Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. 3. 4. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. Mengembangkan hati nurani. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. terdapat empat pokok utama: 1.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. kebiasaan. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Dalam mempelajari sikap moral. 2. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. dan EQ secara efektif. dan peraturan.

Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis. Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. 6 . Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional). egosentris dan konkrit 2. Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ). yaitu : 1. enurut mussen. yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap.dkk. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan.Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya.

maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. artinya untuk dapat hidup secara harmonis. 7 . artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya.

saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. 2) Umur 3 – 6 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua. periode vital atau menyusuli. Elizabeth B. 6) Masa Pubertas (pra adolesence).Kanak awal. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain. umur 13 – 17 tahun. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun.Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. 5) Masa Kanak. 3) Masa Bayi. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal.Kanak akhir. umur 6 – 10 atau 11 tahun. 4) Masa Kanak. saat terjadinya konsepsi sampai lahir. periode social atau masa pemuda. 3) Umur 6 – 12 tahun. 8 . Menurut Kohnstamm. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. 2) Masa Neonatus. umur 2 – 6 tahun.

0 – 2 tahun (masa vital) 2. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. 2. Agama Pada Masa Anak. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. Hurlock. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. 9 . Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. umur 60 tahun keatas.kata orang yang ada dalam lingkungannya. 10) Masa Tua. Namun. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. umur 40 – 60 tahun.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. yang pada awalnya diterima secara acuh. yang dimaksud dengan masa anak. 2 – 6 tahun (masa kanak. 9) Masa Setengah Baya. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. umur 21 – 40 tahun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal.kanak) 3.

Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga. takut dan cinta padanya sekaligus. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. butuh. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Menurut Zakiah Daradjat. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative.

pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.dongeng.kanakannya. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis. b. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. c. sejalan dengan perkembangan usia mereka. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. Pada usia ini. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 . Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.

yaitu: a. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. c. Fase kanak. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Pada fase ini anak sudah mulai 12 . • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. • Berkaitan dengan masalah ini. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. • Konsep ketuhanan yang lebih murni. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. b. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak.

Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a.aspek jiwa lainnya. 4.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. d. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. cukup sekedarnya saja.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. sejalan dengan perkembangan moral. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek. Anak pada usia kanak. 13 . perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya.4. Menurut penelitian. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan.kadang kurang masuk akal.

Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak. tetapi amat konkret dan pribadi. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dikala ia berhubungan dengan orang lain.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . Pada usia 7 – 9 tahun. Dalam hal ini. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Mereka menghafal secara verbal kalimat.gerik tertentu. c.Pendidikan Karakter b. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret. d.

Kebutuhan psikologis. dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. seperti lapar. Instink biologis.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. akan tetapi berupa teladan f. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. seperti rasa aman. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. dan aktualisasi diri 15 . Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. penghargaan. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. e. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. dan seterusnya 2. maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. penerimaan.

keteladanan. penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran. dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. Lingkungan keluarga 2. metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. Kebutuhan pemikiran. pembiasaan. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup. dan sebagainya Faktor eksternal 1. Lingkungan sosial 3. Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah. dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di . pembimbingan. agama. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. metode pengembangannya adalah pengarahan.Pendidikan Karakter 3.

Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global. Di samping itu dari segi keuntungan domestik. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 . Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia .yang kurang baik. dunia yang tanpa batas. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita. sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja.sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. kita hidup di dalam dunia yang terbuka. Dari segi global. suka bekerja keras.

dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. (4) meningkatnya perilaku merusak diri. (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. (9) membudayanya ketidakjujuran. alkohol dan seks bebas. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. Artinya. (6) menurunnya etos kerja. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. misalnya etika dan estetika 18 . Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. seperti penggunaan narkoba. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan.

Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali. Fenom- 19 . Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. 10-11): 1. 2. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007. Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim. Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Hilangnya model kepribadian yang integral. Melemahnya ikatan keluarga. kebaikan dengan kekuatan. dan seterusnya 3. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4.

perkelahian di kalangan mahasiswa. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. dan budi pekerti dewasa ini. tindakan-tindakan diskriminasi. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan. Oleh karena itu. 3. telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. pergaulan bebas. menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. Secara tersurat. krisis kejujuran. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita. penyalahgunaan obat-obat terlarang. Pada tataran makro. Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 . moral. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

normatif. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. berbangsa. baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. historis maupun sosiokultural. perdamaian abadi. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural. baik secara filosofis. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Secara ideologis. dan keadilan sosial. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Secara historis. mencerdaskan kehidupan bangsa. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. Secara sosiokultural. Secara filosofis. Secara normatif. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. berjiwa persatuan Indonesia. memajukan kesejahteraan umum. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. ideologis. 25 . berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. rasa. berbudi luhur. berkembang dinamis. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. olah rasa dan karsa. norma UUD 1945. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. olah hati. berakhlak mulia. pemahaman. karsa. berjiwa patriotik. kompetitif. karsa. rasa. pandangan. regional. pemahaman. konstitusi. dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. dan 26 . bergotong royong. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. dan global yang berkeadaban. bermoral. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. haluan negara. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. bertoleran.

sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom). pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya. 27 . khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI. di mana nilai-nilai budaya. Di samping itu. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Oleh karena itu.

Pendidikan Karakter 28 .

Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. 29 . dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A. Anak usia sekolah dasar misalnya.

budaya kekerasan di kalangan remaja. pergaulan bebas dan sebagainya. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita.Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. baik guru maupun sesama. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. Padahal. rasa malu yang kian terkikis. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. bolos sekolah. Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009). hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika. Dengan 30 . Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. tawuran.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

akhlak mulia. Selain itu. mandiri. mental dan moral bagi individu-individu. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. cakap. bangsa dan negara”. masyarakat. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik. Di samping itu. sehat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. artinya. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. Bahkan ia menegaskan. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. kreatif. berilmu. agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. kepribadian.” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. kecerdasan. berakhlak mulia. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri.

dan kebudayaan. Karakteristik Dasar dan Fungsi.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara. agama.d. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut. Karakteristik Kesisteman (Sistemik). diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara. yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Karakteristik Sosial Budaya. pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika. pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional.c. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan.b. Karakteristik Tujuan. Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a. dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. pembukaan UUD 1945. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 .

Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. etnis. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. Untuk mewujudkannya. dan gender. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. ras. agama. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. ketakwaan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. dan kompetensi estetis.

B. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik.L McBrien & R. dan kehormatan. Alexandria. VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. kebebasan. antara kebebasan dan determinasi. antara 38 .Pendidikan Karakter teknis. kecakapan praktis. kedermawanan. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya.S. by J. Dengan kata lain. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. Brand. keberanian. yaitu. persamaan. dan kompetensi kinestetis. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. Dengan demikian. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. kebaikan. Karena itu. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. diantara dalam konteks pendidikan. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran.

dilakukan. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. sehingga menjadi seperti yang diinginka. Jadi. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu. manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi. manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. 39 . Karakter merupakan struktur antropologis manusia. yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Dengan gambaran manusia seperti ini.

Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. dimana seseorang bisa disebut orang 40 . Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. sementara orang yang berperilaku jujur.Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan.

raga. yaitu: 1) kompetensi (competence). pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. serta rasa dan karsa. 2) harga diri (self esteem). Dalam pendidikan karakter. 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values). 3) kebiasaan (habit). Pengetahuan Moral. dan 6) kerendahan hati (humility). dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. Ketiga. 2) keinginan (will). Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. Kedua. Perasaan tentang Moral. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness). 4) mencintai kebajikan (loving the good). 3) empati (emphaty). 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). Perbuatan/Tindakan Moral. 5) pengedalian diri (self control). Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. 5) membuat keputusan (decision making). Dengan demikian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 . Pertama. pikir. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience.

tanggung jawab. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. RAGA (kesehatan dan kebersihan). bersih dan sehat. serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. Tetapi pada kenyataannya. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan. misalnya mata pelajaran matematik. PIKIR (kecerdasan).Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. cerdas. pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. politik tanpa prinsip/etika. C. dan kreatif. fokus 42 . Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). perdagangan tanpa moralitas. Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. peduli. Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar.

yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. dan orang tua di rumah. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. bukan sekedar mengingatkan. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . semua guru. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. orang yang berjualan di kantin sekolah. semua pegawai tata usaha. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. pesuruh sekolah. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan. tukang sapu. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional.

pengorganisasian. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. pelaksanaan.Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 . Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Bagi Foerster. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada.

Dari kematangan karakter inilah. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Keempat. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Kematangan keempat karakter ini. Ketiga. koherensi yang memberi keberanian. Kedua. Pertama. antara independensi eksterior dan interior. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. 45 . Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. otonomi. kualitas seorang pribadi diukur. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. lanjut Foerster. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. membuat seseorang teguh pada prinsip. antara aku alami dan aku rohani. keteguhan dan kesetiaan. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai.

tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. bertanah air. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. kebiasaan keseharian. karakter negatif dan . yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. Sebaliknya.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. dan landasan konstitusional UUD 1945. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. D. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. positif. karakter atau watak. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila. tradisi. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Budaya sekolah merupakan ciri khas. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. dan masyarakat sekitar sekolah. Mereka bersumpah untuk berbangsa. ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah.

lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. memiliki inisiatif. patuh pada peraturan. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. penguatan sikap positif dan negatif. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. pandai berterima kasih. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. suka menolong dan tumbuh kasih sayang. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. terorisme dan lain-lain. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin. tindakan sosial. bekerja-sama. tanggungjawab. bisa dipercaya. masyarakat yang memiliki sifat jujur. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. kekerasan. bermain peran. simulasi. tanya jawab sehingga pada 47 . simulasi. penanaman keteladanan. tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. mandiri. Hal ini cukup beralasan.

Pendek kata. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya. 1. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut. 3. 48 . dan tatanan antar bangsa. 2. dan internasional melalui adat istiadat. tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah. 4.Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. hukum. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. lokal. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue). Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. undang-undang. nasional. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti.

2. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. F. Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. menyimpang. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. 3. tidak berdasar. berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. 4. 1. baik dari segi agama maupun akal yang lurus. 49 . Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13).

sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa. arah baru. kemauan. yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. logika baru. • 50 . berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol. dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. sebelum kita melakukan suatu tindakan. yang membentuk kesadaran baru.Pendidikan Karakter Pengisian. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan.

berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan. Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. penguatan.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). dan pengendalian bagi mental kita • 3. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 . Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G.

hormat dan santun. jujur. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. kreatif. dan toleransi. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. 52 . Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. percaya diri. tekun (diligence) dan integritas. rasa hormat dan perhatian (respect). kasih sayang. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. ketulusan (honesty). Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. tanggung jawab. kerja keras dan pantang menyerah. disiplin dan mandiri. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. baik dan rendah hati. peduli. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. dan kerja sama. tanggung jawab (responsibility). berani (courage). keadilan dan kepemimpinan. character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. Sementara itu. kewarganegaraan (citizenship). dapat dipercaya (trustworthiness). cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. jujur (fairness).Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). cinta damai dan persatuan. peduli (caring). Oleh karena itu.

integritas. menghormati harga diri individu. keadilan. pembuatan keputusan yang matang. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. dan disiplin diri. dan pengetahuan diri tentang moral. toleransi. menurut Dr Thomas Lickona. Lebih spesifiknya. simpati. keberanian. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. sikap bertanggung jawab. pengendalian diri. pertimbangan moral. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. seperti kejujuran. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. kesopanan. pendidikan 53 . juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. ketekunan. kesetiaan. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum.

Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. memedulikan. sangat memedulikan tentang yang benar. Lebih lanjut.Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. Anak didik bisa menilai mana yang benar. dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif. diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. afektif dan psikomotor. 54 . terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). (3) bertanggungjawab (responsible). (4) adil (fair). Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya.

hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin.

sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. telah menekankan pentingnya ketauladanan. berwibawa. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. Karena seringkali orang tahu belum tentu paham. 56 . Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. menjadi teladan bagi peserta didik). yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Bapak Pendidikan Nasional. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. atau siswa hanya sekedar “tahu”. berakhlak mulia. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). diantaranya: a. dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). Alangkah naifnya. Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). arif. orang paham belum tentu melakukan/berbuat. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik.Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan.

Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. keimanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. good teacher explains. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. minat. Maka. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. great teacher inspires’.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. terutama kompetensi kepribadian dan social. panggilan jiwa. ketakwaan. b. Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat. 57 .

sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. c. tetapi menyentuh pada internalisasi. aktifitas di kelas. dan sebagainya. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. pola tutur kata. Artinya. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. Selain itu. 58 . dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. dieksplisitkan. Dengan demikian. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Namun.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. perasaan (feeling). tindakan (acting). dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. nilai-nilai yang perlu ditanamkan. dilaksanakan. penilaian. potensi. Dengan demikian. pendidik dan tenaga kependidikan. dan komponen terkait lainnya. pembelajaran. bakat. serta potensi dan prestasi peserta didik. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. Dengan demikian. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. baik di lingkungan 59 . manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. muatan kurikulum. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi.

disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. masyarakat. Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa. mandiri. memahami hak dan kewajiban. bertanggungjawab. Dengan begitu. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh.Pendidikan Karakter keluarga. dan persekolahan. 60 .

dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Sadisme. 61 . Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). Krisis moral secara meluas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A. Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik. Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik).

pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. di sentuh. mencari jawaban dari paranormal. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. terlepas dari kawalan agama. pergaulan bebas sex. adat luhur.com/ wp-admin/ ._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. dicicipi. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton). yang lazimnya melahirkan klub malam. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. sensual.Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. cinta mode. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. Orientasinya hiburan melulu. horor. dirasa. 62 . kasino dan panti pijat. rakus. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. ilmu dan filsafat. di dengar. Tawuran antar pelajar. night club. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya.wordpress. erotik. moral akhlak. eksotik. boros. Seni dibungkus selimut art for art’s sake. dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. seronok. mengutamakan kesenangan badani (jasmani). erotik. dengan tumpuan kepada sensual.

Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3. mandiri. kecanduan narkoba. cakap. minuman keras. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. kesukaan judi dalam urban popular culture. berilmu. yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). dan sejenisnya. geng motor. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 63 . Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. worldwide sing. nyontek saat ujian. kreatif. lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. sehat. musro. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. berakhlak mulia.

dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Permasalahannya. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak.Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas. 64 .

karakter anak tidak akan berkembang. Hilangnya nilai-nilai kejujuran. positif. Menurut Franz Magnis-Suseno. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . baik di keluarga.. dan tidak membantah. Namun. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik. Kalau kita mengharapkan karakter. dan konstruktif. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. menggunakan pendekatan yang tajam. berani mengambil inisiatif. tenggang rasa. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. tetapi juga benar. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. berani mengusulkan alternatif. integritas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan.

dan profesi guru dilecehkan.Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. 1. istiqamah pada agama yang dianut. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. berkembangnya kejahatan orang tua. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. hilangnya wibawa ulama. pola dan politik pendidikan. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua. luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. 66 . Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. impotensi dikalangan pemangku adat.

berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Hilangnya model kepribadian yang integral. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. kebaikan dengan kekuatan. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. misalnya etika dan estetika 2. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. kukuh ekonomi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . dan seterusnya 3. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. tidak demokratis. 5. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. 3. ekonomi. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. budaya. 4. krisis nilai. 2. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. tidak berori- 68 . politik dan agama. ilmu pengetahuan. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis. teknologi. sosial. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan.

perlu ada etika dalam bicara. 2. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. Namun. dan aturan-aturan sosial lainnya. maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. apa yang patut dan tidak patut. saling menyakiti. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. Jika tidak. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal. sehingga hancurlah bangsa itu. bahkan saling membunuh. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain. 1992). jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. apa yang adil dan apa yang tidak adil. yaitu terjadinya pergeseran 69 . Oleh karena itu. Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. aturan dalam berlalu lintas. membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang.

cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. kekeluargaan. dan golongan seakan masih menjadi prioritas. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. kejujuran. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Hal tersebut. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. kepentingan kelompok. 70 . kurangnnya keteladanan para pemimpin. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. nilai solidaritas sosial. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an. merusak lingkungan. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. lemahnya budaya patuh pada hukum. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. musyawarah mufakat. sopan santun.

terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. 71 . Berdasarkan indikasi di atas. agama. dan pola hidup konsumtif. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. pergaulan bebas. globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. Untuk itu. baik dalam cara berpakaian. bertutur kata. serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar.

potensi. merasa dirinya bersatu. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat. kebiasaan. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. 72 . Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. bahasa. nilai-nilai. Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. memiliki kesamaan nasib.Pendidikan Karakter 4. keturunan. kemampuan. bakat. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. asal. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. kolusi. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. adat dan sejarah Indonesia. dan hubungan antara manusia dengan manusia. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. kesukaan.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

2. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. Perkembangan cyber space. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik.wordpress. keterampilan dan pemantapan strategi. persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). demokratis. Konsep-konsep visi._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 . informasi elektronik dan digital.com/wp-admin/ . Oleh karena itu. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). 3. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah. internet. misi.

muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. rumah tangga). 5. 4. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Rumusan ulang kiblat (arah). keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. budi pekerti. Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat.Pendidikan Karakter 1. yang akan menjadi kekuatan moral. masyarakat. penghormatan terhadap orang tua. 2. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. kebebasan. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. 3. adab percakapan ditengah pergaulan. Revitalisasi pendidikan agama. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 .

White (dalam Hurlock. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock. maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini. ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar. 1981). Dengan kata lain. 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . C. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. Selanjutnya.

maka anak akan menjadi generasi pendusta. Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. d. teman. Membiasakan Bicara dengan Baik. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. c. Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. Apabila aspek ini diterapkan. Membiasakan meminta Izin.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. yakni. Apabila aspek ini diabaikan. orang tua dan lingkungan sekitar.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan. Membiasakan Kejujuran. a. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. b. Membiasakan Keadilan. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. saudara.

membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. Maka dari sifat jujur. tepuk tangan. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. tidak boleh mencela makanan. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. 81 . dan tidak boleh berlebihan. pujian. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang. tidak sambil bersandar. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Membiasakan Kasih Sayang. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. h. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. Membiasakan Bergaul yang Baik. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. f. g. e. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. makan dengan tangan kanan. dan katakata. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. dan dengan elemen sekolah. Memberikan Penghargaan.

zuhud. maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar. Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. Setiap akhlak yang baik. dan ridha.Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. ijlal (membesarkan). maka ia termasuk salah seorang pembohong. sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik. yang memberikan ketenangan kepada pendengar. Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. dan ta’dzim (pengagungan). seperti: sabar. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian. Dan di antara tanda dusta adalah 82 . bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. kuatnya hati. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. khauf (takut). haya` (malu). saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. serta berusaha mengamalkannya. dan jelasnya persoalan. seperti: yakin. karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. qana’ah. mahabbah (cinta). Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. 2 Niat yang benar dalam perbuatan.

ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. dan bertentangan. gagap. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak. Jelas. bingung. seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. spontanitas. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak.

Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. serta rambu-rambu agama. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak. Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta. atau tidak beraturan. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 .

sehingga dia menjadi pusat perhatian. pakaian yang bagus. Seperti itu pula. ketawa. ia makan. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. Bagi anak. • Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. • Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. Dan dakwa ini dianggap dusta. Padahal is tidak memilikinya. 85 . mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. atau pun yang lainnya. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. padahal sebenarnya tidak. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. Dan ketika ia bangun. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. berjingkrak dan bermain.

Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 . sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar. • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar. tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. • Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya.Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya.

Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah. hingga dia terdorong untuk balas dendam. Inilah yang dikatakan egois. sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya. Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya.

bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan. dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak. tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak. kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. Rasulullah SAW bersabda: 88 . Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah. Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak. karakter.

Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak. Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 . serta akal dikemudian hari. atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. mental. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik.

takut menghadapi tantangan. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. seperti indra penglihatan. takut kepada yang lain.Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. lecet atau luka serta kelumpuhan. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. atau malah terkena penyakit saraf. akal jiwa. Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. atau boleh jadi 90 . Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang. pendengan. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya. semburu. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. atau sering kali terlambat datang kerumah. membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya.

Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. atau malah membangkang. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua. Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu. durhaka. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 . • Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak.

2.Pendidikan Karakter • • • • suara. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. yaitu berdusta. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada . Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan. Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya. Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya. Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya.

Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya. Dan apabila itu pun kalau ada. • Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat. karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 . Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. memutivasinya. Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. seperti mainan atau yang lainnya. Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. dan mencela bila ia berbuat tidak baik. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya.

Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal. Dalam tahap ini.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak. yakni berbuat dusta. • Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya. 94 . • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta.

“Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. 3. Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 . mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya. karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. (HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan.

“Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan. mainan. bercita-cita. Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak. 2. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang. Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. .Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya. Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. pakaian dan lain-lain.

3. Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. melukis. misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak. menulis dengan baik. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya. Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik. Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya. Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 . Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya. Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak.

berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat. dan tidak ber- 98 . Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan. Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya. Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. 4. “Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. 2. hingga anak tersebut menjadi pembangkang. memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. 1. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya.Pendidikan Karakter menimpanya. serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak.

Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya. 3. yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. 4. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk. Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.

100 . bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW. perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. kemudian ia berkata.Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri. Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. “kembalilah kepadanya”. lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup. baik dalam memberikan belanja. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). “Tidak”.. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?. Rasulullah SAW bersabda. niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan. Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan. Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”.

1. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. seperti kemarahan yang amat sangat. Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu. karena adil lebih dekat kepada takwa. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan. kebencian. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). sekalipun ada dorongan untuk selain itu. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . Berlaku adillah. membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. Dan bertakwalah kepada Allah. dan sebaliknya. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. mendorong kamu untuk berlku tidak adil.

maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka.padahal mereka semua adalah saudara sebapak. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. 2. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 . Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta. “Andakan mereka paham.Pendidikan Karakter mereka masing-masing. Mutawalli berkata. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya.

Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. 5. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 . Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. mementingkan dirinya sendiri. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. 4. maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik. Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. 6. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya.

Ikhals kepada-Nya. 4.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. haram. dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri. 5. jujur. Menanamkan pemahaman halal. hadits nabi tentang kejujuran. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1. menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. Menghafalkan kepada anak ayat. Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . 6. 3. agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah.

10. 9. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh. puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. 7. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya. Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat. Mengikuti seluruh kegiatan ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. Seperti salat. itu dari segi rohani. Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya. 8. menggambar dan sebagaianya. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. 105 . Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. berolahraga.

Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. Dengan kata lain.turut andil dalam perkembangan karakter anak. Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. D. Tentu saja hal ini tidak mudah. perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 . masyarakat luas. media massa. komunitas bisnis. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. Menurut Megawangi (2003). tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak. Oleh karena itu. dan sebagainya . berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera. maka semua pihak . sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. dan tuntunan yang bijaksana.keluarga. sekolah. sekolah dan lingkungan sekolah.

keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. Sejarah. sekolah untuk kasih sayang (Philips. Menurut 107 . Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. estetika. Dengan demikian. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. dan warrahmah). pelajaran Agama.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. yaitu penanaman moral. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. nilai-nilai etika. Moral Pancasila dan sebagainya. dan hukuman kepada yang melanggar. Sebagaimana disarankan Philips. rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. seperti. 2003). estetika untuk pembentukan karakter. mawaddah. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. tatapi lebih dari itu. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang.

tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. pembuat kebijakan.Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 . Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. Oleh karena itu. Sementara itu. pemegang otoritas di masyarakat. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. dan positif secara konsisten. para pemimpin. 108 . maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’. 321). keluarga. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. baik. Lingkungan masyarakat. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan.

Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati. Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 .

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

dan seimbang. bertanggung jawab. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. masalah disiplin. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. sesuai standar kompetensi lulusan. etika. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. kekerasan berkelompok. Pada kemungkinan yang terbaik. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. dan performa akademis yang buruk. hamil muda. tidak . mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. daerah.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. bertanggung jawab. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. penggunaan obat terlarang. terpadu. dan disiplin diri. integritas.

Pertama. seorang filsuf pendidikan. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. Moral Knowing.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature. 2) knowing moral values. for. The common school should teach virtue before knowlede. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. 5) decision making dan 6) self-knowledge. 3) persperctive taking. pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. Kedua 115 . sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik.. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. 4) moral reasoning. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal. dan bebas. tidak memihak (non sectarian).

generousity. assertiveness. self reliance. resourcefulness. loyalty) 2. 3) empathy. Hormat dan santun (respect. empathy. creativity. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. determination and enthusiasm) 7. 2) self-esteem. kreatif. leadership) 116 8. obedience) 5. humility. moderation. courtessy. Ketiga Moral Action. modesty) . reliability. fairness. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). Amanah (trustworthiness. Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. friendliness. mercy. kepedulian. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. honesty) 4. cooperation) 6. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). discipline.Pendidikan Karakter Moral Feeling. Tanggungjawab. kedisiplinan. dan kemandirian (responsibility. courage. compassion. trust. Percaya diri. Keadilan dan kepemimpinan (justice. orderliness) 3. dan pantang menyerah (confidence. 5) self-control dan 6) humility. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. reverence. excellence. Baik dan rendah hati (kindness. dan kerjasama (love. caring. 4) loving the good. Kasih sayang.

Masyarakat di luar lembaga pendidikan. mencontoh. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. Dengan desain demikian. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. flexibility. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. dan (3) Desain berbasis komunitas. dan negara. masyarakat umum.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . Dalam mendidik. unity) Agar dapat berjalan efektif. (1) Desain berbasis kelas. peacefulness. pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. Toleransi dan cinta damai (tolerance. kembali ke rumah. seperti keluarga. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. (2) Desain berbasis kultur sekolah. yakni. ketika berada di lingkungan sekolah. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa.

Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. Kedua. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. 118 . dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. identitas dan kepercayaan diri. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama.Pendidikan Karakter agama. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich.

Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum. rencana pembelajaran. dan silabus. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. Keempat. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. yang dikemas di dalam KTSP. 119 . Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir.

Pendidikan Karakter otoriter. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. Yang terakhir. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. Ringkasnya. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. 120 . membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. berkarakter kuat. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. bukan hanya sekolah. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. dan lain sebagainya.

Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta. saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. keseharian. Menurut Brian. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. pelatih. Selain itu libatkan secara luas motivator.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. penceramah. dan yang terkadang kelihatannya sepele. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. Ringkasnya. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 . Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. “Satukan kata dan perbuatan!” C.

pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. EQ (emotional quotient). Sejauh ini. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip. Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. melainkan hanya selera sesaat. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama.Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. SQ (spiritual quotient). Pertama. agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. Padahal. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). Namun. Dalam wujud praksis.

maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. berakhlak mulia. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). good teacher explains. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 . terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat. terutama kompetensi kepribadian dan social. great teacher inspires’. seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. Di samping itu. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. menjadi teladan bagi peserta didik). berwibawa. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik).Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. arif. Maka. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap.

niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. Brian menyebutkan. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak. yakni pengetahuan yang baik. Oleh karena itu. keimanan. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu. panggilan jiwa. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. dalam memperoleh pengetahuan. dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah. berlandaskan keyakinan. ketakwaan. 1. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Pendidikan Karakter Memiliki bakat. minat. Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. yakni kegagalan . diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain.

harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. sopan. membantu. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. dapat dipercaya. Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. 125 . 3. dan memahami orang lain. 4. dan berkata benar dalam segala hal. rasa 2. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian. dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. memperlihatkan perhatian. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. Bersikap adil dan terhormat. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat.

kesalahan. dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. perlawanan. narkoba. untuk barang hak milik. reaksi.Pendidikan Karakter 126 kasihan. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan. dan untuk Negara. pada orang lain. menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Menghindari seks di luar nikah. zat dan perilaku berbahaya lainnya. dapat mengendalikan kata-kata. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. 6. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. aksi. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. atau keputusasaan. pada diri sendiri. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. dan juga keinginan. Di Indonesia. berkawan. Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. atau kegagalan. 8. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. 7. rokok. 5. alcohol. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . dan dermawan.

sentuhan nurani. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. perasaan. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. dan nuraninya. emosi. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 . karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah.

dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah.Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. Di Indonesia. Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. yaitu hanya mewajibkan 128 . Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama.

moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. kedamaian dan kesatuan. kepemimpinan dan keadilan. percaya diri kreatif dan pekerja keras. perasaan. emosi. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya. sebab pendidikan karakter (akhlak. dan nuraninya. kejujuran/amanah dan bijaksana. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. hormat dan santun. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. baik dan rendah hati serta toleransi. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. sentuhan nurani. 129 . Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah.

melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. Oleh karena itu. sebagai berikut. Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. etika. 2. entah itu pendidikan agama. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. kewarganegaraan. Pertama. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. Kita hidup tidak sendirian. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. guru. dan tetap eksis.

Keempat. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. kasih sayang. jujur kepada orang lain. kejujuran. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. mencintai belajar. yaitu (1) kasih sayang. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. Konon. Kelima. Oleh karena itu.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Kejujuran. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. bertanggung jawab. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. jujur kepada Tuhan. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. Ketiga. (2) kepercayaan. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. menghormati diri sendiri dan orang lain. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. mulai jujur kepada dirinya sendiri. dan (3) kewibawaan. kita harus hidup beretika. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 .

yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). usaha (effort). Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. berpikir logis (common sense). Waktu adalah pedang. inisiatif (initiative). pemecahan masalah (problem solving). Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. motivasi (motivation). menghormati hak orang lain. Keenam. ekonomi. kasih sayang (caring). kemauan kuat (perseverence). Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris.Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. adalah warisan petuah para sahabat Nabi. kerjasama (teamwork). dan budaya. 132 . agama. tepat waktu. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. tanggungjawab (responsibility). Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. konsentrasi pada tujuan (focus). Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. Ketujuh. bahkan dari keluarga.

Ratna menyebut tiga unsur yang 133 . Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Louis. Dengan pendidikan karakter. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. tanpa ketiga aspek ini. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. perasaan (feeling). Bahkan secara spesifik. Character Educator.St. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

konsep yang dibangun. Acting the good. Jadi.al. Feeling the good. Untuk membentuk karakter. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang. dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. et. Jika Feeling the good sudah tertanam. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. namun mereka tidak tahu alasannya. Selama ini hanya imbauan saja. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih. itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. anak dilatih untuk berbuat mulia. Pertama. Menurut Ratna. habit of the heart. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik. Kedua. adalah habit of the mind.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Ketiga. tidak akan ada artinya. Pada tahap ini. dan habit of the hands. Knowing the good. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk.

miras. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. dan sebagainya. narkoba. tawuran. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. yaitu rasa percaya diri. akan mengalami kesulitan belajar. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. tetapi pada karakter. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. kemampuan bergaul. dan kemampuan berkomunikasi. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. rasa empati.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. kemampuan berkonsentrasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. kemampuan bekerja sama. perilaku seks bebas.

Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. Namun masalahnya. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. sebagai anak yang kurang pandai. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. . akan menimbulkan stress berkepanjangan. 4. Akibatnya sejak usia dini. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah.

Menunjukkan sikap percaya diri. dan inovatif. kreatif. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. 11. suku. Menghargai keberagaman agama. 6. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. 8. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. Menghargai karya seni dan budaya nasional. 13. 7. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 137 . 12.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. kritis. 9. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 5. budaya. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 4. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. ras. berbangsa. kritis. 3. 10. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. dan kreatif.

19. kebiasaan keseharian. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . tradisi. Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. 18. Memiliki jiwa kewirausahaan. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. Menghargai adanya perbedaan pendapat. Menunjukkan keterampilan menyimak. 16. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Menerapkan hidup bersih. aman. 15. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. 20. D. 21. bugar. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.Pendidikan Karakter 14. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. sehat. 17. membaca. berbicara. yaitu perilaku.

Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 . 3. staf dan siswa didik. Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. proses dan prakteknya dalam pengajaran. tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata. 2. sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip.

maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa. Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. Kirschenbaum. as old as 140 . Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. It is in fact. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”.

adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. Down through history. dan sekolah 3. perubahan (reformasi) sekolah 9. adalah proses. in countries all over the world. adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. komunitas. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. yang terbaik adalah. suasana. 141 . teori. adalah didasari oleh riset. datang dari rumah. adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”. guru dan siswa. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. dan kurikulum 2. bukan hanya program 8. Dengan demikian.

Pada konteks makro. menghasilkan sikap yang kuat. kesejahteraan. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. Pada tahap evaluasi hasil. pemerintahan. dan pikiran yang argumentatif. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. kesehatan. hukum dan hak asasi manusia. komunikasi dan informasi. 142 . merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut.Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. bukan hanya sektor pendidikan nasional. khususnya sektor keagamaan. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya.

yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan. memperbaiki. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. 143 . menguatkan. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik.

Sementara itu mata pelajaran lainnya. Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter. Khusus. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Untuk kedua mata pelajaran tersebut.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan.

Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. perilaku. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. Palang Merah Remaja.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Pecinta Alam. kompetisi atau festival. seperti kegiatan Dokter Kecil. dll. pertemuan wali murid. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. pelatihan. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . Liga Pendidikan Indonesia. kepribadian. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima.

Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. di rumah. baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. kursus kepemudaan. Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. dan di masyarakat. misalnya kursus keterampilan.Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah. pelatihan-pelatihan singkat. seperti kegiatan 146 . Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. bimbingan belajar.

kejujuran. Sedangkan pada lingkup media masa. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. jiwa patriotik. pelatihan kepemimpinan. pelatihan kepemimpinan. pelatihan kode etik jurnalistik. kesenian. dan akhlak mulia. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. sosial. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. keagamaan. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. pelatihan kewirausahaan. olahraga. dan pelatihan keterampilan profesi. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari. kepribadian. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial.

inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter. Oleh karena itu. . Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. c.Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. b. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. baik di jenjang pendidikan usia dini. d. standardisasi perangkat dan proses penilaian. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. dasar. a. pendidikan dasar dan menengah.

sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. pengembangan. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). men kan niet onderwijzen wat men weet. Men kan niet onderwijzen wat men wil. akan ‘beranak’ hijau. Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. E. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa.” 149 . serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri.

Bila memang bersalah.Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Namun. Ketiga. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan. betapa sering kita menyampaikan 150 . Dengan terus belajar. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. tidak main topeng. belajar terus tanpa henti. bila memang tidak tahu. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. Kedua. guru akan semakin banyak tahu. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan. bila guru sendiri terus belajar. konsekuen dengan apa yang diajarkan. tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama.

staf. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. Pekerja sosial (social worker). direktur. 1. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Pelajar dan ilmuwan. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan. karyawan. baik pendidikan keluarga. sekolah dan masyarakat secara luas. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. 151 . pengurus perpustakaan dan lain-lain. 2. kepala sekolah. seorang guru harus berperan sebagai. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan. Teladan. keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented).

Orang tua. dan 5.Pendidikan Karakter 3. model keteladanan. 152 . artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. Seringkali. Di masa depan. 4. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. berkembang. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. baik karena siswa yang malas. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. tidak punya buku paket atau alasan lain. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya.

yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka. Oleh karena itu. apa yang mereka rasakan. pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah. namun teladan itulah yang menarik hati). dan apa yang mereka lakukan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. apa yang mereka dengar. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang. Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya. Untuk itu. tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. Sebab. Konsistensi dalam pembelajaran. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. 153 . dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya. tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. guru sering mengajarkan kesamaan hak. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru.

Pendidikan Karakter 154 .

yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak. sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal. baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. 155 . dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas.

para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat . Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran. William Bennett (dalam Megawangi. semangat.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan.merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. keinginan untuk menjadi yang terbaik. Bagi seorang anak. Pendidikan. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya. maka masyarakat pun akan lemah. dan Kesejahteraan. Oleh karena itu. dan kemampuan-kemampuan dasar. Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. mengasuh. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . Menurut pakar pendidikan. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 . sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. dan mensosialisasikan anak.Pendidikan Karakter Dari sini. 2003).

dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. 2006: 42. Oleh karena itu. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya. 157 . terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni.” Dari sini. sejahtera”. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. mengatakan. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya. ”Rasa cinta. B.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya. teristimewa pendidikan budi pekerti.

(3) Pola asuh permissive. (2) Pola asuh demokratis. 3) ü . dan (3) Pola asuh permisif. yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. (2) Pola asuh Authoritative. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. dan tidak boleh bertanya. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. Oleh karena itu. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak. C. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. anak harus tunduk. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. patuh. sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar.Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. Artinya. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. 2) Anak diakui sebagai pribadi. dan kelekatan emosi orangtua . 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. sentuhan.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. anak belajar tentang banyak hal. termasuk karakter. 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku. 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua.. 4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan. apalagi terkesan membiarkan. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. kurang tanggungjawab serta agresif. orangtua yang otoriter merugikan. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. 1993). anak yang dididik secara 160 . Di sisi lain. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. Menurut Arkoff (dalam Badingah. Sementara. Pada akhirnya. karena anak tidak mandiri. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. Sementara itu. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. di mana keluarga yang broken home.Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak.

(c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). maupun secara fisik (diberi ciuman. dan kontak mata yang mesra).yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). Menurut Middlebrook (1993). (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. dan pujian). Dalam hal ini. akan mempengaruhi perkembangan emosi. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). anak yang ditolak adalah anak yang 161 . Penelitian tersebut . elusan di kepala. perilaku. Sementara. baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. pelukan. baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. sosial-kognitif. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. dorongan. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. kata-kata yang membesarkan hati. (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua.

Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. dilindungi. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. atau menampar). tidak disayang. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. dikecilkan. bahkan dibenci oleh orang tuanya. mencubit. walaupun orang tua tidak merasa demikian. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. atau bersifat undifferentiated rejection. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. bersikap sangat agresif kepada orang lain. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. ataupun secara fisik (memukul. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. bentakan. sindiran negatif. dianggap berharga. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). Sementara itu. yaitu : 162 . dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. baik secara verbal (katakata kasar. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. percaya diri.

3. misainya menyindir. dan memberikan hukuman badan lainnya. Anak menjadi acuh tak acuh. Bersikap kasar secara fisik. 2. 163 . yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. rasa tidak percaya. 6. Bersikap kasar secara verbal. dan tidak dapat menerima persahabatan. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. tidak butuh orang lain. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. 3. Berperilaku agresif. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. 5. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. simpati. 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1. 2. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. merasa diri tidak berharga dan berguna. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. Secara emosiol tidak responsif. mencubit. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. la kelihatan sangat mandiri. Menjadi minder. dan berkata-kata kasar 4. dan gangguan emosi negatif lainnya. 1. misalnya memukul. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. mengecilkan anak.

ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. akan membuat anak merasa tidak dekat. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. curiga dengan orang lain. 6. seperti rasa tidak aman. dan stimulasi fisik dan mental. mudah tersinggung. dan lainnya. tawuran. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . Ketidakstabilan emosional. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. 8. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. D. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. minder. 7. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. yaitu maternal bonding. dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. khawatir. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya. mudah marah. Menurut Megawangi (2003). rasa aman.Pendidikan Karakter 5.

ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Menurut Erikson. dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. menggendong. dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Menurut pakar pendidikan anak. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Dengan kata lain. antusias mengeksplorasi 165 . seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. mengelus. Menurut Bowlby (2003). Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak.

sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini. Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya.Pendidikan Karakter lingkungannya. 166 Untuk itu. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. kasih sayang dan lain-lain). ia sulit untuk diarahkan. berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik. ia banyak melakukan penyimpangan. jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . dididik dan dibina. Juga. orang tua dan bangsa. dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. dan menjadikannya anak yang kreatif. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. baik dalam tatanan norma agama. Dengan kata lain. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman.

Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa. jika sudah seperti itu. Juga. harta 167 . tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya. Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. Diantara penyebabnya adalah. Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah. baik makanan dipagi. Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. Nah. merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. Juga. siang dan sore hati. Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini.

Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. maksiat dan dosa. jika ia menemui 168 . karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai. teman ada yang mengajak pada kemungkaran. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama. anak yatik dan lain sebagainya. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Juga. dan dapat merasakan hidup yang lebih baik. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia. Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. Sebaliknya. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini. keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. Juga. menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain.Pendidikan Karakter dan kehormatan. Dengan seperti itu. dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan.

Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. sikapnya arogan dan tidak bida diatur. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai. Untuk mencegah hal ini. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan. tenang dan tentram. padahal baru bebarapa tahun. maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. wataknya keras.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik. Dengan kejadian menimpanya seperti ini. Juga. sehingga tidak bisa diatur. minimal anak akan 169 .

Pendidikan Karakter merasakan dua hal. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. Namun. Nah. maupun tempat tinggal yang layak. yaitu menjaga. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. perlindungan juga perhatian. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. melakukan kejahatan. jika yang menjadi wali adalah ayahnya. perhatian dan perlindungan. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. menjaga dan bersenda gurau dengannya. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. bermaksiatan dan melakukan dosa. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan. tidak dapat memberi makanan. kemaksiatan dan dosa. apabila ibu yang menjadi walinya. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kedua. Tentu saja harapan kita adalah. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. Diantara 170 . Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. baik dari ayah maupun ibunya. pertama. pakaian. Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. dan memiliki akhlak yang tidak baik.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat. Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang.” Atau olah raga lainnya. tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. Juga. dengan sesuatu yang bermanfaat. sesuatu yang disenanginya. Suatu contoh. selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat. maka arahkan anak seraya berkata. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG). jika ia senang dengan bermain bola. Untuk itu. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 . dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. basket. atau memiliki akhlak yang tidak baik. Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. seperti bermain bola.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Diantara manfaatnya adalah. Dengan shalat. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. Oleh karena itu. jika hal itu tidak dilakukan. kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. Nah. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak). sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. Dari beberapa hal penting di atas. ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam.Pendidikan Karakter lainnya. 172 . Karena ia adalah merupakan tiang. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas. bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. Sehingga. carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. Kalau memungkinkan. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. 1.

seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah. Juga. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran. 3. Juga. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. selain mandi. Selain itu. dan gigi. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari. mulai dari membersihkan lubang hidung. membersihkan rongga mulut. memukul anak 173 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2.ah. dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya. Dan. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat. Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat.

Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik. maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati. tentang kawan yang tidak baik. Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. ingatkanlah pada anak. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa. Bagi orang tua. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. Juga. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. agar ia tidak terperangkap. 174 . terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka. Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. dan usahakan agar kita terus memantau anak.Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi.

Pun dalam hal akhlaknya. Dalam hal ini. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. Dan biasanya. kasar. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. maka tidak dapat diragukan lagi. Sebaliknya. suka berbohong dan mengejek. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. ia akan mengambil keputusan yang salah. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. yang paling tragis. setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. dimana anak akan sangat bergantung padanya. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. sering di pukul. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. 175 . tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. jika sikap buruk orang tua pada anak. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya. Ia akan menjadi anak yang penakut. jika anak diperlakukan seperti itu. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik. Juga. dengan sikap itu. dengan siapa ia berkawan. Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya.

Bukan hanya nasehat orang 176 . sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. Anak kecil maupun ABG. meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. Jika hal itu sudah terjadi. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja. kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. jangan salahkan anak. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran. maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks. akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak. terutama pada anak kecil dan ABG. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita.

Pun. Untuk menghindari hal itu. Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut. selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. 3. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. Atau. Juga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. Dan. hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. usahakan anak dicegah membaca media. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi. Di antaranya. Jika tidak bisa. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 . 1. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. 2. Dan tidak kalah pentingnya. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka.

Sebaliknya. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga. atau ia berada pada lingkungan yang baik. jika anak berada pada golongan yang pertama. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan. Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. Dengan keadaan seperti itu. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. Nah. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya. terlebih lagi ajaran agamanya. dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya. belum mendapat pekerjaan. karena tidak adanya lowongan. banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya. karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. Nah. jika masuk pada golongan yang kedua. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. Namun. Pada saat itu. 178 .

Pertama. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. 2. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. Nah. namun ia masalah mencari pekerjaan. merampok maupun mau untuk disogok (suap). Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. namun belum mendapatkannya. maka pemerintah 179 . artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. seperti mencuri. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. sehingga menjadi pengangguran. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha. menganggur karena terpaksa. Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan. 1. padahal peluang kerja banyak ditemukan. padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. mengarahkan. Untuk bagian yang pertama. Kedua. sampai ia mendapatkan pekerjaan. Jika masih tidak mau melakukan hal itu. Diantaranya. namun ia malas untuk bekerja. sampai ia mendapatkan pekerjaan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan .

Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. memberikan pendidikan yang baik. Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. Juga. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya. Sang ibu adalah pendidik pertama. terutama dalam menegakan agama. sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. Agar tidak terjadi hal yang demikian. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. Semisal. ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. jika mau mempersiapkannya. baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan. Namun dalam hal pendidikan anaknya. orang tua. Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya.

agama dan bangsa. atau sebaliknya. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak. Untuk itu. sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. Juga. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 . jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim. dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. dan ia akan merasa diperhatikan. manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri.

seperti setan dan jin. Khusus masalah penjelasan Qada’. 182 . Malaikat. hatinya semakin suci. Juga. memiliki akidah yang kuat. hari kiamat.Juga.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya. menjelaskan hal-hal yang ghaib. api neraka dan hal yang ghaib lainnya. Lalu. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. dan selalu beribadah dalam segala hal. agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut. Juga. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. mampu memanaje kehidupannya dengan baik. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. hati pertanggungjawaban. tentang surga. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. Iman kepada Allah SWT. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. Kitab-kitab suciNya.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain. siksa kubur. Untuk itu.

karena orang tua yang mendidiknya demikian. Jika melihat kenyataan seperti itu. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. Pun. Dan. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. tidak memiliki tujuan hidup. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. beringas dan tidak bisa di atur. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya. maka orang tua. ia baik. karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. merampok sera mencuri. Acuhnya ayah. entah sang ayah maupun ibu. Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya. hidup semuanya sendiri. tidak jujur dalam mengemban tugasnya. Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. 183 . mengajarkan akhlak.

maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. Seorang anak. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan. sejak ia terlahir dari rahim ibunya.Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua. niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. keutamaan perilaku dan sikap. Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan. Untuk itu. pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa. mendidiknya agar takut kepada Tuhan. Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak. agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Sedangkan bagi tenaga pengajar. Akhlak. menginformasikan 184 . arahkanlah anak didiknya ketika disekolah.

Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji. agama dan bangsa. akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya. 185 . senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. menyaksikan. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena sudah tertanam keimanan. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. dan berkompetisi dengan umat lainnya. Untuk itu. maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. berinteraksi. manakah yang lebih baik dalam bersikap. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji.

tentunya setiap daerah berbeda-beda. ia mampu menanganinya dengan baik. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. tidak mudah mengeluh. istiqamah. Juga.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. Juga. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. dan mencintai orang lain. sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Lebih dari itu. dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. mencaci. menghormati yang lebih tua. orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. memaki. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. berteriak. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . memuliakan tamu yang datang ke rumah. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. amanah. menghardik. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Dan. Juga. Semisal. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama.

agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. Untuk itu. hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. Merampas hak orang lain secara paksa 3. bagi ayah. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. dan lemah lembut. Yaitu. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. banjir.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. 1. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. entah itu berita duka. Oleh karena itu. kebakaran. Emat hal itu adalah. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. gempa. Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. Mencela dan mencaci.

dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. Sungguh. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian. agar ia tidak lagi merengek dan menangis. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. Oleh karena itu. dimulai dari diri sendiri. Juga. nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. 188 . terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak. Dengan sikap orang tua seperti itu. dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan. kehormatan dan harga diri. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga.

jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain. 2. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini. Hal ini penting sekali. Memberikan kasih sayang pada anak. Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. agar anak belajar mencintai orang lain. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak. ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. Untuk itu. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. 189 . bagi orang tua. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. Dengan demikian. Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka.

190 . di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. itu semua berpengaruh baginya. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya. adalah besar sekali. 3. Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak. sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. Anak akan menangkap secara tidak sadar. “Karena kemampuan anak untuk menangkap. dan akan meniru secara tidak sadar. dengan sadar atau tidak. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. Sebab. atau tanpa kesadaran purna. Memang.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

makan dan minum dengan tangan kanan. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. 4. Dilarang bermain dengan hidungnya. Ketika mengenakan kain. memberi. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya. diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. dan dijauhkan dari sikap rakus. baju. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Jika makan dengan tangan kiri. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 . atau lainnya memulai dari kanan. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.

dan jangan sampai bersuara. sanak familinya yang masih kecil. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. sebelum tidur. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. dan sehabis bangun tidur. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya. • . dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin.Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain. sekalipun hanya sedikit. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.

karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. dipaksa untuk menerima kebenaran. bahkan menjauhkan kotoran darinya. jika memungkinkan. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar. Tapi kalau tidak. • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 . jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela. dan Abi (Bapak).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. Tidak membuang sampah dijalanan. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka. bukan di tengah jalan. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya.

dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain. • Dibiasakan menghormati milik orang lain. seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. mainan atau diajak jalan-jalan. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. • Tidak dilarang bermain selama masih aman. sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.Pendidikan Karakter gan. 194 . Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan.

the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1991. New York. Coon. Making a Commitment to Character.Goble.S. Character in the Basic School. Dennis. Boyer.W. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. Berkowitz. 1998. West Publishing Co. Studios 4 Productions. 195 . 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet. and F. (1993). S. The Education of Complete Moral Person Brooks.D. Teachers College Press. UI.M.G. Moral Character. and Civic Education in the Elementary School. Badingah.L. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh. In: J.Bennigna (ed). Depok. B.E. Moral Literacy and the Formation of Character.J. 1995. (1983).W.

. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. (2003). Inc. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. New York. Mack. 2001. Goleman. Kilpatrick. 1991. Educating for Character. 1994. IPB. 1981.F. Diakses tanggal 26 April 2004.W. 1992. Simon & Schuster. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . Megawangi.D. New York. Emotional Intelligence. P.R. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender.W. Child Development.F. New York. Why It Can Matter More than IQ.Pendidikan Karakter Dina. Sixth Edition. _________.F. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Lickona. Horn. Bantam Books. 1997. Pustaka Mizan. 1992. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family. Bandung. Bantam Books. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. Bantam Books.Tanjung.R. I. T. New York. 1995. Hurlock. E. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. http://encyclopedia. Megawangi.thefreedictionary. Jurusan GMSK. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. Family and Community.W.D.Widiastuti. McGraw Hill Kogakusha International Student. Ratna. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. 1995. E. Fagan. 1999.Puspita.com.B.D.Faperta.

Character and Academics in the Elementary School.S..Q. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools. In J.A. and C. New Haven. College & University Press.S. Wilson.C..New York. 1992. 194. Pada bulan Oktober 2001. Statistics of Teens.W.17-18). California.Inc. Pitirim. 1986. The Child. Simon & Schuster Inc. Sage Publications.R. Nord. Houghton Mifflin Company. 1990.D.E. Benigna (ed). Psychology. and C. Massachusetts. The Moral Sense.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman. 1997.C. Boston University Press. New York. 197 . 1995. John Wiley & Sons Inc. Ryan and Bohlin. “The Basic Trends of Our Time”. M. Wynne. Rohner.Y. Vasta. Teachers College Press. and Civic Education in the Elementary School.Tavris. Moral Character. 1991.R. Building Children’s Achievement for the Information Age.J. 2002. Views or Virtues? Schikendanz. Values. New York.A.Miller.Haynes. Child Psychology: The Modern Science. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory.J. Dikunjungi di: Info@ soundvision. New York. 2002. Shambala Publications.com. 1999. 1990. Pickthall. Sorokin.Haith. New York. Wade. Mega Skills..A. 1993. p. Family Socialization and Academic Achievement.E.M. Harper & Row Publishers.A. Rich.

Redja. Holistika Pemikiran Pendidikan. D. Bellmont. The Development of Children. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Child and Adolescent Development. Kelvin L & Robert J. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. Bandung. Terjemahan T.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. CA : Wadsworth Cole. Bandung. 2005. Psikologi Anak. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. Psikologi Perkembangan. 2008. 1982 Bjorklund. Penerbit Alumni. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. 2010. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. Gramedia Pustaka Utama. 2002. Jakarta. M. Paul. Jakarta: Erlangga. 1991 Kartono. dkk. Hermaya. 2002. . Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. Kartini. (2005). et al. Hoffnung. Boston: Houghton Mifflin Company. Rosyda Karya. Hurlock. Pengantar Pendidikan. 2001. Kemendiknas. 198 Seifert. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . 3rd ed. 2000 E Sphero Lawrence.1987. A. 2009. Emotional Intellegence. Reformasi Pendidikan. Jakarta Elizabet B. Malik Fadjar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto.F. New York: Worth Publishers.

Children’s Needs: Psychological Perspectives. 1976) Hasan. Inhelder. Muhammad ‘Athiyah. Santrok. 1988. Belmont: Thomson Wadsworth. Comparing Theories of Child Development. James W. Third Edition. Yoder. Barbel & Jean Piaget. Englewood Cliffs.t) Asy’ari. Palmer. An Introduction to Theories of Learning. Thomas. Sixth Edition. 2005. John W. London: Routledge & Kegan Paul LTD.). R Murray. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi. Theories of Development. Knopf. James O. Sixth Edition. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim. 2001) Al-Abrasyi. Alex & Jeff Grimes (ed. The Growth of Logical Thinking. Concept and Applications. New York: Facts on File Publications.Second Edition. Washington DC: The National Association of School Psychologist.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain.R.2005. New Jersey: Pearson Education. Life-Span Development. (Jakarta: Rineka Cipta. Thomas. Ahmadi. The Psychological Assesment of Children. Vander. Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. William. Ilmu Pendidikan. From Childhood To Adolescence. Zanden.1983. Muhammad Hasyim. The Self-Confident Child. Human Development. New York: John Wiley & Sons Inc. Muhammad Tolchah.1985. Diskursus Islam dan Pendidikan. Jean & William Proctor. (New Jersey: Prentice Hall. Abu & Nur Uhbiyati. 1415 H) Hahn. New York: Alfred A. B. (Ja199 .1987. Hergen. t. 1997. (Jombang: Turast al-Islam.

Siti Farida. Neil. PT. Comperative Education Review. (Jakarta: Balai Pustaka. Malpraktik Pendidikan. RajaGrafindo Persada. (Jakarta: Bumi Aksara. (Yogyakarta: Jendela. Agus. (Jakarta: UIN Press. Jakarta. 2010) Juan. (Ar-Ruz Media. 1994) Nasr. 2007) Hasbullah. (Yogyakarta: Genta Press. (New York: New American Library. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. 2001) Tilaar. PT.. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. Mawardi. 2008) Mastuhu. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.I Postman. 1970). the End of Education Redefining the Value of School. 2006 Nurul Zuriah. Estarella. Zurinal & Wahdi Sayuti. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. Mendidik Anak Secara Islami. 2008) Z. terj. 2000) Lubis. 2006). Sayyed Hossein. Cet. The Education of Don Quixote. Cet. Bumi Aksara. 6. (Jakarta: INIS. Evaluasi Pendidikan Nilai. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. Jakarta. Dinamika Sistem Pendidikan. (terjemahan). 1990) Abdullah Nashih Ulwan. Science and Civilization in Islam. Nurul.Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. vol 6. HAR. no 1 Wibowo. 2007 200 . I Zuriah. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful