara umum, dapat dipetakan beberapa aspek yang perlu dibenahi guna mewujudkan pelayanan yang praktis dari yang semula birokratis. Beberapa aspek tersebut antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. SOP (Standar Operasional Prosedur) yang Jelas Diskresi dan Pelimpahan Wewenang Pemetaan Personil yang Tepat Motivasi Petugas Layanan Sistem Reward and Punishment

Kelima aspek tersebut harus dibenahi oleh Perguruan Tinggi Negeri X selaku penyedia layanan di bidang pendidikan, agar cita-cita reformasi birokrasi khususnya pada sisi pelayanan publik bisa terwujud. Hal ini tentu saja secara otomatis akan mendukung citacita good governance dan masyarakat madani.

DAFTAR PUSTAKA Atmoko, Tjipto., Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Christine Wright, M. O. (2002). Service Quality Evaluation in the Higher Education Sector : An Empirical Investigation of Students' Perception. Higher Education Research & Development , 23-39.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

431

Dwiyanto, Agus, dkk., 2002. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. PSKK UGM : Yogyakarta. Hasan, H. F. (2008). Service Quality and Student Satisfaction: A Case Study at Private Higher Education Institutions. International Business Research , 163-175. Ratminto dan Winarsih, AS., 2009. Manajemen Pelayanan (Pengembangan Model Konseptual, Peneraan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal), Pustaka Pelajar : Yogyakarta. USAID, 2009. Good Governance Brief (Pembaharuan dalam Manajemen Pelayanan Publik Daerah, Tantangan dan Peluang dalam Desentralisasi Pemerintahan di Indonesia). http://www.masbied.com/2010/06/03/budaya-birokrasipelayanan-publik-di-indonesia/

432

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

E-GOVERNMENT SEBAGAI SARANA DEMOKRATISASI DAN AKUNTABILITAS DALAM PEMERINTAH LOKAL Chasidin, Ali Rokhman Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Jenderal Soedirm shapereaude@gmail.com ABSTRAK Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi tren global dalam administrasi publik. Tawaran interaktif dan inisiatif dari sektor swasta serta tuntutan warga negara yang menempatkan pemerintah di seluruh penjuru dunia di bawah tekanan untuk merubah dan berinovasi agar birokrasi mereka berhubungan dengan warga negara. Perkembangan e-commerce telah mendorong masyarakat untuk menuntut layanan yang lebih baik. Awalnya, e-government mengaggap bahwa penggunaan internet hanya sebatas untuk menyampaikan informasi pemerintah dan pelayanan kepada warga negara. Namun, saat ini, penggunaan TIK dan terutama internet dipandang sebagai “alat untuk mencapai pemerintahan yang lebih baik”. Ini mengungkapkan evolusi dari ekspektasi e-government dalam program reformasi sektor publik. TIK dapat membantu pemerintah untuk memulihkan kepercayaan pada lembaga publik dengan meningkatkan transparansi, efisiensi biaya, efektivitas, dan partisipasi politik. Oleh karena itu, meningkatkan informasi pemerintah kepada masyarakat dapat membantu persepsi publik yang bias dan mempengaruhi ekspektasi kepercayaan dengan mempersempit kesenjangan informasi antara masyarakat dan pemerintah. Tulisan ini dimaksudkan untuk menilai sampai sejauh mana e-government memungkinkan demokrasi, akuntabilitas serta transparansi dalam pemerintah lokal. Hal ini juga memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana pemerintah daerah yang melaksanakan inisiatif TIK untuk membawa masyarakat lebih dekat dengan pemerintah. Untuk melakukannya, situs-situs dari pemerintah daerah dianalisis sehingga evaluasi dampak e-government pada peningkatan demokrasi, akuntabilitas dan transparansi administrasi publik dapat diketahui. Kata kunci: e-government, demokrasi, akuntabilitas, pemerintah lokal

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

433

PENDAHULUAN Adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi tren global dalam administrasi publik. Tawaran inisiatif interaktif dari sektor swasta dan tuntutan warga negara yang menempatkan pemerintahan di seluruh dunia di bawah tekanan untuk berubah dan berinovasi cara di mana mereka berhubungan dengan birokrasi warga. Evolusi dan perkembangan dramatis e-commerce diproyeksikan dalam waktu dekat telah mendorong warga untuk menuntut penyesuaian pelayanan. Di sektor swasta, survei menunjukkan bahwa pelanggan mencapai tingkat kepuasan yang tinggi dari e-commerce (American Society for Quality, 2008), sehingga warga negara - yang mana sebagai pengguna e-commerce - mulai menuntut tingkat respon dan layanan yang sama dari pemerintah mereka seperti halnya yang telah dipraktekan di sektor swasta. Awalnya, e-government dianggap sebatas penggunaan internet untuk memberikan informasi dan layanan pemerintah kepada warga. Namun, pada saat ini, penggunaan TIK, dan khususnya internet, dipandang sebagai alat untuk mencapai pemerintahan yang lebih baik. Ini mengungkapkan evolusi e-government dalam program reformasi sektor publik. Dalam pendekatan pertama, e-government dianggap sebagai alat untuk penyebaran informasi dan pengiriman layanan online sementara, dalam terakhir, e-government didefinisikan sebagai kapasitas untuk mentransformasikan administrasi publik melalui penggunaan TIK. Saat ini, akademisi dan lembaga mempertimbangkan e-government sebagai alat yang ampuh untuk membawa pemerintah lebih dekat dengan warga melalui pembentukan kembali hubungan antara warga dan pemerintah dalam hal keterbukaan, keterlibatan warga negara dalam urusan publik, aksesibilitas pelayanan publik, interaktivitas dan akuntabilitas. E-government mewarisi kebijakan reformasi administrasi didorong oleh doktrin New Public Management (NPM). Pada saat ini, pemahaman masyarakat bahwa ‘customer democracy approach’ telah melebarkan jarak antara pemerintah dan warga negara dan telah 1 terjadi penurunan kepercayaan publik kepada pemerintahan (Welch
1

Dalam Ruscio, 1996; Thomas, 1998; dan Welch et al, 2005.

434

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

et al., 2005). Saat ini, pemerintah di seluruh dunia mengakui TIK sebagai alat yang kuat untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik dan sebagai cara meningkatkan kepercayaan masayarakat kepada pemerintah dan menempatkan masyarakat dalam era informasi. TIK dapat membantu pemerintah untuk memulihkan kepercayaan lembaga publik dengan cara meningkatkan transparansi, efisiensi, efektivitas, dan partisipasi politik (Moon, 2003). Derajat kedekatan informasi antara warga negara dan pemerintah mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat. Adanya jarak dan kesenjangan informasi yang dirasakan masyarakat terhadap pemerintah tampaknya menjadi salah satu elemen utama yang telah menyebabkan penurunan kepercayaan publik kepada pemerintah. Oleh karena itu, meningkatkan informasi dari pemerintah kepada masyarakat dapat membantu memperbaiki persepsi publik yang bias dan mempengaruhi ekspektasi kepercayaan dengan mempersempit kesenjangan informasi antara masyarakat dan pemerintah (Welch et al., 2005). Beberapa pakar administrasi melihat TIK sebagai cara untuk meningkatkan kontrol dan transparansi dan untuk menghubungkan orang, organisasi, kelompok, informasi dan pengetahuan. Jadi, saat ini diharapkan bahwa TIK akan memberikan kontribusi untuk 2 3 keterbukaan, transparency dan accountability administrasi publik dan, karenanya, meningkatkan derajat kepentingan dan keterlibatan warga negara dalam politik dan demikrasi, membawa mereka lebih
2

3

mengadopsi definisi khas transparansi berdasarkan model prinsipal-agen. Heald (2006, hal 27) menyebutnya sebagai 'transparansi bawah': yang 'memerintah' dapat mengamati perilaku, perilaku dan / atau 'hasil' dari mereka 'penguasa'. Demikian pula, Kamus Oxford mendefinisikan Ekonomi transparan langkah-langkah kebijakan sebagai berikut: langkah-langkah Kebijakan 'yang operasi terbuka untuk publik. Transparansi termasuk membuat jelas siapa yang mengambil keputusan, apa langkah yang diambil, apa yang didapatkan oleh mereka, dan siapa yang membayar mereka. Akuntabilitas adalah 'hubungan antara aktor dan forum, di mana aktor memiliki kewajiban untuk menjelaskan dan membenarkan perilaku nya, forum tersebut dapat mengajukan pertanyaan dan lulus penilaian, dan aktor mungkin menghadapi konsekuensi' (Bovens dkk. , 2008).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

435

dekat dengan Pemerintah Lokal. Dialog ini dapat dilihat sebagai elemen penting untuk mengatasi silang pendapat dan peran pasif 'pelanggan / klien' warga negara seperti dalam reformasi NPM model Anglo-Saxon di tahun 90an. Potensi keuntungan E-government telah menyebabkan adopsi teknologi webbased sebagai elemen penting dari program modernisasi demokrasi secara umum. Karakter nonhirarkis internet membebaskan warga untuk mencari informasi berdasarkan kenyamanan mereka sendiri, tidak hanya ketika “jam buka kantor pemerintah” (West, 2004). Demikian pula, interaksi dua arah telah dianggap cara meningkatkan pelayanan dan responsif kepada warga, menghasilkan kepercayaan yang lebih besar dalam pemerintahan dan membuat pemerintahan berfungsi lebih baik daripada sekarang ini. Namun, saat ini, sebagian besar inisiatif egovernment masih melihat warga negara dari perspektif “pasif” (Pina et al, 2007 dan Torres dkk, 2006). Tantangan untuk pemerintahan lokal di semua negara adalah untuk mengubah diri dalam rangka untuk melibatkan warga dalam kegiatan demokrasi. Dalam konteks ini, pertanyaan sentral adalah apakah sebenarnya e-government dapat mengarahkan pemerintahan lokal lebih akuntabel, transparan, interaktif, dan demokratis? Meskipun pembangunan dan pengelolaan website adalah inti modern reformasi administrasi publik, tetapi hanya sedikit pemerintahan lokal yang mengetahui tentang efektivitas situs publik. Mengingat investasi yang besar dalam waktu dan sumber daya lainnya pada inisiatif pemerintahan lokal secara online, hal yang tidak kalah penting adalah untuk mulai mengevaluasi inisiatif situs pemerintahan lokal dalam hal kualitas dan efektivitasnya (Huang dan Chao, 2001). Namun, sampai saat ini, tidak ada tolok ukur yang komprehensif dari kemajuan lembaga publik dalam hal ini. Makalah ini berusaha untuk menilai sampai sejauh mana e-government memungkinkan akuntabilitas dan transparansi pemerintah daerah di Indonesia. Hal ini juga memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana pemerintah daerah melaksanakan inisiatif TIK untuk membawa warga lebih dekat dengan pemerintah. Untuk melakukannya, situs-situs pemerintah daerah akan dianalisis.

436

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

TINJAUAN LITERATUR E-government telah menjadi bidang studi empiris yang berkembang pesat. Referensi di bawah ini memberikan pandangan keseluruhan dari metodologi yang diterapkan dalam pengukuran website pemerintah - yang telah diperhitungkan dalam desain metodologi penelitian ini - dan temuan utama yang diperoleh dalam studi sebelumnya, terutama di tingkat lokal. Tampaknya ada konsensus antar lembaga, perusahaan konsultan dan akademisi tentang bagaimana mengukur tahap-tahap yang berbeda dari implementasi egovernment. Australian National Audit Office (2001), Balutis (2001), British National Audit Office (2002), PBB (2003), West (2004) mengidentifikasi model-model e-government pembangunan dengan tiga sampai lima tahap yang membedakan organisasi pemerintah yang menuju transformasi. Tiga tahap pertama adalah: (1) tahap billboard (2) pengiriman layanan parsial atau berinteraksi dan (3) tahap bertransaksi atau portal, dengan layanan penuh eksekusi dan terintegrasi dengan semua unsur pelayanan. Tahapan-tahapan hanyalah perluasan dari struktur pemerintahan tradisional, dengan potensi keuntungan dalam kecepatan dan aksesibilitas seperti pola transfer e-commerce website untuk pemerintah. Tahap 4 memperkenalkan tingkat yang lebih canggih G2G (Government to Government)-pemerintah untuk pemerintah - dan G2C (Government to Citizen) - pemerintah untuk warga negara - interkoneksi. Tahap ini adalah sebuah tonggak dalam reformasi e-government dan langkah pertama menuju gaya pemerintahan baru, dengan integrasi penuh eservices melintasi batas-batas administratif. Sebuah arsitektur baru manajemen dalam pemberian layanan dan gaya pemerintahan baru polisentris berpusat pada warga, bukan pada kebutuhan pemerintah. Hal ini membutuhkan perubahan sikap dan kerja sama antara tingkat pemerintahan, namun jarang ditemukan, yang bisa memotong pita merah tradisional dan meningkatkan kepercayaan warga negara terhadap pemerintahan. Tahap 5, tahap demokrasi interaktif, berarti transisi dari e-government menuju e-governance. Tahap-tahap e-government yang disebutkan di atas digunakan untuk mengukur tingkat pengembangan e-services, sedangkan langkahlangkah berbeda digunakan untuk menilai transparansi, interaktivitas,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

437

kegunaan, kematangan web dan akuntabilitas keuangan, serta untuk menilai perkembangan e-governance itu sendiri. Menurut Ho (2002), di bawah paradigma e-government, seorang manajer publik menekankan kekhawatiran pergeseran, seperti efisiensi biaya, berfokus pada kontrol dan kepuasan pengguna, dan fleksibilitas dalam penyediaan layanan. Untuk ini penulis melihat, jika pemerintahan daerah masih mempertahankan paradigma birokrasi tradisional maka organisasi situsnya cenderung berorientasi administratif dan tidak mencerminkan substansial dengan memikirkan kembali proses birokrasi. Daerah yang telah bergeser dari paradigma birokrasi dengan paradigma e-government cenderung menggunakan dua pendekatan umum. Yang pertama adalah pendekatan 'berorientasi informasi', yang menerapkan konsep 'one-stop shopping services' dan yang kedua adalah pendekatan 'berorientasi pengguna', yang konsepnya berjalan satu langkah lebih jauh dengan mengelompokkan informasi dan layanan di web sesuai dengan kebutuhan kelompok-kelompok pengguna yang berbeda. Moon (2002) membandingkan program dan hasil dari e-government di kota AS. Temuan utama menunjukkan bahwa, meskipun egovernment telah diadopsi oleh hampir semua pemerintah kota, situs tetap pada tahap awal, jauh dari pencapaian hasil yang diharapkan. Chadwick dan May (2003) menemukan bahwa situs pemerintah di Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa yang umumnya non-interaktif dan non-deliberatif dan menyimpulkan bahwa e-government tidak mungkin untuk membentuk kembali pemerintahan. Demikian pula, Wong dan Welch (2004) menemukan bahwa sering hanya memperburuk sifat yang ada dan atribut birokrasi publik. Akuntabilitas e-government lebih berkaitan dengan gaya birokrasi daripada perkembangan teknologi. Menurut Margolis dan Resnick (2000), Internet cenderung mencerminkan dan memperkuat pola politik. West (2004) mempelajari e-government dan sikap warga dengan menganalisis penggunaan e-government dan eksposur manajer untuk e-government dan menemukan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam keyakinan efektifitas pemerintah melalui mereka (warga negara) yang mengunjungi situs/website pemerintah. Studi ini menunjukkan bahwa, dalam beberapa hal, e-government memiliki

438

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

potensi untuk mengubah pelayanan serta sikap warga. Juga terkait dengan efek e-government pada sikap warga, Welch dkk. (2005) menemukan bukti bahwa kepuasan meningkat dengan e-government, transparansi dan akuntabilitas menyebabkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dalam pemerintahan. Tolbert dan Mossberger (2006) juga menemukan bukti bahwa menggunakan e-government meningkatkan citizen's perceptions tentang pemerintah, khasiat aksesibilitas transparansi, dan responsif, meskipun pada tingkat yang berbeda tergantung pada tingkat pemerintah. Dataset yang digunakan oleh penulis menunjukkan bahwa hanya di tingkat lokal e-government tidak meningkatkan kepercayaan warga dalam pemerintahan melalui peningkatan interaksi antara warga dan pemerintah setempat. Moon (2005) melakukan analisis longitudinal di Amerika Serikat mengenai adopsi e-government dari pemerintah daerah, kecanggihan situs, persepsi warga negara dari dampak e-government, dan hambatan untuk adopsi dan kecanggihan e-government. Mereka juga mempelajari korelasi adopsi e-government dengan faktor kelembagaan. Mereka menyimpulkan bahwa, meskipun adopsi TIK maju dengan cepat, pergerakan menuju terintegrasi dan transaksi egovernment dan efeknya jauh lebih lambat. Torres dkk. (2005a) mempelajari situs-situs pemerintah daerah di Uni Eropa dengan lebih dari 500.000 penduduk. Mereka menemukan bahwa, di hampir semua kota yang diteliti, e-government mereproduksi gaya pemerintah setiap negara Uni Eropa dan bahwa transisi ke pendekatan yang berorientasi pengguna e-government tampaknya mengikuti proses pembangunan, dengan kecepatan yang berbeda di seluruh negara. Torres (2005) telah mengevaluasi sejauh mana situs web pemerintah daerah mendukung partisipasi yang lebih tinggi dalam proses demokrasi di 100 kota besar AS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa situs web pemerintah daerah meningkatkan akses warga terhadap informasi tentang pemerintah kota dan memfasilitasi kontak dengan wakil-wakil terpilih melalui email. Namun, situs web sangat sedikit yang difasilitasi forum dialog atau konsultasi publik online. Seperti dapat dilihat dalam tinjauan literatur di atas, lembaga dan akademisi telah mencoba untuk mengevaluasi kinerja dan karakteristik e-government dalam rangka untuk memberikan profil

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

439

praktek terbaik dan mengukur efektivitas e-government untuk mengubah hubungan antara warga dan pemerintah. Mereka telah menguraikan berbagai jenis tolok ukur untuk pengukuran dan pemantauan perkembangan e-government. Semua dari mereka berbagi dengan mengidentifikasi ukuran objektif untuk menilai kemajuan dalam urusan transparansi pemerintah, akuntabilitas dan keterlibatan warga di kota. METODOLOGI Metodologi dalam studi e-government bisa melalui mengukur jumlah layanan online yang diberikan dan item informasi yang masuk dalam website (Schedler dan Schmidt, 2004). Beberapa penelitian berusaha untuk mengukur isu-isu konseptual seperti peningkatan informasi, transparansi dan akuntabilitas keuangan. Dalam rangka untuk menilai sampai sejauh mana e-government memungkinkan demokrasi, akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintah daerah, kami telah menganalisis item-item informasi pada situs web pemerintah daerah dan pemerintahan kota. Selain itu kami juga mengumpulkan informasi-informasi yang terkait dengan akuntabilitas keuangan dipublikasikan melalui Internet. Ini merupakan kawasan tradisional yang diabaikan pada kebanyakan e-government dan penelitian ini sangat penting untuk menilai akuntabilitas dan transparansi. Item yang lainnya diklasifikasikan dalam empat dimensi: transparansi, interaktivitas, kegunaan dan kematangan web. Akuntabilitas keuangan, dalam arti luas, bertujuan menjaga informasi warga tentang kebijakan kota atau daerah, keterjangkauan pelayanan publik, efisiensi dan efektivitas tindakan publik dan usaha jasa dan prestasi dan nilai audit. Rakyat tidak akan mampu menahan pemerintah mereka bertanggung jawab jika mereka tidak tahu apa yang pemerintah lakukan dengan uang mereka. Pengungkapan informasi tentang posisi keuangan pemerintah dan kinerja yang diperlukan dalam rangka untuk menentukan keberlanjutan pelayanan. Transparansi di website mengacu pada sejauh mana organisasi membuat informasi tentang karya internal, proses pengambilan keputusan dan prosedur yang tersedia. Jadi, itu berkaitan dengan

440

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

penggunaan Internet untuk membawa agenda politik pemerintah lebih dekat dengan warga dan untuk pelaksanaan kebijakan yang bebas bias untuk penyebaran informasi. Menurut Koppell (dalam Moon, 2003), transparansi adalah alat penting dan juga tujuan itu sendiri. Transparansi adalah nilai harfiah dari akuntabilitas: sebuah birokrasi yang akuntabel dan atau organisasi harus menjelaskan tindakan mereka atas keuangan organisasi tersebut. Sebagai permulaan menurut Gant (dalam Tolbert, 2006), website pemerintah harus menggunakan beberapa fitur transparansi akuntabilitas untuk meningkatkan tingkat kepercayaan publik dan legitimasi. Interaktivitas adalah ukuran tingkat umpan balik dan pengembangan e-services yang interaktif. Hal ini juga bertujuan untuk menerapkan TIK sebagai sarana untuk memperbaiki komunikasi dengan warga dan partisipasi dalam proses politik, sehingga memudahkan bagi warga untuk mengekspresikan pendapat mereka melalui saluran elektronik (e-mail, forum, blog). Kegunaan mengacu pada kemudahan dengan mana pengguna dapat mengakses informasi dan menavigasi Web portal.

ANALISIS HASIL Analisis website pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian pemerintah daerah dianalisis terlibat dalam inisiatif e-government, meskipun dengan tingkat yang berbeda pembangunan. Saat ini, masalah ini tidak lagi apakah pemerintah sedang online, tapi dalam bentuk apa dan dengan apa konsekuensi. Akuntabilitas keuangan adalah salah satu komponen yang paling penting dari akuntabilitas publik. Meskipun kontribusi Internet untuk penyebaran informasi keuangan jelas, hasil menunjukkan bahwa perbaikan lebih lanjut dalam pertanggungjawaban keuangan masih diperlukan (lihat Tabel 1). Pernyataan pelaksanaan anggaran diungkapkan oleh kurang dari 20% dari website, meskipun semua kota secara hukum wajib untuk menguraikan informasi ini untuk tujuan akuntabilitas. Laporan keuangan lainnya (neraca dan laporan laba rugi) memiliki tingkat yang sama penyebaran melalui Internet. Demikian juga, sebagian besar item yang terkait dengan kinerja keuangan, sosial dan lingkungan dari pemerintah daerah - seperti

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

441

rasio keuangan, laporan tanggung jawab daerah dan laporan manajemen - juga mendapatkan persentase di bawah 20%. Seperti dapat dilihat, Pemerintahan Daerah memberikan sangat sedikit informasi tentang usaha layanan dan tentang kinerja keuangan di situs web mereka. Sebaliknya, statistik tentang daerah, unsur yang sangat sensitif dengan politik - karena politisi dapat memilih apa yang diungkapkan statistik - adalah item dengan skor terbaik daripada item yang lain. Pengungkapan online dari laporan keuangan pemerintah daerah diperlukan di setiap negara berkembang di sebagian besar daerah, sehingga seharusnya melalui e-government ini pemerintah daerah lebih bisa transparan dalam laporan keuangan daerahnya. Tabel 1 Akuntabilitas Keuangan Daerah dalam Website daerah Ekonomi & Informasi Keuangan Laporan Keuangan Laporan audit Lapporan Keuangan dan Neraca Neraca keuangan Informasi nonkeuangan tetap Informasi tentang aktiva tetap keuangan Kewajiban jangka panjang Variasi dalam pinjaman publik Financial Statements – Income Statement Income statement Alokasi setiap Kinerja, Informasi Lingkungan Sosial Statistik Indikator Aktivitas Efisiensi / produktivitas / indikator kinerja Indikator efektivitas kinerja indikator kinerja ekonomi Indikator kinerja lingkungan Rasio keuangan yang tersedia Laporan manajemen / analisis Laporan Tanggung jawab Daerah 26,13 12,79 Karakteristik Kualitatif Understandability

% 10,13 6,13

% 56,13 27,43 27,43 27,43 39,42 28,74 9,73 12,72 5,96

11,46 14,13 15,61 11,46 19,46

442

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Periode Laporan Keuangan Lainnya Catatan atas laporan keuangan Pernyataan arus kas Informasi Anggaran Anggaran Tahun Saat Ini Klasifikasi belanja berdasarkan fungsi Klasifikasi belanja menurut kelas objek Pernyataan eksekusi anggaran Anggaran hasil Anggaran modifikasi Pernyataan Hutang Glosarium 19,46 12,79 Rasio tambahan. grafis atau gambar cadangan Komentar tentang informasi keuangan Ketepatan waktu Laporan interim Relevansi Laporan teknis Periode Informasi Komparabilitas Informasi Keuangan tahunan untuk minimal 3 tahun Bagian Informasi Keuangan Bagian informasi keuangan di salah satu klik Informasi keuangan dalam bahasa lain Indeks untuk semua laporan keuangan dan anggaran Kemudahan pengelolaan informasi (xls format) Hyperlink di dalam laporan tahunan Alamat e-mail Khusus 4,61 -6,06 18,67 17,33 19,99

52,79 30,79 24,79 23,46 1,87 0,79 10,13

10,97

8,58

0 0 12,53 -3,85 0,51 28,5

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

443

Tabel 2 Transparansi, Interaktivitas, Kegunaan dan Kematangan Situs Transparansi updated terakhir Alamat Situs dan Kantor nomor telepon Kantor Email yang bertanggung jawab untuk website Email yang bertanggung jawab untuk konten Detail untuk pejabat senior % 30,67 76,97 34,67 46,67 22,67 30,67 interaktivitas E-mail link ke webmaster E-mail link ke pejabat E-mail link ke bagian lain Saran / Komentar kotak buku tamu Forum Newsletter / alert Link ke situs terkait masalah Link ke situs pemerintah formulir online form Permintaan atau publikasi Pendaftaran online Pembayaran online tagihan listrik, pajak, denda. Membuat janji dengan para pejabat, staf, dll Kematangan Situs Tidak ada link yang rusak Audio / video file Peristiwa dalam setiap kegiatan Siaran langsung pidato / peristiwa % 35,63 18,97 67,63 48,97 63,37 26,67 16,97 42,3 66,3 48,3 32,96 26,67 29,33 24,3 5,7 % 43,33 12 17,33 10,67

Pernyataan misi / kegiatan 22,67 Bagan Organisasi Alamat untuk non gov. lembaga Indeks untuk laporan, publikasi, hukum.,dll Publikasi gratis Indeks gambar Kebijakan privasi Kebijakan keamanan Link ke proses lainnya Usability Terjemahan Bahasa lain Sitemap A-Z index FAQ 37,33 61,63 58,97 56,84 49,16 14,3 10,67 29,33 % 10,3 42,3 16,97 36,97

444

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Mesin pencari Versi Teks saja Audio akses untuk tunanetra Kesesuaian dengan standar aksesibilitas WAI Halaman utama

74,3 12,97 0 0,66 24,66

Konsultasi Masyarakat

16

Pemerintah daerah sudah menawarkan warga berbagai layanan melalui Internet. Namun, website-website pemerintahan daerah tampak berada pada tahap billboard (satu arah), proporsi relatif kecil yang telah pindah ke tahap berinteraksi (komunikasi dua arah), dan hanya sedikit yang memasuki tahap bertransaksi (transaksi sepenuhnya eksekusi). Jadi, website hanya sebatas menjadi alat penyebaran informasi saja (lihat Tabel 2), karena Internet telah terbukti menjadi cara yang murah dan efektif untuk melakukan itu. Sebaliknya, interaktivitas yang bisa mempromosikan partisipasi demokratis dengan mendorong dialog warga, memungkinkan warga untuk berinteraksi secara langsung dengan pemerintah dan meminta informasi dari pejabat ternyata berada di tingkat yang sangat rendah pada tahap implementasinya. Hasil yang sama dapat ditemukan dalam item yang mampu meningkatkan aksesibilitas ke website dan untuk membawa tentang inklusi sosial, seperti versi teks saja, akses audio untuk tunanetra dan sesuai dengan standar-standar aksesibilitas internasional. Kematangan situs juga persentase rendah dengan nilai dibawah 50%. Meskipun penerapan TIK, yang dapat dianggap sebagai alat untuk mereformasi sektor publik, tetapi hal ini tidak dapat dipisahkan dari gaya kepemimpinan masing-masing daerah sehingga faktor keterbukaan informasi dan pelibatan masyarakat dalam demokrasi ditingkat lokal sepertinya belum sepenuhnya diterapkan oleh pemerintahan daerah melalui e-government, sehingga websitewebsite daerah yang ada hanya sebatas berfungsi sebagai billboard. Untuk itu perlu diperkenalkan lebih lanjut bahwa TIK adalah salah satu cara untuk membawa pemerintah lebih dekat kepada warga

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

445

negara - atau transmisi perasaan ini kepada warga negara - tanpa mengubah struktur organisasi mereka. Seharusnya pemerintah daerah mengadaptasi e-government dalam dimensi transparansi dan kegunaan - terutama pada penyebaran tingkat informasi -ke dalam model birokrasi mereka. Selain itu, dalam penerapan e-government, pemerintahan daerah akan menemukan sebuah solusi untuk memperkuat kebijakan modernisasi yang kompatibel dengan gaya administrasi publik mereka. Jadi, berdasarkan fakta-fakta yang ada, bahwa Internet akan mengubah hubungan antara warga dan pemerintah, tetapi juga meningkatkan skeptisisme tentang kekuatan teknologi untuk mengubah birokrasi organisasi pemerintah (Norris, 2004).

PEMBAHASAN Meskipun hampir semua pemerintah daerah telah menyiapkan sebuah situs web dan informasi-informasinya- menyoroti manfaat untuk mengubah hubungan antara administrator dan warga negara, saat ini, manfaat e-government jauh dari yang diharapkan karena proyek-proyek pemerintah semacam ini masih pada tahap awal. Egovernment masih didominasi non-interaktif dan non-deliberatif. Mereka cenderung mencerminkan pola pelayanan yang sama hanya sebatas informasi dan tidak ada pengembangan lebih lanjut ke tingkat interaktif. Tampaknya munculnya e-government akan membawa peluang baru untuk meningkatkan pemerintahan, tetapi isu-isu tata kelola seperti keterbukaan, partisipasi, efektifitas akuntabilitas, dan koherensi, transparansi, mekanisme konsultasi dan partisipasi dan pelayanan yang efisien, tidak berada pada daftar prioritas manajer dan politisi. Kebanyakan inisiatif TIK masih melihat orang-orang dari perspektif pasif - kepada siapa sesuatu yang diberikan atau dari siapa sesuatu yang diperlukan - dan tidak jelas apakah TIK meningkatkan partisipasi warga negara atau memiliki dampak yang nyata dalam hal membawa pemerintah lebih dekat kepada warga. proyek e-government yang berpusat pada 'konsep sempit e-government, yang memerlukan kesenjangan antara retorika potensi manfaat e-government. TIK saat

446

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

ini hanya digunakan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan modernisasi terbatas, seperti peningkatan efisiensi tertentu, penyebaran informasi - tidak selalu bebas bias- atau meningkatkan pelayanan publik melalui penerapan teknik e-commerce oleh sektor publik. Jadi, kita bertanya-tanya apakah pemerintah daerah yang tertarik dalam membangun situs web hanya untuk memberikan citra modernisasi dan tanggap terhadap warganya atau apakah situs web e-government telah menyebar begitu cepat karena kepentingan perusahaan konsultasi dalam memperluas layanan mereka TIK seluruh administrasi publik di seluruh dunia. Kontribusi TIK untuk modernisasi pemerintah dalam hal perubahan gaya pemerintahan mengarah ke penguatan struktur yang ada, posisi dan proses, bukan memungkinkan pengenalan mekanisme demokrasi deliberatif dan pemerintahan gaya baru. Hasil penelitian egovernment menunjukkan bahwa, di kebanyakan website daerah, pemerintahan daerah tetap memelihara sistem tradisional mereka dalam pola pemerintahan dalam negeri. Oleh karena itu seharunya TIK diharapkan membawa reformasi di sektor publik dan mekanisme partisipasi warga. Perbedaan antar pemerintah daerah yang telah ditemukan dalam penelitian e-government tidak datang dari perbedaan penggunaan TIK, tetapi dari gaya administrasi publik di setiap daerah, dan perbedaan-perbedaan ini tidak dapat dipersempit hanya dengan pengenalan TIK. Menurut Welch (2004) dan Pina dkk. (2007), Internet cenderung mencerminkan dan memperkuat pola politik. Di bidang akuntabilitas keuangan, informasi tidak bertindak keluar dari konteks. Pengenalan TIK tanpa reformasi kelembagaan yang sesuai hanya mengarah kepada keberhasilan yang terbatas dalam meningkatkan akuntabilitas. SIMPULAN Pertimbangan keseluruhan dari hasil empiris menunjukkan bahwa egovernment cocok dengan semua jenis gaya administrasi publik dan berkontribusi untuk menjelaskan bahwa sekalipun menggunakan egovernment tetapi jika tidak didukung dengan reformasi sektor publik

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

447

dan pemerintahan yang tepat, maka hasil yang dicapai pun tidak maksimal karena masih terdapat jurang atau jarak antara pemerintah dan warganya sehingga dalam e-government warga hanya dianggap sebagai pelanggan tanpa mempertimbangkan interaktivitas antar warga dan pemerintah daerahnya. Gaya pemerintahan sebelumnya juga berkontribusi sebagian untuk menjelaskan perkembangan e-governance diamati dalam akuntabilitas keuangan dan partisipasi warga negara di negara yang diteliti. TIK seharunya bisa menjadi sarana demokratisasi lokal dan akuntabilitas sektor publik. Meskipun, kapasitas penyebaran informasinya hanya dari Internet tetapi dapat meningkatkan akuntabilitas. Seyogyanya angka-angka laporan keuangan daerah dan informasi-informasi yang dapat diakses warga masayarakat melalui situs daerah dapat meningkatkan kepercayaan warga terhadap daerahnya masing-masing tetapi pada kenyataannya masih banyak pemerintahan daerah yang tidak melakukannya, sehingga perlu adanya perbaikan transparansi dan akuntabilitas keuangan dalam situs/website daerah tersebut. Internet telah memudahkan bagi warga untuk mencari dan mengakses informasi resmi. Meskipun demikian, TIK tidak memiliki dampak yang dramatis pada akuntabilitas publik dalam praktek, bahkan di negara-negara seperti Amerika Serikat (Norris, 2004) yang berada di garis depan teknologi digital. Warga berharap TIK dapat meningkatkan transparansi, memberdayakan mereka untuk memantau kinerja pemerintah lebih dekat, dan membawakan sebuah interaksi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah. Namun, dari hasil analisis sebagian besar situs adalah non-interaktif yang membatasi potensi egovernment untuk mengubah hubungan antara warga dan administrasi publik. Internet adalah alat bantu, tetapi, secara umum, itu belum berjalan sebagai media yang efektif untuk memfasilitasi konsultasi warga, diskusi kebijakan, atau input demokrasi deliberatif dalam proses pembuatan kebijakan. E-government perlu diintegrasikan ke dalam kerangka manajemen reformasi publik yang lebih luas.

448

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

DAFTAR PUSTAKA Alijoyo, Antonius, dkk. (2003). Corporate Governance Tantangan dan Kesempatan Bagi Komunitas Bisnis Indonesia. Jakarta, PT Prenhallindo. Andrianto, Nico. (2007). Good e-Government: Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui e-Government. Malang: Bayumedia Publishing. Chadwick, A. and C. May (2003), ‘Interaction Between States and Citizens in the Age of the Internet: “E-government’’in the United States, Britain and the European Union’, Governance: International Journal of Policy, Administration and Institutions, Vol. 16, No. 2, pp. 271–300. Deakins E. and S.M. Dillon (2002), ‘E-government in New Zealand: The Local Authority Perspective’, The International Journal of Public Sector Management, Vol. 15, No. 4/5, pp. 375–98. Edmiston, K.D. (2003), ‘State and Local E-Government. Prospects and Challenges’, American Review of Public Administration, Vol. 33, No. 1, pp. 20–45. Hanafi, Imam. (2001). Good Governance, Demokrasi dan Keadilan Atas Sumber Daya. Jurnal Administrasi Negara Vol. II, No.1. Malang: LPD FIA UB. Huang, C. J. and M.-H. Chao (2001), ‘Managing WWW in Public Administration: Uses and Misuses’, Government Information Quarterly, Vol. 18, No. 4, pp. 357–73. Ho, A. (2002), ‘Reinventing Local Governments and the EGovernment Initiative’, Public Administration Review, Vol. 62, No. 4, pp. 434–44 Joyce, P. (2002), ‘E-Government, Strategic Change and Organisational Capacity’, in E.M. Milner (ed.), Delivering the Vision. Public Services for the Information Society and the Knowledge Economy (Routledge, London). Moon, M.J. (2002), ‘The Evolution of E-Government Among Municipalities: Rhetoric or Reality?’, Public Administration Review, Vol. 62, No. 4, pp. 424–33.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

449

Moon, M.J. (2003), ‘Can IT Help Government to Restore Public Trust?: Declining Public Trust and Potential Prospects of IT in the Public Sector’, Paper presented at the 36th Hawaii International Conference on System Sciences (HICSS’03, Hawaii, 6–9 January). Mutz, D. and G. Flemming (1999), ‘How Good People Make Bad Collectives: A Social-Psychological Perspective on Public Attitude’, in J. Cooper (ed.), Congress and the Decline of Pubic Trust (Westview Press, Boulder, CO), pp. 79–100. Norris, D.F. and M.J. Moon (2005), ‘Advancing E-Government at the Grassroots: Tortoise or Hare?’, Public Administration Review, Vol. 65, No. 1, pp. 64–75. OECD (2003), The E-Government Imperative: Main Findings (OECD, Paris). Pina, V., L. Torres and B. Acerete (2007a), ‘Are ICTs Promoting Government Accountability? A Comparative Analysis of EGovernance Developments in 19 OECD Countries’, Critical Perspectives on Accounting, Vol. 18, No. 5, pp. 583–602. Pratchett, L. (1999), ‘New Technologies and the Modernization of Local Government: An Analysis of Biases and Constraints’, Public Administration, Vol. 77, No. 4, pp. 731–50. Schedler, K. and B. Schmidt (2004), ‘Managing the E-Government Organization’, International Public Management Review, Vol. 5, No. 1. Tolbert, C.J. and K. Mossberger (2006), ‘The Effects of E-Government on Trust and Confidence in Government’, Public Administration Review, Vol. 66, No. 3, pp. 354–69. Torres, L. (2004), ‘Trajectories in Public Administration Reforms in European Continental Countries’, Australian Journal of Public Administration, Vol. 63, No. 3, pp. 99–111. ———-, V. Pina and B. Acerete (2005a), ‘E-Government Developments on Delivering Public Services Among EU Cities’, Government Information Quarterly, Vol. 22, No. 2, pp. 217–38. ————, (2006), ‘E-Governance Developments in European Union Cities: Reshaping Government’s Relationship with Citizens’,

450

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Governance: An International Journal of Policy, Administrations,and Institutions, Vol. 19, No. 2, pp. 277–302. Welch, E. and W. Wong (2001), ‘Global Information Technology Pressure and Government Accountability: The Mediating Effect of the Domestic Context on Website Openness’, Journal of Public Administration Research and Theory, Vol. 11, No. 4, pp. 509–38. ———, C. Hinnant and M.J. Moon (2005), ‘Linking Citizen Satisfaction with E-Government and Trust in Government’, Journal of Public Administration Research and Theory, Vol. 15, No. 3, pp. 371–91. West, D.M. (2004), ‘E-Government and the Transformation of Service Delivery and Citizen Attitudes’, Public Administration Review, Vol. 64, No. 1, pp. 15–27. Wijaya, Andy. (2007). Akuntabilitas Aparatur Pemerintahan Daerah dalam Era Good Governance dan Otonomi Daerah. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik Vol. VIII, No. 2. Malang: LPD FIA UB Wong, W. and E. Welch (2004), ‘Does E-Government Promote Accountability? A Comparative Analysis of Website Openness and Government Accountability’, Governance: An International Journal of Policy, Administration, and Institutions, Vol. 17, No. 2, pp. 275–97. http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/kabupaten http://plazaegov.blogspot.com/2011/06/asia-speeds-up-e-governmentefforts.html http://plazaegov.blogspot.com/2010/01/indikator-indikator-utama-pbbdalam-un.html http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/metodologi# http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/kota http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/kabupaten http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/provinsi http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/best_practise http://egov-rank.gunadarma.ac.id/index.php/page/metodologi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

451

http://www.pakkatnews.com/pendayagunaan-e-government-untukmendukung-pemerintahan-yang-baik-good-governance-padainstitusi-pemerintah-daerah.html http://www.e-governmentawards.co.uk/finalists http://www.e-governmentawards.co.uk/ http://www.wartaegov.com/home http://www.e-capacity-building.info/ecb5/index2.php?option=com_ content&do_pdf=1&id=46

452

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

MEDIA SOSIAL DAN POLITIK: SARANA E-DEMOCRACY ATAU SEKADAR PEPESAN KOSONG? Irsanti Widuri Asih Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka irsanti@ut.ac.id ABSTRAK Media jejaring social facebook dan twitter, tidak hanya trend digunakan sebagai media pergaulan oleh remaja atau masyarakat awam. Politisi pun banyak yang menggunakan kedua media yang paling populer di Indonesia ini untuk berkomunikasi dengan sesama politisi, juga dengan masyarakat luas. Menurut metrotvnews.com, Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono bahkan memiliki akun twitter, meskipun keduanya tidak rajin melakukan tweet. Yang paling rajin melakukan update status adalah Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika. Sederet politisi Senayan pun rajin melakukan tweet di akun twitter mereka, seperti Ganjar Pranowo (Fraksi PDI Perjuangan), Bambang Soesatyo (Fraksi Golkar), Maruarar Sirait (FRaksi PDI Perjuangan), dan Anas Urbaningrum (Fraksi Demokrat). Politisi yang duduk di DPR yang merupakan orang-orang partai politik, duduk di bangku kehormatan tersebut mewakili konstituennya. Idealnya, apa yang mereka perjuangkan di senayan adalah perjuangan atas nama kepentingan rakyat. Makalah ini mencoba mengungkap peran media social yang digunakan oleh partai politik atau oleh para politisi di Senayan sebagai sarana demokratisasi. Benarkah kedua media social ini digunakan sebagai sarana mereka untuk menjaring aspirasi rakyat untuk diperjuangkan atau hanya pepesan kosong yang tidak lebih dijadikan sebagai alat mencari popularitas semata. Kata kunci: Media sosial, politik, e-democracy

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

453

LATAR MASALAH Kesuksesan Barack Obama menggalang suara dan dana hingga membawanya ke kursi nomor satu negara adidaya Amerika Serikat pada 2008, begitu menginspirasi negarawan dan politisi di banyak negara, termasuk Indonesia. Momentum ini serta merta menjadi tonggak baru kolaborasi signifikan antara ranah politik dan media sosial. Pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa jabatan 2009-2014, pemanfaatan internet oleh partai politik sebagai salah satu media berkomunikasi dengan masyarakat luas semakin signifikan dibanding pemilu periode sebelumnya. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah partai politik yang memiliki situs web/website. Dari 34 partai politik yang terdaftar dalam pemilihan umum 2009, tercatat semua partai telah memiliki situs web. Fenomena ini cukup menggembirakan bila kita bandingkan dengan pemilu 1999, dari enam besar partai politik yang lolos Pemilu 1999, hanya dua yang memiliki situs internet (http://www.detikinet.com). Sayangnya, situs-situs web tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai media komunikasi transaksional dua arah. Kecenderungan penggunaan media internet masih terbatas sebagai media berkampanye satu arah yang digunakan partai politik untuk menggalang citra positif di mata masyarakat umum dan konstituen partai. Padahal, ruh demokrasi justru terletak pada adanya saluran menyuarakan kepentingan rakyat, bukan sebaliknya, rakyat hanya diberi hak mengetahui agenda partai politik. Setelah membudayanya pemanfaatan situs web ataupun blog sebagai media yang digunakan partai politik maupun politisi untuk melakukan komunikasi politik dengan masyarakat, maka kini boominglah pemanfaatan media sosial atau jejaring sosial sejenis facebook dan twitter untuk melakukan komunikasi di ranah politik. Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono bahkan memiliki akun twitter, meskipun keduanya jarang melakukan tweet (metrotvnews.com). Yang paling rajin melakukan update status pada akun twitter para politikus adalah Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika. Sederet politisi Senayan pun rajin melakukan tweet di akun twitter mereka, seperti Ganjar Pranowo

454

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

(Fraksi PDI Perjuangan), Bambang Soesatyo (Fraksi Golkar), Maruarar Sirait (FRaksi PDI Perjuangan), dan Anas Urbaningrum (Fraksi Demokrat). Jika melihat dari kacamata demokratisasi, apalagi di era reformasi, idealnya media sosial mampu berfungsi sebagai salah satu media penyalur aspirasi bagi masyarakat luas yang harus mampu dimanfaatkan partai politik untuk mendengar suara rakyat berkenaan dengan berbagai kebijakan publik yang harus diputuskan oleh wakilwakil rakyat di gedung kehormatan Senayan. Namun, tentu perlu dilakukan telaah lebih jauh mengenai hal ini, benarkah media sosial yang tengah booming di ranah politik Indonesia, yaitu facebook dan twitter berfungsi sebagai sarana electronic democracy (e-democracy) yang intinya menjadi media alternatif pemberi saluran bagi suara akar bawah (grass-root).

PERMASALAHAN Politisi yang duduk di DPR yang merupakan orang-orang partai politik, duduk di bangku kehormatan tersebut mewakili konstituennya. Idealnya, apa yang mereka perjuangkan di Senayan adalah perjuangan atas nama kepentingan rakyat. Makalah ini mencoba mengungkap peran media sosial yang digunakan oleh partai politik atau oleh para politisi di Senayan sebagai sarana demokratisasi. Benarkah kedua media sosial ini digunakan sebagai sarana mereka untuk menjaring aspirasi rakyat untuk diperjuangkan atau hanya pepesan kosong yang tidak lebih dijadikan sebagai alat mencari popularitas semata atau yang kini dikenal dengan istilah politik pencitraan.

PEMBAHASAN Partai Politik dan Demokratisasi Partai politik idealnya “dekat” dengan masyarakat, yang merupakan pendukung keberadaan mereka. Dari pengalaman euforia partai politik pascakekuasaan orde baru, tetap belum dapat dikatakan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

455

bahwa partai politik telah mendapat “tempat” di hati rakyat dan memperoleh dukungan penuh mereka. Seperti yang diungkapkan Evans (2003: 2) bahwa masih terdapat keraguan rakyat terhadap partai politik mengenai manfaat mereka dalam sistem politik yang disebabkan antara lain karena tetap terjadinya gap yang jauh dalam hubungan antara anggota-anggota partai politik dan rakyat, dan hubungan tersebut bersifat tidak langsung. Lebih jauh Evans juga berpendapat bahwa sistem pemilihan tetap tidak mendorong terwujudnya hubungan yang substantif antara rakyat dan partai-partai mereka, serta gagalnya partai politik mewujudkan pertanggungjawaban (akuntabilitas) langsung dari para anggota parlemen terhadap rakyat pemberi suara. Salah satu fungsi partai politik adalah fungsi komunikasi politik yang merupakan salah satu fungsi yang dijalankan oleh partai politik dengan segala struktur yang tersedia, mengadakan komunikasi informasi, isu, dan gagasan politik (Putra, 2004: 15 – 21). Untuk fungsi komunikasi politik ini, lebih jauh Putra menguraikan bahwa media massa banyak berperan sebagai alat komunikasi politik dan membentuk kebudayaan politik. Castells (2004: 371) berargumentasi bahwa dalam konteks politik demokratis, akses terhadap institusi pemerintah bergantung pada kemampuan dalam memobilisasi suara mayoritas rakyat. Dari argumen Castells tersebut tersirat bahwa suara mayoritas rakyat dalam negara demokratis yang hakiki menjadi faktor penentu komunikasi antara rakyat dengan pemerintah/elite politik. Dengan demikian, kita boleh berharap bahwa adanya keinginan/goodwill dari partai-partai politik di Indonesia untuk membuka komunikasi dua arah, yang tidak hanya bersifat top-down tapi juga bersifat bottom-up, merupakan salah satu indikator terjadinya proses demokratisasi yang signifikan di negara ini. Internet dan Politik: Tantangan dan Hambatannya Internet: Sebuah Media Baru Dalam kajian ilmu komunikasi, facebook dan twitter yang dioperasionalisasikan melalui jaringan internet dilabeli sebagai media

456

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

baru. Hal ini didasarkan pada pembedaan jenis media ini dengan media konvensional yang telah muncul sebelumnya, seperti surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Kemudian belakangan facebook dan twitter disebut sebagai media sosial karena telah memiliki fungsi sosialisasi bagi kehidupan manusia yang lebih luas. Berbagai manfaat internet bagi kehidupan manusia diajukan oleh sejumlah ahli. Castell (2001: 9) menjelaskan bahwa internet memungkinkan manusia pergi jauh melewati tujuan-tujuan institusionalnya, mengatasi kendala birokratis, serta melemahkan nilai-nilai yang mapan dalam proses menaklukkan dunia baru. Berbeda dengan Castells, Greenlaw dan Hepp (2000: menyatakan sejumlah keuntungan yang diperoleh dari internet: 1. 2. 3. 4. 110)

semakin luasnya kesempatan memperoleh pendidikan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. terbukanya kesempatan untuk berkomunikasi secara lebih luas dengan semua orang di seluruh dunia. mendiseminasikan ide-ide penelitian dan informasi. kenyamanan dalam melakukan berbagai fungsi keseharian masyarakat, seperti melakukan aktivitas perbankan atau berbelanja secara online. terbentangnya kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh hiburan. melakukan pendiseminasian mengglobal. informasi secara cepat dan

5. 6. 7.

membuka forum diskusi yang mendunia untuk memecahkan berbagai persoalan global.

Greenlaw dan Hepp (2000: 113) juga berpendapat bahwa internet telah memberikan dampak pada hampir semua aspek kehidupan manusia. Masyarakat dewasa ini memanfaatkan internet sebagai sumber dalam memperoleh informasi yang mereka butuhkan dan melakukan semua bentuk komunikasi dengan menggunakan internet. Sulit untuk membayangkan jika ada satu area yang tidak secara kuat dipengaruhi oleh internet.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

457

Sementara itu, Jones (dalam Nayar, 2004:158) membedakan lima aplikasi kultural dan politik dari computer-mediated communication (CMC) sebagai berikut: 1) membuka peluang pendidikan dan pengajaran; 2) menciptakan peluang baru bagi partisipasi dalam demokrasi; 3) membentuk countercultures; 4) menyulitkan terjadinya debat legal mengenai privasi, hak cipta, dan etika, dan 5) merestruktur interaksi antara manusia dan mesin. Dari kelima aplikasi komunikasi bermedia komputer (internet merupakan salah satu bentuk CMC) yang diusung Jones tersebut di atas, point ke-2 sangat mendukung keberadaan internet dalam meningkatkan demokratisasi di suatu negara.

Tantangan Internet sebagai Media Demokratisasi Dalam paparannya mengenai new media, McQuail (2005: 150-152) menyatakan bahwa media massa lama dianggap memainkan peran yang sangat besar dalam pelaksanaan politik demokratis. Manfaat media massa dalam bidang politik adalah memberikan informasi kepada publik mengenai agenda politik pemerintah dan politisi dan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk mengritisi pemerintah. Namun demikian, lebih jauh McQuail berpendapat bahwa peran media massa di bidang politik juga memiliki sisi negatif, misalnya adanya dominasi media oleh kelompok tertentu dan juga dominasi aliran suara vertikal, serta komersialisme media yang kerap mengabaikan peran komunikasi yang demokratis. Ada harapan baru bagi media baru, khususnya internet yang berkembang saat ini, bahwa media ini bisa menjadi cara yang potensial dalam mendobrak politik demokrasi massa yang opresif, yang sulit menyuarakan suara dari bawah ke atas, yang kerap dengan power yang dimiliki, dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan golongannya. Internet diharapkan bisa menjadi media bagi mengalirnya informasi dua arah yang interaktif antara politisi dan pendukungnya. Internet menjanjikan akan memberikan forum yang seluas-luasnya bagi pengembangan kelompok kepentingan dan sebagai sarana penyaluran opini.

458

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Hadirnya internet, membawa perubahan yang signifikan pada perspektif politik baru. Dahlberg (dalam McQuail, 2005: 151) menggambarkan adanya tiga model dasar pemanfaatan internet dalam konteks politik baru, yaitu: 1. model “cyber-libertarianism” yang menginginkan pendekatan politik didasarkan pada model pasar konsumen. Dalam hal ini, media baru bisa menjadi sarana dalam melakukan survey, plebisit (pemilihan umum di suatu daerah untuk menentukan status daerah itu), dan televoting, menggantikan proses yang dilakukan melalui media lama. ada pandangan komunitarian yang mengharapkan adanya saluran yang terbuka lebar antara partisipan grass-roots yang bisa memberikan masukan yang bermanfaat bagi partai/politisi, dan ini pada gilirannya akan memperkuat komunitas politik pada tingkat lokal. terjadi interaksi dan pertukaran ide pada ruang publik melalui teknologi internet yang memberikan manfaat signifikan bagi berkembangnya demokrasi deliberatif.

2.

3.

Dalam mengekspos pentingnya media baru/internet dalam praktik politik, Margolis dan Resnick (dalam Nayar, 2004: 174-5) mengidentifikasi salah satu jenis politik internet (internet politics) sebagai pemanfaatan politis jaringan (net) yang mengacu pada pemanfaatan jaringan untuk memengaruhi opini publik dan aktivitas politik offline. Situs-situs politik akan mendorong masyarakat untuk terlibat dalam kampanye dan mengirim e-mail kepada pemerintah. Dengan pengenalan electronic voting, jaringan akan mampu meningkatkan partisipasi demokratis. Dalam mengungkap berbagai hal yang berkaitan dengan pemanfaatan internet dalam bidang politik, Dijk (2006: 103-104) menggunakan istilah digital democracy yang dalam pandangannya secara luas diterjemahkan sebagai upaya mempraktikkan demokrasi tanpa batasan waktu, tempat, dan kondisi fisik lainnya, dengan menggunakan peralatan digital, dan sebagai tambahannya, demokrasi digital ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan praktik politik “analog” tradisional. Dari pendapat Dijk di atas, para politisi di

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

459

Indonesia tentu dapat melihat betapa besar potensi yang ditawarkan internet dalam politik praktis dengan karakteristiknya yang begitu solutif. Partai-partai politik ataupun politisi yang cerdas, seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beberapa manfaat dari pengaplikasian digital democracy yang dirangkum oleh Bryan, Tsagarousianou, dan Tambini (Bryan et al., 1998; Tsagarousianou, 1999 dalam Dijk, 2006: 104) adalah: 1. digital democracy dan e-government memperbaiki pencarian dan pertukaran informasi bidang politik antara pemerintah, administrasi publik, anggota DPR, organisasi dan komunitas politik, serta individu masyarakat. digital democracy dan e-government mendukung terjadinya debat publik serta pembentukan deliberasi dan komunitas. digital democracy dan e-government meningkatkan partisipasi warga negara dalam proses pengambilan keputusan politik.

2. 3.

Bagaimana sebenarnya gambaran manfaat internet dalam bidang politik? Salah satu gambaran yang dapat kita jadikan telaah adalah apa yang diungkapkan Castells (2004: 371) bahwa pada masyarakat kontemporer, rakyat menerima informasi dan membentuk opini politik mereka utamanya melalui media massa, khususnya televisi (seperti hasil penelitian Pew Research Center for the People and the Press Surveys, yang tersaji dalam Tabel 1 berikut ini). Tabel 1. Sources of News in the US, 1993 – 2002 (%) Date January 1993 January 1994 September 1995 TV Newspaper Radio Magazines Internet Lainlain 83 83 82 52 51 63 17 15 20 5 10 10 n.a. n.a. n.a. 1 5 1

460

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Date January 1996 January 1999 October 1999 February 2001 September 2001 January 2002

TV Newspaper Radio Magazines Internet Lainlain 88 82 80 76 74 82 61 42 48 40 45 42 25 18 19 16 18 21 8 4 5 4 6 3 n.a. 6 11 10 13 14 2 2 2 2 1 2

(Pew Research Center for the People and the Press Surveys, dalam Castells, 2004: 371) Dari data hasil penelitian mengenai sumber-sumber informasi masyarakat Amerika Serikat untuk isu nasional dan internasional tersebut, tampak bahwa media tradisional, khususnya televisi, masih menjadi sumber utama masyarakat. Sedangkan internet ternyata berpotensi sangat besar sebagai sumber informasi mengenai isu nasional dan internasional. Mulai tahun 1999, tren penggunaan internet di AS terus meningkat. Apalagi jika kita melihat fenomena kemenangan Barack Obama dalam pemilu yang baru saja berlangsung pada 4 November 2008 lalu, di mana Obama sukses dalam menggalang suara dan dana melalui internet. Besarnya peran internet dalam kesuksesan Obama tersebut semakin menandaskan peran media baru ini dalam bidang politik. Apa yang terjadi di Amerika Serikat tersebut, yang bisa saja juga terjadi di negara-negara lain, barangkali tepat menggambarkan apa yang dikatakan Castells (2001: 137) bahwa telah terjadi perubahan masyarakat melalui konflik yang diatur oleh politik. Karena internet

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

461

telah menjadi media penting dalam komunikasi dan organisasi dengan segala aktivitasnya, maka jelas bahwa gerakan sosial dan proses politik memanfaatkan (dan pemanfaatannya akan terus meningkat), internet untuk acting, informing, recruiting, organizing, dominating, dan counter-dominating. Namun sebuah pertanyaan yang diajukan Castells (2001:137), apakah internet benar-benar secara murni memainkan peran instrumental dalam mengekspresikan protes sosial dan konflik politik? Bagaimanapun, peran internet dalam bidang politik, khususnya perkembangan demokrasi, memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan media baru yang merupakan potensi besar dalam pengembangan demokrasi seperti yang diungkapkan Bentivegna (dalam McQuail, 2005: 151-2) adalah bahwa internet: 1. 2. mendobrak paradigma media lama yang hanya bersifat satu arah, melalui keunggulan interaktivitasnya; memungkinkan terjadinya komunikasi vertikal dan horizontal, sehingga terjadi keseimbangan antara partai/politisi dan masyarakat sebagai pemegang kekuasaan; meminimalkan peran jurnalisme masyarakat dan politisi; tidak memakan biaya yang mahal; memiliki daya kirim pesan yang sangat tinggi dibandingkan media tradisional; tidak memiliki batas ruang dan waktu; dalam hubungan antara

3. 4. 5. 6.

Internet memang berpotensi sebagai sarana demokratisasi dan pendidikan politik di Indonesia. Purbo (2003: 115) sangat mendukung akan hal ini. Ia menjelaskan bahwa pada knowledge-based society, informasi pada dasarnya tidak mungkin dipegang atau dikuasai oleh hanya satu atau sekelompok orang. Purbo berpendapat bahwa setiap anak bangsa pasti memiliki pengetahuan sekecil apapun (yang dikenal sebagai konsep distributed knowlegde). Aksi represif hanya akan terjadi pada saat dalam masyarakat terjadi gap informasi dan gap pengetahuan, sebagaimana yang kerap dialami oleh masyarakat

462

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

tradisional. Lebih jauh Purbo berargumen bahwa fasilitasi agar tacit (implicit) knowledge bangsa ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, maka proses dialog interaktif yang efisien menjadi sangat penting yang memungkinkan transfer tacit knowledge antaranak bangsa pada akhirnya meningkatkan pemahaman, perspektif, dan tingkat pendidikan bangsa secara keseluruhan. Kenaikan pemahaman perspektif secara total melalui proses dialog interaktif pada akhirnya memicu demokratisasi di Indonesia. Bagaimana secara operasional internet membuka peluang besar bagi demokratisasi melalui sifat interaktifnya? Purbo (2003: 115-116) menjelaskan bahwa berbeda dengan filosofi yang banyak mendasari berbagai media massa yang digunakan saat ini, yaitu umumnya proses transmisi informasi harus dilakukan secara sinkron dan lebih bersifat satu arah (asimetrik), maka media baru memungkinkan terjadinya arus informasi yang tidak sinkron (asinkron) dan lebih simetrik dengan memperlebar semaksimal mungkin fasilitas umpan balik yang ada. Kemampuan transmisi informasi sinkron yang dibarengi dengan pelebaran media umpan balik menjadi kunci keberhasilan proses dialog interaktif internal bangsa menuju tahap demokratisasinya.

Media Sosial dan Partai Politik Pada pemilihan umum tahun 2009, sembilan partai yang berhak memperoleh kursi di Dewan Perwakian Rakyat berdasarkan perolehan suara adalah sebagai berikut. Tabel Perolehan Suara Pemulu 2009 No 1. 2. 3. 4. Partai Partai Demokrat Partai Golongan Karya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Keadilan Sejahtera Perolehan Suara 20.85% 14.45% 14.03% 07.88%

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

463

No 5. 6. 7. 8. 9.

Partai Partai Amanat Nasional Partai Persatuan Pembangunan Partai Kebangkitan Bangsa Partai Gerakan Indonesia Raya Partai Hati Nurani Rakyat

Perolehan Suara 06.01% 05.32% 04.94% 04.46% 03.77%

Dari kesembilan partai tersebut, seluruhnya telah memiliki situs web resmi yang digunakan sebagai media berkomunikasi dengan masyarakat. Namun, mayoritas partai politik tersebut tidak memanfaatkan situs mereka untuk menjaring aspirasi masyarakat. Hal ini diindikasikan dengan tidak tersedianya sejenis forum opini pada hampir semua situs partai politik tersebut. Kalaupun tersedia, forum ini ternyata tidak dapat diakses. Jika sifat interaktivitas situs web cenderung rendah karena hanya digunakan untuk ajang kampanye yang mengekspos berita-berita yang “baik-baik” saja tentang partai politik, lalu bagaiman dengan media jejaring sosial facebook dan twitter? Jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang positif potensi media berbasis internet sebagai sarana demokratisasi, idealnya facebook dan twitter mampu menjadi media alternatif dengan kemampuan signifikan dalam menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat. Namun, tampaknya politisi Indonesia dewasa ini sedang terkena demam politik pencitraan. Meskipun banyak permasalahan yang muncul yang perlu ditangani oleh pemerintah, kadang pemerintah kerap mengambil kebijakan yang tidak populer, yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Facebook dan twitter yang digunakan oleh beberapa politisi dan partai politik, ternyata isinya tidak lebih dari situs yang mereka miliki, yang hanya digunakan untuk memberitakan halhal yang baik-baik saja mengenai politisi ataupun partai politik. Mayoritas transaksi informasi yang terjadi di sana didominasi oleh posting-posting yang disampaikan oleh simpatisan partai politik atau

464

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pun politisi. Seharusnya facebook dan twitter dengan sifat interaktivitas yang lebih tinggi dibandingkan situs web, mampu dimanfaatkan oleh politisi untuk menjaring aspirasi rakyat mengenai permasalahan bangsa yang krusial untuk ditangani dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang “seharusnya” bisa mereka jaring melalui media jejaring sosial tersebut.

SIMPULAN Tiga belas tahun perjalanan reformasi Indonesia, media baru atau media sosial, mengalami perkembangan signifikan digunakan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Meluasnya aksesibilitas masyarakat terhadap jaringan internet antara lain karena perkembangan gadget berbiaya semakin terjangkau ataupun semakin menjamurnya warung internet di berbagai wilayah Indonesia, menjadi faktor penentu fenomena ini. Ditambah lagi dengan implikasi gaya hidup dengan populernya jejaring sosial facebook dan twitter yang merambah ke ranah politik, semakin membuka lebar peluang masyarakat untuk “bersuara”. Berbagai gerakan simpatik kerap dilakukan dengan memanfaatkan facebook atau pun twitter, seperti gerakan pemberian dukungan terhadap kasus Prita, gerakan mosi tidak percaya terhadap SBY, dan sebagainya. Sayangnya, potensi yang besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh politisi dan partai politik untuk membawa suara rakyat tersebut. Mereka seperti sekadar latah menggunakan jejaring sosial ini untuk berinteraksi. Kalau mengacu ke pendapat ahli-ahli komunikasi dan informatika, idealnya facebook dan twitter bisa jadi sarana e-democracy. Namun kenyataannya, peluang itu tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh politisi, wakil rakyat, atau pun partai politik karena tetap masih dimanfaatkan sebagai media kampanye, belum interaktif, belum aspiratif. DAFTAR PUSTAKA Castells, Manuel. 2001. The Internet Galaxy. Oxford: Oxford University Press.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

465

Castells, Manuel. 2004. The Power of Identity Vol. II, The Information Age: Economy, Society, and Culture. Oxford: Blackwell Publishing. Dijk, Jan van. 2006. The Network Society. London: Sage Publication Ltd. Evans, Kevin Raymond. 2003. Sejarah Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: PT. Arise Concultancies. Purbo, Onno W. 2003. Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber. Jakarta: Republika. Putra, Fadillah. 2004. Partai Politik & Kebijakan Politik: Analisis terhadap Kongruensi Janji Politik Partai dengan Realisasi Produk Kebijakan Publik di Indonesia 1999-2003. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Greenlaw, Raymond, dan Hepp, Ellen. 2000. Fundamentals of the Internet and the world wide web. Singapore: McGraw-Hill Companies. McQuail, Dennis. 2005. McQuail’s Mass Communication Theory, 5th Edition. London: Sage Publications Ltd. Nayar, Pramod K. 2004. Virtual Worlds: Culture and Politics in the Age of Cybertechnology. New Delhi: Sage Publications India Pvt Ltd. Alamat Situs: http://www.inilah.com/berita/pemilu2009/2008/08/04/41901/penasaran-parpol-buka-internet/ http://mediasosial.dagdigdug.com/2008/07/23/11/media-sosialkampanye-parpol/ http://www.detikinet.com/read/2003/12/30/124200/116723/110/koreksi -berita-parpol-besar-buta-internet http://www.metrotvnews.com

466

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

RESIKO KONFLIK EKSEKUTIF - LEGISLATIF DI ERA OTONOMI DAERAH TERHADAP MASYARAKAT DI KABUPATEN SELUMA PROVINSI BENGKULU Iqbal M. Mujtahid Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka UPBJJ-UT Bengkulu iqbal@ut.ac.id ABSTRAK Hubungan eksekutif dan legislatif di era otonomi darah sarat dengan konflik kepentingan masing-masing dengan kekuatan politiknya bersaing untuk merealisasikan kepentingan-kepentingannya. Dengan menggunakan kasus di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, makalah ini memaparkan peta kekuatan konflik antara eksekutif dan legislatif melalui konsep modal politik. Dengan pemanfaatan modal politik oleh elit-elit yang bersaing berpengaruh dalam upaya mewujudkan tujuan politik dengan dalih pemanfaatan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) diperuntukkan sepenuhnya oleh masyarakat melalui pembagunan infrastruktur dan sebagainya, bahkan melegalkan segala cara untuk percepatan pembangunan melalui pro yek multiyers. Namun demikian, linkungan ekonomi politik di tingkat makro juga menentukan efektifitas pemanfaatan modal politik di tingkat lokal. Kata kunci: modal politik, otonomi daerah PENDAHULUAN Isu pemekaran Kabupaten Seluma yang bergulir sekitar awal tahun 2004 telah menjadi sebuah tren pembicaraan publik. Perhatian publik tersengat setelah muncul kelompok penggagas (proponent) dan penentang (opponent) atas rencana pemekaran tersebut. Di pihak penggagas, pemekaran wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan menjadi dua daerah otonom (Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan dan Pemerintah Kabupaten Seluma) diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan. Pihak penggagas berdalih bahwa selama

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

467

ini aktivitas dan manfaat pembangunan masih terkonsentrasi di sekitar Manna, sementara daerah lainnya masih jauh tertinggal. Kontras dengan pihak penggagas, pihak penentang rencana pemekaran berargumentasi bahwa rencana pemekaran hingga saat ini masih berupa wacana dan belum layak direalisasikan. Selain menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga, rencana pemekaran belum ditopang dengan fondasi ekonomi yang kokoh bagi tumbuhnya sebuah pemerintahan baru yang kuat. Apabila dipaksakan, justru akan menjadi beban pemerintah kabupaten dan tentu saja masyarakat Seluma secara umum. Yang menarik dari kasus pro-kontra pemekaran ini adalah pihak legislatif dan beberapa aktor elit local aktif sekali untuk mewujudkan rencana pemekaran tersebut. Meskipun beberapa hasil Penelitian terkini telah menunjukkan belum layaknya rencana pemekaran ini bila dilakukan saat ini (lihat Hasil Kajian Tim MAP Undip, 2003; Ansori, 2000), pihak penggagas tampak tidak puas sehingga mendorong mereka untuk menggelar rencana studi lanjutan mengenai pemekaran. Penelitian ini akan memfokuskan pada pertanyaanpertanyaan tentang bagaimana kekuatan masing-masing pihak? Dan siapa yang memenangkan kepentingannya? Sebagai dasar teoritik dari analisis tulisan ini, konsep modal politk (political capital) yang diperoleh dari teori sumber daya politik (Birner dan Wittmer, 2003) digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi-strategi yang digunakan oleh kelompok penggagas dan penolak rencana pemekaran Kabupaten Seluma. Sedangkan manfaat penelitan ini adalah untuk mengembangkan konsep modal politik khususnya dalam memahami dinamika konflik antara eksekutif dan legistlatif di era otonomi daerah. Menurut Booth dan Richard (1997), untuk menjelaskan hubungan organisasi sosial dan hasil politik tidak cukup hanya mengandalkan konsep modal sosial. Oleh karena itu, tulisan ini mengenalkan konsep modal politik dan mendefinisikannya sebagai beragam sikap dan aktivitas yang dapat mempengaruhi rezim penguasa. Dalam sebuah studi tentang peran kepercayaan politik dalam sistem-sistem

468

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

demokrasi, Newton (2002) juga menyimpulkan bahwa, adalah bermanfaat untuk menggabungkan modal sosial dan politik untuk tujuan analisis. Fuchs et A (1999) menggunakan konsep modal politik untuk menjelaskan partisipasi politik yang merosot di Amerika Serikat Untuk menganalisis bagaimana masyarakat lokal dapat meraih pengaruh dalam proses perumusan kebijakan di nasional, Birner dan Wittmer (2003) mendeflnisikan modal politik sebagai berbagai sumber daya yang dapat digunakan seorang aktor untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan dan mencapai hasil-hasil yang mendukung kepentingan aktor tersebut. Kajian mereka menunjukkan bahwa bentuk-bentuk modal politik yang relevan dalam menjelaskan hasil-hasil politik adalah: kekuasan pengambilan keputusan oleh pejabat publik di tingkat lokal, penguasaan pemilih (seperti mobilisasi pemilih suara), partisipasi langsung dalam proses legislasi (seperti petisi hukum), protes masyarakat (seperti unjuk rasa), melakukan lobi terhadap pengambil kebijakan administrasi dan politik, penggunaan berbagai sumber daya ideologis dan pengetahuan ilmiah dalam wacana publik, dan pengaruh internasional (seperti pendanaan dari donor asing/investor). Untuk menjelaskan hasil proses politik yang kontroversi, Birner dan Wittmer (2003) menyarankan untuk mengindentifikasi jenis-jenis modal politik yang digunakan oleh penggagas (proponent) dan penentang (opponent) dan menganalisis bagaimana kedua pihak tersebut secara efektif menggunakan modal politiknya untuk meraih kepentingan- kepentingannya. Pihak-pihak tersebut menggabungkan berbagai modal lain yang mereka miliki dengan sumber-sumber daya lainnya, seperti modal ekonomi untuk menciptakan modal politik. Hasil politik yang dicapai mungkin memberikan pengaruh umpan balik terhadap modal politik. Berbagai kemungkinan untuk menggunakan modal politik dipengaruhi oleh sejumlah kondisi seperti jenis rezim penguasa, sistem kepartaian dan system pemilihan, cakupan untuk elemen partisipasi dalam pembuatan kebijakan politik, beragam kemungkinan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan memanfaatkan lobi, peran birokrasi, kebebasan media, budaya politik dan cakupan pengaruh intemasional (Birner dan Wittmer, 2003)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

469

METODE PENELITIAN Subyek penelitian adalah surat kabar atau harian umum yang mempublikasikan polemik rencana pemekaran Seluma seperti: Rakyat Bengkulu dan Bengkulu ekspress. Pemilihan surat kabar tersebut didasarkan atas pertimbangan intensitas dalam peliputan atas kasus rencana pemekaran Kabupaten Seluma. Sedangkan obyek penelitian adalah berita politik mengenai rencana pemekaran Kabupaten Seluma Populasi penelitian ini adalah seluruh berita rencana pemekaran Seluma yang dimuat di Rakyat Bengkulu dan Bengkulu ekspress yang muncul pada akhir tahun 2004 hingga awal tahun 2005. Sampel diambil secara purposive dengan dasar obyek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan jalan mendokumentasikan terlebih dahulu semua berita rencana pemekaran Seluma baik yang menjadi headline maupun tidak di Rakyat Bengkulu dan Bengkulu ekspress. Setelah semuanya terkumpul, kemudian data dikodrag untuk diindentifikasi menurut strategi-strategi yang digunakan oleh pihak penggagas dan penentang. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif dengan model analisis interakfif (Miles dan Huberman, 1990).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Modal Politik Penggagas 1. Kekuasaan Legislatif di Parlemen Implementasi UU No. 32/2002 tentang Pemerintahan Daerah memberikan perubahan yang besar terhadap peran wakil rakyat di tingkat kabupaten/kotamadya. Jika dulu lembaga eksekutif berperan sangat kuat dalam membuat kebijakan-kebijakan di daerah, tetapi saat ini pola kekuasaan bergeser ke lembaga legislatif. Bahkan pihak legislatif dapat memecat bupati bila laporan pertanggung jawabannya dua kali mendapatkan penolakan. Hanya saja, pelaksanaan undang-undang otonomi daerah tersebut dalam perkembangannya mengalami perluasan bukan pada lokus kewenangan daerah yang bertambah, tetapi

470

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

justru perluasan wewenang elit daerah. Dalam kasus rencana pemekaran, terkonsentrasinya kekuasaan di tangan legislatif telah menyebabkan ruang gerak elit politik lepas dari kontrol.

Beberapa kebijakan yang dibuat memiliki tendensi hanya mencerminkan kepentingan elit dan kelompoknya. "Pemaksaan" pihak legislatif terhadap pihak eksekutif atas rencana pemekaran, misalnya, hanya mencerminkan kepentingan segelintir elit karena pada dasarnya rencana tersebut tidak didukung oleh beberapa kajian yang telah dilakukan sebelumnya (lihat Hasil Kajian Tim MAP Undip, 2003; Ansori, 2000). Namun demikian, iristrumen kekuasaan yang dimiliki pihak legislatif terbukti efektif untuk mendapatkan dukungan dan beberapa pihak atas rencana proses pemekaran. Salah satu instrumen kekuasaan yang ditemukan dalam kasus pemekaran adalah terbitnya Surat Keputusan DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan Nomor 146.1/1/2004 Tentang Proses Pemekaran Seluma. Melalui surat keputusan tersebut, dewan berdalih bahwa pemekaran akan dapat mengatasi masalah percepatan dan peningkatan pembangunan dan pelayanan publik serta kesejahteraan masyarakat. Sebagai suatu instrumen politik, surat keputusan tersebut memberikan tekanan kepada pihak eksekutif (bupati) untuk segera membentuk Tim Mediasi Pemekaran Kabupaten Seluma dan menghendaki agar proses pelaksanaan pemekaran dapat diselesaikan paling lambat pada Februari 2005. Bahkan dalam suatu saresehan yang digelar, Ketua DPRD Murman Efendi menegaskan bahwa pihaknya akan mendesak bupati untuk sama-sama menuntaskan rencana pemekaran tersebut. "Kalau pihak eksekutif belum menerima atau terkesan menghambat, kami (DPRD) akan nekat jalan terus. Toh ini untuk kepentingan Seluma ke depan. Tim independen juga harus bekerja secara optimal dan objektif. Kalau tidak, akan saya pecat dan diganti tim dari Jakarta" (Rakyat Bengkulu, 4 Oktober 2004).

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

471

Beberapa rekomendasi yang dihasilkan dalam sarasehan tersebut disampaik dukungan secara nyata. Bukti dukungan itu diwujudkan pula lewat tanda tangan mereka yang hadir.

2. Pemanfaatan Institusi akademik Menurut PP No. 129/2000 yang mengatur persyaratan pemekaran, studi kelayakan perlu dilakukan untuk menjadi dasar pertimbangan pemerintah pusat dalam memgambil keputusan. Atas dasar hal ini, pihak penggagas rencana pemekaran melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan akademisi dari beberapa perguruan tinggi lokal seperti saresehan dan diskusi publik. Salah satu sarasehan yang digelar mengangkat isu tentang tinjauan komprehensif rencana pemekaran Bengkulu Selatan menjadi daerah otonom, yakni Kabupaten Seluma. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan masukan dari para pakar sehingga dapat menjadi justifikasi yang kuat bagi pihak penggagas kepada pemerintah pusat bahwa rencana pemekaran telah mendapatkan dukungan dari kalangan masyarakat ilmiah. Menurut Murman, ada mewujudkan pemekaran. beberapa pertimbangan untuk

Pertama, secara faktual Seluma punya banyak potensi, baik SDA, SDM, maupun kesiapan infrakstruktur. Kedua, kalau dimekarkan akan menjadi pemacu kalangan birokrat, pejabat, dan masyarakat. Sebab, mereka lebih terkonsentrasi dan punya pegangan kuat untuk memajukan daerah. Ketiga, rencana tersebut harus lepas dari kepentingan pribadi/kelompok, yakni sama-sama ingin memajukan wilayah dan harus didukung political wiil, dan yang terakhir harus menghindari sikap skeptis atau keragu-raguan. Kalau ragu terus, kapan akan berani memulai (Rakyat Bengkulu , 4 Oktober 2004). Merespon persoalan masalah keminiman PAD, Murman Efendi, yang berpengalaman mengelola Manna semasa menjabat sebagai Ketua DPRD, memaparkan bahwa PAD bukan menjadi

472

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

ukuran utama suatu daerah layak atau tidak untuk dipecah. "Misalnya PAD Manna sekarang Rp 35 miliar, untuk Seluma bisa dialokasikan Rp 7 miliar, sisanya 28 miliar untuk Kabupaten Manna. PAD kita itu hanya 10% dari bantuan pemerintah lewat DAU, yang sekitar Rp 360 miliar ataupun DAK. DAU-nya juga bisa dibagi dua, besarnya disesuaikan dengan kondisi rnasingmasing wilayah" (Rakyat Bengkulu , 4 Oktober2004). Dukungan lain dikemukakan oleh Rosnaini Abidin bahwa dari studi banding ke sejumlah daerah, sebenarnya Seluma dinilai lebih siap. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari pemrov dan pemerintah pusat, setelah melihat hasil tim pengkaji yang menurut rencana diumumkan akhir Desember mendatang (Red: Desember 2004). Salah satu bentuk lain dari pemanfaatan institusi akademik untuk mendukung kelompok penggagas pemekaran adalah penelitian lanjutan yang dilakukan oleh tim mediasi pemekaran yang beranggotakan staf akademik dari UNIB dan UMB (Rakyat Bengkulu, 23 Januari 2005). Penelitian ini sendiri dimaksudkan untuk menjadi bahan penyeimbang dari hasil penelitian sebelumnya yang juga dilakukan oleh tim akademik UNIB dengan hasil yang kontradiktif dengan harapan kalangan dewan.

Tabel 1. Skor Seluruh Indikator Indikator A.Kemampuan Ekonomi B. Potensi Daerah C. Sosial Budaya D. Sosial Politik E. Jumlah Penduduk F. Luas Daerah Skor Skor Minimal Kabupaten Calon kota Kelulusan lnduk 450 1.380 120 60 60 90 375 1.480 140 70 90 120 500 1,940 150 90 90 60

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

473

G. Lain-lain Total Skor

75 2.235

90 2.365

80 2.910

Tabel 2. Hasil Perhitungan Skor Kota
Indikator A. Kemampuan Ekonomi B. Potensi Daerah C. Sosial Budaya D Sosial Politik E. Jumlah Penduduk F. Luas Daerah G. Lain-lain Total Skor Hasil skor 10,83 10,72 2,50 5 7,5 5,83 2,83 45,21 Skor minimal 20,83 16,66 8,33 8,33 12,50 12,50 4,16 83,31 Keterangan Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus

Sumber: Studi Kelayakan Pemekaran Kabupaten Seluma, Program Studi Administrasi Negara, UNIB,2004). Menariknya, hasil penelitian Tim Mediasi Pemekaran Seluma menyatakan bahwa Seluma memenuhi standar kelulusan untuk dimekarkan. Hasil rekomendasi tersebut didasarkan pada nilai skor pada sejumlah indikator sosial, ekonomi, politik, budaya dan geografis yang dijadikan obyek penelitian (Rakyat Bengkulu, 4 Maret 2005) dimana skor calon kota lebih besar dibandingkan skor kabupaten induk (lihat tabel satu).

MODAL POLITIK PENENTANG 1. Pemanfaatan Institusi Akademis Sama halnya dengan pihak penggagas, pihak penentangpun menggunakan peran lembaga akademis untuk memberikan justifikasi ilmiah dan rasional atas rencana pemekaran. Yang menarik, pembentukan tim kajian tersebut merupakan hasil kesepakatan pihak penggagas dan penentang pemekaran.

474

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Tetapi, hasil kajian justru merekomendasikan bahwa rencana pemekaran belum layak untuk dilakukan. Rekomendasi ini didasarkan atas hasil perhitungan tujuh variabel/kriteria pemekaran untuk wilayah kota yaitu 46,98. Angka itu lebih kecil dari persyaratan minimal untuk pemekaran wilayah, yaitu 83,31. Dengan hasil tersebut, hasil penelitian menyimpulkan bahwa wilayah seluna belum laik/lulus untuk menjadi wilayah/daerah pemerintahan tersendiri. Hasil lengkap dari penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel dua berikut (Executive Summary, Studi Kelayakan Pemekaran Kabupaten Seluma, Program Studi Administrasi Negara, UNIB, 2005). Rekomendasi di atas jelas memberikan kekuatan moral yang efektif kepada pihak penentang, sementara pihak penggagas mengalami kekecewaan atas hasil tersebut (Rakyat Bengkulu, 23 Maret 2005) sehingga mendorong untuk melakukan studi lanjutan. Tentangan terhadap rencana pemekaran juga datang dari kalangaan akademisi FISIP UNIB dalam sebuah dialog inklusif yang diselenggarakan oleh Laboratorium FISIP (Rahyat Bengkulu, 23 Maret 2005). Dalam dialog tersebut, salah satu pembicara yang telah melakukan penelitian empirik mengenai kelayakan pemekaran Kabupaten Seluma memaparkan bahwa ada beberapa persyaratan yang harus dipertimbangkan jika suatu wilayah hendak dimekarkan. Beberapa diantaranya adalah PAD, kinerja aparat, partisipasi masyarakat, sarana-prasarana, dukungan politik penguasa serta kondisi sosial budaya masyarakat, Dari sisi PAD, rencana pemekaran dinilai belum memenuhi. Sementara itu, dari sisi kualitas aparatur 50 persen aparatur di Seluma masih berpendidikan SLTA. Dalam kondisi demikian, rencana pemekaran dinilai tidak layak.

2.

Lobi dengan birokrasi Provinsi dan pusat Meskipun terjadi konseatrasi kekuasaan di tangan legislatif, bukan berarti pihak eksekutif lemah begitu saja. Peluang untuk melakukan lobi dengan eksekutif di tingkat Provinsi (Gubernur)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

475

dan di tingkat pusat (Mendagri dan Presiden) merupakan modal politik yang sangat efektif . Bagaimanapun juga, proses pemekaran rnenurut PP No. 129/2000 telah menetapkan prosedur yang demikian rinci dan sangat melibatkan birokrasi Provinsi dan pusat. Dengan kata lain, keputusan final apakah pemekaran layak dilakukan atau tidak sangat dipengaruhi oleh pandangan dan kebijakan birokrasi Provinsi dan pusat. Pihak penggagas dalam hal ini birokrasi kabupaten jelas memiliki lingkaran yang kuat dengan birokrasi di jenjang yang lebih tinggi.

Kondisi Politik Makro Meskipun UU No. 32/2002 menyebabkan terjadinya konsentrasi kekuasaan di tangan legislatif, hal ini bukan berarti pemerintah pusat berdiam diri terhadap berbagai persoalan di daerah. Beban fiskal yang terlalu besar yang harus ditanggung pemerintah pusat menjadi indikasi bahwa proses pemekaran mungkin tidak akan disetujui oleh pemerintah pusat, bahkan sebenarnya berdasarkan Keppres No. 3 tahun 2001, beberapa kota administratif telah dihapus. Atas dasar hal tersebut, pemerintah pusat tidak lagi menaruh perhatian terhadap upaya pemekaran, kecuali Kepres tersebut ditarik, tetapi hal ini merapakan sesuatu yang hampir mustahil. Di samping itu, upaya untuk menjaga stabilitas politik dalam Pemilu 2004 memberikan sinyaleman bahwa fokus pemerintah pusat akan ditujukan pada bagaimana semaksimal mungkin menyukseskan Pemilu 2004. Berbagai konflik yang muncul akibat proses seleksi calon legislatif dan adanya indikasi penggagalan Pemilu 2004 menjadi skala prioritas dibandingkan dengan upaya untuk memekarkan wilayah.

SIMPULAN Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari pelajaran di atas. Pertama, pelaksanaan kebijakan otonomi daerah ternyata mengalami gejala kontra produktif terhadap upaya untuk mewujudkan good governance. Alih-alih, konflik atau perseteruan antara eksekutif dan

476

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

legislatif semakin menjadi fenomena tidak hanya di Kabupaten Seluma, tetapi di daerah lain seperti Kabupaten Mukomuko. Kekuasaan yang semestinya dimaknai sebagai amanah dan harus dipertanggungjawabkan kepada publik dan untuk kebaikan publik ternyata mengalami pergeseran makna yang melenceng yaitu sebagai instrumen untuk saling menekan pihak lain yang tidak berada dalam satu kepentingan. Kedua, pihak legislatif atau penggagas seringkali lupa bahwa mereka hidup dalam konteks negara kesatuan sehingga wajib mematuhi berbagai undang-undang dan produk peraturan lainnya. Kenyataan yang terjadi justru seringkali elit di daerah tidak konsisten terhadap peraturan yang ada. PP No 129/2000 menyebutkan bahwa kriteria pemekaran harus mencakup kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, social politik, jumlah penduduk, dan luas daerah, tetapi setelah dikaji dan hasilnya tidak memuaskan pihak penentang, hasil kajian tersebut dianggap kurang kredibel. Padahal kalau moralitas yang dipakai, penulis yakin dalam hati nurani yang terdalam bahwa pemekaran belum didukung oleh fondasi sosial dan budaya yang kuat.

DAFTAR PUSTAKA Birner, R., and H. Wittmer. 2003. Using Social Capital to Create Political Capital: How Do Local Communities Gain Political Influence? A Theoretical Approach and Empirical Evidence from Thailand. In: Dolsak, N., dan E. Ostrom (Eds.), The Commons in the New Millenium,Challenge and Adaptation. MIT Press, Cambridge and London, pp. 291-334, Newton, K., 2001. Trust, social capital, civil society and democracy. International Political Science Review 22 (2),201214. Anonim, 2003, Studi Kelayakan Pemekaran Kabupaten Seluma, Executive Summary, Kerjasama Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan dengan Program Studi Ilmu Administrasi Negara UNIB Bengkulu. Sumber Surat Kabar Rakyat Bengkulu, Wacana Masyarakat, 23 Januari 2004. Pemekaran Belum Menyentuh

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

477

Bengkulu Ekspress, Seluma Layak Jadi Kabupaten, 4 Maret 2005. Rakyat Bengkulu, Soal Pemekaran Seluma: Rakyat Bengkulu, Ketua DPRD Manna Kecewa Penelitian UNIB, 23 Maret 2005. Bengkulu Eksspress, Dukungan Pemekaran Seluma Menguat, 4 Oktober 2004.

478

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

FUNGSI JEJARING PERTEMANAN SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI SARANA MEMBENTUK MASYARAKAT MADANI DAN DEMOKRASI
Rosalita Agustini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka UPBJJ-UT Pangkal Pinang rosalita@ut.ac.id

ABSTRAK
Demokrasi pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, demokrasi yang berasal dari bahasa Yunani demos dan kratos merujuk pada sistem politik pada pertengahan abad ke 4 dan ke 5 di negara kota yunani kuno khususnya Athena. Sedangkan sekarang pada Abad ke 21 khususnya di negara kota Republik Indonesia masalah demokrasi sangat diagung-agungkan di tahun 1998, sejak lengsernya presiden Soeharto, berbagai media selalu mengutamakan headline tentang demokrasi, begitupun dengan situs-situs internet dan web, salah satu media sarana pengembangan demokrasi adalah, situs jejaring pertemanan sosial facebook yang mempunyai dampak positif dan dampak negative dalam rangka membangun masyarakat madani dan demokrasi. Fenomena jejaring situs sosial “facebook” dalam masyarakat madani sangatlah mewabahi kehidupan masyarakat kita cepatnya berita tersebar selanjutnya banyaknya komentar, salah satu contoh di salah satu kabupaten di wilayah kepulauan Bangka Belitung terdapat account dari pemerintahan daerah setempat yang statusnya akan dilakukan renovasi terhadap gedung DPRD setempat banyak komentar dari beberapa kalangan yang kurang setuju atas renovasi karena memakan biaya yang cukup banyak, merupakan fenomena yang miris dari masyarakat madani. Menjamurnya wadah ini semakin dapat menciptakan masyarakat yang jujur, terbuka, saling menghargai, masyarakat dapat langsung mengakses internet di manapun, kapan pun, dapat memberikan komentar dari setiap status account baik itu kinerja aparat pemerintah, kasus-kasus yang sedang berkembang dan lain halnya, mengakses tidak hanya dalam negeri maupun diuar negeri. Tips yang sangat menarik untuk kita berdemokrasi agar dapat menciptakan, membentuk masyarakat madani adalah aspirasi yang jujur didasarkan pada tujuan daripada undangundang dasar 1945, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kata kunci: jejaring pertemanan social facebook, masyarakat madani, demokrasi

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

479

PENDAHULUAN Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi yang telah diketahui hampir semua orang mendengar istilah demokrasi pikiran dan asosiasi kita mungkin tertuju pada persoalan politik dan kekuasaan. Padahal sesungguhnya demokrasi tidak selalu berurusan dengan hal-hal demikian karena tujuan dari demokrasi yang sesungguhnyaa adalah menciptakan kesejahteraan bagi penduduk. Masyarakat madani adalah cerminan masyarakat yg telah maju, mampu berpikir akan apa yg salah, dan apa yang benar, masyarakat madani yang merupakan kata lain dari masyarakat sipil (civil society), kata ini sangat sering disebut sejak kekuatan orde baru tumbang setelah satu tahun ini, malah cenderung terjadi sakralisasi pada kata itu seolah investasi mampu member jalan keluar untuk masalah yang dihadapi. Istilah masyarakat madani dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah civil society pertama kali dikemukakan oleh Cicero dalam filsapat politiknya dengan istilah societies civils yang indentik dengan Negara. Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religious. Dalam kaitnnya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, maka warga Negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis dan religious dengan bercirikan imtak, krisis argumentatif dan kreatif, berpikir dan berperasaan jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat bhineka tunggal ika, berorganisasi secara sadar Karakteristik masyarakat madani adalah sebagai berikut : 1. Free public sphere (ruang public yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan public, mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasi kepada publik. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga mewujudkan masyarakat yang demokratis.Demokrasi dapat terwujud melalui penegakkan pilar-

2.

480

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pilar demokrasi yang meliputi :A. Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM), B. Pers yang bebas. C. Supremasi Hukum. D. Perguruan Tinggi E. Partai Politik. 3. Toleransi, yaitu kesedian individu untuk menerima pandanganpandangan politik dan sikap social yang berbeda dalam masyarakat. Pluralisme yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari tuhan yang maha kuasa. Keadilan social (social justice), yaitu keseimbangan dari pembagian antara hak dan kewajiban serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya. Partisipasipasi social, yaitu partisipasi masyarakat yang benarbenar bersih dari rekayasa, intimidasi ataupun intervensi penguasaan/pihak lain. upaya untuk memberikan jaminan

4.

5.

6.

7. Supremasi hukum, yaitu terciptanya keadilan. 8. 9.

Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan. Sebagai advokasi bagi masyarakat yang teraniaya dan tidak berdaya membela hak-hak dan kepentingan.

10. Menjadi kelompok kepentingan atau kelompok penekan.

Selanjutnya ke Fungsi Jejaring Pertemanan Social Facebook sebagai Sarana Membentuk Masyarakat madani awal mula kita lihat dari awal sejarah facebook, Facebook adalah sebuah situs jaringan social yang didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tanggal 4 februaru 2004, pada awalnya, facebook dengan situs www.facebook.com digunakan komunikasi untuk mahasiswa universitas Harvard. Namun setelah beberapa waktu target penggunaan adalah seluruh mahasiswa dan masyarakat umum.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

481

PEMBAHASAN Faktor-faktor Masyarakat yang menyebabkan facebook digemari oleh

Situs pertemanan Facebook memungkinkan seseorang untuk menemukan teman lama, teman baru, menjalin pertemanan, bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain, mengirimkan pesan dan komentar.Selain fasilitas-fasilitas utama yang disebutkan, masih sangat banyak fasilitas – fasilitas yang ditawarkan situs itu, baik secara formal maupun non formal, independen atau dependen.Kini jumlah facebooker di Indonesia jauh melebihi penguna di Singapura & Malaysia padahal Facebook hingga pertengahan tahun 2007 nyaris tak dilirik pengguna internet di sini.Tapi memasuki pertengahan tahun lalu, jumlah akses ke situs ini melonjak tajam dan menempatkannya sebagai situs rangking kelima yang paling banyak diakses di Indonesia.

Pengaruh Facebook Beberapa pengaruh penggunaan dan penyalahgunaan facebook di kalangan anak muda adalah 1. 2. 3. 4. 5. Kurangnya waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas Kurangnya waktu untuk bersoasialisasi dan berinteraksi secara langsung dengan orang lain dan lingkungan Membuat lupa waktu sehingga pola hidup tidak teratur. Masyarakat terbiasa melakukan hal-hal dengan praktis, sehingga tidak termotivasi untuk melakukan hal-hal yang sulit. Pola financial yang terkesan membuang uang.

Korelasi Antara Jaringan Pertemanan Facebook Dengan Masyarakat Madani Masyarakat madani pada dasarnya adalah sebuah komunitas dimana keadilan dan kesetaraan menjadi fundamennya. Muara daripada itu adalah pada demokratisasi, yang dibentuk sebagai akibat adanya

482

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

partisipasi nyata anggota kelompok masyarakat. Sementara hukum diposisikan sebagai satu-satunya alat pengendalian dan pengawasan perilaku, sedangkan jaringan pertemanan facebook adalah salah satu contoh suatu wadah yg tempat komunikasi masyarakat umum dimana setiap orang yang memiliki account facebook dapat menuliskan sebuah status di facebook tentang apa yang ingin diungkapkannya, ada beberapa manfaat facebook yang didapat dari berbagai artikel antara lain : dapat memperluas pengetahuan dan wawasan, menambah banyaknya teman, kita dapat menuliskan segala aktivitas atau perasaan yang kita rasakan yang biasanya disebut dengan status, saling menjalin persahabatan ataupun saling bersilahturahmi dengan teman dengan membuat tag pada video/foto tersebut, Berikut contoh sebuah artikel di facebook, yang menandai masyarakat sudah memahami arti demokrasi.

DUA SISI ERA REFORMASI Tanpa terasa bahwa usia reformasi sudah memasuki tahun ke 11. Di tengah usianya tersebut ternyata reformasi sudah memiliki dua dampak sekaligus. Pertama adalah dampak positif, yaitu reformasi telah menghasilkan mobilitas vertikal, misalnya para politisi yang dapat memasuki kancah politik pasca reformasi. Kyai, ustadz, aktivis organisasi, dan kaum terpelajar kemudian memasuki kancah politik. Andaikan tidak ada reformasi, maka sangat tidak mungkin seorang aktivis organisasi, pengusaha dan bahkan kyai dapat menjadi bupati, gubernur apalagi menteri. Kedua, dampak negatif, yaitu reformasi telah menghasilkan banyak orang yang kemudian memasuki rumah tahanan (rutan), karena kesalahan yang dilakukannya. Rutan pun kemudian dimasuki oleh para terpelajar, kaum terdidik, para aktivis partai dan juga kaum birokrat. Seandainya tidak ada reformasi, maka juga kecil kemungkinan kyai, aktivis organisasi atau lainnya terjerat kasus politik seperti sekarang. Jadi reformasi bermata dua: positif dan negatif. Reformasi memang menjadi arena berbagai tarikan kepentingan. Tarikan politik adalah yang paling menarik. Hingga saat ini pertarungan kepentingan begitu tampak menonjol. Dalam masa

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

483

reformasi maka sudah terdapat beberapa kali pilihan umum. Benturan aturan pun juga tidak terhindarkan. Sebagai akibat reformasi di bidang hukum, maka berbagai gugatan tentang produk politik juga muncul luar biasa. Hal ini hampir tidak dijumpai di era Orde baru. Dalam sistem otoriter, maka nyaris tidak dimungkinkan adanya gugatan politik oleh partai politik yang kalah. Namun di era reformasi ini maka semuanya bisa melakukan gugatan hukum terhadap persoalan politik. Yang terakhir, pasca pilpres tentunya adalah gugatan terhadap keputusan KPU tentang penetapan daftar anggota legislatif terpilih. Ketika Mahkamah Agung membatalkan keputusan KPU tersebut maka pro-kontra pun terjadi. Bahkan juga sudah sampai tahapan saling mengancam akan mengerahkan massanya. Di Jawa Timur, dampak negatif yang sekarang sedang melilit para aktivis partai politik, lembaga swadaya masyarakat dan juga organisasi sosial lainnya adalah program Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM). Program ini sesungguhnya sangat strategis artinya bahwa ada core program yang sesungguhnya diperuntukkan bagi masyarakat bahkan bisa dianggap sebagai anggaran yang pro-poor. Melihat namanya maka jelaslah bahwa program ini dirancang untuk mengentas masyarakat miskin dan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Program dengan nama yang bagus dan tujuan yang sesungguhnya juga mulia ternyata tidak mesti begitu di dalam implementasinya. Dalam kasus P2SEM di Jawa Timur, ternyata dana tersebut digunakan justru untuk peruntukan lain. Yang sungguh mengenaskan adalah dana tersebut diberikan kepada lembaga yang tidak memiliki kredibilitas sebagai institusi yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Bahkan juga dalam implementasinya juga terdapat pemotongan dalam jumlah prosentase yang cukup besar selain juga banyak program yang tidak sampai kepada sasaran dan bahkan fiktif. Program ini kemudian sudah menyeret beberapa anggota legislatif. Aktivis parpol dan sudah diselidiki oleh kejaksaan terkait dengan dugaan penyalahgunaan wewenang atau abuse of power ini. Suatu pertanyaan mendasar layak diungkap, bagaimanakah mekanisme pengajuan program, pemilihan lembaga pelaksana program dan implementasi program P2SEM tersebut terjadi. Melihat

484

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

kenyataan empiris, maka kesalahan sesungguhnya terjadi di awal penentuan indikator program. Jika indikator program ini jelas, maka sasaran, tujuan, target, out put dan outcome program, lembaga pelaksana, anggaran dan rencana implemetasi program akan dapat diketahui secara lebih dini. Sayangnya bahwa program ini memang mengandung hidden agenda, sehingga transparansinya hampir nihil. Bisa dibayangkan bahwa dana yang sesungguhnya untuk pemberdayaan masyarakat kemudian berubah peruntukannya, yaitu untuk kampanye calon anggota legislatif. Negeri ini memang penuh paradoks. Anggota legislatif yang memiliki wewenang untuk melakukan legislasi, membuat aturan, kebijakan dan hal-hal lain yang terkait dengan perencanaan program pemerintah justru menjadi lembaga yang paling banyak disorot karena banyaknya kasus korupsi. Kasus P2SEM adalah cermin bagi semuanya bahwa ada sesuatu yang harus selalu dicermati terkait dengan programprogram pembangunan. Makanya melakukan pengawasan anggaran menjadi sangat penting. Jika seperti ini, maka memberdayakan masyarakat untuk melek anggaran dan pentingnya transparansi anggaran dirasakan sebagai sesuatu yang sangat mendesak. Oleh karena itu, agar didapati trust yang membudaya di masyarakat, maka semuanya harus bersia-sekata untuk melawan berbagai penyimpangan terutama yang terkait dengan program pemberdayaan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA http://ariefmas.wordpress.com/2010/02/22/wow-ternyata-banyaksekali-manfaat-facebook-kumpulan-artikel-dari-wordpress/ http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=113 http://id.shvoong.com/humanities/history/1946922-sejarah-facebook/ http://rully-indrawan.tripod.com/rully01.htm http://www.crayonpedia.org/mw/Ciri-Ciri_Masyarakat_Madani

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

485

PERAN MILITER DALAM PERJALANAN DEMOKRASI DI INDONESIA Suryo Wibisono, Swastha Darma Universitas Jenderal Soedirman wib_suryo@yahoo.com ABSTRAK Sistem demokrasi sudah di adopsi di Indonesia semenjak masa kemerdekaan. Demokrasi dengan berbagai penyesuaian pernah di terapkan di Indonesia. Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal di masa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi. Militer (TNI) selama berjalannya sistem demokrasi di Indonesia selalu mengiringi perjalanan tersebut. Militer bahkan dalam beberapa kesempatan sangat mewarnai proses politik yang ada di Indonesia. Peristiwa 17 Oktober 1952 dan banyak peristiwa yang lain menjadi bukti kuatnya posisi dan peran militer di Indonesia dalam menentukan langkah negara. Peran TNI (AD khususnya) semakin menguat pada era Orde Baru yang diejawantahkan dalam Dwi Fungsi ABRI. Pada era reformasi, fungsi militer yang kompleks diyakini menyebabkan militer tidak profesional, untuk itu perlu dilakukan reformasi militer yang diejawantahkan dalam reformasi sektor keamanan (RSK), agar militer kembali kepada khitah-nya. Sistem demokrasi pada intinya adalah pemerintahan oleh orang banyak yang ditunjukkan dengan kriteria-kriteria tertentu. Salah satu indikator demokrasi adalah supremasi sipil atas militer, yaitu militer yang tunduk terhadap pemerintahan sipil. Di Indonesia dikotomi sipil-militer masih sering menjadi polemik karena beberapa sebab. Pada makalah akan diulas secara lengkap dan detail peranan militer dalam demokrasi di Indonesia beserta dinamika dan intrik yang kerap terjadi. Tidak lupa pada masa reformasi sehingga dilakukannya RSK untuk mewujudkan TNI yang profesional. Kata kunci: militer, demokrasi, indonesia

486

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Sistem demokrasi sudah di adopsi di Indonesia semenjak masa kemerdekaan. Demokrasi dengan berbagai penyesuaian pernah di terapkan di Indonesia. Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal dimasa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi. Militer (TNI) selama berjalannya sistem demokrasi di Indonesia selalu mengiringi perjalanan tersebut. Militer bahkan dalam beberapa kesempatan sangat mewarnai proses politik yang ada di Indonesia. Peristiwa 17 Oktober 1952 dan banyak peristiwa yang lain menjadi bukti kuatnya posisi dan peran militer di Indonesia dalam menentukan langkah negara. Peran TNI (AD khususnya) semakin menguat pada era Orde Baru yang diejawantahkan dalam Dwi Fungsi ABRI. Pada era reformasi, fungsi militer yang kompleks diyakini menyebabkan militer tidak profesional, untuk itu perlu dilakukan reformasi militer yang diejawantahkan dalam reformasi sektor keamanan (RSK), agar militer kembali kepada khitah-nya. Sistem demokrasi pada intinya adalah pemerintahan oleh orang banyak yang ditunjukkan dengan kriteria-kriteria tertentu. Salah satu indikator demokrasi adalah supremasi sipil atas militer, yaitu militer yang tunduk terhadap pemerintahan sipil. Di Indonesia dikotomi sipilmiliter masih sering menjadi polemik karena beberapa sebab.

Tipe-Tipe Militer Kecenderungan pola perilaku militer dipengaruhi seperti apa orientasi organisasi militer tersebut. Di atas disebutkan bahwa beberapa peristiwa pernah terjadi di Indonesia yang dipengaruhi atau bahkan dilakukan oleh militer (TNI). Perilaku-perilaku tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal seperti latar belakang sejarah, budaya, ideologi, hingga sistem politik yang dianut suatu negara. Masing-masing

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

487

negara memiliki karakteristik sendiri mengenai orientasi militernya. Ada 3 jenis orientasi militer yang muncul di negara bangsa modern, masing-masing bertindak sebagai reaksi terhadap jenis kekuasaan sipil yang dilembagakan yaitu pertama, prajurit profesional, kedua, prajurit pretorian, ketiga, prajurit revolusioner (Nordlinger, 1990). Tentara profesional klasik menonjol dalam sistem-sistem politik yang stabil. Tentara pretorian berkembang subur di lingkungan politik yang tidak stabil. Sedangkan prajurit ravolusioner merupakan representasi dari suatu orde politik yang stabil sekalipun asal usulnya datang dari suatu sistem politik yang tidak stabil, yang kebetulan sedang mengalami kemunduran, atau memang baru (Nordlinger, 1990). Secara singkat perbedaan tipe-tipe tentara profesional, tentara pretorian, dan tentara revolusioner, dapat dilihat dalam tabel: Tabel Tipe Tentara Profesional Ciri-ciri Keahlian Profesional Pengetahuan khusus yang didasarkan atas standar obyektif dari kompetensi profesional: tinggi Negara Pretorian Pengetahuan profesional tidak diperhatikan dengan ketat sekali Salah satu aktor berikut: bangsa, kelompok suku, suku, militer, dan negara Hierarki, tidak kohesif, mengubahubah kepatuhan, sempit Revolusioner Pengetahuan profesional diarahkan pada nilai-nilai sosial politik Gerakan partai

Klien

Sifat lembaga (tipe kekuasaan)

Hierarki, kohesif, organik, kolektif, subordinasi, otomatik/manipul atif sempit

Sebelum dan sesudah revolusi: egalitarian, mobilable, kader

488

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

manipulatif, luas

Penerimaan

Terbatas, hanya universal pada masa perang

Terbatas

Universal

Ideologi

Konservatif

Tradisional materialis, anti sosialis, pretorian

Revolusioner, gerakan partai

Kecenderunga n untuk campur tangan

Rendah

Permanen berkelanjutan

Tinggi sebelum dan selama revolusi, rendah sebelum revolusi

Tentara Profesional Menurut Samuel Huntington tentara modern dibedakan dari tentara sebelum tahun 1789 oleh statusnya sebagai kelompok korporasi profesional. Perwira dan prajurit profesional di zaman modern merupakan suatu kelas sosial yang baru dan memiliki ciri-ciri dasar sebagai berikut, pertama, keahlian (manajemen kekerasan), kedua, pertautan (tanggung jawab kepada klien, masyarakat atau negara), ketiga, korporatisme (kesadaran kelompok dan organisasi birokrasi) dan keempat, ideologi (semangat militer) dan ciri-ciri tersebut dapat ditemui diberbagai institusi militer modern di negara maju maupun berkembang (Huntington, 1984). Huntington berpendapat bahwa

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

489

keempat variabel tersebut merupakan hal penting yang dapat menjauhkan fungsi militer dari intervensi suatu negara. Sementara itu menurut Amos Perlmutter, lingkungan yang sesuai dengan organisasi militer profesional dan struktur birokrasi modern adalah lingkungan masyarakat yang sekular dan rasional terhadap hukum kapitalisme pasar di mana norma-norma tata tertibnya bersifat memaksa, sah, dan rasional (Perlmutter, 2000). Di Indonesia tentara yang profesional menurut Undang-undang No.34 Tahun 2004 adalah tentara yang tidak berpolitik, berbisnis, menghormati HAM, Patuh pada Hukum Nasional dan Internasional. Tabel Tipe Tentara Profesional Pengertian TNI Profesional Menurut UU 34 Tahun 2004 Tidak Berpolitik Fakta TNI Sebelum Adanya UU TNI Fakta TNI Sesudah Adanya UU TNI

Aktif terlibat dalam pelbagai peran sosial, politik dan ekonomi, menempati jabatanjabatan di lingkungan pemerintahan sipil serta parlemen

Masih bisa duduk di kementerian politik dan keamanan, Departemen PertahananBIN dan Badan Narkotika Nasional. Prajurit TNI aktif boleh mencalonkan diri dalam Pilkada dan akan dinonaktifkan sementara dari kedinasan dan jabatan. Jika menang langsung dipensiunkan dan jika kalah dapat kembali ke institusi Bisnis-bisnis resmi

Tidak Berbisnis

Masing-masing angkatan

490

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

dan Mabes memiliki bisnis sendiri-sendiri, dengan alasan ketidakmampuan negara membiayai dan memenuhi kebutuhan minimal militer dan untuk mensejahterakan prajurit

militer mulai bermetamorfosis dengan berbagai macam rupa, dikelola oleh pihak ketiga, sementara bisnis-bisnis non yayasan dan koperasi belum mendapat perhatian Aparat TNI terutama di daerah-daerah masih terlibat dalam pelbagai bentuk pelanggaran HAM meskipun intesitasnya menurun dibandingkan pada masa lalu, tetap sulit untuk dijangkau proses hukum yang adil dan akuntabel

Menghormati HAM

Terlibat dengan sadar dalam pelbagai bentuk pelanggaran HAM, termasuk dalam sejumlah kejahatan kemanusiaan terutama dalam menghadapi resistensi public terhadap rezim Orde Baru dan gerakan sparatis. Kasus-kasus di masa lalu relatif belum dipertanggungjawabkan melalui mekanisme hukum yang adil dan akuntabel. Hukum internasional dan nasional dapat diabaikan jika bertentangan dengan kepentingan ‘negara’, cenderung tidak menjadi salah satu tolok ukur profesionalitas, serta dianggap sebagai penghambat dari kepentingan pemerintah yang dikawal TNI.

Patuh pada Hukum Nasional dan Internasional

Adanya pembangkangan terhadap UU yang terlihat dari sikap purnawiran dan anjuran Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono supaya purnawirawan TNI yang diduga terlibat pelanggaran HAM

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

491

agar tidak memenuhi pemanggilan Komisi Nasional (Komnas) melanggar UU No 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM

(Backgrounder 4: Reformasi TNI, IDSPS, 2008) Pemerintah pasca reformasi 1998 mengagendakan reformasi TNI untuk mewujudkan TNI yang profesional, salah dsatunya adalah dengan mengeluarkan Undang-undang No. 34 Tahun 2004. Namun apakah dengan dicanangkannya kebijakan reformasi TNI dan disahkannya UU No.34 Tahun 2004, TNI menjadi semakin profesional sesuai dengan kriteria-kriteria yang diharapkan? Tentu jawabannya tidaklah sesederhana itu.

Peran Singkat Militer di Indonesia Keterlibatan militer dalam kancah non militer (termasuk ekonomi dan politik) di Indonesia dapat kita telusuri sejak masa kemerdekaan. Konstelasi politik yang kompleks dalam suasana revolusioner saat itu telah menghasilkan sosok militer yang otonom dari segala campur tangan pemerintahan sipil (Yulianto, 2005). Militer menganggap dirinya tidak dilahirkan melalui “rahim” sistem politik dan pemerintahan yang saat itu didominasi oleh politisi, melainkan oleh kompleks suasana revolusioner saat itu (Said, Astoeti, dalam Yulianto, 2005). Anggapan tersebut di kemudian hari menjadi semacam gap antara militer dengan pemerintah. Menurut Yulianto, militer pada akhirnya merasa lebih bertanggung jawab secara langsung kepada “negara dan bangsa” dari pada terhadap politisi yang memerintah (eksekutif). Karena pandangan di atas, maka banyak peristiwa yang dapat dikatakan sebagai klimaks tajamnya gap antara militer dan pemerintah di berbagai masa seperti penculikan PM. Syahrir tahun

492

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

1946, peristiwa 17 Oktober 1952, peristiwa September 1965, dan peristiwa “pengepungan” kediaman pribadi presiden BJ. Habibie oleh pasukan tidak dikenal tahun 1998. Studi Harold Crouch mengenai militer Indonesia pada masa 19451965 menemukan fakta bahwa sejak masa Revolusi 1945, militer terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dimana tindakan politik dan militer sering menjalin tidak terpisahkan. Segera setelah peralihan kekuasaan di akhir tahun 1945, secara resmi militer menerima asas keunggulan kekausaan sipil. Elit militer beranggapan bahwa peranan mereka di bidang politik sewaktu-waktu diperlukan, tetapi mereka tidak pernah muncul sebagai kekuatan politik utama di arena politik. Namun dikarenakan semakin melemahnya kehidupan politik saat itu yang disebabkan oleh digunakannya sistem parlementer menyebabkan anggapan di atas semakin kuat dan meyakinkan para elit militer bahwa mereka memiliki beban tanggung jawab agar negara dapat diselamatkan. Sementara itu pada saat terjadi kemacetan sistem parlementer di tahun 1957, militer dapat memanfaatkan situasi untuk mengumumkan keadaan darurat perang , yang pada akhirnya sedikit demi sedikit memungkinkan para perwira militer mendapatkan peran yang lebih besar dalam fungsi-fungsi politik, administrasi, dan ekonomi (Crouch, 1999). Pada masa Orde Lama dan orde Baru, militer tidak hanya berperan dalam fungsi pertahanan, namun juga berperan dalam fungsi-fungsi politik, sosial, dan ekonomi. Sementara itu studi yang dilakukan oleh IDSPS dan DCAF menyimpulkan bahwa pada 32 tahun masa pemerintahan Orba TNI telah menjadi satu kekuatan sosial, politik dan ekonomi yang secara penuh menopang kekuasaan, sebagai dampak dari keperluan rezim membangun stabilitas sebagai pilar pembangunan. TNI bukan dibentuk sebagai alat pertahanan an sich sebagaimana lazimnya fungsi militer di negara-negara demokratis, melainkan bekerja sebagai alat kontrol kehidupan sosial, politik dan ekonomi, termasuk mengambil keputusan-keputusan strategis terkait. Seluruh struktur dan fungsi TNI dibangun sesuai dengan kepentingan rezim Soeharto, dimana secara total mereka dilibatkan termasuk dalam kehidupan yang bersifat sipil seperti parlemen, administrasi pemerintahan pusat dan daerah, bahkan partai politik. Pelibatan total militer (baca: ABRI,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

493

karena pada masa itu TNI dan Polri tergabung dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI) inilah yang kemudian membuka akses mereka terhadap berbagai sumber daya politik dan ekonomi (IDSPS dan DCAF, 2009). Pada masa Orde baru Peran politik, sosial dan ekonomi militer sangatlah besar, militer dan elitnya diberikan previledge oleh rezim untuk berperan lebih pada bidangbidang tersebuu karena berbagai kepentingan yang ada. Doktrin Dwi Fungsi ABRI kemudian dikembangkan karena militer beranggapan bahwa masalah sipil juga dapat menjadi kewenangan dari militer berdasarkan pada sejarah masa lalu. Doktrin Catur Darma Eka Karma yang berisikan berbagai fungsi militer dalam fungsi-fungsi non militer, saat ini seiring dengan reformasi TNI telah diganti dengan doktrin Tri darma Eka Karma, perbedaan kedua doktrin tersebut dapat dilihat pada tabel berikut,

DOKTRIN ABRI “CATUR DHARMA EKA KARMA” TNI Polri masih bergabung Peran ABRI sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan sebagai kekuatan sosial politik

DOKTRIN TNI “TRI DHARMA EKA KARMA” TNI pisah dari Polri Peran TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara Fungsi TNI sebagai kekuatan pertahanan adalah sebagai berikut: 1. Penangkal, kekuatan TNI harus mampu mewujudkan daya tangkal pada setiap bentuk ancaman militer dan non militer dari dalam dan luar negeri terhadap kedaulatan, keutuhan

A. Fungsi ABRI sebagai kekuatan Pertahanan Keamanan sebagai berikut: 1. Penindak dan penyanggah awal setiap ancaman musuh dari dalam atau luar negeri Pengaman, penertib, dan penyelamat masyarakat serta penegak hukum negara

2.

494

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

3. Pelatih dan pembimbing rakyat bagi penyelenggaraan tugas Hankamneg dalam mewujudkan kemampuan dan kekuatan perlawanan rakyat semesta untuk menghadapi ancaman 4. Pembina kemampuan dan kekuatan Hankamneg dengan memelihara dan meningkatkan kemampuan dan kekauatan hankam di darat, laut, dan udara serta penertiban dan penyelamatan masyarakat.

wilayah, bangsa

dan

keselamatan

2. Penindak, kekuatan TNI harus mampu digerakkan untuk menghancurkan kekuatan musuh yang mengancam terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. 3. Pemulih, kekuatan TNI bersama dengan instansi pemerintah membantu fungsi pemerintah untuk mengembalikan kondisi keamanan negara akibat kekacauan perang. Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

5. Fungsi ABRI sebagai kekuatan Sosial dan Politik Tugas pokok ABRI dalam fungsi pertahanan dan keamanan adalah: 1. Mengamankan , menyelamatkan, mempertahankan, dan melestarikan kemerdekaan, kedaulatan, serta integrasi bangsa dan negara 2. Mengamankan, menyelamatkan, mempertahankan dan melestarikan Ideologi Pancasila dan UUD 1945 3. Mengamankan, menyelamatkan, mempertahankan dan melestarikan

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

495

penyelenggaraan pembangunan nasional dan hasil-hasilnya Pola operasi ABRI adalah : a. Operasi Pertahanan. 1) Operasi Penciptaan kondisi. 2) Operasi Konvensional 3) Operasi Perlawanan wilayah 4) Operasi Serangan balas 5) Operasi Pemulihan keamanan dan penyelamatan masyarakat. b. Operasi Negeri Keamanan Dalam Tugas Pokok TNI dilaksanakan melalui operasi sebagai berikut: A. Operasi Militer Untuk Perang 1. Operasi Gabungan TNI 2. Operasi Darat 3. Operasi Udara 4. Operasi Laut 5. Kampanye Militer 6. Operasi Bantuan

1) Operasi Intelijen. 2) Operasi Teritorial 3) Operasi Tempur 4) Operasi Keamanan Ketertiban Masyarakat dan

B. Operasi Militer Selain Perang 1. Mengatasi Gerakan Separatis Bersenjata 2. Mengatasi Pemberontakan Bersenjata 3. Mengatasi Aksi Terorisme 4. Mengamankan Obyek Vital Nasional yang bersifat Strategis 5. Mengamankan perbatasan Wilayah

6. Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri

496

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

7. Mengamankan Presiden dan Wakil Presiden RI beserta keluarganya 8. Memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini dalam rangka system pertahanan semesta tugas

9. Membantu pemerintahan daerah

10. Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat 11. Mengamankan tamu Negara setingkat Kepala Negara dan Perwakilan Asing 12. Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan memberikan bantuan kemanusiaan 13. Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (Search and Rescue) 14. Membantu Pemerintah untuk pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, prompakan, dan penyelundupan (Jaleswari dan Makarim, IDSPS dan DCAF, 2009)

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

497

Pada tabel di atas ditunjukkan perbedaan peran serta fungsi militer dalam dua doktrin yang berbeda. Dalam doktrin Catur Darma Eka Karma terlihat bahwa militer juga melaksanakan fungsi sosial dan politik, sementara fungsi ekonomi memang tidak disebutkan di dalam doktrin tersebut. Dalam doktrin Tri Darma Eka Karma fungsi-fungsi yang sifatnya diluar pertahanan dihilangkan, sehingga diharapkan TNI menjadi institusi militer yang profesional serta tidak melakukan fungsi lain selain pertahanan. Dalam sistem demokrasi, militer merupakan institusi yang tunduk di bawah otoritas pemerintah sipil. Di nagara-negara maju, militer didoktrin bahwa tidak ada kehormatan yang tertinggi bagi militer selain tunduk pada kekuasaan sipil. Jenderal Endriartono Sutarto ketika menjabat sebaga Panglima TNI menegaskan bahwa TNI hanya akan menjadi alat pertahanan negara. Tidak boleh partisan, tidak boleh memihak kekuatan sipil manapun. Pernyataan tersebut merupakan sesuatu hal yang luar biasa dan semestinya dipatuhi oleh TNI karena telah menjadi amanat undang-undang. Sejarah masa lalu TNI semestinya dapat dijadikan sebagai pembelajaran sehingga ke depan dapat mewujudkan peran TNI dalam fungsi pertahanan yang semakin profesional dalam koridor sistem demokrasi di Indonesia sesuai dengan UU No 34 Tahun 2004 Tentang TNI, sebagai, ”tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi”

DAFTAR PUSTAKA Bakti, I. N. (2009). Reformasi Sektor Keamanan: Sebuah Pengantar. Jakarta: IDSPS dan DCAF. Crouch, H. (1999). Militer dan Politik Di Indonesia. Jakarta: PT Surya Usaha Ningtias. Dake, A. C. (2006). The Sukarno File. Leiden, Boston: Brill.

498

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Jaleswari Pramodawardhani, M. M. (2009). Reformasi Tentara Nasional Indonesia. Jakarta: IDSPS dan DCAF. Nordlinger, E. A. (1990). Militer dalam Politik. Jakarta: Rineka Cipta. Perlmutter, A. (2000). Militer dan Politik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Pertahanan, K. (2008). Buku Putih Pertahanan . Jakarta: Kementerian Pertahanan. Yulianto, A. (2002). Hubungan Sipil Militer di Indonesia Pasca Orba. Jakarta: PT raja Grafindo Persada. Yulianto, D. P. (2005). Militer dan Kekauasaan. Yogyakarta: Narasi.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

499

MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI MENUJU MASYARAKAT INFORMASI INDONESIA: DAMPAK SOSIAL, KONSEKUENSI, DAN KEMUNGKINANNYA Yasir Riady Universitas Terbuka UPBJJ-UT Jakarta yasir@ut.ac.id ABSTRAK
Masyarakat mengandung pengertian tentang suatu kesatuan kelompok orang yang berhimpun, berkumpul dan bersatu dalam suatu wadah baik bentuk organisasi formal maupun nonformal yang menempati tempat tertentu, mempunyai ciri-ciri seperti adanya ikatan dan mempunyai kesamaan-kesamaan atas beberapa hal. Pada perkembangannya, masyarakat membutuhkan bahkan sangat tergantung pada informasi dan pendidikan. Informasi itu sendiri merupakan data-data yang diolah melalui suatu sistem pengelola sehingga memiliki arti dan bernilai bagi seseorang. Seiring dengan berjalannya waktu, informasi sering dikaitkan dengan teknologi yaitu komputer dan perangkatnya. Disadari atau tidak, dinamika informasi yang terjadi berdampak sosial dan adanya perubahan bagi masyarakat. Pada saat ini proses perubahan estetis, kultural dan ekonomi yang dapat dilihat dan ditandai tidak hanya pada kehidupan masyarakat global maupun lokal. Pada proses ini perubahan yang terjadi menimbulkan dampak-dampak sosial yang dialami masyarakat, perubahan ini juga dapat merubah keadaan sebuah masyarakat yang sebelumnya lebih mengandalkan kemampuan tenaga manusia sebagai pekerjaan utamanya menjadi lebih terbantu dengan hadirnya terknologi informasi dan komunikasi yang semakin hari semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kecepatan dan keakuratan yang dimiliki pada teknologi informasi dan komunikasi memberi pengaruh yang besar, namun bagaimana kita bisa menyikapi perkembangan teknologi informasi terlebih lagi untuk masyarakat yang ada di Indonesia pada 5 hingga 10 tahun ke depan. Pertanyaan yang timbul kapankah terwujudnya masyarakat madani yang memiliki kacakapan informasi yang baik di Indonesia? Jawabannya sangat tergantung pada seberapa besar usaha dan kepedulian seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama dengan pemerintah agar bisa mencapai tujuan dalam mewujudkan membangun masyarakat madani menuju masyarakat informasi Indonesia. Kata kunci: masyarakat informasi, dampak sosial, teknologi informasi dan komunikasi

500

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

PENDAHULUAN Berbicara tentang masyarakat madani, baik pada hubungannya dengan masyarakat informasi, selalu dikaitkan dengan era globalisasi yang isunya mulai berkembang di Indonesia setelah terjadinya reformasi pada tahun 1998 dan semakin hari semakin berkembang pesat. Konsep masyarakat informasi sebenarnya muncul pada tahun 1970-an dari para ilmuwan dengan sudut pandang dan definisi yang berbeda-beda. Daniel Bell (1973), menggunakan istilah ‘postindustrial society’ untuk menyebut masyarakat informasi yaitu pergantian produksi barang-barang kepada sistem pengetahuan dan inovasi pelayanan sebagai strategi dan sumber transformasi dalam masyarakat. Fritz Machlup (1983), memperkenalkan istilah ‘knowledge industry’ dengan membedakan 5 sektor pengetahuan yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan, media massa, teknologi informasi, dan layanan informasi. Masuda (1990), mengemukakan bahwa pada masyarakat informasi terjadi transisi dimana produksi nilai-nilai informasi menguasai perkembangan masyarakat. Menurut William J. Martin (1995), masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi bergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Beberapa definisi masyarakat informasi diatas, tidak lepas dari tiga komponen utama yang menjadi pendorong munculnya masyarakat informasi yaitu dinamika informasi dan komunikasi, perkembangan dalam teknologi informasi (komputer), dan perkembangan dalam teknologi komunikasi. Untuk dua komponen terakhir, lebih dikenal dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Efek dari ketiga informasi diatas dapat dilihat dengan terjadinya peningkatan kualitas dan kuantitas produk-produk informasi dan pelayanan serta luasnya jaringan komunikasi melalui media yang dilakukan secara elektronik dan terpasang. Perkembangan TIK di negara-negara maju terjadi dengan sangat cepat dan keberadaannya dimanfaatkan untuk seluruh aktivitas masyarakat sehari-hari. Untuk negara berkembang seperti Indonesia,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

501

TIK baru dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat terutama yang berdomisili di daerah perkotaan. Hal ini terjadi antara lain terjadi karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 16.000 pulau yang belum meratanya pembangunan serta masih kurangnya jaringan-jaringan telekomunikasi yang ada untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dan jauh dari perkotaan. Usaha untuk mencerdaskan bangsa, sedang dilakukan oleh berbagai pihak terutama pemerintah dan sektor swasta yang lebih banyak berperan dalam menggerakkan roda pembangunan. Pertanyaan yang muncul adalah, Kapan terwujudnya masyarakat informasi di Indonesia? Jawabannya sangat tergantung pada seberapa besar usaha dan kepedulian seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama dengan pemerintah agar bisa mencapai target mewujudkan masyarakat informasi Indonesia tahun 2015, sehingga bisa merubah budaya, perilaku dan tingkah-laku bangsa ini menjadi sebuah masyarakat berperadaban yang berilmu pengetahuan tinggi.

KONSEP MASYARAKAT MADANI Pada dasarny, konsep “masyarakat madani” merupakan penerjemahan dari konsep “civil society”. Orang yang pertama kali mengungkapkan istilah ini adalah Anwar Ibrahim dan kemudian populer serta dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan secara harfiah pada civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap sebagai salah satu bentuk dalam pembentukan civil society pada masyarakat muslim modern. Makna Civil society atau “Masyarakat sipil” lahir dan berkembang dari sejarah keadaan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Antara Masyarakat Madani dan Civil society sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, masyarakat madani adalah istilah yang dilahirkan untuk menerjemahkan konsep di luar menjadi “Islami”. Hal ini mengacu pada masyarakat yang hidup dengan situasi atmosfir serta tatanan masyarakat Madinah yang dijadikan salah satu acuan dalam mendirikan peradaban Muslim modern.

502

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

Masyarakat madani lahir dari dalam adanya petunjuk serta situasi keadaan aganis yang bernafaskan Islam. Maarif mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah masyarakat yang terbuka, egalitar, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral transendental yang bersumber dari wahyu Allah (A. Syafii Maarif, 2004: 84). Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda, namun menjadikan inti tujuan serta keinginan yang ingin dicapai, menjadi masyarakat yang maju dan modern, yang memiliki sikap toleran yang ada seperti halnya pada zaman Rasulullah memimpin negara Islam di Madinah.

KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI Karakteristik ini yang merupakan bagian dalam merealisasikan serta mewujudkan masyarakat madani, hal ini merupakan satu kesatuan yang menjadi dasar serta nilai bagi masyarakat. Karakteristik menurut Arendt dan Habermas, antara lain: 1. Free Public Sphere, adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukan pendapat. Pada ruang publik yang bebas, individu dalam posisinya mampu melakukan kegiatan apa saja tanpa mengalami rasa takut atau kekhawatiran. Sebagai sebuah prasyarat, maka untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat madani dalam sebuah tatanan masyarakat, maka free public sphere menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan. Karena dengan adanya ruang publik yang bebas dalam tatanan sebuah masyarakat, maka akan memungkinkan terjadinya kebebasan warga Negara dalam menyalurkan aspirasinya yang berkenaan dengan kepentingan umum. 2. Demokratis, merupakan suatu identitas yang menjadi bagian dalam masyarakat madani, sehingga dalam menjalani kehidupannya warga negara memiliki kebebasan penuh untuk bisa melakukan aktivitas kesehariannya, termasuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

503

3. Toleran, merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukan sikap saling menghargai dan menghormati kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. 4 Keadilan Sosial, dimaksudkan adanya keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

5. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

PEMBENTUKAN MASYARAKAT MADANI MENUJU MASYARAKAT INFORMASI Masyarakat mengandung pengertian tentang suatu kesatuan kelompok orang yang berhimpun, berkumpul dan bersatu dalam suatu wadah baik bentuk organisasi formal maupun nonformal yang menempati tempat tertentu, mempunyai ciri-ciri seperti adanya ikatan dan mempunyai kesamaan-kesamaan atas beberapa hal. Setiap kelompok masyarakat selalu berusaha untuk mempertahankan eksistensinya dan mengembangkan agar tidak tersingkirkan (Sutarno, 2005). Informasi merupakan data-data yang diolah melalui suatu sistem pengelola sehingga memiliki arti dan bernilai bagi seseorang. Selain itu, informasi dapat diartikan juga sebagai ilmu pengetahuan yang terus berkembang sejalan dengan usaha dan kemampuan manusia sesuai dengan kegunaannya. Dalam perkembangannya, informasi sering dikaitkan dengan teknologi yaitu komputer dan perangkatnya. Disadari atau tidak, dinamika informasi yang terjadi membawa perubahan bagi masyarakat. Masyarakat yang mendapat kesempatan dan akses informasi secara cepat dan tepat akan jauh lebih maju dibandingkan mereka yang kurang mendapat ‘nasib’ yang baik dalam hal perolehan informasi. Menurut Putu L. Pendit (2005), misi utama masyarakat informasi adalah mewujudkan masyarakat yang sadar tentang pentingnya

504

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, terciptanya suatu layanan informasi yang terpadu, terkoordinasi dan terdokumentasi serta tersebarnya informasi ke masyarakat luas secara cepat, tepat dan bermanfaat. Masyarakat informasi ditandai dengan adanya perilaku informasi yang merupakan keseluruhan perilaku manusia yang berhubungan dengan sumber dan saluran informasi, perilaku penemuan informasi yang merupakan upaya dalam menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu, perilaku mencari informasi yang ditujukan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi, dan perilaku penggunaan informasi yaitu prilaku yang dilakukan seseorang ketika menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah ia miliki sebelumnya. Menurut Toffler dalam buku karangan Kumorotomo dan Margono, peradaban yang pernah dan dijalani oleh umat manusia terbagi ke dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, manusia hidup dalam peradaban agraris dan pemanfaatan energi (800 SM – 1700). Gelombang kedua, ditandai dengan munculnya revolusi industri (1700 – 1970). Gelombang ketiga (1970-sekarang), manusia berada dalam peradaban yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, pengolahan data, penerbangan, aplikasi luar angkasa, bioteknologi dan komputer. Pada gelombang terakhir inilah manusia di dunia berada saat ini, dimana terjadi kemajuan teknologi informasi yang memicu terjadinya ledakan informasi (information explosion). Abad 21 sering disebut abad informasi, yaitu ketika informasi dijadikan suatu hasil industri yang diproduksi secara besar-besaran dan didistribusikan secara luas serta dapat diakses dengan mudah. Arus informasi mengalir dari negara-negara maju dan dijadikan komoditi ekonomi untuk dijual kepada negara-negara berkembang. Pada masyarakat informasi, tumbuh subur industri yang menjadikan informasi sebagai produknya. Contoh industri informasi yang tumbuh subur berkembang adalah industri pertelevisian, radio dan media massa. Informasi yang disebarkan melalui media tersebut masih memerlukan seleksi dari penerimanya. Informasi yang diterima bisa bermanfaat besar untuk seseorang bahkan juga bisa merugikan,

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

505

bergantung juga pada pengetahuan yang dimiliki oleh penerima informasi tersebut. Informasi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Masyarakat yang mendapat kesempatan lebih dulu, akses lebih luas dan tepat waktu akan dapat ‘mengurus dan mengatur’ dunia. Sementara kelompok masyarakat yang tidak atau kurang memperoleh kesempatan dan akses informasi yang mereka butuhkan secara memadai akan jauh tertinggal. Faktor-faktor penentu pembentukan masyarakat informasi adalah : 1. Kemajuan dalam pendidikan, dengan kemampuan baca-tulis dan pembelajaran orang bisa menguasai pengetahuan. Akses terhadap informasi pilihan yang memiliki nilai guna, berasal dari keaktifan dalam mencari informasi, biasanya melalui kebiasaan membaca. Salah satu budaya yang menyertai masyarakat informasi adalah tingginya budaya baca. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan, sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari membaca antara lain ialah menguasai ilmu pengetahuan secara luas, meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan taraf hidup, mengatasi masalah, serta mempertajam pandangan. 2. Perubahan karakteristik pola kerja, orang selalu mencari informasi dan pengetahuan agar bisa bekerja dengan cepat, efektif dan efisien. 3. Perubahan dalam cara menyebarkan pengetahuan, mulai dari konvensional kepada penyebaran informasi yang menggunakan alat-alat canggih. 4. Perubahan dalam cara mencari pengetahuan, semakin besarnya rasa ingin tahu pada diri seseorang sehingga berupaya untuk mendapatkan informasi dengan spesifik. 5. Kemajuan dalam penciptaan alat-alat untuk menyebarkan dan mengakses pengetahuan baru. Kelima faktor tersebut berorientasi pada kebutuhan untuk mendapatkan informasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan

506

ISBN: 978-979-011- 690-0 •

pencari informasi. Selanjutnya menurut Sutarno (2005), ciri-ciri masyarakat informasi adalah : 1. Sumber informasi terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. 2. Adanya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya informasi dalam berbagai aktivitas kehidupan. 3. Terbukanya pandangan dan wawasan masyarakat pemanfaatan teknologi informasi secara tepat guna. dalam

4. Berkembangnya lembaga-lembaga perpustakaan, dokumentasi dan informasi secara merata. 5. Kemajuan sumber daya manusia, informasi dan fisik yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 6. Informasi dikelola dengan baik, disajikan tepat waktu dan dikemas dengan teknologi dapat dikembangkan sebagai suatu komoditi yang bernilai ekonomis. Ditinjau dari sumber daya dan infrastruktur menurut Nugroho (2007), unsur dari masyarakat informasi itu minimal adalah : 1. Infrastruktur jaringan telekomunikasi pita lebar yang harganya terjangkau oleh masyarakat. 2. Masyarakat pemakai dan penyedia informasi. 3. Sumber daya manusia yang terampil dalam teknologi informasi. 4. Industri-industri teknologi informasi yang beragam. 5. Otoritas yang mengatur tentang teknologi informasi. Berdasarkan uraian diatas, pembentukan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern dalam sebuah masyarakat madani yang berbasis pengetahuan harus melewati tahapan-tahapan perkenalan kepada masyarakat tentang operasionalisasi teknologi informasi dan penyeleksian atau pemilihan terhadap informasi yang bersifat memberdayakan masyarakat sehingga meningkatkan taraf hidup, pengetahuan dan keahlian masyarakat.

• Proceeding Semnas FISIP-UT 2011

507

FAKTOR YANG MENDORONG TERJADINYA MASYARAKAT INFORMASI Masyarakat madani yang modern, setelah berevolusi menjadi masyarakat Informasi, terbentuk atas beberapa faktor yang berdampak terjadinya perubahan di masyarakat tersebut, serta mulainya kebutuhan informasi yang tinggi setelah sekian lama berada pada fase masyarakat industri, faktor-faktor yang mendorong terbentuknya masyarakat informasi seperti: Dinamika informasi dan komunikasi Perkembangan teknologi komputer Perkembangan teknologi komunikasi Perkembangan teknologi komputer dan perkembangan teknologi informasi (sekarang lebih dikenal dengan perkembangan ICT atau Information dan Communication Technology) sangat berkembang di negara industri. Dua teknologi ini yang mempercepat pergerakan informasi di masyarakat yang kemudian menjadi ciri dari masyarakat maju seperti penggunaan TV, telepon, komputer. Suatu kejadian di tempat yang sangat jauh dapat seketika ketahui oleh masyarakat (real time) dan pada saat itu juga (online). Tidak hanya itu, di dunia perbankan pengiriman uang dari jarak yang amat jauh juga dapat segera dapat diterima oleh si penerima kiriman. Hal seperti ini tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jadi pada saat ini sudah cukup terlihat bahwa komputer memang telah menjawab setiap perubahan penting dari komunikasi manusia. Revolusi komunikasi itu sesungguhnya telah dimulai sejak ditemukannya mesin cetak, namun revolusi ini dipercepat oleh ditemukannya komputer dan telekomunikasi. Berbagai kemudahan telah diberikan oleh kedua teknologi tersebut (ICT). Kini di kantor-kantor, khususnya di kota besar, sangat tergantung oleh kedua teknologi ini Kita memang telah tergantung kepada informasi, dan sekarang kita juga tergantung kepada teknologi penyimpanan informasi. Teknologi komputer dan teknologi informasi telah memberikan jawaban terhadap kebutuhan teknologi penyimpanan informasi tersebut. Bahkan komputer merupakan teknologi yang lebih dari sekedar

508