P. 1
Puisi Gus Mus

Puisi Gus Mus

5.0

|Views: 5,031|Likes:
Published by muhtarom

More info:

Published by: muhtarom on Jan 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

SUJUD Bagaimana kau hendak bersujud pasrah sedang wajahmu yang bersih sumringah keningmu yang mulia dan

indah begitu pongah minta sajadah agar tak menyentuh tanah. Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu dengan congkak, tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya jadi lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak. Apakah kau lupa bahwa tanah adalah bapak dari mana ibumu dilahirkan, tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian dalam perjalanan panjang menuju keabadian. Singkirkan saja sajadah mahalmu ratakan keningmu, ratakan heningmu, tanahkan wajahmu, pasrahkan jiwamu, biarlah rahmat agung Allah membelai dan terbanglah kekasih

Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu dengan congkak, tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya jadi lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak. Apakah kau lupa bahwa tanah adalah bapak dari mana ibumu dilahirkan, tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian dalam perjalanan panjang menuju keabadian. Singkirkan saja sajadah mahalmu ratakan keningmu, ratakan heningmu, tanahkan wajahmu, pasrahkan jiwamu, biarlah rahmat agung Allah membelai dan terbanglah kekasih Bagi Mu Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada rendah tanah, telah kuamankan sedapat mungkin maniku, kuselamat-selamatkan Islamku kini dengan segala milikMu ini kuserahkan kepadaMu Allah terimalah. Kepala bergengsi yang terhormat ini dengan kedua mata yang mampu menangkap gerak-gerik dunia, kedua telinga yang dapat menyadap kersik-kersik berita, hidung yang bisa mencium wangi parfum hingga borok manusia, mulut yang sanggup menyulap kebohongan jadi kebenaran

seperti yang lain hanyalah sepersekian percik tetes anugrahMu. Alangkah amat mudahnya Engkau melumatnya Allah, sekali Engkau lumat terbanglah cerdikku, terbanglah gengsiku terbanglah kehormatanku, terbanglah kegagahanku, terbanglah kebanggaanku, terbanglah mimpiku, terbanglah hidupku. Allah, jika terbang-terbanglah, sekarangpun aku pasrah, asal menuju haribaan rahmatMu. Di Arafah Terlentang aku seenaknya dalam pelukan bukit-bukit batu bertenda langit biru, seorang anak entah berkebangsaan apa mengikuti anak mataku dan dalam isyarat bertanya-tanya kapan Tuhan turun? Aku tersenyum. Setan mengira dapat mengendarai matahari, mengusik khusukku apa tak melihat ratusan ribu hati putih menggetarkan bibir, melepas dzikir, menjagamu dari jutaan milyar malaikat menyiramkan berkat. Kulihat diriku size="2">terapung-apung dalam nikmat dan sianak entah berkebangsaan apa seperti melihat arak-arakan karnaval menari-nari dengan riangnya. Terlentang aku satu diantara jutaan tumpukan dosa yang mencoba menindih,

akankah kiranya bertahan dari banjir air mata penyesalan massal ini Gunung-gunung batu menirukan tasbih kami, pasir menghitung wirid kami dan sianak yang aku tak tahu berkebangsaan apa tertidur dipangkuanku pulas sekali Kaum Beragama Negeri Ini Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain di negeri-negeri lain. Demi mendapatkan ridhomu color="#000000">mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka untuk merebut tempat terdekat disisiMu mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba-hambaMu sendiri demi memperoleh RahmatmMu mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran bahkan mendukung kelaliman Untuk membuktikan keluhuran budi mereka, terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini mereka terus membuatkanmu rumah-rumah mewah di antara gedung-gedung kota hingga di tengah-tengah sawah dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang untuk meneriakkan namaMu

menambah segan dan keder hamba-hamba kecilMu yang ingin sowan kepadaMu. color="#000000">NamaMu mereka nyanyikan dalam acara hiburan hingga pesta agung kenegaraan. Mereka merasa begitu dekat denganMu hingga masing-masing merasa berhak mewakiliMu. Yang memiliki kelebihan harta membuktikan kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan Yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan kedekatannya dengan kekuasaannya yang Engkau limpahkan. Yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan. Mereka yang engkau anugerahi kekuatan sering kali bahkan merasa diri Engkau sendiri Mereka bukan saja ikut menentukan ibadah tetapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka. Mereka sakralkan pendapat mereka dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong bagai perut bedug. Allah hu akbar walilla ilham. Di Pelataran AgungMu Nan Lapang Di pelataran agungMu nan lapang kawanan burung merpati sesekali sempat memunguti butir-butir bebijian yang Engkau tebarkan lalu terbang lagi menggores-gores biru langit melukis puja-puji yang hening Di pelataran agungMu nan lapang aku setitik noda setahi burung merpati menempel pada pekat

gumpalan yang menyeret warna bias kelabu berputaran mengatur melaju luluh dalam gemuruh talbiah, takbir dan tahmit Dikejar dosa-dosa dalam kerumuman dosa ada sebaris doa siap kuucapkan lepas terhanyut air mata tersangkut di kiswah nan hitam Di pelataran agungMu nan lapang aku titik-titik tahi merpati menggumpal dalam titik noda berputaran, mengabur, melaju, luluh dalam gemuruh talbiah, takbir dan tahmit mengejar ampunan dalam lautan ampunan terpelanting dalam qouf dan roja.

[ Selasa, 14 Oktober 2008 ] Dahlan Iskan : Benar-Benar Senin yang Melegakan DUA jam kemarin pagi adalah dua jam yang paling menegangkan bagi siapa pun yang tidak menginginkan Indonesia terseret dalam krisis keuangan dunia. Senin kemarin menjadi hari yang penuh harap-harap cemas, karena merupakan hari kerja pertama setelah libur lima hari (bagi bursa saham) dan libur dua hari bagi bank nasional. Sejak malam sebelumnya, dua pertanyaan besar terus mencemaskan: 1). Apakah ketika bank mulai buka pada pukul 08.00 terjadi rush atau tidak? 2). Ketika bursa saham mulai buka, terjadi kemerosotan indeks secara drastis atau tidak? Kalau saja terjadi rush, kacaulah perekonomian kita. Demikian juga, kalau terjadi guncangan besar di lantai bursa, paniklah kita. Dua-duanya sangat melegakan. Begitu melewati pukul 10.00 WIB kemarin semua orang seperti bernapas panjang -lega. Semua bank aman dari gejala rush. Lantai bursa juga hanya turun beberapa puluh poin, lalu menguat di sore hari dan ditutup dengan posisi positif. Pasar saham dan pasar Tanah Abang ternyata tidak perlu harus dikorbankan salah satunya. Kita harus berterima kasih atas kesigapan dan keseriusan pemerintah menjaga perekonomian dari imbas krisis di Amerika. Saya dengar tim ekonomi, termasuk tim pasar modal, harus sudah bekerja pukul lima pagi dan baru pulang tengah malam. Tapi, memang itulah yang harus dikerjakan agar selamat dari badai. Bahkan, penjaminan terhadap bank jauh melebihi yang diinginkan banyak orang. Saya hanya mengusulkan bahwa yang penting ada. Ini pun sekadar untuk menenteramkan masyarakat. Sebab, jaminan itu pada kenyataannya tidak akan dipakai. Para pengusaha memang minta jaminan sampai Rp 1 miliar. Menurut saya, itu sudah sangat tinggi. Pemerintah ternyata justru menjamin sampai Rp 2 miliar. Sekali lagi, Rp 1 miliar atau Rp 10 miliar toh hanya jaminan. Di sini pemerintah sangat "cerdas" menyikapinya. Setelah aman dari bahaya rush, perbankan memang masih perlu satu senjata lagi: likuiditas. Kini saatnya bank perlu diberi pinjaman. Tentu pinjaman yang sifatnya hanya untuk menggantikan sumber dana "satu malam". Dana "satu malam" itu biasanya mereka atasi sendiri dengan apa yang disebut "pinjaman antarbank". Setiap sore bank selalu tutup buku. Dari sini akan diketahui mana bank yang "kalah kliring" dan mana yang "surplus". Yang kalah kliring biasanya meminjam uang ke bank yang surplus. Kini, dalam keadaan krisis dunia, semua bank hanya memikirkan dirinya sendiri. Bukan hanya bank, setiap perusahaan harus mengambil sikap aman untuk dirinya sendiri dulu. Bahkan, perorangan pun akan mengambil sikap serupa. Maka dalam situasi seperti ini sama sekali jangan berusaha mencari pinjaman. Semua orang, semua pihak "mengunci" pintu masing-masing.

Sampai kapan? Sampai rasa saling percaya itu tumbuh kembali. Selama masa saling tidak percaya itulah pemerintah diminta menjadi "terminal terakhir". Di bidang ini pun langkah pemerintah sangat memuaskan. Di bidang bursa, ada dua kiat penting yang dilakukan otoritas bursa. Menjelang dibuka kemarin, apa yang selama ini disebut "pre opening market" ditiadakan. Kapan diperbolehkan lagi masih belum diputuskan. Masih harus menunggu situasi menjadi stabil dulu. Pre opening market itu memang bisa mengguncangkan. Waktu pre opening market hanya sekitar lima menit sebelum bursa dibuka. Di situlah dilakukan negosiasi pembelian dan penjualan secara blok (pembelian saham dalam jumlah besar). Pelakunya biasanya para broker saham, baik yang terafiliasi dengan emiten maupun tidak. Kelemahan pre opening market adalah tidak terbukanya harga saham, justru sebelum pasar dibuka. Langkah kedua yang juga hebat adalah ditindaknya pelaku short selling yang gagal serah atau gagal bayar. Short selling dalam praktiknya adalah menjual saham di pagi hari lalu membelinya kembali di sore hari. Atau sebaliknya. Praktik itu sendiri sampai sekarang secara legal masih sah, tapi akan menjadi pelanggaran kalau ternyata pelakunya gagal menyerahkan saham atau gagal membayar. Senin kemarin benar-benar hari yang melegakan dan memberi harapan. (*)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->