Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

dan peraturan. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Mengembangkan hati nurani. 2. Dalam mempelajari sikap moral. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). 4. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. kebiasaan. terdapat empat pokok utama: 1. Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. dan EQ secara efektif.

Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. egosentris dan konkrit 2.dkk. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis. yaitu : 1. Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional).Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ). yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap. enurut mussen. 6 .

Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. 7 . maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat. artinya untuk dapat hidup secara harmonis. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya. artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif.

2) Umur 3 – 6 tahun. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua. 8 .Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. periode social atau masa pemuda. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas. periode vital atau menyusuli. umur 2 – 6 tahun. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal. periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. 3) Umur 6 – 12 tahun. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.Kanak akhir.Kanak awal. saat terjadinya konsepsi sampai lahir. 3) Masa Bayi. umur 13 – 17 tahun. 5) Masa Kanak. 4) Masa Kanak. 2) Masa Neonatus. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. 6) Masa Pubertas (pra adolesence). Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. umur 6 – 10 atau 11 tahun. Elizabeth B. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun. Menurut Kohnstamm.

9) Masa Setengah Baya. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. umur 40 – 60 tahun.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. 2. umur 60 tahun keatas. Hurlock. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. 10) Masa Tua. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. 2 – 6 tahun (masa kanak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata.kanak) 3. yang dimaksud dengan masa anak.kata orang yang ada dalam lingkungannya. 0 – 2 tahun (masa vital) 2. yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. umur 21 – 40 tahun. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Namun. 9 . Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. Agama Pada Masa Anak.

sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. takut dan cinta padanya sekaligus. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. butuh. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Menurut Zakiah Daradjat.

The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis.kanakannya. b.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 . sejalan dengan perkembangan usia mereka. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya.dongeng. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Pada usia ini. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. c.

Fase kanak. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). • Konsep ketuhanan yang lebih murni. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. c. Pada fase ini anak sudah mulai 12 . Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian.Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. b. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. yaitu: a. • Berkaitan dengan masalah ini.

Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. sejalan dengan perkembangan moral. Menurut penelitian. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek. d.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar.aspek jiwa lainnya. cukup sekedarnya saja.kadang kurang masuk akal. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. 13 .4. 4. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya.

Dikala ia berhubungan dengan orang lain. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.Pendidikan Karakter b.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . c.gerik tertentu. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Pada usia 7 – 9 tahun. Dalam hal ini. d. tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak. Mereka menghafal secara verbal kalimat.

Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Instink biologis. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. seperti rasa aman. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. penerimaan. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. penghargaan. dan seterusnya 2. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. Kebutuhan psikologis. dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. dan aktualisasi diri 15 . seperti lapar. akan tetapi berupa teladan f. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. e. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran.

penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). dan sebagainya Faktor eksternal 1. pembiasaan. dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. pembimbingan. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup. keteladanan. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di .Pendidikan Karakter 3. agama. indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran. Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah. metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. Lingkungan sosial 3. metode pengembangannya adalah pengarahan. dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. Kebutuhan pemikiran. Lingkungan keluarga 2.

sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu. Di samping itu dari segi keuntungan domestik. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita. Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 .yang kurang baik. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia .sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Dari segi global. Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. kita hidup di dalam dunia yang terbuka. dunia yang tanpa batas. suka bekerja keras. mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global.

(3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. (6) menurunnya etos kerja. (9) membudayanya ketidakjujuran. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. (4) meningkatnya perilaku merusak diri. seperti penggunaan narkoba. Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Artinya. (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. misalnya etika dan estetika 18 . Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. alkohol dan seks bebas.

dan seterusnya 3. Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut. Melemahnya ikatan keluarga. Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali. 2. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. kebaikan dengan kekuatan. Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Fenom- 19 . 10-11): 1. Hilangnya model kepribadian yang integral. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007.

Oleh karena itu. Pada tataran makro. moral. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik. Secara tersurat. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 . telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. tindakan-tindakan diskriminasi. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa. dan budi pekerti dewasa ini. penyalahgunaan obat-obat terlarang. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. pergaulan bebas. 3. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. perkelahian di kalangan mahasiswa. krisis kejujuran.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. normatif. Secara historis. memajukan kesejahteraan umum. Secara filosofis. dan keadilan sosial. berbangsa. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. baik secara filosofis. Secara normatif. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. 25 . baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. Secara ideologis. ideologis. Secara sosiokultural. berjiwa persatuan Indonesia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. historis maupun sosiokultural. perdamaian abadi. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa.

olah hati. berkembang dinamis. regional. berbudi luhur. bertoleran. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. kompetitif. norma UUD 1945. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. berjiwa patriotik.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. berakhlak mulia. rasa. rasa. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. pemahaman. bergotong royong. olah rasa dan karsa. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. dan 26 . bermoral. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. pemahaman. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. dan global yang berkeadaban. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. karsa. konstitusi. pandangan. karsa. haluan negara. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Di samping itu. 27 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Oleh karena itu. di mana nilai-nilai budaya. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi. khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom). pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya.

Pendidikan Karakter 28 .

Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya. Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh. 29 . Anak usia sekolah dasar misalnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter.

rasa malu yang kian terkikis. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. tawuran. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009). pergaulan bebas dan sebagainya. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. bolos sekolah. Dengan 30 . bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. budaya kekerasan di kalangan remaja. Padahal. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan.Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. baik guru maupun sesama.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. masyarakat. kreatif. sehat. mandiri. kepribadian. kecerdasan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia.” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. akhlak mulia. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . cakap. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bahkan ia menegaskan. Di samping itu. Selain itu. artinya. berilmu. mental dan moral bagi individu-individu. bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran. bangsa dan negara”. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.

pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika. Karakteristik Dasar dan Fungsi. Karakteristik Sosial Budaya. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan. diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. pembukaan UUD 1945. Karakteristik Kesisteman (Sistemik). yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Karakteristik Tujuan. agama.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara. yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara.c. Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a. dan kebudayaan. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya.b.d. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 . Dengan penggabungan ketiga hal tersebut. pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional.

bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kompetensi estetis. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. Untuk mewujudkannya. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. ketakwaan. agama. etnis. dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. dan gender. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. ras. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal.

Pendidikan Karakter teknis. antara kebebasan dan determinasi. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran. Alexandria. dan kehormatan. kebebasan.S. antara 38 . Dengan kata lain. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. Karena itu. keberanian. yaitu. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat.L McBrien & R. dan kompetensi kinestetis. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. kecakapan praktis. VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. B. persamaan. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. diantara dalam konteks pendidikan. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Dengan demikian. kedermawanan. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. Brand. by J. kebaikan.

Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu. 39 . Dengan gambaran manusia seperti ini. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. dilakukan. yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. sehingga menjadi seperti yang diinginka. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. Jadi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah.

Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). sementara orang yang berperilaku jujur. Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah.Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. dimana seseorang bisa disebut orang 40 . Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience. 3) kebiasaan (habit). 3) empati (emphaty). raga. Perasaan tentang Moral. 2) harga diri (self esteem). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). Perbuatan/Tindakan Moral. Pengetahuan Moral. 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. 4) mencintai kebajikan (loving the good). dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Ketiga. 5) pengedalian diri (self control). Dalam pendidikan karakter. 2) keinginan (will). serta rasa dan karsa. dan 6) kerendahan hati (humility). Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. Pertama. Kedua. Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. 5) membuat keputusan (decision making). yaitu: 1) kompetensi (competence). pikir. Dengan demikian. 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values). pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness).

dan kreatif. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. PIKIR (kecerdasan). Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan. cerdas. semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. peduli. tanggung jawab. RAGA (kesehatan dan kebersihan). bersih dan sehat. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. perdagangan tanpa moralitas.Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). C. politik tanpa prinsip/etika. misalnya mata pelajaran matematik. Tetapi pada kenyataannya. fokus 42 .

yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. semua guru. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. dan orang tua di rumah. bukan sekedar mengingatkan. tukang sapu. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . tukang jaga sepeda atau petugas parkir.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. semua pegawai tata usaha. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. pesuruh sekolah. orang yang berjualan di kantin sekolah.

karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. pelaksanaan. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada. Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa.Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. pengorganisasian. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 . Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Bagi Foerster.

Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Ketiga. lanjut Foerster. membuat seseorang teguh pada prinsip. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kedua. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. antara independensi eksterior dan interior. Dari kematangan karakter inilah. 45 . keteguhan dan kesetiaan. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Pertama. kualitas seorang pribadi diukur.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. otonomi. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. antara aku alami dan aku rohani. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. Kematangan keempat karakter ini. Keempat. koherensi yang memberi keberanian.

dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Sebaliknya. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. D. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. Mereka bersumpah untuk berbangsa. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. bertanah air. Budaya sekolah merupakan ciri khas. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila. karakter atau watak. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. karakter negatif dan . Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. tradisi. dan landasan konstitusional UUD 1945.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. dan masyarakat sekitar sekolah. positif. kebiasaan keseharian. ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia.

Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. kekerasan. penanaman keteladanan. tanggungjawab. masyarakat yang memiliki sifat jujur. menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. memiliki inisiatif. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. terorisme dan lain-lain. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. bisa dipercaya. patuh pada peraturan. simulasi. Hal ini cukup beralasan. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin. bekerja-sama. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. bermain peran. pandai berterima kasih. Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. penguatan sikap positif dan negatif. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). simulasi. tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. mandiri. suka menolong dan tumbuh kasih sayang. tanya jawab sehingga pada 47 . Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. tindakan sosial.

dan internasional melalui adat istiadat. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya. hukum. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti. Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. 2. 48 . dan tatanan antar bangsa. nasional. Pendek kata. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue). undang-undang. 3. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. 4. lokal. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut. tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah.Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. 1.

3. 49 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. tidak berdasar. berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti. menyimpang. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. F. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. 2. 4. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13). 1. mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. baik dari segi agama maupun akal yang lurus.

berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas. sebelum kita melakukan suatu tindakan.Pendidikan Karakter Pengisian. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. yaitu arah yang akan menentukan motifnya. • 50 . kemauan. berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan. yang membentuk kesadaran baru. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan. Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa. logika baru. dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. arah baru.

dan pengendalian bagi mental kita • 3. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan. penguatan.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal. Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G. berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 . Dr.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….

ketulusan (honesty). kreatif. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. Sementara itu. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. kerja keras dan pantang menyerah. percaya diri. berani (courage). Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. rasa hormat dan perhatian (respect). dapat dipercaya (trustworthiness). peduli. keadilan dan kepemimpinan. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. dan toleransi. kasih sayang. peduli (caring). cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. disiplin dan mandiri. baik dan rendah hati. jujur. hormat dan santun. jujur (fairness). Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. Oleh karena itu.Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). kewarganegaraan (citizenship). cinta damai dan persatuan. tanggung jawab (responsibility). character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. tanggung jawab. tekun (diligence) dan integritas. dan kerja sama. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. 52 .

masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. kesetiaan. pengendalian diri. pembuatan keputusan yang matang. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. seperti kejujuran. keadilan. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. pendidikan 53 . dan disiplin diri.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab. pertimbangan moral. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. kesopanan. toleransi. sikap bertanggung jawab. dan pengetahuan diri tentang moral. keberanian. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. simpati. menghormati harga diri individu. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. integritas. menurut Dr Thomas Lickona. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. Lebih spesifiknya. ketekunan.

memedulikan. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya. (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). 54 . Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. (3) bertanggungjawab (responsible).Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. Lebih lanjut. (4) adil (fair). sangat memedulikan tentang yang benar. afektif dan psikomotor. terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Anak didik bisa menilai mana yang benar. Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif.

hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin.

(3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Karena seringkali orang tahu belum tentu paham. sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. arif. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. diantaranya: a. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. Bapak Pendidikan Nasional. berakhlak mulia. menjadi teladan bagi peserta didik). terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. atau siswa hanya sekedar “tahu”. telah menekankan pentingnya ketauladanan. Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Alangkah naifnya. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik).Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan. Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. orang paham belum tentu melakukan/berbuat. dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. 56 . berwibawa.

Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. keimanan. 57 . terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. good teacher explains. b. panggilan jiwa. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. minat. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. great teacher inspires’. terutama kompetensi kepribadian dan social. ketakwaan. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. Maka. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan.

dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. tetapi menyentuh pada internalisasi. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. 58 . aktifitas di kelas. Dengan demikian. Namun. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. Selain itu. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. dieksplisitkan. pola tutur kata. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Artinya. c. dan sebagainya. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek.

Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. pembelajaran. Dengan demikian. pendidik dan tenaga kependidikan. dilaksanakan. potensi. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. nilai-nilai yang perlu ditanamkan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. perasaan (feeling). baik di lingkungan 59 . penilaian. tindakan (acting). bakat. dan komponen terkait lainnya. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. serta potensi dan prestasi peserta didik. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Dengan demikian. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. muatan kurikulum.

dan persekolahan. 60 .Pendidikan Karakter keluarga. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh. mandiri. disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. bertanggungjawab. masyarakat. Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa. memahami hak dan kewajiban. Dengan begitu.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Sadisme. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. 61 . pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). Krisis moral secara meluas. Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik.

dirasa. horor. Tawuran antar pelajar. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. boros. 62 . moral akhlak. erotik. eksotik. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton). Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis.Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. kasino dan panti pijat. rakus. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. Orientasinya hiburan melulu. pergaulan bebas sex. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya. erotik. dengan tumpuan kepada sensual. sensual. Seni dibungkus selimut art for art’s sake. di sentuh. mencari jawaban dari paranormal. adat luhur. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. seronok. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. terlepas dari kawalan agama.com/ wp-admin/ . individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. mengutamakan kesenangan badani (jasmani). dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global.wordpress. cinta mode. yang lazimnya melahirkan klub malam. ilmu dan filsafat. dicicipi. di dengar. night club. Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin.

cakap. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. sehat. dan sejenisnya. berakhlak mulia. kecanduan narkoba. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. mandiri. kesukaan judi dalam urban popular culture. 63 . Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3. geng motor. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. berilmu. minuman keras.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. kreatif. nyontek saat ujian. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. worldwide sing. musro.

Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Permasalahannya.Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa. dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. 64 . pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas.

yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. menggunakan pendekatan yang tajam. Namun. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri.. dan konstruktif. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. berani mengambil inisiatif. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. tenggang rasa. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. Kalau kita mengharapkan karakter. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting. Menurut Franz Magnis-Suseno. tetapi juga benar. baik di keluarga. positif. berani mengusulkan alternatif. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. Hilangnya nilai-nilai kejujuran. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . integritas. anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani. dan tidak membantah. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri. karakter anak tidak akan berkembang.

bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. dan profesi guru dilecehkan. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua. pola dan politik pendidikan. istiqamah pada agama yang dianut. 1. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti.Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. berkembangnya kejahatan orang tua. hilangnya wibawa ulama. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. impotensi dikalangan pemangku adat. 66 . luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat.

Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. kebaikan dengan kekuatan. Hilangnya model kepribadian yang integral. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. dan seterusnya 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. kukuh ekonomi. berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. misalnya etika dan estetika 2. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1.

5. ilmu pengetahuan. sosial. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. 4. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis. krisis nilai. 3. budaya.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. 2. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. ekonomi. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. politik dan agama. Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. tidak berori- 68 . teknologi. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. tidak demokratis.

membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. Oleh karena itu. bahkan saling membunuh. yaitu terjadinya pergeseran 69 . jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain. apa yang adil dan apa yang tidak adil. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. perlu ada etika dalam bicara. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar. apa yang patut dan tidak patut. Namun. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. Jika tidak. 2. saling menyakiti. sehingga hancurlah bangsa itu. dan aturan-aturan sosial lainnya. 1992). apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. aturan dalam berlalu lintas.

bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. musyawarah mufakat. kejujuran. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. merusak lingkungan. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. kurangnnya keteladanan para pemimpin. kepentingan kelompok. kekeluargaan. 70 . sopan santun. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Hal tersebut. dan golongan seakan masih menjadi prioritas. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. lemahnya budaya patuh pada hukum. nilai solidaritas sosial. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa.

budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. pergaulan bebas. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Berdasarkan indikasi di atas. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. Untuk itu. baik dalam cara berpakaian. globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. 71 . serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. bertutur kata. diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. agama. dan pola hidup konsumtif.

dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. keturunan. potensi. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. bakat. kemampuan. dan hubungan antara manusia dengan manusia. merasa dirinya bersatu. 72 . Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. kebiasaan. bahasa. memiliki kesamaan nasib. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. kesukaan. Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. kolusi. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. nilai-nilai. asal. adat dan sejarah Indonesia.Pendidikan Karakter 4. Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment)._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 . Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. keterampilan dan pemantapan strategi. 2. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin. demokratis. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah. informasi elektronik dan digital. internet. Oleh karena itu. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. Perkembangan cyber space. 3. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.com/wp-admin/ . misi. Konsep-konsep visi. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil.wordpress.

dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. 5. 3. 2. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. penghormatan terhadap orang tua. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. budi pekerti. kebebasan. Revitalisasi pendidikan agama. Rumusan ulang kiblat (arah). 4. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. yang akan menjadi kekuatan moral. acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 . Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. rumah tangga). adab percakapan ditengah pergaulan.Pendidikan Karakter 1. masyarakat.

White (dalam Hurlock.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. Selanjutnya. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. C. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock. 1981). Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar. Dengan kata lain. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini.

Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Membiasakan Bicara dengan Baik. orang tua dan lingkungan sekitar. b. Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. teman. saudara. maka anak akan menjadi generasi pendusta. Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. yakni. d. Membiasakan meminta Izin. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. Membiasakan Keadilan. Membiasakan Kejujuran. a. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan. c. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. Apabila aspek ini diterapkan. Apabila aspek ini diabaikan.

tidak sambil bersandar. pujian. dan dengan elemen sekolah. tidak boleh mencela makanan. Memberikan Penghargaan. g. makan dengan tangan kanan. Membiasakan Kasih Sayang. dan tidak boleh berlebihan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. h. 81 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. dan katakata. Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang. tepuk tangan. membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. Membiasakan Bergaul yang Baik. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. e. f. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. Maka dari sifat jujur. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan.

Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. haya` (malu). zuhud. Dan di antara tanda dusta adalah 82 . mahabbah (cinta). Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. serta berusaha mengamalkannya. seperti: yakin. Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. kuatnya hati. 2 Niat yang benar dalam perbuatan. khauf (takut). ijlal (membesarkan). dan ridha. maka ia termasuk salah seorang pembohong. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik. karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. dan ta’dzim (pengagungan). yang memberikan ketenangan kepada pendengar. atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. seperti: sabar. qana’ah.Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. dan jelasnya persoalan. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian. Setiap akhlak yang baik. sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi.

gagap. ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. spontanitas. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 . dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir. yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. Jelas. dan bertentangan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak. Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak. seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. bingung.

Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. serta rambu-rambu agama. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran. atau tidak beraturan. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 . melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak.

Padahal is tidak memilikinya. Dan ketika ia bangun. atau pun yang lainnya. • Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. ketawa. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. Seperti itu pula. 85 . Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. berjingkrak dan bermain. pakaian yang bagus. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. Dan dakwa ini dianggap dusta. Bagi anak. ia makan. sehingga dia menjadi pusat perhatian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya. • Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. padahal sebenarnya tidak.

tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar.Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar. sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 . • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. • Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya.

Inilah yang dikatakan egois. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. hingga dia terdorong untuk balas dendam. Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga. Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya. Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak.

karakter. bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik. Rasulullah SAW bersabda: 88 . dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak. Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan. Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak. Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah. Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak.

atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 . Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan. Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. mental.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik. atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. serta akal dikemudian hari. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak.

Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya. membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. semburu.Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. atau boleh jadi 90 . atau malah terkena penyakit saraf. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya. takut menghadapi tantangan. lecet atau luka serta kelumpuhan. Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. pendengan. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. atau sering kali terlambat datang kerumah. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. seperti indra penglihatan. takut kepada yang lain. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. akal jiwa.

• Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan. atau malah membangkang. dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua. Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 . Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1. durhaka.

Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya. yaitu berdusta. Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada . Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan. Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya. 2. Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali.Pendidikan Karakter • • • • suara.

dan mencela bila ia berbuat tidak baik. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya. seperti mainan atau yang lainnya. • Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 . Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta. memutivasinya. Dan apabila itu pun kalau ada. Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya. Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran.

Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. 94 . Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak. • Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. yakni berbuat dusta. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya. Dalam tahap ini. Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta. Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah.

Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 . “Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama. karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak. (HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan. 3. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak. Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata.

2.Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang. Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. pakaian dan lain-lain. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. “Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. bercita-cita. mainan. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan. . Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya. Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang.

dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak. Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. melukis. Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya. Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik. menulis dengan baik. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya. Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya. dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 . Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut. 3. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak.

memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak. dan tidak ber- 98 . serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang. 1. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya. 4. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. 2. Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak. hingga anak tersebut menjadi pembangkang.Pendidikan Karakter menimpanya. “Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat.

karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. 4. Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil. Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya. Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya. Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.

baik dalam memberikan belanja. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan. Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. kemudian ia berkata. Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. “kembalilah kepadanya”. perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan.. 100 . bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?. Rasulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”.Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. “Tidak”. (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup.

dan sebaliknya. Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. Berlaku adillah. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. 1. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). Dan bertakwalah kepada Allah. karena adil lebih dekat kepada takwa. Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . mendorong kamu untuk berlku tidak adil. membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. sekalipun ada dorongan untuk selain itu. seperti kemarahan yang amat sangat. kebencian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan. melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban. Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu.

Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. 2. Mutawalli berkata.padahal mereka semua adalah saudara sebapak. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta. Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 . “Andakan mereka paham. disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka.Pendidikan Karakter mereka masing-masing. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam.

Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. 6. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. 5. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 . mementingkan dirinya sendiri. 4. maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik. Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3.

haram. agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. jujur.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. 4. Ikhals kepada-Nya. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah. Menghafalkan kepada anak ayat. Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . 6. 5. Menanamkan pemahaman halal. 3. hadits nabi tentang kejujuran. dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta. menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri.

Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. 8. 105 . Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya. itu dari segi rohani. 7. Mengikuti seluruh kegiatan ini. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh. puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. menggambar dan sebagaianya. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. 10. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. berolahraga. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. Seperti salat. Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. 9. Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat.

maka semua pihak . sekolah dan lingkungan sekolah. media massa.Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak. dan sebagainya . oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera. Dengan kata lain. D. komunitas bisnis. Menurut Megawangi (2003). perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. dan tuntunan yang bijaksana. Tentu saja hal ini tidak mudah. tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.keluarga. masyarakat luas. Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal.turut andil dalam perkembangan karakter anak. berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. sekolah. Oleh karena itu. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 .

Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. nilai-nilai etika. mawaddah. dan hukuman kepada yang melanggar. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. estetika untuk pembentukan karakter. Menurut 107 . Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. estetika. seperti. yaitu penanaman moral. tatapi lebih dari itu. dan warrahmah). Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. 2003). rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. Moral Pancasila dan sebagainya. Sebagaimana disarankan Philips. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. Sejarah. pelajaran Agama. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. Dengan demikian. sekolah untuk kasih sayang (Philips. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang.

pembuat kebijakan. Sementara itu. baik. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. 108 .Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 . 321). maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. Oleh karena itu. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. keluarga. pemegang otoritas di masyarakat. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. para pemimpin. Lingkungan masyarakat. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. dan positif secara konsisten.

Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik. Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 . Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

sesuai standar kompetensi lulusan. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. penggunaan obat terlarang. etika.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. kekerasan berkelompok. dan performa akademis yang buruk. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. integritas. daerah. bertanggung jawab. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. terpadu. tidak . bertanggung jawab. masalah disiplin. hamil muda. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. Pada kemungkinan yang terbaik. dan disiplin diri. dan seimbang.

Moral Knowing. tidak memihak (non sectarian). Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). The common school should teach virtue before knowlede. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. 5) decision making dan 6) self-knowledge. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. Kedua 115 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. 4) moral reasoning. dan bebas. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. seorang filsuf pendidikan.. for. 2) knowing moral values. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal. 3) persperctive taking. Pertama.

mercy. trust. dan kerjasama (love. Hormat dan santun (respect. 2) self-esteem. Amanah (trustworthiness. Kasih sayang. Baik dan rendah hati (kindness. loyalty) 2. kedisiplinan. compassion. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. obedience) 5. dan pantang menyerah (confidence. fairness. humility. moderation. cooperation) 6. leadership) 116 8. 4) loving the good. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. courtessy. dan kemandirian (responsibility. friendliness. kepedulian. modesty) . caring. Tanggungjawab. assertiveness. self reliance. Keadilan dan kepemimpinan (justice. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. generousity. orderliness) 3. empathy. reverence. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). resourcefulness. Ketiga Moral Action. Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. Percaya diri. honesty) 4.Pendidikan Karakter Moral Feeling. excellence. determination and enthusiasm) 7. courage. discipline. kreatif. reliability. 5) self-control dan 6) humility. creativity. 3) empathy. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence).

kembali ke rumah. mencontoh. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . (2) Desain berbasis kultur sekolah. (1) Desain berbasis kelas. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. unity) Agar dapat berjalan efektif. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. Dalam mendidik. flexibility. Masyarakat di luar lembaga pendidikan. masyarakat umum. peacefulness. ketika berada di lingkungan sekolah. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. yakni. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. dan negara. dan (3) Desain berbasis komunitas. Dengan desain demikian. seperti keluarga. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. Toleransi dan cinta damai (tolerance. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian.

Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. identitas dan kepercayaan diri. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. 118 . sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila.Pendidikan Karakter agama. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. Kedua. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama.

harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. Keempat. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. 119 . Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. dan silabus. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum. rencana pembelajaran. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. yang dikemas di dalam KTSP. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional.

berkarakter kuat. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. Ringkasnya. 120 . dan lain sebagainya. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan.Pendidikan Karakter otoriter. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. bukan hanya sekolah. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. Yang terakhir. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi.

Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. penceramah. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 . saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. Ringkasnya. dan yang terkadang kelihatannya sepele. keseharian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Menurut Brian. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. “Satukan kata dan perbuatan!” C. pelatih. Selain itu libatkan secara luas motivator. Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar.

melainkan hanya selera sesaat. warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. Sejauh ini. bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. Dalam wujud praksis. pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. Pertama. SQ (spiritual quotient). Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. Namun. agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama. Padahal.Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. EQ (emotional quotient). Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif.

dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). menjadi teladan bagi peserta didik). terutama kompetensi kepribadian dan social. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). berwibawa. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. Di samping itu. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. arif. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. great teacher inspires’. Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. berakhlak mulia. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. good teacher explains. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 . Maka.

yakni pengetahuan yang baik. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. yakni kegagalan . Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. 1. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu. ketakwaan. dalam memperoleh pengetahuan. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah. diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. berlandaskan keyakinan. niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain. keimanan. panggilan jiwa.Pendidikan Karakter Memiliki bakat. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak. minat. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Oleh karena itu. Brian menyebutkan.

3. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur. dapat dipercaya. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian. sopan. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. membantu. Bersikap adil dan terhormat. rasa 2. dan memahami orang lain. harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. dan berkata benar dalam segala hal. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. 125 . Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. memperlihatkan perhatian.

rokok. Menghindari seks di luar nikah. dapat mengendalikan kata-kata. dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan. 5. dan untuk Negara. berkawan. aksi. reaksi. pada orang lain. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. untuk barang hak milik. dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. 6. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. 8. zat dan perilaku berbahaya lainnya. atau keputusasaan. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan. menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri.Pendidikan Karakter 126 kasihan. 7. perlawanan. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. pada diri sendiri. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. dan juga keinginan. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . kesalahan. Di Indonesia. dan dermawan. atau kegagalan. narkoba. alcohol.

yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 . dan nuraninya. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. sentuhan nurani.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. perasaan. emosi. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah.

kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. Di Indonesia. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. yaitu hanya mewajibkan 128 .Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak.

baik dan rendah hati serta toleransi. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong. kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. 129 . sebab pendidikan karakter (akhlak. emosi. hormat dan santun. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya. sentuhan nurani. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. percaya diri kreatif dan pekerja keras. kedamaian dan kesatuan. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. kepemimpinan dan keadilan. perasaan. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. dan nuraninya. kejujuran/amanah dan bijaksana.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan.

menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. sebagai berikut. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. entah itu pendidikan agama. Kita hidup tidak sendirian. guru. Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. Oleh karena itu. Pertama. kewarganegaraan. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah. etika. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. dan tetap eksis. 2. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja.

bertanggung jawab. Ketiga. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. mulai jujur kepada dirinya sendiri. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 . Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. menghormati diri sendiri dan orang lain. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. dan (3) kewibawaan. Oleh karena itu. mencintai belajar. jujur kepada Tuhan. jujur kepada orang lain. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. Keempat.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius. kita harus hidup beretika. (2) kepercayaan. kasih sayang. Kejujuran. Kelima. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Konon. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. yaitu (1) kasih sayang. kejujuran. Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun.

Keenam. konsentrasi pada tujuan (focus). 132 . usaha (effort). agama. kemauan kuat (perseverence).Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. kerjasama (teamwork). inisiatif (initiative). ekonomi. Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris. tepat waktu. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. bahkan dari keluarga. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. motivasi (motivation). menghormati hak orang lain. Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. pemecahan masalah (problem solving). Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. dan budaya. Waktu adalah pedang. Ketujuh. yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). berpikir logis (common sense). adalah warisan petuah para sahabat Nabi. Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. tanggungjawab (responsibility). kasih sayang (caring).

dan tindakan (action). Character Educator. perasaan (feeling). yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. Ratna menyebut tiga unsur yang 133 . Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Louis. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. tanpa ketiga aspek ini. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter. Menurut Thomas Lickona.St. Bahkan secara spesifik. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Kedua.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. habit of the heart. Untuk membentuk karakter. Ketiga. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk. adalah habit of the mind. itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. Jika Feeling the good sudah tertanam. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . tidak akan ada artinya. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. dan habit of the hands. Feeling the good. Selama ini hanya imbauan saja. Menurut Ratna. Acting the good. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. namun mereka tidak tahu alasannya.al. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih. konsep yang dibangun. namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. Jadi. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. et. anak dilatih untuk berbuat mulia. Pertama. Pada tahap ini. anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik. Knowing the good. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang.

kemampuan berkonsentrasi. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. yaitu rasa percaya diri. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. kemampuan bekerja sama. miras. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. dan sebagainya. tawuran. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. dan kemampuan berkomunikasi. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. perilaku seks bebas. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. kemampuan bergaul. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. rasa empati. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . tetapi pada karakter. akan mengalami kesulitan belajar. narkoba.

Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. . Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. akan menimbulkan stress berkepanjangan. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Namun masalahnya. Akibatnya sejak usia dini. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. sebagai anak yang kurang pandai. Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. 4.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Menghargai karya seni dan budaya nasional. Menunjukkan sikap percaya diri. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. 10. 5. kritis. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 7. 137 . Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. 8. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 11. Menghargai keberagaman agama. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. ras. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. suku. berbangsa. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 9. kreatif. budaya. 4. 12. dan inovatif. 3. kritis. dan kreatif. 13. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. 6.

Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah. membaca. sehat. 19. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . tradisi. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. 18. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Menerapkan hidup bersih. 17. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. 15. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. kebiasaan keseharian. 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. berbicara.Pendidikan Karakter 14. 16. D. bugar. yaitu perilaku. Memiliki jiwa kewirausahaan. 20. aman. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. Menunjukkan keterampilan menyimak. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. Menghargai adanya perbedaan pendapat.

staf dan siswa didik. Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. proses dan prakteknya dalam pengajaran. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 . 3. Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. 2. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri.

Kirschenbaum. Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. It is in fact. as old as 140 . Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa. Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea.

adalah proses. guru dan siswa. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”. dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. 141 . adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. Down through history. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan. yang terbaik adalah. perubahan (reformasi) sekolah 9. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1. datang dari rumah. Dengan demikian. suasana. in countries all over the world. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. dan kurikulum 2. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. teori. dan sekolah 3. adalah didasari oleh riset. komunitas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. bukan hanya program 8.

komunikasi dan informasi. menghasilkan sikap yang kuat. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. kesejahteraan. khususnya sektor keagamaan. Pada konteks makro. dan pikiran yang argumentatif. Pada tahap evaluasi hasil. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. kesehatan. pemerintahan. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. hukum dan hak asasi manusia. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. 142 . bukan hanya sektor pendidikan nasional.Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut.

Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. menguatkan. yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. memperbaiki. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler. 143 . Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi.

Khusus. Untuk kedua mata pelajaran tersebut.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter. Sementara itu mata pelajaran lainnya. Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik.

Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. Pecinta Alam. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap. Liga Pendidikan Indonesia. perilaku. seperti kegiatan Dokter Kecil. pertemuan wali murid. dll. Palang Merah Remaja. kompetisi atau festival.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. pelatihan. kepribadian. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter.

di rumah. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. seperti kegiatan 146 . kursus kepemudaan. dan di masyarakat. bimbingan belajar.Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah. Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. misalnya kursus keterampilan. baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. pelatihan-pelatihan singkat. Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama.

keagamaan. Sedangkan pada lingkup media masa. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. pelatihan kode etik jurnalistik. olahraga. sosial. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. kepribadian. dan pelatihan keterampilan profesi. jiwa patriotik. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. kejujuran. dan akhlak mulia. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 . kesenian. pelatihan kewirausahaan. pelatihan kepemimpinan. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. pelatihan kepemimpinan.

standardisasi perangkat dan proses penilaian. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. c. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. a. pendidikan dasar dan menengah. . fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. b. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. Oleh karena itu. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. baik di jenjang pendidikan usia dini. Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. d. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter. dasar.

sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya. Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. Men kan niet onderwijzen wat men wil. pengembangan. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam. akan ‘beranak’ hijau. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). men kan niet onderwijzen wat men weet.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter.” 149 . serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. E. Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya.

konsekuen dengan apa yang diajarkan. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa. betapa sering kita menyampaikan 150 . Namun. tidak main topeng. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. Ketiga. bila memang tidak tahu. guru akan semakin banyak tahu. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan.Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. bila guru sendiri terus belajar. Dengan terus belajar. Bila memang bersalah. belajar terus tanpa henti. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. Kedua. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa.

keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). 2. kepala sekolah. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. seorang guru harus berperan sebagai. sekolah dan masyarakat secara luas. 1. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. Pelajar dan ilmuwan. baik pendidikan keluarga. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. karyawan. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. pengurus perpustakaan dan lain-lain. Teladan. Pekerja sosial (social worker). Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. direktur. Hal ini senada dengan pendapat Moh. staf. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. 151 . yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya.

sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. Seringkali. berkembang. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. dan 5. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. 4. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. 152 . model keteladanan. Di masa depan. baik karena siswa yang malas. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. Orang tua. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah.Pendidikan Karakter 3. tidak punya buku paket atau alasan lain.

tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. Untuk itu. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. Konsistensi dalam pembelajaran. dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka. namun teladan itulah yang menarik hati). Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya. Oleh karena itu. tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. apa yang mereka dengar. dan apa yang mereka lakukan. guru sering mengajarkan kesamaan hak. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. 153 . pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah. Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang. apa yang mereka rasakan. Sebab. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru.

Pendidikan Karakter 154 .

baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak. Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. 155 . Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas. dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah).

Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. Menurut pakar pendidikan. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . Oleh karena itu. Bagi seorang anak. semangat. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat . dan mensosialisasikan anak.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. William Bennett (dalam Megawangi. dan Kesejahteraan. dan kemampuan-kemampuan dasar. keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan. maka masyarakat pun akan lemah. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. mengasuh. Pendidikan. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya.Pendidikan Karakter Dari sini. 2003). sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah.merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. keinginan untuk menjadi yang terbaik. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 .

rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. teristimewa pendidikan budi pekerti. sejahtera”. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya.” Dari sini. B. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. 2006: 42. Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. mengatakan. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. ”Rasa cinta. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. 157 . Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya. Oleh karena itu. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter.

(2) Pola asuh Authoritative. sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak.Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa. dan tidak boleh bertanya. anak harus tunduk. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. patuh. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. dan (3) Pola asuh permisif. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter. (2) Pola asuh demokratis. Oleh karena itu. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. (3) Pola asuh permissive. 3) ü . C. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat.

1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . anak belajar tentang banyak hal. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. 4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh. 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.. Artinya. 2) Anak diakui sebagai pribadi. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. termasuk karakter. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. dan kelekatan emosi orangtua .anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. sentuhan.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. kurang tanggungjawab serta agresif.Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. Sementara. karena anak tidak mandiri. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. apalagi terkesan membiarkan. Sementara itu. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan. Di sisi lain. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Menurut Arkoff (dalam Badingah. 1993). dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. orangtua yang otoriter merugikan. Pada akhirnya. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. anak yang dididik secara 160 . di mana keluarga yang broken home. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja.

yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). Dalam hal ini. sosial-kognitif. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. maupun secara fisik (diberi ciuman. anak yang ditolak adalah anak yang 161 . kata-kata yang membesarkan hati. pelukan. Penelitian tersebut . misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. dorongan. dan kontak mata yang mesra). dan pujian). (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. Sementara. perilaku. Menurut Middlebrook (1993). baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. akan mempengaruhi perkembangan emosi. baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. elusan di kepala.

percaya diri. mencubit. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. tidak disayang. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. baik secara verbal (katakata kasar. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. bentakan. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. dilindungi. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. bahkan dibenci oleh orang tuanya. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. walaupun orang tua tidak merasa demikian. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. dikecilkan. bersikap sangat agresif kepada orang lain. sindiran negatif. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. yaitu : 162 . dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. atau menampar). Sementara itu.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. dianggap berharga. ataupun secara fisik (memukul. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. atau bersifat undifferentiated rejection.

1. tidak butuh orang lain. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. 4. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. Bersikap kasar secara fisik. 2. 5. misainya menyindir. Secara emosiol tidak responsif. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. la kelihatan sangat mandiri. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. simpati. 163 . dan tidak dapat menerima persahabatan. dan memberikan hukuman badan lainnya. Menjadi minder. 2. Anak menjadi acuh tak acuh. merasa diri tidak berharga dan berguna. mencubit. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. dan gangguan emosi negatif lainnya. 3. 6. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. dan berkata-kata kasar 4. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. misalnya memukul. Bersikap kasar secara verbal. Berperilaku agresif. yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. rasa tidak percaya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. mengecilkan anak. 3.

D. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. mudah marah. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya. dan lainnya. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . mudah tersinggung. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. minder. rasa aman. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. curiga dengan orang lain. 8. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. 6. 7. khawatir. yaitu maternal bonding. seperti rasa tidak aman. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. dan stimulasi fisik dan mental. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. tawuran. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. Menurut Megawangi (2003).Pendidikan Karakter 5. dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. akan membuat anak merasa tidak dekat. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. Ketidakstabilan emosional.

Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. menggendong. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. Menurut pakar pendidikan anak. Dengan kata lain. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. antusias mengeksplorasi 165 . Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. Menurut Bowlby (2003). Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Menurut Erikson. mengelus. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak.

baik dalam tatanan norma agama. ia sulit untuk diarahkan. Dengan kata lain. Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya. kasih sayang dan lain-lain). minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. dan menjadikannya anak yang kreatif.Pendidikan Karakter lingkungannya. ia banyak melakukan penyimpangan. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa. berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik. dididik dan dibina. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini. jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . orang tua dan bangsa. Juga. 166 Untuk itu.

Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. harta 167 . Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. Juga. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. Nah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa. jika sudah seperti itu. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini. tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. Juga. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup. siang dan sore hati. baik makanan dipagi. tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. Diantara penyebabnya adalah.

Juga. dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan. Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama. keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.Pendidikan Karakter dan kehormatan. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). teman ada yang mengajak pada kemungkaran. adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. Sebaliknya. anak yatik dan lain sebagainya. sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. Dengan seperti itu. menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain. maksiat dan dosa. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Juga. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia. karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai. jika ia menemui 168 . dan dapat merasakan hidup yang lebih baik.

maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. minimal anak akan 169 . tenang dan tentram. seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa. sikapnya arogan dan tidak bida diatur. wataknya keras. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. Untuk mencegah hal ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan. bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. padahal baru bebarapa tahun. sehingga tidak bisa diatur. Juga. Dengan kejadian menimpanya seperti ini. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya. hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai.

maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. pertama. maupun tempat tinggal yang layak. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. melakukan kejahatan. Diantara 170 . Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. pakaian. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. tidak dapat memberi makanan. Kedua. jika yang menjadi wali adalah ayahnya.Pendidikan Karakter merasakan dua hal. perlindungan juga perhatian. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi. bermaksiatan dan melakukan dosa. Tentu saja harapan kita adalah. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan. yaitu menjaga. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Namun. perhatian dan perlindungan. dan memiliki akhlak yang tidak baik. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. baik dari ayah maupun ibunya. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. kemaksiatan dan dosa. Nah. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. apabila ibu yang menjadi walinya. menjaga dan bersenda gurau dengannya.

Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 . tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG). sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik. maka arahkan anak seraya berkata. basket.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. jika ia senang dengan bermain bola. sesuatu yang disenanginya. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya. atau memiliki akhlak yang tidak baik. Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur. Juga. selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. Untuk itu. Suatu contoh.” Atau olah raga lainnya. dengan sesuatu yang bermanfaat. seperti bermain bola. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat.

ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian.Pendidikan Karakter lainnya. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. Karena ia adalah merupakan tiang. Dari beberapa hal penting di atas. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. jika hal itu tidak dilakukan. hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. Nah. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. 172 . Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. Diantara manfaatnya adalah. Kalau memungkinkan. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. 1. carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. Sehingga. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak). Oleh karena itu. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. Dengan shalat. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas.

mulai dari membersihkan lubang hidung. dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. membersihkan rongga mulut. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya. selain mandi. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran. 3. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). memukul anak 173 . Dan. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan. Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat. Selain itu.ah. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu. Juga. dan gigi. Juga. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah.

Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa. ingatkanlah pada anak. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi. Bagi orang tua. terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya. tentang kawan yang tidak baik. Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG. ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik. Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. 174 . maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati. Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. Juga. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. dan usahakan agar kita terus memantau anak. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. agar ia tidak terperangkap. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan.Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka.

jika sikap buruk orang tua pada anak. tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. Dan biasanya. Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. jika anak diperlakukan seperti itu. maka tidak dapat diragukan lagi. kasar. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. dengan sikap itu. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. dimana anak akan sangat bergantung padanya. suka berbohong dan mengejek. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik. Pun dalam hal akhlaknya. Juga. Dalam hal ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. 175 . dengan siapa ia berkawan. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya. setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. sering di pukul. Ia akan menjadi anak yang penakut. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya. Sebaliknya. ia akan mengambil keputusan yang salah. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. yang paling tragis. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya. Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa.

sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar. akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak. Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik. maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. Anak kecil maupun ABG. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita. maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. jangan salahkan anak. terutama pada anak kecil dan ABG. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja. sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. Bukan hanya nasehat orang 176 . Jika hal itu sudah terjadi.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia.

arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 . Jika tidak bisa. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. Dan. selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka. Juga. usahakan anak dicegah membaca media. 1. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi. Pun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. Di antaranya. 3. Untuk menghindari hal itu. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. Dan tidak kalah pentingnya. Atau. hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. 2.

banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan. karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. karena tidak adanya lowongan. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya. 178 . jika anak berada pada golongan yang pertama. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. terlebih lagi ajaran agamanya. Sebaliknya. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya. Dengan keadaan seperti itu. Namun.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. Pada saat itu. belum mendapat pekerjaan. Nah. jika masuk pada golongan yang kedua. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. Nah. dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. atau ia berada pada lingkungan yang baik. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya.

Jika masih tidak mau melakukan hal itu. maka pemerintah 179 . sampai ia mendapatkan pekerjaan. artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. 2. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. seperti mencuri. sehingga menjadi pengangguran. merampok maupun mau untuk disogok (suap). Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. Kedua. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan. Untuk bagian yang pertama. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. sampai ia mendapatkan pekerjaan. 1. menganggur karena terpaksa. Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. mengarahkan. Diantaranya. memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha. namun belum mendapatkannya. namun ia masalah mencari pekerjaan. padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. Pertama. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. Nah. padahal peluang kerja banyak ditemukan. Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. namun ia malas untuk bekerja.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan .

Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. orang tua. Agar tidak terjadi hal yang demikian. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. Semisal. terutama dalam menegakan agama. dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh. memberikan pendidikan yang baik. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur. sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. Namun dalam hal pendidikan anaknya. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. Sang ibu adalah pendidik pertama. jika mau mempersiapkannya.Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi. baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan. Juga. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya.

dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga. atau sebaliknya. Untuk itu. jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. Juga. sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri. dan ia akan merasa diperhatikan. agama dan bangsa. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 .

siksa kubur. Juga. menjelaskan hal-hal yang ghaib. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. memiliki akidah yang kuat. Malaikat. dan selalu beribadah dalam segala hal. mampu memanaje kehidupannya dengan baik. Khusus masalah penjelasan Qada’. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. seperti setan dan jin. hati pertanggungjawaban. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. hatinya semakin suci. 182 . api neraka dan hal yang ghaib lainnya.Juga. Kitab-kitab suciNya.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain. Iman kepada Allah SWT. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya. agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. Untuk itu. Juga. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. tentang surga. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. hari kiamat. Lalu.

maka orang tua. Dan. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. Acuhnya ayah. tidak jujur dalam mengemban tugasnya. merampok sera mencuri. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. mengajarkan akhlak. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya. Pun. ia baik. 183 . Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. hidup semuanya sendiri. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya. Jika melihat kenyataan seperti itu. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. tidak memiliki tujuan hidup. entah sang ayah maupun ibu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. karena orang tua yang mendidiknya demikian. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur. Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. beringas dan tidak bisa di atur. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya.

agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Sedangkan bagi tenaga pengajar.Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. menginformasikan 184 . Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. sejak ia terlahir dari rahim ibunya. Untuk itu. pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa. Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak. mendidiknya agar takut kepada Tuhan. maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. keutamaan perilaku dan sikap. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan. arahkanlah anak didiknya ketika disekolah. Akhlak. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak. Seorang anak.

maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. berinteraksi. 185 . menyaksikan. Karena sudah tertanam keimanan. agama dan bangsa. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya. Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. Untuk itu. agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. manakah yang lebih baik dalam bersikap. Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. dan berkompetisi dengan umat lainnya. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji.

sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. Juga. Juga. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Juga. memuliakan tamu yang datang ke rumah.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. ia mampu menanganinya dengan baik. tidak mudah mengeluh. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. Lebih dari itu. amanah. tentunya setiap daerah berbeda-beda. menghardik. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama. Dan. memaki. mencaci. istiqamah. Semisal. berteriak. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. menghormati yang lebih tua. dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. dan mencintai orang lain.

hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. Yaitu. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. dan lemah lembut. Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan. Untuk itu. Emat hal itu adalah. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. Mencela dan mencaci. entah itu berita duka. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. Merampas hak orang lain secara paksa 3. kebakaran. banjir. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. 1. hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. bagi ayah. Oleh karena itu. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. gempa. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal.

nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. agar ia tidak lagi merengek dan menangis. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. Sungguh.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga. kehormatan dan harga diri. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. Oleh karena itu. Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. dimulai dari diri sendiri. 188 . berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. Dengan sikap orang tua seperti itu. dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan. Juga. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah.

Dengan demikian.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. Memberikan kasih sayang pada anak. 2. 189 . dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. Hal ini penting sekali. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini. Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak. ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. bagi orang tua. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. Untuk itu. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1. Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain.

sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya. “Karena kemampuan anak untuk menangkap. 190 . adalah besar sekali. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. 3. di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru. Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak. Memang. Anak akan menangkap secara tidak sadar. Sebab. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. Terkadang melebihi apa yang kita duga. meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. atau tanpa kesadaran purna. dengan sadar atau tidak. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. itu semua berpengaruh baginya. sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. dan akan meniru secara tidak sadar.

baju. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 . agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. makan dan minum dengan tangan kanan. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. memberi. dan dijauhkan dari sikap rakus. Jika makan dengan tangan kiri. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. Ketika mengenakan kain. atau lainnya memulai dari kanan. 4. Dilarang bermain dengan hidungnya.

dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya. sekalipun hanya sedikit. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin. dan jangan sampai bersuara. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. • .Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain. sebelum tidur. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. sanak familinya yang masih kecil. dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan. dan sehabis bangun tidur.

tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. dan Abi (Bapak). jika memungkinkan. karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. dipaksa untuk menerima kebenaran. bahkan menjauhkan kotoran darinya. bukan di tengah jalan. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya. Tapi kalau tidak. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela. Tidak membuang sampah dijalanan. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar. • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 .

194 .Pendidikan Karakter gan. sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan. • Tidak dilarang bermain selama masih aman. dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain. mainan atau diajak jalan-jalan. seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. • Dibiasakan menghormati milik orang lain. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim.W. S. Moral Character. 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet.S. Coon.J. Boyer.L. West Publishing Co. Moral Literacy and the Formation of Character. Character in the Basic School. UI. Berkowitz. Studios 4 Productions.G. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues. In: J. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. Dennis. Making a Commitment to Character. Teachers College Press.Goble.Bennigna (ed). Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. Depok. (1993). 195 .D.W. and Civic Education in the Elementary School.E. Badingah. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh.M. 1995. 1991. The Education of Complete Moral Person Brooks. New York. B. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. 1998. and F. (1983).

Pendidikan Karakter Dina. Why It Can Matter More than IQ.Faperta. (2003). New York. Ratna. 1992. Pustaka Mizan.R. T. 1999. Megawangi. Lickona. _________. 1992. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong.F. I. Emotional Intelligence. New York.W. Bantam Books. Bantam Books. 1981.D.com.F. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. Bandung. Educating for Character. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. 1997. Megawangi. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Mack. New York. Bantam Books. E. 1994. 1995. McGraw Hill Kogakusha International Student.Tanjung. http://encyclopedia. Goleman. 1991. P. Simon & Schuster. Jurusan GMSK. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. Sixth Edition. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani.B. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family.thefreedictionary.W. Diakses tanggal 26 April 2004. Child Development. 2001.D. IPB. New York. Hurlock.D. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. E. Kilpatrick.Widiastuti.Puspita.W. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. Inc.. Family and Community. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . 1995. Horn. Fagan.F.R.

Family Socialization and Academic Achievement. Rich. 194.Tavris. Statistics of Teens. 1993. In J.. Teachers College Press. The Child. Harper & Row Publishers.New York. Pitirim.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman.R.com. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools.Q. Pickthall.. Wilson. 1991. 1986.Y. and C. M.R.E.J. 2002. Moral Character. 1990.A. College & University Press. Psychology. 1990.C. Simon & Schuster Inc. New York. 1995.17-18). 1997. Views or Virtues? Schikendanz. New Haven. Houghton Mifflin Company. Shambala Publications. “The Basic Trends of Our Time”. Wade. 2002. 197 . Mega Skills. 1992. Nord. Sage Publications. and C.J. Benigna (ed).Miller. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory.Haith. Wynne. Building Children’s Achievement for the Information Age. California. Boston University Press. John Wiley & Sons Inc. Rohner. The Moral Sense. Massachusetts. Ryan and Bohlin. Child Psychology: The Modern Science.S. Pada bulan Oktober 2001.C. 1999.Haynes.A. p.D.Inc.A.W. New York. Dikunjungi di: Info@ soundvision. Vasta. and Civic Education in the Elementary School.A.E.S. New York.. New York.M. Character and Academics in the Elementary School. Values. Sorokin.

2002. Kemendiknas. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . Jakarta. Emotional Intellegence. Redja. Pengantar Pendidikan. 2001. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. 1982 Bjorklund. et al. The Development of Children. 3rd ed.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. M.F. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. 2002. Child and Adolescent Development. Holistika Pemikiran Pendidikan. Boston: Houghton Mifflin Company. Terjemahan T. Malik Fadjar. Hermaya. Psikologi Perkembangan. Psikologi Anak. Hoffnung. Bellmont. Reformasi Pendidikan. D. Kartini. Jakarta: Erlangga. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin. Penerbit Alumni. CA : Wadsworth Cole. Yogyakarta: Kanisius. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Bandung. 2009. 198 Seifert. Rosyda Karya. 2000 E Sphero Lawrence. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. 2010. A. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. 2005. 1991 Kartono. dkk. (2005). Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya.1987. Bandung. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. New York: Worth Publishers. Hurlock. . Jakarta Elizabet B. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto. Paul. Kelvin L & Robert J.

Diskursus Islam dan Pendidikan. Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim. New York: Facts on File Publications. Human Development. New Jersey: Pearson Education. Barbel & Jean Piaget. The Growth of Logical Thinking.Second Edition. Theories of Development. t.R. Concept and Applications. B. Muhammad Tolchah. Ilmu Pendidikan. James O. Palmer. Alex & Jeff Grimes (ed. 1988. Washington DC: The National Association of School Psychologist. 1415 H) Hahn. The Psychological Assesment of Children. An Introduction to Theories of Learning. Santrok. Vander. (Ja199 . New York: John Wiley & Sons Inc. From Childhood To Adolescence. Third Edition. Thomas. (Jakarta: Rineka Cipta. Hergen. Jean & William Proctor. (New Jersey: Prentice Hall. Sixth Edition. The Self-Confident Child. Zanden. Thomas. Inhelder.t) Asy’ari. New York: Alfred A. London: Routledge & Kegan Paul LTD. James W. Children’s Needs: Psychological Perspectives. R Murray. Knopf. Belmont: Thomson Wadsworth. Life-Span Development.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain. Yoder. Abu & Nur Uhbiyati.1987. John W. Sixth Edition. Comparing Theories of Child Development. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi. Muhammad Hasyim.1985.1983.2005. Muhammad ‘Athiyah. (Jombang: Turast al-Islam. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. 1976) Hasan.). 2001) Al-Abrasyi. William. 2005. Englewood Cliffs. 1997. Ahmadi.

(Yogyakarta: Genta Press. (Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta.I Postman. 2007) Hasbullah. Mendidik Anak Secara Islami. 2008) Mastuhu. 2007 200 . Jakarta. (Jakarta: Bumi Aksara. 2001) Tilaar. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. (terjemahan). 2010) Juan. (Ar-Ruz Media. the End of Education Redefining the Value of School. Malpraktik Pendidikan. Mawardi. Siti Farida. Nurul. (Yogyakarta: Jendela. The Education of Don Quixote. PT. Zurinal & Wahdi Sayuti.Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. no 1 Wibowo. Cet.. 2008) Z. 2006 Nurul Zuriah. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. 1990) Abdullah Nashih Ulwan. 1994) Nasr. 6. PT. Science and Civilization in Islam. Bumi Aksara. terj. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. Estarella. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. Evaluasi Pendidikan Nilai. (Jakarta: UIN Press. Comperative Education Review. RajaGrafindo Persada. HAR. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Dinamika Sistem Pendidikan. Agus. Cet. I Zuriah. (New York: New American Library. Sayyed Hossein. (Jakarta: INIS. 2000) Lubis. 1970). vol 6. 2006). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Neil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful