P. 1
ETIKA MALPRAKTEK

ETIKA MALPRAKTEK

|Views: 54|Likes:
Published by warbid

More info:

Published by: warbid on Sep 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

KASUS

Dengan hormat, 12 juli lalu, tunangan saya di rawat di kelas 3, lantai 4. juga ke high care lantai 6. Atas nama Diana Siska. Penyakitnya di diagnosa adalah paru dan pembengkakan jantung (begitu kata dokter linda). Almarhum direncanakan CT-scan pada hari kamis. setelah tanda tangan persetujuan pemberian obat kontras, langsung di bawa ke radiologi untuk CT scan, namun alangkah kecewanya setelah kami tahu bahwa surat persetujuan pemberian obat tersebut tidak di lampirkan suster sri (lantai 6 high care) dengan alasan suster sri 'lupa' , sehingga pasien di CT scan tanpa pemberian obat kontras. sehingga hasilnya tidak jelas. Dengan biaya CT scan yang diminta sebesar Rp.800ribu tersebut mengapa bisa dilalaikan. Dan harus CT scan ulang hari senin 19 Juli 2004. Minggu, 18 Juli 2004 jam 1 pagi, pasien sudah masuk high care lagi, karena muka membengkak dan nafas amat sesak. suster mengatakan itu alergi obat, sedang Dr kemala mengatakan bukan alergi obat, mana yang benar ? Dan di high care 605, sekitar jam 02-03 pagi tidak ada suster jaga. Kami di beri resep infus, setelah kami tebus, ternyata salah resep, saya harus kembali ke apotik luar mencari infus yang ternyata bernama infus somad. diapotik fatmawati tidak ada, habis. sedang kondisi pasien terus menurun. Minggu 18 Juli 2004 Pukul 7.10 pasien anfal, Pukul 07.15, pasien yang juga tunangan saya, meninggal dunia. Saya ikhlaskan kepergiannya. Namun saya sesalkan kesalahan-kesalahan dari pihak tim medis, padahal pasien sangat serius keadaannya pada saat masih hidup. Mohon perhatiannya, 1 nyawa menyangkut hidup orang lain yang mencintainya. Terima kasih. Posted: Jul 27, 2004 11:11:27

PEMBAHASAN
Kasus Mal praktek yang menimpa Almarhum Diana Siska pada tanggal 12 juli 2004, pada mulanya di karenakan hal sepele. Karena kasus tersebut bermula dari salah satu sifat manusia yaitu lupa. Mungkin apabila alasan lupa yang di berikan suster Sri itu benar-benar bukan merupakan suatu kesengajaan (sengaja di lupakan), tunangannya bisa saja memaafkan suster Sri karena itu manusiawi walaupun dia harus menerima kenyataan pahit kehilangan orang yang dia cintai yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Tapi saya mohon maaf, bukannya saya berburuk sangka terhadap suster Sri, tapi segala kemungkinan yang sebelumnya tidak di sangka-sangka bisa saja merupakan suatu kebenaran. Kesalahan yang di lakukan oleh suster Sri adalah lupa melampirkan surat persetujuan pemberian obat untuk Almarhum Diana Siska. Alasan yang diberikan oleh suster Sri yaitu lupa bisa saja hanya merupakan suatu pembelaan atas dirinya untuk lari dari tanggung jawab yang harus dia terima atas Mal praktek yang telah dia lakukan. Tapi yang jadi kecurigaan saya adalah pelayanan suster Sri pada saat melayani klien. Mungkin pada saat dia melayani Almarhum Diana Siska, suster Sri kurang serius melayaninya karena suster Sri menganggap klien yang sedang dia layani yaitu Almarhum Diana Siska tidak begitu penting karena dia hanya pasien yang berasal dari kelas tiga walaupun sakit yang deritanya itu sangat parah.

KASUS

Selasa, 18 Feb 2003 10:04:11 WIB Kesalahan Diagnosa Membuat Suamiku Meregang Nyawa Kehilangan orang yang kita cintai akibat kematian selalu menorehkan luka hati yang cukup dalam. Namun, jika kematian itu terjadi karena kesalahan yang sebetulnya dapat dihindari tentunya akan membuat penyesalan dan kesedihan yang jauh lebih menyakitkan. Gambaran itulah yang umumnya dialami oleh keluarga korban kesalahan praktek medis atau mal praktek. Kepergian anak, orang tua, kerabat dan sahabat akibata kesalahan diagnosa, terapi atau obat terkadang membuat kegeraman dan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Terlebih lagi, jika kematian itu sebenarnya dapat dihindari seandainya dokter atau tenaga medis bersikap lebih hati-hati dan waspada. Terlepas dari faktor ajal yang menjadi hak preogratif Tuhan, namun kasus mal praktek telah banyak menelan korban. Kematian dan kecacatan adalah harga yang harus dibayar pasien karena keteledoran tenaga-tenaga medis. Beberapa bulan ini, seorang rekan wartawan ekonomi makro yang cukup senior telah kehilangan suami dari satu anaknya yang masih balita dan bayi yang dikandungnya. Kisah sedih yang dialami rekan wartawan yang dikenal cukup energik di lapangan itu membuat rekan-rekannya turut bersimpati. Bagaimana tidak, suami dari K, perempuan muda yang bekerja di sebuah situs berita itu juga adalah wartawan. Kematian suami K dipicu oleh kesalahan diagnosis yang dijatuhkan dokter saat mengkonsultasikan penyakitnya. Demam tinggi serta kesulitan bernafas yang dialami suami K didiagnosa sebagai asma. Padahal tegas-tegas K menjelaskan bahwa suaminya tak pernah menderita asma. Namun dokter seakan tak menggubris penjelasan K, ia tetap memberikan obat anti sesak napas. Sepulang dari dokter, kesehatan lelaki yang bekerja di media internal milik suatu maskapai penerbangan itu semakin memburuk. Saat itulah K kemudian membawa suaminya ke RS. Namun, semuanya telah terlambat. Suami K semakin kritis dan akhirnya terdiagnosa menderita malaria. Penyakit itu disebabkan gigitan nyamuk yang dialaminya saat menjalani tugas ke Lampung. Dokter yang merawat terakhir mengungkapkan bahwa nyama suami K sebenarnya dapat tertolong jika diagnosis malaria dapat diketahui sejak awal. Ketika dibawa ke RS malaria telah menyerang ganas ke otak. Tanpa didampingi keluarga terdekat, K mendampingi suaminya saat

meregang nyawa. Kematian mendadak yang tidak disangka-sangka itu membuatnya harus sendiri menanggung beban hidup yang tidak ringan. K dan anaknya, serta jabang bayi yang dikandungnya hanya bisa merasakan geram terhadap kasus mal praktek yang dialami suaminya.

PEMBAHASAN
Kisah sedih diatas yang baru saja kita simak, menunjukan bahwa sekarang ini sepertinya banyak tenaga medis yang melakukan tugasnya dengan tidak sungguh– sungguh dan kurang bertanggung jawab. Kasus mal praktek yang di alami oleh Almarhum tuan K telah menyisakan luka yang mendalam bagi keluarga dan kerabatnya terutama anak dan isterinya yang sedang mengandung anak kedua mereka. Kematian tuan K tepat pada saat isteri dan anaknya serta jabang bayi yang masih dalam kandungan sedang membutuhkan banyak kasih sayang dari tuan K. isterinya yang sedang dalam keadaan hamil serta anak-anak yang membutuhkan kasih sayang lebih karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Sebelum kasus mal praktek ini terjadi, dokter juga telah melakukan kesalahan lain yang merupakan penyebab dari terjadinya kejadian meyedihkan ini yaitu misconduct. Pada saat tuan K di peiksa oleh dokter, nyonya K memberitahu dan menegaskan kepada dokter bahwa suaminya tidak pernah menderita penyakit asma seperti yang di katakan oleh dokter, tetapi dokter tidak begitu peduli dan tetap yakin pada keputusannya yang cenderung terlihat egois. Padahal keterangan dari pasien yang sedang di periksa atau pun dari keluarganya merupakan faktor penting untuk membantu seorang dokter yang sedang melakukan pemeriksaan sebelum memberikan diagnosa penyakit yang di derita oleh pasien yang sedang ia tangani. Andai saja dokter pada saat itu mau mendengarkan penjelasan yang di tuturkan oleh nyonya K, maka kemungkinan besar dan bisa dikatakan hampir pasti kejadian ini tidak akan terjadi, karena dokter akan lebih teliti dalam melakukan pemeriksaan sehingga kesimpulan yang di dapatkan pun bisa lebih akurat. Tapi dokter tetap dengan pendiriannya, lalu ia pun memberi obat anti sesak nafas untuk tuan K. Setelah beberapa hari tuan di periksa oleh dokter tersebut, keadaannya tidak kunjung membaik tetapi malah makin memburuk. Lalu nyonya K pun membawanya ke RS, dan di sanalah nyonya K mengetahui apa sebebnarnya penyakit yang di derita oleh

tuan K yaitu malaria yang sudak parah karena sudah menyerang bagian otak. Usaha nyonya K pun sia-sia, karena nyawa suaminya tidak dapat tertolong lagi, ia hanya bisa menangis di samping jasad suaminya. Dokter yang menangani tuan K mengatakan bahwa nyawa tuan K bisa tertolong apabila diagnosis malaria sudah di ketahui lebih awal. Nyonya K pun hanya bisa pasrah karena dia harus kehilangan suami yang sangat ia cintai, belum lagi ia harus menanggung beban hidupnya beserta kedua anaknya. Dan semua kejadian ini di awali oleh kelalaian seorang dokter dalam menjalankan tugasnya sehingga ia melakukan dua penyimpangan etika profesi pada saat yang bersamaan yaitu mal praktek dan misconduct. Selasa, 18 Feb 2003 10:04:11 WIB

Jumat, 17 Sep 2004 09:37:36 WIB Maulana cacat fisik akibat keracunan air ketuban Sumber : Variasari Edisi April 2004 Ia tak bisa bicara, penglihatanya pun agak buram. Sepasang matanya juling dengan tatapan tak terarah, kaki dan tangannya agak layu, bahkan telapak kaki kirinya bengkok ke kanan. Begitu juga tangan kirinya agak ke kanan seperti terkilir, dan nafasnya pun terengah-engah sepertri ada penyumbat. Selain itu, dokter ahli syaraf menanganinya di Jakarta mengungkapkan, tempurung kepala Maulana kecil, sudah menutup sebelum waktunya dan tidak memberi kesempatan pada otaknya untuk terus berkembang. Itulah penderitaan si kecil Gusti Bahrudin Maulana. Sebenarnya apa penyakit dan penyebab Maulana menderita penyakit seperti itu? Entah apa nama penyakit yang sedang di deritanya, yang jelas pertumbuhan bocah kecil ini, tidak senormal anak lain seusianya. Tiga tahun hanya bisa terbaring di tempat tidur. Padahal, usia tiga tahun bagi balita adalah masa pertumbuhan pesat. Semua organ tubuhnya berkembang, dari mulai otak, badan, tangan, kaki, dan lain-lain. Muncul Kecurigaan Merupakan suatu kebahagiaan yang tiada taranya, ketika sepasang insan di karuniai buah hati tercinta yang diimpikanya. Budi Yanto dan Mulyanah adalah pasangan muda yang begitu bersyukur, ketika Maulana hadir ke dunia dengan tangisan pertamanya. Ia melengkapi kebahagiaan keduanya setelah menikah pada tahun 2000 lalu. Tangisan Maulana telah memecah kesunyian seisi ruangan pada tengah malam. Ketika itu jarum jam menunjukan sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara kalender yang tergantung di dinding jatuh pada 14 Oktober 2001. Di sebuah rumah sakit bersalin, dekat rumahnya di Tangerang, Maulana terlahir normal seperti bayi sehat lainya. Tidak ada indikasi kelainan apa pun saat lahir. Yang ada hanyalah senyum kebahagiaan dan alunan rasa syukur kepada Tuhan. Dalam masa hamil, Maulanah juga rajin memeriksa kandunganya ke dokter. Bahkan, pada pemeriksaan USG, tak terdeksi akan

muncul potensi kelainan fisik. Semuanya berjalan normal. Berat badanya saat lahir 3,2 Kg. Empat bulan pertama sejak lahir, kedua orang tua Maulana belum menaruh curiga apapun. Ia tumbuh sehat seperti juga bayi-bayi lainya seusianya. Para kerabat dan tetangga juga senang mengasuh Maulana yang begitu lucu dan menyenangkan. Hanya saja, ia suka menangis berlama-lama di malam hari. Barulah saat memasuki bulan kelima, ayah bundanya mulai melihat keanehan di tubuh Maulana. Pasalnya, Maulana tidak memperlihatkan pertumbuhan yang berarti. Tinggi dan beratnya tetap saja tidak mengalami perubahan mencolok. Pada usia ini pula, Maulana lebih sering sakit. Panas, batuk, bahkan kejang-kejang pernah dideritanya. Saat menemukan kelainan, Maulana langsung di bawa ke dokter terdekat untuk di periksa. Tak ada yang bisa didiagnosa secara optimal, karena selain peralatan medisnya tidak lengkap, dokter yang memeriksa pun tidak tahu, penyakit apa yang sedang di derita Maulana. Namun dokter langsung memberikan surat rujukan, agar Maulana dirawat di rumah sakit khusus anak di Jakarta. Keracunan Air Ketuban Mengingat jaraknya yang relatif jauh dan membutuhkan dana yang tidak sedikit, Saran untuk membawa buah hatinya ke Jakarta di tunda. Budi dan Mulyanah sepakat terlebih dahulu ke RSU Tangerang dengan harapan bisa diatasi. Tapi ternyata dokter rumah sakit Tangerang pun memberi rujukan yang sama. Tidak ada pilihan lain, kecuali harus membawanya ke Jakarta. Persiapan untuk membawa Maulana ke Jakarta pun dilakukan dan semua berharap semoga pemeriksaan nanti berhasil menditeksi penyakit yang di derita Maulana. Namun setelah kepala Maulana di-scaning dan sampel darahnya di ambil, keinginan untuk mengetahui penyakit Maulana tetap tidak diketahui. Hasil scaning dan sampel darah tidak menunjukan kelainan berarti. Namun disinyalir, Maulana mengalami keracunan air ketuban. Saat lahir, menurut pendapat medis, air ketubannya tidak tuntas di bersihkan. Inilah yang menyumbat saluran nafasnya. Bahkan, tubuhnya pun tidak berkembang. Ia tetap saja seperti bayi, walau sudah berusia tiga tahun. Selain itu, dokter ahli syaraf yang menanganinya di Jakarta mengungkapkan, tempurung kepala Maulana kecil, sehingga otaknya tidak berkembang. Dengan kata lain, tempurungnya seperti sudah menutup sebelum waktumnya dan tidak memberi

kesempatan pada otaknya untuk terus berkembang. Dua bulan Maulana menjalani rawat jalan di Jakarta. Jutaan rupiah telah dikeluarkan hanya untuk menyembuhkan Maulana seorang. Sampai kini, kondisinya tetap saja tidak ada perubahan berarti. Ia tidak bisa bicara, dan penglihatanya pun agak buram. Hanya merintih dan menangis yang bisa dilakukanya. Uniknya, Maulana tetap mampu bertahan hidup dengan kondisinya yang sekarang. Pada beberapa kasus kelahiran, biasanya bayi yang keracunan air ketuban tidak bisa bertahan lebih lama. Bahkan banyak yang meninggal saat dilahirkan. Namun atas karunia Illahi, Maulana tetap hidup disisi kedua orang tua, keluarga, dan kerabatya. PEMBAHASAN Menyimak kisah di atas, alangkah sedihnya kedua orang tua maulana. Setelah sekian lama semua harapan dan do’a mereka untuk mendapatkan keturunan di kabulkan oleh Allah, mereka mengecap kebahagian sebagai orang tua hnaya beberapa builan saja setelah maulana di lahirkan, karena selanjutnya adala kesedihan yang tiada tara karena anak yang sangat meraka cintai kini hanya bisa berbaring sambil menagis menahan rasa sakit di lengkapi dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Adapun penyebab dari musibah yang menimpa kedua paanaghn muda ini menurut dokter yang pernah memeriksa maulana adalah di karenakan keracunan air ketuban pada saaat maulana di lahirkan.lalu siapakah yang harus bertanggung jawab atas kasus ini? Bila di lihat dari penyebab terjadinya kasus ini, maka yang pantas untuk bertanggung jawab adalah paramedis yang menangani proses kelahiran maulana. Pada saaat maulana di lahirkan, mereka tidak tuntas dalam membersihkan air ketubannya, sehingga saluran pernafasan maulana tersumbat. Para perawat telah melakukan mal praktek karena mereka telah lalai dalam menjalankan tugas mereka sebaagai tenaga medis pada saat membersihkan air ketuban tersebutn yang menyebabkan pertumbuhan maulana tehambat serta tempurug otaknya kecil karena sudah menutup sebelum waktunya sehingga otaknya tidak bisa berkembang. Saya harapkan dengan kejadian ini tenaga medis akan lebih hati-hati dalam menjalankan tugas mereka agar tidak terjadi lagi kesalahan-kesalahan. Karena alaupun kesalahan yang di alkukan oleh paramedis itu tergolong sepelre, tapi akibat yang di timbulkan bisa berakibat patal bahkan bisa menghilangkan nyawa seseorang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->