P. 1
Teori Belajar Kognitif Bruner

Teori Belajar Kognitif Bruner

|Views: 335|Likes:
Published by Denni Pratama

More info:

Published by: Denni Pratama on Sep 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2015

pdf

text

original

Teori belajar kognitif bruner

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan. Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif:

Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah: a. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun) Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya. b. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. c. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi

Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan struktur . mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak. salah satu kritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama dalam berbagai domain intelektual. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Berdasarkan uraian diatas. tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit.misalnya kuantitas. d. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut. Hal ini dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Fakta ini memicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neo-Piagetian theories. Dari beberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran. Taxonomy SOLO Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori pembelajaran kognitif. Implikasi dari hal ini adalah ketika seorang anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat diduga akan mengawetkan konsep berat. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik melakukan analisis serta memperluas teori tersebut. Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget. karena struktur antara konsep besaran dan berat sama.

pembelajaran. tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal . Oleh karena itu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. suatu hari siswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. Penekan pada suatu tugas tertentu sangat penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas lainnya. hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya. Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul. Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. penampilan atau motivasi. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. atau bahkan dapat terjadi. Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara “generalized cognitive structure” atau struktur kognitif umum anak dengan “actual respon” atau respon langsung anak ketika diberikan perintah-perintah. Hasil observasi seperti ini tidak dapat mengindikasikan terdapatnya “pertukaran” dalam perkembangan kognitif yang berlangsung. Level terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunjukkan . Biggs & Collis (1991: 60)menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama “post formal mode”. selanjutnya asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level awal konkrit dalam sejarah. ini tidak akan menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO). Untuk melihat respon anak diperlukan butir-butir rangsangan.kognitif. Mereka menerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah “hypothesized cognitive structure” (HCS) atau struktur kognitif hipotesis. Untuk menjelaskan konsep “pertukaran” yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah. Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu.

Sedangkan target pertama dari sekolah formal ada pada mode concrete symbolic. Karena dalam matematika anak menggambarkan dan mengoperasikan objek-objek yang berada di sekitarnya. Secara khusus. Mode concrete symbolic adalah mode terbesar sebagai target dari matematika sekolah. Cirri-ciri dari anak yang berada pada mode ini antara lain sering menggunakan strategi menebak. 2. senang menggunakan alat peraga dan senang membuat gambaran-gambaran mental. Anak membangun kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinya dengan lingkungan sekitar. Sebuah system symbol memiliki tingkatan dan logika internal yang dapat memfasilitasi sebuah hubungan antara sistem simbol dan lingkungan fisik di sekitarnya. Mode sensorimotor dan iconic adalah modemode alamiah dari seorang manusia yang berkembang secara alamiah juga. yaitu sebuah system symbol yang akan mereka gunakan dalam kehidupannya di dunia. Tanda-tanda tersebut digunakan sebagai peran pengganti dari komunikasi oral. Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis: 1. Sistem symbol yang digunakan di sekolah antara lain adalah matematika dan bahasa. Mode Iconic Pada mode ini symbol-simbol dan gambar digunakan untuk merepresentasikan elemen-elemen yang diperolehnya pada mode sensorimotor. Mereka mulai merepresentasikan dunia fisik melalui bahasa oral ke dalam bentuk tulisan.anak. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode ini ditunjukkan oleh kegiatan-kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge. . bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level-nya. 3. Mode Sensorimotor Focus perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Mode Concrete Symbolic Pada mode ini anak mengalami “pertukaran” dalam proses abstraksi. ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadi normanya.

Karakteristik terpenting dari mode ini adalah kemampuan untuk bertanya tentang prinsip-prinsip mendasar dari sesuatu hal. Tahap Multi-Structural. mengingat dan melakukan prosedur sederhana. 3. 2. Taksonomi SOLO ini terdiri dari lima tahap yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan berpikir kompleks pada siswa dan dapat diterapkan di berbagai bidang. Kemampuan berpikir pada tahap ini meliputi membuat formula hipotesis dan membuat penalaran yang proporsional. Oleh karena itu kemampuan ini dituntut pada mahasiswa-mahasiswa di Perguruan Tinggi. Pada tahap ini siswa hanya memiliki sangat sedikit sekali informasi yang bahkan tidak saling berhubungan. Tahap Uni-Structural. 1. . 5. Tahap Pre-Structural. Beberapa kata kerja yang dapat mengindikasi aktivitas pada tahap ini adalah. Pada tahap ini terlihat adanya hubungan yang jelas dan sederhana antara satu konsep dengan konsep lainnya tetapi inti konsep tersebut secara luas belum dipahami. mengindentifikasikan. Mode Formal Pada mode ini titik berat kemampuan sesorang adalah pada kemampuan mengkonstruksi teori tanpa bantuan contoh benda konkrit. Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO. sehingga tidak membentuk sebuah kesatuan konsep sama sekali dan tidak mempunyai makna apapun.4. Mode Post Formal Keberadaan mode ini lebih menekankan pada pembuatan hipotesis secara deduktif dari pada penyusunan teori berdasarkan bukti-bukti empiris. Pada tahap ini siswa sudah memahami beberapa komponen namun hal ini masih bersifat terpisah satu sama lain sehingga belum membentuk pemahaman secara komprehensif.

yang menguraikan tahap-tahap perkembangan mental anak dalam belajar geometri. membandingkan. membuat hipotesis. tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu waktu. mengaplikasikan.Beberapa koneksi sederhana sudah terbentuk namun demikian kemampuan meta-kognisi belum tampak pada tahap ini. menganalisis. menjelaskan hubungan sebab akibat. Adapun beberapa kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan siswa pada tahap ini antara lain. Dapat membuat generalisasi serta dapat melakukan sebuah perumpamaan-perumpamaan pada situasi-situasi spesifik. Kata-kerja yang merefleksikan kemampuan pada tahap ini antara lain. Van Hiele adalah seorang guru bangsa Belanda yang mengadakan penelitian dalam pegajaran geometri. . Hasil penelitiannya itu. membilang atau mencacah. membuat generalisasi. yang dirumuskan dalam disertasinya. 4. menggabungkan. materi pengajaran dan metode pengajaran yang diterapkan. 5. mengurutkan. membuat suatu teori. membedakan. Pada tahap ini siswa dapat menghubungkan antara fakta dengan teori serta tindakan dan tujuan. Menurut Van Hiele. menggabungkan dan melakukan algoritma. membuat daftar. Pada tahap ini siswa dapat menunjukan pemahaman beberapa komponen dari satu kesatuan konsep. memahami peran bagian-bagian bagi keseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep pada keadaan-keadaan yang serupa. menjelaskan. diperoleh dari kegiatan tanya jawab dan pengamatan. menghubungkan. Teori Belajar Van Hiele Dalam belajar pengajaran geometri terdapat teori belajar yang dikemukakan oleh Van Hiele (1954). Tahap Extended Abstract Pada tahap ini siswa melakukan koneksi tidak hanya sebatas pada konsep-konsep yang sudah diberikan saja melainkan dengan konsep-konsep diluar itu. mengklasifikasikan. Adapun kata kerja yang mengidikasikan kemampuan pada tahap ini antara lain. Tahap relational. melakukan refleksi serta membangun suatu konsep. jika ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tingkatan berpikir yang lebih tinggi.

a.Van Hiele menyatakan bahwa terdapat lima tahapan berpikir dalam belajar geometri yaitu. dengan keistimewaannya. anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga.Tahap Analisis Pada tahap ini anak sudah mulai dapat mengenal sifat-sifat yang dimiliki benda geomeri yang diamatinya. Misalnya. bahwa bujur sangkar adalah belah ketupat dan sebagainya.Tahap Pengenalan Dalam tahap ini anak mulai belajar mengenali suatu bentuk geometri secara keseluruhan. bahwa sisinya ada 6 buah. Demikian pula dalam pengenalan benda-benda ruang. Anak mungkin belum memahami bahwa belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen. c. yaitu bahwa semua sisinya berbentuk bujursangkar.Tahap Pengurutan Pada tahap ini anak telah mampu melaksanakan penarikan kesimpulan. b. ia telah mengetahui bahwa terdapat dua pasang sisi yang berhadapan. Misalnya ia sudah mulai mengenali bahwa bujur sangkar adalah jajargenjang. yang dikenal dengan sebutan berpikir deduktif. ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus itu. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjang. anak belum mengetahui bahwa bujur sangkar adalah persegi panjang. Pada tahap ini anak telah mulai mampu mengurutkan. namun kemapuan ini belum berkembang secara penuh. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri tersebut. Sebagai contoh jika kepada seorang anak diperlihatkan sebuah kubus. bahwa belah ketupat adalah layang-layang. dan kedua pasang sisi tersebut saling sejajar. d. namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu. Misalnya disaat dia mengamati persegi panjang. Dalam tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya.Tahap Deduksi . Ia belum menyadari bahwa kubus mempunyai sisi-sisi yang berupa bujur sangkar.

Postulat dalam pembuktian segitiga yang sama dan sebangun. Mereka juga telah mengerti peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Freudenthal dan lain-lain.htm Accessed: diakses tanggal 17 January 2009. (1991).info/learning/solo. namun belum mengerti mengapa postulat tersebut benar dan mengapa dapat dijadikan sebagai postulat dalam cara-cara pebuktian dua segitiga yang sama dan sebangun(kongruen).). di samping unsur-unsur yang telah didefinisiskan. Referensi: Ahmadi. J. Jakarta: Rineka Cipta. e. F. Misalnya ia mengetahui pentingnya aksiomaaksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. K. pada tahap ini anak telah mampu menggunakan postulat atau aksioma yang digunakan dalam pembuktian. Biggs.Rowe (ed. B. Abu dan Supriono. K. selain itu masih banyak teori belajar konitif yang diungkapkan oleh beberapa pakar seperti Bruner.F. and Collis. masih belum sampai pada tahap berpikir ini. sisi-sisi-sisi atau sudut-sisi-sudut. seperti postulat sudut-sudutsudut. J. meskipun sudah duduk dibangku sekolah lanjutan atas. (1991). Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi. In H. Paparan di atas baru beberapa teori pembelajaran kognitif.Tahap Akurasi Dalam tahap ini anak telah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. (1982). Bloom. Psikologi Pengajaran. Selain itu.Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif. Atherton J S (2005) Learning and Teaching: SOLO Taxonomy [On-line] UK: Available: http://www. New York: Academic Press Biggs. Multimodal learning and the quality of intelligent behaviou. Evaluating the Quality of Learning: the SOLO Taxonomy. . Widodo.learningandteaching.B & Collis. Misalnya anak telah mampu memahami dalil. rumit dan kompleks. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tidak semua anak. dapat dipahaminya. yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.

Karso. B. Depdikbud. orang – orang yang dijumpainya. “The Van Hiele Model of the development of Geometric Thought.al. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hokum-hukum pengamatan. Teori kognitif Gestalt Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Jadi kaum kognitifis berpandangan. Jakarta: Grasindo. National of Teacher of mathematics (NCTM). Jakarta. tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. L Mary. United State of America. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai sebuah proses hubungan stimulus-response-reinforcement. (1992). Suherman. Strategi Belajar Mengajar Matematika. kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Udin S. Dasar-Dasar Pendidikan MIPA. Psikologi Pendidikan. (1996). objek material .” Dalam Learning and teaching Geometry. A. menurut mereka. Jakarta: Depdikbud. Dalam situasi belajar. et. Teori belajar Cognitive-field dari Lewin Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar kognitiv-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi social. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. W. Life space mencankup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.S. terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan.(1993).(1987). misalnya . Menurut pandangan gestaltis. bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada pemahaman terhadap hubungan – hubunganyang ada didalam suatu situasi. Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Intinya. K-12.Crowley. semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan. Erman & Winataputra. Winkel. Mereka memberi tekanan pada organisasi pegamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada factor yang mempengaruhi pengematran tersebut. Menurut mereka tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognitif. seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.

melainkan kualitatif. atau memperoleh pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri. perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard. Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget Dalam teorinya. karena ia tak daapat belajar dari apa yang telah diketahuinya.1 Teori Belajar Bruner Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome S. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan.yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. seorang scientist. . D. Jadi menurut Lewin. pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. bagaimana manusia belajar. historian atau ahli matematika. yaitu dimana murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Pada intinya. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti BAB II PEMBAHASAN 2. belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia. C. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward. Menurut Piaget. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemproses. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Untuk itu bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning. Amerika Serikat. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas. Jerome Bruner dengan Discovery Learningnya Yang menjadikan dasar ide J. pemikir dan pencipta informasi. yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.

Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar. Menurut Bruner belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. <!--[if !supportLists]-->2. (2) proses mentransformasikan informasi yang diterima dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Model Tahap Ikonik Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak. <!--[endif]-->Model Tahap Enaktif Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek. 1990:48) Dalam setiap kesempatan. sekolah diharapkan menggunakan tekhnologi informasi dan komunikasi seperti komputer.Peran guru adalah : <!--[if !supportLists]-->1. pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dalam 3 model yaitu : <!--[if !supportLists]-->1. alat peraga atau media lainnya.(dalam Hudoyo.Proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan. Bruner melalui teorinya mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak baiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran.Perolehan informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca. berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. yaitu (1) prose perolehan informasi baru.Informasi yang diterima dianalisis. <!--[endif]-->pentingnya nilai berfikir induktif. <!--[if !supportLists]-->3. mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan lain-lain. <!--[endif]-->perlu memahami struktur pelajaran <!--[endif]-->pentingnya belajar aktif supaya seorang dapat menemukan sendiri konsep- konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Model Tahap Simbolis .Dengan mengajukan masalah kontekstual.Melalui alat peraga yang ditelitinya anak akan melihat langsung bagaiman keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya.

anak memanipulasi Simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. <!--[if !supportLists]-->2. yaitu metode penemuan (dicovery). menurutnya belajar merupakan faktor yang menentukan dalam pembelajaran dibandingkan dengan perolehan khusus. <!--[endif]-->Dalil Konektivitas dan Pengaitan (Conectivity Theorem) Didalam teorema konektivitas disebut bahwa setiap konsep. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Dalil Notasi (Notation Theorem) Menurut teorema notasi representase dari suatu materi matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila didalam representase itu digunakan notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. <!--[endif]-->Dalil Kekontrasan dan Variasi ( Contras and Variation Theorem) Menurut teorema kekontrasan dan variasi dikemukakan bahwa suatu konsep matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila konsep itu dikontraskan dengan konsep-konsep yang lain sehingga perbedaan antar konsep itu dengan konsep-konsep yang lain menjadi jelas. dan setiap ketramplan dalam matematika berhubungan dengan konsep-konsep. <!--[endif]-->Stimulus ( pemberian perangsang) <!--[endif]-->Problem Statement (mengidentifikasi masalah) <!--[endif]-->Data collection ( pengumpulan data) .Berdasarkan hasil-hasil eksperimen dan observasi yang dilakukan oleh Bruner pada tahun 1963 mengemukakan empat teorema /dalil-dalil berkaitan dengan pengajaran matematika yang masing-masing disebut “teorema atau dalil” . dan ketrampilan-ketrampilan lain. <!--[endif]-->Dalil Konstruksi / Penyusunan ( Contruction theorem) Didalam teorema konstruksi dikatakan cara yang terbaik bagi seorang siswa untuk mempelajari sesuatu atau prinsip dalam matematika adalah dengan mengkontruksi atau melakukan penyusunan sebuah representasi dari konsep atau prinsip tersebut. <!--[if !supportLists]-->d. <!--[if !supportLists]-->c. <!--[if !supportLists]-->3.Discovery learning dari Bruner merupakan model pengajaran yang melambangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dalam prinsip konstruksitivis dan discovery learning siswa didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Selain mengembangkan teori perkembangan kognitif .Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik.Bruner mengemukakan teorema atau dalil-dalil berkaitan dengan pengajaran matematika. Adapun tahap-tahap penerapan belajar penemuan adalah : <!--[if !supportLists]-->1.2 <!--[endif]-->Metode Penemuan Satu hal yang membuat Bruner terkenal karena dia lebih peduli terhadap proses belajar daripada hasil belajar.Keempat dalil tersebut adalah : <!--[if !supportLists]-->a. prinsip-prinsip. setiap prinsip.

<!--[if !supportLists]-->d.Gagne mengemukakan bahwa ketrampilan-ketrampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga kapabilitas. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[if !supportLists]-->d.3 Teori Belajar Gagne Teori yang diperkenalkan Robert M. Kita dapat mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat diambil implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar. .1 <!--[endif]-->Objek-objek langsung pembelajaran matematika terdiri atas : <!--[endif]-->Fakta-fakta matematika <!--[endif]-->Ketrampilan-ketrampilan matematika <!--[endif]-->Konsep-konsep matematika <!--[endif]-->Prinsip-prinsip matematika <!--[if !supportLists]-->a. <!--[if !supportLists]-->b.Gagne pada tahun 1960-an pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan. <!--[if !supportLists]-->b. <!--[if !supportLists]-->c. <!--[if !supportLists]-->e. <!--[if !supportLists]-->6.Menurut Gagne (dalam Ismail 1998). <!--[if !supportLists]-->c. <!--[if !supportLists]-->2.3. belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. <!--[if !supportLists]-->5.3.2 <!--[endif]-->Objek-objek tak langsung pembelajaran matematika adalah : <!--[endif]-->Kemampuan berfikir logis <!--[endif]-->Kemampuan memecahkan masalah <!--[endif]-->Sikap positif terhadap matematika <!--[endif]-->Ketekunan <!--[endif]-->Ketelitian <!--[if !supportLists]-->a. <!--[if !supportLists]-->2.<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Data Prosessing (pengolahan data) <!--[endif]-->Verifikasi <!--[endif]-->Generalisasi 2.4 <!--[endif]-->Taksonomi Gagne Menurut Gagne tingkah laku manusia sangat bervariasi dan berbeda dihasilkan dari belajar.

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[if !supportLists]-->g. <!--[endif]-->Belajar Isyarat <!--[endif]-->Belajar stimulus Respon <!--[endif]-->Belajar Rangkaian Gerak <!--[endif]-->Belajar Rangkaian Verbal <!--[endif]-->Belajar membedakan <!--[endif]-->Belajar Pembentukan konsep <!--[endif]-->Belajar Pembentukan Aturan <!--[endif]-->Belajar Memecahkan Masalah <!--[endif]-->Strategi Kognitif Kapabilitas Strategi Kognitif adalah Kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berfikir dengan cara merekam. <!--[endif]-->Informasi verbal merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan Kapabilitas informasi verbal pengetahuannya tentang fakta-fakta. <!--[if !supportLists]-->f. <!--[endif]-->Sikap Kapabilitas Sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut. <!--[if !supportLists]-->c. <!--[if !supportLists]-->4.1 <!--[endif]-->Lima Macam Hasil Belajar Gagne Gagne mengemukakan 5 macam hasil belajar atau kapabilitas tiga bersifat kognitif. <!--[if !supportLists]-->d. satu bersifat afektif dan satu bersifat psikomotor. <!--[if !supportLists]-->h. Kapabilitas Ketrampilan Intelektual oleh Gagne dikelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu : <!--[if !supportLists]-->a. <!--[if !supportLists]-->5. menguasai konsep aturan. dan memecahkan masalah.4. membuat analisis dan sintesis. <!--[endif]-->Ketrampilan Intelektual Kapabilitas ketrampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat membedakan. <!--[endif]-->Ketrampilan motorik .Hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas sebagai berikut : <!--[if !supportLists]-->1. <!--[if !supportLists]-->3. <!--[if !supportLists]-->b. <!--[if !supportLists]-->e.<!--[if !supportLists]-->2.

Bruner juga mengemukakan 4 teorema tentang cara belajar dan mengajar matematika yaitu. teorema notasi. <!--[endif]-->Fase Aprehensi <!--[endif]-->Fase Akuisisi <!--[endif]-->Fase Penyimpanan <!--[endif]-->Fase Pemanggilan <!--[if !supportLists]-->2.Kemampuan tersebut dibagi dalam 3 tahap yaitu. teorema kekaontrasan dan variasi. ketepatan.6 <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Kekurangan Teori Belajar Bruner <!--[endif]-->Dalam Teori Bruner dengan metode Penemuan (discovery learning). <!--[endif]-->Bruner menjadi sangat terkenal karena dia lebih peduli terhadap <!--[if !supportLists]--> proses belajar daripada hasil belajar.metode yang digunakannya adalah metode Penemuan (discovery learning).Gagne adalaha seorang ahli psikologi yang banyak melakukan penelitian diantaranya fase-fase kegiatan belajar yang dibagi dalam empat fase yaitu : <!--[if !supportLists]-->a. serta teorema konektivitas. Urut-urutan pengetahuan atau kemampuan prasyarat disebut hirarki belajar (learning hierarchy). tahap ikonik. <!--[if !supportLists]-->b. <!--[if !supportLists]-->d. teorema konstruksi.Discovery learning dari Bruner merupakan model pengajaran yang dikembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivitas. <!--[if !supportLists]-->c.Untuk dapat mengetahui seseorang memiliki kapabilitas ketrampilan motorik dapat dilihat dari segi kecepatan. Teori Belajar Bruner Menurut Bruner. dan tahap simbolik. kekurangannya tidak bisa digunakan pada semua materi dalam matematika hanya beberapa materi saja yang dapat digunakan dengan metode penemuan. dalam arti pengetahuan taua kemampuan dapat diinternalisasi dalam struktur kognitif orang yang bersangkutan. <!--[if !supportLists]-->2.2 <!--[endif]-->Fase-fase kegiatan Belajar menurut Gagne Robert M. agar proses mempelajari sesuatu pengetahuan atau kemampuan berlangsung secara optimal. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Gagne berpendapat bahwa objek belajar matematika meliputi objek langsung dan objek tak langsung dan sasaran pembelajaran adalah penguasaan atas sesuatu pengetahuan atau kemampuan yang harus dikuasai.5 <!--[endif]-->Keunggulan Teori Belajar Bruner dan Teori Belajar Gagne. dan kelancaran gerakan otot-otot serta anggota badan yang diperlihatkan orang tersebut.4. <!--[if !supportLists]-->2. tahap enaktif. .

dalam pembelajaran matematika kita sebagai guru pengajar harus lebih jeli dalam menggunakan teori belajar yang tepat sehingga dalam penerapannya kepada peserta didik dapat meningkatkan mutu pendidikan . 1998.<!--[if !supportLists]-->3. belajar rangkaian verbal. orang tua yang melakukan scaffolding talk secara efektif biasa melakukan hal-hal sebagai berikut: • Mereka membuat anak tertarik kepada tugas-tugas yang diberikan. Herman. et. Mengajar Belajar Matematika. Dalam sebuah ekxperimen yang dilakukan terhadap ibu-ibu dan anak-anak di Amerika...Marpaung.2 <!--[endif]-->Saran Berdasarkan uraian diatas. Bruner meneliti bagaimana orang dewasa menggunakan bahasa untuk menjembatani dunia sekitar dengan anak-anak dan membantu mereka memecahkan masalah.1. Universitas terbuka.1998. belajar memperbedakan. DR.Al.Al. 2002. dan belajar pemecahan masalah. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. <!--[if !supportLists]-->3. informasi verbal. Pembicaraan atau “omongan” yang mendukung anak dalam melakukan kegiatan disebut scaffolding talk. belajar pembentukan aturan. TEORI TAHAP-TAHAP BELAJAR: JEROME BRUNER Menurut Bruner (dalam Sumardi. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Ketika scaffolding talk itu terjadi dalam pembelajaran bahasa Inggris. belajar stimulus respon. Scaffolding talk atau omongan guru yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan di kelas. Konsorsium PJJ S1 PGSD.Ketrampilan intelektual dikelompokkan pada 8 tipe belajar yaitu belajar isyarat. Teori-Teori Perkembangan Kognitif Dan Proses Pembelajaran yang Relevan untuk Pembelajaran Matematika. strategi kognitif. sikap.2 <!--[endif]-->Teori Belajar Gagne Menurut Gagne objek belajar matematika adalah objek langsung dan tak langsung dan sasaran pembelajaran matematika adalah kemampuan yang disebut kapabilitas dibagi menjadi 5 bagian yaitu. Ismail. seringkali dengan memecah-mecah tugas . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan P2LPTK. belajar rangkaian gerak. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. ketrampilan intelektual. Hudoyo.Y. dapat berlangsung mulai dari memeriksa presensi sampai membubarkan kelas. maka semua itu juga harus dilakukan dalam bahasa Inggris pula. 2008) bahasa adalah alat yang paling penting bagi pertumbuhan kognitif anak. et. dan ketrampilan motorik. DAFTAR PUSTAKA Aisyah Nyimas. • Mereka membuat tugas menjadi lebih sederhana.

2007) bahwa anak kecilpun akan dapat mengatasi permasalahannya. Menurut Ernawati (2007) pada teori belajar Bruner terdapat tiga tahap proses belajar. dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. 2007) bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran dapat dilakukan dengan: 1. Menurut Budi (2008) Ada tiga tahap dalam belajar menurut Bruner. yaitu tahap memahami. Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa. Bruner mempermasalahkan seberapa banyak informasi itu diperlukan agar dapat ditransformasikan . Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang Anda ajarkan 2. atau menunjukkan bagaimana melakukan bagian-bagian dari tugas itu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. Perlu Anda ketahui. bahkan dalam tahap perkembangan manapun. 2007) bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual. asalkan dididik berdasarkan kurikulum yang berisi tema-tema hidup. tema ketiga menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. tema pertama mengemukan pentingnya arti struktur pengetahuan. dan evaluasi. Menurut Bruner (dalam Royama. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor. Bruner beranggapan (dalam Ernawati. 2009) bahwa pendidikan bukan sekedar persoalan teknik pengelolaan informasi.menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. (2) tahap transformasi. 5. antara lain banyak informasi. yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. dan (3) evaluasi. (3) evaluasi. yaitu (1) tahap enaktif. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. 2008) bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. bahkan bukan penerapan teori belajar dokelas atau menggunakan hasil ujian prestasi yang berpusat pada mata pelajaran. yaitu informasi. (3) Tahap simbolis. (2) Tahap ikonik. tidak hanya itu . Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. yaitu untuk mengetahui apaha hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. tema keempat ialah tentang motivasi atau keinginan untuk belajar. trasformasi. (2) tahap transformasi. kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mancari jawaban yang sebenarnya. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Jerome Bruner berpendapat (dalam Ernawati. • Mereka mampu mengarahkan anak kepada penyelesaian tugas dengan mengingatkan anak tentang tujuan utamanya. 2009) dalam proses belajar dapat dibedakan dalam tiga fase yaitu : informasi. • Mereka menunjukkan bagaimana tugas itu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. yaitu tahap memahami. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep 3. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat (dalam Budi. Bruner mengemukan empat tema pendidikan. Berikan satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri 4. • Mereka menunjukkan apa-apa yang penting untuk dikerjakan. transpormasi dan evaluasi. tema kedua ialah tentang kesiapan (readines) untuk belajar. Tidak semua materi yang ada dalam matematika sekolah dasar dapat dilakukan dengan metode penemuan. motivasi. dan minat siswa. Dalam hal ini Bruner membedakan teori belajar menjadi tiga tahap. Bruner menyimpulkan (dalam Royama. Bruner berpendapat (dalam Ernawati.

Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Dengan demikian Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Menurut Kristiyanto (2007) bahwa Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. asalkan dalam kurikulum berisi tema-tema hidup. atau yang berwarna merah. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. yaitu informasi. antara lain banyak informasi. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. Pembelajaran PKn seyogyanya juga dapat memberikan informasi yang jelas dan evaluasi hasil belajar siswa. Selama permainan pengetahuan anak muncul. yaitu: 1. (4) motivasi atau keinginan untuk belajar siswa. Bruner beranggapan bahwa anak kecilpun akan dapat mengatasi permasalahannya. (2) kesiapan (readiness) siswa untuk belajar. (3) nilai intuisi dalam proses pendidikan dengan intuisi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor. dan minat siswa. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. dan sebagainya. Contoh dengan permainan block logic. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. yaitu: Berdasarkan uraian di atas teori belajar Bruner. dapat disimpulkan bahwa dalam proses belajar terdapat tiga tahap. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. dan curu untuk memotivasinya. Misalnya dengan diberi permainan block logic. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika (Kristiyanto. dan evaluasi. bahkan dalam tahap perkembangan manapun. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. atau yang tebal. Jelaslah. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. 2. trasformasi. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. TEORI PERMAINAN: TEORI DIENES Zoltan P. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. . anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. Menurut Dienes. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. Menurut Kristiyanto (2007) bahwa Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. untuk membuat konsep abstrak. 2007).saja namun juga ada empat tema pendidikan yaitu: (1) mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada caracara pengajaran terhadap anak-anak. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. dan pengembangannya diorientasikan pada anak-anak. yang dikonseptualisasikan untuk menjawab tiga pertanyaan. motivasi.

atau tidak merah (biru. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. 6. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. dan mempunyai elemen invers.pdf. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Contohnya. 3. hijau. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. diagonal 5. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). dalam arti membuktikan teorema tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya.uny. diagonal ……. membentuk sebuah sistem matematika. Menurut http://fip.id/pjj/wpcontent/uploads/2008/03/semester_2_inisiasi_2_pengembangan_matematika_sd_2. kuning). Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. atau yang merah.. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. 4. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Sebagai contoh. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan tepat. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar.Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis.ac. asosiatif. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. Segitiga Segiempat Segilima Segienam Segi dua puluh tiga 0 diagonal 2 diagonal 5 diagonal …. adanya elemen identitas. komutatif. . Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini.

Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pelajaran matematika. (online) http://ukiakih. Moral. Beliau telah merancang satu sistem yang berkesan untuk pengajaran matematik untuk menjadikan matematik lebih mudah dan berminat untuk mempelajari.html (diakses 11 Maret 2009) Budi. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik.html bahwa Professor Zolton P. dkk.my-rummy. seorang ahli matematik. Makalah. ditekankan pembentukan konsep-konsep melalui permainan yang mengarah pada pembentukkan konsep yang abstrak. perwakilan simbol dan akhirnya formalisasi. Pada teori belajar Dienes.bahwa Untuk mengawali penyampaian materi matematika yang abstrak melalui konkret itu dapat berpedoman pada Teori Belajar Dienes. 2: Prinsip Perubahan Perspeptual Kanak-kanak didedahkan pelbagai keadaan supaya dapat memaksimakan konsep Matematik. Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika (Teori Belajar Dienes). Teori Dienes mengariskan beberapa prinsip bagaimana kanak-kanak mempelajari matematik iaitu: 1: Prinsip Konstruktivitis Pelajar haruslah memahami konsep sebelum memahaminya dengan analisa yang logik. Menurut http://www. dan . prinsip penjelmaan bentuk (multiple embodiment principle) adalah suatu prinsip yang bila diterapkan oleh guru untuk setiap konsep yang diajarkan akan menyempurnakan penghayatan siswa terhadap konsep itu. Teori Belajar dan Pembelajaran serta PKn Sebagai Pendidikan Nilai. sedangkan konsep terapan adalah aplikasi konsep murni dan konsep notasi dalam pemecahan soal-soal matematika dan dalam bidang studi lain yang berhubungan. DAFTAR PUSTAKA Basuki. Dienes. permainan berstruktur. konsep murni matematika berkenaan dengan mengelompokan bilangan dan hubungan antara bilangan antara bilangan tanpa mempertimbangkan bagaimana bilangan itu disajikan. 2008. perwakilan gambar. konsep notasi (notation concepts). mencari ciri-ciri. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. yaitu konsep murni matematika (pare matematical concepts). 3: Prinsip Dinamik Kanak-kanak mempelajari sesuatu melalui pendedahan dan eksperimen untuk membentuk satu konsep. pernah memberi banyak sumbangan dalam teori pembelajaran. Ada beberapa alasan mengapa untuk memahami suatu amanat perlu diberikan beranekaragam materi konkret sebagai model (representatif) konkret dari konsep itu. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. Yang dimaksud Dienes dengan konsep adalah stuktur matematika yang terdiri dari 3 macam konsep. Dengan demikian teori belajar Dienes sangatlah cocok diterapkan dalam pembelajaran matematika. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu.com/2009/03/teori-belajar. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. Menurut Basuki (2008) bahwa Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. memisahkan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara sruktur-struktur.blogspot. Teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Seperti halnya dengan Bruner. Mengikut Dienes konsep matematik boleh dipelajari melalui enam peringkat iaitu permainan bebas.com/Kanak-kanak_belajar_matematik. ahli psikologi dan pendidik. Menurut Basuki (2009) bahwa Dienes juga percaya bahwa semua abstraksi yang berdasarkan pada situasi dan pengamatan konkret.

Sam. 2007.com/2007/12/pembelajaran-matematika-berdasar-teori_04. Teori Belajar Dienes. (online) http://kris21. Vigotsky.files. Robert. 2009.. (online) http://robertsumardi. (online) http://fip.2008.wordpress.com/journal/item/36 (diakses 10 Maret 2009) Sumardi.blogspot. 2007.L. (online) http://mjieschool.pdf+teori+belajar+bruner&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id (diakses 10 Maret 2009) Ernawati.com/2008/ 05/inisiasi_pkn_1.14.wordpress. Dasar Pendidikan dalam Konsep dan Makna Belajar. (online) http://www.Norma.132/search?q=cache:Xd1Qy_lzAy8J:budimeeong.html (diakses 11 Maret 2009) . Bagaimana kanak-Kanak Belajar Matematika?.pdf. Nanik. Membandingkan pendapat ketiga tokoh pada proses terjadinya interaksi antar informasi yang masuk dengan kondisi intern siswa yang belajar.uny. dan Bruner dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.ac.235.html (diakses 10 Maret 2009) Kristiyanto. (online) http://swa2007pjj.multiply.com/Kanak-kanak_belajar_matematik. 2008.com/2008/09/11/implikasi-teori-psikologi-piaget-vygotskydan-bruner-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris/ (diakses 10 Maret 2009) ………………….blogspot. A. (online) http://72. 2009.html (diakses 11 Pebruari 2009) Royama.com/2008/02/nanik-ernawati-282007012-to-1-pkn.id/pjj/wpcontent/uploads/2008/03/semester_2_inisiasi_2_pengembangan_matematika_sd_2. Relevansi Teori Psikologi Piaget.my-rummy. (diakses 11 Maret 2009) ………………. Pembelajaran Matematika Berdasar Teori Dienes.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->