P. 1
Askep Pada Anak Dengan Kebutuhan Khusus

Askep Pada Anak Dengan Kebutuhan Khusus

|Views: 164|Likes:
Published by warbid

More info:

Published by: warbid on Sep 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

Askep Pada Anak Dengan Gangguan Psikososial

Laelasari S.Kep,Ners

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
1.Definisi

 Kekerasan Pada Anak→suatu tindakan yang dilakukan

satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi.  Kekerasan fisik pada anak dapat diartikan sebagai perbuatan yang disengaja, menelantarkan atau melalaikan dengan sengaja yang mengakibatkan trauma atau luka yang bukan suatu kecelakaan oleh orang tua, pengasuh, atau orang yang bertanggung jawab terhadap anak tersebut.  perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence).

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini Terjadi,salah satu di antaranya teori yang behubungan dengan stress dalamkeluarga(family stress). Stres dalam keluarga,diantaranya: • Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres. • Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin. • Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar.

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
Perlukaan bisa berupa:  Cedera kepala (head injury), patah tulang kepala, gegar otak, atau perdarahan otak  Perlukaan pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka lecet, luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah tulang  Perlukaan organ dalam (visceral injury) tidak dapat dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dalam dengan melakukan otopsi  Perlukaan pada permukaan badan seringkali memberikan bentuk yang khas menyerupai benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan, gigitan, sapu lidi, setrika, atau sundutan rokok

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
 Pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23

Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut:
(1). Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000.00. (2). Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00. (3). Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP. 200.000.000.00 (4). Pidana dapat ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya).

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
Bagi masyarakat, keluarga, atau orang tua diperlukan kebijakan, layanan, sumberdaya, dan pelatihan pencegahan kekerasan pada anak yang konsisten dan terus menerus. Strategi pencegahan ini meliputi : • Pencegahan primer perawatan anak dan layanan yang memadai, kebijakan tempat bekerja yang medukung, serta pelatihan life skill bagi anak. Yang dimaksud dengan pelatihan life skill meliputi:  penyelesaian konflik tanpa kekerasan  ketrampilan menangani stress,  manajemen sumber daya,  membuat keputusan efektif,  Komunikasi interpersonal secara efektif,  tuntunan atau guidance dan perkembangan anak, termasuk

Lanjutan…
 Pencegahan sekunder

Ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya meningkatkan ketrampilan pengasuhan, termasuk pelatihan dan layanan korban untuk menjaga agar perlakuan salah tidak terjadi pada generasi berikut. Kegiatan yang dilakukan di sini di antaranya : melakukan kunjungan rumah bagi orang tua yang baru mempunyai anak untuk melakukan self assessment apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada anak di kemudian hari. • Pencegahan tersier Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pengasuhan yang menjaga agar perlakuan salah tidak terulang lagi, di sini yang dilakukan adalah layanan terpadu untuk anak yang mengalami korban kekerasan, konseling, pelatihan tatalaksana stres.

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
Etiologi  Kekerasan pada anak juga dipengaruhi oleh tayangan televisi yang marak akhir-akhir ini, namun semua itu harus disikapi bijaksana oleh para orang tua, seperti mengingatkan agar anak tidak banyak nonton sinetron televisi yang menayangkan kekerasan.  kurangnya perhatian atau pengawasan yang diperlukan  Bisa juga karena pemahaman yang salah mengenai disiplin dan hukuman untuk anak.

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
Beberapa tanda di bawah ini harus dikenali:

Luka-luka yang tidak dapat dijelaskan. seperti memar yang ditutupi oleh pakaian, luka bakar (khususnya yang berpola), dan bilur-bilur yang menunjukkan bekas lilitan tali atau kaitan. Mereka juga tiba-tiba bisa menunjukkan ketidaknyamanan dalam berjalan atau duduk Perubahan perilaku. Anak-anak yang mengalami kekerasan bisa menunjukkan kekerasan yang berlebihan pada saat bermain boneka atau binatang. Perilaku mereka mungkin menurun seperti anak-anak di bawah usia mereka dan kembali harus dilatih untuk ke kamar mandi. Anak-anak yang mengalami kekerasan juga bisa menunjukkan ketakutan terhadap orang-orang atau tempat tertentu. Tanda-tanda kelalaian. Anak-anak yang mengalami kekerasan biasanya dilalaikan oleh keluarganya. Mereka mungkin berpakaian tidak selayaknya dan tidak sepantasnya. Kebutuhan gizi dan kebersihan mereka sangat tidak terawat. Mereka mungkin tertidur di kelas karena kurang istirahat. Anak-anak yang terabaikan ini mungkin menjadi anak yang hadir pertama kali dan pulang paling akhir.

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)
 Bagi orang tua cara mendidik anak adalah hak prerogratif

mereka. Terserah mereka bagaimana caranya.  Bagi kebanyakan orang tua memilih sistem reward and punishment  Bila anak berbuat nakal maka orang tua akan menghukumnya. Akan tetapi hukuman yang sering kali dipilih adalah berupa hukuman fisik.

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
 Data menunjukkan angka kecelakaan di rumah sebagian besar

menelan korban anak-anak.  Pada bayi, umumnya kecelakaan seperti itu disebabkan kelalaian orang dewasa di sekitarnya. Bahaya Yang Mungkin Terjadi Di Lingkungan Rumah,antara lain: 1. Lantai rumah yg licin/basah saat di pel 2. Tangga yg curam&tdk ada pegangannya 3. Alat makan&minum yg bs pecah 4. Penyimpanan obat/zat yg berbahaya yg mdh terjangkau 5. Adanya sumur terbuka 6. Adanya kolam renang/ikan 7. Rumah di pinggir jalan&tdk berpagar 8. Kompor/alat listrik yg dpt dijangkau 9. Stop kontak yg tdk tertutup

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
Kecelakaan pada anak todler→sering mengakibatkan kondisi yg fatal pd anak yaitu kematian Faktor penyebab antara lain:  Tersedak  Tenggelam  Kesetrum  Terbakar  Jatuh  Keracunan

Lanjutan…
1.TERSEDAK

Inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mencegah kejadian tersedak: Jauhkan anak dari barang-barang kecil dan mainan yang bisa dilepas menjadi bagian-bagian kecil.

Belilah mainan yang sesuai dengan umur dan keterampilan bayi. Memberikan mainan untuk umur 2 tahun ke atas kepada bayi, sungguh mengundang risiko, karena ukurannya yang kecil. Jauhkan mainan anak-anak yang lebih besar dari jangkauan si bayi. Bayi selalu tertarik dengan benda berwarna yang cerah. Ajari si kakak untuk selalu menyimpan mainannya secara rapi pada kotak khusus tertutup yang sudah disediakan. Setiap kali membersihkan lantai, pastikan tak ada benda kecil yang tertinggal seperti peniti, uang logam, baterei, tutup botol, kuku, penjepit kertas, jepit rambut, karet gelang, dan benda kecil lainnya. Jangan memberikan permen, popcorn, kacang, dan makanan potongan kecil atau butiran karena dapat membuat bayi tersedak, atau benda itu masuk ke dalam hidung.

• • •

Selalu tunggui setiap kali bayi makan. Jangan memberi makan sembari ia bermain, merangkak atau belajar berjalan.

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect) 2.TENGGELAM Agar anak terhindar dari bahaya tenggelam, inilah yang perlu dilakukan orang tua: * Gunakan ember dan air yang ukurannya disesuaikan usia anak. Jangan pernah meninggalkan bayi sendirian sedetik pun di dekat bak mandi. * Selalu buang air di dalam bath-up setiap kali usai menggunakannya. Bila sedang mengisi bath-up, tutuplah pintu kamar mandi. Bila perlu, kuncilah untuk mencegah si kecil merangkak masuk. * Sekeliling kolam renang harus diberi pagar pengaman yang rapat dan pintu pagar menuju kolam harus selalu terkunci. * Selalu awasi si kecil bila ia berada di dekat air, meski di kolam yang khusus untuknya sekalipun. * Jangan terlalu berambisi mengajari bayi berenang sejak dini di kolam renang umum. Usia yang paling disarankan adalah tiga tahun karena daya tahan tubuhnya sudah lebih kuat

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
3.KESETRUM
Yang sering terjadi, anak kesetrum karena memasukkan benda logam ke dalam stop kontak. Bahaya kesetrum bisa dihindari dengan cara-cara berikut:

* Kita harus rajin mencek setiap kabel-kabel listrik dan stop
kontak yang ada di rumah. Bila ada kabel yang mengelupas, segera ganti dengan kabel baru. Gantilah stop kontak dengan model yang tertutup atau berpengaman. Misal, harus diputar dulu bila hendak digunakan. * Tutup stop kontak dengan barang-barang furnitur berat yang tak mudah digeser. * Hindari peralatan listrik seperti mikser atau setrika dengan kabel menjuntai dari jangkauan anak-anak.

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
4. TERBAKAR
Yang sering terjadi, ibu membuat susu sambil tetap menggendong bayinya. Bahayanya, jika si bayi meronta, maka botol susu yang sudah berisi air hangat

akan terguncang hingga airnya bisa menyiram si bayi.
Supaya risiko terbakar atau terkena air dan benda panas dapat dihindari, lakukan hal berikut: * Selalu mengetes terlebih dulu panasnya air yang akan digunakan

untuk menyeduh susu atau memandikan bayi. * Jika Anda sedang menikmati kopi atau teh, hindari sambil memegang bayi. * Jangan sambil menggendong bayi bila sedang memasak. Si kecil bisa menarik gagang panci atau meronta-ronta yang membuat konsentrasi Anda terpecah. * Arahkan mulut teko ke dalam, untuk menghindari tertumpah ke bawah bila tersenggol. * Jangan sambil menggendong bayi bila sedang menyetrika. * Simpan korek api dan pemantik api jauh dari jangkauan anak.

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
5. JATUH

SERING terjadi, bayi jatuh dari baby taffel atau tempat tidur, baik tempat tidurnya sendiri atau orang tuanya. Agar si kecil tak sampai jatuh, orang tua seharusnya: * Tidak membiarkan si bayi (terutama yang sudah bisa tengkurap dan merangkak) sendirian sedetik pun bila dia berada di tempat tidur, baby taffel, sofa atau kursi. * Pasang pagar pengaman di tangga yang menuju ruang atas. * Pasang tali pengaman di kursi bayi, dorongan bayi, kursi makan dan peralatan lain yang dilengkapi tali pengaman. Meski hanya ditinggal membuat susu atau menerima telepon, tetap pasangkan tali pengaman ini. * Jika si bayi sudah mampu berdiri, lepaskan bumper (bantal pengaman) dari tempat tidurnya karena akan dipakainya untuk memanjat. * Untuk mengantisipasi si kecil jatuh dari tempat tidur, sejak awal belilah tempat tidur yang bisa diatur ketinggiannya. Semakin besar si kecil, seharusnya semakin rendah alas ranjangnya sehingga ia tidak bisa meloncati pagar pengaman tempat tidur karena menjadi lebih tinggi. Kuncilah selalu pagar pengaman ini. * Jangan gunakan baby walker. Ini penyebab bayi sering jatuh. Kalau kakinya sudah bisa mengayuh, luncurannya bisa kencang. Nah, cedera biasanya terjadi karena jatuh terjungkal atau menabrak benda-benda lain di rumah. * Jangan taruh bayi dan kursinya di tempat tinggi, semisal di meja, di tempat yang tidak rata atau di bangku yang tinggi. Jangan biarkan si kecil sendirian duduk di kursinya.

Kelalaian Pada Anak (Child Neglect)
6. KERACUNAN BAHAYA keracunan yang sering terjadi pada anak adalah menelan obat

berlebihan (overdosis) karena orang tua menaruh obat sembarangan. Potensi keracunan lainnya menelan cairan kosmetik ibunya, cairan pembersih untuk rumah dan cairan pembasmi serangga, dan bahan beracun lainnya. Untuk menghindarinya, berikut yang harus dilakukan: * Taruh semua barang-barang yang menimbulkan potensi keracunan seperti bahan-bahan pembersih, pewangi pakaian, pupuk, dan lainnya di tempat tinggi dan tak mudah dijangkau. Bila perlu, kunci lemari khusus tersebut. Simpanlah tetap bersama pembungkusnya. Biasanya, di situ tertera cara menanggulangi bila terhirup atau tertelan. * Hal yang sama juga berlaku dalam penyimpanan kosmetik, parfum, pencuci mulut, pembersih muka dan peralatan kosmetik lainnya. * Taruh bumbu dapur, kecap, sirup, dan minyak goreng di tempat yang terkunci pula. * Demikian juga vitamin, obat-obat bebas, dan lainnya di tempat yang aman dari jangkauan anak.

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
• Autisme Masa Kanak →gangguan perkembangan pada anak

yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2 – 5tahun. Pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah. • Autis berarti sendiri, artinya hidup dalam dunianya sendiri. Gejala autis meliputi gangguan komunikasi, interaksi sosial dan perilaku. • Gejala autis ada yang ringan ada yang berat, mulai dari yang tidak bicara sampai ada yang banyak bicara tetapi tidak terarah, tidak bisa bergaul atau tidak punya teman dan perilakunya aneh, suka mengulang hal yang disenangi. • Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.

Lanjutan…
 Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat

kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.  Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
Gejala – gejala pada autisme mencakup ganggguan pada : 1. gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal • Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara • Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet • Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai • Bicara tidak digunakan untuk komunikasi • Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya • Kadang bicara monoton seperti robot • Mimik muka datar • Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
2. gangguan pada bidang interaksi sosial • Menolak atau menghindar untuk bertatap muka • anak mengalami ketulian • Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk • Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang • Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. • Bila didekati untuk bermain justru menjauh • Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain • Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun • Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
3. gangguan pada bidang perilaku dan bermain • Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam • Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh • Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar • Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemanamana • Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak • Perilaku ritualistik sering terjadi • Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang • Dapat juga anak terlalu diam

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )

4.gangguan pada bidang perasaan dan emosi • Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya • Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata • Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif

Lanjutan… 5. gangguan dalam persepsi sensoris • Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja • Bila mendengar suara keras langsung menutup mata • Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan • Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism ) Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme :  Televisi  Genetik  Makanan  Radiasi pada janin bayi  Folic Acid  Sekolah lebih awal

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
10 Jenis Terapi Autisme: 1) Applied Behavioral Analysis (ABA) 2) Terapi Wicara 3) Terapi Okupasi 4) Terapi Fisik 5) Terapi Sosial 6) Terapi Bermain 7) Terapi Perilaku. 8) Terapi Perkembangan 9) Terapi Visual 10) Terapi Biomedik Kasih Sayang, Kunci Menangani Anak Autis l

Hiperaktif
 Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar

biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak.  Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi.  Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tibatiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.
 Cara Menangani Hiperaktif

Pertama, PERIKSALAH. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi.

Lanjutan…
 Kedua, PAHAMILAH.

Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis.  Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima keadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten.

Lanjutan…
 Keempat, TELATENLAH.

Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.
 Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.

Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

Lanjutan…
 Keenam, KENALI arah minatnya.

Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.
 Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda

terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi

Lanjutan…
 Adapun kriteria anak hiperaktif pada masa sekolah adalah sebagai

berikut:
1. Mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam memusatkan perhatian) sehingga anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara baik. 2. Jika diajak bicara siswa hiperaktif tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya). 3. Mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar dirinya.. 4. Tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan suka bergerak serta selalu tampak gelisah. 5. Sering mengucapkan kata-kata secara spontan (tidak sadar). 6. Sering melontarkan pertanyaan yang tidak bermakna kepada guru selama pelajaran berlangsung. 7. Mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya karena ia tidak memiliki perhatian yang baik

Hiperaktif
 CIRI-CIRI ANAK HIPERAKTIF

* Tidak Fokus
 Anak dengan gangguan hiperaktivitas tidak bisa berkonsentrasi lebih dari

lima menit. Dengan kata lain, ia tidak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan perhatiannya kepada hal lain.

* Menentang
 Anak dengan gangguan hiperaktivitas umumnya memiliki sikap

penentang/pembangkang atau tidak mau dinasehati. Misalnya, penderita akan marah jika dilarang berlari ke sana kemari, coret-coret atau naik-turun tak berhenti * Destruktif
 Perilakunya bersifat destruktif atau merusak. Ketika menyusun lego

misalnya, anak aktif akan menyelesaikannya dengan baik sampai lego tersusun rapi. Sebaliknya anak hiperaktif bukan menyelesaikannya malah menghancurkan mainan lego yang sudah tersusun rapi.

Hiperaktif
* Tak kenal lelah
 Anak dengan gangguan hiperaktivitas sering tidak menunjukkan sikap lelah.

Sepanjang hari dia akan selalu bergerak ke sana kemari, lompat, lari, berguling, dan sebagainya.
* Tanpa tujuan
 Semua aktivitas dilakukan tanpa tujuan jelas

* Tidak sabar dan usil
 Yang bersangkutan juga tidak memiliki sifat sabar

* Intelektualitas rendah
 Seringkali intelektualitas anak dengan gangguan hiperaktivitas berada di

bawah rata-rata anak normal.

Lanjutan…
CIRI-CIRI ANAK AKTIF : * Fokus (perhatian kuat)

* Lebih penurut
 Sikap menentang pada anak aktif tidak sekuat pada anak hiperaktif. Ia

masih bisa diberi tahu dan dapat mematuhinya dengan lebih baik. * Konstruktif
 Ketika diberikan mainan, pasel umpamanya, si aktif akan berusaha

melakukan hal sesuai permintaan. * Ada waktu lelah
 Anak aktif umumnya memiliki batas mobilitas

* Lebih sabar
 Anak aktif punya kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan anak hiperaktif

* Intelektualitas tinggi
 Umumnya, anak aktif punya kecenderungan menjadi anak cerdas. Ia

memiliki tenaga, rasa ingin tahu, dan kesempatan yang lebih besar untuk mengetahui hal-hal baru.

Hiperaktif
Penanganan HIPERAKTIF,diantaranya: 1. Terimalah kondisi anak 2. Perbaiki perilaku anak Hal lain yang perlu penanganan segera adalah perilaku anak yang destruktif agar

perilakunya lebih terarah. Untuk ini tentu diperlukan bantuan ahli seperti psikolog.
3. Terapi Bila gangguan yang dialami tergolong parah, biasanya akan dilakukan terapi perilaku, seperti terapi psikososial, educational therapy, occasional therapy, dan psikoterapi. 4. Sediakan sarana Untuk mengantisipasi gerakan-gerakan anak dengan gangguan hiperaktivitas yang tidak bisa diam, sebaiknya ruangan untuk anak bermain dirancang sedemikian rupa

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->