P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 1,239|Likes:
Published by lidarifi

More info:

Published by: lidarifi on Sep 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

Sections

1. Pengertian Tentang Moral Dan Moralitas

Istilah moralitas umumnya dikenal sebagai suatu sistem peraturan-

peraturan perilaku sosial, etika hubungan antar orang, baik dan buruk, benar

dan salah. Moralitas adalah kesadaran akan loyalitas pada tugas dan

tanggungjawab. Moralitas datang dari diri sendiri tentang apa yang baik dan

23

*) E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Norma-norma Bagi Penegak Hukum, Kanisius, Yogyakarta, cet-I,
1995, hal. 27

buruk, salah dan benar, yang ukurannya adalah ajaran agama dan kepatutan di

masyarakat.

Moralitas berasal dari kata moral dari bahasa latin “mos” jamaknya
“mores”. Maksud dari moral adalah ajaran-ajaran, pesan, wejangan, khotbah,

panutan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik tertulis maupun lisan tentang

bagaimana manusia sebaiknya hidup, menjalani kehidupan, beprilaku dan

bertindak supaya menjadi manusia yang baik, sopan, santun dengan tata krama

serta berbudi luhur. Moral mengajarkan bagaiamana manusia harus hidup.

Ajaran moral berisi pandangan-pandangan tentang nilai-nilai, norma-

norma kehidupan manusia. Sumber dari ajaran moral adalah ajaran agama,

tradisi atau adat istiadat yang baik dan bijaksana serta ideologi. Norma moral

mengajarkan tindakan dan perilaku keseharian hidup seseorang sesuai dengan

kebaikannya sebagai manusia dengan derajat kemanusiaan yang berbudi luhur

/akhlakul karimah. Moralitas terbagi menjadi dua golongan, yaitu :

a. Moralitas obyektif, dan

b. Moralitas subyektif.*)

Moralitas obyektif adalah moralitas yang melihat perbuatan sebagaimana

adanya, terlepas dari segala bentuk modifikasi kehendak bebas pelakunya,

misalnya kondisi emosional yang mungkin menyebabkan pelaku lepas kendali,

apakah perbuatan itu memang dikehendaki atau tidak. Moralitas obyektif

sebagai norma berhubungan dengan semua perbuatan yang pada hakikatnya

baik dan jahat, benar atau salah. Sedangkan moralitas subyektif adalah

moralitas yang melihat perbuatan karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan

perhatian pelakunya, latar belakang, stabilitas emosianal, dan perlakuan

personal lainnya. Moralitasi ini mempertanyakan apakah perbuatan itu sesuai

atau tidak dengan suara hati nurani pelakunya. Moralitas subyektif sebagai

norma berhubungan dengan semua perbuatan yang diwarnai oleh niat

pelakunya.

24

Persoalan moralitas hanya relevan apabila dikaitkan dengan manusia

seutuhnya, dimana manusia mempunyai nilai pribadi, kesadaran diri dan dapat

menentukan dirinya dilihat dan setiap askpek kemanusiaan. Tidak setiap

perbuatan manusia dapat dikategorikan ke dalam perbuatan moral. Perbuatan

itu bernilai moral apabila di dalamnya terkandung kesadaran dan kebebasan

kehendak pelakunya. Kesadaran adalah suara hati nurani dan kebebasan

kehendak berdasarkan kesadaran.

Manusia sebagai makhluk cipataan Tuhan Yang Maha Esa yang paling

sempurna, apabila dilihat dari frame agama, maka tidak dapat disangkal apabila

agama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan moralitas. Setiap agama

mengandung ajaran moralitas. Agama adalah pernyataan orang yang beriman

kepada pencipta-Nya. Ajaran moral yang terkandung dalam agama meliputi dua

macam norma, yaitu norma yang berkenaan dengan ibadah yang berbeda di

antara berbagai macam agama dan norma etis yang berlaku umum mengatasi

perbedaan agama. Semua agama mengakui dan menerima kedua norma

tersebut, oleh karena itu moral yang dianut agama-agama besar di dunia pada

dasarnya sama. Meskipun harus diakui bahwa banyak manusia yang

mengabaikan agama, tidak berarti mereka menolak moralitas. Moralitas bukan

monopoli orang yang beragama saja. Perbuatan baik dan buruk, benar dan salah

tidak hanya berarti bagi mereka yang beragama saja. Perlu ditekankan lagi

bahwa agama yang menguatkan moral, makin tebal keyakinan agama dan

kesempurnaan taqwa seseorang, makin baik moralnya yang diwujudkan dalam

bentuk perilaku, walaupun itu tidak mutlak. Orang beragama sudah pasti

bermoral, tetapi orang bermoral belum tentu mengamalkan agamanya. Agama

mengandung nilai moral yang menjadi tolak ukur moralitas perilaku seseorang

dan moral memperoleh daya ikat dari agama.

25

2. Pengertian Tentang Profesionalisme

Profesionalisme berasal dari kata “profesi”, istilah yang diadopsi dari kata
bahasa Inggris “profession”. Perkataan “profesi” digunakan dalam arti yang

luas, diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilakukan dalam kehidupan

sehari-hari yang didasari atas kebiasaan, keahlian, keterampilan, kejuruan,

pendidikan, dan lain sebagainya, untuk memperoleh nafkah (penghasilan),

secara sah maupun tidak sah, secara etika-moral dapat dibenarkan maupun

tidak, sesuai dengan peraturan perundangan-perundangan ataupun tidak. Dalam

arti seperti, semua pekerjaan apapun jenis dan bentuknya misalnya seperti

pengusaha, guru, penyanyi, pengamen, pedagang kaki lima, sampai pembantu

rumah tangga, penarik becak, bahkan pencopet disebut menjalankan profesi.

Sedangkan dalam pengertian yang lebih sempit, perkataan profesi

diartikan sebagai pekerjaan sebagi sumber nafkah (penghasilan), mencari uang,

secara berkeahlian (berdasarkan keahlian yang dimilikinya) yang dikaitkan

dengan cara menjalankan pekerjaan atau kegiatan dan hasil pekerjaan yang

bermutu. Sementara profesional didefinisikan obyek (orang) yang bersangkutan

dengan profesi, melakukan kejadian khusus untuk menjalankannya dan

mengharuskan adanya pembayaran dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.

Adapun definisi profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau

kualitas sesuai dengan profesinya. Lebih lanjut Wignjosoebroto menjabarkan

profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap

kegiatan pemberian “jasa profesi” (dan bukan okupasi) ialah bahwa kerja

seseorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebijakan demi

tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu

mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil; bahwa kerja seorang

profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi

yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang,

eksklusif dan berat; bahwa kerja seorang profesional diukur dengan kualitas

teknis dan kualitas moral harus menundukan diri pada sebuah mekanisme

26

kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam

sebuah organisasi profesi. Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan

kaum prosesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan

idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasi bukanlah

komoditas yang hendak diperjualbelikan sekedar untuk memperoleh nafkah,

melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat

manusia. Kalau di dalam pengamalan profesi yang diberikan ternyata ada

semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, sebagai “tanda kehormatan”

(honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya

dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja

upahan saja. sehingga profesionalisme seseorang dalam suatu tindak tanduk

sangat berharga dan dengan profesionalisme yang tinggi mempengaruhi nilai

atau penghargaan orang lain terhadap profesi yang diembannya.

3. Notaris Sebagai Profesi

Seperti diketahui, Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya

berwenang membuat akta otentik kecuali jika UU menghendaki lain, artinya

Notaris merupakan suatu pekerjaan dengan keahlian khusus yang menuntut

pengetahuan luas, serta tanggung jawab yang berat untuk melayani kepentingan

umum dan inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik

hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta

jasa Notaris.

Orang seseorang agar dapat diangkat menjadi Notaris untuk

melaksanakan tugas jabatan seperti tersebut diatas, harus memiliki beberapa

persyaratan, antara lain dan terutama adalah sebagai berikut :

a. Kemampuan intelektual, dengan menguasai ilmu pengetahuan dalam bidang

hukum, khususnya bidang hukum perdata serta pula menguasai semua

peraturan peundangan yang berlaku, dimana kesemuanya itu dipersiapkan

dan diperuntukkan sebagai bekal dalam menjalankan tugas jabatannya

27

sebagai notaris, agar kemampuan intelektual ini dapat dipenuhi. Calon

Notaris harus memiliki/lulus S1 Fakultas Hukum.

b. Kemampuan profesional mempraktekkan ilmu pengetahuan terapan itu,

dengan keahlian dan kemahiran serta keterampilannya yang spesifik dan dan

sangat khusus, yang hanya dapat diperoleh melalui latihan dan praktek

secara terus-menerus. Untuk ini calon Notaris wajib mengikuti pendidikan

khusus kenotariatan selama 2 tahun serta program magang selama 1 tahun.

c. Memiliki integritas moral yang handal, berbudi pekerti yang luhur, serta

berakhlak mulia.

d. Kualifikasi seorang Notaris yang ideal dan profesional, mutlak, harus

melalui suatu saringan ujian yang diselenggarakan dan berdasarkan

penilaian objektif dalam suatu ujian kode etik

Kualifikasi tersebut diatas diperlukan karena kewajiban Notaris

memberikan penjelasan hukum kepada para pihak yang datang menghadap

sehubungan dengan akta yang akan dibuat, karenanya seorang notaris

seyogyanya seorang ahli hukum karena Notaris berhadapan dengan masyarakat

yang datang menghadap kepadanya dengan membawa masalah yang mereka

hadapi yang sedikit banyaknya mempunyai konsekwensi hukum dan

mengharapkan agar Notaris dapat memberikan jalan keluar penyelesaian

masalah yang mereka hadapi. Artinya dalam salah satu kewajiban Notaris diatas

nampak bahwa sesungguhnya Notaris merupakan profesi hukum yang mulia

(officium nobile) memberikan penjelasan hukum kepada para pihak dan

membantu memberikan jalan keluar penyelesaian masalah-masalah yang

berkaitan dengan hukum. Dikatakan sebagai officium nobile sebab profesi

Notaris sangat erat kaitannya dengan kemanusiaan. Akta yang dibuat notaris

pada dasarnya adalah merupakan perlindungan hukum bagi para pihak.

Kekeliruan atas akta Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang

atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban *).

28

Dari uraian diatas nampak bahwa sebenarnya Notaris merupakan profesi

hukum yang mulia, seperti diketahui.

Hakikat keluhuran profesi sangat terkait dengan implementasi nilai-nilai

profesional dari profesi tersebut kepada masyarakat. Makin jauh nilai-nilai ini

dari harapan masyarakat, makin merosot pula maknda keluhuran profesi itu di

mata masyarakat. Profesi luhur (officium nobile) dengan demikian tidak dapat

diraih hanya dengan slogan. Profesi luhur adalah profesi pelayanan yang terikat

pada kebutuhan-kebutuhan praktis masyarakat. Artinya keluhuran profesi itu

akan diuji langsung oleh masyarakat melalui pengalaman-pengalaman konkret

mereka berhadapan dengan penyandang profesi ini. Lulus tidaknya mereka

dalam ujian itu sangat menentukan layak tidaknya profesi itu untuk tetap

disebut sebagai profesi luhur. Profesi hukum di Indonesia, dewasa ini adalah

salah satu profesi yang sedang menghadapi “uji kelayakan” demikian.

Dalam kaitan dengan implementasi nilai-nilai profesional diatas, Notaris

seyogyanya berperilaku profesi sebagai berikut : *)

1. Dalam menjalankan tugas profesinya, seorang Notaris harus mempunyai

integritas moral yang mantap. Dalam hal ini, segala pertimbangan moral

harus melandasi pelaksanaan tugas profesinya. Walaupun akan memperoleh

imbalan jasa yang tinggi, namun sesuatu yang bertentangan dengan moral

yang baik harus dihindarkan.

2. Seorang Notaris harus jujur, tidak saja pada kliennya. Juga pada dirinya

sendiri. Ia harus mengetahui akan batas-batas kemampuannya, tidak

memberi janji-janji sekedar untuk menyenangkan kliennya, atau agar si

klien tetap mau memakai jasanya. Kesemuanya itu merupakan suatu ukuran

tersendiri tentang kadar kejujuran intelektual seorang Notaris.

3. Seorang Notaris harus menyadari akan batas-batas kewenangannya. Ia harus

mentaati ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku tentang seberapa jauh ia

dapat bertindak dan apa yang boleh serta apa yang tidak boleh dilakukan.

Adalah bertentangan dengan perilaku profesional, apabila seorang Notaris

29

ternyata berdomisili dan bertempat tinggal tidak di tempat kedudukannya,

tapi tempat tinggalnya di lain tempat. Seorang Notaris juga dilarang untuk

menjalankan jabatannya di luar daerah jabatannya. Apabila ketentuan

tersebut dilanggar, maka akta yang bersangkutan akan kehilangan daya

otentiknya.

4. Sekalipun keahlian seseorang dapat dimanfaatkan sebagai upaya yang lugas

untuk mendapatkan uang, namun dalam melaksanakan tugas profesinya ia

tidak boleh semata-mata didorong oleh pertimbangan uang.

Seorang Notaris yang Pancasilais harus tetap nerpegang teguh kepada

teguh rasa keadilan yang hakiki, tidak terpengaruh oleh jumlah uang. Dan tidak

semata-mata hanya menciptakan suatu alat bukti formal mengejar adanya

kepastian hukum, tapi mengabaikan rasa keadilan. Disamping itu, nampaknya

ada kaidah-kaidah etika khusus yang berlaku pada jabatan/profesi notaris,

yaitu : *)

1. Profesi merupakan suatu pelayanan, karena itu mereka harus juga bekerja

tanpa pamrih, terutama bagi klien yang tidak mampu. Profesi harus

dipandang (dan dihayati) sebagai suatu pelayanan karena itu, maka sifat

tanpa pamrih (disintrestedness) menjadi ciri khas dalam mengembangkan

profesi. Tanpa pamrih berarti pertimbangan yang menentukan dalam

pengambilan keptusan adalah kepentingan pasien atau klien dan

kepentingan umum, dan bukan kepentingan sendiri (pengembangan

profesi). Jika sifat tanpa pamrih itu diabaikan, maka pengembangan profesi

akan mengarah pada pemanfaatan (yang dapat menjurus kepada

penyalahgunaan) sesama manusia yang sedang mengalami kesulitan atau

kesusahan.

2. Pelayanan profesional dalam mendahulukan kepentingan klien harus

mengacu kepada kepentingan atau nilai-nilai luhur sebagai norma kritik

yang memotivasi sikap dan tindakan.

30

3. Pengemban profesi harus selalu berorientasi kepada masyarakat secara

keseluruhan.

4. Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat sehingga dapat

menjamin mutu dan peningkatan mutu pengemban profesi, maka

pengembangan profesi harus bersemangat solidaritas antar sesama rekan

seprofesi.

Kemudian untuk lebih memperkaya landasan moral profesi Notaris,

Suhrawardi K. Lubis menambahkan bahwa tugas profesi hukum selain bersifat

kepercayaan yang berupa hablumminannas (hubungan horizontal) juga

seyogyanya harus disandarkan kepada hablumminaAllah (hubungan vertikal).

Hubungan vertikal terwujud dengan cinta kasih, perwujudan cinta kasih kepada-

Nya tentunya profesional hukum harus melaksanakan sepenuhnya atau

mengabdi kepada-Nya direalisasikan dengan cinta kasih antar sesama manusia.

Dengan menghayati cinta kasih sebagai dasar pelaksanaan profesi, maka

otomatis akan melahirkan motivasi dalam mewujudkan etika profesi hukum

sebagai realisasi mengemban tugas (yang pada hakikatnya merupakan amanah)

profesi hukum. Dengan demikian pengembang profesi hukum memperoleh

landasan keagamaan, sehingga pengemban profesi akan melihat profesi sebagai

tugas kemasyarakatan dan sekaligus sebagai ibadah mewujudkan kecintaan

kepada Allah SWT dengan tindakan nyata.

4. Pengertian Etika dan Etika Jabatan Notaris

a. Pengertian Etika

Dari uraian-uraian dimuka namapak bahwa profesi dan profesionalisme

harus tidak pernah lepas dari persoalan etika. Etika profesi memang benar-benar

merupakan hakikat sinergis non profesi dan profesionalisme *). Tanpa etika,

profesi dan profesionalisme akan menjadi liar dan barbar sehingga akan

memangsa dengan rakus obyek pekerjaannya.

31

Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, dari kata ethos (tunggal) yang

mengandung banyak arti misal seperti kebiasaan, adat, akhlak, watak, sikap,

cara berfikir, perasaan sampai pada arti padang rumput, kandang atau tempat

tinggal. Bentuk jamak kata ethos adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan.

Adapun etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya :

1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan

kewajiban moral (akhlak).

2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.

3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990: 237).

Dari pengertian diatas nampak bahwa, etika memperhatikan atau

mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral

dan juga mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual

dengan objektivitas untuk menentukan kebenaran atau keburukkan dari tingkah

laku seseorang terhadap orang lain. Pengertian etika dibedakan dengan

moralitas, moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai, dan sikap

moral seseorang atau masyarakat, sedang etika adalah filsafat atau pemikiran

kritis normatif tentang moralitas.

Dalam kaitan itu, etika dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus.

Etika umum membahas prinsip-prinsip moral dasar, sedangkan etika khusus

menerapkan prinsip-prinsip dasar pada masing-masing bidang kehidupan

manusia. Etika khusus ini dibagi menjadi etika individual yang memuat

kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan etika sosial yang mebicarakan

tentang kewajiban manusia sebagai anggota umat manusia.

Etika dalam pengertiannya yang umum dapatlah diartikan selanjutnya

dengan meminjam rumusan Emmet, sebagai “the mores of a given society”.
“Ethics in concerned with standards of conduct among people in social

groups”, kata Hobbs. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan

dengan seni hidup dan seni pergaulan suatu kelompok organisasi sosisal

32

tertentu, etika adalah “a systematic code of moral principle’s” yang pada saat
dibutuhkan bisa berfungsi sebagai “rationale moral action”.

Dari definisi dan batasan konseptual tersebut tersiratlah kepahaman

bahwa etika itu sesungguhnya adalah kekuatan normatif yang bergerak “dari
dalam” untuk mengendalikan perilaku seseorang atau kelompok orang. Etika
adalah refleksi apa yang disebut “self control” dan bukan “social control”.

Maka etika berbeda dari hukum atau mekanisme kontrol sosial lain yang

bersifat sosial-eksternal dalam kenyataan berikut ini : ialah bahwa etika tidak

ditopang oleh kekuatan pemaksa yang berasal dari sumber kekuasaan negara

atau aparat pemerintahan, sedangkan hukum, sekalipun mungkin saja dikatakan

mengandung juga substansi etik, pada dasarnya hanyalah akan bisa efektif

apabila ditopang oleh kekuatan koersif aparat penegak yang dikelola

pemerintah. (tepat seperti apa yang dikatakan oleh Black bahwa “law is
government’s social control”).

Dikatakan dengan fungsinya sebagai pelestari pola normatif kehidupan

suatu kelompok profesi, etika tentulah harus pula dimengerti disini sebagai “a

systematiccode of moral principles” tersebut di muka. Karena seperti telah kita

ketahui, kelompok profesi adalah suatu kelompok yang mendukung kerja yang

merefleksikan upaya pengabdian guna merealisasi nilai-nilai tertentu yang

dijunjung tinggi dalam masyarakat, maka persoalan etika tak akan pernah lepas

dari kehidupan kelompok-kelompok profesional ini.

Sejalan dengan hal tersebut, nampak lingkup etika profesi Notaris adalah

manusia yang berprofesi sebagai Notaris yang dilihat dari sudut pandang yang

berbeda-beda dan menghasilkan spektrum yang berbeda pula. Etika memandang

Notaris dalam segi tindakan dan tingkah laku sengaja dalam menjalankan

profesinya yang berkaitan dengan norma. Norma dalam hal ini memiliki fungsi

ganda yakni sebelum terjadi sesuatu digunakan sebagai haluan atau pedoman

untuk menunjukkan bagaimana sesuatu harus (mesti) terjadi, dan sesudah

33

terjadi sesuatu dipakai sebagai ukuran untuk mempertimbangkan apakah

sesuatu itu terjadi sesuai seperti yang seharusnya.

b. Etika Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris

Profesi Notaris, sebagaimana profesi hukum, merupakan profesi khusus.

Dikatakan khusus karena profesi ini memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Maksudnya meskipun orang yang menjalankan profesi itu hidup dari profesi

tersebut akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah

yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaan untuk melayani sesama.

Untuk melakukan profesi, mereka yang berkecimpung di dalam profesi tersebut

dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi.

Terdapat dua prinsip etika profesi pada umumnya yang berlaku bagi

Notaris sebagai profesional yakni dalam menjalankan profesi Notarisnya yang

harus bertanggung jawab dan tidak melanggar hak-hak pihak lain, yaitu :

1. Sikap bertanggung jawab

Tuntutan dasar dalam kehidupan manusia dan khusus dalam

menjalankan segenap profesi adalah agar manusia selalu bersikap

bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam dua arah yaitu :

a. Notaris sebagai profesi diharapkan bertanggung jawab terhadap

pekerjaan yang dilakukan dan terhadap hasilnya. Jadi diharapkan agar

notaris dapat bekerja sebaik mungkin dan menghasilkan sesuatu yang

kualitasnya baik. Dengan kata lain menjalankan sebuah profesi

mengandung tuntunan agar hasilnya bermutu. Mutu mempunyai

beberapa segi. Notaris harus mengusahakan agar Notaris tersebut

menguasai tugas dengan sebaik-baiknya, agar Notaris kompeten. Notaris

harus terus menerus meningkatkan penguasaan atas profesi yang

dijalankan. Cara bekerja harus efektif dan efisien. Hasil pekerjaan harus

sekurang-kurangnya seseuai dengan yang diharapkan oleh klien, tetapi

harus diusahakan agar lebih baik lagi.

34

b. Notaris harus bertanggung jwab terhadap dampak pekerjaan pada

kehidupan orang lain. Di sini yang perlu diperhatikan adalah antara lain,

dampak pelaksanaan profesi pada kepentingan klien serta dampak

terhadap kepentingan regional, nasional dan kepentingan negara.

Semuanya perlu diperhatikan.

2. Hormat terhadap hak orang lain

Prinsip ini tidak lain adalah tuntutan keadilan. Keadilan menuntut

profesional memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Dalam

konteks profesi notaris tuntutan keadilan itu berarti di dalam

pelaksanaannya Notaris tidak boleh melanggar hak orang, atau lembaga lain

ataupun hak negara. Jadi jika pelaksanaan profesi melanggar suatu hak,

maka profesional sejati akan menghentikan pekerjaannya. Tuntutan etika

profesi dapat dirumuskan dalam sebuah prinsip tanggung jawab yakni dalam

segala usaha bertindaklah sedemikian rupa, sehingga akibat-akibat tindakan

yang dilakukan tidak dapat merusak, bahkan tidak dapat membahayakan

atau mengurangi mutu kehidupan manusia dalam lingkungannya, baik

mereka yang hidup pada masa sekarang, maupun generasi-generasi yang

akan datang.

Dalam sajian diatas nampak Notaris yang berkecimpung dalam bidang

hukum tidak boleh melupakan etika meskipun terdapat paham bahwa

hukum dan etika harus dibedakan tetapi antara keduanya berkaitan erat.

Notaris berpegang erat pada etika serta merta akan mematuhi hukum,

sedangkan bila Notaris hanya memperhatikan peraturan perundang-

undangan semata bisa jadi Notaris akan melanggar etika. Pelanggaran etika

akan menyebabkan adanya hak lain yang terlanggar.

Lebih lanjut disampaikan bahwa dari pengalaman, pekerjaan Notaris

selalu berkecimpung dalam dunia nilai abstrak yang tidak dapat dicerna

secara empiris namun keberadaannya dapat dirasakan, misalnya nilai

keadilan, nilai kebenaran-kebenaran dan nilai kepatuhan-kepatuhan adalah

35

salah tiga nilai yang bersifat abstrak dan pekerjaan Notaris yang selalu

berkecimpung dalam dunia nilai abstrak tersebut akan timpang bila tidak

diikuti dengan kesadaran beretika. Berkecimpung pada profesi Notaris

memasuki kehidupan yang sarat dengan perilaku etis. Menempuh cara hidup

yang etis berarti mempertanggungjawabkan perilaku berdasarkan alasan-

alasan etis, baik yang berasal rasio maupun alasan rasio-religius.

Dengan adanya etika profesi Notaris diharapkan para professional

Notaris, mempunyai kemampuan individu tertentu yang kritis, yaitu :

1. Kemampuan untuk kesadaran etis (ethical sensibility)

Ethical sensibility dapat dilihat dari kemampuan para professional

dalam bidang hokum untuk menentukan aspek-aspek dari situasi-situasi

dan kondisi yang mempunyai kepentingan etis.

2. Kemampuan untuk berpikir secara kritis (ethical reasoning)

Ethical reasoning yakni kemampuan berfikir secara etis dan

rasional menyangkut hal-hal yang berkaitan erat dengan alat-alat dan

kerangka-kerangka yang dianggap merupakan keseluruhan pendidikan

etika profesi hukum. Untuk hal ini diperlukan pendekatan-pendekatan

sebagai berikut :

a. Menggunakan pandangan objektif (impartial perspective)

Obyektif berarti memancang persoalan secara mendasar.

Analisis dilakukan secara obyektif dengan menghilangka unsur

subyektif. Pandangan obyektif ini dapat dilakukan dengan cara

menempatkan diri pada posisi sebagai orang yang berada dalam

keadilan sehingga tidak memihak. Obyektif juga berarti

meninggalkan ikatan kolegial termasuk nepotisme, kolusi, dan

korupsi.

36

b. Meningkatkan prinsip-prinsip tindakan pada tingkat yang umum dan

universal

Profesional harus mampu meletakkan prinsip-prinsip yang

merupakan nilai dasar pada persoalan yang dihadapi. Asas umum

tersebut misalnya nilai-nilai keadilan (legality), kepatutan (equity),

dan kesetaraan (equality).

c. Memperhatikan dan mempertimbangkan hak-hak dan kesejahteraan

beberapa pihak yang dipengaruhi oleh keputusan

Professional hukum mendasarkan alas hak pada kebenaran.

Kebenaran menjadi landasan pijak utama dalam penyelesaian

persoalan yang dihadapi dan kesetaraan dilandaskan atas dasar hak

dan tanggung jawab yang berimbang.

3. Kemampuan untuk bertindak secara etis (ethical conduct)

Ethical conduct dimaksudkan merupakan manifestasi dari hati

yang tulus. Hal ini akan diperlihatkan dengan tingkah laku yang

dilakonkan dalam pegambilan keputusan secara etis dan benar.

Kegagalan etis terjadi disebabkan orang yang bersalah tidak ada

keberanian untuk mengakui kesalahan secara jujur. Hal ini mungkin

disebabkan orang yang bersangkutan takut akan prospek masa

depannya.

4. Kemampuan untuk kepemimpinan etis (ethical leadership)

Ethical leadership adalah kemampuan untuk melakukan

kepemimpinan secara etis, yang tentunya mempunyai keterkaitan

dengan ketulusan hati.

Selanjutnya dalam kaitan pentingnya peran dan fungsi etika bagi

profesi Notaris agar profesi Notaris ini selalu berlandaskan pada nilai moral

maka Ikatan Notaris Indonesia (INI) sebagai organisasi profesi para Notaris

Indonesia memandang perlu untuk menetapkan kode etik profesi sebagai

37

panutan, panduan, acuan serta pegangan bagi para Notaris Indonesia dalam

melaksanakan tugas pekerjaannya.

Secara definisi formal, Ikatan Notaris Indonesia (INI) menyatakan

kode etik adalah seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan

maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris baik

dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut ketentuan Pasal 1 Ketentuan Umum Kode Etik Notaris

Ikatan Notaris Indonesia, yang dimaksud dengan Kode Etik adalah :

“Seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan
Notaris Indonesia yang selanjutnya akan disebut “Perkumpulan”

berdasar keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh
dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua
anggota Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan
sebagai Notaris, termasuk didalamnya para Pejabat Sementara Notaris,
Notaris Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus”.

Selanjutnya fungsi dang kedudukan Kode Etik dijelaskan bahwa :

“Kode Etik adalah suatu tuntunan, bimbingan atau pedoman moral atau

kesusilaan untuk suatu profesi tertentu atau merupakan daftar kewajiban
dalam menjalankan suatu profesi itu sendiri dan mengikat mereka dalam
mempraktekkannya. Sehingga dengan demikian Kode Etik Notaris
adalah tuntunan, bimbingan, atau pedoman moral atau kesusilaan
Notaris baik selaku pribadi maupun pejabat umum yang diangkat
pemerintah dalam rangka pemberian pelayanan umum, khususnya dalam
bidang pembuatan akta. Dalam hal ini dapat mencakup baik Kode Etik
Notaris yang berlaku dalam organisasi (INI), maupun Peraturan Jabatan
Notaris di Indonesia yang berasal dari Reglement op het Notaris”.

Kode Etik Notaris memuat unsur material tentang kewajiban.

Larangan, pengecualian dan sanksi yang akan dijatuhkan apabila terbukti

seorang Notaris melanggar kode etik. Selain itu, di dalam Kode Etik Notaris

juga diatr mengenai tata cara penegakan kode etik pemecatan sementara

sebagai anggota TNI.

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->