BAGIAN 1 KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI

Diskripsi Mata Kuliah Memberikan gambaran dan dasar-dasar pengertian serta pola pikir yang logis sehubungan dengan barisan dan deret bilangan yang tersusun secara teratur dengan perubahan-perubahannya yang tertentu. Selanjutnya memberikan tuntunan dalam menggunakan rumus-rumus yang telah diperoleh untuk menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui dari baris dan deret yang ada, seperti menghitung kesamaan suatu nilai dari dua beris atau deret yang diketahui, mencari perubahan dari suatu baris atau suatu deret. Tutjuan Khusus Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret tersebut dalam menghitung perasalahan-perasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya masalah perkembangan usaha sejauh mana pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjam-meminjam, investasi jangkan panjang yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan menghitung pertumbuhan penduduk di suatu daerah serta jumlah penduduknya pada suatu waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET 1. Pengertian Baris Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun secara teratur dengan suatu pola perubahan tertentu dari satu suku ke suku berikutnya. Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah suku yang membentuknya, dibedakan menjadi : 1. Baris berhingga 2. Baris tak berhingga Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi 1. Baris Hitung 2. Baris Ukur 3. Baris Harmoni 2. Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari selisih antara sutu suku ke suku sebelumnya. Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2 S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4 S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6 S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 = 8 Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di peroleh rumus : Sn = a + ( n – 1 ) b. Dimana a = suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diberikan suku ke tiga dan suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan 170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris hitung tersebut. 1

S3 = a + ( n – 1 ) b = 150 = a + 2b S7 = a + (n – 1 ) b = 170 = a + 6b - 20 = - 4b b = -20 / -4 = 5 150 = a + 2b  150 = a + 2.5  150 = a + 10 a = 150 – 10  a = 140 S10 = a + (n – 1) b = 140 + (10 -1) 5  140 + 45 = 185 3. Deret Hitung Deret hitung yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan dimana suku pertamannya sama dengan suku pertama baris hitungnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris hitungnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris hitungnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris hitung di atas) Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ..... Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ... D1 = 2, D2 = 2 + 4 = 6, D3 = 2 + 4 + 6 = 12 D4 = 2 + 4 + 6 + 8 = 20 Dst dimana Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n – 1 ) b} Contoh Soal : Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama yang bernilai 140. Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ? Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?. a = 140, b = 5 S10 = 140 + ( 10 – 1 ) 5 = 140 + 45 = 185 D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 – 1 ) 5 ) = 5/2 ( 280 + 20 ) = 5/2 ( 300 ) = 750 4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari perbandingan antara satu suku sengan suku sebelumnya Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn S1 (suku pertama) = 2 S2 (suku kedua) = 6 S3 (suku ketiga) = 18 S4 (suku keempat) = 54 S5 (suku kelima) = 162 Sn (suku ke n) = dst. Pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan perbesarannya adalah perbandingan atara dua suku yang berurutan dengan suku berikutnya, sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54. maka r = 3. S1 (suku pertama) = a = 2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6 S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18 S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54 S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.8 = 162 Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n diperoleh rumus Sn = ar n-1

2

5. Deret Ukur Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan di mana suku pertamanya sama dengan suku pertama baris ukurnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris ukur di atas) Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, ....... maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, ..... D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26 Dst. Dn dapat dirumuskan :

Dn

a 1 rn ,r 1 1 r

atau

Dn

a rn 1 ,r 1 1 r

Contoh Soal : Sebuah baris ukur mempunyai suku pertama yang bernilai 20. Ratio antar sukunya 2. Hitunglah suku ke-6nya ! Berapa jumlah lima suku pertamanya. a = 20, r = 2 S6 = arn-1 = 20. 26-1 = 20. 25 = 20. 32 = 640 20 2 6 1 20.63 = = 1260 D6 2 1 1 B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET DALAM EKONOMI 1. Perkembangan Usaha Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh usaha-usaha yang pertubuhannya konstan dari waktu ke waktu mengikuti perubahan baris hitung. Contoh Soal 1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga ditingkatkan. Akibatnya, perusahaan tersebut mampu menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya. Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama produksinya ? Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12. S12 = a + (n – 1) b = 5.000 + (12 – 1) 300 = 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300 Jadi pada bulan ke 2 perusahaan tersebut dapat menghasilkan 8.300 buah keramik. Jumlah keraik yang dihasilkan dalam satu tahun pertama. D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300) = 6 (13.300) = 79.800 2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk) Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya diasumsikan tetap dari waktu ke waktu. Misalkan suatu modal sebesar P 0‟ akan dibungakan per-satu tahun selama jangka waktu n tahun. Tingkat suku bunga yang berlaku yang berlaku adalah r % per-tahun, diasumsikan tetap dari tahun ke tahun selama n tahun. Sehingga menghitung modal awal tahun ke-n yang diperoleh melalui pembungaan setiap satu tahun dapat dirumuskan Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan datang) Po = Modal saat sekarang, saat t = 0 r = Tingkat suku bungan per-tahun 3

000. Pabrik rokok “Kurang Garam” menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama berdirinya. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.000 (1.( 1 + i )n Di mana Pn = populasi penduduk pada tahun basis (tahun ke-1) P0 = populasi penduduk pada tahun ke. Pembungaan depositonya setahun sekali dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun. 4.000 (1 + 0.000 botol kecap pada tahun ke-6 operasinya.( 1 + i )n = 100.000 ( 1. 3. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah jumlah lima suku pertammanya ? 2.04 )10 = 100. Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3. Pabrik kecap “Nambewan” memproduksi 24. Periode waktu : 2005 -1995 = 10 tahun Pn = P0. Beda antar suku 15.000.000 ( 1.04 )10 = 100. Karena persaingan keras dari kecap-kecap merek lain.000 (1 + 0.25 juta jiwa pada tahun 2008. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.000. produksinya terus menurus secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18. Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam besarnya 375. Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210.n = tahun ke m = periode per-tahun Contoh Soal : Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ? Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku pertamanya. Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan pertumbuhan penduduk.000 ( 1. dan 1. berapa persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya pada tahun 2015 ? Jawaban latihan soal.850.000 jiwa pada tahun 1995. sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus. a) Berapa botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?. Bantulah nasabah itu untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan diterima pada akhir tahun ke-5 ? Pn = P0 ( 1 + r )n = 10.2 = 10.48024) = 148.000 ( 1 + 0. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar.000.n i = persentase pertumbuhan penduduk per tahun & n = jumlah tahun Contoh soal : Penduduk suatu kota berjumlah 100.000 ( 1 + 0. Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan dengan pembungaan tiap tiga bulan. diperkirakan menjadi 4. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n. 5.5 jiwa pada tahun 2013.11 )5 = 10. berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2.11/2)5. Yang drumuskan : Pn = P0.000 botol. 5.m = 10.6 juta bungkus pada tahun ketujuh. 6.000.581.708144) 4 . a) Andaikata perkembangan produksinya konstan.000 (1.685058155) = 16.000.024 Latihan Soal 1.11 ) 5 = 10. tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.055)10 = 10. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005. penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur.5 juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia hasilkan sampai dengan tahun ke – 16 ?.55 3. Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp.

25 (1.m = 10.25 = (1 + i)5 1.58.58 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.31 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp. 17.13 Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun 205 sebanyak 5.444. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.25 (1 + i)2013-2008 4.25 (1 + i)5 4.5/3.73 % Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6.4 = 10.720428431) = 17.000.000.38461/5 .000.3.0275)20 = 10.000 (1 + 0.081.25 (1 + 6.444.284.0673 i = 6. P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008 = 3.1 i = 0.081.5 = 3.000 (1 + 0.5 = 3.11/4)5.284.000 (1.73 % Jumlah penduduk pada tahun 2015.13 juta.577632) = 5.73%)7 = 3. Daftar Pustaka : 5 . 17.38461/5 = 1 + i i = 1.3846 = (1 + i)5 1. 6.204.204. Jawab persentase pertumbuhan penduduk : Pn = P0 (1 + i)n 4.= 17.

bahkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Lebih jauh lagi berapa pendapatan minimum agar dapat menabung. Perilaku konsumen dicerminkan melalui fungsi permintaan.BAGIAN 2 KONSEP DASAR TEORI FUNGSI. Untuk mencari perpotongan dua fungsi yang linier digunakan metode eliminasi. koefisien. 2. 3.2. secara umum jika dikatakan bahwa y adalah fungsi dari x maka ditulis y = f(x). 4.Tujuan Khusus 1. Konstanta sifatnya tetap dan tidak terkait dengan suatu variabel apa pun. Keseimbangan pasar ini dapat bergeser sejajar akibat adanya capur tangan pemerintah dalam bentuk pajak maupun subsidi 2. 2. sedangkan perilaku produsen dicerminkan dengan fungsi penawaran. sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang diterangkan oleh variabel lain. Koevisien dan konstanta.1. Dalam suatu fungsi. TEORI FUNGSI DAN TEORI FUNGSI LINIER 1.1. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mmenghitung berapa produk yang sebaiknya diproduksi dan dijual oleh perusahaan agar perusahaan dapat menutup biaya-biaya tetapnya. Contoh : 1. sejajar atau bahkan berpotongan. Uraian Materi A. TEORI FUNGSI LINIER DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI 2. Yang dimaksud dengan variabel ialah unsur yang sifatnya berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Yang dimaksud dengan koefisien ialah bilangan atau angka yang diletakkan tepat di depan suatu variabel. Pertemuan antara keduanya merupakan titik keseimbangan pasar.2. terkait dengan variabel yang bersangkutan. Fungsi-fungsi yang bersifat linier tersebut dapat saling berhimpit. 3y = 4x – 8. Pengertian Fungsi Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. y = x ½ y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 6 .1. Diskripsi Mata Kuliah Memperkenalkan unsur-unsur fungsi ialah variabel bebas dan variabel terikat.1. PENYAJIAN 2 . y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 3 adalah koefisien ( terletak didepan variabel y) 4 adalah koefisien ( terletak didepan variabel x) -8 adalah konstanta 2. menutup totol biaya. substitusi atau dengan cara determinan. Penggolongan variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel bebas yaitu variabel yang menerangkan variabel lain.2. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat membantu menghitung berapa pendapatan nasional yang harus diperoleh suatu negara agar tidak mengalami defisit akibat konsumsi yang lebih besar dari pada pendapatan. dimana x adalah variabel bebas dan y adalah variabel terikat. dan konstanta.1 PENDAHUKUAN : 2. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel. Disebut Analisis Break-Even Analusis. Menggambarkan pendapatan nasional dapat menghitung melalui pendekatan pengeluaran yang linier. yang saling berkaitan satu sama lain dala hubungan yang dapat dijelaskan secara ateatis yaitu hubungan yang linier. Menggabarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mencerminkan perilaku baik perilaku konsumen maupun perilaku produsen.

+ anxn.. n bilangan bulat positif contoh :Y = (1+2x1 .. a0 = .. 8. a1= 0  a0 = . x variabel bebas a0 konstanta.. x = -2 x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2.+ anxn.3x2 Fungsi Kubik :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah tiga....3x2 + 4x3 +. Pengertian Fungsi Linier Fungsi linier adalah fungsih polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu : Y = a0 + a1x1 .4 Y = 0 + 2x Y=0–2x 7 . dimana y adalah variabel bebas dan x adalah variabel terikat. n bilangan riil negatif 3. 2...... 4. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + a3x4 Contoh :Y = 1 + 2x1 + 3x2 + 4x3 + 5x4 Fungsi Pangkat :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat suatu bilangan riil positif Bentuk umum : Y = xn .... a0 = + . atau nol a1 Koefisien...Y variabel terikat. a1 = . Y = a0 + a1x  Y = a0 – a1x  Y = a0 + 0... a1 = .+ 12x11)1/11 Fungsi Polinom : Fungsi yang memiliki banyak suku Bentuk umum : Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + . Jenis-jenis Fungsi Fungsi Irrasional : Fungsi yang memiliki Bentuk umum Y = n√ a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + .. Contoh : 1..x = .2x1 . a1 = 0  a0 = 0 ... 7.. Bentuk umum Y = a0 + a1x1 Contoh: Y = 1 + 2x1 Fungsi Kuadrat :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah dua. a1= +  a0 = + ... maka alternatif yang mungkin untuk fungsi linier : Y= a0 + a1x1 yaitu : misal a0 = 4 dan a1 = 2 1. a0 = + .x  Y = -a0 +a1x  Y = -a0 – a1x Y = -a0 + 0.Jika x adalah fungsi dari y maka ditulis x = f(y). a1= ... Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 Contoh : Y = 1 . n bilangan riil negatif Contoh :Y = x-2 . nilainya positif..4 + 2x Y=-4–2x Y = . atau nol. negatif.-12x11.4 + 0. a1 = +  a0 = .x Y = 0 +a1x  Y = 0 – a1x Y = 4 + 2x Y = 4 – 2x Y = 4 + 0. nilainya positif. 6.x = 4 Y = .. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 +a2x2 + a3x3 Contoh : Y = 1 + 2x1 – 3x2 + 4x3 Fungsi Bikuadrat:Fungsi polinom yang fariabel bebasnya memiliki pangkat paling tinngi adalah empat.3x2 + 4x3 +.bilangan bulat positif Contoh: Y = 1 + 2x1 .. negatif atau nol Untuk nilainya a0 dan a1 yang memungkinkan positif. a1 = + a0 = 0 .. n = 11 Fungsi Linier : Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu.. n bilangan riil positif Contoh :Y = x2 Fungsi Eksponen : Fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat suatu konstanta. Bentuk umum :Y = nx Contoh :Y = 2x Fungsi logaritma : Fungsi yang merupakan invers fungsi eksponen Bentuk umum Y = n log x Contoh :Y = 4 log x Fungsi Hiperbola :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat bilangan riil negatif Bentuk umum :Y = xn . 3. x = y-2 y adalah variabel bebas x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2.. 5. negatif.

Y = 4 titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.-4) (2.0) (0.4) (Y = 4) 4. Y = .-4) Y = -4 – 2x 6.4) dan (2.4) dan (2.. a0 = 0 .0) 5..x  Y = 0 + 0. Y = 4 – 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.4 – 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) 0 (0. a1 = 0 Y = 0 + 0. Y = 4 + 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.4) 0 (2..0) Y = 4 – 2x 3.x = 0 4. Y = .4) 1.4 titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) 0 (0.-4) Y = -4 8 .0) 0 2. Y = .4) dan (-2.0) (-2. Penggambaran Fungsi Linier Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk a 0 = 4 dan a1 = 2 Y = 4 + 2x (0.0) (-2.4) dan ( .9.4) 0 (0.4) 0 (0.4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.2.

0) (2. intersep 8/2 = 4 . maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ Contoh : Fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x .0) 8.7.0) dan (2.0) 2 (2.0) 5. intersep 4.4) 2 (0. intersep 2.4) Y = 0 + 2x (2. maka dan a1 = a1‟ untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ 9 . Berpotongan Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena Berpotongan.0) (0.. Y = 0 dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ contoh : Fungsi linier Pertama : Y = 4 + 2x . Sejajar Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x Karena sejajar. Berhimpit Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x karena berhimpit. Y = 0 –2x dua buah titik yang dibutuhk untuk menggambarkannya (0. gradien 4/2 = 2 2. intersep 4. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 +4x . Hubungan Dua Fungsi Linier Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu : Y = a 0 + a1 x dan fungsi linier yang kedua yaitu : Y‟ = a0‟ + a1‟ x. gradien 4 3.-4) Y = 0 – 2x -4 9.0) dan (2.0) dan (2.4) (0. gradien 2 Fungsi linier kedua : 2Y = 8 + 4x . Kedua Fungsi Linier tersebut berada dalam berbagai keadaan: 1. Y = 0 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.

Contoh : fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x.. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.. gradien – 4 4. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x... Titik Potong Linier Untuk fungsi linier yang saling berpotongan..4) 10 .2) 5. gradien – ¼ dan perpotongan pada titik (0. intersep 4. intersep 2 . maka untuk mencari titik potongnya dapat dilakukan dengan cara : 1.a1‟. Determinan Contoh : Carilah titik potong dari garis yang berpotongan yaitu 2 x + 3 y = 4 dan x + 2 y = 1 Jawab : 1. intersep 2. Substitusi 2. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x .. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x. intersep 2. maka a1 = a1‟ dan a1. intersep 2. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.1. Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟.Contoh : Fungsi linier pertama Y = 4 + 4x .. Eliminasi 3. gradien –1/4 6. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x . Cara Substitus 2x+3y=4 . intersep 2. gradien – 4 dan perpotongan pada titik (0.. = . a1‟ = -1 Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan berpotongan pada titik (0. maka a1 = a1‟ dan a1.... a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x .2) 6.. maka dan a1 = a1‟ Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan perpotongan pada titik (0.x = 1 – 2 y .. Berpotongan Y = a 0 + a 1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan..* x + 2 y = 1 . intersep 4.** memasukkan ** pada* 2x+3y=4 2 (1 – 2 y) + 3 y = 4 maka x=1–2y 2 (1) – 2 (2 y) + 3 y = 4 x = 1 – 2 (-2) 2–4y+3y=4 x = 1 – ( .. intersep 2 .

Cara Determinan 2x +3y=4 x+2y=1 | 4 3 | | 1 2 | (4)(2) – (1)(3) 8–3 5 x = -----------.= ----------------.3) dan (5.= ---.3) dan (5.7).Y1) Untuk mengetahui garis yang tepat melalui kedua titik tesebut dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = X – X1 Y2 – Y1 = X2 – X1 Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3. ataupun determinasi.2–y=4 -y = 4 – 2 -y = 2 y=-2 2. y1) dan B (x2. 7. substitusi.= ------. y2).3) dan (x2.= 5 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | | 2 4 | | 1 1 | (2)(1) – (1)(4) 2–4 -2 y = -----------.= -2 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | Baik dengan cara eliminasi. Penamaan Fungsi Linier 1.2) x + (.= ----------------.7) maka : Y–3 = x–3 7–3 = 5–3 Y–3 = x–3 4 2 Y – 3 = 4 / 2 ( x – 3) Y–3 = 2x–6 Y = 2x–6+3 Y = 2x–3 Jadi garis yang melalui titik (3.= ---. Jawab : misalkan (x1. Cara Eliminasi 2 x + 3 y = 4 (x 1) --- x + 2 y = 1 (x 2) --- maka x + 2 y x=1+4 x=5 2x+3y=4 2x+4y=2 _ -y=2 =1 =1 =1 =1+4 =5 y=-2 =1 x + 2 (.= ------.7) adalah Y = 2 x – 3 11 .y2) = (5.y1) = (3.Y2) A(X1. pasti akan diperoleh nilai yang sama. Gambar : B(X2.4) x–4 x x 3. Jika diketahui dua buah titik yaitu A (x1.

maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan.3) dengan kecondongan sebesar 5 Jawab : Misalkan (x1. Fungsi penerimaan. P = 30 . dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang diminta (fungsi linier). quantity demand). maka fungsi permintaan suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Sifat monoton turun : P‟ > P maka Qd‟ < Qd P” < P maka Qd” > Qd Contoh : 1.)= (3. m = ∆Y/∆x Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3. Akan tetapi.000 buah. Jika diketahui sebuah titik A (x1.2 Qd 2.000) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P . PENERAPAN DALAM BISNIS DAN TEORI EKONOMI MIKRO 2.000 per-buah. Keseimbangan pasar. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI 1. jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4.3) dan m = 5 Maka : Y – Y1 = m(x – x1) Y – 3 = 5 (x – 3) Y – 3 = 5x – 15 Y = 5x – 15 + 3 Y = 5x – 12 Jadi garis yang melalui titik (3.000.P2. Pengaruh pajak dan subsidi terhadap keseimbangan pasar. Penerapan fungsi linier dalam ekonomi mikro. Ditulis: P= f(Qd). yaitu : Fungsi permintaan.P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 12 . Pendahuluan Penerapan fungsi linier dalam bisnis dan teori ekonomi mikro. Fungsi biaya. dan ‘ break-even analsis ‘. price) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang diminta (Qd .5.P1.2. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang diminta (Qd) dan sumbu tegaknya harga barang yang bersangkutan (P). Suatu barang. 4.000 per-buah akan.000 buah. jika harga mengalami penurunan maka jumlah barang yang diminta akan mengalami peningkatan.y1) n 0 Untuk mengetahui garis yang tepat melalui titik tersebut dengan kecondongantertentu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = m (x – x1).laku sebanyak 3. Fungsi ini mencerminkan perilaku konsumen di pasar di mana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan. Jawab : Diketahui (Qd1. maka jumlah permintaan terhadap barang tersebut meningkat menjadi 6.) = (6. jika dijual seharga Rp 5. Bagaimana fungsi permintaanya ? Gambarkan fungsi permintaan tersebut pada Grafik Kartesius.y1) = (3. y1) dan gradiennya / kemiringannya m Gambar : A(x1.12 B. Qd = 15 – P Contoh Soal : 1. yaitu : fungsi pendapatan yang terdistribusi menjadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan fungsi pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan pengeluaran.000) dan (Qd2. Fungsi Permintaan Fungsi permintaan merupakan fungsi yang mencermintan hubungan antara variabel harga (P .3) dengan kemiringannya 5 adalah Y = 5x . Fungsi penawaran.000. Demikian sebaliknya.

000 -1/3 Qd + 6.000 P P = = = = = = Qd .500 P = -5 Qd + 2.500 + 40.250 akan menyebabkan jumlah permintaan mengalami penurunan sebanyak 250.1/3 Qd + 6.000 P = -5 Qd + 42. sebab : 1. apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.500 Gambar Fungsi Penawaran tersebut pada grafik Kartesius : 42.000 Qd . Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta Menjadikan : 13 .000 ) = -5 ( Qd – 500 ) P – 40.000 = -5 Qd + 2.3.000 -1/3 (Qd – 3.000 = 4.000 P – 5.000 – 5.500 P = .5.000 P .500 Jadi fungsi prmintaanya : P = .3.000 .250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – P1 ) = m (Qd – Qd1 ) dengan m = P / Qd = 1.3.000 . sebagaimana fungsi permintaannya dan gambarkan fungsi permintaanya dan gambarkan fungsi permintaan tersebut pada grafik kartesius Jawab : Diketahui ( P1 .000 .P .000 3.000 + 5.000) -1/3 Qd – 1/3 (.000 0 Qd= 18.5.5 Qd + 42.500 ) P – 40.250 / (.000 Contoh Soal : 2.5 Qd + 42.000 P – 5.000.000 P – 5.000 ) 3. Permintaan suatu barang sebanyak 500 Buah pada saat harganya 40. Qd = .500 0 Catatan : Gradien fungsi permintaan yang dinyatakan dengan rumus m=Δ P / Δ Qd nilainya Senantiasa negatif.000 6.000) -1/3 Qd + 1. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta : Menjadikan : M = Δ P = negatif = negatif atau ΔQd positif 2.000 = -5 Qd – ( 5 )( .000 Gambar Grafik Kartesiusnya ( P vs Qd ) : P 6000 P = .1.250 ) = -5 Maka ( P – 40. 500 ) dan p = 1.1.3.000 ( Qd – 3.000.250 .Qd1 ) = ( 40.

000 = 1/3 Qs + (1/3) (-3.M=Δ P = Δ Qd positif negatif = negatif 3. P = 120 + 4Qs 2.000 = Qs – 3. maka fungsi penawaran suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Contoh : 1. jika harga barang mengalami penurunan maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan.000. Suatu barang.000 6.Qs1) = (5. Apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.000) P – 5. maka jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen akan bertambah menjadi 6.000) P = 1/3 Qs – 1.000 P – 5.000 = Qs – 3.000 Jadi fungsi penawarannya adalah : P = 1/3 Qs + 4. jika harga lebih tinggi yaitu menjadi Rp 6. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang ditawarkan (fungsi linier).Qs2) = (6. bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius. Bagaimanakah fungsi penawarannya ? Gambarkan fungsi penawarannya tersebut pada Grafik Kartesius.000 P – 5.500 P = 5Qs – 2.000 P – 5.000 = 5Qs + (5)(-500) P – 40. Qs = -40 + ¼ P 3.000 Gambar Grafik Kartesiusnya (P vs Qs) : Contoh Soal : 2.000 P = 5Qs + 37.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebanyak 250. 6.000) 3.000 1.500 + 40. ∆Qs = 250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – Pı ) = m (Qs – Qsı) dengan m = ∆P / ∆Qs = 1250 / 250 =5 maka (P – 40. Jawab : Diketahui (Pı.000. 500) dan ∆P = 1.000) dan (P2.000 = 5Qs – 2.000 + 5.000 per buah maka produsen akan menawarkan sebanyak 3.000 = 1/3 (Qs – 3.000. ¼ P = 8Qs + 125 Contoh Soal : 1. Fungsi ini mencerminkan perilaku produsen dipasar dimana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan.Qsı) = (40.000) Fungsi penawarannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qs – Qs1 P2 – P1 Qs2 – Qs1 P – 5. 3. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dan sumbu tegaknya harga barang bersangkutan (P).000 (Qs – 3. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harganya 40.000 buah.000 – 5. Ditulis : P = f ( Qs ).500 14 . Fungsi Penawaran Fungsi penawaran merupakan fungsi yang mencerminkan hubungan antara variabel harga ( P : price ) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang ditawarkan ( Qd : Quantity Supply ). maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami peningkatan. Jawab : Diketahui (P1.000 buah. Akan tetapi.000 per-buah. harga dipasarnya Rp 5.000 6.000 P = 1/3 Qs + 4.000 3.000 = 1.000) = 5(Qs – 500) P – 40.000 – 3.000. Demikian sebaliknya.250.

Qs1) = (6. Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar atau ‘Eqiullibrium’ adalah suatu kondisi dimana keseimbangan harga (Pe) tercapai Jumlah barang yang diminta = Jummlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Atau Keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan Pe ›› P = P Fungsi permintaan dan fungsi penawaran pada sebuah grafik Kartesius dengan keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan Kuantitasnya (Qe). Untuk suatu barang. Pada harga Rp 5. ∆Qs = 20 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : (P – P1) = m (Qs – Qs1) 15 . menjadikan : m = ∆ P = negatif = positif atau ∆Qs positif 1. dan setiap kenaikan harga sebanyak Rp 2.000 jumlah permintaannya berkurang menjadi 10 buah. pada harga Rp 6. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan. Bagaimanakah fungsi permintaan dan fungsi penawaran barang tersebut ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah Grafik Kartesius.000.500 37. digambarkan sebagai berikut : P P = f (Qs) Pe P = f(Qd) 0 Qe Qd Contoh Soal : 1.500 0 Qs Catatan : Gradien fungsi penawaran yang dinyatakan dengan rumus: m = ∆ P nilainya senatiasa positif.30) dan ∆P = 2000.000 maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat sebanyak 20.Jadi fungsi penawarannya : P = 5Qs + 37. menjadikan : m = ∆ P = positif = positif] ∆Qd positif 4. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan.000 pengusaha menawarkan barang tersebut sebanyak 30 buah.500 Gambar fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius : P P = 5Qs + 37. sebab : ΔQs 1. Jawab : Mencari fungsi penawaran : Diketahui (P1.000 jumlah pemintaan barang tersebut sebanyak 20 buah dan untuk kenaikan harga menjadi Rp 10.

000 Jadi keseimbangan harga tercapai pada harga Rp 5.000 600 Qe = 20 Jadi keseimbangan kuantitas tercapai pada 20 unit barang.000 atau Pe = 100Qe + 3.000 Keseimbangan Kuantitas (Q) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan -500Q + 15.000 10 – 20 P – 5.000 3000 0 P = -500 Qd + 15.000 Pe = 5.000 = 600Q Qe = 12.000 + 5.000 Mencari fungsi permintaan : Diketahui (P1.000 = Qd – 20 5000 -10 P – 5.000 Pe = -500 (20) + 15.000 = 100Q + 500Q 12.000 = -500Qd + (-500) (-20) P – 5.Qd2) = (10.dengan m = ∆P / ∆Qs = 2000 / 20 = 100 maka (P – 6.000 + 3.000 = -500(Qd – 20) P – 5.000 P = 100Qs + 3.000. Qs 2.20) dan (P2. Untuk Keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe = -500 Qe + 15.000 Grafiknya digambarkan sebagai berikut : P P = 100 Qs + 3.000 P = 100Qs – 3.000 = 100Qs + (100)(-30) P – 6.000 + 6.000 Pe = -10.000 P = -500Qd + 15.000 = 5.000.000 + 15.000 Pe = 2.000 15.Qd1) = (5.000 Pe = 5.000 = 100Qs – 3. Fungsi permintaan dan fungsi penawaran suatu barang diberikan sebagai berikut : Qd = 11P dan Qs = -4 +2P Dimanakah keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah grafik kartesius.000 P = -500Qd + 10.000 Jadi fungsi penawarannya : P = 100Qs + 3.000 Qe = 20 Qd.000 Pe = 5. 16 .000 – 5.000 = -500Qd + 10.000 – 3.000) = 100 (Qs – 30) P – 6.000 = 100Q + 3.000 Pe =100(20) + 3.000 (Qd – 20) -10 P – 5.000 = Qd – 20 10.10) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 P – 5.000 Jadi fungsi permintaannya adalah : P = -500 Qd + 15.

(vii). (iv). Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah mengenakan pajak penjualan kepada para produsen. Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada pajak. (i). Berapa total pajak yang diterima pemerintah. (iii). Pajak penjualan tersebut dinyatakan dengan : tarif pajak (t) = satuan unit uang / satuan unit barang.P P 5. Pengaruh pajak terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = f(Qd) P = f(Qs) Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t) P = f(Qd) P = f(Qs) + t Contoh Soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. (v). Arsirlah total pajak masing-masing pada gambar di atas. Kepada produsen tersebut. Gambarkan perubahan akibat pajak tersebut. Berapa tarif pajak yang ditanggung produsen. pemerintah mengenakan pajak dengan terif pajak sebesar t = 3 / unit barang. (vi). 17 . Berapa tarif pajak yang ditanggung konsumen. Sehingga keseimbangan kuantitasnya (Qe) dapat dicari : Qe = 11 – P atau Qe = . Berapa total pajak yang ditanggung konsumen. (ii).4 + 2P Qe = 11 – 5 Qe = -4 + 2(5) Qe = 6 Qe = -4 + 10 Qe = 6 Jadi keseimbangan kuantitas di pasar tercapai pada jumlah 6 Grafik digambarkan sebagai berikut : Qd.Jawab : Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs 11 – P = -4 + 2P 11 + 4 = 3P + P 15 = 3P Pe = 5 Jadi keseimbangan harga di pasar tercapai pada harga 5. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut : Qd = 11 – P dan Qs = -4 + 2P. (viii). Qs Qs = -4 + 2P 11 Qe = 6 0 2 -4 Pe = 5 Qd = 11 . Berapa total pajak yang ditanggung produsen.

Qs pada sumbu datar maka kita harus melakukan perubahan sebagai berikut : Fungsi permintaan : Qd = 11 – P atau P = 11 – Qd Fungsi penawaran : Qs = -4 + 2P atau Qs + 4 = 2P Maka P = ½ Qs + 4/2 P = ½ Qs + 2 Gambarnya menjadi : P P = ½ Qs +2 Pe = 5 2P = 11 . Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainya. Akan tetapi. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum dikenakan pajak maupun yang sesudah kena pajak ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2.Qd P = ½ Qs + 2 + t P = ½ Qs + 2 + 3 P = ½ Qs + 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Untuk keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe‟ = 11 – Qe‟ atau Pe‟ = 1/2Qe‟ + 5 Pe‟ = 11 – 4 Pe‟ = 1/2(4) + 5 Pe‟ = 7 Pe‟ = 2 + 5 Pe‟ = 7 Jadi keseimbangan harga setelah kena pajak tercapai pada harga 7 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya pajak) yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran.Qd 0 Qe = 6 Qd.Qs Akibat dikenakan pajak. maka Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = 11 . Akibat adanya pajak maka fungsi penawaran mengalami perubahan.Qd P = ½ Qs + 2 Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t)) P = 11 . Grafiknya digambarkan sebagai berikut : Jika hendak digambarkan dengan fungsi P sebagai fungsi tegak dan fungsi Qd. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki 18 . Dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah dikenakan pajak Keseimbangan kuantitas (Qe‟) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe‟ = ½ Qe‟ + 5 11 – 5 = ½ Qe‟ + Qe‟ 6 = 3/2 Qe‟  12 = 3 Qe‟  Qe‟ = 4 Jadi keseimbangan kuantitas setelah kena pajak tercapai pada 4 unit barang. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5.Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dikenakan pajak.

gradien yang sama tetapi intersepnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. 19 . Akan tetapi. maka jika digambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. fungsi penawaran sebelum ada pajak. ii) Gambarkan perubahan akibat subsidi tersebut. serta keseimbangan harga dan kuantitas sebelum ada pajak digambarkan di bawah ini : P Pe = 7 Pe = 5 E“ E P = ½ Qs + 5 P = ½ Qs + 2 0 Qe‟ = 4 Qe = 6 Qd. Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah memberikan subsidi kepada para produsen.4 + 2 P kepada produsen tersebut. Keseimbangan kuantitas setelah ada pajak lebih rendah dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak : Qe‟ = 4 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe‟ < Qe Tarif pajak yang dikenakan oleh pemerintah kepda produsen t = 3/unit. viii) Arsirlah total subsidi masing-masing pada gambar di atas. pemerintah memberikan subsidi dengan tarif subsidi dengan tarif subsidi sebesar s = 1 / unit barang. Beban tarif pajak yang dibebankan oleh produsen kepada konsumen terasakan oleh adanya kenaikan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe‟ = 7. fungsi penawaran sebelum kena pajak dan fungsi penawaran setelah kena pajak digambarkan bersama-sama dalam sebuah Grafik Kartesius. v) Berapa total subsidi yang diberikan pemerintah. Subsidi tersebut dinyatakan dengan : tarif subsidi (s) = satuan unit uang / satuan unit barang. i) Carilah keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sesudah ada subsidi. Fungsi permintaan. vii) Berapa total subsidi yang dinikmati produsen. iv) Berapa tarif subsidi yang di terima produsen. sedangkan yang ditanggung produsen berarti tinggal sisanya. dan fungsi penawaran setelah ada pajak. vi) Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen. Tarif pajak dan Total Pajak : 6. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut :Qd = 11 – P dan Qs = . iii) Berapa tarif subsidi yang diterima konsumen.Qs Keterangan gambar : E : keseimbangan sebelum ada pajak Qe : keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak Pe : keseimbangan harga sebelum ada pajak E‟ : keseimbangan setelah ada pajak Qe‟ : keseimbangan kuantitas setelah ada pajak Pe‟ : keseimbangan harga setelah ada pajak Adanya pengenaan pajak dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. produsen tidak mau menaggungnya sendiri. Keseimbangan harga setelah ada pajak lebih tinggi dari pada keseimbangan harga sebelum ada pajak : Pe‟ = 7 sedangkan Pe = 5. maka fungsi permintaan. Agar perubahannya terlihat jelas. Pengaruh subsidi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Contoh soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Sebagian dari pajak tersebut dibebankannya kepada konsumen. Maka : Pe‟ > Pe 2.

tidak demikian dengan fungsi penawaran.Qs 20 . P Pe = 5 Pe = 4. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada subsidi Keseimbangan kuantitas (Qe’) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe’ = ½ Qe’ + 1 11 – 1 = ½ Qe’ + Qe’ 10 = 3/2 Qe’ 20 = 3 Qe’ Qe’ = 6. maka dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum ada subsidi maupun yang sudah ada subsidi ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½ . Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainnya. yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran.Keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sebelum dikenakan subsidi. Agar perubahannya terlihat dengan jelas.67 Keterangan gambar E : Keseimbangan sebelum ada subsidi Qe : Keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi Pe : Keseimbangan harga sebelum ada subsidi E’ : Keseimbangan setelah ada subsidi Qe’: Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi Pe’ : Keseimbangan harga setelah ada subsidi Qd. Akibat adanya subsidi maka fungsi penawaran mengalami perubahan. Akan tetapi. 67 Pe’ = 1 / 2 (6.33 Jadi keseimbangan harga setelah ada subsidi tercapai pada harga 4. 67 unit barang Untuk keseimbangan harga (Pe’) diperoleh dengan cara : Pe’ = 11 – Qe’ atau Pe’ = 1 / 2 Qe’ + 1 Pe’ = 11 – 6. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki gradien yang sama tetapi intersepnya masing. maka fungsi permintaan.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. fungsi penawaran sebelum kena subsidi dan fungsi penawaran setelah kena subsidi digambarkan bersama sama dalam sebuah Grafik Kartesius. Akibat dikenakan subsidi. 33 Pe’ = 3.33 + 1 Pe’ = 4.masing berbeda satu sama lainya. maka jika di gambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar.33 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya subsidi). Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1. 67 Jadi keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi tercapai pada 6. 67) + 1 Pe’ = 4. Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1. perubaha tersebut mengakibatkan terjadinya pengeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2.

Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan tersebut dengan Grafik. Fungsi penerimaan merupakan fungsi dari Output : R = f (Q) dengan Q : jumlah produk yang laku terjual. P Pe = 5 Pe = 4. produsen tidak menikmatinya sendiri.000 Q 21 P : Harga jual per unit dan Q : jumlah produk yang dijual . Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi lebih tinggi dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi : Qe’ = 6.33. Fungsi penerimaan merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi dan laku terjual. S : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang diberikan pemerintah.67 Qd. : merupakan penjumlahan antara luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati produsen dengan luas aera yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati konsumen S = Sk + Sp 7.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6.000 per unit barang.Qs Gambar yang menunjukan total subsidi. Keterangan gambar : Sp : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsisi yang dinikmati produsen. Maka : Pe’ < Pe 2. Fungsi Penerimaan Fungsi penerimaan disebut juga fungsi pendapatan atau fungsi hasil penjualan. sedangkan yang diterima produsen berarti tinggal sisanya. Sebagian dari subsidi tersebut diberikannya kepada konsumen. Keseimbangan harga setelah ada subsidi lebih rendah dari pada keseimbangan harga selum ada subsidi : Pe’ = 4. Jawab : R=PxQ R = 5. Dilambangkan dengan R (Revenue) atau TR (total revenue). Akan tetapi. Jika P adalah harga jaul per unit. Sk : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmatikonsumen.67 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe’ > Qe Tarif subsidi yang dikenakan oleh pemerintah kepada produsen s = 1 / unit.Adanya pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1.33 sedangkan Pe = 5 . maka : R = P x Q dengan Contoh : Misalkan suatu produk dijual dengan harga Rp 5. Tarif subsidi yang diberikan oleh produsen kepada konsumen tersakan oleh adanya penurunan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe’ = 4.

maka VC = P x Q dengan P : biaya produksi per unit dan Q: Produk yang diproduksi Contoh: Suatu produk diproduksikan dengan biaya produksi Rp 3. Terdiri atas dua jenis fungsi biaya: 1.000 Q Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi biaya variabel digambarkan melalui titik (0.000. dimana biaya produksi per unit senantiasa lebih kecil dibandingkan harga jual per unit barang. Bagaimanakah fungsi biaya tetapnya dan gambarkan fungsi tersebut pada Grafik Kartesius? Jawab : FC = 100.000 0 2.000. Gambar Fungsi Biaya Tetap : FC = 100. Fungsi Biaya Dilambangkan dengan C (Cost) atau TC (Total Cost). Fixed Cost atau fungsi biaya tetap (FC) merupakan fungsi yang tidak tergantung pada jumlah produk yang diproduksi. Merupakan fungsi biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk yang diproduksi. 22 . Variabel Cost atau Fungsi Biaya yang berubah-ubah (VC). Jadi fungsi biaya biaya tetap adalah fungsi konstanta : FC = k dengan k adalah konstanta positif Contoh : Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 100. Jawab : VC = P x Q VC = 3. Jika P adalah biaya produksi per unit.000 per unit.000 Q digambarkan melalui titik (0.000. Merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi.000.Gambar : Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi penerimaan dengan gradiennya positif : R = 5.0) 0 8. Bagaimanakah fungsi biaya variabelnya dan gambarkan fungsi tersebut dengan grafik.0) dengan grdiennya positif.000. Jadi : VC = f(Q).

dimana biaya tetap yang dikeluarkan sebuah perusahaan sebesar Rp 100. TC = FC + VC Contoh : Untuk contoh diatas. total Biaya : TC=100. Analisis ‘Break-Even’ Yang dimaksud dengan ‘Break-Even’ yaitu suatu kondisi dimana perusahaan tidak untung maupun tidak rugi.000 + 3000 Q VC= 3000 Q FC =100.000. Biaya Variabel.000 dan biaya variabelnya : 3. maka perusahaan dinyatakan dalam keadaan merugi.000 VC = 3.000 Q : TR < TC Untuk lebih menjelaskan hal tersebut dibawah ini diberikan contoh.000Q. Fungsi Total Cost (TC) merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Rugi Contoh Soal: Dari contoh sebelumnya diperoleh bahwa Fungsi Fixed Cost : Fungsi Variabel Cost: Fungsi Total Cost : Fungsi Revenue : R FC = 100.000. Gambar Fungsi Biaya Tetap.000 + 3. Ternyata intersep dari fungsi total biaya adalah sama dengan biaya tetapnya dan gradienya sama dengan gradien fungsi biaya tetap.FC) dan sejajar dengan grafik VC.Gambar Fungsi Biaya Variabel : VC = 3. maka TC = 100. Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup Biaya tetapnya? Berapakah penerimaan yang diperoleh? 23 .000.000.000.000 Q.000 Q TC = 100. Hal ini disebabkan karena seluruh penerimaan perusahaan dibayarkan untuk menutup biaya tetap maupun biaya variabelnya. baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 9. maka barulah perusahaan tersebut dapat menikmati keuntungan: Untung : TR > TC Jika penerimaan masih belum dapat menutup biaya-biaya yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 Q = 5. Keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut: ‘ Break-Even’ TR = TC Jika penerimaan sudah dapat melebihi biaya-biaya yang dikeluarkan.000.000 Q 0 3.000 + 3. Hal ini mencerminkan bahwa penggambaran fungsi total biaya haruslah melalui titik (0.

000 Q* = 50.000Q 2000Q = TC = 100.R TR” TC” VC TC‟ 250.000 TR‟ FC 100. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 20. Untuk itu perusahaan harus memproduksi produk sebanyak lebih dari 50.000Q-3. maka Kontribusi margin= Harga jual per unit – Biaya produksi per unit Kontribusi margin= Rp 5.000 x 50. seluruh penerimaan sebesar Rp 250.000 Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan : TR 5.000 : Pada titik ini.000 = Rp 2.000.000 Keadaan ‘Break-Even Analysis’ tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut : TR FC.000.000Q = 100.000 0 Keterangan gambar : Q* Q‟ : Pada titik ini. maka total penerimaan harus melebihi total biaya.000 seluruh penerimaan sebesar Rp 100.000.000.VC.000. Tingkat penerimaanya sama dengan total biaya.000 Agar perusahaan dapat menikmati keuntungan.000Q = 100.000 – Rp 3.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya tetap yang dikeluarkannya.000 = 250.000. Q = 50.000.000 unit barang. Tingkat penerimaannya : R = FC = 100. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 50. Q = 20.Berapakah produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkannya? Berapakah penerimaan yang diperoleh?Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan? Berapakah kontribusi marginnya? Jawab: Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup biaya tetap : TR = FC 5.000 dipergunakan untuk menutup biaya tetapnya sebesar Rp 100.000.000.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya produksinya.000 unit dengan penerimaannya akan lebih dari Rp 250.000.000.000 Q’ = 20.000.000 unit barang.000 + 3.000 dipergunakan untuk menutup 24 Q‟ Q* Q” Q TC .000 Q = 100.000 Kontribusi margin yaitu keuntungan per unit.TC.000 dipergunakan untuk menutup total biaya yang juga sebesarRp 250. yaitu‟ R = TC = 5.000.000 5.000.

maka perusahaan akan mengalami kerugian karena masih terjadi TR < TC. PENERAPAN DALAM TEORI EKONOMI MAKRO 10. Co > 0 B = Marginal Propensity to Consume.000. b : 1–b Kesimpulan yang diperoleh: Marginal propensity to consume : Marginal propensity to save Karena Maka : B + (1 – b) = 1 MPC + MPS = 1 25 .Co + (1-b)Y – Co : Autonomous Saving. Sekaligus dapat terlihat pada gambar bahwa pada titik Q‟ terjadi TR‟ < TC‟. Co > 0 (1 – b ) : Marginal Propensity to Save. maka perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian karena terjadi TR = TC Jika perusahaan sudah mampu berproduksi pada tingkat yang melebihi Q*. dinyatakan dengan fungsi : Y = C + S Y = Pendapatan Nasional (National Income) C = Konsumsi (Comsumption) S = Tabungan (Saving) Fungsi konsumsi dinyatakan dengan fungsi : C = Co + bY Co = Autonomous Consumption.Co (1 – b) = Tabungan yang tidak tergantung pada besarnya pendapatan. Pendapatan suatu negara terdistribusi karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan sisanya. b = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan.Co + (1 – b)Y = S atau S = . maka perusahaan akan memperoleh keuntungan karena sudah terccapai TR > TC. Fungsi Pendapat Nasional yang terdistribusi Menjadi fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan.000. perusahaan untung! Jika perusahaan berproduksi pada tingkat yang masih lebih rendah dari Q*. ditabung. 0 < b < 1 Keterangan : Co = Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan. jika ada.biaya tetapnya sebesar Rp100. = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. 0 < (1 – b) < 1 . perusahaan Rugi Q” : Untuk Q” terlihat bahwa TR” > TC”. Fungsi tabungannya diperoleh dari : Y=C+S Y = (Co + By) + S Y – (Co + By) = S Y – Co – b S = S Y – Co – by = S Y(1 – b) – Co = S . Jika perusahaan berproduksi tepat pada Q*.

Contoh Soal : Suatu negara diketahui memiliki konsumsi otonominya sebesar Rp 300.000.000. Marginal propensity to save-nya sebesar 0,45. Bangunlah fungsi konsumsinya ! Bangunlah fungsi tabungannya ! Berapa yang dikonsumsi jika pendapatan nasional 1 miliar? Berapakah yang ditabung jika pendapatan nasional 1 miliar? Pada pendapatan nasional berapakah dimana tidak ada yang ditabung? Gambarkan fungsi konsumsi, fungsi tabungan, dan fungsi pendapatan nasional pada sebuah grafik! Jawab : Fungsi konsumsinya: C = Co + bY C = 300.000.000 + (1 – 0,45)1.000.000.000 C = 300.000.000 + 0,55 Y Fungsi tabungannya : S = - 300.000.000 + 0,45 Y Jika pendapatan nasionalnya 1 miliar: Fungsi konsumsi: C = 300.000.000 + 0,55 x 1.000.000.000 C = 300.000.000 + 550.000.000 C = 850.000.000 Fungsi tabungan: S = - 300.000.000 + 0,45 x 1.000.000.000 S = - 300.000.000 + 450.000.000 S = 150.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan nasional sebesar 1 miliar, maka Rp 850.000.000 dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan Rp 150.000.000 ditabung. Tidak ada pendapatan yang dapat ditabung, artinya S = 0 Y=C+S Y=C+0 Y=C Tidak ada pendapatan yang ditabung maka berarti seluruh pendapatan habis dikonsumsi. Tingkat pendapatan yang akan seluruhnya habis dikonsumsi yaitu : Y Y – bY = Co + bY = Co

Y ( 1 – b ) = Co

Y
Y

1 (1 b)

x Co

1 x Co (1 0,55)

26

Y

1 x 300.000.000 (0,45)

Y = 2,22 x 300.000.000 Y = 666.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan sebesar Rp 666.000.000 seluruh pendapatan dikonsumsi. Gambar Fungsi Konsumsi, Fungsi Tabungan, dan Fungsi Pendapatan Nasional diberikan bawah ini : C,S,Y Y=C Y=C+5 C = 300.000.000 + 0,55Y 300.000.000 S = - 300.000.000 + 0,45Y 0 S=0 Disaving - 300.000.000 11. Fungsi Pendapatan Nasional yang Dihitung Melalui Pendekatan Pengeluaran Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional suatu negara, salah satu pendekatannya adalah dengan menghitung pengeluaran dari masing-masing sektor. Sektor-sektor yang mungkin terlibat dalam perhitungan tersebut ialah : 1. Sektor rumah tangga, di mana pengeluarannya dikenal sebagai konsumsi (C) 2. Sektor pengusaha, di mana pengeluarannya dikenal dengan investasi (I) 3. Sektor pemerintah, di mana pengeluarannya yaitu pengeluaran pemerintah (G) 4. Sektor perdagangan luar negeri, terdiri atas ekspor dan impor (X – M) Jika yang terlibat sektor rumah tangga dan pengusaha, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha dan pemerintah, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha, pemerintah, dan perdagangan luar negeri maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G+(X–M) Pendapatan Disposibel ( Yd ) Yang dimaksud dengan pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang dapat langsung dikonsumsi. Jika ada ‘transfer payment’ ( R ), maka pendapatan diposibel merupakan penjumlahan antara pendapatan dengan ‘trasfer payment’ : Yd = Y + R Jadi ‘trasfer payment’ menambah pendapatan disposibel. Jika ada pajak (T), maka pendapatan baru menjadi pendapatan disposibel setelah dikurangi dengan pajak : Yd = Y + T Jadi pajak mengurangi pendapatan disposibel. Jika ada pajak dan ‘transfer payment’, maka haru dipertimbangkan keduanya : Yd = Y + R – T Saving Y

27

Jika tidak ada pajak maupun ‘trasfer payment’ maka pendapatan disposibel adalah merupakan pendapatan : Yd = Y Trasfer Payment’ ( R ) Yang dimaksud dengan ‘trasfer payment’ yaitu pembayaran yang dialihkan, misalnya tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan lain-lain. Pajak (T) Pajak terdiri atas dua jenis : 1. Pajak yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : To ( Autonomous Tax ), To > 0 2. Pajak yang bergantung pada besarnya pendapatan : tY ; t ( income tax rate ), 0 < T < 1 maka alternatif fungsi pajaknya : Jika tidak ada pendapatan : T = To Jika ada pendapatan Fungsi Konsumsi ( C ) Konsumsi terdiri atas dua jenis : 1. Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : Co (Autonomous Consumtion), Co >0 2. Konsumsi yang bergantung pada besarnya pendapatan : bY ; b (marginnal propensity to consume), 0 < b < 1 maka alternatif fungsi konsumsinya : Jika tidak ada pendapatan : C = Co Jika ada pendapatan dan ada pajak : C = b Y d atau maka: C = b (Y – T) atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y – T C = Co + b (Y – T) : T = tY atau T = To + tY

Jika ada pendapatan dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y + R Maka : C = b (Y – R) atau C = Co + b (Y + R) Jika ada pendapatan, pajak dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, dimana Yd = Y + R – T Maka : C = b (Y + R – T) atau C = Co + bYd atau Maka : C = Co + b Y atau Fungsi Investasi 1. Fungsi investasi merupakan variabel eksogen yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, maka ditulis : I = Io 2. Jika dipengaruhi oleh tingkat suku bunga ditulis : I = Io – i r, r : tingkat suku bunga I : proporsi I terhadap i Fungsi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri atas : 1. Pengeluaran pemerintah yang tidak bergantung pada pendapatan : G (Government Expenditure), Go > 0 C = Co + b (Y + R – T) C = b Y, C=bY dimana Yd = Y Jika ada pendapatan tetapi tidak ada pajak dan ‘trasfer payment’ :

28

Contoh Soal : 1. Pengeluaran pemerintah yang bergantung pada pendapatan : gY . Xo > 0 2. 0 < g < 1 maka alternatif fungsi pengeluaran pemerintah : Jika tidak ada pendapatan : G = Go Jika ada pendapatan : G = gY atau G = Go + gY Fungsi Ekspor Fungsi Investasi merupakan variabel eksogen. g (proporsi pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan. Impor yang tidak bergantung pada pendapatan : M (Autonomous Import). maka ditulis : X = Xo Fungsi Impor Impor terdiri atas : 1.2. Hitunglah pendapatan nasional suatu negara jika diketahui autonomous consumption : masyarakatnya sebesar 135. Impor yang bergantung pada pendapatan : mY. variabel endogen dan parameternya ? Bagaimanakah model pendapatan nasionalnya serta angka penggandaannya ? Carilah semua nilai dari variabel endogenya ? Jawab : Diketahui Co = 135.8) 1 0. yaitu : sektor rumah tangga.8 Investasinya = 75 Pengeluaran pemerintah = 30. Biasanya dilambangkan dengan simbol yang diberi tambahan „0‟. Io = 75. Xo. Io. Marginal Propensity to Consume (MPC) = 0. Ada berapa variabel eksogen.2 5 29 Angka penggandaan untuk . To. Go = 30 Yang terlibat tiga sektor.m (marginal propensity to import). b = 0. Go.3 . 0 < m < 1 maka alternatif impor : Jika tidak ada pendapatan : M = Mo Jika ada pendapatan : M = mY atau Variabel Eksogen Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya tidak diperoleh dari perhitungan model. Parameter Diberi lambang dengan huruf kecil. seperti : Co. sektor pengusaha dan Pemerintah : Model Pendapatan Nasionalnya : Y=C+I+G di mana C = Co + b Y I = Io G = Go maka Y Y = (Co + b Y) + Io + Go = Co + b Y + Io + Go M = Mo + mY Y – b Y = Co + Io + Go Y(1 – b) = Co + Io + Go Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 (1 b) 1 (1 0. Mo Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang nilainya diperoleh dari perhitungan model.

yaitu : ‘Marginal Propensity to Consume’ (b) Variabel endogennya ada dua.bY = Co – bTo + lo Y (1 – b) = Co – b To + lo 30 .4 = 0. yaitu : 1.2) Y = 5 (240) = 1200 Menghitung variabel endogen konsumsi(C): C = Co + bY C = 135 + 0.4 dari pendapatan disposibel. ataupun ‘government expenditure’ (Go) sebanyak satu. Autonomous consumption suatu negara = 100. Variabel eksogennya ada tiga. ‘investment’ (lo). maka akan menyebabkanpeningkatan pendapatan nasional (Y) sebanyak lima kali. 3. dengan MPS-nya = 0. Investasi nasionalnya = 40 dan autonomous tax = 50.Model di atas Ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan faktor – faktor ‘autonomous consumption’ (Co).6 Ada dua sektor yang terlibat yaitu : sektor rumah tangga dan sektor pengusaha. Model pendapatan nasionalnya : Y =C+I dimana C = Co + b Yd Yd = Y – To I = lo Sehingga Y = Co + b (Y – To) + lo Y = Co + bY – b To + lo Y . Carilah model pendapatan nasional ? Hitunglah angka penggandaannya ? Carilah semua nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui : Co = 100 . To = 50 = 1 – 0.8 (1200) C = 135 + 960 C = 1095 2. 2.8) 1 x (240) (0. yaitu: 1. MPC = 1 – MPS . Autonomous Consumption (Co) Investment (lo) Government Expenditure (Go) Parameternnya ada satu.8 Y C = 135 + 0. 2. Pendapatan nasional (Y) Consumtion (C) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (y): Y Y Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 x (135 75 30) (1 0. lo = 40 .

6 (275 – 50) C = 100 + (0. Transaksi impor terhitung = 40 dengan marginal propensity to import = 0.4 = 2.19 Y sehingga Y = C + l + G + (X – M) Y = (Co + bY) + lo + Go + (Xo – Mo + mY) Y = Co + bY + lo + Go + Xo + Mo + mY 31 .5 (1 – b) (1 – b) (1 – 0.9 Dinyatakan : Carilah model pendapatan nasional ? Hitung angka penggandaannya ? Carilah nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui lo = 90. Co = 70.6 (Y – 50) C = 100 + 0.9 Semua sektor terlibat sehingga model pendapatan nasionalnya . b = 0. Xo = 80.6)50 40) (1 0. Go = 65.5 (110) Y = 275 Jadi pendapatan nasionalnya sebesar 275 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + b Yd C = Co + b (Y – To) C = 100 + 0.4) Y = 2. Transaksi ekspor terhitung = 80. Pengeluaran di sektor pengusaha = 90.19. sedang pengeluaran di sektor pemerintah = 65.9 Y I = lo = 90 G = Go = 65 X = Xo = 80 M = Mo + mY = 40 + 0. Y = C + I + G + (X – M) di mana C= Co + b Y C = 70 + 0.6) (225) C = 100 + 135 C = 235 3. Mo = 40. m = 0.19.6) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (1 b) x (Co bTo Io) 1 x (100 (0.Y Angka penggandaan : 1 = = 1 1 (Co – b To + lo) = 1 0.6) 1 x (100 30 40) (0. Konsumsi masyarakatnya terlihat dari fungsi sebagai berikut : C = Co + b Y di mana autonomous consumption = 70 dan MPC = 0.

348 Jadi konsumsinya = 892.Y – bY + mY = Co + lo + Go + Xo – Mo Y (1 – b + m) = Co + lo + Go + Xo – Mo Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) Angka Penggandaannya 1 (1 b m) 1 (1 0.72) C = 892.29 3.448 Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) 1 (70 90 65 80 40) (1 0.72 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + bY C = 70 + 0.72 Jadi pendapatan nasionalnya = 913.6068 Jadi impornya = 213.9 0.19) 1 (265) (0.6068 32 .9 (913.448 ( 265 ) Y = 913.348 Menghitung variabel endogen impor ( M ) : M = Mo + mY M = 40 + 0.91) 1 0.29) Y = 3.9 0.19 (913.72) M = 213.

Laju Pertumbuhan II. 1. dikatakan perubahan searah.Q R = (3Q+27). Mepelajari Penerapan Diferensial Parsial. Jawab : fungsi total pendapatan (Total Revenue) R = P. 3. Tutjuan Khusus 1. Mempelajari penerapan Diferensial Biasa seperti mencari laju pertumbuhan. yang artinya jika x bertambah 1 unit. maka diperolehlah fungsi Marginalnya dy/dx : laju perubahan y akibat perubahan x sebanyak 1 unit. Marginal Physical Product of Labor. PERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Penerapan Teori Diferensial Biasa Teori Diferensial biasa diterapkan dalam berbagai masalah diantaranya untuk mencari : I. Mempelajari Penerapan Diferensial Berantai seperti dalam fungsi produksi menghitung Marginal Physical Product of Capital. Diferensial Parsial.BAGIAN 3 KONSEP DASAR TEORI DIFERENSIAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari perubahan variabel terikat perubahan variabel bebasnya. Elastis titik: Analisis Fungsi dan Grafis. serta terangkan artinya. Cross Elasticity of Demand. Optimasi (Nilai Maksimum dan Minimum) III. menghitung elastisitas dan enghitung optiasi. dan Diferensial berantai. di mana P: Price (harga) dan Q: Output. Laju Pertumbuhan (Fungsi Marginal) Fungsi Marginal merupakan turunan pertama dari fungsi-fungsi total yang merupakan fungsi ekonomi. PENERAPAN TEORI DIFERENSIAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI B. Juga dipelajari kaidah-kaidah Diferensial serta jenis-jenis diferensial yang terdiri atas Diferensial Biasa.Q R = 3Q2+27Q Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) MR = dR/dQ = 6Q + 27 33 . Fungsi permintan diberikan P = 3Q+27. di mana perubahan variabel bebasnya erupakan perubahan yang sangat kecil sekali. dan Income Elasticity of Demand. artinya jika x bertambah 1 unit maka y akan bertambah pula atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan berkurang pula. Jika fungsi marginal hasilnya negatif. Contoh soal : Marginal Pendapatan (Marginal Revenue) 1.Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapa nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 10 output. Fungsi Marginal menggambarkan laju pertumbuhan suatu variabel terikat akibat perubahan variabel bebasnya. Secara umum jika diberikan fungsi total sebagai berikut: y = f (x). seperti enghitung Price Elasticity of Deand. arginal Revenue Product of Capital dan Marginal Revenue Product of Labor. fungsi arjinal. Menghitung Optimasi untuk dua variabel serta mmencari Marginal Rate of Technical Substitusi. Juga dipelajari perbandingan antara perubahan variabel terikat tersebut dengan perubahan variabel bebasnya yang disebut “kuosien Difference”. maka dikatakan perubahannya tidak searah. 2. seperti maksimasi pendapatan atau miniasi biaya. maka y berkurang atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan bertambah. Lebih jauh lagi : Jika fungsi marginal itu hasilnya positif.

2) = 60 e 34 .2/5. maka MR = dR/dQ = 6Q + 27 = 6(10) + 27 = 60 +27 = 87 Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 87.e Q/2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : Dengan mengambil U = 30 Q.e Q/2)Q R=30Q. dimana P: Price (harga) dan Q: Penjualan.Q R = (6/5 – 1/5Q) Q R = 6/5Q-1/5Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue): MR = dR/dQ = 6/5 .sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 4/5. Fungsi Pendapatan Rata-rata (Average Revenue) diberikan AR = 80 – 4 Q Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 7 output. maka MR = dR/dQ = 80 . Sehingga U‟=30 Dan V = e Q/2 Sehingga V‟=1/2. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan banyak menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 87 2.e Q/2+15 Q. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 24. serta terangkan artinya. Fungsi Permintaan diberikan Q = 6 .5P.2/5 = 4/5 artinya :untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 4/5.e Q/2 = 30. e Q/2 = e Q/2(30+15 Q) Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 2 Maka MR = dR/dQ = e Q/2 ( 30+15 Q) = e 2/2 ( 30+15. Q R = (80 – 4 Q) Q R = 80 Q – 4 Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : MR = dR/dQ = 80 . sebaliknya untuk setiap penurunan 3.2/5Q Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 1. Jawab: Karena fungsi permintaanya Q = 6 .e Q/2+30 Q. Jawab : Funsi total pendapatan (Total Revenue) : R=AR.(1) = 6/5 .5P.8 Q Jika perusahaan memproduksi pada tingkat output Q = 7. Bagaimanakah Fungsi marginal pendapatanya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatanya jika perusahaan memproduksi baru 1 penjualan . Jawab: Fungsi total pendapatan ( Total Revenue) : R = AR .8(7) = 80 – 56 = 24 Artinya: untuk setiap peningkatan output Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 24.serta terangkan artinya.Jika perusahan berproduksi pada tingkat output Q = 10 .1/2. serta terangkan artinya.Fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan AR = 30.Q R=(30. maka MR= dR/dQ = 6/5 . dimana harus diubah dahulu menjadi P = 6/5 –1/5Q Barulah mencari fungsi total pendapatan (Total Revenue): R = P. e Q/2 Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 2 penjualan.e Q/2 Maka MR= dR/dQ = U‟ V+U V‟ = 30. 4.

2Q2 + 16Q Langkah pertama mencari turunan pertama fungsi total pendapatan kemudian dibuat = 0 R‟ = .4Q2 + 10Q + 75 Bagaimanakah fungsi marginal biayanya (Marginal cost) dan berapakah nilai marginal biaya tersebut jika perusahaan memproduksi 2 penjualan. Berapakah y yang optimum tersebut? Untuk menjawab pertanyaan pertama. Contoh soal: Marginal Biaya (Marginal Cost) 5.2Q + 16. maka pertanyaan selanjutnya baru bisa dijawab yaitu: ii.4Q + 16 = 0 4Q = 16 Q=4 Agar dijamin bahwa jika menjual sebanyak Q = 4 maka akan diperoleh total pendapatan maksimum.2(4)2 + 16(4) R = 32 35 .4 < 0 sehingga diperoleh nilai maksimum Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum yaitu sebanyak 4. maka MC = C‟= 3Q2 .8Q + 10 = 3(2)2 . Jawab: Fungsi total biaya (total biaya): C = Q3 .2Q2 + 16Q R = . ada dua pertanyaan yang senantiasa diajukan.Q = (. tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum.2Q + 16) Q R = .Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang di jual 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 60 e. serta terangkan arti.4Q2 + 10Q + 75 Fungsi Marginal Biaya (marginal cost): C‟ = 3Q2 . Berapakah x yang akan memberikan y optimum? Jika itu telah terjawab.2Q + 16 R = P.8Q + 10 Jika perusahaan berproduksi pada tingkat penjualan Q = 2. Misalkan untuk fungsi dengan satu variabel y= f (x). Total pendapatan maksimumnya: R = .8(2) + 10 = 12 – 16 + 10 = 6 Artinya: Untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan biaya sebesar 6. langkah-langkahnya dijelaskan dibawah ini: Untuk fungsi yang mengandung satu variabel y= f(x) Maksimum Langkah I Langkah II Y‟ = 0 Y” < 0 Minimum Y‟ = 0 Y” > 0 Diperoleh titik X Menjamin Nilainya Optimum (Maksimum atau Minimum) Contoh: memaksimasi total pendapatan (total revenue) 1. Jawab: Fungsi total pendapatan: P = . permasalahannya: i.4 Ternyata R” = . maka lakukanlah langkah kedua yaitu mencari turunan kedua fungsi total pendapatan: R” = . sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan biaya sebesar 6. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 60 e. Optimasi Satu Variabel (Nilai Ekstrim Maksimum atau Minimum) Dalam masalah optimasi. Fungsi Total Biaya suatu perusahaan dinyatakan sebagai berikut: C = Q3 . Harga jual barang P = .

Berapakah marginal pendapatan maksimum tersebut? Jawab: Fungsi permintaan: P = 16 .2Q.90Q2 + 2800Q + 56500 Fungsi marginal biaya: MC = 3Q2 .180(30) + 2800 = 100 Jadi marginal biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 30 unit:100 2.180Q + 2800 Turunan pertama: MC‟= 6Q – 180 = 0 6Q = 180 Q = 30 Turunan kedua: MR” = 6 > 0 Jadi output yang harus diproduksi agar diperoleh marginal biaya minimum sebanyak 30.2Q2 Turunan pertama: MR‟ = 16 .4 < 0 Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum sebanyak 4.2Q2 = 16(4) .2(4)2 = 48 contoh soal: Meminimumkan Total Biaya (Total Cost) 3.1000(100) + 85000 C = 35000 Jadi total biaya minimumnya sebesar: 35000 Contoh soal: Meminimasi Marginal Biaya (Marginal Cost) 4.180Q + 2800 = 3(30)2 . 36 .1000Q + 85000 C = 5(100)2 .Jadi ketika menjual produk sebanyak 4. Total biaya minimumnya sebesar: C = 5Q2 . Marginal biaya minimum: MC = 3Q2 . Biaya total dinyatakan dengan C(Cost) = 5Q2 .2Q Fungsi total pendapatan: R = P. maka akan diperoleh total pendapatan maksimum sebesar 32.1000Q + 85000 C‟= 10Q – 1000 = 0 10Q = 1000 Q = 100 C” = 10 > 0 Jadi total biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 100 unit.4Q = 0 16 = 4Q Q=4 Turunan kedua: MR” = . Biaya total dinyatakan dengan C (Cost) = Q3 -90Q2 + 2800Q + 56500 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan marginal biaya minimum? Berapakah marginal biaya minimum tersebut? Jawab: Fungsi total biaya: C = Q3 . Contoh soal: Memaksimasi Marginal Pendapatan (marginal revenue) Harga jual barang P = 16 .Q = (16 .2Q) Q = 16Q – 2Q2 Fungsi marginal pendapatan: MR = 16Q . Marginal pendapatan maksimumnya: MR = 16Q .1000Q + 85000 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan total biaya minimum? Berapakah total biaya minimum tersebut? Jawab: C = 5Q2 . tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum.

Q* di mana t: tarif pajak yang di kenakan pemerintah dan Q*= Jumlah output yang di produksi dan di jual pengusaha sehingga di peroleh laba maksimum.6(3) + 114 = 96 > 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 3.Q R = 1000 Q .38Q + 105 = (Q . R: Pendapatan =R–C–T C: Biaya =R–C–tQ T: Pajak Q :Tingkat output yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.59Q2 + 1315Q + 2000) Laba = .315 = Q2 .2000 Turunan pertama: Laba = -3Q2 + 114Q .2000 = 13925 Jadi dengan memproduksi dan menjual output sebanyak 35 akan di peroleh laba maksimum sebanyak : 13925 Contoh soal: Memaksimasi Penerimaan Pajak Salah satu sumber penerimaan pemerintah adalah dengan penarikan pajak. maka labanya akan minimum. yang memberikan laba maksimum setelah mempertimbangkan adanya pajak penjualan dan pemerintah. maka labanya akan maksimum.35) = 0 Q1 = 3 Dan Q2 = 35 Turunan kedua: Laba” = .Q3 + 57Q2 . Dari sudut pandang pengusaha setelah ada pengenaan pajak dari pemerintah: Laba = pendapatan – (biaya + pajak) = R – (C+T).59Q2 +1315Q + 2000 Fungsi laba: Laba = Pendapatan – biaya Laba = (1000Q .2Q).(Q3 .2000 = . Untuk itu pemerintah harus menentukan berapa tarif pajak yang akan di berlakukannya sehingga akan di peroleh pajak maksimum.4Q + 12 – t = 0 12 – t = 2Q 37 .(35)3 + 57(35)2 . Untuk Q2 = 35. yang telah mempertimbangkan biaya pajak.315(35) .Q3 + 57Q2 . Pemerintah berupaya untuk memaksimumkan penerimaan pajak tersebut.315Q . Laba maksimum nya sebesar : Laba = .3) (Q .2Q Dan C = Q3 . Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut : R = 15Q .6Q + 114 Untuk Q1 = 3.2 Q2 Fungsi biaya: C = Q3 .59Q2 + 1315Q + 2000 Berapakah produk yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh laba yang maksimum ? Berapakah laba maksimum tersebut ? Jawab: Fungsi pendapatan: R = P.2Q2 Dan C = 3Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya di kenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum ? Berapakah total pajak maksimum yang di peroleh ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 15 Q – 2 Q2 – 3Q – t Q = -2 Q2 + 12Q – t Q Turunan pertama: Laba‟ = . maka turunan ke dua = .315Q .2Q2) . Contoh soal : Memaksimasi laba / keuntungan / provit Di berikan fungsi permintaan dan fungsi biaya masing-masing sebagai berikut: P = 1000 . misalnya pajak penjualan yang di kenakan pemerintah terhadap setiap unit yang di produksi dan di jual oleh pengusaha. 6. Total pajak yang akan di terima perintah : T = t.5.96 < 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 35.6(35) + 114 = . maka turunan ke dua = .Q R = (1000 .

Q* = 1. Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (20 – 1/13 t) = 20 t – 1/3 t 2 Turunan pertama : T‟ = 20 – 2/13 t = 0 20 = 2/13 t t = 130 Turunan ke dua : T‟‟ = .4 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 3 – ¼ t.2Q Q* = 12 . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T =t (3 – ¼ t) =3t – 1/4 t2 Turunan pertama: T1 = 3 – ½ t = 0 T=6 Turunan ke dua : T” = -½ Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: 6 Karena Q* = 3 ¼ t = 3 – 6/4 (6) = 3 – 1. pengusaha akan memperoleh laba maksimum.5 Q2 – t Q Turunan pertama: Laba‟ = 260 – 13 Q – t = 0 260 – t = 13 Q Q = 260 – t 13 Q*= 20 – 1 t 13 Turunan ke dua : Laba‟‟ = . 38 .t = 12 .5 Q2 – (100 Q – 4 Q2) – t Q = 360 Q – 10.13 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 20 – 1/ 13 t. pengusaha akan memperoleh laba maksimum.5 Maka total pajak maksimum: T = t .5 = 1.5 Q2 – 100 Q + 4 Q2 – t Q = 260 Q – 6.2/13 Jadi taruf pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar : 130 Karena Q2 = 20 – 1 t 13 = 20 – 1 (130) 13 = 20 – 10 = 10 7.5 = 9 Jadi total pajak yang yang di terima pemerintah sebesar: 9 Contoh soal: Fungsi penerimaan dan fungsi biaya suatu produk di nyatakan sebagai berikut: R = 360 Q – 10.5 Q2 Dan C = 100 Q – 4 Q2 Berapakah produk harus di buat dan di jual perusahaan agar di peroleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum tersebut? Jika pemerintah ingin memperoleh pajak penjualan yang maksimum.t 4 Q* = b – ¼ t Turunan ke dua: Laba = . berapakah tarif pajak yang harus di kenakan pemerintah kepada perusahaan tersebut? Berapakah total pajak maksimum yang di dapat pemerintah? Berapakah laba maksimum yang di terima perusahaan setelah di kenakan pajak ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 360 Q – 10.

di antaranya: 1. tidak terjadi kekurangan persediaan sehingga tidak ada biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan. Model yang akan di bahas dalam buku ini yaitu: model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala (batch arrival model). Model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala dalam model ini di asumsikan bahwa : 1. biaya penyimpanan. Akan tetapi.biaya yang ada hubungan dengan masalah persediaan. hal itu berarti menimbulkan biaya penyimpanan. sebaliknya jika persediaan bahan mentah di perhitungkan sedikit saja. yang berarti jumlah pemesanan barang. 3. Perusahaan tersebut. maka pada akhirnya para konsumen akan mencoba untuk menutup kebutuhannya dengan cara melirik produk dari pesaing.5(10)2 – (130)(10) = 2600 – 65 – 1300 = 1235 Jadi pemerintah menerima laba maksimum sebesar 1235 Contoh soal : Meminimasi Total Biaya Persediaan Dalam hal persediaan. Jumlah kebutuhan barang. 4. Jika kelangkaan barang tersebut terjadi berlarut-larut.Maka Total pajak maksimum: T = t . sub-periode kedatangan panjangnya tetap. 10 = 1300 Jadi total pajak yang di terima pemerintah sebesar 1300. kehilangan pangsa pasarnya. maka akan ada resiko yaitu menimbulkan hambatan dalam proses produksi.5Q2 – t Q = 260 (10) – 6. manajemen perusahaan senantiasa di perhadapkan kepada permasalahan yaitu jika jumlah persediaan bahan mentah maupun persediaan barang jadi di perhitungkan banyak. Demikian pula jika persediaan barang jadi di perhitungkan sedikit maka akanmenimbulkan keluhan pada konsumen akibat kelangkaan barang (permasalahan dalam pemasaran). 3. dalam suatu periode waktu tertentu di ketahui jumlahnya tetap dari tiap-tiap periode waktu. Laba maksimum yang di terima oleh pemerintah besarnya: Laba = 260 Q – 6. biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah barang. 2. biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan sehingga menghambat proses produksi atau pemasaran. untuk kemudian akan sangat sulit jika berusaha untuk mencoba mengembalikan pangsa pasarnya kembali karena berhubungan dengan kepercayaan pelanggan serta di butuhkan investasi yang sangat besar misalkan untuk biaya pemasarannya (periklanannya) Biaya. biaya pemesanan. Hal tersebut kemudian berdampak dapat mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan kehilangan pelanggan. Pola kedatangan barang persediaan digambarkan seperti gambar berikut ini: Persediaan ( Q ) Q/2 Jumlah Rata-rata Persediaan Waktu D: kebutuhan jumlah barang per periode waktu yang kemudian dibagi sama besar menjadi beberapa kali pemesanan Q: jumlah pemesanan per sub-periode waktu C: biaya total persediaan C: biaya pemesanan setiap kali memesan 39 . 2. Q* = 130 .

50 per-minggu = Rp 200 per-bulan. C2 2 Turunan pertama: C′ = D. Total biaya penyimpanan: Rata-rata sepanjang periode waktu terdapat Q/2 persediaan sehingga biaya total penyimpanan per periode waktu: (Q/2) C2 Jadi total biaya persediaan = total biaya pemesanan + total biaya penyimpanan C = Q C1 + Q C2 D 2 Yang menjadi permasalahan adalah berapakah jumlah unit atau barang yang harus dipesan agar dapat diperoleh total biaya persediaan yang minimum? Untuk menjawab permasalahan tersebut. Biaya pemesanan setiap kali memesan sebesar Rp. 50 per-minggu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut.C1 > 0 menjamin biaya persediaan minimum. C1. Berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? Berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? Berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : Jumlah total pemesanan per-bulan:100 kg C1: Biaya pemesanan: Rp. 2500 C2: Biaya penyimpanan: Rp. maka akan dihitung total biaya pemesanan dan total biaya penyimpanan sebagai berikut: Total biaya pemesanan: Misalakan dibutuhkan 100 kg yang akan dipesan sebanyak 25 kg. 2 D. 2500 per-pemesanan.100. sedangkan biaya penyimpanannya Rp. maka D = 100 dan Q = 25 sehingga setiap periode waktu akan ada kedatangan akibat pemesanan sebanyak D/Q dengan biaya total pemesanan: (D/Q) C1.2500 200 .C1 + ½ C2 =0 Q2 ½ C2 Q2 Q = = –D. Jumlah yang harus dipesan: Q Q = Q = 50 40 = 8.C 1 C2 Turunan kedua: C” = 2D.(-1) .Q1 .C1 Q2 –D.C1 ½ C2 = 2 D. perlu dicari: jumlah produk yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga diperoleh total biaya persediaan yang minimum: Q Q Total biaya persediaan: C = C1 + C2 D 2 Q = D. Q3 Contoh soal: seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 100 kg setiap bulan.Q-2 + ½ C2 =0 –D.C 1 C2 2.C1.C2: biaya penyimpanan per-periode waktu Masalahnya adalah berapa unit barang yang harus dipesan setiap kali pemesanan (Q) agar biaya total persediaan (C) minimum.

Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut: Qd = 8 .5 P.5.5 P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.0.5(8) = 8 – 4 = 4 Jadi EQDP2 = 8 = dQd/dP2 = -0.5 = -0. Misal: y = f(x). Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 100/50 =2 kali pemesanan. maka seberapa jauh perubahan y akibat perubahab x di sebut „elastisitas y terhadap x‟.5 . 4 = -1 Qd / P1 6/4 6 3 Besar elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah -1/3 1 / 3 =1/3 <1 (INELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah E Untuk titik P2 = 8 maka Qd = 8 . Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 8 – 0.5. P2 = 8.8 = -1 Qd/P1 4/8 4 Besar elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah -1 1 = 1 (UNITARY ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah E Untuk titik P3 = 12 maka Qd = 8 . Elastisitas mengukur derajat kepekaan variabel terikat akibat adanya perubahan variabel bebasnya.000 Elastisitas Titik: Analisis Fungsi dan Grafis. Grafik fungsinya: 1 4 0 4 Qd EQDP1=4 = = = 3 16 4 12 8 8 0 EQDP2=8 = = =1 8 16 8 12 EQDP3=12 = 12 0 = =3 4 16 12 P 41 . Di tulis Eyx. Total biaya persediaan: C = Q C1 + Q C2 D 2 50 100 C= 2500 + 200 2 50 C = 10. digunakan Rumus: Eyx = y/y atau Eyx = y/ x x/x y/x untuk perubahan yang kecil rumusnya menjadi : Eyx=dy/dx y/x contoh soal: Elastisitas Permintaan 1.000 Jadi total biaya persediaan minimum : Rp 10.12 = -3 Qd/P3 2/12 2 Besar elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah -3 3 E = -3 = 3 > 1 (ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah E Analisa Grafis: Elastisitas permintaan Contoh soal: 4. Analisis fungsi Untuk menghitung besarnya elastisitas terhadap x.5(12) = 8 – 6 = 2 Jadi EqdP3 =12 = dQd/dP3 = -0.0.Jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 50 kg.0.0.5 = -0.5(4) = 8 – 2 = 6 Jadi EQDP1 = 4 = dQd/dP1= -0. dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 maka Qd = 8 .5 = -0. jika diketahui fungsinya.

grafik fungsinya: QS Qd= 6 + 2P 14 6 8 4 EQDP1=4 = = = 30 14 0 14 7 22 16 22 6 8 EQDP2=8 = = = 22 22 0 11 14 24 4 6 EQDP3=12 = 30 6 = = 30 5 30 0 4 8 12 P Penerapan Teori Diferensial Berantai Teori diferensial berantai di terapkan dalam masalah produksi di antaranya untuk mencari: I.Q2 = 140 Q + 5 DI Mana Q adalah produksi. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit 42 . Marginal Revenue Product Of Capital (MRP C)* Contoh Soal: Marginal Revanue Product Of Labour (MRPL) 1. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik di berikan sebagai berikut: R = . P2 = 8. sedangkan fungsi produksinya Q = 4 L. Di berikan fungsi penawaran sebagai berikut: Qs = 6 + 2P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4. Dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 Maka Qs = 6 + 2(4) = 6 + 8 = 14 Jadi E QdP1 = 4 = dQs/Dp1= + 2 = + 2 . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit. Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 6 + 2P. Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)* II.Contoh soal: Elastisitas penawaran 5. Jika jumlah tenaga kerja yang ada 10 orang:  Berapakah „Marginal Physical Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya!  Berapakah „Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi Produksi: Q = 4 L Sehingga dQ Marginal Physical product of labour (MRP L): =4 dL Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. 4 = 8 = 4 Qs/P1 14/4 14 14 7 Besar elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah 7 Jenis elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah E = +4/14 = 7 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P2 = 8 maka Qs = + 2 (8) = 6 + 16 = 22 Jadi E QdP2 = 8 = dQs/Dp2 = + 2 = + 2 . 12 = 24 = 4 Qs/P3 30/12 30 30 5 Besar elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah = 4/5 Jenis elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah E = + 4/5 = 4/5 < 1 (INELASTIS) Analisis Grafis: Elastisitas Penawaran Contoh soal : 6. 8 = 16 = 8 Qs/P2 22/8 22 22 11 Besar elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah 8/11 Jenis elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah E = 8/11 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P3 = 12 maka Qs = 6 + 2 (12) = 6 + 24 = 30 Jadi E QdP3 = 12 = dQs/dP3 = + 2 = + 2 .

8Q + 560 =. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 240. Jika kapital yang dimiliki 1000: Berapakah „Marginal Physical Product of Capital (MPPC)´ dan jelaskan artinya! Berapakah Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)´ dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi produksi: Q = 3C sehingga Marginal Physical Product of capital (MRPC): Dq = 3dC Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik diberikan sebagai berikut: R = .32 L + 560 Untuk tenaga kerja sebanyak 10 orang. dL dQ dL dR = (-2Q + 140) (4) dL dR = -8Q + 560 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRP L) = .Fungsi pendapatan: ´Marginal Revenue: R = . sedangkan fungsi produksinya Q = 3C.3000Q2 + 410000Q + 7 di mana Q adalah produksi.Q2 + 140Q + 5 dR = .8 (4L) + 560 = . Fungsi pendapatan: R = -3000Q2 + 410000Q + 7 maka dR Marginal revenue: = -6000Q + 410000 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. dC dQ dC dR = (-6000Q + 410000) (3) dC dR = -18000Q + 1230000000 dC Jadi marginal revenue product of capital (MRP L) = -18000Q+1230000000 = -18000(3C)+1230000000 = -54000C+1230000000 Untuk kapital sebanyak 1000 maka MRPL = -54000C+1230000000 = -54000(1000)+1230000000 43 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 240 contoh soal: marginal revenue product of capital (MRPC) 2.2Q + 140 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRP L): dR dR dQ = . maka MRPL = -32(10) + 560 = -320 + 560 = 240 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang.

yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1). Mencari marginal rate technical substitution(MRTS) Elastisitas Persial Fungsi permintaan suatu barang tentu di tentukan oleh harga barang itu sendiri. Demikian pula dengan fungsi permintaan barang 2 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P2). maka hubungan antar komoditi adalah substitusi. Optimasi 2 variabel: Maksimasi pendapatan Minimasi biaya Maksimasi laba/keuntungan III. juga ternyata di tentukan oleh harga barang lain tersebut merupakan barang substitusinya atau barang komplementernya. dan pendapatan (Y). fungsi permintaannya masing-masing dapat di tuliskan sebagai berikut: Qd1 = f (P1.P2. dan besarnya pendapatan (Y). maka # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1176000000 sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1176000000 Penerapan Teori Diferensial Parsial Teori Diferensial Parsial diterapkan dalam berbagai masalah di antaranya untuk mencari: I. Di samping itu juga di tentuka oleh pendapatan. 44 . akibat perubahan harga barangnya (P1) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barangnya (P2): Jadi E QdP1 = dQd 1 / dP1 dQd 2 / dp 2 dan E QdP2 = Qd 1 / p1 Qd 2 / p 2 Cross Elasticity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barang lain. Price elastisity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barangnya sendiri.= -54000000+1230000000 = 1176000000 Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. sedangkan # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand negatif.Y) Fungsi permintaan barang 1 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P 1). maka hubungan antar komoditi adalah komplementer. dQd 1 / dY dQd 2 / dY Jadi E QdP1 = dan E QdP2 = Qd 1 / Y Qd 2 / Y Hubungan antar-komoditi: # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand positif. harga barang lain (P1).P2. harga barang lain (P2). yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan harga barang lain (P2) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barang lain (P1): dQd 1 / dP 2 dQd 2 / dP1 Jadi E QdP1 = dan EQdp2 = Qd 1 / P 2 Qd 2 / P1 Income Elasticity of Demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan pendapatan: Yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan pendapatan (Y) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan pendapatan (Y). Elastisitas Parsial II. Akan tetapi. Misalnya ada dua barang yaitu barang 1 dan barang 2.Y) Dan Qd2 = f (P1.

Contoh soal: 1. Qdr = 2Pj - 30 Pr + 0,05 Y Untuk Pj = 3000, Pr = 100, dan Y = 30000 Carilah: - Price Elasticity of Demand - Cross Elasticity of Demand - Income Elasticity of Demand Bagaimanakah hubungan antara komoditi j dan r? Jawab: Price Elasticity of Demand: dQdr / d Pr 30 2 30 E QdPr = = = = Qdr / pr 4500 / 100 3 45 Cross Elasticity of Demand: dQdr / dPj 2 60 4 E QdPr = Qdr / pj 4500 / 3000 45 3 Income Elasticity of Demand: dQdr / dY 0,05 15 1 E QdPr = Qdr / Y 4500 / 30000 45 3 Hubungan antara komoditi r dan j: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif, maka hubungan antara komoditi r dan komoditi j adalah Subtitusi. Optimasi Dua Variabel. Fungsi yang mengandung 2 variabel misalnya dituliskan sebagai berikut: Y=f(x1,x2) Dalam setiap permasalahan optimasi, selalu memunculkan dua pertanyaan: 1. Berapakah x1 dan x2 yang akan memberikan Y optimum (maksimum atau minimum) 2. Berapakah Y optimumnya (maksimum atau minimum) Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama tersebut, maka diberikan langkah-langkahnya sebagai berikut: Optialisasi dua variabel Y = f ( x1 ,x2 ) Maksium Langkah I Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Minimum Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Diperoleh X1 dan X2

Langkah II

Turunan kedua dan Matriks Hessian: H = Y11 Y12 Y21 Y22 D1 = Y11 < 0
Difinit negatif, Menjamin Y maksium

Langkah III

D1 = Y11 > 0
Difinit positif, Menjamin Y minimum

Diperoleh Titik ekstrim maksium atau titik ekstrim minimum

Langkah-langkah dalam tabel tersebut membantu untuk memperoleh X1 dan X2 yang pasti akan menjamin bahwa Y optimal, jadi ke tiga langkah tersebut di atas hanyalah untuk menjawab pertanyaan pertama saja. Belum di peroleh berapa besar Y yang optimal tersebut. Untuk mendapatkan nilai Y yang optimal maka nilai X1 dan X2 harus di masukan dalam persamaan Y tersebut.untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, maka di bawah ini di berikan tiga contoh yang merupakan permasalahan optimal dua variabel, yaitu: maksimasi pendapatan, minimasi biaya, maksimasi laba.

45

Contoh soal: Maksimasi pendapatan 1. Di berikan fungsi pendapatan : R = 160 Q1 – 3 Q12 – 2 Q1 Q2 – 2Q22 + 120 Q2 –180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh pendapatan maksimum? Berapakah pendapatan maksimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di jual : Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi pendapatan: R1 = 160 – 6 Q1 – 2 Q2 = 0 R2 = 120 – 2 Q1 – 4 Q2 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 6 Q1 – 2 Q2 = - 160 2 Q1 – 4 Q2 = - 120 Maka 160 2 120 4 (-160)(-4) - (-2)(-120) 640 - 240 400 Q1 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4

6 160 2 120 (-6)(-120) - (-2)(-160) 720 - 320 400 Q2 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4 Langkah ke dua adalah mencari turunan keduannya: R11 = -6, R12 = -2, R21 = -2, R22 = -4 R 11 R12 - 6 - 2 Matriks hessiannya: H = R21 R22 -2 -4
Matriks pertamanya : D1 = - 6 < 0
-6 -2 -2 -4 = (-6)(-4) – (-2)(-2) = 24 – 4 = 20 > 0 karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin pendapatan maksimum. Pendapatan maksimumnya: R = 160Q1 - 3Q12 - 2Q1Q2 - 2Q22 + 120Q2 – 180 R = 160(20) - 3(20)2 - 2(20)(20) -2(20)2 +120(20) – 180 R = 2620

Matriks keduannya : D2 = H =

Contoh soal: Minimasi biaya 2. di berikan fungsi biaya sebagai berikut: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi sehingga di peroleh biaya minimum? Berapakah biaya minimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di produksi: Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: C1 = 16Q1 – 2Q2 – 40 = 0 C2 = -2Q1 + 12Q2 – 42 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 16Q1 – 2Q2 = 40 -2Q1 + 12Q2 = 42 Maka 40 - 2 Q1 =

42 12 16 - 2 - 2 12

=

(40)(12) ( 2)( 42) 480 84 564 = = =3 (16)(12) ( 2)( 2) 192 188

46

Q2 =

- 6 - 160 - 2 - 120 16 - 2 - 2 12

=

( 6)( 120) ( 2)( 160) 400 720 320 = = = 2,12 = 2 (16)(12) ( 2)( 2) 188 192

Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: R11=16, R12 = -2, R21 = -2, R22 = 12 16 -2 R 11 R 12 16 -2 Matriks Hessiannya: H = 12 R 21 R 22 - 2 Matriks pertamanya : D1 = 16 > 0 Matriks keduanya : D2 = H = 16 -2 - 2 12 =(16) (12) – (-2) (-2) =192 – 4 =188 > 0 Karena D1 > 0 dan D2 > 0, maka definit positif, menjamin biaya minimum. Biaya minimumnya: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1 Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 C = 8(3)2 + 6(2)2 - 2(3) (2)- 40 (3)- 42 (2)+180 C = 60 Contoh soal: maksimasi laba / keuntungan 2. Diberikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya sebagai berikut: R = 12 Q1 + 8 Q2 dan C = 3 Q12 + 2 Q22 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimumnya?

Jawab: Fungsi labanya: Laba = R – C = 12Q1`+ 8Q2 - ( 3 Q12 + 2 Q22) = 12Q1 + 8Q2 - 3Q12 - 2Q22 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = 12 – 6 Q1 = 0, maka Q1 = 2 Laba2 = 8 – 4 Q2 = 0, maka Q2 = 2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11 = - 6, Laba12 = 0, Laba22 = - 4 Matriks Hessiannya: H = Laba 11 Laba 12 = -6 0 Laba 21 Laba 22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = - 6 < 0 Matriks keduanya : D2 = H = - 6 0 0 -4 = -(0)(0) (-6) (-4) = 24 – 0 = 24 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin laba maksimum. Pendapatan maksimumnya: Laba = 12 Q1+8 Q2-3Q12-2Q22 Laba = 12(2) +8(2)-3(2)2-2(2)2 Laba = 24+16-12-8 Laba = 20 47

3.210 MRTS = 3.7 0.3 (0.5 1 0 = = MRTS = 0.3) K 0. Di mana K = 160 dan L = 40 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK 0 0.4 L 0.5 160 40 MRTS = 4 4 MRTS = – 4 .3) K 0. dQ / dK dL dK dL dQ dL Rumus: MRTS = Contoh soal: 1.3 (0.7) L0. carilah fungsi marginal pendapatannya untuk fungsi P = 16 – Q jawab: fungsi permintaan: P = 16 – Q fungsi pendapatan: R = P .5 0.5 K 4 L 4 0. 7 3L0.5) K ) 0. 2 MRTS = – 8 2. Q* R = 16 Q – Q2 Maka fungsi marginal pendapatannya: MR = 16 – 2Q 48 .2K 0.7 K = 210 dan L = 70 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK = = = 96 K 0.1K 0.3 1 L0.5.2(0.3 L 0.70 MRTS = – 7 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Fungsi marginal pendapatan (marginal revenue) 1.3 K 0. Q R = (16 – Q) .L).8(0.3 L0. 7 L0.7. Diberikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 96 K 0.7 7K MRTS = 3L 7. Di berikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 0. 7 7 K 0.3 L 0.1 Mencari Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dK dL Jika diketahui Fungsi Produksi Q=f(K. maka mencari MRTS-nya dengan dQ / dL dQ dQ dQ dK dK MRTS = : .5 + 0.7 K 0.8L 0.7 1 96(0.5) L0.5 1 = 0.

Jadi pada tingkat output Q = 10 menjamin pendapatan maksimum. Q = (120 – 6Q) . fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan di bawah ini: AR = 120 – 6 Q # Pada tingkat output berapakah yang memberikan pendapatan maksimum? # Berapakah pendapatan maksimum yang diperoleh? # Gambarkan fungsi pendapatan rata-rata dan marginal pendapatan pada sebuah grafik! Jawab: Fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q Fungsi pendapatan: TR = AR .4 < 0 Untuk Q2 = 2 maka TC″= 6 (2) – 8 = 4 >0 Jadi output yang memberikan total biaya minimum adalah yang TC″>0.2)(Q . Q1 = 2/3 Q .MR 120 AR = 120 . Total biaya suatu perusahaan dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q +4 # Pada output berapakah yang akan memberikan total biaya minimum? # Berapakah total biaya minimumnya? Jawab: Fungsi total biaya: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 Turunan pertama fungsi total biaya: TC‟= 3Q2 – 8Q + 4 = 0 (3Q .2) = 0 3Q .2 = 0. Q2 = 2 Turunan kedua fungsi total biaya: TC″= 6Q – 8 Untuk Q1 = 2/3 maka TC″= 6 (2/3) – 8 = .6Q MR =120 – 12Q 10 20 Q Minimasi total biaya (Total Cost) 3.2 = 0.Maksimasi total pendapatan (Total Revenue) 2. Pendapatan maksimum: TR maksimum = 120 Q – 6 Q2 R maksimum = 120(10) – 6(10)2 = 1200 – 600 = 600 jadi pendapatan maksimumnya diperoleh sebesar 600 fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q fungsi marginal pendapatan: TR′= MR = 120 – 12 Q maka grafik dari kedua fungsi tersebut di gambarkan sebagai berikut: AR. Total biaya minimum: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 TC = (2)3 – 4(2)2 + 4(2) + 4 = 4 49 . yaitu Q = 2. Q = 120 Q – 6 Q2 Turunan pertama fungsi pendapatan: TR′ = 120 – 12Q = 0 120 = 12Q Q = 10 Turunan kedua fungsi pendapatan: TR″ = -12 < 0 menjamin pendapatan maksimum.

Jadi sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (2.Maksimasi penerimaan total pajak 4. pengusaha memperoleh laba maksimum.5 – 1/10 t = 2.5 Karna Q* = 2.5) = 2.C1 Q= C2 2.5 – 1. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut: P = .5Q + 100 dan C = 5Q2 – 30Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? Berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = P .5 . Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 1440/120 = 12 kali pemesanan.5 t – 1/10 t 2 turunan pertama: T′ = 2.1440.5= 1/5 t t = 12.625 Jadi total pajak yang diterima pemerintah sebesar: 15.5 – 1/10 t.5 – 1/10 t Turunan kedua: Laba″ = -10 < 0 Jadi dengan memproduksi Q* = 2. Total biaya persediaan: Q= 50 .biaya pemesanan tiap kali memesan sebesar Rp 6000 per pemesanan.25 Maka total pajak maksimum: T = t .5 turunan kedua: T″= -1/5 < 0 Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: t = 12. # berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? # berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? # berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : jumlah total pemesanan per bulan : 1440 kg C1: biaya pemesanan : Rp 6000 C2: biaya penyimpanan : Rp 300 per minggu = Rp 1200 per bulan Jumlah yang harus di pesan : 2 D. Q* = 12. Seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 1440 kg tiap bulan.5 – 1/5 t = 0 2.5 – 1/10 t) = 2.6000 1200 Q = 120 jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 120 kg.25 = 1. 1.625 Minimasi total biaya persediaan 5. sedangkan biaya penyimpanannya Rp 300 per minggu.5 – 1/10(12. Q – C – t Q = -5Q + 100 – (5Q2-30Q) – tQ = -5Q2 + 25Q – Tq + 100 Turunan pertama: Laba′ = -10Q + 25 – t = 0 25 – t = 10Q Q* = 25 – t 10 Q* = 2.25 = 15.

8 P2 + P3 + Y Untuk P1 = 20. maka hubumgan antara komoditi 1 dan komoditi 2 adalah subtitusi. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! jawab: fungsi produksi: Q = ½ K ½ L ½ Q = ½ 4 ½ 16 ½ Q=½.4(20) – 0.8 1 E Qd1P2 = Qd 1 / Pr 2 80 / 10 10 dQd 1 / dP3 1 1 E Qd1P3 = Qd 1 Pr 3 80 / 40 2 Income elasticity of demand dQd 1 / dY 1 1 E Qd1Y = Qd 1 / Y 80 / 40 2 Hubungan antara komoditi 1 dan 2: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya negatif.8(10) + 40 + 40 Qd1 = 80 Price elasticity of demand: dQd 1 / dP1 0. P2 = 10.C= C= D C1 Q Q C2 2 1440 120 6000 1200 120 2 C = 144000 Jadi total biaya persediaan minimum: Rp 144000 Elastisitas persial 6.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut: Qd = 16 – 0. dan Y = 40 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi-komoditi tersebut? Jelaskan! Jawab: Qd1 = 16 – 0. dengan K = 4.8 P2 + P3 + Y Qd1 = 16 – 0.4 P1 – 0. Marginal Physical and Revenue Product of Labour and Capital 7.4 4 E Qd1P1 = Qd 1 Pr 1 80 / 20 400 Cross elasticity of demand dQd 1 / dP 2 0. L = 16 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 2Q. Hubungan antara komoditi 1 dan 3: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif . P3 = 40.1 / 2 K dL 51 . fungsi produksi : Q = 1/2K ½L = ½.8 Q=4 Sehingga: Marginal Physical Product of Labour (MPRL): 1 1 1 dQ 1 2 L2 2 . maka hubungan antara komoditi 1 dan komoditi 3 adalah subtitusi.4 P1 – 0.

K½. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1.(1/4) dC 52 .1 1 dQ 1 2 L2 4K dL 1 dQ 1 4 L 2 1 dL K 2 1 dQ 14 16 2 1 dL 42 dQ 1 dL 2 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit. # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit. dC dQ dC dR = (2). sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit Marginal Physical Product of Capital (MRPC): dQ = ½. dL dQ dL dR (2). # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. 1/2L ½dC dQ = ¼ K 1/2 L -1/2 dC 1 dQ 1 4 K 2 1 dC L2 1 dQ 1 4 4 2 1 dC 16 2 dQ 1 = dC 8 Artinya : Pada tingkat investasi sebesar 4.(1/2) dL dR 1 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRPL)=1 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang. Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ . sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit jika fungsi pendapatan: R = 2Q sehingga dR ′ Marginal Revenue: 2 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRPL): dR dR dQ .

4 . Biaya21= 0 . Biaya12= 0 .4Q2 +12 = 0 makaQ2 = 3 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11= . Maksimasi Laba/Keuntungan dari dua produk 9.2Q22 + 32Q1+12Q2 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga dapat diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Labanya : .8Q 1+ 16Q2 Biaya = 12 (3)2 + 4(2)2. Fungsi Laba diberikan Laba = . maka Q1=3 Biaya2 = 8 Q2 – 16 = 0. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 4 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1.8 .2Q22 + 32Q1+12Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = . Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 agar berproduksi pada tingkat biaya minimum. menjamin biaya minimum.8(3) +16(2) Biaya = 12. Biaya22= 8 Biaya11 Biaya12 24 0 Matriks Hessiannya : H= Biaya21 Biaya22 0 8 Matriks pertamanya : D1 = 24 Matriks keduanya : D2 = H= 0 24 0 0 8 = (24) (8) .(0) (0) = 192 . Fungsi biaya dari perusahaan yang menghasilkan dua produk sebagai berikut: Biaya = 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 # Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi agar dapat diperoleh biaya minimum? # Berapakah biaya minimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Biayanya: 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: Biaya1 = 24 Q1 – 8 = 0.9 + 4. laba22= .dR = 1/4 dC Jadi Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)=1/4 Artinya: Pada tingkat investasi berjumlah 4 orang. Biaya minimumnya: Biaya = 12 Q12 + 4Q22.4Q12 . maka Q2=2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Biaya11= 24 .24-32 Biaya = 68 Dengan memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 maka akan berproduksi pada biaya minimum sebesar 68.8 0 Matriks Hessiannya: H= Biaya21 Biaya22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = 8 0 53 . # untuk setiap penambahan investasi sebanyak 4 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. Minimasi Biaya dari Dua Produk 8.8Q1 + 32 = 0 makaQ1 = 4 Laba2 = .4Q12 .4 Biaya11 Biaya12 . laba21= 0 . laba12= 0 . maka definit positif.0 = 192 > 0 Karena D1> 0 dan D2> 0.

Q2) = (24.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan pada gambar dibawah ini .komoditi tersebut? Jelaskan! 2.3) 0 48 P 54 . carilah nilai dan jenis elastisitas di masing-masing titik! Q (P1. Jadi sebaiknya di produksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 agar diperoleh laba maksimum.3 Laba = 82 Dengan memproduksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 maka akan diperoleh laba maksimum sebesar 82.9 + 32. P2 = 100.fungsi produksi: Q = 0.Q3) = (36. dengan K = 20 L = 40 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 3Q.-8 0 0 -4 = (-8) (-4) – (0) (0) = 32 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0.16 .2. Matriks keduanya : D2 = H= Laba = . maka definit negatif. fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut : Qd2 = 5200 + 4P1 – 3P2 – 8P3 + 0.4. menjamin laba maksimum.5 K2 + 2KL + L2.6) (P3.4 + 12.9) (P2. Laba maksimumnya: SELESAIKANLAH SOAL-SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.Q1) = (12.diberikan fungsi total biaya suatu perusahaan sebagai berikut: TC = 6Q12.4(4)2-2(3)22+ 32(4) +12(3) Laba = .2Q22 + 32Q1 + 12Q2 Laba = . P3 = 500 dan Y = 5000 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi . maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! 4.total pendapatan dan total biaya diberikan sebagai berikut: R = 221Q + 5100 – 2Q2 dan C = 125Q + 4100 # berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? # berapakah jumlah produk yang harus diproduksi dan dijual oleh perusahaan tersebut sehingga diperoleh laba maksimum setelah mempertimbangkan masalah pejak? # berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah ? # berapakh laba maksimum yang diperoleh perusahaan tersebut? 3.4Q12 .3Q1 Q2 + 12Q2 – 24 Q1 – 10 Q2 # Pada tingkat output (Q1 dan Q2) berapakah yang akan membuat perusahaan memperoleh total biaya minimum! # Berapakah total biaya minimum tersebut? 5.25 Y Untuk P1 = 200.

TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI TUJUAN UMUM Mempelajari jenis integral baik integral tak tentu maupun integral tentu serta mempelajari kaidah-kaidah dari masing-masing jenis integral. Tutjuan Khusus 1. Ini merupakan penerapan integral tidak tentu. 55 . TEORI INTEGRAL BAGIAN 3 TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari Jenis Integral baik integral Tak Tentu maupun Integral Tertentu serta mempelajari kaidahkaidah dari masing-masing jenis integral. # Integral juga digunakan dalam menghitung surplus konsumen dan surplus produsen dengan cara menghitung luas dibawah kurva. PENDAHULUAN Pada dasarnya integral terdiri atas dua jenis yang dikenal dengan integral tak tentu dan integral tentu. INTEGRAL TAK TENTU Integral tak tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan perincian fungsi asal atau fungsi totalnya dari fungsi turunannya yang diketahui secara umum penulisannya: F ( x) K f ( x)dx Dengan K : konstanta pengintegral yang tak tentu nilainya f (x ) : integral dx : diferensial F ( x) K : fungsi asal atau fungsi total Disebut sebagai integral tak tentu akibat hasil pengintegralannya berupa F(x)+ K dimana K adalah konstanta yang nilainnya tak tentu. Ini merupakan penerapan Integral tertentu. Ini merupakan peenerapan Integral Tidak Tentu. TUJUAN KHUSUS # Integral digunakan dalam mencari suatu fungsi total atau fungsi asalnya jika di ketahui fungsi turunannya. Integral digunakan dalam encari suatu fungsi asalnya jika diketahui fungsi turunannya. Integral juga digunakan dalam menghitung Surplus Konsumen dan Surplus Produsen dengan cara menghitung luas di bawah kurva. Ini merupakan penerapan integral tentu.

InX x x Kaidah 3. 1 dx 4 contoh : X3 1 K 3 1 4 x = K 4 formula logaritma x 3 dx Inx 3 1 dx 3 dx 3.d x K contoh : 5 x 4 dx 5 x 4 dx 5. formulasi pengurangan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx g ( x)dx contoh : x2 e x dx x 2 dx e x dx 1 / 3x 3 e x Kaidah 6. f ( x).dx dx 1 / 2 1 u dx e 1 / 2du 1 / 2 e 4 du 1 / 2u K 1 / 2e 2 x 1 K 56 .KAIDAH-KAIDAH INTEGRAL TAK TENTU Kaidah 1.n 1 Kaidah 2. f ( x)dx K . formula perkalian K . e2x K K formulasi penjumlahan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx x2 e x dx x 2 dx g ( x)dx contoh : e x dx 1 / 3x 3 e x K Kaidah 5.1 / 5 x 5 K x5 4 Kaidah 7. formula substitusi du f ( x)dx f (u ) dx F (u ) K dx contoh: misalkan u x 2 maka du dx dx du x 2 u Inu K In( x 2) K contoh : e 2 x 1dx misalkan : u e2x 2z 1 maka du 2. formula eksponensial e x dx e x K contoh : e 2 x dx Kaidah 4. formula pangkat xndx contoh : Xn 1 n 1 K.

formula sebagian-sebagian u.dx dan maka v x x.dx u. x3 2 4 3 = 6.2 2+1 2+1 2+1 2+1 =43–23 3 3 x2+1 4 2 = 2 2+1. a b k f(x) dx = k a b f(x) dx contoh: 2 4 6x2 dx = 6.du e x .dv u.e .4 2 x2 dx 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1. a a f(x) dx = F(x) a a = F(a) – F(a) = 0 contoh: 2 2 x2 dx = 2 2 x2 dx = 2 3 – 2 3 = 0 3 3 kaidah 3.v x. a<c<b Contoh: 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1 – 2 2+1 2+1 2+1 2+1 = 43–23 3 3 = 56 3 Kaidah 2.du Contoh : xe x dx Misalkan u x maka du dx dv e x . Integral tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan pencarian luas suatu daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva serta batasan-batasan nilai yang membatasi dengan tepat area yang dimaksud.Kaidah 8.4 2+1 2+1 2+1 2+1 =23 .ex v.dx dengan: F ( x) b a F (b) F (a) f ( x)dx : integral f (x ) terhadap x wilayah untuk rentang a hingga b F (b) F (a) b a : hasil integral fungsi f (x) antara a dan b : batas atas integrasi : batas bawah integrasi Kaidah-Kaidah Integral Tentu Kaidah 1.43 3 3 = 56 3 kaidah 4.v v. 4 2 – 6. 2 2 57 .2 4 x2 dx = 6. a b f(x) dx = .dv u. Secara umum penulisannya: f ( x).dx ex x.b a f(x) dx contoh: 2 4 x2 dx = .e x e x K e x ( x 1) K Integral Tentu Integral tentu adalah integral dimana nilai dari variabel bebasnya memiliki batasan-batasan tertentu. a b f(x) dx = F(x) a b =F(b)-F(a) .

x2 4 2 =4.9 = 18 – 8 + 32 – 18 = 24 2 4 4x dx = 4 .8 =8 kaidah 5.4 2 – 4.64 – 2.3 2 2 2 2 2 = 4/2. 2 2 3 3 = 2 . a b [f(x) + c d f(x) dx = a d f(x) dx contoh: 2 3 4x dx + 3 3 4x dx = 2 4 4x dx 2 3 4x dx + 3 4 4x dx = 4x2 2 3 + 4x2 3 4 2 2 = 4. a b [f(x) – g(x)] dx = a b f(x) dx – a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2 – 4x] dx = 2 4 6. 4 + 4/2 .4.x2 dx – 2 4 4x dx = 6.2 2 + 4.x3 2 4 – 4x2 2 4 3 = [6.4 3 – 6.4 + 4 .4 2 – 4.22 2 2 = 4 .48] – [4. 16 – 4/2 . formula pangkat Contoh: x8 dx = x 8 + 1 8+1 = x9 9 = 1/9 x9 4 contoh: 2 x8 dx = x 8+1 2 4 8+1 =49–29 9 9 Kaidah 2.4 2 . a b [f(x)+g(x)] dx = a b f(x) dx+a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2+4x] dx = 2 4 6. In x + k 58 . formula logaritma Contoh: = 33 1 dx x = 33 .4] = 128 – 16 – 64 + 16 = 64 kaidah 7. 4 = 125 – 16 + 64 – 16 = 160 kaidah 6.64 – 2. 4 = 32 – 8 = 24 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Kaidah 1.42–4.2 2] 3 3 = [2.x2 dx+2 4 4x dx = 6. 16 – 4/2. 64 – 2. 16 – 4 .16 – 4.2 3] – [4.9 – 4/2 . 2 3 + 4.3 3 = 2.3 2 – 4. 4 3 – 6. x3 2 [4 + 4x2 2]4 3 = 2.

1 2 dU 1 2 . Fungsi Total Cost (TC) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal Costnya : TC MC.dQ Misalkan U = 14+2Q maka dU = 2dQ Dan dQ = ½ dU 14 2QdQ Sehingga: U .U 1 2 1 2 1 59 . Sebaliknya.dQ 14 2Q 14 2.dQ 3. Fungsi Total Utility (TU) dapat diperoleh dengan cara mengintergralkan fungsi marginal MU .4 Contoh: 2 33 dx = 33 2 4 1 dx = 33 . maka untuk mengetahui persamaan fungsi marginal digunakan perhitungan diferensial. U 2 .Q. formula penjumlahan Contoh: [x17 + e x+2] dx = x17 dx + e x+2 dx = 1/18 x18 2 4 + e x+2 + k contoh: 2 4[x17 + e x+2] dx = 2 4 x17 dx + 2 4 e x+2 2 4 = 1/18 x18 2 4 + ex+2 2 4 = 1/18 [4 18 – 2 18] + e4+2 – e2+2 = 1/18 [4 18 – 2 18 PENERAPAN INTEGRAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Dalam bidang ekonomi.dQ revenuenya : TR 2.dQ utilitynya : TU Contoh Soal : Carilah Fungsi Total Revenue sebesar MR Jika berproduksi pada Q = 25 Jawab : TR MR. jika yang diketahui adalah persamaan fungsi marginal. Fungsi Total Revenue (TR) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal MR. sedangkan Integral tertentu diantaranya digunakan untuk mencari Surplus Konsumen dan Surplus Produsen FUNGSI TOTAL Jika yang diketahui adalah persamaan fungsi total. formula eksponensial Contoh: ex dx = ex + k Contoh: 2 4 ex dx = ex 2 4 = e4 – e2 = -e4 –e2 Kaidah 4.dU 1 1 1 2 4 . 12U . In x 2 4 = 33(In4 – In2) x 33 dx x x Kaidah 3. Contoh : 1. Integral tak tentu dapat dipergunakan di antaranya untuk mencari persamaan fungsi total. maka mencari persamaan fungsi totalnya dipergunakan hitungan Integral.

penggunaan grafiknya : 60 . SK pe f ( p).jika permintaan suatu barang dinyatakan dengan persamaan P= f (Qd)dan ternyata bahwa harga barang tersebutdipasar sebesar Pe.2 2 Qe = 75 – 3.75).4 Qe = 75 – 12 Qe = 63 Jadi (Pe.surplus konsumen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi permintaanya serta menghitung luas area di bawah kurva yang bersangkutantetapi diatas harga pasar Pe. Penggambaran : P P' Surplus konsumen (SK) Pe 0 Qe Q' Q Surplus konsumen = Luas daerah yang diarsir .dP Contoh soal: Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut : Qd = 75 – 3P 2 gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik Qd vs P ! carilah surplus konsumenya jika harga pasar Pe = 2 Jawab : Qd = 75 – 3P 2 Qe = 75 – 3. dihitung dengan rumus Qe 1.25 8 Jadi total revenue-nya pada Q = 25 diperoleh sebesar 1/32 TR 4 1 4 1 4 1 32 Surplus Konsumen Yaitu : Keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh konsumen karna konsumen tersebut dapat membeli barang dengan harga pasar yang lebih murah daripada harga yang sanggup dibayarnya.(Kesanggupan bayar > harga). maka bagi setiap konsumen yang pada dasarnya memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membeli barang tersebut walaupun harganya diatas Pe dinyatakan bahwa konsumen tersebut mengalami keuntungan.63) Fungsi Qd = 75 – 3P 2 merupakan kurva parabola yang terbuka di bawah dengan titik puncaknya (P.1 4 1 2 U 1 14 2Q 14 2.Qd) = (0.Qe) = (2. SK 0 f (Q)dQ Atau p Qe.Pe 2. Bpk Alfreed Marshall menyebutnya surplus konsumen.

Pe) Surplus Produsen P1 0 Qe Q surplus produsen = Luas daerah yang diarsir .5 75. maka bagi setiap produsen yang pada dasarnya ingin menawarkan barang tersebut serta memiliki kesanggupan untuk menjual barang tersebut di atas harga pasar Pe dinyatakan bahwa produsen tersebut mengalami keuntungan.dP 2 2 p 2 75.2 52 22 2.63) SK (75 3P 2 )dP 2 5 5 2 5 5 3 2 75 dP 3 p .(kesanggupan menjual < harga pasar) Jika fungsi penawaran suatu barang dinyatakan dengan persamaan P = f(Qs) dan ternyata bahwa harga barang tersebut dipasar sebesar Pe.Qd 75 63 Surplus konsuemen 0 63 2 5 P SK 0 5 f (Q).75 150 = 125 – 125 + 8 =8 125 8 SURPLUS PRODUSEN Yaitu : keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh produsen karena produsen tersebut dapat menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada harga yang sanggup dijualnya.surplus produsen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi penawaranya serta menghitung luas area diatas kurva yang bersangkutan tetapi di atas harga pasar Pe Penggambaran : P Pe E(Qe.dq f ( p) dP 2 5 (2.Bapak Alfred Marshall menyebutnya surplus produsen. dihitung dengan rumus : 61 .

Qe 0 4 f (Q)dQ (20 5Q)dQ 0 40.dQ 0 0 (20. Jawab: Fungsi penawaranya P = 20 +5Qs P – 20 = 5Qs 5Qs = P – 20 Qs = 1/5 P – 20/5 Qs = 1/5 P – 4 Diketahui bahwa harga keseimbangan pasar adalah 40.40 – 4 Qe = 8 – 4 Qe = 4 Jadi (Pe. SP Pe.4 2 5 2 0 2 40 atau 62 .0) 5 2 . Surplus produsen : Qe SP Pe.Qe 1.4 4 4 160 160 20 dQ (5 Q. maka Untuk Pe = 40 Qe = 1/5P – 4 Qe = 1/5. Perhitungan mencari surplus produsen sebagai berikut.Qe 0 f (Q)dQ atau Pe SP P f ( p)dP Contoh soal: Diberikan fungsi penawaran sebagai berikut : P = 20 + 5Qs gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik P vs Q ! carilah surplus produsenya untuk harga pasar sebesar 40.Qe) = (40.4) Penggambaran grafiknya Pe = 20 – 5Qs Pe = 40 Surplus Produsen P11= 20 0 4 Qs Daerah yang diarsir menunjukkan surplus produsen yaitu keuntungan yang diperoleh akibat harga dipasar di atas (lebih tinggi)dari kesanggupan menjual.4) 20.

V Diperoleh : TR Q 2 .dV U .dQ q 2 e Q .dV U .20 10 10 160 40 160 80 40 PENYELESAIAN SOAL – SOAL Fungsi total 4. carilah fungsi total revenue dari fungsi marginal revenue : MR = Q 2eQ .20 2 4.dQ Dan dV = eQ..2Q.e Q e Q . Q. Jawab: TR MR.e Q 2e Q Jadi fungsi Total Revenue : TR Surplus konsumen 5.e Q e Q .e Q Q 2 .e Q 2 Q.dQ 2.e Q TR TR Q 2 .V Diperoleh : TR Q 2 .dQ 2 e Q .dQ eQ 2e Q Q 2 .dengan Q adalah julah output yang diproduksi dan di jual.e Q Q 2 .e Q 2Q.dU Maka dengan rumus : U .dQ Sehingga V = eQ V .e Q TR TR Q 2 .dQ Misalkan U = Q2 Sehingga dU = 2Q.e Q 2 Q.e Q . Fungsi permintaan dan penawaran suatu barang masing – masing ditunjukan dengan fungsi sebagai berikut : Qd = 30 – 2P dan Qs = – 6 + P Hitunglah surplus konsumenya! Jawab: Mencari harga dipasar dengan cara : Qd = Qs 30 – 2P = – 6 +P 30 + 6 = P + 2P 36 = 3P maka Pe=12 dan Qe = –6 + 12 Qe = 6 Fungsi perimintaan : Qd = 30 – 2P Fungsi penawaran : Qs = – 6 + P 2p = 30 – Qd Qs + 6 = P P = 15 – ½ Qd P = Qs + 6 63 .40 2 .Pe 40 SP Pu f ( P)dP 20 1 1 2 P 4 dP P 5 10 40 40 4P 20 20 1 1 .dQ Misalkan U = Q Sehingga dU = dQ Q Dan dV = e .e Q 2Q.dQ Sehingga V = eQ V .2Q.40 4.dU Maka dengan rumus : U .

Carilah fungsi total biaya dari fungsi marginal biaya sebesar : MC ( Q .Q ) 2 jika berproduksi dari range Q = 4 hingga Q = 8.Qe 0 (15 1 / 2Q)dQ (12. Surplus Produsen 6.12 152 12 2 9 baik menghitung dengan menggunakan rumus ke-1 maupun dengan rumus ke-2 diperoleh surpl.15 30. 2. berapakah surplus produsenya bila ternyata bahwa tingkat harga di pasar adalah 25? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 3.Qe 0 f (Q)dQ 12.Penggambaranya : P Surplus Konsumen P = Qs + 6 atau Qs = – 6 + P P´=15 Pe=12 Surplus Produsen P11= 6 P = 15 – ½ Qd atau Qd = 30 – 2P 0 6 Qe = 6 6 30 PSurplus Konsumen : SK 0 f (Q)dQ Pe .6 72 90 9 72 9 4 atau 15 (30 2P)dP 30P 12 12 P 2 12 30. Seorang produsen mempunyai fungsi penawaran terhadap suatu barang P 1. SP pe .6) 6 15Q 0 1 2 Q 4 6 72 15.us konsumenya sebesar 9.6 0 f (Q)dQ 72 0 (Q 6)dQ 72 1 2 Q 2 6 6 6Q 0 0 72 1 2 6 2 6. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 40 – 10P dan Qs = 12P – 4 Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! 5. dari soal no 2 hitunglah surplus produsenya! Jawab Surplus produsen 6 6 6 1. Fungsi permintaan suatu barang dinyatakan sebagai berikut: Q = 120 – 6P berapakah surplus konsumenya bila ternyata tingkat harga adalah 60? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 4. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 30 – 2 P dan Qs = – 66 + 10 64 .5 Qs +15.6 72 18 36 18 maka akan diperoleh surplus produsen sebesar 18. SELESAIKAN SOAL – SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.6 0 15 15 1 2 .

4 per bangku. Kendala dari A : 2. pertidaksamaan yang keempat merupakan suatu kendala ketidaknegatifan (nonnegativity constrain) yang ditentukan pada setiap soal untuk menghindarkan nilai negatif(karena itu tak dapat diterima)dari penyelesaian. Situasi perekonomian seringkali mengharuskan pengoptimuman suatu fungsi di bawah beberapa kendala pertidaksamaan. dan 1 jam untuk pengepakan (C). 3 jam untuk pemolesan. maka linier programming adalah lebih mudah.5 jam untuk perakitan (A).jadi Dari A x2 = 20 – 2.fungsi obyektifnya.pendakatan ini diperagakan dalam empat langkah yang mudah. Perusahaan tersebut tidak dapat menggunakan lebih dari 20 jam untuk perakitan. selesaikan masing – masing untuk x2 dalam kaitanya dengan x1 . dan 2 jam untuk pengepakan. menjadi Π = 3x1 + 4x2 Di bawah kendala. 30 jam untuk pemolesan. Setiap bangku memerlukan 1 jam untuk perakitan. Contoh 1 Sebuah pabrik memproduksi meja (x1) dan bangku (x2). Setiap meja memerlukan 2. dan 16 jam untuk pengepakan setiap minggu. 3 per meja dan Rp. Nyatakan data tersebut dalam persamaan atau pertidaksamaan.Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! Linier Programming Suatu Pendekatan Grafik 13. betapapun banyaknya. 1.1 Penyelesaian dengan Grafik Tujuan linier programming adalah untuk menetapkan alokasi sumberdaya yang langka secara optimal di antara produk atau aktivitas yang saling bersaing. Jika kendala-kendalanya tersebut. kendala penyelesaian yang termudah adalah dengan pendekatan grafik. dan gambarkan grafiknya. Pendekatan grafik untuk maksimasi dan minimisasi diperagakan masing masing dalam contoh. Margin laba adalah Rp. terbatas variabel.5x1 Dari B x2 = 10 – x1 Dari C x2 = 8 – 0.5x1 (a) (b) 65 . Apabila kendala pertidaksamaan yang dilibatkan lebih dari satu.x2 ≥ 0 Tiga pertidaksamaan pertama merupakan kendala – kendala teknis (echnical constrain) yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan tersedianya input. Pendekatan grafik digunakan dibawah ini untuk mencari bauran (output mix) yang akan memaksimumkan laba mingguan perusahaan tersebut.5x1 + x2 ≤ 20 Kendala dari B : 3x1 + 3x2 ≤ 30 Kendala dari C : x1 + 2x2 ≤ 16 Kendala ketidaknegatifan : x1. 2.fungsi yang akan dioptiumkan. 3 jam untuk pemolesan (B). betapapun banyaknya. Perlakukan ketiga kendala pertidaksamaan tersebut sebagai persamaan.

y2 ≥ 0 dimana kendala teknisnya dibaca ≥ karena kebutuhan minimum harus dipenuhi tetapi ungkin dilampaui 2. masing – masing digambarkan oleh sumbuh tegak (vertikal) dan sumbu datar (horisontal).0). Dengan menggambarkan suatu seri garis isoprofit (garis putus – putus) yng menunjukan laba(profit)yang semakin besar. fungsi obyektif yang akan diminimumkan adalah c = 2y1 + 4y2 di bawah kendala .x1 dan x2 disebut variabel keputusan atau struktural (decision or stuktural variables). 3. 12 untuk B. Perhatikan bahwa terdapat sepuluh titik ekstrim : (0.6). Lihat gambar 13 – 2 (a). Daerah yang digelapkan merupakan daerah yang mungkin memuat semua titik – titik yang memenuhi semua ketiga kendala kebutuhan ditambah kendala ketidaknegatifan. Produk y1 mempunyai dua unit A. 1.garis isoprofit tersebut mempunyai kemiringan .(0.5).x2 ≥ 0.dan satu unit masing – masing B dan C. Kebutuhan harianya adalah 14 untuk A. 13. Di (7.dan harga y2 adalah Rp 4.(7.(8.1 Grafik dari pertidaksamaan asal “ lebih kecil atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kiri garis.jika ada..2).1).3) upamanya.harga y1 adalah Rp 2.dan 18 untuk C. Π = 3 (7) + 4(3) = 31 yang lebih rendah dari Π = 36 diatas. nilai tersebut akan ditenukan pada salah satu titik ekstrim (atau sudut) dari batas tersebut.(4. Dimana x1 4 dan x 2 6 lihat gambar 13 – 1 (b).B dan C.3).(16.lihat gambar 13 – 1 (a). laba dimaksimumkan pada ekstrim(extreme point).gambar 13 . 3 x2 x1 4 4 Jadi. 4.(10.8). Semuanya disebut penyelesaian dasar (basic solution) tetapi hanya lima terakhir yang merupakan penyelasaian dasar yang mungkin (basic feasible solution) karena penyelesaian – penyelesaian tersebut tidak melanggar kendala yang manapun.yang disebut titik .10).2 DALIL TITIK EKSTRIM Dalil titik ekstrim menyatakan bahwa jika suatu nilai optimal yang memungkinkan (optimal feasible value) dari fungsi obyektif ada. Grafik dari pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kanan garis.-.(0. Contoh 2.(a) yang terakhir adallah perpotongan kendala – kendala ketidaknegatifan. gambarkan fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isoprofit. untuk memperoleh pemecahan yang optimal dalam daerah yang memungkinkan.0) dalam gambar 13 – 1. produk y2 mempunyai satu unit masing – masing A dan B dan tiga unit C. = 3(4) + 4(6) = 36.¾. 66 perpotongan kedua kendala tersebut.kita menemukan garis isoprofit yang menunjukan laba terbesar yang memungkinkan menyentuh daerah yang mungkin di E. seorang petani ingin mengetahui bahwa ternak gembalanya memperoleh kebutuhan harian minimum dari tiga bahan pokok makanan pokok A.0). Metode grafik digunakaqn dibawah ini untuk menentukan kombinasi biaya yang paling murah dari y1 dan y2 yang akan memenuhi semua kebutuhan minimum. Daerah itu memuat semua titik – titik yang memenuhi ketiga kendala ditambah kendala ketidaknegatifan. Dengan menggunakan prosedur yang digunakan dalam contoh 1. Dengan mensubstitusikan dalam (13.0) dan (0.(6. kendala dari A : 2y1 + y2 ≥ 14 kendala dari B : y1 + y2 ≥ 12 kendala dari C : y1 + 3y2 ≥ 18 kendala ketidaknegatifan y1. Biasanya hanya salah satu dari penyelesaian dasar yang mungkin tersebut yang akan optimal.kendala ketidaknegatifan x1. Daerah yang digelapkan disebut daerah yang memungkinkan (feasible region). Perlakukan pertidaksamaan selesaikan masing – masing untuk y2 dalam satuan y1 dan gambarkan grafiknya.

jika 5x1 + 3x2 < 30.3 VARIABEL SLACK DAN VARIABEL SURPLUS Soal yang melibatkan lebih dari dua variabel berada di luar lingkup pendekatan grafik dua dimensi yang disajikan dalam bab sebelumnya.s1 = 14 y1 + y2 .ini dilakukan dengan memasukan suatu variabel slack atau surplus yang terpisah (si) kedalam masing – masing pertidaksamaan (kendala ke i) dalam sistem tersebut. Umpamanya di (2.5x1 + x2 + s1 = 20 3x1 + 3x2 + s2 = 30 x1 + 2x2 + s3 = 16 dinyatakan dalam bentuk matriks. x1 2.10).jika 4x1 + 7x2 = 60. sistem perttidaksamaan linear harus dirubah menjadi sistem persamaan linear. gambarkan grafik fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isocost (garis putus-putus) Dari (13. Suatu pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” seperti 4x 1 + 7x2 ≥ 0 sedemikian rupa sehingga 4x1 + 7x2 – s = 60. sedemikian rupa sehingga 5x1 + 3x2 + s = 30.0) tidak dalam daerah yang memungkinkan] 13. s adalah suatu nilai positif yang sama dengn selisih antara 4x 1 + 7x2 dan 60 CONTOH 3 karena kendala – kendala teknis dala contoh 1 semua melibatkan pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” variabel slack ditambah sebagai berikut : 2.jadi c = 2(9) + 3(3) = 30 yang menunjukan suatu biaya yang lebih rendah ketimbang di titik ekstrim yang mungkin lainya. 2y1 + y2 . Untuk memperoleh penyelesaian optimal. s adalah suatu nilai positif yang sama dengan selisih antara 5x 1 + 3x2 dan 30.jika 5x1 + 3x2 = 30. variabel slack s = 0. Suatu pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” seperti 5x 1 + 3x2 ≤ 30 dapat dirubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack s ≥ 0.2 (b) 3.lihat contoh 3. karena itu variabel surplus dikurangkan.variabel surplus s = 0 jika 4x1 + 7x2 = 60.s3 = 18 67 .(a) gambar 13 .karena perlunya persamaan. (0.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 01 x2 s1 s2 20 30 16 s3 sebaliknya dalam contoh 2 semua kendala adalah “ lebih besar atau sama dengan ”.2) y2 c 4 1 y1 2 Garis isocost terendah yang akan menyinggung dareah yang memungkinkan adalah garis singgung (tangen) di y1 9 dan y 2 3 dalam gambar 13 – 2 (b).s2 = 12 y1 + 3y2 .c = 2(2) + 4(10)[untuk soal meminimasi.

untuk tipe 2 adalah 8. karena terdapat 3 persamaan dan 5 variabel .diperlihatkan dibawah ini.Dalil dasar menyatakan bahwa untuk suatu sistem m persamaan dan n variabel.m variabel saa dengan nol merupakan titik ekstrim.perhatikan bahwa penyelesaian dasar tersngebut bukan suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan karena melanggar kendala ketidaknegatifan. tipe dua memerlukan 5 jam untuk peleburan.s2 = 30 dan s3 = 16 merupakan suatu penyelesaian dasar yang dapat dibaca secara langsung dari atriks tersebut.dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas untuk s1.lihat contoh 3. Maksimumkan Π = 24 g1 +8 g2 Dibawah 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala peleburan 68 . Jadi dengan menetapkan n – m variabel sama dengan nol menyelesaikan m persamaan untuk m variabel yang tersisa.s3.s2. y1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 1 y2 s1 s2 s3 13.4 DALIL DASAR Untuk suatu sistem persamaan m yang konsisten dan variabel n. 1.perhitungan untuk menentukan (1) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh suatu penyelesaian dasar dan (2) besarnya penyelesaian dasar yang ada.dan n.jadi s1 = 20. Dalam matriks kedua.s3.besarnya penyelesaian dasar dapat diberikan dengan rumus n! m!(n m)! dimana n! Dibaca n factorial lihat contoh 4 CONTOH 4 dengan mereduksi pertidaksamaan menjadi persamaan dalam contoh 3 menghasilkan tiga persamaan dan lima variabel.dengan menetapkan y1 = 0 dan y2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas yang negatif untuk s1.4 jam untuk percetakan dan 10 jam untuk pemotongan. dimana n > m akan terdapat sejumlah penyelesaian yang tak terhingga.1 jam untuk percetakan dan 5 jam untuk pemotongan.dimana n > m suatu penyelesaian dimana sedikitnya n .m variabel harus sama dengan nol untuk penyelesaian dasar 5 – 3 atau 2 variabel harus sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar atau titik ekstrim. Akan tetapi. n!/[m!(n-m)] dan dengan mensubstitusikan parameter – parameter yang diketahui. 2.marjin laba untuk tipe 1 adalah 24.empat puluh jam tersedia untuk peleburan. 14 12 18 SOAL DAN JAWABAN PERNYATAAN MATEMATIS ATAS MASALAH EKONOMI 1.Dalam bentuk matriks. dengan menggunakan rumus untuk besarnya penyelesaian dasar. banyaknya titik ekstrim adalah terhingga. 5! 3!(2)! dimana 5! = 5(4) (3) (2) (1).akan tetapi.jadi s1 = -14.atau penyelesaian dasar dapat diperoleh. Dalam atriks pertama. Beberapa dasar dapat dibaca secara langsung dari matriks tanpa suatu manipulasi aljabar.s2.nyatakan data tersebut dalam persamaan – persamaan dan pertidaksamaan yang perlu untuk menetapkan bauran output yang akan memaksimumkan laba.suatu titik ekstrim. Sebuah pabrik khusus baja memproduksi dua tipe baja (g1 dan g2) tipe satu memerlukan 2 jam untuk peleburan.dua puluh jam untuk percetakan dan 60 jam untuk pemotongan.s2 = -12 dan s3 = -18 merupakan penyelesaian dasar. Jadi 5(4) (3) (2) (1) 10 3(2) (1) (2) (1) CONTOH 5.

Rp 20. dengan menggunakan data dibawah. 4) Bacalah setiap nilai kritis untuk g1dan g2 pada titik singgung. kasar (x1) dan halus (x2). bagaimanakah kombinasi paling murah yang menjamin kebutuhan harian? Minimumkan Dibawah c = 3 y1 + 4 y2 2 y1 + 3 y2 ≥ 36 kendala vitamin A 2 y1 + 2 y2 ≥ 28 kendala vitamin C 8 y1 + 2 y2 ≥ 32 kendala vitamin D y1 + y2 ≥ 0 4... Pak samin memastikan bahwa ayam – ayamnya mendapatkan paling sedikit 24 unit zat besi dan 8 unit vitamin setiap hari.dan memberikan 2 unit vitamin A. dan 32 unit vitamin D setiap hari. 28 unit vitamin C. Di perusahaan tersebut tersedia waktu 36 jam untuk penghancuran. Merk 1 harganya Rp 3.taruhlah penggaris diatas kemiringan ini gerakkan penggaris tersebut ke titik singgung dengan fungsi obyektif.. dan evaluasilah fungsi obyektif pada nilai – nilai ini. batu halus memerlukan 6 jam untuk penghancuran. x2.Minimumkan c = 40 x1 + 20 x2 + 60 x3 Dibawah 2 x1 + 4 x2 + 2 x3 ≥ 24 kendala vitamin zat besi 5 x1 + x2 + x3 ≥ 24 kendala vitamin x1.4 g1 + g2 ≤ 20 kendala percetakan 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala pemotongan g1 + g2 ≥ 0 2.batu kerikil yang kasar memerlukan 2 jam untuk penghancuran. Maksimumkan Dibawah Π = 24 g1 + 8 g2 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala 1 4 g1 + g2 ≤ 20 kendala 2 69 . 2 unit vitamin C dan 2 unit vitamin D. 30 jam untuk pengayakan dan 40 jam untuk pengeringan. x3 ≥ 0 GRAFIK UNTUK PENYELESAIAN 5. Tentukan bauran output yang memaksimumkan laba dengan menyederhanakan data ini menjadi persamaan – persamaan dan pertidaksamaan.bagaimana makanan – makanan tersebut harus dicampur untuk memberikan pemmenuhan yang paling murah atas kebutuhan harian jika harga makanan tersebut masing – masing Rp 40.. Merk 2 harganya Rp 4. Seorang yang gandrung model hidup sehat ingin memperoleh minimum 36 unit vitamin A.Dengan memakai persamaan persamaan dan pertidaksamaan.dan memberikan 3 unit vitamin A. Dari soal 1. Tepung tulang (x2) memberikan 4 unit zat besi dan 1 unit vitamin.dan tariklah suatu garis putus – putus.padi – padian (x3) memberikan 2 unit zat besi dan 1 unit vitamin. 2 unit vitamin Cdan 8 unit vitamin D. untuk batu halus adalah 50. Sebuah perusahaan gilingan batu untuk pekarangan rumah memproduksi dua macam batu.dan Rp 60. Maksimumkan Dibawah Π = 40 x1 + 50 x2 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala penghancuran 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala pengayakan 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala pengeringan x1 + x2 ≥ 0 3. 3 jam untuk pengayakan dan 2 jam untuk pengeringan. Marjin laba untuk batu kasar adlah 40. 3) Hitunglah kemiringan fungsi obyektif. 5 jam untuk pengayakan dan 8 jam untuk pengeringan. Jagung (x1) memberikan 2 unit zat besi dan 5 unit vitamin. 1) Gambarkan grafik kendala – kendala pertidaksamaan setelah menyelesaikan masing – masing untuk g2 dalam g1 2) Grafikan kembali dan hitamkan daerah yang memungkinkan(feasible region).

3 (b).4 (b) untuk daerah yang memungkinkan. dari g2 = 8 – 2/5 g1.4 (a) untuk kendala yang digrafikan.g2=Π/8– 3 g1.g1 = 20. kemiringan = -3. dalam gambar 13.apabila g2 = 0. Daerah yang mungkin digrafikan dalam gambar 13. Dari fungsi obyektif. x1 =3 dan x2 = 5. g2 = 8. kemiringan = . jadi Π = 40(3) + 50 (5) = 370 (a) gambar 13. x2 = Π /50 – 4/5 x1. gambar 13.4/5.3 (a). Kerjakan kembali seperti soal diatas apabila diketahui data berikut : Minimumkan c = 4 x1 + 2 x2 Dibawah 4 x1 + x2 ≥ 20 kendala 1 2 x1 + x2 ≥ 14 kendala 2 x1 + 6 x2 ≥ 18 kendala 3 x1. di titik singgung. x2 ≥ 0 70 .4 (b).gkin dignh 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala 3 g1 + g2 ≥ 0 kendala – kendala pertidaksamaan tersebut harus digrafikan seperti terlihat dalam gambar 13. g1 = 4 dan g2 = 4. kerjakan kembali seperti soal 5. dengan menggunakan data berikut.3 (b) 6. Dari fungsi obyektif.4 (b) PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 7. apabila g1 = 0.untuk kendala 1. yang diperoleh dalam soal 2 Maksimumkan Π = 40 x1 + 50 x2 Dibawah 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala 1 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala 2 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala 3 x1 + x2 ≥ 0 lihat gambar 13.jadi Π= 24(4) + 8(4) = 128 (a) gambar 13. perhatikan bahwa kendala ketidaknegatifan hanya membatasi analisis pada kuadran pertama.

(a) ubahlah kendala – kendala pertidaksamaan dalam data berikut menjadi persamaan dengan menambahkan variabel slack atau mengurangkan variabel surplus dan (b) nyatakan persamaan tersebut dalam bentuk matriks.8) dan (6.(a) (b) gambar 13.jadi.2) juga termasuk dalam penyelesaian optimal.penyelesaian optimal berganda (multiple optial solution) akan terjadi bilamana terdapat ketergantungan linear antara fungsi obyektif dan salah satu kendala. y2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih kecil atau sama dengan”.karena titik – titik ekstrim (3.8) dan (6.5 Dalamgambar 13. Dala kasus ini. Perhatikan bahwa penyelesaian optimal berganda tidak menyangkal dalil titik ekstrim. fungsi obyektif dan kendala 2 adalah secara linear tergantung (tak bebas) karena yang satu dapat dinyatakansebagai penggandaan dari yang lain. Maksimumkan Π = 24 y1 + 8 y2 Dibawah 2 y1 + 5 y2 ≤ 40 4 y1 + y2 ≤ 20 10 y1 + 5 y2 ≤ 60 y1 . maka tidak terdapat penyelesaian tunggal optimal yang memungkinkan. 2 y1 + 5 y2 + s1 = 40 4 y1 + y2 + s2 = 20 10 y1 + 5 y2 + s3 = 60 y1 (b) 2 5 1 4 1 0 10 5 0 0 0 1 0 0 1 y2 s1 s2 s3 40 20 60 9.2) akan meminimumkan fungsi obyektif dibawah kendala tersebut. x2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih besar atau sama dengan”. yaitu c = 4(3) = 38 atau c = 4(6) + 2(2) = 28 VARIABEL SLACK DAN SURPLUS 8. Setiap titik antara garis (3.s3 = 32 71 .jadi.s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . kurangkan variabel surplus. Kerjakan seperti soal di atas untuk yang berikut : Minimumkan c = 60 x1 + 80 x2 Dibawah 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 x1.s1 = 36 2 x1 + 2 x2 . Tambahkan variabel slack.5 dengan garis isocost menyinggung kendalan kedua. 2 x1 + 3 x2 .

6x1 + 2x2 ≤ 36 2x1 + 4x2 ≤ 28 72 . n – m variabel ditetapkan saa dengan nol dala setiap langkah dari prosedur tersebut. ALGORITMA SIMPLEKS : MAKSIMASI Algoritma adalah suatu kaidah aatau suatu prosedur sistematis untuk mendapatkan penyelesaian suatu soal. Algoritma simpleks adalah suatu metode(atau prosedur perhitungan) untuk menentukan penyelesaian dasar yang memungkan atas asuatu sistem persamaan dan pengujian keoptimalan penyelesaian tersebut. dan penyelesaian diperoleh dengan menyelesaikan m persamaan untuk m variabel sisanya.x1 (b) 2 3 -1 0 0 2 2 0 -1 0 8 2 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 36 28 32 10.g3 ≥ 0 g1 (a) 6 4 5 -1 0 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 6 5 0 -1 g2 g3 s1 s2 30 20 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 (b) (c) karena terdapat dua persamaan dan 5 variabel. Atau lebih sederhana variabel – variabel dasar.karena keduanya negatif penyelesaian – penyelesaian ini tidak dapat menjadi suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan LIN EAR PROGRAMMING ALGORITMA SIMPLEKS : 14. Contoh .1. Algoritma bergerak dari satu penyelesaian dasar yang mungkin ke penyelesaian dasar yang lain. apabila ditentukan Π = 5x1 + 3x2 Di bawah kendala. penyelesaian dasar pertamanya adalah s1 30 dan s2 20 . Minimumkan c = 54 g1 + 48 g2 + 50g3 Di bawah 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 g1.variabel – variabel yang disamakan dengan nol pada langkah tertentu disebut tidak dalam basis atau tidak dalam penyelesaian. maka sebanyak n – m = 5 – 2 = 3 variabel harus ditetapkan sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar. Tentukan (b) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh penyelesaian dasar dan (c) banyaknya penyelesaian dasar yang ada. sampai penyelesaian optimal dicapai. Metode simpleks diilustrasikan dalam contoh 1 untuk maksimisasi dan dalam contoh 3 untuk miniisasi. (d) tentukanlah penyelesaian dasar pertama dari matriks tersebut. (a) Reduksikan kendala – kendala pertidaksamaan dari data berikut ini menjadi persamaan dan nyatakan dalam bentuk matriks. Banyaknya penyelesaian adalah n! m!(n m) (d) 5! 2!(3!) 5(4)(3)(2)(1) 2(1)(3)(2)(1) 10 Dengan menetapkan g1 = g2 =g3 = 0. karna paling sedikit n – m variabel harus sama dengan noluntuk suatu penyelesaian dasar. Algoritma simpleks digunakan sebagai berikut untuk memeksimumkan laba. sembari selalu menyempurnakan penyelesaian sebelumnya. variabel – variabel yang tidak ditetapkan saa dengan nol disebut dalam basis atau dalam penyelesaian.g2.

Dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0. Elemen kolom konstanta dari baris terakhir adalah juga nol.akan menentukan variabel yang meninggalkan baris. x1 6 2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 -1 x2 s1 s2 36 40 28 s3 iii) Susunlah suatu tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien dari persamaan kendala dan vektor kolom dari konstanta letakan diatas satu baris dari indiktor yang merupakan negatif – negatif dari koefisien fungsi obyektif dan sebuah koefisien nol untuk masing – masing variabel slack. ii) Variabel yang dieliminasi ditentukan oleh rasio pemindahan (displacement ratio).s1 = 36. suatu penyelesaian mendasar yang baru diperiksa.5x1 + 5x2 ≤ 40 1. Untuk bergerak kesuatu penyelesaian mendasar baruyang mungkin. Baris dengan ratio pemindahan terkecil (yaitu baris pivot) dengan mengabaikan rasio – rasio lebih kecil atau sama dengan nol. Elemen Pivot dan Perubahan Dasar (basis) Untuk menaikan nilai fungsi obyektif. baris1 merupakan baris pivot. 2. suatu variabel diasukan kedalam basis dan salah satu variabel sebelumnya berada dalam basis harus dikeluarkan.x2 ≥ 0 i) Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan menambahkan variabel – variabel slack 6x1 + 2x2 + s1 = 36 5x1 + 5x2 + s2 = 40 2x1 + 4x2 + s3 = 28 ii) Nyatakan persamaan – persamaan kendala dalam bentuk matriks. Karena vektor 6 6 5 2 satuan (unit vektor) dengan 1 dalm baris pertamanya berada dibawah kolo s 1. Karena 36 memberikan rasio terkecil 36 40 28 . Proses pemilihan variabel yang dimasukan dan variabel yang dikeluarkan tersebut dinamakan perubahan basis (change of basis) i) Indikator negatif dengan nilai absolut terbesar akan menentukan variabel yang asuk ke dala basis. Rasio pemindahan diperoleh dengan membagi elemen kolom konstan dengan elemen kolom pivot. s2 = 40. x1 di asukan ke dalam basis x1enjadi kolom pivot dan ditandai dengan anak panah.sesuai deng n nilai fungsi obyektif di titik asal (kalau x 1 = x2 = 0) Tabel simpleks awal : x1 x2 s1 s2 s3  2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 indikator konstanta 36 40 28 0 iv) Penyelesaian mendasar pertama yang mungkin dapat dibaca dari tabel s impleks awal. seperti dalam contoh 5 bab 3. Elemen pivotnya adalah  elemen pada perpotongan kolom variabel 73 . s3 = 28 pada penyelesaian mendasar pertama yang mung kin tersebut. Tabel Sipleks Awal x1. Karna -5 dalam kolom pertama (atau x1)merupakan indikator negatif dengan nilai absolut terbesar. fungsi obyektif mempunyai nilai nol. maka s1 akan meninggalkan basis.

kalikan baris1 dengan 1 .yang masuk ke basis dan baris yang berhubungan dengan variabel yang meninggalkan basis(yaitu elemen pada perpotongan baris pivot dan kolo pivot) 3.swebagai berikut : i) Kalikan baris pivot dengan kebalikan (reciprocal) dari eleen pivot. 3 i. ini memberikan tabel kedua x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 10 16 0 30 1 6 5 6 1 3 5 6 0 1 0 0 10 3 10 3 4 3 0 1 0 Penyelesaian mendasar kedua yang mungkin dapat dilihat secara langsung dari tabel kedua. seperti dala metode eliminasi Gauss ( lihat butir 10.12). kurangkan 5 kali baris1 dari baris2.dan s3 = 16. Karena 4 dalam kolom kedua merupakan satu – satunya indikator negative. Maka x2 3 dimasukan kedalam basis. Dengan mengubah basis dan melakukan pivoting kontinu menurut kaidah di atas sampai hal ini di capai. 4. Jadi 10 3 menjadi elemen pivot yang baru. Di sini.2 kali baris1 dari baris3 dan tambahkan 5 kali baris1 ke baris4. s2 = 0. rampungkan kolom pivotnya. 30) merupakan nilai fungsi obyektif pada penyelesaian mendasar kedua yang mungkin. pivoting hanya meliputi pengubahan elemen pivot menjadi 1 dan semua eleen lainya dalam kolom pivot menjadi nol. Karena hanya satu variabel baru yang memasukibasis pada setiap langkah proses. kolom2 menjadi kolom pivotnya.dan langkah sebelumnya selalu melibatkan suatu matriks identitas. Pivoting Pivoting adalh proses penyelesaian m persamaan dalam bentuk m varibel yang sekarang berada dala basis. Dalam hal ini. sekarang tinggal suatu atriks identitas yang memberikan x1 = 6. maka s2 akan meninggalkan basis untuk mempivot. eleen terakhir dala baris terakhir (dalam hal ini. Karena vector satuan dengan 1 dalam baris keduanya adalah dibawah s2 . Dengan membagi kolom konstanta dengan kolom pivot memperlihatkan bahwa rasio terkecil adalah dalam baris kedua. Kalikan baris2 dengan 10 x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 3 16 30 74 1 6 1 4 1 3 5 6 0 3 10 0 0 1 10 3 4 3 0 1 0 0 . Optimisasi Fungsi obyektif di maksimumkan kalau tidak terdapat indikator negative dalam baris terakhir. 6 Tabel kedua: x1 x2 s1 s2 s3 1 1 3 konstanta 6 40 28 0 1 6 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 ii) Setelah mereduksi elemen pivot menjadi 1. Dengan menetapkan x2 = 0 dan s1 = 0 .

C melambangkan berbagai konstanta dalam kendala 1.B. para mahasiswa mungkin lebih baik membaca bab 15 terlebih dahulu. jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala dalam (14. Dengan s1 0 dan s 2 0 .1) dan (2) mengevaluasi jimlah nilai marginal dari sumberdaya (resources). Jadi. Umpamakan A. Π = 5x1 + 3x2 5x1 + 5x2 + s2 = 40 = 5(5) + 3(3) = 34 5(5) + 5(3) + 0 = 40 6x1 + 2x2 + s1 = 36 2x1 + 4x2 + s3 = 28 6(5) + 2(3) + 0= 36 2(5) + 4(3) + 6 = 28 2. Semua sarat harus dienuhi untuk suatu optimum. ALGORITMA SIMPLEKS : MINIMISASI Apabila algoritma simpleks digunakan untuk mencari suatu nilai minimal. ini merupakan penyelesaian optimal.2. CONTOH 2. dari (14. Nilai indicator dibawah setiap variabel slack dalam tabel terakhir menyatakan nilai marginal (marginal value) atau harga bayangan (Shadow price) dari input yang berhubungan dengan variabel tersebut. Π = MPA (A) + MPB (B) + MPC (C) = 1 2 (36) + 2 5 (40) + 0 (28) = 34 14. s1 0 . dan sebesar 0 untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 3.tidak akan menambah sesuatupun pada fungsi laba).dan tambahkan 4 3 s2 1 10 3 10 s3 0 0 1 0 konstanta 5 3 6 34 1 2 1 2 -1 2 5 Penyelesaian mendasar ketiga yang memungkinkan dapat dibaca secara langsung dari tabel tersebut.lihat contoh 3.11. 75 .1) tidak terdapat variabel slack dalam dua kendala yang pertama dan dua input yang pertama semuanya habis. karena kendala 3 mempunyai variabel slack positif.ii. Kemudian kurangkan 1 kali baris2 dari baris1. Karena tidak terdapat indicator negative yang tertinggal dalam baris terakhir. x 2 3 . dan sebesar 5 atau 40 sen untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 2. laba akan naik sebesar ½ unit atau 2 50 sen untuk perubahan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 1. 6 unit dari input yang ketiga tetap tidak terpadu. yang di bahas dalam bab 15. seringkali akan lebih mudah untuk menyelesaikan soal – soal minimasi dengan memakai dua. Nilai optimal dari fungsi dari fungsi obyektif akan selalu sama dengan penjumlahan dari nilai marginal setiap input dikalikan kuantitas yang tersedia dari masing – masing input. alam contoh 1. erarti tidak sepenuhnya dimanfaatkan penyelesaian optimal dan nilai marginalnya adalah nol (yaitu penambahan satu lagi unit lain.3. 1. s 2 0 . nilai negative yang dihasilkan oleh variabel surplus menghadirkan suatu soal istimewa. Untuk gabar grafik lihat contoh 13. fungsi obyektif tersebut mencapai suatu maksimum pada 34 . oleh karena itu.2. yaitu berapa banyak fungsi obyektif akan berubah sebagai akibat dari kenaikan satu unit dalam input tersebut. menghasilkan table ketiga Tabel ketiga x1 x2 1 0 0 0 0 1 0 0 s1 1 4 1 4 10 3 kali baris2 dari baris3. Akan tetapi. 3 kali baris2 ke baris4. Elemen terakhir dalam baris terakhir menunjukan bahwa x1 5 . s 3 6 . 14.3. NILAI MARGINAL ATAU HARGA BAYANGAN. dengan s 3 6 .

2 x1+ x2 ≥ 14 x1+ x2 ≥ 12 x1+ 3 x2 ≥ 18 x1 .2) diatas baris indicator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif. tabel simpleks awal (sedikit dimodifikasi) i. dimana M adalah suatu bilangan besar yang tidak mungkin (impossibly large number) untuk meyakinkan bahwa A akan dikeluarkan dari penyelesaian optimal. s3 = -18 dan nilai negatif adalah tidak mungkin (nonfeasible). x1 14 12 18 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 14 12 18 2. Tambahkan variabel – variabel buatan. iii. seperti dalam simpleks awal untuk maksimisasi. dibawah kendala – kendala gizi. harus di msukan variabel – varaibel buatan (artificial variables). algoritma simpleks digunakan di bawah ini untuk meminimumkan biaya. Jadi. x2 ≥ 0 1. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 -2 -4 0 0 0 -M -M indikator 0 0 1 -M 14 12 18 76 . s2 = -12.CONTOH 3. Sutu variabel yang terpisah ditambahkan untuk masing – masing pertidaksamaan asal yang bersifat “lebih besar atau sama dengan”. ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus 2 x1+ x2 – s1 = 14 x1+ x2 – s2 = 12 x1+ 3 x2 – s2 = 18 ii. Variabel tersebut tidak mempunyai makna ekonomi. Fungsi obyektif mempunyai koefisien – koefisiennol untuk variabel surplus dan koefisien – koefisien M variabel – variabel buatan. dimana c = 2 x1+ 2 x2 . i. Tabel Simpleks Awal yang Disesuaikan untuk Meminimisasi. Buatlah tabel simpleks awal dengan meletakan matriks koefisien dan vector kolom dari konstanta dalam (14. dengan y sekarang dig anti x. Data tersebut berasal dari contoh 2 dalam bab13. penyelesaian dasar tidak mungkin karena s 1 = -14. x1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 Dari matriks tersebut jelas bahwa jika x1 = 0 dan x2 = 0. Nyatakan persamaan kendala dalam bentuk matriks. Variabel buatan (Ai ≥ 0)adalah suatu variabel kosong (dummy variable) yang ditambahkan dengan maksud khusus untuk menghasilkan suatu penyelesaian dasar awal yang mungkin. Untuk mengatasi masalah tersebut.

sebagaimana ditandai dengan anak panah. dan fungsi obyektifnya adalah 44M. maka baris3 menjadi baris pivot.4 3 7M . Untuk menimasi. suatu bilangan besar yang tidak mungkin. elemen pivot pada perpotongan kolom pivot dan baris pivot adalah 3. Untuk menurunkan biaya. 3. 5M – 4 merupakan indicator positif terbesar. Elemen Fivot i. Kemudian pindahkan M dari kolom variabel buatan dengan menambahkan M kali ( baris1 + baris2 + baris3). ii. indicator positif terbesar akan menentukan kolom pivot dan variabel yang memasuki basis. Pengulangan (Reiterasi) 77 .ini akan menghasilkan tabel awal. Baris pivot dan variabel yang meninggalkan basis ditentukan oleh rasio terkecil yang dihasilkan dari pembagian elemen – elemen kolom pivot. Jadi x 2 menjadi kolom pivot. bukan indicator . Pivoting i. A3 3 akan meninggalkan basis karena vector satuan dengan 1 dalam baris ketiga adalah berhubungan dengan A3. persis untuk soal maksimisasi. dan (5M-4) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 5 3 2 3 1 3 0 0 1 3 -1 0 0 0 -1 0 1 3 1 3 1 0 0 0 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 8 6 6 14M + 24 -1 3 2M . A2 = 12. Dengan mengandaikan x1 = x2 = s1 = s2 = s3 = 0. karena 18 6 merupakan rasio terkecil yang dihasilkan. penyelesaian mendasar pertama yang memungkinkan adalah A1 = 14. 44M . carilah perubahan basis. Tabel awal x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 1 1 0 1  0 4M-2 5M-4 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 14 12 18 44M Penyelesaian mendasar pertama yang unkindapat dilihat secara langsung dari tabel awal tersebut. Kurangi elemen pivot menjadi 1 dengan mengalikan baris 3 oleh 2 1 1 3 1 3 1 1 1 -1 0 0 0 0 -1 0 0 -1 3 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 3 14 12 6 44M 4M-2 5M-4 -M -M -M 0 0 ii. Karena elemen terakhir dari baris paling bawah .ii. 4. A3 = 18.2 0 -M -M 0 -5M 4 3 5. Rampungkan kolom pivot dengan engurangkan baris3 dari baris1 dan baris2.

7M 5 22 5 14M 136 5 2M . 6.2 -M -M 0 -5M 4 3 ii.Selama masih ada suatu indikator positif.elemen pivotnya adalah 5 . baris pivot yang baru adalah baris1. jadi x1 masuk ke basis dan A1 meninggalkan basis. dan kurangkan 1 baris2 dari baris3 dan [2M – 2)/5] baris2 dari 5 baris4.6M 6 5 14M 136 5 3 ii. proses tersebut berjalan terus. Kalikan baris1 dengan 1 2 3 1 3 3 5 .`12 . 3 -5 0 0 1 0 3 0 -1 0 1 5 1 3 3 5 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 24 5 0 0 0 0 0 6 6 14M + 24 -1 3 2M .2 5 M-6 5 0 -6M 6 5 . 3 – 2)/3] baris1 dari baris4. Pivot Keempat i. Rampungkan kolom1 dengan mengurangkan 2 baris1 dari baris2. Kalikan baris2 dengan 5 2 1 0 0 0 0 0 1 0 3 -5 0 5 2 1 5 1 2 2 5 3 5 0 5 2 -1 5 . Tabel keempat x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 0 1 1 5 s2 -3 2 5 2 s3 1 2 1 2 2 5 A1 0 -1 -1 5 -M A2 3 2 5 2 A3 . Kolo pivot yang baru menjadi kolom1. dan (7M s2 0 -1 0 -M s3 1 5 1 5 2 5 A1 3 5 2 5 A2 0 1 0 2 A3 -1 5 -1 5 2 5 konstanta 24 5 14 5 -1 5 . 3 i.`12 2 5 konstanta 9 7 3 30 78 0 -1 0 0 -1 -M+1 -M+1 .4 3 7M .`12 2 5 24 5 1 1 5 -1 -1 5 . x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 3 -5 2 5 1 5 1 3 baris1 dari baris3. Tambahkan 5 baris2 ke baris1.2 5 M-6 5 . menghasilkan tabel ketiga.7M 5 2 14 5 0 -M 0 0 22 5 2M .

1.dengan memishkan matriks identitas. Ini harus cocok dalam setiap yang berurutan dapat membantu dalam menemukan kesalahnmatematis. dan memperhatikan bahwa vector satuan untuk x 2 dan s1 berbalikan. indikator darivariabel – variabel buatan semuanya negatif dalam tabel terakhir. A2. 5. s1 7 . Jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala.Dengan semua indikator negatif. x 2 3 . suatu penyelesaian optimal yang mungkin telah dicapai. 2.B. Dengan indicator untuk s1 sama dengan nol. A3). pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi kedua dan ketiga akan mengurangi biaya sebesar Rp 1. nilai fungsi obyektif ditunjkan oleh elemen terakhir dari baris terakhir.s3) selalu sama dengan negatif dari elemen – elemen koefisien untuk variabel – variabel buatanya yang berkaitan (A1. karena nilai absolut indikator untuk s2 dan s3 adalah 1. Dengan s 2 s 3 0 . tidak terdapat surplus. Untuk penyelesaian dual soal pada soal yang sama. c = MCA(A) + MCB(B) + MCC(C) = 0(14) + 1(12) + 1(18) = 30 79 . pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi pertama tidak akan mengurangi biaya. Nilai absolut dari indicator untuk variabel – variabel surplus memberikan nilai marginal atau harga bayangan dari kendala. Akan tetapi.3.2. dan (2) mengevaluasi jumlah biaya marginal sumberdaya. s 2 0 . dimana c 30 Beberapa hal penting untuk diperhatikan : 1. CONTOH 4. 4.-. elemen – elemen koefisien dari dari variabel surplus(s1. kebutuhan kedua dn ketiga dipenuhi secara tepat . 3. suatu variabel buatan tidak akan pernah tampak dalam basis tabel terakhir jika suatu penyelesaian dasar optimal yang mungkin telah dicapai.C melambangkan konstan . Ini harus selalu cocok untuk suatu penyelesaian optimal. sebagaimana halnya nilai marginal. lihat contoh 4 dan 5 dalam bab 15.s2.konstan dalam kendala 1. Dengan s1 7 kebutuhan pertama dipenuhi secara berlebih sebesar 7 unit. dan s 3 0 . penyelesaian dasar optimal yang memungkinkan tersebut dapat dibaca secara langsung dari tabel keempat x1 9 . biaya total akan sama dengan jumlah dari berbagai kebutuhan dikalikan harga bayangan masing – masing.misalkan A. c = 2x1 + 4x2 x1 + x2 – s2 = 12 = 2(9) + 4(3) = 30 9 + 3 – 0 =12 2x1 + x2 – s1 = 14 x1 + 3x2 – s3 = 18 2(9) + 3 – 7 = 14 9 + 3(3) – 0 = 18 2.

y2 ≥ 0 1.5y1 + y2 + s1= 20 3y1 + 3y2 + s2 = 30 y1 + 2y2 + s3= 16 ii.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 0 1 iii. dan tambahkan 4 kali baris3 ke baris4 80 . s2 = 30. penyelesaian mendasar pertama yang mungkin adalah s1 = 20. 3 kali baris3 dari baris2 . Π = 0. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan berikut. Indikator negatif dengan nilai absolute terbesar (anak panah) menentukan kolom pivot. Maksimumkan Π = 3y1 + 4y2 Yang terikat pada 2. pada penyelesaian mendasar pertama yang mungkin tersebut. Pivot. elemen pada perpotongan baris pivot dan kolom pivot. 5 2 3 1 2 -3 ii. 3. Rasio pemindahan terkecil yang diperoleh dari pembagian elemen kolom konstanta dengan elemen kolom pivot menentukan baris pivot. Ubahlah elemen pivot menjdin1 dengan mengalikan baris3 dengan ½ . Jadi. Buatkan tabel simpleks awal i.SOAL DAN JAWABAN MAKSIMISASI 1. 2. Tentukan harga bayangan dari input (atau kebutuhan) untuk kendalanya.5y1 + y2 ≤ 20 3y1 + 3y2 ≤ 30 y1 + 2y2 ≤ 16 y1. 2. y2 s1 s2 20 30 16 s3 Bentuklah tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien persamaan kendala dan vector kolom konstan yang diletakan diatas baris indikator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif dengan koefisien nol untuk variabel awal : Tabel awal : y1 5 2 y2 s1 s2 s3 1 3  -4  1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 konstanta 20 30 16 0 3 1 -3 Dengan menetapkan y1 = y2 = 0. Tambahkan variabel slack pada kendala untuk membuatnya jada persamaan . Merubah basis. Nyatakan persamaan – persamaan tersebut dalam nentuk matriks y1 2.  menjadi elemen pivot. dan s3 = 16. i. 1 1 0 0 3 0 1 0 1 0 0 1 2 -4 0 0 0 20 30 8 0 Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan baris3 dari baris1 .

2 dan 1. y 1 4 . s1 4 . lihat contoh 1 dalam bab 13 dimana x digunakan sebagai pengganti y. Tabel final : y1 0 1 0 0 y2 s1 0 0 1 0 s2 s3 3 2 konstanta 4 4 6 36 1 -4 3 0 2 3 -1 1 2 0 -1 3 0 2 3 1 Karena tidak terdapat indikator negatif yang tertinggal. y 2 6 . dan nyatakan dalam bentuk matriks.x2 ≥ 0 1. Harga bayangan dari input berturut – turut adalah 0. dan 3 adalah elemen pivot.Tabel kedua : y1 2 3 2 1 2 y2 s1 s2 s3 0 0 1 0 0 1 -1 2 -3 2 1 2 konstanta 12 6 1 0 0 8 -1 0 0 0 2 32  4.s1= 36 2 x1 + 2 x2 . Miniumkan Yang terikat pada c = 60 x1 + 80 x2 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 x1. Kalikan baris2 dengan 2 1 1 2 3 2 0 0 1 0 0 2 3 -1 2 -1 1 2 12 4 8 32 -1 1 0 0 0 0 0 2 ii. 2 i. ½ kali baris2 dari baris3. Kolom 1 adalah kolom pivot. dan Π = 36. Ubahlah basis pada pivotnya sekali lagi. tbel fina dapat diperoleh. 3 MINIMISASI 2. Tentukan harga bayangan dari masing – masing persyaratan kendalanya. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan yang diberikan di bawah ini. Dengan mengoreksi fakta bahwa vektor – vektor satuan dari matriks identitas tidak beraturan (out of order). baris2 baris pivot. dan tambahkan barsi2 ke baris4.s3= 32 81 . Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus. Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan 2 kali baris 2 dari baris1 .s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . 2 x1 + 3 x2 . s 3 0 . s 2 0 .

8 adalah elemen pivotnya. Karena 12M -60 merupakan indikator positif terbesar dan 32 adalah rasio pemindahan terkecil. Pilihlah elemen pivotnya dan pivotkan. x1 2 2 8 -60 x2 3 2 2 -80 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 14 12 18 Rampungkan kolom – kolom variabel buatan M dengan menambahkan M dikalikan (baris1 + baris2 + baris3) ke baris4 untuk mendapatkan tabel awal. Tabel awal x1 x2 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 2 3 2 2  2 12M-60 7M-80 3. tambahkan variabel – variabel buatan x1 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 2. 8 i. Buatlah tabel awal dengan melengtakan matriks koefisien dan vektor kolom dari konstanta di atas negatif darikoefisien – koefisien fungsi obyektif yang mempunyai koefisien nol untuk variabel – variabel surplus. dan koefisien yang secara semu (M) untuk variabel – variabel buatan.x1 2 2 8 3 2 2 -1 0 0 0 -1 0 0 0 -1 x2 s1 s2 20 30 16 s3 Karena penyelesaian dasar pertamanya tidak akan mungkin. Kalikan baris3 dengan 2 2 1 3 2 1 4 1 8 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 8 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 8 36 28 4 96M 12M-60 7M-80 0 82 .

dan (12M-60) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 0 0 1 0 5 2 3 2 1 4 -1 0 0 0 -1 0 M 1 4 1 4 1 8 1 0 0 15 0 1 0 0 0 0 1 3M 2 15 28 20 4 48M + 240 4M-65 -M -M 0 2 4. Kurangkan x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 3 2 baris1 dari baris2. s1 s2 0 -1 0 s3 1 10 1 10 1 4 baris1 dari baris3.20 -1 1 . Kalikan baris1 dengan 2 5 0 -1 0 1 10 1 4 1 8 M 15 2 2 3 0 0 1 0 1 3 2 1 4 -2 3 0 0 0 0 1 0 0 1 . Pivotkan untuk ketiga kali. Tambahkan 10 kali baris2 ke baris1 dan kurangkan + [(3M/5). 2 kali baris3 dari baris2.10 1 .10 56 5 16 3 6 3 1 1 10 -5 3 0 26 -M M 10 1 6 3 . Kurangkan 2 kali baris3 dari baris1.ii. 5 merupakan eleen pivot yang baru. i. dan (4M – 65) baris1 dari baris4 A1 2 3 A2 0 1 0 A3 1 .10 56 5 -1 4 1 8 3M 15 2 20 4 48M+ 240 - 0 0 4M–65 -M -M =+ + + ii.10 -1 6 3 20 0 26 0 3M 5 1 8M 5 11M 10 1 16M 5 968 =+ + 1 ii.10 16 5 3 . Kalikan baris2 dengan 5 3 0 1 10 2 3 0 0 1 0 1 0 0 0 2 -5 0 5 3 1 .26]kali baris2 dari baris4 iii.20 3 20 4 1 3M 5 26 -M  M 1 8M 26 0 5 10 11M 10 48M + 240 5. Pivotkan lagi i.10 56 5 konstanta 2 -5 3 5 1 10 3 -5 1 . Dengan engingat bahwa eleen negatif tidak dapat digunakan 3 dalam penyebut dari rasio pemindahan. 2 5 kali baris2 dari baris3 dan 83 .

1 6 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 0 0 1 6 -2 3 10 1 6 0 -6 0 -M 2 3 -1 6 -1 1 6 40 3 1 1 6 10 -1 6 32 2 3 130 3 10 3 M 130 3 M 1 6 10 3 3320 3 ii.Tabel keempat : x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 s1 0 1 0 0 s2 -2 3 5 3 s3 1 6 1 6 A1 0 -1 0 -M A2 2 3 A3 -1 6 -1 6 1 6 konstanta 40 3 16 3 2 3 5 3 1 6 -1 6 -1 6 M 130 3 130 3 10 3  M 10 3 3320 3 6. Kurangkan 10 3 kali baris2 dari baris1. s1 s2 0.10. dan 0. Buatlah tabel awal Tabel awal .x2 ≥ 0 1. Harga bayangan dari persyaratan yang erupakan kendala masing – masing adalah 20. dan c 1000 . x2 8 . x1 6 . tambahkan kali baris2 ke baris3. Pivotkan keempat kali i. PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 3. dan s 3 32 . x1 x2 s1 -1 0 0 -M s2 0 -1 0 -M s3 0 0 -1 -M A1 1 0 0 0 A2 0 1 0 0 A3 0 0 1 0 konstanta 20 14 18 52M 4 1 2 1 1  7M-4 8M-2 84 . dan kurangkan kali baris2 dsari baris4 Tabel final : x1 x2 s1 s2 s3 0 0 1 0 1 0 0 0 -1 1 6 -10 1 -3 2 -20 -10 A1 A2 A3 -0 -1 0 -M konstanta 8 32 6 1000 0 1 -1 1 -6 10 3 0 -1 2 0 -M+20 -M +10 Dengan memperhatikan urutan dari vektor – vektor unit. Kalikan baris2 dengan 6. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesikan persamaan dan pertidaksamaan – pertidaksamaan berikut Minimukan c = 4x1 + 2x2 Yang terikat pada 4x1 + x2 ≥ 20 x1 + 6x2 ≥ 18 2x1 + x2 ≥ 14 x1.

s 3 0 . Dan c 28 .11 2 11 konstanta 6 6 2 28 - - -2 0 -M+2 -M Dari tabel final x1 6 .11 1 11 1 23 23 11 . Dasar – Dasar Aljabar Matriks atau Linear 1. x 2 2 . maka pasti terdapat lebih dari satu penyelesaian optimal.11 2 .23 2M 4 23 A1 6 23 A2 A3 1 0 .23 11 23 s2 0 -1 0 22 s3 1 23 2 23 4 .23 2 1 . mempunyai indikator nol.11 23 . dan (3) memberikan 85 . Kalikan baris3 dengan 1 setelah menurunkan elemen pivot menjadi 1. Kemudian kurangkan +6 baris3. fungsi obyektif pasti mempunyai penyelesaian optimal berganda. Ini berarti bahwa variabel s3 dapat dimasukan ke basis tanpa mempengaruhi nilai fungsi obyektif. (2) memberikan cara yang cepat untuk menentukan apakah suatu pemakaian terdapat pemecahan sebelum di coba. s 3 . 11 6 kali baris1 dari x1 x2 1 0 0 0 0 0 1 0 s1 6 . x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 23 6 11 6 0 0 1 11 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 1 6 1 6 1 0 0 0 0 1 0 0 1 6 1 6 1 6 4 1 3 17 11 3 28M + 6 1 6 -1 6 M 1 3 17M 3 0  6 3. s 2 0 . Pivot sekali lagi. 6 kurangkan baris3 dari baris1 dan dan dari baris2 dan (8M – 2) kali baris3 dari baris4 menghasilkan tabel kedua Tabel kedua . Kalikan baris1 dengan 23 . Bilamana suatu variabel yang tidak berada dalam basis mempunyai indikator nol. dan [(17 – 11)3] kali baris1 dari baris4 Tabel ketiga . kurangkan Tabel final .1 PERANAN ALJABAR MATRIKS Alajabar matriks (1) memungkinkan untuk menyatakan suatu system persamaan yang rumit dalam suatu cara yang ringkas dan sederhana. Pivotkan. yang tidak terdapat basis terakhir. Kalikan baris2 dengan baris1.2.23 1 23 0 22 4 23 25M 4 23 11M 23 -M 34M 23 0 66M 23 512 4. x1 1 0 0 0 x2 s1 0 0 1 0 0 1 0 0 s2 6 . Pivot ketiga kali. Karena fungsi obyektif telah berada pada optimum.11 23 1 .23 konstanta 102 23 66 23 52 23 . dan [(11M – 22/23)] kali baris2 dari baris4 s3 1 11 2 11 2 11 A1 0 -1 0 -M A2 6 11 23 11 1 11 A3 1 . Kemudian tambahkan 6 23 kali baris2 ke kali baris2 dari baris3. s1 6 . Akan tetapi.

suatu fungsi non linear. Jika matriks terdiri dari stu baris.sebagai berikut : Log Q = log A + α log K +β log L Dengan cara serupa. 86 . yang masing – masing mempunyai tempat yang ditata secara cermat dalam matriks.2.sarana penyelesain system persamaan. α32 adalah elemen yan berada pada baris ketiga. Karena baris selalu mendahului kolom dalam notasi matriks. Jadi α23 adalah elemen yang berada pada baris kedua. diketahui a 11 a 12 a 13 a 23 a 33 (3x3) A a 21 a 22 a 31 a 32 B 3 9 8 4 2 7 C (2x3) 7 4 5 D (3x1) 3 0 1 (1x3) A adalah matriks umum terdiri dari 3 x 3 = 9 elemen. jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( yaitu m = n ). perusahaan deapat menentukan tingkat persediaan dalam setiap saluran distribusinya. Penempatanya adalah tepat dalam matriks. Akan tetapi. untuk sebuah perusahaan dengan beberapa saluran distribusi yang menjual beberapa produk yang berbeda.temali 120 180 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 pakaian ski 150 110 80 140 Dengan membaca menyusun baris matriks. perusahaan dapat menentukan persediaan setiap jenis produksinya. Perhatikan bahwa tidak ada tanda baca yang memisahkan elemen – elemen suatu matrik. bilangan baris selalu mendahului bilangan kolom. Bilangan – bilangan ( parameter atau variabel) disebut sebagai elemen matriks. pembatasan ini umumnya tidak memberikan persoalan yang serius. fungsi eksponensial dan fungsi pangkat yang lain dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear. aljabar matriks hanya dapat diterapkan pada system persamaan linear. 1. Matriks yang mengkonversikan baris A menjadi kolm dan kolom A menjadi baris disebut transpose A dan diberi tanda A' (atau AT). Contoh 2. Jadi matriks tersebut adlah matriks bujur sangkar. saluran 1 2 3 4 papan luncur tongkat tali . Contoh 3. mungkin untuk membantu mengingat subscript tersebut dengan istilah BK atau beberapa cara yang lain untuk nmembantu mengingat. maka matriks tersebut adlah vector baris. kolom ketiga. parameter atau variabel yang disusun segi empat. dengan dimensi 1 x n. Banyaknya baris (m) dan kolom (n) menentukan dimensi matriks ( m x n ). dan kemudian di selesaikan dengan aljabar matriks. seperti fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum Q=AKα Lβ Dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear dangan mencari logaritma masing – masing ruas. Karena banyak hubungan ekonomi dapat di dekati dengan persamaan linear dan yang lain dapat dikonversikan menjadi hubungan linear. yang pertama menunjukan baris dimana elemen tersebut berada dan yang kedua menunjukan kolomnya. yang di susun dalam 3 baris dan 3 kolom. kolom kedua. Bilangan pada deretan vertkal disebut kolom. Elemen – elemen tersebut semuanya mempunyai subscript ganda. matriks memberikan cara yang ringkas untuk mengendalikan persediaan. matiks tersebut adalah vekor kolom. DEVINISI DAN ISTILAH Matriks adalah deretan bilangan. Jika matriks terdiri dari satu kolom tunggal sedemikian rupa sehingga dimensinya m x 1. Contoh 1. Dalam matriks bujur sangkar square matrix). Dengan mambaca menurun suatu kolom matriks. yang di baca m kali n.

hasil perkalian skalar k A.07 disebut skalar. bilangan sederhana seperti 12. apabila diketahui k = 8 dan 87 . C adalah vector kolom dengan dimensi (3 x 1). Contoh 4. apabila diketahui matiks – matriks C dan D. misalkan pengiriman D dilakukan ke saluran – saluran distribusi perusahaan dalam contoh 1. C 4 9 2 6 D (2x2) 1 7 5 4 C (2x2) D 4 -1 9 . dan seterusnya. penjumlahan A + B di hitung dibawah ini.-2.berapa tingkat persediaan yang baru?.3. PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Penjumlahan (dan pengurangan) dua matriks A + B (atau A – B) mengharuskan matriks – matriks tersebut berdimensi sama. S D 120 200 175 140 40 25 15 60 110 20 180 30 190 0 170 40 90 210 160 180 50 10 40 10 150 110 80 140 10 60 70 50 160 225 190 200 130 210 190 210 140 220 200 190 160 170 150 190 1. D 40 20 50 10 25 30 10 60 15 0 40 70 60 40 10 50 Untuk mendapatkan tingkat persediaan yang baru. Transpose A adalah a 11 a 21 a 31 A' a 12 a 13 a 22 a 23 a 32 a 33 5 Dan transpose C adalah C' 7 4 1. elemen b12 -nya adlah 9.0.7 2-5 6-4 (2x2) 3 2 -3 2 (2x2) Contoh 5. misalkan matriks mula – mula S dan selesaikan S + D. PERKALIAN SKALAR Dalam aljabar matriks. 8 9 7 1 3 6 A 3 6 2 4 5 10 B (3x3) 5 2 4 7 9 2 (3x3) A B 8 1 9 3 7 6 3 5 6 2 2 4 4 7 5 9 10 2 (3x3) 9 12 13 8 8 6 11 14 12 ( 3 x 3) Selisih C – D. Setiap elemen matriks yang satu kemudian ditambahkan ke (dikurangkan dari) b11 dalam B. Contoh 6.B adalah matriks 2 x 3. dengan mengetahui matriks A dan matriks B. D adalah vector baris dengan dimensi (1 x 3).4.α12 ke b12. Prosesnya disebut perkalian skalar (scalar multiplication)karena menaikan atau menurunkan matriks tersebut menurut besarnya skalar. dengan menjumlahkan elemen – elemen yang bersesuaian dari masing – masing matriks tersebut. Perkalian matriks dengan bilangan atau scalar meliputi perkalian setiap elemen dari matriks tersebut dengan bilangan itu. elemen b21 -nya adlah 4.diperoleh sebagai berikut .

5.6. mensyaratkan bahwa kedua matriks tersebut bersesuaian yaitu bahwa n1 = m2. Jadi hasil perkalian baris – kolom akan merupakan suatu bilangan tunggal atau scalar. Ini dipakai sebagai dasar untuk semua perkalian matriks.5. matriks akhir (lag matriks). Setiap vektor baris pada matriks awal kemudian dikalikan dengan setiap vektor kolom dari matriks akhir. 8(6) 8(9) 6 9 2 7 8 4 (3x2) kA 8(2) 8(7) 8(8) 8(4) (3x2) 48 72 16 56 64 32 (3x2) 1. dan menjumlahkan hasilnya : AB = (a11 x b11) + (a12 x b21) + (a13 x b31) dan seterusnya. menurut kaidah untuk perkalian vektor baris dan vektor kolom yang di bahas dalam butir 1. atau jumlah kolom pada 1. Diketahui 88 . Contoh 7. PERKALIAN MATRIKS Perkalian dua matriks berdimensi (m x n)1 dan (m x n)2. Kemudian. hasilkali AB dari vektor baris A dan vektor kolom B. Hasilkali baris – kolom tersebut disebut hasilkali dalam (inner product). hasilkalinya didapatkan dengan mengalikan elemen – elemen individual dari vektor baris dengan elemen – elemen yang beresesuaian dengan vektor kolom. matriks awal (lead matriks) saa dengan jumlah di bahbaris pada 2. 1. Pembalikan susunan perkalian dalam salah satu vektor di atas dan dengan diperolehnya perkalian vektor kolom – baris (BA atau DC) akan menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda. AB = 4(12) + 7(1) + 2(5) + 9(6) = 48 + 7 + 10 + 54 = 119 Hasilkali vektor – vektor berikut : A adalah 3 6 8 (1x3) A 2 4 5 (3x1) CD = (3 x 2) + (6 x 4) + (8 x 5) = 6 + 24 + 40 = 70 Perhatikan bahwa karena masing – masing pasangan vektor diatas mempunyai jumlah elemen yang sama. sehinga setiap elemen cij dari atriks hasilkali C adlah suatu skalar yang berasal dari perkalian baris ke i dari matriks awal dan kolom ke j dari matriks akhir. PERKALIAN VEKTOR Perkalian vektor baris (A) dengan vektor kolom (B) mensyaratkan masing – masing vektor mempunyai jumlah elemen yang persis sama. Contoh 8. hasilkali baris – kolom kemudian di pakai sebagai elemen dalam formasi dari matriks hasilkali sedemikian rupa. apabila diketahui 12 1 A A 4 7 2 9 (1x4) 5 6 (4x1) di hitung sebagai berikut. perkalian adalah mungkin.A Diperlihatkan dibawah ini. Perkalian vektor baris kolom adlah penting sekali.

kemudian kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom kedua matriks akhiruntuk mendapatkan d12. Dengan mengacu ke contoh 1. Apabila dua matriks seperti AB adalah bersesuaian. Pertama. karena tidak ada lagi kolom yang tersisa dalam matriks akhir. 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB D 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) Hasil kali BC dihitung dibawah ini. Untuk mencari nilai persediaan (V) pada berbagai saluran distribusi. hasil kali dari dua matriks itu dapat di cari.. misalkan bahwa harga papan luncur adlah Rp 200. adlah dengan menata dua pasang dimensi tersebut dalam mana matriks – matriks tersebut akan dikalikan. Jadi untuk AB. yang akan di terapkan sebelum melakukan setiap perkalian mmatriks.-. kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mecari elemen pertama d11 matriks hasil kali D. dimensi dari matriks hasil kali. dan kalikan S dengan P : V SP 120 200 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 150 110 80 140 ( 4 x 4) 200 50 100 150 ( 4 x1) Matriks – matriks tersebut bersesuaian dan matriks hasil kalinya merupakan 4 x 1.. setelah menentukan persesuaian AB dalam contoh 8. dengan menggunakan metode yang sama : 6(1) 12(2) 6(7) 12(4) 6(8) 12(3) 30 90 84 BC E 5(1) 10(2) 5(7) 10(4) 5(8) 10(3) 25 75 70 13(2) 2(2) 13(7) 2(4) 13(8) 2(3) (3x3) 17 99 110 (3x3) Contoh 10. tongkat Rp 50.A 3 6 12 9 7 11 B (2x3) 6 12 5 10 13 2 A (3x2) 1 7 2 4 8 3 (2x3) Suatu pengujian ringkas (cepat) untuk melihat adanya persesuaian (conformability). Jadi AC tidak di tetapkan. Untuk BC (2 x 3) ≠ (2 x 3) A dan C tidak bersesuaian untuk perkalian. dua matriks tersebut akan sesuai untuk perkalian dalam susunan yang diberikan. dan bilangan – bilangan di luar lingkaran akan menunjukan. nyatakan harga tersebut sebagai sebuah vector kolom (P). jadi. kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom kedua matriks akhir untuk mendapatkan d22. Contoh 9. bergeraklah ke baris kedua matriks awal. dalam susunan yang benar. kemudian dalam hati lingkarilah bilangan terakhir dari pasang pertama dan dan bilangan pertama dari pasang kedua. akhirnya.dan pakaian ski Rp 150..-. tali Rp 100. (3 x 2) = (2 x 3) (3 x 3) matriks – matriks tersebut adalah bersesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali BC merupakan (3 x 3). AB dikatakan telah di tetapkan (defined) untuk BC. Jika mereka sama. Kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mendapatkan d12. (2 x 3) = (3 x 2) (2x 2) matriks – matriks tersebut memenuhi syarat persesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali AB adalah (2 x 2).karena (4 x 4) = (4 x 1) 89 .

7. Akan tetapi.500 ( 4 x1) 1.Z(e x f) dimana b = c dan d = e. AB 6(3) 12(12) 5(3) 10(12) 13(3) 2 (12) 6(6) 12(9) 5(6) 10(9) 13(6) 2(9) BA akan menjadi 3 x 2 6(7) 12(11) 162 5(7) 10(11) 135 13(7) 2(11) (3x3) 63 144 120 96 174 145 113 (3x3) karena itu AB ≠ BA. (XY)Z = X(YZ). hal yang sama berlaku untuk pengurangan matriks. Y(c x d). Contoh 11. perkalian scalar adalah komutatif (yaitu kA = Ak). sebagai berikut : AB adalah sesuai. AB akan menjadi 2 x 2 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) BA adalah bersesuaian (3 x 2) = (2 x 3). Tunduk pada sarat yang sama ini. ASOSIATIF DAN DISTRIBUTIF DALAM ALJABAR MATRIKS Penjumlahan matriks adalah komutatif (yaitu A + B = B + A). A 3 6 7 12 9 11 B ( 2 x 3) 6 12 5 10 13 2 (3 x 2) Dapat di buktikan bahwa perkalian atriks tidak komutatif dengan membuktikan AB ≠ BA. hukum asosiatif akan berlaku selama matriks – matriks tersebut dikalikan dalam urutan persesuaian (conformability). Untuk alas an yang sama. A B 4 3 11 7 17 6 6 2 1 4 11 4 B A . dengan beberapa perkecualian.500 75.penjumlahan matriks juga asosiatif.000 86.(4 x 1) Jadi. Jadi.seringkali matriks – matriks tidak bersesuaian dalam dua arah. yaitu X(a x b). adalah tidak komutatif (yaitu AB ≠ BA). (A + B) + C = A + (B + C). 17 6 6 2 23 8 6 17 2 6 23 8 (2). dan susunan penjumlahan tidak dipentingkan. maka pengurangan matriks juga komutatif dan asosiatif. 90 . HUKUM KOMUTATIF. Perkalian matriksm. Diketahui. perkalian matriks juga distributive A(B + C) = AB + AC. Diketahui. karena penjumlahan matriks hanya melibatkan penjumlahan elemen – elemen yang bersesuaian dari dua matriks. Karena pengurangan matriksA – B dapat dirubah mebjadi penjumlahan matriks A + (-B). V 120(200) 200(200) 175(200) 140(200) 110(50) 90(100) 150(150) 180(50) 210(100) 110(150) 190(50) 160(100) 80(150) 170(50) 180(100) 140(150) ( 4 x1) 61.6 17 .7 11 .2 6 1 4 11 4 Contoh 12.3 4 . 4 11 3 7 A B 17 6 6 2 Untuk membuktikan bahwa penjumlahan dan pengurangan matriks adalah komutatif. (2 x 3) = (3 x 2). Perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 4 3 11 7 7 18 3 4 7 11 7 18 A B B A (1). buktikan bahwa (1) A + B = B + A dan (2) A – B = –B + A. Contoh 13.500 72. Jika terdapat tiga atau lebih matriks yang bersesuaian. Diketahui.

perkalian suatu matriks identitas dengan dirinya sendiri meninggalkan matriks identitas tidak berubah : I x I = I2= I. yaitu B + N = B. A 7 9 1 10 14 2 6 3 7 B 5 12 20 4 N 0 0 0 0 I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 Dapat dibuktikan bahwa : (1) perkalian dengan suatu matriks identitas tidak menimbulkan tambahan terhadap matriks asalnya.n menunjukan dimensi matriks (m x n). MATRIKS IDENTITAS DAN MATRIKS NULL Matriks identitas I adalah suatu matriks bujur sangkar yang mempunyai 1 untuk setiap elemen pada diagonal utama dari kiri ke kanan dan nol di setiap tempat yang lain. setiap matriks utuk mana A = A' adalah matriks simetris (symmetric matrix). apabila diketahui. apabila subscript digunakan. perkalian dengan matriks null menghasilkan matriks null. perhitunganya adalah sebagai berikut : A 7(4) 5(2) 1(4) 3 (2) 8(4) 6(2) 38 10 44 93 27 108 7(9) 5(6) 1(9) 3 (6) 8(9) 6(6) 95 25 110 2 6 7 7(10) 5(5) 1(10) 3 (5) 8(10) 6(5) ( 3 x 3) 38 10 44 93 27 108 95 25 110 ( 3 x 3) ( AB)C ( 3 x 3) ( 3 x1) 38(2) 93(6) 95(7) 10(2) 27 (6) 25(7) 44(2) 108(6) 110(7) ( 3 x1) 1299 357 1506 ( 3 x1) BC 4(2) 9(6) 10(7) 2(2) 6(6) 5(7) ( 2 x1) 132 75 ( 2 x1) A( BC ) 7 1 8 5 3 6 132 75 (3 x 2) (2 x) 7(132) 5(75) 1(132) 3(75) 8(132) 6(75) ( 3 x1) 1299 357 1506 terbukti ( 3 x1) 1. 5(0) 12(0) 5(0) 12(0) 20(0) 4(0) 20(0) 4(0) 5 0 12 0 20 0 4 0 5 12 20 4 terbukti terbukti PERNYATAAN MATRIKS DARI SERANGKAIAN PERSAMAAN LINEAR 91 . (3). perhitungan – perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 7 10 14 1 2 3 6 7 0 0 0 1 0 0 0 1 7(1) 9(1) 1(1) 10(0) 2(0) 3(0) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(1) 2(1) 3(1) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(0) 2(0) 3(0) 14(1) 6 (1) 7 (1) (1). yaitu AI = A.9. yaitu BN = N dan (3) penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak mengakibatkan matriks asalnya berubah. (2) perkalian dengan suatu matriks null menghasilkan matriks null. tidak perlu bujur sangkar. 1.8. Lihat contoh 14. AI 9 1 AI 7 9 1 BN B N 10 14 2 6 3 7 terbukti 0 0 0 0 (2).adalah matriks idempotent (idempotent matrix). Matriks simetris untuk mana A x A = A. Matriks identitas adalah simetri dan idempotent. seperti pada In. Contoh 14. matriks identitas serupa dengan bilangan 1 dalam aljabar karea perkalian suatu matriks dengan matriks identitas tidak membawa perubahan terhadap matriks asal (yaitu AI = IA = A). yaitu (AB)C = A(BC). Penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak membawa perubahan terhadap matriks asalnya. Matriks null terdiridari semuanya nol dan dapat berdimensi sembarang .A 7 1 8 5 3 6 B (3 x 2) 4 9 2 6 10 5 B ( 2 x 3) 2 6 7 ( 3 x1) Untuk membuktikan bahwa perkalian matriks adalah asosiatif.

13 4 9 ( 2 x 4) y 242 ( 2 x1) z ( 4 x1) kemudian. dan (3) setiap kelipatan suatu baris ditambahkan ke atau dikurangkan dari baris yang lain.7 2 x 139 3 .X adalah vektor penyelesaian (solution vector). W = vektor kolom variabel. Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. di sini 8x + 4y = 28 dengan 1/4.dalam hati balikan susunan perkalian matriks: w 8 12 . (2) setiap baris atau baris – baris dakalikan dengan suatu konstanta. yang tentunya sudah tidak asing lagi dari aljabar.baris suatu matriks. Perkalian adalah mungkin karena AX adalah bersesuaian.dengan mengetahui 5x + 2y = 16 8x + 4y = 2n8 Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. untuk membuktikan bahwa AX = B dengan tepat menggambarkan sistem persamaanyang diberikan dalam seksi 1. Contoh 16.kita dapat 1. diilustrasikan di bawah ini. Saling menukar dua baris tersebut : 8x + 4y = 28 5x + 2y = 16 2. dapatkan hasil kali AX. Mengalikan suatu baris dengan suatu konstanta. meskipun penampilanya seperti itu. asalkan konstanta tersebut tidak sama dengan nol. tiga operasi barisdasar memungkinkan (1) setiap dua baris suatu matriks saling tukar. dan AX AX 7 3 x1 4 5 x2 B: 7x 1 3x 2 4x 1 5x 2 ( 2 x1) 45 terbukti 4x 1 5x 2 29 dari sini. perhatikan bahwa sistem persamaan linear 7x1 + 3x2 = 45 4x1 + 5x2 = 29 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks AX = B x1 45 7 3 B A X Dimana dan 29 x2 4 5 A adalah matriks koefisien (coefisien matrix). operasi baris. Contoh 15. yang menghasilkan 92 . diketahui 8w +12x – 7y +2z = 139 3w +13x + 4y +9z = 242 untuk menyatakan sistem persamaan ini dalam notasi matrik. dan B = vektor kolom konstanta. AX adalah vektor kolom (2 x 1) karena setiap baris terdiri dari suatu elemen tunggal yang tidak dapat disederhanakan lebih lanjut melalui penjumlahan. Contoh 17. sistem persamaan yang diketahui tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk matriks A(2x4)W(4x1) =B(2x1) 1. Sebagai ilustrasai sederhana. dengan mengandaikan A = matriks koefisien.10.9. dan B adalah vektor unsur konstanta (vector of constan terms). OPERASI BARIS Operasi baris (row operation) berarti penerapan operasi aljabar yang sederhana pada baris. dan matriks hasil kali menjadi 2 x 1 (2 x 2) = (2 x 1) (2 x 1) 7x 1 3x 2 jadi. X dan B akan selalu berupa vektor kolom.Aljabar matriks memungkinkan pengungkapan secara ringkas suatu sistem persamaan linear.

yang menghasilkan 5x + 2y = 16 -4x – 2y = -14 x =2 1.12. bergeraklah sepanjang sumbu utama. Kalikan baris kedua dengan 1 untuk mendapatkan1 pada a22 44 1 6 20 0 1 3 93 . kemudian gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom pertama. matriks perbesaran A/B untuk 4x1 + 5x2 + 7x3 = 42 2x1 + 3x2 + 8x3 = 40 6x1 + 4x2 + x3 = 18 Adalah AB 4 5 2 3 6 4 7 42 8 40 1 18 1. 1 untuk endapatkan 1 pada posisi a11 2 1 6 20 8 4 28 1b.9. Contoh 19. Jadi. AB 7 3 45 4 5 29 Matriks perbesaran digunakan sebagai sarana penyelesaian system persamaan linear. Kurangkan 8 kali baris kedua untuk merampungkan kolom pertama 1 6 20 0 .44 132 1a. Mengurangkan kelipatan satu baris dari yang lain. Contoh 18. untuk sistem persamaan dalam butir1. Pertam.2x + y = 7 5x + 2y = 16 3. diletakan disampingnya. Berikutnya dapatkan 1 pada 0posisi a22 dan gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom tersebut.11. yang dipisahkan dengan suatu garis atau kisi. MATRIKS PERBESARAN (AUGMENTED) Diketahui suatu system persamaan dalam bentuk matriks AX = B matriks perbesaran A/B adalah matriks koefisien A dengan vector kolom konstanta B. Untuk mengubsh matriks koefisien kedalam uatu matriks identitas. Kalikan baris pertaa dengan 2a. METODE GAUSS UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINEAR Penggunaan metode eliminasi gauss dalam menyelesaikan persamaan linear semata – mata dengan menyatakan system persamaan tersebut sebagai suatu matriks perbesaran dan menerapkan operasi baris berulang – ulang pada matriks perbesaran sampai matriks koefisien A di sederhanakan menjadi suatu matriks identitas. Teruskan memperoleh 1 sepanjang diagonal utama dan kemudian rampungkan kolomnyasampai matriks identitas tersebut sempurna. metode eliminasi gauss di gunakan dibawah ini untuk mencari x 1 dan x2 dalam sistem persamaan 2x1 + 12x2 = 40 8x1 + 4x2 = 28 pertama nyatakan persamaan tersebut dalam suatu matriks perbesaran AB 2 12 40 8 4 28 kemudian.a dapatkan 1 pada posisi a11 dari matriks koefisien. di sini 2(2x + y = 7) dari 5x + 2y = 16. Penyelesaian atas system persamaan kemudian dapat di baca dari elemen – elemen yang tinggal dalam vektor kolom B (lihat contoh 19).

x2 = 3 karena x1 1 0 2 0 1 x2 3 x1 + 0 = 2 0 + x2 = 3 94 . Kurangkan 6 kali baris kedua dari baris pertama untuk merampungkan kolom kedua 1 0 2 0 1 3 hasilnya adalah x1 = 2.2b.

95 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful