BAGIAN 1 KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI

Diskripsi Mata Kuliah Memberikan gambaran dan dasar-dasar pengertian serta pola pikir yang logis sehubungan dengan barisan dan deret bilangan yang tersusun secara teratur dengan perubahan-perubahannya yang tertentu. Selanjutnya memberikan tuntunan dalam menggunakan rumus-rumus yang telah diperoleh untuk menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui dari baris dan deret yang ada, seperti menghitung kesamaan suatu nilai dari dua beris atau deret yang diketahui, mencari perubahan dari suatu baris atau suatu deret. Tutjuan Khusus Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret tersebut dalam menghitung perasalahan-perasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya masalah perkembangan usaha sejauh mana pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjam-meminjam, investasi jangkan panjang yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan menghitung pertumbuhan penduduk di suatu daerah serta jumlah penduduknya pada suatu waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET 1. Pengertian Baris Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun secara teratur dengan suatu pola perubahan tertentu dari satu suku ke suku berikutnya. Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah suku yang membentuknya, dibedakan menjadi : 1. Baris berhingga 2. Baris tak berhingga Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi 1. Baris Hitung 2. Baris Ukur 3. Baris Harmoni 2. Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari selisih antara sutu suku ke suku sebelumnya. Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2 S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4 S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6 S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 = 8 Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di peroleh rumus : Sn = a + ( n – 1 ) b. Dimana a = suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diberikan suku ke tiga dan suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan 170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris hitung tersebut. 1

S3 = a + ( n – 1 ) b = 150 = a + 2b S7 = a + (n – 1 ) b = 170 = a + 6b - 20 = - 4b b = -20 / -4 = 5 150 = a + 2b  150 = a + 2.5  150 = a + 10 a = 150 – 10  a = 140 S10 = a + (n – 1) b = 140 + (10 -1) 5  140 + 45 = 185 3. Deret Hitung Deret hitung yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan dimana suku pertamannya sama dengan suku pertama baris hitungnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris hitungnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris hitungnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris hitung di atas) Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ..... Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ... D1 = 2, D2 = 2 + 4 = 6, D3 = 2 + 4 + 6 = 12 D4 = 2 + 4 + 6 + 8 = 20 Dst dimana Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n – 1 ) b} Contoh Soal : Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama yang bernilai 140. Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ? Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?. a = 140, b = 5 S10 = 140 + ( 10 – 1 ) 5 = 140 + 45 = 185 D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 – 1 ) 5 ) = 5/2 ( 280 + 20 ) = 5/2 ( 300 ) = 750 4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari perbandingan antara satu suku sengan suku sebelumnya Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn S1 (suku pertama) = 2 S2 (suku kedua) = 6 S3 (suku ketiga) = 18 S4 (suku keempat) = 54 S5 (suku kelima) = 162 Sn (suku ke n) = dst. Pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan perbesarannya adalah perbandingan atara dua suku yang berurutan dengan suku berikutnya, sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54. maka r = 3. S1 (suku pertama) = a = 2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6 S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18 S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54 S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.8 = 162 Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n diperoleh rumus Sn = ar n-1

2

5. Deret Ukur Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan di mana suku pertamanya sama dengan suku pertama baris ukurnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris ukur di atas) Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, ....... maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, ..... D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26 Dst. Dn dapat dirumuskan :

Dn

a 1 rn ,r 1 1 r

atau

Dn

a rn 1 ,r 1 1 r

Contoh Soal : Sebuah baris ukur mempunyai suku pertama yang bernilai 20. Ratio antar sukunya 2. Hitunglah suku ke-6nya ! Berapa jumlah lima suku pertamanya. a = 20, r = 2 S6 = arn-1 = 20. 26-1 = 20. 25 = 20. 32 = 640 20 2 6 1 20.63 = = 1260 D6 2 1 1 B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET DALAM EKONOMI 1. Perkembangan Usaha Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh usaha-usaha yang pertubuhannya konstan dari waktu ke waktu mengikuti perubahan baris hitung. Contoh Soal 1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga ditingkatkan. Akibatnya, perusahaan tersebut mampu menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya. Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama produksinya ? Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12. S12 = a + (n – 1) b = 5.000 + (12 – 1) 300 = 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300 Jadi pada bulan ke 2 perusahaan tersebut dapat menghasilkan 8.300 buah keramik. Jumlah keraik yang dihasilkan dalam satu tahun pertama. D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300) = 6 (13.300) = 79.800 2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk) Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya diasumsikan tetap dari waktu ke waktu. Misalkan suatu modal sebesar P 0‟ akan dibungakan per-satu tahun selama jangka waktu n tahun. Tingkat suku bunga yang berlaku yang berlaku adalah r % per-tahun, diasumsikan tetap dari tahun ke tahun selama n tahun. Sehingga menghitung modal awal tahun ke-n yang diperoleh melalui pembungaan setiap satu tahun dapat dirumuskan Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan datang) Po = Modal saat sekarang, saat t = 0 r = Tingkat suku bungan per-tahun 3

5 jiwa pada tahun 2013.000 (1 + 0. Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp.11 ) 5 = 10.11/2)5. berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2. 5.04 )10 = 100. Yang drumuskan : Pn = P0. Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam besarnya 375. tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.024 Latihan Soal 1. berapa persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya pada tahun 2015 ? Jawaban latihan soal. a) Andaikata perkembangan produksinya konstan.55 3. Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan pertumbuhan penduduk.( 1 + i )n Di mana Pn = populasi penduduk pada tahun basis (tahun ke-1) P0 = populasi penduduk pada tahun ke.000 ( 1. sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus.708144) 4 .000.000. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar. Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan dengan pembungaan tiap tiga bulan. a) Berapa botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?.000. Karena persaingan keras dari kecap-kecap merek lain. Pembungaan depositonya setahun sekali dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah jumlah lima suku pertammanya ? 2. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ? Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku pertamanya. penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.850. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005. Pabrik rokok “Kurang Garam” menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama berdirinya. 5.6 juta bungkus pada tahun ketujuh.04 )10 = 100.m = 10. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Bantulah nasabah itu untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan diterima pada akhir tahun ke-5 ? Pn = P0 ( 1 + r )n = 10.48024) = 148. produksinya terus menurus secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18.685058155) = 16. Beda antar suku 15. Pabrik kecap “Nambewan” memproduksi 24.11 )5 = 10. Periode waktu : 2005 -1995 = 10 tahun Pn = P0.000 (1 + 0.n i = persentase pertumbuhan penduduk per tahun & n = jumlah tahun Contoh soal : Penduduk suatu kota berjumlah 100.000 botol.000.5 juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia hasilkan sampai dengan tahun ke – 16 ?.000 jiwa pada tahun 1995.000 ( 1 + 0.581. Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210.000 ( 1. 4.000 botol kecap pada tahun ke-6 operasinya.n = tahun ke m = periode per-tahun Contoh Soal : Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp. 6.000. dan 1. Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3.000 (1.055)10 = 10. diperkirakan menjadi 4.( 1 + i )n = 100.000 (1.000.25 juta jiwa pada tahun 2008. 3.000 ( 1 + 0.2 = 10.000 ( 1.

73%)7 = 3.31 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.73 % Jumlah penduduk pada tahun 2015. 6.73 % Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6.13 juta.58 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.284. Jawab persentase pertumbuhan penduduk : Pn = P0 (1 + i)n 4.4 = 10.25 (1 + i)2013-2008 4. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.5/3.13 Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun 205 sebanyak 5.000.000.m = 10.081.081.25 (1 + 6.577632) = 5.204.000 (1.5 = 3.0673 i = 6.000 (1 + 0.25 (1 + i)5 4. 17. P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008 = 3.0275)20 = 10.204.38461/5 = 1 + i i = 1.444.25 (1.720428431) = 17.25 = (1 + i)5 1.000. 17.3846 = (1 + i)5 1.3.284.11/4)5.= 17.1 i = 0.000 (1 + 0.5 = 3.58. Daftar Pustaka : 5 .38461/5 .444.

Konstanta sifatnya tetap dan tidak terkait dengan suatu variabel apa pun. 4. koefisien. TEORI FUNGSI DAN TEORI FUNGSI LINIER 1.2.BAGIAN 2 KONSEP DASAR TEORI FUNGSI. 2. Fungsi-fungsi yang bersifat linier tersebut dapat saling berhimpit. Yang dimaksud dengan variabel ialah unsur yang sifatnya berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. sejajar atau bahkan berpotongan. y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 3 adalah koefisien ( terletak didepan variabel y) 4 adalah koefisien ( terletak didepan variabel x) -8 adalah konstanta 2.1. Untuk mencari perpotongan dua fungsi yang linier digunakan metode eliminasi. dan konstanta. yang saling berkaitan satu sama lain dala hubungan yang dapat dijelaskan secara ateatis yaitu hubungan yang linier. y = x ½ y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 6 . Menggabarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mencerminkan perilaku baik perilaku konsumen maupun perilaku produsen. Penggolongan variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel bebas yaitu variabel yang menerangkan variabel lain. TEORI FUNGSI LINIER DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI 2. substitusi atau dengan cara determinan.2. Disebut Analisis Break-Even Analusis. PENYAJIAN 2 .1. sedangkan perilaku produsen dicerminkan dengan fungsi penawaran. Yang dimaksud dengan koefisien ialah bilangan atau angka yang diletakkan tepat di depan suatu variabel.1. secara umum jika dikatakan bahwa y adalah fungsi dari x maka ditulis y = f(x). Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat membantu menghitung berapa pendapatan nasional yang harus diperoleh suatu negara agar tidak mengalami defisit akibat konsumsi yang lebih besar dari pada pendapatan. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mmenghitung berapa produk yang sebaiknya diproduksi dan dijual oleh perusahaan agar perusahaan dapat menutup biaya-biaya tetapnya. Menggambarkan pendapatan nasional dapat menghitung melalui pendekatan pengeluaran yang linier. Keseimbangan pasar ini dapat bergeser sejajar akibat adanya capur tangan pemerintah dalam bentuk pajak maupun subsidi 2.Tujuan Khusus 1. menutup totol biaya. Koevisien dan konstanta. sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang diterangkan oleh variabel lain. terkait dengan variabel yang bersangkutan. dimana x adalah variabel bebas dan y adalah variabel terikat. 2. Perilaku konsumen dicerminkan melalui fungsi permintaan. Uraian Materi A.1. 3y = 4x – 8. 3. Pengertian Fungsi Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Contoh : 1. Lebih jauh lagi berapa pendapatan minimum agar dapat menabung. Diskripsi Mata Kuliah Memperkenalkan unsur-unsur fungsi ialah variabel bebas dan variabel terikat.1 PENDAHUKUAN : 2. Dalam suatu fungsi. bahkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Pertemuan antara keduanya merupakan titik keseimbangan pasar. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel.2.

.. n = 11 Fungsi Linier : Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu. a0 = + ... atau nol..+ anxn.. nilainya positif. negatif...-12x11. 4.4 Y = 0 + 2x Y=0–2x 7 ... x variabel bebas a0 konstanta. maka alternatif yang mungkin untuk fungsi linier : Y= a0 + a1x1 yaitu : misal a0 = 4 dan a1 = 2 1.+ 12x11)1/11 Fungsi Polinom : Fungsi yang memiliki banyak suku Bentuk umum : Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + .. a1 = .bilangan bulat positif Contoh: Y = 1 + 2x1 . x = y-2 y adalah variabel bebas x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2.+ anxn. 8. n bilangan riil negatif Contoh :Y = x-2 . a1 = 0  a0 = 0 .. 7. x = -2 x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2... a0 = . a0 = + .4 + 0.Y variabel terikat. a1= 0  a0 = . a1= +  a0 = + .. dimana y adalah variabel bebas dan x adalah variabel terikat. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 +a2x2 + a3x3 Contoh : Y = 1 + 2x1 – 3x2 + 4x3 Fungsi Bikuadrat:Fungsi polinom yang fariabel bebasnya memiliki pangkat paling tinngi adalah empat.. 6. negatif atau nol Untuk nilainya a0 dan a1 yang memungkinkan positif.. Pengertian Fungsi Linier Fungsi linier adalah fungsih polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu : Y = a0 + a1x1 . n bilangan riil negatif 3. a1 = + a0 = 0 .2x1 .. n bilangan bulat positif contoh :Y = (1+2x1 . negatif.4 + 2x Y=-4–2x Y = .x Y = 0 +a1x  Y = 0 – a1x Y = 4 + 2x Y = 4 – 2x Y = 4 + 0... n bilangan riil positif Contoh :Y = x2 Fungsi Eksponen : Fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat suatu konstanta. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + a3x4 Contoh :Y = 1 + 2x1 + 3x2 + 4x3 + 5x4 Fungsi Pangkat :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat suatu bilangan riil positif Bentuk umum : Y = xn .Jika x adalah fungsi dari y maka ditulis x = f(y)..x = .. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 Contoh : Y = 1 . a1 = +  a0 = . 3. Jenis-jenis Fungsi Fungsi Irrasional : Fungsi yang memiliki Bentuk umum Y = n√ a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + .3x2 Fungsi Kubik :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah tiga...3x2 + 4x3 +.. 5. a1 = ...x = 4 Y = . Y = a0 + a1x  Y = a0 – a1x  Y = a0 + 0. 2. Bentuk umum :Y = nx Contoh :Y = 2x Fungsi logaritma : Fungsi yang merupakan invers fungsi eksponen Bentuk umum Y = n log x Contoh :Y = 4 log x Fungsi Hiperbola :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat bilangan riil negatif Bentuk umum :Y = xn .. a1= . Bentuk umum Y = a0 + a1x1 Contoh: Y = 1 + 2x1 Fungsi Kuadrat :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah dua.3x2 + 4x3 +. Contoh : 1.... nilainya positif....x  Y = -a0 +a1x  Y = -a0 – a1x Y = -a0 + 0. atau nol a1 Koefisien.

x  Y = 0 + 0.0) 0 2. Y = ...4) dan ( .4) dan (-2.-4) Y = -4 – 2x 6.x = 0 4.4) dan (2.4) 0 (2..4) 0 (0. Y = 4 – 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0. Y = . Y = .-4) Y = -4 8 .0) 0 (0. a1 = 0 Y = 0 + 0.4) (Y = 4) 4.0) (-2.2. Y = 4 titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.0) (0.0) Y = 4 – 2x 3.4) 1.0) (-2.-4) (2. Y = 4 + 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.4 titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4) dan (2.0) 5. a0 = 0 .4 – 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. Penggambaran Fungsi Linier Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk a 0 = 4 dan a1 = 2 Y = 4 + 2x (0.0) 0 (0.9.4) 0 (0.

0) dan (2.. Kedua Fungsi Linier tersebut berada dalam berbagai keadaan: 1. Sejajar Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x Karena sejajar. Berhimpit Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x karena berhimpit.4) Y = 0 + 2x (2. gradien 4 3.0) 5. gradien 4/2 = 2 2.4) (0. Berpotongan Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena Berpotongan. intersep 2. intersep 4. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ contoh : Fungsi linier Pertama : Y = 4 + 2x . Y = 0 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) dan (2. maka dan a1 = a1‟ untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ 9 . intersep 8/2 = 4 .0) (2.-4) Y = 0 – 2x -4 9. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 +4x . maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ Contoh : Fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x . Y = 0 –2x dua buah titik yang dibutuhk untuk menggambarkannya (0.0) dan (2.7.0) 8.0) 2 (2. Hubungan Dua Fungsi Linier Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu : Y = a 0 + a1 x dan fungsi linier yang kedua yaitu : Y‟ = a0‟ + a1‟ x.4) 2 (0. gradien 2 Fungsi linier kedua : 2Y = 8 + 4x . Y = 0 dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. intersep 4.0) (0.

intersep 2. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x. maka a1 = a1‟ dan a1. intersep 2 . Contoh : fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus. gradien –1/4 6.... a1‟ = -1 Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan berpotongan pada titik (0. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x.1. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.Contoh : Fungsi linier pertama Y = 4 + 4x . maka a1 = a1‟ dan a1.. Determinan Contoh : Carilah titik potong dari garis yang berpotongan yaitu 2 x + 3 y = 4 dan x + 2 y = 1 Jawab : 1. gradien – 4 4.. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x . intersep 2.. intersep 4. Substitusi 2... gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x .. gradien – ¼ dan perpotongan pada titik (0.** memasukkan ** pada* 2x+3y=4 2 (1 – 2 y) + 3 y = 4 maka x=1–2y 2 (1) – 2 (2 y) + 3 y = 4 x = 1 – 2 (-2) 2–4y+3y=4 x = 1 – ( . gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x . maka dan a1 = a1‟ Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan perpotongan pada titik (0.2) 6.4) 10 .. = . maka untuk mencari titik potongnya dapat dilakukan dengan cara : 1. Berpotongan Y = a 0 + a 1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x.... Eliminasi 3.2) 5.* x + 2 y = 1 . intersep 2 .a1‟. Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟. intersep 2. Cara Substitus 2x+3y=4 . intersep 2. intersep 4. gradien – 4 dan perpotongan pada titik (0..x = 1 – 2 y . Titik Potong Linier Untuk fungsi linier yang saling berpotongan..

= ------. ataupun determinasi.7) adalah Y = 2 x – 3 11 .= -2 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | Baik dengan cara eliminasi. y1) dan B (x2.Y2) A(X1.2) x + (.2–y=4 -y = 4 – 2 -y = 2 y=-2 2.7). Cara Determinan 2x +3y=4 x+2y=1 | 4 3 | | 1 2 | (4)(2) – (1)(3) 8–3 5 x = -----------.y1) = (3.= ----------------. Cara Eliminasi 2 x + 3 y = 4 (x 1) --- x + 2 y = 1 (x 2) --- maka x + 2 y x=1+4 x=5 2x+3y=4 2x+4y=2 _ -y=2 =1 =1 =1 =1+4 =5 y=-2 =1 x + 2 (.4) x–4 x x 3.Y1) Untuk mengetahui garis yang tepat melalui kedua titik tesebut dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = X – X1 Y2 – Y1 = X2 – X1 Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.7) maka : Y–3 = x–3 7–3 = 5–3 Y–3 = x–3 4 2 Y – 3 = 4 / 2 ( x – 3) Y–3 = 2x–6 Y = 2x–6+3 Y = 2x–3 Jadi garis yang melalui titik (3.= ------.= 5 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | | 2 4 | | 1 1 | (2)(1) – (1)(4) 2–4 -2 y = -----------. 7. Jika diketahui dua buah titik yaitu A (x1.y2) = (5. Jawab : misalkan (x1.3) dan (x2.= ---. Gambar : B(X2. Penamaan Fungsi Linier 1.3) dan (5.3) dan (5.= ----------------. y2).= ---. substitusi. pasti akan diperoleh nilai yang sama.

m = ∆Y/∆x Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.12 B.y1) n 0 Untuk mengetahui garis yang tepat melalui titik tersebut dengan kecondongantertentu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = m (x – x1).2 Qd 2. 4.000. P = 30 .3) dengan kemiringannya 5 adalah Y = 5x . Akan tetapi. Bagaimana fungsi permintaanya ? Gambarkan fungsi permintaan tersebut pada Grafik Kartesius.P2. Fungsi penerimaan.3) dengan kecondongan sebesar 5 Jawab : Misalkan (x1. yaitu : Fungsi permintaan. Jika diketahui sebuah titik A (x1. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN TEORI EKONOMI MIKRO 2. maka fungsi permintaan suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Sifat monoton turun : P‟ > P maka Qd‟ < Qd P” < P maka Qd” > Qd Contoh : 1.laku sebanyak 3.000) dan (Qd2. Penerapan fungsi linier dalam ekonomi mikro. dan ‘ break-even analsis ‘.000 per-buah. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI 1. Qd = 15 – P Contoh Soal : 1.3) dan m = 5 Maka : Y – Y1 = m(x – x1) Y – 3 = 5 (x – 3) Y – 3 = 5x – 15 Y = 5x – 15 + 3 Y = 5x – 12 Jadi garis yang melalui titik (3. Ditulis: P= f(Qd). y1) dan gradiennya / kemiringannya m Gambar : A(x1. Fungsi penawaran.y1) = (3. yaitu : fungsi pendapatan yang terdistribusi menjadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan fungsi pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan pengeluaran. maka jumlah permintaan terhadap barang tersebut meningkat menjadi 6.P1. Fungsi biaya. Pendahuluan Penerapan fungsi linier dalam bisnis dan teori ekonomi mikro. jika dijual seharga Rp 5. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang diminta (fungsi linier).) = (6. Fungsi ini mencerminkan perilaku konsumen di pasar di mana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan.000. Keseimbangan pasar. price) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang diminta (Qd . jika harga mengalami penurunan maka jumlah barang yang diminta akan mengalami peningkatan.2. quantity demand). Jawab : Diketahui (Qd1.5.000 buah.000 per-buah akan.000 buah. jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4.000) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P . Demikian sebaliknya. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang diminta (Qd) dan sumbu tegaknya harga barang yang bersangkutan (P).P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 12 . Suatu barang. Fungsi Permintaan Fungsi permintaan merupakan fungsi yang mencermintan hubungan antara variabel harga (P . maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan. Pengaruh pajak dan subsidi terhadap keseimbangan pasar.)= (3.

000 ) = -5 ( Qd – 500 ) P – 40.P .000 3.500 + 40.000 = 4.000 6.3.000 + 5. Permintaan suatu barang sebanyak 500 Buah pada saat harganya 40.250 / (.000 Gambar Grafik Kartesiusnya ( P vs Qd ) : P 6000 P = .000) -1/3 Qd + 1. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta Menjadikan : 13 .1.5.3.500 Jadi fungsi prmintaanya : P = .000 P – 5.250 ) = -5 Maka ( P – 40.000 P P = = = = = = Qd .000 .250 .5 Qd + 42.000) -1/3 Qd – 1/3 (. sebab : 1.250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – P1 ) = m (Qd – Qd1 ) dengan m = P / Qd = 1.000. sebagaimana fungsi permintaannya dan gambarkan fungsi permintaanya dan gambarkan fungsi permintaan tersebut pada grafik kartesius Jawab : Diketahui ( P1 .5.1.000 ( Qd – 3.000 P – 5.500 P = -5 Qd + 2.000 P – 5. apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.500 ) P – 40.000 -1/3 Qd + 6. 500 ) dan p = 1.3.000 Qd .000 = -5 Qd – ( 5 )( .5 Qd + 42.3.000 P = -5 Qd + 42.500 P = .500 Gambar Fungsi Penawaran tersebut pada grafik Kartesius : 42.250 akan menyebabkan jumlah permintaan mengalami penurunan sebanyak 250.000 ) 3.000 0 Qd= 18.000 P .000 = -5 Qd + 2.000 Contoh Soal : 2.500 0 Catatan : Gradien fungsi permintaan yang dinyatakan dengan rumus m=Δ P / Δ Qd nilainya Senantiasa negatif. Qd = .000 -1/3 (Qd – 3.Qd1 ) = ( 40.000 – 5.000 .000 . Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta : Menjadikan : M = Δ P = negatif = negatif atau ΔQd positif 2.000.1/3 Qd + 6.

500 14 .000 P – 5.500 + 40.000 per-buah.000 – 5.000 1. Bagaimanakah fungsi penawarannya ? Gambarkan fungsi penawarannya tersebut pada Grafik Kartesius. 6. jika harga lebih tinggi yaitu menjadi Rp 6. ¼ P = 8Qs + 125 Contoh Soal : 1.000 P = 1/3 Qs + 4.000) dan (P2.000 = Qs – 3.000) P – 5. Akan tetapi. Jawab : Diketahui (P1. 3.000 buah. Ditulis : P = f ( Qs ).000 + 5.000 P = 5Qs + 37. 500) dan ∆P = 1.000) 3. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harganya 40.000.000 – 3. Jawab : Diketahui (Pı. Suatu barang. jika harga barang mengalami penurunan maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang ditawarkan (fungsi linier). maka fungsi penawaran suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Contoh : 1.Qs1) = (5.000 = 1. bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius.500 P = 5Qs – 2.000 3.000 = 5Qs + (5)(-500) P – 40.000 (Qs – 3.000 6.000 = Qs – 3.000 Jadi fungsi penawarannya adalah : P = 1/3 Qs + 4.000 P – 5. harga dipasarnya Rp 5.M=Δ P = Δ Qd positif negatif = negatif 3. P = 120 + 4Qs 2.000) = 5(Qs – 500) P – 40. Qs = -40 + ¼ P 3. Demikian sebaliknya. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dan sumbu tegaknya harga barang bersangkutan (P).000 per buah maka produsen akan menawarkan sebanyak 3.000.000) P = 1/3 Qs – 1. Apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.250. Fungsi ini mencerminkan perilaku produsen dipasar dimana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan.000 Gambar Grafik Kartesiusnya (P vs Qs) : Contoh Soal : 2.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebanyak 250. ∆Qs = 250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – Pı ) = m (Qs – Qsı) dengan m = ∆P / ∆Qs = 1250 / 250 =5 maka (P – 40.Qs2) = (6. maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami peningkatan.000.000 = 1/3 Qs + (1/3) (-3. maka jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen akan bertambah menjadi 6.000 buah.000 = 1/3 (Qs – 3.000) Fungsi penawarannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qs – Qs1 P2 – P1 Qs2 – Qs1 P – 5.000 6.000.000 = 5Qs – 2.000 P – 5.Qsı) = (40. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran merupakan fungsi yang mencerminkan hubungan antara variabel harga ( P : price ) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang ditawarkan ( Qd : Quantity Supply ).

500 37. Bagaimanakah fungsi permintaan dan fungsi penawaran barang tersebut ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah Grafik Kartesius.000 pengusaha menawarkan barang tersebut sebanyak 30 buah. Pada harga Rp 5. Untuk suatu barang. Jawab : Mencari fungsi penawaran : Diketahui (P1. Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar atau ‘Eqiullibrium’ adalah suatu kondisi dimana keseimbangan harga (Pe) tercapai Jumlah barang yang diminta = Jummlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Atau Keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan Pe ›› P = P Fungsi permintaan dan fungsi penawaran pada sebuah grafik Kartesius dengan keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan Kuantitasnya (Qe).500 Gambar fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius : P P = 5Qs + 37.000 jumlah pemintaan barang tersebut sebanyak 20 buah dan untuk kenaikan harga menjadi Rp 10.30) dan ∆P = 2000. ∆Qs = 20 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : (P – P1) = m (Qs – Qs1) 15 . dan setiap kenaikan harga sebanyak Rp 2. sebab : ΔQs 1. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan. pada harga Rp 6.Jadi fungsi penawarannya : P = 5Qs + 37.000.000 jumlah permintaannya berkurang menjadi 10 buah. menjadikan : m = ∆ P = positif = positif] ∆Qd positif 4. menjadikan : m = ∆ P = negatif = positif atau ∆Qs positif 1.500 0 Qs Catatan : Gradien fungsi penawaran yang dinyatakan dengan rumus: m = ∆ P nilainya senatiasa positif. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan.Qs1) = (6. digambarkan sebagai berikut : P P = f (Qs) Pe P = f(Qd) 0 Qe Qd Contoh Soal : 1.000 maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat sebanyak 20.

000 Qe = 20 Qd.000 Pe = 5.000 Pe =100(20) + 3.000.000 Pe = -10.000 Pe = 2.000 = Qd – 20 5000 -10 P – 5.000 600 Qe = 20 Jadi keseimbangan kuantitas tercapai pada 20 unit barang.000 = 600Q Qe = 12.10) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 P – 5. Untuk Keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe = -500 Qe + 15.000 + 6.000 P = -500Qd + 15.000 + 5.000 Jadi fungsi penawarannya : P = 100Qs + 3.000 atau Pe = 100Qe + 3.000.000 3000 0 P = -500 Qd + 15.000 = 100Qs + (100)(-30) P – 6.000 Pe = 5.000 = Qd – 20 10.000) = 100 (Qs – 30) P – 6.000 = -500Qd + 10.000 10 – 20 P – 5.000 = -500(Qd – 20) P – 5. 16 .000 P = 100Qs + 3.000 Mencari fungsi permintaan : Diketahui (P1.Qd2) = (10. Fungsi permintaan dan fungsi penawaran suatu barang diberikan sebagai berikut : Qd = 11P dan Qs = -4 +2P Dimanakah keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah grafik kartesius.dengan m = ∆P / ∆Qs = 2000 / 20 = 100 maka (P – 6.Qd1) = (5.20) dan (P2.000 = 5.000 Pe = 5. Qs 2.000 Pe = -500 (20) + 15.000 15.000 = 100Qs – 3.000 = 100Q + 3.000 Grafiknya digambarkan sebagai berikut : P P = 100 Qs + 3.000 (Qd – 20) -10 P – 5.000 – 3.000 P = 100Qs – 3.000 P = -500Qd + 10.000 Jadi keseimbangan harga tercapai pada harga Rp 5.000 + 3.000 Jadi fungsi permintaannya adalah : P = -500 Qd + 15.000 = -500Qd + (-500) (-20) P – 5.000 + 15.000 – 5.000 = 100Q + 500Q 12.000 Keseimbangan Kuantitas (Q) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan -500Q + 15.

Berapa total pajak yang diterima pemerintah. (vii). (viii). (iv). yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut : Qd = 11 – P dan Qs = -4 + 2P.Jawab : Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs 11 – P = -4 + 2P 11 + 4 = 3P + P 15 = 3P Pe = 5 Jadi keseimbangan harga di pasar tercapai pada harga 5. pemerintah mengenakan pajak dengan terif pajak sebesar t = 3 / unit barang. Berapa total pajak yang ditanggung produsen. Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah mengenakan pajak penjualan kepada para produsen. Pajak penjualan tersebut dinyatakan dengan : tarif pajak (t) = satuan unit uang / satuan unit barang. Gambarkan perubahan akibat pajak tersebut.P P 5. (v). Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada pajak. Kepada produsen tersebut. Sehingga keseimbangan kuantitasnya (Qe) dapat dicari : Qe = 11 – P atau Qe = . (ii). Qs Qs = -4 + 2P 11 Qe = 6 0 2 -4 Pe = 5 Qd = 11 . Pengaruh pajak terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = f(Qd) P = f(Qs) Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t) P = f(Qd) P = f(Qs) + t Contoh Soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Berapa tarif pajak yang ditanggung konsumen. (vi). Berapa tarif pajak yang ditanggung produsen.4 + 2P Qe = 11 – 5 Qe = -4 + 2(5) Qe = 6 Qe = -4 + 10 Qe = 6 Jadi keseimbangan kuantitas di pasar tercapai pada jumlah 6 Grafik digambarkan sebagai berikut : Qd. Arsirlah total pajak masing-masing pada gambar di atas. Berapa total pajak yang ditanggung konsumen. 17 . (iii). (i).

Qd 0 Qe = 6 Qd. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2.Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dikenakan pajak.Qd P = ½ Qs + 2 + t P = ½ Qs + 2 + 3 P = ½ Qs + 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah dikenakan pajak Keseimbangan kuantitas (Qe‟) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe‟ = ½ Qe‟ + 5 11 – 5 = ½ Qe‟ + Qe‟ 6 = 3/2 Qe‟  12 = 3 Qe‟  Qe‟ = 4 Jadi keseimbangan kuantitas setelah kena pajak tercapai pada 4 unit barang.Qd P = ½ Qs + 2 Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t)) P = 11 . Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainya. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum dikenakan pajak maupun yang sesudah kena pajak ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar.Qs Akibat dikenakan pajak. Akan tetapi. Untuk keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe‟ = 11 – Qe‟ atau Pe‟ = 1/2Qe‟ + 5 Pe‟ = 11 – 4 Pe‟ = 1/2(4) + 5 Pe‟ = 7 Pe‟ = 2 + 5 Pe‟ = 7 Jadi keseimbangan harga setelah kena pajak tercapai pada harga 7 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya pajak) yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. maka Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = 11 . Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki 18 . Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. Grafiknya digambarkan sebagai berikut : Jika hendak digambarkan dengan fungsi P sebagai fungsi tegak dan fungsi Qd. Akibat adanya pajak maka fungsi penawaran mengalami perubahan.Qs pada sumbu datar maka kita harus melakukan perubahan sebagai berikut : Fungsi permintaan : Qd = 11 – P atau P = 11 – Qd Fungsi penawaran : Qs = -4 + 2P atau Qs + 4 = 2P Maka P = ½ Qs + 4/2 P = ½ Qs + 2 Gambarnya menjadi : P P = ½ Qs +2 Pe = 5 2P = 11 . tidak demikian dengan fungsi penawaran.

produsen tidak mau menaggungnya sendiri. fungsi penawaran sebelum ada pajak. Keseimbangan harga setelah ada pajak lebih tinggi dari pada keseimbangan harga sebelum ada pajak : Pe‟ = 7 sedangkan Pe = 5. iv) Berapa tarif subsidi yang di terima produsen. Maka : Pe‟ > Pe 2. Beban tarif pajak yang dibebankan oleh produsen kepada konsumen terasakan oleh adanya kenaikan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe‟ = 7. Subsidi tersebut dinyatakan dengan : tarif subsidi (s) = satuan unit uang / satuan unit barang. maka jika digambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. Fungsi permintaan. Sebagian dari pajak tersebut dibebankannya kepada konsumen. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut :Qd = 11 – P dan Qs = .Qs Keterangan gambar : E : keseimbangan sebelum ada pajak Qe : keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak Pe : keseimbangan harga sebelum ada pajak E‟ : keseimbangan setelah ada pajak Qe‟ : keseimbangan kuantitas setelah ada pajak Pe‟ : keseimbangan harga setelah ada pajak Adanya pengenaan pajak dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Pengaruh subsidi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Contoh soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. Akan tetapi. dan fungsi penawaran setelah ada pajak. v) Berapa total subsidi yang diberikan pemerintah. sedangkan yang ditanggung produsen berarti tinggal sisanya. Tarif pajak dan Total Pajak : 6. vi) Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen. Keseimbangan kuantitas setelah ada pajak lebih rendah dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak : Qe‟ = 4 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe‟ < Qe Tarif pajak yang dikenakan oleh pemerintah kepda produsen t = 3/unit. ii) Gambarkan perubahan akibat subsidi tersebut. Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah memberikan subsidi kepada para produsen. fungsi penawaran sebelum kena pajak dan fungsi penawaran setelah kena pajak digambarkan bersama-sama dalam sebuah Grafik Kartesius.gradien yang sama tetapi intersepnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. pemerintah memberikan subsidi dengan tarif subsidi dengan tarif subsidi sebesar s = 1 / unit barang. viii) Arsirlah total subsidi masing-masing pada gambar di atas. iii) Berapa tarif subsidi yang diterima konsumen. i) Carilah keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sesudah ada subsidi. vii) Berapa total subsidi yang dinikmati produsen. maka fungsi permintaan. serta keseimbangan harga dan kuantitas sebelum ada pajak digambarkan di bawah ini : P Pe = 7 Pe = 5 E“ E P = ½ Qs + 5 P = ½ Qs + 2 0 Qe‟ = 4 Qe = 6 Qd. Agar perubahannya terlihat jelas. 19 .4 + 2 P kepada produsen tersebut.

maka jika di gambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2.masing berbeda satu sama lainya.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. maka dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. 67) + 1 Pe’ = 4. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2.33 + 1 Pe’ = 4.33 Jadi keseimbangan harga setelah ada subsidi tercapai pada harga 4. Akan tetapi. Akibat adanya subsidi maka fungsi penawaran mengalami perubahan. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainnya. tidak demikian dengan fungsi penawaran. maka fungsi permintaan. yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. Agar perubahannya terlihat dengan jelas. 67 unit barang Untuk keseimbangan harga (Pe’) diperoleh dengan cara : Pe’ = 11 – Qe’ atau Pe’ = 1 / 2 Qe’ + 1 Pe’ = 11 – 6. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki gradien yang sama tetapi intersepnya masing. 33 Pe’ = 3.Keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sebelum dikenakan subsidi. Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan.67 Keterangan gambar E : Keseimbangan sebelum ada subsidi Qe : Keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi Pe : Keseimbangan harga sebelum ada subsidi E’ : Keseimbangan setelah ada subsidi Qe’: Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi Pe’ : Keseimbangan harga setelah ada subsidi Qd.Qs 20 . Akibat dikenakan subsidi. fungsi penawaran sebelum kena subsidi dan fungsi penawaran setelah kena subsidi digambarkan bersama sama dalam sebuah Grafik Kartesius.33 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya subsidi). P Pe = 5 Pe = 4. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1. perubaha tersebut mengakibatkan terjadinya pengeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. 67 Jadi keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi tercapai pada 6. 67 Pe’ = 1 / 2 (6. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum ada subsidi maupun yang sudah ada subsidi ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½ . Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada subsidi Keseimbangan kuantitas (Qe’) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe’ = ½ Qe’ + 1 11 – 1 = ½ Qe’ + Qe’ 10 = 3/2 Qe’ 20 = 3 Qe’ Qe’ = 6. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1.

: merupakan penjumlahan antara luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati produsen dengan luas aera yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati konsumen S = Sk + Sp 7.Adanya pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Dilambangkan dengan R (Revenue) atau TR (total revenue). Sebagian dari subsidi tersebut diberikannya kepada konsumen. S : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang diberikan pemerintah.000 Q 21 P : Harga jual per unit dan Q : jumlah produk yang dijual .Qs Gambar yang menunjukan total subsidi. Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi lebih tinggi dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi : Qe’ = 6. Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan tersebut dengan Grafik. Akan tetapi. Fungsi penerimaan merupakan fungsi dari Output : R = f (Q) dengan Q : jumlah produk yang laku terjual.67 Qd. Maka : Pe’ < Pe 2. Jawab : R=PxQ R = 5.67 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe’ > Qe Tarif subsidi yang dikenakan oleh pemerintah kepada produsen s = 1 / unit. Tarif subsidi yang diberikan oleh produsen kepada konsumen tersakan oleh adanya penurunan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe’ = 4.33 sedangkan Pe = 5 .33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. Jika P adalah harga jaul per unit. Keseimbangan harga setelah ada subsidi lebih rendah dari pada keseimbangan harga selum ada subsidi : Pe’ = 4. P Pe = 5 Pe = 4. Sk : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmatikonsumen. Keterangan gambar : Sp : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsisi yang dinikmati produsen. sedangkan yang diterima produsen berarti tinggal sisanya.000 per unit barang. Fungsi Penerimaan Fungsi penerimaan disebut juga fungsi pendapatan atau fungsi hasil penjualan. produsen tidak menikmatinya sendiri. Fungsi penerimaan merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi dan laku terjual.33. maka : R = P x Q dengan Contoh : Misalkan suatu produk dijual dengan harga Rp 5.

22 . dimana biaya produksi per unit senantiasa lebih kecil dibandingkan harga jual per unit barang.000.Gambar : Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi penerimaan dengan gradiennya positif : R = 5.000 Q digambarkan melalui titik (0. Merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi. Bagaimanakah fungsi biaya tetapnya dan gambarkan fungsi tersebut pada Grafik Kartesius? Jawab : FC = 100. Jadi : VC = f(Q). Fungsi Biaya Dilambangkan dengan C (Cost) atau TC (Total Cost).000.0) 0 8.000 per unit.000 0 2. Jawab : VC = P x Q VC = 3.000. Jika P adalah biaya produksi per unit. Merupakan fungsi biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk yang diproduksi.000. Jadi fungsi biaya biaya tetap adalah fungsi konstanta : FC = k dengan k adalah konstanta positif Contoh : Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 100. Fixed Cost atau fungsi biaya tetap (FC) merupakan fungsi yang tidak tergantung pada jumlah produk yang diproduksi.000 Q Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi biaya variabel digambarkan melalui titik (0. Gambar Fungsi Biaya Tetap : FC = 100.000. Variabel Cost atau Fungsi Biaya yang berubah-ubah (VC).0) dengan grdiennya positif. maka VC = P x Q dengan P : biaya produksi per unit dan Q: Produk yang diproduksi Contoh: Suatu produk diproduksikan dengan biaya produksi Rp 3. Bagaimanakah fungsi biaya variabelnya dan gambarkan fungsi tersebut dengan grafik. Terdiri atas dua jenis fungsi biaya: 1.

000 + 3.000 dan biaya variabelnya : 3.000.000.000 Q. Gambar Fungsi Biaya Tetap.000. maka perusahaan dinyatakan dalam keadaan merugi.000 Q : TR < TC Untuk lebih menjelaskan hal tersebut dibawah ini diberikan contoh. Ternyata intersep dari fungsi total biaya adalah sama dengan biaya tetapnya dan gradienya sama dengan gradien fungsi biaya tetap.000.000 9. Hal ini mencerminkan bahwa penggambaran fungsi total biaya haruslah melalui titik (0. dimana biaya tetap yang dikeluarkan sebuah perusahaan sebesar Rp 100. maka TC = 100.Gambar Fungsi Biaya Variabel : VC = 3. total Biaya : TC=100. TC = FC + VC Contoh : Untuk contoh diatas.000Q. maka barulah perusahaan tersebut dapat menikmati keuntungan: Untung : TR > TC Jika penerimaan masih belum dapat menutup biaya-biaya yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 + 3. Fungsi Total Cost (TC) merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut: ‘ Break-Even’ TR = TC Jika penerimaan sudah dapat melebihi biaya-biaya yang dikeluarkan.000. Biaya Variabel.000 Q = 5.FC) dan sejajar dengan grafik VC.000 + 3000 Q VC= 3000 Q FC =100.000 Q 0 3. Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup Biaya tetapnya? Berapakah penerimaan yang diperoleh? 23 . Hal ini disebabkan karena seluruh penerimaan perusahaan dibayarkan untuk menutup biaya tetap maupun biaya variabelnya. Analisis ‘Break-Even’ Yang dimaksud dengan ‘Break-Even’ yaitu suatu kondisi dimana perusahaan tidak untung maupun tidak rugi. baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 VC = 3.000. Rugi Contoh Soal: Dari contoh sebelumnya diperoleh bahwa Fungsi Fixed Cost : Fungsi Variabel Cost: Fungsi Total Cost : Fungsi Revenue : R FC = 100.000 Q TC = 100.

yaitu‟ R = TC = 5.000 dipergunakan untuk menutup biaya tetapnya sebesar Rp 100.000 Q* = 50.000. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 20.000. Tingkat penerimaanya sama dengan total biaya.000 Agar perusahaan dapat menikmati keuntungan. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 50.000.000.000Q 2000Q = TC = 100.000Q-3.000 – Rp 3.000 Keadaan ‘Break-Even Analysis’ tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut : TR FC.000.000 TR‟ FC 100.000 unit dengan penerimaannya akan lebih dari Rp 250.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya produksinya.000 Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan : TR 5.000 x 50.000 Q = 100.000 = Rp 2. maka Kontribusi margin= Harga jual per unit – Biaya produksi per unit Kontribusi margin= Rp 5. Untuk itu perusahaan harus memproduksi produk sebanyak lebih dari 50.000.TC.000Q = 100.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya tetap yang dikeluarkannya.000Q = 100.000 0 Keterangan gambar : Q* Q‟ : Pada titik ini.000.VC.000 : Pada titik ini. maka total penerimaan harus melebihi total biaya. Tingkat penerimaannya : R = FC = 100.000.000.000.000 = 250.000.000.R TR” TC” VC TC‟ 250.000 5. Q = 50.Berapakah produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkannya? Berapakah penerimaan yang diperoleh?Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan? Berapakah kontribusi marginnya? Jawab: Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup biaya tetap : TR = FC 5.000 Kontribusi margin yaitu keuntungan per unit. Q = 20.000.000.000 dipergunakan untuk menutup total biaya yang juga sebesarRp 250. seluruh penerimaan sebesar Rp 250.000 unit barang.000 seluruh penerimaan sebesar Rp 100.000 + 3.000 Q’ = 20.000 unit barang.000 dipergunakan untuk menutup 24 Q‟ Q* Q” Q TC .

dinyatakan dengan fungsi : Y = C + S Y = Pendapatan Nasional (National Income) C = Konsumsi (Comsumption) S = Tabungan (Saving) Fungsi konsumsi dinyatakan dengan fungsi : C = Co + bY Co = Autonomous Consumption. b : 1–b Kesimpulan yang diperoleh: Marginal propensity to consume : Marginal propensity to save Karena Maka : B + (1 – b) = 1 MPC + MPS = 1 25 . Co > 0 (1 – b ) : Marginal Propensity to Save. ditabung. PENERAPAN DALAM TEORI EKONOMI MAKRO 10. = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan.000. maka perusahaan akan mengalami kerugian karena masih terjadi TR < TC. perusahaan Rugi Q” : Untuk Q” terlihat bahwa TR” > TC”. Jika perusahaan berproduksi tepat pada Q*. maka perusahaan akan memperoleh keuntungan karena sudah terccapai TR > TC.Co + (1 – b)Y = S atau S = .000. perusahaan untung! Jika perusahaan berproduksi pada tingkat yang masih lebih rendah dari Q*. Fungsi Pendapat Nasional yang terdistribusi Menjadi fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan. 0 < (1 – b) < 1 . jika ada.biaya tetapnya sebesar Rp100. Co > 0 B = Marginal Propensity to Consume. 0 < b < 1 Keterangan : Co = Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan. Pendapatan suatu negara terdistribusi karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan sisanya. maka perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian karena terjadi TR = TC Jika perusahaan sudah mampu berproduksi pada tingkat yang melebihi Q*. b = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. Sekaligus dapat terlihat pada gambar bahwa pada titik Q‟ terjadi TR‟ < TC‟. Fungsi tabungannya diperoleh dari : Y=C+S Y = (Co + By) + S Y – (Co + By) = S Y – Co – b S = S Y – Co – by = S Y(1 – b) – Co = S .Co (1 – b) = Tabungan yang tidak tergantung pada besarnya pendapatan.Co + (1-b)Y – Co : Autonomous Saving.

Contoh Soal : Suatu negara diketahui memiliki konsumsi otonominya sebesar Rp 300.000.000. Marginal propensity to save-nya sebesar 0,45. Bangunlah fungsi konsumsinya ! Bangunlah fungsi tabungannya ! Berapa yang dikonsumsi jika pendapatan nasional 1 miliar? Berapakah yang ditabung jika pendapatan nasional 1 miliar? Pada pendapatan nasional berapakah dimana tidak ada yang ditabung? Gambarkan fungsi konsumsi, fungsi tabungan, dan fungsi pendapatan nasional pada sebuah grafik! Jawab : Fungsi konsumsinya: C = Co + bY C = 300.000.000 + (1 – 0,45)1.000.000.000 C = 300.000.000 + 0,55 Y Fungsi tabungannya : S = - 300.000.000 + 0,45 Y Jika pendapatan nasionalnya 1 miliar: Fungsi konsumsi: C = 300.000.000 + 0,55 x 1.000.000.000 C = 300.000.000 + 550.000.000 C = 850.000.000 Fungsi tabungan: S = - 300.000.000 + 0,45 x 1.000.000.000 S = - 300.000.000 + 450.000.000 S = 150.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan nasional sebesar 1 miliar, maka Rp 850.000.000 dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan Rp 150.000.000 ditabung. Tidak ada pendapatan yang dapat ditabung, artinya S = 0 Y=C+S Y=C+0 Y=C Tidak ada pendapatan yang ditabung maka berarti seluruh pendapatan habis dikonsumsi. Tingkat pendapatan yang akan seluruhnya habis dikonsumsi yaitu : Y Y – bY = Co + bY = Co

Y ( 1 – b ) = Co

Y
Y

1 (1 b)

x Co

1 x Co (1 0,55)

26

Y

1 x 300.000.000 (0,45)

Y = 2,22 x 300.000.000 Y = 666.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan sebesar Rp 666.000.000 seluruh pendapatan dikonsumsi. Gambar Fungsi Konsumsi, Fungsi Tabungan, dan Fungsi Pendapatan Nasional diberikan bawah ini : C,S,Y Y=C Y=C+5 C = 300.000.000 + 0,55Y 300.000.000 S = - 300.000.000 + 0,45Y 0 S=0 Disaving - 300.000.000 11. Fungsi Pendapatan Nasional yang Dihitung Melalui Pendekatan Pengeluaran Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional suatu negara, salah satu pendekatannya adalah dengan menghitung pengeluaran dari masing-masing sektor. Sektor-sektor yang mungkin terlibat dalam perhitungan tersebut ialah : 1. Sektor rumah tangga, di mana pengeluarannya dikenal sebagai konsumsi (C) 2. Sektor pengusaha, di mana pengeluarannya dikenal dengan investasi (I) 3. Sektor pemerintah, di mana pengeluarannya yaitu pengeluaran pemerintah (G) 4. Sektor perdagangan luar negeri, terdiri atas ekspor dan impor (X – M) Jika yang terlibat sektor rumah tangga dan pengusaha, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha dan pemerintah, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha, pemerintah, dan perdagangan luar negeri maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G+(X–M) Pendapatan Disposibel ( Yd ) Yang dimaksud dengan pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang dapat langsung dikonsumsi. Jika ada ‘transfer payment’ ( R ), maka pendapatan diposibel merupakan penjumlahan antara pendapatan dengan ‘trasfer payment’ : Yd = Y + R Jadi ‘trasfer payment’ menambah pendapatan disposibel. Jika ada pajak (T), maka pendapatan baru menjadi pendapatan disposibel setelah dikurangi dengan pajak : Yd = Y + T Jadi pajak mengurangi pendapatan disposibel. Jika ada pajak dan ‘transfer payment’, maka haru dipertimbangkan keduanya : Yd = Y + R – T Saving Y

27

Jika tidak ada pajak maupun ‘trasfer payment’ maka pendapatan disposibel adalah merupakan pendapatan : Yd = Y Trasfer Payment’ ( R ) Yang dimaksud dengan ‘trasfer payment’ yaitu pembayaran yang dialihkan, misalnya tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan lain-lain. Pajak (T) Pajak terdiri atas dua jenis : 1. Pajak yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : To ( Autonomous Tax ), To > 0 2. Pajak yang bergantung pada besarnya pendapatan : tY ; t ( income tax rate ), 0 < T < 1 maka alternatif fungsi pajaknya : Jika tidak ada pendapatan : T = To Jika ada pendapatan Fungsi Konsumsi ( C ) Konsumsi terdiri atas dua jenis : 1. Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : Co (Autonomous Consumtion), Co >0 2. Konsumsi yang bergantung pada besarnya pendapatan : bY ; b (marginnal propensity to consume), 0 < b < 1 maka alternatif fungsi konsumsinya : Jika tidak ada pendapatan : C = Co Jika ada pendapatan dan ada pajak : C = b Y d atau maka: C = b (Y – T) atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y – T C = Co + b (Y – T) : T = tY atau T = To + tY

Jika ada pendapatan dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y + R Maka : C = b (Y – R) atau C = Co + b (Y + R) Jika ada pendapatan, pajak dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, dimana Yd = Y + R – T Maka : C = b (Y + R – T) atau C = Co + bYd atau Maka : C = Co + b Y atau Fungsi Investasi 1. Fungsi investasi merupakan variabel eksogen yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, maka ditulis : I = Io 2. Jika dipengaruhi oleh tingkat suku bunga ditulis : I = Io – i r, r : tingkat suku bunga I : proporsi I terhadap i Fungsi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri atas : 1. Pengeluaran pemerintah yang tidak bergantung pada pendapatan : G (Government Expenditure), Go > 0 C = Co + b (Y + R – T) C = b Y, C=bY dimana Yd = Y Jika ada pendapatan tetapi tidak ada pajak dan ‘trasfer payment’ :

28

Hitunglah pendapatan nasional suatu negara jika diketahui autonomous consumption : masyarakatnya sebesar 135. Parameter Diberi lambang dengan huruf kecil. Impor yang tidak bergantung pada pendapatan : M (Autonomous Import).3 . Ada berapa variabel eksogen. 0 < g < 1 maka alternatif fungsi pengeluaran pemerintah : Jika tidak ada pendapatan : G = Go Jika ada pendapatan : G = gY atau G = Go + gY Fungsi Ekspor Fungsi Investasi merupakan variabel eksogen. Io = 75. Biasanya dilambangkan dengan simbol yang diberi tambahan „0‟. Impor yang bergantung pada pendapatan : mY. Marginal Propensity to Consume (MPC) = 0. seperti : Co.2 5 29 Angka penggandaan untuk . variabel endogen dan parameternya ? Bagaimanakah model pendapatan nasionalnya serta angka penggandaannya ? Carilah semua nilai dari variabel endogenya ? Jawab : Diketahui Co = 135.2. 0 < m < 1 maka alternatif impor : Jika tidak ada pendapatan : M = Mo Jika ada pendapatan : M = mY atau Variabel Eksogen Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya tidak diperoleh dari perhitungan model. To. Xo. Go. Mo Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang nilainya diperoleh dari perhitungan model.8) 1 0. sektor pengusaha dan Pemerintah : Model Pendapatan Nasionalnya : Y=C+I+G di mana C = Co + b Y I = Io G = Go maka Y Y = (Co + b Y) + Io + Go = Co + b Y + Io + Go M = Mo + mY Y – b Y = Co + Io + Go Y(1 – b) = Co + Io + Go Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 (1 b) 1 (1 0.m (marginal propensity to import). yaitu : sektor rumah tangga. Contoh Soal : 1. Pengeluaran pemerintah yang bergantung pada pendapatan : gY . Io. Xo > 0 2.8 Investasinya = 75 Pengeluaran pemerintah = 30. b = 0. g (proporsi pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan. maka ditulis : X = Xo Fungsi Impor Impor terdiri atas : 1. Go = 30 Yang terlibat tiga sektor.

8 Y C = 135 + 0. Autonomous consumption suatu negara = 100. maka akan menyebabkanpeningkatan pendapatan nasional (Y) sebanyak lima kali.8 (1200) C = 135 + 960 C = 1095 2. yaitu: 1.8) 1 x (240) (0. ataupun ‘government expenditure’ (Go) sebanyak satu. Model pendapatan nasionalnya : Y =C+I dimana C = Co + b Yd Yd = Y – To I = lo Sehingga Y = Co + b (Y – To) + lo Y = Co + bY – b To + lo Y . 2. To = 50 = 1 – 0. Carilah model pendapatan nasional ? Hitunglah angka penggandaannya ? Carilah semua nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui : Co = 100 . ‘investment’ (lo).6 Ada dua sektor yang terlibat yaitu : sektor rumah tangga dan sektor pengusaha. MPC = 1 – MPS . Investasi nasionalnya = 40 dan autonomous tax = 50. dengan MPS-nya = 0.Model di atas Ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan faktor – faktor ‘autonomous consumption’ (Co). 3. yaitu : 1.4 = 0. Pendapatan nasional (Y) Consumtion (C) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (y): Y Y Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 x (135 75 30) (1 0.4 dari pendapatan disposibel. Autonomous Consumption (Co) Investment (lo) Government Expenditure (Go) Parameternnya ada satu.bY = Co – bTo + lo Y (1 – b) = Co – b To + lo 30 . lo = 40 . 2. Variabel eksogennya ada tiga.2) Y = 5 (240) = 1200 Menghitung variabel endogen konsumsi(C): C = Co + bY C = 135 + 0. yaitu : ‘Marginal Propensity to Consume’ (b) Variabel endogennya ada dua.

9 Semua sektor terlibat sehingga model pendapatan nasionalnya . Transaksi impor terhitung = 40 dengan marginal propensity to import = 0.6 (275 – 50) C = 100 + (0. Mo = 40. Co = 70.6) (225) C = 100 + 135 C = 235 3.19.6 (Y – 50) C = 100 + 0. Y = C + I + G + (X – M) di mana C= Co + b Y C = 70 + 0. Transaksi ekspor terhitung = 80.Y Angka penggandaan : 1 = = 1 1 (Co – b To + lo) = 1 0. b = 0.5 (1 – b) (1 – b) (1 – 0.9 Y I = lo = 90 G = Go = 65 X = Xo = 80 M = Mo + mY = 40 + 0. m = 0.4) Y = 2.4 = 2. Pengeluaran di sektor pengusaha = 90.9 Dinyatakan : Carilah model pendapatan nasional ? Hitung angka penggandaannya ? Carilah nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui lo = 90.6) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (1 b) x (Co bTo Io) 1 x (100 (0. sedang pengeluaran di sektor pemerintah = 65.6) 1 x (100 30 40) (0.19 Y sehingga Y = C + l + G + (X – M) Y = (Co + bY) + lo + Go + (Xo – Mo + mY) Y = Co + bY + lo + Go + Xo + Mo + mY 31 .5 (110) Y = 275 Jadi pendapatan nasionalnya sebesar 275 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + b Yd C = Co + b (Y – To) C = 100 + 0. Konsumsi masyarakatnya terlihat dari fungsi sebagai berikut : C = Co + b Y di mana autonomous consumption = 70 dan MPC = 0. Go = 65.6)50 40) (1 0.19. Xo = 80.

72 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + bY C = 70 + 0.91) 1 0.29) Y = 3.19) 1 (265) (0.6068 Jadi impornya = 213.72) C = 892.348 Menghitung variabel endogen impor ( M ) : M = Mo + mY M = 40 + 0.448 ( 265 ) Y = 913.Y – bY + mY = Co + lo + Go + Xo – Mo Y (1 – b + m) = Co + lo + Go + Xo – Mo Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) Angka Penggandaannya 1 (1 b m) 1 (1 0.6068 32 .19 (913.448 Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) 1 (70 90 65 80 40) (1 0.348 Jadi konsumsinya = 892.9 (913.9 0.9 0.72) M = 213.29 3.72 Jadi pendapatan nasionalnya = 913.

2. menghitung elastisitas dan enghitung optiasi. di mana P: Price (harga) dan Q: Output. Mempelajari Penerapan Diferensial Berantai seperti dalam fungsi produksi menghitung Marginal Physical Product of Capital. Tutjuan Khusus 1. Elastis titik: Analisis Fungsi dan Grafis. serta terangkan artinya. Laju Pertumbuhan (Fungsi Marginal) Fungsi Marginal merupakan turunan pertama dari fungsi-fungsi total yang merupakan fungsi ekonomi. Laju Pertumbuhan II. 1. fungsi arjinal. dan Diferensial berantai.Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapa nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 10 output. Jika fungsi marginal hasilnya negatif. Menghitung Optimasi untuk dua variabel serta mmencari Marginal Rate of Technical Substitusi. Optimasi (Nilai Maksimum dan Minimum) III. Marginal Physical Product of Labor. Fungsi permintan diberikan P = 3Q+27. Cross Elasticity of Demand. Mempelajari penerapan Diferensial Biasa seperti mencari laju pertumbuhan.BAGIAN 3 KONSEP DASAR TEORI DIFERENSIAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari perubahan variabel terikat perubahan variabel bebasnya. Jawab : fungsi total pendapatan (Total Revenue) R = P. Diferensial Parsial. 3. maka y berkurang atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan bertambah. Fungsi Marginal menggambarkan laju pertumbuhan suatu variabel terikat akibat perubahan variabel bebasnya. Secara umum jika diberikan fungsi total sebagai berikut: y = f (x). maka diperolehlah fungsi Marginalnya dy/dx : laju perubahan y akibat perubahan x sebanyak 1 unit. Juga dipelajari kaidah-kaidah Diferensial serta jenis-jenis diferensial yang terdiri atas Diferensial Biasa. arginal Revenue Product of Capital dan Marginal Revenue Product of Labor. Mepelajari Penerapan Diferensial Parsial. di mana perubahan variabel bebasnya erupakan perubahan yang sangat kecil sekali. seperti maksimasi pendapatan atau miniasi biaya. seperti enghitung Price Elasticity of Deand. yang artinya jika x bertambah 1 unit. PENERAPAN TEORI DIFERENSIAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI B. Juga dipelajari perbandingan antara perubahan variabel terikat tersebut dengan perubahan variabel bebasnya yang disebut “kuosien Difference”. PERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Penerapan Teori Diferensial Biasa Teori Diferensial biasa diterapkan dalam berbagai masalah diantaranya untuk mencari : I. artinya jika x bertambah 1 unit maka y akan bertambah pula atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan berkurang pula. dikatakan perubahan searah. Contoh soal : Marginal Pendapatan (Marginal Revenue) 1.Q R = 3Q2+27Q Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) MR = dR/dQ = 6Q + 27 33 . Lebih jauh lagi : Jika fungsi marginal itu hasilnya positif. dan Income Elasticity of Demand.Q R = (3Q+27). maka dikatakan perubahannya tidak searah.

maka MR = dR/dQ = 6Q + 27 = 6(10) + 27 = 60 +27 = 87 Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 87. e Q/2 Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 2 penjualan.8(7) = 80 – 56 = 24 Artinya: untuk setiap peningkatan output Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 24.8 Q Jika perusahaan memproduksi pada tingkat output Q = 7. Q R = (80 – 4 Q) Q R = 80 Q – 4 Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : MR = dR/dQ = 80 .2) = 60 e 34 .Q R=(30.2/5 = 4/5 artinya :untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 4/5. dimana P: Price (harga) dan Q: Penjualan. serta terangkan artinya. Fungsi Pendapatan Rata-rata (Average Revenue) diberikan AR = 80 – 4 Q Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 7 output. maka MR= dR/dQ = 6/5 .e Q/2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : Dengan mengambil U = 30 Q. dimana harus diubah dahulu menjadi P = 6/5 –1/5Q Barulah mencari fungsi total pendapatan (Total Revenue): R = P. Fungsi Permintaan diberikan Q = 6 .serta terangkan artinya. serta terangkan artinya.5P.5P.e Q/2+30 Q.2/5. maka MR = dR/dQ = 80 .Q R = (6/5 – 1/5Q) Q R = 6/5Q-1/5Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue): MR = dR/dQ = 6/5 . 4.2/5Q Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 1. Sehingga U‟=30 Dan V = e Q/2 Sehingga V‟=1/2. Jawab: Karena fungsi permintaanya Q = 6 .Jika perusahan berproduksi pada tingkat output Q = 10 .1/2.e Q/2 Maka MR= dR/dQ = U‟ V+U V‟ = 30. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 24.e Q/2)Q R=30Q. Jawab : Funsi total pendapatan (Total Revenue) : R=AR.Fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan AR = 30. sebaliknya untuk setiap penurunan 3. Jawab: Fungsi total pendapatan ( Total Revenue) : R = AR . e Q/2 = e Q/2(30+15 Q) Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 2 Maka MR = dR/dQ = e Q/2 ( 30+15 Q) = e 2/2 ( 30+15.(1) = 6/5 . sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan banyak menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 87 2. Bagaimanakah Fungsi marginal pendapatanya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatanya jika perusahaan memproduksi baru 1 penjualan .sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 4/5.e Q/2+15 Q.e Q/2 = 30.

8Q + 10 Jika perusahaan berproduksi pada tingkat penjualan Q = 2. tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum.4 < 0 sehingga diperoleh nilai maksimum Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum yaitu sebanyak 4.4Q + 16 = 0 4Q = 16 Q=4 Agar dijamin bahwa jika menjual sebanyak Q = 4 maka akan diperoleh total pendapatan maksimum.2(4)2 + 16(4) R = 32 35 . Total pendapatan maksimumnya: R = .8Q + 10 = 3(2)2 . Berapakah y yang optimum tersebut? Untuk menjawab pertanyaan pertama. Jawab: Fungsi total biaya (total biaya): C = Q3 . Misalkan untuk fungsi dengan satu variabel y= f (x). Fungsi Total Biaya suatu perusahaan dinyatakan sebagai berikut: C = Q3 . Harga jual barang P = . maka MC = C‟= 3Q2 .Q = (. maka lakukanlah langkah kedua yaitu mencari turunan kedua fungsi total pendapatan: R” = .2Q + 16) Q R = .4 Ternyata R” = . Berapakah x yang akan memberikan y optimum? Jika itu telah terjawab. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan biaya sebesar 6. Contoh soal: Marginal Biaya (Marginal Cost) 5.2Q2 + 16Q R = . ada dua pertanyaan yang senantiasa diajukan.4Q2 + 10Q + 75 Bagaimanakah fungsi marginal biayanya (Marginal cost) dan berapakah nilai marginal biaya tersebut jika perusahaan memproduksi 2 penjualan.Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang di jual 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 60 e.2Q2 + 16Q Langkah pertama mencari turunan pertama fungsi total pendapatan kemudian dibuat = 0 R‟ = . sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 60 e. Optimasi Satu Variabel (Nilai Ekstrim Maksimum atau Minimum) Dalam masalah optimasi. permasalahannya: i. Jawab: Fungsi total pendapatan: P = .8(2) + 10 = 12 – 16 + 10 = 6 Artinya: Untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan biaya sebesar 6.2Q + 16 R = P.2Q + 16. serta terangkan arti. langkah-langkahnya dijelaskan dibawah ini: Untuk fungsi yang mengandung satu variabel y= f(x) Maksimum Langkah I Langkah II Y‟ = 0 Y” < 0 Minimum Y‟ = 0 Y” > 0 Diperoleh titik X Menjamin Nilainya Optimum (Maksimum atau Minimum) Contoh: memaksimasi total pendapatan (total revenue) 1.4Q2 + 10Q + 75 Fungsi Marginal Biaya (marginal cost): C‟ = 3Q2 . maka pertanyaan selanjutnya baru bisa dijawab yaitu: ii.

2(4)2 = 48 contoh soal: Meminimumkan Total Biaya (Total Cost) 3. Berapakah marginal pendapatan maksimum tersebut? Jawab: Fungsi permintaan: P = 16 .Q = (16 .1000(100) + 85000 C = 35000 Jadi total biaya minimumnya sebesar: 35000 Contoh soal: Meminimasi Marginal Biaya (Marginal Cost) 4.90Q2 + 2800Q + 56500 Fungsi marginal biaya: MC = 3Q2 . Marginal biaya minimum: MC = 3Q2 .4 < 0 Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum sebanyak 4.1000Q + 85000 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan total biaya minimum? Berapakah total biaya minimum tersebut? Jawab: C = 5Q2 .2Q2 Turunan pertama: MR‟ = 16 . Biaya total dinyatakan dengan C(Cost) = 5Q2 . Total biaya minimumnya sebesar: C = 5Q2 . Biaya total dinyatakan dengan C (Cost) = Q3 -90Q2 + 2800Q + 56500 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan marginal biaya minimum? Berapakah marginal biaya minimum tersebut? Jawab: Fungsi total biaya: C = Q3 . maka akan diperoleh total pendapatan maksimum sebesar 32.2Q2 = 16(4) .2Q.1000Q + 85000 C‟= 10Q – 1000 = 0 10Q = 1000 Q = 100 C” = 10 > 0 Jadi total biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 100 unit.180(30) + 2800 = 100 Jadi marginal biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 30 unit:100 2.2Q Fungsi total pendapatan: R = P. Marginal pendapatan maksimumnya: MR = 16Q .180Q + 2800 Turunan pertama: MC‟= 6Q – 180 = 0 6Q = 180 Q = 30 Turunan kedua: MR” = 6 > 0 Jadi output yang harus diproduksi agar diperoleh marginal biaya minimum sebanyak 30.4Q = 0 16 = 4Q Q=4 Turunan kedua: MR” = . tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum.2Q) Q = 16Q – 2Q2 Fungsi marginal pendapatan: MR = 16Q .Jadi ketika menjual produk sebanyak 4. Contoh soal: Memaksimasi Marginal Pendapatan (marginal revenue) Harga jual barang P = 16 .1000Q + 85000 C = 5(100)2 . 36 .180Q + 2800 = 3(30)2 .

maka turunan ke dua = . Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut : R = 15Q . maka labanya akan minimum. 6.59Q2 + 1315Q + 2000 Berapakah produk yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh laba yang maksimum ? Berapakah laba maksimum tersebut ? Jawab: Fungsi pendapatan: R = P. Q* di mana t: tarif pajak yang di kenakan pemerintah dan Q*= Jumlah output yang di produksi dan di jual pengusaha sehingga di peroleh laba maksimum. yang memberikan laba maksimum setelah mempertimbangkan adanya pajak penjualan dan pemerintah.315Q .6Q + 114 Untuk Q1 = 3.6(35) + 114 = .2000 = 13925 Jadi dengan memproduksi dan menjual output sebanyak 35 akan di peroleh laba maksimum sebanyak : 13925 Contoh soal: Memaksimasi Penerimaan Pajak Salah satu sumber penerimaan pemerintah adalah dengan penarikan pajak. Pemerintah berupaya untuk memaksimumkan penerimaan pajak tersebut.Q R = 1000 Q . R: Pendapatan =R–C–T C: Biaya =R–C–tQ T: Pajak Q :Tingkat output yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.(35)3 + 57(35)2 .96 < 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 35.2Q). Laba maksimum nya sebesar : Laba = . yang telah mempertimbangkan biaya pajak.3) (Q . Total pajak yang akan di terima perintah : T = t.6(3) + 114 = 96 > 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 3. Untuk itu pemerintah harus menentukan berapa tarif pajak yang akan di berlakukannya sehingga akan di peroleh pajak maksimum.315(35) .5.2 Q2 Fungsi biaya: C = Q3 .(Q3 .Q3 + 57Q2 .315 = Q2 . maka labanya akan maksimum.4Q + 12 – t = 0 12 – t = 2Q 37 . maka turunan ke dua = .2Q Dan C = Q3 .59Q2 + 1315Q + 2000) Laba = . misalnya pajak penjualan yang di kenakan pemerintah terhadap setiap unit yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.59Q2 +1315Q + 2000 Fungsi laba: Laba = Pendapatan – biaya Laba = (1000Q .35) = 0 Q1 = 3 Dan Q2 = 35 Turunan kedua: Laba” = .Q3 + 57Q2 .2Q2 Dan C = 3Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya di kenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum ? Berapakah total pajak maksimum yang di peroleh ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 15 Q – 2 Q2 – 3Q – t Q = -2 Q2 + 12Q – t Q Turunan pertama: Laba‟ = . Contoh soal : Memaksimasi laba / keuntungan / provit Di berikan fungsi permintaan dan fungsi biaya masing-masing sebagai berikut: P = 1000 .2Q2) . Untuk Q2 = 35.Q R = (1000 .2000 Turunan pertama: Laba = -3Q2 + 114Q .38Q + 105 = (Q . Dari sudut pandang pengusaha setelah ada pengenaan pajak dari pemerintah: Laba = pendapatan – (biaya + pajak) = R – (C+T).315Q .2000 = .

Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (20 – 1/13 t) = 20 t – 1/3 t 2 Turunan pertama : T‟ = 20 – 2/13 t = 0 20 = 2/13 t t = 130 Turunan ke dua : T‟‟ = . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T =t (3 – ¼ t) =3t – 1/4 t2 Turunan pertama: T1 = 3 – ½ t = 0 T=6 Turunan ke dua : T” = -½ Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: 6 Karena Q* = 3 ¼ t = 3 – 6/4 (6) = 3 – 1. pengusaha akan memperoleh laba maksimum. 38 .4 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 3 – ¼ t. berapakah tarif pajak yang harus di kenakan pemerintah kepada perusahaan tersebut? Berapakah total pajak maksimum yang di dapat pemerintah? Berapakah laba maksimum yang di terima perusahaan setelah di kenakan pajak ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 360 Q – 10.5 = 1.2/13 Jadi taruf pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar : 130 Karena Q2 = 20 – 1 t 13 = 20 – 1 (130) 13 = 20 – 10 = 10 7. Q* = 1.t 4 Q* = b – ¼ t Turunan ke dua: Laba = .5 = 9 Jadi total pajak yang yang di terima pemerintah sebesar: 9 Contoh soal: Fungsi penerimaan dan fungsi biaya suatu produk di nyatakan sebagai berikut: R = 360 Q – 10.5 Q2 – 100 Q + 4 Q2 – t Q = 260 Q – 6.5 Maka total pajak maksimum: T = t . pengusaha akan memperoleh laba maksimum.2Q Q* = 12 .5 Q2 – t Q Turunan pertama: Laba‟ = 260 – 13 Q – t = 0 260 – t = 13 Q Q = 260 – t 13 Q*= 20 – 1 t 13 Turunan ke dua : Laba‟‟ = .t = 12 .5 Q2 – (100 Q – 4 Q2) – t Q = 360 Q – 10.5 Q2 Dan C = 100 Q – 4 Q2 Berapakah produk harus di buat dan di jual perusahaan agar di peroleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum tersebut? Jika pemerintah ingin memperoleh pajak penjualan yang maksimum.13 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 20 – 1/ 13 t.

maka pada akhirnya para konsumen akan mencoba untuk menutup kebutuhannya dengan cara melirik produk dari pesaing. Demikian pula jika persediaan barang jadi di perhitungkan sedikit maka akanmenimbulkan keluhan pada konsumen akibat kelangkaan barang (permasalahan dalam pemasaran). Pola kedatangan barang persediaan digambarkan seperti gambar berikut ini: Persediaan ( Q ) Q/2 Jumlah Rata-rata Persediaan Waktu D: kebutuhan jumlah barang per periode waktu yang kemudian dibagi sama besar menjadi beberapa kali pemesanan Q: jumlah pemesanan per sub-periode waktu C: biaya total persediaan C: biaya pemesanan setiap kali memesan 39 . 4. Jika kelangkaan barang tersebut terjadi berlarut-larut. 3. manajemen perusahaan senantiasa di perhadapkan kepada permasalahan yaitu jika jumlah persediaan bahan mentah maupun persediaan barang jadi di perhitungkan banyak.5(10)2 – (130)(10) = 2600 – 65 – 1300 = 1235 Jadi pemerintah menerima laba maksimum sebesar 1235 Contoh soal : Meminimasi Total Biaya Persediaan Dalam hal persediaan. untuk kemudian akan sangat sulit jika berusaha untuk mencoba mengembalikan pangsa pasarnya kembali karena berhubungan dengan kepercayaan pelanggan serta di butuhkan investasi yang sangat besar misalkan untuk biaya pemasarannya (periklanannya) Biaya.Maka Total pajak maksimum: T = t . Laba maksimum yang di terima oleh pemerintah besarnya: Laba = 260 Q – 6. di antaranya: 1.5Q2 – t Q = 260 (10) – 6. Model yang akan di bahas dalam buku ini yaitu: model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala (batch arrival model). 2. biaya pemesanan. biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan sehingga menghambat proses produksi atau pemasaran. Akan tetapi. biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah barang. Q* = 130 . Model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala dalam model ini di asumsikan bahwa : 1. sebaliknya jika persediaan bahan mentah di perhitungkan sedikit saja. hal itu berarti menimbulkan biaya penyimpanan. tidak terjadi kekurangan persediaan sehingga tidak ada biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan. 2. 10 = 1300 Jadi total pajak yang di terima pemerintah sebesar 1300. Perusahaan tersebut. yang berarti jumlah pemesanan barang. kehilangan pangsa pasarnya. Hal tersebut kemudian berdampak dapat mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan kehilangan pelanggan. sub-periode kedatangan panjangnya tetap. biaya penyimpanan.biaya yang ada hubungan dengan masalah persediaan. 3. maka akan ada resiko yaitu menimbulkan hambatan dalam proses produksi. Jumlah kebutuhan barang. dalam suatu periode waktu tertentu di ketahui jumlahnya tetap dari tiap-tiap periode waktu.

perlu dicari: jumlah produk yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga diperoleh total biaya persediaan yang minimum: Q Q Total biaya persediaan: C = C1 + C2 D 2 Q = D.C2: biaya penyimpanan per-periode waktu Masalahnya adalah berapa unit barang yang harus dipesan setiap kali pemesanan (Q) agar biaya total persediaan (C) minimum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut. 50 per-minggu = Rp 200 per-bulan.Q-2 + ½ C2 =0 –D.C1 ½ C2 = 2 D. Biaya pemesanan setiap kali memesan sebesar Rp.C 1 C2 Turunan kedua: C” = 2D.C1 Q2 –D.C1 + ½ C2 =0 Q2 ½ C2 Q2 Q = = –D.C 1 C2 2.Q1 . 2500 C2: Biaya penyimpanan: Rp. C2 2 Turunan pertama: C′ = D. Jumlah yang harus dipesan: Q Q = Q = 50 40 = 8. C1.C1 > 0 menjamin biaya persediaan minimum. sedangkan biaya penyimpanannya Rp. 2 D.(-1) . Q3 Contoh soal: seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 100 kg setiap bulan.C1. Total biaya penyimpanan: Rata-rata sepanjang periode waktu terdapat Q/2 persediaan sehingga biaya total penyimpanan per periode waktu: (Q/2) C2 Jadi total biaya persediaan = total biaya pemesanan + total biaya penyimpanan C = Q C1 + Q C2 D 2 Yang menjadi permasalahan adalah berapakah jumlah unit atau barang yang harus dipesan agar dapat diperoleh total biaya persediaan yang minimum? Untuk menjawab permasalahan tersebut. 2500 per-pemesanan.100. maka akan dihitung total biaya pemesanan dan total biaya penyimpanan sebagai berikut: Total biaya pemesanan: Misalakan dibutuhkan 100 kg yang akan dipesan sebanyak 25 kg. maka D = 100 dan Q = 25 sehingga setiap periode waktu akan ada kedatangan akibat pemesanan sebanyak D/Q dengan biaya total pemesanan: (D/Q) C1.2500 200 . 50 per-minggu. Berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? Berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? Berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : Jumlah total pemesanan per-bulan:100 kg C1: Biaya pemesanan: Rp.

digunakan Rumus: Eyx = y/y atau Eyx = y/ x x/x y/x untuk perubahan yang kecil rumusnya menjadi : Eyx=dy/dx y/x contoh soal: Elastisitas Permintaan 1.5.000 Jadi total biaya persediaan minimum : Rp 10. Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut: Qd = 8 .0. P2 = 8.Jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 50 kg.5 .0. Misal: y = f(x).0.8 = -1 Qd/P1 4/8 4 Besar elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah -1 1 = 1 (UNITARY ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah E Untuk titik P3 = 12 maka Qd = 8 . Analisis fungsi Untuk menghitung besarnya elastisitas terhadap x. maka seberapa jauh perubahan y akibat perubahab x di sebut „elastisitas y terhadap x‟.5(8) = 8 – 4 = 4 Jadi EQDP2 = 8 = dQd/dP2 = -0.5 P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.5(12) = 8 – 6 = 2 Jadi EqdP3 =12 = dQd/dP3 = -0.0.5(4) = 8 – 2 = 6 Jadi EQDP1 = 4 = dQd/dP1= -0. Di tulis Eyx. dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 maka Qd = 8 . Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 8 – 0.5 = -0. Total biaya persediaan: C = Q C1 + Q C2 D 2 50 100 C= 2500 + 200 2 50 C = 10.5. 4 = -1 Qd / P1 6/4 6 3 Besar elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah -1/3 1 / 3 =1/3 <1 (INELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah E Untuk titik P2 = 8 maka Qd = 8 .5 P.5 = -0.5 = -0.12 = -3 Qd/P3 2/12 2 Besar elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah -3 3 E = -3 = 3 > 1 (ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah E Analisa Grafis: Elastisitas permintaan Contoh soal: 4. Elastisitas mengukur derajat kepekaan variabel terikat akibat adanya perubahan variabel bebasnya. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 100/50 =2 kali pemesanan. Grafik fungsinya: 1 4 0 4 Qd EQDP1=4 = = = 3 16 4 12 8 8 0 EQDP2=8 = = =1 8 16 8 12 EQDP3=12 = 12 0 = =3 4 16 12 P 41 .000 Elastisitas Titik: Analisis Fungsi dan Grafis. jika diketahui fungsinya.

P2 = 8. Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)* II. 4 = 8 = 4 Qs/P1 14/4 14 14 7 Besar elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah 7 Jenis elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah E = +4/14 = 7 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P2 = 8 maka Qs = + 2 (8) = 6 + 16 = 22 Jadi E QdP2 = 8 = dQs/Dp2 = + 2 = + 2 . Jika jumlah tenaga kerja yang ada 10 orang:  Berapakah „Marginal Physical Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya!  Berapakah „Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi Produksi: Q = 4 L Sehingga dQ Marginal Physical product of labour (MRP L): =4 dL Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit 42 .Q2 = 140 Q + 5 DI Mana Q adalah produksi. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik di berikan sebagai berikut: R = . sedangkan fungsi produksinya Q = 4 L. Di berikan fungsi penawaran sebagai berikut: Qs = 6 + 2P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.Contoh soal: Elastisitas penawaran 5. 8 = 16 = 8 Qs/P2 22/8 22 22 11 Besar elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah 8/11 Jenis elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah E = 8/11 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P3 = 12 maka Qs = 6 + 2 (12) = 6 + 24 = 30 Jadi E QdP3 = 12 = dQs/dP3 = + 2 = + 2 . Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 6 + 2P. grafik fungsinya: QS Qd= 6 + 2P 14 6 8 4 EQDP1=4 = = = 30 14 0 14 7 22 16 22 6 8 EQDP2=8 = = = 22 22 0 11 14 24 4 6 EQDP3=12 = 30 6 = = 30 5 30 0 4 8 12 P Penerapan Teori Diferensial Berantai Teori diferensial berantai di terapkan dalam masalah produksi di antaranya untuk mencari: I. Marginal Revenue Product Of Capital (MRP C)* Contoh Soal: Marginal Revanue Product Of Labour (MRPL) 1. Dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 Maka Qs = 6 + 2(4) = 6 + 8 = 14 Jadi E QdP1 = 4 = dQs/Dp1= + 2 = + 2 . 12 = 24 = 4 Qs/P3 30/12 30 30 5 Besar elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah = 4/5 Jenis elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah E = + 4/5 = 4/5 < 1 (INELASTIS) Analisis Grafis: Elastisitas Penawaran Contoh soal : 6.

2Q + 140 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRP L): dR dR dQ = .8 (4L) + 560 = . # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit.Fungsi pendapatan: ´Marginal Revenue: R = .Q2 + 140Q + 5 dR = . dC dQ dC dR = (-6000Q + 410000) (3) dC dR = -18000Q + 1230000000 dC Jadi marginal revenue product of capital (MRP L) = -18000Q+1230000000 = -18000(3C)+1230000000 = -54000C+1230000000 Untuk kapital sebanyak 1000 maka MRPL = -54000C+1230000000 = -54000(1000)+1230000000 43 . maka MRPL = -32(10) + 560 = -320 + 560 = 240 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. dL dQ dL dR = (-2Q + 140) (4) dL dR = -8Q + 560 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRP L) = . Jika kapital yang dimiliki 1000: Berapakah „Marginal Physical Product of Capital (MPPC)´ dan jelaskan artinya! Berapakah Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)´ dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi produksi: Q = 3C sehingga Marginal Physical Product of capital (MRPC): Dq = 3dC Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 240 contoh soal: marginal revenue product of capital (MRPC) 2.8Q + 560 =. sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. sedangkan fungsi produksinya Q = 3C.3000Q2 + 410000Q + 7 di mana Q adalah produksi. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik diberikan sebagai berikut: R = .32 L + 560 Untuk tenaga kerja sebanyak 10 orang. Fungsi pendapatan: R = -3000Q2 + 410000Q + 7 maka dR Marginal revenue: = -6000Q + 410000 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ = . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 240.

Optimasi 2 variabel: Maksimasi pendapatan Minimasi biaya Maksimasi laba/keuntungan III. dan pendapatan (Y). Elastisitas Parsial II. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan harga barang lain (P2) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barang lain (P1): dQd 1 / dP 2 dQd 2 / dP1 Jadi E QdP1 = dan EQdp2 = Qd 1 / P 2 Qd 2 / P1 Income Elasticity of Demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan pendapatan: Yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan pendapatan (Y) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan pendapatan (Y).= -54000000+1230000000 = 1176000000 Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. dan besarnya pendapatan (Y).Y) Fungsi permintaan barang 1 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P 1).P2. Price elastisity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barangnya sendiri. maka # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1176000000 sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1176000000 Penerapan Teori Diferensial Parsial Teori Diferensial Parsial diterapkan dalam berbagai masalah di antaranya untuk mencari: I. Di samping itu juga di tentuka oleh pendapatan. juga ternyata di tentukan oleh harga barang lain tersebut merupakan barang substitusinya atau barang komplementernya.P2. harga barang lain (P1). maka hubungan antar komoditi adalah komplementer. sedangkan # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand negatif. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1). maka hubungan antar komoditi adalah substitusi. fungsi permintaannya masing-masing dapat di tuliskan sebagai berikut: Qd1 = f (P1. harga barang lain (P2). dQd 1 / dY dQd 2 / dY Jadi E QdP1 = dan E QdP2 = Qd 1 / Y Qd 2 / Y Hubungan antar-komoditi: # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand positif. Demikian pula dengan fungsi permintaan barang 2 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P2). akibat perubahan harga barangnya (P1) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barangnya (P2): Jadi E QdP1 = dQd 1 / dP1 dQd 2 / dp 2 dan E QdP2 = Qd 1 / p1 Qd 2 / p 2 Cross Elasticity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barang lain. Misalnya ada dua barang yaitu barang 1 dan barang 2. Mencari marginal rate technical substitution(MRTS) Elastisitas Persial Fungsi permintaan suatu barang tentu di tentukan oleh harga barang itu sendiri. Akan tetapi. 44 .Y) Dan Qd2 = f (P1.

Contoh soal: 1. Qdr = 2Pj - 30 Pr + 0,05 Y Untuk Pj = 3000, Pr = 100, dan Y = 30000 Carilah: - Price Elasticity of Demand - Cross Elasticity of Demand - Income Elasticity of Demand Bagaimanakah hubungan antara komoditi j dan r? Jawab: Price Elasticity of Demand: dQdr / d Pr 30 2 30 E QdPr = = = = Qdr / pr 4500 / 100 3 45 Cross Elasticity of Demand: dQdr / dPj 2 60 4 E QdPr = Qdr / pj 4500 / 3000 45 3 Income Elasticity of Demand: dQdr / dY 0,05 15 1 E QdPr = Qdr / Y 4500 / 30000 45 3 Hubungan antara komoditi r dan j: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif, maka hubungan antara komoditi r dan komoditi j adalah Subtitusi. Optimasi Dua Variabel. Fungsi yang mengandung 2 variabel misalnya dituliskan sebagai berikut: Y=f(x1,x2) Dalam setiap permasalahan optimasi, selalu memunculkan dua pertanyaan: 1. Berapakah x1 dan x2 yang akan memberikan Y optimum (maksimum atau minimum) 2. Berapakah Y optimumnya (maksimum atau minimum) Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama tersebut, maka diberikan langkah-langkahnya sebagai berikut: Optialisasi dua variabel Y = f ( x1 ,x2 ) Maksium Langkah I Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Minimum Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Diperoleh X1 dan X2

Langkah II

Turunan kedua dan Matriks Hessian: H = Y11 Y12 Y21 Y22 D1 = Y11 < 0
Difinit negatif, Menjamin Y maksium

Langkah III

D1 = Y11 > 0
Difinit positif, Menjamin Y minimum

Diperoleh Titik ekstrim maksium atau titik ekstrim minimum

Langkah-langkah dalam tabel tersebut membantu untuk memperoleh X1 dan X2 yang pasti akan menjamin bahwa Y optimal, jadi ke tiga langkah tersebut di atas hanyalah untuk menjawab pertanyaan pertama saja. Belum di peroleh berapa besar Y yang optimal tersebut. Untuk mendapatkan nilai Y yang optimal maka nilai X1 dan X2 harus di masukan dalam persamaan Y tersebut.untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, maka di bawah ini di berikan tiga contoh yang merupakan permasalahan optimal dua variabel, yaitu: maksimasi pendapatan, minimasi biaya, maksimasi laba.

45

Contoh soal: Maksimasi pendapatan 1. Di berikan fungsi pendapatan : R = 160 Q1 – 3 Q12 – 2 Q1 Q2 – 2Q22 + 120 Q2 –180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh pendapatan maksimum? Berapakah pendapatan maksimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di jual : Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi pendapatan: R1 = 160 – 6 Q1 – 2 Q2 = 0 R2 = 120 – 2 Q1 – 4 Q2 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 6 Q1 – 2 Q2 = - 160 2 Q1 – 4 Q2 = - 120 Maka 160 2 120 4 (-160)(-4) - (-2)(-120) 640 - 240 400 Q1 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4

6 160 2 120 (-6)(-120) - (-2)(-160) 720 - 320 400 Q2 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4 Langkah ke dua adalah mencari turunan keduannya: R11 = -6, R12 = -2, R21 = -2, R22 = -4 R 11 R12 - 6 - 2 Matriks hessiannya: H = R21 R22 -2 -4
Matriks pertamanya : D1 = - 6 < 0
-6 -2 -2 -4 = (-6)(-4) – (-2)(-2) = 24 – 4 = 20 > 0 karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin pendapatan maksimum. Pendapatan maksimumnya: R = 160Q1 - 3Q12 - 2Q1Q2 - 2Q22 + 120Q2 – 180 R = 160(20) - 3(20)2 - 2(20)(20) -2(20)2 +120(20) – 180 R = 2620

Matriks keduannya : D2 = H =

Contoh soal: Minimasi biaya 2. di berikan fungsi biaya sebagai berikut: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi sehingga di peroleh biaya minimum? Berapakah biaya minimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di produksi: Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: C1 = 16Q1 – 2Q2 – 40 = 0 C2 = -2Q1 + 12Q2 – 42 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 16Q1 – 2Q2 = 40 -2Q1 + 12Q2 = 42 Maka 40 - 2 Q1 =

42 12 16 - 2 - 2 12

=

(40)(12) ( 2)( 42) 480 84 564 = = =3 (16)(12) ( 2)( 2) 192 188

46

Q2 =

- 6 - 160 - 2 - 120 16 - 2 - 2 12

=

( 6)( 120) ( 2)( 160) 400 720 320 = = = 2,12 = 2 (16)(12) ( 2)( 2) 188 192

Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: R11=16, R12 = -2, R21 = -2, R22 = 12 16 -2 R 11 R 12 16 -2 Matriks Hessiannya: H = 12 R 21 R 22 - 2 Matriks pertamanya : D1 = 16 > 0 Matriks keduanya : D2 = H = 16 -2 - 2 12 =(16) (12) – (-2) (-2) =192 – 4 =188 > 0 Karena D1 > 0 dan D2 > 0, maka definit positif, menjamin biaya minimum. Biaya minimumnya: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1 Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 C = 8(3)2 + 6(2)2 - 2(3) (2)- 40 (3)- 42 (2)+180 C = 60 Contoh soal: maksimasi laba / keuntungan 2. Diberikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya sebagai berikut: R = 12 Q1 + 8 Q2 dan C = 3 Q12 + 2 Q22 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimumnya?

Jawab: Fungsi labanya: Laba = R – C = 12Q1`+ 8Q2 - ( 3 Q12 + 2 Q22) = 12Q1 + 8Q2 - 3Q12 - 2Q22 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = 12 – 6 Q1 = 0, maka Q1 = 2 Laba2 = 8 – 4 Q2 = 0, maka Q2 = 2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11 = - 6, Laba12 = 0, Laba22 = - 4 Matriks Hessiannya: H = Laba 11 Laba 12 = -6 0 Laba 21 Laba 22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = - 6 < 0 Matriks keduanya : D2 = H = - 6 0 0 -4 = -(0)(0) (-6) (-4) = 24 – 0 = 24 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin laba maksimum. Pendapatan maksimumnya: Laba = 12 Q1+8 Q2-3Q12-2Q22 Laba = 12(2) +8(2)-3(2)2-2(2)2 Laba = 24+16-12-8 Laba = 20 47

3 1 L0.2(0.3 (0.3) K 0.7 7K MRTS = 3L 7. Diberikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 96 K 0.7) L0.8L 0.3) K 0.3 L 0.8(0.2K 0. 7 L0. Di berikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 0.5 1 0 = = MRTS = 0.210 MRTS = 3. 7 7 K 0.3 K 0.5 160 40 MRTS = 4 4 MRTS = – 4 .7 K = 210 dan L = 70 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK = = = 96 K 0. 2 MRTS = – 8 2.1 Mencari Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dK dL Jika diketahui Fungsi Produksi Q=f(K. carilah fungsi marginal pendapatannya untuk fungsi P = 16 – Q jawab: fungsi permintaan: P = 16 – Q fungsi pendapatan: R = P .7 1 96(0.5) K ) 0.3 L 0.L).5 1 = 0.5 K 4 L 4 0.3 (0.5) L0.70 MRTS = – 7 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Fungsi marginal pendapatan (marginal revenue) 1. Q R = (16 – Q) .4 L 0. maka mencari MRTS-nya dengan dQ / dL dQ dQ dQ dK dK MRTS = : .5 + 0.7 0. dQ / dK dL dK dL dQ dL Rumus: MRTS = Contoh soal: 1.5 0.1K 0.7. 7 3L0. Di mana K = 160 dan L = 40 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK 0 0.3 L0.3. Q* R = 16 Q – Q2 Maka fungsi marginal pendapatannya: MR = 16 – 2Q 48 .7 K 0.5.

fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan di bawah ini: AR = 120 – 6 Q # Pada tingkat output berapakah yang memberikan pendapatan maksimum? # Berapakah pendapatan maksimum yang diperoleh? # Gambarkan fungsi pendapatan rata-rata dan marginal pendapatan pada sebuah grafik! Jawab: Fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q Fungsi pendapatan: TR = AR .4 < 0 Untuk Q2 = 2 maka TC″= 6 (2) – 8 = 4 >0 Jadi output yang memberikan total biaya minimum adalah yang TC″>0.Maksimasi total pendapatan (Total Revenue) 2. Q1 = 2/3 Q .2)(Q .6Q MR =120 – 12Q 10 20 Q Minimasi total biaya (Total Cost) 3. Pendapatan maksimum: TR maksimum = 120 Q – 6 Q2 R maksimum = 120(10) – 6(10)2 = 1200 – 600 = 600 jadi pendapatan maksimumnya diperoleh sebesar 600 fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q fungsi marginal pendapatan: TR′= MR = 120 – 12 Q maka grafik dari kedua fungsi tersebut di gambarkan sebagai berikut: AR.2 = 0. Q = (120 – 6Q) . Q = 120 Q – 6 Q2 Turunan pertama fungsi pendapatan: TR′ = 120 – 12Q = 0 120 = 12Q Q = 10 Turunan kedua fungsi pendapatan: TR″ = -12 < 0 menjamin pendapatan maksimum. Q2 = 2 Turunan kedua fungsi total biaya: TC″= 6Q – 8 Untuk Q1 = 2/3 maka TC″= 6 (2/3) – 8 = .2) = 0 3Q . Jadi pada tingkat output Q = 10 menjamin pendapatan maksimum. yaitu Q = 2.2 = 0. Total biaya minimum: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 TC = (2)3 – 4(2)2 + 4(2) + 4 = 4 49 .MR 120 AR = 120 . Total biaya suatu perusahaan dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q +4 # Pada output berapakah yang akan memberikan total biaya minimum? # Berapakah total biaya minimumnya? Jawab: Fungsi total biaya: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 Turunan pertama fungsi total biaya: TC‟= 3Q2 – 8Q + 4 = 0 (3Q .

C1 Q= C2 2. Q – C – t Q = -5Q + 100 – (5Q2-30Q) – tQ = -5Q2 + 25Q – Tq + 100 Turunan pertama: Laba′ = -10Q + 25 – t = 0 25 – t = 10Q Q* = 25 – t 10 Q* = 2.5 – 1/10 t = 2.5 – 1/10 t.5 – 1/10(12.1440. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 1440/120 = 12 kali pemesanan.5= 1/5 t t = 12.5) = 2. sedangkan biaya penyimpanannya Rp 300 per minggu.5 – 1/10 t) = 2.5 Karna Q* = 2. Jadi sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (2.biaya pemesanan tiap kali memesan sebesar Rp 6000 per pemesanan.25 = 15.25 Maka total pajak maksimum: T = t . # berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? # berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? # berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : jumlah total pemesanan per bulan : 1440 kg C1: biaya pemesanan : Rp 6000 C2: biaya penyimpanan : Rp 300 per minggu = Rp 1200 per bulan Jumlah yang harus di pesan : 2 D.5 t – 1/10 t 2 turunan pertama: T′ = 2.Maksimasi penerimaan total pajak 4. 1.625 Minimasi total biaya persediaan 5.625 Jadi total pajak yang diterima pemerintah sebesar: 15.5Q + 100 dan C = 5Q2 – 30Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? Berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = P .6000 1200 Q = 120 jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 120 kg. pengusaha memperoleh laba maksimum.5 – 1.5 .5 turunan kedua: T″= -1/5 < 0 Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: t = 12.25 = 1. Total biaya persediaan: Q= 50 .5 – 1/5 t = 0 2. Q* = 12. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut: P = .5 – 1/10 t Turunan kedua: Laba″ = -10 < 0 Jadi dengan memproduksi Q* = 2. Seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 1440 kg tiap bulan.

Marginal Physical and Revenue Product of Labour and Capital 7. dengan K = 4. Hubungan antara komoditi 1 dan 3: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif . P3 = 40.8(10) + 40 + 40 Qd1 = 80 Price elasticity of demand: dQd 1 / dP1 0.1 / 2 K dL 51 .8 P2 + P3 + Y Untuk P1 = 20. L = 16 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 2Q. P2 = 10.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut: Qd = 16 – 0. maka hubungan antara komoditi 1 dan komoditi 3 adalah subtitusi. maka hubumgan antara komoditi 1 dan komoditi 2 adalah subtitusi.4 P1 – 0. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! jawab: fungsi produksi: Q = ½ K ½ L ½ Q = ½ 4 ½ 16 ½ Q=½.C= C= D C1 Q Q C2 2 1440 120 6000 1200 120 2 C = 144000 Jadi total biaya persediaan minimum: Rp 144000 Elastisitas persial 6. fungsi produksi : Q = 1/2K ½L = ½.8 Q=4 Sehingga: Marginal Physical Product of Labour (MPRL): 1 1 1 dQ 1 2 L2 2 .8 P2 + P3 + Y Qd1 = 16 – 0. dan Y = 40 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi-komoditi tersebut? Jelaskan! Jawab: Qd1 = 16 – 0.4 4 E Qd1P1 = Qd 1 Pr 1 80 / 20 400 Cross elasticity of demand dQd 1 / dP 2 0.4(20) – 0.4 P1 – 0.8 1 E Qd1P2 = Qd 1 / Pr 2 80 / 10 10 dQd 1 / dP3 1 1 E Qd1P3 = Qd 1 Pr 3 80 / 40 2 Income elasticity of demand dQd 1 / dY 1 1 E Qd1Y = Qd 1 / Y 80 / 40 2 Hubungan antara komoditi 1 dan 2: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya negatif.

sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit Marginal Physical Product of Capital (MRPC): dQ = ½. dC dQ dC dR = (2).(1/4) dC 52 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. dL dQ dL dR (2). K½.1 1 dQ 1 2 L2 4K dL 1 dQ 1 4 L 2 1 dL K 2 1 dQ 14 16 2 1 dL 42 dQ 1 dL 2 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. 1/2L ½dC dQ = ¼ K 1/2 L -1/2 dC 1 dQ 1 4 K 2 1 dC L2 1 dQ 1 4 4 2 1 dC 16 2 dQ 1 = dC 8 Artinya : Pada tingkat investasi sebesar 4. Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ .(1/2) dL dR 1 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRPL)=1 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang. sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit jika fungsi pendapatan: R = 2Q sehingga dR ′ Marginal Revenue: 2 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRPL): dR dR dQ . # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit.

dR = 1/4 dC Jadi Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)=1/4 Artinya: Pada tingkat investasi berjumlah 4 orang.9 + 4. Fungsi biaya dari perusahaan yang menghasilkan dua produk sebagai berikut: Biaya = 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 # Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi agar dapat diperoleh biaya minimum? # Berapakah biaya minimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Biayanya: 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: Biaya1 = 24 Q1 – 8 = 0. menjamin biaya minimum.2Q22 + 32Q1+12Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = .4 .24-32 Biaya = 68 Dengan memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 maka akan berproduksi pada biaya minimum sebesar 68. Minimasi Biaya dari Dua Produk 8.8(3) +16(2) Biaya = 12.8 . Biaya21= 0 . maka Q1=3 Biaya2 = 8 Q2 – 16 = 0. laba22= . Fungsi Laba diberikan Laba = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 4 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1.0 = 192 > 0 Karena D1> 0 dan D2> 0.4 Biaya11 Biaya12 . laba21= 0 . Biaya minimumnya: Biaya = 12 Q12 + 4Q22. laba12= 0 . Biaya12= 0 . Maksimasi Laba/Keuntungan dari dua produk 9. maka definit positif.2Q22 + 32Q1+12Q2 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga dapat diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Labanya : .8Q1 + 32 = 0 makaQ1 = 4 Laba2 = .4Q12 .8 0 Matriks Hessiannya: H= Biaya21 Biaya22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = 8 0 53 .(0) (0) = 192 . # untuk setiap penambahan investasi sebanyak 4 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 agar berproduksi pada tingkat biaya minimum.4Q2 +12 = 0 makaQ2 = 3 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11= .4Q12 .8Q 1+ 16Q2 Biaya = 12 (3)2 + 4(2)2. maka Q2=2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Biaya11= 24 . Biaya22= 8 Biaya11 Biaya12 24 0 Matriks Hessiannya : H= Biaya21 Biaya22 0 8 Matriks pertamanya : D1 = 24 Matriks keduanya : D2 = H= 0 24 0 0 8 = (24) (8) .

-8 0 0 -4 = (-8) (-4) – (0) (0) = 32 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0.Q1) = (12.komoditi tersebut? Jelaskan! 2.4(4)2-2(3)22+ 32(4) +12(3) Laba = . Matriks keduanya : D2 = H= Laba = .2. Jadi sebaiknya di produksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 agar diperoleh laba maksimum.total pendapatan dan total biaya diberikan sebagai berikut: R = 221Q + 5100 – 2Q2 dan C = 125Q + 4100 # berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? # berapakah jumlah produk yang harus diproduksi dan dijual oleh perusahaan tersebut sehingga diperoleh laba maksimum setelah mempertimbangkan masalah pejak? # berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah ? # berapakh laba maksimum yang diperoleh perusahaan tersebut? 3.5 K2 + 2KL + L2.4Q12 . maka definit negatif.9 + 32.fungsi produksi: Q = 0. menjamin laba maksimum. fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut : Qd2 = 5200 + 4P1 – 3P2 – 8P3 + 0.4.16 .3 Laba = 82 Dengan memproduksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 maka akan diperoleh laba maksimum sebesar 82. carilah nilai dan jenis elastisitas di masing-masing titik! Q (P1. dengan K = 20 L = 40 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 3Q. Laba maksimumnya: SELESAIKANLAH SOAL-SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.Q2) = (24.3Q1 Q2 + 12Q2 – 24 Q1 – 10 Q2 # Pada tingkat output (Q1 dan Q2) berapakah yang akan membuat perusahaan memperoleh total biaya minimum! # Berapakah total biaya minimum tersebut? 5. P2 = 100.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan pada gambar dibawah ini .4 + 12.6) (P3.diberikan fungsi total biaya suatu perusahaan sebagai berikut: TC = 6Q12.25 Y Untuk P1 = 200. P3 = 500 dan Y = 5000 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi .2Q22 + 32Q1 + 12Q2 Laba = .9) (P2. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! 4.3) 0 48 P 54 .Q3) = (36.

Ini merupakan penerapan integral tentu. Ini merupakan penerapan integral tidak tentu. Ini merupakan peenerapan Integral Tidak Tentu. Ini merupakan penerapan Integral tertentu. PENDAHULUAN Pada dasarnya integral terdiri atas dua jenis yang dikenal dengan integral tak tentu dan integral tentu.TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI TUJUAN UMUM Mempelajari jenis integral baik integral tak tentu maupun integral tentu serta mempelajari kaidah-kaidah dari masing-masing jenis integral. # Integral juga digunakan dalam menghitung surplus konsumen dan surplus produsen dengan cara menghitung luas dibawah kurva. INTEGRAL TAK TENTU Integral tak tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan perincian fungsi asal atau fungsi totalnya dari fungsi turunannya yang diketahui secara umum penulisannya: F ( x) K f ( x)dx Dengan K : konstanta pengintegral yang tak tentu nilainya f (x ) : integral dx : diferensial F ( x) K : fungsi asal atau fungsi total Disebut sebagai integral tak tentu akibat hasil pengintegralannya berupa F(x)+ K dimana K adalah konstanta yang nilainnya tak tentu. Integral juga digunakan dalam menghitung Surplus Konsumen dan Surplus Produsen dengan cara menghitung luas di bawah kurva. 55 . Integral digunakan dalam encari suatu fungsi asalnya jika diketahui fungsi turunannya. TUJUAN KHUSUS # Integral digunakan dalam mencari suatu fungsi total atau fungsi asalnya jika di ketahui fungsi turunannya. TEORI INTEGRAL BAGIAN 3 TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari Jenis Integral baik integral Tak Tentu maupun Integral Tertentu serta mempelajari kaidahkaidah dari masing-masing jenis integral. Tutjuan Khusus 1.

n 1 Kaidah 2. f ( x)dx K . formula pangkat xndx contoh : Xn 1 n 1 K.InX x x Kaidah 3.dx dx 1 / 2 1 u dx e 1 / 2du 1 / 2 e 4 du 1 / 2u K 1 / 2e 2 x 1 K 56 . formula eksponensial e x dx e x K contoh : e 2 x dx Kaidah 4. formula substitusi du f ( x)dx f (u ) dx F (u ) K dx contoh: misalkan u x 2 maka du dx dx du x 2 u Inu K In( x 2) K contoh : e 2 x 1dx misalkan : u e2x 2z 1 maka du 2.1 / 5 x 5 K x5 4 Kaidah 7. e2x K K formulasi penjumlahan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx x2 e x dx x 2 dx g ( x)dx contoh : e x dx 1 / 3x 3 e x K Kaidah 5.d x K contoh : 5 x 4 dx 5 x 4 dx 5. formulasi pengurangan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx g ( x)dx contoh : x2 e x dx x 2 dx e x dx 1 / 3x 3 e x Kaidah 6. f ( x). 1 dx 4 contoh : X3 1 K 3 1 4 x = K 4 formula logaritma x 3 dx Inx 3 1 dx 3 dx 3.KAIDAH-KAIDAH INTEGRAL TAK TENTU Kaidah 1. formula perkalian K .

du Contoh : xe x dx Misalkan u x maka du dx dv e x .dv u. 4 2 – 6.e . formula sebagian-sebagian u.43 3 3 = 56 3 kaidah 4. a<c<b Contoh: 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1 – 2 2+1 2+1 2+1 2+1 = 43–23 3 3 = 56 3 Kaidah 2.b a f(x) dx contoh: 2 4 x2 dx = .Kaidah 8.dx dan maka v x x. a b f(x) dx = .2 2+1 2+1 2+1 2+1 =43–23 3 3 x2+1 4 2 = 2 2+1.v x.dv u.e x e x K e x ( x 1) K Integral Tentu Integral tentu adalah integral dimana nilai dari variabel bebasnya memiliki batasan-batasan tertentu.4 2 x2 dx 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1. 2 2 57 .2 4 x2 dx = 6.dx u. Integral tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan pencarian luas suatu daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva serta batasan-batasan nilai yang membatasi dengan tepat area yang dimaksud. a a f(x) dx = F(x) a a = F(a) – F(a) = 0 contoh: 2 2 x2 dx = 2 2 x2 dx = 2 3 – 2 3 = 0 3 3 kaidah 3.du e x .ex v.4 2+1 2+1 2+1 2+1 =23 . Secara umum penulisannya: f ( x).dx dengan: F ( x) b a F (b) F (a) f ( x)dx : integral f (x ) terhadap x wilayah untuk rentang a hingga b F (b) F (a) b a : hasil integral fungsi f (x) antara a dan b : batas atas integrasi : batas bawah integrasi Kaidah-Kaidah Integral Tentu Kaidah 1. a b f(x) dx = F(x) a b =F(b)-F(a) . x3 2 4 3 = 6. a b k f(x) dx = k a b f(x) dx contoh: 2 4 6x2 dx = 6.v v.dx ex x.

In x + k 58 .9 – 4/2 .2 3] – [4.3 2 – 4.x2 dx+2 4 4x dx = 6.x2 dx – 2 4 4x dx = 6.48] – [4.22 2 2 = 4 . 4 = 32 – 8 = 24 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Kaidah 1.4 2 – 4.4 2 – 4.x3 2 4 – 4x2 2 4 3 = [6.9 = 18 – 8 + 32 – 18 = 24 2 4 4x dx = 4 .4. a b [f(x) + c d f(x) dx = a d f(x) dx contoh: 2 3 4x dx + 3 3 4x dx = 2 4 4x dx 2 3 4x dx + 3 4 4x dx = 4x2 2 3 + 4x2 3 4 2 2 = 4.16 – 4. 16 – 4/2. 64 – 2. 16 – 4 . 16 – 4/2 .2 2] 3 3 = [2. 2 3 + 4.3 3 = 2. a b [f(x)+g(x)] dx = a b f(x) dx+a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2+4x] dx = 2 4 6.8 =8 kaidah 5.4 3 – 6. 4 = 125 – 16 + 64 – 16 = 160 kaidah 6.2 2 + 4. a b [f(x) – g(x)] dx = a b f(x) dx – a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2 – 4x] dx = 2 4 6. 4 + 4/2 .4 2 .64 – 2.4 + 4 .3 2 2 2 2 2 = 4/2.4] = 128 – 16 – 64 + 16 = 64 kaidah 7. 2 2 3 3 = 2 . x2 4 2 =4. formula logaritma Contoh: = 33 1 dx x = 33 .42–4. x3 2 [4 + 4x2 2]4 3 = 2. 4 3 – 6. formula pangkat Contoh: x8 dx = x 8 + 1 8+1 = x9 9 = 1/9 x9 4 contoh: 2 x8 dx = x 8+1 2 4 8+1 =49–29 9 9 Kaidah 2.64 – 2.

dU 1 1 1 2 4 .dQ Misalkan U = 14+2Q maka dU = 2dQ Dan dQ = ½ dU 14 2QdQ Sehingga: U . U 2 . jika yang diketahui adalah persamaan fungsi marginal. Integral tak tentu dapat dipergunakan di antaranya untuk mencari persamaan fungsi total. Fungsi Total Cost (TC) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal Costnya : TC MC.U 1 2 1 2 1 59 . maka untuk mengetahui persamaan fungsi marginal digunakan perhitungan diferensial. In x 2 4 = 33(In4 – In2) x 33 dx x x Kaidah 3.4 Contoh: 2 33 dx = 33 2 4 1 dx = 33 . Contoh : 1.dQ 14 2Q 14 2. Sebaliknya. Fungsi Total Utility (TU) dapat diperoleh dengan cara mengintergralkan fungsi marginal MU . 1 2 dU 1 2 . sedangkan Integral tertentu diantaranya digunakan untuk mencari Surplus Konsumen dan Surplus Produsen FUNGSI TOTAL Jika yang diketahui adalah persamaan fungsi total. formula eksponensial Contoh: ex dx = ex + k Contoh: 2 4 ex dx = ex 2 4 = e4 – e2 = -e4 –e2 Kaidah 4.dQ utilitynya : TU Contoh Soal : Carilah Fungsi Total Revenue sebesar MR Jika berproduksi pada Q = 25 Jawab : TR MR.dQ 3.Q. Fungsi Total Revenue (TR) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal MR. formula penjumlahan Contoh: [x17 + e x+2] dx = x17 dx + e x+2 dx = 1/18 x18 2 4 + e x+2 + k contoh: 2 4[x17 + e x+2] dx = 2 4 x17 dx + 2 4 e x+2 2 4 = 1/18 x18 2 4 + ex+2 2 4 = 1/18 [4 18 – 2 18] + e4+2 – e2+2 = 1/18 [4 18 – 2 18 PENERAPAN INTEGRAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Dalam bidang ekonomi.dQ revenuenya : TR 2. maka mencari persamaan fungsi totalnya dipergunakan hitungan Integral. 12U .

surplus konsumen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi permintaanya serta menghitung luas area di bawah kurva yang bersangkutantetapi diatas harga pasar Pe.63) Fungsi Qd = 75 – 3P 2 merupakan kurva parabola yang terbuka di bawah dengan titik puncaknya (P.75).(Kesanggupan bayar > harga).dP Contoh soal: Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut : Qd = 75 – 3P 2 gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik Qd vs P ! carilah surplus konsumenya jika harga pasar Pe = 2 Jawab : Qd = 75 – 3P 2 Qe = 75 – 3. Penggambaran : P P' Surplus konsumen (SK) Pe 0 Qe Q' Q Surplus konsumen = Luas daerah yang diarsir .4 Qe = 75 – 12 Qe = 63 Jadi (Pe. SK pe f ( p). SK 0 f (Q)dQ Atau p Qe. dihitung dengan rumus Qe 1. maka bagi setiap konsumen yang pada dasarnya memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membeli barang tersebut walaupun harganya diatas Pe dinyatakan bahwa konsumen tersebut mengalami keuntungan. Bpk Alfreed Marshall menyebutnya surplus konsumen.2 2 Qe = 75 – 3.Qe) = (2.penggunaan grafiknya : 60 .Pe 2.Qd) = (0.1 4 1 2 U 1 14 2Q 14 2.jika permintaan suatu barang dinyatakan dengan persamaan P= f (Qd)dan ternyata bahwa harga barang tersebutdipasar sebesar Pe.25 8 Jadi total revenue-nya pada Q = 25 diperoleh sebesar 1/32 TR 4 1 4 1 4 1 32 Surplus Konsumen Yaitu : Keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh konsumen karna konsumen tersebut dapat membeli barang dengan harga pasar yang lebih murah daripada harga yang sanggup dibayarnya.

5 75. maka bagi setiap produsen yang pada dasarnya ingin menawarkan barang tersebut serta memiliki kesanggupan untuk menjual barang tersebut di atas harga pasar Pe dinyatakan bahwa produsen tersebut mengalami keuntungan.Qd 75 63 Surplus konsuemen 0 63 2 5 P SK 0 5 f (Q).(kesanggupan menjual < harga pasar) Jika fungsi penawaran suatu barang dinyatakan dengan persamaan P = f(Qs) dan ternyata bahwa harga barang tersebut dipasar sebesar Pe. dihitung dengan rumus : 61 .dq f ( p) dP 2 5 (2.dP 2 2 p 2 75.surplus produsen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi penawaranya serta menghitung luas area diatas kurva yang bersangkutan tetapi di atas harga pasar Pe Penggambaran : P Pe E(Qe.63) SK (75 3P 2 )dP 2 5 5 2 5 5 3 2 75 dP 3 p .Bapak Alfred Marshall menyebutnya surplus produsen.2 52 22 2.75 150 = 125 – 125 + 8 =8 125 8 SURPLUS PRODUSEN Yaitu : keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh produsen karena produsen tersebut dapat menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada harga yang sanggup dijualnya.Pe) Surplus Produsen P1 0 Qe Q surplus produsen = Luas daerah yang diarsir .

Qe 0 f (Q)dQ atau Pe SP P f ( p)dP Contoh soal: Diberikan fungsi penawaran sebagai berikut : P = 20 + 5Qs gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik P vs Q ! carilah surplus produsenya untuk harga pasar sebesar 40.4 4 4 160 160 20 dQ (5 Q. Perhitungan mencari surplus produsen sebagai berikut.4) Penggambaran grafiknya Pe = 20 – 5Qs Pe = 40 Surplus Produsen P11= 20 0 4 Qs Daerah yang diarsir menunjukkan surplus produsen yaitu keuntungan yang diperoleh akibat harga dipasar di atas (lebih tinggi)dari kesanggupan menjual.Qe 1. Jawab: Fungsi penawaranya P = 20 +5Qs P – 20 = 5Qs 5Qs = P – 20 Qs = 1/5 P – 20/5 Qs = 1/5 P – 4 Diketahui bahwa harga keseimbangan pasar adalah 40.Qe 0 4 f (Q)dQ (20 5Q)dQ 0 40. Surplus produsen : Qe SP Pe.4) 20.40 – 4 Qe = 8 – 4 Qe = 4 Jadi (Pe.dQ 0 0 (20.0) 5 2 . maka Untuk Pe = 40 Qe = 1/5P – 4 Qe = 1/5. SP Pe.Qe) = (40.4 2 5 2 0 2 40 atau 62 .

dQ Dan dV = eQ.dQ Misalkan U = Q2 Sehingga dU = 2Q.e Q Q 2 .dQ eQ 2e Q Q 2 .dQ 2 e Q .40 4.e Q e Q .e Q Q 2 .dU Maka dengan rumus : U .dQ q 2 e Q . Fungsi permintaan dan penawaran suatu barang masing – masing ditunjukan dengan fungsi sebagai berikut : Qd = 30 – 2P dan Qs = – 6 + P Hitunglah surplus konsumenya! Jawab: Mencari harga dipasar dengan cara : Qd = Qs 30 – 2P = – 6 +P 30 + 6 = P + 2P 36 = 3P maka Pe=12 dan Qe = –6 + 12 Qe = 6 Fungsi perimintaan : Qd = 30 – 2P Fungsi penawaran : Qs = – 6 + P 2p = 30 – Qd Qs + 6 = P P = 15 – ½ Qd P = Qs + 6 63 ..dV U .40 2 . Jawab: TR MR.e Q 2 Q.dV U .20 10 10 160 40 160 80 40 PENYELESAIAN SOAL – SOAL Fungsi total 4.dQ Sehingga V = eQ V .2Q.e Q TR TR Q 2 .e Q .dU Maka dengan rumus : U .V Diperoleh : TR Q 2 .e Q TR TR Q 2 . carilah fungsi total revenue dari fungsi marginal revenue : MR = Q 2eQ .Pe 40 SP Pu f ( P)dP 20 1 1 2 P 4 dP P 5 10 40 40 4P 20 20 1 1 .dQ Misalkan U = Q Sehingga dU = dQ Q Dan dV = e .dengan Q adalah julah output yang diproduksi dan di jual.dQ Sehingga V = eQ V .2Q.V Diperoleh : TR Q 2 .20 2 4.e Q 2Q.dQ 2.e Q 2Q.e Q 2e Q Jadi fungsi Total Revenue : TR Surplus konsumen 5.e Q e Q . Q.e Q 2 Q.

SELESAIKAN SOAL – SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1.6 72 90 9 72 9 4 atau 15 (30 2P)dP 30P 12 12 P 2 12 30.6) 6 15Q 0 1 2 Q 4 6 72 15.Qe 0 (15 1 / 2Q)dQ (12. Carilah fungsi total biaya dari fungsi marginal biaya sebesar : MC ( Q .Penggambaranya : P Surplus Konsumen P = Qs + 6 atau Qs = – 6 + P P´=15 Pe=12 Surplus Produsen P11= 6 P = 15 – ½ Qd atau Qd = 30 – 2P 0 6 Qe = 6 6 30 PSurplus Konsumen : SK 0 f (Q)dQ Pe . Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 40 – 10P dan Qs = 12P – 4 Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! 5.15 30.Q ) 2 jika berproduksi dari range Q = 4 hingga Q = 8. dari soal no 2 hitunglah surplus produsenya! Jawab Surplus produsen 6 6 6 1.us konsumenya sebesar 9. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 30 – 2 P dan Qs = – 66 + 10 64 .Qe 0 f (Q)dQ 12. Surplus Produsen 6.5 Qs +15.6 0 15 15 1 2 . Fungsi permintaan suatu barang dinyatakan sebagai berikut: Q = 120 – 6P berapakah surplus konsumenya bila ternyata tingkat harga adalah 60? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 4.6 72 18 36 18 maka akan diperoleh surplus produsen sebesar 18. 2. berapakah surplus produsenya bila ternyata bahwa tingkat harga di pasar adalah 25? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 3.6 0 f (Q)dQ 72 0 (Q 6)dQ 72 1 2 Q 2 6 6 6Q 0 0 72 1 2 6 2 6. SP pe . Seorang produsen mempunyai fungsi penawaran terhadap suatu barang P 1.12 152 12 2 9 baik menghitung dengan menggunakan rumus ke-1 maupun dengan rumus ke-2 diperoleh surpl.

Kendala dari A : 2.1 Penyelesaian dengan Grafik Tujuan linier programming adalah untuk menetapkan alokasi sumberdaya yang langka secara optimal di antara produk atau aktivitas yang saling bersaing.5x1 (a) (b) 65 .5x1 Dari B x2 = 10 – x1 Dari C x2 = 8 – 0.5x1 + x2 ≤ 20 Kendala dari B : 3x1 + 3x2 ≤ 30 Kendala dari C : x1 + 2x2 ≤ 16 Kendala ketidaknegatifan : x1. Pendekatan grafik untuk maksimasi dan minimisasi diperagakan masing masing dalam contoh. dan 2 jam untuk pengepakan. betapapun banyaknya. Contoh 1 Sebuah pabrik memproduksi meja (x1) dan bangku (x2). dan gambarkan grafiknya. maka linier programming adalah lebih mudah. 3 jam untuk pemolesan (B).x2 ≥ 0 Tiga pertidaksamaan pertama merupakan kendala – kendala teknis (echnical constrain) yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan tersedianya input. 3 jam untuk pemolesan. 30 jam untuk pemolesan. 2. pertidaksamaan yang keempat merupakan suatu kendala ketidaknegatifan (nonnegativity constrain) yang ditentukan pada setiap soal untuk menghindarkan nilai negatif(karena itu tak dapat diterima)dari penyelesaian.5 jam untuk perakitan (A).jadi Dari A x2 = 20 – 2. Setiap meja memerlukan 2. selesaikan masing – masing untuk x2 dalam kaitanya dengan x1 . Perusahaan tersebut tidak dapat menggunakan lebih dari 20 jam untuk perakitan. menjadi Π = 3x1 + 4x2 Di bawah kendala. 3 per meja dan Rp.fungsi obyektifnya. Perlakukan ketiga kendala pertidaksamaan tersebut sebagai persamaan.fungsi yang akan dioptiumkan. Jika kendala-kendalanya tersebut. betapapun banyaknya. Nyatakan data tersebut dalam persamaan atau pertidaksamaan. Pendekatan grafik digunakan dibawah ini untuk mencari bauran (output mix) yang akan memaksimumkan laba mingguan perusahaan tersebut. dan 16 jam untuk pengepakan setiap minggu. 4 per bangku. 1. Margin laba adalah Rp.pendakatan ini diperagakan dalam empat langkah yang mudah. terbatas variabel. kendala penyelesaian yang termudah adalah dengan pendekatan grafik. Situasi perekonomian seringkali mengharuskan pengoptimuman suatu fungsi di bawah beberapa kendala pertidaksamaan. Setiap bangku memerlukan 1 jam untuk perakitan. Apabila kendala pertidaksamaan yang dilibatkan lebih dari satu.Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! Linier Programming Suatu Pendekatan Grafik 13. dan 1 jam untuk pengepakan (C).

seorang petani ingin mengetahui bahwa ternak gembalanya memperoleh kebutuhan harian minimum dari tiga bahan pokok makanan pokok A. Semuanya disebut penyelesaian dasar (basic solution) tetapi hanya lima terakhir yang merupakan penyelasaian dasar yang mungkin (basic feasible solution) karena penyelesaian – penyelesaian tersebut tidak melanggar kendala yang manapun. Daerah yang digelapkan merupakan daerah yang mungkin memuat semua titik – titik yang memenuhi semua ketiga kendala kebutuhan ditambah kendala ketidaknegatifan. Di (7.dan harga y2 adalah Rp 4. kendala dari A : 2y1 + y2 ≥ 14 kendala dari B : y1 + y2 ≥ 12 kendala dari C : y1 + 3y2 ≥ 18 kendala ketidaknegatifan y1. Daerah yang digelapkan disebut daerah yang memungkinkan (feasible region).(0.(10. masing – masing digambarkan oleh sumbuh tegak (vertikal) dan sumbu datar (horisontal).garis isoprofit tersebut mempunyai kemiringan . Perhatikan bahwa terdapat sepuluh titik ekstrim : (0.. 66 perpotongan kedua kendala tersebut.(7. 3.6). = 3(4) + 4(6) = 36.1). Dengan menggunakan prosedur yang digunakan dalam contoh 1.2).dan 18 untuk C. Perlakukan pertidaksamaan selesaikan masing – masing untuk y2 dalam satuan y1 dan gambarkan grafiknya. Lihat gambar 13 – 2 (a). Contoh 2.kendala ketidaknegatifan x1.0). untuk memperoleh pemecahan yang optimal dalam daerah yang memungkinkan.x1 dan x2 disebut variabel keputusan atau struktural (decision or stuktural variables).3) upamanya.B dan C. produk y2 mempunyai satu unit masing – masing A dan B dan tiga unit C.jika ada. gambarkan fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isoprofit.8).(a) yang terakhir adallah perpotongan kendala – kendala ketidaknegatifan.lihat gambar 13 – 1 (a). Produk y1 mempunyai dua unit A. Kebutuhan harianya adalah 14 untuk A. Dimana x1 4 dan x 2 6 lihat gambar 13 – 1 (b).(16. Biasanya hanya salah satu dari penyelesaian dasar yang mungkin tersebut yang akan optimal.(8. Dengan menggambarkan suatu seri garis isoprofit (garis putus – putus) yng menunjukan laba(profit)yang semakin besar. Metode grafik digunakaqn dibawah ini untuk menentukan kombinasi biaya yang paling murah dari y1 dan y2 yang akan memenuhi semua kebutuhan minimum.(6.x2 ≥ 0.(0.3). nilai tersebut akan ditenukan pada salah satu titik ekstrim (atau sudut) dari batas tersebut.1 Grafik dari pertidaksamaan asal “ lebih kecil atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kiri garis.dan satu unit masing – masing B dan C.kita menemukan garis isoprofit yang menunjukan laba terbesar yang memungkinkan menyentuh daerah yang mungkin di E.yang disebut titik . 13. 1. Daerah itu memuat semua titik – titik yang memenuhi ketiga kendala ditambah kendala ketidaknegatifan. Π = 3 (7) + 4(3) = 31 yang lebih rendah dari Π = 36 diatas.0) dan (0. 3 x2 x1 4 4 Jadi.5).y2 ≥ 0 dimana kendala teknisnya dibaca ≥ karena kebutuhan minimum harus dipenuhi tetapi ungkin dilampaui 2.10).gambar 13 . 4.2 DALIL TITIK EKSTRIM Dalil titik ekstrim menyatakan bahwa jika suatu nilai optimal yang memungkinkan (optimal feasible value) dari fungsi obyektif ada.harga y1 adalah Rp 2.¾.0).-. 12 untuk B. fungsi obyektif yang akan diminimumkan adalah c = 2y1 + 4y2 di bawah kendala .(4. Dengan mensubstitusikan dalam (13.0) dalam gambar 13 – 1. Grafik dari pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kanan garis. laba dimaksimumkan pada ekstrim(extreme point).

s2 = 12 y1 + 3y2 .2) y2 c 4 1 y1 2 Garis isocost terendah yang akan menyinggung dareah yang memungkinkan adalah garis singgung (tangen) di y1 9 dan y 2 3 dalam gambar 13 – 2 (b).0) tidak dalam daerah yang memungkinkan] 13.c = 2(2) + 4(10)[untuk soal meminimasi. 2y1 + y2 . Umpamanya di (2. karena itu variabel surplus dikurangkan. gambarkan grafik fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isocost (garis putus-putus) Dari (13.ini dilakukan dengan memasukan suatu variabel slack atau surplus yang terpisah (si) kedalam masing – masing pertidaksamaan (kendala ke i) dalam sistem tersebut.2 (b) 3. sedemikian rupa sehingga 5x1 + 3x2 + s = 30.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 01 x2 s1 s2 20 30 16 s3 sebaliknya dalam contoh 2 semua kendala adalah “ lebih besar atau sama dengan ”.jika 5x1 + 3x2 = 30.variabel surplus s = 0 jika 4x1 + 7x2 = 60.s1 = 14 y1 + y2 . variabel slack s = 0. Suatu pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” seperti 4x 1 + 7x2 ≥ 0 sedemikian rupa sehingga 4x1 + 7x2 – s = 60. s adalah suatu nilai positif yang sama dengan selisih antara 5x 1 + 3x2 dan 30. x1 2. Suatu pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” seperti 5x 1 + 3x2 ≤ 30 dapat dirubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack s ≥ 0.jadi c = 2(9) + 3(3) = 30 yang menunjukan suatu biaya yang lebih rendah ketimbang di titik ekstrim yang mungkin lainya. (0.s3 = 18 67 .10).(a) gambar 13 . s adalah suatu nilai positif yang sama dengn selisih antara 4x 1 + 7x2 dan 60 CONTOH 3 karena kendala – kendala teknis dala contoh 1 semua melibatkan pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” variabel slack ditambah sebagai berikut : 2.lihat contoh 3. sistem perttidaksamaan linear harus dirubah menjadi sistem persamaan linear. Untuk memperoleh penyelesaian optimal.karena perlunya persamaan.5x1 + x2 + s1 = 20 3x1 + 3x2 + s2 = 30 x1 + 2x2 + s3 = 16 dinyatakan dalam bentuk matriks.jika 4x1 + 7x2 = 60.3 VARIABEL SLACK DAN VARIABEL SURPLUS Soal yang melibatkan lebih dari dua variabel berada di luar lingkup pendekatan grafik dua dimensi yang disajikan dalam bab sebelumnya. jika 5x1 + 3x2 < 30.

Akan tetapi.jadi s1 = 20.dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas untuk s1.dimana n > m suatu penyelesaian dimana sedikitnya n .untuk tipe 2 adalah 8. Beberapa dasar dapat dibaca secara langsung dari matriks tanpa suatu manipulasi aljabar.akan tetapi.besarnya penyelesaian dasar dapat diberikan dengan rumus n! m!(n m)! dimana n! Dibaca n factorial lihat contoh 4 CONTOH 4 dengan mereduksi pertidaksamaan menjadi persamaan dalam contoh 3 menghasilkan tiga persamaan dan lima variabel.s2. Maksimumkan Π = 24 g1 +8 g2 Dibawah 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala peleburan 68 .4 jam untuk percetakan dan 10 jam untuk pemotongan. tipe dua memerlukan 5 jam untuk peleburan.lihat contoh 3. Jadi 5(4) (3) (2) (1) 10 3(2) (1) (2) (1) CONTOH 5. Sebuah pabrik khusus baja memproduksi dua tipe baja (g1 dan g2) tipe satu memerlukan 2 jam untuk peleburan.m variabel saa dengan nol merupakan titik ekstrim. 5! 3!(2)! dimana 5! = 5(4) (3) (2) (1).dan n.diperlihatkan dibawah ini.dengan menetapkan y1 = 0 dan y2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas yang negatif untuk s1.Dalam bentuk matriks.suatu titik ekstrim.1 jam untuk percetakan dan 5 jam untuk pemotongan.atau penyelesaian dasar dapat diperoleh.jadi s1 = -14.s2 = 30 dan s3 = 16 merupakan suatu penyelesaian dasar yang dapat dibaca secara langsung dari atriks tersebut.Dalil dasar menyatakan bahwa untuk suatu sistem m persamaan dan n variabel. 14 12 18 SOAL DAN JAWABAN PERNYATAAN MATEMATIS ATAS MASALAH EKONOMI 1.s2 = -12 dan s3 = -18 merupakan penyelesaian dasar. dimana n > m akan terdapat sejumlah penyelesaian yang tak terhingga.empat puluh jam tersedia untuk peleburan.perhitungan untuk menentukan (1) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh suatu penyelesaian dasar dan (2) besarnya penyelesaian dasar yang ada.perhatikan bahwa penyelesaian dasar tersngebut bukan suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan karena melanggar kendala ketidaknegatifan.s3. 2.m variabel harus sama dengan nol untuk penyelesaian dasar 5 – 3 atau 2 variabel harus sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar atau titik ekstrim. Dalam atriks pertama. karena terdapat 3 persamaan dan 5 variabel .dua puluh jam untuk percetakan dan 60 jam untuk pemotongan. 1.nyatakan data tersebut dalam persamaan – persamaan dan pertidaksamaan yang perlu untuk menetapkan bauran output yang akan memaksimumkan laba.marjin laba untuk tipe 1 adalah 24. y1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 1 y2 s1 s2 s3 13. Jadi dengan menetapkan n – m variabel sama dengan nol menyelesaikan m persamaan untuk m variabel yang tersisa.s2.4 DALIL DASAR Untuk suatu sistem persamaan m yang konsisten dan variabel n. Dalam matriks kedua. n!/[m!(n-m)] dan dengan mensubstitusikan parameter – parameter yang diketahui.s3. banyaknya titik ekstrim adalah terhingga. dengan menggunakan rumus untuk besarnya penyelesaian dasar.

dan 32 unit vitamin D setiap hari.dan tariklah suatu garis putus – putus.batu kerikil yang kasar memerlukan 2 jam untuk penghancuran. Dari soal 1. 2 unit vitamin Cdan 8 unit vitamin D.Rp 20. Marjin laba untuk batu kasar adlah 40. 3 jam untuk pengayakan dan 2 jam untuk pengeringan.taruhlah penggaris diatas kemiringan ini gerakkan penggaris tersebut ke titik singgung dengan fungsi obyektif. x2.. 4) Bacalah setiap nilai kritis untuk g1dan g2 pada titik singgung. kasar (x1) dan halus (x2).dan memberikan 2 unit vitamin A. 5 jam untuk pengayakan dan 8 jam untuk pengeringan. x3 ≥ 0 GRAFIK UNTUK PENYELESAIAN 5. 3) Hitunglah kemiringan fungsi obyektif. Jagung (x1) memberikan 2 unit zat besi dan 5 unit vitamin. Tepung tulang (x2) memberikan 4 unit zat besi dan 1 unit vitamin. batu halus memerlukan 6 jam untuk penghancuran. Merk 1 harganya Rp 3.bagaimana makanan – makanan tersebut harus dicampur untuk memberikan pemmenuhan yang paling murah atas kebutuhan harian jika harga makanan tersebut masing – masing Rp 40.Minimumkan c = 40 x1 + 20 x2 + 60 x3 Dibawah 2 x1 + 4 x2 + 2 x3 ≥ 24 kendala vitamin zat besi 5 x1 + x2 + x3 ≥ 24 kendala vitamin x1. 1) Gambarkan grafik kendala – kendala pertidaksamaan setelah menyelesaikan masing – masing untuk g2 dalam g1 2) Grafikan kembali dan hitamkan daerah yang memungkinkan(feasible region). Merk 2 harganya Rp 4. dengan menggunakan data dibawah. Sebuah perusahaan gilingan batu untuk pekarangan rumah memproduksi dua macam batu.. 2 unit vitamin C dan 2 unit vitamin D. Di perusahaan tersebut tersedia waktu 36 jam untuk penghancuran.. Maksimumkan Dibawah Π = 24 g1 + 8 g2 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala 1 4 g1 + g2 ≤ 20 kendala 2 69 .dan memberikan 3 unit vitamin A. dan evaluasilah fungsi obyektif pada nilai – nilai ini.Dengan memakai persamaan persamaan dan pertidaksamaan.dan Rp 60. Maksimumkan Dibawah Π = 40 x1 + 50 x2 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala penghancuran 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala pengayakan 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala pengeringan x1 + x2 ≥ 0 3. bagaimanakah kombinasi paling murah yang menjamin kebutuhan harian? Minimumkan Dibawah c = 3 y1 + 4 y2 2 y1 + 3 y2 ≥ 36 kendala vitamin A 2 y1 + 2 y2 ≥ 28 kendala vitamin C 8 y1 + 2 y2 ≥ 32 kendala vitamin D y1 + y2 ≥ 0 4.. 30 jam untuk pengayakan dan 40 jam untuk pengeringan. Pak samin memastikan bahwa ayam – ayamnya mendapatkan paling sedikit 24 unit zat besi dan 8 unit vitamin setiap hari. untuk batu halus adalah 50. Seorang yang gandrung model hidup sehat ingin memperoleh minimum 36 unit vitamin A.padi – padian (x3) memberikan 2 unit zat besi dan 1 unit vitamin. Tentukan bauran output yang memaksimumkan laba dengan menyederhanakan data ini menjadi persamaan – persamaan dan pertidaksamaan. 28 unit vitamin C.4 g1 + g2 ≤ 20 kendala percetakan 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala pemotongan g1 + g2 ≥ 0 2.

apabila g1 = 0. x2 ≥ 0 70 . Dari fungsi obyektif.4 (b) PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 7.apabila g2 = 0.3 (a).g1 = 20. kemiringan = . x2 = Π /50 – 4/5 x1. Dari fungsi obyektif.jadi Π= 24(4) + 8(4) = 128 (a) gambar 13.4/5. yang diperoleh dalam soal 2 Maksimumkan Π = 40 x1 + 50 x2 Dibawah 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala 1 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala 2 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala 3 x1 + x2 ≥ 0 lihat gambar 13. jadi Π = 40(3) + 50 (5) = 370 (a) gambar 13.3 (b) 6. Daerah yang mungkin digrafikan dalam gambar 13. gambar 13. perhatikan bahwa kendala ketidaknegatifan hanya membatasi analisis pada kuadran pertama. kemiringan = -3.gkin dignh 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala 3 g1 + g2 ≥ 0 kendala – kendala pertidaksamaan tersebut harus digrafikan seperti terlihat dalam gambar 13.4 (b) untuk daerah yang memungkinkan.untuk kendala 1. kerjakan kembali seperti soal 5. dari g2 = 8 – 2/5 g1. g2 = 8.4 (a) untuk kendala yang digrafikan. x1 =3 dan x2 = 5. di titik singgung. g1 = 4 dan g2 = 4.3 (b).4 (b). dalam gambar 13.g2=Π/8– 3 g1. dengan menggunakan data berikut. Kerjakan kembali seperti soal diatas apabila diketahui data berikut : Minimumkan c = 4 x1 + 2 x2 Dibawah 4 x1 + x2 ≥ 20 kendala 1 2 x1 + x2 ≥ 14 kendala 2 x1 + 6 x2 ≥ 18 kendala 3 x1.

jadi. Kerjakan seperti soal di atas untuk yang berikut : Minimumkan c = 60 x1 + 80 x2 Dibawah 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 x1.2) juga termasuk dalam penyelesaian optimal.8) dan (6. y2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih kecil atau sama dengan”. kurangkan variabel surplus.8) dan (6. x2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih besar atau sama dengan”.karena titik – titik ekstrim (3.5 Dalamgambar 13. Perhatikan bahwa penyelesaian optimal berganda tidak menyangkal dalil titik ekstrim.5 dengan garis isocost menyinggung kendalan kedua. maka tidak terdapat penyelesaian tunggal optimal yang memungkinkan.(a) (b) gambar 13. yaitu c = 4(3) = 38 atau c = 4(6) + 2(2) = 28 VARIABEL SLACK DAN SURPLUS 8. Setiap titik antara garis (3. (a) ubahlah kendala – kendala pertidaksamaan dalam data berikut menjadi persamaan dengan menambahkan variabel slack atau mengurangkan variabel surplus dan (b) nyatakan persamaan tersebut dalam bentuk matriks. 2 y1 + 5 y2 + s1 = 40 4 y1 + y2 + s2 = 20 10 y1 + 5 y2 + s3 = 60 y1 (b) 2 5 1 4 1 0 10 5 0 0 0 1 0 0 1 y2 s1 s2 s3 40 20 60 9. Maksimumkan Π = 24 y1 + 8 y2 Dibawah 2 y1 + 5 y2 ≤ 40 4 y1 + y2 ≤ 20 10 y1 + 5 y2 ≤ 60 y1 .s2 = 28 8 x1 + 2 x2 .jadi. 2 x1 + 3 x2 . Tambahkan variabel slack. fungsi obyektif dan kendala 2 adalah secara linear tergantung (tak bebas) karena yang satu dapat dinyatakansebagai penggandaan dari yang lain.penyelesaian optimal berganda (multiple optial solution) akan terjadi bilamana terdapat ketergantungan linear antara fungsi obyektif dan salah satu kendala. Dala kasus ini.s3 = 32 71 .s1 = 36 2 x1 + 2 x2 .2) akan meminimumkan fungsi obyektif dibawah kendala tersebut.

6x1 + 2x2 ≤ 36 2x1 + 4x2 ≤ 28 72 .x1 (b) 2 3 -1 0 0 2 2 0 -1 0 8 2 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 36 28 32 10. variabel – variabel yang tidak ditetapkan saa dengan nol disebut dalam basis atau dalam penyelesaian.variabel – variabel yang disamakan dengan nol pada langkah tertentu disebut tidak dalam basis atau tidak dalam penyelesaian. sampai penyelesaian optimal dicapai. Algoritma simpleks digunakan sebagai berikut untuk memeksimumkan laba. sembari selalu menyempurnakan penyelesaian sebelumnya.g2. (a) Reduksikan kendala – kendala pertidaksamaan dari data berikut ini menjadi persamaan dan nyatakan dalam bentuk matriks. Atau lebih sederhana variabel – variabel dasar. Tentukan (b) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh penyelesaian dasar dan (c) banyaknya penyelesaian dasar yang ada. Minimumkan c = 54 g1 + 48 g2 + 50g3 Di bawah 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 g1. Metode simpleks diilustrasikan dalam contoh 1 untuk maksimisasi dan dalam contoh 3 untuk miniisasi. penyelesaian dasar pertamanya adalah s1 30 dan s2 20 .g3 ≥ 0 g1 (a) 6 4 5 -1 0 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 6 5 0 -1 g2 g3 s1 s2 30 20 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 (b) (c) karena terdapat dua persamaan dan 5 variabel.1. (d) tentukanlah penyelesaian dasar pertama dari matriks tersebut. karna paling sedikit n – m variabel harus sama dengan noluntuk suatu penyelesaian dasar. Banyaknya penyelesaian adalah n! m!(n m) (d) 5! 2!(3!) 5(4)(3)(2)(1) 2(1)(3)(2)(1) 10 Dengan menetapkan g1 = g2 =g3 = 0. apabila ditentukan Π = 5x1 + 3x2 Di bawah kendala. n – m variabel ditetapkan saa dengan nol dala setiap langkah dari prosedur tersebut. ALGORITMA SIMPLEKS : MAKSIMASI Algoritma adalah suatu kaidah aatau suatu prosedur sistematis untuk mendapatkan penyelesaian suatu soal. Algoritma simpleks adalah suatu metode(atau prosedur perhitungan) untuk menentukan penyelesaian dasar yang memungkan atas asuatu sistem persamaan dan pengujian keoptimalan penyelesaian tersebut. dan penyelesaian diperoleh dengan menyelesaikan m persamaan untuk m variabel sisanya. maka sebanyak n – m = 5 – 2 = 3 variabel harus ditetapkan sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar.karena keduanya negatif penyelesaian – penyelesaian ini tidak dapat menjadi suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan LIN EAR PROGRAMMING ALGORITMA SIMPLEKS : 14. Contoh . Algoritma bergerak dari satu penyelesaian dasar yang mungkin ke penyelesaian dasar yang lain.

Karena vektor 6 6 5 2 satuan (unit vektor) dengan 1 dalm baris pertamanya berada dibawah kolo s 1. x1 6 2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 -1 x2 s1 s2 36 40 28 s3 iii) Susunlah suatu tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien dari persamaan kendala dan vektor kolom dari konstanta letakan diatas satu baris dari indiktor yang merupakan negatif – negatif dari koefisien fungsi obyektif dan sebuah koefisien nol untuk masing – masing variabel slack. Karena 36 memberikan rasio terkecil 36 40 28 . Baris dengan ratio pemindahan terkecil (yaitu baris pivot) dengan mengabaikan rasio – rasio lebih kecil atau sama dengan nol. Rasio pemindahan diperoleh dengan membagi elemen kolom konstan dengan elemen kolom pivot. Untuk bergerak kesuatu penyelesaian mendasar baruyang mungkin. Elemen kolom konstanta dari baris terakhir adalah juga nol. Elemen Pivot dan Perubahan Dasar (basis) Untuk menaikan nilai fungsi obyektif. Proses pemilihan variabel yang dimasukan dan variabel yang dikeluarkan tersebut dinamakan perubahan basis (change of basis) i) Indikator negatif dengan nilai absolut terbesar akan menentukan variabel yang asuk ke dala basis.x2 ≥ 0 i) Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan menambahkan variabel – variabel slack 6x1 + 2x2 + s1 = 36 5x1 + 5x2 + s2 = 40 2x1 + 4x2 + s3 = 28 ii) Nyatakan persamaan – persamaan kendala dalam bentuk matriks.sesuai deng n nilai fungsi obyektif di titik asal (kalau x 1 = x2 = 0) Tabel simpleks awal : x1 x2 s1 s2 s3  2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 indikator konstanta 36 40 28 0 iv) Penyelesaian mendasar pertama yang mungkin dapat dibaca dari tabel s impleks awal. 2. s3 = 28 pada penyelesaian mendasar pertama yang mung kin tersebut. Elemen pivotnya adalah  elemen pada perpotongan kolom variabel 73 . s2 = 40. seperti dalam contoh 5 bab 3.5x1 + 5x2 ≤ 40 1. ii) Variabel yang dieliminasi ditentukan oleh rasio pemindahan (displacement ratio). Dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0. suatu variabel diasukan kedalam basis dan salah satu variabel sebelumnya berada dalam basis harus dikeluarkan. suatu penyelesaian mendasar yang baru diperiksa. x1 di asukan ke dalam basis x1enjadi kolom pivot dan ditandai dengan anak panah. Karna -5 dalam kolom pertama (atau x1)merupakan indikator negatif dengan nilai absolut terbesar. fungsi obyektif mempunyai nilai nol.s1 = 36.akan menentukan variabel yang meninggalkan baris. Tabel Sipleks Awal x1. baris1 merupakan baris pivot. maka s1 akan meninggalkan basis.

3 i. Jadi 10 3 menjadi elemen pivot yang baru.yang masuk ke basis dan baris yang berhubungan dengan variabel yang meninggalkan basis(yaitu elemen pada perpotongan baris pivot dan kolo pivot) 3. Dalam hal ini. Kalikan baris2 dengan 10 x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 3 16 30 74 1 6 1 4 1 3 5 6 0 3 10 0 0 1 10 3 4 3 0 1 0 0 . Di sini. kalikan baris1 dengan 1 .2 kali baris1 dari baris3 dan tambahkan 5 kali baris1 ke baris4.dan s3 = 16. Karena vector satuan dengan 1 dalam baris keduanya adalah dibawah s2 . 30) merupakan nilai fungsi obyektif pada penyelesaian mendasar kedua yang mungkin. Karena 4 dalam kolom kedua merupakan satu – satunya indikator negative. seperti dala metode eliminasi Gauss ( lihat butir 10.12). pivoting hanya meliputi pengubahan elemen pivot menjadi 1 dan semua eleen lainya dalam kolom pivot menjadi nol.swebagai berikut : i) Kalikan baris pivot dengan kebalikan (reciprocal) dari eleen pivot. Optimisasi Fungsi obyektif di maksimumkan kalau tidak terdapat indikator negative dalam baris terakhir. 6 Tabel kedua: x1 x2 s1 s2 s3 1 1 3 konstanta 6 40 28 0 1 6 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 ii) Setelah mereduksi elemen pivot menjadi 1. Dengan menetapkan x2 = 0 dan s1 = 0 . Dengan mengubah basis dan melakukan pivoting kontinu menurut kaidah di atas sampai hal ini di capai.dan langkah sebelumnya selalu melibatkan suatu matriks identitas. s2 = 0. maka s2 akan meninggalkan basis untuk mempivot. Dengan membagi kolom konstanta dengan kolom pivot memperlihatkan bahwa rasio terkecil adalah dalam baris kedua. ini memberikan tabel kedua x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 10 16 0 30 1 6 5 6 1 3 5 6 0 1 0 0 10 3 10 3 4 3 0 1 0 Penyelesaian mendasar kedua yang mungkin dapat dilihat secara langsung dari tabel kedua. Pivoting Pivoting adalh proses penyelesaian m persamaan dalam bentuk m varibel yang sekarang berada dala basis. kurangkan 5 kali baris1 dari baris2. Maka x2 3 dimasukan kedalam basis. kolom2 menjadi kolom pivotnya. Karena hanya satu variabel baru yang memasukibasis pada setiap langkah proses. 4. sekarang tinggal suatu atriks identitas yang memberikan x1 = 6. rampungkan kolom pivotnya. eleen terakhir dala baris terakhir (dalam hal ini.

dan sebesar 5 atau 40 sen untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 2. x 2 3 . 3 kali baris2 ke baris4. 1. para mahasiswa mungkin lebih baik membaca bab 15 terlebih dahulu. NILAI MARGINAL ATAU HARGA BAYANGAN. CONTOH 2.1) dan (2) mengevaluasi jimlah nilai marginal dari sumberdaya (resources). fungsi obyektif tersebut mencapai suatu maksimum pada 34 . 14. seringkali akan lebih mudah untuk menyelesaikan soal – soal minimasi dengan memakai dua. menghasilkan table ketiga Tabel ketiga x1 x2 1 0 0 0 0 1 0 0 s1 1 4 1 4 10 3 kali baris2 dari baris3. 6 unit dari input yang ketiga tetap tidak terpadu. alam contoh 1. Semua sarat harus dienuhi untuk suatu optimum.ii.3. dan sebesar 0 untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 3. erarti tidak sepenuhnya dimanfaatkan penyelesaian optimal dan nilai marginalnya adalah nol (yaitu penambahan satu lagi unit lain.3.tidak akan menambah sesuatupun pada fungsi laba).2. Umpamakan A. dari (14.B. ini merupakan penyelesaian optimal.dan tambahkan 4 3 s2 1 10 3 10 s3 0 0 1 0 konstanta 5 3 6 34 1 2 1 2 -1 2 5 Penyelesaian mendasar ketiga yang memungkinkan dapat dibaca secara langsung dari tabel tersebut. yaitu berapa banyak fungsi obyektif akan berubah sebagai akibat dari kenaikan satu unit dalam input tersebut. Nilai optimal dari fungsi dari fungsi obyektif akan selalu sama dengan penjumlahan dari nilai marginal setiap input dikalikan kuantitas yang tersedia dari masing – masing input. Nilai indicator dibawah setiap variabel slack dalam tabel terakhir menyatakan nilai marginal (marginal value) atau harga bayangan (Shadow price) dari input yang berhubungan dengan variabel tersebut. s 3 6 . karena kendala 3 mempunyai variabel slack positif.C melambangkan berbagai konstanta dalam kendala 1. ALGORITMA SIMPLEKS : MINIMISASI Apabila algoritma simpleks digunakan untuk mencari suatu nilai minimal. Π = MPA (A) + MPB (B) + MPC (C) = 1 2 (36) + 2 5 (40) + 0 (28) = 34 14.2. 75 . Dengan s1 0 dan s 2 0 . oleh karena itu. Karena tidak terdapat indicator negative yang tertinggal dalam baris terakhir. s1 0 . jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala dalam (14.1) tidak terdapat variabel slack dalam dua kendala yang pertama dan dua input yang pertama semuanya habis.lihat contoh 3. yang di bahas dalam bab 15. Elemen terakhir dalam baris terakhir menunjukan bahwa x1 5 . Kemudian kurangkan 1 kali baris2 dari baris1. laba akan naik sebesar ½ unit atau 2 50 sen untuk perubahan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 1. nilai negative yang dihasilkan oleh variabel surplus menghadirkan suatu soal istimewa. Π = 5x1 + 3x2 5x1 + 5x2 + s2 = 40 = 5(5) + 3(3) = 34 5(5) + 5(3) + 0 = 40 6x1 + 2x2 + s1 = 36 2x1 + 4x2 + s3 = 28 6(5) + 2(3) + 0= 36 2(5) + 4(3) + 6 = 28 2. s 2 0 .11. Untuk gabar grafik lihat contoh 13. Jadi. dengan s 3 6 . Akan tetapi.

dengan y sekarang dig anti x. Variabel tersebut tidak mempunyai makna ekonomi. dimana c = 2 x1+ 2 x2 . dibawah kendala – kendala gizi. 2 x1+ x2 ≥ 14 x1+ x2 ≥ 12 x1+ 3 x2 ≥ 18 x1 . Data tersebut berasal dari contoh 2 dalam bab13. ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus 2 x1+ x2 – s1 = 14 x1+ x2 – s2 = 12 x1+ 3 x2 – s2 = 18 ii. Variabel buatan (Ai ≥ 0)adalah suatu variabel kosong (dummy variable) yang ditambahkan dengan maksud khusus untuk menghasilkan suatu penyelesaian dasar awal yang mungkin. dimana M adalah suatu bilangan besar yang tidak mungkin (impossibly large number) untuk meyakinkan bahwa A akan dikeluarkan dari penyelesaian optimal. x2 ≥ 0 1.2) diatas baris indicator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif. Buatlah tabel simpleks awal dengan meletakan matriks koefisien dan vector kolom dari konstanta dalam (14. penyelesaian dasar tidak mungkin karena s 1 = -14.CONTOH 3. harus di msukan variabel – varaibel buatan (artificial variables). Untuk mengatasi masalah tersebut. x1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 Dari matriks tersebut jelas bahwa jika x1 = 0 dan x2 = 0. Jadi. i. Nyatakan persamaan kendala dalam bentuk matriks. iii. algoritma simpleks digunakan di bawah ini untuk meminimumkan biaya. s3 = -18 dan nilai negatif adalah tidak mungkin (nonfeasible). x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 -2 -4 0 0 0 -M -M indikator 0 0 1 -M 14 12 18 76 . x1 14 12 18 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 14 12 18 2. Tabel Simpleks Awal yang Disesuaikan untuk Meminimisasi. Sutu variabel yang terpisah ditambahkan untuk masing – masing pertidaksamaan asal yang bersifat “lebih besar atau sama dengan”. tabel simpleks awal (sedikit dimodifikasi) i. s2 = -12. seperti dalam simpleks awal untuk maksimisasi. Tambahkan variabel – variabel buatan. Fungsi obyektif mempunyai koefisien – koefisiennol untuk variabel surplus dan koefisien – koefisien M variabel – variabel buatan.

ii. 5M – 4 merupakan indicator positif terbesar. Untuk menurunkan biaya. karena 18 6 merupakan rasio terkecil yang dihasilkan. Untuk menimasi. dan (5M-4) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 5 3 2 3 1 3 0 0 1 3 -1 0 0 0 -1 0 1 3 1 3 1 0 0 0 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 8 6 6 14M + 24 -1 3 2M .ini akan menghasilkan tabel awal. Kemudian pindahkan M dari kolom variabel buatan dengan menambahkan M kali ( baris1 + baris2 + baris3).2 0 -M -M 0 -5M 4 3 5. Baris pivot dan variabel yang meninggalkan basis ditentukan oleh rasio terkecil yang dihasilkan dari pembagian elemen – elemen kolom pivot. Karena elemen terakhir dari baris paling bawah . Kurangi elemen pivot menjadi 1 dengan mengalikan baris 3 oleh 2 1 1 3 1 3 1 1 1 -1 0 0 0 0 -1 0 0 -1 3 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 3 14 12 6 44M 4M-2 5M-4 -M -M -M 0 0 ii. Tabel awal x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 1 1 0 1  0 4M-2 5M-4 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 14 12 18 44M Penyelesaian mendasar pertama yang unkindapat dilihat secara langsung dari tabel awal tersebut. indicator positif terbesar akan menentukan kolom pivot dan variabel yang memasuki basis. maka baris3 menjadi baris pivot. elemen pivot pada perpotongan kolom pivot dan baris pivot adalah 3. suatu bilangan besar yang tidak mungkin. dan fungsi obyektifnya adalah 44M.4 3 7M . penyelesaian mendasar pertama yang memungkinkan adalah A1 = 14. 3. Rampungkan kolom pivot dengan engurangkan baris3 dari baris1 dan baris2. 44M . carilah perubahan basis. Jadi x 2 menjadi kolom pivot. sebagaimana ditandai dengan anak panah. Elemen Fivot i. A2 = 12. persis untuk soal maksimisasi. Pivoting i. A3 3 akan meninggalkan basis karena vector satuan dengan 1 dalam baris ketiga adalah berhubungan dengan A3. bukan indicator . 4. A3 = 18. Pengulangan (Reiterasi) 77 .ii. Dengan mengandaikan x1 = x2 = s1 = s2 = s3 = 0.

menghasilkan tabel ketiga. dan (7M s2 0 -1 0 -M s3 1 5 1 5 2 5 A1 3 5 2 5 A2 0 1 0 2 A3 -1 5 -1 5 2 5 konstanta 24 5 14 5 -1 5 . Kalikan baris1 dengan 1 2 3 1 3 3 5 . jadi x1 masuk ke basis dan A1 meninggalkan basis.Selama masih ada suatu indikator positif.`12 .2 5 M-6 5 0 -6M 6 5 . baris pivot yang baru adalah baris1. Pivot Keempat i. Tambahkan 5 baris2 ke baris1.6M 6 5 14M 136 5 3 ii. 3 – 2)/3] baris1 dari baris4. dan kurangkan 1 baris2 dari baris3 dan [2M – 2)/5] baris2 dari 5 baris4. x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 3 -5 2 5 1 5 1 3 baris1 dari baris3. Kalikan baris2 dengan 5 2 1 0 0 0 0 0 1 0 3 -5 0 5 2 1 5 1 2 2 5 3 5 0 5 2 -1 5 . 6.`12 2 5 konstanta 9 7 3 30 78 0 -1 0 0 -1 -M+1 -M+1 . Tabel keempat x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 0 1 1 5 s2 -3 2 5 2 s3 1 2 1 2 2 5 A1 0 -1 -1 5 -M A2 3 2 5 2 A3 .4 3 7M . 3 -5 0 0 1 0 3 0 -1 0 1 5 1 3 3 5 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 24 5 0 0 0 0 0 6 6 14M + 24 -1 3 2M . Kolo pivot yang baru menjadi kolom1. 3 i. proses tersebut berjalan terus.7M 5 2 14 5 0 -M 0 0 22 5 2M .7M 5 22 5 14M 136 5 2M .elemen pivotnya adalah 5 . Rampungkan kolom1 dengan mengurangkan 2 baris1 dari baris2.`12 2 5 24 5 1 1 5 -1 -1 5 .2 5 M-6 5 .2 -M -M 0 -5M 4 3 ii.

biaya total akan sama dengan jumlah dari berbagai kebutuhan dikalikan harga bayangan masing – masing. Dengan indicator untuk s1 sama dengan nol.misalkan A. dimana c 30 Beberapa hal penting untuk diperhatikan : 1.-. Dengan s 2 s 3 0 . s1 7 . Dengan s1 7 kebutuhan pertama dipenuhi secara berlebih sebesar 7 unit. karena nilai absolut indikator untuk s2 dan s3 adalah 1.C melambangkan konstan . dan memperhatikan bahwa vector satuan untuk x 2 dan s1 berbalikan.dengan memishkan matriks identitas. kebutuhan kedua dn ketiga dipenuhi secara tepat . A3). suatu variabel buatan tidak akan pernah tampak dalam basis tabel terakhir jika suatu penyelesaian dasar optimal yang mungkin telah dicapai. pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi pertama tidak akan mengurangi biaya.2. suatu penyelesaian optimal yang mungkin telah dicapai. x 2 3 . penyelesaian dasar optimal yang memungkinkan tersebut dapat dibaca secara langsung dari tabel keempat x1 9 . A2. pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi kedua dan ketiga akan mengurangi biaya sebesar Rp 1. Jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala. Nilai absolut dari indicator untuk variabel – variabel surplus memberikan nilai marginal atau harga bayangan dari kendala. indikator darivariabel – variabel buatan semuanya negatif dalam tabel terakhir. lihat contoh 4 dan 5 dalam bab 15. 3. elemen – elemen koefisien dari dari variabel surplus(s1. 2.3. dan s 3 0 . Ini harus cocok dalam setiap yang berurutan dapat membantu dalam menemukan kesalahnmatematis. sebagaimana halnya nilai marginal. 4. 1. c = 2x1 + 4x2 x1 + x2 – s2 = 12 = 2(9) + 4(3) = 30 9 + 3 – 0 =12 2x1 + x2 – s1 = 14 x1 + 3x2 – s3 = 18 2(9) + 3 – 7 = 14 9 + 3(3) – 0 = 18 2. Untuk penyelesaian dual soal pada soal yang sama. c = MCA(A) + MCB(B) + MCC(C) = 0(14) + 1(12) + 1(18) = 30 79 .B. dan (2) mengevaluasi jumlah biaya marginal sumberdaya.konstan dalam kendala 1. Ini harus selalu cocok untuk suatu penyelesaian optimal. s 2 0 . Akan tetapi. 5. nilai fungsi obyektif ditunjkan oleh elemen terakhir dari baris terakhir.Dengan semua indikator negatif. CONTOH 4.s3) selalu sama dengan negatif dari elemen – elemen koefisien untuk variabel – variabel buatanya yang berkaitan (A1.s2. tidak terdapat surplus.

3 kali baris3 dari baris2 . Maksimumkan Π = 3y1 + 4y2 Yang terikat pada 2.y2 ≥ 0 1. Indikator negatif dengan nilai absolute terbesar (anak panah) menentukan kolom pivot.SOAL DAN JAWABAN MAKSIMISASI 1.5y1 + y2 ≤ 20 3y1 + 3y2 ≤ 30 y1 + 2y2 ≤ 16 y1. y2 s1 s2 20 30 16 s3 Bentuklah tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien persamaan kendala dan vector kolom konstan yang diletakan diatas baris indikator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif dengan koefisien nol untuk variabel awal : Tabel awal : y1 5 2 y2 s1 s2 s3 1 3  -4  1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 konstanta 20 30 16 0 3 1 -3 Dengan menetapkan y1 = y2 = 0.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 0 1 iii. 2. 1 1 0 0 3 0 1 0 1 0 0 1 2 -4 0 0 0 20 30 8 0 Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan baris3 dari baris1 .5y1 + y2 + s1= 20 3y1 + 3y2 + s2 = 30 y1 + 2y2 + s3= 16 ii. Tambahkan variabel slack pada kendala untuk membuatnya jada persamaan . Tentukan harga bayangan dari input (atau kebutuhan) untuk kendalanya. dan tambahkan 4 kali baris3 ke baris4 80 . Rasio pemindahan terkecil yang diperoleh dari pembagian elemen kolom konstanta dengan elemen kolom pivot menentukan baris pivot. Pivot. penyelesaian mendasar pertama yang mungkin adalah s1 = 20. Nyatakan persamaan – persamaan tersebut dalam nentuk matriks y1 2. Buatkan tabel simpleks awal i. elemen pada perpotongan baris pivot dan kolom pivot. Jadi. 3. Merubah basis. pada penyelesaian mendasar pertama yang mungkin tersebut. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan berikut. 5 2 3 1 2 -3 ii.  menjadi elemen pivot. i. 2. Ubahlah elemen pivot menjdin1 dengan mengalikan baris3 dengan ½ . s2 = 30. dan s3 = 16. Π = 0.

dan 3 adalah elemen pivot.Tabel kedua : y1 2 3 2 1 2 y2 s1 s2 s3 0 0 1 0 0 1 -1 2 -3 2 1 2 konstanta 12 6 1 0 0 8 -1 0 0 0 2 32  4. y 1 4 . s 3 0 . y 2 6 . ½ kali baris2 dari baris3.x2 ≥ 0 1. 2 i. Kolom 1 adalah kolom pivot. Miniumkan Yang terikat pada c = 60 x1 + 80 x2 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 x1. baris2 baris pivot. 2 x1 + 3 x2 . dan nyatakan dalam bentuk matriks. Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan 2 kali baris 2 dari baris1 . Kalikan baris2 dengan 2 1 1 2 3 2 0 0 1 0 0 2 3 -1 2 -1 1 2 12 4 8 32 -1 1 0 0 0 0 0 2 ii. 3 MINIMISASI 2. dan Π = 36. Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus. Dengan mengoreksi fakta bahwa vektor – vektor satuan dari matriks identitas tidak beraturan (out of order). dan tambahkan barsi2 ke baris4. Tabel final : y1 0 1 0 0 y2 s1 0 0 1 0 s2 s3 3 2 konstanta 4 4 6 36 1 -4 3 0 2 3 -1 1 2 0 -1 3 0 2 3 1 Karena tidak terdapat indikator negatif yang tertinggal. Ubahlah basis pada pivotnya sekali lagi. tbel fina dapat diperoleh. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan yang diberikan di bawah ini.s1= 36 2 x1 + 2 x2 . 2 dan 1.s3= 32 81 . s 2 0 . Tentukan harga bayangan dari masing – masing persyaratan kendalanya. s1 4 .s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . Harga bayangan dari input berturut – turut adalah 0. lihat contoh 1 dalam bab 13 dimana x digunakan sebagai pengganti y.

Tabel awal x1 x2 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 2 3 2 2  2 12M-60 7M-80 3.x1 2 2 8 3 2 2 -1 0 0 0 -1 0 0 0 -1 x2 s1 s2 20 30 16 s3 Karena penyelesaian dasar pertamanya tidak akan mungkin. tambahkan variabel – variabel buatan x1 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 2. Buatlah tabel awal dengan melengtakan matriks koefisien dan vektor kolom dari konstanta di atas negatif darikoefisien – koefisien fungsi obyektif yang mempunyai koefisien nol untuk variabel – variabel surplus. Pilihlah elemen pivotnya dan pivotkan. x1 2 2 8 -60 x2 3 2 2 -80 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 14 12 18 Rampungkan kolom – kolom variabel buatan M dengan menambahkan M dikalikan (baris1 + baris2 + baris3) ke baris4 untuk mendapatkan tabel awal. Kalikan baris3 dengan 2 2 1 3 2 1 4 1 8 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 8 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 8 36 28 4 96M 12M-60 7M-80 0 82 . 8 i. 8 adalah elemen pivotnya. Karena 12M -60 merupakan indikator positif terbesar dan 32 adalah rasio pemindahan terkecil. dan koefisien yang secara semu (M) untuk variabel – variabel buatan.

s1 s2 0 -1 0 s3 1 10 1 10 1 4 baris1 dari baris3.10 -1 6 3 20 0 26 0 3M 5 1 8M 5 11M 10 1 16M 5 968 =+ + 1 ii.20 3 20 4 1 3M 5 26 -M  M 1 8M 26 0 5 10 11M 10 48M + 240 5. 2 kali baris3 dari baris2. i. Pivotkan untuk ketiga kali.10 56 5 16 3 6 3 1 1 10 -5 3 0 26 -M M 10 1 6 3 .10 56 5 konstanta 2 -5 3 5 1 10 3 -5 1 . Tambahkan 10 kali baris2 ke baris1 dan kurangkan + [(3M/5). 5 merupakan eleen pivot yang baru.26]kali baris2 dari baris4 iii. Kurangkan 2 kali baris3 dari baris1.20 -1 1 .ii.10 16 5 3 . dan (12M-60) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 0 0 1 0 5 2 3 2 1 4 -1 0 0 0 -1 0 M 1 4 1 4 1 8 1 0 0 15 0 1 0 0 0 0 1 3M 2 15 28 20 4 48M + 240 4M-65 -M -M 0 2 4. Kalikan baris2 dengan 5 3 0 1 10 2 3 0 0 1 0 1 0 0 0 2 -5 0 5 3 1 . Dengan engingat bahwa eleen negatif tidak dapat digunakan 3 dalam penyebut dari rasio pemindahan. Kurangkan x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 3 2 baris1 dari baris2. Kalikan baris1 dengan 2 5 0 -1 0 1 10 1 4 1 8 M 15 2 2 3 0 0 1 0 1 3 2 1 4 -2 3 0 0 0 0 1 0 0 1 . 2 5 kali baris2 dari baris3 dan 83 .10 56 5 -1 4 1 8 3M 15 2 20 4 48M+ 240 - 0 0 4M–65 -M -M =+ + + ii. Pivotkan lagi i.10 1 . dan (4M – 65) baris1 dari baris4 A1 2 3 A2 0 1 0 A3 1 .

10. Harga bayangan dari persyaratan yang erupakan kendala masing – masing adalah 20. dan s 3 32 . dan kurangkan kali baris2 dsari baris4 Tabel final : x1 x2 s1 s2 s3 0 0 1 0 1 0 0 0 -1 1 6 -10 1 -3 2 -20 -10 A1 A2 A3 -0 -1 0 -M konstanta 8 32 6 1000 0 1 -1 1 -6 10 3 0 -1 2 0 -M+20 -M +10 Dengan memperhatikan urutan dari vektor – vektor unit. Kurangkan 10 3 kali baris2 dari baris1. tambahkan kali baris2 ke baris3. Buatlah tabel awal Tabel awal .x2 ≥ 0 1.Tabel keempat : x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 s1 0 1 0 0 s2 -2 3 5 3 s3 1 6 1 6 A1 0 -1 0 -M A2 2 3 A3 -1 6 -1 6 1 6 konstanta 40 3 16 3 2 3 5 3 1 6 -1 6 -1 6 M 130 3 130 3 10 3  M 10 3 3320 3 6. x2 8 . dan c 1000 . x1 6 . Pivotkan keempat kali i. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesikan persamaan dan pertidaksamaan – pertidaksamaan berikut Minimukan c = 4x1 + 2x2 Yang terikat pada 4x1 + x2 ≥ 20 x1 + 6x2 ≥ 18 2x1 + x2 ≥ 14 x1. x1 x2 s1 -1 0 0 -M s2 0 -1 0 -M s3 0 0 -1 -M A1 1 0 0 0 A2 0 1 0 0 A3 0 0 1 0 konstanta 20 14 18 52M 4 1 2 1 1  7M-4 8M-2 84 . Kalikan baris2 dengan 6. dan 0. s1 s2 0. 1 6 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 0 0 1 6 -2 3 10 1 6 0 -6 0 -M 2 3 -1 6 -1 1 6 40 3 1 1 6 10 -1 6 32 2 3 130 3 10 3 M 130 3 M 1 6 10 3 3320 3 ii. PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 3.

s1 6 . Bilamana suatu variabel yang tidak berada dalam basis mempunyai indikator nol. (2) memberikan cara yang cepat untuk menentukan apakah suatu pemakaian terdapat pemecahan sebelum di coba.11 23 1 .23 konstanta 102 23 66 23 52 23 .23 1 23 0 22 4 23 25M 4 23 11M 23 -M 34M 23 0 66M 23 512 4. x 2 2 .23 2M 4 23 A1 6 23 A2 A3 1 0 . Kalikan baris3 dengan 1 setelah menurunkan elemen pivot menjadi 1. Kemudian kurangkan +6 baris3.2. Pivotkan. yang tidak terdapat basis terakhir. x1 1 0 0 0 x2 s1 0 0 1 0 0 1 0 0 s2 6 . Kalikan baris2 dengan baris1. Karena fungsi obyektif telah berada pada optimum.23 2 1 .11 23 . mempunyai indikator nol. Pivot ketiga kali. dan (3) memberikan 85 . Pivot sekali lagi.11 2 11 konstanta 6 6 2 28 - - -2 0 -M+2 -M Dari tabel final x1 6 . Ini berarti bahwa variabel s3 dapat dimasukan ke basis tanpa mempengaruhi nilai fungsi obyektif. Akan tetapi. 11 6 kali baris1 dari x1 x2 1 0 0 0 0 0 1 0 s1 6 . kurangkan Tabel final . x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 23 6 11 6 0 0 1 11 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 1 6 1 6 1 0 0 0 0 1 0 0 1 6 1 6 1 6 4 1 3 17 11 3 28M + 6 1 6 -1 6 M 1 3 17M 3 0  6 3. dan [(11M – 22/23)] kali baris2 dari baris4 s3 1 11 2 11 2 11 A1 0 -1 0 -M A2 6 11 23 11 1 11 A3 1 . maka pasti terdapat lebih dari satu penyelesaian optimal. Dan c 28 . dan [(17 – 11)3] kali baris1 dari baris4 Tabel ketiga . Kalikan baris1 dengan 23 .23 11 23 s2 0 -1 0 22 s3 1 23 2 23 4 . s 3 0 . s 3 . 6 kurangkan baris3 dari baris1 dan dan dari baris2 dan (8M – 2) kali baris3 dari baris4 menghasilkan tabel kedua Tabel kedua .11 1 11 1 23 23 11 .1 PERANAN ALJABAR MATRIKS Alajabar matriks (1) memungkinkan untuk menyatakan suatu system persamaan yang rumit dalam suatu cara yang ringkas dan sederhana. Dasar – Dasar Aljabar Matriks atau Linear 1. fungsi obyektif pasti mempunyai penyelesaian optimal berganda. Kemudian tambahkan 6 23 kali baris2 ke kali baris2 dari baris3. s 2 0 .11 2 .

parameter atau variabel yang disusun segi empat. Jika matriks terdiri dari stu baris. kolom ketiga. bilangan baris selalu mendahului bilangan kolom. Bilangan pada deretan vertkal disebut kolom. untuk sebuah perusahaan dengan beberapa saluran distribusi yang menjual beberapa produk yang berbeda. 1. Contoh 1. jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( yaitu m = n ). diketahui a 11 a 12 a 13 a 23 a 33 (3x3) A a 21 a 22 a 31 a 32 B 3 9 8 4 2 7 C (2x3) 7 4 5 D (3x1) 3 0 1 (1x3) A adalah matriks umum terdiri dari 3 x 3 = 9 elemen. Dalam matriks bujur sangkar square matrix).sebagai berikut : Log Q = log A + α log K +β log L Dengan cara serupa. perusahaan deapat menentukan tingkat persediaan dalam setiap saluran distribusinya. dan kemudian di selesaikan dengan aljabar matriks. yang di baca m kali n. α32 adalah elemen yan berada pada baris ketiga. Bilangan – bilangan ( parameter atau variabel) disebut sebagai elemen matriks. matiks tersebut adalah vekor kolom. DEVINISI DAN ISTILAH Matriks adalah deretan bilangan. Jadi matriks tersebut adlah matriks bujur sangkar. Karena baris selalu mendahului kolom dalam notasi matriks. Contoh 3.sarana penyelesain system persamaan. Perhatikan bahwa tidak ada tanda baca yang memisahkan elemen – elemen suatu matrik. Elemen – elemen tersebut semuanya mempunyai subscript ganda. Akan tetapi. matriks memberikan cara yang ringkas untuk mengendalikan persediaan. Matriks yang mengkonversikan baris A menjadi kolm dan kolom A menjadi baris disebut transpose A dan diberi tanda A' (atau AT). yang di susun dalam 3 baris dan 3 kolom. Karena banyak hubungan ekonomi dapat di dekati dengan persamaan linear dan yang lain dapat dikonversikan menjadi hubungan linear. pembatasan ini umumnya tidak memberikan persoalan yang serius.temali 120 180 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 pakaian ski 150 110 80 140 Dengan membaca menyusun baris matriks. Jika matriks terdiri dari satu kolom tunggal sedemikian rupa sehingga dimensinya m x 1. kolom kedua. dengan dimensi 1 x n. mungkin untuk membantu mengingat subscript tersebut dengan istilah BK atau beberapa cara yang lain untuk nmembantu mengingat. perusahaan dapat menentukan persediaan setiap jenis produksinya. Jadi α23 adalah elemen yang berada pada baris kedua. 86 . Dengan mambaca menurun suatu kolom matriks. Penempatanya adalah tepat dalam matriks. aljabar matriks hanya dapat diterapkan pada system persamaan linear. yang masing – masing mempunyai tempat yang ditata secara cermat dalam matriks. seperti fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum Q=AKα Lβ Dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear dangan mencari logaritma masing – masing ruas.2. Contoh 2. suatu fungsi non linear. Banyaknya baris (m) dan kolom (n) menentukan dimensi matriks ( m x n ). maka matriks tersebut adlah vector baris. saluran 1 2 3 4 papan luncur tongkat tali . fungsi eksponensial dan fungsi pangkat yang lain dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear. yang pertama menunjukan baris dimana elemen tersebut berada dan yang kedua menunjukan kolomnya.

elemen b21 -nya adlah 4. penjumlahan A + B di hitung dibawah ini. misalkan matriks mula – mula S dan selesaikan S + D. elemen b12 -nya adlah 9. Prosesnya disebut perkalian skalar (scalar multiplication)karena menaikan atau menurunkan matriks tersebut menurut besarnya skalar. Transpose A adalah a 11 a 21 a 31 A' a 12 a 13 a 22 a 23 a 32 a 33 5 Dan transpose C adalah C' 7 4 1. Perkalian matriks dengan bilangan atau scalar meliputi perkalian setiap elemen dari matriks tersebut dengan bilangan itu. S D 120 200 175 140 40 25 15 60 110 20 180 30 190 0 170 40 90 210 160 180 50 10 40 10 150 110 80 140 10 60 70 50 160 225 190 200 130 210 190 210 140 220 200 190 160 170 150 190 1. dengan mengetahui matriks A dan matriks B. D 40 20 50 10 25 30 10 60 15 0 40 70 60 40 10 50 Untuk mendapatkan tingkat persediaan yang baru.B adalah matriks 2 x 3. 8 9 7 1 3 6 A 3 6 2 4 5 10 B (3x3) 5 2 4 7 9 2 (3x3) A B 8 1 9 3 7 6 3 5 6 2 2 4 4 7 5 9 10 2 (3x3) 9 12 13 8 8 6 11 14 12 ( 3 x 3) Selisih C – D.4. bilangan sederhana seperti 12.0. dengan menjumlahkan elemen – elemen yang bersesuaian dari masing – masing matriks tersebut. PERKALIAN SKALAR Dalam aljabar matriks.α12 ke b12. C adalah vector kolom dengan dimensi (3 x 1). apabila diketahui k = 8 dan 87 .-2. dan seterusnya. Contoh 4. PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Penjumlahan (dan pengurangan) dua matriks A + B (atau A – B) mengharuskan matriks – matriks tersebut berdimensi sama. hasil perkalian skalar k A.3.07 disebut skalar. Setiap elemen matriks yang satu kemudian ditambahkan ke (dikurangkan dari) b11 dalam B.diperoleh sebagai berikut . misalkan pengiriman D dilakukan ke saluran – saluran distribusi perusahaan dalam contoh 1. C 4 9 2 6 D (2x2) 1 7 5 4 C (2x2) D 4 -1 9 .7 2-5 6-4 (2x2) 3 2 -3 2 (2x2) Contoh 5.berapa tingkat persediaan yang baru?. apabila diketahui matiks – matriks C dan D. Contoh 6. D adalah vector baris dengan dimensi (1 x 3).

perkalian adalah mungkin. Pembalikan susunan perkalian dalam salah satu vektor di atas dan dengan diperolehnya perkalian vektor kolom – baris (BA atau DC) akan menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda.5. 1. AB = 4(12) + 7(1) + 2(5) + 9(6) = 48 + 7 + 10 + 54 = 119 Hasilkali vektor – vektor berikut : A adalah 3 6 8 (1x3) A 2 4 5 (3x1) CD = (3 x 2) + (6 x 4) + (8 x 5) = 6 + 24 + 40 = 70 Perhatikan bahwa karena masing – masing pasangan vektor diatas mempunyai jumlah elemen yang sama. matriks awal (lead matriks) saa dengan jumlah di bahbaris pada 2. mensyaratkan bahwa kedua matriks tersebut bersesuaian yaitu bahwa n1 = m2. menurut kaidah untuk perkalian vektor baris dan vektor kolom yang di bahas dalam butir 1. hasilkalinya didapatkan dengan mengalikan elemen – elemen individual dari vektor baris dengan elemen – elemen yang beresesuaian dengan vektor kolom. atau jumlah kolom pada 1. dan menjumlahkan hasilnya : AB = (a11 x b11) + (a12 x b21) + (a13 x b31) dan seterusnya. PERKALIAN MATRIKS Perkalian dua matriks berdimensi (m x n)1 dan (m x n)2. sehinga setiap elemen cij dari atriks hasilkali C adlah suatu skalar yang berasal dari perkalian baris ke i dari matriks awal dan kolom ke j dari matriks akhir. apabila diketahui 12 1 A A 4 7 2 9 (1x4) 5 6 (4x1) di hitung sebagai berikut. Ini dipakai sebagai dasar untuk semua perkalian matriks.A Diperlihatkan dibawah ini. Diketahui 88 . 8(6) 8(9) 6 9 2 7 8 4 (3x2) kA 8(2) 8(7) 8(8) 8(4) (3x2) 48 72 16 56 64 32 (3x2) 1. Hasilkali baris – kolom tersebut disebut hasilkali dalam (inner product). Contoh 8. matriks akhir (lag matriks).5. Kemudian. hasilkali AB dari vektor baris A dan vektor kolom B. Jadi hasil perkalian baris – kolom akan merupakan suatu bilangan tunggal atau scalar. Setiap vektor baris pada matriks awal kemudian dikalikan dengan setiap vektor kolom dari matriks akhir.6. Perkalian vektor baris kolom adlah penting sekali. Contoh 7. hasilkali baris – kolom kemudian di pakai sebagai elemen dalam formasi dari matriks hasilkali sedemikian rupa. PERKALIAN VEKTOR Perkalian vektor baris (A) dengan vektor kolom (B) mensyaratkan masing – masing vektor mempunyai jumlah elemen yang persis sama.

Dengan mengacu ke contoh 1. dalam susunan yang benar. (2 x 3) = (3 x 2) (2x 2) matriks – matriks tersebut memenuhi syarat persesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali AB adalah (2 x 2). Pertama. dua matriks tersebut akan sesuai untuk perkalian dalam susunan yang diberikan. dimensi dari matriks hasil kali. bergeraklah ke baris kedua matriks awal. dengan menggunakan metode yang sama : 6(1) 12(2) 6(7) 12(4) 6(8) 12(3) 30 90 84 BC E 5(1) 10(2) 5(7) 10(4) 5(8) 10(3) 25 75 70 13(2) 2(2) 13(7) 2(4) 13(8) 2(3) (3x3) 17 99 110 (3x3) Contoh 10. AB dikatakan telah di tetapkan (defined) untuk BC. tongkat Rp 50.A 3 6 12 9 7 11 B (2x3) 6 12 5 10 13 2 A (3x2) 1 7 2 4 8 3 (2x3) Suatu pengujian ringkas (cepat) untuk melihat adanya persesuaian (conformability). kemudian kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom kedua matriks akhiruntuk mendapatkan d12. hasil kali dari dua matriks itu dapat di cari.karena (4 x 4) = (4 x 1) 89 . Jadi untuk AB. setelah menentukan persesuaian AB dalam contoh 8. karena tidak ada lagi kolom yang tersisa dalam matriks akhir. Untuk mencari nilai persediaan (V) pada berbagai saluran distribusi. 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB D 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) Hasil kali BC dihitung dibawah ini. kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom kedua matriks akhir untuk mendapatkan d22.-. kemudian dalam hati lingkarilah bilangan terakhir dari pasang pertama dan dan bilangan pertama dari pasang kedua.-.. adlah dengan menata dua pasang dimensi tersebut dalam mana matriks – matriks tersebut akan dikalikan. Contoh 9. misalkan bahwa harga papan luncur adlah Rp 200. kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mecari elemen pertama d11 matriks hasil kali D. dan bilangan – bilangan di luar lingkaran akan menunjukan.dan pakaian ski Rp 150. Apabila dua matriks seperti AB adalah bersesuaian. Jadi AC tidak di tetapkan.. jadi. akhirnya. Kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mendapatkan d12. dan kalikan S dengan P : V SP 120 200 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 150 110 80 140 ( 4 x 4) 200 50 100 150 ( 4 x1) Matriks – matriks tersebut bersesuaian dan matriks hasil kalinya merupakan 4 x 1. Jika mereka sama. yang akan di terapkan sebelum melakukan setiap perkalian mmatriks. Untuk BC (2 x 3) ≠ (2 x 3) A dan C tidak bersesuaian untuk perkalian. tali Rp 100.. nyatakan harga tersebut sebagai sebuah vector kolom (P). (3 x 2) = (2 x 3) (3 x 3) matriks – matriks tersebut adalah bersesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali BC merupakan (3 x 3).

perkalian scalar adalah komutatif (yaitu kA = Ak).3 4 . (XY)Z = X(YZ). Jadi. 17 6 6 2 23 8 6 17 2 6 23 8 (2). A B 4 3 11 7 17 6 6 2 1 4 11 4 B A . perkalian matriks juga distributive A(B + C) = AB + AC. Contoh 11. (A + B) + C = A + (B + C). buktikan bahwa (1) A + B = B + A dan (2) A – B = –B + A. 90 .Z(e x f) dimana b = c dan d = e.seringkali matriks – matriks tidak bersesuaian dalam dua arah.500 72.(4 x 1) Jadi. hukum asosiatif akan berlaku selama matriks – matriks tersebut dikalikan dalam urutan persesuaian (conformability). adalah tidak komutatif (yaitu AB ≠ BA). Y(c x d). V 120(200) 200(200) 175(200) 140(200) 110(50) 90(100) 150(150) 180(50) 210(100) 110(150) 190(50) 160(100) 80(150) 170(50) 180(100) 140(150) ( 4 x1) 61. 4 11 3 7 A B 17 6 6 2 Untuk membuktikan bahwa penjumlahan dan pengurangan matriks adalah komutatif.6 17 . Jika terdapat tiga atau lebih matriks yang bersesuaian. maka pengurangan matriks juga komutatif dan asosiatif. dan susunan penjumlahan tidak dipentingkan. Perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 4 3 11 7 7 18 3 4 7 11 7 18 A B B A (1). Tunduk pada sarat yang sama ini. dengan beberapa perkecualian. Diketahui.7 11 . AB akan menjadi 2 x 2 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) BA adalah bersesuaian (3 x 2) = (2 x 3).000 86. Contoh 13. A 3 6 7 12 9 11 B ( 2 x 3) 6 12 5 10 13 2 (3 x 2) Dapat di buktikan bahwa perkalian atriks tidak komutatif dengan membuktikan AB ≠ BA. karena penjumlahan matriks hanya melibatkan penjumlahan elemen – elemen yang bersesuaian dari dua matriks. Karena pengurangan matriksA – B dapat dirubah mebjadi penjumlahan matriks A + (-B). Diketahui. yaitu X(a x b). sebagai berikut : AB adalah sesuai. Perkalian matriksm. hal yang sama berlaku untuk pengurangan matriks. ASOSIATIF DAN DISTRIBUTIF DALAM ALJABAR MATRIKS Penjumlahan matriks adalah komutatif (yaitu A + B = B + A).7.500 ( 4 x1) 1. AB 6(3) 12(12) 5(3) 10(12) 13(3) 2 (12) 6(6) 12(9) 5(6) 10(9) 13(6) 2(9) BA akan menjadi 3 x 2 6(7) 12(11) 162 5(7) 10(11) 135 13(7) 2(11) (3x3) 63 144 120 96 174 145 113 (3x3) karena itu AB ≠ BA. Untuk alas an yang sama. Diketahui. HUKUM KOMUTATIF. Akan tetapi.500 75. (2 x 3) = (3 x 2).2 6 1 4 11 4 Contoh 12.penjumlahan matriks juga asosiatif.

Matriks null terdiridari semuanya nol dan dapat berdimensi sembarang .n menunjukan dimensi matriks (m x n). perkalian dengan matriks null menghasilkan matriks null. (3). Contoh 14. MATRIKS IDENTITAS DAN MATRIKS NULL Matriks identitas I adalah suatu matriks bujur sangkar yang mempunyai 1 untuk setiap elemen pada diagonal utama dari kiri ke kanan dan nol di setiap tempat yang lain. yaitu B + N = B. apabila subscript digunakan.9. apabila diketahui. perhitunganya adalah sebagai berikut : A 7(4) 5(2) 1(4) 3 (2) 8(4) 6(2) 38 10 44 93 27 108 7(9) 5(6) 1(9) 3 (6) 8(9) 6(6) 95 25 110 2 6 7 7(10) 5(5) 1(10) 3 (5) 8(10) 6(5) ( 3 x 3) 38 10 44 93 27 108 95 25 110 ( 3 x 3) ( AB)C ( 3 x 3) ( 3 x1) 38(2) 93(6) 95(7) 10(2) 27 (6) 25(7) 44(2) 108(6) 110(7) ( 3 x1) 1299 357 1506 ( 3 x1) BC 4(2) 9(6) 10(7) 2(2) 6(6) 5(7) ( 2 x1) 132 75 ( 2 x1) A( BC ) 7 1 8 5 3 6 132 75 (3 x 2) (2 x) 7(132) 5(75) 1(132) 3(75) 8(132) 6(75) ( 3 x1) 1299 357 1506 terbukti ( 3 x1) 1. setiap matriks utuk mana A = A' adalah matriks simetris (symmetric matrix). 1. Matriks simetris untuk mana A x A = A. (2) perkalian dengan suatu matriks null menghasilkan matriks null. perhitungan – perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 7 10 14 1 2 3 6 7 0 0 0 1 0 0 0 1 7(1) 9(1) 1(1) 10(0) 2(0) 3(0) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(1) 2(1) 3(1) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(0) 2(0) 3(0) 14(1) 6 (1) 7 (1) (1). yaitu (AB)C = A(BC).adalah matriks idempotent (idempotent matrix). perkalian suatu matriks identitas dengan dirinya sendiri meninggalkan matriks identitas tidak berubah : I x I = I2= I. Matriks identitas adalah simetri dan idempotent. tidak perlu bujur sangkar. yaitu AI = A. A 7 9 1 10 14 2 6 3 7 B 5 12 20 4 N 0 0 0 0 I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 Dapat dibuktikan bahwa : (1) perkalian dengan suatu matriks identitas tidak menimbulkan tambahan terhadap matriks asalnya.A 7 1 8 5 3 6 B (3 x 2) 4 9 2 6 10 5 B ( 2 x 3) 2 6 7 ( 3 x1) Untuk membuktikan bahwa perkalian matriks adalah asosiatif. matriks identitas serupa dengan bilangan 1 dalam aljabar karea perkalian suatu matriks dengan matriks identitas tidak membawa perubahan terhadap matriks asal (yaitu AI = IA = A). Penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak membawa perubahan terhadap matriks asalnya. AI 9 1 AI 7 9 1 BN B N 10 14 2 6 3 7 terbukti 0 0 0 0 (2). yaitu BN = N dan (3) penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak mengakibatkan matriks asalnya berubah.8. 5(0) 12(0) 5(0) 12(0) 20(0) 4(0) 20(0) 4(0) 5 0 12 0 20 0 4 0 5 12 20 4 terbukti terbukti PERNYATAAN MATRIKS DARI SERANGKAIAN PERSAMAAN LINEAR 91 . Lihat contoh 14. seperti pada In.

dapatkan hasil kali AX. di sini 8x + 4y = 28 dengan 1/4. perhatikan bahwa sistem persamaan linear 7x1 + 3x2 = 45 4x1 + 5x2 = 29 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks AX = B x1 45 7 3 B A X Dimana dan 29 x2 4 5 A adalah matriks koefisien (coefisien matrix).X adalah vektor penyelesaian (solution vector). tiga operasi barisdasar memungkinkan (1) setiap dua baris suatu matriks saling tukar. asalkan konstanta tersebut tidak sama dengan nol. yang tentunya sudah tidak asing lagi dari aljabar. Contoh 15.dalam hati balikan susunan perkalian matriks: w 8 12 . untuk membuktikan bahwa AX = B dengan tepat menggambarkan sistem persamaanyang diberikan dalam seksi 1. operasi baris. AX adalah vektor kolom (2 x 1) karena setiap baris terdiri dari suatu elemen tunggal yang tidak dapat disederhanakan lebih lanjut melalui penjumlahan. dengan mengandaikan A = matriks koefisien. Contoh 17. diketahui 8w +12x – 7y +2z = 139 3w +13x + 4y +9z = 242 untuk menyatakan sistem persamaan ini dalam notasi matrik.13 4 9 ( 2 x 4) y 242 ( 2 x1) z ( 4 x1) kemudian.10. dan (3) setiap kelipatan suatu baris ditambahkan ke atau dikurangkan dari baris yang lain. dan B adalah vektor unsur konstanta (vector of constan terms). Perkalian adalah mungkin karena AX adalah bersesuaian. Saling menukar dua baris tersebut : 8x + 4y = 28 5x + 2y = 16 2.7 2 x 139 3 . diilustrasikan di bawah ini. Sebagai ilustrasai sederhana. Mengalikan suatu baris dengan suatu konstanta. yang menghasilkan 92 . X dan B akan selalu berupa vektor kolom. OPERASI BARIS Operasi baris (row operation) berarti penerapan operasi aljabar yang sederhana pada baris. dan AX AX 7 3 x1 4 5 x2 B: 7x 1 3x 2 4x 1 5x 2 ( 2 x1) 45 terbukti 4x 1 5x 2 29 dari sini. dan B = vektor kolom konstanta. W = vektor kolom variabel. dan matriks hasil kali menjadi 2 x 1 (2 x 2) = (2 x 1) (2 x 1) 7x 1 3x 2 jadi.dengan mengetahui 5x + 2y = 16 8x + 4y = 2n8 Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear.Aljabar matriks memungkinkan pengungkapan secara ringkas suatu sistem persamaan linear.kita dapat 1. (2) setiap baris atau baris – baris dakalikan dengan suatu konstanta.9. Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. sistem persamaan yang diketahui tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk matriks A(2x4)W(4x1) =B(2x1) 1. Contoh 16.baris suatu matriks. meskipun penampilanya seperti itu.

a dapatkan 1 pada posisi a11 dari matriks koefisien. AB 7 3 45 4 5 29 Matriks perbesaran digunakan sebagai sarana penyelesaian system persamaan linear. matriks perbesaran A/B untuk 4x1 + 5x2 + 7x3 = 42 2x1 + 3x2 + 8x3 = 40 6x1 + 4x2 + x3 = 18 Adalah AB 4 5 2 3 6 4 7 42 8 40 1 18 1. metode eliminasi gauss di gunakan dibawah ini untuk mencari x 1 dan x2 dalam sistem persamaan 2x1 + 12x2 = 40 8x1 + 4x2 = 28 pertama nyatakan persamaan tersebut dalam suatu matriks perbesaran AB 2 12 40 8 4 28 kemudian. Berikutnya dapatkan 1 pada 0posisi a22 dan gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom tersebut. Mengurangkan kelipatan satu baris dari yang lain. Contoh 18. Jadi. yang menghasilkan 5x + 2y = 16 -4x – 2y = -14 x =2 1. METODE GAUSS UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINEAR Penggunaan metode eliminasi gauss dalam menyelesaikan persamaan linear semata – mata dengan menyatakan system persamaan tersebut sebagai suatu matriks perbesaran dan menerapkan operasi baris berulang – ulang pada matriks perbesaran sampai matriks koefisien A di sederhanakan menjadi suatu matriks identitas. bergeraklah sepanjang sumbu utama. yang dipisahkan dengan suatu garis atau kisi. Pertam. Contoh 19. Penyelesaian atas system persamaan kemudian dapat di baca dari elemen – elemen yang tinggal dalam vektor kolom B (lihat contoh 19). MATRIKS PERBESARAN (AUGMENTED) Diketahui suatu system persamaan dalam bentuk matriks AX = B matriks perbesaran A/B adalah matriks koefisien A dengan vector kolom konstanta B. Teruskan memperoleh 1 sepanjang diagonal utama dan kemudian rampungkan kolomnyasampai matriks identitas tersebut sempurna. Kurangkan 8 kali baris kedua untuk merampungkan kolom pertama 1 6 20 0 .44 132 1a. di sini 2(2x + y = 7) dari 5x + 2y = 16. 1 untuk endapatkan 1 pada posisi a11 2 1 6 20 8 4 28 1b.12. Untuk mengubsh matriks koefisien kedalam uatu matriks identitas. kemudian gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom pertama. diletakan disampingnya.9. untuk sistem persamaan dalam butir1.11.2x + y = 7 5x + 2y = 16 3. Kalikan baris pertaa dengan 2a. Kalikan baris kedua dengan 1 untuk mendapatkan1 pada a22 44 1 6 20 0 1 3 93 .

2b. x2 = 3 karena x1 1 0 2 0 1 x2 3 x1 + 0 = 2 0 + x2 = 3 94 . Kurangkan 6 kali baris kedua dari baris pertama untuk merampungkan kolom kedua 1 0 2 0 1 3 hasilnya adalah x1 = 2.

95 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful