P. 1
PP No. 62 Tahun 2012 Tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik

PP No. 62 Tahun 2012 Tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik

|Views: 125|Likes:
Published by messi_dona

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: messi_dona on Aug 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2012

pdf

text

original

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2012 TENTANG USAHA JASA PENUNJANG TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT

TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (4), Pasal 26, dan Pasal 48 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik; 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052); MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENUNJANG TENAGA LISTRIK. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Klasifikasi adalah penetapan penggolongan usaha menurut bidang dan subbidang usaha tertentu. 2. Kualifikasi adalah penetapan penggolongan usaha menurut tingkat kemampuan usaha. 3. Sertifikasi . . . USAHA JASA

Mengingat :

-23. Sertifikasi Badan Usaha adalah proses penilaian untuk mendapatkan pengakuan formal terhadap Klasifikasi dan Kualifikasi atas kemampuan badan usaha di bidang usaha jasa penunjang tenaga listrik. 4. Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik adalah instalasi tenaga listrik yang digunakan untuk pengadaan tenaga listrik meliputi instalasi pembangkitan, instalasi transmisi, dan instalasi distribusi tenaga listrik. 5. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik adalah instalasi tenaga listrik yang digunakan untuk pemanfaatan tenaga listrik oleh konsumen akhir. 6. Tenaga Teknik Ketenagalistrikan adalah perorangan yang berpendidikan di bidang teknik dan/atau memiliki pengalaman kerja di bidang ketenagalistrikan. 7. Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik adalah proses penilaian untuk mendapatkan pengakuan formal terhadap Klasifikasi dan Kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan Tenaga Teknik di bidang usaha jasa penunjang tenaga listrik. 8. Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Kompetensi adalah kemampuan Tenaga Teknik untuk mengerjakan suatu tugas dan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. 9. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral. Pasal 2 Usaha jasa penunjang tenaga listrik meliputi: a. konsultansi dalam bidang Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik;

b. pembangunan dan pemasangan Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik; c. pemeriksaan dan pengujian instalasi tenaga listrik; d. pengoperasian instalasi tenaga listrik; e. pemeliharaan instalasi tenaga listrik; f. penelitian dan pengembangan; g. pendidikan dan pelatihan; h. laboratorium pengujian peralatan dan pemanfaat tenaga listrik; i. sertifikasi . . .

-3i. j. sertifikasi peralatan dan pemanfaat tenaga listrik; Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan; atau

k. usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan penyediaan tenaga listrik. Pasal 3 (1) Usaha jasa penunjang tenaga listrik dilaksanakan oleh badan usaha, yang meliputi badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, dan koperasi yang berbadan hukum Indonesia dan berusaha di bidang usaha jasa penunjang tenaga listrik sesuai dengan Klasifikasi, Kualifikasi, dan/atau sertifikat usaha jasa penunjang tenaga listrik. (2) Badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, dan koperasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan kegiatan usaha jasa penunjang tenaga listrik setelah mendapat izin usaha jasa penunjang tenaga listrik.

BAB II KLASIFIKASI, KUALIFIKASI, DAN SERTIFIKASI USAHA JASA PENUNJANG TENAGA LISTRIK Bagian Kesatu Klasifikasi Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik Pasal 4 (1) Usaha jasa konsultansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a meliputi usaha jasa perencanaan dan/atau pengawasan. (2) Usaha jasa konsultansi diklasifikasikan dalam bidang: a. pembangkitan tenaga listrik; b. transmisi tenaga listrik; c. distribusi tenaga listrik; dan d. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. (3) Usaha . . .

. b. gardu induk. dan b. pembangkit listrik tenaga uap. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan tinggi. jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. . f. h. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. Pasal 5 (1) Usaha jasa pembangunan dan pemasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b diklasifikasikan dalam bidang: a.-4(3) Usaha jasa konsultansi di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. (5) Usaha jasa konsultansi di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga gas. (4) Usaha jasa konsultansi di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkitan . pembangkit listrik tenaga diesel. pembangkit listrik tenaga air. b. e. . c. pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. pembangkit listrik tenaga nuklir. dan Tenaga Listrik tegangan c. g. pembangkit listrik tenaga panas bumi. pembangkit listrik tenaga gas-uap. Instalasi Pemanfaatan menengah. dan i. dan b. pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. d. (6) Usaha jasa konsultansi di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diklasifikasikan dalam subbidang: a.

jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. . pembangkit listrik tenaga panas bumi. Usaha jasa pembangunan dan pemasangan di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. b. c. pembangkit listrik tenaga air. dan i. distribusi tenaga listrik. dan b. jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. Usaha jasa pembangunan dan pemasangan di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diklasifikasikan dalam subbidang: a. transmisi tenaga listrik. pembangkit listrik tenaga uap. pembangkit listrik tenaga gas. pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah. pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. b. dan d. dan c. h. dan sertifikasi perencana. pembangkit listrik tenaga diesel. Pasal 6 . d. f. Usaha jasa pembangunan dan pemasangan di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. e. . g. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan menengah. dan b. pembangkit listrik tenaga gas-uap. pembangkit listrik tenaga nuklir. Kualifikasi.-5a. b. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan tinggi. Usaha jasa pembangunan dan pemasangan di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah. c. pelaksana. . pembangkitan tenaga listrik. dan pengawas bangunan sipil dan gedung untuk instalasi penyediaan tenaga listrik mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang jasa konstruksi. gardu induk. (2) (3) (4) (5) (6) Klasifikasi. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik.

-6Pasal 6 (1) Usaha jasa pemeriksaan dan pengujian instalasi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c diklasifikasikan dalam bidang: a. . (2) Usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. b. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah. dan i. (3) Usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. g. . (4) Usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. d. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. e. distribusi tenaga listrik. pembangkit listrik tenaga gas-uap. pembangkit listrik tenaga air. gardu induk. pembangkit listrik tenaga gas. b. (5) Usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diklasifikasikan dalam subbidang: a. dan b. pembangkitan tenaga listrik. h. dan b. f. pembangkit listrik tenaga panas bumi. pembangkit listrik tenaga nuklir. dan d. transmisi tenaga listrik. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. pembangkit listrik tenaga diesel. c. c. . pembangkit listrik tenaga uap. jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. Instalasi .

pembangkitan tenaga listrik. distribusi tenaga listrik. (2) Usaha jasa pengoperasian di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga gas. pembangkit listrik tenaga uap. Pasal 7 (1) Usaha jasa pengoperasian instalasi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d diklasifikasikan dalam bidang: a. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan tinggi. . Instalasi Pemanfaatan menengah. dan i. b. d. (3) Usaha jasa pengoperasian di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga gas-uap. gardu induk. dan b. g. jaringan . (4) Usaha jasa pengoperasian di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga nuklir.-7a. b. pembangkit listrik tenaga air. pembangkit listrik tenaga panas bumi. b. pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. e. . jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. . dan c. dan Tenaga Listrik tegangan c. transmisi tenaga listrik. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah. f. h. pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. pembangkit listrik tenaga diesel. c.

pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. c. pembangkit listrik tenaga diesel. b. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah. (2) Usaha jasa pemeliharaan di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. . dan c. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. b. (3) Usaha jasa pemeliharaan di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. dan b. f.-8a. (4) Usaha jasa pemeliharaan di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga gas-uap. dan b. jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. Pasal 8 (1) Usaha jasa pemeliharaan instalasi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e diklasifikasikan dalam bidang: a. dan i. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. Pasal 9 . pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. e. pembangkit listrik tenaga nuklir. pembangkit listrik tenaga air. distribusi tenaga listrik. pembangkitan tenaga listrik. gardu induk. pembangkit listrik tenaga uap. transmisi tenaga listrik. h. pembangkit listrik tenaga gas. . d. pembangkit listrik tenaga panas bumi. . g. dan b. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah.

. . jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi. jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah. c. instalasi pemanfaatan tenaga listrik. e. pembangkit listrik tenaga gas-uap. b. (4) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. dan b. b.-9Pasal 9 (1) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf g diklasifikasikan dalam bidang: a. dan b. h. (2) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. pembangkit listrik tenaga air. asesor ketenagalistrikan. . jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah. (5) Usaha . f. pembangkit listrik tenaga uap. gardu induk. g. pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan menengah. pembangkit listrik tenaga gas. (3) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. c. pembangkitan tenaga listrik. pembangkit listrik tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya. d. . transmisi tenaga listrik. pembangkit listrik tenaga nuklir. e. d. dan i. pembangkit listrik tenaga diesel. dan f. pembangkit listrik tenaga panas bumi. industri penunjang tenaga listrik. distribusi tenaga listrik.

distribusi tenaga listrik. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. d. transmisi tenaga listrik. pengoperasian.10 (5) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diklasifikasikan dalam subbidang: a. (2) Usaha jasa Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan di bidang pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan dalam subbidang: a. c. c. pembangunan dan pemasangan. . Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan tinggi. d. pemeliharaan . b. pembangkitan tenaga listrik. (6) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang asesor ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e diklasifikasikan dalam subbidang: a. (7) Usaha jasa pendidikan dan pelatihan di bidang industri penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f diklasifikasikan dalam subbidang: a. dan Tenaga Listrik tegangan c. distribusi tenaga listrik. konsultansi. pemeriksaan dan pengujian. Instalasi Pemanfaatan menengah. dan b. dan d. transmisi tenaga listrik. b. pembangkitan tenaga listrik. pemanfaat tenaga listrik.. Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah. instalasi pemanfaatan tenaga listrik. peralatan tenaga listrik. c. e. . b. . b. Pasal 10 (1) Usaha jasa Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf j diklasifikasikan dalam bidang: a.

i. (3) Usaha jasa Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan di bidang transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan dalam subbidang: a. b.. c. usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan transmisi tenaga listrik. penelitian dan pengembangan. pengoperasian. . laboratorium penguji. pendidikan dan pelatihan. (4) Usaha jasa Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan di bidang distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diklasifikasikan dalam subbidang: a. g. g. pendidikan dan pelatihan. penelitian dan pengembangan. laboratorium penguji. pengoperasian. pemeriksaan dan pengujian. pemeliharaan. pemeriksaan dan pengujian. h. d. asesor ketenagalistrikan. b. f. pembangunan dan pemasangan. . penelitian dan pengembangan. asesor ketenagalistrikan. . usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan pembangkitan tenaga listrik. laboratorium penguji. d. h. pembangunan dan pemasangan. f. c. e. pemeliharaan. j.11 e. j. e. asesor . konsultansi. h. pemeliharaan. konsultansi. g. i. i. f. pendidikan dan pelatihan.

.. pemeliharaan. . Bagian Kedua Kualifikasi Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik Pasal 12 (1) Usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. huruf h.12 i. konsultansi.. dan huruf j dikualifikasikan dalam: a. (2) Kualifikasi. usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan distribusi tenaga listrik. penelitian dan pengembangan. pemeriksaan dan pengujian. d. huruf b. laboratorium penguji. Kualifikasi usaha besar. j. dan c. e. g. Kualifikasi usaha kecil. huruf e. pembangunan dan pemasangan. Pasal 11 (1) Usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf f. (5) Usaha jasa Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diklasifikasikan dalam subbidang: a. (2) Klasifikasi untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf k diatur dalam Peraturan Menteri. b. Kualifikasi usaha menengah. huruf g. huruf d. b. c. dan huruf i diklasifikasikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pendidikan dan pelatihan. asesor ketenagalistrikan. f. h. huruf c. asesor ketenagalistrikan.

huruf i. . huruf c. Bagian Keempat . (2) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. . tingkat kemampuan usaha. keahlian kerja orang perseorangan. dan b. Bagian Ketiga Sertifikasi Pasal 14 (1) Sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) diperoleh melalui sertifikasi badan usaha. huruf g. dan huruf i dikualifikasikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 13 (1) Usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf f. huruf e. dan huruf j diberikan oleh lembaga sertifikasi badan usaha yang terakreditasi. huruf b. huruf d. (2) Kualifikasi untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf k diatur dalam Peraturan Menteri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara sertifikasi badan usaha diatur dalam Peraturan Menteri. . (3) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf f.. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kualifikasi usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri. huruf h. huruf h.13 (2) Kualifikasi usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan: a. dan huruf k diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

badan usaha milik negara. huruf h.14 Bagian Keempat Akreditasi Pasal 15 (1) Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) diberikan oleh Menteri. sahamnya b. . BAB III IZIN USAHA JASA PENUNJANG TENAGA LISTRIK Pasal 17 (1) Izin usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) diberikan sesuai dengan Klasifikasi. (2) Izin usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh: a. huruf g. Pasal 16 Akreditasi usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf f. dan/atau sertifikat yang dimiliki badan usaha. Kualifikasi. badan usaha swasta yang mayoritas dimiliki oleh penanam modal asing. huruf i. dan huruf k dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. (3) Izin . . untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik yang dilakukan oleh: 1. Menteri dapat dibantu oleh panitia akreditasi ketenagalistrikan. Menteri. (2) Dalam pelaksanaan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bupati/walikota untuk badan usaha yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh penanam modal dalam negeri. . dan 2. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara akreditasi diatur dalam Peraturan Menteri.

badan usaha mengajukan permohonan kepada Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. kecuali untuk usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah. d. sertifikat badan usaha sesuai dengan Klasifikasi dan kualifikasinya. . c. . dan e. b. identitas pemohon. (4) Izin untuk usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan oleh Menteri.. (4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kepemilikan: a. c. d. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis. Pasal 18 (1) Untuk mendapatkan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1). . (3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. Pasal 19 . surat keterangan domisili dari instansi yang berwenang. penanggung jawab teknik. akta pendirian badan usaha. tidak termasuk untuk usaha jasa pemeriksaan dan pengujian di bidang Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik tegangan rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5) huruf c. Tenaga Teknik yang bersertifikat. Nomor Pokok Wajib Pajak.15 (3) Izin usaha jasa penunjang tenaga listrik yang diberikan oleh bupati/walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b. sistem manajemen mutu. b. profil badan usaha. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permohonan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik diatur dengan Peraturan Menteri atau peraturan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

. (3) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh lembaga sertifikasi kompetensi kepada Tenaga Teknik yang memenuhi standar kompetensi. memberikan jasa dengan mutu dan pelayanan yang baik sesuai dengan sistem manajemen mutu. teknis dan ketentuan keselamatan c. (2) Penanggung jawab teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf c merupakan Tenaga Teknik yang ditetapkan sebagai penanggung jawab oleh pimpinan badan usaha. .. pada ayat (3) wajib (5) Dalam pelaksanaan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Menteri dapat dibantu oleh panitia akreditasi ketenagalistrikan. memberikan laporan secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Pasal 20 Pemegang izin usaha jasa penunjang tenaga listrik wajib: a. (4) Lembaga sebagaimana dimaksud diakreditasi oleh Menteri. mengutamakan produk dan potensi dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. dan d.16 Pasal 19 (1) Tenaga Teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf b wajib memiliki sertifikat kompetensi. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik diatur dalam Peraturan Menteri. memenuhi standar ketenagalistrikan. . b. BAB IV .

. Pasal 22 . (6) Dalam hal pada kabupaten/kota belum terdapat inspektur ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). meminta laporan pelaksanaan usaha jasa penunjang tenaga listrik sesuai dengan bidang dan subbidang usahanya. (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap: a. pemenuhan persyaratan kewajiban dalam izin usaha jasa penunjang tenaga listrik. Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dibantu oleh inspektur ketenagalistrikan. melakukan pemeriksaan di lapangan. . pemenuhan persyaratan keteknikan. c. (3) Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pembinaan terhadap usaha jasa penunjang tenaga listrik dalam bentuk penyuluhan. dan e. Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat: a. dan pelatihan. bimbingan.. melakukan analisis dan evaluasi atas laporan pelaksanaan usaha di bidang usaha jasa penunjang tenaga listrik. (5) Dalam melaksanakan pengawasan terhadap pemenuhan persyaratan keteknikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. b. bupati/walikota dapat menunjuk pejabat yang bertanggung jawab di bidang ketenagalistrikan untuk melakukan pengawasan. pengutamaan produk dan potensi dalam negeri. dan c. b. (4) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penggunaan tenaga kerja asing. d. pemenuhan standar mutu pelayanan sesuai dengan sistem manajemen mutu. .17 BAB IV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 21 (1) Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pembinaan dan pengawasan usaha jasa penunjang tenaga listrik.

huruf c. . (4) Dalam hal tertentu teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan hanya 1 (satu) kali apabila kegiatan usaha jasa penunjang tenaga listrik yang dilakukan membahayakan keselamatan ketenagalistrikan. Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya memberikan sanksi administratif berupa pembekuan kegiatan sementara. dikenai sanksi administratif oleh Menteri atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.. (7) Sanksi administratif berupa pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dikenai kepada pemegang izin usaha jasa penunjang tenaga listrik yang tidak melaksanakan kewajiban sampai dengan berakhirnya jangka waktu pengenaan sanksi pembekuan kegiatan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (6). prosedur dan kriteria di bidang usaha jasa penunjang tenaga listrik. teguran tertulis. . Pasal 20 huruf a. (6) Sanksi administratif berupa pembekuan kegiatan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikenakan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan. atau huruf d. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. (8) Pencabutan . pencabutan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik. b. (3) Teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan paling banyak 3 (tiga) kali. . pembekuan kegiatan sementara. (5) Dalam hal pemegang izin usaha jasa penunjang tenaga listrik yang dikenai sanksi teguran tertulis setelah berakhirnya jangka waktu teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau ayat (4) belum melaksanakan kewajibannya. huruf b. BAB V SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 23 (1) Setiap pemegang izin usaha jasa penunjang tenaga listrik yang melanggar ketentuan dalam Pasal 19 ayat (1) atau ayat (2). standar.18 Pasal 22 Menteri menetapkan norma. dan/atau c.

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1995 tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 46. (2) Permohonan Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik yang telah diajukan kepada Menteri atau bupati/walikota dan masih dalam proses. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 24 (1) Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik dan Sertifikat yang telah diberikan sebelum Peraturan Pemerintah ini diundangkan. wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. semua peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1995 tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 46. Pasal 27 Peraturan Pemerintah diundangkan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini. . ini mulai berlaku pada tanggal Agar .19 (8) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (7) tidak menghapus kewajiban pemegang izin usaha jasa penunjang tenaga listrik kepada pihak ketiga. . tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik dan Sertifikat. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3603). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3603). Pasal 26 Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku.. . BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku.

. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd. ttd. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6 Juli 2012 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. H. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Juli 2012 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. DR.20 Agar setiap orang mengetahuinya. AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 141 .

serta sanksi administratif. Usaha jasa penunjang tenaga listrik harus dilakukan oleh badan usaha. aman.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2012 TENTANG USAHA JASA PENUNJANG TENAGA LISTRIK I. dan sertifikasi. Ayat (3) . Untuk mewujudkan usaha jasa penunjang tenaga listrik yang mampu memberikan pelayanan yang profesional. pemeriksaan dan pengujian. Pasal 3 Cukup jelas. . . II. Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas. pengoperasian dan pemeliharaan instalasi tenaga listrik. Peraturan Pemerintah ini juga mengatur bahwa instalasi tenaga listrik dikerjakan oleh Tenaga Teknik yang memiliki kompetensi. izin. pembinaan dan pengawasan usaha jasa penunjang tenaga listrik. Ayat (2) Cukup jelas. perlu dilakukan pengaturan terhadap usaha jasa penunjang tenaga listrik. Kualifikasi. Usaha jasa penunjang tenaga listrik antara lain. konsultansi. UMUM Usaha jasa penunjang tenaga listrik berperan penting dalam menunjang kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik untuk mewujudkan penyediaan tenaga listrik yang andal. dan ramah lingkungan. Peraturan Pemerintah ini mengatur ketentuan mengenai Klasifikasi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. . Pasal 2 Cukup jelas. pembangunan dan pemasangan.

pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). Huruf b Cukup jelas. .-2Ayat (3) Huruf a Cukup jelas. Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. Huruf h Cukup jelas. Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini. pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Ayat (4) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara. dan hidrogen. dan pico. dan peralatan SCADA. Huruf d Cukup jelas. . Ayat (5) . . mikro. Huruf g Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle. Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. energi laut. saluran bawah tanah dan saluran bawah air. Huruf e Cukup jelas.

Huruf g Cukup jelas. mikro. dan pico. Huruf h Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. . Huruf i . Huruf b Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. . Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle. . Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini. Huruf d Cukup jelas. Pasal 5 Ayat (1) Usaha jasa pembangunan dan pemasangan Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik termasuk proteksi terhadap petir.-3Ayat (5) Huruf a Jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA.

Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. energi laut. Huruf b Cukup jelas. dan hidrogen. . pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). saluran bawah tanah dan saluran bawah air. pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle.-4Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. . Ayat Ayat Ayat Ayat Pasal 6 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf d . (4) Huruf a Jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA. pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). (5) Cukup jelas. dan peralatan SCADA. (6) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. . (3) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara.

Ayat (3) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara. . Huruf b Cukup jelas. . Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. mikro.-5Huruf d Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. energi laut. dan pico. pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini. dan hidrogen. pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Huruf g Cukup jelas. Ayat (5) . Huruf e Cukup jelas. Ayat (4) Huruf a Jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA. dan peralatan SCADA. saluran bawah tanah dan saluran bawah air. pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). .

energi laut. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini. Ayat (3) . . pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Huruf h Cukup jelas. Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. dan hidrogen. mikro. .-6Ayat (5) Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle. Huruf e Cukup jelas. dan pico. pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). Huruf g Cukup jelas. . Huruf d Cukup jelas.

Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle. dan pico. . Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini.-7Ayat (3) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara. Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. mikro. Ayat (4) Huruf a Jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA. Huruf g . Huruf e Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. saluran bawah tanah dan saluran bawah air. Huruf b Cukup jelas. . . Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas. dan peralatan SCADA.

pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). dan peralatan SCADA. . Huruf c . Huruf b Cukup jelas. dan hidrogen. Ayat (3) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara. Huruf b Cukup jelas. Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Pasal 9 Ayat (1) Cukup jelas. . Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. energi laut. pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). Ayat (4) Huruf a Jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA. Huruf h Cukup jelas. saluran bawah tanah dan saluran bawah air.-8Huruf g Cukup jelas. Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. .

dan peralatan SCADA. Huruf i Jenis tenaga energi baru lainnya dan tenaga energi terbarukan lainnya antara lain. Huruf b . Huruf e Cukup jelas. Huruf b Gardu induk dalam ketentuan ini termasuk peralatan konverter dan inverter untuk instalasi arus searah dan peralatan SCADA. Huruf h Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. pembangkit listrik tenaga biomas (PLTBM). mikro. pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). dan pico. . saluran bawah tanah dan saluran bawah air. . energi laut. Huruf d Cukup jelas.-9Huruf c Yang dimaksud dengan “pembangkit listrik tenaga gas-uap” adalah combine cycle. Ayat (4) Huruf a Jaringan distribusi tegangan menengah dalam ketentuan ini termasuk gardu distribusi dan peralatan SCADA. Huruf f Yang dimaksud dengan “tenaga air skala kecil” adalah mini. . Ayat (3) Huruf a Jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi dan/atau tegangan ekstra tinggi dalam ketentuan ini meliputi saluran udara. pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). dan hidrogen.

Huruf b Cukup jelas. usaha jasa . Huruf i Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Huruf j . . Huruf f Cukup jelas.10 Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. . Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud “konsultansi” meliputi perencanaan dan/atau pengawasan. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas..

Huruf h Cukup jelas. Ayat (4) Huruf a Yang dimaksud “konsultansi” meliputi perencanaan dan/atau pengawasan. Huruf b Cukup jelas. . Huruf j Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf d . usaha jasa usaha jasa . . Huruf c Cukup jelas.. Huruf g Cukup jelas. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud “konsultansi” meliputi perencanaan dan/atau pengawasan.11 Huruf j Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas.

Huruf i Cukup jelas.12 Huruf d Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. . usaha jasa . Ayat (5) Huruf a Yang dimaksud “konsultansi” meliputi perencanaan dan/atau pengawasan. Huruf g Cukup jelas.. . Huruf e Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Pasal 11 . Huruf d Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas.

Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “mayoritas sahamnya dimiliki oleh penanam modal asing” adalah saham yang dimiliki pada saat pengajuan permohonan dan perpanjangan Izin usaha jasa penunjang tenaga listrik. Huruf b . . . penilaian mengenai keuangan.. . Pasal 14 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan ”tingkat kemampuan usaha” antara lain. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas. dan persyaratan teknis tertentu. Pasal 15 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas.13 Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. personalia. Ayat (3) Cukup jelas.

. Ayat (4) Huruf a Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. . Huruf c Cukup jelas.. Huruf b Cukup jelas. dan aturan lain untuk mengatur aktivitas terkait dengan mutu. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 19 . prosedur. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas. . manual. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan “sistem manajemen mutu” adalah kesatuan dari kebijakan. struktur organisasi.14 Huruf b Yang dimaksud dengan “mayoritas sahamnya dimiliki oleh penanam modal dalam negeri” adalah saham yang mayoritasnya dimiliki oleh penanam modal dalam negeri pada saat pengajuan permohonan dan perpanjangan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik.

. Ayat (3) Cukup jelas.15 Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan ketenagalistrikan. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b . Ayat (6) Cukup jelas. . Ayat (7) Cukup jelas. “Tenaga Teknik” termasuk asesor . Pasal 20 Huruf a Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “produk” meliputi barang dan jasa. Huruf d Cukup jelas.. Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas.

Huruf e Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5326 . Huruf d Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. dilakukan berkoordinasi dengan instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan. Pasal 25 Cukup jelas.16 Huruf b Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Huruf c Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penggunaan tenaga kerja asing. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->