P. 1
Makalah

Makalah

4.64

|Views: 8,442|Likes:
Published by LEBU

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: LEBU on Jan 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Prinsip-prinsip yang ditemukan oleh Mendel diterima secara umum, namun penelitian-penelitian berikutnya sering menemukan perbandingan fenotipe yang aneh, seakan-akan tidak mengikuti Hukum Mendel. Untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi, maka disusunlah makalah ini. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat beberapa permasalah yang akan coba dibahas dalam makalah, yaitu : 1) apakah gen kriptomeri itu?; 2) apakah gen polimeri itu?; dan 3) apakah gen komplementer itu? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika Dasar yang dibina oleh Ibu Dra. Iin Hindun, M. Kes., ada tujuan khusus yang ingin dicapai, yaitu : untuk memperlajar tentang : (1) gen kriptomeri, (2) gen polimeri, dan (3) gen komplementer.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penyimpangan Semu Hukum Mendel Penyimpangan semu hukum Mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar dari aturan hukum Mendel, walaupun terjadi perubahan seperti yang telah diuraikan pada hukum Mendel. Pada tahun 1906, W. Bateson dan R.C Punnet menemukan bahwa pada persilangan antara kacang kapri berbunga ungu yang serbuk sarinya bundar. Hasil dari keturunan pada persilangan tersebut memiliki rasio fenotipe yang menyimpang dari hukum Mendel yang seharusnya pada keturunan kedua (F2) memiliki perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1. Empat tahun kemudian, seorang sarjana Amerika bernama T.H. Morgan dapat memecahkan misteri tersebut. Beliau menemukan bahwa kromosom mengandung banyak gen dan memiliki kira-kira 5.000 gen, padahal lalat buah hanya memiliki 4 proses kromosom. Kesimpulannya, dalam sebuah kromosom tidak hanya terdiri dari sebuah gen saja, melainkan puluhan hingga ratusan gen. Gen memiliki peran tersendiri dalam menumbuhkan karakter, tetapi ada beberapa gen yang saling berinteraksi dengan gen lain dalam menumbuhkan karakter. Gen-gen tersebut terdapat pada kromosom yang sama atau pada kromosom yang berbeda. Interaksi antara gen akan menimbulkan perbandingan fenotipe keturunan yang menyimpang dari hukum Mendel, hal ini disebut penyimpangan semu hukum Mendel. Menurut hukum Mendel pada perbandingan fenotipe (F2) pada persilangan dihibrid adalah 9 : 3 : 3 :1, apabila terjadi penyimpangan dari hukum Mendel perbandingan tersebut akan berubah menjadi 9 : 3 : 4, atau 9 : 7, atau 12 : 3 : 1. Perbadinagn tersebut merupakan hasil dari interaksi gen. Perbandingan gen tersebut menyebabkan penyimpangan hukum Mendel memiliki 5 bentuk, yaitu komplementer, polimer, epistasis, hipostasis, dan kriptomeri. rasio F2-nya karena gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama

2.1.1 Kriptomeri Fenomena gen komplementer pertama kali diamati oleh W.Bateson dan R.C. Punnet saat mengamati persilangan bunga Lathyrus odoratus. Komplementer merupakan bentuk interaksi gen yang saling melengkapi. Jika salah satu gen tidak muncul, maka sifat yang dimaksudkan oleh gen tersebut juga tidak akan muncul atau muncul tidak sempurna. Bunga Lathyrus odoratus, memiliki dua gen yang saling berinteraksi atau komplementer, disimbolkan dengan C dan P. Jika salah satu gen tersebut tidak ada, tidak akan terbentuk warna bunga. Gen C : membentuk pigmen warna Gen c : tidak dapat membentuk pigmen warna Gen P : membentuk enzim pengaktifan pigmen Gen p : tidak dapat membentuk enzim pengaktifan pigmen Warna pada bunga hanya akan muncul, jika kedua gen penghasil pigmen warna, yaitu C dan P muncul. Jika salah satu dari kegua gen tersebut tidak muncul maka bunga menjadi tidak berwarna (putih) karena enzim penghasil pigmen tidak aktif. Perhatikan persilangan berikut. P1 = Genotipe Fenotipe Gamet F1 = Genotipe Fenotipe P2 = Genotipe Gamet : : : : : : : CCpp x putih Cp CcPp ungu CcPp x CcPp ccPP putih cP

CP, Cp, cP, cp

Adapun F2 seperti pada diagram di bawah ini.

♂ ♀ CP Cp cP cp

CP CCPP (ungu) CCPp (ungu) CcPP (ungu) CcPp (ungu)

Cp CCPp (ungu) CCpp (putih) CcPp (ungu) Ccpp (putih)

cP CcPP (ungu) CcPp (ungu) ccPP (putih) ccPp (putih)

cp CcPp (ungu) Ccpp (putih) ccPp (putih) ccpp (putih)

F2

= C-P- : 9 = ungu (pigmen warna, enzim aktif ada) C-pp : 3 = putih (pigmen warna, tanpa enzim aktif) ccP- : 3 = putih (tanpa pigmen warna, enzim aktif ada) ccpp : 1 = putih (tanpa pigmen dan enzim aktif) Berdasarkan hasil persilangan di atas. F2 menhasilkan perbandingan

fenitope ungu : putih sebesar 9 : 7. Jika dilihat sepintas, hal tersebut tampak tidak sesuai dengan hukum Mendel. Sebenarnya, perbandingan 9 : 7 tersebut hanya merupakan modifikasi dari perbandingan 9 : (3 + 3 + 1). 2.1.2 Polimeri Dari persilangan yang dilakukan oleh Nelson Ehla pada gandum berbiji merah dengan gen berbiji putih, ia menemukan variasi warna yang dihasilkan oleh keturunannya. Peristiwa tersebut mirip dengan persilangan dihibrid tidak dominan sempurna ulang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda. Warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu pasangan gen saja melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih berpengharuh terhadap sifat yang sama, peristiwa ini disebut polimeri.

Polimeri adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus berbeda, tetapi

memiliki sifat yang sama. Contoh kasus persilangan antara biji gandum berwarna merah dan biji gandum berwarna putih dengan M1 dan M2, sedangkan gen putih disimbolkan dengan m1 dan m2. P1 = Genotipe Fenotipe Gamet F1 = P2 = Genotipe Fenotipe Genotipe Gamet : : : : : : : M1M1M2M2 x merah M1M2 M1m1M2m2 merah M1m1M2m2 x M1m1M2m2 M1M2, M1m2, m1M2, dan m1m2 m1m1m2m2 putih m1m2

Adapun F2, seperti pada diagram di bawah ini. ♂ M1M2 M1m2 m1M2 m1m2 ♀ M1m2 M1M1M2 M1M1M M1m1M2 M1m1M2 M2 2m2 M2 m2 (merah) (merah) (merah) (merah) m1M2 M1M1M2 M1M1m M1m1M2 M1m1m2 m2 2m2 m2 m2 (merah) (merah) (merah) (merah) m1m2 M1m1M2 M1m1M M1m1M2 M1m1M2 M2 2m2 M2 m2 (merah) (merah) (merah) (merah) M1m2 M1m1M2 M1m1m M1m1M2 M1m1m2 m2 (merah) F2 : M1-: 15 (merah) 2m2 (merah) m2 (merah) m2 (putih)

m1m1m2m2 : 1 (putih) Berdasarkan hasil generasi F2 dapat diketahui, bahwa fenotipe merah akan selalu muncul jika mendapatkan gen dominan M berapapun jumlahnya. Fenotipe

putih hanya akan muncul, jika tidak terdapat gen dominan M. Semakin banyak jumlah gen dominan, maka sifat yang muncul akan semakin kuat. Jadi, satu ciri dipengaruhi oleh banyak gen dan terjadi secara akumulatif. Contoh polimeri yang lain adalah warna kulit dan warna iris pada mata manusia. 2.1.3 Komplementer Gen Komplementer adalah interaksi antara dua gen dominan, jika terdapat bersama-sama akan saling melengkapi sehingga muncul fenotipe alelnya. Bila salah satu gen tidak ada, maka pemunculan sifat terhalang. Adapun cont h dari persitiwa ini, yaitu perkawinan pria bisu tuli dengan wanita bisu tuli, ternyata keturunan F1-nya semuanya normal, bagaimanakah F2nya? Perhatikan diagram di bawah ini. P1 Fenotipe Gamet F1 P2 Fenotpe Gamet : RRbb : bisu tuli : : Rb RrBb (100% Normal) : RrBb : normal : RB, Rb, rB, rb Adapun F2 dari hasil persilangan di atas, seperti pada diagram di bawah ini. x RrBb normal x rrBB bisu tuli rB

RB

Rb

rB

rb

♀ RB RRBB (normal) Rb RRBb (normal) RRBb (normal) RRbb (bisu tuli) RrBB (normal) RrBb (normal) RrBb (normal) Rrbb (bisu tuli)

rB rb

RrBB (normal) RRBb (normal)

RrBb (normal) Rrbb (bisu tuli)

rrBB (bisu tuli) rrBb (bisu tuli)

rrBb (bisu tuli) Rrbb (bisu tuli)

Rasi fenotipe = normal : bisu tuli = 9 : 7 Melihat angka perbandingan F2 yang hamper sama, yaitu 9 : 7, maka bila suatu perkawinan hanya menghasilkan anak sedikit (misalnya 1 atau 2) dimungkinkan semua normal atau semua bisu tuli. Kunci pemahamam gen-gen komplementer adalah : aa epistasis (menutupi) B dan b bb epistasis (menutupi) A dan a

GEN KOMPLEMENTER, PILIMER, KRIPTOMERI

MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genetika Dasar Yang Dibina Oleh Ibu Dra. Iin Hindus, M. Kes.

Oleh : Muhammad Jakfar Sadiq Revisika Faisol Lutfi Fitri Arumyana A. Anggun Qamara Devi Ar. 06330072 06330070 06330091 06330001 06330006

PROGRAM STUDI BIOLOGI JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2008 DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2008.Genetika Manusia. www.wikipedia.org. Diakses tanggal 29 Desember 2008. Pratiwi, D.A., dkk. 2003. Biologi SMU. Jakarta : Erlangga Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta : UGM – Press

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->