BAGIAN 1 KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI

Diskripsi Mata Kuliah Memberikan gambaran dan dasar-dasar pengertian serta pola pikir yang logis sehubungan dengan barisan dan deret bilangan yang tersusun secara teratur dengan perubahan-perubahannya yang tertentu. Selanjutnya memberikan tuntunan dalam menggunakan rumus-rumus yang telah diperoleh untuk menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui dari baris dan deret yang ada, seperti menghitung kesamaan suatu nilai dari dua beris atau deret yang diketahui, mencari perubahan dari suatu baris atau suatu deret. Tutjuan Khusus Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret tersebut dalam menghitung perasalahan-perasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya masalah perkembangan usaha sejauh mana pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjam-meminjam, investasi jangkan panjang yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan menghitung pertumbuhan penduduk di suatu daerah serta jumlah penduduknya pada suatu waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET 1. Pengertian Baris Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun secara teratur dengan suatu pola perubahan tertentu dari satu suku ke suku berikutnya. Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah suku yang membentuknya, dibedakan menjadi : 1. Baris berhingga 2. Baris tak berhingga Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi 1. Baris Hitung 2. Baris Ukur 3. Baris Harmoni 2. Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari selisih antara sutu suku ke suku sebelumnya. Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2 S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4 S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6 S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 = 8 Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di peroleh rumus : Sn = a + ( n – 1 ) b. Dimana a = suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diberikan suku ke tiga dan suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan 170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris hitung tersebut. 1

S3 = a + ( n – 1 ) b = 150 = a + 2b S7 = a + (n – 1 ) b = 170 = a + 6b - 20 = - 4b b = -20 / -4 = 5 150 = a + 2b  150 = a + 2.5  150 = a + 10 a = 150 – 10  a = 140 S10 = a + (n – 1) b = 140 + (10 -1) 5  140 + 45 = 185 3. Deret Hitung Deret hitung yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan dimana suku pertamannya sama dengan suku pertama baris hitungnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris hitungnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris hitungnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris hitung di atas) Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ..... Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ... D1 = 2, D2 = 2 + 4 = 6, D3 = 2 + 4 + 6 = 12 D4 = 2 + 4 + 6 + 8 = 20 Dst dimana Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n – 1 ) b} Contoh Soal : Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama yang bernilai 140. Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ? Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?. a = 140, b = 5 S10 = 140 + ( 10 – 1 ) 5 = 140 + 45 = 185 D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 – 1 ) 5 ) = 5/2 ( 280 + 20 ) = 5/2 ( 300 ) = 750 4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari perbandingan antara satu suku sengan suku sebelumnya Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn S1 (suku pertama) = 2 S2 (suku kedua) = 6 S3 (suku ketiga) = 18 S4 (suku keempat) = 54 S5 (suku kelima) = 162 Sn (suku ke n) = dst. Pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan perbesarannya adalah perbandingan atara dua suku yang berurutan dengan suku berikutnya, sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54. maka r = 3. S1 (suku pertama) = a = 2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6 S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18 S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54 S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.8 = 162 Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n diperoleh rumus Sn = ar n-1

2

5. Deret Ukur Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan di mana suku pertamanya sama dengan suku pertama baris ukurnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris ukur di atas) Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, ....... maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, ..... D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26 Dst. Dn dapat dirumuskan :

Dn

a 1 rn ,r 1 1 r

atau

Dn

a rn 1 ,r 1 1 r

Contoh Soal : Sebuah baris ukur mempunyai suku pertama yang bernilai 20. Ratio antar sukunya 2. Hitunglah suku ke-6nya ! Berapa jumlah lima suku pertamanya. a = 20, r = 2 S6 = arn-1 = 20. 26-1 = 20. 25 = 20. 32 = 640 20 2 6 1 20.63 = = 1260 D6 2 1 1 B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET DALAM EKONOMI 1. Perkembangan Usaha Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh usaha-usaha yang pertubuhannya konstan dari waktu ke waktu mengikuti perubahan baris hitung. Contoh Soal 1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga ditingkatkan. Akibatnya, perusahaan tersebut mampu menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya. Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama produksinya ? Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12. S12 = a + (n – 1) b = 5.000 + (12 – 1) 300 = 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300 Jadi pada bulan ke 2 perusahaan tersebut dapat menghasilkan 8.300 buah keramik. Jumlah keraik yang dihasilkan dalam satu tahun pertama. D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300) = 6 (13.300) = 79.800 2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk) Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya diasumsikan tetap dari waktu ke waktu. Misalkan suatu modal sebesar P 0‟ akan dibungakan per-satu tahun selama jangka waktu n tahun. Tingkat suku bunga yang berlaku yang berlaku adalah r % per-tahun, diasumsikan tetap dari tahun ke tahun selama n tahun. Sehingga menghitung modal awal tahun ke-n yang diperoleh melalui pembungaan setiap satu tahun dapat dirumuskan Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan datang) Po = Modal saat sekarang, saat t = 0 r = Tingkat suku bungan per-tahun 3

berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2.25 juta jiwa pada tahun 2008. dan 1. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar.n = tahun ke m = periode per-tahun Contoh Soal : Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp. sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus. 4.( 1 + i )n = 100.000. Pabrik rokok “Kurang Garam” menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama berdirinya.5 juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia hasilkan sampai dengan tahun ke – 16 ?.000 botol kecap pada tahun ke-6 operasinya. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah jumlah lima suku pertammanya ? 2.11 )5 = 10. Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan pertumbuhan penduduk.5 jiwa pada tahun 2013.000 ( 1.m = 10. Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3.6 juta bungkus pada tahun ketujuh. Karena persaingan keras dari kecap-kecap merek lain.11/2)5.000 (1 + 0.2 = 10. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ? Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku pertamanya.055)10 = 10.000. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.000 ( 1. 6.000 (1. Periode waktu : 2005 -1995 = 10 tahun Pn = P0. 5.000 ( 1.000 (1.000 (1 + 0. Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210. 5. produksinya terus menurus secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18.04 )10 = 100.581. a) Berapa botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?.000 ( 1 + 0.48024) = 148. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur. Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan dengan pembungaan tiap tiga bulan. Pabrik kecap “Nambewan” memproduksi 24.000.000 botol. Pembungaan depositonya setahun sekali dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun.000.850.708144) 4 . Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam besarnya 375.11 ) 5 = 10.55 3. a) Andaikata perkembangan produksinya konstan.685058155) = 16. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.000 ( 1 + 0. berapa persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya pada tahun 2015 ? Jawaban latihan soal. 3.000.( 1 + i )n Di mana Pn = populasi penduduk pada tahun basis (tahun ke-1) P0 = populasi penduduk pada tahun ke. tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.000. Bantulah nasabah itu untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan diterima pada akhir tahun ke-5 ? Pn = P0 ( 1 + r )n = 10.n i = persentase pertumbuhan penduduk per tahun & n = jumlah tahun Contoh soal : Penduduk suatu kota berjumlah 100. Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp.04 )10 = 100. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005. diperkirakan menjadi 4. Beda antar suku 15.000 jiwa pada tahun 1995.024 Latihan Soal 1. Yang drumuskan : Pn = P0.

284.0275)20 = 10. Daftar Pustaka : 5 .5/3.m = 10.13 Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun 205 sebanyak 5.25 (1 + i)5 4.577632) = 5. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.284.000.204.000 (1 + 0.000.25 = (1 + i)5 1. 17.31 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.081.38461/5 = 1 + i i = 1.000 (1 + 0.720428431) = 17.58.38461/5 .25 (1. P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008 = 3.3.11/4)5.000.4 = 10. 17.444.25 (1 + i)2013-2008 4. Jawab persentase pertumbuhan penduduk : Pn = P0 (1 + i)n 4.13 juta.= 17.73%)7 = 3.444.58 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.3846 = (1 + i)5 1.204.25 (1 + 6. 6.5 = 3.1 i = 0.0673 i = 6.081.000 (1.73 % Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6.5 = 3.73 % Jumlah penduduk pada tahun 2015.

4. y = x ½ y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 6 . Konstanta sifatnya tetap dan tidak terkait dengan suatu variabel apa pun. dan konstanta. TEORI FUNGSI LINIER DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI 2. terkait dengan variabel yang bersangkutan.2. Menggambarkan pendapatan nasional dapat menghitung melalui pendekatan pengeluaran yang linier. 2. Uraian Materi A. bahkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Yang dimaksud dengan variabel ialah unsur yang sifatnya berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Penggolongan variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel bebas yaitu variabel yang menerangkan variabel lain. PENYAJIAN 2 . substitusi atau dengan cara determinan. Koevisien dan konstanta. Pengertian Fungsi Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. sedangkan perilaku produsen dicerminkan dengan fungsi penawaran. 3y = 4x – 8. Lebih jauh lagi berapa pendapatan minimum agar dapat menabung.Tujuan Khusus 1. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel.2. Perilaku konsumen dicerminkan melalui fungsi permintaan. Pertemuan antara keduanya merupakan titik keseimbangan pasar. Contoh : 1. y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 3 adalah koefisien ( terletak didepan variabel y) 4 adalah koefisien ( terletak didepan variabel x) -8 adalah konstanta 2. Disebut Analisis Break-Even Analusis.1.2. Fungsi-fungsi yang bersifat linier tersebut dapat saling berhimpit.1 PENDAHUKUAN : 2. sejajar atau bahkan berpotongan.BAGIAN 2 KONSEP DASAR TEORI FUNGSI.1. dimana x adalah variabel bebas dan y adalah variabel terikat. Menggabarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mencerminkan perilaku baik perilaku konsumen maupun perilaku produsen. Yang dimaksud dengan koefisien ialah bilangan atau angka yang diletakkan tepat di depan suatu variabel. Dalam suatu fungsi. Diskripsi Mata Kuliah Memperkenalkan unsur-unsur fungsi ialah variabel bebas dan variabel terikat. Untuk mencari perpotongan dua fungsi yang linier digunakan metode eliminasi. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mmenghitung berapa produk yang sebaiknya diproduksi dan dijual oleh perusahaan agar perusahaan dapat menutup biaya-biaya tetapnya.1. Keseimbangan pasar ini dapat bergeser sejajar akibat adanya capur tangan pemerintah dalam bentuk pajak maupun subsidi 2. secara umum jika dikatakan bahwa y adalah fungsi dari x maka ditulis y = f(x). yang saling berkaitan satu sama lain dala hubungan yang dapat dijelaskan secara ateatis yaitu hubungan yang linier. sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang diterangkan oleh variabel lain. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat membantu menghitung berapa pendapatan nasional yang harus diperoleh suatu negara agar tidak mengalami defisit akibat konsumsi yang lebih besar dari pada pendapatan.1. 3. koefisien. 2. TEORI FUNGSI DAN TEORI FUNGSI LINIER 1. menutup totol biaya.

.. a1= +  a0 = + .. a1= 0  a0 = ..-12x11..Jika x adalah fungsi dari y maka ditulis x = f(y).4 + 0. a1 = +  a0 = . x = -2 x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2... a0 = + . n = 11 Fungsi Linier : Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu. 5. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + a3x4 Contoh :Y = 1 + 2x1 + 3x2 + 4x3 + 5x4 Fungsi Pangkat :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat suatu bilangan riil positif Bentuk umum : Y = xn ..+ 12x11)1/11 Fungsi Polinom : Fungsi yang memiliki banyak suku Bentuk umum : Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + . a1 = .x Y = 0 +a1x  Y = 0 – a1x Y = 4 + 2x Y = 4 – 2x Y = 4 + 0. 6.Y variabel terikat.. atau nol.bilangan bulat positif Contoh: Y = 1 + 2x1 ....3x2 + 4x3 +. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 Contoh : Y = 1 .3x2 + 4x3 +. nilainya positif. a1 = .+ anxn. n bilangan riil negatif Contoh :Y = x-2 ... n bilangan bulat positif contoh :Y = (1+2x1 .4 Y = 0 + 2x Y=0–2x 7 . Contoh : 1... 3... nilainya positif. n bilangan riil positif Contoh :Y = x2 Fungsi Eksponen : Fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat suatu konstanta. atau nol a1 Koefisien.... Bentuk umum Y = a0 + a1x1 Contoh: Y = 1 + 2x1 Fungsi Kuadrat :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah dua.. 2. a1 = 0  a0 = 0 . a1 = + a0 = 0 .. 8. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 +a2x2 + a3x3 Contoh : Y = 1 + 2x1 – 3x2 + 4x3 Fungsi Bikuadrat:Fungsi polinom yang fariabel bebasnya memiliki pangkat paling tinngi adalah empat. x variabel bebas a0 konstanta. Jenis-jenis Fungsi Fungsi Irrasional : Fungsi yang memiliki Bentuk umum Y = n√ a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + .. n bilangan riil negatif 3. negatif. a1= . negatif atau nol Untuk nilainya a0 dan a1 yang memungkinkan positif... maka alternatif yang mungkin untuk fungsi linier : Y= a0 + a1x1 yaitu : misal a0 = 4 dan a1 = 2 1. a0 = + . 4.4 + 2x Y=-4–2x Y = .. Y = a0 + a1x  Y = a0 – a1x  Y = a0 + 0. Pengertian Fungsi Linier Fungsi linier adalah fungsih polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu : Y = a0 + a1x1 . dimana y adalah variabel bebas dan x adalah variabel terikat.. a0 = ..x = .x  Y = -a0 +a1x  Y = -a0 – a1x Y = -a0 + 0..3x2 Fungsi Kubik :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah tiga.+ anxn... 7. negatif. Bentuk umum :Y = nx Contoh :Y = 2x Fungsi logaritma : Fungsi yang merupakan invers fungsi eksponen Bentuk umum Y = n log x Contoh :Y = 4 log x Fungsi Hiperbola :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat bilangan riil negatif Bentuk umum :Y = xn . x = y-2 y adalah variabel bebas x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2...x = 4 Y = .2x1 .

4) dan (2. Y = .0) (-2..4 titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4 – 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) 5.4) dan ( .x  Y = 0 + 0.x = 0 4.2.4) dan (-2. a1 = 0 Y = 0 + 0.4) dan (2.-4) (2.0) (-2.4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4) 0 (0..9.0) Y = 4 – 2x 3.4) 1.4) 0 (2.0) 0 2.0) (0. Y = . Y = 4 titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.-4) Y = -4 – 2x 6.4) 0 (0. Y = .0) 0 (0. Y = 4 + 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.4) (Y = 4) 4.. a0 = 0 .-4) Y = -4 8 .0) 0 (0. Penggambaran Fungsi Linier Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk a 0 = 4 dan a1 = 2 Y = 4 + 2x (0. Y = 4 – 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.

Y = 0 dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4) 2 (0.7. intersep 4.0) (2. intersep 4.0) 2 (2.. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 +4x . maka dan a1 = a1‟ untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ 9 . intersep 8/2 = 4 .-4) Y = 0 – 2x -4 9.4) (0. gradien 2 Fungsi linier kedua : 2Y = 8 + 4x .0) dan (2.0) (0. Berhimpit Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x karena berhimpit. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ Contoh : Fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x . Berpotongan Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena Berpotongan. Y = 0 –2x dua buah titik yang dibutuhk untuk menggambarkannya (0.0) dan (2.0) dan (2. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ contoh : Fungsi linier Pertama : Y = 4 + 2x . Y = 0 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. gradien 4/2 = 2 2. gradien 4 3. Hubungan Dua Fungsi Linier Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu : Y = a 0 + a1 x dan fungsi linier yang kedua yaitu : Y‟ = a0‟ + a1‟ x.0) 8. Sejajar Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x Karena sejajar. intersep 2.0) 5. Kedua Fungsi Linier tersebut berada dalam berbagai keadaan: 1.4) Y = 0 + 2x (2.

gradien – ¼ dan perpotongan pada titik (0. Eliminasi 3.x = 1 – 2 y . gradien – 4 4.... Berpotongan Y = a 0 + a 1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan. maka untuk mencari titik potongnya dapat dilakukan dengan cara : 1. gradien –1/4 6.Contoh : Fungsi linier pertama Y = 4 + 4x .4) 10 . intersep 2. intersep 2.** memasukkan ** pada* 2x+3y=4 2 (1 – 2 y) + 3 y = 4 maka x=1–2y 2 (1) – 2 (2 y) + 3 y = 4 x = 1 – 2 (-2) 2–4y+3y=4 x = 1 – ( . Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.1.. maka dan a1 = a1‟ Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan perpotongan pada titik (0.. intersep 4.. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x . Substitusi 2. Determinan Contoh : Carilah titik potong dari garis yang berpotongan yaitu 2 x + 3 y = 4 dan x + 2 y = 1 Jawab : 1. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x .. intersep 2. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus. a1‟ = -1 Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan berpotongan pada titik (0.. Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟. = .. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x . Cara Substitus 2x+3y=4 . intersep 2 . Titik Potong Linier Untuk fungsi linier yang saling berpotongan.. maka a1 = a1‟ dan a1. Contoh : fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x..2) 6. intersep 2 . intersep 4. intersep 2. maka a1 = a1‟ dan a1.2) 5. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x.a1‟.... gradien – 4 dan perpotongan pada titik (0..* x + 2 y = 1 . gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x.

= ----------------. y2). Penamaan Fungsi Linier 1.y2) = (5. Cara Eliminasi 2 x + 3 y = 4 (x 1) --- x + 2 y = 1 (x 2) --- maka x + 2 y x=1+4 x=5 2x+3y=4 2x+4y=2 _ -y=2 =1 =1 =1 =1+4 =5 y=-2 =1 x + 2 (.3) dan (5. y1) dan B (x2.7). Gambar : B(X2.2) x + (. Cara Determinan 2x +3y=4 x+2y=1 | 4 3 | | 1 2 | (4)(2) – (1)(3) 8–3 5 x = -----------.3) dan (5.7) maka : Y–3 = x–3 7–3 = 5–3 Y–3 = x–3 4 2 Y – 3 = 4 / 2 ( x – 3) Y–3 = 2x–6 Y = 2x–6+3 Y = 2x–3 Jadi garis yang melalui titik (3. ataupun determinasi. Jika diketahui dua buah titik yaitu A (x1. 7. Jawab : misalkan (x1.= ---.= ------.y1) = (3.= ------.7) adalah Y = 2 x – 3 11 .= 5 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | | 2 4 | | 1 1 | (2)(1) – (1)(4) 2–4 -2 y = -----------.= ----------------.3) dan (x2. substitusi.= ---.= -2 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | Baik dengan cara eliminasi.Y1) Untuk mengetahui garis yang tepat melalui kedua titik tesebut dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = X – X1 Y2 – Y1 = X2 – X1 Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.Y2) A(X1.2–y=4 -y = 4 – 2 -y = 2 y=-2 2.4) x–4 x x 3. pasti akan diperoleh nilai yang sama.

maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan. Jika diketahui sebuah titik A (x1.)= (3. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI 1. Keseimbangan pasar.3) dan m = 5 Maka : Y – Y1 = m(x – x1) Y – 3 = 5 (x – 3) Y – 3 = 5x – 15 Y = 5x – 15 + 3 Y = 5x – 12 Jadi garis yang melalui titik (3. 4.000 buah. Fungsi penawaran. jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN TEORI EKONOMI MIKRO 2.) = (6.3) dengan kemiringannya 5 adalah Y = 5x . Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang diminta (Qd) dan sumbu tegaknya harga barang yang bersangkutan (P). price) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang diminta (Qd . P = 30 . Demikian sebaliknya. maka fungsi permintaan suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Sifat monoton turun : P‟ > P maka Qd‟ < Qd P” < P maka Qd” > Qd Contoh : 1. Fungsi biaya. dan ‘ break-even analsis ‘.000. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang diminta (fungsi linier). yaitu : Fungsi permintaan.laku sebanyak 3. m = ∆Y/∆x Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.000.P1.000 per-buah akan. yaitu : fungsi pendapatan yang terdistribusi menjadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan fungsi pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan pengeluaran.12 B. Pendahuluan Penerapan fungsi linier dalam bisnis dan teori ekonomi mikro.000 per-buah. jika harga mengalami penurunan maka jumlah barang yang diminta akan mengalami peningkatan.000) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P . jika dijual seharga Rp 5.y1) = (3. Penerapan fungsi linier dalam ekonomi mikro.P2.000 buah. maka jumlah permintaan terhadap barang tersebut meningkat menjadi 6. Qd = 15 – P Contoh Soal : 1. Suatu barang.y1) n 0 Untuk mengetahui garis yang tepat melalui titik tersebut dengan kecondongantertentu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = m (x – x1). y1) dan gradiennya / kemiringannya m Gambar : A(x1. Jawab : Diketahui (Qd1.2.3) dengan kecondongan sebesar 5 Jawab : Misalkan (x1. Fungsi penerimaan.P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 12 .5. Ditulis: P= f(Qd). Fungsi Permintaan Fungsi permintaan merupakan fungsi yang mencermintan hubungan antara variabel harga (P . Pengaruh pajak dan subsidi terhadap keseimbangan pasar. Akan tetapi. quantity demand). Fungsi ini mencerminkan perilaku konsumen di pasar di mana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan. Bagaimana fungsi permintaanya ? Gambarkan fungsi permintaan tersebut pada Grafik Kartesius.000) dan (Qd2.2 Qd 2.

000) -1/3 Qd + 1.000 3.000 – 5. Qd = .000 0 Qd= 18.000.000 ) = -5 ( Qd – 500 ) P – 40.000 .250 .000 P P = = = = = = Qd .500 P = -5 Qd + 2.3.000 .000 + 5.5 Qd + 42.500 + 40.3.1.500 P = .000) -1/3 Qd – 1/3 (. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta Menjadikan : 13 .250 akan menyebabkan jumlah permintaan mengalami penurunan sebanyak 250.250 / (.000 = -5 Qd – ( 5 )( .3.000 P .000.000 P – 5.000 Gambar Grafik Kartesiusnya ( P vs Qd ) : P 6000 P = .000 6. 500 ) dan p = 1.000 Qd .3.000 Contoh Soal : 2. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta : Menjadikan : M = Δ P = negatif = negatif atau ΔQd positif 2.500 0 Catatan : Gradien fungsi permintaan yang dinyatakan dengan rumus m=Δ P / Δ Qd nilainya Senantiasa negatif.000 ( Qd – 3.000 -1/3 Qd + 6.000 ) 3.500 Jadi fungsi prmintaanya : P = .1/3 Qd + 6.000 P – 5.000 P = -5 Qd + 42. sebagaimana fungsi permintaannya dan gambarkan fungsi permintaanya dan gambarkan fungsi permintaan tersebut pada grafik kartesius Jawab : Diketahui ( P1 . apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.P .1.000 . Permintaan suatu barang sebanyak 500 Buah pada saat harganya 40.5.250 ) = -5 Maka ( P – 40.000 -1/3 (Qd – 3. sebab : 1.500 Gambar Fungsi Penawaran tersebut pada grafik Kartesius : 42.5.000 = -5 Qd + 2.000 = 4.500 ) P – 40.250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – P1 ) = m (Qd – Qd1 ) dengan m = P / Qd = 1.000 P – 5.Qd1 ) = ( 40.5 Qd + 42.

Jawab : Diketahui (P1. 6. Qs = -40 + ¼ P 3.000.000.M=Δ P = Δ Qd positif negatif = negatif 3. harga dipasarnya Rp 5.Qsı) = (40. 500) dan ∆P = 1.000 – 3. Suatu barang. Akan tetapi. maka fungsi penawaran suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Contoh : 1.000.000 = 1/3 (Qs – 3.000 P = 1/3 Qs + 4.000 P – 5. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran merupakan fungsi yang mencerminkan hubungan antara variabel harga ( P : price ) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang ditawarkan ( Qd : Quantity Supply ).000 buah. maka jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen akan bertambah menjadi 6.000 = 1/3 Qs + (1/3) (-3. Apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.000 = 1. ∆Qs = 250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – Pı ) = m (Qs – Qsı) dengan m = ∆P / ∆Qs = 1250 / 250 =5 maka (P – 40.000 P = 5Qs + 37.000) P = 1/3 Qs – 1.000 buah.Qs2) = (6.000) P – 5.000 Jadi fungsi penawarannya adalah : P = 1/3 Qs + 4. ¼ P = 8Qs + 125 Contoh Soal : 1.000 + 5.250. 3. jika harga lebih tinggi yaitu menjadi Rp 6.000 = 5Qs – 2. bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius. jika harga barang mengalami penurunan maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan.000 Gambar Grafik Kartesiusnya (P vs Qs) : Contoh Soal : 2.000 = 5Qs + (5)(-500) P – 40.000 6.500 + 40.000) = 5(Qs – 500) P – 40. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harganya 40. Ditulis : P = f ( Qs ).000 per buah maka produsen akan menawarkan sebanyak 3. P = 120 + 4Qs 2. Fungsi ini mencerminkan perilaku produsen dipasar dimana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan.000 = Qs – 3.000 3.000) dan (P2. Demikian sebaliknya.000 = Qs – 3.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebanyak 250.Qs1) = (5.000) 3. Jawab : Diketahui (Pı.000. maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami peningkatan. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang ditawarkan (fungsi linier).000 P – 5.000 – 5. Bagaimanakah fungsi penawarannya ? Gambarkan fungsi penawarannya tersebut pada Grafik Kartesius.000 (Qs – 3.000 6.000) Fungsi penawarannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qs – Qs1 P2 – P1 Qs2 – Qs1 P – 5.000 1.500 14 . Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dan sumbu tegaknya harga barang bersangkutan (P).000 P – 5.500 P = 5Qs – 2.000 per-buah.

Qs1) = (6.000. Untuk suatu barang. dan setiap kenaikan harga sebanyak Rp 2. Jawab : Mencari fungsi penawaran : Diketahui (P1. Bagaimanakah fungsi permintaan dan fungsi penawaran barang tersebut ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah Grafik Kartesius.Jadi fungsi penawarannya : P = 5Qs + 37.500 37.000 jumlah pemintaan barang tersebut sebanyak 20 buah dan untuk kenaikan harga menjadi Rp 10. menjadikan : m = ∆ P = negatif = positif atau ∆Qs positif 1. pada harga Rp 6. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan. menjadikan : m = ∆ P = positif = positif] ∆Qd positif 4. Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar atau ‘Eqiullibrium’ adalah suatu kondisi dimana keseimbangan harga (Pe) tercapai Jumlah barang yang diminta = Jummlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Atau Keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan Pe ›› P = P Fungsi permintaan dan fungsi penawaran pada sebuah grafik Kartesius dengan keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan Kuantitasnya (Qe).500 0 Qs Catatan : Gradien fungsi penawaran yang dinyatakan dengan rumus: m = ∆ P nilainya senatiasa positif. sebab : ΔQs 1. ∆Qs = 20 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : (P – P1) = m (Qs – Qs1) 15 .30) dan ∆P = 2000.000 maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat sebanyak 20.000 pengusaha menawarkan barang tersebut sebanyak 30 buah. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan.500 Gambar fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius : P P = 5Qs + 37. digambarkan sebagai berikut : P P = f (Qs) Pe P = f(Qd) 0 Qe Qd Contoh Soal : 1. Pada harga Rp 5.000 jumlah permintaannya berkurang menjadi 10 buah.

000 10 – 20 P – 5.000 Jadi fungsi penawarannya : P = 100Qs + 3.Qd2) = (10.Qd1) = (5.000 + 5.000 Pe = 2.000 – 5.000 = Qd – 20 10.000 P = 100Qs – 3.000 3000 0 P = -500 Qd + 15.000 + 15.000 Qe = 20 Qd.000 Pe = -10.000 Keseimbangan Kuantitas (Q) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan -500Q + 15.000 atau Pe = 100Qe + 3.000. Qs 2.000.000 Pe = -500 (20) + 15.000 = 600Q Qe = 12.000 = 100Q + 500Q 12.000 (Qd – 20) -10 P – 5. 16 . Fungsi permintaan dan fungsi penawaran suatu barang diberikan sebagai berikut : Qd = 11P dan Qs = -4 +2P Dimanakah keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah grafik kartesius.000 P = 100Qs + 3.000 + 6.000 = Qd – 20 5000 -10 P – 5.000 Grafiknya digambarkan sebagai berikut : P P = 100 Qs + 3.000 Jadi keseimbangan harga tercapai pada harga Rp 5.000 = 100Q + 3.dengan m = ∆P / ∆Qs = 2000 / 20 = 100 maka (P – 6.000 Pe = 5.20) dan (P2.000 = 5.10) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 P – 5.000 15.000 + 3.000 P = -500Qd + 15.000 Pe =100(20) + 3.000 = -500Qd + 10.000 P = -500Qd + 10.000 Jadi fungsi permintaannya adalah : P = -500 Qd + 15.000 = -500Qd + (-500) (-20) P – 5.000 Pe = 5.000) = 100 (Qs – 30) P – 6.000 600 Qe = 20 Jadi keseimbangan kuantitas tercapai pada 20 unit barang.000 – 3.000 Mencari fungsi permintaan : Diketahui (P1.000 = -500(Qd – 20) P – 5.000 = 100Qs – 3.000 = 100Qs + (100)(-30) P – 6.000 Pe = 5. Untuk Keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe = -500 Qe + 15.

(iv). Berapa total pajak yang diterima pemerintah. (vii).P P 5. pemerintah mengenakan pajak dengan terif pajak sebesar t = 3 / unit barang. Berapa total pajak yang ditanggung konsumen. Berapa tarif pajak yang ditanggung konsumen. Berapa total pajak yang ditanggung produsen. 17 . (ii). Berapa tarif pajak yang ditanggung produsen. Kepada produsen tersebut.Jawab : Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs 11 – P = -4 + 2P 11 + 4 = 3P + P 15 = 3P Pe = 5 Jadi keseimbangan harga di pasar tercapai pada harga 5. Qs Qs = -4 + 2P 11 Qe = 6 0 2 -4 Pe = 5 Qd = 11 . Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah mengenakan pajak penjualan kepada para produsen. (v). (viii). yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut : Qd = 11 – P dan Qs = -4 + 2P. (vi). Pengaruh pajak terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = f(Qd) P = f(Qs) Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t) P = f(Qd) P = f(Qs) + t Contoh Soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Pajak penjualan tersebut dinyatakan dengan : tarif pajak (t) = satuan unit uang / satuan unit barang. Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada pajak.4 + 2P Qe = 11 – 5 Qe = -4 + 2(5) Qe = 6 Qe = -4 + 10 Qe = 6 Jadi keseimbangan kuantitas di pasar tercapai pada jumlah 6 Grafik digambarkan sebagai berikut : Qd. Arsirlah total pajak masing-masing pada gambar di atas. Sehingga keseimbangan kuantitasnya (Qe) dapat dicari : Qe = 11 – P atau Qe = . Gambarkan perubahan akibat pajak tersebut. (i). (iii).

Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Untuk keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe‟ = 11 – Qe‟ atau Pe‟ = 1/2Qe‟ + 5 Pe‟ = 11 – 4 Pe‟ = 1/2(4) + 5 Pe‟ = 7 Pe‟ = 2 + 5 Pe‟ = 7 Jadi keseimbangan harga setelah kena pajak tercapai pada harga 7 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya pajak) yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki 18 .Qs pada sumbu datar maka kita harus melakukan perubahan sebagai berikut : Fungsi permintaan : Qd = 11 – P atau P = 11 – Qd Fungsi penawaran : Qs = -4 + 2P atau Qs + 4 = 2P Maka P = ½ Qs + 4/2 P = ½ Qs + 2 Gambarnya menjadi : P P = ½ Qs +2 Pe = 5 2P = 11 .Qd P = ½ Qs + 2 Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t)) P = 11 .Qd P = ½ Qs + 2 + t P = ½ Qs + 2 + 3 P = ½ Qs + 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum dikenakan pajak maupun yang sesudah kena pajak ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½.Qs Akibat dikenakan pajak. Akibat adanya pajak maka fungsi penawaran mengalami perubahan.Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dikenakan pajak. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. Dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainya. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2.Qd 0 Qe = 6 Qd. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah dikenakan pajak Keseimbangan kuantitas (Qe‟) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe‟ = ½ Qe‟ + 5 11 – 5 = ½ Qe‟ + Qe‟ 6 = 3/2 Qe‟  12 = 3 Qe‟  Qe‟ = 4 Jadi keseimbangan kuantitas setelah kena pajak tercapai pada 4 unit barang. Akan tetapi. maka Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = 11 . Grafiknya digambarkan sebagai berikut : Jika hendak digambarkan dengan fungsi P sebagai fungsi tegak dan fungsi Qd.

Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah memberikan subsidi kepada para produsen. Akan tetapi. Pengaruh subsidi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Contoh soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. i) Carilah keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sesudah ada subsidi. Agar perubahannya terlihat jelas. pemerintah memberikan subsidi dengan tarif subsidi dengan tarif subsidi sebesar s = 1 / unit barang. Keseimbangan kuantitas setelah ada pajak lebih rendah dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak : Qe‟ = 4 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe‟ < Qe Tarif pajak yang dikenakan oleh pemerintah kepda produsen t = 3/unit. vi) Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen. Subsidi tersebut dinyatakan dengan : tarif subsidi (s) = satuan unit uang / satuan unit barang. dan fungsi penawaran setelah ada pajak. viii) Arsirlah total subsidi masing-masing pada gambar di atas.gradien yang sama tetapi intersepnya masing-masing berbeda satu sama lainnya.4 + 2 P kepada produsen tersebut. iii) Berapa tarif subsidi yang diterima konsumen. 19 . Sebagian dari pajak tersebut dibebankannya kepada konsumen. fungsi penawaran sebelum kena pajak dan fungsi penawaran setelah kena pajak digambarkan bersama-sama dalam sebuah Grafik Kartesius. Keseimbangan harga setelah ada pajak lebih tinggi dari pada keseimbangan harga sebelum ada pajak : Pe‟ = 7 sedangkan Pe = 5. fungsi penawaran sebelum ada pajak. Fungsi permintaan. ii) Gambarkan perubahan akibat subsidi tersebut. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut :Qd = 11 – P dan Qs = . produsen tidak mau menaggungnya sendiri. Maka : Pe‟ > Pe 2.Qs Keterangan gambar : E : keseimbangan sebelum ada pajak Qe : keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak Pe : keseimbangan harga sebelum ada pajak E‟ : keseimbangan setelah ada pajak Qe‟ : keseimbangan kuantitas setelah ada pajak Pe‟ : keseimbangan harga setelah ada pajak Adanya pengenaan pajak dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. serta keseimbangan harga dan kuantitas sebelum ada pajak digambarkan di bawah ini : P Pe = 7 Pe = 5 E“ E P = ½ Qs + 5 P = ½ Qs + 2 0 Qe‟ = 4 Qe = 6 Qd. Beban tarif pajak yang dibebankan oleh produsen kepada konsumen terasakan oleh adanya kenaikan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe‟ = 7. sedangkan yang ditanggung produsen berarti tinggal sisanya. maka fungsi permintaan. v) Berapa total subsidi yang diberikan pemerintah. Tarif pajak dan Total Pajak : 6. maka jika digambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. vii) Berapa total subsidi yang dinikmati produsen. iv) Berapa tarif subsidi yang di terima produsen.

Keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sebelum dikenakan subsidi. 67 unit barang Untuk keseimbangan harga (Pe’) diperoleh dengan cara : Pe’ = 11 – Qe’ atau Pe’ = 1 / 2 Qe’ + 1 Pe’ = 11 – 6.Qs 20 . 33 Pe’ = 3. yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. 67 Jadi keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi tercapai pada 6. maka jika di gambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. fungsi penawaran sebelum kena subsidi dan fungsi penawaran setelah kena subsidi digambarkan bersama sama dalam sebuah Grafik Kartesius. P Pe = 5 Pe = 4. maka dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Akan tetapi. 67) + 1 Pe’ = 4. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainnya. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1.33 Jadi keseimbangan harga setelah ada subsidi tercapai pada harga 4. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki gradien yang sama tetapi intersepnya masing.33 + 1 Pe’ = 4. perubaha tersebut mengakibatkan terjadinya pengeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Akibat adanya subsidi maka fungsi penawaran mengalami perubahan. 67 Pe’ = 1 / 2 (6. Agar perubahannya terlihat dengan jelas. Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan.67 Keterangan gambar E : Keseimbangan sebelum ada subsidi Qe : Keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi Pe : Keseimbangan harga sebelum ada subsidi E’ : Keseimbangan setelah ada subsidi Qe’: Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi Pe’ : Keseimbangan harga setelah ada subsidi Qd. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1.masing berbeda satu sama lainya. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. Akibat dikenakan subsidi.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6.33 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya subsidi). Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum ada subsidi maupun yang sudah ada subsidi ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½ . maka fungsi permintaan. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada subsidi Keseimbangan kuantitas (Qe’) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe’ = ½ Qe’ + 1 11 – 1 = ½ Qe’ + Qe’ 10 = 3/2 Qe’ 20 = 3 Qe’ Qe’ = 6.

Qs Gambar yang menunjukan total subsidi. Jika P adalah harga jaul per unit. Fungsi penerimaan merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi dan laku terjual. Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi lebih tinggi dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi : Qe’ = 6. S : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang diberikan pemerintah. Keseimbangan harga setelah ada subsidi lebih rendah dari pada keseimbangan harga selum ada subsidi : Pe’ = 4.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. Jawab : R=PxQ R = 5. sedangkan yang diterima produsen berarti tinggal sisanya. Fungsi penerimaan merupakan fungsi dari Output : R = f (Q) dengan Q : jumlah produk yang laku terjual.33.000 Q 21 P : Harga jual per unit dan Q : jumlah produk yang dijual . Sebagian dari subsidi tersebut diberikannya kepada konsumen. Maka : Pe’ < Pe 2. produsen tidak menikmatinya sendiri.33 sedangkan Pe = 5 . Sk : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmatikonsumen. Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan tersebut dengan Grafik. Akan tetapi. Keterangan gambar : Sp : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsisi yang dinikmati produsen.67 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe’ > Qe Tarif subsidi yang dikenakan oleh pemerintah kepada produsen s = 1 / unit.67 Qd.Adanya pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Dilambangkan dengan R (Revenue) atau TR (total revenue). Fungsi Penerimaan Fungsi penerimaan disebut juga fungsi pendapatan atau fungsi hasil penjualan. P Pe = 5 Pe = 4. : merupakan penjumlahan antara luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati produsen dengan luas aera yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati konsumen S = Sk + Sp 7. maka : R = P x Q dengan Contoh : Misalkan suatu produk dijual dengan harga Rp 5. Tarif subsidi yang diberikan oleh produsen kepada konsumen tersakan oleh adanya penurunan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe’ = 4.000 per unit barang.

Terdiri atas dua jenis fungsi biaya: 1. maka VC = P x Q dengan P : biaya produksi per unit dan Q: Produk yang diproduksi Contoh: Suatu produk diproduksikan dengan biaya produksi Rp 3. Bagaimanakah fungsi biaya tetapnya dan gambarkan fungsi tersebut pada Grafik Kartesius? Jawab : FC = 100. Jika P adalah biaya produksi per unit. dimana biaya produksi per unit senantiasa lebih kecil dibandingkan harga jual per unit barang. Variabel Cost atau Fungsi Biaya yang berubah-ubah (VC).0) dengan grdiennya positif. Jawab : VC = P x Q VC = 3. Jadi fungsi biaya biaya tetap adalah fungsi konstanta : FC = k dengan k adalah konstanta positif Contoh : Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 100. Fixed Cost atau fungsi biaya tetap (FC) merupakan fungsi yang tidak tergantung pada jumlah produk yang diproduksi.0) 0 8.000 per unit. Bagaimanakah fungsi biaya variabelnya dan gambarkan fungsi tersebut dengan grafik. Merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi. Fungsi Biaya Dilambangkan dengan C (Cost) atau TC (Total Cost). Jadi : VC = f(Q).Gambar : Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi penerimaan dengan gradiennya positif : R = 5.000.000. 22 .000.000.000 Q digambarkan melalui titik (0.000. Merupakan fungsi biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk yang diproduksi.000 0 2.000 Q Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi biaya variabel digambarkan melalui titik (0. Gambar Fungsi Biaya Tetap : FC = 100.

Keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut: ‘ Break-Even’ TR = TC Jika penerimaan sudah dapat melebihi biaya-biaya yang dikeluarkan. dimana biaya tetap yang dikeluarkan sebuah perusahaan sebesar Rp 100. Rugi Contoh Soal: Dari contoh sebelumnya diperoleh bahwa Fungsi Fixed Cost : Fungsi Variabel Cost: Fungsi Total Cost : Fungsi Revenue : R FC = 100. total Biaya : TC=100.000Q.000 9.000. Analisis ‘Break-Even’ Yang dimaksud dengan ‘Break-Even’ yaitu suatu kondisi dimana perusahaan tidak untung maupun tidak rugi.000. Ternyata intersep dari fungsi total biaya adalah sama dengan biaya tetapnya dan gradienya sama dengan gradien fungsi biaya tetap.000 dan biaya variabelnya : 3.000.000. Hal ini mencerminkan bahwa penggambaran fungsi total biaya haruslah melalui titik (0. maka TC = 100. Hal ini disebabkan karena seluruh penerimaan perusahaan dibayarkan untuk menutup biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 + 3. maka barulah perusahaan tersebut dapat menikmati keuntungan: Untung : TR > TC Jika penerimaan masih belum dapat menutup biaya-biaya yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun biaya variabelnya. Biaya Variabel. baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000.Gambar Fungsi Biaya Variabel : VC = 3.000. Gambar Fungsi Biaya Tetap.000 Q : TR < TC Untuk lebih menjelaskan hal tersebut dibawah ini diberikan contoh.000 Q.000 Q = 5. TC = FC + VC Contoh : Untuk contoh diatas.000 VC = 3. Fungsi Total Cost (TC) merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel.000 + 3. maka perusahaan dinyatakan dalam keadaan merugi.000 + 3000 Q VC= 3000 Q FC =100.000 Q 0 3. Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup Biaya tetapnya? Berapakah penerimaan yang diperoleh? 23 .000 Q TC = 100.FC) dan sejajar dengan grafik VC.

maka Kontribusi margin= Harga jual per unit – Biaya produksi per unit Kontribusi margin= Rp 5.000 – Rp 3.000 Q* = 50.000.000Q = 100. Q = 20.000Q = 100.000.000 unit dengan penerimaannya akan lebih dari Rp 250.000 Agar perusahaan dapat menikmati keuntungan.000 unit barang.R TR” TC” VC TC‟ 250. yaitu‟ R = TC = 5.000.000 Q = 100.000.000.VC.000 = 250.000 Keadaan ‘Break-Even Analysis’ tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut : TR FC.000. Tingkat penerimaanya sama dengan total biaya.000. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 50.000 + 3.000 0 Keterangan gambar : Q* Q‟ : Pada titik ini.000Q 2000Q = TC = 100.000Q-3.TC.000 TR‟ FC 100.000.000 = Rp 2.000.000 dipergunakan untuk menutup total biaya yang juga sebesarRp 250.000 unit barang.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya produksinya.000.000.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya tetap yang dikeluarkannya.000 dipergunakan untuk menutup biaya tetapnya sebesar Rp 100.000 seluruh penerimaan sebesar Rp 100.000 : Pada titik ini. maka total penerimaan harus melebihi total biaya.000 5.000.000 Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan : TR 5.000 dipergunakan untuk menutup 24 Q‟ Q* Q” Q TC .000 x 50.000 Q’ = 20. Q = 50.Berapakah produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkannya? Berapakah penerimaan yang diperoleh?Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan? Berapakah kontribusi marginnya? Jawab: Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup biaya tetap : TR = FC 5.000. Tingkat penerimaannya : R = FC = 100. seluruh penerimaan sebesar Rp 250.000. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 20. Untuk itu perusahaan harus memproduksi produk sebanyak lebih dari 50.000 Kontribusi margin yaitu keuntungan per unit.

Co + (1-b)Y – Co : Autonomous Saving. maka perusahaan akan mengalami kerugian karena masih terjadi TR < TC. = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. ditabung. Co > 0 (1 – b ) : Marginal Propensity to Save. jika ada. Fungsi tabungannya diperoleh dari : Y=C+S Y = (Co + By) + S Y – (Co + By) = S Y – Co – b S = S Y – Co – by = S Y(1 – b) – Co = S .Co + (1 – b)Y = S atau S = . maka perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian karena terjadi TR = TC Jika perusahaan sudah mampu berproduksi pada tingkat yang melebihi Q*. PENERAPAN DALAM TEORI EKONOMI MAKRO 10. Pendapatan suatu negara terdistribusi karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan sisanya.000. Sekaligus dapat terlihat pada gambar bahwa pada titik Q‟ terjadi TR‟ < TC‟. Fungsi Pendapat Nasional yang terdistribusi Menjadi fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan. perusahaan Rugi Q” : Untuk Q” terlihat bahwa TR” > TC”. b : 1–b Kesimpulan yang diperoleh: Marginal propensity to consume : Marginal propensity to save Karena Maka : B + (1 – b) = 1 MPC + MPS = 1 25 . Co > 0 B = Marginal Propensity to Consume. 0 < b < 1 Keterangan : Co = Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan.biaya tetapnya sebesar Rp100.000. dinyatakan dengan fungsi : Y = C + S Y = Pendapatan Nasional (National Income) C = Konsumsi (Comsumption) S = Tabungan (Saving) Fungsi konsumsi dinyatakan dengan fungsi : C = Co + bY Co = Autonomous Consumption. 0 < (1 – b) < 1 .Co (1 – b) = Tabungan yang tidak tergantung pada besarnya pendapatan. Jika perusahaan berproduksi tepat pada Q*. b = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. perusahaan untung! Jika perusahaan berproduksi pada tingkat yang masih lebih rendah dari Q*. maka perusahaan akan memperoleh keuntungan karena sudah terccapai TR > TC.

Contoh Soal : Suatu negara diketahui memiliki konsumsi otonominya sebesar Rp 300.000.000. Marginal propensity to save-nya sebesar 0,45. Bangunlah fungsi konsumsinya ! Bangunlah fungsi tabungannya ! Berapa yang dikonsumsi jika pendapatan nasional 1 miliar? Berapakah yang ditabung jika pendapatan nasional 1 miliar? Pada pendapatan nasional berapakah dimana tidak ada yang ditabung? Gambarkan fungsi konsumsi, fungsi tabungan, dan fungsi pendapatan nasional pada sebuah grafik! Jawab : Fungsi konsumsinya: C = Co + bY C = 300.000.000 + (1 – 0,45)1.000.000.000 C = 300.000.000 + 0,55 Y Fungsi tabungannya : S = - 300.000.000 + 0,45 Y Jika pendapatan nasionalnya 1 miliar: Fungsi konsumsi: C = 300.000.000 + 0,55 x 1.000.000.000 C = 300.000.000 + 550.000.000 C = 850.000.000 Fungsi tabungan: S = - 300.000.000 + 0,45 x 1.000.000.000 S = - 300.000.000 + 450.000.000 S = 150.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan nasional sebesar 1 miliar, maka Rp 850.000.000 dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan Rp 150.000.000 ditabung. Tidak ada pendapatan yang dapat ditabung, artinya S = 0 Y=C+S Y=C+0 Y=C Tidak ada pendapatan yang ditabung maka berarti seluruh pendapatan habis dikonsumsi. Tingkat pendapatan yang akan seluruhnya habis dikonsumsi yaitu : Y Y – bY = Co + bY = Co

Y ( 1 – b ) = Co

Y
Y

1 (1 b)

x Co

1 x Co (1 0,55)

26

Y

1 x 300.000.000 (0,45)

Y = 2,22 x 300.000.000 Y = 666.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan sebesar Rp 666.000.000 seluruh pendapatan dikonsumsi. Gambar Fungsi Konsumsi, Fungsi Tabungan, dan Fungsi Pendapatan Nasional diberikan bawah ini : C,S,Y Y=C Y=C+5 C = 300.000.000 + 0,55Y 300.000.000 S = - 300.000.000 + 0,45Y 0 S=0 Disaving - 300.000.000 11. Fungsi Pendapatan Nasional yang Dihitung Melalui Pendekatan Pengeluaran Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional suatu negara, salah satu pendekatannya adalah dengan menghitung pengeluaran dari masing-masing sektor. Sektor-sektor yang mungkin terlibat dalam perhitungan tersebut ialah : 1. Sektor rumah tangga, di mana pengeluarannya dikenal sebagai konsumsi (C) 2. Sektor pengusaha, di mana pengeluarannya dikenal dengan investasi (I) 3. Sektor pemerintah, di mana pengeluarannya yaitu pengeluaran pemerintah (G) 4. Sektor perdagangan luar negeri, terdiri atas ekspor dan impor (X – M) Jika yang terlibat sektor rumah tangga dan pengusaha, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha dan pemerintah, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha, pemerintah, dan perdagangan luar negeri maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G+(X–M) Pendapatan Disposibel ( Yd ) Yang dimaksud dengan pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang dapat langsung dikonsumsi. Jika ada ‘transfer payment’ ( R ), maka pendapatan diposibel merupakan penjumlahan antara pendapatan dengan ‘trasfer payment’ : Yd = Y + R Jadi ‘trasfer payment’ menambah pendapatan disposibel. Jika ada pajak (T), maka pendapatan baru menjadi pendapatan disposibel setelah dikurangi dengan pajak : Yd = Y + T Jadi pajak mengurangi pendapatan disposibel. Jika ada pajak dan ‘transfer payment’, maka haru dipertimbangkan keduanya : Yd = Y + R – T Saving Y

27

Jika tidak ada pajak maupun ‘trasfer payment’ maka pendapatan disposibel adalah merupakan pendapatan : Yd = Y Trasfer Payment’ ( R ) Yang dimaksud dengan ‘trasfer payment’ yaitu pembayaran yang dialihkan, misalnya tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan lain-lain. Pajak (T) Pajak terdiri atas dua jenis : 1. Pajak yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : To ( Autonomous Tax ), To > 0 2. Pajak yang bergantung pada besarnya pendapatan : tY ; t ( income tax rate ), 0 < T < 1 maka alternatif fungsi pajaknya : Jika tidak ada pendapatan : T = To Jika ada pendapatan Fungsi Konsumsi ( C ) Konsumsi terdiri atas dua jenis : 1. Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : Co (Autonomous Consumtion), Co >0 2. Konsumsi yang bergantung pada besarnya pendapatan : bY ; b (marginnal propensity to consume), 0 < b < 1 maka alternatif fungsi konsumsinya : Jika tidak ada pendapatan : C = Co Jika ada pendapatan dan ada pajak : C = b Y d atau maka: C = b (Y – T) atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y – T C = Co + b (Y – T) : T = tY atau T = To + tY

Jika ada pendapatan dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y + R Maka : C = b (Y – R) atau C = Co + b (Y + R) Jika ada pendapatan, pajak dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, dimana Yd = Y + R – T Maka : C = b (Y + R – T) atau C = Co + bYd atau Maka : C = Co + b Y atau Fungsi Investasi 1. Fungsi investasi merupakan variabel eksogen yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, maka ditulis : I = Io 2. Jika dipengaruhi oleh tingkat suku bunga ditulis : I = Io – i r, r : tingkat suku bunga I : proporsi I terhadap i Fungsi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri atas : 1. Pengeluaran pemerintah yang tidak bergantung pada pendapatan : G (Government Expenditure), Go > 0 C = Co + b (Y + R – T) C = b Y, C=bY dimana Yd = Y Jika ada pendapatan tetapi tidak ada pajak dan ‘trasfer payment’ :

28

Pengeluaran pemerintah yang bergantung pada pendapatan : gY .2. Go. b = 0. Io. Marginal Propensity to Consume (MPC) = 0.2 5 29 Angka penggandaan untuk .3 . Xo > 0 2. Xo. g (proporsi pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan. 0 < m < 1 maka alternatif impor : Jika tidak ada pendapatan : M = Mo Jika ada pendapatan : M = mY atau Variabel Eksogen Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya tidak diperoleh dari perhitungan model.m (marginal propensity to import). Biasanya dilambangkan dengan simbol yang diberi tambahan „0‟. Ada berapa variabel eksogen. Impor yang tidak bergantung pada pendapatan : M (Autonomous Import). yaitu : sektor rumah tangga. seperti : Co. Parameter Diberi lambang dengan huruf kecil. Contoh Soal : 1. maka ditulis : X = Xo Fungsi Impor Impor terdiri atas : 1. Io = 75. Hitunglah pendapatan nasional suatu negara jika diketahui autonomous consumption : masyarakatnya sebesar 135. 0 < g < 1 maka alternatif fungsi pengeluaran pemerintah : Jika tidak ada pendapatan : G = Go Jika ada pendapatan : G = gY atau G = Go + gY Fungsi Ekspor Fungsi Investasi merupakan variabel eksogen.8) 1 0. Go = 30 Yang terlibat tiga sektor. variabel endogen dan parameternya ? Bagaimanakah model pendapatan nasionalnya serta angka penggandaannya ? Carilah semua nilai dari variabel endogenya ? Jawab : Diketahui Co = 135.8 Investasinya = 75 Pengeluaran pemerintah = 30. Impor yang bergantung pada pendapatan : mY. To. sektor pengusaha dan Pemerintah : Model Pendapatan Nasionalnya : Y=C+I+G di mana C = Co + b Y I = Io G = Go maka Y Y = (Co + b Y) + Io + Go = Co + b Y + Io + Go M = Mo + mY Y – b Y = Co + Io + Go Y(1 – b) = Co + Io + Go Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 (1 b) 1 (1 0. Mo Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang nilainya diperoleh dari perhitungan model.

8 (1200) C = 135 + 960 C = 1095 2. ataupun ‘government expenditure’ (Go) sebanyak satu. Pendapatan nasional (Y) Consumtion (C) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (y): Y Y Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 x (135 75 30) (1 0. To = 50 = 1 – 0. ‘investment’ (lo).Model di atas Ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan faktor – faktor ‘autonomous consumption’ (Co).4 = 0.bY = Co – bTo + lo Y (1 – b) = Co – b To + lo 30 . MPC = 1 – MPS . yaitu: 1. yaitu : 1. 2. yaitu : ‘Marginal Propensity to Consume’ (b) Variabel endogennya ada dua.8 Y C = 135 + 0.8) 1 x (240) (0. 3. lo = 40 . maka akan menyebabkanpeningkatan pendapatan nasional (Y) sebanyak lima kali.4 dari pendapatan disposibel.6 Ada dua sektor yang terlibat yaitu : sektor rumah tangga dan sektor pengusaha. dengan MPS-nya = 0. 2. Carilah model pendapatan nasional ? Hitunglah angka penggandaannya ? Carilah semua nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui : Co = 100 . Autonomous consumption suatu negara = 100. Model pendapatan nasionalnya : Y =C+I dimana C = Co + b Yd Yd = Y – To I = lo Sehingga Y = Co + b (Y – To) + lo Y = Co + bY – b To + lo Y . Variabel eksogennya ada tiga. Investasi nasionalnya = 40 dan autonomous tax = 50. Autonomous Consumption (Co) Investment (lo) Government Expenditure (Go) Parameternnya ada satu.2) Y = 5 (240) = 1200 Menghitung variabel endogen konsumsi(C): C = Co + bY C = 135 + 0.

Y Angka penggandaan : 1 = = 1 1 (Co – b To + lo) = 1 0. sedang pengeluaran di sektor pemerintah = 65. Co = 70. Pengeluaran di sektor pengusaha = 90.6 (Y – 50) C = 100 + 0.19.19 Y sehingga Y = C + l + G + (X – M) Y = (Co + bY) + lo + Go + (Xo – Mo + mY) Y = Co + bY + lo + Go + Xo + Mo + mY 31 .5 (110) Y = 275 Jadi pendapatan nasionalnya sebesar 275 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + b Yd C = Co + b (Y – To) C = 100 + 0.6) 1 x (100 30 40) (0.4 = 2.5 (1 – b) (1 – b) (1 – 0.19. Transaksi ekspor terhitung = 80.4) Y = 2. b = 0. Konsumsi masyarakatnya terlihat dari fungsi sebagai berikut : C = Co + b Y di mana autonomous consumption = 70 dan MPC = 0.6)50 40) (1 0.9 Dinyatakan : Carilah model pendapatan nasional ? Hitung angka penggandaannya ? Carilah nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui lo = 90.9 Semua sektor terlibat sehingga model pendapatan nasionalnya . Transaksi impor terhitung = 40 dengan marginal propensity to import = 0. Xo = 80.9 Y I = lo = 90 G = Go = 65 X = Xo = 80 M = Mo + mY = 40 + 0.6) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (1 b) x (Co bTo Io) 1 x (100 (0. m = 0. Mo = 40. Y = C + I + G + (X – M) di mana C= Co + b Y C = 70 + 0.6) (225) C = 100 + 135 C = 235 3. Go = 65.6 (275 – 50) C = 100 + (0.

448 Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) 1 (70 90 65 80 40) (1 0.9 0.6068 32 .72) C = 892.91) 1 0.72 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + bY C = 70 + 0.29) Y = 3.348 Jadi konsumsinya = 892.Y – bY + mY = Co + lo + Go + Xo – Mo Y (1 – b + m) = Co + lo + Go + Xo – Mo Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) Angka Penggandaannya 1 (1 b m) 1 (1 0.348 Menghitung variabel endogen impor ( M ) : M = Mo + mY M = 40 + 0.72) M = 213.9 (913.19) 1 (265) (0.19 (913.29 3.448 ( 265 ) Y = 913.9 0.72 Jadi pendapatan nasionalnya = 913.6068 Jadi impornya = 213.

Cross Elasticity of Demand. menghitung elastisitas dan enghitung optiasi. maka y berkurang atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan bertambah. Fungsi Marginal menggambarkan laju pertumbuhan suatu variabel terikat akibat perubahan variabel bebasnya. Diferensial Parsial. seperti enghitung Price Elasticity of Deand. 1. PENERAPAN TEORI DIFERENSIAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI B. serta terangkan artinya. maka diperolehlah fungsi Marginalnya dy/dx : laju perubahan y akibat perubahan x sebanyak 1 unit. Optimasi (Nilai Maksimum dan Minimum) III. Laju Pertumbuhan (Fungsi Marginal) Fungsi Marginal merupakan turunan pertama dari fungsi-fungsi total yang merupakan fungsi ekonomi. Contoh soal : Marginal Pendapatan (Marginal Revenue) 1. dan Diferensial berantai. di mana P: Price (harga) dan Q: Output. maka dikatakan perubahannya tidak searah. Fungsi permintan diberikan P = 3Q+27. di mana perubahan variabel bebasnya erupakan perubahan yang sangat kecil sekali. dan Income Elasticity of Demand. PERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Penerapan Teori Diferensial Biasa Teori Diferensial biasa diterapkan dalam berbagai masalah diantaranya untuk mencari : I. fungsi arjinal.Q R = 3Q2+27Q Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) MR = dR/dQ = 6Q + 27 33 . Laju Pertumbuhan II. Elastis titik: Analisis Fungsi dan Grafis. 3. seperti maksimasi pendapatan atau miniasi biaya.Q R = (3Q+27). Lebih jauh lagi : Jika fungsi marginal itu hasilnya positif. arginal Revenue Product of Capital dan Marginal Revenue Product of Labor. yang artinya jika x bertambah 1 unit. Mepelajari Penerapan Diferensial Parsial. Menghitung Optimasi untuk dua variabel serta mmencari Marginal Rate of Technical Substitusi. Marginal Physical Product of Labor. dikatakan perubahan searah. Mempelajari penerapan Diferensial Biasa seperti mencari laju pertumbuhan. artinya jika x bertambah 1 unit maka y akan bertambah pula atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan berkurang pula.BAGIAN 3 KONSEP DASAR TEORI DIFERENSIAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari perubahan variabel terikat perubahan variabel bebasnya. 2. Mempelajari Penerapan Diferensial Berantai seperti dalam fungsi produksi menghitung Marginal Physical Product of Capital.Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapa nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 10 output. Jika fungsi marginal hasilnya negatif. Tutjuan Khusus 1. Juga dipelajari perbandingan antara perubahan variabel terikat tersebut dengan perubahan variabel bebasnya yang disebut “kuosien Difference”. Juga dipelajari kaidah-kaidah Diferensial serta jenis-jenis diferensial yang terdiri atas Diferensial Biasa. Jawab : fungsi total pendapatan (Total Revenue) R = P. Secara umum jika diberikan fungsi total sebagai berikut: y = f (x).

e Q/2)Q R=30Q. maka MR = dR/dQ = 80 .2/5.Jika perusahan berproduksi pada tingkat output Q = 10 .5P. Jawab : Funsi total pendapatan (Total Revenue) : R=AR. Bagaimanakah Fungsi marginal pendapatanya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatanya jika perusahaan memproduksi baru 1 penjualan . serta terangkan artinya. e Q/2 Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 2 penjualan. maka MR = dR/dQ = 6Q + 27 = 6(10) + 27 = 60 +27 = 87 Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 87.8(7) = 80 – 56 = 24 Artinya: untuk setiap peningkatan output Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 24.e Q/2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : Dengan mengambil U = 30 Q.(1) = 6/5 .5P.2/5 = 4/5 artinya :untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 4/5. sebaliknya untuk setiap penurunan 3. serta terangkan artinya.Q R=(30.1/2.sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 4/5.8 Q Jika perusahaan memproduksi pada tingkat output Q = 7.e Q/2 Maka MR= dR/dQ = U‟ V+U V‟ = 30.e Q/2 = 30.serta terangkan artinya. Jawab: Fungsi total pendapatan ( Total Revenue) : R = AR .e Q/2+30 Q. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan banyak menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 87 2. Fungsi Pendapatan Rata-rata (Average Revenue) diberikan AR = 80 – 4 Q Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 7 output. Jawab: Karena fungsi permintaanya Q = 6 .2/5Q Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 1. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 24. maka MR= dR/dQ = 6/5 . Q R = (80 – 4 Q) Q R = 80 Q – 4 Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : MR = dR/dQ = 80 .e Q/2+15 Q. e Q/2 = e Q/2(30+15 Q) Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 2 Maka MR = dR/dQ = e Q/2 ( 30+15 Q) = e 2/2 ( 30+15.Q R = (6/5 – 1/5Q) Q R = 6/5Q-1/5Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue): MR = dR/dQ = 6/5 . Sehingga U‟=30 Dan V = e Q/2 Sehingga V‟=1/2. Fungsi Permintaan diberikan Q = 6 .Fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan AR = 30. dimana P: Price (harga) dan Q: Penjualan. dimana harus diubah dahulu menjadi P = 6/5 –1/5Q Barulah mencari fungsi total pendapatan (Total Revenue): R = P. 4.2) = 60 e 34 .

Contoh soal: Marginal Biaya (Marginal Cost) 5. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan biaya sebesar 6.2Q2 + 16Q Langkah pertama mencari turunan pertama fungsi total pendapatan kemudian dibuat = 0 R‟ = . Jawab: Fungsi total pendapatan: P = .4Q + 16 = 0 4Q = 16 Q=4 Agar dijamin bahwa jika menjual sebanyak Q = 4 maka akan diperoleh total pendapatan maksimum. permasalahannya: i.4 < 0 sehingga diperoleh nilai maksimum Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum yaitu sebanyak 4. ada dua pertanyaan yang senantiasa diajukan. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 60 e. Berapakah x yang akan memberikan y optimum? Jika itu telah terjawab.2Q + 16.Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang di jual 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 60 e. Berapakah y yang optimum tersebut? Untuk menjawab pertanyaan pertama.8Q + 10 = 3(2)2 . maka pertanyaan selanjutnya baru bisa dijawab yaitu: ii. serta terangkan arti.2Q + 16 R = P. Fungsi Total Biaya suatu perusahaan dinyatakan sebagai berikut: C = Q3 . maka lakukanlah langkah kedua yaitu mencari turunan kedua fungsi total pendapatan: R” = .4Q2 + 10Q + 75 Fungsi Marginal Biaya (marginal cost): C‟ = 3Q2 .Q = (. Misalkan untuk fungsi dengan satu variabel y= f (x).8(2) + 10 = 12 – 16 + 10 = 6 Artinya: Untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan biaya sebesar 6.2Q + 16) Q R = .8Q + 10 Jika perusahaan berproduksi pada tingkat penjualan Q = 2. tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum.4Q2 + 10Q + 75 Bagaimanakah fungsi marginal biayanya (Marginal cost) dan berapakah nilai marginal biaya tersebut jika perusahaan memproduksi 2 penjualan.2Q2 + 16Q R = . Total pendapatan maksimumnya: R = . Optimasi Satu Variabel (Nilai Ekstrim Maksimum atau Minimum) Dalam masalah optimasi. maka MC = C‟= 3Q2 . Jawab: Fungsi total biaya (total biaya): C = Q3 .2(4)2 + 16(4) R = 32 35 .4 Ternyata R” = . langkah-langkahnya dijelaskan dibawah ini: Untuk fungsi yang mengandung satu variabel y= f(x) Maksimum Langkah I Langkah II Y‟ = 0 Y” < 0 Minimum Y‟ = 0 Y” > 0 Diperoleh titik X Menjamin Nilainya Optimum (Maksimum atau Minimum) Contoh: memaksimasi total pendapatan (total revenue) 1. Harga jual barang P = .

1000Q + 85000 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan total biaya minimum? Berapakah total biaya minimum tersebut? Jawab: C = 5Q2 .1000Q + 85000 C‟= 10Q – 1000 = 0 10Q = 1000 Q = 100 C” = 10 > 0 Jadi total biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 100 unit.180Q + 2800 Turunan pertama: MC‟= 6Q – 180 = 0 6Q = 180 Q = 30 Turunan kedua: MR” = 6 > 0 Jadi output yang harus diproduksi agar diperoleh marginal biaya minimum sebanyak 30. Marginal pendapatan maksimumnya: MR = 16Q . Marginal biaya minimum: MC = 3Q2 .4Q = 0 16 = 4Q Q=4 Turunan kedua: MR” = . tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum.2Q) Q = 16Q – 2Q2 Fungsi marginal pendapatan: MR = 16Q . Biaya total dinyatakan dengan C(Cost) = 5Q2 . 36 . Total biaya minimumnya sebesar: C = 5Q2 .180Q + 2800 = 3(30)2 .Q = (16 .2Q2 = 16(4) .2Q.1000Q + 85000 C = 5(100)2 .2Q Fungsi total pendapatan: R = P. Berapakah marginal pendapatan maksimum tersebut? Jawab: Fungsi permintaan: P = 16 .90Q2 + 2800Q + 56500 Fungsi marginal biaya: MC = 3Q2 . Biaya total dinyatakan dengan C (Cost) = Q3 -90Q2 + 2800Q + 56500 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan marginal biaya minimum? Berapakah marginal biaya minimum tersebut? Jawab: Fungsi total biaya: C = Q3 .2Q2 Turunan pertama: MR‟ = 16 .180(30) + 2800 = 100 Jadi marginal biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 30 unit:100 2.4 < 0 Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum sebanyak 4. maka akan diperoleh total pendapatan maksimum sebesar 32.Jadi ketika menjual produk sebanyak 4. Contoh soal: Memaksimasi Marginal Pendapatan (marginal revenue) Harga jual barang P = 16 .2(4)2 = 48 contoh soal: Meminimumkan Total Biaya (Total Cost) 3.1000(100) + 85000 C = 35000 Jadi total biaya minimumnya sebesar: 35000 Contoh soal: Meminimasi Marginal Biaya (Marginal Cost) 4.

2000 = .35) = 0 Q1 = 3 Dan Q2 = 35 Turunan kedua: Laba” = .Q3 + 57Q2 . Total pajak yang akan di terima perintah : T = t.2000 Turunan pertama: Laba = -3Q2 + 114Q . maka labanya akan minimum. Untuk itu pemerintah harus menentukan berapa tarif pajak yang akan di berlakukannya sehingga akan di peroleh pajak maksimum. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut : R = 15Q . yang telah mempertimbangkan biaya pajak. maka labanya akan maksimum.3) (Q . 6. yang memberikan laba maksimum setelah mempertimbangkan adanya pajak penjualan dan pemerintah.315Q .38Q + 105 = (Q .96 < 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 35. Q* di mana t: tarif pajak yang di kenakan pemerintah dan Q*= Jumlah output yang di produksi dan di jual pengusaha sehingga di peroleh laba maksimum.2Q Dan C = Q3 . Contoh soal : Memaksimasi laba / keuntungan / provit Di berikan fungsi permintaan dan fungsi biaya masing-masing sebagai berikut: P = 1000 .2000 = 13925 Jadi dengan memproduksi dan menjual output sebanyak 35 akan di peroleh laba maksimum sebanyak : 13925 Contoh soal: Memaksimasi Penerimaan Pajak Salah satu sumber penerimaan pemerintah adalah dengan penarikan pajak.Q R = 1000 Q .59Q2 +1315Q + 2000 Fungsi laba: Laba = Pendapatan – biaya Laba = (1000Q .Q3 + 57Q2 .315 = Q2 . Untuk Q2 = 35.4Q + 12 – t = 0 12 – t = 2Q 37 .2Q2) .2 Q2 Fungsi biaya: C = Q3 . Pemerintah berupaya untuk memaksimumkan penerimaan pajak tersebut.59Q2 + 1315Q + 2000 Berapakah produk yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh laba yang maksimum ? Berapakah laba maksimum tersebut ? Jawab: Fungsi pendapatan: R = P. maka turunan ke dua = . maka turunan ke dua = .5.315(35) . R: Pendapatan =R–C–T C: Biaya =R–C–tQ T: Pajak Q :Tingkat output yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.59Q2 + 1315Q + 2000) Laba = .Q R = (1000 .2Q).2Q2 Dan C = 3Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya di kenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum ? Berapakah total pajak maksimum yang di peroleh ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 15 Q – 2 Q2 – 3Q – t Q = -2 Q2 + 12Q – t Q Turunan pertama: Laba‟ = . Laba maksimum nya sebesar : Laba = .(Q3 . misalnya pajak penjualan yang di kenakan pemerintah terhadap setiap unit yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.6(3) + 114 = 96 > 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 3.(35)3 + 57(35)2 .6Q + 114 Untuk Q1 = 3.315Q . Dari sudut pandang pengusaha setelah ada pengenaan pajak dari pemerintah: Laba = pendapatan – (biaya + pajak) = R – (C+T).6(35) + 114 = .

13 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 20 – 1/ 13 t.4 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 3 – ¼ t.5 Q2 – (100 Q – 4 Q2) – t Q = 360 Q – 10. pengusaha akan memperoleh laba maksimum.5 Q2 Dan C = 100 Q – 4 Q2 Berapakah produk harus di buat dan di jual perusahaan agar di peroleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum tersebut? Jika pemerintah ingin memperoleh pajak penjualan yang maksimum.2Q Q* = 12 .5 Q2 – 100 Q + 4 Q2 – t Q = 260 Q – 6.2/13 Jadi taruf pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar : 130 Karena Q2 = 20 – 1 t 13 = 20 – 1 (130) 13 = 20 – 10 = 10 7.5 Maka total pajak maksimum: T = t .5 = 9 Jadi total pajak yang yang di terima pemerintah sebesar: 9 Contoh soal: Fungsi penerimaan dan fungsi biaya suatu produk di nyatakan sebagai berikut: R = 360 Q – 10. pengusaha akan memperoleh laba maksimum.5 = 1.t = 12 . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (20 – 1/13 t) = 20 t – 1/3 t 2 Turunan pertama : T‟ = 20 – 2/13 t = 0 20 = 2/13 t t = 130 Turunan ke dua : T‟‟ = . 38 .5 Q2 – t Q Turunan pertama: Laba‟ = 260 – 13 Q – t = 0 260 – t = 13 Q Q = 260 – t 13 Q*= 20 – 1 t 13 Turunan ke dua : Laba‟‟ = . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T =t (3 – ¼ t) =3t – 1/4 t2 Turunan pertama: T1 = 3 – ½ t = 0 T=6 Turunan ke dua : T” = -½ Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: 6 Karena Q* = 3 ¼ t = 3 – 6/4 (6) = 3 – 1. Q* = 1. berapakah tarif pajak yang harus di kenakan pemerintah kepada perusahaan tersebut? Berapakah total pajak maksimum yang di dapat pemerintah? Berapakah laba maksimum yang di terima perusahaan setelah di kenakan pajak ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 360 Q – 10.t 4 Q* = b – ¼ t Turunan ke dua: Laba = .

tidak terjadi kekurangan persediaan sehingga tidak ada biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan. 2. Demikian pula jika persediaan barang jadi di perhitungkan sedikit maka akanmenimbulkan keluhan pada konsumen akibat kelangkaan barang (permasalahan dalam pemasaran). maka akan ada resiko yaitu menimbulkan hambatan dalam proses produksi. Pola kedatangan barang persediaan digambarkan seperti gambar berikut ini: Persediaan ( Q ) Q/2 Jumlah Rata-rata Persediaan Waktu D: kebutuhan jumlah barang per periode waktu yang kemudian dibagi sama besar menjadi beberapa kali pemesanan Q: jumlah pemesanan per sub-periode waktu C: biaya total persediaan C: biaya pemesanan setiap kali memesan 39 . 4. kehilangan pangsa pasarnya. Model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala dalam model ini di asumsikan bahwa : 1.5(10)2 – (130)(10) = 2600 – 65 – 1300 = 1235 Jadi pemerintah menerima laba maksimum sebesar 1235 Contoh soal : Meminimasi Total Biaya Persediaan Dalam hal persediaan. hal itu berarti menimbulkan biaya penyimpanan. di antaranya: 1. Perusahaan tersebut.5Q2 – t Q = 260 (10) – 6. Model yang akan di bahas dalam buku ini yaitu: model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala (batch arrival model). sebaliknya jika persediaan bahan mentah di perhitungkan sedikit saja. biaya pemesanan. dalam suatu periode waktu tertentu di ketahui jumlahnya tetap dari tiap-tiap periode waktu. untuk kemudian akan sangat sulit jika berusaha untuk mencoba mengembalikan pangsa pasarnya kembali karena berhubungan dengan kepercayaan pelanggan serta di butuhkan investasi yang sangat besar misalkan untuk biaya pemasarannya (periklanannya) Biaya. 3. Jumlah kebutuhan barang. Jika kelangkaan barang tersebut terjadi berlarut-larut. biaya penyimpanan. Hal tersebut kemudian berdampak dapat mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan kehilangan pelanggan. Laba maksimum yang di terima oleh pemerintah besarnya: Laba = 260 Q – 6. maka pada akhirnya para konsumen akan mencoba untuk menutup kebutuhannya dengan cara melirik produk dari pesaing. 10 = 1300 Jadi total pajak yang di terima pemerintah sebesar 1300. 3. biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah barang. yang berarti jumlah pemesanan barang. biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan sehingga menghambat proses produksi atau pemasaran. sub-periode kedatangan panjangnya tetap. manajemen perusahaan senantiasa di perhadapkan kepada permasalahan yaitu jika jumlah persediaan bahan mentah maupun persediaan barang jadi di perhitungkan banyak. Akan tetapi.Maka Total pajak maksimum: T = t . 2.biaya yang ada hubungan dengan masalah persediaan. Q* = 130 .

Q1 .C1 ½ C2 = 2 D. maka D = 100 dan Q = 25 sehingga setiap periode waktu akan ada kedatangan akibat pemesanan sebanyak D/Q dengan biaya total pemesanan: (D/Q) C1.(-1) . maka akan dihitung total biaya pemesanan dan total biaya penyimpanan sebagai berikut: Total biaya pemesanan: Misalakan dibutuhkan 100 kg yang akan dipesan sebanyak 25 kg.C 1 C2 Turunan kedua: C” = 2D.C1.C1 > 0 menjamin biaya persediaan minimum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut. 2500 per-pemesanan. 50 per-minggu = Rp 200 per-bulan. 2 D.C1 + ½ C2 =0 Q2 ½ C2 Q2 Q = = –D. Biaya pemesanan setiap kali memesan sebesar Rp.2500 200 . Berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? Berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? Berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : Jumlah total pemesanan per-bulan:100 kg C1: Biaya pemesanan: Rp. sedangkan biaya penyimpanannya Rp.100.C 1 C2 2. C1. perlu dicari: jumlah produk yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga diperoleh total biaya persediaan yang minimum: Q Q Total biaya persediaan: C = C1 + C2 D 2 Q = D.C2: biaya penyimpanan per-periode waktu Masalahnya adalah berapa unit barang yang harus dipesan setiap kali pemesanan (Q) agar biaya total persediaan (C) minimum. C2 2 Turunan pertama: C′ = D.Q-2 + ½ C2 =0 –D. Jumlah yang harus dipesan: Q Q = Q = 50 40 = 8. Total biaya penyimpanan: Rata-rata sepanjang periode waktu terdapat Q/2 persediaan sehingga biaya total penyimpanan per periode waktu: (Q/2) C2 Jadi total biaya persediaan = total biaya pemesanan + total biaya penyimpanan C = Q C1 + Q C2 D 2 Yang menjadi permasalahan adalah berapakah jumlah unit atau barang yang harus dipesan agar dapat diperoleh total biaya persediaan yang minimum? Untuk menjawab permasalahan tersebut.C1 Q2 –D. 2500 C2: Biaya penyimpanan: Rp. 50 per-minggu. Q3 Contoh soal: seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 100 kg setiap bulan.

jika diketahui fungsinya.0.5 = -0. digunakan Rumus: Eyx = y/y atau Eyx = y/ x x/x y/x untuk perubahan yang kecil rumusnya menjadi : Eyx=dy/dx y/x contoh soal: Elastisitas Permintaan 1. maka seberapa jauh perubahan y akibat perubahab x di sebut „elastisitas y terhadap x‟.000 Jadi total biaya persediaan minimum : Rp 10. Elastisitas mengukur derajat kepekaan variabel terikat akibat adanya perubahan variabel bebasnya.8 = -1 Qd/P1 4/8 4 Besar elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah -1 1 = 1 (UNITARY ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah E Untuk titik P3 = 12 maka Qd = 8 .5(4) = 8 – 2 = 6 Jadi EQDP1 = 4 = dQd/dP1= -0.5 P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.5.5 = -0.0. P2 = 8. 4 = -1 Qd / P1 6/4 6 3 Besar elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah -1/3 1 / 3 =1/3 <1 (INELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah E Untuk titik P2 = 8 maka Qd = 8 . Total biaya persediaan: C = Q C1 + Q C2 D 2 50 100 C= 2500 + 200 2 50 C = 10. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 100/50 =2 kali pemesanan. Di tulis Eyx.12 = -3 Qd/P3 2/12 2 Besar elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah -3 3 E = -3 = 3 > 1 (ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah E Analisa Grafis: Elastisitas permintaan Contoh soal: 4.5 .5.Jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 50 kg. Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 8 – 0. Analisis fungsi Untuk menghitung besarnya elastisitas terhadap x. Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut: Qd = 8 .0. dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 maka Qd = 8 .5 P.5(12) = 8 – 6 = 2 Jadi EqdP3 =12 = dQd/dP3 = -0.000 Elastisitas Titik: Analisis Fungsi dan Grafis.5 = -0.0. Misal: y = f(x).5(8) = 8 – 4 = 4 Jadi EQDP2 = 8 = dQd/dP2 = -0. Grafik fungsinya: 1 4 0 4 Qd EQDP1=4 = = = 3 16 4 12 8 8 0 EQDP2=8 = = =1 8 16 8 12 EQDP3=12 = 12 0 = =3 4 16 12 P 41 .

Fungsi pendapatan dari suatu pabrik di berikan sebagai berikut: R = . 12 = 24 = 4 Qs/P3 30/12 30 30 5 Besar elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah = 4/5 Jenis elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah E = + 4/5 = 4/5 < 1 (INELASTIS) Analisis Grafis: Elastisitas Penawaran Contoh soal : 6. Jika jumlah tenaga kerja yang ada 10 orang:  Berapakah „Marginal Physical Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya!  Berapakah „Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi Produksi: Q = 4 L Sehingga dQ Marginal Physical product of labour (MRP L): =4 dL Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. Dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 Maka Qs = 6 + 2(4) = 6 + 8 = 14 Jadi E QdP1 = 4 = dQs/Dp1= + 2 = + 2 . Marginal Revenue Product Of Capital (MRP C)* Contoh Soal: Marginal Revanue Product Of Labour (MRPL) 1.Contoh soal: Elastisitas penawaran 5. sedangkan fungsi produksinya Q = 4 L. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit 42 . 8 = 16 = 8 Qs/P2 22/8 22 22 11 Besar elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah 8/11 Jenis elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah E = 8/11 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P3 = 12 maka Qs = 6 + 2 (12) = 6 + 24 = 30 Jadi E QdP3 = 12 = dQs/dP3 = + 2 = + 2 . grafik fungsinya: QS Qd= 6 + 2P 14 6 8 4 EQDP1=4 = = = 30 14 0 14 7 22 16 22 6 8 EQDP2=8 = = = 22 22 0 11 14 24 4 6 EQDP3=12 = 30 6 = = 30 5 30 0 4 8 12 P Penerapan Teori Diferensial Berantai Teori diferensial berantai di terapkan dalam masalah produksi di antaranya untuk mencari: I.Q2 = 140 Q + 5 DI Mana Q adalah produksi. Di berikan fungsi penawaran sebagai berikut: Qs = 6 + 2P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4. Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)* II. P2 = 8. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit. 4 = 8 = 4 Qs/P1 14/4 14 14 7 Besar elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah 7 Jenis elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah E = +4/14 = 7 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P2 = 8 maka Qs = + 2 (8) = 6 + 16 = 22 Jadi E QdP2 = 8 = dQs/Dp2 = + 2 = + 2 . Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 6 + 2P.

Q2 + 140Q + 5 dR = . # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. sedangkan fungsi produksinya Q = 3C.32 L + 560 Untuk tenaga kerja sebanyak 10 orang. Fungsi pendapatan: R = -3000Q2 + 410000Q + 7 maka dR Marginal revenue: = -6000Q + 410000 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 240 contoh soal: marginal revenue product of capital (MRPC) 2.Fungsi pendapatan: ´Marginal Revenue: R = . Jika kapital yang dimiliki 1000: Berapakah „Marginal Physical Product of Capital (MPPC)´ dan jelaskan artinya! Berapakah Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)´ dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi produksi: Q = 3C sehingga Marginal Physical Product of capital (MRPC): Dq = 3dC Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000.3000Q2 + 410000Q + 7 di mana Q adalah produksi.2Q + 140 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRP L): dR dR dQ = . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 240. dC dQ dC dR = (-6000Q + 410000) (3) dC dR = -18000Q + 1230000000 dC Jadi marginal revenue product of capital (MRP L) = -18000Q+1230000000 = -18000(3C)+1230000000 = -54000C+1230000000 Untuk kapital sebanyak 1000 maka MRPL = -54000C+1230000000 = -54000(1000)+1230000000 43 . maka MRPL = -32(10) + 560 = -320 + 560 = 240 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang.8 (4L) + 560 = . Fungsi pendapatan dari suatu pabrik diberikan sebagai berikut: R = . dL dQ dL dR = (-2Q + 140) (4) dL dR = -8Q + 560 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRP L) = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit.8Q + 560 =.

Price elastisity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barangnya sendiri. dQd 1 / dY dQd 2 / dY Jadi E QdP1 = dan E QdP2 = Qd 1 / Y Qd 2 / Y Hubungan antar-komoditi: # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand positif. juga ternyata di tentukan oleh harga barang lain tersebut merupakan barang substitusinya atau barang komplementernya. sedangkan # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand negatif. Elastisitas Parsial II. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan harga barang lain (P2) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barang lain (P1): dQd 1 / dP 2 dQd 2 / dP1 Jadi E QdP1 = dan EQdp2 = Qd 1 / P 2 Qd 2 / P1 Income Elasticity of Demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan pendapatan: Yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan pendapatan (Y) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan pendapatan (Y).= -54000000+1230000000 = 1176000000 Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1).P2. maka hubungan antar komoditi adalah substitusi. Akan tetapi. 44 . Optimasi 2 variabel: Maksimasi pendapatan Minimasi biaya Maksimasi laba/keuntungan III. fungsi permintaannya masing-masing dapat di tuliskan sebagai berikut: Qd1 = f (P1. maka hubungan antar komoditi adalah komplementer.Y) Dan Qd2 = f (P1. maka # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1176000000 sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1176000000 Penerapan Teori Diferensial Parsial Teori Diferensial Parsial diterapkan dalam berbagai masalah di antaranya untuk mencari: I. akibat perubahan harga barangnya (P1) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barangnya (P2): Jadi E QdP1 = dQd 1 / dP1 dQd 2 / dp 2 dan E QdP2 = Qd 1 / p1 Qd 2 / p 2 Cross Elasticity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barang lain. Misalnya ada dua barang yaitu barang 1 dan barang 2. harga barang lain (P1). Mencari marginal rate technical substitution(MRTS) Elastisitas Persial Fungsi permintaan suatu barang tentu di tentukan oleh harga barang itu sendiri.P2. dan besarnya pendapatan (Y). Di samping itu juga di tentuka oleh pendapatan. dan pendapatan (Y). harga barang lain (P2).Y) Fungsi permintaan barang 1 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P 1). Demikian pula dengan fungsi permintaan barang 2 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P2).

Contoh soal: 1. Qdr = 2Pj - 30 Pr + 0,05 Y Untuk Pj = 3000, Pr = 100, dan Y = 30000 Carilah: - Price Elasticity of Demand - Cross Elasticity of Demand - Income Elasticity of Demand Bagaimanakah hubungan antara komoditi j dan r? Jawab: Price Elasticity of Demand: dQdr / d Pr 30 2 30 E QdPr = = = = Qdr / pr 4500 / 100 3 45 Cross Elasticity of Demand: dQdr / dPj 2 60 4 E QdPr = Qdr / pj 4500 / 3000 45 3 Income Elasticity of Demand: dQdr / dY 0,05 15 1 E QdPr = Qdr / Y 4500 / 30000 45 3 Hubungan antara komoditi r dan j: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif, maka hubungan antara komoditi r dan komoditi j adalah Subtitusi. Optimasi Dua Variabel. Fungsi yang mengandung 2 variabel misalnya dituliskan sebagai berikut: Y=f(x1,x2) Dalam setiap permasalahan optimasi, selalu memunculkan dua pertanyaan: 1. Berapakah x1 dan x2 yang akan memberikan Y optimum (maksimum atau minimum) 2. Berapakah Y optimumnya (maksimum atau minimum) Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama tersebut, maka diberikan langkah-langkahnya sebagai berikut: Optialisasi dua variabel Y = f ( x1 ,x2 ) Maksium Langkah I Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Minimum Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Diperoleh X1 dan X2

Langkah II

Turunan kedua dan Matriks Hessian: H = Y11 Y12 Y21 Y22 D1 = Y11 < 0
Difinit negatif, Menjamin Y maksium

Langkah III

D1 = Y11 > 0
Difinit positif, Menjamin Y minimum

Diperoleh Titik ekstrim maksium atau titik ekstrim minimum

Langkah-langkah dalam tabel tersebut membantu untuk memperoleh X1 dan X2 yang pasti akan menjamin bahwa Y optimal, jadi ke tiga langkah tersebut di atas hanyalah untuk menjawab pertanyaan pertama saja. Belum di peroleh berapa besar Y yang optimal tersebut. Untuk mendapatkan nilai Y yang optimal maka nilai X1 dan X2 harus di masukan dalam persamaan Y tersebut.untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, maka di bawah ini di berikan tiga contoh yang merupakan permasalahan optimal dua variabel, yaitu: maksimasi pendapatan, minimasi biaya, maksimasi laba.

45

Contoh soal: Maksimasi pendapatan 1. Di berikan fungsi pendapatan : R = 160 Q1 – 3 Q12 – 2 Q1 Q2 – 2Q22 + 120 Q2 –180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh pendapatan maksimum? Berapakah pendapatan maksimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di jual : Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi pendapatan: R1 = 160 – 6 Q1 – 2 Q2 = 0 R2 = 120 – 2 Q1 – 4 Q2 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 6 Q1 – 2 Q2 = - 160 2 Q1 – 4 Q2 = - 120 Maka 160 2 120 4 (-160)(-4) - (-2)(-120) 640 - 240 400 Q1 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4

6 160 2 120 (-6)(-120) - (-2)(-160) 720 - 320 400 Q2 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4 Langkah ke dua adalah mencari turunan keduannya: R11 = -6, R12 = -2, R21 = -2, R22 = -4 R 11 R12 - 6 - 2 Matriks hessiannya: H = R21 R22 -2 -4
Matriks pertamanya : D1 = - 6 < 0
-6 -2 -2 -4 = (-6)(-4) – (-2)(-2) = 24 – 4 = 20 > 0 karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin pendapatan maksimum. Pendapatan maksimumnya: R = 160Q1 - 3Q12 - 2Q1Q2 - 2Q22 + 120Q2 – 180 R = 160(20) - 3(20)2 - 2(20)(20) -2(20)2 +120(20) – 180 R = 2620

Matriks keduannya : D2 = H =

Contoh soal: Minimasi biaya 2. di berikan fungsi biaya sebagai berikut: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi sehingga di peroleh biaya minimum? Berapakah biaya minimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di produksi: Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: C1 = 16Q1 – 2Q2 – 40 = 0 C2 = -2Q1 + 12Q2 – 42 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 16Q1 – 2Q2 = 40 -2Q1 + 12Q2 = 42 Maka 40 - 2 Q1 =

42 12 16 - 2 - 2 12

=

(40)(12) ( 2)( 42) 480 84 564 = = =3 (16)(12) ( 2)( 2) 192 188

46

Q2 =

- 6 - 160 - 2 - 120 16 - 2 - 2 12

=

( 6)( 120) ( 2)( 160) 400 720 320 = = = 2,12 = 2 (16)(12) ( 2)( 2) 188 192

Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: R11=16, R12 = -2, R21 = -2, R22 = 12 16 -2 R 11 R 12 16 -2 Matriks Hessiannya: H = 12 R 21 R 22 - 2 Matriks pertamanya : D1 = 16 > 0 Matriks keduanya : D2 = H = 16 -2 - 2 12 =(16) (12) – (-2) (-2) =192 – 4 =188 > 0 Karena D1 > 0 dan D2 > 0, maka definit positif, menjamin biaya minimum. Biaya minimumnya: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1 Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 C = 8(3)2 + 6(2)2 - 2(3) (2)- 40 (3)- 42 (2)+180 C = 60 Contoh soal: maksimasi laba / keuntungan 2. Diberikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya sebagai berikut: R = 12 Q1 + 8 Q2 dan C = 3 Q12 + 2 Q22 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimumnya?

Jawab: Fungsi labanya: Laba = R – C = 12Q1`+ 8Q2 - ( 3 Q12 + 2 Q22) = 12Q1 + 8Q2 - 3Q12 - 2Q22 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = 12 – 6 Q1 = 0, maka Q1 = 2 Laba2 = 8 – 4 Q2 = 0, maka Q2 = 2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11 = - 6, Laba12 = 0, Laba22 = - 4 Matriks Hessiannya: H = Laba 11 Laba 12 = -6 0 Laba 21 Laba 22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = - 6 < 0 Matriks keduanya : D2 = H = - 6 0 0 -4 = -(0)(0) (-6) (-4) = 24 – 0 = 24 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin laba maksimum. Pendapatan maksimumnya: Laba = 12 Q1+8 Q2-3Q12-2Q22 Laba = 12(2) +8(2)-3(2)2-2(2)2 Laba = 24+16-12-8 Laba = 20 47

3 L 0.7) L0. 7 3L0.5. dQ / dK dL dK dL dQ dL Rumus: MRTS = Contoh soal: 1.5) L0.3 1 L0.2K 0. maka mencari MRTS-nya dengan dQ / dL dQ dQ dQ dK dK MRTS = : .7 7K MRTS = 3L 7.3 K 0.7 1 96(0.3 (0. 7 L0.210 MRTS = 3.3) K 0.3 (0.8L 0. Q* R = 16 Q – Q2 Maka fungsi marginal pendapatannya: MR = 16 – 2Q 48 . Di mana K = 160 dan L = 40 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK 0 0.1 Mencari Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dK dL Jika diketahui Fungsi Produksi Q=f(K.5 1 = 0.7.5) K ) 0. Di berikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 0.2(0. 2 MRTS = – 8 2.5 0.L).1K 0.3 L 0.3) K 0.8(0.7 0. Q R = (16 – Q) .4 L 0.7 K 0.5 160 40 MRTS = 4 4 MRTS = – 4 . carilah fungsi marginal pendapatannya untuk fungsi P = 16 – Q jawab: fungsi permintaan: P = 16 – Q fungsi pendapatan: R = P .3.7 K = 210 dan L = 70 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK = = = 96 K 0.3 L0.70 MRTS = – 7 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Fungsi marginal pendapatan (marginal revenue) 1.5 1 0 = = MRTS = 0. Diberikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 96 K 0. 7 7 K 0.5 + 0.5 K 4 L 4 0.

Q = (120 – 6Q) . Q1 = 2/3 Q .MR 120 AR = 120 . fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan di bawah ini: AR = 120 – 6 Q # Pada tingkat output berapakah yang memberikan pendapatan maksimum? # Berapakah pendapatan maksimum yang diperoleh? # Gambarkan fungsi pendapatan rata-rata dan marginal pendapatan pada sebuah grafik! Jawab: Fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q Fungsi pendapatan: TR = AR .2)(Q . Total biaya minimum: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 TC = (2)3 – 4(2)2 + 4(2) + 4 = 4 49 . Q2 = 2 Turunan kedua fungsi total biaya: TC″= 6Q – 8 Untuk Q1 = 2/3 maka TC″= 6 (2/3) – 8 = . Total biaya suatu perusahaan dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q +4 # Pada output berapakah yang akan memberikan total biaya minimum? # Berapakah total biaya minimumnya? Jawab: Fungsi total biaya: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 Turunan pertama fungsi total biaya: TC‟= 3Q2 – 8Q + 4 = 0 (3Q . Q = 120 Q – 6 Q2 Turunan pertama fungsi pendapatan: TR′ = 120 – 12Q = 0 120 = 12Q Q = 10 Turunan kedua fungsi pendapatan: TR″ = -12 < 0 menjamin pendapatan maksimum.6Q MR =120 – 12Q 10 20 Q Minimasi total biaya (Total Cost) 3. Pendapatan maksimum: TR maksimum = 120 Q – 6 Q2 R maksimum = 120(10) – 6(10)2 = 1200 – 600 = 600 jadi pendapatan maksimumnya diperoleh sebesar 600 fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q fungsi marginal pendapatan: TR′= MR = 120 – 12 Q maka grafik dari kedua fungsi tersebut di gambarkan sebagai berikut: AR.2 = 0.2) = 0 3Q .4 < 0 Untuk Q2 = 2 maka TC″= 6 (2) – 8 = 4 >0 Jadi output yang memberikan total biaya minimum adalah yang TC″>0.Maksimasi total pendapatan (Total Revenue) 2.2 = 0. Jadi pada tingkat output Q = 10 menjamin pendapatan maksimum. yaitu Q = 2.

1.25 = 1.5 t – 1/10 t 2 turunan pertama: T′ = 2.1440.5 – 1/10 t = 2.5 turunan kedua: T″= -1/5 < 0 Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: t = 12. Total biaya persediaan: Q= 50 . Jadi sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (2.5= 1/5 t t = 12.biaya pemesanan tiap kali memesan sebesar Rp 6000 per pemesanan.5 – 1/10(12.25 = 15. Q – C – t Q = -5Q + 100 – (5Q2-30Q) – tQ = -5Q2 + 25Q – Tq + 100 Turunan pertama: Laba′ = -10Q + 25 – t = 0 25 – t = 10Q Q* = 25 – t 10 Q* = 2.625 Minimasi total biaya persediaan 5.5 – 1.Maksimasi penerimaan total pajak 4. Seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 1440 kg tiap bulan.25 Maka total pajak maksimum: T = t .5 – 1/10 t) = 2.5 – 1/10 t.5 – 1/10 t Turunan kedua: Laba″ = -10 < 0 Jadi dengan memproduksi Q* = 2. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut: P = .6000 1200 Q = 120 jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 120 kg. # berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? # berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? # berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : jumlah total pemesanan per bulan : 1440 kg C1: biaya pemesanan : Rp 6000 C2: biaya penyimpanan : Rp 300 per minggu = Rp 1200 per bulan Jumlah yang harus di pesan : 2 D. Q* = 12.625 Jadi total pajak yang diterima pemerintah sebesar: 15.5Q + 100 dan C = 5Q2 – 30Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? Berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = P . pengusaha memperoleh laba maksimum. sedangkan biaya penyimpanannya Rp 300 per minggu.5 Karna Q* = 2. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 1440/120 = 12 kali pemesanan.5 .C1 Q= C2 2.5) = 2.5 – 1/5 t = 0 2.

P2 = 10.8 Q=4 Sehingga: Marginal Physical Product of Labour (MPRL): 1 1 1 dQ 1 2 L2 2 .8 P2 + P3 + Y Qd1 = 16 – 0. P3 = 40. dengan K = 4.1 / 2 K dL 51 . maka hubungan antara komoditi 1 dan komoditi 3 adalah subtitusi.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut: Qd = 16 – 0.4 4 E Qd1P1 = Qd 1 Pr 1 80 / 20 400 Cross elasticity of demand dQd 1 / dP 2 0.4(20) – 0. dan Y = 40 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi-komoditi tersebut? Jelaskan! Jawab: Qd1 = 16 – 0.8 P2 + P3 + Y Untuk P1 = 20. L = 16 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 2Q.8(10) + 40 + 40 Qd1 = 80 Price elasticity of demand: dQd 1 / dP1 0.4 P1 – 0. Hubungan antara komoditi 1 dan 3: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif . Marginal Physical and Revenue Product of Labour and Capital 7. maka hubumgan antara komoditi 1 dan komoditi 2 adalah subtitusi. fungsi produksi : Q = 1/2K ½L = ½.4 P1 – 0.8 1 E Qd1P2 = Qd 1 / Pr 2 80 / 10 10 dQd 1 / dP3 1 1 E Qd1P3 = Qd 1 Pr 3 80 / 40 2 Income elasticity of demand dQd 1 / dY 1 1 E Qd1Y = Qd 1 / Y 80 / 40 2 Hubungan antara komoditi 1 dan 2: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya negatif.C= C= D C1 Q Q C2 2 1440 120 6000 1200 120 2 C = 144000 Jadi total biaya persediaan minimum: Rp 144000 Elastisitas persial 6. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! jawab: fungsi produksi: Q = ½ K ½ L ½ Q = ½ 4 ½ 16 ½ Q=½.

Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ .(1/2) dL dR 1 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRPL)=1 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. 1/2L ½dC dQ = ¼ K 1/2 L -1/2 dC 1 dQ 1 4 K 2 1 dC L2 1 dQ 1 4 4 2 1 dC 16 2 dQ 1 = dC 8 Artinya : Pada tingkat investasi sebesar 4. dC dQ dC dR = (2).1 1 dQ 1 2 L2 4K dL 1 dQ 1 4 L 2 1 dL K 2 1 dQ 14 16 2 1 dL 42 dQ 1 dL 2 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit. dL dQ dL dR (2). sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit jika fungsi pendapatan: R = 2Q sehingga dR ′ Marginal Revenue: 2 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRPL): dR dR dQ . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1.(1/4) dC 52 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit Marginal Physical Product of Capital (MRPC): dQ = ½. K½. # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit.

Maksimasi Laba/Keuntungan dari dua produk 9. laba22= . Minimasi Biaya dari Dua Produk 8. maka Q2=2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Biaya11= 24 .4Q12 .8Q1 + 32 = 0 makaQ1 = 4 Laba2 = .dR = 1/4 dC Jadi Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)=1/4 Artinya: Pada tingkat investasi berjumlah 4 orang.4Q12 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 4 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. Fungsi Laba diberikan Laba = . Biaya22= 8 Biaya11 Biaya12 24 0 Matriks Hessiannya : H= Biaya21 Biaya22 0 8 Matriks pertamanya : D1 = 24 Matriks keduanya : D2 = H= 0 24 0 0 8 = (24) (8) . maka Q1=3 Biaya2 = 8 Q2 – 16 = 0. Biaya minimumnya: Biaya = 12 Q12 + 4Q22. menjamin biaya minimum.8 .(0) (0) = 192 .0 = 192 > 0 Karena D1> 0 dan D2> 0. Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 agar berproduksi pada tingkat biaya minimum.24-32 Biaya = 68 Dengan memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 maka akan berproduksi pada biaya minimum sebesar 68. laba21= 0 .4 Biaya11 Biaya12 . Biaya21= 0 .8Q 1+ 16Q2 Biaya = 12 (3)2 + 4(2)2. laba12= 0 .4Q2 +12 = 0 makaQ2 = 3 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11= .2Q22 + 32Q1+12Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = .9 + 4.8(3) +16(2) Biaya = 12.8 0 Matriks Hessiannya: H= Biaya21 Biaya22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = 8 0 53 . # untuk setiap penambahan investasi sebanyak 4 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. Biaya12= 0 .2Q22 + 32Q1+12Q2 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga dapat diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Labanya : .4 . Fungsi biaya dari perusahaan yang menghasilkan dua produk sebagai berikut: Biaya = 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 # Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi agar dapat diperoleh biaya minimum? # Berapakah biaya minimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Biayanya: 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: Biaya1 = 24 Q1 – 8 = 0. maka definit positif.

6) (P3. Matriks keduanya : D2 = H= Laba = .Q3) = (36.4(4)2-2(3)22+ 32(4) +12(3) Laba = . Jadi sebaiknya di produksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 agar diperoleh laba maksimum. dengan K = 20 L = 40 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 3Q.komoditi tersebut? Jelaskan! 2.Q2) = (24. P2 = 100.9 + 32. fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut : Qd2 = 5200 + 4P1 – 3P2 – 8P3 + 0.-8 0 0 -4 = (-8) (-4) – (0) (0) = 32 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0.3) 0 48 P 54 . carilah nilai dan jenis elastisitas di masing-masing titik! Q (P1. maka definit negatif.2.fungsi produksi: Q = 0.Q1) = (12.25 Y Untuk P1 = 200.4 + 12. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! 4. menjamin laba maksimum.5 K2 + 2KL + L2. P3 = 500 dan Y = 5000 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi .fungsi permintaan suatu komoditi diberikan pada gambar dibawah ini .3 Laba = 82 Dengan memproduksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 maka akan diperoleh laba maksimum sebesar 82.diberikan fungsi total biaya suatu perusahaan sebagai berikut: TC = 6Q12.16 .9) (P2.2Q22 + 32Q1 + 12Q2 Laba = .4Q12 .total pendapatan dan total biaya diberikan sebagai berikut: R = 221Q + 5100 – 2Q2 dan C = 125Q + 4100 # berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? # berapakah jumlah produk yang harus diproduksi dan dijual oleh perusahaan tersebut sehingga diperoleh laba maksimum setelah mempertimbangkan masalah pejak? # berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah ? # berapakh laba maksimum yang diperoleh perusahaan tersebut? 3.3Q1 Q2 + 12Q2 – 24 Q1 – 10 Q2 # Pada tingkat output (Q1 dan Q2) berapakah yang akan membuat perusahaan memperoleh total biaya minimum! # Berapakah total biaya minimum tersebut? 5.4. Laba maksimumnya: SELESAIKANLAH SOAL-SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.

55 . TUJUAN KHUSUS # Integral digunakan dalam mencari suatu fungsi total atau fungsi asalnya jika di ketahui fungsi turunannya. # Integral juga digunakan dalam menghitung surplus konsumen dan surplus produsen dengan cara menghitung luas dibawah kurva.TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI TUJUAN UMUM Mempelajari jenis integral baik integral tak tentu maupun integral tentu serta mempelajari kaidah-kaidah dari masing-masing jenis integral. Integral juga digunakan dalam menghitung Surplus Konsumen dan Surplus Produsen dengan cara menghitung luas di bawah kurva. Ini merupakan penerapan Integral tertentu. TEORI INTEGRAL BAGIAN 3 TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari Jenis Integral baik integral Tak Tentu maupun Integral Tertentu serta mempelajari kaidahkaidah dari masing-masing jenis integral. Ini merupakan penerapan integral tentu. Ini merupakan penerapan integral tidak tentu. Ini merupakan peenerapan Integral Tidak Tentu. Integral digunakan dalam encari suatu fungsi asalnya jika diketahui fungsi turunannya. PENDAHULUAN Pada dasarnya integral terdiri atas dua jenis yang dikenal dengan integral tak tentu dan integral tentu. Tutjuan Khusus 1. INTEGRAL TAK TENTU Integral tak tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan perincian fungsi asal atau fungsi totalnya dari fungsi turunannya yang diketahui secara umum penulisannya: F ( x) K f ( x)dx Dengan K : konstanta pengintegral yang tak tentu nilainya f (x ) : integral dx : diferensial F ( x) K : fungsi asal atau fungsi total Disebut sebagai integral tak tentu akibat hasil pengintegralannya berupa F(x)+ K dimana K adalah konstanta yang nilainnya tak tentu.

formula pangkat xndx contoh : Xn 1 n 1 K.d x K contoh : 5 x 4 dx 5 x 4 dx 5. formula perkalian K .KAIDAH-KAIDAH INTEGRAL TAK TENTU Kaidah 1. 1 dx 4 contoh : X3 1 K 3 1 4 x = K 4 formula logaritma x 3 dx Inx 3 1 dx 3 dx 3.InX x x Kaidah 3. e2x K K formulasi penjumlahan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx x2 e x dx x 2 dx g ( x)dx contoh : e x dx 1 / 3x 3 e x K Kaidah 5.1 / 5 x 5 K x5 4 Kaidah 7. formula eksponensial e x dx e x K contoh : e 2 x dx Kaidah 4. f ( x).n 1 Kaidah 2. formulasi pengurangan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx g ( x)dx contoh : x2 e x dx x 2 dx e x dx 1 / 3x 3 e x Kaidah 6. formula substitusi du f ( x)dx f (u ) dx F (u ) K dx contoh: misalkan u x 2 maka du dx dx du x 2 u Inu K In( x 2) K contoh : e 2 x 1dx misalkan : u e2x 2z 1 maka du 2. f ( x)dx K .dx dx 1 / 2 1 u dx e 1 / 2du 1 / 2 e 4 du 1 / 2u K 1 / 2e 2 x 1 K 56 .

4 2 – 6. a<c<b Contoh: 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1 – 2 2+1 2+1 2+1 2+1 = 43–23 3 3 = 56 3 Kaidah 2. formula sebagian-sebagian u.dx u.4 2 x2 dx 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1. a b f(x) dx = .2 4 x2 dx = 6.v v. 2 2 57 .e x e x K e x ( x 1) K Integral Tentu Integral tentu adalah integral dimana nilai dari variabel bebasnya memiliki batasan-batasan tertentu.ex v.du Contoh : xe x dx Misalkan u x maka du dx dv e x .dv u.dx dan maka v x x.du e x . a b k f(x) dx = k a b f(x) dx contoh: 2 4 6x2 dx = 6.dx dengan: F ( x) b a F (b) F (a) f ( x)dx : integral f (x ) terhadap x wilayah untuk rentang a hingga b F (b) F (a) b a : hasil integral fungsi f (x) antara a dan b : batas atas integrasi : batas bawah integrasi Kaidah-Kaidah Integral Tentu Kaidah 1.dv u.dx ex x.4 2+1 2+1 2+1 2+1 =23 .v x.43 3 3 = 56 3 kaidah 4. Integral tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan pencarian luas suatu daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva serta batasan-batasan nilai yang membatasi dengan tepat area yang dimaksud.2 2+1 2+1 2+1 2+1 =43–23 3 3 x2+1 4 2 = 2 2+1.e . a a f(x) dx = F(x) a a = F(a) – F(a) = 0 contoh: 2 2 x2 dx = 2 2 x2 dx = 2 3 – 2 3 = 0 3 3 kaidah 3. Secara umum penulisannya: f ( x). x3 2 4 3 = 6.b a f(x) dx contoh: 2 4 x2 dx = . a b f(x) dx = F(x) a b =F(b)-F(a) .Kaidah 8.

9 = 18 – 8 + 32 – 18 = 24 2 4 4x dx = 4 .16 – 4. 16 – 4/2 .3 2 – 4.42–4. a b [f(x) – g(x)] dx = a b f(x) dx – a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2 – 4x] dx = 2 4 6. 64 – 2.4] = 128 – 16 – 64 + 16 = 64 kaidah 7.64 – 2. x2 4 2 =4. In x + k 58 . 4 3 – 6. formula pangkat Contoh: x8 dx = x 8 + 1 8+1 = x9 9 = 1/9 x9 4 contoh: 2 x8 dx = x 8+1 2 4 8+1 =49–29 9 9 Kaidah 2. x3 2 [4 + 4x2 2]4 3 = 2.x2 dx – 2 4 4x dx = 6.64 – 2.4 + 4 .9 – 4/2 .3 2 2 2 2 2 = 4/2.4 3 – 6. 4 + 4/2 . 16 – 4/2.2 2 + 4.2 2] 3 3 = [2.4. 16 – 4 . 2 2 3 3 = 2 .x3 2 4 – 4x2 2 4 3 = [6.22 2 2 = 4 . 4 = 32 – 8 = 24 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Kaidah 1.3 3 = 2.4 2 – 4. 4 = 125 – 16 + 64 – 16 = 160 kaidah 6.4 2 – 4.2 3] – [4.x2 dx+2 4 4x dx = 6. 2 3 + 4.4 2 . formula logaritma Contoh: = 33 1 dx x = 33 .8 =8 kaidah 5. a b [f(x)+g(x)] dx = a b f(x) dx+a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2+4x] dx = 2 4 6. a b [f(x) + c d f(x) dx = a d f(x) dx contoh: 2 3 4x dx + 3 3 4x dx = 2 4 4x dx 2 3 4x dx + 3 4 4x dx = 4x2 2 3 + 4x2 3 4 2 2 = 4.48] – [4.

In x 2 4 = 33(In4 – In2) x 33 dx x x Kaidah 3. 12U . formula eksponensial Contoh: ex dx = ex + k Contoh: 2 4 ex dx = ex 2 4 = e4 – e2 = -e4 –e2 Kaidah 4. maka mencari persamaan fungsi totalnya dipergunakan hitungan Integral. Fungsi Total Utility (TU) dapat diperoleh dengan cara mengintergralkan fungsi marginal MU . formula penjumlahan Contoh: [x17 + e x+2] dx = x17 dx + e x+2 dx = 1/18 x18 2 4 + e x+2 + k contoh: 2 4[x17 + e x+2] dx = 2 4 x17 dx + 2 4 e x+2 2 4 = 1/18 x18 2 4 + ex+2 2 4 = 1/18 [4 18 – 2 18] + e4+2 – e2+2 = 1/18 [4 18 – 2 18 PENERAPAN INTEGRAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Dalam bidang ekonomi. jika yang diketahui adalah persamaan fungsi marginal. Integral tak tentu dapat dipergunakan di antaranya untuk mencari persamaan fungsi total. Fungsi Total Revenue (TR) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal MR.dQ 3.dU 1 1 1 2 4 . maka untuk mengetahui persamaan fungsi marginal digunakan perhitungan diferensial. 1 2 dU 1 2 .dQ 14 2Q 14 2.dQ utilitynya : TU Contoh Soal : Carilah Fungsi Total Revenue sebesar MR Jika berproduksi pada Q = 25 Jawab : TR MR.dQ Misalkan U = 14+2Q maka dU = 2dQ Dan dQ = ½ dU 14 2QdQ Sehingga: U . Contoh : 1. U 2 .dQ revenuenya : TR 2. Sebaliknya.4 Contoh: 2 33 dx = 33 2 4 1 dx = 33 . sedangkan Integral tertentu diantaranya digunakan untuk mencari Surplus Konsumen dan Surplus Produsen FUNGSI TOTAL Jika yang diketahui adalah persamaan fungsi total.U 1 2 1 2 1 59 . Fungsi Total Cost (TC) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal Costnya : TC MC.Q.

dihitung dengan rumus Qe 1.jika permintaan suatu barang dinyatakan dengan persamaan P= f (Qd)dan ternyata bahwa harga barang tersebutdipasar sebesar Pe. Bpk Alfreed Marshall menyebutnya surplus konsumen.dP Contoh soal: Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut : Qd = 75 – 3P 2 gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik Qd vs P ! carilah surplus konsumenya jika harga pasar Pe = 2 Jawab : Qd = 75 – 3P 2 Qe = 75 – 3.Qd) = (0.25 8 Jadi total revenue-nya pada Q = 25 diperoleh sebesar 1/32 TR 4 1 4 1 4 1 32 Surplus Konsumen Yaitu : Keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh konsumen karna konsumen tersebut dapat membeli barang dengan harga pasar yang lebih murah daripada harga yang sanggup dibayarnya.surplus konsumen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi permintaanya serta menghitung luas area di bawah kurva yang bersangkutantetapi diatas harga pasar Pe.75).Qe) = (2.(Kesanggupan bayar > harga).63) Fungsi Qd = 75 – 3P 2 merupakan kurva parabola yang terbuka di bawah dengan titik puncaknya (P.1 4 1 2 U 1 14 2Q 14 2.Pe 2.4 Qe = 75 – 12 Qe = 63 Jadi (Pe.2 2 Qe = 75 – 3. Penggambaran : P P' Surplus konsumen (SK) Pe 0 Qe Q' Q Surplus konsumen = Luas daerah yang diarsir .penggunaan grafiknya : 60 . maka bagi setiap konsumen yang pada dasarnya memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membeli barang tersebut walaupun harganya diatas Pe dinyatakan bahwa konsumen tersebut mengalami keuntungan. SK pe f ( p). SK 0 f (Q)dQ Atau p Qe.

5 75.(kesanggupan menjual < harga pasar) Jika fungsi penawaran suatu barang dinyatakan dengan persamaan P = f(Qs) dan ternyata bahwa harga barang tersebut dipasar sebesar Pe.surplus produsen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi penawaranya serta menghitung luas area diatas kurva yang bersangkutan tetapi di atas harga pasar Pe Penggambaran : P Pe E(Qe.63) SK (75 3P 2 )dP 2 5 5 2 5 5 3 2 75 dP 3 p .75 150 = 125 – 125 + 8 =8 125 8 SURPLUS PRODUSEN Yaitu : keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh produsen karena produsen tersebut dapat menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada harga yang sanggup dijualnya.dq f ( p) dP 2 5 (2. dihitung dengan rumus : 61 . maka bagi setiap produsen yang pada dasarnya ingin menawarkan barang tersebut serta memiliki kesanggupan untuk menjual barang tersebut di atas harga pasar Pe dinyatakan bahwa produsen tersebut mengalami keuntungan.2 52 22 2.Bapak Alfred Marshall menyebutnya surplus produsen.Qd 75 63 Surplus konsuemen 0 63 2 5 P SK 0 5 f (Q).dP 2 2 p 2 75.Pe) Surplus Produsen P1 0 Qe Q surplus produsen = Luas daerah yang diarsir .

Surplus produsen : Qe SP Pe. maka Untuk Pe = 40 Qe = 1/5P – 4 Qe = 1/5.Qe 0 4 f (Q)dQ (20 5Q)dQ 0 40.Qe 0 f (Q)dQ atau Pe SP P f ( p)dP Contoh soal: Diberikan fungsi penawaran sebagai berikut : P = 20 + 5Qs gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik P vs Q ! carilah surplus produsenya untuk harga pasar sebesar 40.Qe) = (40.4 4 4 160 160 20 dQ (5 Q.4) 20.Qe 1. SP Pe.4) Penggambaran grafiknya Pe = 20 – 5Qs Pe = 40 Surplus Produsen P11= 20 0 4 Qs Daerah yang diarsir menunjukkan surplus produsen yaitu keuntungan yang diperoleh akibat harga dipasar di atas (lebih tinggi)dari kesanggupan menjual. Perhitungan mencari surplus produsen sebagai berikut. Jawab: Fungsi penawaranya P = 20 +5Qs P – 20 = 5Qs 5Qs = P – 20 Qs = 1/5 P – 20/5 Qs = 1/5 P – 4 Diketahui bahwa harga keseimbangan pasar adalah 40.40 – 4 Qe = 8 – 4 Qe = 4 Jadi (Pe.dQ 0 0 (20.0) 5 2 .4 2 5 2 0 2 40 atau 62 .

dQ 2 e Q .dQ Dan dV = eQ.40 2 .dQ q 2 e Q .e Q e Q .dV U .e Q 2Q.e Q .Pe 40 SP Pu f ( P)dP 20 1 1 2 P 4 dP P 5 10 40 40 4P 20 20 1 1 .dV U .dQ Misalkan U = Q2 Sehingga dU = 2Q. carilah fungsi total revenue dari fungsi marginal revenue : MR = Q 2eQ .V Diperoleh : TR Q 2 .dQ Misalkan U = Q Sehingga dU = dQ Q Dan dV = e .e Q 2Q.2Q.dengan Q adalah julah output yang diproduksi dan di jual.2Q.e Q TR TR Q 2 ..e Q 2 Q.dQ 2.e Q e Q .e Q 2e Q Jadi fungsi Total Revenue : TR Surplus konsumen 5.e Q Q 2 .dQ eQ 2e Q Q 2 .e Q TR TR Q 2 .20 10 10 160 40 160 80 40 PENYELESAIAN SOAL – SOAL Fungsi total 4. Fungsi permintaan dan penawaran suatu barang masing – masing ditunjukan dengan fungsi sebagai berikut : Qd = 30 – 2P dan Qs = – 6 + P Hitunglah surplus konsumenya! Jawab: Mencari harga dipasar dengan cara : Qd = Qs 30 – 2P = – 6 +P 30 + 6 = P + 2P 36 = 3P maka Pe=12 dan Qe = –6 + 12 Qe = 6 Fungsi perimintaan : Qd = 30 – 2P Fungsi penawaran : Qs = – 6 + P 2p = 30 – Qd Qs + 6 = P P = 15 – ½ Qd P = Qs + 6 63 .dU Maka dengan rumus : U .20 2 4.e Q Q 2 .dQ Sehingga V = eQ V .40 4.dQ Sehingga V = eQ V . Q. Jawab: TR MR.dU Maka dengan rumus : U .e Q 2 Q.V Diperoleh : TR Q 2 .

6 72 18 36 18 maka akan diperoleh surplus produsen sebesar 18. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 40 – 10P dan Qs = 12P – 4 Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! 5. Fungsi permintaan suatu barang dinyatakan sebagai berikut: Q = 120 – 6P berapakah surplus konsumenya bila ternyata tingkat harga adalah 60? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 4.6 0 15 15 1 2 . 2. Seorang produsen mempunyai fungsi penawaran terhadap suatu barang P 1.6 72 90 9 72 9 4 atau 15 (30 2P)dP 30P 12 12 P 2 12 30. Carilah fungsi total biaya dari fungsi marginal biaya sebesar : MC ( Q .Qe 0 (15 1 / 2Q)dQ (12. berapakah surplus produsenya bila ternyata bahwa tingkat harga di pasar adalah 25? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 3.Q ) 2 jika berproduksi dari range Q = 4 hingga Q = 8.5 Qs +15.Penggambaranya : P Surplus Konsumen P = Qs + 6 atau Qs = – 6 + P P´=15 Pe=12 Surplus Produsen P11= 6 P = 15 – ½ Qd atau Qd = 30 – 2P 0 6 Qe = 6 6 30 PSurplus Konsumen : SK 0 f (Q)dQ Pe .6 0 f (Q)dQ 72 0 (Q 6)dQ 72 1 2 Q 2 6 6 6Q 0 0 72 1 2 6 2 6. dari soal no 2 hitunglah surplus produsenya! Jawab Surplus produsen 6 6 6 1.Qe 0 f (Q)dQ 12. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 30 – 2 P dan Qs = – 66 + 10 64 . SELESAIKAN SOAL – SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1. Surplus Produsen 6.6) 6 15Q 0 1 2 Q 4 6 72 15.15 30.us konsumenya sebesar 9.12 152 12 2 9 baik menghitung dengan menggunakan rumus ke-1 maupun dengan rumus ke-2 diperoleh surpl. SP pe .

Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! Linier Programming Suatu Pendekatan Grafik 13. 3 jam untuk pemolesan. kendala penyelesaian yang termudah adalah dengan pendekatan grafik. maka linier programming adalah lebih mudah. 30 jam untuk pemolesan. betapapun banyaknya. 4 per bangku.pendakatan ini diperagakan dalam empat langkah yang mudah. Nyatakan data tersebut dalam persamaan atau pertidaksamaan. Setiap meja memerlukan 2.5x1 Dari B x2 = 10 – x1 Dari C x2 = 8 – 0.1 Penyelesaian dengan Grafik Tujuan linier programming adalah untuk menetapkan alokasi sumberdaya yang langka secara optimal di antara produk atau aktivitas yang saling bersaing. selesaikan masing – masing untuk x2 dalam kaitanya dengan x1 . Jika kendala-kendalanya tersebut. Pendekatan grafik untuk maksimasi dan minimisasi diperagakan masing masing dalam contoh.5x1 + x2 ≤ 20 Kendala dari B : 3x1 + 3x2 ≤ 30 Kendala dari C : x1 + 2x2 ≤ 16 Kendala ketidaknegatifan : x1.5 jam untuk perakitan (A).jadi Dari A x2 = 20 – 2. terbatas variabel.fungsi obyektifnya. Pendekatan grafik digunakan dibawah ini untuk mencari bauran (output mix) yang akan memaksimumkan laba mingguan perusahaan tersebut. 1. Margin laba adalah Rp. dan gambarkan grafiknya. Contoh 1 Sebuah pabrik memproduksi meja (x1) dan bangku (x2). Setiap bangku memerlukan 1 jam untuk perakitan. 3 jam untuk pemolesan (B). betapapun banyaknya. Situasi perekonomian seringkali mengharuskan pengoptimuman suatu fungsi di bawah beberapa kendala pertidaksamaan. menjadi Π = 3x1 + 4x2 Di bawah kendala.fungsi yang akan dioptiumkan.x2 ≥ 0 Tiga pertidaksamaan pertama merupakan kendala – kendala teknis (echnical constrain) yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan tersedianya input. pertidaksamaan yang keempat merupakan suatu kendala ketidaknegatifan (nonnegativity constrain) yang ditentukan pada setiap soal untuk menghindarkan nilai negatif(karena itu tak dapat diterima)dari penyelesaian.5x1 (a) (b) 65 . dan 1 jam untuk pengepakan (C). Perusahaan tersebut tidak dapat menggunakan lebih dari 20 jam untuk perakitan. dan 2 jam untuk pengepakan. 3 per meja dan Rp. 2. Apabila kendala pertidaksamaan yang dilibatkan lebih dari satu. Kendala dari A : 2. dan 16 jam untuk pengepakan setiap minggu. Perlakukan ketiga kendala pertidaksamaan tersebut sebagai persamaan.

0) dalam gambar 13 – 1. Kebutuhan harianya adalah 14 untuk A. fungsi obyektif yang akan diminimumkan adalah c = 2y1 + 4y2 di bawah kendala . 4. 1. 3 x2 x1 4 4 Jadi. Grafik dari pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kanan garis. 12 untuk B.kita menemukan garis isoprofit yang menunjukan laba terbesar yang memungkinkan menyentuh daerah yang mungkin di E. 13.0).dan satu unit masing – masing B dan C. Dimana x1 4 dan x 2 6 lihat gambar 13 – 1 (b).3) upamanya. gambarkan fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isoprofit. Daerah itu memuat semua titik – titik yang memenuhi ketiga kendala ditambah kendala ketidaknegatifan. Perlakukan pertidaksamaan selesaikan masing – masing untuk y2 dalam satuan y1 dan gambarkan grafiknya.0) dan (0.(a) yang terakhir adallah perpotongan kendala – kendala ketidaknegatifan. Metode grafik digunakaqn dibawah ini untuk menentukan kombinasi biaya yang paling murah dari y1 dan y2 yang akan memenuhi semua kebutuhan minimum.yang disebut titik ..kendala ketidaknegatifan x1. seorang petani ingin mengetahui bahwa ternak gembalanya memperoleh kebutuhan harian minimum dari tiga bahan pokok makanan pokok A.2 DALIL TITIK EKSTRIM Dalil titik ekstrim menyatakan bahwa jika suatu nilai optimal yang memungkinkan (optimal feasible value) dari fungsi obyektif ada.y2 ≥ 0 dimana kendala teknisnya dibaca ≥ karena kebutuhan minimum harus dipenuhi tetapi ungkin dilampaui 2. Daerah yang digelapkan disebut daerah yang memungkinkan (feasible region). 3.dan 18 untuk C.(8. masing – masing digambarkan oleh sumbuh tegak (vertikal) dan sumbu datar (horisontal). 66 perpotongan kedua kendala tersebut.jika ada. Π = 3 (7) + 4(3) = 31 yang lebih rendah dari Π = 36 diatas.(4.3).1).8). kendala dari A : 2y1 + y2 ≥ 14 kendala dari B : y1 + y2 ≥ 12 kendala dari C : y1 + 3y2 ≥ 18 kendala ketidaknegatifan y1.(16.5).dan harga y2 adalah Rp 4.(10.(0. Dengan menggunakan prosedur yang digunakan dalam contoh 1. Dengan mensubstitusikan dalam (13.2).x2 ≥ 0. untuk memperoleh pemecahan yang optimal dalam daerah yang memungkinkan.B dan C. Di (7.x1 dan x2 disebut variabel keputusan atau struktural (decision or stuktural variables).0). laba dimaksimumkan pada ekstrim(extreme point). Semuanya disebut penyelesaian dasar (basic solution) tetapi hanya lima terakhir yang merupakan penyelasaian dasar yang mungkin (basic feasible solution) karena penyelesaian – penyelesaian tersebut tidak melanggar kendala yang manapun.garis isoprofit tersebut mempunyai kemiringan . Biasanya hanya salah satu dari penyelesaian dasar yang mungkin tersebut yang akan optimal.1 Grafik dari pertidaksamaan asal “ lebih kecil atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kiri garis.(0.gambar 13 .(7. Dengan menggambarkan suatu seri garis isoprofit (garis putus – putus) yng menunjukan laba(profit)yang semakin besar. produk y2 mempunyai satu unit masing – masing A dan B dan tiga unit C.6). Lihat gambar 13 – 2 (a).¾.harga y1 adalah Rp 2. Daerah yang digelapkan merupakan daerah yang mungkin memuat semua titik – titik yang memenuhi semua ketiga kendala kebutuhan ditambah kendala ketidaknegatifan.lihat gambar 13 – 1 (a). = 3(4) + 4(6) = 36. Produk y1 mempunyai dua unit A.(6. nilai tersebut akan ditenukan pada salah satu titik ekstrim (atau sudut) dari batas tersebut.-.10). Perhatikan bahwa terdapat sepuluh titik ekstrim : (0. Contoh 2.

variabel surplus s = 0 jika 4x1 + 7x2 = 60. Umpamanya di (2.s2 = 12 y1 + 3y2 . Untuk memperoleh penyelesaian optimal.lihat contoh 3. Suatu pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” seperti 4x 1 + 7x2 ≥ 0 sedemikian rupa sehingga 4x1 + 7x2 – s = 60.5x1 + x2 + s1 = 20 3x1 + 3x2 + s2 = 30 x1 + 2x2 + s3 = 16 dinyatakan dalam bentuk matriks. Suatu pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” seperti 5x 1 + 3x2 ≤ 30 dapat dirubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack s ≥ 0. (0.(a) gambar 13 .ini dilakukan dengan memasukan suatu variabel slack atau surplus yang terpisah (si) kedalam masing – masing pertidaksamaan (kendala ke i) dalam sistem tersebut. variabel slack s = 0. s adalah suatu nilai positif yang sama dengn selisih antara 4x 1 + 7x2 dan 60 CONTOH 3 karena kendala – kendala teknis dala contoh 1 semua melibatkan pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” variabel slack ditambah sebagai berikut : 2. gambarkan grafik fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isocost (garis putus-putus) Dari (13. s adalah suatu nilai positif yang sama dengan selisih antara 5x 1 + 3x2 dan 30.karena perlunya persamaan.2) y2 c 4 1 y1 2 Garis isocost terendah yang akan menyinggung dareah yang memungkinkan adalah garis singgung (tangen) di y1 9 dan y 2 3 dalam gambar 13 – 2 (b).s1 = 14 y1 + y2 . jika 5x1 + 3x2 < 30.3 VARIABEL SLACK DAN VARIABEL SURPLUS Soal yang melibatkan lebih dari dua variabel berada di luar lingkup pendekatan grafik dua dimensi yang disajikan dalam bab sebelumnya.10).0) tidak dalam daerah yang memungkinkan] 13. x1 2.jika 5x1 + 3x2 = 30.s3 = 18 67 .jadi c = 2(9) + 3(3) = 30 yang menunjukan suatu biaya yang lebih rendah ketimbang di titik ekstrim yang mungkin lainya.jika 4x1 + 7x2 = 60. sistem perttidaksamaan linear harus dirubah menjadi sistem persamaan linear. 2y1 + y2 .c = 2(2) + 4(10)[untuk soal meminimasi. sedemikian rupa sehingga 5x1 + 3x2 + s = 30. karena itu variabel surplus dikurangkan.2 (b) 3.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 01 x2 s1 s2 20 30 16 s3 sebaliknya dalam contoh 2 semua kendala adalah “ lebih besar atau sama dengan ”.

marjin laba untuk tipe 1 adalah 24. Jadi dengan menetapkan n – m variabel sama dengan nol menyelesaikan m persamaan untuk m variabel yang tersisa. Beberapa dasar dapat dibaca secara langsung dari matriks tanpa suatu manipulasi aljabar.jadi s1 = -14.1 jam untuk percetakan dan 5 jam untuk pemotongan.s3.s2 = -12 dan s3 = -18 merupakan penyelesaian dasar. Akan tetapi.s3.perhatikan bahwa penyelesaian dasar tersngebut bukan suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan karena melanggar kendala ketidaknegatifan. 1.Dalam bentuk matriks. y1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 1 y2 s1 s2 s3 13. dengan menggunakan rumus untuk besarnya penyelesaian dasar.dua puluh jam untuk percetakan dan 60 jam untuk pemotongan. Dalam matriks kedua.m variabel harus sama dengan nol untuk penyelesaian dasar 5 – 3 atau 2 variabel harus sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar atau titik ekstrim.akan tetapi.s2.untuk tipe 2 adalah 8.suatu titik ekstrim.jadi s1 = 20.empat puluh jam tersedia untuk peleburan. 5! 3!(2)! dimana 5! = 5(4) (3) (2) (1).Dalil dasar menyatakan bahwa untuk suatu sistem m persamaan dan n variabel.dan n.dimana n > m suatu penyelesaian dimana sedikitnya n . Jadi 5(4) (3) (2) (1) 10 3(2) (1) (2) (1) CONTOH 5.4 DALIL DASAR Untuk suatu sistem persamaan m yang konsisten dan variabel n. banyaknya titik ekstrim adalah terhingga.besarnya penyelesaian dasar dapat diberikan dengan rumus n! m!(n m)! dimana n! Dibaca n factorial lihat contoh 4 CONTOH 4 dengan mereduksi pertidaksamaan menjadi persamaan dalam contoh 3 menghasilkan tiga persamaan dan lima variabel. n!/[m!(n-m)] dan dengan mensubstitusikan parameter – parameter yang diketahui. tipe dua memerlukan 5 jam untuk peleburan.nyatakan data tersebut dalam persamaan – persamaan dan pertidaksamaan yang perlu untuk menetapkan bauran output yang akan memaksimumkan laba. karena terdapat 3 persamaan dan 5 variabel .lihat contoh 3.perhitungan untuk menentukan (1) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh suatu penyelesaian dasar dan (2) besarnya penyelesaian dasar yang ada.m variabel saa dengan nol merupakan titik ekstrim.dengan menetapkan y1 = 0 dan y2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas yang negatif untuk s1. dimana n > m akan terdapat sejumlah penyelesaian yang tak terhingga.atau penyelesaian dasar dapat diperoleh.dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas untuk s1. Maksimumkan Π = 24 g1 +8 g2 Dibawah 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala peleburan 68 .4 jam untuk percetakan dan 10 jam untuk pemotongan.diperlihatkan dibawah ini.s2. Sebuah pabrik khusus baja memproduksi dua tipe baja (g1 dan g2) tipe satu memerlukan 2 jam untuk peleburan. 14 12 18 SOAL DAN JAWABAN PERNYATAAN MATEMATIS ATAS MASALAH EKONOMI 1. Dalam atriks pertama.s2 = 30 dan s3 = 16 merupakan suatu penyelesaian dasar yang dapat dibaca secara langsung dari atriks tersebut. 2.

dan evaluasilah fungsi obyektif pada nilai – nilai ini. bagaimanakah kombinasi paling murah yang menjamin kebutuhan harian? Minimumkan Dibawah c = 3 y1 + 4 y2 2 y1 + 3 y2 ≥ 36 kendala vitamin A 2 y1 + 2 y2 ≥ 28 kendala vitamin C 8 y1 + 2 y2 ≥ 32 kendala vitamin D y1 + y2 ≥ 0 4.. kasar (x1) dan halus (x2). 3 jam untuk pengayakan dan 2 jam untuk pengeringan.dan memberikan 3 unit vitamin A. Merk 2 harganya Rp 4. 2 unit vitamin Cdan 8 unit vitamin D. Seorang yang gandrung model hidup sehat ingin memperoleh minimum 36 unit vitamin A. dengan menggunakan data dibawah. batu halus memerlukan 6 jam untuk penghancuran. 28 unit vitamin C.Dengan memakai persamaan persamaan dan pertidaksamaan. 3) Hitunglah kemiringan fungsi obyektif. Jagung (x1) memberikan 2 unit zat besi dan 5 unit vitamin.. 1) Gambarkan grafik kendala – kendala pertidaksamaan setelah menyelesaikan masing – masing untuk g2 dalam g1 2) Grafikan kembali dan hitamkan daerah yang memungkinkan(feasible region).padi – padian (x3) memberikan 2 unit zat besi dan 1 unit vitamin. 2 unit vitamin C dan 2 unit vitamin D. dan 32 unit vitamin D setiap hari.dan Rp 60.batu kerikil yang kasar memerlukan 2 jam untuk penghancuran.4 g1 + g2 ≤ 20 kendala percetakan 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala pemotongan g1 + g2 ≥ 0 2. x3 ≥ 0 GRAFIK UNTUK PENYELESAIAN 5.bagaimana makanan – makanan tersebut harus dicampur untuk memberikan pemmenuhan yang paling murah atas kebutuhan harian jika harga makanan tersebut masing – masing Rp 40.. Pak samin memastikan bahwa ayam – ayamnya mendapatkan paling sedikit 24 unit zat besi dan 8 unit vitamin setiap hari. Maksimumkan Dibawah Π = 24 g1 + 8 g2 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala 1 4 g1 + g2 ≤ 20 kendala 2 69 .dan memberikan 2 unit vitamin A. Maksimumkan Dibawah Π = 40 x1 + 50 x2 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala penghancuran 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala pengayakan 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala pengeringan x1 + x2 ≥ 0 3.. Merk 1 harganya Rp 3.Rp 20. Dari soal 1.dan tariklah suatu garis putus – putus. x2. Marjin laba untuk batu kasar adlah 40. Tepung tulang (x2) memberikan 4 unit zat besi dan 1 unit vitamin. 30 jam untuk pengayakan dan 40 jam untuk pengeringan. Tentukan bauran output yang memaksimumkan laba dengan menyederhanakan data ini menjadi persamaan – persamaan dan pertidaksamaan. 5 jam untuk pengayakan dan 8 jam untuk pengeringan. 4) Bacalah setiap nilai kritis untuk g1dan g2 pada titik singgung.taruhlah penggaris diatas kemiringan ini gerakkan penggaris tersebut ke titik singgung dengan fungsi obyektif. untuk batu halus adalah 50. Di perusahaan tersebut tersedia waktu 36 jam untuk penghancuran. Sebuah perusahaan gilingan batu untuk pekarangan rumah memproduksi dua macam batu.Minimumkan c = 40 x1 + 20 x2 + 60 x3 Dibawah 2 x1 + 4 x2 + 2 x3 ≥ 24 kendala vitamin zat besi 5 x1 + x2 + x3 ≥ 24 kendala vitamin x1.

3 (b). kerjakan kembali seperti soal 5. g2 = 8. x1 =3 dan x2 = 5. jadi Π = 40(3) + 50 (5) = 370 (a) gambar 13.4 (b). dengan menggunakan data berikut.g2=Π/8– 3 g1.4 (b) PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 7. apabila g1 = 0. di titik singgung. kemiringan = .3 (a).jadi Π= 24(4) + 8(4) = 128 (a) gambar 13. g1 = 4 dan g2 = 4.4 (b) untuk daerah yang memungkinkan. gambar 13. yang diperoleh dalam soal 2 Maksimumkan Π = 40 x1 + 50 x2 Dibawah 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala 1 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala 2 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala 3 x1 + x2 ≥ 0 lihat gambar 13.apabila g2 = 0. kemiringan = -3. x2 = Π /50 – 4/5 x1.4/5.gkin dignh 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala 3 g1 + g2 ≥ 0 kendala – kendala pertidaksamaan tersebut harus digrafikan seperti terlihat dalam gambar 13.untuk kendala 1.g1 = 20.4 (a) untuk kendala yang digrafikan. dalam gambar 13. perhatikan bahwa kendala ketidaknegatifan hanya membatasi analisis pada kuadran pertama. Daerah yang mungkin digrafikan dalam gambar 13. Dari fungsi obyektif. dari g2 = 8 – 2/5 g1. Dari fungsi obyektif. x2 ≥ 0 70 . Kerjakan kembali seperti soal diatas apabila diketahui data berikut : Minimumkan c = 4 x1 + 2 x2 Dibawah 4 x1 + x2 ≥ 20 kendala 1 2 x1 + x2 ≥ 14 kendala 2 x1 + 6 x2 ≥ 18 kendala 3 x1.3 (b) 6.

2) akan meminimumkan fungsi obyektif dibawah kendala tersebut. maka tidak terdapat penyelesaian tunggal optimal yang memungkinkan. Dala kasus ini.s3 = 32 71 .s1 = 36 2 x1 + 2 x2 .8) dan (6.8) dan (6. y2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih kecil atau sama dengan”.2) juga termasuk dalam penyelesaian optimal.5 dengan garis isocost menyinggung kendalan kedua. fungsi obyektif dan kendala 2 adalah secara linear tergantung (tak bebas) karena yang satu dapat dinyatakansebagai penggandaan dari yang lain.5 Dalamgambar 13.penyelesaian optimal berganda (multiple optial solution) akan terjadi bilamana terdapat ketergantungan linear antara fungsi obyektif dan salah satu kendala. yaitu c = 4(3) = 38 atau c = 4(6) + 2(2) = 28 VARIABEL SLACK DAN SURPLUS 8. Setiap titik antara garis (3. Tambahkan variabel slack. (a) ubahlah kendala – kendala pertidaksamaan dalam data berikut menjadi persamaan dengan menambahkan variabel slack atau mengurangkan variabel surplus dan (b) nyatakan persamaan tersebut dalam bentuk matriks. Perhatikan bahwa penyelesaian optimal berganda tidak menyangkal dalil titik ekstrim.s2 = 28 8 x1 + 2 x2 .karena titik – titik ekstrim (3. 2 x1 + 3 x2 .(a) (b) gambar 13.jadi. x2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih besar atau sama dengan”. 2 y1 + 5 y2 + s1 = 40 4 y1 + y2 + s2 = 20 10 y1 + 5 y2 + s3 = 60 y1 (b) 2 5 1 4 1 0 10 5 0 0 0 1 0 0 1 y2 s1 s2 s3 40 20 60 9. kurangkan variabel surplus.jadi. Maksimumkan Π = 24 y1 + 8 y2 Dibawah 2 y1 + 5 y2 ≤ 40 4 y1 + y2 ≤ 20 10 y1 + 5 y2 ≤ 60 y1 . Kerjakan seperti soal di atas untuk yang berikut : Minimumkan c = 60 x1 + 80 x2 Dibawah 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 x1.

karena keduanya negatif penyelesaian – penyelesaian ini tidak dapat menjadi suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan LIN EAR PROGRAMMING ALGORITMA SIMPLEKS : 14. ALGORITMA SIMPLEKS : MAKSIMASI Algoritma adalah suatu kaidah aatau suatu prosedur sistematis untuk mendapatkan penyelesaian suatu soal. 6x1 + 2x2 ≤ 36 2x1 + 4x2 ≤ 28 72 . Algoritma bergerak dari satu penyelesaian dasar yang mungkin ke penyelesaian dasar yang lain. Atau lebih sederhana variabel – variabel dasar. (a) Reduksikan kendala – kendala pertidaksamaan dari data berikut ini menjadi persamaan dan nyatakan dalam bentuk matriks. Minimumkan c = 54 g1 + 48 g2 + 50g3 Di bawah 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 g1.variabel – variabel yang disamakan dengan nol pada langkah tertentu disebut tidak dalam basis atau tidak dalam penyelesaian. sampai penyelesaian optimal dicapai. Algoritma simpleks adalah suatu metode(atau prosedur perhitungan) untuk menentukan penyelesaian dasar yang memungkan atas asuatu sistem persamaan dan pengujian keoptimalan penyelesaian tersebut. Banyaknya penyelesaian adalah n! m!(n m) (d) 5! 2!(3!) 5(4)(3)(2)(1) 2(1)(3)(2)(1) 10 Dengan menetapkan g1 = g2 =g3 = 0. dan penyelesaian diperoleh dengan menyelesaikan m persamaan untuk m variabel sisanya. apabila ditentukan Π = 5x1 + 3x2 Di bawah kendala.x1 (b) 2 3 -1 0 0 2 2 0 -1 0 8 2 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 36 28 32 10. variabel – variabel yang tidak ditetapkan saa dengan nol disebut dalam basis atau dalam penyelesaian. Metode simpleks diilustrasikan dalam contoh 1 untuk maksimisasi dan dalam contoh 3 untuk miniisasi. (d) tentukanlah penyelesaian dasar pertama dari matriks tersebut.g3 ≥ 0 g1 (a) 6 4 5 -1 0 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 6 5 0 -1 g2 g3 s1 s2 30 20 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 (b) (c) karena terdapat dua persamaan dan 5 variabel.g2. Algoritma simpleks digunakan sebagai berikut untuk memeksimumkan laba. n – m variabel ditetapkan saa dengan nol dala setiap langkah dari prosedur tersebut. penyelesaian dasar pertamanya adalah s1 30 dan s2 20 . Contoh . Tentukan (b) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh penyelesaian dasar dan (c) banyaknya penyelesaian dasar yang ada. maka sebanyak n – m = 5 – 2 = 3 variabel harus ditetapkan sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar. karna paling sedikit n – m variabel harus sama dengan noluntuk suatu penyelesaian dasar.1. sembari selalu menyempurnakan penyelesaian sebelumnya.

Rasio pemindahan diperoleh dengan membagi elemen kolom konstan dengan elemen kolom pivot. Elemen pivotnya adalah  elemen pada perpotongan kolom variabel 73 . x1 6 2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 -1 x2 s1 s2 36 40 28 s3 iii) Susunlah suatu tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien dari persamaan kendala dan vektor kolom dari konstanta letakan diatas satu baris dari indiktor yang merupakan negatif – negatif dari koefisien fungsi obyektif dan sebuah koefisien nol untuk masing – masing variabel slack. s3 = 28 pada penyelesaian mendasar pertama yang mung kin tersebut. Elemen Pivot dan Perubahan Dasar (basis) Untuk menaikan nilai fungsi obyektif. ii) Variabel yang dieliminasi ditentukan oleh rasio pemindahan (displacement ratio).5x1 + 5x2 ≤ 40 1. suatu penyelesaian mendasar yang baru diperiksa. fungsi obyektif mempunyai nilai nol. baris1 merupakan baris pivot. Karena 36 memberikan rasio terkecil 36 40 28 . Baris dengan ratio pemindahan terkecil (yaitu baris pivot) dengan mengabaikan rasio – rasio lebih kecil atau sama dengan nol. seperti dalam contoh 5 bab 3. 2. Untuk bergerak kesuatu penyelesaian mendasar baruyang mungkin. Elemen kolom konstanta dari baris terakhir adalah juga nol. x1 di asukan ke dalam basis x1enjadi kolom pivot dan ditandai dengan anak panah.x2 ≥ 0 i) Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan menambahkan variabel – variabel slack 6x1 + 2x2 + s1 = 36 5x1 + 5x2 + s2 = 40 2x1 + 4x2 + s3 = 28 ii) Nyatakan persamaan – persamaan kendala dalam bentuk matriks. maka s1 akan meninggalkan basis.akan menentukan variabel yang meninggalkan baris. suatu variabel diasukan kedalam basis dan salah satu variabel sebelumnya berada dalam basis harus dikeluarkan. Tabel Sipleks Awal x1.s1 = 36.sesuai deng n nilai fungsi obyektif di titik asal (kalau x 1 = x2 = 0) Tabel simpleks awal : x1 x2 s1 s2 s3  2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 indikator konstanta 36 40 28 0 iv) Penyelesaian mendasar pertama yang mungkin dapat dibaca dari tabel s impleks awal. Dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0. s2 = 40. Karna -5 dalam kolom pertama (atau x1)merupakan indikator negatif dengan nilai absolut terbesar. Karena vektor 6 6 5 2 satuan (unit vektor) dengan 1 dalm baris pertamanya berada dibawah kolo s 1. Proses pemilihan variabel yang dimasukan dan variabel yang dikeluarkan tersebut dinamakan perubahan basis (change of basis) i) Indikator negatif dengan nilai absolut terbesar akan menentukan variabel yang asuk ke dala basis.

2 kali baris1 dari baris3 dan tambahkan 5 kali baris1 ke baris4. 3 i. Dalam hal ini. Karena hanya satu variabel baru yang memasukibasis pada setiap langkah proses. pivoting hanya meliputi pengubahan elemen pivot menjadi 1 dan semua eleen lainya dalam kolom pivot menjadi nol. Maka x2 3 dimasukan kedalam basis. kolom2 menjadi kolom pivotnya. Kalikan baris2 dengan 10 x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 3 16 30 74 1 6 1 4 1 3 5 6 0 3 10 0 0 1 10 3 4 3 0 1 0 0 . eleen terakhir dala baris terakhir (dalam hal ini. seperti dala metode eliminasi Gauss ( lihat butir 10. Dengan membagi kolom konstanta dengan kolom pivot memperlihatkan bahwa rasio terkecil adalah dalam baris kedua. ini memberikan tabel kedua x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 10 16 0 30 1 6 5 6 1 3 5 6 0 1 0 0 10 3 10 3 4 3 0 1 0 Penyelesaian mendasar kedua yang mungkin dapat dilihat secara langsung dari tabel kedua. Karena vector satuan dengan 1 dalam baris keduanya adalah dibawah s2 . Karena 4 dalam kolom kedua merupakan satu – satunya indikator negative. sekarang tinggal suatu atriks identitas yang memberikan x1 = 6. rampungkan kolom pivotnya. 6 Tabel kedua: x1 x2 s1 s2 s3 1 1 3 konstanta 6 40 28 0 1 6 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 ii) Setelah mereduksi elemen pivot menjadi 1.12). kurangkan 5 kali baris1 dari baris2. Dengan mengubah basis dan melakukan pivoting kontinu menurut kaidah di atas sampai hal ini di capai.yang masuk ke basis dan baris yang berhubungan dengan variabel yang meninggalkan basis(yaitu elemen pada perpotongan baris pivot dan kolo pivot) 3. maka s2 akan meninggalkan basis untuk mempivot. Di sini. Optimisasi Fungsi obyektif di maksimumkan kalau tidak terdapat indikator negative dalam baris terakhir.dan langkah sebelumnya selalu melibatkan suatu matriks identitas.dan s3 = 16. 30) merupakan nilai fungsi obyektif pada penyelesaian mendasar kedua yang mungkin. Pivoting Pivoting adalh proses penyelesaian m persamaan dalam bentuk m varibel yang sekarang berada dala basis. 4. kalikan baris1 dengan 1 .swebagai berikut : i) Kalikan baris pivot dengan kebalikan (reciprocal) dari eleen pivot. Dengan menetapkan x2 = 0 dan s1 = 0 . s2 = 0. Jadi 10 3 menjadi elemen pivot yang baru.

erarti tidak sepenuhnya dimanfaatkan penyelesaian optimal dan nilai marginalnya adalah nol (yaitu penambahan satu lagi unit lain.1) tidak terdapat variabel slack dalam dua kendala yang pertama dan dua input yang pertama semuanya habis.2.ii. 3 kali baris2 ke baris4. NILAI MARGINAL ATAU HARGA BAYANGAN. Jadi.11. 6 unit dari input yang ketiga tetap tidak terpadu.2. fungsi obyektif tersebut mencapai suatu maksimum pada 34 . 14. Π = MPA (A) + MPB (B) + MPC (C) = 1 2 (36) + 2 5 (40) + 0 (28) = 34 14. dan sebesar 5 atau 40 sen untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 2.tidak akan menambah sesuatupun pada fungsi laba). Umpamakan A. oleh karena itu.lihat contoh 3.3. laba akan naik sebesar ½ unit atau 2 50 sen untuk perubahan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 1. nilai negative yang dihasilkan oleh variabel surplus menghadirkan suatu soal istimewa.C melambangkan berbagai konstanta dalam kendala 1. yaitu berapa banyak fungsi obyektif akan berubah sebagai akibat dari kenaikan satu unit dalam input tersebut. Akan tetapi. dengan s 3 6 . menghasilkan table ketiga Tabel ketiga x1 x2 1 0 0 0 0 1 0 0 s1 1 4 1 4 10 3 kali baris2 dari baris3. alam contoh 1. Kemudian kurangkan 1 kali baris2 dari baris1. Nilai optimal dari fungsi dari fungsi obyektif akan selalu sama dengan penjumlahan dari nilai marginal setiap input dikalikan kuantitas yang tersedia dari masing – masing input. para mahasiswa mungkin lebih baik membaca bab 15 terlebih dahulu. Dengan s1 0 dan s 2 0 . seringkali akan lebih mudah untuk menyelesaikan soal – soal minimasi dengan memakai dua. dari (14. Untuk gabar grafik lihat contoh 13. x 2 3 . jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala dalam (14.B.1) dan (2) mengevaluasi jimlah nilai marginal dari sumberdaya (resources). Π = 5x1 + 3x2 5x1 + 5x2 + s2 = 40 = 5(5) + 3(3) = 34 5(5) + 5(3) + 0 = 40 6x1 + 2x2 + s1 = 36 2x1 + 4x2 + s3 = 28 6(5) + 2(3) + 0= 36 2(5) + 4(3) + 6 = 28 2. s 2 0 . Elemen terakhir dalam baris terakhir menunjukan bahwa x1 5 . karena kendala 3 mempunyai variabel slack positif. ALGORITMA SIMPLEKS : MINIMISASI Apabila algoritma simpleks digunakan untuk mencari suatu nilai minimal. Karena tidak terdapat indicator negative yang tertinggal dalam baris terakhir. ini merupakan penyelesaian optimal. s1 0 . 75 . CONTOH 2. dan sebesar 0 untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 3. s 3 6 . Nilai indicator dibawah setiap variabel slack dalam tabel terakhir menyatakan nilai marginal (marginal value) atau harga bayangan (Shadow price) dari input yang berhubungan dengan variabel tersebut. Semua sarat harus dienuhi untuk suatu optimum.dan tambahkan 4 3 s2 1 10 3 10 s3 0 0 1 0 konstanta 5 3 6 34 1 2 1 2 -1 2 5 Penyelesaian mendasar ketiga yang memungkinkan dapat dibaca secara langsung dari tabel tersebut.3. yang di bahas dalam bab 15. 1.

Variabel buatan (Ai ≥ 0)adalah suatu variabel kosong (dummy variable) yang ditambahkan dengan maksud khusus untuk menghasilkan suatu penyelesaian dasar awal yang mungkin. penyelesaian dasar tidak mungkin karena s 1 = -14. ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus 2 x1+ x2 – s1 = 14 x1+ x2 – s2 = 12 x1+ 3 x2 – s2 = 18 ii. Nyatakan persamaan kendala dalam bentuk matriks. Fungsi obyektif mempunyai koefisien – koefisiennol untuk variabel surplus dan koefisien – koefisien M variabel – variabel buatan.2) diatas baris indicator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif. Data tersebut berasal dari contoh 2 dalam bab13.CONTOH 3. i. Sutu variabel yang terpisah ditambahkan untuk masing – masing pertidaksamaan asal yang bersifat “lebih besar atau sama dengan”. x1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 Dari matriks tersebut jelas bahwa jika x1 = 0 dan x2 = 0. dimana M adalah suatu bilangan besar yang tidak mungkin (impossibly large number) untuk meyakinkan bahwa A akan dikeluarkan dari penyelesaian optimal. Buatlah tabel simpleks awal dengan meletakan matriks koefisien dan vector kolom dari konstanta dalam (14. Jadi. Variabel tersebut tidak mempunyai makna ekonomi. dimana c = 2 x1+ 2 x2 . harus di msukan variabel – varaibel buatan (artificial variables). iii. dengan y sekarang dig anti x. tabel simpleks awal (sedikit dimodifikasi) i. dibawah kendala – kendala gizi. Tabel Simpleks Awal yang Disesuaikan untuk Meminimisasi. x1 14 12 18 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 14 12 18 2. Untuk mengatasi masalah tersebut. x2 ≥ 0 1. seperti dalam simpleks awal untuk maksimisasi. s2 = -12. s3 = -18 dan nilai negatif adalah tidak mungkin (nonfeasible). 2 x1+ x2 ≥ 14 x1+ x2 ≥ 12 x1+ 3 x2 ≥ 18 x1 . algoritma simpleks digunakan di bawah ini untuk meminimumkan biaya. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 -2 -4 0 0 0 -M -M indikator 0 0 1 -M 14 12 18 76 . Tambahkan variabel – variabel buatan.

dan (5M-4) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 5 3 2 3 1 3 0 0 1 3 -1 0 0 0 -1 0 1 3 1 3 1 0 0 0 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 8 6 6 14M + 24 -1 3 2M . penyelesaian mendasar pertama yang memungkinkan adalah A1 = 14. bukan indicator . Elemen Fivot i. A2 = 12. Pivoting i. Karena elemen terakhir dari baris paling bawah . Pengulangan (Reiterasi) 77 .4 3 7M .2 0 -M -M 0 -5M 4 3 5. carilah perubahan basis. ii. A3 3 akan meninggalkan basis karena vector satuan dengan 1 dalam baris ketiga adalah berhubungan dengan A3. elemen pivot pada perpotongan kolom pivot dan baris pivot adalah 3. Kemudian pindahkan M dari kolom variabel buatan dengan menambahkan M kali ( baris1 + baris2 + baris3). 44M . indicator positif terbesar akan menentukan kolom pivot dan variabel yang memasuki basis.ini akan menghasilkan tabel awal. maka baris3 menjadi baris pivot. Rampungkan kolom pivot dengan engurangkan baris3 dari baris1 dan baris2. Kurangi elemen pivot menjadi 1 dengan mengalikan baris 3 oleh 2 1 1 3 1 3 1 1 1 -1 0 0 0 0 -1 0 0 -1 3 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 3 14 12 6 44M 4M-2 5M-4 -M -M -M 0 0 ii. Tabel awal x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 1 1 0 1  0 4M-2 5M-4 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 14 12 18 44M Penyelesaian mendasar pertama yang unkindapat dilihat secara langsung dari tabel awal tersebut. persis untuk soal maksimisasi. Untuk menurunkan biaya. suatu bilangan besar yang tidak mungkin. 5M – 4 merupakan indicator positif terbesar. Baris pivot dan variabel yang meninggalkan basis ditentukan oleh rasio terkecil yang dihasilkan dari pembagian elemen – elemen kolom pivot. Dengan mengandaikan x1 = x2 = s1 = s2 = s3 = 0. A3 = 18. sebagaimana ditandai dengan anak panah. karena 18 6 merupakan rasio terkecil yang dihasilkan. 4. 3. Jadi x 2 menjadi kolom pivot.ii. Untuk menimasi. dan fungsi obyektifnya adalah 44M.

Tambahkan 5 baris2 ke baris1. dan (7M s2 0 -1 0 -M s3 1 5 1 5 2 5 A1 3 5 2 5 A2 0 1 0 2 A3 -1 5 -1 5 2 5 konstanta 24 5 14 5 -1 5 .`12 2 5 konstanta 9 7 3 30 78 0 -1 0 0 -1 -M+1 -M+1 . Pivot Keempat i. Rampungkan kolom1 dengan mengurangkan 2 baris1 dari baris2. 6.2 5 M-6 5 0 -6M 6 5 .elemen pivotnya adalah 5 . dan kurangkan 1 baris2 dari baris3 dan [2M – 2)/5] baris2 dari 5 baris4. menghasilkan tabel ketiga. 3 i.`12 . 3 – 2)/3] baris1 dari baris4.4 3 7M . baris pivot yang baru adalah baris1.2 5 M-6 5 .2 -M -M 0 -5M 4 3 ii. Kalikan baris1 dengan 1 2 3 1 3 3 5 .Selama masih ada suatu indikator positif. Kolo pivot yang baru menjadi kolom1.7M 5 2 14 5 0 -M 0 0 22 5 2M .7M 5 22 5 14M 136 5 2M . x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 3 -5 2 5 1 5 1 3 baris1 dari baris3. Tabel keempat x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 0 1 1 5 s2 -3 2 5 2 s3 1 2 1 2 2 5 A1 0 -1 -1 5 -M A2 3 2 5 2 A3 . jadi x1 masuk ke basis dan A1 meninggalkan basis. 3 -5 0 0 1 0 3 0 -1 0 1 5 1 3 3 5 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 24 5 0 0 0 0 0 6 6 14M + 24 -1 3 2M . proses tersebut berjalan terus.`12 2 5 24 5 1 1 5 -1 -1 5 . Kalikan baris2 dengan 5 2 1 0 0 0 0 0 1 0 3 -5 0 5 2 1 5 1 2 2 5 3 5 0 5 2 -1 5 .6M 6 5 14M 136 5 3 ii.

lihat contoh 4 dan 5 dalam bab 15. x 2 3 . Dengan indicator untuk s1 sama dengan nol. elemen – elemen koefisien dari dari variabel surplus(s1. Akan tetapi. 5.B.3. dan s 3 0 . Dengan s1 7 kebutuhan pertama dipenuhi secara berlebih sebesar 7 unit.dengan memishkan matriks identitas. c = 2x1 + 4x2 x1 + x2 – s2 = 12 = 2(9) + 4(3) = 30 9 + 3 – 0 =12 2x1 + x2 – s1 = 14 x1 + 3x2 – s3 = 18 2(9) + 3 – 7 = 14 9 + 3(3) – 0 = 18 2. dan (2) mengevaluasi jumlah biaya marginal sumberdaya.2. suatu variabel buatan tidak akan pernah tampak dalam basis tabel terakhir jika suatu penyelesaian dasar optimal yang mungkin telah dicapai.Dengan semua indikator negatif. A3). s1 7 . pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi pertama tidak akan mengurangi biaya. suatu penyelesaian optimal yang mungkin telah dicapai. karena nilai absolut indikator untuk s2 dan s3 adalah 1.konstan dalam kendala 1. Dengan s 2 s 3 0 . penyelesaian dasar optimal yang memungkinkan tersebut dapat dibaca secara langsung dari tabel keempat x1 9 . dimana c 30 Beberapa hal penting untuk diperhatikan : 1. sebagaimana halnya nilai marginal. 1. tidak terdapat surplus. kebutuhan kedua dn ketiga dipenuhi secara tepat . dan memperhatikan bahwa vector satuan untuk x 2 dan s1 berbalikan. indikator darivariabel – variabel buatan semuanya negatif dalam tabel terakhir. nilai fungsi obyektif ditunjkan oleh elemen terakhir dari baris terakhir. A2.s2. pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi kedua dan ketiga akan mengurangi biaya sebesar Rp 1.-. Untuk penyelesaian dual soal pada soal yang sama. biaya total akan sama dengan jumlah dari berbagai kebutuhan dikalikan harga bayangan masing – masing.s3) selalu sama dengan negatif dari elemen – elemen koefisien untuk variabel – variabel buatanya yang berkaitan (A1. 2. Jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala.misalkan A. c = MCA(A) + MCB(B) + MCC(C) = 0(14) + 1(12) + 1(18) = 30 79 . 3. s 2 0 .C melambangkan konstan . 4. CONTOH 4. Ini harus selalu cocok untuk suatu penyelesaian optimal. Ini harus cocok dalam setiap yang berurutan dapat membantu dalam menemukan kesalahnmatematis. Nilai absolut dari indicator untuk variabel – variabel surplus memberikan nilai marginal atau harga bayangan dari kendala.

5y1 + y2 ≤ 20 3y1 + 3y2 ≤ 30 y1 + 2y2 ≤ 16 y1. 1 1 0 0 3 0 1 0 1 0 0 1 2 -4 0 0 0 20 30 8 0 Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan baris3 dari baris1 . Tentukan harga bayangan dari input (atau kebutuhan) untuk kendalanya.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 0 1 iii. y2 s1 s2 20 30 16 s3 Bentuklah tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien persamaan kendala dan vector kolom konstan yang diletakan diatas baris indikator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif dengan koefisien nol untuk variabel awal : Tabel awal : y1 5 2 y2 s1 s2 s3 1 3  -4  1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 konstanta 20 30 16 0 3 1 -3 Dengan menetapkan y1 = y2 = 0.5y1 + y2 + s1= 20 3y1 + 3y2 + s2 = 30 y1 + 2y2 + s3= 16 ii. pada penyelesaian mendasar pertama yang mungkin tersebut. Π = 0. 2. Rasio pemindahan terkecil yang diperoleh dari pembagian elemen kolom konstanta dengan elemen kolom pivot menentukan baris pivot. Maksimumkan Π = 3y1 + 4y2 Yang terikat pada 2. Jadi. Ubahlah elemen pivot menjdin1 dengan mengalikan baris3 dengan ½ . dan s3 = 16.SOAL DAN JAWABAN MAKSIMISASI 1. 5 2 3 1 2 -3 ii. Tambahkan variabel slack pada kendala untuk membuatnya jada persamaan . Indikator negatif dengan nilai absolute terbesar (anak panah) menentukan kolom pivot. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan berikut. i. penyelesaian mendasar pertama yang mungkin adalah s1 = 20. 3 kali baris3 dari baris2 . 3. Merubah basis. Pivot. elemen pada perpotongan baris pivot dan kolom pivot.  menjadi elemen pivot. 2. Buatkan tabel simpleks awal i. Nyatakan persamaan – persamaan tersebut dalam nentuk matriks y1 2. s2 = 30.y2 ≥ 0 1. dan tambahkan 4 kali baris3 ke baris4 80 .

lihat contoh 1 dalam bab 13 dimana x digunakan sebagai pengganti y. Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan 2 kali baris 2 dari baris1 . Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus. s 2 0 . ½ kali baris2 dari baris3. baris2 baris pivot. dan tambahkan barsi2 ke baris4. Tentukan harga bayangan dari masing – masing persyaratan kendalanya. Kolom 1 adalah kolom pivot. 2 i. Harga bayangan dari input berturut – turut adalah 0. 3 MINIMISASI 2. s1 4 .s3= 32 81 . Miniumkan Yang terikat pada c = 60 x1 + 80 x2 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 x1. tbel fina dapat diperoleh. s 3 0 . Ubahlah basis pada pivotnya sekali lagi. dan Π = 36. 2 dan 1.s1= 36 2 x1 + 2 x2 . Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan yang diberikan di bawah ini.Tabel kedua : y1 2 3 2 1 2 y2 s1 s2 s3 0 0 1 0 0 1 -1 2 -3 2 1 2 konstanta 12 6 1 0 0 8 -1 0 0 0 2 32  4. Dengan mengoreksi fakta bahwa vektor – vektor satuan dari matriks identitas tidak beraturan (out of order).s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . y 2 6 . dan 3 adalah elemen pivot. 2 x1 + 3 x2 . y 1 4 . dan nyatakan dalam bentuk matriks.x2 ≥ 0 1. Tabel final : y1 0 1 0 0 y2 s1 0 0 1 0 s2 s3 3 2 konstanta 4 4 6 36 1 -4 3 0 2 3 -1 1 2 0 -1 3 0 2 3 1 Karena tidak terdapat indikator negatif yang tertinggal. Kalikan baris2 dengan 2 1 1 2 3 2 0 0 1 0 0 2 3 -1 2 -1 1 2 12 4 8 32 -1 1 0 0 0 0 0 2 ii.

Buatlah tabel awal dengan melengtakan matriks koefisien dan vektor kolom dari konstanta di atas negatif darikoefisien – koefisien fungsi obyektif yang mempunyai koefisien nol untuk variabel – variabel surplus. Tabel awal x1 x2 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 2 3 2 2  2 12M-60 7M-80 3. Pilihlah elemen pivotnya dan pivotkan. 8 i. Karena 12M -60 merupakan indikator positif terbesar dan 32 adalah rasio pemindahan terkecil. tambahkan variabel – variabel buatan x1 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 2. Kalikan baris3 dengan 2 2 1 3 2 1 4 1 8 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 8 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 8 36 28 4 96M 12M-60 7M-80 0 82 . x1 2 2 8 -60 x2 3 2 2 -80 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 14 12 18 Rampungkan kolom – kolom variabel buatan M dengan menambahkan M dikalikan (baris1 + baris2 + baris3) ke baris4 untuk mendapatkan tabel awal.x1 2 2 8 3 2 2 -1 0 0 0 -1 0 0 0 -1 x2 s1 s2 20 30 16 s3 Karena penyelesaian dasar pertamanya tidak akan mungkin. dan koefisien yang secara semu (M) untuk variabel – variabel buatan. 8 adalah elemen pivotnya.

10 1 .20 -1 1 .ii. Kalikan baris2 dengan 5 3 0 1 10 2 3 0 0 1 0 1 0 0 0 2 -5 0 5 3 1 . dan (12M-60) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 0 0 1 0 5 2 3 2 1 4 -1 0 0 0 -1 0 M 1 4 1 4 1 8 1 0 0 15 0 1 0 0 0 0 1 3M 2 15 28 20 4 48M + 240 4M-65 -M -M 0 2 4.20 3 20 4 1 3M 5 26 -M  M 1 8M 26 0 5 10 11M 10 48M + 240 5. Kalikan baris1 dengan 2 5 0 -1 0 1 10 1 4 1 8 M 15 2 2 3 0 0 1 0 1 3 2 1 4 -2 3 0 0 0 0 1 0 0 1 . s1 s2 0 -1 0 s3 1 10 1 10 1 4 baris1 dari baris3. 2 kali baris3 dari baris2.10 56 5 -1 4 1 8 3M 15 2 20 4 48M+ 240 - 0 0 4M–65 -M -M =+ + + ii. dan (4M – 65) baris1 dari baris4 A1 2 3 A2 0 1 0 A3 1 . Dengan engingat bahwa eleen negatif tidak dapat digunakan 3 dalam penyebut dari rasio pemindahan.10 56 5 konstanta 2 -5 3 5 1 10 3 -5 1 . 5 merupakan eleen pivot yang baru. 2 5 kali baris2 dari baris3 dan 83 . Pivotkan untuk ketiga kali.10 56 5 16 3 6 3 1 1 10 -5 3 0 26 -M M 10 1 6 3 .10 16 5 3 . Pivotkan lagi i.26]kali baris2 dari baris4 iii. Kurangkan x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 3 2 baris1 dari baris2. i.10 -1 6 3 20 0 26 0 3M 5 1 8M 5 11M 10 1 16M 5 968 =+ + 1 ii. Kurangkan 2 kali baris3 dari baris1. Tambahkan 10 kali baris2 ke baris1 dan kurangkan + [(3M/5).

Pivotkan keempat kali i. dan kurangkan kali baris2 dsari baris4 Tabel final : x1 x2 s1 s2 s3 0 0 1 0 1 0 0 0 -1 1 6 -10 1 -3 2 -20 -10 A1 A2 A3 -0 -1 0 -M konstanta 8 32 6 1000 0 1 -1 1 -6 10 3 0 -1 2 0 -M+20 -M +10 Dengan memperhatikan urutan dari vektor – vektor unit. dan c 1000 . tambahkan kali baris2 ke baris3. Kalikan baris2 dengan 6. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesikan persamaan dan pertidaksamaan – pertidaksamaan berikut Minimukan c = 4x1 + 2x2 Yang terikat pada 4x1 + x2 ≥ 20 x1 + 6x2 ≥ 18 2x1 + x2 ≥ 14 x1. Kurangkan 10 3 kali baris2 dari baris1. 1 6 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 0 0 1 6 -2 3 10 1 6 0 -6 0 -M 2 3 -1 6 -1 1 6 40 3 1 1 6 10 -1 6 32 2 3 130 3 10 3 M 130 3 M 1 6 10 3 3320 3 ii.Tabel keempat : x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 s1 0 1 0 0 s2 -2 3 5 3 s3 1 6 1 6 A1 0 -1 0 -M A2 2 3 A3 -1 6 -1 6 1 6 konstanta 40 3 16 3 2 3 5 3 1 6 -1 6 -1 6 M 130 3 130 3 10 3  M 10 3 3320 3 6. x1 x2 s1 -1 0 0 -M s2 0 -1 0 -M s3 0 0 -1 -M A1 1 0 0 0 A2 0 1 0 0 A3 0 0 1 0 konstanta 20 14 18 52M 4 1 2 1 1  7M-4 8M-2 84 .x2 ≥ 0 1. x1 6 . x2 8 .10. Harga bayangan dari persyaratan yang erupakan kendala masing – masing adalah 20. dan 0. s1 s2 0. Buatlah tabel awal Tabel awal . dan s 3 32 . PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 3.

Kalikan baris1 dengan 23 . Kemudian tambahkan 6 23 kali baris2 ke kali baris2 dari baris3. Pivot sekali lagi. Pivot ketiga kali.11 23 1 . yang tidak terdapat basis terakhir. Dan c 28 . kurangkan Tabel final . (2) memberikan cara yang cepat untuk menentukan apakah suatu pemakaian terdapat pemecahan sebelum di coba. fungsi obyektif pasti mempunyai penyelesaian optimal berganda. Pivotkan. 11 6 kali baris1 dari x1 x2 1 0 0 0 0 0 1 0 s1 6 . Ini berarti bahwa variabel s3 dapat dimasukan ke basis tanpa mempengaruhi nilai fungsi obyektif. maka pasti terdapat lebih dari satu penyelesaian optimal. Akan tetapi.11 1 11 1 23 23 11 . dan (3) memberikan 85 . mempunyai indikator nol.23 11 23 s2 0 -1 0 22 s3 1 23 2 23 4 . Bilamana suatu variabel yang tidak berada dalam basis mempunyai indikator nol. Kalikan baris3 dengan 1 setelah menurunkan elemen pivot menjadi 1.11 2 . Kemudian kurangkan +6 baris3.1 PERANAN ALJABAR MATRIKS Alajabar matriks (1) memungkinkan untuk menyatakan suatu system persamaan yang rumit dalam suatu cara yang ringkas dan sederhana.23 2 1 . x 2 2 .23 1 23 0 22 4 23 25M 4 23 11M 23 -M 34M 23 0 66M 23 512 4. x1 1 0 0 0 x2 s1 0 0 1 0 0 1 0 0 s2 6 . dan [(17 – 11)3] kali baris1 dari baris4 Tabel ketiga . s 2 0 . Karena fungsi obyektif telah berada pada optimum. Kalikan baris2 dengan baris1. 6 kurangkan baris3 dari baris1 dan dan dari baris2 dan (8M – 2) kali baris3 dari baris4 menghasilkan tabel kedua Tabel kedua . dan [(11M – 22/23)] kali baris2 dari baris4 s3 1 11 2 11 2 11 A1 0 -1 0 -M A2 6 11 23 11 1 11 A3 1 . s 3 . Dasar – Dasar Aljabar Matriks atau Linear 1.23 2M 4 23 A1 6 23 A2 A3 1 0 . s1 6 .23 konstanta 102 23 66 23 52 23 .11 2 11 konstanta 6 6 2 28 - - -2 0 -M+2 -M Dari tabel final x1 6 .2. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 23 6 11 6 0 0 1 11 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 1 6 1 6 1 0 0 0 0 1 0 0 1 6 1 6 1 6 4 1 3 17 11 3 28M + 6 1 6 -1 6 M 1 3 17M 3 0  6 3.11 23 . s 3 0 .

suatu fungsi non linear. α32 adalah elemen yan berada pada baris ketiga. Jadi matriks tersebut adlah matriks bujur sangkar. saluran 1 2 3 4 papan luncur tongkat tali . Jika matriks terdiri dari satu kolom tunggal sedemikian rupa sehingga dimensinya m x 1. parameter atau variabel yang disusun segi empat. Karena banyak hubungan ekonomi dapat di dekati dengan persamaan linear dan yang lain dapat dikonversikan menjadi hubungan linear.sarana penyelesain system persamaan. dan kemudian di selesaikan dengan aljabar matriks. yang pertama menunjukan baris dimana elemen tersebut berada dan yang kedua menunjukan kolomnya. Akan tetapi. Jika matriks terdiri dari stu baris. jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( yaitu m = n ). aljabar matriks hanya dapat diterapkan pada system persamaan linear. Dalam matriks bujur sangkar square matrix). bilangan baris selalu mendahului bilangan kolom. kolom ketiga. Dengan mambaca menurun suatu kolom matriks. yang masing – masing mempunyai tempat yang ditata secara cermat dalam matriks. Jadi α23 adalah elemen yang berada pada baris kedua. Karena baris selalu mendahului kolom dalam notasi matriks.sebagai berikut : Log Q = log A + α log K +β log L Dengan cara serupa. dengan dimensi 1 x n.temali 120 180 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 pakaian ski 150 110 80 140 Dengan membaca menyusun baris matriks. 1. diketahui a 11 a 12 a 13 a 23 a 33 (3x3) A a 21 a 22 a 31 a 32 B 3 9 8 4 2 7 C (2x3) 7 4 5 D (3x1) 3 0 1 (1x3) A adalah matriks umum terdiri dari 3 x 3 = 9 elemen. fungsi eksponensial dan fungsi pangkat yang lain dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear. kolom kedua. Contoh 3. Bilangan pada deretan vertkal disebut kolom. Contoh 1. matiks tersebut adalah vekor kolom. untuk sebuah perusahaan dengan beberapa saluran distribusi yang menjual beberapa produk yang berbeda. seperti fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum Q=AKα Lβ Dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear dangan mencari logaritma masing – masing ruas. yang di susun dalam 3 baris dan 3 kolom. Banyaknya baris (m) dan kolom (n) menentukan dimensi matriks ( m x n ). perusahaan dapat menentukan persediaan setiap jenis produksinya. DEVINISI DAN ISTILAH Matriks adalah deretan bilangan.2. Penempatanya adalah tepat dalam matriks. pembatasan ini umumnya tidak memberikan persoalan yang serius. Elemen – elemen tersebut semuanya mempunyai subscript ganda. yang di baca m kali n. matriks memberikan cara yang ringkas untuk mengendalikan persediaan. Contoh 2. Matriks yang mengkonversikan baris A menjadi kolm dan kolom A menjadi baris disebut transpose A dan diberi tanda A' (atau AT). maka matriks tersebut adlah vector baris. Perhatikan bahwa tidak ada tanda baca yang memisahkan elemen – elemen suatu matrik. perusahaan deapat menentukan tingkat persediaan dalam setiap saluran distribusinya. Bilangan – bilangan ( parameter atau variabel) disebut sebagai elemen matriks. 86 . mungkin untuk membantu mengingat subscript tersebut dengan istilah BK atau beberapa cara yang lain untuk nmembantu mengingat.

0. 8 9 7 1 3 6 A 3 6 2 4 5 10 B (3x3) 5 2 4 7 9 2 (3x3) A B 8 1 9 3 7 6 3 5 6 2 2 4 4 7 5 9 10 2 (3x3) 9 12 13 8 8 6 11 14 12 ( 3 x 3) Selisih C – D. misalkan pengiriman D dilakukan ke saluran – saluran distribusi perusahaan dalam contoh 1. apabila diketahui k = 8 dan 87 . apabila diketahui matiks – matriks C dan D. S D 120 200 175 140 40 25 15 60 110 20 180 30 190 0 170 40 90 210 160 180 50 10 40 10 150 110 80 140 10 60 70 50 160 225 190 200 130 210 190 210 140 220 200 190 160 170 150 190 1.3. elemen b21 -nya adlah 4.-2. penjumlahan A + B di hitung dibawah ini. dan seterusnya.4. hasil perkalian skalar k A. bilangan sederhana seperti 12. elemen b12 -nya adlah 9.7 2-5 6-4 (2x2) 3 2 -3 2 (2x2) Contoh 5.B adalah matriks 2 x 3. Setiap elemen matriks yang satu kemudian ditambahkan ke (dikurangkan dari) b11 dalam B. C 4 9 2 6 D (2x2) 1 7 5 4 C (2x2) D 4 -1 9 .berapa tingkat persediaan yang baru?. D 40 20 50 10 25 30 10 60 15 0 40 70 60 40 10 50 Untuk mendapatkan tingkat persediaan yang baru. dengan mengetahui matriks A dan matriks B.07 disebut skalar. Contoh 6. PERKALIAN SKALAR Dalam aljabar matriks. Prosesnya disebut perkalian skalar (scalar multiplication)karena menaikan atau menurunkan matriks tersebut menurut besarnya skalar. dengan menjumlahkan elemen – elemen yang bersesuaian dari masing – masing matriks tersebut. Perkalian matriks dengan bilangan atau scalar meliputi perkalian setiap elemen dari matriks tersebut dengan bilangan itu. Transpose A adalah a 11 a 21 a 31 A' a 12 a 13 a 22 a 23 a 32 a 33 5 Dan transpose C adalah C' 7 4 1.diperoleh sebagai berikut . PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Penjumlahan (dan pengurangan) dua matriks A + B (atau A – B) mengharuskan matriks – matriks tersebut berdimensi sama.α12 ke b12. Contoh 4. misalkan matriks mula – mula S dan selesaikan S + D. C adalah vector kolom dengan dimensi (3 x 1). D adalah vector baris dengan dimensi (1 x 3).

hasilkali AB dari vektor baris A dan vektor kolom B. PERKALIAN VEKTOR Perkalian vektor baris (A) dengan vektor kolom (B) mensyaratkan masing – masing vektor mempunyai jumlah elemen yang persis sama. Jadi hasil perkalian baris – kolom akan merupakan suatu bilangan tunggal atau scalar. Contoh 7. Ini dipakai sebagai dasar untuk semua perkalian matriks. hasilkalinya didapatkan dengan mengalikan elemen – elemen individual dari vektor baris dengan elemen – elemen yang beresesuaian dengan vektor kolom. matriks awal (lead matriks) saa dengan jumlah di bahbaris pada 2.6. Setiap vektor baris pada matriks awal kemudian dikalikan dengan setiap vektor kolom dari matriks akhir. Hasilkali baris – kolom tersebut disebut hasilkali dalam (inner product). Contoh 8. atau jumlah kolom pada 1. apabila diketahui 12 1 A A 4 7 2 9 (1x4) 5 6 (4x1) di hitung sebagai berikut. hasilkali baris – kolom kemudian di pakai sebagai elemen dalam formasi dari matriks hasilkali sedemikian rupa. Perkalian vektor baris kolom adlah penting sekali. Pembalikan susunan perkalian dalam salah satu vektor di atas dan dengan diperolehnya perkalian vektor kolom – baris (BA atau DC) akan menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda.5.5.A Diperlihatkan dibawah ini. 8(6) 8(9) 6 9 2 7 8 4 (3x2) kA 8(2) 8(7) 8(8) 8(4) (3x2) 48 72 16 56 64 32 (3x2) 1. dan menjumlahkan hasilnya : AB = (a11 x b11) + (a12 x b21) + (a13 x b31) dan seterusnya. perkalian adalah mungkin. 1. AB = 4(12) + 7(1) + 2(5) + 9(6) = 48 + 7 + 10 + 54 = 119 Hasilkali vektor – vektor berikut : A adalah 3 6 8 (1x3) A 2 4 5 (3x1) CD = (3 x 2) + (6 x 4) + (8 x 5) = 6 + 24 + 40 = 70 Perhatikan bahwa karena masing – masing pasangan vektor diatas mempunyai jumlah elemen yang sama. Kemudian. menurut kaidah untuk perkalian vektor baris dan vektor kolom yang di bahas dalam butir 1. mensyaratkan bahwa kedua matriks tersebut bersesuaian yaitu bahwa n1 = m2. PERKALIAN MATRIKS Perkalian dua matriks berdimensi (m x n)1 dan (m x n)2. sehinga setiap elemen cij dari atriks hasilkali C adlah suatu skalar yang berasal dari perkalian baris ke i dari matriks awal dan kolom ke j dari matriks akhir. matriks akhir (lag matriks). Diketahui 88 .

-. Kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mendapatkan d12. bergeraklah ke baris kedua matriks awal. (3 x 2) = (2 x 3) (3 x 3) matriks – matriks tersebut adalah bersesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali BC merupakan (3 x 3). misalkan bahwa harga papan luncur adlah Rp 200. Contoh 9. (2 x 3) = (3 x 2) (2x 2) matriks – matriks tersebut memenuhi syarat persesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali AB adalah (2 x 2). kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom kedua matriks akhir untuk mendapatkan d22. dalam susunan yang benar. Dengan mengacu ke contoh 1. karena tidak ada lagi kolom yang tersisa dalam matriks akhir. akhirnya. tali Rp 100. jadi. Apabila dua matriks seperti AB adalah bersesuaian.A 3 6 12 9 7 11 B (2x3) 6 12 5 10 13 2 A (3x2) 1 7 2 4 8 3 (2x3) Suatu pengujian ringkas (cepat) untuk melihat adanya persesuaian (conformability)...karena (4 x 4) = (4 x 1) 89 . dengan menggunakan metode yang sama : 6(1) 12(2) 6(7) 12(4) 6(8) 12(3) 30 90 84 BC E 5(1) 10(2) 5(7) 10(4) 5(8) 10(3) 25 75 70 13(2) 2(2) 13(7) 2(4) 13(8) 2(3) (3x3) 17 99 110 (3x3) Contoh 10. Jadi AC tidak di tetapkan.. Pertama. adlah dengan menata dua pasang dimensi tersebut dalam mana matriks – matriks tersebut akan dikalikan. Jadi untuk AB. kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mecari elemen pertama d11 matriks hasil kali D. kemudian dalam hati lingkarilah bilangan terakhir dari pasang pertama dan dan bilangan pertama dari pasang kedua.dan pakaian ski Rp 150. AB dikatakan telah di tetapkan (defined) untuk BC. hasil kali dari dua matriks itu dapat di cari. nyatakan harga tersebut sebagai sebuah vector kolom (P).-. dan bilangan – bilangan di luar lingkaran akan menunjukan. dimensi dari matriks hasil kali. dua matriks tersebut akan sesuai untuk perkalian dalam susunan yang diberikan. 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB D 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) Hasil kali BC dihitung dibawah ini. Untuk mencari nilai persediaan (V) pada berbagai saluran distribusi. yang akan di terapkan sebelum melakukan setiap perkalian mmatriks. tongkat Rp 50. setelah menentukan persesuaian AB dalam contoh 8. kemudian kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom kedua matriks akhiruntuk mendapatkan d12. Untuk BC (2 x 3) ≠ (2 x 3) A dan C tidak bersesuaian untuk perkalian. Jika mereka sama. dan kalikan S dengan P : V SP 120 200 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 150 110 80 140 ( 4 x 4) 200 50 100 150 ( 4 x1) Matriks – matriks tersebut bersesuaian dan matriks hasil kalinya merupakan 4 x 1.

hal yang sama berlaku untuk pengurangan matriks. ASOSIATIF DAN DISTRIBUTIF DALAM ALJABAR MATRIKS Penjumlahan matriks adalah komutatif (yaitu A + B = B + A). maka pengurangan matriks juga komutatif dan asosiatif. A 3 6 7 12 9 11 B ( 2 x 3) 6 12 5 10 13 2 (3 x 2) Dapat di buktikan bahwa perkalian atriks tidak komutatif dengan membuktikan AB ≠ BA. dengan beberapa perkecualian. adalah tidak komutatif (yaitu AB ≠ BA).3 4 .6 17 .penjumlahan matriks juga asosiatif. (XY)Z = X(YZ). perkalian scalar adalah komutatif (yaitu kA = Ak). buktikan bahwa (1) A + B = B + A dan (2) A – B = –B + A. Diketahui.500 75.2 6 1 4 11 4 Contoh 12. Perkalian matriksm. Diketahui. AB 6(3) 12(12) 5(3) 10(12) 13(3) 2 (12) 6(6) 12(9) 5(6) 10(9) 13(6) 2(9) BA akan menjadi 3 x 2 6(7) 12(11) 162 5(7) 10(11) 135 13(7) 2(11) (3x3) 63 144 120 96 174 145 113 (3x3) karena itu AB ≠ BA. 4 11 3 7 A B 17 6 6 2 Untuk membuktikan bahwa penjumlahan dan pengurangan matriks adalah komutatif. Y(c x d). dan susunan penjumlahan tidak dipentingkan. Contoh 13. (2 x 3) = (3 x 2). sebagai berikut : AB adalah sesuai. Perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 4 3 11 7 7 18 3 4 7 11 7 18 A B B A (1). hukum asosiatif akan berlaku selama matriks – matriks tersebut dikalikan dalam urutan persesuaian (conformability). Jadi. 90 .7 11 .seringkali matriks – matriks tidak bersesuaian dalam dua arah. Jika terdapat tiga atau lebih matriks yang bersesuaian.500 ( 4 x1) 1. AB akan menjadi 2 x 2 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) BA adalah bersesuaian (3 x 2) = (2 x 3). Tunduk pada sarat yang sama ini. (A + B) + C = A + (B + C). yaitu X(a x b).Z(e x f) dimana b = c dan d = e.(4 x 1) Jadi. HUKUM KOMUTATIF. 17 6 6 2 23 8 6 17 2 6 23 8 (2).000 86.500 72. Karena pengurangan matriksA – B dapat dirubah mebjadi penjumlahan matriks A + (-B). Contoh 11. karena penjumlahan matriks hanya melibatkan penjumlahan elemen – elemen yang bersesuaian dari dua matriks.7. perkalian matriks juga distributive A(B + C) = AB + AC. Akan tetapi. Untuk alas an yang sama. Diketahui. V 120(200) 200(200) 175(200) 140(200) 110(50) 90(100) 150(150) 180(50) 210(100) 110(150) 190(50) 160(100) 80(150) 170(50) 180(100) 140(150) ( 4 x1) 61. A B 4 3 11 7 17 6 6 2 1 4 11 4 B A .

AI 9 1 AI 7 9 1 BN B N 10 14 2 6 3 7 terbukti 0 0 0 0 (2). Contoh 14.A 7 1 8 5 3 6 B (3 x 2) 4 9 2 6 10 5 B ( 2 x 3) 2 6 7 ( 3 x1) Untuk membuktikan bahwa perkalian matriks adalah asosiatif.9.adalah matriks idempotent (idempotent matrix). perhitungan – perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 7 10 14 1 2 3 6 7 0 0 0 1 0 0 0 1 7(1) 9(1) 1(1) 10(0) 2(0) 3(0) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(1) 2(1) 3(1) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(0) 2(0) 3(0) 14(1) 6 (1) 7 (1) (1).n menunjukan dimensi matriks (m x n). apabila diketahui. apabila subscript digunakan. yaitu (AB)C = A(BC). A 7 9 1 10 14 2 6 3 7 B 5 12 20 4 N 0 0 0 0 I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 Dapat dibuktikan bahwa : (1) perkalian dengan suatu matriks identitas tidak menimbulkan tambahan terhadap matriks asalnya. perhitunganya adalah sebagai berikut : A 7(4) 5(2) 1(4) 3 (2) 8(4) 6(2) 38 10 44 93 27 108 7(9) 5(6) 1(9) 3 (6) 8(9) 6(6) 95 25 110 2 6 7 7(10) 5(5) 1(10) 3 (5) 8(10) 6(5) ( 3 x 3) 38 10 44 93 27 108 95 25 110 ( 3 x 3) ( AB)C ( 3 x 3) ( 3 x1) 38(2) 93(6) 95(7) 10(2) 27 (6) 25(7) 44(2) 108(6) 110(7) ( 3 x1) 1299 357 1506 ( 3 x1) BC 4(2) 9(6) 10(7) 2(2) 6(6) 5(7) ( 2 x1) 132 75 ( 2 x1) A( BC ) 7 1 8 5 3 6 132 75 (3 x 2) (2 x) 7(132) 5(75) 1(132) 3(75) 8(132) 6(75) ( 3 x1) 1299 357 1506 terbukti ( 3 x1) 1. Lihat contoh 14. yaitu B + N = B. setiap matriks utuk mana A = A' adalah matriks simetris (symmetric matrix). Matriks identitas adalah simetri dan idempotent. tidak perlu bujur sangkar. yaitu AI = A. Matriks simetris untuk mana A x A = A. MATRIKS IDENTITAS DAN MATRIKS NULL Matriks identitas I adalah suatu matriks bujur sangkar yang mempunyai 1 untuk setiap elemen pada diagonal utama dari kiri ke kanan dan nol di setiap tempat yang lain.8. 1. (2) perkalian dengan suatu matriks null menghasilkan matriks null. yaitu BN = N dan (3) penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak mengakibatkan matriks asalnya berubah. (3). perkalian dengan matriks null menghasilkan matriks null. Matriks null terdiridari semuanya nol dan dapat berdimensi sembarang . perkalian suatu matriks identitas dengan dirinya sendiri meninggalkan matriks identitas tidak berubah : I x I = I2= I. 5(0) 12(0) 5(0) 12(0) 20(0) 4(0) 20(0) 4(0) 5 0 12 0 20 0 4 0 5 12 20 4 terbukti terbukti PERNYATAAN MATRIKS DARI SERANGKAIAN PERSAMAAN LINEAR 91 . seperti pada In. matriks identitas serupa dengan bilangan 1 dalam aljabar karea perkalian suatu matriks dengan matriks identitas tidak membawa perubahan terhadap matriks asal (yaitu AI = IA = A). Penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak membawa perubahan terhadap matriks asalnya.

dapatkan hasil kali AX. W = vektor kolom variabel. Saling menukar dua baris tersebut : 8x + 4y = 28 5x + 2y = 16 2. diilustrasikan di bawah ini.10. dengan mengandaikan A = matriks koefisien. yang menghasilkan 92 . OPERASI BARIS Operasi baris (row operation) berarti penerapan operasi aljabar yang sederhana pada baris. dan (3) setiap kelipatan suatu baris ditambahkan ke atau dikurangkan dari baris yang lain. tiga operasi barisdasar memungkinkan (1) setiap dua baris suatu matriks saling tukar.7 2 x 139 3 . AX adalah vektor kolom (2 x 1) karena setiap baris terdiri dari suatu elemen tunggal yang tidak dapat disederhanakan lebih lanjut melalui penjumlahan. Sebagai ilustrasai sederhana. dan matriks hasil kali menjadi 2 x 1 (2 x 2) = (2 x 1) (2 x 1) 7x 1 3x 2 jadi.X adalah vektor penyelesaian (solution vector).dalam hati balikan susunan perkalian matriks: w 8 12 . sistem persamaan yang diketahui tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk matriks A(2x4)W(4x1) =B(2x1) 1. X dan B akan selalu berupa vektor kolom. dan B = vektor kolom konstanta.9. Perkalian adalah mungkin karena AX adalah bersesuaian. meskipun penampilanya seperti itu.kita dapat 1. yang tentunya sudah tidak asing lagi dari aljabar. asalkan konstanta tersebut tidak sama dengan nol. Contoh 15. Contoh 17. operasi baris.dengan mengetahui 5x + 2y = 16 8x + 4y = 2n8 Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. Contoh 16.Aljabar matriks memungkinkan pengungkapan secara ringkas suatu sistem persamaan linear.13 4 9 ( 2 x 4) y 242 ( 2 x1) z ( 4 x1) kemudian. dan AX AX 7 3 x1 4 5 x2 B: 7x 1 3x 2 4x 1 5x 2 ( 2 x1) 45 terbukti 4x 1 5x 2 29 dari sini. (2) setiap baris atau baris – baris dakalikan dengan suatu konstanta. Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. untuk membuktikan bahwa AX = B dengan tepat menggambarkan sistem persamaanyang diberikan dalam seksi 1.baris suatu matriks. diketahui 8w +12x – 7y +2z = 139 3w +13x + 4y +9z = 242 untuk menyatakan sistem persamaan ini dalam notasi matrik. Mengalikan suatu baris dengan suatu konstanta. perhatikan bahwa sistem persamaan linear 7x1 + 3x2 = 45 4x1 + 5x2 = 29 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks AX = B x1 45 7 3 B A X Dimana dan 29 x2 4 5 A adalah matriks koefisien (coefisien matrix). di sini 8x + 4y = 28 dengan 1/4. dan B adalah vektor unsur konstanta (vector of constan terms).

yang menghasilkan 5x + 2y = 16 -4x – 2y = -14 x =2 1. diletakan disampingnya. MATRIKS PERBESARAN (AUGMENTED) Diketahui suatu system persamaan dalam bentuk matriks AX = B matriks perbesaran A/B adalah matriks koefisien A dengan vector kolom konstanta B. METODE GAUSS UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINEAR Penggunaan metode eliminasi gauss dalam menyelesaikan persamaan linear semata – mata dengan menyatakan system persamaan tersebut sebagai suatu matriks perbesaran dan menerapkan operasi baris berulang – ulang pada matriks perbesaran sampai matriks koefisien A di sederhanakan menjadi suatu matriks identitas.44 132 1a.12.9. untuk sistem persamaan dalam butir1. Untuk mengubsh matriks koefisien kedalam uatu matriks identitas. Contoh 19. bergeraklah sepanjang sumbu utama.2x + y = 7 5x + 2y = 16 3. Kalikan baris pertaa dengan 2a.a dapatkan 1 pada posisi a11 dari matriks koefisien. Jadi. Berikutnya dapatkan 1 pada 0posisi a22 dan gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom tersebut. yang dipisahkan dengan suatu garis atau kisi. metode eliminasi gauss di gunakan dibawah ini untuk mencari x 1 dan x2 dalam sistem persamaan 2x1 + 12x2 = 40 8x1 + 4x2 = 28 pertama nyatakan persamaan tersebut dalam suatu matriks perbesaran AB 2 12 40 8 4 28 kemudian. 1 untuk endapatkan 1 pada posisi a11 2 1 6 20 8 4 28 1b. AB 7 3 45 4 5 29 Matriks perbesaran digunakan sebagai sarana penyelesaian system persamaan linear. Pertam. Mengurangkan kelipatan satu baris dari yang lain. Kurangkan 8 kali baris kedua untuk merampungkan kolom pertama 1 6 20 0 . Teruskan memperoleh 1 sepanjang diagonal utama dan kemudian rampungkan kolomnyasampai matriks identitas tersebut sempurna. kemudian gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom pertama. Penyelesaian atas system persamaan kemudian dapat di baca dari elemen – elemen yang tinggal dalam vektor kolom B (lihat contoh 19). Kalikan baris kedua dengan 1 untuk mendapatkan1 pada a22 44 1 6 20 0 1 3 93 . Contoh 18.11. di sini 2(2x + y = 7) dari 5x + 2y = 16. matriks perbesaran A/B untuk 4x1 + 5x2 + 7x3 = 42 2x1 + 3x2 + 8x3 = 40 6x1 + 4x2 + x3 = 18 Adalah AB 4 5 2 3 6 4 7 42 8 40 1 18 1.

Kurangkan 6 kali baris kedua dari baris pertama untuk merampungkan kolom kedua 1 0 2 0 1 3 hasilnya adalah x1 = 2. x2 = 3 karena x1 1 0 2 0 1 x2 3 x1 + 0 = 2 0 + x2 = 3 94 .2b.

95 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful