1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Antenatal Care (ANC) merupakan komponen pelayanan kesehatan ibu hamil terpenting untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi (Depkes RI, 2012). Tingginya angka kematian ibu dan bayi antara lain disebabkan rendahnya tingkat pengetahuan ibu dan frekwensi pemeriksaan ANC yang tidak teratur. Keteraturan ANC dapat ditunjukkan melalui frekwensi kunjungan, ternyata hal ini menjadi masalah karena tidak semua ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara rutin terutama ibu hamil normal sehingga kelainan yang timbul dalam kehamilan tidak dapat terdeteksi sedini mungkin. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa ibu hamil kurang termotivasi dalam melakukan Antenatal care secara teratur dan tepat waktu

antara lain: kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal care, kesibukan, tingkat sosial ekonomi yang rendah, dukungan suami yang kurang, kurangnya kemudahan untuk pelayanan maternal, asuhan medik

yang kurang baik, kurangnya tenaga terlatih dan obat-obat penyelamat jiwa (Sarwono, 2012). Penyebab kematian ibu di Indonesia, seperti halnya di negara lain adalah perdarahan 30-35%, infeksi 20-25%, gestosis 15-17%, penyebab utama kematian bayi baru lahir yaitu berat bayi lahir rendah. Saat ini angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 228/100.000 kelahiran

2 hidup dan angka kematian bayi (AKB), 34/1000 kelahiran hidup salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2015 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 102/100.000,- kelahiran hidup dan angka kematian neonatal menjadi 16/1000 kelahiran hidup. Menurut MDGS, WHO, Kematian ibu meskipun menurun, tetap tinggi di Indonesia dan perkiraan WHO adalah 227 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2012. Menurut hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT), angka kematian ibu (AKI) pada Tahun 2012 sebesar 228/100.000 Kelahiran hidup. Tercatat bahwa kejadian yang tertinggi yang menyebabkan kematian ibu di Indonesia adalah Perdarahan (24,8%), Infeksi (14,9%), Partus lama (6,9%), Eklamsia (12,9%), penyebab lansung kematian ibu (7,9%), dan penyebab tidak lansung (19,8%). (MDGS, 2012). Data dari dinas kesehatan (DINKES) Provensi Sulawesi Selatan 2011 angka kematian Ibu (AKI) 116/100.000 disebabkan oleh perdarahan 72 kejadian, eklamsia sebesar 19 kejadian, infeksi sebesar 5 kejadian dan penyebab lain sebesar 20 kejadian dan angka kematian bayi (AKB) 34/1000 kelahiran hidup. Tidak memadainya akses pelayanan kesehatan terhadap wanita juga tercermin dari statistik kematian. Meskipun angka kematian ibu dan bayi menurun secara bermakna selama 5 tahun terakhir, tetapi belum bisa mencapai target yaitu kematian ibu menjadi 102/100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi menjadi 16/1000 kelahiran hidup. Pada sebagian besar kasus, hambatan utama akses pelayanan kesehatan bagi wanita adalah masalah sosial

3 budaya atau yang bersifat informasional, termasuk kurangnya kesadaran tentang masalah-masalah kesehatan, rendahnya status kesehatan dan legalitas wanita disebagian besar budaya masyarakat (Koblinsky et al, 2012). Keberhasilan upaya ANC selain tergantung pada petugas kesehatan juga perlu partisipasi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang perawatan kehamilannya, dengan demikian diharapkan dengan memperbaiki pengetahuan ibu khususnya primigravida terhadap perawatan kehamilan sehingga akan dapat merubah sikap serta kepatuhan melaksanakan antenatal care. Puskesmas Batua Raya merupakan Puskesmas yang memiliki pelayanan rawat jalan dan rawat inap untuk persalinan dan penyakit lainnya. Rawat jalan termasuk melayani kesehatan ibu dan anak. Pada waktu peneliti mengambil data awal juamlah ibu primigravida yang berkunjung pada bulan Januari-April 2012 sebanyak 201 orang. Menurut keterangan beberapa ibu hamil yang berkunjung di puskesmas batua bahwa mereka memeriksakan kehamilan jika merasa mual dan muntah yang sangat mengganggu, kemudian yang ibu lebih dari dua anak, kadang datang sudah pada umur kehamilan lebih dari 14 minggu hal ini di sebabkan karena kurangnya pengetahuan. Berdasarkan kenyataan ini, maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksaan Antenatal care pada ibu primigravida dalam rangka meningkatkan

4 derajat kesehatan ibu, deteksi dini, pengawasan ibu hamil, dan mengurangi risiko pada kehamilannya. B. Rumusan Masalah Sesuai latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dengan Kepatuhan pelaksanaan Antenatal Care pada ibu Primigravida di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar tahun 2012 ?. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dengan Kepatuhan pelaksanaan Antenatal Care pada ibu Primigravida di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar. 2. Tujuan Khusus a. Teridentifikasinya pengetahuan Ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan melaksanakan antenatal care di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar tahun 2012. b. Teridentifikasinya sikap ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan untuk melaksanakan antenatal care di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar tahun 2012. c. Teridentifikasinya kepatuhan ibu primigravida tentang kehamilan dalam melaksanakan antenatal care di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar Tahun 2012.

5 d. Teranalisisnya hubungan pengetahuan tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida di Puskesmas Batua Kota Makassar. e. Teranalisisnya hubungan sikap tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida di Puskesmas Batua Kota Makassar. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui dengan jelas tentang pengetahuan dan sikap ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan untuk melaksanakan antenatal care (ANC), sehingga dapat manambah pengetahuan dan wawasan tentang ilmu keperawatan maternitas, serta sebagai penerapan ilmu yang sudah didapat selama ini. 2. Bagi Institusi a. Institusi Pendidikan Sebagai bahan evaluasi terhadap teori tentang keperawatan maternitas yang telah diberikan kepada mahasiswa didik selama mengikuti perkuliahan di S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mega Rezky Makassar dan Sebagai sumber bahan bacaan dan referensi bagi perpustakaan di institusi pendidikan.

6 b. Instansi Tempat Penelitian Diharapkan bermanfaat bagi petugas kesehatan dan bahan masukan terhadap peningkatan pelaksanaan program KIA khususnya Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Batua Kota Makassar. c. Masyarakat Diharapkan pada masyarakat khususnyan ibu primigravida dapat secara rutin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan agar mendapatkan informasi tentang betapa pentingnya pelaksanaan antenatal care (ANC). d. Peneliti Lain Dapat dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian ditempat lain yang berkaitan dengan penelitian ini.

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan 1. Defenisi Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012). Penelitian Rogers (2011), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut menjadi proses berurutan, yakni: a. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus. b. Interest (tertarik) dimana orang mulai tertarik dengan stimulus.. c. Evaluation (mengevaluasi), menimbang-nimbang terhadap baik

tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik. d. Trial (mencoba), dimana subjek mulai mecoba melakukan sesuatu dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

8 e. Adoption (penerimaan), subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. 2. Tingkat Pengetahuan Notoatmodjo mengemukakan yang dicakup dalam domain kognitif yang mempunyai enam tingkatan, pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012) : a. Tahu (Know) Tahu dapat diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang itu tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan sebagainya. b. Memahami (Comprehention) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek suatu materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan, dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

9 c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain. d. Analisis (Analilysis) Analisis merupkaan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut yang masih ada kaitannya antara satu dengan lainnya. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyususn formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengetahuan mengenai kehamilan dapat diperoleh melalui

penyuluhan tentang kehamilan seperti perubahan yang berkaitan dengan kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, perawatan diri selama kehamilan serta tanda bahaya yang perlu diwaspadai. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan ibu akan termotivasi kuat untuk menjaga

10 dirinya dan kehamilannya dengan mentaati nasehat yang diberikan oleh pelaksana pemeriksa kehamilan, sehingga ibu dapat melewati masa kehamilannya dengan baik dan menghasilkan bayi yang sehat (Kusmiyati, Wahyuningsi, & Sujiyatini, 2010). Ibu hamil juga perlu mengetahui tentang jadwal kunjungan pemeriksaan kehamilannya. Pada kunjungan pertama, wanita hamil akan senang bila diberitahu jadwal kunjungan berikutnya. Untuk memenuhi kebutuhan ibu mungkin dibutuhkan kunjungan yang lebih sering. Kunjungan pertama biasanya memakan waktu yang lama, selain itu ibu hamil juga harus mengetahui tentang status nutrisi seorang wanita hamil yang memiliki efek langsung pada pertumbuhan dan perkembangan janin dan ibu hamil sehingga ibu hamil memiliki motivasi yang tinggi untuk mempelajari gizi yang baik (Bobak, Lowdermilk, & Jensen, 2011). Tanda komplikasi potensial, Ibu hamil harus mengetahui tentang tanda dan gejala yang berpotensi menimbulkan komplikasi pada kehamilan dan mengetahui cara melaporkan tanda-tanda bahaya seperti itu. Penggunaan obat-obatan, upaya mengobati diri sendiri sebaiknya tidak dilakukan dan pemberian imunisasi sebagai proteksi selama kehamilan (Bobak, Lowdermilk, & Jensen, 2011). Pengukuran pengetahuan dapat juga dilakukan dengan wawancara atau angket dengan menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau informan (Notoatmodjo, 2012).

11 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan a. Umur Umur adalah variabel yang sudah diperhatikan dalam

penyelidikan epidemiologi, yaitu pada angka kesulitan ataupun angka kematian (Notoatmodjo, 2012). Umur seseorang dapat mengetahui perubahan selama kehamilan wanita hamil banyak membutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga, suami untuk meningkatkan dukungan kesehatan secara optiomal. Masing-masing wanita hamil harus dikaji secara teliti, misalnya perkembangan fisik dan perhatian serta kemampuan untuk memeriksakan kesehatan ibu hamil (Depkes RI, 2012). b. Pendidikan Pendidikan adalah Suatu proses pembentukan kecepatan

seseorang secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia (Notoatmodjo, 2012). Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan pengetahuan dan keterampilan akan semakin meningkat. Pendidikan dianggap memiliki peran penting dalam menentukan kualitas manusianya, lewat pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan, implikasinya, semakin tinggi pendidikan hidup manusia akan semakin berkualitas (Hurlock, 2011). c. Pekerjaan Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup

12 sehari-hari (Notoatmodjo, 2012). Pekerjaan adalah suatu kegiatan seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kehamilan menurut ibu untuk mengurangi semua kegiatan yang melelahkan, keadaan ini tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menghindari pekerjaan yang tidak disukainya. Ibu hamil harus mempertimbangkan gaya hidup yang mendukung kesehatan sendiri maupun bayinya (Helen, 2011). B. Tinjauan Umum Tentang Sikap Sikap adalah adalah suatu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012). Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau ketersediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kesediaan atau respon seseorang terhadap suatu objek disuatu lingkungan tertentu. Sikap terdiri dari 4 tingkatan (Notoatmodjo, 2012)yaitu: 1. Menerima (receiving) Artinya bahwa orang (subjek) dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespon (responding) Artinya memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan suatu indikasi dari sikap karena

13 dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau tugas yang diberikan. 3. Menghargai (valuing) Artinya mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. 4. Bertanggung jawab (responsible) Artinya bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang dipilihnya. Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau obyek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit). Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan tersebut. Oleh sebab itu indikator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan seperti diatas, yakni: 1. Sikap terhadap sakit dan penyakit Adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseorang terhadap: gejala atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara pencegahan penyakit, dan sebagainya. 2. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara dan cara-cara berperilaku hidup sehat. 3. Sikap terhadap kesehatan lingkungan Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap lingkungannya dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

14 4. Praktek atau Tindakan (practice) Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktek (practice) kesehatan, atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan (over behaviour). Oleh sebab itu indikator praktek kesehatan ini juga mencakup hal-hal tersebut yaitu: 1. Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit. 2. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. 3. Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan. C. Tinjauan Umum Tentang Kepatuhan dan Antenatal Care A. Kepatuhan 1. Pengertian Kepatuhan Kepatuhan menurut kamus bahasa Indonesia (Dep. Dik. Bud, 2012) patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah atau aturan. Kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Kepatuhan di definisikan sebagai tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan dokter atau oleh yang lainnya. Menurut Sackett (2010) yang di kutip oleh Niven, bahwa kepatuhan adalah sejauh mana prilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang di berikan oleh profesional kesehatan.

15 2. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Patuh adalah sikap positif yang ditunjukkan dengan adanya perubahan secara berarti sesuai tujuan pengobatan yang ditetapkan (Carpenito, 2011). Kepatuhan dalam pengobatan meliputi: a. Kontrol Teratur, apabila penderita datang berobat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, tahu keadaan emergency yang memerlukan pengobatan diluar jadwal kontrol. b. Berperilaku sesuai aturan, yaitu penderita mau melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan sesuai aturan yang telah ditetapkan, misalnya aturan minum obat, makan makanan yang boleh dimakan, mengurangi aktivitas, dan sebagainya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan, yaitu: a. Faktor situasi, yaitu adanya dukungan yang diberikan kepada pasien dan kesulitan yang didapatkan keluarganya merupakan kondisi yang relevan bagi pasien dan keluarga untuk mematuhi anjuran dokter yang melibatkan faktor biaya dan keuntungan yang didapatkan dari kondisi tersebut. b. Metode perawatan, frekuensi dan jumlah obat yang diberikan memiliki pengaruh terhadap kepatuhan pasien, demikian juga dengan pandangan pasien tentang perawatan, efek samping dan kemanjuran perawatan yang diterima pasien.

16 c. Sumber penyakit, yaitu: adanya pandangan pasien tentang keparahan penyakit dan konsekuensi ketidakpatuhan yang berakibat terhadap lamanya sakit dan perkembangan kesehatan. d. Pengertian (Understanding), yaitu: pasien tidak dapat diharapkan mematuhi rekomendasi atau anjuran dokter apabila mereka tidak mengerti, ketidakjelasan, sulitnya menerima informasi yang diberikan, dan sikap pada pasien sering diremehkan. e. Pengingatan (Remembering), yaitu: pasien tidak patuh karena mereka tidak dapat mengingat instruksi dokter. f. Hubungan dokter-pasien, yaitu: pasien yang puas dengan aspek interpersonal perawatan, akan lebih mungkin mengikuti saran dokter. Pertimbangan menentukan kepatuhan tergantung dari beberapa faktor, termasuk motivasi orang, persepsi terhadap kerentanan dan keyakinan tentang pengendalian atau pencegahan penyakit, variabel lingkungan, kualitas instruksi kesehatan dan kemampuan untuk mengakses sumber-sumber biaya dan aksesibilitas. Hussey dan Gelliland (2008), seperti dikutip Carpenito (2011) mengemukakan, bahwa kepatuhan berarti perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh: a. Pola kepatuhan. b. Stabilitas dan pengaruh keluarga. c. Persepsi terhadap kerentanan diri sendiri terhadap penyakit.

17 d. Persepsi bahwa penyakit masalah serius. e. Tindakan perawatan dan pengobatan yang manjur. Perilaku klien yang berubah ke arah positif (patuh) seoptimal mungkin adalah akibat faktor pesan perawat memakai dirinya secara terapiutik dan memakai berbagai teknik komunikasi yang efektif (Keliat, 2011). Menurut Blevin dan Lubkin (2008), seperti dikutip oleh Carpenito (2011), bahwa kepatuhan meliputi perubahan perilaku ke arah positif dipengaruhi oleh: a. Inisial dan kepercayaan yang terus menerus pada pemberi kesehatan yang profesional. b. Pujian oleh orang terdekat lainnya (reinforcement). c. Persepsi diri terhadap sakit. d. Persepsi tentang keseriusan sakit yang diderita. e. Fakta-fakta bahwa kepatuhan dapat mengontrol gejala atau sakit. f. Efek samping dan kemampuan toleransi. g. Gejala yang minimal pada aktifitas sehari-hari atau orang terdekat lainnya. h. Keuntungan yang lebih banyak didapatkan pada terapi dari pada kerugiannya. i. Perasaan diri yang positif. Kepatuhan yang kurang atau negatif dipengaruhi oleh: a. Penjelasan yang tidak adekuat.

18 b. Tidak adanya kesepakatan antara pemberi pelayanan dengan klien. c. Terapi yang memerlukan waktu yang lama. d. Kompleksitas dan biaya yang tinggi untuk pengobatan e. Efek samping yang berat. Ketidakpatuhan atau kepatuhan negatif merupakan suatu kondisi pada individu atau kelompok yang sebenarnya mau melakukan tetapi dicegah dari melakukannya oleh faktor-faktor yang menghalangi ketaatan terhadap anjuran yang berhubungan dengan kesehatan yang diberikan oleh profesional kesehatan (Carpenito, 2011). Menurut Carpenito (2011), yang dikutip dari Redland et al (2012), mengemukakan bahwa beberapa hal yang dapat diamati pada kepatuhan adalah keberhasilan diri, kepercayaan klien, kemampuan untuk mengambil keputusan, melakukan, dan memelihara perubahan tingkah laku juga telah menunjukkan peran pada kepatuhan. B. Tinjauan Umum Tentang Antenatal Care 1. Pengertian Antenatal Care Antenatal care adalah pengawasan kehamilan untuk

mengetahui kesehatan umum ibu, menegakan secara dini penyakit yang menyertai kehamilan, menegakan secara dini komplikasi kehamilan, dan menetapkan resiko kehamilan (Manuaba, C. Manuaba, F., & Manuaba., G. 2012).

19 Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan pada ibu hamil secara berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan janinnya (Depkes RI, 2012). Ante Natal Care adalah merupakan cara penting untuk memonitoring dan mendukungkesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal, ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal care (Prawirohardjo. S, 2011 :52). 2. Tujuan Antenatal Care Menurut Sondakh (2011) ada beberapa tujuan pemeriksaan ibu hamil secara keseluruhan yaitu: a. Memantau kemajuan kehamilan untuk mamastikan kehamilan ibu dan tumbuh kembang janin. b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, social ibu. c. Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, dan pembedahan. d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman dengan trauma seminimal mungkin.

20 e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan mempersiapkan ibu agar dapat memberikan air susu ibu (ASI) secara ekslusif. f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin agar dapat tumbuh kembang secara normal. g. Mengurangi bayi lahir prematur, kelahiran mati dan kematiana neonatal, sedangkan. h. Mempersiapkan kesehatan yang optimal bagi janin. Tujuan dari antenatal care seperti dikutip dalam buku Manuaba (2012), adalah:
a. Mengenal sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan,

persalinan, dan nifas.
b. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai kehamilan,

persalinan, dan nifas.
c. Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan

kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana.
d. Menurunkan angka kesakitan dan kematian serta perinatal.

Menurut Mochtar Rustam (2012), tujuan antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental untuk

menyelamatkan ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

21 Tujuan dan maksud dari perawatan Antenatal care adalah: 1) kelahiran bayi yang sehat, baik fisik maupun mental, 2) Ibu dalam keadaan selamat tanpa mengalami ruda paksa, 3) ibu sanggup untuk merawat dan meneteki bayi yang dilahirkannya, serta 4) Suami istri berniat dan sanggup untuk melaksanakan keluarga berencana demi kesejahteraan keluarga. 3. Tenaga dan Lokasi Pelaksanaan Antenatal Care Untuk melakukan antenatal care ibu hamil dapat dibantu oleh tenaga kesehatan seperti: dokter spesialis ginekologi, dokter, perawat, bidan maupun tenaga terlatih seperti dukun bersalin terlatih. Pelayanan antenatal care dapat diakses di Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah sakit maupun di klinik dokter praktek swasta (Depkes RI, 2011). 4. Kegiatan Pelaksanaan Pelayanan Antenatal Care Kegiatan dalam pemeriksaan dan pengawasan kehamilan meliputi (Depkes RI, 2011): a. Anamnesa b. Pemeriksaan laboratorium c. Intervensi dasar d. Intervensi khusus sesuai kondisi e. Memberikan konseling atau pengetahuan f. Motivasi ibu hamil agar dapat merawat diri selama hamil.

22 Menurut Sarwono (2012), bahwa dalam penerapan praktek sering dipakai standart minimal perawatan antenatal care yang disebut ”7T”, yaitu: a. Timbang berat badan dan tinggi badan. b. Ukur tekanan darah c. Ukur tinggi fundus uteri d. Pemberian imunisasi TT lengkap e. Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama hamil f. Tes terhadap penyakit seksual menular g. Temu wicara dan konseling dalam rangka rujukan. 5. Frekuensi Kunjungan Antenatal Care Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dan petugas kesehatan yang memberi pelayanan antenatal untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang datang ke fasilitas pelayanan tetapi dapat juga sebaliknya yaitu ibu hamil yang dikunjungi petugas kesehatan di rumah. Selama kehamilan keadaan ibu dan janin harus selalu di pantau jika terjadi penyimpangan dari keadaan normal dapat

dideteksi secara dini dan diberikan penanganan yang tepat. Oleh karena itu ibu hamil diharuskan memeriksakan diri secara berkala selama kehamilannya. Menurut Manuaba (2012), berdasarkan

23 standar pemeriksaan kehamilan dilakukan berulang dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah terlambat haid. b. Satu kali dalam sebulan sampai umur kehamilan 7 bulan c. Dua kali sebulan sampai umur kehamilan 8 bulan d. Setiap minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai dengan bersalin. Dalam pelaksanaan ANC terdapat kesepakatan adanya standar adanya minimal yaitu dengan pemeriksaan ANC 4 kali selama kehamilan distribusi sebagai berikut: a. Minimal satu kali pada trimester I b. Minimal satu kali pada trimester II c. Minimal dua kali pada trimester III ( Dep Kes RI, 2011). Menurut Jumiarni (2012), frekuensi ANC diharapkan paling kurang 8 kali (7-9) sehingga pengawasan ibu dan janin dapat dilaksanakan dengan optimal. Pemeriksaan kehamilan tersebut dilaksanakan dengan jadwal dan kegiatan sebagai berikut: a. Kunjungan 1 (0-12 minggu) kunjungan II 12-24 minggu. Pada kunjungan ini yang dilakukan: 1. Anamnesis lengkap, termasuk mengenai riwayat obstertric dan ginekologi. diketahui

24 2. Pemeriksaan fisik; tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh, bunyi jantung, bunyi pernafasan, reflek patella, edema dan lain-lain. 3. Pemeriksaan obstetric: usia kehamilan, tinggi fundus uteri, DJJ (kehamilan lebih dari 12 minggu), pengukuran panggul luar. 4. Pemeriksaan laboratorium: urine lengkap, darah

(Haemoglobin, leukosit, Diff, Golongan darah, Rhesus, dan gula darah). 5. Penilaian status gizi, dilihat dari keseimbangan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). 6. Penilaian resiko kehamilan. 7. KIE pada ibu hamil tentang kebersihan diri dan gizi ibu hamil 8. Pemberian imunisasi TT 1. b. Kunjungan III, 28-32 Minggu Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan, laju pertumbuhan janin, kelainan atau cacat bawaan. Kegiatan yang dilakukan adalah: 1. Anamnese meliputi keluhan dan perkembangan yang dirasakan oleh ibu. 2. Pemeriksaan fisik dan obstetrik (pengukuran panggul luar tak perlu dilakukan lagi).

25 3. Pemeriksaan dengan USG. Biometri janin (besar dan usia kehamilan), aktifitas janin, kelainan, cairan ketuban dan letak plasenta, serta keadaan plasenta. 4. Penilaian resiko kehamilan 5. KIE tentang perawatan payudara 6. Pemberian imunisasi TT 2 dan vitamin bila perlu. c. Kunjungan IV kehamilan 34 minggu Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan dan pemeriksaan laboratorium ulang. Kegiatannya adalah: 1. Anamnese keluhan dan gerakan janin 2. Pengamatan gerak janin 3. Pemeriksaan fisik dan obstetrik (pemeriksaan panggul dalam bagi kehamilan pertama) 4. Penilaian resiko kehamilan 5. Pemeriksaan laboratorium ulang: Hb, Ht, dan gula darah 6. Nasehat senam hamil, perawatan payudara dan gizi d. Kunjungan V (36 minggu), Kunjungan VI (38 Minggu), Kunjungan VII (40 minggu) (2 minggu 1 kali). Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan, aktifitas janin dan pertumbuhan yang secara klinis: 1. Anamnese meliputi keluhan, gerakan janin dan keluhan. 2. Pemeriksaan laboratorium ulang (Hb dan gulan darah) 3. Pemeriksaan fisik dan obstetrik

26 4. Penilaian resiko kehamilan 5. USG ulang pada kunjungan 4 6. KIE tentang senam hamil, perawatan peayudara, dan persiapan persalinan 7. Pengawasan penyakit yang komplikasi trimester III. 8. Penyuluhan diet sehat 5 sempurna. e. Kunjungan VIII 41 minggu, kunjungan IX 42 minggu (1 minggu sekali). Pemeriksaan terutama ditujukan kepada penilaian, kesejahteraan janin dan fungsi plasenta serta persiapan persalinan. Kegiatan yang dilakukan adalah: 1. Anamnese meliputi keluhan dan lain-lain 2. Pengamatan gerak janin 3. Pemeriksaan fisik dan obstetric 4. Pemeriksaan USG yaitu pemeriksaan yang memantau menyertai kehamilan dan

keadaan jantung janin sehubungan dengan timbulnya kontraksi. 5. Memberi nasehat tentang tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan dan rencana untuk melahirkan. 6. Sesuai standar kunjungan ibu hamil diatas maka semakin tua umur kehamilan harus semakin sering memeriksakan

27 kehamilannya, resiko kehamilan semakin tinggi, semakin tinggi pula kebutuhan untuk memeriksakan kehamilannya Berdasarkan uraian diatas berikut ini akan digambarkan jadwal/ frekuensi antenatal care sebagai berikut: Tabel 2.1. Frekuensi / Jadwal Pemeriksaan Kehamilan .
Minimal Triwulan I Frek 1 Optimal - Kehamilan mgg - kehamilan 12-28 mgg Triwulan II 1 - kehamilan 28-32 mgg Triwulan III 2 - kehamilan 32-40 mgg - kehamilan 41-42 mgg 2 3 2 2 1-12 Frek 1 bulan - kehamilan 28 mgg (1 bln 1x) - kehamilan 28-36 mgg (2 mgg 1 x) - kehamilan > 37 1 mgg 1 kali 5 4 5 Ideal - Sejak haid terlambat 1 Frek 1

Total

4

9

15

Sumber : Dep. Kes RI, 2012 : 24, Jumiarni, 2012 : 34. Dari tabel diatas dapat disampaikan hal – hal sebagai berikut : 1. Frekuensi pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali (Dep.Kes.RI, 2012) Ferekuensi pemeriksaan kehamilan dilakukan 4 kali yang terbagi dalam triwulan I, II, III. Frekuensi ini dapat terjadi bila segalanya normal tanpa adanya resiko dan frekuensi lebih sering dilakukan pada triwulan III untuk deteksi dini terhadap kelainan. 2. Frekuensi pemeriksaan kehamilan optimal 9 kali (Jumiarni, 2012).

28 Pemeriksaan kehamilan dilakukan sejak haid terlambat sampai dengan usia kehamilan 12 minggu 1 kali. Pemeriksaan tiap 1 bulan sekali dilakukan sampai dengan usia kehamilan 36 minggu, sedangkan pemeriksaan kehamilan 36 – 40 minggu dilakukan 2 minggu sekali dan sampai dengan melahirkan pemeriksaan dilakukan 1minggu sekali. Dengan frekuensi demikian adanya penyulit kehamilan dapat dideteksi dan diatasi sedini mungkin. 3. Frekuensi pemeriksaan kehamilan ideal (Manuaba, 2012) Pemeriksaan kehamilan dilakukan sejak terlambat haid satu bulan sampai dengan usia kehamilan 28 minggu dilakukan satu bulan satu kali. Pada usia kehamilan 28 - 36 minggu sampai dengan melahirkan pemeriksaan dilakukan 1 minggu sekali. Pemeriksaan kehamilan ini yang paling ideal sehingga diharapkan dengan frekuensi seperti ini penyulit kehamilan dapat terdeteksi dan diatasi sedini mungkin. Menurut manuaba (2012), jadwal melakukan ANC sebaiknya 4 kali sudah cukup (tercatat). D. Kerangka Konseptual Dan Hipotesis Penelitian 1. Kerangka Konseptual Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui melalui penelitian-penelitian yang akan di lakukan. ( Notoatmodjo, 2012).

29 Variabel Independen Pengetahuan Kepatuhan Pelaksanaan Antenatal Care (ANC) Sikap Variabel Dependen

Keterangan : Diteliti : Hubungan antara variabel Penjelasan : Kehamilan adalah proses pembuahan sel telur yang terjadi di dalam maupun diluar rahim. Ibu hamil terdiri dari beberapa kategori sesuai dengan status kehamilan dan jumlah bayi yang telah dilahirkannya. Pada kehamilan Primigravida (ibu yang belum pernah mengalami kehamilan atau melahirkan seorang anak) Observasi dan wawancara akan dilakukan terhadap pengetahuan dan sikap dari ibu primigravida terhadap perubahan prilaku dalam kepatuhan pelaksanaan Antenatal care. 2. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan Antenatal Care pada ibu primigravida di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar adalah sebagai berikut:

30 a. Ada Hubungan antara pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan Antenatal care. b. Ada Hubungan antara sikap ibu primigravida tentang dengan kepatuhan pelaksanaan Antenatal Care. 3. Defenisi Konseptual dan Defenisi Operasional a. Definisi Konseptual 1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar kehamilan

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012). 2. Sikap Sikap adalah kesediaan atau respon seseorang terhadap suatu objek disuatu lingkungan tertentu (Notoatmodjo, 2012). 3. Kepatuhan Kepatuhan di definisikan sejauh mana prilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang di berikan oleh professional kesehatan (Sackett, 2011).

31 b. Defenisi Operasional 1. Variabel Independent a. Pengetahuan Pengetahuan adalah pemahaman atau yang diketahui ibu primigravida di wilayah kerja puskesmas batua raya kota Makassar tentang antenatal care (ANC). Pengetahuan dapat diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi bobot dengan skor jawabannya adalah Benar : 1 dan Salah : 0 Kriteria Objektif: Baik Kurang b. Sikap Sikap adalah kesedian atau respon ibu primigravida di wilayah kerja puskesmas batua raya kota Makassar tentang antenatal care (ANC). Sikap dapat diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi bobot dengan skor jawabannya adalah sangat setuju: 4, setuju: 3, tidak setuju: 2, dan sangat tidak setuju: 1. Kriteria Objektif: Baik Kurang : Skor > 75 % : Skor ≤ 75 % : Jika nilai skor yang dicapai > 7 : Jika nilai skor yang dicapai ≤ 7

32 2. Variabel Dependent Kepatuhan adalah kesadaran ibu primigravida atau

responden di wilayah kerja puskesmas batua raya kota Makassar untuk melaksanakan pemeriksaan antenatal care (ANC) sesuai program yang ditentukan. Kepatuhan dapat diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi bobot dengan skor jawabannya adalah Ya : 1 dan Tidak : 0. Kriteria Objektif: Baik Kurang : Jika nilai skor yang dicapai > 6 : Jika nilai skor yang dicapai ≤ 5

33 BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Desain penelitian merupakan suatu strategi penelitian dalam

mengidentifikasi penelitian sebelum perencanaan akhir pengumpulan data dan digunakan untuk mendefinisikan struktur dimana penelitian dilaksanakan (Nursalam, 2012). Dalam penelitian ini desain yang digunakan adalah cross sectional dimana peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel

sesaat artinya subyek diobservasi satu kali saja dan pengukuran pengetahuan, sikap dan kepatuhan untuk melaksanakan antenatal care dilakukan saat pemeriksaan atau pengkajian data. (Sastroasmoro & Ismail, 2012) B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di bagian KIA Puskesmas Batua Raya Kota Makassar. 2. Waktu Penelitian ini di lakukan mulai bulan Mei sampai dengan bulan Juli Tahun 2012. Jadwal Kegiatan Penelitian (Planing Of Action) Di Puskesmas Batua Raya Kota Makassar.

34 C. Populasi, Sampel dan Sampling 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu Primigravida diwilayah kerja Puskemas Batua Kota Makassar berjumlah 50 orang. 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu primigravida yang datang berkunjung ke Puskesmas Batua Raya Kota Makassar, subyek yang dapat dijadikan sampel dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria sampel yang telah di tetapkan. Adapun kriteria sampel penelitian adalah Kriteria Inklusi yang merupakan karakteristik umum subyek penelitian pada populasi target dan populasi terjangkau (Sastroasmoro dkk, 2012). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Kriteria Inklusi: a) Ibu hamil bersedia menjadi informan b) Bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Batua kota Makassar c) Ibu primigravida Trimester I, II dan III 2) Kriteria Eksklusi a) Ibu hamil yang tidak bersedia menjadi responden b) Tidak berada di tempat saat penelitian berlangsung

35 c) Ibu Multigravida Besar sampel di hitung berdasarkan rumus besar sampel untuk populasi menurut Zainuddin M (2007) yang dikutip oleh Nursalam (2007), besar sampel dalam penelitian dapat di hitung sebagai berikut:
n N 1  N (d ) 2

Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d = Tingkat signifikan (p)

n

46 (0,05) 2 1  46

n = 46 x 0.0025 n = 0.115 n = 0.115 + 1 n = 46 / 1.115 n = 40 orang. Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang.

3. Sampling
Sampling adalah suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keseluruan populasi yang ada. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2012). Penelitian ini menggunakan Nonprobability Sampling yaitu suatu teknik

36 penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti yang di sesuaikan dengan kriteria inklusi yang telah di rancang oleh peneliti, sehingga pemilihan sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah di kenal sebelumnya (Nursalam, 2011) D. Variabel Penelitian Menurut Soeparto, Taat Putra, dan Huryanto (2012) seperti di kutip Nursalam (2011), Bahwa variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu. Variabel juga merupakan konsep dari berbagai level dari abstrak yang didefenisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran dan atau manipulasi suatu penelitian (Nursalam, 2011). Variabel sebagai atribut dari kelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok tersebut. Klasifikasi Variabel Penelitian. Jenis variabel dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi dua klasifikasi yaitu: 1) Variabel bebas (Indevenden variabel) adalah variabel yang nilainya menentukan varibel lain (Nursalam, 2011). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap ibu primigravida. 2) Variabel terikat (Dependen variabel) adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2011). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kepatuhan Antenatal care.

37 E. Pengumpulan Data 1. Instrumen Penelitian Instrumen yang di gunakan dalam penelitian adalah lembar kuesioner untuk kedua variabel penelitian. Untuk mengukur pegetahuan responden tentang kepatuhan melaksanakan antenatal care, digunakan sekala Guttman dengan pemberian skor pada setiap alternatif jawaban yaitu jika Ya =1 dan Tidak = 0. Pengetahuan responden baik atau kurang ditentukan berdasarkan nilai median. Nilai diatas median, pengetahuan baik atau kurang dari atau sama dengan nilai median dianggap kurang. Peryatanaan tentang pengetahuan sebanyak 14 butir pertanyaan. Sebagai nilai mediannya dapat ditentukan sebaagai berikut: Baik Bila responden menjawab dengan total skor >7-14. Kurang Bila responden menjawab dengan total skor 0 -14. 0-14 merupakan rentang nilai responden. Nilai ini diurutkan dari nilai terkecil sampe dengan nilai terbesar, sehingga didapatkan nilai median untuk pengetahuan adalah 7. Sedangkan untuk mengukur sikap baik atau kurang responden digunakan skala Likert dengan pemberian skor pada setiap alternatif jawaban, yaitu sangat tidak setuju 1, tidak setuju 2, setuju 3 dan sangat setuju 4. Dikatakan baik jika total skor kurang dari sama dengan nilai median. Jumlah butir pertanyaan tentang sikap sebanyak 10 butir pertanyaan sehingga nilai median ditentukan seperti berikut: Baik Bila responden menjawab dengan total skor > 75 %, dan Kurang Bila responden menjawab dengan total skor ≤ 75 % .

38 2. Prosedur Pengumpulan Data a. Metode Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dirancang oleh peneliti sesuai dengan kerengka konsep yang telah dibuat. Instrument yang digunakan adalah lembar kuesioner, pada jenis pengukuran ini peneliti mengumpulkan data primer secara formal kepada responden untuk menjawab pertanyaan secara tertulis atau wawancara langsung. Dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder berdasarkan data medical recor di wilaya kerja puskesmas batua raya kota Makassar. Dan pengukurannya menggunakan skala guttman dimana: (pengetahuan) Ya (skor 1), Tidak (skor 0), dan sekala likert (perilaku deteksi diri) dimana: sangat stuju (4), setuju (3), tidak setuju (2) dan sangat tidak setuju (1). b. Pengolahan Data Pengolahan data dimulai pada saat pengumpulan data telah selesai, meliputi : 1. Editing Proses editing dilakukan setelah data terkumpul dan dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data, memeriksa kesinambungan data, dan keseragaman data. 2. Coding Dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan data, semua jawaban atau data perlu disederhanakan yaitu dengan symbol-

39 simbol tertentu, untuk setiap jawaban (pengkodean). Pengkodean dilakukan dengan memberi nomor halaman, daftar pertanyaan, nomor variabel, nama variabel dan kode. 3. Processing Yaitu pemprosesan data yang dilakukan dengan cara mengentri data dari kuesioner. 4. Cleaning Yaitu membersihkan data yang merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah ada kesalahan atau tidak. c. Analisa Data Data akan dikumpulkan terlebih dahulu diedit baik pada waktu dilapangan maupun pada saat memasukkan data kedalam komputer. Hal ini dimaksudkan untuk menilai kebenaran data setelah itu akan dilakukan koding kemudian data dimasukkan kedalam tabel dan diolah secara elektronik dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 16,0. Data dianalisa melalui presentase dan perhitungan dengan cara sebagai berikut: 1. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian. Analisis ini akan menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel yang diteliti.

40 2. Analisis Bivariat Ananlisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel independen dengan dependen dalam bentuk tabulasi silang antara kedua variebal tersebut. Menggunakan uji statistik dengan tingkat kebermaknaan 0,05 dengan ketentuan hubungan dikatakan bermakna bila P value < 0,05 dan hubungan dikatakan tidak bermakna bila P value > 0,05 dengan menggunakan rumus ChiSquare. Tetapi jika tabel 2 X 2 tidak layak untuk di uji chi-square karena sel expected-nya kurang dari 50% jumlah sel (yaitu sel c dan sel d), oleh karena itu uji yang dipakai adalah uji alternatifnya yaitu uji fisher.

X2 

O  E 2
E

Keterangan : X2 = Chi-square O = Nilai observasi E = Nilai yang diharapkan  = Jumlah data F. Etika Penelitian (Ethical Clearance) Masalah etika dalam penelitian yang menggunakan subyek manusia

menjadi issue sentral yang berkembang saat ini. Pada penelitian ilmu

41 keperawatan hampir 90% subyek yang digunakan adalah manusia, maka penelitian harus memahami prinsip-prinsip etika penelitian (Nursalam, 2011). Persetujuan dan kerahasiaan responden adalah hal utama yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu peneliti sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu mengajukan ethical clearance kepada pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penelitian, agar tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak (otonomi) manusia yang kebetulan menjadi subyek penelitian. Setelah mendapat persetujuan dari pihak terkait, maka peneliti akan memulai penelitian dengan menekankan prinsip-prinsip etika penelitian yang berlaku. Adapun prinsip-prinsip dalam etika penelitian adalah sebagai berikut: 1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden (Informed Consent) Lembar persetujuan ini akan diberikan kepada subyek yang akan menjadi sampel dalam penelitian. Subyek yang menjadi sampel penelitian akan mendapatkan penjelasan secara detail tentang maksud penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian diadakan. Selain hal tersebut subyek yang menjadi sampel juga diberikan informasi lain seperti: penjelasan bahwa responden bebas dari eksploitasi dan informasi yang didapatkan tidak digunakan untuk hal-hal yang merugikan responden dalam bentuk apapun, hak-hak selama dalam penelitian, hak untuk menolak menjadi responden dalam penelitian, kewajiban apabila bersedia menjadi responden, dan kerahasiaan identitas responden yang menjadi subyek penelitian.

42 2. Tanpa Nama (Anonymity) Kerahasiaan responden harus terjaga dengan tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data maupun pada lembar kuisioner, tetapi hanya dengan memberikan kode-kode tertentu sebagai identifikasi responden. 3. Rahasia (Confidentiality) Informasi yang diberikan responden akan terjamin kerahasiaannya karena peneliti dalam pemanfaatan informasi yang diberikan responden hanya menggunakan kelompok-kelompok data sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. 4. Keterbatasan Ada beberapa keterbatasan yang mungkin akan ditemukan peneliti dalam penelitian ini, yaitu: a. Alat Ukur (Instrument) Kepatuhan merupakan masalah yang abstrak yang dan sulit untuk dilakukan pengukuran. Untuk mensiasati hal tersebut, maka upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan sikap dan tindakan responden yang kemudian dari jawaban tersebut dilakukan analisis. Disadari bahwa alat ukur baku yang memiliki validitas dan reabilitas belum tersedia. Hal ini merupakan keterbatasan dalam penyediaan instrument yang benar-benar sahih.

43 b. Faktor Feasibility Sebuah penelitian yang benar-benar akurat, tentunya

membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan observasi atau pengamatan terhadap responden yang akan diteliti. Mengingat penelitian ini hanya dilaksanakan selama satu bulan, maka sangat mungkin banyak hal-hal penting yang menyangkut kepatuhan responden yang luput dari pengamatan peneliti. Kurangnya biaya serta keterbatasan pengalaman peneliti dalam penelitian merupakan masalah kesehatan masyarakat, sangat mungkin akan menyebabkan kurangnya informasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini.

44 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Batua Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini berlangsung selama satu hari yaitu sejak 29 Juni 2012. Besaran sampel diperoleh dari data sekunder yang diambil dari data di Puskesmas Batua, dan penetapan sampel dilakukan secara Nonprobability Sampling. Jumlah sampel yang memenuhi syarat penelitian sebanyak 40 orang. Setelah data terkumpul dilakukan pengelolahan data yang terdiri dari proses editing, koding, dan tabulasi dengan menggunakan program SPSS dengan tingkat kemaknaan α= 0,05. Berdasarkan hasil pengelolahan data, maka berikut ini peneliti akan menyajikan analisis data univariat untuk melihat distribusi dan persentase, dan bivariat untuk melihat hubungan dari variabel independent terhadap variabel dependent.

45 1. Distribusi Frekuensi Data yang menyangkut karakteristik dari responden akan di uraikan sebagai berikut. a. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Tabel 4.1 Distrubusi Responden Berdasarkan Usia di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli Tahun 2012. No 1 2 3 Umur Ibu < 20 tahun 20 - 35 tahun > 35 tahun Total Frekuensi 11 26 3 40 % 27,5 65,0 7,5 100

Tabel di atas menunjukkan, dari 40 responden sebagian besar yaitu 65,0% atau 26 responden responden berusia >35 tahun. b. Distibusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli Tahun 2012. No Tingkat Pendidikan Frekuensi % 1 2 3 4 SD SLTP SMU Diploma Total 3 8 21 8 40 7,5 20,0 52,5 20,0 100 berusia 20-35 tahun, dan 7,5% atau 3

46 Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian sebesar yaitu 52,5% atau 21 responden pendidikan SMU, dan 7,5% atau 3 responden pendidikan SD. c. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan. Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli 2012. No Pekerjaan Frekuensi % 1 2 3 4 Ibu Rumah Tangga Wiraswasta Pegawai Negeri Pegawai Swasta Total 31 5 1 3 40 77,5 12,5 2,5 7,5 100 di

Dari tabel diatas di ketahui 40 responden hampir seluruhnya yaitu 77,5% atau 31 responden Ibu rumah tangga, dan 2,5% atau 1 responden pegawai negeri. d. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Kehamilan. Tabel 4.4 No 1 2 3 Distribusi Responden Berdasarkan usia kehamilan di Puskesmas Batua Kota Makassar bulan Juli Tahun 2012. Usia Kehamilan Frekuensi % > 1 bulan 1-3 bulan > 3 bulan Total 1 12 27 40 2,5 30,0 67,5 100

47 Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian besarnya yaitu 67,5% atau 27 responden usia kehamilan > 3 bulan, dan 2,5% atau 1 responden usia kehamilan >1 bulan. e. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi. Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli Tahun 2012. No Mendapatkan Informasi Frekuensi % Tentang Kehamilan Televisi 19 47,5 1 2 3 Radio Penyuluhan Oleh Tenaga Kesehatan Total 40 100 1 20 2,5 50,0

Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian besarnya yaitu 50,0% atau 20 responden penyuluhan dari tenaga kesehatan, dan 2,5% atau 1 responden dari radio. 2. Analisis Univariat Pada bagian ini akan di bahas mengenai pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida di Puskesmas Batua Kota Makassar.

48 a. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan. Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli 2012. No 1 2 Pengetahuan Baik Kurang Total Frekuensi 30 10 40 % 75,0 25,0 100

Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian besar 75,0% atau 30 responden pengetahuan baik dan 10% atau 10 responden pengetahuan kurang. b. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli 2012. No Sikap Frekuensi % 1 2 Baik Kurang Total 26 14 40 65,0 35,0 100

Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian besar yaitu 65,0% atau 26 responden sikap baik dan 35,0% atau 14 responden sikap kurang.

49 c. Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli Tahun 2012. No Kepatuhan Frekuensi % 1 2 Baik Kurang Total 27 13 40 67,5 32,5 100

Dari tabel diatas di ketahui 40 responden sebagian besar yaitu 67,7% atau 27 responden kepatuhan baik dan 32,5% atau 13 responden kepatuhan kurang. 3. Analisa Bivariat a. Analisa Hubungan Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Kehamilan dengan Kepatuhan Pelaksanaan Antenatal Care Tabel 4.9 Analisa Hubungan Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Kehamilan Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Antenatal Care di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli Tahun 2012. Pengetahuan Kepatuhan Baik Baik Kurang Total 25 2 27 % 83,3 20,0 67,5 Kurang 5 8 13 % 16,7 80,0 32,5 Total 30 10 40 % 100 100 100 p= 0,001 < α= 0,05

Berdasarkan analis diatas yaitu pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care menunjukkan

50 hampir sebagian besar responden yaitu 83,3% atau 25 responden mempunyai pengetahuan baik dengan kepatuhan baik, dan 20,0% atau 2 responden dengan pengetahuan kurang dan kepatuhan kurang. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan (p) = 0,001 dengan taraf signifikan α = 0,05. Oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan melaksanakan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Batua Kota Makassar Tahun 2012. b. Analisa Hubungan Sikap Ibu Primigravida Tentang Kehamilan dengan Kepatuhan Pelaksanaan Antenatal Care Tabel 4.10 Analisa Hubungan Sikap Ibu Primigravida Tentang Kehamilan Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Antenatal Care di Puskesmas Batua Kota Makassar Bulan Juli 2012. Sikap Kepatuhan Baik % Baik Kuran g Total 27 67,5 13 32,5 40 100 23 4 88,5 28,6 Kurang 3 10 % 11,5 71,4 Total 26 14 % 100 100 p = 0,000 < α = 0,05

Berdasarkan analisis bivariat diatas yaitu sikap ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care menunjukkan sebagian besar yaitu 88,5% atau 23 responden

51 mempunyai sikap baik dan kepatuhan baik, 11,5% atau 3 responden bersikap baik namun kepatuhannya kurang. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan (p) = 0,000 dengan taraf signifikan α = 0,05. Oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan sikap ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan melaksanakan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Batua Kota Makassar Tahun 2012. B. Pembahasan 1. Analisa Univariat a. Pengetahuan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 30 responden (75%) berada pada kategori pengetahuan tinggi, sedangkan 10 responden (25%) berada pada kategori pengetahuan kurang. Dari sebaran jawaban responden tentang pengetahuan, hampir seluruh ibu hamil mengetahui tentang pengertian dan tanda-tanda kehamilan. Begitu juga dengan cara perawatan selama kehamilannya. Dominasi tingginya tingkat pengetahuan tentang antenatal care didukung oleh latar belakang pendidikan ibu terbanyak yaitu SMU. Adanya fasilitas pos pelayanan terpadu dan poliklinik bersalin kelurahan mendukung tingginya tingkat pengetahuan ibu serta menjadikan tenaga kesehatan sebagai sumber informasi yang paling banyak mentransfer pengetahuan tentang perawatan antenatal

52 Sesuai dengan pendapat dari I B Mantra (2007) yang dikutip oleh Sentana bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah seorang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun media massa, semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Tingginya pengetahuan ibu tentang kehamilan dapat dijelaskan juga karena pada saat evaluasi aspek-aspek yang berkaitan dengan kehamilan, ibu telah mengalami dan merasakan beberapa kondisi yang berhubungan langsung dengan kehamilannya. b. Sikap Dari hasil penelitian ini, sikap ibu hamil terhadap antenatal care menunjukkan hampir seluruh responden yaitu 65,0% (26 orang) berada pada kategori baik dan hanya 35.0% (14 orang) pada kategori kurang. Dari sebaran respon ibu hamil terhadap antenatal care menunjukkan sikap yang menyetujui beberapa aspek penting dalam perawatan ibu hamil. Adanya sikap yang baik dan respon mendukung terhadap perawatan ibu hamil dimungkinkan karena dirasakan perlu untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan selama kehamilan. Pentingnya antisipasi ini adalah membentuk sikap yang baik terhadap pelaksanaan antenatal care pada ibu hamil.

53 Oleh karena itu adanya penjelasan oleh tenaga kesehatan sebagai sumber informasi, latar belakang pendidikan yang memadai serta belum adanya pengalaman kehamilan sebelumnya menyebabkan ibu primigravida mempunyai sikap yang baik dan mendukung terhadap upaya-upaya perawatan kehamilannya. Adanya pergeseran nilai dan kebudayaan dimasyarakat dan semakin banyaknya media dimasyarakat seperti media cetak dan elektronik sebagai pilihan lain penyedia informasi dapat memberikan wawasan tentang manfaat perawatan selama kehamilan. Kondisi ini akan mendorong ibu untuk lebih bersikap baik dan mendukung terhadap beberapa upaya – upaya perawatan pada kehamilannya. c. Kepatuhan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan ibu hamil terhadap antenatal care sebagian besar yaitu 67,5% (27 orang) pada kategori baik dan hanya 32.5% (13 orang ) pada kategori kurang. Komponen kepatuhan pada antenatal care terdiri dari kegiatan kunjungan dan perilaku kunjungannya. Menurut Saccet (2003) yang dikutip Niven (2012)

mendefinisikan kepatuhan sebagai sejumlah perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Salah satu faktor pendukung yang dapat mempengaruhi kepatuhan ibu dalam melaksanakan antenatal care adalah karena adanya kesadaran dari ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan sedini mungkin

54 yang di lakukan secara teratur selama kehamilan, kesadaran ini berawal dari pengetahuan ibu yang baik tentang kehamilan. Sehingga baik saran maupun informasi yang di dapat melalui media massa ataupun dari tenaga kesehatan yang lain dapat dengan mudah di terima dan di fahami oleh ibu, sehingga ketentuan kunjungan serta beberapa aktivitas selama kunjungan antenatal seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus uteri, suntikan Tetanus Toxoid, pemberian tablet tambah darah dan calk serta konseling kehamilan telah dilakukan oleh ibu. 2. Analisa Bivariat a. Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Dari hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji Chi Square, tapi karena tabel 2 X 2 ini tidak layak untuk di uji chi-square karena sel expected-nya kurang dari 50% jumlah sel (yaitu sel c dan sel d), oleh karena itu uji yang dipakai adalah uji alternatifnya yaitu uji fisher. Tabel kedua menunjukan hasil uji fisher nilai siknificancy adalah 0,001 untuk 2 sided dan 0,001 untuk 1 sided ( one-tail). Karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan ibu melaksanakan antenatal care. Pada penelitian ini didapatkan bahwa frekuensi pengetahuan baik sebayak 83,3% atau 25 responden mempunyai pengetahuan

55 tinggi dengan kepatuhan baik, pengetahuan tinggi dengan kepatuhan kurang terdapat 16,7% atau 5 responden dan 20,0% atau 2 responden dengan pengetahuan kurang dan kepatuhan kurang. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan (p) = 0,001 dengan taraf signifikan α = 0,05. Oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan melaksanakan antenatal care. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengetahuan yang baik maka kepatuhan ibu melaksanakan antenatal care semakin baik. Dengan melihat hasil atau kejadian dari penelitian ini maka peneliti menyimpulakan perlunya sosialisasi kepada keluarga maupun masyarat sebagai orang yang pertama dalam mengetahui masalah ini. Dengan memberikan informasi tentang kehamilan, tanda-tanda kehamilan, cara memelihara kehamilan dan tanda bahaya kehamilan akan meningkatkan pengetahuan ibu primigravida tentang hal tersebut. Pengetahuan responden yang baik tentang kehamilan

merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kepatuhan dari ibu hamil untuk melakukan kunjungan antenatal. Adanya hubungan yang kuat antara pengetahuan dengan kepatuhan di dukung pula oleh salah satu faktor demografi dimana dari data yang di dapat menunjukkan bahwa sebagian besar informasi yang di peroleh ibu tentang kehamilan berasal dari penyuluhan yang di berikan oleh tenaga

56 kesehatan. Selanjutnya dengan pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan ibu berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. b. Hubungan Sikap dengan Kepatuhan Dari hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji Chi Square, tapi karena tabel 2 X 2 ini tidak layak untuk di uji chi-square karena sel expected-nya kurang dari 50% jumlah sel (yaitu sel c dan sel d), oleh karena itu uji yang dipakai adalah uji alternatifnya yaitu uji fisher. Tabel kedua menunjukan hasil uji fisher nilai siknificancy adalah 0,000 untuk 2 sided dan 0,000 untuk 1 sided ( one-tail). Karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan ibu melaksanakan antenatal care. Pada penelitian ini didapatkan bahwa frekuensi sikap baik sebayak 88,5% atau 23 responden mempunyai sikap yang baik dengan kepatuhan baik, sikap yang baik dengan kepatuhan kurang terdapat 11,5% atau 3 responden dan 28,6% atau 4 responden dengan sikap yang kurang dan kepatuhan kurang. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan (p) = 0,000 dengan taraf signifikan α = 0,05. Oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan sikap ibu primigravida tentang kehamilan dengan kepatuhan melaksanakan antenatal care. Hal ini menunjukkan bahwa dengan sikap yang baik maka kepatuhan ibu melaksanakan antenatal care semakin baik. Dengan melihat hasil

57 atau kejadian dari penelitian ini maka peneliti menyimpulakan perlunya sosialisasi kepada keluarga maupun masyarat sebagai orang yang pertama dalam mengetahui masalah ini. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap stimulus atau obyek yang berupa kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin baik sikap responden tentang kehamilan maka semakin baik pula kepatuhannya untuk melaksanakan antenatal care. Selain itu faktor budaya, pengalaman pribadi dan orang lain yang di anggap penting dapat mempengaruhi pembentukan sikap dari ibu tersebut. Adanya sikap yang baik pada ibu primigravida terhadap kehamilannya akan dapat meningkatkan perilaku berupa kepatuhan dalam pelaksanaan ante natal care.

58 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dibahas kesimpulan dan saran dari hasil penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kehamilan dangan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida sebagai berikut. A. Kesimpulan 1. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, dari 40 responden yang menjawab pertanyaan dengan menggunakan kusioner hampir sebagian besar pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan dalam kategori baik yaitu sebanyak 75,0% atau 30 responden. 2. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sikap ibu primigravida tentang kehamilan hampir sebagian besar bersikap baik yaitu 65,0% atau 26 responden. 3. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, kepatuhan ibu

primigravida tentang pemeriksaan antenatal care berkategori baik yaitu 67,7% atau 27 responden, ini dikarenakan pengetahuan dan sikap ibu primigravida sangat baik. 4. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, ada hubungan yang kuat antara pengetahuan tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida.

59 5. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, ada hubungan yang kuat antara sikap tentang kehamilan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu primigravida B. Saran 1. Perlunya meningkatkan pengetahuan yang lebih baik lagi bagi ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan baik melalui penyuluhan maupun kunjungan posyandu. 2. Bagi pemberi pelayanan kesehatan (puskesmas, polindes dan posyandu) perlu meningkatkan penguasaan tehnik wawancara yang baik seperti menjelaskan sesederhana mungkin agar masyarakat dapat memahami dengan jelas maksud penyampaiannya, sehingga mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan lebih jauh agar lebih optimal. 3. Bagi peneliti berikutnya dapat melakukan studi mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam perawatan antenatal dan mengidentifikasi faktor yang menyebabkan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful