P. 1
Hak Hak Anak

Hak Hak Anak

|Views: 88|Likes:
Published by Andi Maulana

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Andi Maulana on Aug 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2013

pdf

text

original

HAK-HAK ANAK DALAM ADVOKASI DAN HUKUM PERLINDUNGAN ANAK A.

Implementasi Hak Hak yang dipunyai atau dimiliki oleh seorang manusia, timbul karena keberadaan manusia sebagai makhluk sosial atau yang disebut Aristoteles pada tahun 384-322 SM dengan sebutan Zoon Politicon. Eksistensi manusia sebagai makhluk social menghendaki adanya jalinan hubungan saling

membutuhkan satu dengan yang lainnya atau dikenal dengan istilah hidup bermasyarakat. Manusia diharuskan untuk menunjukkan sesuatu yang menjadi jati diri self of dignity (kemuliaan), self of image (percaya diri), dan self esteem (harga diri) terhadap lingkungan social. Kepribadian yang utuh atau jati diri seseorang lahir sebagai wujud kepemilikan terhadap sesuatu nilai yang mendasar di dalam dirinya (human rights). Nilai inilah yang menjadi dasar kepribadian yang membedakan terhadap sesama manusia. Pengertian Human Rights, menurut Decey yang disinyalir oleh Abu Daud Busroh, S.H. (1983:14), menyebutkan human rights meliputi : 1. the rights to personal freedom; 2. the rights to freedom of discussion; 3. the rights to public meeting.

2

Nilai ini dikenal dalam kepemilikan yang disebut “hak” dari seorang manusia atau subyek hukum; kemudian dikelompokkan ke dalam Hak Asasi Manusia (HAM). Jadi yang dimaksud dengan hak yaitu kekuasaan yang diberikan oleh hukum kepada seseorang (atau Badan Hukum) karena perhubungan hukum dengan orang lain (Badan Hukum Lain). Beberapa definisi hak yang dikemukakan oleh para pakar dan sarjana hukum : • Bernhard Winscheid. Hak adalah suatu kehendak yang dilengkapi dengan kekuatan (macht) dan yang diberikan oleh tertib hukum atau system hukum kepada yang bersangkutan. • Van Apeldoorn. Hak adalah sesuatu kekuatan (macht) yang diatur oleh hukum. • Lamaire. Hak adalah sesuatu izin bagi yang bersangkutan untuk berbuat sesuatu. • Leon Duguit. Hak adalah diganti dengan fungsi sosial yang tidak semua manusia mempunyai hak, sebaliknya tidak semua manusia menjalankan fungsi-fungsi sosial (kewajiban) tertentu. Hak anak dapat dibangun dari pengertian hak secara umum ke dalam pengertian sebagai berikut “Hak anak adalah sesuatu kehendak yang dimiliki oleh anak yang dilengkapi dengan 3

kekuatan (macht) dan yang diberikan oleh system hukum/tertib hukum kepada anak yang bersangkutan”. Hak apapun yang diberikan oleh lingkungan sosial, baik terhadap seorang anak maupun kepada manusia pada umumnya, hak itu memiliki sifat dan ciri-ciri sebagai berikut: 1. 2. 3. kepentingan seseorang yang terlindungi (belangen theoritis); kehendak yang dilengkapi dengan kekuatan (wilsmachts theoritis); kumpulan kekuasaan yang mempunyai landasan hukum. Jenis-jenis hak pada umumnya yang sering dijumpai dalam lingkungan masyarakat sebagai berikut: 1. right tout court (hak yang berkaitan dengan pengadilan) dalam arti hak yang dimiliki tetapi tidak mesti dinikmati. 2. positive rights dalam arti hak yang sudah pasti dimiliki (dikuasai). Hak asasi itu berpengaruh pada keberadaan hak asasi anak yang diatur secara umum pada bidang-bidang seperti lingkungan agama, sosial, hukum, pemerintah atau bangsa dan Negara.

1.Hak Asasi Anak Dalam Pandangan Islam Hak asasi anak dalam pandangan Islam dikelompokkan secara umum ke dalam bentuk hak asasi anak yang meliputi subsistem sebagai berikut: (a) hak anak sebelum dan sesudah dilahirkan; 4 (b) hak dalam kesucian keturunannya;

(c) hak anak dalam menerima pemberian nama yang baik; (d) hak anak dalam menerima susuan; (e) hak anak dalam mendapat asuhan, perawatan, dan pemeliharaan; (f) hak anak dalam memiliki harta benda atau hak warisan, demi kelangsungan hidup anak yang bersangkutan; (g) hak anak dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Dalam dimensi Islam hak asasi anak dipandang sebagai benih dari suatu masyarakat. Dalam pandangan ini Dr. Abdur Rozak Husein (1992:19) menyatakan jika benih anak dalam masyarakat itu baik maka sudah pasti masyarakat akan terbentuk menjadi masyarakat yang baik pula.

2. Hak Asasi Dalam Declaration on The Right of The Child Hak anak menjadi aktual dalam pandangan internasional sejak lahirnya Konvensi Jenewa (1924) yang juga memuat hak asasi anak. Dalam Declaration of Human Rights (Pernyataan Umum

Hak Asasi Manusia) yang dikeluarkan oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948 mengelompokkan hak asasi anak ke dalam hak-hak asasi manusia secara umum. Menyusul kemudian pada tanggal 20 November 1959 PBB

5 merumuskan Declaration on The Rights of The Child (Deklarasi Hak Asasi Anak), yang meliputi:

a.hak untuk memperoleh perlindungan khusus dan memperoleh kesempatan yang dijamin oleh hukum (ketentuan pasal 2 DRC); b. hak untuk memperoleh nama dan kebangsaan atau ketentuan

kewarganegaraan (ketentuan pasal 3 DRC); c. hak untuk memperoleh jaminan untuk tumbuh dan berkembang

secara sehat (ketentuan pasal 4 DRC); d. hak khusus bagi anak-anak cacat (mental dan fisik) dalam

memperoleh pendidikan, perawatan, dan perlakuan khusus (ketentuan pasal 5 DRC); e.hak untuk memperoleh kasih sayang dan pengertian (ketentuan pasal 6 DRC); f. hak untuk memperoleh pendidikan secara cuma-Cuma, sekurangkurangnya ditingkat SD-SMP (ketentuan pasal 7 DRC); g. hak untuk didahulukan dalam perlindungan/pertolongan

(ketentuan pasal 8 DRC); i. hak untuk dilindungi dari penganiayaan, kekejaman perang, dan penindasan rezim (ketentuan pasal 9 DRC); h. hak untuk dlindungi dari diskriminasi rasial, agama, maupun

diskriminasi lainnya (ketentuan pasal 10 DRC).

6 Keputusan deklarasi hak asasi anak PBB ini oleh Indonesia diratifikasi dalam suatu kerangka hukum yang tidak jauh beda dengan ketentuan-

ketentuan hukum orang dewasa pada umumnya, seperti dalam UU No. 39/1999 tentang HAM yang mengelompokkan hak asasi anak secara umum ke dalam pasal 56 sampai dengan pasal 66. Langkah bijaksana sebelumnya pemerintah Indonesia dengan dikeluarkannya UU No. 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak.

B. Perlindungan Hak Asasi Anak Perlindungan hak asasi anak adalah meletakkan hak anak ke dalam status sosial anak dalam kehidupan masyarakat, sebagai bentuk

perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan anak yang mengalami masalah sosial.

1.

Hak Asasi Anak yang Berhubungan dengan Proses Peradilan Hak-hak anak yang terdapat dalam proses Advokasi dan Hukum

Perlindungan Anak dapat dikelompokkan dalam ketentuan-ketentuan Hukum Acara Pidana, Ketentuan UU No.3/1997 tentang Peradilan Anak; UU No. 12/1995 tentang Pemasyarakatan Anak, yang meliputi prinsip-prinsip proses peradilan : a. Hak yang diperoleh sebelum sidang pengadilan: 7 (1) (2) (3) anak sebagai tersangka anak sebagai korban kejahatan anak sebagai saksi dalam pemeriksaan tersangka.

b. Hak yang diperoleh selama persidangan: (1) (2) (3) anak sebagai pelaku kejahatan (terdakwa) anak sebagai korban kejahatan anak sebagai saksi dalam suatu bentuk kejahatan

c. Hak yang diperoleh setelah persidangan (terhukum): (1) anak sebagai pelaku kejahatan yang di hukum pengadilan (terdakwa). (2) (3) (4) anak sebagai anggota lembaga pemasyarakatan anak. anak sebagai anggota rumah asuh partikelir anak sebagai terhukum yang dikembalikan kepada orang tuanya.

2.

Hak Kodrat Anak yang Diperoleh Sejak Lahir Kedudukan anak dimanapun berada memiliki hak untuk mempunyai

nama sebagai identitas personal, yang memiliki ciri dan spesifikasi yang ditentukan oleh pemilik nama atau kedua orang tuanya serta kewajiban untuk menentukan dirinya sebagai subyek hukum juga untuk melakukan kegiatan ritual keagamaan, sosial serta melakukan perbuatan hukum tertentu.

8 C. Ruang Lingkup Hukum Perlindungan Anak 1. Teori Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak

Advokasi dan hukum perlindungan anak terikat dengan asas lex spesialis de rogat, lex spesialis general, hukum khusus dapat meniadakan ketentuan hukum umum, maka kedudukan advokasi dan hukum perlindungan anak merupakan sub bahasan dari hukum pidana, khusus bagian kejahatan dan atau pelanggaran yang terkelompok dalam delinkuensi anak dan atau kindermoor atau anak yang menjadi korban kejahatan. Beberapa pakar dan sarjana hukum merumuskan ruang lingkup advokasi dan hukum perlindungan anak seperti Arif Gosita, S.H., Irma Setyowati Soemitro, S.H., Bismar Siregar, S.H., Mr.H.De Bie, Prof.Mr. J.E.Doek dan H.M.A.Drewes.

2. Definisi Hukum Perlindungan Anak Hukum Perlindungan Anak menurut ketentuan system hukum nasional yaitu peraturan-peraturan hukum formal dan materiil yang bertujuan untuk melakukan kegiatan pembinaan atau pembelaan dan perlindungan hak

terhadap perbuatan tindak pidana dan perbuatan melawan hukum yang timbul dari/dan untuk kepentingan anak. Advokasi Perlindungan Anak adalah bantuan hukum (pembelaan) yang diberikan untuk melakukan perlindungan terhadap kepentingan anak sebagai pelaku kejahatan dan pelanggaran (delikuensi anak) dan juga anak 9 sebagai korban dari perbuatan melawan hukum atau tindak pidana (kindermoor) yang dilakukan oleh orang lain.

Pengertian hukum perlindungan anak yang dikemukakan oleh para sarjana atau yang dirumuskan oleh UU No.4/1979 tentang Kesejahteraan Anak meletakkan hukum perlindungan anak pada dua dimensi pengertian hukum yaitu: (a) keperdataan. (b) pidana. Dimensi hukum perlindungan anak pada aspek dimensi hukum perlindungan anak pada aspek

3. Pertanggungjawaban Hukum terhadap Anak Pertanggungan jawab hukum memiliki nuansa yang struktural atas segala bentuk dan tindakan yang diberikan pemerintah dan Negara kepada seorang anak. Pertanggungjawaban ini sering diwujudkan kepada: a. b. c. orang tua; pemerintah atau Negara; lingkungan sosial.

4. Jenis Hukuman Pidana terhadap Anak Mengenai jenis dan bentuk hukuman yang diatur dalam UU No.3/1997 tentang Peradilan Anak pada pasal 23 menyebutkan:

10

(1)

pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak adalah pidana

pokok atau pidana tambahan. (2) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada anak adalah:

a. pidana penjara; b. pidana kurungan; c. pidana denda; atau d. pidana pengawasan. Bentuk dan jenis hukuman tindakan yang dapat dijatuhkan kepada seorang anak nakal dapat diberikan dari kedudukan orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara sebagaimana ketentuan pasal 24 UU No.3/1997 yang menyebutkan: (1) a. b. Tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak nakal ialah: mengembalikan kepada orang tua, wali atau orang tua asuh. Menyerahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan,

pembinaan dan latihan kerja; atau c. sosial Menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau organisasi kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan,

pembinaan dan latihan kerja. (2)Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dapat disertai dengan teguran dan syarat tambahan yang ditetapkan oleh hakim.

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Sejak strategi pertumbuhan ekonomi dicanangkan pemerintah Indonesia

yang menerima kehadiran modal luar negeri (internasional) sebagai salah satu penopangnya, apakah melalui Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan atau pinjaman antar swasta nasional dengan swasta asing yang sering disebut of Shore Loan (Pinjaman Lepas Pantai). Di era tahun 1970-an masalah sengketa perdata internasional makin intens dalam dunia peradilan di Indonesia. Ketidaksiapan hukum kita dalam bentuk undang-undang yang mengatur tentang sengketa perdata internasional, membuat dunia peradilan dalam

menyelesaikan sengketa bisnis menjadi tidak atau kurang mendapat tempat bagi mitra luar negeri. Seperti diketahui dalam perkara-perkara yang mengandung unsurunsur luar negeri (asing), hakim di Indonesia harus memberi jawaban atas pertanyaan : Hukum mana yang harus diperlakukan, hukum Indonesia atau hukum dari negara asing bersangkutan (Gautama, Sudargo, 1983:289). Selain pertanyaan yang harus dijawab lembaga peradilan tadi, kekeliruan melakukan kualifikasi suatu sengketa perdata internasional, disebabkan karena digunakannya kaedah/asas-asas Hukum Antar Golongan dalam menyelesaikan persoalan perdata internasional (Hartono, Sunaryati, 1976:93). 2 Dalam hubungan dengan adanya dua atau lebih system hokum yang saling bertautan pada sengketa perdata internasional, maka penyelesaian oleh lembaga peradilan dirasa tidak memuaskan bagi mitra luar negeri ketika system hukum yang

diterapkan hanya berkisar kepada hukum internal semata (BW dan atau Algemene Bepalingen). Masalah lain yang dapat terjadi dalam sengketa Hukum Perdata

Internasional (HPI) tidak terbatas pada hukum apa yang harus berlaku, cara menetapkan kaedah terhadap kasus inkonkrito, akan tetapi hukum pilihan para pihak (choice of law) dan hukum jurisdiction). Hanya saja hukum pilihan para pihak (choice of law) tidak dengan begitu saja diterapkan karena penggunaannya dibatasi oleh public policy (Setiawan, 1994:105). Dalam kaitan inilah, peranan pengadilan menjadi relevan untuk ditilik guna mengetahui cara pandang dalam menyelesaikan sengketa, meskipun pranata pengadilan bukan satu-satunya lembaga penyelesaian sengketa mengingat adanya UU No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase. Akan tetapi fungsi pengadilan sangat menentukan oleh sebab bantuan pengadilan agar institusi arbitrase misalnya dapat efektif, diakui oleh hukum nasional maupun hukum internasional mulai dari Protocol Geneva 1923 sampai Konvensi New York 1958 (Rajagukguk,Erman, 2000:3). Bahkan secara otentik disebut juga dapat berupa

pilihan hakim (choice of

3 peranan pengadilan pada pasal 13 UU No. 30/1999 saat para pihak tidak sepakat menunjuk arbiter.

B. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang seperti yang dikemukakan, maka yang relevan untuk ditelaah (dengan mengemukakan kasus perdata internasional) adalah: 1. Sejauhmana pengadilan memposisikan diri melalui

pertimbangan hukumnya dalam sengketa perdata internasional.

2.

Kaedah

perdata

internasional

mana

yang

perlu

mendapat perhatian dominan oleh pengadilan dalam sengketa perdata internasional.

4 BAB II PEMBAHASAN

A.

Pinjaman Luar Negeri di Singapore

Pinjaman luar negeri yang diusahakan oleh swasta nasional di luar jalur UU No.1 tahun 1967 tentang PMA dan UU No.6 tahun 1968 tentang PMDN, dinamakan of shore loan atau pinjaman lepas pantai (Himawan,Charles, 1985:510). Artinya adalah pinjaman yang dilakukan oleh swasta nasional kepada kreditur luar negeri yang juga swasta. Kasus yang menarik perhatian kalangan kreditur/investasi asing dalam kaitan sengketa perdata internasional terhadap putusan peradilan ialah ketika Mahkamah Agung RI dalam putusannya No. 2958/K/Pdt/1993 tanggal 15 Maret 1985 yang menguatkan putusan judex factie (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi Jakarta) dalam pinjaman lepas pantai seperti yang dimaksud di atas.

Kasus Posisi (duduk perkara): seorang debitur (CV.SS) meminjam kredit 1,8 juta US dollar pada Standard Chartered Bank cabang Singapore, dengan penjaminnya adalah Limpoh Hock, dkk. Para pihak (debitur, kreditur, dan penjamin) memilih domisili dan hukum Singapore baik pada perjanjian Loan Agreement maupun Guarantee Agreement. 5 Salah satu ketentuan pemerintah yaitu Kepres No. 59 tahun 1972 mewajibkan bahwa pinjaman semacam harus dilaporkan kepada Menteri Keuangan dan Bank Indonesia sebagai pengawas lalu lintas devisa dan moneter.

-

Penjamin (guarantor) mengajukan gugatan di PN Jakarta Pusat (Standard Chartered Bank punya perwakilan di Jakarta), dengan dalil bahwa perjanjian penjaminan yang dilakukan dengan kreditor tidak sah dan batal karena debitur lalai melaporkan sesuai ketentuan Kepres No.59/1972 tersebut.

- Putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta No. 325/1982/G tanggal 16
Desember 1982 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta No.236/1983 PT/Perdata tanggal 17 Juni 1983 mengabulkan

gugatan penjamin tadi, dengan pertimbangan hokum yang pada pokoknya sebagai berikut: Perjanjian tersebut tidak memiliki causa yang halal seperti yang diatur oleh pasal 1320 ayat (4) BW dan pasal 1337 BW sehingga dikualifikasikan sebagai perjanjian yang bertentangan dengan

ketertiban umum (open order).

Dari pemaparan yang dikemukakan, beberapa kaidah hukum perdata internasional yang dikesampingkan oleh peradilan in casu hakim, antara lain adalah: 1. Choice of Law dan Choice of Jurisdiction; 6 2. Lex Loci Contractus;

3. Lex Loci Causal;
4. Open Order digunakan secara sempit.

1.

Choice of Law/Choice of Jurisdiction

Bahwa sebagaimana kita ketahui bersama, dengan dilakukannya pilihan hukum dan pilihan jurisdiksi (kompetensi), dalam suatu kontrak internasional yang bersifat commercial kedua hal ini harus diperhatikan. Mengingat kecenderungan dianutnya asas pacta van survanda dalam hukum intenasional itu sendiri. Dari pertimbangan pengadilan/hakim, seharusnya yang perlu mendapat penekanan adalah masalah kompetensi. Mengingat para pihak memilih hokum dan kompetensi peradilan Singapore, seharusnyaPN Jakarta Pusat menyatakan diri tidak berwenang memeriksa perkara gugatan dan penjamin meskipun ada status perwakilan Standard Chartered Bank di Jakarta.

2. Lex Loci Contractus Dalam hal ini, pengadilan/hakim secara keliru menetapkan lex loci contractus dengan menyatakan diri berwenang memutus perkara ini, bukankah dalam kasus tersebut tempat dilaksanakannya perjanjian adalah Singapore yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya. Bahwa asas personaliteit dalam pasal 16 Algemene Bepalingen tidak relevan dijadikan

7 pertimbangan meskipun pihak debitur dan penjamin adalah warga Negara Indonesia.

3. Lex Loci Causal Dari kedua alasan terdahulu dalam menentukan system hukum yang harus diberlakukan bukanlah ketentuan yang disebutkan sebagaimana diatur di dalam pasal 1320 ayat (4) dan pasal 1337 BW, melainkan pasal 1338 BW sehingga

berdasarkan pertimbangan ini serta adanya kaedah penunjuk, setidaknya ketentuan hokum perjanjian commercial Singaporelah yang harus diterapkan ketika menerapkan (dan merasa berwenang) memutuskan sengketa seperti ini.

4.Open Order secara sempit Pengertian ketertiban umum dalam interpretasi kasus ini hanya mengacu kepada isi Kepres No.59 tahun 1972 yang sebenarnya ditujukan kepada bantuan keuangan dari donatur asing, di luar pinjaman lepas pantai serta ketentuan wajib lapor hanya diperuntukkan bagi yang menerima bantuan dan bersifat administratif belaka, bukan menjadi syarat objektif sahnya perjanjian

(Himawan,Charles, 1985:518).

B.

Perkembangan Jurisprudensi Dalam perkembangan selanjutnya, setelah mendapat pelbagai kecaman baik

dari pakar hukum maupun kalangan pebisnis internasional, jurisprudensi dan 8 perkembangan hukum di Indonesia mulai menunjukkan perubahan, khususnya pada sengketa HPI. Upaya menumbuhkan kepercayaan investor luar negeri dimulai dengan lahirnya putusan M.A.R.I tanggal 27 Februari 1986. Diputuskan bahwa perjanjian utang piutang lepas pantai (kredit luar negeri) tetap mengikat para pihak meskipun tidak dilaporkan kepada Bank Indonesia (H.Himawan, Kompas 17 Juli 1986). Selain hal di atas, jurisprudensi Indonesia juga mengakui choice of jurisdiction dimana M.A.R.I dalam No. 1084 K/Pdt/1985 tanggal 17 Juli 1986 dengan pertimbangan sebagai berikut:

-

bahwa berdasarkan bare boat charter telah disepakati charter party

kapal in casu diatur dan dikuasai Hukum Republik Singapore. Semua perbedaan pendapat yang timbul tunduk pada jurisdiksi

pengadilan Singapore. Kemudian secara lebih jauh lagi sebelum lahirnya UU No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase, Mahkamah Agung RI mengeluarkan PEKMA No. 1 tahun 1990 tentang diakuinya putusan badan arbitrase internasional untuk dapat dilaksanakan eksekusinya setelah mendapat persetujuan (flat) dari Mahkamah Agung RI tanpa harus melalui pengadilan tingkat rendahan. Bahkan kecenderungan dianutnya doktrin pacta van survanda, dalam praktek hukum kontrak internasional, tidak saja dapat diamati dari perspektif peradilan melalui putusannya yang mencerminkan hal tersebut. Melainkan ia dapat dipantau melalui terbentuknya putusan dan atau legal opinion yang diterbitkannya. 10 BAB III PENUTUP

A. 1. Dari

Kesimpulan pemaparan di atas tergambar bahwasanya peradilan (dalam

memandang dan memposisikan diri) pada kasus sengketa perdata internasional (kontrak bisnis internasional) mengalami pergeseran dari doktrin ketertiban umum kea rah pacta van survanda.

2. Selain hal tersebut, kaedah-kaedah lex loci contractus, choice of law dan choice of jurisdiction perlu dikembangkan lebih konsisten dalam

menyelesaikan sengketa perdata internasional.

B. 1.

Saran Selain UU No.30/1999 yang mengatur tentang Arbitrase, dalam ketentuan umum hukum perjanjian nasional hendaknya secara tegas ditentukan berlakunya asas-asas HPI yang secara mayoritas dianut Negara-negara di dunia.

2.

Guna menjaga eksistensi system hukum nasional perlu dijelaskan secara rinci arti kepentingan umum (open order) dalam perjanjian bisnis internasional.

11 DAFTAR PUSTAKA

Gautama, Sudargo. 1983. Hukum Perdata Internasional Hukum yang Hidup. Alumni, Bandung. ________________. 1983. Hukum dan Pembangunan: Diperlukan UU HPI untuk Indonesia. FHUI, No.4 Th.XIII, Jakarta. Harahap, Yahya. 1993. Varia Peradilan: Arbitrase Sengketa Dagang. IKAHI, No.88 Th. VIII, Jakarta.

Hartono, Sunaryati. 1976. Pokok-Pokok Hukum Perdata Internasional. Bina Cipta, Bandung. Himawan, Charles. 1985. Hukum dan Pembangunan: Komentar Keputusan Hakim. FHUI, No. 5 Th.XV, Jakarta. Rajagukguk, Erman. 2001. Arbitrase dalam Putusan Pengadilan. Chandra Pratama, Jakarta. Setiawan. 1994. Varia Peradilan: Kontrak Bisnis Internasional. IKAHI, No.107 Th. IX, Jakarta.

SEJARAH PERTUMBUHAN PIDANA DAN PERKEMBANGAN KEPENJARAAN

1. Di Luar Negeri Sistem pemidanaan yang pertama-tama dikenal yaitu: 1. Siksaan atau tanda-tanda pada badan. 2. Pidana mati. 3. Pembuangan

4. Denda 5. Pemenjaraan

Sistem Kepenjaraan Ada dikenal dua system kepenjaraan yaitu system Pennsylvania dan Auburn. Dalam system Pennsylvania dikenal sebagai system pengasingan narapidana secara terpisah satu sama lain. Sementara mereka bekerja makan dan tidur dalam selnya tanpa melihat siapapun, kecuali pegawai lembaga pemasyarakatan dan pengunjung-pengunjung resmi dari luar. Disebut solitary/separate confinement system. Sistem Auburn disebut congregatenand silent (berkumpul bersama dan tidak bercakap-cakap). Perbedaan dengan system Pennsylvania adalah bahwa para narapidana diizinkan bekerja bersama-sama dalam tempat kerja di bawah suatu peraturan keras unutk tidak bercakap-cakap satu sama lain dan pada malam hari mereka ditutup sendirian dalam selnya. • Tiga macam kritik yang ditujukan atas penjara Philadelphia oleh

Dwight dan lainnya adalah: Pertama: sangat mahal dalam bentuk bangunannya. Kedua : macam kerja untuk para narapidana pekerjaan tangan adalah bertentangan dengan tenaga mesin yang menghendaki satu tempat bekerja dimana narapidana diwajibkan kerjasama.

Ketiga

: dalam system pemisahan/separate system, dapat menyebabkan narapidana berpenyakit jiwa atau mendapat/mengalami

keterbelakangan mental.

Perkembangan Kepenjaraan di Masa Depan Telah diadakan perubahan-perubahan dalam berbagai hal terhadap organisasi kepenjaraan. Konsep baru yang bersifat rehabilitatif ini

dikembangkan untuk memelihara anak-anak muda dan penjahat dewasa muda. Dalam system kepenjaraan baru ini terdapat perbaikan-perbaikan

yang sifatnya meringankan tata tertib yang merupakan ciri khas dari system lama. Terbentuknya “country club” sebagai akibat dari kritik yang dilontarkan terhadap administrasi pemidanaan.

2. Sejarah Pertumbuhan Susunan Pidana di Indonesia • Zaman Dulu

Pada zaman dulu sebelum ada pengaruh asing penduduk Indonesia mempunyai hukum sendiri yang bersifat Melayu-Polinesia, dan

pandangan animistis-fetiistis menjadi dasarnya.

Susunan pidananya berupa: a. b. c. pembalasan umum pembalasan khusus pembayaran uang damai (pemulih)

Hukum Hindu

Pidana Hindu membedakan: a. pidana yang bersifat keagamaan dengan pidana yang

bersifat keduniawian. b. c. Pidana terhadap masing-masing kasta Pidana yang bersifat keagamaan digabungkan dengan

pidana yang bersifat keduniawian.

Hukum Islam

Susunan Pidana dalam hukum Islam: 1. kisas 2. diyah termasuk kafarah dan arj. 3. hadd yang berupa: a. dilempari dengan batu b. dicemeti c. dibunuh d. dipentang

e. dipentang anggota badan f. dikurung (bukan semata-mata pencabutan kemerdekaan). 4. ta’sir 5. haram.

Hukum Adat

Susunan pidananya yaitu: 1. pidana mati 2. pidana badan 3. pidana pengasingan 4. pidana terhadap kekayaan

Hukum Penjajah

1. Zaman OIC (Oost Indische Compagnie) Beberapa macam pidana yang dikenakan yaitu: 1. orang-orang yang dapat dimasukkan ke dalam bui (bukan penjara untuk mencabut kemerdekaan). 2. pidana perantaian 3. perempuan lacur dan zina dimasukkan dalam rumah perbaikan.

2. Zaman Daendels (1808-1811)

Gubernur Jenderal Belanda Mr. Herman Daendels dalam tindakannya banyak memperbaiki hukum terhadap golongan Eropa, tetapi hukum materiel terhadap golongan Indonesia tidak.

3. Zaman Pemerintahan Inggris (1811-1816) Keadaan hukum pada saat Raffles datang sebagai Letnan Jenderal tidak berubah, hanya ditentukan bahwa hakim tidak perlu mengenakan hukum adat, jika bertentangan dengan keadilan.

4. Zaman Pemerintahan Belanda (1816) Pada masa ini dilanjutkan larangan terhadap pidana kejam dan pidana membuat cacad badan. Hukum Adat tidak boleh diperlakukan jika bertentangan dengan keadilan dan undang-undang pemerintah.

Pertumbuhan WvS Sejak Tahun 1848 Terbentuknya WvS yang khusus berlaku untuk golongan Eropa (1866) dan untuk golongan Indonesia (1878). Untuk golongan Indonesia tidak hanya memuat WvS hal-hal yang berasal dari WvS untuk golongan Eropa dan sesuai dengan sifat dan kepentingan golongan Indonesia saja tetapi mengutip sebuah hukum materielnya, hanya susunan pidananya berbeda, dan mengikuti susunan pidana dari pidana intermiere.

Yang berlaku untuk golongan Eropa:

1. pidana mati 2. pidana dalam rumah perbaikan paksa a. dari 5 sampai 20 tahun b. dari 5 sampai 15 tahun c. dari 5 sampai 10 tahun 3. pidana kerja paksa tidak dengan dirantai paling lama 5 tahun. 4. dipekerjakan pada pekerjaan umum dengan makan, tidak dengan upah paling lama 3 bulan. 5. pidana penjara paling lama 6 hari 6. pidana denda.

Terbentuknya WvS 1917 Tahun 1917 dikehendaki terbentuknya WvS baru yang berlaku untuk semua golongan. Alasan untuk mengadakan unifikasi yang diajukan oleh panitia pembentuk WvS 1917 dalam M.T. adalah: 1. bahwa hukum pidana dalam daerah peradilan pemerintah lama kelamaan berubah dalam jurusan hukum pidana Eropa. 2. Pada zaman OIC terhadap golongan Indonesia dan Timur Asing di Batavia dan daerah sekitarnya dikenakan hukum pidana golongan Eropa, kecuali dalam beberapa hal yang khusus dikenakan terhadap orang-orang Indonesia dan Timur Asing atau dikenakan terhadap mereka dengan berat.

3. Daendels sudah mengadakan perubahan terhadap penggunaan hukum adapt, bahwa jika pidana adat dianggap terlalu ringan, terlalu berat atau tidak seimbang dengan kejahatan yang dilakukan, hakim dapat menentukan pidana sendiri dengan mengingat keadaan. 4. Di bawah pemerintah Inggris perubahan yang dilakukan Daendels tetap. 5. Dalam zaman Komisaris Jenderal du Bus De Gesigneis diadakan aturan dengan Ind.Stbl 1828 No.16 dan stbl 1828 No.62. 6. kecuali mengenai susunan pidana pada permulaan abad 19 terlihat adanya kehendak mengenai bagian-bagian lain dari hukum pidana untuk memperlakukan hukum Eropa terhadap golongan Indonesia. 7. Yurisprudensi pada H.R.Hof dan lain-lain pengadilan menunjukkan bahwa dalam menentukan putusan memakai hukum pidana Eropa sebagai pedoman, karena dipandang yang mengandung asas keadilan. 8. suatu bukti dari itu semua bahwa WvS 1872 untuk golongan Indonesia dapat diperlakukan tanpa menemui kesulitan.

Dalam WvS title II tentang pidana dalam pasal 10 menyebutkan macam pidana yang dibagi dalam pidana pokok yang terdiri dari: 1. pidana mati 2. pidana penjara

3. pidana kurungan 4. pidana denda

dan pidana tambahan yang terdiri dari: 1. pencabutan suatu hak 2. pensitaan sesuatu barang 3. pengumuman putusan hakim

4. Sejarah Pidana Hilang Kemerdekaan di Indonesia Pidana pencabutan kemerdekaan terdiri dari pidana penjara dan pidana kurungan dilaksanakan di dalam penjara.

Sejarah pertumbuhan kepenjaraan di Indonesia dibagi dalam tiga zaman: 1. zaman Purbakala, Hindu dan Islam 2. Zaman Kompeni Belanda 3. Zaman Pemerintahan Hindia Belanda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->