1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain ialah menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan penduduk. Dampak ekonomi langsung pada penderita DBD adalah biaya pengobatan, sedangkan dampak ekonomi tak langsung adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita ( Depkes RI, 2004) Demam berdarah dengue di dunia memiliki peluang menjangkti 2/3 penduduk dunia dan dalam kurun waktu 50 tahun terakhir meningkat 30 kali lipat dengan lebih dari 1 milyar kejadian dan lebih dari 100 negara endemis di dunia

( WHO.denguenet, 2010 ). Indonesia sendiri berada di peringkat 8 dunia dengan kasus kematian terbanyak. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, di ASEAN Indonesia menempati urutan ke empat dalam angka Case Fatality Rate setelah Bhutan, India dan Myanmar yaitu 1,01 kasus kematian per 1.000 penduduk. Kondisi Insidence Rate ( IR ) mulai tahun 2006 sampai dengan 2008 menunjukan penurunan namun masih tetap menunjukan prevalensi yang tinggi yaitu Case Fatality Rate (CFR ) 1,01% menjadi 0,86% pada tahun 2008, Jawa timur mengalami penurunan jumlah kejadian yaitu 25.950 menjadi 16.589 pada tahun 2008 namun angka yang didapatkan sangat tinggi di tahun-tahun terakhir. Angka seharusnya

1

2

adalah kurang dari 20/100.000 penduduk. Angka Bebas Jentik pada tahun 2008 masih rendah yaitu 85,99 % dari 11,02% rumah yang diperiksa. Angka kematiannya (CFR) yang tidak terlalu besar, namun masih di atas batas maksimum yang ditetapkan, yaitu kurang dari 1% ( Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2006 ). Situasi di Jombang untuk kejadian demam berdarah mengalami tren peningkatan kasus yaitu 365 kasus pada 2006, 695 kasus pada 2007, 754 dan 761 pada tahun 2008 dan 2009, angka bebas jentik kabupaten masih rendah yaitu 82,3%, di Puskesmas Bareng sendiri kasus terus mengalami peningkatan yaitu 31 kasus tanpa kematian pada 2009 dan 22 kasus pada 2010 dengan 2 kasus kematian, dan terjadi perubahan pola desa endemis yaitu 5 desa menjadi 13 desa dari 13 desa di wilayah kerja puskesmas ( Profil Kesehatan Puskesmas Bareng, 2009 ). Desa kebondalem adalah salah satu desa endemis dengan Angka bebas jentik 14,96% dari 1487 bangunan yang diperiksa, setiap musim demam berdarah selalu menyumbangkan penderita dan telah terjadi 3 kasus kematian dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Desa kebondalem memiliki georafis yang mendukung perkembangbiakan vektor nyamuk Aedes aegepty dengan daerah aliran sungai, pasar dan kebun yang memungkinkan timbulnya potensi kontainer tempat

berkembangbiaknya jentik. Dalam studi pendahuluan di Desa kebondalem, rata- rata pengetahuan masyarakat tentang penyakit Demam Berdarah masih kurang yaitu 51,3%, hal itu diikuti dengan rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan 3M ( menguras, menutup, mengubur ) yaitu hanya 14,46% yang melaksanakan kegiatan. Kebijakan pemerintah desa untuk mendukung realisasi gerakan 3M masih minim, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya program rutin Jumat bersih dan minimnya kader jumantik aktif.

3

Upaya penanggulangan DBD diprogramkan secara teratur sejak tahun 1974 namun demikian, hingga saat ini upaya pemberantasan DBD belum berhasil di Indonesia, sehingga penyakit ini masih sering terjadi dan menimbulkan KLB di berbagai daerah. Permasalahan utama dalam upaya menekan angka kesakitan adalah masih belum berhasilnya upaya menggerakkan peran serta masyarakat dalam PSN DBD melalui Gerakan 3M yang mulai di intensifkan sejak 1992. ( Depkes RI, 2004 ).
Membasmi jentik nyamuk tak cukup dilakukan pemerintah saja, melainkan butuh partisipasi seluruh masyarakat juga, perlu kesediaan, kemauan dan tindakan nyata. Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tak cukup dilakukan satu-dua kali, melainkan rutin atau berkala terlebih setiap musim jangkitan DBD (Nadesul dalam Pambudi,2009).

Pengetahuan, sikap, perilaku masyarakat tentang pencegahan pada umumnya masih kurang. Menurut pengertian dasar, perilaku masyarakat bisa dijelaskan merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap), maupun bersifat aktif (Gde suyasa, 2007 ). Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Apapun peran yang dimainkan pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat secara mandiri untuk menjaga kesehatan mereka hanya sedikit yang dapat dicapai. Selain itu, tujuan Indonesia sehat 2010 yakni mencegah terjadinya dan menyebarnya penyakit menular sehingga tidak terjadi masalah kesehatan di masyarakat ( Depkes, 2005 ). Untuk meningkatkan upaya pemberantasan penyakit DBD diperlukan adanya partisipasi

4

masyarakat dalam melakukan pemeriksaan jentik secara berkala dan terus menerus serta menggerakkan masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD, keluarga memiliki peranan yang cukup penting dalam kegiatan ini agar tidak membiarkan nyamuknyamuk penular DBD berkembang biak dirumah dan lingkungan mereka. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam studi kasus ini adalah: Apakah ada Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Pencegahan Demam Berdarah Dengue Dengan Pelaksanaan 3M Plus Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng 1.3 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum Mengetahui Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Demam Berdarah Dengue Dengan Pelaksanaan 3M Plus Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng.

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pengetahuan Pengetahuan Keluarga Tentang Demam Berdarah Dengue Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng 2. Mengidentifikasi pelaksanaan 3M Plus Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng

5

3. Menganalisis hubungan antara Pengetahuan Keluarga Tentang Demam Berdarah Dengue Dengan Pelaksanaan 3M Plus Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng 1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Petugas Kesehatan Sebagai bahan masukan dalam penyusunan perencanaan program kesehatan,

evaluasi program dan upaya peningkatan program kesehatan, khususnya pemberantasan DBD. 2. Bagi Masyarakat Memberikan gambaran dan informasi tentang faktor- faktor yang berkaitan erat dengan partisipasi mereka dalam program pemantauan jentik nyamuk untuk mencegah kejadian demam berdarah 3. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan tentang hubungan antara pengetahuan kepala keluarga Tentang Pencegahan Demam Berdarah Dengue Dengan Pelaksanaan 3M Plus Di Dusun Plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Kerja Puskesmas Bareng.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam tinjauan pustaka ini akan dituliskan mengenai konsep penegetahuan,

6

demam berdarah dan pencegahannya dengan 3M, konsep keluarga serta beberapa kutipan jurnal ilmiah tentang pengetahuan, keluarga dan perilaku pencegahan demam berdarah 2.1 KONSEP PENGETAHUAN Dalam sub bab ini akan dijelaskan mengenai kutipan – kutipan ilmiah dan jurnal tentang pengetahuan yaitu pengertian, tingkatan pengetahuan dan cara memperoleh pengetahuan 2.1.1 Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. (Notoatmodjo, 2003:127). Pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.(Meliono dalam Effendy, 2006). Definisi pengetahuan yang dikemukakan para ahli pada umumnya menunjukkan pada fakta-fakta, the International

Encyclopedia of Higher Education dalam Sonya ( 2010 ) pengertian pengetahuan dirumuskan sebagai keseluruhan fakta-fakta kebenaran azas-azas, dan keterangan yang diperoleh manusia.

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan 6 Menurut Notoatmodjo (2002) pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :

7

1.

Tahu Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan

mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. 2. Memahami Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. 3. Menggunakan Menggunakan diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi kondisi sebenarnya. Misalnya dapat

menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip sklis pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan.

4.

Menganalisis

8

Menganalisa adalah kemampuan untuk materi atau suatu obyek ke dalam ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitan satu dengan yang lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. 5. Mensintesis Mensintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan, dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya : dapat menyusun, merencanakan, meringkas, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. 6. Menilai Menilai berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau obyek. Misalnya : dapat : membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat

menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB, dan sebagainya.

2.1.3 Cara memperoleh pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2002) cara memperoleh pengetahuan dikelompokkan menjadi dua, yakni : Cara tradisional dan cara ilmiah. Cara kuno atau tradisional ini dapat dipakai orang untuk mmperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukan metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematis dan logis. Cara-cara penemuan pengetahuan ini antara lain :

9

1.

Insting atau menggunakan naluri, yaitu seseorang yang dalam

menyelesaikan suatu masalah menggunakan jalan keluar berdasarkan nalurinya saja dan hal tersebut tidak diajarkan oleh siapapun 2. Cara coba-coba (Trial and Error) Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan masalah upaya pemecahannya dilakukan dengan cara soba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila

kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan lain. 3. Kebiasaan Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang, misalnya: mengapa ibu yang sedang menyusui harus minum jamu. Kebiasaan ini diwariskan turun temurun dari generasi kegenerasi. Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin masyarakat formal dan informal. 4. Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Oleh sebba itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahun. 5. Melalui jalan pikiran Merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pertanyaanpertanyaan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.

Selain cara tradisional sekarang dikenal Cara ilmiah atau yang disebut juga metode penelitian ilmiah dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis logis dan

10

ilmiah. Adapun beberapa syarat agar sesuatu hal dapat dikatakan ilmiah yaitu: Obyektif, Sistematis , Metodik , General / umum

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut (Notoatmodjo,2003), tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. 2.1.4.1 Faktor internal Menurut Nursalam ( 2005 ) faktor internal yang mempengaruhi pengetahuan adalah: 1. Usia Dengan bertambahnya usia maka tingkat pengetahuan akan berkembang sesuai dengan pengetahuan yang pernah didapatkan dan juga dari pengalaman sendiri. 2. Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang sangat besar pengaruhnya terhada pengetahuan seseorang yang berpendidikan tinggi, pengetahuannya akan lebih baik daripada orang yang tinggal dilingkungan orang yang berpikiran sempit.

3. Lingkungan Lingkungan berpengaruh terhadap pengetahuan, jika orang hidup dalam lingkungan yang berpikiran luas maka tingkat pengetahuan akan lebih baik daripada orang yang tinggal dilingkungan orang yang berpikiran sempit. 4. Intelegensia

11

Pengetahuan yang dipengaruhi intelegensia adalah pengetahuan intelegen dimana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah dalam mengambil keputusan. 5. Pekerjaan Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas daripada seseorang yang tidak bekerja, karena dengan bekerja seseorang akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman. 2.1.4.2 Faktor ekternal Faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan, antara lain : 1. Lingkungan Lingkungan berpengaruh terhadap pengetahuan, jika orang hidup dalam lingkungan yang berpikiran luas maka tingkat pengetahuan akan lebih baik daripada orang yang tinggal dilingkungan orang yang berpikiran sempit (Notoatmodjo, 2005: 12). 2. Agama, agama menjadikan orang bertambah pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan spiritual 3. Kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang (Nursalam, 2003: 39)

12

2.1.5. Kriteria 1. Tingkat pengetahuan Baik jika skor atau nilai 2. Tingkat pengetahuan cukup jika skor atau nilai 3. Tingkat pengetahuan kurang baik jika skor atau nilai 4. Tingkat pengetahuan tidak baik jika skor atau nilai : 76 – 100% : 56 – 75% : 40 – 55% : < 40% (Arikunto, 2002)

2.2 DEMAM BERDARAH DENGUE 2.2.1. Pengertian DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue.Penyakit ini ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang mempunyai kebiasaan menggit mangsanya pada saat siang hari. Masa inkubasi virus ini adalah 2-10 hari di dalam tubuh vector dan akan muncul dikelenjar liur nyamuk dan siap menginfeksi manusia yang tergigit (Soegijanto, 2004). Virus dengue mempunyai 4 serotipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Keempat serotipe tersebut yang menyebabkan infeksi paling berat di Indonesia, yaitu DEN 3. Virus Dengue berukuran 35-45 nm, Virus ini dapat terus tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk. Nyamuk betina menyimpan virus tersebut pada tubuhnya. Nyamuk jantan akan menyimpan virus pada nyamuk betina saat melakukan kontak seksual. Selanjutnya, nyamuk betina akan menularkan virus ke manusia melalui gigitan (Soegiyanto, 2004).

13

2.2.2. Gejala DBD WHO dalam (Soegijanto, 2004) diagnosis yang terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis secara berlebihan, antara lain: 1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung 2. selama 2-7 hari. 3. Terdapat manifestasi perdarahan. 4. Pembesaran hati. 5. Syok, yang ditandai dengan nadi kecil dan cepat dengan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah. 6. Kriteria laboratoris yaitu Trombositopeni (100.000/mm3 atau kurang) dan Hemakonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih menurut standar umum dan jenis kelamin.

2.2.3. Derajat DBD Mengingat derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas WHO dalam (Siregar, 2004) adalah sebagai berikut: 1. Derajat I (ringan)

Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinis lain, dengan manifestasi pendarahan. 2. Derajat II (sedang)

Penderita dengan gejala yang sama, sedikit lebih berat karena ditemukan perdarahan spontan kulit dan perdarahan lain.

14

3.

Derajat III (berat)

Penderita dengan gejala kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (>20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab dan penderita menjadi gelisah. 4. Derajat IV (berat)

Penderita syok berat dengan tensi tak dapat diukur dan nadi yang tak dapat diraba.

2.2.4. Patogenesis Menurut (Soegijanto, 2004) patogenesis DBD masih merupakan masalah yang kontroversi. Dua teori umum yang dipakai dalam menjelaskan perubahan patogenesis pada DBD. Yang pertama adalah hipotesis infeksi, yaitu hipotesis yang menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi kedua kalinya dengan dengue serotipe yang heterolog (serotipe yang berbeda), mempunyai resiko lebih besar untuk kemungkinan mendapatkan DBD. Antibodi heterolog yang telah ada dalam tubuh sebelumnya akan mengenali virus lain yang menginfeksi kemudian membentuk kompleks antigen antibodi. Yang kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti halnya semua virus binatang yang lain secara genetik dapat merubah sebagai akibat dari tekanan pada seleksi sewaktu virus tersebut melakukan replikasi pada tubuh manusia maupun tubuh nyamuk. Di samping itu, terdapat beberapa tingkatan virus yang mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang lebih besar.

2.2.5. Penatalaksanaan

15

Pasien demam dengue dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat. Pada fase demam, pasien sebaiknya dianjurkan perawatan menurut (Hadinegoro dalam Lies, 2009) adalah sebagai berikut: 1. Tirah baring selama masih demam. 2. Obat kompres hangat diberikan apabila diperlukan. Untuk menurunkan suhu menjadi < 390C dianjurkan pemberian parasetamol. 3. Pada pasien dewasa diperlukan obat yang ringan kadang-kadang diperlukan untuk mengurangi rasa sakit kepala dan nyeri otot. 4. Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, selain air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari. 5. Monitor suhu badan dan jumlah trombosit serta kadar hematokrit (kadar trombosit dalam darah) sampai normal kembali. Suhu turun pada umumnya merupakan tanda penyembuhan. Meskipun semua pasien harus diobservasi terhadapkomplikasi yang dapat terjadi selama 2 hari setelah suhu turun. Hal ini disebabkan oleh karena kemungkinan kita sulit membedakan demam dengue dan demam berdarah dengue pada fase demam. Perbedaan sangat jelas pada saat suhu turun, yaitu pada demam dengue akan terjadi penyembuhan, sedangkan pada demam berdarah dengue terdapat tanda awal kegagalan sirkulasi (syok).

2.2.6. Morfologi dan lingkaran hidup vektor DBD 2.2.6.1 Morfologi 1. Nyamuk dewasa

16

Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki. 2. Kepompong Kepompong (pupa) berbentuk seperti ”koma”. Bentuknya lebih besar namun ramping dibanding larvanya. Pupa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain. 3. Jentik (larva) Ada 4 tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu: Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm Instar II : 2,5-3,8 mm Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II Instar IV : berukuran paling besar 5mm

4.

Telur Telur berwarna hitam dengan ukuran ±0,08 mm, berbentuk oval yang mengapung satu persatu pada permukaan air yang jernih, atau menempel pada dinding tempat penampung air.

2.2.6.2. Lingkaran hidup

17

Nyamuk Aedes aegypti seperti juga nyamuk lainnya mengalami metamorfosis sempurna, yaitu: telur menjadi jentik kemudian kepompong dan fase yang terakir adalah nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ±2 hari setelah telur terendam dalam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari dan stadium kepompong berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa selama 910 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai umur rata-rata antara 2-3 bulan.

2.2.7 Pemberantasan Vektor DBD Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan dengan insektisida. Mengingat kebiasaan nyamuk senang hinggap pada benda-benda bergantungan, maka penyemprotan tidak dilakukan di dinding rumah seperti pada pemberantasan nyamuk menular malaria. Alat yang digunakan adalah mesin fog (pengasapan) dan penyemprotan dengan cara pengasapan tidak mempunyai efek residu. Untuk membasmi penularan virus dengue penyemprotan dilakukan dua siklus dengan inetrval 1 minggu. Pada penyemprotan siklus pertama, semua nyamuk yang mengandung virus dengue dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Tetapi akan segara muncul nyamuk-nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah pada penderita viremia (pasien yang positif terinfaksi DBD) yang masih ada yang dapat menimbulkan terjadinya penularan kembali. Oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan yang pertama agar nyamuk baru yang infektif tersebut akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang lain.

18

Tindakan penyemprotan dapat membasmi penularan, akan tetapi tindakan ini harus diikuti dengan pemberantasan terhadap jentiknya agar populasi nyamuk penular dapat tetap ditekan serendah-rendahnya.

2.2.8. Pemberantasan Jentik Menurut (Depkes RI, 2005) dalam memberantasan jentik nyamuk Aedes aegypty yang dikenal dengan PSN DBD dilakukan dengan cara: 1. Fisik Pemberantasan dengan cara ini dikenal sebagai kegiatan 3 M yaitu menguras dan menyikat bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan air, mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang-barang bekas. Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya satu minggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat itu. Pada saat ini telah dikenal pula dengan istilah 3M PLUS yaitu, kegiatan 3M yang diperluas. Bila PSNDBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga DBD tidak menular lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kapada masyarakat harus dilakukan secar terusmenerus dan berkesinambungan, oleh karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. Pada saat ini telah dikenal pula dengan istilah 3M PLUS yaitu, kegiatan 3M yang diperluas. Bila PSN-DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendahrendahnya, sehingga DBD tidak menular lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kapada masyarakat harus dilakukan secar terus-menerus dan

19

berkesinambungan, oleh karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. Upaya pemberantasan DBD yang dilakukan adalah pencegahan yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk yang (DBD) dilaksanakan melalui program Menguras, Menutup dan Mengubur (3M). Melalui program ini diharapkan jentik Aedes aegypti tidak berubah menjadi nyamuk dewasa sehingga tidak dapat menularkan Demam Berdarah Dengue. (Ditjen PPM dan PL, 2001) Upaya lain untuk penanggulangan Demam Berdarah Dengue adalah dengan melakukan penemuan, pertolongan dan pelaporan. Keluarga diharapkan dapat melakukan pertolongan pertama kepada penderita Demam Berdarah Dengue misalnya dengan rehidrasi. Petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dan pengobatan kepada penderita yang dicurigai terkena Demam Berdarah Dengue. Peran puskesmas juga dibutuhkan dengan melakukan penelitian epidemiologi apabila ditemukan kasus Demam Berdarah Dengue (Ditjen PPM dan PL, 2001) Langkah – langkah pemberantasan penyakit menular antara lain pemgumpulan dan analisa data tentang penyakit, melaporkan adanya penyakit menular, penyelidikan lapangan, tindakan pertama untuk membatasi penyebaran penyakit, pengobatan penderita, pengebalan (imunisasi), pemberantasan vektor, penyuluhan kesehatan (buku biru). Berbagai upaya penanggulangan vektor DBD telah dilaksanakan, antara lain pengasapan, larvasidasi dan penggerakan peran serta masyarakat, penyuluhan 3M PLUS, POKJANAL, belum berhasil menurunkan kasus. (SUB DINAS P2P & Penyehatan Lingkungan DINKES PROP JATIM, 2006). Program 3M di Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tahun 1992 dengan berdasar pada Keputusan Menkes No. 581/Menkes/SK/VII/92. Program 3M pada dasarnya adalah pengembangan dari program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) yang memfokuskan ke arah perbaikan fisik (Andajani, 2006).

20

Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari tiga hal yaitu peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor, diagnosis dini dan pengobatan dini, dan peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Program yang dilakukan adalah gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara massal dan nasional. PSN dilakukan dengan menerapkan 3M (Menutup wadahwadah tampungan air, Mengubur atau membakar barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan Menguras atau mengganti air di tempat tampungan air). Tujuan dari program 3M adalah untuk memutus mata rantai penularan DBD dengan cara memutus rantai kehidupan nyamuk Aedes aegypti (Suroso, 2003). Kegiatan 3M dihimbau untuk dilakukan oleh masyarakat satu minggu sekali. Gerakan ini dicanangkan oleh Pemerintah setiap tahunnya pada saat musim penghujan di mana wabah Demam Berdarah Dengue biasa terjadi. Pada program pembangunan 2004-2005, pencanangan Gerakan PSN dimulai sejak November 2004 dan ditegaskan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Februari 2005 (Suroso, 2003). Kegiatan 3M yang pertama yaitu menguras adalah kegiatan menguras tempat – tempat penampungan air seperti bak air untuk mandi, tandon air, drum yang berisi air. Kegiatan menguras dilakukan minimal satu kali dalam seminggu untuk mencegah perkembangan nyamuk menjadi nyamuk dewasa. Hal ini karena siklus metamorfosis nyamuk memakan waktu minimal seminggu (Suroso, 2003). Kegiatan 3M yang berikutnya adalah menutup tempat – tempat penampungan air. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah nyamuk Aedes aegypti meletakkan telurnya di tempat penampungan air tersebut. Kegiatan menutup tempat penampungan air dilakukan minimal untuk tempat penampungan air yang susah untuk dikuras ataupun dikubur tetapi akan lebih baik lagi apabila kegiatan menutup ini dilakukan untuk semua tempat penampungan air yang mungkin untuk ditutup (Suroso, 2003). Kegiatan 3M yang terakhir adalah mengubur barang – barang bekas ataupun tempat yang dapat menjadi penampungan air saat hujan. Kegiatan mengubur ini tidak terbatas hanya untuk barang – barang bekas seperti kaleng tetapi juga untuk

21

lobang di tanah yang bias menampung air. Kegiatan mengubur ini lebih bagus apabila minimal seminggu sekali karena berpatokan dari siklus nyamuk (Suroso, 2003). Pengembangan program 3M sampai saat ini sudah banyak dilakukan seperti yang terbaru adalah 3M plus, yaitu 3M diatas ditambah dengan memakai repellent, tidak tidur pada jam – jam dimana nyamuk Demam Berdarah Dengue berkeliaran, memakai kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik di tempat – tempat yang susah untuk dikuras, dan lain sebagainya. Semua kegiatan baru ini juga bertujuan untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue mengenai masyarakat (Suroso, 2003). 2. Kimia Pemberantasan jentik Aedes aegypti dengan mengunakan insektisida pembasmi jentik yang dikenal dengan istilah larvasidasi. 3. Biologi Pemberantasan cara ini menggunakan ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang). Dapat juga menggunakan Bacillus thuringiensis var Israeliensis (Bti).

2.3

KONSEP DASAR DALAM KEPERAWATAN KELUARGA

2.3.1 Pengertian Keluarga
Banyak ahli menguraikan pengertian tentang keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. Berikut ini akan penulis kemukakan pengertian keluarga menurut beberapa ahli. Menurut Evelyn Duvall dalam Wahit (2005) keluarga adalah Sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuanmenciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.

22

Menurut WHO ( 1969)

Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling

berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan. Yang dimaksud keluarga meurut Stanchope (1989 ) adalah : 1. Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan/hubungan sedarah atau hasil adopsi. 2. Anggota tinggal bersama dalam satu rumah. 3. Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran sosial. 4. Mempunyai kebiasaan/kebudayaan yang berasal dari masyarakat tetapi mempunyai keunikan tersendiri. Helvie dalam Wahit (2005) Keluarga adalah kelompok manusia yang tinggal dalam satu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat. Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya dalam Suprajitno (2004) Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu ruma tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing – masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. Departemen kesehatan R.I. (1998) Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beerapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Dari pengertian tersebut di atas tentan keluarga maka dapat di simpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah : 1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang di ikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi. 2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain. 3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing – masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak, adik 4. Mempunyai tujuan yaitu : menciptakan dan mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.

23

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem. Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota yaitu : ayah, ibu, dan anak atau semua individu yang tinmggal di dalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga tersebut saling berinteraksi, interelasi, dan interdependesi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya yaitu : lingkungan atau masyarakat dan sebaliknya sebagai sub sistem dari lingkungan atau masyarakat, keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-psiko-sosial dan spiritual. Jadi sangatlah tepat bila keluarga sebagai titik sentral pelayanan keperawatan. Diyakini bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai anggota sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat. 2.3.2 Struktur keluarga Nasrul Effendy, (1998) mengemukakan bahwa.Struktur keluarga terdiri dari bermacam – macam, diantaranya adalah : 1. Patrilineal Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu di susun melalui jalur garis ayah. 2. Matrilineal Adalah keluarga sedarah yan terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. 3. Matrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. 4. Patrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami. 5. Keluarga kawinan Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri. (Nasrul Effendy, 1998).

24

2.3.3 Type Keluarga Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawatan perlu memahami dan mengetahui berbagai tipe keluarga. 1. Tradisional Nuclear Keluarga inti yan terdiri dari : ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi – sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah. 2. Extended Family Adalah keluarga inti di tambah dengan sanak saudara misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya. 3. Reconstituted Nuclear Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan suatu rumah dengan anak – anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.

4.

Middle Age / Aging Couple Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua – duanya bekerja di rumah, anak – anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.

5.

Dyadic Nuclear Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya/salah satu bekerja di luar rumah.

6.

Single Parent Satu orang tua sebagai akibat perceraian/kematian pasangannya dan anak – anaknya dapat tinggal di rumah/di luar rumah.

25

7. 8.

Dual Carrier Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak. Commuter Married Suami istri/keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu – waktu tertentu.

9.

Single Adult Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri denan tidak adanya keinginan untuk kawin.

10. Three Generation Tiga generasi atau lebih tionggal dalam satu rumah. 11. Institusional Anak – anak tau orang – orang dewasa tinggal dalam suatu panti – panti. 12. Comunal Satu rumah terdiri dari dua/lebih pasangan yang monogami dengan anak – anaknya dan bersama – sama dalam penyediaan fasilitas. 13. Group Marriage Satu perumahan terdiri dari oran tua dan keturunannya didalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak – anak. 14. Unmaried Parent and Child Ibu dan anak dimana perkawinan tidak di kehendaki, adopsi anak 15. Cohibing Couple Dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin. 2.3.4 Peran keluarga dan peran perawat keluarga 2.3.4.1 Definisi Peran Menurut Nye dalam Wahit (2005) berpendapat terdapat dua perspektif dasar menyangkut peran-orientasi strukturalist yang menekankan pengaruh noramative (cultural) yaitu pengaruh yang berkaitan dengan status – status tertentu dan peran –

26

peran terkaitnya dan orientasi interaksi yang menekankan timbulnya kualitas peran yang lahir dari interaksi sosial. Peran di definisikan dalam pemahaman yang lebih struktural, karena preskripsi – preskripsi normative dalam keluarga, meskipun berbeda – beda, secara relative masih di definisikan secara lebih baik. Peran merujuk kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih ersifat homogen, yang di definisikan dan di harapkan secara normative dari seseorang okupan peran (role occupan) dalam situasi sosial tertentu. Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh oran lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem (Kozier, 1995). Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu. Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang di akui dan di beri kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional, dimana tiap peran yang dinyatakan sebagai ciri terpisah demi kejelasan. 2.3.4.2 Konflik peran Konflik terjadi ketika okupan dari suatu posisi merasa bahwa ia berkonflik dengan harapan – harapan yang tidak sesuai. Hardi & Hardi dalam Wahit (2005). Sumber dari ketidak seimbangan tersebut oleh jadi di sebabkan oleh adanya perubahan – perubahan dalam harapan yang terjadi dalam diri peri laku, orang lain, atau dalam lingkungan. Macam konflik peran : 1. Konflik antar peran Adalah konflik yang terjadi jika pola – pola perilaku atau norma – norma dari suatu peran tidak kongruen dengan peran lain yang dimainkan secara bersamaan oleh individu. Konflik antar peran terjadi ketika peran yang kompleks dari seseorang individu – yaitu sekelompok peran yang ia mainkan – termasuk sejumlah peran yang tidak seimbang. 2. Intersender role conflict (konflik peran antar pengirim)

27

Suatu konflik dimana di dalamnya dua orang atau lebih memegang harapan – harapan yang berkonflik, menyangkut pemeranan suatu peran. 3. Person – role conflict Meliputi suatu konflik antara nilai – nilai internal individu dan nilai – nilai eksternal yang dikomunikasikan kepada pelaku oleh oran lain, dan melemparkan pelaku ke dalam situasi yang penuh dengan stress peran. Type konflik peran ini sama dengan type konflik peran yang kedua, kecuali dalam hal, tidak adanya perbedaan dalam harapan – harapan peran diantara orang – orang diluar lingkunan. Orang dapat berfikir person-role conflict yang timbul dalam keluarga dengan anak remaja – apabila remaja tersebut memiliki pemikiran internal menyangkut perannya sebagai seorang remaja dan sebayanya menentukan suatu peran yang sangat berbeda. 2.3.4.3 Peran – peran formal keluarga Berkaitan dengan setiap posisi formal keluarga adalah peran – peran terkait, yaitu sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi peran – perannya : menurut bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya suatu system. Ada peran yang membutuhkan ketrampilan dan kemampuan tertentu, ada peran lain yang tidak terlalu kompleks dapat di delegasikan kepada mereka yang kurang memiliki kekuasaan. Peran formal yang standart terdapat dalam keluarga (pencari nafkah, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, sopir, pengasuh anak, manajer keuangan dan tukang masak (Murray & Zentner dalam Wahit, 2005). Nye dalam Suprajitno (2004) mengidentifikasi 6 peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan isteri-ibu : 1. 2. 3. 4. 5. Peran sebagai provider atau penyedia Sebagai pengatur rumah tangga Perawatan anak Sosialisasi anak Rekreasi

28

6. dan maternal) 7. 8.

Persaudaraan (kinship) (memelihara hubungan keluarga paternal Peran terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif dan pasangan) Peran seksual Peran – peran informal bersifat implicit biasanya tidak tampak ke permukaan

2.3.4.4 Peran informal keluarga dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Peran – peran informal mempunyai tuntutan yan berbeda, tidak terlalu di dasarkan pada usia, jenis kelamin dan lebih didasarkan pada atribut – atribut personalitas atau kepribadian anggota keluarga individual. (Marilyn M. Friedman dalam Suprajitno,2004) 2.3.5 Fungsi Keluarga 2.3.5.1 Fungsi dan tugas keluarga Dalam suatu keluarga ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut : 1. Fungsi biologis: Untuk meneruskan keturunan, Memelihara dan membesarkan anak, Memenuhi kebutuhan gizi keluarga 2. Fungsi psikologis: Memberikan kasih sayang dan rasa aman bagi keluarga, Memberikan perhatian diantara keluarga, Memberikan kedewasaan kepribadian anggota keluarga, Memberikan identitas keluarga 3. Fungsi sosialisasi: Membina sosialisasi pada anak, Membentuk norma – norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan masing – masing, Meneruskan nilai – nilai budaya 4. Fungsi ekonomi : Mencari sumber – sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Menabung untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan keluarga di masa yang akan datang. 5. Fungsi pendidikan : Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang di milikinya, Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam

29

memenuhi peranannya sebagai orang dewasa, Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. 2.3.5.2 Tugas – tugas keluarga Dalam sebuah keluarga ada beberapa tugas dasar didalamnya terdapat delapan tugas pokok sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya. Memelihara sumber – sumber daya yang ada dalam keluarga. Pembagian tugas masing – masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing – masing. Sosialisasi antar anggota keluarga. Pengaturan jumlah anggota keluarga. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga. Penempatan anggota – anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga. (Nasrul Effendy, 1998 ). Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga. Selain keluarga mampu melaksanakan fungsi dengan baik, keluarga juga harus melakukan tugas kesehatan keluarga. Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Friedman dalam Wahit, 2005), yaitu : mengenal masalah kesehatan keluarga, membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mempertahankan suasana rumah yang sehat dan menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat. Kelima tugas kesehatan keluarga tersebut saling terkait dan perlu dilakukan oleh keluarga, perawat perlu mengkaji sejauh mana keluarga mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik memberikan bantuan atau pembinaan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas kesehatan keluarga tersebut. 2.3.6 Struktur keluarga Struktur keluarga terdiri dari : pola dan proses komunikasi, struktur peran, struktur kekuatan dan struktur nilai dan norma.

30

1.

Struktur komunikasi Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan, komunikasi keluarga bagi pengirim : yakin mengemukakan pesan, jelas dan berkualitas, meminta dan menerima umpan balik. Menerima : mendengarkan pesan, memberikan umpan balik dan valid. Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila : tertutup, adanya isu atau gossip negative, tidak berfokus pada satu hal dan selalu mengulang isu dan pendapat sendiri, komunikasi keluarga bagi pengirim : bersifat : asumsi, ekspresi perasaan tidak jelas, judgemental exspresi dan komunikasi tidak sesuai. Penerima : gagal mendengar, diskualififasi, ofensif (bersifat negative), terjadi mis komunikasi dan kurang atau tidak valid.

2.

Struktur peran Yang dimaksud struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal.

3.

Struktur kekuatan Yang dimaksud adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol atau mempengaruhi atau merubah perilaku orang lain : legitimate power (hak), referent power (ditiru), expert power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksa) dan efektif power.

4.

Struktur nilai dan norma Nilai adalah system ide – ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosial tertentu berarti disini adalah lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.

2.3 HUBUNGAN

PENGETAHUAN

DENGAN

PELAKSANAAN

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH Penelitian yang dilakukan oleh Ririh (2008) mengenai Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, Dan Perilaku Masayrakat Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk

31

Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai Demam Berdarah Dengue memiliki hubungan yang bermakna dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan Demam Berdarah Dengue menyebabkan tingginya angka jentik Aedes aegypti. Selain itu dari penelitian ini juga didapatkan bahwa kondisi lingkungan dan jenis kontainer juga memiliki hubungan dengan angka jentik Aedes aegypti. Fathi dalam Lies dkk (2009) dengan judul Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian diatas. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara tingkat pengetahuan Demam Berdarah Dengue dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu untuk peran faktor lingkungan terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti tidak memiliki hubungan yang bermakna kecuali faktor lingkungan mengenai keberadaan kontainer – konatiner air. Adanya kontainer – kontainer air memiliki hubungan dengan adanya jentik Aedes aegypti karena kontainer – kontainer air dapat menjadi tempat perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti Beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian demam berdarah dengue antara lain faktor host, faktor lingkungan, dan faktor agent. Faktor lingkungan yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim) dan kondisi demografis (kepadatan, morbilitas, adat istiadat, sosial ekonomi). Beberapa faktor yang berhuibungan dengan keberadaan jentik jentik nyamuk yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue di suatu daerah adalah faktor kesehatan lingkungan, faktor pengetahuan, dan pelaksanaan PSN di daerah tersebut. Menurut Green, suatu perilaku, yang dalam hal ini pelaksanaan PSN ditentukan oleh beberapa faktor antara lain faktor prdisposisisi / faktor yang berasal dari dalam individu sendiri yaitu pendididkan, pekerjaan, pendapatan dan pengetahuan ; faktor enabling / faktor yang memungkinkan yaitu manajemen dan tenaga kesehatan; dan faktor reinforcing / penguat yaitu keluarga dan masyarakat sekitar (Ridwanaminuddin dalam Lies dkk, 2009).

32

Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar, boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3 M plus dilakukan secara sistematis, terus menerus berupa gerakan serentak, sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat, tidak kondusif untuk hidup nyamuk aedes aegypti. (I Nyoman Kandun dalam Lies dkk, 2009) 2.5 KONSEP MODEL KEPERAWATAN FLORENCE NIGHTINGALE Teori keperawatan menurut sevens dalam Alfiah hidayati ( 2010) Sebagai usaha menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan . Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan, dan mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan. Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus perawat kerjakan.

Lingkungan menurut Nightingale merujuk pada lingkungan fisik eksternal yang mempengaruhi proses penyembuhan dan kesehatan yang meliputi lima komponen lingkungan terpenting dalam mempertahankan kesehatan individu yang meliputi 1. 2. 3. 4. 5. udara bersih, air yang bersih, pemeliharaan yang efisien kebersihan, serta penerangan/pencahayaan

33

Nightingale lebih menekankan pada lingkungan fisik daripada lingkungan sosial dan psikologis yang dieksplor secara lebih terperinci dalam tulisannya. Penekanannya terhadap lingkungan sangat jelas melalui pernyataannnya bahwa jika ingin meramalkan masalah kesehatan, maka yang harus dilakukan adalah mengkaji keadaan rumah, kondisi dan cara hidup seseorang daripada mengkaji fisik/tubuhnya. Nightingale mendefinisikan kesehatan sebagai merasa sehat dan menggunakan semaksimal mungkin setiap kekuatan yang dimiliki yang merupakan proses aditif, yaitu hasil kombinasi dari faktor lingkungan, fisik, dan psikologis. Terutama faktor lingkungan meliputi : Kebersihan, Minuman, Nutrisi, Kelembaban, Jalan udara dan Saluran air `Menurut Nightingale keadaan sehat dapat dicapai melalui pendidikan dan perbaikan kondisi lingkungan. Penyakit merupakan proses perbaikan, tubuh berusaha untuk memperbaiki masalah. Juga merupakan suatu kesempatan untuk meningkatkan pandangan spiritual. Oleh karena itu Nightingale sangat menekankan bahwa kesehatan tidak hanya berorientasi dalam lingkungan rumah sakit tetapi juga komunitas. Nightingale memandang keperawatan sebagai ilmu kesehatan dan menguraikan keperawatan sebagai mengarahkan terhadap peningkatan dan pengelolaan lingkungan fisik sehingga alam akan menyembuhkan pasien. Oleh karena itu, kegiatan keperawatan termasuk memberikan pendidikan tentang kebersihan di rumah tangga dan lingkungan untuk membantu wanita menciptakan atau membuat lingkungan sehat bagi keluarganya dan komunitas yag pada dasarnya bertujuan untuk mencegah penyakit.

34

2.6 Kerangka Konseptual Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep- konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian- penelitian yang akan dilakukan. (Notoatmojo,2005)

Faktor yang mempengaruhi pengetahuan : Faktor intrinsik : - Usia pppppp - Lingkungan - Pendidikan - Integensia - Pekerjaan Faktor ekstrinsik : - Lingkungan - Agama - Kebudayaan Nursalam ( 2003 )

Pengetahuan keluarga tentang demam berdarah

Pelaksanaan 3M

-

Tahu
Baik Sedang Kurang

-Memahami - Aplikasi - Analisis - Sintesis - Evaluasi

35

Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Berpengaruh dan diteliti : Berpengaruh namun tidak diteliti

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

1.5

Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmojo, 2005) Pada penelitian ini peneliti mengajukan hipotesa sementara sebagai berikut: H1 : Ada hubungan pengetahuan tentang demam berdarah dengan pelaksanaan 3M plus di dususn plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Puskesmas Bareng. H0 : Tidak ada hubungan pengetahuan tentang demam berdarah dengan pelaksanaan 3M plus di dususn plosorejo Desa Kebondalem Wilayah Puskesmas Bareng.

36

BAB III METODE PENELITIAN

1.1

Desain Penelitian Desain dalam penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang

memungkinkan

memaksimalkan

suatu

kontrol

beberapa

faktor

yang

bisa

mempengaruhi validiti suatu hasil. Desain riset sebagai petunjuk peneliti dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam,2008). Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional yang mengkaji hubungan antara variabel. Peneliti dapat mencari,

37

menjelaskan suatu hubungan,memperkirakan, dan menguji berdasarkan teori yang ada. Sampel perlu mewakili seluruh rentang nilai yang ada. Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel. Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diiukuti oleh variasi variabel yang lain. Dengan demikian pada rancangan penelitian korelasional peneliti melibatkan minimal dua varibel. (Arikunto,2005). Rancangan penelitian yang digunakan survey analitik model Cross Sectional yaitu mengumpulkan data/informasi, sampel yang diambil dan sampel populasi hanya satu kali (Alimul, 2007). Populasi Semua keluarga di Dusun plosorejo Desa kebondalem wilayah kerja Puskesmas Bareng, Jumlah 126 KK

1.2

Sample Kerangka Kerja (Frame Work) Keluarga yang ada di Dusun Plosorejo, jumlah 126 KK

Kerangka kerja adalah langkah- langkah dalm aktifitas ilmiah, mulai dari 37 Sampling penetapan populasi, sampel, dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal dilaksanakannya Total Sampling penelitian (Nursalam, 2008) Desain Penelitian Cross Sectional Instrumen Penelitian Kuesioner tentang pengetahuan dan pemilihan

Pengelolahan Data Editing, Coding, Skoring, Tabulating Analisa data Product moment

Penyajian data

Kesimpulan

38

1.3 1.3.1

Populasi, Sampel, dan Sampling Populasi Populasi adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan

(Nursalam, 2008 ). Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga dusun plosorejo di wilayah kerja Puskesmas Bareng sejumlah 126 Keluarga 1.3.2 Sampel Penelitian Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008). Sampel dalam penelitian ini adalah semua keluarga dusun plosorejo di wilayah kerja Puskesmas Bareng yaitu sejumlah 126 keluarga. Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2008). Tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu pengambilan sampel dengan memberi perlakuan kepada

39

semua anggota yang ada dalam populasi. (Alimul, 2007), adapun sampel yang akan diteliti memiliki kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah karateristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti

(Nursalam,2003) Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1. 2. Anggota keluarga yang bersedia menjadi responden Bertempat tinggal di dusun plosorejo desa kebondalem.

Kriteria eksklusi adalah merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Nursalam, 2003) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : Keluarga yang sedang tidak ada di tempat saat dilaksanakan penelitian

.4

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1.4.1 Variabel Penelitian Adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, ukuran yang dimiliki oleh satuan penelitian tanpa konsep pengertian tertentu (Notoatmojo, 2005). Ada dua variabel dalam penelitian ini: 1. Variabel Independent (Variabel Bebas) Varibel Independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2008). Pada penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah pengetahuan keluarga tentang DBD. 2. Variabel Dependent (Variabel Tergantung)

40

Variabel Dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2008). Pada penelitian yang menjadi variabel dependen adalah Pelaksanaan 3M Plus .

1.4.2

Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari

sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2008). Definisi operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Definisi Operasional Pengetahuan Keluarga Tentang Pencegahan Demam Berdarah Dengue Dengan Pelaksanaan 3M Plus di Wilayah Kerja Puskesmas Bareng.

41

Variabel

Definisi

Parameter

Alat Ukur

Skala O R D I N A L

Skor 1. Betul : 1 2. Salah : 0

Operasional Variabel Segala independent sesuatu (bebas) informasi Pengetahuan yang tentang diketahui DBD tentang DBD

1. Pengertian Kuesioner DBD 2. Tanda dan gejala 3. Penanganan dalam keluarga 4. Vektor demam berdarah 5. Penanggulanga n vektor DBD secara umum 6. Kegiatan 3 M plus

Pelaksanaan 3M plus

Hasil observasi untuk pelaksanaan kegiatan 3M plus

1. Melaksana kan 2. Tidak melaksanakan

Kuesioner

O R D I N A L

1. Melaksanakan : 1 2. Tidak melaksanakan : 0

1.5

Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 30 januari sampai dengan 15 februari

2011 di dusun Plosorejo Desa kebondalem Kecamatan Bareng

1.6 3.6.1

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data

42

Sebelum dilakukan pengambilan data peneliti mengajukan izin kepada Kepala Puskesmas Bareng, kemudian peneliti berkoordinasi dengan Petugas kesehatan di desa setempat yaitu bidan desa dan perawat di puskesmas pembantu kebondalem serta perangkat desa guna mendata semua populasi di Dusun Plosorejo, menentukan sampel dan peneliti menetukan sampel yang dituju dengan teknik total sampling. Kemudian peneliti melakukan pengumpulan data dengan menggunakan lembar kuesioner. Hasil kuesioner tersebut dikaji oleh peneliti berdasarkan jawaban yang dipilih oleh responden. 3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data Guna memperoleh data penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan maka kuesioner yang telah penulis buat harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas angket. 1. Uji Validitas Uji validitas secara SPSS digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Pratisto, 2009). Mengukur tingkat validitas dapat dilakukan dengan cara: Uji signifikansi yang dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (hasil uji validitas) dengan nilai r tabel (nilai tabel) dengan nilai signifikansi 0,05 dari responden sebanyak 10 orang, r tabel = 0,631. hasil uji validitas (nilai r hitung) yang merupakan nilai dari Corrected Item-Total Corelation. Jika rhit > rtabel berarti instrumen valid demikian sebaliknya jika rhit < rtabel berarti instrumen tidak valid yang tentunya tidak dapat digunakan dan dapat

43

diperbaiki/ dihilangkan. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas (keandalan) merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan struktur pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner. Uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS dapat dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan untuk lebih dari satu variabel, reliabilitas suatu variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha > dari 0,60 (Pratisto, 2009:302). Analisis keputusan, jika r11 > rtabel berarti reliabel dan apabila r11< rtabel tidak reliabel yang di hitung pada derajat kebebasan dk= n-2 dan α= 0,05.

3.7.Pengelolahan Data Setelah data terkumpul maka peneliti akan melakukan pengolahan data dengan cara :

3.7.1

Editing Yaitu dengan memeriksa kelengkapan identitas yang mungkin tidak perlu

ditanyakan kepada responden dan diketahui oleh peneliti maka peneliti akan menambahkan sesuai dengan yang diketahui. 3.7.2 Coding Coding adalah kegiatan untuk mengklasifikasi data/jawaban menurut

44

kategorinya masing-masing (Djarwanto, 2001). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa kode pada bagian-bagian tertentu untuk mempermudah waktu pentabulasian dan analisa data. Kode yang digunakan adalah: 1. Untuk responden Responden no. 1 Responden no. 2 Responden no.3 2. < 20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun 3. Pendidikan Tidak sekolah SD Tidak tamat SD SMP SMA Perguruan tinggi 4. Petani Pedagang Buruh tani/ Pekerja Harian lepas Karyawan Swasta Pegawai negeri sipil Pekerjaan : kode 1 : kode 2 : kode 3 : Kode 4 : kode 5 : kode 1 : Kode 2 : Kode 3 : kode 4 : kode 5 : kode 6 Umur : kode 1 : kode 2 : kode 3 : kode 1 : kode 2 : kode 3

45

TNI/POLRI Lain- lain Tidak bekerja 5. Ya Tidak 6. Kader Tenaga kesehatan TV, Radio Koran Lain-lain Sumber informasi

: kode 6 : Kode 7 : kode 8

Pernah/tidak mendapat informasi : kode 1 : kode 2

: kode 1 : kode 2 : kode 3 : kode 4 : kode 5

3.7.3

Skoring Setiap data yang diperoleh dari responden akan diberi skor sesuai dengan yang

sudah ditentukan sebelumnya. Untuk variabel pengetahuan di beri skor sebagai berikut: Jawaban pertanyaan benar Jawaban pertanyaan salah : nilai 1 : nilai 0

Pengetahuan tersebut dikaji oleh peneliti berdasarkan jawaban yang dipilih oleh responden.

46

Pengetahuan responden di nilai dari kriteria: baik jika jawaban benar 25 – 19 soal cukup jika jawaban benar 18 – 16 soal kurang jika jawabann benar 16 – 0 soal Pelaksanaan 3M plus dengan kriteria: melaksanakan tidak melaksanakan 3.7.4 Tabulating Tabulating adalah proses pengumpulan data kedalam bentuk tabel. Data yang didapat ditabulasi kemudian analisis disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase tentang pengetahuan dan pemilihan. Pada tahap ini dianggap data telah selesai diproses sehingga harus disusun kedalam suatu pola formal yang telah dirancang. Dalam penulisan persentase biasanya dikelompokkan menjadi: seluruhnya hampir seluruhnya sebagian besar setengahnya hampir setengahnya sebagian kecil tidak satupun (Arikunto,2006) : 100% : 76% - 99% : 51% - 75% : 50% : 26% - 49% : 1% - 25% :0% : kode 2 : kode 1 : kode 3 : kode 2 : kode 1

47

3.8.Analisa Data Analisa data adalah cara berfikir digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi. (Susiono, 2008 : 294). Analisa data merupakan suatu proses yang sangat penting dalam penelitian. Oleh karena itu harus dilakukan dengan sistematis, baik dan benar Jenis analisa data yang digunakan : 1. Univariate Analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada Umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan prosentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2005:121). Komponen yang termasuk dalam analisis univariate ini data umum yaitu umur, agama, pendidikan, pekerjaan, informasi, sumber informasi, dan data khusus yang terdiri dari pengetahuan tentang DBD.

2.

Bivariate Bivariate adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2005: 121). Dalam penelitian ini analisis bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan Masyarakat tentang DBD dengan pelaksanaan 3M plus

3.8.1

Pengetahuan Masyarakat tentang DBD

48

Setelah semua data terkumpul dari hasil kuesioner responden dikelompokkan sesuai dengan sub variebel yang diteliti. Jumlah jawaban responden dari masingmasing pertanyaan dijumlahkan dan dihitung menggunakan kriteria penilaian pengetahuan. Sp x 100% Sm

N=

Keterangan : N = Nilai Sp = skor perolehan Sm = skor maksimal Kesimpulan: 1. Kurang 2. Cukup 3. Baik jika skor (Nursalam, 2008: 120) : ≤ 56% : 56%-75% : ≥ 76%

3.8.2. Pelaksanaan Pencegahan demam berdarah dengan 3M Plus Pelaksanaan tindakan pencegahan dengan 3M plus diukur dengan 25 item pertanyaan dan observasional, jika menjawab sudah melaksanakan akan diberi nilai 1 dan jika belum melaksanakan akan diberi nilai 0. Jumlah jawaban responden dari masing-masing pertanyaan dijumlahkan dan dihitung menggunakan kriteria penilaian skala guttman yaitu : Pelaksanaan baik : 100%- 75% Pelaksanaan sedang : 74%-40%

49

Pelaksanan kurang : 0%- 39%.

3.8.3

Hubungan Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan dengan Penyakit DBD Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pelksanaan 3M plus di

wilayah kerja Puskesmas Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang dianalisis dengan menggunakan uji korelasi product moment dengan SPSS(Sugiono,2007) Kemudian untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan menggunakan uji Spearman Correlation secara SPSS dengan ketentuan jika nilai “r” semakin mendekati angka 1, maka hal itu menunjukkan adanya hubungan yang semakin kuat. Kriteri kuat lemahnya hubungan adalah sebagai berikut: 0 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 3.9.Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat adanya rekomendasi dari institusinya atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada institusi atau lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi: 3.9.1 Mengurus Surat Ijin Penelitian 1. Meminta surat pengantar ijin penelitian dari STIKES PEMKAB Jombang = sangat rendah (hampir tidak ada hubungan) = korelasi yang rendah = korelasi sedang = cukup tinggi = korelasi tinggi

50

2. 3. 3.9.2

Meminta surat ijin penelitian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Mengantar surat ijin penelitian ke Puskesmas Bareng

Lembar Persetujuan Penelitian Lembar persetujuan diberikan sebelum penelitian dilaksanakan kepada keluarga

subjek yang akan diteliti, tujuannya adalah agar keluarga subjek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang akan terjadi selama penelitian. 3.9.3 Anonimity (tanpa nama) Nama subjek tidak dicantumkan dalam lembar pengumpulan data untuk mengetahui keikutsertaan, maka peneliti cukup memberi kode masing- masing lembar tersebut. 3.9.4 Confidentility (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari subjek dijaga kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data saja yang akan disajikan atau dilaporkan pada hasil penelitian. 3.10. Keterbatasan Peneliti menyadari banyak keterbatasan meliputi: 3.10.1 Instrumen atau alat pengumpulan data Instrument untuk alat penelitian yang berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dibuat sendiri oleh peneliti sehingga validitasnya dipengaruhi oleh kejujuran responden dalam mengisi kuesioner. 3.10.2 Sampel Penelitian

51

Sampel yang digunakan pada penelitian ini terbatas pada ibu nifas sehingga kurang dapat bisa mewakili dari kesuluruhan. 3.10.3 Waktu penelitian Waktu penelitian yang relatif singkat mempengaruhi dalam proses pengisian oleh responden sehingga dimungkinkan mempengaruhi validitas, waktu pengisian koesioner juga dipengaruhi oleh kesibukan responden sehingga hasil penelitian kurang optimal.

DAFTAR PUSTAKA Andajani, Susilowati. 2006. Demam Berdarah Dengue. Departemen IKM-KP Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga : 2006. Anonim, 2007. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2006. Surabaya :Dinkes Prov Jatim Anonim, 2010. Statsitic on dengue p.1. WHOdengue.net diakses tanggal 2 oktober 2010 Anonim. 2004. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Demam Berdarah. Jakarta : Ditjen PPM dan PL Depkes RI

52

Anonim. 2004. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Demam Berdarah. Jakarta : Ditjen PPM dan PL Depkes RI. Arif Hidayati. 2006. Model Konsep Keperawatan. http//arifhidayati.blogspot.com diakses tanggal 21 Desember 2010 Arikunto, S,2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: EGC. Effendy, Nasrul. 2006.Dasar-dasar Keperwatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC Fathi, dkk. 2005. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.2 No.1 : Peran Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue Di Kota Mataram. Surabaya : Airlangga Univeristy Press Hidayat, Alimul Aziz.2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis. Jakarta: Salemba Medika I Nyoman Kandun, 2004 www.gizi.net/../fullnews.cgi diakses tanggal 12 Desember 2010 Notoatmojo ,S.2003.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Notoatmojo, S.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Nursalam, 2003. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta. CV. Agung Seto Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: CV. Agung Seto Pambudi dkk. 2009. Faktor- factor yang mempengaruhi partisipasi jumantik dalam pemberantasan DBD di Desa Ketintang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Surakarta: UMM press Ridwanaminuddin,2007.http://ridwansmiruddin.wordpress.com/2007/12/19/reviewevaluasi-program-dbd/ Siregar.2004. Kajian factor factor yang mempengaruhi kejadian demam berdarah di kelurahan Helvetia Medan tengah.USUpress: Medan Soegijanto, Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue. Airlangga University Press. Surabaya. Hal 1 Stanchope Lancaster.1989.Community Health Nursing, Process and Practice. Mosby co: St.louis USA

53

SUB DINAS P2P & Penyehatan Lingkungan DINKES PROP JATIM, 2006 Sugiono, 2007, Statistik Untuk Penelitian.Bandung: Alfabeta Suprajitno.2004. Asuhan Keperawatan Keluarga:Aplikasi dalam Praktik.EGC : Jakarta Suroso, T. 2003. Strategi Baru Penanggulangan DBD di Indonesia. Jakarta : Depkes RI. Wahit,dkk. 2006. Ilmu Keperawatan komunitas 2. CV Sagung Seto: Jakarta Wikipedia.2010. Pengetahuan (online). http//www.wikipedia.co.id. Yudhastuti, Ririh. 2008. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, Dan Perilaku Masayrakat Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Surabaya : Airlangga University Press

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful