P. 1
Kajian Ilmu Hadis Masih Minim

Kajian Ilmu Hadis Masih Minim

|Views: 137|Likes:
Published by alif fikri
Kajian hadis di Indonesia masih sangat minim. Akibatnya, hadis-hadis lemah dan palsu dengan begitu mudah tersebar luas di Indonesia. Kondisi seperti ini disinyalir karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan hadis-hadis lemah dan palsu. Selain itu, kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya kajian hadis di Indonesia.

Bahkan, karya ulama nusantara dalam kajian hadis juga sangat sedikit. Kalau ada yang bagus, karya tersebut merupakan karangan ulama yang lama bermukim di Arab Saudi, seperti At-Termasi yang menulis Syarah Manhaj Dzawi An-Nadhar.

Di samping itu, merebaknya hadis lemah dan palsu juga turut disebarkan oleh para mubalig (penceramah). Bahkan, di kalangan dai, keberadaan hadis lemah sangat dominan, bahkan tak jarang mereka menggunakan hadis-hadis palsu. “Kajian dan pengajaran metode hadis selama ini sifatnya juga masih normatif, sebatas pada pengertian berikut klasifikasinya saja. Pengajaran hadis di Tanah Air jarang menyentuh level penelitian,” tutur Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA, direktur eksekutif Pusat
Kajian Hadis Jakarta.

Menurutnya, saat ini yang paling mendesak adalah mengubah metode pengajaran hadis, dari pengertian makna pada penelitian kualitas hadis. “Tradisi sanad dalam sebuah hadis tidak hanya melalui kitab-kitab fadhail (keutamaan), tetapi juga kitab-kitab utama sekaligus,” ujarnya
Kajian hadis di Indonesia masih sangat minim. Akibatnya, hadis-hadis lemah dan palsu dengan begitu mudah tersebar luas di Indonesia. Kondisi seperti ini disinyalir karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan hadis-hadis lemah dan palsu. Selain itu, kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya kajian hadis di Indonesia.

Bahkan, karya ulama nusantara dalam kajian hadis juga sangat sedikit. Kalau ada yang bagus, karya tersebut merupakan karangan ulama yang lama bermukim di Arab Saudi, seperti At-Termasi yang menulis Syarah Manhaj Dzawi An-Nadhar.

Di samping itu, merebaknya hadis lemah dan palsu juga turut disebarkan oleh para mubalig (penceramah). Bahkan, di kalangan dai, keberadaan hadis lemah sangat dominan, bahkan tak jarang mereka menggunakan hadis-hadis palsu. “Kajian dan pengajaran metode hadis selama ini sifatnya juga masih normatif, sebatas pada pengertian berikut klasifikasinya saja. Pengajaran hadis di Tanah Air jarang menyentuh level penelitian,” tutur Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA, direktur eksekutif Pusat
Kajian Hadis Jakarta.

Menurutnya, saat ini yang paling mendesak adalah mengubah metode pengajaran hadis, dari pengertian makna pada penelitian kualitas hadis. “Tradisi sanad dalam sebuah hadis tidak hanya melalui kitab-kitab fadhail (keutamaan), tetapi juga kitab-kitab utama sekaligus,” ujarnya

More info:

Published by: alif fikri on Sep 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2015

pdf

REPUBLIKA ● AHAD, 18 JULI 2010

B8

D R A H M A D LU T F I FAT H U L L A H M A

Kajian Ilmu Hadis Masih Minim
keempat imam mazhab itu. Bahkan, cara yang membedakannya hanya melalui riwayat dari muridmurid mereka. Imam Malik, selain melalui jalur riwayat, juga mempertimbangkan penglihatan tabiin yang berada di Madinah. Imam Malik sering meriwayatkan hadis secara mursal sehingga terkenal dengan balaghat. Sedangkan balaghat sendiri dalam ilmu hadis dihukumi dhaif karena tidak menyambung. Kendati demikian, Imam Malik tetap mengamalkan hadis-hadis dhaif tersebut. Sebab, menurut Syafii dan Malik, banyak hadis yang silsilah rawinya tidak disampaikan secara lengkap kepada Rasulullah. Lantas dari sekian pendapat tentang ragam riwayat manakah yang benar? Masing-masing tidak salah, selama disandarkan kepada Rasulullah. Oleh sebab itu, tak perlu saling menyalahkan, apalagi mau menarjih pendapat masingmasing wujud surga dan neraka, mayoritas hadis yang mengupas itu rata-rata statusnya hadis ahad, bahkan ada yang lemah (dhaif). Maka, ulama hadis berpandangan, selama tidak sampai ke derajat palsu, boleh dipergunakan untuk konteks penjelasan. Seperti Kitab Al-Azhar Al-Mutanatsirah Fi AlAkhbar Al –Mutawatirah karangan As-Suyuthi yang banyak memuat hadis-hadis lemah tentang kehidupan setelah kematian Keabsahan hadis dalil sebagai hujjah banyak dipertanyakan. Menurut Anda? Abu Al-Fattah Abu Ghaddah mengatakan, keempat imam mazhab fikih memakai hadis dhaif sebagai hujah. Karena jika memakai dalil pendapat, ada kemungkinan salah dan benar. Sedangkan probabilitas yang dimiliki suatu hadis, bisa jadi memang bersumber dari nabi dan bisa juga tidak. Dengan demikian, kebanyakan ulama lebih memilih berhati-hati mendahulukan hadis dhaif selama ada syawahid (penguat) daripada harus mengandalkan pendapat. Mungkinkah menyatukan persepsi tentang hadis antara Sunni dan Syiah? Sulit. Karena beberapa konsep dasar antara Sunni-Syiah saling bertentangan. Seperti pengertian hadis, sumber, dan nilai-nilai hadis. Hadis di kalangan Syiah adalah riwayat yang menyambung ke salah satu imam dua belas dalam mazhab mereka. Setiap riwayat yang memiliki sanad ke imam tersebut, dihukumi sahih atas dasar konsep ushmah (terjaga dari kesalahan). Lantas bagaimana memosisikan kaum Syiah dalam kajian hadis? Berdasarkan kajian ilmu jarh wa tl-ta’dil, kalangan Syiah terbagi menjadi dua: yaitu kelompok ekstrem (ghulw) dan moderat (mutawassith) . Golongan esktrem tidak hanya memuliakan Ali, tetapi juga mencela para sahabat seperti Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Dalam jarh wa al-ta’dil ada dua unsur penting, yaitu dlabith (kuat hafalan) dan ‘adalah (perawi yang adil). ‘Adalah (adil) terdiri atas dua unsur, yakni akidah dan muruah . Dari sisi akidah dijabarkan lagi menjadi dua, yaitu akidah yang benar (salimah) atau yang melenceng (mubtadi’ah). Demikian halnya dengan mubtadiah dibagi ke dalam dua bagian, yaitu ekstrem (ghulw) dan moderat mutawassith . Maka selama masih moderat, Sunni akan menerima riwayat kaum Syiah. Bagaimana Anda mengamati kajian hadis di Indonesia? Kajian hadis di Indonesia masih sangat minim dan bersifat normatif sebatas pada pengertian berikut klasifikasi hadis. Jarang menyentuh level penelitian. Bahkan, dulu, desertasi penelitian di bidang hadis pernah meloloskan kajian hadis dengan total belasan hadis saja. Oleh karena itu, yang paling mendesak adalah mengubah metode pengajaran hadis. Karena selama masih normatif, tidak akan efektif. Misalnya, penting untuk mengajarkan tentang tradisi sanad dalam sebuah hadis tidak hanya melalui kitab-kitab fadhail, tetapi juga kitab-kitab utama sekaligus. Hadis dhaif (lemah) marak tersebar pada Muslim Indonesia, mengapa demikian? Orang Indonesia secara umum bukan ahli hadis, tapi hanya penyampai hadis yang hanya membaca hadis dari buku-buku yang ada lalu menyampaikannya. Mereka tidak menguasai ilmu hadis sehingga tidak bisa memilah dan memilih mana hadis yang sahih dan tidak. Akibatnya, di Indonesia banyak menyebar hadis-hadis lemah dan palsu tanpa ada seleksi ketat. Indikasi lemahnya kajian hadis di Indonesia diperkuat dengan minimnya karya tentang ilmu hadis. Sebagai bukti, belum ada karya tentang ilmu hadis hasil karya ulama nusantara yang bagus. Kalaupun ada, merupakan karangan seorang ulama yang sudah lama berdomisili di Arab Saudi seperti Al-Termasi yang mengarang Kitab Syarah Manhaj Dzawi An-Nadhar. Seberapa jauhkah pengaruh para muballig turut menyebarkan hadis lemah? Di kalangan dai, hadis lemah (dhaif) lebih dominan ketimbang hadis sahih dan tak jarang hadis palsu. Buktinya, tatkala hendak berceramah, kebanyakan lebih memilih membuka kitab-kitab fadlail dibandingkan dengan merujuk langsung ke Shahih Bukhari. Lagi-lagi, penguasaan ilmu hadis minim. Bagaimana karakter ulama yang ideal? Idealnya, ulama itu harus menguasai berbagai disiplin ilmu, tak terkecuali hadis, fikih, dan ushul fikih. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Malik, Syafii, Al-Nawawi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dan, ulama yang memiliki satu penguasaan disiplin ilmu sajalah yang bermasalah. Seperti Syekh Al-Albani, harusnya dia mendalami juga ilmu fikih dan ushul fikih. Kalau pemahaman hadis dari sanad saja, dia bukan ahli hadis namanya. Kebanyakan ulama Indonesia kuat dalam bidang ilmu fikih, namun lemah dalam kajian ushul fikih. Akibatnya, sering kali menukil pendapat dari seorang imam tanpa berani berfatwa dengan alasan belum sampai level memberikan fatwa. ■ cr1 ed: syahruddin e

Apa yang melatarbelakangi perbedaan metode ahli fikih dan ahli hadis? Karakter berpikir orang, turut dipengaruhi oleh kitab yang dibaca. Pada ahli hadis, terlalu berkecimpung dengan kesahihan riwayat (mada shihat al-hadis). Sedangkan orang fikih lebih melihat dampak yang diakibatkan atas suatu teks untuk pengambilan sebuah hukum (istinbath alahkam). Namun, meski sekalipun hadis tersebut dhaif, ahli fikih akan mencoba mencari illat-nya sehingga tidak terjadi perbedaan pandangan karena mereka memang berbeda dalam penguasaan bidang tertentu. Misalnya, ketika kita berdebat dengan Wahbah AlZuhaili tentang ilmu hadis, tentu saja hal itu tidak tepat. Karena, corak berpikir Zuhaili didominasi ilmu fikih.
DAMANHURI ZUHRI/REPUBLIKA

Idealnya, seorang ulama itu harus menguasai berbagai disiplin ilmu.

K

ajian hadis di Indonesia masih sangat minim. Akibatnya, hadis-hadis lemah dan palsu dengan begitu mudah tersebar luas di Indonesia. Kondisi seperti ini disinyalir karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan hadis-hadis lemah dan palsu. Selain itu, kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya kajian hadis di Indonesia. Bahkan, karya ulama nusantara dalam kajian hadis juga sangat sedikit. Kalau ada yang bagus, karya tersebut merupakan karangan ulama yang lama bermukim di Arab Saudi, seperti At-Termasi yang menulis Syarah Manhaj Dzawi An-Nadhar. Di samping itu, merebaknya hadis lemah dan palsu juga turut disebarkan oleh para mubalig (penceramah). Bahkan, di kalangan dai, keberadaan hadis lemah sangat dominan, bahkan tak jarang mereka menggunakan hadis-hadis palsu. “Kajian dan pengajaran metode hadis selama ini sifatnya juga masih normatif, sebatas pada pengertian berikut klasifikasinya saja. Pengajaran hadis di Tanah Air jarang menyentuh level penelitian,” tutur Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA, direktur eksekutif Pusat Kajian Hadis Jakarta. Menurutnya, saat ini yang paling mendesak adalah mengubah metode pengajaran hadis, dari pengertian makna pada penelitian kualitas hadis. “Tradisi sanad dalam sebuah hadis tidak hanya melalui kitab-kitab fadhail (keutamaan), tetapi juga kitab-kitab utama sekaligus,” ujar Lutfi. Seberapa urgensi kajian hadis itu, bagaimana kualitas hadis yang berkembang di Indonesia, dan bagaimana pengkajiannya? Berikut petikan lengkap wawancara Republika dengan dosen hadis di beberapa perguruan tinggi Islam ini.

Benarkah dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim ada hadis dhaif? Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, mau dibilang sahih semua, itu benar. Namun, bila ada orang yang menyatakan dhaif di dalamnya, hal itu juga benar. Hanya saja, orang yang tidak mengerti tentang masalah ini akan salah persepsi. Karena berdasarkan konsep ilmu hadis, dalam kitab Bukhari dan Muslim, ada hadis yang dhaif. Imam Bukhari mengatakan bahwasanya hadis yang dia pertanggungjawabkan adalah hadis dengan sanad menyambung sampai ke Rasulullah. Sedangkan yang tidak disebutkan sanadnya secara lengkap—dalam ilmu hadis dianggap mu’allaq ataupun mauquf— maka Bukhari tidak menjamin kesahihannya. Cukup dengan menyatakan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat. Hadis mu’allaq dan mauquf, dalam kajian ilmu hadis dikategorikan sebagai hadis dhaif. Dan, kedua kategori hadis itu banyak terdapat di Shahih Bukhari. Tetapi, jika menggunakan perspektif Imam Bukhari, dalam kitabnya itu tidak terdapat hadis dhaif. Bukankah Bukhari menegaskan sendiri hanya mengumpukan hadis-hadis sahih dalam kitab Sahihnya? Benar. Tetapi, yang dimaksudkan di situ adalah hadis yang menyambung sanadnya ke Rasulullah. Sedangkan mu’allaq, sengaja dilakukan karena bisa jadi nilai kesahihan hadis tersebut lebih rendah dibanding hadis yang tersambung. Tetapi, kriteria yang diletakkan Bukhari, sangat ketat. Dan, itu berbeda dengan imam lainnya. Apakah dengan demikian akan mengurangi kredibilitas Bukhari? Tentu saja tidak. Di mata para pengkaji hadis, adanya fakta tersebut tidak akan mengurangi kredibilitas Bukhari sebagai seorang periwayat hadis. Namun, menurut kacamata orang awam, bisa jadi hal itu akan menjadi celah untuk menyerang Bukhari. Saya bisa menegaskan bahwa Shahih Bukhari sudah teruji selama ratusan tahun. Sedangkan, pendapat mereka yang mencercanya sama sekali belum terbukti Mengapa hadis tentang Isra Mi’raj dipermasalahkan oleh sebagian kalangan? Peristiwa Isra Mi’raj paling berpotensi disisipkan hadis-hadis lemah, bahkan palsu, karena dalam peristiwa ini, tidak banyak orang yang menyaksikan perjalanan tersebut. Dan, dasar yang meyakininya adalah keimanan. Tatkala Syekh Muhammad Al-Ghazali meragukan hadis tentang Isra Mi’raj yang terdapat dalam Shahih Bukhari, argumen yang dikeluarkan bertentangan dengan pendapat mayoritas seperti AnNawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Bahkan, oleh sebagian kalangan, Syekh Muhammad Al-Ghazali dituding sebagai orang yang tak tahu tentang kajian hadis. Apakah hadis dhaif bisa dijadikan landasan dalam akidah? Hadis dhaif digunakan sebagai penjelasan (bayan) akidah dan tidak digunakan sebagai dasar. Sedangkan untuk konteks dasar, hadis-hadis tentang surga dan neraka harus menggunakan hadis mutawatir sekalipun mutawatir maknawi. Namun, jika terkait dengan detail seperti apakah

Apa urgensi hadis dalam hukum Islam? Alquran lengkap dari sisi konsep. Sedangkan, penjelasannya secara detail, baik tentang hukum maupun lainnya, dapat ditelusuri dari hadis Rasulullah SAW. Hadis merupakan sumber hukum yang sangat penting bagi umat Islam. Ia menempati peringkat kedua setelah Alquran. Karena itu, keberadaan hadis sangat penting, terutama dalam tataran amaliah (perbuatan). Sebab, sebagian besar tuntunan agama bersifat amaliah. Apakah perbedaan riwayat bisa berpengaruh pada kesimpulan hukum? Keempat mazhab (Syafiiyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah—Red), banyak mempergunakan hadis sebagai rujukan. Karena itu, ada perbedaan pandangan di antara mereka dalam menetapkan sebuah kasus hukum karena nash yang digunakan juga berbeda. Misalnya, dalam hal tata cara shalat Rasulullah terdapat beberapa riwayat yang berbeda. Bisa jadi, sahabat yang satu meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah shalat dengan mengenakan baju putih dan membaca Surah Al-Kautsar. Sedangkan, sahabat lainnya, mengisahkan bahwa Rasulullah shalat dengan memakai baju merah dan membaca Surah Al-A’la. Sejauh manakah ulama mazhab fikih menyikapi perbedaan riwayat tersebut? Imam Malik memiliki konsep amalan orang Madinah adalah hujjah (dalil) yang kuat. Sedangkan Imam Syafii dalam Kitab Ar-Risalah mempunyai konsep lebih jelas dan teliti. Konsepnya, siapa saja sahabat yang shalat di shaf paling depan dan siapa yang tidak pernah ketinggalan jamaahnya, maka yang demikian lebih kuat karena rutinitasnya lebih tinggi. Imam Syafii, misalnya, melakukan kritik sejarah modern dengan kajian antropologi. Karena itu, Imam Syafii tersohor sebagai perintis kajian ilmu nasikh mansukh dan konep syadz. Bukankah Imam Malik sendiri juga terkadang menggunakan hadis dhaif? Ada jarak yang sangat jauh antara kita dan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->