P. 1
Pbl n Motivasi

Pbl n Motivasi

|Views: 262|Likes:
Published by basharina
strategi PBL terhadapad motivasi belajar siswa
strategi PBL terhadapad motivasi belajar siswa

More info:

Published by: basharina on Sep 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/12/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I PENDAHULUAN
  • A.Latar Belakang
  • B.Rumusan Masalah
  • C.Pembatasan Masalah
  • D.Tujuan Penelitian
  • E.Manfaat Penelitian
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  • B.Pembelajaran Fisika
  • C.Model Pembelajaran
  • (PBL)
  • 2.Landasan pemikiran Project Based
  • 3.Kriteria dan Karakteristik Project
  • E.Motivasi Belajar
  • F.Aktivitas Belajar
  • G.Kerangka Pikir
  • B.Hipotesis Kerja
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • B.Populasi dan Sampel
  • C.Variabel dan Data
  • D.Prosedur Penelitian
  • E.Instrumen Penelitian
  • F.Teknik Analisis Data
  • 1.Ranah Kognitif
  • 2.Ranah Afektif
  • 3.Ranah Psikomotor

1

PENGARUH PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING (PBL) TERHADAP MOTIVASI DAN AKTIFITAS BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 GUNUNG TALANG
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Abad XXI dikenal dengan abad globalisasi dan abad teknologi informasi. Pembangunan yang begitu pesat serta perkembangan sains dan teknologi yang semakin canggih, membuat manusia tertantang untuk meningkatkan kualitas bidang pendidikan. Kemajuan suatu bangsa salah satu indikatornya, dapat dilihat dari perkembangan dunia pendidikan pada bangsa tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang yang memberikan perhatian kepada dunia pendidikan, mengharapkan agar pendidikan nasional menghasilkan peserta didik yang kompeten. Artinya, peserta didik memiliki kemampuan berpikir dan bertindak yang baik dan efisien dengan berorientasi pada keterampilan dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, peserta didik mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan globalisasi melalui peran serta dalam kemajuan IPTEK dengan kreativitas dan kemandirian yang mereka miliki. Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam telah banyak memberikan kontribusi nyata dalam perkembangan Ilmu dan Teknologi (IPTEK). Hal ini sesuai dengan pendapat Suryo (2008 : 3) ”Pada hakekatnya, fisika

merupakan kumpulan pengetahuan, cara berpikir, dan penyelidikan (eksperimen). Selain itu, fisika juga dipandang sebagai suatu proses sekaligus produk, sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan model pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu membuat peserta didik tertarik dan termotivasi untuk mempelajari fisika.” Berdasarkan alasan tersebut, salah satu kegiatan pembelajaran fisika yang efektif dan benar-benar mencerminkan hakikat fisika itu sendiri adalah melalui kegiatan praktik. Secara umum, kegiatan praktik merupakan unjuk kerja yang ditampilkan guru atau siswa dalam bentuk demonstrasi maupun percobaan oleh siswa yang berlangsung di laboratorium atau tempat lain melalui eksperimen dan proyek. Hal ini sejalan dengan pendapat Ari (2008: 1-2) ”Fisika mempelajari fakta-fakta yang ada kemudian dikemas menjadi konsep-konsep fisika dan dikembangkan menjadi hukum atau teori fisik melalui kegiatan eksperimen.................................... Pada tingkat SMA/MA, eksperimen fisika diarahkan pada suatu pembuktian dan pemahaman dari konsep, hukum, atau teori yang sudah ada.” Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kegiatan praktik memegang peranan penting dalam pembelajaran fisika karena praktikum memberikan peluang kepada siswa untuk kreatif dalam melakukan inovasi atau minimal siswa mendapatkan pengetahuan tentang langkah-langkah yang telah dilakukan ilmuwan dalam menemukan hukum fisika. Tentunya kegiatan praktik ini dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh penggunaan model pembelajaran yang tepat, sarana dan prasarana laboratorium yang lengkap serta ditambah dengan pemanfaatan sumber belajar

3

seperti internet yang dapat menunjang kegiatan praktik itu sendiri. Jika hal di atas dapat terlaksana dengan baik, maka kualitas proses pembelajaran akan meningkat diiringi dengan peningkatan hasil belajar fisika siswa sebagai cerminan keberhasilan pendidikan sendiri. Berdasarkan harapan-harapan yang begitu besar terhadap pembelajaran fisika tersebut, pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Diawali dengan upaya penyempurnaan kurikulum secara terusmenerus yang disesuaikan dengan perkembangan IPTEK sehingga akhirnya diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah juga memberikan pelatihan atau penataran kepada guru fisika mengenai sosialisasi penyempurnaan kurikulum untuk meningkatkan profesionalitas guru, serta mengadakan program sertifikasi guru yang memenuhi standar profesi seorang pendidik. Upaya pemerintah pun dilanjutkan dengan melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran fisika di sekolah, seperti pengadaan alatalat laboratorium, komputer, dan pemasangan internet untuk membantu kemandirian siswa dalam menggali informasi materi pembelajaran di samping yang mereka peroleh dari guru dan buku-buku pelajaran yang disediakan perpustakaan. Pada kenyataannya, upaya pemerintah tersebut belum memberikan dampak positif dalam kegiatan pembelajaran fisika. Hal ini terbukti dengan rendahnya hasil belajar fisika siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, masalah ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya siswa kurang termotivasi untuk

investigasi. mengkomunikasikan hasil kegiatan. sehingga siswa menjadi pasif. materi pembelajaran yang padat harus dicapai dalam waktu singkat. . pembuatan laporan. penentuan proyek. salah satu model pembelajaran yang dapat menunjang keefektifan kegiatan praktikum fisika adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/ PBL). Dari berbagai faktor penyebab masalah pembelajaran yang ditemukan peneliti di atas. Untuk mengatasi permasalahan proses pembelajaran fisika tersebut. dan evaluasi.belajar karena pembelajaran yang masih bersifat teori. Guru cenderung menggunakan model pembelajaran langsung yang selalu mengutamakan metode ceramah dan penugasan berupa latihan soal-soal saja. perencanaan. Model ini merupakan bagian dari pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dilakukan melalui suatu proyek dalam jangka waktu tertentu dengan langkahlangkah yang terdiri dari persiapan. Akibatnya. kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. belum maksimalnya pemanfaatan laboratorium. serta tidak mampu mengaplikasikan pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata. tidak mampu berpikir kritis. sarana laboratorium tidak dimanfaatkan secara maksimal. salah satu faktor penyebab yang sangat berpengaruh adalah kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. sementara itu model pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan praktik sangat jarang digunakan. serta kurangnya aplikasi materi pembelajaran pada kehidupan siswa sehingga siswa kurang kreatif dan terampil serta mempunyai pola pikir yang monoton.

Melalui model pembelajaran dengan kegiatan praktikum. maka konsep fisika yang bersifat abstrak akan menjadi nyata bagi siswa. maka rumusan . Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan. hasil belajar fisika siswa rendah dan jauh dibawah KKM yang ditetapkan sekolah. efektif. Untuk itu. Rumusan Masalah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. sehingga siswa akan termotivasi dan aktif selama proses pembelajaran. dan menyenangkan.” B. Akibatnya. model Project Based Learning perlu diterapkan dalam pembelajaran fisika. Berdasarkan uraian di atas. dan kerjasama/ kolaborasi dalam kelompok. syaraf. Padahal. pembelajaran fisika yang dilaksanakan guru sebagian besar menggunakan model pembelajaran yang terfokus pada teori saja. menurut Stevani (2008:17) ”PBL ini sangat cocok dilaksanakan dalam pembelajaran fisika karena melalui proyek ini.5 Secara umum. termasuk kecakapan sosial dengan melakukan banyak hal sekaligus. peneliti tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam suatu penelitian dengan judul ”Pengaruh Penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap Motivasi dan Aktifitas Belajar Fisika Siswa Kelas XI SMA N 1 Gunung Talang. Selain itu. sehingga pembelajaran fisika akan menjadi menarik. menghargai orang lain. siswa dituntut untuk dapat berbagi ide.” PBL ini melatih siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman sendiri melalui tindakan inkuiri pada proyek. siswa mampu terlibat secara mental dan fisik. indera. pembelajaran fisika yang paling efektif adalah melalui kegiatan praktikum.

Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dari penelitian adalah sebagai berikut ini: 1. . (d) menyelidiki hubungan antar besaranbesaran terkait serta karakteristik getaran ayunan sederhana kemudian membuat alat berupa pendulum sederhana yang mampu menghitung percepatan gravitasi bumi dengan menerapkan prinsip ayunan sederhana.masalah untuk penelitian adalah: ”Apakah terdapat pengaruh penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gunung Talang pada ranah kognitif. 2. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI SMA N 1 Gunung Talang pada ranah kognitif. Penggunaan model Project Based Learning (PBL) pada pembelajaran fisika Kelas XI semester 1 pada materi elastisitas bahan dan materi getaran. dan psikomotor?” C. D. afektif. afektif. dan psikomotor. Bentuk proyek yang akan dilakukan berupa: (a) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait dalam materi Hukum Hooke pada pegas. (b) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait serta karakteristik susunan pegas seri dan paralel. (c) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait serta karakteristik getaran pegas.

7 E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai: 1. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. 2. . Masukan bagi peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini di masa yang akan datang. Masukan bagi guru fisika dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran fisika. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan.

perkembangan. Selain itu. materi pokok/pembelajaran. penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut 8 kurikulum dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (b. indikator.) Relevan dengan kebutuhan kehidupan . kompetensi dasar.masing satuan pendidikan.) Beragam dan terpadu (c. Pengembangan KTSP yang beragam mengacu kepada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.isi. kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Secara umum. Silabus itu sendiri merupakan rencana pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi. struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan. teknologi. dan seni (d. kebutuhan.prinsip berikut: (a. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. penilaian. dan sumber/bahan/alat belajar. alokasi waktu. dan silabus. Masnur (2008: 18) menyatakan: ”Pengembangan KTSP memenuhi prinsip. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing. kalender pendidikan.) Berpusat pada potensi.) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan. Oleh sebab itu.

dan kompetitif. Secara khusus. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. dan aktif. Pembelajaran Fisika Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan tinggi dalam pendidikan. pembelajaran fisika juga membutuhkan perencanaan pembelajaran yang tepat dengan ilmu fisika itu sendiri agar tercipta situasi belajar yang lebih menyenangkan. kreatif. dan psikomotor siswa menjadi lebih baik. Agar perencanaan dapat disusun sesuai dengan yang diharapkan. Masnur (2008: 25) menyatakan bahwa ”Pada KTSP. tanggung jawab belajar tetap ada pada diri siswa sendiri. maka perlu dibahas lebih lanjut mengenai pembelajaran fisika. afektif. Pada dasarnya. yang bisa mendorong motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar. tujuan KTSP ini lebih mengutamakan terciptanya sumber daya manusia yang cerdas. dan lainnya. dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca. B. meniru. profesional. mendengarkan. mengamati. kontekstual.” Oleh karena itu.) Menyeluruh dan berkeseimbangan (f. sedangkan guru bertanggung jawab menciptakan situasi yang menyenangkan. dalam pelaksanaan KTSP dibutuhkan suatu perencanaan yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan serta mempertimbangkan karakteristik siswa sehingga dapat memacu aspek kognitif. kompeten.9 (e.) Seimbang antara kepentingan kepentingan daerah” nasional dan Berdasarkan prinsip tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Sardiman .) Belajar sepanjang hayat (g.

Masingmasing komponen tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri. dan psikomotor. ranah kognitif. yang berarti menyangkut unsur cipta.” Fisika sebagai salah satu mata pelajaran ilmu pengetahuan alam sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan fenomena yang terjadi dalam kehidupan. tetapi juga diiringi dengan kegiatan inkuiri/penemuan.” Pendapat lainnya dikemukakan oleh Hilgard (Wina. dapat disimpulkan bahwa belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan. dan berkesinambungan. psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya. Hanya sebagian siswa yang bisa menangkap pelajaran ini karena mereka dapat membayangkan fenomena yang dijelaskan dalam buku secara abstrak . membutuhkan pembelajaran yang bukan saja menekankan teori pada siswa.” Dari pendapat tersebut. afektif. Hal ini disebabkan oleh fisika yang tidak bisa hanya dengan menjelaskan dan membaca buku saja melainkan diusahakan mengadakan banyak kegiatan praktik sesuai materi yang diajarkan. Menurut Ahmad (2004 : 1) ”Pembelajaran adalah aktivitas (proses) yang sistematis dan sistemik yang terdiri atas banyak komponen.(2003 : 21) bahwa ”Belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwaraga. saling bergantung. tetapi merupakan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang sehingga munculnya perubahan tingkah laku. tetapi berjalan secara teratur. 2007 : 110) ”Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur pelatihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan ilmiah. Pembelajaran merupakan suatu aktivitas belajar yang melibatkan siswa dan guru bersamaan. komplementer. rasa dan karsa.sendiri.

.. Sedangkan.... Pendapat lainnya dikemukakan oleh Nurhadi dkk (2004 : 72-73) ”Pembelajaran melalui inkuiri memacu motivasi siswa untuk belajar memecahkan masalah secara mandiri. maka kegiatan inkuiri yang dimaksud adalah kegiatan praktik berupa percobaan yang dilaksanakan melalui demonstrasi. Kemampuan obervasi dan eksperimentasi ini lebih ditekankan pada melatih berpikir eksperimental yang mencakup tata laksana percobaan dengan mengenal peralatan yang digunakan dalam pengukuran baik di dalam laboratorium maupun alam sekitar kehidupan siswa.. memberikan pengalaman belajar yang nyata dan aktif melalui komunikasi sehingga memiliki keterampilan berpikir kritis.” Kegiatan inkuiri yang dilaksanakan dalam pembelajaran fisika dapat mendorong siswa untuk belajar aktif dan guru hanya berperan sebagai pembimbing siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan sendiri konsep fisika tersebut..... seperti layaknya ilmuwan ketika menyelidiki fenomena alam ini... dan proyek yang dapat dilakukan di laboratorium atau ..” Sesuai dengan kutipan di atas.. sebagian siswa yang sulit menguasai pelajaran ini tidak dapat membayangkannya dengan jelas sehingga perlu diadakan kegiatan praktik untuk meningkatkan pemahaman siswa..... Depdiknas (2003: 2) menyatakan: ”Mata pelajaran fisika di SMA dikembangkan dengan mengacu pada pengembangan fisika yang ditujukan untuk mendidik siswa agar mampu mengembangkan observasi dan eksperimentasi serta taat asas.11 maupun nyata.. tetapi juga harus melalui hands-on... fisika sebagai ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri dalam mempelajarinya tidak cukup hanya melalui minds-on. Sesuai dengan karakteristik fisika tersebut... eksperimen.

tempat lain. guru berperan sebagai penyaji dan pemberi informasi. Berbeda dengan demonstrasi. sedangkan siswa sebagai pendengar dan pengamat. eksperimen merupakan metode percobaan yang melibatkan siswa sepenuhnya dalam kegiatan penemuan.” Dalam demonstrasi. proyek juga melibatkan sepenuhnya peran aktif siswa dalam belajar. demonstrasi tidak sepenuhnya dapat mengaktifkan siswa dalam belajar karena pembelajaran sebagian besar masih berpusat pada guru.” Inti kegiatan eksperimen terletak pada siswa sedangkan guru hanya sebagai pembimbing atau pengarah. mengumpulkan data. Ketiga jenis pelaksanaan kegiatan praktik tersebut memiliki perbedaan. Proyek merupakan pengembangan dari . Akan tetapi. baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. atau benda tertentu. Menurut Wina (2007) ”Demonstrasi merupakan metode percobaan dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses. tetapi metode ini hanya menuntut siswa berada dalam laboratorium saja. dan menyimpulkan hasil temuan. menemukan fakta. Demonstrasi dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan antara teori dan kenyataan sehingga mereka akan lebih menyakini kebenaran materi pembelajaran. situasi. Eksperimen dapat membuat siswa lebih yakin dengan kebenaran teori karena percobaan dilakukan sendiri daripada hanya mengamati kerja guru. Menurut Nasution (1995:196) ”Eksperimen adalah metode percobaan yang memberikan kesempatan kepada siswa secara perorangan atau kelompok untuk melakukan praktik mulai dari perencanaan. Tidak jauh berbeda dengan eksperimen.

Salah satu upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan kegiatan praktik tersebut adalah melalui penggunaan model pembelajaran yang tepat. sebelum guru bisa menentukan model pembelajaran yang tepat dalam pelaksanaan kegiatan praktik. kemudian menghasilkan artefak dan laporan tertulis sebagai hasil proyek.” Proyek dapat meningkatkan pola pikir siswa menjadi luas dan menyeluruh dalam menyelesaikan suatu permasalahan serta membiasakan mereka untuk menerapkan pengetahuan.13 eksperimen. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaiful (2000: 122) ”Proyek bertitik tolak pada permasalahan yang dekat dengan siswa. perlu diketahui macam-macam model pembelajaran terlebih dahulu. Akan tetapi. Akan tetapi. metode ini menuntut kreativitas guru untuk menyiapkan proyek yang tepat dengan konsep yang diajarkan sehingga siswa tertarik. dapat disimpulkan bahwa kegiatan praktik dapat dikatakan sebagai inti dari pembelajaran fisika. sikap. Model . siswa tidak hanya melakukan kegiatan praktik saja melainkan juga dilatih untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. kemudian mereka diberi kekebasan untuk menemukan solusi masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Berdasarkan uraian di atas. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi guru untuk mempersiapkan kegiatan praktik sebaikbaiknya agar pembelajaran fisika betul-betul efektif. meskipun dalam pelaksanaannya memerlukan biaya dan tenaga yang besar sehingga guru fisika yang sukses harus benar-benar ahli dalam mendesain kegiatan praktikum untuk siswanya.

Model Pembelajaran Menurut Abdul (2007: 52) ”Model pembelajaran adalah sebuah perencanaan pembelajaran yang mengambarkan proses yang ditempuh dalam pembelajaran agar tercapai perubahan spesifik pada perilaku siswa seperti yang diharapkan. Model pembelajaran ini digunakan sebagai wujud pelaksanaan dari suatu pendekatan. Selanjutnya. yaitu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien. C. Untuk mengimplementasikan metode yang sudah ditetapkan. maka diperlukan teknik. sehingga walaupun metode sama. teknik . Hal ini sesuai dengan pendapat Wina (2007:124) ”Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang ditetapkan”. Untuk melaksanakan model pembelajaran dibutuhkan strategi pembelajaran. model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas dan ditampilkan dalam bentuk tahapan umum/ sintaks dari model yang digunakan. Karakteristik suatu model pembelajaran ditentukan oleh sintaks atau tahapan pelaksanaannya. upaya untuk merealisasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata disebut dengan metode.” Sesuai dengan pendapat tersebut.pembelajaran tersebut akan dijelaskan selanjutnya. dalam upaya menjalankan metode pembelajaran. Wina (2007:125) menyatakan bahwa ”Teknik lebih bersifat individual”. guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode. Artinya.

Berdasarkan ciri-ciri model pembelajaran di atas. model pembelajaran pengembangan. Hasil belajar ditetapkan secara khusus. Interaksi sosial. maka guru dapat mengembangkan model-model pembalajaran yang dianggap sesuai dengan tujuan. terdiri dari model pembelajaran induktif. ciri-ciri model pembelajaran menurut Abdul (2007: 54): 1. Pemprosesan informasi. artinya model pembelajaran harus senantiasa menggambarkan dan menjelaskan hasil-hasil belajar dalam bentuk perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa setelah menempuh dan menyelesaikan urutan pembelajaran. model . Memiliki prosedur yang sistematik. Oleh karena.15 masing-masing guru bisa berbeda. model pembelajaran didasarkan pada pendekatan tertentu dan diwujudkan melalui strategi yang tepat. sedangkan bagaimana menjalankan strategi tersebut ditetapkan berbagai metode pembelajaran. 2007: 56) menentukan jenis model pembelajaran secara umum sebagai berikut: ”Model pembelajaran dikelompokkan berdasarkan 4 sumber utama yaitu : 1. model pemerolehan konsep. setiap model pembelajaran menentukan tujuan-tujuan khusus hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa secara rinci dalam bentuk unjuk kerja yang dapat diamati. Chauhan (Abdul. dan metode pembelajaran dapat dijalankan sesuai dengan teknik yang digunakan guru yang bersangkutan. 2. bahan. 2. 3. Pada umumnya. Artinya. 5. Penetapan lingkungan secara khusus 4. dan sarana pendukung dalam pembelajaran. Dari berbagai pandangan para ahli. Ukuran keberhasilan. Interaksi dengan lingkungan. terdiri dari model pembelajaran group investigasi dan model sosial inkuiri.

” Dari keempat sumber utama dalam menentukan model pembelajaran. dkk (2004: 19-20) ”Pembelajaran yang bersifat kontekstual harus menekan beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan. yaitu: 1. Hal ini disebabkan oleh IPA yang sangat dekat dengan lingkungan sekitar siswa memerlukan suatu model pembelajaran yang mampu menggiring siswa untuk berpikir induktif. 3. Pembelajaran Autentik (Autentic Instruction) yang menekankan siswa untuk mempelajari konteks yang bermakna. terdiri dari model pembelajaran bebas dan model pertemuan kelas. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Individu. model sains inkuiri. memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. 2. terdiri dari model pembelajaran penyesuaian kondisi. Pembelajaran berbasis Inkuiri (Inquiry Based Learning) yang membutuhkan metodologi sains 4. Pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning) yang . Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Modifikasi perilaku. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Nurhadi.pengorganisasian kedalaman konsep. 4. pemprosesan informasi merupakan dasar model pembelajaran yang tepat untuk IPA. serta mampu memahami konsep melalui kegiatan inkuiri. 3.

KTSP menuntut setiap pembelajaran bersifat kontekstual pada setiap bidang studi. Pembelajaran Berbasis Kerja (Work Based Learning) yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran dan bagaimana materi tersebut digunakan kembali pada tempat kerja tersebut.17 memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan mengaplikasikannya pada suatu produk nyata. 6. model pembelajaran yang akan dipilih oleh guru untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran harus memperhatikan tuntutan kurikulum serta jenis bidang studi yang diajarkan. D. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) yang dilaksanakan dengan penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.” Berdasarkan beberapa pendapat di atas. PBL ini akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. 7. Project Based Learning (PBL) . 5. Salah satu model pembelajaran yang tepat digunakan dalam pembelajaran ilmu alam seperti fisika adalah Pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning). Pembelajaran Berbasis Jasa Layanan (Service Learning) yang mampu menerapkan pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarakat.

maka perlu diimbangi dengan pemilihan model pembelajaran yang sejalan dengan konsep pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Barron (1998) menyatakan “PBL is the use of classroom projects. Menurut Waras (2008) ”Project Based Learning (PBL) merupakan proyek yang memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance) dimana siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok.” Hal ini sejalan dengan beberapa pengertian PBL menurut para ahli. intended to bring about deep learning. memecahkan masalah.1. sedangkan guru hanya bertugas untuk membimbing dan mengarahkan . Salah satu model yang digunakan dalam pendekatan CTL adalah Project Based Learning (PBL). dan mensintesis informasi. Pengertian Project Based Learning (PBL) Dalam rangka mengembangkan pendekatan kontekstual. Proyek ini menuntut siswa untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya melalui penyidikan yang dibantu dengan berbagai sumber belajar yang digunakan siswa. where students use technology and inquiry to engage with issues and questions that are relevant to their lives.” Kutipan tersebut bermakna bahwa PBL merupakan suatu model dalam pembelajaran berupa penugasan/proyek bersama yang bermaksud untuk memperdalam pelajaran dimana siswa menggunakan teknologi dan penyidikan yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan siswa. melakukan pengkajian atau penelitian.

Pendapat tersebut didukung pula oleh Blumenfeld et al (1991) menyatakan ”Project-based learning is a comprehensive approach to classroom teaching and learning that is designed to engage students in investigation of authentic problems. keterlibatan siswa dalam desain proyek. memberikan siswa kesempatan untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Thomas (2000) ” Project-based learning (PBL) is a model that organizes learning around projects……………………………………………………………………………… Projects are complex tasks.” Kutipan tersebut dapat menjelaskan bahwa PBL adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar melibatkan siswa dalam penyidikan suatu permasalahan nyata dan dekat dengan kehidupan sekitar siswa. Dari berbagai pengertian di atas. problem-solving. . based on challenging questions or problems. that involve students in design.19 siswa. give students the opportunity to work relatively autonomously over extended periods of time. and culminate in realistic products or presentations.” Maksud dari kutipan di atas adalah PBL adalah model pembelajaran yang dirangkai dalam suatu proyek. pengambilan keputusan. decision making. dan menghasilkan suatu produk atau presentasi hasil proyek. berdasarkan pada suatu masalah. or investigative activities. pemecahan masalah. Kegiatan proyek merupakan latihan yang kompleks. PBL melatih siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran melalui peransertanya dalam menemukan suatu konsep pengetahuan dari hasil penyidikan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok.

Namun. kedua model tersebut berbeda pada objeknya. Akan tetapi. investigator (penyelidik) atau documentarian. Proyek menempatkan siswa pada peran aktif seperti problem-solver (pemecah masalah). jelaslah perbedaan antara Project Based Learning dan Problem Based Learning meskipun singkatan untuk nama kedua model pembelajaran tersebut sama. hakikat proyek adalah adanya objek yang diobservasi/dieksperimenkan secara kolaboratif (kerja dalam kelompok) yang mampu mendukung proses konstruksi pengetahuan dan .” Bertolak dari pendapat tersebut. dan analisis data. melaksanakan kerja. Pada intinya. kedua model pembelajaran tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Project Based Learning (PBL) sering dianggap sama dengan Problem Based Learning (PBL). decision maker (pembuat keputusan). mengkalkulasi. Sedangkan Problem Based Learning lebih mendorong siswa pada kegiatan yang membutuhkan perumusan masalah. merancang. yaitu perumusan kerja. Project Based Learning (PBL) pada awalnya merupakan adaptasi dari model Problem Based Learning (PBL) yang diperkenalkan dalam pendidikan kedokteran. Menurut Thomas (Waras: 2008) “Project Based Learning lebih mendorong siswa pada kegiatan desain. dan mengevaluasi hasil. dan teknik evaluasi otentik. pengumpulan data. kolaboratif.dapat disimpulkan Project Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam penyelidikan dari permasalahan yang diberikan dimana permasalahan tersebut berasal dari suatu objek dan puncaknya terdapat pada produk yang dihasilkan siswa. kedua model pembelajaran tersebut menekan lingkungan belajar siswa aktif. Secara umum.

” Berdasarkan pendapat tersebut. Teori Belajar Konstruktivistik Piaget (Wina : 2007) menyatakan ”Pada dasarnya setiap individu sejak kecil memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman belajar yang dapat mengkaitkan hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya dan diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam.” 2 Teori tersebut akan dijelaskan berikut ini. pembelajaran berfokus pada aktivitas siswa dalam memperoleh pengalaman langsung daripada pasif menerima konsep yang diberikan guru. . konstruktivisme merupakan landasan berpikir dalam pembelajaran yang bersifat kontekstual dimana pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Landasan pemikiran Project Based Learning (PBL) Waras (2008) menyatakan ”Secara teoritik dan konseptual.21 pengembangan kompetensi siswa. 2. Pada teori konstruktivistik ini. Project Based Learning (PBL) dilandasi oleh teori belajar konstruktivistik dan teori belajar eksperiensial (pengalaman). a.

analisislah. 2) Guru membawa siswa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman yang menentang konsepsi pengetahuan yang suda ada dalam diri mereka. ciptalah. dan membuat solusi dari permasalahan yang diberikan.Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif seperti belajar yang berorientasi pada kontekstual. Brooks dan Brooks (Nurhadi dkk. 5) Guru menggunakan istilah kognitif seperti klasifikasikan. atau rancanglah ketika berikan tugas. kekuatan individu dan cara belajar yang dipicu akan memperkuat kerja tim keseluruhan.” Hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. serta keterampilan bertanggungjawab terhadap setiap tugas dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. negosiasi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Waras (2008) ”Di dalam kerja suatu proyek. mengorganisasi. 4) Guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama lain. dan motivasi sosial dapat diterapkan dengan baik melalui kolaborasi. inkuiri. sehingga dalam model PBL. 6) Guru membiarkan siswa bekerja secara otonom dan berinisiatif . siswa menemukan keterampilan merencanakan. 3) Guru membiarkan siswa berpikir setelah mereka disuguhi beragam pertanyaan dari guru. berorientasi masalah. 2004: 40) menyatakan bahwa: ”Ciri-ciri pembelajaran secara konstruktivisme adalah sebagai berikut ini: 1) Guru bukan satu-satunya sumber belajar.

23

sendiri. 7) Guru tidak memisahkan antara tahap ”mengetahui” dari tahap ”menemukan”. 8) Guru mengusahakan siswa agar dapat mengkomunikasikan pemahaman mereka.” . Sementara itu, saat proyek dilakukan siswa dalam kelompok, maka berdasarkan konstruktivisme sosial menurut Vygotsky (Waras: 2008) ”Proses interaktif dengan kawan sejawat membantu proses konstruksi pengetahuan.” Berdasarkan penjelasan di atas, PBL dapat dipandang sebagai salah satu model pembelajaran yang menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan secara personal dan kelompok.

b. Teori Belajar Eksperiensial (Pengalaman) Belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman langsung adalah dasar untuk belajar. Pernyataan ini didukung oleh Dewey (Waras: 2008) ”Pengalaman adalah elemen kunci dari proses pembelajaran”. Siswa mengendalikan belajarnya sendiri, mulai dari pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan mengevaluasi hasil proyek. Guru berperan sebagai pembimbing, fasilitator, dan partner belajar. Apa yang dilakukan siswa dalam proyek merupakan pengalaman-pengalaman yang berguna dalam belajar.

3. Kriteria dan Karakteristik Project Based Learning (PBL) Proyek menjadi inti dari model PBL ini. Hiscocks (2008) menyatakan bahwa “Project: an activity where the participants have some degree of choice in the outcome. The result is complete and functional, that is, it has a beginning, middle and end. Usually, it spans multiple lab periods and requires work outside scheduled lab periods.” Kutipan tersebut dapat diartikan sebagai berikut: ” Proyek adalah aktivitas dimana partisipan memiliki beberapa tingkatan hasil. Hasilnya komplit dan fungsional, memiliki awal, pertengahan dan akhir. Biasanya membutuhkan waktu untuk praktikum labor dan pencarian data.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka ciri-ciri proyek yang baik adalah sebagai berikut: a. Menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa. b. Menyediakan sebuah isi yang bermakna dan original untuk belajar. c. Melibatkan siswa secara kompleks, masalah, dan penyelidikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa solusi yang telah ditetapkan sebelumnya.

25

d. Mengizinkan

siswa

untuk

mencari

panduan,

mengambil pilihan, dan keputusan secara kritis. e. Menghubungkan siswa dengan sumber belajar dan ahli. f. Mengharuskan siswa untuk mengembangkan dan memperagakan kemampuan dan pengetahuan yang esensial. g. Mengadaptasi berbagai disiplin ilmu untuk

menyelesaikan masalah dan pemahaman yang mendalam. h. Kesempatan untuk refleksi dan penugasan pribadi. i. Berpuncak pada pameran atau presentasi kepada pendengar atau pengamat sebenarnya. Waras (2008) mengatakan bahwa ”Tidak semua kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut pembelajaran berbasis proyek.” Untuk itu, Thomas (2000) mengatakan ”The five criteria of PBL are centrality, driving question, constructive investigations, autonomy, and realism.”

5 Kriteria PBL tersebut dijelaskan sebagai berikut ini: a. Keterpusatan (centrality) Proyek dalam PBL mencakup pokok kurikulum karena proyek itu sendiri

tugas. Praktek laboratorium dan modul praktikum bukanlah PBL walaupun berpusat pada masalah dan mengandung inti kurikulum. sedangkan proyek yang berada di luar kurikulum bukanlah contoh dari proyek PBL walaupun proyek itu dapat memperkaya pengetahuan siswa. Mengutamakan otonomi bagi siswa (autonomy) Proyek itu adalah siswa itu sendiri. isi. kolaborator. d.merupakan strategi guru dalam pembelajaran. Melibatkan siswa pada inverstigasi konstruktif (constructive investigations) Proyek PBL menggiring siswa pada proses penyelidikan yang bersifat membangun. yang dapat mengantarkan siswa memperoleh tingkatan pengetahuan yang berarti. Proyek adalah intinya. c. hasil dan penerima hasil proyek yang pada akhirnya berpotensi untuk . Maksudnya. aturan. Mencerminkan realisme atau keoutentikan proyek (realism) Bentuk proyek yang diberikan memberikan nilai keaslian pada siswa. Berfokus pada pertanyaan atau masalah (driving question) Proyek PBL terfokus pada pertanyaan atau permasalahan yang menggiring siswa pada konsep dasar dan pokok dari suatu disiplin ilmu. Tidak di-dikte-kan ataupun dipaketkan. e. karakteristik ini meliputi topik. bukan guru. b.

& Michaelson (Waras: 2008) mengatakan ”Perbedaan yang mendasar antara PBL dengan model konvensional adalah sebagai berikut: a. e. Mergendoller. banyak perbedaan tingkat dan topik yang dipelajari oleh setiap siswa. adanya investivasi dan riset yang mendalam. hubungan berbagai disiplin ilmu. Thomas. dan benda-benda karya siswa dari pada guru. yaitu dari pengajar dan pengatur menjadi penyedia informasi dalam pembelajaran. dan kolaborasi dalam tim. siswa duduk secara fleksibel. c. Guru sebagai fasilitator dan menyediakan sumber daya d. Siswa bertanggung jawab atas diri sendiri. santai. Di dalam kelas. Selain itu. PBL mengutamakan ketertarikan/minat siswa daripada mengikuti kurikulum yang telah baku. mengutamakan data. siswa sebagai pusat perhatian dalam menyimak isu dunia nyata yang menarik perhatian siswa. menggambarkan tugasnya sendiri dan bekerja sebagai anggota suatu tim untuk waktu tertentu dengan suatu target. Petunjuk pembelajaran fleksibel. pemahaman konsep dan prinsip daripada pengetahuan dari fakta. PBL mengubah peran guru dalam pembelajaran. dan mendorong siswa bekerja dalam tim yang heterogen untuk mencapai target. mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan penemuan. PBL mengutamakan kedalaman pemahaman tentang cakupan isi. Berdasarkan kriteria tersebut. Menggunakan alat yang terintegrasi dalam . b. pengembangan kemampuan memecahkan masalah daripada kemampuan membangun blok pengetahuan yang telah disajikan dalam teori yang sudah jadi.27 diterapkan di lapangan sesungguhnya. memahami proses. Kurikulum bersifat jangka panjang. keluasan.

d. PBL memang memiliki perbedaan yang jelas dengan model konvensional. Berdasarkan perbedaan PBL dengan model konvensional. dan mengumpulkan informasi. drafts. critical thinking.semua aspek kelas. Oleh karena itu.” Sesuai dengan kutipan tersebut. Selanjutnya. and written communication. Provide timely assessments and/or feedback on the project for content. komunikasi. Pearlman (2006) mengemukakan tahapan pelaksanaan PBL. yaitu: a. teamwork. seperti dalam pemecahan masalah. dimana PBL membiasakan siswa untuk belajar mandiri. Secara umum. c. Introduce a complex entry question that establishes student’s need to know and scaffold the project with activities and new information that depend of the work. and other important skill. dan kreatif untuk menemukan pengetahuan baru berdasarkan permasalahan kehidupan nyata dengan memanfaatkan semua sumber belajar yang ada di bawah arahan dan bimbingan guru. pembelajaran fisika benar-benar berpusat pada siswa. Structure of project through plans. PBL diawali dengan membagi siswa menjadi kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk melaksanakan proyek sederhana. guru menginformasikan beberapa pertanyaan penggiring yang . timely benchmarks. meneliti hasil. Create teams of three or more students to work on an in-deeply project b. oral. maka PBL pun dilaksanakan melalui beberapa tahapan/sintaks yang sesuai dengan karakteristik PBL tersebut. aktif. and finally the team’s presentations to an outside panel of exparts drawn from parents and the community.

collaborations. guiding question or diving question c.29 dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menyelesaikan proyek dan tergantung pada aktivitas proyek serta informasi baru yang berkaitan dengan kerja proyek. introduction to ”set the stage” or anchor the activity b. Pendapat lain dikemukakan oleh Intel (2003) ”In the implementation of project. scaffolding. and project template. Proyek diakhiri dengan refleksi yang dilakukan siswa terhadap hasil proyek masing-masing dibawah bimbingan guru. such as learning books in library. e. a process or investigation that result in the creation of one or more sharable artifacts d. such as teacher conferences to help learners assess their progress. selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk melakukan penyelidikan dan pengamatan. siswa diminta untuk menyiapkan perencanaan proyek yang berkaitan dengan masalah tadi.” Dalam pelaksanaan proyek. . and reflect on what they have discovered. browsing internet. and carry out investigations. plan. a task. kemudian hasil proyek disusun menjadi laporan proyek yang disajikan di depan kelas. tahapan pelaksanaan PBL yang harus dirancang oleh guru diantaranya menyiapkan pertanyaan penggiring/masalah. teacher must to done phase PBL are encourage students to raise questions or problems. resources. and external content spesialists. including teams. and discuss with physics teachers. peer reviews. Pendapat-pendapat sebelumnya juga sesuai dengan pendapat Grant (2002) ”There common features across all the various implementations : a. make observations. f.

memuatnya dalam jurnal. journal entries. siswa diberi kesempatan untuk menggunakan sumber seperti buku pelajaran yang disediakan perpustakaan sekolah. yaitu diawali dengan guru menjelaskan kepada siswa tentang rangkaian tahapan aktivitas dalam proyek. siswa merancang desain proyek berdasarkan permasalahan dan sumber yang telah ditemukan. Dari beberapa pendapat ahli mengenai tahapan pelaksanaan PBL dalam proses pembelajaran. dan dapat juga dilanjutkan untuk proyek yang lebih kompleks. Kemudian. Proyek diakhiri dengan penampilan hasil proyek dalam diskusi kelas. sedangkan guru mengamati dan menilai setiap perkembangan aktivitas siswa selama proyek. internet. and extension activities. oppurtinities for reflection and transfer.g. selanjutnya siswa diberikan pertanyaan pengiring untuk mengarahkan pemikiran siswa pada masalah yang akan diselesaikan dalam proyek. pelaksanaan PBL terbagi menjadi enam tahapan (sintaks)”. atau berdiskusi dengan guru fisika lain. yaitu: . Kutipan tersebut menjelaskan bahwa terdapat beberapa bentuk penerapan PBL dalam proses pembelajaran. maka Yudipurnawan (2007) menyatakan ”Secara umum. such as classroom debriefing sessions. Siswa bekerjasama dengan kelompok belajar yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyelesaikan proyek tepat pada waktunya.

menukar pengalaman dan pengetahuan serta melakukan survei. tulisan. dan mengembangkan gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek. dan lain- 5. Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh guru. saling tukar. Dalam perkembangannya. Finishing Siswa membuat laporan.ahli yang berkaitan dengan proyek tersebut. Selanjutnya. Sintaks PBL No 1. dan lainnya. Siswa bekerja dalam kelompok dalam satu kelas atau antar kelas. Jika bekerja dalam kelompok. penyajian hasil dapat berupa gambar. dan menyediakan sumber yang dapat membantu pengerjaannya. 2. terkadang berisi observasi dan eksperimen. Tahapan Persiapan Tindakan Guru dan Siswa Guru merancang desain atau membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan kerangka yang ada. merencanakan waktu pengerjaan dari semua sub topik. siswa akan memperoleh dan membaca kerangka proyek.31 Tabel 2. berupaya mencari sumber yang dapat membantu. Dengan berdasar pada sumber yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan proyek. Diskusi dapat dilakukan secara kontinu dengan cara yang dirasa efisien oleh kelompok tersebut. Siswa menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub topiknya. diagram. membuat pemetaan topik. Merencanakan kegiatan 4. pemetaan. . Penugasan/ menentukan topik 3. presentasi. Kemudian. gambar. siswa berupaya berpikir dengan kemampuannya berdasar pada pengalaman yang dimiliki. tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa tanggung jawab. kemudian. Investigasi dan Investigasi di sini termasuk kegiatan: menanyakan penyajian pada ahli.

biasanya 2 hingga 6 orang. yaitu: (1) taraf kemampuan siswa. ” . Akan tetapi. Monitoring evaluasi / Guru menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap siswa berdasarkan pada partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek. teman. tindakan pada setiap sintaks dari PBL tersebut belum dapat sepenuhnya diterapkan pada siswa karena pada awalnya PBL sudah diterapkan di negara maju seperti USA dan Inggris. Hal ini didukung dengan pendapat Nurhadi dkk (2004: 68) ”Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar. Sementara. yaitu: a. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Berdasarkan teori yang dikemukakan di atas. dan (3) ketersediaan waktu. peneliti menyesuaikan beberapa tindakan dalam sintaks PBL pada penelitian ini. Peserta menerima feedback atas apa yang dibuatnya dari kelompok. 6.No Tahapan Tindakan Guru dan Siswa lain. Persiapan. pola pikir dan karakteristik siswa. serta lingkungan belajar/sekolah. Sebagai hasil dari kegiatannya. yaitu peneliti membagi siswa dalam kelompok yang heterogen. (2) ketersediaan bahan. Oleh karena itu. dan guru. maka peneliti akan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan enam tahapan pada sintaks tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang belum dapat melakukan setiap tindakan sintaks tersebut karena keterbatasan sarana. Ketiga faktor tersebut harus dipertimbangkan agar siswa aktif menjalin kerja sama untuk menyelesaikan kerjanya. guru dan siswa membuat catatan terhadap proyek untuk pengembangan selanjutnya.

33 Sesuai dengan pendapat tersebut. sehingga seluruh kelompok dapat diamati secara maksimal. c. peneliti membuat kerangka proyek sederhana yang pelaksanaannya dapat dilakukan di lingkungan sekolah terutama dalam rangka pemanfaatan alat laboratorium yang sudah ada. Investigasi yang dilakukan siswa dalam proyek berupa observasi dan eksperimen terhadap objek yang yang mewakili materi yang dipelajari. b. Proyek yang diberikan kepada siswa merupakan proyek yang tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan mahal karena hal ini akan membebankan siswa. serta heterogennya kemampuan akademik siswa. Peneliti menjalin kerjasama dengan guru-guru fisika lainnya untuk melakukan pengamatan selama pelaksanaan proyek berlangsung. maka peneliti membagi siswa menjadi 5 sampai 6 orang dalam tiap kelompok dengan pertimbangan jumlah siswa yang terdiri dari 34 orang. tindakan guru dalam merealisasikan metode PBL ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Dengan demikian. Selanjutnya. . keterbatasan alat dan bahan yang digunakan. d. Siswa dilatih mengakses internet untuk mendukung proyek yang dilaksanakan.

Motivasi Belajar Kata “motif”.” Sedangkan menurut Djamarah dalam Oemar Hamalik (1992: 173) mengatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektifitas (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. . Menurut Mc. dan motivasi akan dirangsang dengan tujuan. diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. “Motivasi yaitu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan (feeling) dan afeksi seseorang.” Suharsimi Arikunto (1990: 67) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi” mengemukakan bahwa: “Motivasi merupakan konstrak (konsep hipotetik) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang dalam upaya mengubah situasi yang tidak menguntungkan dirinya. Donald dalam Sardiman (2009: 73-74).E. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu.

Motivation is an essential condition of learning. Siswa yang mempunyai motivasi kuat. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah. tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain yaitu tujuan. dan kepuasan (satisfaction). Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Aktivitas Belajar Menurut Poerwadamita (1991: 108) mengatakan bahwa “aktivitas adalah .35 Di dalam Wikipedia (----). Makin tepat motivasi yang diberikan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia. bermakna dan memberikan tantangan bagi siswa yaitu minat (interest). Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas. arah. harapan (expectancy). merasa senang dan semangat untuk belajar. akan makin berhasil pula pelajaran itu. akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi. relevansi (relecance). Guru harus dapat memelihara suasana belajar yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat nonintelektual. Sardiman (2009: 84) menyatakan bahwa untuk belajar sangat diperlukan motivasi. F. Pada penelitian ini indicator motivasi belajar mengacu pada pendapat Keller dalam Reigeluth (1989: 395) yang mengemukakan bahwa ada empat kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan dalam usaha menciptakan pembelajaran yang menarik.

yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. menulis. mendiskusikan. membaca. Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa.keaktifan. kegiatan. merefleksikan rangsangan. Sedangkan menurut S. kesibukan kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan ditiap bagian kerja diperusahaan”. kesibukan atau kegiatan yang dilakukan oleh . Menurut Poerwadamita (1991: 108) mengatakan bahwa “belajar adalah suatu kebiasaan berlatih supaya pandai”. maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan yang perubahan oleh faktor-faktor yang termasuk latihan. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa. Dari definisi atas. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. “Aktivitas belajar adalah kegiatan mengolah pengalaman dan atau praktik dengan cara mendengar. Nasution dalam Herman (----) mengatakan bahwa “aktivitas adalah azas yang terpenting oleh sebab belajar sendiri merupakan suatu kegiatan”. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek nyata. maka yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu keaktifan. dan memecahkan masalah “ Berdasarkan beberapa teori di atas.

Sementara itu Paul B. beternak. e. menyalin. d. membuat grafik. melihat hubungan. diagram. mengingat. yang termasuk didalam misalnya. angket. memberi saran. berkebun. interupsi. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru. Melatih diri dalam memecahkan soal/masalah sejenis. diskusi. Mental activities. diskusi. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajar. Diedrich dalam Sardiman (2009: 101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut: h. Drawing activities. i. membaca. bermain. sebagai contoh misalnya: menanggapi.37 seorang siswa dalam melaksanakan proses belajar. seperti. mengambil keputusan. Emotional activities. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan. pidato. misalnya: menggambar. Bertanya kepada siswa lain/guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi. o. merasa bosan. megeluarkan pendapat. c. laporan. karangan. gugup. pekerjaan orang lain. Listening activities. bersemangat. misalnya menulis cerita. membuat konstruksi. berani. b. percobaan. mengadakan wawancara. Terlibat dalam pemecahan masalah. Writing activities. Menilai kemampuan dirinya sendiri dan hasil-hasil yang diperolehnya. bergairah. peta. tenang. k. menaruh minat. seperti menyatakan. memerhatikan gambar demonstrasi. Motor activities. m. f. merumuskan. l. musik. g. bertanya. gembira. percakapan. n. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal: a. Sementara itu Nana Sudjana (1989: 61) menyatakan bahwa penilaian proses belajar mengajar adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. sebagai contoh mendengarkan: uraian. menganalisis. . Oral activities. j. Visual activities. memecahkan soal. model mereparasi.

guru terlebih dahulu menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan KTSP. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa akan lebih aktif dan penuh perhatian dalam proses pembelajaran. Di dalam penelitian ini. Sebelum pembelajaran dilaksanakan. dan indikator harus dicapai ketuntasannya oleh setiap siswa sesuai dengan KKM yang ditetapkan. variabel terikat. tentu sekolah akan lebih dinamis. Untuk mencapai tujuan . kompetensi dasar. RPP tersebut terdiri dari standar kompetensi. tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas yang maksimal dan bahkan memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan.Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas. G. upaya yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam belajar adalah melalui penerapan pendekatan konflik kognitif berbasis konstruktivis. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah. maka hubungan antara variabel bebas. disusun berdasarkan kajian teoritik. Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara guru dan siswa. menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kerangka Pikir Depdiknas UNP (2003) menyatakan bahwa ”Kerangka pikir berisi gambaran pola hubungan antar variabel atau kerangka konsep yang akan digunakan untuk menjelaskan masalah yang diteliti. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa yang sangat bervariasi itu. dan variabel kontrol dalam penelitian ini akan dijelaskan selanjutnya.” berdasarkan pengertian tersebut.

. maka kerangka pikir dapat ditampilkan pada Gambar 1. serta melaporkan hasil proyek di akhir pembelajaran dalam diskusi kelas. melakukan penyidikan untuk mencari solusi masalah tersebut. terampil mencari sumber bacaan melalui studi pustaka atau bertanya pada guru fisika lainnya. karena kemampuan guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat akan menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. merumuskan dan menyimpulkan hasil proyek. Berdasarkan penjelasaan tersebut. Guru pun diberi kebebasan untuk memilih model mana yang tepat untuk melaksanakan suatu kompetensi dasar. Hal ini disebabkan oleh PBL yang dapat membantu siswa mengaitkan materi pembelajaran yang diperoleh dalam pengalaman hidup mereka melalui kegiatan proyek. PBL ini diterapkan melalui identifikasi masalah dalam bentuk proyek.PROJECT BASED LEARNING GURU (PBL) KTSP SISWA 39 kompetensi dasar tersebut. guru harus memiliki keterampilan dalam menyajikan materi dengan baik. Ada tidaknya pengaruh penerapan PBL dalam pembelajaran fisika ini dapat dilihat dari peningkatan motivasi dan aktifitas belajar siswa. Project Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran fisika.

Jenis Penelitian .PROSES PEMBELAJARAN FISIKA Motivasi dan Aktifitas belajar Gambar 1. BAB III METODE PENELITIAN A. dikemukakan hipotesis kerja. yaitu: Terdapat pengaruh yang berarti dalam penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap motivasi dan aktifitas belajar fisika siswa kelas XI SMA N 1 Gunung Talang. Skema Kerangka Pikir B. Hipotesis Kerja Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

Tabel 3. sedangkan kelas kontrol hanya diberi pembelajaran sesuai dengan anjuran KTSP. yaitu pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan model Project Based Learni 41 Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang dikemukakan di atas. Populasi dan Sampel 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah ”The Static Group Comparison: Randomized Control Group Only Design ” yang dapat dilihat dalam Tabel 3. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian eksperimen ini digunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol. kelas eksperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Project Based Learning (PBL). maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental Research).Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa pada kelas XI di SMA .Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol as eksperimen. Rancangan Penelitian Kelas Eksperimen Kontrol Keterangan: X = Y = Perlakuan X Y Y Tes Akhir B.

c. b. Untuk mendapatkan dua kelas sampel ini. MID menggunakan bentuk soal yang sama dan dikoreksi oleh guru fisika pada masing-masing kelas tersebut. 2. yang menjadi sampel adalah kelas eksperimen dan kelas kontrol.Sampel Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi (representatif). Menganalisis skor hasil MID dua kelas sampel tersebut dengan melakukan uji normalitas (Lampiran I) dan uji homogenitas (Lampiran II).Negeri 1 Gunung Talang yang terdaftar pada tahun ajaran 2010 / 2011 kecuali kelas SBI. digunakan teknik Cluster Random Sampling. MID ini dilaksanakan serentak pada seluruh kelas populasi secara resmi dan sesuai jadwal yang ditentukan sekolah. . Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan dua sampel yang homogen secara kognitif adalah sebagai berikut: a. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi terdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini. Mengambil secara acak dua kelas sampel. Mengumpulkan data hasil ujian pertengahan semester (MID) kelas XI untuk mata pelajaran fisika pada seluruh kelas populasi.

dilaksanakan uji kesamaan dua rata-rata melalui uji t (Lampiran III) untuk mengetahui kedua kelas sampel memiliki perbedaan yang berarti atau tidak. Pelaksanaan uji normalitas dan uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui kedua kelas sampel yang diperoleh nantinya harus memiliki kemampuan awal yang sama sebelum diadakan penelitian. maka variabel penelitian terdiri dari: a. maka ditentukan secara acak kelas kontrol dan kelas eksperimen. d. Dari 2 kelas sampel yang telah diuji kesamaan dua rataratanya tersebut. e. Variabel terikat yaitu hasil motivasi dan aktifitas belajar selama dan setelah perlakuan diberikan. Variabel bebas yaitu pembelajaran melalui model Project Based Learning (PBL). . C.43 sedangkan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi homogen atau tidak. Setelah kedua kelas sampel diketahui terdistribusi normal dan homogen. Variabel dan Data 1. b.Variabel Berdasarkan pengaruh terhadap variabel lainnya.

. c. peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian. Menetapkan jadwal penelitian dan mempersiapkan surat penelitian. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus. perlu disusun prosedur penelitian yang sistematis. yaitu: a. yaitu tahap persiapan. prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahapan. pelaksanaan. Prosedur Penelitian Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Data ini termasuk data primer. b. dan kerangka proyek. dan psikomotor selama dan setelah pembelajaran dilakukan. 2.Data Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. Tahaptahap tersebut akan dijelaskan oleh peneliti sebagai berikut: 1. dan penyelesaian.Tahap persiapan Pada tahap ini. materi pelajaran. Menentukan kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Secara umum. Variabel kontrol yaitu guru. waktu dalam proses pembelajaran yang sama. afektif. D.c.

b. a. Membagi siswa dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 5-6 orang berdasarkan kemampuan akademis. Kegiatan Pembelajaran pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol NO. Tabel 5. sedangkan perlakuan terhadap kedua sampel ini berbeda. KELAS EKSPERIMEN PERTEMUAN 1 Pendahuluan a. Memberi apersepsi KELAS KONTROL 1 . 2. Menyusun instrumen penelitian yaitu soal-soal tes akhir.45 d. Perlakuan yang diberikan peneliti pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat diamati pada Tabel 5. lembar observasi. Guru mencek kehadiran siswa b. dan rubrik penskoran.Tahap pelaksanaan Pembelajaran yang diberikan kepada dua kelas sampel berdasarkan Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). e.

. Siswa dibagi dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 5. Memotivasi siswa d.NO. d. KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL berupa pengajuan pertanyaanpertanyaan c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 2 Kegiatan Inti Tahap 1 : Persiapan a. c.6 orang a.

KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL b. Siswa menerima kerangka proyek yang telah didesain guru Tahap 2:Penugasan/penentuan topik c. Siswa secara berkelompo k diberi kesempatan untuk memahami kerangka proyek dan membagi tugas pada masingmasing anggota kelompok untuk mencari sumber yang berkaitan dengan proyek c. .47 NO. b.

KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL d.NO. . Siswa mulai merancang desain proyek d.

49 NO. KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL e. Guru mengecek desain proyek yang telah dirancang siswa agar guru dapat menentukan proyek setiap kelompok layak untuk dilaksanaka n . Tahap 3 : Merencanakan kegiatan e.

KELAS EKSPERIMEN Tahap 4 : Investigasi dan penyajian f. Siswa mendapat kesempatan diskusi dengan guru fisika lainnya sebagai ahli/narasum ber yang membantu proyek di luar kelas/laborat orium KELAS KONTROL f.NO. . g. Siswa dalam kelompok masingmasing mulai melaksanak an proyek dalam jangka waktu yang telah ditentukan g.

h.51 NO. Guru mengawasi dan membimbin g siswa selama kegiatan proyek berlangsung 3 Penutup a. . Siswa diarahkan untuk menyiapkan laporan proyek yang telah mereka lakukan a. KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL h.

KELAS EKSPERIMEN sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan. KELAS KONTROL .NO.

Siswa diarahkan untuk mengumpulkan laporan hasil proyek kepada setiap ketua kelompok c. b. Siswa dari kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi a. c. Siswa langsung duduk pada kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Memberi apersepsi berupa pengajuan pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi setiap kelompok dalam menyiapkan laporan proyek. KELAS EKSPERIMEN PERTEMUAN 2 KELAS KONTROL 1 Pendahuluan a. Memberi apersepsi berupa pengajuan pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi setiap kelompok dalam menyiapkan laporan percobaan. b. Setiap kelompok melaporkan hasil kegiatan percobaan mereka dalam diskusi kelas d. Siswa diarahkan untuk mengumpulkan laporan hasil percobaan kepada setiap ketua kelompok c. Guru mencek kehadiran siswa. Memotivasi siswa 2 Kegiatan Inti Tahap 5 : Finishing a. Siswa membuat laporan untuk menyampaikan hasil kegiatan mereka b. Siswa dari kelompok yang lain diberi kesempatan untuk menanggapi . b. Guru mencek kehadiran siswa. Memotivasi siswa a. c.53 NO. Setiap kelompok melaporkan proyeknya dalam diskusi kelas d.

Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. Penutup a. Mengadakan tes hasil belajar pada kedua sampel setelah penelitian berakhir guna mengetahui hasil perlakuan yang diberikan. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. b. b. Guru menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap siswa berdasarkan partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek. . Guru memberikan tugas kepada siswa 3. Guru memberikan tugas kepada siswa KELAS KONTROL penyajian laporan hasil proyek temannya di bawah bimbingan dan arahan guru e.hal yang dilakukan peneliti pada tahap ini adalah: a.Tahap penyelesaian Hal. KELAS EKSPERIMEN penyajian laporan hasil percobaan temannya di bawah bimbingan dan arahan guru Tahap 6 : Evaluasi e. Guru menilai laporan setiap kelompok berdasarkan pembahasan hasil percobaan dan kerjasama antara anggota kelompok selama praktikum berlangsung 3 a.NO.

baik kelas eksperimen maupun keals kontrol. Instrumen Penelitian Nana (2007: 261) menyatakan bahwa ”Instrumen adalah alat pengambil data dalam penelitian.55 b. c.” Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis untuk aspek kognitif.Penilaian ranah kognitif Instrumen penelitian dalam ranah kognitif umumnya menggunakan tes . dan rubrik penskoran untuk aspek psikomotor. lembar observasi atau pengamatan untuk aspek afektif . Mengolah data dari kedua sampel. Instrument penelitian yang dimaksud mencakup insrument untuk menilai input / program pendidikan. Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai dengan teknik analisis data yang digunakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini akan dijalaskan sebagai berikut: 1. proses pelaksanaan maupun hasil yang dicapai. E.

Menganalisis hasil uji coba tes secara statistik.” Agar tes menjadi instrumen/alat ukur yang baik. maka perlu dilakukan langkah. dalam penelitian ini. digunakan instrumen berupa tes objektif dengan bentuk pilihan ganda.kisi soal tes akhir b. Membuat kisi. Namun. Menyusun berdasarkan tes kisiakhir kisi yang telah dibuat c. yaitu: 1) Validitas Validitas adalah suatu keadaan yang mengambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur yang hendak diukur. . Hal ini disebabkan oleh kelebihan tes objektif berbentuk pilihan ganda memiliki beberapa kelebihan dari tes tertulis lainnya sesuai dengan pendapat Nana (2007: 269) ”Materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pelajaran yang telah diberikan. sehingga penilaiannya bersifat objektif. serta jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah.tertulis yang terdiri tes uraian dan objektif. jawaban siswa dapat dikoreksi/dinilai dengan mudah dan cepat dengan menggunakan kunci jawaban.langkah sebagai berikut: a.

Oleh karena itu. 2) Reliabilitas Reliabilitas merupakan ketepatan suatu tes apabila digunakan kepada subjek yang sama.57 Suatu tes dikatakan valid apabila mampu mengukur tujuan yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. dalam penyusunan tes ini harus berpedoman kepada kurikulum dan indikator yang sesuai dengan materi pelajaran fisika kelas XI semester 1. Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan rumus K-R 21 yang dikemukakan oleh Suharsimi (2005: 103) yaitu: .

..................(1) .....................M( n − M  n  rH =   1 −   n − 1  nSt 2 )    ..............

66 dengan kriteria tinggi.40 – 0.59 dimana M= ∑x N dan S2 = N∑ x 2 − (x )2 N( N − 1) Keterangan: rH n M N S2 x : reliabilitas tes secara keseluruhan : jumlah butir soal tes : rata.40 0. 3) Menentukan tingkat kesukaran soal Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar.20 0.60 0.80 – 1. Tabel 6.80 0. 1 2 3 4 5 Indeks Reliabilitas 0.00 – 0. hasil analisis reliabilitas (Lampiran IX) menunjukkan bahwa soal uji coba tes akhir memiliki reliabilitas 0. Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya soal .60 – 0. Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal No.20 – 0.00 Klasifikasi Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Berdasarkan Tabel 6.rata skor tes : jumlah peserta tes : varians total : skor peserta tes Klasifikasi tingkat reliabilitas soal digunakan skala yang dikemukakan oleh Slameto (2001: 215) pada Tabel 6.

Menurut Suharsimi (2005: 208). untuk menentukan tingkat kesukaran soal digunakan persamaan berikut: .disebut tingkat kesukaran (P).

...... Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal No.00 Klasifikasi Sukar sedang mudah 4) Menghitung daya beda (D) Daya beda ditentukan dengan melihat kelompok atas dan kelompok bawah berdasarkan skor total.......70 0..... kemudian menentukan kelompok atas dan kelompok bawah. Tabel 7... Rumusan untuk menghitung daya beda tersebut adalah sebagai berikut: .71 – 1.....30 0...(2) Keterangan: P B Js : tingkat kesukaran : jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar : jumlah seluruh siswa peserta tes Tingkat kesukaran soal ini dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 7... Umumnya.... para ahli membagi 27 atau 33 % kelompok atas dan 27 atau 33 % kelompok bawah”....... Menurut Sumarna (2004: 2425) ”Skor peserta tes diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah...61 P= B Js ........00 – 0...31 – 0.... 1 2 3 Tingkat Kesukaran 0..........

..20 0....71 – 1... Penilaian ranah afektif ini menggunakan format observasi atau pengamatan sebagai instrumen penelitiannya...00 Klasifikasi Jelek Sekali Jelek Cukup Baik Baik sekali 2.. menghargai teman...... Format obeservasi tersebut memuat aspek-aspek yang diamati dari sikap siswa selama proses pembelajaran.41 – 0.. Aspek-aspek pengamatan tersebut merupakan sikap siswa yang muncul saat pelaksanaan proyek.. keseriusan/ tekun dalam bekerja... yaitu mau bertanya.Penilaian ranah afektif Penilaian yang dilakukan untuk ranah afektif ini adalah sikap dan prilaku siswa selama proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan treatment yang diberikan dalam penelitian.. Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal No......00 – 0.... Tabel 8.(3) Keterangan: D Ba Bb Ja Jb : daya pembeda : jumlah kelompok atas yang menjawab benar : jumlah kelompok bawah yang menjawab benar : jumlah peserta kelompok atas : jumlah peserta kelompok bawah Indeks daya beda soal ini dapat diklasifikasikan pada Tabel 8.21 – 0.....70 0......40 0.. kehati-hatian .........D= Ba B b − Ja Jb ... 1 2 3 4 5 Indeks Daya Beda Minus 0..

Penilaian ranah psikomotor Penilaian ranah psikomotor dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan mengacu pada rubrik penskoran.apa” Karena penilaian pada ranah psikomotor terbagi dalam tiga tahapan. 3. Rubrik penskoran berisi kriteria penilaian langkah-langkah kerja sistematis yang harus dilakukan siswa saat unjuk kerja. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slameto (2001: 124) ”Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai 5 yang ditafsirkan sebagai berikut: 1 = tidak pernah 2 = jarang 3 = kadang-kadang 4 = seringkali 5 = selalu ” Akan tetapi. pada akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan dalam bentuk persentase. Depdiknas (2003) menyatakan ”Pengisian rubrik penskoran tersebut memiliki pedoman penskoran: A (bobot 4) : kriteria sangat tepat B (bobot 3) : kriteria tepat C (bobot 2) : kriteria kurang tepat D (bobot 1) : kriteria tidak tepat E (bobot 0) : kriteria tidak tahu apa. maka untuk menentukan nilai akhir ditentukan kriteria penilaian dari ketiga tahapan tersebut. dan di akhir penelitian mengacu pada tes unjuk kerja.63 dalam bekerja. Menurut Masnur (2003) : ”Penilaian akhir proyek dapat . Setiap aspek diberi skor berupa angka. dan kerja sama. di akhir pembelajaran mengacu pada laporan kerja proyek.

dan nilai ujian akhir merupakan penilaian tes unjuk kerja. Oleh karena itu.ditentukan dari 20 % dari penilaian proses. 3. nilai tugas merupakan penilaian hasil proyek. dan nilai ujian akhir dengan bobot masing-masing 2. Dalam hal ini. peneliti menentukan nilai akhir ranah psikomotor setiap siswa dengan rumusan sebagai berikut : . dan 50 % dari tes unjuk kerja”. nilai harian. 30 % dari penyajian laporan. Hal ini sejalan dengan pendapat Suharsimi (2005: 278) : ”Nilai akhir diperoleh dari nilai tugas. dan 5”. nilai harian merupakan penilaian proses.

......65 20......Ranah Kognitif Analisis data pada ranah kognitif adalah uji kesamaan dua rata-rata........(4) Keterangan: NA NP NH NT : Nilai akhir ranah psikomotor : Nilai proses (selama pembelajaran berlangsung) : Nilai hasil proyek : Nilai tes unjuk kerja (pada akhir pembelajaran) F...... a.NT 100 NA = ..... Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji apakah hipotesis kerja yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak..syarat berikut: a... Untuk menguji normalitas digunakan uji .... Kedua kelas mempunyai varians yang homogen Oleh karena itu..NH + 50......... perlu dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan homogenitas.. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel yang berasal dari populasi yang terdistrbusi normal.NP + 30.......masing ranah: 1.. Sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal b.......... Sebelum melaksanakan uji tersebut harus dipenuhi syarat... Berikut akan dibahas teknik analisis data pada masing........

. X2.. Z2. .. 2) Data X1.. Z3.. Zn dengan rumus : .Lilliefors dengan langkah.. . X3. Xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga data yang terbesar.langkah sebagai berikut: 1) Data X1. X2... . Xn dijadikan bilangan baku Z1.. X3.

(5) Keterangan: Xi = skor yang diperoleh siswa ke..........i ..................................67 Zi = Xi − X S ..........

. kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (Z < Zi) 4) Dengan menggunakan proporsi Z1..X = skor rata-rata = simpangan baku 3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku. Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. jika proporsi ini dinyatakan dengan S (Zi). maka: Z ... Z2. Z3.

. Z 2 .. digunakan uji F dengan langkah... Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak.. maka sampel tidak terdistribusi normal b...... Untuk mengujinya.masing kelompok data kemudian dihitung harga F dengan rumus: . Jika Lo > Lt....... maka sampel terdistribusi normal ii. Jika Lo < Lt..... Z n yang ≤ Zi .69 S (Z i ) = Σ Z1.05........(6) n 5) Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian tentukan harga mutlaknya 6) Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut dan disebut Lo..... kriteria pengujian adalah sebagai berikut: i. Z 3.langkah sebagai berikut: 1) Menghitung varians masing... 7) Membandingkan nilai Lo dengan nilai krisis Lt yang terdapat penada taraf nyata α = 0..

..... berarti kedua kelompok tidak mempunyai varians yang homogen... berarti kedua kelompok mempunyai varians yang homogen. Sebaliknya.. c.................... Uji Hipotesis Hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukkan bahwa kedua sampel terdistribusi normal dan kedua kelompok sampel homogen.. maka dalam pengujian hipotesis statistik yang digunakan adalah uji t dengan rumus: .. jika harga Ftabel lebih kecil dari Fhitung.... maka harga Fhitung tersebut dibandingkan dengan harga Ftabel yang terdapat dalam daftar distribusi dengan taraf signifikan 5 % dan dkpembilang = n1–1 dan dkpenyebut = n2–1...(7) = varians kelompok data = varians hasil belajar kelas eksperimen = varian hasil belajar kelas kontrol 2) Jika harga Fhitung sudah didapatkan.............. Bila harga Ftabel lebih besar dari Fhitung.....S2 F= 1 S2 2 Keterangan: F S12 S22 ...

..(8) S2 = (n1 − 1)S12 + (n 2 − 1)S2 2 n1 + n 2 − 2 ................(9) Keterangan: ...................71 t= X1 − X 2 1 1 S + n1 n 2 .............................................................................................

X1 = nilai rata.rata kelas eksperimen .

lembar observasi ranah afektif dalam penelitian ini diisi dengan cara mencek skor yang diperoleh siswa untuk setiap aspek pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Untuk harga lainnya.rata kelas kontrol = standar deviasi kelas eksperimen = standar deviasi kelas kontrol = standar deviasi gabungan = jumlah siswa kelas eksperimen = jumlah siswa kelas kontrol S1 S2 S n1 n2 harga thitung dibandingkan dengan ttabel yang terdapat dalam tabel distribusi t. Slameto (2001: 115) menyatakan ”Analisis data hasil observasi dapat dilakukan menjumlahkan item-item dari tiap aspek yang dicek (√) kemudian ditentukan persentasenya. Kriteria pengujian adalah terima Ho jika –t(1-1/2 α) < t < t(1-1/2 α) pada taraf nyata 0.Ranah Afektif Teknik analisis data yang digunakan untuk ranah afektif adalah menaksir proporsi.05. Penilaian afektif ini dilakukan selama 10 kali pertemuan dengan 6 aspek pengamatan dan skor maksimum setiap aspek adalah 5. Ho ditolak. proporsi afektif yang diperoleh siswa selama pembelajaran berlangsung adalah: . 2. selanjutnya dikonversikan dalam bentuk huruf.73 X2 = nilai rata.” Sesuai dengan pendapat tersebut. sehingga skor maksimum lembar pengamatan = 5 (skor maksimum tiap aspek) x 6 (jumlah aspek pengamatan) x 10 (jumlah pertemuan) = 300. Oleh karena itu.

........... Tabel 9.....SP x 100 % SA = SM ....................... dapat dikonversikan menjadi huruf sesuai dengan jumlah kategori yang diinginkan peneliti”.. Oleh karena itu.................(10) Keterangan: SA SP SM : Proporsi skor akhir (%) : Jumlah skor perolehan siswa sesuai dengan tanda cek yang diberikan : Jumlah skor maksimum lembar pengamatan Sesuai dengan Depdiknas (2003) ”Penilaian ranah afektif yang menggunakan skala bertingkat dari 1 sampai 5 misalnya......................... Kriteria konversi nilai ke huruf Skor total Angka 242-300 182-241 123-181 63-121 81-100 61-80 41-60 21-40 Nilai konversi Huruf A B C D Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Kategori Proporsi yang diperoleh siswa ditampilkan dalam bentuk grafik hubungan rata- ....... proporsi skor siswa dikonversikan dalam bentuk kualitatif dengan menggunakan kriteria pada Tabel 9...

sehingga jelas terlihat aspek afektif yang benar-benar dipengaruhi oleh PBL. 3. .75 rata proporsi skor siswa dalam kelas setiap pertemuan untuk setiap aspek pengamatan.Ranah Psikomotor Teknik analisis data yang digunakan untuk ranah psikomotor pada penelitian ini adalah sama dengan teknik analisis data pada ranah kognitif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->