P. 1
Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah

Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah

|Views: 252|Likes:
Published by De Ni

More info:

Published by: De Ni on Sep 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2015

pdf

text

original

Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian

melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting. Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma'mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa AlMa'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. 2. Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.

A. Latar Belakang Dinasti ini didirikan pada tahun 750 M/132 oleh Abdullah Al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas, salah seorang keturunan paman Nabi Muhammad, Al-Abbas. Asal usul Dinasti Abbasiyah diawali oleh pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan Abbas, paman nabi, yaitu Muhammad Ibn Ali, kemudian Ibrahim Ibn Muhammad sampai Abu Al-Abbas yang bergelar Al-Saffah, terhadap pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Pemberontakan-pemberontakan tersebut dilakukan secara terus menerus dan terorganisasi sehingga pada akhirnya terjadi revolusi menumbangkan Dinasti Bani Umayyah.[1] Dalam ungkapan yang berbeda, Stephen Humphrey mengatakan bahwa berdirinya Dinasti Abbasiyah merupakan "titik balik paling menentukkan dalam sejarah Islam". Bahkan pada masa ini peradaban islam mencapai puncaknya. Dan salah satu wujud dari peradaban tersebut adalah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan , filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol sejak awal abad ke-11-12 M (abad 5 H), khususnya ketika wazir Bani Saljuk , Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah Nizhamiyah di Baghdad. Walaupun bukan berarti ia orang pertama yang mendirikan madrasah, tetapi ia berjasa dalam mempopulerkan pendidikan madrasah bersamaan dengan reputasinya sebagai wazir. Disamping itu lembaga madrasah ini dianggap sebagai prototype awal pembangunan lembaga pendidikan tinggi setelahnya. Untuk lebih jelas lagi penjelasan tentang dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu pengetahuan serta sejarah dan sistem pendidikan Nizhamiyah berikut uraiannya. A. Sistem Pendidikan pada masa Abbasiyah Sejak lahirnya agama Islam, lahirlah pendidikan dan pengajaran Islam itu terus tumbuh dan berkembang pada masa khulafaurrasyidin dan masa Umaiyah. Pada permulaan masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara Islam, sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar dari kota-kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan para pemuda berlomba-lomba menuntut ilmu pengetahuan, pergi ke pusat pendidikan, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu.[2] Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat: 1. Tingkat sekolah rendah, yang diberi nama Kuttab Pada permulaan masa Abbasiyah dan abad-abad kemudiannya, bertambah banyak bilangan Kuttab dan para guru yang mengajar anak-anak. Kuttab biasanya di adakan di luar masjid, tetapi terkadang di adakan pula didalam masjid, karena kekurangan tempat diluar masjid. Rencana pembelajaran Kuttab umumnya sebagai berikut:        Membaca Al-Qur‟an dan menghafalnya Pokok-pokok agama Islam Menulis Kisah (riwayat) orang-orang besar Islam Membaca dan menghafal sya‟ir-sya‟ir Berhitung Pokok-pokok nahwu dan sharaf.

Waktu belajar pada Kuttab mulai pada pagi hari sabtu dan selesai pada ashar hari kamis, hari jum‟at adalah waktu beristirahat. Selain itu juga ada waktu untuk beristirahat, sehari pada hari raya Idul Fitri dan tiga hari pada hari raya Idul Adha, terkadang bisa sampai lima hari. 2. Tingkat sekolah menengah, yaitu sambungan pembelajaran dari Kuttab Rencana pembelajaran tingkat menengah tidak sama di seluruh negara Islam, karena negara islam pada masa itu telah bercerai antara satu dengan yang lainnya. Umumnya rencana pengajaran itu sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Al-Qur‟an Bahasa Arab dan kesastraannya Fiqih Tafsir Hadits Nahwu, sharaf, dan balaghoh

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Ilmu-ilmu pasti Mantiq FalakTarikh (sejarah) lmu-ilmu alam Kedokteran Musik

3. Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Baghdad dan Daarul Ilmu di Mesir Rencana pembelajaran pada tingkat tinggi tidaklah sama di seluruh negara Islam. Umumnya perguruan tinggi itu terdiri dari dua jurusan: 1. Jurusan ilmu-ilmu Agama dan bahasa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun menamai ilmu-ilmu tersebut dengan Ilmu Naqliah. Adapun ilmu-ilmu yang diajarkan pada jurusan Ilmu-ilmu Naqliah adalah sebagai berikut: Tafsir Al-Qur‟an Hadits Fiqih dan Ushul Fiqih Nahwu atau Sharaf Balagah Bahasa Arab dan kesastraannya

1. 2. 3. 4. 5. 6.

2. Jurusan ilmu-ilmu hikmah. Ibnu Khaldun menamai ilmu-ilmu tersebut dengan Ilmu ‘Aqliah. Adapun ilmu-ilmu yang diajarakan pada jurusan „Aqliah adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Mantiq Ilmu-ilmu alam dan Kimia Musik Ilmu-ilmu pasti Ilmu ukur Falak Ilahiyah (ketuhanan) Ilmu hewan Ilmu tumbuh-tumbuhan Kedokteran

Semua mata pelajaran itu diajarkan pada perguruan tinggi dan belum diadakan takhassus (spesialisasi) dalam satu mata pelajaran saja seperti sekarang. Takhasus hanya lahir kemudian sesudah tamat perguruan tinggi, yaitu menurut bakat dan kecenderungan para ulama itu sendiri, sesudah praktek mengajar beberapa tahun lamanya.[3]

PERADAPAN ISLAM DI MASA ABU JA’FAR AL- MANSUR Khalifah yang amat berbakti memajukan kebudayaan Islam, ialah khalifah al- Mansur, yakni khalifah yang kedua dari dinasti Abbasiyah, dan pembangunkota Baghdad. Beliau ialah seorang yang shaleh, teguh memegang agama, ahli dalam ilmu fiqih dan tidak kurang pula suka kepada ilmu keduniaan terutama ilmu bintang dan ilmu kedokteran. Ahli- ahli ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa dan agama sama- sama bekerja di istana beliau dengan nafkah yang bukan kecil. Setengah dari mereka ialah Naubacht seorang ahli astronomi berasal dari Persia dan dulunya beragama Majusi, dan masuk agama islam dengan penyaksian baginda khalifah al- Mansur sendiri. Al- Mansur telah meninggalkan buah usahanya dalam ilmu- ilmu asteonomi, ilmu pasti dan ilmu kedokteran. Juga khalifah- khalifah yang lain- lain seperti, Khalifah al- Mahdi, Khalifah Harunar- Rasyid, Khalifah al- Ma‟mun yang meneruskan pekerjaan beliau. Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalif al Mansur. Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, hadits dan ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah. Abu Ja‟far al Mansur merupakan khalifah kedua pada Daulat Abbasiyah namun beliau merupakan khalifah yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan Daulat Bani Abbas. Masa pemerintahan Abu Ja‟far al Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembanagn Daulat Abbasiyah pada pemerintahan selanjutnya. Ia melakukan strategi pemerintahannya baik di dalam maupun di luar negeri dengan penuh usaha yang akhirnya dapat memperluas wilayah kekuasaan Daulat Bani Abbas. Reorientasi dari Romawi ke Persia di lakukan sebagai wujud kerjasama yang baik antara Bani Abbas dengan orang Persia yang telah mendukung berdirinya Daulat Abbasiyah. Di samping itu hal ini juga di lakukan agar pemerintahan Daulat Abbasiyah lebih dekat dengan Persia Ia wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad. Bermacam-macam buku ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Usaha penerjemahan buku-buku dari bahasa Persia, Yunani, dan Hindu ke dalam bahasa Arab telah dirintis sejak masa pemerintahan al-Mansur. AlMansur mempunyai perhatian sangat besar kepada pengembangan ilmu kedokteran, astronomi, matematika dan ilmu budaya. Pada zamannya, lahirlah beberapa pujangga terkenal diantaranya Ibnu Muqaffa‟, penerjemah kitab Kalilah Dawa Dimnah. Usaha pengembangan ilmu pengetahuan terus dilanjutkan pada masa Khalifah penerusnya, dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Ma‟mun, Khalifah kelima dan ketujuh pada Daulah Abbasiyah. Meskipun penerjemahan karya-karya Yunani telah dirintis sejak masa Bani Umayyah. Tetapi dampak nyata ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dimulai terutama setelah al Ma‟mun membentuk tim penerjemahan dan membangun sebuah pusat keilmuan dengan nama Bait al-Hikmaú (Pusat Kebijaksanaan) pada tahun 830 M. Pusat keilmuan ini dilengkapi dengan observatorium bintang dan bintang universitas (Dar al-Ulûm). Al-Ma‟mun memberikan tugas penerjemahan di Bait al-Hikmah kepada : Yahya bin al-Batriq (w. 815 M), Muhammad bin Salam 777 – 839 M), Pemimpin Bait al-Hikmah; Hajjaj bin Yusuf bin Mathar (786 – 833 M), dan penerjemah terkemuka Hunain bin Ishak (809-874 M). Setelah Hunain bin Ishak, penerjemah penting lainnya adalah anaknya sendiri yaitu Ishak bin Hunain bin Ishak (w. 910 M), segera setelah era penerjemahan dan pendirian sekolah-sekolah ini, lahirlah ilmu-ilmu dari masyarakat Islam sendiri, yan gmemperkaya dan memperjelas karya-karya asing yang telah ada dan yang sama sekali baru. Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang sangat utuh, bukan saja ilmu-ilmu pasti dan kedokteran, melainkan juga mencakup teologi dan keagamaan. Teologi rasional Mu‟tazilah yang telah muncul sejak akhir pemerintahan Bani Umayyah, mencapai kematangan konsep-konsepnya, terutama ketika sudah mengalami kontak dengan pemikiran filsafat Yunani, demikian pula Asy‟ariyah. Sedangkan dalam pemikiran hukum Islam, muncul imam-imam madzhab yang empat yaitu : Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi‟i (767 – 820 M), dan Imam Ahmad bin Hambal (780 – 855 M). Demikianlah dalam masa Daulah Abbasiyah, berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal, yaitu kebudayaan Persia, kebudayaan Yunani, kebudayaan India dan

kebudayaan Arab. Sedangkan perhatian para Khalifah Abbasiyah terhadap seni budaya sangat besar, yaitu mencakup sya‟ir-sya‟ir, seni musik, arsitektur, kaligrafi, penjilidan buku, dan lain-lain. Dalam bidang sya‟ir yang terkenal di antaranya adalah : Ibnu Muqaffa‟, Abu Nawas (wafat sekitar 803 M) keturunan Persia yang hidup sezaman dengan Khalifah Harun al-Rasyid, kemudian Bashshar bin Bard dan lain-lain. Sednagkan dalam bidang arsitektur, Khalifah Abbasiyah membangun istana-istana, masjid-masjid yang indah, tempat peristirahatan, dan lain sebagainya. Selain dari pada itu dalam bidang seni kaligrafi, Abbasiyah mencatat beberapa nama besar diantaranya : Ibnu Muqlah bin Bawwab, dan Yaqut al-Musta‟shim. Ibnu Muqlah merumuskan metode penulisan kaligrafi yang dipakai sampai sekarang. Pusat kegiatan ilmu yang terpenting pada zaman ini antara lain adalah : 1. Hijaz, Makkah, dan Madinah, menjadi pusat kegiatan ilmu Hadits dan Fiqh. 2. Iraq, kota-kota Iraq dalam zaman ini terkenal sebagai pusat kegiatan segala macam ilmu, seperti : Tafsir, hadits, fiqh, bahasa, sejarah, ilmu kalam, falsafah, ilmu alam, ilmu pasti, musik dll. 3. Mesir, kota Fistat di Mesir mempunyai peranan sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan masjid Amr bin „Ash menjadi pusatnya. 4. Syria: masjid Damaskus sebagai pusat ilmu, Damaskus, Halab dan Beirut, berkembang bermacam-macam ilmu dengan ciri khas masing-masing, seperti di Beirut dikaji hukum internasional termasuk hukum Romawi. 5. Isfahan, Istana Bani Buwaihi di Isfahan merupakan pusat para ulama, sarjana dan pujangga, di sini ilmu dikembangkan di seluruh negeri. Dan juga kota Bukhari yang menjadi istana bani Buwaihi, juga sebagai pusat ilmu. 6. Thabristan : Istana Amir Thabristan Qabus bin Wasymakir yang terletak di tepi laut Qazwin juga sebagai pusat ilmu. 7. Ghaznah : Sultan Mahmud Ghaznah adalah raja yang sangat mementingkan ilmu pengetahuan. 8. Hataib Saifud Daulah menjadikan istananya tempat pertemuan para ulama, sarjana dan pujangga. 9. Istana Ibnu Thulun, zaman ibnu Thulun di Mesir, terkenal dengan sejumlah ulama Muahdditsin, ahli sejarah, pengarang, penya‟ir, Masjid Amr bin „Ash dan Masjid Ibnu Thulun menjadi pusat ilmu. Sebelum Dinasti Abbasiyah, pusat dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan centre of education. Pada dinasti Abbasiyah inilah mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan kepada ma‟had. Lembaga ini kita kenal ada dua tingkat yaitu: 1. Maktab/kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terrendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, menghitung dan menulis serta anak remaja melajar dasar-dasar ilmu keagamaan. 2. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin mendalami ilmu pengetahuannya pergi keluar daerah atau ke mesjid-mesjid bahkan ke rumah-rumah gurunya . Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Niamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. lembaga inilah yang kemudian berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah. Nizamul muluk merupakan pelopor pertama yang mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada seperti sekarang ini dengan nama madrasah. Madrasah ini dapat ditemukan di Bagdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, basrah, mausil dan kota-kota lainnya. Madrasah yang didirikan ini mulai dari tingkat rendah, serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan . Selain itu, ada beberapa kemajuan teknologi (sains), diantaranya . 1. Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhid kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Ibnu Ibrahim al-Farazi (777 M). Ia adalah astronom muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. Di samping itu, masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibnu isa Al-Asturlabi, Al-Farghani, Al-Battani, Umar Al-Khayyam dan Al-Tusi. 2. Kedokteran, pada masa ini dokter pertama yang terkenal adalah Ali ibnu Rabban Al-Tabrani. Pada tahun 850 ia mengarang buku Firdaus al-hikmah. Tokoh lainnya adalah Al-Razi , Al-Farabi dan Ibnu Sina. 3. Ilmu Kimia. Bapak ilmu kimia Islam adalah Al-Jabir ibnu Hayyan (721-815). Sebenarnya banyak ahli kimia Islam ternama lainnya seperti Al-Razi, al-Tuqrai yang hidup pada abad ke 12 M. 4. Sejarah dan geografi. Pada masa Abbasiyah sejarawan ternama abad ke3 H adalah Ahmad bin Al-yakubi , Abu jafar Muhammad bin Jafar bin Jarir Al-Tabari. Kemudian ahli ilmu bumi yang termasyhur adalah Ibnu Khurdazabah (820-913 M). Sementara itu menurut DR. Jaih Mubarok, ada beberapa usaha yang dilakukan oleh khalifah dan ulama dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama . 1. Bait al-hikmaú: Perpusatakaan, penerjamahan dan observatium 2. Berkembangnya beberapa ilmu agama (Kalam Mu‟tazilah, Hadits dan Fiqih) Masa Kemunduran Pendidikan Islam Sepanjang sejarah sejak awal dalam pemikiran terlibat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan ummat islam. Kedua pola tersebut adalah : Pola pemikiran tradisional dan Pola pemikiran rasional. Pada pola pemikiran tradisional ini selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistis dan mengembangkan pola pendidikan sufi yang sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak atau budi pekerti manusia. Sedangkan pada pola pemikiran rasional, mementingkan akal pikiran yang menimbulkan pola pendidikan empiris rasional yang sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasan material. Pada masa jayanya pendidikan islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. Akan tetapi ketika pola pemikiran rasional diambil alih oleh Eropa dan dunaia islam pun meninggalkan pola berfikir tersebut. Sehingga tinggal pemikiran sufistis yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin yang akhirnya mengabaikan dunia material. Dari aspek inilah dikatakan bahwa pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran. Setelah kita mengetahui asas kebangkitan peradaban islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak bisa dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistematik, maka jatuh bangunnya suatu peradaban juga bersifat sistematik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya, yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal berkaitan erat sekali. Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran ummat islam secara eksternal, faktor-faktor tersebut adalah :[1] 1. Faktor ekologi dan alami, yaitu kondisi tanah dimana negara-negara islam berada adalah gersang, atau semi gersang. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syiria dan Iraq. Karena faktor ini penduduk tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu dan kepada pendidikan. 2. Perang salib yang terjadi dari 1096-1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. ”Perang Salib” menurut Bernand Lewis,” pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya. 3. Hilangnya perdagangan islam internasional dan munculnya kekuatan barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara islam. Disaat itu kekuatan ummat islam baik di laut maupun di Barat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos perdagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Meskipun barat muncul sebagai kekuatan baru, ummat muslim bukanlah peradaban yang seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban islam terus dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman barat. Akan tetapi kolonialis melihat bahwa kekuatan islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras, dan bangsa dapat dilemahkan yaitu dengan cara adu domba dan teknik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil. Menurut Ibnu Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal dari pada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral.[2]

M. M. Sharif dalam bukunya Muslim Thougt, mengungkapkan gejala kemunduran pendidikan dan kebudayaan islam tersebut sebagai berikut : “...... kita saksikan bahwa pikiran islam telah melaksanakan satu kemajuan yang hebat dalam jangka waktu yant teletak diantar abad ke VII dan abad ke XIII M. Selanjutkan diungkapkan juga bahwa sebab-sebab pikiran islam menurun dan melemah antara lain sebagai berikut :[3] 1. Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistis) Al-Ghazali di Timur dan berkelebihannya pula Ibnu Rusyd dalam memasukkan filsafat islamnya (yang bercorak rasionalistis) ke dunia islam barat. Sehingga Al-Ghazali dengan filsafat islamnya menuju kerohania hingga menghilang ke dalam maga tasawuf mendapat sukses di timur, dan Ibnu Rusd dengan filsafatnya yang bertentangan dengan Al-Ghazali dengan munuju ke jurang materialisme mendapat sukses di Barat. 2. Ummat islam, terutama pada pemerintahannya (khalifah, sultan, amir-amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mana pada mulanya mereka memberi kesempatan untuk berkembang dan memperhatikan ilmu pengetahuan dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan. Namun pada masa ini mereka lebih mementingkan pemerintahan, begitu juga dengan para ahli ilmunya yang telibat dalam urusan-urusan pemerintahan. 3. Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di dunia islam. Itulah diantara atau beberapa faktor-faktor kemunduran pendidikan islam baik dari segi eksternal maupun internal yang dapat kami amati. Dampak dari Faktor-Faktor Kemunduran Pendidikan Islam Dari beberapa faktor yang telah dipaparkan diatas yang pasti ada dampak yang terjadi baik terhadap ummat islam itu sendiri dan terutama pada pendidikan yang mana dengan semakin ditinggalkanya pendidikan intelektual, maka semakin statis perkembangan kebudayaan islam, karena daya intelektual generasi penerus sudah tidak mampu lagi untuk mengadakan kreasi-kreasi baru, bahkan telah menyebabkan ketidakmampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan baru yang dihadapi. Dalam bidang fiqh, yang terjadi adalah berkembangnya taqlid buta dikalangan ummat. Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab fiqh lama dianggapnya sebagai sesuatu yang sudah baku, mantap, benar, dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan mereka sangat statis. Ketika ummat islam mengalami kehancuran dan kemunduran dalam pendidikan terutama dalam bidang intelektual, maka pada waktu itu kehidupan sufi berkembang dengan pesat. Karena keadaan frustasi yang merata dikalangan ummat sehingga menyebabkan orang kembali kepada Tuhan (bersatu dengan Tuhan ) sebagaimana diajarkan oleh para ahli sufi. Kemunduran dan kemerosotan mutu pendidikan dan pengajaran juga nampak jelas pada sangat sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran serta menyempitnya bidang-bidang ilmu pengetahuan umum di madrasah-madrasah. Sehingga kurikulum pada umumnya madrasah-madrasah terbatas hanya pada ilmu-ilmu keagamaan murni seperti : Tafsir, Al-Qur‟an, hadits, fiqh (termasuk ushul fiqh) dan ilmu kalam atau teologi bahkan dalam ilmu kalam pun masih ada madrasah-madrasah yang mencurigai. Dengan materi yang sangat sederhana ternyata total buku yang harus dipelajari pun sangat sedikit. Begitupun dengan sistem pengajaran pada masa itu yang sangat beroritentasi pada buku pelajaran sehingga sering terjadi pelajaran hanya memberikan komentar-komentar atau syarah terhadap buku-buku pelajaran yang dijadikan pegangan oleh guru tanpa ada pasokan pendapat sendiri dari guru tersebut. Oleh karena itu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikatakan macet total. Keadaan yang demikian berlangsung selama masa kemunduran kebudayaan dan pendidikan islam, sampai abad ke 12 H/18 M. Pasca Runtuhnya Baghdad (Bani Abbasyiah) dan spanyol (Bani Umayyah II) 2.1.1. Faktor Jatuhnya Baghdad Sebagaisebuah pemerintahan yang pernah mengalami kejayaan juga mengalami kemunduran. Pada masa kehancuran ini ditandai dengan jatuhnya Baghdad pada masa kholifah ke – 5 dari bani abbas, yakni Al mu‟tashim (656 H/ 1258M). factor-faktor yang membuat Baghdad menjadi lemah dan hancur terprediksi menjadi factor intern dan factor ekstern. A. Factor Intern 1. konflik internal keluarga istana Adanya perebutan kekuasaan dikalangan anak-anak kholifah yang sering membawa kehancuran mereka. 2. Tampilnya Dominasi Militer Dalam perkembangannya, jajaran-jajaran militer secara perlahan dapat membangun kekuatan didalam daulah dan juga memgendalikan jalannya administrasi pemerintah daulah abbasiyah yang didukung dengan lemahnya kholifah-kholifah sehingga tidak mampu mengimbangi kekuatan militer yang semakin berkuasa. 3. Permasalahan Keuangan Pemasukan negara menjadi semakin kecil, yang disebabkan banyaknya pajak macet, makin menyempit wilayah kekuasaan serta pembengkakan dana keluar juga terjadi akibat kehidupan kholifah dan pejabat yang bermewah-mewah dalam pemerrintahan. 4. Berdirinya Dinasti-Dinasti Kecil Pemerintahan yang seamkin lemah menyebabkan munculnya pemberontakan–pemberontakan diberbagai daerah yang membentuk dinasti-dinasti kecil melepaskan diri dari bani Abbasiyah. 5. Luasnya wilayahLuasnya wilayah yang harus dikendalikan, merupakan suatu sebab lambatnya penyampaian informasi dan komunikasi. B. Faktor Ekstern 1. Perang Salib Adanya perang salib merupakan simbl pendidikan agama yang timbul atas ketidak senangan komunitas Kristen terhadap perkembangan islam di eropa. 2. Serangan Tentara Mongol

Serangan mongol ini terjadi di beberapa wilayah islamsehingga memporak porandakan kota-kota pedidikan islam. 2.1.2. Factor Jatuhnya Spanyol a) Factor Intern 1) Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan munculnya perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Konflik inilah yang menyebabkan ditaklukkannya sebuah dinasti oleh dinasti lain. 2) Lemahnya figure dan karismatik yang di miliki kholifah khususnya sesudah kholifah Al- hakam II. 3) perselisihan dikalangan umat islam karena perbedaan suku dan kelompok. 4) Munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang saling merebut kekuasaan. Bahkan antar dinasti satu dengan yang lain tidak segan menyatu dengan seuah kerajaan Kristen untuk menghancurkan dinasti lain. b) Faktor ekstern Adanya konflik islam dengan Kristen, kebijakan para penguasa muslim tidakmelakukan islamisasi secara sempurna, tetapi membiarkan orang-orang kriten mempertahankan ukum dan tradisi mereka. Padahal kehadiran Arab/Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang spanyol. 2.1.3. Akibat Runtuhnya Bagdad Dan Spanyol Terhadap Pendidikan Islam. Pada masa jayanya pendidikan islam,terhadap dua pola yang menghiasi dunia islam yakni,pola pemikiran sufistis dan pola pemikiran rasional.yang keduanya saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat islam.namun setelah pemikiran rasional diambil alih pengembangnya oleh dunia (EROPA)dan dunia islam pun meninggalkan pola berpikir terebut,maka dalam dunia islam hanyalah tinggal pemikirsn sufistis sehingga mengabaikan dan tidak menghasikan perkembangan budaya islam yang bersifat material.dari kedua aspek inilah pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemandekan,yakni: a) Berlebihannya Filsafat Islam(Yang Bersifat Sufistik) Keadaan frustasi dikalangan umt islam yang menyebabkan manusia kembali pada tuhan(bersatu).sebagaimana yang diajarkan oleh para sufi.di dalam kehidupanmereka berkembang pesat madrasah madrasah yang diwarnai dengan kegiatan kegiatan sufi dimasukkan kedalam kurikulum yang formal,kurikulum akademis dominasi dengan buku buku sufi.dan mereka mulai mengembangkan benih benih organisasi sosial dan sebuah misi kemasyarakatan yang mengarahkan padahal yang diistilahkan dengan intelektual. b) Sedikit Kurikulum Islam Hal ini tampak jelas dengan menyempitnya bidang pengetahuan umum dengan tiada perhatian kepada ilmu ilmu alam,maka kurikulum madrasah madrasah pada umumnya terbatas pada ilmu ilmu keagamaan,ditambah dengan sedikit gramatika dan bahasa sebagai alat yang diperlukan.ilmu ilmu keagamaan yang murni (tafsir,hadist,fiqih,dan ushul fiqih,il mu ka lam,dan teologi islam)sudah mulai tertinggal karena penyempitan kurikulum tersebut.sedangkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan study relatif singkat,sistem pelajaran pun sangat minim karena sistem pelajaran masa itu berorientasi pada buku pelajaran dengan kurikulum yang sangat sempit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->