P. 1
Manajemen Akut Pasien Stroke

Manajemen Akut Pasien Stroke

|Views: 103|Likes:

More info:

Published by: Nanik Herlina Hefni Puteri on Aug 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

MANAJEMEN AKUT PADA STROKE

Referat
Oleh: Fransiska A. Sihotang Pembimbing: dr. Yetty Hutahaean, Sp.S

PENDAHULUAN

Latar belakang

Penyakit serebrovaskuler jantung koroner dan stroke  urutan ke-2 penyebab kematian di dunia. Di Amerika Serikat penyebab kematian nomor 3. Pengeluaran dana kesehatan yang besar  $62.7 juta (2007).

 

Di Indonesia (SKRT 1995)  3/1000 penduduk menderita stroke dan jantung iskemik.
Case fatality rate di Indonesia (1997) 23,3%.

 

Penanganan akut penderita stroke  penting untuk mencegah sekuele, perburukan keadaan, serta kematian  kompetensi dokter umum.

.Tujuan  Membahas manajemen akut pada pasien stroke.

TINJAUAN PUSTAKA .

.Definisi WHO (1980)  tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global). tanpa adanya penyebab selain vaskuler. dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih. dapat menyebabkan kematian.

000 kematian. Tingkat mortalitas (AS) adalah 50 – 100 per 100. Tingkat insidensi 100 – 300 per 100. Stroke iskemik 80%.Epidemiologi   Masalah kesehatan masyarakat utama Melibatkan hampir setengah juta orang/tahun dan 150.000 populasi.    . PSA 1/3 – ½ PIS. PIS 10-30%.000 populasi per tahun.

Klasifikasi Berdasarkan kelainan patologis a. Stroke hemoragik 1) Perdarahan intra serebral 2) Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid) b. Stroke non-hemoragik 1) Stroke akibat trombosis serebri 2) Emboli serebri 3) Hipoperfusi sistemik .

Faktor risiko Faktor risiko yang dapat dimodifikasi Usia Jenis kelamin (laki-laki) Ras/suku (kulit hitam Faktor genetik Hiperkoagulasi herediter* Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi Hipertensi Penyakit jantung (AF. MI baru yang besar. LVH) Diabetes melitus Merokok Konsumsi alkohol Dislipidemia Kurang aktifitas Stenosis arteri karotis Berat badan lebih dan obesitas Sindrom metabolik* Obstructive sleep apnea* Hiperhomosisteinemia* Peningkatan kadar lipoprotein dalam darah* . MS. endokarditis infeksiosa.

Evaluasi cepat dan diagnosis Anamnesis  Pemeriksaan fisik  Pemeriksaan neurologik dan skala stroke  NIHSS (National Institutes of Health Stroke Scale).Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di IGD a.  Pemeriksaan diagnostik  .

kiri b. kanan Respon dan Skor 0 – sadar penuh (alert) 1 – mengantuk (drowsy) 2 – obtunded 3 – koma (unresponsive) 0 – menjawab keduanya dengan benar 1 – menjawab salah satunya benar 2 – menjawab keduanya salah 0 – melakukan keduanya dengan benar 1 – melakukan salah satunya benar 2 – tidak dapat melakukan keduanya 0 – gerak horizontal normal 1 – paralisis parsial 2 – paralisis total 0 – tidak ada defek lapang pandang 1 – hemianopsia parsial 2 – hemianopsia total 3 – hemianopsia bilateral 0 – normal 1 – kelemahan wajah minor 2 – kelemahan wajah parsial 3 – paralisis unilateral total 0 – tidak melemah 1 – melemah sebelum 5 detik 2 – jatuh sebelum sepuluh detik 3 – tidak terdapat upaya melawan gravitasi 4 – tidak ada gerakan .Item 1A Judul Tingkat kesadaran 1B Pertanyaan yang bersifat orientasi (dua) Respon terhadap perintah (dua) 1C 2 Gerak bola mata 3 Lapang pandang 4 Gerakan wajah 5 Fungsi motorik (lengan) a.

kanan 7 Ataksia anggota gerak 8 Sensoris 9 Bahasa 10 Artikulasi 11 Ekstinksi atau inatensi 0 – tidak melemah 1 – melemah sebelum 5 detik 2 – jatuh sebelum sepuluh detik 3 – tidak terdapat upaya melawan gravitasi 4 – tidak ada gerakan 0 – tidak ada ataksia 1 – ataksia pada satu anggota gerak 2 – ataksia pada dua anggota gerak 0 – tidak ada defisit sensoris 1 – defisit sensoris ringan 2 – defisit sensoris berat 0 – normal 1 – afasia ringan 2 – afasia berat 3 – afasia global 0 – normal 1 – disartria ringan 2 – disartria berat 0 – tidak ada 1 – ringan (hilangnya 1 modalitas sensoris) 2 – berat (hilangnya 2 modalitas sensoris) .6 Fungsi motorik (tungkai) a. kiri b.

Apabila terdapat indikasi Ultrasonografi Duplex atau Doppler ekstrakranial dan transkranial MRA atau CTA MR difusi dan perfusi atau CT perfusi Echocardiography (transthorasik dan/atau transesofageal) Foto dada Pulse oxymetry dan analisis gas darah Pungsi lumbal Elektroensefalografi Skrining toksikologi . elektrolit. activated partial thromboplastin time.Pemeriksaan diagnostik Semua pasien Pencitraan otak: CT scan tanpa kontras atau MRI Elektrokardiografi Pemeriksaan laboratorium: hitung darah lengkap (termasuk hitung platelet). tes fungsi ginjal dan hepar. prothrombin time atau international normalized ratio (INR). C-reactive protein (CRP) atau laju endap darah. glukosa.

Terapi umum dan suportif  Stabilisasi jalan napas dan pernapasan  ETT pada pasien tidak sadar. bila sistol < 120 mmHg dan normovolemi diberikan vasopressor secara titrasi (target sistol 140 mmHg).  Pemeriksaan fisik awal  Tekanan darah. suplemen O2. bantuan ventilasi pada disfungsi bulbar. syok. hipoksia. pupil dan okulomotor.Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di IGD b. trakeostomi utk jangka panjang  Stabilisasi hemodinamik  Berikan cairan kristaloid atau koloid iv (hipotonik ). koreksi hipovolemia dan aritmia. risiko aspirasi. konsul kardiologi. pemeriksaan jantung. . pemeriksaan neurologi awal: tingkat kesadaran. derajat hemiparesis.

  Kortikosteroid tidak direkomendasikan Drainase ventrikuler. diulangi setiap 4 – 6 jam dengan target osmolalitas darah ≤ 310 mOsm/L (periksa 2 kali sehari) furosemide dosis inisial 1 mg/kgBB iv.50 gr/kgBB selama > 20 menit. Terapi umum dan suportif  Pengendalian TTIK       tinggikan posisi kepala 20 – 30° hindari penekanan pada vena jugularis hindari pemakaian glukosa atau cairan hipotonik hindari hipertermia jaga normovolemia osmoterapi atas indikasi:   manitol 0. kraniotomi dekompresif .25 – 0.Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di IGD b.

Acetaminofen 650 mg bila suhu > 38. Risiko terjadi infeksi  kultur dan hapusan (trakea.5°C.  Pengendalian suhu tubuh    .Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di IGD b. Terapi umum dan suportif  Pengendalian kejang    diazepam bolus lambat iv 5 – 10 mg  phenitoin loading dose 15 – 20 mg/kg bolus (kecepatan maksimum 50 mg/menit)  kejang  indikasi ICU. tidak dianjurkan pemberian antikonvulsan profilaktik pada stroke iskemik PIS dapat diberikan obat antiepilepsi profilaktik selama 1 bulan dan kemudian diturunkan dan dihentikan bila tidak ada kejang. diberikan antibiotika. darah dan urin). Stroke + febris  antipiretika dan diatasi penyebabnya.

hematologi. analisa gas darah dan elektrolit.Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di IGD b. kadar gula darah. CT scan. Bila ada kecurigaan PSA  pungsi lumbal Pemeriksaan radiologi: rontgen dada. fungsi ginjal. faal hemostasis. . Terapi umum dan suportif  Pemeriksaan penunjang     EKG Laboratorium: kimia darah. analisa urin.

balans cairan Kebutuhan cairan 30 ml/kgBB/hari (parenteral maupun enteral). Nutrisi   c. DVT Mobilisasi terbatas b. pneumonia. normovolemi. Cairan   Cairan isotonis. Mencegah dan mengatasi komplikasi   . Ulkus dekubitus. Nutrisi enteral paling lambat harus diberikan dalam 48 jam Bila terdapat gangguan menelan atau kesadaran menurun  NGT.Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di ruang rawat a.

Lain-lain         Hiperglikemia  normoglikemia.Manajemen akut stroke Penatalaksanaan di ruang rawat d. . Minor dan mayor tranquilizer Analgesik dan anti emetiksesuai indikasi. Berikan H2 antagonis Mobilisasi bertahap Rehabilitasi Edukasi keluarga Discharge planning (rencana pengelolaan pasien di luar rumah sakit).

Kegawatdarurata n Peningkatan tekanan darah .

. Obat-obatan intravena untuk terapi hipertensi emergensi pada stroke Obat Labetolol Dosis 20-80 mg iv bolus setiap 10 menit atau 2 mg/menit infus kontinyu. vomitus. tidak sensitif terhadap cahaya. vasodilatasi perifer dengan tanpa menurunkan aktivitas pompa jantung. Mula kerja 5-10 menit Nikardipin 5-15 menit Nausea. blok atau gagal jantung. Krisis hipertensi. Diltiazem 5-40 µg/kg/menit infus kontinyu. denyut prematur atrium. kecuali pada gagal jantung akut.Tabel 4. hipotensi. Sepanjang Takikardi. infus berjalan Lama kerja 3-6 jam Efek samping Keterangan Terutama untuk kegawatdaruratan hipertensi. 5-10 menit 4 jam Blok nodus AV. 5-15 mg/jam infus kontinyu. kerusakan hati. bronkospasme. terutama usia lanjut. Larut dalam air.

pusing. muka merah Hiperkalemia.1-0. Obat-obatan oral untuk terapi hipertensi urgensi pada stroke Jenis Obat Nifedipin Rute Mula kerja Lama kerja 3-6 jam 3-6 jam Dosis dewasa 10 mg 10 mg Frekuensi Pemberian 6 jam 20-30 menit Efek samping Hipotensi.Tabel 5. weakness Oral Bukal 15-20 menit 5-10 menit Captopril Oral SL 15-30 menit 5 menit 4-6 jam 2-3 jam 6. nyeri kepala.25-25 mg 6. insufisiensi ginjal. fatigue.2 mg 1-2 mg 12 jam 8 jam . takikardia. hipotensi dosis awal Sedasi Sakit kepala.26-25 mg 30 menit 30 menit Clonidin Prazosin Oral Oral 30 menit 15-30 menit 8-12 jam 8 jam 0. drowsiness.

.Kegawatdaruratan Penurunan tekanan darah    Pastikan tekanan darah penderita rendah. Pemberian dopamin drip diawali dengan dosis kecil dan dipertahankan pada tekanan darah optimal (sistol 140 mmHg). yaitu sistolik < 120 mmHg Penggunaan obat-obat vasoaktif dapat diberikan dalam bentuk infus dan disesuaikan dengan efek samping yang akan ditimbulkan seperti takikardia.

. Tujuannya: glukosa darah < 140 mg/dl  pemeriksaan berulang dan pemberian insulin subkutan. Jadwal evaluasi kadar glukosa darah sangat bervariasi dan harus disesuaikan dengan kebutuhan penderita. Glukosa > 200 mg/dl 2 kali pemeriksaan  insulin intravena kontinyu.Kegawatdaruratan Hiperglikemia     Indikasi pemberian insulin: stroke dengan DM tipe 1 dan 2.

Sliding scale untuk pemberian insulin reguler Kadar glukosa darah (mg/dl) 150 .300 301 .400 Dosis insulin subkutan (IU) 2 4 6 8 10 .250 251 .200 201 . Jadwal evaluasi kadar glukosa darah Jenis diet Puasa (nothing mouth) Diet per oral Diet NGT atau TPN Frekuensi pemeriksaan by Setiap 6 jam Setiap 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur Setiap 3 jam Tabel 7.Tabel 6.350 351 .

Sumber glukosa kontinyu (enteral maupun parenteral).  Tabel 8.399 8 > 400 10 .249 4 250 .299 6 300 . Pemberian insulin intravena Kadar glukosa darah (mg/dl) Dosis insulin intravena (IU) 200.Kegawatdaruratan Hiperglikemia  Apabila kadar glukosa darah > 200 mg/dl dalam 2 kali pengukuran berturut-turut  insulin intravena kontinyu. pemantauan glukosa darah/jam.

 Periksa ulang glukosa darah setiap 20 menit dan berikan D 50% ½ ampul apabila glukosa darah < 60 mg/dl.Kegawatdaruratan Hipoglikemia  Apabila terjadi hipoglikemia (glukosa darah < 60 mg/dl) hentikan pemberian drip insulin dan berikan D50% sebanyak 25 ml atau setengah ampul (pasien sadar) dan 50 ml atau 1 ampul (pasien tidak sadar). .

volume ≥ 50 cm3 memburuk . antikoagulan hr 714  Operatif:   (-) : volume < 10 cm3. hidrosefalus akut. defisit neurologis minimal. kelainan anatomis dgn survival tinggi dan accessible. Stroke iskemik  ASA dosis awal 325 mg dalam 24-48 jam sejak onset  Antikoagulan tidak direkomendasikan  Tidak ada rekomendasi mengenai penggunaan neuroprotektan  Trombolisis dengan r-TPA dalam waktu 3 jam setelah onset b.Penatalaksanaan khusus a. kompresi brain stem. GCS ≤ 4 (+) : perdarahan serebelar Ø > 3cm. PIS  Medis: r-F VIIa dalam waktu 3 jam post onset.

. PSA  Antifibrinolitik (mencegah rebleeding) untuk pasien tertentu (risiko vasopasme)  asam traneksamat 6-12 gram/hr  Antikonvulsan rutin tidak dianjurkan.Penatalaksanaan khusus c.

TERIMA KASIH  .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->