P. 1
Untitled

Untitled

|Views: 40|Likes:
Published by fadilazitria

More info:

Published by: fadilazitria on Aug 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Kista Bartholin dan abses Bartholin merupakan masalah umum pada wanita usia repr oduksi

. Kelenjar Bartholin terletak bilateral di posterior introitus dan bermuar a dalam vestibulum pada posisi arah jam 4 dan 8. Kelenjar ini biasanya berukuran sebesar kacang dan tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi. Pad a masa pubertas, kelenjar ini mulai berfungsi, memberikan kelembaban bagi vestib ulum. Di Amerika Serikat, insidennya adalah sekitar 2% dari wanita usia reproduksi aka n mengalami pembengkakan pada salah satu atau kedua kelenjar Bartholin. Penyakit yang menyerang kelenjar Bartholin biasanya terjadi pada wanita antara usia 20 d an 30 tahun. Pembesaran kelenjar Bartholin pada pasien yang berusia lebih dari 4 0 tahun jarang ditemukan, dan perlu dikonsultasikan pada gynecologist untuk dila kukan biopsi. Penyebab dari kelainan kelenjar Bartholin adalah tersumbatnya bagian distal dari duktus kelenjar yang menyebabkan retensi dari sekresi, sehingga terjadi pelebar an duktus dan pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan se lanjutnya berkembang menjadi abses. Abses Bartholin selain merupakan akibat dari kista terinfeksi, dapat pula disebabkan karena infeksi langsung pada kelenjar B artholin. Kista bartholin bila berukuran kecil sering tidak menimbulkan gejala. Dan bila b ertambah besar maka dapat menimbulkan dispareunia. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progre sif. Dalam penanganan kista dan abses bartholin, ada beberapa pengobatan yang dapat d ilakukan. Dapat berupa intervensi bedah, dan medikamentosa. Intervensi bedah yan g dapat dilakukan antara lain berupa incisi dan drainase, pemasangan Word cathet er, marsupialisasi, dan eksisi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI Kelenjar Bartholin (greater vestibular glands) merupakan homolog dari kelenjar C owper (kelenjar bulbourethral pada laki-laki)1. Pada masa pubertas, kelenjar ini mulai berfungsi, memberikan kelembaban bagi vestibulum. Kelenjar Bartholin berkembang dari tunas dalam epitel daerah posterior dari vest ibulum. Kelenjar ini terletak bilateral di dasar labia minora dan mengalirkan ha sil sekresinya melalui duktus sepanjang 2 – 2.5 cm, yang bermuara ke dalam vestibu lum pada arah jam 4 dan jam 8.2,3 s Kelenjar ini biasanya berukuran sebesar kacang dan ukurannya jarang melebihi 1 cm. Kelenjar ini tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi. Gambar 1. Anatomi kelenjar Bartholin.

EPIDEMIOLOGI Kista Bartholin merupakan pertumbuhan kistik yang paling sering ditemukan pada v ulva.4,5 Sekitar dua persen wanita pernah terinfeksi kista Bartholin dan abses s elama hidupnya.6 Abses hampir tiga kali lebih sering ditemukan daripada kista. S ebuah case control study membuktikan bahwa wanita berkulit hitam dan putih lebih mudah mengalami kista atau abses Bartholin dibandingkan dengan wanita ras Hispa nik; dan studi ini juga mengemukakan bahwa wanita dengan angka paritas yang ting gi berada pada risiko terendah. Involusi bertahap dari kelenjar Bartholin dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin menjela skan sering terjadinya Kista Bartholin dan abses kelenjar selama usia reproduksi , khususnya antara 20 hingga 29 tahun. 2,8 Karena massa vulva pada wanita pascamenopause dapat berupa kanker, biopsi excisi onal mungkin diperlukan. Beberapa peneliti mengusulkan bahwa eksisi pembedahan t idak diperlukan karena risiko kanker kelenjar Bartholin sangat rendah (0,114 kas us per 100.000 woman-years). Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis da pat menjadi buruk. Gambar 2. Pembesaran unilateral pada Abses Bartholin B. ETIOPATOLOGI Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi dari sekresi, dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. Kista ters ebut dapat menjadi terinfeksi, dan abses bisa berkembang dalam kelenjar. Kelenja r Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau abses pada w anita usia reproduksi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan secara kli nis. Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga men yebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan. Sumbatan ini biasan ya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. Kista bart holin dengan diameter 1-3 cm seringkali asimptomatik. Sedangkan kista yang beruk uran lebih besar, kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista y ang terinfeksi. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva ya ng akut dan bertambah secara cepat dan progresif. Abses kelenjar Bartholin diseb akan oleh polymicrobial (Tabel 1). 4,11,12 C. MANIFESTASI KLINIS Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa diseta i nyeri. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut: • Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. • Dispareunia • Nyeri pada waktu berjalan dan duduk • Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) Hasil pemeriksaan fisik yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bar tholin adalah sebagai berikut: • Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit, unilateral, dan tidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya. • Jika berukuran besar, kista dapat tender. • Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses Bartholin sebagai berikut: • Pada perabaan teraba massa yang tender, fluktuasi dengan daerah sekitar yang eri tema dan edema. • Dalam beberapa kasus, didapatkan daerah selulitis di sekitar abses. • Demam, meskipun tidak khas pada pasien sehat, dapat terjadi. • Jika abses telah pecah secara spontan, dapat terdapat discharge yang purulen. Gambar 3. Abses Bartholin Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya. Karakte

ristik dari lesi kistik dan solid dari vulva dapat dilihat pada Tabel 2. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause, suatu pertumbuhan massa pada wa nita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan, terutama bil a massanya bersifat irreguler, nodular, dan keras.10 Karsinoma kelenjar Bartholin memiliki persentase sekitar 1% dari kanker vulva, d an walaupun kasusnya jarang, merupakan tempat tersering timbulnya adenocarcinoma . Sekitar 50% dari tumor kelenjar Bartholin adalah karsinoma sel skuamosa. Jenis lain dari tumor yang timbul di kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, kistik adenoid (suatu adenokarsinoma dengan histologis spesifik dan karakteristik klin is), adenosquamousa, dan transitional cell carcinoma. Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak hanya dengan pemeriksaan fisik, setiap wanita berusia lebih dari 40 tahun perlu menjalani tindakan biopsi untuk menyingkirkan kecurigaan neoplasma, dimana penyakit inflamasi jarang ditemui pada usia tersebut. Karena lokasinya yang jau h di dalam, tumor dapat mempengaruhi rektum dan langsung menyebar melalui fossa ischiorectalis. Akibatnya, tumor ini dapat masuk ke dalam saluran limfatik yang langsung menuju ke kelenjar getah bening inguinal profunda serta superficialis. Kesalahan dalam mendiagosis keganasan Bartholin akan memberikan prognosa yang bu ruk, sehingga ketepatan dan kecepatan dalam mendiagnosa sangat diperlukan. Beberapa kondisi berikut ini dapat merupakan sugestif keganasan kelenjar Barthol in, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut hingga biopsi: • Usia yang lebih tua dari 40 tahun • Massa yang tidak nyeri, kronis, dan bertambah besar secara progresif • Massa yang solid, tidak fluktuasi, dan tidak nyeri • Terdapat riwayat keganasan labial sebelumnya. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Apabila pasien dalam kondisi sehat, afebris; tes laboratorium darah tidak diperl ukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin . E. DIAGNOSIS BANDING Beberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. Beberapa diantaranya adalah: 1. Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaseous ini merupakan suatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik. Pada keadaa n terinfeksi, diperlukan incisi dan drainase sederhana. 2. Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berloka si pada introitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukos a rektum, dan seringkali asimptomatik. 3. Hematoma pada vulva. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolah raga, kekerasan. 4. Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan. Indikas i untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri, pertumbuhan yang progresif, dan kosm etik. 5. Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora da n labia minora. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perd arahan dan diangkat bila timbul gejala. F. TERAPI Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Suatu kista tanpa geja la mungkin tidak memerlukan pengobatan, kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase.2 Tindakan Operatif Beberapa prosedur yang dapat digunakan: 1. Incisi dan Drainase Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudah dilakukan s erta memberikan pengobatan langsung pada pasien, namun prosedur ini harus diperh atikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses.1,5,16 Ada studi yan

g melaporkan, bahwa terdapat 13% kegagalan pada prosedur ini.17 1. Word Catheter Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. Merupakan sebuah katete r kecil dengan balon yang dapat digembungkan dengan saline pada ujung distalnya. biasanya digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin.12 Panjang dari ka teter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No.10 French Foley kateter . Balon kecil di ujung Word catheter dapat menampung sekitar 3-4 mL larutan sali ne (Gambar 4). Gambar 4. Word Catheter Adapun alat – alat yang diperlukan dalam pemasangan Word catheter tercantum pada t abel 3. Setelah persiapan steril dan pemberian anestesi lokal, dinding kista ata u abses dijepit dengan forceps kecil dan blade no.11 digunakan untuk membuat inc isi sepanjang 5mm pada permukaan kista atau abses.2,16 Penting untuk menjepit di nding kista sebelum dilakukan incisi, atau bila tidak kista dapat collapse dan d apat terjadi incisi pada tempat yang salah.16 Incisi harus dibuat dalam introitu s external hingga ke cincin hymenal pada area sekitar orifice dari duktus.10,16 Apabila incisi dibuat terlalu besar, Word catheter dapat lepas. Setelah insisi dibuat, Word catheter dimasukkan, dan ujung balon dikembangkan de ngan 2ml hingga 3 ml larutan saline. Balon yang mengembang ini membuat kateter t etap berada di dalam rongga kista atau abses (Gambar 5). Ujung bebas dari katete r dapat dimasukkan ke dalam vagina.16 Agar terjadi epitelisasi pada daerah bekas pembedahan, Word catheter dibiarkan di tempat selama empat sampai enam minggu,1 ,10,16 meskipun epithelialisasi mungkin terjadi lebih cepat, sekitar tiga sampai empat minggu.18 Jika Kista Bartholin atau abses terlalu dalam, pemasangan Word catheter tidak praktis, dan pilihan lain harus dipertimbangkan.10 Abses biasanya dikelilingi oleh selulitis yang signifikan, dan pada kasus-kasus tersebut, antibiotik diperlukan. Antibiotik yang digunakan harus merupakan antib iotik spektrum luas untuk mengobati infeksi polymicrobial dengan aerob dan anaer ob. Dapat dilakukan kultur untuk mencari kuman penyebab. Selama menunggu hasil k ultur, diberikan terapi antibiotik empiris. Pasien dianjurkan untuk merendam di bak mandi hangat dua kali sehari (Sitz bath). Koitus harus dihindari untuk kenya manan pasien dan untuk mencegah lepasnya Word catheter. Gambar 5. Pemasangan Word Catheter Sitz bath (disebut juga hip bath, merupakan suatu jenis mandi, dimana hanya bagi an pinggul dan bokong yang direndam di dalam air atau saline; berasal dari Bahas a Jerman yaitu sitzen yang berarti duduk.) dianjurkan dua sampai tiga kali sehar i dapat membantu kenyamanan dan penyembuhan pasien selama periode pasca operasi. Gambar 6. Alat yang digunakan untuk Sitz Bath 1. Marsupialisasi Alternatif pengobatan selain penempatan Word catheter adalah marsupialisasi dari kista Bartholin (Gambar 7). Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda – tanda abses akut.10 Gambar 7. Marsupialisasi Kista Bartholin; (Kiri) Suatu incisi vertikal dibuat pada bagian tengah kista, lalu pisahkan muko sa sekitar; (Kanan) Dinding kista dieversi dan ditempelkan pada tepi mukosa vest ibular dengan jahitan interrupted. Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal, dinding ki sta dijepit dengan dua hemostat kecil. Lalu dibuat incisi vertikal pada vestibul ar melewati bagian tengah kista dan bagian luar dari hymenal ring. Incisi dapat dibuat sepanjang 1.5 hingga 3 cm, bergantung pada besarnya kista. Berikut adalah peralatan yang diperlukan dalam melakukan tindakan marsupialisasi.

Setelah kista diincisi, isi rongga akan keluar. Rongga ini dapat diirigasi denga n larutan saline, dan lokulasi dapat dirusak dengan hemostat. Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada dindung vestibular mukosa dengan jahitan i nterrupted menggunakan benang absorbable 2-0.18 Sitz bath dianjurkan pada hari p ertama setelah prosedur dilakukan. Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10%. Komplikasi yang timbul berkaitan dengan dys pareunia, hematoma, dan infeksi.1 2. Eksisi (Bartholinectomy) Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak bere spon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeks i aktif. Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan, maka sebaiknya dilakuk an di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum. Pasien ditempatkan dalam p osisi dorsal lithotomy. Lalu dibuat insisi kulit berbentuk linear yang memanjang sesuai ukuran kista pada vestibulum dekat ujung medial labia minora dan sekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal ring. Hati – hati saat melakukan incisi ku lit agar tidak mengenai dinding kista. Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista terletak pada bagian p osterosuperior kista. Karena alasan ini, diseksi harus dimulai dari bagian bawah kista dan mengarah ke superior. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara tum pul dan tajam dari jaringan sekitar (Gambar 8). Alur diseksi harus dibuat dekat dengan dinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena dan vestibular bul b dan untuk menghindari trauma pada rectum. Gambar 8. Diseksi Kista Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan, vaskulariasi utama dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat. Lalu dipotong dan diligasi dengan benang chromic atau benang delayed absorbable 3-0 (Gambar 9). Gambar 9. Ligasi Pembuluh Darah Cool packs pada saat 24 jam setelah prosedur dapat mengurangi nyeri, pembengkaka n, dan pembentukan hematoma. Setelah itu, dapat dianjurkan sitz bath hangat 1-2 kali sehari untuk mengurangi nyeri post operasi dan kebersihan luka. Pengobatan Medikamentosa Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular seksual bias anya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan chlamydia. Idealnya, antib iotik harus segera diberikan sebelum dilakukan insisi dan drainase. Beberapa antibiotik yang digunakan dalam pengobatan abses bartholin: 1. Ceftriaxone Sebuah monoterapi efektif untuk N gonorrhoeae. Ceftriaxone adalah sefalosporin g enerasi ketiga dengan efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif, ef ficacy yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif, dan efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicilli n-binding protein, akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan mengham bat pertumbuhan bakteri. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose 2. Ciprofloxacin Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan antibiotik tipe bakter isida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh sebab itu akan menghambat p ertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari 3. Doxycycline

Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan dengan 3 0S dan 50S subunit ribosom dari bakteri. Diindikasikan untuk C trachomatis. Dosis yang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari 4. Azitromisin Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh bebe rapa strain organisme. Alternatif monoterapi untuk C trachomatis. Dosis yang dianjurkan: 1 g PO 1x G. KOMPLIKASI • Komplikasi yang paling umum dari abses Bartholin adalah kekambuhan. • Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses. • Perdarahan, terutama pada pasien dengan koagulopati. • Timbul jaringan parut. H. PROGNOSIS Jika abses dengan didrainase dengan baik dan kekambuhan dicegah, prognosisnya ba ik. Tingkat kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%.

BAB III KESIMPULAN Kista Bartholin dan abses Bartholin merupakan masalah umum pada wanita usia repr oduksi. Incidensnya adalah sekitar 2% dari wanita usia reproduksi. Usia yang pal ing sering terserang penyakit kelenjar Bartholin adalah wanita antara usia 20 da n 30 tahun. Pembesaran kelenjar Bartholin pada pasien yang berusia lebih dari 40 tahun jarang ditemukan, dan perlu dikonsultasikan pada gynecologist untuk dilak ukan biopsi. Penyakit ini seringkali recurrence, sehingga diperlukan suatu penan ganan yang adekuat. Penyebab dari kelainan kelenjar Bartholin adalah tersumbatnya bagian distal dari duktus kelenjar yang menyebabkan retensi dari sekresi, sehingga terjadi pelebar an duktus dan pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan se lanjutnya berkembang menjadi abses. Abses Bartholin selain merupakan akibat dari kista terinfeksi, dapat pula disebabkan karena infeksi langsung pada kelenjar B artholin. Kista bartholin bila berukuran kecil sering tidak menimbulkan gejala. Dan bila b ertambah besar maka dapat menimbulkan dispareunia. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progre sif. Dalam penanganan kista dan abses bartholin, ada beberapa pengobatan yang dapat d ilakukan. Dapat berupa intervensi bedah, dan medikamentosa. Intervensi bedah yan g dapat dilakukan antara lain berupa incisi dan drainase, pemasangan Word cathet er, marsupialisasi, dan eksisi. Pemilihan terapi ini disesuaikan dengan ukuran d an keadaan kista. Jika Kista Bartholin atau abses terlalu dalam, pemasangan Word catheter tidak praktis, dan pilihan lain harus dipertimbangkan. Prosedur sepert i marsupialisasi tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda – tanda abses akut. O leh sebab itu, abses perlu diobati dengan pemberian antibiotik broad spectrum. E ksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak beres pon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif. DAFTAR PUSTAKA 1. Stenchever MA. Comprehensive gynecology. 4th ed. St. Louis: Mosby, 2001: 482–6,645–6. 2. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, Cunningh

am FG, "Chapter 4. Benign Disorders of the Lower Reproductive Tract" (Chapter). Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, Cunningham FG: W illiams Gynecology. USA: McGraw-Hill 3. Hill DA, Lense JJ. Office management of Bartholin gland cysts and absces ses. J Am Fam Physician. 1998;57:1611–6.1619–20. 4. Govan AD, Hodge C, Callander R. Gynaecology illustrated. 3d ed New York: Churchill Livingstone, 1985:19,195–6 2. Kaufman RH. Benign diseases of the vulva and vagina. 4th ed. St Louis: M osby, 1994:168–248. 3. Stillman FH, Muto MG. The vulva. In: Ryan KJ, Berkowitz RS, Barbieri RL, eds. Kistner's Gynecology: principles and practice. 6th ed. St. Louis: Mosby, 1 995:66–8. 4. Visco AG, Del Priore G. Postmenopausal Bartholin gland enlargement: a ho spital-based cancer risk assessment. Obstet Gynecol. 1996;87:286–90. 5. Wilkinson EJ, Stone IK. Atlas of vulvar disease. 5th ed. Baltimore: Will iams & Wilkins, 1995:11–5. 6. Cheetham DR. Bartholin's cyst: marsupialization or aspiration?. Am J Obs tet Gynecol. 1985;152:569–70. 7. Word B. Office treatment of cyst and abscess of Bartholin's gland duct. South Med J. 1968;61:514–8. 8. Brook I. Aerobic and anaerobic microbiology of Bartholin's abscess. Surg Gynecol Obstet. 1989;169:32–4.

9. Landay Melanie, Satmary Wendy A, Memarzadeh Sanaz, Smith Donna M, Barcla y David L, "Chapter 49. Premalignant & Malignant Disorders of the Vulva & Vagina " (Chapter). DeCherney AH, Nathan L: CURRENT Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology, 10e. USA: McGraw-Hill 10. Saul HM, Grossman MB. The role ofChlamydia trachomatis in Bartholin's gl and abscess. Am J Obstet Gynecol. 1988;158(3 pt 1):76–7. 11. MacKay H. Trent, "Chapter 18. Gynecologic Disorders" (Chapter). McPhee S J, Papadakis MA, Tierney LM, Jr.: CURRENT Medical Diagnosis & Treatment 2010. US A: McGraw-Hill 12. Peters WA. Bartholinitis after vulvovaginal surgery. Am J Obstet Gynecol . 1998;178:1143–4. 13. Apgar BS. Bartholin's cyst/abscess: Word catheter insertion. In: Pfennin ger JL, Fowler GC, eds. Procedures for primary care physicians. St. Louis: Mosby , 1994:596–600. 14. Horowitz IR, Buscema J, Woodruff JD. Surgical conditions of the vulva. I n: Rock JA, Thompson JD, eds. Te Linde's Operative gynecology. 8th ed. Philadelp hia: Lipincott-Raven, 1997:890–3. 15. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, Cunningh am FG, "Chapter 41. Surgeries for Benign Gynecologic Conditions" (Chapter). Scho rge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, Cunningham FG: Willi ams Gynecology. USA: McGraw-Hill

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->