BAB I PENDAHULUAN

Penyusunan buku Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 merupakan hasil dari salah satu mata rantai pelaksanaan Sistem Informasi Kesehatan di Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka menyediakan berbagai data & informasi di bidang kesehatan. Data dan informasi kesehatan tersebut akan menjadi faktor pendukung didalam sistem manajemen pembangunan kesehatan, sehingga dalam perencanaan maupun pelaksanaan berbagai upaya kesehatan akan menjadi berdaya guna dan berhasil guna sebagaimana dapat kita baca pada penjelasan Pasal 67 ( 2 ) UU No: 23 tahun 1992 tentang kesehatan . Sistem Informasi kesehatan merupakan bagian fungsional dari Sistem Kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu penerbitan buku Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat sekarang ini lebih dikaitkan dengan sistem kesehatan yang diarahkan pada pencapaian Visi Kalimantan Barat Sehat 2010. Artinya, Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 ini disusun agar dapat menjadi salah satu sarana untuk menilai pencapaian Pembangunan Kesehatan di Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka mencapai Kalimantan Barat Sehat 2010. Profil adalah dokumen yang berisi tentang data dan informasi dari sistem manajemen data/informasi sebuah organisasi, mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan penyebar luasan informasi. Untuk fungsi manajemen dan pengambilan keputusan sebuah organisasi memerlukan dukungan data/informasi. Dalam penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 ini kami menggunakan berbagai sumber data antara lain
 

Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009. Data dari berbagai sektor/ Instansi terkait, data dari berbagai bidang di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.

Walaupun dengan berbagai keterbatasan data dan informasi yang dapat kami sajikan, akhirnya buku Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 ini dapat diselesaikan. Apa yang kami tampilkan pada buku Profil Kesehatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai perubahan maupun perbaikan pada program pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Barat khususnya sektor kesehatan secara menyeluruh. Untuk memenuhi kebutuhan berbagai data dan informasi guna menunjang manajemen program kesehatan pada semua tingkat administrasi. Untuk itu segala upaya dan perbaikan terhadap isi buku profil ini telah kami coba laksanakan baik terhadap kualitas maupun kuantitas dan juga dalam hal menganalisa data-data yang ada. Penyusunan Buku Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 ini mengalami keterlambatan jika disesuaikan dengan waktu yang seharusnya dimana

1

bulan Juli sudah harus tersusun, hal ini disebabkan karena adanya keterlambatan laporan data profil dari Dinas Kesehatan Kabupatan/Kota. Guna memberikan gambaran yang lebih baik tentang situasi kesehatan di Provinsi Kalimantan Barat maka buku Profil Kesehatan ini kami susun dengan sistimatika sebagai berikut : Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Bab I : Pendahuluan Bab II : Gambaran umum Provinsi Bab III : Pembangunan Kesehatan Daerah Bab IV : Pencapaian Pembangunan Kesehatan Bab V : Situasi Sumber Daya Kesehatan Bab VI : Penutup Lampiran tabel-tabel

2

BAB II GAMBARAN UMUM PROVINSI 2.1. Letak Wilayah Provinsi Kalimantan Barat terletak di bagian barat pulau Kalimantan atau di antara garis 2° 08' LU serta 3° 05' LS serta di antara 108° 0' BT dan 114° 10' BT pada peta bumi. Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini maka, daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 0° ) tepatnya di atas Kota Pontianak. Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalimantan Barat adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta diiringi kelembaban yang tinggi. Ciri-ciri spesifik lainnya adalah bahwa wilayah Kalimantan Barat termasuk salah satu Provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara asing, yaitu dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Bahkan dengan posisi ini, maka daerah Kalimantan Barat kini merupakan satu-satunya Provinsi di Indonesia yang secara resmi telah mempunyai akses jalan darat untuk masuk dan keluar dari negara asing. Hal ini dapat terjadi karena antara Kalimantan Barat dan Sarawak telah terbuka jalan darat antar negara Pontianak – Entikong – Kuching (Sarawak, Malaysia) sepanjang sekitar 400 km dan dapat ditempuh sekitar enam sampai delapan jam perjalanan. Batas-batas wilayah selengkapnya bagi daerah Provinsi Kalimantan Barat adalah : Utara Selatan Timur Barat : Sarawak (Negara Malaysia) : Laut Jawa & Provinsi Kalimantan Tengah : Provinsi Kalimantan Timur : Laut Natuna dan Selat Karimata

Sebelah utara Provinsi Kalimantan Barat terdapat empat kabupaten yang langsung berhadapan dengan negara jiran yaitu; Sambas, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu, yang membujur sepanjang Pegunungan Kalingkang – Kapuas Hulu. 2.2. Luas Wilayah Sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah merupakan daratan berdataran rendah dengan luas sekitar 146.807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari Barat ke Timur. Dilihat dari besarnya wilayah, maka Kalimantan Barat termasuk Provinsi terbesar keempat setelah pertama Irian Jaya (421.891 km2 ), kedua Kalimantan Timur (202.440 km2 ) dan ketiga Kalimantan Tengah (152.600 km2). Dilihat dari luas menurut Kabupaten/Kota, maka yang terbesar adalah Kabupaten Ketapang (31.588 km2 atau 21,52 persen) kemudian diikuti Kapuas Hulu

3

(29.842 km2 atau 20.33 persen), dan Kabupaten Sintang (21.635 km atau 14,74 persen), sedangkan sisanya tersebar pada 11 (sebelas) kabupaten/kota lainnya. 2.3. Topografi Secara umum, daratan Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dan mempunyai ratusan sungai yang aman bila dilayari, sedikit berbukit yang menghampar dari Barat ke Timur sepanjang “Lembah Kapuas” serta Laut Natuna/Selat Karimata. Sebagian daerah daratan ini berawa-rawa bercampur gambut dan hutan mangrove. Wilayah daratan ini diapit oleh dua jajaran pegunungan yaitu, Pegunungan Kalingkang/Kabupaten Kapuas Hulu di bagian Utara dan Pegunungan Schwaner di Selatan sepanjang perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Dilihat dari tekstur tanahnya maka, sebagian besar daerah Kalimantan Barat terdiri dari jenis tanah PMK (podsolet merah kuning), yang meliputi areal sekitar 10,5 juta hektar atau 17,28 persen dari luas daerah yang 14,7 juta hektar. Berikutnya, tanah OGH (orgosol, gley dan humus) dan tanah Aluvial sekitar 2,0 juta hektar atau 10,29 persen yang terhampar di seluruh Kabupaten/Kota, namun sebagian besar terdapat di kabupaten daerah pantai.

2.3.I k l i m Faktor yang merupakan ciri umum bagi suatu daerah dataran rendah di daerah tropis adalah suhu udara yang relatif panas atau tinggi, sedangkan khusus daerah Kalimantan Barat suhu yang tinggi ini diikuti pula dengan kelembaban udara yang tinggi. Berdasarkan catatan empiris dari Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak yang meliputi Stasiun Meteorologi (SM) Supadio, SM Ketapang, SM Paloh, SM Susilo Sintang, SM Nangapinoh dan Stasiun Klimatologi Siantan, umumnya suhu udara di daerah Kalbar cukup normal namun bervariasi, yaitu rata-rata sekitar 260C sampai dengan 270C. Selama tahun 2009, temperatur udara di Kalimantan Barat maksimum mencapai 33,20C. yang terjadi di stasiun meteorology Pangsuma Putussibau pada Bulan Mei 2009. Sedangkan temperatur minimum tercatat 21,90C yang terjadi di stasiun meteorology Sintang pada Bulan Maret 2009. Pada umumnya, kecepatan angin di Kalimantan Barat dari beberapa stasiun meteorologi, sepanjang bulan di tahun 2009, secara rata-rata berkisar antara 02 s/d 06 knot/jam sedangkan maksimum tercatat sebesar 30 knot/jam terjadi di stasiun metereologi Bandara Supadio pada Bulan Desember 2009. Pada tahun 2009, rata-rata curah hujan bulanan tertinggi yang terjadi di Stasiun Metereologi Paloh adalah pada Bulan Desember mencapai 708 mm, terendah pada Bulan Februari 2009 hanya mencapai 38,4 mm. Sedangkan hasil pemantauan di Stasiun Meteorologi Paloh ternyata jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada Bulan

4

Desember sebanyak 27 hari dan terendah terjadi pada Bulan Mei sebanyak 11 hari.

yang tercatat

Hasil Pemantauan di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak menggambarkan bahwa curah Hujan tertinggi terjadi pada Bulan Oktober 2009, yang mencapai 565,2 mm, sedangkan yang terendah tercatat 101,8 mm yang terjadi pada Bulan Juni 2009. Demikian juga halnya,dengan beberapa statsiun meteorology lainnya seperti, Siantan, Bandara Susilo Sintang dan Nanga Pinoh dan Putussibau masing-masing curah hujan tertinggi mencapai 576,6 mm, 453,9 mm dan 638,6 mm dan 572,4 mm. Angka terendah masing-masing 38,4 mm, 100,4 mm, 142,8 mm serta 232,1 mm. 2.5. Wilayah Administratif dan Pemerintahan. Pada tahun 2009 berdasarkan Data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 14 (empat belas) kabupaten/kota yaitu dua belas kabupaten dan dua kota. Empat belas Kabupaten/kota ini terbagi dalam 173 kecamatan dengan 1.868 desa/kelurahan. Rincian jumlah kecamatan dan Desa/Kelurahan dapat terlihat pada Tabel 2.1. Tabel : 2.1. Jumlah Kecamatan Dan Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009

5

33 persen dari luas wilayah Kalimantan Barat hanya dihuni rata-rata 7 (tujuh) jiwa per kilometer persegi.807 Km2 atau lebih besar dari Pulau Jawa.80 km2) dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya. dihuni oleh rata-rata sekitar 4. Kota Pontianak.888 jiwa per Km2.6. dimana sekitar 2.554 juta jiwa adalah perempuan.142 juta jiwa (angka proyeksi BPS).2 Penduduk Menurut Daerah Dan Kepadatan Per Kabupaten/Kota Tahun 2009 Sumber : BPS Persebaran penduduk Kalimantan Barat tidak merata antar wilayah kabupaten/kota.319.588 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2. sedangkan Kota Pontianak yang luasnya hanya 0.181. Kabupaten Kubu Raya. Kabupaten Ketapang. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat sebesar 146. Kabupaten Kayong Utara.137. maka kepadatan penduduk Kalimantan Barat sekitar 29 Jiwa per kilometer persegi.07% (107.2. Kabupaten Bengkayang. Tabel : 2. maupun antar wilayah kawasan pantai bukan pantai atau perkotaan dan pedesaan. 6 . desa/kelurahan. Seperti daerah pesisir yang mencakup Kabupaten Sambas. Kependudukan Penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2009 diperkirakan berjumlah sekitar 4. kecamatan. dan Kota Singkawang yang dihuni oleh hampir 50 persen dari total penduduk Kalimantan Barat dengan kepadatan mencapai 37 jiwa per Km2. Kabupaten Pontianak. Sebaliknya enam kabupaten lain (bukan pantai) secara rata-rata tingkat kepadatan penduduknya relatif lebih jarang.842 km2 atau sekitar 20. Kabupaten Kapuas Hulu dengan luas wilayah 29.

9 <1 300. Gambar : 2.000 Sumber : BPS 7 .Komposisi penduduk Kalimantan Barat.49 35 .29 15 .69 55 .000 200.137.000 200.49% atau 2. Berarti rasio jenis kelamin (sex ratio) penduduk adalah sebesar 102.06 artinya dalam setiap 202 penduduk terdapat 100 penduduk perempuan dan 102 penduduk laki-laki.39 25 .319.51% atau 2.59 45 . 50.142 jiwa penduduk.19 5.131.000 0 100.000 300.588 jiwa adalah perempuan.000 100.1 Piramida Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 75+ 65 .193 jiwa adalah laki-laki dan 49. dari 4.

Perubahan tersebut harus disusun dalam tahapan yang terencana. serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. tidak sebatas pada kondisi fisikal yang prima. intelektual dan sosial. terdapat kata–kata kunci sebagai berikut : Masyarakat Kalimantan Barat Sehat 2013 yang diharapkan adalah masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat secara terus menerus mengembangkan peluang dan inovasi agar tetap eksis dan unggul dengan senantiasa mengupayakan perubahan ke arah perbaikan. melindungi diri dari ancaman penyakit. Untuk memenuhi harapan diatas. Visi Visi merupakan cara pandang jauh kedepan tentang kemana Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat akan diarahkan dan apa yang akan dicapai.1. konsisten dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil (outcomes). 8 . berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.1.B A B III PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH 3. mental. Penjelasan Makna Didalam pernyataan Visi tersebut. melainkan juga sehat rohani. Dalam mengantisipasi tantangan kedepan menuju kondisi yang diinginkan. mecegah risiko penyakit. Sehat dalam hal ini mengandung arti dalam perspektif luas.1. maka Visi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat adalah : Mewujudkan Kemandirian Masyarakat Kalimantan Barat Sehat 2013 3.

Misi ditetapkan untuk mengarahkan operasionalisasi Dinas Kesehatan sehingga terus eksis dan mengikuti perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. meningkatkan dan melindungi kesehatannya dengan pembiayaan secara mandiri. yang merupakan unit terkecil dari masyarakat.Mewujudkan Kemandirian Masyarakat Kalbar mengandung makna bahwa masyarakat Kalbar mempunyai kemampuan untuk mewujudkan kesehatannya dimana setiap penduduknya mampu memelihara. yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu. pemerintah dan swasta. Diharapkan dalam keluarga menunjukkan kemandiriannya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada anggota keluarganya dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka. Di dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Pernyataan misi merupakan hal yang sangat penting untuk mengarahkan kegiatan Dinas Kesehatan untuk lebih eksis dan dapat mengikuti efek global otonomi daerah. Misi Pernyataan Misi mengandung pernyataan yang mencerminkan pandangan organisasi tentang kemampuan dirinya. salah satu upaya kesehatan pokok adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Perilaku yang sehat dan kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu.2. masyarakat. Apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah. hanya sedikit yang dapat dicapai. Kemandirian masyarakat untuk hidup sehat juga tidak terlepas dengan keluarga. keluarga merupakan sumber informasi dalam perawatan di rumah dan pengobatan sendiri. Misi yang ditetapkan diharapkan seluruh pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan pihak-pihak yang 9 . 3.

telah mempertimbangkan tugas pokok dan fungsi. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. 10 . Dengan adanya pernyataan tujuan. serta permasalahan yang akan dihadapi/ditangani sehubungan dengan perubahan lingkungan. Membuat Masyarakat Kalimantan Barat Yang Sehat dan Mandiri Di Bidang Kesehatan serta Meningkatkan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 3. menetapkan Misi sebagai berikut : 1. misi yang telah ditetapkan memungkinkan untuk dilakukan perubahan dan penyesuaian sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan yang signifikan. baik lingkungan internal maupun eksternal. Mandiri dan Sadar Gizi Yang Ditunjang Oleh Perilaku Hidup Bersih Sehat 5. Meningkatkan Upaya Pelayanan Kesehatan. Tujuan sifatnya lebih konkrit daripada misi dan mengarah pada suatu titik terang pencapaian hasil. dalam penetapan misinya.berkepentingan (stakeholders) mengetahui peran dan program-program serta hasil yang akan diperoleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dimasa mendatang. Berkaitan dengan hal tersebut. keinginan dan harapan pelanggan dan stakeholders. Karena itu. Memantapkan Sumber Daya dan Informasi Kesehatan 3. maka akan jelas bagi organisasi mengenai arah yang akan dituju dalam rangka mempertahankan eksistensi dimasa datang. Terbinanya Keluarga Sehat. Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Yang Optimal.1. maka Dinas Kesehatan dengan memperhatikan tugas pokok dan fungsi. Tujuan dan Sasaran 3. 2.3. Tujuan Tujuan merupakan target kualitatif organisasi. Mewujudkan Aparatur Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat yang professional. sehingga pencapaian target ini dapat merupakan ukuran kinerja faktor-faktor kunci keberhasilan organisasi. Bermutu dan Terjangkau Serta Meningkatnya Upaya Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan 4.3.

Dari pencermatan lingkungan intern dan ekstern ini akan diperoleh strategi yang akan menentukan faktor-faktor kunci keberhasilan guna memberikan rambu-rambu dalam menetapkan tujuan. 2. Untuk keperluan ini dibutuhkan adanya Sistem Pengukuran Kinerja yang berlaku untuk di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. kelemahan. yang pada hakekatnya merupakan benefit atau impacts dari suatu kegiatan. Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan yang Optimal. Tujuan strategis untuk mencapai misi: “Membuat masyarakat Kalimantan Barat yang sehat dan mandiri di bidang kesehatan serta Meningkatkan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan” adalah Tercapainya pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan yang sehat dan bermutu.Untuk menetapkan tujuan. Dengan demikian. diperlukan suatu alat bantu berupa metode atau analisis yang dapat memberikan suatu rujukan teoritis dalam menggambarkan situasi dan kondisi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Suatu instansi pemerintah dalam menetapkan tujuan harus memperhatikan kriteria: 1) Cukup jelas 2) Diselaraskan dengan Visi dan Misi 3) Mempertimbangkan kekuatan. Bermutu dan Terjangkau serta Meningkatnya upaya Penanggulangan bencana bidang Kesehatan “ adalah sebagai berikut: a. tujuan merupakan penjabaran secara lebih nyata dari perumusan visi dan misi yang unik dan idealistik. Adapun tujuan strategis tersebut adalah sebagai berikut : 1. Agar dapat mengukur pencapaian tujuan pada suatu periode tertentu diperlukan adanya indikator kinerja tujuan. peluang dan ancaman instansi 4) Menggambarkan hasil yang ingin dicapai 5) Mengakomodasi issue strategis yang dihadapi 6) Mencerminkan “Core Area” dimana organisasi berperan. 3. b. Meningkatnya pelayanan kesehatan khusus yang bermutu. Tujuan Strategis untuk mencapai misi: “ Meningkatkan upaya Pelayanan Kesehatan. 11 . Meningkatnya penanggulangan bencana bidang kesehatan. Tujuan Strategis untuk mencapai misi: “Mewujudkan aparatur Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat yang profesional” adalah Terciptanya pegawai yang profesional guna memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

2. Sasaran Dinas Kesehatan selama 5 (lima) tahun periode 2008– 2013 juga disertai dengan indikator kinerja sasaran. Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Sumber Daya Kesehatan dalam rangka meningkatkan profesionalisme. menantang namun dapat dicapai. Meningkatnya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang bermutu. Meningkatnya pengembangan sumber daya pembiayaan dan jaminan kesehatan.c. Indikator kinerja sasaran merupakan ukuran keberhasilan dari suatu sasaran strategis organisasi yang bersifat kuantitatif atau kualitatif dan dijadikan patokan/tolok ukur dalam menilai keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan pemerintahan dalam mencapai visi dan misi organisasi. Sasaran harus bersifat spesifik. Sasaran Dan Indikator Kinerja Sasaran Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan secara terukur yang akan dicapai secara nyata dalam jangka waktu tahunan. 4.3. 5. serta peningkatan dukungan manajemen upaya pelayanan kesehatan. 3. Tujuan strategis untuk mencapai misi: “ Memantapkan Sumber Daya dan Informasi Kesehatan ” adalah sebagai berikut : a. orientasi pada hasil dan dapat dicapai dalam periode tertentu. mandiri dan sadar gizi yang ditunjang oleh perilaku hidup bersih sehat ” adalah Meningkatnya jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. b. Meningkatnya penanganan obat & perbekalan kesehatan yang optimal. Meningkatnya pelaksanaan pengembangan kesehatan. Sasaran merupakan bagian internal dalam proses perencanaan strategis Dinas Kesehatan. dapat dinilai. d. diukur. Berdasarkan pengertian tersebut maka Dinas Kesehatan menetapkan sasaran sebagai berikut : 12 . manajemen informasi dan c. Tujuan strategis untuk mencapai misi: “ Terbinanya Keluarga sehat.

Indeks kepuasan pegawai terhadap pelayanan administrasi ketatausahaan. Prosentase pegawai fungsional yang telah mengikuti diklat teknis fungsional sesuai dengan jenjangnya. dengan rincian indikator sebagai berikut :  Penyelesaian proses kenaikan pangkat  Penyelesaian proses gaji berkala  Penyelesaian proses Cuti PNS  Penyelesaian proses usul pensiun PNS  Penyelesaian proses usul penghargaan satya lencana a. Bidan PTT - 13 . Tingkat ketepatan penempatan pegawai sesuai dengan keahliannya/ pendidikannya. Indeks kepuasan pegawai terhadap penerapan disiplin. penganggaran. Dokter PTT b. Indeks kepuasan pegawai terhadap tingkat kesejahteraan (ekonomi) dikaitkan dengan kebutuhan minimal dilingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Dokter Gigi PTT c.Tujuan Pertama: “ Terciptanya pegawai yang profesional guna memberikan pelayanan prima kepada masyarakat ”. sarana dan prasarana yang efektif dan efisien serta memadai. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Prosentase pejabat struktural yang telah mengikuti diklatpim. Indeks kepuasan pegawai terhadap penerapan sanksi pelanggaran disiplin pegawai. dengan sasaran : 1. Prosentase pejabat struktural yang telah memenuhi syarat kompetensi jabatan. Prosentase kegiatan yang telah menyampaikan laporan hasil akhir kegiatan. Prosentase tertatanya administrasi kepegawaian. Meningkatkan pegawai yang profesional yang didukung oleh rencana kerja. Prosentase hasil pencapaian pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan rencana. Indeks kepuasan pegawai terhadap penghargaan dan prestasi kerja.

TTU yang memenuhi syarat kesehatan Rumah makan/restoran yang memenuhi Laik Hygiene Sanitasi Institusi Yang Sehat Dokumen AMDAL yang memenuhi kriteria kajian kesehatan masyarakat Tenaga sanitasi yang pernah mengikuti diklat di bidang kesling Dinkes Kab/kota yang memiliki simkesling 14 . 2. Berfungsinya sarana dan prasarana alat kantor dan rumah tangga. Tujuan Kedua : “Tercapainya pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan yang sehat dan bermututu”. Sarana air bersih memenuhi syarat kesehatan. Tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana gedung. Meningkatkan Kualitas Kesehatan Lingkungan. Dokter PTT b. Tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana mobilitas. dengan sasaran : 3. Meningkatkan ketertiban pelayanan perijinan di bidang Kesehatan sesuai dengan ketentuan. Penyelesaian proses selesai masa bakti tenaga kesehatan PTT : a. Keluarga menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Dokter Gigi PTT  Penilaian tenaga puskesmas teladan  Fasilitasi pelatihan peningkatan keterampilan & kemampuan PNS  Analisis jabatan Berfungsinya sarana dan prasarana gedung. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Tingkat kesesuaian waktu pelayanan perijinan dengan ketentuan Kontribusi PAD dari pelayanan perizinan terhadap PAD Provinsi Kalimantan Barat. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Keluarga yang menggunakan air bersih memenuhi syarat kesehatan diperkotaan dan pedesaan. Berfungsinya sarana dan prasarana mobilitas. Tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana alat kantor dan rumah tangga.

kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan penyakit tidak menular. dengan rincian indikator :  Angka Bebas Jentik (ABJ)  Penderita DBD yang ditemukan & di obati sesuai standar  Prosentase Desa/Kel yang melaksanakan PJB (Pemantauan Jentik Berkala) Penderita DSS (Dengue Shock Syndrom) yang ditemukan di RS Pusk Angka kesakitan malaria (positif) per 1. Informasi kesling yang tersedia Menurunnya angka kesakitan. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Persentase darah donor di skrining terhadap HIV/AIDS dan Sifilis Jumlah klien yang mendapatkan testing HIV lengkap Terbentuknya klinik VCT baru Jumlah orang yang mendapatkan ARV Jumlah Orang dengan profilaksis dan pengobatan ODHA sesuai standar Infeksi menular seksual (IMS) yang ditemukan dan diobati sesuai standar Menurunkan transmisi penularan HIV/AIDS di kelompok resiko tinggi Cakupan UCI desa/kelurahan Cakupan imunisasi Anak sekolah (BIAS) Cakupan imunisasi BCG Cakupan imunisasi DPT/HB1 Cakupan imunisasi polio 4 Cakupan imunisasi campak AFP rate per 100.4.000 penduduk Angka kematian malaria Penderita malaria yang ditemukan dan diobati sesuai standart Persentase penemuan penderita baru malaria klinis Persentase malaria klinis yang dilakukan pemeriksaan lab API (Annual Parasite Incident) Penemuan TB baru BTA (+) Angka kesembuhan TB baru BTA (+) Angka kematian akibat TB paru - 15 .000 penduduk < 15 tahun Jumlah Kab/kota yang melakukan SKD KLB Persentase desa/kelurahan mengalami KLB yang ditangani <24 jam Persentase calon jamaah haji mendapatkan pemeriksaan kesehatan Persentase Kab/kota melaksanakan SKD KLB pada kondisi matra Persentase Kab/kota melaksanakan pengendalian faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) Angka Kesakitan DBD (IR) Angka kematian akibat DBD.

000 penduduk Angka kesembuhan kusta (RFT rate) Cakupan penemuan penderita kusta baru Jumlah Kab/Kota yang melaksanakan kewaspadaan Pandemi Influenza Prevalensi ibu hamil yang positif malaria Prevalensi ibu hamil yang positif TB Cakupan penemuan dan tata laksana penderita Pneumonia balita Prosentase penemuan dan pengobatan pneumonia balita sesuai standart Prosentase penemuan kasus diare pada balita dan ditangani sesuai standart Angka kematian diare saat KLB Prosentase diare yang diberi oralit Prosentase penemuan kasus diare di sarkes dan kader Prevalensi kecacingan pada anak SD Prevalensi kasus kusta pada anak <15 tahun Tujuan Ketiga : “Meningkatnya pelayanan kesehatan khusus yang bermutu”. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Tingkat pemanfaatan RS : 16 . Rasio cabut dan tambal gigi pada sarana pelayanan kesehatan Pemeriksaan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar Pelayanan gangguan jiwa disarana pelayanan kesehatan umum Tempat kerja formal menerapkan kesehatan kerja Puskesmas melaksanakan upaya kesehatan kerja Puskesmas melaksanakan upaya kesehatan indera Pelayanan darah yang memenuhi standar transfusi darah Akreditasi Laboratorium Klinik Akreditasi Laboratorium Kesehatan dan Laboratorium swasta Pelayanan Spesialistik penyakit paru Puskesmas yang melaksanakan program kesehatan olahraga masyarakat Terbentuknya balai kesehatan kerja dan olah raga masyarakat Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan rujukan yang efektif dan efisien.- Cakupan pengobatan massal Filariasis Jumlah kasus klinis filariasis yang ditangani Prevalensi kusta per 10. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khusus dengan dukungan/peran serta masyarakat dan stakeholder terkait. dengan sasaran : 5. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: 6.

dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Persentase pemilihan ISO Persentase Pemilihan akreditasi Persentase Pemilihan terlaksananya kinerja pemerintah Persentase puskesmas kota yang melaksanakan program puskesmas perkotaan Persentase tenaga pelayanan kesehatan terlatih Persentase pada jangka menengah algoritma klinik Persentase pada jangka rendah perkesmas Persentase RS terakreditasi Persentase RS PONEK Persentase RS yang mempergunakan perizinan dan kesehatan RS Persentase RS yang mudah untuk pengkalibrasi alat-alat Tujuan Keenam : 9. kosmetik dan PKRT. Meningkatkan mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Meningkatnya penanggulangan bencana bidang kesehatan yang tepat dan cepat. pangan. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya: Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sesuai standar Dinkes Kab/Kota yang melakukan kegiatan pra bencana Tujuan Kelima : “Meningkatnya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang bermutu“. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Persentase pengadaan obat esensial 17 . dengan sasaran : 7.-  BOR  LOS  TOI  BTO Net Death Rate Persentase rujukan ke rumah sakit regionalnya Persentase rumah sakit yang telah terakreditasi Tujuan Keempat : “Meningkatnya penanggulangan bencana bidang kesehatan”. obat tradisional. alat kesehatan. Meningkatkan kualitas penanganan obat & perbekkes. dengan sasaran : 8.

obat tradisional.- Persentase ketersediaan obat generik Persentase penulisan resep obat generik Persentase pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelayanan kefarmasian Persentase pembinaan pada sarana gudang/instalasi farmasi Kab/kota Persentase peredaran alkes & PKRT yang memenuhi syarat Persentase upaya penyuluhan P3 NAPZA oleh tenaga kesehatan Cakupan pemeriksaan sarana produksi & distribusi produk terapeutik (obat). alat kesehatan. PKRT kosmetik. dengan sasaran : 10. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Cakupan Kunjungan ibu hamil K4 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan pelayanan nifas Cakupan neonatus dengan kompilkasi yang ditangani Cakupan kunjungan bayi Cakupan pelayanan anak balita Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Cakupan peserta aktif KB Persentase balita yang naik berat badannya (N/D) Persentase balita Bawah Garis Merah Cakupan balita mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi gizi kurang dari keluarga miskin Persentase balita gizi buruk mendapat perawatan sesuai dengan standar tata laksana gizi buruk Persentase bayi yang mendapat ASI-Eksklusif Persentase desa dengan garam beryodium baik Kecamatan bebas rawan gizi Balita gizi buruk mendapat perawatan 18 . PKRT kosmetik. pangan dll Persentase produksi & distribusi produk obat. obat tradisional. obat tradisional. serta peningkatan dukungan manajemen upaya pelayanan kesehatan”. pangan dll Persentase pembinaan sarana produksi & distribusi produk terapeutik (obat). alat kesehatan. Meningkatkan upaya kesehatan ibu dan kesehatan anak di tingkat propinsi dan kabupaten. PKRT kosmetik. pangan dll Bimbingan teknis terhadap sarana produksi Obat Asli Indonesia Tujuan Ketujuh: “ Meningkatnya jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. alat kesehatan.

menyelenggarakan kegiatan pelatihan seminar dan bentuk-bentuk kegiatan peningkatan keterampilan tenaga kesehatan. Meningkatkan jumlah dan jenis tenaga kesehatan. dengan rincian indiaktor sasaran :  Dr. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Meningkatkan Kemampuan pengelolaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Meningkatnya persentase Puskesmas yang memiliki Tenaga dokter Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki dokter spesialis Meningkatnya jumlah jenis dan kualitas sumber daya kesehatan. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat Persentase posyandu Aktif Desa siaga aktif Persentase upaya kesehatan bersumber daya masyarakat Tujuan Kedelapan: “Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Sumber Daya Kesehatan dalam rangka meningkatkan profesionalisme”. Seminar dan Kegiatan peningkatan keterampilan Meningkatkan Kemampuan pengetahuan. Umum  Dr. Menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat. terselenggaranya kegiatan-kegiatan Pelatihan. Mas  Sanitarian  Gizi  Fisioterapi  Analis Lab  Atem/rotgen  Perawat Anestesi 13. Spesialis  Dr. 19 . dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Peningkatan Jumlah dan Jenis Tenaga kesehatan.11. dengan sasaran : 12. sikap dan keterampilan pengelola. memfasilitasi kegiatan organisasi profesi dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Gigi  Perawat  Bidan  Apoteker  Asisten Apoteker  Kes.

000/pddk  Ratio perawat per 100.000/pddk  Ratio asisten apoteker per 100. akurat dan tepat waktu Tersedianya SDM yang memiliki kapasitas di Bidang IT (teknologi informasi) Optimalisasi pemanfaatan Sistem Informasi Kesehatan Meningkatkan pelaksanaan penelitian dan pengembangan kesehatan.000/pddk  Ratio dokter spesialis per 100.000/pddk  Ratio analis laboratorium per 100. sehingga memperoleh data yang berkualitas. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Tersedianya SDM yang memiliki kapasitas untuk penelitian dan pengembangan kesehatan Terlaksananya pelaksanaan penelitian dan pengembangan kesehatan Tersosialisasinya dan termanfaatkannya hasil penelitian dan pengembangan kesehatan 20 . akurat dan tepat waktu Tersedianya data yang berkualitas. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : 15.000/pddk  Ratio tenaga fisioterapi per 100.- Meningkatnya pemerataan/distribusi tenaga kesehatan. dengan rincian indiaktor sasaran :  Ratio dokter per 100.000/pddk  Ratio tenaga sanitasi per 100. dengan sasaran : 14. Meningkatkan pelaksanaan dan kesinambungan SIK.000/pddk Meningkatnya prosentase tenaga strategis pada Dacilgatas - Tujuan Kesembilan: “ Meningkatnya pelaksanaan manajemen informasi dan pengembangan kesehatan”.000/pddk  Ratio aterm & rontgen per 100.000/pddk  Ratio tenaga gizi per 100.000/pddk  Ratio apoteker per 100.000/pddk  Ratio kesehatan masyarakat per 100.000/pddk  Ratio dokter gigi per 100.000/pddk  Ratio Bidan per 100. Tersusunnya profil kesehatan yang berkualitas.000/pddk  Ratio perawat anestesi per 100.

dengan sasaran : 16. Meningkatkan pelaksanaan pengembangan sumber daya pembiayaan dan jaminan kesehatan. dengan indikator kinerja sasaran diantaranya : Tersusunnya dokumen PHA dan DHA agar dapat terlaksana penyusunan perencanaan dan penganggaran berbasis Health Account Peningkatan cakupan kepesertaan jaminan kesehatan prabayar Tercakupnya seluruh masyarakat miskin dalam jaminan kesehatan 21 .Tujuan Kesepuluh : “ Meningkatnya pengembangan sumber daya pembiayaan dan jaminan kesehatan ”.

34 per 1. dari sisi penyebabnya. yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Angka tersebut jika dibedakan antara bayi laki-laki dengan bayi perempuan.000 kelahiran hidup untuk AKB laki-laki. BPS atau data-data terkait lainnya. 4. SUSENAS. Indikator-indikator yang digunakan antara lain meliputi : 4. Jika dilihat dari kurun waktu 1994 sampai dengan tahun 2007 meskipun terlihat adanya penurunan jumlah kematian bayi.1.000 kelahiran hidup untuk AKB perempuan dan 43. keadaan perilaku masyarakat dan keadaan pelayanan kesehatan. Tahun 1997 menjadi 70 per 1. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir.1.1.000 Kelahiran Hidup. Misi Kalimantan Barat Sehat 2013. MORTALITAS 4. pada bab ini akan menyajikan gambaran tentang hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 2009 di Provinsi Kalimantan Barat. berturut-turut AKB di Kalimantan Barat mulai tahun 1994 adalah 97 per 1. Angka Kematian Bayi (AKB) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun.BAB IV PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN Mengacu kepada sistimatika dari uaraian Visi. DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT Untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat Provinsi Kalimantan Barat dipergunakan beberapa indikator berdasarkan data-data yang diperoleh dari SDKI.1.1.000 22 . Tahun 2002 menjadi 47 per 1.000 KH.1. hal ini disebabkan karena sampai saat ini instansi yang berwenang belum mengeluarkan angka yang terbaru. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kalimantan Barat untuk tahun 2009 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar dalam angka tahun 2008) masih mengacu pada AKB tahun 2005 yaitu sebesar 38. RISKESDAS. keadaan lingkungan.000 KH dan turun menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup berdasarkan SDKI Tahun 2007. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.41 per 1. Uraian pada bab ini meliputi gambaran tentang derajat kesehatan masyarakat. kematian bayi ada dua macam yaitu endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal : adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. Sedang berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).73 per 1. Secara garis besar. Dan eksogen atau kematian post neo-natal : adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. 33.000 kelahiran hidup. namun masih di atas rata-rata nasional yaitu 34 per 1.

terlihat bahwa kasus kematian bayi adalah sebesar 351 kasus dimana kelahiran hidupnya berjumlah 83. misalnya program pemberian pil besi (tablet Fe) dan suntikan anti tetanus.001 sehingga dengan demikan jika dihitung angka kematian bayinya hanya sebesar 4.2005 110 100 90 97 PERMIL 80 70 60 50 40 30 TH. Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi. Adapun target Indonesia pada tahun 2010 adalah menurunkan AKB sampai 40 per 1. Gambar 4. 2002-2003. 2007 dan Kalbar dlm Angka Th. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. 1997. Angka Kematian Bayi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 1994 s. Namun demikian jika merujuk pada data profil kesehatan kabupaten/kota yang masuk di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.d 2005 AKB PROP.000 kelahiran hidup. serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak.41 35 TH.1997 TH. KALBAR TH 1994 . 2008. 2005 Sumber : SDKI 1994.kelahiran hidup. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil. program 23 .1994 AKB KALBAR 70 57 46 47 38.2 per seribu kalahiran hidup (tabel 6).1.2002 NASIONAL 34 TH. Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung.

2007 & Laporan Indikator Data base 2005 (kerjasama BPS dengan UNFPA 2005). 1985). Gambar 4.2 Angka Kematian Ibu Prov.1.penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.07 365. Utomo.6 378.15 475.78 365. tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan.12 306. Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1. Kalbar periode 2003 -2005 T 2010 Nas 2007 Nas 2002 Kalbar KH Ktp Stg Sgu Ldk Bky Sbs Mpm Skw Ptk 150 228 307 403.03 305.1.Kalbar dalam Angka Tahun 2008 Sumber : 24 . Angka Kematian Ibu (AKI) Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007.46 409.86 359. yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya.2. 4.82 360.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pas-cakelahirannya.82 SDKI 2002-2003. terjatuh dan lain-lain (Budi. kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB).78 2 443.

15 per 100.000 Kelahiran Hidup.000 kelahiran hidup (tabel7).000 Balita pada tahun 1997. maka AKI di Kalimantan Barat sebesar 566 per 100. turun menjadi 63 per 1.000 Balita. Berdasarkan data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009. Angka Kematian Ibu adalah sebesar 403. yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi. maka kematian ibu di Kalimantan Barat masih jauh lebih tinggi.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.001. Jika dibandingkan dengan target yang akan dicapai pada tahun 2010 yaitu sebasar 58 per 1. Jika dibandingkan dengan angka nasional sebesar 307 per 100. 67 kasus kematian ibu pada saat persalinan serta sebanyak 13 kasus kematian ibu nifas. dan 228 pada tahun 2007. AKABA menggambarkan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi. serta target yang ingin dicapai pada Millenium Development Goals (MDGs).1. serta koordinasi yang lebih baik antara pemegang program maupun lintas sektor dalam upaya penurunan AKI di Kalimantan Barat. Angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata angka kematian balita secara nasional yaitu 51 per 1.2 per 1.000 kelahiran pada periode 1998 – 2002.000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya. Namun jika 25 .1. sanitasi.000 kelahiran hidup. Maka Kalimantan Barat akan sulit mencapai target tersebut. penyakit menular dan kecelakaan. Sehingga jika dihitung angka kematian ibu maternal dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 83. turun menjadi 88. Informasi mengenai tingginya Angka Kematian Ibu bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi. Sedang Jika AKI menggunakan asumsi 20% dari kematian wanita (Female Death). apalagi jika dikaitkan dengan target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010 yaitu menurunkan angka kematian ibu sampai 150 per 100. yaitu sebesar 102 per 100. terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer). maka AKABA Kalimantan Barat sudah hampir mancapai target. 4. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak berusia 0-5 tahun (59 Bulan) selama satu tahun tertentu per 1. Angka Kematian Ibu masih merujuk pada Laporan Indikator Data Base 2005.000 Balita pada tahun 2003 dan turun menjadi 59 per 1. Dengan asumsi 15% dari kematian wanita (Famale Death).000 Balita. AKABA Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan hasil SDKI berturut-turut mulai tahun 1994 adalah 93 per 1.Di Provinsi Kalimantan Barat untuk tahun 2009. maka kematian ibu maternal di provinsi Kalimantan Barat adalah sebesar 128 per 100. penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran.3. program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan. kasus kematian ibu maternal adalah sebanyak 106 kasus kematian dengan rincian sebanyak 26 kasus kematian ibu hamil. penyiapan sistim rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan.000 balita pada tahun 2007.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

maka AKABA Kalimantan Barat masih tinggi.1. 1997.3 Angka Kematian Balita Provinsi Kalimantan Barat Tahun 1994 – 2007 100 95 90 85 80 PERMIL 93 88. 2007 4. mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai.4.2007 63 63 59 Sumber : SDKI 1994.000 kelahiran hidup. Umur Harapan Hidup waktu lahir ( Eo ). Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan umur harapan hidup penduduk dari suatu negara.1997 TH.dibandingkan dengan target pada 2015 sesuai dengan MDGs yaitu sebesar 32 per 1. meskipun terjadi penurunan angka kematian balita di provinsi Kalimantan Barat dan hasil yang dicapai cukup menggembirakan.2 79 75 70 65 60 55 50 45 40 TH.1994 KALBAR TH. Gambar 4. Dengan demikian. namun masih perlu ditingkatkan kegiatan yang menunjang penurunan angka kematian Balita.2002 NASIONAL 46 44 TH.1. 2002-2003. mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori. yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas. 26 . meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan.

4. Secara berurutan kecenderungan peningkatan umur harapan hidup di Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 4. harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan dan program sosial lainnya. kecukupan gizi dan kalori serta program pemberantasan kemiskinan. angka Umur Harapan Hidup penduduk di Kalimantan Barat masih lebih rendah dibanding dengan rata-rata umur harapan hidup tingkat nasional. Sehingga jika dirata-ratakan Umur Harapan hidup di Kalimantan Barat pada tahun 2005 adalah 68. 27 .87 tahun. Untuk angka Umur Harapan Hidup tingkat nasional berdasarkan laporan pengembangan manusia tahun 2007 (HDR 2007) tercatat bahwa Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia tahun 2005 adalah 69. Dilihat dari tahun ke tahun.3 64.08 tahun untuk perempuan dan 65.4. Umur Harapan Hidup di Kalimantan Barat terjadi peningkatan.87 65 64.66 tahun untuk laki-laki. Umur Harapan Hidup tahun 2005 berdasarkan Data Kalimantan Barat dalam Angka tahun 2008 yang dikeluarkan oleh BPS yaitu 68. Dengan demikian. Umur Harapan Hidup Penduduk Kalimantan Barat Tahun 1996 s.1 64.4 66. Laporan Indikator Database 2005.4 KALBAR NASIONAL TH 2005 62. Gambar 4.d 2005 75 70 67. Angka Umur Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah.7 tahun.2 69. 2007.2 66. HDR 2007 Sumber : HDR 2001 dan HDR 2004. 2006.d 2005 Umur Harapan Hidup Penduduk Kalimantan Barat Tahun 1996 s. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.2 66.Angka Umur Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. termasuk kesehatan lingkungan. 2008.9 60 TH 1996 TH 1999 Sumbert : TH 2004 Sumber : Kalbar Dalam Angka 2007.7 66.

4. dimana penderita malaria di luar Jawa dan Bali adalah kasus dengan gejala klinis (demam tinggi disertai menggigil) dengan atau tanpa pemeriksaan sediaan darah di laboratorium. Sedang angka kesembuhan kasus yang dihitung berdasarkan kasus malaria klinis yang diobati adalah sebesar 86. I Nyoman Kandun menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara berisiko malaria. dan pada tahun 2007 sekitar 311 ribu kasus.87 per.000 penduduk. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Depkes.25 per 1. maka angka kesakitan malaria di Kalimantan Barat masih tergolong tinggi.1. persentasenya masih lebih rendah dari target yang seharus nya 100% pada tahun 2010. dr. Hal ini berati bahwa dari setiap 1. Angka kesakitan malaria berdasarkan Annual Paracite Incident (API) di Indonesia pada tahun 2009 menurun menjadi 1.1.143 juta kasus.2.6%.007 kasus Malaria Klinis dan 33. sedangkan jika dibandingkan dengan target pada Indonesia sehat 2010 sebesar 5 per 1. MORBIDITAS Angka Kesakitan (Morbiditas) pada penduduk Provinsi Kalimantan Barat didapat dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) dan hasil pengumpulan data dari Lintas Program dan dari profil kesehatan Kabupaten/ kota. Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 (tabel 11) terdapat 122. angka kesakitan malaria di Indonesia yang dilaporkan pada tahun 2009 sebesar 1.2. Pada tahun 2006 terdapat sekitar 2 juta kasus malaria klinis. 28 . 4. Terkait Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) di Jakarta dengan tema Ayo Berantas Malaria pada bulan April 2008.000 penduduk.1.89%. maka berdasarkan definisi operasional tersebut angka kesakitan malaria di Kalimantan Barat adalah 28. sedangkan tahun 2007 menjadi 1.85 % dibandingkan tahun 2007 sebesar 2.000 penduduk terdapat sekitar 28 sampai dengan 29 orang yang terjangkit penyakit Malaria. Malaria Penyakit Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.392 kasus Malaria Positif.Meningkatnya Umur Harapan Hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat serta turut berpengaruh terhadap Index Pembangunan Manusia (IPM). Pada pertemuan Koordinasi Tingkat SR dan SSR Kegiatan Intensifikasi Pengendalian Malaria Gf ATM Malaria yang diadakan 1-3 Maret 2010. Mengacu pada definisi operasional pada indikator Indonesia Sehat 2010. Dibandingkan dengan tahun 2008 terjadi kenaikan kasus dimana pada tahun 2008 angka kesakitan malaria adalah 18.75 juta kasus.1000 penduduk. Jumlah penderita positif malaria (hasil pemeriksaan mikroskop positif terdapat kuman malaria) tahun 2006 sekitar 350 ribu kasus.

2.266 penderita yang diobati. tulang. Pada tahun 2009.638 kasus AIDS baru.Tingginya angka kesakitan dan kematian malaria disebabkan berbagai faktor diantaranya adalah perubahan lingkungan.go. “Penyebab meningkatnya HIV dan AIDS lebih banyak dikarenakan adanya heteroseksual atau bergonta-ganti pasangan. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. 2009).969 kasus baru pada 2008. Jika melihat hasil yang dicapai. masing-masing sebesar 89 dan 66 kasus. di Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota. meskipun berbagai upaya pencegahan terus dilakukan.id) 4.000 penduduk.pppl.1.” Jumlah kasus baru AIDS di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. jarum suntik atau IDU. kasus HIV/AIDS tertinggi ada di Kota Pontianak. Pada keadaan yang terakhir ini.668 kasus. TB Paru Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.873 kasus. dan selaput otak. Berdasarkan Hasil rekapitulasi profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009 tercatat TB Paru dengan BTA Positif (+) sebanyak 3. 4. Selain itu. Menurutnya. Secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS di Indonesia dari tanggal 1 Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6. (tabel 9). dengan rincian dari 4.3. maka angka kesembuhan penderita TB Paru BTA + di Kalimantan Barat sudah mencapai target Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu sebesar 85%.2. tahun 2006 jumlahnya bertambah menjadi 2. dengan angka kematian 3.07.632 kasus. TBC juga ditularkan melalui susu. Bila pada 2005 hanya ada 2.1. yaitu sebesar 278 kasus. diikuti oleh Kabupaten Pontianak dan Kota Singkawang. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Pada sedikit kasus. Distribusi kasus HIV/AIDS tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 4. kelenjar limfe.629 penderita dinyatakan sembuh.2.52 per 100.996 kasus dengan angka kesakitan 92. bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis.depkes. TBC dapat juga menyerang kulit.5. HIV/AIDS Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukan kenaikan. 29 . naik lagi menjadi 2. sebanyak 3. sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 23. Persentase kesembuhan penderita TB Paru dengan BTA positif di Kalimantan Barat adalah sebesar 85. AIDS 16. dan ibu yang sedang hamil yang mengidap HIV dan AIDS yang mengakibatkan terjadinya penularan terhadap bayi yang dikandungnya. vektor penular.974 pada 2007 dan menjadi sebanyak 4.492 jiwa (Komala Sari. homoseksual. resistensi obat dan pelayanan kesehatan (http://www.964 kasus. sosial budaya masyarakat.

Kecenderungan kasus HIV/AIDS di Kalimantan Barat dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4.6. Pengguna Narkoba dll). untuk wilayah Provinsi Kalimantan Barat.265 orang dengan HIV/AIDS atau sekitar 0. Distribusi Kasus HIV/AIDS Provinsi Kalimantan Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 300 278 250 200 150 89 100 66 50 35 13 0 26 23 30 24 1 KH 0 0 0 KT SKW PTK 0 SBS BKY LDK MPW SGU KTP STG SKD MLW KUT KKR Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009. hal ini disebabkan karena yang terlihat hanya di permukaan saja (yang dilaporkan). sejak tahun 1993 sampai dengan bulan Desember tahun 2009 tercatat sebanyak 2. berikut. sedang yang tidak terlihat (terlapor) kemungkinan akan jauh lebih besar dari angka yang ada. Supir Truk. Namun demikian. sedang pada kenyataannya kemungkinan kasus yang ada akan lebih besar dari angka yang ada.Gambar 4. angka tersebut hanya angka yang di dapat dari yang melaporkan saja. Berdasarkan laporan Bidang Bina Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit. 30 .05% prevalensi penderita HIV/AIDS dengan penduduk berisiko adalah seluruh jumlah penduduk dikarenakan sulitnya untuk mendata penduduk yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS (PSK.5.

Infeksi HIV sebagian besar (lebih dari 80%) diderita oleh kelompok usia produktif (15-49 tahun) terutama laki-laki.4.d Tahun 2009.000 500 611 198 TH 2005 TH 2006 TH 2007 TH 2008 TH 2009 - Sumber : Laporan Bidang P2PL Dinkes Prov.Gambar 4. Kalbar Menurut Sasongko.2. Kecenderungan kasus HIV/AIDS di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005 s. 90% terjadi dari ibu yang mengidap HIV.000 1682 Jumlah Kasus 1. selama proses persalinan dan melalui pemberian ASI. 3-5% melalui transfusi darah yang tercemar. Sekitar 25-35% bayi yang dilahirkan oleh Ibu pengidap HIV akan menjadi pengidap HIV.1. Acute Flaccid Paralysis (AFP) Kejadian AFP diproyeksikan sebagai indikator untuk menilai keberhasilan program Eradikasi Polio (Erapo). tetapi proporsi penderita wanita cenderung meningkat.6.500 1293 1.500 2265 2. Infeksi pada bayi dan anak. 2. 4. Sejumlah 75-85% penularan terjadi melalui hubungan seks (5-10% diantaranya melalui hubungan homoseksual). melalui infeksi yang terjadi selama dalam kandungan. Dengan pengobatan antiretroviral pada ibu hamil trimester terakhir. 5-10% akibat alat suntik yang tercemar (terutama pada pemakai narkotika suntik). Upaya pemantauan terhadap keberhasilan Erapo yaitu dengan melaksanakan kegiatan ” Surveilans Secara Aktif ” untuk menemukan kasus AFP sebagai upaya untuk mendeteksi secara dini munculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat untuk segera dilakukan penanggulangannya. risiko penularan dapat dikurangi menjadi hanya 8%. 31 .

Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak.000 penduduk. terjadi peningkatan kasus DBD yang cukup signifikan yaitu menjadi sebesar 9. berdasarkan hasil rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009 (tabel 9) terdapat 23 kasus AFP atau sebesar 1.11 per 100. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia kecuali di ketinggian lebih 1. angka AFP Kalimantan Barat masih diatas angka AFP yang ditargetkan pada tahun 2010 yaitu sebasar 0. budaya masyarakat perkotaan di Kalimantan Barat cenderung menyimpan persediaan air pada tempat-tempat penampungan air di sekitar rumahnya. hal ini disebabkan karena letak geografis Kalimantan Barat yang sebagian besar merupakan dataran rendah dan merupakan daerah rawa. tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita Demam Berdarah Dengue pada orang dewasa (Faziah. dimana pada tahun tersebut jumlah kasus AFP di Kalimantan Barat sebesar 23 kasus atau 2.Tahun 2009. Dibandingkan dengan tahun 2008 terjadi penurunan kasus.9 per 100. Provinsi Kalimantan Barat merupakan daerah endemik untuk penyakit DBD. DBD Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manivestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari.000 penduduk berisiko. Dilihat dari kasus AFP. Di samping itu. berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota.000 anak usia < 15 tahun. Hal ini akan menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti yang paling disukai. Di Provinsi Kalimantan Barat dalam tiga tahun terakhir berturut-turut dari tahun 2007 terjadi kenaikan kasus DBD adalah sebagai berikut : Pada tahun 2007 terjadi 808 kasus DBD dengan angka kesakitan 20.000 penduduk berisiko (usia < 15 Tahun).5.7.2.000 penduduk dan pada tahun 2009. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan kasus menjadi 960 kasus dengan angka kesakitan sebesar 22.000 penduduk (tabel 10).710 kasus DBD dengan angka kesakitan sebesar 225 per 100. 32 .1. 2004).87 per 100.59 per 100.24 per 100. Penyakit DBD ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan mungkin juga Aedes Albopictus. Kecenderungan kasus DBD dari tahun ke tahun dapat dilihat pada gambar 4. 4. Penyakit DBD dapat menyerang semua golongan umur.000 meter diatas permukaan laut.

000 2. 4. Gizi buruk adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi. Kecenderungan DBD di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005 s.000 1.000 8.000 6. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. STATUS GIZI Status gizi masyarakat dapat diukur malalui beberapa indikator. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.Gambar 4.3. Anak balita sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umurnya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan.000 4. Gizi buruk 33 . status gizi merupakan salah satu indikator yang menggambarkan derajat kesehatan masyarakat.753 960 808 TH 2005 TH 2006 TH 2007 TH 2008 TH 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 4.1.1. Status Gizi balita. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar. status gizi wanita usia subur Kurang Energi Konis(KEK).710 10. kesehatan dan kedokteran. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. diantaranya adalah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).3.000 9. anak disebut gizi baik.7.d Tahun 2009 12. Di dalam Indikator Indonesia Sehat 2010.210 2.1. Gizi Buruk Status Gizi merupakan suatu indikator yang sangat penting untuk menilai status indikator derajat Kesehatan Masyarakat.

masih bermain dan sebagainya.88% (tabel 16). sehingga mengakibatkan kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan. Tanda-tanda klinis pada ”Busung Lapar” pada umumnya sama dengan tanda-tanda pada marasmus dan kwashiorkor. Kasus Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 463 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 146 153 57 137 79 83 7 6 62 20 36 43 17 LDK STG SBS MLW Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 Berdasarkan hasil rekapitulasi kasus gizi buruk yang terdapat dalam profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009. pengertian di masyarakat tentang ”Busung Lapar” adalah tidak tepat. Sebutan ”Busung Lapar” yang sebenarnya adalah keadaan yang terjadi akibat kekurangan pangan dalam kurun waktu tertentu pada satu wilayah. Sedang kasus yang terendah adalah di Kayong Utara yaitu sebanyak 6 kasus (0.118. 34 KT PTK MPW SKW SGU BKY SKD KTP KUT KKR KH .04%) dari seluruh balita yang ditimbang yaitu sebanyak 15. terlihat bahwa kasus gizi buruk terbanyak di Kabupaten Sintang yaitu sebanyak 463 kasus (2. Sementara itu.8%) dari seluruh balita yang ditimbang yaitu sebanyak 16. tetapi bila diamati dengan seksama badannya mulai kurus.218. Gambar 4.309 kasus gizi buruk dari 207.4% yang mendapatkan perawatan sesuai prosedur tatalaksana gizi buruk. yang pada akhirnya berdampak pada kondisi status gizi menjadi kurang atau buruk dan keadaan ini terjadi pada semua golongan umur.yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau kwashiorkor. Dia seperti anak-anak lain. Dari seluruh balita gizi buruk yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.8. baru sekitar 63. terdapat sebanyak 1.8. Anak kurang gizi pada tingkat ringan dan atau sedang tidak selalu diikuti dengan gejala sakit. Pada gambar 4.741 yang ditimbang atau sekitar 0.

87 19.d Tahun 2009 25 19.09 0 TH 2005 TH 2006 Gizi Buruk TH 2007 TH 2008 KEP Total TH 2009 Sumber : Laporan Program Gizi Dinkes Prov. yaitu sebesar 15% untuk KEP Total.56 20 15.13 3. Namun untuk tahun 2009 terlihat adanya peningkatan kasus.8 terlihat dari tahun 2005 sampai tahun 2008.82 20.2.500 gram. dilaporkan kasus persentase Balita dengan Kriteria KEP Nyata (Gizi Buruk) sebesar 3.51 2. Pada gambar 4. Gambar 4.09%.9. Jika dibandingkan dengan target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010.79%. infeksi. tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya. dan Balita dengan kriteria KEP Total (Gizi Buruk + Gizi Kurang) Total sebesar 20. ada kecenderungan penurunan persentase kasus Gizi Buruk maupun KEP Total.06 10 2.04 1.3.Berdasarkan laporan Program Gizi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009. artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu). Kecenderungan kasus Gizi Buruk maupun KEP Total di Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 4. pencapaian di Kalimantan Barat masih belum mencapai target nasional. yaitu tidak mencapai 2. Kalbar Th 2009 4.1. Persentase Kasus KEP Nyata (Gizi Buruk ) dan KEP Total Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005 s.64 15 12. hipertensi dan 35 .9.79 5 2. "Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas.

keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.0 10.3. berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kota terdapat 2.0 90.0 50.5 100. Di Provinsi Kalimantan Barat.4 23.2 40.0 20.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan nenonatal.41% bayi BBLR.5 66.0 66.4 0.0 29. Barker dkk dalam Hardiansyah dkk (2000) mengungkapkan bahwa BBLR mempunyai dampak yang kompleks sampai usia dewasa antara lain meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner." (Pringgardani. Sementara bayi BBLR yang ditangani adalah 94.1.0 80.1 21.0 70.0 40. Dengan semakin tingginya angka kecamatan bebas rawan gizi disuatu Kabupaten/Kota.3.0 30.7 65. Berat Badan Lahir Rendah (< 2.10.0 100. maka kemungkingan akan terjadi kasus gizi buruk di wilayah tersebut akan semakin kecil. diabetes mellitus. Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi Menurut Kabupatan/Kota Tahun 2009 100.0 0.09%. 4.0 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 36 .2 45.0 60. Kecamatan Bebas Rawan Gizi Kecamatan yang bebas rawan gizi disuatu wilayah dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi kapan akan terjadi kasus gizi buruk atau KLB gizi buruk di suatu wilayah. gangguan metabolik dan kekebalan tubuh serta katahanan fisik yang resultantenya adalah beban ekonomi individu dan masyarakat. SpA).7 54. Gambar 4.0 89.

dan 41.2% merupakan kecamatan bebas rawan gizi. 4. Jamban sehat. pembuangan air limbah dan kepemilikan jamban.2. Akses air bersih. 2005).6% yang memiliki jamban dengan kriteria sehat.337 Rumah Tangga yang diperiksa.1. Rumah Sehat Rumah sehat dinilai dengan menggunakan indikator komposit 8 – 10 indikator tunggal PHBS yaitu : Pertolongan Persalinan nakes. Persentase ini masih jauh lebih rendah dari target yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menjangkau Indonesia sehat 2010 yaitu sebesar 100%.293 (63.2. Laporan SDKI 2002-2003 menyatakan bahwa rumah tangga yang mempunyai jamban sendiri hanya sebesar 86% di daerah perkotaan dan 52% di daerah pedesaan.2.2. tempat-tempat umum sehat. sehingga perlu diwaspadai untuk terjadinya KLB kasus gizi kurang maupun gizi buruk (Gambar 4. Tidak merokok.580 rumah tangga diantaranya merupakan rumah tangga sehat (52. JPK dan Luas hunian > 9 m2 per orang (Depkes RI. Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 (Tabel 47). Di Kalimantan Barat pada tahun 2009 berdasarkan hasil rekapitulasi data profil kesehatan Kabupaten/Kota. seluruh Kecamatan di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Kayong Utara merupakan kecamatan bebas rawan gizi (kecamatan bebas rawan gizinya 100%). serta sarana sanitasi dasar seperti air bersih.10) Di Provinsi Kalimantan Barat jika dilihat dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada. Konsumsi sayur dan Buah. 174.06%). 4.228 rumah tangga yang diperiksa. lebih mudah terkena penyakit seperti disentri. Suatu rumah tangga dikatakan sehat jika memenuhi semua indkator PHBS (8-10 indikator). didapatkan dari 335. 4. Jamban Keluarga Rumah tangga yang tidak menggunakan/mempunyai jamban yang baik. diare dan tipus. ASI eksklusif. sebesar 54. Jika dibandingkan dengan tahun 2008 dimana rumah tangga sehat yang terlaporkan sebesar 47.Dari sebelas Kabupaten/Kota yang melaporkan. lantai rumah bukan tanah. maka terjadi peningkatan rumah sehat di Kalimantan Barat tahun 2009. berikut ini disajikan indikator-indikator persentase rumah sehat.9%) rumah tangga yang memiliki Jamban.96%. dari 443. 37 . ada sebesar 283. Aktif secara fisik. KEADAAN LINGKUNGAN Untuk menggambarkan keadaan lingkungan di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sekadau merupakan kabupaten yang tidak memiliki kecamatan bebas rawan gizi (0%).

sebesar 5.15%) diantaranya merupakan tempat-tempat umum yang telah dinyatakan sehat. sebagian besar rumah tangga di Provinsi Kalimantan Barat masih didominasi dengan keluarga yang memanfaatkan air hujan maupun ledeng sebagai sumber air minumnya. Gambar 4.0 23.5 18.11. Akses Air Minum Pada gambar 4.3 LEDENG SPT SGL PAH KEMASAN LAINNYA Sumber : profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 38 . 4. sumur gali. Dari data yang ada. tempat pembuangan sampah. pasar dan lain-lain.515 keluarga yang diperiksa.5%. Tempat-Tempat Umum Sehat Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan suatu sarana yang dikunjungi oleh banyak orang sehingga dikhawatirkan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit.497 (64.3.2. dari keseluruhan tempat-tempat umum yang diperiksa sebanyak 6. ventilasi yang baik serta luas yang sesuai dengan banyaknya pengunjung. Pada tahun 2009 dari 375. 23% diantaranya memanfaatkan air ledeng. sarana pembuangan limbah. restoran.4% sumur galian dan yang paling kecil adalah keluarga yang menggunakan air kemasan yaitu sebesar 0.2. Adapun TUPM yang dapat dikategorikan sehat adalah TUPM yang memiliki sarana air bersih. ledeng. 16.4. Persentase penggunaan Air Bersih Menurut Kabupatan/Kota Tahun 2009 0. sumur pompa dan penampungan air hujan. Yang termasuk TUPM antara lain adalah hotel.4.11.971 tempat-tempat umum. Sebesar 41.4 41. di Kalimantan Barat berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan Kabupaten/Kota.0 0. terlihat bahwaa sumber air minum yang digunakan di rumah tangga dibedakan menurut air kemasan.8 16.3% menggunakan air hujan. Pada Tahun 2009.

Perilaku dianggap penting karena ketiga faktor lain seperti lingkungan. banyak penyakit yang muncul pada saat ini disebabkan karena perilaku yang tidak sehat. Dari hasil rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009 pada Tabel 45. Namun jika dibandingkan dengan terget Indonesia Sehat yang diharapkan dicapai pada tahun 2010 yaitu sebesar 80%. dimana dengan adanya interupsi air laut ke Sungai Kapuas. Hal ini disebabkan oleh karena wilayah Kalimantan Barat meskipun banyak sumber air.71%) merupakan Rumah Tangga ber Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). sebesar 44. salah satu faktor yang berperan penting dalam menentukan derajat kesehatan adalah perilaku.19%. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga Berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan salah satu pilar Indonesia dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal. Pemberdayaan perorangan mempunyai target minimal mempraktekan perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) yang diteladani oleh keluarga dan masyarakat sekitar dan target maksimal berperan aktif sebagai kader kesehatan dalam menggerakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. masih belum dapat dipastikan apakah masyarakat telah mengkonsumsi air yang memenuhi standar kesehatan.Apabila ditinjau dari segi kepemilikan sarana.211 (44. maka seluruh masyarakat yang ada di Provinsi Kalimantan Barat dapat dikatakan telah memiliki sarana air bersih yang memadai. 4. 4. Persentase PHBS tahun 2009 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan persentase PHBS pada tahun 2008 sebesar 40. Perubahan perilaku tidak mudah untuk dilakukan akan tetapi mutlak diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. kelompok. sehingga air bersih yang didistribusikan ke masayarakat oleh PDAM pun menjadi payau. Hal tersebut kemungkinan pula berdampak terhadap derajat kesehatan masayarakat. Hal lainnya adalah masih banyaknya masyarakat memanfaatkan air hujan sebagi sumber air bersih. apalagi jika musim kemarau tiba. kualitas pelayanan kesehatan maupun genetika kesemuanya masih dapat dipengaruhi oleh perilaku. advokasi dan pengawasan sosial oleh perorangan. PERILAKU MASYARAKAT Menurut teori Blum.1.3. maka angka Kalimantan Barat masih tertinggal cukup besar. 39 .3. menunjukan bahwa di Kalimantan Barat dari 98. oleh karenanya perlu diuji kelayakan kualitas airnya untuk dikonsumsi. dan masyarakat dibidang kesehatan secara efesien dan efektif guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Akan tetapi dari segi kualitas air. Tujuan dari pemberdayaan masyarakat adalah terselenggaranya upaya pelayanan. menyebabkan air menjadi asin. Selain itu.877 rumah tangga yang dipantau. Diantara salah satu sub sistem dalam SKN adalah sub sistem pemberdayaan masyarakat. tetapi sumber air tersebut belum dapat diolah maksimal sebagai air bersih.

1 39.1%.8 2.0 35.0 40.0 44.3 14.12. Pada tabel 46 lampiran Profil Kesehatan.5 10.2 30.12.4 5.5 30. terlihat bahwa pencapaian Kalimantan Barat untuk peningkatan posyandu aktif pada 40 . Pada tahun 2009.2.8%.4 17. Posyandu Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat telah lama dilakukan dalam bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM).4 17.0 20.6 10. Kabupaten Sambas merupakan satu-satunya kabupaten yang pencapaian posyandu aktifnya sudah melebihi target nasional yaitu sebesar 44.0 0.0 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 Target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010 untuk Posyandu aktif (Purnama + mandiri) adalah sebesar 40%.3.0 5. Persentase Posyandu Aktif (Purnama + Mandiri ) Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 45. sebagian besar Posyandu di Kabupaten/Kota masih dibawah target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010 yaitu sebesar 45%.0 12.12. Pencapaian persentase posyandu aktif di tingkat kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 4.0 25.2 2.0 27. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang telah lama di kembangkan untuk menjangkau pelayanan kesehatan bagi masyarakat.4. Pada Gambar 4. Gambar 4. sedangkan kabupaten yang paling rendah persentase posyandu aktifnya adalah Kabupaten Kubu Raya dimana Posyandu aktifnya baru berkisar 2% disusul dengan Kabupaten Kayong Utara sebesar 2.0 20.0 15.0 9.2 20.

0 5.1. terjadi penurunan tingkat pencapaian Posyandu aktif di Provinsi Kalimantan Barat. tahun 2008 baru berkisar 22.4.0%.13.0 20. berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat telah dilakukan.0 20. menggambarkan besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama/ kontak pertama 41 .0 25. Kecenderungan persentase posyandu aktif di Provinsi Kalimantan Barat terlihat pada gambar 4.45 15.45.2 25.pada tahun 2009 sebesar 20. Gambar 4.13 Persentase Posyandu Aktif Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2007 s. Pelayanan Antenatal (K1-K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter. Dibawah ini diuraikan beberapa hal mengenai upaya pelayanan kesehatan pada Tahun 2009.0 TH 2007 TH 2008 TH 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaaten/Kota Tahun 2009 4.0 10.0 0.25%. PELAYANAN KESEHATAN Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini berarti dalam kurun tiga tahun terkahir.d Tahun 2009 30. bidan maupun perawat) kepada ibu hamil dimasa kehamilannya dengan mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Cakupan K1 atau disebut juga akses pelayanan ibu hamil. Hasil kegiatan antenatal dapat dilihat berdasarkan cakupan pelayanan K1 dan K4.0 22. 4. dan pada tahun 2007 sebesar 25.4.

2009 K1 k4 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 Pda gambar 4.dengan tenaga kesehatan/ fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.22% dari tahun 2008.43% 82.. Berturut-turt kesenjangan K1 dan K4 mulai tahun 2005 adalah sebagai berikut : Pada tahun 2005 kesenjangannya 42 . 2008 TH.00% 74. jika dibandingkan dengan target cakupan K4 berdasarkan Permenkes RI Nomor 741 Tahun 2008 tentang SPM Bidang Kesehatan adalah sebesar 95%.14 terlihat bahwa dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun selalu terjadi kesenjangan cakupan K1 dan K4. Namu demikian. Gambar 4. Persentase K4 Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2009 berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota adalah 82. 2007 TH.11% 87.14. Kalbar Tahun 2005 s. Kecenderungan pencapaian cakupan K1 dan K4 di Provinsi Kalimantan Barat dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 4. 2005 TH.82% 87. 2006 TH.65%.65% 88. satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga.00% 86. cakupan K4 di Kalimantan Barat masih lebih rendah. Indikator akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.19% 90. Sedangkan cakupan K4 adalah besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar minimal empat kali kunjungan selama masa kehamilannya dengan distribusi satu kali pada trimester pertama.14.65% 82. Indikator ini berfungsi untuk menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah dan untuk menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan program KIA.00% TH.84% 90.00% 83. terjadi kenaikan cakupan sebesar 1.00% 76. Cakupan K-1 dan K-4 Prov.49% 82.d 2009 92.00% 89.00% 80.00% 88.00% 84.24% 81.00% 79.84% 78.

Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan.00% 74.00% 60.00% 69.72% 75. 4. Dengan indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan sekaligus menggambarkan kemampuan manajemen program KIA dalam menangani persalinan secara profesional.27%.39%.2.2007 TH. Dikemudian hari perlu tetap dilakukan upaya yang lebih optimal agar kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dengan K4 menjadi semakin kecil yang berarti bahwa perlindungan terhadap ibu hamil semakin meningkat. Adapun definsi Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah Ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.24% 66.4.2006 TH. meningkat pada tahun 2007 menjadi 5. hal ini dapat disebabkan persalinan yang tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai potensi kebidanan. Pertolongan Persalinan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu dari enam indikator pemantauan program KIA.00% 62.2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 43 . Hal ini berarti meskipun kecil.95%.00% 68.00% 72.00% TH.61% 74. meningkat kembali pada tahun 2008 menjadi 8.45% 70. ditahun 2009 telah menunjukan adanya peningkatan perlindungan terhadap ibu hamil dibadingkaan dengan tahun sebelumnya.16% pada tahun 2006. Kalbar Tahun 2006 s.15. Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Prov.2008 TH.19.d Tahun 2009 76.00% 64.00% 73. menurun menjadi 4.adalah 7. kemudian pada tahun 2009 terjadi penurunan selisih K1 dengan K4 menjadi 8. Gambar 4.

41 66.45%. Gambar 4. tahun 2007 meningkat menjadi 73. dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan. Kunjungan Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter. Pada tahun 2006. bidan. sehingga target 2010 dapat tercapai. Tetapi pada tahun 2009.79 69.39 10. maka pencapaian cakupan pertologan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kalimantan Barat masih dibawah target dan perlu diupayakan untuk meningkatkan cakupan di tahun 2009. yaitu sebesar 90%.24%.4. Hal ini berarti masih sekitar 24.42 51.33 20.73 58.00 50.76 75.00 - Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 44 .09 97.00 80.00 90. cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun menjadi 75.3. jika dibandingkan dengan target pada tahun 2010 dan SPM Bidang kesehatan.61%. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan. 4. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 69.15 terlihat bahwa cakupan pertolongan persalinan di Provinsi Kalimantan Barat dari 2006 sampai tahun 2008 mengalami kenaikan namun untuk tahun 2009 kembali terjadi penurunan cakupan.00 60. kiranya masih bisa ditekan kasus kematian ibu bersalin jika cakupaan persalinan oleh tenaga kesehatan ditingkatkan.72% dan pada tahun 2008 meningkat kembali menjadi 75.61 70.18 78.55% persalinan ditolong oleh tenaga yang bukan kesehatan. Berdasarkan hal tersebut.00 30.04 76.16 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 100.80 44.00 75.00 93.00 40.09 77. paling sedikit 4 kali disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.72 48.00 20.Pada gambar 4.02 83.

sedangkan sisanya masih dibawah target SPM. ditetapkan target Cakupan Kunjungan Bayi pada tahun 2010 adalah sebesar 90%.0 0.64%).374 (69.13%) dan peserta KB Baru sebesar 126.16 terlihat dari 14 Kabupaten Kota yang ada di Kalimantan Barat baru Kota Pontianak dan Kabupaten Sanggau yang angka cakupan Kunjungan Bayi telah mencapai target SPM. menunjukan bahwa pada tahun 2009 di Kalimantan Barat.6 1.437 dengan jumlah peserta KB aktif sebesar 497.09 47.4%. penggunaan suntik sebagai alat untuk menunda kehamilan paling banyak dipilih oleh Pasangan usia Subur (PUS) yaitu sebanyak 47.4 5.4. 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang standar pelayanan kesehatan Bidang Kesehatan. Pelayanan KB Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) berdasarkan data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009 (tabel 19) sebesar 719.37 3. Adapun untuk penggunaan alat kontrasepsi oleh peserta KB aktif secara rinci ditunjukan pada Gambar 4.16.2 3.76%. 4. angka cakupan kunjungan bayi sebesar 69.892 (17. Bahkan untuk Kabupaten Sintang masih jauh dari target yang ditetapkan. Gambar 4. berarti masih kurang sekitar 30. kemudian diikuti oleh penggunaan pil sebanyak 39. Persentase Penggunaan Alat Kontrasepsi Peserta KB Aktif Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 39. Pada gambar 4.Berdasarkan Permenkes No.4 IUD PIL MOP/ MOW KONDOM IMP LANT LAINNYA SUN TIK Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 Gambar 4.2%.4.24% dari target SPM.17.17. Untuk Kalimantan Barat rekapitulasi dari Kabupaten/Kota. Sedang penggunaan MOP/MOW merupakan alat kontrasepsi 45 .

Kalbar Tahun 2005 s.50% 10.90% 7. sedangkan persentase pencapaian desa/kelurahan UCI terendah adalah Kota Pontianak yaitu sebesar 20.30% 7.87%.08% TH. Provinsi Kalimantan Barat telah mencapai desa/kelurahan UCI sebasar 61.d Tahun 2009 120.10% 92.00% 20. Cakupan Imunisasi DPT-1 dan Campak Prov.29% 84.00% 0.yang paling sedikit diminati oleh PUS untuk menunda kehamilannya yaitu sebesar 1.2006 89.2009 93.78%. Kabupaten dengan persentase pencapaian desa/kelurahan UCI terbesar adalah Kabupaten Sambas yang mencapai 85.2007 86.2008 91. Pada tabel 22 lampiran Profil Kesehatan tahun 2009.4%.4.18.2005 DPT1 + HB1 CAMPAK DO 96. Pelayanan Imunisasi Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap dengan ditunjukan pada cakupan imunisasi campak.60% 86.10% TH.00% 100. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu (desa).50% 8.00% 40.00% 60.30% 7.05% TH.00% TH. 4. Gambar 4.80% Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 46 .00% 80. hal ini berarti dalam wilayah tersebut dapat diprediksi tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.5.69%.18% TH.90% 91.20% 77.

66 100.9% (Tabel 24 lampiran profil kesehatan ). 4.23 38.34 63.Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG. Sedang imuniasi campak pada tahun 2008 sebesar 84.90 104. Pada tahun 2008. Berdasarkan pengolahan data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009.32 73.29% dan tahun 2009 sebesar 93. cakupan imunisasi DPT + HB1 sebesar 91. Hepatitis B dan Imunisasi Campak yang dilakukan melalui pelayanan rutin Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan dasar lainnya.80 36.02 63. Gambar 4. DPT..6.69 98. Cakupan Balita Mendapatkan Vitamin A 2 kali/Th Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 72. Dari tabel tersebut juga terlihat masih adanya droup out (DO) sebesar 7.80% pada tahun 2009.90 83.90% dan tahun 2009 sebesar 86.63 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 47 . menunjukan bahwa cakupan imunisasi DPT + HB1 maupun campak mengalami peningkatan dari tahun 2008. Pemberian Kapsul Vit A Hasil pengolahan data dari profil kesehatan kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2008 menunjukan bahwa cakupan pemberian kapsul vitamin A 2 kali pada balita sebesar 72.60%.19.20 83.4.30%.42 68.00 108.00 72.32 70. Polio. Target pencapaian untuk Tahun 2010 sebesar 90%.

4.8 75. maka cakupan pemberian tablet Fe3 Provinsi Kalimantan Barat masih lebih rendah sekitar 4. Gambar 4.00 72.8 75.4.00 70.00 77. Cakupan Pemberian Tablet Fe3 Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 80.6.00 55.68 72.00 60. Gambar 4.20.00 50. Jika dibandingkan dengan target yang akan dicapai pada tahun 2010 berdasarkan Indikator Indonesia Sehat 2010 sebesar 80%.4% dari target yang akan dicapai.20 menunjukan bahwa pencapaian cakupan pemberian tablet Fe3 di Provinsi Kalimantana Barat pada tahun 2009 adalah 75.00 TH 2006 TH 2007 TH 2008 TH 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 48 . Pemberian Tablet Besi Cakupan pemberian tablet Fe pada bumil dalam empat tahun terakhir cenderung terjaadi peningkatan.7.6 65.

faktor penggerak utamanya adalah sumber daya manusia. Tenaga Kesehatan Dalam pembangunan kesehatan. SARANA KESEHATAN 5. SDM kesehatan yang berkualitas menentukan keberhasilan dari seluruh proses pembangunan tersebut. 5.1.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokan dalam sajian data dan informasi mengenai sarana kesehatan dan tenaga kesehatan serta alokasi anggaran kesehatan. Distribusi Jumlah Tenaga Kesehatan dan Ratio Tenaga Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 49 .1. Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan pengadaan tenaga serta pengelolaan pegawai. Kesulitan memperoleh data ketenagaan yang mutakhir disebabkan antara lain oleh sifat dari data ketenagaan yang selalu berubah dengan cepat dan terus menerus dari waktu ke waktu. Tabel 5.1.1.

994 penduduk. maka kebutuhan dokter spesialis di Kalimantan Barat sesuai stándar adalah 259 dokter spesialis.2. 5.2.1. 1 orang dokter spesialis menangani 29.142.667 penduduk. Sarana Pelayanan Kesehatan Selain ketersediaan tenaga kesehatan dalam jumlah dan kualifikasi yang cukup. diperlukan juga dukungan sarana dan prasarana yang memadai agar pelaksanaan pembangunan kesehatan dapat berjalan dengan baik. Dari Tabel 5. maka ada kekurangan ratio Dokter spesialis per 100. Distribusi Sarana Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 50 .Pada tahun 2009 jumlah tenaga kesehatan di seluruh Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat adalah 9.000 penduduk. atau dengan perbandingan 6 dokter spesialis menangani 100. diharapkan 1 orang dokter spesialis menangani sekitar 16.727 orang dengan ratio tenaga kesehatan untuk masyarakat per 100. sedang menurut standar pada tahun 2010. sehingga kekuranganya adalah 115 dokter spesialis.319. dapat dijelaskan bahwa untuk dokter spesialis.000 penduduk adalah 444 orang tenaga kesehatan. Tabel 5. Karena pada tahun 2009 jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 4.000 penduduk.1. Sehingga Dilihat dari ratio yang dicapai.1. Adapun rincian ratio tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk dan standar ratio tenaga kesehatan sesuai target pada Indikator Indonesia sehat 2010 dapat dilihat pada Tabel 5. atau 1 orang tenaga kesehatan melayani 225 penduduk.

Tabel 5. 34 Rumah sakit dan 4. disusul dengan Kabupaten Kubu Raya dimana ratio Puskesmas terhadap Kecamatan sebesar 1. dengan jangkauan pelayanan per Puskesmas rata-rata melayani 18.8.2 terlihat bahwa jika dibandingan dengan jumlah kecamatan maka rata-rata setiap kecamatan di Propinsi Kalimantan Barat terdapat 1 sampai dengan 2 Puskesmas. 51 . Kota Singkawang merupakan merupakan wilayah yang paling banyak tingkat jangkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yaitu dengan perbandingan rata-rata 1 Puskesmas melayani 35.123 Posyandu. 313 Puskesmas Keliling.9 berarti rata-rata di setiap kecamatan memilki 2 Puskesmas. Penyebaran puskesmas terbanyak pada Kota Pontianak. Ratio Puskesmas per Kecamatan dan Jangkauan PelayananPuskesmas terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009 Berdasarkan tabel 5.3.Tahun 2009 jumlah pelayanan kesehatan masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 230 puskesmas.3. 826 puskesmas pembantu.3. Adapun jangkauan puskesmas terhadap pelayanan penduduk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.778 penduduk.540 penduduk. yaitu ratio Puskesmas terhadap Kecamatan sebesar 3. ini berarti bahwa di Kota Piontianak rata-rata di setiap kecamatan terdapat 4 Puskesmas. Pada tabel 5.

456.549.-.893.072.79. PHLN dan APBD serta sumber pemerintah lain sebesar Rp. 4. 168.dengan total anggaran APBD Kabupaten/Kota sebesar Rp.3.1.898. APBD Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat adalah sebesar Rp.375. 400.-. Berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota (tidak termasuk kabupaten Sambas. 1.871.319.19%.460.492.02%. total jumlah anggaran pembangunan kesehatan di Provinsi Kalimantan Barat (tidak termasuk anggaran kesehatan provinsi) yang bersumber dari APBN. Sekadau dan Melawi)..305.5. Berdasarkan angka tersebut. 128.408. Pembiayaan Kesehatan Pada tahun 2009 berdasarkan hasil rekapitulasi data profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2009. Pontianak. 52 .360.006.573 Sehingga dengan jumlah penduduk sebesar 4.142 jiwa. maka anggaran kesehatan perkapita penduduk di Kalimantan Barat pada tahun 2009 adalah sebesar Rp..dan anggaran APBD Provinsi Kalimantan Barat secara keseluruhan adalah sebesar Rp.000.688. maka persentase anggaran APBD kesehatan untuk tingkat Provinsi Kalimantan Barat adalah sebesar 9.066.670.-. total anggaran APBD Kesehatan Kabupaten Kota adalah sebasar Rp. 554. Bengkayang. Sehingga persentase anggaran APBD kesehatan Kabupaten/Kota terhadap APBD Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat adalah 6.

Hal ini karena data dan informasi merupakan sumber daya strategis bagi organisasi maupun individu dalam menjalankan sistem manajemen yaitu dalam proses perencanaan sampai pengambilan keputusan. memegang peranan penting bagi semua pihak yang terlibat dalam pembangunan. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas Profil Kesehatan 53 . diharapkan Profil Kesehatan Provinsi dapat memberikan gambaran secara garis besar tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.BAB VI PENUTUP Data dan Informasi merupakan sumber daya strategis bagi pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen. Data dalam pembuatan Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat ini diperoleh melalui penyelenggaraan sistem informasi kesehatan berdasarkan profil maupun draf data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota dan data dari masing-masing pemegang program. kelengkapan maupun keakuratan data yang dihasilkan. sistem informasi kesehatan yang ada saat ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan sehingga tidak dapat memenuhi data dan informasi yang dibutuhkan. Walaupun profil kesehatan propinsi sering kali belum mendapatkan apresiasi yang memadai. Namun sangat disadari. Kedepan. apalagi dalam era desentralisasi pengumpulan data menjadi relatif lebih sulit didapatkan dari Kabupaten/Kota yang berimplikasi terhadap ketepatan. Namun demikian. maka penyediaan data dan informasi yang berkualitas sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan juga sebagai alat monitoring dan evaluasi berjalannya kegiatan sehingga menjadi lebih efesien dan efektif. karena belum dapat menyajikan data dan informasi yang sesuai dengan harapan. namun profil ini merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi data pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Indikator Indonesia sehat 2010. Penyusunan profil kesehatan sebagai salah satu instrumen dalam Sistem Informasi Kesehatan Daerah disadari maupun tidak. diharapkan kesadaran dan peran serta aktif dari semua pihak untuk membenahi sistem manajemen data agar kinerja dari masing-masing bidang dapat lebih terukur dan memberikan gambaran yang lebih rinci dari pencapaian masing-masing program serta kontribusinya bagi pencapaian visi dan misi pembangunan kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. berangkat dari permasalahan yang dihadapi dari penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2009 ini. Hal ini menyebabkan data dan informasi yang disajikan pada profil kesehatan provinsi saat ini belum sesuai dengan harapan. Keputusan yang baik dapat dihasilkan apabila ditunjang dengan data yang akurat dan validitasnya tidak diragukan.

Provinsi Kalimantan Barat. kiranya dapat bermanfaat untuk semua pihak yang memerlukannya. . lengkap dan akurat. September 2010 54 . khususnya data dan informasi yang bersumber dari Kabupaten/Kota. Demikianlah Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 ini disusun. perlu dicari terobosan dalam mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat agar dapat dihasilkan informasi yang cepat. terutama jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan Lintas Sektor terkait. Pontianak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful