Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

kebiasaan. 2. dan EQ secara efektif. Mengembangkan hati nurani. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. terdapat empat pokok utama: 1. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. Dalam mempelajari sikap moral. Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. 4. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. dan peraturan. dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . 3. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif.

Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ). 6 .dkk. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional). enurut mussen. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis. yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap. egosentris dan konkrit 2.Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. yaitu : 1.

kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. 3. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. 7 . artinya untuk dapat hidup secara harmonis. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya.

4) Masa Kanak. 2) Umur 3 – 6 tahun.Kanak awal. Menurut Kohnstamm. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. 2) Masa Neonatus. periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. 5) Masa Kanak. 6) Masa Pubertas (pra adolesence). Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain. periode social atau masa pemuda. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua. 3) Umur 6 – 12 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas. umur 13 – 17 tahun. periode vital atau menyusuli. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun. Elizabeth B. umur 6 – 10 atau 11 tahun. 3) Masa Bayi. 8 . tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. umur 2 – 6 tahun.Kanak akhir.Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. saat terjadinya konsepsi sampai lahir.

Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. Agama Pada Masa Anak. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. 2 – 6 tahun (masa kanak. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks.kanak) 3. yang dimaksud dengan masa anak. 2.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. yang pada awalnya diterima secara acuh. Hurlock. umur 21 – 40 tahun. umur 60 tahun keatas. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. 9 . Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. umur 40 – 60 tahun. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. 10) Masa Tua. Namun. 9) Masa Setengah Baya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal.kata orang yang ada dalam lingkungannya. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. 0 – 2 tahun (masa vital) 2.

akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. butuh. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga. takut dan cinta padanya sekaligus. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Menurut Zakiah Daradjat. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman.

Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. Pada usia ini. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 . b. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya.kanakannya. sejalan dengan perkembangan usia mereka. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.dongeng. c.

Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Fase kanak. • Konsep ketuhanan yang lebih murni. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. Pada fase ini anak sudah mulai 12 . Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. yaitu: a. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. c. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. • Berkaitan dengan masalah ini. b. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit.

aspek jiwa lainnya. 13 . Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek. Menurut penelitian.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.kadang kurang masuk akal.4. d. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. cukup sekedarnya saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. Anak pada usia kanak. sejalan dengan perkembangan moral. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam. 4. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar.

tetapi amat konkret dan pribadi. Mereka menghafal secara verbal kalimat. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak.gerik tertentu. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. d. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.Pendidikan Karakter b. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . Pada usia 7 – 9 tahun. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. c. Dalam hal ini. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.

Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. penghargaan. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Instink biologis. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. dan aktualisasi diri 15 . seperti rasa aman. penerimaan. seperti lapar. dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). e. dan seterusnya 2. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. akan tetapi berupa teladan f. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. Kebutuhan psikologis.

metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. keteladanan. pembiasaan. pembimbingan. metode pengembangannya adalah pengarahan.Pendidikan Karakter 3. penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). Lingkungan keluarga 2. Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di . Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah. dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. dan sebagainya Faktor eksternal 1. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. agama. Kebutuhan pemikiran. indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran. Lingkungan sosial 3. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup.

dunia yang tanpa batas. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global.sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. suka bekerja keras. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 . mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita. Di samping itu dari segi keuntungan domestik. Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. Dari segi global.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia . pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif.yang kurang baik. Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. kita hidup di dalam dunia yang terbuka.

sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. (9) membudayanya ketidakjujuran. dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. seperti penggunaan narkoba. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. alkohol dan seks bebas. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. (6) menurunnya etos kerja. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. misalnya etika dan estetika 18 . (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. Artinya. (4) meningkatnya perilaku merusak diri.

Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. 2. Hilangnya model kepribadian yang integral. Fenom- 19 . Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut. Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak. 10-11): 1. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. kebaikan dengan kekuatan. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Melemahnya ikatan keluarga. dan seterusnya 3. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali.

menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. Pada tataran makro. krisis kejujuran. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 . Oleh karena itu. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis. moral. Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita. 3. telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Secara tersurat. dan budi pekerti dewasa ini. penyalahgunaan obat-obat terlarang. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa. tindakan-tindakan diskriminasi.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. pergaulan bebas. perkelahian di kalangan mahasiswa. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara normatif. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. ideologis. Secara filosofis. historis maupun sosiokultural. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. mencerdaskan kehidupan bangsa. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. baik secara filosofis. berbangsa. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Secara ideologis. berjiwa persatuan Indonesia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. perdamaian abadi. normatif. 25 . Secara historis. baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. dan keadilan sosial. memajukan kesejahteraan umum. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara sosiokultural. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural.

rasa. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. berjiwa patriotik. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. dan 26 . berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. berkembang dinamis. rasa. dan global yang berkeadaban. pandangan. karsa. dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. regional. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. berakhlak mulia. berbudi luhur.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. olah rasa dan karsa. bertoleran. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. norma UUD 1945. bergotong royong. karsa. haluan negara. pemahaman. kompetitif. konstitusi. bermoral. olah hati. pemahaman.

Di samping itu. Oleh karena itu. adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya. di mana nilai-nilai budaya. pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI. 27 . khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom).

Pendidikan Karakter 28 .

dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A. Anak usia sekolah dasar misalnya. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. 29 . Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa.

bolos sekolah.Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. tawuran. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. baik guru maupun sesama. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. rasa malu yang kian terkikis. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. Dengan 30 . pergaulan bebas dan sebagainya. Padahal. budaya kekerasan di kalangan remaja. Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009). prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

masyarakat. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu.” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. akhlak mulia. bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri. Bahkan ia menegaskan. kecerdasan. sehat. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. artinya. agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. kreatif. Di samping itu. berilmu. kepribadian. Selain itu. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . cakap. berakhlak mulia. mental dan moral bagi individu-individu. mandiri. bangsa dan negara”. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut.b. pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika.c. dan kebudayaan.d. Karakteristik Dasar dan Fungsi. dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan. agama. Karakteristik Sosial Budaya. pembukaan UUD 1945.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara. yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 . Karakteristik Kesisteman (Sistemik). Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a. yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara. diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Karakteristik Tujuan.

Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mewujudkannya. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. ras. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. dan gender. ketakwaan. agama. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. etnis. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. dan kompetensi estetis.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial.

Alexandria. by J. persamaan. VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. dan kompetensi kinestetis. Karena itu. Dengan demikian. keberanian. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. kecakapan praktis. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran. Brand. dan kehormatan. kebaikan.Pendidikan Karakter teknis. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu.L McBrien & R. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. antara kebebasan dan determinasi. B. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. antara 38 . yaitu. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. diantara dalam konteks pendidikan. kebebasan. kedermawanan. Dengan kata lain. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang.S.

tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. Dengan gambaran manusia seperti ini. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. 39 . yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. sehingga menjadi seperti yang diinginka. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. dilakukan. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. Jadi.

Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). dimana seseorang bisa disebut orang 40 . Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan.Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. sementara orang yang berperilaku jujur.

pikir. Kedua. Perasaan tentang Moral. pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. 3) empati (emphaty). Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. 3) kebiasaan (habit). Pertama. serta rasa dan karsa. 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values). 2) harga diri (self esteem). 2) keinginan (will). Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. dan 6) kerendahan hati (humility). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. raga. Pengetahuan Moral. Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 . Ketiga. dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). Perbuatan/Tindakan Moral. 5) membuat keputusan (decision making). Dalam pendidikan karakter. 4) mencintai kebajikan (loving the good). 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience. 5) pengedalian diri (self control).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness). yaitu: 1) kompetensi (competence). Dengan demikian. Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut.

politik tanpa prinsip/etika. misalnya mata pelajaran matematik. serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). peduli. dan kreatif. semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. fokus 42 . PIKIR (kecerdasan). Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. C.Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. tanggung jawab. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. bersih dan sehat. cerdas. pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. RAGA (kesehatan dan kebersihan). perdagangan tanpa moralitas. Tetapi pada kenyataannya. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan.

bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. dan orang tua di rumah. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. semua guru. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. tukang sapu. orang yang berjualan di kantin sekolah. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. semua pegawai tata usaha. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. pesuruh sekolah. bukan sekedar mengingatkan. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia.

Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 . Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. pelaksanaan.Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Bagi Foerster. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). pengorganisasian. penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. kualitas seorang pribadi diukur. Pertama. antara independensi eksterior dan interior. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Dari kematangan karakter inilah. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Kematangan keempat karakter ini. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. keteguhan dan kesetiaan. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. koherensi yang memberi keberanian. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Kedua. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. membuat seseorang teguh pada prinsip. lanjut Foerster.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. antara aku alami dan aku rohani. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. otonomi. 45 . Keempat. Ketiga. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.

positif. dan masyarakat sekitar sekolah. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila. D. Sebaliknya. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. Mereka bersumpah untuk berbangsa. tradisi. karakter negatif dan . Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. karakter atau watak. kebiasaan keseharian. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. dan landasan konstitusional UUD 1945.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. bertanah air.

bekerja-sama. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. terorisme dan lain-lain. tindakan sosial. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. Hal ini cukup beralasan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. tanggungjawab. penguatan sikap positif dan negatif. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. bermain peran. pandai berterima kasih. patuh pada peraturan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. penanaman keteladanan. mandiri. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. suka menolong dan tumbuh kasih sayang. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin. simulasi. masyarakat yang memiliki sifat jujur. tanya jawab sehingga pada 47 . Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. kekerasan. simulasi. memiliki inisiatif. bisa dipercaya.

Pendek kata. dan internasional melalui adat istiadat. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue).Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. 2. tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah. 1. 48 . dan tatanan antar bangsa. nasional. Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. 3. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini. lokal. 4. undang-undang. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti. hukum. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut.

mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. 3. Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti. F. 1. berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. baik dari segi agama maupun akal yang lurus. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. 49 . 2. tidak berdasar. 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E. Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13). Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. menyimpang.

arah baru. berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. kemauan. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan. sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa.Pendidikan Karakter Pengisian. sebelum kita melakukan suatu tindakan. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. yang membentuk kesadaran baru. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. • 50 . dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. yaitu arah yang akan menentukan motifnya. logika baru.

Dr. berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa. dan pengendalian bagi mental kita • 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G. penguatan.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 . Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter).

Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. jujur (fairness). hormat dan santun. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. ketulusan (honesty). percaya diri.Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. berani (courage). dapat dipercaya (trustworthiness). 52 . kreatif. tekun (diligence) dan integritas. disiplin dan mandiri. dan kerja sama. dan toleransi. peduli (caring). Sementara itu. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. tanggung jawab. peduli. kerja keras dan pantang menyerah. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. Oleh karena itu. character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. kewarganegaraan (citizenship). kasih sayang. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. jujur. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. tanggung jawab (responsibility). keadilan dan kepemimpinan. baik dan rendah hati. rasa hormat dan perhatian (respect). cinta damai dan persatuan.

ketekunan. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. Lebih spesifiknya. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. pertimbangan moral. menghormati harga diri individu. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. simpati. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. kesetiaan. kesopanan. masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. sikap bertanggung jawab. toleransi. pendidikan 53 . integritas. dan pengetahuan diri tentang moral. seperti kejujuran. keadilan. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. pengendalian diri. keberanian. dan disiplin diri. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab. menurut Dr Thomas Lickona. pembuatan keputusan yang matang.

afektif dan psikomotor. terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). sangat memedulikan tentang yang benar. Anak didik bisa menilai mana yang benar. 54 . (4) adil (fair). Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif. Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Lebih lanjut. (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. (3) bertanggungjawab (responsible). (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. memedulikan. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya.Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti.

hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin.

Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). berakhlak mulia.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya.Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. diantaranya: a. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). menjadi teladan bagi peserta didik). yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. arif. Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. Alangkah naifnya. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. atau siswa hanya sekedar “tahu”. Bapak Pendidikan Nasional. Karena seringkali orang tahu belum tentu paham. dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. orang paham belum tentu melakukan/berbuat. telah menekankan pentingnya ketauladanan. Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. berwibawa. Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. 56 .

Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas. Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. minat. b. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. keimanan. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. good teacher explains. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. ketakwaan. Maka. panggilan jiwa. great teacher inspires’. 57 . terutama kompetensi kepribadian dan social. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan.

c. 58 . Selain itu. Namun. aktifitas di kelas. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. tetapi menyentuh pada internalisasi. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. dieksplisitkan. Dengan demikian. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. pola tutur kata. Artinya. dan sebagainya. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian.

tindakan (acting). dilaksanakan. perasaan (feeling). Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. potensi. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. bakat. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. pembelajaran. pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). Dengan demikian. pendidik dan tenaga kependidikan. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. serta potensi dan prestasi peserta didik. Dengan demikian. muatan kurikulum. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. dan komponen terkait lainnya. penilaian. baik di lingkungan 59 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. nilai-nilai yang perlu ditanamkan.

60 . disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. dan persekolahan. masyarakat. mandiri. Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa. Dengan begitu. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh.Pendidikan Karakter keluarga. bertanggungjawab. memahami hak dan kewajiban.

Krisis moral secara meluas. Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik. Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). 61 . Sadisme.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik).

pergaulan bebas sex. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. moral akhlak. dengan tumpuan kepada sensual. seronok. boros. Tawuran antar pelajar. cinta mode. sensual._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. erotik.Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton). Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin. dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. mencari jawaban dari paranormal. horor. erotik. terlepas dari kawalan agama. di dengar. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. dicicipi. Orientasinya hiburan melulu. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. yang lazimnya melahirkan klub malam. adat luhur. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. kasino dan panti pijat.com/ wp-admin/ .wordpress. di sentuh. Seni dibungkus selimut art for art’s sake. eksotik. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. dirasa. mengutamakan kesenangan badani (jasmani). night club. ilmu dan filsafat. rakus. 62 .

Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. berakhlak mulia. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. worldwide sing. minuman keras. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. berilmu. kecanduan narkoba. kesukaan judi dalam urban popular culture. dan sejenisnya. geng motor. 63 . yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. sehat. cakap.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. nyontek saat ujian. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. kreatif. Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3. musro. mandiri. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa. 64 . tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. Permasalahannya. pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas.

Hilangnya nilai-nilai kejujuran. baik di keluarga. dan konstruktif. tetapi juga benar. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan. Menurut Franz Magnis-Suseno. menggunakan pendekatan yang tajam. berani mengusulkan alternatif. positif. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . dan tidak membantah. yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik.. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. tenggang rasa. berani mengambil inisiatif. karakter anak tidak akan berkembang. integritas. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. Namun. Kalau kita mengharapkan karakter. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri.

luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan.Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. istiqamah pada agama yang dianut. 1. pola dan politik pendidikan. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. berkembangnya kejahatan orang tua. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. dan profesi guru dilecehkan. 66 . Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. impotensi dikalangan pemangku adat. hilangnya wibawa ulama. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua.

dan seterusnya 3. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. misalnya etika dan estetika 2. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. kukuh ekonomi. kebaikan dengan kekuatan. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Hilangnya model kepribadian yang integral. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai.

ilmu pengetahuan.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. 3. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. budaya. krisis nilai. 4. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. tidak demokratis. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. sosial. ekonomi. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis. 2. politik dan agama. teknologi. tidak berori- 68 . krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. 5.

Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. 2. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. yaitu terjadinya pergeseran 69 . apa yang patut dan tidak patut. sehingga hancurlah bangsa itu. apa yang adil dan apa yang tidak adil. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain. membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. Oleh karena itu. saling menyakiti. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. Namun. maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar. Jika tidak. 1992). aturan dalam berlalu lintas. perlu ada etika dalam bicara.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. dan aturan-aturan sosial lainnya. bahkan saling membunuh. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. merusak lingkungan. musyawarah mufakat. dan golongan seakan masih menjadi prioritas.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sopan santun. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. kejujuran. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. lemahnya budaya patuh pada hukum. 70 . menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. kekeluargaan. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. Hal tersebut. kepentingan kelompok. nilai solidaritas sosial. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. kurangnnya keteladanan para pemimpin.

baik dalam cara berpakaian. 71 . diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. dan pola hidup konsumtif. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. Untuk itu. Berdasarkan indikasi di atas. serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. agama. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. pergaulan bebas. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. bertutur kata. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia.

kolusi. Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. kesukaan. keturunan. potensi. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi. nilai-nilai. dan hubungan antara manusia dengan manusia. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. kemampuan. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. merasa dirinya bersatu. adat dan sejarah Indonesia. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat. kebiasaan. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. bahasa. 72 . Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. bakat. asal. memiliki kesamaan nasib.Pendidikan Karakter 4.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

internet. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. 2. Perkembangan cyber space. 3.wordpress. persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Konsep-konsep visi. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. demokratis. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. keterampilan dan pemantapan strategi. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah. informasi elektronik dan digital. Oleh karena itu.com/wp-admin/ . misi. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 .

muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. budi pekerti. 5. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan.Pendidikan Karakter 1. Revitalisasi pendidikan agama. 2. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. 4. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. Rumusan ulang kiblat (arah). Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. kebebasan. rumah tangga). 3. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. masyarakat. penghormatan terhadap orang tua. Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 . adab percakapan ditengah pergaulan. yang akan menjadi kekuatan moral.

1981). Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia. Selanjutnya. 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. C. pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock. White (dalam Hurlock. Dengan kata lain. ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini.

saudara. Apabila aspek ini diabaikan.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. c. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. Apabila aspek ini diterapkan. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Membiasakan Kejujuran. teman. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Membiasakan Keadilan. Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. a. d. Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. orang tua dan lingkungan sekitar. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut. Membiasakan meminta Izin. b. maka anak akan menjadi generasi pendusta. Membiasakan Bicara dengan Baik. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. yakni.

Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. dan dengan elemen sekolah. e. Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. pujian. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. Maka dari sifat jujur.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. f. Membiasakan Kasih Sayang. Memberikan Penghargaan. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. 81 . membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. makan dengan tangan kanan. Membiasakan Bergaul yang Baik. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. h. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. dan tidak boleh berlebihan. tidak sambil bersandar. g. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. dan katakata. tidak boleh mencela makanan. tepuk tangan. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut.

atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. 2 Niat yang benar dalam perbuatan. kuatnya hati.Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. seperti: yakin. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. zuhud. Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. dan jelasnya persoalan. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. qana’ah. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik. maka ia termasuk salah seorang pembohong. mahabbah (cinta). haya` (malu). saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian. seperti: sabar. Setiap akhlak yang baik. Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. dan ridha. yang memberikan ketenangan kepada pendengar. bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. khauf (takut). karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. dan ta’dzim (pengagungan). sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi. Dan di antara tanda dusta adalah 82 . serta berusaha mengamalkannya. ijlal (membesarkan). maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar.

seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. bingung. dan bertentangan. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 . Jelas. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. gagap. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. spontanitas.

Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. atau tidak beraturan.Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. serta rambu-rambu agama. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 . Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak.

• Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. Dan dakwa ini dianggap dusta. berjingkrak dan bermain. atau pun yang lainnya. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. • Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. 85 . namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya. Dan ketika ia bangun. ketawa. Seperti itu pula. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. Padahal is tidak memilikinya. ia makan. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. padahal sebenarnya tidak. Bagi anak. sehingga dia menjadi pusat perhatian. pakaian yang bagus. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak.

tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar. • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya. sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar.Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. • Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 . tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar.

Inilah yang dikatakan egois. Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. hingga dia terdorong untuk balas dendam. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya. Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari.

Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan. tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak. Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak. dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak. Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. karakter. Rasulullah SAW bersabda: 88 . kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik.

atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam. mental. atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. serta akal dikemudian hari. Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua.

Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang. atau boleh jadi 90 .Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. atau malah terkena penyakit saraf. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. takut menghadapi tantangan. atau sering kali terlambat datang kerumah. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. semburu. pendengan. Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya. takut kepada yang lain. membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. lecet atau luka serta kelumpuhan. seperti indra penglihatan. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. akal jiwa.

maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 . Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. atau malah membangkang. durhaka. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan. Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1. agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. • Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua.

Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya. Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali. 2. yaitu berdusta. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada . Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya.Pendidikan Karakter • • • • suara. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan. maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 . Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta. dan mencela bila ia berbuat tidak baik. Dan apabila itu pun kalau ada. • Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat. Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya. Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya. memutivasinya. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. seperti mainan atau yang lainnya.

• Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. Dalam tahap ini. • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah. Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal. Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. yakni berbuat dusta. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak. 94 . Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak.

“Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”. Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata. Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. 3. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 . Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak. (HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya.

. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. “Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan. 2. mainan. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. bercita-cita. Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. pakaian dan lain-lain. Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang.Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang.

misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya. Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik. dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. melukis. Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. menulis dengan baik. Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya. 3. Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut. Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 . Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya.

Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. hingga anak tersebut menjadi pembangkang.Pendidikan Karakter menimpanya. Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak. “Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang. memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya. serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. 4. 2. berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat. 1. dan tidak ber- 98 . Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya.

Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun. 4. dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya. Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya. 3.

niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. Rasulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan. lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup. Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. 100 .Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri.. (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. “kembalilah kepadanya”. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?. baik dalam memberikan belanja. kemudian ia berkata. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan. “Tidak”. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW.

Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu. Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. karena adil lebih dekat kepada takwa. Berlaku adillah. sekalipun ada dorongan untuk selain itu. 1. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. dan sebaliknya. mendorong kamu untuk berlku tidak adil. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . seperti kemarahan yang amat sangat. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban. kebencian. membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. Dan bertakwalah kepada Allah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan.

disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 . Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta.padahal mereka semua adalah saudara sebapak. “Andakan mereka paham. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak.Pendidikan Karakter mereka masing-masing. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya. Mutawalli berkata. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. 2. maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta.

4. Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta. mementingkan dirinya sendiri. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya. Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. 5. maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 . 6.

6. 5. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri. agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak. Menghafalkan kepada anak ayat. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah. menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. hadits nabi tentang kejujuran. 3. Menanamkan pemahaman halal. Ikhals kepada-Nya. Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta. haram. jujur.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. 4.

Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. menggambar dan sebagaianya. puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. 9. Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. Mengikuti seluruh kegiatan ini. Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya. 10. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya. 105 . 7. itu dari segi rohani. Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis. 8. Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat. berolahraga. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. Seperti salat. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia.

D. Menurut Megawangi (2003). tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. Dengan kata lain.Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak. perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. dan sebagainya .keluarga. sekolah dan lingkungan sekolah.turut andil dalam perkembangan karakter anak. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. maka semua pihak . sekolah. oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera. media massa. komunitas bisnis. Oleh karena itu. berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 . Tentu saja hal ini tidak mudah. dan tuntunan yang bijaksana. masyarakat luas. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut.

Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. Dengan demikian. estetika. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Sejarah. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. Menurut 107 . 2003). rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. estetika untuk pembentukan karakter. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. dan warrahmah). dan hukuman kepada yang melanggar. nilai-nilai etika. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. pelajaran Agama. sekolah untuk kasih sayang (Philips. Sebagaimana disarankan Philips. mawaddah. Moral Pancasila dan sebagainya. tatapi lebih dari itu. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. yaitu penanaman moral. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. seperti. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah.

maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. para pemimpin. 321). baik. dan positif secara konsisten. tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. pembuat kebijakan. Oleh karena itu. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah.Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 . upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’. 108 . keluarga. pemegang otoritas di masyarakat. Sementara itu. Lingkungan masyarakat. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah.

Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati. Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 . tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik. Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education).

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. hamil muda. masalah disiplin. daerah. dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. terpadu.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. sesuai standar kompetensi lulusan. integritas. dan performa akademis yang buruk. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. bertanggung jawab. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. kekerasan berkelompok. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. dan disiplin diri. penggunaan obat terlarang. etika. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. Pada kemungkinan yang terbaik. tidak . Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. bertanggung jawab. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral.

seorang filsuf pendidikan. Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. dan bebas. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. 5) decision making dan 6) self-knowledge. Pertama. Kedua 115 . 3) persperctive taking. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal. 4) moral reasoning. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. for. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. tidak memihak (non sectarian). The common school should teach virtue before knowlede. 2) knowing moral values.. Moral Knowing. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837).: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature.

trust. 3) empathy. Hormat dan santun (respect. empathy. self reliance. creativity. assertiveness. Baik dan rendah hati (kindness. kedisiplinan. obedience) 5. modesty) . 2) self-esteem. 4) loving the good. moderation. reverence. courage. fairness. kepedulian. dan kerjasama (love. Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. discipline. kreatif. mercy. honesty) 4. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). compassion. courtessy. Percaya diri. Kasih sayang. Tanggungjawab. resourcefulness. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. dan kemandirian (responsibility. caring. dan pantang menyerah (confidence. humility. determination and enthusiasm) 7. loyalty) 2.Pendidikan Karakter Moral Feeling. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). 5) self-control dan 6) humility. orderliness) 3. generousity. excellence. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. reliability. cooperation) 6. Ketiga Moral Action. Amanah (trustworthiness. leadership) 116 8. friendliness. Keadilan dan kepemimpinan (justice.

seperti keluarga. Toleransi dan cinta damai (tolerance. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. Dengan desain demikian. flexibility. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. (2) Desain berbasis kultur sekolah. dan (3) Desain berbasis komunitas. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. masyarakat umum. peacefulness. ketika berada di lingkungan sekolah. Masyarakat di luar lembaga pendidikan. mencontoh. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. Dalam mendidik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. (1) Desain berbasis kelas. dan negara. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. yakni. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. unity) Agar dapat berjalan efektif. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. kembali ke rumah.

yang mana nilai-nilai universalnya hidup. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. 118 . Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan.Pendidikan Karakter agama. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. identitas dan kepercayaan diri. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. Kedua. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati.

Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. dan silabus. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. Keempat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif. rencana pembelajaran. yang dikemas di dalam KTSP. 119 . harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional.

membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. bukan hanya sekolah. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. 120 . Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Yang terakhir. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible.Pendidikan Karakter otoriter. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. berkarakter kuat. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. Ringkasnya. dan lain sebagainya.

yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. Menurut Brian. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. “Satukan kata dan perbuatan!” C. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. pelatih. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. Ringkasnya. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. penceramah. dan yang terkadang kelihatannya sepele.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Selain itu libatkan secara luas motivator. keseharian. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 . Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta.

Padahal. sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif. Dalam wujud praksis. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita.Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. Pertama. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip. melainkan hanya selera sesaat. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. Sejauh ini. yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama. bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. EQ (emotional quotient). Namun. pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. SQ (spiritual quotient). perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal.

Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. Di samping itu. Maka. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). terutama kompetensi kepribadian dan social. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. good teacher explains. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). berwibawa. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 . yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. great teacher inspires’. menjadi teladan bagi peserta didik). Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. arif. berakhlak mulia.

Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu. Brian menyebutkan. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah. diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat.Pendidikan Karakter Memiliki bakat. minat. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. 1. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yakni kegagalan . panggilan jiwa. Oleh karena itu. keimanan. Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. berlandaskan keyakinan. yakni pengetahuan yang baik. niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. dalam memperoleh pengetahuan. ketakwaan. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak.

Bersikap adil dan terhormat. dan memahami orang lain. dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. dan berkata benar dalam segala hal. rasa 2. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. sopan. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. dapat dipercaya. 4. memperlihatkan perhatian. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. membantu. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). 125 . Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian.

narkoba. Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . rokok. perlawanan. dan dermawan. 6. alcohol. Menghindari seks di luar nikah. menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan. dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. aksi. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. 8. pada orang lain. 5. dapat mengendalikan kata-kata. reaksi. Di Indonesia. kesalahan. dan untuk Negara. untuk barang hak milik. 7. dan juga keinginan. atau kegagalan.Pendidikan Karakter 126 kasihan. pada diri sendiri. berkawan. zat dan perilaku berbahaya lainnya. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. atau keputusasaan.

Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. emosi. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. dan nuraninya. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi. perasaan. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. sentuhan nurani. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 .

terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Di Indonesia. dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak.Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. yaitu hanya mewajibkan 128 . dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif.

karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya. emosi. baik dan rendah hati serta toleransi. sebab pendidikan karakter (akhlak. kejujuran/amanah dan bijaksana. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. hormat dan santun. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. dan nuraninya. perasaan. sentuhan nurani. 129 . kedamaian dan kesatuan. percaya diri kreatif dan pekerja keras. kepemimpinan dan keadilan. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi.

melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . 2. guru. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. entah itu pendidikan agama. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. kewarganegaraan. Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . dan tetap eksis. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. sebagai berikut. Pertama. mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja. etika. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah. Kita hidup tidak sendirian. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. Oleh karena itu.

jujur kepada orang lain. Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. mulai jujur kepada dirinya sendiri. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. Ketiga. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 . Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. kasih sayang. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. mencintai belajar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. (2) kepercayaan. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Kejujuran. Oleh karena itu. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. dan (3) kewibawaan. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. jujur kepada Tuhan. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. Keempat. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. kejujuran. Kelima. menghormati diri sendiri dan orang lain. bertanggung jawab. yaitu (1) kasih sayang. kita harus hidup beretika. Konon.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius.

Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. berpikir logis (common sense). adalah warisan petuah para sahabat Nabi. kemauan kuat (perseverence). motivasi (motivation). Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. kasih sayang (caring). dan budaya. bahkan dari keluarga. agama. menghormati hak orang lain. Waktu adalah pedang. 132 . Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. inisiatif (initiative). yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). konsentrasi pada tujuan (focus). pemecahan masalah (problem solving). tanggungjawab (responsibility).Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. tepat waktu. kerjasama (teamwork). Ketujuh. Keenam. Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. usaha (effort). ekonomi. Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris.

Louis. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. tanpa ketiga aspek ini. Character Educator. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Bahkan secara spesifik. dan tindakan (action). dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.St. Dengan pendidikan karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Menurut Thomas Lickona. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. perasaan (feeling). Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Ratna menyebut tiga unsur yang 133 .

Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih. adalah habit of the mind. Kedua. tidak akan ada artinya. Pertama. konsep yang dibangun. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Acting the good. dan habit of the hands. namun mereka tidak tahu alasannya. Untuk membentuk karakter. Feeling the good. itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. anak dilatih untuk berbuat mulia. et. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk. Jika Feeling the good sudah tertanam. habit of the heart. Menurut Ratna. anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. Jadi. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. Selama ini hanya imbauan saja. Pada tahap ini. Ketiga. Knowing the good. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.al. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik.

Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). kemampuan bekerja sama. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . dan kemampuan berkomunikasi. tetapi pada karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah. kemampuan bergaul. perilaku seks bebas. miras. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. narkoba. tawuran. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. yaitu rasa percaya diri. dan sebagainya. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. rasa empati. kemampuan berkonsentrasi. akan mengalami kesulitan belajar. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya.

Akibatnya sejak usia dini. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. Namun masalahnya. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. 4. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. akan menimbulkan stress berkepanjangan. . sebagai anak yang kurang pandai. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”.

berbangsa. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. 11. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 137 . 9. budaya. Menghargai keberagaman agama. kreatif. 13. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Menunjukkan sikap percaya diri. 6. 8. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. 7. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. ras. 3. suku. dan kreatif. kritis. 5. 10. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. 12.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. 4. dan inovatif. Menghargai karya seni dan budaya nasional. kritis. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis.

16. aman. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. 18. berbicara. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Menunjukkan keterampilan menyimak.Pendidikan Karakter 14. D. bugar. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Menerapkan hidup bersih. tradisi. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . 21. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. 19. yaitu perilaku. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. Memiliki jiwa kewirausahaan. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. Menghargai adanya perbedaan pendapat. membaca. sehat. 15. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. kebiasaan keseharian. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 20. 17. Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah.

Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. proses dan prakteknya dalam pengajaran. Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. 2. staf dan siswa didik. Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. 3. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata. tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan.

Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa. as old as 140 . Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. It is in fact. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. Kirschenbaum. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon.

datang dari rumah. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. komunitas. suasana. dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. guru dan siswa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. Down through history. dan kurikulum 2. adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. in countries all over the world. 141 . Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1. perubahan (reformasi) sekolah 9. adalah proses. dan sekolah 3. adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. adalah didasari oleh riset. teori. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”. Dengan demikian. bukan hanya program 8. adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. yang terbaik adalah.

bukan hanya sektor pendidikan nasional. komunikasi dan informasi. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. kesehatan. hukum dan hak asasi manusia. menghasilkan sikap yang kuat. khususnya sektor keagamaan.Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. kesejahteraan. dan pikiran yang argumentatif. pemerintahan. Pada konteks makro. Pada tahap evaluasi hasil. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut. 142 . dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan.

yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler. menguatkan. 143 . berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan. memperbaiki.

yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter. Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Untuk kedua mata pelajaran tersebut. Sementara itu mata pelajaran lainnya. Khusus. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan.

dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima. Palang Merah Remaja. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. pertemuan wali murid. perilaku. kepribadian. dll. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. Liga Pendidikan Indonesia. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. pelatihan. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap. kompetisi atau festival. seperti kegiatan Dokter Kecil. Pecinta Alam. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter.

baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. misalnya kursus keterampilan. di rumah.Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. dan di masyarakat. bimbingan belajar. Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. pelatihan-pelatihan singkat. seperti kegiatan 146 . Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. kursus kepemudaan.

pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. pelatihan kewirausahaan. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 . Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari. kepribadian. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. kejujuran. dan akhlak mulia. dan pelatihan keterampilan profesi. pelatihan kepemimpinan. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. pelatihan kepemimpinan. olahraga. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. Sedangkan pada lingkup media masa. kesenian. jiwa patriotik. pelatihan kode etik jurnalistik. keagamaan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. sosial.

Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. baik di jenjang pendidikan usia dini. pendidikan dasar dan menengah. d. . serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. c. standardisasi perangkat dan proses penilaian.Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. a. Oleh karena itu. dasar. b. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter.

yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).” 149 . Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya. pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. Men kan niet onderwijzen wat men wil. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri. Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. E. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. pengembangan. akan ‘beranak’ hijau. men kan niet onderwijzen wat men weet. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa.

belajar terus tanpa henti. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. bila memang tidak tahu. Namun. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. tidak main topeng.Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Dengan terus belajar. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa. konsekuen dengan apa yang diajarkan. tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa. guru akan semakin banyak tahu. betapa sering kita menyampaikan 150 . Bila memang bersalah. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. Ketiga. Kedua. ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. bila guru sendiri terus belajar.

Pelajar dan ilmuwan. pengurus perpustakaan dan lain-lain. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Pekerja sosial (social worker). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. 2. karyawan. staf. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. direktur. seorang guru harus berperan sebagai. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Teladan. baik pendidikan keluarga. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. 151 . kepala sekolah. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan. keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. 1. Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. sekolah dan masyarakat secara luas.

sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. berkembang. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. baik karena siswa yang malas. Seringkali. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. dan 5. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. model keteladanan. 4. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh.Pendidikan Karakter 3. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. tidak punya buku paket atau alasan lain. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. Di masa depan. Orang tua. 152 .

tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. apa yang mereka rasakan. Oleh karena itu. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. Sebab. dan apa yang mereka lakukan. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. namun teladan itulah yang menarik hati). 153 . Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru. dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. Untuk itu. Konsistensi dalam pembelajaran. yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. apa yang mereka dengar. pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah. Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya. guru sering mengajarkan kesamaan hak.

Pendidikan Karakter 154 .

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. 155 . dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak. sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas. baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah).

merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. Oleh karena itu. maka masyarakat pun akan lemah. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran. Bagi seorang anak. mengasuh. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 . dan Kesejahteraan. dan kemampuan-kemampuan dasar. keinginan untuk menjadi yang terbaik. dan mensosialisasikan anak. William Bennett (dalam Megawangi. 2003). sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Menurut pakar pendidikan.Pendidikan Karakter Dari sini. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Pendidikan. semangat. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat .

Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. teristimewa pendidikan budi pekerti. 2006: 42. Oleh karena itu. ”Rasa cinta. B. mengatakan. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. sejahtera”. dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. 157 . Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya. terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya.” Dari sini. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya.

Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. (2) Pola asuh demokratis. patuh. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak. dan tidak boleh bertanya. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. C. (3) Pola asuh permissive. dan (3) Pola asuh permisif. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter.Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. (2) Pola asuh Authoritative. Oleh karena itu. 3) ü . Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. anak harus tunduk. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar. sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan.

4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku. sentuhan. termasuk karakter. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. dan kelekatan emosi orangtua . 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. anak belajar tentang banyak hal. Artinya. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua. 4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka.. 2) Anak diakui sebagai pribadi.

orangtua yang otoriter merugikan. kurang tanggungjawab serta agresif. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. Sementara itu. Pada akhirnya. dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. 1993). Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. Sementara. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. di mana keluarga yang broken home. Menurut Arkoff (dalam Badingah. karena anak tidak mandiri. anak yang dididik secara 160 . anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan.Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. Di sisi lain. apalagi terkesan membiarkan. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak.

dorongan. anak yang ditolak adalah anak yang 161 . Dalam hal ini. (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. sosial-kognitif. dan pujian). dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). dan kontak mata yang mesra). maupun secara fisik (diberi ciuman. elusan di kepala. (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. Menurut Middlebrook (1993). baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. Sementara. Penelitian tersebut . kata-kata yang membesarkan hati. perilaku. akan mempengaruhi perkembangan emosi. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak.yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. pelukan. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya).

dikecilkan. bahkan dibenci oleh orang tuanya. tidak disayang. atau bersifat undifferentiated rejection. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. sindiran negatif. Sementara itu. bersikap sangat agresif kepada orang lain. baik secara verbal (katakata kasar. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. bentakan. percaya diri. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. mencubit. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. dianggap berharga. atau menampar). Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. walaupun orang tua tidak merasa demikian. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. dilindungi. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. ataupun secara fisik (memukul. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). yaitu : 162 .

yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Menjadi minder. dan gangguan emosi negatif lainnya. la kelihatan sangat mandiri. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. dan berkata-kata kasar 4. Anak menjadi acuh tak acuh. 2. Bersikap kasar secara fisik. 2. 163 . 5. misalnya memukul. Berperilaku agresif. merasa diri tidak berharga dan berguna. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. mengecilkan anak. mencubit. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. rasa tidak percaya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. Bersikap kasar secara verbal. 4. tidak butuh orang lain. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. 3. 3. 1. Secara emosiol tidak responsif. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1. simpati. dan memberikan hukuman badan lainnya. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. 6. dan tidak dapat menerima persahabatan. misainya menyindir.

seperti rasa tidak aman. Ketidakstabilan emosional. 6. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak.Pendidikan Karakter 5. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya. akan membuat anak merasa tidak dekat. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Menurut Megawangi (2003). Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. rasa aman. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. 8. yaitu maternal bonding. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. dan stimulasi fisik dan mental. khawatir. mudah marah. D. tawuran. mudah tersinggung. minder. dan lainnya. curiga dengan orang lain. 7. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja.

dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. Menurut Erikson. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Dengan kata lain. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. antusias mengeksplorasi 165 . mengelus. Menurut Bowlby (2003). dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. menggendong. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Menurut pakar pendidikan anak.

kasih sayang dan lain-lain). dididik dan dibina. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa. Dengan kata lain. berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik. dan menjadikannya anak yang kreatif. Juga.Pendidikan Karakter lingkungannya. baik dalam tatanan norma agama. 166 Untuk itu. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . ia sulit untuk diarahkan. ia banyak melakukan penyimpangan. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. orang tua dan bangsa. Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya.

Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup. Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. Nah. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. Juga. tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. harta 167 . Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan. jika sudah seperti itu. Juga. tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah. baik makanan dipagi. siang dan sore hati. Diantara penyebabnya adalah. Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya.

dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. dan dapat merasakan hidup yang lebih baik. jika ia menemui 168 . menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain. maksiat dan dosa. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia. Juga. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. Sebaliknya. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama. teman ada yang mengajak pada kemungkaran. anak yatik dan lain sebagainya. sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan.Pendidikan Karakter dan kehormatan. Dengan seperti itu. Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. Juga. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini.

sehingga tidak bisa diatur. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. padahal baru bebarapa tahun. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya. Dengan kejadian menimpanya seperti ini. bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. tenang dan tentram. maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. minimal anak akan 169 . sikapnya arogan dan tidak bida diatur. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai. wataknya keras. Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. Juga. seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. Untuk mencegah hal ini. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa.

jika yang menjadi wali adalah ayahnya. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. Diantara 170 . maupun tempat tinggal yang layak. Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. tidak dapat memberi makanan. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. menjaga dan bersenda gurau dengannya. Nah. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak.Pendidikan Karakter merasakan dua hal. pakaian. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Tentu saja harapan kita adalah. perhatian dan perlindungan. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. Kedua. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. dan memiliki akhlak yang tidak baik. baik dari ayah maupun ibunya. kemaksiatan dan dosa. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. melakukan kejahatan. pertama. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. Namun. Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. bermaksiatan dan melakukan dosa. perlindungan juga perhatian. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. apabila ibu yang menjadi walinya. yaitu menjaga.

Juga. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya. basket. Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang. jika ia senang dengan bermain bola. sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat. dengan sesuatu yang bermanfaat. tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik. Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur.” Atau olah raga lainnya. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya. atau memiliki akhlak yang tidak baik. sesuatu yang disenanginya. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG). Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. Untuk itu. Suatu contoh.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 . seperti bermain bola. maka arahkan anak seraya berkata.

bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. 1. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak). carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. Nah. Diantara manfaatnya adalah. Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. Sehingga. 172 . Kalau memungkinkan.Pendidikan Karakter lainnya. ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam. Dengan shalat. Karena ia adalah merupakan tiang. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. Dari beberapa hal penting di atas. sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. jika hal itu tidak dilakukan. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas. hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. Oleh karena itu.

Selain itu. beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. Juga. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu.ah. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. dan gigi. membersihkan rongga mulut. 3. memukul anak 173 . mulai dari membersihkan lubang hidung. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan. maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). Juga. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari. Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. Dan. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat. selain mandi. Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran.

maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. Juga. ingatkanlah pada anak. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa. agar ia tidak terperangkap. sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. Bagi orang tua. Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka. dan usahakan agar kita terus memantau anak. ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik. tentang kawan yang tidak baik.Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG. Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. 174 . terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya.

tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. jika sikap buruk orang tua pada anak. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. sering di pukul. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. Juga. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya. yang paling tragis. jika anak diperlakukan seperti itu. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. maka tidak dapat diragukan lagi. Dan biasanya. setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. ia akan mengambil keputusan yang salah. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. dengan siapa ia berkawan. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. suka berbohong dan mengejek. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. kasar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. Ia akan menjadi anak yang penakut. Pun dalam hal akhlaknya. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya. 175 . Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa. dengan sikap itu. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. Dalam hal ini. dimana anak akan sangat bergantung padanya. Sebaliknya. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik.

kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. Jika hal itu sudah terjadi. maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar. maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita. jangan salahkan anak. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak. Bukan hanya nasehat orang 176 . terutama pada anak kecil dan ABG. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran. sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia. Anak kecil maupun ABG.

Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. usahakan anak dicegah membaca media. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. Dan. Untuk menghindari hal itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. 1. Jika tidak bisa. Dan tidak kalah pentingnya. 3. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. 2. arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 . Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. Pun. Atau. Juga. maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. Di antaranya. hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi.

itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. Dengan keadaan seperti itu. karena tidak adanya lowongan. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. terlebih lagi ajaran agamanya. 178 . dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. Nah. jika anak berada pada golongan yang pertama. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. belum mendapat pekerjaan. Sebaliknya. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya. Nah. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. Pada saat itu. banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga. jika masuk pada golongan yang kedua. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. atau ia berada pada lingkungan yang baik. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. Namun. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya. karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan.

menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan. sampai ia mendapatkan pekerjaan. ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. namun ia masalah mencari pekerjaan. mengarahkan. Nah. menganggur karena terpaksa. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. namun ia malas untuk bekerja. Pertama. namun belum mendapatkannya. sehingga menjadi pengangguran. Jika masih tidak mau melakukan hal itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan . merampok maupun mau untuk disogok (suap). seperti mencuri. Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. Untuk bagian yang pertama. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. maka pemerintah 179 . sampai ia mendapatkan pekerjaan. Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. 1. 2. Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. Diantaranya. padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. padahal peluang kerja banyak ditemukan. Kedua. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha.

ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. Agar tidak terjadi hal yang demikian. memberikan pendidikan yang baik. Semisal. Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya. terutama dalam menegakan agama. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan.Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. jika mau mempersiapkannya. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. Sang ibu adalah pendidik pertama. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. Juga. orang tua. Namun dalam hal pendidikan anaknya. sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur.

dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak. jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. Juga. bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 . sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. Untuk itu. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim. atau sebaliknya. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. agama dan bangsa. dan ia akan merasa diperhatikan.

agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. Kitab-kitab suciNya. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. memiliki akidah yang kuat. seperti setan dan jin. hatinya semakin suci. Iman kepada Allah SWT. hati pertanggungjawaban. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. Malaikat. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur. Untuk itu. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. menjelaskan hal-hal yang ghaib. hari kiamat. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar.Juga. Lalu. Khusus masalah penjelasan Qada’. dan selalu beribadah dalam segala hal. tentang surga. 182 . api neraka dan hal yang ghaib lainnya. Juga. mampu memanaje kehidupannya dengan baik. siksa kubur. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. Juga.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain.

Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. karena orang tua yang mendidiknya demikian. Acuhnya ayah. karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. Jika melihat kenyataan seperti itu. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. merampok sera mencuri. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. tidak memiliki tujuan hidup. entah sang ayah maupun ibu. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya. beringas dan tidak bisa di atur. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. maka orang tua. mengajarkan akhlak. 183 . tidak jujur dalam mengemban tugasnya. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur. Dan. Pun. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. hidup semuanya sendiri. ia baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya.

Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak. sejak ia terlahir dari rahim ibunya. arahkanlah anak didiknya ketika disekolah. keutamaan perilaku dan sikap. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak. maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. Seorang anak. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. Untuk itu.Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Sedangkan bagi tenaga pengajar. mendidiknya agar takut kepada Tuhan. menginformasikan 184 . Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. Akhlak. Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa. agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan.

maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. 185 . maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak. agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji. menyaksikan. akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. Untuk itu. Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. manakah yang lebih baik dalam bersikap. dan berkompetisi dengan umat lainnya. senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji. agama dan bangsa. Karena sudah tertanam keimanan. Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. berinteraksi.

Juga. Semisal. Juga. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. mencaci. tidak mudah mengeluh. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur. menghardik. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. Lebih dari itu. amanah. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . berteriak.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. memaki. sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. Dan. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. Juga. memuliakan tamu yang datang ke rumah. istiqamah. dan mencintai orang lain. orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. menghormati yang lebih tua. tentunya setiap daerah berbeda-beda. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. ia mampu menanganinya dengan baik. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. Emat hal itu adalah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak. bagi ayah. gempa. Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan. banjir. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. dan lemah lembut. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. entah itu berita duka. Oleh karena itu. Mencela dan mencaci. agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. 1. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. Yaitu. longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. Untuk itu. kebakaran. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . Merampas hak orang lain secara paksa 3.

mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan. Dengan sikap orang tua seperti itu. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. agar ia tidak lagi merengek dan menangis. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. Sungguh. hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. dimulai dari diri sendiri. kehormatan dan harga diri. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga. Oleh karena itu. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah. Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti. Juga. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. 188 .

Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka. bagi orang tua.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak. 189 . 2. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini. jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. agar anak belajar mencintai orang lain. Untuk itu. Memberikan kasih sayang pada anak. Hal ini penting sekali. ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1. dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain. Dengan demikian.

“Karena kemampuan anak untuk menangkap. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. adalah besar sekali. 3. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang. di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru. meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. atau tanpa kesadaran purna. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. 190 . dan akan meniru secara tidak sadar.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. Terkadang melebihi apa yang kita duga. sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. dengan sadar atau tidak. Anak akan menangkap secara tidak sadar. Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. itu semua berpengaruh baginya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. Sebab. sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya.

baju. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. makan dan minum dengan tangan kanan. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. memberi. Jika makan dengan tangan kiri. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. atau lainnya memulai dari kanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. 4. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. dan dijauhkan dari sikap rakus. Ketika mengenakan kain. Dilarang bermain dengan hidungnya. agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 .

Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. sanak familinya yang masih kecil. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. sekalipun hanya sedikit. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada. sebelum tidur.Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya. dan jangan sampai bersuara. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. dan sehabis bangun tidur. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin. • .

bukan di tengah jalan. dipaksa untuk menerima kebenaran. bahkan menjauhkan kotoran darinya. jika memungkinkan. dan Abi (Bapak). • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 . tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya. dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. Tidak membuang sampah dijalanan. Tapi kalau tidak. jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela. karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar.

mainan atau diajak jalan-jalan. sekalipun menyebabkan bajunya kotor. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan. dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain. • Dibiasakan menghormati milik orang lain.Pendidikan Karakter gan. 194 . seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak. • Tidak dilarang bermain selama masih aman.

1995. New York. Moral Literacy and the Formation of Character. UI. (1993). Program Studi Psikologi – Pascasarjana. In: J. Teachers College Press. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues.S. Character in the Basic School. Coon. 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet.L.D. Dennis. (1983).W.W. 1998. 195 .M. Boyer. B. 1991. and F. and Civic Education in the Elementary School.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim. Studios 4 Productions. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh.Goble. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication.J. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. The Education of Complete Moral Person Brooks. S.E. Depok. Berkowitz. Making a Commitment to Character. West Publishing Co. Moral Character. Badingah.Bennigna (ed).G.

1997.Pendidikan Karakter Dina.R.W. Kilpatrick. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family. Ratna. Simon & Schuster. Family and Community. Bantam Books. 1995. Jurusan GMSK. Educating for Character.Puspita. Pustaka Mizan. 1994.B. New York.D.D. New York.. Bandung. Horn. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. New York. Child Development. I.com. 2001. Fagan. Why It Can Matter More than IQ. Lickona. T.R.W. Megawangi. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . _________. 1992. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. McGraw Hill Kogakusha International Student. Emotional Intelligence.thefreedictionary.F. 1981. P. E.Tanjung.F. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani.W. Mack. 1991. 1995. Inc.D. (2003). 1992. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage.F. Sixth Edition. Diakses tanggal 26 April 2004. 1999. Megawangi. Hurlock. IPB. Bantam Books. E. New York.Widiastuti.Faperta. Bantam Books. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Goleman. http://encyclopedia.

A. Dikunjungi di: Info@ soundvision.C. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools. Statistics of Teens. Family Socialization and Academic Achievement. Simon & Schuster Inc. 1995.Tavris. Pada bulan Oktober 2001. Nord.W. Views or Virtues? Schikendanz.. John Wiley & Sons Inc. Ryan and Bohlin. Rohner. Moral Character. College & University Press. Houghton Mifflin Company..A.S. 194. and C.Miller. 1993.M. Massachusetts. California.. Character and Academics in the Elementary School. Building Children’s Achievement for the Information Age. Shambala Publications. New Haven. Wynne.J. 197 . 2002. Pitirim.Y.C.D. M. Wilson. 1997. Sage Publications.J. Teachers College Press. Wade. 1990. 1991. Boston University Press. and C. The Moral Sense. The Child. Mega Skills.com.Haynes.Inc.Haith. p. “The Basic Trends of Our Time”. and Civic Education in the Elementary School. New York. Rich.E. 2002.New York. 1986.R. Vasta.S. New York. New York.17-18).R. Psychology.E. Pickthall. 1990.A. Sorokin.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman. In J. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory.A. Harper & Row Publishers.Q. 1992. Benigna (ed). New York. Values. 1999. Child Psychology: The Modern Science.

1991 Kartono. Psikologi Perkembangan. M. Penerbit Alumni. Hoffnung.F. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . . 2002. Holistika Pemikiran Pendidikan. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. et al. D. Redja. Jakarta. Rosyda Karya. (2005). Terjemahan T. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Kemendiknas. 2009. Kelvin L & Robert J. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. Psikologi Anak. Emotional Intellegence. Reformasi Pendidikan.1987. Bellmont. Pengantar Pendidikan. Bandung.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. 198 Seifert. 1982 Bjorklund. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. Bandung. CA : Wadsworth Cole. Gramedia Pustaka Utama. A. 2002. 2001. Boston: Houghton Mifflin Company. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. The Development of Children. Paul. 2000 E Sphero Lawrence. Hurlock. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. New York: Worth Publishers. Kartini. Malik Fadjar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto. dkk. Child and Adolescent Development. 2010. Hermaya. 3rd ed. Jakarta Elizabet B. 2008. Jakarta: Erlangga. Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. 2005.

Thomas. Knopf. Third Edition. 1988. 1997. Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. Ahmadi. Muhammad ‘Athiyah. John W. James O. William.1987. Children’s Needs: Psychological Perspectives. Hergen. New York: John Wiley & Sons Inc. Alex & Jeff Grimes (ed. Sixth Edition. t. Santrok. 1415 H) Hahn. James W. The Self-Confident Child.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain. Vander. Englewood Cliffs. Palmer. Belmont: Thomson Wadsworth. Diskursus Islam dan Pendidikan. B. Yoder. The Psychological Assesment of Children. Abu & Nur Uhbiyati. Muhammad Hasyim. (Jombang: Turast al-Islam.2005. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. The Growth of Logical Thinking. (Ja199 . 2005. Human Development. Life-Span Development. Ilmu Pendidikan. Inhelder. Muhammad Tolchah.R. Jean & William Proctor. Theories of Development. New York: Alfred A. Sixth Edition. New York: Facts on File Publications.t) Asy’ari.Second Edition. 1976) Hasan. Barbel & Jean Piaget. From Childhood To Adolescence. (New Jersey: Prentice Hall. An Introduction to Theories of Learning. Thomas. R Murray. New Jersey: Pearson Education. Washington DC: The National Association of School Psychologist.). Comparing Theories of Child Development. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim. Concept and Applications.1985.1983. (Jakarta: Rineka Cipta. London: Routledge & Kegan Paul LTD. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi. 2001) Al-Abrasyi. Zanden.

Jakarta. (Yogyakarta: Jendela. the End of Education Redefining the Value of School. (Yogyakarta: Genta Press. PT. (Jakarta: UIN Press. vol 6. (Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Nurul. Zurinal & Wahdi Sayuti. (terjemahan). Comperative Education Review. 2006 Nurul Zuriah. Cet. 2001) Tilaar. 2006). (Jakarta: INIS. 2008) Mastuhu. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Ar-Ruz Media. Cet. Malpraktik Pendidikan. HAR. 2000) Lubis. The Education of Don Quixote. PT. Neil. Sayyed Hossein. Bumi Aksara. 6. (Jakarta: Bumi Aksara. 1994) Nasr. Siti Farida. I Zuriah. (New York: New American Library.. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. no 1 Wibowo.I Postman. RajaGrafindo Persada. Estarella. 1970). Mendidik Anak Secara Islami. 2007) Hasbullah. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. Dinamika Sistem Pendidikan. terj. Agus.Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. 1990) Abdullah Nashih Ulwan. 2007 200 . 2010) Juan. 2008) Z. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Evaluasi Pendidikan Nilai. Mawardi. Science and Civilization in Islam.