Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

BAB I LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
PENDAHULUAN Materi kuliah Teknik Riset Operasi (TRO) yang akan dipelajari antara lain : 1. Linear programming, dengan penyelesaian Grafik, Simplex, dan Konsep Dualitas 2. Masalah Transportasi 3. Masalah Penugasan 4. Game Theory 5. Pemrograman Dinamis 6. Analisis Jaringan Pengertian Riset Operasi (Operations Research, OR) Riset Operasi adalah sekumpulan Teknik / Alat analisis yang dapat digunakan untuk mengelola sumber daya yang terbatas guna mendapatkan hasil yang optimal. Pengertian optimal diatas mengandung pengertian nilai maximum dan minimum, maksudnya OR dapat digunakan untuk memaksimalkan sesuatu yang diinginkan (seperti hasil produksi, penjualan, keuntungan, ddl), dan dapat juga digunakan untuk meminimumkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan (seperti kecelakaan kerja, kerugian, produk cacat, dll.) Latar • • • Belakang Munculnya OR : Makin kompleksnya masalah perusahaan Makin dinamisnya lingkungan perusahaan Di sisi lain, perusahaan menghadapi banyak kendala dan keterbatasan sumber daya.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

1

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

PENYELESAIAN MASALAH LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menggambarkan fungsi tujuan dan fungsi kendala pada bidang koordinat X-Y dan mampu menentukan solusi optimal dari suatu masalah linear programming yang diberikan.

Asumsi dasar dalam Linier Programing ; 1. Proportionality, dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya, contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+ CnXn Penambahan 1 unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya 2. Additivity, dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lainnya. 3. Divisibility, dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan 4. Deterministic, dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang tepat. Tabel standar Linier Programming Pemakaian Sumber daya Per unit kegiatan Kegiatan Sumber Daya A B C D E Kontribusi terhadap Tujuan Tingkat Kegiatan 1 a11 a21 a31 … am1 C1 X1 C2 X2 C3 X3 2 a12 a22 a32 3 … … … 4 a1n a2n a3n …. amn Cn Xn Kapasitas Sumber Daya b1 b2 b3 … bm

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

2

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah umum dari metode grafik ini adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seperti berikut ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Langkah 4 : Menentukan titik optimal dari daerah yang feasible dan menjadikannya keputusan

Contoh Kasus Perusahaan sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek X1 dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek X2 dengan sol terbuat dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya. Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit, sedangkan mesin C membuat bagian atas sepat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8 jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam. Setiap lusin sepatu merk X1 mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk sepatu dengan merk X2, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5 jam. Pihak perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu merk X1 dapat memberikan kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin sepatu merk X2. Masalahnya adalah : Dalam berapa lusinkah sepatu merk X1 dan X2 harus diproduksi oleh perusahaan IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal, dalam hal ini keuntungan yang maksimal ? Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah \langkahnya adalah sebagai berikut :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

3

) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Perhatikan model tabel di atas : • Jumlah baris menunjukkan batasan-batasan . simbol yang dipergunakan adalah : X1 X2 Z = untuk produk sepatu dengan sol karet = untuk produk sepatu dengan sol kulit = fungsi tujuan..Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seeperti berikut ini. Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. dimana X1 dan X2 0 Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Prodi Manajemen Informatika . bentuk model persamaan matematisnya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 .Polmed 4 . kontribusi keuntungan yang akan diperoleh dari memproduksi sepatu X1 dan X2 Dari kasus di atas.000. yang ditentukan oleh banyaknya sumber yang akan dialokasikan ke setiap jenis kegiatan/produk • Jumlah kolom ditentukan oleh banyaknya/macam kegiatan produk yang akan dilakukan Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Untuk merubah ke dalam model matematis.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 1 / Mesin A X2

2X1

8 adalah

2X1

8

X1 0 4

Gambar grafik dari batasan 2 / Mesin B

3X2

15

X2

5

3X2

15

`

X1 0
Prodi Manajemen Informatika - Polmed

5

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 3 / Mesin C

6X1 + 5X2

30

X2

6

6X1 + 5X2

30

X1 0

Selanjutnya untuk apabila grafik dari ketiga batasan tersebut disatukan, maka daerah yang feasibel dapat diperoleh, seperti gambar berikut ini :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

6

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

X2 2X1 5 C D 3X2 15 8

Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30

Langkah 4 : Mencari suatu titik ( yang merupakan kombinasi X1 dan X2 ) di daerah feasible, yang dapat memaksimalkan keuntungan / nilai dari fungsi tujuannya ( Z ). Untuk mendapatkan titik tersebut, dapat dilakukan 2 macam cara yakni : 1. Dengan membandingkan nilai Z dari tiap-tiap alternatif Pada prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut. Pada titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0 Pada titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0 Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

7

yakni : 6 ( 4 ) + 5X2 = 30 5X2 X2 = 30 – 24 = 6/5. 6/5 ) Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18 Pada titik C ( ……. 5 Pada titik D ( 0. 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5 Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3.) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui … Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3. maka untuk mendapatkan nilai X1. maka untuk mendapatkan nilai X2. B.Polmed 8 .. 5 ) Nilai Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27. …. 5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25 Kesimpulan : Dari kelima titik 9 A. sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pada titik B ( 4. dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah yang memberikan hasil paling besar yakni 27. Dengan menggambarkan dan menggeser fungsi tujuan ( Z ) Misalkan dengan mencoba menggambar fungsi tujuan dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2 seperti terlihat pada garis p pada gambar berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Oleh karena itu perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2. sehingga koordinat titik B adalah ( 4.5. 2. D. nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3. C. yakni 6X1 + 5 ( 5 ) = 30 6X1 X1 = 30 – 25 = 5/6.. nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3.000.apabila mampu memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan sol kulit sebanyak 5 lusin.750.

Dan bila menggunakan cara pergeseran garis Z atau p.Polmed 9 . Beberapa hal lain dalam Metode grafik A. sehingga garis tersebut perlu digeser ke atas lagi sampai hanya menyinggung satu titik saja. kecelakaan kerja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 p’ 5 C D 3X2 15 8 p Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30 Ternyaka dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2. Dan apabila itu dilakukan ternyata titik yang tersinggung oleh garis p’ tersebut adalah titik C. dll. pemborosan. Prodi Manajemen Informatika . maka penggeseran dilakukan ke kiri. Apabila kasus ini terjadi. masih ada lebih dari sati titik yang feasibel.5 = 3X1 + 5X2. ). Dengan demikian titik inilah yang paling optimal. maka dari contoh kasus yang sama. Masalah Minimisasi Yang dimaksud minimisasi di sisni adalah fungsi tujuan menggambarkan keingginan perusahaan untuk meinimalkan sesuatu ( misalnya biaya. pilihan jatuh pada titik yang memberikan hasil yang terendah. dengan Nilai Z = 27.

Fungsi batasan bertanda lebih besar sama dengan ( Apabila hal ini terjadi. C. B.4 akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika .4 akan menjadi : X2 2X1 5 D Daerah feasible C 8 ) 3X2 15 B 6X1 + 5X2 30 X1 0 A 4 Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi B.Polmed 10 . titik yang dibandingkan cukup titik A. maka gambar 2. dan C saja. maka gambar 2. Fungsi batasan bertanda sama dengan ( = ) Apabila hal ini terjadi.

Prodi Manajemen Informatika .Polmed 11 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 8 B 3X2 15 A 6X1 + 5X2 30 X1 0 4 Dengan demikian daerah feasibelnya akan berada di sepanjang garis antara titik A dan B.

Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis (fungsi tujuan dan fungsi batasan) Langkah 3 : Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Langkah 4 : Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex Langkah 5 Menentukan Kolom kunci. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut.Polmed 12 . Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya. maka kasusnya tidak normal/wajar sehingga memerlukan penyelesaian yang berbeda. maka kasus yang sedang dihadapi adalah kasus yang normal/wajar. mahasiswa diharapkan mampu membentuk tabel simplex awal. menentukan solusi dasar. dan menentukan solusi optimal dari masalah linear programming yang diberikan. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah LP dengan metode Simplex adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi. menentukan variabel dasar. dalam metode simplex ini juga akan dikenal masalah miximalisasi dan minimalisasi 2. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Prodi Manajemen Informatika . bahwa : 1. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. Apabila kita jumpai kasus seperti di atas. Sama dengan metode sebelumnya. dimana fungsi tujuan bertanda sama dengan (=) dan fungsi batasan bertanda lebih kecil sama dengan ( ). Dengan menggunakan contoh terdahulu : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB II LINEAR PROGRAMMING DENGAN SIMPLEX Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. dimana X1 dan X2 0 Sebelumnya perlu diingat.

apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Langkah 3 Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Fungsi tujuan akan dirubah menjadi persamaan simplex dengan cara memindah semua nilai ya ng ada di sisi kanan persamaan ke sisi sebelah kiri persamaan. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. Langkah 9 Jika ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan (Z). Jika masih ada yang negatif. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. maka tabel belum optimal dan perlu dilanjutkan ke proses selanjutnya. maka : Langkah 1 dan Langkah 2. dalam kasus normal juga akan ditambahkan satu variabel tambahan (Slack variabel) untuk setiap fungsi batasan. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.apabila diselesaikan dengan metode Simplex. Simbol dari variabel batasan tersebut biasanya melanjutkan simbol yang telah digunakan oleh kegiatan atau Prodi Manajemen Informatika . sehingga akan menjadi : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 menjadi à Z – 3X1 – 5 X2 = 0 Sedangkan fungsi batasan akan menjadi persamaan simlex selain dengan cara merubahnya menjadi fungsi persamaan. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Dari kasus di atas. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. Jadi rumusnya adalah : Baris kunci yang lama Baris kunci yang baru : -------------------------------Angka kunci Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. sama dengan metode Grafik sebelumnya. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut.Polmed 13 .

maka selanjutnya variabel tambahannya akan menggunakan simbol X3 dan seterusnya. Batasan 2 Dari Fs. X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Kolom X2 adalah merupakan kolom kunci karena memiliki nilai negatif terbesar di baris tujuannya (Z). Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci.Polmed 14 . Langkah 6 Menentukan Baris kunci. à 6X1 + 5X2 + X5 Perhatikan. Batasan 1 Dari Fs. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. Batasan 3 Langkah 5 Menentukan kolom kunci. Sedangkan fungsi batasan akan menjadi Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : =8 = 15 = 30 8 à 2X1 + X3 15 à + 3X2 + + X4 30 . Sebagai contoh : karena dalam kasus yang ada simbol yang digunakan untuk produk adalah X1 dan X2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi produk yang sedang dibahas. bahwa setiap fungsi batasan akan menjadi persamaan simplex dengan tanda (=) dan memiliki tambahan variabel (slack variabel) masing-masing. Prodi Manajemen Informatika . Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Langkah 4 Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Dari Fs.

perhatikan perhitungan berikut ini. Dari tabel di atas. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. angka kuncinya adalah 3. sehingga tabel dapat dikatakan belum optimal dan perlu diproses lebih lanjut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Baris X4 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. terlihat bahwa baris tujuan masih memiliki nilai negatif. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. Dengan rumus tersebut. Dari tabel di atas. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. Langkah 9 Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Untuk lebih jelasnya.Polmed 15 . Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 0/-5 à 8/0 à 15/3 à 30/5 = tak terdefinisikan = divinition by zero = 5 à positif terkecil =6 Langkah 7 Menentukan Angka kunci. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif.

Kolom kunci) Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong.3 Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 0 1 0 1/3 0 5 )0 ___________________________________________ 2 0 1 0 0 8 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 2 0 1 0 0 8 Perhatikan. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. Untuk lebih jelasnya. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. perhitungan tidak perlu dilakukan.Polmed 16 . Untuk baris X5 6 5 0 0 1 30 ( 0 1 0 1/3 0 5 )5 ___________________________________________ 6 0 0 -5/3 1 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 6 0 0 -5/3 1 5 0 0 5/3 0 25 Prodi Manajemen Informatika . -3 -5 0 0 0 0 ( 0 1 0 1/3 0 5 )–5 ___________________________________________ -3 0 0 5/3 0 25 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X1 Z X3 X2 X5 X2 X3 X4 X5 NK 0 1 0 1/3 0 5 Perhatikan bahwa baris X4 akan menjadi baris X2 (ex.

maka langkah ke-6 dan 7 perlu dilakukan terlebih dahulu. Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Baris Kunci Prodi Manajemen Informatika . Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Langkah 6 (iterasi ke-2) Menentukan Baris kunci. sehingga perlu kembali lagi ke Langkah 5. X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kolom X1 terpilih menjadi kolom kunci karena memiliki nilai negatif pada baris tujuannya. maka tabel simplex yang diperoleh belum optimal. Sebelum bisa mendapatkan tabel simplex yang ketiga. Karena masih ada nilai negatif (-3) pada baris tujuannya. yakni menentukan kolom kunci pada tabel kedua simplex tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kembali ke Langkah 8.Polmed 17 .

Untuk lebih jelasnya. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Dari tabel di atas.5 Prodi Manajemen Informatika . Langkah 8 dan 9 (iterasi ke-2) Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. angka kuncinya adalah 6. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 25/-3 à 8/2 à 5/0 à 5/6 = negatif =4 = pembagian dengan 0 = 5/6 à positif paling kecil Langkah 7 (iterasi ke-2) Menentukan Angka kunci. -3 0 0 5/3 0 25 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )–3 ___________________________________________ 0 0 0 5/6 1/2 27. Kolom kunci) Langkah 10 (iterasi ke-2) Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. Dengan rumus tersebut. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci.5/18 1/6 5/6 Perhatikan bahwa baris X5 akan menjadi baris X1 (ex. perhatikan perhitungan berikut ini. hasilnya adalah : X1 Z X3 X2 X1 X2 X3 X4 X5 NK 1 0 0 . apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris X5 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Untuk lebih jelasnya.5 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : 0 0 0 5/6 1/2 27. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya.Polmed 18 .

5 atau 2. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27.5 6 1/3 5 5/6 Perhatikan ! Karena dalam tabel simlex ketiga di atas sudah tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuannya. Untuk baris X2 0 1 0 1/3 0 5 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )0 ___________________________________________ 0 1 0 1/3 0 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 0 1 Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : 0 1/3 0 5 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . maka dapat dikatakan bahwa masalah LP ini telah optimal. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. baris X1). 1. Dengan hasil pada poin 1 di atas. dengan kesimpulan.Polmed 19 . perhitungan tidak perlu dilakukan. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol).750. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )2 ___________________________________________ 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Perhatikan. baris Z) Prodi Manajemen Informatika .5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. baris X2) 2. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK.000 (lihat kolom NK.

5 6 1/3 5 5/6 Tabel Simplex optimal Tabel Simplex iterasi 1 Tabel Simplex awal Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Laba optimal Prodi Manajemen Informatika .Polmed 20 . Secara umum perkembangan iterasi dari tabel-tabel simpelx tersebut dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini. Tabel Simplex Ringkasan X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 -5 0 3 5 X2 0 0 1 0 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 = 5/6 =5 = 27.5 X4 0 0 1 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X4 5/6 5/9 1/3 . dapat dsimpulkan bahwa untuk kasus di atas diperlukan iterasi sampai tahap ke-2 untuk mendapatkan tabel simplex yang memberikan hasil optimal.5/18 X5 0 0 0 1 X5 0 0 0 1 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 0 8 15 30 NK 25 8 5 5 NK 27.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Rangkuman proses penyelesaian masalah LP dengan metode Simplex Dari proses iterasi /penyelesaian di atas.

sehingga : Dari Minimalkan Z Maksimalkan (-Z) = 3X1 + 5X2 = -3X1 – 5X2 à menjadi Untuk fungsi batasan : • Jika sebelumnya fungsi batasan sudah bertanda (=). misalkan X1 . à dikalikan dengan (-1). Fungsi batasan bertanda (=) atau ( ) 3. Dan syarat X1 atau X2 tidak terpenuhi. Penyelesaian : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Untuk fungsi tujuan à agar menjadi Maximalisasi. maka untuk menjadi persamaan simplex. dapat dicontohkan sebagai berikut . antara lain karena : 1.10 (negatif) Dengan menggunakan kasus di atas. perlu dibuatkan sebuah variabel yang disebut dengan variabel buatan (artificial variabel) • Jika sebelumnya fungsi batasan bertanda ( ). Namun apabila proses tersebut menyebabkan slack variabelnya bernilai negatif.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penyimpangan Bentuk Standar Simplex Penyimpangan bentuk standar dapat terjadi karena beberapa sebab. Langkah penyelesaian untuk kasus penyimpangan ini adalah : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Setelah normal. Prodi Manajemen Informatika . tetapi Minimalisai 2.Polmed 21 . Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian kasus simplex sebelumnya. Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan : Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 =8 15 30 . Fungsi tujuan (Z) bukan Maximalisasi. maka perlu dibuatkan juga artificial variabel. maka perlu dijadikan dulu ( ) dengan cara dikalikan (-1).

6X1 . sehingga perlu dibuatkan sebuah artificial variabel.5X2 . akan mengakibatkan fungsi tujuannya bertambah sebesar M dari batasan yang bersangkutan.30 à persamaan simplexnya . sebelum nilai fungsi tujuan dipindah ke tabel simplex. M yang muncul adalah bilangan yang sangat besar.30 0).5X2 30 . dan ini akan mengakibatkan fungsi tujuannya memiliki tambahan nilai sebesar M. cukup ditambahkan slack variabel saja. namun tidak tak terhingga. bilangan M yang ada dalam fungsi tujuan tersebut harus dijadikan nol terlebih dahulu. dan hasilnya menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 + X6 = 30 Prodi Manajemen Informatika .6X1 . perhatikan contoh berikut : Fungsi batasan 1 Karena batasan pertama à maka akan menjadi : Mesin A Mesin A 2X1 2X1 + X3 = 8.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi • Perlu diingat bahwa. karena setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). dan hal ini berarti meniadakan variabel tersebut. =8 X3 bar yang muncul bukan slack variabel (variabel tambahan). sehingga sering disebut dengan The Big M. 3X2 15 à + 3X2 + + X4 = 15 Karena nilai X1 dan X2 negatif (tidak sesuai dengan syaratnya. namun artificial variabel (variabel buatan). dimana X1 dan X2 maka harus dikalikan dengan (-1). +X5 = . pembuatan variabel pada setiap fungsi batasan. Untuk lebih jelasnya. harus bernilai nol. sehingga menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 = 30 Permasalahan yang timbul kemudian adalah variabel slack-nya sekarang bernilai negatif. à bila dinormalkan akan menjadi : .Polmed 22 . Mesin B Fungsi batasan 3 Mesin C 6X1 + 5X2 . Dari Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 à menjadi Maksimalkan (-Z) = -3X1 – 5X2 à menjadi persamaan simplex Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 =0 Fungsi batasan 2 Karena batasan kedua ini tidak ada penyimpangan maka untuk menjadi persamaan simplex. Selanjutnya.

yang sebelumnya dikalikan dengan setiap nilai batasan yang menyebabkan munculnya bilangan M tersebut. sebelum dipindah ke tabel simplex.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penambahan artificial tersebut akan berdampak pada fungsi tujuan. X1 X2 X3 X4 X5 X6 NK 3 5 M 0 0 M 0 (2 0 1 0 0 0 8) M _____________________________________ 3-2M 5 0 0 0 M -8M Selanjutnya kita hilangkan M yang kedua.Polmed 23 . Sehingga fungsi tujuannya akan berubah lagi menjadi : Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 + MX6 =0 Masalah berikutnya yang muncul adalah setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). Untuk jelasnya perhatikan cara berikut : Nilai fungsi tujuan terakhir adalah : 3 5 M 0 0 M 0 Kita coba hilangkan M yang pertama terlebih dahulu. harus bernilai nol. namun M tersebut sudah tidak lagi sebagai variabel dasar. Nilai fs. sehingga MX3 dan MX6 di atas harus di-nol-kan terlebih dahulu. Cara yang digunakan adalah dengan mengurangi bilangan M tersebut dengan bilangan M itu sendiri. Tujuan -8M+3 -5M+5 0 0 M 0 -38M inilah yang selanjutnya akan dimasukkan ke tabel simplex. 3-2M 5 0 0 0 M -8M (6 5 0 0 -1 1 30) M ______________________________________ 3-8M 5-5M 0 -8M+3 -5M+5 0 M 0 0 0 -38M. karena sebelumnya (X5) telah bernilai negatif (lhat pebahasan batasan ke3). yakni dengan bertambahnya fungsi tujuan dengan bilangan M. Atau M 0 -38M Meskipun masih ada M pada kolom ke-5. sehingga tabel simlex awalnya adalah sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .

X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X3 4M3/2 1/2 0 -3 X3 M+3/2 1/2 9/5 -3/5 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X5 M 0 0 -1 X5 1 0 3/5 -1/5 X6 0 0 0 1 X6 0 0 0 1 X6 M+1 0 -3/5 1/5 NK -38M 8 15 30 NK -6M12 4 15 6 NK -18 4 5 7/5 6/5 -8M+3 -5M+5 2 0 6 X1 0 3 5 X2 -5M+5 0 3 5 X2 0 0 1 1 Z X1 X4 X6 0 1 0 0 X1 Z X1 X4 X2 0 1 0 0 Prodi Manajemen Informatika . Z. untuk kasus penyimpangan : X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X6 0 0 0 1 NK -38M 8 15 30 -8M+3 -5M+5 2 0 6 0 3 5 Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian pada kasus normal. keculai kolom NK-nya) Berikut ini adalah ringkasan hasil penyelesaian kasus penyimpangan di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tabel Awal simplex. dansetrusnya sampai optimal (tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuan. mencari baris kunci. yakni mencari kolom kunci.Polmed 24 .

30 + 3X’1 + 5X2 Fungsi batasannya : Mesin A 2 (X’1 – 10 ) . Langkah penyelesaian berikutnya adalah sama dengan kasus yang normal. bagaimana jika semua fungsi. tapi syarat bahwa X1 dan X2 0. baik tujuan maupun batasannya normal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kesimpulannya : Agar kerugiannya minimal. Prodi Manajemen Informatika . tidak terpenuhi. misalnya menjadi .18 Penyimpangan berikutnya adalah. diganti dengan X’1 – 10.maka produksi yang harus dilakukan adalah : Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Kerugian minimal =4 = 6/5 = .Polmed 25 . dan selanjutnya semua nilai X1 pada fungsi tujuan dan batasan. sehingga X1 = X’1 – 10. X1 -10 ? Apabila dijumpai kasus seperti ini maka nilai variabel X1 harus disesuaikan menjadi variabel baru dengan nama X’1 yang nilainya adalah : X’1 = X1 + 10.20 + 2’X1 2’X1 Mesin B Mesin C 3X2 6 (X’1 – 10) + 5X2 . sehingga menjadi : Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 3 (X’1 – 10) + 5X2 = .60 + 6X’1 + 5X2 6X’1 + 5X2 8 8 28 15 30 30 90 Setelah demikian.

Oleh karena itu analisis sensitivitas diperlukan untuk sesegera mungkin mendapatkan hasil optimal yang baru dari perubahan-perubahan tersebut. perubahan pada kapasitas maksimal mesin. disamping risiko kesalahan hitung yang mungkin muncul. Kegunaan Dualitas dan Analisis Sensitivitas: 1. Sementara itu. b. Perubahan yang dimaksud misalnya : a. misalkan karena mesin kedua diperbaiki. Untuk memahami konsep dualitas.Polmed 26 . Dualitas lebih banyak bermanfaat untuk melakukan pengujian/pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen 2. langkah pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya Dualitas adalah ‘kebalikan’ masalah Simplex. mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah dual.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB III DUALITAS DAN ANALISIS SENSITIVITAS Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. dan disetup ulang.tapi menjadi Rp 500. maka bila sebelumnya hanya bisa menyala 15 jam. 0 Masih ingat khan. analisis ini lebih bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. menginterpretasikan secara ekonomi masalah dual. dan masalah Simplex sendiri selanjutnya sering disebut dengan masalah Primal.. misalkan dari contoh sebelumnya. dst. diganti oli-nya. fungsi tujuan dan batasan akan berubah. Jadi masalah Dual adalah ‘kebalikan’ dari masalah Primal (simplex) Dari contoh kasus di atas.000. mengartikan solusi masalah dual. perubahan nilai koefisien dalam fungsi tujuan.-/unit. analisis sensitivitas selain digunakan untuk pengujian/pengecekan. Jika hal tersebut terjadi. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. membuat analisis sensitivitas. karena tuntutan keadaan keuntungan yang diharapkan dari sepatu karet tidak lagi Rp 300. saat ini mampu menyala hingga 16 jam.000. bahwa kedua fungsi di atas berasal dari tabel penyederhanaan yg dibuat pada kasus berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . masalah Primal (simpelx)-nya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 dimana X1 dan X2 8 15 30 . dan apabila dilakukan perhitungan lagi dari awal tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. dan memahami penggunaan analisis sensitivitas.

000.Polmed 27 . Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. dan C serta X1 dan X2 diganti dengan notasi umum dalam Dual akan menjadi : Y1 Batasan 1 Batasan 2 2 0 8 Y2 0 3 15 Y3 6 5 30 3 5 Sehingga fungsi tujuan dan batasan Dual-nya dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan ketika dulu mendapatkan fungsi tujuan dan batasan pada Primal (simplex)-nya.) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Tabel penyederhanaan kasus Primal (simplex) di atas apabila dijadikan Dual akan menjadi : A X1 X2 2 0 8 B 0 3 15 C 6 5 30 3 5 Atau apabila notasi A.. B.

3. Y2. Jumlah batasan (3) akan menjadi jumlah variabel dalam fungsi tujuan Dualnya (Y1 s. Nilai koefisien pada fungsi batasan Dual adalah ‘pembacaan’ vertikal dari nilai koefisien di batasan Primalnya 5.Polmed 28 . dan 30) sebelumnya adalah nilai kanan (NK) dari fungsi batasan Primal (simplex)-nya. Y2. 15. maka salah satu manfaat Dualitas adalah untuk melakukan pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode Prodi Manajemen Informatika . Tujuan dan batasan Primal-nya) adalah : Fungsi Tujuannya : Minimalkan Y Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 0 à tanda juga berubah = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 à perhatikan mjd Minimalisasi Dimana Y1. Sebaliknya nilai kanan batasan (3 dan 5) sebelumnya adalah nilai koefisien fungsi tujuan pada kasus Primal (simplex) 4. Fungsi tujuannya dari maksimalisasi menjadi minimalisasi 2. dan Y3 Perhatikan ! Dalam fungsi tujuan dan batasan Dual tersebut : 1. akan terlihat : Fungsi tujuanPrimal : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : 8 15 30 . Fungsi Tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 dimana X1 dan X2 Dimana Y1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian fungsi tujuan dan batasan Dual-nya (dan ini merupakan ‘kebalikan’ dari fs. Y3) Bila disandingkan kedua masalah Primal dan Dual di atas.d. dan Y3 0 Selanjutnya apa kegunaan atau manfaat hubungan antara Primal dan Dual tersebut ? Seperti telah dijelaskan di bagian awal bab ini. Nilai koefisien pada fungsi tujuan (8.

5 + 0. Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya. Nilai 1/2 di bawah variabel dasar X5 menunjukkan bahwa apabila mesin C (batasan 3) kapasitasnya bertambah dari 30 jam menjadi 31 jam. X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Dengan hasil pada poin 1 di atas. X4. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. 5/6.5 tersebut di atas ternyata nilai yang bermanfaat tidak hanya itu. 2.34 3.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel optimal simplex di atas telah disimpulkan bahwa : 1. baris Z) Selain nilai 5/6.750. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 0 atau tetap sebesar 27. perhatikan perhitungan berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .5 menjadi 27. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. Ada beberapa nilai yang juga penting. sebelumnya perlu kita perhatikan hasil optimal simplex dari kasus sebelumnya.5 = 28. Perhatikan nilai-nilai dibawah variabel dasar X3. Nilai-nilai ini secara umum dapat diartikan sebagai besarnya tambahan keuntungan perusahaan apabila masing-masing kapasitas batasan bertambah sebesar 1 unit kapasitas ( misalnya mesin A dari 8 jam menjadi 9 jam. dan 1/2. 5. Nilai 5/6 di bawah variabel dasar X4 menunjukkan bahwa apabila mesin B (batasan 2) kapasitasnya bertambah dari 15 jam menjadi 16 jam.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27.Polmed 29 .5 atau 2. Namun demikian. baris X1). dan 27. mesin B dari 15 jam menjadi 16 jam). Dengan demikian dapat diartikan bahwa : 1.5 menjadi 27.5 + 5/6 = 28. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. baris X2) 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen.5. dan X5 pada baris Z tersebut di atas. Nilainya adalah 0. Nilai 0 (nol) di bawah variabel dasar X3 menunjukkan bahwa apabila mesin A (batasan 1) kapasitasnya bertambah dari 8 jam menjadi 9 jam.000 (lihat kolom NK. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 1/2 sehingga dari 27.

34 Jadi keuntungan yang baru ini 28. Untuk lebih jelasnya. keuntungan akan bertambah 5/6.Polmed 30 .5 à nilai ini sama dengan yang dihasilkan dari fungsi tujuan primal/simplex sebelumnya Prodi Manajemen Informatika .. dan X5) tersebut atau nilai 0.84 atau dengan 5/6 dan ini terbukti bahwa apabila kapasitas mesin ke-2 (batasan 2) bertambah dari 15 menjadi 16. nilai-nilai dibawah kolom variabel dasar (X3. X4. selain mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit.18 X1 = 5/9. perhatikan perhitungan di bawah ini : Fungsi tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 = 8(0) + 15(5/6) + 30(1/2) = 27. bila dihubungkan dengan batasan ketiga 30 Bila batasan 2 dikalikan 5 dan batasan 3 dikalikan 3. dan 1/2 tersebut apabila dimasukkan ke dalam fungsi tujuan Dual-nya akan menghasilkan keuntungan yang sama ketika keuntungan tersebut diperoleh dari fungsi tujuan Primal-nya (hal ini sekaligus dapat digunakan untuk memastikan bahwa hasil optimal pada masalah Primal/Simplex-nya sudah benar).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Batasan 2 Kapasitasnya bertambah 1 jam sehingga menjadi : 3X2 6X1 + 5X2 16. 5/6.10 X1 = -10 / . bila nilai X1 dan X2 ini dimasukkan ke fs tujuan : = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(16/3) = 28. hasilnya adalah : 3X2 6X1 + 5X2 16 (x5) 30 (x3) 15X2 80 18X1 + 15X2 90 ---------------------------. Selanjutnya.34 – 27.5 = 0. sementara itu nilai X2 nya adalah : 3X2 X2 Z 16 16/3.18 X1 .

apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex.Polmed 31 . Perhatikan lagi tabel optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya : X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . dan X1. khususnya nilai-nilai yang berada di bawah variabel dasar. dan perhitungan adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5 dan 3. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa urutan variabel yang dimaksud adalah X2. Sementara itu fungsi tujuan Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. kecuali di baris tujuan (Z). 3) = Prodi Manajemen Informatika . Langkah 2 Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas. 5. langkah-langkahnya adalah : Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. nilai-nilai yang dimaksud adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik. Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Analisis Sensitivitas Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil optimal Primal/Simplexnya. analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. Selanjutnya untuk memanfaatkan matrik tersebut.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel di atas.

Polmed 32 . 15. 5/6. 5/6. Dari contoh kasus yang ada. Dengan hasil di atas. X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas. X4.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. 0x. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya. dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi ( 0x1 + 5x0 + 3x0. nilai yang dimaksud adalah 8. dan 30. Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan Primal/simplex-nya. dan yang sebelumnya telah dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya. dan perhitungannya adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 15 30 = 1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 0x8 + 1/3x15 + 0x30 0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 = 6 1/3 5 à X2 5/6 à X1 Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel optimal Primal/simplex-nya. 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18. Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas Prodi Manajemen Informatika . 1/2 ) (0. 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3. Langkah 2 Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas.

6. 2/3) Jadi tambahan keuntungan yang terjadi apabila kapasitas setiap mesin ditambah 1 unit tidak lagi 0. Dan apabila dimasukkan ke Fungsi tujuan Dual untuk mendapatkan hasil adalah : Y = 8(0) + 15(8/9) + 30(2/3) = 33.Polmed 33 .34. perhatikan perhitungan berikut ini : NK sebelumnya 8 15 30 à NK Setelah perubahan 8 16 30 Perhatikan ! Nilai kanan / kapasitas batasan 2 atau mesin B naik menjadi 16. Prodi Manajemen Informatika . ) dapat pula dicari dengan bantuan matrik ini. maka keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. tapi menjadi 4 dan 6. 0x. Untuk lebih jelasnya. 4) = ( 0x1 + 6x0 + 4x0. dan ½.34 Begitu pula bila perubahan terjadi pada koefisien fungsi tujuan. 0x5/9 + 6x1/3 + 4x -5/18.34.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0.5 menjadi 28. keuntungan per unit X1 dan X2 tidak lagi 3 dan 5.34 à Keuntungan yang baru. 5/6. 8/9 dan 2/3.5 menjadi 28.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi keuntungan akan naik sebesar 5/6 sehingga dari 27. tetapi 0. 8/9. maka keuntungan perusahaan yang baru adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. benarkah ? 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 1 30 = 1x8 + 5/9x16 + -1/3x30 0x8 + 1/3x16 + 0x30 0x8 + -5/18x16 + 1/6x30 = 6 8/9 5 1/3 à X2 5/9 à X1 Apabilai nilai X1 dan X2 tersebut dimasukkan ke fungsi tujuan Primal/simplex akan diperoleh keuntungan : Z = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(5 1/3) = 28. Misalkan karena suatu sebab.34 à Jadi terbukti memang keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 menjadi 28.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB IV MASALAH TRANSPORTASI Masalah transportasi berkaitan dengan keterbatasan sumber daya atau kapasitas perusahaan yang harus didistribusikan ke berbagai tujuan. Dalam masalah transportasi. Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini. dimana metode yang dapat digunakan adalah : • Metode NWC (North West Corner) • Metode LC (Least Cost) • Metode VAM (Vogel Aproximation Method) • Metode RAM (Russel Aproximation Method) Tahap 2. secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap.Polmed 34 . langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama (penyelesaian awal). Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut : Pabrik Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Total Kapsitas produksi tiap bulan 90 ton 60 ton 50 ton 200 ton Saat ini ada kebutuhan dari tiga kota besar yang harus dipenuhi. masalahnya belum dapat dioptimalka. Dengan demikian manfaat utama dari mempelajari masalah transportasi ini adalah mengoptimalkan distribusi sumberdaya tersebut sehingga mendapatkan hasil atau biaya yang optimal. Namun demikian. dengan metode : • Stepping Stone • MODI (Modified Distribution) Metode MODI sebenarnya merupakan modifikasi dari metode Stepping Stone yang sudah ada sebelumnya. Penyelesaian akhir. perhatikan contoh berikut ini. dengan besaran permintaan masing-masing kota : Prodi Manajemen Informatika . kebutuhan atau aktivitas. dengan penyelesaian awal. yakni : Tahap 1.

maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal. Prodi Manajemen Informatika .MODI Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal. Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kota A B C Total Kapsitas produksi tiap bulan 50 ton 110 ton 40 ton 200 ton Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing kota adalah sama.Polmed 35 . Berapakan total biaya optimal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ? Jawab : Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas dan apabila dikaitkan dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan. yakni sebesar 200 ton. Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah : Dari pabrik 1 ke kota A = 20 Dari pabrik 1 ke kota B = 5 Dari pabrik 1 ke kota C = 8 Dari pabrik 2 ke kota A = 15 Dari pabrik 2 ke kota B = 20 Dari pabrik 2 ke kota C = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 25 Dari pabrik 3 ke kota A = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 19 Pertanyaannya adalah : 1. maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut : Alternatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Kombinasi metode yang dapat digunakan NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI LC – MODI VAM – MODI Russel . hasil optimal belum ditemukan. Apabila dijumpai kasus semacam ini. guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ? 2.

Dengan demikian hasil dari metode ini berturut-turut sebagai berikut : Langkah 1 Langkah 2 Prinsipnya. umumnya mewakili sumber daya yang dimiliki perusahaan 4. 5. sel C12 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 2 (kota B).Polmed 36 . masalah atau kasus di atas perlu disederhanakan terlebih dahulu dalam tabel transportasi. dst. sebelum kebutuhan kota A ‘beres’ jangan memenuhi kebutuhan kota B. Sebelum kapasitas Pabrik 1 habis. Langkah 1 : Penuhi kebutuhan kota A (50) dengan kapasitas dari Pabrik 1 (90. Alternaif 1 : Kombinasi NWC dan Stepping Stone Penggunaan metode NWC. seperti terlihat di bawah ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Perhatikan. bahwa : 1. Angka yang terdapat pada pojok kanan atas setiap sel menunjukkan biaya transportasi di sel tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebelumnya. Kolom. dst. Baris. umumnya mewakili daerah atau tempat tujuan distribusi 3. sisa 40) Langkah 2 : Lanutkan dengan memenuhi kebutuhan kota B (110) dengan sisa kapasitas Pabrik 1 (yang sebelumnya/pada langkah 1 masih sisa 40) à masih kurang 70 Prodi Manajemen Informatika . sesuai namanya North West Corner penyelesaian selalu akan dimulai dari pojok kiri atas (north west) dari tabel transportasi. dst. Selanjutnya tabel di atas akan disebut dengan tabel transportasi 2. Selanjutnya yang dimaksud dengan sel C11 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 1 (kota A). jangan gunakan kapasitas dari Pabrik 2.

Sudah benarkah tabel yang dihasilkan sampai dengan langkah ke-5 ersebut ? à untuk memastikannya. Prodi Manajemen Informatika . saat ini kebutuha semua kota dan kapasitas semua pabrik telah terpenuhi dan habis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langah 3 Langkah 4 Langkah 3 : Lanjutkan memenuhi kebutuhan kota B (masik kurang 70) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 2 (60). karena sebelumnya hanya dipenuhi dengan sisa kapasitas Pabrik 1 sebesar 40. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. yang dimulai dari pojok kiri atas. gunakan sisa kapasitas Pabrik 3 untuk memenuhi kebutuhan kota C yang kebetulan juga sebesar 40 à sama persis dengan kapasitas yang tersisa di Pabrik 3 Perhatikan tabel transportasi pada langkah ke-5 di atas. Dari tebel tersebut alokasi atau pendistribusian yang terjadi adalah : Pabrik 1 akan melayani/mengirim ke kota A sebanyak 50 ton dan kota B sebanyak 40 ton Pabrik 2 hanya akan melayani/mengirim ke kota B sebanyak 60 ton Pabrik 3 akan melayani/mengirim ke kota B sebanya 10 ton dan kota C sebanyak 40 ton Pertanyaan yang muncul adalah : 1. perlu dicek kembali : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. à inipun masih kurang 10 Langkah 4 : Penuhi kekurangan kebutuhan kota B (kurang 10) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 3 sebanyak 10 à kapasitas Pabrik 3 tinggal 40 Langkah 5 Langkah 5 : Karena kebutuhan kota B sudah ‘beres’. Dengan menggunakan metode NWC.Polmed 37 .

dalam arti sudah paling minimal ? Untuk mengetahuinya.Polmed 38 .+ = 3260 Sudahkah biaya sebesar Rp 3260 tersebut optimal (paling kecil ?) Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengujian terhadap alokasi distribusi seperti pada langkah 5 sebelumnya. dicoba hitung masing-masing biaya pendistribusian tersebut yakni: Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Total biaya pengirimannya = 50 x 20 = 40 x 5 = 60 x 20 = 10 x 10 = 40 x 19 = 1000 = 200 = 1200 = 100 = 760 --------. Dari pendistribusi produk perusahaan tersebut. apakah biaya transportasi yang dikeluarkan perusahaan sudah optimal. Mungkinkah dengan menggeser alokasi. biaya bisa diturunkan lagi ? KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Atau KeDari Pabrik 1 15 10 50 110 Kota A 20 Kota B 5 Kota C (+) 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah Pengujian : Langkah 1 : Menguji sel-sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau tidak. Sel yang diuji adalah : Sel C13, C21, C23, dan C31. Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan menggunakan metode Stepping Stone. Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosog tersebut. Perhatikan tanda panah dan tanda (+)/(-) nya !!! Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Untuk pengujian sel C13 = biayanya 8, bergerak ke sel C33 (bisa juga ke C12, tapi tidak bisa ke C11), sehingga dikurangi 19, bergerak lagi ke C32, sehingga ditambah 10, bergerak langsung ke C12, sehingga dikurangi 5 (tidak perlu ke C22, karena bisa langsung ke C12), sehingga hasil akhirnya adalah 8 – 19 + 10 – 5 = - 6 KeDari Pabrik 1 Pabrik 2
25

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

50
15

40
20 10

60
10 19

60 40 40 50 200

Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 50

10 110

= 8 – 19 + 10 – 5 = 15 – 20 + 5 -20 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 20 + 5 – 10

=-6 = -20 = -19 =0

Dari pengujian empat sel tersebut dapat dilihat bahwa masih ada tiga sel yang menghasilkan nilai negatif, dan sel C21 yang memberikan negatif paling besar. Artinya dengan menggeser pengiriman ke sel tersebut, biaya akan dapat diturnkan sebesar Rp 20 (karena -20) per ton-nya. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman dengan langkah 2 selanjutnya :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

39

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah 2 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21, yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

(-)
15

(+)
20 10

(+)
25

(-)
10 19

60 50 200

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, perhatikan sel yang bertanda minus saja, yakni sel C11 dan sel C22. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini, pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C11, dengan alokasi sebelumnya 50 ton, dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1
15

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50

=0 = 90 = 10 = 50

Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

40

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1, atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya, perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong, apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas, sel yang masih kosong adalah sel C11, C13, 23, dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya, sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut :

KeDari Pabrik 1

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
15 20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31

= 20 – 5 + 20 – 15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 15 + 20 – 10

= 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton) =-6 = -19 = 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton)

Dari hasil pengujian tersebut, ternyata sel C23 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 19/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman, dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C23 dengan langkah :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

41

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. yakni sel C22 dan sel C33.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. Dan ternyata sel C22. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . Prodi Manajemen Informatika . dengan alokasi sebelumnya 10 ton. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).yang ada. perhatikan sel yang bertanda minus saja.Polmed 42 . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.

Polmed 43 . ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 6/ton. C13. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C13 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . C22 dan C31. sel yang masih kosong adalah sel C11. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman.15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 20 – 10 + 19 – 10 = 25 – 15 + 10 – 19 = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) =-6 = 19 à (lebih mahal 20/ton) = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) Dari hasil pengujian tersebut. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C31 = 20 – 5 + 10 – 19 + 10 . Dari tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya.

yakni sel C12 dan sel C33. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dan ternyata sel C33.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . perhatikan sel yang bertanda minus saja. dengan alokasi sebelumnya 30 ton.yang ada.30 = 60 = 30 = 50 =0 Prodi Manajemen Informatika . pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Dari pergerakan dan tanda +/.Polmed 44 . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.

+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut.10 = 19 – 10 + 5 – 8 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) Dari hasil pengujian tersebut. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . Dari tabel di atas. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. C22. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. sel yang masih kosong adalah sel C11.Polmed 45 . perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. C31 dan C33.

dapat diketahui bahwa biaya terendah berkutnya adalah sel C23 atau sel C32 (dengan biaya sama-sama 10). sehingga alokasinya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya dicari sel dengan biaya terendah berikutnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 2 : Kombinasi LC (Least Cost) dan Stepping Stone Dari contoh kasus di atas sudah diperoleh tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 1 Penyelesaian masalah dengan menggunakan metode Least Cost. sehigga alokasi berikutnya adalah : 50 Kota A 20 15 25 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Prodi Manajemen Informatika . jadi kurang 20 ton) dengan kapasitas Pabrik 3. sel yang memiliki biaya terkecil adalah sel C12. Dari sel yang tersisa. maka alokasi pertama dimulai dari sel tersebut. dimana kota yang harus dipenuhi kebutuhannya adalah kota B dan sumber pengirimannya dari Pabrik 1. maka dapat dipilih salah satu dari keduanya. karena kapasitas Pabrik 1 telah habis. Karena nilai biayanya sama.Polmed 46 . yakni biayanya 5/ton. sesuai dengan namanya dimulai dengan memilih alokasi atau sel yang memiliki biaya pengiriman atau biaya transportasi yang paling rendah. artinya kota yang akan dipenuhi kebutuhannya adalah kota B (sebelumnya baru dikirim 90 ton. Apabila diperhatikan dari tabel di atas. Misalkan dipilih sel C32. dimana semua sel pada baris 1/pertama tidak diikutkan lagi dalam pemilihan.

sehingga kapasitas Pabrik 2 hanya tinggal 20 ton. dan alokasi yang diberikan untuk sel tersebut adalah 20 ton (sisa kapasitas Pabrik 2).Polmed 47 . Alokasi yang diberikan di sel C23 tersebut adalah 40 ton. Sel terpilih dengan biaya terendah adalah sel C23.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 20 110 50 40 Selanjutnya dipilih sel dengan biaya terendah berikutnya. maka Sel dengan biaya terendah selanjutnya adalah sel C21 (kebutuhan kota A dengan kapasitas Pabrik 2). memenuhi kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2. KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 20 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Prodi Manajemen Informatika . dimana baris 1 dan kolom 2 tidak dilibatkan lagi. KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Karena tinggal kolom satu yang bisa dibandingkan (itupun hanya kolom satu baris 2 dan 3).

C13. Dari tabel di atas. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C33 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sel terakhir yang dialokasikan adalah sel C31 (kekurangan kebutuhan kota A dengan sisa kapasitas Pabrik 3 sebesar 30 ton).Polmed 48 . ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 7/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. alokasi akhirnya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 20 30 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. Namun demikian. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. perlu dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.5 = 20 – 10 + 25 – 15 = 19 – 25 + 15 – 10 =0 = . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Langkah 3 dan selanjutnya Untuk mengetahuinya. sehingga dengan metode Least Cost ini.7 à (penurunan biaya terb esar) = 20 =-1 Dari hasil pengujian tersebut. 22. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. sel yang masih kosong adalah sel C11. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C33 = 20 – 5 + 10 – 25 = 8 – 10 + 15 – 25 + 10 . dan C33. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

dengan alokasi sebelumnya 30 ton. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.yang ada. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 49 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. yakni sel C12. C23 dan sel C31. Selanjutnya angka 30 ton di sel C31 tersebut digunakan untuk mengurangi dan menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Dan ternyata sel C31. Dari ketiga sel bertanda pergerakan minus ini. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. dan sel 23 yang 40 ton. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 (+) 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan (+) 25 10 (-) 19 60 50 40 200 (-) 50 (+) 110 Dari pergerakan dan tanda +/.

penyelesaian kasus dengan metode VAM alokasi dimulai dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. C31 dan C33. sehingga selisihnya adalah 3.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. Dari tabel transportasi yang ada dapat diperoleh hasil : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 à 15 – 10 à 19 – 10 à 20 – 15 à 10 – 5 à 10 -8 =3 =5 = 9 à (dipilih karena memiliki selisih terbesar) =5 =5 =2 Prodi Manajemen Informatika . sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya.Polmed 50 . Dari tabel di atas. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. C22. biaya terendah pertama adalah 5 dan terendah kedua adalah 8. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. begitu seterusnya sampai kolom ke-3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Namun demikian.+ = 1890 Hasil ini dengan yang diperoleh apabila digunakan metode NWC sebelumnya. untuk baris 1. Sebagai contoh. dari setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. sel yang masih kosong adalah sel C11. Alternaif 3 : Kombinasi metode VAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Dengan kasus yang sama. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.

sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 3 tersebut. saat ini kapasitas Pabrik 1 inggal 30 ton. Dengan demikian alokasi pertama dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 50 ke kota B. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 60 ton ke kota B (kekurangan kebutuhan kota B). kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à 20 – 5 = 15 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi kedua akan diberikan pada kolom 2. di setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. di baris 3 ada tiga sel. sementara kebutuhan kota B 110 ton : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Langkah 2 Alokasi kedua berikutnya dilakukan dengan cara yang sama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi pertama akan diberikan pada baris 3. karena kapasitas Pabrik 3 hanya 50.Polmed 51 . yakni dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. Pertanyaannya adalah. karena memiliki selisih terbesar. baris ketiga tidak diikutkan lagi karena kapasitas pabrik 3 telah habis. di Kolom 2 ada dua sel. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : Prodi Manajemen Informatika . dan masih kurang 60 ton. karena memiliki selisih terbesar. yakni sel C12 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 1). yakni sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3).. hasil perhitungan selisih menghasilkan : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 =3 à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di kolom 2 tersebut. à karena kapasitas Pabrik 1 ada 90 ton. Pertanyaannya adalah. Sebagai catatan. Dengan demikian.

dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. karena memiliki selisih terbesar. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.Polmed 52 . kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à tidak perlu dihitung lagi. Baris 3 dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 30 ton ke kota C (karena sisa kapasitas Pabrik 1 tinggal 30 ton). Pertanyaannya adalah.8 = 12 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. di baris 1 ada dua sel. yakni sel C13 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 1). sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 1 tersebut. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi ketiga akan diberikan pada baris 1. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à 20 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 50 40 Dengan alokasi seperti di atas. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika .

Pertanyaannya adalah. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à tidak bisa dihitung.dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à tidak bisa dihitung.Polmed 53 . Baris 1. karena tinggal memenuhi kebutuhan kota A saja sebesar 50 ton dari kapasitas Pabrik 2 yang memang tinggal 50 ton. tentunya tidak perlu dilakukan perhitungan selisih biaya terendah pertama dan kedua lagi. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis. 30 ton sebelumnya sudah dikirim dari Pabrik 1). sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 2 tersebut. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis à tidak perlu dihitung lagi. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim dari Pabrik 2 sejumlah 10 ton ke kota C (karena kebutuhan kota C tinggal kurang 10 ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan alokasi seperti di atas. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi keempat akan diberikan pada baris 2. di baris 2 masih ada dua sel. sehingga alokasi terakhirnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . yakni sel C23 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2). Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à tidak perlu dihitung lagi. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Dengan alokasi seperti di atas. dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. kapasitas Pabrik 1 sdh habis à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. karena merupakan satu-satunya baris yang bisa dihitung selisihnya. Baris 3 .

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 50 110 50 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sel yang masih kosong adalah sel C11. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 2 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. Dari tabel di atas. C31 dan C33. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Namun demikian. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.Polmed 54 . C22. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.

30 = 20 – 20 – 20 = . dan dari perhitungan di atas ada dua sel yang bernilai negatif paling besar. perhatikan perhitungan berikut ini : C11 C12 C13 C21 C22 C23 C31 C32 C33 = 20 – 20 – 25 = .Polmed 55 .25 = 5 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 1. Dengan cara ini biaya tertinggi yang dimaksud adalah : Untuk Baris 1.35 = 19 – 25 – 19 = .20 = 10 – 20 – 19 = . biaya tertingginya Untuk Baris 2. biaya tertingginya = 20 = 20 = 25 = 25 = 20 = 19 Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya biaya pada setiap sel akan dikurangi dengan biaya tertinggi untuk baris itu dan dikurangi lagi dengan biaya tertinggi untuk kolom itu.29 = 25 – 25 – 25 = . Sebagai contoh dipilih sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Untuk lebih jelasnya. yakni sel C12 dan sel C32. Karena sama.25 Alokasi pertama akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. pemilihan alokasi dapat memilih satu diantara keduanya.35 = 8 – 20 – 19 = . penyelesaian kasus dengan metode RAM dimulai dengan mencari biaya yang tertinggi untuk setiap baris dan kolom yang ada dalam tabel transportasinya.25 = 10 – 25 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 4 : Kombinasi metode RAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Sedikit berbeda dengan metode VAM. biaya tertingginya Untuk Baris 3. biaya tertingginya Untuk Kolom 2.31 = 15 – 20 – 25 = .

biaya tertingginya Untuk Kolom 1. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3.d C33 tidak perlu dihitung lagi.20 C12 = 5 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 10 Prodi Manajemen Informatika .22 C21 = 15 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Baris 3. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.Polmed 56 . di mana Baris 3 dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. biaya tertingginya = 20 Untuk Baris 2.25 C22 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 3. biaya tertingginya = 20 Untuk Kolom 2. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.20 C23 = 10 – 20 – 10 = . krn kapasitas Pabrik 3 habis = 20 = 20 = 10 C11 = 20 – 20 – 20 = .35 C13 = 8 – 20 – 10 = . biaya tertingginya Untuk Baris 2. biaya tertingginya = 20 = 20 = Tidak perlu lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis. di mana Baris 3 tidak perlu diikutsertakan lagi. yakni sel C12 (kebutuhan kota B yang masih kurang 60. biaya tertingginya Untuk Kolom 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi kedua akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. dengan kapasitas Pabrik 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.20 C31 s. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi.

di mana Baris 1. dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya = 15 Untuk Kolom 2. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3.Polmed 57 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi C11 = 20 – 20 – 20 = . karena kapasitas Pabrik 1 sudah habis C21 = 15 – 15 – 15 = .20 C12 = tidak perlu dihitung lagi.d C33 tidak perlu dihitung lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C13 = 8 – 20 – 10 = . karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . Dengan demikian alokasi selanjutnya adalah memenuhi kekurangan kebutuhan kota C sebesar 10 ton dari Pabrik 2 Prodi Manajemen Informatika . biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Baris 2. yakni sel C13 (kebutuhan kota C. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. biaya tertingginya = 10 C11 s.d C33 tidak perlu dihitung lagi.22 C21 = 15 – 15 – 20 = .d C13 tidak perlu dihitung lagi.15 C31 s. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi keempat dan kelima akan diberikan kepada kedua sel tersisa karena memiliki nilai negatif yang sama. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. artinya alokasi dapat dilakukan di dua sel tersebut secara bersama (karena tinggal dua sel tersisa). yang kapasitasnya tinggal 30) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.15 C22 = tidak perlu dihitung lagi. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3.15 C31 s. Baris 3. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = .20 C22 = tidak perlu dihitung lagi. dengan kapasitas Pabrik 1. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi ketiga akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar.

C31 dan C33. Dari tabel di atas. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. sel yang masih kosong adalah sel C11. Dengan demikian. sesuai kebutuhannya. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 3 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . Namun demikian.Polmed 58 . sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi (sel C23) dan sisa kapasitas Pabrik 2 akan dikirimkan ke kota A sebesar 50 ton. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. C22. hasil alokasinya adalah: KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.

dengan nilai nol (0). dimulai dengan mencari dan memberi nilai untuk setiap baris dan kolom yang ada. baris yang akan diberi nilai yang pertama adalah baris 1. maka untuk proses selanjutnya. apabila pemberian nilai untuk pertama diberikan pada baris 1. maka baris 1 dan 3 sama-sama memiliki dua sel yang terisi alokasi. Untuk kesempatan ini.Polmed 59 . nilai diberikan pada baris yang pertama 2. Pendapat pertama. Pendapat kedua. Langkah 1 Penggunaan metode MODI untuk solusi akhir. yakni : 1. dengan demikian nilai pertama sebesar nol dapat diberikan pada baris 1 atau baris 3. Bila digunakan contoh tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 5 : Kombinasi metode NWC dan MODI Seperti telah dijelaskan di muka. Pertanyaannya adalah. Ketentuan selanjutnya adalah. tabel di atas belumlah optimal. pemilihan NWC sebagai metode dalam solusi awal akan menghasilkan tabel tansportasi awal sebagai berikut ( lihat alternatif 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Seperti telah dicoba sebelumnya. Dengan demikian pemberian nilai untuk yang pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Pemberian nilai pertama kali diberikan untuk baris. karena kebetulan juga memiliki sel terisisi alokasi terbanyak (sama dengan baris 3). namun dengan metode MODI untuk solusi akhirnya. nilai diberikan kepada baris yang memiliki sel terisi alokasi paling banyak. sehingga perlu diselesaikan lebih lanjut. baris 1 akan selalu bernilai nol (0). baris yang mana ? Ada dua pendapat mengenai baris mana yang akan diberikan nilai terlebih dahulu.

= 5 + K3. = 0 + K2. à nilai K1 = 20 à nilai K2 = 5 à nilai B2 = 15 à nilai B3 = 5 à nilai K3 = 14 = B1 + K1à 20 = B1 + K2à 5 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. = B2 + 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Pabrik 2 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 25 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Keterangan : B1 = Baris 1 K1 = Kolom 1 Sel C11 Sel C12 Sel C22 Sel C32 Sel C33 B2 = Baris 2 K2 = Kolom 2.Polmed 60 . dan seterusnya = 0 + K1. = B3 + 5. dan hasilnya adalah : 20 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 Pabrik 2 25 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Prodi Manajemen Informatika .

20 = 10 – 15 – 14 = . yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 15 (+) 20 10 (+) 25 (-) 10 19 60 50 200 Dari pergerakan dan tanda +/.6 = 15 – 15 – 20 = .Polmed 61 . Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. yakni sel C11 dan sel C22. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 = 8 – 0 – 14 = .yang ada. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. dengan alokasi sebelumnya 50 ton. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dan ternyata sel C11. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif).19 = 25 – 5 – 20 = 0 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (20 per ton).

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50 =0 = 90 = 10 = 50 Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. perlu kembali ke langkah 1 di atas. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).Polmed 62 . Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 5. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung.6 = 10 – 15 – 14 = .Polmed 63 . dan hasilnya adalah : 0 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31 = 20 – 0 – 0 = 20 = 8 – 0 – 14 = . maka nilai K1 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 15 + K1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C22 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). à nilai B3 = 5 = 5 + K3. à nilai K3 = 14 Setelah nilai B2 diketahui. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika .19 = 25 – 5 – 0 = 20 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (19 per ton). à nilai K1 = 0 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai B2 = 15 = B3 + 5.

perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 .10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. dengan alokasi sebelumnya 10 ton. yakni sel C22 dan sel C33. Dan ternyata sel C22.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 64 .yang ada. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. à nilai K3 = 14 Setelah nilai K3 diketahui. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. maka nilai sel C23 dapat dicari dengan cara : Sel C23 = B2 + K3à 10 = B2 + 14 à nilai B2 = . perlu kembali ke langkah 1 di atas. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C23 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. dan hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 65 . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = belum bisa dihitung. nilai sel C21 juga dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. karena nilai B2 dan K3 belum diketahui = B3 + 5.4 Dan setelah nilai B2 diketahui.4 + K1 à nilai K1 = 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 19 KeDari 0 -4 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 5 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 19 = 1 Sel C13 = 8 – 0 – 14 = .4) – 5= 19 Sel C31 = 25 – 5 – 19 = 1 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (6 per ton). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .6 Sel C22 = 20 – (.Polmed 66 .

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari pergerakan dan tanda +/. Prodi Manajemen Informatika . perlu kembali ke langkah 1 di atas. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.30 = 60 = 30 = 50 =0 Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. Dan ternyata sel C33. perhatikan sel yang bertanda minus saja. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . dengan alokasi sebelumnya 30 ton. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya.Polmed 67 . yakni sel C12 dan sel C33. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.yang ada.

à nilai B3 = 5 Dan setelah nilai B2 diketahui. dan hasilnya adalah : 13 KeDari 0 2 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 8 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Prodi Manajemen Informatika . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 8 à nilai B2 = 2 = B3 + 5. à nilai K2 = 5 = 0 + K3 à nilai K3 = 8 = belum bisa dihitung.Polmed 68 . nilai sel C21 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 2 + K1 à nilai K1 = 13 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C32 = B1 + K2à 5 = B1 + K3à 8 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = 0 + K2.

Silahkan dicoba sendiri à PR ya. dengan total biaya optimalnya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya Catatan : Alternatif penyelesaian ke-6. 7 dan 8 dapat dilakukan dengan cara yang relatif sama seperti pada alternatif penyelesaian 5 di atas. maka kasus semacam ini perlu dinormalkan terlebih dahulu. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 13 = 7 Sel C22 = 20 – 2 – 5 = 13 Sel C31 = 25 – 5 – 13 = 7 Sel C33 = 19 – 5 – 8 = 6 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif. VAM dan RAM. yakni metode LC. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). Apabila kapasitas < kebutuhan. atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. akan terjadi kekurangan kapasitas yang berarti akan menimbulkan biaya kehilangan kesempatan (opportunity cost) 3. karena : 1. sebelum dapat diselesaikan dengan metode solusi awal dan solusi akhir yang ada. Apabila kapasitas > kebutuhan.. = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.!!!! Masalah Transportasi untuk kasus tidak normal (Kapasitas tidak sama dengan Kebutuhan). hanya saja dengan solusi awal yang sesuai dengan metodenya.Polmed 69 . Seperti telah dijelaskan di atas. maka kasus yang dihadapi dapat dikategorikan dalam kasus yang tidak normal. sehingga dengan demikian tabel di atas telah optimal. Terjadi masalah ‘Degeneracy’ dimana syarat (m+n)-1 tidak terpenuhi Oleh karena itu. akan terjadi kelebihan kapasitas dan hal ini akan menimbulkan biaya simpan 2.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . apabila dijumpai kasus dimana nilai kapasitas perusahaan tidak sama dengan kebutuhannya.

perhatikan tabel transportasinya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai contoh. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. Prodi Manajemen Informatika . sehingga secara keseluruhan kapasitas perusahaan menjadi 250. sementara kebutuhan dari ketiga kota hanya 200 ton. sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 110 40 50 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. Dalam kolom ini. untuk mengakomodir kelebihan kapasitas yang ada. maka dalam tabel transportasinya perlu dibuatkan satu buah kolom lagi yang disebut dengan kolom Dummy. Untuk menyelesaiakan kasus ini (kapasitas > kebutuhan). dalam kasus di atas. proses selanjutnya akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. ternyata kebutuhan di kota A naik dari 50 ton menjadi 100 ton. Untuk lebih jelasnya. bahwa setelah dibutkan kolom Dummy untuk menampung kelebihan kapasitas.Polmed 70 . kapasitas Pabrik 3 meningkat dari 50 ton menjadi 100 ton. semua sel yang ada tidak memerlukan biaya. Setelah itu. atau nol. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 60 10 110 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 40 40 50 50 Perhatikan. sehingga saat ini kebutuhan > kapasitas yang tersedia. Contoh kasus tidak normal kedua adalah apabila dengan kapasitas perusahaan sebelumnya (200 ton).

dimana syarat alokasi / jumlah sel yang teralokasikan tidak memenuhi syarat (m+n) – 1. Dan seperti pada kasus tidak normal sebelumnya. seperti terlihat pada contoh kasus Degeneracy berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk menyelesaikan kasus tidak normal seperti ini. yang pertama perlu dilakukan adalah membuatkan baris Dummy.Polmed 71 . sering disebut dengan masalah Degenaracy. Dengan demikian pada tabel transportasi pertama akan menjadi seperti tabel berikut ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 0 Kapasitas 90 60 50 50 250 110 40 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. bahwa setelah dibutkan baris Dummy untuk menampung kelebihan kebutuhan. untuk menampung kelebihan kebutuhan dari kota A. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 90 10 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 50 250 50 50 10 110 40 40 0 Perhatikan. proses selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Contoh kasus tidak normal ketiga. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal.

Polmed 72 . perlu diberikan nilai nol pada salah satu sel yang masih kosong (di sel manapun yang masih kosong). jumlah sel yang terisi hanya lima. kecuali sel C24. coba selesaikan masalah Degeneracy di atas dengan metode solusi awal dan akhir yang saudara bisa !!! Prodi Manajemen Informatika . Sebagai latihan. menurut rumus yang disyaratkan adalah (m+n) – 1 atau (3+4) -1 = 6. Dengan pemberian nilai nol ini. tapi jumlah sel yang terisi telah memenuhi syarat alokasi (m+n) – 1 atau 6 sel. maka diperoleh alokasi pengiriman sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 40 50 70 40 Perhatikan. Akibatnya adalah. jadi kurang satu sel. maka sekarang semua sel kosong dapat diuji dan proses mencari hasil optimal dapat dilakukan seperti biasa. Untuk menyelesaikan kasus Degeneracy ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 50 40 40 70 Apabila kasus di atas diselesaikan dengan metode solusi awal NWC. sehingga meskipun ada sel yang bernilai nol. bahwa dengan metode solusi awal NWC. hampir semua sel yang masih kosong tidak dapat dipakai untuk menguji apakah masih memiliki nilai negatif atau tidak. sementara itu. untuk pengujian sel yang masih kosong.

Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. alat transportasi. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. mencari biaya terkecil untuk setiap baris. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. Selanjutnya. dan apabila belum maka perlu diulangi langkah penyelesaian ke-5 di atas. begitu pula sebaliknya bila menyangkut biaya. maka langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. 6. 5. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. 3. Jika sudah.Polmed 73 . Secara umum lagkah-langkah penyelesaian masalah penugasan yang normal adalah : 1. maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. alat transportasi. Apabila masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. Identifikasi dan penyederhanaan masalah dalam bentuk tabel penugasan 2. mesin. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. Sedangkan untuk kasus maksimalisasi. Prodi Manajemen Informatika . Untuk kasus minimalisasi. 8. Penyelesaian masalah penugasan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode Hungarian yang pada tahun 1916 dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang bernama D KÖnig.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB V MASALAH PENUGASAN Masalah penugasan berkaitan dengan keinginan perusahaan dalam mendapatkan pembagian atau alokasi tugas (penugasan) yang optimal. telah berhasil ditemukan nilai nol. Apabila belum. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. kemudian pergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai nol. maka dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut 4. 7. Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. mencari nilai tertinggi untuk setiap baris yang kemudian nilai tertinggi tersebut dikurangi dengan semua nilai yang ada dalam baris tersebut. maka masalah penugasan telah optimal. Dari hasil lagkah ke-6 tersebut. mesin. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Pilih nilai yang paling kecil. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. dala arti apabila penugasan tersebut berkaitan dengan keuntungan maka bagaimana alokasi tugas atau penugasan tersebut dapat memberikan keuntugan yang maksimal.

Masalah Minimalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 4 orang karyawan yang harus menyelesaikan 4 pekerjaan yang berbeda. A. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 0 0 5 1 5 2 0 2 3 7 3 2 7 3 0 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan I Karyawan A B C D 15 14 25 17 20 16 20 18 18 21 23 18 22 17 20 16 II III IV Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. perhatikan contoh kasus berikut ini. maka biaya yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-4 karyawan tersebut juga berbeda. yakni kolom 3. Dari kasus penugasan tersebut di atas. karakteristik dari masingmasing karyawan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai catatan. sehingga akan menjadi : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Prodi Manajemen Informatika . Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut.Polmed 74 .lah sumber daya yang akan ditugaskan dan jumlah pekerjaan atau tujuan adalah sama. kasus penugasan dianggap normal apabila jum. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari biaya terkecil untuk setiap baris. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. Untuk lebih jelasnya.

alat transportasi. kemudian nilai 1 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nah. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. telah berhasil ditemukan nilai nol. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Prodi Manajemen Informatika . mesin. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. Langkah 5 Selanjutnya.Polmed 75 . Dengan langkah ini hasilnya adalah : 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 1). maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. Sementara itu nilai 5 dan 1 pada kolom 1 akan bertambah 1. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 2. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah tiga.

Rp 20. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Total biaya Rp 18.+ Rp 68.B. produktifitas atau keuntungan yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-5 karyawan tersebut juga berbeda. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68. mesin.Rp 16.--------. 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. karakteristik dari masingmasing karyawan. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan Karyawan A B C D E I 10 14 9 13 10 II 12 10 8 15 13 III 10 9 7 8 14 IV 8 15 8 16 11 V 15 13 12 11 17 Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. Masalah Maximalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 5 orang karyawan yang harus menyelesaikan 5 pekerjaan yang berbeda. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan.Polmed 76 . alat transportasi.- Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian. Prodi Manajemen Informatika . atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 4 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan).Rp 14.

sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 5 1 3 3 7 3 5 4 1 4 5 6 5 8 3 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. mesin. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 5 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. sehingga akan menjadi : 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Nah. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 3. yakni kolom 3. dan kemudian nilai tersebut dikurangi dengan semua nilai produktifitas yang ada pada baris yang sama. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari produktifitas atau keuntungan terbesar untuk setiap baris. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. telah berhasil ditemukan nilai nol. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol.Polmed 77 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari kasus penugasan tersebut di atas. alat transportasi. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 5 karyawan. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut.

Polmed 78 . dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. Sementara itu nilai 2. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol à yakni baris ke-5)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 5 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). kemudian nilai 2 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 2). Dengan langkah ini hasilnya adalah : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar (2) atau nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. 5 dan 0 pada kolom 5 akan bertambah 2. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah empat. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Langkah 5 Selanjutnya. 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. mesin. alat transportasi. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Rp 12.Rp 15. Prodi Manajemen Informatika . tidak semua masalah penugasan memiliki matrix biaya atau keuntungan seperti dalam dua contoh kasus di atas. Dengan demikian karyawan dengan keterbatasan seperti itu tidak dapat dipaksakan mengerjakan sebuah pekerjaan yang memang tidak mungkin baginya. maka dalam proses penyelesaiannya.Rp 12.Polmed 79 .+ Rp 68.Rp 14.+ Rp 68. dan disebut dengan bilangan M (untuk masalah minimalisasi) dan – M (untuk masalah maximalisasi). Untuk mengatasi hal semacam ini. jenis kelamin. usia. perlu ditambahkan sebuah bilangan yang sangat besar. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68.Rp 9.- Catatan : Dalam praktek sehari-hari.Rp 14. atau karena sebab lainnya).- Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.--------.- Namun demikian. alternatif lain dari penugasan di atas dapat dipilih seperti terlihat pada tabel berikut ini : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Rp 15. Proses penyelesaian selanjutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada kasus penugasan yang normal. hanya saja pada keptusan optimalnya akan dihindari menugaskan karyawan pada tugas yang memiliki bilangan M atau – M tersebut. kondisi fisik.Rp 15.Rp 14.--------.Rp 16. tidak dapat dialokasikan atau ditugaskan untuk sebuah pekerjaan tertentu (karena alasan. Ada kalanya seorang karyawan misalnya. ketrampilan yang tidak memadai.

Ketentuan-ketentuan Dasar dalam Teori Permainan Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari contoh tabel matrik pay off (matrik permainan) di atas. Nilai-nilai yang ada dalam tabel tersebut (yakni angka 1.Polmed 80 . begitu pula sebaliknya nilai negatif menunjukkan kerugian bagi pemain baris dan keuntungan bagi pemain kolom. secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tindakan sebuah unit bisnis (misalnya) untuk memenangkan persaingan dalam usaha yang digelutinya. 9. jumlah pelanggan dan sejenisnya. merupakan hasil yang diperoleh dari penggunaan berbagai strategi yang dipilih oleh kedua perusahaan. dapat dijelaskan beberapa ketentuan dasar yang terpenting dalam teori permainan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bab 6 Teori Permainan (Dua pemain-Jumlah Nol) Teori permainan yang mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel ini. 2 di baris pertama dan 8. Satuan nilai tersebut merupakan efektifitas yang dapat berupa uang. maka perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 9 yang berarti perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar 9. 5. khususnya strategi bersaing yang paling optimal bagi unit usaha atau organisasi yang bersangkutan. 4 di baris kedua). diperlukan analisis dan pemilihan strategi pemasaran tepat. Prodi Manajemen Informatika . Untuk memenangkan persaingan itulah. setiap unit usaha atau organisasi pada umumnya harus berhadapan dengan para pesaing. Sebagai contoh nilai 9 pada sel C12 menunjukkan apabila pemain/perusahaan A menggunakan strategi harga murah (S1) dan perusahaan B meresponnya dengan strategi harga sedang (S2). bahwa dalam praktek sehari-hari. yakni : 1. Nilai positif menunjukkan keuntungan bagi pemain baris dan kerugian bagi pemain kolom. Seperti diketahui. persentase pangsa pasar.

bagi pemain/perusahaan baris.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. Untuk memahami dengan lebih jelas mengenai penggunaan Teori permianan ini. Tujuan dari teori permainan ini adalah mengidentifikasi strategi yang paling optimal untuk setiap perusahaan. biasanya menggunakan dua karakteristik strategi. Untuk keperluan tersbut. Suatu strategi dikatakan dominan terhadap strategi lainnya apabila memiliki nilai pay off yang lebih baik dari strategi lainnya. Suatu permainan/persaingan dikatakan adil atau ‘fair’ apabila hasil akhir permainan atau persaingan menghasilkan nilai nol (0). Bagi pemain kolom. Strategi Murni Penyelesaian masalah dengan strategi murni dilakukan dengan menggunakan konsep maximin untuk pemain/perusahaan baris dan konsep minimax untuk pemain/perusahaan kolom. atau tidak ada pemain atau perusahaan yang menang/kalah atau mendapat keuntungan/kerugian. menghasilkan nilai negatif yang lebih kecil dari hasil penggunaan strategi lainnya. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan campuran/lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil optimal. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan satu strategi/strategi tunggal untuk mendapatkan hasil optimal (sadle point yang sama). b. 3. 5.Polmed 81 . nilai positif (keuntungan) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Maksudnya. Setiap pemain/perusahaan akan memilih strategi-strategi tersebut secara terus menerus selama perusahaan masih memiliki keinginan melanjutkan usahanya 4. Strategi Campuran Penyelesaian masalah dengan strategi campuran dilakukan apabila strategi murni yang digunakan belum mampu menyelesaikan masalah permainan atau belum mampu memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing-masing pemain/perusahaan. Suatu strategi dari sebuah pemain/perusahaan dianggap tidak dapat dirusak oleh perusahaan lainnya. Agar sebuah permainan atau persaingan menjadi optimal. 6. nilai negatif (kerugaian) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi. yakni : a. Penyelesaian masalah dalam Teori Permainan ini. selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada. perhatikan dua contoh kasus berikut ini : Contoh kasus 1 ( Strtaegi Murni) Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama. menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari hasil penggunaan strategi lainnya. setiap strategi yang dipergunakan berusaha untuk mendapatkan nilai permainan (sadle point) yang sama.

dan kolom tiga nilai terbesarnya 4). yakni nilai Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 4. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 1 dan baris dua nilai terkecilnya 4).Polmed . bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 8. bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. Jawab : Seperti telah dijelaskan di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari kasus di atas. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. 1 8 9 5 2 4 à 1 à 4 Perusahaan A Langkah 2 Untuk pemain kolom. yakni nilai 4 (rugi yang paling kecil). pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). kolom dua nilai terbesarnya 9. keuntungan tersebut besar. Langkah 1 Untuk pemain baris (perusahaan A). (perusahaan B). Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. pilih nilai yang paling baik atau besar. agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung. 82 Prodi Manajemen Informatika .

dan karena adanya perkembangan yang terjadi di pasar.Polmed 83 . bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2). dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar. meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin. Penggunaan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi A dan meningkatnya kerugian bagi B. atau tidak dapat selesainya persaingan atau permainan yang ada. Sedangkan pemain B. sekarang menambah satu lagi strategi bersainganya dengan juga mengeluarkan produk berharga sedang. yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 1 8 8 9 5 9 2 4 4 à 1 à 4 Perusahaan A Minimax à Langkah 3 Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama. 4 Contoh kasus 2 ( Strtaegi Campuran) Dari kasus di atas. yakni masingmasing memilih nilai . dan hasil yang diperoleh tampak pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . maka perusahaan A. maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal à sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. Hasil optimal di atas. namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4. namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 Dari perkembangan kasus di atas. agar masing-masing mendapatkan hasil yang yang optimal (kalau untung. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. Jawab : Langkah 1 Mula-mula akan dicoba dulu dengan menggunakan strategi murni. Untuk pemain baris. pilih nilai yang paling baik atau besar. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 2 . untuk baris kedua nilai terkecilnya -1 dan baris tiga nilai terkecilnya 1). bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. yakni nilai 2.Polmed 84 . keuntungan tersebut besar. Seperti telah dijelaskan di atas. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 à 2 à -1 à 1 Prodi Manajemen Informatika .

Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran.Polmed 85 . kolom dua nilai terbesarnya 5. untuk pemain A. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 6 5 2 1 5 7 4 9 9 à 2 à -1 à 1 Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Minimax à Langkah 3 Dari tabel di atas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama. dan kolom tiga nilai terbesarnya 9). yakni nilai 5 (rugi yang paling kecil). karena bisa menimbulkan kemungkinan kerugian bagi A (ada nilai negatif / -1 nya). Bila diperhatikan pada tabel sebelumnya. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal à karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. yang langkahnya adalah sebegai berikut : Langkah 4 Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan atau kerugian paling buruk.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Untuk pemain kolom. diperoleh tabel sebagiai berikut : Prodi Manajemen Informatika . strategi S2 adalah paling buruk. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 6. Dan bagi pemain B. dimana pemain atau perusahaan A memilih nilai 2 dan perusahaan B memilih nilai 5. strategi S3 adalah paling buruk karena kerugiannya yang bisa terjadi paling besar (perhatikan nilai-nilai kerugian di strategi S3 pemain/perusahaan B) Langkah 5 Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang stretgi S3.

perusahaan A menggunakan strategi S1 dan S3. dengan cara sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar q. Langkah 6 Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemugkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. sementara perusahaan B menggunakan strategi S1 dan S2. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S3 adalah (1-p). maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S2 adalah (1-q). bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p. maka sekarang persaingan atau permainan dilakukan dengan kondisi.Polmed 86 . Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) (q) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A (1-q) 2 6 5 1 (p) Strategi Harga Mahal (S3) (1-p) Langkah 7 Selanjutnya mencari nilai besaran probabilitas setiap strategi yang akan digunakan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada serta nilai probalitas masing-masing strategi untuk menghitung sadle point yang optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) 2 6 5 1 Perusahaan A Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. Begitu pula dengan pemain B. Untuk perusahaan A.

Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas. apapun strategi yang digunakan A. perusahaan A meresponnya dengan strategi S3. Bagaimana dengan perusahaan B ? Untuk perusahaan B Bila.375) = 3. perusahaan B meresponnya dengan strategi S2. maka : 6 – 4p = 1 + 4p 5 = 8p P = 5/8 = 0. apapun strategi yang digunakan B.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk perusahaan A Bila.625 Dan apabila nilai p = 0.5. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. maka : 2q + 5(1-q) = 2q + 5 – 5q = 5 – 3p Bila.625) = 0. maka : 5p + 1(1-p) = 5p + 1 – 1p = 1 + 4p Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. yakni sebesar 3. maka : 6q + 1(1-q) = 6q + 1 – 1q = 1 + 5p Prodi Manajemen Informatika .625) + 6 (0.5. maka keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2p + 6(1-p) = 2 (0. keuntungan perusahaan A bisa meningkat 1.375) = 3. berarti dengan digunakan strategi campuran ini. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. perusahaan B meresponnya dengan strategi S1.625) + 1 (0.5 Dengan persamaan ke-2 = 5p + 1(1-p) = 5 (0.375.5 menjadi 3. Coba diingat di atas. apapun strategi yang digunakan B.Polmed 87 .5 Perhatikan. maka : 2p + 6(1-p) = 2p + 6 – 6p = 6 – 4p Bila. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini keuntungan perusahaan A hanya sebesar 2. perusahaan A meresponnya dengan strategi S1. bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama.625. apapun strategi yang digunakan A.

maka nilai (1-p) adalah (1 – 0.5. mana penyelesaian masalah permainan/persaingan di atas dilanjutkan dengan digunakannya strategi campuran.5) = 3.5 Dan apabila nilai p = 0. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.5 dan kerugian minimal yang diterima perusahaan B juga dapat turun hanya sebesar 3. strategi campuran ini juga mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi masing-masing perusahaan. kerugian minimal perusahaan B bisa menurun sebesar 1.5. Prodi Manajemen Informatika .5.5) + 5 (0. maka : 5 – 3q = 1 + 5q 4 = 8q q = 4/8 = 0.5 menjadi 3. berarti dengan digunakan strategi campuran ini.5. à Sudah optimal.5 Perhatikan.5. Penggunaan strategi campuran ini terbukti disamping mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini kerugian minimal perusahaan B adalah sebesar 5. Coba diingat di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung.5) = 3. yakni sebesar 3.5 Dengan persamaan ke-2 = 6q + 1(1-q) = 6 (0. bahwa keduanya menghasilkan kerugian minimal yang diharapkan adalah sama. maka kerugian minimal yang diharapkan oleh perusahaan B adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2q + 5(1-q) = 2 (0.5) + 1 (0.Polmed 88 . Kesimpulan : Kerena penggunaan strategi murni belum mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5) = 0. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S2 milik perusahaan B sudah diketahui nilainya. Perusahaan A keuntungan yang diharapkan naik menjadi 3.

B. Bentuk fungsi umum dari pemrograman dinamis ini adalah : Fn (X) = max { r n (X n ) + f n -1 (X – X n ) } dimana n = 2.. return dari setiap pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . artinya setiap masalah dalam pemrograman dinamis memerlukan pola pendekatan atau penyelesaian yang berbeda satu dengan lainnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 7 PEMROGRAMAN DINAMIS Pemrograman dinamis ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan benama Richard Bellman pada tahun 1957. ………. telah ditentukan volume pengiriman sebesar 100 ton setiap pengirimannya. maka dalam pemrograman dinamis ini tidak ada formulasi yang standar. Pasar yang dituju adalah pasar A. Distribusi produk dilakukan melalui transportasi darat. Apabila dalam riset operasional yang lain. Namun demikian. Sebuah perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 700 ton per bulan. Persamaan di atas digunakan untuk perhitungan dari depan ke belakang (forwardinduction) maupun dari belakang ke depan (backward-induction).Polmed 89 . memiliki formulasi standar untuk memecahkan masalah. Dari pengalaman yang ada. perhatikan contoh berikut ini. dimana setiap keputusan optimal yang diambil diperoleh dari banyak tahap (multistage). ada kesamaan dari setiap penyelesaian masalah dalam pemrograman dinamis ini. Untuk memperjelas masalah pemrograman dinamis ini. Oleh karena itu perlu berlatih soal sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak bentuk penyelesaian kasus yang berbeda-beda. Hasil dari sebuah tahap akan berdampak atau menjadi masukan bagi tahap berikutnya. 3. dan C. dan untuk menghemat biaya pengiriman.

hasil tersebut di atas.2 1. dimana perhitungan akan dimulai dari pasar A.2 2 2.5 2. B dan diakhiri dengan perhitungan return di pasar C.7 5.3 3 3.5  f1(3) = r1(3) = 2. berarti nilai f1(X) akan menentukan nilai f2(X).9 2. adalah sebagai berikut : Jika tidak ada pengiriman Jika ada 1 pengiriman Jika ada 2 pengiriman Jika ada 3 pengiriman Jika ada 4 pengiriman Jika ada 5 pengiriman Jika ada 6 pengiriman Jika ada 7 pengiriman  f1(0) = r1 = 0  f1(1) = f1(1) = 0.3  f1(4) = r1(4) = 3.6 1.8 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pengiriman Produk ke 0 1 2 3 4 5 6 7 Return dari kota A (Rp) 0 0.4 Return dari kota B (Rp) 0 0.8 1. dimasukkan dalam tabel hasil sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 90 .8 3.6 1.6  f1(6) = r1(6) = 4.4 Bagaiman distribusi produk harus dilakukan oleh perusahaan agar diperoleh hasil atau return yang paling optimal ? Jawab : Masalah di atas dapat diselesaikan dengan pemrograman dinamis.4 Selanjutnya.6 4 4.6 4 4.8  (lihat tabel sebelumnya)  f1(2) = r1(2) = 1.6 4.3 Return dari kota C (Rp) 0 0. Dengan persamaan dasar di atas. maka return atau penghasilan yang diperoleh mulai dari tidak ada pengiriman hingga 7 kiriman (setiap pengiriman berisi 100 ton).0  f1(5) = r1(5) = 3.0  f1(7) = r1(7) = 4. Tahap Pertama Apabila semua produk hanya dipasarkan di kota A. dan nilai f2(X) ini akan menentukan nilai f3(X).

Apabila X = 2.5 2. hasilnya adalah 0. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0.6 + 0 = 0.6.8 }  0. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota A atau ke kota B.6 4. jika hanya ada 1 pengiriman.8 = 0. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota A. nilai f2(X) dapat dicari dengan persamaan umum sebagiberikut : Apabila X = 0.0 3.0 4. karena hasilnya lebih besar (0.3 3.8 Dari hasil persamaan di atas. begitu pula sebaliknya. maka return f2(X) adalah juga 0. Dengan pilihan hasil tersebut. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 X1 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) 0 0.8). maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (1 – X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f2(1) adalah : r2(0) + f1(1) = 0 f2(1) = max { r2(1) + f1(0) = 0.8 1.6 + 0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Produk (X).8 sedangkan jika ke kota B.4 Pasar B X2 F2(X) Pasar C X3 F3(X) Tahap Kedua Apabila diperhitungkan pengiriman ke kota A dan kota B Atas dasar hasil f1(X) di atas. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (2– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f2(2) adalah : Prodi Manajemen Informatika . tentu tidak dapat dikirim ke kota B. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota A.Polmed 91 .

karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. Apabila X = 3.6 = 1. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). Produk (X).2 = 2. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B.3 3. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.4 }  1.3. maka yang paling baik adalah alternatif pertama. Dari tiga alternatif itu. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. Dari tiga alternatif itu. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(2).1 Pasar C X3 F3(X) X1 0 1 2 3 4 5 6 7 X2 0 0 0 0 0 0 5 4 Prodi Manajemen Informatika . jika hanya ada 2 kali pengiriman.8 1.5 = 1.Polmed 92 .0 + 2. 5 pengiriman. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi r2(0) + f1(2) = 0 + 1.3 = 2.3 + 1.3 3.5. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (3– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f2(3) adalah : r2(0) + f1(3) f2(3) = max { f2(1) + f1(2) r2(2) + f1(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.5 2.1 }  2. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0.2 Dari perhitungan di atas. Dengan cara yang sama. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.8 +0 = 2.5 2.0 3.0 = 2.5 r2(2) + f1(0) = 1.3 = 2.0 Dari perhitungan di atas.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0.0 4. jika hanya ada 3 kali pengiriman.6 + 0.6 4.8 = 1. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(3).5 f2(2) = max { f2(1) + f1(1) = 0.6 4.4 5.5 + 0.2 + 0 = 1.0 3. hingga 7 pengiriman.8 1. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).

dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (1 – X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f3(1) adalah : r3(0) + f2(1) = 0 f3(1) = max { r3(1) + f2(0) = 0. Apabila X = 3.6. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.2 Dari perhitungan di atas.6 + 0 = 0. tentu tidak dapat dikirim ke kota C. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (2– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f3(2) adalah : r3(0) + f2(2) = 0 + 1.8 = 0.5 = 1.4 }  1. jika hanya ada 2 kali pengiriman. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota B atau ke kota C. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota B. maka selanjutnya dilakukan perhitungan tahap ketiga untuk Pasar B dan C Apabila X = 0. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. maka return f2(X) adalah juga 0.5. maka Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tahap Ketiga Setelah tahap kedua selesai. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f2(2).8). Apabila X = 2.8 }  0.Polmed 93 . karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1.6 + 0.5 r3(2) + f2(0) = 1.8 Dari hasil persamaan di atas. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0. jika hanya ada 1 pengiriman. karena hasilnya lebih besar (0. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota B. Dengan pilihan hasil tersebut. hasilnya adalah 0.2 + 0 = 1.5 f3(2) = max { f3(1) + f2(1) = 0.6 + 0.8 = 1. Dari tiga alternatif itu. begitu pula sebaliknya.8 sedangkan jika ke kota C.

5 X1 0 1* 2 3 4 5 6 7 X2 0 0* 0 0 0 0 5 4 X3 0 0 0 0 0 0 6 6* Setelah tabel di atas lengkap.Polmed 94 .6 4.0 3.6 = 1. 5 pengiriman.3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (3– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f3(3) adalah : r3(0) + f2(3) f3(3) = max { f3(1) + f2(2) r3(2) + f2(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0.3 = 2.5 2.6 4.8 1. Produk (X). maka agar hasilnya optimal. Dengan cara yang sama.3 = 2.8 +0 = 2.0 3.3 3. karena dari perhitungan sebelumnya dinyatakan bahwa kalau hanya ada 1 pengiriman.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2.0 3.1 Pasar C F3(X) Rp 0 0. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.6 4. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.3 3.9 Dari perhitungan di atas. Dari tiga alternatif itu.9 + 2.3 3. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f3(3). 5. dapat disimpulkan bahwa apabila kapasitas produksi perusahaan dimaksimalkan sehingga dapat berproduksi sebanyak 700 ton dan akan dikirimkan dalam 7 kali pengiriman.2 = 1. hasil optimal yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp 5. Dengan distribusi pengiriman tersebut.5 2. maka distribusi pengiriman yang paling baik adalah bila 6 pengiriman ditujukan ke kota C (karena hasilnya paling tinggi.8 1.0 4. Prodi Manajemen Informatika .5 + 0.5 + 0. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas. yang paling baik kalau ditujukan pada pasar A.1 }  2. hingga 7 pengiriman. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.7 5.8 1.8).5 ) dan sisanya ke kota A (0.4 5. jika hanya ada 3 kali pengiriman.8 = Rp 6.3.3 + 1.0 = 1. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman.5 2. dan ini adalah hasil tertinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif distribusi pengiriman yang lainnya. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).

Jalur kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya paling besar/panjang 4. Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah 2. adalah waktu paling lambat untuk memulai sebuah aktivitas 6. Waktu penyelesaian dari serangkaian pekerjaan tersebut b. Serangkaian pekerjaan membangun jembatan b. Beberapa istilah dalan analisis jaringan antara lain adalah : 1.Polmed 95 . Latest Finish Time. Tanpa bermaksud meniru. Serangkaian pekerjaan membangun gedung c. Serangkaian pekerjaan mengganti mesin yang rusak e. Masalahmasalah yang dimaksud antara lain adalah : a. adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas. ada juga metode CPM (Critical Path Method) yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah jaringan ini. Kejadian. Aktivitas. adalah waktu paling cepat untuk memuali sebuah aktivitas 5. biaya). Perbedaan utamanya adalah. Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz. Allen dan Hamilton yang dibuat untuk keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. tenaga. Earliest Finish Time (EF). Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah : a. CPM lebih menekankan pada efisiensi biaya pelaksana serangkaian pekerjaan. dengan mempercepat salah satu atau beberapa kegiatan dalam rangkaian pekerjaan tersebut. Metode yang biasanya digunakan sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Tachnique.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 8 ANALISIS JARINGAN Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. Serangkaian pekerjaan produksi d. adalah waktu peling cepat untuk selesainya sebuah aktivitas 7. adalah waktu paling lambat untuk menyelesaikan sebuah aktivitas Prodi Manajemen Informatika . Lates Start Time (LS). Earliest Start Time (ES). dan disimbolkan dengan sebuah lingkaran 1 2 3. adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu. Dll. Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut c.

yang merupakan simbol dari kejadian. Aktivitas dummy adalah aktivitas yang sebenarnya tidak ada. tidak dapat dihindari. dimana serangkaian kejadian hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan satu kejadian (lingkaran) c. Untuk menunjukkan urutan kejadian atau aktivitas yang sebenarnya Prodi Manajemen Informatika . semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat) harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu 2. Sebuah rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian (lingkaran) Namun demikian. Untuk menghindari terjadinya kondisi dimana dua kejian dihubungkan oleh lebih dari satu anak panah 1 2 Dengan aktivitas dummy akan menjadi : 2 1 3 4 b. sehingga tidak memerluakan pengorbanan sumber daya. sehingga untuk mengatasinya harus dibuatkan atau dibantu dengan sebuah aktivitas dummy. Untuk memenuhi ketentuan. seringkali suatu kasus jaringan dihadapkan pada kondisi dimana poin 4 dan 5 di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Beberapa Hal yang penting dalam analisis jaringan adalah : 1. Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di kejadian awal (permulaan anak panah) 4.Polmed 96 . Anak panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan uruturutan kejadian. Lingkaran. Dua buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah 5. Jadi manfaat dari aktivitas Dummy adalah : a. sehingga dapat menggambarkan urutan kejadian. diberi nomor sedemikian rupa sehingga tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan. Sebelum suatu aktivitas dimulai. jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun 3.

f Waktu yang dibuthkan 10 2 8 4 3 1 5 Dari masalah perusahaan di atas.8 f.2 a. dengan hasil seperti gambar berikut : Prodi Manajemen Informatika . perhatikan contoh berikut ini. Sebuah perusahaan. 3 b. sesuai dengan urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel. berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut ? Pada bagian mana saja waktu menganggur terjadi ? Jawab : A. Setelah dialakukan identifikasi. yang sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin produksinya.10 c. berencana mengganti mesin yang rusak tersebut.3 5 Langkah kedua adalah mencari nilai Earliest Finish Time (EF)  dari depan ke belakang. Jika diselesaikan dengan algoritma EF dan LF Langkah pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut. dan nilai Latest Finish Time (LF)  dari belakang ke depan. dari setiap kejadian (lingkaran).4 6 7 4 e.Polmed 97 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk memahami masalah jaringan ini.5 1 2 d.1 g. Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan Mesin Baru Menyiapkan mesin Pesan Material rangka mesin Membuat rangka Finishing rangka Memasng mesin pada rangka Kegiatan Yang mendahului a b a d e c. serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian mesin yang rusak tersebut adalah seperti terlihat pada tabel berikut ini.

8 f.3 5 EF = 17 LF = 19 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Karena itu pekerjaan g baru dapat dimulai setelah hari ke-20.2 a.10 3 c.Polmed 98 . rangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut baru akan selesai pada hari ke-25 3. Jalur kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1. B. 4. atau jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama 2. namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu pekerjaan c selesai lebih dahulu.4 6 7 EF = 25 LF = 25 4 EF = 14 LF = 16 e. paling cepat. 3. maka nilai-nilai EF dicari dari depan ke belakang. dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20. Jika diselesaikan dengan metode matriks Secara garis besar.5 1 EF = 0 LF = 0 2 EF = 10 LF = 10 d. sedangkan nilai-nilai LF dicari dari belakang ke depan. 5. dan 7. 6.1 EF = 20 LF = 20 g. diperoleh hasil seperti dalam tabel di atas. makan penyelesaiannya dapat menggunakan matrik berikut ini. meskipun jalur bawah (1. Prodi Manajemen Informatika . Dengan jalur kritis tersebut. Dengan cara ini. 2. Ke EF 0 10 12 14 17 20 25 LF Dari 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 10 2 4 8 3 1 5 2 10 3 12 4 16 5 19 6 20 7 25 3 4 5 6 7 Sebagaimana dalam metode algoritma.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi EF = 12 LF = 12 b. apabila masalah jaringan di atasb dikerjakan dengan menggunakan metode matrik. 2. Untuk kejadian 6. dan 6) sudah selesai pada hari ke 18.

Bila ini tidak dilakukan. maka percepatan pada jalur lain tidak akan berpengaruh (sia-sia) pada waktu penyelesaian.Polmed 99 . karena memiliki nilai EF dan LF yang sama. percepatan pekerjaan pada jalur kritis akan membawa konsekuensi pada munculnya biaya percepatan pekerjaan. dan 7. Prodi Manajemen Informatika . maka yang harus dilakukan adalah dengan mempercepat waktu kegiatan yang ada dalam jalur kritis. 6. Untuk mendapatkan gambaran mengenai percepatan pekerjaan ini. lebiuh cepat dari 25 hari. akan dibahas dengan metode CPM yang akan diberikan pada mata kuliah Manajemen Operasional. 2. atau akan tetap membutuhkan 25 hari. Namun demikian.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian pekerjaan akan selesai pada hari ke-25. semester berikutnya. Untuk dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan penggantian mesin itu. 3. dengan jalur kritisnya 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful