P. 1
7 Pendidikan Karakter Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

7 Pendidikan Karakter Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

|Views: 358|Likes:

More info:

Published by: Rahma Laila Qodriyan on Sep 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Sections

  • BAB I PENDAHULUAN
  • BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER
  • BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA
  • BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER
  • BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Memahami Anak dan Fitrahnya

Telah menjadi kesepakatan para ahli pendidikan Islam bahwa anak yang baru terlahir dari rahim ibunya membawa kefitrahan yang sudah melekat didalam jiwanya; tauhid, kepercayaan pada Tuhan, dan terbebas dari segala hal. Karena ia lahir dalam keadaan suci dan tidak ada dosa. Untuk itu, anak bergantung dari lingkungan tempat ia tumbuh menjadi besar. Jika lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan dari kumpulan orang-orang yang shaleh dan selalu mengabdikan dirinya pada Tuhan. Maka tidak diragukan lagi anak tumbuh besar menjadi insan yang memiliki akhlak mulia dan perilakunya dapat ditauladani oleh orang banyak. Tidak hanya itu, iapun tumbuh menjadi insan yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan.

1

Pendidikan Karakter

Fitrahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, telah ditetapkan didalam al Quran. Dan, dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW, juga para ahli pendidikan; Hal ini sebagaimana firman Allah SWT didalam surah ar Ruum: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Ruum[30]:30) Adapun pernyataan Rasulullah SAW perihal kefitrahan seorang bayi yang baru lahir, dimana ia sudah membawa keimanan, tauhid dan kepercayaannya terhadap Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda; Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, semuanya bergantung dari kedua orang tua apakah ia menjadi Yahudi, Nashrani ataupun orang yang menyembah berhala.” (HR. Bukhari) Sedangkan dari beberapa ahli pendidikan dan akhlak telah menetapkan bahwa sang anak terlahir dengan kesucian dan kefitrahannya. Pernyataan ini juga akan dikutip beberapa para ahli pendidikan dari barat, ketika ia berpendapat perihal pentingnya pendidikan jiwa seseorang. Karena hal itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Dengan ditanamkannya akhlak dan perilaku sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi pemuda yang urakan dan tidak bisa di atur. Nah, sikap untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak, dan dimulai sejak ia masih kanak-kanak sesuai dengan perkataan Imam Ghazali perihal persiapan untuk menjadikan anak tumbuh menjadi baik dan memiliki hati yang bersih bagai permata yang bening, ia bersinar dan menunjukkan kilaunya jika diterpa sinar. Semua itu

2

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

bergantung pada lingkungan di mana anak itu tumbuh. Imam Ghazali mengatakan,” Seorang anak adalah amanah Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya. Sungguh hati anak itu bersih seperti permata yang berkilauan. Jika kedua orang tua memberikan telah menyiapkan pendidikan yang baik dan mengajarkannya tentang al Quran. Niscaya ia akan tumbuh besar dan kebahagiaan akan senantiasa menyertainya di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika kedua orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik dan tidak mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya anak akan seperti binatang, tidak bisa berpikir jernih, yang ada dalam benaknya hanya makan dan tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Untuk mengihindari hal itu, orang tua wajib menjaganya dengan memberikan pendidikan yang baik dan menanamkan akhlak padanya.” Ada sebuah syair yang sangat indah, ketika ia membahasakan perihal pendidikan anak; ‘’Sungguh seorang pemuda akan tumbuh seperti yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya Dan tidaklah seorang pemuda terpikirkan melakukan kebaikan, karena semua itu kembali pada akhlak yang pernah diperlihatkan padanya”. Dari syair di atas yang menjelaskan perihal pentingnya fitrah pada diri setiap anak yang baru dilahirkan menuju fase pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pemuda. Semua itu bergantung pada pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Jika anak hidup bersama lingkungan yang tidak baik, senantiasa

3

Pendidikan Karakter

mengabaikan perintah Tuhannya dan melalukan berbagai macam dosa. Atau, anak tumbuh pada lingkungan yang penduduknya selalu melakukan perbuatan yang merusak, seperti berbohong, ghibah dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi, anakpun akan tumbuh seperti apa yang dilihatnya. Anak akan tumbuh dengan membawa akhlak yang tidak baik, dan tidak menutup kemungkinan ia akan mudah terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menyesatkan. Itulah gambaran yang akan terjadi pada anak, ketika ia hidup didalam keluarga atau lingkungan yang tidak baik. Juga, ketika kedua orang tuanya tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal. Dan tidak kalah pentingnya, anak akan bersikap demikian dikala ia tidak lagi merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi yang ingin generasi penerusnya hidup dengan memiliki akhlak yang baik dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang saat ini sudah semakin menghawatirkan. Maka mulailah saat ini juga untuk menanamkan akidah dan tauhid pada anak. Juga, memberikan pemahaman yang benar terhadap agama dan ajarannya.
B. Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak

4

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk

Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik). dan peraturan. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. dan EQ secara efektif. 2. kebiasaan. Pola Perkembangan Moral Menurut Peaget. terdapat empat pokok utama: 1. Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok. Mengembangkan hati nurani. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif memfungsikan IQ. 3. Dalam mempelajari sikap moral. Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. dan cenderung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak 5 . Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. 4.

Orientasi moral anak masih bersifat individualistis.dkk. 6 . Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. egosentris dan konkrit 2. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah. Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional). Tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman Tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat. yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap.Pendidikan Karakter menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya. Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ). enurut mussen. yaitu : 1.

Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik moral atau tidak. Tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. 7 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain Tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat. Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern. artinya untuk dapat hidup secara harmonis. kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya. artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial. 3. Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya.

5) Masa Kanak. umur 13 – 17 tahun.Kanak akhir. periode social atau masa pemuda. saat terjadinya konsepsi sampai lahir. yaitu: 1) Umur 0 – 3 tahun. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. periode intelektual (masa sekolah) 4) Umur 12 – 21 tahun. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.Kanak awal. umur 6 – 10 atau 11 tahun. 8 . periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. 2) Masa Neonatus. 2) Umur 3 – 6 tahun. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1) Masa Pranatal. Menurut Kohnstamm. periode vital atau menyusuli. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun. 3) Umur 6 – 12 tahun. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. Elizabeth B. umur 2 – 6 tahun. 5) Umur 21 tahun keatas. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.Pendidikan Karakter Perkembangan Agama Pada Anak 1. 6) Masa Pubertas (pra adolesence). 4) Masa Kanak. 3) Masa Bayi. umur 11 – 13 tahun 7) Masa Remaja Awal.

Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata.kanak) 3. umur 21 – 40 tahun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 8) Masa Dewasa Awal. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan.kata orang yang ada dalam lingkungannya. 9) Masa Setengah Baya. 10) Masa Tua. yang pada awalnya diterima secara acuh.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. umur 40 – 60 tahun. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. 2. 2 – 6 tahun (masa kanak. Agama Pada Masa Anak. umur 60 tahun keatas. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. yang dimaksud dengan masa anak. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. 0 – 2 tahun (masa vital) 2. Ia merupakan campuran dari bermacammacam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Namun. Hurlock. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. 9 .

The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya. takut dan cinta padanya sekaligus. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga. perkembangan beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: jiwa 10 a. butuh. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. Menurut Zakiah Daradjat. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. sehingga dalam menanggapi agama anak masih . tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman.Pendidikan Karakter Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik.

Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 11 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongengdongeng yang kurang masuk akal. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya. b.dongeng.kanakannya. c. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. sejalan dengan perkembangan usia mereka. Pada usia ini. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

b. • Konsep ketuhanan yang lebih murni. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). • Berkaitan dengan masalah ini. yaitu: a. Pada fase ini anak sudah mulai 12 .Pendidikan Karakter Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Fase kanak. • Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. c. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bergaul dengan dunia luar. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. cukup sekedarnya saja. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. Menurut penelitian. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. 4. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan.aspek jiwa lainnya. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam.4. 13 . Sifat agama pada Anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a. Anak pada usia kanak. d.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek.kadang kurang masuk akal. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. sejalan dengan perkembangan moral. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapanucapan orang disekelilingnya.

pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung 14 . doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. c. d. Pada usia 7 – 9 tahun.Pendidikan Karakter b. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka.gerik tertentu. berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). tetapi amat konkret dan pribadi. Mereka menghafal secara verbal kalimat. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dalam hal ini.

Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Pembentukan perilaku Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain : Faktor internal : 1. e. seperti rasa aman.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). seperti lapar. dan aktualisasi diri 15 . rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. penerimaan. Kebutuhan psikologis. Instink biologis. penghargaan. dan seterusnya 2. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. akan tetapi berupa teladan f. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.

Lingkungan sosial 3. keteladanan.Pendidikan Karakter 3. pembiasaan. dan penguatan tanggung jawab kepada Allah (SWT) C. dan sebagainya Faktor eksternal 1. indoktrinasi Tahap II ( 11 – 15 tahun) Perilaku kesadaran. agama. metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog. pembimbingan. dan pelibatan Tahap III ( 15 tahun ke atas) Kontrol internal atas perilaku. metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup. metode pengembangannya adalah pengarahan. yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos. Lingkungan pendidikan Tahapan Perkembangan Perilaku Tahap I (0 – 10 tahun) Perilaku lahiriyah. Kebutuhan pemikiran. penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman). Pendidikan Karakter: Strategi Pendidikan di Era Global 16 Pendidikan saat ini – tidak hanya di Indonesia tapi di . Lingkungan keluarga 2.

suka bekerja keras. kita hidup di dalam dunia yang terbuka. Hal yang sangat dirasakan sebagai dampak dari globalisasi ini adalah ikatan niali-nilai moral yang mulai melemah. pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif. dunia yang tanpa batas. mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global. Dari segi global.sedang dilanda berbagai krisis moral yang diakibatkan dari pengaruh globalisasi. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. Mereka itu adalah lulusan sekolah 17 . Dari segi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Multi krisis dalam berbagai dimensi mulai merasuki masyarakat kita. Di samping itu dari segi keuntungan domestik.yang kurang baik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif seluruh dunia . Bagi Indonesia sendiri globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu.

(2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. Pada dasarnya krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. (9) membudayanya ketidakjujuran. dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. misalnya etika dan estetika 18 . (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. (4) meningkatnya perilaku merusak diri. Dan bukti-bukti tersebut rasanya sudah mulai tampak di hadapan kita. alkohol dan seks bebas. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. seperti penggunaan narkoba.Pendidikan Karakter dan perguruan tinggi. (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan. Bahkan seorang Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Artinya. Di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. (6) menurunnya etos kerja. sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Hilangnya model kepribadian yang integral. Fungsi keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya mulai memudar. Kecenderungan Negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini. Ada 3 pertimbangan yang mendasari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang Berbasis pendidikan budi pekerti (Nurul Zuriah: 2007. Kesibukan dan tuntutan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen keluarga menyebabkan intensitas perhatian dan komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat minim. pendidikan di seluruh dunia saat ini mulai memfokuskan kajiannya pada pendidikan moral yang perlu untuk dibangkitkan kembali. Melemahnya ikatan keluarga. nilai-nilai moral dan norma-norma agama seakan sudah semakin jauh dari dunia remaja kita. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral Dalam menyikapi persoalan di atas. Perilaku remaja saat ini memang sudah dirasa semakin akut. 10-11): 1. 2. Fenom- 19 . Oleh karena itu peran sekolah saat ini berfungsi juga sebagai pengganti keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. Hal ini dapat menyebabkan kekosongan moral dalam perkembangan kehidupan anak. kebaikan dengan kekuatan. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. dan seterusnya 3.

menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. moral. pergaulan bebas. 3. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. Oleh karena itu. perilaku yang ekslusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi 20 . Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan.Pendidikan Karakter ena tawuran antar siswa sekolah. Secara tersurat. telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. Pada tataran makro. dan sebagainya sudah bukan merupakan hal yang asing bagi dunia remaja. Agaknya memang para remaja kita sudah kehilangan pegangan dan keteladanan dalam menemukan model yang etis. dan budi pekerti dewasa ini. penyalahgunaan obat-obat terlarang. perkelahian di kalangan mahasiswa. Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etik. krisis kejujuran. tindakan-tindakan diskriminasi. Konflik-konflik sosiKonflik-konflik al. saat ini penting kiranya sekolah mulai menggalakkan kembali nilai-nilai moral yang sudah kian terkikis dari dunia remaja kita.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kemanusiaan (religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan life skill), kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa, ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain. Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Jalan terbaik membangun dunia juga pendidikan. Secara sederhana, fokus pendidikan hanya tiga, yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill), dan membangun karakater. Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis, adalah karakter. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi), cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter. Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:1921

Pendidikan Karakter

23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampu mengIndonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung

22

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

jawab. Dalam paradigma baru ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadya dan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.
23

Pendidikan Karakter

Dalam hal pendidikan karakter memang menunjukan indikasi banyak kegagalan. Bukti-bukti kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter dengan indikator perilaku, sebagaimana dapat kita saksikan pada siaran-siaran TV dan surat kabar. Ada mafia di bidang hukum yang disebut markus, ada mafia di bidang ekonomi yang terdapat pada kasus bank dan pajak, semuanya itu berputar di sekitar korupsi. Kita juga menyaksikan keadaan kurang beradab pada acara di gedung DPR yang ditonton oleh jutaan orang, kita juga menonton orang pintar berdebat di TV yang mengeluarkan kata-kata yang kurang layak diucapkan. Semua itu menjadi indikator telah rusaknya perilaku sebagian lulusan sekolah kita. Semuanya itu merupakan hasil pendidikan kita. Pembangunan karakter gagal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946, UU Tahun 1950, UU Tahun 1954, TAPMPR Tahun 1967, UU Nomor 2 Tahun 1989, dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. Dalam konteks berbangsa, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan

24

berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. perdamaian abadi. berjiwa persatuan Indonesia. baik secara filosofis. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. dan keadilan sosial. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. historis maupun sosiokultural. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. Secara normatif. Secara sosiokultural. baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. berbangsa. Secara historis. memajukan kesejahteraan umum. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural. Secara ideologis. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah. 25 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif beradab. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. mencerdaskan kehidupan bangsa. ideologis. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. normatif. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara filosofis. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara.

Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. bergotong royong. karsa. rasa. haluan negara. olah rasa dan karsa. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. konstitusi. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. bertoleran. berkembang dinamis. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran.Pendidikan Karakter Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. dan global yang berkeadaban. karsa. rasa. berakhlak mulia. bermoral. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. regional. norma UUD 1945. dan 26 . dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir. kompetitif. berbudi luhur. pemahaman. berjiwa patriotik. pemahaman. pandangan. olah hati. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental.

27 . Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi. khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. di mana nilai-nilai budaya. Di samping itu. adat istiadat moral dan budi pekerti yang berkembang di masyarakat merupakan sumber inspirasinya. sudah seharusnya saat ini paradigma pendidikan nasional kita lebih didasarkan pada akar kebudayaan nasional yang bersumber pada kearifankearifan lokal (local wisdom). pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. Oleh karena itu. peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif komitmen terhadap NKRI.

Pendidikan Karakter 28 .

29 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER A. merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. Anak usia sekolah dasar misalnya. Makna dan Tujuan Pendidikan Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya. Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh.

Idealnya memang demikian pendidikan yang dibangun bangsa ini haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam UU sisdiknas. tawuran. Padahal. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Tatanan Orde Baru mengambil pendekatan dan strategi yang keliru dalam mengelola relasi sosio-budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. rasa malu yang kian terkikis. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. prinsip keseragaman lebih didahulukan daripada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan dan keanekaragaman. bolos sekolah. baik guru maupun sesama. Dengan 30 . budaya kekerasan di kalangan remaja. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. tandanya antara lain ialah kita masih banyak gagal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. Menurut Sukardjo dan Komarudin (2009).Pendidikan Karakter Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa pendidikan kita belum berhasil dengan memuaskan. hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pemutarbalikan makna terhadap konsep Bhinneka Tunggal Ika. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. Dengan dalih menjaga keamanan dan kestabilan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. pergaulan bebas dan sebagainya.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

kata lain, multikulturalisme tidak mendapat ruang, sementara monokulturalisme mendominasi. Bahkan dalam pandangan Suparno (2002) pendidikan di Indonesia tidak lebih seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk memanusiakan secara utuh lahir dan batin, melainkan lebih diorientasikan kepada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Oleh karenanya, menurut Soedijarto (2008) apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan bagi segenap pemerhati dan pelaksana dunia pendidikan adalah perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, karena akhir-akhir ini banyak persoalan-persoalan pendidikan yang patut menjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa global, dan lainlain. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi, nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah ternyata ada pada jiwa yang korup. Oleh karena itu, Freud menegaskan bahwa pentingnya pembinaan mental dan moral anak sejak usia dini. Karena kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan

31

Pendidikan Karakter

kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. Makna Pendidikan Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pendidikan atau mendidik sesungguhnya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowladge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan

32

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya, tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya, transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua, atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/ keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang

33

Pendidikan Karakter

tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu. Peran pendidikan dalam perubahan (agen of change) di masyarakat, tampak sebagai berikut; 1. Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi fondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat. 2. Karena pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan anak-anak, maka pendidikan akan sangat memengaruhi jiwa dan perkembangan anak serta akan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk kehidupannya kelak kemudian hari. 3. Pendidikan sebagai alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan mengemban dua tugas utama yang saling kontradiktif, yaitu melestarikan dan mengadakan perubahan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

34

” Azyumardi Azra menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. mandiri. artinya. pendidikan adalah suatu hal yang benarbenar ditanamkan selain menempa fisik. bangsa dan negara”. mental dan moral bagi individu-individu. masyarakat. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. Bahkan ia menegaskan. agar mereka menjadi manusia yang berbudaya. berilmu.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pengendalian diri. akhlak mulia. Selain itu. kreatif. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di 35 . Di samping itu. berakhlak mulia. cakap. bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran. dengan tegas menyebutkan bahwa:S “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. kecerdasan. kepribadian. sehat.

Karakteristik Sosial Budaya. dan regulasi-regulasi pemerintah lainnya. pembukaan UUD 1945. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut. Murdyahardjo (2001) menjabarkan karakteristik pendidikan nasional sebagai berikut:a.b. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan. diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Karakteristik Dasar dan Fungsi. Karakteristik Kesisteman (Sistemik). dan kebudayaan. pelestarian budaya-budaya asli dari seluruh daerah di Indonesia serta penyerapan budaya asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang berakarkan pada Bhineka Tunggal Ika. pendidikan nasional merupakan sebuah sistem yang menjadi sub sistem dari sistem kehidupan bernegara-kebangsaan untuk mencapai tujuan nasional.c. Memahami Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan 36 . yang berdasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara.d. Karakteristik Tujuan. yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan Karakteristik Pendidikan NasionalMalik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. agama.Pendidikan Karakter muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara.

dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. ketakwaan. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. Untuk mewujudkannya. ras. produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. dan gender. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan 37 . Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. etnis. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. dan kompetensi estetis. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. agama.

kebebasan. antara 38 . dan kompetensi kinestetis. antara kebebasan dan determinasi. yaitu. Alexandria. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. Mamahami Makna Pendidikan Karakter Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms. pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anakanak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. B.L McBrien & R. Dengan demikian. karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. Dengan kata lain.Pendidikan Karakter teknis. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. keberanian. kedermawanan. kecakapan praktis. seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. persamaan. diantara dalam konteks pendidikan. Brand. by J. kebaikan. Karena itu.S. VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan. dan kehormatan.

manusia mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu. dilakukan. manusia bukanlah sekumpulan masa laluku. sehingga menjadi seperti yang diinginka. manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki. Dengan gambaran manusia seperti ini. melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. 39 . Jadi. yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar hal-hal yang telah diperoleh selama ini.

kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. dimana seseorang bisa disebut orang 40 . Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. sementara orang yang berperilaku jujur. tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing).Pendidikan Karakter Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience. Peserta didik diharapkan memiliki karakter 41 . serta rasa dan karsa. Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. raga. Perbuatan/Tindakan Moral. 4) mencintai kebajikan (loving the good). Dalam pendidikan karakter. 5) membuat keputusan (decision making). Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness). Pertama. 2) keinginan (will). 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning). 2) harga diri (self esteem). yaitu: 1) kompetensi (competence). Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action. dan 6) kerendahan hati (humility).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Ketiga. Pengetahuan Moral. 3) empati (emphaty). Perasaan tentang Moral. pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati. 3) kebiasaan (habit). Kedua. dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). pikir. Dengan demikian. Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking). 5) pengedalian diri (self control). 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values).

RAGA (kesehatan dan kebersihan). PIKIR (kecerdasan). semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab). C. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter Dalam UU Nomor 2/1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. bersih dan sehat. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. cerdas. Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. peduli. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. tanggung jawab. Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. fokus 42 . serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. dan kreatif. politik tanpa prinsip/etika. Tetapi pada kenyataannya.Pendidikan Karakter yang baik meliputi kejujuran. misalnya mata pelajaran matematik. perdagangan tanpa moralitas.

karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. semua pegawai tata usaha.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan. Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat 43 . orang yang berjualan di kantin sekolah. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. semua guru. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. pesuruh sekolah. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. tukang sapu. bukan sekedar mengingatkan. Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. dan orang tua di rumah. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut.

penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. pengorganisasian. Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu 44 .Pendidikan Karakter dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Bagi Foerster. pelaksanaan. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa.

45 . memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Keempat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berubah. Kedua. antara aku alami dan aku rohani. Pertama. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Ketiga. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. kualitas seorang pribadi diukur. keteguhan dan kesetiaan. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. antara independensi eksterior dan interior. lanjut Foerster. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. otonomi. Dari kematangan karakter inilah. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. koherensi yang memberi keberanian. membuat seseorang teguh pada prinsip. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Kematangan keempat karakter ini.

dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. bertanah air. kebiasaan keseharian. Budaya sekolah merupakan ciri khas. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. positif. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Karakter 46 Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. dan landasan konstitusional UUD 1945. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia. tradisi. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928. Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila. jika mayoritas karakter masyarakat negatif. karakter atau watak. D. ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. dan masyarakat sekitar sekolah. Mereka bersumpah untuk berbangsa. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. Sebaliknya. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter.Pendidikan Karakter Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosiopolitis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. dan berbahasa satu yaitu Indonesia. karakter negatif dan .

bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. memiliki inisiatif. bekerja-sama. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. terorisme dan lain-lain. pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin. tanya jawab sehingga pada 47 . simulasi. penguatan sikap positif dan negatif. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. tindakan sosial. bisa dipercaya. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting. patuh pada peraturan. bermain peran. menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa. Hal ini cukup beralasan. Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. kekerasan. pandai berterima kasih. mandiri. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. simulasi. suka menolong dan tumbuh kasih sayang.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. penanaman keteladanan. tanggungjawab. masyarakat yang memiliki sifat jujur.

Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga. nasional. Pendek kata. khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani (conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue). dan internasional melalui adat istiadat.Pendidikan Karakter gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya. 1. hukum. 4. tujuan dari pendidikan karakter (Nurul Zuriah. undang-undang. 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti. 3. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini. lokal. dan tatanan antar bangsa. 48 . 2. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya.

baik dari segi agama maupun akal yang lurus. mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. F. Terapi kognitif Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir Langkah : • Pengosongan. kegunaan pendidikan yang berbasiskan pada pengembangan karakter anak antara lain. Kegunaan dan Fungsi Pendidikan Karakter Menurut Cahyoto (2001: 13). 49 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif E. menyimpang. Anak memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan. 3. Tiga Langkah Merubah Karakter 1. Anak dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti. 1. 4. Anak memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari-hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara. berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah. Anak dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral. 2. tidak berdasar.

dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa. logika baru. • 50 . arah baru. berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita • 2. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita • Penguatan. dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah • Kontrol. Terapi mental Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. yang membentuk kesadaran baru. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan. kemauan. sebelum kita melakukan suatu tindakan. berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita. yaitu arah yang akan menentukan motifnya.Pendidikan Karakter Pengisian. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis Langkah : Pengarahan. berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh • Doa. berarti mengisi kembali benak kita dengan nilainilai baru dari sumber keagamaan kita. berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol. berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to 51 .that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter Pentingnya pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter anak telah banyak diungkapkan oleh para orang bijak. penguatan.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). dan pengendalian bagi mental kita • 3. berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita • Doa. Perbaikan fisik Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasardasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan • Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup • Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh • G. Di antaranya Mahatma Gandhi tentang salah satu tujuh dosa fatal.

baik dan rendah hati. Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal.Pendidikan Karakter society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. cinta damai dan persatuan. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. percaya diri. rasa hormat dan perhatian (respect). Oleh karena itu. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. keadilan dan kepemimpinan. dan kerja sama. character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. jujur (fairness). tanggung jawab. kreatif. 52 . disiplin dan mandiri. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. tanggung jawab (responsibility). jujur. dan toleransi. kerja keras dan pantang menyerah. tekun (diligence) dan integritas. kewarganegaraan (citizenship). hormat dan santun. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. kasih sayang. peduli. berani (courage). dapat dipercaya (trustworthiness). pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. Sementara itu. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. ketulusan (honesty). peduli (caring).

integritas. Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. pendidikan 53 . Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. pertimbangan moral. toleransi. kesopanan. keberanian. dan pengetahuan diri tentang moral. pembuatan keputusan yang matang. keadilan. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah. simpati. sikap bertanggung jawab. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif. dan disiplin diri. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. Lebih spesifiknya. kesetiaan. menghormati harga diri individu. ketekunan. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. seperti kejujuran.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif moral dan tanggung jawab. masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. pengendalian diri. menurut Dr Thomas Lickona.

terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity). sangat memedulikan tentang yang benar. Anak didik bisa menilai mana yang benar. memedulikan. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya. (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen). (3) bertanggungjawab (responsible). Implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif. dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam.Pendidikan Karakter yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. 54 . afektif dan psikomotor. diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut. (4) adil (fair). Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi. (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect). dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Menurut Endang Sumantri (2010) bahwa dalam pendidikan karakter. Lebih lanjut.

hukum dan tata tertib Mencintai tanah air Demokrasi Mendahulukan kepentingan umum Berani Setiakawan/solidaritas Rasa kebangsaan Patriotik Warga negara produktif Martabat/harga diri bangsa Setia/bela negara Toleransi dan Itikad baik Baik hati Empati Tata cara dan etiket Sopan santun Bahagia/gembira Sehat Dermawan Persahabatan Pengakuan Menghormati Berterima kasih Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 55 .IDEOLOGI (RELIGION) (CULTURE) AGAMA BUDAYA (IDEOLOGY) • • • • • • • • • • • • Iman pada Tuhan YME Taat pada perintah Tuhan YME Cinta agama Patuh pada ajaran agama Berahlak Berbuat Kebajikan Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain Berdoa dan bertawakal Peduli terhadap sesama Berperikemanusiaan Adil Bermoral dan bijaksana • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Dispilin.

yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). Beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter. (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. diantaranya: a. Bapak Pendidikan Nasional. atau siswa hanya sekedar “tahu”. berwibawa. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. menjadi teladan bagi peserta didik).Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo. telah menekankan pentingnya ketauladanan. Karena seringkali orang tahu belum tentu paham. Alangkah naifnya. Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Ki Hajar Dewantara. arif. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. berakhlak mulia. yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya).Pendidikan Karakter Pola pengajaran pendidikan karakter sudah semestinya tidak terjebak pada tradisi hafalan. sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala. jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. 56 . orang paham belum tentu melakukan/berbuat.

Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. 57 . ketakwaan. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Mata Pelajaran Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. keimanan. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. panggilan jiwa. Maka. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenagan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. b. minat. jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. terutama kompetensi kepribadian dan social. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. good teacher explains. great teacher inspires’. Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) Memiliki bakat.

dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Selain itu. dieksplisitkan. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan.Pendidikan Karakter dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. pola tutur kata. Artinya. 58 . sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. aktifitas di kelas. semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. tetapi menyentuh pada internalisasi. dan sebagainya. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Dengan demikian. kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. Namun. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek. c. pemberian materi atau kisahkisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan.

nilai-nilai yang perlu ditanamkan. bakat. dan komponen terkait lainnya. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan dalam setiap lini pendidikan. Dengan demikian. Dengan demikian. muatan kurikulum. serta potensi dan prestasi peserta didik. tindakan (acting). Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. pendidik dan tenaga kependidikan. dilaksanakan. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. penilaian. pola pembinaan kepribadian dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge). baik di lingkungan 59 . dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. pembelajaran. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. potensi. perasaan (feeling).

60 . memahami hak dan kewajiban. Dengan begitu. Landasan paling ideal dalam pendidikan karakter adalah nilai-nilai iman dan takwa. dan persekolahan. masyarakat. disiplin dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. diharapkan siswa menjadi sosok yang mampu mengembangkan kepribadian dan memiliki karakter yang tangguh.Pendidikan Karakter keluarga. bertanggungjawab. mandiri.

Krisis moral secara meluas. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Sadisme. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). 61 . Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. Problematika Pendidikan Moral di Indonesia Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik). Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMBANGUNAN MORAL BANGSA A.

sensual. erotik. moral akhlak. eksotik. menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton). dicicipi. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Budaya sensatehttp://buyamasoedabidin. rakus. erotik. 62 . cinta mode. mengutamakan kesenangan badani (jasmani). pergaulan bebas sex. adat luhur. mencari jawaban dari paranormal. Seni dibungkus selimut art for art’s sake. seronok. horor. boros. dirasa.wordpress. Orientasinya hiburan melulu. terlepas dari kawalan agama.Pendidikan Karakter Fenomena dunia pendidikan juga akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan yang tajam. di sentuh. dan tercerabut dari budaya dan nilainilai normatif lainnya. night club. menyelami black-magic dan mempercayai mistik. Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. di dengar._ftn1 memuja nilai rasa panca indera. yang lazimnya melahirkan klub malam.com/ wp-admin/ . dengan tumpuan kepada sensual. dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. ilmu dan filsafat. kecabulan pornografi nyaris tak terbendung. kasino dan panti pijat. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. Tawuran antar pelajar.

lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. mandiri. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. kecanduan narkoba. kesukaan judi dalam urban popular culture. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan berbasis karakter pada dasarnya telah sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3. berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). musro. cakap. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. 63 . berakhlak mulia. minuman keras. geng motor. kreatif. sehat. nyontek saat ujian. dan sejenisnya. yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berilmu. worldwide sing. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities.

tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas. 64 . dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sudah seharusnya pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. Permasalahannya. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN.Pendidikan Karakter Pembinaan karakter sesungguhnya memiliki urgensitas yang sangat tinggi dalam membagun moral anak bangsa.

dan tidak membantah. Namun. dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. dan konstruktif. berani mengambil inisiatif. guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. Hilangnya nilai-nilai kejujuran. berani mengusulkan alternatif. karakter anak tidak akan berkembang. baik di keluarga. yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat. tenggang rasa. Menurut Franz Magnis-Suseno. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri. dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik. menggunakan pendekatan yang tajam. tetapi juga benar. positif. sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang 65 . anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani.. integritas. Kalau kita mengharapkan karakter. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri.

penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. 66 . istiqamah pada agama yang dianut. 1. luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. dan profesi guru dilecehkan. hilangnya wibawa ulama. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan.Pendidikan Karakter mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. Krisis Moral dan Kepribadian Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. impotensi dikalangan pemangku adat. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. berkembangnya kejahatan orang tua. pola dan politik pendidikan. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif teguh politik. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. Adapun di antara penyebab terjadinya krisis moral adalah : 1. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral 4. Hilangnya model kepribadian yang integral. kebaikan dengan kekuatan. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai. yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral 67 . kukuh ekonomi. misalnya etika dan estetika 2. dan seterusnya 3.

yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. 2. 3. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. teknologi. budaya. tidak demokratis. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. tidak berori- 68 . ekonomi. krisis nilai. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan.Pendidikan Karakter Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. sosial. Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. ilmu pengetahuan. 4. 5. politik dan agama. guru dan tokoh agama pada mimbar-mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa.

membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. jika suatu bangsa ingin bertahan hidup. Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. aturan dalam berlalu lintas. 1992). maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar. perlu ada etika dalam bicara. sehingga hancurlah bangsa itu. dan aturan-aturan sosial lainnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif entasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masingmasing tanpa harus mempedulikan orang lain. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta. apa yang patut dan tidak patut. apa yang adil dan apa yang tidak adil. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal. saling menyakiti. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. yaitu terjadinya pergeseran 69 . 2. Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. bahkan saling membunuh. Jika tidak. Oleh karena itu. Namun.

Hal tersebut.Pendidikan Karakter terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. dan golongan seakan masih menjadi prioritas. kurangnnya keteladanan para pemimpin. 70 . Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. kepentingan kelompok. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. kejujuran. merusak lingkungan. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. nilai solidaritas sosial. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. lemahnya budaya patuh pada hukum. sopan santun. identitas ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an. Perilaku korupsi masih banyak terjadi. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. musyawarah mufakat. kekeluargaan.

pergaulan bebas. agama. Untuk itu. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. 71 . globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. baik dalam cara berpakaian. bertutur kata.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Berdasarkan indikasi di atas. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak tehadap ideologi. dan pola hidup konsumtif. diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia.

dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi. memiliki kesamaan nasib. 72 . serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. nilai-nilai. kemampuan. potensi. kolusi. Disorientasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. bakat. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar negara. keturunan. adat dan sejarah Indonesia. bahasa. dan hubungan antara manusia dengan manusia.Pendidikan Karakter 4. asal. kesukaan. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. merasa dirinya bersatu. Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. kebiasaan. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

B. Pendidikan Karakter: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif

Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik. Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Didalam pembinaan perilaku dan etika, para siswa ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika, siswa dilarang untuk mencuri, berbohong, menyontek karena melakukan perbuatan tersebut, kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat,

73

Pendidikan Karakter

maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.
74

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk

75

Pendidikan Karakter

mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilainilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terban-

76

persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologihttp:// buyamasoedabidin. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. keterampilan dan pemantapan strategi. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. 3. Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek. Konsep-konsep visi. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan.com/wp-admin/ . informasi elektronik dan digital.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif gunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). Perkembangan cyber space.wordpress._ftn5 dengan memberikan penekanan kepada : 77 . demokratis. internet. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. misi. lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil. 2. Oleh karena itu.

Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda 78 . acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. yang akan menjadi kekuatan moral. Revitalisasi pendidikan agama. penghormatan terhadap orang tua. Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. Rumusan ulang kiblat (arah). keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. masyarakat. 4. rumah tangga). 2. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. budi pekerti. kebebasan. muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. 3. Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak.Pendidikan Karakter 1. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. adab percakapan ditengah pergaulan. 5.

Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia. C. yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas. pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah. ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. Dengan kata lain. semakin menunjukkan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter terhadap anak memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya. bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini. Pembinaan Karakter Anak Sejak Usia Dini Berdasarkan tahap perkembangan. 1981). maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - 79 . 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. White (dalam Hurlock. Selanjutnya.

Membiasakan Bicara dengan Baik. maka anak akan menjadi generasi pendusta. d. tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. orang tua dan lingkungan sekitar. Membiasakan Kejujuran. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua. teman.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 80 . Apabila aspek ini diterapkan.Pendidikan Karakter nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). yakni. b. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan. Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. Karena keberhasilan dalam mewujudkan pendidikan karakter menitik beratkan pada ke tiga elemen tersebut. a. Membiasakan meminta Izin. Membiasakan Keadilan. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. c. Apabila aspek ini diabaikan. Untuk itu pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari segenap elemen baik pendidik. Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. saudara.

Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif individu lain. Memberikan Penghargaan. tidak sambil bersandar. Membiasakan Kasih Sayang. dan katakata. tidak boleh mencela makanan. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. Maka dari sifat jujur. pujian. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. 81 . Ajari Anak Berperilaku Jujur Jujur dapat diartikan sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. tepuk tangan. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. dan tidak boleh berlebihan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. h. makan dengan tangan kanan. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ’Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. Membiasakan Bergaul yang Baik. f. dan dengan elemen sekolah. g. Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. e.

qana’ah. seperti: sabar. ijlal (membesarkan). yang memberikan ketenangan kepada pendengar. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: 1Kejujuran hati dengan iman secara benar. karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang baik. mahabbah (cinta). Dan di antara tanda dusta adalah 82 . kuatnya hati. dan ta’dzim (pengagungan).Pendidikan Karakter tercabang beberapa sifat. haya` (malu). zuhud. bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya. 3 Katakata yang benar dalam ucapan. 2 Niat yang benar dalam perbuatan. Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat. serta berusaha mengamalkannya. maka ketahuilah sesungguhnya ia berada di atas bahaya besar. Dasar pada lisan adalah memelihara dan menjaga. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian. atau dengan mengutip berita seseorang yang pendusta –sedangkan dia mengetahui-. sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi. dan ridha. dan jelasnya persoalan. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya adalah lebih taqwa dan lebih wara’. khauf (takut). maka ia termasuk salah seorang pembohong. seperti: yakin. saat ia tidak mendapatkan pembicaraan. Maka apabila engkau menemukan seseorang yang tidak perduli terhadap omongannya dan banyak bicara. Setiap akhlak yang baik. Karena banyak bicara merupakan tempat terjerumus dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Jelas. dusta pada anak disebabkan oleh dua faktor tersebut atau salah satunya: • Rasa takut dan khawatir. spontanitas.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif ragu-ragu. Berawal dari keinginan atau kekhawatiran tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan daya imajinasi sang anak. ketidakpekaan dengan norma-norma masyarakat serta aturan agama. dan bertentangan. bingung. Penyebab Anak Berdusta Salah satu dari keistimewaan jiwa manusia adalah bahwasanya jiwa tersebut dipengaruhi ileh keinginan-keinginan dan kekhawatiran baik anak-anak maupun orang dewasa. dan selalu memantau seluruh interaksi dan berupaya untuk menghilangkan kekhawatiran si anak. yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang. gagap. ingin memiliki atau ingin bersahabat dengan siapa saja atau cinta kekuasaan dan keinginan-keinginan yang lainnya. Seperti umpamanya keinginan untuk puas. Orang dewasa menyatakan keinginan dan kekhawatirannya dengan ucapan dan perbuatan sementara kalau anak-anak telah terbiasa berdusta dalam ucapannya. Atau menghilangkan rasa kekhawatiran anak dengan memenuhi keinginannya dengan tindakan-tindakan yang nyata 83 . seperti misalkan takut akan sangsi atau takut akan kewajiban atau khawatir dengan kebodohan seperti dizhalimi atau pun difitnah • Keinginan untuk merealisasikan suatu keinginann atau maksud. Oleh karena itu tak ada alas an bagi para juru pendidik terutama orang tua untuk mempelajari keinginan-keinginan si anak.

Namun kejadiankejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata. atau tidak beraturan. Jadi intinya dusta itu lahir dari kebiasaan yang terus berulang-ulang. dan menjadi relitas yang sesungguhnya. melainkan ia tercipta dan terbuntuk dalam diri manusia karena kebiasaan yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan kita telah tahun bahwasanya kejujuran lebih menunjol ketimbang dengan dusta itu sendiri. Dan yang terakhir dengan mengaitkan semua itu dengan dosa dan pahala. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya 84 .Pendidikan Karakter dengan tetap dalam koridor-koridor social. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: • Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta. Pada dasarnya memang dusta itu sendiri adalah bukanlah seseuatu yang fitrah. Jelas sekali ini adalah contoh yang baik terhadap masa depan karakter sang anak. Sebagai juru pendidik harus berupaya untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang telah tertanam dalam diri anak. serta rambu-rambu agama. seperti dusta dengan cara memotivasi sang anak dengan perbuatanperbuatan nyang baik seperti misalkan dengan kejujuran.

Bagi anak. berjingkrak dan bermain. Seperti itu pula. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian temantemannya. Dan ketika ia bangun. Dan dakwa ini dianggap dusta. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. • Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. padahal sebenarnya tidak. • Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai bendadenda mati lainnya. seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata. Padahal is tidak memilikinya. sehingga dia menjadi pusat perhatian. mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. 85 . pakaian yang bagus. atau pun yang lainnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap dusta karena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. ketawa. ia makan.

tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan. • Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain. hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya. Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guruguru sekolahnya. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan 86 . Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar. • Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar. atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah. misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar.Pendidikan Karakter terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya. tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. • Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya dusta pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya. Inilah yang dikatakan egois. Seorang anak memaparkan beberapa pengakuan yang bukan sebenarnya. Namun demi sangbuah hati menjadi insan yang baik dan bisa dijadikan panutan serta harapan masa depannya maka mau tidak mau kita harus terus aktif dalam mengawasi terjadinya dusta ini. Apalagi telah menjadi kewajiban kita bersama untuk menggiring anak-anak kita kepada hal-hal yang baik demi menyelamatkan dirinya dikemudian hari. • Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Dan jelas sangat sulit untuk mencari terapinya. Mendidik Anak Untuk Jujur Apabila seorang anak berdusta sebagai akibat dari cara yang telah diterapkan di rumah maupun di sekolah salah. sejal ini harus dirubah agar tidak berkibat fatal terhadap pertumbuhan si anak. hingga dia terdorong untuk balas dendam. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga. Demikianlah berbagai gejala terciptanya seorang anak bisa berdusta. Hal ini dipicu dengan keseriusan akibat dusta itu sendiri yang juga berimplikasi kepada lahirnya penyakit-penyakit yang sangat buruk. Adapaun cara-cara yang bisa sebagai berikut: 87 . sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya.

kebutuhan serta keinginan-keinginan sang anak. Bahkan dalam Islam menolak terhadap cara keras dalam memberikan hukuman kepada anak.Pendidikan Karakter • Keras dalam menjatuhkan sanksi kepada anak • Memanjakan anak • Memberikan keistimewaan terhadap beberapa orang anak a. karakter. Keras dalam menjatuhkan sanksi seorang guru atau orang tua yang suka menjatuhkan hukuman keras atau memberikan sanksi terhadap sang anak yang telah berbuat salah. buruknya pemahaman terhadap kondisi jiwa sang anak. bisa mengobati kekerasan ini apabila ia memahami beberapa hal berikut: • Mengetahui terhadap hakikat kekerasan itu sendiri • Bahaya serta akibatnya • Cara merubahnya Hakikat kekerasan dalam menghukum anak adalah termasuk dari penyimpangan tingkah laku seorang juru didik. Rasulullah SAW bersabda: 88 . Islam menganggap bahwasanya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dan keburukan-keburukan pada anak itu merupakan sesuatu yang datang belakangan. tidak adanya kemampuan dan penghormatan terhadap anak. dan juga ketidaktahuan terhadap cara-cara yaqng benar dalam mendidik anak atau mengatasi permasalahan yang diperbuat oleh anak.

Dia mengaruniakan kelembutan dan bukan kekerasan. melainkan Islam menganjurkan agar kita ramah dan lembut dalam memperlakukan anak. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia mencintai kelembutan. Dan Dia tidak mengaruniakan sesuatu selain itu” (HR Al-Bukhari) Sudah jelas kalau cara kekerasan dalam mendidik anak itu tidak baik untuk diterapkan oleh seorang guru atau orang tua. Sesungguhnya kekerasan dan memukul anak dengan berlebih-lebihan itu adalah akan menimbulkan kecendrungan permusuhan bagi akal sang anak. Jadi cara-cara hukuman keras terhadap anak itu harus durubh demi perktumbuhan mentalitas sang anak. mental. Bahaya dari sanksi keras Kekerasan adalah memiliki efek negative bagi bertumbuhan anak baik secara fisik. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi. atau malah menggangu terhadap mentalisan kejiwaan sang anak menjadi kerdil 89 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif “Tiada seorang pun yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. atau menashikannya atau pun menjadikannya seorang Majusi”. (HR Al-Bukhari) Oleh karena itu Islam tidak menerapkan hukuman dalam mendidik anak atas dasar hukuman dengan kekerasan. Karena cara kekerasan itu tidak diajarkan oleh Islam. serta akal dikemudian hari. Sebab cara kekerasan itu hanya akan mendatangkan keruwetan dan gangguan jiwa.

membuatnya suka berdusta dan suka berbuat jahat. takut kepada yang lain. niscaya kekerasan itu akan menyerangnya dan jiwanya menjadi sesak serta akanmmenggiringnya menuju kemalasan. Dan kekerasan itu sekaligus mengajarkan untuk menipu dan hingga semua itu menjadi kebiasaan tingkah lakunya. seperti indra penglihatan. Ibnu Khaldun dalam kitab disarat turatsiyyah fit-Tarbiyati al-Islamiyah mengatakan: barang siapa yang dididik dengan cara kekerasan oleh seorang guru dengan sewenang-wenang.Pendidikan Karakter Dampak dari memukul anak Berlebihan dalam menjatuhkan sanksi pukulan kepada anak hanya akan berakibat kepada gangguan kesehatan fisik. Dan biasanya juga hilangnya indra perasa itu sendiri baik secara keseluruhan atau hanya sebagian saja. pendengan. atau boleh jadi 90 . atau sering kali terlambat datang kerumah. Bahkan terkadang menjadikannya berlaku denki. sering kali membuat alasan yang dibuat-buat. semburu. seperti lemah atau kurangnya ingatan dan bahkan bisa idiot. atau malah terkena penyakit saraf. suka memusuhi dan suka menantang serta menciptakan bentuk perilaku ini sampai datang masa dewasa. Sementara dapak dari pikiran yang ditimbulkan akibat dari sanksi kekerasan yang berlebihan. Dampak fisik akibat dari pemukulan yang berlebihan adalah kemungkinan hancurnya anggota tubuh tertentu. Dan akibatnya bagi jiwa adalah perasaan rendah diri. takut menghadapi tantangan. Sementara pengaruhnya bagi hubungan social adalah bisa kabur dari rumah. lecet atau luka serta kelumpuhan. Dan akhirnya rusaklah arti nkehidupan baginya. akal jiwa.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tidak pulang kerumah hanya gara-gara takut terhadap hukuman orang tua. Namun sebelumnya itu ada beberapa syarat dan kriterianya: • Diperlakukan masa pemangguhan. Bahakn dia akan kerap kali mengasingkan diri. • Jangan berdalih dengan istilah “perdamaian” sedangkan ia dalam kondisi marah dan kehilangan kesabaran atau tengah berada dalam kesusahan dengan mengeraskan 91 . durhaka. maka dalam merubah cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah tertentu. Syarat dan kriteria merubah kekerasan sehubungan dengan kekerasan dalam menjatuhakan hukuman terhadap anak. dan sok jadi jagoan kepada yang lain Merubah cara kekerasan dalam menjatuhkan hukuman 1. dimana anak senantiasa berbuat dusta atau ia malah menampakkan pemberontakannya serta tidak keras kepala. Akan tetapi tetap untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. • Hendaknya seorang pendidik tidak berpindah kelangkah berikutnya kecuali ketika telah terbukti kegagalannya. agar seorang guru atau orang tua tidak terburu-buru untuk berpindah dari satu langkah ke langkah yang lain secara langsung. • Jangan sampai memfitnah anak hanya gara-gara untuk memperlihatkan ketidaksadaran dengan perbuatan si anak. atau malah membangkang.

Tidak boleh seorang pendidik itu mengulang-ngulang dalam menyebutkan kesalahan anak dengan berkali-kali. maka pendidik boleh memukulnya asalkan sekedarnya saja. Baru kalau misalkan si anak mengulangi perbuatannya. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan bisa mengontrol suasana serta memperlakukan dengan baik. Hendaknya seorang pendidik itu tidak menganggap enteng terhadap langkah-langkah apabila hal itu dibutuhkan.Pendidikan Karakter • • • • suara. yaitu berdusta. 2. Hendaknya sanksi yang dijatuhkan oleh pendidik itu harus sesuai dengan umur dan pikirannya. Langkah-langkah dalam merubah kekerasan dalam hukuman Merubah kekerasan dalam sanksi hanya bisa dilakukan dengan empat tahap: • 92 Nasehat dan peringatan Nasehat dan peringatan yang bertumpu pada argumentsi dan contoh-contoh konkrit akan memuaskan bagi anak. Hendaknya seorang juru didik itu selalu memotivasi dan mengintimidasi di tiap kesempatan dengan disertai kewajiban untuk menempati janjinya. Dengan syarat dilakukan dengan lembut dan kasih sayang dan seabar serta memotivasinya jika ada .

• Celaan Celaan merupakan selaan yang ditujukan seorang pendidik kepada anak yang tidak mendapatkan peringatan atau nasehat. Peringatan bisa dilakukan dengan tidak memperbolehkannya. Tak lupa seorang pendidik harus selalu memperingati untuk meninggalkan dusta dengan menjanjikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya dan pengetahuaanya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif respon atau memperingatinya kalau tingkahnya tidak kunjung berubah. Namun terlebih dahulu pendidik memberikan nasehat kepadanya. Dan seharusnya pendidik memujinya dalam kebenaran. Dan apabila itu pun kalau ada. Memang sudah menjadi tugas seorang juru didik untuk mendengarkan keluhan atau keberatan anak yang kemudian harus dipertimbangkan kembali oleh pendidik itu sendiri. memutivasinya. seperti mainan atau yang lainnya. atau menunda-nunda membeli sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang tidak mendasar pada dasar dalam kehidupannya seperti mengharamkan duduk bersama para tamu undangan dalam jangka waktu pendek. karena memang seorang juru didik itu harus mengingatkan anak dalam 93 . Dalam halm ini pendidik harus bisa berdialog dengan berbagai referensi dan contoh konkrit untuk memperkuat pendapatnya. dan mencela bila ia berbuat tidak baik. keduanya juga tidak bermamfaat baginya Dalam langkah ini pendidik berusaha mengingatkan anak yang telah berbuat dusta.

yakni berbuat dusta.Pendidikan Karakter bentuk apapun selagi bisa diterima akibat perbuatan anak. • Memukul anak Memukul adalah solusi terakhir untuk mengobati dusta. Dan hendaknya pendidik itu tidak memukul dengan menggunakan sesuatu yang keras seperti besi atau bendabenda lainya atau dengan menggunakan benda berat serta pada bagian tubuh yang rawan. • Kecaman Kecaman merupakan langkah selanjutnya kalau memang tidak ada perubahan pada diri sang anak. perlu diperhatikan bahwasanya pukulan disini bukanlah pukulan karena marah. Dan dia juga harus memberikan contoh-contoh serta kometmen dengan syarat-syarat dan rambu-rambu perubahan sebagaimana telah kami sebutkan dibagian awal. Bahkan boleh saja dalam tahan ini seorang juru didik itu melakukan gertakan (namun tidak berlebih-lebihan) sebagai lambang ketegasan seorang pendidik kepada sang anak. pukulan yang dimaksud disini adalah pukulan yang tidak menyakitkan dengan tujuan untuk mendidik sifat buruk yang terdapat dalam diri anak. 94 . Dan langkah ini dapat diterapkan kalau sekiranya sang anak tetap mengulangi tingkahlakunya yang buruk itu. biar si anak sedikit mempunyai rasa takut untuk mengulangi perbuatannya. Dalam tahap ini.

Jelas perbuatan itu bisa merusak terhadap pendidikan anak. Sementara sudah jelas bersenag-senang yang berlebihan itu dicela dalam agama.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Semua tahapan ini adalah tahan ganti dari metode yang keras yang telah diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik sang buah hati dengan tujuan yang positif bagi masa depan sang anak. 3. Artinya membiasakan anak untuk hidup susah dan mencukupkan fasilitas kehidupan yang mendorong manusia 95 . Al Furusiyyah bahwa Umar bin Khatthab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata. (HR Imam Ahmad) Hidup dengan penuh perjuangan dituntut dalam pendidikan. karena sesungguhnya itu adalah tempat mandi orang-orang Arab dan contoh kebiasaan Ma’ad bin Adnan yang merupakan kebiasaan orang-orang Persia dan biasakan hidup dengan penuh perjuangan”. Ungkapan ini juga dikuatkan oleh salah satu sabda Rasulullah SAW yang berbuyi: “Jauhilah olehmu sikap bernang-senang. Ibnul Qayyim berpendapat dalam kitabnya. “Jauhilah olehmu sikap bersenang-senang berlebihan. karena hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”. mudah berprasangka dan hendaklah anda mandi ditempat jemuran matahari. Dalam prakteknya memanjakan anak berarti memberikan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Memanjakan Anak Memanjakan anak berarti mencintai anak dengan berlebihan dan memberikan simpati berlebiha kepada anak.

Untuk itu Ibnul Qayyim berwasiat. 2. Inilah beberapa pengaruh buruk yang diakibatkan memanjakan anak: 1. Memang sudah sepantasnya hidup penuh perjuangan menjadi landasan hidup. Merusak kehidupan anak Orang tua akan menyayangi anak yang dimanjakan misalkan dengan berupa makanan. Dampak Memanjakan Anak Memanjakan anak dapat memberikan berbagai dampak negative yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak.Pendidikan Karakter itu untuk mengerahkan segenap upaya diri untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa didukung dengan fasilitas penunjang. “Sesungguhnya hidup bersenagsenag itu akan menjadikan jiwa bertingkah seperti perempuan. Ini berarti secara tidak langsung telah mengajari anak untuk bersenang-senang. Dan orang yang suka bersenang-senang semata akan mempunyai sikap akan selalu menguntungkan dirinya sendiri. Dan dampak negatif ini akan dapat merusak kejiwaan yang ada sehingga menhancurkan terhadap masa depannya. pakaian dan lain-lain. Sedangkan perempuan dan malas itu menjadikan seseorang bersenag-senang. Maka para pendidik yang berjalan di atas landasan ini memberikan dampak positif anak. bercita-cita. . Dan akibat dari semua ini akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak serta mendorongnya untuk selalu bersenang-senang. mainan. Dampak dari memanjakan anak berlebihan 96 Seorang anak akan lemah berkemauan.

dan belum dibebankan untuk memenuhi kewajiban dan semacamanya dikarenakan khawatir sesuatu akan 97 . Bahkan terkadang seorang ibu itu bangga dengan apa yang telah diperbuat oleh sang anak dengan dalih dia masih kecil yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik. Memanjakan anak sama dengan menanam ego dalam diri anak Umumnya semua ini dikarenakan oleh cinta ibu yang berlebihan. Jadi tidak ada yang dipuji dari sang anak selain dia telah menunjukkan dari karyanya. menulis dengan baik. Contoh lain misalkan nilai yang diraih oleh sang anak dalam beberapa nilai ujian dan perlu diteliti lebih lanjut. 3. misalnya kebanggaan seorang bapak atau ibu dengan hasil karya sang anak. Sementara ibu tetap menganggap enteng dengan sanksinya tatkala sang anak berbuat tidak baik. Jelas cara semacam ini membuat anak ketergantungan lagi lemah Orang tua yang adil tentu akan mencari tahu daftar kepribadiaannya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif berkarakter dan berpikir disebabkan karena orang tua terlalu berlebihan dalam memuji anak dengan berlibihan dan hal tersebut terjadi berkali-kali. Ia pun mencari tahu tentang beberapa lembar surat teguran dari sekolah kepada bapak terkait anaknya yang memiliki suatu kesalahan sehingga cara pandang bapak tersebut berubah dan ia pun tidak lagi memanjakan anaknya. melukis. dimana seorang ibu memenuhi semua permintaan anak. hingga anak tersebut melakukan hal-hal yang buruk tanpa mengkhawatirkan akibatnya.

“Sesungguhnya tindakan memanjakan anak dengan kasih sayang yang berlebihan dapat mengakibatkan kegilaan”. 4. menipu itu disebabkan oleh banyaknya anak meminta keperluannya dan menjadikannnya beberapa permintaannya menjadi aneh dan tidak bisa ditolak. dan tidak ber- 98 . serta tidak lagi takut pada peringatan dan ancaman. agar orang tuanya memahami dan mengabulkan permintaannya. memperingati kepada para bapak dan ibu pendidik akan bahaya yang ditimbulkan dari metode yang salah serta dampak buruknya terhadap perkembangan sang anak. Dan dalam mengobati kemanjaan anak dapat dilakukan dengan beberapa hal dibawah ini. 1. 2. Dalam hal ini Hanif Hasan mengatakan dalam bukunya yang berjudul mendidik anak kita. hingga anak tersebut menjadi pembangkang. Menyarankan kepada para pendidik untuk seimbang dalam mendidik antara akal dan perasaan.Pendidikan Karakter menimpanya. Memanjakan anak bisa membuat anak cenderung bertingkah buruk Pada umumnya sikap berdusta. Ibu tersebut selalu beranggapan bahwasanya dirinya merasa perlu untuk mewujudkan semua kemauan si anak tanpa merasa terhalang. berwatak keras dan tidak mau mendengarkan nasehat. Anak pun beralih berdusta ketika ditanyai tentang tujuan dari permintaanya.

yang kemudian akan menimbulkan terhadap membentukan karakter si anak nantinya. Intinya bahwasanya memanjakan anak itu adalah merupakan metode yang keliru. Sebab metode ini mengandung unsur pendidikan yang buruk. 3. 4. dimana kewajiban ini tidak dituntut dari selain keduanya. Sebagaimana dalam logika hikmah seorang anak diwajibkan untuk melakukan intropeksi diri ketika seorang anak telah melakukan kesalahan. Mengingatkan kedua orang tuanya bahwasanya memanjakan anak itu telah berarti mengabaikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. karena kebiasaan memanjakan anak itu akan berakibat fatal terhadap masa depan anak 5. Memberitahukan pendidik bahwa memanjakan anak berarti menyia-nyiakan logika hikmah dalam mengawasi anak karena menghalangi logika hikmah antara anak dan perbuatan di telah dilakukannya. Pendidik melarang perbuatan yang dapat membahayakan dan memboleh yang tidak membahayakan. dan suka berdusta bila suatu waktu keinginannya tidak terpenuhi. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus berbuat adil pada 99 . Memberitahukan kepada orang tuanya untuk tidak memanjakan anak sejak kecil.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lebihan dalam memuji atau menjatuhkan hukuman pada si anak. Mengajari Anak Berlaku Adil Dalam ajaran Islam dengan tegas melarang untuk membedabedakan di antara anak-anak kita dalam bentuk apapun.

lalu ia tidak menguburkannya hidup-hidup.Pendidikan Karakter siapapun apalagi pada anak sendiri. Lantas kemudian Rasulullah membalas dengan perkataan. Rasulullah SAW telah menyerukan kepada kita untuk berbuat adil dalam memberikan uang belanja dalam salah satu haditnya yang berbunyi: “Berbuat adilah kalian di antara anak-anak kalian dalam memberi belanjanya” (HR Al-Bukhari) Dari Nu’an bin Basyir. Maka bapak Nu’an bin Basyir menjawab. perlakuan maupun dalam pembagian harta peninggalan (warisan) dari keluarganya. niscaya Allah anak memasukkannya ke surga”. baik dalam memberikan belanja. bahwasanya bapaknya pernah didatangi oleh Rasulullah SAW. kemudian ia berkata. “kembalilah kepadanya”. “Sesungguhnya aku telah memberikan semua ini untuk anakku”. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki anak perempuan. (HR Abu Daud) Dalam hadits di atas berlaku baik dalam hal memberi. 100 . Rasulullah SAW bersabda. dia tidak melecehkannya dan tidak mendahulukan kepentingan anak laki-lakinya di atas keperntingan anak perempuan. “Tidak”. warisan cinta dan lain-lain (dalam segala hal kebaikan). Nabi juga telah menjanjikan bagi orang-orang yang berbuat adil kepada anak-anak mereka dengan surga. “Adakah anda telah memberikan seperti ini kepada masingmasing anak anda?..

sekalipun ada dorongan untuk selain itu. Islam mewajibkan keadilan di antara umat islam dan lainya dalam segala hal. 1. melarang untuk mendekati hal-hal yang tidak baik. maka kenapa tidak menjadi wajib bagi orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. sementara mereka masih dalam satu naungan keluarga bahkan agama. Berlaku adillah. karena adil lebih dekat kepada takwa. Bahkan semua ini akan membentuk kolusi sebagai mereka melawan sebagian yang lain disaat rasa iri hati itu telah berkobar dalam jiwa 101 . Allah SWT berfirman: “Dan jangan sekali-kali kebenciannmu terhadap sesuatu kaum. serta iri hati antara anak yang lebih diintimewakan dengan anak yang diperlakukan sewajarnya. Dan bertakwalah kepada Allah. membeda-bedakan anak berarti orang tua atau juru didik telah membentuk jiwa anak dan menanam perasaan dengki. dan sebaliknya. Apabila Tuhan memerintahkan berbuat adil antara sesama umat islam dan musuh-musuh yang mereka benci sebagian berntuk dari kewajiban. Dan akibatnya di antara mereka akan terjadi perselisihan. seperti kemarahan yang amat sangat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Dampak Daripada Membeda-Bedakan Anak Sudah jelas sekali bahwasanya Islam menyruh kepada seluruh umatnya untuk selalu membawa sesuatu kepada kebaikan. sesungguhnya Allah Maha Mengetahi apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Maidah 8). mendorong kamu untuk berlku tidak adil. kebencian. Ada beberapa dampak buruk akibat dari prilaku membedabedakan kasih sayang kepada anak-anak tertentu.

Mutawalli berkata. Kalau sang bapak telah mengistimewakan beberapa orang anak berarti ia telah mendorong sebagian dari anaknya untuk membencinya. maka kasih sayang dan kesatuan di sini tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka. Sementara Nabi Yusuf masih berada di fase yang membutuhkan kasih sayang dan cinta. Salah contoh kasus adalah seperti yang telah menimpa anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam.Pendidikan Karakter mereka masing-masing. maka tiadak hal yang terlintas dalam benak mereka selain meleyapkan Yusuf. “Andakan mereka paham. tentu mereka akan meyadari bahwasanya mereka datang dengan pertimbangan pengistimewaan Yusuf kecil dengan cinta. Maka kakak-kakak Yusuf menanggap tindakan sang bapak dalam hal ini sebagai aib dan pemicu lahirnya rasa iri hari kepada anak tersebut”. Bahkan juga telah membuat mereka tidak mempedulikan anak tersebut disaaat dewasa terutama ketika dibutuhkan sebuah pertolongan mereka 102 . Selaku anak kecil memang telah sepantasnya disayangi. 2.padahal mereka semua adalah saudara sebapak. disaat sebagian mereka merasa bahwasanya bapak mereka mengistimewakan Yusuf dan saudaranya. Semntara itu mereka menyadari kalau mereka berasal dari satu kabila (kelompok) yanqg berasal dari satu bapak. Maka disaat Nabi Yusuf masih kecil. Karena mereka telah melampau yang mananya fase yang membutuhkan cinta dan kasih sayang.

6. 5. Dan sikap yang seperti ini harus dirubah demi masa depan anak dan keluarga. Mengistimewakan anak berarti telah mengajarkan kecendrungan pada anak untuk saling melebihi dengan yang lainnya. Memberikan Tuntunan Yang Baik Pada Anak Di antara cara yang baik dan menguntungkan dalam mengatasi permasalahan anak yang telah terbiasa berbuat dusta adalah menuntunnya atau mendekatkan dirinya dengan seseorang yang alim dan berilmu yang dapat dijadikan sebagai 103 . 4. sebagiamana yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka. Mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak tersebut pada ketakutan. Kalau memang kita ingin mengobati anak yang telah terbiasa berbuat dusta.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. Dari sini kita menemukan bahwasanya mengistimewakan anak adalah sikap yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. Yang terakhir adalah mengistimewakan anak berarti telah menuntun anak kepada dusta di antara mereka. maka sudah semestinya kita merubah cara-cara yang telah diterapkan oleh orang tua atau para pendidik. Dan legitimasi ini adalah juga termasuk daripada dusta. Mengistimewakan anak berarti telah mendorong anak untuk berbuat yang sama pada anak mereka dikemudian kelak. Karena mengistimewakan sebagian anak adalah mendorong untuk membuat legitimasi atas prasangka dan penanganan mereka. mementingkan dirinya sendiri.

Memecahkan persoalan-persoalannya dan membimbingnya 104 . Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini: 1.Pendidikan Karakter panutan bagi anak tersebut hingga ia mengerti akan pentingnya menjaga diri dari perbuatan kurang baik tersebut dan dapat menanamkan kebenaran agama dan mampu menancapkannya dalam jiwa si anak. agar ia dapat mencontoh keduanya si tiap kesempatan dan agar keduanya menjadi pedoman bagi anak. Menghafalkan kepada anak ayat. 5. menanamkan pemahaman tentang pengawasan Allah dan ketakutan kepada-Nya serta sanksi-sanksinya melalui ayatayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan dari beberapa peninggalan sejarah nabi dan para sahabat serta ibrah dari beberapa kisah orang-orang yang gemar jujur dan berdusta 2. 3. haram. Mencoba untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan sang anak setelah sang anak tersebut memahami arti daripada janji itu sendiri. 6. dusta dan menjelaskannya akan kejernihan jujur dan keburukan dusta. cinta Rasul-Nya dan para sahabat Rasulullah serta cinta kepada Al-Qur’an sera menaruh perhatian kepadanya. 4. jujur. menanamkan pemahaman tentang cinta kepada Allah. Ikhals kepada-Nya. hadits nabi tentang kejujuran. Menanamkan pemahaman halal.

9. Seperti salat. Begitu pula halnya dengan membaiknya kondisi lahir batinnya hingga kemudian mampu melahirkan adab atau sopan santun di tengah-tengah masyarakat. Memilihkan untuknya sejarah orang-orang yang berpengang dengan tujuan agar ia mengambil ibrah darinya yang kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari-harinya. Dari segi batin mungkin mengajarkan melukis. 8. berolahraga. Melatihnya untuk melaksanakan ibadah-ibadah dengan ringan hati. Memotivasinya agar semangatnya tetap berkobar dalam hal kebaikan dan bermamfaat bagi masa depannya 11. Dan mampu menjadi sebuah penyerang bila gelap datang atau menjadi air bila orang-orang merasa dahaga. Mengikuti seluruh kegiatan ini. itu dari segi rohani. Dan mampu meringankan beban orang tuanya. 105 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dalam menggunakan waktu senggangnya dengan kegiatankegiatan yang menunjang akan masa depannya dan mampu untuk semakin menebalkan imannya. puasa maupun ibadah-ibadah yang lain. menggambar dan sebagaianya. Dengan menuntun anak dengan panutan yang saleh. memberikan pemahaman bila dia tidak paham. Atau mungkin mengajaknya untuk pergi ke masjid. niscaya dengan seizin Allah akhlak sang anak berubah dan menjadi mulia. 7. Selalu menemaninya untuk berziarah atau perjalanan ataupun dalam beberapa symposium. 10. Dia dapat mengambil mamfaat dati kesungguh-sungguhannya.

berarti di telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan anak dan akhlaknya dengan penerapan yang teratur. Tentu saja hal ini tidak mudah. dan sebagainya . Oleh karena itu. komunitas bisnis. sekolah. mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. Menurut Megawangi (2003). Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara 106 . tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan kata lain. dan tuntunan yang bijaksana.turut andil dalam perkembangan karakter anak. masyarakat luas. maka semua pihak . D. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Lingkungan Sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. media massa.keluarga. sekolah dan lingkungan sekolah. oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera.Pendidikan Karakter Sesungguhnya keluarga yang dapat menerapkan keempat pendepatan di atas dalam mengatasi sifat dusta anak.

tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata. dan warrahmah). Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. dan hukuman kepada yang melanggar. estetika untuk pembentukan karakter. sekolah untuk kasih sayang (Philips. yaitu penanaman moral.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. Sebagaimana disarankan Philips. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Dengan demikian. rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. nilai-nilai etika. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika. mawaddah. estetika. menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Sejarah. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. 2003). Moral Pancasila dan sebagainya. tatapi lebih dari itu. sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Menurut 107 . 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. seperti. pelajaran Agama.

Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. pemegang otoritas di masyarakat. 108 . Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. Oleh karena itu. Sementara itu. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. para pemimpin. maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. keluarga. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. Lingkungan masyarakat. dan positif secara konsisten. pembuat kebijakan. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ’istana pasir di tepi pantai’.Pendidikan Karakter Qurais Shihab (1996 . tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. 321). dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat. baik.

Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit yang berada dalam masyarakat Amerika maupun negara manapun di belahan bumi ini dapat diobati. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB IV SEKOLAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER Sekolah sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari peserta didik. Brooks dan Goble menyarankan dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai- 109 . Oleh karena seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education).

Pendidikan Karakter

nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah, akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya:
A. Fungsi dan Peran Lembaga Sekolah

Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
110

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000:194). Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.
111

Pendidikan Karakter

Adapun peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut: 1. Anak didik belajar bergaul sesam anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak didik dengan orang yang bukan guru. 2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah. 3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan fungsinya sebagai berikut; 1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. 2. Sebagai lembaga sosial tyang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3. Lebih efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. 4. Memiliki peran yang penting dalam proses sosialisasi. 5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan.
112

Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif

membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, pada akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musnah.
B. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan
113

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. dan disiplin diri.Pendidikan Karakter mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. Pada kemungkinan yang terbaik. dan isu akademis yang menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. dan seimbang. daerah. penggunaan obat terlarang. dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. 114 Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. dan performa akademis yang buruk. bertanggung jawab. hamil muda. tidak . etika. sesuai standar kompetensi lulusan. terpadu. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. bertanggung jawab. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos. masalah disiplin. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. kekerasan berkelompok. integritas.

moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. 4) moral reasoning. knowledge without virtue poses its own dangers “Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education). 3) persperctive taking. tidak memihak (non sectarian). 2) knowing moral values. sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature.. 5) decision making dan 6) self-knowledge. Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. Pertama. for. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). Kedua 115 . pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. seorang filsuf pendidikan. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. Moral Knowing. The common school should teach virtue before knowlede. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. dan bebas. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan.

excellence. mercy. Percaya diri. courtessy. reverence. reliability. resourcefulness. fairness. humility. Tanggungjawab. orderliness) 3. trust.Pendidikan Karakter Moral Feeling. assertiveness. kedisiplinan. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. cooperation) 6. Ketiga Moral Action. discipline. generousity. self reliance. 2) self-esteem. kepedulian. Hormat dan santun (respect. 3) empathy. Amanah (trustworthiness. Kasih sayang. leadership) 116 8. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). determination and enthusiasm) 7. Keadilan dan kepemimpinan (justice. dan pantang menyerah (confidence. creativity. dan kerjasama (love. dan kemandirian (responsibility. moderation. courage. obedience) 5. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. Baik dan rendah hati (kindness. loyalty) 2. compassion. honesty) 4. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. kreatif. 5) self-control dan 6) humility. friendliness. 4) loving the good. empathy. caring. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. modesty) .

seperti keluarga. dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. dan negara. Dengan desain demikian. juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. flexibility. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama. ketika berada di lingkungan sekolah. kembali ke rumah. masyarakat umum. (1) Desain berbasis kelas. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran 117 . Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan. dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain. yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar. peacefulness. dan (3) Desain berbasis komunitas. mencontoh. akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. (2) Desain berbasis kultur sekolah. unity) Agar dapat berjalan efektif.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 9. Masyarakat di luar lembaga pendidikan. Dalam mendidik. yakni. Toleransi dan cinta damai (tolerance. pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan.

Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. Kedua. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh.Pendidikan Karakter agama. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian. sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. identitas dan kepercayaan diri. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. 118 .

kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. 119 . Keempat. harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Ketiga. harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. dan silabus. rencana pembelajaran. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. yang dikemas di dalam KTSP. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat.

Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. bukan hanya sekolah. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. membatasi situs-situs internet yang merusak moral. 120 .Pendidikan Karakter otoriter. berkarakter kuat. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. dan lain sebagainya. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Ringkasnya. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. Yang terakhir. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja.

saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. keseharian. “Satukan kata dan perbuatan!” C. Praksis Pendidikan Karakter di Sekolah Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. Ringkasnya. Selain itu libatkan secara luas motivator. sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga 121 . Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. penceramah. Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta. dan yang terkadang kelihatannya sepele. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. Menurut Brian. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. pelatih.

SQ (spiritual quotient). dalam praktiknya terasa masih tampak kurang 122 . yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan pendidikan agama. agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. Namun. pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. EQ (emotional quotient). Sejauh ini. Padahal. Pertama. warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. Karena dengan hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip.Pendidikan Karakter dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. melainkan hanya selera sesaat. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. Dalam wujud praksis. sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai.

(3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam). jadilah pendidik yang mampu memberi inspirasi bagi peserta didik. Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. terutama kompetensi kepribadian dan social. maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter. Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik. terdapat sembilan ketentuan yang disebut sebagai prinsip profesionalisme. berakhlak mulia. Ada pepatah yang mengatakan: ‘mediocre teacher tells. menjadi teladan bagi peserta didik). seorang pendidik hendaknya mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak didiknya. (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap. good teacher explains.Kriteria dalam mengukur keprofesionalan tenaga pendidik bisa dilihat dalam UU Guru dan Dosen BAB III Pasal 7.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. arif. Maka. great teacher inspires’. dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalahmasalah moral yang terjadi dalam masyarakat. Di samping itu. berwibawa. dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik). Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik. Prinsipprinsip profesionalisme tersebut adalah sebagai berikut:(1) 123 .

dalam memperoleh pengetahuan. Paradigma Pembelajaran 124 Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini di banggakan telah menuai kecaman. Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan. yakni pengetahuan yang baik. Brian menyebutkan. diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak. panggilan jiwa. dan idealisme(2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah.Pendidikan Karakter Memiliki bakat. 1. dan akhlak mulia(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan(6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat(8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. yakni kegagalan . sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain. berlandaskan keyakinan. ketakwaan. minat. Oleh karena itu. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu. keimanan.

dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. membantu. Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat. dan berkata benar dalam segala hal. berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi. harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 1. memperlihatkan perhatian. 125 . Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur. Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. sopan. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. dapat dipercaya. rasa 2. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian. Bersikap adil dan terhormat. 3. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. 4. dan memahami orang lain.

dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan.Pendidikan Karakter 126 kasihan. Melakukan yang terbaik dalam segala hal. 5. aksi. atau keputusasaan. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. atau kegagalan. Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan. menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. perlawanan. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi . Menghindari seks di luar nikah. dan untuk Negara. dapat mengendalikan kata-kata. kesalahan. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada wewenang. mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik. dan dermawan. 8. berkawan. alcohol. zat dan perilaku berbahaya lainnya. Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas. rokok. 6. pada diri sendiri. Di Indonesia. reaksi. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan. untuk barang hak milik. pada orang lain. dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. 7. dan juga keinginan. dapat dipercaya dalam setiap kegiatan. narkoba.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru 127 . Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi peserta didik. sebab pendidikan karakter (atau akhlak dalam Islam) harus mengandung unsur afeksi. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. perasaan. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. yaitu hanya mewajibkan peserta didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. dan nuraninya. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan difokuskan pada pendekatan otak kiri/kognitif. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. emosi. sentuhan nurani.

Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). dan apa yang terekam dalam memori anakanak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak.Pendidikan Karakter pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah. yaitu hanya mewajibkan 128 . Dilihat dari esensinya seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. Di Indonesia. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. dimana agama di ajarkan di sekolahsekolah negeri. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan.

emosi. kepemimpinan dan keadilan. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. kedamaian dan kesatuan. kejujuran/amanah dan bijaksana. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. perasaan. hormat dan santun.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. dermawan suka tolong menolong dan gotong -royong. baik dan rendah hati serta toleransi. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. 129 . Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya. percaya diri kreatif dan pekerja keras. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. Ratna Megawangi menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. sebab pendidikan karakter (akhlak. sentuhan nurani. dan nuraninya.

Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. entah itu pendidikan agama. Oleh karena itu. Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. dan tetap eksis. dilahirkan oleh dan dari orang 130 . mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja. sebagai berikut. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. 2. kewarganegaraan. Pertama. Dan di antara nilai-nilai budaya dan sosial yang perlu di bangun di lingkungan sekolah. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. guru.Pendidikan Karakter Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. salah satu solusinya tidak ada lain adalah mengokohkan budaya sekolah di kalangan stakeholder sekolah. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa. etika. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Kita hidup tidak sendirian.

ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. kejujuran. kasih sayang. kita harus hidup beretika. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain.Namun sayangnya program ini masih belum di tangani secara serius. Oleh karena itu. mulai jujur kepada dirinya sendiri. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. Konon. Mahatma Gandhi mengingatkan 131 . dan (3) kewibawaan. (2) kepercayaan. jujur kepada orang lain. Kelima. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. Keempat. bertanggung jawab. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. yaitu (1) kasih sayang. Ketiga. menghormati diri sendiri dan orang lain. jujur kepada Tuhan. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. Ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan.Karena kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. mencintai belajar.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif lain yang bernama ibu dan ayah kita. Kejujuran. materi mata pelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur.

tanggungjawab (responsibility). inisiatif (initiative). kemauan kuat (perseverence). tepat waktu. kasih sayang (caring). Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di lingkungan sekolah kita. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. agama. bahkan dari keluarga. kerjasama (teamwork). Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. konsentrasi pada tujuan (focus). Waktu adalah pedang.Pendidikan Karakter bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence). usaha (effort). 132 . Time is money adalah warisan para penjelajah “rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris. dan budaya. Ketujuh. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah. adalah warisan petuah para sahabat Nabi. menghormati hak orang lain. pemecahan masalah (problem solving). Kita masih sering membedabedakan orang lain karena berbagai kepentingan. motivasi (motivation). berpikir logis (common sense). Keenam. ekonomi.

perasaan (feeling).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 3. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Louis. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Ratna menyebut tiga unsur yang 133 . Marvin Berkowitz dari University of Missouri. tanpa ketiga aspek ini. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter.St. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan Karakter dan Prestasi Akademik Lantas sesungguhnya sejauh mana dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. dan tindakan (action). Bahkan secara spesifik. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Menurut Thomas Lickona. Character Educator. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr.

konsep yang dibangun.al. itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif. Jadi. Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk. Pertama. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang. Jika Feeling the good sudah tertanam. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap 134 . namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. Menurut Ratna. dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. anak dilatih untuk berbuat mulia. dan habit of the hands. Untuk membentuk karakter.Pendidikan Karakter harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. Feeling the good. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Ketiga. Pada tahap ini. adalah habit of the mind. anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik. Kedua. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. et. Acting the good. tidak akan ada artinya. ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. namun mereka tidak tahu alasannya. Selama ini hanya imbauan saja. habit of the heart. padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih. Knowing the good. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik.

dan kemampuan berkomunikasi. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. perilaku seks bebas. kemampuan berkonsentrasi. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. miras. kemampuan bekerja sama. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). yaitu rasa percaya diri. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. kemampuan bergaul. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih 135 . rasa empati. tawuran. akan mengalami kesulitan belajar. dan sebagainya. narkoba. tetapi pada karakter. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif keberhasilan di sekolah.

Evaluasi Pendidikan Karakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak.Pendidikan Karakter mementingkan aspek kognitif anak. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. sebagai anak yang kurang pandai. Namun masalahnya. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. . akan menimbulkan stress berkepanjangan. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 136 1. Akibatnya sejak usia dini. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. 4. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah.

Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. ras. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. dan kreatif. suku. 5. 7. kritis. berbangsa. Menunjukkan sikap percaya diri. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 4. Menghargai keberagaman agama. Menghargai karya seni dan budaya nasional. 13. 10. budaya. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. 8. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. 9. 11. 12. 137 . dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. dan inovatif.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. kreatif. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 6. 3. kritis. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.

tradisi. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. berbicara. bugar. 20.Pendidikan Karakter 14. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. D. sehat. Menghargai adanya perbedaan pendapat. 18. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. 15. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Sedangkan kriteria pencapaian pendidikan karakter pada tingkat sekolah adalah terbentuknya budaya sekolah. Menunjukkan keterampilan menyimak. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. 21. kebiasaan keseharian. 17. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. yaitu perilaku. Memiliki jiwa kewirausahaan. 19. Menerapkan hidup bersih. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 16. Pendekatan dan Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 138 Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan . membaca. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. aman.

Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. proses dan prakteknya dalam pengajaran. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial. tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. staf dan siswa didik. sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. 2. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata. Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka 139 . 3. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach).Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif yaitu prinsip.

maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. It is in fact. Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa.Pendidikan Karakter nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini. as old as 140 . dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. Kirschenbaum. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama.

dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan guru dan siswa 10. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro 1.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif education itself. teori. yang terbaik adalah. 141 . adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua. perubahan (reformasi) sekolah 9. dan kurikulum 2. adalah jalan proaktif mengadaptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka 4. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good”. bukan hanya program 8. adalah proses. adalah belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan dan kedalaman karakter kita 6. adalah belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik 5. Dengan demikian. datang dari rumah. in countries all over the world. suasana. dan sekolah 3. guru dan siswa. adalah didasari hubungan dan budaya sekolah 7. Down through history. komunitas. adalah didasari oleh riset. pendidikan karakter di sekolah dapat di implementasikan sebagai berikut : diajarkan melalu pemodelan.

hukum dan hak asasi manusia. kesejahteraan. menghasilkan sikap yang kuat. dan pikiran yang argumentatif. komunikasi dan informasi. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. kesehatan. bukan hanya sektor pendidikan nasional. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. pemerintahan.Pendidikan Karakter kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pada tahap evaluasi hasil. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. khususnya sektor keagamaan. 142 . program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut. Pada konteks makro. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan.

memperbaiki. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. menguatkan. 143 . Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan.

Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/ kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Khusus. Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar . Untuk kedua mata pelajaran tersebut. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Sementara itu mata pelajaran lainnya. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter.Pendidikan Karakter 144 Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.

perilaku. seperti kegiatan Dokter Kecil. pertemuan wali murid. Liga Pendidikan Indonesia. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. Palang Merah Remaja. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap. kompetisi atau festival.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. dll. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran. Pecinta Alam.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. kunjungan/kegiatan wali murid yang 145 . kepribadian. pelatihan.

dan di masyarakat. di rumah. pelatihan-pelatihan singkat. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. seperti kegiatan 146 . Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi massa. Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. misalnya kursus keterampilan. kursus kepemudaan. bimbingan belajar.Pendidikan Karakter berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah.

Sedangkan pada lingkup media masa. keagamaan. Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian 147 . Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. pelatihan kode etik jurnalistik. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. jiwa patriotik. dan akhlak mulia. pelatihan kepemimpinan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif karang taruna. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. sosial. dan pelatihan keterampilan profesi. kejujuran. pelatihan kewirausahaan. pelatihan kepemimpinan. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam. kepribadian. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan seharihari. olahraga. kesenian. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik.

Pendidikan Karakter 148 Pendidikan Nasional. standardisasi perangkat dan proses penilaian. b. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. . dasar. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter. d. baik di jenjang pendidikan usia dini. menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. a. c. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut. pendidikan dasar dan menengah. Oleh karena itu.

Saya tidak mau masuk ke dalam golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada anak-anak. guru yang sifat hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif e. serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).” 149 . Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. Kita ingat ungkapan Soekarno di hadapan guru Taman Siswa. pengembangan. pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya. dalam sambutannya beliau: “Guru yang sifat hakikatnya hijau. Guru tidak bisa mendurhakai jiwanya sendiri. manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya). penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. Men kan niet onderwijzen wat men wil. akan ‘beranak’ hijau. yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru. Tugas dan Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Guru. sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan karakter seorang siswa. Guru hanya bisa mengajarkan apa dia itu sebenarnya. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. men kan niet onderwijzen wat men weet. E. men kan allen onderwijzen wat men is (manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya.

tidak ada salahnya ia berani mengakuinya di hadapan siswa. itu berarti sama dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan berupa kebajikan-kebajikan kepada siswa. belajar terus tanpa henti. Tidak sedikit guru yang sering main topeng di hadapan siswa.Pendidikan Karakter Untuk menjadi seorang teladan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketika seorang guru mengajarkan sesuatu di kelas. guru akan semakin banyak tahu. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Kedua. Dengan terus belajar. kenapa masih berupaya untuk menjadi orang sok tahu. Tugas dan tanggung jawab guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat kental dengan pesan-pesan moral kebaikan. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya. guru yang banyak tahu akan mudah menularkan pengetahuannya kepada siswa. bila memang tidak tahu. bila guru sendiri terus belajar. konsekuen dengan apa yang diajarkan. Begitu pun dengan profil yang kita tunjukan sebagai guru. tidak main topeng. Namun hal tersebut akan menjadi sesuatu yang ironis jika kita menyampaikan pesan dari Tuhan sementara kita sendiri sebagai guru jauh dari Tuhan. Ketiga. Namun. Bila memang bersalah. betapa sering kita menyampaikan 150 . ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan seorang guru untuk mengembangkan nilainilai keteladanan itu yaitu pertama.

yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. direktur.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pesanpesan kebaikan kepada siswa di sekolah. Teladan. Pekerja sosial (social worker). Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru. sekolah dan masyarakat secara luas. namun sangat sulit untuk dilaksanakan. Hal ini senada dengan pendapat Moh. baik pendidikan keluarga. Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru sebagai pembawa pesan moral dan sosial. Pelajar dan ilmuwan. pengurus perpustakaan dan lain-lain. 1. 2. merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan. sementara kita sendiri jauh dari apa yang kita katakan. 151 . staf. karyawan. Teladan juga merupakan sebuah kata yang kerap kali mudah diucapkan. kepala sekolah. seorang guru harus berperan sebagai.

artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik. kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya. Seringkali. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Di masa depan. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. 152 . berkembang. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Orang tua. 4.Pendidikan Karakter 3. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. baik karena siswa yang malas. tidak punya buku paket atau alasan lain. dan 5. model keteladanan. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran†yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.

dan apa yang mereka lakukan. 153 . Untuk itu. guru mengajarkan nilainilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan kepadanya. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat. namun teladan itulah yang menarik hati). apa yang mereka dengar. guru sering mengajarkan kesamaan hak. Oleh karena itu. tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. apa yang mereka rasakan. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. Konsistensi dalam pembelajaran.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana pendidikan anak gagal karena ulah guru. pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri. pengetahuan yang baik tentang sebuah nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif nan apik itu tidak pernah ditemui oleh siswa dalam praksis kehidupan di sekolah. tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas. tetapi dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu. Verba movent exempla trahunt (kata-kata itu memang dapat menggerakkan orang. Sebab. yang ternyata tidak memberikan teladan dalam tingkah laku mereka. dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. melainkan nilai itu juga tampil dalam diri pribadi sang guru. Dalam perlakukan terhadap siswa misalnya.

Pendidikan Karakter 154 .

Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak. yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas. baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. 155 . Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan. dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif BAB V PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA A. Fungsi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tentu saja harus di mulai dari pendidikan informal.

Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. maka masyarakat pun akan lemah. keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan. mengasuh. sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. Keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. dan mensosialisasikan anak. 2003). Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . Bagi seorang anak. William Bennett (dalam Megawangi. Pendidikan. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang 156 . Menurut pakar pendidikan. semangat. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. dan kemampuan-kemampuan dasar.merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga.Pendidikan Karakter Dari sini. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat . keinginan untuk menjadi yang terbaik. keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Oleh karena itu. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah. dan Kesejahteraan.

B. Keluarga: Peletak Dasar Pendidikan Moral dan Agama Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya. yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. Oleh karena itu. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. sejahtera”. Teladan ini pada akhirnya melahirkan gejala identifikasi positif. 2006: 42. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter.” Dari sini. dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif sehat guna tercapainya keluarga. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. ”Rasa cinta. Keteladanan orang tua dalam berperilaku akan menjadi contoh nyata bagi pembelajaran si anak. 157 . terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. dapat digambarkan bahwa peran keluarga terutama orang tua merupakan cermin dan sikap bagi anakanaknya. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan. teristimewa pendidikan budi pekerti. mengatakan. sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya yang menyamainya.

sebagai orang tua perlu kiranya untuk mengajak serta dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter. Masa kanakkanak merupakan usia emas dalam mengantarkan anak pada nilai-nilai ajaran agama yang benar. anak harus tunduk. 3) ü .Pendidikan Karakter Di samping menanamkan dasar-dasar moral. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. patuh. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. Oleh karena itu. dan (3) Pola asuh permisif. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. yang tidak kalah pentingnya dari peran keluarga adalah internalisasi dan transformasi nilai-nilai keagamaan dalam diri anak. yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. (3) Pola asuh permissive. Keluarga dan Kehidupan Emosional Anak Secara umum. C. dan tidak boleh bertanya. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. Agar sejak dini anak sudah dikenalkan dengan nilainilai yang terpuji sebagai bekal kepribadiannya saat mencapai usia dewasa. yaitu sebagai berikut : 158 Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan. (2) Pola asuh demokratis. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. (2) Pola asuh Authoritative.

4) Orangtua menghukum anakü jika anak tidak patuh. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak. dan kelekatan emosi orangtua . anak belajar tentang banyak hal. jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. 2) Anak diakui sebagai pribadi. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan 159 . 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). termasuk karakter. 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang.. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. sentuhan. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. Artinya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.

anak yang dididik secara 160 . Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. karena anak tidak mandiri. apalagi terkesan membiarkan. Sementara itu. Pada akhirnya. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. orangtua yang otoriter merugikan. Menurut Arkoff (dalam Badingah. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. 1993). Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. Di sisi lain.Pendidikan Karakter tingkat kenakalan keluarga. kurang tanggungjawab serta agresif. Sementara. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakantindakan merugikan. di mana keluarga yang broken home. dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah.

(c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. sosial-kognitif. dan kontak mata yang mesra). baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. Menurut Middlebrook (1993). elusan di kepala. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). kata-kata yang membesarkan hati. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). pelukan. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak. baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. Dalam hal ini.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. perilaku. Penelitian tersebut .yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). anak yang ditolak adalah anak yang 161 . akan mempengaruhi perkembangan emosi. maupun secara fisik (diberi ciuman.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. Sementara. dan pujian). dorongan.

Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. yaitu : 162 . yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. bersikap sangat agresif kepada orang lain. ataupun secara fisik (memukul. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua.Pendidikan Karakter mendapat perilaku agresif orang tua. mencubit. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. Sementara itu. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. baik secara verbal (katakata kasar. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). walaupun orang tua tidak merasa demikian. tidak disayang. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. bentakan. sindiran negatif. bahkan dibenci oleh orang tuanya. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. dianggap berharga. dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. percaya diri. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. atau menampar). atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. atau bersifat undifferentiated rejection. dikecilkan. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. dilindungi. dan diberi dukungan oleh orang tuanya.

2. 3. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Secara emosiol tidak responsif. Anak menjadi acuh tak acuh. 6. Bersikap kasar secara verbal. Bersikap kasar secara fisik. 163 . rasa tidak percaya. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. 4. tidak butuh orang lain. Berperilaku agresif. dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. 1. la kelihatan sangat mandiri. mencubit. 5. Menjadi minder. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. dan berkata-kata kasar 4. dan gangguan emosi negatif lainnya. misalnya memukul. dan memberikan hukuman badan lainnya. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. merasa diri tidak berharga dan berguna. misainya menyindir. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. simpati. cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 1. 2. 3. mengecilkan anak. yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah.

dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. Keluarga dan Pembinaan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik.Pendidikan Karakter 5. mudah marah. tawuran. dan stimulasi fisik dan mental. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar. dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. dan lainnya. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa 164 . curiga dengan orang lain. akan membuat anak merasa tidak dekat. 8. 6. minder. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. rasa aman. Menurut Megawangi (2003). Ketidakstabilan emosional. yaitu maternal bonding. mudah tersinggung. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya. khawatir. D. seperti rasa tidak aman. 7.

menggendong. antusias mengeksplorasi 165 . Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Menurut Erikson. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. Menurut pakar pendidikan anak. dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Dengan kata lain. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. mengelus. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Bowlby (2003). ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.

jika orang tua dan para pendidik tidak mampu bertanggungjawab dan mengemban amanah dengan baik . Ketika Anak Menjadi “Pembantah” Sungguh banyak sekali penyebab dan perbuatan yang membuat anak tidak mau mengikuti aturan kedua orang tuanya. pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. baik dalam tatanan norma agama. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. sehingga ia tidak dapat mengelak dan memalingkan diri dari kemaksiatan dan dosa. ia sulit untuk diarahkan. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. Memang sangat mengerikan dan membahayakan sekali jika kita melihat perkembangan anak muda pada saat ini. berapa banyak anak yang berakhlak tidak baik.Pendidikan Karakter lingkungannya. orang tua dan bangsa. ia banyak melakukan penyimpangan. dan buruknya pendidikan didalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Dan seakan hal itu menyerang anak muda generasi penerus bangsa dari segala penjuru. 166 Untuk itu. Dengan kata lain. Juga. dan menjadikannya anak yang kreatif. kasih sayang dan lain-lain). dididik dan dibina.

Sehingga orangpun enggan untuk berteman dengannya. Dapat dipastikan anak didalam keluarga dan kehidupan bermasyarakatnya akan menjadi anak yang tidak dapat diatur. Dan cara mengatasi hal itu serta menjaga dan melindunginya. Agar dapat mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak mematuhi hukum yang diajarkan agama juga orang tua. Diantara penyebabnya adalah. Kefakiran Sudah menjadi hal yang dapat dimaklumi dan menjadi kesadaran semua orang. Maka ia akan berusaha keluar dari rumah dan mendapatkan kebutuhan hidupnya diluar rumah. agar jelas dan mendapatkan petunjuk dalam hal mendidik dan memberikan tanggungjawab pada anak. atau mungkin ia akan mencari di kampung dan bahkan di negara lain untuk mencari rezeki. Jatuhnya anak ketangan orang jahat. Nah. Dan bisa sampai pada tarap yang membahayakan dengan menggadaikan jiwa. Maka perhatikanlah pembahasan dibawah ini. jika sudah seperti itu. tidak mengetahui sebab-sebab yang menjadikan anak tidak dapat dikontrol. tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh pada dan meminta pekerjaan pada orang jahat juga suka melakukan kemaksiatan. Juga. merasa tidak ada yang memberi dan menolongnya agar ia dapat bertahan hidup. harta 167 .Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif terhadap anaknya. ketika ia tidak merasa cukup dalam hal makanan. suka menyusahkan orang lain dan memiliki perangai yang tidak baik. maka sudah dapat dipastikan ia akan melakukan kejahatan. siang dan sore hati. bahwa anak kecil ataupun siapa saja. Juga. baik makanan dipagi.

Pemerintah adalah instansi pertama yang bertanggungjawab dalam hal ini. maksiat dan dosa. memberi uang setiap bulannya yang diambil dari baitul maal atau kas negara. Tentu sang anak akan berusaha keluar dari rumah. jika ia menemui 168 . menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara lain. dan dapat merasakan hidup yang lebih baik. adanya pertengkaran dan pertikaian yang terus menerus terjadi pada ayah dan ibunya. Jika anak selepas keluar rumah bertemu dengan golongan teman yang pertama. Apa yang anak lakukan diluar rumah? Ia akan mencari teman atau siapa saja yang dapat membuatnya bersenang-senang dan melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Jika hal ini terjadi dihadapan anak. keluarga yang berada pada tarap garis kemiskinan. Lalu uang itu disalurkan pada orang yang lemah (tua). Sebaliknya. Juga. teman ada yang mengajak pada kemungkaran. Juga. anak yatik dan lain sebagainya. tentu ia akan menjadi anak yang baik dan mampu mensikapi kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. sehingga tidak mudah terpengaruh dan terperangkap kedalam lembah maksiat dan dosa. dengan cara memberikan dan membuka lowongan pekerjaan. Teman ada yang baik dan mengajak untuk selalu mengingat Tuhan dikala sedih dan gundah. karena ia tidak tahan melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dan bertikai.Pendidikan Karakter dan kehormatan. Dengan seperti itu. Pertengkaran dan Pertikaian Salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak dapat diarahkan menjadi anak baik dan memiliki akhlak buruk. dimana ia masih dalam tahapan perkembangan jiwa dan mentalnya. mereka akan merasa dihargai dan dihormati sebagai manusia.

seakan perceraian sudah menjadi adat dan tradisi. selama hal itu membuat dirinya nyaman dan melupakan pertengkaran antar kedua orang tuanya. maka ia akan mencari perlindungan pada kawan-kawannya. maka iapun akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki akhlak yang baik. Juga. minimal anak akan 169 . Ketika anak dalam keadaan tidak memiliki pijakan dan tempat berlindung. bulan bahkan hitungan hari melangsungkan pernikahan. Perceraian Berapa banyak pasangan saat ini yang saling menggugat untuk bercerai. padahal baru bebarapa tahun. Dengan kejadian menimpanya seperti ini. wataknya keras.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif dan berkawan dengan orang yang tidak baik. sehingga tidak bisa diatur. hendaknya agar kehidupan keluarga senantiasa dalam keadaan damai. Karena kawan yang dimiliki dan dimintai perlindungan adalah kawan yang senantiasa melakukan kemaksiatan. maka sang anakpun akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawanya. sikapnya arogan dan tidak bida diatur. Perceraian adalah salah satu faktor yang menyebabkan anak memiliki akhlak dan perangai anak yang tidak baik. Tidak ada pertengkaran yang ada hanya ayah dan ibu yang saling bercengkrama dan bercanda. senantiasa melakukan kemaksiatan dan dosa. terlebih lagi jika setelah perceraian orang tua yang menjadi walinya dalam keadaan fakir dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. tidak ada pertikaian yang ada hanyalah senyuman. Untuk mencegah hal ini. tenang dan tentram.

Tentu saja harapan kita adalah. ia pun tidak akan merasakan seorang ayah yang melindungi.Pendidikan Karakter merasakan dua hal. agar terhindar dari hal-hal yang demikian. melakukan kejahatan. Hal itui terjadi karena orang tua dalam keadaan fakir dan tidak punya. Sehingga ia senantiasa melakukan kerusakan. hal itu terasa amat sulit untuk diwujudkan. jika yang menjadi wali adalah ayahnya. Dan apa yang kita harapkan dari anak ketika mengetahui keluarganya tidak dapat melakukan apapun. Apa yang kita harapkan dari anak yang tidak mendapatkan kasih sayang. meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain. meskipun ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain. tidak dapat memberi makanan. melindungi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. bermaksiatan dan melakukan dosa. apabila ibu yang menjadi walinya. menjaga dan bersenda gurau dengannya. pakaian. baik dari ayah maupun ibunya. agar pasangan suami isteri dapat mengemban amanah dengan baik. Namun. Kedua. kemaksiatan dan dosa. perlindungan juga perhatian. maupun tempat tinggal yang layak. anak tidak menjadi orang yang selalu merusak. Diantara 170 . yaitu menjaga. maka sudah tidak diragukan lagi anak akan melakukan beberapa tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. pertama. jika anak berada pada lingkungan yang demikian mengerikan. maka ia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. perlu beberapa hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. Jiwa yang terguncang dan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. Nah. dan memiliki akhlak yang tidak baik. perhatian dan perlindungan.

seperti bermain bola.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif hak yang harus diberiksan satu dengan yang lainnya adalah. Waktu Luang Salah satu yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa diarahkan dan diatur. sehingga melakukan dan bermain dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau mungkin sesuatu yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. tulangnya kuat dan berkembang dengan perkembangan yang baik.” Atau olah raga lainnya. maka orang tua atau pendidik mampu menempatkan anak sesuai dengan tempatnya. orang tua akan mampu mengarahkan pada sesuatu yang bermanfaat. basket. Suatu contoh. jika ia senang dengan bermain bola. Sebab mereka biasanya banyak memiliki waktu luang. Untuk itu.” Main bola lah dengan tidak membuat kamu juga orang lain cidera. Dengan mengetahui apa yang biasa dilakukan anak dan ABG. dengan sesuatu yang bermanfaat. bermain ditempat yang terbebas dari lingkungan yang tidak baik. Juga. maka arahkan anak seraya berkata. dan pilih stadion atau lapangan bola yang baik. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Karena orang tua tidak mampu mensiasati waktu luang anak yang masih kecil maupun hampir dewasa (ABG). selama hal itu mampu membuat fisiknya menjadi sehat. atau memiliki akhlak yang tidak baik. sesuatu yang disenanginya. voli atau ia suka menonton film berjalan-jalan di Mall dan lain sebagainya. bagi orang tua atau pengajar harus mampu mengenal dan memahami kebiasaan apa yang suka dilakukan oleh anak dan siswanya. bagi anak yang suka bermain bola atau olah raga 171 .

kecerdasan dan membuat seluruh anggota badan akan terhindar dari penyakit. jiwa dan bathin anak akan terisi dengan ketahui dan akidah. Oleh karena itu. sehingga tidak tertular oleh penyakit dari orang lain yang bercampur dengan air. anak menjadi tidak dapat diarahkan dan diatur lagi. Dari beberapa hal penting di atas. dan teman yang mengajak pada kemaksiatan dan dosa. maka ceritakanlah pada anak manfaat shalat untuk perkembangan fisik dan mental secara ringkas. Shalat adalah olah raga yang wajib untuk dilakukan setiap pada waktunya. Apabila anak lebih suka dalam olah raga renang. 1. ia adalah orah raga yang mampu menggerakan seluruh anggota badan dan persendian. Nah. 172 .Pendidikan Karakter lainnya. Karena ia adalah merupakan tiang. Diantara manfaatnya adalah. bagi orang tua dan pendidik jangan pernah melupakan dan mengingatkan anak serta siswanya untuk menunaikan ibadah shalat. bukan suatu hal yang mustahil anak akan bergabung dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. shalat mampu unguk mengembangkan dan membuat tulang-tulang yang sedang tumbuh (pada anak). sehingga ia adalah ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan. Kalau memungkinkan. Sehingga. carilah kolam renang yang terjamin kebersihannya. hal ini akan membawa dampak baik pada perkembangan fisik dan mental anak. Dengan shalat. jika hal itu tidak dilakukan. rukun dan pondasi awal dari ajaran agama Islam.

beberapa penelitan orang akan terhindar dari penyakit tersebut apabila minimalnya dalam sehari berjalan sebanyak 1000 langkah. dengan berjalan ke masjid dalam menunaikan shalat berjama. dan gigi. 3. maka jangan heran jika orang tua maupun pendidik untuk mengajak anak mengerjakan shalat di usianya yang ketujuh tahun. maka shalat yang kita kerjakan sehari dan semalam adalah 5 waktu. hal itu terjadi ketika melaksanakan wudhu. Tentu saja hal ini akan membuat kaki terhindar dari beberapa penyakit yang menghawatirkan. Selain itu. Apabila tidak mengerjakan shalat sunnah. Semua ini adalah salah satu syarat dari sahnya shalat. sehingga kitapun membersihkan diri dari kotoran selama lima kali dalam sehari. membersihkan rongga mulut. tentunya jika kita mengerjakan shalatnya berjama’ah di masjid lima kali dalam sehari. melatih kita agar tidak malas dalam melakukan aktifitas lainnya.ah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif 2. Juga. Shalat juga merupakan sarana untuk membersihkan fisik dari kotoran. selain mandi. mulai dari membersihkan lubang hidung. dengan wudhu kita akan membersihkan bagian-bagian yang kadang kurang diperhatikan disaat mandi. Banyaknya manfaat untuk kesehatan badan bagi yang mengerjakan shalat. Shalat juga sebagai olah raga dengan berjalan. Juga. memukul anak 173 . seperti asam urat dan rematik (osteoporosis). Dan.

Terlebih lagi ketika anak masuk pada usia puber atau ABG.Pendidikan Karakter jika usianya sudah 10 tahun namun ketika diperintah untuk shalat ia tidak mau mengerjakan. ingatkanlah pada anak. maka Islam sangat menekankan pada kedua orang tua untuk menjaga dan mengawasi gerak gerik sang buah hati. orang tua harus mengetahui dengan siapa ia bergaul. Bagi orang tua. maka dengan sendirinya anak akan berperilaku dan bersikap seperti mereka. Terperangkapnya anak pada lingkungan kawan yang tidak baik. Terutama jika anak tidak kuat dalam hal iman dan aqidahnya. terutama bagi anak kecil yang dalam masa pertumbuhan. Bergaul Dengan Teman yang buruk Ahklaknya Kawan adalah salah satu orang yang biasanya akan mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. agar ia tidak terperangkap. 174 . Oleh karena pergaulan saat ini sudah pada taraf yang sangat menghawatirkan. terlebih lagi jika ia belum kembali kerumah pada waktu yang dijanjikannya. Juga. Sehingga kedua orang tuanya kerepotan dan kewalahan dalam mengarahkan anaknya. dimana ia akan menjerumuskan dan mengajak untuk berbuat maksiat dan dosa. sehingga ia pun akan bersikap dan berperilaku sepertinya. Sikap ini harus benar-benar diperhatikan. berusahalah untuk mengarahkan anak agar ia memiliki kawan dan sahabat dekat yang shaleh. dan usahakan agar kita terus memantau anak. tentang kawan yang tidak baik. kemana ia bermain dan kemana ia akan pergi. ia akan sangat cepat sekali terpengaruh oleh sikap temannya yang tidak baik dan kebiasan baiknya pun akan cepat berubah menjadi tidak baik.

setiap hari mengajarkan perkataan yang tidak baik. atau memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali. Sebaliknya. ia bisa saja membunuh kedua orang tuanya. Baiknya sikap orang tua dalam hal mengajar dan mendidik anaknya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Oleh karena itu. kasar. sehingga kelak ia akan memiliki akhalak yang baik dan sopan pada masyarakatnya. jika anak diperlakukan seperti itu. ia akan mengambil keputusan yang salah. jika sikap buruk orang tua pada anak. bisa jadi ia akan merusak apa saja ketika marah. dicaci dan dihina maka kelak anak akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak baik. ia akan menjadi anak yang senantiasa membantu masyarakatnya. dimana anak akan sangat bergantung padanya. sering di pukul. tidak memiliki sikap tegas dan plinpan. Dan biasanya. Sikap yang demikian akan mengantarkan anak pada lembah maksiat dan dosa. suka berbohong dan mengejek. Ia akan menjadi anak yang penakut. maka anakpun akan menjadi buruk akhlak dan sikapnya. anak jika kedua orang tuanya memperlakukan tidak baik. dengan sikap itu. dengan siapa ia berkawan. maka anakpun akan menjadi baik dan terdidik. semua itu akan terlihat dalam interaksi sosial dengan masyarakatnya. Dalam hal ini. umat atau masyarakatnya akan mengagumi dan senang terhadap kemuliaan sifat dan akhlaknya. Juga. hampir seluruh tokoh pendidikan mengatakan bahwa. Buruknya Interaksi orang tua Orang tua adalah pendidik pertama. yang paling tragis. bagi orang tua hendaknya ia memperhatikan sang bauh hati. Dan arahkanlah agar ia berteman dengan orang yang baik. maka tidak dapat diragukan lagi. Pun dalam hal akhlaknya. 175 .

meskipun hal peredarannya sudah dilarang dan banyak yang terkena razia. Karena film tersebut telah mempengaruhi jalan pikirannya. Terlebih lagi film porno sudah beredar dengan sangat mudah dikalangan masyarakat kita. Karena sikap itu terlahir dari orang tua yang menanamkan kekerasan. Dengan banyaknya VCD yang menonjolkan aurat wanita maupun hubungan diranjang. berfilman maupun acara televisi sudah biasa menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan dan porno. Anak kecil maupun ABG. namun VCD-VCD yang berbau hubungan seksual masih beredar sangat banyak. Jika hal itu sudah terjadi. maka anak tidak akan dapat lagi dibebaskan dari pikiran-pikiran keras dan kotor. Menonton Film Kekerasan dan Film Porno Belakangan ini.Pendidikan Karakter Oleh karena itu. sungguh hal itu adalah malapetaka yang sangat besar. jika mereka sampai menonton dan menikmati tayangan tersebut. terutama pada anak kecil dan ABG. mereka akan senantiasa mempraktekkannya pada orang lain maupun apa saja. Bukan hanya nasehat orang 176 . jangan salahkan anak. jika ia tidak bisa diarahkan dan menentang kedua orang tuanya. maka ketika melihat film yang menayangkan kekerasan dan seks. sehingga mereka berani berbuat apa saja yang penting dapat melakukan apa yang ada dalam benaknya. kekasaran dan menunjukkan akhlak yang tidak baik. akan membawa dampak yang sangat buruk pada perkembangan anak. dimana keduanya sedang mengalamai transisi dalam hal akal dan pikiran.

Wajib menghilangkan sesuatu yang akan membuat kita celaka dan bahaya. cara terbaik agar dapat diwujudkan terhadap pendidikan anak-anaknya. maka jangan biasakan anak mulai mengenal hal yang berkenaan dengan itu sejak masih kecil. Di antaranya. Juga. selalu melindungi juga mengawasi gerak-gerik anak dari hal-hal yang membuat dirinya tercebur kedalam jurang kemaksiatan. Jika tidak bisa. hal ini tentunya harus dimulai sejak anak masih kanak-kanak. Melindungi dan mengawasi anak dari hal-hal yang menjadi sarana untuk menikmati tontonan film tersebut.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif tua yang tidak akan diterima oleh mereka. 3. arahkan apa yang dimaksud dengan sex dan film 177 . mereka harus mampu mencegah anak untuk membeli maupun membaca majalah yang mengumbar pornografi ataupun pornoaksi. Atau. Dan tidak kalah pentingnya. sehingga ia akan menjadi manusia yang mampu melaksakanan amanah dan tugasnya dengan baik. 1. Dan. usahakan anak dicegah membaca media. dimana ia harus diberikan arahan tentang beberapa haknya dan pendidikan yang baik. Untuk menghindari hal itu. dan menunaikan seluruh hak dan kewajiban yang harus diberikan orang tua terhadap mereka. entah ditelevisi maupun majalah yang berkenaan dengan masalah kriminalitas. nonton film yang berbau sex maupun kekerasan. Menanamkan pada jiwa anak rasa tanggungjawab. kiai maupun ustad nasehatnya sudah tidak lagi menjadi perhatiannya. orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab akan pendidikan anak. Pun. 2.

jika anak berada pada golongan yang pertama. Nah. 178 . jika masuk pada golongan yang kedua. Dengan keadaan seperti itu. maka ia akan menjadi anak yang shaleh dan mengikuti ajaran agamanya. atau ia berada pada lingkungan yang baik. Pengangguran Ada dua golongan masyarakat. Sebaliknya. Nah. banyak sekali kejahatan yang terjadi didalam lingkungan masyarakat. ia mempunyai isteri juga beberapa anak. Dan jika ditanya alasan mereka melakukan kejahatan. karena tidak ada pekerjaan dan sulitnya mencari nafkah. anak akan susah diarahkan dan menyukai sesuatu yang tidak dibenarkan menurut kedua orang tuanya. belum mendapat pekerjaan.Pendidikan Karakter yang berkisahkan tentang peperangan. Jika sudah keluar dari rumah karena dalam keadaan lapar dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. anggota keluarga dalam hal ini adalah anak. terlebih lagi ajaran agamanya. Pada saat itu. kedua adalah golongan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaannya memiliki perilaku yang tidak baik. Sehingga ia tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dikala keluarga dalam keadaan lapar. pertama adalah golongan masyarakat yang mengajak pada kebaikan. sehingga anak menjadi enggan untuk menonton dan membacanya. akan berusaha keluar dari rumah dan tidak akan menuruti perintah kedua orang tuannya. itulah salah satu yang menyebabkan anak kita terjerumus dalam kobangan dosa. dan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer lainnya. Namun. karena tidak adanya lowongan. Mengapa? Jika seorang lelaki yang sudah berkeluarga.

sampai ia mendapatkan pekerjaan. perilaku demikian merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama. Pertama. mengarahkan. menganggur karena terpaksa. Kedua. Negara yang bertanggungjawab dalam menjamin kebutuhan orang tersebut. Jika masih tidak mau melakukan hal itu. artinya ia sudah mencari kemanapun bentuk pekerjaan. Masyarakat disekelilingnya juga bertanggungjawab untuk menjamin kebutuhannya. 2. namun ia masalah mencari pekerjaan. memberikan wawasan dan pengertian akan pentingnya sebuah pekerjaan maupun usaha. merampok maupun mau untuk disogok (suap). ada dua solusi untuk mengatasi pengangguran yang sudah mencari pekerjaan namun tidak kunjung mendapatkannya. karena yang dipikirkannya adalah uang dan uang. sehingga menjadi pengangguran. namun belum mendapatkannya. Untuk bagian yang pertama. padahal lowongan pekerjaan terbuka luas. seperti mencuri. sampai ia mendapatkan pekerjaan. Pemerintah adalah instansi yang paling bertanggungjawab terhadap orang yang mampu bekerja. Diantaranya. namun ia malas untuk bekerja. Nah. 1.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif maka anak akan berusaha menghasilkan harta dari yang tidak dibenarkan . Yang pertama kali dilakukan oleh pemenerintah terhadap mereka adalah. menganggur bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan. Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran? Sebelum membahas masalah pengangguran. kita akan bagi menjadi dua kelompok alasan mereka menganggur. maka pemerintah 179 . padahal peluang kerja banyak ditemukan.

Pendidikan Karakter tidak dilarang untuk menggunakan kekuatan dan memaksa orang tersebut untuk bekerja. dan pulang dimalam hari pada saat anak sudah tertidur. maka ia akan mampu menjadikan anaknya pemuda yang baik dan bertanggungjawab. Seorang ibu memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang ayah. sehingga ia mampu menjadikan anak selalu siap untuk berkompetisi dalam hal akhlak dan tanggungjawab. ia adalah orang yang paling bertanggungjawab. orang tua. sehingga sulit untuk diarahkan dan dibimbing adalah akibat dari kedua orang tuanya yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Orang Tua Yang Tidak Memperhatikan Pendidikan Anaknya Sungguh. ia yang mengemban amanah dan bertugas untuk melindungi. Juga. Mengapa? Karena tanggungjawab dalam mendidik anak sudah ditekankan sejak 180 . dan mengabaikan perhatian juga pendidikan pada anaknya. terutama dalam menegakan agama. bencana terbesar dan terburuk yang menyebabkan anak memiliki akhlak yang tidak baik. baik ayah maupun ibu yang sibuk diluar rumah karena tuntutan pekerjaan. Agar tidak terjadi hal yang demikian. jika mau mempersiapkannya. Semisal. maka jangan pernah lupa tugas ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anaknya. Namun dalam hal pendidikan anaknya. Sang ibu adalah pendidik pertama. Keduanya menyerahkan urusan rumah pada baby sister (pengasuh bayi) ataupun orang lain. memberikan pendidikan yang baik. sehingga berangkat dipagi hari pada saat anak belum bangun dari tidur.

Untuk itu. manakah yang lebih penting dalam kehidupan kedua orang tuanya. selain kehancuran dan kerusakan yang akan dibuat oleh anaknya sendiri. sehingga kelak dikala kedua orang tua sudah tidak mampu lagi untuk berusaha dan berjalan karena jompok. Semua itu dipersiapkan agar anak memiliki tanggungjawab. Maka berilah waktu luang untuk mendidik anak dan memberikan kebutuhannya baik dalam sekolah maupun nafkah. meninginkan anak yang rusak dalam segi akhlak dan moral? Jika kita ingin generasi penerus selanjutnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga. jika orang tua sudah tidak lagi peduli akan kepentingan anaknya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Keimanan Yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal keimanan 181 . dan jika orang tua sudah tidak lagi menghiraukan dengan siapa sang anak bergaul. Memiliki anak yang shaleh dan taat pada orang tua maupun agama. maka apalagi yang ditunggu dari sang anak. agama dan bangsa. sampai ia beranjak dewasa dan akil baligh. kasih sayang dan istiqamah dalam kehidupannya. sang anak bisa untuk diandalkan dalam mengurusi keduanya. Juga. Jika kedua orang tua sudah tidak lagi memperhatikan anakanaknya. Ia senantiasa melakukan tindak kriminal. dengan seperti ini anak akan berkembang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga serta masyarakatnya. tidak segan menggunakan narkoba dan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama dan masyarakatnya. atau sebaliknya. dan ia akan merasa diperhatikan.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif anak lahir dari rahim.

siksa kubur. hati pertanggungjawaban. Khusus masalah penjelasan Qada’.Juga.Agar anak mengetahui perihal hukum yang berkenaan dengan ibadah sejak masa pertumbuhannya. Untuk itu. diharapkan dari ibadah yang di ajarkan pada anak. mampu memanaje kehidupannya dengan baik. Juga. dan selalu beribadah dalam segala hal. memiliki akidah yang kuat. ceritakanlah pada anak agar keyakinannya bertambah perihal. Lalu. menjelaskan hal-hal yang ghaib. seperti setan dan jin. para rasulnya dan menjelaskan tentang Qada’ juga Qadar. Malaikat. Anak akan mengatakan dan menyerap apapun yang ia dengar dari orang lain. ajari dan perkenalkanlah pada anak perihal perbuatan atau barang yang halal maupun yang haram. agar kelak ia mampu membedakan kedua hal tersebut. terlebih lagi ketika ia sudah mulai dapat memahami sesuatu. mereka harus menanamkannya pada anak agar kelak ia tumbuh sebagai insan yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan ajaran Islam. Iman kepada Allah SWT. api neraka dan hal yang ghaib lainnya. apakah yang dimaksud dengan ajaran dasar dalam hal keimanan? Ajaran dasar tentang keimanan adalah menanamkan pada jiwa anak tentang kebaikan dan kebenaran dari hakekat keimanan yang dimilikinya. hari kiamat. Kitab-kitab suciNya.Pendidikan Karakter yaitu menanamkan dasar keimanan pada anak sejak ia mulai mengerti perkataan dan pembiacaraa orang lain. 182 . Juga. hatinya semakin suci. pertanyaan Malaikat ketika dialam kubur. Itulah yang harus dipahami oleh para pendidik terutama orang tua. tentang surga.

entah sang ayah maupun ibu. dan menanamkan perkaatan dan perbuatannya selalu dalam hal kebaikan. hidup semuanya sendiri.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif fisiknya senantiasa diberikan kesehatan. Acuhnya ayah. tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya selalu mengikuti hawa nafsu bejatnya dan suka berbuat onar dengan membunuh. Dan. Ia tumbuh menjadi anak yang kasar. karena orang tua yang mendidiknya demikian. 183 . mengajarkan akhlak. Di mana ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki tanggungjawab. karena orang tuanya bersikap baik dan memperlakukannya dengan baik. tidak jujur dalam mengemban tugasnya. tidak memiliki tujuan hidup. merampok sera mencuri. Pun. Jika melihat kenyataan seperti itu. Anak tidak akan mungkin dapat dipisahkan dengan kedua orang tuanya. minimalnya ketika pertama kali orang tua dalam mencari pasangan hidupnya. dan tidak mau untuk berbuat demi kemahslatan orang tua maupun masyarakatnya. Tentunya tidak ada satupun orang tua yang menghendaki anaknya bersikap seperti layaknya hewan yang tidak suka diatur. ibu maupun tenaga pengajar dalam memberikan pendidikan keimanan pada anak. maka orang tua. beringas dan tidak bisa di atur. maka akan membawa dampak negatif pada perkembangan selanjutnya. tidak dapat berkompetisi dalam segala hal dengan yang lainnya. Juga para tenaga pengajar adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam mengajarkan anak perihal keutamaan dan kesempurnaan iman kepada Sang Pencipta. tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya keluar dari agama. ia baik.

niscaya ia akan tumbuh menjadi insan yang senantiasa menjaga kemashlataan agamanya. Di mana semua itu wajib untuk dimiliki setiap anak. lalu ia tumbuh dilingkungan yang selalu menanamkan keimanan. Untuk itu. menginformasikan 184 . Seorang anak. Akhlak. memberikan cara bagaimana dapat menggapai keridhaan-Nya dan mengajarkan cara untuk meningkatkan ketakwaan. sejak ia terlahir dari rahim ibunya. Orang Tua dan Tanggungjawabnya Terhadap Pendidikan Akhlak Yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah semua pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar akhlak. arahkanlah anak didiknya ketika disekolah. Jika orang tua sudah mampu menanamkan pendidikan iman pada anak. mendidiknya agar takut kepada Tuhan. keutamaan perilaku dan sikap. perilaku dan sikap yang baik merupakan buah dari pendidikan iman kepada anak. Semua itu harus dilakukan disetiap kesempatan yang dimiliki kedua orang tua.Pendidikan Karakter Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada anak. agar kelak ia dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki akhlak yang luhur dan berguna untuk masyarakatnya. pendidikan akhlak pada anak harus mulai dibiasakan sejak usianya masih kecil sampai ia tumbuh dewasa. maka orang tua harus mampu bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam mendidik dan menanamkan keimanan padanya. Sedangkan bagi tenaga pengajar. sebelum dapat memberikan arahan akan iman pada Tuhan. Jangan pernah sesaatpun meninggalkan sebuah kesempatan.

Seorang anak yang sudah ditanamkan keimanan dan ia mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. menolong dan menerima taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif bahwa Tuhan adalah dzat yang selalu mengawasi. dan berkompetisi dengan umat lainnya. maka lihatlah dilingkungan kita antara orang tua maupun tenaga pengajar yang menanamkan pendidikan iman. maka ayah dan ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anaknya terhadap akhlak. 185 . Dan mereka yang tidak memberikan pendidikan iman. agar kelak ia menjadi anak yang berguna untuk kedua orang tua. Niscaya anak akan mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan keberhasilan yang berpihak padanya. ia akan mampu menjaga dirinya dari sifat-sita yang tidak terpuji. Karena sudah tertanam keimanan. Untuk itu. perilaku dan sikap yang layak untuk dijadikan tauladan bagi umat lainnya. salah satu hak anak adalah diberikan pendidikan yang baik dalam hal akhlak. manakah yang lebih baik dalam bersikap. senantiasa hatinya selalu mengajak untuk menerima kebaikan. agama dan bangsa. berinteraksi. Ia akan senantiasa memperlihatkan pada masyarakat akhlak yang terpuji. Hati dan jiwanya senantiasa mengintrosfeksi setiap kesalahan yang diperbuatnya lalu ia segera untuk memperbaiki dirinya. akidah dan akhlak yang benar pada anak maupun muridnya. menyaksikan. Untuk lebih menguatkan pandangan di atas. hatinya selalu mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama dan hidupnya senantiasa bersikap lemah lembut dengan akhlak yang terpuji. dari kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. akidah dan akhlak pada anak maupun muridnya.

tidak mudah mengeluh. dan ketika ada kesalahan maupun dosa yang diperbuatnya. dan mencintai orang lain. tentunya setiap daerah berbeda-beda.Pendidikan Karakter Tanggungjawab orang tua di dalam memberikan pendidikan akhlak. orang tua bertanggungjawab untuk mengajarkan anak perihal menjaga lisan dan membersihkannya dari perkataan kotor dan keji. bukan hanya mengajarkan satu dari beberapa akhlak yang ada didalam ajaran agama. orang tua sejak anak masih kecil dididik untuk berkata jujur. Juga. Dan. menghormati yang lebih tua. ia mampu menanganinya dengan baik. istiqamah. menanamkan pada anak sikap untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain. amanah. akhlak atau perilaku yang mampu membuat anak mengangkat kehormatan agama. Lebih dari itu. memaki. Semisal. kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memberikan pendidikan akhlak pada anak mencakup keseluruhan akhlak. dan kalimat-kalimat buruk lainnya. Apa saja yang menjadi tanggungjawab tua dalam hal akhlak? Diantaranya. Yang paling penting bagi orang tua dalam menjaga perkataan anaknya jangan sampai dengan perkataannya membuat orang lain tersinggung. Juga. dan mengajarkan bagaimana ia dapat bersikap baik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Juga. berteriak. berbuat baik kepada tetangga tidak boleh menyakiti dengan cara apapun. mencaci. 186 Masih tanggungjawab orang tua dalam menanamkan . memuliakan tamu yang datang ke rumah. menghardik. sikap dan perilaku yang mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Perkataan dan sikap yang menunjukkan pada kebohongan. Merampas hak orang lain secara paksa 3. fakir miskin dan orang-orang yang terkena musibah. Emat hal itu adalah. Agar ia dapat berbuat baik pada anak yatim. gempa. Mencela dan mencaci. bagi ayah.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif pendidikan akhlak pada anak. entah itu berita duka. Mencegah anak agar tidak melakukan hal yang merusak dan 187 . 1. hindari perkataan tidak baik yang dapat didengar oleh anak. Seperti halnya orang tua juga bertanggungjawab terhadap pendidikan akhlak anaknya dengan menanamkan perasaan kasih sayang. anak biasanya akan mengatakan apa yang didengar. banjir. mengejarkan bagaimana melakukan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan norma agama. ibu para pendidik atau siapa saja yang berhubungan dengan pendidikan untuk memperhatikan empat hal. Oleh karena itu. kebakaran. Untuk itu. longsor dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sikapnya yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. agar anak terhindari dari perilaku yang tidak baik. hal ini harus benar-benar dihindari dan orang tua harus mampu mengarahkan agar anak senantiasa berlaku jujur 2. dan lemah lembut. akhlak yang buruk dan sifat yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk orang lain. Dan tanamkan pada jiwa anak untuk mengatakan hal yang baik-baik saja 4. dan mencegah sesuatu yang akan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. Yaitu.

Oleh karena itu. dan informasikan akan bahaya yang ditimbulkan jika berkata bohong. Karena kebohongan adalah sesuatu yang mengerikan dan akan merusak suatu bangsa terlebih lagi agama. kehormatan dan harga diri. apabila orang tua mampu melakukan hal demikian. yaitu hindari berkata atau bersikap bohong pada anak. berilah hukuman yang tidak menganiaya ketika anak berkata bohong. mudah-mudahan anak tidak menyukai kalimat dusta dan senantiasa berkata jujur. dimulai dari diri sendiri. pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak merupakan suatu keharusan. Sungguh. terutama mencegah dirinya dari berkata tidak jujur’ Karena jika hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. agar ia tidak lagi merengek dan menangis.Pendidikan Karakter menurunkan kehormatan dan harga dirinya juga keluarga. Adapun langkah pertama untuk membiasakan anak agar tidak berkata dusat adalah. anak akan menjadi insan yang senantiasa bersikap jujur baik dalam perkataan maupun sifatnya. Juga. maka tidak mustahil kelak iapun akan bersikap demikian. terlebih lagi jika adalah seroang pemimpin suatu bangsa atau pemimpin lainnya. Dengan sikap orang tua seperti itu. 188 . hindari berkata bohong ketika kita tidak menyukai sikap maupun perilaku anak. Maka bagi orang tua maupun tenaga pengajar hendaknya mencegah anak untuk berkata bohong. dan tanamkan selalu kejujuran pada perkataan dan kepribadinnya. Sehingga ia menjadi anak yang dipercaya oleh semua kalangan. Sungguh mengerikan bagi orang yang senantiasa perkataannya mengandung dusta. nasehatnya akan selalu didengar dan perkataannya senantiasa di ikuti.

Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Sebaliknya. dan menanamkan pada jiwa mereka akan sifat amanah. ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dalam mendidik anak: 1. 189 . Dan senantiasa menanamkan keistiqamahan pada anak-anak mereka.maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Terutama seorang ibu harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. ayah mauspun ibu berhatihatilah dalam memberikan contoh pada anak. Membiasakan anak berdisiplin sejak usia dini. jika orang tua sudah membiasakan diri berkata bohong pada anak. menjaganya agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain. ketika melihat sikap maupun perilakunya tidak baik dengan berkata ‘ Awas nak ada kucing atau apa saja’ padahal apa yang kita katakan tidak ada. Dengan demikian. jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini. Dan yang paling menghawatirkan adalah apabila sikap tersebut terbawa hingga ia besar dan menjadi seorang pemimpin. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak. agar anak belajar mencintai orang lain. Untuk itu. Hal ini penting sekali. maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. bagi orang tua. Memberikan kasih sayang pada anak. 2. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini.

di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru.Pendidikan Karakter Fakta membuktikan bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap. itu semua berpengaruh baginya. Terkadang melebihi apa yang kita duga. adalah besar sekali. Memang. atau tanpa kesadaran purna. sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini. sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang. “Karena kemampuan anak untuk menangkap. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Anak akan menangkap secara tidak sadar. dengan sadar atau tidak. Sebab. 190 . Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak. dan akan meniru secara tidak sadar. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. 3. sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya.

dan dijauhkan dari sikap rakus. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum. atau lainnya memulai dari kanan. 4. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan. segala yang dilihat atau didengar di sekitamya. Dilarang bermain dengan hidungnya.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif atau tanpa kesadaran purna. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus. Jika makan dengan tangan kiri. makan dan minum dengan tangan kanan. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek. memberi. Antara lain: • • • • • • • • • Dibiasakan mengambil. baju. Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat 191 . Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri. Ketika mengenakan kain.

Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi. dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik. dan sehabis bangun tidur. sebelum tidur. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada. dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin.Pendidikan Karakter • • • • • • • dan tidak memulai makan sebelum orang lain. sanak familinya yang masih kecil. dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”. dan jangan sampai bersuara. sekalipun hanya sedikit. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. 192 Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap. • . • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan.

Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik. tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu). jika memungkinkan. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar. bahkan menjauhkan kotoran darinya. dan Abi (Bapak). karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya. bukan di tengah jalan. dipaksa untuk menerima kebenaran. Tidak membuang sampah dijalanan. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya. Tapi kalau tidak. dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka. jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan. Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif • • • • • • • • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya. • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi laran- 193 . Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya.

194 . seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan. mainan atau diajak jalan-jalan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan. sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. sekalipun menyebabkan bajunya kotor.Pendidikan Karakter gan. • Dibiasakan menghormati milik orang lain. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak. • Tidak dilarang bermain selama masih aman. dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain.

W. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. In: J. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. (1983). Teachers College Press. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. and Civic Education in the Elementary School. Character in the Basic School.S.Bennigna (ed). Berkowitz. Studios 4 Productions. Moral Character. 1995. 195 . 1991. Depok.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif DAFTAR PUSTAKA Anonim. Coon.L. S.D. Dennis.Goble. and F. Making a Commitment to Character. The Education of Complete Moral Person Brooks.M. 1998. UI.E. New York.J. Badingah. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh.G. Boyer.W. B. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues. Moral Literacy and the Formation of Character. 2010 Pembangunan Karakter bangsa 2010-2025 Pemerintah Republik Indonesia Bennet. West Publishing Co. (1993).

IPB.W. 2001. McGraw Hill Kogakusha International Student. 1997.F. Pustaka Mizan. T. Goleman. Megawangi. _________.Widiastuti. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani..com. 1991.D. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial.B. 1995.F. http://encyclopedia. Ratna. 1999. Fagan. Megawangi. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. Simon & Schuster.Faperta. 1995. E. I.W. Diakses tanggal 26 April 2004. (2003). Lickona. 1992. Why It Can Matter More than IQ.W.R.R. Sixth Edition. New York.D. Horn.Tanjung. Educating for Character.Puspita.thefreedictionary. Mack. Children and Family in America: Chalange for the 1990s. Family and Community. New York.D. Jurusan GMSK. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Hurlock. IPPK Indonesia Heritage Foundation 196 . The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family. Bantam Books. Emotional Intelligence. 1992.F. Kilpatrick.Pendidikan Karakter Dina. Bandung. 1981. Bantam Books. New York. P. 1994. New York. E. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. Inc. Child Development. Bantam Books.

1986. Character and Academics in the Elementary School..Q.A. Teachers College Press. New York. Wade. 1993. Shambala Publications. 1995.A. Houghton Mifflin Company. Values. Pitirim. Harper & Row Publishers.W. Rohner. 1990.Tavris. Vasta.R. California.Miller. Pada bulan Oktober 2001.A. 1992. New York. and C. John Wiley & Sons Inc..Haynes. Rich. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools.J. 194. Statistics of Teens. 2002.M. New York.S. 1997. The Moral Sense. 1990. “The Basic Trends of Our Time”.E. The Child. Simon & Schuster Inc. Pickthall.R. Wilson. Ryan and Bohlin.com. 1991. Nord.E. and C.J. Psychology. M. Family Socialization and Academic Achievement.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Neuman.C. Child Psychology: The Modern Science. 2002. Views or Virtues? Schikendanz. and Civic Education in the Elementary School. Mega Skills. In J. 1999. New Haven.Haith.Y. Building Children’s Achievement for the Information Age.A. College & University Press. Sage Publications.C.17-18). Massachusetts. 197 . Boston University Press. Moral Character.New York. p.Inc. Dikunjungi di: Info@ soundvision. New York..S. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory. Benigna (ed). Wynne.D. Sorokin.

Psikologi Anak. Hoffnung. 2009. Menumbuhkan Minat Beragama dan Akhlak Bagi Anak dan Remaja. Psikologi Perkembangan. Bandung. Paul. Rosyda Karya. Jakarta: Kompas Sukardjo dan Komarudin. Yogyakarta: Kanisius. 2001. CA : Wadsworth Cole. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Mudyahardjo. Kartini. Penerbit Alumni. Kelvin L & Robert J. Gramedia Pustaka Utama. 1991 Kartono. Kemendiknas. 2002. 198 Seifert. Pengantar Pendidikan. 2005. M. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soedijarto. Hermaya. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . 2010. Bellmont. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. et al. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. D.F. 2000 E Sphero Lawrence. 1982 Bjorklund. Jakarta Elizabet B.1987. (2005). . Emotional Intellegence. Child and Adolescent Development. 3rd ed. Reformasi Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Suparno. New York: Worth Publishers. Malik Fadjar. Redja. Hurlock. Boston: Houghton Mifflin Company. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. A. 2002. 2008. The Development of Children. Bandung. dkk. Terjemahan T. Jakarta.Pendidikan Karakter Dzakiyah Darajat. Jakarta: Erlangga. Holistika Pemikiran Pendidikan. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences.

Yoder. James O. London: Routledge & Kegan Paul LTD.Strategi Membangun Moralitas Anak Secara Efektif Crain. The Growth of Logical Thinking. Belmont: Thomson Wadsworth. (New Jersey: Prentice Hall.Second Edition. Diskursus Islam dan Pendidikan. Madison Wl: Brown & Benchmark Publisher. Thomas. New Jersey: Pearson Education. Alex & Jeff Grimes (ed. (Jakarta: Rineka Cipta. Inhelder. Washington DC: The National Association of School Psychologist. 1415 H) Hahn. The Self-Confident Child.R. Muhammad Tolchah. (Ja199 . Life-Span Development. The Psychological Assesment of Children. Englewood Cliffs. Jean & William Proctor. An Introduction to Theories of Learning. Knopf. 2005. 1988. Sixth Edition. (ttp: Isa al-Babi al-Halabi.1987. 1997. Hergen. William. Ilmu Pendidikan. Concept and Applications. Ahmadi. Theories of Development. Muhammad ‘Athiyah. t. B. 1976) Hasan. Abu & Nur Uhbiyati.2005. Vander. New York: Facts on File Publications. Comparing Theories of Child Development. New York: Alfred A. Sixth Edition. From Childhood To Adolescence. Children’s Needs: Psychological Perspectives. Muhammad Hasyim. Thomas. Santrok. New York: John Wiley & Sons Inc. James W.1983. Barbel & Jean Piaget.). (Jombang: Turast al-Islam. Third Edition. Ruh al-Tarbiyah Wa al-Ta’lim. John W. Zanden. 2001) Al-Abrasyi. R Murray. Human Development. Adab al-’Alim wa al-Muta’allim.1985. Palmer.t) Asy’ari.

Zurinal & Wahdi Sayuti. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Comperative Education Review. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik. Estarella. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. 1970). (Ar-Ruz Media. 2006). Nurul. Malpraktik Pendidikan.Pendidikan Karakter karta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia. Dinamika Sistem Pendidikan. The Education of Don Quixote. (Jakarta: Bumi Aksara. (Yogyakarta: Genta Press. 2008) Z. Matinya Pendidikan: Redefinisi NilaiNilai Sekolah. (Jakarta: UIN Press. 2007 200 . no 1 Wibowo. 2007) Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Sayyed Hossein. HAR. PT. 2008) Mastuhu.. 2010) Juan. I Zuriah.I Postman. 6. Evaluasi Pendidikan Nilai. 1994) Nasr. vol 6. (New York: New American Library. Neil. the End of Education Redefining the Value of School. (Yogyakarta: Jendela. (Jakarta: INIS. (terjemahan). Cet. Siti Farida. PT. 2001) Tilaar. Bumi Aksara. Mawardi. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Science and Civilization in Islam. 1990) Abdullah Nashih Ulwan. Jakarta. RajaGrafindo Persada. (Jakarta: Balai Pustaka. Ilmu Pendidikan Pengantar & DasarDasar Pelaksanaan Pendidikan. Agus. terj. Jakarta. 2006 Nurul Zuriah. 2000) Lubis. Cet. Mendidik Anak Secara Islami.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->