Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

BAB I LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
PENDAHULUAN Materi kuliah Teknik Riset Operasi (TRO) yang akan dipelajari antara lain : 1. Linear programming, dengan penyelesaian Grafik, Simplex, dan Konsep Dualitas 2. Masalah Transportasi 3. Masalah Penugasan 4. Game Theory 5. Pemrograman Dinamis 6. Analisis Jaringan Pengertian Riset Operasi (Operations Research, OR) Riset Operasi adalah sekumpulan Teknik / Alat analisis yang dapat digunakan untuk mengelola sumber daya yang terbatas guna mendapatkan hasil yang optimal. Pengertian optimal diatas mengandung pengertian nilai maximum dan minimum, maksudnya OR dapat digunakan untuk memaksimalkan sesuatu yang diinginkan (seperti hasil produksi, penjualan, keuntungan, ddl), dan dapat juga digunakan untuk meminimumkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan (seperti kecelakaan kerja, kerugian, produk cacat, dll.) Latar • • • Belakang Munculnya OR : Makin kompleksnya masalah perusahaan Makin dinamisnya lingkungan perusahaan Di sisi lain, perusahaan menghadapi banyak kendala dan keterbatasan sumber daya.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

1

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

PENYELESAIAN MASALAH LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menggambarkan fungsi tujuan dan fungsi kendala pada bidang koordinat X-Y dan mampu menentukan solusi optimal dari suatu masalah linear programming yang diberikan.

Asumsi dasar dalam Linier Programing ; 1. Proportionality, dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya, contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+ CnXn Penambahan 1 unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya 2. Additivity, dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lainnya. 3. Divisibility, dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan 4. Deterministic, dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang tepat. Tabel standar Linier Programming Pemakaian Sumber daya Per unit kegiatan Kegiatan Sumber Daya A B C D E Kontribusi terhadap Tujuan Tingkat Kegiatan 1 a11 a21 a31 … am1 C1 X1 C2 X2 C3 X3 2 a12 a22 a32 3 … … … 4 a1n a2n a3n …. amn Cn Xn Kapasitas Sumber Daya b1 b2 b3 … bm

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

2

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah umum dari metode grafik ini adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seperti berikut ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Langkah 4 : Menentukan titik optimal dari daerah yang feasible dan menjadikannya keputusan

Contoh Kasus Perusahaan sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek X1 dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek X2 dengan sol terbuat dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya. Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit, sedangkan mesin C membuat bagian atas sepat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8 jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam. Setiap lusin sepatu merk X1 mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk sepatu dengan merk X2, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5 jam. Pihak perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu merk X1 dapat memberikan kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin sepatu merk X2. Masalahnya adalah : Dalam berapa lusinkah sepatu merk X1 dan X2 harus diproduksi oleh perusahaan IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal, dalam hal ini keuntungan yang maksimal ? Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah \langkahnya adalah sebagai berikut :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

3

yang ditentukan oleh banyaknya sumber yang akan dialokasikan ke setiap jenis kegiatan/produk • Jumlah kolom ditentukan oleh banyaknya/macam kegiatan produk yang akan dilakukan Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Untuk merubah ke dalam model matematis. Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. dimana X1 dan X2 0 Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Prodi Manajemen Informatika .Polmed 4 .000. simbol yang dipergunakan adalah : X1 X2 Z = untuk produk sepatu dengan sol karet = untuk produk sepatu dengan sol kulit = fungsi tujuan. bentuk model persamaan matematisnya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seeperti berikut ini.) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Perhatikan model tabel di atas : • Jumlah baris menunjukkan batasan-batasan .. kontribusi keuntungan yang akan diperoleh dari memproduksi sepatu X1 dan X2 Dari kasus di atas.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 1 / Mesin A X2

2X1

8 adalah

2X1

8

X1 0 4

Gambar grafik dari batasan 2 / Mesin B

3X2

15

X2

5

3X2

15

`

X1 0
Prodi Manajemen Informatika - Polmed

5

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 3 / Mesin C

6X1 + 5X2

30

X2

6

6X1 + 5X2

30

X1 0

Selanjutnya untuk apabila grafik dari ketiga batasan tersebut disatukan, maka daerah yang feasibel dapat diperoleh, seperti gambar berikut ini :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

6

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

X2 2X1 5 C D 3X2 15 8

Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30

Langkah 4 : Mencari suatu titik ( yang merupakan kombinasi X1 dan X2 ) di daerah feasible, yang dapat memaksimalkan keuntungan / nilai dari fungsi tujuannya ( Z ). Untuk mendapatkan titik tersebut, dapat dilakukan 2 macam cara yakni : 1. Dengan membandingkan nilai Z dari tiap-tiap alternatif Pada prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut. Pada titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0 Pada titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0 Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

7

750. 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5 Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3. 5 Pada titik D ( 0. ….apabila mampu memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan sol kulit sebanyak 5 lusin. sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6.) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui … Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3.Polmed 8 . C. Dengan menggambarkan dan menggeser fungsi tujuan ( Z ) Misalkan dengan mencoba menggambar fungsi tujuan dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2 seperti terlihat pada garis p pada gambar berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . 6/5 ) Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18 Pada titik C ( ……. 5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25 Kesimpulan : Dari kelima titik 9 A. sehingga koordinat titik B adalah ( 4. maka untuk mendapatkan nilai X1. yakni : 6 ( 4 ) + 5X2 = 30 5X2 X2 = 30 – 24 = 6/5..000. D.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pada titik B ( 4. maka untuk mendapatkan nilai X2. 5 ) Nilai Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27. nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3. nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3. yakni 6X1 + 5 ( 5 ) = 30 6X1 X1 = 30 – 25 = 5/6. 2.. B. Oleh karena itu perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2. dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah yang memberikan hasil paling besar yakni 27.5.

dll. pemborosan. Dengan demikian titik inilah yang paling optimal. kecelakaan kerja. maka dari contoh kasus yang sama. dengan Nilai Z = 27. sehingga garis tersebut perlu digeser ke atas lagi sampai hanya menyinggung satu titik saja. Apabila kasus ini terjadi. ).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 p’ 5 C D 3X2 15 8 p Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30 Ternyaka dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2. Prodi Manajemen Informatika . Beberapa hal lain dalam Metode grafik A. Dan bila menggunakan cara pergeseran garis Z atau p.5 = 3X1 + 5X2. masih ada lebih dari sati titik yang feasibel. Masalah Minimisasi Yang dimaksud minimisasi di sisni adalah fungsi tujuan menggambarkan keingginan perusahaan untuk meinimalkan sesuatu ( misalnya biaya. maka penggeseran dilakukan ke kiri. pilihan jatuh pada titik yang memberikan hasil yang terendah. Dan apabila itu dilakukan ternyata titik yang tersinggung oleh garis p’ tersebut adalah titik C.Polmed 9 .

dan C saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi B. maka gambar 2. maka gambar 2.Polmed 10 . Fungsi batasan bertanda sama dengan ( = ) Apabila hal ini terjadi.4 akan menjadi : X2 2X1 5 D Daerah feasible C 8 ) 3X2 15 B 6X1 + 5X2 30 X1 0 A 4 Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Fungsi batasan bertanda lebih besar sama dengan ( Apabila hal ini terjadi. titik yang dibandingkan cukup titik A. B. C.4 akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika .

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 8 B 3X2 15 A 6X1 + 5X2 30 X1 0 4 Dengan demikian daerah feasibelnya akan berada di sepanjang garis antara titik A dan B. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 11 .

Dengan menggunakan contoh terdahulu : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 .Polmed 12 . dalam metode simplex ini juga akan dikenal masalah miximalisasi dan minimalisasi 2. dimana fungsi tujuan bertanda sama dengan (=) dan fungsi batasan bertanda lebih kecil sama dengan ( ). maka kasusnya tidak normal/wajar sehingga memerlukan penyelesaian yang berbeda. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis (fungsi tujuan dan fungsi batasan) Langkah 3 : Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Langkah 4 : Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex Langkah 5 Menentukan Kolom kunci. dimana X1 dan X2 0 Sebelumnya perlu diingat. bahwa : 1. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. menentukan solusi dasar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB II LINEAR PROGRAMMING DENGAN SIMPLEX Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah LP dengan metode Simplex adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi. Prodi Manajemen Informatika . Apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Apabila kita jumpai kasus seperti di atas. mahasiswa diharapkan mampu membentuk tabel simplex awal. menentukan variabel dasar. maka kasus yang sedang dihadapi adalah kasus yang normal/wajar. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. dan menentukan solusi optimal dari masalah linear programming yang diberikan. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Sama dengan metode sebelumnya.

Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. maka tabel belum optimal dan perlu dilanjutkan ke proses selanjutnya.apabila diselesaikan dengan metode Simplex. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Dari kasus di atas. Langkah 3 Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Fungsi tujuan akan dirubah menjadi persamaan simplex dengan cara memindah semua nilai ya ng ada di sisi kanan persamaan ke sisi sebelah kiri persamaan. maka : Langkah 1 dan Langkah 2. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Jika masih ada yang negatif. Jadi rumusnya adalah : Baris kunci yang lama Baris kunci yang baru : -------------------------------Angka kunci Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Simbol dari variabel batasan tersebut biasanya melanjutkan simbol yang telah digunakan oleh kegiatan atau Prodi Manajemen Informatika . dalam kasus normal juga akan ditambahkan satu variabel tambahan (Slack variabel) untuk setiap fungsi batasan. sehingga akan menjadi : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 menjadi à Z – 3X1 – 5 X2 = 0 Sedangkan fungsi batasan akan menjadi persamaan simlex selain dengan cara merubahnya menjadi fungsi persamaan.Polmed 13 . Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. sama dengan metode Grafik sebelumnya. Langkah 9 Jika ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan (Z).

Sebagai contoh : karena dalam kasus yang ada simbol yang digunakan untuk produk adalah X1 dan X2. Langkah 4 Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Dari Fs. bahwa setiap fungsi batasan akan menjadi persamaan simplex dengan tanda (=) dan memiliki tambahan variabel (slack variabel) masing-masing. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. Batasan 1 Dari Fs. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Sedangkan fungsi batasan akan menjadi Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : =8 = 15 = 30 8 à 2X1 + X3 15 à + 3X2 + + X4 30 . Batasan 3 Langkah 5 Menentukan kolom kunci. maka selanjutnya variabel tambahannya akan menggunakan simbol X3 dan seterusnya. à 6X1 + 5X2 + X5 Perhatikan. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Langkah 6 Menentukan Baris kunci.Polmed 14 . Prodi Manajemen Informatika . Batasan 2 Dari Fs.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi produk yang sedang dibahas. X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Kolom X2 adalah merupakan kolom kunci karena memiliki nilai negatif terbesar di baris tujuannya (Z).

angka kuncinya adalah 3. Dari tabel di atas. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Untuk lebih jelasnya. sehingga tabel dapat dikatakan belum optimal dan perlu diproses lebih lanjut. Dari tabel di atas. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . Langkah 9 Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Baris X4 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil.Polmed 15 . perhatikan perhitungan berikut ini. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. Dengan rumus tersebut. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 0/-5 à 8/0 à 15/3 à 30/5 = tak terdefinisikan = divinition by zero = 5 à positif terkecil =6 Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. terlihat bahwa baris tujuan masih memiliki nilai negatif.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X1 Z X3 X2 X5 X2 X3 X4 X5 NK 0 1 0 1/3 0 5 Perhatikan bahwa baris X4 akan menjadi baris X2 (ex.Polmed 16 . maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). -3 -5 0 0 0 0 ( 0 1 0 1/3 0 5 )–5 ___________________________________________ -3 0 0 5/3 0 25 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : . dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Untuk lebih jelasnya. Kolom kunci) Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. perhitungan tidak perlu dilakukan. Untuk baris X5 6 5 0 0 1 30 ( 0 1 0 1/3 0 5 )5 ___________________________________________ 6 0 0 -5/3 1 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 6 0 0 -5/3 1 5 0 0 5/3 0 25 Prodi Manajemen Informatika .3 Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 0 1 0 1/3 0 5 )0 ___________________________________________ 2 0 1 0 0 8 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 2 0 1 0 0 8 Perhatikan. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama.

maka tabel simplex yang diperoleh belum optimal. Karena masih ada nilai negatif (-3) pada baris tujuannya.Polmed 17 . X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kolom X1 terpilih menjadi kolom kunci karena memiliki nilai negatif pada baris tujuannya. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. yakni menentukan kolom kunci pada tabel kedua simplex tersebut. Langkah 6 (iterasi ke-2) Menentukan Baris kunci. Sebelum bisa mendapatkan tabel simplex yang ketiga. sehingga perlu kembali lagi ke Langkah 5. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. maka langkah ke-6 dan 7 perlu dilakukan terlebih dahulu.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kembali ke Langkah 8. Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Baris Kunci Prodi Manajemen Informatika .

perhatikan perhitungan berikut ini. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Langkah 8 dan 9 (iterasi ke-2) Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Dari tabel di atas. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci.5/18 1/6 5/6 Perhatikan bahwa baris X5 akan menjadi baris X1 (ex.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris X5 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. angka kuncinya adalah 6. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Untuk lebih jelasnya. Dengan rumus tersebut.5 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : 0 0 0 5/6 1/2 27. hasilnya adalah : X1 Z X3 X2 X1 X2 X3 X4 X5 NK 1 0 0 . Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 25/-3 à 8/2 à 5/0 à 5/6 = negatif =4 = pembagian dengan 0 = 5/6 à positif paling kecil Langkah 7 (iterasi ke-2) Menentukan Angka kunci. Untuk lebih jelasnya.5 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 18 . -3 0 0 5/3 0 25 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )–3 ___________________________________________ 0 0 0 5/6 1/2 27. Kolom kunci) Langkah 10 (iterasi ke-2) Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya.

baris X1). maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. baris X2) 2. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). Untuk baris X2 0 1 0 1/3 0 5 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )0 ___________________________________________ 0 1 0 1/3 0 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 0 1 Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : 0 1/3 0 5 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK.750.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )2 ___________________________________________ 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Perhatikan. Dengan hasil pada poin 1 di atas. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama.5 atau 2. dengan kesimpulan. maka dapat dikatakan bahwa masalah LP ini telah optimal.5 6 1/3 5 5/6 Perhatikan ! Karena dalam tabel simlex ketiga di atas sudah tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuannya.000 (lihat kolom NK. perhitungan tidak perlu dilakukan.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. 1. baris Z) Prodi Manajemen Informatika .Polmed 19 .

dapat dsimpulkan bahwa untuk kasus di atas diperlukan iterasi sampai tahap ke-2 untuk mendapatkan tabel simplex yang memberikan hasil optimal. Tabel Simplex Ringkasan X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 -5 0 3 5 X2 0 0 1 0 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 = 5/6 =5 = 27.5 X4 0 0 1 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X4 5/6 5/9 1/3 .Polmed 20 .5 6 1/3 5 5/6 Tabel Simplex optimal Tabel Simplex iterasi 1 Tabel Simplex awal Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Laba optimal Prodi Manajemen Informatika . Secara umum perkembangan iterasi dari tabel-tabel simpelx tersebut dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Rangkuman proses penyelesaian masalah LP dengan metode Simplex Dari proses iterasi /penyelesaian di atas.5/18 X5 0 0 0 1 X5 0 0 0 1 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 0 8 15 30 NK 25 8 5 5 NK 27.

Prodi Manajemen Informatika . sehingga : Dari Minimalkan Z Maksimalkan (-Z) = 3X1 + 5X2 = -3X1 – 5X2 à menjadi Untuk fungsi batasan : • Jika sebelumnya fungsi batasan sudah bertanda (=).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penyimpangan Bentuk Standar Simplex Penyimpangan bentuk standar dapat terjadi karena beberapa sebab. maka perlu dibuatkan juga artificial variabel.Polmed 21 . perlu dibuatkan sebuah variabel yang disebut dengan variabel buatan (artificial variabel) • Jika sebelumnya fungsi batasan bertanda ( ). Penyelesaian : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Untuk fungsi tujuan à agar menjadi Maximalisasi. Langkah penyelesaian untuk kasus penyimpangan ini adalah : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Setelah normal. Fungsi tujuan (Z) bukan Maximalisasi. Namun apabila proses tersebut menyebabkan slack variabelnya bernilai negatif. misalkan X1 . Dan syarat X1 atau X2 tidak terpenuhi.10 (negatif) Dengan menggunakan kasus di atas. Fungsi batasan bertanda (=) atau ( ) 3. dapat dicontohkan sebagai berikut . tetapi Minimalisai 2. Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan : Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 =8 15 30 . Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian kasus simplex sebelumnya. antara lain karena : 1. à dikalikan dengan (-1). maka untuk menjadi persamaan simplex. maka perlu dijadikan dulu ( ) dengan cara dikalikan (-1).

sehingga sering disebut dengan The Big M. Untuk lebih jelasnya. dan hal ini berarti meniadakan variabel tersebut.30 0). perhatikan contoh berikut : Fungsi batasan 1 Karena batasan pertama à maka akan menjadi : Mesin A Mesin A 2X1 2X1 + X3 = 8. pembuatan variabel pada setiap fungsi batasan. dan ini akan mengakibatkan fungsi tujuannya memiliki tambahan nilai sebesar M.Polmed 22 . 3X2 15 à + 3X2 + + X4 = 15 Karena nilai X1 dan X2 negatif (tidak sesuai dengan syaratnya. sebelum nilai fungsi tujuan dipindah ke tabel simplex.6X1 . Dari Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 à menjadi Maksimalkan (-Z) = -3X1 – 5X2 à menjadi persamaan simplex Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 =0 Fungsi batasan 2 Karena batasan kedua ini tidak ada penyimpangan maka untuk menjadi persamaan simplex. dan hasilnya menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 + X6 = 30 Prodi Manajemen Informatika . sehingga menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 = 30 Permasalahan yang timbul kemudian adalah variabel slack-nya sekarang bernilai negatif. sehingga perlu dibuatkan sebuah artificial variabel. cukup ditambahkan slack variabel saja. Mesin B Fungsi batasan 3 Mesin C 6X1 + 5X2 .30 à persamaan simplexnya . namun artificial variabel (variabel buatan). dimana X1 dan X2 maka harus dikalikan dengan (-1).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi • Perlu diingat bahwa.5X2 . M yang muncul adalah bilangan yang sangat besar. =8 X3 bar yang muncul bukan slack variabel (variabel tambahan). akan mengakibatkan fungsi tujuannya bertambah sebesar M dari batasan yang bersangkutan.6X1 .5X2 30 . harus bernilai nol. bilangan M yang ada dalam fungsi tujuan tersebut harus dijadikan nol terlebih dahulu. +X5 = . à bila dinormalkan akan menjadi : . karena setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). Selanjutnya. namun tidak tak terhingga.

sehingga tabel simlex awalnya adalah sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . Untuk jelasnya perhatikan cara berikut : Nilai fungsi tujuan terakhir adalah : 3 5 M 0 0 M 0 Kita coba hilangkan M yang pertama terlebih dahulu. yakni dengan bertambahnya fungsi tujuan dengan bilangan M. yang sebelumnya dikalikan dengan setiap nilai batasan yang menyebabkan munculnya bilangan M tersebut. Tujuan -8M+3 -5M+5 0 0 M 0 -38M inilah yang selanjutnya akan dimasukkan ke tabel simplex. Nilai fs. sebelum dipindah ke tabel simplex. sehingga MX3 dan MX6 di atas harus di-nol-kan terlebih dahulu. harus bernilai nol. namun M tersebut sudah tidak lagi sebagai variabel dasar. Sehingga fungsi tujuannya akan berubah lagi menjadi : Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 + MX6 =0 Masalah berikutnya yang muncul adalah setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel).Polmed 23 . X1 X2 X3 X4 X5 X6 NK 3 5 M 0 0 M 0 (2 0 1 0 0 0 8) M _____________________________________ 3-2M 5 0 0 0 M -8M Selanjutnya kita hilangkan M yang kedua. Cara yang digunakan adalah dengan mengurangi bilangan M tersebut dengan bilangan M itu sendiri.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penambahan artificial tersebut akan berdampak pada fungsi tujuan. karena sebelumnya (X5) telah bernilai negatif (lhat pebahasan batasan ke3). 3-2M 5 0 0 0 M -8M (6 5 0 0 -1 1 30) M ______________________________________ 3-8M 5-5M 0 -8M+3 -5M+5 0 M 0 0 0 -38M. Atau M 0 -38M Meskipun masih ada M pada kolom ke-5.

dansetrusnya sampai optimal (tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuan. X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X3 4M3/2 1/2 0 -3 X3 M+3/2 1/2 9/5 -3/5 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X5 M 0 0 -1 X5 1 0 3/5 -1/5 X6 0 0 0 1 X6 0 0 0 1 X6 M+1 0 -3/5 1/5 NK -38M 8 15 30 NK -6M12 4 15 6 NK -18 4 5 7/5 6/5 -8M+3 -5M+5 2 0 6 X1 0 3 5 X2 -5M+5 0 3 5 X2 0 0 1 1 Z X1 X4 X6 0 1 0 0 X1 Z X1 X4 X2 0 1 0 0 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 24 . mencari baris kunci. Z. keculai kolom NK-nya) Berikut ini adalah ringkasan hasil penyelesaian kasus penyimpangan di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tabel Awal simplex. yakni mencari kolom kunci. untuk kasus penyimpangan : X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X6 0 0 0 1 NK -38M 8 15 30 -8M+3 -5M+5 2 0 6 0 3 5 Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian pada kasus normal.

diganti dengan X’1 – 10. baik tujuan maupun batasannya normal.18 Penyimpangan berikutnya adalah.maka produksi yang harus dilakukan adalah : Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Kerugian minimal =4 = 6/5 = . Prodi Manajemen Informatika . bagaimana jika semua fungsi.30 + 3X’1 + 5X2 Fungsi batasannya : Mesin A 2 (X’1 – 10 ) . tidak terpenuhi. sehingga menjadi : Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 3 (X’1 – 10) + 5X2 = . X1 -10 ? Apabila dijumpai kasus seperti ini maka nilai variabel X1 harus disesuaikan menjadi variabel baru dengan nama X’1 yang nilainya adalah : X’1 = X1 + 10.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kesimpulannya : Agar kerugiannya minimal. misalnya menjadi . sehingga X1 = X’1 – 10. Langkah penyelesaian berikutnya adalah sama dengan kasus yang normal. dan selanjutnya semua nilai X1 pada fungsi tujuan dan batasan.60 + 6X’1 + 5X2 6X’1 + 5X2 8 8 28 15 30 30 90 Setelah demikian.20 + 2’X1 2’X1 Mesin B Mesin C 3X2 6 (X’1 – 10) + 5X2 . tapi syarat bahwa X1 dan X2 0.Polmed 25 .

diganti oli-nya. karena tuntutan keadaan keuntungan yang diharapkan dari sepatu karet tidak lagi Rp 300.-/unit. maka bila sebelumnya hanya bisa menyala 15 jam. misalkan karena mesin kedua diperbaiki. mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah dual. Untuk memahami konsep dualitas.000. dan apabila dilakukan perhitungan lagi dari awal tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. misalkan dari contoh sebelumnya. b. masalah Primal (simpelx)-nya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 dimana X1 dan X2 8 15 30 . Dualitas lebih banyak bermanfaat untuk melakukan pengujian/pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen 2. Jika hal tersebut terjadi. dst. Kegunaan Dualitas dan Analisis Sensitivitas: 1. langkah pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya Dualitas adalah ‘kebalikan’ masalah Simplex. dan masalah Simplex sendiri selanjutnya sering disebut dengan masalah Primal. saat ini mampu menyala hingga 16 jam.Polmed 26 .. Sementara itu. Perubahan yang dimaksud misalnya : a. perubahan nilai koefisien dalam fungsi tujuan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB III DUALITAS DAN ANALISIS SENSITIVITAS Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini.tapi menjadi Rp 500. dan memahami penggunaan analisis sensitivitas. fungsi tujuan dan batasan akan berubah. disamping risiko kesalahan hitung yang mungkin muncul. Oleh karena itu analisis sensitivitas diperlukan untuk sesegera mungkin mendapatkan hasil optimal yang baru dari perubahan-perubahan tersebut.000. 0 Masih ingat khan. Jadi masalah Dual adalah ‘kebalikan’ dari masalah Primal (simplex) Dari contoh kasus di atas. mengartikan solusi masalah dual. menginterpretasikan secara ekonomi masalah dual. dan disetup ulang. bahwa kedua fungsi di atas berasal dari tabel penyederhanaan yg dibuat pada kasus berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . analisis ini lebih bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. perubahan pada kapasitas maksimal mesin. analisis sensitivitas selain digunakan untuk pengujian/pengecekan. membuat analisis sensitivitas.

Polmed 27 .) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Tabel penyederhanaan kasus Primal (simplex) di atas apabila dijadikan Dual akan menjadi : A X1 X2 2 0 8 B 0 3 15 C 6 5 30 3 5 Atau apabila notasi A. dan C serta X1 dan X2 diganti dengan notasi umum dalam Dual akan menjadi : Y1 Batasan 1 Batasan 2 2 0 8 Y2 0 3 15 Y3 6 5 30 3 5 Sehingga fungsi tujuan dan batasan Dual-nya dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan ketika dulu mendapatkan fungsi tujuan dan batasan pada Primal (simplex)-nya. B.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. Prodi Manajemen Informatika ..000.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian fungsi tujuan dan batasan Dual-nya (dan ini merupakan ‘kebalikan’ dari fs.d. Fungsi Tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 dimana X1 dan X2 Dimana Y1. Y2. Jumlah batasan (3) akan menjadi jumlah variabel dalam fungsi tujuan Dualnya (Y1 s. dan Y3 0 Selanjutnya apa kegunaan atau manfaat hubungan antara Primal dan Dual tersebut ? Seperti telah dijelaskan di bagian awal bab ini. 3.Polmed 28 . dan Y3 Perhatikan ! Dalam fungsi tujuan dan batasan Dual tersebut : 1. Y3) Bila disandingkan kedua masalah Primal dan Dual di atas. Tujuan dan batasan Primal-nya) adalah : Fungsi Tujuannya : Minimalkan Y Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 0 à tanda juga berubah = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 à perhatikan mjd Minimalisasi Dimana Y1. Sebaliknya nilai kanan batasan (3 dan 5) sebelumnya adalah nilai koefisien fungsi tujuan pada kasus Primal (simplex) 4. maka salah satu manfaat Dualitas adalah untuk melakukan pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode Prodi Manajemen Informatika . Nilai koefisien pada fungsi tujuan (8. 15. dan 30) sebelumnya adalah nilai kanan (NK) dari fungsi batasan Primal (simplex)-nya. akan terlihat : Fungsi tujuanPrimal : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : 8 15 30 . Nilai koefisien pada fungsi batasan Dual adalah ‘pembacaan’ vertikal dari nilai koefisien di batasan Primalnya 5. Y2. Fungsi tujuannya dari maksimalisasi menjadi minimalisasi 2.

5 tersebut di atas ternyata nilai yang bermanfaat tidak hanya itu.5 menjadi 27. perhatikan perhitungan berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Dengan hasil pada poin 1 di atas. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK.5. 5/6. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. dan 27. Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 0 atau tetap sebesar 27.5 + 0. Namun demikian.750. sebelumnya perlu kita perhatikan hasil optimal simplex dari kasus sebelumnya. X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Nilai 1/2 di bawah variabel dasar X5 menunjukkan bahwa apabila mesin C (batasan 3) kapasitasnya bertambah dari 30 jam menjadi 31 jam. X4. Perhatikan nilai-nilai dibawah variabel dasar X3.5 atau 2. baris Z) Selain nilai 5/6.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel optimal simplex di atas telah disimpulkan bahwa : 1. Ada beberapa nilai yang juga penting. 2.5 menjadi 27. Nilai 5/6 di bawah variabel dasar X4 menunjukkan bahwa apabila mesin B (batasan 2) kapasitasnya bertambah dari 15 jam menjadi 16 jam. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. baris X2) 2. baris X1). 5.5 = 28. dan X5 pada baris Z tersebut di atas. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27.000 (lihat kolom NK. Nilainya adalah 0. dan 1/2.Polmed 29 . mesin B dari 15 jam menjadi 16 jam).5 + 5/6 = 28. Nilai-nilai ini secara umum dapat diartikan sebagai besarnya tambahan keuntungan perusahaan apabila masing-masing kapasitas batasan bertambah sebesar 1 unit kapasitas ( misalnya mesin A dari 8 jam menjadi 9 jam.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 1/2 sehingga dari 27.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27.34 3. Nilai 0 (nol) di bawah variabel dasar X3 menunjukkan bahwa apabila mesin A (batasan 1) kapasitasnya bertambah dari 8 jam menjadi 9 jam. Dengan demikian dapat diartikan bahwa : 1.

18 X1 = 5/9. perhatikan perhitungan di bawah ini : Fungsi tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 = 8(0) + 15(5/6) + 30(1/2) = 27. nilai-nilai dibawah kolom variabel dasar (X3.. keuntungan akan bertambah 5/6. X4. dan 1/2 tersebut apabila dimasukkan ke dalam fungsi tujuan Dual-nya akan menghasilkan keuntungan yang sama ketika keuntungan tersebut diperoleh dari fungsi tujuan Primal-nya (hal ini sekaligus dapat digunakan untuk memastikan bahwa hasil optimal pada masalah Primal/Simplex-nya sudah benar). Untuk lebih jelasnya.Polmed 30 . bila dihubungkan dengan batasan ketiga 30 Bila batasan 2 dikalikan 5 dan batasan 3 dikalikan 3.5 à nilai ini sama dengan yang dihasilkan dari fungsi tujuan primal/simplex sebelumnya Prodi Manajemen Informatika . 5/6. hasilnya adalah : 3X2 6X1 + 5X2 16 (x5) 30 (x3) 15X2 80 18X1 + 15X2 90 ---------------------------.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Batasan 2 Kapasitasnya bertambah 1 jam sehingga menjadi : 3X2 6X1 + 5X2 16.34 – 27.34 Jadi keuntungan yang baru ini 28. dan X5) tersebut atau nilai 0. bila nilai X1 dan X2 ini dimasukkan ke fs tujuan : = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(16/3) = 28.5 = 0.84 atau dengan 5/6 dan ini terbukti bahwa apabila kapasitas mesin ke-2 (batasan 2) bertambah dari 15 menjadi 16. sementara itu nilai X2 nya adalah : 3X2 X2 Z 16 16/3. selain mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit.10 X1 = -10 / . Selanjutnya.18 X1 .

sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5 dan 3. Selanjutnya untuk memanfaatkan matrik tersebut. Perhatikan lagi tabel optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya : X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 .5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel di atas. dan X1. Langkah 2 Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. dan perhitungan adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. 3) = Prodi Manajemen Informatika . khususnya nilai-nilai yang berada di bawah variabel dasar. nilai-nilai yang dimaksud adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik.Polmed 31 . kecuali di baris tujuan (Z). Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya. 5. langkah-langkahnya adalah : Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. Sementara itu fungsi tujuan Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa urutan variabel yang dimaksud adalah X2. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Analisis Sensitivitas Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil optimal Primal/Simplexnya. analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal.

1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0.Polmed 32 . 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya. X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas. Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas Prodi Manajemen Informatika . 1/2 ) (0. 5/6.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi ( 0x1 + 5x0 + 3x0. 5/6. dan yang sebelumnya telah dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan Primal/simplex-nya. Dengan hasil di atas. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya. dan 30. nilai yang dimaksud adalah 8. Langkah 2 Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas. dan perhitungannya adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 15 30 = 1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 0x8 + 1/3x15 + 0x30 0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 = 6 1/3 5 à X2 5/6 à X1 Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel optimal Primal/simplex-nya. X4. dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ). 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3. 0x. Dari contoh kasus yang ada. 15.

keuntungan per unit X1 dan X2 tidak lagi 3 dan 5. Dan apabila dimasukkan ke Fungsi tujuan Dual untuk mendapatkan hasil adalah : Y = 8(0) + 15(8/9) + 30(2/3) = 33. Untuk lebih jelasnya. dan ½. 0x. maka keuntungan perusahaan yang baru adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. perhatikan perhitungan berikut ini : NK sebelumnya 8 15 30 à NK Setelah perubahan 8 16 30 Perhatikan ! Nilai kanan / kapasitas batasan 2 atau mesin B naik menjadi 16.34 à Keuntungan yang baru.34. Misalkan karena suatu sebab.5 menjadi 28. benarkah ? 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 1 30 = 1x8 + 5/9x16 + -1/3x30 0x8 + 1/3x16 + 0x30 0x8 + -5/18x16 + 1/6x30 = 6 8/9 5 1/3 à X2 5/9 à X1 Apabilai nilai X1 dan X2 tersebut dimasukkan ke fungsi tujuan Primal/simplex akan diperoleh keuntungan : Z = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(5 1/3) = 28.34 à Jadi terbukti memang keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 menjadi 28. 0x5/9 + 6x1/3 + 4x -5/18.Polmed 33 . tetapi 0. ) dapat pula dicari dengan bantuan matrik ini. Prodi Manajemen Informatika .5 menjadi 28. maka keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. tapi menjadi 4 dan 6. 4) = ( 0x1 + 6x0 + 4x0. 8/9.34.34 Begitu pula bila perubahan terjadi pada koefisien fungsi tujuan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi keuntungan akan naik sebesar 5/6 sehingga dari 27. 8/9 dan 2/3. 6. 2/3) Jadi tambahan keuntungan yang terjadi apabila kapasitas setiap mesin ditambah 1 unit tidak lagi 0. 5/6.

Dengan demikian manfaat utama dari mempelajari masalah transportasi ini adalah mengoptimalkan distribusi sumberdaya tersebut sehingga mendapatkan hasil atau biaya yang optimal. Dalam masalah transportasi. Penyelesaian akhir. kebutuhan atau aktivitas.Polmed 34 . Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut : Pabrik Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Total Kapsitas produksi tiap bulan 90 ton 60 ton 50 ton 200 ton Saat ini ada kebutuhan dari tiga kota besar yang harus dipenuhi. dengan besaran permintaan masing-masing kota : Prodi Manajemen Informatika . Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini. dimana metode yang dapat digunakan adalah : • Metode NWC (North West Corner) • Metode LC (Least Cost) • Metode VAM (Vogel Aproximation Method) • Metode RAM (Russel Aproximation Method) Tahap 2. yakni : Tahap 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB IV MASALAH TRANSPORTASI Masalah transportasi berkaitan dengan keterbatasan sumber daya atau kapasitas perusahaan yang harus didistribusikan ke berbagai tujuan. secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap. masalahnya belum dapat dioptimalka. dengan metode : • Stepping Stone • MODI (Modified Distribution) Metode MODI sebenarnya merupakan modifikasi dari metode Stepping Stone yang sudah ada sebelumnya. perhatikan contoh berikut ini. dengan penyelesaian awal. langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama (penyelesaian awal). Namun demikian.

Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal. guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ? 2. Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah : Dari pabrik 1 ke kota A = 20 Dari pabrik 1 ke kota B = 5 Dari pabrik 1 ke kota C = 8 Dari pabrik 2 ke kota A = 15 Dari pabrik 2 ke kota B = 20 Dari pabrik 2 ke kota C = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 25 Dari pabrik 3 ke kota A = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 19 Pertanyaannya adalah : 1. Apabila dijumpai kasus semacam ini.MODI Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kota A B C Total Kapsitas produksi tiap bulan 50 ton 110 ton 40 ton 200 ton Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing kota adalah sama. maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut : Alternatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Kombinasi metode yang dapat digunakan NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI LC – MODI VAM – MODI Russel . hasil optimal belum ditemukan. yakni sebesar 200 ton. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 35 . Berapakan total biaya optimal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ? Jawab : Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas dan apabila dikaitkan dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan. maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal.

Sebelum kapasitas Pabrik 1 habis. Kolom. Angka yang terdapat pada pojok kanan atas setiap sel menunjukkan biaya transportasi di sel tersebut. Dengan demikian hasil dari metode ini berturut-turut sebagai berikut : Langkah 1 Langkah 2 Prinsipnya. 5. sel C12 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 2 (kota B). sesuai namanya North West Corner penyelesaian selalu akan dimulai dari pojok kiri atas (north west) dari tabel transportasi. dst. masalah atau kasus di atas perlu disederhanakan terlebih dahulu dalam tabel transportasi. dst.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebelumnya. bahwa : 1.Polmed 36 . dst. Langkah 1 : Penuhi kebutuhan kota A (50) dengan kapasitas dari Pabrik 1 (90. umumnya mewakili sumber daya yang dimiliki perusahaan 4. sebelum kebutuhan kota A ‘beres’ jangan memenuhi kebutuhan kota B. Baris. umumnya mewakili daerah atau tempat tujuan distribusi 3. jangan gunakan kapasitas dari Pabrik 2. Selanjutnya tabel di atas akan disebut dengan tabel transportasi 2. sisa 40) Langkah 2 : Lanutkan dengan memenuhi kebutuhan kota B (110) dengan sisa kapasitas Pabrik 1 (yang sebelumnya/pada langkah 1 masih sisa 40) à masih kurang 70 Prodi Manajemen Informatika . Selanjutnya yang dimaksud dengan sel C11 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 1 (kota A). seperti terlihat di bawah ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Perhatikan. Alternaif 1 : Kombinasi NWC dan Stepping Stone Penggunaan metode NWC.

saat ini kebutuha semua kota dan kapasitas semua pabrik telah terpenuhi dan habis. perlu dicek kembali : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. à inipun masih kurang 10 Langkah 4 : Penuhi kekurangan kebutuhan kota B (kurang 10) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 3 sebanyak 10 à kapasitas Pabrik 3 tinggal 40 Langkah 5 Langkah 5 : Karena kebutuhan kota B sudah ‘beres’. karena sebelumnya hanya dipenuhi dengan sisa kapasitas Pabrik 1 sebesar 40. yang dimulai dari pojok kiri atas. Dengan menggunakan metode NWC.Polmed 37 . Sudah benarkah tabel yang dihasilkan sampai dengan langkah ke-5 ersebut ? à untuk memastikannya. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Dari tebel tersebut alokasi atau pendistribusian yang terjadi adalah : Pabrik 1 akan melayani/mengirim ke kota A sebanyak 50 ton dan kota B sebanyak 40 ton Pabrik 2 hanya akan melayani/mengirim ke kota B sebanyak 60 ton Pabrik 3 akan melayani/mengirim ke kota B sebanya 10 ton dan kota C sebanyak 40 ton Pertanyaan yang muncul adalah : 1. gunakan sisa kapasitas Pabrik 3 untuk memenuhi kebutuhan kota C yang kebetulan juga sebesar 40 à sama persis dengan kapasitas yang tersisa di Pabrik 3 Perhatikan tabel transportasi pada langkah ke-5 di atas. Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langah 3 Langkah 4 Langkah 3 : Lanjutkan memenuhi kebutuhan kota B (masik kurang 70) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 2 (60).

biaya bisa diturunkan lagi ? KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Atau KeDari Pabrik 1 15 10 50 110 Kota A 20 Kota B 5 Kota C (+) 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika . Dari pendistribusi produk perusahaan tersebut. apakah biaya transportasi yang dikeluarkan perusahaan sudah optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2.Polmed 38 . dalam arti sudah paling minimal ? Untuk mengetahuinya. Mungkinkah dengan menggeser alokasi.+ = 3260 Sudahkah biaya sebesar Rp 3260 tersebut optimal (paling kecil ?) Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengujian terhadap alokasi distribusi seperti pada langkah 5 sebelumnya. dicoba hitung masing-masing biaya pendistribusian tersebut yakni: Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Total biaya pengirimannya = 50 x 20 = 40 x 5 = 60 x 20 = 10 x 10 = 40 x 19 = 1000 = 200 = 1200 = 100 = 760 --------.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah Pengujian : Langkah 1 : Menguji sel-sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau tidak. Sel yang diuji adalah : Sel C13, C21, C23, dan C31. Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan menggunakan metode Stepping Stone. Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosog tersebut. Perhatikan tanda panah dan tanda (+)/(-) nya !!! Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Untuk pengujian sel C13 = biayanya 8, bergerak ke sel C33 (bisa juga ke C12, tapi tidak bisa ke C11), sehingga dikurangi 19, bergerak lagi ke C32, sehingga ditambah 10, bergerak langsung ke C12, sehingga dikurangi 5 (tidak perlu ke C22, karena bisa langsung ke C12), sehingga hasil akhirnya adalah 8 – 19 + 10 – 5 = - 6 KeDari Pabrik 1 Pabrik 2
25

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

50
15

40
20 10

60
10 19

60 40 40 50 200

Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 50

10 110

= 8 – 19 + 10 – 5 = 15 – 20 + 5 -20 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 20 + 5 – 10

=-6 = -20 = -19 =0

Dari pengujian empat sel tersebut dapat dilihat bahwa masih ada tiga sel yang menghasilkan nilai negatif, dan sel C21 yang memberikan negatif paling besar. Artinya dengan menggeser pengiriman ke sel tersebut, biaya akan dapat diturnkan sebesar Rp 20 (karena -20) per ton-nya. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman dengan langkah 2 selanjutnya :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

39

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah 2 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21, yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

(-)
15

(+)
20 10

(+)
25

(-)
10 19

60 50 200

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, perhatikan sel yang bertanda minus saja, yakni sel C11 dan sel C22. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini, pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C11, dengan alokasi sebelumnya 50 ton, dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1
15

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50

=0 = 90 = 10 = 50

Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

40

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1, atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya, perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong, apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas, sel yang masih kosong adalah sel C11, C13, 23, dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya, sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut :

KeDari Pabrik 1

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
15 20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31

= 20 – 5 + 20 – 15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 15 + 20 – 10

= 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton) =-6 = -19 = 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton)

Dari hasil pengujian tersebut, ternyata sel C23 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 19/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman, dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C23 dengan langkah :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

41

dengan alokasi sebelumnya 10 ton. yakni sel C22 dan sel C33. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. Prodi Manajemen Informatika .10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. Dan ternyata sel C22. perhatikan sel yang bertanda minus saja.Polmed 42 .yang ada. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.

apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. C22 dan C31. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 6/ton. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C13 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Dari tabel di atas. C13.Polmed 43 . sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C31 = 20 – 5 + 10 – 19 + 10 . Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. sel yang masih kosong adalah sel C11. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 20 – 10 + 19 – 10 = 25 – 15 + 10 – 19 = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) =-6 = 19 à (lebih mahal 20/ton) = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) Dari hasil pengujian tersebut.

Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. perhatikan sel yang bertanda minus saja.30 = 60 = 30 = 50 =0 Prodi Manajemen Informatika . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.Polmed 44 . yakni sel C12 dan sel C33. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Dari pergerakan dan tanda +/. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13.yang ada. Dan ternyata sel C33. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. dengan alokasi sebelumnya 30 ton.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi.Polmed 45 . C22.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. C31 dan C33. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.10 = 19 – 10 + 5 – 8 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) Dari hasil pengujian tersebut. sel yang masih kosong adalah sel C11. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Dari tabel di atas.

dimana semua sel pada baris 1/pertama tidak diikutkan lagi dalam pemilihan. sehingga alokasinya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya dicari sel dengan biaya terendah berikutnya. yakni biayanya 5/ton. jadi kurang 20 ton) dengan kapasitas Pabrik 3. Apabila diperhatikan dari tabel di atas.Polmed 46 . dapat diketahui bahwa biaya terendah berkutnya adalah sel C23 atau sel C32 (dengan biaya sama-sama 10).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 2 : Kombinasi LC (Least Cost) dan Stepping Stone Dari contoh kasus di atas sudah diperoleh tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 1 Penyelesaian masalah dengan menggunakan metode Least Cost. dimana kota yang harus dipenuhi kebutuhannya adalah kota B dan sumber pengirimannya dari Pabrik 1. karena kapasitas Pabrik 1 telah habis. artinya kota yang akan dipenuhi kebutuhannya adalah kota B (sebelumnya baru dikirim 90 ton. Karena nilai biayanya sama. Dari sel yang tersisa. maka alokasi pertama dimulai dari sel tersebut. maka dapat dipilih salah satu dari keduanya. sesuai dengan namanya dimulai dengan memilih alokasi atau sel yang memiliki biaya pengiriman atau biaya transportasi yang paling rendah. sehigga alokasi berikutnya adalah : 50 Kota A 20 15 25 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Misalkan dipilih sel C32. sel yang memiliki biaya terkecil adalah sel C12.

Polmed 47 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 20 110 50 40 Selanjutnya dipilih sel dengan biaya terendah berikutnya. memenuhi kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2. Sel terpilih dengan biaya terendah adalah sel C23. sehingga kapasitas Pabrik 2 hanya tinggal 20 ton. KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 20 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Prodi Manajemen Informatika . dan alokasi yang diberikan untuk sel tersebut adalah 20 ton (sisa kapasitas Pabrik 2). maka Sel dengan biaya terendah selanjutnya adalah sel C21 (kebutuhan kota A dengan kapasitas Pabrik 2). dimana baris 1 dan kolom 2 tidak dilibatkan lagi. Alokasi yang diberikan di sel C23 tersebut adalah 40 ton. KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Karena tinggal kolom satu yang bisa dibandingkan (itupun hanya kolom satu baris 2 dan 3).

Namun demikian. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C33 = 20 – 5 + 10 – 25 = 8 – 10 + 15 – 25 + 10 . sel yang masih kosong adalah sel C11. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C33 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. perlu dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sel terakhir yang dialokasikan adalah sel C31 (kekurangan kebutuhan kota A dengan sisa kapasitas Pabrik 3 sebesar 30 ton).7 à (penurunan biaya terb esar) = 20 =-1 Dari hasil pengujian tersebut. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Langkah 3 dan selanjutnya Untuk mengetahuinya. C13. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. 22. alokasi akhirnya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 20 30 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini.Polmed 48 . Dari tabel di atas. sehingga dengan metode Least Cost ini. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 7/ton. dan C33.5 = 20 – 10 + 25 – 15 = 19 – 25 + 15 – 10 =0 = .

Prodi Manajemen Informatika .yang ada. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Polmed 49 . dengan alokasi sebelumnya 30 ton. perhatikan sel yang bertanda minus saja. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. yakni sel C12.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Selanjutnya angka 30 ton di sel C31 tersebut digunakan untuk mengurangi dan menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. C23 dan sel C31. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 (+) 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan (+) 25 10 (-) 19 60 50 40 200 (-) 50 (+) 110 Dari pergerakan dan tanda +/. dan sel 23 yang 40 ton. Dan ternyata sel C31. Dari ketiga sel bertanda pergerakan minus ini. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini.

dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Sebagai contoh. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. dari setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.+ = 1890 Hasil ini dengan yang diperoleh apabila digunakan metode NWC sebelumnya. sehingga selisihnya adalah 3. C31 dan C33. sel yang masih kosong adalah sel C11.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. Alternaif 3 : Kombinasi metode VAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Dengan kasus yang sama. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. begitu seterusnya sampai kolom ke-3. Dari tabel transportasi yang ada dapat diperoleh hasil : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 à 15 – 10 à 19 – 10 à 20 – 15 à 10 – 5 à 10 -8 =3 =5 = 9 à (dipilih karena memiliki selisih terbesar) =5 =5 =2 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Namun demikian. biaya terendah pertama adalah 5 dan terendah kedua adalah 8. untuk baris 1. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. Dari tabel di atas. C22.Polmed 50 . penyelesaian kasus dengan metode VAM alokasi dimulai dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 .

karena memiliki selisih terbesar. karena memiliki selisih terbesar.Polmed 51 . Sebagai catatan. Pertanyaannya adalah. yakni sel C12 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 1).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi pertama akan diberikan pada baris 3. sementara kebutuhan kota B 110 ton : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Langkah 2 Alokasi kedua berikutnya dilakukan dengan cara yang sama. di baris 3 ada tiga sel. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à 20 – 5 = 15 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi kedua akan diberikan pada kolom 2. dan masih kurang 60 ton. saat ini kapasitas Pabrik 1 inggal 30 ton. Dengan demikian alokasi pertama dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 50 ke kota B. à karena kapasitas Pabrik 1 ada 90 ton. di setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 3 tersebut. yakni dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : Prodi Manajemen Informatika . baris ketiga tidak diikutkan lagi karena kapasitas pabrik 3 telah habis. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 60 ton ke kota B (kekurangan kebutuhan kota B). di Kolom 2 ada dua sel. karena kapasitas Pabrik 3 hanya 50. yakni sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3). sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di kolom 2 tersebut. hasil perhitungan selisih menghasilkan : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 =3 à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. Dengan demikian.. Pertanyaannya adalah.

dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua.Polmed 52 . Pertanyaannya adalah. di baris 1 ada dua sel. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi ketiga akan diberikan pada baris 1. Baris 3 dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à tidak perlu dihitung lagi. karena memiliki selisih terbesar.8 = 12 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. yakni sel C13 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 1). karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 50 40 Dengan alokasi seperti di atas. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 1 tersebut. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 30 ton ke kota C (karena sisa kapasitas Pabrik 1 tinggal 30 ton). Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à 20 .

tentunya tidak perlu dilakukan perhitungan selisih biaya terendah pertama dan kedua lagi. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi keempat akan diberikan pada baris 2. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis. di baris 2 masih ada dua sel. yakni sel C23 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2). sehingga alokasi terakhirnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . 30 ton sebelumnya sudah dikirim dari Pabrik 1). dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à tidak bisa dihitung. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 2 tersebut. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis à tidak perlu dihitung lagi. karena tinggal memenuhi kebutuhan kota A saja sebesar 50 ton dari kapasitas Pabrik 2 yang memang tinggal 50 ton.dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à tidak bisa dihitung. karena merupakan satu-satunya baris yang bisa dihitung selisihnya.Polmed 53 . Baris 3 . Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à tidak perlu dihitung lagi. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim dari Pabrik 2 sejumlah 10 ton ke kota C (karena kebutuhan kota C tinggal kurang 10 ton. Baris 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan alokasi seperti di atas. Pertanyaannya adalah. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Dengan alokasi seperti di atas. kapasitas Pabrik 1 sdh habis à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi.

10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. C31 dan C33. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Dari tabel di atas. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 50 110 50 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. sel yang masih kosong adalah sel C11.Polmed 54 . perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . Namun demikian. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. C22.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 2 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika .

35 = 19 – 25 – 19 = . yakni sel C12 dan sel C32. penyelesaian kasus dengan metode RAM dimulai dengan mencari biaya yang tertinggi untuk setiap baris dan kolom yang ada dalam tabel transportasinya. biaya tertingginya Untuk Baris 3. Untuk lebih jelasnya. Dengan cara ini biaya tertinggi yang dimaksud adalah : Untuk Baris 1. pemilihan alokasi dapat memilih satu diantara keduanya. Karena sama. biaya tertingginya Untuk Kolom 2. biaya tertingginya Untuk Baris 2.35 = 8 – 20 – 19 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 4 : Kombinasi metode RAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Sedikit berbeda dengan metode VAM.31 = 15 – 20 – 25 = .Polmed 55 .20 = 10 – 20 – 19 = . biaya tertingginya = 20 = 20 = 25 = 25 = 20 = 19 Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya biaya pada setiap sel akan dikurangi dengan biaya tertinggi untuk baris itu dan dikurangi lagi dengan biaya tertinggi untuk kolom itu.25 = 5 – 20 – 20 = .30 = 20 – 20 – 20 = .29 = 25 – 25 – 25 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 3.25 = 10 – 25 – 20 = . perhatikan perhitungan berikut ini : C11 C12 C13 C21 C22 C23 C31 C32 C33 = 20 – 20 – 25 = . dan dari perhitungan di atas ada dua sel yang bernilai negatif paling besar. Sebagai contoh dipilih sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika .25 Alokasi pertama akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar.

biaya tertingginya = 20 = 20 = Tidak perlu lagi. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.20 C23 = 10 – 20 – 10 = .20 C31 s. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. biaya tertingginya Untuk Kolom 1. biaya tertingginya Untuk Baris 2. di mana Baris 3 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. krn kapasitas Pabrik 3 habis = 20 = 20 = 10 C11 = 20 – 20 – 20 = .35 C13 = 8 – 20 – 10 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi kedua akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar.d C33 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. dengan kapasitas Pabrik 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya Untuk Kolom 3. biaya tertingginya Untuk Baris 3.22 C21 = 15 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 20 Untuk Kolom 2. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. biaya tertingginya = 20 Untuk Baris 2. biaya tertingginya Untuk Kolom 2. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. biaya tertingginya = 10 Prodi Manajemen Informatika .20 C12 = 5 – 20 – 20 = .25 C22 = 20 – 20 – 20 = . dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. di mana Baris 3 dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.Polmed 56 . yakni sel C12 (kebutuhan kota B yang masih kurang 60.

biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3.d C13 tidak perlu dihitung lagi. dengan kapasitas Pabrik 1.15 C31 s. artinya alokasi dapat dilakukan di dua sel tersebut secara bersama (karena tinggal dua sel tersisa). di mana Baris 1.22 C21 = 15 – 15 – 20 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi keempat dan kelima akan diberikan kepada kedua sel tersisa karena memiliki nilai negatif yang sama. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1.20 C12 = tidak perlu dihitung lagi.Polmed 57 . biaya tertingginya = 10 C11 s. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. Baris 3. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C13 = 8 – 20 – 10 = . dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi C11 = 20 – 20 – 20 = .15 C31 s. karena kapasitas Pabrik 1 sudah habis C21 = 15 – 15 – 15 = . karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . biaya tertingginya = 15 Untuk Kolom 2.d C33 tidak perlu dihitung lagi. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi ketiga akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. yakni sel C13 (kebutuhan kota C. Dengan demikian alokasi selanjutnya adalah memenuhi kekurangan kebutuhan kota C sebesar 10 ton dari Pabrik 2 Prodi Manajemen Informatika . karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar.d C33 tidak perlu dihitung lagi.20 C22 = tidak perlu dihitung lagi. yang kapasitasnya tinggal 30) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.15 C22 = tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Baris 2.

sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sesuai kebutuhannya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. C31 dan C33. C22. Namun demikian.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 3 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . Dengan demikian. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi (sel C23) dan sisa kapasitas Pabrik 2 akan dikirimkan ke kota A sebesar 50 ton. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Polmed 58 . Dari tabel di atas. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. sel yang masih kosong adalah sel C11. hasil alokasinya adalah: KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi.

baris yang akan diberi nilai yang pertama adalah baris 1. maka baris 1 dan 3 sama-sama memiliki dua sel yang terisi alokasi. Pendapat kedua. dengan demikian nilai pertama sebesar nol dapat diberikan pada baris 1 atau baris 3. baris yang mana ? Ada dua pendapat mengenai baris mana yang akan diberikan nilai terlebih dahulu. maka untuk proses selanjutnya. Ketentuan selanjutnya adalah.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 5 : Kombinasi metode NWC dan MODI Seperti telah dijelaskan di muka. Langkah 1 Penggunaan metode MODI untuk solusi akhir. Pertanyaannya adalah. Untuk kesempatan ini. dengan nilai nol (0). baris 1 akan selalu bernilai nol (0). dimulai dengan mencari dan memberi nilai untuk setiap baris dan kolom yang ada. tabel di atas belumlah optimal. yakni : 1.Polmed 59 . nilai diberikan kepada baris yang memiliki sel terisi alokasi paling banyak. Dengan demikian pemberian nilai untuk yang pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . karena kebetulan juga memiliki sel terisisi alokasi terbanyak (sama dengan baris 3). Pemberian nilai pertama kali diberikan untuk baris. Bila digunakan contoh tabel di atas. pemilihan NWC sebagai metode dalam solusi awal akan menghasilkan tabel tansportasi awal sebagai berikut ( lihat alternatif 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Seperti telah dicoba sebelumnya. namun dengan metode MODI untuk solusi akhirnya. nilai diberikan pada baris yang pertama 2. sehingga perlu diselesaikan lebih lanjut. Pendapat pertama. apabila pemberian nilai untuk pertama diberikan pada baris 1.

= 5 + K3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Pabrik 2 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 25 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Keterangan : B1 = Baris 1 K1 = Kolom 1 Sel C11 Sel C12 Sel C22 Sel C32 Sel C33 B2 = Baris 2 K2 = Kolom 2. = 0 + K2. à nilai K1 = 20 à nilai K2 = 5 à nilai B2 = 15 à nilai B3 = 5 à nilai K3 = 14 = B1 + K1à 20 = B1 + K2à 5 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. = B2 + 5. = B3 + 5. dan hasilnya adalah : 20 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 Pabrik 2 25 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 60 . dan seterusnya = 0 + K1.

masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 = 8 – 0 – 14 = . pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.yang ada. Dan ternyata sel C11. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. yakni sel C11 dan sel C22. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 61 . Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21.6 = 15 – 15 – 20 = . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.20 = 10 – 15 – 14 = . perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. dengan alokasi sebelumnya 50 ton.19 = 25 – 5 – 20 = 0 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (20 per ton). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 15 (+) 20 10 (+) 25 (-) 10 19 60 50 200 Dari pergerakan dan tanda +/. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).

KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Prodi Manajemen Informatika . Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50 =0 = 90 = 10 = 50 Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. perlu kembali ke langkah 1 di atas. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).Polmed 62 . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Polmed 63 . maka nilai K1 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 15 + K1. à nilai B2 = 15 = B3 + 5. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. à nilai K1 = 0 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31 = 20 – 0 – 0 = 20 = 8 – 0 – 14 = .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C22 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif).19 = 25 – 5 – 0 = 20 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (19 per ton). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 5.6 = 10 – 15 – 14 = . à nilai K3 = 14 Setelah nilai B2 diketahui. dan hasilnya adalah : 0 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.

yakni sel C22 dan sel C33. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . Dan ternyata sel C22.yang ada. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. dengan alokasi sebelumnya 10 ton.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. perhatikan sel yang bertanda minus saja. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 64 . Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/.

4 + K1 à nilai K1 = 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K3 = 14 Setelah nilai K3 diketahui. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C23 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung. perlu kembali ke langkah 1 di atas.Polmed 65 . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = belum bisa dihitung. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). karena nilai B2 dan K3 belum diketahui = B3 + 5. maka nilai sel C23 dapat dicari dengan cara : Sel C23 = B2 + K3à 10 = B2 + 14 à nilai B2 = . nilai sel C21 juga dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. dan hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika .4 Dan setelah nilai B2 diketahui.

masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 5 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13.4) – 5= 19 Sel C31 = 25 – 5 – 19 = 1 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (6 per ton).Polmed 66 . dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 19 = 1 Sel C13 = 8 – 0 – 14 = .6 Sel C22 = 20 – (. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 19 KeDari 0 -4 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.

Polmed 67 . maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). yakni sel C12 dan sel C33. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. perhatikan sel yang bertanda minus saja. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Prodi Manajemen Informatika . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari pergerakan dan tanda +/. perlu kembali ke langkah 1 di atas. Dan ternyata sel C33.30 = 60 = 30 = 50 =0 Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol.yang ada. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.

à nilai B3 = 5 Dan setelah nilai B2 diketahui. nilai sel C21 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 2 + K1 à nilai K1 = 13 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.Polmed 68 . à nilai K2 = 5 = 0 + K3 à nilai K3 = 8 = belum bisa dihitung. dan hasilnya adalah : 13 KeDari 0 2 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 8 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Prodi Manajemen Informatika . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 8 à nilai B2 = 2 = B3 + 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C32 = B1 + K2à 5 = B1 + K3à 8 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = 0 + K2.

Apabila kapasitas < kebutuhan. = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. maka kasus semacam ini perlu dinormalkan terlebih dahulu. yakni metode LC. Seperti telah dijelaskan di atas. karena : 1. Terjadi masalah ‘Degeneracy’ dimana syarat (m+n)-1 tidak terpenuhi Oleh karena itu. sebelum dapat diselesaikan dengan metode solusi awal dan solusi akhir yang ada.Polmed 69 . akan terjadi kekurangan kapasitas yang berarti akan menimbulkan biaya kehilangan kesempatan (opportunity cost) 3. 7 dan 8 dapat dilakukan dengan cara yang relatif sama seperti pada alternatif penyelesaian 5 di atas. maka kasus yang dihadapi dapat dikategorikan dalam kasus yang tidak normal.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . Silahkan dicoba sendiri à PR ya.!!!! Masalah Transportasi untuk kasus tidak normal (Kapasitas tidak sama dengan Kebutuhan). dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 13 = 7 Sel C22 = 20 – 2 – 5 = 13 Sel C31 = 25 – 5 – 13 = 7 Sel C33 = 19 – 5 – 8 = 6 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. akan terjadi kelebihan kapasitas dan hal ini akan menimbulkan biaya simpan 2. dengan total biaya optimalnya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya Catatan : Alternatif penyelesaian ke-6. apabila dijumpai kasus dimana nilai kapasitas perusahaan tidak sama dengan kebutuhannya.. sehingga dengan demikian tabel di atas telah optimal. VAM dan RAM. Apabila kapasitas > kebutuhan. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). hanya saja dengan solusi awal yang sesuai dengan metodenya.

Untuk lebih jelasnya. perhatikan tabel transportasinya. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal.Polmed 70 . kapasitas Pabrik 3 meningkat dari 50 ton menjadi 100 ton. untuk mengakomodir kelebihan kapasitas yang ada. proses selanjutnya akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. sehingga saat ini kebutuhan > kapasitas yang tersedia. sehingga secara keseluruhan kapasitas perusahaan menjadi 250. Setelah itu. Contoh kasus tidak normal kedua adalah apabila dengan kapasitas perusahaan sebelumnya (200 ton). Prodi Manajemen Informatika . ternyata kebutuhan di kota A naik dari 50 ton menjadi 100 ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai contoh. sementara kebutuhan dari ketiga kota hanya 200 ton. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 60 10 110 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 40 40 50 50 Perhatikan. bahwa setelah dibutkan kolom Dummy untuk menampung kelebihan kapasitas. atau nol. semua sel yang ada tidak memerlukan biaya. Untuk menyelesaiakan kasus ini (kapasitas > kebutuhan). dalam kasus di atas. sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 110 40 50 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. maka dalam tabel transportasinya perlu dibuatkan satu buah kolom lagi yang disebut dengan kolom Dummy. Dalam kolom ini.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk menyelesaikan kasus tidak normal seperti ini. akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. bahwa setelah dibutkan baris Dummy untuk menampung kelebihan kebutuhan. Dan seperti pada kasus tidak normal sebelumnya. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. untuk menampung kelebihan kebutuhan dari kota A. proses selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 90 10 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 50 250 50 50 10 110 40 40 0 Perhatikan. sering disebut dengan masalah Degenaracy. dimana syarat alokasi / jumlah sel yang teralokasikan tidak memenuhi syarat (m+n) – 1.Polmed 71 . Dengan demikian pada tabel transportasi pertama akan menjadi seperti tabel berikut ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 0 Kapasitas 90 60 50 50 250 110 40 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. seperti terlihat pada contoh kasus Degeneracy berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . yang pertama perlu dilakukan adalah membuatkan baris Dummy. Contoh kasus tidak normal ketiga.

bahwa dengan metode solusi awal NWC. Akibatnya adalah. perlu diberikan nilai nol pada salah satu sel yang masih kosong (di sel manapun yang masih kosong). Dengan pemberian nilai nol ini. coba selesaikan masalah Degeneracy di atas dengan metode solusi awal dan akhir yang saudara bisa !!! Prodi Manajemen Informatika . sehingga meskipun ada sel yang bernilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 50 40 40 70 Apabila kasus di atas diselesaikan dengan metode solusi awal NWC. jadi kurang satu sel. menurut rumus yang disyaratkan adalah (m+n) – 1 atau (3+4) -1 = 6. maka diperoleh alokasi pengiriman sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 40 50 70 40 Perhatikan.Polmed 72 . Untuk menyelesaikan kasus Degeneracy ini. tapi jumlah sel yang terisi telah memenuhi syarat alokasi (m+n) – 1 atau 6 sel. Sebagai latihan. sementara itu. hampir semua sel yang masih kosong tidak dapat dipakai untuk menguji apakah masih memiliki nilai negatif atau tidak. jumlah sel yang terisi hanya lima. maka sekarang semua sel kosong dapat diuji dan proses mencari hasil optimal dapat dilakukan seperti biasa. kecuali sel C24. untuk pengujian sel yang masih kosong.

3. Identifikasi dan penyederhanaan masalah dalam bentuk tabel penugasan 2. Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. maka dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut 4. kemudian pergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. Selanjutnya. mencari nilai tertinggi untuk setiap baris yang kemudian nilai tertinggi tersebut dikurangi dengan semua nilai yang ada dalam baris tersebut. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai nol. Dari hasil lagkah ke-6 tersebut. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. telah berhasil ditemukan nilai nol. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. mesin. Untuk kasus minimalisasi. Apabila belum. maka masalah penugasan telah optimal. maka langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. begitu pula sebaliknya bila menyangkut biaya. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. dan apabila belum maka perlu diulangi langkah penyelesaian ke-5 di atas. Sedangkan untuk kasus maksimalisasi. Penyelesaian masalah penugasan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode Hungarian yang pada tahun 1916 dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang bernama D KÖnig. dala arti apabila penugasan tersebut berkaitan dengan keuntungan maka bagaimana alokasi tugas atau penugasan tersebut dapat memberikan keuntugan yang maksimal. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Pilih nilai yang paling kecil. 5. alat transportasi. alat transportasi. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis.Polmed 73 . 7. Apabila masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. mesin. Secara umum lagkah-langkah penyelesaian masalah penugasan yang normal adalah : 1. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Prodi Manajemen Informatika . sebanyak sumber daya (bisa karyawan. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. mencari biaya terkecil untuk setiap baris. maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. 8. 6. Jika sudah.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB V MASALAH PENUGASAN Masalah penugasan berkaitan dengan keinginan perusahaan dalam mendapatkan pembagian atau alokasi tugas (penugasan) yang optimal. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama.

yakni kolom 3. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari biaya terkecil untuk setiap baris. Dari kasus penugasan tersebut di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai catatan. karakteristik dari masingmasing karyawan.lah sumber daya yang akan ditugaskan dan jumlah pekerjaan atau tujuan adalah sama. maka biaya yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-4 karyawan tersebut juga berbeda. Untuk lebih jelasnya. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 0 0 5 1 5 2 0 2 3 7 3 2 7 3 0 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. Masalah Minimalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 4 orang karyawan yang harus menyelesaikan 4 pekerjaan yang berbeda. A. kasus penugasan dianggap normal apabila jum. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut.Polmed 74 . seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan I Karyawan A B C D 15 14 25 17 20 16 20 18 18 21 23 18 22 17 20 16 II III IV Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan. sehingga akan menjadi : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Prodi Manajemen Informatika . perhatikan contoh kasus berikut ini.

kemudian nilai 1 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. mesin.Polmed 75 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nah. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 2. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. Sementara itu nilai 5 dan 1 pada kolom 1 akan bertambah 1. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 1). sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Langkah 5 Selanjutnya. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Prodi Manajemen Informatika . maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah tiga. alat transportasi. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. telah berhasil ditemukan nilai nol.

produktifitas atau keuntungan yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-5 karyawan tersebut juga berbeda. Masalah Maximalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 5 orang karyawan yang harus menyelesaikan 5 pekerjaan yang berbeda.Rp 16. karakteristik dari masingmasing karyawan.Rp 14.Polmed 76 . atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 4 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan.- Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Total biaya Rp 18. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. mesin. alat transportasi. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan Karyawan A B C D E I 10 14 9 13 10 II 12 10 8 15 13 III 10 9 7 8 14 IV 8 15 8 16 11 V 15 13 12 11 17 Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah.--------.+ Rp 68. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. Prodi Manajemen Informatika .Rp 20.B. 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal.

meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 3. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 5 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 5 1 3 3 7 3 5 4 1 4 5 6 5 8 3 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. dan kemudian nilai tersebut dikurangi dengan semua nilai produktifitas yang ada pada baris yang sama. yakni kolom 3. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. mesin. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 5 karyawan. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. telah berhasil ditemukan nilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari kasus penugasan tersebut di atas. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut.Polmed 77 . sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. sehingga akan menjadi : 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Nah. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari produktifitas atau keuntungan terbesar untuk setiap baris. alat transportasi. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .

yang berada di baris dan kolom yang berbeda. Langkah 5 Selanjutnya. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar (2) atau nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol à yakni baris ke-5)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 5 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). Sementara itu nilai 2. Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. alat transportasi. mesin.Polmed 78 . dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah empat. 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. 5 dan 0 pada kolom 5 akan bertambah 2. kemudian nilai 2 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 2).

Rp 14. maka dalam proses penyelesaiannya. Prodi Manajemen Informatika . Proses penyelesaian selanjutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada kasus penugasan yang normal. usia.--------. dan disebut dengan bilangan M (untuk masalah minimalisasi) dan – M (untuk masalah maximalisasi). kondisi fisik. atau karena sebab lainnya).Rp 12. Ada kalanya seorang karyawan misalnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Rp 12. jenis kelamin.+ Rp 68.Rp 14. tidak dapat dialokasikan atau ditugaskan untuk sebuah pekerjaan tertentu (karena alasan. Dengan demikian karyawan dengan keterbatasan seperti itu tidak dapat dipaksakan mengerjakan sebuah pekerjaan yang memang tidak mungkin baginya. ketrampilan yang tidak memadai.Rp 15.Rp 15. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68.- Namun demikian.Rp 14. Untuk mengatasi hal semacam ini. hanya saja pada keptusan optimalnya akan dihindari menugaskan karyawan pada tugas yang memiliki bilangan M atau – M tersebut.- Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.--------.- Catatan : Dalam praktek sehari-hari.Rp 16. tidak semua masalah penugasan memiliki matrix biaya atau keuntungan seperti dalam dua contoh kasus di atas.Rp 9.+ Rp 68. alternatif lain dari penugasan di atas dapat dipilih seperti terlihat pada tabel berikut ini : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Rp 15.Polmed 79 . perlu ditambahkan sebuah bilangan yang sangat besar.

dapat dijelaskan beberapa ketentuan dasar yang terpenting dalam teori permainan. maka perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 9 yang berarti perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar 9. Untuk memenangkan persaingan itulah. persentase pangsa pasar. begitu pula sebaliknya nilai negatif menunjukkan kerugian bagi pemain baris dan keuntungan bagi pemain kolom. yakni : 1. 2 di baris pertama dan 8. Ketentuan-ketentuan Dasar dalam Teori Permainan Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari contoh tabel matrik pay off (matrik permainan) di atas. 5.Polmed 80 . secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tindakan sebuah unit bisnis (misalnya) untuk memenangkan persaingan dalam usaha yang digelutinya. Seperti diketahui. Satuan nilai tersebut merupakan efektifitas yang dapat berupa uang. khususnya strategi bersaing yang paling optimal bagi unit usaha atau organisasi yang bersangkutan. 9. Prodi Manajemen Informatika . 4 di baris kedua). Nilai positif menunjukkan keuntungan bagi pemain baris dan kerugian bagi pemain kolom. Nilai-nilai yang ada dalam tabel tersebut (yakni angka 1. bahwa dalam praktek sehari-hari. merupakan hasil yang diperoleh dari penggunaan berbagai strategi yang dipilih oleh kedua perusahaan. diperlukan analisis dan pemilihan strategi pemasaran tepat. setiap unit usaha atau organisasi pada umumnya harus berhadapan dengan para pesaing.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bab 6 Teori Permainan (Dua pemain-Jumlah Nol) Teori permainan yang mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel ini. Sebagai contoh nilai 9 pada sel C12 menunjukkan apabila pemain/perusahaan A menggunakan strategi harga murah (S1) dan perusahaan B meresponnya dengan strategi harga sedang (S2). jumlah pelanggan dan sejenisnya.

Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan campuran/lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil optimal. nilai positif (keuntungan) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan.Polmed 81 . perhatikan dua contoh kasus berikut ini : Contoh kasus 1 ( Strtaegi Murni) Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama. Untuk memahami dengan lebih jelas mengenai penggunaan Teori permianan ini. menghasilkan nilai negatif yang lebih kecil dari hasil penggunaan strategi lainnya. 6. yakni : a. Suatu strategi dari sebuah pemain/perusahaan dianggap tidak dapat dirusak oleh perusahaan lainnya. perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi. Bagi pemain kolom. nilai negatif (kerugaian) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Penyelesaian masalah dalam Teori Permainan ini. selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada. Strategi Murni Penyelesaian masalah dengan strategi murni dilakukan dengan menggunakan konsep maximin untuk pemain/perusahaan baris dan konsep minimax untuk pemain/perusahaan kolom. Untuk keperluan tersbut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. atau tidak ada pemain atau perusahaan yang menang/kalah atau mendapat keuntungan/kerugian. setiap strategi yang dipergunakan berusaha untuk mendapatkan nilai permainan (sadle point) yang sama. Maksudnya. Tujuan dari teori permainan ini adalah mengidentifikasi strategi yang paling optimal untuk setiap perusahaan. biasanya menggunakan dua karakteristik strategi. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan satu strategi/strategi tunggal untuk mendapatkan hasil optimal (sadle point yang sama). menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari hasil penggunaan strategi lainnya. Suatu strategi dikatakan dominan terhadap strategi lainnya apabila memiliki nilai pay off yang lebih baik dari strategi lainnya. Agar sebuah permainan atau persaingan menjadi optimal. Strategi Campuran Penyelesaian masalah dengan strategi campuran dilakukan apabila strategi murni yang digunakan belum mampu menyelesaikan masalah permainan atau belum mampu memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing-masing pemain/perusahaan. Setiap pemain/perusahaan akan memilih strategi-strategi tersebut secara terus menerus selama perusahaan masih memiliki keinginan melanjutkan usahanya 4. Suatu permainan/persaingan dikatakan adil atau ‘fair’ apabila hasil akhir permainan atau persaingan menghasilkan nilai nol (0). dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . b. 5. 3. bagi pemain/perusahaan baris.

yakni nilai 4 (rugi yang paling kecil). Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. keuntungan tersebut besar. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 8.Polmed . (perusahaan B). dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. kolom dua nilai terbesarnya 9. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. Jawab : Seperti telah dijelaskan di atas. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 1 dan baris dua nilai terkecilnya 4). bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. yakni nilai Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 4. 82 Prodi Manajemen Informatika . pilih nilai yang paling baik atau besar. Langkah 1 Untuk pemain baris (perusahaan A). agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung. dan kolom tiga nilai terbesarnya 4). 1 8 9 5 2 4 à 1 à 4 Perusahaan A Langkah 2 Untuk pemain kolom.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari kasus di atas.

maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal à sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. sekarang menambah satu lagi strategi bersainganya dengan juga mengeluarkan produk berharga sedang. Sedangkan pemain B. dan karena adanya perkembangan yang terjadi di pasar. maka perusahaan A. namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4. 4 Contoh kasus 2 ( Strtaegi Campuran) Dari kasus di atas. dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3).Polmed 83 . dan hasil yang diperoleh tampak pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . yakni masingmasing memilih nilai . namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4. Hasil optimal di atas. Penggunaan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi A dan meningkatnya kerugian bagi B. dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar. atau tidak dapat selesainya persaingan atau permainan yang ada. bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 1 8 8 9 5 9 2 4 4 à 1 à 4 Perusahaan A Minimax à Langkah 3 Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama. meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin. yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal.

Untuk pemain baris. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 2 . Jawab : Langkah 1 Mula-mula akan dicoba dulu dengan menggunakan strategi murni. yakni nilai 2. untuk baris kedua nilai terkecilnya -1 dan baris tiga nilai terkecilnya 1). Seperti telah dijelaskan di atas. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). agar masing-masing mendapatkan hasil yang yang optimal (kalau untung. bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. pilih nilai yang paling baik atau besar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 Dari perkembangan kasus di atas. bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. keuntungan tersebut besar. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut.Polmed 84 . Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 à 2 à -1 à 1 Prodi Manajemen Informatika .

kolom dua nilai terbesarnya 5. strategi S3 adalah paling buruk karena kerugiannya yang bisa terjadi paling besar (perhatikan nilai-nilai kerugian di strategi S3 pemain/perusahaan B) Langkah 5 Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang stretgi S3. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. Dan bagi pemain B. Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran. dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal à karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Untuk pemain kolom. dimana pemain atau perusahaan A memilih nilai 2 dan perusahaan B memilih nilai 5. yakni nilai 5 (rugi yang paling kecil). strategi S2 adalah paling buruk. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. dan kolom tiga nilai terbesarnya 9). diperoleh tabel sebagiai berikut : Prodi Manajemen Informatika . yang langkahnya adalah sebegai berikut : Langkah 4 Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan atau kerugian paling buruk. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 6 5 2 1 5 7 4 9 9 à 2 à -1 à 1 Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Minimax à Langkah 3 Dari tabel di atas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama. untuk pemain A. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 6. Bila diperhatikan pada tabel sebelumnya. karena bisa menimbulkan kemungkinan kerugian bagi A (ada nilai negatif / -1 nya).Polmed 85 .

Untuk perusahaan A. sementara perusahaan B menggunakan strategi S1 dan S2. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S3 adalah (1-p). bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p. Begitu pula dengan pemain B.Polmed 86 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) 2 6 5 1 Perusahaan A Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar q. perusahaan A menggunakan strategi S1 dan S3. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S2 adalah (1-q). Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) (q) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A (1-q) 2 6 5 1 (p) Strategi Harga Mahal (S3) (1-p) Langkah 7 Selanjutnya mencari nilai besaran probabilitas setiap strategi yang akan digunakan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada serta nilai probalitas masing-masing strategi untuk menghitung sadle point yang optimal. maka sekarang persaingan atau permainan dilakukan dengan kondisi. Langkah 6 Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemugkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. dengan cara sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .

apapun strategi yang digunakan B. apapun strategi yang digunakan B.5 Dengan persamaan ke-2 = 5p + 1(1-p) = 5 (0. maka : 6 – 4p = 1 + 4p 5 = 8p P = 5/8 = 0. keuntungan perusahaan A bisa meningkat 1. perusahaan A meresponnya dengan strategi S1. maka : 6q + 1(1-q) = 6q + 1 – 1q = 1 + 5p Prodi Manajemen Informatika . perusahaan B meresponnya dengan strategi S1.625 Dan apabila nilai p = 0.5 Perhatikan.5 menjadi 3. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. maka : 5p + 1(1-p) = 5p + 1 – 1p = 1 + 4p Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. yakni sebesar 3. Bagaimana dengan perusahaan B ? Untuk perusahaan B Bila.625. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama. berarti dengan digunakan strategi campuran ini.375) = 3. maka : 2q + 5(1-q) = 2q + 5 – 5q = 5 – 3p Bila. perusahaan A meresponnya dengan strategi S3. perusahaan B meresponnya dengan strategi S2. maka : 2p + 6(1-p) = 2p + 6 – 6p = 6 – 4p Bila.5. Coba diingat di atas. apapun strategi yang digunakan A.625) + 1 (0. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.375) = 3.5. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini keuntungan perusahaan A hanya sebesar 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk perusahaan A Bila.375.625) = 0.625) + 6 (0. maka keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2p + 6(1-p) = 2 (0. apapun strategi yang digunakan A.Polmed 87 .

sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S2 milik perusahaan B sudah diketahui nilainya. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.5 Dan apabila nilai p = 0. kerugian minimal perusahaan B bisa menurun sebesar 1. berarti dengan digunakan strategi campuran ini. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0.5) = 3.5 dan kerugian minimal yang diterima perusahaan B juga dapat turun hanya sebesar 3.5 Perhatikan. mana penyelesaian masalah permainan/persaingan di atas dilanjutkan dengan digunakannya strategi campuran. yakni sebesar 3.5) + 1 (0. maka kerugian minimal yang diharapkan oleh perusahaan B adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2q + 5(1-q) = 2 (0. Kesimpulan : Kerena penggunaan strategi murni belum mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5. Penggunaan strategi campuran ini terbukti disamping mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. Perusahaan A keuntungan yang diharapkan naik menjadi 3. Prodi Manajemen Informatika . à Sudah optimal.5.5.5 Dengan persamaan ke-2 = 6q + 1(1-q) = 6 (0.5. Coba diingat di atas. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini kerugian minimal perusahaan B adalah sebesar 5.5) + 5 (0.Polmed 88 .5) = 0.5) = 3.5 menjadi 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. strategi campuran ini juga mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi masing-masing perusahaan. bahwa keduanya menghasilkan kerugian minimal yang diharapkan adalah sama.5. maka : 5 – 3q = 1 + 5q 4 = 8q q = 4/8 = 0.

Polmed 89 . Bentuk fungsi umum dari pemrograman dinamis ini adalah : Fn (X) = max { r n (X n ) + f n -1 (X – X n ) } dimana n = 2. dimana setiap keputusan optimal yang diambil diperoleh dari banyak tahap (multistage). Hasil dari sebuah tahap akan berdampak atau menjadi masukan bagi tahap berikutnya. dan untuk menghemat biaya pengiriman. Persamaan di atas digunakan untuk perhitungan dari depan ke belakang (forwardinduction) maupun dari belakang ke depan (backward-induction). maka dalam pemrograman dinamis ini tidak ada formulasi yang standar.. dan C. telah ditentukan volume pengiriman sebesar 100 ton setiap pengirimannya. artinya setiap masalah dalam pemrograman dinamis memerlukan pola pendekatan atau penyelesaian yang berbeda satu dengan lainnya. Distribusi produk dilakukan melalui transportasi darat. 3. Sebuah perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 700 ton per bulan. B. Apabila dalam riset operasional yang lain. Dari pengalaman yang ada. Untuk memperjelas masalah pemrograman dinamis ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 7 PEMROGRAMAN DINAMIS Pemrograman dinamis ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan benama Richard Bellman pada tahun 1957. ………. ada kesamaan dari setiap penyelesaian masalah dalam pemrograman dinamis ini. perhatikan contoh berikut ini. Oleh karena itu perlu berlatih soal sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak bentuk penyelesaian kasus yang berbeda-beda. return dari setiap pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Namun demikian. Pasar yang dituju adalah pasar A. memiliki formulasi standar untuk memecahkan masalah.

5 2.4 Selanjutnya.8 1. hasil tersebut di atas.4 Bagaiman distribusi produk harus dilakukan oleh perusahaan agar diperoleh hasil atau return yang paling optimal ? Jawab : Masalah di atas dapat diselesaikan dengan pemrograman dinamis.6 4 4.8 3. dimana perhitungan akan dimulai dari pasar A.Polmed 90 . Dengan persamaan dasar di atas. adalah sebagai berikut : Jika tidak ada pengiriman Jika ada 1 pengiriman Jika ada 2 pengiriman Jika ada 3 pengiriman Jika ada 4 pengiriman Jika ada 5 pengiriman Jika ada 6 pengiriman Jika ada 7 pengiriman  f1(0) = r1 = 0  f1(1) = f1(1) = 0.6 4.7 5.2 1. maka return atau penghasilan yang diperoleh mulai dari tidak ada pengiriman hingga 7 kiriman (setiap pengiriman berisi 100 ton). dimasukkan dalam tabel hasil sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .3  f1(4) = r1(4) = 3. berarti nilai f1(X) akan menentukan nilai f2(X).4 Return dari kota B (Rp) 0 0.6 1.0  f1(7) = r1(7) = 4.3 3 3.0  f1(5) = r1(5) = 3. dan nilai f2(X) ini akan menentukan nilai f3(X). Tahap Pertama Apabila semua produk hanya dipasarkan di kota A.8 3.9 2. B dan diakhiri dengan perhitungan return di pasar C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pengiriman Produk ke 0 1 2 3 4 5 6 7 Return dari kota A (Rp) 0 0.2 2 2.8  (lihat tabel sebelumnya)  f1(2) = r1(2) = 1.6 4 4.6  f1(6) = r1(6) = 4.3 Return dari kota C (Rp) 0 0.5  f1(3) = r1(3) = 2.6 1.

begitu pula sebaliknya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Produk (X). Apabila X = 2. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0. jika hanya ada 1 pengiriman. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (1 – X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f2(1) adalah : r2(0) + f1(1) = 0 f2(1) = max { r2(1) + f1(0) = 0. maka return f2(X) adalah juga 0.8 1.Polmed 91 .6 + 0 = 0. hasilnya adalah 0. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota A.3 3. nilai f2(X) dapat dicari dengan persamaan umum sebagiberikut : Apabila X = 0.8).6. Dengan pilihan hasil tersebut.0 4. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota A atau ke kota B.6 + 0.8 Dari hasil persamaan di atas. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (2– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f2(2) adalah : Prodi Manajemen Informatika .5 2.6 4.8 }  0. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 X1 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) 0 0. karena hasilnya lebih besar (0.8 sedangkan jika ke kota B. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota A.8 = 0.0 3.4 Pasar B X2 F2(X) Pasar C X3 F3(X) Tahap Kedua Apabila diperhitungkan pengiriman ke kota A dan kota B Atas dasar hasil f1(X) di atas. tentu tidak dapat dikirim ke kota B.

4 }  1. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B.1 Pasar C X3 F3(X) X1 0 1 2 3 4 5 6 7 X2 0 0 0 0 0 0 5 4 Prodi Manajemen Informatika . dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.4 5.5 = 1.2 Dari perhitungan di atas. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.5 + 0.5 f2(2) = max { f2(1) + f1(1) = 0. Produk (X). dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).5 2.Polmed 92 . Dengan cara yang sama.3. jika hanya ada 2 kali pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(2).8 +0 = 2.0 Dari perhitungan di atas. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.0 4.3 3.8 1.3 = 2.6 4. 5 pengiriman. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. Apabila X = 3.0 3.5.6 + 0. Dari tiga alternatif itu. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(3).3 = 2.6 = 1. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi r2(0) + f1(2) = 0 + 1.5 r2(2) + f1(0) = 1. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (3– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f2(3) adalah : r2(0) + f1(3) f2(3) = max { f2(1) + f1(2) r2(2) + f1(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0.5 2. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.0 = 2.8 1. hingga 7 pengiriman.3 3.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0.0 + 2.2 + 0 = 1.8 = 1. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).0 3. jika hanya ada 3 kali pengiriman.6 4. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1.1 }  2.2 = 2.3 + 1. Dari tiga alternatif itu. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.

maka yang paling baik adalah alternatif pertama. Apabila X = 2. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (1 – X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f3(1) adalah : r3(0) + f2(1) = 0 f3(1) = max { r3(1) + f2(0) = 0. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.Polmed 93 . maka Prodi Manajemen Informatika .6 + 0. maka selanjutnya dilakukan perhitungan tahap ketiga untuk Pasar B dan C Apabila X = 0. karena hasilnya lebih besar (0. Dari tiga alternatif itu.8 }  0.6 + 0 = 0.8 sedangkan jika ke kota C.5. jika hanya ada 2 kali pengiriman. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota B atau ke kota C. maka return f2(X) adalah juga 0.8 = 1. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota B. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1.8 Dari hasil persamaan di atas.5 r3(2) + f2(0) = 1. jika hanya ada 1 pengiriman.6. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota B.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tahap Ketiga Setelah tahap kedua selesai.6 + 0. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).8). tentu tidak dapat dikirim ke kota C. hasilnya adalah 0.2 Dari perhitungan di atas. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0.4 }  1.5 = 1.5 f3(2) = max { f3(1) + f2(1) = 0. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f2(2).8 = 0. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas. Dengan pilihan hasil tersebut. Apabila X = 3. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (2– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f3(2) adalah : r3(0) + f2(2) = 0 + 1. begitu pula sebaliknya.2 + 0 = 1.

karena dari perhitungan sebelumnya dinyatakan bahwa kalau hanya ada 1 pengiriman.0 3. 5.5 ) dan sisanya ke kota A (0.3 = 2.2 = 1. Prodi Manajemen Informatika . Produk (X).3 = 2.5 X1 0 1* 2 3 4 5 6 7 X2 0 0* 0 0 0 0 5 4 X3 0 0 0 0 0 0 6 6* Setelah tabel di atas lengkap. dan ini adalah hasil tertinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif distribusi pengiriman yang lainnya.8 +0 = 2. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.6 4. yang paling baik kalau ditujukan pada pasar A.3. 5 pengiriman.5 2.0 3.6 4.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0.3 3.8).5 + 0.0 = 1. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.1 }  2. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).8 1. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman.0 3.4 5. Dengan distribusi pengiriman tersebut. maka distribusi pengiriman yang paling baik adalah bila 6 pengiriman ditujukan ke kota C (karena hasilnya paling tinggi.8 1.Polmed 94 . dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0. hingga 7 pengiriman. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C. dapat disimpulkan bahwa apabila kapasitas produksi perusahaan dimaksimalkan sehingga dapat berproduksi sebanyak 700 ton dan akan dikirimkan dalam 7 kali pengiriman.1 Pasar C F3(X) Rp 0 0.9 Dari perhitungan di atas.5 2.3.3 3.9 + 2. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f3(3). Dengan cara yang sama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (3– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f3(3) adalah : r3(0) + f2(3) f3(3) = max { f3(1) + f2(2) r3(2) + f2(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0.6 4. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. maka agar hasilnya optimal.7 5. jika hanya ada 3 kali pengiriman.3 + 1. Dari tiga alternatif itu. hasil optimal yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp 5.6 = 1.8 = Rp 6.8 1.0 4.5 2.5 + 0.3 3.

adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas. Masalahmasalah yang dimaksud antara lain adalah : a. tenaga. Jalur kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya paling besar/panjang 4. Serangkaian pekerjaan membangun jembatan b. Tanpa bermaksud meniru. Latest Finish Time. Serangkaian pekerjaan membangun gedung c. adalah waktu peling cepat untuk selesainya sebuah aktivitas 7. ada juga metode CPM (Critical Path Method) yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah jaringan ini. Kejadian. CPM lebih menekankan pada efisiensi biaya pelaksana serangkaian pekerjaan. adalah waktu paling lambat untuk memulai sebuah aktivitas 6. adalah waktu paling lambat untuk menyelesaikan sebuah aktivitas Prodi Manajemen Informatika . Serangkaian pekerjaan mengganti mesin yang rusak e. Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah 2. dan disimbolkan dengan sebuah lingkaran 1 2 3. Beberapa istilah dalan analisis jaringan antara lain adalah : 1. adalah waktu paling cepat untuk memuali sebuah aktivitas 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 8 ANALISIS JARINGAN Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. Earliest Start Time (ES). Dll.Polmed 95 . Aktivitas. Perbedaan utamanya adalah. Lates Start Time (LS). Allen dan Hamilton yang dibuat untuk keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. dengan mempercepat salah satu atau beberapa kegiatan dalam rangkaian pekerjaan tersebut. Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz. biaya). Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut c. Waktu penyelesaian dari serangkaian pekerjaan tersebut b. Serangkaian pekerjaan produksi d. Metode yang biasanya digunakan sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Tachnique. adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu. Earliest Finish Time (EF). Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah : a.

Untuk menghindari terjadinya kondisi dimana dua kejian dihubungkan oleh lebih dari satu anak panah 1 2 Dengan aktivitas dummy akan menjadi : 2 1 3 4 b. Anak panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan uruturutan kejadian. Sebelum suatu aktivitas dimulai. semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat) harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu 2. tidak dapat dihindari. sehingga untuk mengatasinya harus dibuatkan atau dibantu dengan sebuah aktivitas dummy. Untuk menunjukkan urutan kejadian atau aktivitas yang sebenarnya Prodi Manajemen Informatika . Aktivitas dummy adalah aktivitas yang sebenarnya tidak ada. Jadi manfaat dari aktivitas Dummy adalah : a. sehingga tidak memerluakan pengorbanan sumber daya. Lingkaran. yang merupakan simbol dari kejadian.Polmed 96 . diberi nomor sedemikian rupa sehingga tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan. seringkali suatu kasus jaringan dihadapkan pada kondisi dimana poin 4 dan 5 di atas. Dua buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Beberapa Hal yang penting dalam analisis jaringan adalah : 1. dimana serangkaian kejadian hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan satu kejadian (lingkaran) c. Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di kejadian awal (permulaan anak panah) 4. sehingga dapat menggambarkan urutan kejadian. jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun 3. Sebuah rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian (lingkaran) Namun demikian. Untuk memenuhi ketentuan.

8 f. Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan Mesin Baru Menyiapkan mesin Pesan Material rangka mesin Membuat rangka Finishing rangka Memasng mesin pada rangka Kegiatan Yang mendahului a b a d e c.10 c. yang sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin produksinya. f Waktu yang dibuthkan 10 2 8 4 3 1 5 Dari masalah perusahaan di atas. Setelah dialakukan identifikasi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk memahami masalah jaringan ini. 3 b. berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut ? Pada bagian mana saja waktu menganggur terjadi ? Jawab : A. berencana mengganti mesin yang rusak tersebut.3 5 Langkah kedua adalah mencari nilai Earliest Finish Time (EF)  dari depan ke belakang. Jika diselesaikan dengan algoritma EF dan LF Langkah pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut.Polmed 97 . Sebuah perusahaan.2 a. perhatikan contoh berikut ini.5 1 2 d.1 g. serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian mesin yang rusak tersebut adalah seperti terlihat pada tabel berikut ini. sesuai dengan urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel. dan nilai Latest Finish Time (LF)  dari belakang ke depan. dengan hasil seperti gambar berikut : Prodi Manajemen Informatika . dari setiap kejadian (lingkaran).4 6 7 4 e.

8 f. 2.5 1 EF = 0 LF = 0 2 EF = 10 LF = 10 d. 2. dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20. paling cepat.4 6 7 EF = 25 LF = 25 4 EF = 14 LF = 16 e.3 5 EF = 17 LF = 19 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. rangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut baru akan selesai pada hari ke-25 3. atau jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama 2. Untuk kejadian 6. Prodi Manajemen Informatika . 6.1 EF = 20 LF = 20 g. dan 7. 3.Polmed 98 . 4. Karena itu pekerjaan g baru dapat dimulai setelah hari ke-20. Jalur kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1. 5. namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu pekerjaan c selesai lebih dahulu. dan 6) sudah selesai pada hari ke 18. B.10 3 c. Jika diselesaikan dengan metode matriks Secara garis besar. meskipun jalur bawah (1. Ke EF 0 10 12 14 17 20 25 LF Dari 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 10 2 4 8 3 1 5 2 10 3 12 4 16 5 19 6 20 7 25 3 4 5 6 7 Sebagaimana dalam metode algoritma. makan penyelesaiannya dapat menggunakan matrik berikut ini. apabila masalah jaringan di atasb dikerjakan dengan menggunakan metode matrik. sedangkan nilai-nilai LF dicari dari belakang ke depan. maka nilai-nilai EF dicari dari depan ke belakang.2 a. Dengan cara ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi EF = 12 LF = 12 b. Dengan jalur kritis tersebut. diperoleh hasil seperti dalam tabel di atas.

Bila ini tidak dilakukan. Untuk dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan penggantian mesin itu.Polmed 99 . 2. dan 7. Prodi Manajemen Informatika . Namun demikian. semester berikutnya. karena memiliki nilai EF dan LF yang sama. 6. Untuk mendapatkan gambaran mengenai percepatan pekerjaan ini. dengan jalur kritisnya 1. maka percepatan pada jalur lain tidak akan berpengaruh (sia-sia) pada waktu penyelesaian.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian pekerjaan akan selesai pada hari ke-25. lebiuh cepat dari 25 hari. atau akan tetap membutuhkan 25 hari. akan dibahas dengan metode CPM yang akan diberikan pada mata kuliah Manajemen Operasional. 3. maka yang harus dilakukan adalah dengan mempercepat waktu kegiatan yang ada dalam jalur kritis. percepatan pekerjaan pada jalur kritis akan membawa konsekuensi pada munculnya biaya percepatan pekerjaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful