BAGIAN A UMUM

PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN

i

i

PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN

KATA PENGANTAR

Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakan berupa lembaga kepemimpinan masyarakat yang representative, mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (Social Capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Sejak pelaksanaan P2KP-1 hingga pelaksanaan P2KP-3 saat ini telah terbentuk sekitar 6.405 BKM yang tersebar di 1.125 kecamatan di 235 kota/kabupaten, telah memunculkan lebih dari 291.000 relawan-relawan dari masyarakat setempat, serta telah mencakup18.9 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin), melalui 243.838 KSM. Pada tahun 2008 keberlanjutan pelaksanaan P2KP diperluas lagi menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan), dengan mengalokasikan tambahan dana yang cukup signifikan pada tahun anggaran 2008 yang mencakup 8.813 Kelurahan di 995 kecamatan tersebar pada 245 kota/kabupaten. Sejumlah 495.734 Relawan dari masyarakat setempat melayani 3.509.192 KK penerima manfaat (Penduduk Miskin) yang tersebar di 101.280 KSM (on progress). Kegiatan ini diharapkan juga dapat mendukung kesepakatan global pada awal tahun 2000 mengenai Millenium Development Goals (MDGs), sehingga sejak tahun 2007 P2KP yang merupakan bagian dari PNPM Mandiri telah melakukan penyempurnaan pedoman pelaksanaanya yang lebih focus pada upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan percepatan pencapaian target sasaran MDGs, dengan menerbitkan buku Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Melalui buku pedoman pelaksanaan edisi Juli 2009 yang merupakan revisi dari edisi sebelumnya, diharapkan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan dapat dilaksanakan oleh seluruh pelaku secara efektif dan optimal untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan jumlah orang miskin di Indonesia dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai amanat UUD’45.

PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN

i

Pengelolaan Lingkungan_hal. 23 BAGIAN B PELAKSANAAN LAPANGAN Bab IV : KEGIATAN DI TINGKAT MASYARAKAT 4. 27 Garis Besar Siklus PNPM Mandiri Perkotaan_hal. 43 5.4.1. 4.3. Bagaimana Sistematika Buku Pedoman_hal. 2 2. i DAFTAR ISI_hal. Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali_hal. 34 Perencanaan Partisipatif dan Penyusunan PJM_hal.6.7. Latar Belakang_hal. Tahapan Persiapan_hal. 47 6. 4. 1 1. 27 4. 4. 8 2. Penetapan Lokasi Sasaran _hal. 1 1. Mengapa Diperlukan Pedoman?_hal.8 Prinsip Dasar Siklus Kegiatan di Masyarakat_hal. 12 3. Siapa Pengguna Pedoman?_hal.5. 44 Bab VI : PENGAMANAN 6. Kelompok Sasaran dan Penerima Manfaat_hal. 37 Pengelolaan Keuangan Masyarakat_hal.2.3.1. 36 Pendampingan Pencairan Dana BLM_hal.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR_hal. 3 2. Kerangka Pemikiran_hal.3.1.2. Makna Siklus Kegiatan di Masyarakat_hal. Peran Utama Pemerintah Kota/Kabupaten dalam PNPM MP_hal.1. ii BAGIAN A UMUM Bab I : PERIHAL PEDOMAN 1. 4. Prinsip.2.1. 47 6. 8 Bab II : PENDAHULUAN Bab III : KETENTUAN UMUM 3.4.4. Tujuan dan Sasaran_hal. 28 Pengorganisasian Masyarakat dan Pembentukan LKM_hal.2. 4.2.1. 47 ii i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .3. Pendekatan dan Dasar Hukum_hal. Pengamanan Sosial (Perlakuan Terhadap Penduduk Asli)_hal. 12 3. 43 5. 4 2.3.2. 38 Penerapan Transparansi dan Akuntabilitas_hal. 4. 11 3. 39 Bab V : KEGIATAN DI TINGKAT KOTA/KABUPATEN DAN NASIONAL 5. Indikator Keberhasilan_hal.3. Komponen Program_hal. Tahapan Pelaksanaan di Kota/Kabupaten_hal.

Mekanisme Penerapan Sanksi_hal. 134 Sub Lampiran 6b_hal. 118 Kerangka Kebijakan_hal.2. Penyelengaraan Audit dan Pemantauan_hal.1.2. Rencana Aksi Tata Kepemerintahan Yang Baik_hal. Sumber dan Penggunaan Dana_hal. Penanganan Pengaduan_hal. 78 9. 140 LAMPIRAN LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN iii i .3.2. 100 Pedoman Perlakuan Penduduk Asli_hal. Struktur Organisasi Pelaksanaan_hal. 91 Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran 1: 2: 3: 4: 5: 6: Rekap Lokasi PNPM Mandiri Perkotaan TA. 116 Pedoman Pengelolaan Lingkungan_hal. Penanganan Konflik_hal. Berbagi Peran_hal.1. 95 Indikator Kinerja PNPM Mandiri Perkotaan 2009_hal. 99 Langkah-Langkah Kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan_hal.Bab VII : MANAJEMEN PROGRAM 7. 51 7. 77 9.2. 80 Bab IX : MANAJEMEN KEUANGAN DAN AUDIT Bab X : PENGADUAN DAN PENYELESAIAN KONFLIK 10. 124 Sub Lampiran 6a_hal. 83 10. 74 9.1. 2009_hal. Penyelenggaraan Transparansi dan Akuntabilitas_hal. 67 8.1. 53 MEMBANGUN INTEGRITAS BAGIAN C MANAJEMEN PROGRAM Bab VIII : 8.

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN A AD/ART ANDAL APBD APBN Bangda BAPPD Bappekot/kab Bappeprop Bappenas BAPPUK BI BKKBN BKM BLM BOP BPD BPKP CBD CSS Comprehensive DED DIPA DJP DKT Dokumen SPK-D DPPHLN DPRD DPT : : : : : : : : : : : : : : : : : Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Analisis Dampak Lingkungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pembangunan Daerah Berita Acara Penarikan dan Penggunaan Dana Badan Perencanaan Pembangunan Kota/Kabupaten Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Berita Acara Penetapan Prioritas Usulan Kegiatan Bank Indonesia Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Badan Keswadayaan Masyarakat Bantuan Langsung Masyarakat Biaya Operasional Badan Perwakilan Desa Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan B C : Community Based Development : Community Self Survey (Pemetaan Swadaya) : Menyeluruh Detailed Engineering Design Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Departemen Keuangan : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Diskusi Partisipatif Terpadu : : : : Tenaga Pengembangan Masyarakat P2KP Focused Group Discussion / Diskusi Kelompok terarah Forum Komunikasi Antar BKM Tingkat Kota/Kabupaten Financial Management Report : : : : : : D F Fasilitator FGD FKA-BKM FMR GBPP GoI Grassroot G : Garis Besar Pokok Pengajaran : Government of Indonesia : akar rumput. masyarakat iv i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . Departemen Keuangan Diskusi Kelompok Terarah Dokument Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Daerah Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

Pembangunan Lingkungan Permukiman Kelurahan : No Objection Letter : : : : : : : : : : : Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan Project Appraisal Document Penanggulangan Kemiskinan Terpadu.PK : : : : : : : : : : : : : : : International Bank for Reconstruction Development (World Bank) International Competitive Bidding International Development Agency Indeks Pembangunan Manusia Konsultan Advisory Komunitas Belajar Kelurahan Komunitas Belajar Perkotaan Kecamatan Development Project atau Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Konsultan Evaluasi Konsultan Manajemen Pusat Konsultan Manajemen Wilayah Koordinator Kota. merupakan nama generik yang dahulu dinamakan BKM : Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa : Lembaga Swadaya Masyarakat : Millennium Development Goals : Musyawarah Perencanaan Pembangunan : Neighbourhood Development. KMW Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Komite Penanggulangan Kemiskinan di Daerah (Tingkat Propinsi atau Kota/Kabupaten) Kelompok Swadaya Masyarakat I K : Lembaga Keswadayaan Masyarakat. sama dengan PAPG Poverty Alleviation Partnership Grant (PAPG) Penataan Bangunan dan Lingkungan Perusahaan Daerah Air Minum Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi Perencanaan Jangka Menengah Penanggung Jawab Operasional Kegiatan Pembuat Komitment Pejabat Pembuat Komitment L M N P PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN v i .IBRD ICB IDA IPM KA KBK KBP KDP KE KMP KMW Korkot KPPN KPK-D KSM LKM LKMD LSM MDGs Musrenbang ND NOL P2KP PAD PAKET PAPG PBL PDAM PDMDKE PJM PJOK PK Pej.

Departemen Keuangan : Sistem Informasi Manajemen : Satuan Kerja Perangkat Daerah : Satuan Kerja Sementara : Satuan Kerja Non Vertikal di tingkat Propinsi : Standard Operational Procedures : Surat Perintah Pencairan Dana : Strategi Penanggulangan Kemisikinan : Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah : Surat Perintah Membayar : Surat Permintaan Pembayaran : Surat Perjanjian Penyaluran Bantuan : Surat Pernyataan Penyelesaian Pekerjaan : Selaras : Satuan Wilayah Kerja : Strength. Weakness.PKK PNPMMP PMU PODES POM PPK PPM Pronangkis PRA PS PU Q R QCBS Relawan Renta RK RKL RKM RPJM RT/RW RWT S SA SATKER-P2KP SE-DJP SIM SKPD SKS SNVT SOP SP2D SPK SPKD SPM SPP SPPB SPPP Synchrone SWK SWOT : : : : : : : : : : : Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan Program Management Unit Potensi Desa Project Operational Manual Program Pengembangan Kecamatan Penanganan Pengaduan Masyarakat Program Penanggulangan Kemiskinan Participatory Rural Appraisal Pemetaan Swadaya Pekerjaan Umum : Quality Cost Best Selection : Warga setempat yang peduli membantu warga miskin di wilayahnya tanpa pamrih : Rencana Tahunan : Refleksi Kemiskinan : Rencana Pengelolaan Lingkungan : Rembug Kesiapan Masyarakat : Rencana Pembangunan Jangka Menengah : Rukun Tetangga/Rukun Warga : Rembug Warga Tahunan : Special Account (Rekening Khusus) : Satuan Kerja Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan : Surat Edaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Opportunity and Threat vi i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .

TA Tim Interdept TKPKD TKPP TNA Tridaya TOR TOT UKL UMR UP UPK UPL UPS UPP VBTP WB : Technical Assistance : Tim Pengarah dan Kelompok Kerja Antar Departemen Terkait di Tingkat Nasional : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah : Tim Koordinasi Pelaksanaan P2KP (tingkat Propinsi dan Kota/ Kabupaten) : Training Need Assessment : Pemberdayaan Lingkungan. Pemberdayaan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi : Term of Reference : Training of Trainer : : : : : : : Unit Kelola Lingkungan Upah Minimum Regional Unit Pengelola yang dibentuk BKM Unit Pengelola Keuangan Unit Pengelola Lingkungan Unit Pengelola Sosial Urban Poverty Project (P2KP) T U : Value Base Training Program : World Bank V W PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN vii i .

i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .

Memudahkan untuk dilakukan penilaian atas keberhasilan atau kegagalan program secara nasional karena menggunakan mekanisme dan tolok ukur yang sama. Siapa Pengguna Pedoman? PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 1 i . Mengapa diperlukan Pedoman? Secara umum Pedoman ini diperuntukkan untuk para pelaku pelaksana PNPM utamanya Fasilitator dan pengurus LKM.BAB I PERIHAL PEDOMAN Alasan mengapa pedoman sangat dibutuhkan adalah sebagai berikut: Program Nasional dengan cakupan wilayah kerja yang sangat luas. misi dan pemahaman terhadap mekanisme pelaksanaan program. seluruh Nusantara. 1. penerima manfaat.2. seperti perangkat pemerintah. pusat dan daerah. Secara rinci pengguna pedoman dan manfaat masing-masing dapat dilihat ditabel berikut ini.1. Melibatkan banyak pihak dengan berbagai latar belakang yang beragam. penyandang dana dan sebagainya sehingga diperlukan persamaan visi. posisi dan peran dalam program juga beragam. 1.

Keterkaitan antara Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan PAD dan Pedoman-Pedoman dalam PNPM Mandiri Perkotaan 2 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .3. Secara rinci berbagai buku pedoman terkait dengan PNPM Mandiri Perkotaan dapat dilihat di diagram tersebut di bawah ini. Diagram 1.1. Pedoman Nasional PNPM Mandiri Perkotaan. Disamping Pedoman Nasional PNPM Mandiri Perkotaan yang bersifat Pedoman Operasional Umum (POU) selanjutnya disebut sebagai Pedoman Pelaksanaan. Pedoman Nasional PNPM Mandiri Perkotaan ini merupakan jabaran dan integrasi antara Pedoman Nasional PNPM Mandiri dan Project Management Guideline yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum.1. yang merupakan induk dari berbagai buku pedoman baik untuk PNPM Mandiri Perkotaan maupun PNPM Mandiri Perdesaan. Bagaimana Sistematika Buku Pedoman? Buku Pedoman PNPM Mandiri Perkotaan ini tidak berdiri sendiri tetapi terdiri dari 4 kelompok besar buku pedoman sebagai berikut : Pedoman Nasional PNPM Mandiri. atau PNPM Inti dan PNPM Penguatan. Departemen Pekerjaan Umum juga menerbitkan beberapa Pedoman Operasional Teknis (POT) yang selanjutnya disebut sebagai Pedoman Teknis dan beberapa Prosedur Operasi Baku (POB). yang merupakan induk dari berbagai buku pedoman yang terkait dengan PNPM Mandiri Perkotaan. diterbitkan oleh Menko Kesra.

serta telah mencakup 18. LKM-LKM ini mulai menjalin kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah dan kelompok peduli setempat. Atas fasilitasi pemerintah dan prakarsa masyarakat. pengambilan keputusan.1. mulai dari proses penentuan kebutuhan.405 LKM yang tersebar di 1. mulai tahun 2007 telah dirintis untuk mengadopsi P2KP menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (social capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan “program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan” yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat.125 kecamatan di 235 kota/kabupaten. 2.9 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin). melalui 243. proses penyusunan program. PNPM Mandiri P2KP diarahkan untuk mendukung upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs) sehingga tercapai pengurangan penduduk miskin sebesar 50% di tahun 2015. Sejak pelaksanaan P2KP-1 hingga pelaksanaan P2KP-3 saat ini telah terbentuk sekitar 6. Latar Belakang PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 3 i . sekaligus menjadi motor bagi upaya penanggulangan kemiskinan yang dijalankan oleh masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan. representatif dan dipercaya tersebut (secara generik disebut Badan atau Lembaga Keswadayaan Masyarakat atau disingkat BKM/LKM) dibentuk melalui kesadaran kritis masyarakat untuk menggali kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan dan nilai-nilai kemasyarakatan sebagai pondasi modal sosial (capital social) kehidupan masyarakat.838 KSM. sebagai prakarsa masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya secara mandiri. Mempertimbangkan perkembangan positif P2KP tersebut. BKM/LKM ini diharapkan mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin dalam menyuarakan aspirasi dan kebutuhan mereka.BAB II PENDAHULUAN Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. Tiap BKM/LKM bersama masyarakat melakukan proses perencanaan partisipatif dengan menyusun Perencanaan Jangka Menengah dan Rencana Tahunan Program Penanggulangan Kemiskinan (yang kemudian lebih dikenal sebagai PJM dan Renta Pronangkis). pelaksanaan program hingga pemanfaatan dan pemeliharaan. oleh sebab itu mulai tahun 2207. Lembaga kepemimpinan masyarakat yang mengakar.000 relawan-relawan dari masyarakat setempat. Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakat berupa “lembaga kepemimpinan masyarakat” yang representatif. telah memunculkan lebih dari 291.

Pada tahun 2009. Lemahnya kapital sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian. Sebagai bagian dari PNPM Mandiri maka tujuan.1. tidak transparan dan tidak tanggunggugat. kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. Kondisi kapital sosial masyarakat yang melemah serta memudar tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan. Akar Penyebab Kemiskinan Berbagai program kemiskinan terdahulu yang bersifat parsial. 2.2.2. karena diurus oleh orang-orang yang tidak berdaya sehingga tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kebijakan-kebijakan yang diputuskannya. Depertemen Pekerjaan Umum menerbitkan Pedoman Pelaksanaan PNPMM Perkotaan 2009 sebagai penyempurnaan pedoman pelaksanaan sebelumnya. terciptanya benih-benih fragmentasi sosial. Untuk itu. ketidakpedulian dan skeptisme di masyarakat. dan melemahkan kapital sosial yang ada di masyarakat (gotong royong. terutama masyarakat miskin. Lembaga kepemimpinan semacam ini pada umumnya memang tidak mengakar pengurusnya tidak dipilih secara benar dan banyak menjadi perpanjangan tangan pihak-pihak tertentu sehingga lebih berorientasi pada kepentingan pihak luar. kebijakan dan tindakan dari pengelola program kemiskinan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak adil. parsial atau bahkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Keputusan. kepedulian. Kerangka Pemikiran 2. terdapat penguatan-penguatan konsep maupun kebijakan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan sebagai upaya mendorong kemandirian masyarakat serta pemda dalam melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya masing-masing. musyawarah. sehingga mereka kurang memiliki komitmen dan kepedulian pada masyarakat di wilayahnya.Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan). Kondisi ini justeru akan memperdalam krisis kepercayaan masyarakat terhadap berbagai lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada di wilayahnya. prinsip dan pendekatan yang ditetapkan dalam PNPM Mandiri juga menjadi tujuan. prinsip dan pendekatan PNPM Mandiri Perkotaan. sektoral dan charity dalam kenyataannya sering justeru menghasilkan kondisi yang kurang menguntungkan. begitu juga nama generik lembaga kepemimpinan masyarakat berubah dari BKM menjadi LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat). kebijakan dan tindakan yang tidak adil ini banyak terjadi dimana lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada belum berdaya. keswadayaan dll). Sehingga menimbulkan kecurigaan. misalnya salah sasaran. Kondisi kelembagaan pimpinan masyarakat yang tidak mengakar dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi dimana masyarakat secara umum memang belum berdaya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam 4 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .

di bawah ini. yang pada gilirannya mendorong sikap masa bodoh. sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Pandangan PNPM-MP tentang Akar Penyebab Kemiskinan PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 5 i . tidak mandiri. mengandalkan bantuan pihak luar untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. Diagram 2. tidak percaya diri. cukup jelas menunjukkan bahwa kemiskinan akan tumbuh subur dalam situasi dimana perilaku/sikap dan cara pandang (paradigma) masyarakat yang belum berdaya.menyikapi dan menghadapi situasi yang ada di lingkungannya. Dari paparan di atas. serta memudarnya orientasi moral dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. keadilan dan kejujuran. yakni terutama keikhlasan.1. tidak peduli. PNPM Mandiri Perkotaan sebagai kelanjutan P2KP memahami bahwa kemiskinan adalah akibat dan akar penyebab kemiskinan yang sebenarnya adalah kondisi masyarakat utamanya para pimpinan yang belum berdaya sehingga tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.1.

kerelawanan.2.2. komitmen tersebut pada dasarnya terkait erat dengan proses perubahan perilaku masyarakat. yaitu ke arah perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat utamanya para pemimpin untuk senantiasa mengambil keputusan dan bertindak berlandaskan pada nilai-nilai luhur universal.2. agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari sehingga pada giliran dapat dibangun kepemimpinan moral yang mandiri. memiliki komitmen kuat. prinsip-prinsip kemasyarakatan dan prinsip-prinsip pembangunan PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 6 i . ikhlas. PNPM meyakini bahwa pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan perilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dan penguatan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. melalui pemberdayaan para pelakunya. Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan terus menerus untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan. bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Penanganan Akar Penyebab Kemiskinan Pemahaman mengenai akar penyebab persoalan kemiskinan seperti di atas telah menyadarkan berbagai pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki. prinsip-prinsip kemasyarakatan dan pilar-pilar pembangunan berkelanjutan Perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat ini merupakan pondasi yang kokoh untuk terbangunnya lembaga kepemimpinan masyarakat yang mandiri. tanpa pamrih dan jujur serta mau berkorban untuk kepentingan masyarakat miskin. yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal agar lebih berorientasi ke masyarakat miskin dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. 2. Dalam hal ini. karena upaya-upaya membangun kepedulian.Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah.3. Kemandirian lembaga masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun lembaga masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin.2. PNPM Memfasilitasi Masyarakat Serta Pemerintah Daerah Untuk Mampu Menangani Akar Penyebab Kemiskinan Secara Mandiri dan Berkelanjutan Gambaran lembaga masyarakat seperti dimaksud di atas hanya akan dicapai apabila orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin masyarakat merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli.

2. sebagai nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat setempat. Proses pembelajaran di tingkat masyarakat ini berlangsung selama masa Program maupun pasca Program oleh masyarakat sendiri dengan membangun dan melembagakan Komunitas Belajar Kelurahan (KBK). Penanganan Akar Kemiskinan oleh Masyarakat melalui PNPM Mandiri Perkotaan PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 7 i . Diagram 2.2. Gambaran tentang cara pandang PNPM Mandiri Perkotaan dalam memfasilitasi upaya penanggulangan akar persoalan kemiskinan oleh masyarakat dapat dilihat pada Gambar 2. yang pada gilirannya diharapkan dapat tercipta lingkungan perkotaan dengan perumahan yang lebih layak huni di dalam permukiman yang lebih responsif dan dengan sistem sosial masyarakat yang lebih mandiri melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.berkelanjutan sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Penguatan lembaga masyarakat yang dimaksud PNPM terutama dititikberatkan pada upaya penguatan pelakunya untuk mampu menjadi pelaku nilai dan pada gilirannya mampu menjadi motor penggerak dalam ‘melembagakan’ dan ‘membudayakan’ kembali nilai-nilai luhur universal kemanusiaan (gerakan moral). Melalui lembaga kepemimpinan masyarakat tersebut diharapkan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan. prinsip-prinsip kemasyarakatan (gerakan tatakepemerintahan yang baik) serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (gerakan Tridaya).

Tujuan Tujuan umum PNPM telah ditetapkan di Pedoman Umum PNPM yaitu ”Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri”.2. aspiratif. Masyarakat terlibat secara aktif pada setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan. pendekatan dan dasar hukum PNPM Mandiri Perkotaan menganut yang sudah ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri sebagai berikut : 2. Secara umum prinsip. 8 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . Partisipasi. Berorientasi pada Masyarakat Miskin. Desentralisasi. Prinsip • • • • • Bertumpu pada Pembangunan Manusia. masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri dan partisipatif untuk menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secaras swakelola. dan akuntabel untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi serta kemandirian masyarakat.1.3. Dalam pelaksanaan PNPM. d.3. Tersedianya Perencanaan Jangka Menengah (PJM) Pronangkis sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan sesuai dengan aspirasi serta kebutuhan masyarakat dalam rangka pengembangan lingkungan permukiman yang sehat.1.2. berjati diri dan berkelanjutan. Terbangunnya forum LKM tingkat kecamatan dan kota/kabupaten untuk mengawal terwujudnya harmonisasi berbagai program daerah Terwujudnya kontribusi pendanaan dari Pemerintah Kota/Kabupaten dalam PNPM Mandiri Perkotaan sesuai dengan kapasitas fiskal daerah. Tujuan dan Sasaran 2. Pelaksanaan PNPM senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya. Pendekatan dan Dasar Hukum 2.4. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya. Dengan demikian secara khusus tujuan PNPM Mandiri Perkotaan dirumuskan sebagai berikut: ”Masyarakat di kelurahan peserta program menikmati perbaikan sosialekonomi dan tatakepemerintahan lokal” 2. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Sasaran a. serasi. Prinsip. Otonomi. representatif. Terbangunnya Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dipercaya.4. b.3. c.

Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.4. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral. Di tataran kecamatan inilah rencana pembangunan yang direncanakan oleh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) bertemu dengan perencanaan dari masyarakat dalam Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Kecamatan sehingga dapat digalang perencanaan pembangunan yang menyeluruh. mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM harus sederhana. perwilayahan dan partisipatif yang dalam hal ini dipilih kecamatan sebagai lokus program yang mampu mempertemukan perencanaan dari atas dan dari bawah. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan. fleksibel. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas. Prioritas. 2. dan mudah dikelola oleh masyarakat. terpadu dan selaras waktu (synchrone). mudah dipahami. Keberlanjutan. Kolaborasi. Dengan demikian PNPM Mandiri Perkotaan akan menekankan pemanfaatan Musrenbang Kecamatan sebagai mekanisme harmonisasi kegiatan berbagai program yang ada sehingga peranan Forum LKM tingkat kecamatan menjadi sangat vital. teknis. Pendekatan Penanggulangan kemiskinan membutuhkan penanganan yang menyeluruh dalam skala perwilayahan yang memadai yang memungkinkan terjadinya keterpaduan antara pendekatan sektoral. Sederhana. legal. Transparansi dan Akuntabel. Bersadarkan pemikiran tersebut diatas maka pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan program adalah pembangunan yang berbasis masyarakat dengan: PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 9 i . maupun administratif. Semua aturan.2. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin. Demokratis.• • • • • • • Kesetaraan dan Keadilan Gender.

13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri. dan keberlanjutan. kemandirian. maka dasar hukum pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah sama dan merujuk pada Dasar Hukum PNPM Mandiri. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran. Peraturan Presiden Nomor. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan karakteristik sosial dan geografis. 2. 10 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan partisipatif.3. Memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.• • • • Menggunakan kecamatan sebagai lokus program.4. Dasar Hukum Sebagai salah satu Program Inti dari PNPM Mandiri.

Seluruh usulan calon lokasi sasaran diverifikasi oleh tim teknis PNPM Mandiri yang kemudian dikeluarkanlah daftar final lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan 2009.6.1. yang ada dalam daftar lokasi Permendagri No. nama lokasi) maupun besaran jumlah bantuan dana. Penetapan Lokasi Sasaran *) Podes 2006 yang di publikasikan oleh Biro Pusat Statistik selaku instansi yang berwenang di bidang statistik.BAB III KETENTUAN UMUM Pemilihan lokasi sasaran dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan di kelurahan yang sedang melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan. Bagan Penetapan Lokasi Kel/Desa sasaran PNPM MP Rekapitulasi lokasi PNPM Mandiri Perkotaan Tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 1 PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 11 i . Langkah-langkah seleksi pemilihan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan 2009 adalah sebagai berikut: Langkah I : Berdasarkan data Podes 2006*) dan Data Permendagri No. Dari kecamatan perkotaan tersebut dipilih seluruh kelurahan/desa. PU selaku executing agency akan menerbitkan surat revisi lokasi tersebut Gambar 3. maka pihak Direktorat PBL DitJen Cipta Karya. yaitu kecamatan yang memiliki jumlah kelurahan lebih banyak daripada jumlah desa dan kecamatan yang menjadi ibukota kabupaten. sedangkan daftar lokasi PNPM 2008 yang masuk kedalam wilayah pemekaran kecamatan perdesaan akan difasilitasi oleh PNPM Pedesaan. (UU No. 3. 6 tahun 2008 dipilih kecamatan perkotaan. Apabila selama pelaksanaan PNPM MP terdapat kebijakan revisi daftar lokasi sasaran tersebut (jumlah wilayah. 16 Tahun 1997) Langkah II : Langkah III : Langkah IV : Terlampir dalam Buku Pedoman Pelaksanaan PNPM MP pertanggal 20 Juli 2009. tahun 2008 dan usulan daerah untuk wilayah pemekaran (SK pemekaran sebelum bulan April 2008) Dari seluruh daftar kelurahan/desa diambil daftar lokasi PNPM Mandiri Perkotaan atau PNPM 2008 yang masuk kecamatan perkotaan atau daftar Lokasi baru PNPM 2009 yang ada di kecamatan perkotaan.1. Dep.

Kelompok Sasaran 3. masyarakat dan pemerintah daerah termasuk pemangku kepentingan daerah sebagai berikut.3. Untuk Masyarakat Bantuan untuk masyarakat diwujudkan dalam bentuk bantuan pendampingan dan bantuan stimulan dana BLM.3 Komponen Program Komponen Program PNPM Mandiri Perkotaan pada dasarnya memberikan bantuan kepada dua kelompok sasaran utama.1. melalui proses musyawarah warga.2.2.1. Bantuan Pendampingan Bantuan pendampingan ini diwujudkan dalam bentuk penugasan konsultan dan fasilitator beserta dukungan dana operasional untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat agar mampu merencanakan dan melaksanakan program masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di kelurahan masingmasing.1. a. Tabel 3. 12 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .2. refleksi kemiskinan dan pemetaan swadaya berorientasi IPMMDGs. 3.1.2 Kelompok Sasaran dan Penerima Manfaat 3. Kelompok Sasaran Yang menjadi kelompok sasaran dalam PNPM Mandiri Perkotaan dapat dilihat pada Tabel 3. 3. Kelompok Sasaran.3. Penerima Manfaat Dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan Penerima manfaat langsung dari dana BLM yang disediakan melalui PNPM Mandiri Perkotaan adalah keluarga miskin yang diidentifikasi masyarakat sendiri dan disepakati serta ditetapkan bersama oleh masyarakat kelurahan.

termasuk identifikasi calon penerima bantuan. yang sama persis posisi dan perannya dengan BKM atau nama lainnya yang dibentuk melalui pelaksanaan P2KP. Oleh karena itu di lokasi kelurahan/desa yang sudah terdapat BKM yang dibentuk secara partisipatif. pembuatan peta tapak dan penulisan laporan. PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 13 i . mengakar. Kegiatan dan forum pemantauan partisipatif untuk memastikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan berdasarkan PJM Pronangkis dan nilai luhur.Proses pendampingan ini sekurang-kurangnya harus menghasilkan: Masyarakat yang peduli dengan kemiskinan dan pelestarian lingkungan serta mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai bagian dari upaya penangulangan kemiskinan. dan sebagainya ditingkat komunitas kelurahan/desa dan kecamatan baik yang bersifat pengambilan keputusan maupun untuk penyebarluasan informasi (sosialisasi). Secara rinci jenis kegiatan pendampingan mencakup: Pertemuan-pertemuan/musyawarah/diskusi. analisis. aspiratif. Pelatihan dan bimbingan. Survei swadaya. Relawan dan Relawan khusus (spesialisasi berdasarkan minat) sebagai penggerak proses pembangunan partisipatif di wilayahnya. tidak perlu membentuk lembaga baru ataupun memaksakan perubahan nama BKM atau nama lainnya menjadi LKM. Kerja kelompok penyusunan program pembangunan untuk kurun waktu 3 tahun dan rencana tahunan dengan rencana investasi tahun pertama penangulangan kemiskinan. Masyarakat yang memahami dan mampu melaksanakan rangkaian kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan sesuai substansi pedoman pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dipercaya. Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana investasi tahunan untuk penanggulangan kemiskinan. PJM Pronangkis sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan sesuai dengan aspirasi serta kebutuhan masyarakat. LKM adalah nama generik. dan representatif. Forum LKM di tingkat kecamatan dan kota/kabupaten untuk mendukung harmonisasi berbagai program. representatif dan akuntabel. termasuk penyediaan bahan dan media belajar.

BLM ini bersifat stimulan dan sengaja disediakan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar dan berlatih dengan mencoba melaksanakan sebagian rencana kegiatan penanggulangan kemiskinan yang telah ditetapkan pada PJM dan Renta Pronangkis. Untuk itu penggunaan dana BLM lebih diprioritaskan pada kegiatan-kegiatan kolektif dan menyentuh langsung masyarakat miskin.2.2.b. Distribusi Alokasi Dana BLM per Kelurahan Dana BLM ini adalah dana publik yang disalurkan sebagai wakaf tunai kepada seluruh warga kelurahan dengan peruntukannya diprioritaskan kepada warga miskin. seperti pada Tabel 3. Tabel 3. sebagai berikut di bawah ini. 14 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . termasuk kontribusi dana BLM dari Pemda setempat ataupun dana-dana lain yang dikelola BKM/LKM. Bantuan Dana Bantuan dana diberikan dalam bentuk Dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat). Besarnya dana BLM tiap kelurahan ditentukan berdasarkan jumlah penduduk di kelurahan lokasi PNPM Mandiri Perkotaan. Makna dana BLM bersifat stimulan bagi masyarakat untuk mencoba melaksanakan apa yang sudah masyarakat rencanakan melalui Renta dan PJM Pronangkis dengan lebih memprioritaskan kepentingan bersama dan keberpihakan pada masyarakat miskin. Nilai alokasi dana BLM tiap kelurahan harus diinformasikan secara luas dan transparan kepada semua warga kelurahan.

1). secara bertahap a) Lokasi Kelurahan/Desa Baru (yang belum pernah PNPM-MP). PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 15 i . Persyaratan Penyaluran dan Pencairan BLM Dana BLM disalurkan Langsung Kepada LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat).

b) Lokasi Kelurahan/Desa Lama (yang pernah P2KP) 16 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN .

Bila kinerja pinjaman bergulirnya mencapai kriteria minimum maka dapat melanjutkan kegiatan pinjaman bergulir tetapi tidak boleh menambah modal kegiatan pinjaman bergulirnya dari BLM yang diterimanya. pembelajaran aspek Tridaya dan kesepakatan serta kearifan warga sehingga hasilnya dapat benar-benar memberikan manfaat berkurangnya kemiskinan di kelurahan/desa bersangkutan. Bila kinerja pinjaman bergulirnya mencapai kriteria dibawah minimum maka tidak boleh melanjutkan kegiatan pinjaman bergulir dan harus melakukan perbaikan sampai mencapai kriteria minimum dan bila setelah batas waktu yang diberikan/ ditetapkan oleh KMW masih belum mampu memperbaiki kinerja pinjaman bergulir sampai kriteria minimum maka LKM harus menutup kegiatan pinjaman bergulir. Secara singkat ketentuan penggunaan dana BLM dapat diilustrasikan seperti tabel 3.3. menarik semua piutang dan menggunakan dana yg terkumpul untuk kegiatan sosial dan infrastruktur. berikut ini: Tabel 3. Ketentuan dan/atau perubahan ketentuan mengenai hal ini akan ditetapkan oleh PMU P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan Tingkat Pusat 2). Ketentuan Sifat Penggunaan Dana BLM PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 17 i . (Lihat paragraf Dana Pinjaman Bergulir).3.Berlaku untuk semua tahap pencairan di lokasi lama/sedang berjalan yang telah menerima BLM dari P2KP atau PNPM P2KP dan telah melaksanakan kegiatan pinjaman bergulir maka berlaku ketentuan sebagai berikut: Bila kinerja pinjaman bergulirnya mencapai kriteria memuaskan maka maksimum 20% dari BLM yg baru diterima dapat digunakan untuk menambah modal kegiatan pinjaman bergulir. Penggunaan Dana BLM Pada dasarnya dana BLM dapat digunakan secara cukup luwes dengan berpedoman kepada PJM Pronangkis.

Kegiatan yang bertentangan dengan hukum. 5. tujuan dan nilai-nilai universal. tatasusila dan kemanusiaan serta tidak sejalan dengan visi. demonstrasi. 9. Kegiatan yang memanfaatkan BLM sebagai jaminan atau agunan atau garansi. Ketentuan Sifat Penggunaan Dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan melarang dana BLM dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan. 3. nilai agama. menimbulkan dampak keresahan sosial dan kerusakan lingkungan.Tabel 3.3. misi. penduduk asli dan kelestarian budaya lokal dan lain-lain yang dilarang dalam safeguard. Secara umum beberapa kegiatan yang tidak boleh dibiayai dengan dana BLM. 4. Pembebasan lahan. Kegiatan militer atau semi-militer (pembelian senjata dan sejenisnya). Kegiatan yang berkaitan dengan politik praktis (kampanye. dll). 8. Deposito atau yang berkaitan dengan usaha memupuk bunga bank. 18 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . 7. 2. Pembangunan rumah ibadah. 6. adalah sebagai berikut: 1. Pembangunan gedung kantor pemerintah atau kantor LKM. berorientasi pada kepentingan individu atau kelompok tertentu dan bertentangan dengan norma-norma. Kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan. hukum serta peraturan yang berlaku. baik yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan perbankan maupun pihak ketiga lainnya.

Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir) Tabel 3. maka pengelolaannya harus dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan pinjaman bergulir yang berorientasi pada masyarakat miskin. namun juga harus mempertimbangkan aspek pelayanan dan kemanfaatannya bagi masyarakat miskin. Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir 2. Sejalan dengan prioritas pada kegiatan dan kemanfaatan kolektif . Ketentuan dan/atau perubahan ketentuan mengenai hal ini akan ditetapkan oleh PMU P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan Tingkat Pusat. ratio pendapatan biaya > 125%. Artinya tidak semata-mata berorientasi pada pemupukan dana.4. Untuk Kelurahan/Desa lama (yang telah menjalankan P2KP) Maksimum 20% BLM dapat dialokasikan untuk DPB bila kinerja pinjaman bergulir mencapai kriteria memuaskan (pinjaman beresiko <10%. PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 19 i . Penyempurnaan tata cara dan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman operasional teknik.3). hasil investasi >10%) dan bersedia melakukan perbaikan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman operasional teknik. Dana Pinjaman Bergulir LKM yang akan menerapkan DPB (Dana Pinjaman Bergulir) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. maksimum dana BLM yang dapat dialokasikan untuk DPB sebesar 30% dari total pagu BLM. Untuk Kelurahan/Desa baru Apabila masyarakat telah menyepakati dan menetapkan sebagian dana BLM dialokasikan untuk kegiatan DPB sesuai ketentuan PNPM Mandiri.4. (Lihat Tabel 3.

khususnya dalam menanggulangi kemiskinan dan mewujudkan pembangunan keberlanjutan yang berbasis nilai-nilai serta prinsipprinsip universal. Melalui Pembelajaran pembangunan partisipatif. pelaksanaan. Untuk Pemerintah Kota/Kabupaten dan Para Pemangku Kepentingan Bantuan teknis pendampingan peningkatan kapasitas pemerintah provinsi/kota/ kabupaten dan para pemangku kepentingan pada dasarnya merupakan kegiatan yang berorientasi pada upaya membangun tata kepemerintahan daerah yang baik (good local governance). Termasuk mengembangkan dan melembagakan Trainer-Trainer dari unsur pemda melalui TOT khusus Aparat Pemda serta penguatan kapasitas KBP dan Tim 20 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . Pelatihan/coaching ini akan dilakukan untuk pemkot/kab yang difasilitasi oleh KMW. 3. Pelatihan/coaching Perencanaan Partisipatif.Prinsip dasar capaian kinerja dana pinjaman bergulir adalah sebagai hasil upaya dan kinerja pengelola maupun kemanfaatan penerima dana bergulir. bila memang sebelumnya belum pernah dilakukan peningkatan kapasitas kepada pemkot/kab dan pelaku lainnya tentang Perencanaan Partisipatif yang berbasis community based development. b.mulai dari tahap perencanaan. Beberapa kegiatan bantuan teknis peningkatan kapasitas pemerintah kota/kabupaten dan para pemangku kepentingan adalah: a. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Berbasis Masyarakat (Pembangunan Partisipatif). Capaian kinerja dana pinjaman bergulir yang disebabkan faktor-faktor penyimpangan nilai-nilai luhur yang melandasi keberadaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah tidak dibenarkan sama sekali. monitoring dan evaluasi hingga pemanfaatan dan pemeliharaan di tiap kota/kabupaten. khususnya masyarakat. Pelaksanaan Berbagai Kegiatan Pemkot/Kab dan para Pelaku Lainnya Peningkatan Kapasitas Upaya-upaya peningkatan kapasitas pemeritah provinsi/kota/kabupaten dalam mengelola program penanggulangan kemiskinan antara lain : 1).3. Khususnya dalam Penanggulangan Kemiskinan di wilayahnya Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan untuk mengoptimalisasikan sinergi berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Pemkot/kab juga diharapkan akan mampu merevisi berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan sesuai dinamika dan kondisi masyarakat setempat.2.

Secara khusus Asisten Korkot mempunyai tugas untuk membina Fasilitator di wilayahnya sesuai dengan bidang kerjanya.2). PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 21 i . pendalaman pemahaman (workshop) maupun penyebarluasan informasi (sosialisasi). Peningkatan kapasitas SIM berbasis website di tingkat pemkot/ kab ini bertujuan agar Pemkot/Kab dapat mengelola. baik yang bersifat reorientasi pemikiran. Bantuan teknik/pendampingan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten dan para pemangku kepentingan setempat diberikan melalui penugasan konsultan (KMW. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan dan Pengendalian Sistem Informasi Manajemen (SIM) PNPM Mandiri Perkotaan. Tujuannya agar terbangun kontrol sosial warga dalam memonitor seluruh pelaksanaan kegiatan sehingga segala bentuk penyimpangan dapat dikurangi serta diantisipasi lebih dini oleh pemkot/kab dan masyarakat itu sendiri. termasuk penyediaan bahan dan media belajar. Secara rinci bentuk-bentuk bantuan teknik/pendampingan untuk pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan setempat mencakup: Fasilitasi pertemuan-pertemuan/musyawarah di tingkat daerah. Pemkot/kab harus membangun media pengaduan masyarakat untuk menampung berbagai keluhan masyarakat. Untuk meningkatkan peran pemkot/kab dalam membangun SIM ini perlu disiapkan sumber daya yang secara khusus menangani SIM oleh Pemkot/Kab. Pengembangan PPM ini tidak cukup hanya dibangun/dikembangkan di kota/kabupaten. Pelatihan dan bimbingan. Untuk optimasi bantuan teknik/ pendampingan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten dan para pemangku kepentingan setempat maka komposisi konsultan di daerah dapat disesuaikan atas dasar ketetapan PMU PNPM Mandiri Perkotaan. Ikatan kerja korkot dan askorkot dengan SNVT PBL Provinsi dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerja dengan Matriks Akuntabilitas yang ditetapkan PMU PNPM Mandiri Perkotaan. 3). Koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah (TPKP-D). Tenaga Ahli. akan tetapi yang lebih strategis adalah mengembangkan PPM sampai ke tingkat masyarakat kelurahan yang dimotori oleh LKM. Korkot/Asisten Korkot. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM). sebagai tahap awal KMW akan mengawal secara intensif sampai SIM PNPM Mandiri Perkotaan bisa operasional di tingkat Pemkot/Kab. dsb) untuk melaksanakan program ini dan melakukan pengembangan kapasitas bagi Pemerintah Kota/Kabupaten (propinsi/ kabupaten-kota) sehingga pada saatnya pemerintah daerah mampu mengelola program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat. mengendalikan serta memantau seluruh perkembangan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya secara transparan dan akuntabel.

sebagai konsekuensi logis tanggungjawab pendamping mengawal nilai. Pendamping berkewajiban menyelesaikan persoalan penyimpangan dana yang terjadi di masyarakat dengan mengutamakan mekanisme penyelesaian oleh masyarakat hingga proses hukum sesuai ketentuan. prinsip dan ketentuan PNPM Mandiri Perkotaan. Proses perencanaan. c. fasilitasi. Kunjungan lapangan baik dalam rangka pendalaman pemahaman maupun penggalian aspirasi masyarakat. Ikatan kerja dengan Korkot dan Askorkot dilakukan oleh Satker provinsi dan dalam pengendalian substansi maupun operasional. Pengorganisasian monitoring. pemerintah dan kelompok peduli serta reformasi kebijakan. Pendamping memfasilitasi agar proses kegiatan sesuai dengan nilai. b. g. Seluruh Korkot. Pendamping tidak diperkenankan meminta uang atau imbalan apapun dari pemerintah/masyarakat. penetapan dan pelaksanaan program penangulangan kemiskinan di tingkat masyarakat harus dilakukan oleh masyarakat sendiri. baik secara langsung maupun tidak langsung (tenaga kerja. Asmandat dan Tenaga Ahli Konsultan berkewajiban menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsisten pakta integritas pendamping PNPM Mandiri Perkotaan. dll). d. supervisi dan evaluasi bersama. sebagai berikut: a. Askorkot. termasuk kemungkinan munculnya penyimpangan dan penyalahgunaan yang terjadi. termasuk informasi yang tidak sesuai pedoman dan kebijakan program. Pendamping tidak diperkenankan menerima imbalan uang dari masyarakat. Pendamping tidak memberi janji-janji atau iming-iming kepada pemerintah/masyarakat. Pendamping memfasilitasi pemerintah/masyarakat agar mampu mengambil keputusan secara rasional dan bertanggungjawab. program dan penganggaran yang berorientasi pada masyarakat miskin. prinsip dan ketentuan PNPM Mandiri Perkotaan. e. di bawah kendali Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) setempat. dll. Pendamping bertanggungjawab terhadap penyelesaian persoalan yang ada di wilayah dampingannya. 22 i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN . Titik berat pelaksanaan bantuan pendampingan di tingkat Pemerintah Kota/Kabupaten adalah membangun kesadaran kritis perangkat pemda dan kelompok peduli untuk mencapai sinergi antara masyarakat. f.Penyediaan media-media sosialisasi.

Indikator Keberhasilan Adapun rincian target capaian dari masing-masing indikator terdapat pada Lampiran 2. Masyarakat. Konsultan. Lembaga Donor serta para pihak lainnya. Pemerintah Pusat dan Daerah. baik Departemen Pekerjaan Umum sebagai Executing Agency. Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan 2009 ini menjadi rujukan bagi semua pihak dalam menilai capaian dampak maupun hasil program. Selain itu Indikator Keberhasilan PNPMMandiri Perkotaan 2009 juga didasarkan pada Project Management Guideline yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum.Indikator Keberhasilan Program PNPM Mandiri Perkotaan mengacu pada Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri yang diterbitkan Kantor Menko Kesra. 3. PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 23 i .4.

i PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 23 .