P. 1
Esai psikologi

Esai psikologi

|Views: 178|Likes:
Published by Barkah Bas

More info:

Published by: Barkah Bas on Sep 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/23/2013

pdf

text

original

Remaja dan Perilaku Konsumtif

administrator Share

Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja. Pola Hidup Konsumtif Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif. Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribu digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan, sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif? Perilaku Konsumtif Remaja Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikutikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif. Dari sejumlah hasil penelitian, ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. Perbedaan tersebut adalah: Pria: Wanita: mudah terpengaruh bujukan penjual sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli. lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya tidak mudah terbawa arus bujukan penjual menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif cepat merasakan suasana toko senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli). Daftar ini masih dapat dipertanyakan apakan memang benar ada gaya yang berbeda dalam membeli antara pria dan wanita. Selain itu, penelitian-penelitian yang telah dilakukan belum mendapatkan hasil yang konsisten apakah remaja pria

atau waniata yang lebih banyak membelanjakan uangnya. Apakah Konsumtif Berbahaya? Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya. Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika. (rt) Oleh Raymond Tambunan, Psi. Sumber: Informasi Psikologi Online

Massa Punya Psikologi Sendiri
administrator Share

KETIKA banyak parpol yang mengerahkan massa ke KPU dan dengan beringas menduduki kantor KPU, karena tidak lulus kualifikasi, banyak yang mencemaskan keamanan Pemilu 2004. Apalagi saat banyak caleg yang ikut-ikutan membawa massa berunjuk rasa ke kantor DPW atau DPP masingmasing gara-gara nomor urutnya digusur dari nomor jadi ke nomor tidak jadi. Langsung para pakar meramalkan, Pemilu 2004 akan berdarah-darah. Baru Parpol dan caleg gurem saja sudah begitu beringas, bagaimana bila yang nanti kecewa adalah parpol-parpol besar? Bukankah pasti akan terjadi tawuran, begitu massa dari satu parpol berpapasan dengan massa parpol lain? Itu sudah benar-benar terjadi pada masa prakampanye di Bali. Apakah tidak ngeri? Di sisi lain, sejak dulu saya tidak yakin pemilu akan berdarah-darah. Beberapa korban pasti akan jatuh, misalnya karena kecelakaan lalu lintas akibat kecerobohan anggota massa sendiri (terjatuh dari truk, tergilas roda kendaraan, dan sebagainya), atau tawuran antarkampung yang masyarakatnya sudah musuh bebuyutan sejak dulu, tetapi kali ini mendapat identitas parpol berbeda. Itu wajar dan sulit dihindari dari fenomena massal yang begitu kolosal seperti Pemilu 2004. Namun nyatanya, sampai tulisan ini dibuat, belum ada konflik yang signifikan, apalagi sampai mengambil korban nyawa. Di berbagai tempat, arak-arakan berbagai parpol bisa berpapasan. Masing-masing dengan gaya yang sama (motor dibuka knalpotnya, kepala botak atau dicukur dengan nomor parpol jagoannya, muka dicoreng-coreng, dan sebagainya), hanya kaos dan bendera yang berbeda. Pada tahun 1999 dan sebelumnya, dua kelompok massa yang berhadapan pasti akan langsung bertempur. Tetapi kini, paling hanya saling memberi salam, melambaikan tangan, dan melempar senyum. Bahkan yang saya lihat sendiri di Jakarta, beberapa sepeda motor berbendera Partai Demokrat "terjebak" arus rombongan besar PDI-P yang serba merah dan tidak terjadi apa-apa. Bahkan "oknum-oknum" Partai Demokrat itu dengan santai mengikuti arus merahnya PDI-P, sambil sesekali ngobrol dengan peserta arak-arakan dari PDI-P yang kebetulan di sebelahnya. Jadi, saya yang kebetulan sedang ada dalam bus way seakan melihat lautan merah dengan riak-riak biru muda di sana-sini. Mengapa tidak rusuh? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jelas, karena justru kampanye damailah yang terjadi, bukan rusuh seperti banyak diperkirakan para pakar sebelumnya. Beberapa jawaban yang sering dilontarkan terhadap pertanyaan ini antara lain rakyat sudah jenuh dengan kekerasan, rakyat sudah tambah pandai dan mengerti, dan rakyat sudah bosan dibohongi partai dan politisi busuk. Jawaban-jawaban itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena, rusuh massa akhir-akhir ini melanda hampir semua bagian dunia, termasuk negara maju yang rakyatnya sudah lebih terdidik Dalam Psikologi Sosial, ada teori yang menyatakan, massa itu bersifat irasional, emosional, impulsif, agresif, dan destruktif. Dengan kata lain, menurut teori yang antara lain dikemukakan G Le Bon ini, suatu massa yang "jinak" (seperti pengunjung pasar, atau penonton bioskop) bisa tiba-tiba beringas jika ada pemicu. Inilah mungkin yang menyebabkan para pakar tergoda menilai pemilu sebagai pemicu yang potensial. Meski demikian, ada satu hal yang sering luput dari pengamatan para pengamat, yaitu tidak setiap hal (termasuk pemilu) bisa memicu kerusuhan. Menurut teori perilaku massa dari N Smester, misalnya, pemicu hanya salah satu faktor, sekaligus faktor terakhir dari seluruhan enam faktor yang menjadi prasyarat untuk terjadinya perilaku massa. Kelima faktor lain di luar faktor pemicu itu adalah (1) tekanan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, biaya hidup, dan pendidikan yang mahal; (2) situasi yang kondusif untuk beraksi massa, seperti pelanggaran tidak dihukum dan diliput media massa; (3) adanya kepercayaan publik, dengan aksi massa situasi bisa diubah; (4) peluang (sarana dan prasarana) untuk memobilisasi massa; dan (5) kontrol aparat yang lemah. Dari kelima faktor itu, yang paling tidak terpenuhi adalah faktor keyakinan publik. Benar, aksi-aksi mahasiswa dan pemuda membawa beberapa perubahan politik yang amat signifikan di tahun 1908, 1928, 1945, dan 1966. Tetapi kenyataan membuktikan, sejak 1998, aksi-aksi mahasiswa hanya bisa menjatuhkan tiga presiden berturut-turut dalam waktu dua-tiga tahun, tanpa memberi perubahan bermakna pada peningkatan taraf kehidupan rakyat sendiri. Kurs dollar naik,

inflasi makin parah, bunga bank melambung, pengangguran makin banyak, dan sebagainya. Malah perbaikan justru mulai tampak pada zaman Presiden Megawati yang relatif stabil. Maka, massa pun tidak percaya lagi aksi massa akan membawa perubahan. Dengan demikian, kampanye pemilu tidak bisa memicu kericuhan. Pemilu 2004 berbeda Hal lain yang kurang dicermati pengamat adalah Pemilu 2004 berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Perbedaannya bukan hanya dalam pemilihan anggota DPD dan pemilihan presiden langsung, tetapi keseluruhan proses pelaksanaan yang tidak lagi dijalankan pemerintah dan aparat keamanan saja, tetapi oleh pihak-pihak independen nonpemerintah, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwas). Dengan adanya anggota-anggota KPU dan Panwas, dari pusat sampai daerah yang independen dan di-fit and proper: DPR/DPRD sendiri, maka tidak ada yang bisa dijadikan sasaran kemarahan massa jika terjadi sesuatu. Kedaulatan rakyat sudah diberi kesempatan untuk melaksanakan sepenuhnya, dan jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, rakyat sendirilah yang salah, bukan orang lain. Apalagi pemerintahnya (dari presiden sampai menteri-menteri) hampir seluruhnya adalah orang-orang partai belaka. Kesadaran yang begitu tinggi, tak akan mungkin terjadi tanpa ada keterbukaan pers yang sudah terlaksana sejak era reformasi. Meski kadang pers kebablasan, kebebasan pers yang sudah dipraktikkan mau tidak mau telah memberi informasi amat banyak, dan lengkap kepada masyarakat. Hal yang tidak pernah terjadi di era serba sensor semasa Orde Baru. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ramalan-ramalan tentang rusuh massa yang bakal terjadi dalam Pemilu 2004, lebih didasarkan paradigma lama, khususnya pada prakiraan-prakiraan yang dikembangkan dari pemikiran dan perasaan sendiri. Padahal, massa mempunyai pemikiran dan perasaan berbeda. Dengan kata lain, massa punya psikologi sendiri. Sarlito Wirawan Sarwono Guru Besar Psikologi UI Sumber: Kompas Cyber Media

Blokade Mental
administrator Share

Menjadi manusia efektif ternyata tidak saja menuntut optimalisasi keunggulan semata melainkan ada kebutuhan lain yang sebesar optimalisasi, yaitu menyingkirkan blokade. Blokade adalah barrier (halangan) yang menghambat potensi kita untuk dapat berfungsi seperti yang kita maksudkan sehingga akhirnya menjadi tidak efektif atau banyak menelan pemborosan energi, waktu dan konsentrasi. Ibarat sebuah talang, jika air tidak mengalir selancar yang seharusnya terjadi berarti terdapat kemungkinan tanda tanya, “there is something technically/strategically wrong”. Bisa jadi talang itu bocor dan membuat kucuran air membanjiri tempat lain yang tidak diinginkan atau aliran air terhalang oleh tumpukan benda-benda kecil. Peristiwa di mana orang menjalani hidup tidak efektif – sebagaimana talang – tidak selamanya disebabkan oleh faktor ketidamampuan (over-burden) tetapi oleh adanya kebocoran atau kemampetan. Kalau mengutip rumusan Paretto (20:80), blokade itulah yang membuat kita menjalani hidup sebaliknya (80:20). Kita mengeluarkan energi 80 % dan hanya menghasilkan 20 % dari sasaran. Padahal mestinya 20 % kita keluarkan dan mendapatkan 80 % sasaran atau setidaknya 30:70, 40:60 atau 50:50. Pertanyaannya, bentuk blokade apakah yang menghambat tersebut? Kemampuan dan Kebiasaan Setelah mengeluarkan pendapat tentang “The Seven Habit – The Most Effective People” , Covey menemukan hubungan korelatif antara kebiasaan efektif dan tingkat aktualisasi kemampuan dasar manusia (dalam: Seven Habit Revisited: seven unique human endowment, Stephen Covey: 1996-1998). Di dalam diri manusia terdapat tujuh kemampuan dasar yang berasosiasi dengan model kebiasaan menurut kontinum tertentu. Tujuh kemampuan dasar (endowment) itu antara lain: 1) Kesadaran-diri (self awareness), 2) imajinasi (imagination and conscience), 3) Kemauan (will power), 4) mentalitas berlimpah (abundance mentality), 5) Keberanian (courage with consideration), 6 ) Kreativitas (creativity), 7) Pembaruan (self renewal). Ketujuh kemampuan dasar itu digolongkan menjadi dua, yaitu primer (1,2, 3) dan sekunder (4, 5, 6, 7). Adapun tujuh kebiasaan manusia efektif (seperti yang sudah dijelaskan dalam buku Covey yang telah beredar di sini) adalah: 1) Proaktif (Proactive), 2) Berawal dari tujuan akhir (Begin with the end), 3) Mengutamakan yang utama (First thing first), 4) Berpikir menang-menang (Think win-win), 5) Memahami lebih dulu (seek first to understand), 6) sinergisitas (synergize), 7) Mengasah gergaji (sharpen the saw). Mari kita mulai membahas bagaimana ketujuh kemampuan dasar (seven endowments) itu menciptakan tujuh kebiasaan tertentu (Seven habits) berdasarkan peringkatnya. Peringkat yang dimaksud adalah tingkat pencapaian kualitas pengembangan diri / aktualisasi kemampuan potensial: 1. Kesadaran Diri - Proaktif Kesadaran-diri adalah kemampuan kunci untuk memahami orang lain dan dunia ini - „what is happening and how something takes the process to happen‟. Bahkan kesadaran-diri merupakan pintu untuk mengenal di mana sebenarnya keunggulan/kelemahan diri kita. Dengan kesadaran-diri yang tinggi maka kaki kita mantap menginjak realitas bumi dan tidak ragu-ragu dalam bertindak. Kemampuan tentang kesadaran-diri apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan efektif berupa proaktif: memiliki kemampuan untuk memilih respon yang cocok atau menentukan keputusan. Dikatakan kebiasaan efektif karena semua persoalan tidak ada yang membingungkan apabila ditangani oleh orang yang berkapasitas mampu mengambil keputusan. Kualitas menjadi pengambil keputusan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh orang dengan kesadaran-diri setengah-setengah. Pada level aktualisasi kemampuan yang rendah, kebiasaan hidup yang dihasilkan tidak efektif ( talang bocor) yaitu kebiasaan reaktif – tidak memiliki kemampuan memilih alias dibentuk oleh bagaimana orang lain dan keadaan membentuknya. Di level ini semua persoalan besar/kecil akan membuat dirinya „bingung‟ - terombang ambing, bahkan bisa jadi tidak tahu mana yang besar dan mana yang kecil. 2. Imajinasi – Tujuan akhir Kemampuan imajinasi apabila diaktualkan secara optimal dengan petunjuk kesadaran dan prinsip akan menghasilkan kebiasaan hidup yang bermuara pada tujuan akhir/kepentingan misi. Orang yang telah melatih imajinasinya pada level tinggi senantiasa akan membuat lilin harapan dan visi menyala sehingga tidak mudah digoda oleh berbagai bentuk

distraksi dari luar dan dari dalam atau tidak mudah kalut oleh kegelapan realitas temporer. Kondisi internal yang terus tercerahkan (enlightenment) oleh lilin harapan dan visi inilah yang membuat dirinya realistic (berada di atas realitas) atau victor (pemenang) dan effective. Sebaliknya, pada level aktualisasi kemampuan yang rendah di mana orang membiarkan imajinasinya liar kemana-mana tanpa kesadaran atau prinsip yang jelas akan menghasilkan cetakan kebiasaan hidup yang tidak berbentuk, atau menjadi korban (victim), sudah kemana-mana tetapi tidak menemukan apa-apa (sense of futility about goal). Imajinasi yang liar bisa terjadi kapan pun dan di manapun yang lazimnya kita kenal dengan aktivitas „ngelamun‟. Secara permukaan sulit dibedakan antara orang ngelamun dan orang yang melatih imajinasi dengan bervisualisasi kreatif tetapi dalam hitungan yang ke sekian kali perbedaan itu akan sebesar kemutahiran kreasi. Bukankah semua temuan tekhnologi berawal dari imajinasi ? 3. Kemauan - Mengutamakan yang Utama Kemampuan manusia berupa kemauan apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup teratur mengutamakan yang utama, dan penuh displin dalam membuat tata letak antara prioritas utama, kepentingan, dan urgensitas. Keteraturan dan displin tidak dapat diraih tanpa kemauan keras untuk merebut tanggung jawab. Orang yang tahu tata letak akan membuat kebiasaan hidup efektif. Pada level aktualisasi yang rendah, kemampuan ini akan menghasilkan kebiasaan hidup berupa mentalitas jalan-pintas, atau the simple answer, menolak tanggung jawab hidup sehingga tidak terjadi keteraturan. Membesar-besarkan hal yang kecil dan mengabaikan hal yang menjadi benih-benih peristiwa besar (kebocoran atau kemampetan talang). Orang yang malas tidak berarti hidupnya efektif meskipun ia menolak bertanggung jawab karena pada dasarnya hidup ini tidak memberi pilihan antara bertanggung jawab atau tidak, melainkan harus bertanggung jawab. 4. Mentalitas Berlimpah - Berpikir Menang-menang Kemampuan mentalitas atau kapasitas mental yang diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan berpikir menang-menang dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Mentalitas berlimpah akan menghasilkan karakter kepribadian berprinsip. Prinsiplah yang menjadi sumber keberlimpahan, kemakmuran dan keamanan. Kalau dikaitkan dengan kecerdasan EQ, tingkat kecerdasan yang tinggi akan mampu memproduksi kebahagian di dalam sehingga berkuranglah tingkat dependensinya terhadap sumber kebahagian dari luar . Semakin kuat orang memegang „principlecentered‟ (berpusat pada prinsip hidup), semakin mudah orang tersebut mengalirkan rasa cinta/penghargaan kepada orang lain - to share recognition. Oleh karena itu dikatakan, mentalitas berlimpah akan menghasilkan profit dan power. Sebaliknya pada level aktualisasi yang rendah akan menghasilkan kebiasaan hidup talang bocor berupa mentalitas kerdil (scarcity) di mana orang merasa kurang dengan dirinya. Rasa bahagia, rasa aman, dan rasa makmur tidak mampu diciptakan oleh dirinya melainkan merasa harus bergantung kepada orang lain sehingga tidak mudah memberi maaf atas kesalahan apapun yang dilakukan oleh mereka. Suami/istri yang bermentalitas kerdil akan mudah bentrok walaupun pemicunya berupa sendok makan yang jatuh padahal (mestinya) cukup diselesaikan dengan memaafkan sedikit. Karena tidak mampu memaafkan akhirnya membuat kebocoran tidak hanya menetes melainkan mengalir deras, dan akhirnya banjirlah rumah tangga. 5. Keberanian - Memahami Lebih Dahulu Kemampuan keberanian apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan efektif berupa memahami lebih dulu baru akan dipahami. Memahami lebih dulu membutuhkan keberanian dengan pertimbangan. Dikatakan efektif karena memahami lebih dulu akan (biasanya) membuat kita dipahami lebih dulu. Memahami lebih dulu adalah membuka talang yang macet atau kalau dipinjamkan dari istilah lain, memahami lebih dulu adalah kebiasaan empati, bukan simpati. Sebaliknya keberanian yang tidak diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup tidak efektif berupa keinginan untuk dipahami lebih dulu baru akan memahami. Jika dikembalikan ke kehidupan kita, akar dari sebab persoalan besar adalah dasar berkomunikasi yang ingin dipahami lebih dulu. Semua orang memang secara alami ingin dipahami lebih dulu. 6. Kreativitas - Sinergisitas Kemampuan kreativitas apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup efektif berupa terciptanya keunggulan sinergis dari perbedaan atau persamaan. Keunggulan sinergis adalah manifestasi kesadaran misi dan tidak dapat diraih dengan pendewaan posisi. Salah satu karakteristik keunggulan sinergis adalah terciptanya saluran komunikasi di antara respectful minds yang berinteraksi untuk menemukan kompromi dan kerjasama. Kenyataan seringkali mengajarkan bahwa pada akhirnya, kerjsa sama yang diolah dengan kreativitas akan menang melebihi „confrontation‟. Sebaliknya kemampuan kreativitas yang tidak diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup tidak efektif berupa kebuntuan alternatif dan kemacetan aliran transformasi. Satu-satunya jalan yang ditempuh adalah membuat

„defensive communication‟ dibarengi dengan pendewaan posisi antara saya dan anda, kami dan mereka. Posisi yang didewakan akan membuat aliran kepentingan misi bisa macet dan akhirnya terbuang ke tempat yang tidak diinginkan. 7. Pembaharuan - Mengasah Gergaji Kebiasaan mengasah gergaji dihasilkan dari kemampuan pembaruan-diri yang diaktualkan secara optimal. Dikatakan kebiasaan efektif karena dengan terus mengasah gergaji (baca: pengembangan diri) dapat mengurangi kemungkinan yang menyebabkan kegagalan atau kelambanan menyelesaikan masalah akibat perubahan keadaan. Seperti dikatan, siksaan paling berat yang kita rasakan adalah ketidaktahuan (kebodohan). Pembaharuan adalah inovasi, improvisasi, pembelajaran, atau merenovasi talang. Sebaliknya, kemampuan pembaruan yang tidak diaktualkan secara optimal akan membuat kita terperosok dalam sistem hidup yang tertutup, gaya hidup yang gelap, dan buntu. Tak pelak lagi sistem dan gaya hidup demikian hanya akan mewariksakn ketertinggalan dari kemajuan zaman, mentalitas kerdil dan kebodohan akan perkembangan informasi. Uraian singkat di atas mudah-mudahan dapat mendorong kita untuk mengecek kondisi talang di atas "rumah diri kita" secara langsung agar dapat membuat kesimpulan yang paling mendekati obyektif; apakah talang yang tidak dapat mengalirkan air sebagaimana mestinya itu disebabkan oleh kerusakan fatal atau hanya kemampetan. Bila yang terjadi hanya mampet, pengalaman menunjukkan sangat amat jarang kemampetan talang diakibatkan oleh benda besar dalam peristiwa sesaat, misalnya pohon yang roboh atau lainnya. Sebab kalau benda besar yang menghalangi langsung kita singkirkan. Lebih sering talang yang mampet disebabkan oleh serpihan kayu, lumpur, lumut yang awalnya kita anggap tidak membahayakan. Dan begitu hujan turun, maka …. Bem! Semoga bermanfaat. (jp) Oleh Ubaydillah, AN Sumber: Informasi Psikologi Online

Labeling
administrator Share

Bodoh sekali sih kamu, begitu saja salah, tidak bisa…… Aduh anak saya ini loh pemalu sekali…….. Dasar anak bandel………. Beberapa orangtua pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas, beberapa orangtua yang lain mungkin pernah mendengar (dan mengucapkan) versi-versi lain dari kalimat sejenis. Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contohcontoh di atas dan bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisi pujian tentang kehebatan-kehebatan anaknya. Orangtua yang "sempurna" dan sulit menerima kesalahan dan kekurangan, mungkin akan lebih banyak mengatakan kalimatkalimat negatif, orangtua yang "adil" mungkin pernah mengatakan kedua jenis kalimat tersebut tergantung keadaan anak, sementara orangtua lain yang selalu berpikir positif dan hanya mau melihat hal-hal positif pada anaknya mungkin hanya mengatakan kalimat-kalimat positif. Semua itu disebut sebagai labeling. Labeling Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia.Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu. Dampak Terhadap Anak Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan "seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian".Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut "anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel". Atau penerapan lain "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Kalau begitu mungkin bisa juga seperti ini "Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar". Pemikiran dasar teori labeling ini memang yang biasa terjadi, ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberikan tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan di atas kemampuannya karena kita berpikir "ah dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia". Karena anak tersebut tidak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang lebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang akan menguatkan pendapat/label orangtua bahwa si anak bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak untuk berusaha yang terbaik, lalu anak akan semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya, cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya. Dengan ia bertindak sesuai labelnya, orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan terus-menerus. Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju, bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhankebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga, tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi. Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya. Saran Bagi Orangtua Adalah penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini diketemukan olehnya lewat respon orang-orang sekitarnya, terutama orang terdekat yaitu orangtua. Kalau respon orangtua positif tentunya tidak perlu dicemaskan akibatnya. Tetapi, adakalanya sebagai orangtua, tidak dapat menahan diri sehingga memberikan responrespon negatif seputar perilaku anak. Walaupun sesungguhnya orangtua tidak bermaksud buruk dengan respon-

responnya, namun tanpa disadari hal-hal yang dikatakan orangtua dan bagaimana orangtua bertindak, masuk dalam hati dan pikiran seorang anak dan berpengaruh dalam kehidupannya. Beberapa saran bagi orangtua: 1. Berespon secara spesifik terhadap perilaku anak, dan bukan kepribadiannya. Kalau anak bertindak sesuatu yang tidak berkenan di hati, jangan berespon dengan memberikan label, karena melabel berarti menunjuk pada kepribadian anak, seperti sesuatu yang terberi dan tidak bisa lagi diperbaiki. Contoh: Kalau anak tidak berani menghadapi orang baru, jangan katakan "Aduh kamu pemalu sekali", atau "Jangan penakut begitu dong Nak", tetapi beresponlah "Tidak kenal ya dengan tante ini, jadi tidak mau menyapa. Kalau besok ketemu lagi, mau ya menyapa, kan sudah pernah kenalan". Kalau anak nakal (naughty), jangan katakan bahwa dia nakal tapi katakan bahwa perilakunya salah (misbehave). Anak-anak sering berperilaku salah, selain karena mereka memang belum mengetahui semua hal yang baik-buruk; benar-salah; boleh-tidak boleh, mereka juga suka menguji batas-batas dari orangtuanya. Misalnya, kakak merebut mainan adik, katakan "Kakak, merebut mainan orang lain itu salah, tidak boleh begitu. Kalau main sama adik gantian ya" (dan bukan mengatakan "Kakaaaaak, nakal sekali sih merebut mainan adiknya"). Dengan demikian tidak ada pesan negatif yang masuk dalam pikiran anak, dan bahkan anak didorong untuk mau bertindak benar di waktu berikutnya. 2. Gunakan label untuk kepentingan pribadi orangtua. Sebenarnya melabel tidak selamanya buruk, asalkan label tersebut digunakan orangtua untuk dirinya sendiri, agar lebih memahami dinamika perilaku anak. Misalnya, "Anakku A lebih bodoh daripada anakku B". Tapi label tersebut tidak dikatakan di depan anak, "A kamu itu kok lebih bodoh ya daripada adikmu si B". Dengan mengetahui dinamika anak lewat label yang ada dalam pikiran orangtua sendiri, hendaknya orangtua menggunakan label tersebut untuk menyusun strategi selanjutnya, agar kekurangan anak diperbaiki. Misalnya, setelah mengetahui A lebih bodoh daripada B, maka orangtua memberikan lebih banyak waktu untuk mengajarkan sesuatu dan mempersiapkan diri untuk lebih sabar jika menghadapi A. 3. Menarik diri sementara jika sudah tidak sabar. Adakalanya orangtua sudah tidak sabar dan inginnya melabel anak, misalnya "Heeeeh kamu goblok banget sih, 1 + 1 saja tidak bisa-bisa". Jika kesabaran sudah diambang batas, sebelum kata-kata negatif keluar, ada baiknya orangtua menarik diri sementara dari anak, time off. Katakan pada anak, "Papa sudah lelah, mungkin kamu juga sudah lelah. Kita istirahat dulu, nanti belajar lagi sama-sama. Siapa tahu setelah istirahat kita berdua lebih berkonsentrasi dan semangat belajar". Bagaimana cara orangtua berbicara dan menanggapi kekurangan-kekurangan anak akan sangat berpengaruh bagi anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu orangtua harus sangat berahti-hati dan mempertimbangkan secara matang apa yang akan diucapkan kepada anaknya. Mulutmu harimaumu, begitulah kata pepatah, yang dalam hal ini mulut orangtua bisa menjadi harimau bagi anak. Penting sekali orangtua selalu berkata-kata positif tentang anak, agar anak jadi berpikir positif tentang dirinya dan bertumbuh dengan harga diri yang tinggi dan perasaan dicintai dan diterima. Oleh: Martina Rini S. Tasmin, SPsi. Sumber: http://www.e-psikologi.com/anak/160502.htm

Abusive Relationships
administrator Share

Selama usia pernikahan saya yang sudah 10 tahun ini, saya tidak pernah sekali pun merasakan kebahagiaan meski sudah dikaruniai seorang anak. Memang, sejak awal bukan keinginan saya untuk menikah dengan suami saya yang sekarang karena “disodorkan” orang tua tanpa bisa memilih atau pun menolak. Dan, selama ini saya sekedar menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari anak saya. Namun batin saya tersiksa karena sikapnya tidak hanya kasar di mulut, tetapi juga kasar di perilaku.....Coba saja, selalu ada yang salah di matanya....dan kata-katanya terdengar menyakitkan...tidak habis-habisnya celaan, omelan, gerutuan, bahkan caci-maki yang tidak pernah absen mendarat di telinga saya. Memang, dia tidak pernah memukul saya dan anak saya...tapi kalau sudah marah, lantas membanting barang-barang, memukul meja-banting pintu dan melakukan tindakan lain yang bikin hati saya dan anak ketakutan setengah mati. Pernah dia mengancam mau membunuh saya hanya karena saya terlambat pulang ke rumah sehabis ke rumah teman. Saya dan anak sangat ketakutan kalau dia ada di rumah......Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan karena saya merasa tidak berdaya....secara finansial saya sangat bergantung padanya karena terus terang saja,.....suami saya adalah satu-satunya penopang rumah tangga kami selama ini.....karena dia lah maka anak saya bisa bersekolah di sekolah yang bermutu, dan kehidupan materi kami terbilang sangat baik.....Tapi toh ternyata semua itu tidak membuat saya bahagia..........apa gunanya harta benda...jika saya selamanya hidup dalam ketakutan....... Kasus diatas mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak kasus yang seringkali dialami oleh pasangan suami istri. Masalah yang terjadi diatas sebenarnya bukanlah fenomena yang baru karena sudah terjadi sejak berabad-abad lalu. Apa yang dialami oleh si Ibu dan anaknya dalam kasus diatas merupakan gambaran dari suatu istilah yang disebut "Abusive Relationships". Abusive Relationships yang dialami oleh seseorang dapat berupa hilangnya kehangatan hubungan emosional, kecemburuan, pelecehan seksual sampai pada penyiksaan secara verbal terhadap pasangan. Di Indonesia, kasus penyiksaan terhadap pasangan belumlah terlalu diekspose untuk mendapatkan tidak hanya perhatian tapi juga perlindungan dan penanganan seperti di luar negeri. Faktor keengganan untuk menceritakan keadaan “dalam negeri” berperan menghambat penyelidikan atau bantuan yang dapat diberikan karena malu jika kekurangan sendiri sampai diketahui orang lain. Dan, memang hukum di Indonesia pun masih dapat dikatakan belum menjamin perlindungan bagi para korban penyiksaan pasangan sehingga mereka yang jadi korban khawatir jika kasusnya ini diketahui pihak berwajib malah jiwa mereka semakin terancam. Dampak dari persoalan penyiksaan ini tidak hanya dialami oleh pasangan, tetapi terutama oleh anak-anak, apalagi jika mereka selalu disuguhi “tontonan menyeramkan dan menegangkan” setiap melihat orang tuanya bertikai . Dampak tersebut akan membekas dan bisa menjadi trauma yang berkepanjangan dan akhirnya mempengaruhi hidup, karir dan perkawinan mereka di masa mendatang. Persoalan ini pula lah yang sebenarnya menstimulasi terjadinya perselingkuhan dari pihak yang satu karena dirinya merasa membutuhkan seseorang yang benar-benar memberikan cinta kasih dan perhatian. Akibatnya, persoalan rumah tangga akan semakin kacau balau dan sulit diselesaikan karena seiring dengan munculnya problemproblem tambahan yang semestinya tidak ada. Seputar Abusive Relationships Abusive relationships adalah bentuk hubungan yang sering diwarnai kecemburuan, tidak ada kehangatan emosional, kurangnya kualitas hubungan yang erat, pelecehan seksual, ketidaksetiaan, penyiksaan secara verbal, ancaman, dusta, pengingkaran janji, serta permainan kekuasaan (dari berbagai sumber). Menurut para ahli dan psikolog, penyiksaan tersebut tidaklah selalu berbentuk fisik, namun bisa secara emosional. Sering orang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan atau pun menjadi korban penyiksaan secara verbal ini karena menurut mereka hal itu biasa terjadi, normal atau karena “sudah wataknya” atau “sudah adatnya” atau pun mengingat latar belakang suku tertentu pasangan. Padahal, semakin seseorang itu tidak sadar, maka akan semakin sulit pulihnya kembali karena penyiksaan emosional (yang dilakukan secara verbal) yang berlangsung lama dan intensif akan menimbulkan persoalan kritis menyangkut self-esteem, rasa percaya diri dan sense of identity-nya. Lama kelamaan kekuatan psikisnya melemah sampai akhirnya dirinya yang jadi korban sudah hilang keberanian untuk keluar dari situasi tersebut. Makin lama ia akan semakin tergantung pada pihak yang dominan meski membuatnya menderita. Tapi ia merasa tidak punya pilihan lain dalam hidup. Apalagi, jika sang korban sejak awal memang mempunyai locus of control yang lemah, maka jika dihadapkan pada persoalan ini, ia hanya menyerah pada “nasib”. Malah sang korban bisa timbul pemikiran bahwa seburuk apapun perkawinan atau pun pasangannya, paling tidak ia bisa mendapatkan tempat tinggal, serta dipenuhi kebutuhan sandang pangannya, karena dia berpikir di luar sana belum tentu ia mendapatkan halhal yang ia butuhkan selama ini. Alhasil, pihak yang mendominasi akan semakin menjadi-jadi sikap dan perilakunya, karena melihat pasangannya semakin tidak berdaya, lemah dan mudah dihancurkan. Bagaikan melihat musuh yang

sudah kalah, maka agresivitasnya makin menjadi. Sikap Ganda yang Membingungkan Hal yang membuat sang korban bingung untuk memutuskan atau menyelesaikan persoalan ini adalah karena sikap pasangannya yang membingungkan. Kadang pasangannya bisa sangat manis, perhatian, murah hati, memperlihatkan sikap yang tidak ingin ditinggal karena sangat membutuhkan kehadiran istri/suami (pihak korban), mereka berjanji untuk bersikap baik dan tidak lagi marah-marah, membelikan barang kesukaan pasangan yang mahal-mahal. Namun di lain waktu kebiasaan buruk itu akan kembali berulang. Bahkan bisa semakin menjadi jika ia mulai mencium adanya ancaman atau kemungkinan pasangannya akan meninggalkan dia atau melakukan tindakan yang menentangnya. Asal Usul Perilaku Abusive Pada kasus penyiksaan terhadap pasangan, sudah pasti hal itu dilandasi oleh masalah psikologis yang cukup berat yang dialami oleh kedua pasangan (bukan salah satu, atau yang menjadi pelaku). Menurut penelitian para psikoanalis, mereka berpandangan bahwa para abuser (pelaku) sebenarnya pernah menjadi korban di masa lalu, di mana mereka juga mengalami perlakuan sama atau lebih parah yang diterimanya dari orang tua atau siapapun yang berperan dalam hidup mereka saat itu. Demikian juga pihak korban, pada umumnya mereka juga mempunyai masa lalu yang traumatis sehingga melahirkan sikap ketergantungan yang kronis. Hal ini lah yang menjelaskan mengapa seseorang selalu mengalami masalah yang sama meski sudah berulang kali menikah dan cerai dan menikah lagi (lihat Karakteristik Kepribadian Abuser & Pasangannya). Menjadi abuser atau pun korban sebenarnya bukanlah keinginan mereka, namun mereka seakan tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak bersikap seperti itu karena dilandasi oleh trauma masa lalu yang berkaitan dengan masalah emosional, fisik ataupun seksual. Menurut para ahli, pelakunya adalah orang yang hidupnya dipenuhi oleh rasa malu, rendah diri dan kekaburan identitas yang kronis. Oleh sebab itu, ia mencari pasangan yang sekiranya bisa diperlakukan dan memperlakukannya sedemikian rupa sehingga harga diri dan identitasnya terangkat. Di mata pasangannya lah ia merasa dirinya seseorang yang berkuasa atau sangat berharga dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu pula ia amat sangat tergantung dan membutuhkan pasangan, sehingga merasa amat marah dan terancam jika pasangan mulai menunjukkan tanda-tanda ingin meninggalkannya. Bagaimana Penanganannya? Untuk menghentikan pola seperti ini dibutuhkan penanganan yang serius karena sikap abusive ataupun being abused itu sendiri sering disertai oleh ketergantungan terhadap sesuatu, entah itu seksual, drugs, hormat, ketenaran, kekuasaan, pengakuan, kasih sayang dan perhatian, pekerjaan, uang atau pun hal-hal lainnya. Jadi, yang bersangkutan harus diterapi secara khusus untuk membersihkan diri dari segala ketergantungan dan berusaha menerima diri apa adanya serta memulihkan – mengembangkan jati diri sejati yang dimilikinya. Proses terapi yang dilakukan juga bermaksud untuk menyadarkan sang abuser atau pun korban akan asal muasal perilakunya itu tanpa mempersalahkan keadaan atau pun orang lain. Dengan demikian, terapi bertujuan untuk sedikit demi sedikit menghilangkan akar pahit masa lalu yang terus menerus disimpan namun kemudian meracuni setiap hubungan yang terjalin. Terapi tersebut juga bertujuan untuk membuat subyeknya bisa merubah cara berpikir dan persepsinya terhadap orang ataupun situasi yang dijumpai, agar mereka tidak menjadi manipulatif (secara tidak sadar) karena ingin selalu diutamakan. Mereka perlu merubah sikap yang selalu menuntut kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah mencapai kepuasan, dengan sikap kebalikan, yaitu memberi cinta kasih dan perhatian secara dewasa. Untuk bisa mencapai ke arah sana diperlukan pemulihan diri terlebih dahulu untuk bisa merasa percaya pada diri sendiri, bahwa segala sesuatu, kebahagiaan maupun kesusahan, keberhasilan maupun kegagalan merupakan tanggung jawab diri sendiri, dan tidak tergantung pada orang lain. Namun yang paling penting adalah kesadaran bahwa dirinya ingin berubah dan ingin merubah pola interaksi yang selama ini membelenggu dan membatasi munculnya hubungan sejati yang dilandasi oleh rasa cinta dan kepercayaan. Kerja sama dan kepedulian kedua belah pihak terhadap jalannya proses terapi itu sendiri akan sangat mendukung keberhasilan program. Tidak atau sangat sulit merubah suatu hubungan jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak, karena dalam setiap keberhasilan hubungan membutuhkan kejujuran, keterbukaan dan kemauan keduabelah pihak untuk sama-sama menjalani dan menyelesaikan persoalan itu. Namun, jika ternyata pihak abuser (yang melakukan penyiksaan) itu tidak punya keinginan untuk berubah, maka cara yang bisa dilakukan pihak korban adalah menjauh darinya dan segera mencari pertolongan dan perlindungan yang menjamin keselamatan diri. (jp)

Oleh Jacinta F. Rini, MSi.

Sumber: Informasi Psikologi Online

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->