P. 1
Modul 13 Harga Obligasi

Modul 13 Harga Obligasi

|Views: 755|Likes:
Published by 'Junius Libra Purba

More info:

Published by: 'Junius Libra Purba on Aug 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2015

pdf

text

original

Pasar Modal

PENENTUAN HARGA OBLIGASI

Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa memahami karakteristik dan jenis-jenis obligasi. 2. Mahasiswa memahami arti penting peringkat obligasi dan klasifikasinya. 3. Mahasiswa memahami perdagangan obligasi, biaya transaksi dan pajak. 4. Mahasiswa mampu menentukan harga obligasi.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

139

Pasar Modal

Karakteristik dan Jenis Obligasi Obligasi merupakan Efek bersifat hutang adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Emiten dalam bentuk pinjaman jangka panjang dalam rangka membiayai kegiatan usaha Perusahaan antara lain untuk investasi, perluasan usaha dan modal kerja Perusahaan. Obligasi adalah sertifikat yang berisi kontrak antara investor dan perusahaan, yang menyatakan bahwa investor tersebut/pemegang obligasi telah meminjamkan sejumlah uang kepada perusahaan. Perusahaan yang menerbitkan obligasi mempunyai kewajiban untuk membayar bunga secara reguler sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan serta pokok pinjaman pada saat jatuh tempo. Investasi dalam bentuk Obligasi memiliki sifat yang cenderung stabil, mengingat tingkat pengembaliannya dalam bentuk penghasilan bunga yang dibayarkan secara tetap paling tidak satu kali dalam setahun, tergantung bentuk perjanjian penerbitannya. Richard A Brealey dan Stewart C Myers dalam bukunya Principles of Corporate Finance menyatakan bahwa : ”When you own a bond, you receive a fixed set of cash payoffs. Each year until the bond matures, you get an interest payment and then at maturity you also get back the face value of the bond”. Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan adalah Corporate Bond, sementara obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah disebut Government Bond. Adapula Municipal Bond, yang merupakan obligasi yang diterbitkan pemerintah daerah untuk membiayai proyek tertentu di daerah. Obligasi Konversi adalah obligasi yang dapat ditukarkan dengan saham biasa pada harga tertentu. Bagi emiten, obligasi konversi merupakan daya tarik yang ditujukan kepada para investor untuk meningkatkan penjualan obligasi. Peringkat Obligasi Obligasi hingga saat ini masih menjadi alternatif pembiayaan oleh Emiten ketika mengalami kesulitan dalam mengatasi krisis ekonomi yang berdampak pada kinerja Perusahaan secara keseluruhan. Emiten penerbit obligasi telah melalui persyaratan yang cukup ketat sebelum pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran obligasi dinyatakan efektif, dengan adanya kewajiban pemeringkatan kinerja Perusahaan oleh Institusi Pemeringkat yang mendapat izin dari Menteri Keuangan. Unsur-unsur yang dinilai dapat dilihat dari rasio likuiditas, leverage, solvabilitas dan

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

140

Pasar Modal

profitabilitas Perusahaan, sebelum menentukan apakah obligasi yang diterbitkannya memiliki rating tertentu. Jika dibandingkan dengan investasi di saham, investor dapat memanfaatkan jasa pemeringkat efek dalam berinvestasi di obligasi, karena semua obligasi yang ada di pasar harus diberi peringkat. Risiko kredit (credit risks) atau risiko gagal bayar adalah risiko kerugian yang mungkin terjadi yang disebabkan oleh lemahnya kemampuan emiten dalam membayar bunga dan pokok pinjaman obligasi. Oleh karena itu pemeringkat efek mempunyai peranan yang sangat besar dalam memberikan analisa fundamental untuk setiap Obligasi yang diterbitkan. Intinya pemeringkatan efek menekankan pada penilaian kemampuan emiten dalam memenuhi semua kewajibannya. Sebelum melakukan investasi pada obligasi, disarankan bagi para investor untuk memperhatikan peringkat obligasi, yaitu metode penilaian akan kemungkinan gagal bayar pada obligasi. Saat ini terdapat 2 perusahaan pemeringkat efek, yaitu, PT. PEFINDO, and PT. Kasnic Duff & Phelps Credit Rating Indonesia, yang kegiatan usahanya adalah menganalisa kekuatan posisi keuangan dari perusahaan penerbit obligasi. Peringkat yang ditetapkan berkisar dari AAA (sangat istimewa atau superior) sampai D (gagal bayar). Di bawah ini adalah contoh peringkat yang dikeluarkan oleh PEFINDO

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

141

Pasar Modal

Di Amerika Serikat, peringkat diberikan oleh dua Institusi dengan pemeringkat yang sedikit berbeda sebagai berikut :

Perdagangan, Biaya Transaksi dan Pajak Perdagangan Di Indonesia, BES menyediakan sistem perdagangan untuk obligasi dan juga efek berpendapatan tetap lainnya yang disebut OTC-FIS. Sistem ini memberikan informasi tentang kuotasi penawaran dan permintaan, informasi tentang transaksi dan pelaporan perdagangan secara langsung (real time). Sistem ini memungkinkan para partisipan untuk memasukkan, membatalkan dan merubah kuotasi beli maupun kuotasi jual kapanpun selama belum terjadi eksekusi transaksi. Terdapat dua jenis transaksi perdagangan Obligasi di Bursa Efek Surabaya (BES), yaitu: Transaksi Negosiasi dan Transaksi Pelaporan. Dalam Transaksi Negosiasi, Partisipan atau para pelaku pasar di Pasar Obligasi, mengajukan satu kuotasi beli/jual ke dalam sistem OTC-FIS. Kemudian, Partisipan lain yang tertarik dengan kuotasi tersebut, dapat memasukkan order beli/jual ke dalam sistem. Partisipan calon pembeli serta partisipan calon penjual kemudian dapat melakukan negosiasi. Apabila telah tercapai kesepakatan, partisipan tersebut memberikan konfirmasi melalui sistem selambatlambatnya pada akhir hari bursa yang bersangkutan. Transaksi Pelaporan, adalah transaksi di luar system yang telah terjadi atau dilakukan pihak-pihak yang berkepentingan. Transaksi ini kemudian dilaporkan ke dalam sistem OTC-FIS. Partisipan di sini adalah Perusahaan Efek, baik anggota BES, maupun non anggota BES, dan beberapa bank yang aktif dalam perdagangan Obligasi.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

142

Pasar Modal

Biaya-Biaya Transaksi Pada umumnya, tidak ada biaya yang dibebankan pada investor yang terlibat dalam transaksi Obligasi. Perusahaan Efek yang bertindak sebagai dealer hanya mengambil “spread” dari harga jual dan harga beli yang terjadi dengan memperhitungkan biaya pelaporan transaksi obligasi yang ditetapkan oleh Bursa Efek Surabaya bagi para partisipan yang berkisar dari 0,005% - 0,01%. Pajak Untuk Obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan ke Bursa, Bunga dan Capital Gain dikenakan Pajak Penghasilan final sebesar 20%. Sebaliknya, untuk Obligasi yang tidak diperdagangkan atau dilaporkan ke Bursa, Bunga dan Capital Gain dikenakan Pajak (Withholding Tax) tidak final sebesar 15% dan pada akhir tahun akan dikreditkan dan dikenakan pajak pendapatan sebesar maksimum 30%.
Penilaian Harga Obligasi Obligasi berbeda dengan saham. Jika saham merupakan efek atas nama (karenanya emiten saham wajib memiliki Daftar Pemegang Saham), obligasi merupakan efek atas unjuk (kepentingan investor diwakili oleh Wali Amanat). Obligasi memiliki nilai pari besar (berdenominasi besar), sedangkan saham memiliki nilai pari kecil (berdenominasi kecil). Obligasi dikelompokkan dalam fixed income securities, yakni instrumen investasi yang menjanjikan pendapatan tetap selama umur obligasi. Sebaliknya, saham merupakan residual claim. Seperti halnya penilaian instrumen investasi lainnya, penilaian obligasi terdiri atas dua variabel, yakni required rate of return (RROR) pada kelas risikonya dan arus kas dari pendapatan kupon selama umur obligasi. Sampai dengan jatuh tempo obligasi, RROR sebagai penyebut dapat naik atau turun, sedangkan pembilangnya, yakni pendapatan kupon tetap. Karena itu, naik atau turunnya harga obligasi sampai jatuh temponya hanya dipengaruhi RROR. Karena RROR merupakan fungsi dari benchmark interest rate dan kelas risiko obligasi (rating), sedangkan pada perekonomian yang "normal" benchmark interest rate dan peringkat cenderung tetap, harga obligasi cenderung sulit berubah. Tidak berubahnya harga obligasi yang disebabkan tidak adanya perdagangan karena para investor memiliki valuation yang sama. Lebih jauh lagi, investor obligasi pasti memiliki investment horizon jangka panjang. Hal inilah yang mendasari asumsi-asumsi perhitungan yield to maturity (YTM). Jika investor menjual obligasi sebelum obligasi jatuh
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

143

Pasar Modal

tempo, YTM tak akan tercapai. Hal ini menjelaskan kenapa pasar sekunder obligasi tidak akan seaktif pasar sekunder saham. Nilai suatu obligasi bergerak berlawanan arah dengan perubahan suku bunga secara umum. Jika suku bunga secara umum cenderung turun, maka nilai atau harga obligasi akan meningkat, karena para investor cenderung untuk berinvestasi pada obligasi. Sementara itu, jika suku bunga secara umum cenderung meningkat, maka nilai atau harga obligasi akan turun, karena para investor cenderung untuk menanamkan uangnya di Bank. Untuk menentukan nilai sekuritas utang biasanya diperlukan tiga proses yang terpisah. • Utang Dengan Tingkat Bunga Berubah (Variable Rate Debt) Perusahaan mungkin menanda tangani wesel bayar atau meminjam uang dengan membayar bunga yang beubah-ubah sesuai dengan nilai indeks tertentu. Didalam menentukan besarnya bunga pinjaman, biasanya bank menggunakan prime rate. LIBOR atau the London Interbank Offered Rate adalah indikator lain yang digunakan didalam menentukan bunga uang dalam pembiayaan internasional. Baik untuk pinjaman yang berasal dari dalam negeri, maupun dari luar negeri, perusahaan harus membayar bunga dengan prime rate dan LIBOR yang naik turun, atau indikator lain tingkat bunga umum. Besarnya nilai utang yang dipinjam dari bank dengan mudah dapat ditentukan. Sebab, besarnya adalah sama dengan pokok pinjaman. Jadi tidak perlu kalkulasi khusus. Jika perusahaan punya utang, misalnya Rp 10 miliar dan akan membayar bunga sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku, nilai pasar utang tetap sebesar Rp10 miliar. • Sekuritas Berbunga Tetap Dan Jangka Waktu Tertentu Meskipun tingkat bunga utang atau saham preferen tetap, namun mungkin saja nilai pasarnya naik turun atau berfluktuasi. Apabila t jatuh tempo sekuritas sudah pasti pda tanggal tertentu, nilai sekarang sekuritas harus mempertimbangkan semua pendapatan bunga yang akan datang atau dividend ditambah dengan pengembalian pokok. Sebagai ilustrasi proses penilaian, katakanlah emiten telah menjual Obligasi-10Tahun sebesar Rp50 juta dengan tingkat bunga atau kupon 14% per tahun. Obligasi dijual dalam kelipatan Rp10.000,-, dan pembayaran bunga dilakukan tiap setengah tahun atau dua kali setahun. Satu tahun setelah emisi obligasi, tingkat bunga di pasar turun menjadi 10% per tahun. Akibatnya, jika pemilik menjual obligasinya sekarang di pasar sekunder nilainya sudah berubah. Calon investor akan membeli obligasi dengan yield 10 % selama sembilan tahun kedepan. Berhubung tingkat bunga fixed 14 %, nilai obligasi akan naik, sehingga lebih tinggi dari harga Rp10.000 saat emisi. Berapakah nilai obligasi sesungguhnya ?
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

144

Pasar Modal

Jika dalam akte penjualan obligasi ditetapkan pembayaran bunga 14% per tahun, dan akan dibayarkan tiap tengah tahunan dengan bunga berbunga (compounded), maka si empunya obligasi akan menerima Rp700 setiap 6 bulan.

Setelah satu tahun, obligasi menwarkan 18 kali pembayaran bunga tengah tahunan @ Rp700 ditambah pokok Rp10.000 saat jatuh tempo. Jadi terdapat arus kas bunga tengah tahunan Rp700 dan pembayaran pokok Rp10.000 pada tanggal jatuh tempo. Nilai sekarang arus kas sama dengan nilai intrinsik yang besarnya Rp12.423,69 yang perhitungannya seperti berikut:

Seorang investor yang mengevaluasi pembelian obligasi satu tahun setelah emisi, dan pada saat itu tingkat bunga pasar 10%, akan bersedia membeli obligasi seharga Rp12.423,69. Sebab jika si investor membeli obligasi yang umurnya tinggal 9 bulan tesebut, dan ditahan hingga jatuh tempo, si investor akan mendapat tingkat pengemblaian 10%, dengan ketentuan bahwa besar bunga yang diterima adalah bunga berbunga. Oleh karena tingkat pengembalian obligasi bagi investor harus sama dengan kesempatan investasi lain (yakni, obligasi berisiko sama adalah berbunga 10%), berarti nilai Rp 12.423,69 adalah sama dengan nilai intrinsik atau nilai ril obligasi.

Batas Toleransi (Standar Deviasi) Penentuan Nilai Pasar Wajar Obligasi Perusahaan Pada tanggal 9 Juni 2005 yang lalu Bapepam telah mengeluarkan sebuah Surat Edaran tentang Batas Toleransi (Standar Deviasi) Penentuan Nilai Pasar Wajar ObligasiPerusahaan.
Surat Edaran Nomor SE-02/PM/2005 tanggal 9 Juni 2005 yang ditujukan kepada Perusahaan Efek dan Bank Kustodian tersebut dikeluarkan dalam

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

145

Pasar Modal

rangka memberi kepastian hukum kepada para pelaku pasar dan perlindungan kepada investor Reksa Dana. Adapun isi surat Edaran dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Peraturan IV.C.2 tentang Nilai Pasar Wajar Dari Efek Dalam Portofolio Reksa Dana, angka 2 huruf c menyatakan “Penentuan Nilai Pasar Wajar dari Efek yang diperdagangkan diluar Bursa Efek (over the counter) menggunakan harga referensi, sebagai berikut : a. Surat Utang Negara menggunakan informasi harga yang dikeluarkan oleh Penyelenggara Perdagangan Surat Utang Negara di luar Bursa Efek; b. Obligasi perusahaan menggunakan informasi harga yang tersedia dalam sistem yang ditetapkan oleh Bapepam sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bapepam Nomor X.D.1 tentang Laporan Reksa Dana”. 2. Penggunaan harga referensi sebagai acuan penghitungan Nilai Pasar Wajar dari Efek yang diperdagangkan diluar Bursa Efek (over the counter) dengan batas toleransi yang dihitung berdasarkan peringkat dan sisa jangka waktu jatuh tempo masing masing sebagai Berikut :

3. Prosedur yang digunakan dalam menentukan batas toleransi adalah sebagai berikut a. Menghitung Standar Deviasi dari kuotasi Bid dan Ask Price yang telah disampaikan oleh para Manajer Investasi ke dalam sistem e-monitoring; b. Mengelompokkan Standar Deviasi dari masing-masing Obligasi Perusahaan berdasarkan peringkat dan jangka waktu jatuh tempo; c. Mencari distribusi normal dari masing-masing kelompok Standar Deviasi tersebut di atas; d. Menghitung rata-rata Standar Deviasi yang termasuk dalam distribusi normal (inlayer); e. Perhitungan huruf d menghasilkan angka yang digunakan sebagai batas toleransi. 4. Batas toleransi berdasarkan peringkat dan sisa jangka waktu jatuh tempo sebagaimana dimaksud dalam angka 2 di atas wajib digunakan oleh Manajer Investasi sebagai pengelola Reksa Dana

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

146

Pasar Modal

5.

6.

7. 8.

dalam menentukan Nilai Pasar Wajar Obligasi Perusahaan sebagai dasar perhitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, seluruh Perusahaan Efek wajib menyampaikan kuotasi harga penawaran jual dan penawaran beli atas Obligasi Perusahaan yang terdapat dalam portofolionya kepada Bapepam secara elektronik dengan menggunakan sistem yang ditetapkan oleh Bapepam (sistem e-monitoring Reksa Dana). Seluruh Perusahaan Efek yang mempunyai Obligasi Perusahaan dalam portofolio, akan diwajibkan untuk mengikuti ketentuan ini dalam menentukan Nilai Pasar Wajar dalam rangka menghitung Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD). Batas toleransi ini akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan pasar dan makro ekonomi. Batas toleransi penentuan Nilai Pasar Wajar untuk Obligasi Pemerintah (SUN) akan ditentukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

147

Pasar Modal

Artikel : Penentuan Harga Referensi
Reslian Pardede
Seorang investor pernah menanyakan apakah harga obligasi dalam portofolio reksa dana yang saya kelola telah sesuai dengan harga referensi? Ia ingin memastikan hal itu karena yakin bahwa harga referensi pasti mencerminkan harga pasar. Benarkah demikian? Harga referensi adalah produk dari Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No IV.C.2 (selanjutnya disebut peraturan) mengenai penerapan metode penilaian berdasarkan harga pasar (marked-tomarket) untuk reksa dana. Peraturan tersebut bertujuan agar harga efek (surat berharga) dalam portofolio reksa dana yang tercermin dalam nilai aktiva bersih (NAB) telah mencerminkan nilai pasar wajar (NPW). Untuk efek yang perdagangannya tidak melalui bursa (over the counter) seperti obligasi, peraturan ini mengaturnya melalui penetapan harga referensi. Harga referensi inilah, dengan standar deviasi tertentu, yang selanjutnya menjadi referensi bagi manajer investasi dan bank kustodian untuk menghitung NAB. Dengan demikian, keberhasilan peraturan terletak pada keberhasilan harga referensi dalam mencerminkan NPW. Untuk itu, setidaknya ada dua elemen penting yang harus dijawab dan termuat oleh peraturan ini, yaitu definisi dari NPW dan metodologi untuk menghasilkan NPW tersebut. Definisi NPW Peraturan mendefinisikan NPW sebagai nilai yang dapat diperoleh dari transaksi efek yang dilakukan antarpara pihak yang bebas, bukan karena paksaan atau likuidasi. Kata kunci dalam definisi ini adalah transaksi dan bebas. Kata transaksi mencerminkan NPW seharusnya tercipta di pasar sebagai tempat terjadinya transaksi. Pengertian pasar di sini dilihat dari fungsinya, bukan wujud fisiknya. Dengan begitu, harga yang terjadi di pasar (harga pasar) menjadi acuan dari NPW. Apakah harga pasar selalu menjadi NPW? Tergantung kondisi pasar. Hanya jika transaksi terjadi dalam keadaan bebas, bukan karena paksaan atau likuidasi, harga pasar mencerminkan NPW. Di sini kata kunci kedua, yaitu bebas, menjadi relevan. Dengan demikian, harga yang terjadi melalui transaksi di pasar yang sedang dalam keadaan tertekan, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan pasar obligasi, bukanlah NPW. Itu mungkin harga pasar tetapi bukan NPW. Idealnya, harga pasar mencerminkan NPW. Tetapi ini mungkin hanya terjadi dalam pasar yang efisien di mana informasi tersebar secara merata dan diterima secara setara oleh setiap pelaku pasar (sesuai definisi efficient market hypothesis). Dalam pasar yang tidak efisien sekalipun, harga pasar setidaknya masih bisa digunakan sebagai indikator NPW. Masalah metodologi Mengapa harus susah payah membahas definisi NPW? Oleh karena, definisi NPW yang jelas akan membuat kita lebih mudah dalam

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

148

Pasar Modal

menyusun metodologi yang tepat agar harga referensi mencerminkan NPW. Coba kita lihat metodologi penetapan harga referensi untuk obligasi korporasi yang ada saat ini. Setiap hari, melalui sistem dari KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) semua manajer investasi diminta untuk memberikan kuotasi harga beli dan jual untuk semua obligasi yang ada di portofolionya. Harga ini lalu diproses oleh KSEI sehingga menghasilkan harga referensi pada hari itu. Entah persisnya proses ini, tetapi yang pasti, untuk saat ini satu-satunya masukan bagi harga referensi adalah kuotasi harga dari manajer investasi. Menurut saya, ada dua masalah dalam metodologi seperti ini. Pertama soal kuotasi harga dari manajer investasi. Tujuan pemberian kuotasi harga oleh manajer investasi ini merupakan semacam ”self-assessment” di mana manajer investasi diharapkan memberikan kuotasi harga yang menurutnya ”pantas” untuk suatu obligasi. Namun, kuotasi harga yang tak disertai implikasi berupa kewajiban untuk mengeksekusi transaksi pada harga tersebut, tidak akan mencerminkan harga sesungguhnya. Bayangkan Anda disuruh memberikan kuotasi harga sebuah rumah. Kecil kemungkinan Anda memberikan yang riil, kecuali rumah tersebut adalah rumah Anda yang mau dijual atau Anda sedang serius memikirkan membeli rumah tersebut. Masalah selanjutnya dari kuotasi harga adalah keberadaan manajer investasi sebagai pihak yang terlibat langsung dalam industri reksa dana. Keterlibatan itu bisa membuat manajer investasi bias dalam penentuan harga referensi. Ada peluang untuk itu, dan by design, peraturan sendirilah yang memberikan peluang ini karena harga referensi bergantung pada masukan manajer investasi dan itu berarti bergantung pada itikad baik dari manajer investasi. Meletakkan keberhasilan sebuah peraturan semata-mata pada itikad baik dari pihak-pihak yang diaturnya, bisa menimbulkan masalah. Ketergantungan ini harusnya dikurangi. Ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, mengikutsertakan pelaku pasar lain yang aktif seperti broker atau bank untuk memberi masukan bagi pembentukan harga referensi. Kedua, sesuai definisi NPW yang seharusnya mencerminkan harga pasar, sangat wajar untuk memasukkan harga transaksi yang sudah terjadi di pasar (last traded priced) sebagai salah satu komponen penentuan harga referensi bersama masukan dari MI. Untuk mengurangi fluktuasi harga harian yang terlampau besar atau distorsi yang mungkin muncul, bisa digunakan metode moving-average price. Artinya, memperhitungkan harga rata-rata dari 5, 10 atau 15 hari. Persoalannya tentu kembali pada masalah teknis bagaimana mengambil catatan mengenai last traded priced mengingat obligasi tidak diperdagangkan melalui bursa. Ini memang masalah utama dari penerapan metode marked-to-market di pasar over-the-counter. Masalah yang timbul Penentuan harga referensi seperti yang dilakukan saat ini telah menyebabkan terjadinya ”inersia pembentukan harga”, artinya harga referensi cenderung bergerak lamban dibandingkan dengan pergerakan

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

149

Pasar Modal

harga pasar. Terjadi ”lag” yang cukup besar sebelum harga referensi mencerminkan harga pasar. Ketika terjadi kenaikan harga, harga referensi cenderung underpriced dan ketika terjadi penurunan harga, harga referensi cenderung overpriced. Bisa demikian? Pertama, soal praktik kuotasi harga dari manajer investasi yang harus sesuai harga referensi. Sebenarnya peraturan tidak mengatakan demikian, tetapi beberapa manajer investasi pernah dipanggil Bapepam karena kuotasi harganya tidak sesuai harga referensi. Ini memberikan sinyal pada manajer investasi bahwa kuotasi harga mereka harus sesuai dengan harga referensi. Padahal dalam mekanisme yang ada saat ini, koreksi terhadap harga referensi (kalau terjadi pergerakan harga pasar) hanya dimungkinkan melalui kuotasi harga. Tidak masuk akal jika kuotasi harga ini juga diharuskan mengikuti harga referensi. Lingkaran setan. Kedua, inersia terjadi karena adanya bias dari manajer investasi dalam memberikan kuotasi harga. Akibatnya, timbul capital gain atau loss yang tak berdasar. Sebagai contoh, manajer investasi membeli obligasi pada harga 95 persen (di pasar pada hari itu juga). Tetapi karena harga referensi mengatakan obligasi itu harus dinilai pada harga 100 persen, maka terjadi unrealized capital gain. Padahal capital gain ini sama sekali tidak berdasar karena kenyataannya jika dijual kembali ke pasar pada hari yang sama, harga obligasi tersebut adalah 95 persen. Harus diakui, menentukan NPW (harga referensi) memang tidak mudah, terutama untuk instrumen yang tidak diperdagangkan melalui bursa dan untuk pasar yang masih berkembang. Penentuan harga referensi merupakan suatu kebijakan yang masih bisa didiskusikan. Reslian Pardede Manajer Investasi PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

150

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->