KARYA TULIS ILMIAH TENTANG GANGGUAN JIWA DENGAN HARGA DIRI RENDAH

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada klien gangguan jiwa akan mengalami berbagai gangguan jiwa dengan tanda dan gejalanya, antara lain : 1. Perilaku Kekerasan Tanda dan Gejala : - Aspek biologi Tekanan darah meningkat, takikardi, wajah memerah, pupil melebar, frekuensi dan pengeluaran urin meningkat - Aspek Emosional Individu merasa tidak nyaman, tidak berdaya, mengamuk, bawel, bermusuhan, menarik diri - Aspek Intelektual Mendominasi, berdebat, meremehkan - Aspek Sosial Interaksi sosial budaya, konsep rasa percaya diri, ketergantungan, tanda menarik diri, pengasingan, ejekan - Aspek Spiritual 1Mempengaruhi hubungan individu dengan orang lain dan moral mempengaruhi ungkapan marah individu 2. Menarik Diri Tanda dan Gejala : - Kurang sopan - apatis - ekspresi wajah kurang berseri - tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri - komunikasi verbal menurun atau tidak ada - mengisolasi diri - tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitar - aktivitas menurun

- kurang energi dan harga diri rendah

3. Halusinasi Tanda dan Gejala : - menarik diri - tersenyum dan bicara sendiri - duduk terpaku memandang satu arah - kadang menyerang - gelisah - menggerakkan mulut tanpa suara - pergerakan mata yang cepat - respon verbal yang lambat - diam dan berkonsentrasi - terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah - perhatian dengan lingkungan berkurang - konsentrasi terhadap pengalaman sensorinya - kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realita - perintah halusinasi ditaati - sulit berhubungan dengan orang lain - tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat

4. Harga Diri Rendah Tanda dan Gejala : - perasaan negatif terhadap diri sendiri - hilangnya percaya diri - merasa bersalah terhadap diri sendiri - merasa gagal mencapai keinginan - perasaan malu terhadap diri sendiri - gangguan dalam hubungan sosial ( menarik diri ) - menciderai diri sendiri - mengungkapkan ketakutan

Pada penulisan ilmiah ini akan dibahas gangguan jiwa dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah. Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta

keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya . selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu. Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam ber-hubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi harga diri rendah dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).

B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang dan judul karya tulis yang telah di jabarkan di atas maka terdapat banyak masalah yang muncul terutama dalam perawatan pasien gangguan jiwa dengan harga diri rendah. Dalam hali ini klien merasa harga dirinya hilang, merasa kecewa, adanya kegagalan dan ketidak berdayaan.

C. Tujuan Umum dan Khusus

3. tidak berguna. Menciptakan nilai dan norma sosial yang menunjang upaya untuk meningkatkan kondisi dan kegiatan kesehatan jiwa. b. Membantu masyarakat agar mampu memprakarsai atau berupaya dalam kegiatan kesehatan jiwa baik secara perorangan maupun berkelompok. merasa tidak berharga. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa sebagai suatu milik masyarakat yang berharga. Mendorong partisipasi aktif klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program kesehatan jiwa. Tujuan Umum 1.Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini dibedakan menjadi dua yaitu : a. pendidik. 3. Manfaat Teoritis Diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi sosial terutama yang berhubungan gangguan jiwa dengan harga diri rendah b. Tujuan Khusus 1. Bila penelitian ini terbukti maka hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk preventif terhadap kenakalan remaja dengan meningkatkan keharmonisan dalam keluarga dan menumbuhkan konsep diri yang positif pada gangguan jiwa dengan harga diri rendah.(stuard sundeen : 1998) . Meningkatkan penggunaan sarana pelayanan kesehatan jiwa yang tersedia. Pengertian Harga diri rendah merupakan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya rasa percaya diri. 2. 2. dan tidak ada harapan. BAB II TINJAUAN TEORI A. Manfaat Penulisan Ilmiah a. pesimis. Meningkatkan pengetahuan klien tentang berbagai gangguan dan penyakit jiwa dalam klien. dan remaja mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan jiwa dengan harga diri rendah. Manfaat Praktis Diharapkan dapat menambah pengetahuan orangtua. D.

Ia membuat standart yang tidak dapatdicapai. Perkembangan individu. merasa gagal mencapai keinginan. seperti cita – cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri. Etiologi Menurut Stuart.Harga diri rendah adalah semua pikiran. Gail W : 2002 ) harga diri rendah adalah perasaan yang negatif terhadap diri sendiri.( Stuart. Ideal Diri tidak realistis. Transisi peran sehat sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian. hilang kepercayaan diri. keyakinan dan kepercayaan yang negatif tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis sebereapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. a. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai . Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol. seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri. membuat anak merasa tidak berguna. Pada saat anak berkembang lebih besar. c. 2. b. hilangnya kepercayaan diri.( Keliat :1998) Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. merasa gagal mencapai impian. 8Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkn dan individu mengalaminya sebagai frustasi. B. seperti : 1. Gail W (2002) penyebab harga diri rendah berasal dari sumber internal atau eksternal Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan peristiswa yang mengancam kehidupan. memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi. Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan.

tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh. c. amputsi . Operasi. Stresorstresor tersebut dapat berupa : a. 3. menerima stimulus dari orang lain. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik. Gangguan fisik dan mental Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya. munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri (fisik). Seperti : mastektomi. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman.membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Kegagalan fungsi tubuh. Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan. f. Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan. akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal. realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat . g. sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat. 1992). Individu yang stabil.1992 ). Tergantung pada mesin. sering berkaitan dengan fungsi saraf. e. Seperti hemiplegi. Standard sosial budaya. Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa . . buta. makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri. protesa dan lain –lain. seperti. d. klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan. Perubahan tubuh berkaitan Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. b.luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri.

Klien menjadi pasif. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. emosi.Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu. Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik. 4. emosi dan seksual. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap. mengubah arti trauma. 5. Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala.misalnya akibat aniaya fisik. menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. seperti : a. b. tergantung. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya. seperti adanya perasaan minder. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma. Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Menarik diri. c. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru. tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. ingin lari dari kenyataan . kecelakan atau perampokan. peperangan. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari. C. tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. Klien menjadi sadar akan kenyataan. Psikopatologi Menurut keliat (1998) penyebab dari harga diri rendah adalah tidak mampu individu menyesuaikan diri terhadap adaptif dan situasi / pressor yang dihadapi baik internal . Pengalaman traumatik yang berulang. Sistim keluarga yang tidak berfungsi.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulangulang akan merusak harga diri anak. respon yang biasa efektif terganggu. Syok Psikologis. bencana alam.

Harapan akan struktur. kecelakaan. cemas. misalnya harus operasi. pemasangan kateler pemeriksaan perincal) b. teman. apatis. 2. dipenjara tiba-tiba ). Individu akan sedih. putus hubungan kerja. berbagai tindakan tanpa persetujuan. misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang tidak sopan (pengukuran pubis. kasih sayang dari keluarga. a. dituduh KKN.maupun eksternal. putus sekolah. bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Pohon Masalah (Problem Tree) Resiko Perilaku Kekerasan Harga Diri Rendah Ketidakberdayaan Resiko Core Problem Penyebab Gb. Privacy yang kurang diperhatikan. perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan. pasif. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara : 1. D. penghargaan yang kurang bahkan sedih yang berkepanjangan karena kehilangan orang yang dicintai. Situasional. Pohon Masalah Harga Diri Rendah . 1. yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. adaptif. dicerai suami. c. Hal tersebut juga disebabkan oleh individu merasa kurang atau tidak dapat perhatian. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. merasa tidak berharga dan individu tidak adaptif dalam menyelesaikan masalah. misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan. yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba.

Tanda dan Gejala Episode harga diri rendah dapat terjadi pada gangguan harga diri rendah. Merasa bersalah terhadap diri sendiri Merasa gagal mencapai keinginan Perasaan malu terhadap diri sendiri Gangguan dalam hubungan sosial menarik diri Menciderai diri sendiri Mengungkapkan ketakutan F.E. Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga. dan kadang-kadang sampai tidak bisa menangis Tanda dan gejala gangguan jiwa dengan harga diri rendah. Hilangnya percaya diri 3. Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali.900 mm v BBS = 1 jam : 5 mm/jam v Eosinofil = 6 % v Segmen = 56 % v Lymfosit = 38 % v SGOT = 18 U/L v SGPT = 16 U/L G. terbuang dan tidak berharga. Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung. tidak ada harapan. maka kita baru dapat membedakannya dengan jelas. Gejala pokok dan harga diri rendah adalah perasaan yang sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu. Diagnosa 1 : l Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah TUM : Klien dapat meningkatkan harga dirinya .7 gr % v Leukosit = 6. Pemeriksaan penunjang v HB = 12. Diagnosa Keperawatan 1. sebagai berikut: Perasaan negatif terhadap diri sendiri 2.

Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya TUK IV : Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki . ada kontak mata. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan b. Kemampuan yang dimiliki klien Kemudian beri pujian yang realistik. Klien dapat menyebutkan aspek positif da kemampuan yang dimiliki klien b. Kriteria evaluasi a. keluarga. hindarkan memberi penilaian negatif TUK III : Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan 1. Klien dapat menyebutkan aspek positif lingkungan klien 2. intervensi Diskusikan dengan klien tentang : a. mau menjawab salam. Aspek positif yang dimiliki klien b. Klien dapat menyebutkan aspek positif keluarga c. Kriteria evaluasi Klien dapat menyebutkan kemempuan yang dapat dilaksanakan 2. Kriteria evaluasi Ekspresi wajah bersahabat. Perkenalkan diri dengan sopan c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien TUK II : Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki 1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. mau berjabat tangan.TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya 1. Aspek positif klien. mau menyebutkan nama. lingkungan b. klien mau duduk berdampingan dengan perawat. intervensi a. Intervensi a. mau mengutarakan masalah yang dihadapi 2. Kemampuan yang dimiliki klien Bersama dengan klien buat daftar tentang : a. menunjukkan rasa senang.

Kriteria evaluasi Klien dapat memnfaatkan sistem pendukung ada di keluarga 2.3. Beri pujian atas usahayang dilakukan klien d.5. Kegiatan dengan bantuan Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan TUK V : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal rencana yang dibuat 1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah b.Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan. Intervensi Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari se-suai kemampuan klien : a. Intervensi a. 2. Diagnosa 2 : l Resiko perilaku kekerasan TUM : klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan. Diskuaikan kemungkinan pelaksaan kegiatan setelah pulang TUK VI : Klien dapat memanfaatkan sistem yang ada 1. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan baik di rumah G.Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien c. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat c. Anjurkan untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan b.1. Irtenvensi a.Klien dapat mengidentifikasi akibat .4. Kriteria evaluasi Klien dapat melakukan kegiatan sesuai jadwal yang dibuat 2.Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. Kemampuan kegiatan mandiri b. Kriteria evaluasi klien dapat membuat rencana kegiatan harian 2.Klien dapat membina hubungan saling percaya.TUK : 1.

Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Intervensi : 1. Salam terapeutik.9. Memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan. observasi respon verbal dan non verbal. 7.Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan. . Memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien. 6.perilaku kekerasan. Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. 6. Mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi. Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel. ciptakan lingkungan yang aman dan tenang. 5.Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif.Klien dapat menggunakan obat yang benar. kontrak waktu yang tepat. 4. Bina hubungan saling percaya. 2. perkenalan diri. Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal Pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan. beritahu tujuan interaksi. Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penye-lesaian masalah yang konstruktif pula.Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.8. Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya. Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif. 8. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 7. Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien. Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien. 3. Mengetahui bagaimana cara klien melakukannya. bersikap empati.

Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal. meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran. 15. 17. . latihan manajemen perilaku kekerasan. sembahyang. Memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat. . Mengetahui kemajuan klien selama diintervensi. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih. 18. 16.Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga. Menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif. latihan asertif. Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat. Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan. . Dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien. 13. . Membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya. Mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat. 12. 10. 20. . Meningkatkan harga diri klien. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah. mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.9.Secara spiritual : anjurkan klien berdua. Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien. 11.. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat. meningkatkan harga diri klien. Mendorong pengulangan perilaku yang positif. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien. Mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah. Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut. Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”. 14. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut. Mencari metode koping yang tepat dan konstruktif. 19.

Sikap tenang. Mengetahui respon keluarga dalam merawat klien. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien. Identitas Penanggung Jawab . bicara tenang dan jelas. Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien. BAB III TINJAUAN KASUS A. Identitas Diri Nama : Bp. 24. Bantu keluarga mengenal penyebab marah. 21. 23. 22. Meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama. Pengkajian Umum Pasien a. Mengetahui sejauh mana keluarga menggunakan cara yang dianjurkan.Memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien. Terkait dengan cara mengontrol perilaku kekerasan secara konstruktif. J Alamat : Solo Agama : Islam Status Perkawinan : Duda Pendidikan : SMP Pekerjaan : Buruh b. Menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien. Jelaskan cara-cara merawat klien. Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.

4. tahun 2006 dua kali. tidak berdaya.7 gr % ¶ Leukosit = 6.60 C Pemeriksaan penunjang ¶ HB = 12. sulit tidur. Mulai saat itu klien mengalami gangguan mental.900 mm ¶ BBS = 1 jam : 5 mm/jam ¶ Eosinofil = 6 % . Pada tanggal 25 Juli 2007 masuk sudah tujuh kali di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Faktor Prespitasi Klien mengatakan bingung. Pengobatan kurang berhasil karena klien di rumah kambuh lagi. pengen marah. 2. Klien merasa kecewa. Catatan Masuk Tanggal : 25 – 07 – 2007 No Reg : 01. Faktor Predisposisi Klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu. Alasan Masuk Pada awalnya Riwayat masa lalu klien sebelum membina rumah tangga dan klien juga tidak mempunyai keturunan yang memderita gangguan jiwa. sering mondar-mandir setelah cerai dengan istri dan anaknya meninggal. tahun 2002 pernah satu kali.Nama : Bp. Tahun 1997 klien sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak laki-laki teapi awal tahun 2002 klien bercerai dengan istri dan anak klien sakit-sakitan kemudian anaknya meninggal. tahun 2004 satu kali. sering marah dan ngamuk. Pemeriksaan Fisik Tekanan darah : 120 / 80 mmHg Nadi : 88x /menit Suhu : 36. tahun 2003 dua kali.81. Akhirnya dibawa ke rumah sakit. S Alamat : Solo Agama : Islam Pekerjaan : Swasta c. kepercayaan diri hilang.44 25 1. masih sering bingung 3.

2 . Konsep Diri Ï Gambaran Diri Klien mengatakan tubuhnya bias. belim mempunyai pekerjaan . Ï Identitas Diri Klien dapat mengenal dirinya sendiri mengenai dia adalah laki-laki dalam keluarganya. akan tetapi klien mengatakan rambutnya seperti diri walaupun seperti itu.¶ Segmen = 56 % ¶ Lymfosit = 38 % ¶ SGOT = 18 U/L ¶ SGPT = 16 U/L 5. Genogram(1). Klien mengatakan sudah menikah tetapi sudah lama cerai dengan istrinya. Klien mengatakan menerima apa adanya. Dalam masyarkat klien sering ikut kegiatan Ï Ideal Diri Klien ingin cepat sembuh dan ingin membina keluarga yang lebih baik lagi juga mau bekerja Ï Harga Diri Klien merasa malu karena sudah cerai dengan istri. Ï Peran Diri Klien mau bertanggung jawab terhadap pekerjaan. tidak ada anggota tubuh yang sangat disukai dan yang dibenci. dia bekerja juga membantu orang tuanya. Dia anak sulung dari lijma bersaudara. Genogram (2). Psikososial // : Perempuan : Laki-Laki : Meninggal // : Cerai : klien Gb.

tetapi masih dapat kembali ketopik pembicaraan semula dan pembicaraan klien ringkas. berih dan rapi. tidak mau merespon tanpa rangsangan yang kuat Ï Alam pikiran Klien merasa sedih. Makan Klien makan tiga kali menu dari rumah sakit habis satu porsi. masih bingung selama di RSJ karena dia menginginkan pulang Ï Interaksi selama wawancara Kontak mata ada. Dia baik dan mauberhubungan dengan orang lain (4) Spiritual Klien bergama islam sebelum masuk ke RSJ klien aktif dalam beribadah. (6). lambat dalam menyerap pembicaraan lawan bicara. makan dengan duduk dan membersihkan alat makan sendiri . Ï Ingkat kesadaran Klien sadar bahwa ketika di rumah sakit dapat mengingat waktu. Kebutuhan Persiapan Pulang a. bersemangat dalam wawancara Ï Arus pikir Kadang klien blocking. Ï Memori Gangguan daya ingat klien jangka pendek. selama di RSJ hubungan klien dengan pasien yang lain baik. mengambil sendiri. Setelah masuk RSJ klien juga aktif beribadah (5) Status Mental Ï Penampilan Penampilan rajin. bicara jelas dan nada suara tinggi Ï Aktifitas motorik Klien mau melakukan aktifitas apa saja Ï Afek Afek klien tumpul. klien mandi dua kali sehari Ï Pembicaraan Agak cepat.tetap dan hanya lulusan dari SMP (3) Hubungan Sosial Orang yang paling dekat dengan klien adalah ibunya. tempat maupun kejadian menimpanya.

e. pandang-an mata melotot DS : Klien mengatakan lulusan SMP. mau gosok gigi. Istirahat tidur Klien susah tidur karena masih bingung ketika mengingat masalahnya. Klien mengatkan tidak berguna dan tidak dapat bekerja lagi DO : Klien kelihatan banyak diam. Buang Air Besar / Buang Air Kecil Klien buang air besar dan buang air kecil sendiri tanpa bantuan.b. Analisa Data No Tanggal Data Masalah 1 15 – 08 . Kegiatan didalam dan diluar ruangan Klien mengikuti kegiatan di bangsal (klien sering diikutkan dalam rehabilitasi) (7). klien masih bingung dengan masalah yang sering dipikirkan B. tidur siang sering terjaga dan hanya memejamkn mata. dapat memakai pakaian sendiri. dan hanya lulusan SMP DO : Klien masih ragu dalm membicarakan masalahnya di Rumah Sakit DS : Klien kecewa setelah cerai dengan istrinya. f. berdandan rapi. Mandi dua kali sehari. Mekanisme Koping Klien masih ragu dalam membicarakan masalahnya dengan orang lain.2007 DS : Klien mengatakan waktu di rumah pernah marah dan mengamuk DO : Mondar-mandir. sudah cerai dengan istrinya. di toilet dan membersihkannya c. Resiko perilaku kekerasan . keramas teratur dua hari satu kali d. susah tidur.Penggunaan obat Klien minum obt secara teratur tanpa bantuan dan paksaan g. Berpakaian dan berias Klien ganti baju dua kali sehari. mengatakan belum mempunyai pekerjaan tetap.

Pohon masalah Harga Diri Rendah D. 1. Prioritas Masalah Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah E. Intervensi Keperawatan ( Evaluasi ) TGL Jam No Dx .Harga Diri Rendah Ketidakberdayaan C. Pohon Masalah (Perumusan Masalah) Resiko Perilaku Kekerasan Harga Diri Rendah Ketidakberdayaan Resiko Core Problem Penyebab Gb.

Implementasi Evaluasi 09 – 8 2007 10. Klien telah mampu berkomunikasi dengan perawat. P : Melanjutkan SP II 16 – 8 2007 12.00 SP I l Membina hubungan saling percaya l Menyapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal l Menanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien l Menjelaskan tujuan pertemuan S : Klien menyatakan nama lengkap dan nama panggilan klien adalah Mr.00 SP II l Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien l Membantu klien dalam menilai kemampuan l Membantu klien dalam memilih kegiatan yang masih dapat digunakan l Melatih klien mempraktekkan kegiatan yang dipilih l Memberi pujian yang realistic l Mengajurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian S : Klien mampu menyebutkan kemampuan yang dimiliki l Mengepel lantai l Mencuci piring l Menyapu lantai Klien merasa senang setelah mempraktekkan latihan yang pertama “mengepel lantai” O : Klien mau latihan dalam mempraktekkan “mengepel lantai” Klien memasukkan dalam jadwal harian A : Klien telah mampu latihan mempraktekkan “mengepel lantai” Pk : Melanjutkan kegiatan selanjutnya “Merapikan tempat tidur” Pr : l Mengevaluasi jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan yang kedua “Merapikan tempat tidur” . J O: ¶ Klien mau diajak berbincang-bincang ¶ Klien mau menjawab pertanyaan perawat A.

Kegiatn yang kedua klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan “Merapikan tempat tidur” Pk : Melanjutkan latihan kegiatan selanjutnya yang ketiga “Mencuci piring” SPIV l Mengevaluasi Jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan selanjutnya “Mencuci piring” l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Mencuci piring” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan “Mencuci piring”.l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian 22 – 8 2007 09.00 SP III l S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Merapikan tempat tidur” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan “Merapikan tempat tidur”. Kegiatn yang kedua klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan “Mencuci piring” Pk : Melanjutkan latihan kegiatan selanjutnya yang keempat “Menyapu lantai” SPV l Mengevaluasi Jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan selanjutnya “Menyapu lantai” l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Menyapu lantai” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan kegiatan-kegiatan yang mampu dilakukan dan klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan kemampuan yang dimiliki Pk : Menyuruh klien latihan di rumah .

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Pada pengkajin Bp. Pengkajian Penulis memperoleh data dalam pengkajian dari klien. saat interaksi tidak focus pada pembicaraan dan selalu lambat dalam menerima pernyataan. Data objektif yang didapat dari klien yaitu klien sering terlihat bingung. Sebalum masuk RSJ. Menurut (stuard sundeen : 1998) tanda dan gejala gangguan konsep diri : Harga diri rendah adalah merupakan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri termasuk . hanya lulusan SMP. A. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan teori seseorang dengan gangguan konsep diri akan muncul masalahmasalah antara lain : 1. Hal ini sesuai dengan konsep tentang tanda dan gejala yang muncul pada gangguan konsep diri: harga diri rendah. S. perasaan malu terhadap diri sendiri. hilangnya percaya diri. perawat dan catatan medik perawatan dalam status klien. klien juga sering membantu dan menolong temanteman / klien lainnya. dalam masyarakat klien sering ikut kegiatan dan selalu berpartisipsi dalam hal gotong royong. perasaan negative terhadap diri sendiri. J yaitu klien sering merasa bingung dan ingin marah. Klien mau berhubungan dengan orang lain. B.2003) 36Tanda dan gejala yang tidak muncul adalah gangguan dalam hubungan sosial : menarik diri. sulit tidur.( salbiah. malu terhadap diri sendiri. J data yang mengarahkan pada masalah. penulis akan menguraikan pembahasan tentang pengelolaan kasus pada Bp. Dimana pada kenyataannya selam di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) hubungan klien dengan perawat dan klien yang lain sangat baik. J dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah dari tahap pengkajian sampai dengam evaluasi. pengkajian dengn klien dilakukan dengan observasi langung dengan klien Pada pengkajian data yang muncul pada Bp. mengatakan tidak berharga seakan-akan gagal mencapai keinginan dan belum mempunyai pekerjaan tetap.Kp. mengungkapkan ketakutan.BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini. didukung dengan data subjektif yaitu klien mengatakan.

Dalam rencana tindakan keperawatan pada Bp. karena selama di RSJ klien berhubungan dan berinteraksi dengan baik terhadap perawat dan teman-teman klien yang lain. C. bingung. Emosi klien langsung timbul. dan apabila di ajak komunikasi yang mengarah pada permasalahan yang dihadapi. seangkan dalam tujuan khusus tediri dari beberapa intervensi yang di tegakkan untuk mencapai tujuan khusus tersebut. tidak ada harapan. 2. bahwa sebelum masuk RSJ klien aktif dan mau berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di masyarakat. salah satunya yaitu mengontrol marah. Resiko Perilaku Kekerasan : Menciderai diri sendiri dan orang lain Pada pengkajian Bp. Data tersebut penulis tidak menemukan pada klien selama di RSJ. J sesuai dengan konsep dasar keperawatan yang bersumber pada SOP yang merupakan standart asuhan keperawatan. Pada data objektif yaitu klien sering kelihatan resah. dan gangguan dalam hubungan sosial : menarik diri Sedangkan data dan gejala yang terdapat pada tinjauan teori tetapi tidak terdapat pada tinjauan kasus adalah gangguan hubungan sosial menarik diri. Rencana Tindakan Keperawatan Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan Bp. Implementasi Pada pelaksanaan tindakan keperawatan .hilangnya rasa percaya diri. merasa tidak berharga. Data tersebut penulisa tidak menemukan karena klien sudah mempunyai sebagian koping yang diajarkan perawat. akan tetapi klien mampu mengontrolnya. yang terbagi menjadi dua diagnosa. Klien juga mengatakan bahwa klien pernah marh dan ingin memukul ibunya. J penulis dapat melakukan semua tindakan yang ada pada konsep dasar keperawatan. tidak berguna. Hal ini menunjukkan bahwa klien mempunyai resiko perilaku kekerasan : menciderai diri sendiri dan orang lain. pesimis. Data yang terdapat pada tinjauan teori tetapi tidak terdapat pada tinjauan kasus yaitu menciderai diri sendiri. J data yang mengarah pada masalah tersebut didukung dengan data subjektif yaitu klien mengatkan sering merasa bingung dan ingin marahmarah. pertemuan pertama klien sudah mau . Setiap diagnosa terdiri dari dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. kecuali pada TUK III yaitu klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan secara maksimal karena klien adalah seorang yang mempunyai perasaan negative terhadap diri sendiri dan sering merasa bingung ketika akan menilai kemampuan yang dimiliki D. Penulis juga menemukan keterangan tentang klien dalam status keperawatan dan keluarganya.

menyendiri. Pada pertemuan kedua dan ketiga serta pertemuan selanjutnya klien sudah mampu menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan Pada pelaksanaan tindakan keperawatan ini penulis juga sudah dapat berinteraktif dengan keluarga klien. Objektifm Assesment.berkenalan dan berjabat tangan. Pada pelaksanaan implementasi. Kondisi klien Klien tampak murung. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya TUK II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki TUK III : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan TUK IV : Klien dapat ( menetapkan ) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki b. Penulis juga sudah dapat memberi penyuluhan kepada klien tentang masalah harga diri rendah. Tindakan keperawatan TUK I : Membina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik Sapa klien dengan ramah. E. Planing). baik verbal maupun non verbal . berjabat tanganm dan menjawab salam. kontak mata kurang Diagnosa keperawatan Gangguan konsep diri : harga diri rendah Tujuan khusus. penulis tidak menemukan hambatan yang berarti karena penulis dibantu perawatan ruangan yang sangat kooperatif. Interaksi seterusnya klien sudah mampu mengungkapkan perasaannya tentang masalah yang dihadapi. banyak diam. Berikut ini penulis uraikan evaluasi dan interaksi pertama klien sudah mau berkenalan. Evaluasi Tahap akhir proes keperawatan adalah evaluasi yang merupakan catatan hasil perkembangan yang dicapai setelah dilakukan implementasi dan tahap evaluasi mengunakan pendekatan SOAP (Subjektif. penyebab harga diri rendah dan cara merawat klien dengan harga diri rendah pada saat di rumah. Proses Keperawatan 1. Dengan demikian penulis dapat melakukan evaluasi dan dapat mencapai criteria hasil sesuai pada perencanaan tinakan-tindakan STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I a.

di sini saya akan menemani bapak ngobrol. Kegiatan dengan bantuan sebagian c.”. Salam terapeutik “ Selamat pagi.Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien Jelaskan tujuan pertemuan Juur dan menepati janji Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien TUK II Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif Utamakan memberi pujian yang realistik TUK III Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit TUK IV Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan a. Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien 3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan c. Strategi komunikasi 1. pak? Boleh saya duduk di sini? Iya. Perkenalkan nama saya perawat rusniati. Evaluasi / validasi “ Saya perhatikan dari tadi bapak lebih banyak diam. boleh saya tanya bagaimana perasaan bapak saat ini? Baiklah saya akan membantu menyelesaikan masalah bapak ya. tempat ini namanya apa? Lantas kenapa bapak bisa sampai di sini? Siapa yang membawa bapak ke sini? Bapak.. Fase orientasi a. Kegiatan mandiri b.boleh ssaya tahu nama bapak siapa? Suka dipanggil apa? Wah ama yang bagus ya pak. terima kasih. ada apa pak? Apa bapak tahu. Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 2. murung dan tidak bergabung dengan teman yang lain. bapak bisa menceritakan kira – kira .

Ternyata bapak mempunyai 4 kemampuan yang luar biasa.adakah anggota keluarg yang mengalami hal yang sama dengan yang bapak alami sekarang?” Kontrak “ Boleh hari ini saya akan mengajak bapak untuk ngobrol. pakai sapu lidi juga ya pak biar tambah bersih.00 pagi dan jam 16.. kesibukan bapak apa? Tentunya bapak punyak hobi. kenapa pak? Kenapa bapak malu? Bapak di rumah tinggal sama siapa? Selama di rumah.wah bagus ya bapak. kita masukkan kegiatan merapikan tempat tidur pada jam 06. silahkan pak! Bagus. Nah akhirnya selesai juga ya pak. Evaluasi subyektif “ Bagaimana perasaan bapak sekarang? Bagaimana perasaam bapak setelah melakukan kegitan ini dan berbincang – bincang dengan saya?” . berapa lama? 15 menit? Oke. Bapak suka ngobrol di mana? Di sini.” Fase terminasi a. Apakah bapak sudah mengerti? Bagus sekali…sekarang kita tempelkan jadwalnya di samping tempat tidur bapak. dari tadi saya melihat menyendiri terus dan diam.. sekarang mana yang dapat bapak lakukan di sini? Bapak suka yang mana?merapikan tempat tidur. baiklah pak. kalau boleh tahu apa hobi apa? Coba sebutkan! Menyapu lantai. merapikan tempat tidur. iya bagus…bapak tandai M bila bapak dapat melakukan sendiri tanpa disuruh. Nanti kita juga akan melakukan latihan sesuai dengan kemampuan bapak. Kita coba pertemuan hari ini membahas tentang kemampuan yang bapak miliki. Bapak kalau merapikan tempat tidur berapa kali sehari? Jam berapa? Nah. mencuci piring. mengepel lantai. Saya yakin pasti bapak mempunyai banyak kemampuan dan kelebihan. bisa dibilang sharing atau mengungkapkan hal – hal yang bapak alami saat ini. jika bapak bisa melakukan tapi masih perlu diingatkan. kalau bapak tidak melakukan.00 sore. nah kalau begitu kita coba praktekkan sekarang ya pak! Sekarang coba mulai bapak rapikan tempat tidur bapak sendiri!waktu membersihkan. Tanda T. tanda B. sekarang kelihatan bersih dan tambah rapi kan pak? Bapak dapat memasukkan kegiatan bapak ke dalam jadwal harian.” Fase kerja “ Bapak kok kelihatannya murung.

Saya permisi dulu ya pak. pertemuan hari ini sampai disini dulu ya pak.b. Proses Keperawatan 1.besok bapak mencoba praktekkan kegiatan menyapu lantai. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian B. melatih kemampuan kedua c. baiklah kalau begitu. bagaimana dengan latihan kita yang kemarin? Apakah sudah dicoba lagi? Berapa kali bapak melakukannya? Wah bagus sekali . Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. Rencana tindak lanjut “ Bapak. Orientasi Assalamu ’alaikum.. tempatnya dimana pak?disini lagi. Tujuan a. Besok bapak mencoba kegiatan yang ke-2 ya pak! Yaitu menyapu lantai. Strategi Komunikasi 1.00 pagi. bapak bisa jam berapa?jam 08. Evaluasi obyektif “ Bapak tadi sudah mengungkapkan kemampuan sebanyak 4 ya pak? Coba sebutkan lagi pak! Dari kemampuan 4 tadi.” STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II A. Validasi Bagaimana perasaan bapak sekarang? Oh ya. Kondisi Pasien 2. yang mana sudah bapak lakukan?” c. Kontrak “ Karena waktu kita sudah habis. kegiatan tadi dapat bapak lakukan setiap hari ya pak dan juga dapat bapak lakukan di rumah nanti. Diagnosa Keperawatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah 3. selamat pagi pak? Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah bapak masih ingat dengan saya? b. kalau bapak sudah pulang.

Sekarang semuanya sudah disapu dan coba bapak lihat hasilnya! Ternyata bersih sekali kan? Bagaimana kalau kegiatan ini dimasukkan kedaftar kegiatan bapak? Dalam seminggu bapak ingin melakukan kegiatan ini berapa kali? Harinya ap saja? Nah. pertemuan hari ini sampai disini dulu ya pak! Besok bapak mencoba melakukan kegiatan mencuci gelas dan piring! Bapak bisa jam berapa? Jam 12 siang? Baiklah kalau begitu pak. Diagnosa keperawatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah . Rencana tindak lanjut Baiklah. bapak mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit? Kita bersihkan lantai bagian dalam saja ya pak 2. mari kita mampersiapkan alatnya dulu ya pak! Yang pertama sapu.c. kemudian bak sampah. saya pamitan dulu. Kontrak ” Karena waktunya sudah habis. Permisi selamat pagi. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN III A. Kerja Sebelum kita mulai menyapu. Kondisi klien Klien tampak kooperatif. Evaluasi Subjektif : Bagaimana perasaan bapak setelah berlatih bersama-sama menyapu lantai? Objektif : Coba sekarang kita lihat hasil dari latihan tadi sekali lagi! Wah ternyata lantainya benar-benar tampak bersih ya b. Proses Perawatan 1. Kegiatan ini nanti dapat dikerjakan setelah bapak dibawa pulang. Kegiatan selanjutnya mencuci gelas c. Sekarang kita lakuakan bersama! Ya bagus. ada kontak mata 2. Terminasi a. supayatidak lupa 3. Kontrak Hari ini kita mau latihan menyapu lantai. bagus sekali. pesan saya jangan lupa mengerjakan latihan-latihan kegiatan hari ini dan kemarin sesuai dengan jadwal yang telah kita buat. sekarang dicatat dalam jadwal dulu ya.

Beri pujian atas keberhasilan klien c. sekarang sudah rapi dan bagus sekali. bapak beredia?” Baiklah… b. Nah coba bapak sekarang lakukan perbad! Bisa kan pak? Wah sudah selesai. Fase Terminasi a. Strategi Komunikasi 1. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang lebih / telah direncanakan b. sekarang bapak beri tanda disini ya! Iya bagus c. hari ini kita akan melanjutkan perbincangan kita. Nanti bapak bisa memasukkan kegiatn ini di jadwal bapak dengan memberi tanda ya pak! 3. Evaluasi Objektif . bapak bersedia? 2. Kontrak Kali ini bapak akan melakukan kemampuan bapak yang lainnya ya pak? Bapak nanti coba perbad tempat tidur ya pak? Disini kita akan berbincang-bincang selama 15 menit saja ya pak. Fase orientasi a. Tujuan Klien dapat melaksanakan kegiatan sesuai kondisi sakit dan Kemampuan-nya 4. Evaluasi / Validasi “ Bagaimana perasaan bapak sekarang?Bagaimana bapak sudah mencoba melakukan kegiatan kemarin? Mari kita lihat jadwalnya bersama-sama pak! Nah. Tindakan keperawatan a.3. siapkan dulu peralatan yang diperlukan ya pak…! Sekarang bapak bisa ambil ganti perbadnya. Evaluasi subjek Bagaimana perasaan bapak setelah melakukan kegiatan tadi? b. sebelum perbad tempat tidur. Fase kerja Begini ya pak. Salam terapeutik “ Selamat pagi pak? Masih ingat dengan saya? Sesuai dengan janji yang telah kita sepakati kemarin. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah B.

saya merawat keluarga saudara disini” b. Rencana tindak lanjut “ Nanti waktu di rumah. Beri pendidikan. Strategi Komunikasi 1. Tujuan Khusus Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada 4.00 pagi ya pak? “Saya permisi dulu ya pak…” Strategi Pelaksanaan Tindakan keperawatan IV A. Diagnosa keperwatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah 3. tindakan Keperawatan a. Proses Keperawatan 1. bapak dapat melakuknnya. Kondisi klien Klien tampak kooperatif. evaluasi / Validasi kalau boleh saya tahu. Nanti kita lanjutkan lagi ketemu ya pak? Tempatnya disini lagi ya pak? Mau jam berapa? Oh ya jam 10. kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah b. Salam Orientasi ” Selamat pagi pak ?Perkenalkan saya perawat Rusniati bisa dipanggil Nia.“ Bapak sudah melakukan banyak kegiatan ya pak?di lihat dari jadwal ini! Coba bapak bisa mengingat dan menyebutkannya?” iya bagus sekali c. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat c. Bapak juga bisa memasukkannya dalam jadwal kegiatan harian yang sudah dibuat d. ada kontak mata 2. bagaimana ceritanya keluarga saudara bisa mem-bawa kesini? . Bapak bisa melakukan kegitan ini setiap dua minggu sekali. Kontrak “Nah pak. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah B. Fase Orientasi a. berhubung waktu kita sudah habis.

evaluasi objektif Coba pak ulangi lagi bagaimana merawat klien dengan harga diri rendah. kita bisa mulai sekarang disini. Rencana tindak lanjut tolong solusi tadi diterapkan sama keluarga saudara baik masih di Rumah Sakit maupun sudah di Rumah nanti! d. c. pertemuan ini kita sudahi dan saya akan melanjutkan tugas. Fase Terminasi a. Tingkatkan rasa percaya diri rasa percaya diri dengan melibatkan dalam kegiatan yang klien sukai. sehingga keluarga saudara menjadi murung. keluarga saudara sekarang telah terkena gangguan konsep diri. pak dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh dan sangat membantu proses penyembuhan klien. Disini saya akan memberikan solusi bagaimana cara merawat klien dengan gangguan konsep diri ” harga diri rendah”. Apakah pak bisa mengerti? 3.memberikan penghargaan dan pujian setiap tindakan klien. Fase Kerja Begini ya pak.. evaluasi subjektif bagaimana perasaan pak setelah melakukan diskusi tadi? b. Tolong ya pak solusi tadi anda terapkan kepada keluarga saudara! Permisi dulu ya pak . Perlu diketahui. pak mempunyai waktu luang? 15 menit?setuju?Baiklah. Kontrak Karena waktunya sudah habis.Bagus. Diantaranya adalah keluarga dapat menerima klien apa adanya. Kontrak ”Bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang sakit yang sedang diderita keluarga saudara?Bagaimana?Setuju?Baiklah pak nanti kitajuga akan membahas tentang cara merawat keluarga saudara. sering berdiam diri. 2.c. Keluarga tidak boleh memberi hukuman dan menuduh / menfitnah. keluarga harus selalu memberikan dukungan.