P. 1
Kasus 1 baru

Kasus 1 baru

|Views: 38|Likes:
Published by Kadek Mardika

More info:

Published by: Kadek Mardika on Aug 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2012

pdf

text

original

Kasus 1 Seorang perempuan umur 20 tahun datang ke pelayanan kesehatan mengeluh keluar flek-flek dari kemaluan dan

sedikit nyeri pada supra symphisis. Anamnesa menemukan telat haid 2 bulan yang lalu, tapi belum periksa, kemarin sempat terpeleset di kamar mandi dan jatuh terduduk. Pemeriksaan tanda vital dan antopometri dalam batas normal, PPT +. a. Kasus tersebut mengarah pada kasus perdarahan kehamilan muda yang dicurigai mengalami abortus iminens, dengan tanda gejala adanya amenorea, keluarnya flek-flek darah dari kemaluan dan nyeri pada daerah symmpisis serta PPT (+) b. Penyebab terjadi nya abortus antara lain : Faktor janin ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang atau terjadi malformasi pada tubuh janin, kelainan chromosomal, dan adanya kegagalan trofoblast untuk melakukan implantasi dengan adekuat. Faktor maternal • • • • • • • • -

Kelainan endokrin seperti kekurangan tiroid, kencing manis Kekebalan imun seperti penyakit lupus, dan APS (Anti Phospolipid Infeksi seperti cacar air, campak, TORCH Kelemahan otot leher rahim dan kelainan bentuk rahim Penyakit kronis seperti hipertensi kronis, ginjal kronis. Malnutrisi yang sangat berat Psikologis ibu, berhubungan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan Perilaku ibu yang tidak sehat seperti merokok, minum-minuman keras dan

Syndrome)

kesiapan mental ibu menerima kehamilan mengkonsumsi obat keras Faktor lingkungan, adanya toksin lingkungan seperti radiasi Faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya abortus yaitu terjadinya trauma / kecelakaan. Saat trauma akan membuat perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi. Uterus yang berkontraksi ini dapat menyebabkan lepasnya vili korialis yang telah menembus desidua basalis agak dalam pada umur kehamilan 8 - 14

kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Abortus komplet : seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus). seperti apabila kehamilan - - - dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu. Abortus inkomplet : hanya sebagia dari hasil konsepsi yang dikeluarkan. - Missed abortion : keadaan dimana janin sudah mati. • Abortus kriminalis : abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis. c. Abortus provokatus : abortus yang disengaja baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Komplikasi yang dialami adalah abortus iminen karena terdapat pengeluaran flek-flek dari kemaluan tanpa disertai dengan pengeluaran jaringan / hasil konsepsi serta nyeri pada supra sympisis akibat kontraksi yang timbul pada uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. sehingga rongga rahim kosong. • Abortus medisinalis : abortus berdasarkan indikasi medis. dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba. yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Selanjutnya akan diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. akibat perdarahan yang berlanjut sehingga mengalami banyak kehilangan darah Infeksi. Abortus habitualis : keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih. apabila personal hygiene tidak sehat sehingga memungkinkan bakteri untuk mengakibatkan terjadinya infeksi - - Jenis-jenis abortus lainnya : - Abortus insipiens : adalah abortus yang sedang berlangsung. tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dengan abortus iminen yaitu : - Apabila perdarahan berlanjut dapat menyebabkan terjadi abortus insipient ataupun inkomplit/komplit Anemia. Abortus infeksiosus : keguguran yang disertai dengan infeksi genital - - .minggu.

- Abortus septic : keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Penanganan kasus abortus iminens di BPM : Apabila pasien mengalami syok hipovolemik akibat perdarahan. Pemeriksaan dalam : mengetahui apakah ada pembukaan pada porsio. Pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnose antara lain : Palpasi TFU dengan jari Inspeksi anogenital : tampak adanya pengeluaran flek atau bercak darah Inspekulo : adanya pengeluaran darah yang bersumber dari dalam uterus. stabilisasi kondisi pasien dengan memasang infuse RL Melakukan informed consent untuk merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (RS) karena abortus merupakan kasus kegawatdaruratan. teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri. serta ada atau tidaknya jaringan keluar dari ostium. tidak nyeri saat porsio digoyang. khususnya jika ditemukan uterus yang lebih besar dari yang diharapkan. VT hanya dilakukan di RS pada kasus abortus. . kaum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri. mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola. d. ostium uteri terbuka atau sudah tertutup. VT tidak boleh dilakukan di BPM. tidak nyeri pada perabaan adneksa. e. memastikan kemungkinan adanya penyebab lain jika perdarahan berlanjut. Merujuk pasien dengan posisi trendelenderg Penanganan kasus abortus iminen di RS : Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk menilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG).

Peranan bidan sesuai dengan Permenkes 1464 dalam melakukan penatalaksanaan kasus abortus yaitu : - Melakukan stabilisasi kondisi pasien dengan memasang infuse RL Melakukan rujukan pasien dengan BAKSOKUDA karena merupakan kasus kegawatdaruratan 2. Koreksi yang berikan oleh pembimbing mata kuliah selaku fasilitator yaitu pemeriksaan adanya oedema dan varises tidak perlu dilakukan karena tidak focus untuk menentukan diagnose abortus . dilakukan pemeriksaan adanya oedema dan varises yaitu untuk mengetahui adanya tanda infeksi pada vulva dan juga untuk mengetahui sumber perdarahan apabila terdapat varises yang pecah. Pemeriksaan anogenital pada kasus abortus . Bagaimanakah peran bidan dalam melakukan penatalaksanaan pada abortus sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan? 2. Apakah hubungannnya pada pemeriksaan anogenital dilakukan pemeriksaan adanya oedema dan varises ? Hasil diskusi : 1.Pertanyaan yang muncul dalam diskusi antara lain : 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->