Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. terdapat empat pokok utama: 1. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . 3. 2. kebiasaan. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Mengembangkan hati nurani. dan peraturan. Dalam mempelajari sikap moral. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. dan EQ secara efektif.

Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ).dkk. Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. yaitu : 1. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis. enurut mussen. yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap. Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional). 6 .Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah. egosentris dan konkrit 2.

Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. 7 . 3. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya. artinya untuk dapat hidup secara harmonis. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.

Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. 3) Masa Bayi. 2) Umur 3 – 6 tahun. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain. Elizabeth B.Kanak awal. umur 6 – 10 atau 11 tahun. 4) Masa Kanak. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. umur 2 – 6 tahun. Menurut Kohnstamm. umur 13 – 17 tahun. 8 . 2) Masa Neonatus. periode vital atau menyusuli. 5) Masa Kanak. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. 3) Umur 6 – 12 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. periode social atau masa pemuda.Kanak akhir. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal. 6) Masa Pubertas (pra adolesence). periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun. saat terjadinya konsepsi sampai lahir.

Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. yang pada awalnya diterima secara acuh. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. 9) Masa Setengah Baya. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. 9 . 10) Masa Tua. umur 21 – 40 tahun. Namun. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. 0 – 2 tahun (masa vital) 2. 2 – 6 tahun (masa kanak. yang dimaksud dengan masa anak. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Agama Pada Masa Anak.kanak) 3. umur 60 tahun keatas. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.kata orang yang ada dalam lingkungannya. 2. umur 40 – 60 tahun. Hurlock.

Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga. takut dan cinta padanya sekaligus. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman. butuh. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Menurut Zakiah Daradjat. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya.

dongeng. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.kanakannya. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. b. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 . Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya. sejalan dengan perkembangan usia mereka. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. Pada usia ini. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya. c.

Pada fase ini anak sudah mulai 12 . b. c. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. yaitu: a. • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. • Konsep ketuhanan yang lebih murni. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. • Berkaitan dengan masalah ini.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian.Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). Fase kanak.

pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Menurut penelitian. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan.aspek jiwa lainnya.4.kadang kurang masuk akal. 4. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek. sejalan dengan perkembangan moral. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. cukup sekedarnya saja.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. Anak pada usia kanak. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya. Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. 13 . d.

Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun.Pendidikan Karakter b.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. tetapi amat konkret dan pribadi. c.gerik tertentu. Pada usia 7 – 9 tahun. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. d. Mereka menghafal secara verbal kalimat. berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Dalam hal ini.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). Kebutuhan psikologis. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. seperti lapar. akan tetapi berupa teladan f. dan seterusnya 2. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. seperti rasa aman. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. dan aktualisasi diri 15 . dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus. maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. e. penerimaan. Instink biologis. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. penghargaan.

agama. Lingkungan keluarga 2. dan sebagainya Faktor eksternal 1. pembiasaan. pembimbingan. Kebutuhan pemikiran. penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup. Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di . dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. Lingkungan sosial 3. metode pengembangannya adalah pengarahan. keteladanan. indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran.Pendidikan Karakter 3. Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah.

Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif. Di samping itu dari segi keuntungan domestik. Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. suka bekerja keras. mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. kita hidup di dalam dunia yang terbuka. sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu.sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 . Dari segi global. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita.yang kurang baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia . dunia yang tanpa batas. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global.

(5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. misalnya etika dan estetika 18 . alkohol dan seks bebas. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. (9) membudayanya ketidakjujuran. dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. (4) meningkatnya perilaku merusak diri. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. Artinya. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. seperti penggunaan narkoba. Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. (6) menurunnya etos kerja. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk.

2. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007. Fenom- 19 . Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. kebaikan dengan kekuatan. 10-11): 1. Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. Melemahnya ikatan keluarga. Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Hilangnya model kepribadian yang integral. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim. Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak. dan seterusnya 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2.

pergaulan bebas. telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. krisis kejujuran. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. perkelahian di kalangan mahasiswa. Pada tataran makro. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. tindakan-tindakan diskriminasi. Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan. Oleh karena itu. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. Secara tersurat. 3. menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita. moral. dan budi pekerti dewasa ini. penyalahgunaan obat-obat terlarang. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 .

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. historis maupun sosiokultural. berjiwa persatuan Indonesia. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. baik secara filosofis. Secara ideologis. memajukan kesejahteraan umum. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. dan keadilan sosial. 25 . baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. Secara filosofis. Secara sosiokultural. berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. ideologis. berbangsa. perdamaian abadi. Secara historis. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. normatif. Secara normatif. mencerdaskan kehidupan bangsa. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena.

rasa. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. rasa. haluan negara. regional. konstitusi. pandangan. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. dan global yang berkeadaban. kompetitif. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. bergotong royong. karsa. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. berjiwa patriotik. pemahaman. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. karsa. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. pemahaman. bertoleran. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. berbudi luhur. norma UUD 1945. berkembang dinamis.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. olah hati. berakhlak mulia. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. dan 26 . dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. bermoral. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. olah rasa dan karsa.

adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya. 27 . khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. Oleh karena itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI. sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom). Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi. Di samping itu. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. di mana nilai-nilai budaya.

Pendidikan Karakter 28 .

Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. Anak usia sekolah dasar misalnya. dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh. 29 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A.

Padahal. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua.Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. tawuran. Dengan 30 . Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009). Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. baik guru maupun sesama. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. rasa malu yang kian terkikis. budaya kekerasan di kalangan remaja. Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika. bolos sekolah. pergaulan bebas dan sebagainya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

cakap. berilmu. kepribadian. berakhlak mulia. akhlak mulia. Di samping itu. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. masyarakat. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kecerdasan. bangsa dan negara”.” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik. mental dan moral bagi individu-individu. bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. mandiri. Bahkan ia menegaskan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri. artinya. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. sehat. kreatif.

Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan. dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya. diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Karakteristik Kesisteman (Sistemik). pembukaan UUD 1945. dan kebudayaan.d. yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.c. pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika. Karakteristik Sosial Budaya. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut. pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional. Karakteristik Tujuan. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 . yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara. Karakteristik Dasar dan Fungsi.b. agama.

etnis. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . agama. dan kompetensi estetis. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. ketakwaan. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. Untuk mewujudkannya. dan gender. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. ras. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya.

Pendidikan Karakter teknis. yaitu. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. keberanian.S. antara kebebasan dan determinasi. dan kehormatan. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. kebaikan. antara 38 . kecakapan praktis. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran. Brand. diantara dalam konteks pendidikan. B. Alexandria. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. Dengan demikian. by J. kebebasan. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. Dengan kata lain. kedermawanan. dan kompetensi kinestetis.L McBrien & R. persamaan. Karena itu.

manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. dilakukan. manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. Dengan gambaran manusia seperti ini. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. sehingga menjadi seperti yang diinginka. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. Karakter merupakan struktur antropologis manusia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu. Jadi. 39 . yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi.

Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. dimana seseorang bisa disebut orang 40 . Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. sementara orang yang berperilaku jujur.Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Pertama. 4) mencintai kebajikan (loving the good). Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience. Pengetahuan Moral. pikir. raga. yaitu: 1) kompetensi (competence). pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. 2) keinginan (will). 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). Ketiga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. 2) harga diri (self esteem). serta rasa dan karsa. dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). Kedua. 3) kebiasaan (habit). Dengan demikian. Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 . Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness). Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). 3) empati (emphaty). 5) pengedalian diri (self control). dan 6) kerendahan hati (humility). Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. Dalam pendidikan karakter. 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values). 5) membuat keputusan (decision making). Perbuatan/Tindakan Moral. Perasaan tentang Moral. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral.

Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. misalnya mata pelajaran matematik. politik tanpa prinsip/etika. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. RAGA (kesehatan dan kebersihan).Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. C. cerdas. Tetapi pada kenyataannya. PIKIR (kecerdasan). serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan. bersih dan sehat. fokus 42 . dan kreatif. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. peduli. tanggung jawab. perdagangan tanpa moralitas. Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah.

deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. semua guru. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. pesuruh sekolah. semua pegawai tata usaha. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. tukang sapu. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. dan orang tua di rumah. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. orang yang berjualan di kantin sekolah. bukan sekedar mengingatkan. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan.

pengorganisasian. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada. Bagi Foerster. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. pelaksanaan. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 .

Ketiga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Pertama. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. antara independensi eksterior dan interior. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. keteguhan dan kesetiaan. Kedua. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. lanjut Foerster. kualitas seorang pribadi diukur. Keempat. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. otonomi.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Kematangan keempat karakter ini. 45 . Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. membuat seseorang teguh pada prinsip. koherensi yang memberi keberanian. Dari kematangan karakter inilah. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. antara aku alami dan aku rohani.

ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. D. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. kebiasaan keseharian. karakter atau watak. karakter negatif dan . yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. dan landasan konstitusional UUD 1945. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Budaya sekolah merupakan ciri khas. Sebaliknya. tradisi. positif. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. bertanah air. dan masyarakat sekitar sekolah. Mereka bersumpah untuk berbangsa. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut.

memiliki inisiatif. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). patuh pada peraturan. bekerja-sama. mandiri. masyarakat yang memiliki sifat jujur. pandai berterima kasih. Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. tanya jawab sehingga pada 47 . Hal ini cukup beralasan. bermain peran. penanaman keteladanan. terorisme dan lain-lain. kekerasan. penguatan sikap positif dan negatif. bisa dipercaya. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. suka menolong dan tumbuh kasih sayang. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. tanggungjawab. menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. simulasi. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. tindakan sosial. simulasi. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi.

Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya. tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah. 2. undang-undang. 1. Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. lokal. dan tatanan antar bangsa. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. nasional.Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti. 4. 48 . 3. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue). dan internasional melalui adat istiadat. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut. Pendek kata. hukum.

Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti. mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. 3. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. 1. F. 2. baik dari segi agama maupun akal yang lurus. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13). Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. menyimpang. tidak berdasar. Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. 49 . 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E.

kemauan. logika baru. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa. sebelum kita melakukan suatu tindakan. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol.Pendidikan Karakter Pengisian. • 50 . Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan. yaitu arah yang akan menentukan motifnya. yang membentuk kesadaran baru. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan. berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas. arah baru.

Dr. penguatan. Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). dan pengendalian bagi mental kita • 3.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G. Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 .itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).

berani (courage). Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. hormat dan santun. jujur.Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). tanggung jawab (responsibility). Sementara itu. cinta damai dan persatuan. kreatif. dan toleransi. dan kerja sama. jujur (fairness). keadilan dan kepemimpinan. peduli (caring). tekun (diligence) dan integritas. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. kewarganegaraan (citizenship). character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. ketulusan (honesty). kerja keras dan pantang menyerah. disiplin dan mandiri. percaya diri. rasa hormat dan perhatian (respect). baik dan rendah hati. kasih sayang. 52 . peduli. Oleh karena itu. tanggung jawab. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. dapat dipercaya (trustworthiness).

pengendalian diri. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. Lebih spesifiknya. kesopanan. dan disiplin diri. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. pendidikan 53 . toleransi. sikap bertanggung jawab. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. menurut Dr Thomas Lickona. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. ketekunan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. integritas. pertimbangan moral. kesetiaan. keberanian. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. keadilan. seperti kejujuran. masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. simpati. dan pengetahuan diri tentang moral. pembuatan keputusan yang matang. menghormati harga diri individu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab.

dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. (4) adil (fair).Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif. (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). (3) bertanggungjawab (responsible). memedulikan. Anak didik bisa menilai mana yang benar. Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. Lebih lanjut. terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. 54 . diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). sangat memedulikan tentang yang benar. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya. afektif dan psikomotor.

IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin. hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .

yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). Karena seringkali orang tahu belum tentu paham. Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. 56 . yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. orang paham belum tentu melakukan/berbuat. Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. Bapak Pendidikan Nasional. Alangkah naifnya. menjadi teladan bagi peserta didik). berakhlak mulia. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). diantaranya: a. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional.Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). telah menekankan pentingnya ketauladanan. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. arif. berwibawa. atau siswa hanya sekedar “tahu”.

b.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. terutama kompetensi kepribadian dan social. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat. good teacher explains. 57 . dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. panggilan jiwa. minat. Maka. great teacher inspires’. ketakwaan. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. keimanan. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Selain itu. dan sebagainya. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek. aktifitas di kelas. pola tutur kata. c. sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. 58 . Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. Artinya. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Dengan demikian. Namun. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. tetapi menyentuh pada internalisasi. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. dieksplisitkan. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi.

bakat. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. pembelajaran. dilaksanakan. tindakan (acting). pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. dan komponen terkait lainnya. muatan kurikulum. serta potensi dan prestasi peserta didik. baik di lingkungan 59 . Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian. pendidik dan tenaga kependidikan. penilaian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Dengan demikian. potensi. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. nilai-nilai yang perlu ditanamkan. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. perasaan (feeling).

disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. 60 . Dengan begitu. dan persekolahan. memahami hak dan kewajiban. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh. mandiri. Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa. bertanggungjawab. masyarakat.Pendidikan Karakter keluarga.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik. Sadisme. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. 61 . pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). Krisis moral secara meluas.

Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. erotik. dirasa. mencari jawaban dari paranormal. eksotik. adat luhur. moral akhlak. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. terlepas dari kawalan agama. Tawuran antar pelajar. 62 .Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. seronok. dengan tumpuan kepada sensual. cinta mode. horor. yang lazimnya melahirkan klub malam. boros. night club. Seni dibungkus selimut art for art’s sake. Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. ilmu dan filsafat. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton).com/ wp-admin/ . dicicipi. erotik. mengutamakan kesenangan badani (jasmani)._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. di dengar. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya. Orientasinya hiburan melulu. sensual. rakus. pergaulan bebas sex. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa.wordpress. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. kasino dan panti pijat. di sentuh.

Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. 63 . Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. geng motor. berakhlak mulia. mandiri. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. nyontek saat ujian. berilmu. kesukaan judi dalam urban popular culture. cakap. kecanduan narkoba. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. minuman keras. dan sejenisnya. sehat. kreatif.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. worldwide sing. musro. Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3.

Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan.Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. 64 . dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Permasalahannya. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN.

Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri.. menggunakan pendekatan yang tajam. positif. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. tetapi juga benar. Hilangnya nilai-nilai kejujuran. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . dan konstruktif. baik di keluarga. dan tidak membantah. berani mengambil inisiatif. tenggang rasa. Namun. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. Menurut Franz Magnis-Suseno.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan. Kalau kita mengharapkan karakter. integritas. anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani. berani mengusulkan alternatif. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. karakter anak tidak akan berkembang. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda.

melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. pola dan politik pendidikan. 66 . Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. berkembangnya kejahatan orang tua. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. hilangnya wibawa ulama. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. dan profesi guru dilecehkan.Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. 1. istiqamah pada agama yang dianut. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. impotensi dikalangan pemangku adat. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua.

melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. kebaikan dengan kekuatan. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. misalnya etika dan estetika 2.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. dan seterusnya 3. Hilangnya model kepribadian yang integral. kukuh ekonomi. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1.

menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. budaya. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. 4. 5. ilmu pengetahuan. teknologi. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. tidak demokratis. ekonomi. sosial. 3. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. tidak berori- 68 . krisis nilai. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. 2. politik dan agama. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis.

perlu ada etika dalam bicara. 2. membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. saling menyakiti. jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain. sehingga hancurlah bangsa itu. maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal. apa yang patut dan tidak patut. aturan dalam berlalu lintas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. dan aturan-aturan sosial lainnya. 1992). yaitu terjadinya pergeseran 69 . Jika tidak. Namun. bahkan saling membunuh. apa yang adil dan apa yang tidak adil. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu.

nilai solidaritas sosial. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. kurangnnya keteladanan para pemimpin. 70 . Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. kekeluargaan. sopan santun. kejujuran. Hal tersebut. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. musyawarah mufakat. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. merusak lingkungan. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. lemahnya budaya patuh pada hukum. kepentingan kelompok. dan golongan seakan masih menjadi prioritas.

serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. Untuk itu. pergaulan bebas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. baik dalam cara berpakaian. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. Berdasarkan indikasi di atas. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi. bertutur kata. 71 . dan pola hidup konsumtif. agama.

bakat. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. keturunan. potensi. kebiasaan. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat.Pendidikan Karakter 4. kemampuan. merasa dirinya bersatu. 72 . Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. asal. adat dan sejarah Indonesia. memiliki kesamaan nasib. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. nilai-nilai. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. bahasa. kolusi. Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. kesukaan. dan hubungan antara manusia dengan manusia. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

com/wp-admin/ . demokratis. misi. Oleh karena itu. Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. 2. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. Perkembangan cyber space. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. 3. internet.wordpress. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization)._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 . persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. keterampilan dan pemantapan strategi. informasi elektronik dan digital. Konsep-konsep visi.

3. keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. adab percakapan ditengah pergaulan. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. 5. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. 2. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. penghormatan terhadap orang tua. 4. budi pekerti.Pendidikan Karakter 1. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. rumah tangga). Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 . masyarakat. acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. kebebasan. muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. Rumusan ulang kiblat (arah). yang akan menjadi kekuatan moral. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. Revitalisasi pendidikan agama.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia. Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . White (dalam Hurlock. 1981). Selanjutnya. pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini. C. 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. Dengan kata lain. semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock. maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar.

Membiasakan Bicara dengan Baik. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. Apabila aspek ini diterapkan. c. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. orang tua dan lingkungan sekitar. d. Membiasakan Kejujuran. Membiasakan meminta Izin. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. teman. Apabila aspek ini diabaikan. maka anak akan menjadi generasi pendusta. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut. Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. yakni. a. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. saudara.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). b. Membiasakan Keadilan.

Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. g. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. Maka dari sifat jujur. membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. Membiasakan Bergaul yang Baik. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. tepuk tangan. pujian. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. 81 . Memberikan Penghargaan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. dan dengan elemen sekolah. Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. f. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. tidak boleh mencela makanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. dan tidak boleh berlebihan. dan katakata. Membiasakan Kasih Sayang. makan dengan tangan kanan. h. tidak sambil bersandar. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. e.

yang memberikan ketenangan kepada pendengar. Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. seperti: sabar. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. dan jelasnya persoalan. kuatnya hati. maka ia termasuk salah seorang pembohong. seperti: yakin. qana’ah. dan ta’dzim (pengagungan). atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. khauf (takut). saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. serta berusaha mengamalkannya. Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Dan di antara tanda dusta adalah 82 . haya` (malu). Setiap akhlak yang baik. maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar. sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi. 2 Niat yang benar dalam perbuatan. mahabbah (cinta). ijlal (membesarkan). Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. zuhud. karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik.Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. dan ridha. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian.

ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. spontanitas. seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 . Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. Jelas. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. gagap. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. dan bertentangan. bingung. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir.

Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 . Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. serta rambu-rambu agama. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. atau tidak beraturan. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta.

mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. Seperti itu pula. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. ketawa. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. • Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. 85 . pakaian yang bagus. namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya. • Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. atau pun yang lainnya. sehingga dia menjadi pusat perhatian. Dan ketika ia bangun. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. Dan dakwa ini dianggap dusta. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. padahal sebenarnya tidak. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. Bagi anak. Padahal is tidak memilikinya. ia makan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. berjingkrak dan bermain.

misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar.Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 . tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya. • Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar.

Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak. Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. Inilah yang dikatakan egois.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. hingga dia terdorong untuk balas dendam. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga. sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah.

tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak. karakter.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan. Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak. dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak. bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. Rasulullah SAW bersabda: 88 . kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah.

Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua. Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. mental.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. serta akal dikemudian hari. atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 . atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan.

Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. semburu. atau malah terkena penyakit saraf. Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang. pendengan. akal jiwa. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah. seperti indra penglihatan. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. takut menghadapi tantangan. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya. lecet atau luka serta kelumpuhan.Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. atau sering kali terlambat datang kerumah. takut kepada yang lain. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. atau boleh jadi 90 .

dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 . agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua. Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. • Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan. atau malah membangkang. durhaka. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1.

yaitu berdusta. Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya. maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik.Pendidikan Karakter • • • • suara. 2. Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada . Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan.

• Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat. karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 . Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran. memutivasinya. seperti mainan atau yang lainnya. Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. dan mencela bila ia berbuat tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. Dan apabila itu pun kalau ada. Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya.

perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya. Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak. Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal. • Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. Dalam tahap ini.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta. 94 . Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. yakni berbuat dusta. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak.

(HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya. karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”. Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama. “Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 . mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata. Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan.

Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang. Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. 2. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. bercita-cita. mainan. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya. Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. . Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. “Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. pakaian dan lain-lain.Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang.

Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. melukis. Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya. Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya. misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak. dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak. dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 . Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya. Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik. Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut. menulis dengan baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. 3.

dan tidak ber- 98 . 4. “Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya. 2. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak. serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. 1.Pendidikan Karakter menimpanya. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan. Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya. Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat. memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak. hingga anak tersebut menjadi pembangkang. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang.

Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk. Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya. 3. dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. 4. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun. Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.

Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda. Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”.Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri.. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?. lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup. “Tidak”. “kembalilah kepadanya”. kemudian ia berkata. baik dalam memberikan belanja. (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan. Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. 100 .

mendorong kamu untuk berlku tidak adil. Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. seperti kemarahan yang amat sangat. 1. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . sekalipun ada dorongan untuk selain itu. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. dan sebaliknya. Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan. Dan bertakwalah kepada Allah. karena adil lebih dekat kepada takwa. kebencian. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. Berlaku adillah. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan.

disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi. 2. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam. Mutawalli berkata. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak.padahal mereka semua adalah saudara sebapak. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya. “Andakan mereka paham. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 .Pendidikan Karakter mereka masing-masing. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta. maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka.

maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 . sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. mementingkan dirinya sendiri. Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. 5. Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. 6. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. 4.

menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. 4. haram. jujur. dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta. Menanamkan pemahaman halal. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah. hadits nabi tentang kejujuran. Menghafalkan kepada anak ayat. 3. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1. Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . Ikhals kepada-Nya. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri. 5.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. 6. agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak.

Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium. 7. berolahraga. 8. 10. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. itu dari segi rohani. Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya. Seperti salat. Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis. Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. 105 . puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. Mengikuti seluruh kegiatan ini. menggambar dan sebagaianya. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia. Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. 9. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya.

perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Oleh karena itu. sekolah dan lingkungan sekolah. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. masyarakat luas. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. Dengan kata lain. maka semua pihak . dan tuntunan yang bijaksana. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. komunitas bisnis. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 . Menurut Megawangi (2003). berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. D. sekolah. dan sebagainya . oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera.turut andil dalam perkembangan karakter anak.Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak. Tentu saja hal ini tidak mudah. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. media massa.keluarga.

Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. Moral Pancasila dan sebagainya. rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. yaitu penanaman moral. estetika untuk pembentukan karakter. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. estetika. 2003). dan warrahmah). Sejarah. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Sebagaimana disarankan Philips. tatapi lebih dari itu. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. Dengan demikian. pelajaran Agama. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. nilai-nilai etika. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. sekolah untuk kasih sayang (Philips. mawaddah. Menurut 107 . seperti. dan hukuman kepada yang melanggar. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love.

Sementara itu. 321). pembuat kebijakan. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat.Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 . 108 . perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. dan positif secara konsisten. para pemimpin. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. Oleh karena itu. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. Lingkungan masyarakat. pemegang otoritas di masyarakat. tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. baik. keluarga. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 . Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati. Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education).

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. dan disiplin diri. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. integritas. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. kekerasan berkelompok. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. masalah disiplin. sesuai standar kompetensi lulusan. tidak . Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. bertanggung jawab. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. hamil muda. dan performa akademis yang buruk. daerah. penggunaan obat terlarang. etika. Pada kemungkinan yang terbaik. bertanggung jawab. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. dan seimbang. terpadu.

5) decision making dan 6) self-knowledge. 4) moral reasoning. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. The common school should teach virtue before knowlede. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal.. seorang filsuf pendidikan. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. 2) knowing moral values. dan bebas. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. 3) persperctive taking. Pertama.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature. Moral Knowing. tidak memihak (non sectarian). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). Kedua 115 . Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. for. pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter.

creativity. reverence. Baik dan rendah hati (kindness. excellence. kepedulian. courage. modesty) . 2) self-esteem. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). dan kemandirian (responsibility. caring. self reliance. Percaya diri. trust. Amanah (trustworthiness. Ketiga Moral Action. courtessy. generousity. determination and enthusiasm) 7. cooperation) 6. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). kedisiplinan. leadership) 116 8. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. empathy. Tanggungjawab. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. assertiveness. Kasih sayang. dan kerjasama (love. reliability. fairness. 3) empathy. humility. kreatif. Hormat dan santun (respect. obedience) 5. loyalty) 2. friendliness. discipline. Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. Keadilan dan kepemimpinan (justice. moderation. compassion. 5) self-control dan 6) humility.Pendidikan Karakter Moral Feeling. honesty) 4. resourcefulness. mercy. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. dan pantang menyerah (confidence. orderliness) 3. 4) loving the good.

Dalam mendidik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. peacefulness. dan negara. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. flexibility. seperti keluarga. unity) Agar dapat berjalan efektif. (1) Desain berbasis kelas. mencontoh. Toleransi dan cinta damai (tolerance. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. kembali ke rumah. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Dengan desain demikian. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. masyarakat umum. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. dan (3) Desain berbasis komunitas. Masyarakat di luar lembaga pendidikan. yakni. ketika berada di lingkungan sekolah. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. (2) Desain berbasis kultur sekolah. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya.

Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. identitas dan kepercayaan diri. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. Kedua. dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. 118 .Pendidikan Karakter agama. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional.

Keempat. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. rencana pembelajaran. 119 . harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. dan silabus. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. yang dikemas di dalam KTSP. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste.

Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Yang terakhir. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. berkarakter kuat. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. bukan hanya sekolah. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. Ringkasnya.Pendidikan Karakter otoriter. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. 120 . Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. dan lain sebagainya. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba.

“Satukan kata dan perbuatan!” C. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. Selain itu libatkan secara luas motivator. keseharian. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. Menurut Brian. Ringkasnya. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. penceramah. dan yang terkadang kelihatannya sepele. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. pelatih. saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya.

Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. Pertama. Namun. perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. Padahal. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip. EQ (emotional quotient). pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. SQ (spiritual quotient). sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. Dalam wujud praksis. agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif. yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama. melainkan hanya selera sesaat. Sejauh ini. Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan.

Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Di samping itu. good teacher explains. seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 . jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. menjadi teladan bagi peserta didik). berwibawa. Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. great teacher inspires’. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). berakhlak mulia. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. arif. Maka. terutama kompetensi kepribadian dan social. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7.

minat. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. berlandaskan keyakinan. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Brian menyebutkan. Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain. ketakwaan. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu. dalam memperoleh pengetahuan. dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah. yakni kegagalan . diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. panggilan jiwa. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak. 1. keimanan.Pendidikan Karakter Memiliki bakat. yakni pengetahuan yang baik. Oleh karena itu.

Bersikap adil dan terhormat. dapat dipercaya. dan memahami orang lain. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. sopan. memperlihatkan perhatian. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. 4. harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. 125 . Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. dan berkata benar dalam segala hal. dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. membantu. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur. rasa 2. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. 3.

menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan.Pendidikan Karakter 126 kasihan. Di Indonesia. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. 5. 8. 6. aksi. dan untuk Negara. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. dapat mengendalikan kata-kata. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. berkawan. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. atau keputusasaan. untuk barang hak milik. pada diri sendiri. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan. zat dan perilaku berbahaya lainnya. reaksi. dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. narkoba. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. Menghindari seks di luar nikah. alcohol. dan dermawan. dan juga keinginan. kesalahan. rokok. dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. atau kegagalan. pada orang lain. perlawanan. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. 7.

Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. emosi. perasaan. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. sentuhan nurani. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. dan nuraninya. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 .

Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?).Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. Di Indonesia. yaitu hanya mewajibkan 128 . Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif. Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah.

kedamaian dan kesatuan. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. sentuhan nurani. emosi. percaya diri kreatif dan pekerja keras. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. kejujuran/amanah dan bijaksana. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. sebab pendidikan karakter (akhlak. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. perasaan. 129 . kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. hormat dan santun. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. baik dan rendah hati serta toleransi. dan nuraninya. kepemimpinan dan keadilan. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya.

Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. dan tetap eksis. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. entah itu pendidikan agama. mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. guru. Kita hidup tidak sendirian. melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. sebagai berikut. Pertama. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. 2. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. Oleh karena itu. kewarganegaraan. etika. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah.

Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. Keempat. kasih sayang. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. Oleh karena itu. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 . Konon. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. jujur kepada orang lain. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. mencintai belajar. yaitu (1) kasih sayang. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. kejujuran. mulai jujur kepada dirinya sendiri. dan (3) kewibawaan. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. Kejujuran. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. jujur kepada Tuhan. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. Ketiga. Kelima. kita harus hidup beretika. bertanggung jawab. menghormati diri sendiri dan orang lain. (2) kepercayaan.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius.

agama. pemecahan masalah (problem solving). berpikir logis (common sense). menghormati hak orang lain. konsentrasi pada tujuan (focus). dan budaya. usaha (effort). Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). 132 . Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. kasih sayang (caring). tanggungjawab (responsibility). Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain.Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. Waktu adalah pedang. bahkan dari keluarga. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. adalah warisan petuah para sahabat Nabi. motivasi (motivation). Keenam. kerjasama (teamwork). ekonomi. kemauan kuat (perseverence). inisiatif (initiative). Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. tepat waktu. Ketujuh. Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris.

dan tindakan (action). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). perasaan (feeling). Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Louis. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Ratna menyebut tiga unsur yang 133 . Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Character Educator. tanpa ketiga aspek ini.St. Bahkan secara spesifik. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Menurut Thomas Lickona. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. namun mereka tidak tahu alasannya. Feeling the good. Selama ini hanya imbauan saja. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Acting the good. namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. konsep yang dibangun. Knowing the good.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Untuk membentuk karakter. Ketiga. adalah habit of the mind. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang. Jadi. Kedua. tidak akan ada artinya. Pada tahap ini. Menurut Ratna. anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik. habit of the heart. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih.al. anak dilatih untuk berbuat mulia. itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. et. dan habit of the hands. Jika Feeling the good sudah tertanam. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . Pertama.

Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. miras. perilaku seks bebas. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. tetapi pada karakter. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. kemampuan bergaul. kemampuan bekerja sama. narkoba. yaitu rasa percaya diri. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. kemampuan berkonsentrasi. akan mengalami kesulitan belajar. dan sebagainya. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. tawuran. dan kemampuan berkomunikasi. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . rasa empati. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga.

yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. akan menimbulkan stress berkepanjangan. sebagai anak yang kurang pandai. Akibatnya sejak usia dini. . sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. 4. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Namun masalahnya.

Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. 5. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. ras. 11. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 13. kreatif. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. Menunjukkan sikap percaya diri. suku. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 10. 137 . 7. 4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. kritis. budaya. dan inovatif. berbangsa. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. 9. 12. kritis. dan kreatif. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 6. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. 3. Menghargai keberagaman agama.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Menghargai karya seni dan budaya nasional.

Menghargai adanya perbedaan pendapat. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 20. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Memiliki jiwa kewirausahaan. Menunjukkan keterampilan menyimak. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. 16. bugar.Pendidikan Karakter 14. 21. tradisi. 17. Menerapkan hidup bersih. aman. membaca. sehat. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . 15. 18. D. kebiasaan keseharian. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. berbicara. 19. yaitu perilaku. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.

Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 . sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. 2. staf dan siswa didik. tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. proses dan prakteknya dalam pengajaran. 3.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata.

Kirschenbaum. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. It is in fact. as old as 140 . Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini.

guru dan siswa. adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1. in countries all over the world. perubahan (reformasi) sekolah 9. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. yang terbaik adalah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. komunitas. adalah didasari oleh riset. datang dari rumah. dan kurikulum 2. suasana. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”. bukan hanya program 8. Dengan demikian. dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. 141 . adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. Down through history. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan. teori. dan sekolah 3. adalah proses.

Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. komunikasi dan informasi. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut. pemerintahan. 142 . hukum dan hak asasi manusia. khususnya sektor keagamaan. kesejahteraan. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. Pada konteks makro. menghasilkan sikap yang kuat. bukan hanya sektor pendidikan nasional. kesehatan. dan pikiran yang argumentatif. Pada tahap evaluasi hasil. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik.

143 . dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. memperbaiki. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan. menguatkan. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya.

Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. Sementara itu mata pelajaran lainnya. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. Untuk kedua mata pelajaran tersebut.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan. Khusus. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran.

Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. Liga Pendidikan Indonesia. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. Palang Merah Remaja. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . dll.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. pertemuan wali murid. pelatihan. seperti kegiatan Dokter Kecil. Pecinta Alam. kepribadian. perilaku. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. kompetisi atau festival.

Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. dan di masyarakat. bimbingan belajar. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. di rumah. baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. misalnya kursus keterampilan.Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah. seperti kegiatan 146 . pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. pelatihan-pelatihan singkat. kursus kepemudaan.

kesenian. olahraga. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 . dan akhlak mulia. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. keagamaan. dan pelatihan keterampilan profesi. kejujuran. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. pelatihan kepemimpinan. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. jiwa patriotik. kepribadian. sosial. pelatihan kepemimpinan. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. pelatihan kode etik jurnalistik. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. Sedangkan pada lingkup media masa. pelatihan kewirausahaan.

Oleh karena itu. . standardisasi perangkat dan proses penilaian. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. baik di jenjang pendidikan usia dini. a. pendidikan dasar dan menengah. dasar. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter.Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. c. b. d. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal.

Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan.” 149 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam. akan ‘beranak’ hijau. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. pengembangan. sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. men kan niet onderwijzen wat men weet. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa. Men kan niet onderwijzen wat men wil. serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya. E.

bila guru sendiri terus belajar. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. Kedua. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Ketiga. belajar terus tanpa henti. konsekuen dengan apa yang diajarkan. Dengan terus belajar. Bila memang bersalah. bila memang tidak tahu. tidak main topeng. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. guru akan semakin banyak tahu. Namun. betapa sering kita menyampaikan 150 . tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan.Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan.

Pelajar dan ilmuwan. 2. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. direktur. 1. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. 151 . kepala sekolah. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. baik pendidikan keluarga. sekolah dan masyarakat secara luas. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan. staf. karyawan. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. Pekerja sosial (social worker). Teladan. seorang guru harus berperan sebagai. pengurus perpustakaan dan lain-lain.

peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. Seringkali.Pendidikan Karakter 3. Di masa depan. baik karena siswa yang malas. berkembang. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. 4. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. 152 . Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Orang tua. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. dan 5. model keteladanan. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. tidak punya buku paket atau alasan lain. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya.

tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya. Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang. apa yang mereka dengar. tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya. Konsistensi dalam pembelajaran. dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. Oleh karena itu. Sebab. 153 . apa yang mereka rasakan. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. namun teladan itulah yang menarik hati). dan apa yang mereka lakukan. Untuk itu. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. guru sering mengajarkan kesamaan hak. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru. yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka.

Pendidikan Karakter 154 .

baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal. dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas. Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. 155 . sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

maka masyarakat pun akan lemah. keinginan untuk menjadi yang terbaik. sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 . dan Kesejahteraan. Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. mengasuh. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat .merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. Oleh karena itu. dan kemampuan-kemampuan dasar. dan mensosialisasikan anak. Pendidikan. Bagi seorang anak. semangat. keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan. William Bennett (dalam Megawangi. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik.Pendidikan Karakter Dari sini. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. 2003). Menurut pakar pendidikan. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran.

Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya. mengatakan. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. ”Rasa cinta. terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni. Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. 157 . B.” Dari sini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. teristimewa pendidikan budi pekerti. 2006: 42. dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya. Oleh karena itu. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya. sejahtera”. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya.

sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar. patuh. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. C. (2) Pola asuh demokratis.Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. dan tidak boleh bertanya. (3) Pola asuh permissive. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. (2) Pola asuh Authoritative. 3) ü . dan (3) Pola asuh permisif. Oleh karena itu. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. anak harus tunduk.

Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. sentuhan. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. 2) Anak diakui sebagai pribadi. Artinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak).. termasuk karakter. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. anak belajar tentang banyak hal. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. 4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh. 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku. dan kelekatan emosi orangtua .

Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Sementara itu. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. orangtua yang otoriter merugikan. dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. di mana keluarga yang broken home. 1993). anak yang dididik secara 160 . kurang tanggungjawab serta agresif. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. apalagi terkesan membiarkan. Menurut Arkoff (dalam Badingah. Sementara. Pada akhirnya. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja.Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. Di sisi lain. karena anak tidak mandiri. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak.

Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). dan pujian). (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. Penelitian tersebut . (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak. maupun secara fisik (diberi ciuman.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. anak yang ditolak adalah anak yang 161 . elusan di kepala. akan mempengaruhi perkembangan emosi. Dalam hal ini. Sementara. dorongan. Menurut Middlebrook (1993).menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. sosial-kognitif.yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). kata-kata yang membesarkan hati. pelukan. dan kontak mata yang mesra). (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. perilaku.

mencubit. atau menampar). sindiran negatif. walaupun orang tua tidak merasa demikian. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. tidak disayang. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. dianggap berharga.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). percaya diri. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. dilindungi. Sementara itu. bahkan dibenci oleh orang tuanya. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. dikecilkan. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. atau bersifat undifferentiated rejection. bersikap sangat agresif kepada orang lain. baik secara verbal (katakata kasar. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. ataupun secara fisik (memukul. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. bentakan. yaitu : 162 . yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat.

Bersikap kasar secara fisik. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. mencubit. dan berkata-kata kasar 4. 163 . merasa diri tidak berharga dan berguna. Berperilaku agresif. dan tidak dapat menerima persahabatan. 2. 4. 3. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. mengecilkan anak. la kelihatan sangat mandiri. Menjadi minder. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. tidak butuh orang lain. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. Anak menjadi acuh tak acuh. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. dan memberikan hukuman badan lainnya. Bersikap kasar secara verbal. 5.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1. 3. misainya menyindir. yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. 6. simpati. misalnya memukul. Secara emosiol tidak responsif. rasa tidak percaya. 1. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. 2. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. dan gangguan emosi negatif lainnya.

6. D. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. yaitu maternal bonding. rasa aman. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. curiga dengan orang lain. mudah tersinggung. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . akan membuat anak merasa tidak dekat. dan stimulasi fisik dan mental. Ketidakstabilan emosional. tawuran. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. 7. minder. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. dan lainnya. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya.Pendidikan Karakter 5. khawatir. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. seperti rasa tidak aman. 8. mudah marah. Menurut Megawangi (2003).

dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Menurut Bowlby (2003). Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut Erikson. dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. mengelus. Dengan kata lain. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. antusias mengeksplorasi 165 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. menggendong. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. Menurut pakar pendidikan anak. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak.

Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. dididik dan dibina. baik dalam tatanan norma agama. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. ia sulit untuk diarahkan. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. 166 Untuk itu. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini.Pendidikan Karakter lingkungannya. Juga. jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik. orang tua dan bangsa. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. ia banyak melakukan penyimpangan. Dengan kata lain. kasih sayang dan lain-lain). dan menjadikannya anak yang kreatif. sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa.

siang dan sore hati. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. Juga. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. Nah. harta 167 . Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. Diantara penyebabnya adalah. jika sudah seperti itu. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. baik makanan dipagi. Juga.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini. tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa. Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup. Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah.

sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan. teman ada yang mengajak pada kemungkaran. Dengan seperti itu. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama. keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. maksiat dan dosa. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Juga. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia. dan dapat merasakan hidup yang lebih baik.Pendidikan Karakter dan kehormatan. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai. anak yatik dan lain sebagainya. dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. Juga. Sebaliknya. Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. jika ia menemui 168 . adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini.

bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. minimal anak akan 169 . Dengan kejadian menimpanya seperti ini. tenang dan tentram. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. sehingga tidak bisa diatur. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. Untuk mencegah hal ini. Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. sikapnya arogan dan tidak bida diatur. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa. Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik. padahal baru bebarapa tahun. Juga. hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. wataknya keras.

Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. tidak dapat memberi makanan. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. baik dari ayah maupun ibunya. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. kemaksiatan dan dosa. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. Diantara 170 . perhatian dan perlindungan. apabila ibu yang menjadi walinya. maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak. menjaga dan bersenda gurau dengannya. pertama. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. melakukan kejahatan. bermaksiatan dan melakukan dosa. Nah. jika yang menjadi wali adalah ayahnya. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. Tentu saja harapan kita adalah. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. pakaian. dan memiliki akhlak yang tidak baik. Kedua. perlindungan juga perhatian. Namun. Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. yaitu menjaga. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. maupun tempat tinggal yang layak. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan.Pendidikan Karakter merasakan dua hal.

Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik.” Atau olah raga lainnya. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya. dengan sesuatu yang bermanfaat. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 . atau memiliki akhlak yang tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk itu. Juga. sesuatu yang disenanginya. Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang. selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat. Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. maka arahkan anak seraya berkata. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik. seperti bermain bola. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG). dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. jika ia senang dengan bermain bola. basket. Suatu contoh.

kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. Oleh karena itu. bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. Diantara manfaatnya adalah. carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. Sehingga. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak).Pendidikan Karakter lainnya. ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian. 172 . hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. Nah. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas. Dengan shalat. Dari beberapa hal penting di atas. Karena ia adalah merupakan tiang. jika hal itu tidak dilakukan. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. Kalau memungkinkan. 1.

seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). memukul anak 173 . beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah. Juga. Juga. maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu.ah. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat. Selain itu. mulai dari membersihkan lubang hidung. dan gigi. Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu. Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran. membersihkan rongga mulut. 3. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. selain mandi. Dan.

sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. tentang kawan yang tidak baik. ingatkanlah pada anak. maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati.Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi. terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya. 174 . ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik. Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. Bagi orang tua. dan usahakan agar kita terus memantau anak. agar ia tidak terperangkap. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. Juga. Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa.

Dan biasanya. jika sikap buruk orang tua pada anak. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. Juga. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. yang paling tragis. ia akan mengambil keputusan yang salah. Dalam hal ini. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. jika anak diperlakukan seperti itu. Sebaliknya. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. suka berbohong dan mengejek. Pun dalam hal akhlaknya. maka tidak dapat diragukan lagi. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya. setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. kasar. dengan sikap itu. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa. Ia akan menjadi anak yang penakut. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. dimana anak akan sangat bergantung padanya. Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama. sering di pukul. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. dengan siapa ia berkawan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. 175 .

Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. Bukan hanya nasehat orang 176 . akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak. maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar. meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. Jika hal itu sudah terjadi. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini. jangan salahkan anak. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita. Anak kecil maupun ABG. terutama pada anak kecil dan ABG. kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik.

selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. usahakan anak dicegah membaca media. arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. Untuk menghindari hal itu. Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut. 3. maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. 2. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. Dan tidak kalah pentingnya. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. Atau. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi. Pun. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. 1. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. Juga. Di antaranya. Dan. Jika tidak bisa.

karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya. Dengan keadaan seperti itu. Nah. Sebaliknya. terlebih lagi ajaran agamanya. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. jika anak berada pada golongan yang pertama. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Pada saat itu. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. belum mendapat pekerjaan. dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. karena tidak adanya lowongan. Namun. 178 . Nah. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. jika masuk pada golongan yang kedua. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan. atau ia berada pada lingkungan yang baik.

padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. Untuk bagian yang pertama. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. mengarahkan. 1. seperti mencuri. ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. Jika masih tidak mau melakukan hal itu. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. namun ia malas untuk bekerja. merampok maupun mau untuk disogok (suap). Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. maka pemerintah 179 . memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha. Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. Kedua. Nah. Diantaranya. menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan. namun ia masalah mencari pekerjaan. sehingga menjadi pengangguran. Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. 2.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan . namun belum mendapatkannya. padahal peluang kerja banyak ditemukan. sampai ia mendapatkan pekerjaan. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. menganggur karena terpaksa. sampai ia mendapatkan pekerjaan. Pertama.

baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. Juga. dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya. memberikan pendidikan yang baik. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur. Sang ibu adalah pendidik pertama. ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. Namun dalam hal pendidikan anaknya. Semisal. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya.Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. orang tua. terutama dalam menegakan agama. jika mau mempersiapkannya. Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . Agar tidak terjadi hal yang demikian. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi.

bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya. manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. dan ia akan merasa diperhatikan. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 . atau sebaliknya. sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. Untuk itu. agama dan bangsa. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga. dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. Juga. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal.

hatinya semakin suci. seperti setan dan jin. tentang surga. Juga. Malaikat. Iman kepada Allah SWT. hati pertanggungjawaban. mampu memanaje kehidupannya dengan baik. menjelaskan hal-hal yang ghaib. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. siksa kubur. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. Khusus masalah penjelasan Qada’. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. Juga. Untuk itu. Kitab-kitab suciNya. api neraka dan hal yang ghaib lainnya. agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya. memiliki akidah yang kuat. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur. hari kiamat.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain. dan selalu beribadah dalam segala hal. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. Lalu. 182 .Juga. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar.

Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. Pun. karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. beringas dan tidak bisa di atur. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. mengajarkan akhlak. merampok sera mencuri. maka orang tua. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya. ia baik. Jika melihat kenyataan seperti itu. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya. entah sang ayah maupun ibu. Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. Acuhnya ayah. tidak jujur dalam mengemban tugasnya. 183 . hidup semuanya sendiri. Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. Dan. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya. tidak memiliki tujuan hidup. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. karena orang tua yang mendidiknya demikian.

mendidiknya agar takut kepada Tuhan. Seorang anak. niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. menginformasikan 184 . pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa.Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. keutamaan perilaku dan sikap. Akhlak. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Untuk itu. sejak ia terlahir dari rahim ibunya. Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. arahkanlah anak didiknya ketika disekolah. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. Sedangkan bagi tenaga pengajar. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan. Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua. maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak.

Untuk itu. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. dan berkompetisi dengan umat lainnya. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya. akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. manakah yang lebih baik dalam bersikap. agama dan bangsa. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji. 185 . Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. berinteraksi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak. Karena sudah tertanam keimanan. senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. menyaksikan.

dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. Juga. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. istiqamah. ia mampu menanganinya dengan baik. tentunya setiap daerah berbeda-beda. Dan. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama. amanah. memuliakan tamu yang datang ke rumah. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. Semisal. orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . Lebih dari itu. Juga.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. berteriak. sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. menghardik. Juga. mencaci. dan mencintai orang lain. menghormati yang lebih tua. memaki. tidak mudah mengeluh. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Merampas hak orang lain secara paksa 3. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. bagi ayah. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal. Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. banjir. dan lemah lembut. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . gempa. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. Mencela dan mencaci. Oleh karena itu. entah itu berita duka. Untuk itu. longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. kebakaran. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. Emat hal itu adalah. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. 1. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. Yaitu.

nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti. mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Oleh karena itu. Sungguh. 188 . Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. agar ia tidak lagi merengek dan menangis. kehormatan dan harga diri. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah. Dengan sikap orang tua seperti itu. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. Juga. dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga. hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. dimulai dari diri sendiri. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak.

Hal ini penting sekali. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak. Dengan demikian. dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. 189 . Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. 2. Untuk itu. Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. agar anak belajar mencintai orang lain. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain. Memberikan kasih sayang pada anak. ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini. bagi orang tua. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut.

sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. Terkadang melebihi apa yang kita duga. di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. dan akan meniru secara tidak sadar. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. Memang. Sebab. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. dengan sadar atau tidak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap. 3. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. Anak akan menangkap secara tidak sadar. itu semua berpengaruh baginya. 190 . meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. adalah besar sekali. atau tanpa kesadaran purna. Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak.

Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. Dilarang bermain dengan hidungnya. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. makan dan minum dengan tangan kanan. agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. baju. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. 4. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. dan dijauhkan dari sikap rakus. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 . Ketika mengenakan kain. memberi. diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. atau lainnya memulai dari kanan. Jika makan dengan tangan kiri.

Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin. • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. • . dan sehabis bangun tidur. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. sanak familinya yang masih kecil. sebelum tidur. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. dan jangan sampai bersuara. sekalipun hanya sedikit. dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada. dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya.Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

bahkan menjauhkan kotoran darinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 . tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. jika memungkinkan. dan Abi (Bapak). dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya. Tidak membuang sampah dijalanan. Tapi kalau tidak. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela. karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya. bukan di tengah jalan. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. dipaksa untuk menerima kebenaran.

• Tidak dilarang bermain selama masih aman. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain.Pendidikan Karakter gan. 194 . Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan. mainan atau diajak jalan-jalan. seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. sekalipun menyebabkan bajunya kotor. • Dibiasakan menghormati milik orang lain.

Depok. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. 1991.G.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh.E.W.Goble. B.L.D. Moral Literacy and the Formation of Character. West Publishing Co. The Education of Complete Moral Person Brooks. Badingah. and Civic Education in the Elementary School. Character in the Basic School. (1983). In: J. 1998. Moral Character.S. and F. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras.W. S. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. 1995. Teachers College Press. Berkowitz. 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet. New York. Coon.Bennigna (ed). Studios 4 Productions. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues. UI. (1993). 195 .J. Dennis. Making a Commitment to Character. Boyer.M.

W. E. T. Fagan. P. Diakses tanggal 26 April 2004. 1995. Why It Can Matter More than IQ. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. IPB. I. 1994. Megawangi.D. 1992. New York.Tanjung. 1981. 2001. Bantam Books. Simon & Schuster. Jurusan GMSK. 1992. Kilpatrick.Faperta. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. Hurlock.W.Widiastuti. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. New York.F. Bandung. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. http://encyclopedia. Inc. Ratna.com.F. Sixth Edition. 1995..thefreedictionary. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . McGraw Hill Kogakusha International Student.W.B. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family. 1999. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. Family and Community.D.R. New York.Puspita.R. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. Mack. E. Goleman. Bantam Books. 1997. Pustaka Mizan. New York. (2003).F. Horn. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender.Pendidikan Karakter Dina. Emotional Intelligence. Bantam Books. 1991. Lickona. Megawangi.D. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. Educating for Character. Child Development. _________.

194. Sage Publications. Shambala Publications. Wilson.Miller.C. 1993. Ryan and Bohlin. 1999.Haith.com. Family Socialization and Academic Achievement. 1990. Wade. Simon & Schuster Inc.C. The Moral Sense. and C. Statistics of Teens. M.Y.A.W. and Civic Education in the Elementary School.Inc. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools.D. 1995. Moral Character. Pitirim. Values. Massachusetts. 1997. Wynne. 1992.R... “The Basic Trends of Our Time”. 1991. John Wiley & Sons Inc.Tavris.17-18). The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory.J. Building Children’s Achievement for the Information Age. Sorokin.M. 1986. 2002. The Child. 1990.A.J. New York. Pickthall. Harper & Row Publishers. Psychology. Houghton Mifflin Company. In J. New York. Character and Academics in the Elementary School. College & University Press.S. and C.. New York. Vasta. New Haven. Rich. Teachers College Press. Pada bulan Oktober 2001. p.New York. Rohner.A. Benigna (ed). Child Psychology: The Modern Science.A. Mega Skills. New York.R. 197 .E. 2002. Nord.E. Boston University Press.S. Dikunjungi di: Info@ soundvision. California. Views or Virtues? Schikendanz.Haynes.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman.Q.

Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. Kemendiknas. Hoffnung. Kelvin L & Robert J. Psikologi Perkembangan. Hermaya. 3rd ed. Redja.1987. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. M. Boston: Houghton Mifflin Company. Kartini. 1991 Kartono. 2009. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. The Development of Children. 2002. Hurlock. (2005). Yogyakarta: Kanisius. Bellmont. 2000 E Sphero Lawrence. Bandung. Child and Adolescent Development. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto. 2002. Rosyda Karya. 2001. Jakarta Elizabet B. Paul. . dkk. Holistika Pemikiran Pendidikan. Psikologi Anak. New York: Worth Publishers. Reformasi Pendidikan. Bandung. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. D. Malik Fadjar. Terjemahan T. Gramedia Pustaka Utama. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Erlangga. 2008. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. CA : Wadsworth Cole.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. et al. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . Emotional Intellegence. 2005. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. Penerbit Alumni. A. 2010. 1982 Bjorklund. 198 Seifert. Jakarta.F. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin.

B. t. Santrok. Englewood Cliffs. 1997. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim.1985. New York: Alfred A. Muhammad Tolchah. The Growth of Logical Thinking. Inhelder. Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. London: Routledge & Kegan Paul LTD. 2005. Hergen. 2001) Al-Abrasyi. New York: Facts on File Publications. Life-Span Development. Palmer. Abu & Nur Uhbiyati. Muhammad Hasyim. Jean & William Proctor. 1976) Hasan. Vander. The Self-Confident Child. (Ja199 .). Alex & Jeff Grimes (ed. 1415 H) Hahn. 1988. Zanden. Diskursus Islam dan Pendidikan. Yoder. New Jersey: Pearson Education. Barbel & Jean Piaget. James O. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi. Belmont: Thomson Wadsworth. Children’s Needs: Psychological Perspectives.1983. Third Edition. Ilmu Pendidikan. Human Development.Second Edition.1987. From Childhood To Adolescence.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain. Theories of Development. Concept and Applications. Knopf. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. William. An Introduction to Theories of Learning. John W. Comparing Theories of Child Development.t) Asy’ari.2005. Thomas. Ahmadi. Sixth Edition. Sixth Edition.R. New York: John Wiley & Sons Inc. Thomas. (Jombang: Turast al-Islam. Muhammad ‘Athiyah. (Jakarta: Rineka Cipta. The Psychological Assesment of Children. James W. (New Jersey: Prentice Hall. Washington DC: The National Association of School Psychologist. R Murray.

Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. (Yogyakarta: Jendela. Estarella.. Siti Farida. Jakarta. 1994) Nasr. Cet. Cet. 2007) Hasbullah. Zurinal & Wahdi Sayuti. Nurul. 2001) Tilaar. no 1 Wibowo. Mawardi. Evaluasi Pendidikan Nilai. the End of Education Redefining the Value of School. Malpraktik Pendidikan. (terjemahan). 2007 200 . RajaGrafindo Persada. 1990) Abdullah Nashih Ulwan. The Education of Don Quixote. Sayyed Hossein. vol 6. 1970). PT. 2008) Mastuhu. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. Science and Civilization in Islam. Mendidik Anak Secara Islami. (Yogyakarta: Genta Press. (Jakarta: Bumi Aksara. 6. I Zuriah. 2006 Nurul Zuriah. 2000) Lubis. (Jakarta: UIN Press. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. HAR. Dinamika Sistem Pendidikan. Agus. PT. 2010) Juan. 2008) Z.I Postman. (New York: New American Library. Neil. 2006). Bumi Aksara. Comperative Education Review. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. (Jakarta: Balai Pustaka. terj. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. Jakarta. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. (Ar-Ruz Media. (Jakarta: INIS. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful