LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH Topik : KEPEMIMPINAN DAN ETIKA PROFESI POLRI Judul

: IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN VISIONER GUNA TERCAPAINYA INTERNALISASI ETIKA PROFESI POLRI DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan lingkungan strategis baik internasional, regional maupun nasional yang didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, infiltrasi budaya asing, arus globalisasi dan pasar bebas, tidak hanya membawa pengaruh postif bagi kesejahteraan masyarakat, namun juga membawa dampak negatif terhadap situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di tanah air. Tingginya angka kriminalitas, rendahnya pengungkapan tindak pidana, keresahan masyarakat akan rasa aman dan tenteram serta maraknya pelanggaran dan penyimpangan oleh oknum anggota Polri yang terjadi di berbagai wilayah di tanah air, adalah indikator bahwa Polri harus senantiasa membenahi diri. Reformasi Polri pada aspek struktural, instrumental dan kultur menjadi permasalahan dalam internal Polri belum terlaksana secara optimal. Meskipun reformasi ketiga aspek tersebut dilaksanakan secara simultan, namun dirasakan bahwa kelemahan Polri yang paling dominan berada pada aspek kultural, hal ini tercermin dari kemampuan Polri yang belum ‘well motivated’ dalam menghadapi segala

bentuk permasalahan yang menjadi tantangan tugas Polri, sehingga berdampak pada rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Kita sadari bahwa transformasi kultural yang terintegrasi dalam diri setiap insan Bhayangkara merupakan unsur mutlak dalam rangka mewujudkan kepercayaan masyarakat dan diyakini hanya dapat dicapai bila mendapat dukungan komitmen dari setiap individu Polri pada semua lini posisi dan jabatan, terutama yang memegang kendali pimpinan. Oleh karenanya, dibutuhkan berbagai upaya dalam menginternalisasi Etika Profesi Polri ke dalam diri setiap insan Bhayangkara yang dilandasi oleh kristalisasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam

c.1 Berangkat dari premis bahwa “baik buruknya suatu organisasi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya”. yang pada gilirannya dapat membawa institusi Polri mencapai visi Polri yang telah ditetapkan. karena terbukti paling efektif dalam upaya penciptaan dan pengkaderisasian SDM Polri. Bagaimana Solusi (Problem Solving) berupa rekomendasi terhadap permasalahan tersebut? 1 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011. Apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan Visioner dan Etika Profesi Polri? Bagaimana implementasi Tipe Kepemimpinan Visioner pada diri setiap insan Bhayangkari sehingga tercapai kondisi yang diharapkan? d. Bagaimana kondisi kepemimpinan Polri saat ini berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan? b. “Kode Etik Profesi Polri”. 2. tidak akan memberikan arti yang signifikan manakala SDM yang mengawakinya tidak memiliki motivasi dan komitmen yang selaras dengan visi organisasi. hal. maka Penulis mencoba untuk mengurai menjadi beberapa persoalan. Oleh karena itu. oleh karenanya Naskah Karya Perorangan ini mengangkat permasalahan “Bagaimana Implementasi Kepemimpinan Visioner Guna Tercapainya Internalisasi Etika Profesi Polri Dalam Rangka Terwujudnya Kepercayaan Masyarakat?” Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan diatas. 1 2 . yaitu : a. Permasalahan dan Persoalan Dari uraian di atas maka diperlukan berbagai upaya pengembangan kemampuan dan keterampilan kepemimpinan guna mencapai internalisasi Etika Profesi Polri dalam rangka mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. agar diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan tersebut. Penulis berpendapat bahwa Polri perlu menerapkan Tipe Kepemimpinan Visioner kepada para insan Bhayangkara. sebagai penanggungjawab roda operasional Polri baik di tingkat pusat sampai ke seluruh wilayah. maka penulis berpendapat bahwa sebesar apa pun dukungan sumber daya lainnya bagi eksistensi dan operasionalisasi suatu organisasi.Tribrata dan Catur Prasetya sebagai pedoman yang diharapkan dapat mendukung perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Jakarta. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 608. Tahun 2011.

BAB II PEMBAHASAN Setiap organisasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembangkan organisasinya dengan baik sampai jauh ke depan. karena berlandaskan pada kearifan lokal di bumi pertiwi. Polri selaku institusi yang mempunyai tugas pokok memelihara kamtibmas. seorang pemimpin harus dapat mengemban kepercayaan. Kemampuan dan ketrampilan seorang Pemimpin dalam menentukan Visi dan Misi organisasinya. Tahun 2002. 3 . 3. pengayoman dan pelayanan masyarakat. Lembaran Negara Republik Indonesia No. “Kepolisian Negara Repbulik Indonesia”. penulis memilih untuk menggunakan teori kepemimpinan visioner yang lahir dari pemikiran putra-putra bangsa untuk menjadi referensi dalam penulisan ini. Dengan tidak mengecilkan arti dan pemahaman konsep-konsep tentang kepemimpinan lainnya. 2 dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan yang terjadi serta mampu menjawab tantangan tugas yang ada. Pemimpin berbeda dengan kepemimpinan. 2 Undang-undang No. sesuai dengan harapan dan aspirasi masyarakat. sedangkan tidak semua manajer memiliki jiwa pemimpin. hal. memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. namun belum tentu benar adanya. Sering kali suatu jabatan Kepala Satuan Kerja (Contoh : Kapolres sebagai seorang Manajer di tingkat Polres) diartikan sebagai refleksi bentuk kepemimpinan. yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada visi atau kepemimpinan visioner. berani mengambil keputusan dan yang paling utama yaitu berwibawa serta dapat memimpin suatu organisasi yang dipimpinnya. terutama yang berasal dari mancanegara dan yang masuk dan disadur ke dalam bahasa Indonesia. namun justru Penulis beranggapan bahwa itulah yang paling tepat untuk dikembangkan. tidak hanya atas nama rasa nasionalisme dan patriotisme. 2 Tahun 2002. Pemimpin adalah jabatan seseorang dalam suatu organisasi yang bertugas mengepalai suatu organisasi. 2. Dihadapkan dengan tantangan tugas yang semakin berat dan kompleks saat ini. berikut langkah-langkah strategi dalam mencapai hal tersebut merupakan faktor penentu keberhasilan kepemimpinan yang dianutnya. Kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan individu untuk mempengaruhi. penegakan hukum serta perlindungan. maka diperlukan kepemimpinan polri yang strategis. melampaui usia zamannya. Seorang pemimpin dapat menjadi Kasatker (Manajer). dengan kata lain. Begitu banyak teori tentang kepemimpinan yang berkembang saat ini. sedangkan kepemimpinan lebih menekankan kepada sikap atau figure pemimpin yang bijaksana. kehormatan dan amanah yang ditipkan kepadanya.

selaras antara ucapan dan perbuatan dan selalu berlatih untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Pemimpin visioner adalah pemimpin yang memiliki karakter seorang pahlawan. Pemimpin yang visioner akan rela berkorban karena ia dapat melihat bahwa ada sesuatu yang berharga di ujung perjuangannya. Pahlawan Nasional Indonesia yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional. berorientasi pada pelayanan. kekurangan pemimpin yang bisa meneruskan visi para pejuang kemerdekaan. bersatu. bersatu dan merdeka dari penjajahan.3. Kita ketahui bersama bahwa Sarekat Islam (SI). Boleh dikatakan bahwa Indonesia saat ini tidak kekurangan pemimpin yang nasionalis. Namun para pendiri SDI adalah pemimpin visioner yang tau bahwa tidak akan ada kemakmuran tanpa keadilan hak dagang dengan pedagang asing. 4 . “Hoegeng : Polisi Idaman dan Kenyataan”. dan sadar bahwa tidak akan ada keadilan tanpa Indonesia yang berdaulat. Hoegeng Imam Santoso. khususnya dalam hal keberanian dan sikap rela berkorban untuk kebaikan yang lebih tinggi (greater good).3 Adapun Ciri-ciri Kepemimpin Visioner dapat terlihat dari sifat-sifat seorang visioner. yaitu dengan mengedepankan ajaran yang berlandaskan Pancasila. yaitu : Ing ngarso sung tulodo. hal. melihat hidup sebagai tantangan dan petualangan. organsasi yang bertujuan untuk memakmurkan pedagang pribumi. Kode Etik Profesi Polri Ketegori teknik kepemimpinan visioner digunakan oleh seorang pemimpin sebagai suatu cara mempengaruhi bawahannya agar dapat diarahkan pada pencapaian organisasi adalah 3 Abrar Yusra dan Ramadhan KH. Ki Hajar Dewantara. memancarkan energi positif. percaya orang lain. Mereka hidup dalam jaman penjajahan namun mampu melihat Indonesia yang merdeka. awalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Polri pun sebenarnya memiliki contoh figure Pemimpin Visioner yaitu : Mantan Kapolri. Kepemimpinan Visioner Sebagai flash-back. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Ing madyo bangun karso. 1993. adil dan makmur. melainkan dipelopori oleh pemimpin-pemimpin visioner. Pemimpin yang visioner berani untuk mengambil resiko demi mencapai visi yang diperjuangkannya. salah satu pelopor Kebangkitan Nasional. Tut wuri handayani. mampu memperbaharui konsep kepemimpinan visioner dan menghapus kesalahan konsep-konsep kepemimpinan lainnya. yaitu : Selalu belajar (terus menerus). 5. tetapi kekurangan pemimpin visioner. Kebangkitan Nasional di Indonesia tidaklah dipelopori oleh pemimpin-pemimpin nasionalis. Jenderal Pol. berdaulat. 4.

Demikian pula kinerja pelaksanaan tugas-tugas kepolisian akan lebih terarah. Fakta-fakta Terhadap Kelemahan Kepemimpinan Polri Saat Ini. hal.cit. “Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?”. Konsep-konsep salah ini yang utamanya adalah: Pemimpin harus sepenuhnya demokratis terhadap keinginan rakyatnya. Semua kode etik intinya merupakan aturan-aturan dan peraturan yang diendapkan dari cita-cita dan kegiatan untuk mewujudkan cita-cita. dinamika kelompok. Frasa metaforik Napoleon tersebut memiliki makna "bersayap" bahwa suatu kelompok atau organisasi. Sesungguhnya. Minimnya jumlah pemimpin visioner yang kita miliki lebih dikarenakan konsep-konsep salah yang ikut tertanamkan dalam usaha negara membangun jiwa kepemimpinan pada generasi mudanya. New York. dan tanggung jawab jabatan. patut. 5 Bila Etika Profesi Polri dapat diaplikasikan dengan baik dan benar akan membantu Polri dalam pemecahan masalahnya sehari-hari. pemimpin yang visioner kerap kali harus mengambil 4 Dr. Polisi secara tepat dapat menentukan apakah tindakan itu baik atau tidak baik dalam mengemban tugas mereka. dan konsep bahwa pemimpin harus dikenal sebagai pemimpin.. Pemimpin harus selalu memiliki jabatan pemimpin. bawahan merupakan "perpanjangan" pelaksanaan dari ide. only bad officer” 6 . terkoordinasi. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011. Dengan adanya kode etik. dilarang. & J. komunikasi. “There are no bad soldier. Dari kategori tersebut. 5 6 5 . “The Life Of Napoleon Buonaparte : Emperor Of The French”. hal 123. op. Kartini Kartono. J. dan mendatangkan manfaat serta dukungan yang maksimal dari masyarakat. 2. Jakarta. dan kebijakan pemimpin. Rajawali Pers. Sementara itu. Kode Etik Profesi Polri adalah norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis yang berkaitan dengan perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan. 5. wewenang. dapat kita lihat korelasi yang signifikan antara teknik kepemimpinan dengan Etika Profesi dari organisasi tempat ia bekerja.sebagai berikut : 4 Etika profesi pemimpin dan etiket. atau tidak patut dilakukan oleh Anggota Polri dalam melaksanakan tugas. hal 95. secara tegas yang sudah disebut dalam sumpah jabatan. maka sikap profesional dan keteladanan akan segera terlihat dan terasa pada saat dia menentukan tindakannya. kebutuhan dan motivasi (manusia). kemampuan pengambilan keputusan dan keterampilan berdiskusi. Tahun 2010. Sir Walter Scott Bart. keberhasilannya berada pada pemimpin dan kepemimpinannya. Apakah harus menerima uang imbalan atas hasil karyanya atau harus menolaknya. strategi. Harper. Tahun 1827.

dan penyimpangan sosial pada angota bawahan-nya. masalah yang mendasar lainnya. diantaranya : kepemimpinan yang masih militeristik. 6 . belum memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. sedikit „gila kekuasaan‟ atau ‘power-sindrome’. Ia juga tidak khawatir bila tidak memiliki jabatan pemimpin atau bahkan bila ia tidak dianggap pemimpin oleh khalayak ramai. belum memiliki visi ke depan yang jelas dan terukur. Ing ngarso sungtulodo (Di depan memberi teladan) Mengandung pengertian bahwa sebagai seorang pemimpin harus menjadi contoh untuk para pengikutnya. Disamping itu. sudah menjadi „rahasia umum‟ bahwa dalam organisasi Polri masih sarat dengan „kepentingan‟ dalam penunjukkan suatu posisi jabatan-jabatan tertentu yang bersifat strategis atau dikenal dengan istilah „basah‟ yang tidak berbasis pada kompetensi. Bapak Hoegeng pernah berpesan pada istrinya saat akan dipensiunkan dini karena menentang perintah kekuasaan otoriter dengan berhasil mengungkap perkara besar yang melibatkan banyak petinggi ABRI masa itu. Kesemuanya bermuara pada asumsi dasar bahwa kelemahan-kelemahan tersebut merupakan indikasi seorang pemimpin yang belum memiliki komitmen dan etika kepemimpinan atau penulis sebut dengan istilah „tidak visioner‟. masih mengedepankan egoistis. dan dalam pengorbanan ini. Bila dikaitkan dengan kepemimpinan visioner. Selain itu juga. Sangat disayangkan bahwa dalam beberapa contoh kasus. ia harus memberi contoh bahwa ia juga ikut berkorban. overambisius. belum berorientasi pada lingkungan organisasi. mungkar. kesenjangan antara Top-Manager dengan Low-Manager. “selesaikan tugas dengan kejujuran. misalnya yang mempunyai sifat inferior.langkah yang terlihat tidak demokratis. ketidaktaatan terhadap system serta ketidakpedulian terhadap lingkungan. harus kita akui bahwa masih terdapat sederet kelemahan pola kepemimpin Polri yang berkembang saat ini. 6. kecenderungan „menjilat‟ pada atasan untuk kepentingan pribadinya dan ketidaktulus-ikhlasan akan berdampak pada penyimpanganpenyimpangan tingkah laku atau gejala psikologis. pemimpin yang „abnormal’. justru pimpinan itu sendiri terlibat kasus KKN dan memberikan contoh yang buruk bagi para anggotanya. Analisa Permasalahan Penulis berpendapat bahwa Kepemimpinan Visioner layak menjadi ‘role model’ dari tipe kepemimpinan yang selama ini berlaku dalam institusi Polri tercinta dengan mengedepankan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : a. Bila kita mampu jujur. bergaya hidup mewah. pemimpin visioner harus berani memaksa rakyatnya melalui pengorbanan yang temporal demi mencapai hasil yang lebih baik.

Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa) Mengandung arti bahwa seorang pemimpin visioner. Sila ke-4 dari Pancasila berbunyi. Dengan memberikan contoh yang baik. dimana dalam kepemimpinan dan perjuangan ketiga Pahlawan Nasional ini. Adalah tugas pemimpin untuk meyakinkan. seorang Kapolres yang bersedia mengorbankan sebagian atau seluruhnya „jatah dari lalu-lintas’. karena kadang sangat memungkinkan rakyat tidak mengerti kenapa perubahan itu baik. hal. Kapolres yang memiliki jiwa kepemimpinan visioner. untuk kemudian disalurkan menjadi program-program pelayanan prima yang mengedepankan kepentingan masyarakat luas. ia dan keluarganya tidak berniat untuk menikmati fasilitas yang diberikan Negara kepadanya sebagai seorang Kapolri. Bila sang pemimpin memiliki hikmat kebijaksanaan. tidak hanya meminta pengorbanan dari para anggota dibawahnya untuk „mengencangkan ikat pinggang‟. Dalam hal ini. bahkan hingga memaksakan rakyat bahwa perubahan itu harus dilaksanakan.Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam” 7. Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Alhasil. Namun perlu diingat bahwa perubahan seringkali tidak disukai meski perubahan itu bertujuan baik. seperti : SIM Corner.” Sila ini jelas mengatakan bahwa kerakyatan harus dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Samsat Drive-through dan berbagai pelayanan gratis lainnya. ia harus berani memaksakan kehendaknya sebisa mungkin meskipun hal ini beresiko dengan jatuhnya sang pemimpin dari tampuk kepemimpinan. hingga di penghujung karirnya. b. mereka berkali-kali dikhianati oleh mereka yang diperjuangkan. 7 . cit. Hoegeng tetapi hidup sebagai simbol bagi kejujuran hidup. op. Contoh lain. pemimpin visioner mampu memotivasi pengikutnya untuk ikut berkorban demi kebaikan yang lebih tinggi. 95. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. sehingga pemimpin 7 Abrar Yusra dan Ramadhan KH. namun Kapolres tersebut juga menjadi teladan dengan ikut merelakan penghasilan yang biasa diperolehnya demi kebersamaan dan ketauladanan. Pemimpin visioner dapat mempelajari tren ini dari beberapa Pahlawan Nasional Indonesia seperti Soekarno. Pemimpin memiliki akar kata dari pimpin.. tidaklah harus memiliki suatu jabatan kepemimpinan. Walau telah tiada. Mungkin bentuk pemaksaan oleh pemimpin terhadap rakyat terkesan tidak demokratis.

Namun. mereka bisa mendapat simpati rakyat dan membawa mereka ke tujuan yang ada di dalam visi. waktu dan pikiran dalam mendukung operasionalisasi suatu Polres. Kehidupan Pahlawan Nasional kembali memberikan teladan yang baik untuk tidak „gila jabatan’. Indonesia tidak akan menjadi negara 8 . ia akan tetap bersemangat dalam bekerja dan berkarya sehingga dapat memberikan semangat bagi rekan-rekan di lingkungan kerjanya. Seringkali justru ketika seseorang tidak memiliki jabatan atau validitas sebagai pemimpin. Dengan tidak gila jabatan dan berada di tengah rakyat justru kedua pahlawan menunjukan kepemimpinannya. Karena justru dengan berada di tengah-tengah rakyat. setiap anggota Polri tidak selalu mendapat kesempatan untuk menjadi pimpinan sesuai yang diharapkan. dengan berpegang pada prinsip diri pribadi sebagai seorang pemimpin yang visioner. mereka yang membawa seseorang ke tujuan. tanpa menjadi ketua sekalipun. Memiliki jabatan tidaklah buruk. andaikan mereka berjuang hanya karena mereka gila jabatan atau kekuasaan. daripada memperjuangkan hak-hak untuk menyejahterakan rakyat. Pangeran Diponegoro menolak keinginan ayahnya (Sri Sultan Hamengku Buwono III) untuk mengangkatnya menjadi raja. mereka jadi lebih leluasa untuk memimpin.adalah mereka yang memimpin. Sebagai contoh : Anggota Staf yang dengan gigih bekerja siang malam mencurahkan tenaga. andaikan mereka hanya berpikiran sempit. walaupun pada akhirnya dia tidak mendapat kesempatan menjadi Kapolres di tempat tersebut. Sesungguhnya. sebagai insan Bhayangkara yang berjiwa kepemimpinan visioner. Dalam implementasinya di kedinasan. Pahlawan lain yang patut diteladani adalah Si Singamangaraja XII yang tidak mau berkompromi dengan penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. sebenarnya dia lah yang memimpin anggota organisasi tersebut ke tujuan yang ada di dalam visinya. karena ingin lebih dekat dengan rakyatnya. Justru hal ini lah yang membuatnya lebih bebas untuk berbaur dengan rakyatnya dan pada akhirnya mendukung perjuangannya melawan Belanda. Andaikan mereka bukan pemimpin visioner. walaupun dalam posisi bukan sebagai seorang pemimpin. namun dengan prakarsa dan pengorbanan yang dia curahkan untuk kepentingan organisasi tersebut. namun sangat disayangkan banyak pemimpin di Indonesia sekarang ini lebih mengejar jabatan karena keuntungan pribadi yang ia dapatkan dari jabatannya. Inilah alasan utama kenapa para pejuang kemerdekaan dari kaum bangsawan tidak menggunakan gelar kebangsawanan di depan nama mereka. hal seperti ini lah yang dilakukan oleh banyak tokoh nasionalis dalam memerdekakan Indonesia.

9 . sehingga tampak jelas bahwa seorang guru memberikan visi kepada muridnya. walaupun sejatinya Kapolres tersebut tetaplah memimpin acara itu menuju kesuksesan acara. Pada umumnya dibentuk panitia penyelenggaraan acara.kesatuan seperti ini. dan bukan tidak mungkin Indonesia akan terpecah menjadi banyak negara-negara kecil. dimana justru Kapolres tidak ikut di dalamnya. Bahkan karena itulah mereka disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. karena dialah yang memilih dan memberikan motivasi kepada ketua panitia. kita tidak perlu pengakuan orang lain bahwa kita adalah pemimpin. Seperti yang dijelaskan di atas. Hal yang sama juga berlaku di dunia bisnis dimana direktur menyerahkan kepemimpinan kepada CEO. Pemimpin visioner harus mengerti bahwa ada kalanya tidak memimpin sama sekali justru merupakan tindakan memimpin. Banyak sekali pemimpin yang juga pahlawan nasional yang tidak memiliki gelar Pahlawan Nasional. adalah guru untuk para bawahannya. memberikan nasihat dan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari dengan ikhlas. mengarahkan ke jalan yang benar dan menggali citacita muridnya. Bila semua pemimpin mempedulikan bawahannya. mewariskan ilmu. Kapolres telah memberikan kedewasaan dan keleluasaan kepada ketua panitia. semisal agenda kegiatan tahunan menyambut acara peringatan HUT Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. (Di belakang memberikan dorongan) Hal ini juga merupakan esensi penting dari seorang pemimpin visioner. Seorang pimpinan kesatuan yang mengarahkan para anggotanya menuju visi yang telah disepakati. tidak menghalang-halangi generasi mudanya untuk mendapat ilmu yang seharusnya mereka peroleh. c. Tut wuri handayani. memimpin sebenarnya berarti membawa ke tujuan. Namun aplikasi semboyan tut wuri handayani dalam konsep kepemimpinan masih jauh lebih dalam dari sekedar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi ketua. Penafsiran yang sedalam-dalamnya akan tut wuri handayani kedalam arti kepemimpinan ialah bahwa untuk menjadi pemimpin. maka niscaya Polri akan menjadi institusi tauladan dan pada gilirannya akan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Seorang guru mendidik. seperti halnya seorang Guru. Satu contoh yang akan mempermudah pemahaman konsep ini ialah pendelegasian tugas dari seorang Kapolres kepada Staf yang ditunjuk untuk menyelenggarakan kepanitiaan suatu kegiatan yang dilaksanakan di Polres tersebut. Dengan demikian.

sehingga dapat dimengerti. aspirasi anggota dan perkembangan lingkungan strategis di wilayahnya. sehingga lebih fokus dan terukur pencapaiannya. Melaksanakan evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalannya. Menentukan visi organisasi berdasarkan pengamatan tantangan tugas. Menjabarkan visi organisasi tersebut ke dalam misi organisasi yangbersifat fleksibel (tidak kaku/rigid) dan sederhana. kemudian mensosialisasikan visi tersebut secara detail kepada seluruh anggota. triwulan dan bulanan. karakteristik wilayah. sehingga mudah dilaksanakan dalam mencapai tujuan. Strategi tersebut harus bersifat komprehensif mencakup strategi jangka panjang. Tipe Kepemimpinan Visioner memiliki hubungan yang erat dengan penjabaran kristalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Etika Profesi Polri. yang merupakan suatu norma atau serangkaian aturan yang ditetapkan untuk membimbing petugas dalam menentukan. pada saat organisasi menghadapi permasalahan kritis. Oleh karena itu dalam implementasinya. sehingga mereka dapat mengambil sikap yang tepat dalam setiap tindakannya. Implementasi Kepemimpinan Visioner Guna Mencapai Etika Profesi Polri Dalam Rangka Mewujudkan Kepercayaan Masyarakat. 10 . c. apakah tingkah laku pribadinya benar atau salah. maka pemahaman dasar Etika Kepolisian. kepemimpinan visioner dalam diri setiap pemimpin Polri harus mampu melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut : a. Dengan melaksanakan kepemimpinan visioner. b. h. dipahami dan diamalkan. Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat. sebagai penentuan feedback berikutnya.7. dan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan sesuai dengan visi yang telah dirumuskan. d. Menentukan program yang dijabarkan ke dalam rencana kerja tahunan. Meneguhkan komitmen yang kuat dalam menjalankan roda organisasi. Dimana sikap kepemimpinan dan etika tersebut berpangkal dari integritas yang mendalam dalam sanubari dan hati nuraninya. Itulah dasar dari moralitas Etika Profesi Polri yang hakiki. f. sedang dan pendek. sebagai pedoman perilaku ideal yang kokoh dari polisi dalam melaksanakan pengabdiannya maka akan membuat mereka teguh dalam pendiriannya. g. Memiliki etika kepemimpinan (yang terkandung dalam Etika Profesi Polri). Menentukan strategi yang tepat untuk diterapkan guna pencapaian visi. e.

PT. Pemimpin visioner tidak gila jabatan atau kekuasaan karena ia tau bahwa tanpa jabatan pun ia dapat memimpin. maupun masyarakat luas. pemimpin yang berani dan rela berkorban karena ia memiliki visi yang baik untuk rakyat. Namun. akan dapat memperkuat hati nuraninya.8 Demikian halnya.BAB III PENUTUP 1. hal. artinya kita tidak dapat memakai satu tipe kepemimpinan terhadap semua situasi tertentu. 56. sehingga mereka sungguh-sungguh merasakan bahwa hidupnya. Prenhallindo. sehingga didalam pengambilan keputusan ataupun melahirkan suatu kebijakan. Pemimpin visioner bahkan tetap dapat memimpin Organisasi Polri bergerak kemana. Sejatinya. Kepemimpian Visioner yang diterapkan dengan sungguh-sungguh akan menumbuhkan Etika Kepolisian dalam diri setiap insan Bhayangkara. Polri jelas membutuhkan lebih banyak pemimpin-pemimpin visioner. yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis di era modern dewasa ini adalah tipe kepemimpinan visioner. Jakarta. khususnya pada para pemegang tongkat komando / pimpinan polri. Kesimpulan Meleburkan gagasan Ki Hajar Dewantara ke dalam konsep kepemimpinan akan menghasilkan konsep kepemimpinan visioner yang ideal. dengan sosok Pemimpin Visioner adalah seorang pemimpin yang memiliki kejelasan visi. Tahun 2001. berangkat dari situasi dan kondisi kritis yang berkembang saat ini. “Kepemimpinan Visioner”. karenanya dia dihargai. 11 . pengabdiannya. dapat diterima baik oleh organisasi yang dipimpinnya secara internal. sebab Kepemimpinan Visioner (Visionary Leadership) merupakan syarat mutlak bagi organisasi yang ingin berkembang sampai puluhan tahun ke depan. tipe kepemimpin bersifat situasional. Pemimpin visioner mungkin tidak selalu demokratik. karena kadang visi yang dimilikinya tidak dapat dicerna oleh mereka yang ia pimpin. Tipe kepemimpinan sangat penting diketahui bagi setiap orang yang mendapat kesempatan untuk memimpin suatu organisasi. dan di Polda X pada khususnya. 8 Nanus Burt. Penulis beranggapan bahwa tipe kepemimpinan yang tepat diterapkan pada organisasi Polri pada umumnya. pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya adalah berguna. bermanfaat bagi masyarakat. meskipun dia tidak dianggap sebagai pemimpin oleh khalayak ramai. kemampuan manajerial dan intelektual yang mumpuni.

12 . harus dapat terinternalisasi dalam diri setiap insan Bhayangkari sehingga tercapai kondisi yang diharapkan. bahkan ditempatkan secara terhormat didalam masyarakatnya. Implementasi Tipe Kepemimpinan Visioner sebagaimana tersebut pada Bab II Pembahasan. misi. Perlu kiranya diterapkan Tipe Kepemimpinan Visioner yang berakar dari Pancasila dan kearifan lokal bangsa Indonesia. sehingga tidak terkesan menjiplak gaya-gaya kepemimpinan yang berasal dari Negara asing. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan saat ini. serta perlu dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalannya. aspirasi anggota dan perekembangan lingkungan strategis di wilayahnya. Penulis memberikan solusi (Problem Solving) berupa rekomendasi untuk dapat menjawab permasalahan mengenai kepemimpinan yang dihadapi oleh institusi Polri. program organisasi Polri bagi setiap pimpinan kesatuan terhadap organisasi yang diawakinya berdasarkan pengamatan tantangan tugas. maka Penulis mengambil kesimpulan dari persoalan-persoralan tersebut diatas. pada saat organisasi menghadapi permasalahan kritis. yaitu : a. Penulis memberikan rekomendasi berupa kepada setiap Pimpinan untuk melakukan upaya sebagai berikut : a. dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi kepemimpinan Polri saat ini masih terdapat beberapa kelemahan yang mendasar sehingga memunculkan berbagai permasalahan yang bermuara pada distrust masyarakat terhadap institusi Polri. karakteristik wilayah. b. c. d. b. melalui pendidikan dan pelatihan. Dalam menghadapi permasalahan dan persoalan yang dihadapi.diterima. Berdasarkan uraian pembahasan dari permasalahan naskah ini. Sehingga dapat mengangkat martabat kepolisian didalam masyarakat jika dilaksanakan dengan baik yang pada gilirannya akan mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri tercinta. strategi. Saran dan Rekomendasi Dalam menerapkan Tipe Kepemimpinan Visioner. Dari seluruh esensi penulisan naskah ini. c. 2. Perlu penanaman komitmen dan etika kepemimpinan yang terkandung dalam Etika Profesi guna pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Perlu pencanangan visi. maka tipe Kepemimpinan Visioner yang berlandaskan pada Etika Profesi Polri adalah TIPE kepemimpinan yang terbaik untuk diterapkan oleh institusi Polri. sebagai penentuan feed-back berikutnya.