P. 1
Hubungan Iq Dengan Proses Belajar

Hubungan Iq Dengan Proses Belajar

|Views: 49|Likes:
Published by JAMRIDAFRIZAL

More info:

Published by: JAMRIDAFRIZAL on Aug 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2012

pdf

text

original

HUBUNGAN IQ DENGAN PROSES BELAJAR dan PERAN INTELEGENSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR Jamridafrizal,M.

Hum

A. PENDAHULUAN Sebelum menginjak kepada pokok permasalahan, kami ingin sedikit mengulas realita tentang gambaran IQ (Intelligence Quotient) yang dihubungkan dengan proses dan peran terhadap belajar. IQ biasanya menjadi pokok utama dalam perkembangan kesuksesan dan kecerdasan seseorang untuk menggapai cita-citanya.seperti dalam kasus yang merupakan kisah nyata di beberapa sekolah Manado ini yang membuka mata banyak orang tentang kecerdasan dan kesuksesan. Apakah yang cerdas hanyalah mereka yang pintar matematika dan bahasa, yang IQ mereka di atas 100 ? fakta lain membuktikan bahwa sebagian besar siswa yang nilai rapotnya bagus banyak yang kemudian menganggur, sementara yang nilai rapotnya dibawah rata-rata yang cuma pintar main music dan piawai berolahraga, mereka dapat diterima di beberapa perusahaan yang munafid sebagai kariawan tetap. Bahkan mereka lebih sukses di bandingkan dengan teman-temannya yang pintar matematika dan bahasa. Kasus yang paling tragis tentang hubungan kecerdasan dan kesuksesan tanpak pada si genius Theodore John Kaczynski Si genius ahli matematika lulusan Harvard University an Michigan University yang di juluki Unabom. Dengan bom yang diciptakannya sendiri, dapat membunuh dan melukai sekian ribu jiwa mahluk Tuhan. Ted si otak genius kaya dengan matematika dan selalu memakai imajinasinya dan tidak diragukan lagi kehebatannya dalam bidang matematika, tapi, sayang kehebatan dan kecerdasannya tidak diiringi kepiawaiannya dalam membina hubungan social. Ted memiliki cacat dalam membangun hubungan social dengan orang lain, dan dia termasuk orang yang merugi + dilaknat (karena kepintaran atau kecerdasannya di gunakan untuk kejahatan). Di sekitar kita ada banyak “Ted” dengan berbagai variasinya, Para genius di sekolah menengah maupun atas dan perguruan tinggi , sebagian mereka dengan ambisi-ambisi yang tak terkendali merupakan figur-figur idola banyak orang. Sebagian besar orang lebih banyak mengidolakan Bj. Habibi dari pada Mas Basuki dengan kepiawaian “Sing Gesit Irit” dan Si Komeng “Uuy”. Dan sebagian lagi lebih mengidolakan Thomas Alfa Eddison dari pada Bapak Tatang Kurniadi sebagai kepala Staff PLN pusat kota Madya. Jelaslah sudah bahwasannya kasus diatas telah menjadi bukti kurangnya penghargaan terhadap kemampuan-kemampuan dan kelebihan-kelebihan yang di miliki oleh setiap orang sebagai mahluk Tuhan yang di fitrahi dan dikaruniai suatu kelebihan masing-masing. Dalam sya’ir Arab dari Abi ‘Aqohiyah berkata: Setiap Seseorang pasti mempunyai kelebihan Masing-”

: ‫لكل ش ٍٍمزية‬ ٌ ّ ِ َ ‫ِ ُ ّ َئ‬ ْ
“Masing

ِ َ َ ُ ََ ِ ْ َ ُ َ ْ ِ َ ‫لكل ش ٍزينة فىالورى # وزينةالمرءتمام الذب‬ َ َ ِ ٌ َ ْ ِ ٍ ‫ِ ُ ّ َئ‬ ْ

“ Setiap manusia mempunyi kunggulan dalam dirinya. Dan keunggulan yang paling utama adalah orang yang mempunyai akhlakul karimah yang sempurna “ Jadi keutamaan manusia yang telah Allah berikan yaitu Aqal untuk berfikir Dalam SURAT AL-IMRON : 190-191 Allah berfirman akan cirri-ciri orang yang berakal.

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 1

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Alah Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa api neraka. (Q.S. al-Imron : 190-191).

َ ْ ِ َّ ‫إن فىخلق السموات والرض واختلف اليل والنهارليآت لولىاللباب # الذين‬ ِ َ َ ِ ْ ِ ِ َ ِ َ ّ َ ِ ْ ّ ِ َ ِْ َ ِ ْ َ َ ِ َ ّ ِ َْ ِ ّ ِ ُ ‫يذكرون ال قياماوقعوداوعلىجنوبهم ويتفك مرون فىخل مق الس مموات والرض ربناممماخلقت‬ َ ْ ََ َ َ ّ َ ِ ْ َ َ ِ َ َ ّ ِ ْ َ ِ َ ْ ُ ّ َ َ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ُ َ َ ً ْ ُ ُ َ ً َ ِ َ َ ْ ُ ُ ْ َ ( 191 – 190 : ‫هذاباطلسبحانك فقناعذاب النار ) العمران‬ ِ ّ َ َ َ ََِ َ َ َ ْ ُ ً ِ َ َ َ

Menurut Psikolog Daniel Goleman : bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 5-10 % bagi kesuksesan hidup. • Kecerdasan IQ, EQ, EI, SQ, MI merupakan kunci-kunci kesuksesan yang betul-betul mengorek hingga kedasar kemampuan yang dimiliki oleh manusia. (Taufiq Paisak. Revolusi IQ, EQ, SQ. 2003 :15-16)

B. PEMBAHASAN HUBUNGAN IQ DENGAN PROSES BELAJAR Ada beberapa ciri yang berhubungan dengan tingkatan Intelegensi terhadap proses belajar terhadap peserta didik. Yaitu sebagai berikut :
No IQ Sebutan Kemampuan belajar Idiot merupakan kelompok idividu terbelakang yang paling rendah. Tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya tidak dapat mengurusi dirinya sendiri dalam hal keseharian dan tingal di tempat tidur sepanjang hayatnya. Adapun perkembangan intelegensinya sama dengan anak normal 2 tahun, dan umumnya mempunyai umur yang tidak panjang sebab selain intelegensinya rendah, juga badannya kurang tahan kena penyakit. Dan ini jarang bahkan tidak ditemui di sekolah-sekolah manapun baik yang biasa maupun luar biasa kelompok Imbecila setingkat dengan lebih tinggi dari anak idiot. Ia dapat belajar berbahasa dan dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasa yang teliti. Pada Imbecile ini dapat diberikan latihan-latihan ringan akan tetapi dalam kehidupannya selalu bergantung pada orang lain ( tidak bisa mandiri ). Adapun kecerdasan sama halnya dengan anak normal berumur 3 tahun sampai 7 tahun. Dan anak Imbecile tidak dapat di didik di sekolah-sekolah biasa

1.

0 – 29

Idiot

2.

30-40

Imbecile

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 2

1.

50-69

2.

70-79

3. 80-89

4 90-109 . 5. 110-119 6. 120-129

kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menghitung, menulis dan dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Dan anakanak Debil/Moron ini dapat di didik di sekolah luar biasa kelompok ini berada diatas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok normal (sebagai batas pertengahan). Dengan proses yang sangat susah dan Bodoh (Dull/ banyak hambatan akhirnya kelompok ini Borderline), dapat melanjutkan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan kelas-kelas terakhir di sekolah SLTP. kelompok ini termasuk kelompok normal Normal Rendah atau rata-rata atau sedang tapi pada (bellow average) tingkat bawah.Adapun dalam proses belajar mereka agak lambat dalam mencerna pelajaran dalam belajar, mereka dapat menyelesaikan SMP tetapi agak kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas pada jenjang SLTA kelompok ini merupakan kelompok yang normal atau rata-rata. Mereka Normal Sedang merupakan yang terbesar presentasenya dalam populasi penduduk. Moron /Debil (mentally handicapped/retarted ), Normal Tinggi (above average), kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal tetapi berada pada tingkat yang tertinggi. kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah / akademik. Mereka Cerdas (Superior), seringkali terdapat dalam kelas biasa. Pimpinan kelas biasa berasal dari kelompok ini. anak-anak sangat cerdas ini lebih cakap dalam membaca, mempunyai Sangat Cerdas (very pengetahuan tentang bilangan yang superior/gifted), sangat baik, dan memiliki perbendaharaan kata yang luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya semua aspek lebih menonjol dari pada anak normal Kelompok ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa. Mereka pada umumnya memiliki kecakapan dan kemampuan dalam mememcahkan masalah dan dapat menemukan ide-ide Genius cemerlang atau sesuatu yang baru, walaupun tidak duduk dibangku

130-139

140 ke atas

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 3

pendidikan / sekolah. Kelompok ini berada dalam semua ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi, baik laki-laki maupun perempuan.

C.PERAN INTELEGENSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR ( utami munandar ) Peran Intelegensi terhadap prestasi belajar adalah masalah dimensionalitas intelegensi dalam prestasi pada pendidikan di sekolah. Dengan demikian banyak dari kalangan ilmuan meneliti seberapa besar pengaruh intelegensi terhadap prestasi belajar khususnya di sekolah, akan tetapi disini penulis ingin mengulas sedikit dari para pendapat ilmuan tentang hubungn kreativitas dan intelegensi terhadap pengaruh prestasi sekolah dengan menyibukan bagaimana implikasinya terhadap pendidikan. • Torrance (1959). Gatzels & Jackson (1962). Dari Yamamoto (1964) : Kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dalam prestasi sekolah dari kelompok siswa yang intelegensinya relative lebih tinggi. • Torrance (1959) : Dari hasil hipotesis menyatakan bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu dan orsinalitas dari subyek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan factor-faktor lain yang diukur oleh tes intelegensi. • Utami Munandar (1977) : Terhadap siswa SD dan SMP menunjukan bahwa kreativitas sama absahnya seperti intelegensi sebagai predictor prestasi sekolah. Jika efek intelegensi dieliminasi, hubungan antara kreativitas dan prestasi sekolah tetap substansial. Adapun kombinasi dari intelegensi dan kreativitas lebih efektif sebagai predictor prestasi sekolah daripada masing-masing ukuran sendiri. • Milgram (1990) : Menekankan bahwa intelegensi atau IQ semata-mata tidak meramalkan kreativitas dalam kehidupan nyata, demikian juga dengan tes kreativitas sendiri. • Cropley (1994) : True giftednees (keberbakatan sejati) merupakan gabungan antara kemampuan konvensional (ingatan baik, berpikir logis, pengetahuan factual, kecermatan, dsb) dan kemampuan kreatif (menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternative, melihat kombunasi yang tak terduga, memiliki keberanian dalam mencoba hal yang tidak lazim, dsb) • Hofstee (1969) : Hubungan antara intelegensi dan kreativitas adalah sebagai prediktor keberhasilan di sekolah, dengan demikian untuk mengetahui hubungan antara kreativitas, intelegensi dan ingatan dengan prestasi belajar serta bagaimana sumbangan relative masing-masing terhadap keberhasilan di sekolah. Dan ini yang disebut system pendidikan diagnostic terbalik (inverted diagnostic).

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 4

Dalam hal ini antara tes (kreativitas, intelegensi dan ingatan) dan criteria (prestasi sekolah) menginformasikan kualits system pendidikan. Dan ada catatan penting bahwa di Negara Indonesia penggunaan tes kreativitas lebih utama baik dalam bidang pendidikan maupun perusahaan.

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 5

C. KESIMPULAN ♦ Kualitas Intelegensi atau kecerdasan yang tinggi dipandang sebagai factor ♦ ♦

yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam belajar dan meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Dan ternyata IQ mempunyai peranan dan hubungan yang sangat urgen dalam meraih prestasi belajar di sekolah. Pandangan baru : faktore yang paling dominant mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) individu dalam hidupnya bukan semata-mata di tentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tatapi oleh factor kemantapan Emosional (EQ). (dari : Daniel Goleman) Banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena memiliki kecerdasan emosional meskipun intelegensinya pada tingkat rata-rata. IQ mempunyai peranan penting terhadap prestasi belajar sebagai predictor utama dalam kesuksesan system belajar di Sekolah walaupun tidak mempunyai efek substansial terhadapa hubungan antara kreativitas dan prestasi sekolah. Kombinasi antara intelegensi dan kreativitas lebih efektif sebagai predictor prestasi sekolah dan baik digunakan kombinasi dari tes intelegensi dan tes kreativitas sebagai bentuk dan tujuan sleksi dan identifikasi. Pandangan lain : pada sekolah, ingatan mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada intelegensi dan kreatifitas. Oleh karena itu, baik dalam assessment siswa maupun penilaian system pendidikan sebaiknya di gunakan sebagai tes yag mempunyai arti psikologis yang bermakna dan cukup beragam dalam saran dan kualitas system pendidikan. Menurut Psikolog Daniel Goleman : bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 5-10 % bagi kesuksesan hidup.1

D. REFERENSI ⇒ Yusuf, Syamsu,LN, M.Pd, H, Dr., Psikologi Perkembangan Anak & Remaja,

Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2000 M. ⇒ Munandar, Utami, S.C., Dr, Prof., Kreativitas & Kebakatan, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002. ⇒ Pasiak, Taufiq, Revolusi IQ / EQ / SQ Antara Nasionalis & Al-Qur’an, Bandung : MIZAN, 2003 M.

“Ilmu Jiwa Belajar” Tarbiyah PAI B Smestr V

No : 6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->