P. 1
Hukum Dakwah Kepada Orang Kafir Yang Diperangi

Hukum Dakwah Kepada Orang Kafir Yang Diperangi

|Views: 126|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Aug 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2015

pdf

text

original

As-Syeikh Al-Mujahid Abu Abdillah Al-Muhajir fakkallohu asroh

Kupas Tuntas Fiqih Jihad

Bagian Ketiga

Hukum Dakwah Kepada
Orang Kafir yang
diperangi
Judul Asli
: نيبراحملا ةوعد ماكحأ داهجلا هقف نم لئاسم
Masailu min Fiqhil Jihad : Ahkamu Da'wah Al-Muharibin
Penulis
As-SyeikhAl-MujahidAbuAbdillahAl-Muhajirfakkallohuasroh
Judul Terjemahan
KupasTuntasFiqihJihad
BagianKetiga:HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Alih Bahasa
AbuNabilaFaridaMuhammad
semogaAllahmenjaganyadanmenjagakeduaorangtuanyadengansebaik-baikpemeliharaan,
melimpahkankeberkahandankebaikansepanjangumurnyauntukdakwahtauhidwaljihaddan
memilihnyasebagaisyuhadaataumembebaskannyadarihisabkarenahijrohdijalanAlloh
Artwork, Layout, Editing, Muroja’ah
TimJahizunaProjecthafidhohumulloh
Jazakumullohatasamaljama’Ipenuhbarokahini.Seluruhwaktu,danadankerjakerasyangantum
dermakanakandigantidengankebaikanyangberterusanhinggahariakhir,insyaAlloh.HanyaAlloh
yangmengetahuituluscintaantumpadajihaddanmujahidin,manusiahanyamampumenilaidarikarya
yangdilahirkan~leadproject
Publikasi
JahizunaPublishing
www.jahizuna.com|www.facebook.com/jahizuna
MaktabahJahizunaControlNumber:node/858
Signature:B4D71809979D811A025C6EBB069BA7B9EF9E3987
Kitab Asli dapat ditemukan di
MimbarTauhidwalJihad
http://www.tawhed.ws/dl?i=7za3aa1a
ROMADHON 1433
Adakah Gading yang tak Retak?
Meskipun kami telah sekuat tenaga melakukan editing dan muroja'ah berulang-ulang, sangat
mungkin masih terdapat cacat penterjemahan. Kami akan sangat berterima kasih jika antum
bersedia melaporkan temuan kesalahan-kesalahan terjemahan kepada kami.

Berenang bersama Arus Salafy Jihadi
Antum dapat mendiskusikan topik ini atau yang lainnya bersama saudara-saudara antum yang
mulia di forum:
Berbahasa Indo-Melayu
http://at-tawbah.net/vb
http://al-busyro.org/vb
Berbahasa Arab
https://as-ansar.com/vb
https://as-ansar.org/vb
Berbahasa Inggris
www.ansar1.info
https://www.ansar1.info
Dedikasi
Terbitan Indo-Melayu ini sebagai hadiah spesial bulan romadhon 1433 untuk Saroyah Dakwah
Al-Muqowamah Al-Islamiyah Al-Alamiyah di sekitar Nusantara, hendaknya kalian terhibur.
Berlalulah dengan barokah Alloh sekalipun engkau menempuhnya seorang diri, yakinlah
Thuba hanya bagi orang-orang terasing!
i | j a h i z u n a

Lisensi Ringkas
Antum sangat disarankan:
• Berbagi — menyalin, mengumumkan, dan menyebarkan karya ini wa jazakumulloh
khoiron
Antum diperbolehkan:
• Menggubah — mengadaptasi karya ini; memperbaiki terjemahan, merubah heading,
menukil sebagian atau keseluruhan dan konversi format dokumen.
Sesuai ketentuan berikut:
• Atribusi — Antum harus menyebutkan sumber atas karya ini yaitu Maktabah Jahizuna,
Jahizuna Publishing, Maktabah At-Tauhid wal Jihad atau www.jahizuna.com (tetapi
tidak dengan cara seakan-akan kami mendukung Antum atau penggunaan Antum
terhadap karya tersebut).
• Data Sejarah — Informasi gubahan harus disertakan dalam dokumen.
• Nonkomersial — Antum tidak diijinkan menggunakan karya ini dan adaptasinya untuk
tujuan komersil atau kepentingan sempit kelompok.
Dengan pemahaman bahwa:
• Pengesampingan — Ketentuan apa pun yang disebut di atas dapat dikesampingkan
jika Antum mendapat izin dari kami.
• Hak Lain — Perhatikan hak-hak berikut ini:
1. Hak moral penulis;
2. Hak pihak lain yang mungkin ada di dalam karya ini atau di dalam cara
penggunaan karya ini, seperti hak mengumumkan/memperbanyak atau hak
privasi.
ii | j a h i z u n a
Daftar Isi
1.Definisi Dakwah yang Menjadi Pembahasan.......................................................................1
Dakwah Haqiqiyah.............................................................................................................1
Dakwah Hikmiyah..............................................................................................................2
2.Hukum Dakwah Qobla Qital.................................................................................................4
Wajib Dakwah kepada Mereka yang Belum Mendengar Dakwah.....................................4
Boleh Dakwah kepada Mereka yang telah Mendengar Dakwah........................................6
Masyruiyah Mentiadakan Dakwah kepada Mereka yang telah Mendengar Dakwah........7
3.Faidah Penting...................................................................................................................12
Madzhab Hanafi...............................................................................................................12
Madzhab Hanbali.............................................................................................................13
4.Catatan Penting.................................................................................................................15
Pertama........................................................................................................................... 15
Kedua............................................................................................................................... 17
iii | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
1. Definisi Dakwah yang Menjadi Pembahasan
[h.49] Maksud dakwah disini yaitu mendakwahi orang-orang kafir yang diperangi (al-
muharibin) kepada Islam kemudian kepada membayar jizyah
1
sebelum menyerang mereka.
Para fuqaha telah menegaskan bahwa dakwah terbagi menjadi dua, dakwah haqiqiyah dan
dakwah hikmiyah. Dakwah haqiqiyah adalah dakwah dengan lisan sedangkan dakwah
hikmiyah yaitu ekspansi dakwah ke penjuru timur dan barat menyampaikan untuk apa
mereka didakwahi dan mengapa mereka diperangi sehingga kaum muslimin menjadi bangsa
yang diakui. (Bahru Roiq 5/82, Syarh Fathul Qodir 5/445)
Dakwah Haqiqiyah
Adapun sifat dakwah haqiqiyah maka kami sampaikan -nanti akan kami jelaskan nash-nashnya
yang shorih secara lebih lengkap-:
Dalam kitab Kifayatut Tholib: Sifat dakwah adalah menawarkan Islam kepada mereka. Jika
mereka memenuhi seruan Islam ini maka tahanlah tanganmu. Bila mereka menolak, tawarkan
membayar jizyah. Jika mereka menolak jizyah maka perangilah mereka. Jika mereka menyerah
setelah diperangi maka hentikan serangan dan perintahkan kepada mereka untuk tunduk
kepada kekuasaan kita, namun bila mereka tidak mau menyerah, maka serang mereka sampai
kalah. Semua ini dilakukan dengan tenggang waktu. Seandainya mereka menyerang kalian
sebelum dakwah, maka balas serang mereka tanpa didakwahi terlebih dahulu. (Kifayatuth
Tholib 2/6, Ats-Tsamaru Dani Syarhu Risalah Al-Qiruni 1/412)
Berkata Ibnu Hubaib rohimahulloh, berkata Malik: “Bila diwajibkan dakwah atasnya maka
materi dakwah hanya menjelaskan Islam secara umum tanpa memerinci hukum-hukum
syariat kecuali apabila mereka meminta perincian. Begitu juga ketika menyeru mereka agar
membayah jizyah, maka terangkan secara umum tanpa memerinci kecuali jika mereka
meminta perincian. (Tarikh Al-Iklil 3/350)
[h.50] Tenggang waktu dakwah kepada kafir harbi asli adalah tiga hari sama seperti tenggang
waktu bagi kafir murtad. Tiga kali didakwahi dalam tiga hari. Jika mereka menerima dengan
masuk Islam atau menyerah dengan membayar jizyah, maka kita membatalkan serangan
karena darah dan harta mereka telah terjaga. Jika mereka menolak masuk Islam atau
1
Para ulama sepakat menerima jizyah dari Ahli Kitab dan Majusi serta sepakat menolak jizyah dari
kelompok murtad. Selain kelompok-kelompok ini para ulama berselisih pendapat. Periksa Al-Mughni
Ibnu Qudamah 9/173-174, Ahkamu Ahli Dzimmah karya Ibnul Qoyyim 1/87 – 111.
1 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
membayar jizyah, serang mereka secara fisik dengan seluruh model seni perang. (Al-Fawakih
Ad-Diwani 1/396)
Dakwah Hikmiyah
Adapun dakwah hikmiyah yaitu dengan mempresentasikan Islam kepada orang-orang kafir
dengan berbagai metode. Alloh ta'ala berfirman:

ل

ق
'
يأ
¸
ء

ي

ش

ر

ب

كأ

ة

دا

ه

ش

ل

ق

ه
`
للا

دي

ه

ش

ن

ي

ب

م

ك

ن

ي

ب

و

ي

حوأ

و
`

ل

إ ا

ذ

ه

نآ

ر

قلا م

ك

ر

ذن

ل

ه

ب ن

م

و

غ

ل

ب

م

ك`ن

ئأ

نو

د

ه

ش

ت

ل ` نأ

ع

م

ه
`
للا

ة

لآ

ى

ر

خأ ل

ق
`
ل

د

ه

شأ

ل

ق ا

`
ن

إ

و

ه

ه

ل

إ

د

حا

و

ن`ن

إ

و

ءي

ر

ب ا`` م

نو

ك

ر

ش

ت
Katakanlah wahai Muhammad, siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? katakanlah, "Alloh",
Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu
aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang telah sampai Al-Quran
kepadanya. Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa tidak ada ilah-ilah lain bersama
Alloh?" Katakanlah, "Aku tidak dapat bersaksi, "Katakanlah, "Sesungguhnya hanyalah Dialah
Alloh Robb Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan
Alloh." (QS. Al-An'aam: 19)
As-Saadi rohimahulloh menafsirkan م

ك

ر

ذن

ل

ه

ب ن

م

و

غ

ل

ب (agar dengan itu aku memberi peringatan
kepadamu dan kepada orang yang telah sampai Al-Quran kepadanya): makna “kepada orang
yang telah sampai Al-Quran kepadanya” yaitu siapa saja yang telah mendengar Al-Qur’an,
maka dia telah diberi warning.
Muhammad bin Ka'ab rohimahulloh menafsirkannya dengan: Siapa saja yang telah
mendengar Al-Qur’an, maka seakan-akan dia telah melihat Nabi sholallohu alaihi wa sallam.
Ibnu Zaid rohimahulloh menafsirakan

ي

حوأ

و
`

ل

إ ا

ذ

ه

نآ

ر

قلا م

ك

ر

ذن

ل

ه

ب ن

م

و

غ

ل

ب (Al-Quran ini diwahyukan
kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang telah
sampai Al-Quran kepadanya) maksudnya (seakan-akan) Rosululloh berkata: “Barangsiapa
telah mendengar Al-Qur’an maka aku telah memberi warning padanya.” Kemudian Ibnu Zaid
membacakan firman Alloh

ل

ق ا

ي ا

ه
'
يأ

سا`نلا ` ن

إ لو

س

ر

ه
`
للا

م ك

يل

إ ا

عي

ج (Katakanlah (wahai Muhammad):
Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semuanya);
maksudnya barangsiapa yang telah sampai Al-Quran padanya maka Rosululloh shollallohu
alaihi wa sallam telah memperingatinya.
Dari Hasan bin Sholih berkata, aku bertanya kepada Laits, “Apakah kriteria seseorang disebut
belum sampai baginya dakwah?” Beliau menjawab: “Mujahid berkata, jika seseorang telah
mendengar Al-Qur’an, maka dia telah didakwahi dan dia telah diberi peringatan. Kemudian
2 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Laits membaca ayat م

ك

ر

ذن

ل

ه

ب ن

م

و

غ

ل

ب (agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang yang telah sampai Al-Quran kepadanya).
Mujahid menafsirkan

ي

حوأ

و
`

ل

إ ا

ذ

ه

نآ

ر

قلا م

ك

ر

ذن

ل

ه

ب (Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengan
itu aku memberi peringatan kepadamu) yaitu bangsa Arab. Firman Alloh ن

م

و

غ

ل

ب (dan kepada
orang yang telah sampai Al-Quran kepadanya) yaitu bangsa Ajam (non arab). (Periksa kembali
atsar ini di Tafsir At-Thobary 7/162-163)
Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam bersabda, "Dan demi jiwaku yang berada di tangan-
Nya, tidaklah salah seorang mendengar dariku dari umat yahudi dan tidak pula umat nasrani
lalu dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali dia termasuk
penghuni neraka." (Muslim 1/134)
[h.51] Maka setiap orang yang telah sampai kepadanya dakwah Rosululloh shollallohu alaihi
wa sallam yaitu dakwah kepada dienulloh yang dia (Muhammad) telah diutus dengannya,
namun dia tidak mengikutinya maka dia wajib diperangi sampai tidak ada lagi fitnah dan dien
ini semuanya untuk Alloh. (Al-Fatawa 28/349)
3 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
2. Hukum Dakwah Qobla Qital
Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum ditegakkannya dakwah ini (dalam keadaan
sebenarnya dan ketika berhadapan dengan musuh)
2
dan sebelum terjadinya konfrontasi
tempur. Sebagian ulama mensyaratkan dakwah terlebih dahulu secara mutlak, maksudnya
mengingatkan kembali dakwah kepada mereka yang pernah mendengar dakwah sebelumnya
dan mendakwahi mereka yang belum sampai dakwah agar menjadi muslimin.
Ulama lain meniadakan sama sekali secara mutlak syarat dakwah, maksudnya (tidak perlu)
mengingatkan kembali dakwah kepada mereka yang pernah mendengar dakwah sebelumnya
dan (tidak perlu pula) mendakwahi mereka yang belum sampai dakwah. (Lihat Fathul Bari'
6/108-109, 7/478, Syarah An-Nawawi dari hadits Muslim 12/36)
Dan pendapat yang benar dan masyhur yang tampak dari nash-nash yang ada adalah
pendapat milik jumhur ulama (mayoritas ulama) yaitu; dakwah adalah wajib qobla qital
(sebelum perang). Syarat ini hanya bagi mereka yang belum pernah mendengar dakwah.
Namun bagi mereka yang telah mendengar dakwah, maka dakwah sebelum memerangi
mereka hukumnya tidak wajib.
Berkata Imam Nawawi rohimahulloh: Inilah pendapat yang benar yang dipegang oleh Nafi'
budak Ibnu Umar, Al-Hasan Al-Bashri, Ats-Tsauri, Al-Laits, Asy-Syafi'i, Abu Ats-Tsauri, Ibnu
Mundzir, dan jumhur. Berkata Ibnu Al-Mundzir: Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ahli
ilmi, dan pemahaman ini telah jelas tampak pada hadits-hadits shohih. (Syarah Muslim 12/36)
Wajib Dakwah kepada Mereka yang Belum Mendengar Dakwah
Aku berkata: Dalil-dalil yang mewajibkan dakwah ditegakkan kepada mereka yang belum
sampai dakwah kepadanya di antaranya:
ا

م

و ا`ن

ك

ي

ب
`
ذ

ع

م

`
ت

ح

ث

ع

ب

ن

لو

س

ر
Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Israa': 15)
Berkata Ibnu Rusyd rohimahulloh: Syarat perang; para ulama sepakat syaratnya adalah telah
sampainya dakwah kepada musuh. Maknanya mereka tidak boleh diserang hingga dakwah
sampai kepada mereka. Demikianlah kesepakatan dari kaum muslimin berdasarkan firman
2
Bada'iu Ash-Shona'i karya Al-Kasani 7/100, dan yang sejenisnya dalam kitab Tuhfatu Al-Fuqoha
3/293-294.
4 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Alloh “dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rosul.” (Bidayatul
Mujtahid 1/282, lihat Al-Mabsuth karya As-Sarkhosi 10/6) Aku berkata: “Kesimpulan hukum
yang diambil dari ayat ini, Alloh mengadzab orang-orang kafir lewat perantaraan tangan
orang-orang yang beriman sebagaimana firman Alloh:

م

هو

ل

تا

ق

م

ه

ب
`
ذ

ع

ي

ه
`
للا

م

كي

د

يأ

ب
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-
tanganmu. (At-Taubah: 14)
[h.52] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh: Merupakan sunatulloh, kadang
Alloh menimpakan azab kepada orang kafir secara langsung dan kadang dengan perantaraan
tangan orang-orang yang beriman. (Ash-Shorim Al-Maslul 2/234)
Dan diriwayatkan dari Buraidah -semoga Alloh meridhoinya- berkata: “Adalah Rosululloh
shollallohu alaihi wa sallam jika mengangkat seorang komandan atas suatu pasukan atau
sariyah (combat patrol), beliau memberinya wasiat secara khusus supaya bertaqwa kepada
Alloh ta’ala dan memperlakukan anggotanya dengan baik, lalu beliau bersabda:
“Berperanglah dengan menyebut nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah orang-orang yang
kafir kepada Alloh. Berperanglah, jangan mencuri ghonimah sebelum dibagi, jangan
membatalkan perjanjian secara sepihak, jangan mencincang mayat musuh dan membunuh
anak-anak. Jika kamu menemui musuh dari orang-orang musyrik, maka serulah/dakwahilah
mereka kepada salah satu dari tiga pilihan, pilihan mana yang mereka ambil maka terimalah
dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Serulah/dakwahilah mereka kepada Islam, jika
mereka memenuhi seruanmu maka terimalah dan jangan memerangi mereka, lalu serulah
mereka untuk pindah dari negeri mereka ke darul muhajirin (negeri para muhajirin, negeri
hijrah) dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukannya maka mereka
memiliki hak seperti hak orang-orang yang hijrah (muhajirin) dan mereka mempunyai
kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muhajirin. Tetapi apabila mereka menolak dan lebih
suka memilih untuk tinggal di tempat mereka sendiri, maka katakan pada mereka bahwa
mereka akan diperlakukan seperti orang-orang Islam Badui, dan berlakulah ke atas mereka
hukum Alloh seperti yang berlaku atas orang-orang mukmin umumnya, yakni mereka tidak
akan mendapat bagian dari harta ghonimah dan fa'i, kecuali jika mereka ikut berjihad
bersama kaum muslimin.” (Muslim 3/1357)
Ahlul ilmi dan para ulama telah berdalil dengan hadits ini atas kewajiban memulakan dakwah
kepada Islam sebelum diperangi bagi mereka yang belum pernah didakwahi. Para penulis
kitab-kitab As-Sunan dan Al-Atsar telah menjelaskan hal ini.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh berkata: Maksud sabda Nabi “Serulah/dakwahilah mereka”
yaitu, mendakwahi mereka terlebih dahulu merupakan syarat sebelum perang. (Fathul Bari
7/478)
5 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Asy-Syaukani rohimahulloh berkata: Dalam hadits tersebut terdapat dalil diwajibkannya
mendahulukan dakwah Islam kepada orang kafir sebelum diperangi. (Nailul Author 8/53)
Al-Imam Al-Bukhori rohimahulloh mengeluarkan hadits dari Anas dan Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhuma tentang surat sholallohu aliahi wassalam kepada Kisra dan Kaisar
dengan tajuk: Bab dakwah kepada yahudi dan nasrani, atas apa mereka diperangi, mengenai
apa yang Nabi sholallohu aliahi wassalam tulis kepada Kisra dan Kaisar, dan dakwah sebelum
perang. (Shohih Al-Bukhori 3/1074)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh berkata: Petunjuk yang diambil dari hadits ini yakni beliau
sholallohu aliahi wassalam mengirimkan surat kepada imperium Romawi untuk didakwahi
kepada Islam sebelum beliau sholallohu aliahi wassalam mengirim pasukan untuk
menggempur mereka. (Fathul Bari 6/108)
[h.53] Al-Imam Al-Baihaqi rohimahulloh memberi tajuk hadits diatas dengan perkataannya:
Bab kewajiban dakwah kepada musyrikin yang belum pernah mendengar dakwah dan
mendakwahi kembali bagi mereka yang telah diberi peringatan. (As-Sunan Al-Kubro 9/106)
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu berkata: Tidaklah Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam
memerangi suatu kaum kecuali terlebih dahulu diseru kepada Islam. (Ahmad, Abu Ya’la, Al-
Hakim, Thobroni dengan sanad rijal-nya dari rijal shohih)
Ketika kita berbicara tentang wajibnya dakwah qobla qital kepada mereka yang belum
mendengar dakwah, maka kewajiban ini terikat pada dua perkara:
1. Mereka tidak mendahului menyerang kita, jika mendahului maka mereka digempur
tanpa dakwah.
2. Aman dari serangan pendadakan ketika menyampaikan dakwah, jika prakiraan
intelejen tidak aman mereka digempur tanpa dakwah. (Al-Fawakih Ad-Diwaniy 1/396)
Boleh Dakwah kepada Mereka yang telah Mendengar Dakwah
Adapun dalil yang memperbolehkan dakwah qobla qital bagi mereka yang pernah mendengar
dakwah di antaranya:
Dari Sahl bin Sa’ad rodhiyallohu anhu bahwa dia mendengar dari Nabi sholallohu aliahi
wassalam bersabda pada hari peperangan Khoibar: “Sungguh aku akan serahkan panji ini
kepada seorang pemuda yang mana Alloh memenangkan Islam dengan perantaraan kedua
tangannya”. Maka bangkitlah para sahabat berharap diberi panji tersebut dan mereka sangat
berharap mendapatkannya. Lalu beliau bertanya, “Dimana Ali?”. Seorang sahabat menjawab,
“Dia sedang sakit mata”. Maka diperintahkan Ali agar segera menghadap Rosululloh
sholallohu aliahi wassalam. Lalu diludahilah matanya sehingga hilanglah penyakitnya seakan-
6 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
akan sebelumnya tidak sakit. Ali bertanya: “Kita perangi mereka hingga mereka memeluk dien
kita?” Beliau menjawab: “Mendekatlah secara senyap sehingga engkau berhasil masuk ke
negeri mereka, kemudian serulah mereka untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada
mereka atas perkara yang wajib dipenuhi. Demi Alloh, sesungguhnya jika Alloh memberikan
petunjuk kepada seseorang dengan sebab usahamu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta
merah.” (Bukhari 3/1077)
Telah diketahui bahwa orang yahudi Khoibar telah mendengar dakwah Islam bahkan mereka
hidup sezaman dengan Nabi sholallohu aliahi wassalam dan para sahabat.
Al-Imam Al-Bukhori rohimahulloh mengeluarkan hadits ini bersama hadits yang lain dalam
bab: Dakwah Nabi sholallohu aliahi wassalam kepada Islam dan kenabian, agar mereka tidak
menjadikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain arbab (rob-rob) dari selain Alloh,
sebagaimana firman Alloh: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan
kepadanya al-kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah
kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang robbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab
dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (Ali-Imran 3:79)
Dhohir hadits ini menjelaskan tentang hukum bolehnya dakwah qobla qital bagi mereka yang
sebelumnya telah mendengar dakwah. Namun kami tekankan, bahwa kebolehan hukum ini
tidak mencapai derajat sunnah sebagaimana pendapat para ulama, sebab Nabi sholallohu
alaihi wa sallam pernah meninggalkan dakwah qobla qital di banyak negeri yang hendak
diserbu. Beliau sholallohu alaihi wa sallam tidak akan meninggalkan amalan sunnah, -ayah dan
ibuku sebagai tebusan- beliau adalah manusia yang paling paham ilmu, paling takwa, paling
takut kepada Alloh, dan beliau sumber syariat yang suci. Maka jika beliau meninggalkan
dakwah qobla qital di sini artinya, hukum tersebut adalah mubah tapi bukan mustahab
(sunnah), wallohu a’lam.
Masyruiyah Mentiadakan Dakwah kepada Mereka yang telah Mendengar Dakwah
[h.54] Adapun dalil disyariatkannya perang tanpa dakwah bagi mereka yang telah mendengar
dakwah di antaranya:
Dari Anas rodhiyallohu anhu berkata: Kebiasaan Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam apabila
menyerang suatu kaum beliau menahan serbuan hingga menunggu waktu subuh. Apabila
terdengar adzan, beliau membatalkan serbuan, namun jika tidak terdengar adzan beliau
langsung menyerbu setelah subuh. (Bukhori 3/1077)
7 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh: Dalil di atas merupakan dalil atas bolehnya
memerangi siapa saja yang telah sampai dakwah padanya tanpa mendakwahi mereka terlebih
dahulu, maka disimpulkan dengan hadits Sahl sebelumnya bahwa dakwah qobla qital kepada
mereka yang telah mendengar dakwah hukumnya mustahab (sunnah) tapi tidak menjadi
syarat wajib. (Shohih Muslim 3/1356)
Berkata Asy-Syaukani rohimahulloh: Dalil ini menunjukkan kebolehan memerangi mereka
yang telah sampai dakwah tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu. (Nailul Author 8/69)
Al-Imam Al-Bukhori mengeluarakan hadits dari Al-Baro bin ‘Azib rodhiyallohu anhu tentang
kisah operasi Asasin terhadap si yahudi Abu Rofi’. Berkata Al-Baro bin ‘Azib bahwa Rosululloh
sholallohu alaihi wa sallam mengirimkan satu tim dari kalangan anshor untuk membunuh Abu
Rofi’, maka mengendaplah Abdulloh bin Atiq ke dalam rumahnya pada malam hari dan
membunuhnya ketika dia sedang tidur. (Al-Bukhori 3/1101)
Kisah ini menjelaskan secara dhohir tidak adanya syarat dakwah qobla qital untuk membunuh
atau menyerang mereka yang telah mendengar dakwah. Al-Imam Al-Bukhori memberi tajuk
ini yang menjadi sebuah kaedah fiqih jihad dengan perkataanya: Bab membunuh orang
musyrik ketika sedang tidur. (Shahih Al-Bukhori 3/1100)
Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh: Dari hadits ini diambil hukum bolehnya
membunuh musyrik tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu jika sebelumnya mereka telah
mendengar dakwah. (Fathul Bari 6/156)
Asy-Syaukani rohimahulloh berkata tentang hadits ini: Maksud perkataan pengarang
3
disini
adalah, karena kebutuhan operasi militer, sesuai dengan tajuk bab tersebut yaitu tentang
pembunuhan Abu Rofi’ tanpa dakwah terlebih dahulu dan tidak adanya perintah dari
Rosululloh kepada eksekutor untuk mendakwahi terlebih dahulu kepada Islam. (Nailul Author
8/56)
Begitupun Al-Imam Al-Bukhori rohimahulloh mengeluarkan hadits dari Jabir rodhiyallohu
anhu dari Nabi sholallohu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Siapa yang bersedia membunuh
Ka’ab bin Al-Asyrof?”. Muhammad bin Maslamah berkata, “Apakah engkau sangat
menginginkan aku membunuhnya?”. Beliau menjawab, “Ya”. Ia berkata lagi, “Ijinkan aku
untuk mengatakan apa saja kepadanya (sebagai tipu daya)”. Beliau bersabda, “Telah aku
ijinkan”. (Al-Bukhori 3/1103)
[h.55] Al-Imam Al-Bukhori rohimahulloh memberi tajuk hadits ini dengan Bab: Operasi asasin
kepada kafir harbi. (Shahih Al-Bukhori 3/1103)
Perkataan Imam Bukhori di atas menunjukkan bahwa dakwah qobla qital bukan syarat.
(Mukhtar Ash-Shohah 205)
3
Pengarang yaitu Al-Majid ibnu Taimiyah yang menerangkan hadits ini dalam Bab Dakwah Qobla Al-
Qital, lihat Nailul Author 8/51.
8 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Telah berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh mengenai kisah operasi asasin terhadap Ibnu
Al-Asyrof: Pelajaran yang dapat dipetik, boleh membunuh orang musyrik tanpa mendakwahi
terlebih dahulu jika dia pernah mendengar dakwah secara umum. (Fathul Bari 6/156)
Telah berkata An-Nawawi rohimahulloh: Beberapa ulama menyimpulkan hadits ini sebagai
hukum kebolehan melakukan operasi asasin atau operasi tabyit (serangan malam hari) kepada
orang kafir yang telah mendengar dakwah tanpa mendakwahinya kembali. (Syarh Muslim
12/161)
Dari Ash-Sho’ab bin Jatsamah rodhiyallohu anhu berkata: Nabi sholallohu alaihi wa sallam
ditanya mengenai status anak-anak kaum musyrikin dalam penyerang di malam hari, serangan
ini menimpa wanita-wanita dan anak-anak mereka. Beliau bersabda: “Mereka bagian dari
musuh”. (Muslim 3/1364)
An-Nawawi berkata: Arti ‘al-bayat’ dan ‘yabitun’ adalah serangan pendadakan di malam hari
yang mana tidak diketahui mana laki-laki , perempuan dan anak-anak...
Hadits diatas menjadi dalil diperbolehkannya serangan mendadak di malam hari (al-bayat) dan
diperbolehkannya melakukan pembunuhan asasin pada orang-orang yang telah mendengar
dakwah tanpa memberi peringatan serangan terlebih dahulu. (Syarh Muslim 12/50)
Dari Abu Utsman An-Nahdi rohimahulloh salah satu tabi’in senior berkata: “Ketika kami
menggelar operasi militer, kadang kami memberi peringatan kepada musuh terlebih dahulu
dan kadang kami langsung menyerang.” (Syarh Ma’ani Al-Atsar At-Thohawi 3/209 dan di
shohihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath 6/109)
Nash ini menjelaskan secara terang bahwa para sahabat rodhiyallohu anhum melaksanakan
dua pilihan prosedur sebelum melancarkan serangan: Kadang dakwah qobla qital dan kadang
langsung menyerang. Ini menjadi petunjuk bahwa dakwah bukan syarat untuk menyerang
mereka yang telah mendengar dakwah sebelumnya.
Dari Yahya bin Sa’id rohimahulloh berkata: Tidak masalah menyerang musuh pada malam hari
atau siangnya karena dakwah Islam telah sampai pada mereka, Rosululloh sholallohu alaihi wa
sallam mengutus pasukan pada peperangan Khoibar, kemudian pasukan meng-ightiyal
(ightiyalat/asasin) pemimpin mereka yang bernama Ibnu Abi Al-Haqiq secara senyap tatkala
dia lengah, dan membunuh pimpinan Bani Lihyan secara senyap tatkala dia lengah. Rosululloh
juga mengutus sebuah tim untuk memerangi mereka yang lain hingga ke sisi Madinah dari
kalangan yahudi di antara mereka Ibnu Al-Asyrof. (Al-Madunatu Al-Kubro 3/3)
[h.56] Dalam kitab Al-Mukhtashor Al-Khiroqi: Ahli Kitab dan Majusi diperangi tanpa
diperingati terlebih dahulu karena dakwah telah sampai pada mereka. (Al-Mukhtashor Al-
Khiroqi 128)
9 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Kesimpulan
Inilah, mayoritas ulama dan fuqoha menyatakan kewajiban dakwah qobla qital hanya di awal
dakwah Islam. Adapun setelah Islam menyebar luas ke pelosok dunia, maka tidak ada tempat
lagi bagi pendapat yang mewajibkan dakwah dan mensyaratkannya qobla qital sebagai bentuk
peringatan bagi mereka. Jika ditemukan sebuah kasus ada bangsa yang sama sekali belum
mendengar Islam maka dakwah qobla qital hukumnya menjadi wajib.
Dikeluarkan oleh Muslim rohimahulloh dengan sanad dari Ibnu ‘Aun, berkata: “Aku menulis
surat kepada Nafi’ bertanya tentang hukum dakwah qobla qital, maka dia membalas bahwa
hukum kewajiban itu hanya berlaku pada masa awal Islam. Setelah dakwah berkembang
Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam menyerang Bani Mustholiq secara mendadak di saat
mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum binatang ternak mereka.
Lalu terjadilah peperangan hingga dari mereka banyak yang terbunuh dan tertawan, dan pada
hari itulah Juwairiyah binti Al-Harits tertawan. Yahya berkata, aku kira dia mengatakan
Juwairiyah atau anak gadisnya Al-Harits. Hadits ini disampaikan kepadaku oleh Abdulloh bin
Umar, saat itu dia termasuk orang yang ikut berperang sebagai prajurit dalam pasukan.”
(Muslim 3/1356)
Imam An-Nawawi memberi tajuk dengan perkataannya: Bab diperbolehkannya menyerang
orang-orang kafir yang telah mendengar dakwah secara mendadak tanpa memberi peringatan
terlebih dahulu. (Shohih Muslim 3/1356)
Berkata An-Nawawi rohimahulloh: Perkataannya مهو اغ نور terdiri dari huruf fathah ghin dan
tasydid pada huruf ‘ro’ artinya ghofilun (lalai, lengah, tidak waspada). (Syarah Muslim 12/36)
Dari Al-Hasan rohimahulloh berkata: Dakwah qobla qital tidak diberlakukan kepada Romawi
karena mereka telah diberi peringatan.
Dari Abu Hamzah berkata, aku berkata kepada Ibrohim: “Banyak manusia berkata; orang-
orang musyrik harus diberi peringatan lebih dahulu sebelum diserbu.” Abu Hamzah
membantah dengan berkata: “Romawi telah paham mengapa mereka diperangi, Dailam telah
paham mengapa mereka diperangi.”
Dari Manshur berkata: Aku bertanya kepada Ibrohim tentang memberi peringatan kepada
Dailam sebelum menyerangnya. Dia menjawab: “Mereka telah mengerti dakwah.” (Lihat atsar
ini di Syarah Al-Mughni, atsar milik Ath-Thohawi 3/209)
Imam Syafi’i rohimahulloh berkata: Sepengetahuanku, hari ini tidak ada bangsa yang belum
mendengar dakwah kecuali mungkin bangsa-bangsa terjauh yang hidup diluar kekuasaan
musuh-musuh kita yang kita perangi sekarang, seperti bangsa yang hidup dibelakang wilayah
Romawi, Turki, Kaspia dan bangsa-bangsa yang tidak kita kenal. (Al-Umm 4/239)
10 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
[h.57] Berkata Al-Imam Ahmad rohimahulloh: Sesungguhnya dakwah telah sampai kepada
setiap orang, dan aku tidak mengetahui pada hari ini ada manusia yang harus diberi dakwah
(qobla qital), karena dakwah (qobtal qital) itu hanya berlaku di masa awal Islam. (Al-Kafi karya
Ibnu Qudamah 4/259, dan yang semisalnya dalam Al-Mughni 9/172)
Berkata Ashbagh rohimahulloh: Kaum muslimin secara umum telah menganggap bahwa
dakwah telah sampai kepada seluruh umat. (At-Taaj Wal Iklil 3/350)
Berkata Ath-Thohawi rohimahulloh: Sungguh seluruh manusia telah mengenal dan
mengetahui Islam, dan mereka telah mengetahui inti dakwah Rosululloh sholallohu alaihi wa
sallam kepada seluruh agama. Maka ketika mereka diperangi, tidak disampaikan sedikitpun
mengapa mereka diperangi dikarenakan mereka telah mengetahui konflik ini dan alasan
mereka diperangi. (Mukhtashor Ikhtilaf Al-Ulama 3/426)
Berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar rohimahulloh: Mayoritas ulama berpendapat bahwa dakwah
qobla qital diperintahkan di awal penyebaran Islam. Kini jika memang ditemukan kaum yang
belum menerima dakwah, mereka tidak langsung diserang hingga didakwahi terlebih dahulu.
Demikian penjelasan Asy-Syafi’i.
Berkata Imam Malik: Sebuah dar (darul kufri) yang berdekatan dengan darul Islam diserang
tanpa didakwahi terlebih dahului karena mereka tentu telah mendengar Islam. Bagi dar yang
jauh dari darul Islam, maka sebaiknya disampaikan dahulu dakwah untuk membuang keragu-
raguan. (Fathul Bari 6/108-109)
Aku berkata: Pada zaman kita sekarang, tatkala kepakan dakwah Islam berkembang luas
bahkan telah terjadi konflik antara Islam dengan para musuhnya yang menjadi headline news
setiap saat berbarengan dunia kini bagai sebuah petakan kecil, hampir mustahil jika ada
bangsa yang belum mendengar Islam dan belum sampai dakwah kepada mereka. Sekalipun
demikian, kita tidak menolak kemungkinan terdapat bangsa yang belum mendengar dakwah
(tetapi sangkaan ini kita hukumi secara umum bahwa mereka belum mendengar dakwah
4
).
4
( Al-Bahru Ar-Ro’iq 5/82).
11 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
3. Faidah Penting
Mengenai pendapat wajibnya dakwah qobla qital secara mutlak yang masyhur di kalangan
madzhab Maliki (lihat Al-Fawakih Ad-Diwani 1/396, Syarh Al-Kabir karya Ad-Dardir 2/176),
mereka menggaris bawahi ketetapan bahwa jika kaum muslimin memerangi mereka tanpa
melewati prosedur dakwah maka tidak ada tebusan apapun terhadapa mereka yang terbunuh.
Berkata Sahnun rohimahulloh: Apabila kaum muslimin memerangi suatu kaum yang belum
sampai dakwah Islam pada mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu, maka tidak ada diyat
maupun kafarat bagi yang terbunuh. (At-Taaj Wal Iklil 3/351)
[h.58] Aku berkata: Sesungguhnya penetapan hukum bahwa tidak ada diyat atau kafarat bagi
kafir yang dibunuh tanpa dakwah, karena hukum asal yang telah kita jelaskan (pada bag 2 -edt)
bahwa darah orang kafir asalnya mubah.”
Berkata Ath-Thortusi rohimahulloh: Barangsiapa yang kafir lalu terbunuh padahal belum
sampai dakwah Islam kepadanya sebagaimana penghuni pulau-pulau terpencil, maka tidak ada
jaminan baginya. (At-Taaj Al-Iklil 6/257)
Inilah pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa barangsiapa yang terbunuh ditangan
kaum muslimin sebelum sampai dakwah Islam maka tidak ada tuntutan apapun bagi si
pembunuh.
Madzhab Hanafi
Adapun pendapat dari madzhab Hanafi, seluruh ulama Hanafi memiliki satu pendapat, berikut
nukilan perkataan mereka.
Pendapat yang ditemukan dalam kitab Fatawa As-Saghodiy: Berkata Abu Hanifah, para
pengikutnya dan Abu Abdillah: Jika dakwah Islam telah sampai kepada mereka maka tidak
masalah memeranginya. Bila dakwah Islam belum sampai maka jangan menyerangnya. Jika
memang prosedur ini tidak dilalui dan mereka terbunuh, maka si pembunuh tidak dapat
dituntut. (Fatawa As-Saghodiy: 2/709)
Dinyatakan dalam kitab Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah merupakan kitab fiqh dari madzhab
Hanafi setelah menashkan kewajiban dakwah qobla qital bagi mereka yang belum mendengar
dakwah: Seandainya mereka dibunuh tanpa didakwahi terlebuh dahulu, pelakunya mendapat
dosa tetapi tidak dikenai denda sebab korban tidak memiliki al-ishomah , dan pembunuhan ini
dimaksudkan untuk menjaga dien serta operasi pertahanan negara. Membunuh mereka
12 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
hukumnya sama dengan hukum membunuh perempuan dan anak-anak. (Al-Hidayah Syarh Al-
Bidayah 2/136)
Dalam kitab Al-Bahru Ar-Ro’iq karya Ibnu Nujaim rohimahulloh: Kami berpendapat, tidak
memerangi mereka yang belum mendengar dakwah, maksudnya tidak boleh memerangi
mereka disebabkan sabda Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam pada wasiat beliau terhadap
pimpinan pasukan: “Serulah mereka pada syahadat laa ilaha ilalloh”. Dengan dakwah ini,
supaya mereka tahu bahwa kita memerangi mereka karena alasan dien bukan karena alasan
penjarahan dan penjajahan. Harapannya mereka memenuhi dakwah ini dan kita bisa
menghentikan peperangan. Andai mereka diperangi qobla dakwah, hukumnya berdosa tetapi
tidak dikenai denda sebab korban tidak memiliki al-ishomah dan dimaksudkan untuk menjaga
dien serta operasi pertahanan negara. Membunuh mereka hukumnya sama dengan hukum
membunuh perempuan dan anak-anak. (Al-Bahru Ar-Roiq 5/81-82, pembahasan yang lebih
lengkap pada Hasyiah Ibnu Abidin 4/129)
Al-Kamal Ibnu Al-Hamaam rohimahulloh berkata: Seandainya mereka dibunuh qobla dakwah,
pelakunya mendapat dosa tetapi tidak dituntut dengan diyat atau jaminan
5
, karena
keharaman membunuh mereka tanpa dakwah sama hukumnya dengan membunuh wanita
dan anak-anak kafir yang walaupun berdosa tetapi tidak berarti dituntut hukum karena
mereka tidak memiliki al-ishomah dan pembunuhan ini dimaksudkan untuk operasi
pertahanan darul Islam.” (Syarh Fathul Qodir 5/445)
Madzhab Hanbali
[h.58] Pendapat madzhab ini adalah: Kaum yang belum mendengar dakwah tetap boleh
dibunuh karena tidak ada jaminan bagi mereka disebabkan tidak adanya al-iman dan al-aman.
Mereka sama saja dengan kafir harbi. (Al-Kafi karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi 4/56)
Berkata Al-Mardawi rohimahulloh: Kaum yang belum mendengar dakwah tetap boleh dibunuh
karena tidak ada jaminan bagi mereka, ini adalah pendapat Hanbali. Ibnu Manjaa berkata
dalam syarah-nya: Ini adalah pendapatnya madzhab Hanbali. Dikatakan pula dalam kitab Al-
Wajiz, Al-Muntakhob, Al-Munawir dan lain-lain. Pen-syarah ini berkata: Pendapat mazhab ini
lebih utama. Keutamaan pendapat ini juga dinyatakan dalam kitab Al-Muharor, An-Nadzam,
Ro’ayatain, Al-Hawi Ash-Shoghir, Al-Furu’, dan selainnya. (Al-Inshof 10/65)
5
Menurut madzhab Syafi’i, jika seorang kafir yang belum mendengar dakwah dibunuh maka si
pembunuh harus membayar diyat sesuai dengan dien-nya (Diyat yahudi dan nasrani sepertiga diyat
muslim. Diyat orang musyrik pagan dan majusi adalah dua pertiga dari sepersepuluh diyat orang
muslim, dan wanita mereka adalah separohnya -edt). Namun pembayaran ini terikat dengan syarat jika
mereka memang taat melaksanakan dien-nya, jika mereka mengganti dien-nya maka menurut jumhur
mereka tidak ada diyat. Lihat Mughni Al-Muhtaj 4/57-58.
13 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
Ibnu Muflih rohimahulloh menolak pendapat yang mewajibakan diyat bagi kaum muslimin
yang membunuh orang kafir yang belum mendengar dakwah: (Saya menolak pendapat ini)
alasannya karena mereka tidak memiliki al-iman atau al-aman. Larangan membunuh mereka
hanya untuk mencegah kaum muslimin disebut sebagai bangsa yang bengis. (Al-Mabda’ 9/29
dan yang sejenisnya dalam Al-Furu’ 6/17, Al-Muharor 2/145)
Al-Bahuti rohimahulloh berkata: Bila memang ditemukan kaum yang belum sampai dakwah
kepada mereka sebagaimana berita di belakang wilayah Sudan terdapat kaum yang bahasa
mereka tidak dipahami oleh bangsa lain, maka mereka inilah yang disebut belum mendengar
dakwah. Namun demikian, mereka tetap boleh diperangi karena mereka tidak mendapat
perlindungan tanpa al-iman atau al-aman. Hukum mereka mirip dengan kafir harbi. (Kasyaf
Al-Qina’ 6/21)
Beliau rohimahulloh juga berkata ketika mengklasifikasikan kriteria terbebas dari kafarot
dalam pembunuhan: Pelaku pembunuhan atas korban kafir yang belum sampai dakwah tidak
dikenai kafarot karena korban tidak memiliki al-iman atau al-aman, pelaku hanya mendapat
dosa saja. (Kasyaf Al-Qina’ 6/65)
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh berkata: (Pasal Pendapat Abu Hanifah); Orang kafir
yang belum sampai dakwah Islam padanya jika memang ada, maka janganlah memerangi
mereka sampai didakwahi terlebih dahulu. Jika dia dibunuh sebelum didakwahi dan tidak
mendapat jaminan keamanan dari muslim maka tidak ada ganti rugi dikarenakan tidak adanya
perjanjian dengannya dan tidak ada jaminan keamanan untuknya. Hukum ini mirip dengan
hukum membunuh wanita dan anak-anak non kombatan, mereka haram dibunuh agar
mendengar dakwah. Berkata Abu Al-Khothob: Dikenakan ganti rugi dan yang menanggung
adalah komandan, ini pendapat dari mazhab Syafi’i karena orang kafir yang belum pernah
mendengar dakwah hukumnya mirip dengan orang kafir yang memiliki al-aman. Pendapat Abu
Hanifah lebih kuat dan lebih diterima, hukum ini sama dengan hukum membunuh anak-anak
dan orang gila kafir harbi sebab orang kafir yang tidak memiliki perjanjian (ahdu) tidak berhak
mendapat ganti rugi dan tuntutan sebagaimana anak-anak non kombatan dan yang gila di
antara mereka. (Al-Mughni 8/314)
Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata lagi: Demikian juga tidak ada kafarot atas pembunuhan
orang kafir yang belum mendengar dakwah. Tidak ada tuntutan ganti rugi apapun. Hukum
mereka mirip dengan kafir harbi yang mubah. (Al-Mughni 8/401)
Ibnu Qudamah rohimahulloh juga berkata: Barangsiapa yang terbunuh dari kalangan orang
kafir yang belum sampai dakwah Islam padanya, tidak ada ganti rugi karena dia tidak memiliki
al-iman dan al-aman . Hukum mereka sama dengan membunuh wanita dan anak-anak kafir
harbi yang telah mendengar dakwah. (Al-Mughni 9/173)
14 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
4. Catatan Penting
Saya sampaikan dua poin catatan penting:
Pertama
Semua hadits yang menjelaskan mengenai hukum-hukum dakwah terhadap orang-orang kafir
yang diperangi beserta rincian kondisinya tadi, hanya berlaku dalam qitalu tholabi (perang
ofensi f), yaitu: melancarkan operasi militer ke dalam negeri mereka. Sedangkan pada qitalu
daf’i (operasi pertahanan) ketika kaum kafir menginvansi negeri kaum muslimin, fatwa-fatwa
dengan jelas menyatakan dakwah kepada mereka otomatis gugur karena mereka yang
berinisiatif menyerang bukan diberi pilihan untuk diserang!
Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani rohimahulloh berkata: Seandainya suatu kaum yang
belum pernah mendengar Islam dan belum mendapat peringatan menginvansi negeri kaum
muslimin, maka wajib bagi kaum muslimin menggelar operasi pertahanan melawan mereka
tanpa mendakwahi terlebih dahulu. Mereka boleh dibunuh, ditawan dan dirampok harta
mereka serta ghonimah dari mereka dibagi-bagikan. (As-Sair Al-Kabir dan Syarah-nya 5/2233)
As-Sarkhosi rohimahulloh sebagai pen-syarah kitab ini berkata: (Mengapa dakwah kepada
mereka gugur?). Karena bila seorang muslim menghunuskan pedang kepada saudara seiman,
dia boleh membunuh saudaranya dalam rangka mempertahankan diri, menurut pendapat
yang paling masyhur dan terkuat. Maknanya, jika kaum muslimin menyibukkan diri
mendakwahi kaum kafir yang bersiap menjajah, tentu mereka akan ditangkap dan kaum kafir
leluasa membunuh serta merampok harta kaum muslimin. Karena itu kewajiban dakwah
kepada mereka telah gugur. (Ibid 5/2234)
[h.61] Berkata Ibnul Qoyyim rohimahulloh: Persoalan mengenai dakwah qobla qital;
hukumnya wajib apabila dakwah belum sampai pada mereka, jika mereka telah mendengar
dakwah maka hukumnya menjadi mustahab (sunnah). Kedua hukum ini berlaku ketika kaum
muslimin menggelar operasi ofensif kepada kaum kafir. Adapun apabila orang-orang kafir
menginvansi negeri kaum muslimin, maka mereka diperangi tanpa didakwahi terlebih dahulu
karena mereka pada posisi bertahan melindungi nyawa dan kehormatan. (Ahkamu Ahlidz
Dzimmah 1/88, Kasyfu Al-Qina’ 3/40)
Imam Malik rohimahulloh berkata: Adapun apabila dar Islam dan darul kufri saling berdekatan
maka dakwah digugurkan dikarenakan mereka tentu telah mengetahui materi dakwah Islam
terlebih lagi dengan kebencian dan sikap permusuhan mereka kepada Islam dan kaum
15 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
muslimin. Adapun bila perbatasan antara darul Islam dan dar mereka berjauhan maka tidak
ditegakkan dakwah kepada mereka melainkan hanya pemberian peringatan, mengambil dasar
alasan karena mereka memerangi kaum muslimin dan terhalangnya kaum muslimin untuk
menampakkan dakwah kepada mereka. (Al-Madunatu Al-Kubra 3/2)
Perkataan Imam Malik rohimahulloh di atas menjelaskan tentang batalnya dakwah kepada
kaum kufar yang negeri mereka bertetangga dengan darul muslimin, lalu bagaimana jika
negara kaum kufar memobilisasi untuk menginvansi negeri kaum muslimin?
Yahya bin Said rohimahulloh berkata: Hendaknya kaum muslimin ketika melakukan safar
jangan menginap di benteng milik musuh untuk mendapatkan sekedar makanan, namun
hendaknya hanya mendakwahinya saja. Sedangkan musuh yang menginvansi negerimu,
menjajah kamu dan jika kamu mendatangi mereka tentu kamu dibunuh, maka mereka tidak
perlu didakwahi. (Al-Madunatu Al-Kubro 3/3)
Aku berkata: Telah dijelaskan di muka tentang fatwa-fatwa dakwah qobla qital terikat dengan
syarat mereka tidak melakukan operasi ofensif menyerang kaum muslimin dan juga terikat
adanya jaminan rasa aman pada utusan kaum muslimin yang mendakwahi mereka. Lalu apa
gerangan jika mereka memobilisasi menyerang negeri muslimin dan menginvansi negeri-
negeri muslimin?!!!
Dalam kitab Hasyiah Ibnu Abidin dijelaskan:
MATAN: Kita mendakwahi mereka kepada Islam.
SYARAH: Maksudnya, hukum dakwah kepada mereka sunnah jika mereka pernah mendengar
dakwah, jika mereka belum pernah mendengar dakwah maka hukumnya menjadi wajib
dengan syarat tidak membahayakan utusan. (Al-Hasyiah 4/128)
Ada juga ulama yang berpendapat lebih baik meninggalkan dakwah di negeri kaum kufar
dengan perkataannya: Tidak masalah meninggalkan dakwah kepada kaum kufar karena
sebenarnya mereka telah paham mengapa mereka diperangi. Jika kita menyibukkan dakwah,
bisa jadi mereka segera membuat benteng pertahanan yang kuat sehingga kaum muslimin
gagal menaklukkan mereka. Maka lebih baik langsung memerangi mereka tanpa didakwahi
terlebih dahulu. ( Al-Mabsuth Karya As-Sarkhosi 10/6)
Perhatikan fatwa beliau: “Jika kita menyibukkan dakwah, bisa jadi mereka segera membuat
benteng pertahanan yang kuat sehingga kaum muslimin gagal menaklukkan mereka. Maka
lebih baik langsung memerangi mereka tanpa didakwahi terlebih dahulu”. Fatwa ini ditujukan
bagi qital tholabi, lalu bagaimana dalam qitalu daf’i?
[h.62] Lebih dari itu, dalam kitab Ats-Tsamaru Ad-Dani disebutkan: Seandainya ketika kita
melakukan operasi ofensif dan hendak mendakwahi mereka terlebih dahulu kaum kufar
mendahului menyerang padahal kita belum mendakwahi mereka… dalam kata lain, mereka
16 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
langsung melakukan serangan maka kita tidak mendakwahi mereka. Dakwah kita tinggalkan,
kita balas perangi mereka tanpa dakwah karena dakwah pada saat itu hukumnya harom . (Ats-
Tsamaru Ad-Dani Syarh Risalah Al-Qiruni 1/412)
Fatwa ini memutuskan bahwa ketika kaum kufar di negeri mereka sendiri melakukan
mobilisasi perang melawan kaum muslimin yang hendak mendakwahi mereka dalam suatu
operasi ofensif, maka pada saat itu hukum mendakwahi mereka menjadi harom. Lalu
bagaimana hukumnya jika mereka langsung melakukan serbuan turun di negerinya kaum
muslimin?!!!
Kedua
Semua hadits tadi yang menjelaskan mengenai hukum-hukum dakwah qobla qital hanya
berlaku terhadap orang kafir asli. Hukum ini tidak berlaku bagi kafir murtad, karena kafir
murtad sebelumnya adalah muslim, tentu secara meyakinkan mereka telah memahami
dakwah Islam. Sebab itu muncul kaedah: Hukum bagi orang yang murtad dari Islam adalah
hukum kafir harbi yang telah mendengar dakwah. (Fathul Bari 12/269)
Orang murtad tidak lepas dari dua kondisi:
1. Maqdur alaihim (di bawah kekuasaan imaroh Islam). Ditegakkan had atas mereka jika
terbukti kemurtadannya secara jelas atau melalui statemen mereka. (Sorimul Maslul Ibnu
Taimiyah 3/941)
Jumhur berpendapat
6
, wajib diminta taubat sebelum dibunuh
7
. Jika mereka taubat maka
selamat jika tidak, dibunuh.
Cara taubatnya orang murtad adalah dengan meninggalkan (perkataan atau perbuatan)
kekufuran yang menyebabkannya keluar dari Islam (sadar atau tanpa sadar -edt) dengan
memperbarui syahadat, inilah pendapat yang rojih.
2. Mumtani’ bisyaukah (mempertahankan diri atau menentang dengan kekuatan) baik tinggal
di darul Islam maupun darul harbi –ingat darul harbi adalah seluruh dar yang hukum berlaku
secara umum adalah hukum selain Islam sebagaimana pernah dijelaskan -, maka tidak wajib
diminta taubat dan langsung dibunuh.
[h.63] Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Orang murtad seandainya dia
mumtani’ kepada darul harbi atau dilindungi oleh sekelompok pasukan orang-orang murtad
6
Mazhab Hanafi, Dhohiri, dan Asy-Syaukani berpendapat tidak wajib dimintai taubat. Pendapat yang
paling rojih adalah dimintai taubat sebagaimana perbuatan sahabat. Lihat Shorimul Maslil 3/599-610.
7
Syeikul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Kelompok murtad dibagi dua, ar-riddah al-
mujarodah dan ar-ridah al-mugholadhoh. Ar-riddah al-mujarodah hukumnya wajib diminta taubat,
sedang ar-riddah al-mugholadhoh, dibunuh tanpa diminta taubat. Al-Fatawa 20/103.
17 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
lainnya di dalam darul Islam, maka seluruh ulama sepakat mereka diperangi tanpa diminta
taubat. (Ash-Shorimu Al-Maslul karya Ibnu Taimiyah 3/601)
Syeikh rohimahulloh memberikan kaedah: Al-Mumtani tidak dimintai taubat, permintaan
taubat hanya diberikan kepada maqdur ‘alaihi. (Ash-Shorim Al-Maslul karya Ibnu Taimiyah
3/610)
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh berkata: Seandainya seorang murtad bersembunyi di
darul harbi, boleh membunuhnya tanpa diminta untuk bertaubat dan sang eksekutor boleh
mengambil hartanya karena dia telah menjadi kafir harbi, maka hukum yang berlaku adalah
hukum ahlul harbi.
Bagitu pula jika sekelompok orang melakukan kemurtadan dan menyusun kekuatan di dar
mereka membelot kepada imam kaum muslimin, maka lenyaplah al-ishomah atas jiwa dan
harta mereka karena orang kafir asli tidak ada al-ishomah bagi mereka di dar mereka, dengan
ini hukum bagi orang murtad lebih berat dari kafir asli. (Al-Mughni 9/20)
Ibnu Muflih rohimahulloh berkata mengenai hukum orang murtad setelah beliau merojihkan
pendapat bahwa orang murtad wajib diminta taubat dan membunuhnya atas perintah imam
atau wakilnya:
Sebuah kejahatan jika si murtad dibunuh tanpa seizin imam. Si pembunuh dapat dikenai sangsi
hukuman oleh imam atau wakilnya namun tidak ada jaminan kerugian bagi korban karena
korban tidak ma’shum (tidak memiliki al-ishomah) baik dia dibunuh sebelum dimintai taubat
atau pasca diminta taubat. Orang murtad darahnya mubah ditumpahkan . Kemubahan
darahnya nyata baik sebelum diminta taubat atau pasca diminta taubat. Bila dia melarikan diri
ke darul harbi , setiap kaum muslimin bebas membunuhnya tanpa diminta taubat serta
dirampas hartanya. (Al-Mabda’ 9/175, pembahasan semisal di dalam Kasyfu Al-Qina’ 6/175)
Al-Majid Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Siapapun yang membunuh orang murtad tanpa
seizin imam mendapatkan hukuman, kecuali jika orang murtad tersebut berlindung di darul
harbi maka setiap kaum muslimin bebas membunuhnya tanpa diminta taubat serta dirampas
hartanya. (Al-Muharor Fil Fiqh 2/169)
Ibnu Abidin rohimahulloh berkata ketika membahas tentang memerangi para bughot
(pemberontak pemerintahan Islam): Andai memeranginya tanpa mendakwahinya terlebih
dahulu maka hukumnya boleh, dikarenakan mereka dianggap telah mengetahui penyebab
mereka diperangi. Hukum ini sama seperti halnya memerangi orang-orang murtad dan ahlul
harbi yang telah mendengar dakwah. (Al-Hasyiah 4/264, pembahasan semisal yang lebih
lengkap dalam kitab Al-Mabsuth karya As-Sarkhosi 10/128)
[h.63] As-Sarkhosi rohimahulloh berkata: Tidak ada jaminan dan ganti rugi apapun terhadap
orang-orang murtad yang dibunuh tanpa didakwahi Islam terlebih dahulu karena posisi
mereka sebagai halnya orang kafir asli yang telah mendengar dakwah. Memerangi mereka
18 | j a h i z u n a
HukumDakwahKepadaOrangKafiryangdiperangi
setelah dakwah itu baik, namun apabila memerangi tanpa mendakwahi mereka juga baik pula.
(Al-Mabsuth 10/120)
Ijma yang dipegang oleh para ahli ilmi bahwa tidak ada lagi perselisihan yang menghambat,
orang-orang murtad tidak diterima darinya selain kembali kepada Islam dengan taubat atas
kekafiran yang diperbuat atau dibunuh sebagai hukuman baginya.
Al-Qurthubi rohimahulloh berkata: Tafsir firman Alloh ta’ala dalam surat Al-Baqarah 190

ل

و
او

د

ت

ع

ت (dan janganlah melampaui batas) adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan
8
, hukum
ini termasuk ayat muhkamat. Adapun orang-orang murtad tidak ada pilihan selain dibunuh
atau taubat, begitupun ahlu zeigh wa dholal tidak ada pilihan kecuali pedang atau bertaubat…
(Tafsir Al-Qurthubi 2/350)
Ibnu Nujaim Al-Hanafi rohimahulloh telah berfatwa: Bahwa orang-orang musyrikin Arab dan
orang-orang murtad tidak diterima dari mereka jizyah. Ketentuan bagi mereka adalah kembali
kepada Islam atau pedang. Mereka tidak perlu didakwahi karena tidak ada manfaatnya. (Al-
Bahru Ar-Roiq 5/81)
Disebutkan dalam kitab Fatawa As-Saghodi: Jika disampaikan dakwah kepada ahlul harbi
maka itu lebih afdhol
9
. Namun jika tidak mendakwahi mereka juga boleh. Jika dakwah telah
disampaikan kepada mereka dan mereka menolaknya tetapi mengajukan pembayaran jizyah,
maka jizyah mereka diterima dan tidak diserang. Pengecualian bagi orang-orang murtad dan
kaum musyrikin Arab, tidak diterima pembayaran jizyah, tidak diterima dari mereka kecuali
Islam. (Fatawa As-Saghodi 2/709)
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Orang-orang murtad hanya memiliki dua
pilihan, diperangi atau masuk Islam. Pengajuan jizyah ditolak. (Minhajus Sunnah An-
Nabawiyyah 8/509)
8
Tafsirnya yaitu jangan melampaui batas dengan membunuh golongan yang terlarang untuk dibunuh
yaitu wanita dan anak-anak serta yang sejenisnya.
9
KRITIK: Pendapat ini hanya merupakan hasil istihsan aqli padahal keutamaan yang mutlak adalah yang
sesuai dengan dalil dari Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam. Kita sudah jelaskan, terkadang Nabi
mendakwahi musuh terlebih dahulu dan terkadang beliau menyerbu tanpa dakwah. Inilah yang afdhol.
Tidak ada seorangpun yang bisa mengungguli keutamaan beliau sholallohu alaihi wa sallam yang diutus
dengan petunjuk dan dien yang haq. Perkara ini juga diikuti juga oleh para sahabat beliau seluruhnya
-semoga Alloh meridhoi mereka. Kita juga telah menukilkan perkataan Abu Utsman An-Nahdi: “Ketika
kami memutuskan untuk berperang, kadang kami mendakwahi mereka terlebih dahulu dan kadang
langsung menyerbu”. Jelaslah bahwa inilah makna afdhol. Tidak pantas pendapat manusia diambil
padahal ada dalil sunnah yang terang. Definisi afdhol adalah seperti yang dilaksanakan oleh Rosululloh
sholallohu alaihi wa sallam; kadang beliau mendakwahi musuh dan terkadang beliau langsung
menyerbu. Inilah kaidah umum pada setiap perkara, ketika terdapat dalil yang jelas maka tidak pantas
menyampaikan pendapat yang muncul dari akal pikiran dan bukan di sini rincian pembahasan.
19 | j a h i z u n a

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->