Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai. 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . kebiasaan. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. 3. Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Mengembangkan hati nurani. dan EQ secara efektif. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. dan peraturan. terdapat empat pokok utama: 1. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. 2. Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. Dalam mempelajari sikap moral. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif.

Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. egosentris dan konkrit 2. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis.dkk. yaitu : 1. 6 . Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional). Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ). Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. enurut mussen. yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah.

kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya. 3. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya. artinya untuk dapat hidup secara harmonis. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. 7 . maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma.

periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun. 6) Masa Pubertas (pra adolesence). 5) Masa Kanak. umur 13 – 17 tahun. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. umur 2 – 6 tahun. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain. Menurut Kohnstamm. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal. 2) Masa Neonatus. Elizabeth B. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. 4) Masa Kanak. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. 3) Masa Bayi. umur 6 – 10 atau 11 tahun. periode social atau masa pemuda. 2) Umur 3 – 6 tahun. saat terjadinya konsepsi sampai lahir.Kanak akhir.Kanak awal. periode vital atau menyusuli. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. 8 . Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. 3) Umur 6 – 12 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas.

Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. 2 – 6 tahun (masa kanak. yang dimaksud dengan masa anak. Hurlock. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal.kanak) 3. 2. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B.kata orang yang ada dalam lingkungannya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. umur 21 – 40 tahun. Agama Pada Masa Anak. 0 – 2 tahun (masa vital) 2. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. yang pada awalnya diterima secara acuh. 9) Masa Setengah Baya. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. umur 40 – 60 tahun. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. 10) Masa Tua. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Namun. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. umur 60 tahun keatas. 9 .anak adalah sebelum berumur 12 tahun.

Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. butuh. Menurut Zakiah Daradjat. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. takut dan cinta padanya sekaligus. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga.

sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 . perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.dongeng.kanakannya. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. c. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. Pada usia ini. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. b. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.

Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. Fase kanak.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. c. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. b. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. yaitu: a. • Konsep ketuhanan yang lebih murni. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. • Berkaitan dengan masalah ini. Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. Pada fase ini anak sudah mulai 12 . dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).

4. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek. Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. sejalan dengan perkembangan moral. Anak pada usia kanak.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. cukup sekedarnya saja. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. 13 . Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. d. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Menurut penelitian.kadang kurang masuk akal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar. 4. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.aspek jiwa lainnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya.

Dalam hal ini. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat. berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. d. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . c.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak. Pada usia 7 – 9 tahun.Pendidikan Karakter b.gerik tertentu. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. tetapi amat konkret dan pribadi. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak.

seperti rasa aman. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. penghargaan. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. Kebutuhan psikologis. dan aktualisasi diri 15 . penerimaan. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. e. akan tetapi berupa teladan f. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Instink biologis. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). seperti lapar. dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. dan seterusnya 2.

indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran. dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. pembimbingan. keteladanan. dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di . metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. dan sebagainya Faktor eksternal 1. Kebutuhan pemikiran. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup. Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah. metode pengembangannya adalah pengarahan. Lingkungan sosial 3. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. agama.Pendidikan Karakter 3. pembiasaan. Lingkungan keluarga 2.

Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global. Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global.sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. kita hidup di dalam dunia yang terbuka. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 . sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita.yang kurang baik. Di samping itu dari segi keuntungan domestik. dunia yang tanpa batas. Dari segi global. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia . pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif. Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. suka bekerja keras. mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja.

Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. (4) meningkatnya perilaku merusak diri. seperti penggunaan narkoba. (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. (9) membudayanya ketidakjujuran. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. alkohol dan seks bebas. misalnya etika dan estetika 18 . Artinya. dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. (6) menurunnya etos kerja. Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru.

Fenom- 19 . Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. 2. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. kebaikan dengan kekuatan. Hilangnya model kepribadian yang integral. Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. dan seterusnya 3. Melemahnya ikatan keluarga. 10-11): 1. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut.

Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. tindakan-tindakan diskriminasi. telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Pada tataran makro. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa. Oleh karena itu.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. Secara tersurat. penyalahgunaan obat-obat terlarang. moral. krisis kejujuran. Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. 3. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan. dan budi pekerti dewasa ini. pergaulan bebas. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik. perkelahian di kalangan mahasiswa. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis. menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 .

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. dan keadilan sosial. Secara normatif. Secara sosiokultural. Secara ideologis. baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. historis maupun sosiokultural. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. memajukan kesejahteraan umum. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. ideologis. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. normatif. 25 . berbangsa. perdamaian abadi. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. baik secara filosofis. Secara filosofis. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. Secara historis. berjiwa persatuan Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara.

dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. pandangan. berakhlak mulia. olah rasa dan karsa. konstitusi. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. berjiwa patriotik. dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. rasa. kompetitif. karsa. haluan negara. dan 26 . pemahaman. olah hati. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. dan global yang berkeadaban. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. bergotong royong. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. berbudi luhur. regional. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. karsa. pemahaman. norma UUD 1945. bertoleran. bermoral. rasa. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. berkembang dinamis. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi.

Oleh karena itu. sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom). Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi. pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Di samping itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI. 27 . di mana nilai-nilai budaya.

Pendidikan Karakter 28 .

Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A. 29 . Anak usia sekolah dasar misalnya. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh.

Padahal. tawuran. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009). Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika. Dengan 30 . pergaulan bebas dan sebagainya. bolos sekolah.Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. baik guru maupun sesama. budaya kekerasan di kalangan remaja. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan. rasa malu yang kian terkikis. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

Selain itu. mandiri. bangsa dan negara”. agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran. berilmu. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kecerdasan. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . serta keterampilan yang diperlukan dirinya.” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. masyarakat. Di samping itu. artinya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan ia menegaskan. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik. sehat. akhlak mulia.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri. berakhlak mulia. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. cakap. mental dan moral bagi individu-individu. kreatif. kepribadian.

b. Karakteristik Kesisteman (Sistemik).c. Karakteristik Sosial Budaya.d. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan. Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a. Karakteristik Tujuan. Karakteristik Dasar dan Fungsi. dan kebudayaan. pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 . dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika. diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara. agama. yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut. pembukaan UUD 1945.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara.

dan kompetensi estetis. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. etnis. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. agama. Untuk mewujudkannya. dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. ketakwaan. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. ras. dan gender. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. Karena itu.S. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran. kebaikan. diantara dalam konteks pendidikan. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. kebebasan. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. antara kebebasan dan determinasi. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Brand.L McBrien & R. Dengan kata lain. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. keberanian. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. dan kehormatan. yaitu. persamaan. Dengan demikian. B. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. antara 38 . kedermawanan. by J. kecakapan praktis. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal.Pendidikan Karakter teknis. dan kompetensi kinestetis. Alexandria.

Dengan gambaran manusia seperti ini. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. Jadi. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi. sehingga menjadi seperti yang diinginka. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. dilakukan. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. 39 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini.

kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. sementara orang yang berperilaku jujur. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. dimana seseorang bisa disebut orang 40 .

serta rasa dan karsa. Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 . Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. 3) kebiasaan (habit). 3) empati (emphaty). 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values). Kedua. Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. 5) membuat keputusan (decision making). Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. Pengetahuan Moral. 4) mencintai kebajikan (loving the good). Perbuatan/Tindakan Moral.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness). Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience. 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). 5) pengedalian diri (self control). Dengan demikian. yaitu: 1) kompetensi (competence). Pertama. Ketiga. dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). Perasaan tentang Moral. 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). 2) harga diri (self esteem). 2) keinginan (will). pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. Dalam pendidikan karakter. raga. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. pikir. dan 6) kerendahan hati (humility).

Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). Tetapi pada kenyataannya. Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. bersih dan sehat. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. peduli. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. tanggung jawab. perdagangan tanpa moralitas. semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan.Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. C. politik tanpa prinsip/etika. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. misalnya mata pelajaran matematik. cerdas. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. PIKIR (kecerdasan). pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). dan kreatif. fokus 42 . RAGA (kesehatan dan kebersihan).

tukang sapu. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. semua guru. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. pesuruh sekolah. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. dan orang tua di rumah. orang yang berjualan di kantin sekolah. semua pegawai tata usaha. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. bukan sekedar mengingatkan. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut.

penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. pengorganisasian. Bagi Foerster. Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 . karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. pelaksanaan. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan.Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa.

Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Pertama.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. Ketiga. lanjut Foerster. membuat seseorang teguh pada prinsip. Keempat. otonomi. koherensi yang memberi keberanian. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. 45 . kualitas seorang pribadi diukur. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. antara aku alami dan aku rohani. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. keteguhan dan kesetiaan. antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Dari kematangan karakter inilah. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Kematangan keempat karakter ini. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Kedua. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter.

dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. karakter atau watak. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Budaya sekolah merupakan ciri khas. D. karakter negatif dan . tradisi. bertanah air. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. dan masyarakat sekitar sekolah. Sebaliknya. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. positif. dan landasan konstitusional UUD 1945. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. kebiasaan keseharian. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Mereka bersumpah untuk berbangsa. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila.

Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. memiliki inisiatif. bermain peran. tanggungjawab. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. Hal ini cukup beralasan. mandiri. bekerja-sama. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. suka menolong dan tumbuh kasih sayang. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin. pandai berterima kasih. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). patuh pada peraturan. bisa dipercaya. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. masyarakat yang memiliki sifat jujur. tanya jawab sehingga pada 47 . Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting. tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. penanaman keteladanan. simulasi. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. terorisme dan lain-lain. menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. simulasi. penguatan sikap positif dan negatif. tindakan sosial. kekerasan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah.

Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti. 1.Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut. 3. 4. undang-undang. dan internasional melalui adat istiadat. lokal. 2. dan tatanan antar bangsa. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue). tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah. nasional. Pendek kata. 48 . Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. hukum. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini.

2. 1. menyimpang. 49 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. baik dari segi agama maupun akal yang lurus. 4. F. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti. 3. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13). berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. tidak berdasar.

logika baru. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol. sebelum kita melakukan suatu tindakan. arah baru. berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas. Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan.Pendidikan Karakter Pengisian. berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. • 50 . sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. kemauan. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. yang membentuk kesadaran baru. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. yaitu arah yang akan menentukan motifnya.

Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal. penguatan. dan pengendalian bagi mental kita • 3. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan. Dr. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 .

dan toleransi. kewarganegaraan (citizenship). peduli. jujur (fairness). dapat dipercaya (trustworthiness). Sementara itu. berani (courage). Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. cinta damai dan persatuan. baik dan rendah hati. Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. tekun (diligence) dan integritas. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Oleh karena itu. percaya diri. tanggung jawab (responsibility). Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. kerja keras dan pantang menyerah. peduli (caring). ketulusan (honesty). kreatif. tanggung jawab. keadilan dan kepemimpinan. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. dan kerja sama. jujur. kasih sayang. rasa hormat dan perhatian (respect). cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. 52 . hormat dan santun.Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). disiplin dan mandiri.

kesopanan. toleransi. menghormati harga diri individu. pengendalian diri. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. menurut Dr Thomas Lickona. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. dan pengetahuan diri tentang moral. kesetiaan. dan disiplin diri. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. pertimbangan moral. pendidikan 53 . ketekunan. Lebih spesifiknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab. keadilan. pembuatan keputusan yang matang. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. keberanian. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. integritas. seperti kejujuran. sikap bertanggung jawab. masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. simpati.

Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya. 54 . Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. Anak didik bisa menilai mana yang benar. dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). memedulikan. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif. sangat memedulikan tentang yang benar.Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. (3) bertanggungjawab (responsible). diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). (4) adil (fair). afektif dan psikomotor. Lebih lanjut.

IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin. hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .

orang paham belum tentu melakukan/berbuat. menjadi teladan bagi peserta didik). Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. atau siswa hanya sekedar “tahu”. Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. Alangkah naifnya. 56 . yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. berwibawa. arif. Karena seringkali orang tahu belum tentu paham.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. berakhlak mulia. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. Bapak Pendidikan Nasional. Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. telah menekankan pentingnya ketauladanan. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik.Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). diantaranya: a. Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).

panggilan jiwa. 57 . maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Maka.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. ketakwaan. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat. minat. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. terutama kompetensi kepribadian dan social. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. good teacher explains. keimanan. b. great teacher inspires’.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7.

dan sebagainya. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. c. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. Dengan demikian. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Selain itu. pola tutur kata. dieksplisitkan. tetapi menyentuh pada internalisasi. 58 . aktifitas di kelas. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. Namun.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Artinya.

Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. nilai-nilai yang perlu ditanamkan. pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. pendidik dan tenaga kependidikan. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. dilaksanakan. pembelajaran. Dengan demikian. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. perasaan (feeling). baik di lingkungan 59 . bakat. potensi. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. dan komponen terkait lainnya. penilaian. Dengan demikian. serta potensi dan prestasi peserta didik. muatan kurikulum. tindakan (acting). dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai.

dan persekolahan. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh. Dengan begitu. masyarakat. 60 . Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa.Pendidikan Karakter keluarga. mandiri. disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. memahami hak dan kewajiban. bertanggungjawab.

Sadisme. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. Krisis moral secara meluas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). 61 . Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik.

eksotik. dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa.com/ wp-admin/ . mengutamakan kesenangan badani (jasmani). di dengar. sensual. Orientasinya hiburan melulu. boros._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. yang lazimnya melahirkan klub malam. ilmu dan filsafat. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton). Seni dibungkus selimut art for art’s sake. Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin. terlepas dari kawalan agama. erotik.wordpress. dicicipi. Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya. dirasa. night club. kasino dan panti pijat. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. adat luhur. horor.Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. Tawuran antar pelajar. seronok. mencari jawaban dari paranormal. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. cinta mode. rakus. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. 62 . Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. erotik. moral akhlak. dengan tumpuan kepada sensual. pergaulan bebas sex. di sentuh.

lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. berilmu. minuman keras. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. kesukaan judi dalam urban popular culture. cakap. berakhlak mulia. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. dan sejenisnya. mandiri. geng motor. 63 . kreatif. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. sehat. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. worldwide sing. kecanduan narkoba. Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. musro. nyontek saat ujian. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa.

Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Permasalahannya. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. 64 . pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai.Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa. dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

integritas. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. menggunakan pendekatan yang tajam. dan konstruktif. yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. Hilangnya nilai-nilai kejujuran. baik di keluarga. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan. Menurut Franz Magnis-Suseno. positif. Kalau kita mengharapkan karakter. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. berani mengambil inisiatif. anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani. tetapi juga benar.. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting. berani mengusulkan alternatif. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . tenggang rasa. dan tidak membantah. Namun. karakter anak tidak akan berkembang.

Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. impotensi dikalangan pemangku adat. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. dan profesi guru dilecehkan. 1. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. istiqamah pada agama yang dianut. pola dan politik pendidikan. 66 .Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. berkembangnya kejahatan orang tua. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua. luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. hilangnya wibawa ulama. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis.

berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. dan seterusnya 3. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . kebaikan dengan kekuatan. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. Hilangnya model kepribadian yang integral. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. kukuh ekonomi. misalnya etika dan estetika 2. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar.

ilmu pengetahuan. tidak demokratis. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. 5. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. ekonomi. Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. teknologi. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. 4. tidak berori- 68 . Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. 3.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. budaya. 2. sosial. krisis nilai. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. politik dan agama. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk.

Jika tidak. Namun. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. 1992). dan aturan-aturan sosial lainnya. apa yang adil dan apa yang tidak adil. Oleh karena itu. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. 2. membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar. perlu ada etika dalam bicara. saling menyakiti. sehingga hancurlah bangsa itu. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. aturan dalam berlalu lintas. bahkan saling membunuh. apa yang patut dan tidak patut. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal. yaitu terjadinya pergeseran 69 . Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan.

musyawarah mufakat. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. dan golongan seakan masih menjadi prioritas. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. merusak lingkungan. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. lemahnya budaya patuh pada hukum. kepentingan kelompok. kejujuran. kurangnnya keteladanan para pemimpin. Hal tersebut. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. nilai solidaritas sosial. 70 . sopan santun. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. kekeluargaan. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. pergaulan bebas. agama. bertutur kata. dan pola hidup konsumtif. baik dalam cara berpakaian. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Berdasarkan indikasi di atas. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. Untuk itu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi. 71 . diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa.

Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. kemampuan. kesukaan. Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. kolusi. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. dan hubungan antara manusia dengan manusia.Pendidikan Karakter 4. merasa dirinya bersatu. kebiasaan. bahasa. asal. keturunan. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. nilai-nilai. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. 72 . memiliki kesamaan nasib. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. potensi. adat dan sejarah Indonesia. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. bakat.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

informasi elektronik dan digital. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 . sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. keterampilan dan pemantapan strategi. Konsep-konsep visi. 3. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. 2. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment).com/wp-admin/ . Oleh karena itu. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan.wordpress. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. misi. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil. internet. Perkembangan cyber space. demokratis. persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin.

Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 . yang akan menjadi kekuatan moral. 3. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. budi pekerti. keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. rumah tangga). kebebasan. muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. penghormatan terhadap orang tua. masyarakat. Revitalisasi pendidikan agama. 5.Pendidikan Karakter 1. 4. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. 2. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. adab percakapan ditengah pergaulan. Rumusan ulang kiblat (arah).

White (dalam Hurlock. 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar. Dengan kata lain.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia. semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini. 1981). pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. Selanjutnya. maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. C. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock.

orang tua dan lingkungan sekitar. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. Membiasakan Kejujuran.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. saudara. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. teman. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut. yakni. Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. Apabila aspek ini diterapkan. Membiasakan Bicara dengan Baik. b. c.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. Membiasakan meminta Izin. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. Membiasakan Keadilan. Apabila aspek ini diabaikan. a. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan. d. Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. maka anak akan menjadi generasi pendusta.

Membiasakan Kasih Sayang. membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. tidak sambil bersandar. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. pujian. Maka dari sifat jujur. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. 81 . Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. e. dan dengan elemen sekolah. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. dan tidak boleh berlebihan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. Membiasakan Bergaul yang Baik. g. Memberikan Penghargaan. f. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. h. makan dengan tangan kanan. tidak boleh mencela makanan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. dan katakata. Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. tepuk tangan. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama.

Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. dan ridha. zuhud.Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik. haya` (malu). Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian. dan ta’dzim (pengagungan). Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. Dan di antara tanda dusta adalah 82 . dan jelasnya persoalan. mahabbah (cinta). Setiap akhlak yang baik. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi. qana’ah. ijlal (membesarkan). Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. serta berusaha mengamalkannya. yang memberikan ketenangan kepada pendengar. seperti: sabar. kuatnya hati. bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar. seperti: yakin. saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. 2 Niat yang benar dalam perbuatan. maka ia termasuk salah seorang pembohong. khauf (takut).

yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 . Jelas. dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. bingung.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak. dan bertentangan. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. gagap. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak. ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. spontanitas.

Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 . melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan.Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. atau tidak beraturan. Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. serta rambu-rambu agama. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak.

• Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. ia makan. 85 . padahal sebenarnya tidak. Dan ketika ia bangun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. Bagi anak. atau pun yang lainnya. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. berjingkrak dan bermain. Dan dakwa ini dianggap dusta. sehingga dia menjadi pusat perhatian. pakaian yang bagus. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. ketawa. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. Seperti itu pula. Padahal is tidak memilikinya. • Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya.

• Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 .Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar. sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar. misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan.

Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. hingga dia terdorong untuk balas dendam. Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah. Inilah yang dikatakan egois. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak. Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari. sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya.

Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak. dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak. karakter.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda: 88 . bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah. Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. serta akal dikemudian hari. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. mental. Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 . Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan.

atau boleh jadi 90 . membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. atau malah terkena penyakit saraf. Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. akal jiwa. seperti indra penglihatan. atau sering kali terlambat datang kerumah. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. takut menghadapi tantangan. pendengan. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah.Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya. lecet atau luka serta kelumpuhan. takut kepada yang lain. semburu. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya.

• Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua. agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. durhaka. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan. dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. atau malah membangkang. maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1. Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 .

maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada . Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya. yaitu berdusta.Pendidikan Karakter • • • • suara. 2. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik. Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan. Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali.

karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. memutivasinya. Dan apabila itu pun kalau ada. Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran. dan mencela bila ia berbuat tidak baik. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya. Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya. • Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat. Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta. seperti mainan atau yang lainnya.

• Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. 94 . Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. yakni berbuat dusta. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak. Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak. Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. Dalam tahap ini. Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya. perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah.

karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya. 3. Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. “Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak. (HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata. Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama.

Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. “Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya.Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. mainan. . pakaian dan lain-lain. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. 2. Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. bercita-cita. Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan.

melukis. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. menulis dengan baik. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik. 3. dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak. Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut. Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya. Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik. misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak. Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya. dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 .

Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya. Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang. serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. 4. 2. Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. dan tidak ber- 98 . Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan. “Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. 1. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya. hingga anak tersebut menjadi pembangkang. berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat. memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak.Pendidikan Karakter menimpanya.

Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun. Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. 4.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. 3. yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya. Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk. Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.

baik dalam memberikan belanja. niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”.Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri. Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. “Tidak”. Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup. 100 . (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). Rasulullah SAW bersabda. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?. “kembalilah kepadanya”. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. kemudian ia berkata. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan.

Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. 1. Dan bertakwalah kepada Allah. karena adil lebih dekat kepada takwa. Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. kebencian. mendorong kamu untuk berlku tidak adil. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu. seperti kemarahan yang amat sangat. Berlaku adillah. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan. sekalipun ada dorongan untuk selain itu. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). dan sebaliknya.

disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. Mutawalli berkata. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam. Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 .padahal mereka semua adalah saudara sebapak. Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi.Pendidikan Karakter mereka masing-masing. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. “Andakan mereka paham. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. 2. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka.

Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. mementingkan dirinya sendiri. 4. Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. 6. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. 5. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 .

dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. 3. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1. Menanamkan pemahaman halal. Menghafalkan kepada anak ayat. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah. Ikhals kepada-Nya. hadits nabi tentang kejujuran. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. jujur. menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak. 4. 5. haram. 6. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri.

Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia. 7. 8. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya. Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium. 10. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. menggambar dan sebagaianya. berolahraga. Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. 105 . Mengikuti seluruh kegiatan ini. Seperti salat. Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. 9. puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. itu dari segi rohani. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh.

tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera. dan sebagainya .Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak. Dengan kata lain. media massa. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. komunitas bisnis. berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. D. Tentu saja hal ini tidak mudah. masyarakat luas. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 . Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga.turut andil dalam perkembangan karakter anak. maka semua pihak . Menurut Megawangi (2003). sekolah. dan tuntunan yang bijaksana. perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. sekolah dan lingkungan sekolah. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. Oleh karena itu. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak.keluarga.

rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. dan hukuman kepada yang melanggar. pelajaran Agama. Moral Pancasila dan sebagainya. tatapi lebih dari itu. estetika untuk pembentukan karakter. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Sebagaimana disarankan Philips.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. sekolah untuk kasih sayang (Philips. mawaddah. 2003). Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. yaitu penanaman moral. estetika. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. seperti. Dengan demikian. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. nilai-nilai etika. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Sejarah. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. Menurut 107 . dan warrahmah).

ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’. tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. dan positif secara konsisten. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat. Sementara itu. keluarga. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. pemegang otoritas di masyarakat. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Lingkungan masyarakat. para pemimpin. 108 . Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. 321). Oleh karena itu. baik. pembuat kebijakan. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya.Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 .

Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 . tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik.

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

dan performa akademis yang buruk. dan seimbang. tidak . sesuai standar kompetensi lulusan. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. daerah. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. kekerasan berkelompok. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. etika. hamil muda. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. Pada kemungkinan yang terbaik. dan disiplin diri. bertanggung jawab. bertanggung jawab. masalah disiplin.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. penggunaan obat terlarang. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. terpadu. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. integritas. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita.

2) knowing moral values. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. for. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. Moral Knowing. pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey..Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. The common school should teach virtue before knowlede. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal. 5) decision making dan 6) self-knowledge. seorang filsuf pendidikan. 3) persperctive taking. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. dan bebas. tidak memihak (non sectarian). Kedua 115 . knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). 4) moral reasoning. Pertama.

trust. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). Hormat dan santun (respect. friendliness. cooperation) 6. Tanggungjawab. empathy. excellence. courage. courtessy.Pendidikan Karakter Moral Feeling. dan kemandirian (responsibility. honesty) 4. generousity. loyalty) 2. self reliance. obedience) 5. compassion. leadership) 116 8. assertiveness. caring. humility. discipline. creativity. Kasih sayang. dan pantang menyerah (confidence. moderation. determination and enthusiasm) 7. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. 5) self-control dan 6) humility. dan kerjasama (love. reliability. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. Amanah (trustworthiness. 3) empathy. Keadilan dan kepemimpinan (justice. fairness. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). resourcefulness. kreatif. Ketiga Moral Action. mercy. 4) loving the good. Baik dan rendah hati (kindness. 2) self-esteem. kedisiplinan. orderliness) 3. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. kepedulian. Percaya diri. reverence. modesty) . Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1.

masyarakat umum. peacefulness. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Dengan desain demikian. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. unity) Agar dapat berjalan efektif. pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. (1) Desain berbasis kelas. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. yakni. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. (2) Desain berbasis kultur sekolah. flexibility. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Masyarakat di luar lembaga pendidikan. dan (3) Desain berbasis komunitas. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. seperti keluarga. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. dan negara. Dalam mendidik. Toleransi dan cinta damai (tolerance. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . mencontoh. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. ketika berada di lingkungan sekolah. kembali ke rumah. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka.

dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis).Pendidikan Karakter agama. identitas dan kepercayaan diri. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. Kedua. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. 118 . Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh.

harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif. Keempat. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. yang dikemas di dalam KTSP. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional. 119 . harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. dan silabus. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. rencana pembelajaran. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum.

tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik.Pendidikan Karakter otoriter. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. Yang terakhir. berkarakter kuat. 120 . bukan hanya sekolah. Ringkasnya. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. dan lain sebagainya.

pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. Selain itu libatkan secara luas motivator. “Satukan kata dan perbuatan!” C. Ringkasnya. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. dan yang terkadang kelihatannya sepele. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. keseharian. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 . penceramah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Menurut Brian. pelatih. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Namun. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. Sejauh ini. perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. melainkan hanya selera sesaat. dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . EQ (emotional quotient). Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. Dalam wujud praksis. yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama. warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. Padahal. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. SQ (spiritual quotient). agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip.Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. Pertama. bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran.

dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). great teacher inspires’. menjadi teladan bagi peserta didik). berwibawa. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. Di samping itu. Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). berakhlak mulia. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. Maka. arif. terutama kompetensi kepribadian dan social. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. good teacher explains. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 .Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme.

Pendidikan Karakter Memiliki bakat. diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. yakni kegagalan . dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. keimanan. Brian menyebutkan. Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. ketakwaan. panggilan jiwa. Oleh karena itu. yakni pengetahuan yang baik. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. minat. dalam memperoleh pengetahuan. sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak. 1. berlandaskan keyakinan. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu.

Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). rasa 2. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. membantu. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. 3. sopan. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. memperlihatkan perhatian.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur. Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. dan berkata benar dalam segala hal. Bersikap adil dan terhormat. 125 . dan memahami orang lain. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian. 4. dapat dipercaya. dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik.

dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. Menghindari seks di luar nikah. dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan.Pendidikan Karakter 126 kasihan. 8. 7. dapat mengendalikan kata-kata. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. atau kegagalan. perlawanan. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . pada orang lain. zat dan perilaku berbahaya lainnya. dan juga keinginan. Di Indonesia. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. dan untuk Negara. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. dan dermawan. narkoba. 5. reaksi. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan. rokok. berkawan. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. untuk barang hak milik. kesalahan. 6. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. pada diri sendiri. alcohol. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. aksi. atau keputusasaan. Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan.

Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. perasaan. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 . karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. emosi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi. sentuhan nurani. yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. dan nuraninya. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan.

yaitu hanya mewajibkan 128 . dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan.Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. Di Indonesia. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif.

Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. percaya diri kreatif dan pekerja keras. emosi. kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. perasaan. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. hormat dan santun. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. kedamaian dan kesatuan. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. sebab pendidikan karakter (akhlak. dan nuraninya. sentuhan nurani. kejujuran/amanah dan bijaksana. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. 129 . kepemimpinan dan keadilan. baik dan rendah hati serta toleransi.

melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah. Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. etika. Pertama. guru. Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. Oleh karena itu. entah itu pendidikan agama. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa. mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. 2. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. Kita hidup tidak sendirian. kewarganegaraan. sebagai berikut.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. dan tetap eksis.

dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. yaitu (1) kasih sayang. Ketiga. mencintai belajar. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. menghormati diri sendiri dan orang lain. jujur kepada Tuhan.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Konon. Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. kasih sayang. mulai jujur kepada dirinya sendiri. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 . kejujuran. Oleh karena itu. jujur kepada orang lain. Kelima. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. bertanggung jawab. dan (3) kewibawaan. Keempat. (2) kepercayaan. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. kita harus hidup beretika. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius. Kejujuran. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu.

Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. menghormati hak orang lain. Waktu adalah pedang. dan budaya. bahkan dari keluarga. ekonomi. Ketujuh. berpikir logis (common sense). Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. konsentrasi pada tujuan (focus). kemauan kuat (perseverence). Keenam. kasih sayang (caring). kerjasama (teamwork).Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. agama. tepat waktu. tanggungjawab (responsibility). yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris. adalah warisan petuah para sahabat Nabi. 132 . motivasi (motivation). pemecahan masalah (problem solving). usaha (effort). inisiatif (initiative).

termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Menurut Thomas Lickona. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Character Educator. Ratna menyebut tiga unsur yang 133 . maka pendidikan karakter tidak akan efektif. tanpa ketiga aspek ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Dengan pendidikan karakter. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.St. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Bahkan secara spesifik. Louis. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. perasaan (feeling). Marvin Berkowitz dari University of Missouri. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. dan tindakan (action).

itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. konsep yang dibangun.al. Jika Feeling the good sudah tertanam. namun mereka tidak tahu alasannya. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih. dan habit of the hands. Ketiga. Jadi. namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. Knowing the good. Selama ini hanya imbauan saja. Untuk membentuk karakter. Menurut Ratna. Pada tahap ini. habit of the heart. Pertama. et. adalah habit of the mind. Acting the good. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk. anak dilatih untuk berbuat mulia. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik. Kedua. tidak akan ada artinya. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. Feeling the good. dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter.

Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. dan sebagainya. kemampuan bekerja sama. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . tetapi pada karakter.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah. akan mengalami kesulitan belajar. kemampuan berkonsentrasi. miras. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. yaitu rasa percaya diri. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. rasa empati. perilaku seks bebas. tawuran. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. dan kemampuan berkomunikasi. kemampuan bergaul. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. narkoba.

Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. sebagai anak yang kurang pandai. Akibatnya sejak usia dini. . 4. akan menimbulkan stress berkepanjangan. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. Namun masalahnya. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter.

Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 11. 5. 3. kritis. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa. budaya. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Menunjukkan sikap percaya diri. 10. 4. 8. Menghargai keberagaman agama. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. 13. ras. dan kreatif. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. 9. 137 . Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. suku. 12. 7. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. dan inovatif. kreatif. kritis. Menghargai karya seni dan budaya nasional.

dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Menunjukkan keterampilan menyimak. sehat. membaca. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah. 16. 17. bugar. 20. kebiasaan keseharian. 21. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Menerapkan hidup bersih. 19. 15.Pendidikan Karakter 14. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. D. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. Memiliki jiwa kewirausahaan. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. Menghargai adanya perbedaan pendapat. berbicara. aman. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. yaitu perilaku. 18. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. tradisi.

tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. 2. Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 . Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. proses dan prakteknya dalam pengajaran. 3. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. staf dan siswa didik.

Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. Kirschenbaum. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa. Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini. as old as 140 . bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. It is in fact. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama.

in countries all over the world. dan kurikulum 2. adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. 141 . adalah proses. adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. suasana. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. dan sekolah 3. yang terbaik adalah. Dengan demikian. komunitas. adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. adalah didasari oleh riset. bukan hanya program 8. perubahan (reformasi) sekolah 9. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1. Down through history. teori. guru dan siswa. datang dari rumah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”.

pemerintahan. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. bukan hanya sektor pendidikan nasional. Pada tahap evaluasi hasil. menghasilkan sikap yang kuat. dan pikiran yang argumentatif. hukum dan hak asasi manusia. 142 . kesehatan. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. khususnya sektor keagamaan. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. komunikasi dan informasi. kesejahteraan.Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pada konteks makro. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut.

memperbaiki. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler. 143 . menguatkan. yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro.

Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . Sementara itu mata pelajaran lainnya. Khusus. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan. Untuk kedua mata pelajaran tersebut.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.

kepribadian. Palang Merah Remaja. pertemuan wali murid. pelatihan. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. seperti kegiatan Dokter Kecil. dll. Pecinta Alam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. perilaku. kompetisi atau festival. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima. Liga Pendidikan Indonesia. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap.

Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. kursus kepemudaan. Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. pelatihan-pelatihan singkat. seperti kegiatan 146 . dan di masyarakat. baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. misalnya kursus keterampilan. di rumah. bimbingan belajar. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan.

jiwa patriotik. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. kejujuran. pelatihan kode etik jurnalistik. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. pelatihan kewirausahaan. kesenian. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari. olahraga. keagamaan. Sedangkan pada lingkup media masa.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. pelatihan kepemimpinan. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. sosial. dan akhlak mulia. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 . dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. pelatihan kepemimpinan. dan pelatihan keterampilan profesi. kepribadian.

d. a. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. . standardisasi perangkat dan proses penilaian. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter. dasar. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. pendidikan dasar dan menengah. Oleh karena itu. baik di jenjang pendidikan usia dini. b. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin.Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. c. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum.

” 149 . men kan niet onderwijzen wat men weet. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya. manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa. Men kan niet onderwijzen wat men wil. sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam. Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru. E. akan ‘beranak’ hijau. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. pengembangan. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri.

belajar terus tanpa henti. Dengan terus belajar. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. betapa sering kita menyampaikan 150 .Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. bila memang tidak tahu. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa. tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa. Bila memang bersalah. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan. guru akan semakin banyak tahu. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. Kedua. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan. ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama. tidak main topeng. konsekuen dengan apa yang diajarkan. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. bila guru sendiri terus belajar. Ketiga. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. Namun. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya.

staf. direktur. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pekerja sosial (social worker). Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. karyawan. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. Hal ini senada dengan pendapat Moh. keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). 2. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan. kepala sekolah. 1. baik pendidikan keluarga. Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. pengurus perpustakaan dan lain-lain. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. 151 . sekolah dan masyarakat secara luas. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan. seorang guru harus berperan sebagai. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. Teladan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Pelajar dan ilmuwan.

152 . Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. tidak punya buku paket atau alasan lain. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. 4. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Di masa depan. Orang tua.Pendidikan Karakter 3. baik karena siswa yang malas. Seringkali. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. model keteladanan. dan 5. berkembang.

Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka. guru sering mengajarkan kesamaan hak. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru. Sebab. tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. apa yang mereka dengar. pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. namun teladan itulah yang menarik hati). Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Oleh karena itu. Konsistensi dalam pembelajaran. dan apa yang mereka lakukan. apa yang mereka rasakan. Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya. Untuk itu. Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya. 153 . dalam kehidupan yang nyata di luar kelas.

Pendidikan Karakter 154 .

Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak. yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. 155 . baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal.

Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. mengasuh. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat . keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan.merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 . Pendidikan. Menurut pakar pendidikan. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran. 2003). keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. maka masyarakat pun akan lemah. semangat. dan mensosialisasikan anak. keinginan untuk menjadi yang terbaik. dan Kesejahteraan. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Bagi seorang anak. Oleh karena itu.Pendidikan Karakter Dari sini. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya. William Bennett (dalam Megawangi. dan kemampuan-kemampuan dasar.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.

” Dari sini. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. Oleh karena itu. rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. sejahtera”. terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni. mengatakan. 2006: 42. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya. dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya. teristimewa pendidikan budi pekerti. Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. ”Rasa cinta. 157 . Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. B.

yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. (2) Pola asuh Authoritative. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter. anak harus tunduk. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. dan tidak boleh bertanya. dan (3) Pola asuh permisif. C. 3) ü . sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat.Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. (2) Pola asuh demokratis. (3) Pola asuh permissive. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. Oleh karena itu. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. patuh.

Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. sentuhan. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. 4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh. anak belajar tentang banyak hal. jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat.. termasuk karakter. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Artinya. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. 2) Anak diakui sebagai pribadi. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. dan kelekatan emosi orangtua . 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua.

Sementara. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. Pada akhirnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan. Menurut Arkoff (dalam Badingah. di mana keluarga yang broken home. anak yang dididik secara 160 . dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Sementara itu. kurang tanggungjawab serta agresif. Di sisi lain. karena anak tidak mandiri. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. 1993).Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. apalagi terkesan membiarkan. orangtua yang otoriter merugikan. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak.

hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. Menurut Middlebrook (1993). yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. Sementara. Penelitian tersebut . baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). elusan di kepala. dan kontak mata yang mesra).yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. akan mempengaruhi perkembangan emosi. sosial-kognitif. perilaku. (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. anak yang ditolak adalah anak yang 161 . dorongan. kata-kata yang membesarkan hati. (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. pelukan. maupun secara fisik (diberi ciuman.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. dan pujian). Dalam hal ini. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak.

dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. percaya diri. Sementara itu. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. dikecilkan. baik secara verbal (katakata kasar. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. tidak disayang. atau menampar). pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. walaupun orang tua tidak merasa demikian. sindiran negatif. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. bersikap sangat agresif kepada orang lain. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. mencubit. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). dianggap berharga. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. yaitu : 162 . dilindungi. bentakan. atau bersifat undifferentiated rejection.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. bahkan dibenci oleh orang tuanya. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. ataupun secara fisik (memukul.

Karena sejak kecil mengalami kemarahan. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. dan gangguan emosi negatif lainnya. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. 3. 5. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. simpati. 1. Berperilaku agresif. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. 2. 4. misainya menyindir. 163 . misalnya memukul. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. Bersikap kasar secara fisik. Menjadi minder. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Bersikap kasar secara verbal. yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Secara emosiol tidak responsif. dan memberikan hukuman badan lainnya. mengecilkan anak. 2. dan berkata-kata kasar 4. mencubit. merasa diri tidak berharga dan berguna. tidak butuh orang lain. dan tidak dapat menerima persahabatan. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. 6. la kelihatan sangat mandiri. rasa tidak percaya. 3. Anak menjadi acuh tak acuh.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1.

dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. mudah marah. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. yaitu maternal bonding. 7. tawuran. D. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. khawatir. Ketidakstabilan emosional. Menurut Megawangi (2003). dan stimulasi fisik dan mental. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya.Pendidikan Karakter 5. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . mudah tersinggung. rasa aman. dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. seperti rasa tidak aman. curiga dengan orang lain. 6. akan membuat anak merasa tidak dekat. minder. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. 8. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. dan lainnya.

antusias mengeksplorasi 165 . ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Menurut pakar pendidikan anak. menggendong. Dengan kata lain. mengelus. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. Menurut Erikson.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Bowlby (2003). dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira.

dididik dan dibina.Pendidikan Karakter lingkungannya. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya. dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. baik dalam tatanan norma agama. orang tua dan bangsa. dan menjadikannya anak yang kreatif. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. ia banyak melakukan penyimpangan. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. ia sulit untuk diarahkan. Juga. kasih sayang dan lain-lain). berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik. 166 Untuk itu. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa. Dengan kata lain.

merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup. harta 167 . tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. siang dan sore hati. Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah. Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini. Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa. Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. Juga. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. Nah. Juga. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. Diantara penyebabnya adalah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. jika sudah seperti itu. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. baik makanan dipagi. tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan.

Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini. maksiat dan dosa. karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan. jika ia menemui 168 . keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain. dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. Juga. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama.Pendidikan Karakter dan kehormatan. dan dapat merasakan hidup yang lebih baik. Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. Juga. teman ada yang mengajak pada kemungkaran. sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. Dengan seperti itu. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia. anak yatik dan lain sebagainya. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. Sebaliknya.

hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai. Dengan kejadian menimpanya seperti ini. wataknya keras. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. tenang dan tentram. seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya. sikapnya arogan dan tidak bida diatur. minimal anak akan 169 . Untuk mencegah hal ini. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. padahal baru bebarapa tahun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa. Juga. sehingga tidak bisa diatur. Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan.

bermaksiatan dan melakukan dosa. tidak dapat memberi makanan. perlindungan juga perhatian. maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. perhatian dan perlindungan. pakaian. yaitu menjaga. Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. Kedua. Tentu saja harapan kita adalah. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. kemaksiatan dan dosa.Pendidikan Karakter merasakan dua hal. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Diantara 170 . jika yang menjadi wali adalah ayahnya. baik dari ayah maupun ibunya. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan. menjaga dan bersenda gurau dengannya. pertama. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. apabila ibu yang menjadi walinya. Nah. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. dan memiliki akhlak yang tidak baik. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. maupun tempat tinggal yang layak. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi. melakukan kejahatan. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Namun.

Juga. basket. maka arahkan anak seraya berkata. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. atau memiliki akhlak yang tidak baik. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur. Untuk itu.” Atau olah raga lainnya. tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya. selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat. jika ia senang dengan bermain bola. Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 . sesuatu yang disenanginya. dengan sesuatu yang bermanfaat. Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Suatu contoh. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. seperti bermain bola. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG).

jika hal itu tidak dilakukan. Karena ia adalah merupakan tiang. 1. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam. Oleh karena itu. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas. sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. Diantara manfaatnya adalah. kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. Dengan shalat. Kalau memungkinkan.Pendidikan Karakter lainnya. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. Sehingga. Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian. Nah. Dari beberapa hal penting di atas. hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak). 172 .

dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya. Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. memukul anak 173 . Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu. Dan. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat.ah. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran. mulai dari membersihkan lubang hidung. Selain itu. selain mandi. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan. dan gigi. membersihkan rongga mulut. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Juga. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. Juga. beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah. 3.

Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik. Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG. maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka. Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. 174 . Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. ingatkanlah pada anak. Bagi orang tua. sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. dan usahakan agar kita terus memantau anak. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. tentang kawan yang tidak baik. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa. Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. agar ia tidak terperangkap. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan. Juga.

ia akan mengambil keputusan yang salah. dengan siapa ia berkawan. Ia akan menjadi anak yang penakut. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. dimana anak akan sangat bergantung padanya. Sebaliknya. Juga. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. jika sikap buruk orang tua pada anak. Dalam hal ini. dengan sikap itu. Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya. jika anak diperlakukan seperti itu. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. Pun dalam hal akhlaknya. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. suka berbohong dan mengejek. yang paling tragis. setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya. Dan biasanya. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya. sering di pukul. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. maka tidak dapat diragukan lagi. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. kasar. 175 . Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama.

maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. terutama pada anak kecil dan ABG. Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran. kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. Anak kecil maupun ABG. Bukan hanya nasehat orang 176 . maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks. Jika hal itu sudah terjadi. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita. jangan salahkan anak. meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja.

maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi. Di antaranya. 2. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. 1.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut. Atau. Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka. Untuk menghindari hal itu. usahakan anak dicegah membaca media. 3. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. Jika tidak bisa. arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 . hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. Pun. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. Juga. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. Dan tidak kalah pentingnya. Dan.

Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. karena tidak adanya lowongan. jika masuk pada golongan yang kedua. itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. atau ia berada pada lingkungan yang baik. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan. Sebaliknya. Nah. karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. jika anak berada pada golongan yang pertama. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya. Nah. terlebih lagi ajaran agamanya. 178 . Dengan keadaan seperti itu. Namun. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. Pada saat itu.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. belum mendapat pekerjaan. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya.

seperti mencuri. namun ia malas untuk bekerja. 1. sehingga menjadi pengangguran. merampok maupun mau untuk disogok (suap).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan . sampai ia mendapatkan pekerjaan. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. namun belum mendapatkannya. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. Pertama. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. mengarahkan. maka pemerintah 179 . padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. namun ia masalah mencari pekerjaan. Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. Diantaranya. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha. 2. artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. Nah. sampai ia mendapatkan pekerjaan. menganggur karena terpaksa. Kedua. Untuk bagian yang pertama. padahal peluang kerja banyak ditemukan. Jika masih tidak mau melakukan hal itu. menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan.

Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. memberikan pendidikan yang baik. Agar tidak terjadi hal yang demikian. Namun dalam hal pendidikan anaknya. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi. jika mau mempersiapkannya. sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur. sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh.Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. Semisal. terutama dalam menegakan agama. baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. Sang ibu adalah pendidik pertama. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. Juga. orang tua.

manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. atau sebaliknya. sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. dan ia akan merasa diperhatikan. Juga. agama dan bangsa. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. Untuk itu. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga. dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 . jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya.

siksa kubur. Malaikat. Lalu. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain. Khusus masalah penjelasan Qada’. memiliki akidah yang kuat.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. Kitab-kitab suciNya. dan selalu beribadah dalam segala hal.Juga. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. seperti setan dan jin. api neraka dan hal yang ghaib lainnya. Iman kepada Allah SWT. hari kiamat. agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. hati pertanggungjawaban. tentang surga. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. Untuk itu. 182 . mampu memanaje kehidupannya dengan baik. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. hatinya semakin suci. menjelaskan hal-hal yang ghaib. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. Juga. Juga.

karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. Pun. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. karena orang tua yang mendidiknya demikian. entah sang ayah maupun ibu. ia baik. Dan. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya. beringas dan tidak bisa di atur. Jika melihat kenyataan seperti itu. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. tidak memiliki tujuan hidup. mengajarkan akhlak. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya. Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. merampok sera mencuri. tidak jujur dalam mengemban tugasnya. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur. Acuhnya ayah. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. hidup semuanya sendiri. maka orang tua. 183 .

pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan. arahkanlah anak didiknya ketika disekolah. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. keutamaan perilaku dan sikap. sejak ia terlahir dari rahim ibunya. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Akhlak. Seorang anak. maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. Sedangkan bagi tenaga pengajar. mendidiknya agar takut kepada Tuhan. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak. menginformasikan 184 .Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan. agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. Untuk itu. Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak.

agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. menyaksikan. Untuk itu. manakah yang lebih baik dalam bersikap. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji. agama dan bangsa. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. Karena sudah tertanam keimanan. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak. 185 . akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya. berinteraksi. Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji. dan berkompetisi dengan umat lainnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya.

Juga. berteriak.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. menghardik. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama. istiqamah. tidak mudah mengeluh. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. Semisal. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . Lebih dari itu. Juga. dan mencintai orang lain. memaki. dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. memuliakan tamu yang datang ke rumah. tentunya setiap daerah berbeda-beda. mencaci. menghormati yang lebih tua. ia mampu menanganinya dengan baik. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. amanah. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. Dan. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. Juga. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur.

1. kebakaran. Oleh karena itu. Yaitu. dan lemah lembut. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. Merampas hak orang lain secara paksa 3. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal. bagi ayah. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. Untuk itu. hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. gempa. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . Emat hal itu adalah. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan. Mencela dan mencaci. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. entah itu berita duka. banjir.

dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian. dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. Oleh karena itu. Dengan sikap orang tua seperti itu. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. 188 . terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. dimulai dari diri sendiri. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga. berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. Juga. Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. Sungguh. agar ia tidak lagi merengek dan menangis. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak. kehormatan dan harga diri.

ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1. 189 . ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak. Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka. Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. Dengan demikian. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini. jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. agar anak belajar mencintai orang lain. bagi orang tua.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Memberikan kasih sayang pada anak. Untuk itu. 2. Hal ini penting sekali.

adalah besar sekali. Memang. Anak akan menangkap secara tidak sadar.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. itu semua berpengaruh baginya. sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sebab. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. 3. dengan sadar atau tidak. sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. 190 . “Karena kemampuan anak untuk menangkap. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. dan akan meniru secara tidak sadar. Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak. di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru. atau tanpa kesadaran purna. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.

Dilarang bermain dengan hidungnya. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. Ketika mengenakan kain. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. Jika makan dengan tangan kiri. baju. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. makan dan minum dengan tangan kanan. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. memberi. agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. atau lainnya memulai dari kanan. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 . diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. dan dijauhkan dari sikap rakus.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. 4.

sanak familinya yang masih kecil. dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain. Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya. • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin. dan sehabis bangun tidur. sekalipun hanya sedikit. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. sebelum tidur. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. dan jangan sampai bersuara. • . Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). dipaksa untuk menerima kebenaran. karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya. bahkan menjauhkan kotoran darinya. dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. Tidak membuang sampah dijalanan. dan Abi (Bapak). Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. bukan di tengah jalan. • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 . Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya. jika memungkinkan. Tapi kalau tidak.

Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.Pendidikan Karakter gan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan. sekalipun menyebabkan bajunya kotor. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. 194 . mainan atau diajak jalan-jalan. seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. • Dibiasakan menghormati milik orang lain. • Tidak dilarang bermain selama masih aman. dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain.

In: J.W. 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet.G. (1993). Berkowitz. Badingah.W.Goble. Dennis. Studios 4 Productions. UI. The Education of Complete Moral Person Brooks. Depok. B. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh.S. West Publishing Co.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim. and F. New York. Making a Commitment to Character. 1991. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras.E. 1995. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues. 1998. S. Moral Literacy and the Formation of Character.Bennigna (ed). Character in the Basic School. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. (1983). Moral Character.J.M.L. Coon. and Civic Education in the Elementary School.D. Boyer. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. 195 . Teachers College Press.

2001. 1999. 1995.D. New York. Diakses tanggal 26 April 2004. Educating for Character. Ratna. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . Pustaka Mizan.R. Megawangi.F. http://encyclopedia. Fagan. McGraw Hill Kogakusha International Student.. Bantam Books. Family and Community.B. Child Development. Bandung. Kilpatrick. E.W. New York. 1991. Horn. Hurlock.thefreedictionary.Tanjung. P. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books. 1992. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. Bantam Books. 1995.Widiastuti. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. Mack. New York. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. (2003).D. Emotional Intelligence. 1994.com.D.F. Simon & Schuster. Inc. Jurusan GMSK. Sixth Edition.F. IPB. 1997. T. _________. Lickona. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. I. 1981.Pendidikan Karakter Dina.R. 1992. New York. Why It Can Matter More than IQ. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. E.W.Faperta.W. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family.Puspita. Megawangi. Goleman.

The Moral Sense. In J. 2002. 1997.C.S. Sorokin. New York.D. Simon & Schuster Inc.Inc. Houghton Mifflin Company.New York.Q. and C. Pickthall. Character and Academics in the Elementary School. Ryan and Bohlin. Wynne.A. Harper & Row Publishers. Statistics of Teens. Rohner.E.. Mega Skills. Wade. 1999. and C.J. Child Psychology: The Modern Science. Pitirim. Massachusetts. p. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory. 1986. Vasta.Tavris. Boston University Press.S. New York. 1990. Pada bulan Oktober 2001..A. 1992. 1991. Views or Virtues? Schikendanz. Building Children’s Achievement for the Information Age. The Child.W. California. Nord.Haynes. Moral Character. and Civic Education in the Elementary School. 1990. 2002. Teachers College Press. New Haven. Sage Publications.A. Psychology.Miller.17-18). Dikunjungi di: Info@ soundvision. New York. Benigna (ed).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman. John Wiley & Sons Inc. Shambala Publications.J.R.E.M. 1995.A.C. 194.Haith. Family Socialization and Academic Achievement. College & University Press.R..Y. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools.com. 197 . New York. Wilson. Rich. Values. M. 1993. “The Basic Trends of Our Time”.

2008. Psikologi Anak. Reformasi Pendidikan. A. et al. The Development of Children. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. D. Jakarta Elizabet B. Hoffnung. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.F. Yogyakarta: Kanisius. 1982 Bjorklund. Paul. Bandung. Hurlock. Boston: Houghton Mifflin Company. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . Kelvin L & Robert J. 2000 E Sphero Lawrence. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. 2002. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. dkk.1987. (2005). New York: Worth Publishers. Jakarta. Redja. Hermaya. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Erlangga. 2002. Holistika Pemikiran Pendidikan. 198 Seifert. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. Rosyda Karya. 1991 Kartono. 2001. Psikologi Perkembangan. 3rd ed. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. Malik Fadjar. Bandung. Terjemahan T. Child and Adolescent Development. Penerbit Alumni. Kartini. Bellmont. CA : Wadsworth Cole. Kemendiknas. M. 2009. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto. . Emotional Intellegence. 2010. Gramedia Pustaka Utama. 2005.

London: Routledge & Kegan Paul LTD. Jean & William Proctor. New York: Alfred A. Third Edition. Vander.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain.Second Edition. Sixth Edition. New York: John Wiley & Sons Inc. Ahmadi. (Jombang: Turast al-Islam. New York: Facts on File Publications. Barbel & Jean Piaget. Englewood Cliffs. Sixth Edition.1983. R Murray. Yoder. Human Development. Ilmu Pendidikan.R. Diskursus Islam dan Pendidikan. James O. Knopf. Children’s Needs: Psychological Perspectives. 1997. (Ja199 . Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. Life-Span Development. James W. John W. Washington DC: The National Association of School Psychologist. 1988. Inhelder. Hergen. (New Jersey: Prentice Hall.2005. Alex & Jeff Grimes (ed. New Jersey: Pearson Education.1987. (Jakarta: Rineka Cipta. 1415 H) Hahn. The Growth of Logical Thinking. Zanden.t) Asy’ari. Concept and Applications. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim. The Self-Confident Child. William. An Introduction to Theories of Learning. From Childhood To Adolescence. Muhammad Hasyim.1985. Santrok. t. Muhammad Tolchah. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. Muhammad ‘Athiyah. B. Palmer.). Abu & Nur Uhbiyati. 1976) Hasan. Thomas. Comparing Theories of Child Development. Thomas. 2001) Al-Abrasyi. Theories of Development. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi. 2005. Belmont: Thomson Wadsworth. The Psychological Assesment of Children.

Bumi Aksara. vol 6. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. (New York: New American Library. Mawardi. Zurinal & Wahdi Sayuti. Cet. the End of Education Redefining the Value of School. The Education of Don Quixote. 1970). no 1 Wibowo. Neil. (Jakarta: INIS. Science and Civilization in Islam. 2007) Hasbullah. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. Sayyed Hossein. 2008) Z. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. 6. 2001) Tilaar. I Zuriah. (Jakarta: Balai Pustaka.. (Jakarta: UIN Press. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. Evaluasi Pendidikan Nilai. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Nurul. (Yogyakarta: Genta Press. (Yogyakarta: Jendela. PT. Jakarta. 2006 Nurul Zuriah. 2007 200 . Mendidik Anak Secara Islami. 2008) Mastuhu. Siti Farida. HAR. Cet. (Ar-Ruz Media. 2010) Juan. terj. RajaGrafindo Persada. Dinamika Sistem Pendidikan. Jakarta. 2000) Lubis. Malpraktik Pendidikan. Estarella. (terjemahan). 1994) Nasr. Comperative Education Review. Agus. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. 2006). (Jakarta: Bumi Aksara. 1990) Abdullah Nashih Ulwan. PT.I Postman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful