BAGIAN 1 KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI

Diskripsi Mata Kuliah Memberikan gambaran dan dasar-dasar pengertian serta pola pikir yang logis sehubungan dengan barisan dan deret bilangan yang tersusun secara teratur dengan perubahan-perubahannya yang tertentu. Selanjutnya memberikan tuntunan dalam menggunakan rumus-rumus yang telah diperoleh untuk menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui dari baris dan deret yang ada, seperti menghitung kesamaan suatu nilai dari dua beris atau deret yang diketahui, mencari perubahan dari suatu baris atau suatu deret. Tutjuan Khusus Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret tersebut dalam menghitung perasalahan-perasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya masalah perkembangan usaha sejauh mana pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjam-meminjam, investasi jangkan panjang yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan menghitung pertumbuhan penduduk di suatu daerah serta jumlah penduduknya pada suatu waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET 1. Pengertian Baris Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun secara teratur dengan suatu pola perubahan tertentu dari satu suku ke suku berikutnya. Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah suku yang membentuknya, dibedakan menjadi : 1. Baris berhingga 2. Baris tak berhingga Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi 1. Baris Hitung 2. Baris Ukur 3. Baris Harmoni 2. Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari selisih antara sutu suku ke suku sebelumnya. Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2 S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4 S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6 S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 = 8 Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di peroleh rumus : Sn = a + ( n – 1 ) b. Dimana a = suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diberikan suku ke tiga dan suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan 170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris hitung tersebut. 1

S3 = a + ( n – 1 ) b = 150 = a + 2b S7 = a + (n – 1 ) b = 170 = a + 6b - 20 = - 4b b = -20 / -4 = 5 150 = a + 2b  150 = a + 2.5  150 = a + 10 a = 150 – 10  a = 140 S10 = a + (n – 1) b = 140 + (10 -1) 5  140 + 45 = 185 3. Deret Hitung Deret hitung yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan dimana suku pertamannya sama dengan suku pertama baris hitungnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris hitungnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris hitungnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris hitung di atas) Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ..... Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ... D1 = 2, D2 = 2 + 4 = 6, D3 = 2 + 4 + 6 = 12 D4 = 2 + 4 + 6 + 8 = 20 Dst dimana Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n – 1 ) b} Contoh Soal : Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama yang bernilai 140. Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ? Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?. a = 140, b = 5 S10 = 140 + ( 10 – 1 ) 5 = 140 + 45 = 185 D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 – 1 ) 5 ) = 5/2 ( 280 + 20 ) = 5/2 ( 300 ) = 750 4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari perbandingan antara satu suku sengan suku sebelumnya Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn S1 (suku pertama) = 2 S2 (suku kedua) = 6 S3 (suku ketiga) = 18 S4 (suku keempat) = 54 S5 (suku kelima) = 162 Sn (suku ke n) = dst. Pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan perbesarannya adalah perbandingan atara dua suku yang berurutan dengan suku berikutnya, sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54. maka r = 3. S1 (suku pertama) = a = 2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6 S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18 S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54 S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.8 = 162 Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n diperoleh rumus Sn = ar n-1

2

5. Deret Ukur Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan di mana suku pertamanya sama dengan suku pertama baris ukurnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris ukur di atas) Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, ....... maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, ..... D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26 Dst. Dn dapat dirumuskan :

Dn

a 1 rn ,r 1 1 r

atau

Dn

a rn 1 ,r 1 1 r

Contoh Soal : Sebuah baris ukur mempunyai suku pertama yang bernilai 20. Ratio antar sukunya 2. Hitunglah suku ke-6nya ! Berapa jumlah lima suku pertamanya. a = 20, r = 2 S6 = arn-1 = 20. 26-1 = 20. 25 = 20. 32 = 640 20 2 6 1 20.63 = = 1260 D6 2 1 1 B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET DALAM EKONOMI 1. Perkembangan Usaha Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh usaha-usaha yang pertubuhannya konstan dari waktu ke waktu mengikuti perubahan baris hitung. Contoh Soal 1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga ditingkatkan. Akibatnya, perusahaan tersebut mampu menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya. Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama produksinya ? Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12. S12 = a + (n – 1) b = 5.000 + (12 – 1) 300 = 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300 Jadi pada bulan ke 2 perusahaan tersebut dapat menghasilkan 8.300 buah keramik. Jumlah keraik yang dihasilkan dalam satu tahun pertama. D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300) = 6 (13.300) = 79.800 2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk) Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya diasumsikan tetap dari waktu ke waktu. Misalkan suatu modal sebesar P 0‟ akan dibungakan per-satu tahun selama jangka waktu n tahun. Tingkat suku bunga yang berlaku yang berlaku adalah r % per-tahun, diasumsikan tetap dari tahun ke tahun selama n tahun. Sehingga menghitung modal awal tahun ke-n yang diperoleh melalui pembungaan setiap satu tahun dapat dirumuskan Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan datang) Po = Modal saat sekarang, saat t = 0 r = Tingkat suku bungan per-tahun 3

Pembungaan depositonya setahun sekali dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun.04 )10 = 100.000 botol kecap pada tahun ke-6 operasinya. Yang drumuskan : Pn = P0.000. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n. sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus.11/2)5.( 1 + i )n = 100.11 )5 = 10.000.055)10 = 10. a) Berapa botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?.2 = 10.581. diperkirakan menjadi 4.04 )10 = 100.000 ( 1.000.000 (1.11 ) 5 = 10. 4.000 ( 1. Karena persaingan keras dari kecap-kecap merek lain.000 (1 + 0.5 juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia hasilkan sampai dengan tahun ke – 16 ?. produksinya terus menurus secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18. Pabrik rokok “Kurang Garam” menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama berdirinya.000 (1. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. dan 1.850. Bantulah nasabah itu untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan diterima pada akhir tahun ke-5 ? Pn = P0 ( 1 + r )n = 10. Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah jumlah lima suku pertammanya ? 2. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005.n i = persentase pertumbuhan penduduk per tahun & n = jumlah tahun Contoh soal : Penduduk suatu kota berjumlah 100.5 jiwa pada tahun 2013.708144) 4 .25 juta jiwa pada tahun 2008. 3.000. Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan pertumbuhan penduduk. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. 5. 5. Periode waktu : 2005 -1995 = 10 tahun Pn = P0. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ? Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku pertamanya. 6. Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan dengan pembungaan tiap tiga bulan.48024) = 148. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar.55 3.6 juta bungkus pada tahun ketujuh.000.( 1 + i )n Di mana Pn = populasi penduduk pada tahun basis (tahun ke-1) P0 = populasi penduduk pada tahun ke.000 ( 1 + 0. Beda antar suku 15. Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210.000 botol.000. Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp.000 ( 1.685058155) = 16. penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur.000 ( 1 + 0.024 Latihan Soal 1. berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2. a) Andaikata perkembangan produksinya konstan. Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam besarnya 375. Pabrik kecap “Nambewan” memproduksi 24.000 (1 + 0.m = 10. berapa persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya pada tahun 2015 ? Jawaban latihan soal. tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.n = tahun ke m = periode per-tahun Contoh Soal : Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp.000 jiwa pada tahun 1995.

25 (1.000.000.5 = 3.m = 10.25 (1 + i)2013-2008 4.284.284.38461/5 = 1 + i i = 1.31 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp. 6. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.4 = 10.38461/5 .000 (1 + 0.204.25 (1 + i)5 4.720428431) = 17. 17.73 % Jumlah penduduk pada tahun 2015.081.1 i = 0.73 % Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6.000 (1.081.0275)20 = 10. Daftar Pustaka : 5 .13 juta.11/4)5.000.25 (1 + 6.204.3.5 = 3.73%)7 = 3.444.13 Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun 205 sebanyak 5.577632) = 5.58 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp. Jawab persentase pertumbuhan penduduk : Pn = P0 (1 + i)n 4.444.3846 = (1 + i)5 1. P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008 = 3. 17.= 17.0673 i = 6.58.000 (1 + 0.25 = (1 + i)5 1.5/3.

Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mmenghitung berapa produk yang sebaiknya diproduksi dan dijual oleh perusahaan agar perusahaan dapat menutup biaya-biaya tetapnya. 2.Tujuan Khusus 1. substitusi atau dengan cara determinan. sedangkan perilaku produsen dicerminkan dengan fungsi penawaran. Disebut Analisis Break-Even Analusis. menutup totol biaya. Diskripsi Mata Kuliah Memperkenalkan unsur-unsur fungsi ialah variabel bebas dan variabel terikat. Pengertian Fungsi Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Contoh : 1. Uraian Materi A.1. koefisien. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat membantu menghitung berapa pendapatan nasional yang harus diperoleh suatu negara agar tidak mengalami defisit akibat konsumsi yang lebih besar dari pada pendapatan. Yang dimaksud dengan variabel ialah unsur yang sifatnya berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Perilaku konsumen dicerminkan melalui fungsi permintaan.2. y = x ½ y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 6 . Konstanta sifatnya tetap dan tidak terkait dengan suatu variabel apa pun. Dalam suatu fungsi. Menggabarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mencerminkan perilaku baik perilaku konsumen maupun perilaku produsen.1. Lebih jauh lagi berapa pendapatan minimum agar dapat menabung. y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 3 adalah koefisien ( terletak didepan variabel y) 4 adalah koefisien ( terletak didepan variabel x) -8 adalah konstanta 2. sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang diterangkan oleh variabel lain. Menggambarkan pendapatan nasional dapat menghitung melalui pendekatan pengeluaran yang linier. terkait dengan variabel yang bersangkutan. Untuk mencari perpotongan dua fungsi yang linier digunakan metode eliminasi. 2. TEORI FUNGSI LINIER DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI 2. 4. Pertemuan antara keduanya merupakan titik keseimbangan pasar. Koevisien dan konstanta. Keseimbangan pasar ini dapat bergeser sejajar akibat adanya capur tangan pemerintah dalam bentuk pajak maupun subsidi 2. dan konstanta.2. bahkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan.1. Yang dimaksud dengan koefisien ialah bilangan atau angka yang diletakkan tepat di depan suatu variabel.2. dimana x adalah variabel bebas dan y adalah variabel terikat.BAGIAN 2 KONSEP DASAR TEORI FUNGSI.1 PENDAHUKUAN : 2. TEORI FUNGSI DAN TEORI FUNGSI LINIER 1. 3y = 4x – 8. Fungsi-fungsi yang bersifat linier tersebut dapat saling berhimpit. 3. PENYAJIAN 2 . secara umum jika dikatakan bahwa y adalah fungsi dari x maka ditulis y = f(x).1. Penggolongan variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel bebas yaitu variabel yang menerangkan variabel lain. yang saling berkaitan satu sama lain dala hubungan yang dapat dijelaskan secara ateatis yaitu hubungan yang linier. sejajar atau bahkan berpotongan.

n bilangan bulat positif contoh :Y = (1+2x1 .3x2 Fungsi Kubik :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah tiga.3x2 + 4x3 +.4 + 0.. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 +a2x2 + a3x3 Contoh : Y = 1 + 2x1 – 3x2 + 4x3 Fungsi Bikuadrat:Fungsi polinom yang fariabel bebasnya memiliki pangkat paling tinngi adalah empat..x  Y = -a0 +a1x  Y = -a0 – a1x Y = -a0 + 0. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + a3x4 Contoh :Y = 1 + 2x1 + 3x2 + 4x3 + 5x4 Fungsi Pangkat :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat suatu bilangan riil positif Bentuk umum : Y = xn .. x = y-2 y adalah variabel bebas x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2. a0 = + .. a0 = + . a1 = .. dimana y adalah variabel bebas dan x adalah variabel terikat. 5. nilainya positif..2x1 .x = .. Y = a0 + a1x  Y = a0 – a1x  Y = a0 + 0..+ anxn. Pengertian Fungsi Linier Fungsi linier adalah fungsih polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu : Y = a0 + a1x1 . nilainya positif.... a1 = 0  a0 = 0 .-12x11.. negatif....Jika x adalah fungsi dari y maka ditulis x = f(y).. atau nol a1 Koefisien. 4. a1= 0  a0 = . maka alternatif yang mungkin untuk fungsi linier : Y= a0 + a1x1 yaitu : misal a0 = 4 dan a1 = 2 1. 8. a0 = .+ 12x11)1/11 Fungsi Polinom : Fungsi yang memiliki banyak suku Bentuk umum : Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + . Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 Contoh : Y = 1 ..3x2 + 4x3 +.+ anxn. negatif atau nol Untuk nilainya a0 dan a1 yang memungkinkan positif...Y variabel terikat. 7. Contoh : 1. 2.. n bilangan riil negatif 3. a1= +  a0 = + ...x = 4 Y = . a1 = ... negatif. n = 11 Fungsi Linier : Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu...bilangan bulat positif Contoh: Y = 1 + 2x1 .. atau nol. a1 = + a0 = 0 . a1= . 6...... n bilangan riil positif Contoh :Y = x2 Fungsi Eksponen : Fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat suatu konstanta. 3.x Y = 0 +a1x  Y = 0 – a1x Y = 4 + 2x Y = 4 – 2x Y = 4 + 0.. Bentuk umum Y = a0 + a1x1 Contoh: Y = 1 + 2x1 Fungsi Kuadrat :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah dua. a1 = +  a0 = . x = -2 x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2.4 Y = 0 + 2x Y=0–2x 7 .4 + 2x Y=-4–2x Y = . Bentuk umum :Y = nx Contoh :Y = 2x Fungsi logaritma : Fungsi yang merupakan invers fungsi eksponen Bentuk umum Y = n log x Contoh :Y = 4 log x Fungsi Hiperbola :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat bilangan riil negatif Bentuk umum :Y = xn . x variabel bebas a0 konstanta. n bilangan riil negatif Contoh :Y = x-2 . Jenis-jenis Fungsi Fungsi Irrasional : Fungsi yang memiliki Bentuk umum Y = n√ a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + ..

-4) (2.-4) Y = -4 – 2x 6.4) 1. Y = ..4 titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) Y = 4 – 2x 3.x = 0 4.4) dan (2.9.4) dan (2.4) dan ( . a0 = 0 . Y = 4 – 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0. Y = . Y = 4 titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0..0) 0 (0.4) 0 (0.-4) Y = -4 8 .0) 0 (0. Y = 4 + 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.0) (0.2.0) (-2.4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0..0) (-2.4) 0 (0.0) 0 2. Y = .x  Y = 0 + 0.0) 5.4) 0 (2.4) (Y = 4) 4.4 – 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. a1 = 0 Y = 0 + 0.4) dan (-2. Penggambaran Fungsi Linier Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk a 0 = 4 dan a1 = 2 Y = 4 + 2x (0.

intersep 4. gradien 4 3.0) (0.0) dan (2. maka dan a1 = a1‟ untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ 9 . intersep 2. gradien 2 Fungsi linier kedua : 2Y = 8 + 4x .-4) Y = 0 – 2x -4 9.7. Y = 0 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ contoh : Fungsi linier Pertama : Y = 4 + 2x . gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 +4x .0) dan (2. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ Contoh : Fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x .0) (2.4) Y = 0 + 2x (2. Kedua Fungsi Linier tersebut berada dalam berbagai keadaan: 1.0) 5. Hubungan Dua Fungsi Linier Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu : Y = a 0 + a1 x dan fungsi linier yang kedua yaitu : Y‟ = a0‟ + a1‟ x. gradien 4/2 = 2 2.4) (0. Berhimpit Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x karena berhimpit.0) 2 (2.0) dan (2. intersep 8/2 = 4 . Sejajar Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x Karena sejajar. Y = 0 dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4) 2 (0. intersep 4. Berpotongan Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena Berpotongan.0) 8. Y = 0 –2x dua buah titik yang dibutuhk untuk menggambarkannya (0.

. = ...1. intersep 2 . a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x . Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus. gradien – 4 dan perpotongan pada titik (0. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.. gradien – 4 4. intersep 4.. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x . intersep 2.** memasukkan ** pada* 2x+3y=4 2 (1 – 2 y) + 3 y = 4 maka x=1–2y 2 (1) – 2 (2 y) + 3 y = 4 x = 1 – 2 (-2) 2–4y+3y=4 x = 1 – ( .. Substitusi 2. intersep 4.. Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟.Contoh : Fungsi linier pertama Y = 4 + 4x . Contoh : fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x. maka a1 = a1‟ dan a1. maka a1 = a1‟ dan a1. intersep 2. Cara Substitus 2x+3y=4 .a1‟... gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x .x = 1 – 2 y .2) 5.. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x. a1‟ = -1 Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan berpotongan pada titik (0. gradien – ¼ dan perpotongan pada titik (0. maka dan a1 = a1‟ Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan perpotongan pada titik (0. Eliminasi 3. gradien –1/4 6.. maka untuk mencari titik potongnya dapat dilakukan dengan cara : 1. Titik Potong Linier Untuk fungsi linier yang saling berpotongan.* x + 2 y = 1 .4) 10 .. Berpotongan Y = a 0 + a 1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x. intersep 2. intersep 2.. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x. intersep 2 . Determinan Contoh : Carilah titik potong dari garis yang berpotongan yaitu 2 x + 3 y = 4 dan x + 2 y = 1 Jawab : 1..2) 6..

7) maka : Y–3 = x–3 7–3 = 5–3 Y–3 = x–3 4 2 Y – 3 = 4 / 2 ( x – 3) Y–3 = 2x–6 Y = 2x–6+3 Y = 2x–3 Jadi garis yang melalui titik (3. 7.7) adalah Y = 2 x – 3 11 .Y2) A(X1.= -2 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | Baik dengan cara eliminasi.y2) = (5.4) x–4 x x 3. substitusi. Cara Determinan 2x +3y=4 x+2y=1 | 4 3 | | 1 2 | (4)(2) – (1)(3) 8–3 5 x = -----------.= 5 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | | 2 4 | | 1 1 | (2)(1) – (1)(4) 2–4 -2 y = -----------. Jika diketahui dua buah titik yaitu A (x1.7).= ---. y1) dan B (x2.3) dan (5. pasti akan diperoleh nilai yang sama.y1) = (3.Y1) Untuk mengetahui garis yang tepat melalui kedua titik tesebut dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = X – X1 Y2 – Y1 = X2 – X1 Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3. y2). Jawab : misalkan (x1.= ------.2) x + (. ataupun determinasi.3) dan (x2. Penamaan Fungsi Linier 1. Cara Eliminasi 2 x + 3 y = 4 (x 1) --- x + 2 y = 1 (x 2) --- maka x + 2 y x=1+4 x=5 2x+3y=4 2x+4y=2 _ -y=2 =1 =1 =1 =1+4 =5 y=-2 =1 x + 2 (.3) dan (5.2–y=4 -y = 4 – 2 -y = 2 y=-2 2.= ----------------.= ------.= ---.= ----------------. Gambar : B(X2.

Keseimbangan pasar. jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN TEORI EKONOMI MIKRO 2. maka fungsi permintaan suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Sifat monoton turun : P‟ > P maka Qd‟ < Qd P” < P maka Qd” > Qd Contoh : 1. Pendahuluan Penerapan fungsi linier dalam bisnis dan teori ekonomi mikro.000 per-buah. Ditulis: P= f(Qd). Akan tetapi. 4.y1) = (3. jika harga mengalami penurunan maka jumlah barang yang diminta akan mengalami peningkatan.3) dengan kemiringannya 5 adalah Y = 5x . yaitu : fungsi pendapatan yang terdistribusi menjadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan fungsi pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan pengeluaran. P = 30 . Jawab : Diketahui (Qd1. Demikian sebaliknya.)= (3.000. maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan. Fungsi ini mencerminkan perilaku konsumen di pasar di mana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan. Pengaruh pajak dan subsidi terhadap keseimbangan pasar. Fungsi penerimaan. yaitu : Fungsi permintaan. m = ∆Y/∆x Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.2. price) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang diminta (Qd .P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 12 .) = (6.3) dengan kecondongan sebesar 5 Jawab : Misalkan (x1. quantity demand).laku sebanyak 3. Jika diketahui sebuah titik A (x1. jika dijual seharga Rp 5. Fungsi biaya.5.000 per-buah akan.12 B. Bagaimana fungsi permintaanya ? Gambarkan fungsi permintaan tersebut pada Grafik Kartesius.000) dan (Qd2.P2.000. Qd = 15 – P Contoh Soal : 1.y1) n 0 Untuk mengetahui garis yang tepat melalui titik tersebut dengan kecondongantertentu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = m (x – x1).3) dan m = 5 Maka : Y – Y1 = m(x – x1) Y – 3 = 5 (x – 3) Y – 3 = 5x – 15 Y = 5x – 15 + 3 Y = 5x – 12 Jadi garis yang melalui titik (3. maka jumlah permintaan terhadap barang tersebut meningkat menjadi 6. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI 1.P1. Penerapan fungsi linier dalam ekonomi mikro. y1) dan gradiennya / kemiringannya m Gambar : A(x1. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang diminta (Qd) dan sumbu tegaknya harga barang yang bersangkutan (P). Fungsi penawaran.2 Qd 2. Fungsi Permintaan Fungsi permintaan merupakan fungsi yang mencermintan hubungan antara variabel harga (P . dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang diminta (fungsi linier).000 buah. dan ‘ break-even analsis ‘.000 buah.000) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P . Suatu barang.

000.500 0 Catatan : Gradien fungsi permintaan yang dinyatakan dengan rumus m=Δ P / Δ Qd nilainya Senantiasa negatif. apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.3.1.000 = 4.5.250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – P1 ) = m (Qd – Qd1 ) dengan m = P / Qd = 1.000 Contoh Soal : 2. sebagaimana fungsi permintaannya dan gambarkan fungsi permintaanya dan gambarkan fungsi permintaan tersebut pada grafik kartesius Jawab : Diketahui ( P1 .500 P = .000 -1/3 Qd + 6.250 akan menyebabkan jumlah permintaan mengalami penurunan sebanyak 250.Qd1 ) = ( 40.500 Jadi fungsi prmintaanya : P = .000 Gambar Grafik Kartesiusnya ( P vs Qd ) : P 6000 P = .000 3. Permintaan suatu barang sebanyak 500 Buah pada saat harganya 40.250 .000 0 Qd= 18.000 .000 ) = -5 ( Qd – 500 ) P – 40.1.000 – 5.000 P .000 .3.000 .500 Gambar Fungsi Penawaran tersebut pada grafik Kartesius : 42. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta Menjadikan : 13 .5 Qd + 42.3.500 + 40.000) -1/3 Qd + 1.P .000 -1/3 (Qd – 3.000 + 5.000 6.500 ) P – 40.000 P – 5.500 P = -5 Qd + 2.250 ) = -5 Maka ( P – 40. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta : Menjadikan : M = Δ P = negatif = negatif atau ΔQd positif 2.000 P – 5.000 = -5 Qd + 2.3.5 Qd + 42.000 P = -5 Qd + 42.000) -1/3 Qd – 1/3 (.000 = -5 Qd – ( 5 )( .5. 500 ) dan p = 1. sebab : 1. Qd = .000 P – 5.1/3 Qd + 6.000 Qd .000 ) 3.000 P P = = = = = = Qd .000 ( Qd – 3.000.250 / (.

250. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang ditawarkan (fungsi linier).000 = 1/3 Qs + (1/3) (-3. harga dipasarnya Rp 5.000 – 3. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran merupakan fungsi yang mencerminkan hubungan antara variabel harga ( P : price ) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang ditawarkan ( Qd : Quantity Supply ). Qs = -40 + ¼ P 3.000 buah.500 P = 5Qs – 2. Fungsi ini mencerminkan perilaku produsen dipasar dimana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan. 500) dan ∆P = 1.000) Fungsi penawarannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qs – Qs1 P2 – P1 Qs2 – Qs1 P – 5.000 = Qs – 3. Demikian sebaliknya. Suatu barang.000.000 = 5Qs + (5)(-500) P – 40. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harganya 40. jika harga barang mengalami penurunan maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan. maka fungsi penawaran suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Contoh : 1.500 14 . Ditulis : P = f ( Qs ).Qs2) = (6.Qsı) = (40.000 – 5.500 + 40.000) P – 5.000 6.000 P = 5Qs + 37.000 = 1/3 (Qs – 3. Bagaimanakah fungsi penawarannya ? Gambarkan fungsi penawarannya tersebut pada Grafik Kartesius.000.000 per buah maka produsen akan menawarkan sebanyak 3.M=Δ P = Δ Qd positif negatif = negatif 3. maka jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen akan bertambah menjadi 6.000 6. 3.000) = 5(Qs – 500) P – 40.000 per-buah.000 P – 5.000 buah.000 = 1. Apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1. bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius.000) P = 1/3 Qs – 1. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dan sumbu tegaknya harga barang bersangkutan (P).000 P – 5.000 3. Akan tetapi.000 (Qs – 3.000. maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami peningkatan. ∆Qs = 250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – Pı ) = m (Qs – Qsı) dengan m = ∆P / ∆Qs = 1250 / 250 =5 maka (P – 40.000 P = 1/3 Qs + 4.000 Jadi fungsi penawarannya adalah : P = 1/3 Qs + 4. jika harga lebih tinggi yaitu menjadi Rp 6. ¼ P = 8Qs + 125 Contoh Soal : 1.000 Gambar Grafik Kartesiusnya (P vs Qs) : Contoh Soal : 2.000 = Qs – 3.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebanyak 250. 6.000.000) dan (P2.Qs1) = (5.000 P – 5. Jawab : Diketahui (P1.000) 3.000 = 5Qs – 2.000 + 5. Jawab : Diketahui (Pı.000 1. P = 120 + 4Qs 2.

000 jumlah pemintaan barang tersebut sebanyak 20 buah dan untuk kenaikan harga menjadi Rp 10. menjadikan : m = ∆ P = negatif = positif atau ∆Qs positif 1. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan. menjadikan : m = ∆ P = positif = positif] ∆Qd positif 4.Qs1) = (6. Untuk suatu barang. dan setiap kenaikan harga sebanyak Rp 2.Jadi fungsi penawarannya : P = 5Qs + 37. Bagaimanakah fungsi permintaan dan fungsi penawaran barang tersebut ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah Grafik Kartesius. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan. digambarkan sebagai berikut : P P = f (Qs) Pe P = f(Qd) 0 Qe Qd Contoh Soal : 1. sebab : ΔQs 1.000 pengusaha menawarkan barang tersebut sebanyak 30 buah. Jawab : Mencari fungsi penawaran : Diketahui (P1.500 Gambar fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius : P P = 5Qs + 37. Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar atau ‘Eqiullibrium’ adalah suatu kondisi dimana keseimbangan harga (Pe) tercapai Jumlah barang yang diminta = Jummlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Atau Keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan Pe ›› P = P Fungsi permintaan dan fungsi penawaran pada sebuah grafik Kartesius dengan keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan Kuantitasnya (Qe).30) dan ∆P = 2000.500 0 Qs Catatan : Gradien fungsi penawaran yang dinyatakan dengan rumus: m = ∆ P nilainya senatiasa positif. pada harga Rp 6.000. Pada harga Rp 5.000 jumlah permintaannya berkurang menjadi 10 buah.000 maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat sebanyak 20.500 37. ∆Qs = 20 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : (P – P1) = m (Qs – Qs1) 15 .

000 (Qd – 20) -10 P – 5.000 Mencari fungsi permintaan : Diketahui (P1.000 = 600Q Qe = 12.000 Keseimbangan Kuantitas (Q) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan -500Q + 15.000 P = -500Qd + 10.000.Qd1) = (5.000 Qe = 20 Qd.000 = 100Q + 500Q 12.000 = Qd – 20 10.000 10 – 20 P – 5. Qs 2.000 Pe =100(20) + 3.Qd2) = (10.000 P = 100Qs – 3.000 = 5.000 atau Pe = 100Qe + 3.000) = 100 (Qs – 30) P – 6.000 = 100Qs – 3.000 – 3.000.dengan m = ∆P / ∆Qs = 2000 / 20 = 100 maka (P – 6.000 Pe = 2.000 + 6.000 = Qd – 20 5000 -10 P – 5.000 3000 0 P = -500 Qd + 15.000 + 5.000 600 Qe = 20 Jadi keseimbangan kuantitas tercapai pada 20 unit barang.20) dan (P2. 16 . Fungsi permintaan dan fungsi penawaran suatu barang diberikan sebagai berikut : Qd = 11P dan Qs = -4 +2P Dimanakah keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah grafik kartesius.000 Pe = -500 (20) + 15.000 + 3.000 = -500(Qd – 20) P – 5.10) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 P – 5.000 Pe = 5.000 = 100Qs + (100)(-30) P – 6.000 P = -500Qd + 15.000 = 100Q + 3.000 + 15.000 Jadi keseimbangan harga tercapai pada harga Rp 5.000 Pe = 5.000 = -500Qd + 10.000 15.000 = -500Qd + (-500) (-20) P – 5. Untuk Keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe = -500 Qe + 15.000 – 5.000 Pe = 5.000 Pe = -10.000 Jadi fungsi permintaannya adalah : P = -500 Qd + 15.000 P = 100Qs + 3.000 Jadi fungsi penawarannya : P = 100Qs + 3.000 Grafiknya digambarkan sebagai berikut : P P = 100 Qs + 3.

Berapa total pajak yang ditanggung produsen. Berapa total pajak yang diterima pemerintah. (iv). Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada pajak. Berapa tarif pajak yang ditanggung konsumen. Sehingga keseimbangan kuantitasnya (Qe) dapat dicari : Qe = 11 – P atau Qe = .P P 5. pemerintah mengenakan pajak dengan terif pajak sebesar t = 3 / unit barang.Jawab : Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs 11 – P = -4 + 2P 11 + 4 = 3P + P 15 = 3P Pe = 5 Jadi keseimbangan harga di pasar tercapai pada harga 5. Qs Qs = -4 + 2P 11 Qe = 6 0 2 -4 Pe = 5 Qd = 11 . Pengaruh pajak terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = f(Qd) P = f(Qs) Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t) P = f(Qd) P = f(Qs) + t Contoh Soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Arsirlah total pajak masing-masing pada gambar di atas. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut : Qd = 11 – P dan Qs = -4 + 2P.4 + 2P Qe = 11 – 5 Qe = -4 + 2(5) Qe = 6 Qe = -4 + 10 Qe = 6 Jadi keseimbangan kuantitas di pasar tercapai pada jumlah 6 Grafik digambarkan sebagai berikut : Qd. Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah mengenakan pajak penjualan kepada para produsen. (iii). Gambarkan perubahan akibat pajak tersebut. (i). 17 . Berapa tarif pajak yang ditanggung produsen. Pajak penjualan tersebut dinyatakan dengan : tarif pajak (t) = satuan unit uang / satuan unit barang. (v). (viii). (vii). Berapa total pajak yang ditanggung konsumen. Kepada produsen tersebut. (ii). (vi).

Qd P = ½ Qs + 2 + t P = ½ Qs + 2 + 3 P = ½ Qs + 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum dikenakan pajak maupun yang sesudah kena pajak ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Akibat adanya pajak maka fungsi penawaran mengalami perubahan.Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dikenakan pajak. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainya. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah dikenakan pajak Keseimbangan kuantitas (Qe‟) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe‟ = ½ Qe‟ + 5 11 – 5 = ½ Qe‟ + Qe‟ 6 = 3/2 Qe‟  12 = 3 Qe‟  Qe‟ = 4 Jadi keseimbangan kuantitas setelah kena pajak tercapai pada 4 unit barang. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar.Qs pada sumbu datar maka kita harus melakukan perubahan sebagai berikut : Fungsi permintaan : Qd = 11 – P atau P = 11 – Qd Fungsi penawaran : Qs = -4 + 2P atau Qs + 4 = 2P Maka P = ½ Qs + 4/2 P = ½ Qs + 2 Gambarnya menjadi : P P = ½ Qs +2 Pe = 5 2P = 11 . Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Untuk keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe‟ = 11 – Qe‟ atau Pe‟ = 1/2Qe‟ + 5 Pe‟ = 11 – 4 Pe‟ = 1/2(4) + 5 Pe‟ = 7 Pe‟ = 2 + 5 Pe‟ = 7 Jadi keseimbangan harga setelah kena pajak tercapai pada harga 7 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya pajak) yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. Akan tetapi. Grafiknya digambarkan sebagai berikut : Jika hendak digambarkan dengan fungsi P sebagai fungsi tegak dan fungsi Qd. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki 18 . Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5.Qd P = ½ Qs + 2 Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t)) P = 11 . maka Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = 11 .Qs Akibat dikenakan pajak.Qd 0 Qe = 6 Qd.

iii) Berapa tarif subsidi yang diterima konsumen. produsen tidak mau menaggungnya sendiri.gradien yang sama tetapi intersepnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. Sebagian dari pajak tersebut dibebankannya kepada konsumen. viii) Arsirlah total subsidi masing-masing pada gambar di atas. fungsi penawaran sebelum kena pajak dan fungsi penawaran setelah kena pajak digambarkan bersama-sama dalam sebuah Grafik Kartesius. sedangkan yang ditanggung produsen berarti tinggal sisanya. Keseimbangan kuantitas setelah ada pajak lebih rendah dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak : Qe‟ = 4 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe‟ < Qe Tarif pajak yang dikenakan oleh pemerintah kepda produsen t = 3/unit. 19 . vi) Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen. dan fungsi penawaran setelah ada pajak. ii) Gambarkan perubahan akibat subsidi tersebut. Beban tarif pajak yang dibebankan oleh produsen kepada konsumen terasakan oleh adanya kenaikan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe‟ = 7. Fungsi permintaan. i) Carilah keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sesudah ada subsidi.Qs Keterangan gambar : E : keseimbangan sebelum ada pajak Qe : keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak Pe : keseimbangan harga sebelum ada pajak E‟ : keseimbangan setelah ada pajak Qe‟ : keseimbangan kuantitas setelah ada pajak Pe‟ : keseimbangan harga setelah ada pajak Adanya pengenaan pajak dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Akan tetapi. vii) Berapa total subsidi yang dinikmati produsen. v) Berapa total subsidi yang diberikan pemerintah. maka jika digambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. Agar perubahannya terlihat jelas.4 + 2 P kepada produsen tersebut. Pengaruh subsidi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Contoh soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah memberikan subsidi kepada para produsen. pemerintah memberikan subsidi dengan tarif subsidi dengan tarif subsidi sebesar s = 1 / unit barang. Tarif pajak dan Total Pajak : 6. iv) Berapa tarif subsidi yang di terima produsen. Subsidi tersebut dinyatakan dengan : tarif subsidi (s) = satuan unit uang / satuan unit barang. fungsi penawaran sebelum ada pajak. Keseimbangan harga setelah ada pajak lebih tinggi dari pada keseimbangan harga sebelum ada pajak : Pe‟ = 7 sedangkan Pe = 5. Maka : Pe‟ > Pe 2. maka fungsi permintaan. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut :Qd = 11 – P dan Qs = . serta keseimbangan harga dan kuantitas sebelum ada pajak digambarkan di bawah ini : P Pe = 7 Pe = 5 E“ E P = ½ Qs + 5 P = ½ Qs + 2 0 Qe‟ = 4 Qe = 6 Qd.

33 Jadi keseimbangan harga setelah ada subsidi tercapai pada harga 4. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainnya. 67 Jadi keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi tercapai pada 6. Akibat dikenakan subsidi. 67 Pe’ = 1 / 2 (6. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. 33 Pe’ = 3.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1.33 + 1 Pe’ = 4. 67 unit barang Untuk keseimbangan harga (Pe’) diperoleh dengan cara : Pe’ = 11 – Qe’ atau Pe’ = 1 / 2 Qe’ + 1 Pe’ = 11 – 6. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2.Qs 20 . perubaha tersebut mengakibatkan terjadinya pengeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum ada subsidi maupun yang sudah ada subsidi ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½ . maka fungsi permintaan. fungsi penawaran sebelum kena subsidi dan fungsi penawaran setelah kena subsidi digambarkan bersama sama dalam sebuah Grafik Kartesius. 67) + 1 Pe’ = 4. maka jika di gambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar.67 Keterangan gambar E : Keseimbangan sebelum ada subsidi Qe : Keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi Pe : Keseimbangan harga sebelum ada subsidi E’ : Keseimbangan setelah ada subsidi Qe’: Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi Pe’ : Keseimbangan harga setelah ada subsidi Qd.33 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya subsidi).Keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sebelum dikenakan subsidi. Agar perubahannya terlihat dengan jelas. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki gradien yang sama tetapi intersepnya masing. Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. maka dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Akibat adanya subsidi maka fungsi penawaran mengalami perubahan. P Pe = 5 Pe = 4. Akan tetapi. yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran.masing berbeda satu sama lainya. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada subsidi Keseimbangan kuantitas (Qe’) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe’ = ½ Qe’ + 1 11 – 1 = ½ Qe’ + Qe’ 10 = 3/2 Qe’ 20 = 3 Qe’ Qe’ = 6.

S : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang diberikan pemerintah. Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi lebih tinggi dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi : Qe’ = 6.33. sedangkan yang diterima produsen berarti tinggal sisanya. Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan tersebut dengan Grafik. P Pe = 5 Pe = 4. Jawab : R=PxQ R = 5. Keseimbangan harga setelah ada subsidi lebih rendah dari pada keseimbangan harga selum ada subsidi : Pe’ = 4.Adanya pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Fungsi penerimaan merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi dan laku terjual.67 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe’ > Qe Tarif subsidi yang dikenakan oleh pemerintah kepada produsen s = 1 / unit. Sebagian dari subsidi tersebut diberikannya kepada konsumen. Tarif subsidi yang diberikan oleh produsen kepada konsumen tersakan oleh adanya penurunan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe’ = 4.33 sedangkan Pe = 5 . produsen tidak menikmatinya sendiri. Akan tetapi. Keterangan gambar : Sp : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsisi yang dinikmati produsen.67 Qd. Maka : Pe’ < Pe 2. : merupakan penjumlahan antara luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati produsen dengan luas aera yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati konsumen S = Sk + Sp 7. Fungsi Penerimaan Fungsi penerimaan disebut juga fungsi pendapatan atau fungsi hasil penjualan. Jika P adalah harga jaul per unit. Fungsi penerimaan merupakan fungsi dari Output : R = f (Q) dengan Q : jumlah produk yang laku terjual. Sk : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmatikonsumen.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6.000 Q 21 P : Harga jual per unit dan Q : jumlah produk yang dijual . maka : R = P x Q dengan Contoh : Misalkan suatu produk dijual dengan harga Rp 5.Qs Gambar yang menunjukan total subsidi.000 per unit barang. Dilambangkan dengan R (Revenue) atau TR (total revenue).

maka VC = P x Q dengan P : biaya produksi per unit dan Q: Produk yang diproduksi Contoh: Suatu produk diproduksikan dengan biaya produksi Rp 3.Gambar : Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi penerimaan dengan gradiennya positif : R = 5.000 per unit. Fixed Cost atau fungsi biaya tetap (FC) merupakan fungsi yang tidak tergantung pada jumlah produk yang diproduksi. Fungsi Biaya Dilambangkan dengan C (Cost) atau TC (Total Cost). Gambar Fungsi Biaya Tetap : FC = 100.000.000 Q digambarkan melalui titik (0. Bagaimanakah fungsi biaya variabelnya dan gambarkan fungsi tersebut dengan grafik.000. Jadi : VC = f(Q). Variabel Cost atau Fungsi Biaya yang berubah-ubah (VC). Jadi fungsi biaya biaya tetap adalah fungsi konstanta : FC = k dengan k adalah konstanta positif Contoh : Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 100.0) dengan grdiennya positif.000 Q Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi biaya variabel digambarkan melalui titik (0. Merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi.000.000. dimana biaya produksi per unit senantiasa lebih kecil dibandingkan harga jual per unit barang. Bagaimanakah fungsi biaya tetapnya dan gambarkan fungsi tersebut pada Grafik Kartesius? Jawab : FC = 100. Terdiri atas dua jenis fungsi biaya: 1.000 0 2. Jawab : VC = P x Q VC = 3. 22 . Merupakan fungsi biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk yang diproduksi.000. Jika P adalah biaya produksi per unit.0) 0 8.

000.000 VC = 3. Fungsi Total Cost (TC) merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Ternyata intersep dari fungsi total biaya adalah sama dengan biaya tetapnya dan gradienya sama dengan gradien fungsi biaya tetap.000 + 3. baik biaya tetap maupun biaya variabelnya. maka barulah perusahaan tersebut dapat menikmati keuntungan: Untung : TR > TC Jika penerimaan masih belum dapat menutup biaya-biaya yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 Q = 5.FC) dan sejajar dengan grafik VC. Rugi Contoh Soal: Dari contoh sebelumnya diperoleh bahwa Fungsi Fixed Cost : Fungsi Variabel Cost: Fungsi Total Cost : Fungsi Revenue : R FC = 100. Hal ini disebabkan karena seluruh penerimaan perusahaan dibayarkan untuk menutup biaya tetap maupun biaya variabelnya.000Q.000 + 3000 Q VC= 3000 Q FC =100.000 Q : TR < TC Untuk lebih menjelaskan hal tersebut dibawah ini diberikan contoh. maka TC = 100. maka perusahaan dinyatakan dalam keadaan merugi.000 dan biaya variabelnya : 3. Analisis ‘Break-Even’ Yang dimaksud dengan ‘Break-Even’ yaitu suatu kondisi dimana perusahaan tidak untung maupun tidak rugi. Keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut: ‘ Break-Even’ TR = TC Jika penerimaan sudah dapat melebihi biaya-biaya yang dikeluarkan.Gambar Fungsi Biaya Variabel : VC = 3. Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup Biaya tetapnya? Berapakah penerimaan yang diperoleh? 23 . TC = FC + VC Contoh : Untuk contoh diatas.000.000 Q 0 3.000 Q TC = 100.000.000. total Biaya : TC=100. dimana biaya tetap yang dikeluarkan sebuah perusahaan sebesar Rp 100.000. Gambar Fungsi Biaya Tetap. Biaya Variabel.000 + 3.000. Hal ini mencerminkan bahwa penggambaran fungsi total biaya haruslah melalui titik (0.000 Q.000 9.

000.000. Q = 20.000 dipergunakan untuk menutup total biaya yang juga sebesarRp 250.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya produksinya. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 20.000 Kontribusi margin yaitu keuntungan per unit.000 seluruh penerimaan sebesar Rp 100.000 x 50.000.000 Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan : TR 5.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya tetap yang dikeluarkannya.000 – Rp 3.Berapakah produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkannya? Berapakah penerimaan yang diperoleh?Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan? Berapakah kontribusi marginnya? Jawab: Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup biaya tetap : TR = FC 5.000 dipergunakan untuk menutup 24 Q‟ Q* Q” Q TC .000 Q* = 50.000.000 unit barang.000 : Pada titik ini. Untuk itu perusahaan harus memproduksi produk sebanyak lebih dari 50.000 + 3.000 unit dengan penerimaannya akan lebih dari Rp 250. maka Kontribusi margin= Harga jual per unit – Biaya produksi per unit Kontribusi margin= Rp 5.000.000.000 5. seluruh penerimaan sebesar Rp 250.000 = 250.000. Tingkat penerimaanya sama dengan total biaya.000 dipergunakan untuk menutup biaya tetapnya sebesar Rp 100.000Q 2000Q = TC = 100.R TR” TC” VC TC‟ 250. yaitu‟ R = TC = 5.000Q-3.000. Q = 50. maka total penerimaan harus melebihi total biaya. Tingkat penerimaannya : R = FC = 100.000 Agar perusahaan dapat menikmati keuntungan.000 TR‟ FC 100.000Q = 100.000.000 0 Keterangan gambar : Q* Q‟ : Pada titik ini.000 Keadaan ‘Break-Even Analysis’ tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut : TR FC.000. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 50.000 unit barang.000 = Rp 2.000 Q = 100.000 Q’ = 20.VC.000.000.000.TC.000.000Q = 100.

ditabung. perusahaan Rugi Q” : Untuk Q” terlihat bahwa TR” > TC”. maka perusahaan akan memperoleh keuntungan karena sudah terccapai TR > TC. Sekaligus dapat terlihat pada gambar bahwa pada titik Q‟ terjadi TR‟ < TC‟. = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan.Co (1 – b) = Tabungan yang tidak tergantung pada besarnya pendapatan. b = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. 0 < (1 – b) < 1 .biaya tetapnya sebesar Rp100. dinyatakan dengan fungsi : Y = C + S Y = Pendapatan Nasional (National Income) C = Konsumsi (Comsumption) S = Tabungan (Saving) Fungsi konsumsi dinyatakan dengan fungsi : C = Co + bY Co = Autonomous Consumption.000. Co > 0 B = Marginal Propensity to Consume. jika ada. b : 1–b Kesimpulan yang diperoleh: Marginal propensity to consume : Marginal propensity to save Karena Maka : B + (1 – b) = 1 MPC + MPS = 1 25 . maka perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian karena terjadi TR = TC Jika perusahaan sudah mampu berproduksi pada tingkat yang melebihi Q*. Jika perusahaan berproduksi tepat pada Q*. PENERAPAN DALAM TEORI EKONOMI MAKRO 10.Co + (1 – b)Y = S atau S = . Fungsi tabungannya diperoleh dari : Y=C+S Y = (Co + By) + S Y – (Co + By) = S Y – Co – b S = S Y – Co – by = S Y(1 – b) – Co = S . Fungsi Pendapat Nasional yang terdistribusi Menjadi fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan.000. 0 < b < 1 Keterangan : Co = Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan. perusahaan untung! Jika perusahaan berproduksi pada tingkat yang masih lebih rendah dari Q*. maka perusahaan akan mengalami kerugian karena masih terjadi TR < TC. Co > 0 (1 – b ) : Marginal Propensity to Save.Co + (1-b)Y – Co : Autonomous Saving. Pendapatan suatu negara terdistribusi karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan sisanya.

Contoh Soal : Suatu negara diketahui memiliki konsumsi otonominya sebesar Rp 300.000.000. Marginal propensity to save-nya sebesar 0,45. Bangunlah fungsi konsumsinya ! Bangunlah fungsi tabungannya ! Berapa yang dikonsumsi jika pendapatan nasional 1 miliar? Berapakah yang ditabung jika pendapatan nasional 1 miliar? Pada pendapatan nasional berapakah dimana tidak ada yang ditabung? Gambarkan fungsi konsumsi, fungsi tabungan, dan fungsi pendapatan nasional pada sebuah grafik! Jawab : Fungsi konsumsinya: C = Co + bY C = 300.000.000 + (1 – 0,45)1.000.000.000 C = 300.000.000 + 0,55 Y Fungsi tabungannya : S = - 300.000.000 + 0,45 Y Jika pendapatan nasionalnya 1 miliar: Fungsi konsumsi: C = 300.000.000 + 0,55 x 1.000.000.000 C = 300.000.000 + 550.000.000 C = 850.000.000 Fungsi tabungan: S = - 300.000.000 + 0,45 x 1.000.000.000 S = - 300.000.000 + 450.000.000 S = 150.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan nasional sebesar 1 miliar, maka Rp 850.000.000 dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan Rp 150.000.000 ditabung. Tidak ada pendapatan yang dapat ditabung, artinya S = 0 Y=C+S Y=C+0 Y=C Tidak ada pendapatan yang ditabung maka berarti seluruh pendapatan habis dikonsumsi. Tingkat pendapatan yang akan seluruhnya habis dikonsumsi yaitu : Y Y – bY = Co + bY = Co

Y ( 1 – b ) = Co

Y
Y

1 (1 b)

x Co

1 x Co (1 0,55)

26

Y

1 x 300.000.000 (0,45)

Y = 2,22 x 300.000.000 Y = 666.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan sebesar Rp 666.000.000 seluruh pendapatan dikonsumsi. Gambar Fungsi Konsumsi, Fungsi Tabungan, dan Fungsi Pendapatan Nasional diberikan bawah ini : C,S,Y Y=C Y=C+5 C = 300.000.000 + 0,55Y 300.000.000 S = - 300.000.000 + 0,45Y 0 S=0 Disaving - 300.000.000 11. Fungsi Pendapatan Nasional yang Dihitung Melalui Pendekatan Pengeluaran Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional suatu negara, salah satu pendekatannya adalah dengan menghitung pengeluaran dari masing-masing sektor. Sektor-sektor yang mungkin terlibat dalam perhitungan tersebut ialah : 1. Sektor rumah tangga, di mana pengeluarannya dikenal sebagai konsumsi (C) 2. Sektor pengusaha, di mana pengeluarannya dikenal dengan investasi (I) 3. Sektor pemerintah, di mana pengeluarannya yaitu pengeluaran pemerintah (G) 4. Sektor perdagangan luar negeri, terdiri atas ekspor dan impor (X – M) Jika yang terlibat sektor rumah tangga dan pengusaha, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha dan pemerintah, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha, pemerintah, dan perdagangan luar negeri maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G+(X–M) Pendapatan Disposibel ( Yd ) Yang dimaksud dengan pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang dapat langsung dikonsumsi. Jika ada ‘transfer payment’ ( R ), maka pendapatan diposibel merupakan penjumlahan antara pendapatan dengan ‘trasfer payment’ : Yd = Y + R Jadi ‘trasfer payment’ menambah pendapatan disposibel. Jika ada pajak (T), maka pendapatan baru menjadi pendapatan disposibel setelah dikurangi dengan pajak : Yd = Y + T Jadi pajak mengurangi pendapatan disposibel. Jika ada pajak dan ‘transfer payment’, maka haru dipertimbangkan keduanya : Yd = Y + R – T Saving Y

27

Jika tidak ada pajak maupun ‘trasfer payment’ maka pendapatan disposibel adalah merupakan pendapatan : Yd = Y Trasfer Payment’ ( R ) Yang dimaksud dengan ‘trasfer payment’ yaitu pembayaran yang dialihkan, misalnya tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan lain-lain. Pajak (T) Pajak terdiri atas dua jenis : 1. Pajak yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : To ( Autonomous Tax ), To > 0 2. Pajak yang bergantung pada besarnya pendapatan : tY ; t ( income tax rate ), 0 < T < 1 maka alternatif fungsi pajaknya : Jika tidak ada pendapatan : T = To Jika ada pendapatan Fungsi Konsumsi ( C ) Konsumsi terdiri atas dua jenis : 1. Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : Co (Autonomous Consumtion), Co >0 2. Konsumsi yang bergantung pada besarnya pendapatan : bY ; b (marginnal propensity to consume), 0 < b < 1 maka alternatif fungsi konsumsinya : Jika tidak ada pendapatan : C = Co Jika ada pendapatan dan ada pajak : C = b Y d atau maka: C = b (Y – T) atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y – T C = Co + b (Y – T) : T = tY atau T = To + tY

Jika ada pendapatan dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y + R Maka : C = b (Y – R) atau C = Co + b (Y + R) Jika ada pendapatan, pajak dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, dimana Yd = Y + R – T Maka : C = b (Y + R – T) atau C = Co + bYd atau Maka : C = Co + b Y atau Fungsi Investasi 1. Fungsi investasi merupakan variabel eksogen yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, maka ditulis : I = Io 2. Jika dipengaruhi oleh tingkat suku bunga ditulis : I = Io – i r, r : tingkat suku bunga I : proporsi I terhadap i Fungsi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri atas : 1. Pengeluaran pemerintah yang tidak bergantung pada pendapatan : G (Government Expenditure), Go > 0 C = Co + b (Y + R – T) C = b Y, C=bY dimana Yd = Y Jika ada pendapatan tetapi tidak ada pajak dan ‘trasfer payment’ :

28

Impor yang bergantung pada pendapatan : mY. Marginal Propensity to Consume (MPC) = 0. Contoh Soal : 1. 0 < g < 1 maka alternatif fungsi pengeluaran pemerintah : Jika tidak ada pendapatan : G = Go Jika ada pendapatan : G = gY atau G = Go + gY Fungsi Ekspor Fungsi Investasi merupakan variabel eksogen. To.2 5 29 Angka penggandaan untuk . Io = 75. g (proporsi pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan. Hitunglah pendapatan nasional suatu negara jika diketahui autonomous consumption : masyarakatnya sebesar 135. Go = 30 Yang terlibat tiga sektor.8) 1 0. Xo. Pengeluaran pemerintah yang bergantung pada pendapatan : gY . yaitu : sektor rumah tangga. Io. maka ditulis : X = Xo Fungsi Impor Impor terdiri atas : 1. seperti : Co. Mo Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang nilainya diperoleh dari perhitungan model. 0 < m < 1 maka alternatif impor : Jika tidak ada pendapatan : M = Mo Jika ada pendapatan : M = mY atau Variabel Eksogen Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya tidak diperoleh dari perhitungan model.3 . Xo > 0 2. Parameter Diberi lambang dengan huruf kecil. sektor pengusaha dan Pemerintah : Model Pendapatan Nasionalnya : Y=C+I+G di mana C = Co + b Y I = Io G = Go maka Y Y = (Co + b Y) + Io + Go = Co + b Y + Io + Go M = Mo + mY Y – b Y = Co + Io + Go Y(1 – b) = Co + Io + Go Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 (1 b) 1 (1 0. Impor yang tidak bergantung pada pendapatan : M (Autonomous Import).2. Ada berapa variabel eksogen.8 Investasinya = 75 Pengeluaran pemerintah = 30. Go. Biasanya dilambangkan dengan simbol yang diberi tambahan „0‟. variabel endogen dan parameternya ? Bagaimanakah model pendapatan nasionalnya serta angka penggandaannya ? Carilah semua nilai dari variabel endogenya ? Jawab : Diketahui Co = 135.m (marginal propensity to import). b = 0.

2. ‘investment’ (lo).4 = 0. 3. yaitu : 1. yaitu: 1. Autonomous consumption suatu negara = 100.4 dari pendapatan disposibel.8) 1 x (240) (0. Investasi nasionalnya = 40 dan autonomous tax = 50.2) Y = 5 (240) = 1200 Menghitung variabel endogen konsumsi(C): C = Co + bY C = 135 + 0. yaitu : ‘Marginal Propensity to Consume’ (b) Variabel endogennya ada dua.8 (1200) C = 135 + 960 C = 1095 2.6 Ada dua sektor yang terlibat yaitu : sektor rumah tangga dan sektor pengusaha. Autonomous Consumption (Co) Investment (lo) Government Expenditure (Go) Parameternnya ada satu. Variabel eksogennya ada tiga. Pendapatan nasional (Y) Consumtion (C) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (y): Y Y Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 x (135 75 30) (1 0.bY = Co – bTo + lo Y (1 – b) = Co – b To + lo 30 . lo = 40 . ataupun ‘government expenditure’ (Go) sebanyak satu. maka akan menyebabkanpeningkatan pendapatan nasional (Y) sebanyak lima kali. Model pendapatan nasionalnya : Y =C+I dimana C = Co + b Yd Yd = Y – To I = lo Sehingga Y = Co + b (Y – To) + lo Y = Co + bY – b To + lo Y .Model di atas Ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan faktor – faktor ‘autonomous consumption’ (Co). MPC = 1 – MPS . Carilah model pendapatan nasional ? Hitunglah angka penggandaannya ? Carilah semua nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui : Co = 100 .8 Y C = 135 + 0. To = 50 = 1 – 0. dengan MPS-nya = 0. 2.

Y Angka penggandaan : 1 = = 1 1 (Co – b To + lo) = 1 0. sedang pengeluaran di sektor pemerintah = 65.19. Co = 70.9 Semua sektor terlibat sehingga model pendapatan nasionalnya .9 Y I = lo = 90 G = Go = 65 X = Xo = 80 M = Mo + mY = 40 + 0. Konsumsi masyarakatnya terlihat dari fungsi sebagai berikut : C = Co + b Y di mana autonomous consumption = 70 dan MPC = 0.4 = 2. Go = 65.9 Dinyatakan : Carilah model pendapatan nasional ? Hitung angka penggandaannya ? Carilah nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui lo = 90. Mo = 40. Transaksi impor terhitung = 40 dengan marginal propensity to import = 0. Transaksi ekspor terhitung = 80.19 Y sehingga Y = C + l + G + (X – M) Y = (Co + bY) + lo + Go + (Xo – Mo + mY) Y = Co + bY + lo + Go + Xo + Mo + mY 31 .6) (225) C = 100 + 135 C = 235 3. Y = C + I + G + (X – M) di mana C= Co + b Y C = 70 + 0. Xo = 80. Pengeluaran di sektor pengusaha = 90. b = 0.4) Y = 2.19.6 (275 – 50) C = 100 + (0.5 (110) Y = 275 Jadi pendapatan nasionalnya sebesar 275 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + b Yd C = Co + b (Y – To) C = 100 + 0.6) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (1 b) x (Co bTo Io) 1 x (100 (0.6) 1 x (100 30 40) (0.6 (Y – 50) C = 100 + 0. m = 0.5 (1 – b) (1 – b) (1 – 0.6)50 40) (1 0.

9 0.19 (913.9 0.72) C = 892.91) 1 0.348 Menghitung variabel endogen impor ( M ) : M = Mo + mY M = 40 + 0.448 Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) 1 (70 90 65 80 40) (1 0.72) M = 213.Y – bY + mY = Co + lo + Go + Xo – Mo Y (1 – b + m) = Co + lo + Go + Xo – Mo Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) Angka Penggandaannya 1 (1 b m) 1 (1 0.29) Y = 3.348 Jadi konsumsinya = 892.6068 32 .72 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + bY C = 70 + 0.9 (913.29 3.448 ( 265 ) Y = 913.72 Jadi pendapatan nasionalnya = 913.19) 1 (265) (0.6068 Jadi impornya = 213.

Juga dipelajari perbandingan antara perubahan variabel terikat tersebut dengan perubahan variabel bebasnya yang disebut “kuosien Difference”. Jawab : fungsi total pendapatan (Total Revenue) R = P. seperti enghitung Price Elasticity of Deand. Secara umum jika diberikan fungsi total sebagai berikut: y = f (x). fungsi arjinal. Contoh soal : Marginal Pendapatan (Marginal Revenue) 1. maka y berkurang atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan bertambah. Jika fungsi marginal hasilnya negatif. arginal Revenue Product of Capital dan Marginal Revenue Product of Labor. dikatakan perubahan searah. Lebih jauh lagi : Jika fungsi marginal itu hasilnya positif. PENERAPAN TEORI DIFERENSIAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI B. Menghitung Optimasi untuk dua variabel serta mmencari Marginal Rate of Technical Substitusi.Q R = 3Q2+27Q Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) MR = dR/dQ = 6Q + 27 33 .Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapa nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 10 output. serta terangkan artinya. 1. Mempelajari penerapan Diferensial Biasa seperti mencari laju pertumbuhan.Q R = (3Q+27). maka diperolehlah fungsi Marginalnya dy/dx : laju perubahan y akibat perubahan x sebanyak 1 unit. Mepelajari Penerapan Diferensial Parsial. maka dikatakan perubahannya tidak searah. Laju Pertumbuhan (Fungsi Marginal) Fungsi Marginal merupakan turunan pertama dari fungsi-fungsi total yang merupakan fungsi ekonomi. Cross Elasticity of Demand. di mana perubahan variabel bebasnya erupakan perubahan yang sangat kecil sekali. Elastis titik: Analisis Fungsi dan Grafis. Marginal Physical Product of Labor. Diferensial Parsial. Laju Pertumbuhan II. Juga dipelajari kaidah-kaidah Diferensial serta jenis-jenis diferensial yang terdiri atas Diferensial Biasa. Fungsi Marginal menggambarkan laju pertumbuhan suatu variabel terikat akibat perubahan variabel bebasnya. seperti maksimasi pendapatan atau miniasi biaya. yang artinya jika x bertambah 1 unit. artinya jika x bertambah 1 unit maka y akan bertambah pula atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan berkurang pula. 2. PERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Penerapan Teori Diferensial Biasa Teori Diferensial biasa diterapkan dalam berbagai masalah diantaranya untuk mencari : I. dan Income Elasticity of Demand.BAGIAN 3 KONSEP DASAR TEORI DIFERENSIAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari perubahan variabel terikat perubahan variabel bebasnya. Tutjuan Khusus 1. Mempelajari Penerapan Diferensial Berantai seperti dalam fungsi produksi menghitung Marginal Physical Product of Capital. dan Diferensial berantai. 3. Fungsi permintan diberikan P = 3Q+27. di mana P: Price (harga) dan Q: Output. Optimasi (Nilai Maksimum dan Minimum) III. menghitung elastisitas dan enghitung optiasi.

2/5.e Q/2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : Dengan mengambil U = 30 Q. 4.5P. maka MR = dR/dQ = 80 . Jawab: Karena fungsi permintaanya Q = 6 . Jawab: Fungsi total pendapatan ( Total Revenue) : R = AR . Fungsi Permintaan diberikan Q = 6 . serta terangkan artinya. sebaliknya untuk setiap penurunan 3.Jika perusahan berproduksi pada tingkat output Q = 10 . Jawab : Funsi total pendapatan (Total Revenue) : R=AR.1/2.2/5 = 4/5 artinya :untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 4/5.e Q/2 Maka MR= dR/dQ = U‟ V+U V‟ = 30. serta terangkan artinya.e Q/2+15 Q. maka MR = dR/dQ = 6Q + 27 = 6(10) + 27 = 60 +27 = 87 Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 87. Sehingga U‟=30 Dan V = e Q/2 Sehingga V‟=1/2. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan banyak menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 87 2. e Q/2 Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 2 penjualan. e Q/2 = e Q/2(30+15 Q) Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 2 Maka MR = dR/dQ = e Q/2 ( 30+15 Q) = e 2/2 ( 30+15.(1) = 6/5 .sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 4/5. maka MR= dR/dQ = 6/5 .Fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan AR = 30.e Q/2+30 Q.2/5Q Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 1.8 Q Jika perusahaan memproduksi pada tingkat output Q = 7. dimana P: Price (harga) dan Q: Penjualan.e Q/2 = 30.Q R=(30. Fungsi Pendapatan Rata-rata (Average Revenue) diberikan AR = 80 – 4 Q Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 7 output.serta terangkan artinya. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 24. Bagaimanakah Fungsi marginal pendapatanya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatanya jika perusahaan memproduksi baru 1 penjualan . dimana harus diubah dahulu menjadi P = 6/5 –1/5Q Barulah mencari fungsi total pendapatan (Total Revenue): R = P.8(7) = 80 – 56 = 24 Artinya: untuk setiap peningkatan output Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 24.Q R = (6/5 – 1/5Q) Q R = 6/5Q-1/5Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue): MR = dR/dQ = 6/5 .2) = 60 e 34 . Q R = (80 – 4 Q) Q R = 80 Q – 4 Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : MR = dR/dQ = 80 .e Q/2)Q R=30Q.5P.

4 < 0 sehingga diperoleh nilai maksimum Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum yaitu sebanyak 4. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 60 e. permasalahannya: i.4Q + 16 = 0 4Q = 16 Q=4 Agar dijamin bahwa jika menjual sebanyak Q = 4 maka akan diperoleh total pendapatan maksimum. ada dua pertanyaan yang senantiasa diajukan.2Q + 16. Jawab: Fungsi total biaya (total biaya): C = Q3 .4Q2 + 10Q + 75 Fungsi Marginal Biaya (marginal cost): C‟ = 3Q2 .4Q2 + 10Q + 75 Bagaimanakah fungsi marginal biayanya (Marginal cost) dan berapakah nilai marginal biaya tersebut jika perusahaan memproduksi 2 penjualan. Contoh soal: Marginal Biaya (Marginal Cost) 5.Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang di jual 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 60 e.8Q + 10 Jika perusahaan berproduksi pada tingkat penjualan Q = 2. Optimasi Satu Variabel (Nilai Ekstrim Maksimum atau Minimum) Dalam masalah optimasi. Harga jual barang P = . langkah-langkahnya dijelaskan dibawah ini: Untuk fungsi yang mengandung satu variabel y= f(x) Maksimum Langkah I Langkah II Y‟ = 0 Y” < 0 Minimum Y‟ = 0 Y” > 0 Diperoleh titik X Menjamin Nilainya Optimum (Maksimum atau Minimum) Contoh: memaksimasi total pendapatan (total revenue) 1.Q = (. Berapakah y yang optimum tersebut? Untuk menjawab pertanyaan pertama. tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum. Berapakah x yang akan memberikan y optimum? Jika itu telah terjawab.2Q + 16) Q R = .8Q + 10 = 3(2)2 . serta terangkan arti.2Q2 + 16Q R = .2(4)2 + 16(4) R = 32 35 . Misalkan untuk fungsi dengan satu variabel y= f (x). maka MC = C‟= 3Q2 . Fungsi Total Biaya suatu perusahaan dinyatakan sebagai berikut: C = Q3 .4 Ternyata R” = .2Q2 + 16Q Langkah pertama mencari turunan pertama fungsi total pendapatan kemudian dibuat = 0 R‟ = . maka pertanyaan selanjutnya baru bisa dijawab yaitu: ii. Total pendapatan maksimumnya: R = .8(2) + 10 = 12 – 16 + 10 = 6 Artinya: Untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan biaya sebesar 6. maka lakukanlah langkah kedua yaitu mencari turunan kedua fungsi total pendapatan: R” = .2Q + 16 R = P. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan biaya sebesar 6. Jawab: Fungsi total pendapatan: P = .

90Q2 + 2800Q + 56500 Fungsi marginal biaya: MC = 3Q2 .1000(100) + 85000 C = 35000 Jadi total biaya minimumnya sebesar: 35000 Contoh soal: Meminimasi Marginal Biaya (Marginal Cost) 4.2Q) Q = 16Q – 2Q2 Fungsi marginal pendapatan: MR = 16Q .2Q2 Turunan pertama: MR‟ = 16 .4Q = 0 16 = 4Q Q=4 Turunan kedua: MR” = . 36 . Biaya total dinyatakan dengan C (Cost) = Q3 -90Q2 + 2800Q + 56500 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan marginal biaya minimum? Berapakah marginal biaya minimum tersebut? Jawab: Fungsi total biaya: C = Q3 .2Q Fungsi total pendapatan: R = P.180Q + 2800 Turunan pertama: MC‟= 6Q – 180 = 0 6Q = 180 Q = 30 Turunan kedua: MR” = 6 > 0 Jadi output yang harus diproduksi agar diperoleh marginal biaya minimum sebanyak 30. Total biaya minimumnya sebesar: C = 5Q2 . Biaya total dinyatakan dengan C(Cost) = 5Q2 . Contoh soal: Memaksimasi Marginal Pendapatan (marginal revenue) Harga jual barang P = 16 .1000Q + 85000 C‟= 10Q – 1000 = 0 10Q = 1000 Q = 100 C” = 10 > 0 Jadi total biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 100 unit.1000Q + 85000 C = 5(100)2 . Berapakah marginal pendapatan maksimum tersebut? Jawab: Fungsi permintaan: P = 16 .1000Q + 85000 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan total biaya minimum? Berapakah total biaya minimum tersebut? Jawab: C = 5Q2 . tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum.180Q + 2800 = 3(30)2 .180(30) + 2800 = 100 Jadi marginal biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 30 unit:100 2. Marginal biaya minimum: MC = 3Q2 .2Q2 = 16(4) . Marginal pendapatan maksimumnya: MR = 16Q .2Q. maka akan diperoleh total pendapatan maksimum sebesar 32.4 < 0 Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum sebanyak 4.2(4)2 = 48 contoh soal: Meminimumkan Total Biaya (Total Cost) 3.Jadi ketika menjual produk sebanyak 4.Q = (16 .

6(35) + 114 = . Total pajak yang akan di terima perintah : T = t.(35)3 + 57(35)2 .315Q .3) (Q .2Q).Q3 + 57Q2 .2000 = 13925 Jadi dengan memproduksi dan menjual output sebanyak 35 akan di peroleh laba maksimum sebanyak : 13925 Contoh soal: Memaksimasi Penerimaan Pajak Salah satu sumber penerimaan pemerintah adalah dengan penarikan pajak. 6.2000 = .35) = 0 Q1 = 3 Dan Q2 = 35 Turunan kedua: Laba” = . R: Pendapatan =R–C–T C: Biaya =R–C–tQ T: Pajak Q :Tingkat output yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.4Q + 12 – t = 0 12 – t = 2Q 37 .59Q2 + 1315Q + 2000) Laba = .Q R = 1000 Q . yang memberikan laba maksimum setelah mempertimbangkan adanya pajak penjualan dan pemerintah.(Q3 .6Q + 114 Untuk Q1 = 3.59Q2 +1315Q + 2000 Fungsi laba: Laba = Pendapatan – biaya Laba = (1000Q .2Q Dan C = Q3 . Dari sudut pandang pengusaha setelah ada pengenaan pajak dari pemerintah: Laba = pendapatan – (biaya + pajak) = R – (C+T).Q3 + 57Q2 .6(3) + 114 = 96 > 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 3. Contoh soal : Memaksimasi laba / keuntungan / provit Di berikan fungsi permintaan dan fungsi biaya masing-masing sebagai berikut: P = 1000 . maka turunan ke dua = . Laba maksimum nya sebesar : Laba = . yang telah mempertimbangkan biaya pajak.38Q + 105 = (Q .96 < 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 35. maka labanya akan maksimum.315 = Q2 .2Q2) . Q* di mana t: tarif pajak yang di kenakan pemerintah dan Q*= Jumlah output yang di produksi dan di jual pengusaha sehingga di peroleh laba maksimum. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut : R = 15Q .2 Q2 Fungsi biaya: C = Q3 .315(35) .2Q2 Dan C = 3Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya di kenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum ? Berapakah total pajak maksimum yang di peroleh ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 15 Q – 2 Q2 – 3Q – t Q = -2 Q2 + 12Q – t Q Turunan pertama: Laba‟ = . Untuk Q2 = 35.Q R = (1000 .315Q . maka labanya akan minimum.5. maka turunan ke dua = . Pemerintah berupaya untuk memaksimumkan penerimaan pajak tersebut.2000 Turunan pertama: Laba = -3Q2 + 114Q . misalnya pajak penjualan yang di kenakan pemerintah terhadap setiap unit yang di produksi dan di jual oleh pengusaha. Untuk itu pemerintah harus menentukan berapa tarif pajak yang akan di berlakukannya sehingga akan di peroleh pajak maksimum.59Q2 + 1315Q + 2000 Berapakah produk yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh laba yang maksimum ? Berapakah laba maksimum tersebut ? Jawab: Fungsi pendapatan: R = P.

Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (20 – 1/13 t) = 20 t – 1/3 t 2 Turunan pertama : T‟ = 20 – 2/13 t = 0 20 = 2/13 t t = 130 Turunan ke dua : T‟‟ = . berapakah tarif pajak yang harus di kenakan pemerintah kepada perusahaan tersebut? Berapakah total pajak maksimum yang di dapat pemerintah? Berapakah laba maksimum yang di terima perusahaan setelah di kenakan pajak ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 360 Q – 10.2Q Q* = 12 . Q* = 1.5 Q2 – t Q Turunan pertama: Laba‟ = 260 – 13 Q – t = 0 260 – t = 13 Q Q = 260 – t 13 Q*= 20 – 1 t 13 Turunan ke dua : Laba‟‟ = .5 Q2 – (100 Q – 4 Q2) – t Q = 360 Q – 10.5 = 9 Jadi total pajak yang yang di terima pemerintah sebesar: 9 Contoh soal: Fungsi penerimaan dan fungsi biaya suatu produk di nyatakan sebagai berikut: R = 360 Q – 10.2/13 Jadi taruf pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar : 130 Karena Q2 = 20 – 1 t 13 = 20 – 1 (130) 13 = 20 – 10 = 10 7.13 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 20 – 1/ 13 t.5 Q2 Dan C = 100 Q – 4 Q2 Berapakah produk harus di buat dan di jual perusahaan agar di peroleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum tersebut? Jika pemerintah ingin memperoleh pajak penjualan yang maksimum.t = 12 .t 4 Q* = b – ¼ t Turunan ke dua: Laba = . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T =t (3 – ¼ t) =3t – 1/4 t2 Turunan pertama: T1 = 3 – ½ t = 0 T=6 Turunan ke dua : T” = -½ Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: 6 Karena Q* = 3 ¼ t = 3 – 6/4 (6) = 3 – 1.5 Maka total pajak maksimum: T = t .4 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 3 – ¼ t. 38 .5 Q2 – 100 Q + 4 Q2 – t Q = 260 Q – 6.5 = 1. pengusaha akan memperoleh laba maksimum. pengusaha akan memperoleh laba maksimum.

sebaliknya jika persediaan bahan mentah di perhitungkan sedikit saja. biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan sehingga menghambat proses produksi atau pemasaran. Perusahaan tersebut. Pola kedatangan barang persediaan digambarkan seperti gambar berikut ini: Persediaan ( Q ) Q/2 Jumlah Rata-rata Persediaan Waktu D: kebutuhan jumlah barang per periode waktu yang kemudian dibagi sama besar menjadi beberapa kali pemesanan Q: jumlah pemesanan per sub-periode waktu C: biaya total persediaan C: biaya pemesanan setiap kali memesan 39 . 4. untuk kemudian akan sangat sulit jika berusaha untuk mencoba mengembalikan pangsa pasarnya kembali karena berhubungan dengan kepercayaan pelanggan serta di butuhkan investasi yang sangat besar misalkan untuk biaya pemasarannya (periklanannya) Biaya. 10 = 1300 Jadi total pajak yang di terima pemerintah sebesar 1300. biaya pemesanan. Model yang akan di bahas dalam buku ini yaitu: model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala (batch arrival model). Akan tetapi. biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah barang. Hal tersebut kemudian berdampak dapat mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan kehilangan pelanggan.5Q2 – t Q = 260 (10) – 6. maka pada akhirnya para konsumen akan mencoba untuk menutup kebutuhannya dengan cara melirik produk dari pesaing. dalam suatu periode waktu tertentu di ketahui jumlahnya tetap dari tiap-tiap periode waktu. Demikian pula jika persediaan barang jadi di perhitungkan sedikit maka akanmenimbulkan keluhan pada konsumen akibat kelangkaan barang (permasalahan dalam pemasaran). 2. biaya penyimpanan. 3.biaya yang ada hubungan dengan masalah persediaan. Laba maksimum yang di terima oleh pemerintah besarnya: Laba = 260 Q – 6. 2. Model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala dalam model ini di asumsikan bahwa : 1. Q* = 130 . sub-periode kedatangan panjangnya tetap. di antaranya: 1. Jumlah kebutuhan barang. manajemen perusahaan senantiasa di perhadapkan kepada permasalahan yaitu jika jumlah persediaan bahan mentah maupun persediaan barang jadi di perhitungkan banyak. yang berarti jumlah pemesanan barang. 3. kehilangan pangsa pasarnya. maka akan ada resiko yaitu menimbulkan hambatan dalam proses produksi. hal itu berarti menimbulkan biaya penyimpanan. Jika kelangkaan barang tersebut terjadi berlarut-larut. tidak terjadi kekurangan persediaan sehingga tidak ada biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan.5(10)2 – (130)(10) = 2600 – 65 – 1300 = 1235 Jadi pemerintah menerima laba maksimum sebesar 1235 Contoh soal : Meminimasi Total Biaya Persediaan Dalam hal persediaan.Maka Total pajak maksimum: T = t .

C2: biaya penyimpanan per-periode waktu Masalahnya adalah berapa unit barang yang harus dipesan setiap kali pemesanan (Q) agar biaya total persediaan (C) minimum. maka akan dihitung total biaya pemesanan dan total biaya penyimpanan sebagai berikut: Total biaya pemesanan: Misalakan dibutuhkan 100 kg yang akan dipesan sebanyak 25 kg. 2 D.C 1 C2 2.C1 + ½ C2 =0 Q2 ½ C2 Q2 Q = = –D. sedangkan biaya penyimpanannya Rp.2500 200 .C1 ½ C2 = 2 D. Total biaya penyimpanan: Rata-rata sepanjang periode waktu terdapat Q/2 persediaan sehingga biaya total penyimpanan per periode waktu: (Q/2) C2 Jadi total biaya persediaan = total biaya pemesanan + total biaya penyimpanan C = Q C1 + Q C2 D 2 Yang menjadi permasalahan adalah berapakah jumlah unit atau barang yang harus dipesan agar dapat diperoleh total biaya persediaan yang minimum? Untuk menjawab permasalahan tersebut.C1 Q2 –D. C2 2 Turunan pertama: C′ = D. Berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? Berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? Berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : Jumlah total pemesanan per-bulan:100 kg C1: Biaya pemesanan: Rp. Q3 Contoh soal: seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 100 kg setiap bulan. 2500 C2: Biaya penyimpanan: Rp.C 1 C2 Turunan kedua: C” = 2D.Q-2 + ½ C2 =0 –D. perlu dicari: jumlah produk yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga diperoleh total biaya persediaan yang minimum: Q Q Total biaya persediaan: C = C1 + C2 D 2 Q = D. Biaya pemesanan setiap kali memesan sebesar Rp. 2500 per-pemesanan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut.Q1 . 50 per-minggu = Rp 200 per-bulan.C1 > 0 menjamin biaya persediaan minimum. 50 per-minggu. C1.C1.100.(-1) . maka D = 100 dan Q = 25 sehingga setiap periode waktu akan ada kedatangan akibat pemesanan sebanyak D/Q dengan biaya total pemesanan: (D/Q) C1. Jumlah yang harus dipesan: Q Q = Q = 50 40 = 8.

5(4) = 8 – 2 = 6 Jadi EQDP1 = 4 = dQd/dP1= -0. Di tulis Eyx.0. 4 = -1 Qd / P1 6/4 6 3 Besar elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah -1/3 1 / 3 =1/3 <1 (INELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah E Untuk titik P2 = 8 maka Qd = 8 .5.5 P.0. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 100/50 =2 kali pemesanan.0.5(8) = 8 – 4 = 4 Jadi EQDP2 = 8 = dQd/dP2 = -0.5 . jika diketahui fungsinya.5. Misal: y = f(x). Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut: Qd = 8 . dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 maka Qd = 8 . Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 8 – 0. Elastisitas mengukur derajat kepekaan variabel terikat akibat adanya perubahan variabel bebasnya. digunakan Rumus: Eyx = y/y atau Eyx = y/ x x/x y/x untuk perubahan yang kecil rumusnya menjadi : Eyx=dy/dx y/x contoh soal: Elastisitas Permintaan 1. Total biaya persediaan: C = Q C1 + Q C2 D 2 50 100 C= 2500 + 200 2 50 C = 10. P2 = 8. maka seberapa jauh perubahan y akibat perubahab x di sebut „elastisitas y terhadap x‟.12 = -3 Qd/P3 2/12 2 Besar elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah -3 3 E = -3 = 3 > 1 (ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah E Analisa Grafis: Elastisitas permintaan Contoh soal: 4.8 = -1 Qd/P1 4/8 4 Besar elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah -1 1 = 1 (UNITARY ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah E Untuk titik P3 = 12 maka Qd = 8 .0.5 = -0.Jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 50 kg.000 Jadi total biaya persediaan minimum : Rp 10.5(12) = 8 – 6 = 2 Jadi EqdP3 =12 = dQd/dP3 = -0.5 P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.5 = -0.5 = -0. Analisis fungsi Untuk menghitung besarnya elastisitas terhadap x.000 Elastisitas Titik: Analisis Fungsi dan Grafis. Grafik fungsinya: 1 4 0 4 Qd EQDP1=4 = = = 3 16 4 12 8 8 0 EQDP2=8 = = =1 8 16 8 12 EQDP3=12 = 12 0 = =3 4 16 12 P 41 .

Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 6 + 2P. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit. Dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 Maka Qs = 6 + 2(4) = 6 + 8 = 14 Jadi E QdP1 = 4 = dQs/Dp1= + 2 = + 2 . Di berikan fungsi penawaran sebagai berikut: Qs = 6 + 2P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.Q2 = 140 Q + 5 DI Mana Q adalah produksi. 4 = 8 = 4 Qs/P1 14/4 14 14 7 Besar elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah 7 Jenis elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah E = +4/14 = 7 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P2 = 8 maka Qs = + 2 (8) = 6 + 16 = 22 Jadi E QdP2 = 8 = dQs/Dp2 = + 2 = + 2 . 8 = 16 = 8 Qs/P2 22/8 22 22 11 Besar elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah 8/11 Jenis elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah E = 8/11 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P3 = 12 maka Qs = 6 + 2 (12) = 6 + 24 = 30 Jadi E QdP3 = 12 = dQs/dP3 = + 2 = + 2 . Fungsi pendapatan dari suatu pabrik di berikan sebagai berikut: R = . Jika jumlah tenaga kerja yang ada 10 orang:  Berapakah „Marginal Physical Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya!  Berapakah „Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi Produksi: Q = 4 L Sehingga dQ Marginal Physical product of labour (MRP L): =4 dL Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. sedangkan fungsi produksinya Q = 4 L. Marginal Revenue Product Of Capital (MRP C)* Contoh Soal: Marginal Revanue Product Of Labour (MRPL) 1. P2 = 8.Contoh soal: Elastisitas penawaran 5. grafik fungsinya: QS Qd= 6 + 2P 14 6 8 4 EQDP1=4 = = = 30 14 0 14 7 22 16 22 6 8 EQDP2=8 = = = 22 22 0 11 14 24 4 6 EQDP3=12 = 30 6 = = 30 5 30 0 4 8 12 P Penerapan Teori Diferensial Berantai Teori diferensial berantai di terapkan dalam masalah produksi di antaranya untuk mencari: I. 12 = 24 = 4 Qs/P3 30/12 30 30 5 Besar elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah = 4/5 Jenis elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah E = + 4/5 = 4/5 < 1 (INELASTIS) Analisis Grafis: Elastisitas Penawaran Contoh soal : 6. Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)* II. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit 42 .

sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit.2Q + 140 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRP L): dR dR dQ = . Fungsi pendapatan dari suatu pabrik diberikan sebagai berikut: R = .8 (4L) + 560 = . dC dQ dC dR = (-6000Q + 410000) (3) dC dR = -18000Q + 1230000000 dC Jadi marginal revenue product of capital (MRP L) = -18000Q+1230000000 = -18000(3C)+1230000000 = -54000C+1230000000 Untuk kapital sebanyak 1000 maka MRPL = -54000C+1230000000 = -54000(1000)+1230000000 43 .3000Q2 + 410000Q + 7 di mana Q adalah produksi. sedangkan fungsi produksinya Q = 3C.Q2 + 140Q + 5 dR = .Fungsi pendapatan: ´Marginal Revenue: R = .32 L + 560 Untuk tenaga kerja sebanyak 10 orang. Fungsi pendapatan: R = -3000Q2 + 410000Q + 7 maka dR Marginal revenue: = -6000Q + 410000 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ = . # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 240 contoh soal: marginal revenue product of capital (MRPC) 2. dL dQ dL dR = (-2Q + 140) (4) dL dR = -8Q + 560 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRP L) = . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 240.8Q + 560 =. maka MRPL = -32(10) + 560 = -320 + 560 = 240 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. Jika kapital yang dimiliki 1000: Berapakah „Marginal Physical Product of Capital (MPPC)´ dan jelaskan artinya! Berapakah Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)´ dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi produksi: Q = 3C sehingga Marginal Physical Product of capital (MRPC): Dq = 3dC Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000.

Misalnya ada dua barang yaitu barang 1 dan barang 2. Di samping itu juga di tentuka oleh pendapatan.= -54000000+1230000000 = 1176000000 Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. Mencari marginal rate technical substitution(MRTS) Elastisitas Persial Fungsi permintaan suatu barang tentu di tentukan oleh harga barang itu sendiri. dan pendapatan (Y). yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1). Akan tetapi. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan harga barang lain (P2) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barang lain (P1): dQd 1 / dP 2 dQd 2 / dP1 Jadi E QdP1 = dan EQdp2 = Qd 1 / P 2 Qd 2 / P1 Income Elasticity of Demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan pendapatan: Yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan pendapatan (Y) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan pendapatan (Y). harga barang lain (P1).P2. juga ternyata di tentukan oleh harga barang lain tersebut merupakan barang substitusinya atau barang komplementernya.P2. fungsi permintaannya masing-masing dapat di tuliskan sebagai berikut: Qd1 = f (P1. 44 . dan besarnya pendapatan (Y).Y) Fungsi permintaan barang 1 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P 1). Elastisitas Parsial II. dQd 1 / dY dQd 2 / dY Jadi E QdP1 = dan E QdP2 = Qd 1 / Y Qd 2 / Y Hubungan antar-komoditi: # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand positif.Y) Dan Qd2 = f (P1. Price elastisity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barangnya sendiri. maka # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1176000000 sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1176000000 Penerapan Teori Diferensial Parsial Teori Diferensial Parsial diterapkan dalam berbagai masalah di antaranya untuk mencari: I. akibat perubahan harga barangnya (P1) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barangnya (P2): Jadi E QdP1 = dQd 1 / dP1 dQd 2 / dp 2 dan E QdP2 = Qd 1 / p1 Qd 2 / p 2 Cross Elasticity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barang lain. Demikian pula dengan fungsi permintaan barang 2 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P2). sedangkan # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand negatif. maka hubungan antar komoditi adalah substitusi. harga barang lain (P2). maka hubungan antar komoditi adalah komplementer. Optimasi 2 variabel: Maksimasi pendapatan Minimasi biaya Maksimasi laba/keuntungan III.

Contoh soal: 1. Qdr = 2Pj - 30 Pr + 0,05 Y Untuk Pj = 3000, Pr = 100, dan Y = 30000 Carilah: - Price Elasticity of Demand - Cross Elasticity of Demand - Income Elasticity of Demand Bagaimanakah hubungan antara komoditi j dan r? Jawab: Price Elasticity of Demand: dQdr / d Pr 30 2 30 E QdPr = = = = Qdr / pr 4500 / 100 3 45 Cross Elasticity of Demand: dQdr / dPj 2 60 4 E QdPr = Qdr / pj 4500 / 3000 45 3 Income Elasticity of Demand: dQdr / dY 0,05 15 1 E QdPr = Qdr / Y 4500 / 30000 45 3 Hubungan antara komoditi r dan j: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif, maka hubungan antara komoditi r dan komoditi j adalah Subtitusi. Optimasi Dua Variabel. Fungsi yang mengandung 2 variabel misalnya dituliskan sebagai berikut: Y=f(x1,x2) Dalam setiap permasalahan optimasi, selalu memunculkan dua pertanyaan: 1. Berapakah x1 dan x2 yang akan memberikan Y optimum (maksimum atau minimum) 2. Berapakah Y optimumnya (maksimum atau minimum) Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama tersebut, maka diberikan langkah-langkahnya sebagai berikut: Optialisasi dua variabel Y = f ( x1 ,x2 ) Maksium Langkah I Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Minimum Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Diperoleh X1 dan X2

Langkah II

Turunan kedua dan Matriks Hessian: H = Y11 Y12 Y21 Y22 D1 = Y11 < 0
Difinit negatif, Menjamin Y maksium

Langkah III

D1 = Y11 > 0
Difinit positif, Menjamin Y minimum

Diperoleh Titik ekstrim maksium atau titik ekstrim minimum

Langkah-langkah dalam tabel tersebut membantu untuk memperoleh X1 dan X2 yang pasti akan menjamin bahwa Y optimal, jadi ke tiga langkah tersebut di atas hanyalah untuk menjawab pertanyaan pertama saja. Belum di peroleh berapa besar Y yang optimal tersebut. Untuk mendapatkan nilai Y yang optimal maka nilai X1 dan X2 harus di masukan dalam persamaan Y tersebut.untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, maka di bawah ini di berikan tiga contoh yang merupakan permasalahan optimal dua variabel, yaitu: maksimasi pendapatan, minimasi biaya, maksimasi laba.

45

Contoh soal: Maksimasi pendapatan 1. Di berikan fungsi pendapatan : R = 160 Q1 – 3 Q12 – 2 Q1 Q2 – 2Q22 + 120 Q2 –180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh pendapatan maksimum? Berapakah pendapatan maksimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di jual : Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi pendapatan: R1 = 160 – 6 Q1 – 2 Q2 = 0 R2 = 120 – 2 Q1 – 4 Q2 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 6 Q1 – 2 Q2 = - 160 2 Q1 – 4 Q2 = - 120 Maka 160 2 120 4 (-160)(-4) - (-2)(-120) 640 - 240 400 Q1 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4

6 160 2 120 (-6)(-120) - (-2)(-160) 720 - 320 400 Q2 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4 Langkah ke dua adalah mencari turunan keduannya: R11 = -6, R12 = -2, R21 = -2, R22 = -4 R 11 R12 - 6 - 2 Matriks hessiannya: H = R21 R22 -2 -4
Matriks pertamanya : D1 = - 6 < 0
-6 -2 -2 -4 = (-6)(-4) – (-2)(-2) = 24 – 4 = 20 > 0 karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin pendapatan maksimum. Pendapatan maksimumnya: R = 160Q1 - 3Q12 - 2Q1Q2 - 2Q22 + 120Q2 – 180 R = 160(20) - 3(20)2 - 2(20)(20) -2(20)2 +120(20) – 180 R = 2620

Matriks keduannya : D2 = H =

Contoh soal: Minimasi biaya 2. di berikan fungsi biaya sebagai berikut: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi sehingga di peroleh biaya minimum? Berapakah biaya minimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di produksi: Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: C1 = 16Q1 – 2Q2 – 40 = 0 C2 = -2Q1 + 12Q2 – 42 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 16Q1 – 2Q2 = 40 -2Q1 + 12Q2 = 42 Maka 40 - 2 Q1 =

42 12 16 - 2 - 2 12

=

(40)(12) ( 2)( 42) 480 84 564 = = =3 (16)(12) ( 2)( 2) 192 188

46

Q2 =

- 6 - 160 - 2 - 120 16 - 2 - 2 12

=

( 6)( 120) ( 2)( 160) 400 720 320 = = = 2,12 = 2 (16)(12) ( 2)( 2) 188 192

Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: R11=16, R12 = -2, R21 = -2, R22 = 12 16 -2 R 11 R 12 16 -2 Matriks Hessiannya: H = 12 R 21 R 22 - 2 Matriks pertamanya : D1 = 16 > 0 Matriks keduanya : D2 = H = 16 -2 - 2 12 =(16) (12) – (-2) (-2) =192 – 4 =188 > 0 Karena D1 > 0 dan D2 > 0, maka definit positif, menjamin biaya minimum. Biaya minimumnya: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1 Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 C = 8(3)2 + 6(2)2 - 2(3) (2)- 40 (3)- 42 (2)+180 C = 60 Contoh soal: maksimasi laba / keuntungan 2. Diberikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya sebagai berikut: R = 12 Q1 + 8 Q2 dan C = 3 Q12 + 2 Q22 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimumnya?

Jawab: Fungsi labanya: Laba = R – C = 12Q1`+ 8Q2 - ( 3 Q12 + 2 Q22) = 12Q1 + 8Q2 - 3Q12 - 2Q22 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = 12 – 6 Q1 = 0, maka Q1 = 2 Laba2 = 8 – 4 Q2 = 0, maka Q2 = 2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11 = - 6, Laba12 = 0, Laba22 = - 4 Matriks Hessiannya: H = Laba 11 Laba 12 = -6 0 Laba 21 Laba 22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = - 6 < 0 Matriks keduanya : D2 = H = - 6 0 0 -4 = -(0)(0) (-6) (-4) = 24 – 0 = 24 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin laba maksimum. Pendapatan maksimumnya: Laba = 12 Q1+8 Q2-3Q12-2Q22 Laba = 12(2) +8(2)-3(2)2-2(2)2 Laba = 24+16-12-8 Laba = 20 47

5 K 4 L 4 0.4 L 0.2(0.L).7 K 0.5 0.3 (0.5 160 40 MRTS = 4 4 MRTS = – 4 .3 L0. 7 L0.210 MRTS = 3.3) K 0. Di berikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 0.3 (0. maka mencari MRTS-nya dengan dQ / dL dQ dQ dQ dK dK MRTS = : . Q* R = 16 Q – Q2 Maka fungsi marginal pendapatannya: MR = 16 – 2Q 48 . Q R = (16 – Q) .5 1 0 = = MRTS = 0. dQ / dK dL dK dL dQ dL Rumus: MRTS = Contoh soal: 1.7) L0.2K 0.1 Mencari Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dK dL Jika diketahui Fungsi Produksi Q=f(K. Di mana K = 160 dan L = 40 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK 0 0.7 K = 210 dan L = 70 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK = = = 96 K 0.8L 0. 2 MRTS = – 8 2.3 L 0.3 1 L0.8(0.3.3 K 0.7 0.3 L 0.7 1 96(0.5) K ) 0. 7 3L0. Diberikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 96 K 0.5) L0.7. carilah fungsi marginal pendapatannya untuk fungsi P = 16 – Q jawab: fungsi permintaan: P = 16 – Q fungsi pendapatan: R = P .5 1 = 0.1K 0.3) K 0.7 7K MRTS = 3L 7.5 + 0.70 MRTS = – 7 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Fungsi marginal pendapatan (marginal revenue) 1. 7 7 K 0.5.

yaitu Q = 2.6Q MR =120 – 12Q 10 20 Q Minimasi total biaya (Total Cost) 3. Total biaya suatu perusahaan dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q +4 # Pada output berapakah yang akan memberikan total biaya minimum? # Berapakah total biaya minimumnya? Jawab: Fungsi total biaya: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 Turunan pertama fungsi total biaya: TC‟= 3Q2 – 8Q + 4 = 0 (3Q . Jadi pada tingkat output Q = 10 menjamin pendapatan maksimum.2) = 0 3Q . Pendapatan maksimum: TR maksimum = 120 Q – 6 Q2 R maksimum = 120(10) – 6(10)2 = 1200 – 600 = 600 jadi pendapatan maksimumnya diperoleh sebesar 600 fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q fungsi marginal pendapatan: TR′= MR = 120 – 12 Q maka grafik dari kedua fungsi tersebut di gambarkan sebagai berikut: AR. Q = 120 Q – 6 Q2 Turunan pertama fungsi pendapatan: TR′ = 120 – 12Q = 0 120 = 12Q Q = 10 Turunan kedua fungsi pendapatan: TR″ = -12 < 0 menjamin pendapatan maksimum. Total biaya minimum: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 TC = (2)3 – 4(2)2 + 4(2) + 4 = 4 49 .MR 120 AR = 120 . fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan di bawah ini: AR = 120 – 6 Q # Pada tingkat output berapakah yang memberikan pendapatan maksimum? # Berapakah pendapatan maksimum yang diperoleh? # Gambarkan fungsi pendapatan rata-rata dan marginal pendapatan pada sebuah grafik! Jawab: Fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q Fungsi pendapatan: TR = AR .4 < 0 Untuk Q2 = 2 maka TC″= 6 (2) – 8 = 4 >0 Jadi output yang memberikan total biaya minimum adalah yang TC″>0. Q = (120 – 6Q) .2 = 0. Q1 = 2/3 Q .Maksimasi total pendapatan (Total Revenue) 2.2)(Q .2 = 0. Q2 = 2 Turunan kedua fungsi total biaya: TC″= 6Q – 8 Untuk Q1 = 2/3 maka TC″= 6 (2/3) – 8 = .

5 – 1/10 t = 2. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut: P = .5 t – 1/10 t 2 turunan pertama: T′ = 2.5Q + 100 dan C = 5Q2 – 30Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? Berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = P .5 – 1/10 t Turunan kedua: Laba″ = -10 < 0 Jadi dengan memproduksi Q* = 2.25 = 1.Maksimasi penerimaan total pajak 4.5 Karna Q* = 2.5 – 1.5 .5 – 1/10(12.1440. 1.25 Maka total pajak maksimum: T = t .625 Jadi total pajak yang diterima pemerintah sebesar: 15.25 = 15. sedangkan biaya penyimpanannya Rp 300 per minggu. # berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? # berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? # berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : jumlah total pemesanan per bulan : 1440 kg C1: biaya pemesanan : Rp 6000 C2: biaya penyimpanan : Rp 300 per minggu = Rp 1200 per bulan Jumlah yang harus di pesan : 2 D. Seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 1440 kg tiap bulan.biaya pemesanan tiap kali memesan sebesar Rp 6000 per pemesanan.5 – 1/5 t = 0 2.5 – 1/10 t) = 2. Q – C – t Q = -5Q + 100 – (5Q2-30Q) – tQ = -5Q2 + 25Q – Tq + 100 Turunan pertama: Laba′ = -10Q + 25 – t = 0 25 – t = 10Q Q* = 25 – t 10 Q* = 2.C1 Q= C2 2.5 turunan kedua: T″= -1/5 < 0 Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: t = 12.6000 1200 Q = 120 jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 120 kg. Jadi sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (2. Q* = 12. pengusaha memperoleh laba maksimum.5) = 2. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 1440/120 = 12 kali pemesanan.625 Minimasi total biaya persediaan 5.5= 1/5 t t = 12.5 – 1/10 t. Total biaya persediaan: Q= 50 .

maka hubumgan antara komoditi 1 dan komoditi 2 adalah subtitusi. P2 = 10.8 Q=4 Sehingga: Marginal Physical Product of Labour (MPRL): 1 1 1 dQ 1 2 L2 2 . Hubungan antara komoditi 1 dan 3: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif .1 / 2 K dL 51 .4(20) – 0.8 1 E Qd1P2 = Qd 1 / Pr 2 80 / 10 10 dQd 1 / dP3 1 1 E Qd1P3 = Qd 1 Pr 3 80 / 40 2 Income elasticity of demand dQd 1 / dY 1 1 E Qd1Y = Qd 1 / Y 80 / 40 2 Hubungan antara komoditi 1 dan 2: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya negatif. fungsi produksi : Q = 1/2K ½L = ½.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut: Qd = 16 – 0. dengan K = 4.4 P1 – 0.4 P1 – 0.C= C= D C1 Q Q C2 2 1440 120 6000 1200 120 2 C = 144000 Jadi total biaya persediaan minimum: Rp 144000 Elastisitas persial 6. Marginal Physical and Revenue Product of Labour and Capital 7. P3 = 40.8 P2 + P3 + Y Untuk P1 = 20.8 P2 + P3 + Y Qd1 = 16 – 0. maka hubungan antara komoditi 1 dan komoditi 3 adalah subtitusi. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! jawab: fungsi produksi: Q = ½ K ½ L ½ Q = ½ 4 ½ 16 ½ Q=½.8(10) + 40 + 40 Qd1 = 80 Price elasticity of demand: dQd 1 / dP1 0. L = 16 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 2Q.4 4 E Qd1P1 = Qd 1 Pr 1 80 / 20 400 Cross elasticity of demand dQd 1 / dP 2 0. dan Y = 40 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi-komoditi tersebut? Jelaskan! Jawab: Qd1 = 16 – 0.

sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit Marginal Physical Product of Capital (MRPC): dQ = ½. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1.1 1 dQ 1 2 L2 4K dL 1 dQ 1 4 L 2 1 dL K 2 1 dQ 14 16 2 1 dL 42 dQ 1 dL 2 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit. 1/2L ½dC dQ = ¼ K 1/2 L -1/2 dC 1 dQ 1 4 K 2 1 dC L2 1 dQ 1 4 4 2 1 dC 16 2 dQ 1 = dC 8 Artinya : Pada tingkat investasi sebesar 4. dL dQ dL dR (2). Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ . dC dQ dC dR = (2). K½. # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit.(1/4) dC 52 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit jika fungsi pendapatan: R = 2Q sehingga dR ′ Marginal Revenue: 2 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRPL): dR dR dQ . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1.(1/2) dL dR 1 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRPL)=1 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang.

8 .8Q 1+ 16Q2 Biaya = 12 (3)2 + 4(2)2.24-32 Biaya = 68 Dengan memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 maka akan berproduksi pada biaya minimum sebesar 68. menjamin biaya minimum. Biaya12= 0 . Biaya22= 8 Biaya11 Biaya12 24 0 Matriks Hessiannya : H= Biaya21 Biaya22 0 8 Matriks pertamanya : D1 = 24 Matriks keduanya : D2 = H= 0 24 0 0 8 = (24) (8) .4Q2 +12 = 0 makaQ2 = 3 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11= .9 + 4.4 .4 Biaya11 Biaya12 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 4 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. laba21= 0 . Fungsi biaya dari perusahaan yang menghasilkan dua produk sebagai berikut: Biaya = 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 # Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi agar dapat diperoleh biaya minimum? # Berapakah biaya minimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Biayanya: 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: Biaya1 = 24 Q1 – 8 = 0. maka definit positif. laba22= .8 0 Matriks Hessiannya: H= Biaya21 Biaya22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = 8 0 53 .8(3) +16(2) Biaya = 12. Fungsi Laba diberikan Laba = . maka Q1=3 Biaya2 = 8 Q2 – 16 = 0.2Q22 + 32Q1+12Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = . Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 agar berproduksi pada tingkat biaya minimum. Minimasi Biaya dari Dua Produk 8. Maksimasi Laba/Keuntungan dari dua produk 9.4Q12 .(0) (0) = 192 . # untuk setiap penambahan investasi sebanyak 4 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. maka Q2=2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Biaya11= 24 .dR = 1/4 dC Jadi Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)=1/4 Artinya: Pada tingkat investasi berjumlah 4 orang.8Q1 + 32 = 0 makaQ1 = 4 Laba2 = .0 = 192 > 0 Karena D1> 0 dan D2> 0. laba12= 0 . Biaya21= 0 .4Q12 .2Q22 + 32Q1+12Q2 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga dapat diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Labanya : . Biaya minimumnya: Biaya = 12 Q12 + 4Q22.

5 K2 + 2KL + L2. carilah nilai dan jenis elastisitas di masing-masing titik! Q (P1. Matriks keduanya : D2 = H= Laba = .Q2) = (24. menjamin laba maksimum. maka definit negatif.diberikan fungsi total biaya suatu perusahaan sebagai berikut: TC = 6Q12.-8 0 0 -4 = (-8) (-4) – (0) (0) = 32 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0.3 Laba = 82 Dengan memproduksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 maka akan diperoleh laba maksimum sebesar 82.6) (P3.16 . P3 = 500 dan Y = 5000 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi . Laba maksimumnya: SELESAIKANLAH SOAL-SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan pada gambar dibawah ini . dengan K = 20 L = 40 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 3Q.4Q12 .2Q22 + 32Q1 + 12Q2 Laba = . maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! 4.4 + 12.3Q1 Q2 + 12Q2 – 24 Q1 – 10 Q2 # Pada tingkat output (Q1 dan Q2) berapakah yang akan membuat perusahaan memperoleh total biaya minimum! # Berapakah total biaya minimum tersebut? 5.2.4.komoditi tersebut? Jelaskan! 2.25 Y Untuk P1 = 200. P2 = 100.fungsi produksi: Q = 0.Q3) = (36. fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut : Qd2 = 5200 + 4P1 – 3P2 – 8P3 + 0.total pendapatan dan total biaya diberikan sebagai berikut: R = 221Q + 5100 – 2Q2 dan C = 125Q + 4100 # berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? # berapakah jumlah produk yang harus diproduksi dan dijual oleh perusahaan tersebut sehingga diperoleh laba maksimum setelah mempertimbangkan masalah pejak? # berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah ? # berapakh laba maksimum yang diperoleh perusahaan tersebut? 3.4(4)2-2(3)22+ 32(4) +12(3) Laba = .9 + 32.3) 0 48 P 54 .Q1) = (12.9) (P2. Jadi sebaiknya di produksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 agar diperoleh laba maksimum.

PENDAHULUAN Pada dasarnya integral terdiri atas dua jenis yang dikenal dengan integral tak tentu dan integral tentu. Ini merupakan penerapan integral tentu. Integral digunakan dalam encari suatu fungsi asalnya jika diketahui fungsi turunannya. 55 . # Integral juga digunakan dalam menghitung surplus konsumen dan surplus produsen dengan cara menghitung luas dibawah kurva.TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI TUJUAN UMUM Mempelajari jenis integral baik integral tak tentu maupun integral tentu serta mempelajari kaidah-kaidah dari masing-masing jenis integral. Ini merupakan peenerapan Integral Tidak Tentu. TEORI INTEGRAL BAGIAN 3 TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari Jenis Integral baik integral Tak Tentu maupun Integral Tertentu serta mempelajari kaidahkaidah dari masing-masing jenis integral. INTEGRAL TAK TENTU Integral tak tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan perincian fungsi asal atau fungsi totalnya dari fungsi turunannya yang diketahui secara umum penulisannya: F ( x) K f ( x)dx Dengan K : konstanta pengintegral yang tak tentu nilainya f (x ) : integral dx : diferensial F ( x) K : fungsi asal atau fungsi total Disebut sebagai integral tak tentu akibat hasil pengintegralannya berupa F(x)+ K dimana K adalah konstanta yang nilainnya tak tentu. Integral juga digunakan dalam menghitung Surplus Konsumen dan Surplus Produsen dengan cara menghitung luas di bawah kurva. TUJUAN KHUSUS # Integral digunakan dalam mencari suatu fungsi total atau fungsi asalnya jika di ketahui fungsi turunannya. Tutjuan Khusus 1. Ini merupakan penerapan Integral tertentu. Ini merupakan penerapan integral tidak tentu.

formula pangkat xndx contoh : Xn 1 n 1 K. formula perkalian K .n 1 Kaidah 2.1 / 5 x 5 K x5 4 Kaidah 7. f ( x). formula eksponensial e x dx e x K contoh : e 2 x dx Kaidah 4.dx dx 1 / 2 1 u dx e 1 / 2du 1 / 2 e 4 du 1 / 2u K 1 / 2e 2 x 1 K 56 . f ( x)dx K . e2x K K formulasi penjumlahan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx x2 e x dx x 2 dx g ( x)dx contoh : e x dx 1 / 3x 3 e x K Kaidah 5. formula substitusi du f ( x)dx f (u ) dx F (u ) K dx contoh: misalkan u x 2 maka du dx dx du x 2 u Inu K In( x 2) K contoh : e 2 x 1dx misalkan : u e2x 2z 1 maka du 2. formulasi pengurangan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx g ( x)dx contoh : x2 e x dx x 2 dx e x dx 1 / 3x 3 e x Kaidah 6.InX x x Kaidah 3. 1 dx 4 contoh : X3 1 K 3 1 4 x = K 4 formula logaritma x 3 dx Inx 3 1 dx 3 dx 3.d x K contoh : 5 x 4 dx 5 x 4 dx 5.KAIDAH-KAIDAH INTEGRAL TAK TENTU Kaidah 1.

a b k f(x) dx = k a b f(x) dx contoh: 2 4 6x2 dx = 6. a a f(x) dx = F(x) a a = F(a) – F(a) = 0 contoh: 2 2 x2 dx = 2 2 x2 dx = 2 3 – 2 3 = 0 3 3 kaidah 3. 2 2 57 .2 4 x2 dx = 6.4 2+1 2+1 2+1 2+1 =23 .dx dengan: F ( x) b a F (b) F (a) f ( x)dx : integral f (x ) terhadap x wilayah untuk rentang a hingga b F (b) F (a) b a : hasil integral fungsi f (x) antara a dan b : batas atas integrasi : batas bawah integrasi Kaidah-Kaidah Integral Tentu Kaidah 1.du Contoh : xe x dx Misalkan u x maka du dx dv e x . a<c<b Contoh: 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1 – 2 2+1 2+1 2+1 2+1 = 43–23 3 3 = 56 3 Kaidah 2.4 2 x2 dx 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1.b a f(x) dx contoh: 2 4 x2 dx = . Integral tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan pencarian luas suatu daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva serta batasan-batasan nilai yang membatasi dengan tepat area yang dimaksud.dv u.e .Kaidah 8. formula sebagian-sebagian u. 4 2 – 6.v x.ex v. a b f(x) dx = F(x) a b =F(b)-F(a) .v v. x3 2 4 3 = 6.dx dan maka v x x. a b f(x) dx = . Secara umum penulisannya: f ( x).dv u.e x e x K e x ( x 1) K Integral Tentu Integral tentu adalah integral dimana nilai dari variabel bebasnya memiliki batasan-batasan tertentu.du e x .dx ex x.2 2+1 2+1 2+1 2+1 =43–23 3 3 x2+1 4 2 = 2 2+1.dx u.43 3 3 = 56 3 kaidah 4.

16 – 4/2 .9 – 4/2 .4.16 – 4. x2 4 2 =4.x2 dx+2 4 4x dx = 6.8 =8 kaidah 5.48] – [4. 2 3 + 4.9 = 18 – 8 + 32 – 18 = 24 2 4 4x dx = 4 .4 2 – 4. 4 = 32 – 8 = 24 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Kaidah 1.3 2 – 4.3 3 = 2. 4 = 125 – 16 + 64 – 16 = 160 kaidah 6.22 2 2 = 4 .4 3 – 6.4] = 128 – 16 – 64 + 16 = 64 kaidah 7.x3 2 4 – 4x2 2 4 3 = [6. In x + k 58 . 4 + 4/2 . x3 2 [4 + 4x2 2]4 3 = 2. 64 – 2. a b [f(x) – g(x)] dx = a b f(x) dx – a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2 – 4x] dx = 2 4 6. a b [f(x)+g(x)] dx = a b f(x) dx+a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2+4x] dx = 2 4 6.2 2] 3 3 = [2. 16 – 4 .2 3] – [4.64 – 2.2 2 + 4. 16 – 4/2.4 2 .4 2 – 4.64 – 2. 2 2 3 3 = 2 . a b [f(x) + c d f(x) dx = a d f(x) dx contoh: 2 3 4x dx + 3 3 4x dx = 2 4 4x dx 2 3 4x dx + 3 4 4x dx = 4x2 2 3 + 4x2 3 4 2 2 = 4.x2 dx – 2 4 4x dx = 6.4 + 4 .3 2 2 2 2 2 = 4/2. formula pangkat Contoh: x8 dx = x 8 + 1 8+1 = x9 9 = 1/9 x9 4 contoh: 2 x8 dx = x 8+1 2 4 8+1 =49–29 9 9 Kaidah 2.42–4. formula logaritma Contoh: = 33 1 dx x = 33 . 4 3 – 6.

U 2 . Sebaliknya. sedangkan Integral tertentu diantaranya digunakan untuk mencari Surplus Konsumen dan Surplus Produsen FUNGSI TOTAL Jika yang diketahui adalah persamaan fungsi total. Fungsi Total Revenue (TR) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal MR.Q.dQ revenuenya : TR 2. jika yang diketahui adalah persamaan fungsi marginal. Integral tak tentu dapat dipergunakan di antaranya untuk mencari persamaan fungsi total. formula penjumlahan Contoh: [x17 + e x+2] dx = x17 dx + e x+2 dx = 1/18 x18 2 4 + e x+2 + k contoh: 2 4[x17 + e x+2] dx = 2 4 x17 dx + 2 4 e x+2 2 4 = 1/18 x18 2 4 + ex+2 2 4 = 1/18 [4 18 – 2 18] + e4+2 – e2+2 = 1/18 [4 18 – 2 18 PENERAPAN INTEGRAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Dalam bidang ekonomi. maka untuk mengetahui persamaan fungsi marginal digunakan perhitungan diferensial.dQ 3. maka mencari persamaan fungsi totalnya dipergunakan hitungan Integral.dQ utilitynya : TU Contoh Soal : Carilah Fungsi Total Revenue sebesar MR Jika berproduksi pada Q = 25 Jawab : TR MR.U 1 2 1 2 1 59 .4 Contoh: 2 33 dx = 33 2 4 1 dx = 33 . In x 2 4 = 33(In4 – In2) x 33 dx x x Kaidah 3. Fungsi Total Utility (TU) dapat diperoleh dengan cara mengintergralkan fungsi marginal MU .dQ 14 2Q 14 2. Contoh : 1. Fungsi Total Cost (TC) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal Costnya : TC MC. formula eksponensial Contoh: ex dx = ex + k Contoh: 2 4 ex dx = ex 2 4 = e4 – e2 = -e4 –e2 Kaidah 4.dQ Misalkan U = 14+2Q maka dU = 2dQ Dan dQ = ½ dU 14 2QdQ Sehingga: U . 12U .dU 1 1 1 2 4 . 1 2 dU 1 2 .

Qd) = (0. SK 0 f (Q)dQ Atau p Qe.(Kesanggupan bayar > harga). Bpk Alfreed Marshall menyebutnya surplus konsumen. Penggambaran : P P' Surplus konsumen (SK) Pe 0 Qe Q' Q Surplus konsumen = Luas daerah yang diarsir .Qe) = (2.Pe 2.1 4 1 2 U 1 14 2Q 14 2. maka bagi setiap konsumen yang pada dasarnya memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membeli barang tersebut walaupun harganya diatas Pe dinyatakan bahwa konsumen tersebut mengalami keuntungan.4 Qe = 75 – 12 Qe = 63 Jadi (Pe.75).dP Contoh soal: Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut : Qd = 75 – 3P 2 gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik Qd vs P ! carilah surplus konsumenya jika harga pasar Pe = 2 Jawab : Qd = 75 – 3P 2 Qe = 75 – 3.surplus konsumen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi permintaanya serta menghitung luas area di bawah kurva yang bersangkutantetapi diatas harga pasar Pe.jika permintaan suatu barang dinyatakan dengan persamaan P= f (Qd)dan ternyata bahwa harga barang tersebutdipasar sebesar Pe.63) Fungsi Qd = 75 – 3P 2 merupakan kurva parabola yang terbuka di bawah dengan titik puncaknya (P. dihitung dengan rumus Qe 1. SK pe f ( p).25 8 Jadi total revenue-nya pada Q = 25 diperoleh sebesar 1/32 TR 4 1 4 1 4 1 32 Surplus Konsumen Yaitu : Keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh konsumen karna konsumen tersebut dapat membeli barang dengan harga pasar yang lebih murah daripada harga yang sanggup dibayarnya.penggunaan grafiknya : 60 .2 2 Qe = 75 – 3.

75 150 = 125 – 125 + 8 =8 125 8 SURPLUS PRODUSEN Yaitu : keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh produsen karena produsen tersebut dapat menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada harga yang sanggup dijualnya.(kesanggupan menjual < harga pasar) Jika fungsi penawaran suatu barang dinyatakan dengan persamaan P = f(Qs) dan ternyata bahwa harga barang tersebut dipasar sebesar Pe.surplus produsen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi penawaranya serta menghitung luas area diatas kurva yang bersangkutan tetapi di atas harga pasar Pe Penggambaran : P Pe E(Qe. dihitung dengan rumus : 61 .Qd 75 63 Surplus konsuemen 0 63 2 5 P SK 0 5 f (Q).dP 2 2 p 2 75.dq f ( p) dP 2 5 (2.Pe) Surplus Produsen P1 0 Qe Q surplus produsen = Luas daerah yang diarsir .5 75. maka bagi setiap produsen yang pada dasarnya ingin menawarkan barang tersebut serta memiliki kesanggupan untuk menjual barang tersebut di atas harga pasar Pe dinyatakan bahwa produsen tersebut mengalami keuntungan.Bapak Alfred Marshall menyebutnya surplus produsen.63) SK (75 3P 2 )dP 2 5 5 2 5 5 3 2 75 dP 3 p .2 52 22 2.

40 – 4 Qe = 8 – 4 Qe = 4 Jadi (Pe.Qe 0 4 f (Q)dQ (20 5Q)dQ 0 40.0) 5 2 . SP Pe. maka Untuk Pe = 40 Qe = 1/5P – 4 Qe = 1/5. Surplus produsen : Qe SP Pe. Jawab: Fungsi penawaranya P = 20 +5Qs P – 20 = 5Qs 5Qs = P – 20 Qs = 1/5 P – 20/5 Qs = 1/5 P – 4 Diketahui bahwa harga keseimbangan pasar adalah 40.4 4 4 160 160 20 dQ (5 Q.Qe 1.4 2 5 2 0 2 40 atau 62 .4) 20.Qe 0 f (Q)dQ atau Pe SP P f ( p)dP Contoh soal: Diberikan fungsi penawaran sebagai berikut : P = 20 + 5Qs gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik P vs Q ! carilah surplus produsenya untuk harga pasar sebesar 40. Perhitungan mencari surplus produsen sebagai berikut.dQ 0 0 (20.4) Penggambaran grafiknya Pe = 20 – 5Qs Pe = 40 Surplus Produsen P11= 20 0 4 Qs Daerah yang diarsir menunjukkan surplus produsen yaitu keuntungan yang diperoleh akibat harga dipasar di atas (lebih tinggi)dari kesanggupan menjual.Qe) = (40.

20 2 4.e Q e Q .V Diperoleh : TR Q 2 .dQ q 2 e Q ..dQ Sehingga V = eQ V .dQ Misalkan U = Q Sehingga dU = dQ Q Dan dV = e .dQ Misalkan U = Q2 Sehingga dU = 2Q. carilah fungsi total revenue dari fungsi marginal revenue : MR = Q 2eQ .dU Maka dengan rumus : U .e Q TR TR Q 2 .e Q e Q .2Q.dQ 2.e Q Q 2 .40 4.dV U .e Q TR TR Q 2 .e Q 2 Q.e Q 2Q.e Q 2 Q.dQ 2 e Q .e Q .20 10 10 160 40 160 80 40 PENYELESAIAN SOAL – SOAL Fungsi total 4.2Q.dU Maka dengan rumus : U .e Q 2Q.e Q Q 2 .Pe 40 SP Pu f ( P)dP 20 1 1 2 P 4 dP P 5 10 40 40 4P 20 20 1 1 .dQ Sehingga V = eQ V .40 2 .dQ eQ 2e Q Q 2 .V Diperoleh : TR Q 2 . Fungsi permintaan dan penawaran suatu barang masing – masing ditunjukan dengan fungsi sebagai berikut : Qd = 30 – 2P dan Qs = – 6 + P Hitunglah surplus konsumenya! Jawab: Mencari harga dipasar dengan cara : Qd = Qs 30 – 2P = – 6 +P 30 + 6 = P + 2P 36 = 3P maka Pe=12 dan Qe = –6 + 12 Qe = 6 Fungsi perimintaan : Qd = 30 – 2P Fungsi penawaran : Qs = – 6 + P 2p = 30 – Qd Qs + 6 = P P = 15 – ½ Qd P = Qs + 6 63 . Jawab: TR MR.e Q 2e Q Jadi fungsi Total Revenue : TR Surplus konsumen 5.dV U .dQ Dan dV = eQ. Q.dengan Q adalah julah output yang diproduksi dan di jual.

5 Qs +15.6 72 18 36 18 maka akan diperoleh surplus produsen sebesar 18. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 30 – 2 P dan Qs = – 66 + 10 64 .12 152 12 2 9 baik menghitung dengan menggunakan rumus ke-1 maupun dengan rumus ke-2 diperoleh surpl. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 40 – 10P dan Qs = 12P – 4 Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! 5. berapakah surplus produsenya bila ternyata bahwa tingkat harga di pasar adalah 25? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 3.Qe 0 (15 1 / 2Q)dQ (12.6) 6 15Q 0 1 2 Q 4 6 72 15.Qe 0 f (Q)dQ 12.Penggambaranya : P Surplus Konsumen P = Qs + 6 atau Qs = – 6 + P P´=15 Pe=12 Surplus Produsen P11= 6 P = 15 – ½ Qd atau Qd = 30 – 2P 0 6 Qe = 6 6 30 PSurplus Konsumen : SK 0 f (Q)dQ Pe .Q ) 2 jika berproduksi dari range Q = 4 hingga Q = 8. Fungsi permintaan suatu barang dinyatakan sebagai berikut: Q = 120 – 6P berapakah surplus konsumenya bila ternyata tingkat harga adalah 60? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 4.us konsumenya sebesar 9.6 0 15 15 1 2 . SELESAIKAN SOAL – SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1. Surplus Produsen 6. Carilah fungsi total biaya dari fungsi marginal biaya sebesar : MC ( Q . Seorang produsen mempunyai fungsi penawaran terhadap suatu barang P 1.6 0 f (Q)dQ 72 0 (Q 6)dQ 72 1 2 Q 2 6 6 6Q 0 0 72 1 2 6 2 6. SP pe . 2. dari soal no 2 hitunglah surplus produsenya! Jawab Surplus produsen 6 6 6 1.15 30.6 72 90 9 72 9 4 atau 15 (30 2P)dP 30P 12 12 P 2 12 30.

Pendekatan grafik digunakan dibawah ini untuk mencari bauran (output mix) yang akan memaksimumkan laba mingguan perusahaan tersebut. 2. 1. kendala penyelesaian yang termudah adalah dengan pendekatan grafik. Perusahaan tersebut tidak dapat menggunakan lebih dari 20 jam untuk perakitan. Setiap bangku memerlukan 1 jam untuk perakitan. 3 jam untuk pemolesan (B). Setiap meja memerlukan 2. dan 2 jam untuk pengepakan. dan gambarkan grafiknya. 30 jam untuk pemolesan. terbatas variabel.x2 ≥ 0 Tiga pertidaksamaan pertama merupakan kendala – kendala teknis (echnical constrain) yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan tersedianya input. betapapun banyaknya.pendakatan ini diperagakan dalam empat langkah yang mudah. menjadi Π = 3x1 + 4x2 Di bawah kendala.fungsi obyektifnya. Margin laba adalah Rp. 3 per meja dan Rp. Jika kendala-kendalanya tersebut. pertidaksamaan yang keempat merupakan suatu kendala ketidaknegatifan (nonnegativity constrain) yang ditentukan pada setiap soal untuk menghindarkan nilai negatif(karena itu tak dapat diterima)dari penyelesaian.5x1 Dari B x2 = 10 – x1 Dari C x2 = 8 – 0. Kendala dari A : 2.5x1 (a) (b) 65 .1 Penyelesaian dengan Grafik Tujuan linier programming adalah untuk menetapkan alokasi sumberdaya yang langka secara optimal di antara produk atau aktivitas yang saling bersaing.5x1 + x2 ≤ 20 Kendala dari B : 3x1 + 3x2 ≤ 30 Kendala dari C : x1 + 2x2 ≤ 16 Kendala ketidaknegatifan : x1. Perlakukan ketiga kendala pertidaksamaan tersebut sebagai persamaan. Nyatakan data tersebut dalam persamaan atau pertidaksamaan. Contoh 1 Sebuah pabrik memproduksi meja (x1) dan bangku (x2). betapapun banyaknya. Situasi perekonomian seringkali mengharuskan pengoptimuman suatu fungsi di bawah beberapa kendala pertidaksamaan. dan 16 jam untuk pengepakan setiap minggu.jadi Dari A x2 = 20 – 2.fungsi yang akan dioptiumkan. selesaikan masing – masing untuk x2 dalam kaitanya dengan x1 .Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! Linier Programming Suatu Pendekatan Grafik 13. Pendekatan grafik untuk maksimasi dan minimisasi diperagakan masing masing dalam contoh.5 jam untuk perakitan (A). dan 1 jam untuk pengepakan (C). Apabila kendala pertidaksamaan yang dilibatkan lebih dari satu. 4 per bangku. 3 jam untuk pemolesan. maka linier programming adalah lebih mudah.

1).0) dan (0. nilai tersebut akan ditenukan pada salah satu titik ekstrim (atau sudut) dari batas tersebut.x1 dan x2 disebut variabel keputusan atau struktural (decision or stuktural variables). Π = 3 (7) + 4(3) = 31 yang lebih rendah dari Π = 36 diatas.(4. = 3(4) + 4(6) = 36.B dan C. seorang petani ingin mengetahui bahwa ternak gembalanya memperoleh kebutuhan harian minimum dari tiga bahan pokok makanan pokok A. Contoh 2.y2 ≥ 0 dimana kendala teknisnya dibaca ≥ karena kebutuhan minimum harus dipenuhi tetapi ungkin dilampaui 2.harga y1 adalah Rp 2.(0. Dengan menggunakan prosedur yang digunakan dalam contoh 1.yang disebut titik .. 13.kita menemukan garis isoprofit yang menunjukan laba terbesar yang memungkinkan menyentuh daerah yang mungkin di E. Kebutuhan harianya adalah 14 untuk A.(7.6).3). Biasanya hanya salah satu dari penyelesaian dasar yang mungkin tersebut yang akan optimal. fungsi obyektif yang akan diminimumkan adalah c = 2y1 + 4y2 di bawah kendala . 66 perpotongan kedua kendala tersebut. Metode grafik digunakaqn dibawah ini untuk menentukan kombinasi biaya yang paling murah dari y1 dan y2 yang akan memenuhi semua kebutuhan minimum. Produk y1 mempunyai dua unit A.¾. Daerah yang digelapkan disebut daerah yang memungkinkan (feasible region). Dengan mensubstitusikan dalam (13. 1.3) upamanya. 4.2 DALIL TITIK EKSTRIM Dalil titik ekstrim menyatakan bahwa jika suatu nilai optimal yang memungkinkan (optimal feasible value) dari fungsi obyektif ada. Perlakukan pertidaksamaan selesaikan masing – masing untuk y2 dalam satuan y1 dan gambarkan grafiknya.x2 ≥ 0.dan 18 untuk C. Daerah yang digelapkan merupakan daerah yang mungkin memuat semua titik – titik yang memenuhi semua ketiga kendala kebutuhan ditambah kendala ketidaknegatifan.gambar 13 .garis isoprofit tersebut mempunyai kemiringan . Semuanya disebut penyelesaian dasar (basic solution) tetapi hanya lima terakhir yang merupakan penyelasaian dasar yang mungkin (basic feasible solution) karena penyelesaian – penyelesaian tersebut tidak melanggar kendala yang manapun.0).dan harga y2 adalah Rp 4.(8. Perhatikan bahwa terdapat sepuluh titik ekstrim : (0.(10.(16.lihat gambar 13 – 1 (a).10).(0.1 Grafik dari pertidaksamaan asal “ lebih kecil atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kiri garis.(6. gambarkan fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isoprofit. untuk memperoleh pemecahan yang optimal dalam daerah yang memungkinkan. Dengan menggambarkan suatu seri garis isoprofit (garis putus – putus) yng menunjukan laba(profit)yang semakin besar.(a) yang terakhir adallah perpotongan kendala – kendala ketidaknegatifan.jika ada. produk y2 mempunyai satu unit masing – masing A dan B dan tiga unit C. 3 x2 x1 4 4 Jadi. kendala dari A : 2y1 + y2 ≥ 14 kendala dari B : y1 + y2 ≥ 12 kendala dari C : y1 + 3y2 ≥ 18 kendala ketidaknegatifan y1.5).0). 12 untuk B.kendala ketidaknegatifan x1. 3. Dimana x1 4 dan x 2 6 lihat gambar 13 – 1 (b). Grafik dari pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kanan garis.8).-. Lihat gambar 13 – 2 (a). laba dimaksimumkan pada ekstrim(extreme point).2). Di (7.0) dalam gambar 13 – 1. Daerah itu memuat semua titik – titik yang memenuhi ketiga kendala ditambah kendala ketidaknegatifan.dan satu unit masing – masing B dan C. masing – masing digambarkan oleh sumbuh tegak (vertikal) dan sumbu datar (horisontal).

s1 = 14 y1 + y2 .2) y2 c 4 1 y1 2 Garis isocost terendah yang akan menyinggung dareah yang memungkinkan adalah garis singgung (tangen) di y1 9 dan y 2 3 dalam gambar 13 – 2 (b). s adalah suatu nilai positif yang sama dengan selisih antara 5x 1 + 3x2 dan 30.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 01 x2 s1 s2 20 30 16 s3 sebaliknya dalam contoh 2 semua kendala adalah “ lebih besar atau sama dengan ”.10).lihat contoh 3. gambarkan grafik fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isocost (garis putus-putus) Dari (13.c = 2(2) + 4(10)[untuk soal meminimasi.3 VARIABEL SLACK DAN VARIABEL SURPLUS Soal yang melibatkan lebih dari dua variabel berada di luar lingkup pendekatan grafik dua dimensi yang disajikan dalam bab sebelumnya.0) tidak dalam daerah yang memungkinkan] 13.(a) gambar 13 . s adalah suatu nilai positif yang sama dengn selisih antara 4x 1 + 7x2 dan 60 CONTOH 3 karena kendala – kendala teknis dala contoh 1 semua melibatkan pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” variabel slack ditambah sebagai berikut : 2. 2y1 + y2 . sedemikian rupa sehingga 5x1 + 3x2 + s = 30. jika 5x1 + 3x2 < 30. Suatu pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” seperti 4x 1 + 7x2 ≥ 0 sedemikian rupa sehingga 4x1 + 7x2 – s = 60. sistem perttidaksamaan linear harus dirubah menjadi sistem persamaan linear.s3 = 18 67 .s2 = 12 y1 + 3y2 .ini dilakukan dengan memasukan suatu variabel slack atau surplus yang terpisah (si) kedalam masing – masing pertidaksamaan (kendala ke i) dalam sistem tersebut.2 (b) 3.jadi c = 2(9) + 3(3) = 30 yang menunjukan suatu biaya yang lebih rendah ketimbang di titik ekstrim yang mungkin lainya. Suatu pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” seperti 5x 1 + 3x2 ≤ 30 dapat dirubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack s ≥ 0. karena itu variabel surplus dikurangkan. (0.5x1 + x2 + s1 = 20 3x1 + 3x2 + s2 = 30 x1 + 2x2 + s3 = 16 dinyatakan dalam bentuk matriks. variabel slack s = 0. Untuk memperoleh penyelesaian optimal.karena perlunya persamaan.variabel surplus s = 0 jika 4x1 + 7x2 = 60.jika 5x1 + 3x2 = 30. Umpamanya di (2. x1 2.jika 4x1 + 7x2 = 60.

Jadi 5(4) (3) (2) (1) 10 3(2) (1) (2) (1) CONTOH 5. 1. dengan menggunakan rumus untuk besarnya penyelesaian dasar.dengan menetapkan y1 = 0 dan y2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas yang negatif untuk s1. Maksimumkan Π = 24 g1 +8 g2 Dibawah 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala peleburan 68 . 2.dan n. karena terdapat 3 persamaan dan 5 variabel .atau penyelesaian dasar dapat diperoleh. Sebuah pabrik khusus baja memproduksi dua tipe baja (g1 dan g2) tipe satu memerlukan 2 jam untuk peleburan. Dalam atriks pertama.dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas untuk s1. 14 12 18 SOAL DAN JAWABAN PERNYATAAN MATEMATIS ATAS MASALAH EKONOMI 1. Dalam matriks kedua. Akan tetapi.m variabel saa dengan nol merupakan titik ekstrim. banyaknya titik ekstrim adalah terhingga.untuk tipe 2 adalah 8.suatu titik ekstrim. y1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 1 y2 s1 s2 s3 13. dimana n > m akan terdapat sejumlah penyelesaian yang tak terhingga.s3.s2 = 30 dan s3 = 16 merupakan suatu penyelesaian dasar yang dapat dibaca secara langsung dari atriks tersebut.perhitungan untuk menentukan (1) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh suatu penyelesaian dasar dan (2) besarnya penyelesaian dasar yang ada.s2.akan tetapi.s2 = -12 dan s3 = -18 merupakan penyelesaian dasar.4 DALIL DASAR Untuk suatu sistem persamaan m yang konsisten dan variabel n.Dalil dasar menyatakan bahwa untuk suatu sistem m persamaan dan n variabel.jadi s1 = -14.1 jam untuk percetakan dan 5 jam untuk pemotongan. Jadi dengan menetapkan n – m variabel sama dengan nol menyelesaikan m persamaan untuk m variabel yang tersisa.nyatakan data tersebut dalam persamaan – persamaan dan pertidaksamaan yang perlu untuk menetapkan bauran output yang akan memaksimumkan laba.perhatikan bahwa penyelesaian dasar tersngebut bukan suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan karena melanggar kendala ketidaknegatifan.besarnya penyelesaian dasar dapat diberikan dengan rumus n! m!(n m)! dimana n! Dibaca n factorial lihat contoh 4 CONTOH 4 dengan mereduksi pertidaksamaan menjadi persamaan dalam contoh 3 menghasilkan tiga persamaan dan lima variabel. n!/[m!(n-m)] dan dengan mensubstitusikan parameter – parameter yang diketahui.empat puluh jam tersedia untuk peleburan.marjin laba untuk tipe 1 adalah 24.dimana n > m suatu penyelesaian dimana sedikitnya n .jadi s1 = 20.dua puluh jam untuk percetakan dan 60 jam untuk pemotongan. tipe dua memerlukan 5 jam untuk peleburan.s2.m variabel harus sama dengan nol untuk penyelesaian dasar 5 – 3 atau 2 variabel harus sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar atau titik ekstrim.Dalam bentuk matriks. 5! 3!(2)! dimana 5! = 5(4) (3) (2) (1). Beberapa dasar dapat dibaca secara langsung dari matriks tanpa suatu manipulasi aljabar.s3.4 jam untuk percetakan dan 10 jam untuk pemotongan.lihat contoh 3.diperlihatkan dibawah ini.

Tepung tulang (x2) memberikan 4 unit zat besi dan 1 unit vitamin.. dan 32 unit vitamin D setiap hari.bagaimana makanan – makanan tersebut harus dicampur untuk memberikan pemmenuhan yang paling murah atas kebutuhan harian jika harga makanan tersebut masing – masing Rp 40. 2 unit vitamin C dan 2 unit vitamin D. 2 unit vitamin Cdan 8 unit vitamin D. 28 unit vitamin C. kasar (x1) dan halus (x2). Merk 1 harganya Rp 3. 5 jam untuk pengayakan dan 8 jam untuk pengeringan. Tentukan bauran output yang memaksimumkan laba dengan menyederhanakan data ini menjadi persamaan – persamaan dan pertidaksamaan.4 g1 + g2 ≤ 20 kendala percetakan 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala pemotongan g1 + g2 ≥ 0 2.Rp 20. 4) Bacalah setiap nilai kritis untuk g1dan g2 pada titik singgung. 1) Gambarkan grafik kendala – kendala pertidaksamaan setelah menyelesaikan masing – masing untuk g2 dalam g1 2) Grafikan kembali dan hitamkan daerah yang memungkinkan(feasible region). dan evaluasilah fungsi obyektif pada nilai – nilai ini. Maksimumkan Dibawah Π = 40 x1 + 50 x2 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala penghancuran 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala pengayakan 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala pengeringan x1 + x2 ≥ 0 3. Jagung (x1) memberikan 2 unit zat besi dan 5 unit vitamin. Maksimumkan Dibawah Π = 24 g1 + 8 g2 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala 1 4 g1 + g2 ≤ 20 kendala 2 69 .Dengan memakai persamaan persamaan dan pertidaksamaan.padi – padian (x3) memberikan 2 unit zat besi dan 1 unit vitamin. Merk 2 harganya Rp 4. untuk batu halus adalah 50.Minimumkan c = 40 x1 + 20 x2 + 60 x3 Dibawah 2 x1 + 4 x2 + 2 x3 ≥ 24 kendala vitamin zat besi 5 x1 + x2 + x3 ≥ 24 kendala vitamin x1. Marjin laba untuk batu kasar adlah 40. Pak samin memastikan bahwa ayam – ayamnya mendapatkan paling sedikit 24 unit zat besi dan 8 unit vitamin setiap hari. bagaimanakah kombinasi paling murah yang menjamin kebutuhan harian? Minimumkan Dibawah c = 3 y1 + 4 y2 2 y1 + 3 y2 ≥ 36 kendala vitamin A 2 y1 + 2 y2 ≥ 28 kendala vitamin C 8 y1 + 2 y2 ≥ 32 kendala vitamin D y1 + y2 ≥ 0 4. Sebuah perusahaan gilingan batu untuk pekarangan rumah memproduksi dua macam batu. dengan menggunakan data dibawah. batu halus memerlukan 6 jam untuk penghancuran. 3) Hitunglah kemiringan fungsi obyektif.batu kerikil yang kasar memerlukan 2 jam untuk penghancuran. Di perusahaan tersebut tersedia waktu 36 jam untuk penghancuran. 30 jam untuk pengayakan dan 40 jam untuk pengeringan.dan tariklah suatu garis putus – putus. Dari soal 1... x2.taruhlah penggaris diatas kemiringan ini gerakkan penggaris tersebut ke titik singgung dengan fungsi obyektif. x3 ≥ 0 GRAFIK UNTUK PENYELESAIAN 5. 3 jam untuk pengayakan dan 2 jam untuk pengeringan..dan memberikan 2 unit vitamin A. Seorang yang gandrung model hidup sehat ingin memperoleh minimum 36 unit vitamin A.dan memberikan 3 unit vitamin A.dan Rp 60.

4 (b) untuk daerah yang memungkinkan.apabila g2 = 0. x2 = Π /50 – 4/5 x1.jadi Π= 24(4) + 8(4) = 128 (a) gambar 13. jadi Π = 40(3) + 50 (5) = 370 (a) gambar 13.gkin dignh 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala 3 g1 + g2 ≥ 0 kendala – kendala pertidaksamaan tersebut harus digrafikan seperti terlihat dalam gambar 13. x1 =3 dan x2 = 5.4/5. dari g2 = 8 – 2/5 g1. kemiringan = . gambar 13.4 (b) PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 7. g2 = 8.4 (a) untuk kendala yang digrafikan. dengan menggunakan data berikut. g1 = 4 dan g2 = 4.4 (b). kerjakan kembali seperti soal 5. apabila g1 = 0.g2=Π/8– 3 g1. kemiringan = -3. Kerjakan kembali seperti soal diatas apabila diketahui data berikut : Minimumkan c = 4 x1 + 2 x2 Dibawah 4 x1 + x2 ≥ 20 kendala 1 2 x1 + x2 ≥ 14 kendala 2 x1 + 6 x2 ≥ 18 kendala 3 x1. Dari fungsi obyektif.3 (a).untuk kendala 1. yang diperoleh dalam soal 2 Maksimumkan Π = 40 x1 + 50 x2 Dibawah 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala 1 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala 2 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala 3 x1 + x2 ≥ 0 lihat gambar 13. Daerah yang mungkin digrafikan dalam gambar 13. di titik singgung. x2 ≥ 0 70 . dalam gambar 13. Dari fungsi obyektif.3 (b) 6.3 (b). perhatikan bahwa kendala ketidaknegatifan hanya membatasi analisis pada kuadran pertama.g1 = 20.

karena titik – titik ekstrim (3. (a) ubahlah kendala – kendala pertidaksamaan dalam data berikut menjadi persamaan dengan menambahkan variabel slack atau mengurangkan variabel surplus dan (b) nyatakan persamaan tersebut dalam bentuk matriks.5 dengan garis isocost menyinggung kendalan kedua.2) akan meminimumkan fungsi obyektif dibawah kendala tersebut.s1 = 36 2 x1 + 2 x2 .(a) (b) gambar 13. 2 y1 + 5 y2 + s1 = 40 4 y1 + y2 + s2 = 20 10 y1 + 5 y2 + s3 = 60 y1 (b) 2 5 1 4 1 0 10 5 0 0 0 1 0 0 1 y2 s1 s2 s3 40 20 60 9. 2 x1 + 3 x2 .s2 = 28 8 x1 + 2 x2 .penyelesaian optimal berganda (multiple optial solution) akan terjadi bilamana terdapat ketergantungan linear antara fungsi obyektif dan salah satu kendala. yaitu c = 4(3) = 38 atau c = 4(6) + 2(2) = 28 VARIABEL SLACK DAN SURPLUS 8.2) juga termasuk dalam penyelesaian optimal. fungsi obyektif dan kendala 2 adalah secara linear tergantung (tak bebas) karena yang satu dapat dinyatakansebagai penggandaan dari yang lain. Dala kasus ini. Maksimumkan Π = 24 y1 + 8 y2 Dibawah 2 y1 + 5 y2 ≤ 40 4 y1 + y2 ≤ 20 10 y1 + 5 y2 ≤ 60 y1 .8) dan (6.8) dan (6. y2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih kecil atau sama dengan”. Tambahkan variabel slack.5 Dalamgambar 13.jadi. Setiap titik antara garis (3. kurangkan variabel surplus.jadi. maka tidak terdapat penyelesaian tunggal optimal yang memungkinkan.s3 = 32 71 . Kerjakan seperti soal di atas untuk yang berikut : Minimumkan c = 60 x1 + 80 x2 Dibawah 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 x1. Perhatikan bahwa penyelesaian optimal berganda tidak menyangkal dalil titik ekstrim. x2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih besar atau sama dengan”.

Algoritma simpleks digunakan sebagai berikut untuk memeksimumkan laba. Atau lebih sederhana variabel – variabel dasar.g2. (a) Reduksikan kendala – kendala pertidaksamaan dari data berikut ini menjadi persamaan dan nyatakan dalam bentuk matriks.g3 ≥ 0 g1 (a) 6 4 5 -1 0 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 6 5 0 -1 g2 g3 s1 s2 30 20 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 (b) (c) karena terdapat dua persamaan dan 5 variabel. (d) tentukanlah penyelesaian dasar pertama dari matriks tersebut. Banyaknya penyelesaian adalah n! m!(n m) (d) 5! 2!(3!) 5(4)(3)(2)(1) 2(1)(3)(2)(1) 10 Dengan menetapkan g1 = g2 =g3 = 0. sembari selalu menyempurnakan penyelesaian sebelumnya. Algoritma simpleks adalah suatu metode(atau prosedur perhitungan) untuk menentukan penyelesaian dasar yang memungkan atas asuatu sistem persamaan dan pengujian keoptimalan penyelesaian tersebut. penyelesaian dasar pertamanya adalah s1 30 dan s2 20 . variabel – variabel yang tidak ditetapkan saa dengan nol disebut dalam basis atau dalam penyelesaian. Minimumkan c = 54 g1 + 48 g2 + 50g3 Di bawah 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 g1. karna paling sedikit n – m variabel harus sama dengan noluntuk suatu penyelesaian dasar. Tentukan (b) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh penyelesaian dasar dan (c) banyaknya penyelesaian dasar yang ada.karena keduanya negatif penyelesaian – penyelesaian ini tidak dapat menjadi suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan LIN EAR PROGRAMMING ALGORITMA SIMPLEKS : 14.x1 (b) 2 3 -1 0 0 2 2 0 -1 0 8 2 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 36 28 32 10.variabel – variabel yang disamakan dengan nol pada langkah tertentu disebut tidak dalam basis atau tidak dalam penyelesaian.1. Contoh . Algoritma bergerak dari satu penyelesaian dasar yang mungkin ke penyelesaian dasar yang lain. apabila ditentukan Π = 5x1 + 3x2 Di bawah kendala. Metode simpleks diilustrasikan dalam contoh 1 untuk maksimisasi dan dalam contoh 3 untuk miniisasi. maka sebanyak n – m = 5 – 2 = 3 variabel harus ditetapkan sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar. dan penyelesaian diperoleh dengan menyelesaikan m persamaan untuk m variabel sisanya. ALGORITMA SIMPLEKS : MAKSIMASI Algoritma adalah suatu kaidah aatau suatu prosedur sistematis untuk mendapatkan penyelesaian suatu soal. n – m variabel ditetapkan saa dengan nol dala setiap langkah dari prosedur tersebut. sampai penyelesaian optimal dicapai. 6x1 + 2x2 ≤ 36 2x1 + 4x2 ≤ 28 72 .

Karena vektor 6 6 5 2 satuan (unit vektor) dengan 1 dalm baris pertamanya berada dibawah kolo s 1. Proses pemilihan variabel yang dimasukan dan variabel yang dikeluarkan tersebut dinamakan perubahan basis (change of basis) i) Indikator negatif dengan nilai absolut terbesar akan menentukan variabel yang asuk ke dala basis. 2. baris1 merupakan baris pivot. s2 = 40.s1 = 36.sesuai deng n nilai fungsi obyektif di titik asal (kalau x 1 = x2 = 0) Tabel simpleks awal : x1 x2 s1 s2 s3  2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 indikator konstanta 36 40 28 0 iv) Penyelesaian mendasar pertama yang mungkin dapat dibaca dari tabel s impleks awal. Elemen pivotnya adalah  elemen pada perpotongan kolom variabel 73 . seperti dalam contoh 5 bab 3.akan menentukan variabel yang meninggalkan baris. Karna -5 dalam kolom pertama (atau x1)merupakan indikator negatif dengan nilai absolut terbesar. ii) Variabel yang dieliminasi ditentukan oleh rasio pemindahan (displacement ratio). Tabel Sipleks Awal x1. fungsi obyektif mempunyai nilai nol. Untuk bergerak kesuatu penyelesaian mendasar baruyang mungkin. Baris dengan ratio pemindahan terkecil (yaitu baris pivot) dengan mengabaikan rasio – rasio lebih kecil atau sama dengan nol. Dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0. suatu penyelesaian mendasar yang baru diperiksa. maka s1 akan meninggalkan basis. Elemen kolom konstanta dari baris terakhir adalah juga nol. suatu variabel diasukan kedalam basis dan salah satu variabel sebelumnya berada dalam basis harus dikeluarkan. x1 di asukan ke dalam basis x1enjadi kolom pivot dan ditandai dengan anak panah.5x1 + 5x2 ≤ 40 1. s3 = 28 pada penyelesaian mendasar pertama yang mung kin tersebut.x2 ≥ 0 i) Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan menambahkan variabel – variabel slack 6x1 + 2x2 + s1 = 36 5x1 + 5x2 + s2 = 40 2x1 + 4x2 + s3 = 28 ii) Nyatakan persamaan – persamaan kendala dalam bentuk matriks. x1 6 2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 -1 x2 s1 s2 36 40 28 s3 iii) Susunlah suatu tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien dari persamaan kendala dan vektor kolom dari konstanta letakan diatas satu baris dari indiktor yang merupakan negatif – negatif dari koefisien fungsi obyektif dan sebuah koefisien nol untuk masing – masing variabel slack. Karena 36 memberikan rasio terkecil 36 40 28 . Elemen Pivot dan Perubahan Dasar (basis) Untuk menaikan nilai fungsi obyektif. Rasio pemindahan diperoleh dengan membagi elemen kolom konstan dengan elemen kolom pivot.

Di sini. ini memberikan tabel kedua x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 10 16 0 30 1 6 5 6 1 3 5 6 0 1 0 0 10 3 10 3 4 3 0 1 0 Penyelesaian mendasar kedua yang mungkin dapat dilihat secara langsung dari tabel kedua.swebagai berikut : i) Kalikan baris pivot dengan kebalikan (reciprocal) dari eleen pivot.dan s3 = 16. Dengan menetapkan x2 = 0 dan s1 = 0 . kolom2 menjadi kolom pivotnya. Dengan mengubah basis dan melakukan pivoting kontinu menurut kaidah di atas sampai hal ini di capai. sekarang tinggal suatu atriks identitas yang memberikan x1 = 6. Dalam hal ini. 3 i. Karena vector satuan dengan 1 dalam baris keduanya adalah dibawah s2 . Jadi 10 3 menjadi elemen pivot yang baru.yang masuk ke basis dan baris yang berhubungan dengan variabel yang meninggalkan basis(yaitu elemen pada perpotongan baris pivot dan kolo pivot) 3. rampungkan kolom pivotnya. eleen terakhir dala baris terakhir (dalam hal ini.dan langkah sebelumnya selalu melibatkan suatu matriks identitas. kurangkan 5 kali baris1 dari baris2. Optimisasi Fungsi obyektif di maksimumkan kalau tidak terdapat indikator negative dalam baris terakhir. maka s2 akan meninggalkan basis untuk mempivot. seperti dala metode eliminasi Gauss ( lihat butir 10. 30) merupakan nilai fungsi obyektif pada penyelesaian mendasar kedua yang mungkin. Karena hanya satu variabel baru yang memasukibasis pada setiap langkah proses. Maka x2 3 dimasukan kedalam basis. Karena 4 dalam kolom kedua merupakan satu – satunya indikator negative. Dengan membagi kolom konstanta dengan kolom pivot memperlihatkan bahwa rasio terkecil adalah dalam baris kedua. s2 = 0. Pivoting Pivoting adalh proses penyelesaian m persamaan dalam bentuk m varibel yang sekarang berada dala basis. 6 Tabel kedua: x1 x2 s1 s2 s3 1 1 3 konstanta 6 40 28 0 1 6 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 ii) Setelah mereduksi elemen pivot menjadi 1.2 kali baris1 dari baris3 dan tambahkan 5 kali baris1 ke baris4.12). Kalikan baris2 dengan 10 x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 3 16 30 74 1 6 1 4 1 3 5 6 0 3 10 0 0 1 10 3 4 3 0 1 0 0 . kalikan baris1 dengan 1 . 4. pivoting hanya meliputi pengubahan elemen pivot menjadi 1 dan semua eleen lainya dalam kolom pivot menjadi nol.

1) dan (2) mengevaluasi jimlah nilai marginal dari sumberdaya (resources). fungsi obyektif tersebut mencapai suatu maksimum pada 34 . x 2 3 .dan tambahkan 4 3 s2 1 10 3 10 s3 0 0 1 0 konstanta 5 3 6 34 1 2 1 2 -1 2 5 Penyelesaian mendasar ketiga yang memungkinkan dapat dibaca secara langsung dari tabel tersebut. s 3 6 . Nilai indicator dibawah setiap variabel slack dalam tabel terakhir menyatakan nilai marginal (marginal value) atau harga bayangan (Shadow price) dari input yang berhubungan dengan variabel tersebut. 3 kali baris2 ke baris4. para mahasiswa mungkin lebih baik membaca bab 15 terlebih dahulu. Jadi. Dengan s1 0 dan s 2 0 . Kemudian kurangkan 1 kali baris2 dari baris1. oleh karena itu. nilai negative yang dihasilkan oleh variabel surplus menghadirkan suatu soal istimewa.3. 14.3. Nilai optimal dari fungsi dari fungsi obyektif akan selalu sama dengan penjumlahan dari nilai marginal setiap input dikalikan kuantitas yang tersedia dari masing – masing input. dan sebesar 5 atau 40 sen untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 2. CONTOH 2. ALGORITMA SIMPLEKS : MINIMISASI Apabila algoritma simpleks digunakan untuk mencari suatu nilai minimal. ini merupakan penyelesaian optimal. 6 unit dari input yang ketiga tetap tidak terpadu. yaitu berapa banyak fungsi obyektif akan berubah sebagai akibat dari kenaikan satu unit dalam input tersebut. karena kendala 3 mempunyai variabel slack positif. alam contoh 1. 1. Karena tidak terdapat indicator negative yang tertinggal dalam baris terakhir.C melambangkan berbagai konstanta dalam kendala 1.1) tidak terdapat variabel slack dalam dua kendala yang pertama dan dua input yang pertama semuanya habis. Semua sarat harus dienuhi untuk suatu optimum. Akan tetapi. Umpamakan A. menghasilkan table ketiga Tabel ketiga x1 x2 1 0 0 0 0 1 0 0 s1 1 4 1 4 10 3 kali baris2 dari baris3.11. Π = MPA (A) + MPB (B) + MPC (C) = 1 2 (36) + 2 5 (40) + 0 (28) = 34 14. NILAI MARGINAL ATAU HARGA BAYANGAN. jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala dalam (14.2.lihat contoh 3. erarti tidak sepenuhnya dimanfaatkan penyelesaian optimal dan nilai marginalnya adalah nol (yaitu penambahan satu lagi unit lain. Π = 5x1 + 3x2 5x1 + 5x2 + s2 = 40 = 5(5) + 3(3) = 34 5(5) + 5(3) + 0 = 40 6x1 + 2x2 + s1 = 36 2x1 + 4x2 + s3 = 28 6(5) + 2(3) + 0= 36 2(5) + 4(3) + 6 = 28 2. seringkali akan lebih mudah untuk menyelesaikan soal – soal minimasi dengan memakai dua. s1 0 . yang di bahas dalam bab 15. s 2 0 . dengan s 3 6 .tidak akan menambah sesuatupun pada fungsi laba). Elemen terakhir dalam baris terakhir menunjukan bahwa x1 5 . laba akan naik sebesar ½ unit atau 2 50 sen untuk perubahan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 1. dan sebesar 0 untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 3. Untuk gabar grafik lihat contoh 13.B. 75 . dari (14.2.ii.

i. Jadi. Data tersebut berasal dari contoh 2 dalam bab13.2) diatas baris indicator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif. Variabel tersebut tidak mempunyai makna ekonomi. s3 = -18 dan nilai negatif adalah tidak mungkin (nonfeasible). tabel simpleks awal (sedikit dimodifikasi) i. penyelesaian dasar tidak mungkin karena s 1 = -14. dimana M adalah suatu bilangan besar yang tidak mungkin (impossibly large number) untuk meyakinkan bahwa A akan dikeluarkan dari penyelesaian optimal. dengan y sekarang dig anti x. 2 x1+ x2 ≥ 14 x1+ x2 ≥ 12 x1+ 3 x2 ≥ 18 x1 . Tabel Simpleks Awal yang Disesuaikan untuk Meminimisasi. Untuk mengatasi masalah tersebut. Fungsi obyektif mempunyai koefisien – koefisiennol untuk variabel surplus dan koefisien – koefisien M variabel – variabel buatan. Tambahkan variabel – variabel buatan. Buatlah tabel simpleks awal dengan meletakan matriks koefisien dan vector kolom dari konstanta dalam (14. Nyatakan persamaan kendala dalam bentuk matriks. dibawah kendala – kendala gizi. x1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 Dari matriks tersebut jelas bahwa jika x1 = 0 dan x2 = 0. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 -2 -4 0 0 0 -M -M indikator 0 0 1 -M 14 12 18 76 . seperti dalam simpleks awal untuk maksimisasi. algoritma simpleks digunakan di bawah ini untuk meminimumkan biaya. x1 14 12 18 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 14 12 18 2. iii. s2 = -12. Variabel buatan (Ai ≥ 0)adalah suatu variabel kosong (dummy variable) yang ditambahkan dengan maksud khusus untuk menghasilkan suatu penyelesaian dasar awal yang mungkin. Sutu variabel yang terpisah ditambahkan untuk masing – masing pertidaksamaan asal yang bersifat “lebih besar atau sama dengan”. ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus 2 x1+ x2 – s1 = 14 x1+ x2 – s2 = 12 x1+ 3 x2 – s2 = 18 ii. dimana c = 2 x1+ 2 x2 . x2 ≥ 0 1.CONTOH 3. harus di msukan variabel – varaibel buatan (artificial variables).

Untuk menimasi. Rampungkan kolom pivot dengan engurangkan baris3 dari baris1 dan baris2. A3 3 akan meninggalkan basis karena vector satuan dengan 1 dalam baris ketiga adalah berhubungan dengan A3. Karena elemen terakhir dari baris paling bawah . Jadi x 2 menjadi kolom pivot. karena 18 6 merupakan rasio terkecil yang dihasilkan. A3 = 18. bukan indicator . ii. Dengan mengandaikan x1 = x2 = s1 = s2 = s3 = 0. Pengulangan (Reiterasi) 77 .ini akan menghasilkan tabel awal. Tabel awal x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 1 1 0 1  0 4M-2 5M-4 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 14 12 18 44M Penyelesaian mendasar pertama yang unkindapat dilihat secara langsung dari tabel awal tersebut. 5M – 4 merupakan indicator positif terbesar. elemen pivot pada perpotongan kolom pivot dan baris pivot adalah 3. sebagaimana ditandai dengan anak panah. 44M . A2 = 12.ii. Untuk menurunkan biaya. persis untuk soal maksimisasi. Pivoting i. 4. Kemudian pindahkan M dari kolom variabel buatan dengan menambahkan M kali ( baris1 + baris2 + baris3). 3. dan (5M-4) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 5 3 2 3 1 3 0 0 1 3 -1 0 0 0 -1 0 1 3 1 3 1 0 0 0 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 8 6 6 14M + 24 -1 3 2M . dan fungsi obyektifnya adalah 44M. Kurangi elemen pivot menjadi 1 dengan mengalikan baris 3 oleh 2 1 1 3 1 3 1 1 1 -1 0 0 0 0 -1 0 0 -1 3 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 3 14 12 6 44M 4M-2 5M-4 -M -M -M 0 0 ii. Baris pivot dan variabel yang meninggalkan basis ditentukan oleh rasio terkecil yang dihasilkan dari pembagian elemen – elemen kolom pivot. Elemen Fivot i. penyelesaian mendasar pertama yang memungkinkan adalah A1 = 14. carilah perubahan basis. indicator positif terbesar akan menentukan kolom pivot dan variabel yang memasuki basis.2 0 -M -M 0 -5M 4 3 5.4 3 7M . suatu bilangan besar yang tidak mungkin. maka baris3 menjadi baris pivot.

`12 .7M 5 22 5 14M 136 5 2M . menghasilkan tabel ketiga. Kalikan baris1 dengan 1 2 3 1 3 3 5 . proses tersebut berjalan terus.2 5 M-6 5 0 -6M 6 5 . baris pivot yang baru adalah baris1.2 5 M-6 5 .6M 6 5 14M 136 5 3 ii.elemen pivotnya adalah 5 . Tabel keempat x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 0 1 1 5 s2 -3 2 5 2 s3 1 2 1 2 2 5 A1 0 -1 -1 5 -M A2 3 2 5 2 A3 .`12 2 5 konstanta 9 7 3 30 78 0 -1 0 0 -1 -M+1 -M+1 . x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 3 -5 2 5 1 5 1 3 baris1 dari baris3.7M 5 2 14 5 0 -M 0 0 22 5 2M . Rampungkan kolom1 dengan mengurangkan 2 baris1 dari baris2. 3 – 2)/3] baris1 dari baris4. 3 -5 0 0 1 0 3 0 -1 0 1 5 1 3 3 5 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 24 5 0 0 0 0 0 6 6 14M + 24 -1 3 2M . Tambahkan 5 baris2 ke baris1. Pivot Keempat i.2 -M -M 0 -5M 4 3 ii. dan (7M s2 0 -1 0 -M s3 1 5 1 5 2 5 A1 3 5 2 5 A2 0 1 0 2 A3 -1 5 -1 5 2 5 konstanta 24 5 14 5 -1 5 . dan kurangkan 1 baris2 dari baris3 dan [2M – 2)/5] baris2 dari 5 baris4. 6.Selama masih ada suatu indikator positif.4 3 7M . Kalikan baris2 dengan 5 2 1 0 0 0 0 0 1 0 3 -5 0 5 2 1 5 1 2 2 5 3 5 0 5 2 -1 5 . jadi x1 masuk ke basis dan A1 meninggalkan basis. 3 i. Kolo pivot yang baru menjadi kolom1.`12 2 5 24 5 1 1 5 -1 -1 5 .

misalkan A. 3. 5. sebagaimana halnya nilai marginal. Untuk penyelesaian dual soal pada soal yang sama.C melambangkan konstan .B. dan (2) mengevaluasi jumlah biaya marginal sumberdaya. lihat contoh 4 dan 5 dalam bab 15.Dengan semua indikator negatif. penyelesaian dasar optimal yang memungkinkan tersebut dapat dibaca secara langsung dari tabel keempat x1 9 . x 2 3 .2. Jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala. Ini harus cocok dalam setiap yang berurutan dapat membantu dalam menemukan kesalahnmatematis. karena nilai absolut indikator untuk s2 dan s3 adalah 1. c = MCA(A) + MCB(B) + MCC(C) = 0(14) + 1(12) + 1(18) = 30 79 . Dengan s1 7 kebutuhan pertama dipenuhi secara berlebih sebesar 7 unit. biaya total akan sama dengan jumlah dari berbagai kebutuhan dikalikan harga bayangan masing – masing. Akan tetapi. c = 2x1 + 4x2 x1 + x2 – s2 = 12 = 2(9) + 4(3) = 30 9 + 3 – 0 =12 2x1 + x2 – s1 = 14 x1 + 3x2 – s3 = 18 2(9) + 3 – 7 = 14 9 + 3(3) – 0 = 18 2. A3). pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi pertama tidak akan mengurangi biaya.dengan memishkan matriks identitas. dimana c 30 Beberapa hal penting untuk diperhatikan : 1. CONTOH 4. elemen – elemen koefisien dari dari variabel surplus(s1. suatu variabel buatan tidak akan pernah tampak dalam basis tabel terakhir jika suatu penyelesaian dasar optimal yang mungkin telah dicapai. Ini harus selalu cocok untuk suatu penyelesaian optimal.s2. 4.3. pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi kedua dan ketiga akan mengurangi biaya sebesar Rp 1. dan s 3 0 .konstan dalam kendala 1. Dengan s 2 s 3 0 . nilai fungsi obyektif ditunjkan oleh elemen terakhir dari baris terakhir.s3) selalu sama dengan negatif dari elemen – elemen koefisien untuk variabel – variabel buatanya yang berkaitan (A1. suatu penyelesaian optimal yang mungkin telah dicapai. kebutuhan kedua dn ketiga dipenuhi secara tepat . Nilai absolut dari indicator untuk variabel – variabel surplus memberikan nilai marginal atau harga bayangan dari kendala. A2. indikator darivariabel – variabel buatan semuanya negatif dalam tabel terakhir. s 2 0 . tidak terdapat surplus. s1 7 . dan memperhatikan bahwa vector satuan untuk x 2 dan s1 berbalikan. Dengan indicator untuk s1 sama dengan nol. 1.-. 2.

5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 0 1 iii.5y1 + y2 + s1= 20 3y1 + 3y2 + s2 = 30 y1 + 2y2 + s3= 16 ii. 3 kali baris3 dari baris2 . pada penyelesaian mendasar pertama yang mungkin tersebut. dan s3 = 16. Rasio pemindahan terkecil yang diperoleh dari pembagian elemen kolom konstanta dengan elemen kolom pivot menentukan baris pivot. Maksimumkan Π = 3y1 + 4y2 Yang terikat pada 2.  menjadi elemen pivot. 2.y2 ≥ 0 1. s2 = 30. Jadi.SOAL DAN JAWABAN MAKSIMISASI 1. Tambahkan variabel slack pada kendala untuk membuatnya jada persamaan . Merubah basis. Ubahlah elemen pivot menjdin1 dengan mengalikan baris3 dengan ½ .5y1 + y2 ≤ 20 3y1 + 3y2 ≤ 30 y1 + 2y2 ≤ 16 y1. penyelesaian mendasar pertama yang mungkin adalah s1 = 20. Π = 0. Nyatakan persamaan – persamaan tersebut dalam nentuk matriks y1 2. i. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan berikut. Indikator negatif dengan nilai absolute terbesar (anak panah) menentukan kolom pivot. y2 s1 s2 20 30 16 s3 Bentuklah tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien persamaan kendala dan vector kolom konstan yang diletakan diatas baris indikator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif dengan koefisien nol untuk variabel awal : Tabel awal : y1 5 2 y2 s1 s2 s3 1 3  -4  1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 konstanta 20 30 16 0 3 1 -3 Dengan menetapkan y1 = y2 = 0. 3. Tentukan harga bayangan dari input (atau kebutuhan) untuk kendalanya. elemen pada perpotongan baris pivot dan kolom pivot. 1 1 0 0 3 0 1 0 1 0 0 1 2 -4 0 0 0 20 30 8 0 Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan baris3 dari baris1 . Buatkan tabel simpleks awal i. 5 2 3 1 2 -3 ii. 2. Pivot. dan tambahkan 4 kali baris3 ke baris4 80 .

s 3 0 .Tabel kedua : y1 2 3 2 1 2 y2 s1 s2 s3 0 0 1 0 0 1 -1 2 -3 2 1 2 konstanta 12 6 1 0 0 8 -1 0 0 0 2 32  4. baris2 baris pivot. s1 4 . s 2 0 . Ubahlah basis pada pivotnya sekali lagi.s3= 32 81 . lihat contoh 1 dalam bab 13 dimana x digunakan sebagai pengganti y. ½ kali baris2 dari baris3. 2 dan 1. dan nyatakan dalam bentuk matriks. dan tambahkan barsi2 ke baris4. Dengan mengoreksi fakta bahwa vektor – vektor satuan dari matriks identitas tidak beraturan (out of order). Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan 2 kali baris 2 dari baris1 .s1= 36 2 x1 + 2 x2 . Miniumkan Yang terikat pada c = 60 x1 + 80 x2 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 x1.x2 ≥ 0 1. dan Π = 36. Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus. Tentukan harga bayangan dari masing – masing persyaratan kendalanya. y 1 4 . Kalikan baris2 dengan 2 1 1 2 3 2 0 0 1 0 0 2 3 -1 2 -1 1 2 12 4 8 32 -1 1 0 0 0 0 0 2 ii. 2 i. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan yang diberikan di bawah ini. 2 x1 + 3 x2 . y 2 6 .s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . tbel fina dapat diperoleh. Kolom 1 adalah kolom pivot. Harga bayangan dari input berturut – turut adalah 0. 3 MINIMISASI 2. Tabel final : y1 0 1 0 0 y2 s1 0 0 1 0 s2 s3 3 2 konstanta 4 4 6 36 1 -4 3 0 2 3 -1 1 2 0 -1 3 0 2 3 1 Karena tidak terdapat indikator negatif yang tertinggal. dan 3 adalah elemen pivot.

dan koefisien yang secara semu (M) untuk variabel – variabel buatan. Buatlah tabel awal dengan melengtakan matriks koefisien dan vektor kolom dari konstanta di atas negatif darikoefisien – koefisien fungsi obyektif yang mempunyai koefisien nol untuk variabel – variabel surplus. 8 i. tambahkan variabel – variabel buatan x1 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 2. Karena 12M -60 merupakan indikator positif terbesar dan 32 adalah rasio pemindahan terkecil. x1 2 2 8 -60 x2 3 2 2 -80 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 14 12 18 Rampungkan kolom – kolom variabel buatan M dengan menambahkan M dikalikan (baris1 + baris2 + baris3) ke baris4 untuk mendapatkan tabel awal.x1 2 2 8 3 2 2 -1 0 0 0 -1 0 0 0 -1 x2 s1 s2 20 30 16 s3 Karena penyelesaian dasar pertamanya tidak akan mungkin. 8 adalah elemen pivotnya. Pilihlah elemen pivotnya dan pivotkan. Tabel awal x1 x2 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 2 3 2 2  2 12M-60 7M-80 3. Kalikan baris3 dengan 2 2 1 3 2 1 4 1 8 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 8 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 8 36 28 4 96M 12M-60 7M-80 0 82 .

10 16 5 3 . Kurangkan x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 3 2 baris1 dari baris2.10 1 . 2 kali baris3 dari baris2. dan (12M-60) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 0 0 1 0 5 2 3 2 1 4 -1 0 0 0 -1 0 M 1 4 1 4 1 8 1 0 0 15 0 1 0 0 0 0 1 3M 2 15 28 20 4 48M + 240 4M-65 -M -M 0 2 4. 2 5 kali baris2 dari baris3 dan 83 . 5 merupakan eleen pivot yang baru.10 -1 6 3 20 0 26 0 3M 5 1 8M 5 11M 10 1 16M 5 968 =+ + 1 ii.10 56 5 konstanta 2 -5 3 5 1 10 3 -5 1 .10 56 5 16 3 6 3 1 1 10 -5 3 0 26 -M M 10 1 6 3 . Tambahkan 10 kali baris2 ke baris1 dan kurangkan + [(3M/5). s1 s2 0 -1 0 s3 1 10 1 10 1 4 baris1 dari baris3. Pivotkan untuk ketiga kali.ii.26]kali baris2 dari baris4 iii.20 3 20 4 1 3M 5 26 -M  M 1 8M 26 0 5 10 11M 10 48M + 240 5. i. Kurangkan 2 kali baris3 dari baris1. Dengan engingat bahwa eleen negatif tidak dapat digunakan 3 dalam penyebut dari rasio pemindahan. Pivotkan lagi i. Kalikan baris1 dengan 2 5 0 -1 0 1 10 1 4 1 8 M 15 2 2 3 0 0 1 0 1 3 2 1 4 -2 3 0 0 0 0 1 0 0 1 .10 56 5 -1 4 1 8 3M 15 2 20 4 48M+ 240 - 0 0 4M–65 -M -M =+ + + ii.20 -1 1 . Kalikan baris2 dengan 5 3 0 1 10 2 3 0 0 1 0 1 0 0 0 2 -5 0 5 3 1 . dan (4M – 65) baris1 dari baris4 A1 2 3 A2 0 1 0 A3 1 .

dan c 1000 .x2 ≥ 0 1. dan 0. x1 6 .Tabel keempat : x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 s1 0 1 0 0 s2 -2 3 5 3 s3 1 6 1 6 A1 0 -1 0 -M A2 2 3 A3 -1 6 -1 6 1 6 konstanta 40 3 16 3 2 3 5 3 1 6 -1 6 -1 6 M 130 3 130 3 10 3  M 10 3 3320 3 6. Kalikan baris2 dengan 6. dan kurangkan kali baris2 dsari baris4 Tabel final : x1 x2 s1 s2 s3 0 0 1 0 1 0 0 0 -1 1 6 -10 1 -3 2 -20 -10 A1 A2 A3 -0 -1 0 -M konstanta 8 32 6 1000 0 1 -1 1 -6 10 3 0 -1 2 0 -M+20 -M +10 Dengan memperhatikan urutan dari vektor – vektor unit. dan s 3 32 . s1 s2 0. x1 x2 s1 -1 0 0 -M s2 0 -1 0 -M s3 0 0 -1 -M A1 1 0 0 0 A2 0 1 0 0 A3 0 0 1 0 konstanta 20 14 18 52M 4 1 2 1 1  7M-4 8M-2 84 . Kurangkan 10 3 kali baris2 dari baris1. Harga bayangan dari persyaratan yang erupakan kendala masing – masing adalah 20. 1 6 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 0 0 1 6 -2 3 10 1 6 0 -6 0 -M 2 3 -1 6 -1 1 6 40 3 1 1 6 10 -1 6 32 2 3 130 3 10 3 M 130 3 M 1 6 10 3 3320 3 ii. x2 8 . PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 3. Buatlah tabel awal Tabel awal . Pivotkan keempat kali i. tambahkan kali baris2 ke baris3. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesikan persamaan dan pertidaksamaan – pertidaksamaan berikut Minimukan c = 4x1 + 2x2 Yang terikat pada 4x1 + x2 ≥ 20 x1 + 6x2 ≥ 18 2x1 + x2 ≥ 14 x1.10.

(2) memberikan cara yang cepat untuk menentukan apakah suatu pemakaian terdapat pemecahan sebelum di coba. Bilamana suatu variabel yang tidak berada dalam basis mempunyai indikator nol.1 PERANAN ALJABAR MATRIKS Alajabar matriks (1) memungkinkan untuk menyatakan suatu system persamaan yang rumit dalam suatu cara yang ringkas dan sederhana.23 konstanta 102 23 66 23 52 23 . x 2 2 . kurangkan Tabel final . Karena fungsi obyektif telah berada pada optimum.23 1 23 0 22 4 23 25M 4 23 11M 23 -M 34M 23 0 66M 23 512 4.11 23 1 . Pivot sekali lagi. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 23 6 11 6 0 0 1 11 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 1 6 1 6 1 0 0 0 0 1 0 0 1 6 1 6 1 6 4 1 3 17 11 3 28M + 6 1 6 -1 6 M 1 3 17M 3 0  6 3. Akan tetapi. maka pasti terdapat lebih dari satu penyelesaian optimal.11 2 11 konstanta 6 6 2 28 - - -2 0 -M+2 -M Dari tabel final x1 6 . fungsi obyektif pasti mempunyai penyelesaian optimal berganda. Kalikan baris3 dengan 1 setelah menurunkan elemen pivot menjadi 1. Kemudian tambahkan 6 23 kali baris2 ke kali baris2 dari baris3. x1 1 0 0 0 x2 s1 0 0 1 0 0 1 0 0 s2 6 . Kalikan baris1 dengan 23 . dan [(17 – 11)3] kali baris1 dari baris4 Tabel ketiga .11 2 . mempunyai indikator nol.23 2M 4 23 A1 6 23 A2 A3 1 0 . 6 kurangkan baris3 dari baris1 dan dan dari baris2 dan (8M – 2) kali baris3 dari baris4 menghasilkan tabel kedua Tabel kedua . Pivotkan. Dan c 28 .11 1 11 1 23 23 11 . s 3 0 .23 11 23 s2 0 -1 0 22 s3 1 23 2 23 4 .23 2 1 . Kemudian kurangkan +6 baris3.2.11 23 . dan [(11M – 22/23)] kali baris2 dari baris4 s3 1 11 2 11 2 11 A1 0 -1 0 -M A2 6 11 23 11 1 11 A3 1 . yang tidak terdapat basis terakhir. Dasar – Dasar Aljabar Matriks atau Linear 1. s 2 0 . 11 6 kali baris1 dari x1 x2 1 0 0 0 0 0 1 0 s1 6 . s 3 . Ini berarti bahwa variabel s3 dapat dimasukan ke basis tanpa mempengaruhi nilai fungsi obyektif. Pivot ketiga kali. dan (3) memberikan 85 . Kalikan baris2 dengan baris1. s1 6 .

DEVINISI DAN ISTILAH Matriks adalah deretan bilangan.temali 120 180 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 pakaian ski 150 110 80 140 Dengan membaca menyusun baris matriks. α32 adalah elemen yan berada pada baris ketiga. yang di baca m kali n. perusahaan dapat menentukan persediaan setiap jenis produksinya. Karena banyak hubungan ekonomi dapat di dekati dengan persamaan linear dan yang lain dapat dikonversikan menjadi hubungan linear. Jadi α23 adalah elemen yang berada pada baris kedua. Contoh 3. dan kemudian di selesaikan dengan aljabar matriks. maka matriks tersebut adlah vector baris.sarana penyelesain system persamaan.2. Elemen – elemen tersebut semuanya mempunyai subscript ganda. jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( yaitu m = n ). Contoh 2. aljabar matriks hanya dapat diterapkan pada system persamaan linear. Perhatikan bahwa tidak ada tanda baca yang memisahkan elemen – elemen suatu matrik. Dengan mambaca menurun suatu kolom matriks. Contoh 1. yang masing – masing mempunyai tempat yang ditata secara cermat dalam matriks. fungsi eksponensial dan fungsi pangkat yang lain dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear.sebagai berikut : Log Q = log A + α log K +β log L Dengan cara serupa. matiks tersebut adalah vekor kolom. suatu fungsi non linear. Bilangan pada deretan vertkal disebut kolom. parameter atau variabel yang disusun segi empat. saluran 1 2 3 4 papan luncur tongkat tali . 86 . Akan tetapi. dengan dimensi 1 x n. Dalam matriks bujur sangkar square matrix). perusahaan deapat menentukan tingkat persediaan dalam setiap saluran distribusinya. Jadi matriks tersebut adlah matriks bujur sangkar. Matriks yang mengkonversikan baris A menjadi kolm dan kolom A menjadi baris disebut transpose A dan diberi tanda A' (atau AT). Banyaknya baris (m) dan kolom (n) menentukan dimensi matriks ( m x n ). Jika matriks terdiri dari satu kolom tunggal sedemikian rupa sehingga dimensinya m x 1. mungkin untuk membantu mengingat subscript tersebut dengan istilah BK atau beberapa cara yang lain untuk nmembantu mengingat. untuk sebuah perusahaan dengan beberapa saluran distribusi yang menjual beberapa produk yang berbeda. matriks memberikan cara yang ringkas untuk mengendalikan persediaan. seperti fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum Q=AKα Lβ Dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear dangan mencari logaritma masing – masing ruas. Jika matriks terdiri dari stu baris. Bilangan – bilangan ( parameter atau variabel) disebut sebagai elemen matriks. Penempatanya adalah tepat dalam matriks. kolom ketiga. 1. yang di susun dalam 3 baris dan 3 kolom. kolom kedua. bilangan baris selalu mendahului bilangan kolom. yang pertama menunjukan baris dimana elemen tersebut berada dan yang kedua menunjukan kolomnya. diketahui a 11 a 12 a 13 a 23 a 33 (3x3) A a 21 a 22 a 31 a 32 B 3 9 8 4 2 7 C (2x3) 7 4 5 D (3x1) 3 0 1 (1x3) A adalah matriks umum terdiri dari 3 x 3 = 9 elemen. pembatasan ini umumnya tidak memberikan persoalan yang serius. Karena baris selalu mendahului kolom dalam notasi matriks.

misalkan matriks mula – mula S dan selesaikan S + D. apabila diketahui matiks – matriks C dan D. Perkalian matriks dengan bilangan atau scalar meliputi perkalian setiap elemen dari matriks tersebut dengan bilangan itu. C 4 9 2 6 D (2x2) 1 7 5 4 C (2x2) D 4 -1 9 .diperoleh sebagai berikut . D 40 20 50 10 25 30 10 60 15 0 40 70 60 40 10 50 Untuk mendapatkan tingkat persediaan yang baru. S D 120 200 175 140 40 25 15 60 110 20 180 30 190 0 170 40 90 210 160 180 50 10 40 10 150 110 80 140 10 60 70 50 160 225 190 200 130 210 190 210 140 220 200 190 160 170 150 190 1. Contoh 4. apabila diketahui k = 8 dan 87 . Contoh 6. C adalah vector kolom dengan dimensi (3 x 1). PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Penjumlahan (dan pengurangan) dua matriks A + B (atau A – B) mengharuskan matriks – matriks tersebut berdimensi sama.berapa tingkat persediaan yang baru?.-2. dengan mengetahui matriks A dan matriks B. misalkan pengiriman D dilakukan ke saluran – saluran distribusi perusahaan dalam contoh 1. bilangan sederhana seperti 12.α12 ke b12. elemen b12 -nya adlah 9.B adalah matriks 2 x 3. penjumlahan A + B di hitung dibawah ini.3.07 disebut skalar. Prosesnya disebut perkalian skalar (scalar multiplication)karena menaikan atau menurunkan matriks tersebut menurut besarnya skalar. PERKALIAN SKALAR Dalam aljabar matriks. 8 9 7 1 3 6 A 3 6 2 4 5 10 B (3x3) 5 2 4 7 9 2 (3x3) A B 8 1 9 3 7 6 3 5 6 2 2 4 4 7 5 9 10 2 (3x3) 9 12 13 8 8 6 11 14 12 ( 3 x 3) Selisih C – D. Setiap elemen matriks yang satu kemudian ditambahkan ke (dikurangkan dari) b11 dalam B.0. elemen b21 -nya adlah 4. hasil perkalian skalar k A. dengan menjumlahkan elemen – elemen yang bersesuaian dari masing – masing matriks tersebut. D adalah vector baris dengan dimensi (1 x 3). Transpose A adalah a 11 a 21 a 31 A' a 12 a 13 a 22 a 23 a 32 a 33 5 Dan transpose C adalah C' 7 4 1.4.7 2-5 6-4 (2x2) 3 2 -3 2 (2x2) Contoh 5. dan seterusnya.

hasilkalinya didapatkan dengan mengalikan elemen – elemen individual dari vektor baris dengan elemen – elemen yang beresesuaian dengan vektor kolom.5. apabila diketahui 12 1 A A 4 7 2 9 (1x4) 5 6 (4x1) di hitung sebagai berikut.6. sehinga setiap elemen cij dari atriks hasilkali C adlah suatu skalar yang berasal dari perkalian baris ke i dari matriks awal dan kolom ke j dari matriks akhir. 1. Jadi hasil perkalian baris – kolom akan merupakan suatu bilangan tunggal atau scalar. Hasilkali baris – kolom tersebut disebut hasilkali dalam (inner product). menurut kaidah untuk perkalian vektor baris dan vektor kolom yang di bahas dalam butir 1. matriks akhir (lag matriks). AB = 4(12) + 7(1) + 2(5) + 9(6) = 48 + 7 + 10 + 54 = 119 Hasilkali vektor – vektor berikut : A adalah 3 6 8 (1x3) A 2 4 5 (3x1) CD = (3 x 2) + (6 x 4) + (8 x 5) = 6 + 24 + 40 = 70 Perhatikan bahwa karena masing – masing pasangan vektor diatas mempunyai jumlah elemen yang sama. dan menjumlahkan hasilnya : AB = (a11 x b11) + (a12 x b21) + (a13 x b31) dan seterusnya. Diketahui 88 . Contoh 7. Contoh 8.A Diperlihatkan dibawah ini.5. Setiap vektor baris pada matriks awal kemudian dikalikan dengan setiap vektor kolom dari matriks akhir. Kemudian. 8(6) 8(9) 6 9 2 7 8 4 (3x2) kA 8(2) 8(7) 8(8) 8(4) (3x2) 48 72 16 56 64 32 (3x2) 1. Pembalikan susunan perkalian dalam salah satu vektor di atas dan dengan diperolehnya perkalian vektor kolom – baris (BA atau DC) akan menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda. PERKALIAN MATRIKS Perkalian dua matriks berdimensi (m x n)1 dan (m x n)2. mensyaratkan bahwa kedua matriks tersebut bersesuaian yaitu bahwa n1 = m2. hasilkali AB dari vektor baris A dan vektor kolom B. Ini dipakai sebagai dasar untuk semua perkalian matriks. Perkalian vektor baris kolom adlah penting sekali. hasilkali baris – kolom kemudian di pakai sebagai elemen dalam formasi dari matriks hasilkali sedemikian rupa. PERKALIAN VEKTOR Perkalian vektor baris (A) dengan vektor kolom (B) mensyaratkan masing – masing vektor mempunyai jumlah elemen yang persis sama. perkalian adalah mungkin. atau jumlah kolom pada 1. matriks awal (lead matriks) saa dengan jumlah di bahbaris pada 2.

adlah dengan menata dua pasang dimensi tersebut dalam mana matriks – matriks tersebut akan dikalikan. Pertama. misalkan bahwa harga papan luncur adlah Rp 200. (3 x 2) = (2 x 3) (3 x 3) matriks – matriks tersebut adalah bersesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali BC merupakan (3 x 3). dua matriks tersebut akan sesuai untuk perkalian dalam susunan yang diberikan. Contoh 9. 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB D 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) Hasil kali BC dihitung dibawah ini. hasil kali dari dua matriks itu dapat di cari. jadi.karena (4 x 4) = (4 x 1) 89 . yang akan di terapkan sebelum melakukan setiap perkalian mmatriks.. tongkat Rp 50.dan pakaian ski Rp 150. tali Rp 100. Jadi AC tidak di tetapkan. dan bilangan – bilangan di luar lingkaran akan menunjukan. Untuk mencari nilai persediaan (V) pada berbagai saluran distribusi. Jadi untuk AB.. kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom kedua matriks akhir untuk mendapatkan d22.. dimensi dari matriks hasil kali. kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mecari elemen pertama d11 matriks hasil kali D. setelah menentukan persesuaian AB dalam contoh 8. karena tidak ada lagi kolom yang tersisa dalam matriks akhir. AB dikatakan telah di tetapkan (defined) untuk BC.A 3 6 12 9 7 11 B (2x3) 6 12 5 10 13 2 A (3x2) 1 7 2 4 8 3 (2x3) Suatu pengujian ringkas (cepat) untuk melihat adanya persesuaian (conformability). Apabila dua matriks seperti AB adalah bersesuaian.-. Kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mendapatkan d12. nyatakan harga tersebut sebagai sebuah vector kolom (P). dalam susunan yang benar. kemudian dalam hati lingkarilah bilangan terakhir dari pasang pertama dan dan bilangan pertama dari pasang kedua. dengan menggunakan metode yang sama : 6(1) 12(2) 6(7) 12(4) 6(8) 12(3) 30 90 84 BC E 5(1) 10(2) 5(7) 10(4) 5(8) 10(3) 25 75 70 13(2) 2(2) 13(7) 2(4) 13(8) 2(3) (3x3) 17 99 110 (3x3) Contoh 10. dan kalikan S dengan P : V SP 120 200 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 150 110 80 140 ( 4 x 4) 200 50 100 150 ( 4 x1) Matriks – matriks tersebut bersesuaian dan matriks hasil kalinya merupakan 4 x 1. (2 x 3) = (3 x 2) (2x 2) matriks – matriks tersebut memenuhi syarat persesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali AB adalah (2 x 2).-. Dengan mengacu ke contoh 1. akhirnya. bergeraklah ke baris kedua matriks awal. Jika mereka sama. kemudian kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom kedua matriks akhiruntuk mendapatkan d12. Untuk BC (2 x 3) ≠ (2 x 3) A dan C tidak bersesuaian untuk perkalian.

ASOSIATIF DAN DISTRIBUTIF DALAM ALJABAR MATRIKS Penjumlahan matriks adalah komutatif (yaitu A + B = B + A). hal yang sama berlaku untuk pengurangan matriks. Jika terdapat tiga atau lebih matriks yang bersesuaian. V 120(200) 200(200) 175(200) 140(200) 110(50) 90(100) 150(150) 180(50) 210(100) 110(150) 190(50) 160(100) 80(150) 170(50) 180(100) 140(150) ( 4 x1) 61. Contoh 11. yaitu X(a x b). Karena pengurangan matriksA – B dapat dirubah mebjadi penjumlahan matriks A + (-B). Jadi. maka pengurangan matriks juga komutatif dan asosiatif. AB akan menjadi 2 x 2 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) BA adalah bersesuaian (3 x 2) = (2 x 3). perkalian scalar adalah komutatif (yaitu kA = Ak). (2 x 3) = (3 x 2). dan susunan penjumlahan tidak dipentingkan.penjumlahan matriks juga asosiatif.7. Diketahui. Untuk alas an yang sama.7 11 . Perkalian matriksm.Z(e x f) dimana b = c dan d = e. 90 . dengan beberapa perkecualian. sebagai berikut : AB adalah sesuai. AB 6(3) 12(12) 5(3) 10(12) 13(3) 2 (12) 6(6) 12(9) 5(6) 10(9) 13(6) 2(9) BA akan menjadi 3 x 2 6(7) 12(11) 162 5(7) 10(11) 135 13(7) 2(11) (3x3) 63 144 120 96 174 145 113 (3x3) karena itu AB ≠ BA.(4 x 1) Jadi. perkalian matriks juga distributive A(B + C) = AB + AC. 4 11 3 7 A B 17 6 6 2 Untuk membuktikan bahwa penjumlahan dan pengurangan matriks adalah komutatif. Akan tetapi.500 ( 4 x1) 1. 17 6 6 2 23 8 6 17 2 6 23 8 (2). karena penjumlahan matriks hanya melibatkan penjumlahan elemen – elemen yang bersesuaian dari dua matriks. Diketahui.seringkali matriks – matriks tidak bersesuaian dalam dua arah. adalah tidak komutatif (yaitu AB ≠ BA). (XY)Z = X(YZ). A B 4 3 11 7 17 6 6 2 1 4 11 4 B A .3 4 . hukum asosiatif akan berlaku selama matriks – matriks tersebut dikalikan dalam urutan persesuaian (conformability).6 17 .000 86. (A + B) + C = A + (B + C). buktikan bahwa (1) A + B = B + A dan (2) A – B = –B + A. Perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 4 3 11 7 7 18 3 4 7 11 7 18 A B B A (1). Tunduk pada sarat yang sama ini.500 72.2 6 1 4 11 4 Contoh 12.500 75. Y(c x d). HUKUM KOMUTATIF. Diketahui. A 3 6 7 12 9 11 B ( 2 x 3) 6 12 5 10 13 2 (3 x 2) Dapat di buktikan bahwa perkalian atriks tidak komutatif dengan membuktikan AB ≠ BA. Contoh 13.

apabila diketahui. Matriks simetris untuk mana A x A = A. AI 9 1 AI 7 9 1 BN B N 10 14 2 6 3 7 terbukti 0 0 0 0 (2). Contoh 14. (3). matriks identitas serupa dengan bilangan 1 dalam aljabar karea perkalian suatu matriks dengan matriks identitas tidak membawa perubahan terhadap matriks asal (yaitu AI = IA = A). (2) perkalian dengan suatu matriks null menghasilkan matriks null. perkalian suatu matriks identitas dengan dirinya sendiri meninggalkan matriks identitas tidak berubah : I x I = I2= I. 5(0) 12(0) 5(0) 12(0) 20(0) 4(0) 20(0) 4(0) 5 0 12 0 20 0 4 0 5 12 20 4 terbukti terbukti PERNYATAAN MATRIKS DARI SERANGKAIAN PERSAMAAN LINEAR 91 . perhitungan – perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 7 10 14 1 2 3 6 7 0 0 0 1 0 0 0 1 7(1) 9(1) 1(1) 10(0) 2(0) 3(0) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(1) 2(1) 3(1) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(0) 2(0) 3(0) 14(1) 6 (1) 7 (1) (1). setiap matriks utuk mana A = A' adalah matriks simetris (symmetric matrix). Penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak membawa perubahan terhadap matriks asalnya. seperti pada In. yaitu (AB)C = A(BC). A 7 9 1 10 14 2 6 3 7 B 5 12 20 4 N 0 0 0 0 I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 Dapat dibuktikan bahwa : (1) perkalian dengan suatu matriks identitas tidak menimbulkan tambahan terhadap matriks asalnya. Lihat contoh 14. yaitu AI = A.A 7 1 8 5 3 6 B (3 x 2) 4 9 2 6 10 5 B ( 2 x 3) 2 6 7 ( 3 x1) Untuk membuktikan bahwa perkalian matriks adalah asosiatif. MATRIKS IDENTITAS DAN MATRIKS NULL Matriks identitas I adalah suatu matriks bujur sangkar yang mempunyai 1 untuk setiap elemen pada diagonal utama dari kiri ke kanan dan nol di setiap tempat yang lain. Matriks identitas adalah simetri dan idempotent. tidak perlu bujur sangkar. apabila subscript digunakan. yaitu BN = N dan (3) penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak mengakibatkan matriks asalnya berubah. perhitunganya adalah sebagai berikut : A 7(4) 5(2) 1(4) 3 (2) 8(4) 6(2) 38 10 44 93 27 108 7(9) 5(6) 1(9) 3 (6) 8(9) 6(6) 95 25 110 2 6 7 7(10) 5(5) 1(10) 3 (5) 8(10) 6(5) ( 3 x 3) 38 10 44 93 27 108 95 25 110 ( 3 x 3) ( AB)C ( 3 x 3) ( 3 x1) 38(2) 93(6) 95(7) 10(2) 27 (6) 25(7) 44(2) 108(6) 110(7) ( 3 x1) 1299 357 1506 ( 3 x1) BC 4(2) 9(6) 10(7) 2(2) 6(6) 5(7) ( 2 x1) 132 75 ( 2 x1) A( BC ) 7 1 8 5 3 6 132 75 (3 x 2) (2 x) 7(132) 5(75) 1(132) 3(75) 8(132) 6(75) ( 3 x1) 1299 357 1506 terbukti ( 3 x1) 1. 1.8.adalah matriks idempotent (idempotent matrix). Matriks null terdiridari semuanya nol dan dapat berdimensi sembarang . yaitu B + N = B. perkalian dengan matriks null menghasilkan matriks null.n menunjukan dimensi matriks (m x n).9.

dengan mengetahui 5x + 2y = 16 8x + 4y = 2n8 Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. Contoh 17. W = vektor kolom variabel. dapatkan hasil kali AX. untuk membuktikan bahwa AX = B dengan tepat menggambarkan sistem persamaanyang diberikan dalam seksi 1. OPERASI BARIS Operasi baris (row operation) berarti penerapan operasi aljabar yang sederhana pada baris. diketahui 8w +12x – 7y +2z = 139 3w +13x + 4y +9z = 242 untuk menyatakan sistem persamaan ini dalam notasi matrik. yang menghasilkan 92 . perhatikan bahwa sistem persamaan linear 7x1 + 3x2 = 45 4x1 + 5x2 = 29 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks AX = B x1 45 7 3 B A X Dimana dan 29 x2 4 5 A adalah matriks koefisien (coefisien matrix). diilustrasikan di bawah ini.kita dapat 1.Aljabar matriks memungkinkan pengungkapan secara ringkas suatu sistem persamaan linear. asalkan konstanta tersebut tidak sama dengan nol.X adalah vektor penyelesaian (solution vector). tiga operasi barisdasar memungkinkan (1) setiap dua baris suatu matriks saling tukar. Sebagai ilustrasai sederhana. meskipun penampilanya seperti itu. yang tentunya sudah tidak asing lagi dari aljabar. Perkalian adalah mungkin karena AX adalah bersesuaian. X dan B akan selalu berupa vektor kolom. Contoh 16. dan B adalah vektor unsur konstanta (vector of constan terms).dalam hati balikan susunan perkalian matriks: w 8 12 .9. di sini 8x + 4y = 28 dengan 1/4.baris suatu matriks. operasi baris. Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear.7 2 x 139 3 . Mengalikan suatu baris dengan suatu konstanta. dengan mengandaikan A = matriks koefisien. Contoh 15.13 4 9 ( 2 x 4) y 242 ( 2 x1) z ( 4 x1) kemudian. dan (3) setiap kelipatan suatu baris ditambahkan ke atau dikurangkan dari baris yang lain. dan AX AX 7 3 x1 4 5 x2 B: 7x 1 3x 2 4x 1 5x 2 ( 2 x1) 45 terbukti 4x 1 5x 2 29 dari sini. dan matriks hasil kali menjadi 2 x 1 (2 x 2) = (2 x 1) (2 x 1) 7x 1 3x 2 jadi. sistem persamaan yang diketahui tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk matriks A(2x4)W(4x1) =B(2x1) 1. dan B = vektor kolom konstanta. AX adalah vektor kolom (2 x 1) karena setiap baris terdiri dari suatu elemen tunggal yang tidak dapat disederhanakan lebih lanjut melalui penjumlahan.10. Saling menukar dua baris tersebut : 8x + 4y = 28 5x + 2y = 16 2. (2) setiap baris atau baris – baris dakalikan dengan suatu konstanta.

Kalikan baris pertaa dengan 2a. 1 untuk endapatkan 1 pada posisi a11 2 1 6 20 8 4 28 1b.44 132 1a. Contoh 19. Mengurangkan kelipatan satu baris dari yang lain. AB 7 3 45 4 5 29 Matriks perbesaran digunakan sebagai sarana penyelesaian system persamaan linear.11. diletakan disampingnya. MATRIKS PERBESARAN (AUGMENTED) Diketahui suatu system persamaan dalam bentuk matriks AX = B matriks perbesaran A/B adalah matriks koefisien A dengan vector kolom konstanta B. matriks perbesaran A/B untuk 4x1 + 5x2 + 7x3 = 42 2x1 + 3x2 + 8x3 = 40 6x1 + 4x2 + x3 = 18 Adalah AB 4 5 2 3 6 4 7 42 8 40 1 18 1. Penyelesaian atas system persamaan kemudian dapat di baca dari elemen – elemen yang tinggal dalam vektor kolom B (lihat contoh 19). Teruskan memperoleh 1 sepanjang diagonal utama dan kemudian rampungkan kolomnyasampai matriks identitas tersebut sempurna. Kalikan baris kedua dengan 1 untuk mendapatkan1 pada a22 44 1 6 20 0 1 3 93 . Pertam. Untuk mengubsh matriks koefisien kedalam uatu matriks identitas. yang dipisahkan dengan suatu garis atau kisi.2x + y = 7 5x + 2y = 16 3.a dapatkan 1 pada posisi a11 dari matriks koefisien. Berikutnya dapatkan 1 pada 0posisi a22 dan gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom tersebut. kemudian gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom pertama. bergeraklah sepanjang sumbu utama. untuk sistem persamaan dalam butir1.9. metode eliminasi gauss di gunakan dibawah ini untuk mencari x 1 dan x2 dalam sistem persamaan 2x1 + 12x2 = 40 8x1 + 4x2 = 28 pertama nyatakan persamaan tersebut dalam suatu matriks perbesaran AB 2 12 40 8 4 28 kemudian. di sini 2(2x + y = 7) dari 5x + 2y = 16. yang menghasilkan 5x + 2y = 16 -4x – 2y = -14 x =2 1. Contoh 18. METODE GAUSS UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINEAR Penggunaan metode eliminasi gauss dalam menyelesaikan persamaan linear semata – mata dengan menyatakan system persamaan tersebut sebagai suatu matriks perbesaran dan menerapkan operasi baris berulang – ulang pada matriks perbesaran sampai matriks koefisien A di sederhanakan menjadi suatu matriks identitas. Kurangkan 8 kali baris kedua untuk merampungkan kolom pertama 1 6 20 0 .12. Jadi.

Kurangkan 6 kali baris kedua dari baris pertama untuk merampungkan kolom kedua 1 0 2 0 1 3 hasilnya adalah x1 = 2.2b. x2 = 3 karena x1 1 0 2 0 1 x2 3 x1 + 0 = 2 0 + x2 = 3 94 .

95 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful