BAB I

PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul
Untuk menghindari kesalah pahaman, maka penulis perlu memberikan penjelasan
tentang arti kata yang terkandung dalam judul skripsi ini.
Adapun judul dalam skripsi ini adalah “Upaya Guru Pendidikan agama Islam
dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik SMP Negeri 02 Negara Batin
Way Kanan”.
1. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam
Upaya adalah kegiatan yang mengarahkan tenaga atau badan untuk mencapai
suatu maksud.
1

Guru menurut WJS. Poerwadarminta adalah “orang yang mendidik”.
2

Sedangkan Menurut Hadari Nawawi, guru berarti orang-orang yang bekerja dalam
bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu
anak mencapai kedewasaannyaa masing-masing.
3

Pendidikan Agama Islam adalah mata pelajaran yang diberikan di sekolah-
sekolah umum atau madrasah-madrasah yang didalamnya mencakup masalah tauhid,
akhlak, fiqih, dan ibadah yang diberikan dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah
menengah umum.

1
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, Hlm.
250.
2
Ibid, Hlm. 132.
3
Hadari Nawawi , Organisasi Sekolah dan Pengolaan Kelas, Haji Masa Agung, Jakarta
1989, Hlm. 123.
2
Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan upaya
guru pendidikan agama Islam adalah kegiatan yang mengarahkan tenaga atau badan
untuk mencapai suatu maksud yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam
dalam menanggulangi kenakalan peserta didik.
Guru yang mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah-
sekolah atau madrasah-madrasah. Adapun yang dimaksud dalam skripsi ini adalah
guru pendidikan agama Islam yang ada di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan.
2. Menanggulangi
Menanggulangi adalah mengatasi, menghadapi.
4

Adapun yang dimaksud menanggulangi dalam skripsi ini adalah mencegah peserta
didik yang tidak nakal agar jangan sampai nakal dan mengatasi perbuatan peserta
didik yang nakal agar tidak mengulangi perbuatannya.
3. Kenakalan Peserta Didik
Kenakalan adalah tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku.
5

Sedangkan menurut M. Gold dan Petronio, yang di kutip oleh Sarlito Wirawan
Sarwono, yang dimaksud dengan kenakalan anak adalah tindakan seseorang yang
belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu

4
Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan R.I, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, 2003, Hlm. 312.
5
Ibid, Hlm. 951.
3
sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa
dikenai hukuman.
6

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
7
Adapun peserta didik yang dieliti penulis adalah peserta didik
kelas VIII A,B dan C yang melakukan kenakalan pada tahun ajaran 2011-2012.
Jadi kenakalan peserta didik adalah perbuatan yang melanggar aturan-aturan
yang berlaku di sekolah ataupun di masyarakat yang dilakukan secara sengaja dan
disadari oleh pelakunya.
4. SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan
SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan adalah suatu lembaga pendidikan
sekolah menengah pertama yang dibina Departemen Pendidikan Nasional, yang
berada di Desa Karta Jaya kecamatan Negara Batin kabupaten Way Kanan sebagai
lokasi penulis dalam melakukan penelitian.
Berdasarkan pengertian-pengertian istilah diatas dapat dipahami bahwa yang
dimaksud dengan judul tersebut adalah hal-hal yang menyebabkan kurang
berhasilnya upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam
mengatasi kenakalan yang dilakukan oleh peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin
Way Kanan.

6
Sarlinto Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007,
Hlm. 205.
7
Tim Penyusun, UU RI No 20 Thn. 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, 2003, Hlm.
3.
4
B. Alasan Memilih Judul
1. Kenakalan remaja merupakan kejadian dekadensi moral yang sangat berbahaya
bagi pertumbuhan dan perkembangan dikalangan remaja, yang harus diatasi guna
mengarahkan pembentukan kepribadian remaja yang positif.
2. Melihat kenyataan yang ada di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan bahwa
guru telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menanggulangi kenakalan
peserta didik akan tetapi masih banyak peserta didik yang nakal dan melanggar
tata tertib sekolah.
C. Latar Belakang Masalah
Dalam upaya mengantisipasi dampak negatif kemerosotan moral perlu
peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam karena agama Islam
adalah agama yang mengatur hubungan sesama manusia dalam melaksanakan tugas-
tugas hidup.
Agama sebagai dasar dan pedoman hidup berperan sebagai penggerak dan
pengendali, pembimbing dan pendorong hidup kearah terwujudnya suatu
penghidupan yang layak serta sempurna. Salah satu usaha efektif untuk mencapai hal
tersebut adalah dengan melaksanakan pendidikan yaitu pendidikan agama Islam,
karena pendidikan agama Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberi
kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam
karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan dan mewarnai corak kepribadiannya.
8


8
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 2006, Hlm. 7.
5
Menurut Zuhairini dkk bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha secara
sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai
dengan ajaran Islam.
9

Dari kedua pendapat diatas, dapat dipahami bahwa hal yang ditekankan dalam
pendidikan agama Islam adalah pembentukan kepribadian muslim, dalam arti
kepribadian yang memiliki nilai-nilai ajaran agama Islam. Nilai-nilai agama Islam itu
sendiri merupakan ajaran tentang tata hidup yang diturunkan Allah SWT kepada nabi
Muhammad SAW yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan
Tuhannya yaitu ibadah yang dilakukan dan mengatur hubungan terhadap sesama
manusia sehingga timbul hubungan yang baik diantara yang satu dengan yang lain.
Sedangkan tujuan pendidikan menurut M. Sahlan Syafei adalah membantu
perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya masing-masing sehingga
terbentuk kepribadian yang baik dalam dirinya anak.
10
Sedangkan menurut Zakiah
Daradjat tujuan pendidikan agama adalah membina manusia beragama yaitu manusia
yang mampu melaksanakan ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna rangka
mencapai kebahagiaan dan kejayaan hidup dunia dan akhirat.
11

Hal ini senada dengan pendapat yang diungkapkan olen M. Arifin bahwa
tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk menumbuhkan pola kepribadian

9
Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Usaha Nasional, Surabaya 1983,
Hlm. 27.
10
M. Sahlan Syafei, Bagaimana Anda Mendidik Anak, Ghalia Ind onesia, Bogor, 2006, Hlm.
12.
11
Zakiah Daradjat dkk, Metodik khusus Pengajaran agama Islam, Bumi Aksara, Jakarta,
1995, Hlm. 172.
6
manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan
dan indra.
12

Menurut M. Arifin bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa
dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang
berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.
13

Berdasarkan pendapat diatas dapat dipahami bahwa guru pendidikan agama
Islam sebagai salah satu komponen insani yang memiliki peranan yang sangat
penting dalam pendidikan yang ikut berperan dalam upaya pembinaan sumber daya
manusia yang Islami. Karena guru pendidikan agama Islam tidak hanya dipandang
sebagai pendidik tetapi juga sebagai membawa peserta didik kearah sikap dan
kepribadian yang baik, sehingga nantinya ia dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri
dan orang lain.
Hal ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Ag. Soejono bahwa pendidik
ialah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik,
dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai kedewasaannya, mampu
berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan
sebagai individu atau pribadi.
14

Adapun tugas dan tanggung jawab selaku guru agama Islam adalah:
1. Mengajar ilmu pengetahuan agama Islam
2. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak
3. Mendidik anak agar taat menjalankan agama

12
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, Hlm. 40.
13
Ibid, Hlm. 41.
14
Ag. Soejono, Pendahuluan Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2004, Hlm. 23.
7
4. Mendidik anak berbudi pekerti yang mulia.
15

Guru pendidikan agama Islam harus memberikan suri tauladan yang baik,
karena sikap dan tindakan, akan member kesan dihati para peserta didik dan dalam
Al-Qur’an surst An-Nahl ayat 125:
7vu1- _OÞ¯)³ ÷O):Ec El)Þ4O
gOE©'¯g4^¯) gO·¬gN¯OE©^¯-4Ò
gO4L=OO4^¯- W ¦÷_^¯g³E_4Ò
/´®-¯) "Og- ÷}=O;OÒ¡ _ Ep)³
El+4O 4O¬- O¦ÞU;NÒ¡ }E©) E=¯
}4N ·g¡)-O):Ec W 4O¬-4Ò O¦ÞU;NÒ¡
4ׯg³4-;_÷©^¯) ^¯g)÷
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu
dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(An-Nahl:125).
16

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa guru harus mendidik peserta didik
dengan cara yang baik agar terbentuk perilakudalam diri peserta didik. Sesungguhnya
ini salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kenakalan peserta
didik.
Menurut Zakiah Daradjat remaja adalah peralihan, dimana seorang telah
meninggalkan usia anak-anak yang penuh kelemahan dan ketergantungan tanpa
memikul suatu tanggung jawab, menuju kepada usia dewasa yang sibuk dengan
persaingan dan perjuangan untuk kepentingan hidup dan tanggung jawab yang

15
Zuhairini dkk, Op Cit, Hlm. 35.
16
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya , Diponegoro, Bandung, Cet. Keenam
2005, Hlm. 224.
8
penuh.
17
Sedangkan menurut Heri jauhari Muchtar masa remaja adalah peralihan
(transisi) dari masa anak-anak kemasa dewasa.
18
Dan menurut Kartini Kartono masa
remaja adalah masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak
dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan besar dan esensial mengenai
kematangan fungsi rohaniah dan jasmaniah terutama fungsi sosial”.
19

Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa masa remaja merupakan
masa peralihan sehingga mengalami berbagai perubahan baik fisik maupun mental.
Dalam kondisi seperti ini mereka akan cenderung terpengaruh kejalan yang salah
apabila dibiarkan begitu saja, maka mereka akan mudah terpengaruh oleh faktor-
faktor yang sifatnya negatif, akhirnya mereka akan menampakkan perbuatan-
perbuatan yang negatif atau yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kondisi ini
terjadi di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan, oleh karena itu diperlukan upaya
yang semaksimal mungkin untuk menanggulangi kenakalan peserta didik tersebut.
Menurut Heri Noer Aly, dalam usaha pembinaan menanggulangi kenakalan
peserta didik di sekolah dapat dilakukan dengan cara:
1. Kebiasaan
2. Keteladanan
3. Nasehat
4. Pelatihan.
20


17
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 2005, Hlm. 132.
18
Heri Jauhari Muchtar, Fiqh Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005, Hlm. 59.
19
Kartini Kartono, Psikologi anak (Psikologi Perkembangan), Mandar Maju, Bandung,
1995, Hlm. 148.
20
Heri Noer Aly dkk, Watak Pendidikan Islam, Fisika Agung Insani, Jakarta, 2000, Hlm.
172.
9
Dalam menanggulangi kenakalan peserta didik dapat dilakukan dengan cara
memberikan hukuman, akan tetapi pemberian hukuman ini hendaknya dijadikan
alternatif terakhir apabila dengan nasehat dan teguran tidak berhasil. Hal ini sesuai
dengan yang diungkapkan oleh Ametembun bahwa untuk menyelesaikan problem-
problem dalam manajemen kelas, sebelum memilih hukuman untuk diperlukan
pertimbangan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan murid, setelah itu menentukan
hukuman.
21

Dari kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa upaya yang dapat
dilakukan oleh seorang guru dalam menanggulangi kenakalan peserta didik yaitu
memberikan suritauladan, kebiasaan, nasehat dan bila perlu diberikan hukuman
apabila peserta didik masih melakukan kesalahan.
Guru pendidikan agama Islam SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan
selalu memberikan suritauladan mengaktifkan kegiatan keagamaan, selalu
memberikan nasehat, memberikan hukuman, memberikan bimbingan dan dan
memberikan surat panggilan terhadap orang tua peserta didik yang sering melanggar
tata tertib sekolah. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Purwani
Bahri selaku guru Pendidikan Agama Islam, mengatakan bahwa:
“Saya sebagai guru pendidikan agama Islam sudah berusaha memberikan
nasehat, memberikan contoh perbuatan terpuji baik disekolah maupun diluar sekolah,
mengadakan ceramah agama pada peringatan hari besar Islam, membina shalat

21
N.A Ametembun, Manajemen Kelas, IKIP, Bandung, 1981 , Hlm. 34.
10
jamaah, setiap bertemu mengucap salam, sebelum belajar dimulai membaca do’a dan
setelah selesai belajar ditutup dengan dengan do’a, dan lain sebagainya, akan tetapi
masih banyak peserta didik yang nakal”.
22

Dari kutipan hasil wawancara tersebut di atas, bahwa guru pendidikan agama
Islam dan pihak sekolah telah berupaya dalam menanggulangi kenakalan peserta
didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan, akan tetapi masih banyak peserta
didik yang melakukan pelanggaran. Seharusnya upaya tersebut dapat menghasilkan
dampak yang positif, namun masih banyak peserta didik yang nakal, seperti
berbohong, merokok dilingkungan sekolah, membolos, berkelahi, cara berpakaian
tidak peduli, mencuri, tidak patuh pada guru.
Berdasarkan hasil observasi pada saat pra survei, diperoleh data tentang
jumlah peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan sebagaimana tabel
dibawah ini:
Tabel 1
Keadaan Peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan
Tahun Pelajaran 2011-2012
No Kelas Jumlah Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah
Laki-laki Perempuan
1 VII 4 86 97 183
2 VIII 4 75 78 153
3 IX 4 73 83 156
Jumlah
12 234 258 492
Sumber : Dokumentasi SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan TP. 2011-2012.

22
Purwani Bahri, Guru Pendidikan Agama Islam, 14 Maret 2012
11
Dari tabel tersebut dapat dipahami jumlah peserta didik SMP Negeri 02
Negara Batin Way Kanan sebanyak 234 laki-laki dan 258 perempuan, dan jumlah
keseluruhan sebanyak 492 orang siswa.
Tata tertib SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan:
a. Pakaian seragam dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Sopan dan rapih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Baju seragam sesuai dengan ketentuan.
3. Memakai badge OSIS dan identitas sekolah.
4. Topi sekolah sesuai ketentuan, ikat pinggang warna hitam.
5. Kaos kaki warna putih, sepatu warna hitam.
6. Pakaian tidak terbuat dari kain yang tipis dan tembus pandang, tidak ketat dan
tidak membentuk tubuh.
7. Tidak menggunakan perhiasan yang mencolok.
b. Umum
Siswa dilarang :
1. Berkuku panjang
2. Mengecat rambut dan kuku
3. Bertato
Khusus siswa laki-laki
1. Tidak berambut panjang
12
2. Tidak bercukur gundul
3. Rambut tidak berkuncir
4. Tidak memakai kalung, anting dan gelang
Khusus siswa perempuan :
Tidak memakai make-up atau sejenisnya kecuali bedak tipis.
c. Masuk dan Pulang Sekolah
1. Siswa wajib hadir di sekolah sebelum bel berbunyi, setelah bel berbunyi siswa
wajib berbaris, bersalaman dengan guru, masuk kelas pukul 07-30.
2. Siswa terlambat kurang dari 15 menit harus lapor dengan guru.
3. Siswa terlambat dating kesekolah lebih dari 15 menit harus lapor kepada guru
piket dan tidak diperkenankan masuk kelas pada pelajaran pertama kecuali
dapat izin dari guru piket.
4. Pada waktu pulang siswa diwajibkan langsung pulang kerumah, kecuali yang
mengikuti pelajaran ekstrakurikuler.
5. Pada waktu pulang siswa dilarang duduk-duduk (nongkrong) ditepi-tepi jalan
atau ditempat-tempat tertentu, pulang sekolah pukul 12.30.
d. Kebersihan, Kedisiplinan dan Ketertiban
1. Setiap kelas dibentuk beberapa tim piket kelas yang secara bergiliran bertugas
menjaga kebersihan dan ketertiban kelas.
2. Piket harus datang kurang lebih 15 menit sebelum masuk kelas.
13
3. Membersihkan lantai dan dinding serta merapikan bangku dan meja, dan
menghapus papan tulis.
4. Setiap siswa menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
e. Sopan Santun Pergaulan
1. Mengucap salam antar sesama teman dengan kepala sekolah dan guru, serta
karyawan sekolah.
2. Saling menghormati sesama siswa, menghargai perbedaan dalam memilih
teman belajar, bermain disekolah maupun diluar sekolah.
3. Menggunakan bahasa yang sopan dan beradap, tidak menggunakan kata-kata
yang kotor.
f. Upacara Bendera dan Peringatan Hari Besar
1. Upacara bendera setiap hari senin, setiap siswa wajib mengikuti upacara
bendera dengan pakaian seragam yang telah ditentukan.
2. Setiap siswa wajib mengikuti upacara hari besar nasional sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
3. Setiap siswa wajib mengikuti peringatan hari-hari besar keagamaan seperti
Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan idul adha.
g. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, siswa dilarang melakukan hal sebagai
berikut :
1. Merokok, minum-minuman keras, mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika,
obat terlarang lainnya dan berpacaran di sekolah.
14
2. Berkelahi perorangan maupun kelompok didalam sekolah maupun diluar
sekolah.
3. Membuang sampah tidak pada tempatnya.
4. Mencoret dinding bangunan pagar sekolah dan peralatan lainnya.
5. Berbicara kotor, mengumpat, bergunjing, menghina, atau menyapa antar
sesama siswa dengan kata sapaan yang tidak senonoh.
6. Membawa barang yang tidak ada kepentingan dengan sekolah, seperti senjata
tajam atau alat-alat lain yang membahayakan keselamatan orang lain.
7. Membawa atau membaca atau mendengarkan bacaan, gambar, sketsa, audio
atau video porno.
h. Pelanggaran dan Sangsi
1. Teguran
2. Penugasan
3. Pemanggilan orang tua
4. Skorsing
5. Tidak naik kelas
Kenakalan yang dimaksud disini adalah perilaku yang menyimpang dari atau
melanggar hukum. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono yang mengutip dari Jensen,
membagi kenakalan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian,
perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.
2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan,
pemerasan dan lain-lain.
15
3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran,
penyalahgunaan obat, hubungan seks sebelum menikah.
4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar
dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari
rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.
23

Menurut Zakiah Daradjat bentuk-bentuk kenakalan peserta didik adalah:
1) Kenakalan ringan, misalnya: keras kepala, tidak mau patuh kepada orang tua
dan guru, lari (bolos) dari sekolah, tidak mau belajar, sering berkelahi, suka
mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan, cara berpakaian tidak peduli dan
sebagainya.
2) Kenakalan yang mengganggu ketentraman dan keamanan orang lain misalnya
mencuri, memfitnah, merampok, menodong, menganiaya, merusak milik
orang lain, membunuh, dan sebagainya.
3) Kenakalan seksual
a. Terhadap jenis lain (betero seksual)
b. Terhadap orang sejenis (homo seksual)
24

Sedangkan bentuk-bentuk kenakalan peserta didik yang tergolong norma-
norma sosial adalah sebagai berikut:
1. Pergi tidak pamit atau tanpa izin orang tua
2. Menentang orang tua atau wali
3. Tidak sopan terhadap orang tua
4. Berbohong
5. Suka keluyuran
6. Memiliki atau menggunakan alat-alat yang dapat membahayakan orang lain
yang tidak diperuntukkan baginya
7. Berpakaian tidak senonoh
8. Menghias diri dengan tidak wajar, dan menimbulkan celaan masyarakat
9. Membolos dari sekolah
10. Menentang guru
11. Perilaku tidak senonoh dihadapan umum
12. Berkeliaran malam hari
13. Bergaul dengan orang-orang yang reputasinya jelek (germo, penjudi, pencuri,
orang jahat/ammoral)

23
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006,
Hlm. 209-210.
24
Zakiah Daradjat, Membina Nilai-Nilai Moral Di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976,
Hlm.10.
16
14. Berada di tempat yang tidak baik bagi perembangan jiwa remaja/terlarang
untuk remaja
15. Pesta-pesta musik semalam suntuk tanpa kontrol dan acara-acaranya tak
sesuai dengan kebiasaan sopan santun
16. Membawa buku-buku (buku-buku cabul, sadis dan lain-lain yang isinya dapat
merusak jiwa remaja)
17. Memasuki tempat-tempat yang membahayakan keselamatan jiwanya
18. Menjadi pelacur atau melacurkan diri
19. Berkebiasaan berbicara kotor, tak senonoh, cabul dihadapan seseorang atau
dihadapan umum
20. Hidup di tempat kemaksiatan atau kejahatan
21. Ramai-ramai naik bus dan tidak bayar
22. Ramai-ramai menonton pertunjukan dan tidak membayar
23. Meminum minuman keras
24. Merokok di tempat umum sebelum batas umur yang pantas.
25

Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat dipahami bahwa banyak sekali
bentuk kenakalan yang dilakukan oleh remaja atau peserta didik. Dalam hal ini yang
akan penuliis teliti adalah berbohong, merokok dilingkungan sekolah, membolos,
berkelahi, cara berpakaian tidak peduli, tidak patuh pada guru.
Tabel 2
Data Kenakalan Peserta didik SMPN 02 Negara Batin Way Kanan
Pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2011-2012
No
Jumlah
Sampel
Jenis Kenakalan
Jumlah Peserta Didik yang
Nakal
Laki-laki Perempuan
1 38 Berbohong 10 9
2 38 Merokok dilingkungan Sekolah 11 0
3
38
Membolos 15 10
4 38 Berkelahi 8 2
5 38 Cara berpakaian tidak peduli 8 6
6 38 Tidak patuh pada guru 10 6
Sumber : Dokumentasi SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan TP. 2011-2012.

25
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama, Golden Trayon,
Jakarta, 1982, Hlm. 92-93.
17
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa masih banyak peserta didik
yang nakal. Rata-rata peserta didik melakukan pelanggaran dengan berulang-ulang
dan tidak hanya satu kenakalan yang mereka lakukan.
Menurut Zakiah Daradjat, faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan
peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya pendidikan agama
2. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang pendidikan
3. Kurang teraturnya pengisian waktu
4. Tidak stabilnya keadaan sosial, politik dan ekonomi
5. Kemerosotan moral dan mental orang dewasa
6. Banyaknya film dan buku-buku bacaan yang tidak baik
7. Pendidikan dalam sekolah yang kurang baik
8. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap anak.
26

Sedangkan pendapat Zuhairini dkk sebagai berikut “Saling menentukan antara
anak dan temannya, sangat cepat dan sangat kuat pengaruh kawan sangat besar
terhadap akal dan akhlaknya, dengan demikian kita dapat memastikan bahwa hari
depan anak juga tergantung kepada keadaan masyarakat dimana anak itu bergaul.
Anak diantara tetangga yang baik akan menjadi baik sebaliknya anak yang hidup
diantara orang-orang berakhlak buruk, akhlaknya akan menjadi buruk juga”.
27


Dari kedua pendapat diatas faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan
peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan karena kurangnya perhatian
dan pendidikan agama dari orang tua (keluarga) dan pengaruh teman-teman sesama
peserta didik.

26
Zakiah Daradjat, Membina Nilai-nilai Moral Di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976,
Hlm. 10.
27
Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, Usaha Nasional, Surabaya, 1981,
Hlm. 55.
18
Berdasarkan kondisi diatas, terutama guru SMP Negeri 02 Negara Batin Way
Kanan dituntut untuk lebih memperhatikan pendidikan Agama Islam pada anak didik
dalam rangka menanggulangi kenakalan peserta didik.
Berdasarkan dengan hal ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian guna
mengetahui lebih lanjut peran apa yang harus dilakukan oleh guru pendidikan agama
Islam di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan dalam rangka menanggulangi
kenakalan peserta didik, selanjutnya permasalahan tersebut penulis tuangkan dalam
sebuah judul: “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanggulangi
Kenakalan Peserta Didik Di SMP Negeri Negara Batin Way Kanan”.

D. Rumusan Masalah
Menurut S. Margono masalah adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu
yang seharusnya ada (dassolen) dengan kenyataan yang ada (dassein).
28

Sedangkan menurut Lexi J. Maleong, masalah adalah suatu keadaan yang
bersumber dari hubungan dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi
membingungkan.
29

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa masalah adalah
persoalan yang mengganggu pikiran karena tidak ada keserasian antara yang
diharapkan (teori) yang ada di lapangan sehingga mendorong kita untuk mencari
pemecahannya atau mencari jalan keluarnya.

28
S. Margono, Metodologi Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 2004, Hlm. 54.
29
Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung,
2003, Hlm. 62.
19
Dalam penelitian ini didapati permasalahan guru pendidikan agama Islam
telah berusaha menanggulangi kenakalan peserta didik akan tetapi masih banyak
peserta didik yang tidak mentaati tata tertib sekolah sehingga upaya yang dilakukan
guru kurang berhasil. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
“Mengapa Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanggulangi
Kenakalan Peserta Didik di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan”?

E. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui upaya guru pendidikan agama Islam dalam
menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin
Way Kanan.
b. Untuk mengetahui kurang berhasilnya upaya guru pendidikan agama
Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02
Negara Batin Way Kanan.
2. Kegunaan Penelitian
a. Sebagai Penerapan ilmu-ilmu yang penulis peroleh dalam bentuk teoritis
dan praktis.
b. Sebagai upaya pemecahan masalah yang dihadapi guru pendidikan agama
Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02
Negara Batin Way Kanan.
20
F. Metode Yang Digunakan
1. Jenis dan Sifat Penelitian
a. Jenis Penelitian
Dilihat dari tempatnya, penelitian ini termasuk penelitianlapangan (field
research) karena penelitian ini pada hakekatnya merupakan metode untuk
menemukan secara spesifik dan realistis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu
saat ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
30

b. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif maksudnya adalah penelitian yang bertujuan
mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku.
31
Penelitian ini akan membahas dua
variabel, variabel pertama menyangkut tentang upaya guru pendidikan agama Islam
dan variabel kedua mengenai kenakalan peserta didik.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah “seluruh obyek (orang, kelompok, penduduk) yang
dimaksudkan untuk diteliti”.
32

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan populasi adalah seluruh individu baik itu merupakan orang dewasa, peserta
didik dan objek lain sebagai sasaran penelitian tertentu.

30
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Bumi Aksara, Jakarta, 2004,
Hlm. 28.
31
Ibid, Hlm. 26.
32
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Bina Aksara,
Jakarta, 2004, Hlm. 115.
21
Adapun yang menjadi populasi dalam peneletian ini adalah seluruh peserta
didik kelas VIII SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan yang berjumlah 153
peserta didik.
b. Sampel
Sampel adalah “bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut”.
33

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa sampel adalah sebagian
atau wakil dari jumlah populasi dalam penelitian.
Sedangkan teknik sampling menurut S. Nasution adalah ”memilih jumlah
tertentu dari keseluruhan populasi”.
34

Mengingat jumlah populasi lebih dari seratus orang, maka dalam penelitian
ini tidak semua populasi tersebut dijadikan obyek penelitian, adapun untuk
menentukan jumlah sampel, penulis berpegangan dengan pendapatnya Suharsimi
Arikunto bahwa “jika subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga
penelitiannya berupa penelitian populasi, tetapi jika subyeknya lebih besar dari 100
maka dapat diambil antara 10-15 atau 20-25 atau lebih”.
35

Jadi, penulis akan meneliti kelas VIII (Delapan) yang berjumlah 153 peserta
didik, dan mengambil sampel 25 %, dan hasilnya 38 peserta didik.

33
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D),
Alfabeta, Bandung, 2010.
34
S. Nasution, Metodologi Penelitian Dasar, Bulan Bintang, Jakarta, 2000, Hlm. 95.
35
Ibid., Hlm. 117.
22
Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Snowball sampling adalah
tekhnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.
Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena
dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka
peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data
yang diberikan oleh dua orang sebelumnya.
36

3. Metode Pengumpul Data
a. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena obyek
yang diteliti secara obyektif dari hasilnya akan dicatat secara sistematis agar
diperoleh gambaran yang lebih konkrit dan kondisi di lapangan. Sebagaimana yang
telah dikemukakan oleh Sutrisno Hadi “observasi biasa diartikan sebagai pengamatan
dan pencatatan dengan sistematik terhadap berbagai macam fenomena-fenomena
yang akan diselidiki dalam suatu penelitian”.
37

Adapun jenis metode observasi berdasarkan peranan yang dimainkan yaitu
dikelompokkan menjadi dua bentuk sbgai berikut:
1. Observasi partisipan yaitu peneliti adalah bagian dari keadaan alamiah, tempat
dilakukannya observasi.


36
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D),
Alfabeta, Bandung, 2010, Hlm. 125.
37
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 2001, Jilid II, Hlm. 158.
23
2. Observasi non partisipan yaitu dalam observasi ini peranan tingkah laku
peneliti dalam kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan kelompok yang
diamati kurang dituntut.
38

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis observasi non partisipan,
dimana peneliti tidak turut ambil bagian dalam kehidupan orang yang di observasi.
Metode ini digunakan sebagai metode untuk mengobservasi adab guru, proses
pembinaan peserta didik, berbagai perilaku peserta didik kelas VIII SMP Negeri 02
Negara Batin Way Kanan yang nakal.
b. Metode Interview
Metode interview adalah “suatu Tanya jawab lisan, dimana dua orang atau
lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan
mendengarkan dengan telinganya sendiri”.
39

Berdasarkan pengertian diatas, jelas bahwa metode interview merupakan salah
satu alat untuk memperoleh informasi dengan jalan mengadakan komunikasi
langsung antar dua orang atau lebih serta dilakukan secara lisan.
Apabila dilihat dari sifat atau teknik pelaksanaannya, maka interview dapat
dibagi tiga yaitu:
1. Interview terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pokok-pokok masalah
yang diteliti.
2. Inerview tak terpimpin (bebas) adalah proses wawancara dimana interviewer
tidak sengaja mengarahkan tanya jawab pada pokok-pokok dari fokus penelitian
dan interviewer.

38
Koentjaraningrat, Op. Cit., Hlm. 189.
39
Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Alumni, Bandung, 2003, Hlm. 171.
24
3. Interview bebas terpimpin adalah kombinasi keduanya, pewawancara hanya
membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, selanjutnya dalam proses
wawancara berlangsung mengikuti situasi.
40

Untuk memperoleh data yang valid dan kredibel, digunakan jenis interview
bebas terpimpin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sutrisno Hadi, yaitu “dalam
interviu bebas terpimpin penginterview menyiapkan kerangka-kerangka pertanyaan
untuk disajikan tetapi cara bagaimana pertanyaan itu diajukan sama sekali diserahkan
kepada kebijakan interviewer”.
41

Metode ini penulis gunakan untuk mewawancarai kepala sekolah, guru
pendidikan agama Islam, dan juga peserta didik untuk memperoleh data tentang
upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik.
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu proses pengumpulan data dengan cara mencari
data-data tertulis sebagai bukti penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto dokumentasi
adalah “mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip,
buku, surat, majalah prasasti, notulen rapat legger, agenda dan sebagainya.
42

Metode ini penulis gunakan sebagai pengumpul data yang diperoleh dari guru
pendidikan agama Islam di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. Selain itu
dipergunakan untuk mendapatkan data mengenai sejarah berdirinya SMP Negeri 02

40
Cholid Narbuko dan Abu Ahmad, Metodologi Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta, 2000,
Hlm. 83-85.
41
Sutrisno Hadi, Op. Cit., Hlm. 206.
42
Suharsimi Arikunto, Op. Cit., Hlm. 202.
25
Negara Batin Way Kanan, jumlah peserta didik, jumlah guru, sarana dan prasarana
yang dimiliki oleh sekolah.
4. Analisis Data
a. Reduksi Data
b. Display Data (Sajian Data)
c. Verifikasi Data (PenyimpulanData)
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal yang penting, sehingga data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data.
43

2. Display Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah untuk mendisplay
data, yaitu menyajikan data dengan teks yang bersifat naratif. Dengan demikian akan
memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya,
berdasarkan apa yang telah dipahami.
44

3. Verifikasi Data
Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Milesand
Hubermanyang di kutip oleh Sugiyono, adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

43
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D),
Alfabeta, Bandung, 2010, Hlm 338-340.
44
Ibid. Hlm. 341-344 .
26
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang belum
pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang
sebelumnya masih remang-remang sehingga menjadi jelas. Jadi dalam penelitian ini
ada tiga langkah yang digunakan dalam menganalisis data yaitu dengan cara
merangkum atau mencatat, kemudian memfokuskan kemudian baru diambil
kesimpulan data, selanjutnya menyajikan data dalam bentuk kata-kata kemudian baru
diambil kesimpulan.
Selanjutnya untuk mengambil kesimpulan dan analisis data tersebut maka
digunakan secara berfikir induktif sebagaimana yang dikemukakan oleh Deddy
Mulyana bahwa berangkat dari kasus-kasus yang bersifat khusus berdasarkan
berdasarkan pengalaman nyata (ucapan atau perilaku subjek penelitian atau situasi
lapangan penelitian) untuk kemudian kita rumuskan menjadi model, konsep, teori,
prinsip, proposisi atau definisi yang bersifat umum.
45

Penulis menggunakan analisis berpikir induktif ini untuk menganalisis data-
data dari lapangan penelitian, dengan bentuk data-data awal yang diperoleh penulis
melalui observasi, interview, dan dokumentasi.





45
Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung,
2003, Hlm. 56.

2

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan upaya guru pendidikan agama Islam adalah kegiatan yang mengarahkan tenaga atau badan untuk mencapai suatu maksud yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik. Guru yang mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolahsekolah atau madrasah-madrasah. Adapun yang dimaksud dalam skripsi ini adalah guru pendidikan agama Islam yang ada di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. 2. Menanggulangi

Menanggulangi adalah mengatasi, menghadapi.4 Adapun yang dimaksud menanggulangi dalam skripsi ini adalah mencegah peserta didik yang tidak nakal agar jangan sampai nakal dan mengatasi perbuatan peserta didik yang nakal agar tidak mengulangi perbuatannya. 3. Kenakalan Peserta Didik Kenakalan adalah tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku.5 Sedangkan menurut M. Gold dan Petronio, yang di kutip oleh Sarlito Wirawan Sarwono, yang dimaksud dengan kenakalan anak adalah tindakan seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu

Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan R.I, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2003, Hlm. 312. 5 Ibid, Hlm. 951.

4

2003. Raja Grafindo Persada.B dan C yang melakukan kenakalan pada tahun ajaran 2011-2012. PT.3 sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan adalah suatu lembaga pendidikan sekolah menengah pertama yang dibina Departemen Pendidikan Nasional. Hlm. Berdasarkan pengertian-pengertian istilah diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan judul tersebut adalah hal-hal yang menyebabkan kurang berhasilnya upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kenakalan yang dilakukan oleh peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. UU RI No 20 Thn.7 Adapun peserta didik yang dieliti penulis adalah peserta didik kelas VIII A.6 Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur. Sistem Pendidikan Nasional. Tim Penyusun. Hlm. jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 6 Sarlinto Wirawan Sarwono. yang berada di Desa Karta Jaya kecamatan Negara Batin kabupaten Way Kanan sebagai lokasi penulis dalam melakukan penelitian. 205. . 4. 2007. Jakarta. 2003. Jakarta. 7 3. Psikologi Remaja. Jadi kenakalan peserta didik adalah perbuatan yang melanggar aturan-aturan yang berlaku di sekolah ataupun di masyarakat yang dilakukan secara sengaja dan disadari oleh pelakunya.

Jakarta. . Ilmu Pendidikan Islam. karena pendidikan agama Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberi kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan dan mewarnai corak kepribadiannya. Salah satu usaha efektif untuk mencapai hal tersebut adalah dengan melaksanakan pendidikan yaitu pendidikan agama Islam. 2006. Arifin. Melihat kenyataan yang ada di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan bahwa guru telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menanggulangi kenakalan peserta didik akan tetapi masih banyak peserta didik yang nakal dan melanggar tata tertib sekolah. pembimbing dan pendorong hidup kearah terwujudnya suatu penghidupan yang layak serta sempurna. Latar Belakang Masalah Dalam upaya mengantisipasi dampak negatif kemerosotan moral perlu peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam karena agama Islam adalah agama yang mengatur hubungan sesama manusia dalam melaksanakan tugastugas hidup. Hlm. Edisi Revisi. yang harus diatasi guna mengarahkan pembentukan kepribadian remaja yang positif. 2. Bumi Aksara.8 8 M. C. 7. Kenakalan remaja merupakan kejadian dekadensi moral yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan dikalangan remaja.4 B. Agama sebagai dasar dan pedoman hidup berperan sebagai penggerak dan pengendali. Alasan Memilih Judul 1.

Metodik khusus Pengajaran agama Islam. Surabaya 1983. Sahlan Syafei. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. 1995. Usaha Nasional. Hlm. Zakiah Daradjat dkk. Ghalia Ind onesia. Sahlan Syafei adalah membantu perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian yang baik dalam dirinya anak. Bogor. M.10 Sedangkan menurut Zakiah Daradjat tujuan pendidikan agama adalah membina manusia beragama yaitu manusia yang mampu melaksanakan ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan hidup dunia dan akhirat. 2006. 11 . Bumi Aksara. dalam arti kepribadian yang memiliki nilai-nilai ajaran agama Islam.5 Menurut Zuhairini dkk bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam. Hlm.9 Dari kedua pendapat diatas. 27. dapat dipahami bahwa hal yang ditekankan dalam pendidikan agama Islam adalah pembentukan kepribadian muslim. 10 12.11 Hal ini senada dengan pendapat yang diungkapkan olen M. Nilai-nilai agama Islam itu sendiri merupakan ajaran tentang tata hidup yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. dengan Tuhannya yaitu ibadah yang dilakukan dan mengatur hubungan terhadap sesama manusia sehingga timbul hubungan yang baik diantara yang satu dengan yang lain. Bagaimana Anda Mendidik Anak. Hlm. Sedangkan tujuan pendidikan menurut M. 172. Arifin bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk menumbuhkan pola kepribadian 9 Zuhairini dkk. Jakarta.

Hlm. Soejono bahwa pendidik ialah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik. Hal ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Ag. Ilmu Pendidikan Islam. Ibid. 14 Ag. 23.6 manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan. Kalam Mulia. kecerdasan otak. 2004. 40. Pendahuluan Pendidikan Islam. Hlm. Arifin bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam. perasaan dan indra. Jakarta. Soejono. 1996. Arifin. penalaran. Karena guru pendidikan agama Islam tidak hanya dipandang sebagai pendidik tetapi juga sebagai membawa peserta didik kearah sikap dan kepribadian yang baik. mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan.13 Berdasarkan pendapat diatas dapat dipahami bahwa guru pendidikan agama Islam sebagai salah satu komponen insani yang memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan yang ikut berperan dalam upaya pembinaan sumber daya manusia yang Islami. Hlm.12 Menurut M. makhluk sosial dan sebagai individu atau pribadi. 3. dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai kedewasaannya. Bumi Aksara. 41. sehingga nantinya ia dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Mengajar ilmu pengetahuan agama Islam Menanamkan keimanan dalam jiwa anak Mendidik anak agar taat menjalankan agama 12 13 M. 2. .14 Adapun tugas dan tanggung jawab selaku guru agama Islam adalah: 1. Jakarta.

Hlm. Keenam 2005. karena sikap dan tindakan. Al-Qur’an dan Terjemahnya . menuju kepada usia dewasa yang sibuk dengan persaingan dan perjuangan untuk kepentingan hidup dan tanggung jawab yang Zuhairini dkk.15 Guru pendidikan agama Islam harus memberikan suri tauladan yang baik. akan member kesan dihati para peserta didik dan dalam Al-Qur’an surst An-Nahl ayat 125:                           Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya ini salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kenakalan peserta didik. Mendidik anak berbudi pekerti yang mulia.16 Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa guru harus mendidik peserta didik dengan cara yang baik agar terbentuk perilakudalam diri peserta didik.7 4. (An-Nahl:125). 224. dimana seorang telah meninggalkan usia anak-anak yang penuh kelemahan dan ketergantungan tanpa memikul suatu tanggung jawab. 16 15 . Menurut Zakiah Daradjat remaja adalah peralihan. Hlm. Cet. Diponegoro. Bandung. 35. Departemen Agama RI. Op Cit. sesungguhnya Tuhanmu dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

akhirnya mereka akan menampakkan perbuatanperbuatan yang negatif atau yang bertentangan dengan ajaran Islam. Jakarta. 2005.19 Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa masa remaja merupakan masa peralihan sehingga mengalami berbagai perubahan baik fisik maupun mental. PT. Bandung. Watak Pendidikan Islam. Hlm. Fisika Agung Insani. Dalam kondisi seperti ini mereka akan cenderung terpengaruh kejalan yang salah apabila dibiarkan begitu saja.18 Dan menurut Kartini Kartono masa remaja adalah masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. 18 17 . 59. Bandung. 148. Jakarta. 172.17 Sedangkan menurut Heri jauhari Muchtar masa remaja adalah peralihan (transisi) dari masa anak-anak kemasa dewasa. Menurut Heri Noer Aly. Bulan Bintang. Hlm. 2005. Psikologi anak (Psikologi Perkembangan). Mandar Maju. Hlm.8 penuh. Ilmu Jiwa Agama. 4. Fiqh Pendidikan. 2. dalam usaha pembinaan menanggulangi kenakalan peserta didik di sekolah dapat dilakukan dengan cara: 1. Kondisi ini terjadi di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. Remaja Rosdakarya. 132. 20 Heri Noer Aly dkk. Heri Jauhari Muchtar. 1995. 2000. maka mereka akan mudah terpengaruh oleh faktorfaktor yang sifatnya negatif. Kebiasaan Keteladanan Nasehat Pelatihan. Pada periode ini terjadi perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi rohaniah dan jasmaniah terutama fungsi sosial”. Hlm. 3. 19 Kartini Kartono.20 Zakiah Daradjat. oleh karena itu diperlukan upaya yang semaksimal mungkin untuk menanggulangi kenakalan peserta didik tersebut.

1981 . selalu memberikan nasehat. Hlm. Bandung. memberikan contoh perbuatan terpuji baik disekolah maupun diluar sekolah. mengadakan ceramah agama pada peringatan hari besar Islam. . nasehat dan bila perlu diberikan hukuman apabila peserta didik masih melakukan kesalahan. Manajemen Kelas. Guru pendidikan agama Islam SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan selalu memberikan suritauladan mengaktifkan kegiatan keagamaan. 34. membina shalat 21 N. setelah itu menentukan hukuman. memberikan hukuman. akan tetapi pemberian hukuman ini hendaknya dijadikan alternatif terakhir apabila dengan nasehat dan teguran tidak berhasil. sebelum memilih hukuman untuk diperlukan pertimbangan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan murid. mengatakan bahwa: “Saya sebagai guru pendidikan agama Islam sudah berusaha memberikan nasehat.9 Dalam menanggulangi kenakalan peserta didik dapat dilakukan dengan cara memberikan hukuman.A Ametembun.21 Dari kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam menanggulangi kenakalan peserta didik yaitu memberikan suritauladan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Purwani Bahri selaku guru Pendidikan Agama Islam. memberikan bimbingan dan dan memberikan surat panggilan terhadap orang tua peserta didik yang sering melanggar tata tertib sekolah. kebiasaan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ametembun bahwa untuk menyelesaikan problemproblem dalam manajemen kelas. IKIP.

berkelahi. Guru Pendidikan Agama Islam.22 Dari kutipan hasil wawancara tersebut di atas. 14 Maret 2012 . 2011-2012. seperti berbohong. cara berpakaian tidak peduli. merokok dilingkungan sekolah. bahwa guru pendidikan agama Islam dan pihak sekolah telah berupaya dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. membolos. akan tetapi masih banyak peserta didik yang melakukan pelanggaran. namun masih banyak peserta didik yang nakal. Seharusnya upaya tersebut dapat menghasilkan dampak yang positif. diperoleh data tentang jumlah peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan sebagaimana tabel dibawah ini: Tabel 1 Keadaan Peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan Tahun Pelajaran 2011-2012 No 1 2 3 Kelas VII VIII IX Jumlah Kelas 4 4 4 12 Jumlah Siswa Laki-laki Perempuan 86 97 75 78 73 83 234 258 Jumlah 183 153 156 492 Jumlah Sumber : Dokumentasi SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan TP. 22 Purwani Bahri. tidak patuh pada guru. sebelum belajar dimulai membaca do’a dan setelah selesai belajar ditutup dengan dengan do’a. Berdasarkan hasil observasi pada saat pra survei. mencuri. dan lain sebagainya. akan tetapi masih banyak peserta didik yang nakal”.10 jamaah. setiap bertemu mengucap salam.

Bertato Khusus siswa laki-laki 1. 7. 3. Pakaian tidak terbuat dari kain yang tipis dan tembus pandang. Mengecat rambut dan kuku 3. Pakaian seragam dengan ketentuan sebagai berikut : 1. ikat pinggang warna hitam. tidak ketat dan tidak membentuk tubuh. Tidak menggunakan perhiasan yang mencolok. 6. b. 5. 4. Topi sekolah sesuai ketentuan. Umum Siswa dilarang : 1. Tata tertib SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan: a. Memakai badge OSIS dan identitas sekolah. sepatu warna hitam. Baju seragam sesuai dengan ketentuan. Tidak berambut panjang . Kaos kaki warna putih. dan jumlah keseluruhan sebanyak 492 orang siswa. 2. Berkuku panjang 2.11 Dari tabel tersebut dapat dipahami jumlah peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan sebanyak 234 laki-laki dan 258 perempuan. Sopan dan rapih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Siswa wajib hadir di sekolah sebelum bel berbunyi. masuk kelas pukul 07-30. 2. 5. anting dan gelang Khusus siswa perempuan : Tidak memakai make-up atau sejenisnya kecuali bedak tipis. Setiap kelas dibentuk beberapa tim piket kelas yang secara bergiliran bertugas menjaga kebersihan dan ketertiban kelas.12 2. Piket harus datang kurang lebih 15 menit sebelum masuk kelas. Pada waktu pulang siswa dilarang duduk-duduk (nongkrong) ditepi-tepi jalan atau ditempat-tempat tertentu. 4. . pulang sekolah pukul 12. c.30. Siswa terlambat dating kesekolah lebih dari 15 menit harus lapor kepada guru piket dan tidak diperkenankan masuk kelas pada pelajaran pertama kecuali dapat izin dari guru piket. Rambut tidak berkuncir 4. setelah bel berbunyi siswa wajib berbaris. Siswa terlambat kurang dari 15 menit harus lapor dengan guru. 3. Masuk dan Pulang Sekolah 1. Kedisiplinan dan Ketertiban 1. Pada waktu pulang siswa diwajibkan langsung pulang kerumah. bersalaman dengan guru. Tidak memakai kalung. Kebersihan. Tidak bercukur gundul 3. d. 2. kecuali yang mengikuti pelajaran ekstrakurikuler.

Setiap siswa wajib mengikuti peringatan hari-hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi. mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika. Saling menghormati sesama siswa. Isra’ Mi’raj dan idul adha. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Setiap siswa wajib mengikuti upacara hari besar nasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. siswa dilarang melakukan hal sebagai berikut : 1. tidak menggunakan kata-kata yang kotor. Upacara bendera setiap hari senin. dan menghapus papan tulis. bermain disekolah maupun diluar sekolah. . e. Mengucap salam antar sesama teman dengan kepala sekolah dan guru. 2.13 3. Setiap siswa menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. menghargai perbedaan dalam memilih teman belajar. setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera dengan pakaian seragam yang telah ditentukan. Menggunakan bahasa yang sopan dan beradap. 4. obat terlarang lainnya dan berpacaran di sekolah. 2. serta karyawan sekolah. Upacara Bendera dan Peringatan Hari Besar 1. g. Membersihkan lantai dan dinding serta merapikan bangku dan meja. f. Sopan Santun Pergaulan 1. minum-minuman keras. 3. Merokok. 3.

pemerasan dan lain-lain. 2. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian. Teguran 2. . Membawa atau membaca atau mendengarkan bacaan. mengumpat. sketsa. atau menyapa antar sesama siswa dengan kata sapaan yang tidak senonoh. audio atau video porno. 7. pencurian. perampokan. Penugasan 3. 5. Tidak naik kelas Kenakalan yang dimaksud disini adalah perilaku yang menyimpang dari atau melanggar hukum.14 2. Skorsing 5. Membawa barang yang tidak ada kepentingan dengan sekolah. Pelanggaran dan Sangsi 1. Membuang sampah tidak pada tempatnya. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono yang mengutip dari Jensen. Pemanggilan orang tua 4. 1. sebagai berikut. seperti senjata tajam atau alat-alat lain yang membahayakan keselamatan orang lain. h. pencopetan. pembunuhan. gambar. 4. Mencoret dinding bangunan pagar sekolah dan peralatan lainnya. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan. Berkelahi perorangan maupun kelompok didalam sekolah maupun diluar sekolah. menghina. dan lain-lain. membagi kenakalan menjadi empat jenis. perkosaan. 6. 3. bergunjing. Berbicara kotor.

15 3. misalnya: keras kepala. 23 . Hlm. 3. PT Raja Grafindo Persada. tidak mau belajar. 24 Zakiah Daradjat. menganiaya.10. Membolos dari sekolah 10. hubungan seks sebelum menikah. Bergaul dengan orang-orang yang reputasinya jelek (germo. cara berpakaian tidak peduli dan sebagainya. 4. Berpakaian tidak senonoh 8. orang jahat/ammoral) Sarlito Wirawan Sarwono. 2006. Terhadap orang sejenis (homo seksual)24 Sedangkan bentuk-bentuk kenakalan peserta didik yang tergolong normanorma sosial adalah sebagai berikut: 1. penyalahgunaan obat. Jakarta. 2) Kenakalan yang mengganggu ketentraman dan keamanan orang lain misalnya mencuri. Menentang guru 11. dan menimbulkan celaan masyarakat 9. Psikologi Remaja. memfitnah. Bulan Bintang. penjudi. 5. Jakarta. lari (bolos) dari sekolah. Membina Nilai-Nilai Moral Di Indonesia. menodong. misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos. membunuh. dan sebagainya. tidak mau patuh kepada orang tua dan guru. Pergi tidak pamit atau tanpa izin orang tua Menentang orang tua atau wali Tidak sopan terhadap orang tua Berbohong Suka keluyuran Memiliki atau menggunakan alat-alat yang dapat membahayakan orang lain yang tidak diperuntukkan baginya 7. Hlm. sering berkelahi. suka mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan. Berkeliaran malam hari 13. mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya. Menghias diri dengan tidak wajar. 3) Kenakalan seksual a. Terhadap jenis lain (betero seksual) b. Kenakalan yang melawan status. 4. merampok. 1976. merusak milik orang lain. 2. Perilaku tidak senonoh dihadapan umum 12.23 Menurut Zakiah Daradjat bentuk-bentuk kenakalan peserta didik adalah: 1) Kenakalan ringan. 209-210. pencuri. 6. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran.

Berkebiasaan berbicara kotor.25 Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat dipahami bahwa banyak sekali bentuk kenakalan yang dilakukan oleh remaja atau peserta didik. Pesta-pesta musik semalam suntuk tanpa kontrol dan acara-acaranya tak sesuai dengan kebiasaan sopan santun 16. Jakarta. Merokok di tempat umum sebelum batas umur yang pantas. Ramai-ramai menonton pertunjukan dan tidak membayar 23. 1982. cara berpakaian tidak peduli. Menjadi pelacur atau melacurkan diri 19. sadis dan lain-lain yang isinya dapat merusak jiwa remaja) 17. merokok dilingkungan sekolah. Membawa buku-buku (buku-buku cabul. H. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama. Hlm. tak senonoh. berkelahi. Tabel 2 Data Kenakalan Peserta didik SMPN 02 Negara Batin Way Kanan Pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2011-2012 No 1 2 3 4 5 6 Jumlah Sampel 38 38 38 38 38 38 Jenis Kenakalan Jumlah Peserta Didik yang Nakal Laki-laki Perempuan 10 11 15 8 8 10 9 0 10 2 6 6 Berbohong Merokok dilingkungan Sekolah Membolos Berkelahi Cara berpakaian tidak peduli Tidak patuh pada guru Sumber : Dokumentasi SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan TP. Arifin. cabul dihadapan seseorang atau dihadapan umum 20. 25 . Hidup di tempat kemaksiatan atau kejahatan 21. Ramai-ramai naik bus dan tidak bayar 22. Meminum minuman keras 24. Berada di tempat yang tidak baik bagi perembangan jiwa remaja/terlarang untuk remaja 15.M. Golden Trayon. tidak patuh pada guru. membolos.16 14. Memasuki tempat-tempat yang membahayakan keselamatan jiwanya 18. 2011-2012. 92-93. Dalam hal ini yang akan penuliis teliti adalah berbohong.

sangat cepat dan sangat kuat pengaruh kawan sangat besar terhadap akal dan akhlaknya. 7. 2. Rata-rata peserta didik melakukan pelanggaran dengan berulang-ulang dan tidak hanya satu kenakalan yang mereka lakukan. Bulan Bintang. 4. Surabaya. 1981. politik dan ekonomi Kemerosotan moral dan mental orang dewasa Banyaknya film dan buku-buku bacaan yang tidak baik Pendidikan dalam sekolah yang kurang baik Kurangnya perhatian masyarakat terhadap anak. Hlm. 6. 3. 10. Jakarta. Anak diantara tetangga yang baik akan menjadi baik sebaliknya anak yang hidup diantara orang-orang berakhlak buruk.17 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa masih banyak peserta didik yang nakal. 5.27 Dari kedua pendapat diatas faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan karena kurangnya perhatian dan pendidikan agama dari orang tua (keluarga) dan pengaruh teman-teman sesama peserta didik. 55. 1976. akhlaknya akan menjadi buruk juga”. 26 Zakiah Daradjat. . Kurangnya pendidikan agama Kurangnya pengetahuan orang tua tentang pendidikan Kurang teraturnya pengisian waktu Tidak stabilnya keadaan sosial. 8. Usaha Nasional. Zuhairini dkk.26 Sedangkan pendapat Zuhairini dkk sebagai berikut “Saling menentukan antara anak dan temannya. dengan demikian kita dapat memastikan bahwa hari depan anak juga tergantung kepada keadaan masyarakat dimana anak itu bergaul. Membina Nilai-nilai Moral Di Indonesia. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. Menurut Zakiah Daradjat. 27 Hlm. faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan peserta didik adalah sebagai berikut: 1.

29 Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa masalah adalah persoalan yang mengganggu pikiran karena tidak ada keserasian antara yang diharapkan (teori) yang ada di lapangan sehingga mendorong kita untuk mencari pemecahannya atau mencari jalan keluarnya. Maleong. Berdasarkan dengan hal ini. 29 28 . S. Rumusan Masalah Menurut S. Metodologi Penelitian Kualitatif.18 Berdasarkan kondisi diatas. Bandung. terutama guru SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan dituntut untuk lebih memperhatikan pendidikan Agama Islam pada anak didik dalam rangka menanggulangi kenakalan peserta didik. Margono. 54.28 Sedangkan menurut Lexi J. PT. Remaja Rosda Karya. 62. Hlm. Jakarta. D. 2003. Rineka Cipta. Margono masalah adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya ada (dassolen) dengan kenyataan yang ada (dassein). selanjutnya permasalahan tersebut penulis tuangkan dalam sebuah judul: “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik Di SMP Negeri Negara Batin Way Kanan”. penulis tertarik untuk melakukan penelitian guna mengetahui lebih lanjut peran apa yang harus dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan dalam rangka menanggulangi kenakalan peserta didik. Metodologi Penelitian. masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi membingungkan. 2004. Hlm. Moleong. Lexi J.

Sebagai upaya pemecahan masalah yang dihadapi guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. 2. Untuk mengetahui kurang berhasilnya upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. . Sebagai Penerapan ilmu-ilmu yang penulis peroleh dalam bentuk teoritis dan praktis. b.19 Dalam penelitian ini didapati permasalahan guru pendidikan agama Islam telah berusaha menanggulangi kenakalan peserta didik akan tetapi masih banyak peserta didik yang tidak mentaati tata tertib sekolah sehingga upaya yang dilakukan guru kurang berhasil. Untuk mengetahui upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. Tujuan Penelitian a. Kegunaan Penelitian a. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Mengapa Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan”? E. b.

Jenis dan Sifat Penelitian a. kelompok. 28. Hlm. Jakarta. peserta didik dan objek lain sebagai sasaran penelitian tertentu. variabel pertama menyangkut tentang upaya guru pendidikan agama Islam dan variabel kedua mengenai kenakalan peserta didik. Suharsimi Arikunto. Bina Aksara. 115. 2. Hlm. 26.20 F.31 Penelitian ini akan membahas dua variabel.30 b. Jakarta. Bumi Aksara. 2004. Jenis Penelitian Dilihat dari tempatnya. Hlm. 2004. Populasi dan Sampel a. 30 Mardalis. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. penelitian ini termasuk penelitianlapangan (field research) karena penelitian ini pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realistis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu saat ditengah-tengah kehidupan masyarakat.32 Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh individu baik itu merupakan orang dewasa. 32 31 . Ibid. Populasi Populasi adalah “seluruh obyek (orang. penduduk) yang dimaksudkan untuk diteliti”. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif maksudnya adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Metode Yang Digunakan 1.

Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif. Sedangkan teknik sampling menurut S. Bandung. 35 Ibid.. 34 S. 33 . Jakarta. dan mengambil sampel 25 %. Hlm. Nasution. dan R & D). Sugiyono. adapun untuk menentukan jumlah sampel. b. dan hasilnya 38 peserta didik. 117. 95. Nasution adalah ”memilih jumlah tertentu dari keseluruhan populasi”. Metodologi Penelitian Dasar.21 Adapun yang menjadi populasi dalam peneletian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan yang berjumlah 153 peserta didik.34 Mengingat jumlah populasi lebih dari seratus orang.33 Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari jumlah populasi dalam penelitian. Sampel Sampel adalah “bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Kualitatif. Hlm. Bulan Bintang. 2010.35 Jadi. penulis berpegangan dengan pendapatnya Suharsimi Arikunto bahwa “jika subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya berupa penelitian populasi. Alfabeta. penulis akan meneliti kelas VIII (Delapan) yang berjumlah 153 peserta didik. maka dalam penelitian ini tidak semua populasi tersebut dijadikan obyek penelitian. 2000. tetapi jika subyeknya lebih besar dari 100 maka dapat diambil antara 10-15 atau 20-25 atau lebih”.

Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif. Alfabeta. kemudian membesar. Metodologi Research. 125. dan R & D).37 Adapun jenis metode observasi berdasarkan peranan yang dimainkan yaitu dikelompokkan menjadi dua bentuk sbgai berikut: 1. 158. Sugiyono. Observasi partisipan yaitu peneliti adalah bagian dari keadaan alamiah. Hlm. 2010. Fakultas Psikologi UGM. 37 36 Sutrisno Hadi. . tempat dilakukannya observasi. Metode Pengumpul Data a. Dalam penentuan sampel.22 Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Snowball sampling adalah tekhnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil. 2001. Metode Observasi Observasi adalah pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena obyek yang diteliti secara obyektif dari hasilnya akan dicatat secara sistematis agar diperoleh gambaran yang lebih konkrit dan kondisi di lapangan. pertama-tama dipilih satu atau dua orang. Hlm. Yogyakarta. Kualitatif. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Sutrisno Hadi “observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik terhadap berbagai macam fenomena-fenomena yang akan diselidiki dalam suatu penelitian”.36 3. maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Jilid II. tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan. Bandung.

Kartini Kartono. 171. Alumni. Op.. jelas bahwa metode interview merupakan salah satu alat untuk memperoleh informasi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung antar dua orang atau lebih serta dilakukan secara lisan. Pengantar Metodologi Riset Sosial. . Interview terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pokok-pokok masalah yang diteliti. Bandung. dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. proses pembinaan peserta didik. Metode Interview Metode interview adalah “suatu Tanya jawab lisan.39 Berdasarkan pengertian diatas. Apabila dilihat dari sifat atau teknik pelaksanaannya. berbagai perilaku peserta didik kelas VIII SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan yang nakal. 38 39 Koentjaraningrat. 2003. Hlm. 189. Inerview tak terpimpin (bebas) adalah proses wawancara dimana interviewer tidak sengaja mengarahkan tanya jawab pada pokok-pokok dari fokus penelitian dan interviewer. Observasi non partisipan yaitu dalam observasi ini peranan tingkah laku peneliti dalam kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan kelompok yang diamati kurang dituntut. maka interview dapat dibagi tiga yaitu: 1. Metode ini digunakan sebagai metode untuk mengobservasi adab guru. Cit. dimana peneliti tidak turut ambil bagian dalam kehidupan orang yang di observasi. b. 2. Hlm.23 2. yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinganya sendiri”.38 Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis observasi non partisipan.

206. dan juga peserta didik untuk memperoleh data tentang upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan peserta didik. Op. Op.24 3. Cit.41 Metode ini penulis gunakan untuk mewawancarai kepala sekolah. Hlm.. surat. Metode Dokumentasi Dokumentasi merupakan suatu proses pengumpulan data dengan cara mencari data-data tertulis sebagai bukti penelitian. buku. Jakarta. selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi. 202. Interview bebas terpimpin adalah kombinasi keduanya. Cit. notulen rapat legger. digunakan jenis interview bebas terpimpin. Hlm. guru pendidikan agama Islam. sebagaimana yang dijelaskan oleh Sutrisno Hadi. agenda dan sebagainya. 41 Sutrisno Hadi. 2000. transkrip.42 Metode ini penulis gunakan sebagai pengumpul data yang diperoleh dari guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 02 Negara Batin Way Kanan. Hlm. 83-85.40 Untuk memperoleh data yang valid dan kredibel. 40 . Selain itu dipergunakan untuk mendapatkan data mengenai sejarah berdirinya SMP Negeri 02 Cholid Narbuko dan Abu Ahmad. c. majalah prasasti. pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti. 42 Suharsimi Arikunto. yaitu “dalam interviu bebas terpimpin penginterview menyiapkan kerangka-kerangka pertanyaan untuk disajikan tetapi cara bagaimana pertanyaan itu diajukan sama sekali diserahkan kepada kebijakan interviewer”. Menurut Suharsimi Arikunto dokumentasi adalah “mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Metodologi Penelitian. Bumi Aksara..

44 3. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif. sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah. 44 Ibid. Verifikasi Data (PenyimpulanData) Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Verifikasi Data Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Milesand Hubermanyang di kutip oleh Sugiyono. Alfabeta. 43 . adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Display Data (Sajian Data) c.43 2. Reduksi Data Mereduksi data berarti merangkum. Hlm. memfokuskan pada hal yang penting.25 Negara Batin Way Kanan. Sugiyono. maka langkah selanjutnya adalah untuk mendisplay data. 4. Bandung. merencanakan kerja selanjutnya. jumlah guru. Analisis Data a. yaitu menyajikan data dengan teks yang bersifat naratif. sehingga data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data. jumlah peserta didik. dan R & D). Hlm 338-340. Kualitatif. Display Data Setelah data direduksi. berdasarkan apa yang telah dipahami. 341-344 . Reduksi Data b. 2010. Dengan demikian akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi. memilih hal-hal yang pokok.

2003. teori. konsep. Deddy Mulyana. interview. Metodologi Penelitian Kualitatif. dengan bentuk data-data awal yang diperoleh penulis melalui observasi. 56. Selanjutnya untuk mengambil kesimpulan dan analisis data tersebut maka digunakan secara berfikir induktif sebagaimana yang dikemukakan oleh Deddy Mulyana bahwa berangkat dari kasus-kasus yang bersifat khusus berdasarkan berdasarkan pengalaman nyata (ucapan atau perilaku subjek penelitian atau situasi lapangan penelitian) untuk kemudian kita rumuskan menjadi model. Bandung. 45 . Hlm. dan dokumentasi. prinsip. kemudian memfokuskan kemudian baru diambil kesimpulan data. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang sehingga menjadi jelas. Jadi dalam penelitian ini ada tiga langkah yang digunakan dalam menganalisis data yaitu dengan cara merangkum atau mencatat. PT.45 Penulis menggunakan analisis berpikir induktif ini untuk menganalisis datadata dari lapangan penelitian. proposisi atau definisi yang bersifat umum.26 Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang belum pernah ada. selanjutnya menyajikan data dalam bentuk kata-kata kemudian baru diambil kesimpulan. Remaja Rosda Karya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful