P. 1
Pendekatan Kognitif Behavioral

Pendekatan Kognitif Behavioral

|Views: 7,490|Likes:
Published by Ade Irma Arifin

More info:

Published by: Ade Irma Arifin on Aug 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2014

pdf

text

original

Merupakan tahap terakhir dalam konseling. Konselor dan konseli

mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir atau

dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum tercapai.

TUJUAN KONSELING

Layanan konseling bertujuan membantu konseli mencapai identitas

berhasil. Konseli yang mengetahui identitasnya, akan mengetahui langkah-

langkah apa yang akan ia lakukan di masa yang akan datang dengan segala

konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada

kenyataan hidup, sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realitas.

PERAN DAN FUNGSI KONSELOR

Fungsi konselor dalam pendekatan realitas adalah melibatkan diri dengan

konseli, bersikap direktif dan didaktik, yaitu berperan seperti guru yang

mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi, sehingga konseli mampu

menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai fasilitator yang membantu konseli

agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.

RINGKASAN

Menurut Glasser, setiap individu memiliki kebutuhan psikologis yang
secara konstan hadir sepanjang rentang kehidupan dan harus dipenuhi, dan

individu mengalami permasalahan psikologis karena ia terhambat dalam

memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Keterhambatan pemenuhan kebutuhan psikologis pada dasarnya karena
peyangkalan terhadap realitas, yaitu kecendrungan seseorang untuk

menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan.

72

Dalam pendekatan realistis, penerimaan terhadap realita dapat dicapai
dengan melakukan sesuatu yang realistis (reality), bertanggung jawab

(responsibility) dan benar (right) dikenal dengan istilah 3R.

Konsep 3R harus tercermin dalam keseluruhan perilaku konseli (total
behavior), meliputi tindakan (doing), pikiran (thinking), perasaan (feeling),

dan respon-respon fisiologisnya (physiology).

Perilaku total (total behavior) individu dianalogikan seperti berfungsinya
kendaraan roda empat. Seperti halnya keempat roda mobil membawa arah

mobil berjalan, demikian halnya keempat komponen dari total behavior

tersebut menetapkan arah hidup individu.

Pandangan Glasser tentang manusia adalah setiap individu bertanggung
jawab terhadap kehidupannya, tingkah laku seseorang merupakan upaya

mengontrol lingkungan untuk mememuhi kebutuhannya, individu

ditantang untuk menghadapi realita tanpa memperdulikan kejadian-

kejadian di masa lalu, serta tidak member perhatian pada sikap dan

motivasi dibawah sadar, dan setiap orang memiliki kemampuan untuk

melakukan sesuatu pada masa kini.

Kebutuhan dasar manusia menurut Glasser meliputi kebutuhannya untuk
merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain,

kebutuhan akan power, kebutuhan untuk merasa senang, bahagia, dan

kebutuhan untuk merasakan kebebasan/kemerdekaan dan tidak bergantung

pada orang lain.

Perkembangan kepribadian yang sehat ditandai dengan berfungsinya
individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya scara tepat. Gasser

menyebutnya dengan istilah : identitas berhasil” dan “identitas gagal”.

Konseling ini bertujuan membantu individu mencapai identitas berhasil,
yaitu individu yang mengetahui langkah-langkah apa yanga akan ia

lakukan di masa yang akan datang dengan segala konsekuensinya.

Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan

hidup, sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realita.

73

Daftar Pustaka

Komalasari,Gantina, Eka Wahyuni, & Karsih.2011.Teori dan Teknik

Konseling.Jakarta Barat:PT Indeks

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->