P. 1
Buku TRO Oke

Buku TRO Oke

|Views: 271|Likes:
Published by Dwi Harta Sari

More info:

Published by: Dwi Harta Sari on Sep 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2015

pdf

text

original

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

BAB I LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
PENDAHULUAN Materi kuliah Teknik Riset Operasi (TRO) yang akan dipelajari antara lain : 1. Linear programming, dengan penyelesaian Grafik, Simplex, dan Konsep Dualitas 2. Masalah Transportasi 3. Masalah Penugasan 4. Game Theory 5. Pemrograman Dinamis 6. Analisis Jaringan Pengertian Riset Operasi (Operations Research, OR) Riset Operasi adalah sekumpulan Teknik / Alat analisis yang dapat digunakan untuk mengelola sumber daya yang terbatas guna mendapatkan hasil yang optimal. Pengertian optimal diatas mengandung pengertian nilai maximum dan minimum, maksudnya OR dapat digunakan untuk memaksimalkan sesuatu yang diinginkan (seperti hasil produksi, penjualan, keuntungan, ddl), dan dapat juga digunakan untuk meminimumkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan (seperti kecelakaan kerja, kerugian, produk cacat, dll.) Latar • • • Belakang Munculnya OR : Makin kompleksnya masalah perusahaan Makin dinamisnya lingkungan perusahaan Di sisi lain, perusahaan menghadapi banyak kendala dan keterbatasan sumber daya.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

1

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

PENYELESAIAN MASALAH LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menggambarkan fungsi tujuan dan fungsi kendala pada bidang koordinat X-Y dan mampu menentukan solusi optimal dari suatu masalah linear programming yang diberikan.

Asumsi dasar dalam Linier Programing ; 1. Proportionality, dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya, contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+ CnXn Penambahan 1 unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya 2. Additivity, dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lainnya. 3. Divisibility, dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan 4. Deterministic, dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang tepat. Tabel standar Linier Programming Pemakaian Sumber daya Per unit kegiatan Kegiatan Sumber Daya A B C D E Kontribusi terhadap Tujuan Tingkat Kegiatan 1 a11 a21 a31 … am1 C1 X1 C2 X2 C3 X3 2 a12 a22 a32 3 … … … 4 a1n a2n a3n …. amn Cn Xn Kapasitas Sumber Daya b1 b2 b3 … bm

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

2

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah umum dari metode grafik ini adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seperti berikut ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Langkah 4 : Menentukan titik optimal dari daerah yang feasible dan menjadikannya keputusan

Contoh Kasus Perusahaan sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek X1 dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek X2 dengan sol terbuat dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya. Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit, sedangkan mesin C membuat bagian atas sepat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8 jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam. Setiap lusin sepatu merk X1 mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk sepatu dengan merk X2, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5 jam. Pihak perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu merk X1 dapat memberikan kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin sepatu merk X2. Masalahnya adalah : Dalam berapa lusinkah sepatu merk X1 dan X2 harus diproduksi oleh perusahaan IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal, dalam hal ini keuntungan yang maksimal ? Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah \langkahnya adalah sebagai berikut :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

3

bentuk model persamaan matematisnya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 .000. kontribusi keuntungan yang akan diperoleh dari memproduksi sepatu X1 dan X2 Dari kasus di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seeperti berikut ini. simbol yang dipergunakan adalah : X1 X2 Z = untuk produk sepatu dengan sol karet = untuk produk sepatu dengan sol kulit = fungsi tujuan. dimana X1 dan X2 0 Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Prodi Manajemen Informatika .Polmed 4 . Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100.) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Perhatikan model tabel di atas : • Jumlah baris menunjukkan batasan-batasan .. yang ditentukan oleh banyaknya sumber yang akan dialokasikan ke setiap jenis kegiatan/produk • Jumlah kolom ditentukan oleh banyaknya/macam kegiatan produk yang akan dilakukan Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Untuk merubah ke dalam model matematis.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 1 / Mesin A X2

2X1

8 adalah

2X1

8

X1 0 4

Gambar grafik dari batasan 2 / Mesin B

3X2

15

X2

5

3X2

15

`

X1 0
Prodi Manajemen Informatika - Polmed

5

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 3 / Mesin C

6X1 + 5X2

30

X2

6

6X1 + 5X2

30

X1 0

Selanjutnya untuk apabila grafik dari ketiga batasan tersebut disatukan, maka daerah yang feasibel dapat diperoleh, seperti gambar berikut ini :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

6

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

X2 2X1 5 C D 3X2 15 8

Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30

Langkah 4 : Mencari suatu titik ( yang merupakan kombinasi X1 dan X2 ) di daerah feasible, yang dapat memaksimalkan keuntungan / nilai dari fungsi tujuannya ( Z ). Untuk mendapatkan titik tersebut, dapat dilakukan 2 macam cara yakni : 1. Dengan membandingkan nilai Z dari tiap-tiap alternatif Pada prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut. Pada titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0 Pada titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0 Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

7

sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6. 6/5 ) Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18 Pada titik C ( …….Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pada titik B ( 4. nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3.. sehingga koordinat titik B adalah ( 4. Oleh karena itu perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2.000. 2.) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui … Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3. D.5. B. yakni : 6 ( 4 ) + 5X2 = 30 5X2 X2 = 30 – 24 = 6/5. 5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25 Kesimpulan : Dari kelima titik 9 A. 5 ) Nilai Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27.. nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3. maka untuk mendapatkan nilai X1. dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah yang memberikan hasil paling besar yakni 27. Dengan menggambarkan dan menggeser fungsi tujuan ( Z ) Misalkan dengan mencoba menggambar fungsi tujuan dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2 seperti terlihat pada garis p pada gambar berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . maka untuk mendapatkan nilai X2. …. 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5 Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3.750. C.apabila mampu memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan sol kulit sebanyak 5 lusin.Polmed 8 . 5 Pada titik D ( 0. yakni 6X1 + 5 ( 5 ) = 30 6X1 X1 = 30 – 25 = 5/6.

Masalah Minimisasi Yang dimaksud minimisasi di sisni adalah fungsi tujuan menggambarkan keingginan perusahaan untuk meinimalkan sesuatu ( misalnya biaya. dengan Nilai Z = 27. Dengan demikian titik inilah yang paling optimal. dll. maka dari contoh kasus yang sama. pilihan jatuh pada titik yang memberikan hasil yang terendah. Apabila kasus ini terjadi.Polmed 9 . sehingga garis tersebut perlu digeser ke atas lagi sampai hanya menyinggung satu titik saja. maka penggeseran dilakukan ke kiri. Dan apabila itu dilakukan ternyata titik yang tersinggung oleh garis p’ tersebut adalah titik C. kecelakaan kerja. Beberapa hal lain dalam Metode grafik A. Dan bila menggunakan cara pergeseran garis Z atau p. masih ada lebih dari sati titik yang feasibel. ). Prodi Manajemen Informatika .5 = 3X1 + 5X2. pemborosan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 p’ 5 C D 3X2 15 8 p Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30 Ternyaka dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2.

Polmed 10 . Fungsi batasan bertanda sama dengan ( = ) Apabila hal ini terjadi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi B. maka gambar 2. B. titik yang dibandingkan cukup titik A.4 akan menjadi : X2 2X1 5 D Daerah feasible C 8 ) 3X2 15 B 6X1 + 5X2 30 X1 0 A 4 Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal. dan C saja. Fungsi batasan bertanda lebih besar sama dengan ( Apabila hal ini terjadi.4 akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika . maka gambar 2. C.

Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 8 B 3X2 15 A 6X1 + 5X2 30 X1 0 4 Dengan demikian daerah feasibelnya akan berada di sepanjang garis antara titik A dan B.Polmed 11 .

Polmed 12 . menentukan solusi dasar. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Prodi Manajemen Informatika . dan menentukan solusi optimal dari masalah linear programming yang diberikan. Dengan menggunakan contoh terdahulu : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 . bahwa : 1. Sama dengan metode sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB II LINEAR PROGRAMMING DENGAN SIMPLEX Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. menentukan variabel dasar. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis (fungsi tujuan dan fungsi batasan) Langkah 3 : Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Langkah 4 : Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex Langkah 5 Menentukan Kolom kunci. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya. dimana fungsi tujuan bertanda sama dengan (=) dan fungsi batasan bertanda lebih kecil sama dengan ( ). mahasiswa diharapkan mampu membentuk tabel simplex awal. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. dimana X1 dan X2 0 Sebelumnya perlu diingat. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. maka kasus yang sedang dihadapi adalah kasus yang normal/wajar. Apabila kita jumpai kasus seperti di atas. maka kasusnya tidak normal/wajar sehingga memerlukan penyelesaian yang berbeda. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah LP dengan metode Simplex adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi. dalam metode simplex ini juga akan dikenal masalah miximalisasi dan minimalisasi 2.

Langkah 3 Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Fungsi tujuan akan dirubah menjadi persamaan simplex dengan cara memindah semua nilai ya ng ada di sisi kanan persamaan ke sisi sebelah kiri persamaan. Dari kasus di atas. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. maka : Langkah 1 dan Langkah 2. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. sama dengan metode Grafik sebelumnya.Polmed 13 . sehingga akan menjadi : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 menjadi à Z – 3X1 – 5 X2 = 0 Sedangkan fungsi batasan akan menjadi persamaan simlex selain dengan cara merubahnya menjadi fungsi persamaan. Jadi rumusnya adalah : Baris kunci yang lama Baris kunci yang baru : -------------------------------Angka kunci Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru.apabila diselesaikan dengan metode Simplex. maka tabel belum optimal dan perlu dilanjutkan ke proses selanjutnya. Langkah 9 Jika ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan (Z). Simbol dari variabel batasan tersebut biasanya melanjutkan simbol yang telah digunakan oleh kegiatan atau Prodi Manajemen Informatika . Jika masih ada yang negatif. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. dalam kasus normal juga akan ditambahkan satu variabel tambahan (Slack variabel) untuk setiap fungsi batasan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut.

Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. Sebagai contoh : karena dalam kasus yang ada simbol yang digunakan untuk produk adalah X1 dan X2. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Sedangkan fungsi batasan akan menjadi Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : =8 = 15 = 30 8 à 2X1 + X3 15 à + 3X2 + + X4 30 . bahwa setiap fungsi batasan akan menjadi persamaan simplex dengan tanda (=) dan memiliki tambahan variabel (slack variabel) masing-masing.Polmed 14 . Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi produk yang sedang dibahas. Batasan 2 Dari Fs. Batasan 1 Dari Fs. à 6X1 + 5X2 + X5 Perhatikan. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. maka selanjutnya variabel tambahannya akan menggunakan simbol X3 dan seterusnya. X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Kolom X2 adalah merupakan kolom kunci karena memiliki nilai negatif terbesar di baris tujuannya (Z). Langkah 4 Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Dari Fs. Batasan 3 Langkah 5 Menentukan kolom kunci.

angka kuncinya adalah 3. perhatikan perhitungan berikut ini. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 0/-5 à 8/0 à 15/3 à 30/5 = tak terdefinisikan = divinition by zero = 5 à positif terkecil =6 Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Untuk lebih jelasnya. sehingga tabel dapat dikatakan belum optimal dan perlu diproses lebih lanjut. Langkah 9 Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. terlihat bahwa baris tujuan masih memiliki nilai negatif. Dari tabel di atas. hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Baris X4 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Dengan rumus tersebut.Polmed 15 . Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. Dari tabel di atas. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru.

Untuk lebih jelasnya. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. -3 -5 0 0 0 0 ( 0 1 0 1/3 0 5 )–5 ___________________________________________ -3 0 0 5/3 0 25 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : .Polmed 16 . Untuk baris X5 6 5 0 0 1 30 ( 0 1 0 1/3 0 5 )5 ___________________________________________ 6 0 0 -5/3 1 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 6 0 0 -5/3 1 5 0 0 5/3 0 25 Prodi Manajemen Informatika . Kolom kunci) Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga.3 Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 0 1 0 1/3 0 5 )0 ___________________________________________ 2 0 1 0 0 8 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 2 0 1 0 0 8 Perhatikan. perhitungan tidak perlu dilakukan. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X1 Z X3 X2 X5 X2 X3 X4 X5 NK 0 1 0 1/3 0 5 Perhatikan bahwa baris X4 akan menjadi baris X2 (ex.

Langkah 6 (iterasi ke-2) Menentukan Baris kunci. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. maka tabel simplex yang diperoleh belum optimal. Sebelum bisa mendapatkan tabel simplex yang ketiga. X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kolom X1 terpilih menjadi kolom kunci karena memiliki nilai negatif pada baris tujuannya. maka langkah ke-6 dan 7 perlu dilakukan terlebih dahulu.Polmed 17 . Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Karena masih ada nilai negatif (-3) pada baris tujuannya. yakni menentukan kolom kunci pada tabel kedua simplex tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kembali ke Langkah 8. Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Baris Kunci Prodi Manajemen Informatika . sehingga perlu kembali lagi ke Langkah 5.

Untuk lebih jelasnya. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. angka kuncinya adalah 6. Untuk lebih jelasnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris X5 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. hasilnya adalah : X1 Z X3 X2 X1 X2 X3 X4 X5 NK 1 0 0 . Dari tabel di atas. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. -3 0 0 5/3 0 25 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )–3 ___________________________________________ 0 0 0 5/6 1/2 27. perhatikan perhitungan berikut ini. Langkah 8 dan 9 (iterasi ke-2) Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Dengan rumus tersebut. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan.5 Prodi Manajemen Informatika .5 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : 0 0 0 5/6 1/2 27. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 25/-3 à 8/2 à 5/0 à 5/6 = negatif =4 = pembagian dengan 0 = 5/6 à positif paling kecil Langkah 7 (iterasi ke-2) Menentukan Angka kunci. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.5/18 1/6 5/6 Perhatikan bahwa baris X5 akan menjadi baris X1 (ex.Polmed 18 . Kolom kunci) Langkah 10 (iterasi ke-2) Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong.

1.5 6 1/3 5 5/6 Perhatikan ! Karena dalam tabel simlex ketiga di atas sudah tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuannya.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. baris Z) Prodi Manajemen Informatika . Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. baris X2) 2. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )2 ___________________________________________ 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Perhatikan.750. Untuk baris X2 0 1 0 1/3 0 5 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )0 ___________________________________________ 0 1 0 1/3 0 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 0 1 Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : 0 1/3 0 5 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . dengan kesimpulan. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama. maka dapat dikatakan bahwa masalah LP ini telah optimal.000 (lihat kolom NK. perhitungan tidak perlu dilakukan.5 atau 2. baris X1). Dengan hasil pada poin 1 di atas.Polmed 19 . bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol).

Secara umum perkembangan iterasi dari tabel-tabel simpelx tersebut dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini.Polmed 20 . Tabel Simplex Ringkasan X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 -5 0 3 5 X2 0 0 1 0 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 = 5/6 =5 = 27.5/18 X5 0 0 0 1 X5 0 0 0 1 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 0 8 15 30 NK 25 8 5 5 NK 27. dapat dsimpulkan bahwa untuk kasus di atas diperlukan iterasi sampai tahap ke-2 untuk mendapatkan tabel simplex yang memberikan hasil optimal.5 6 1/3 5 5/6 Tabel Simplex optimal Tabel Simplex iterasi 1 Tabel Simplex awal Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Laba optimal Prodi Manajemen Informatika .5 X4 0 0 1 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X4 5/6 5/9 1/3 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Rangkuman proses penyelesaian masalah LP dengan metode Simplex Dari proses iterasi /penyelesaian di atas.

Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan : Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 =8 15 30 . maka perlu dijadikan dulu ( ) dengan cara dikalikan (-1). dapat dicontohkan sebagai berikut . Dan syarat X1 atau X2 tidak terpenuhi. antara lain karena : 1. à dikalikan dengan (-1). misalkan X1 . Langkah penyelesaian untuk kasus penyimpangan ini adalah : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Setelah normal. Fungsi tujuan (Z) bukan Maximalisasi. Namun apabila proses tersebut menyebabkan slack variabelnya bernilai negatif. perlu dibuatkan sebuah variabel yang disebut dengan variabel buatan (artificial variabel) • Jika sebelumnya fungsi batasan bertanda ( ). maka untuk menjadi persamaan simplex. Fungsi batasan bertanda (=) atau ( ) 3. sehingga : Dari Minimalkan Z Maksimalkan (-Z) = 3X1 + 5X2 = -3X1 – 5X2 à menjadi Untuk fungsi batasan : • Jika sebelumnya fungsi batasan sudah bertanda (=). tetapi Minimalisai 2.Polmed 21 . maka perlu dibuatkan juga artificial variabel.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penyimpangan Bentuk Standar Simplex Penyimpangan bentuk standar dapat terjadi karena beberapa sebab.10 (negatif) Dengan menggunakan kasus di atas. Prodi Manajemen Informatika . Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian kasus simplex sebelumnya. Penyelesaian : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Untuk fungsi tujuan à agar menjadi Maximalisasi.

cukup ditambahkan slack variabel saja. perhatikan contoh berikut : Fungsi batasan 1 Karena batasan pertama à maka akan menjadi : Mesin A Mesin A 2X1 2X1 + X3 = 8. +X5 = . 3X2 15 à + 3X2 + + X4 = 15 Karena nilai X1 dan X2 negatif (tidak sesuai dengan syaratnya. Selanjutnya. sehingga menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 = 30 Permasalahan yang timbul kemudian adalah variabel slack-nya sekarang bernilai negatif. karena setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). sehingga perlu dibuatkan sebuah artificial variabel. harus bernilai nol. dimana X1 dan X2 maka harus dikalikan dengan (-1).6X1 .30 0). dan hasilnya menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 + X6 = 30 Prodi Manajemen Informatika .5X2 .Polmed 22 . namun artificial variabel (variabel buatan). Dari Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 à menjadi Maksimalkan (-Z) = -3X1 – 5X2 à menjadi persamaan simplex Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 =0 Fungsi batasan 2 Karena batasan kedua ini tidak ada penyimpangan maka untuk menjadi persamaan simplex.30 à persamaan simplexnya . akan mengakibatkan fungsi tujuannya bertambah sebesar M dari batasan yang bersangkutan. dan hal ini berarti meniadakan variabel tersebut. Untuk lebih jelasnya. M yang muncul adalah bilangan yang sangat besar. bilangan M yang ada dalam fungsi tujuan tersebut harus dijadikan nol terlebih dahulu. =8 X3 bar yang muncul bukan slack variabel (variabel tambahan). Mesin B Fungsi batasan 3 Mesin C 6X1 + 5X2 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi • Perlu diingat bahwa. pembuatan variabel pada setiap fungsi batasan.5X2 30 .6X1 . namun tidak tak terhingga. à bila dinormalkan akan menjadi : . dan ini akan mengakibatkan fungsi tujuannya memiliki tambahan nilai sebesar M. sebelum nilai fungsi tujuan dipindah ke tabel simplex. sehingga sering disebut dengan The Big M.

sehingga MX3 dan MX6 di atas harus di-nol-kan terlebih dahulu. karena sebelumnya (X5) telah bernilai negatif (lhat pebahasan batasan ke3). Untuk jelasnya perhatikan cara berikut : Nilai fungsi tujuan terakhir adalah : 3 5 M 0 0 M 0 Kita coba hilangkan M yang pertama terlebih dahulu. X1 X2 X3 X4 X5 X6 NK 3 5 M 0 0 M 0 (2 0 1 0 0 0 8) M _____________________________________ 3-2M 5 0 0 0 M -8M Selanjutnya kita hilangkan M yang kedua. Sehingga fungsi tujuannya akan berubah lagi menjadi : Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 + MX6 =0 Masalah berikutnya yang muncul adalah setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel).Polmed 23 . yakni dengan bertambahnya fungsi tujuan dengan bilangan M.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penambahan artificial tersebut akan berdampak pada fungsi tujuan. Nilai fs. Cara yang digunakan adalah dengan mengurangi bilangan M tersebut dengan bilangan M itu sendiri. 3-2M 5 0 0 0 M -8M (6 5 0 0 -1 1 30) M ______________________________________ 3-8M 5-5M 0 -8M+3 -5M+5 0 M 0 0 0 -38M. sebelum dipindah ke tabel simplex. Atau M 0 -38M Meskipun masih ada M pada kolom ke-5. namun M tersebut sudah tidak lagi sebagai variabel dasar. yang sebelumnya dikalikan dengan setiap nilai batasan yang menyebabkan munculnya bilangan M tersebut. Tujuan -8M+3 -5M+5 0 0 M 0 -38M inilah yang selanjutnya akan dimasukkan ke tabel simplex. harus bernilai nol. sehingga tabel simlex awalnya adalah sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .

yakni mencari kolom kunci.Polmed 24 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tabel Awal simplex. Z. X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X3 4M3/2 1/2 0 -3 X3 M+3/2 1/2 9/5 -3/5 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X5 M 0 0 -1 X5 1 0 3/5 -1/5 X6 0 0 0 1 X6 0 0 0 1 X6 M+1 0 -3/5 1/5 NK -38M 8 15 30 NK -6M12 4 15 6 NK -18 4 5 7/5 6/5 -8M+3 -5M+5 2 0 6 X1 0 3 5 X2 -5M+5 0 3 5 X2 0 0 1 1 Z X1 X4 X6 0 1 0 0 X1 Z X1 X4 X2 0 1 0 0 Prodi Manajemen Informatika . dansetrusnya sampai optimal (tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuan. mencari baris kunci. untuk kasus penyimpangan : X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X6 0 0 0 1 NK -38M 8 15 30 -8M+3 -5M+5 2 0 6 0 3 5 Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian pada kasus normal. keculai kolom NK-nya) Berikut ini adalah ringkasan hasil penyelesaian kasus penyimpangan di atas.

Langkah penyelesaian berikutnya adalah sama dengan kasus yang normal. Prodi Manajemen Informatika .maka produksi yang harus dilakukan adalah : Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Kerugian minimal =4 = 6/5 = .30 + 3X’1 + 5X2 Fungsi batasannya : Mesin A 2 (X’1 – 10 ) .18 Penyimpangan berikutnya adalah. tidak terpenuhi. bagaimana jika semua fungsi. baik tujuan maupun batasannya normal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kesimpulannya : Agar kerugiannya minimal.Polmed 25 . tapi syarat bahwa X1 dan X2 0.60 + 6X’1 + 5X2 6X’1 + 5X2 8 8 28 15 30 30 90 Setelah demikian. X1 -10 ? Apabila dijumpai kasus seperti ini maka nilai variabel X1 harus disesuaikan menjadi variabel baru dengan nama X’1 yang nilainya adalah : X’1 = X1 + 10. sehingga X1 = X’1 – 10. misalnya menjadi . diganti dengan X’1 – 10. dan selanjutnya semua nilai X1 pada fungsi tujuan dan batasan. sehingga menjadi : Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 3 (X’1 – 10) + 5X2 = .20 + 2’X1 2’X1 Mesin B Mesin C 3X2 6 (X’1 – 10) + 5X2 .

maka bila sebelumnya hanya bisa menyala 15 jam. dan apabila dilakukan perhitungan lagi dari awal tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. analisis sensitivitas selain digunakan untuk pengujian/pengecekan.000. bahwa kedua fungsi di atas berasal dari tabel penyederhanaan yg dibuat pada kasus berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . b. dst. fungsi tujuan dan batasan akan berubah. Jika hal tersebut terjadi.tapi menjadi Rp 500. karena tuntutan keadaan keuntungan yang diharapkan dari sepatu karet tidak lagi Rp 300.. dan memahami penggunaan analisis sensitivitas. misalkan karena mesin kedua diperbaiki. dan masalah Simplex sendiri selanjutnya sering disebut dengan masalah Primal. Untuk memahami konsep dualitas. analisis ini lebih bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. Kegunaan Dualitas dan Analisis Sensitivitas: 1. Dualitas lebih banyak bermanfaat untuk melakukan pengujian/pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen 2. Perubahan yang dimaksud misalnya : a. perubahan nilai koefisien dalam fungsi tujuan. langkah pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya Dualitas adalah ‘kebalikan’ masalah Simplex. dan disetup ulang. menginterpretasikan secara ekonomi masalah dual. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. misalkan dari contoh sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB III DUALITAS DAN ANALISIS SENSITIVITAS Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini.Polmed 26 . perubahan pada kapasitas maksimal mesin. Sementara itu.000. saat ini mampu menyala hingga 16 jam. Jadi masalah Dual adalah ‘kebalikan’ dari masalah Primal (simplex) Dari contoh kasus di atas. diganti oli-nya. 0 Masih ingat khan.-/unit. membuat analisis sensitivitas. Oleh karena itu analisis sensitivitas diperlukan untuk sesegera mungkin mendapatkan hasil optimal yang baru dari perubahan-perubahan tersebut. mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah dual. mengartikan solusi masalah dual. disamping risiko kesalahan hitung yang mungkin muncul. masalah Primal (simpelx)-nya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 dimana X1 dan X2 8 15 30 .

Polmed 27 .) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Tabel penyederhanaan kasus Primal (simplex) di atas apabila dijadikan Dual akan menjadi : A X1 X2 2 0 8 B 0 3 15 C 6 5 30 3 5 Atau apabila notasi A. dan C serta X1 dan X2 diganti dengan notasi umum dalam Dual akan menjadi : Y1 Batasan 1 Batasan 2 2 0 8 Y2 0 3 15 Y3 6 5 30 3 5 Sehingga fungsi tujuan dan batasan Dual-nya dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan ketika dulu mendapatkan fungsi tujuan dan batasan pada Primal (simplex)-nya. B. Prodi Manajemen Informatika .000..Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100.

Nilai koefisien pada fungsi tujuan (8. dan Y3 Perhatikan ! Dalam fungsi tujuan dan batasan Dual tersebut : 1. Nilai koefisien pada fungsi batasan Dual adalah ‘pembacaan’ vertikal dari nilai koefisien di batasan Primalnya 5. Fungsi Tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 dimana X1 dan X2 Dimana Y1. Tujuan dan batasan Primal-nya) adalah : Fungsi Tujuannya : Minimalkan Y Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 0 à tanda juga berubah = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 à perhatikan mjd Minimalisasi Dimana Y1. Y2. akan terlihat : Fungsi tujuanPrimal : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : 8 15 30 . Sebaliknya nilai kanan batasan (3 dan 5) sebelumnya adalah nilai koefisien fungsi tujuan pada kasus Primal (simplex) 4. 3. Fungsi tujuannya dari maksimalisasi menjadi minimalisasi 2. dan Y3 0 Selanjutnya apa kegunaan atau manfaat hubungan antara Primal dan Dual tersebut ? Seperti telah dijelaskan di bagian awal bab ini. 15.Polmed 28 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian fungsi tujuan dan batasan Dual-nya (dan ini merupakan ‘kebalikan’ dari fs. dan 30) sebelumnya adalah nilai kanan (NK) dari fungsi batasan Primal (simplex)-nya. maka salah satu manfaat Dualitas adalah untuk melakukan pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode Prodi Manajemen Informatika . Y2. Jumlah batasan (3) akan menjadi jumlah variabel dalam fungsi tujuan Dualnya (Y1 s. Y3) Bila disandingkan kedua masalah Primal dan Dual di atas.d.

maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 1/2 sehingga dari 27. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 0 atau tetap sebesar 27.34 3. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. dan 1/2.5 menjadi 27. baris Z) Selain nilai 5/6.5 tersebut di atas ternyata nilai yang bermanfaat tidak hanya itu. Nilai 0 (nol) di bawah variabel dasar X3 menunjukkan bahwa apabila mesin A (batasan 1) kapasitasnya bertambah dari 8 jam menjadi 9 jam.5 menjadi 27. baris X1). sebelumnya perlu kita perhatikan hasil optimal simplex dari kasus sebelumnya. Nilai-nilai ini secara umum dapat diartikan sebagai besarnya tambahan keuntungan perusahaan apabila masing-masing kapasitas batasan bertambah sebesar 1 unit kapasitas ( misalnya mesin A dari 8 jam menjadi 9 jam. Nilainya adalah 0. Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel optimal simplex di atas telah disimpulkan bahwa : 1. Dengan hasil pada poin 1 di atas. baris X2) 2. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. 5. mesin B dari 15 jam menjadi 16 jam).5.750. Ada beberapa nilai yang juga penting.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen. dan 27.5 = 28.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. dan X5 pada baris Z tersebut di atas. X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 .000 (lihat kolom NK.Polmed 29 . Perhatikan nilai-nilai dibawah variabel dasar X3. Dengan demikian dapat diartikan bahwa : 1.5 atau 2. 5/6. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. Nilai 5/6 di bawah variabel dasar X4 menunjukkan bahwa apabila mesin B (batasan 2) kapasitasnya bertambah dari 15 jam menjadi 16 jam.5 + 5/6 = 28.5 + 0. 2. X4. perhatikan perhitungan berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Namun demikian. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. Nilai 1/2 di bawah variabel dasar X5 menunjukkan bahwa apabila mesin C (batasan 3) kapasitasnya bertambah dari 30 jam menjadi 31 jam.

5 à nilai ini sama dengan yang dihasilkan dari fungsi tujuan primal/simplex sebelumnya Prodi Manajemen Informatika .5 = 0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Batasan 2 Kapasitasnya bertambah 1 jam sehingga menjadi : 3X2 6X1 + 5X2 16. bila nilai X1 dan X2 ini dimasukkan ke fs tujuan : = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(16/3) = 28.34 – 27.18 X1 . selain mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. X4.84 atau dengan 5/6 dan ini terbukti bahwa apabila kapasitas mesin ke-2 (batasan 2) bertambah dari 15 menjadi 16. Selanjutnya.. hasilnya adalah : 3X2 6X1 + 5X2 16 (x5) 30 (x3) 15X2 80 18X1 + 15X2 90 ---------------------------.10 X1 = -10 / .Polmed 30 . dan X5) tersebut atau nilai 0.34 Jadi keuntungan yang baru ini 28. nilai-nilai dibawah kolom variabel dasar (X3. 5/6. perhatikan perhitungan di bawah ini : Fungsi tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 = 8(0) + 15(5/6) + 30(1/2) = 27. Untuk lebih jelasnya. bila dihubungkan dengan batasan ketiga 30 Bila batasan 2 dikalikan 5 dan batasan 3 dikalikan 3.18 X1 = 5/9. sementara itu nilai X2 nya adalah : 3X2 X2 Z 16 16/3. dan 1/2 tersebut apabila dimasukkan ke dalam fungsi tujuan Dual-nya akan menghasilkan keuntungan yang sama ketika keuntungan tersebut diperoleh dari fungsi tujuan Primal-nya (hal ini sekaligus dapat digunakan untuk memastikan bahwa hasil optimal pada masalah Primal/Simplex-nya sudah benar). keuntungan akan bertambah 5/6.

Polmed 31 . kecuali di baris tujuan (Z). analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. Langkah 2 Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas. Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya. Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. 5. khususnya nilai-nilai yang berada di bawah variabel dasar. sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5 dan 3.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel di atas. nilai-nilai yang dimaksud adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik. 3) = Prodi Manajemen Informatika . apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. Sementara itu fungsi tujuan Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2. langkah-langkahnya adalah : Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. Selanjutnya untuk memanfaatkan matrik tersebut. dan perhitungan adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. Perhatikan lagi tabel optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya : X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa urutan variabel yang dimaksud adalah X2.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. dan X1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Analisis Sensitivitas Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil optimal Primal/Simplexnya.

nilai yang dimaksud adalah 8. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya.Polmed 32 . 15. Dari contoh kasus yang ada. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya. dan yang sebelumnya telah dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. X4. Dengan hasil di atas. Langkah 2 Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas. Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi ( 0x1 + 5x0 + 3x0. dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ). Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan Primal/simplex-nya. 1/2 ) (0. dan 30. dan perhitungannya adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 15 30 = 1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 0x8 + 1/3x15 + 0x30 0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 = 6 1/3 5 à X2 5/6 à X1 Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel optimal Primal/simplex-nya. 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18. 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3. 5/6. 5/6.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas. 0x.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi keuntungan akan naik sebesar 5/6 sehingga dari 27. Untuk lebih jelasnya. tetapi 0. ) dapat pula dicari dengan bantuan matrik ini. 8/9 dan 2/3. 4) = ( 0x1 + 6x0 + 4x0.Polmed 33 . keuntungan per unit X1 dan X2 tidak lagi 3 dan 5. 8/9.34. maka keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. maka keuntungan perusahaan yang baru adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. Misalkan karena suatu sebab.34 à Keuntungan yang baru. 6. benarkah ? 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 1 30 = 1x8 + 5/9x16 + -1/3x30 0x8 + 1/3x16 + 0x30 0x8 + -5/18x16 + 1/6x30 = 6 8/9 5 1/3 à X2 5/9 à X1 Apabilai nilai X1 dan X2 tersebut dimasukkan ke fungsi tujuan Primal/simplex akan diperoleh keuntungan : Z = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(5 1/3) = 28.5 menjadi 28.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. dan ½. Dan apabila dimasukkan ke Fungsi tujuan Dual untuk mendapatkan hasil adalah : Y = 8(0) + 15(8/9) + 30(2/3) = 33. Prodi Manajemen Informatika .34 Begitu pula bila perubahan terjadi pada koefisien fungsi tujuan. 0x5/9 + 6x1/3 + 4x -5/18. perhatikan perhitungan berikut ini : NK sebelumnya 8 15 30 à NK Setelah perubahan 8 16 30 Perhatikan ! Nilai kanan / kapasitas batasan 2 atau mesin B naik menjadi 16. tapi menjadi 4 dan 6.34.34 à Jadi terbukti memang keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 menjadi 28. 2/3) Jadi tambahan keuntungan yang terjadi apabila kapasitas setiap mesin ditambah 1 unit tidak lagi 0.5 menjadi 28. 5/6. 0x.

perhatikan contoh berikut ini. Dengan demikian manfaat utama dari mempelajari masalah transportasi ini adalah mengoptimalkan distribusi sumberdaya tersebut sehingga mendapatkan hasil atau biaya yang optimal. Penyelesaian akhir. Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini. dengan penyelesaian awal. Dalam masalah transportasi.Polmed 34 . kebutuhan atau aktivitas. dengan besaran permintaan masing-masing kota : Prodi Manajemen Informatika . secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap. Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut : Pabrik Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Total Kapsitas produksi tiap bulan 90 ton 60 ton 50 ton 200 ton Saat ini ada kebutuhan dari tiga kota besar yang harus dipenuhi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB IV MASALAH TRANSPORTASI Masalah transportasi berkaitan dengan keterbatasan sumber daya atau kapasitas perusahaan yang harus didistribusikan ke berbagai tujuan. Namun demikian. yakni : Tahap 1. langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama (penyelesaian awal). dimana metode yang dapat digunakan adalah : • Metode NWC (North West Corner) • Metode LC (Least Cost) • Metode VAM (Vogel Aproximation Method) • Metode RAM (Russel Aproximation Method) Tahap 2. dengan metode : • Stepping Stone • MODI (Modified Distribution) Metode MODI sebenarnya merupakan modifikasi dari metode Stepping Stone yang sudah ada sebelumnya. masalahnya belum dapat dioptimalka.

Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah : Dari pabrik 1 ke kota A = 20 Dari pabrik 1 ke kota B = 5 Dari pabrik 1 ke kota C = 8 Dari pabrik 2 ke kota A = 15 Dari pabrik 2 ke kota B = 20 Dari pabrik 2 ke kota C = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 25 Dari pabrik 3 ke kota A = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 19 Pertanyaannya adalah : 1.MODI Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal. maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal. Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal. Prodi Manajemen Informatika . guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ? 2.Polmed 35 . yakni sebesar 200 ton. Apabila dijumpai kasus semacam ini. Berapakan total biaya optimal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ? Jawab : Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas dan apabila dikaitkan dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan. hasil optimal belum ditemukan. maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut : Alternatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Kombinasi metode yang dapat digunakan NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI LC – MODI VAM – MODI Russel .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kota A B C Total Kapsitas produksi tiap bulan 50 ton 110 ton 40 ton 200 ton Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing kota adalah sama.

umumnya mewakili sumber daya yang dimiliki perusahaan 4. jangan gunakan kapasitas dari Pabrik 2. dst. dst. dst. umumnya mewakili daerah atau tempat tujuan distribusi 3. Dengan demikian hasil dari metode ini berturut-turut sebagai berikut : Langkah 1 Langkah 2 Prinsipnya. sesuai namanya North West Corner penyelesaian selalu akan dimulai dari pojok kiri atas (north west) dari tabel transportasi. Sebelum kapasitas Pabrik 1 habis. 5.Polmed 36 . sel C12 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 2 (kota B). sebelum kebutuhan kota A ‘beres’ jangan memenuhi kebutuhan kota B. sisa 40) Langkah 2 : Lanutkan dengan memenuhi kebutuhan kota B (110) dengan sisa kapasitas Pabrik 1 (yang sebelumnya/pada langkah 1 masih sisa 40) à masih kurang 70 Prodi Manajemen Informatika . Angka yang terdapat pada pojok kanan atas setiap sel menunjukkan biaya transportasi di sel tersebut. Alternaif 1 : Kombinasi NWC dan Stepping Stone Penggunaan metode NWC. Selanjutnya tabel di atas akan disebut dengan tabel transportasi 2. seperti terlihat di bawah ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Perhatikan. bahwa : 1. Baris.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebelumnya. masalah atau kasus di atas perlu disederhanakan terlebih dahulu dalam tabel transportasi. Langkah 1 : Penuhi kebutuhan kota A (50) dengan kapasitas dari Pabrik 1 (90. Selanjutnya yang dimaksud dengan sel C11 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 1 (kota A). Kolom.

saat ini kebutuha semua kota dan kapasitas semua pabrik telah terpenuhi dan habis. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Dari tebel tersebut alokasi atau pendistribusian yang terjadi adalah : Pabrik 1 akan melayani/mengirim ke kota A sebanyak 50 ton dan kota B sebanyak 40 ton Pabrik 2 hanya akan melayani/mengirim ke kota B sebanyak 60 ton Pabrik 3 akan melayani/mengirim ke kota B sebanya 10 ton dan kota C sebanyak 40 ton Pertanyaan yang muncul adalah : 1. perlu dicek kembali : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Dengan menggunakan metode NWC. karena sebelumnya hanya dipenuhi dengan sisa kapasitas Pabrik 1 sebesar 40. gunakan sisa kapasitas Pabrik 3 untuk memenuhi kebutuhan kota C yang kebetulan juga sebesar 40 à sama persis dengan kapasitas yang tersisa di Pabrik 3 Perhatikan tabel transportasi pada langkah ke-5 di atas. à inipun masih kurang 10 Langkah 4 : Penuhi kekurangan kebutuhan kota B (kurang 10) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 3 sebanyak 10 à kapasitas Pabrik 3 tinggal 40 Langkah 5 Langkah 5 : Karena kebutuhan kota B sudah ‘beres’.Polmed 37 . Prodi Manajemen Informatika . yang dimulai dari pojok kiri atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langah 3 Langkah 4 Langkah 3 : Lanjutkan memenuhi kebutuhan kota B (masik kurang 70) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 2 (60). Sudah benarkah tabel yang dihasilkan sampai dengan langkah ke-5 ersebut ? à untuk memastikannya.

Polmed 38 . dalam arti sudah paling minimal ? Untuk mengetahuinya.+ = 3260 Sudahkah biaya sebesar Rp 3260 tersebut optimal (paling kecil ?) Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengujian terhadap alokasi distribusi seperti pada langkah 5 sebelumnya. apakah biaya transportasi yang dikeluarkan perusahaan sudah optimal. biaya bisa diturunkan lagi ? KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Atau KeDari Pabrik 1 15 10 50 110 Kota A 20 Kota B 5 Kota C (+) 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika . Dari pendistribusi produk perusahaan tersebut. dicoba hitung masing-masing biaya pendistribusian tersebut yakni: Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Total biaya pengirimannya = 50 x 20 = 40 x 5 = 60 x 20 = 10 x 10 = 40 x 19 = 1000 = 200 = 1200 = 100 = 760 --------. Mungkinkah dengan menggeser alokasi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah Pengujian : Langkah 1 : Menguji sel-sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau tidak. Sel yang diuji adalah : Sel C13, C21, C23, dan C31. Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan menggunakan metode Stepping Stone. Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosog tersebut. Perhatikan tanda panah dan tanda (+)/(-) nya !!! Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Untuk pengujian sel C13 = biayanya 8, bergerak ke sel C33 (bisa juga ke C12, tapi tidak bisa ke C11), sehingga dikurangi 19, bergerak lagi ke C32, sehingga ditambah 10, bergerak langsung ke C12, sehingga dikurangi 5 (tidak perlu ke C22, karena bisa langsung ke C12), sehingga hasil akhirnya adalah 8 – 19 + 10 – 5 = - 6 KeDari Pabrik 1 Pabrik 2
25

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

50
15

40
20 10

60
10 19

60 40 40 50 200

Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 50

10 110

= 8 – 19 + 10 – 5 = 15 – 20 + 5 -20 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 20 + 5 – 10

=-6 = -20 = -19 =0

Dari pengujian empat sel tersebut dapat dilihat bahwa masih ada tiga sel yang menghasilkan nilai negatif, dan sel C21 yang memberikan negatif paling besar. Artinya dengan menggeser pengiriman ke sel tersebut, biaya akan dapat diturnkan sebesar Rp 20 (karena -20) per ton-nya. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman dengan langkah 2 selanjutnya :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

39

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah 2 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21, yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

(-)
15

(+)
20 10

(+)
25

(-)
10 19

60 50 200

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, perhatikan sel yang bertanda minus saja, yakni sel C11 dan sel C22. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini, pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C11, dengan alokasi sebelumnya 50 ton, dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1
15

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50

=0 = 90 = 10 = 50

Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

40

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1, atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya, perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong, apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas, sel yang masih kosong adalah sel C11, C13, 23, dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya, sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut :

KeDari Pabrik 1

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
15 20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31

= 20 – 5 + 20 – 15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 15 + 20 – 10

= 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton) =-6 = -19 = 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton)

Dari hasil pengujian tersebut, ternyata sel C23 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 19/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman, dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C23 dengan langkah :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

41

Dan ternyata sel C22. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23.Polmed 42 . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. perhatikan sel yang bertanda minus saja.yang ada. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). dengan alokasi sebelumnya 10 ton. Prodi Manajemen Informatika .10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. yakni sel C22 dan sel C33. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 .

dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C13 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . sel yang masih kosong adalah sel C11.Polmed 43 . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C31 = 20 – 5 + 10 – 19 + 10 . C22 dan C31.15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 20 – 10 + 19 – 10 = 25 – 15 + 10 – 19 = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) =-6 = 19 à (lebih mahal 20/ton) = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) Dari hasil pengujian tersebut. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 6/ton. Dari tabel di atas. C13. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.

perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. yakni sel C12 dan sel C33.30 = 60 = 30 = 50 =0 Prodi Manajemen Informatika . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton.yang ada. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dan ternyata sel C33.Polmed 44 . dengan alokasi sebelumnya 30 ton. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Dari pergerakan dan tanda +/.

sel yang masih kosong adalah sel C11. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi.10 = 19 – 10 + 5 – 8 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) Dari hasil pengujian tersebut. Dari tabel di atas. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. C22.Polmed 45 . C31 dan C33.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

sel yang memiliki biaya terkecil adalah sel C12. dimana kota yang harus dipenuhi kebutuhannya adalah kota B dan sumber pengirimannya dari Pabrik 1. dapat diketahui bahwa biaya terendah berkutnya adalah sel C23 atau sel C32 (dengan biaya sama-sama 10). sehingga alokasinya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya dicari sel dengan biaya terendah berikutnya. maka alokasi pertama dimulai dari sel tersebut.Polmed 46 . Apabila diperhatikan dari tabel di atas. Misalkan dipilih sel C32. sehigga alokasi berikutnya adalah : 50 Kota A 20 15 25 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Karena nilai biayanya sama. sesuai dengan namanya dimulai dengan memilih alokasi atau sel yang memiliki biaya pengiriman atau biaya transportasi yang paling rendah. Dari sel yang tersisa. dimana semua sel pada baris 1/pertama tidak diikutkan lagi dalam pemilihan. jadi kurang 20 ton) dengan kapasitas Pabrik 3. artinya kota yang akan dipenuhi kebutuhannya adalah kota B (sebelumnya baru dikirim 90 ton. karena kapasitas Pabrik 1 telah habis. maka dapat dipilih salah satu dari keduanya. yakni biayanya 5/ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 2 : Kombinasi LC (Least Cost) dan Stepping Stone Dari contoh kasus di atas sudah diperoleh tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 1 Penyelesaian masalah dengan menggunakan metode Least Cost.

KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 20 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Prodi Manajemen Informatika . dan alokasi yang diberikan untuk sel tersebut adalah 20 ton (sisa kapasitas Pabrik 2).Polmed 47 . sehingga kapasitas Pabrik 2 hanya tinggal 20 ton. memenuhi kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2. KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Karena tinggal kolom satu yang bisa dibandingkan (itupun hanya kolom satu baris 2 dan 3). Alokasi yang diberikan di sel C23 tersebut adalah 40 ton. dimana baris 1 dan kolom 2 tidak dilibatkan lagi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 20 110 50 40 Selanjutnya dipilih sel dengan biaya terendah berikutnya. maka Sel dengan biaya terendah selanjutnya adalah sel C21 (kebutuhan kota A dengan kapasitas Pabrik 2). Sel terpilih dengan biaya terendah adalah sel C23.

Namun demikian. sel yang masih kosong adalah sel C11. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sel terakhir yang dialokasikan adalah sel C31 (kekurangan kebutuhan kota A dengan sisa kapasitas Pabrik 3 sebesar 30 ton). dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C33 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . sehingga dengan metode Least Cost ini. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.7 à (penurunan biaya terb esar) = 20 =-1 Dari hasil pengujian tersebut. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Langkah 3 dan selanjutnya Untuk mengetahuinya. 22.Polmed 48 . alokasi akhirnya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 20 30 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 7/ton. perlu dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.5 = 20 – 10 + 25 – 15 = 19 – 25 + 15 – 10 =0 = . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C33 = 20 – 5 + 10 – 25 = 8 – 10 + 15 – 25 + 10 . Dari tabel di atas. dan C33. C13.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. dan sel 23 yang 40 ton. perhatikan sel yang bertanda minus saja. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Polmed 49 . C23 dan sel C31. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Prodi Manajemen Informatika . yakni sel C12. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 (+) 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan (+) 25 10 (-) 19 60 50 40 200 (-) 50 (+) 110 Dari pergerakan dan tanda +/. Dari ketiga sel bertanda pergerakan minus ini.yang ada. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. Dan ternyata sel C31. Selanjutnya angka 30 ton di sel C31 tersebut digunakan untuk mengurangi dan menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).

perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. sehingga selisihnya adalah 3. biaya terendah pertama adalah 5 dan terendah kedua adalah 8. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.+ = 1890 Hasil ini dengan yang diperoleh apabila digunakan metode NWC sebelumnya. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. C22. Alternaif 3 : Kombinasi metode VAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Dengan kasus yang sama. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi.Polmed 50 . Dari tabel transportasi yang ada dapat diperoleh hasil : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 à 15 – 10 à 19 – 10 à 20 – 15 à 10 – 5 à 10 -8 =3 =5 = 9 à (dipilih karena memiliki selisih terbesar) =5 =5 =2 Prodi Manajemen Informatika . penyelesaian kasus dengan metode VAM alokasi dimulai dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Namun demikian. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Sebagai contoh. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. sel yang masih kosong adalah sel C11. begitu seterusnya sampai kolom ke-3. C31 dan C33. untuk baris 1. Dari tabel di atas. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . dari setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.

sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 3 tersebut. Dengan demikian alokasi pertama dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 50 ke kota B. karena kapasitas Pabrik 3 hanya 50. à karena kapasitas Pabrik 1 ada 90 ton. yakni sel C12 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 1). karena memiliki selisih terbesar.Polmed 51 . sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di kolom 2 tersebut. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à 20 – 5 = 15 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi kedua akan diberikan pada kolom 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi pertama akan diberikan pada baris 3. sementara kebutuhan kota B 110 ton : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Langkah 2 Alokasi kedua berikutnya dilakukan dengan cara yang sama. dan masih kurang 60 ton. Dengan demikian. Sebagai catatan. karena memiliki selisih terbesar. saat ini kapasitas Pabrik 1 inggal 30 ton. di Kolom 2 ada dua sel. Pertanyaannya adalah. di baris 3 ada tiga sel. yakni sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3). Pertanyaannya adalah. di setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 60 ton ke kota B (kekurangan kebutuhan kota B). baris ketiga tidak diikutkan lagi karena kapasitas pabrik 3 telah habis.. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : Prodi Manajemen Informatika . hasil perhitungan selisih menghasilkan : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 =3 à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. yakni dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua.

di baris 1 ada dua sel. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi ketiga akan diberikan pada baris 1. Baris 3 dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 30 ton ke kota C (karena sisa kapasitas Pabrik 1 tinggal 30 ton).8 = 12 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à 20 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 50 40 Dengan alokasi seperti di atas. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à tidak perlu dihitung lagi. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 1 tersebut. Pertanyaannya adalah. yakni sel C13 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 1).Polmed 52 . karena memiliki selisih terbesar.

dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à tidak perlu dihitung lagi. karena tinggal memenuhi kebutuhan kota A saja sebesar 50 ton dari kapasitas Pabrik 2 yang memang tinggal 50 ton. yakni sel C23 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2). Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Dengan alokasi seperti di atas.Polmed 53 . Baris 3 . karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi keempat akan diberikan pada baris 2. karena merupakan satu-satunya baris yang bisa dihitung selisihnya. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis à tidak perlu dihitung lagi. dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. tentunya tidak perlu dilakukan perhitungan selisih biaya terendah pertama dan kedua lagi. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim dari Pabrik 2 sejumlah 10 ton ke kota C (karena kebutuhan kota C tinggal kurang 10 ton. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à tidak bisa dihitung. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 2 tersebut. Baris 1. kapasitas Pabrik 1 sdh habis à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan alokasi seperti di atas. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à tidak bisa dihitung. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis. sehingga alokasi terakhirnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . di baris 2 masih ada dua sel. 30 ton sebelumnya sudah dikirim dari Pabrik 1). Pertanyaannya adalah.

dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.Polmed 54 . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. C22. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 50 110 50 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . Namun demikian.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 2 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . Dari tabel di atas. C31 dan C33. sel yang masih kosong adalah sel C11. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

Karena sama.29 = 25 – 25 – 25 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 2. biaya tertingginya Untuk Baris 3. Dengan cara ini biaya tertinggi yang dimaksud adalah : Untuk Baris 1. biaya tertingginya Untuk Kolom 3. penyelesaian kasus dengan metode RAM dimulai dengan mencari biaya yang tertinggi untuk setiap baris dan kolom yang ada dalam tabel transportasinya. Sebagai contoh dipilih sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 55 . perhatikan perhitungan berikut ini : C11 C12 C13 C21 C22 C23 C31 C32 C33 = 20 – 20 – 25 = .30 = 20 – 20 – 20 = . pemilihan alokasi dapat memilih satu diantara keduanya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 4 : Kombinasi metode RAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Sedikit berbeda dengan metode VAM. yakni sel C12 dan sel C32. biaya tertingginya Untuk Kolom 1.20 = 10 – 20 – 19 = .25 = 5 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 20 = 20 = 25 = 25 = 20 = 19 Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya biaya pada setiap sel akan dikurangi dengan biaya tertinggi untuk baris itu dan dikurangi lagi dengan biaya tertinggi untuk kolom itu. biaya tertingginya Untuk Baris 2.25 Alokasi pertama akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar.25 = 10 – 25 – 20 = .35 = 19 – 25 – 19 = .31 = 15 – 20 – 25 = . dan dari perhitungan di atas ada dua sel yang bernilai negatif paling besar.35 = 8 – 20 – 19 = . Untuk lebih jelasnya.

biaya tertingginya = 20 Untuk Kolom 2. biaya tertingginya = 10 Prodi Manajemen Informatika . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis. biaya tertingginya Untuk Baris 3.20 C12 = 5 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 3.35 C13 = 8 – 20 – 10 = .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. yakni sel C12 (kebutuhan kota B yang masih kurang 60. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi kedua akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. dengan kapasitas Pabrik 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3.d C33 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. biaya tertingginya Untuk Baris 2.22 C21 = 15 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 20 = 20 = Tidak perlu lagi.25 C22 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 2. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. di mana Baris 3 dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. biaya tertingginya Untuk Kolom 1. krn kapasitas Pabrik 3 habis = 20 = 20 = 10 C11 = 20 – 20 – 20 = . di mana Baris 3 tidak perlu diikutsertakan lagi.20 C23 = 10 – 20 – 10 = . biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar.Polmed 56 .20 C31 s. biaya tertingginya = 20 Untuk Baris 2. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.

15 C22 = tidak perlu dihitung lagi. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. biaya tertingginya = 15 Untuk Kolom 2.d C33 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = 10 C11 s. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C13 = 8 – 20 – 10 = . artinya alokasi dapat dilakukan di dua sel tersebut secara bersama (karena tinggal dua sel tersisa). karena kapasitas Pabrik 1 sudah habis C21 = 15 – 15 – 15 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi keempat dan kelima akan diberikan kepada kedua sel tersisa karena memiliki nilai negatif yang sama.15 C31 s. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi.d C33 tidak perlu dihitung lagi. di mana Baris 1. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . Dengan demikian alokasi selanjutnya adalah memenuhi kekurangan kebutuhan kota C sebesar 10 ton dari Pabrik 2 Prodi Manajemen Informatika . biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Baris 2.Polmed 57 .20 C22 = tidak perlu dihitung lagi. Baris 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi C11 = 20 – 20 – 20 = . yang kapasitasnya tinggal 30) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.20 C12 = tidak perlu dihitung lagi. yakni sel C13 (kebutuhan kota C. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3.22 C21 = 15 – 15 – 20 = . dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi ketiga akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . dengan kapasitas Pabrik 1.15 C31 s.d C13 tidak perlu dihitung lagi.

Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi (sel C23) dan sisa kapasitas Pabrik 2 akan dikirimkan ke kota A sebesar 50 ton.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 3 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . C22. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sesuai kebutuhannya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. hasil alokasinya adalah: KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. Dengan demikian. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Namun demikian. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. sel yang masih kosong adalah sel C11. C31 dan C33.Polmed 58 . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. Dari tabel di atas.

dimulai dengan mencari dan memberi nilai untuk setiap baris dan kolom yang ada. apabila pemberian nilai untuk pertama diberikan pada baris 1. Pendapat kedua. baris 1 akan selalu bernilai nol (0). Pendapat pertama. Langkah 1 Penggunaan metode MODI untuk solusi akhir. sehingga perlu diselesaikan lebih lanjut. Bila digunakan contoh tabel di atas. Pemberian nilai pertama kali diberikan untuk baris. namun dengan metode MODI untuk solusi akhirnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 5 : Kombinasi metode NWC dan MODI Seperti telah dijelaskan di muka. baris yang mana ? Ada dua pendapat mengenai baris mana yang akan diberikan nilai terlebih dahulu. nilai diberikan kepada baris yang memiliki sel terisi alokasi paling banyak. maka baris 1 dan 3 sama-sama memiliki dua sel yang terisi alokasi. Untuk kesempatan ini. dengan nilai nol (0). dengan demikian nilai pertama sebesar nol dapat diberikan pada baris 1 atau baris 3. Dengan demikian pemberian nilai untuk yang pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . baris yang akan diberi nilai yang pertama adalah baris 1. Ketentuan selanjutnya adalah. maka untuk proses selanjutnya. pemilihan NWC sebagai metode dalam solusi awal akan menghasilkan tabel tansportasi awal sebagai berikut ( lihat alternatif 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Seperti telah dicoba sebelumnya. tabel di atas belumlah optimal. yakni : 1. karena kebetulan juga memiliki sel terisisi alokasi terbanyak (sama dengan baris 3). nilai diberikan pada baris yang pertama 2. Pertanyaannya adalah.Polmed 59 .

= 5 + K3. = B3 + 5. = B2 + 5. = 0 + K2.Polmed 60 . dan hasilnya adalah : 20 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 Pabrik 2 25 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Prodi Manajemen Informatika . à nilai K1 = 20 à nilai K2 = 5 à nilai B2 = 15 à nilai B3 = 5 à nilai K3 = 14 = B1 + K1à 20 = B1 + K2à 5 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Pabrik 2 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 25 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Keterangan : B1 = Baris 1 K1 = Kolom 1 Sel C11 Sel C12 Sel C22 Sel C32 Sel C33 B2 = Baris 2 K2 = Kolom 2. dan seterusnya = 0 + K1.

20 = 10 – 15 – 14 = . yakni sel C11 dan sel C22.6 = 15 – 15 – 20 = . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.yang ada. perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. dengan alokasi sebelumnya 50 ton.19 = 25 – 5 – 20 = 0 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (20 per ton). pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dan ternyata sel C11. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 = 8 – 0 – 14 = . yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 15 (+) 20 10 (+) 25 (-) 10 19 60 50 200 Dari pergerakan dan tanda +/. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 61 .

perlu kembali ke langkah 1 di atas. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50 =0 = 90 = 10 = 50 Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.Polmed 62 . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

Polmed 63 . masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 5. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. à nilai B2 = 15 = B3 + 5. à nilai K3 = 14 Setelah nilai B2 diketahui. à nilai K1 = 0 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. dan hasilnya adalah : 0 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.19 = 25 – 5 – 0 = 20 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (19 per ton). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika . dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31 = 20 – 0 – 0 = 20 = 8 – 0 – 14 = . à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C22 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2.6 = 10 – 15 – 14 = . maka nilai K1 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 15 + K1.

Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. dengan alokasi sebelumnya 10 ton. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dan ternyata sel C22. Prodi Manajemen Informatika . yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/.Polmed 64 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23.yang ada. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. yakni sel C22 dan sel C33.

à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. nilai sel C21 juga dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = . karena nilai B2 dan K3 belum diketahui = B3 + 5. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C23 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. perlu kembali ke langkah 1 di atas. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).4 + K1 à nilai K1 = 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. maka nilai sel C23 dapat dicari dengan cara : Sel C23 = B2 + K3à 10 = B2 + 14 à nilai B2 = . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = belum bisa dihitung. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. à nilai B3 = 5 = 5 + K3.4 Dan setelah nilai B2 diketahui. à nilai K3 = 14 Setelah nilai K3 diketahui.Polmed 65 . dan hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika .

masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 19 KeDari 0 -4 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.6 Sel C22 = 20 – (.Polmed 66 .4) – 5= 19 Sel C31 = 25 – 5 – 19 = 1 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (6 per ton). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 5 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 19 = 1 Sel C13 = 8 – 0 – 14 = .

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari pergerakan dan tanda +/. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).30 = 60 = 30 = 50 =0 Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. Dan ternyata sel C33. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). perlu kembali ke langkah 1 di atas. perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 .yang ada. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.Polmed 67 . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. yakni sel C12 dan sel C33. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C32 = B1 + K2à 5 = B1 + K3à 8 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = 0 + K2. dan hasilnya adalah : 13 KeDari 0 2 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 8 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 68 . nilai sel C21 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 2 + K1 à nilai K1 = 13 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai B3 = 5 Dan setelah nilai B2 diketahui. à nilai K2 = 5 = 0 + K3 à nilai K3 = 8 = belum bisa dihitung. karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 8 à nilai B2 = 2 = B3 + 5.

Apabila kapasitas > kebutuhan.!!!! Masalah Transportasi untuk kasus tidak normal (Kapasitas tidak sama dengan Kebutuhan).+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . akan terjadi kelebihan kapasitas dan hal ini akan menimbulkan biaya simpan 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. akan terjadi kekurangan kapasitas yang berarti akan menimbulkan biaya kehilangan kesempatan (opportunity cost) 3.. dengan total biaya optimalnya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya Catatan : Alternatif penyelesaian ke-6. apabila dijumpai kasus dimana nilai kapasitas perusahaan tidak sama dengan kebutuhannya. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). hanya saja dengan solusi awal yang sesuai dengan metodenya. Seperti telah dijelaskan di atas. Silahkan dicoba sendiri à PR ya.Polmed 69 . maka kasus semacam ini perlu dinormalkan terlebih dahulu. yakni metode LC. sebelum dapat diselesaikan dengan metode solusi awal dan solusi akhir yang ada. Terjadi masalah ‘Degeneracy’ dimana syarat (m+n)-1 tidak terpenuhi Oleh karena itu. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 13 = 7 Sel C22 = 20 – 2 – 5 = 13 Sel C31 = 25 – 5 – 13 = 7 Sel C33 = 19 – 5 – 8 = 6 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif. karena : 1. maka kasus yang dihadapi dapat dikategorikan dalam kasus yang tidak normal. sehingga dengan demikian tabel di atas telah optimal. Apabila kapasitas < kebutuhan. 7 dan 8 dapat dilakukan dengan cara yang relatif sama seperti pada alternatif penyelesaian 5 di atas. VAM dan RAM. = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.

Prodi Manajemen Informatika . kapasitas Pabrik 3 meningkat dari 50 ton menjadi 100 ton. bahwa setelah dibutkan kolom Dummy untuk menampung kelebihan kapasitas. sehingga saat ini kebutuhan > kapasitas yang tersedia. atau nol. perhatikan tabel transportasinya. sementara kebutuhan dari ketiga kota hanya 200 ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai contoh. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 60 10 110 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 40 40 50 50 Perhatikan. semua sel yang ada tidak memerlukan biaya. ternyata kebutuhan di kota A naik dari 50 ton menjadi 100 ton. Setelah itu. Contoh kasus tidak normal kedua adalah apabila dengan kapasitas perusahaan sebelumnya (200 ton). dalam kasus di atas. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. Dalam kolom ini. proses selanjutnya akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. Untuk lebih jelasnya. Untuk menyelesaiakan kasus ini (kapasitas > kebutuhan). maka dalam tabel transportasinya perlu dibuatkan satu buah kolom lagi yang disebut dengan kolom Dummy. untuk mengakomodir kelebihan kapasitas yang ada.Polmed 70 . sehingga secara keseluruhan kapasitas perusahaan menjadi 250. sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 110 40 50 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini.

Dengan demikian pada tabel transportasi pertama akan menjadi seperti tabel berikut ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 0 Kapasitas 90 60 50 50 250 110 40 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. yang pertama perlu dilakukan adalah membuatkan baris Dummy. proses selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. dimana syarat alokasi / jumlah sel yang teralokasikan tidak memenuhi syarat (m+n) – 1. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 90 10 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 50 250 50 50 10 110 40 40 0 Perhatikan. Dan seperti pada kasus tidak normal sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk menyelesaikan kasus tidak normal seperti ini. untuk menampung kelebihan kebutuhan dari kota A.Polmed 71 . Contoh kasus tidak normal ketiga. sering disebut dengan masalah Degenaracy. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. bahwa setelah dibutkan baris Dummy untuk menampung kelebihan kebutuhan. seperti terlihat pada contoh kasus Degeneracy berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .

maka sekarang semua sel kosong dapat diuji dan proses mencari hasil optimal dapat dilakukan seperti biasa. perlu diberikan nilai nol pada salah satu sel yang masih kosong (di sel manapun yang masih kosong).Polmed 72 . sehingga meskipun ada sel yang bernilai nol. tapi jumlah sel yang terisi telah memenuhi syarat alokasi (m+n) – 1 atau 6 sel. jadi kurang satu sel. sementara itu. Untuk menyelesaikan kasus Degeneracy ini. maka diperoleh alokasi pengiriman sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 40 50 70 40 Perhatikan. kecuali sel C24. Dengan pemberian nilai nol ini. coba selesaikan masalah Degeneracy di atas dengan metode solusi awal dan akhir yang saudara bisa !!! Prodi Manajemen Informatika . Akibatnya adalah. bahwa dengan metode solusi awal NWC. hampir semua sel yang masih kosong tidak dapat dipakai untuk menguji apakah masih memiliki nilai negatif atau tidak. untuk pengujian sel yang masih kosong. jumlah sel yang terisi hanya lima. Sebagai latihan. menurut rumus yang disyaratkan adalah (m+n) – 1 atau (3+4) -1 = 6.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 50 40 40 70 Apabila kasus di atas diselesaikan dengan metode solusi awal NWC.

alat transportasi. Jika sudah. 8. Secara umum lagkah-langkah penyelesaian masalah penugasan yang normal adalah : 1. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. dan apabila belum maka perlu diulangi langkah penyelesaian ke-5 di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB V MASALAH PENUGASAN Masalah penugasan berkaitan dengan keinginan perusahaan dalam mendapatkan pembagian atau alokasi tugas (penugasan) yang optimal. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Penyelesaian masalah penugasan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode Hungarian yang pada tahun 1916 dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang bernama D KÖnig. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. Pilih nilai yang paling kecil. mesin. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. Identifikasi dan penyederhanaan masalah dalam bentuk tabel penugasan 2. 6. 5. Untuk kasus minimalisasi. alat transportasi. Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. telah berhasil ditemukan nilai nol. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. mesin. dala arti apabila penugasan tersebut berkaitan dengan keuntungan maka bagaimana alokasi tugas atau penugasan tersebut dapat memberikan keuntugan yang maksimal. maka dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut 4. Prodi Manajemen Informatika . Selanjutnya. begitu pula sebaliknya bila menyangkut biaya. 7. Apabila masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Sedangkan untuk kasus maksimalisasi. maka masalah penugasan telah optimal. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai nol. mencari nilai tertinggi untuk setiap baris yang kemudian nilai tertinggi tersebut dikurangi dengan semua nilai yang ada dalam baris tersebut.Polmed 73 . Dari hasil lagkah ke-6 tersebut. maka langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. 3. kemudian pergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. mencari biaya terkecil untuk setiap baris. Apabila belum. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya.

sehingga akan menjadi : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Prodi Manajemen Informatika . Untuk lebih jelasnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai catatan. Dari kasus penugasan tersebut di atas.Polmed 74 . karakteristik dari masingmasing karyawan.lah sumber daya yang akan ditugaskan dan jumlah pekerjaan atau tujuan adalah sama. A. maka biaya yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-4 karyawan tersebut juga berbeda. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan I Karyawan A B C D 15 14 25 17 20 16 20 18 18 21 23 18 22 17 20 16 II III IV Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 0 0 5 1 5 2 0 2 3 7 3 2 7 3 0 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. Masalah Minimalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 4 orang karyawan yang harus menyelesaikan 4 pekerjaan yang berbeda. kasus penugasan dianggap normal apabila jum. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. perhatikan contoh kasus berikut ini. yakni kolom 3. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari biaya terkecil untuk setiap baris. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan.

atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nah. Prodi Manajemen Informatika . sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. kemudian nilai 1 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Langkah 5 Selanjutnya. alat transportasi. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 1). sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol.Polmed 75 . Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 2. Sementara itu nilai 5 dan 1 pada kolom 1 akan bertambah 1. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. mesin. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. telah berhasil ditemukan nilai nol. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah tiga. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda.

yang berada di baris dan kolom yang berbeda.Rp 14.- Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.B. Prodi Manajemen Informatika . alat transportasi. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68. produktifitas atau keuntungan yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-5 karyawan tersebut juga berbeda. 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal.Rp 16.Rp 20. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan.--------.+ Rp 68. karakteristik dari masingmasing karyawan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 4 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). Masalah Maximalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 5 orang karyawan yang harus menyelesaikan 5 pekerjaan yang berbeda. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Total biaya Rp 18. mesin.Polmed 76 . seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan Karyawan A B C D E I 10 14 9 13 10 II 12 10 8 15 13 III 10 9 7 8 14 IV 8 15 8 16 11 V 15 13 12 11 17 Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah.

sehingga akan menjadi : 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Nah. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 5 1 3 3 7 3 5 4 1 4 5 6 5 8 3 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol.Polmed 77 . mesin. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 3. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 5 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari kasus penugasan tersebut di atas. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 5 karyawan. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. alat transportasi. dan kemudian nilai tersebut dikurangi dengan semua nilai produktifitas yang ada pada baris yang sama. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari produktifitas atau keuntungan terbesar untuk setiap baris. yakni kolom 3. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. telah berhasil ditemukan nilai nol.

Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. 5 dan 0 pada kolom 5 akan bertambah 2. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 2). dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. alat transportasi. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah empat.Polmed 78 . Dengan langkah ini hasilnya adalah : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar (2) atau nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. mesin. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol à yakni baris ke-5)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 5 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). Langkah 5 Selanjutnya. Sementara itu nilai 2. kemudian nilai 2 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis.

tidak semua masalah penugasan memiliki matrix biaya atau keuntungan seperti dalam dua contoh kasus di atas. Dengan demikian karyawan dengan keterbatasan seperti itu tidak dapat dipaksakan mengerjakan sebuah pekerjaan yang memang tidak mungkin baginya. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68.- Namun demikian. usia. hanya saja pada keptusan optimalnya akan dihindari menugaskan karyawan pada tugas yang memiliki bilangan M atau – M tersebut. atau karena sebab lainnya). Prodi Manajemen Informatika .--------. maka dalam proses penyelesaiannya.Rp 14. Ada kalanya seorang karyawan misalnya.Rp 9.- Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.Rp 16. alternatif lain dari penugasan di atas dapat dipilih seperti terlihat pada tabel berikut ini : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Rp 15. tidak dapat dialokasikan atau ditugaskan untuk sebuah pekerjaan tertentu (karena alasan. perlu ditambahkan sebuah bilangan yang sangat besar. jenis kelamin.+ Rp 68.Rp 15. Proses penyelesaian selanjutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada kasus penugasan yang normal.Rp 12. ketrampilan yang tidak memadai.Polmed 79 .- Catatan : Dalam praktek sehari-hari.Rp 14.+ Rp 68.--------. kondisi fisik. Untuk mengatasi hal semacam ini. dan disebut dengan bilangan M (untuk masalah minimalisasi) dan – M (untuk masalah maximalisasi).Rp 15.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Rp 12.Rp 14.

bahwa dalam praktek sehari-hari. jumlah pelanggan dan sejenisnya.Polmed 80 . Sebagai contoh nilai 9 pada sel C12 menunjukkan apabila pemain/perusahaan A menggunakan strategi harga murah (S1) dan perusahaan B meresponnya dengan strategi harga sedang (S2). maka perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 9 yang berarti perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar 9. Nilai positif menunjukkan keuntungan bagi pemain baris dan kerugian bagi pemain kolom. 2 di baris pertama dan 8. Ketentuan-ketentuan Dasar dalam Teori Permainan Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari contoh tabel matrik pay off (matrik permainan) di atas. dapat dijelaskan beberapa ketentuan dasar yang terpenting dalam teori permainan. diperlukan analisis dan pemilihan strategi pemasaran tepat. merupakan hasil yang diperoleh dari penggunaan berbagai strategi yang dipilih oleh kedua perusahaan. Nilai-nilai yang ada dalam tabel tersebut (yakni angka 1. yakni : 1. setiap unit usaha atau organisasi pada umumnya harus berhadapan dengan para pesaing. 4 di baris kedua).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bab 6 Teori Permainan (Dua pemain-Jumlah Nol) Teori permainan yang mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel ini. Prodi Manajemen Informatika . persentase pangsa pasar. Seperti diketahui. Untuk memenangkan persaingan itulah. 9. 5. khususnya strategi bersaing yang paling optimal bagi unit usaha atau organisasi yang bersangkutan. Satuan nilai tersebut merupakan efektifitas yang dapat berupa uang. secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tindakan sebuah unit bisnis (misalnya) untuk memenangkan persaingan dalam usaha yang digelutinya. begitu pula sebaliknya nilai negatif menunjukkan kerugian bagi pemain baris dan keuntungan bagi pemain kolom.

menghasilkan nilai negatif yang lebih kecil dari hasil penggunaan strategi lainnya. Maksudnya. nilai positif (keuntungan) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. setiap strategi yang dipergunakan berusaha untuk mendapatkan nilai permainan (sadle point) yang sama. yakni : a. 5. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan satu strategi/strategi tunggal untuk mendapatkan hasil optimal (sadle point yang sama). dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . b. perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi. 6. Agar sebuah permainan atau persaingan menjadi optimal. Untuk keperluan tersbut. Setiap pemain/perusahaan akan memilih strategi-strategi tersebut secara terus menerus selama perusahaan masih memiliki keinginan melanjutkan usahanya 4.Polmed 81 . Tujuan dari teori permainan ini adalah mengidentifikasi strategi yang paling optimal untuk setiap perusahaan. perhatikan dua contoh kasus berikut ini : Contoh kasus 1 ( Strtaegi Murni) Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama. Untuk memahami dengan lebih jelas mengenai penggunaan Teori permianan ini. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan campuran/lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil optimal. menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari hasil penggunaan strategi lainnya. Strategi Murni Penyelesaian masalah dengan strategi murni dilakukan dengan menggunakan konsep maximin untuk pemain/perusahaan baris dan konsep minimax untuk pemain/perusahaan kolom. biasanya menggunakan dua karakteristik strategi. Suatu strategi dikatakan dominan terhadap strategi lainnya apabila memiliki nilai pay off yang lebih baik dari strategi lainnya. 3. atau tidak ada pemain atau perusahaan yang menang/kalah atau mendapat keuntungan/kerugian. bagi pemain/perusahaan baris. Suatu permainan/persaingan dikatakan adil atau ‘fair’ apabila hasil akhir permainan atau persaingan menghasilkan nilai nol (0). Strategi Campuran Penyelesaian masalah dengan strategi campuran dilakukan apabila strategi murni yang digunakan belum mampu menyelesaikan masalah permainan atau belum mampu memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing-masing pemain/perusahaan. Suatu strategi dari sebuah pemain/perusahaan dianggap tidak dapat dirusak oleh perusahaan lainnya. nilai negatif (kerugaian) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Bagi pemain kolom.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. Penyelesaian masalah dalam Teori Permainan ini. selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada.

agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung. dan kolom tiga nilai terbesarnya 4). pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. keuntungan tersebut besar. bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. yakni nilai Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 4. yakni nilai 4 (rugi yang paling kecil). pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 8. (perusahaan B). Jawab : Seperti telah dijelaskan di atas. kolom dua nilai terbesarnya 9. 82 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari kasus di atas. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 1 dan baris dua nilai terkecilnya 4). Langkah 1 Untuk pemain baris (perusahaan A). Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut.Polmed . bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. pilih nilai yang paling baik atau besar. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). 1 8 9 5 2 4 à 1 à 4 Perusahaan A Langkah 2 Untuk pemain kolom.

dan hasil yang diperoleh tampak pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 1 8 8 9 5 9 2 4 4 à 1 à 4 Perusahaan A Minimax à Langkah 3 Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama. maka perusahaan A. yakni masingmasing memilih nilai . meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin.Polmed 83 . atau tidak dapat selesainya persaingan atau permainan yang ada. dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar. dan karena adanya perkembangan yang terjadi di pasar. namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4. bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2). 4 Contoh kasus 2 ( Strtaegi Campuran) Dari kasus di atas. sekarang menambah satu lagi strategi bersainganya dengan juga mengeluarkan produk berharga sedang. dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3). namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4. Penggunaan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi A dan meningkatnya kerugian bagi B. yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal à sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. Hasil optimal di atas. Sedangkan pemain B.

Polmed 84 . Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. agar masing-masing mendapatkan hasil yang yang optimal (kalau untung. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 Dari perkembangan kasus di atas. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 à 2 à -1 à 1 Prodi Manajemen Informatika . Jawab : Langkah 1 Mula-mula akan dicoba dulu dengan menggunakan strategi murni. pilih nilai yang paling baik atau besar. bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. Seperti telah dijelaskan di atas. keuntungan tersebut besar. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 2 . yakni nilai 2. Untuk pemain baris. untuk baris kedua nilai terkecilnya -1 dan baris tiga nilai terkecilnya 1).

Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 6 5 2 1 5 7 4 9 9 à 2 à -1 à 1 Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Minimax à Langkah 3 Dari tabel di atas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. diperoleh tabel sebagiai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 85 . dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal à karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. yakni nilai 5 (rugi yang paling kecil). strategi S2 adalah paling buruk. kolom dua nilai terbesarnya 5. yang langkahnya adalah sebegai berikut : Langkah 4 Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan atau kerugian paling buruk. Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran. strategi S3 adalah paling buruk karena kerugiannya yang bisa terjadi paling besar (perhatikan nilai-nilai kerugian di strategi S3 pemain/perusahaan B) Langkah 5 Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang stretgi S3. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 6. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. karena bisa menimbulkan kemungkinan kerugian bagi A (ada nilai negatif / -1 nya). dan kolom tiga nilai terbesarnya 9). untuk pemain A. dimana pemain atau perusahaan A memilih nilai 2 dan perusahaan B memilih nilai 5. Bila diperhatikan pada tabel sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Untuk pemain kolom. Dan bagi pemain B.

bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p. Untuk perusahaan A. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) (q) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A (1-q) 2 6 5 1 (p) Strategi Harga Mahal (S3) (1-p) Langkah 7 Selanjutnya mencari nilai besaran probabilitas setiap strategi yang akan digunakan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada serta nilai probalitas masing-masing strategi untuk menghitung sadle point yang optimal. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S2 adalah (1-q). maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S3 adalah (1-p). Langkah 6 Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemugkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. maka sekarang persaingan atau permainan dilakukan dengan kondisi. Begitu pula dengan pemain B. bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar q.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) 2 6 5 1 Perusahaan A Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. perusahaan A menggunakan strategi S1 dan S3. sementara perusahaan B menggunakan strategi S1 dan S2. dengan cara sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 86 .

bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini keuntungan perusahaan A hanya sebesar 2. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.5 Perhatikan.625) = 0. apapun strategi yang digunakan A. perusahaan A meresponnya dengan strategi S1. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. apapun strategi yang digunakan B. berarti dengan digunakan strategi campuran ini.375) = 3.5 Dengan persamaan ke-2 = 5p + 1(1-p) = 5 (0. Coba diingat di atas. maka : 2p + 6(1-p) = 2p + 6 – 6p = 6 – 4p Bila.375) = 3. maka keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2p + 6(1-p) = 2 (0.625) + 6 (0. apapun strategi yang digunakan A. maka : 6q + 1(1-q) = 6q + 1 – 1q = 1 + 5p Prodi Manajemen Informatika .625.5. bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama. apapun strategi yang digunakan B. perusahaan A meresponnya dengan strategi S3. perusahaan B meresponnya dengan strategi S2.625 Dan apabila nilai p = 0.375. maka : 5p + 1(1-p) = 5p + 1 – 1p = 1 + 4p Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. maka : 6 – 4p = 1 + 4p 5 = 8p P = 5/8 = 0.625) + 1 (0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk perusahaan A Bila. perusahaan B meresponnya dengan strategi S1. yakni sebesar 3. keuntungan perusahaan A bisa meningkat 1.Polmed 87 . maka : 2q + 5(1-q) = 2q + 5 – 5q = 5 – 3p Bila. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0.5 menjadi 3. Bagaimana dengan perusahaan B ? Untuk perusahaan B Bila.5.

Perusahaan A keuntungan yang diharapkan naik menjadi 3. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S2 milik perusahaan B sudah diketahui nilainya. à Sudah optimal. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini kerugian minimal perusahaan B adalah sebesar 5.5.5) = 3. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas. berarti dengan digunakan strategi campuran ini. Kesimpulan : Kerena penggunaan strategi murni belum mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. maka kerugian minimal yang diharapkan oleh perusahaan B adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2q + 5(1-q) = 2 (0.5) + 1 (0.5 menjadi 3.5. Coba diingat di atas. Penggunaan strategi campuran ini terbukti disamping mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5 Perhatikan.5.5) + 5 (0. bahwa keduanya menghasilkan kerugian minimal yang diharapkan adalah sama.5.5) = 0.5 dan kerugian minimal yang diterima perusahaan B juga dapat turun hanya sebesar 3.5 Dengan persamaan ke-2 = 6q + 1(1-q) = 6 (0. yakni sebesar 3.Polmed 88 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. maka : 5 – 3q = 1 + 5q 4 = 8q q = 4/8 = 0. mana penyelesaian masalah permainan/persaingan di atas dilanjutkan dengan digunakannya strategi campuran. Prodi Manajemen Informatika .5.5) = 3.5 Dan apabila nilai p = 0. strategi campuran ini juga mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi masing-masing perusahaan. kerugian minimal perusahaan B bisa menurun sebesar 1. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0.

Distribusi produk dilakukan melalui transportasi darat. ………. Namun demikian. telah ditentukan volume pengiriman sebesar 100 ton setiap pengirimannya. Persamaan di atas digunakan untuk perhitungan dari depan ke belakang (forwardinduction) maupun dari belakang ke depan (backward-induction). Sebuah perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 700 ton per bulan.Polmed 89 . perhatikan contoh berikut ini. memiliki formulasi standar untuk memecahkan masalah. ada kesamaan dari setiap penyelesaian masalah dalam pemrograman dinamis ini. artinya setiap masalah dalam pemrograman dinamis memerlukan pola pendekatan atau penyelesaian yang berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena itu perlu berlatih soal sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak bentuk penyelesaian kasus yang berbeda-beda. Pasar yang dituju adalah pasar A. Bentuk fungsi umum dari pemrograman dinamis ini adalah : Fn (X) = max { r n (X n ) + f n -1 (X – X n ) } dimana n = 2. dan C.. Hasil dari sebuah tahap akan berdampak atau menjadi masukan bagi tahap berikutnya. return dari setiap pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . B. dan untuk menghemat biaya pengiriman. dimana setiap keputusan optimal yang diambil diperoleh dari banyak tahap (multistage). 3. Apabila dalam riset operasional yang lain. Dari pengalaman yang ada. maka dalam pemrograman dinamis ini tidak ada formulasi yang standar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 7 PEMROGRAMAN DINAMIS Pemrograman dinamis ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan benama Richard Bellman pada tahun 1957. Untuk memperjelas masalah pemrograman dinamis ini.

4 Bagaiman distribusi produk harus dilakukan oleh perusahaan agar diperoleh hasil atau return yang paling optimal ? Jawab : Masalah di atas dapat diselesaikan dengan pemrograman dinamis.6 4.4 Selanjutnya.5  f1(3) = r1(3) = 2.6 1. dimasukkan dalam tabel hasil sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .6 4 4. adalah sebagai berikut : Jika tidak ada pengiriman Jika ada 1 pengiriman Jika ada 2 pengiriman Jika ada 3 pengiriman Jika ada 4 pengiriman Jika ada 5 pengiriman Jika ada 6 pengiriman Jika ada 7 pengiriman  f1(0) = r1 = 0  f1(1) = f1(1) = 0.8 3.Polmed 90 .0  f1(7) = r1(7) = 4.3  f1(4) = r1(4) = 3.8 3.3 3 3.4 Return dari kota B (Rp) 0 0. maka return atau penghasilan yang diperoleh mulai dari tidak ada pengiriman hingga 7 kiriman (setiap pengiriman berisi 100 ton). dan nilai f2(X) ini akan menentukan nilai f3(X).6  f1(6) = r1(6) = 4.2 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pengiriman Produk ke 0 1 2 3 4 5 6 7 Return dari kota A (Rp) 0 0.0  f1(5) = r1(5) = 3.9 2. berarti nilai f1(X) akan menentukan nilai f2(X).6 4 4. hasil tersebut di atas. B dan diakhiri dengan perhitungan return di pasar C.5 2.8 1.7 5. dimana perhitungan akan dimulai dari pasar A. Dengan persamaan dasar di atas.8  (lihat tabel sebelumnya)  f1(2) = r1(2) = 1.2 2 2.3 Return dari kota C (Rp) 0 0.6 1. Tahap Pertama Apabila semua produk hanya dipasarkan di kota A.

3 3. nilai f2(X) dapat dicari dengan persamaan umum sebagiberikut : Apabila X = 0.8 1. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota A.6 + 0 = 0. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota A atau ke kota B. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota A. jika hanya ada 1 pengiriman.8 = 0.8 Dari hasil persamaan di atas.0 3.8).6. Dengan pilihan hasil tersebut. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 X1 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) 0 0. Apabila X = 2.8 sedangkan jika ke kota B.Polmed 91 . maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (1 – X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f2(1) adalah : r2(0) + f1(1) = 0 f2(1) = max { r2(1) + f1(0) = 0. karena hasilnya lebih besar (0. maka return f2(X) adalah juga 0.6 + 0. tentu tidak dapat dikirim ke kota B.0 4. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (2– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f2(2) adalah : Prodi Manajemen Informatika .4 Pasar B X2 F2(X) Pasar C X3 F3(X) Tahap Kedua Apabila diperhitungkan pengiriman ke kota A dan kota B Atas dasar hasil f1(X) di atas.8 }  0.5 2.6 4. begitu pula sebaliknya. hasilnya adalah 0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Produk (X). Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0.

6 = 1.0 4.5 2. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (3– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f2(3) adalah : r2(0) + f1(3) f2(3) = max { f2(1) + f1(2) r2(2) + f1(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0. 5 pengiriman.2 + 0 = 1. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(2).Polmed 92 .5 f2(2) = max { f2(1) + f1(1) = 0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi r2(0) + f1(2) = 0 + 1. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).5 r2(2) + f1(0) = 1. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0. Dengan cara yang sama.8 = 1.5. jika hanya ada 3 kali pengiriman.3 3.6 + 0.3 = 2. hingga 7 pengiriman.8 1.0 3. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0.8 1. Apabila X = 3. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2.0 = 2.2 = 2.6 4.0 Dari perhitungan di atas. Dari tiga alternatif itu.8 +0 = 2. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.5 = 1. Produk (X). Dari tiga alternatif itu.2 Dari perhitungan di atas.1 }  2.0 3. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1.5 2.3 = 2.6 4.3 + 1. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.5 + 0. jika hanya ada 2 kali pengiriman. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.3 3. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.4 }  1.4 5. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).0 + 2.1 Pasar C X3 F3(X) X1 0 1 2 3 4 5 6 7 X2 0 0 0 0 0 0 5 4 Prodi Manajemen Informatika . dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(3).3.

8 = 1. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota B atau ke kota C.8 }  0. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (2– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f3(2) adalah : r3(0) + f2(2) = 0 + 1.5. Apabila X = 2.5 f3(2) = max { f3(1) + f2(1) = 0. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.6 + 0.8 sedangkan jika ke kota C.6. karena hasilnya lebih besar (0. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota B. jika hanya ada 2 kali pengiriman.2 Dari perhitungan di atas. Dengan pilihan hasil tersebut. maka Prodi Manajemen Informatika .Polmed 93 . hasilnya adalah 0. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). begitu pula sebaliknya.8 Dari hasil persamaan di atas.8 = 0.6 + 0 = 0. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (1 – X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f3(1) adalah : r3(0) + f2(1) = 0 f3(1) = max { r3(1) + f2(0) = 0. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota B.5 = 1. jika hanya ada 1 pengiriman. tentu tidak dapat dikirim ke kota C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tahap Ketiga Setelah tahap kedua selesai.6 + 0. Apabila X = 3.2 + 0 = 1. maka selanjutnya dilakukan perhitungan tahap ketiga untuk Pasar B dan C Apabila X = 0.8). yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f2(2).5 r3(2) + f2(0) = 1. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. Dari tiga alternatif itu. maka return f2(X) adalah juga 0.4 }  1. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1.

maka distribusi pengiriman yang paling baik adalah bila 6 pengiriman ditujukan ke kota C (karena hasilnya paling tinggi.2 = 1.3 3. Produk (X).0 4.0 3.1 }  2.3.6 4. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (3– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f3(3) adalah : r3(0) + f2(3) f3(3) = max { f3(1) + f2(2) r3(2) + f2(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman.5 X1 0 1* 2 3 4 5 6 7 X2 0 0* 0 0 0 0 5 4 X3 0 0 0 0 0 0 6 6* Setelah tabel di atas lengkap. hasil optimal yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp 5.3. karena dari perhitungan sebelumnya dinyatakan bahwa kalau hanya ada 1 pengiriman.8). 5 pengiriman. yang paling baik kalau ditujukan pada pasar A.3 + 1.3 = 2.5 2. dan ini adalah hasil tertinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif distribusi pengiriman yang lainnya.8 = Rp 6.8 1. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0. jika hanya ada 3 kali pengiriman. Prodi Manajemen Informatika .5 + 0.0 = 1.6 = 1.8 +0 = 2. dapat disimpulkan bahwa apabila kapasitas produksi perusahaan dimaksimalkan sehingga dapat berproduksi sebanyak 700 ton dan akan dikirimkan dalam 7 kali pengiriman. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).3 = 2.5 2. 5.5 + 0.3 3.7 5. Dari tiga alternatif itu.5 ) dan sisanya ke kota A (0.1 Pasar C F3(X) Rp 0 0. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.4 5. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f3(3). Dengan distribusi pengiriman tersebut. Dengan cara yang sama.0 3.8 1.0 3. maka agar hasilnya optimal.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0. hingga 7 pengiriman. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.Polmed 94 .3 3.8 1.6 4.9 Dari perhitungan di atas.6 4.9 + 2.5 2. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.

Allen dan Hamilton yang dibuat untuk keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. adalah waktu paling lambat untuk menyelesaikan sebuah aktivitas Prodi Manajemen Informatika . Jalur kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya paling besar/panjang 4. adalah waktu peling cepat untuk selesainya sebuah aktivitas 7. ada juga metode CPM (Critical Path Method) yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah jaringan ini. Earliest Start Time (ES). adalah waktu paling cepat untuk memuali sebuah aktivitas 5. Perbedaan utamanya adalah. Aktivitas. Serangkaian pekerjaan membangun jembatan b. Tanpa bermaksud meniru. Serangkaian pekerjaan membangun gedung c. biaya). Waktu penyelesaian dari serangkaian pekerjaan tersebut b. adalah waktu paling lambat untuk memulai sebuah aktivitas 6. dengan mempercepat salah satu atau beberapa kegiatan dalam rangkaian pekerjaan tersebut. Serangkaian pekerjaan mengganti mesin yang rusak e.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 8 ANALISIS JARINGAN Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. Lates Start Time (LS). Masalahmasalah yang dimaksud antara lain adalah : a. adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu. dan disimbolkan dengan sebuah lingkaran 1 2 3. adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas. Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz. Serangkaian pekerjaan produksi d. Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut c. Latest Finish Time.Polmed 95 . Kejadian. Metode yang biasanya digunakan sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Tachnique. Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah : a. Dll. CPM lebih menekankan pada efisiensi biaya pelaksana serangkaian pekerjaan. tenaga. Beberapa istilah dalan analisis jaringan antara lain adalah : 1. Earliest Finish Time (EF). Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah 2.

semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat) harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu 2. tidak dapat dihindari. Dua buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah 5. seringkali suatu kasus jaringan dihadapkan pada kondisi dimana poin 4 dan 5 di atas. Sebelum suatu aktivitas dimulai. Untuk menunjukkan urutan kejadian atau aktivitas yang sebenarnya Prodi Manajemen Informatika . Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di kejadian awal (permulaan anak panah) 4. sehingga dapat menggambarkan urutan kejadian.Polmed 96 . Untuk memenuhi ketentuan. yang merupakan simbol dari kejadian. sehingga tidak memerluakan pengorbanan sumber daya. Lingkaran. sehingga untuk mengatasinya harus dibuatkan atau dibantu dengan sebuah aktivitas dummy. diberi nomor sedemikian rupa sehingga tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan. Untuk menghindari terjadinya kondisi dimana dua kejian dihubungkan oleh lebih dari satu anak panah 1 2 Dengan aktivitas dummy akan menjadi : 2 1 3 4 b. Jadi manfaat dari aktivitas Dummy adalah : a. Anak panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan uruturutan kejadian. Aktivitas dummy adalah aktivitas yang sebenarnya tidak ada. dimana serangkaian kejadian hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan satu kejadian (lingkaran) c.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Beberapa Hal yang penting dalam analisis jaringan adalah : 1. Sebuah rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian (lingkaran) Namun demikian. jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun 3.

Polmed 97 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk memahami masalah jaringan ini. perhatikan contoh berikut ini. yang sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin produksinya. Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan Mesin Baru Menyiapkan mesin Pesan Material rangka mesin Membuat rangka Finishing rangka Memasng mesin pada rangka Kegiatan Yang mendahului a b a d e c. dari setiap kejadian (lingkaran). Sebuah perusahaan.2 a. 3 b.5 1 2 d.4 6 7 4 e.1 g. berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut ? Pada bagian mana saja waktu menganggur terjadi ? Jawab : A. Jika diselesaikan dengan algoritma EF dan LF Langkah pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut.8 f.3 5 Langkah kedua adalah mencari nilai Earliest Finish Time (EF)  dari depan ke belakang. serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian mesin yang rusak tersebut adalah seperti terlihat pada tabel berikut ini. f Waktu yang dibuthkan 10 2 8 4 3 1 5 Dari masalah perusahaan di atas.10 c. dan nilai Latest Finish Time (LF)  dari belakang ke depan. sesuai dengan urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel. berencana mengganti mesin yang rusak tersebut. Setelah dialakukan identifikasi. dengan hasil seperti gambar berikut : Prodi Manajemen Informatika .

Karena itu pekerjaan g baru dapat dimulai setelah hari ke-20. 6. 2. Jika diselesaikan dengan metode matriks Secara garis besar.1 EF = 20 LF = 20 g.10 3 c. dan 6) sudah selesai pada hari ke 18. maka nilai-nilai EF dicari dari depan ke belakang. Ke EF 0 10 12 14 17 20 25 LF Dari 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 10 2 4 8 3 1 5 2 10 3 12 4 16 5 19 6 20 7 25 3 4 5 6 7 Sebagaimana dalam metode algoritma. atau jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama 2. makan penyelesaiannya dapat menggunakan matrik berikut ini.8 f. 4.4 6 7 EF = 25 LF = 25 4 EF = 14 LF = 16 e. Jalur kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1. 3.3 5 EF = 17 LF = 19 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. 5. Prodi Manajemen Informatika . diperoleh hasil seperti dalam tabel di atas. Dengan jalur kritis tersebut. apabila masalah jaringan di atasb dikerjakan dengan menggunakan metode matrik.Polmed 98 . Untuk kejadian 6. dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20.2 a. dan 7. meskipun jalur bawah (1. Dengan cara ini. rangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut baru akan selesai pada hari ke-25 3. sedangkan nilai-nilai LF dicari dari belakang ke depan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi EF = 12 LF = 12 b. 2. B. namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu pekerjaan c selesai lebih dahulu. paling cepat.5 1 EF = 0 LF = 0 2 EF = 10 LF = 10 d.

dengan jalur kritisnya 1. semester berikutnya. lebiuh cepat dari 25 hari. Prodi Manajemen Informatika . 2. dan 7. Bila ini tidak dilakukan. karena memiliki nilai EF dan LF yang sama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian pekerjaan akan selesai pada hari ke-25. maka yang harus dilakukan adalah dengan mempercepat waktu kegiatan yang ada dalam jalur kritis. akan dibahas dengan metode CPM yang akan diberikan pada mata kuliah Manajemen Operasional. 6. 3.Polmed 99 . Untuk dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan penggantian mesin itu. atau akan tetap membutuhkan 25 hari. maka percepatan pada jalur lain tidak akan berpengaruh (sia-sia) pada waktu penyelesaian. Namun demikian. percepatan pekerjaan pada jalur kritis akan membawa konsekuensi pada munculnya biaya percepatan pekerjaan. Untuk mendapatkan gambaran mengenai percepatan pekerjaan ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->