Nama Kelompok: - Indra A - Devi K - Judith P - Leonardo H - Monica P

1

Daftar Isi
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………. 1 Bab 1: Konsili Vatikan II……………………………………………………………………………2 Bab 2: Sidang – Sidang Konsili………………………………………………………………….. 3 Bab 3: Hasil Sidang Konsili Vatikan II…………………………………………………………… 7 Bab 4: Dei Verbum………………………………………………………………………………… 8 Bab 5: Gaudium et Spes………………………………………………………………………….. 9 Bab 6: Lumen Gentium…………………………………………………………………………… 9 Bab 7: Sacrosanctum Concilium………………………………………………………………… 11 Bab 8: Ad Gentes………………………………………………………………………………….. 12 Bab 9: Apostolicam Actuositatem….......................................................................................12 Bab 10: Christus Dominus……………………………………………………………………….. 14 Bab 11: Inter Mirifica……………………………………………………………………………….14 Bab 12: Optatam Totius……………………………………………………………………………15 Bab 13: Orientalium Ecclesiarum……………………………………………………………….. 15 Bab 14: Perfectae Caritatis………………………………………………………………………. 16 Bab 15: Presbyterorum Ordinis………………………………………………………………….. 16 Bab 16: Unitatis Redintegratio…………………………………………………………………… 17 Bab 17: Dignitatis Humanae………………………………………………………………………17 Bab 18: Gravissimum Educationis………………………………………………………………. 18 Bab 19: Nostra Aetate………………………………………………………………………………18 Bab 20: Ringkasan Dokumen Konsili Vatikan…………………………………………………...19 Bab 21: Dokumen – Dokumen Konsili Vatikan II……………………………………………….. 20

1

Gereja Ortodoks Rusia di bawah kekhawatiran akan Pemerintahan Komunis Soviet. studi teologi dan biblikal Roma Katolik mulai memasuki pembaharuan sejak setelah Konsili Vatikan Pertama hingga memasuki abad kedua puluh.Bab 1 Konsili Vatikan II Konsili Ekumenis Vatikan Kedua atau Vatikan II adalah adalah sebuah Konsili Ekumenis ke-21 dari Gereja Katolik Roma yang dibuka oleh Paus Yohanes XXIII pada 11 Oktober 1962 dan ditutup oleh Paus Paulus VI pada 8 Desember 1965. menyambut undangan tersebut hanya ketika telah diyakinkan bahwa Konsili ini akan bersifat apolitik. Jumlah dokumen yang dihasilkannya pun lebih banyak dan dampak pengaruhnya atas kehidupan Gereja Katolik lebih besar dari peristiwa manapun sesudah zaman reformasi pada abad XVI. dan John Courtney Murray yang mencari cara untuk mengintegrasikan pengalaman manusia modern dengan dogma Kristiani. Konsili Vatikan Pertama telah berakhir hampir satu abad sebelumnya secara prematur akibat pecahnya perang Perancis-Prussia. Liberalisme ini muncul dari para teolog seperti Yves Congar. Paus Yohanes XXIII kemudian secara tidak terduga memutuskan untuk menghimpunkan Konsili hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah pengangkatannya pada 1959. dan hanya sempat menghasilkan suatu dogma mengenai Infabilitas Paus. Dalam sebuah dialog mengenai konsili. 29 pengamat dari 17 Gereja lain. dan para undangan yang bukan Katolik. isu-isu mengenai pastoral dan dogma tidak dapat dibahas akibat perang tersebut. ia diwawancarai mengapa konsili ini perlu dilakukan. Karl Rahner." Ia mengundang pula gereja-gereja Kristen lainnya untuk mengirimkan pengamat ke Konsili tersebut. Sedangkan. diadakan empat periode sidang di mana jumlah Uskup yang hadir lebih banyak dan berasal dari lebih banyak negara daripada konsili-konsili sebelumnya. 2 . Undangan ini disambut baik oleh kedua gereja Protestan dan Ortodoks. "Saya ingin membuka jendela dari Gereja sehingga kita bisa melihat keluar dan mereka yang ada di luar bisa melihat ke dalam. Konsili Ekumenis dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur adalah pertemuan seluruh uskup keseluruhan Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya. Selama masa Konsili ini. Pembukaan Konsili ini dihadiri oleh hingga 2540 orang uskup Gereja Katolik Roma sedunia (atau juga disebut para Bapa Konsili). Latar Belakang Konsili Vatikan II Selama tahun 1950an. Paus dilaporkan membuka sebuah jendela dan berkata. Dalam konsili ini. tokoh lainnya adalah Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) dan Henri de Lubac yang juga menginginkan pengertian yang lebih akurat akan Injil dan menganggap para Bapa Gereja mula-mula sebagai sumber pembaharuan.

bukan kecaman" dalam dokumen-dokumen yang akan mereka buat. Setelah Misa. Kelompokperiti ini kemudian memiliki pengaruh yang sangat besar seiring dengan perjalanan Konsili. Sidang dilaksanakan dalam Bahasa Latin di Basilika Santo Petrus. Komisi-Komisi Khusus Konsili dibentuk untuk membicarakan dan memeriksa hasil-hasil kerja para uskup dan mempersiapkan sidang berikutnya. Hasil Konsili sesungguhnya dikerjakan dalam pertemuan-pertemuan komisi lainnya (mungkin dilaksanakan dalam bahasa lain). sejumlah periti (Latin untuk para "ahli") juga hadir sebagai konsultan teologi. ia menolak pemikiran mengenai para "nabi-nabi akhir zaman yang selalu meramalkan akan bencana" di dunia dan pada masa depan Gereja tersebut.Bab 2 Sidang – Sidang Konsili Sidang-Sidang Umum Konsili dilaksanakan pada musim gugur selama empat tahun kemudian (dalam 4 sidang) pada 1962 hingga 1965. Ia mendesak para Bapa Gereja untuk "menunjukan belas kasih. Sebanyak 2. sehingga menjadikannya sebagai pertemuan terbesar Konsili di sepanjang sejarah gereja.300 roang. 3 . tetapi Gereja harus mengajarkan pesanpesan Kristus dalam tren dunia modern yang cepat berubah. Ia juga memperingatkan bahwa Gereja tidak perlu mengulang maupun merumuskan kembali doktrin-doktrin dan dogmata yang telah ada. Dalam pidatonya. Paus memberikan amanatnya kepada para Uskup yang berkumpul dengan judul Gaudet Mater Ecclesia (Latin untuk "Bunda Gereja Bersuka cita"). Sidang Pertama (Musim Gugur 1962) Paus Yohanes membuka Konsili pada 11 Oktober 1962 dalam sebuah Sidang Umum yang dihadiri oleh para Bapa Konsili dan wakil-wakil dari 86 negara dan badanbadan internasional. serta dalam pertemuan informal dan pertemuan sosial lainnya di luar konsili yang sesungguhnya. Sebanyak 2. bukan Doktrinal. Jumlah yang hadir adalah bervariasi di setiap Sidangnya antara 2. Sebagai tambahan.908 pria (dianggap sebagai para Bapa Konsili) tercatat memiliki hak suara dalam Konsili tersebut. di mana diskusi dan pendapat dinyatakan sebagai "rahasia". Sebanyak 17 gereja-gereja Ortodoks dan denominasiProtestan juga mengirimkan pengamat-pengamat mereka. Paus juga menekankan bahwa sifat Konsili adalah Pastoral ("Penggembalaan"). Di luar masa sidang.540 orang mengambil bagian dalam Sidang Pembukaan.100 hingga lebih dari 2. Mereka ini termasuk seluruh Uskup dan para Superior dari Ordo-Ordo Religius pria.

Paus Paulus melakukan sejumlah perbaikan untuk memecahkan masalah organisasi dan prosedur yang telah ditemukan selama periode pertama. sidang berikutnya tahun 1963 mulai dipersiapkan. Amanat pembukaan Paus Paulus pada 29 September 1963 menekankan kembali sifat Pastoral Konsili. maupun dalam pertemuan informal. dan dalam haluan yang telah ditetapkan pada Sidang sebelumnya oleh Paus Yohanes. apakah akan mengikuti agenda yang telah dipersiapkan oleh Komisi Persiapan ataukah akan membuat sebuah agenda yang baru yang akan dibicarakan di antara para anggota Sidang terlebih dahulu. persiapan-persiapan ini diwarnai dengan wafatnya Paus Yohanes XXIII pada 3 Juni 1963. Paus Paulus VI yang terpilih pada 21 Juni 1963 segera mengumumkan bahwa Konsili harus berlanjut. dalam waktu kurang dari 15 menit. dan Paus Yohanes terpaksa harus campur tangan untuk memerintahkan penulisan kembali mengenai skema ini. Namun demikian. namun mayoritas delegasi tidak menyadari bahwa para uskup Rhine telah mempersiapkan suatu rencana mengenai bagaimana mereka menginginkan jalannya Konsili. baik dalam kelompok-kelompok nasional dan regional. Akhirnya. serta  untuk memulai dialog dengan dunia modern.  untuk mengembalikan kesatuan di antara kaum Kristiani. Dalam struktur Komisi Konsili yang baru kemudian atas usulan para Uskup Rhine. Setelah penundaan sidang pada 8 Desember 1962. Skema mengenai Wahyu Ilahi kemudian ditolak oleh sebagian besar uskup. 4 . dan menetapkan empat tujuan Konsili:  untuk lebih mendefinisikan sifat dasar gereja dan tugas pelayanan para uskup. Hal ini termasuk mengundang pengamat tambahan dari kaum awam Katolik dan Non-Katolik. para uskup telah mengadakan pemungutan suara atas permintaan Para Uskup Rhine mengenai agenda Sidang. Sidang Kedua (Musim Gugur 1963) Dalam bulan-bulan sebelum Sidang Umum Kedua. komunikasi misa. serta mengurangi jumlah skema yang diusulkan menjadi 17 saja. gereja-gereja Ritus Timur. Isu-isu yang dibicarakan selama sesi-sesi Sidang adalah termasuk mengenai liturgi. Usulan ini tampaknya cukup wajar.  untuk memperbaharui gereja. prioritas dari isu-isu yang akan dibicarakan menjadi berubah. sehingga dapat mempertahankan sifat Pastoral Konsili. serta sumber-sumber Wahyu Ilahi. Paus juga menghapuskan ketentuan kerahasiaan Sidang Umum. termasuk meminta maaf akan kontribusi Gereja Katolik di masa lampau terhadap perpecahan itu. dengan demikian keseluruhan Skema menjadi lebih umum.Dalam lokakarya pertama mereka.

Paus Paulus memerintahkan para Uskup untuk menunda topik kontrasepsi artifisial (keluarga berencana) yang akan dibahas sebuah komisi ahli kepastoran dan awam yang telah ditunjuknya. (Sebagai catatan. Sejumlah topik dikurangi menjadi usulan pernyataan fundamental untuk disetujui dalam Sidang Ketiga. namun tidak segera diputuskan oleh Paus pada Konsili tersebut. Paus Paulus menjanjikan untuk segera meninjau skema ini pada masa Sidang berikutnya.Selama masa Sidang ini. Selama Sidang yang dimulai pada 14 September 1964 ini. Para uskup mengusulkan skema ini dan meminta persetujuan yang cepat. serta Ekumenisme. Sidang dilanjutkan dengan skema mengenai Gereja. Silang pendapat ini dianggap sebagai kejadian paling dramatis selama Konsili. sekarangPaus Benediktus XVI. Skema mengenai Ekumenisma (Unitatis Redintegratio). bersamasama dengan undangan tambahan pria awam. Sebuah votum atau pernyataan mengenai sakramen pernikahan dimunculkan sebagai pedoman bagi komisi untuk merevisi Hukum Kanonik tentang isu-isu beragam akan yurisdiksi. Uskup dan Keuskupan. penasihat teologi Kardinal Frings adalah Joseph Ratzinger muda. seremonial. para uskup menyetujui konstitusi tentang liturgi suci (Sacrosanctum Concilium) dan dekrit tentang upaya-upaya komunikasi sosial (Inter Mirifica). Delapan pengamat religius wanita dan tujuh wanita awam diundang dalam Sidang Ketiga. Sidang Kedua berakhir pada 4 Desember 1963. dengan Komisi Paskakonsili yang akan menangani implementasi peraturan-peraturan tersebut. gereja-gereja Katolik Ritus Timur (Orientalium Ecclesiarum). Skema mengenai tugas dan pelayanan para pastor serta tugas misi Gereja ditolak dan dikembalikan kepada komisi-komisi untuk ditulis ulang sama sekali. yang kemudian menjadi Kardinal yang mengepalai Kongregasi tersebut di Tahta Suci). Joseph Kardinal Frings mengkritik Kongregasi untuk Doktrin Iman (sebelum 1908 dikenal sebagai Holy Roman and Universal Inquisition). Alfredo Kardinal Ottaviani. 5 . para Bapa Konsili mengerjakan sejumlah besar proposal. dan pastoral. terutama sekali untuk masalah Gereja di dunia masa kini dan kebebasan beragama. Terjadi kontroversi mengenai revisi dekrit kebebasan beragama dan mengakibatkan kegagalan pengambilan suara akan dekrit ini pada Sidang Ketiga. proposal Skema direvisi kembali berdasarkan komentar-komentar dari para Bapa Konsili. Pada 8 November 1963. serta konstitusi tentang Gereja (Lumen Gentium) disetujui dan diumumkan secara resmi oleh Paus. Sidang Ketiga (Musim Gugur 1964) Di antara periode Sidang Kedua dan Ketiga. dan dengan segera dibalas oleh pembelaan diri yang berapi-api dari Sekretaris badan tersebut. Pekerjaan dilanjutkan untuk sisa Skema lainnya.

Delapan pengamat religius wanita dan tujuh wanita awam diundang dalam Sidang Ketiga. Sejumlah topik dikurangi menjadi usulan pernyataan fundamental untuk disetujui dalam Sidang Ketiga. Skema mengenai tugas dan pelayanan para pastor serta tugas misi Gereja ditolak dan dikembalikan kepada komisi-komisi untuk ditulis ulang sama sekali. Paus Paulus memerintahkan para Uskup untuk menunda topik kontrasepsi artifisial (keluarga berencana) yang akan dibahas sebuah komisi ahli kepastoran dan awam yang telah ditunjuknya. terutama sekali untuk masalah Gereja di dunia masa kini dan kebebasan beragama. Sebuah votum atau pernyataan mengenai sakramen pernikahan dimunculkan sebagai pedoman bagi komisi untuk merevisi Hukum Kanonik tentang isu-isu beragam akan yurisdiksi.Paus Paulus menutup Sidang Ketiga pada 21 November dengan mengumumkan perubahan tata cara Ekaristi dan secara resmi mengumumkan Maria sebagai "Bunda Gereja" seperti yang telah sering diajarkan. Paus Paulus menjanjikan untuk segera meninjau skema ini pada masa Sidang berikutnya. Terjadi kontroversi mengenai revisi dekrit kebebasan beragama dan mengakibatkan kegagalan pengambilan suara akan dekrit ini pada Sidang Ketiga. gereja-gereja Katolik Ritus Timur (Orientalium Ecclesiarum). Skema mengenai Ekumenisma (Unitatis Redintegratio). dengan Komisi Paskakonsili yang akan menangani implementasi peraturan-peraturan tersebut. seremonial. Selama Sidang yang dimulai pada 14 September 1964 ini. dan pastoral. 6 . serta konstitusi tentang Gereja (Lumen Gentium) disetujui dan diumumkan secara resmi oleh Paus. Para uskup mengusulkan skema ini dan meminta persetujuan yang cepat. para Bapa Konsili mengerjakan sejumlah besar proposal. Paus Paulus menutup Sidang Ketiga pada 21 November dengan mengumumkan perubahan tata cara Ekaristi dan secara resmi mengumumkan Maria sebagai "Bunda Gereja" seperti yang telah sering diajarkan. bersamasama dengan undangan tambahan pria awam. Sidang Ketiga (Musim Gugur 1964) Di antara periode Sidang Kedua dan Ketiga. namun tidak segera diputuskan oleh Paus pada Konsili tersebut. Pekerjaan dilanjutkan untuk sisa Skema lainnya. proposal Skema direvisi kembali berdasarkan komentar-komentar dari para Bapa Konsili.

Bab 3 Hasil Konsili Vatikan II Konsili Vatikan II menghasilkan 16 Dokumen. terdiri dari 4 Konstitusi. dan 3 Pernyataan 4 konstitusi:  Dei verbum (Wahyu Ilahi)  Gaudium et Spes (Gereja di dunia dewasa ini)  Lumen Gentium (Gereja)  Sacrosanctum Concilium (Liturgi Suci) 9 Dekrit:  Ad Gentes (kegiatan Misioner Gereja)         Apostolicam Actuositatem (Kerasulan Awam) Christus Dominus (Tugas Pastoral para Uskup Dalam Gereja) Inter Mirifica (Upaya – Upaya Komunikasi Sosial) Optatam Totius (Pembinaan Imam) Orientalium Ecclesiarum (Gereja – Gereja Timur Katolik) Perfectae Caritatis (Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius) Presbyterorum Ordinis (Pelayanan dan Kehidupan Para Imam) Unitatis Redintegratio (Ekumenisme) 3 Pernyataan:  Dignitatis Humanae (Kebebasan Beragama)  Gravissimum Educationis (Pendidikan Kristen)  Nostra Aetate (Hubungan Gereja dengan Agama – Agama bukan Kristiani) 7 . 9 Dekrit.

atas ilham Roh Kudus juga telah membukukan amanat keselamatan" (Dei Verbum 7). 8 . Kitab Suci. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. Mengenai Hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci Pada Bab Kedua mengenai "Meneruskan Wahyu Ilahi". maka "Kristus Tuhan. yang mengajar untuk keselamatan manusia. Konstitusi menyatakan bahwa:  Kitab Suci dikarang sendiri oleh Allah melalui orang-orang yang digunakanNya dengan memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri. Tetapi pengetahuan itu saja tidak menjelaskan "mengapa" dan "untuk apa".. setia. setelah "para rasul dan tokoh-tokoh rasuli. Dan sumber itu adalah wahyu ilahi atau penyingkapan diri Allah sendiri kepada manusia. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.. Secara singkat. Konstitusi ini menyatakan secara khusus kesetaraan peran Tradisi Suci dean Kitab Suci.. dapat diketahui dengan akal budi manusia dari semua karya ciptaanNya (Katekismus Gereja Katolik no 47).Bab 4 Dei Verbum Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi adalah salah satu dokumen utama yang memiliki pokok-pokok mendasar mengenai sumber ajaran dan tindakan Gereja. Judul Dei Verbum berarti Sabda Allah (dalam Bahasa Inggris:"Word of God") diambil dari kata-kata pertama dokumen berbahasa Latin. Yesus Kristus dan Roh Kudus (Katekismus Gereja Katolik no. dan tanpa kekeliruan kebenaran.  Segala pernyataan yang dikarang oleh pengarang yang diilhami harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus. Mengenai Sumber Ilham dari Kitab Suci dan Penafsirannya Dalam Bab Ketiga mengenai "Ilham Ilahi Kitab Suci dan Penafsirannya".344 berbanding 6. sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta memberi ajaran kesusilaan" (Dei Verbum 7). Maka Gereja Katolik melalui dokumen Dei Verbum menyerukan keseimbangan perhatian pada kedua macam saluran wahyu ilahi: Tradisi dan Kitab Suci. sebagaimana biasanya dokumen-dokumenGereja Katolik dinamai. Maka "Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya" (Dei Verbum 2).mereka wartakan kepada semua orang.  Kitab-kitab dalam Alkitab adalah teguh. ikhtisar dari Dei Verbum adalah sebagai berikut: Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah.. Dalam Gereja Katolik wahyu ilahi itu diterima dari dua saluran: Tradisi pengajaran lisan para rasul dan kemudian setelah sebagian dari pengajaran itu dituliskan. Untuk itu Ia mengutus PuteraNya yang terkasih. 50). pencipta dan Tuhan. Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4). Kehendak Allah itu dilaksanakan dalam dua cara: secara lisan (disebut Tradisi) oleh para rasul dan pengganti-penggantinya. supaya Injil. dan kemudian secara tertulis.memerintahkan kepada para rasul.

Gereja dipahami sebagai Umat Allah.307 berbanding 75. baik dengan Allah maupun dengan seluruh umat manusia (Lumen Gentium 1). Maka Gereja semakin dipahami sebagai umat Allah secara keseluruhan kendati tetap mempertahankan fungsi hirarki sebagai pemersatu. Namun Gereja memandang diri terutama sebagai tanda dan sarana persatuan dan kesatuan. Paus Yohanes XXIII mencanangkan "aggiornamento" atau pembaruan Gereja. yang disusun menjadi pelbagai skema. tetapi Kristus di tengah-tengah umat dan Uskup sebagai gembalanya. Judul Gaudium et Spes atau Kegembiraan dan Harapan (dalam Bahasa Inggris "Joy and Hope") diambil dari baris pertama dokumen ini. Maka Lumen Gentium menekankan teologi Gereja setempat (keuskupan). setelah disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. Dalam dokumen pembahasan tentang awam justru didahulukan daripada pembahasan 9 . Konstitusi ini diumumkan secara resmi oleh Paus Paulus VIpada 21 November 1964. Sebelum Konsili dimulai dari para uskup sedunia diminta saran-saran lebih dulu. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. suatu dokumen tentang Gereja yang menunjukkan pergeseran dari paham yang sangat institusionalistis organisatoris kepada paham yang dinamis dan organis. Di dalam Konsili para uskup berdasarkan skemaskema yang sudah disusun berusaha mendiskusikan dan merumuskan pandangan dan pemahaman teologis mereka akan Gereja dalam terang Tradisi dan Kitab Suci.Bab 5 Gaudium et Spes Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini adalah dokumen puncak dari Konsili Vatikan Kedua. adalah salah satu dokumen utama Konsili Vatikan Kedua. sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.151 berbanding 5. Hal ini nantinya mendorong semangat ekumenis dengan gereja-gereja lain. Hasilnya adalah Lumen Gentium. sekalipun berbeda fungsi. dan itu membuat cakrawala pemahaman akan esensi Gereja lebih luas dari batas yang kelihatan (Gereja Katolik Roma). Bab 6 Lumen Gentium Lumen Gentium atau Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Pusat Gereja bukan lagi Roma atau Paus. agar dapat memberi sumbangan yang efektif bagi pemecahan masalah-masalah modern (Konstitusi apostolik Humanae Salutis 1961). Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. Ditekankan juga kesetaraan semua anggota umat Allah di dalam martabatnya. juga dengan kaum ateis. sebab banyak juga unsur-unsur Gereja dilihat dan diakui berada di luar batas-batas itu (Lumen Gentium 8). menyesuaikan diri dalam zaman baru. Latar Belakang dibuatnya Lumen Gentium adalah sebagai berikut: Ketika bermaksud mengundang Konsili Vatikan II pada tahun 1959. bahkan dialog dan kerjasama dengan agama-agama lain.

10 . Dengan demikian Gereja di mana saja lebih peka pada persoalan-persoalan di sekelilingnya dan dapat segera menyampaikan sumbang-saran pemecahan.tentang para religius.

Hal itu adalah agar tradisi yang sehat dipertahankan. yaitu Ekaristi.147 berbanding 4. Kitab Suci merupakan tulang punggung liturgi. dan perkembangan yang wajar harud didasari oleh penyelidikan teologis. maka liturgi yang dikembangkan dokumen ini mendorong peran serta aktif seluruh jemaat. Sebelumnya. 11 . seruan permohonan. sehingga liturgi bukan tindakan perorangan. adalah salah satu dokumen yang paling signifikan yang dibuat oleh Konsili Vatikan Kedua. yaitu jemaat (SC 26-27) melakukan perayaan iman dengan melaksanakan tugas masing-masing dalam peranserta aktif (SC 28-30). Dokumen ini mendorong perubahan tata-liturgi Gereja agar benar-benar menjadi ungkapan iman Gereja keseluruhan. Beberapa pokok penting dalam dokumen ini: Perubahan Terkendali Dinyatakan bahwa Gereja "hendak mengusahakan dengan seksama pembaruan umum liturgi" (SC 21). aktif berperan serta. Liturgi menggunakan bahasa Latin. melainkan tindakan seluruh Gereja. menggunakan bahasa setempat yang dipahami umat (SC 36). maka umat dapat mengikuti semua proses upacara. Maksudnya supaya umat kristiani terjamin mendapatkan rahmat yang berlimpah dari liturgi. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2. dan umat yang tidak paham diam saja dan berdoa rosario sendiri saja.Bab 7 Sacrosanctum Concilium Sacrosanctum Concilium atau Konstitusi tentang Liturgi Suci. Ada tiga bidang liturgi yang diperbarui dalam dokumen ini. Untuk itu ditentukan kaidah "siapa" yang berhak mengubah liturgi: Paus dan dalam batas-batas tertentu Konferensi Waligereja (SC 22). Bukan semau-maunya (SC 23). historis dan pastoral secara cermat. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963. baik bacaan. Sakramentali. Hal senada dinyatakan dalam kaitan dengan liturgi yang selaras dengan jiwa bangsa dan kehidupan umat setempat(SC 37-42). Tekanannya pada "perayaan" bukan sekedar "upacara". madah dan perlambangan (SC 24). homili. dan menjaga agar hal-hal khusus tidak merugikan kesatuan (Lumen Gentium 13). dan menangkap maknanya. Inkulturasi Gereja menghormati keanekaragaman yang wajar. dan Ibadat harian. nyanyian. Perayaan Bersama Hendak ditampakkan melalui liturgi bahwa Gereja adalah sakramen kesatuan. Dengan penggunaan bahasa Indonesia. Katekese liturgi perlu dimajukan demi pengertian iman umat yang semakin baik (SC 33-35). Didasari eklesiologi yang menekankan umat Allah.

35-41). yaitu sebagai anggota aktif Umat Allah yang diutus untuk 12 . Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Apostolicam Actuositatem atau Kegiatan Merasul (Dalam Bahasa Inggris "Apostolic Activity") diambil dari baris pertama dokumen. yaitu Lumen Gentium dan Gaudium et Spes.Bab 8 Ad Gentes Ad Gentes atau Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini memutuskan tidak memaksakan kebudayaan yang sama untuk setiap tempat di mana Gereja mengirimkan misi. Bahkan lebih lanjut menjelaskan agar hendaknya alasan-alasan untuk bertobat diselidiki. melainkan secara positif. yaitu sebagai ‘bukan imam’ (bdk. kaum awam tidak lagi didefinisikan secara negatif. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Bab 9 Apostolicam Actuositatem Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam adalah dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Juga didorong untuk melakukan kerja sama karya misi melalui perwakilan-perwakilan serta kerja sama dengan kelompok-kelompok dan organisasi lainnya di dalam tubuh Gereja Katolik maupun dengan denominasi lainnya (Ad Gentes art. Dokumen ini adalah hasil perdebatan dan diskusi sepanjang lima tahun. Judul Ad Gentes berarti Kepada Para Bangsa (dalam Bahasa Inggris "To the Nations").394 berbanding 5. melainkan mendorong para misionaris untuk hidup bersama dengan masyarakat ke mana mereka di utus.340 berbanding 2. Ad Gentes memfokuskan pada faktor-faktor yang terlibat dalam karya misi. Konsili menyatakan pula bahwa Gereja melarang keras jangan sampai ada orang yang dipaksa atau dengan siasat yang tidak pada tempatnya dibujuk atau dipikat untuk memeluk agama Kristen. Dekrit dapat dipahami dengan baik hanya dengan menghubungkannya terutama dengan dua dokumen konsili Vatikan II lainnya. Dalam dekrit ini. dan bila perlu dijernihkan (Ad Gentes art. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.13). menyerap cara hidup dan kebudayaan mereka (Ad Gentes art. LG 31).9).

13 . kaum awam bukanlah warga Gereja kelas 2 atau juga sekedar pembantu hirarki. AA 1). Dengan demikian.ambil bagian dalam rencana kesalamatan Allah bagi dunia (bdk.

. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. agar menjangkau setiap orang dan seluruh dunia demi kemajuan umat manusia. "Komunikasi Sosial" memiliki keuntungan karena konotasinya yang luas. dan para uskup yang menerima kepenuhan sakramen Tahbisan Suci. 14 . Dekrit ini disetujui para Bapa Konsili dalam pemungutan suara 1. telah menjadi suatu istilah yang sering digunakan dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik untuk media massa. Inter Mirifica (dalam Bahasa Inggris. "Among the Wonderful") atau "Di Antara yang Mengagumkan" (dalam Bahasa Indonesia.319 berbanding 2. Inter Mirifica mendukung peran media komunikasi untuk menyebarkan berita kebenaran Injil dan pengajaran moral. terjemahan awal baris ini adalah "DI ANTARA penemuan-penemuan teknologi yang MENGAGUMKAN.Bab 10 Christus Dominus Christus Dominus atau Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja(Christus Dominus) berhubungan erat dengan LG bab III. Kedua istilah tersebut akhirnya dipergunakan sebagai istilah yang sama. . Sebagai suatu istilah. namun belum tentu semua komunikasi itu bisa disebarluaskan kepada "massa". dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Katolik. terlepas dari kegunaan umumnya."). Dekrit ini disetujui para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.960 berbanding 164. Istilah "Komunikasi Sosial".. di mana seluruh komunikasi adalah bersifat sosial. judul Dekrit ini diambil dari baris pertama dokumen. tentang ketentuan kolese uskup dan peran utama Bapa Paus. Bab 11 Inter Mirifica Inter Mirifica atau Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua.

Optatam Totius menguraikan berbagai prinsip dasar pendidikan imam yang meneguhkan ketetapan-ketetapan yang telah diuji melalui praktek berabad-abad lamanya. adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. dan mengintegrasikan ke dalam unsur-unsur baru yang selaras dengan ketetapan Konsili ini. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964.110 berbanding 39. Bab 13 Orientalium Eccclesiarum Orientalium Ecclesiarum atau Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. nama Orientalium Ecclesiarum atau Gereja-Gereja Timur diambil dari baris pertama dokumen tersebut. Dokumen ini mengakui hak dari Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur untuk tetap mempertahankan tata liturgi mereka sendiri. Dokumen ini menjelaskan beberapa dari kekuasaan otonomi dari Gereja-Gereja Timur. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. mengangkat Uskup-Uskup dalam wilayah Patriarkalnya. upacara-upacara liturgi. mengukuhkan Sakramen Krisma.318 berbanding 3. tradisitradisi gerejawi dan tata-laksana hidup kristen dalam Gereja-gereja Timur yang memegang Tradisi suci.Bab 12 Optatam Totius Optatam Totius atau Dekrit tentang Pembinaan Imam. Patriark (atau Uskup Agung) dan Sinode memiliki wewenang untuk menetapkan eparkia-eparkia. dan untuk menetapkan tanggal perayaan hari Paska dalam ritus mereka. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik. dengan menyatakan bahwa seluruh imam Ritus Timur memiliki wewenang untuk menerimakan sakramen ini dengan menggunakan Krisma yang diberkati oleh Patriark atau Uskup. wewenang legislatif untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban Tahbisan yang lebih rendah (termasuk subdiakonat. Secara khusus. 15 . dan mendukung pengembangannya. berdoa dan mengusahakan persatuan dengannya. Lebih lanjut. Gereja Katolik sangat menghargai lembaga-lembaga. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965.

321 berbanding 4. Presbyterorum Ordinis bertujuan agar pelayanan para imam dilaksanakan dengan lebih efektif dan kehidupan mereka lebih terpelihara. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik. ketaatan dan kemiskinan. Dalam hal ini kekudusan para imam adalah sangat penting dan menjadi tanggung jawab para uskup.390 berbanding 4. Bab 15 Presbyterorum Ordinis Presbyterorum Ordinis atau Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua.Bab 14 Perfectae Caritatis Perfectæ Caritatis atau Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Kata "Religius" dalam dokumen ini ditujukan untuk Ordo-Ordo Religius di lingkup Gereja Katolik Roma. dengan menekankan pentingnya penerapan nasihat-nasihat Injili: kemurnian. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Otober 1965. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. nama dokumen ini Perfectæ Caritatis atau Cinta Kasih Sempurna diambil dari baris pertama dekrit tersebut. 16 . Judul Presbyterorum Ordinis atau Tingkat Para Imam (dalam Bahasa Inggris "Order of Priests") diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. Perfectae Caritatis menjabarkan pembaharuan dan penyesuaian hidup religius.

maka Unitatis Redintegratio mengajak semua umat Katolik untuk mengambil bagian di dalam karya ekumenism dengan mengikuti gerakan Roh Kudus yang membawa semua umat beriman pada persatuan yang erat dengan Kristus. Nama Dignitatis Humanæ (Martabat Pribadi Manusia. Bab 17 Dignitatis Humanae Dignitatis Humanæ atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama adalah salah satu dokumen penting dari Konsili Vatikan Kedua.137 berbanding 11. sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.308 berbanding 70.Bab 16 Unitatis Redintegratio Unitatis Redintegratio atau Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja) adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dignitatis Humanae menyatakan bahwa kebebasan beragama adalah sesuatu yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas berbakti kepada Allah. Judul Unitatis Redintegratio atau Pemulihan Kesatuan diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2. Of the Dignity of the Human Person) diambil dari baris pertama dokumen. 17 . Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. selayaknya kebal terhadap paksaan dalam masyarakat. Karena didorong oleh keinginan untuk mengembalikan kesatuan antara umat beriman.

Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk membentuk keseluruhan pribadi seseorang dengan fokus utama pada pendidikan moral dan pembentukan hati nurani. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. sebagaimana umumnya judul dokumen Gereja Katolik dibuat. 18 . Nostra Aetate menekankan hubungan yang positif yang dimiliki oleh Gereja dan agamaagama non-Kristen. Judul Nostra Ætate atau Pada Zaman Kita ("In Our Time" dalam Bahasa Inggris) diambil dari baris pertama dokumen ini sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai.290 berbanding 35. adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. yang mempunyai asal dan akhir yang sama.Bab 18 Gravissimum Educationis Gravissimum Educationis atau Pernyataan tentang Pendidikan Kristen adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. diambil dari baris pertama dokumen tersebut.221 berbanding 88. berdasarkan akan kesatuan semua umat manusia. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2. dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. yaitu Tuhan. Judul Gravissimum Educationis atau Sangat Pentingnya Pendidikan. Bab 19 Nostra Aetate Nostra Ætate atau Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen. Dengan demikian Gravissimum Educationis menekankan perhatian kepada martabat manusia.

Bab 20 Ringkasan Dokumen Konsili Vatikan Tabel berikut berisi dokumen – dokumen hasil konsili Vatikan II beserta tanggal dokumen tersebut diumumkan. Nama Dokumen Sacrosanctum Concilium Inter Mirifica Lumen Gentium Orientalium Ecclesiarum Jenis Konstitusi Dekrit Konstitusi Dogmatis Dekrit Liturgi Suci Upaya-Upaya Komunikasi Sosial Gereja Gereja-Gereja Timur Katolik Ekumenisme Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Pembinaan Imam Pendidikan Kristen Hubungan Gereja dengan AgamaAgama bukan Kristiani Wahyu Ilahi Kerasulan Awam Kebebasan Beragama Kegiatan Misioner Gereja Pelayanan dan Kehidupan para Imam Gereja di Dunia Dewasa ini Mengenai Diumumkan pada Sidang II (4 Desember 1963) Sidang II (4 Desember 1963) Sidang III (21 November 1964) Sidang III (21 November 1964) Sidang III (21 November 1964) Sidang IV (28 Oktober 1965) Sidang IV (28 Oktober 1965) Sidang IV (28 Oktober 1965) Sidang IV (28 Oktober 1965) Sidang IV (28 Oktober 1965) Sidang IV (18 November 1965) Sidang IV (18 November 1965) Sidang IV (7 Desember 1965) Sidang IV (7 Desember 1965) Sidang IV (7 Desember 1965) Sidang IV (7 Desember 1965) Unitatis Redintegratio Dekrit Christus Dominus Perfectæ Caritatis Optatam Totius Gravissimum Educationis Nostra Ætate Dei Verbum Apostolicam Actuositatem Dignitatis Humanæ Ad Gentes Presbyterorum Ordinis Gaudium et Spes Dekrit Dekrit Dekrit Pernyataan Pernyataan Konstitusi Dogmatis Dekrit Pernyataan Dekrit Dekrit Konstitusi Pastoral 19 .

20 .Bab 21 Dokumen – Dokumen Konsili Vatikan II Berikut kami sertakan dokumen – dokumen hasil dari Konsili Vatikan II dalam bahasa Indonesia untuk dijadikan referensi dan sebagai pelengkap Kliping ini.