P. 1
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam

Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam

|Views: 102|Likes:
Published by Rangga Lail
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam
- Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baik secara Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
- Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata
- Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka, Bolehkah?
- Sikap Pemerintah Terhadap Kritik
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam
- Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baik secara Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
- Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata
- Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka, Bolehkah?
- Sikap Pemerintah Terhadap Kritik

More info:

Published by: Rangga Lail on Sep 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2012

pdf

text

original

TANYA JAWAB SEPUTAR MUHASABAH AL HUKKAM DALAM PANDANGAN SYARA’ Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baik secara

Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
Soal: Bolehkah menasihati penguasa di tempat umum, baik secara langsung maupun melalui demonstrasi? Jawab: Nasihat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa. Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasihati. Sebaliknya, nasihat menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezaliman yang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilah yang dinyatakan dalam hadis Nabi saw.:

Agama adalah nasihat; untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam. (HR al-Bukhari dan Muslim). Karena itu, nasihat sebagai upaya mengubah perilaku mungkar atau zalim orang lain, baik penguasa maupun rakyat jelata, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks dakwah bi al-lisân (melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabi saw.:

ْ ‫َ ِ لل َ َ ه َ ِ َّ ة‬ »ُ ‫«الد ُ ال َّنصِ يحة، ِ ُ ولِرسولِ ُ وألَئم ُ المسْ لِمِينَُ وعامتِه‬ ‫َ َ َّ ِ م‬ ‫ِّ ين‬ ِ ِ ِ ْ

َ ُ ٌُ ِ َ ِ َ »ْ ِّ‫«ٍ ْ سأَٙ ٍْن ْ ٍْنشًا فَيُٞغِّٞش ُْ ثَِٞذ ْ فَإ ِ ْ ىَ ْ َٝغزَط ْ فَجِيِغب‬ ٔ َ ‫ِع‬ ٌ ُ ِٓ ٓ َ ِ ِ

Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangan-nya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya. (HR Muslim). Inilah yang dilakukan oleh para ulama Salaf ash-Shalih terdahulu, seperti Abdullah bin Yahya an-Nawawi kepada Sultan Badruddin. Dalam Tahdzib al-Asma’ karya Abu Yahya Muhyiddin bin Hazzam disebutkan, tatkala Abdullah bin Yahya an-Nawawi mengirim surat kepada Sultan Badruddin, dan Baginda menjawab suratnya dengan marah dan nada ancaman, ulama ini pun menulis surat kembali kepada Baginda, “Bagiku, ancaman itu tidak akan mengancam diriku sedikitpun. Aku pun tidak akan mempedulikannya dan upaya tersebut tidak akan menghalangiku untuk menasihati Sultan. Sebab, aku berkeyakinan, bahwa ini adalah kewajibanku dan orang lain, selain aku. Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari kewajiban ini merupakan kebaikan dan tambahan kebajikan.”1 Jenis kemungkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunya melakukan kemungkaran tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua: Pertama, kemungkaran yang dilakukansecara diam-diam, rahasia, dan
1

pelakunya berusaha merahasiakannya. Kedua, kemungkaran yang dilakukan secara terbuka, demonstratif, dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasia-kannya; justru sebaliknya. Jenis kemungkaran yang pertama tentu berbeda dengan kemungkaran yang kedua. Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasihatinya secara diam-diam dan kemungkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum; justru wajib ditutupi oleh orang yang mengetahuinya. Nabi saw. bersabda:

Siapa saja yang menutupi satu aib, maka (pahalanya) seolah-olah sama dengan menghidupkan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.(HR Ibn Hibban).

»‫«ٍ ْ عزَشَْ عَ٘س ًْ فَنأَََّّب اِعزَحَٞب ٍ٘ءٗد ًْ ٍ ْ قَجشَٕب‬ َ َِ َ َ ‫َح‬ ِ ِ ِ ‫َ ُ َح‬

Berbeda dengan jenis kemungkaran yang kedua, yaitu kemungkaran yang dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelaku kemungkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengan kemungkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemungkaran yang kedua ini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua:Pertama, jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individu pelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, makakemaksiatan atau kemungkaran seperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agar kemungkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untuk menjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia; kecuali jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut. Kedua, jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnya seperti kemungkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu. Kemaksiatan atau kemungkaran seperti ini justru wajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilah yang biasanya disebut kasyf al-khuthath wa al-mu’amarah(membongkar rancangan dan konspirasi jahat) atau kasyf al-munkarât(membongkar kemungkaran). Ini didasarkan pada sebuah hadis penuturan Zaid bin al-Arqam yang mengatakan, “Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah bin Ubay bin Salul berkata, ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kalian) kepada orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggalkannya. Kalau kita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita akan mengusir yang lebih hina.’ Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilku dan aku pun menceritakannya kepada beliau.” 2
2

Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay dan diketahui oleh Zaid bin alArqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw., adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukan hanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelak tindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan oleh pelakunya. Akan tetapi, tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal dan rahasia Abdullah bin Ubay tersebutternyata dibenarkan oleh Nabi saw. Padahal seharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukum asalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadi indikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib, karena dampak bahayanya bersifat umum.3 Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau mungkar yang dilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapannya maupun tidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau masîrah, bukan saja boleh secara syar‘i, tetapi wajib.4 Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebanding dengan pahala penghulu syuhada, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, seperti dalam hadis Nabi saw.:

ُّ ‫َ ذ‬ ُ ٓ َ َ ‫َ بً َ ش‬ ‫ُ ت َ ُو‬ ‫َ َح‬ ِ ُْ ‫«عِّٞ ْ اىشَٖذَاءِْ حَض ُْ ثُِْ عَجذِْ اىَطَيِّ ْ َْٗسج ْ قَبهَْ إِىَٚ إٍِ ْ جبئِ ْ فَأٍَش‬ »ُْ َ‫ََّٖٗب ُْ فَقَزَي‬ ٔ ٓ َ

Penghulu syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya. (HR al-Hakim). Apa yang dilakukan oleh para Sahabat terhadap Umar dalam kasus pembatasan mahar atau pembagian tanah Kharaj hingga kain secara terbuka di depan publik adalah bukti kebolehan tindakan ini. Memang, ada pernyataan Irbadh bin Ghanam yang mengatakan, “Siapa saja yang hendak menasihati seorang penguasa, maka dia tidak boleh mengemukakannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya maka itu kebaikan baginya; jika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.”5 Akan tetapi, pada dasarnya pernyataan tersebut tidakmenunjukkan adanya larangan mengkritik atau menasihati penguasa di depan publik; ia hanya menjelaskan salah satu cara (uslûb) saja. Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasihati penguasa atau mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemungkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya saja cara (uslûb)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu face to face; atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau masîrah.
3

Melakukan upaya dengan lisan—termasuk melalui tulisan, seperti surat terbuka, buletin, majalah, atau yang lain—baik langsung maupun tidak, jelas lebih baik ketimbang upaya bi al-qalb (dengan memendam ketidaksukaan), apalagi jika tidak melakukan apa-apa, sementara terus mengkritik orang lain yang telah melakukannya. Fal ‘iyâdzu billâh. [] Catatan Kaki 1 HR al-Bukhari dan Muslim, Shahîhayn, hadis no. 4520 dan 4976. 2Ibn Hazzam, Tahdzîib al-Asmâ‘, Dar al-Fikr, Beirut, cet. Pertama, 1996, I/22. 3Hizbut Tahrir, MinMuqawwimâtan-Nafsiyahal-Islâmiyyah,Daral-Ummah, Beirut, cet. Pertama, 2004, hlm. 112-113. 4 Meski sebagai cara (uslûb), menyampaikan pendapat, tulisan, demonstrasi atau masirah tersebut statusnya tetap mubah, dan tidak berubah menjadi wajib. Yang wajib adalah menyampaikan nasihat dan kritik terhadap kebijakan zalim atau mungkar yang dilakukan oleh penguasa. 5Abu Syuja’, Al-Firdaws min Ma’tsûr al-Khaththab,Daral-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, cet. Pertama, 1986, III/591.

Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata
Pertanyaan : Ada pihak yang mengkritik aktivitas masirah dengan alasan bahwa menasihati penguasa harus langsung empat mata (tidak boleh terbuka). Salah satu alasannya adalah hadis : “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah menyatakannya di depan umum terang-terangan. Hendaklah ia mengambil tangan penguasa tersebut (ke tempat tersembunyi -pent). Maka bila penguasa itu mau mendengar nasehat tersebut, itulah yang dikehendaki. Tetapi bila tidak mau mendengarnya, sungguh penasehat itu telah menunaikan apa yang diwajibkan atasnya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, jilid 3 hal. 403-404, Al-Hakim dalam Mustadraknya, jilid 3 hal. 290, Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Dhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah hal. 507 no. 1096). Benarkah demikian? Jawaban : Perlu kami nyatakan bahwa hukum asal amar makruf nahi mungkar harus dilakukan secara terang-terangan, dan tidak boleh disembunyikan. Ini adalah pendapat mu’tabar dan perilaku generasi salafus sholeh. Namun, sebagian orang bodoh berpendapat bahwa menasehati seorang penguasa haruslah dengan cara sembunyi-sembunyi (empat mata). Menurut mereka, seorang Muslim dilarang menasehati mereka dengan terang-terangan di depan umum, atau mengungkapkan
4

kejahatan dan keburukan mereka di depan umum, karena ada dalil yang mengkhususkan. Pendapat semacam ini adalah pendapat bathil, dan bertentangan dengan realitas muhasabah al-hukkam yang dilakukan oleh Nabi saw, para shahabat dan generasi-generasi salafus shaleh sesudah mereka. Pasalnya, pendapat tersebut (keharusan mengoreksi pennguasa dengan empat mata) bertentangan dengan point-point berikut ini: a. Perilaku Rasulullah saw dalam mengoreksi pejabat yang diserahi tugas mengatur urusan rakyat (pemerintahan). Beliau saw tidak segan-segan mengumumkan perbuatan buruk yang dilakukan oleh pejabatnya di depan kaum Muslim, dengan tujuan agar pelakunya bertaubat dan agar pejabat-pejabat lain tidak melakukan perbuatan serupa. Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Abu Humaid As Sa’idiy bahwasanya ia berkata:

َِْ‫اعزَعَوَْ سعُ٘هُْ َِّْ صيَّٚ َُّْ عيَٞ ْ ٗعيٌََّْ سج ً ْ عيَٚ صذقَب ْ ثَِْٜ عيَٞ ْ ُٝذعَٚ اث‬ ٌ ُ ‫ََ د‬ َ ‫َللا َ َللا َ ٔ َ َ َ ُل‬ َ َ ِ ِ ٔ َ ‫َللا َ َللا‬ ْ َٞ‫اىَّْزَجَِّٞ ْ فَيََب جبءَْ حبعجَ ُْ قَبهَْ َٕزا ٍبىُن ْ َٕٗزا َٕذٝ ْ فَقَبهَْ سعُ٘هُْ َِّْ صيَّٚ َُّْ عي‬ ‫َ َ ُ ٌ َ َ ِ َّخ‬ ٔ َ َ َ َّ ‫ي خ‬ َ ِ ِ ُ ُ ‫ٗعيٌََّْ فََٖ َّ ْ جيَغذَْ فِٜ ثَٞ ْ أَثِٞلَْ ٗأٍُلَْ حزَّٚ رَأرَِٞلَْ َٕذَّٝزُلَْ إِ ْ مْذَْ صبدقًب ثٌَُّْ خَ طَجََْب‬ ‫ذ‬ ‫َ َ ل‬ َ ِّ َ َ ِ َ ِ ِ ُ ِ َ‫فَحَذَْ ََّْ ٗأَثَْٚ عيَٞ ْ ثٌَُّْ قَبهَْ أٍَب ثَع ْ فَإِِّّٜ أَعزَعَوُْ اىشجُوَْ ٍْن ْ عي‬ ُ‫َّ ذ‬ ‫ٌ َ ٚ اىعَوِْ ٍَب‬ َّ ٔ َ َّ ِ َ َ ِ ِ َ ‫َ ِ َللا‬ ُ‫َّٗلِّٜ َُّْ فََٞأرِٜ فََٞقُ٘هُْ َٕزا ٍبىُن ْ َٕٗزا َٕذٝ ْ إُٔذَٝ ْ ىِٜ أَفَ َ ْ جيَظَْ فِٜ ثَٞ ْ أَثِٞ ْ ٗأ‬ َ َ ٌُ َ َ ٔ ِّ ِ ِ ٍْ َ ٔ ‫ذ‬ ‫ِ َّخ ِ ذ‬ ‫َ َّ َللا‬ َ ‫ل‬ ِ ُ َ ٌ ُ ِ ‫َ ر ٔ ِ ٔ َ َللا َّل ُ ز َ ذ‬ ‫َخ‬ ْ ٍ‫حزَّٚ َْأرَِٞ ُْ َٕذَّٝزُ ُْ ٗ َِّْ َ ْ َٝأخ ْ أَح ْ ٍْن ْ شٞئًب ثِغَٞ ْ حقِّ ْ إِ َّ ْ ىَقَِْٜ ََّْ َٝحَيُ ُْ ًََْٝ٘ اىقَِٞب‬ ٔ ِ ‫ش َ ٔ َّل َللا‬ ِ ِ ِ ٌَُّْ‫فََلَعشفََِّْ أَحذًا ٍْن ْ ىَقَِْٜ ََّْ َٝحَوُْ ثَعٞشًا ىَ ُْ سغ ْ أَ ْ ثَقَش ًْ ىََٖب خ٘ ْ أَ ْ شب ًْ رَٞعشُْ ث‬ ‫َللا ِ ِ ٔ ُ َبء ٗ َ ح‬ ٌُ ِ َ َ ‫ُ َ اس ٗ َ ح‬ ِ َ ُ ِّٜ‫سفَعَْ َٝذ ُْ حزَّٚ سئَِْٜ ثََٞبضُْ إِثط ْ َٝقُ٘هُْ اىيٌََُّّْٖ ٕ ْ ثَيَّغذُْ ثَصشَْ عَِْٜٞ ٗعَعَْ أُر‬ ‫َو‬ ِٔ ُ َ َ َ َٓ َ ِ
“Rasulullah saw mengangkat seorang laki-laki menjadi amil untuk menarik zakat dari Bani Sulaim. Laki-laki itu dipanggil dengan nama Ibnu Luthbiyyah. Tatkala tugasnya telah usai, ia bergegas menghadap Nabi saw; dan Nabi Mohammad saw menanyakan tugas-tugas yang telah didelegasikan kepadanya. Ibnu Lutbiyah menjawab, ”Bagian ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang telah diberikan orang-orang (Bani Sulaim) kepadaku. Rasulullah saw berkata, ”Jika engkau memang jujur, mengapa tidak sebaiknya engkau duduk-duduk di rumah ayah dan ibumu, hingga hadiah itu datang sendiri kepadamu”. Beliau saw pun berdiri, lalu berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Setelah memuji dan menyanjung Allah swt, beliau bersabda, ”’Amma ba’du. Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk menjadi amil dalam berbagai urusan yang diserahkan kepadaku. Lalu, ia datang dan berkata, ”Bagian ini adalah untukmu, sedangkan bagian ini adalah milikku yang telah dihadiahkan kepadaku”. Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur? Demi Allah, salah seorang di antara kalian tidak akan
5

memperoleh sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah swt dengan membawanya. Ketahuilah, aku benar-benar tahu ada seseorang yang datang menghadap Allah swt dengan membawa onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik. Lalu, Nabi saw mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah swt, hingga aku (perawi) melihat putih ketiaknya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim] Hadits di atas adalah dalil sharih yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah saw pernah menasehati salah seorang pejabatnya dengan cara mengungkap keburukannya secara terang-terangan di depan khalayak ramai. Beliau saw tidak hanya menasehati Ibnu Luthbiyyah dengan sembunyi-sembunyi, akan tetapi, membeberkan kejahatannya di depan kaum Muslim. Lantas, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa haruslah dengan sembunyi-sembunyi (empat mata), sedangkan Nabi saw, manusia yang paling mulia akhlaqnya, justru menasehati salah satu pejabatnya (penguasa Islam) dengan terangan-terangan, bahkan diungkap di depan khalayak ramai? b. Ada perintah dari Nabi saw agar kaum Muslim memberi nasehat kepada para penguasa fajir dan dzalim secara mutlak. Imam Al Hakim dan Ath Thabaraniy menuturkan riwayat dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

ٚ‫عٞذ اىشٖذاء عْذ َللا ًٝ٘ اىقٞبٍخ حَضح ثِ عجذ اىَطيت ٗسجو قبً إى‬ ٔ‫إٍبً جبئش فأٍشٓ ّٖٗبٓ فقزي‬
“Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. [HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy] Hadits ini datang dalam bentuk umum. Hadits ini tidak menjelaskan secara rinci tatacara mengoreksi seorang penguasa; apakah harus dengan sembunyi-sembunyi atau harus dengan terang-terangan. Atas dasar itu, seorang Muslim dibolehkan menasehati penguasa dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi (empat mata). Hadits ini tidak bisa ditakhshih dengan hadits-hadits yang menuturkan tentang muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) dengan empat mata. Pasalnya, hadits-hadits yang menuturkan tentang menasehati penguasa dengan empat mata adalah hadits dla’if. (Penjelasannya lihat di point berikutnya).

6

c. Ada perintah dari Rasulullah saw untuk mengoreksi (muhasabah) penguasa hingga taraf memerangi penguasa yang melakukan kekufuran yang nyata (kufran bawahan). Nabi saw memerintahkan para shahabat untuk mengoreksi penguasa dengan pedang, jika telah tampak kekufuran yang nyata. Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:

‫دعَبَّب اىَّْجُِّْٜ صيَّٚ َُّْ عيَٞ ْ ٗعيٌََّْ فَجَبَٝعَْب ُْ فَقَبهَْ فَِٞب أَخزَْ عيََْٞب أَ ْ ثَبَٝعَْب‬ ٓ َ َ ُ َ َ َ َ َ ٔ َ ‫َ َللا‬ ِ َْٗ ‫عيَٚ اىغََّ ْ ٗاىطَّبع ْ فِٜ ٍْشطَْب ٍٗنشَْٕب ٗعغشَّب ُٗٝغشَّب‬ ‫َ َ ِ َ َ َ ِ َ ُ ِ َ ِ َ أثَش ًْ عيََْٞب‬ ‫َخ‬ َ ‫َح‬ َ ِ َ ‫ع‬ ِ ُ َ ُ ‫ٔ َّل‬ ٔ ‫ِ َ ُ ٌ ِ ِ َللا‬ ْ ِٞ‫ٗأَ ْ َ ْ َُّْبصعَْ اْلٍَشَْ إَٔيَ ُْ إِ َّ ْ أَ ْ رَشٗا مفشًا ثَ٘احًب عْذم ْ ٍ ْ َِّْ ف‬ ِ َ ِ ‫َ ُ َّل‬ ُ‫َب‬ ْ ٕ‫ثُش‬
“Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untu selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.”[HR. Imam Bukhari] Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

ُ َ ِِ َ َ َ ِ َ َ ِ َ َ َ ِ َ ْ ‫عزَنُُْ٘ أٍُشاءُْ فَزَعشفَُُْ٘ ٗرُْنشَُُْٗ فََ ْ عشفَْ ثشئَْ ٍٗ ْ أَّنشَْ عيٌَِْ ٗىَن‬ َ َ ِ َ ِ ‫ٍ ْ سضَْٜ ٗرَبثَعَْ قَبىُ٘ا أَفَ َ ْ ُّقَبرِيُٖ ْ قَبهَْ َ ْ ٍب صيَّ٘ا‬ ‫ل‬ َ َ ‫ٌُ َّل‬ َ ِ َ َِ

“Akan datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim] Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, “Di dalam hadits ini terkandung mukjizat nyata mengenai kejadian yang akan terjadi di masa depan, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw….Sedangkan makna dari fragmen, “”Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat,” jawab Rasul; adalah ketidakbolehan memisahkan diri dari para khalifah, jika mereka sekedar melakukan kedzaliman dan kefasikan, dan selama mereka tidak mengubah satupun sendi-sendi dasar Islam.”
7

Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu seorang Muslim wajib mengoreksi penguasa dengan terang-terangan bahkan dengan pedang, jika para penguasanya melakukan kekufuran yang nyata. Hadits-hadits di atas juga menjelaskan bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa-penguasa yang melakukan kekufuran yang nyata. Selain itu, riwayat di atas juga menunjukkan bahwa menasehati penguasa boleh dilakukan dengan pedang, jika penguasa tersebut telah menampakkan kekufuran yang nyata. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi (empat mata) dan tidak boleh dilakukan dengan terang-terangan? d. Realitas muhasabah yang dilakukan oleh para shahabat ra terhadap para penguasa. Apabila kita meneliti secara jernih dan mendalam realitas muhasabah hukam yang dilakukan oleh shahabat ra, dapatlah disimpulkan bahwa mereka melakukan muhasabah dengan berbagai macam cara, tidak dengan satu cara saja. Riwayat-riwayat berikut ini menjelaskan kepada kita bagaimana cara-cara muhasabah yang mereka lakukan. • Di dalam Kitab Al Bidayah wa An Nihayah, juz 8, hal. 217, disebutkan bahwasanya Imam Al Huda al-Husain bin ‘Ali ra, pemimpin pemuda ahlul jannah, memisahkan diri (khuruj) dari penguasa fajir Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Husain ra dibai’at oleh penduduk Kufah pada tahun 61 H. Beliau ra juga mengutus anak pamannya, Muslim bin ‘Aqil ra untuk mengambil bai’at penduduk Kufah untuk dirinya. Dan tidak kurang 18 ribu orang membai’at dirinya. Dan di dalam sejarah, tak seorang pun menyatakan bahwa Imam Husain ra dan penduduk Kufah pada saat itu termasuk firqah (kelompok) yang sesat )”.*Al Bidayah wa An Nihayah, juz 8/217+ Inilah cara yang dilakukan oleh Imam Husain bin ‘Ali ra untuk mengoreksi (muhasabah) kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyyah. • Sebelum Imam Husain bin ‘Ali ra, kaum Muslim juga menyaksikan Ummul Mukminin ‘Aisyah ra yang memimpin kaum Muslim untuk khuruj dari Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Inilah cara Ummul Mukminin ‘Aisyah ra mengoreksi Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Hingga akhirnya, meletuslah peperangan yang sangat besar dan terkenal dalam sejarah umat Islam, Perang Jamal. • Ketika Umar bin Khaththab ra berkhuthbah di hadapan kaum Muslim, setelah beliau diangkat menjadi Amirul Mukminin, beliau berkata, “Barangsiapa di antara kalian melihatku bengkok, maka hendaklah dia meluruskannya”. Seorang laki-laki Arab berdiri dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, jika kami melihatmu bengkok, maka kami akan meluruskannya dengan tajamnya pedang kami”.
8

• Pada saat Umar bin Khaththab ra mengenakan baju dari kain Yaman yang di dapat dari harta ghanimah. Beliau ra kemudian berkhuthbah di hadapan para shahabat dengan baju itu, dan berkata, “Wahai manusia dengarlah dan taatilah…” Salman Al Farisi ra, seorang shahabat mulia berdiri seraya berkata kepadanya, “Kami tidak akan mendengar dan mentaatimu”. Umar berkata, “Mengapa demikian?” Salman menjawab, “Dari mana kamu mendapat pakaian itu, sedangkan kamu hanya mendapat satu kain, sedangkan kamu bertubuh tinggi? Beliau menjawab, “Jangan gesa-gesa, lalu beliau memanggil, “Wahai ‘Abdullah”. Namun tidak seorang pun menjawab. Lalu beliau ra berkata lagi, “Wahai ‘Abdullah bin Umar..”. ‘Abdullah menjawab, “Saya wahai Amirul Mukminin”. Beliau berkata, “Bersumpahlah demi Allah, apakah kain yang aku pakai ini kainmu? Abdullah bin Umar menjawab, “Demi Allah, ya”. Salman berkata, “Sekarang perintahlah kami, maka kami akan mendengar dan taat”. ['Abdul 'Aziz Al Badriy, Al-Islam bain al-'Ulama' wa al-Hukkam Ihitam Putih Wajah Ulama dan Penguasa.terj), hal. 70-71] • Amirul Mukminin Mu’awiyyah berdiri di atas mimbar setelah memotong jatah harta beberapa kaum Muslim, lalu ia berkata, “Dengarlah dan taatilah..”. Lalu, berdirilah Abu Muslim Al Khulani mengkritik tindakannya yang salah, “Kami tidak akan mendengar dan taat wahai Mu’awiyyah!”. Mu’awiyyah berkata, “Mengapa wahai Abu Muslim?”. Abu Muslim menjawab, “Wahai Mu’awiyyah, mengapa engkau memotong jatah itu, padahal jatah itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ibu bapakmu? Mu’awiyyah marah dan turun dari mimbar seraya berkata kepada hadirin, “Tetaplah kalian di tempat”. Lalu, dia menghilang sebentar dari pandangan mereka, lalu keluar dan dia sudah mandi. Mu’awiyyah berkata, “Sesungguhnya Abu Muslim telah berkata kepadaku dengan perkataan yang membuatku marah. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Kemarahan itu termasuk perbuatan setan, dan setan diciptakan dari api yang bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia mandi”. Sebenarnya saya masuk untuk mandi. Abu Muslim berkata benar bahwa harta itu bukan hasil jerih payahku dan bukan pula jerih payah ayahku, maka ambillah jatah kalian”.[Hadits ini dituturkan oleh Abu Na'im dalam Kitab Al-Khiyah, dan diceritakan kembali oleh Imam Al Ghazali dalam Kitab Al Ihya', juz 7, hal. 70] • Seorang ulama besar, Syaikh Mundzir bin Sa’id mengkritik sangat keras Khalifah Abdurrahman An Nashir Lidinillah ra yang telah menguras harta pemerintahan untuk mempermegah dan memperindah kota Az Zahra. Ulama besar ini mengkritik sang Khalifah dalam khuthbah Jum’atnya secara terang-terangan di depan Khalifah An Nashir dan dihadiri orang penduduk kota Az Zahra. [Abdul Hamid Al Ubbadi, Min Akhlaq al-'Ulamaa', Majalah Al Azhar, Ramadhan, 1371 H]
9

• Dalam Kitab Qalaaid Al Jawaahir disebutkan bahwasanya Syaikh Abdul Qadir Al Kailaniy berdiri di atas mimbar untuk mengkritik dan memberikan nasehat kepada Gubernur Yahya bin Sa’id yang terkenal dengan julukan Abnu Mazaahim Adz Dzaalim Al Qadla. Syaikh Abdul Qadir Al Kailaniy berkata, “Semoga orang Islam tidak dipimpin oleh oirang yang paling dzalim; maka apa jawabanmu kelak ketika menghadap Tuhan semesta alam yang paling pengasih? Gubernur itu gemetar dan langsung meninggalkan apa yang dinasehatkan kepadanya”. [Qalaaid Al Jawaahir, hal. 8] • Sulthan al-’Ulama, Al ‘iz bin Abdus Salam telah mengkritik Raja Ismail yang telah bersekongkol dengan orang-orang Eropa Kristen untuk memerangi Najamuddin bin Ayyub. Ulama besar ini tidak hanya membuat fatwa, tetapi juga mengkritik tindakan Raja Ismail di depan mimbar Jum’at di hadapan penduduk Damaskus. Saat itu Raja Ismail tidak ada di Damaskus. Akibat fatwa dan khuthbahnya yang tegas dan lurus, Al ‘Iuz ‘Abdus Salam dipecat dari jabatannya dan dipenjara di rumahnya. *As Subki, Thabaqat, dan lain-lain] Kisah-kisah di atas menunjukkan bagaimana cara para ulama shalih dan mukhlish menasehati penguasa-penguasanya. Kisah-kisah semacam ini sangat banyak disebut di dalam kitab-kitab tarikh. Mereka tidak segan-segan untuk menasehati para penguasa menyimpang dan dzalim secara terang-terangan, mengkritik kebijakannya di mimbar-mimbar terbuka, maupun fatwa-fatwanya. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa haruslah dengan empat mata saja, sementara ulama-ulama yang memiliki ilmu dan ketaqwaannya justru memilih melakukannya dengan terang-terangan dan terbuka? e. Kelemahan hadits riwayat Imam Ahmad. Nash-nash qath’iy telah menunjukkan kepada kita bahwa hukum asal nasehat itu harus disampaikan secara terangterangan, dan tidak boleh sembunyi-sembunyi. Al Quran dan Sunnah telah menyebut masalah ini dengan sangat jelas. Namun, sebagian orang awam menyangka ada riwayat yang mengkhususkan ketentuan ini. Mereka berpendapat bahwa mengoreksi penguasa harus dilakukan dengan empat mata, karena ada dalil yang mengkhususkan. Mereka berdalih dengan hadits yang sumbernya (tsubutnya) masih perlu dikaji secara mendalam. Hadits itu adalah hadits yang riwayatkan oleh Imam Ahmad.

10

Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits dan berkata:

َّ َ ‫ُ ِ َ ح‬ َّ َ ٍُّْٜ‫حذثََْب أَثُ٘ اىَغٞش ْ حذثََْب صف٘اُُْ حذثَْٜ ششٝحُْ ثُِْ عجَٞ ْ اىحضش‬ َ ُ ِ َّ َ َ َ ِ َ َ ‫ُ ذ‬ ِ َ ِ ٔ ‫َذ ع‬ ًُْ‫ٗغٞش ُْ قَبهَْ جيَذَْ عَٞبضُْ ثُِْ غْ ْ صبحتَْ دَاسَٝب حَِْٞ فُزِح ْ فَأَغيَ َْ ىَ ُْ ٕشب‬ ُٓ َ َ ِ ِ ِ َ ٌَ ِ َ َ َ ‫َ َ ِ ِ بض‬ َ ِ ٓ ٌِٞ َ ْ ‫ثُِْ حن ْ اىقَ٘هَْ حزَّىغضتَْ عَٞ ْ ثٌَُّْ ٍنثَْ ىََٞبىَِْٜ فَأَرَب ُْ ٕشبًُْ ثُِْ حن‬ ٌِٞ َ ٌََّْ‫فَبعزَزسَْ إِىَٞ ْ ثٌَُّْ قَبهَْ ٕش ْ ىِعَٞ ْ أَىَ ْ رَغَ ْ اىَّْجَّْٜ صيَّٚ َُّْ عيَٞ ْ ٗعي‬ ٔ َ َ َ ٔ َ ‫َ َللا‬ ِ ِ ِ ‫ِ َ بً ِ بض ٌ َ ع‬ َ َ ٌ َّ َ َ َ ‫ِ ِ َ بط‬ ُّ ُْ‫َٝقُ٘هُْ إَُِّْ ٍ ْ أَشذِّْ اىَّْ ْ عزاثًب أَشذُٕ ْ عزاثًب فِٜ اىذَّٞب ىِيَّْ ْ فَقَبهَْ عَْبض‬ ِٞ ‫بط‬ ِ ِ َ ِ ٌَ ‫َ ٌ َع‬ ْ َ‫ثُِْ غْ ْ َٝب ٕشبًُْ ثَِْ حن ْ قَ ْ عَعَْب ٍب عَعذَْ ٗسأََْٝب ٍب سأَٝذَْ أَٗىَ ْ رَغ‬ ‫َ ٌِٞ ذ‬ َ َ َ َ َِ َ َِ ‫بُ ش ل‬ ْ َ َ‫سعُ٘هَْ َِّْ صيَّٚ َُّْ عيَٞ ْ ٗعيٌََّْ َٝقُ٘هُْ ٍ ْ أَسادَْ أَ ْ َْٝصحَْ ىِغُيطَ ْ ثِأٍَ ْ ف‬ َ ُ َ َِ َ َ ٔ َ ‫َللا َ َللا‬ َ ِ ‫ِ ٔ َ َ َّل َ ذ‬ ْ َ‫ُٝجذِْ ىَ ُْ عَلَِّٞ ًْ ٗىَن ْ ىَِٞأخ ْ ثَِٞذ ْ فَٞخيَُْ٘ ثِ ْ فَإ ِ ْ قَجِوَْ ٍْ ُْ فَزاكَْ ٗإِ َّ ْ مبَُْ ق‬ ُ ٔ َ ٓ ِ ‫ٔ َ خ َ ِِ ُ ز‬ ِ ِ َ‫أَدٙ اىَّزٛ عيَٞ ْ ىَ ُْ ٗإَِّّلَْ َٝب ٕشبًُْ ْل‬ َّ ُِْ‫ِ َ َ ّذَْ اىجشٛءُْ إِ ْ رَجزَشئُْ عيَٚ عُيطَب‬ ‫ر‬ َ ِ ِ َ ٔ ٔ َ ِ ِ َ َٚ‫َِّْ فََٖ َّ ْ خشٞذَْ أَ ْ َٝقزُيَلَْ اىغُّيطَبُُْ فَزَنَُْ٘ َْزِٞوَْ عُيطبُِْ َِّْ رَجَبسكَْ ٗرَعبى‬ ‫ُ ق‬ ُ ِ َ ‫َللا ل‬ َ َ َ ‫َ َللا‬

“Telah meriwayatkan kepada kami Abu Al Mughirah, dan dia berkata, “Telah menuturkan kepada kami Shofwan, dan ia berkata, “Telah meriwayatkan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid al Hadlramiy dan lainnya, dia berkata, “‘Iyadl bin Ghanm mendera penduduk Dariya, ketika berhasil dikalahkan. Hisyam bin Hakim pun mengkritik Iyadl bin Ghanm dengan kasar dan keras, hingga ‘Iyadl marah. Ketika malam datang, Hisyam bin Malik mendatangi ‘Iyadl, dan meminta maaf kepadanya. Lalu Hisyam berkata kepada ‘Iyadl, “Tidakkah engkau mendengar Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya manusia yang mendapat siksa paling keras adalah manusia yang paling keras menyiksa manusia di kehidupan dunia”. ‘Iyadl bin Ghanm berkata, “Ya Hisyam bin Hakim, sungguh, kami mendengar apa yang engkau dengar, dan kami juga menyaksikan apa yang engkau saksikan; tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa hendak menasehati penguasa (orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah), maka janganlah menasehatinya dengan terangterangan, tetapi ambillah tangannya, lalu menyepilah dengannya. Jika ia menerima nasehat, maka baginya pahala, dan jika tidak, maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya untuk orang itu. Sesungguhnya, engkau ya Hisyam, kamu sungguh berani, karena engkau berani kepada penguasanya Allah. Lalu, tidakkah engkau takut dibunuh oleh penguasanya Allah, dan engkau menjadi orang yang terbunuh oleh penguasa Allah tabaaraka wa ta’aala”.[HR. Imam Ahmad] ‘Iyadl bin Ghanm adalah Ibnu Zuhair bin Abiy Syadad, Abu Sa’ad al-Fahri. Beliau adalah seorang shahabat yang memiliki keutamaan. Beliau termasuk shahabat yang melakukan bai’at Ridlwan; dan wafat pada tahun 20 H di Syams. Hisyam bin Hakim bin Hazam bin Khuwailid al-Qurasyiy al-Asdiy adalah shahabat
11

yang memiliki keutamaan, dan beliau adalah putera dari seorang shahabat. Beliau wafat pada awal-awal masa kekhilafahan Mu’awiyyah bin Abi Sofyan. Ada orang yang menduga bahwa beliau meraih mati syahid di Ajnadain. Beliau disebut di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim dalam haditsnya Umar tatkala ia mendengarnya membaca surat Al Furqan. Beliau wafat sebelum ayahnya meninggal dunia. Imam Muslim, Abu Dawud, dan An Nasaaiy menuturkan hadits dari beliau, sebagaimana disebutkan dalam Kitab At Taqriib. Di dalam Kitab Tahdziib al-Kamal, Al Maziy berkata, “Diriwayatkan darinya:…dan ‘Urwah bin Az Zubair…hingga akhir. Adapun Syuraih bin ‘Ubaid al-Hadlramiy alHamashiy, dia adalah seorang tabi’in tsiqqah (terpercaya). Riwayatnya dari shahabat secara mursal, sebagaimana disebut dalam Tahdziib al-Kamal, “Mohammad bin ‘Auf ditanya apakah Syuraih bin ‘Ubaid al-Hadlramiy mendengar dari Abu Darda’? Mohammad bin ‘Auf menjawab, “Tidak”. Juga ditanyakan kepada Mohammad bin ‘Auf, apakah dia mendengar dari seorang shahabat Nabi saw? Dia menjawab, “Saya kira tidak. Sebab, ia tidak mengatakan dari riwayatnya, “saya mendengar”. Dan dia adalah tsiqqah (terpercaya)”. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab At Taqriib mengatakan, “Dia tsiqqah (terpercaya), dan banyak meriwayatkan hadits secara mursal; karena tadlisnya. Ibnu Abi Hatim di dalam Kitab Al Maraasiil berkata, “Saya mendengar ayahku berkata, “Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu dengan Abu Umamah, al-Harits bin Harits, dan Miqdam. Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya mendengar bapakku berkata, “Syuraih bin ‘Ubaid menuturkan hadits dari Abu Malik Al Asy’ariy secara mursal”. Jika Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu dengan Abu Umamah Shadiy bin ‘Ijlaan al-Bahiliy ra yang wafat pada tahun 76 H dan Miqdam al-Ma’diy Karab ra yang wafat pada tahun 87 H, maka bagaimana bisa dinyatakan bahwa Syuraih bin ‘Ubaid bertemu dengan Hisyam bin Hakim yang wafat pada awal-awal pemerintahan Mu’awiyyah, lebih-lebih lagi ‘Iyadl bin Ghanm yang wafat pada tahun 20 Hijrah pada masa ‘Umar bin Khaththab ra? Selain itu, Syuraih bin ‘Ubaid ra meriwayatkan hadits itu dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya) dan di dalam hadits itu tidak ada satupun indikasi yang menunjukkan bahwa ia hadir dalam kisah itu, atau mendengar orang yang mengisahkan kisah tersebut. Dengan demikian, hadits di atas harus dihukumi sebagai hadits munqathi’ (terputus), dan tidak layak dijadikan sebagai hujjah. Demikian pula hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad secara ringkas (mukhtashar) dari Ibnu ‘Abi ‘Ashim di dalam kitab As Sunnah, di mana Imam Ahmad berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami ‘Amru bin ‘Utsman, di mana dia berkata,”Telah meriwayatkan kepada kami Baqiyah, dan dia berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Sofwan bin ‘Amru, dari Syuraih bin ‘Ubaid, bahwasanya dia berkata, “‘Yadl bin
12

Ghanam berkata kepada Hisyam bin Hakim, tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa hendak menasehati penguasa janganlah ia sampaikan dengan terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia ambil tangannya, lalu menyepilah dengannya. Jika ia menerima maka ia akan mendapatkan pahala, dan jika tidak, maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya”.[HR. Imam Ahmad] Baqiyyah adalah seorang mudalis. Walaupun Baqiyyah menuturkan hadits ini dengan sharih menurut versi Ibnu Abi ‘Aashim, tetapi, tetap saja tidak bisa menyelamatkan Baqiyyah. Pasalnya, ia adalah perawi yang suka melakukan tadlis dengan tadlis yang buruk (tadlis qabiih) –yakni tadlis taswiyah . Dikhawatirkan dari tadlisnya itu ‘an’anah [(meriwayatkan dengan 'an (dari), 'an (dari)] dari gurunya dari gurunya jika ditarik ke atas. Di dalam Kitab Al Majma’, Imam Al Haitsamiy berkata, “Yang benar, jalur darinya (Syuraih bin ‘Ubaid) hanya berasal dari Hisyam saja. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad, dan rijalnya tsiqat (terpercaya). Akan tetapi, saya tidak mendapati Syuraih bin ‘Ubaid mendengar hadits ini langsung dari ‘Iyadl dan Hisyam, walaupun dia seorang tabi’un. Catatan lain, Syuraih bin ‘Ubaid meriwayatkan hadits ini dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya), dan di dalam hadits ini tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa ia hadir dalam kisah itu, maupun mendengar dari orang yang menceritakan kisah tersebut. Oleh karena itu, hadits ini harus dihukumi sebagai hadits munqathi’; dan tidak layak dijadikan sebagai hujjah. Adapun dari jalur-jalur lain, misalnya dari jalur Jabir bin Nafir, maka setelah diteliti, ada perawi yang lemah, yakni Mohammad bin Ismail bin ‘Iyasy. Jika demikian kenyataannya, gugurlah berdalil dengan hadits riwayat Imam Ahmad di atas. (www.syariahpublications.com) Sumber Jawaban : http://www.facebook.com/notes/syamsuddin-ramadhan/kritikatas-pendapat-yang-menyatakan-mengoreksi-penguasa-harus-dengan-empatmata/122118661161806

13

Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka, Bolehkah?
Tanya : Ustadz, bolehkah kita mengkritik pemimpin secara terbuka? Jawab : Hukumnya jaiz (boleh) mengkritik pemimpin secara terbuka, tidak haram. Dalilnya adalah kemutlakan dalil-dalil amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa. (Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, Muhasabah al-Hukkam, hal. 60; Ziyad Ghazzal,Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.25). Dalil-dalil tersebut antara lain sabda Nabi SAW,”Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthallib dan seseorang yang berdiri di hadapan seorang imam yang zalim lalu orang itu memerintahkan yang ma’ruf kepadanya dan melarangnya dari yang munkar, lalu imam itu membunuhnya.” (HR Tirmidzi dan Al-Hakim). Juga berdasarkan sabda Nabi SAW,”Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang haq kepada penguasa (sulthan) atau pemimpin (amiir) yang zalim.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Juga berdasarkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit RA tentang baiat kepada imam yang di dalamnya ada redaksi,“dan kami akan selalu mengucapkan kebenaran dimana pun kami berada, kami tidak takut -karena Allahterhadap celaan orang yang mencela.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Mengomentari dalil-dalil tersebut, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Mas’ari berkata bahwa nash-nash tersebut bersifat mutlak, yakni tidak membatasi cara tertentu dalam menasehati nasehat penguasa, sehingga dapat disampaikan secara rahasia atau terbuka. (Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, ibid., hal. 60). Selain dalil-dalil ini, kebolehan mengkritik pemimpin secara terbuka juga diperkuat oleh praktik para shahabat yang sering mengkritik para khalifah secara terbuka. Diriwayatkan dari Nafi’ Maula Ibnu Umar RA, ketika menaklukkan Syam, Khalifah Umar bin Khaththab tidak membagikan tanah Syam kepada para mujahidin. Maka Bilal RA memprotes dengan berkata,”Bagilah tanah itu atau kami ambil tanah itu dengan pedang!” (HR Baihaqi, no 18764, hadits sahih). Hadits ini menunjukkan Bilal mengkritik Khalifah Umar secara terbuka di hadapan umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.24) Diriwayatkan dari ‘Ikrimah RA, Khalifah Ali bin Thalib RA telah membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas RA, maka berkatalah beliau,”Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Nabi SAW telah bersabda,”Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api),” dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi SAW,’Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari). Dalam hadits ini jelas Ibnu Abbas mengkritik Khalifah Ali bin Thalib secara terbuka. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.25).
14

Berdasarkan dalil-dalil di atas, boleh hukumnya mengkritik pemimpin secara terbuka di muka umum, baik di media massa seperti di internet, koran, majalah, maupun saat demonstrasi, di pasar, di kampus, dan sebagainya. Sebagian ulama mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasar hadits Iyadh bin Ghanam, bahwa Nabi SAW berkata,”Barangsiapa hendak menasehati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang-terangan, tapi peganglah tangan penguasa itu dan pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasehatnya, itu baik, kalau tidak, orang itu telah menunaikan kewajibannya pada penguasa itu.” (HR Ahmad). Menurut Syaikh Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, hadits ini dha’if karena sanadnya terputus (inqitha’) dan ada periwayat hadits yang lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Iyasy. (Muhasabah al-Hukkam, hal. 41-43). Wallahu a’lam.

Sikap Pemerintah Terhadap Kritik
Oleh: Ade Sugana, Lc. Lajnah Tsaqafiyyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Kritik terhadap penguasa (muhasabatul hukam) disyariatkan dalam Islam. Ia merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang hukumnya fardhu kifayah. Karenanya, di dalam umat harus senantiasa ada orang-orang yang melakukan kewajiban ini, kalaupun tidak bisa dilakukan oleh mereka secara keseluruhan. Hal ini banyak dijelaskan baik dalam al-Quran maupun as-Sunah. Diantaranya firman Allah SWT,

ُ َ ‫بط‬ ُ ُ َ َ َّ ُْ‫ٗم ََٰزىِلَْ جعيَْبم ْ أٍُ ًْ ٗعطًب ىِّزَنُّ٘٘ا شَٖذَاءَْ عَْيَٚ اىَّْ ْ َٗٝنَُْ٘ اىشعُ٘ه‬ َ َ ‫َ َ ُ ٌ َّ خ‬ ِ ‫عيَٞن ْ شٖٞذًا‬ ِ َ ٌُ َ ُ ُ ‫َّ ِ لِل‬ ۖ ْ ِْ‫َٝب ََُّْٖٝب اىَّزَِْٝ آٍُْ٘ا مُّ٘٘ا قَ٘اٍَِْٞ ِ َِّْ شَٖذَاءَْ ثِبىقِغظ‬ ‫أ‬ ِ َ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (al-baqarah: 143) Dalam ayat lain Allah SWT, berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil ” (QS. AlMaaidah[5]: 8) Di samping ayat-ayat lain yang banyak sekali jumlahnya terkait kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dua ayat di atas merupakan seruan kepada umat Islam untuk menjadi saksi bagi umat dan bangsa lain. Lalu bagaimana umat ini menjadi saksi bagi mereka kalau ia belum bisa menjadi saksi dan pemimpin atas dirinya sendiri. Hal ini mengharuskan selalu adanya muhasabah dan kritik bukan hanya diantara individu-individu umat melainkan terhadap penguasa dalam kedudukanya sebagai pemimpin, pemelihara urusan-urusan mereka, pihak yang
15

bertanggung jawab mewujudkan kesejahtera dan mampu menjadi suhada bagi umat dan bangsa lain.

membimbing meraka hingga

Selain itu, dalam banyak hadits Rasulullah SAW. juga menjelaskan tentang kewajiban muhasabah ini, diantaranya sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

ُ َ ٌ ِ ِ ٌُ َّ َ ِ َ ْ ِٖ‫عَٞنُُْ٘ عيَٞن ْ أٍُشاءُْ َٝأٍشُّٗن ْ ثَب َ ْ َٝفعيَُُ٘ ، فََ ْ صذقَٖ ْ ثِنزث‬ َ ‫ُ َ ُ ٌ ِ َ َّل‬ َ َ ٌُ َ َْ‫ٗأَعَبَّٖ ْ عيَٚ ظُيٌَٖ، فَيَٞظَْ ٍِّْٜ ٗىَغذُْ ٍْ ُْ ٗىَ ْ َٝشدَْ عيََّْٜ اىح٘ض‬ َ ِ َِ ِٔ َ ٌُ َ َ ِ َ ِ ِ ‫))سٗآ أحَذ‬

“Akan ada para pemimpin yang memimpin kalian dengan perkara-perkara yang tidak mereka laksanakan. Karena itu, siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kedzaliman mereka maka ia bukan termasuk golongganku, dan aku juga bukan termasuk golongannnya; telaga haud pun sekali-kali tidak akan bermanfaat bagiku (untuk menolongnya). (HR. Ahmad). Selain itu pula, Islam telah menganggap orang yang dibunuh karena penentangannya terhadap penguasa sebagai afdhalus syuhada, ini tiada lain karena Islam menjadikan muhasabah sebagai perkara penting bahkan ia merupakan salah satu pilar bagi hilangnya kedzaliman dan tegaknya hukum Allah SWT di muka bumi ini. Lalu Bagaimana seharusnya sikap penguasa dalam menghadapi kritik atau muhasabah yang dilakukan oleh rakyatnya, perlukah ia berapologi, membela diri atau selalu merasa benar bahkan melakukan pencitraan dan kebohongan? Mari kita lihat karakter para pemimpin muslim di masa lalu, terutama Rasulullah SAW sebagai panutan kita. Bercermin Pada Rasulallah SAW dan Para Khalifah setelahnya Pada zaman kehidupan Rasullah SAW, kritik pernah terjadi, dimana budaya muhasabah ini telah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Para shahabat sebagai rakyat pernah melakukan muhasabah kepada kebijakan pemerintahan Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin. Rasulullah, pernah dinasihati Hubbab bin Mundzir dalam menentukan posisi pasukan di medan perang Badar. Pada saat ditandatangani perjanjian Hudaibiyah kaum Muslim menampakkan ketidaksetujuan mereka kepada beliau. Sedang seusai perang Hunain, para sahabat Anshar menampakkan rasa kecewa melihat Rasulullah memberikan ghanimah kepada para pemimpin Quraisy yang baru masuk Islam (al-muallafatu qulubuhum), tanpa memberikan satu bagian pun untuk mereka. Para shahabat mempertanyakan pembagian kain dari Yaman kepada pemerintahan Umar bin Kha-ththab. Beliau juga pernah diprotes oleh seorang wanita yang menentang kebijakan pembatasan mahar. Bagaimanakah sikap Rasul SAW dan para Khalifah dalam menghadapi muhasabah yang dilakukan oleh para sahabat yang berstatus sebagai rakyat?
16

Rasulullah menerima pendapat Hubbab lantaran beliau melihat adanya ke-ahlian Hubbab dalam strategi pertempuran. Dalam perang Uhud, beliau menyetujuinya pendapat para shahabat yang menghendaki untuk menyongsong pasukan Quraisy di luar kota Madinah meskipun beliau sendiri berpendapat sebaliknya. Pada perjanjian Hudaibiyah beliau tetap bertahan dalam menghadapi protes para shahabat. Sebab, hukum perjanjian tersebut merupakan wahyu yang baru beliau terima. Tatkala wanita memprotes kebijakan khalifah Umar Ibnu al-Khattab dengan membaca firman Allah SWT: “Maka janganlah kamu mengambil kembali (mahar) dari padanya barang sedikitpun” (QS. An Nisaa 20), maka Khalifah Umar berkata, “Benarlah wanita itu dan sayalah yang keliru” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Peran Ulama dan Penguasa). Dan terhadap pertanyaan tentang pakaian yang dikenakannya, Umar meminta putranya untuk menjelaskan. Ibnu Umar pun menyatakan bahwa pakaian Umar adalah bagian Khalifah ditambah dengan bagiannya yang dihadiahkannya kepada ayahnya. Dari contoh-contoh diatas kita melihat, bahwa kontrol sosial atau menasehati penguasa merupakan sunnah rasul dan tabi’at para pemimpin Islam. Rakyat, tanpa memandang status sosialnya merasa berkewajiban dan berani mengkritik atau mengoreksi segala kebijakan atau tindakan yang dilakukan pejabat Negara, pada setiap kesempatan terbuka. Sebaliknya, para pejabat Negara tanpa memandang posisi dan jabatannya merasa berkewajiban menerima kritik dan koreksi dari rakyatnya, tanpa ada perasaan tersinggung atau terrendahkan martabatnya, walau kritik dan koreksi dilakukan di depan umum. Sikap yang tidak perlu Lalu bagaimana dengan sikap para penguasa saat ini, alih-alih mencoba introspeksi atau bahkan menerima kritikan tersebut, malah mereka berapologi, membela diri, menutupi kegagalan dengan kebohongan dan manipulasi, bahkan tidak sedikit direspon dengan serangan yang bersifat pribadi terhadap orang-orang yang bersikap kritis terhadapnya, yang jauh dari substansi kritik itu sendiri. Sebaliknya, Pencitraanlah yang sering dikedepankan. Tentu ini gampang dimaklumi, karena menerima kritik dalam pandangannya berarti menerima kegagalan, terima kegagalan berarti popularitas menurun, popularitas menurun 2014 bagaimana… dan seterusnya. Padahal masyarakat ini sudah semakin cerdas, kegagalan pemerintah tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Kesengsaraan demi kesengsaran yang mereka rasakan tidak mungkin bisa diobati oleh kebohongan-kebohongan dalam banyak pidato para penguasa, apalagi hanya dengan sekedar klaim keberhasilan dalam bentuk angkaangka yang terkadang sarat dengan manipulasi. Untuk apa pertumbuhan ekonomi 6,1 persen jika rakyat tetap sengsara, hidup sendiri seperti tinggal di negeri yatim piatu, tidak ada yang mengurus, justru yang mereka rasakan adalah penindasan demi penindasan. Pengusaha kecil dan menengah beralih menjadi pedagang, sebelum mereka menganggur, karena
17

banyaknya hambatan berproduksi. Mereka tidak sanggup lagi bertahan sebagai produsen. Sebab, bertahan menjadi produsen sama saja dengan bunuh diri, bagai mana tidak bahan baku sulit diperoleh, tarif listrik terus naik. Dua hal itu saja sudah cukup untuk membunuh mereka apalagi ditambah barang-barang China yang membanjiri pasar dengan harga lebih murah. Inikah sebuah keberhasilan yang membuat para penguasa ini tuli, dan seperti tidak peduli, yang penting masih bisa beretorika. Perkara ada kesenjangan antara retorika dan fakta, itu soal lain. Dinilai gagal pun bukan persoalan, asalkan tidak dituding berbohong. Sikap seperti itu bukan jalan keluar, bukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapi bangsa ini, bahkan bukan jalan keluar bagi kepentingan anda sendiri. Ingatlah fiman Allah Swt, dalam alquran.

‫ل‬ ْ َ َ‫َ ْ رَحغجََِّْ اىَّزَِْٝ َٝفشحَُُْ٘ ثَِب أَرَ٘ا ُٗٝحجَُُّْ٘ أَُ ُٝحَذٗا ثَِب ىَ ْ َٝفعَْيُ٘ا ف‬ ٌ َ َُ َ َ ‫َّل‬ ِ َّ ِ َ ﴾١١١َ‫رَحغجٌََُّْٖ ثَفَبص ْ ٍَِْ اىعزا ْ ْ ٗىَٖ ْ عز ْ أى‬ ﴿ ْ ِ ‫َ َ ة ۖ َ ٌُ َ َ اة‬ ٌٞ َ ِ ِّ ‫ِ َ َ ح‬

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran*3+:188) Terkait asbabun nuzul ayat ini ada dua riwayat. Pertama terkait ahlul kitab yang ditanya oleh Rasulullah SAW, lalu mereka mereka menjawab dengan jawaban yang bukan sebenarnya, mereka senang dengan kebohongan itu dan malah meminta dipuji. Riwayat kedua terkait dengan orang munafik yang selalu izin dalam setiap peperangan, duduk-duduk karena jihad dirasakan berat baginya, dan mereka senang dengan hal itu. jika Nabi menghampiri mereka, mereka keluarkan berbagai alasan, tak jarang mereka bersumpah demi tetap dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan. Tentu tidak ada pertentangan diantara dua riwayat ini, karena pelajaran (al-ibrah) itu diambil dari keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab, disamping banyak sekali ayat yang turun bukan karena satu sebab. Dalam Ayat ini Allah SWT, melarang kita memiliki sikap munafik dan gemar bermain citra atau berbohong demi menutupi kesalahan dan kegagalan. Sistem gagal melahirkan penguasa bebal Sikap penguasa di atas memang cermin sistem yang berlaku sekarang ini. Kapitalisme yang memang sudah cacat sejak lahir telah gagal wujudkan kesejahteraan bagi penganutnya, sehingga tak heran para penguasa selalu dituntun untuk menutupi cacat dan kegagalan itu. Sistem ini tidak memiliki pijakan yang kuat, sehingga setiap kritik yang ditujukan untuk memperbaiki sistem ini, selalu bermuara kepada kegagalan sistem itu sendiri, disadari atupun tidak. Sehingga sistem ini memang tidak perlu dipertahankan. Dan jika mau dipertahankan berarti harus siap, berani dan tanpa malu untuk tidak menerima kritik, dengan semua jurus kebohongan dan manipulasi. Walaupun kritik itu sendiri tetap diperbolehkan, supaya tetap
18

dianggap demokratis. Akan tetapi apalah artinya keberadaan kritik itu, jika harus selalu bertabrakan dengan sikap penguasa yang disetting bebal oleh sistem yang sedang diterapkannya. Khalifah penguasa sejati DengAn Islam, sikap para penguasa di atas akan bisa diminimalisir kalau pun tidak bisa dihilangkan seluruhnya. Karena, dalam tradisi politik Islam, khalifah dan para pejabat di bawahnya memiliki kewajiban untuk menjawab semua koreksi dan kritik yang ditujukan kepadanya, dengan menjelaskan pandangan dan argumentasi yang menjadi landasan berbagai perkataan dan aktivitasnya termasuk kebijakan yang diambilnya. Baik dalam hal-hal yang dirasakan umat menyalahi hukum syariah, atau merupakan kebijakan yang kurang tepat, keliru, menimbulkan bahaya atau mengandung unsur kedzaliman terhadap rakyat. Penjelasan ini bisa langsung disampaikan kepada individu atau kelompok di dalam masyarakat, atau disampaikan kepada wakil-wakil mereka yang ada di majlis umat. Jika majlis umat tidak bisa menerima pandangan khalifah dan membantah argumentasinya maka harus dilihat dulu. Jika hal itu terjadi dalam perkara yang menjadikan pendapat mayoritas bersifat mengikat bagi khalifah, maka pendapat majlis dalam hal tersebut juga bersifat mengikat bagi khalifah. Karenanya, Rasulullah SAW, mengikuti pendapat mayoritas sahabat untuk keluar dari madinah dalam perang uhud. Sebaliknya, jika dalam perkara tersebut suara tersebut tidak bersifat mengikat seperti menyangkut perkara-perkara pemikiran yang memerlukan pengkajian mendalam dan analisis seperti untuk menyingkap kebenaran atau pendapat berbagai keputusan perang dan perkara-perkara yang memerlukan keahlian dan pengetahuan spesifik seperti penyiapan strategi perang atau menyangkut sains dan teknologi, maka dalam perkara-perkara demikian yang diambil adalah pendapat para ahli, sehingga khalifah tidak terikat dengan suara mayoritas. Karenanya, Rasulullah SAW, menerima pendapatnya Hubab Ibn al-Mundzir dalam masalah pemilihan tempat dalam perang badar. Adapun jika pihak yang melakukan koreksi berselisih dengan penguasa dalam hal hukum syara yang diadopsi khalifah, maka perselisihan itu dikembalikan kepada Qadhi Mazhalim. Dan pendapat Mahkamah Mazhalim dalam hal ini bersifat mengikat, karena ialah yng memilki wewenang dalam kondisi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)”. (QS. AnNisaa[4]:59).
19

َّ ُِ‫َٝب أََُّٖٝب اىَّزَِْٝ آٍُْ٘ا أَطٞعُ٘ا ََّْ ٗأَطٞعُ٘ا اىشعُ٘هَْ ٗأُٗىِٜ اْلٍَ ْ ٍْن ْ ْ فَإ‬ ۖ ٌُ ِ ‫ش‬ ِ َ ‫َللا‬ ِ ِ َ َ ِ َّ َ ‫َ ء ُ ُّ ٓ َللا‬ ِْ‫رََْبصعزُ ْ فِٜ شٜ ْ فَشدٗ ُْ إِىَٚ َِّْ ٗاىشعُ٘ه‬ ٌ َ

Ayat ini di dalamnya berisi seruan kepada kaum Muslim, jika mereka berselisih dengan ulil amri dalam suatu perkara maka hendaknya mengembalikan perkara tersebut kepada Allah dan Rasulnya. Mengembalikan keputusan hukum kepada keduanya berarti menyerahkannya kepada mahkamah mazhalim. Karena, Rasululullah SAW, tidak mengambil pendapat para sahabat dalam hal keputusannya untuk melaksanakan perjanjian dengan kafir quraisy, karena itu merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dari semua contoh di atas kita bisa lebih memahami bahwa khalifah bukanlah sosok yang anti kritik. Dialah pemimpin yang sejati, dan seperti itulah seharusnya para pemimpin negeri ini menyikapi setiap kritik yang ditujukan kepadanya.[]

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->