Buku TRO Oke

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

BAB I LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
PENDAHULUAN Materi kuliah Teknik Riset Operasi (TRO) yang akan dipelajari antara lain : 1. Linear programming, dengan penyelesaian Grafik, Simplex, dan Konsep Dualitas 2. Masalah Transportasi 3. Masalah Penugasan 4. Game Theory 5. Pemrograman Dinamis 6. Analisis Jaringan Pengertian Riset Operasi (Operations Research, OR) Riset Operasi adalah sekumpulan Teknik / Alat analisis yang dapat digunakan untuk mengelola sumber daya yang terbatas guna mendapatkan hasil yang optimal. Pengertian optimal diatas mengandung pengertian nilai maximum dan minimum, maksudnya OR dapat digunakan untuk memaksimalkan sesuatu yang diinginkan (seperti hasil produksi, penjualan, keuntungan, ddl), dan dapat juga digunakan untuk meminimumkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan (seperti kecelakaan kerja, kerugian, produk cacat, dll.) Latar • • • Belakang Munculnya OR : Makin kompleksnya masalah perusahaan Makin dinamisnya lingkungan perusahaan Di sisi lain, perusahaan menghadapi banyak kendala dan keterbatasan sumber daya.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

1

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

PENYELESAIAN MASALAH LINEAR PROGRAMMING DENGAN METODE GRAFIK
Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menggambarkan fungsi tujuan dan fungsi kendala pada bidang koordinat X-Y dan mampu menentukan solusi optimal dari suatu masalah linear programming yang diberikan.

Asumsi dasar dalam Linier Programing ; 1. Proportionality, dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya, contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+ CnXn Penambahan 1 unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya 2. Additivity, dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lainnya. 3. Divisibility, dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan 4. Deterministic, dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang tepat. Tabel standar Linier Programming Pemakaian Sumber daya Per unit kegiatan Kegiatan Sumber Daya A B C D E Kontribusi terhadap Tujuan Tingkat Kegiatan 1 a11 a21 a31 … am1 C1 X1 C2 X2 C3 X3 2 a12 a22 a32 3 … … … 4 a1n a2n a3n …. amn Cn Xn Kapasitas Sumber Daya b1 b2 b3 … bm

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

2

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah umum dari metode grafik ini adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seperti berikut ini. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Langkah 4 : Menentukan titik optimal dari daerah yang feasible dan menjadikannya keputusan

Contoh Kasus Perusahaan sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek X1 dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek X2 dengan sol terbuat dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya. Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit, sedangkan mesin C membuat bagian atas sepat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8 jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam. Setiap lusin sepatu merk X1 mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk sepatu dengan merk X2, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5 jam. Pihak perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu merk X1 dapat memberikan kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin sepatu merk X2. Masalahnya adalah : Dalam berapa lusinkah sepatu merk X1 dan X2 harus diproduksi oleh perusahaan IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal, dalam hal ini keuntungan yang maksimal ? Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah \langkahnya adalah sebagai berikut :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

3

kontribusi keuntungan yang akan diperoleh dari memproduksi sepatu X1 dan X2 Dari kasus di atas. dimana X1 dan X2 0 Langkah 3 : Mengambar grafik dari masing-masing fungsi batasan yang ada Prodi Manajemen Informatika ..) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Perhatikan model tabel di atas : • Jumlah baris menunjukkan batasan-batasan . bentuk model persamaan matematisnya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 . simbol yang dipergunakan adalah : X1 X2 Z = untuk produk sepatu dengan sol karet = untuk produk sepatu dengan sol kulit = fungsi tujuan.Polmed 4 .000. Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100. yang ditentukan oleh banyaknya sumber yang akan dialokasikan ke setiap jenis kegiatan/produk • Jumlah kolom ditentukan oleh banyaknya/macam kegiatan produk yang akan dilakukan Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis Untuk merubah ke dalam model matematis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi seeperti berikut ini.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 1 / Mesin A X2

2X1

8 adalah

2X1

8

X1 0 4

Gambar grafik dari batasan 2 / Mesin B

3X2

15

X2

5

3X2

15

`

X1 0
Prodi Manajemen Informatika - Polmed

5

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Gambar dari batasan 3 / Mesin C

6X1 + 5X2

30

X2

6

6X1 + 5X2

30

X1 0

Selanjutnya untuk apabila grafik dari ketiga batasan tersebut disatukan, maka daerah yang feasibel dapat diperoleh, seperti gambar berikut ini :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

6

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

X2 2X1 5 C D 3X2 15 8

Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30

Langkah 4 : Mencari suatu titik ( yang merupakan kombinasi X1 dan X2 ) di daerah feasible, yang dapat memaksimalkan keuntungan / nilai dari fungsi tujuannya ( Z ). Untuk mendapatkan titik tersebut, dapat dilakukan 2 macam cara yakni : 1. Dengan membandingkan nilai Z dari tiap-tiap alternatif Pada prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut. Pada titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0 Pada titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0 Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

7

B. nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3.Polmed 8 . D.. 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5 Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3. C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pada titik B ( 4. yakni : 6 ( 4 ) + 5X2 = 30 5X2 X2 = 30 – 24 = 6/5. nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan 3. dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah yang memberikan hasil paling besar yakni 27. 5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25 Kesimpulan : Dari kelima titik 9 A. 5 Pada titik D ( 0. Oleh karena itu perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2. 6/5 ) Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18 Pada titik C ( ……. maka untuk mendapatkan nilai X2.) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui … Karena titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3. yakni 6X1 + 5 ( 5 ) = 30 6X1 X1 = 30 – 25 = 5/6.apabila mampu memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan sol kulit sebanyak 5 lusin.750.. maka untuk mendapatkan nilai X1.000. 2. 5 ) Nilai Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27. Dengan menggambarkan dan menggeser fungsi tujuan ( Z ) Misalkan dengan mencoba menggambar fungsi tujuan dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2 seperti terlihat pada garis p pada gambar berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .5. …. sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6. sehingga koordinat titik B adalah ( 4.

maka dari contoh kasus yang sama. kecelakaan kerja. Dan bila menggunakan cara pergeseran garis Z atau p. dengan Nilai Z = 27. Apabila kasus ini terjadi. Prodi Manajemen Informatika . Dengan demikian titik inilah yang paling optimal. Beberapa hal lain dalam Metode grafik A. ). Dan apabila itu dilakukan ternyata titik yang tersinggung oleh garis p’ tersebut adalah titik C. dll. pilihan jatuh pada titik yang memberikan hasil yang terendah. maka penggeseran dilakukan ke kiri. sehingga garis tersebut perlu digeser ke atas lagi sampai hanya menyinggung satu titik saja. pemborosan.Polmed 9 . Masalah Minimisasi Yang dimaksud minimisasi di sisni adalah fungsi tujuan menggambarkan keingginan perusahaan untuk meinimalkan sesuatu ( misalnya biaya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 p’ 5 C D 3X2 15 8 p Daerah feasible 6X1 + 5X2 B X1 0 4 A 30 Ternyaka dengan nilai Z = 10 = 3X1 + 5X2. masih ada lebih dari sati titik yang feasibel.5 = 3X1 + 5X2.

4 akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika . B. maka gambar 2. Fungsi batasan bertanda sama dengan ( = ) Apabila hal ini terjadi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi B. titik yang dibandingkan cukup titik A. maka gambar 2. C. dan C saja.4 akan menjadi : X2 2X1 5 D Daerah feasible C 8 ) 3X2 15 B 6X1 + 5X2 30 X1 0 A 4 Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Fungsi batasan bertanda lebih besar sama dengan ( Apabila hal ini terjadi.Polmed 10 .

Prodi Manajemen Informatika .Polmed 11 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X2 2X1 8 B 3X2 15 A 6X1 + 5X2 30 X1 0 4 Dengan demikian daerah feasibelnya akan berada di sepanjang garis antara titik A dan B.

dan menentukan solusi optimal dari masalah linear programming yang diberikan. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya. menentukan solusi dasar. menentukan variabel dasar. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah LP dengan metode Simplex adalah : Langkah 1 : Melakukan identifikasi masalah dengan jalan menyederhanakan kasus di atas dalam bentuk model tabulasi. bahwa : 1. maka kasusnya tidak normal/wajar sehingga memerlukan penyelesaian yang berbeda. mahasiswa diharapkan mampu membentuk tabel simplex awal. Prodi Manajemen Informatika . Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. dalam metode simplex ini juga akan dikenal masalah miximalisasi dan minimalisasi 2. Apabila kita jumpai kasus seperti di atas. Langkah 2 : Merubahan model tabulasi menjadi model matematis (fungsi tujuan dan fungsi batasan) Langkah 3 : Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Langkah 4 : Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex Langkah 5 Menentukan Kolom kunci.Polmed 12 . Langkah 6 Menentukan Baris kunci. maka kasus yang sedang dihadapi adalah kasus yang normal/wajar.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB II LINEAR PROGRAMMING DENGAN SIMPLEX Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. dimana X1 dan X2 0 Sebelumnya perlu diingat. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Dengan menggunakan contoh terdahulu : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 8 15 30 . dimana fungsi tujuan bertanda sama dengan (=) dan fungsi batasan bertanda lebih kecil sama dengan ( ). Sama dengan metode sebelumnya. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut.

Langkah 9 Jika ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan (Z). Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.Polmed 13 . Jika masih ada yang negatif. Langkah 3 Merubah persamaan fungsi tujuan dan persamaan/pertidaksamaan fungsi tujuan kedalam persamaan simplex Fungsi tujuan akan dirubah menjadi persamaan simplex dengan cara memindah semua nilai ya ng ada di sisi kanan persamaan ke sisi sebelah kiri persamaan. Jadi rumusnya adalah : Baris kunci yang lama Baris kunci yang baru : -------------------------------Angka kunci Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. Simbol dari variabel batasan tersebut biasanya melanjutkan simbol yang telah digunakan oleh kegiatan atau Prodi Manajemen Informatika . maka tabel belum optimal dan perlu dilanjutkan ke proses selanjutnya.apabila diselesaikan dengan metode Simplex. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Dari kasus di atas. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. maka : Langkah 1 dan Langkah 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci Langkah 7 Menentukan Angka kunci. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. sehingga akan menjadi : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 menjadi à Z – 3X1 – 5 X2 = 0 Sedangkan fungsi batasan akan menjadi persamaan simlex selain dengan cara merubahnya menjadi fungsi persamaan. dalam kasus normal juga akan ditambahkan satu variabel tambahan (Slack variabel) untuk setiap fungsi batasan. sama dengan metode Grafik sebelumnya. Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru.

Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci. Batasan 1 Dari Fs. Kolom kunci ini ditentukan dengan cara mencari nilai negatif terbesar yang ada di baris tujuan (Z) pada tabel simplex tersebut. maka selanjutnya variabel tambahannya akan menggunakan simbol X3 dan seterusnya. Langkah 6 Menentukan Baris kunci. Prodi Manajemen Informatika . à 6X1 + 5X2 + X5 Perhatikan. Langkah 4 Memindah semua nilai koefisien dalam persamaan simplex ke dalam tabel simplex X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Dari Fs. Batasan 2 Dari Fs. Sebagai contoh : karena dalam kasus yang ada simbol yang digunakan untuk produk adalah X1 dan X2. X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Kolom X2 adalah merupakan kolom kunci karena memiliki nilai negatif terbesar di baris tujuannya (Z). Sedangkan fungsi batasan akan menjadi Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : =8 = 15 = 30 8 à 2X1 + X3 15 à + 3X2 + + X4 30 .Polmed 14 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi produk yang sedang dibahas. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. bahwa setiap fungsi batasan akan menjadi persamaan simplex dengan tanda (=) dan memiliki tambahan variabel (slack variabel) masing-masing. Batasan 3 Langkah 5 Menentukan kolom kunci.

Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Dari tabel di atas. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru. apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Dengan rumus tersebut. terlihat bahwa baris tujuan masih memiliki nilai negatif. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. perhatikan perhitungan berikut ini. Dari tabel di atas. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 0/-5 à 8/0 à 15/3 à 30/5 = tak terdefinisikan = divinition by zero = 5 à positif terkecil =6 Langkah 7 Menentukan Angka kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris Kunci Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X2 -5 0 3 5 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 0 0 0 1 NK 0 8 15 30 Baris X4 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Langkah 9 Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Langkah 8 Melakukan pengecekan apakah sudah tidak ada lagi angka/nilai negatif di baris tujuan (kecuali nilai kanan) pada tabel simplex tersebut. Jika sudah tidak ada maka tabel simplex telah optimal. angka kuncinya adalah 3. Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.Polmed 15 . hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . Untuk lebih jelasnya. sehingga tabel dapat dikatakan belum optimal dan perlu diproses lebih lanjut. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya.

3 Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 0 1 0 1/3 0 5 )0 ___________________________________________ 2 0 1 0 0 8 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 2 0 1 0 0 8 Perhatikan. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Untuk lebih jelasnya. -3 -5 0 0 0 0 ( 0 1 0 1/3 0 5 )–5 ___________________________________________ -3 0 0 5/3 0 25 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : . bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). Kolom kunci) Langkah 10 Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama. Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. perhitungan tidak perlu dilakukan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi X1 Z X3 X2 X5 X2 X3 X4 X5 NK 0 1 0 1/3 0 5 Perhatikan bahwa baris X4 akan menjadi baris X2 (ex. Untuk baris X5 6 5 0 0 1 30 ( 0 1 0 1/3 0 5 )5 ___________________________________________ 6 0 0 -5/3 1 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 6 0 0 -5/3 1 5 0 0 5/3 0 25 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 16 . dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga.

Langkah 6 (iterasi ke-2) Menentukan Baris kunci. Sebelum bisa mendapatkan tabel simplex yang ketiga. Baris kunci ditentukan dengan cara membagi setiap angka pada kolom Nilai kanan (NK) dengan setiap angka pada baris kunci.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kembali ke Langkah 8. sehingga perlu kembali lagi ke Langkah 5.Polmed 17 . X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Kolom X1 terpilih menjadi kolom kunci karena memiliki nilai negatif pada baris tujuannya. Karena masih ada nilai negatif (-3) pada baris tujuannya. Kemudian dari hasil pembagian tersebut dipilih hasil positif yang paling kecil. maka langkah ke-6 dan 7 perlu dilakukan terlebih dahulu. yakni menentukan kolom kunci pada tabel kedua simplex tersebut. maka tabel simplex yang diperoleh belum optimal. Nilai Kanan : --------------------------Angka Kolom Kunci X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X5 0 0 0 1 NK 25 8 5 5 Baris Kunci Prodi Manajemen Informatika .

Angka kunci adalah angka yang terdapat pada perpotongan antara Kolom kunci dan Baris kunci.5/18 1/6 5/6 Perhatikan bahwa baris X5 akan menjadi baris X1 (ex.5 Jadi nilai pada baris tujuan yang baru adalah : 0 0 0 5/6 1/2 27.5 Prodi Manajemen Informatika . Dengan rumus tersebut. Langkah 8 dan 9 (iterasi ke-2) Karena ternyata masih ada angka negatif pada baris tujuan. Untuk lebih jelasnya. hasilnya adalah : X1 Z X3 X2 X1 X2 X3 X4 X5 NK 1 0 0 . apabila langkah ke-8 masih menemukan nilai yang negatif. Nilai Baris kunci yang baru ditentukan dengan cara membagi semua nilai yang ada pada baris kunci yang lama dengan angka kuncinya. Dari tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Baris X5 adalah baris kunci karena hasil bagi nilai di kolom NK dengan nilai di kolom kuncinya menghasilkan nilai positif paling kecil. Untuk lebih jelasnya. dengan cara angka atau nilai yang lama dikurangi dengan hasil perkalian antara angka baris baru yang sesuai dengan angka kolom kunci yang bersangkutan juga. langkah selanjutnya adalah menentukan nilai baris kunci yang baru.Polmed 18 . Selanjutnya menggunakan angka kunci tersebut untuk menentukan baris kunci yang baru. Kolom kunci) Langkah 10 (iterasi ke-2) Mengisi/melengkapi sel lain dalam tabel simplex yang masih kosong. perhatikan perhitungan berikut ini : Untuk baris tujuan. Baris Z Baris X3 Baris X4 Baris X5 à 25/-3 à 8/2 à 5/0 à 5/6 = negatif =4 = pembagian dengan 0 = 5/6 à positif paling kecil Langkah 7 (iterasi ke-2) Menentukan Angka kunci. angka kuncinya adalah 6. karena angka tersebut terletak di perpotongan antara kolom kunci dan baris kunci. -3 0 0 5/3 0 25 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )–3 ___________________________________________ 0 0 0 5/6 1/2 27. perhatikan perhitungan berikut ini.

Untuk baris X2 0 1 0 1/3 0 5 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )0 ___________________________________________ 0 1 0 1/3 0 5 Jadi nilai pada baris X5 yang baru adalah : 0 1 Dengan demikian tabel kedua simplex-nya adalah : 0 1/3 0 5 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . Jadi untuk selanjutnya apabila menemukan hal yang sama. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK.5 atau 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk baris X3 2 0 1 0 0 8 ( 1 0 0 -5/18 1/6 5/6 )2 ___________________________________________ 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Jadi nilai pada baris X2 yang baru adalah : 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3 Perhatikan.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. Dengan hasil pada poin 1 di atas. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK. maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. 1. maka dapat dikatakan bahwa masalah LP ini telah optimal. bahwa apabilanilai kolom kuncinya adalah 0 (nol). perhitungan tidak perlu dilakukan. maka hasil nilai baris yang baru akan sama dengan nilai baris yang lama.000 (lihat kolom NK. baris X1). dengan kesimpulan.Polmed 19 . baris X2) 2. baris Z) Prodi Manajemen Informatika .5 6 1/3 5 5/6 Perhatikan ! Karena dalam tabel simlex ketiga di atas sudah tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuannya.750.

Polmed 20 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Rangkuman proses penyelesaian masalah LP dengan metode Simplex Dari proses iterasi /penyelesaian di atas.5 X4 0 0 1 0 X4 5/3 0 1/3 -5/3 X4 5/6 5/9 1/3 .5 6 1/3 5 5/6 Tabel Simplex optimal Tabel Simplex iterasi 1 Tabel Simplex awal Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Laba optimal Prodi Manajemen Informatika . Tabel Simplex Ringkasan X1 Z X3 X4 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X5 -3 2 0 6 X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 -5 0 3 5 X2 0 0 1 0 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 X3 0 1 0 0 = 5/6 =5 = 27.5/18 X5 0 0 0 1 X5 0 0 0 1 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 0 8 15 30 NK 25 8 5 5 NK 27. dapat dsimpulkan bahwa untuk kasus di atas diperlukan iterasi sampai tahap ke-2 untuk mendapatkan tabel simplex yang memberikan hasil optimal. Secara umum perkembangan iterasi dari tabel-tabel simpelx tersebut dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini.

Langkah penyelesaian untuk kasus penyimpangan ini adalah : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Setelah normal. à dikalikan dengan (-1).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penyimpangan Bentuk Standar Simplex Penyimpangan bentuk standar dapat terjadi karena beberapa sebab.10 (negatif) Dengan menggunakan kasus di atas. perlu dibuatkan sebuah variabel yang disebut dengan variabel buatan (artificial variabel) • Jika sebelumnya fungsi batasan bertanda ( ). antara lain karena : 1. Prodi Manajemen Informatika . maka perlu dibuatkan juga artificial variabel. maka untuk menjadi persamaan simplex. maka perlu dijadikan dulu ( ) dengan cara dikalikan (-1). Dan syarat X1 atau X2 tidak terpenuhi. Fungsi batasan bertanda (=) atau ( ) 3. Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian kasus simplex sebelumnya. Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan : Mesin A Mesin B Mesin C dimana X1 dan X2 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 =8 15 30 . tetapi Minimalisai 2. Namun apabila proses tersebut menyebabkan slack variabelnya bernilai negatif. Fungsi tujuan (Z) bukan Maximalisasi. Penyelesaian : Langkah 1 Membuat kasus yang menyimpang menjadi kasus normal Untuk fungsi tujuan à agar menjadi Maximalisasi. misalkan X1 . sehingga : Dari Minimalkan Z Maksimalkan (-Z) = 3X1 + 5X2 = -3X1 – 5X2 à menjadi Untuk fungsi batasan : • Jika sebelumnya fungsi batasan sudah bertanda (=).Polmed 21 . dapat dicontohkan sebagai berikut .

cukup ditambahkan slack variabel saja. Dari Minimalkan Z = 3X1 + 5X2 à menjadi Maksimalkan (-Z) = -3X1 – 5X2 à menjadi persamaan simplex Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 =0 Fungsi batasan 2 Karena batasan kedua ini tidak ada penyimpangan maka untuk menjadi persamaan simplex. Mesin B Fungsi batasan 3 Mesin C 6X1 + 5X2 .30 0). à bila dinormalkan akan menjadi : .6X1 . Selanjutnya. sehingga sering disebut dengan The Big M.Polmed 22 . karena setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). dimana X1 dan X2 maka harus dikalikan dengan (-1). M yang muncul adalah bilangan yang sangat besar. 3X2 15 à + 3X2 + + X4 = 15 Karena nilai X1 dan X2 negatif (tidak sesuai dengan syaratnya. Untuk lebih jelasnya. dan ini akan mengakibatkan fungsi tujuannya memiliki tambahan nilai sebesar M. +X5 = .5X2 .6X1 . =8 X3 bar yang muncul bukan slack variabel (variabel tambahan). namun tidak tak terhingga. harus bernilai nol. pembuatan variabel pada setiap fungsi batasan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi • Perlu diingat bahwa. bilangan M yang ada dalam fungsi tujuan tersebut harus dijadikan nol terlebih dahulu. perhatikan contoh berikut : Fungsi batasan 1 Karena batasan pertama à maka akan menjadi : Mesin A Mesin A 2X1 2X1 + X3 = 8.5X2 30 . dan hasilnya menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 + X6 = 30 Prodi Manajemen Informatika . namun artificial variabel (variabel buatan). sehingga menjadi : 6X1 + 5X2 -X5 = 30 Permasalahan yang timbul kemudian adalah variabel slack-nya sekarang bernilai negatif. sebelum nilai fungsi tujuan dipindah ke tabel simplex. akan mengakibatkan fungsi tujuannya bertambah sebesar M dari batasan yang bersangkutan. dan hal ini berarti meniadakan variabel tersebut.30 à persamaan simplexnya . sehingga perlu dibuatkan sebuah artificial variabel.

Sehingga fungsi tujuannya akan berubah lagi menjadi : Maksimalkan –Z + 3X1 + 5 X2 + MX3 + MX6 =0 Masalah berikutnya yang muncul adalah setiap variabel dasar (slack atau artificial variabel). Atau M 0 -38M Meskipun masih ada M pada kolom ke-5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Penambahan artificial tersebut akan berdampak pada fungsi tujuan. sehingga tabel simlex awalnya adalah sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . namun M tersebut sudah tidak lagi sebagai variabel dasar. Untuk jelasnya perhatikan cara berikut : Nilai fungsi tujuan terakhir adalah : 3 5 M 0 0 M 0 Kita coba hilangkan M yang pertama terlebih dahulu. sebelum dipindah ke tabel simplex. karena sebelumnya (X5) telah bernilai negatif (lhat pebahasan batasan ke3). Cara yang digunakan adalah dengan mengurangi bilangan M tersebut dengan bilangan M itu sendiri. yakni dengan bertambahnya fungsi tujuan dengan bilangan M. X1 X2 X3 X4 X5 X6 NK 3 5 M 0 0 M 0 (2 0 1 0 0 0 8) M _____________________________________ 3-2M 5 0 0 0 M -8M Selanjutnya kita hilangkan M yang kedua. Tujuan -8M+3 -5M+5 0 0 M 0 -38M inilah yang selanjutnya akan dimasukkan ke tabel simplex. harus bernilai nol. Nilai fs. 3-2M 5 0 0 0 M -8M (6 5 0 0 -1 1 30) M ______________________________________ 3-8M 5-5M 0 -8M+3 -5M+5 0 M 0 0 0 -38M. sehingga MX3 dan MX6 di atas harus di-nol-kan terlebih dahulu. yang sebelumnya dikalikan dengan setiap nilai batasan yang menyebabkan munculnya bilangan M tersebut.Polmed 23 .

keculai kolom NK-nya) Berikut ini adalah ringkasan hasil penyelesaian kasus penyimpangan di atas. yakni mencari kolom kunci. Z.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tabel Awal simplex. X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X3 4M3/2 1/2 0 -3 X3 M+3/2 1/2 9/5 -3/5 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X5 M 0 0 -1 X5 1 0 3/5 -1/5 X6 0 0 0 1 X6 0 0 0 1 X6 M+1 0 -3/5 1/5 NK -38M 8 15 30 NK -6M12 4 15 6 NK -18 4 5 7/5 6/5 -8M+3 -5M+5 2 0 6 X1 0 3 5 X2 -5M+5 0 3 5 X2 0 0 1 1 Z X1 X4 X6 0 1 0 0 X1 Z X1 X4 X2 0 1 0 0 Prodi Manajemen Informatika . untuk kasus penyimpangan : X1 Z X3 X4 X6 X2 X3 0 1 0 0 X4 0 0 1 0 X5 M 0 0 -1 X6 0 0 0 1 NK -38M 8 15 30 -8M+3 -5M+5 2 0 6 0 3 5 Langkah selanjutnya adalah sama seperti penyelesaian pada kasus normal.Polmed 24 . mencari baris kunci. dansetrusnya sampai optimal (tidak ada lagi nilai negatif pada baris tujuan.

18 Penyimpangan berikutnya adalah. sehingga X1 = X’1 – 10. baik tujuan maupun batasannya normal. diganti dengan X’1 – 10.20 + 2’X1 2’X1 Mesin B Mesin C 3X2 6 (X’1 – 10) + 5X2 . sehingga menjadi : Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 3 (X’1 – 10) + 5X2 = .maka produksi yang harus dilakukan adalah : Produksi sepatu karet (X1) Produksi sepatu kulit (X2) Kerugian minimal =4 = 6/5 = . Langkah penyelesaian berikutnya adalah sama dengan kasus yang normal. tapi syarat bahwa X1 dan X2 0. Prodi Manajemen Informatika . bagaimana jika semua fungsi. misalnya menjadi . dan selanjutnya semua nilai X1 pada fungsi tujuan dan batasan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kesimpulannya : Agar kerugiannya minimal.30 + 3X’1 + 5X2 Fungsi batasannya : Mesin A 2 (X’1 – 10 ) . tidak terpenuhi. X1 -10 ? Apabila dijumpai kasus seperti ini maka nilai variabel X1 harus disesuaikan menjadi variabel baru dengan nama X’1 yang nilainya adalah : X’1 = X1 + 10.60 + 6X’1 + 5X2 6X’1 + 5X2 8 8 28 15 30 30 90 Setelah demikian.Polmed 25 .

saat ini mampu menyala hingga 16 jam. diganti oli-nya. masalah Primal (simpelx)-nya adalah : Fungsi tujuan Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 : 2X1 3X2 6X1 + 5X2 dimana X1 dan X2 8 15 30 . dan apabila dilakukan perhitungan lagi dari awal tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. Kegunaan Dualitas dan Analisis Sensitivitas: 1.000. menginterpretasikan secara ekonomi masalah dual.tapi menjadi Rp 500. misalkan karena mesin kedua diperbaiki. analisis ini lebih bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. misalkan dari contoh sebelumnya. mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah dual. dan masalah Simplex sendiri selanjutnya sering disebut dengan masalah Primal. analisis sensitivitas selain digunakan untuk pengujian/pengecekan. perubahan nilai koefisien dalam fungsi tujuan. Perubahan yang dimaksud misalnya : a.. Jadi masalah Dual adalah ‘kebalikan’ dari masalah Primal (simplex) Dari contoh kasus di atas. Oleh karena itu analisis sensitivitas diperlukan untuk sesegera mungkin mendapatkan hasil optimal yang baru dari perubahan-perubahan tersebut. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. karena tuntutan keadaan keuntungan yang diharapkan dari sepatu karet tidak lagi Rp 300. b. dst. disamping risiko kesalahan hitung yang mungkin muncul.Polmed 26 . dan memahami penggunaan analisis sensitivitas. membuat analisis sensitivitas. perubahan pada kapasitas maksimal mesin. Sementara itu. langkah pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya Dualitas adalah ‘kebalikan’ masalah Simplex.-/unit.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB III DUALITAS DAN ANALISIS SENSITIVITAS Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini. dan disetup ulang.000. Dualitas lebih banyak bermanfaat untuk melakukan pengujian/pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen 2. 0 Masih ingat khan. Jika hal tersebut terjadi. mengartikan solusi masalah dual. Untuk memahami konsep dualitas. fungsi tujuan dan batasan akan berubah. maka bila sebelumnya hanya bisa menyala 15 jam. bahwa kedua fungsi di atas berasal dari tabel penyederhanaan yg dibuat pada kasus berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .

dan C serta X1 dan X2 diganti dengan notasi umum dalam Dual akan menjadi : Y1 Batasan 1 Batasan 2 2 0 8 Y2 0 3 15 Y3 6 5 30 3 5 Sehingga fungsi tujuan dan batasan Dual-nya dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan ketika dulu mendapatkan fungsi tujuan dan batasan pada Primal (simplex)-nya. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 27 .. B.) X1 2 0 6 3 X2 0 3 5 5 Kapasitas maksimum 8 15 30 Tabel penyederhanaan kasus Primal (simplex) di atas apabila dijadikan Dual akan menjadi : A X1 X2 2 0 8 B 0 3 15 C 6 5 30 3 5 Atau apabila notasi A.000.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Merk Mesin A B C Kontribusi terhadap keuntungan / lusin ( dalam Rp 100.

dan Y3 0 Selanjutnya apa kegunaan atau manfaat hubungan antara Primal dan Dual tersebut ? Seperti telah dijelaskan di bagian awal bab ini. Jumlah batasan (3) akan menjadi jumlah variabel dalam fungsi tujuan Dualnya (Y1 s. 3.d.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan demikian fungsi tujuan dan batasan Dual-nya (dan ini merupakan ‘kebalikan’ dari fs. dan 30) sebelumnya adalah nilai kanan (NK) dari fungsi batasan Primal (simplex)-nya. Y3) Bila disandingkan kedua masalah Primal dan Dual di atas. Fungsi tujuannya dari maksimalisasi menjadi minimalisasi 2. Nilai koefisien pada fungsi tujuan (8. Fungsi Tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 dimana X1 dan X2 Dimana Y1. dan Y3 Perhatikan ! Dalam fungsi tujuan dan batasan Dual tersebut : 1. Y2.Polmed 28 . maka salah satu manfaat Dualitas adalah untuk melakukan pengecekan apakah nilai-nilai yang telah dihasilkan dengan metode Prodi Manajemen Informatika . Nilai koefisien pada fungsi batasan Dual adalah ‘pembacaan’ vertikal dari nilai koefisien di batasan Primalnya 5. Sebaliknya nilai kanan batasan (3 dan 5) sebelumnya adalah nilai koefisien fungsi tujuan pada kasus Primal (simplex) 4. Tujuan dan batasan Primal-nya) adalah : Fungsi Tujuannya : Minimalkan Y Dengan batasan : 2Y1 3Y2 + 6Y3 + 5Y3 3 5 0 à tanda juga berubah = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 à perhatikan mjd Minimalisasi Dimana Y1. Y2. akan terlihat : Fungsi tujuanPrimal : Maksimalkan Z = 3X1 + 5X2 Dengan batasan Mesin A Mesin B Mesin C 2X1 3X2 6X1 + 5X2 0 : 8 15 30 . 15.

5 menjadi 27.5 tersebut di atas ternyata nilai yang bermanfaat tidak hanya itu. Perhatikan nilai-nilai dibawah variabel dasar X3.Polmed 29 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi simplex telah benar dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen.5 atau 2. 5/6. Dengan demikian dapat diartikan bahwa : 1.000 (lihat kolom NK.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel optimal simplex di atas telah disimpulkan bahwa : 1.5 + 5/6 = 28.5. Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. dan 27. Nilai 0 (nol) di bawah variabel dasar X3 menunjukkan bahwa apabila mesin A (batasan 1) kapasitasnya bertambah dari 8 jam menjadi 9 jam. X4. baris X1). Nilai 5/6 di bawah variabel dasar X4 menunjukkan bahwa apabila mesin B (batasan 2) kapasitasnya bertambah dari 15 jam menjadi 16 jam. Sementara itu sepatu kulit sebaiknya diproduksi sebanyak 5 (lihat kolom NK.750.5 menjadi 27. 5. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 0 atau tetap sebesar 27. 2. Nilainya adalah 0. baris X2) 2. Namun demikian. Dengan hasil pada poin 1 di atas. Ada beberapa nilai yang juga penting. dan 1/2. Jumlah produksi untuk sepatu karet (X1) sebaiknya dilakukan dalam jumlah 5/6 (lihat kolom NK. Nilai 1/2 di bawah variabel dasar X5 menunjukkan bahwa apabila mesin C (batasan 3) kapasitasnya bertambah dari 30 jam menjadi 31 jam.34 3.5 = 28. Nilai-nilai ini secara umum dapat diartikan sebagai besarnya tambahan keuntungan perusahaan apabila masing-masing kapasitas batasan bertambah sebesar 1 unit kapasitas ( misalnya mesin A dari 8 jam menjadi 9 jam. baris Z) Selain nilai 5/6.5 + 0. mesin B dari 15 jam menjadi 16 jam). maka keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan adalah sebesar 27. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . perhatikan perhitungan berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . dan X5 pada baris Z tersebut di atas. maka keuntungan perusahaan akan bertambah sebesar 1/2 sehingga dari 27. sebelumnya perlu kita perhatikan hasil optimal simplex dari kasus sebelumnya.

18 X1 .18 X1 = 5/9..34 Jadi keuntungan yang baru ini 28. perhatikan perhitungan di bawah ini : Fungsi tujuan Dual : Minimalkan Y = 8Y1 + 15Y2 + 30Y3 = 8(0) + 15(5/6) + 30(1/2) = 27. selain mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit.5 = 0.84 atau dengan 5/6 dan ini terbukti bahwa apabila kapasitas mesin ke-2 (batasan 2) bertambah dari 15 menjadi 16. nilai-nilai dibawah kolom variabel dasar (X3. bila dihubungkan dengan batasan ketiga 30 Bila batasan 2 dikalikan 5 dan batasan 3 dikalikan 3. 5/6.10 X1 = -10 / . Untuk lebih jelasnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Batasan 2 Kapasitasnya bertambah 1 jam sehingga menjadi : 3X2 6X1 + 5X2 16. X4.Polmed 30 . dan 1/2 tersebut apabila dimasukkan ke dalam fungsi tujuan Dual-nya akan menghasilkan keuntungan yang sama ketika keuntungan tersebut diperoleh dari fungsi tujuan Primal-nya (hal ini sekaligus dapat digunakan untuk memastikan bahwa hasil optimal pada masalah Primal/Simplex-nya sudah benar).5 à nilai ini sama dengan yang dihasilkan dari fungsi tujuan primal/simplex sebelumnya Prodi Manajemen Informatika . sementara itu nilai X2 nya adalah : 3X2 X2 Z 16 16/3. hasilnya adalah : 3X2 6X1 + 5X2 16 (x5) 30 (x3) 15X2 80 18X1 + 15X2 90 ---------------------------.34 – 27. keuntungan akan bertambah 5/6. bila nilai X1 dan X2 ini dimasukkan ke fs tujuan : = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(16/3) = 28. dan X5) tersebut atau nilai 0. Selanjutnya.

Polmed 31 . dan perhitungan adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. Sementara itu fungsi tujuan Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Analisis Sensitivitas Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil optimal Primal/Simplexnya. sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5 dan 3. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa urutan variabel yang dimaksud adalah X2.5 6 1/3 5 5/6 Dari tabel di atas. 5. analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari pengulangan perhitungan dari awal. kecuali di baris tujuan (Z). Perhatikan lagi tabel optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya : X1 Z X3 X2 X1 0 0 0 1 X2 0 0 1 0 X3 0 1 0 0 X4 5/6 5/9 1/3 . 3) = Prodi Manajemen Informatika . langkah-langkahnya adalah : Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. Selanjutnya untuk memanfaatkan matrik tersebut. apabila terjadi perubahan-perubahan pada masalah LP simplex. Langkah 2 Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas.5/18 X5 1/2 -1/3 0 1/6 NK 27. dan X1. Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya. nilai-nilai yang dimaksud adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik. Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. khususnya nilai-nilai yang berada di bawah variabel dasar.

nilai yang dimaksud adalah 8. 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3. 5/6.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. 15. Dari contoh kasus yang ada. 5/6. dan yang sebelumnya telah dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit. 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18.Polmed 32 . Pengujian/pembuktian pertama Langkah 1 Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan Primal/simplex-nya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi ( 0x1 + 5x0 + 3x0. X4. Dengan hasil di atas. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya. dan 30. dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ). Langkah 2 Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas. 0x. X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas. Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas Prodi Manajemen Informatika . dan perhitungannya adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 15 30 = 1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 0x8 + 1/3x15 + 0x30 0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 = 6 1/3 5 à X2 5/6 à X1 Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel optimal Primal/simplex-nya. 1/2 ) (0.

5/6.34.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0. 4) = ( 0x1 + 6x0 + 4x0. 2/3) Jadi tambahan keuntungan yang terjadi apabila kapasitas setiap mesin ditambah 1 unit tidak lagi 0.Polmed 33 . maka keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 sehingga dari 27. Untuk lebih jelasnya. 8/9. 0x. tetapi 0. tapi menjadi 4 dan 6. Dan apabila dimasukkan ke Fungsi tujuan Dual untuk mendapatkan hasil adalah : Y = 8(0) + 15(8/9) + 30(2/3) = 33.34 à Keuntungan yang baru. perhatikan perhitungan berikut ini : NK sebelumnya 8 15 30 à NK Setelah perubahan 8 16 30 Perhatikan ! Nilai kanan / kapasitas batasan 2 atau mesin B naik menjadi 16. dan ½.5 menjadi 28. ) dapat pula dicari dengan bantuan matrik ini.34 à Jadi terbukti memang keuntungan akan bertambah sebesar 5/6 menjadi 28. keuntungan per unit X1 dan X2 tidak lagi 3 dan 5. 0x5/9 + 6x1/3 + 4x -5/18.34 Begitu pula bila perubahan terjadi pada koefisien fungsi tujuan.34. Misalkan karena suatu sebab. 6.5 menjadi 28. 8/9 dan 2/3.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi keuntungan akan naik sebesar 5/6 sehingga dari 27. maka keuntungan perusahaan yang baru adalah : 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 (0. Prodi Manajemen Informatika . benarkah ? 1 0 0 5/9 -1/3 1/3 0 -5/18 1/6 8 1 30 = 1x8 + 5/9x16 + -1/3x30 0x8 + 1/3x16 + 0x30 0x8 + -5/18x16 + 1/6x30 = 6 8/9 5 1/3 à X2 5/9 à X1 Apabilai nilai X1 dan X2 tersebut dimasukkan ke fungsi tujuan Primal/simplex akan diperoleh keuntungan : Z = 3X1 + 5X2 = 3(5/9) + 5(5 1/3) = 28.

dengan metode : • Stepping Stone • MODI (Modified Distribution) Metode MODI sebenarnya merupakan modifikasi dari metode Stepping Stone yang sudah ada sebelumnya. Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut : Pabrik Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Total Kapsitas produksi tiap bulan 90 ton 60 ton 50 ton 200 ton Saat ini ada kebutuhan dari tiga kota besar yang harus dipenuhi. perhatikan contoh berikut ini. secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap. Dalam masalah transportasi. Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini. Namun demikian. masalahnya belum dapat dioptimalka. dengan besaran permintaan masing-masing kota : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB IV MASALAH TRANSPORTASI Masalah transportasi berkaitan dengan keterbatasan sumber daya atau kapasitas perusahaan yang harus didistribusikan ke berbagai tujuan.Polmed 34 . kebutuhan atau aktivitas. Dengan demikian manfaat utama dari mempelajari masalah transportasi ini adalah mengoptimalkan distribusi sumberdaya tersebut sehingga mendapatkan hasil atau biaya yang optimal. langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama (penyelesaian awal). dimana metode yang dapat digunakan adalah : • Metode NWC (North West Corner) • Metode LC (Least Cost) • Metode VAM (Vogel Aproximation Method) • Metode RAM (Russel Aproximation Method) Tahap 2. yakni : Tahap 1. Penyelesaian akhir. dengan penyelesaian awal.

maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut : Alternatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Kombinasi metode yang dapat digunakan NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI LC – MODI VAM – MODI Russel . guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ? 2.MODI Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal. yakni sebesar 200 ton.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Kota A B C Total Kapsitas produksi tiap bulan 50 ton 110 ton 40 ton 200 ton Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing kota adalah sama.Polmed 35 . Apabila dijumpai kasus semacam ini. Berapakan total biaya optimal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ? Jawab : Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas dan apabila dikaitkan dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan. Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah : Dari pabrik 1 ke kota A = 20 Dari pabrik 1 ke kota B = 5 Dari pabrik 1 ke kota C = 8 Dari pabrik 2 ke kota A = 15 Dari pabrik 2 ke kota B = 20 Dari pabrik 2 ke kota C = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 25 Dari pabrik 3 ke kota A = 10 Dari pabrik 3 ke kota A = 19 Pertanyaannya adalah : 1. Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal. maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal. Prodi Manajemen Informatika . hasil optimal belum ditemukan.

sesuai namanya North West Corner penyelesaian selalu akan dimulai dari pojok kiri atas (north west) dari tabel transportasi.Polmed 36 . umumnya mewakili daerah atau tempat tujuan distribusi 3. Sebelum kapasitas Pabrik 1 habis. dst. Selanjutnya tabel di atas akan disebut dengan tabel transportasi 2. masalah atau kasus di atas perlu disederhanakan terlebih dahulu dalam tabel transportasi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebelumnya. 5. Dengan demikian hasil dari metode ini berturut-turut sebagai berikut : Langkah 1 Langkah 2 Prinsipnya. sel C12 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 2 (kota B). umumnya mewakili sumber daya yang dimiliki perusahaan 4. Angka yang terdapat pada pojok kanan atas setiap sel menunjukkan biaya transportasi di sel tersebut. Baris. jangan gunakan kapasitas dari Pabrik 2. bahwa : 1. Selanjutnya yang dimaksud dengan sel C11 adalah baris 1 (pabrik 1) dan kolom 1 (kota A). dst. dst. Kolom. seperti terlihat di bawah ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Perhatikan. sisa 40) Langkah 2 : Lanutkan dengan memenuhi kebutuhan kota B (110) dengan sisa kapasitas Pabrik 1 (yang sebelumnya/pada langkah 1 masih sisa 40) à masih kurang 70 Prodi Manajemen Informatika . Alternaif 1 : Kombinasi NWC dan Stepping Stone Penggunaan metode NWC. Langkah 1 : Penuhi kebutuhan kota A (50) dengan kapasitas dari Pabrik 1 (90. sebelum kebutuhan kota A ‘beres’ jangan memenuhi kebutuhan kota B.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langah 3 Langkah 4 Langkah 3 : Lanjutkan memenuhi kebutuhan kota B (masik kurang 70) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 2 (60). à inipun masih kurang 10 Langkah 4 : Penuhi kekurangan kebutuhan kota B (kurang 10) dengan menggunakan kapasitas dari Pabrik 3 sebanyak 10 à kapasitas Pabrik 3 tinggal 40 Langkah 5 Langkah 5 : Karena kebutuhan kota B sudah ‘beres’. Prodi Manajemen Informatika .Polmed 37 . yang dimulai dari pojok kiri atas. perlu dicek kembali : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. gunakan sisa kapasitas Pabrik 3 untuk memenuhi kebutuhan kota C yang kebetulan juga sebesar 40 à sama persis dengan kapasitas yang tersisa di Pabrik 3 Perhatikan tabel transportasi pada langkah ke-5 di atas. Dari tebel tersebut alokasi atau pendistribusian yang terjadi adalah : Pabrik 1 akan melayani/mengirim ke kota A sebanyak 50 ton dan kota B sebanyak 40 ton Pabrik 2 hanya akan melayani/mengirim ke kota B sebanyak 60 ton Pabrik 3 akan melayani/mengirim ke kota B sebanya 10 ton dan kota C sebanyak 40 ton Pertanyaan yang muncul adalah : 1. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Sudah benarkah tabel yang dihasilkan sampai dengan langkah ke-5 ersebut ? à untuk memastikannya. Dengan menggunakan metode NWC. karena sebelumnya hanya dipenuhi dengan sisa kapasitas Pabrik 1 sebesar 40. saat ini kebutuha semua kota dan kapasitas semua pabrik telah terpenuhi dan habis.

apakah biaya transportasi yang dikeluarkan perusahaan sudah optimal. biaya bisa diturunkan lagi ? KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Atau KeDari Pabrik 1 15 10 50 110 Kota A 20 Kota B 5 Kota C (+) 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika . dicoba hitung masing-masing biaya pendistribusian tersebut yakni: Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota B Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Biaya mengirim 50 ton dari P1 ke kota A Total biaya pengirimannya = 50 x 20 = 40 x 5 = 60 x 20 = 10 x 10 = 40 x 19 = 1000 = 200 = 1200 = 100 = 760 --------. Dari pendistribusi produk perusahaan tersebut. dalam arti sudah paling minimal ? Untuk mengetahuinya.+ = 3260 Sudahkah biaya sebesar Rp 3260 tersebut optimal (paling kecil ?) Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengujian terhadap alokasi distribusi seperti pada langkah 5 sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2.Polmed 38 . Mungkinkah dengan menggeser alokasi.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah Pengujian : Langkah 1 : Menguji sel-sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau tidak. Sel yang diuji adalah : Sel C13, C21, C23, dan C31. Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan menggunakan metode Stepping Stone. Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosog tersebut. Perhatikan tanda panah dan tanda (+)/(-) nya !!! Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Untuk pengujian sel C13 = biayanya 8, bergerak ke sel C33 (bisa juga ke C12, tapi tidak bisa ke C11), sehingga dikurangi 19, bergerak lagi ke C32, sehingga ditambah 10, bergerak langsung ke C12, sehingga dikurangi 5 (tidak perlu ke C22, karena bisa langsung ke C12), sehingga hasil akhirnya adalah 8 – 19 + 10 – 5 = - 6 KeDari Pabrik 1 Pabrik 2
25

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

50
15

40
20 10

60
10 19

60 40 40 50 200

Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 50

10 110

= 8 – 19 + 10 – 5 = 15 – 20 + 5 -20 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 20 + 5 – 10

=-6 = -20 = -19 =0

Dari pengujian empat sel tersebut dapat dilihat bahwa masih ada tiga sel yang menghasilkan nilai negatif, dan sel C21 yang memberikan negatif paling besar. Artinya dengan menggeser pengiriman ke sel tersebut, biaya akan dapat diturnkan sebesar Rp 20 (karena -20) per ton-nya. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman dengan langkah 2 selanjutnya :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

39

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Langkah 2 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21, yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

(-)
15

(+)
20 10

(+)
25

(-)
10 19

60 50 200

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, perhatikan sel yang bertanda minus saja, yakni sel C11 dan sel C22. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini, pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C11, dengan alokasi sebelumnya 50 ton, dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1
15

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50

=0 = 90 = 10 = 50

Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

40

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi

Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1, atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.

Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya, perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong, apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Dari tabel di atas, sel yang masih kosong adalah sel C11, C13, 23, dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya, sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut :

KeDari Pabrik 1

Kota A
20

Kota B
5

Kota C
8

Kapasitas 90

90
15 20 10

Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan

50
25

10
10 19

60 40 40 50 200

10 50 110

Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31

= 20 – 5 + 20 – 15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 10 – 19 + 10 – 20 = 25 – 15 + 20 – 10

= 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton) =-6 = -19 = 20 à (menjadi lebih mahal 20/ton)

Dari hasil pengujian tersebut, ternyata sel C23 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 19/ton. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman, dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C23 dengan langkah :

Prodi Manajemen Informatika - Polmed

41

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton. Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). Prodi Manajemen Informatika . dengan alokasi sebelumnya 10 ton. perhatikan sel yang bertanda minus saja. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut. Dan ternyata sel C22. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/.Polmed 42 . Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . yakni sel C22 dan sel C33.yang ada.

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C31 = 20 – 5 + 10 – 19 + 10 . Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C13 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. sel yang masih kosong adalah sel C11. C22 dan C31. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. Dari tabel di atas.Polmed 43 . C13. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.15 = 8 – 19 + 10 – 5 = 20 – 10 + 19 – 10 = 25 – 15 + 10 – 19 = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) =-6 = 19 à (lebih mahal 20/ton) = 1 à (menjadi lebih mahal 1/ton) Dari hasil pengujian tersebut. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 6/ton.

Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Dari pergerakan dan tanda +/. yakni sel C12 dan sel C33. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.yang ada.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. perhatikan sel yang bertanda minus saja.30 = 60 = 30 = 50 =0 Prodi Manajemen Informatika .Polmed 44 . Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . Dan ternyata sel C33. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton.

ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. C31 dan C33. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut. C22. Dari tabel di atas. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar.Polmed 45 . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.10 = 19 – 10 + 5 – 8 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) Dari hasil pengujian tersebut. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sel yang masih kosong adalah sel C11.

maka alokasi pertama dimulai dari sel tersebut. Apabila diperhatikan dari tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 2 : Kombinasi LC (Least Cost) dan Stepping Stone Dari contoh kasus di atas sudah diperoleh tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 1 Penyelesaian masalah dengan menggunakan metode Least Cost. sehingga alokasinya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya dicari sel dengan biaya terendah berikutnya. Misalkan dipilih sel C32. dimana semua sel pada baris 1/pertama tidak diikutkan lagi dalam pemilihan. yakni biayanya 5/ton. sel yang memiliki biaya terkecil adalah sel C12. dimana kota yang harus dipenuhi kebutuhannya adalah kota B dan sumber pengirimannya dari Pabrik 1. jadi kurang 20 ton) dengan kapasitas Pabrik 3. karena kapasitas Pabrik 1 telah habis. Karena nilai biayanya sama.Polmed 46 . artinya kota yang akan dipenuhi kebutuhannya adalah kota B (sebelumnya baru dikirim 90 ton. sesuai dengan namanya dimulai dengan memilih alokasi atau sel yang memiliki biaya pengiriman atau biaya transportasi yang paling rendah. maka dapat dipilih salah satu dari keduanya. dapat diketahui bahwa biaya terendah berkutnya adalah sel C23 atau sel C32 (dengan biaya sama-sama 10). sehigga alokasi berikutnya adalah : 50 Kota A 20 15 25 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Dari sel yang tersisa.

sehingga kapasitas Pabrik 2 hanya tinggal 20 ton. memenuhi kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2. dan alokasi yang diberikan untuk sel tersebut adalah 20 ton (sisa kapasitas Pabrik 2). KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Karena tinggal kolom satu yang bisa dibandingkan (itupun hanya kolom satu baris 2 dan 3). maka Sel dengan biaya terendah selanjutnya adalah sel C21 (kebutuhan kota A dengan kapasitas Pabrik 2).Polmed 47 . KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 20 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 20 110 50 40 Selanjutnya dipilih sel dengan biaya terendah berikutnya. Sel terpilih dengan biaya terendah adalah sel C23. Alokasi yang diberikan di sel C23 tersebut adalah 40 ton. dimana baris 1 dan kolom 2 tidak dilibatkan lagi.

sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C13 Sel C22 Sel C33 = 20 – 5 + 10 – 25 = 8 – 10 + 15 – 25 + 10 . sehingga dengan metode Least Cost ini. Dengan demikian memang perlu dilakukan perubahan alokasi pengiriman. Namun demikian. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Langkah 3 dan selanjutnya Untuk mengetahuinya. perlu dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sel terakhir yang dialokasikan adalah sel C31 (kekurangan kebutuhan kota A dengan sisa kapasitas Pabrik 3 sebesar 30 ton). C13. dengan mencoba mengalokasikan pengiriman ke sel C33 dengan langkah : Prodi Manajemen Informatika . alokasi akhirnya adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 20 30 50 Kota A 20 15 25 Kota B 90 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. 22.7 à (penurunan biaya terb esar) = 20 =-1 Dari hasil pengujian tersebut. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya.Polmed 48 . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. dan C33. Dari tabel di atas. ternyata sel C13 masih dapat memberikan penurunan biaya sebesar RP 7/ton. sel yang masih kosong adalah sel C11. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.5 = 20 – 10 + 25 – 15 = 19 – 25 + 15 – 10 =0 = .

Dari ketiga sel bertanda pergerakan minus ini.yang ada. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. Prodi Manajemen Informatika . dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. Dan ternyata sel C31. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. yakni sel C12. perhatikan sel yang bertanda minus saja. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. Selanjutnya angka 30 ton di sel C31 tersebut digunakan untuk mengurangi dan menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). dan sel 23 yang 40 ton.Polmed 49 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 (+) 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan (+) 25 10 (-) 19 60 50 40 200 (-) 50 (+) 110 Dari pergerakan dan tanda +/. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. C23 dan sel C31.

Alternaif 3 : Kombinasi metode VAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Dengan kasus yang sama. Dari tabel di atas. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . C31 dan C33.+ = 1890 Hasil ini dengan yang diperoleh apabila digunakan metode NWC sebelumnya. Dari tabel transportasi yang ada dapat diperoleh hasil : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 à 15 – 10 à 19 – 10 à 20 – 15 à 10 – 5 à 10 -8 =3 =5 = 9 à (dipilih karena memiliki selisih terbesar) =5 =5 =2 Prodi Manajemen Informatika . C22. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. Sebagai contoh. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.Polmed 50 . penyelesaian kasus dengan metode VAM alokasi dimulai dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua. dari setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. begitu seterusnya sampai kolom ke-3. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. sel yang masih kosong adalah sel C11. sehingga selisihnya adalah 3. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. untuk baris 1. biaya terendah pertama adalah 5 dan terendah kedua adalah 8. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Namun demikian.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut.

Sebagai catatan. karena kapasitas Pabrik 3 hanya 50. karena memiliki selisih terbesar. hasil perhitungan selisih menghasilkan : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à8–5 =3 à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. dan masih kurang 60 ton. baris ketiga tidak diikutkan lagi karena kapasitas pabrik 3 telah habis. di Kolom 2 ada dua sel. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 3 tersebut. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à 20 – 5 = 15 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi kedua akan diberikan pada kolom 2. yakni dengan mencari selisih antara biaya terendah pertama dan kedua.Polmed 51 . Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 60 ton ke kota B (kekurangan kebutuhan kota B). yakni sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3). saat ini kapasitas Pabrik 1 inggal 30 ton. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi pertama akan diberikan pada baris 3. sementara kebutuhan kota B 110 ton : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Langkah 2 Alokasi kedua berikutnya dilakukan dengan cara yang sama.. à karena kapasitas Pabrik 1 ada 90 ton. sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di kolom 2 tersebut. di baris 3 ada tiga sel. karena memiliki selisih terbesar. Dengan demikian. Pertanyaannya adalah. Pertanyaannya adalah. yakni sel C12 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 1). di setiap baris dan kolom pada tabel transportasinya. Dengan demikian alokasi pertama dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 50 ke kota B.

kapasitas Pabrik 3 sdh habis à 20 – 15 =5 à tidak perlu dihitung lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à 10 -8 =2 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi ketiga akan diberikan pada baris 1. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à 20 . Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim sejumlah 30 ton ke kota C (karena sisa kapasitas Pabrik 1 tinggal 30 ton). karena memiliki selisih terbesar.8 = 12 à dipilih karena memiliki selisih terbesar à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 50 40 Dengan alokasi seperti di atas. dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua.Polmed 52 . sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 1 tersebut. Pertanyaannya adalah. yakni sel C13 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 1). Baris 3 dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. di baris 1 ada dua sel.

Baris 1. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis à tidak perlu dihitung lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi à tidak bisa dihitung.dan Kolom 2 tidak perlu dicari selisihnya lagi. kapasitas Pabrik 1 sdh habis à 15 – 10 =5 à tidak perlu dihitung lagi. yakni sel C23 (kebutuhan kota C dengan kapasitas Pabrik 2). Dengan demikian alokasi selanjutnya dengan metode VAM ini adalah dengan mengirim dari Pabrik 2 sejumlah 10 ton ke kota C (karena kebutuhan kota C tinggal kurang 10 ton. sehingga alokasi terakhirnya adalah : Prodi Manajemen Informatika . karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 habis Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi keempat akan diberikan pada baris 2. karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis. karena merupakan satu-satunya baris yang bisa dihitung selisihnya. Pertanyaannya adalah.Polmed 53 . sel mana yang akan dialokasinya terlebih dahulu ? Tentu saja alokasi akan diberikan kepada sel yang biayanya paling rendah di baris 2 tersebut. karena tinggal memenuhi kebutuhan kota A saja sebesar 50 ton dari kapasitas Pabrik 2 yang memang tinggal 50 ton. Langkah 3 Dengan demikian perhitungan selisih untuk menentukan alokasi berikutnya adalah : Baris 1 Baris 2 Baris 3 Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 à tidak perlu dihitung lagi. Hasil alokasi sampai tahap ini adalah : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Dengan alokasi seperti di atas. di baris 2 masih ada dua sel. kapasitas Pabrik 3 sdh habis à tidak bisa dihitung.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dengan alokasi seperti di atas. 30 ton sebelumnya sudah dikirim dari Pabrik 1). tentunya tidak perlu dilakukan perhitungan selisih biaya terendah pertama dan kedua lagi. dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi semua. Baris 3 .

Namun demikian. ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. C22.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 50 110 50 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.Polmed 54 . sel yang masih kosong adalah sel C11. lakukan pengecekan : • • • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. Dari tabel di atas. C31 dan C33.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 2 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong.

perhatikan perhitungan berikut ini : C11 C12 C13 C21 C22 C23 C31 C32 C33 = 20 – 20 – 25 = . Untuk lebih jelasnya.25 = 5 – 20 – 20 = . Karena sama. biaya tertingginya = 20 = 20 = 25 = 25 = 20 = 19 Langkah 2 dan selanjutnya Selanjutnya biaya pada setiap sel akan dikurangi dengan biaya tertinggi untuk baris itu dan dikurangi lagi dengan biaya tertinggi untuk kolom itu.31 = 15 – 20 – 25 = .35 = 19 – 25 – 19 = .Polmed 55 . Dengan cara ini biaya tertinggi yang dimaksud adalah : Untuk Baris 1. pemilihan alokasi dapat memilih satu diantara keduanya. penyelesaian kasus dengan metode RAM dimulai dengan mencari biaya yang tertinggi untuk setiap baris dan kolom yang ada dalam tabel transportasinya. Sebagai contoh dipilih sel C32 (kebutuhan kota B dengan kapasitas Pabrik 3) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Prodi Manajemen Informatika . biaya tertingginya Untuk Kolom 1. dan dari perhitungan di atas ada dua sel yang bernilai negatif paling besar.25 Alokasi pertama akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. biaya tertingginya Untuk Baris 3. yakni sel C12 dan sel C32.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 4 : Kombinasi metode RAM (Vogel Aproximation Method) dan Stepping Stone Langkah 1 Sedikit berbeda dengan metode VAM.29 = 25 – 25 – 25 = .30 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Kolom 2.25 = 10 – 25 – 20 = .20 = 10 – 20 – 19 = . biaya tertingginya Untuk Baris 2. biaya tertingginya Untuk Kolom 3.35 = 8 – 20 – 19 = .

biaya tertingginya = 20 Untuk Baris 2.22 C21 = 15 – 20 – 20 = . biaya tertingginya Untuk Baris 3.20 C31 s. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi kedua akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. biaya tertingginya = 20 Untuk Kolom 2. biaya tertingginya Untuk Kolom 3. di mana Baris 3 tidak perlu diikutsertakan lagi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis.25 C22 = 20 – 20 – 20 = . di mana Baris 3 dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. biaya tertingginya = 10 Prodi Manajemen Informatika .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya Untuk Kolom 2.20 C12 = 5 – 20 – 20 = .Polmed 56 . krn kapasitas Pabrik 3 habis = 20 = 20 = 10 C11 = 20 – 20 – 20 = . dengan kapasitas Pabrik 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. yakni sel C12 (kebutuhan kota B yang masih kurang 60. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. biaya tertingginya Untuk Baris 2. biaya tertingginya = 20 = 20 = Tidak perlu lagi. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1.d C33 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya Untuk Kolom 1. biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3.35 C13 = 8 – 20 – 10 = .20 C23 = 10 – 20 – 10 = . dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar.

biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 3. yakni sel C13 (kebutuhan kota C. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = .15 C31 s. karena kapasitas Pabrik 1 sudah habis C21 = 15 – 15 – 15 = .20 C12 = tidak perlu dihitung lagi. di mana Baris 1. dan kolom 2 tidak perlu diikutsertakan lagi. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C23 = 10 – 15 – 10 = . Dengan demikian alokasi selanjutnya adalah memenuhi kekurangan kebutuhan kota C sebesar 10 ton dari Pabrik 2 Prodi Manajemen Informatika . karena kapasitas Pabrik 1 dan 3 sudah habis dan kebutuhan kota B sudah terpenuhi. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi ketiga akan diberikan kepada sel yang memiliki nilai negatif paling besar. Perubahan biaya tertinggi untuk setiap Baris dan Kolom : Untuk Baris 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi C11 = 20 – 20 – 20 = . biaya tertingginya = 15 Untuk Baris 3. dengan kapasitas Pabrik 1. biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Baris 2. karena kebutuhan kota B sudah terpenuhi C13 = 8 – 20 – 10 = . Baris 3.d C13 tidak perlu dihitung lagi. biaya tertingginya = 15 Untuk Kolom 2. karena kapasitas Pabrik 3 sudah habis Dengan demikian alokasi keempat dan kelima akan diberikan kepada kedua sel tersisa karena memiliki nilai negatif yang sama.20 C22 = tidak perlu dihitung lagi. dan dari perhitungan di atas sel yang bernilai negatif paling besar.d C33 tidak perlu dihitung lagi.22 C21 = 15 – 15 – 20 = .Polmed 57 .15 C31 s.d C33 tidak perlu dihitung lagi. yang kapasitasnya tinggal 30) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Alokasi selanjutnya dilakukan dengan kembali seperti pada langkah pertama dan kedua di atas. biaya tertingginya = 10 C11 s. artinya alokasi dapat dilakukan di dua sel tersebut secara bersama (karena tinggal dua sel tersisa). biaya tertingginya = Tidak perlu lagi Untuk Kolom 1.15 C22 = tidak perlu dihitung lagi.

10 = 19 – 10 + 5 – 8 Dari hasil pengujian tersebut. apakah masih ada yang bernailai negatif atau tidak.+ Total biaya pengirimannya = 1890 Hasil ini sama dengan 3 metode sebelumnya bahkan tanpa iterasi Steping Stone = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 Prodi Manajemen Informatika . Pengujian terhadap sel-sel kosong tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti pengujian sel kosong sebelumnya. C22. lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.Polmed 58 . ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi. sehingga diperoleh hasil pengecekan sebagai berikut : Pengujian Sel C11 Sel C22 Sel C31 Sel C33 = 7 à (menjadi lebih mahal 7/ton) = 13 à (menjadi lebih mahal 13/ton) = 7 à (lebih mahal 7/ton) = 6à (menjadi lebih mahal 6/ton) = 20 – 8 + 10 – 15 = 20 – 5 + 8 – 10 = 25 – 15 + 10 – 8 + 5 . sesuai kebutuhannya. Dengan demikian. dengan total biaya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. sel yang masih kosong adalah sel C11. hasil alokasinya adalah: KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 50 Kota A 20 15 25 Kota B 60 5 20 10 Kota C 30 10 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 200 50 110 40 Untuk mengetahui kebenaran proses ini. Namun demikian. Dari tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi (sel C23) dan sisa kapasitas Pabrik 2 akan dikirimkan ke kota A sebesar 50 ton. C31 dan C33. sudahkah alokasi pada tabel di atas sudah optimal ? Untuk mengetahuinya. perlu kembali dilakukan pengecekan terhadap sel-sel yang masih kosong. sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal.

Pertanyaannya adalah.Polmed 59 . sehingga perlu diselesaikan lebih lanjut. Dengan demikian pemberian nilai untuk yang pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Pendapat pertama. namun dengan metode MODI untuk solusi akhirnya. pemilihan NWC sebagai metode dalam solusi awal akan menghasilkan tabel tansportasi awal sebagai berikut ( lihat alternatif 1) : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 25 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Seperti telah dicoba sebelumnya. nilai diberikan kepada baris yang memiliki sel terisi alokasi paling banyak. Untuk kesempatan ini. baris 1 akan selalu bernilai nol (0). dengan nilai nol (0). apabila pemberian nilai untuk pertama diberikan pada baris 1. maka untuk proses selanjutnya. dimulai dengan mencari dan memberi nilai untuk setiap baris dan kolom yang ada. baris yang akan diberi nilai yang pertama adalah baris 1. baris yang mana ? Ada dua pendapat mengenai baris mana yang akan diberikan nilai terlebih dahulu. dengan demikian nilai pertama sebesar nol dapat diberikan pada baris 1 atau baris 3. Pendapat kedua. Ketentuan selanjutnya adalah. Pemberian nilai pertama kali diberikan untuk baris. maka baris 1 dan 3 sama-sama memiliki dua sel yang terisi alokasi. Langkah 1 Penggunaan metode MODI untuk solusi akhir. karena kebetulan juga memiliki sel terisisi alokasi terbanyak (sama dengan baris 3). nilai diberikan pada baris yang pertama 2. yakni : 1. tabel di atas belumlah optimal. Bila digunakan contoh tabel di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Alternaif 5 : Kombinasi metode NWC dan MODI Seperti telah dijelaskan di muka.

= B2 + 5. = 5 + K3.Polmed 60 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Pabrik 2 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 25 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Keterangan : B1 = Baris 1 K1 = Kolom 1 Sel C11 Sel C12 Sel C22 Sel C32 Sel C33 B2 = Baris 2 K2 = Kolom 2. dan seterusnya = 0 + K1. à nilai K1 = 20 à nilai K2 = 5 à nilai B2 = 15 à nilai B3 = 5 à nilai K3 = 14 = B1 + K1à 20 = B1 + K2à 5 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. dan hasilnya adalah : 20 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 Pabrik 2 25 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 50 15 40 20 10 60 10 19 60 40 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 10 110 Prodi Manajemen Informatika . = B3 + 5. = 0 + K2.

Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 3 Merubah alokasi pengiriman ke sel C21. perhatikan sel yang bertanda minus saja. Dan ternyata sel C11.Polmed 61 . dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C31 = 8 – 0 – 14 = . yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 110 40 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 15 (+) 20 10 (+) 25 (-) 10 19 60 50 200 Dari pergerakan dan tanda +/. dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 60 ton. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). dengan alokasi sebelumnya 50 ton.6 = 15 – 15 – 20 = . yakni sel C11 dan sel C22. Selanjutnya angka 50 ton di sel C11 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil.yang ada.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.20 = 10 – 15 – 14 = .19 = 25 – 5 – 20 = 0 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (20 per ton).

Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 15 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Perhatikan !!! Sel C11 menjadi 0 karena 50 – 50 Sel C12 menjadi 90 karena 40 + 50 Sel C22 menjadi 10 karena 60 – 50 Sel C21 menjadi 50 karena 0 + 50 =0 = 90 = 10 = 50 Nilai alokasi pada sel C32 dan C33 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C21 tersebut.Polmed 62 . Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. perlu kembali ke langkah 1 di atas. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Prodi Manajemen Informatika . atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1.

dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 Sel C13 Sel C23 Sel C31 = 20 – 0 – 0 = 20 = 8 – 0 – 14 = . Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 63 . masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung. maka nilai K1 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 15 + K1. à nilai B2 = 15 = B3 + 5. karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 5. dan hasilnya adalah : 0 KeDari 0 15 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 40 40 50 200 10 50 110 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut.6 = 10 – 15 – 14 = .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C22 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K2à 20 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. à nilai K3 = 14 Setelah nilai B2 diketahui. à nilai K1 = 0 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.19 = 25 – 5 – 0 = 20 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (19 per ton). à nilai B3 = 5 = 5 + K3.

Polmed 64 . Selanjutnya angka 10 ton di sel C22 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian). dan ini lebih kecil dari alokasi sel C22 yang 40 ton.yang ada.10 =0 = 10 = 20 = 30 Nilai alokasi pada sel C12 dan C21 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C23 tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 4 Merubah alokasi pengiriman ke sel C23. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 20 10 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 Pabrik 2 25 (-) 10 (+) 19 60 50 40 200 Pabrik 3 Kebutuhan 50 (+) 110 (-) Dari pergerakan dan tanda +/. Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Dan ternyata sel C22. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Perhatikan !!! Sel C22 menjadi 0 karena 10 – 10 Sel C23 menjadi 90 karena 0 + 10 Sel C32 menjadi 20 karena 10 + 10 Sel C33 menjadi 50 karena 40 . yakni sel C22 dan sel C33. Prodi Manajemen Informatika . perhatikan sel yang bertanda minus saja. dengan alokasi sebelumnya 10 ton.

karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = belum bisa dihitung. maka nilai sel C23 dapat dicari dengan cara : Sel C23 = B2 + K3à 10 = B2 + 14 à nilai B2 = . karena nilai B2 dan K3 belum diketahui = B3 + 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya. nilai sel C21 juga dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = . maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0).Polmed 65 . perlu kembali ke langkah 1 di atas. à nilai B3 = 5 = 5 + K3. dan hasilnya adalah : Prodi Manajemen Informatika .4 + K1 à nilai K1 = 19 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada. à nilai K2 = 5 = belum bisa dihitung. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. à nilai K3 = 14 Setelah nilai K3 diketahui. KeDari 0 Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C21 Sel C23 Sel C32 Sel C33 = B1 + K2à 5 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = B3 + K3à 19 = 0 + K2. Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol.4 Dan setelah nilai B2 diketahui.

Oleh karena itu tabel perbaikannya akan menjadi : Langkah 5 Merubah alokasi pengiriman ke sel C13.4) – 5= 19 Sel C31 = 25 – 5 – 19 = 1 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penghematan/penurunan biaya transportasi paling besar (6 per ton).Polmed 66 . dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 19 = 1 Sel C13 = 8 – 0 – 14 = . masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif).6 Sel C22 = 20 – (.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 19 KeDari 0 -4 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 14 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 90 20 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 20 50 110 30 Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. yang pengujian sebelumnya memiliki pergerakan : KeDari Pabrik 1 15 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 (-) 20 10 (+) 10 Pabrik 2 25 19 60 (+) 50 110 (-) 40 50 200 Pabrik 3 Kebutuhan Prodi Manajemen Informatika .

Dan inat bahwa karena pada langkah 1 di atas baris 1 menjadi baris yang pertama kali diberi nilai nol. yakni sel C12 dan sel C33. perlu kembali ke langkah 1 di atas. dengan alokasi sebelumnya 30 ton. atau (jumlah kolom+jumlah baris) – 1 = (3+3) – 1 = 5 sel terisi ? • Jika jawaban dari keduanya adalah ‘ya’ maka tabel tersebut sedah benar. Selanjutnya angka 30 ton di sel C33 tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah alokasi yang ada selama pengujian (sesuai tanda pada pergerakan pengujian).yang ada. Dan ternyata sel C33. Sekali lagi lakukan pengecekan : • Apakah semua alokasi kalau dijumlah ke bawah dan kesamping sudah cocok dengan kebutuhan setiap kota dan jumlah kapasitas yang tersedia ? • Apakah jumlah sel yang terisi sudah memenuhi syarat yang ada (m+n)-1. maka untuk proses selanjutnya baris 1 akan selalu bernilai nol (0). dan ini lebih kecil dari alokasi sel C12 yang 90 ton. Dengan demikian dapat dihasilkan tabel transportasi sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Perhatikan !!! Sel C12 menjadi 60 karena 90 – 30 Sel C13 menjadi 30 karena 0 + 30 Sel C32 menjadi 50 karena 20 + 30 Sel C33 menjadi 0 karena 30 . perhatikan sel yang bertanda minus saja.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari pergerakan dan tanda +/. pilih sel yang alokasi pengiriman sebelumnya memiliki alokasi paling kecil. Prodi Manajemen Informatika .30 = 60 = 30 = 50 =0 Nilai alokasi pada sel C21 dan C23 tidak mengalami perubahan karena tida termasuk dalam pergerakan pengujian sel C13 tersebut.Polmed 67 . Dari kedua sel bertanda pergerakan minus ini. Sudahkah alokasi menajadi optimal ? Untuk mengetahuinya.

Polmed 68 . karena nilai B2 dan K1 belum diketahui = B2 + 8 à nilai B2 = 2 = B3 + 5. à nilai K2 = 5 = 0 + K3 à nilai K3 = 8 = belum bisa dihitung. à nilai B3 = 5 Dan setelah nilai B2 diketahui. dan hasilnya adalah : 13 KeDari 0 2 5 Pabrik 1 15 5 Kota B 5 8 Kota C 8 Kota A 20 Kapasitas 90 60 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Prodi Manajemen Informatika . nilai sel C21 dapat dicari dengan cara : Sel C21 = B2 + K1à 15 = 2 + K1 à nilai K1 = 13 Selanjutnya nilai untuk setiap baris dan kolom yang telah dimasukkan ke tabel transportasi yang ada.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari 0 Pabrik 1 Kota A 20 Kota B 5 Kota C 8 Kapasitas 90 60 15 20 30 10 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 25 10 10 19 60 50 40 200 50 50 110 Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain dengan cara memanfaatkan setiap sel yang telah teralokasi : Sel C12 Sel C13 Sel C21 Sel C23 Sel C32 = B1 + K2à 5 = B1 + K3à 8 = B2 + K1à 15 = B2 + K3à 10 = B3 + K2à 10 = 0 + K2.

karena : 1. masih dapat memberikan penurunan biaya (bernilai negatif). maka kasus yang dihadapi dapat dikategorikan dalam kasus yang tidak normal..Polmed 69 . atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Apabila kapasitas < kebutuhan. VAM dan RAM. 7 dan 8 dapat dilakukan dengan cara yang relatif sama seperti pada alternatif penyelesaian 5 di atas. Apabila kapasitas > kebutuhan. akan terjadi kekurangan kapasitas yang berarti akan menimbulkan biaya kehilangan kesempatan (opportunity cost) 3. = 60 x 5 = 30 x 8 = 50 x 15 = 10 x 10 = 50 x 10 = 300 = 240 = 750 = 100 = 500 --------. maka kasus semacam ini perlu dinormalkan terlebih dahulu. dengan total biaya optimalnya : Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B Total biaya pengirimannya Catatan : Alternatif penyelesaian ke-6. yakni metode LC. sebelum dapat diselesaikan dengan metode solusi awal dan solusi akhir yang ada. Terjadi masalah ‘Degeneracy’ dimana syarat (m+n)-1 tidak terpenuhi Oleh karena itu.+ = 1890 Prodi Manajemen Informatika .!!!! Masalah Transportasi untuk kasus tidak normal (Kapasitas tidak sama dengan Kebutuhan). apabila dijumpai kasus dimana nilai kapasitas perusahaan tidak sama dengan kebutuhannya. akan terjadi kelebihan kapasitas dan hal ini akan menimbulkan biaya simpan 2. Silahkan dicoba sendiri à PR ya. Seperti telah dijelaskan di atas. hanya saja dengan solusi awal yang sesuai dengan metodenya. sehingga dengan demikian tabel di atas telah optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 (lanjutan) Melakukan perhitungan indeks perbaikan dengan mengetes apakah sel yang masih kosong dalam tabel tersebut. dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Sel C11 = 20 – 0 – 13 = 7 Sel C22 = 20 – 2 – 5 = 13 Sel C31 = 25 – 5 – 13 = 7 Sel C33 = 19 – 5 – 8 = 6 Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif.

bahwa setelah dibutkan kolom Dummy untuk menampung kelebihan kapasitas. sehingga saat ini kebutuhan > kapasitas yang tersedia.Polmed 70 . proses selanjutnya akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. sehingga secara keseluruhan kapasitas perusahaan menjadi 250. atau nol. maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 60 10 110 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 40 40 50 50 Perhatikan. semua sel yang ada tidak memerlukan biaya. kapasitas Pabrik 3 meningkat dari 50 ton menjadi 100 ton. Prodi Manajemen Informatika . sementara kebutuhan dari ketiga kota hanya 200 ton. sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Dummy 0 0 0 Kapasitas 90 60 100 250 110 40 50 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. Untuk menyelesaiakan kasus ini (kapasitas > kebutuhan). proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai contoh. dalam kasus di atas. ternyata kebutuhan di kota A naik dari 50 ton menjadi 100 ton. Contoh kasus tidak normal kedua adalah apabila dengan kapasitas perusahaan sebelumnya (200 ton). maka dalam tabel transportasinya perlu dibuatkan satu buah kolom lagi yang disebut dengan kolom Dummy. Untuk lebih jelasnya. perhatikan tabel transportasinya. Dalam kolom ini. Setelah itu. untuk mengakomodir kelebihan kapasitas yang ada.

proses selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. yang pertama perlu dilakukan adalah membuatkan baris Dummy.Polmed 71 . maka alokasi pertamanya akan menjadi : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 90 10 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 Kapasitas 90 60 50 50 250 50 50 10 110 40 40 0 Perhatikan. akan sama dengan penyelesaian kasus normal sebelumnya. Dan seperti pada kasus tidak normal sebelumnya. sering disebut dengan masalah Degenaracy. proses penyelesaian dengan solusi awal NWC ditempuh dengan cara yang sama seperti pada kasus normal. bahwa setelah dibutkan baris Dummy untuk menampung kelebihan kebutuhan. dimana syarat alokasi / jumlah sel yang teralokasikan tidak memenuhi syarat (m+n) – 1. Dengan demikian pada tabel transportasi pertama akan menjadi seperti tabel berikut ini : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Dummy Kebutuhan 100 Kota A 20 15 25 0 Kota B 5 20 10 0 Kota C 8 10 19 0 Kapasitas 90 60 50 50 250 110 40 Apabila kemudian digunakan metode NWC sebagai solusi awal untuk menyelesaikan kasus ini. untuk menampung kelebihan kebutuhan dari kota A.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk menyelesaikan kasus tidak normal seperti ini. Contoh kasus tidak normal ketiga. seperti terlihat pada contoh kasus Degeneracy berikut ini : Prodi Manajemen Informatika .

maka diperoleh alokasi pengiriman sebagai berikut : KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan 50 Kota A 50 20 15 25 Kota B 40 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 40 20 40 50 70 40 Perhatikan. hampir semua sel yang masih kosong tidak dapat dipakai untuk menguji apakah masih memiliki nilai negatif atau tidak. tapi jumlah sel yang terisi telah memenuhi syarat alokasi (m+n) – 1 atau 6 sel. coba selesaikan masalah Degeneracy di atas dengan metode solusi awal dan akhir yang saudara bisa !!! Prodi Manajemen Informatika . kecuali sel C24. maka sekarang semua sel kosong dapat diuji dan proses mencari hasil optimal dapat dilakukan seperti biasa. sehingga meskipun ada sel yang bernilai nol. untuk pengujian sel yang masih kosong. menurut rumus yang disyaratkan adalah (m+n) – 1 atau (3+4) -1 = 6. perlu diberikan nilai nol pada salah satu sel yang masih kosong (di sel manapun yang masih kosong). Untuk menyelesaikan kasus Degeneracy ini.Polmed 72 . sementara itu.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi KeDari Pabrik 1 Pabrik 2 Pabrik 3 Kebutuhan Kota A 20 15 25 Kota B 5 20 10 Kota C 8 10 19 Kota D 11 15 20 Kapasitas 90 60 50 200 50 40 40 70 Apabila kasus di atas diselesaikan dengan metode solusi awal NWC. bahwa dengan metode solusi awal NWC. jumlah sel yang terisi hanya lima. Akibatnya adalah. Dengan pemberian nilai nol ini. Sebagai latihan. jadi kurang satu sel.

Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. Penyelesaian masalah penugasan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode Hungarian yang pada tahun 1916 dikembangkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Hungaria yang bernama D KÖnig. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. mesin. Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai nol. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Secara umum lagkah-langkah penyelesaian masalah penugasan yang normal adalah : 1. Untuk kasus minimalisasi. telah berhasil ditemukan nilai nol. alat transportasi. Dari hasil lagkah ke-6 tersebut. mencari biaya terkecil untuk setiap baris. 6. dala arti apabila penugasan tersebut berkaitan dengan keuntungan maka bagaimana alokasi tugas atau penugasan tersebut dapat memberikan keuntugan yang maksimal. 7.Polmed 73 . kemudian pergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis. 3. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. dan apabila belum maka perlu diulangi langkah penyelesaian ke-5 di atas. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. mencari nilai tertinggi untuk setiap baris yang kemudian nilai tertinggi tersebut dikurangi dengan semua nilai yang ada dalam baris tersebut. Prodi Manajemen Informatika . maka dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut 4. mesin. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Sedangkan untuk kasus maksimalisasi. Jika sudah. alat transportasi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB V MASALAH PENUGASAN Masalah penugasan berkaitan dengan keinginan perusahaan dalam mendapatkan pembagian atau alokasi tugas (penugasan) yang optimal. 8. Apabila masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. Identifikasi dan penyederhanaan masalah dalam bentuk tabel penugasan 2. Pilih nilai yang paling kecil. begitu pula sebaliknya bila menyangkut biaya. Selanjutnya. maka masalah penugasan telah optimal. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. maka langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. Apabila belum. 5.

Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. Dari kasus penugasan tersebut di atas.Polmed 74 . Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan I Karyawan A B C D 15 14 25 17 20 16 20 18 18 21 23 18 22 17 20 16 II III IV Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. perhatikan contoh kasus berikut ini. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 0 0 5 1 5 2 0 2 3 7 3 2 7 3 0 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Sebagai catatan. maka biaya yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-4 karyawan tersebut juga berbeda. kasus penugasan dianggap normal apabila jum. sehingga akan menjadi : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Prodi Manajemen Informatika . A. Masalah Minimalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 4 orang karyawan yang harus menyelesaikan 4 pekerjaan yang berbeda. karakteristik dari masingmasing karyawan. Untuk lebih jelasnya.lah sumber daya yang akan ditugaskan dan jumlah pekerjaan atau tujuan adalah sama. yakni kolom 3. dan kemudian menggunakan biaya terkecil tersebut untuk mengurangi semua biaya yang ada pada baris yang sama. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari biaya terkecil untuk setiap baris. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan.

Langkah 5 Selanjutnya. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : 0 0 5 1 5 2 0 2 1 5 1 0 7 3 0 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah tiga. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 2. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 1). telah berhasil ditemukan nilai nol. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. Sementara itu nilai 5 dan 1 pada kolom 1 akan bertambah 1. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. kemudian nilai 1 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis.Polmed 75 . Prodi Manajemen Informatika . karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 4 karyawan. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. alat transportasi. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Nah. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 4 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. mesin.

Polmed 76 . mesin. 0 0 6 2 4 1 0 2 0 4 1 0 6 2 0 0 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal.--------. Masalah Maximalisasi (untuk kasus normal) Sebuah perusahaan memiliki 5 orang karyawan yang harus menyelesaikan 5 pekerjaan yang berbeda.B. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68. alat transportasi. Prodi Manajemen Informatika . produktifitas atau keuntungan yang timbul dari berbagai alternatif penugasan dari ke-5 karyawan tersebut juga berbeda.Rp 16.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. Karena sifat pekerjaan dan juga ketrampilan.- Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 4 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan).Rp 14. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Total biaya Rp 18.+ Rp 68. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan.Rp 20. karakteristik dari masingmasing karyawan. seperti terlihat dari tabel / matrik penugasan berikut ini : Pekerjaan Karyawan A B C D E I 10 14 9 13 10 II 12 10 8 15 13 III 10 9 7 8 14 IV 8 15 8 16 11 V 15 13 12 11 17 Catatan : Nilai-nilai dalam tabel tersebut dalam rupiah. yang berada di baris dan kolom yang berbeda.

Sebaiknya dimulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol. Dengan langkah ini hasil yang diperoleh adalah : 5 1 3 3 7 3 5 4 1 4 5 6 5 8 3 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Langkah 2 Memastikan semua baris dan kolom sudah memiliki nilai nol. yakni kolom 3. seperti terlihat pada tabel atau matrik berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . alat transportasi. telah berhasil ditemukan nilai nol. sebanyak sumber daya (bisa karyawan. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya. sekarang setiap baris dan kolom sudah memiliki nilai nol.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari kasus penugasan tersebut di atas. dan kemudian nilai tersebut dikurangi dengan semua nilai produktifitas yang ada pada baris yang sama. Dan ternyata masih ada kolom yang belum memiliki nilai nol. sehingga akan menjadi : 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Nah. maka harus ditemukan nilai nol sebanyak 5 buah yang terletak di baris dan kolom yang berbeda. Perhatikan ! Dari matrik di atas ternyata nilai nol yang ditemukan dalam baris 1 dan 3. meskipun berbeda baris namun masih berada dalam kolom yang sama. Langkah ini menganduk arti bahwa setiap karyawan hanya dapan ditugaskan pada satu pekerjaan saja. sehingga dapat dipastikan masalah belum optimal dan perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya. Misalnya bila yang akan ditugaskan adalah 5 karyawan. penyelesaiannya adalah : Langkah 1 Mencari produktifitas atau keuntungan terbesar untuk setiap baris. Langkah 4 Karena belum optimal maka langkah selanjutnya adalah menarik garis yang menghubungkan minimal dua buah nilai nol dalam tabel penugasan tersebut. maka langkah selanjutnya adalah : Langkah 3 Langkah selanjutnya adalah memastikan atau mengecek apakah dalam tabel penugasan tersebut. Dengan demikian perlu dicari nilai terkecil pada kolom tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk mengunrangi semua nilai yang ada pada kolom tersebut.Polmed 77 . mesin.

Sementara itu nilai 2. yang berada di baris dan kolom yang berbeda. kemudian nilai 2 tersebut dipergunakan untuk mengurangi nilai-nilai lain yang belum terkena garis.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 4 0 2 2 6 2 4 3 0 3 2 3 2 5 0 7 0 4 0 6 0 2 0 5 0 Dari langkah di atas terlihat bahwa garis yang berhasil dibuat adalah empat. Langkah 6 Dari hasil lagkah di atas tersebut. perhatikan nilai-nilai yang belum terkena garis. mesin. karena kedua nilai tersebut terkena garis dua kali.Polmed 78 . 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa kasus penugasan tersebut telah optimal. Dengan langkah ini hasilnya adalah : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Perhatikan ! semua nilai yang tidak terkena garis nilainya akan berkurang sebesar (2) atau nilai terkecil dari nilai yang belum terkena garis sebelumnya. apakah sekarang telah berhasil ditemukan nilai nol sejumlah atau sebanyak sumber daya (bisa karyawan. atau sumber daya lainnya) yang juga tercermin dengan jumlah barisnya (mulai dari baris yang hanya memiliki 1 nilai nol à yakni baris ke-5)? Dari tabel atau matrik di atas ternyata telah berhasil ditemukan 5 nilai nol ( sejumlah karyawan yang akan ditugaskan). Pilih nilai yang paling kecil (dari tabel di atas adalah nilai 2). 5 dan 0 pada kolom 5 akan bertambah 2. alat transportasi. dengan alokasi penugasan sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika . dengan menyisakan beberapa nilai yang tidak terkena garis. dan gunakan untuk menambah nilai-nilai yang terkena garis dua kali. Langkah 5 Selanjutnya.

Rp 15.--------.Rp 14.Rp 15.Rp 9.Rp 14. kasus penugasan dalam perusahaan di atas dapat diselesaikan dengan biaya optimal sebesar Rp 68. Dengan demikian karyawan dengan keterbatasan seperti itu tidak dapat dipaksakan mengerjakan sebuah pekerjaan yang memang tidak mungkin baginya.Rp 16.Polmed 79 . hanya saja pada keptusan optimalnya akan dihindari menugaskan karyawan pada tugas yang memiliki bilangan M atau – M tersebut. dan disebut dengan bilangan M (untuk masalah minimalisasi) dan – M (untuk masalah maximalisasi). tidak semua masalah penugasan memiliki matrix biaya atau keuntungan seperti dalam dua contoh kasus di atas.Rp 12. Untuk mengatasi hal semacam ini. Proses penyelesaian selanjutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada kasus penugasan yang normal. kondisi fisik.--------. perlu ditambahkan sebuah bilangan yang sangat besar.- Namun demikian. tidak dapat dialokasikan atau ditugaskan untuk sebuah pekerjaan tertentu (karena alasan. jenis kelamin. Ada kalanya seorang karyawan misalnya.Rp 14. Prodi Manajemen Informatika . atau karena sebab lainnya).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Rp 12.- Karyawan A ditugaskan mengerjakan pekerjaan V dengan biaya Karyawan B ditugaskan mengerjakan pekerjaan IV dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan I dengan biaya Karyawan D ditugaskan mengerjakan pekerjaan II dengan biaya Karyawan C ditugaskan mengerjakan pekerjaan III dengan biaya Total biaya Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Hungarian. alternatif lain dari penugasan di atas dapat dipilih seperti terlihat pada tabel berikut ini : 2 0 0 2 6 0 4 1 0 3 0 3 0 5 0 5 0 2 0 6 0 4 0 7 2 Rp 15. maka dalam proses penyelesaiannya. ketrampilan yang tidak memadai.+ Rp 68.+ Rp 68.- Catatan : Dalam praktek sehari-hari. usia.

setiap unit usaha atau organisasi pada umumnya harus berhadapan dengan para pesaing. Ketentuan-ketentuan Dasar dalam Teori Permainan Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari contoh tabel matrik pay off (matrik permainan) di atas. Nilai positif menunjukkan keuntungan bagi pemain baris dan kerugian bagi pemain kolom. 4 di baris kedua). Prodi Manajemen Informatika . Satuan nilai tersebut merupakan efektifitas yang dapat berupa uang. Seperti diketahui. persentase pangsa pasar. Nilai-nilai yang ada dalam tabel tersebut (yakni angka 1. 2 di baris pertama dan 8. Sebagai contoh nilai 9 pada sel C12 menunjukkan apabila pemain/perusahaan A menggunakan strategi harga murah (S1) dan perusahaan B meresponnya dengan strategi harga sedang (S2). dapat dijelaskan beberapa ketentuan dasar yang terpenting dalam teori permainan. secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tindakan sebuah unit bisnis (misalnya) untuk memenangkan persaingan dalam usaha yang digelutinya. maka perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 9 yang berarti perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar 9. khususnya strategi bersaing yang paling optimal bagi unit usaha atau organisasi yang bersangkutan.Polmed 80 . yakni : 1. bahwa dalam praktek sehari-hari. 9.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bab 6 Teori Permainan (Dua pemain-Jumlah Nol) Teori permainan yang mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel ini. jumlah pelanggan dan sejenisnya. Untuk memenangkan persaingan itulah. diperlukan analisis dan pemilihan strategi pemasaran tepat. 5. begitu pula sebaliknya nilai negatif menunjukkan kerugian bagi pemain baris dan keuntungan bagi pemain kolom. merupakan hasil yang diperoleh dari penggunaan berbagai strategi yang dipilih oleh kedua perusahaan.

Tujuan dari teori permainan ini adalah mengidentifikasi strategi yang paling optimal untuk setiap perusahaan. menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari hasil penggunaan strategi lainnya. bagi pemain/perusahaan baris. Suatu strategi dari sebuah pemain/perusahaan dianggap tidak dapat dirusak oleh perusahaan lainnya. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan satu strategi/strategi tunggal untuk mendapatkan hasil optimal (sadle point yang sama). 6. 5. setiap strategi yang dipergunakan berusaha untuk mendapatkan nilai permainan (sadle point) yang sama. Strategi Murni Penyelesaian masalah dengan strategi murni dilakukan dengan menggunakan konsep maximin untuk pemain/perusahaan baris dan konsep minimax untuk pemain/perusahaan kolom. nilai negatif (kerugaian) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. nilai positif (keuntungan) yang diperoleh dari suatu strategi yang digunakan. Suatu permainan/persaingan dikatakan adil atau ‘fair’ apabila hasil akhir permainan atau persaingan menghasilkan nilai nol (0). Agar sebuah permainan atau persaingan menjadi optimal.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi 2. atau tidak ada pemain atau perusahaan yang menang/kalah atau mendapat keuntungan/kerugian. menghasilkan nilai negatif yang lebih kecil dari hasil penggunaan strategi lainnya. biasanya menggunakan dua karakteristik strategi. selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada.Polmed 81 . Bagi pemain kolom. b. Suatu strategi dikatakan dominan terhadap strategi lainnya apabila memiliki nilai pay off yang lebih baik dari strategi lainnya. perhatikan dua contoh kasus berikut ini : Contoh kasus 1 ( Strtaegi Murni) Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama. Penyelesaian masalah dalam Teori Permainan ini. perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi. 3. Untuk memahami dengan lebih jelas mengenai penggunaan Teori permianan ini. yakni : a. Untuk keperluan tersbut. dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Strategi Campuran Penyelesaian masalah dengan strategi campuran dilakukan apabila strategi murni yang digunakan belum mampu menyelesaikan masalah permainan atau belum mampu memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing-masing pemain/perusahaan. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan akan menggunakan campuran/lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil optimal. Setiap pemain/perusahaan akan memilih strategi-strategi tersebut secara terus menerus selama perusahaan masih memiliki keinginan melanjutkan usahanya 4. Maksudnya.

(perusahaan B). yakni nilai 4 (rugi yang paling kecil). Langkah 1 Untuk pemain baris (perusahaan A). bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan. agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 1 8 9 5 2 4 Perusahaan A Dari kasus di atas. yakni nilai Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 4. 82 Prodi Manajemen Informatika . Jawab : Seperti telah dijelaskan di atas. dan kolom tiga nilai terbesarnya 4). Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 1 dan baris dua nilai terkecilnya 4). keuntungan tersebut besar. kolom dua nilai terbesarnya 9. pilih nilai yang paling baik atau besar. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 8. 1 8 9 5 2 4 à 1 à 4 Perusahaan A Langkah 2 Untuk pemain kolom.Polmed . dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil).

yakni masingmasing memilih nilai . maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal à sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama. sekarang menambah satu lagi strategi bersainganya dengan juga mengeluarkan produk berharga sedang. dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3). Hasil optimal di atas. namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4. yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4. bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2). Penggunaan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi A dan meningkatnya kerugian bagi B. maka perusahaan A. 4 Contoh kasus 2 ( Strtaegi Campuran) Dari kasus di atas.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S2) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 1 8 8 9 5 9 2 4 4 à 1 à 4 Perusahaan A Minimax à Langkah 3 Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama. dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar. dan hasil yang diperoleh tampak pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Sedangkan pemain B. atau tidak dapat selesainya persaingan atau permainan yang ada.Polmed 83 . meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin. dan karena adanya perkembangan yang terjadi di pasar.

Seperti telah dijelaskan di atas. pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris (Baris satu nilai terkecilnya 2 . agar masing-masing mendapatkan hasil yang yang optimal (kalau untung. Jawab : Langkah 1 Mula-mula akan dicoba dulu dengan menggunakan strategi murni. pilih nilai yang paling baik atau besar. bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 Dari perkembangan kasus di atas. yakni nilai 2. untuk baris kedua nilai terkecilnya -1 dan baris tiga nilai terkecilnya 1).Polmed 84 . Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 5 2 1 7 4 9 à 2 à -1 à 1 Prodi Manajemen Informatika . bagi pemain baris akan menggunakan aturan maximin dan pemain kolom akan menggunakan aturan minimax. Selanjutnya dari dua nilai terkecil tersebut. Untuk pemain baris. keuntungan tersebut besar. dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil).

pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom (kolom satu nilai terbesarnya 6. Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Maximin 2 -1 6 6 5 2 1 5 7 4 9 9 à 2 à -1 à 1 Perusahaan A Strategi Harga Sedang (S2) Strategi Harga Mahal (S3) Minimax à Langkah 3 Dari tabel di atas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama. yakni nilai 5 (rugi yang paling kecil).Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Langkah 2 Untuk pemain kolom. strategi S3 adalah paling buruk karena kerugiannya yang bisa terjadi paling besar (perhatikan nilai-nilai kerugian di strategi S3 pemain/perusahaan B) Langkah 5 Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang stretgi S3. strategi S2 adalah paling buruk. yang langkahnya adalah sebegai berikut : Langkah 4 Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan atau kerugian paling buruk. untuk pemain A. pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B. karena bisa menimbulkan kemungkinan kerugian bagi A (ada nilai negatif / -1 nya). Dan bagi pemain B. diperoleh tabel sebagiai berikut : Prodi Manajemen Informatika . dimana pemain atau perusahaan A memilih nilai 2 dan perusahaan B memilih nilai 5. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut. dan kolom tiga nilai terbesarnya 9). kolom dua nilai terbesarnya 5. Bila diperhatikan pada tabel sebelumnya. Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran.Polmed 85 . dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal à karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.

Untuk perusahaan A. Langkah 6 Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemugkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. sementara perusahaan B menggunakan strategi S1 dan S2. bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p. maka sekarang persaingan atau permainan dilakukan dengan kondisi.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Mahal (S3) Strategi Harga Sedang (S2) 2 6 5 1 Perusahaan A Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. Begitu pula dengan pemain B. dengan cara sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .Polmed 86 . Perusahaan B Strategi Harga Murah (S1) Strategi Harga Sedang (S2) (q) Strategi Harga Murah (S1) Perusahaan A (1-q) 2 6 5 1 (p) Strategi Harga Mahal (S3) (1-p) Langkah 7 Selanjutnya mencari nilai besaran probabilitas setiap strategi yang akan digunakan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada serta nilai probalitas masing-masing strategi untuk menghitung sadle point yang optimal. maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S3 adalah (1-p). maka kemungkinan keberhasilan digunakannya strategi S2 adalah (1-q). bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar q. perusahaan A menggunakan strategi S1 dan S3.

apapun strategi yang digunakan A.375. apapun strategi yang digunakan A. Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas. perusahaan B meresponnya dengan strategi S1. perusahaan A meresponnya dengan strategi S3.625) + 6 (0.625 Dan apabila nilai p = 0.5 Dengan persamaan ke-2 = 5p + 1(1-p) = 5 (0. bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama. apapun strategi yang digunakan B. maka : 2p + 6(1-p) = 2p + 6 – 6p = 6 – 4p Bila.625. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. berarti dengan digunakan strategi campuran ini.5 Perhatikan.625) = 0. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini keuntungan perusahaan A hanya sebesar 2.5. apapun strategi yang digunakan B.Polmed 87 . maka keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2p + 6(1-p) = 2 (0. perusahaan A meresponnya dengan strategi S1. Coba diingat di atas.5 menjadi 3. maka : 6 – 4p = 1 + 4p 5 = 8p P = 5/8 = 0. maka : 6q + 1(1-q) = 6q + 1 – 1q = 1 + 5p Prodi Manajemen Informatika . maka : 5p + 1(1-p) = 5p + 1 – 1p = 1 + 4p Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung.5. yakni sebesar 3. keuntungan perusahaan A bisa meningkat 1. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. maka : 2q + 5(1-q) = 2q + 5 – 5q = 5 – 3p Bila. Bagaimana dengan perusahaan B ? Untuk perusahaan B Bila. perusahaan B meresponnya dengan strategi S2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk perusahaan A Bila.375) = 3.625) + 1 (0.375) = 3.

Prodi Manajemen Informatika . Apabila kedua nilai probabilitas tersebut dimasukkan dalam kedua persamaan di atas.Polmed 88 .Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Bila kedua hasil persamaan tersebut digabung. Kesimpulan : Kerena penggunaan strategi murni belum mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5) = 3.5. berarti dengan digunakan strategi campuran ini.5 menjadi 3.5.5) + 1 (0.5. Coba diingat di atas.5 Dan apabila nilai p = 0. bahwa keduanya menghasilkan kerugian minimal yang diharapkan adalah sama. bahwa sebelum menggunakan strategi campuran ini kerugian minimal perusahaan B adalah sebesar 5.5 Perhatikan. Perusahaan A keuntungan yang diharapkan naik menjadi 3. kerugian minimal perusahaan B bisa menurun sebesar 1. mana penyelesaian masalah permainan/persaingan di atas dilanjutkan dengan digunakannya strategi campuran.5) = 0.5. maka kerugian minimal yang diharapkan oleh perusahaan B adalah : Dengan persamaan ke-1 = 2q + 5(1-q) = 2 (0. yakni sebesar 3. sehingga kedua nilai probabilitas untuk strategi S1 dan S2 milik perusahaan B sudah diketahui nilainya.5 dan kerugian minimal yang diterima perusahaan B juga dapat turun hanya sebesar 3.5. à Sudah optimal. maka : 5 – 3q = 1 + 5q 4 = 8q q = 4/8 = 0. maka nilai (1-p) adalah (1 – 0. strategi campuran ini juga mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi masing-masing perusahaan.5) = 3.5) + 5 (0. Penggunaan strategi campuran ini terbukti disamping mampu menemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.5 Dengan persamaan ke-2 = 6q + 1(1-q) = 6 (0.

Polmed 89 . Bentuk fungsi umum dari pemrograman dinamis ini adalah : Fn (X) = max { r n (X n ) + f n -1 (X – X n ) } dimana n = 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 7 PEMROGRAMAN DINAMIS Pemrograman dinamis ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan benama Richard Bellman pada tahun 1957. memiliki formulasi standar untuk memecahkan masalah. Pasar yang dituju adalah pasar A. telah ditentukan volume pengiriman sebesar 100 ton setiap pengirimannya. Dari pengalaman yang ada. Untuk memperjelas masalah pemrograman dinamis ini. Namun demikian. perhatikan contoh berikut ini. dan C. Hasil dari sebuah tahap akan berdampak atau menjadi masukan bagi tahap berikutnya. dan untuk menghemat biaya pengiriman. ada kesamaan dari setiap penyelesaian masalah dalam pemrograman dinamis ini.. return dari setiap pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini : Prodi Manajemen Informatika . Persamaan di atas digunakan untuk perhitungan dari depan ke belakang (forwardinduction) maupun dari belakang ke depan (backward-induction). artinya setiap masalah dalam pemrograman dinamis memerlukan pola pendekatan atau penyelesaian yang berbeda satu dengan lainnya. Sebuah perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 700 ton per bulan. ………. maka dalam pemrograman dinamis ini tidak ada formulasi yang standar. 3. Apabila dalam riset operasional yang lain. dimana setiap keputusan optimal yang diambil diperoleh dari banyak tahap (multistage). Distribusi produk dilakukan melalui transportasi darat. Oleh karena itu perlu berlatih soal sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak bentuk penyelesaian kasus yang berbeda-beda. B.

8 3.9 2. maka return atau penghasilan yang diperoleh mulai dari tidak ada pengiriman hingga 7 kiriman (setiap pengiriman berisi 100 ton).6 1. adalah sebagai berikut : Jika tidak ada pengiriman Jika ada 1 pengiriman Jika ada 2 pengiriman Jika ada 3 pengiriman Jika ada 4 pengiriman Jika ada 5 pengiriman Jika ada 6 pengiriman Jika ada 7 pengiriman  f1(0) = r1 = 0  f1(1) = f1(1) = 0. Tahap Pertama Apabila semua produk hanya dipasarkan di kota A.3 Return dari kota C (Rp) 0 0.2 1.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Pengiriman Produk ke 0 1 2 3 4 5 6 7 Return dari kota A (Rp) 0 0.Polmed 90 . berarti nilai f1(X) akan menentukan nilai f2(X).4 Selanjutnya.5 2. dimana perhitungan akan dimulai dari pasar A.6 4 4.5  f1(3) = r1(3) = 2.6 4 4.6  f1(6) = r1(6) = 4. B dan diakhiri dengan perhitungan return di pasar C.6 1.3  f1(4) = r1(4) = 3.6 4. hasil tersebut di atas. dimasukkan dalam tabel hasil sebagai berikut : Prodi Manajemen Informatika .2 2 2.8 1.0  f1(5) = r1(5) = 3. dan nilai f2(X) ini akan menentukan nilai f3(X).7 5.8 3.4 Bagaiman distribusi produk harus dilakukan oleh perusahaan agar diperoleh hasil atau return yang paling optimal ? Jawab : Masalah di atas dapat diselesaikan dengan pemrograman dinamis.4 Return dari kota B (Rp) 0 0. Dengan persamaan dasar di atas.8  (lihat tabel sebelumnya)  f1(2) = r1(2) = 1.0  f1(7) = r1(7) = 4.3 3 3.

tentu tidak dapat dikirim ke kota B.8).8 1. hasilnya adalah 0. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 X1 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) 0 0. maka return f2(X) adalah juga 0.8 Dari hasil persamaan di atas. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota A. dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota A atau ke kota B. nilai f2(X) dapat dicari dengan persamaan umum sebagiberikut : Apabila X = 0.6 4.6 + 0. Apabila X = 2.0 4. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (2– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f2(2) adalah : Prodi Manajemen Informatika .8 = 0. maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (1 – X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f2(1) adalah : r2(0) + f1(1) = 0 f2(1) = max { r2(1) + f1(0) = 0. jika hanya ada 1 pengiriman.0 3. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0.8 sedangkan jika ke kota B.8 }  0.Polmed 91 .4 Pasar B X2 F2(X) Pasar C X3 F3(X) Tahap Kedua Apabila diperhitungkan pengiriman ke kota A dan kota B Atas dasar hasil f1(X) di atas. karena hasilnya lebih besar (0.3 3.6 + 0 = 0.6.5 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Produk (X). begitu pula sebaliknya. Dengan pilihan hasil tersebut. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1. maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota A.

6 4.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi r2(0) + f1(2) = 0 + 1. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0.1 Pasar C X3 F3(X) X1 0 1 2 3 4 5 6 7 X2 0 0 0 0 0 0 5 4 Prodi Manajemen Informatika . maka f2 (X)= max { r 2 (X 2 ) + f 2 -1 (3– X 2 ) } Dimana 0 ≤ X2 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f2(3) adalah : r2(0) + f1(3) f2(3) = max { f2(1) + f1(2) r2(2) + f1(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0. Apabila X = 3. Dari tiga alternatif itu.5 r2(2) + f1(0) = 1. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B. Produk (X).3. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.3 3.5 2.0 + 2.8 = 1. jika hanya ada 2 kali pengiriman.1 }  2.0 4.5 2.0 3. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar A dan pasar B.0 = 2.6 + 0.2 = 2.3 = 2. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(2). dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).3 = 2.5. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).4 Pasar B F2(X) Rp 0 0. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.4 }  1. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut.6 4. Dari tiga alternatif itu.5 + 0.8 1.8 1. jika hanya ada 3 kali pengiriman.4 5.0 Dari perhitungan di atas.5 = 1. hingga 7 pengiriman.2 + 0 = 1. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.3 + 1. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman. 5 pengiriman.0 3.6 = 1.5 f2(2) = max { f2(1) + f1(1) = 0. Dengan cara yang sama. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.8 +0 = 2.3 3. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1.Polmed 92 .2 Dari perhitungan di atas. yakni dengan mengirim semuanya ke kota A atau f1(3).

tentu tidak dapat dikirim ke kota C. karena hasilnya lebih besar (0. maka selanjutnya dilakukan perhitungan tahap ketiga untuk Pasar B dan C Apabila X = 0. mana tentu perusahaan akan memilih mengirimkannya ke kota B. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (2– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 2 Sehingga nilai-nilai f3(2) adalah : r3(0) + f2(2) = 0 + 1. begitu pula sebaliknya.8 }  0.5 r3(2) + f2(0) = 1. Jika dikirim ke kota B maka hasilnya adalah 0.Polmed 93 . maka kalau 1 kiriman berisi 100 ton tersebut sudah dikirim ke kota B. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Tahap Ketiga Setelah tahap kedua selesai. Dari tiga alternatif itu. jika hanya ada 1 pengiriman. karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 1. hasilnya adalah 0.6.8). dapat dikatakan bahwa dengan asumsi 1 pengirman dapat dilakukan ke kota B atau ke kota C. jika hanya ada 2 kali pengiriman. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.8 = 0. karena tidak ada (0) pengiriman Apabila X = 1.4 }  1. Apabila X = 3.6 + 0. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 2 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton).5.2 Dari perhitungan di atas.8 Dari hasil persamaan di atas.2 + 0 = 1. maka Prodi Manajemen Informatika . Apabila X = 2. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f2(2). Dengan pilihan hasil tersebut. maka return f2(X) adalah juga 0.8 = 1.5 f3(2) = max { f3(1) + f2(1) = 0.6 + 0.8 sedangkan jika ke kota C. maka f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (1 – X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 1 Sehingga nilai-nilai f3(1) adalah : r3(0) + f2(1) = 0 f3(1) = max { r3(1) + f2(0) = 0.5 = 1.6 + 0 = 0. maka akan ada 3 alternatif seperti perhitungan di atas.

3 = 2.6 4. maka yang paling baik adalah alternatif pertama.4 5. Produk (X).5 + 0.0 = 1.8 1. 5. apabila diteruskan dengan 4 pengiriman. jika hanya ada 3 kali pengiriman.7 5. dan ini adalah hasil tertinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif distribusi pengiriman yang lainnya. maka distribusi pengiriman yang paling baik adalah bila 6 pengiriman ditujukan ke kota C (karena hasilnya paling tinggi.3 3.1 Pasar C F3(X) Rp 0 0. hingga 7 pengiriman. yakni dengan mengirim semuanya ke kota B atau f3(3).8 1. dan pengiriman dapat dilakukan di pasar B dan pasar C.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi f3 (X)= max { r 3 (X 3 ) + f 3 -1 (3– X 3 ) } Dimana 0 ≤ X3 ≤ 3 Sehingga nilai-nilai f3(3) adalah : r3(0) + f2(3) f3(3) = max { f3(1) + f2(2) r3(2) + f2(1) r2(3) + f1(0) =0 = 0.3 + 1.9 Dari perhitungan di atas.3 = 2. 5 pengiriman. dapat disimpulkan bahwa apabila ada 3 pengiriman (masingmasing berisi 100 ton). karena akan menghasilkan nilai yang paling besar yaitu 2.5 + 0.Polmed 94 .3. dapat disimpulkan bahwa apabila kapasitas produksi perusahaan dimaksimalkan sehingga dapat berproduksi sebanyak 700 ton dan akan dikirimkan dalam 7 kali pengiriman.8 1.0 4. maka agar hasilnya optimal.3 3.8 +0 = 2.8).4 Pasar B F2(X) Rp 0 0.1 }  2. maka akan ada 4 alternatif seperti perhitungan di atas.8 = Rp 6. hasil optimal yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp 5.9 + 2. Dari tiga alternatif itu.5 ) dan sisanya ke kota A (0. Dengan distribusi pengiriman tersebut.5 2.5 2.6 4. Prodi Manajemen Informatika .6 4.0 3.2 = 1.5 2. dlm ratusan ton 0 1 2 3 4 5 6 7 Pasar A f1(X) Rp 0 0. Dengan cara yang sama.3 3.6 = 1.5 X1 0 1* 2 3 4 5 6 7 X2 0 0* 0 0 0 0 5 4 X3 0 0 0 0 0 0 6 6* Setelah tabel di atas lengkap.0 3.0 3.3. maka akan diperoleh tabel kedua sebagai berikut. yang paling baik kalau ditujukan pada pasar A. karena dari perhitungan sebelumnya dinyatakan bahwa kalau hanya ada 1 pengiriman.

Lates Start Time (LS). adalah waktu paling lambat untuk menyelesaikan sebuah aktivitas Prodi Manajemen Informatika . Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah 2.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi BAB 8 ANALISIS JARINGAN Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. Jalur kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya paling besar/panjang 4. Serangkaian pekerjaan membangun jembatan b. adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas. Serangkaian pekerjaan mengganti mesin yang rusak e. dengan mempercepat salah satu atau beberapa kegiatan dalam rangkaian pekerjaan tersebut. Perbedaan utamanya adalah. Metode yang biasanya digunakan sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Tachnique. biaya). Kejadian. Tanpa bermaksud meniru. ada juga metode CPM (Critical Path Method) yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah jaringan ini. Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut c. Serangkaian pekerjaan produksi d. adalah waktu peling cepat untuk selesainya sebuah aktivitas 7. dan disimbolkan dengan sebuah lingkaran 1 2 3. Earliest Start Time (ES). tenaga. Masalahmasalah yang dimaksud antara lain adalah : a. adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu. Serangkaian pekerjaan membangun gedung c. CPM lebih menekankan pada efisiensi biaya pelaksana serangkaian pekerjaan. Allen dan Hamilton yang dibuat untuk keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. Beberapa istilah dalan analisis jaringan antara lain adalah : 1. Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah : a. adalah waktu paling lambat untuk memulai sebuah aktivitas 6. Aktivitas. Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz. Dll. Latest Finish Time.Polmed 95 . Waktu penyelesaian dari serangkaian pekerjaan tersebut b. Earliest Finish Time (EF). adalah waktu paling cepat untuk memuali sebuah aktivitas 5.

Untuk menunjukkan urutan kejadian atau aktivitas yang sebenarnya Prodi Manajemen Informatika . sehingga dapat menggambarkan urutan kejadian. yang merupakan simbol dari kejadian.Polmed 96 . semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat) harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu 2. Jadi manfaat dari aktivitas Dummy adalah : a. Untuk memenuhi ketentuan. sehingga tidak memerluakan pengorbanan sumber daya. Lingkaran. tidak dapat dihindari. Dua buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah 5.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Beberapa Hal yang penting dalam analisis jaringan adalah : 1. Anak panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan uruturutan kejadian. seringkali suatu kasus jaringan dihadapkan pada kondisi dimana poin 4 dan 5 di atas. Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di kejadian awal (permulaan anak panah) 4. Sebuah rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian (lingkaran) Namun demikian. sehingga untuk mengatasinya harus dibuatkan atau dibantu dengan sebuah aktivitas dummy. dimana serangkaian kejadian hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan satu kejadian (lingkaran) c. Sebelum suatu aktivitas dimulai. diberi nomor sedemikian rupa sehingga tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan. Aktivitas dummy adalah aktivitas yang sebenarnya tidak ada. Untuk menghindari terjadinya kondisi dimana dua kejian dihubungkan oleh lebih dari satu anak panah 1 2 Dengan aktivitas dummy akan menjadi : 2 1 3 4 b. jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun 3.

1 g.2 a. berencana mengganti mesin yang rusak tersebut. Sebuah perusahaan.Polmed 97 . f Waktu yang dibuthkan 10 2 8 4 3 1 5 Dari masalah perusahaan di atas.10 c. yang sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin produksinya. 3 b.3 5 Langkah kedua adalah mencari nilai Earliest Finish Time (EF)  dari depan ke belakang. perhatikan contoh berikut ini. serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian mesin yang rusak tersebut adalah seperti terlihat pada tabel berikut ini.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Untuk memahami masalah jaringan ini. dengan hasil seperti gambar berikut : Prodi Manajemen Informatika . Setelah dialakukan identifikasi.8 f. Jika diselesaikan dengan algoritma EF dan LF Langkah pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut.5 1 2 d. dan nilai Latest Finish Time (LF)  dari belakang ke depan. berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut ? Pada bagian mana saja waktu menganggur terjadi ? Jawab : A. dari setiap kejadian (lingkaran). sesuai dengan urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel. Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan Mesin Baru Menyiapkan mesin Pesan Material rangka mesin Membuat rangka Finishing rangka Memasng mesin pada rangka Kegiatan Yang mendahului a b a d e c.4 6 7 4 e.

Polmed 98 . 6.3 5 EF = 17 LF = 19 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa : 1.1 EF = 20 LF = 20 g.2 a. Dengan cara ini.8 f. dan 7. dan 6) sudah selesai pada hari ke 18.4 6 7 EF = 25 LF = 25 4 EF = 14 LF = 16 e. B. makan penyelesaiannya dapat menggunakan matrik berikut ini. dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20. 5. Prodi Manajemen Informatika . maka nilai-nilai EF dicari dari depan ke belakang.5 1 EF = 0 LF = 0 2 EF = 10 LF = 10 d. Ke EF 0 10 12 14 17 20 25 LF Dari 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 10 2 4 8 3 1 5 2 10 3 12 4 16 5 19 6 20 7 25 3 4 5 6 7 Sebagaimana dalam metode algoritma. Dengan jalur kritis tersebut.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi EF = 12 LF = 12 b. apabila masalah jaringan di atasb dikerjakan dengan menggunakan metode matrik. diperoleh hasil seperti dalam tabel di atas. rangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut baru akan selesai pada hari ke-25 3. 2. sedangkan nilai-nilai LF dicari dari belakang ke depan. Jika diselesaikan dengan metode matriks Secara garis besar.10 3 c. atau jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama 2. Untuk kejadian 6. 4. meskipun jalur bawah (1. paling cepat. 3. Karena itu pekerjaan g baru dapat dimulai setelah hari ke-20. Jalur kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1. 2. namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu pekerjaan c selesai lebih dahulu.

dengan jalur kritisnya 1. maka yang harus dilakukan adalah dengan mempercepat waktu kegiatan yang ada dalam jalur kritis. akan dibahas dengan metode CPM yang akan diberikan pada mata kuliah Manajemen Operasional. Prodi Manajemen Informatika . percepatan pekerjaan pada jalur kritis akan membawa konsekuensi pada munculnya biaya percepatan pekerjaan. Untuk dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan penggantian mesin itu. Bila ini tidak dilakukan. 2. atau akan tetap membutuhkan 25 hari. 6. semester berikutnya. lebiuh cepat dari 25 hari.Modul Kuliah Teknik Riset Operasi Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian pekerjaan akan selesai pada hari ke-25. 3. maka percepatan pada jalur lain tidak akan berpengaruh (sia-sia) pada waktu penyelesaian.Polmed 99 . dan 7. Namun demikian. Untuk mendapatkan gambaran mengenai percepatan pekerjaan ini. karena memiliki nilai EF dan LF yang sama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful