P. 1
Novel Jatisaba

Novel Jatisaba

|Views: 139|Likes:
Published by Novel Jatisaba
Novel Jatisaba Karya Ramayda Akmal
Novel Jatisaba Karya Ramayda Akmal

More info:

Published by: Novel Jatisaba on Aug 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

08/23/2012

75

BAB X Bambu-Bambu Mabuk Aku masih telanjang, ketika bayangan Musri yang meliuk-liuk di atas panggung menggangguku. Memang dia bukan dere atau perawan, tapi dia bisa dipaksa menjadi penari yang justru tidak diutamakan kecantikan atau kemolekan tubuhnya. Penaripenari seperti Musri dibutuhkan untuk ditertawakan. Penonton memperoleh kepuasan ketika telah berhasil mempermalukan Musri di depan umum. Mungkin seorang lelaki tua akan mengomentari perut Musri yang berkerut-kerut sehabis melahirkan. Yang lain akan menghitung jumlah bekas luka atau gudhig di kaki Musri. Sementara yang lain lagi akan menampari wajah Musri yang tak berdaya. Setelah itu mereka akan tertawa bersamaan. Begitulah kira-kira yang aku bayangkan akan terjadi jika aku membawa dan menyerahkan Musri ke Mayor Tua. Dan aku sedang melakukan itu. Orang-orang seperti Kasem dan Besuk kami sebut sebagai babon. Ibu-ibu tua yang badannya benar-benar seperti ayam babon. Berat di sana-sini. Kasem dan Besuk ini akan dijadikan mesin pencuci piring, pemotong rumput, penyedot debu, dan mesinmesin yang lain di rumah-rumah besar. Sebagai mesin, mereka bisa bekerja kapan saja, tidak mungkin membantah karena tombol selalu tersedia untuk dipencet majikan, dan tak perlu gaji atau liburan. Kalau mesin sudah rusak tinggal dibuang atau dikunci di gudang sampai lapuk oleh karat. Aku menitikkan air mata. Sementara Gebog adalah dere tulen. Walau ada bau aneh yang akan kita hirup jika dekat-dekat dengannya, selalu akan ada yang tertarik dengan orang seperti Gebog ini. Seseorang akan membelinya, memandikan, dan mendandani sesuai selera. Gebog hanya akan ditelentangkan, mungkin dengan tangan terikat atau mata tertutup, dan merasakan sakit luar biasa di selangkangannya. Bahkan mungkin Gebog tidak tahu, benda apa yang mendesak selangkangannya, seperti terong, timun, atau mungkin botol body lotion Okana yang kerap dia pakai di kampung. Setelah itu, Gebog akan dititipkan ke ibu baru. Dunia bagi Gebog kemudian hanya akan menjadi dua hal, ditindihi lelaki dan keinginan untuk mati.

76

Bagaimana bisa aku membiarkan mereka mengalami hal itu? Aku berusaha terus mencari alasan, tetapi aku tidak pernah menemukannya. Sementara bayangan bahwa aku pernah mengalami itu semua, dan sekarang aku masih hidup, selalu muncul untuk memaafkan segalanya. Aku tergagap ketika Sitas nyelonong ke kamarku. Aku tutupi tubuhku dengan selimut tai bebeknya. “Tak usah malu, aku juga punya yang seperti itu. Ayo ke pereng, melihat ebeg Gao,” ucap Sitas sumringah sambil memperhatikan dadaku yang penuh. “Aku tak salah dengar? Katanya tak sudi bertemu Gao?” tanyaku heran. “Aku mau lihat, bisa apa Gao di depanku,” jawab Sitas dengan mata penuh dendam. “Itu kampanye Mardi, Yu. Apa kau tak takut digorok Jom?” bodohku. “Kau pikir siapa yang menyuruhku berangkat ke sana? Lagi pula, ebeg itu milik rakyat. Siapa saja boleh dan harus melihat. Ebeg itu harus bagus. Kalau bermasalah, maka dukun ebeg harus menerima hukuman dari rakyatnya,” ujar Sitas tersenyum bangga berhasil menyindir Gao. Aneh sekali. Seorang Sitas dipercaya Jom untuk misi yang demikian. Merasa sakti ternyata membuat Sitas jadi percaya diri. Mungkin ini adalah salah satu yang membahagiakan hidupnya. Semoga di depan Sitas, orang-orang tidak menahan tawa. Tapi Gao dan Jayeng Wisesanya membuatku bersemangat. Ah, persetan dengan pilkades, Jompro, atau Mardi. Persetan dengan Mayor Tua. Walau sejenak, aku ingin mengenang cintaku. Aku berdandan dan mengenakan pakaian terbaik. Menyemprotkan minyak wangi lima kali dan menggunakan sepatu hak tinggi. Aku merasa datang tidak dengan kegembiraan, bahkan banyak rasa bersalah, maka aku harus tampil sebaik mungkin untuk menyembunyikannya. Selain itu, aku ingin menunjukkan pada Gao, ia telah salah menolakku waktu itu. Aku ingin dia menyesal sementara kini ia tidak mungkin mendapatkanku. Kenangan bisa menggerakkan seseorang menjadi begitu kejam. Di depan cermin yang retak aku mematut diri. Begitu sulit rasanya mengoles pertanyaan

77

lipstik pada dua bibir yang terbayang akibat cermin retak itu. Kini aku begitu mementingkan penampilan. Berdandan nyaris berlebihan. Dulu, aku selalu berkata kepada teman-teman yang mengisi separuh tas mereka dengan kosmetik dan yang akan membukanya setiap satu jam sekali bahwa penggunaan deodorant berlebihan akan menghambat metabolisme tubuh yang berujung pada kanker. Kandungan SPF dan mercury dalam bedak two way cake juga dapat menjadi penyebab kanker kulit. Sementara alkohol dalam parfum dapat menimbulkan iritasi baik di hidung maupun di kulit. Sekarang, ketika aku bisa membeli kosmetik dengan mudah, aku menjadi seperti mereka, tanpa terkendali. Seluruh penduduk Legok adalah satu keluarga dengan Mardi. Tidak salah jika dia leluasa menggunakan pereng sebagai tempat berkampanye. Ini berkah buat lelakilelaki pedagang cau, buat para pedagang klepon dan gembus1, tentu saja berkah buat Gao. Sekali lagi, ia mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan pertunjukkan dengan baik. Sebagian orang yang datang menonton mungkin pengikut setianya yang siap mengampuni segala kesalahan Gao. Tapi sebagian lagi datang dengan bekal cacimaki dan rasa penasaran menunggu Gao mengulang kegagalannya dulu. Walau demikian, kesempatan ini tetap sebagai berkah. Sejatinya, mereka tak peduli pilkades atau apapun. Mereka tersenyum ketika dapat upah atau dagangan mereka terjual. Itu adalah satu hari kehidupan buat mereka. Aku berjalan melewati setapak yang beberapa waktu lalu aku telusuri saat mengikuti Gao. Ternyata memang banyak lubang, sehingga kita harus berjalan zig-zag untuk melewatinya. Di belakang dan depanku, bergerombol ibu-ibu dengan anak di gendongan, remaja-remaja masjid, penjual balon, penyewa kipyik2, preman-preman kampung, janda-janda dengan tanktop kuning, semuanya berjalan zig-zag. Sesampainya di sana, arena sudah dipenuhi kepala-kepala orang. Beberapa orang yang rumahnya dekat dengan arena membawa kursi tamunya. Ada pula yang membawa tikar, menyobek daun pisang, atau meletakkan sandal jepitnya sendiri
1 Makanan dari singkong yang dihaluskan dan dibentuk bundar seperti roda lalu digoreng 2 Judi dengan dadu dan kertas bergambar atau roda berputar dengan berbagai pilihan aturan.

78

sebagai alas duduk. Para lelaki memilih berdiri di belakang rombongan-rombongan ini sambil menyedekapkan tangan di dada. Mereka perkasa dan kuat berdiri berjam-jam. Mereka juga menjaga keamanan dengan gaya dan mata yang senantiasa menyapu arena setiap beberapa menit sekali. Selain mencari gadis cantik, sebagian besar dari mereka adalah botoh. Mereka tengah saling mengawasi satu sama lain, mengharapkan ada hal mencurigakan atau perbuatan curang untuk ditemukan. Aku lihat ada Juh di sana, ada keluarga Kepeng dari Dulbur, ada Pontu juga. Dia berjualan es cingcau dengan pakaian ninja. Sanis memanggilku dengan lambaian tangan sambil tangan yang satu menepuknepuk sebelah kursi tamunya yang masih kosong. Aku menghampirinya. Dalam gerombolan ini ada Kusi dan anaknya, ada Bangkring dan adik-adik Musri yang hilir mudik meminta uang, dan orang-orang Legok lain. Jauh di depan, Mardi dan keluarganya duduk di atas tikar luas di bawah rimbun bambu. “Kenapa Pak Mardi duduk di tikar, Mbah?” tanyaku kepada Bangkring “Mereka itu tuan rumah. Harus prihatin.” “Oh,” jawabku sambil mengangkat alis dan mata. “Bu, aku ingin beli gembus!” jerit Kolik, anak Yu Sanis, di depan kita semua. Sanis menarik anak itu ke pangkuannya dan berbisik sesuatu di telinga Kolik. Tapi beberapa saat kemudian anak itu menangis keras. Sanis mencubit Kolik tepat di bagian pinggang samping ketika anak itu merangsek di pangkuannya. Daerah paling sensitif untuk sebuah cubitan. Aku mengeluarkan uang lima ribu dari dompet dan memberikan kepada Kolik. “Ayo beli gembus yang banyak. Kau kalungkan ke lehermu, supaya tak berceceran!” ucapku sambil mengelus kepala Kolik. Ia mengangguk, menerima uang dariku, menyedot ingus, dan mengelap matanya yang basah. Kolik berlari dan bergabung dengan teman lain, antri di depan penjual gembus dengan tawa lepas. Sesekali dia menatap padaku. “Makasih, Mae. Kau baik sekali,” kata Sanis sambil memegang tanganku. “Anak-anak lain, yang ada di gerombolan ini, menatapku dengan penuh harap.

79

Tenang saja, kalian semua dapat jatah, batinku. Uang lima ribuanku habis aku bagikan untuk anak-anak itu. Sekarang, di depan penjual gembus, setiap anak yang antri sebentar-sebentar menengok padaku dan tersenyum. “Makasih, Mae.” Serempak ibu-ibu mereka berterima kasih. “Mae memang sudah sukses ya,” beberapa menggumamkan kalimat itu. Kalau sekarang sudah berarti dulu belum. Tentu saja, semoga dalam benak ibuibu ini tidak tersimpan kenangan, berapa, di mana, dan dengan siapa saja dulu ibuku meninggalkan hutang. Dugaan itu membuatku tidak nyaman. Lebih baik mereka berterus terang di saat seperti ini, dan aku akan membayarnya tiga kali lipat. Tetapi, mereka diam saja dan mulai larut dengan pemain ebeg yang berjejer keluar dari rimbunnya pohon bambu. Sebelum mereka benar-benar terhanyut, aku segera mengingatkan Sanis, berbisik di sampingnya “Jangan lupa nanti malam. Datang ke tempat Jom kalau mau mengurus surat-surat kerja. Tak perlu ribut-ribut. Bisa terdengar yang di depan sana.” Bangkring memahami juga. Ia mengangguk pelan dan cepat kepadaku. Suara gemericik gelang kaki menyeruak di tengah-tengah penonton. Delapan orang pemain ebeg menata diri di arena. Muka mereka merah jambu kehitaman kebanyakan blush on. Tangan mereka lentur memainkan kudanya ke kiri dan kanan. Kemenyan mulai mengepul di beberapa sudut arena bersama sesajen yang mulai diincar-incar penonton untuk diperebutkan ketika pertunjukan usai. Pisang raja dan pisang emas menjadi favorit ibu-ibu. Sementara anak-anak rela berdesakan memperebutkan jajan pasar sisa sesajen. Bunga-bungaan atau kelapa muda hanya akan berjatuhan atau tertendang-tendang tidak laku. Sejak kematian ayah Juh jatuh dari pohon kelapa, seluruh penduduk kampung kian takut dan menjauh dari segala yang berhubungan dengan kelapa. Terutama mereka yang pernah berhubungan atau punya masalah dengan Gao. Selain tiga jenis sesajen di atas, ada banyak sajen lainnya, tapi sajen itu tidak ‘manusiawi’. Artinya, manusia biasa tidak mungkin memakannya. Ada dedhak, ada

80

bola lampu, arang berbara, damen3, dan barang-barang yang tidak dikenal sebagai makanan lainnya. Hanya manusia-manusia yang terpecah jiwanya, yang dikuasai kekuatan-kekuatan gaib yang menganggap itu enak dimakan. Atau mungkin mereka juga menganggap tidak enak, tetapi dipaksa oleh kekuatan yang lebih digdaya lagi. Mana tahu. Tak berapa lama Gao muncul, dengan beskap, celana komprang, dan iket hitam. Sungguh mempesona. Meski banyak orang yang membencinya, di saat seperti ini dia tetap menjadi bintang. Dia yang paling sakti. Tak ada yang berani membicarakannya, tapi tak ada yang berani mendekat juga. Gao berbisik-bisik dengan Mardi, seperti sedang membicarakan kesepakatan-kesepakatan. Bendhe4 ditabuh semakin rancak, dan pemain bersujud di depan Mardi. Ini di luar kebiasaan. Umumnya, pemain mencari petuah kepada Gao sebagai penimbul. Akan tetapi, sekarang Mardi yang dengan penuh kasih sayang mengelus-elus ubun-ubun setiap pemain. Semua mata penonton tertuju pada ritual itu. Ada yang mencibir, tapi lebih banyak yang berdecak dengan mata berbinar-binar. Suara bendhe timbul tenggelam bersautan dengan kendang saron, kenong, dan slompret mengiringi lagu ricik-ricik. Pemain ebeg mulai menggeleng-gelengkan kepala dan menggerakkan jari-jari mereka. Aku tak terlalu peduli dengan ebeg itu. Toh sejak kecil setiap tahun aku melihatnya. Hanya satu orang yang selalu menarik perhatianku. Gao. Dia menyingkir ke balik rerimbunan bambu. Tentu saja, dia berdoa menangkal hujan. Aku mendengar bisik-bisik, pertunjukkan ebeg ini akan diadakan setiap hari sampai waktu pemilihan tiba. Berarti selama tujuh hari lagi. Dan itu membutuhkan doa yang tidak sedikit. Hampir setengah jam Gao baru muncul lagi. Dia menyapukan pandangan ke seluruh area. Dia melihatku. Sekilas saja. Tapi itu cukup membuat kami salah tingkah. Ah, cinta pertama. Datang seperti badai, sekejap saja. Tapi keporakporandaannya, sulit dihapuskan. Ricik-ricik selesai. Biasanya, di lagu kedua atau ketiga, Gao sudah harus
3 Batang padi. 4 Alat seperti gong tapi berukuran lebih kecil lagi. terbuat dari logam.

81

menambah kemenyan dan memanggil kawan-kawan istimewanya. Tapi tidak demikian pertunjukkan kali ini. Pemain mundur lagi ke rerimbunan bambu. Sementara Mardi sudah berdiri dengan seseorang di sebelah kiri memegang daun pisang, sebelah kanan memegang ilir5, dan yang di depannya, setengah jongkok memegang mikrofon. Walau tampak memprihatinkan, tapi tetap seperti seorang raja. “Tes-tes,” Mardi mengetes mikrofon sambil mengernyitkan dahi kepanasan. “Smilahirohmanirohim, salamungalaikum warohmatullahiwabarokatuh. Allohumma solli wassalim ngala muhammad, sayidina wa maulana Muhammad, duh gusti sing njaga patang penjuru, pitung langit, segara lan baruna,” Pembukaan dari Mardi lamanya hampir sepanjang satu tembang ricik-ricik. Suaranya menggumam, aku tak dapat mendengar dengan jelas. Hanya berulangkali gusti dan muhammad yang nyaring di telingaku. “Hidup Padi! Padi Mardi! Mardi Padi! Sedulur Jatisaba kabehan, dhewek kudu kelingan, leluhure dhewek kuwe pari. Mati uripe dhewek nang pari. Waras mriange dhewek merga pari. Sugih mlarate dhewek sekang pari. Pari keleleb udan bisa urip. Pari nang karangan ya tetep urip. Dhewek ora bisa ngilari takdire urip nang pari. Enyong, wong tuwa nang kene, pengin teyeng nggawa semangate pari nang pilihan ngesuk. Enyong pengin rika pada precaya karo enyong. Nyoblos enyong, nyoblos Pari6. Hidup padi, padi Mardi! Coblos padi! Coblos Mardi!” Tepuk tangan meriah. Anak-anak bersuit-suit. Tapi ada beberapa juga yang diam bergeming. Terutama orang-orang yang baru masuk ke dalam lingkaran. Beberapa orang Jatisaba, tapi lebih banyak dari dusun lain. Kami semua menyebutnya sebagai Wong Tiban, orang-orang yang bisa menyuguhkan lontong opor dalam acara Yasinan setiap minggu. Mereka bekerja sebagai guru, pengrajin kayu, brimob, atau sekedar pegawai KUD. Orang-orang Legok mengambil jarak dengan orang-orang
5 Kipas besar berbentuk persegi yang terbuat dari bambu dengan tangkai dari kayu. 6 Saudara Jatisaba seluruhnya, kita harus ingat, leluhur kita adalah padi, hidup mati kita ada di padi, sehat sakitnya kita karena padi, kaya miskinnya kita dari padi. Padi terendam hujan masih bisa hidup, padi di tanah kering juga bisa hidup. Kita tidak bisa menghindari takdir hidup dari padi. Saya, sebagai orang tua di sini, ingin membawa semangat padi pada pilihan besok. Saya ingin teman-teman percaya. Pilihlah saya, pilihlah padi!!!

82

Tiban ini. Walau mereka segan dan menunduk-nunduk hormat jika bertemu orangorang ini, tetapi Wong Tiban paling tampak celanya bagi mereka. Dulu, keluargaku termasuk Wong Tiban yang paling banyak celanya. Waktu keluargaku mengadakan hajatan perayaan khitan adikku, orang-orang Legok menuduh masakan kami terlalu pedas sehingga kampung terkena wabah diare seketika. Orangorang sakit dan tidak bisa bekerja. Ibuku hanya diam dan meminta maaf. Beberapa hari setelah itu, ibuku berbisik-bisik kepadaku. Seharusnya merekalah yang meminta maaf kepadaku. Mereka mengambil lauk dan sayur buat hajatan kemarin berkuali-kuali tanpa sepengetahuan keluargaku. Pantas saja mereka semua terkena diare. Kalau Wong Tiban memberikan iuran secukupnya, mereka mengatakan orang itu pelit. Kalau tidak ikut kerja bakti atau ronda, Wong Tiban akan ditakut-takuti bahwa kalau terjadi perampokan di rumahnya tidak akan ada yang membantu. Beban paling berat di kampungku adalah menjadi Wong Tiban. Tetapi, orang seperti kami memang pantas diperlakukan demikian. Karena kami memperoleh pekerjaan yang lebih bersih dari mereka maka kami jadi sedikit sombong. Karena kami banyak yang sarjana maka kami seringkali memaksakan kehendak atau kadang membodoh-bodohi. Karena sebagian kami berada di utara jalan, di daerah yang lebih tinggi dari Legok atau Dulbur, kami merasa lebih mulia. Perasaan-perasaan demikian membuat kami mendongakkan kepala ketika berjalan di depan orang Dulbur atau Legok. Ketika mendongakkan kepala itulah kami merasa orang-orang Legok dan Dulbur tertunduk. Kami tidak mau sama dengan mereka, membuat barisan tersendiri di mushola, dan membeli barang dagangan mereka sembari berkata “Ambillah kembaliannya, buat beli jajan anakmu.” Tapi kehidupan ala Wong Tiban tidak lama keluargaku lakukan. Waktu yang tersisa di kampung, dilewatkan keluargaku sebagai bukan siapa-siapa. Tidak mirip dengan ketiga kelompok yang ada di kampungku. Wong Tiban yang ada di sekitar pertunjukkan ebeg adalah botoh-botoh Joko, semua orang yakin itu. Termasuk aku. Joko adalah pensiunan polisi. Maka orang-orang yang berada di belakangnya juga orang-orang yang merasa senasib. Pegawai-pegawai

83

negeri, pegawai-pegawai swasta, atau orang yang ingin dianggap pegawai. Seorang guru tidak mungkin memilih Mardi yang petani atau Jamprong yang penjudi. Mau tidak mau mereka akan memilih Joko. Jika aku boleh mengira, Joko akan memenangkan pemilihan ini. “Gubrakkk.” Barongan7 keluar dari kerumunan dan menghentakkan gigigiginya. Perhatian orang yang tadinya terpaku pada Mardi dan kedatangan wongWong Tiban akhirnya buyar. Perlahan-lahan kembali menyatu dengan gerakan ritmis dari kaki-kaki pemain ebeg. Gao mulai menambah kemenyannya dan berputar-putar di pinggir arena. Semua penonton mempersiapkan diri untuk pertunjukkan yang sebenarnya, yang paling di nanti-nanti. Sitas yang berdiri di antara penonton juga tampak begitu serius memperhatikan Gao. Hatiku mulai cemas. Aku tidak percaya Sitas orang yang sakti, yang bisa mengeluarkan kekuatan-kekuatan, aku hanya mencemaskan kebodohan dan kenekatannya. Seorang pemain dirangkul Gao dari belakang. Dahi dan mata pemain itu ditutup dengan salah satu telapak tangan Gao, sebelum kemudian pemain itu terlempar dan menjadi kaku. “Kethek. Mendhem kethek.”8 Serempak penonton berteriak begitu melihat pemain tadi bertingkah seperti monyet dan suaranya berubah menjadi lebih nyaring. Pemain itu menyerudukkan mukanya ke sesajen dan kemudian memanjat pohon kelapa. Empat pemain berikutnya secara berturut-turut juga mendhem. Yang paling merepotkan dan menakutkan adalah ketika barongan atau pemain bendhenya juga ikut mendhem. Mereka merangsek ke tengah-tengah penonton dan membuat suasana menjadi hiruk pikuk penuh jeritan. Tapi di situlah hiburannya. Di situlah letak kepuasannya. Momen itu yang paling ditunggu-tunggu, melihat makhluk-makhluk dari dunia lain bertingkah di depan mata kita. Bahkan kita mencoba berkomunikasi, mengetahui siapa namanya, dan dari mana asalnya.
7 Sejenis barongsai sederhana, yang dibawa oleh 2 orang. Kepalanya dari kayu yang diukir seperti naga sementara badannya terbuat dari karung-karung yang dijahit. 8 Kesurupan siluman monyet.

84

Jeritan penonton berubah histeris ketika salah seorang dari mereka terkapar. Aku pun ikut menjerit karena orang itu adalah Sitas. Pontu sontak meloncat dari belakang gerobak cau dengan loncatan a la ninja yang gesit dan terburu-buru. Ia mengusap-usap kepala Sitas dan meludahinya beberapa kali. Tapi Sitas masih kejangkejang dengan mata melotot tanpa fokus pandang. Mulutnya membulat seperti ikan buntet. Telapak tangannya mengepal kaku. Kakinya melengkung. Pemain ebeg yang masih mendhem tentu saja tidak peduli. Tetapi semua mata penonton kini tertuju pada Sitas. Mardi pun terpancing untuk mendekat. Di depan Sitas, ia berkata kepada semua penonton, “Orang yang ke sini dengan niat baik akan pulang dengan berkah. Orang yang ke sini dengan niat jahat akan pulang dengan bala,” sambil melirik Sitas. “Inggih kan penimbul?” lanjut Mardi sambil merangkul Gao yang baru mendekat. Gao hanya diam sambil melihat Sitas sebentar dan meninggalkannya kembali ke arena. “Huu..., beruk kuburan!” caci Bangkring sebelum kembali menikmati pertunjukan ebeg. Begitu juga orang lainnya, menyusun kamus binatang dalam cacian mereka. Beberapa orang memuji kehebatan Gao dan wibawa Mardi. Sementara keluarga Kepeng dan Pontu serta aku, membawa Sitas ke pinggir, berusaha memapahnya pulang ke rumah. Dia sudah lemas dan mengompol. Tapi matanya masih terpejam. “Wong Legok setan kabeh!9” kata anak terkecil keluarga Kepeng sambil melempar batu ke arena sebelum kemudian berlari dan menghilang di rumpun bambu. Penonton hanya melihat sekilas dan kembali asyik menertawakan pemain ebeg yang kerasukan siluman monyet. “Ini pasti ulah Gao,” bisik beberapa keluarga Kepeng yang ikut mengangkat Sitas pulang. Aku menyempatkan diri melihat Gao. Baru kali ini dadaku terasa sakit ketika memandang dirinya. Dia juga melihatku walau sekilas, masih dengan mata dan tatapan yang sama. Seperti pasrah, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku juga tak habis pikir, mengapa Sitas mau melakukan ini semua. Lihat saja suaminya, betul-betul seperti
9 Orang Legok setan semua!

85

kambing berbaju ninja. Grasa-grusu tanpa tujuan dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan dia tidak melemparkan shuriken10 untuk sekedar membalaskan dendam untuk istrinya. Pemain ebeg terus mendem sambil memporak-porandakan arena. Orang-orang Legok terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan. Sementara Mardi menganggukangguk puas ketika Wong Tiban diam-diam memperhatikannya dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Sebagian kecil orang Dulbur sudah pergi mengekor iring-iringan ke rumah Sitas. Angin sore berhembus segar, pohon bambu meliuk-liuk, mabuk dengan indahnya. ****

10 Senjata besi yang biasa dilemparkan ninja. Bentuknya bulat dengan berbagai macam variasi gerigi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->