Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

BAB I LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
PENDAHULUAN Materi kuliah Teknik Riset Operasi (TRO) yang akan dipelajari antara lain : 1. Linear programming, dengan penyelesaian Grafik, Simplex, dan Konsep Dualitas 2. Masalah Transportasi 3. Masalah Penugasan 4. Game Theory 5. Pemrograman Dinamis 6. Analisis Jaringan Pengertian Riset Operasi (Operations Research, OR) Riset Operasi adalah sekumpulan Teknik / Alat analisis yang dapat digunakan untuk mengelola sumber daya yang terbatas guna mendapatkan hasil yang optimal. Pengertian optimal diatas mengandung pengertian nilai maximum dan minimum, maksudnya OR dapat digunakan untuk memaksimalkan sesuatu yang diinginkan (seperti hasil produksi, penjualan, keuntungan, ddl), dan dapat juga digunakan untuk meminimumkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan (seperti kecelakaan kerja, kerugian, produk cacat, dll.) Latar • • • Belakang Munculnya OR : Makin kompleksnya masalah perusahaan Makin dinamisnya lingkungan perusahaan Di sisi lain, perusahaan menghadapi banyak kendala dan keterbatasan sumber daya.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

1

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

PENYELESAIAN MASALAH LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menggambarkan fungsi tujuan dan fungsi kendala pada bidang koordinat X-Y dan mampu menentukan solusi optimal dari suatu masalah linear programming yang diberikan.

Asumsi dasar dalam Linier Programing ; 1. Proportionality, dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya, contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+ CnXn Penambahan 1 unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya 2. Additivity, dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lainnya. 3. Divisibility, dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan 4. Deterministic, dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang tepat. Tabel standar Linier Programming Pemakaian Sumber daya Per unit kegiatan Kegiatan Sumber Daya A B C D E Kontribusi terhadap Tujuan Tingkat Kegiatan 1 a11 a21 a31 … am1 C1 X1 C2 X2 C3 X3 2 a12 a22 a32 3 … … … 4 a1n a2n a3n …. amn Cn Xn Kapasitas Sumber Daya b1 b2 b3 … bm

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

2

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah umum dari metode grafik ini adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seperti berikut ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Langkah 4 : Menentukan titik optimal dari daerah yang feasible dan menjadikannya keputusan

Contoh Kasus Perusahaan sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek X1 dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek X2 dengan sol terbuat dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya. Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit, sedangkan mesin C membuat bagian atas sepat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8 jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam. Setiap lusin sepatu merk X1 mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk sepatu dengan merk X2, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5 jam. Pihak perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu merk X1 dapat memberikan kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin sepatu merk X2. Masalahnya adalah : Dalam berapa lusinkah sepatu merk X1 dan X2 harus diproduksi oleh perusahaan IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal, dalam hal ini keuntungan yang maksimal ? Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah \langkahnya adalah sebagai berikut :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

3

dimana X1 dan X2 0 Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Prodi Manajemen Informatika . bentuk model persamaan matematisnya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 ..Polmed 4 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seeperti berikut ini.) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Perhatikan model tabel di atas : • Jumlah baris menunjukkan batasan-batasan . simbol yang dipergunakan adalah : X1 X2 Z = untuk produk sepatu dengan sol karet = untuk produk sepatu dengan sol kulit = fungsi tujuan. yang ditentukan oleh banyaknya sumber yang akan dialokasikan ke setiap jenis kegiatan/produk • Jumlah kolom ditentukan oleh banyaknya/macam kegiatan produk yang akan dilakukan Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Untuk merubah ke dalam model matematis.000. Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. kontribusi keuntungan yang akan diperoleh dari memproduksi sepatu X1 dan X2 Dari kasus di atas.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 1 / Mesin A X2

2X1

8 adalah

2X1

8

X1 0 4

Gambar grafik dari batasan 2 / Mesin B

3X2

15

X2

5

3X2

15

`

X1 0
Prodi Manajemen Informatika - Polmed

5

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 3 / Mesin C

6X1 + 5X2

30

X2

6

6X1 + 5X2

30

X1 0

Selanjutnya untuk apabila grafik dari ketiga batasan tersebut disatukan, maka daerah yang feasibel dapat diperoleh, seperti gambar berikut ini :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

6

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

X2 2X1 5 C D 3X2 15 8

Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30

Langkah 4 : Mencari suatu titik ( yang merupakan kombinasi X1 dan X2 ) di daerah feasible, yang dapat memaksimalkan keuntungan / nilai dari fungsi tujuannya ( Z ). Untuk mendapatkan titik tersebut, dapat dilakukan 2 macam cara yakni : 1. Dengan membandingkan nilai Z dari tiap-tiap alternatif Pada prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut. Pada titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0 Pada titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0 Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

7

5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25 Kesimpulan : Dari kelima titik 9 A.000.apabila mampu memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan sol kulit sebanyak 5 lusin. sehingga koordinat titik B adalah ( 4. 5 Pada titik D ( 0. C. maka untuk mendapatkan nilai X1. maka untuk mendapatkan nilai X2. 5 ) Nilai Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27.5. yakni : 6 ( 4 ) + 5X2 = 30 5X2 X2 = 30 – 24 = 6/5. sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6. nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3.Polmed 8 . 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5 Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3. B. 2. Oleh karena itu perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2. yakni 6X1 + 5 ( 5 ) = 30 6X1 X1 = 30 – 25 = 5/6.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pada titik B ( 4... …. D.750. Dengan menggambarkan dan menggeser fungsi tujuan ( Z ) Misalkan dengan mencoba menggambar fungsi tujuan dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2 seperti terlihat pada garis p pada gambar berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui … Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3. 6/5 ) Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18 Pada titik C ( ……. dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah yang memberikan hasil paling besar yakni 27. nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3.

dll. sehingga garis tersebut perlu digeser ke atas lagi sampai hanya menyinggung satu titik saja. dengan Nilai Z = 27. Dan bila menggunakan cara pergeseran garis Z atau p. Masalah Minimisasi Yang dimaksud minimisasi di sisni adalah fungsi tujuan menggambarkan keingginan perusahaan untuk meinimalkan sesuatu ( misalnya biaya. maka dari contoh kasus yang sama. Beberapa hal lain dalam Metode grafik A. maka penggeseran dilakukan ke kiri.5 = 3X1 + 5X2. kecelakaan kerja. masih ada lebih dari sati titik yang feasibel. pemborosan. Apabila kasus ini terjadi. pilihan jatuh pada titik yang memberikan hasil yang terendah.Polmed 9 . Prodi Manajemen Informatika . Dan apabila itu dilakukan ternyata titik yang tersinggung oleh garis p’ tersebut adalah titik C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 p’ 5 C D 3X2 15 8 p Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30 Ternyaka dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2. ). Dengan demikian titik inilah yang paling optimal.

Fungsi batasan bertanda lebih besar sama dengan ( Apabila hal ini terjadi.4 akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi B. B. Fungsi batasan bertanda sama dengan ( = ) Apabila hal ini terjadi. maka gambar 2. maka gambar 2.Polmed 10 .4 akan menjadi : X2 2X1 5 D Daerah feasible C 8 ) 3X2 15 B 6X1 + 5X2 30 X1 0 A 4 Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal. titik yang dibandingkan cukup titik A. dan C saja. C.

Polmed 11 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 8 B 3X2 15 A 6X1 + 5X2 30 X1 0 4 Dengan demikian daerah feasibelnya akan berada di sepanjang garis antara titik A dan B. Prodi Manajemen Informatika .

dimana X1 dan X2 0 Sebelumnya perlu diingat.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB II LINEAR PROGRAMMING DENGAN SIMPLEX Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis (fungsi tujuan dan fungsi batasan) Langkah 3 : Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Langkah 4 : Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex Langkah 5 Menentukan Kolom kunci. menentukan solusi dasar. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. menentukan variabel dasar. dalam metode simplex ini juga akan dikenal masalah miximalisasi dan minimalisasi 2. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. Dengan menggunakan contoh terdahulu : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 . Apabila kita jumpai kasus seperti di atas. Prodi Manajemen Informatika . mahasiswa diharapkan mampu membentuk tabel simplex awal. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil.Polmed 12 . bahwa : 1. maka kasusnya tidak normal/wajar sehingga memerlukan penyelesaian yang berbeda. Sama dengan metode sebelumnya. dan menentukan solusi optimal dari masalah linear programming yang diberikan. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah LP dengan metode Simplex adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi. dimana fungsi tujuan bertanda sama dengan (=) dan fungsi batasan bertanda lebih kecil sama dengan ( ). Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. maka kasus yang sedang dihadapi adalah kasus yang normal/wajar. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya.

Jadi rumusnya adalah : Baris kunci yang lama Baris kunci yang baru : -------------------------------Angka kunci Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. sehingga akan menjadi : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 menjadi à Z – 3X1 – 5 X2 = 0 Sedangkan fungsi batasan akan menjadi persamaan simlex selain dengan cara merubahnya menjadi fungsi persamaan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Langkah 9 Jika ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan (Z). Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. maka : Langkah 1 dan Langkah 2. maka tabel belum optimal dan perlu dilanjutkan ke proses selanjutnya. Simbol dari variabel batasan tersebut biasanya melanjutkan simbol yang telah digunakan oleh kegiatan atau Prodi Manajemen Informatika . sama dengan metode Grafik sebelumnya. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. dalam kasus normal juga akan ditambahkan satu variabel tambahan (Slack variabel) untuk setiap fungsi batasan. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. Langkah 3 Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Fungsi tujuan akan dirubah menjadi persamaan simplex dengan cara memindah semua nilai ya ng ada di sisi kanan persamaan ke sisi sebelah kiri persamaan. Dari kasus di atas. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. Jika masih ada yang negatif. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut.apabila diselesaikan dengan metode Simplex. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif.Polmed 13 .

à 6X1 + 5X2 + X5 Perhatikan. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Sedangkan fungsi batasan akan menjadi Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : =8 = 15 = 30 8 à 2X1 + X3 15 à + 3X2 + + X4 30 .Polmed 14 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi produk yang sedang dibahas. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. Langkah 4 Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Dari Fs. bahwa setiap fungsi batasan akan menjadi persamaan simplex dengan tanda (=) dan memiliki tambahan variabel (slack variabel) masing-masing. Batasan 2 Dari Fs. maka selanjutnya variabel tambahannya akan menggunakan simbol X3 dan seterusnya. Batasan 1 Dari Fs. X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Kolom X2 adalah merupakan kolom kunci karena memiliki nilai negatif terbesar di baris tujuannya (Z). Prodi Manajemen Informatika . Sebagai contoh : karena dalam kasus yang ada simbol yang digunakan untuk produk adalah X1 dan X2. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. Batasan 3 Langkah 5 Menentukan kolom kunci.

Dengan rumus tersebut. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. perhatikan perhitungan berikut ini. sehingga tabel dapat dikatakan belum optimal dan perlu diproses lebih lanjut. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. angka kuncinya adalah 3. Dari tabel di atas. Langkah 9 Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 0/-5 à 8/0 à 15/3 à 30/5 = tak terdefinisikan = divinition by zero = 5 à positif terkecil =6 Langkah 7 Menentukan Angka kunci. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Baris X4 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. terlihat bahwa baris tujuan masih memiliki nilai negatif. Untuk lebih jelasnya.Polmed 15 . Dari tabel di atas. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.

3 Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 0 1 0 1/3 0 5 )0 ___________________________________________ 2 0 1 0 0 8 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 2 0 1 0 0 8 Perhatikan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X1 Z X3 X2 X5 X2 X3 X4 X5 NK 0 1 0 1/3 0 5 Perhatikan bahwa baris X4 akan menjadi baris X2 (ex. Untuk lebih jelasnya. -3 -5 0 0 0 0 ( 0 1 0 1/3 0 5 )–5 ___________________________________________ -3 0 0 5/3 0 25 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : . perhitungan tidak perlu dilakukan. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Kolom kunci) Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong.Polmed 16 . Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. Untuk baris X5 6 5 0 0 1 30 ( 0 1 0 1/3 0 5 )5 ___________________________________________ 6 0 0 -5/3 1 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 6 0 0 -5/3 1 5 0 0 5/3 0 25 Prodi Manajemen Informatika . maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama.

yakni menentukan kolom kunci pada tabel kedua simplex tersebut. Karena masih ada nilai negatif (-3) pada baris tujuannya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kembali ke Langkah 8. X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kolom X1 terpilih menjadi kolom kunci karena memiliki nilai negatif pada baris tujuannya. maka langkah ke-6 dan 7 perlu dilakukan terlebih dahulu.Polmed 17 . Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Sebelum bisa mendapatkan tabel simplex yang ketiga. maka tabel simplex yang diperoleh belum optimal. sehingga perlu kembali lagi ke Langkah 5. Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Baris Kunci Prodi Manajemen Informatika . Langkah 6 (iterasi ke-2) Menentukan Baris kunci. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil.

dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. hasilnya adalah : X1 Z X3 X2 X1 X2 X3 X4 X5 NK 1 0 0 . apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Kolom kunci) Langkah 10 (iterasi ke-2) Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. Dengan rumus tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris X5 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 25/-3 à 8/2 à 5/0 à 5/6 = negatif =4 = pembagian dengan 0 = 5/6 à positif paling kecil Langkah 7 (iterasi ke-2) Menentukan Angka kunci.5 Prodi Manajemen Informatika .5/18 1/6 5/6 Perhatikan bahwa baris X5 akan menjadi baris X1 (ex. Dari tabel di atas. Untuk lebih jelasnya. angka kuncinya adalah 6. perhatikan perhitungan berikut ini. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. Langkah 8 dan 9 (iterasi ke-2) Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Untuk lebih jelasnya. -3 0 0 5/3 0 25 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )–3 ___________________________________________ 0 0 0 5/6 1/2 27.Polmed 18 . Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru.5 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : 0 0 0 5/6 1/2 27.

000 (lihat kolom NK.Polmed 19 . baris Z) Prodi Manajemen Informatika . maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). 1.5 6 1/3 5 5/6 Perhatikan ! Karena dalam tabel simlex ketiga di atas sudah tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuannya. dengan kesimpulan. maka dapat dikatakan bahwa masalah LP ini telah optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )2 ___________________________________________ 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Perhatikan.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. baris X1).5 atau 2. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. perhitungan tidak perlu dilakukan. baris X2) 2. Dengan hasil pada poin 1 di atas. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK.750. Untuk baris X2 0 1 0 1/3 0 5 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )0 ___________________________________________ 0 1 0 1/3 0 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 0 1 Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : 0 1/3 0 5 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama.

5 6 1/3 5 5/6 Tabel Simplex optimal Tabel Simplex iterasi 1 Tabel Simplex awal Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Laba optimal Prodi Manajemen Informatika . dapat dsimpulkan bahwa untuk kasus di atas diperlukan iterasi sampai tahap ke-2 untuk mendapatkan tabel simplex yang memberikan hasil optimal.5/18 X5 0 0 0 1 X5 0 0 0 1 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 0 8 15 30 NK 25 8 5 5 NK 27.Polmed 20 . Secara umum perkembangan iterasi dari tabel-tabel simpelx tersebut dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini. Tabel Simplex Ringkasan X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 -5 0 3 5 X2 0 0 1 0 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 = 5/6 =5 = 27.5 X4 0 0 1 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X4 5/6 5/9 1/3 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Rangkuman proses penyelesaian masalah LP dengan metode Simplex Dari proses iterasi /penyelesaian di atas.

tetapi Minimalisai 2. Fungsi tujuan (Z) bukan Maximalisasi. maka perlu dijadikan dulu ( ) dengan cara dikalikan (-1). misalkan X1 .Polmed 21 . Fungsi batasan bertanda (=) atau ( ) 3. perlu dibuatkan sebuah variabel yang disebut dengan variabel buatan (artificial variabel) • Jika sebelumnya fungsi batasan bertanda ( ). Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan : Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 =8 15 30 . maka untuk menjadi persamaan simplex. dapat dicontohkan sebagai berikut . sehingga : Dari Minimalkan Z Maksimalkan (-Z) = 3X1 + 5X2 = -3X1 – 5X2 à menjadi Untuk fungsi batasan : • Jika sebelumnya fungsi batasan sudah bertanda (=). Prodi Manajemen Informatika . Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian kasus simplex sebelumnya. à dikalikan dengan (-1). Penyelesaian : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Untuk fungsi tujuan à agar menjadi Maximalisasi. maka perlu dibuatkan juga artificial variabel. Langkah penyelesaian untuk kasus penyimpangan ini adalah : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Setelah normal. Namun apabila proses tersebut menyebabkan slack variabelnya bernilai negatif.10 (negatif) Dengan menggunakan kasus di atas. antara lain karena : 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penyimpangan Bentuk Standar Simplex Penyimpangan bentuk standar dapat terjadi karena beberapa sebab. Dan syarat X1 atau X2 tidak terpenuhi.

Dari Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 à menjadi Maksimalkan (-Z) = -3X1 – 5X2 à menjadi persamaan simplex Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 =0 Fungsi batasan 2 Karena batasan kedua ini tidak ada penyimpangan maka untuk menjadi persamaan simplex. sehingga perlu dibuatkan sebuah artificial variabel.6X1 . akan mengakibatkan fungsi tujuannya bertambah sebesar M dari batasan yang bersangkutan. dan ini akan mengakibatkan fungsi tujuannya memiliki tambahan nilai sebesar M. dimana X1 dan X2 maka harus dikalikan dengan (-1). M yang muncul adalah bilangan yang sangat besar. Untuk lebih jelasnya. Mesin B Fungsi batasan 3 Mesin C 6X1 + 5X2 . dan hasilnya menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 + X6 = 30 Prodi Manajemen Informatika . harus bernilai nol. sebelum nilai fungsi tujuan dipindah ke tabel simplex. namun artificial variabel (variabel buatan). cukup ditambahkan slack variabel saja. sehingga sering disebut dengan The Big M. 3X2 15 à + 3X2 + + X4 = 15 Karena nilai X1 dan X2 negatif (tidak sesuai dengan syaratnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi • Perlu diingat bahwa. namun tidak tak terhingga.5X2 30 . pembuatan variabel pada setiap fungsi batasan. Selanjutnya. =8 X3 bar yang muncul bukan slack variabel (variabel tambahan).Polmed 22 . dan hal ini berarti meniadakan variabel tersebut. karena setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel).5X2 . perhatikan contoh berikut : Fungsi batasan 1 Karena batasan pertama à maka akan menjadi : Mesin A Mesin A 2X1 2X1 + X3 = 8. sehingga menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 = 30 Permasalahan yang timbul kemudian adalah variabel slack-nya sekarang bernilai negatif. bilangan M yang ada dalam fungsi tujuan tersebut harus dijadikan nol terlebih dahulu.30 à persamaan simplexnya .30 0). +X5 = . à bila dinormalkan akan menjadi : .6X1 .

yakni dengan bertambahnya fungsi tujuan dengan bilangan M. yang sebelumnya dikalikan dengan setiap nilai batasan yang menyebabkan munculnya bilangan M tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengurangi bilangan M tersebut dengan bilangan M itu sendiri. Atau M 0 -38M Meskipun masih ada M pada kolom ke-5. sebelum dipindah ke tabel simplex. X1 X2 X3 X4 X5 X6 NK 3 5 M 0 0 M 0 (2 0 1 0 0 0 8) M _____________________________________ 3-2M 5 0 0 0 M -8M Selanjutnya kita hilangkan M yang kedua. sehingga tabel simlex awalnya adalah sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . sehingga MX3 dan MX6 di atas harus di-nol-kan terlebih dahulu. karena sebelumnya (X5) telah bernilai negatif (lhat pebahasan batasan ke3). Sehingga fungsi tujuannya akan berubah lagi menjadi : Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 + MX6 =0 Masalah berikutnya yang muncul adalah setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). 3-2M 5 0 0 0 M -8M (6 5 0 0 -1 1 30) M ______________________________________ 3-8M 5-5M 0 -8M+3 -5M+5 0 M 0 0 0 -38M.Polmed 23 . Nilai fs.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penambahan artificial tersebut akan berdampak pada fungsi tujuan. namun M tersebut sudah tidak lagi sebagai variabel dasar. Untuk jelasnya perhatikan cara berikut : Nilai fungsi tujuan terakhir adalah : 3 5 M 0 0 M 0 Kita coba hilangkan M yang pertama terlebih dahulu. Tujuan -8M+3 -5M+5 0 0 M 0 -38M inilah yang selanjutnya akan dimasukkan ke tabel simplex. harus bernilai nol.

yakni mencari kolom kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tabel Awal simplex. dansetrusnya sampai optimal (tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuan. Z.Polmed 24 . mencari baris kunci. untuk kasus penyimpangan : X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X6 0 0 0 1 NK -38M 8 15 30 -8M+3 -5M+5 2 0 6 0 3 5 Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian pada kasus normal. X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X3 4M3/2 1/2 0 -3 X3 M+3/2 1/2 9/5 -3/5 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X5 M 0 0 -1 X5 1 0 3/5 -1/5 X6 0 0 0 1 X6 0 0 0 1 X6 M+1 0 -3/5 1/5 NK -38M 8 15 30 NK -6M12 4 15 6 NK -18 4 5 7/5 6/5 -8M+3 -5M+5 2 0 6 X1 0 3 5 X2 -5M+5 0 3 5 X2 0 0 1 1 Z X1 X4 X6 0 1 0 0 X1 Z X1 X4 X2 0 1 0 0 Prodi Manajemen Informatika . keculai kolom NK-nya) Berikut ini adalah ringkasan hasil penyelesaian kasus penyimpangan di atas.

Langkah penyelesaian berikutnya adalah sama dengan kasus yang normal. diganti dengan X’1 – 10. Prodi Manajemen Informatika . misalnya menjadi . tapi syarat bahwa X1 dan X2 0.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kesimpulannya : Agar kerugiannya minimal. baik tujuan maupun batasannya normal.Polmed 25 .maka produksi yang harus dilakukan adalah : Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Kerugian minimal =4 = 6/5 = . X1 -10 ? Apabila dijumpai kasus seperti ini maka nilai variabel X1 harus disesuaikan menjadi variabel baru dengan nama X’1 yang nilainya adalah : X’1 = X1 + 10.30 + 3X’1 + 5X2 Fungsi batasannya : Mesin A 2 (X’1 – 10 ) .60 + 6X’1 + 5X2 6X’1 + 5X2 8 8 28 15 30 30 90 Setelah demikian. sehingga X1 = X’1 – 10. dan selanjutnya semua nilai X1 pada fungsi tujuan dan batasan. bagaimana jika semua fungsi.20 + 2’X1 2’X1 Mesin B Mesin C 3X2 6 (X’1 – 10) + 5X2 . tidak terpenuhi.18 Penyimpangan berikutnya adalah. sehingga menjadi : Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 3 (X’1 – 10) + 5X2 = .

mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah dual. analisis sensitivitas selain digunakan untuk pengujian/pengecekan. b.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB III DUALITAS DAN ANALISIS SENSITIVITAS Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini.000. Jika hal tersebut terjadi. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. Kegunaan Dualitas dan Analisis Sensitivitas: 1. maka bila sebelumnya hanya bisa menyala 15 jam. Jadi masalah Dual adalah ‘kebalikan’ dari masalah Primal (simplex) Dari contoh kasus di atas. analisis ini lebih bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal.-/unit. menginterpretasikan secara ekonomi masalah dual. masalah Primal (simpelx)-nya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 dimana X1 dan X2 8 15 30 . dan memahami penggunaan analisis sensitivitas.000. bahwa kedua fungsi di atas berasal dari tabel penyederhanaan yg dibuat pada kasus berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Dualitas lebih banyak bermanfaat untuk melakukan pengujian/pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen 2. perubahan pada kapasitas maksimal mesin. Oleh karena itu analisis sensitivitas diperlukan untuk sesegera mungkin mendapatkan hasil optimal yang baru dari perubahan-perubahan tersebut. mengartikan solusi masalah dual. Untuk memahami konsep dualitas. fungsi tujuan dan batasan akan berubah. dan masalah Simplex sendiri selanjutnya sering disebut dengan masalah Primal.Polmed 26 . dan disetup ulang. disamping risiko kesalahan hitung yang mungkin muncul. Sementara itu. karena tuntutan keadaan keuntungan yang diharapkan dari sepatu karet tidak lagi Rp 300. dst. saat ini mampu menyala hingga 16 jam.tapi menjadi Rp 500. 0 Masih ingat khan. diganti oli-nya. misalkan karena mesin kedua diperbaiki. misalkan dari contoh sebelumnya. membuat analisis sensitivitas. dan apabila dilakukan perhitungan lagi dari awal tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. Perubahan yang dimaksud misalnya : a. langkah pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya Dualitas adalah ‘kebalikan’ masalah Simplex. perubahan nilai koefisien dalam fungsi tujuan..

) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Tabel penyederhanaan kasus Primal (simplex) di atas apabila dijadikan Dual akan menjadi : A X1 X2 2 0 8 B 0 3 15 C 6 5 30 3 5 Atau apabila notasi A.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. B..Polmed 27 . dan C serta X1 dan X2 diganti dengan notasi umum dalam Dual akan menjadi : Y1 Batasan 1 Batasan 2 2 0 8 Y2 0 3 15 Y3 6 5 30 3 5 Sehingga fungsi tujuan dan batasan Dual-nya dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan ketika dulu mendapatkan fungsi tujuan dan batasan pada Primal (simplex)-nya.000. Prodi Manajemen Informatika .

Polmed 28 . dan Y3 0 Selanjutnya apa kegunaan atau manfaat hubungan antara Primal dan Dual tersebut ? Seperti telah dijelaskan di bagian awal bab ini. Fungsi Tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 dimana X1 dan X2 Dimana Y1. Sebaliknya nilai kanan batasan (3 dan 5) sebelumnya adalah nilai koefisien fungsi tujuan pada kasus Primal (simplex) 4. Y2. dan 30) sebelumnya adalah nilai kanan (NK) dari fungsi batasan Primal (simplex)-nya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian fungsi tujuan dan batasan Dual-nya (dan ini merupakan ‘kebalikan’ dari fs. Y3) Bila disandingkan kedua masalah Primal dan Dual di atas.d. Y2. akan terlihat : Fungsi tujuanPrimal : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : 8 15 30 . Tujuan dan batasan Primal-nya) adalah : Fungsi Tujuannya : Minimalkan Y Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 0 à tanda juga berubah = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 à perhatikan mjd Minimalisasi Dimana Y1. dan Y3 Perhatikan ! Dalam fungsi tujuan dan batasan Dual tersebut : 1. 3. Fungsi tujuannya dari maksimalisasi menjadi minimalisasi 2. Nilai koefisien pada fungsi batasan Dual adalah ‘pembacaan’ vertikal dari nilai koefisien di batasan Primalnya 5. 15. Jumlah batasan (3) akan menjadi jumlah variabel dalam fungsi tujuan Dualnya (Y1 s. Nilai koefisien pada fungsi tujuan (8. maka salah satu manfaat Dualitas adalah untuk melakukan pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode Prodi Manajemen Informatika .

Nilainya adalah 0. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 1/2 sehingga dari 27. Nilai 0 (nol) di bawah variabel dasar X3 menunjukkan bahwa apabila mesin A (batasan 1) kapasitasnya bertambah dari 8 jam menjadi 9 jam.5 menjadi 27. X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Ada beberapa nilai yang juga penting. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. dan 1/2.5 + 0.5 = 28. Nilai-nilai ini secara umum dapat diartikan sebagai besarnya tambahan keuntungan perusahaan apabila masing-masing kapasitas batasan bertambah sebesar 1 unit kapasitas ( misalnya mesin A dari 8 jam menjadi 9 jam. 5. Dengan hasil pada poin 1 di atas.5 atau 2. 2.Polmed 29 . X4. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27.5 tersebut di atas ternyata nilai yang bermanfaat tidak hanya itu. Nilai 1/2 di bawah variabel dasar X5 menunjukkan bahwa apabila mesin C (batasan 3) kapasitasnya bertambah dari 30 jam menjadi 31 jam. dan X5 pada baris Z tersebut di atas.34 3. perhatikan perhitungan berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . sebelumnya perlu kita perhatikan hasil optimal simplex dari kasus sebelumnya.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK.750. Dengan demikian dapat diartikan bahwa : 1. baris X1). 5/6.5 menjadi 27. Namun demikian. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 0 atau tetap sebesar 27. Perhatikan nilai-nilai dibawah variabel dasar X3. dan 27. mesin B dari 15 jam menjadi 16 jam).5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel optimal simplex di atas telah disimpulkan bahwa : 1.000 (lihat kolom NK. Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya. baris Z) Selain nilai 5/6. Nilai 5/6 di bawah variabel dasar X4 menunjukkan bahwa apabila mesin B (batasan 2) kapasitasnya bertambah dari 15 jam menjadi 16 jam.5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. baris X2) 2.5 + 5/6 = 28.

34 Jadi keuntungan yang baru ini 28. perhatikan perhitungan di bawah ini : Fungsi tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 = 8(0) + 15(5/6) + 30(1/2) = 27. Untuk lebih jelasnya.10 X1 = -10 / .84 atau dengan 5/6 dan ini terbukti bahwa apabila kapasitas mesin ke-2 (batasan 2) bertambah dari 15 menjadi 16. dan 1/2 tersebut apabila dimasukkan ke dalam fungsi tujuan Dual-nya akan menghasilkan keuntungan yang sama ketika keuntungan tersebut diperoleh dari fungsi tujuan Primal-nya (hal ini sekaligus dapat digunakan untuk memastikan bahwa hasil optimal pada masalah Primal/Simplex-nya sudah benar)..Polmed 30 . 5/6. keuntungan akan bertambah 5/6.34 – 27. nilai-nilai dibawah kolom variabel dasar (X3. sementara itu nilai X2 nya adalah : 3X2 X2 Z 16 16/3. bila nilai X1 dan X2 ini dimasukkan ke fs tujuan : = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(16/3) = 28. X4.5 à nilai ini sama dengan yang dihasilkan dari fungsi tujuan primal/simplex sebelumnya Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Batasan 2 Kapasitasnya bertambah 1 jam sehingga menjadi : 3X2 6X1 + 5X2 16.18 X1 . selain mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. dan X5) tersebut atau nilai 0. bila dihubungkan dengan batasan ketiga 30 Bila batasan 2 dikalikan 5 dan batasan 3 dikalikan 3. Selanjutnya.5 = 0. hasilnya adalah : 3X2 6X1 + 5X2 16 (x5) 30 (x3) 15X2 80 18X1 + 15X2 90 ---------------------------.18 X1 = 5/9.

Polmed 31 . kecuali di baris tujuan (Z). dan X1. 5.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Selanjutnya untuk memanfaatkan matrik tersebut. analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Analisis Sensitivitas Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil optimal Primal/Simplexnya.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel di atas. 3) = Prodi Manajemen Informatika . Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5 dan 3. Sementara itu fungsi tujuan Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2. dan perhitungan adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. Perhatikan lagi tabel optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya : X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . langkah-langkahnya adalah : Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya. khususnya nilai-nilai yang berada di bawah variabel dasar. Langkah 2 Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa urutan variabel yang dimaksud adalah X2. nilai-nilai yang dimaksud adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik.

Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan Primal/simplex-nya. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya. 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18. Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas Prodi Manajemen Informatika . 5/6. X4.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi ( 0x1 + 5x0 + 3x0. 0x. 1/2 ) (0. dan 30. 15. dan yang sebelumnya telah dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. Dari contoh kasus yang ada. X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas. 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3. dan perhitungannya adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 15 30 = 1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 0x8 + 1/3x15 + 0x30 0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 = 6 1/3 5 à X2 5/6 à X1 Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel optimal Primal/simplex-nya.Polmed 32 . Dengan hasil di atas. Langkah 2 Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas. nilai yang dimaksud adalah 8. dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ). 5/6.

6. keuntungan per unit X1 dan X2 tidak lagi 3 dan 5.34 à Jadi terbukti memang keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 menjadi 28. dan ½. benarkah ? 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 1 30 = 1x8 + 5/9x16 + -1/3x30 0x8 + 1/3x16 + 0x30 0x8 + -5/18x16 + 1/6x30 = 6 8/9 5 1/3 à X2 5/9 à X1 Apabilai nilai X1 dan X2 tersebut dimasukkan ke fungsi tujuan Primal/simplex akan diperoleh keuntungan : Z = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(5 1/3) = 28. 2/3) Jadi tambahan keuntungan yang terjadi apabila kapasitas setiap mesin ditambah 1 unit tidak lagi 0. Misalkan karena suatu sebab.5 menjadi 28. 0x. perhatikan perhitungan berikut ini : NK sebelumnya 8 15 30 à NK Setelah perubahan 8 16 30 Perhatikan ! Nilai kanan / kapasitas batasan 2 atau mesin B naik menjadi 16.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. 8/9.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi keuntungan akan naik sebesar 5/6 sehingga dari 27. 5/6. tapi menjadi 4 dan 6.34. Prodi Manajemen Informatika .5 menjadi 28.34 Begitu pula bila perubahan terjadi pada koefisien fungsi tujuan. 8/9 dan 2/3. 4) = ( 0x1 + 6x0 + 4x0. Dan apabila dimasukkan ke Fungsi tujuan Dual untuk mendapatkan hasil adalah : Y = 8(0) + 15(8/9) + 30(2/3) = 33.Polmed 33 . tetapi 0. maka keuntungan perusahaan yang baru adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. maka keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. ) dapat pula dicari dengan bantuan matrik ini. Untuk lebih jelasnya.34. 0x5/9 + 6x1/3 + 4x -5/18.34 à Keuntungan yang baru.

Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB IV MASALAH TRANSPORTASI Masalah transportasi berkaitan dengan keterbatasan sumber daya atau kapasitas perusahaan yang harus didistribusikan ke berbagai tujuan. Dalam masalah transportasi. dimana metode yang dapat digunakan adalah : • Metode NWC (North West Corner) • Metode LC (Least Cost) • Metode VAM (Vogel Aproximation Method) • Metode RAM (Russel Aproximation Method) Tahap 2. perhatikan contoh berikut ini. dengan metode : • Stepping Stone • MODI (Modified Distribution) Metode MODI sebenarnya merupakan modifikasi dari metode Stepping Stone yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian manfaat utama dari mempelajari masalah transportasi ini adalah mengoptimalkan distribusi sumberdaya tersebut sehingga mendapatkan hasil atau biaya yang optimal. yakni : Tahap 1. Namun demikian. langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama (penyelesaian awal).Polmed 34 . kebutuhan atau aktivitas. secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap. Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut : Pabrik Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Total Kapsitas produksi tiap bulan 90 ton 60 ton 50 ton 200 ton Saat ini ada kebutuhan dari tiga kota besar yang harus dipenuhi. dengan besaran permintaan masing-masing kota : Prodi Manajemen Informatika . dengan penyelesaian awal. masalahnya belum dapat dioptimalka. Penyelesaian akhir.

maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut : Alternatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Kombinasi metode yang dapat digunakan NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI LC – MODI VAM – MODI Russel . Prodi Manajemen Informatika . Apabila dijumpai kasus semacam ini. Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal.Polmed 35 . hasil optimal belum ditemukan. maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal. Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah : Dari pabrik 1 ke kota A = 20 Dari pabrik 1 ke kota B = 5 Dari pabrik 1 ke kota C = 8 Dari pabrik 2 ke kota A = 15 Dari pabrik 2 ke kota B = 20 Dari pabrik 2 ke kota C = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 25 Dari pabrik 3 ke kota A = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 19 Pertanyaannya adalah : 1. Berapakan total biaya optimal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ? Jawab : Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas dan apabila dikaitkan dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan. guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ? 2. yakni sebesar 200 ton.MODI Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kota A B C Total Kapsitas produksi tiap bulan 50 ton 110 ton 40 ton 200 ton Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing kota adalah sama.

Kolom.Polmed 36 . bahwa : 1. masalah atau kasus di atas perlu disederhanakan terlebih dahulu dalam tabel transportasi. Angka yang terdapat pada pojok kanan atas setiap sel menunjukkan biaya transportasi di sel tersebut. 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebelumnya. dst. sisa 40) Langkah 2 : Lanutkan dengan memenuhi kebutuhan kota B (110) dengan sisa kapasitas Pabrik 1 (yang sebelumnya/pada langkah 1 masih sisa 40) à masih kurang 70 Prodi Manajemen Informatika . dst. Selanjutnya yang dimaksud dengan sel C11 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 1 (kota A). Alternaif 1 : Kombinasi NWC dan Stepping Stone Penggunaan metode NWC. Langkah 1 : Penuhi kebutuhan kota A (50) dengan kapasitas dari Pabrik 1 (90. sesuai namanya North West Corner penyelesaian selalu akan dimulai dari pojok kiri atas (north west) dari tabel transportasi. seperti terlihat di bawah ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Perhatikan. Dengan demikian hasil dari metode ini berturut-turut sebagai berikut : Langkah 1 Langkah 2 Prinsipnya. Sebelum kapasitas Pabrik 1 habis. umumnya mewakili sumber daya yang dimiliki perusahaan 4. jangan gunakan kapasitas dari Pabrik 2. Baris. umumnya mewakili daerah atau tempat tujuan distribusi 3. sel C12 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 2 (kota B). dst. sebelum kebutuhan kota A ‘beres’ jangan memenuhi kebutuhan kota B. Selanjutnya tabel di atas akan disebut dengan tabel transportasi 2.

atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. saat ini kebutuha semua kota dan kapasitas semua pabrik telah terpenuhi dan habis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langah 3 Langkah 4 Langkah 3 : Lanjutkan memenuhi kebutuhan kota B (masik kurang 70) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 2 (60). Prodi Manajemen Informatika . Dari tebel tersebut alokasi atau pendistribusian yang terjadi adalah : Pabrik 1 akan melayani/mengirim ke kota A sebanyak 50 ton dan kota B sebanyak 40 ton Pabrik 2 hanya akan melayani/mengirim ke kota B sebanyak 60 ton Pabrik 3 akan melayani/mengirim ke kota B sebanya 10 ton dan kota C sebanyak 40 ton Pertanyaan yang muncul adalah : 1. gunakan sisa kapasitas Pabrik 3 untuk memenuhi kebutuhan kota C yang kebetulan juga sebesar 40 à sama persis dengan kapasitas yang tersisa di Pabrik 3 Perhatikan tabel transportasi pada langkah ke-5 di atas. Sudah benarkah tabel yang dihasilkan sampai dengan langkah ke-5 ersebut ? à untuk memastikannya.Polmed 37 . Dengan menggunakan metode NWC. perlu dicek kembali : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. karena sebelumnya hanya dipenuhi dengan sisa kapasitas Pabrik 1 sebesar 40. yang dimulai dari pojok kiri atas. à inipun masih kurang 10 Langkah 4 : Penuhi kekurangan kebutuhan kota B (kurang 10) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 3 sebanyak 10 à kapasitas Pabrik 3 tinggal 40 Langkah 5 Langkah 5 : Karena kebutuhan kota B sudah ‘beres’.

dicoba hitung masing-masing biaya pendistribusian tersebut yakni: Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Total biaya pengirimannya = 50 x 20 = 40 x 5 = 60 x 20 = 10 x 10 = 40 x 19 = 1000 = 200 = 1200 = 100 = 760 --------.Polmed 38 . Dari pendistribusi produk perusahaan tersebut. biaya bisa diturunkan lagi ? KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Atau KeDari Pabrik 1 15 10 50 110 Kota A 20 Kota B 5 Kota C (+) 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .+ = 3260 Sudahkah biaya sebesar Rp 3260 tersebut optimal (paling kecil ?) Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengujian terhadap alokasi distribusi seperti pada langkah 5 sebelumnya. dalam arti sudah paling minimal ? Untuk mengetahuinya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. Mungkinkah dengan menggeser alokasi. apakah biaya transportasi yang dikeluarkan perusahaan sudah optimal.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah Pengujian : Langkah 1 : Menguji sel-sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau tidak. Sel yang diuji adalah : Sel C13, C21, C23, dan C31. Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan menggunakan metode Stepping Stone. Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosog tersebut. Perhatikan tanda panah dan tanda (+)/(-) nya !!! Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Untuk pengujian sel C13 = biayanya 8, bergerak ke sel C33 (bisa juga ke C12, tapi tidak bisa ke C11), sehingga dikurangi 19, bergerak lagi ke C32, sehingga ditambah 10, bergerak langsung ke C12, sehingga dikurangi 5 (tidak perlu ke C22, karena bisa langsung ke C12), sehingga hasil akhirnya adalah 8 – 19 + 10 – 5 = - 6 KeDari Pabrik 1 Pabrik 2
25

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

50
15

40
20 10

60
10 19

60 40 40 50 200

Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 50

10 110

= 8 – 19 + 10 – 5 = 15 – 20 + 5 -20 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 20 + 5 – 10

=-6 = -20 = -19 =0

Dari pengujian empat sel tersebut dapat dilihat bahwa masih ada tiga sel yang menghasilkan nilai negatif, dan sel C21 yang memberikan negatif paling besar. Artinya dengan menggeser pengiriman ke sel tersebut, biaya akan dapat diturnkan sebesar Rp 20 (karena -20) per ton-nya. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman dengan langkah 2 selanjutnya :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

39

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah 2 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21, yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

(-)
15

(+)
20 10

(+)
25

(-)
10 19

60 50 200

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, perhatikan sel yang bertanda minus saja, yakni sel C11 dan sel C22. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini, pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C11, dengan alokasi sebelumnya 50 ton, dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1
15

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50

=0 = 90 = 10 = 50

Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

40

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1, atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya, perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong, apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas, sel yang masih kosong adalah sel C11, C13, 23, dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya, sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut :

KeDari Pabrik 1

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
15 20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31

= 20 – 5 + 20 – 15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 15 + 20 – 10

= 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton) =-6 = -19 = 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton)

Dari hasil pengujian tersebut, ternyata sel C23 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 19/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman, dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C23 dengan langkah :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

41

Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 .yang ada. yakni sel C22 dan sel C33. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. dengan alokasi sebelumnya 10 ton. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.Polmed 42 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. Prodi Manajemen Informatika . Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. Dan ternyata sel C22.

sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C31 = 20 – 5 + 10 – 19 + 10 . Dari tabel di atas. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 6/ton.15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 20 – 10 + 19 – 10 = 25 – 15 + 10 – 19 = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) =-6 = 19 à (lebih mahal 20/ton) = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) Dari hasil pengujian tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. sel yang masih kosong adalah sel C11. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C13 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Polmed 43 . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. C13. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. C22 dan C31.

Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . Dan ternyata sel C33. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. yakni sel C12 dan sel C33. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. dengan alokasi sebelumnya 30 ton.Polmed 44 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Dari pergerakan dan tanda +/. perhatikan sel yang bertanda minus saja.30 = 60 = 30 = 50 =0 Prodi Manajemen Informatika .yang ada.

10 = 19 – 10 + 5 – 8 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) Dari hasil pengujian tersebut. sel yang masih kosong adalah sel C11.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. C31 dan C33. Dari tabel di atas. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. C22. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.Polmed 45 .

artinya kota yang akan dipenuhi kebutuhannya adalah kota B (sebelumnya baru dikirim 90 ton. maka alokasi pertama dimulai dari sel tersebut. dapat diketahui bahwa biaya terendah berkutnya adalah sel C23 atau sel C32 (dengan biaya sama-sama 10). yakni biayanya 5/ton.Polmed 46 . sehingga alokasinya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya dicari sel dengan biaya terendah berikutnya. jadi kurang 20 ton) dengan kapasitas Pabrik 3. Misalkan dipilih sel C32.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 2 : Kombinasi LC (Least Cost) dan Stepping Stone Dari contoh kasus di atas sudah diperoleh tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 1 Penyelesaian masalah dengan menggunakan metode Least Cost. Dari sel yang tersisa. karena kapasitas Pabrik 1 telah habis. Apabila diperhatikan dari tabel di atas. sesuai dengan namanya dimulai dengan memilih alokasi atau sel yang memiliki biaya pengiriman atau biaya transportasi yang paling rendah. Karena nilai biayanya sama. dimana semua sel pada baris 1/pertama tidak diikutkan lagi dalam pemilihan. maka dapat dipilih salah satu dari keduanya. sehigga alokasi berikutnya adalah : 50 Kota A 20 15 25 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Prodi Manajemen Informatika . sel yang memiliki biaya terkecil adalah sel C12. dimana kota yang harus dipenuhi kebutuhannya adalah kota B dan sumber pengirimannya dari Pabrik 1.

KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Karena tinggal kolom satu yang bisa dibandingkan (itupun hanya kolom satu baris 2 dan 3). maka Sel dengan biaya terendah selanjutnya adalah sel C21 (kebutuhan kota A dengan kapasitas Pabrik 2). memenuhi kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 20 110 50 40 Selanjutnya dipilih sel dengan biaya terendah berikutnya. Sel terpilih dengan biaya terendah adalah sel C23.Polmed 47 . KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 20 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Alokasi yang diberikan di sel C23 tersebut adalah 40 ton. dimana baris 1 dan kolom 2 tidak dilibatkan lagi. dan alokasi yang diberikan untuk sel tersebut adalah 20 ton (sisa kapasitas Pabrik 2). sehingga kapasitas Pabrik 2 hanya tinggal 20 ton.

atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Langkah 3 dan selanjutnya Untuk mengetahuinya. alokasi akhirnya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 20 30 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sel terakhir yang dialokasikan adalah sel C31 (kekurangan kebutuhan kota A dengan sisa kapasitas Pabrik 3 sebesar 30 ton). Namun demikian. 22. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C33 = 20 – 5 + 10 – 25 = 8 – 10 + 15 – 25 + 10 . dan C33.Polmed 48 . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C33 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. sehingga dengan metode Least Cost ini.5 = 20 – 10 + 25 – 15 = 19 – 25 + 15 – 10 =0 = . sel yang masih kosong adalah sel C11. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.7 à (penurunan biaya terb esar) = 20 =-1 Dari hasil pengujian tersebut. perlu dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. C13. Dari tabel di atas. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 7/ton.

yang ada. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dari ketiga sel bertanda pergerakan minus ini. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. yakni sel C12. dan sel 23 yang 40 ton. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.Polmed 49 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 (+) 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan (+) 25 10 (-) 19 60 50 40 200 (-) 50 (+) 110 Dari pergerakan dan tanda +/. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. C23 dan sel C31. Dan ternyata sel C31. Selanjutnya angka 30 ton di sel C31 tersebut digunakan untuk mengurangi dan menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).

sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi.+ = 1890 Hasil ini dengan yang diperoleh apabila digunakan metode NWC sebelumnya. C31 dan C33. untuk baris 1.Polmed 50 . C22. Alternaif 3 : Kombinasi metode VAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Dengan kasus yang sama. Sebagai contoh. penyelesaian kasus dengan metode VAM alokasi dimulai dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. begitu seterusnya sampai kolom ke-3.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Namun demikian. Dari tabel transportasi yang ada dapat diperoleh hasil : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 à 15 – 10 à 19 – 10 à 20 – 15 à 10 – 5 à 10 -8 =3 =5 = 9 à (dipilih karena memiliki selisih terbesar) =5 =5 =2 Prodi Manajemen Informatika . ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. sehingga selisihnya adalah 3. sel yang masih kosong adalah sel C11. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . dari setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. biaya terendah pertama adalah 5 dan terendah kedua adalah 8. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi pertama akan diberikan pada baris 3. karena memiliki selisih terbesar.Polmed 51 . sementara kebutuhan kota B 110 ton : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Langkah 2 Alokasi kedua berikutnya dilakukan dengan cara yang sama. hasil perhitungan selisih menghasilkan : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 =3 à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 3 tersebut. di setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à 20 – 5 = 15 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi kedua akan diberikan pada kolom 2. Pertanyaannya adalah. karena kapasitas Pabrik 3 hanya 50. baris ketiga tidak diikutkan lagi karena kapasitas pabrik 3 telah habis. saat ini kapasitas Pabrik 1 inggal 30 ton. yakni dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. karena memiliki selisih terbesar.. Dengan demikian alokasi pertama dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 50 ke kota B. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di kolom 2 tersebut. Dengan demikian. à karena kapasitas Pabrik 1 ada 90 ton. Sebagai catatan. di baris 3 ada tiga sel. dan masih kurang 60 ton. yakni sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3). yakni sel C12 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 1). Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 60 ton ke kota B (kekurangan kebutuhan kota B). Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : Prodi Manajemen Informatika . di Kolom 2 ada dua sel. Pertanyaannya adalah.

Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à 20 . karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi ketiga akan diberikan pada baris 1. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à tidak perlu dihitung lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 50 40 Dengan alokasi seperti di atas. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 30 ton ke kota C (karena sisa kapasitas Pabrik 1 tinggal 30 ton). karena memiliki selisih terbesar. yakni sel C13 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 1). dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. Pertanyaannya adalah. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 1 tersebut.8 = 12 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi.Polmed 52 . di baris 1 ada dua sel. Baris 3 dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi.

karena merupakan satu-satunya baris yang bisa dihitung selisihnya. karena tinggal memenuhi kebutuhan kota A saja sebesar 50 ton dari kapasitas Pabrik 2 yang memang tinggal 50 ton. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 2 tersebut. Pertanyaannya adalah. Baris 3 . tentunya tidak perlu dilakukan perhitungan selisih biaya terendah pertama dan kedua lagi. yakni sel C23 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2). kapasitas Pabrik 3 sdh habis à tidak bisa dihitung. sehingga alokasi terakhirnya adalah : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan alokasi seperti di atas. di baris 2 masih ada dua sel. 30 ton sebelumnya sudah dikirim dari Pabrik 1). karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à tidak bisa dihitung. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi keempat akan diberikan pada baris 2. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à tidak perlu dihitung lagi. Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim dari Pabrik 2 sejumlah 10 ton ke kota C (karena kebutuhan kota C tinggal kurang 10 ton. Baris 1.dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi.Polmed 53 . dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Dengan alokasi seperti di atas. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis à tidak perlu dihitung lagi. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis. kapasitas Pabrik 1 sdh habis à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi.

Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. C22. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . C31 dan C33. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. Dari tabel di atas.Polmed 54 . sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 50 110 50 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. Namun demikian. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 2 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika .10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. sel yang masih kosong adalah sel C11. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

30 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 20 = 20 = 25 = 25 = 20 = 19 Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya biaya pada setiap sel akan dikurangi dengan biaya tertinggi untuk baris itu dan dikurangi lagi dengan biaya tertinggi untuk kolom itu.20 = 10 – 20 – 19 = .35 = 8 – 20 – 19 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 2. biaya tertingginya Untuk Baris 2.25 = 5 – 20 – 20 = . pemilihan alokasi dapat memilih satu diantara keduanya. yakni sel C12 dan sel C32. Sebagai contoh dipilih sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . biaya tertingginya Untuk Kolom 1. dan dari perhitungan di atas ada dua sel yang bernilai negatif paling besar. biaya tertingginya Untuk Baris 3.25 = 10 – 25 – 20 = .31 = 15 – 20 – 25 = .Polmed 55 . penyelesaian kasus dengan metode RAM dimulai dengan mencari biaya yang tertinggi untuk setiap baris dan kolom yang ada dalam tabel transportasinya. Dengan cara ini biaya tertinggi yang dimaksud adalah : Untuk Baris 1. perhatikan perhitungan berikut ini : C11 C12 C13 C21 C22 C23 C31 C32 C33 = 20 – 20 – 25 = .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 4 : Kombinasi metode RAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Sedikit berbeda dengan metode VAM. Karena sama.25 Alokasi pertama akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. biaya tertingginya Untuk Kolom 3.35 = 19 – 25 – 19 = .29 = 25 – 25 – 25 = . Untuk lebih jelasnya.

biaya tertingginya Untuk Kolom 3.25 C22 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 20 Untuk Kolom 2. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. di mana Baris 3 dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya Untuk Kolom 1. biaya tertingginya = 20 = 20 = Tidak perlu lagi. biaya tertingginya Untuk Kolom 2.Polmed 56 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya = 10 Prodi Manajemen Informatika . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. yakni sel C12 (kebutuhan kota B yang masih kurang 60.20 C23 = 10 – 20 – 10 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.20 C31 s. biaya tertingginya Untuk Baris 3. krn kapasitas Pabrik 3 habis = 20 = 20 = 10 C11 = 20 – 20 – 20 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi kedua akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.d C33 tidak perlu dihitung lagi. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. di mana Baris 3 tidak perlu diikutsertakan lagi.20 C12 = 5 – 20 – 20 = .35 C13 = 8 – 20 – 10 = . biaya tertingginya Untuk Baris 2. dengan kapasitas Pabrik 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya = 20 Untuk Baris 2. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3.22 C21 = 15 – 20 – 20 = .

Baris 3. yang kapasitasnya tinggal 30) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi C11 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi ketiga akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. Dengan demikian alokasi selanjutnya adalah memenuhi kekurangan kebutuhan kota C sebesar 10 ton dari Pabrik 2 Prodi Manajemen Informatika . biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Baris 2.15 C31 s.d C13 tidak perlu dihitung lagi. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi.20 C12 = tidak perlu dihitung lagi.d C33 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = 15 Untuk Kolom 2.15 C31 s.20 C22 = tidak perlu dihitung lagi. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = .22 C21 = 15 – 15 – 20 = .Polmed 57 .d C33 tidak perlu dihitung lagi.15 C22 = tidak perlu dihitung lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C13 = 8 – 20 – 10 = . karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi keempat dan kelima akan diberikan kepada kedua sel tersisa karena memiliki nilai negatif yang sama. artinya alokasi dapat dilakukan di dua sel tersebut secara bersama (karena tinggal dua sel tersisa). karena kapasitas Pabrik 1 sudah habis C21 = 15 – 15 – 15 = . dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. yakni sel C13 (kebutuhan kota C. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . di mana Baris 1. dengan kapasitas Pabrik 1. biaya tertingginya = 10 C11 s.

sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. sel yang masih kosong adalah sel C11. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal. hasil alokasinya adalah: KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Dengan demikian. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.Polmed 58 . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. C22. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. Dari tabel di atas. Namun demikian. C31 dan C33.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 3 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi (sel C23) dan sisa kapasitas Pabrik 2 akan dikirimkan ke kota A sebesar 50 ton. sesuai kebutuhannya.

apabila pemberian nilai untuk pertama diberikan pada baris 1. yakni : 1. sehingga perlu diselesaikan lebih lanjut. Langkah 1 Penggunaan metode MODI untuk solusi akhir. pemilihan NWC sebagai metode dalam solusi awal akan menghasilkan tabel tansportasi awal sebagai berikut ( lihat alternatif 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Seperti telah dicoba sebelumnya. Ketentuan selanjutnya adalah. karena kebetulan juga memiliki sel terisisi alokasi terbanyak (sama dengan baris 3). baris yang akan diberi nilai yang pertama adalah baris 1.Polmed 59 . baris yang mana ? Ada dua pendapat mengenai baris mana yang akan diberikan nilai terlebih dahulu. Pertanyaannya adalah. baris 1 akan selalu bernilai nol (0). Untuk kesempatan ini. dimulai dengan mencari dan memberi nilai untuk setiap baris dan kolom yang ada. Pendapat pertama. nilai diberikan kepada baris yang memiliki sel terisi alokasi paling banyak. namun dengan metode MODI untuk solusi akhirnya. Dengan demikian pemberian nilai untuk yang pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . maka baris 1 dan 3 sama-sama memiliki dua sel yang terisi alokasi. nilai diberikan pada baris yang pertama 2. dengan nilai nol (0). Pendapat kedua. maka untuk proses selanjutnya. dengan demikian nilai pertama sebesar nol dapat diberikan pada baris 1 atau baris 3. tabel di atas belumlah optimal. Pemberian nilai pertama kali diberikan untuk baris. Bila digunakan contoh tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 5 : Kombinasi metode NWC dan MODI Seperti telah dijelaskan di muka.

à nilai K1 = 20 à nilai K2 = 5 à nilai B2 = 15 à nilai B3 = 5 à nilai K3 = 14 = B1 + K1à 20 = B1 + K2à 5 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. = B3 + 5. dan hasilnya adalah : 20 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 Pabrik 2 25 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Prodi Manajemen Informatika . = 5 + K3. = 0 + K2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Pabrik 2 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 25 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Keterangan : B1 = Baris 1 K1 = Kolom 1 Sel C11 Sel C12 Sel C22 Sel C32 Sel C33 B2 = Baris 2 K2 = Kolom 2. = B2 + 5.Polmed 60 . dan seterusnya = 0 + K1.

Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.yang ada. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21. yakni sel C11 dan sel C22.19 = 25 – 5 – 20 = 0 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (20 per ton). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . dengan alokasi sebelumnya 50 ton. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dan ternyata sel C11. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 = 8 – 0 – 14 = . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 15 (+) 20 10 (+) 25 (-) 10 19 60 50 200 Dari pergerakan dan tanda +/.Polmed 61 .20 = 10 – 15 – 14 = .6 = 15 – 15 – 20 = .

perlu kembali ke langkah 1 di atas. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Prodi Manajemen Informatika . Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50 =0 = 90 = 10 = 50 Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.Polmed 62 . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya.

à nilai K3 = 14 Setelah nilai B2 diketahui. dan hasilnya adalah : 0 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C22 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. maka nilai K1 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 15 + K1. à nilai B2 = 15 = B3 + 5.Polmed 63 .19 = 25 – 5 – 0 = 20 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (19 per ton). Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 5.6 = 10 – 15 – 14 = . masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). à nilai B3 = 5 = 5 + K3. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31 = 20 – 0 – 0 = 20 = 8 – 0 – 14 = . à nilai K1 = 0 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung.

perhatikan sel yang bertanda minus saja. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. yakni sel C22 dan sel C33. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 64 . Dan ternyata sel C22. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. dengan alokasi sebelumnya 10 ton. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini.yang ada.

nilai sel C21 juga dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = . KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C23 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. maka nilai sel C23 dapat dicari dengan cara : Sel C23 = B2 + K3à 10 = B2 + 14 à nilai B2 = . karena nilai B2 dan K3 belum diketahui = B3 + 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol.4 Dan setelah nilai B2 diketahui. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya.4 + K1 à nilai K1 = 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K3 = 14 Setelah nilai K3 diketahui. dan hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung. karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = belum bisa dihitung. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).Polmed 65 . perlu kembali ke langkah 1 di atas.

masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika . dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 19 = 1 Sel C13 = 8 – 0 – 14 = .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 19 KeDari 0 -4 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 5 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13.6 Sel C22 = 20 – (.Polmed 66 .4) – 5= 19 Sel C31 = 25 – 5 – 19 = 1 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (6 per ton).

yang ada. Dan ternyata sel C33. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. Prodi Manajemen Informatika . Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. perlu kembali ke langkah 1 di atas. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).30 = 60 = 30 = 50 =0 Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. yakni sel C12 dan sel C33. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari pergerakan dan tanda +/.Polmed 67 . Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton.

Polmed 68 . à nilai K2 = 5 = 0 + K3 à nilai K3 = 8 = belum bisa dihitung. à nilai B3 = 5 Dan setelah nilai B2 diketahui. karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 8 à nilai B2 = 2 = B3 + 5. dan hasilnya adalah : 13 KeDari 0 2 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 8 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C32 = B1 + K2à 5 = B1 + K3à 8 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = 0 + K2. nilai sel C21 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 2 + K1 à nilai K1 = 13 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.

Apabila kapasitas < kebutuhan. Silahkan dicoba sendiri à PR ya. akan terjadi kelebihan kapasitas dan hal ini akan menimbulkan biaya simpan 2. = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. dengan total biaya optimalnya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya Catatan : Alternatif penyelesaian ke-6. hanya saja dengan solusi awal yang sesuai dengan metodenya.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika . sebelum dapat diselesaikan dengan metode solusi awal dan solusi akhir yang ada. Apabila kapasitas > kebutuhan. VAM dan RAM. maka kasus yang dihadapi dapat dikategorikan dalam kasus yang tidak normal.!!!! Masalah Transportasi untuk kasus tidak normal (Kapasitas tidak sama dengan Kebutuhan). 7 dan 8 dapat dilakukan dengan cara yang relatif sama seperti pada alternatif penyelesaian 5 di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. Terjadi masalah ‘Degeneracy’ dimana syarat (m+n)-1 tidak terpenuhi Oleh karena itu. Seperti telah dijelaskan di atas.. karena : 1. maka kasus semacam ini perlu dinormalkan terlebih dahulu. yakni metode LC. apabila dijumpai kasus dimana nilai kapasitas perusahaan tidak sama dengan kebutuhannya. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 13 = 7 Sel C22 = 20 – 2 – 5 = 13 Sel C31 = 25 – 5 – 13 = 7 Sel C33 = 19 – 5 – 8 = 6 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif.Polmed 69 . masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). akan terjadi kekurangan kapasitas yang berarti akan menimbulkan biaya kehilangan kesempatan (opportunity cost) 3. atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. sehingga dengan demikian tabel di atas telah optimal.

sehingga secara keseluruhan kapasitas perusahaan menjadi 250. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 60 10 110 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 40 40 50 50 Perhatikan. Setelah itu. sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 110 40 50 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai contoh. untuk mengakomodir kelebihan kapasitas yang ada. proses selanjutnya akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. perhatikan tabel transportasinya. Untuk lebih jelasnya. semua sel yang ada tidak memerlukan biaya. sehingga saat ini kebutuhan > kapasitas yang tersedia. dalam kasus di atas. Prodi Manajemen Informatika . Contoh kasus tidak normal kedua adalah apabila dengan kapasitas perusahaan sebelumnya (200 ton). Dalam kolom ini.Polmed 70 . maka dalam tabel transportasinya perlu dibuatkan satu buah kolom lagi yang disebut dengan kolom Dummy. bahwa setelah dibutkan kolom Dummy untuk menampung kelebihan kapasitas. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. ternyata kebutuhan di kota A naik dari 50 ton menjadi 100 ton. sementara kebutuhan dari ketiga kota hanya 200 ton. kapasitas Pabrik 3 meningkat dari 50 ton menjadi 100 ton. atau nol. Untuk menyelesaiakan kasus ini (kapasitas > kebutuhan).

bahwa setelah dibutkan baris Dummy untuk menampung kelebihan kebutuhan. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 90 10 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 50 250 50 50 10 110 40 40 0 Perhatikan. proses selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. sering disebut dengan masalah Degenaracy. seperti terlihat pada contoh kasus Degeneracy berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Dengan demikian pada tabel transportasi pertama akan menjadi seperti tabel berikut ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 0 Kapasitas 90 60 50 50 250 110 40 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. Dan seperti pada kasus tidak normal sebelumnya. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. yang pertama perlu dilakukan adalah membuatkan baris Dummy. Contoh kasus tidak normal ketiga.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk menyelesaikan kasus tidak normal seperti ini. dimana syarat alokasi / jumlah sel yang teralokasikan tidak memenuhi syarat (m+n) – 1. akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya.Polmed 71 . untuk menampung kelebihan kebutuhan dari kota A.

Sebagai latihan. Untuk menyelesaikan kasus Degeneracy ini. sehingga meskipun ada sel yang bernilai nol. hampir semua sel yang masih kosong tidak dapat dipakai untuk menguji apakah masih memiliki nilai negatif atau tidak. maka diperoleh alokasi pengiriman sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 40 50 70 40 Perhatikan. menurut rumus yang disyaratkan adalah (m+n) – 1 atau (3+4) -1 = 6. maka sekarang semua sel kosong dapat diuji dan proses mencari hasil optimal dapat dilakukan seperti biasa. Dengan pemberian nilai nol ini. untuk pengujian sel yang masih kosong. sementara itu.Polmed 72 . perlu diberikan nilai nol pada salah satu sel yang masih kosong (di sel manapun yang masih kosong). Akibatnya adalah.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 50 40 40 70 Apabila kasus di atas diselesaikan dengan metode solusi awal NWC. jumlah sel yang terisi hanya lima. coba selesaikan masalah Degeneracy di atas dengan metode solusi awal dan akhir yang saudara bisa !!! Prodi Manajemen Informatika . bahwa dengan metode solusi awal NWC. kecuali sel C24. jadi kurang satu sel. tapi jumlah sel yang terisi telah memenuhi syarat alokasi (m+n) – 1 atau 6 sel.

Identifikasi dan penyederhanaan masalah dalam bentuk tabel penugasan 2. Apabila masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Secara umum lagkah-langkah penyelesaian masalah penugasan yang normal adalah : 1. maka dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut 4. 3. begitu pula sebaliknya bila menyangkut biaya. 7. mencari nilai tertinggi untuk setiap baris yang kemudian nilai tertinggi tersebut dikurangi dengan semua nilai yang ada dalam baris tersebut. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Apabila belum. Dari hasil lagkah ke-6 tersebut. Jika sudah. Untuk kasus minimalisasi. mencari biaya terkecil untuk setiap baris. 8. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. mesin. Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai nol. Pilih nilai yang paling kecil. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. telah berhasil ditemukan nilai nol. mesin. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Prodi Manajemen Informatika . Penyelesaian masalah penugasan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode Hungarian yang pada tahun 1916 dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang bernama D KÖnig. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. kemudian pergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. dala arti apabila penugasan tersebut berkaitan dengan keuntungan maka bagaimana alokasi tugas atau penugasan tersebut dapat memberikan keuntugan yang maksimal. maka masalah penugasan telah optimal. maka langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut.Polmed 73 . 5. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. dan apabila belum maka perlu diulangi langkah penyelesaian ke-5 di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB V MASALAH PENUGASAN Masalah penugasan berkaitan dengan keinginan perusahaan dalam mendapatkan pembagian atau alokasi tugas (penugasan) yang optimal. 6. Selanjutnya. alat transportasi. Sedangkan untuk kasus maksimalisasi. alat transportasi. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol.

maka biaya yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-4 karyawan tersebut juga berbeda. Dari kasus penugasan tersebut di atas. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan I Karyawan A B C D 15 14 25 17 20 16 20 18 18 21 23 18 22 17 20 16 II III IV Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. karakteristik dari masingmasing karyawan. perhatikan contoh kasus berikut ini. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai catatan.lah sumber daya yang akan ditugaskan dan jumlah pekerjaan atau tujuan adalah sama. A. kasus penugasan dianggap normal apabila jum.Polmed 74 . Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 0 0 5 1 5 2 0 2 3 7 3 2 7 3 0 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan. Masalah Minimalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 4 orang karyawan yang harus menyelesaikan 4 pekerjaan yang berbeda. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari biaya terkecil untuk setiap baris. sehingga akan menjadi : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Prodi Manajemen Informatika . Untuk lebih jelasnya. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. yakni kolom 3.

Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Langkah 5 Selanjutnya. Prodi Manajemen Informatika . kemudian nilai 1 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 2. telah berhasil ditemukan nilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nah. sebanyak sumber daya (bisa karyawan.Polmed 75 . sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. mesin. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah tiga. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 1). atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. alat transportasi. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. Sementara itu nilai 5 dan 1 pada kolom 1 akan bertambah 1.

Prodi Manajemen Informatika .- Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.--------. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Total biaya Rp 18.B. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 4 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). mesin. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. alat transportasi. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan Karyawan A B C D E I 10 14 9 13 10 II 12 10 8 15 13 III 10 9 7 8 14 IV 8 15 8 16 11 V 15 13 12 11 17 Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal.Rp 20. produktifitas atau keuntungan yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-5 karyawan tersebut juga berbeda. Masalah Maximalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 5 orang karyawan yang harus menyelesaikan 5 pekerjaan yang berbeda. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68.+ Rp 68.Rp 14. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan. karakteristik dari masingmasing karyawan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut.Rp 16.Polmed 76 .

Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . alat transportasi. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 5 1 3 3 7 3 5 4 1 4 5 6 5 8 3 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 5 karyawan. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari produktifitas atau keuntungan terbesar untuk setiap baris. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 5 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. telah berhasil ditemukan nilai nol. mesin.Polmed 77 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari kasus penugasan tersebut di atas. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 3. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. sehingga akan menjadi : 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Nah. dan kemudian nilai tersebut dikurangi dengan semua nilai produktifitas yang ada pada baris yang sama. yakni kolom 3.

yang berada di baris dan kolom yang berbeda. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. 5 dan 0 pada kolom 5 akan bertambah 2. Langkah 5 Selanjutnya. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar (2) atau nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 2). dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. mesin.Polmed 78 . Sementara itu nilai 2. alat transportasi. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah empat. kemudian nilai 2 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol à yakni baris ke-5)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 5 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan).

Rp 16. maka dalam proses penyelesaiannya. Dengan demikian karyawan dengan keterbatasan seperti itu tidak dapat dipaksakan mengerjakan sebuah pekerjaan yang memang tidak mungkin baginya. usia. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68.Rp 14. ketrampilan yang tidak memadai. alternatif lain dari penugasan di atas dapat dipilih seperti terlihat pada tabel berikut ini : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Rp 15. tidak semua masalah penugasan memiliki matrix biaya atau keuntungan seperti dalam dua contoh kasus di atas.- Namun demikian.Rp 9. Prodi Manajemen Informatika .- Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian.Polmed 79 .Rp 14.Rp 12.--------.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Rp 12.Rp 15. dan disebut dengan bilangan M (untuk masalah minimalisasi) dan – M (untuk masalah maximalisasi).- Catatan : Dalam praktek sehari-hari.--------. kondisi fisik. perlu ditambahkan sebuah bilangan yang sangat besar. atau karena sebab lainnya).+ Rp 68. hanya saja pada keptusan optimalnya akan dihindari menugaskan karyawan pada tugas yang memiliki bilangan M atau – M tersebut. Ada kalanya seorang karyawan misalnya.Rp 14.+ Rp 68. jenis kelamin.Rp 15. tidak dapat dialokasikan atau ditugaskan untuk sebuah pekerjaan tertentu (karena alasan. Proses penyelesaian selanjutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada kasus penugasan yang normal. Untuk mengatasi hal semacam ini.

secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tindakan sebuah unit bisnis (misalnya) untuk memenangkan persaingan dalam usaha yang digelutinya. bahwa dalam praktek sehari-hari. 5. Seperti diketahui. Satuan nilai tersebut merupakan efektifitas yang dapat berupa uang. diperlukan analisis dan pemilihan strategi pemasaran tepat. Ketentuan-ketentuan Dasar dalam Teori Permainan Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari contoh tabel matrik pay off (matrik permainan) di atas. merupakan hasil yang diperoleh dari penggunaan berbagai strategi yang dipilih oleh kedua perusahaan. khususnya strategi bersaing yang paling optimal bagi unit usaha atau organisasi yang bersangkutan. begitu pula sebaliknya nilai negatif menunjukkan kerugian bagi pemain baris dan keuntungan bagi pemain kolom. dapat dijelaskan beberapa ketentuan dasar yang terpenting dalam teori permainan. Nilai positif menunjukkan keuntungan bagi pemain baris dan kerugian bagi pemain kolom. 9. Sebagai contoh nilai 9 pada sel C12 menunjukkan apabila pemain/perusahaan A menggunakan strategi harga murah (S1) dan perusahaan B meresponnya dengan strategi harga sedang (S2). Nilai-nilai yang ada dalam tabel tersebut (yakni angka 1.Polmed 80 . 4 di baris kedua). persentase pangsa pasar. 2 di baris pertama dan 8. jumlah pelanggan dan sejenisnya. yakni : 1. maka perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 9 yang berarti perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar 9. Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bab 6 Teori Permainan (Dua pemain-Jumlah Nol) Teori permainan yang mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel ini. Untuk memenangkan persaingan itulah. setiap unit usaha atau organisasi pada umumnya harus berhadapan dengan para pesaing.

menghasilkan nilai negatif yang lebih kecil dari hasil penggunaan strategi lainnya. perhatikan dua contoh kasus berikut ini : Contoh kasus 1 ( Strtaegi Murni) Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama. Untuk memahami dengan lebih jelas mengenai penggunaan Teori permianan ini. Setiap pemain/perusahaan akan memilih strategi-strategi tersebut secara terus menerus selama perusahaan masih memiliki keinginan melanjutkan usahanya 4. Tujuan dari teori permainan ini adalah mengidentifikasi strategi yang paling optimal untuk setiap perusahaan. dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Agar sebuah permainan atau persaingan menjadi optimal. Penyelesaian masalah dalam Teori Permainan ini. b. selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada. Strategi Murni Penyelesaian masalah dengan strategi murni dilakukan dengan menggunakan konsep maximin untuk pemain/perusahaan baris dan konsep minimax untuk pemain/perusahaan kolom. nilai positif (keuntungan) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan campuran/lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil optimal. 3. Maksudnya. setiap strategi yang dipergunakan berusaha untuk mendapatkan nilai permainan (sadle point) yang sama. nilai negatif (kerugaian) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Suatu strategi dikatakan dominan terhadap strategi lainnya apabila memiliki nilai pay off yang lebih baik dari strategi lainnya. Suatu permainan/persaingan dikatakan adil atau ‘fair’ apabila hasil akhir permainan atau persaingan menghasilkan nilai nol (0). Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan satu strategi/strategi tunggal untuk mendapatkan hasil optimal (sadle point yang sama). Bagi pemain kolom.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. bagi pemain/perusahaan baris. biasanya menggunakan dua karakteristik strategi.Polmed 81 . Suatu strategi dari sebuah pemain/perusahaan dianggap tidak dapat dirusak oleh perusahaan lainnya. Strategi Campuran Penyelesaian masalah dengan strategi campuran dilakukan apabila strategi murni yang digunakan belum mampu menyelesaikan masalah permainan atau belum mampu memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing-masing pemain/perusahaan. perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi. 6. yakni : a. Untuk keperluan tersbut. 5. atau tidak ada pemain atau perusahaan yang menang/kalah atau mendapat keuntungan/kerugian. menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari hasil penggunaan strategi lainnya.

yakni nilai 4 (rugi yang paling kecil).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari kasus di atas. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. kolom dua nilai terbesarnya 9. 1 8 9 5 2 4 à 1 à 4 Perusahaan A Langkah 2 Untuk pemain kolom.Polmed . keuntungan tersebut besar. Jawab : Seperti telah dijelaskan di atas. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 8. pilih nilai yang paling baik atau besar. agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. 82 Prodi Manajemen Informatika . (perusahaan B). pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 1 dan baris dua nilai terkecilnya 4). Langkah 1 Untuk pemain baris (perusahaan A). bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. dan kolom tiga nilai terbesarnya 4). bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. yakni nilai Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 4.

sekarang menambah satu lagi strategi bersainganya dengan juga mengeluarkan produk berharga sedang. meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin. 4 Contoh kasus 2 ( Strtaegi Campuran) Dari kasus di atas. Sedangkan pemain B. atau tidak dapat selesainya persaingan atau permainan yang ada. yakni masingmasing memilih nilai . Penggunaan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi A dan meningkatnya kerugian bagi B. bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2). maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal à sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. dan karena adanya perkembangan yang terjadi di pasar. namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4. dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar. maka perusahaan A. yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3). namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 1 8 8 9 5 9 2 4 4 à 1 à 4 Perusahaan A Minimax à Langkah 3 Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama. dan hasil yang diperoleh tampak pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 83 . Hasil optimal di atas.

yakni nilai 2. Seperti telah dijelaskan di atas. Jawab : Langkah 1 Mula-mula akan dicoba dulu dengan menggunakan strategi murni. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 à 2 à -1 à 1 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 Dari perkembangan kasus di atas. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil). agar masing-masing mendapatkan hasil yang yang optimal (kalau untung. bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. untuk baris kedua nilai terkecilnya -1 dan baris tiga nilai terkecilnya 1). pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 2 . keuntungan tersebut besar.Polmed 84 . pilih nilai yang paling baik atau besar. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. Untuk pemain baris.

Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran. untuk pemain A. karena bisa menimbulkan kemungkinan kerugian bagi A (ada nilai negatif / -1 nya). strategi S3 adalah paling buruk karena kerugiannya yang bisa terjadi paling besar (perhatikan nilai-nilai kerugian di strategi S3 pemain/perusahaan B) Langkah 5 Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang stretgi S3. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut.Polmed 85 . yang langkahnya adalah sebegai berikut : Langkah 4 Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan atau kerugian paling buruk. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Untuk pemain kolom. dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal à karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. Bila diperhatikan pada tabel sebelumnya. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 6. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 6 5 2 1 5 7 4 9 9 à 2 à -1 à 1 Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Minimax à Langkah 3 Dari tabel di atas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama. kolom dua nilai terbesarnya 5. dimana pemain atau perusahaan A memilih nilai 2 dan perusahaan B memilih nilai 5. dan kolom tiga nilai terbesarnya 9). diperoleh tabel sebagiai berikut : Prodi Manajemen Informatika . yakni nilai 5 (rugi yang paling kecil). Dan bagi pemain B. strategi S2 adalah paling buruk.

maka sekarang persaingan atau permainan dilakukan dengan kondisi. bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar q. dengan cara sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . perusahaan A menggunakan strategi S1 dan S3.Polmed 86 . Untuk perusahaan A. Begitu pula dengan pemain B. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S3 adalah (1-p). sementara perusahaan B menggunakan strategi S1 dan S2. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S2 adalah (1-q). Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) (q) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A (1-q) 2 6 5 1 (p) Strategi Harga Mahal (S3) (1-p) Langkah 7 Selanjutnya mencari nilai besaran probabilitas setiap strategi yang akan digunakan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada serta nilai probalitas masing-masing strategi untuk menghitung sadle point yang optimal. bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) 2 6 5 1 Perusahaan A Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. Langkah 6 Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemugkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan.

375) = 3.5.5 menjadi 3. perusahaan A meresponnya dengan strategi S3. maka : 2p + 6(1-p) = 2p + 6 – 6p = 6 – 4p Bila. apapun strategi yang digunakan A.625) + 6 (0. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. maka keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2p + 6(1-p) = 2 (0. apapun strategi yang digunakan B. maka : 5p + 1(1-p) = 5p + 1 – 1p = 1 + 4p Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung.625 Dan apabila nilai p = 0.625. maka : 6q + 1(1-q) = 6q + 1 – 1q = 1 + 5p Prodi Manajemen Informatika . maka : 6 – 4p = 1 + 4p 5 = 8p P = 5/8 = 0. perusahaan B meresponnya dengan strategi S2. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini keuntungan perusahaan A hanya sebesar 2.5. maka : 2q + 5(1-q) = 2q + 5 – 5q = 5 – 3p Bila. perusahaan A meresponnya dengan strategi S1.5 Dengan persamaan ke-2 = 5p + 1(1-p) = 5 (0. keuntungan perusahaan A bisa meningkat 1. berarti dengan digunakan strategi campuran ini. Bagaimana dengan perusahaan B ? Untuk perusahaan B Bila. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.375) = 3. perusahaan B meresponnya dengan strategi S1. Coba diingat di atas.Polmed 87 . apapun strategi yang digunakan A.625) + 1 (0.5 Perhatikan. bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama. yakni sebesar 3. apapun strategi yang digunakan B.375. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk perusahaan A Bila.625) = 0.

5 dan kerugian minimal yang diterima perusahaan B juga dapat turun hanya sebesar 3.5. maka kerugian minimal yang diharapkan oleh perusahaan B adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2q + 5(1-q) = 2 (0.5. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas. Coba diingat di atas. berarti dengan digunakan strategi campuran ini. yakni sebesar 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung.5 menjadi 3. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini kerugian minimal perusahaan B adalah sebesar 5.5. à Sudah optimal.5) + 1 (0.5 Dan apabila nilai p = 0. mana penyelesaian masalah permainan/persaingan di atas dilanjutkan dengan digunakannya strategi campuran.5) = 3.5) = 3.5. Kesimpulan : Kerena penggunaan strategi murni belum mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5) = 0.5 Dengan persamaan ke-2 = 6q + 1(1-q) = 6 (0.Polmed 88 . kerugian minimal perusahaan B bisa menurun sebesar 1. Perusahaan A keuntungan yang diharapkan naik menjadi 3.5 Perhatikan. Prodi Manajemen Informatika . strategi campuran ini juga mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi masing-masing perusahaan.5) + 5 (0. Penggunaan strategi campuran ini terbukti disamping mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. maka : 5 – 3q = 1 + 5q 4 = 8q q = 4/8 = 0. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S2 milik perusahaan B sudah diketahui nilainya. bahwa keduanya menghasilkan kerugian minimal yang diharapkan adalah sama.5.

maka dalam pemrograman dinamis ini tidak ada formulasi yang standar. Distribusi produk dilakukan melalui transportasi darat. Sebuah perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 700 ton per bulan. Oleh karena itu perlu berlatih soal sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak bentuk penyelesaian kasus yang berbeda-beda. ………. Hasil dari sebuah tahap akan berdampak atau menjadi masukan bagi tahap berikutnya.Polmed 89 . artinya setiap masalah dalam pemrograman dinamis memerlukan pola pendekatan atau penyelesaian yang berbeda satu dengan lainnya. ada kesamaan dari setiap penyelesaian masalah dalam pemrograman dinamis ini. Pasar yang dituju adalah pasar A. dimana setiap keputusan optimal yang diambil diperoleh dari banyak tahap (multistage). 3. memiliki formulasi standar untuk memecahkan masalah. return dari setiap pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Bentuk fungsi umum dari pemrograman dinamis ini adalah : Fn (X) = max { r n (X n ) + f n -1 (X – X n ) } dimana n = 2. Apabila dalam riset operasional yang lain. Dari pengalaman yang ada. Persamaan di atas digunakan untuk perhitungan dari depan ke belakang (forwardinduction) maupun dari belakang ke depan (backward-induction).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 7 PEMROGRAMAN DINAMIS Pemrograman dinamis ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan benama Richard Bellman pada tahun 1957. Untuk memperjelas masalah pemrograman dinamis ini. perhatikan contoh berikut ini. B. telah ditentukan volume pengiriman sebesar 100 ton setiap pengirimannya. dan untuk menghemat biaya pengiriman. dan C. Namun demikian..

2 2 2.4 Selanjutnya.4 Bagaiman distribusi produk harus dilakukan oleh perusahaan agar diperoleh hasil atau return yang paling optimal ? Jawab : Masalah di atas dapat diselesaikan dengan pemrograman dinamis.6 1. dimasukkan dalam tabel hasil sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . adalah sebagai berikut : Jika tidak ada pengiriman Jika ada 1 pengiriman Jika ada 2 pengiriman Jika ada 3 pengiriman Jika ada 4 pengiriman Jika ada 5 pengiriman Jika ada 6 pengiriman Jika ada 7 pengiriman  f1(0) = r1 = 0  f1(1) = f1(1) = 0.7 5.2 1. dan nilai f2(X) ini akan menentukan nilai f3(X).5 2.6 4.6 4 4. berarti nilai f1(X) akan menentukan nilai f2(X). maka return atau penghasilan yang diperoleh mulai dari tidak ada pengiriman hingga 7 kiriman (setiap pengiriman berisi 100 ton).5  f1(3) = r1(3) = 2.9 2.3 Return dari kota C (Rp) 0 0.8  (lihat tabel sebelumnya)  f1(2) = r1(2) = 1.0  f1(7) = r1(7) = 4. Dengan persamaan dasar di atas. B dan diakhiri dengan perhitungan return di pasar C.6  f1(6) = r1(6) = 4. Tahap Pertama Apabila semua produk hanya dipasarkan di kota A.6 1.3 3 3.8 3. dimana perhitungan akan dimulai dari pasar A.4 Return dari kota B (Rp) 0 0.6 4 4.0  f1(5) = r1(5) = 3.3  f1(4) = r1(4) = 3. hasil tersebut di atas.Polmed 90 .8 3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pengiriman Produk ke 0 1 2 3 4 5 6 7 Return dari kota A (Rp) 0 0.8 1.

jika hanya ada 1 pengiriman.6 + 0 = 0. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 X1 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) 0 0.8 = 0.8 1. maka return f2(X) adalah juga 0. begitu pula sebaliknya.6. nilai f2(X) dapat dicari dengan persamaan umum sebagiberikut : Apabila X = 0.3 3.8 }  0. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota A.4 Pasar B X2 F2(X) Pasar C X3 F3(X) Tahap Kedua Apabila diperhitungkan pengiriman ke kota A dan kota B Atas dasar hasil f1(X) di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Produk (X).8 sedangkan jika ke kota B.6 4. Apabila X = 2. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota A.6 + 0. tentu tidak dapat dikirim ke kota B. hasilnya adalah 0.8). karena hasilnya lebih besar (0. Dengan pilihan hasil tersebut. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota A atau ke kota B.0 3. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (1 – X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f2(1) adalah : r2(0) + f1(1) = 0 f2(1) = max { r2(1) + f1(0) = 0.8 Dari hasil persamaan di atas.5 2.0 4.Polmed 91 . maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (2– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f2(2) adalah : Prodi Manajemen Informatika .

3 = 2. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(3). Produk (X). dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0.2 + 0 = 1. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.6 + 0. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).8 1.5.0 + 2.0 4.6 = 1. 5 pengiriman.5 = 1. Apabila X = 3. hingga 7 pengiriman.8 1.5 + 0.5 2. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.1 Pasar C X3 F3(X) X1 0 1 2 3 4 5 6 7 X2 0 0 0 0 0 0 5 4 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi r2(0) + f1(2) = 0 + 1.4 5.3 3.0 = 2.6 4.0 Dari perhitungan di atas. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(2).4 Pasar B F2(X) Rp 0 0. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (3– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f2(3) adalah : r2(0) + f1(3) f2(3) = max { f2(1) + f1(2) r2(2) + f1(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0.0 3.8 = 1. Dari tiga alternatif itu.1 }  2. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.5 2.3.4 }  1. jika hanya ada 2 kali pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. Dengan cara yang sama. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). Dari tiga alternatif itu.3 + 1.3 3. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.Polmed 92 .6 4.5 f2(2) = max { f2(1) + f1(1) = 0.8 +0 = 2.3 = 2.5 r2(2) + f1(0) = 1.2 Dari perhitungan di atas.0 3.2 = 2. jika hanya ada 3 kali pengiriman.

Apabila X = 2.2 Dari perhitungan di atas.6 + 0. Dengan pilihan hasil tersebut. jika hanya ada 1 pengiriman. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (2– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f3(2) adalah : r3(0) + f2(2) = 0 + 1. karena hasilnya lebih besar (0.6.2 + 0 = 1. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota B atau ke kota C.5 = 1.6 + 0. jika hanya ada 2 kali pengiriman. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota B. maka return f2(X) adalah juga 0.5 r3(2) + f2(0) = 1.Polmed 93 . maka selanjutnya dilakukan perhitungan tahap ketiga untuk Pasar B dan C Apabila X = 0.8). dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f2(2).6 + 0 = 0. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (1 – X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f3(1) adalah : r3(0) + f2(1) = 0 f3(1) = max { r3(1) + f2(0) = 0.5 f3(2) = max { f3(1) + f2(1) = 0. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).8 = 1.4 }  1.8 = 0.8 sedangkan jika ke kota C. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota B. maka Prodi Manajemen Informatika . Apabila X = 3. maka yang paling baik adalah alternatif pertama. tentu tidak dapat dikirim ke kota C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tahap Ketiga Setelah tahap kedua selesai. begitu pula sebaliknya. Dari tiga alternatif itu. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. hasilnya adalah 0.5.8 }  0.8 Dari hasil persamaan di atas.

Prodi Manajemen Informatika . hasil optimal yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp 5. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0.6 4. maka agar hasilnya optimal.0 = 1. hingga 7 pengiriman.8).5 + 0. 5 pengiriman.9 Dari perhitungan di atas.1 }  2.2 = 1.5 2. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.8 1.Polmed 94 .0 3.9 + 2.7 5. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.3. Dengan cara yang sama. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2.5 + 0.3.3 = 2.5 2. karena dari perhitungan sebelumnya dinyatakan bahwa kalau hanya ada 1 pengiriman.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (3– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f3(3) adalah : r3(0) + f2(3) f3(3) = max { f3(1) + f2(2) r3(2) + f2(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0. 5. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.3 + 1.8 +0 = 2. Dari tiga alternatif itu.3 3. Dengan distribusi pengiriman tersebut.3 3. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f3(3). dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). jika hanya ada 3 kali pengiriman.0 3.8 = Rp 6. Produk (X).5 X1 0 1* 2 3 4 5 6 7 X2 0 0* 0 0 0 0 5 4 X3 0 0 0 0 0 0 6 6* Setelah tabel di atas lengkap.0 3.5 ) dan sisanya ke kota A (0.4 5.3 3. maka distribusi pengiriman yang paling baik adalah bila 6 pengiriman ditujukan ke kota C (karena hasilnya paling tinggi.1 Pasar C F3(X) Rp 0 0. dapat disimpulkan bahwa apabila kapasitas produksi perusahaan dimaksimalkan sehingga dapat berproduksi sebanyak 700 ton dan akan dikirimkan dalam 7 kali pengiriman. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.6 4.4 Pasar B F2(X) Rp 0 0.8 1. dan ini adalah hasil tertinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif distribusi pengiriman yang lainnya.8 1.0 4.6 4. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman.6 = 1. yang paling baik kalau ditujukan pada pasar A.3 = 2.5 2.

Perbedaan utamanya adalah. Masalahmasalah yang dimaksud antara lain adalah : a. Lates Start Time (LS). adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas. dan disimbolkan dengan sebuah lingkaran 1 2 3. Allen dan Hamilton yang dibuat untuk keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. Dll. Waktu penyelesaian dari serangkaian pekerjaan tersebut b. Tanpa bermaksud meniru. Serangkaian pekerjaan mengganti mesin yang rusak e. ada juga metode CPM (Critical Path Method) yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah jaringan ini. Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut c. Serangkaian pekerjaan membangun gedung c.Polmed 95 . CPM lebih menekankan pada efisiensi biaya pelaksana serangkaian pekerjaan. adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu. Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz. Jalur kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya paling besar/panjang 4. Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah 2. Serangkaian pekerjaan membangun jembatan b. adalah waktu paling lambat untuk menyelesaikan sebuah aktivitas Prodi Manajemen Informatika . Kejadian. Aktivitas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 8 ANALISIS JARINGAN Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. adalah waktu paling cepat untuk memuali sebuah aktivitas 5. biaya). dengan mempercepat salah satu atau beberapa kegiatan dalam rangkaian pekerjaan tersebut. Latest Finish Time. adalah waktu paling lambat untuk memulai sebuah aktivitas 6. Serangkaian pekerjaan produksi d. Beberapa istilah dalan analisis jaringan antara lain adalah : 1. Earliest Finish Time (EF). Earliest Start Time (ES). Metode yang biasanya digunakan sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Tachnique. adalah waktu peling cepat untuk selesainya sebuah aktivitas 7. Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah : a. tenaga.

sehingga tidak memerluakan pengorbanan sumber daya. dimana serangkaian kejadian hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan satu kejadian (lingkaran) c. Sebuah rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian (lingkaran) Namun demikian. diberi nomor sedemikian rupa sehingga tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan. Untuk memenuhi ketentuan. Aktivitas dummy adalah aktivitas yang sebenarnya tidak ada. tidak dapat dihindari. seringkali suatu kasus jaringan dihadapkan pada kondisi dimana poin 4 dan 5 di atas. Untuk menunjukkan urutan kejadian atau aktivitas yang sebenarnya Prodi Manajemen Informatika . Untuk menghindari terjadinya kondisi dimana dua kejian dihubungkan oleh lebih dari satu anak panah 1 2 Dengan aktivitas dummy akan menjadi : 2 1 3 4 b. sehingga untuk mengatasinya harus dibuatkan atau dibantu dengan sebuah aktivitas dummy. Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di kejadian awal (permulaan anak panah) 4. sehingga dapat menggambarkan urutan kejadian.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Beberapa Hal yang penting dalam analisis jaringan adalah : 1. Lingkaran. jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun 3. semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat) harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu 2. yang merupakan simbol dari kejadian. Dua buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah 5. Jadi manfaat dari aktivitas Dummy adalah : a.Polmed 96 . Sebelum suatu aktivitas dimulai. Anak panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan uruturutan kejadian.

Polmed 97 .8 f. dan nilai Latest Finish Time (LF)  dari belakang ke depan. dengan hasil seperti gambar berikut : Prodi Manajemen Informatika . Setelah dialakukan identifikasi. f Waktu yang dibuthkan 10 2 8 4 3 1 5 Dari masalah perusahaan di atas. Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan Mesin Baru Menyiapkan mesin Pesan Material rangka mesin Membuat rangka Finishing rangka Memasng mesin pada rangka Kegiatan Yang mendahului a b a d e c.1 g. yang sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin produksinya. serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian mesin yang rusak tersebut adalah seperti terlihat pada tabel berikut ini. Jika diselesaikan dengan algoritma EF dan LF Langkah pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut. berencana mengganti mesin yang rusak tersebut.10 c. dari setiap kejadian (lingkaran). Sebuah perusahaan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk memahami masalah jaringan ini. 3 b. sesuai dengan urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel. perhatikan contoh berikut ini.2 a. berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut ? Pada bagian mana saja waktu menganggur terjadi ? Jawab : A.3 5 Langkah kedua adalah mencari nilai Earliest Finish Time (EF)  dari depan ke belakang.5 1 2 d.4 6 7 4 e.

apabila masalah jaringan di atasb dikerjakan dengan menggunakan metode matrik. 4. 6.Polmed 98 . 3.1 EF = 20 LF = 20 g. maka nilai-nilai EF dicari dari depan ke belakang. dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20.2 a. 5. paling cepat. Karena itu pekerjaan g baru dapat dimulai setelah hari ke-20. B. atau jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama 2. Untuk kejadian 6. Jika diselesaikan dengan metode matriks Secara garis besar. sedangkan nilai-nilai LF dicari dari belakang ke depan. 2.3 5 EF = 17 LF = 19 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Dengan jalur kritis tersebut. namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu pekerjaan c selesai lebih dahulu. 2. Dengan cara ini. Ke EF 0 10 12 14 17 20 25 LF Dari 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 10 2 4 8 3 1 5 2 10 3 12 4 16 5 19 6 20 7 25 3 4 5 6 7 Sebagaimana dalam metode algoritma. dan 6) sudah selesai pada hari ke 18. makan penyelesaiannya dapat menggunakan matrik berikut ini.4 6 7 EF = 25 LF = 25 4 EF = 14 LF = 16 e. dan 7.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi EF = 12 LF = 12 b.8 f. Jalur kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1. Prodi Manajemen Informatika .5 1 EF = 0 LF = 0 2 EF = 10 LF = 10 d. diperoleh hasil seperti dalam tabel di atas. rangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut baru akan selesai pada hari ke-25 3.10 3 c. meskipun jalur bawah (1.

maka yang harus dilakukan adalah dengan mempercepat waktu kegiatan yang ada dalam jalur kritis. Bila ini tidak dilakukan. lebiuh cepat dari 25 hari. Untuk dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan penggantian mesin itu.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian pekerjaan akan selesai pada hari ke-25. dan 7. 2. atau akan tetap membutuhkan 25 hari. karena memiliki nilai EF dan LF yang sama.Polmed 99 . dengan jalur kritisnya 1. percepatan pekerjaan pada jalur kritis akan membawa konsekuensi pada munculnya biaya percepatan pekerjaan. 3. Namun demikian. semester berikutnya. Untuk mendapatkan gambaran mengenai percepatan pekerjaan ini. akan dibahas dengan metode CPM yang akan diberikan pada mata kuliah Manajemen Operasional. 6. Prodi Manajemen Informatika . maka percepatan pada jalur lain tidak akan berpengaruh (sia-sia) pada waktu penyelesaian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful