empu-inst@Mataram

Efektivitas Penyelenggaraan Pendidikan Banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa efektivitas dalam dunia pendidikan merupakan suatu hal yang rumit dan kompleks. Guna mengurangi kompleksitas dan kerumitan tersebut, maka pembahasan mengenai efektivitas ini Kami runtutkan dengan sistematika seperti berikut: a. Definisi efektivitas dan penyelenggaraan pendidikan yang efektif Kata efektivitas merupakan suatu kata yang sering dihubungkan dengan penyelenggaraan suatu program. Secara sederhana, efektivitas dapat disinonimkan dengan kata keberhasilan, yang berarti sejauh mana atau bagaimana tingkat ketercapaian tujuan (objectives) program tersebut, baik itu pada tahapan awal, seperti pengkondisian setting pembelajaran dan mekanisme seleksi calon siswa, pada bagian pertengahan program, seperti proses belajar mengajar, maupun pada bagian akhir, seperti prestasi belajar siswa. Efektivitas sering juga dikaitkan dengan kata kualitas, karena sekolah yang efektif juga berarti sekolah yang berkualitas. Creemers (1996: 21) mengatakan bahwa penggunaan kata kualitas, akan memunculkan ketidakjelasan, karena kata tersebut dapat mencakup banyak hal, termasuk efektivitas itu sendiri, efisiensi, dan statement mengenai konteks, proses dan output pendidikan. Berbicara mengenai efisiensi dalam pendidikan, Thomas (1969: 32) mensinonimkan efisiensi ini dengan produktivitas, yang didefinisikan sebagai rasio antara valued outputs dan valued inputs. Kata efektivitas berasal dari kata effective, yang merupakan kata sifat, dengan tambahan akhiran ness yang merubahnya menjadi kata benda. Dalam Oxford Advanced Learner‟s Dictionary, effectiveness memiliki 3 arti, yaitu: 1. a) Having the desired effect, producing the intended results; b) Making a strong or pleasing impression; 2. Having a role or position, even though not officially appointed to it; dan 3. Happening or coming into use (Hornby, 1995: 370) Di antara ketiga definisi leksikal tersebut, definisi yang paling sesuai jika dihubungkan dengan sebuah program, adalah definisi pertama pada poin a, yang mengindikasikan efektivitas dengan ketercapaian hasil atau efek yang diinginkan.

1

definisi dari kamus tersebut tidak lah cukup untuk memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai definisi kata efektivitas jika dikaitkan dengan realitas program di lapangan. Margaret Preedy (1993: 1) menyebutkan bahwa efektivitas merupakan suatu masalah kompleks yang tidak terdapat preskripsi yang secara universal dapat diterapkan. sering didefinisikan dalam term pencapaian tujuan (goal achievement). Equity refers to the compensatory power of schools”. Kriteria efektivitas akan terus berubah sesuai dengan perubahan zaman dan tuntutan yang dialami oleh dunia pendidikan. Dan jika kriteria tersebut tercapai. di mana sebuah sekolah. efektivitas ini diartikan sebagai: …the extent to which any (educational) organisation as a social system. Para ahli mendefinisikan efektivitas dengan bervariasi. Sedangkan Suharsimi Arikunto (1988: 8) mengaitkan efektivitas dengan hasil pengukuran hal-hal yang berkaitan dengan keterlaksanaan suatu program. 1996: 23).empu-inst@Mataram Namun tentunya. Jika disambungkan dengan kata sekolah (school effectiveness). Yang perlu dicatat adalah bahwa kriteria efektivitas ini bersifat dinamis. Efektivitas. dan dengan kriteria-kriteria tertentu yang harus terpenuhi. terlihat bahwa kata efektivitas selalu dikaitkan dengan suatu program. efektivitas dapat didefinisikan ke dalam 2 dimensi. 1996: 2) Dari beberapa pengertian efektivitas tersebut di atas. given certain resources and means. bukan merupakan suatu yang constant atau tetap. Creemers (1996: 21) mendefinisikan efektivitas dengan means–ends relationships between educational processes and student outcomes. ia menjelaskan “The quality of a school is the average score on an output measure corrected for input characteristics. Menurut Brandsma (Reynolds & Stoll. thereby indicating the „value added‟ by the school. lanjut Preedy. dikatakan efektif jika ia dapat mewujudkan tujuan atau sasarannya. atau organisasi lainnya. sekolah atau kegiatan tertentu. kualitas (quality) dan ekuitas (equity). fulfils its objectives without incapacitating its means and resources and without placing undue strain upon its member. (Reynolds & Lagerweij. Mengenai 2 dimensi tersebut. maka sekolah atau program tersebut akan dapat dikatakan efektif. 2 .

Kriteria penyelenggaraan pendidikan yang efektif Mengenai kriteria efektivitas. atau sumber daya manusia. Faktor yang lain yang berhubungan dengan sekolah (school effect) dianggap tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. yaitu: 1. seperti kultur. 3 . atau etos. Preedy (1993: 2) menyebutkan 3 hal utama yang berhubungan dengan ketercapaian tujuan. pendanaan. b. definisi tersebut memiliki implikasi yang cukup luas. Setiap kegiatan dan sumber daya yang ada di suatu sekolah. outcomes. Hasil penelitian ini sangat mengejutkan para praktisi dan pemerhati pendidikan. Begitu pentingnya aspek latar belakang sosial ini. keberhasilan sekolah dalam memperoleh input. Definisi Mortimore ini mungkin nampak sederhana. Tapi jika ditelaah lebih jauh. The Coleman report itu lah yang kemudian mendorong banyak penelitian dilakukan. dan tingkat kepuasan dari staf dan siswa. aspek pupils intake adalah yang paling banyak dipertimbangkan sebagai faktor yang besar efeknya dalam menentukan apakah suatu sekolah efektif atau tidak. sampai-sampai salah satu hasil penelitian yang cukup terkenal di kalangan peneliti efektivitas sekolah. Dalam banyak penelitian tentang efektivitas sekolah. misalnya hasil ujian siswa dan perkembangan sosial dan personal siswa. proses. dan 3. menganggap bahwa faktor utama yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor yang berhubungan dengan pupils intake. ditujukan untuk mencapai beberapa tujuan (objectives). hanya untuk lebih mencari tahu tentang seberapa besar pengaruh sekolah terhadap pupils progress.empu-inst@Mataram Mortimore (1991: 9) mendefinisikan sekolah yang efektif (effective school) adalah “…one in which pupils progress further than might be expected from consideration of its intake”. Contohnya adalah yang berhubungan dengan latar belakang sosial dan ekonomi dari mana siswa berasal. The Coleman Report. yang kemudian memunculkan banyak pertanyaan tentang keberadaan sekolah itu sendiri. hanya melihat pada aspek perkembangan siswa (pupils progress) saja. seperti jumlah siswa baru. 2. dan tujuan yang paling pokok adalah mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. yang salah satunya adalah latar belakang sosial ekonomi siswa (SES).

empu-inst@Mataram Mortimore (1991: 9-10) menyebutkan tiga karakteristik yang dapat digunakan sebagai pijakan dalam menentukan kriteria efektivitas suatu sekolah. d. dari pada hukuman. misalnya dengan pemberian pekerjaan rumah. b. whilst effectiveness and efficiency in some ways overlap. schools serving ver advanteged populations can fail to be effective and can foster underachievement amongst their pupils… Second. para guru ikut memperhatikan (responsive) kebutuhan siswa. no school – even one that is highly effective – can guarantee progress to all its pupils. sehingga dapat menjadi contoh bagi para siswa. Sistem kontrol siswa. Tingkah laku para guru. Perkembangan akademis siswa. pujian. guru-gurunya memiliki kompetensi yang baik dan mampu memotivasi siswa untuk berprestasi. they do not necessarily represent the same qualities… Reynolds (1991: 24-25) menyebutkan beberapa faktor yang dihubungkan dengan efektivitas sekolah: a. Third. sekolah yang efektif adalah yang menyediakan kondisi kerja yang baik bagi para siswa. sekolah yang efektif adalah sekolah yang mampu meningkatkan kemampuan akademis siswa. sekolah yang efektif adalah yang lebih memilih menggunakan mekanisme reward. yaitu sebagai berikut: First. schools can be classified as effective whatever the absolute level of advantage/disadvantege of their pupil intake. 4 . sekolah yang efektif adalah yang mampu memberikan kesempatan yang sama terhadap siswa untuk bertanggung jawab dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. dan juga dalam aktivitas kelas. menentukan tujuan-tujuan pendidikan yang jelas dan eksplisit. though highly talente. c. appears to lack the motivation to achieve. dorongan dan penghargaan. Schools serving very disadvanteged populations can be highly effective. Lingkungan sekolah bagi siswa. Many teachers will be familiar with the pupil who. menyediakan bangunan yang terawat dan ditata dengan baik. di mana sekolah yang efektif adalah yang memiliki guru-guru dengan kepribadian dan kedisiplinan yang baik. e. Keterlibatan siswa. Similarly.

Bahasa Inggris. 1989: 6). 2. bertambahnya jam pelajaran untuk Matematika. 8. partisipasi masyarakat dan orang tua. 4. 4. bahasa asing. Penggunaan pengukuran prestasi siswa sebagai dasar dalam evaluasi program. Kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah yang kuat terhadap kualitas pengajaran. menentukan 8 indikator yang harus dipenuhi oleh suatu sekolah untuk dapat dikatakan efektif (Davis & Thomas. dan menegakkan kedisiplinan siswa dengan cara-cara yang baik. Iklim yang aman dan teratur dalam proses belajar mengajar. Manajemen kelas. meningkatnya tingkat kehadiran kelas. 5 . sains. untuk berpartisipasi dalam menentukan suatu kebijakan atau keputusan sekolah. National School Recognition Program. 3. pemberian tugas menulis atau homework yang meningkat secara umum sesuai dengan jumlah rata-rata yang bisa diberikan berdasarkan usia siswa. 5. Fokus pengajaran yang dapat dipahami secara luas dan pervasif. 2. dan seni terapan. 7. Tingkah laku para guru yang memotivasi para siswa untuk dapat menguasai. 6. meningkatnya skor atau nilai tes. dukungan yang baik bagi siswa dengan kebutuhan khusus. 5. 3. Dengan redaksi yang lebih singkat. penghargaan dan pengakuan bagi siswa dan guru. selalu memperhatikan perkembangan dalam kelas. keahlian-keahlian dasar sederhana tertentu. paling tidak. sekolah yang efektif adalah sekolah dengan kepemimpinan yang dapat melibatkan semua pihak yang terkait. Sebuah program pengembangan sekolah di Amerika. 1991: 27-28) menyebutkan bahwa sekolah yang performansi akademisnya tinggi adalah yang memiliki 5 faktor sebagai berikut: 1. keikutsertaan siswa dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.empu-inst@Mataram f. Lezotte (Reynolds. Struktur manajemen. yaitu: 1. g. sejarah dan ilmu sosial. di mana sekolah yang efektif adalah sekolah dengan guruguru yang merencanakan terlebih dahulu penyampaian suatu materi sebelum masuk kelas.

seperti kepuasaan guru dan tenaga kependidikan. akan terabaikan. yang kemudian bermuara pada peningkatan prestasi siswa. akan tetap diasumsikan kurang atau tidak berhasil jika tidak mampu meningkatkan prestasi belajar siswanya. Sekolah yang efektif. diperlukan terlebih dahulu suatu konseptualisasi sekolah yang tepat. jika efektivitas hanya diukur dari aspek prestasi belajar. maka akan terjadi ketimpangan dalam proses penyelenggaran sekolah (schooling). karena yang akan mendapat perhatian utama adalah hanya mengenai bagaimana meningkatkan prestasi belajar tersebut. sebenarnya lebih merupakan konsep kultural. tidak ada 6 . pengembangan kurikulum. Kemampuan para guru dalam meningkatkan efektivitas kelas. 1996: 11). dan lainnya. Namun tentunya. maka yang dianggap sebagai key factor dalam mewujudkan sekolah yang efektif adalah para guru. Salah satu konseptualisasi mendasar mengenai sekolah adalah yang melihat sekolah sebagai suatu input–throughput–output system (Bollen. Efektivitas sekolah yang hanya diukur dari interaksi antara guru dan siswa adalah suatu simplifikasi masalah. Efektivitas merupakan suatu yang sebenarnya lebih kompleks dari pada sekedar interaksi siswa dan guru. Untuk dapat mewujudkan sekolah yang efektif. dan aspek-aspek lain. Karena sekolah dianggap sebagai suatu sistem input-output. yang teknik atau strategi realisasinya tidak diajarkan secara khusus kepada para pelaksana sekolah dalam suatu pelatihan (Bollen. Konsep ini hanya menekankan pada aspek input dan output dari suatu sekolah. Tahapan proses atau throughput dianggap terdiri dari hal-hal yang relatif kompleks dan sulit untuk diamati. 1996: 12). kriteria yang selalu ada pada sebuah sekolah yang efektif adalah kemampuannya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. walau pun aspek-aspek yang lain telah dianggap efektif. Sebuah sekolah. karena sekolah merupakan suatu kesatuan yang kompleks dan merupakan bagian dari suatu sistem pendidikan yang juga kompleks. Dari indikator-indikator sekolah efektif di atas.empu-inst@Mataram Kriteria utama dalam menentukan apakah suatu sekolah efektif atau tidak adalah kriteria output atau hasil didikannya. Karena itu. dan tidak mengamati hal-hal yang berhubungan dengan throughput atau proses yang terjadi antara input dan ouput tersebut. akan meningkatkan proses belajar mengajar.

antara lain. kelas. dan terakhir (iii) suatu model dapat menjadi suatu road map yang berguna. proses. Stringfield (Creemers. motivasi dan bakat siswa yang bersangkutan. Khusus mengenai tamatan madrasah ini. bahwa sifat unggul merupakan sesuatu yang inheren dalam kehidupan sekolah. dan terakhir kompetensi sosial. maka perlu dikembangkan suatu model yang dapat digunakan sebagai panduan dalam meneliti atau mengembangkan efektivitas sekolah. kompetensi teknis untuk memasuki dunia kerja. yaitu kompetensi akdemik untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. faktor yang juga ikut mempengaruhi prestasi siswa adalah kondisi sekolah dan kelas di mana siswa yang bersangkutan berada. sehingga dalam penelitian mengenai efektivitas sekolah. seorang peneliti dapat memilih konsep mana yang akan dipakainya sebagai kriteria penilaian. Konsep-konsep yang ditawarkan di atas lebih merupakan suatu alternatif. (ii) suatu model dapat memetakan beberapa peluang untuk penelitian di masa mendatang. dengan redaksi yang berbeda. yaitu (i) suatu model bermanfaat untuk menjelaskan penelitian sebelumnya secara ringkas (parsimoniously). Keempat level ini dapat disarikan sebagai berikut: (1) Level siswa. pengembangan sekolah. yang mana kondisi ini juga akan menstimulasi pendanaan untuk penelitian lebih lanjut. Prestasi siswa akan banyak dipengaruhi. Selain tiga hal tersebut. yang dapat digunakan untuk memberikan peringatan bagi pembuat kebijakan bahwa investasi dalam pendidikan dapat memberikan keuntungan. sekolah dan terakhir level konteks. Karena efektivitas sekolah merupakan suatu yang kompleks. Untuk itu. yang mencakup level siswa. Creemers (1996: 48-55) menawarkan suatu model komprehensif efektivitas pendidikan (comprehensive model of educational effectiveness). baik faktor masukan. hasil maupun dampak atau kinerja tamatannya. kompetensi moral. 1996: 48) menyebutkan 3 alasan perlunya dikembangkan model efektivitas pendidikan (a model for educational effectiveness) ini. oleh latar belakang. Seperti yang disebutkan oleh Sumarno (2000: 4). terdapat empat kompetensi dasar yang hendaknya dimiliki oleh setiap lulusan madrasah.empu-inst@Mataram kesepakatan yang sama di antara para ahli mengenai kriteria efektivitas tersebut. yang berorientasi pada peningkatan prestasi belajar 7 . lingkungan.

terdapat dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengembangan pada level sekolah ini. kualitas pengajaran ini ditentukan antara lain oleh: kejelasan dan keberurutan tujuan dan isi pelajaran. harus dapat menentukan dan menangani secara tepat faktor-faktor yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. yaitu iklim yang tumbuh dan mekanisme evaluasi hasil belajar siswa. penggunaan materi untuk evaluasi hasil belajar siswa. school working plan. dan corrective instruction. ketersediaan sistem indikator atau kebijakan nasional mengenai sistem evaluasi/pengujian. Iklim lebih merupakan suatu kondisi di mana proses belajar mengajar terjadi. struktur dan kejelasan isi pengajaran. Ada tiga komponen yang harus diperhatikan dan ditingkatkan dalam pengembangan kelas: . seperti petunjuk secara nasional mengenai pengembangan kurikulum. penggunaan media pengajaran yang baik. rencana aktivitas pada level sekolah (Creemers. yang termasuk dalam level konteks ini adalah: a) kualitas.Kualitas pengajaran (instruction) dalam kelas.empu-inst@Mataram siswa. Iklim yang baik berarti bahwa sekolah tersebut memiliki kondisi di mana para siswa dan guru dapat berinteraksi dengan optimal untuk mencapai sasaran pembelajaran. 8 . yang antara lain berkenaan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan efektivitas sekolah. . yang dimaksud dengan pengelompokkan adalah kemampuan guru dalam melihat perkembangan siswa. (4) Level konteks. misalnya mengenai penggunaan textbook dan materi oleh guru.Prosedur pengelompokkan dan tingkah laku guru. . Kondisi kelas yang disebutkan sebelumnya adalah termasuk dalam faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. feedback. (2) Level kelas. (3) Level sekolah.Kurikulum. dan c) kesempatan belajar. b) waktu. sehingga ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang akan diterapkannya. Sedangkan mekanisme evaluasi hasil belajar merupakan kebijakan yang diambil oleh pimpinan sekolah untuk mengukur seberapa jauh hasil belajar para siswa. misalnya mengenai jadwal sekolah yang berlaku dan ditetapkan secara nasional. 1996: 50-55).

clear goal setting. Sedangkan gambaran (konsep) dan kepercayaan diri menunjukkan kemampuan afektif siswa. dan pandangan siswa terhadap dirinya serta menilai dirinya setelah melakukan interaksi secara total dalam lingkungan sekolah. advance organisers. yaitu (1) kemampuan akademik. corrective instruction. sosial. Time. indicator system/policy on evaluation or national testing. Teacher behaviour: management/orderly and quiet atmosphere. (3) kemampuan non akademik seperti konsep diri. training and support system. Opportunity: national guidelines for curriculum. Quality of instruction curriculum: expliciteness and ordering of goals and contents. Pendidikan yang berlangsung di sekolah tidak hanya bertujuan untuk membentuk kemampuan berpikir. dan kemampuan kerja. dan logika siswa. evaluation. structure and clarity of content. consensus about mission. penalaran. tetapi juga untuk membentuk pengertian. Time for learning. pemahaman. national guidelines for time schedules. opportunity to learn Time on task. (4) pengembangan fisik. (2) perilaku dan kehadiran. Opportunity: school curriculum. dan spiritual siswa (Koster. structuring of content. yang terdiri dari empat unsur. evaluation policy/evaluation system. Gambar 1. Heneveld dan Craig menyebutkan bahwa outcome juga mengacu pada pencapaian individu siswa yang meliputi: (1) kemampuan 9 . high order skills. emosi. school culture inducing effectiveness. etc. homework. Grouping prosedures: mastery learning. opportunity used Aptitudes Social background Consistency Cohesion Constancy Control Consistency Classroom Student Motivation basic skills. cooperative learning highly dependent on differentiated material.empu-inst@Mataram Creemers mengilustrasikan keempat level efektivitas pendidikan tersebut dengan bagan sebagai berikut: Context Quality: policy focusing on effectiveness. Time/organisational:. funding based on outcomes. rules and agreements about how to implement the school curriculum. etc. kemampuan kewarganegaraan. supervision. Consistency Constancy Control School Quality/educational: rules and agreements about classroom instruction. professionalisation. Hasil belajar siswa menunjukkan kemampuan akademik siswa yang diperoleh dari seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. high expectations. supervision of time schedules. metakognitive skills. 2000: 360). evaluation.policy on intervension. Model Komprehensif Efektivitas Pendidikan Berbicara mengenai sekolah. maka outcome yang dimaksud harus dikonseptualisasikan berdasarkan tujuan pendidikan di sekolah. feedback. ability grouping.

watak. 2000). Sedangkan konsep diri siswa adalah pandangan dan penilaian siswa mengenai keseluruhan dirinya berdasarkan pengetahuan yang diperoleh siswa setelah mengalami proses pengajaran di sekolah. Jumlah hasil penelitian yang telah dipublikasikan akan sulit untuk dihitung. c. yang terdiri dari dua komponen. Outcome merupakan hasil pengajaran. dan begitu kompleksnya dunia pendidikan. di mana guru memegang peranan yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar tersebut. sehingga siswa memperoleh pengetahuan yang terwujud dalam bentuk hasil belajar (kognitif) maupun konsep diri (afektif) seperti sikap. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa yang menjadi aktivitas utama pendidikan di sekolah adalah kegiatan pengajaran. Hasil belajar siswa merupakan pengetahuan yang dicapai siswa pada sejumlah mata pelajaran di sekolah. yang paling mudah untuk diukur atau dilihat hasilnya secara langsung adalah hasil belajar atau aspek kognitif siwa. (3) kemampuan sosial. (2) partisipasi. yaitu hasil belajar siswa dan konsep diri siswa. berupa proses belajar-mengajar di kelas. maka akan dapat dilihat seberapa jauh penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah diterimanya. sehingga selalu memunculkan hal-hal baru yang menantang para peneliti untuk lebih memahami tentang hal-hal baru tersebut.empu-inst@Mataram akademik. dan kepribadian. Sayangnya. relatif sulit untuk diukur. Telah begitu banyak penelitian yang dilakukan untuk lebih memahami hakikat pendidikan. Penelitian tentang efektivitas penyelenggaraan pendidikan Penelitian tentang pendidikan mungkin setua usia pendidikan itu sendiri. yang berupa pencapaian siswa (student achievement) sebagai hasil dari proses pengajaran yang berlangsung di sekolah. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor. dan (4) keberhasilan siswa dalam ekonomi (Koster. hasil-hasil penelitian dan evaluasi tersebut ternyata belum dimanfaatkan secara 10 . karena memerlukan pengamatan yang terus menerus dan cermat selama proses pembelajaran. Di antara kedua komponen outcome tersebut. Cukup dengan pemberian tes hasil belajar. Dalam kegiatan pengajaran inilah terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa. karena begitu banyak yang telah dilaporkan.

It can be said that 95 per cent of all the scientists ever born are still living. Kalau tadi disebutkan bahwa usia penelitian pendidikan adalah setua usia pendidikan itu sendiri. Riddell dan Brown (1991: 2). But I do not believe that increased age alone will mature the field or its members… Tyler (1969: 76-84) menambahkan bahwa salah satu alasan lambannya perkembangan dan pengadopsian inovasi-inovasi pendidikan adalah karena kurangnya penghargaan yang layak. yang ini berarti bahwa saat ini usia penelitian efektivitas sekolah tersebutadalah sekitar 30 tahun. dengan dukungan dana. 1994: 2). Kelemahan penelitian dan evaluasi ini antara lain disebabkan oleh kompleksnya permasalahan pendidikan. ketiga adalah penelitian yang mengeksplorasi sekolah-sekolah yang dianggap efektif (effective schools research). untuk penelitian dan evaluasi ke depan. lemahnya metodologi yang digunakan. karena kegagalan penelitian dan evaluasi yang telah dilakukan untuk menjawab permasalahanpermasalahan pendidikan secara ilmiah. yaitu pertama. Hasil-hasil penelitian dan evaluasi tersebut akan lebih banyak berakhir pada rak-rak buku perpustakaan dengan debu tebal yang menutupinya. menyebutkan secara lebih eskplisit bahwa penelitian efektivitas sekolah telah dimulai sekitar akhir tahun 70-an dan di awal tahun 80-an. dan terakhir adalah riset yang hanya meneliti tentang efektivitas pengajaran (instructional effecetiveness) ( Towsend. sehingga hasil-hasilnya nanti tidak berakhir di rak-rak buku dengan debu tebal yang menutupinya. kedua adalah riset yang meneliti educational production functions. that 99 per cent of the educatioanl researchers who have ever lived are still living. diperlukan usaha yang lebih sunguh-sungguh. 11 . similarly it can be said. pengembangan metodologi yang lebih adequate. with equal confidence. Scheerens menyebutkan bahwa terdapat 4 kategori penelitian yang mengangkat isu tentang efektivitas sekolah. penelitian yang meneliti tentang equality of educational outcomes. dan komprehensivitas permasalahan yang lebih baik. Karena itu kemudian Goodlad (1969: 106) mengatakan: Educational science has not yet come of age. dan dukungan dana penelitian. dan lebih terutama lagi. maka penelitian yang khusus mengangkat isu efektivitas pendidikan atau sekolah baru dimulai sekitar 20 tahun yang lalu (Creemers.empu-inst@Mataram optimal sampai tataran praktis. Karena itu. 1996: 38).

Kelemahan kategori penelitian ini adalah tidak teramatinya aspek proses pendidikan yang terjadi dalam sekolah. 1994: 3). yaitu: . Townsend menyebutkan bahwa kategori penelitian ini lebih dapat membuka a black box yang terdapat pada 2 kategori sebelumnya.school process variables hanya menyebabkan perbedaan yang relatif kecil dalam prestasi pendidikan siswa. karena kategori ini. antara lain seperti. Review terhadap hasil penelitian kategori kedua ini menunjukkan bahwa input-input yang diamati adalah. Scheerens (Townsend. dan biaya pengeluaran per siswa. juga menambahkan variabel-variabel seperti latar belakang keluarga dan sosial. Kategori penelitian ketiga.sumber daya dan input-input material lainnya tidaklah dapat menjanjikan penjelasan yang baik mengenai ouput-output sekolah. serta teknologi pendidikan. yaitu yang meneliti tentang educational production functions. 1994: 2-3) menyimpulkan 3 hal atau kesimpulan yang dapat diambil dari The Coleman Report tersebut. kultur dan organisasi sekolah. muncul sebagai respon atas angapan bahwa sumber daya dan input-input material tidak lah terlalu signifikan dalam menjelaskan school outputs.karakteristik latar belakang siswa seharusnya digunakan untuk memperbaiki raw output measures untuk sampai pada interpretasi yang tidak bias mengenai pengaruh indikator proses terhadap keberfungsian sekolah. Kategori penelitian efektivitas sekolah yang kedua. dapat dianggap sebagai kategori yang paling komprehensif meneliti tentang efektivitas sekolah.empu-inst@Mataram Kategori penelitian efektivitas sekolah yang pertama adalah berhubungan dengan bagaimana sekolah mempengaruhi (affect) kesetaraan (equality) outcome pendidikan. padahal aspek ini adalah yang menghubungkan antara input dan output (Townsend. Di antara hasil penelitian kategori ini adalah The Coleman Report yang menginvestigasi hubungan antara kesetaraan outcome pendidikan dengan efektivitas sekolah. . dan . Penelitian educational production functions mencoba mencari dan menentukan input mana kah yang dapat menghasilkan output yang lebih baik. gaji dan kualifikasi guru. Di antara hasil penelitian kategori ini menunjukkan 12 . rasio guru-siswa. selain meneliti tentang bagaimana suatu sekolah memiliki predikat „efektif‟.

dengan guru sebagi pusat perhatian. buku-buku berbahasa Indonesia. termasuk di dalamnya adalah yang berkenaan dengan evaluasi program pendidikan. penelitian yang membandingkan sekolah yang berprestasi tinggi dengan sekolah yang berprestasi rendah. Padahal. kelima adalah penelitian mengenai sekolah yang berhasil atau sukses menghilangkan perbedaan (successfully desegregated schools). Karena itu. keempat. 1994: 4). ternyata tidak banyak. ketiga. Berbeda dengan uraian Townsend di atas. Di antara hasil penelitian kategori ini adalah bahwa sekolah memang memberikan atau menghasilkan perbedaan. untuk tidak mengatakan tidak ada.empu-inst@Mataram bahwa school-wide characteristics secara konsisten ber-relasi dengan prestasi siswa (Townsend. d. Yang banyak Peneliti temukan adalah buku-buku tentang evaluasi secara umum. Metodologi penelitian efektivitas penyelenggaraan pendidikan Dari penelusuran literatur yang Peneliti lakukan. studi yang berkonsentrasi pada hubungan input-output yang quantifiable. studi yang meneliti tentang hal-hal yang berhubungan dengan safe schools. yang dalam penelitian ini Kami sebut dengan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. 1994: 3-4). 1983: 47). Squires menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 6 tipe studi yang berkaitan dengan isu efektivitas sekolah. David A. Kategori penelitian efektivitas sekolah yang terakhir hanya terfokus pada proses pembelajaran (instructional) di dalam kelas. dan terakhir penelitian yang berupa deskripsi para jurnalis mengenai sekolah-sekolah yang dianggap efektif (Squires & Segars. walau pun dapat dikatakan atau dianggap bahwa penelitian efektivitas ini masuk dalam “genre evaluasi program”. Squires menyebutkan lebih banyak jenis penelitian yang memfokuskan isunya pada efektivitas sekolah. yaitu pertama. di sini Kami mencoba mensarikan salah 13 . kedua. dan bahwa prestasi belajar siswa tidak hanya merupkan produk dari latar belakang sosio-ekonomi (socio-economic status – SES) saja (Townsend. penelitian efektivitas dapat dianggap lebih spesifik dari pada sekedar evaluasi. studi longitudinal mengenai sekolah-sekolah yang mencapai sukses melebihi harapan. yang membahas secara khusus tentang metodologi untuk meneliti efektivitas sekolah atau efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

maka suatu sekolah tentunya belum dapat menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuannya. Yang kedua. khusus dalam melaksanakan penelitian mengenai efektivitas pendidikan. adalah aspek teknik metodologis yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu sekolah untuk dapat dikatakan atau dikategorikan efektif. penelitian yang ingin mengungkap seberapa efektif sekolah tersebut akan menjadi sulit. yaitu yang pertama. Sebelum dimilikinya atau diperoleh kesesuaian antara tujuan suatu sistem pendidikan dengan tujuan spesifik konkrit pada level sekolah. yang biasanya abstrak dan teoritis. Ketiga dimensi tersebut. Permasalahan yang dihadapi di sini adalah bagaimana tujuan dari pendidikan secara umum. Sebagai konsekuensinya. tidak dapat ditentukan secara baik dan tepat. adalah berhubungan dengan proses-proses yang terjadi di sekolah yang menjadikan sekolah tersebut efektif dalam praktik. yang keempat. pemahaman dan pengetahuan mengenai keempat dimensi di atas.empu-inst@Mataram satu metode yang ditawarkan Townsend. yang merupakan dimensi paling penting. Townsend (1994: 33-34) menyebutkan bahwa terdapat empat dimensi yang penting untuk membangun pemahaman yang tepat mengenai suatu sekolah yang efektif. karena standard atau kriteria yang di antaranya didasarkan pada tujuan dari sekolah. adalah yang berhubungan dengan tujuan dari pendidikan dan peran sekolah (the goals of education and the role of school). harus disesuaikan dengan tujuan sekolah tertentu. Namun. atau seorang siswa. dapat digunakan untuk menggenerasikan suatu model atau kerangka (framework) untuk memahami bagaimana mengenali atau mengidentifikasi sekolah-sekolah yang efektif. adalah memahami efektivitas sekolah. 14 . tidak serta merta membuat penelitian efektivitas sekolah menjadi lebih mudah. secara bersama-sama. Dimensi ketiga adalah cara mengukur tujuan-tujuan (goals) dari suatu sekolah untuk dapat dikatakan efektif. baik secara konsep maupun praktis. Townsend (1994: 34-38) menyebutkan beberapa problematika mendasar yang menjadikan penelitian efektivitas sekolah menjadi sulit. Metodologi ini dijelaskan oleh Townsend secara cukup detail dalam bukunya Effective Schooling for Community. Dan dimensi terakhir. Yang pertama. secara konkrit dan spesifik.

Aspek atau kriteria efektivitas lainnya antara lain mencakup kepemimpinan yang kuat (strong leadership). pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk pembelajaran (learning). maka kesan yang tidak bisa dilepaskannya adalah kesan subyektivitas dalam penilaian yang dibuatnya.empu-inst@Mataram Problematika kedua yang membuat penelitian efektivitas sekolah menjadi sulit adalah yang berhubungan dengan kriteria sekolah yang efektif. Siswa suatu sekolah diberikan suatu tes tertentu. Townsend (1994: 36-43) menyebutkan terdapat beberapa metode yang berbeda yang digunakan untuk mengidentifikasi sekolah yang efektif. metode ini merupakan salah satu sarana yang biasanya atau sering digunakan untuk mengidentifikasi sekolah yang efektif. yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan siswa lainnya. sehingga validitas penilaian ini akan bergantung pada tingkat akseptabilitas 15 . yang juga dites. kecamatan. Karena teknik reputasional ini menggunakan pendapat seorang pakar atau ahli. Tapi dua aspek atau kriteria awal yang harus dipenuhi agar sebuah sekolah dapat dikategorikan efektif adalah tujuan yang teridentifikasi secara jelas dan tujuan-tujuan tersebut telah dicapai oleh sekolah. Standardised tests. dan juga dari perspektif bagaimana seorang peneliti dapat mengidentifikasi sekolah-sekolah yang efektif untuk studi lebih lanjut. yaitu di mana orang-orang yang memiliki skill dan knowledgeable tentang sejumlah sekolah ditanyakan mengenai perkembangan dan kapabilitas suatu sekolah. atau mungkin antar beberapa sekolah saja. karena kriteria efektivitas ini memuat banyak aspek yang belum tentu keseluruhannya dapat dipenuhi oleh suatu sekolah. Pendekatan reputasional (reputational approach). Atau dapat dikatakan bahwa adalah sangat sulit bagi suatu sekolah untuk memenuhi seluruh kriteria efektif. 2. pada suatu kelompok tertentu. yang antara lain adalah: 1. relasi sekolah-rumah yang baik. misalnya untuk level kota. Adalah relatif sulit untuk menentukan apakah suatu sekolah sudah efektif atau belum. Teknik reputasional ini dapat dilihat dari perspektif bagaimana suatu sistem sekolah mengidentifikasi tingkat efektivitas suatu sekolah tertentu.

Ini akan menjadi permasalahan tersendiri yang harus diatasi oleh pendekatan reputasional ini. evaluasi dan pengembangan yang dilakukan sekolah. misalnya dengan mengoptimalkan peran lembaga seperti Dewan Pendidikan dan Dewan Sekolah atau Majelis Madrasah. jika metode ini digabungkan dengan salah satu atau kedua metode yang disebutkan sebelumnya. teknik ini adalah dengan menggunakan catatan-catatan yang dilakukan sekolah mengenai seluruh proses yang terjadi di sekolahnya. Tes ini ditujukan untuk mengetahui seberapa banyak materi yang mereka 16 . kehadiran dan kedisiplinan. misalnya mengenai catatan prestasi akademik. maka akan diperoleh gambaran sekolah yang lebih komprehensif. Teknik atau metode yang disebutkan di atas mungkin menjadi tidak berarti jika kita tidak memiliki kriteria yang jelas yang dapat dipakai untuk men-judge apakah suatu sekolah efektif atau tidak. Contoh penggunaan pendekatan value-added basis adalah dengan menguji setiap siswa pada beberapa mata pelajaran. Townsend (1994: 43-46) mengatakan bahwa terdapat dua pendekatan yang dapat dipakai untuk menyusun kriteria efektivitas. harus lah ada kriteria-kriteria yang dengan standard yang acceptable. adalah tidak hanya merupakan sebuah snapshot view mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sekolah tersebut pada waktu tertentu. yaitu value-added basis dan outcome basis. Townsend menyebutkan. dengan alasan subyektivitas tadi. Keikutsertaan masyarakat dalam proses identifikasi. tapi juga pandangannya akan bergantung pada informasi yang terkumpul dan tidak sempat diperoleh. tipe para guru dan kegiatan pengembangan staff. dan lain-lain. mungkin akan terdapat perbedaan pandangan mengenai tujuan sekolah antara pihak sekolah itu sendiri dengan si pakar yang merupakan orang lain. 4. Review. untuk dapat menerapkan teknikteknik tersebut di atas. Atau. Sebagai insider. baik dari awal masuk sekolah dan sebelum mereka tamat atau menyelesaikan studinya di sekolah tersebut. Selain itu. tentunya orang yang mencatat atau mendokumentasikan akan lebih banyak tahu tentang bagaimana dan apa yang terjadi di sekolah. Perspektif outsider yang mengunjungi sekolah. 3.empu-inst@Mataram kriteria-kriteria sekolah efektif yang digunakannya.

siswa tidak hanya diuji atau diukur kemampuan kognitifnya saja. The goals of school effectiveness and school improvement.). 17 .). I. Tapi dibandingkan pendekatan kriteria yang satunya. Dalam David R. Making good schools: linking school effectiveness and school improvement (pp. J. & Nijs L. McMurrin (Eds. 91-107).. et al. (1989). (Eds. & Thomas. (1996). Dalam Marvin Bower & Sterling M. invention. and research in the advancement of education. (1996). London: Routledge. Making good schools: linking school effectiveness and school improvement (pp. A. Hasil tes ini kemudian dinilai berdasarkan harapan (expectation) atas jumlah materi yang seharusnya dipelajari oleh para siswa tersebut. (Eds. et al. pendekatan value-added basis ini lebih banyak diterima dan diterapkan dalam praktek identifikasi sekolah yang efektif. & Nijs L. tapi lebih komprehensif karena juga mencakup aspek psikomotorik dan afektif. The school effectiveness knowledge base. ---------------. Dalam David R. School effectiveness and school improvement: the intelectual and policy context. & Nijs L. Dalam pendekatan outcome basis. Dalam David R. 36-58). Jika hasil tes menunjukkan bahwa lebih banyak siswa yang dapat memenuhi harapan yang telah ditentukan sebelumnya. yaitu pendekatan outcome basis. (Eds. Goodlad. Massachusetts: Allyn & Bacon.).. 21-35). London: Routledge. Creemers. M. B. Effective schools and effective teachers. London: Routledge. G. Davis.. 1-20). New York: Committee for Economic Development. (1969). Thought. The schools and the challange of innovation (pp..). (1996).empu-inst@Mataram telah pelajari pada waktu sekolah.. Pendekatan value-added basis tersebut mungkin memiliki kelemahan. Making good schools: linking school effectiveness and school improvement (pp.. maka sekolah dianggap telah efektif dalam tugas menyelenggarakan pendidikan. et al. R. REFERENSI Bollen. karena hanya terfokus pada ranah kognitif atau kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal tes kognitif. A.

D. Effective schooling for the community: core-plus education. (2000). 9-19). Oxford advanced learner‟s dictionary of current English. D.). London: Routledge. Governmental cooperation to improve efficiency in education. 18 . School effectiveness research: its messages for school improvement (pp. (1993). Dalam David R. London: Routledge. S. The problems and possibilities of educational evaluation. Tyler. McMurrin (Eds. London: Oxford University Press. Pengaruh input sekolah terhadap outcome sekolah.). School effectiveness research: its messages for school improvement (pp. W. New York: Committee for Economic Development. Dalam Marvin Bower & Sterling M. G. 76-90). Riddell. A.. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD). S.. 1-7). Merging school effectiveness and school improvement. Thomas. Mortimore. McMurrin (Eds. (Agustus 2000). halaman 358-368. Liverpool: The Open University & Paul Chapman. di Madrasah Aliyah Negeri 3 Yogyakarta. 30-56). Scotlandia: Education Departement. Managing the effective school. 94112).). The schools and the challange of innovation (pp. Dalam Sheila Riddel & Sally Brown (Eds. (1991). et al. (1994). Makalah disajikan dalam lokakarya intern tanggal 19 Agustus 2000. Squires.. New York: Committee for Economic Development. J. & Stoll. Dalam Sheila Riddell & Sally Brown (Eds..). K. J. S.. Sumarno. Dalam Marvin Bower & Sterling M. R. The schools and the challange of innovation (pp. Dalam Jurnal pendidikan dan kebudayaan No. Preedy. T. Scotlandia: Education Departement The Scottish Office. & Nijs L. A. (1995). dan manajemen perubahan menuju madrasah unggulan. (1996). P. Effective schools and classrooms: a research-based perspective. (1969). W. M. syarat. Huitt. Townsend. (1969). (Eds. (1983). Koster.). L. survai di SLTP Negeri DKI Jakarta. School effectiveness: establishing the link with research. & Brown.empu-inst@Mataram Hornby. Sifat. Reynolds. 025.. W. The Nature and findings of research on school effectiveness in primary sector. (1991). & Segars. A. Making good schools: linking school effectiveness and school improvement (pp. 5th ed.