P. 1
Buletin Lestari Desaku Edisi 2 : Sept 2012

Buletin Lestari Desaku Edisi 2 : Sept 2012

|Views: 296|Likes:
Published by alsad owt
Farmers in the tropic are blessed with abundance green cover and farm organic waste which can easily turn out into organic and bio-fertilizer.
Microorganism (bacteria and fungi) plays a key roles on the decomposition process. To do so farmers need to know how to gather and grow local microorganism troop which is often called in Indonesian as ‘MOL’ (mikroorganisme lokal). Farmers can directly use MOL as bio-fertilizer to enhance plant (crop) metabolisms such as ‘Nitrogen” (N) fixation from atmosphere or adsorb ‘Phosphorous’ (P) ion from soil. Farmers can also use MOL to speed up decomposition process on the making of organic fertilizer. Without MOL, it takes more than two months to make compost, while using MOL, organic fertilizer can be readily applied (although still immature) within two weeks. Despite various types of MOL have been available in the market, those can easily developed by farmers. The focus also discuss procedures to develop various types of organic fertilizers and success stories of organic farming.
In this edition, we also promote some selected PNPM-Green smart practices from Sulawesi and Sumatra, several contemplative articles and OWT environmental awareness products.
The dream behind the making of the magazine is to make rural people aware on their on-site abundant resources which should be able to improve their livelihoods. We need to strengthen village governance to make them independence (mandiri); they should be able to build their life without too much expecting outsiders.
The magazine is printed for 3000 copies, the printing cost is funded by World Bank /CIDA PNPM-Green Trust fund and DANIDA ESP-2 Component 3. The magazine can be visited on www.owt.or.id. The hard copies of the magazines will be distributed to PNPM-Green beneficiaries in Sulawesi and Sumatra. The reduced resolution of electronic copy is attached.

Edi Purwanto
Operation Wallacea Trust (OWT)
Mobile: 081 296 55 233
Farmers in the tropic are blessed with abundance green cover and farm organic waste which can easily turn out into organic and bio-fertilizer.
Microorganism (bacteria and fungi) plays a key roles on the decomposition process. To do so farmers need to know how to gather and grow local microorganism troop which is often called in Indonesian as ‘MOL’ (mikroorganisme lokal). Farmers can directly use MOL as bio-fertilizer to enhance plant (crop) metabolisms such as ‘Nitrogen” (N) fixation from atmosphere or adsorb ‘Phosphorous’ (P) ion from soil. Farmers can also use MOL to speed up decomposition process on the making of organic fertilizer. Without MOL, it takes more than two months to make compost, while using MOL, organic fertilizer can be readily applied (although still immature) within two weeks. Despite various types of MOL have been available in the market, those can easily developed by farmers. The focus also discuss procedures to develop various types of organic fertilizers and success stories of organic farming.
In this edition, we also promote some selected PNPM-Green smart practices from Sulawesi and Sumatra, several contemplative articles and OWT environmental awareness products.
The dream behind the making of the magazine is to make rural people aware on their on-site abundant resources which should be able to improve their livelihoods. We need to strengthen village governance to make them independence (mandiri); they should be able to build their life without too much expecting outsiders.
The magazine is printed for 3000 copies, the printing cost is funded by World Bank /CIDA PNPM-Green Trust fund and DANIDA ESP-2 Component 3. The magazine can be visited on www.owt.or.id. The hard copies of the magazines will be distributed to PNPM-Green beneficiaries in Sulawesi and Sumatra. The reduced resolution of electronic copy is attached.

Edi Purwanto
Operation Wallacea Trust (OWT)
Mobile: 081 296 55 233

More info:

Published by: alsad owt on Sep 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2014

pdf

text

original

DariRedaksi

“Kami Datang Membawa Pupuk Organik”!
Lestari Desaku
Pimpinan Redaksi Ludiro Prajoko Dewan Redaksi Edi Purwanto, Hendra Gunawan, Ujang Susep Irawan, Irpan Editor Bahasa Edi Purwanto, Ujang Susep Irawan Kontributor La Ode Rabiali Tongke Gusti Suganda Ziaul Haq Nawawi Amirudin Faisal Mansyur Desain dan Penata Letak www.adioga.com Ilustrator Wahyu Gumelar Fotografer Irfan Cakra Diterbitkan oleh Pimpinan dan Penanggungjawab Dr. Edi Purwanto.

epenggal kalimat itu sengaja dipilih untuk melukiskan suasana hati kami yang diliputi dua hal. Pertama, kelegaan karena dapat mengantarkan munculnya edisi ke-2 LD. Walaupun, mungkin, sedikit terlambat. Di tengah kesibukan rutin yang tak kunjung susut, kiranya perlu kerja ekstra untuk menyiapkan LD edisi 2. Puji syukur, agenda itu telah dapat dilalui. Tentu saja berkat kerjasama dan dukungan banyak pihak, khususnya teman-teman OWT yang gigih di lapangan. Komentar, saran, masukan, dan kiriman tulisan merekalah yang memungkinkan LD dapat kembali mengunjungi Anda. Kedua, Pupuk organik. Itulah sajian utama LD kali ini. Topik itu mungkin dipandang sepele. Tetapi tidak demikian bagi kami. Mengapa? Terdapat kisah dan pengalaman (Pelaku PNPM-LMP) yang mengesankan seputar pupuk organik ini. Juga keprihatinan dan rasa geram menyaksikan, dimana-mana, sampah menumpuk tak terurus. Juga praktik cerdas dan prestasi dari lapangan terkait pengelolaan sampah menjadi pupuk organik. Selain itu, pupuk organik menjadi bagian penting bagi upaya kembali ke pertanian organik: sebuah persoalan serius! Pertanian organik di satu sisi menjadi gerakan menuju penyelamatan lingkungan, dan di sisi lain, sebagai gerakan menuju pemulihan kemandirian petani. Maka, kami bulat mengangkat pupuk organik sebagai Fokus Sajian kali ini. Kami mencoba menghadirkan pembahasan yang utuh-tuntasmenyeluruh, untuk memenuhi niat LD sebagai media informasi sekaligus panduan.

S

Penerbitan majalah ini didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-Green) Alamat Redaksi Taman Cimanggu Jl. Akasia III Blok P VI No. 4-5 Bogor - Jawa Barat Tel: (0251) 8343184 E-mail: redaksilestaridesaku@gmail.com, Website: www. owt.or.id

Pertanian organik di satu sisi menjadi gerakan menuju penyelamatan lingkungan

Dinamika pelaksanaan kegiatan PNPMLMP dan Penguatan Desa sebagai menu tetap LD, disajikan melalui beberapa tulisan yang diharapkan dapat lebih menggairahkan kiprah pelaku LMP maupun pemerintahan desa. Demikian, sekilas “Mengapa dan bagaimana” LD edisi 2, dengan segenap harapan yang dilekatkan padanya. Nah … Ludiro selamat menikmati sajian kami !

Prajoko

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

|1

DaftarIsi
6.Fokus
> Mikroba Sebagai Pupuk Hayati

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

mengenal Limbah Di sekitar Rumah
Limbah organik banyak terdapat di sekitar kita dan sesungguhnya memiliki manfaat yang luar biasa, terutama pemanfaatannya sebagai pupuk organik maupun sumber penghasil mikroba yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

28.Tokoh Kita

1 3 4 8 10 12 16 18 26 34 38 36 8 10 17 38

> H. Winarno, Peternak Cacing Desa Cibodas Kecamatan Lembang

Dulu Kontraktor sekarang sukses ternak Cacing

Murah senyum itulah salah satu tampilan Pak Winarno. Dia termasuk seorang pengusaha sekaligus petani yang sukses di desanya. Dia termasuk orang senior dibidang ternak cacing yang dulunya baru mengenal cacing. Termasuk warga Desa Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Meski begitu hampir rata-rata peternak cacing di Kabupaten Bandung bahkan orang Malaysia pun datang membeli cacing kepadanya.

30.Aplikasi

DARI REDAKsI EDItoRIAL PERsPEKtIF FoKUs Mengenal Pasukan Mikroba Dari Mana Asal Pasukan Mikroba? Mengumpulkan Pasukan Mikroba Memanfaatkan Pasukan Mikroba sebagai Pupuk Hayati Pasukan Mikroba Pupuk Organik Pupuk Organik VS Pupuk Kimia APLIKAsI “Bertani Organik Itu Murah dan Menyenangkan“ Memanfaatan Kotoran Ternak InFo PRoDUK Produk Penyadaran OWT KoLom Go Green Desaku Memeluk Masyarakat, Merangkul Pemerintah Menyusun RAB Partisipatif Carik Desaku

> Sampah Lebur, Tanaman Subur

tAKAKURA, Keranjang ‘AJAIB’ di Rumah Kita
Takakura merupakan keranjang ajaib yang dapat menyulap sampah sisa makanan atau masakan di dapur menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Peminat majalah ini dapat menghubungi alamat redaksi : taman Cimanggu, Jl. Akasia III Blok P VI no. 4-5, Bogor - Jawa Barat tel: (0251) 8343184 E-mail: redaksilestaridesaku@gmail. com, Website: www. owt.or.id Redaksi menerima sumbangan tulisan maupun foto/gambar yang dapat disampaikan ke alamat redaksi, tulisan dibatasi sebanyak 2500 karakter perhalaman.

2 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

Editorial

Memberdayakan Pasukan Mikroba
Ketika berkunjung ke salah satu kecamatan lokasi PNPMLingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-Green) di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, beberapa waktu lalu, saya bersama Konsultan dan Pendamping PNPMGreen (Operation Wallacea Trust/ OWT), bertemu dengan kelompok tani yang mendapat bantuan dana (BLM) pembuatan kompos. Di lokasi kunjungan itu, saya melihat dua unit bangunan baru yang berdiri di atas lahan milik desa. Bangunan pertama berupa balai-balai berukuran 12 x 8 meter persegi sebagai ruang pengkomposan dan disebelahnya ada bangunan gudang untuk menyimpan mesin pencacah dan peralatan lainnya. Radius 20 meter di sekitar bangunan itu bersih. Tampaknya baru dibersihkan sesaat sebelum kedatangan kami. Bangunan ini dikelilingi kebun pisang dan semak belukar. Diseberang sungai sana terhampar sawah dengan padi yang telah menguning. Anehnya, disitu tidak ada hiruk pikuk pembuatan kompos sebagaimana mestinya. Kedua bangunan itu nampak rapi dan bersih, seperti belum pernah digunakan. Ketika saya tanyakan kenapa tidak ada kegiatan pengkomposan. Dengan santai mereka menunjuk hamparan padi diseberang. “Kami belum lakukan pengkomposan disini, karena belum panen padi. Kami menunggu ketersediaan jerami setelah panen. Dengan nada spontan saya menukas: ‘Kenapa tunggu panen padi, di sekitar kita begitu banyak limbah organik yang siap dikomposkan’. Mendengar respon saya, mereka agak terkejut, sejenak terdiam kemudian menjawab dengan nada hati-hati: ‘Saat pelatihan kami menggunakan jerami padi, kami kira bahan lain tidak

K

sesuai untuk kompos’. Saya terhenyak dengan jawabannya. Kemudian dengan agak panjang lebar dan kurang sistimatis, saya mencoba menjelaskan bahwa membuat kompos tidak semestinya mengandalkan satu jenis bahan saja. Apalagi harus menunggu sampai bahan itu tersedia. ‘Disekitar kita begitu melimpah bahan yang siap dikomposkan’. Pertemuan itu akhirnya menyepakati bahwa OWT sebagai pendamping PNPM-Green di Kabupaten Padang Pariaman, yang saat itu belum genap sebulan, segera memfasilitasi pelatihan dan pendampingan pembuatan kompos dengan bahan baku lokal. Pertemuan ini walau awalnya agak mengecewakan, namun memberi pembelajaran penting. Saya tersadar bahwa sebagian petani kita masih awam dengan pupuk organik. Budaya konsumerisme nampaknya telah masuk ke sel-sel kehidupan masyarakat perdesaan. Mungkin generasi petani kini telah terlalu lama ter-‘nina bobok’ oleh segala yang berbau kimia yang mudah dibeli di kios. Tetapi, boleh jadi hal terebut karena kurangnya contoh praktik cerdas yang sampai di hadapan petani. Kunjungan ke Padang Pariaman itu kemudian mengilhami kami untuk memilih topik pupuk organik sebagai Fokus edisi LD-2. Kami membahas pupuk organik dari hulu hingga hilir. Dari memberdayakan pasukan mikroba hingga cara membuat aneka macam pupuk organik. Mengapa memberdayakan pasukan mikroba? Ya … karena mikroba (dalam hal ini jamur dan bakteri), walaupun banyak yang tidak kasat mata, namun memiliki kekuatan yang maha dasyat dalam proses perombakan limbah organik

menjadi aneka produk yang berguna bagi kehidupan. Tanpa mikroba kita tidak akan mengenal tempe, tahu, kecap yang menghiasi meja makan kita. Tanpa mikroba dunia ini akan disesaki oleh tumpukan limbah yang meracuni kehidupan. Untuk dapat memanfaatkan mikroba bagi usaha pertanian. Pertama kita perlu mengenal aneka macam mikroba dan bagaimana cara mengumpulkan dan membiakan pasukan mikroba di sekitar kita. Setiap jenis mikroba lokal, sering disingkat MOL, yang kita kembangkan memiliki manfaat spesifik bagi tanaman. Berbagai jenis dan merek dagang MOL kini dengan mudah dapat diperoleh di pasaran, walau sebetulnya petani dengan mudah bisa membuatnya sendiri. Petani perlu diberdayakan agar mampu menggunakan bahan lokal secara mandiri. MOL dapat langsung digunakan sebagai pupuk hayati yang berperan untuk membantu proses metabolisme tanaman, seperti mengikat Nitrogen (N) dari udara atau memecah Phospor (P) yang terikat menjadi ion bebas yang bisa diserap tanaman. MOL juga bisa digunakan sebagai bahan perombak (decomposer) sehingga proses pembuatan pupuk organik (proses dekomposisi limbah organik) dapat dilakukan dengan cepat. Tanpa MOL, pembuatan kompos bisa memakan waktu lebih dari 2 bulan, dengan MOL, kompos telah terbentuk (walaupun belum sempurna) dalam tempo 2 minggu. Dengan memberdayakan mikroba pembuatan pupuk organik dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, sehingga proses transformasi limbah menjadi berkah dapat berlangsung Edi Purwanto cepat !

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

|3

PERsPEktif

AlAm kembAli ke OrgAnik

kembAli ke

Ada tiga tantangan penting yang perlu dikelola untuk mempertahankan kesuburan tanah pertanian di daerah tropis. Pertama adalah energi, kedua resistensi dan ketiga adalah konservasi.

ndonesia memiliki curah hujan yang tinggi (sekitar 3000 mm per tahun). Masalahnya sebagian besar hujan jatuh dengan intensitas yang sangat tinggi. Implikasinya hanya sekitar 10% air hujan yang mampu diserap oleh tanah. Limpahan hujan yang tidak sempat meresap kedalam tanah, mengalir deras menggerus dan membawa (meng-erosi) lapisan atas tanah (top-soil) sebagai lapisan tersubur dan penting bagi usaha pertanian. Lestari Desaku

I

4 | Edisi 2, September 2012

Kondisi ini membuat konversi hutan menjadi lahan pertanian cepat merosot kesuburannya setelah beberapa tahun diusahakan. Penyebabnya adalah kegagalan melindungi top-soil dan pencucian unsur hara oleh erosi dan hempasan curah hujan. Topografi yang berat, berbukit, bergunung dan berlembah, membuat alam Indonesia memiliki ketahanan (resistensi) yang rendah dalam mempertahankan kesuburannya. Kerimbunan vegetasi merupakan respon kebijakan alam, untuk melindungi tanah, terhadap tingginya energi curah hujan dan bahaya erosi. Kondisinya menjadi berbeda, pada saat manusia perlu mengusahakan lahan untuk budidaya pertanian. Hampir semua jenis usaha tani memerlukan pembukaan vegetasi alami yang berarti membuka selimut perlindungan alam. Usaha tani memerlukan pengolahan tanah yang membuat tanah semakin peka terhadap energi kinetik curah hujan dan erosi. Karena itu setiap kegiatan pengolahan tanah harus diimbangi dengan usaha konservasi tanah, seperti penterasan lahan, meminimasi keterbukaan lahan, pengolahan tanah, pemupukan dan sebagainya. Permasalahannya, rendahnya nilai tukar produk pertanian, membuat sebagian besar petani kita tidak mampu melakukan usaha konservasi tanah, sehingga kesuburan lahan pertanian cepat merosot.

tanah tidak mudah dilakukan pada lahan tak beririgasi atau lahan kering (tegalan/kebun). Cara termudah mempertahankan produktifitas lahan kering dilakukan melalui perladangan berpindah yaitu dengan menebas dan membakar hutan menjadi lahan kering. Meningkatnya kepadatan penduduk berdampak terhadap semakin pendeknya masa bera. Kondisi ini kemudian memicu pertanian menetap dengan pengelolaan lahan secara intensif. Pada tahap inilah kegiatan intensifikasi mulai dilakukan. Proses intensifikasi pertanian terus berkembang dan mencapai puncak pada tahun 80-an. Sejak awal tahun 70-an pupuk mineral, pestisida, insektisida, herbisida dan varietas unggul mulai banyak tersedia di pasaran. Intensifikasi merupakan upaya pengendalian dan peningkatan produktifitas, sebagai kompensasi terhadap degradasi yang disebabkan oleh pemanfaatan lahan secara intensif. Sayangnya kemurahan alam tidak tanpa batas. Karenanya, setiap bentuk dan tahap intensifikasi menimbulkan lost of efficiency. Penggunaan pupuk kimia dalam intensifikasi, awalnya begitu responsif terhadap peningkatan produksi. Pada saat yang sama pemakaian pupuk kimia berakibat pada kerusakan fisik dan kimia alami tanah. Implikasinya, secara menerus diperlukan dosis yang semakin tinggi. Kondisi ini terus berlanjut hingga tanah tidak mampu berfungsi lagi sebagai media tumbuh yang menghidupi. Tanah tidak lebih dari busa tempat bergayut tanaman. Sebagian besar kebutuhan zat hara tanaman harus disuplai dari luar. Hal yang sama terjadi pada penggunaan pestisida kimia. Serangga yang menjadi hama tanaman secara cepat seakan lenyap dengan pestisida kimia. Namun kemudian datang lagi dengan kekuatan genetik yang lebih prima. Implikasinya, diperlukan dosis yang semakin besar. Penggunaan dosis yang semakin tinggi berdampak

pada matinya berbagai jenis predator hama. Maka terjadilah ledakan populasi hama yang tidak terbendung.

KEmBALI KE oRgAnIK

Kejenuhan intensifikasi di berbagai wilayah telah mulai terjadi sejak akhir 80-an. Wilayah perdesaan yang banyak memiliki lahan guntai (absentee, lahan perdesaan yang dimiliki oleh orang-kota), hanya ditanami oleh singkong yang tidak memerlukan pemeliharaan. Sedangkan petani pemilik lahan banyak yang mulai banting setir ke pola agroforestry (wanatani) dengan mengandalkan tanaman kayu-kayuan berdaur pendek. Generasi baru petani kita kini telah terlanjur terbiasa dan bahkan begitu fanatik dengan penggunaan sarana produksi yang serba kimia. Dampak intensifikasi lahan yang berlangsung selama puluhan tahun tidak mudah diputar balik. Untuk menjaga kesuburan tanah, nenek moyang kita doloe telah memiliki berbagai kearifan organik, baik untuk mempertahankan kesuburan tanah maupun mengendalikan hama dan penyakit. Sayangnya kekayaan organik pertanian tempo doeloe telah banyak terkubur oleh deru intesifikasi. Karena itu gerakan kembali ke organik harus direvitsalisasi. Kembali ke organik bisa dimulai dengan mengomposkan sampah organik rumah tangga, sampah sekitar rumah, sampah kebun, sampah desa dan seterusnya. Tuhan telah menciptakan berbagai jenis mikroba yang bisa kita berdayakan untuk merubah berbagai jenis sampah organik menjadi pupuk. Gerakan kembali ke organik merupakan upaya pembebasan dari industrialiasi sarana produksi bahan-bahan kimia yang menggurita dan semakin membelenggu petani. Gerakan kembali ke organik merupakan langkah nyata menuju kedaulatan pangan! Edi Purwanto

tItIK JEnUh IntEnsIFIKAsI

Di wilayah tropis, usaha tani yang paling ramah lingkungan dan mampu mempertahankan kesuburan tanahnya dalam jangka panjang adalah pertanian lahan sawah. Kualitas penterasan yang prima dan pengenangan air irigasi efektif mengendalikan erosi. Irigasi yang mengalirkan air dari hulu ke hilir membawa butiran top-soil yang tererosi dari hulu, sehingga kesuburan lahan sawah dapat dipertahankan walaupun tanpa pemupukan. Sebaliknya, pemeliharaan kesuburan

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

|5

fOk Us

Mengenal

Limbah DI SekItar RUmah
isa hasil kegiatan atau proses produksi akan menghasilkan limbah, bisa dalam bentuk limbah anorganik maupun limbah organik. Limbah anorganik adalah limbah yang tidak bisa diurai oleh mikroba sehingga tidak mengalami pembusukan, misalnya plastik, kaca, logam. Adapun limbah organik adalah limbah yang berasal dari

S

makhluk hidup (hewan, tumbuhan, manusia) sehingga bisa diurai oleh mikroba dan mengalami pembusukan. Limbah organik terdiri dari limbah organik basah (misalnya sisa sayuran, sisa buah, kulit buah, daun segar) dan limbah organik kering (misalnya kayu, ranting, daun kering).

Limbah organik banyak terdapat di sekitar kita dan sesungguhnya memiliki manfaat yang luar biasa, terutama pemanfaatannya sebagai pupuk organik maupun sumber penghasil mikroba yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Berbagai limbah organik disajikan sebagai berikut :

Berbagai Limbah Organik di Sekitar Kita
NO A ASAL BAhAN Limbah Pertanian 1. Limbah tanaman Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, batang pisang, sabut kelapa, dan semua bagian vegetatif tanaman Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air JeNiS BAhAN OrgANiK

2. Limbah ternak 3. Tanaman B Limbah industri 1. Limbah padat

Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah pengolahan minyak kelapa sawit Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota

2. Limbah cair

C

Limbah rumah tangga

Ujang s. Irawan

6 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

kolom

Go Green Desaku
henry Ali singer*

D

esa lestari dapat kita gambarkan sebagai tempat yang asri, aman, damai, sehat, dan penduduknya yang ramah. Bila kita mampu membangunan desa lestari, kita akan mewariskan tempat tingggal yang nyaman kepada anak cucu: air yang bersih, udara yang segar, hutan dan laut yang terpelihara dengan baik. Di tengah peradaban dunia saat ini yang cenderung menguras sumberdaya alam dengan cara-cara yang merusak, tentu tidak mudah mewujudkan desa lestari sebagai warisan untuk generasi kemudian, anak cucu kita.

Green building Indonesia menyebutkan bahwa 40 % gas buangan penyebab pemanasan global berasal dari gedung-gedung, termasuk rumah-rumah yang ada di planet bumi. Konsep rumah-rumah di desa lestari memiliki kontribusi dalam menahan laju pemanasan global. Karena, selain memperthatikan hijaunya pekarangan, juga penghematan energi dan air. Namun, yang kita saksikan dimana-mana adalah pemandangan yang jauh dari desa lestari. Hutan gundul, terumbu karang rusak oleh bom ikan, sungai dan pantai kotor cemar. Rumput harus berebut tempat tumbuh dengan sampah plastik yang berserakan di pekarangan rumah. Di desa-desa yang mulai padat penduduknya, manusia dan limbah hidup berdampingan. Kesehatan dan kelestarian lingkungan, tampaknya belum menjadi kepedulian bersama. Sampah, limbah rumah tangga, termasuk kotoran manusia,dibuang disembarang tempat. Kita sering kali mengabaikan pentingnya sebuah toilet, atau kamar kecil. Naning Adiwoso, Presiden Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) menyebutkan bahwa sebagian besar dari penduduk Indonesia masih menganggap pembagunan toilet dari sebuah gedung atau rumah tangga menjadi prioritas terakhir. Padahal, toilet menjadi tempat penting untuk membuang kotoran yang menjadi sumber penyakit. Bila tidak diperhatikan dengan baik, tentu akan merugikan kesehatan manusia dan mencemari lingkungan. Sampah bukan organik (plastik, dll) dibuang ke tanah dan perairan. Seolah selesai urusan setelah itu. Padahal tindakan itu sangat merugikan lingkungan. Tumpukan sampah terdapat hampir di setiap pekarangan rumah. Ketika sampah-sampah itu membusuk, akan menghasilkan gas metana (CH4), salah satu penyebab efek pemanasan global. Oleh karena itu, menjadi penting untuk terus menerus menyuarakan desa lestari. Lebih dari itu, mulai bertindak nyata untuk mewujudkan desa lestari. Tindakan itu bisa kita mulai dimana saja, kapan saja, dengan cara: mengurangi , menggunakan lagi, mendaur ulang, dan memperbaiki, barang–barang yang mencemari lingkungan, menanam pohon, menghemat energi. Juga, mulai peduli mengelola dan mengolah limbah-sampah di sekitar kita. Tindakan kecil yang berdampak besar terhadap lingkungan desa lestari.
*) Conservation Lab manager | Conservation Lab | Banyan tree hotels and Resorts

Mari sejenak kita tengok fakta: saat ini, bumi kita tengah berada dalam ancaman pemanasan global. Lembaga internasional, IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan bahwa bila tidak ada upaya untuk menekan pemanasan global, suhu bumi akan meningkat pada kisaran 2 – 5 oC pada 2100. Keadaan ini memicu berbagai dampak buruk bagi umat manusia, termasuk meningkatnya permukaan air laut, bertambah banyaknya jenis penyakit, bencana alam yang semakin dahsyat. Dapat dibanyangkan, apa yang akan dirasakan anak-cucu kita pada masa mendatang. Dalam kaitan itu, desa-desa memiliki arti sangat penting, karena lokasi sebuah desa biasanya berdekatan dengan hutan atau laut. Pohon-pohon dalam ekosistem hutan dan terumbu karang serta fitoplankton dalam ekosistem laut berperan untuk menyerap gas karbondioksida (CO2), penyebab utama pemanasan global. Dengan kata lain, kita yang hidup di desa memiliki peranan penting dalam pelestarian alam. Namun, desa-desa semakin berkembang, jumlah penduduk dan kebutuhannya semakin meningkat, tekanan kepada lingkungan sekitarnya pun semakin meningkat. Maka, keberadaan desa lestari, amat penting bagi kelestarian alam, selain dapat menginspirasi desa-desa dan penduduk lainnya di dunia untuk segera bertindak menyelamatkan alam. Desa lestari akan memberikan manfaat, tidak hanya bagi kehidupan masyarakatnya sendiri, namun juga bagi umat manusia secara global. Bagi kita yang hidup di desa, terdapat banyak cara yang dapat kita lakukan untuk terus selalu “go green” : menanam pohon, hemat energi, peduli terhadap limbah dan sampah rumah tangga, mengurangi penggunaan barang-barang yang mencemari lingkungan, dll.

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

|7

fOk Us

mEngEnaL PasUkan mikROba

T

uhan telah menciptakan makhluk hidup dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jika kita kelompokkan berdasarkan jumlah selnya, maka makhluk hidup dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu : (1) Tidak memiliki sel (misalnya virus), (2) Memiliki satu sel (misalnya bakteri), dan (3) Memiliki banyak sel (misalnya : jamur, tumbuhan, dan hewan). Adapun berdasarkan ukurannya, makhluk hidup dapat dibedakan menjadi mereka yang berukuran besar, sedang, kecil, hingga mikro. Ukuran makhluk hidup yang terakhir tersebut, yaitu makhluk mikro atau biasa disebut mikroba (seperti protozoa, virus, jamur, dan bakteri), merupakan makhluk hidup yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi harus menggunakan bantuan mikroskop. Dari berbagai makhluk mikro tersebut, jenis bakteri dan jamurlah yang telah banyak dikenal memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Mereka hidup di sekitar kita dengan jumlah pasukan yang sangat banyak. Beberapa jenis bersifat merugikan, namun terdapat juga yang menguntungkan. Jenisjenis yang menguntungkan tersebut dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Mereka hidup dan dapat memperbanyak

diri sehingga jumlahnya yang besar dapat mempercepat perannya untuk menjadi pasukan mikroba yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Beberapa proses di alam yang penting dalam kehidupan manusia tidak lepas dari peran pasukan mikroba, misalnya : proses pengomposan, proses terbentuknya biogas, pembuatan makanan, penyediaan unsur hara bagi tanaman, dll. Untuk lebih jelasnya beberapa peran penting bakteri dan jamur dapat dilihat pada Tabel Jenis Mikroba dan Perannya. Peran beberapa mikroba, di mana satu mikroba dapat memiliki beberapa peran atau sebaliknya, satu peran tertentu dapat dilakukan oleh beberapa mikroba. Dengan demikian kita dapat memahami misalnya untuk membuat kompos dimana proses pengomposannya dilakukan dengan cara ruang tertutup/tidak memerlukan oksigen, maka perlu peran bakteri jenis Aspergillus sp dan Penicillium sp serta jamur Trichoderma sp. Sebaliknya proses pengomposan pada ruang terbuka dimana memerlukan oksigen, maka diperlukan peran bakteri Pseudomonas sp. Beberapa contoh bakteri dan jamur bermanfaat disajikan pada gambar berikut.
Ujang s. Irawan

Rhizobium sp

Azospirillum sp

Azotobacter sp

8 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

Jenis Mikroba dan Perannya
NO A 1 2 3 4 5 6 JeNiS MiKrOBA Kelompok Bakteri Acetobacter xylinum Lactobacillus bulgarius dan Streptococcus thermopillus Rhizobium sp, Azospirillum sp, dan Azotobacter sp Pseudomonas sp Aspergillus sp dan Penicillium sp Lactobacillus sp (a) Berperan dalam proses pembuatan Nata de coco (a) Berperan dalam proses pembuatan Yoghurt (a) Mengambil nitrogen dari udara dan menyediakannya untuk tanaman (a) Meningkatkan ketersediaan fosfor bagi tanaman, (a) Meningkatkan ketersediaan fosfor bagi tanaman, (b) Membantu proses pengomposan (a) Mengendalikan penyakit, (b) Membantu pengomposan pada ruang terbuka (memerlukan oksigen) PerAN

B 1

Kelompok Jamur Mikorhiza (kelompok ektomikorhiza dan endomikorhiza) (a) (b) (c) (d) (e) Membantu menyerap unsur hara untuk tanaman, Meningkatkan tersedianya unsur fosfor, Mencegah serangan penyakit akar, Merangsang pertumbuhan akar, Membantu penyerapan air sehingga tanaman tahan terhadap kekeringan

2 3 4. 5.

Trichoderma viride dan Trichoderma harzianum Fusarium sp Pleurotus ostreatus Dll.

(a) Membantu proses pengomposan, (b) Menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit akar (a) Membantu proses pembentukan gaharu (a) Jamur tiram putih untuk pangan

Psudomonas sp

Lactobacillus sp

Aspergillus sp

Penicillium sp

:

Jamur Trichoderma sp

Jamur Tiram putih

Jamur Mikorhiza

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

|9

fOk Us

DaRi mana asaL PasUkan mikROba?
asukan mikroba sesunguhnya banyak terdapat di sekitar kita, hanya karena ukurannya yang sangat kecil maka kita tidak pernah menyadari akan keberadaannya tersebut. Keberadaannya baru kita sadari setelah munculnya hasil karya mikroba tersebut, misalnya terbentuknya nata de coco, yoghurt, tempe, dll. Pasukan mikroba tumbuh dan berkembang biak di beberapa tempat seperti di tanah, perakaran NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Rebung bambu Bonggol pisang Sampah sayuran Nasi basi Keong mas Urine (sapi, kelinci) Bintil akar tanaman kacang-kacangan Di sekitar perakaran pohon meranti, melinjo, ekaliptus, pinus, merbau Di sekitar perakaran tanaman legum, tanaman penutup tanah, tanaman pertanian, dll BAhAN

P

tanaman, batang, buah, daun, kotoran ternak, urin, usus, dll. Seperti halnya makhluk hidup yang lain, pasukan mikroba tersebut akan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang mendukung dan sebaliknya akan terhambat perkembangbiakannya pada kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Sehingga secara alami sesungguhnya pasukan mikroba tersebut berkembang biak, namun kecepatannya sangat tergantung dari kondisi lingkungan. Idealnya adalah semakin banyak pasukan mikroba,

maka hasil kerjanya akan semakin cepat diperoleh, misalnya proses pengomposan semakin cepat ketika jumlah pasukan mikroba diperbanyak. Pertanyaannya adalah dimana masing-masing jenis mikroba tersebut dapat diperoleh dengan mudah? Beberapa hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenis mikroba tertentu dihasilkan dari bahan organik tertentu sebagaimana disajikan dalam tabel berikut :

JeNiS MiKrOBA yANg terKANduNg Azotobacter sp, Azospirillium sp Azotobacter sp, Azospirillium sp, dan Aspergillus sp Pseudomonas sp, Aspergillus sp, Lactobacillus sp Azotobacter sp Azotobacter sp, Azospirillium sp, Aspergillus sp, Pseudomonas sp Azotobacter sp, Azospirillium sp, Aspergillus sp, Rhizobium, Pseudomonas sp Rhizobium sp Mikorhiza kelompok ektomikorhiza Mikorhiza kelompok endomikorhiza atau dikenal Vasicular Arbuscular Micorrhizae (VAM)

Keterangan : Untuk jamur mikorhiza kelompok endomikorhiza dan jamur Trichoderma sp, pada tahap awal sebaiknya populasi mikroba diperoleh dari laboratorium mikrobiologi, misalnya SEAMEO-Biotrop-Bogor, Litbang Kehutanan, LIPI Bogor, dll.
Ujang s. Irawan

10 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

kolom Praktik Cerdas PnPm-green

Memeluk Masyarakat, Merangkul Pemerintah
Edi Purwanto*

ebuah program nasional sebagaimana PNPMGreen (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Lingkungan Mandiri Perdesaan) dapat dikatakan berhasil apabila program tersebut merasa dimiliki oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Apalagi kalau pemerintah kemudian berinisiatif mengalokasikan dananya untuk mengembangkan dan mereplikasi praktik cerdas yang telah dibuat oleh PNPM-Green ke luar pilot dengan biaya Pemda. Salah satu indikator penting keberhasilan program nasional, apabila program tersebut bukan hanya diapresiasi, tetapi diadopsi dan direplikasi oleh Pemda penerima manfaat program. Karena itu fasilitator program, seperti Operation Wallacea Trust (OWT), harus mampu ‘menjual’ berbagai praktik cerdas yang mereka dampingi untuk diadopsi oleh pemda. Pertanyaannya, bagaimana kiat agar Pemda tertarik untuk mengadopsi praktik cerdas PNPM-Green? Ada ungkapan ‘Tak kenal maka tak sayang’. Untuk membuat mereka sayang, mereka harus terlibat dalam pengambilan keputusan, juga mereka perlu melihat langsung hasil dan manfaat program di lapangan. Setiap bulan kami memfasilitasi rapat koordinasi bulanan, dimana seluruh SKPD terkait, seperti Bappeda, Kehutanan, Pertanian, Lingkungan dan DPRD selalu terlibat untuk secara bersama membangun strategi program demi sebesar-besarnya kepentingan masyarakat. Namun itu tidak cukup, mereka juga harus melihat langsung kinerja program di lapangan. Dengan latar belakang ini, kami mengundang jajaran pengambil keputusan di tingkat kabupaten, yaitu DPRD dan Pimpinan SKPD untuk melihat secara langsung berbagai praktik cerdas PNPM-Green. Beruntung undangan kami disambut baik oleh Ketua DPRD Kabupaten Muna (H. Uking Jasa), Wakil Ketua DPRD (La Ode Muhammad) dan Sekda Kabupaten Muna (H. La Ora) yang memang telah lama mengenal sepak terjang kami di Muna. Berkat bantuan beliau bertiga, kunjungan yang kami fasilitasi pada tanggal 1 Mei 2012 itu berhasil melibatkan sejumlah anggota DPRD, baik dari Komisi A, B dan C, tentunya beserta Ketua dan Wakil-nya plus jajaran Kepala SKPD. Rombongan berjumlah 30 orang. Kunjungan dilakukan di Kecamatan Tongkuno dan Lawa. Di Tongkuno rombongan bertandang ke: Demo-plot Rumpon di Desa Oempu, Demo-plot Biogas di Desa Lahontohe serta bantuan PNPMGreen (BLM) penanaman Pohon Biti (Vitex sp.) di Lapadindi (BLM 2011). Sedangkan di Kecamatan Lawa;

S

rombongan berkunjung ke Ekowisata Wakante (BLM 2009) dan penerima manfaat biogas di beberapa desa yang diinisiasi dan dibiayai oleh Dinas Lingkungan Hidup sebagai replikasi PNPM-Green. Sebagaimana biasa, selain aktif menjelaskan, tak lupa kami juga menyampaikan beberapa bingkisan bahan penyadaran, seperti Buku Nasionalisme Lingkungan, poster, brosur, DVD film dan sebagainya. Pak Ketua DPRD sejenak tertegun menyaksikan Ekowisata Wakante yang dulunya sebuah telaga yang tidak terurus, kini telah bermetamorfosa menjadi obyek wisata yang anggun. Kebetulan masa kecil Pak Ketua sering berenang disitu. Apalagi Pak Wakil Ketua DPRD, yang kebetulan mantan tokoh LSM, tak hentihentinya mengacungkan jempolnya kepada jajaran fasilitator PNPM-Green yang mendampingi kunjungan. Bukan hanya Wakante saja, anggota DPRD dan SKPD juga takjub menyaksikan aneka manfaat biogas, yang limbahnya ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair. Singkatnya, perjalanan Raha-Tongkuno yang begitu melelahkan, karena kondisi jalan yang semakin parah, terbayar penuh oleh menariknya suguhan menu kunjungan . Implikasinya, tak tanggung-tanggung, DPRD melalui Dinas Pariwisata mengalokasikan 300 juta untuk membuat Wakante semakin kemilau. Disitu akan dibangun arena tarung kuda khas Lawa, juga untuk membuat kolam pemancingan. Komitmen tersebut ditegaskan kembali oleh Pak Ketua DPRD saat kami bersama Tim PSF dan PMD berkunjung ke DPRD pada tanggal 22 Juni lalu. Tekad DPRD tidak berhenti disitu, Pak Ketua berniat untuk segera mengeluarkan Perda Perlindungan dan Pemanfaatan Sumber-Sumber Air di Muna yang dikenal sebagai daerah tidak ramah air. Minat itu kami sambut baik dengan membantu fasilitasi penyusunan legal drafting-nya. Refleksi kisah di atas memberikan pembelajaran penting. Pemberdayaan masyarakat untuk pelestarian lingkungan, bahkan untuk tujuan apapun, tidak cukup hanya dengan bekerja bersama masyarakat. Melainkan juga harus mampu bekerja bersama pemerintah. Sebuah program hanya akan berhasil apabila mendapat dukungan pemerintah di segala lapisan, Masyarakat jelas perlu kita peluk, tetapi pemerintah juga harus kita rangkul. Pendamping program, sebagaimana OWT, harus mampu menjalankan kedua peran tersebut secara seimbang dan mewujudkannya dengan cantik !
*) Direktur oWt, Email: purwanto.owt@gmail.com

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 11

fOk Us

mEngUmPULkan PasUkan mikROba
etika kita sudah mengenal dan mengetahui darimana pasukan mikroba tersebut berasal, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pasukan mikroba tersebut dapat kita kumpulkan dan diperbanyak jumlahnya. Dengan mengumpulkan dan memperbanyak jumlah, maka diharapkan pasukan mikroba tersebut akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya, sebagai contoh untuk proses pengomposan bahan organik akan berjalan lebih cepat ketika pasukan mikroba pengurai diperbanyak jumlahnya. Sebagai makhluk hidup, tentu pasukan mikroba memiliki kemampuan memperbanyak diri. Mikroba-mikroba tersebut dapat diperoleh di sekitar lingkungan kita, oleh sebab itu selanjutnya pasukan mikroba tersebut dapat kita sebut sebagai “Mikroba Lokal atau Mikroorganisme Lokal” atau dikenal dengan nama moL. Pada prinsipnya mikroba dapat diperbanyak melalui beberapa cara tergantung jenisnya, ada mikroba yang diperbanyak dengan cara fermentasi (ruang tertutup tanpa oksigen), cara terbuka karena butuh oksigen, atau diperbanyak dengan memanfaatkan perakaran tanaman, dll. Beberapa cara perbanyakan mikroba atau kemudian sering dikenal dengan istilah “Pembuatan MOL” secara ringkas disajikan sebagai berikut : A. mEmPERBAnyAK BAKtERI sECARA FERmEntAsI Perbanyakan mikroba secara fermentasi dapat dilakukan pada mikroba-mikroba yang dalam perkembangbiakannya memerlukan ruang tertutup/tanpa oksigen. Terdapat tiga bahan utama untuk melakukan perbanyakan mikroba dengan cara ini, yaitu : (a) Karbohidrat, dibutuhkan sebagai sumber energi misalnya : air cucian beras, nasi bekas, singkong, kentang, gandum, dedak, dll., (b) glukosa, dibutuhkan sebagai sumber energi, misalnya:

K

gula merah, air nira, gula pasir, air kelapa, dll., (c) sumber mikroba, dalam hal ini jenis bakteri yang dapat diperoleh dari : buah busuk, tomat, sayuran busuk, keong mas, rebung bambu, bonggol pisang, urine hewan (sapi atau kelinci), nasi basi, tape singkong, buah maja, dll. Tahap perbanyakan mikroba melalui proses fermentasi secara umum disajikan sebagai berikut :

tahap Pembuatan Mikroba Melalui Proses Fermentasi
Sediakan bahan-bahan utama yang dibutuhkan, yaitu : jenis karbohidrat, glukosa, dan sumber mikroba Timbang berat masing-masing bahan utama sesuai dengan takaran yang disarankan

Haluskan/potong-potong bahan-bahan utama agar mudah dilakukan pencampuran

Masukkan seluruh bahan utama yang telah dihaluskan ke dalam wadah tertutup dan biarkan hingga waktu tertentu, misalnya 7 – 14 hari

Saring dan MOL siap digunakan

12 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

Sebagai contoh, maka di bawah ini disajikan cara pembuatan, perbanyakan, dan penggunaan mikroba/MOL dari bonggol pisang : Cara Pembuatan  Siapkan 1 kg bonggol pisang, 2 ons gula merah, dan 2 liter air beras  Bonggol pisang dipotong-potong kemudian ditumbuk-tumbuk  Gula merah diiris-iris lalu dimasukkan ke dalam air beras dan aduk hingga rata  Bonggol pisang yang telah ditumbuk masukkan ke larutan gula merah dan air beras, aduk hingga rata  Masukkan seluruh adonan ke dalam wadah atau jerigen yang tertutup rapat  Pasang selang pada jerigen dan masukkan ke dalam botol berisi air, hal ini dimaksudkan untuk membuang gas hasil fermentasi bahan  Biarkan adonan selama 14 hari  Buka tutup jerigen, lalu adonan disaring dan masukkan ke dalam botol aqua. Hasil saringan merupakan MOL bonggol pisang yang siap digunakan No 1 Bahan Sumber Bakteri Rebung bambu

Cara Perbanyakan  MOL yang telah jadi tersebut selanjutnya dapat langsung digunakan atau diperbanyak lagi. Untuk memperbanyak lagi maka perlu disiapkan botol aqua lain, di mana MOL yang telah jadi dibagi ke dalam dua botol.  Isikan air beras ke dalam botolbotol tersebut hingga hampir penuh

 Masukkan gula merah sebanyak 2 ons yang dibagikan ke dalam dua botol tersebut  Biarkan botol tertutup rapat selama 14 hari, maka akan terbentuklah dua botol MOL baru  akan diperbanyak lagi, maka Jika lakukanlah dengan cara yang sama Cara Penggunaan  Untuk pengomposan, gunakan MOL bonggol pisang lalu ditambah air tawar dengan perbandingan 1 liter MOL : 5 liter air tawar lalu ditambah gula merah 1 ons  Untuk pemupukan, masukkan 1 liter MOL bonggol pisang ke dalam 15 liter air lalu campur secara rata dan semprotkan ke tanaman pagi dan sore. Pembuatan MOL pada umumnya dilakukan dengan cara yang sama, namun terdapat beberapa kebutuhan bahan dan lama fermentasi yang berbeda sebagaimana disajikan pada Tabel berikut :

Kebutuhan Bahan 1 kg rebung bambu, 3 liter air beras, 2 ons gula merah

Waktu Pembuatan 15 hari

Cara Penggunaan a. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 1 ons gula merah b. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. a. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 1 ons gula merah b. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. a. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 1 ons gula merah b. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. c. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 2 ons gula d. Untuk pemupukan : 4 ml MOL + 2 liter air, semprot pagi dan sore. Untuk padi pada umur 10, 20, 30, dan 40 hari setelah tanam

2

Bonggol pisang

1 kg bonggol pisang, 2 liter air beras, 2 ons gula merah

7-14 hari

3

Batang pisang

3 kg batang pisang, 5 liter air beras, ½ kg gula merah

14-21 hari

4

Sampah sayuran

• 5 kg limbah sayuran hijau, • ¼ kg garam (sebanyak 5% dari berat limbah sayuran, ditaburkan pada setiap ketebalan 5 cm lapisan potongan sayuran), • 10 liter air cucian beras, • 2 ons gula merah (ditambahkan setelah 3 minggu proses fermentasi)

3-4 minggu

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 13

fOk Us

5

Nasi basi

6

Keong mas

10 sendok nasi basi, 4 genggam daun bambu lapuk, kertas koran, 4 liter air Cara : Letakkan daun bambu di atas koran, masukkan nasi, semprot air agar lembab, bungkus dengan koran, biarkan 4-5 hari akan terbentuk jamur, masukkan semua bahan ke dalam jerigen keadaan terbuka, biarkan 4-5 hari, saring dan MOL nasi siap digunakan 1 kg keong mas segar, 2 liter air kelapa, 2 ons gula merah

4-5 hari pertama terbentuk jamur, 4-5 hari kedua terbentuk MOL

a. 1 lter MOL nasi + 5 liter air, aduk dan semprotkan pada tanaman

14 hari

a. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 1 ons gula merah b. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. a. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. a. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 10 liter air, semprot pagi dan sore. a. Untuk pengomposan : 1 liter MOL + 5 liter air + 1 ons gula merah b. Untuk pemupukan : 1 liter MOL + 15 liter air, semprot pagi dan sore. endomikorhiza dijumpai hampir pada semua jenis tanaman, baik tanaman pertanian, perkebunan, maupun kehutanan. Jamur mikorhiza memiliki manfaat antara lain : (a) membantu menyediakan fosfor, (b) membantu menyerap unsur hara, (c) mencegah penyakit akar, (d) membantu menyerap air sehingga tanaman tahan kekeringan.

7 8 9

Urine (sapi, kelinci) Daun Gamal Limbah buahbuahan

1 liter urine kelinci/sapi, 2 kg gula merah 1 kg daun gamal, 2 liter air beras, 2 ons gula merah 2 kg limbah buah-buahan, 1 liter air kelapa, 3 ons gula merah

14-21 21 10-15

B. mEmPERBAnyAK PAsUKAn mIKRoBA mELALUI PERAKARAn tAnAmAn Perbanyakan pasukan mikroba juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan perakaran tanaman hidup, hal ini terjadi pada jenis jamur mikorhiza. Mikorhiza diartikan sebagai hubungan yang saling menguntungkan antara tanaman dengan jamur pembentuk mikorhiza. Keuntungan yang diperoleh masingmasing adalah : jamur mendapatkan makanan dari tanaman, sedangkan tanaman mendapatkan bantuan penyerapan unsur hara oleh jamur mikorhiza. Jamur mikorhiza hidup di perakaran tanaman dan memperbanyak diri dengan memanfaatkan makanan yang diperoleh melalui perakaran tanaman. Terdapat dua kelompok penting mikorhiza, yaitu (a) Ektomikorhiza, hidup menyelimuti akar tanaman dan mampu membentuk tubuh buah dan (b) Endomikorhiza, hidup di dalam akar tanaman dan tidak membentuk tubuh buah. Jamur

mikorhiza memiliki benang-benang hifa yang panjangnya melebihi panjang akar tanaman. Melalui hifa yang panjang inilah menjadi jembatan penghubung untuk menyalurkan unsur hara yang jauh dari perkaran tanaman. Jamur ektomikorhiza tidak ditemui pada semua jenis pohon, tanaman yang biasa dijumpai adalah meranti, melinjo, ekaliptus, pinus, merbau. Adapun jamur

Keterangan : Akar tanaman diselimuti ektomikorhiza (kiri), Endomikrohiza di dalam akar tanaman (kanan)

14 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

A

B

C

D

Keterangan :Tubuh buah beberapa jenis ektomikorhiza yang ditemukan di bawah tanaman meranti (A), melinjo (B), pinus (C) dan ekaliptus (D)

mEmPERBAnyAK PAsUKAn mIKoRhIzA a. Jenis Ektomikorhiza Jamur jenis ektomikorhiza dapat menghasilkan tubuh buah yang biasanya tumbuh di sekitar pohonpohon tertentu, seperti : meranti, pinus, melinjo, ekaliptus, merbau. Cara perbanyakannya sebagai berikut :  Panen tubuh buah di bawah tegakan pohon  Belah tubuh buah dan ambil bagian daging buahnya yang mengandung jutaan spora  Timbang 20 gram daging buah lalu masukkan dalam 1 liter air  Blender hingga rata  Masukkan 1 liter larutan mikorhiza tersebut ke dalam 5 liter air lalu aduk merata  MOL Ektomikorhiza siap digunakan  Cara menggunakan : suntikan 5 ml MOL ektomikorhiza di dekat perakaran bibit tanaman, ingat tidak semua tanaman dapat ditulari jamur ektomikorhiza. Tanaman yang dapat ditulari misalnya : semua jenis meranti, pinus, ekaliptus, melinjo, merbau. b. Jenis Endomikorhiza  Sebaiknya pada tahap awal pasukan mikroba jenis endomikorhiza dibeli dari lembaga-lembaga penelitian mikrobiologi misalnya : SEAMEO-Biotrop,

LIPI, PAU IPB, dan Litbang Kehutanan. Beberapa jenis endomikorhiza yang banyak dikembangkan antara lain : Glomus fasciculatum, Glomus etunicatum, Glomus aggregatum, Gigaspora margarita, dll.  Siapkan media tanaman yang telah steril sebanyak 20 kg (misalnya dikukus dalam drum selama 6 jam)  Letakkan media tanam dalam bak-bak kecambah plastik atau papan kayu  Taburkan benih tanaman inang, misalnya : Centrosema sp, cabe, bawang, tomat, shorgum pada media tanaman yang telah steril tersebut, biarkan benih berkecambah dan semai tumbuh  Taburkan endomikorhiza yang telah dibeli tersebut di sekitar perakaran semai (1 kg endomikorhiza ditaburkan dalam 20 kg media tanaman)  Biarkan selama 2-3 bulan, maka spora endomikrohiza akan memperbanyak diri dan media tanaman telah menjadi MOL endomikorhiza  Cara menggunakan : Letakkan 1 sendok makan MOL Endomikorhiza di sekitar perakaran tanaman C. mEmPERBAnyAK PAsUKAn JAmUR Trichoderma sp Salah satu jenis jamur yang ditakuti oleh jamur-jamur penyakit adalah

Trichoderma sp. Kehadirannya dapat menghambat penyakit tanaman, selain itu juga berfungsi sebagai penggembur tanah, dan berperan dalam pengomposan. Jamur ini memiliki warna khas, yaitu hijau dan dapat diperbanyak dengan cara sebagai berikut :  Siapkan limbah nasi dan dibersihkan dari sisa makanan yang lain, kemudian dicuci bersih  Limbah nasi yang telah bersih, kemudian dijemur sampai kering (nasi aking)  Nasi aking dicuci, kemudian ditiriskan  Nasi aking dikukus selama 15 menit kemudian didinginkan  Masukkan nasi kedalam plastik sebanyak 200 gr, padatkan, lipat bagian atas plastik kemudian dikukus selama 30 menit.  Dinginkan, masukkan 1 sendok stater Trichoderma sp tutup plastik menggunakan steples.  Simpan di tempat yang sejuk dan lembab dengan suhu 30o C  Setelah 3 hari akan tubuh cendawan Trichoderma sp dan siap digunakan jika warnanya berubah menjadi hijau tua  Cara mengunakan : (1) dengan ditabur di sekitar tanaman, (2) sebagai campuran pupuk, (3) disiram pada tanaman (dosis 5 sendok MOL Trichoderma dalam 1 ember air) Ujang s. Irawan

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 15

fOk Us

mEmanfaatkan PasUkan mikROba sEbagai PUPUk hayati

P

asukan mikroba yang telah dikumpulkan dan diperbanyak, selanjutnya bisa dijadikan sebagai pupuk hayati. Pupuk hayati adalah suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dorman (tidur) dari suatu mikroba yang memiliki peran tertentu bagi pertumbuhan tanaman. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa MOL yang telah dibuat jika diberikan langsung ke tanaman maka akan berfungsi sebagai “Pupuk Hayati” karena mikroba berperan membantu menyediakan kebutuhan unsur hara tertentu untuk tanaman melalui beberapa cara, yaitu : (1) menangkap nitrogen dari udara sehingga dapat diserap tanaman, hal ini dilakukan oleh bakteri penambat nitrogen, (2) menyediakan fosfor yang tadinya sulit diserap oleh tanaman menjadi mudah diserap, hal ini dilakukan oleh bakteri dan jamur pelarut fosfat termasuk jamur mikorhiza, (3) menyediakan unsur hara lain melalui proses pengomposan, hal ini dilakukan oleh jamur dan bakteri perombak bahan organik. Beberapa produk pupuk hayati telah banyak beredar di pasaran yang pada dasarnya mengemas beberapa jenis mikroba. Gabungan beberapa jenis pasukan mikroba diharapkan memberikan perannya masing-masing

sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati yang dikemas tersebut pada dasarnya adalah MOL-MOL yang sebenarnya dengan mudah dapat kita buat. Dengan demikian sebenarnya petani bisa membuat pupuk hayati sendiri. Pemahaman tentang pembuatan MOL ini menjadi dasar penting dalam berbagai kegiatan Ujang s. pertanian yang organik.
Irawan

mikroba berperan membantu menyediakan kebutuhan unsur hara tertentu untuk tanaman

16 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

kolom Praktik Cerdas PnPm-green

Menyusun RAB Partisipatif
gusti suganda*

enyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah salah satu kegiatan penting dalam Program Nasional Pemberdayaan MasyarakatLingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-Green), karena menjadi sarana: (1) alih pengetahuan dan keterampilan sebagai syarat pemberdayaan masyarakat, dan (2) keterbukaan dalam pengelolaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Hal itu sangat penting untuk mencegah penyelewengan. Sesuai prinsip-prinsip program: partisipasi (membuka ruang seluas-luasnya bagi keterlibatan masyarakat) dan transparansi (membuka akses dan memudahkan masyarakat untuk mengetahui dan atau mendapatkan informasi tentang pelaksanaan kegiatan program). Dengan demikian, semestinya prinsip-prinsip itu mewujud dalam proses penyusunan RAB. Sebab, bila tidak, berbagai proses yang mengikutinya akan gagal membangun partisipasi dan rasa memiliki masyarakat terhadap hasil kegiatan yang dilakukan. Memang, ketika mendengar kata RAB, masyarakat umumnya berpikir sebagai urusan orang proyek, sehingga cenderung menghindarinya. Penyusunan RAB sebagai bagian dari perencanaan, semestinya dilakukan

P

oleh TPK (Tim Pelaksana Kegiatan). Namun, acap kali disusun oleh Fasilitator Kecamatan Lingkungan (FKL). Alasannya: kemampuan TPK belum memadai. Tentu ironis, karena tugas pokok FKL adalah memampukan pelaku masyarakat. Karena sudah terbiasa disusun FKL, lalu dianggap sebagai hal yang kaprah. Padahal, kebiasan itu yang menjadi salah satu penyebab terjadinya penyimpangan dan masalah dalam pelaksanaan kegiatan. Melihat kenyataan di atas kami, OWT, sebagai CSO pendamping PNPM-LMP dan FKL mencoba membuat terobosan untuk memperbaiki kinerja program. FKL membuka ruang agar seluruh pelaku PNPM (TPK, KPMD Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa), pemerintah desa, tokoh masyarakat dan penerima manfaat terlibat dalam penyusunan RAB. Pembahasan RAB dilakukan dalam Forum Musyawarah Desa. Dengan demikian, RAB betul-betul disusun oleh masyarakat. Peran CSO adalah menyediakan informasi teknis tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, membangun komitmen dan menumbuhkan motivasi pelaku terhadap pentingnya kebersamaan, memberikan pelatihan teknis penyusunan RAB, bersama melakukan survei harga dan melakukan pendampingan penyusunan RAB dalam Forum Musyawarah Desa. Dampaknya bukan hanya sekedar menghasilkan RAB yang berkualitas, tetapi juga meningkatkan nilai swadaya masyarakat, mencegah terjadinya manipulasi harga (mark-up), mencegah intervensi penggunaan anggaran, serta meningkatkan rasa memiliki seluruh warga masyarakat terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Pendampingan intensif telah terbukti memberikan manfaat besar bagi pelaksanaan program. Penyusunan RAB tidak hanya menghasilkan bundelan dokumen yang dijilid rapi. Namun mampu meningkatkan kapasitas, transparansi dan rasa memiliki terhadap kegiatan yang mereka bangun bersama. Itulah hakikat utama dari pemberdayaan masyarakat.
*) Koordinator oWt Kabupaten Kolaka, Email: gustisuganda@yahoo.co.id

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 17

fOk Us

PasUkan mikROba, PUPUk ORganik

P

enguasaan pembuatan pasukan mikroba seperti MOL menjadi dasar penting dalam kegiatankegiatan yang berhubungan dengan organik termasuk pembuatan pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup (bahan organik) baik tumbuhan maupun hewan yang telah mengalami proses pelapukan. Sisa tanaman atau hewan tersebut merupakan limbah organik yang sesungguhnya banyak di sekitar kita. Dari limbah organik inilah kita dapat membuat pupuk organik dalam berbagai bentuk sesuai jenis dan bentuk limbah.

• • •

mAnFAAt PUPUK oRgAnIK Limbah organik dengan bantuan pasukan mikroba dapat diproses menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Pupuk organik berguna dalam memperbaiki sifat fisik, sifat kimia, dan biologi tanah. Beberapa manfaat pupuk organik disajikan sebagai berikut : • Memperbaiki sifat fisika, kimia biologi tanah, yaitu : - Perbaikan sifat fisik tanah : tanah menjadi gembur, ringan, mudah diolah, dan mudah ditembus akar, tanah lebih mudah menyerap air sehingga kebutuhan air tanaman terpenuhi - Perbaikan sifat kimia tanah : meningkatkan kapasitas tukar

• • •

kation sehingga tanaman lebih mudah menyerap hara dari tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara - Perbaikan sifat biologis tanah : meningkatkan aktivitas pasukan mikroba, mengandung pasukan mikroba yang berfungsi mengurai bahan organik Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman Sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman Mengurangi pencemaran lingkungan, Meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Meningkatkan produktivitas lahan

jerami). Berikut ini disampaikan berbagai limbah organik dan cara pemrosesannya menjadi pupuk organik yang dapat dijadikan pilihan ketika akan menentukan jenis pupuk organik yang akan dibuat. a. Pupuk kandang Pupuk kandang merupakan pupuk padat yang berasal dari kotoran hewan, misalnya kotoran kambing, sapi, domba, ayam, dll. Pupuk kandang telah siap digunakan jika menunjukkan ciri-ciri : dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Penggunaan pupuk kandang yang belum masak dapat menghambat pertumbuhan tanaman hingga mematikan tanaman, salah satu penyebabnya masih memiliki rasio C/N tinggi. Pada kondisi rasio C/N tinggi, pasukan mikroba menggunakan nitrogen yang tersedia untuk menguraikan kotoran tersebut sehingga tanaman kekurangan nitrogen, akibatnya tanaman terhambat pertumbuhannya. Agar pupuk kandang memiliki C/N rendah harus dikomposkan dahulu. Jenis pupuk kandang yang perlu dikomposkan dahulu sebelum digunakan antara lain : kotoran sapi, kerbau, kambing, kuda, dll. Pupuk kandang dapat berbentuk padat maupun cair (urin). Pupuk kandang bentuk cair mengandung

mACAm PUPUK oRgAnIK DAn CARA PEmBUAtAnnyA Berdasarkan bentuknya maka pupuk organik dibedakan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Berbagai limbah dari makhluk hidup pada dasarnya dapat dibuat pupuk organik, oleh sebab itu dalam membuat pupuk organik kita jangan tergantung pada satu macam jenis limbah yang tersedia saja (misalnya ketergantungan pada limbah

18 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

banyak nitrogen, sedangkan pupuk kandang padat mengandung unsur makro (fosfor, nitrogen, dan kalium) maupun unsur mikro (kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum). Sifat beberapa jenis pupuk kandang disajikan sebagai berikut :

NO

JeNiS PuPuK KANdANg Kotoran ayam

KeterANgAN Kandungan fosfor tinggi, kadar air rendah, penguraian mudah sehingga pengomposan tidak perlu lama, bisa digunakan untuk pertanian sayuran maupun penghasil buah seperti kentang. Kandungan kalium tinggi, kadar air rendah, berbentuk butiran keras sehingga perlu dikomposkan dahulu sebelum digunakan. Cocok untuk tanaman penghasil buah (jagung, kedelai, kentang, cabe, dll.) Kandungan nitrogen tinggi, tetapi kalium rendah, kadar air tinggi. Perlu dikomposkan dahulu sebelum digunakan. Cocok untuk tanaman sayuran tetapi tidak cocok untuk tanaman pertanian penghasil buah seperti cabe, kentang, padi Cukup mengandung fosfor, tetapi Magnesium rendah. Perlu dikomposkan dahulu, kadar air tinggi. Penggunaannya perlu dicampur dengan pupuk kandang ayam atau kambing, penggunaan terpisah menghasilkan pertumbuhan sayuran kurang baik Banyak mengandung magnesium, perlu dikomposkan dahulu.

1

2

Kotoran kambing

CARA mEmBUAt PUPUK KAnDAng :
1. Cara terbuka  Cara ini menghasilkan bau yang tidak sedap  Kotoran disebar/ditimbun di atas permukaan tanah dan dijemur 2 – 3 hari, penjemuran bisa dilakukan di atas pasir.  Pindahkan ke tempat beratap dan biarkan selama 2 minggu. Tempat lebih tinggi agar tidak tergenang air dan tidak diberi dinding agar sirkulasi udara baik  pupuk kandang sudah Jika tidak berbau, remah, dingin, maka siap digunakan atau dikemas 2. Cara tertutup  Cara ini tidak menimbulkan bau  Buat lubang, dinding dilapisi plastik untuk menghindari rembesan air, alas lubang dibiarkan dalam bentuk tanah dan jangan disemen agar air kotoran bisa merembes  Masukkan kotoran dalam lubang, jangan terlalu penuh  Tebarkan kapur tohor halus secara merata  Timbun dengan tanah  Buat parit kecil di sekeliling timbunan agar tidak terjadi genangan air  Biarkan 2-3 bulan hingga pupuk kandang matang

3

Kotoran sapi

4

Kotoran babi

5

Kotoran kuda

Manure Jerami Ayam

Kotoran Kambing

Pupuk Kandang Ayam Kambing

Pupuk Organik Siap Pakai

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 19

fOk Us

b. Kompos Kompos merupakan pupuk padat sebagai produk akhir dari proses penguraian limbah tanaman atau hewan dengan bantuan pasukan mikroba yang bekerja pada suhu tertentu. Pembuatannya dapat dilakukan baik dengan bantuan oksigen (aerobik) maupun tanpa oksigen (anaerobik), hasil kedua cara ini sama. Keberhasilan membuat kompos sangat tergantung peran pasukan mikroba pengurai dan lingkungan yang sesuai agar pasukan mikroba agar bisa bekerja dengan baik. Beberapa kondisi lingkungan yang dibutuhkan antara lain : lingkungan lembab, perbandingan karbon dan nitrogen 30:1, pH netral (6-8,5), suhu 50-65oC, ukuran bahan kecil.

NO

deSKriPSi

AerOBiK (terBuKA) Tidak mengandung limbah yang mengandung protein hewan (daging, darah, dll.) 40-50% 45-65oC Potongan kecil (1-7,5 cm) 40-55 hari Tidak berbau

ANAerOBiK (tertutuP) Semua limbah organik dapat digunakan

1

Jenis limbah organik

2 3 4 5 6

Kadar air Suhu Ukuran bahan Lama proses Aroma

Di atas 50% 55-60oC Lumat seperti bubur 3-6 bulan Berbau

CARA mEmBUAt KomPos :

1. Cara terbuka/Aerobik  Cara ini membutuhkan oksigen  Tempat pengomposan diberi atap agar terlindung dari sinar matahari dan hujan, serta berdrainase baik  Menyiapkan bak pengomposan, dapat dibuat dari apa saja asal jangan logam. Bak dibuat agar oksigen dapat masuk dan air tidak tergenang. Bak dapat dibuat dari kayu dengan dinding belahan bambu. Bak berukuran panjang 150 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 100 cm  Menyiapkan cerobong pipa untuk memberi kesempatan oksigen dapat tetap masuk ke bagian tengah kompos, dibuat dari paralon 4 inch panjang 150 cm yang telah dilubangi ukuran kecil dan banyak  Menyiapkan alat panggung tinggi 10 cm untuk alas bak pengomposan  Menyiapkan tutup kompos terbuat dari anyaman bambu  Siapkan limbah yang akan dikomposkan, atur agar perbandingan karbon dan nitrogen antara 25:1 hingga 30:1.  Bahan dipotong-potong berukuran 1 – 7,5 cm,  Letakkan bak kompos di atas alat panggung, kemudian masukkan bahan-bahan hingga memenuhi ½ tinggi bak kompos  Letakkan cerobong hawa pada posisi tidur ataupun berdiri

 Setiap ketebalan tumpukan 30 cm siram dengan air yang sudah mengadung MOL  Kelembaban bahan diatur agar sesuai, yaitu bahan dapat dikepal pada saat digenggam  suhu tumpukan bahan dengan termometer, Cek jika suhu < 45oC maka bahan perlu disiram air lagi, jika suhu > 65oC maka bahan perlu dibolak balik.  Biarkan proses pengomposan berlangsung 2. Cara tertutup/Anaerobik  Cacah atau potong bahan menjadi ukuran kecil (2-3 cm)  Campur sampah cokelat (1 bagian) dan sampah hijau (2 bagian)  Ratakan sampah sebelum diberi MOL/pasukan mikroba  Sirami sampah dengan MOL secara merata  Aduk sampah agar MOL dapat tercampur merata, siram terus sampai kondisi sampah saat digenggam dapat mengepal tetapi tidak mengeluarkan tetes air  Masukkan sampah ke dalam karung atau siapkan penutup sampah menggunakan terpal  Tutup karung yang telah berisi sampah, atau tutup gundukan sampah dengan terpal  Letakkan karung di lokasi yang ternaung dan tidak kehujanan  Proses pengomposan akan berjalan

20 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

NO 1

JeNiS BOKAShi Bokashi Jerami Bokashi Pupuk Kandang Bokashi Pupuk Kandang-Arang Bokashi Pupuk Kandang-Tanah Bokashi Ekspres

KeButuhAN BAhAN Jerami 10 kg, sekam padi 10 kg, dedak 0,5 kg, EM-4 10 ml, gula 10 ml Pupuk kandang 15 kg, sekam padi 10 kg, dedak 0,5 kg, gula 2 sendok makan (10 ml), EM-4 10 ml Pupuk kandang 10 kg, arang sekam padi/serbuk gergaji 5 kg, dedak 0,5 kg, gula 2 sendok makan (10 ml), EM-4 10 ml Pupuk kandang 5 kg, tanah 10 kg, arang sekam/serbuk gergaji 5 kg, dedak halus 5 kg, gula 10 ml, EM-4 10 ml Jerami kering, daun kering, serbuk gergajian 10 kg, pupuk kandang 5 kg, dedak 1 kg, gula 10 ml, EM-4 10 ml.

2

3

4

Kompos Bahan untuk membuat kompos diambil dari sampah organik, yaitu : (a) sampah organik cokelat (daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam, jerami, kulit jagung, kertas yang tidak mengkilat, tangkai sayuran) dan (b) sampah organik hijau (sayuran, buah-buahan, potongan rumput segar, daun segar, sampah dapur, ampas teh/kopi, kulit telur, pupuk kandang). c. Bokashi Bokashi adalah pupuk kompos padat yang dihasilkan dari proses fermentasi (pengomposan tertutup) dari bahan organik dengan menggunakan EM-4 (Effective Microorganism 4). EM-4 ini mengandung bakteri Azotobacter sp, Lactobacillus sp, ragi, bakteri fotosintetik, dan jamur pengurai. Dedak merupakan bahan yang sangat baik untuk ditambahkan dalam pembuatan bokashi. Bokashi bukan merupakan hasil akhir dari pengomposan, karena proses tersebut terus berjalan hingga semua bahan organik di dalamnya telah diuraikan oleh pasukan mikroba. Sebagai contoh, berikut disajikan cara pembuatan bokashi jerami : Pembuatan beberapa jenis bokashi lainnya dilakukan melalui tahapan yang sama, yang membedakannya adalah jenis bahan yang digunakan sebagaimana disajikan dalam tabel berikut :

5

 Siapkan jerami yang telah dipotong-potong ukuran 5-10 cm sebanyak 10 kg  Siapkan sekam padi 10 kg dan dedak 0,5 kg  Larutan EM-4 sebanyak 2 sendok makan (10 ml)  Gula pasir/gula merah sebanyak 2 sendok makan (10 ml)  Campurkan EM-4 dan gula dalam 10 liter air  Buat adonan jerami, dedak, dan sekam dicampur secara merata di atas lantai kering  Siram adonan dengan larutan EM-4 yang telah dicampur gula  Adonan jika dikepal tidak meneteskan air, dan jika dilepas adonan kembali mengembang  Adonan dibuat gundukan setinggi 15-20 cm, selanjutnya ditutup karung goni selama 3-4 hari.  suhu > 50oC, karung penutup dibuka lalu adonan dibolak-balik dan Jika selanjutnya adonan ditutup kembali  Setelah 4 hari karung goni dapat dibuka  Pembuatan bokashi berhasil jika terfermentasi dengan baik, hal ini ditunjukkan oleh adonan ditumbuhi jamur berwarna putih dan berbau sedap (tidak bau busuk)  Bokashi bisa langsung digunakan, jika tidak digunakan bokashi dianginanginkan baru dikemas dalam kantong plastik

CARA mEmBUAt BoKAshI JERAmI :

Pembuatan bokashi dibantu oleh pasukan mikroba yang dikenal dengan nama EM-4. Produk EM-4 banyak dijual di toko-toko pertanian, namun sesungguhnya EM-4 juga sangat mudah untuk kita buat sendiri, cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

Bokasi Sekam

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 21

fOk Us

CARA I : mEmBUAt Em-4 DEngAn IsI UsUs Bahan-bahan : 1. Susu sapi atau susu kambing murni (susu tidak basi) 2. Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus. 3. Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/ kulit udang, kepala ikan) 4. 1 kg gula pasir (perasan tebu) 5. 1 kg bekatul 6. 1 buah nanas (untuk menghilangkan bau) 7. 10 liter air bersih. Alat-alat yang diperlukan : panci, kompor, blender/ parutan untuk menghaluskan nanas. Cara pembuatan : 1. Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. 2. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan. 3. Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing. Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung gelembung. Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. 4. Diamkan selama total 4 minggu hingga bahan benar-benar sebagian besar menjadi cair

CARA II : mEmBUAt Em4 DEngAn BAhAn tUmBUhAn Bahan-bahan 1. Sampah sayur, terutama kacang-kacangan 2. Kulit buah-buahan (pepaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.) 3. Bekatul, secukupnya 4. Gula merah, sedikit saja 5. Air beras, secukupnya Cara membuat: 1. Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik “ganas” yang akan mempercepat proses pengomposan.Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu. 2. Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2. 3. Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3. 4. Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.

d. Kascing Vermicomposting atau dikenal dengan kascing adalah pupuk padat hasil pengomposan secara aerobik (perlu oksigen) dengan memanfaatkan cacing tanah sebagai perombak utama. Pemberian cacing tanah dilakukan pada saat kondisi bahan organik sudah siap menjadi media tumbuh (yaitu berupa kompos setengah matang). Telah dikenal 4 (empat) marga cacing tanah yang sudah dibudidayakan, yaitu Eisenia, Lumbricus, Perethima dan Peryonix. Jenis cacing Lumbricus rubelus telah populer dan banyak dibudidayakan dalam pembuatan kompos kascing.

22 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

foto kascing : .net

Beberapa Contoh Kemasan Pupuk Kascing

Beberapa Contoh Kemasan Pupuk Organik Lainnya

CARA mEmBUAt PUPUK KAsCIng
menyiapkan sarana dan prasarana  Siapkan sarana dan prasarana,meliputi : - Bangunan kandang dapat tertutup atau tanpa dinding, ukuran bangunan disesuaikan dengan target produksi kascing. Atap dibuat dari rumbia dan dinding dari geribik. - Kotak produksi kascing terbuat dari papan kayu ukuran panjang 200 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 18 cm  Siapkan media tumbuh cacing, meliputi : kotoran sapi dan sampah organik (misalnya : jerami, serbuk gergaji, serasah, sisa sayuran, sisa buah-buahan, ampas tahu, limbah baglog jamur). Bila media masih segar, sebaiknya diendapkan dulu 1014 hari. Pencampuran bahanbahan tersebut bertujuan untuk mempercepat proses fermentasi kotoran sapi

memperbanyak cacing  Siapkan cacing; cacing yang digunakan dari jenis Lumbricus rubellus yang dapat diperoleh dari peternak cacing. Agar proses pembuatan kascing berjalan cepat, tentu memerlukan jumlah pasukan cacing yang banyak.  Siapkan kotak pemeliharaan cacing ukuran panjang 2,5 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 0,3 m (dapat menampung 10.000 cacing)  Tebarkan pakan cacing (media tumbuh cacing) secara merata dalam kotak  Masukan indukan cacing (berumur 2-3 bulan dan telah memiliki gelang pada tubuh bagian depan)  Cacing akan bertelur, telur yang sudah matang (bulat kekuningan) perlu dipisahkan dari cacing induk. Biarkan telur di kotak lama, sedang cacing dipindah ke kotak baru untuk proses perbanyakan lagi. Setiap telur berisi 4 ekor anak cacing.

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 23

fOk Us

membuat Kascing
 Sipakan wadah kotak kayu ukuran p = 200 cm, l = 80 cm, dan t = 18 cm (Gambar A)  Lapisi dasar wadah dengan karung bekas yang tidak tembus cahaya (Gambar A)  Masukkan media kotoran sapi yang telah terfermentasi (2 minggu) di bagian tengah (Gambar B)  Masukkan 5 kg cacing di bagian tengah secara merata (Gambar C)  Masukkan kotoran sapi segar (masih berwarna hijau) di sekeliling kotoran sapi yang telah terfermentasi tersebut sebanyak 70 kg (Gambar D)  Media harus tetap dijaga kelembabannya dengan cara disemprot air  Cacing akan memakan kotoran sapi dan merubah dari wana hijau menjadi butiran hitam  Setiap hari cacing memakan media seberat tubuhnya, jadi 5 kg cacing setiap hari akan menghasilkan 5 kg kascing, sehingga dalam 14 hari akan menghasilkan 70 kg kascing.  Dalam 2 minggu, seluruh kascing akan dihasilkan dan siap digunakan CARA mEmBUAt PUPUK hIJAU  Siapkan bahan-bahan, terdiri dari : hijau daun/sampah dapur (200 kg), dedak halus (10 kg), gula pasir/merah (1/4 kg), MOL (1/4 liter), air (200 liter)  Hijau daun/sampah dapur dicacah dan dibasahi  Cairkan gula pasir/merah dengan air  Masukkan MOL ke dalam air lalu dicampur larutan gula dan aduk hingga rata  Hijau daun yang telah dicacah dicampur dedak hingga rata  Siramkan cairan bakteri dan gula pada campuran hijau daun dan dedak  Aduk hingga rata dan dibuat gundukan setinggi 15-20 cm, kemudian tutup rapat  Pupuk hijau siap digunakan dalam waktu 3-4 hari

A

B

C

D
f. Pupuk hijau Pupuk hijau adalah pupuk organik padat yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa: (a) sisa-sisa tanaman/ sisa panen atau (b) tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau (misalnya sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla). Pupuk hijau sebaiknya dibuat dari tanaman jenis legum, karena mengandung nitrogen yang tinggi dan mudah terurai.

e. humus Humus adalah kompos alami padat yang umumnya terdapat di tanah bagian atas. Bahan organik yang tersimpan bertumpuk-tumpuk di permukaan tanah selama bertahun-tahun mengalami proses pengomposan yang dilakukan oleh pasukan mikroba yang ada di alam hingga berubah warna menjadi hitam atau kecokelatan.

g. Pupuk organik Cair Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahanbahan organik seperti sisa tanaman atau kotoran hewan. Pupuk ini mengandung lebih dari satu unsur hara. Kelebihan pupuk organik cair adalah secara cepat mengatasi kekurangan hara tanaman, tidak bermasalah dengan pencucian hara, mampu menyediakan hara secara cepat, tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin, dapat langsung diserap tanaman. Ujang s. Irawan &
Amiruddin

24 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

CARA mEmBUAt PUPUK oRgAnIK CAIR DARI sAmPAh tUmBUhAn  Siapkan pasukan mikroba (MOL atau EM-4), campur secara merata 1 tutup botol EM-4 + 1 sendok makan gula pasir + 1 liter air sumur (bukan air PAM). Kemudian masukkan campuran tersebut ke dalam alat semprot (handsprayer)  Siapkan wadah untuk pembuatan pupuk cair, misalnya drum plastik 200 liter. Wadah tersebut kemudian dilengkapi dengan kran dan tapisan yang berfungsi untuk menyaring sampah organik.  Siapkan bahan baku berupa sampah rumah tangga yang masih segar atau eceng gondok. Bahan organik ini selanjutnya dipotong-potong 1-2 cm.  Semprotkan pasukan mikroba ke dalam bahan organik secara merata, kemudian masukkan ke dalam wadah, dan tutup secara rapat  Lakukan penyemprotan pasukan mikroba setiap memasukkan sampah baru, kemudian wadah tutup rapat kembali  Diamkan selama 7-14 hari  lindi sampah/gulma dapat Air diambil dengan membuka kran dan dimasukkan ke dalam botol atau jerigen dengan kembali menambahkan pasukan mikroba, cairan ini digunakan sebagai pupuk organik cair  Setelah air lindi habis, maka ampas yang berbentuk padat dikeluarkan dari wadah untuk dijadikan kompos padat. Kemudian ampas tersebut ditambahkan bahan additive berupa sekam bakar, sekam, serbuk gergaji dll, dan selanjutnya dijemur sampai kering dan siap untuk digunakan sebagai pupuk organik padat.

CARA mEmBUAt PUPUK oRgAnIK CAIR DARI KotoRAn sAPI  Masukkan 1 liter pasukan mikroba, misalnya EM-4 atau MOL buatan lainnya, 4 kg gula/ molases, 50 kg kotoran sapi, 10 kg dedak padi dan 170 liter air ke dalam tong ukuran 250 liter dan aduk rata hingga larut.  Tutup tong rapat hingga udara tidak bisa masuk, buat pipa pengeluaran gas yg ujungnya dimasukkan ke dalam botol yg berisi air. Biarkan tong selama 15 hari  Buka tutup tong, saring pupuk cair hingga didapat larutan yang bersih bebas padatan  Setelah disaring, pupuk cair dikemas dalam botol untuk dipasarkan atau digunakan langsung penyemprotan tanaman dengan sprayer.  Bagian yg padat dikeringkan (kering angin) sebagai pupuk organik padat

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 25

fOk Us

ORganik ataU kimia?

P

roduksi melimpah merupakan harapan semua petani. Melimpahnya produksi tersebut antara lain disebabkan oleh tercukupinya kebutuhan makanan untuk tanaman dalam bentuk pupuk yang mengandung unsur hara, misalnya nitrogen, fosfor, kalium, atau unsur lainnya. Pada jaman dahulu, kebutuhan unsur hara dilakukan oleh petani dengan mengandalkan ketersediaan dari alam dalam bentuk pupuk organik, namun penggunaan pupuk organik mulai berkurang sejak diperkenalkannya pemanfaatan pupuk kimia. Kemudian yang terjadi adalah para petani menjadikan pupuk kimia sebagai primadona untuk meningkatkan hasil

produksi mereka, sementara penggunaan pupuk organik mulai ditinggalkan. Pupuk kimia memang memiliki beberapa keunggulan, antara lain : (a) memberi efek yang cepat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, (b) praktis penggunaannya, (c) jumlah yang diberikan sedikit, (d) banyak tersedia di toko-toko pertanian, (e) dan siap digunakan. Karena beberapa keunggulan pupuk kimia apalagi dengan hasil panen yang melimpah tersebut, petani kita menjadi terlena untuk selalu menggunakan pupuk kimia bagi tanaman budidayanya. Memang pada beberapa tahun pertama produksi panen cukup melimpah, namun ternyata dalam beberapa tahun perjalannya, produksi secara perlahan semakin menurun. Di lain pihak pemberian pupuk kimia terus dilakukan dengan harapan panen akan melimpah seperti dahulu. Lama-lama impian mereka mulai sirna karena usaha pemupukan yang dilakukan tak kunjung memberikan hasil yang memuaskan seperti panenpanennya terdahulu. Setelah diteliti baru disadari, bahwa penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang memberi

dampak tidak baik, antara lain: (a) menekan jumlah pasukan mikroba yang sebenarnya bermanfaat bagi tanah, (b) meningkatkan jumlah pasukan mikroba yang merugikan, (c) tanah menjadi keras, (d) banyak sisa pestisida yang tertinggal di tanah, (e) tanah semakin miskin unsur hara, (f) tanah menjadi masam sehingga unsur hara tidak tersedia dan semakin sulit diserap tanaman. Kita mestinya bijak dalam menggunakan pupuk, adanya keseimbangan penggunaan antara pupuk organik dan kimia mestinya diterapkan dari awal sejak dikenalkannya pupuk kimia sehingga selain peningkatan produksi tanaman, kesehatan tanah sebagai tempat tumbuh tanaman juga tetap dapat terjaga. Semakin tidak sehatnya tanah akhirnya mulai menyadarkan orang untuk kembali ke pupuk organik. Pupuk organik memang memiliki beberapa keunggulan, antara lain: (a) Harganya murah dan mudah dibuat sendiri, (b) Mengandung unsur mikro yang lebih lengkap dibanding pupuk kimia, (c) Memberikan kehidupan pasukan mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman, (d) Menjembatani hara yang sulit diserap menjadi mudah diserap tanaman, (e) Mengatur pelepasan unsur hara

Kieserit-Powder

26 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

Pupuk Organik

Pupuk Kimia

sehingga tidak terjadi peledakan jumlah, (f) menjaga kelembaban tanah, (g) Memperbaiki struktur tanah sehingga terjadi pertukaran oksigen dan air yang baik ke dalam tanah, (h) Mencegah erosi lapisan tanah atas, (i) Menjaga kehilangan unsur nitrogen dan fosfor dalam tanah sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh tanaman, ( j) Bahan pupuk organik melimpah dan mudah didapatkan, (k) kualitas tanaman menjadi lebih bagus, (l) Tanaman dengan pupuk organik lebih menyehatkan manusia. Dalam berat yang sama, kandungan unsur hara pupuk organik memang lebih rendah daripada pupuk kimia, contoh perhitungannya adalah sebagai berikut : Misalnya suatu pupuk kompos berdasarkan analisis laboratorium mengandung 2,79% nitrogen, sementara pupuk urea mengandung nitrogen 45%, maka 100 kg kompos setara dengan pupuk urea sebanyak = 2,79 % x 100 kg = 6,2 kg 45 %

Perhitungan di atas menunjukkan bahwa 6,2 kg urea sebanding dengan 100 kg pupuk kompos. Dengan demikian dikatakan bahwa dalam berat yang sama kompos memiliki kandungan hara yang lebih rendah dari pupuk kimia. Meskipun pupuk organik memiliki kandungan hara yang lebih rendah, namun orang lupa bahwa di dalam pupuk organik juga mengandung senyawa organik yang perannya lebih penting dari sekedar unsur hara, misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara seiring meningkatnya KTK. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan pertukaran oksigen tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih

jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Singkat cerita, kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah. Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapangan terhadap tanaman pangan juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena dapat meningkatkan hasil produksi pertanian dan dapat menghemat biaya pemupukan lahan. Ujang s.
Irawan

Sumber : http://isroi.wordpress. com/2008/02/26/pupuk-organik-pupukhayati-dan-pupuk-kimia/

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 27

foto-foto : .net

Atau

tOkOh kita

H. Winarno

(Peternak Cacing di Desa Cibodas kecamatan lembang)

Dulu Kontraktor Sekarang Sukses Ternak Cacing
Murah senyum itulah salah satu tampilan Pak Winarno. Dia termasuk seorang pengusaha sekaligus petani yang sukses di desanya. Dia termasuk orang senior dibidang ternak cacing yang dulunya baru mengenal cacing. Termasuk warga Desa Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Meski begitu hampir rata-rata peternak cacing di Kabupaten Bandung bahkan orang Malaysia pun datang membeli cacing kepadanya.
Apa yang ada di dalam gudang? Ini tempat produksi pupuk organik dengan melibatkan peran cacing. Namanya pupuk kascing tapi sebenarnya ini adalah kotoran sapi yang dimakan cacing. Dari proses ini selain kita menghasilkan pupuk, juga menghasilkan cacing itu sendiri. Apa yang melatarbelakangi usaha? Awalnya saya beternak sapi perah. Karena kotoran sapi berlimpah saya memikirkan apa yang bisa dimanfaatkan dari kotoran tersebut. Kebetulan ada iklan tentang cacing di televisi, akhirnya menjadikan inspirasi saya untuk beternak cacing. Melalui berbagai liku perjalanan usaha, akhirnya saya bisa menjual cacing ini ke Jepang, Korea, dan Malaysia. Kenapa harus cacing menjadi usaha utama? Produk turunannya banyak, dalam sekali produksi selain dapat panen pupuk juga panen cacing itu sendiri. Cacingnya bermanfaat merombak kotoran sapi menjadi kompos, selain itu bermanfaat sebagai obat tipes, obat diare, suplemen, bahan masker, bahkan dengan kandungan protein yang tinggi bisa digunakan sebagai pakan ikan langsung atau pakan yang dikeringkan. Apa saja media makan cacing? Tidak hanya kotoran sapi, sampah sayuran, jerami, dan tandan kosong kelapa sawit juga bisa dijadikan bahan media cacing, tapi harus sudah difermentasikan dulu agar bisa dimakan cacing . Apa jenis cacing ini sama seperti cacing di kampung? Tidak, cacing ini awalnya dari Eropa, namanya Lumbricus rubellus. Cacing ini lebih rakus makannya dan mudah berkembang biak, ciri fisik lembut sekali, bergerak pelan, badannya setengah lingkaran, ekornya kuning , kalau sudah dewasa ada gelangnya/ kalung. Bagaimana membibitkan cacing ini? Cacing dewasa dimasukan kotak untuk ditelurkan dulu selam 3 bulan, setelah telur menetas dan dibiarkan selama 3 bulan, baru menjadi cacing dewasa. Di dalam telur tersebut bisa menghasilkan 7-8 anakan kalau kondisnya bagus. Kotak bisa dibuat dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tebal 18 cm. Setiap hari cacing tersebut akan memakan kotoran sapi seberat tubuhnya, artinya jika terdapat 5 kg cacing, maka setiap hari akan dihasilkan 5 kg pupuk kascing sehingga jika dimasukkan 70 kg kotoran untuk 5 kg cacing, maka akan dihasilkan pupuk kascing selama 14 hari.

28 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

Bagaimana dampak lingkungan dari usaha cacing ini? Cacing ini tidak berdampak buruk terhadap lingkungan, bahkan sebaliknya. Dengan adanya cacing, maka kotoran sapi menjadi tidak bau bahkan diubah menjadi pupuk organik yang bermanfaat. Dengan dimanfaatkannya kotoran hasil peternakan sapi menjadi pupuk organik maka tidak lagi dibuang sembarangan ke sungai sehingga mengurangi pencemaran.

Apa kelebihan pupuk kascing dibanding pupuk lainnya? Tidak berbau, mudah dikeringkan, tahan lama selama tidak dijemur, kandungan hara terutama nitrogen tinggi. Ini baik untuk tanaman sayuran. Dengan kascing ini juga dapat menekan biaya kebutuhan pupuk. Bagaimana prospek usaha kascing? Kalau prospek kedepan ini luar biasa, susbsidi pupuk anorganik sudah akan dicabut. Konsekuensinya harga

pupuk semakin mahal, sehingga prospek pupuk organik akan bagus dan permintaan akan meningkat. Untuk permintaan luar negeri juga meningkat, bahkan kita juga tidak bisa ekspor lagi ke Jepang karena tidak memenuhi kuota mereka, hingga mereka mengalihkan ke Cina, Kamboja, dan negara lainnya. Dengan demikian sesungguhnya usaha cacing ini memiliki prospek menjanjikan.
hendra gunawan

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 29

aPLikasi

TAKAKURA, Keranjang ‘AJAIB’ di Rumah Kita
ampah lebur, tanaman subur Bermula dari peristiwa yang terjadi pada tahun 2007, tumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwigajah, meledak. Juga peristiwa yang merenggut nyawa seorang korban akibat tertimbun sampah. Setelah itu saya tidak mau lagi membuang sampah. Demikian Siti, seorang Ibu rumah tangga anggota kader PKK menuturkan. Sampah memang menjadi persoalan serius, lebih-lebih di lingkungan pemukiman yang padat penduduknya, sebagaimana tempat tinggal Siti di Kecamatan Taman Sari Kota Bandung. Sampah limbah rumah tangga itu tidak hanya mengotori lingkungan, menimbulkan bau busuk, dan menjadi sarang penyakit, tetapi juga menimbulkan masalah yang lebih besar, sebagaimana dikeluhkan PT. Indonesia Power yang mengelola PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dari Waduk Saguling untuk menerangi Pulau Jawa dan Bali, pasalnya banyak sampah mengotori waduk itu. Akhirnya PT. Indonesia Power dengan melibatkan ITB dan YPBB Bandung (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) melakukan sosialisasi dan pembinaan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Masyarakat dikumpulkan di tiaptiap kelurahan, lalu diberi penjelasan tentang berbagai hal terkait sampah. Dari situ lah saya dan beberapa warga termotivasi tidak lagi membuang sampah sembarangan, jelas Siti. Tetapi, saya gak ngerti harus bagaimana, mau diapakan sampah-sampah ini. Akhirnya, saya memperoleh informasi tentang

S

Takakura, pada waktu pertemuaan warga dijelaskan bahwa keranjang pengkomposan metode Takakura ini pertama kali dikembangkan dan diperkenalkan oleh satu organisasi di kota Surabaya yang bernama PUSDAKOTA (Pusat Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan) Surabaya. Nama Takakura sendiri merupakan nama seorang Profesor dari Jepang yang membantu Riset dan pengembangan model pengkomposan rumah tangga ini. Untuk menghargai jasa beliau, maka namanya diabadikan menjadi nama model keranjang pengkomposan ini yang telah dipatenkan oleh PUSDAKOTA. Pertama-tama saya pelajari dulu, lalu mencoba praktek membuat Takakura. Sekitar satu tahun saya belajar membuat Takakura. Keranjang Takakura dapat digunakan untuk mengomposkan semua bahan organik (semua bahan yang berasal

Keranjang ajaib Takakura Ibu Siti dan Ida dari makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan). Jumlah rataratanya sekitar 50 % dari sampah rumah tangga. Keranjang Takakura dirancang terutama untuk mengolah sampah sisa-sisa makanan, termasuk berbagai sisa bahan saat memasak. Waktu itu, semua orang rumah protes, karena aroma bau busuk sampah, juga dari Takakura itu sering muncul belatung atau binatang merayap, tapi saya tidak berhenti membuat Takakura, akhirnya semua masalah yang timbul dapat teratasi. Sekarang, dilingkungannya terdapat kurang

30 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

lebih 30 orang warga yang membuat Takakura di rumahnya. Masyarakat di sini sudah banyak perubahan. Di RW kami saja sudah 50 orang yang praktek membuat Takakura, belum RW lainnya. Kami keliling kecamatan untuk kampanye dan melatih membuat Takakura. Memang merubah perilaku itu susah, kenang Siti.

perusahaan itu katanya menyediakan bantuan (CSR: Corporate Social Responsibility/ Tanggungjawab Sosial Perusahaan). Apabila masyarakat mau membuat atau membeli modalnya sekitar Rp125.000,- per Takakura, boleh dibilang agak mahal. Jadi kami berusaha kerjasama dengan Biofarma. Akhirnya, kami menerima bantuan dari Biofarma berupa keranjang Takakura untuk dibagikan ke masyarakat. Nah, sekarang setiap ada pameran yang diselenggarakan pemerintah atau pihak lain, Takakura hasil karya ibu-ibu disini selalu diminta tampil, ungkap Siti dengan nada bangga. PRoDUKsI tAKAKURA : mEmBUAt KomPos DI RUmAh Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat Takakura adalah : keranjang dengan tinggi 50 cm dan lebar sekitar 40 cm, kardus bekas, kain kasa atau bantalan sekam, sekop, dan starter atau bakteri pengurai. Sementara untuk membuat bahan starternya diperlukan 1 ember dedak, 3 ember sekam, 1/3 ember (tanah,

pupuk kandang dan humus) , 1 ember air sumur atau air sungai asal jangan air ledeng, dan 5 sendok makan gula pasir. Kemudian keranjang yang telah disiapkan sebagai Takakura di bagian dalamnya dilapisi kardus. Bagian paling bawah simpan bantalan sekam, masukan starter dan tutup kembali bantalan sekam. Kemudian tutup keranjang tersebut dan diamkan selama satu minggu, maka starter sudah siap digunakan. Untuk pemakaiannya, masukan sampah dapur ke dalam Takakura yang sebelumnya sudah dicacah terlebih dahulu, agar partikel sampahnya kecil, kemudian adukaduk dengan starter yang telah ada di dalam Takakura. Hal itu dilakukan setiap kita akan memasukan sampah basah dapur seperti nasi basi, susu basi, sisa dedaunan, sayur mayur, dan lain-lain. Untuk sisa makanan berupa tulang ikan sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam Takakura, karena proses pembusukannya lama. Demikian cara membuat Takakura, sebagai alat yang mudah untuk membuat kompos di rumah kita sehingga bebas sampah dan tanaman pun menjadi subur. hendra gunawan

Kemudian, kami menerima bantuan keranjang sebanyak 120 buah untuk dibagikan ke tiga RW di Kelurahan Taman Sari dari pemerintah melalui Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP, sekarang PNPM Mandiri Perkotaan). Juga pernah ada bantuan sekitar 100 keranjang dari pemerintah Kabupaten Bandung untuk dibagikan pada masyarakat di Kelurahan Dago. Kami berkunjung ke dinas-dinas untuk meminta dukungan, juga ke Biofarma, karena di

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 31

aPLikasi

Zulkifli Syamsuddin

“Bertani Organik Itu Murah dan Menyenangkan“
Pak Zulkifli Syamsuddin (30 tahun) adalah Ketua Kelompok Tani Mabbulo Sibatang, Pangkajene, Pangkep sekaligus menjabat Ketua Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Pangkep. Petani muda ini merupakan sosok yang tidak kenal lelah membangun usaha pertanian organik sekaligus memberdayakan petani di sekitarnya. Melalui kerja keras dan sentuhan tangan dinginnya, kini dia berhasil hidup berkecukupan dari usaha tani organiknya. Berikut adalah liputan Ziaul Haq Nawawi, Koordinator OWT Maros.
mengapa pertanian organik ?

yang terdapat di lingkungan kami buahnya dapat dibuat pupuk cair dan pestisida nabati sehingga dengan ilmu yang kami peroleh dari pelatihan kami terapkan untuk membuat dan memproduksi pupuk organik.

Upaya menerapkan pertanian organik

Setelah kami belajar di NOSC (Nusantara Organic SRI Center) Nagrak Sukabumi, kami kembali untuk menerapkan ilmu yang kami dapatkan dengan mengumpulkan bahan-bahan pupuk yang tersedia di daerah kami seperti batang pisang, bonggol pisang, hijauan atau daun-daunan , sekam, kotoran hewan, serbuk gergaji, buah maja, daun gamal, petrowali, buah mahoni, rebung dan bahan lainnya yang mengandung unsur yang ada dalam kandungan pupuk seperti N (Nitrogen), P (Posfat) dan K (Kalium) untuk dibuat menjadi pupuk.

Mahalnya biaya pupuk, kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat termasuk menyediakan dan mengkonsumsi makanan sehat serta melirik potensi yang tersedia di lingkungan kami membuat kami beralih ke pertanian organik. Bertani organik sangat murah, mudah sederhana, dan ramah lingkungan. Bertani dengan metode ini sama dengan menyelamatkan lingkungan sekitar membersihkan lingkungan dari sampah-sampah alamiah karena dari sampah alamiah ini dapat diperoses menjadi bahan pupuk organik begitu pula dengan tanaman-tanaman

Kami juga menyediakan bahan pelarut seperti air gula merah, air beras dan pelarut lainnya yang tersedia untuk membuat pupuk cair dan mikroorganisme lokal, proses pembuatannya masih menggunakan cara sederhana yang dilakukan dengan proses fermentasi dan pengomposan alamiah.

Bagaimana penerapannya dalam sistem sRI ?

Pertanian organik ini kami lakukan dengan cara sederhana untuk penanaman padi organik dimulai dengan memilih dan menetapkan

32 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

karena padi bukan tanaman berair tapi memerlukan cukup air. Setelah berumur satu minggu dilakukan penyiangan. Penyiangan dapat dilakukan 2-4 kali sampai panen. Pemupukan dengan pupuk cair (MOL) dilakukan dengan cara penyemprotan 1-4 kali sampai panen tergantung kebutuhan padi. Begitu pula kalau terjadi gangguan hama maka dapat juga disemprot pestisida nabati buatan sendiri. Pestisida tersebut bersifat mengusir hama bukan membunuh hama karena tidak semua hama harus dimusnahkan, contohnya hama penggerek batang ternyata dalam telurnya terdapat dua jenis yang salah satunya akan menjadi pemangsa telur-telur hama penggerek batang itu sendiri. Hasil produksi padi yang kami dapatkan dulu dengan cara konvensional dan menggunakan bahan kimia hanya mencapai sekitar 3-4 ton/Ha dengan biaya sangat mahal. Setelah beralih ke pertanian organik, produksi meningkat menjadi 5-8 ton dengan hasil beras yang sehat dan biaya sangat murah serta tidak merusak bahkan dapat memperbaiki struktur tanah yg rusak akibat pemakaian pestisida dan bahan kimia lainnya.

Berangkat dari praktek tersebut, maka lokasi kelompok tani kami pernah dijadikan sebagai lokasi kunjungan penyuluh se kawasan timur Indonesia dalam pelatihan yang diadakan oleh Balai Besar Penyuluhan Pertanian Batang Kaluku Gkab Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk melestarikan metode pertanian ini kami telah memproduksi pupuk organik yang telah dimanfaatkan petani dan warga sekitar.

Apa harapan Bapak?

lahan, kemudian kami membuat percontohan seluas satu hektar dengan menggunakan pola system of rice intensification (SRI) jarak tanam 35x35 cm model tegel, semai yang kami tanam dari semai muda, umur 7-10 hari, dengan pembenihan hanya menggunakan talang kue. Sambil menunggu semai siap tanam, kami garap sawah dahulu dengan menggunakan hand traktor selanjutnya memupuk dasar dengan menggunakan pupuk organik/ kompos. Setelah dipupuk dasar dibiarkan 3-5 hari agar pasukan mikroba dan cacing bekerja. Selanjutnya kami membuat aliran air atau bedengan di pinggir dan di tengah sawah agar air bisa bertahan di saluran bedengan yg telah dibuat, setelah itu membuat garis tanam dengan menggunakan alat sederhana menghasilkan kotakkotak kemudian mengambil semai dengan cara diurai agar akarnya tidak putus lalu ditanam di garis tanda silang pada cetakan di lahan sawah agar tanaman tertata rapi. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang dengan kedalaman sekitar kurang lebih 1 cm, kemudian benih dimasukkan dan akar dikunci menyamping supaya tanaman tidak rebah dan diperoleh anakan yang banyak bisa mencapai 30-60 anakan. Teknik penanaman ini perlu menjaga air sawah agar cukup macak-macak saja dan airnya cukup tesedia di saluran yang terdapat di pinggir

Insya Allah kedepan kami mengharapakan semakin banyak petani yang mau melakukan pertanian organik ini, kami terbuka menerima para petani dan warga di sekitar kami yang mau belajar kepada kami atau saling bekerja sama dan memberikan masukan untuk mengembangkan pertanian ini. Kami juga berharap petani dapat meyiapakan lahan khusus untuk pertanian organik, mengolahnya

Dampak bagi petani

Pola bertani yang sangat sederhana ini sangat menarik perhatian petani sekitar areal persawahan dan kelompok tani di wilayah kami. Mereka sangat antusias dengan metode yang kami buat karena mereka melihat langsung hasil yang kami dapatkan. Selain kelompok tani, kami juga memberdayakan kelompok wanita tani di tempat lokasi kami membuat percontohan agar kelompok wanita tersebut dapat menjalankan diversifikasi pangan dengan menggunakan pupuk organik yang telah kami produksi sendiri.

sendiri, memproduksi pupuk sendiri memasarkan hasil sendiri sehingga petani betul-betul mandiri tanpa ketergantungan lagi dalam bertani, petani akan memiliki kemapanan ekonomi, tercipta pasar lokal, hasil produksi meningkat, sehat dan murah serta ramah lingkungan, kami juga bercita-cita akan mempunyai pabrik pupuk organik yg berskala besar, punya hasil pertanian organik dan restoran sehat organik, Semoga.....!!!
ziaul haq nawawi

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 33

infO PRODUk

Produk Penyadaran OWT

O

WT melakukan kegiatan penyadaran lingkungan kepada masyarakat maupun para pihak/stakeholder dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam melalui berbagai media penyadaran. Media penyadaran yang digunakan menerapkan beberapa prinsip, antara lain : (a) Bersifat sederhana dan mudah dipahami, (b) Dapat menginspirasi, menggerakkan, dan memberi pemahaman kepada masyarakat, (c) Distribusi/ penyebarannya tepat sasaran, artinya tidak semua orang menerima produk penyadaran yang sama. Beberapa produk penyadaran OWT yang telah dikembangkan antara lain :
hendra gunawan

FILm

Mendokumentasikan permasalahan lingkungan lokal, kisah-kisah sukses yang inspiratif, pemahaman lingkungan, dan panduan teknis (film tutorial). Beberapa produk film OWT antara lain : Karet busa, MHP for People, Rehabilitasi DAS Mamasa, Persemaian dan Pembibitan, Teknik Pembibitan Vegetatif, Praktek Cerdas Green PNPM, World Bank Mission To SE Sulawesi, Budidaya Jamur Tiram, Pembuatan Pupuk Kascing, Air Sumber Kehidupan, Satu DAS Satu Pengelolaan, Agam Menanam, dll.

BooKLEt

stIKER

Buku kecil panduan lapangan bagi fasilitator berisikan gambar ilustrasi sehingga mudah dipahami oleh para petani/masyarakat

Memberikan arahan positif terkait dampak kerusakan alam dan lingkungan. Selain itu gambar yang dimunculkan bernuansa alam, yang disertai himbauan atau ajakan pelestarian lingkungan.

BRosUR

Brosur berisikan panduan teknis secara ringkas suatu kegiatan, misalnya : pemilihan jenis pohon, teknik pembibitan, teknik penanaman, pembuatan briket arang, pembuatan biogas, pembuatan biogas, dll.

34 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

KAos LAPAngAn

Pesan yang terkandung dalam kaos selain melambangkan identitas lembaga juga kegiatan terkait issue lingkungan, himbuan kemandirian, dan pemanfaatan energi terbarukan.

PostER

Poster yang didisain dengan baik dan dipasang di tempat yang tepat menjadi alat kampanye lingkungan yang begitu luar biasa. Produk poster seharusnya dapat mengungkap dan membuka kunci hambatan komunikasi antara pelatih, fasilitator dan masyarakat melalui ilustrasi. Poster juga diharapkan dapat menggunggah kesadaran dan memberi pemahaman kepada sasaran terkait kandungan yang ingin disampaikan dalam poster. 1. Poster Biogas “Manfaatkan Limbah Organik menjadi Biogas: Bebas limbah, Energi dan Panen melimpah”, demikian pesan kalimat yang ingin disampaikan dalam poster Biogas. Biogas sebagai pemicu (trigger) untuk terbangunnya pemanfaatan sumberdaya alam ramah lingkungan, efisien, serta meningkatkan pendapatan petani. Beberapa keterkaitan pemanfaatan kotoran ternak untuk penggunaan bermanfaat antara lain : (a) Biogas, untuk lampu, memasak, genset, dsb., ini berarti mengurangi biaya kebutuhan energi, (b) Limbahnya digunakan sebagai pupuk organik, ini berarti meningkatkan produksi dan pendapatan petani.

2. Poster Jamur Pangan Poster ini ingin menyampaikan pesan bahwa dari sebuah limbah yang tidak berguna, seperti serbuk gergaji, dengan bantuan kerja pasukan mikroba jamur pangan ( jamur tiram) akan dihasilkan produk bermanfaat yang dapat memberikan penghasilan bagi masyarakat. 3. Poster Daerah Aliran sungai (DAs) Memberikan gambaran kepada masyarakat tentang Daerah Aliran Sungai sebagai sebuah cekungan yang menangkap dan mengalirkan air mulai dari hulu hingga hilir. Kondisi vegetasi di daerah hulu berperan dalam mengatur dan menghasilkan air.

mERChAnDIzE oWt

Menyampaikan pesan lingkungan melalui souvenirsouvenir lucu dan menarik

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 35

kolom Refleksi

Carik Desaku
Edi Purwanto*

‘Saben bengi nyawang konang (setiap malam kita bisa melihat kunang-kunang); Yen memajang mung karo janur kuning (berbagai hiasan cukup menggunakan janur kuning); Kembang wae weton gunung (berbagai bunga yang indah banyak tersedia di gunung); Pacitan sarwi jenang (Makanan kecil di kala itu terbuat dari beras ketan/jenang/dodol); Panas udan aling-aling Caping Gunung (Saat hujan dan panas bertopikan ‘Caping’ (topi besar) Gunung) Nadyan wadon sarta lanang (baik perempuan dan laki-laki); Inumane banyu bening (semua minumanya air bening dari Gunung).

menerima tamu, kemudian rumah utama dan dapur. Masing-masing berukuran besar dan hampir bersesuaian ukuran luasnya, sehingga seakan rumah tiga yang disatukan. Seluruh perabotan rumah, seperti lemari, kursi, meja besar, meja makan, terbuat dari kayu jati kelas satu. Kakek memiliki lima lumbung besar sebagai tempat penyimpan padi. Saat itu juga masih ada bekas kandang kuda (gedokan jaran). Buyutku dulu memiliki banyak kuda. Ada lima penciri seorang pria yang dianggap sukses di masa itu, yaitu bila telah memiliki wismo (rumah besar), kemudian garwo (istri yang cantik), putro (keturunan), turanggo (kuda, sebagaimana mobil mewah di masa kini) dan kukilo (burung, sebagaimana home teater masa kini). Sayangnya kuda dan burung tidak kutemukan lagi di masa kakekku. Kendaraan kakeku saat itu sepedah onthel bermerek Gaselle keluaran Belanda tahun 1948 yang ada tromol presnelengnya, saat dipakai terdengar suara tik . tik.. tik .. tik. Keluargaku tidak lama tinggal di desa kelahiranku. Setelah pecah tragedi nasional tahun 1965, ayahku yang saat itu menjadi guru sekolah rakyat, memutuskan untuk pindah ke Kediri. Semenjak itu aku hanya sekali tempo berkunjung menengok desaku. Di penghujung tahun 60-an saat aku telah duduk di sekolah dasar. Kakek memiliki hajat besar, menikahkan adik terkecil ayahku. Karena bertepatan dengan libur sekolah, aku bisa mengikuti acara tersebut sampai usai. Masih teringat, hiruk-pikuk masyarakat desa saat hajatan berlangsung. Sekitar dua minggu sebelum hari H. puluhan perempuan tua, muda bergotong royong menumbuk padi. Banyak sobat kakekku dari luar desa yang mengirim jenang (dodol), kue yang terbuat dari beras ketan dan gula. Ada pula yang mengirimi beras ketan, gula, ayam dan kambing. Laki-laki dan perempuan bekerja berhari-hari, siang-malam dengan tulus. Walau kurang tidur tetapi nampak terus ceria dan penuh canda. Mereka yang datang ke hajatan banyak yang membawa ember besar berisi beras dan aneka sembako. Pulangnya, ember-ember besar tersebut kemudian penuh dengan nasi putih dan aneka lauk dan kue yang dibungkus dengan daun jati. Puncak pesta dilaksanakan selama dua malam berturut-turut. Malam pertama ada pertunjukan Wayang Kulit, sedangkan malam kedua dimeriahkan dengan Ketoprak, teater rakyat yang sangat

T

embang pangkur yang merupakan bowo (intro) Langgam Caping Gunung karya Pak Gesang (pencipta Lagu Bengawan Solo), ini mendokumentasikan dengan sangat baik suasana lingkungan perdesaan di lereng pegunungan di Jawa pada tahun 40-an hingga awal tahun 60-an. Di awal tahun 60-an, saat itu aku masih balita, tinggal bersama kakek yang menjabat sebagai ‘Carik’ ( juru tulis desa yang kini dikenal dengan Sektretaris Desa) di lereng pegunungan kapur berhutan jati di Trenggalek, Jawa Timur. Saat itu Carik Desa merupakan jabatan pamong (perangkat) desa yang masih bisa diwariskan. Pamong desa saat itu umumnya masih keturunan langsung dari kakek moyang yang mbabat alas (membuka hutan) desa. Ayah kakek (buyutku) dulunya juga seorang Carik Desa di jaman Belanda dan Jepang, kemudian jabatan tersebut diwariskan ke kakekku. Masih teringat betapa kajen (terhormat) dan kemegahan rumah kakek sebagai Carik Desa saat itu. Sebagai Carik Desa ia mengolah bengkok 15 bau (sekitar 12 ha). Ditambah dengan lahan milik kakek sendiri, total kakek mengolah tidak kurang dari 15 ha lahan sawah. Tak pelak kakek merupakan salah satu elit desa. Rumahnya joglo terbuat dari kayu jati. Salah satu penciri orang berkecukupan di masa itu adalah rumahnya ada tiga. Bagian depan berupa pendapo (balai-balai) tempat

36 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

populer di kala itu. Seluruh penduduk desa nampak bersuka ria dan merasakan berpesta. Setiap lentera yang ada di jalan desa dan rumah-rumah, saat puncak keramaian dinyalakan semua. Desa yang saat itu belum ada listrik nampak terang benderang. Pada pertengahan tahun 70-an, jabatan Carik kakek diwariskan ke Pakde, kakak tertua ayahku. Kemudian aku sendiri setelah lulus Sekolah Dasar di Kediri, kemudian ikut pamanku di Bogor, sehingga aku semakin jarang menengok desaku. Alkisah pada pertengahan tahun 80-an, saat aku telah jadi mahasiwa IPB, sempat berkunjung ke Pakde yang saat itu telah menjadi Carik Desa selama delapan tahun. Aku begitu tertegun melihat suasana rumah kakek yang telah banyak berubah. Tidak lagi nampak aura kemegahan di rumah kakek yang kini lahannya ditempati oleh keluarga Pakde. Pohon Sawo Kecik yang besar dan rindang depan pendopo tempat aku bermain pasaran telah ditebang. Di tempat itu kini berdiri rumah Pakde yang terbuat dari bata dan kayu kelapa. Sedangkan rumah kayu besar berjumlah tiga itu kini sudah tidak ada lagi. Rumah tersebut telah diwaris, dibeli oleh orang dan telah dipindah ke Jakarta. Bengkok Pakde sebagai Carik Desa telah menyusut, ia kini hanya mengolah sawah tiga ha. Dengan bengkok sebesar itu, ditambah beban membiayai anak kuliah di berbagai kota, hidup Pakde sebagai Carik Desa nampak pas-pasan. Barang yang terhitung mahal hanya sebuah Honda bebek dan beberapa perabot tua dari kayu jati peninggalan kakek. Beberapa tahun lalu, untuk yang kesekian kalinya aku bersama keluarga berkunjung ke desaku. Suasana desaku sudah semakin jauh berubah lagi. Jalan-jalan

desa yang dulu berupa tanah dengan pengerasan batu, kini sudah beraspal mulus. Penduduk desa yang dulu banyak bersepeda kini menggunakan motor dan mobil. Rumah-rumah joglo di desa sudah hampir tidak ada lagi. Banyak berganti menjadi rumah beton minimalis. Mereka yang tergolong kaya di desaku kini tidak mengandalkan dari sumber pertanian lagi, melainkan menjadi tenaga kerja migrant di Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan. Mereka itu kini yang rumahnya bagus-bagus, jauh lebih bagus dari rumahku di Bogor. Jabatan Carik Desa atau Sekretaris Desa, telah berpindah ke tangan generasi berikutnya. Kebetulan masih anak Pakde-ku sendiri. Namun tidak berasal dari proses pewarisan jabatan, melainkan melalui ujian. Sejak tahun 2007 kemarin telah menjadi PNS Golongan II A sehingga sudah tidak mengolah bengkok lagi. Namun sepupuku nampak lebih senang menjadi PNS, karena bertani padi kini semakin tidak menarik. Biaya sarana produksi dan pengolahan lahan semakin mahal. Sedangkan menjadi PNS berarti ada harapan untuk mendapat pensiun. Terlepas dari suka cita sepupuku sebagai Carik PNS. Aku merasakan ada sebuah nilai penting yang hilang di desaku. Yaitu hilangnya figur kepimpinan Desa. Peran Carik Desa sebagai sesepuh yang menjadi suh (pengikat) keguyuban dan semangat membangun desa telah hilang. Figur Carik Desa yang dulu dituakan, dihormati, banyak dikunjungi di waktu malam, menjadi tempat mengadu dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, kini tidak lebih dari pegawai negeri sipil biasa yang menggantungkan gaji pemerintah. Carik Desa tidak dimiliki lagi oleh masyarakat desa. Mereka tidak lagi bekerja 24 jam sebagai pamong desa, melainkan sebagai aparat kantor desa yang bekerja secara terjadwal, masuk jam 8 pagi pulang jam 2 sore.
*) Direktur oWt, Email: purwanto.owt@gmail.com

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 37

aPLikasi

kalangan masyarakat. Perkembangan selanjutnya, setelah teknologi semakin berkembang diketahui bahwa di dalam kotoran ternak memang terdapat zat-zat hara yang penting untuk tanaman. Keperluan tanaman akan pupuk sama halnya dengan keperluan manusia akan makanan. Memang selain pemupukan dari luar, tanah sendiri telah menyediakan hara dan mineral yang cocok untuk tanaman. Namun dalam jangka panjang persediaan hara dalam tanah semakin berkurang. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara penyerapan hara yang cepat dengan pembentukan hara yang lambat, oleh karena itu pemupukan merupakan suatu keharusan dalam sistem pertanian yang intensif. Tanaman memerlukan pupuk (baik pupuk kandang maupun pupuk buatan), walaupun kadar hara pupuk kandang tidak sebesar pupuk buatan tetapi mempunyai kelebihan yaitu dapat memperbaiki sifat tanah, secara garis besar pengaruh pemberian pupuk kandang (alami) terhadap sifat tanah antara lain adalah : (a) Memudahkan penyerapan air hujan, (b) Memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air, (c) Mengurangi erosi, (d) Memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi kecambah biji dan akar, (e) Merupakan sumber hara tanaman. Pupuk kandang membuat tanah lebih subur, gembur, dan lebih mudah diolah, kegunaan ini tidak dapat digantikan oleh pupuk buatan. Kandungan unsur hara dalam kotoran ternak yang penting untuk tanaman antara lain unsur Nitrogen (N), Posfor (P), dan Kalium (K). Ketiga unsur inilah yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman. Ketiga unsur hara ini masing-masing memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Unsur nitrogen (N) terutama berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan terutama batang, cabang, dan daun, unsur posfor (P) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya akar tanaman muda serta

kOtOrAn ternAk
T
elah lama diketahui bahwa kotoran ternak bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Jauh sebelum tehnologi pembuatan pupuk buatan ditemukan, kotoran ternak telah digunakan untuk memupuk tanaman. Hal ini diketahui berdasarkan pengalaman bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar kandang ternak dapat tumbuh lebih subur. Secara tidak sadar manusia menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk, bedasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, manusia semakin sadar bahwa di dalam kotoran ternak tersebut terdapat zat-zat yang dapat dimanfaatkan tanaman dan menyuburkan tanah. Dengan demikian kotoran ternak untuk pupuk pun semakin membudaya di

memAnfAAtkAn

38 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

membantu asimilasi dan pernapasan, sekaligus mempercepat pembungaan, kemasakan biji dan buah, sedangkan unsur kalium(K) kegunaan utamanya untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Pemberian unsur ini akan memperkuat tanaman sehingga daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. Selain pemberian pupuk kandang, tanaman juga perlu diberi pupuk buatan, hal ini disebabkan kandungan unsur hara dalam pupuk kandang belum mencukupi, kecuali pada lahan yang benar-benar subur. Penambahan unsur hara dalam tanah meliputi penambahan unsur-unsur Nitrogen (N), Posfor (P), dan K alium (K). Jenis pupuk ini dapat berupa jenis pupuk majemuk seperti NPK, atau kombinasi dari pupuk tunggal (campuran pupuk Urea, TSP, dan KCL). Dosis pemberian pupuk kandang dan pupuk buatan ditentukan oleh lokasi yang berbeda, meliputi jenis tanah dan kandungan unsur hara pada lokasi tersebut.

Beberapa jenis pupuk kandang yang dapat diberikan dan mempunyai unsur hara tinggi antara lain: JeNiS terNAK Sapi Kerbau Kambing Domba Ayam KAdAr hArA dAN Air (%) Nitrogen (N) 0,40 0,60 0,60 0,75 1,00 Posfor (P) 0,20 0,30 0,30 0,50 0,80 Kalium (K) 0,10 0,34 0,17 0,45 0,40 Air 85 85 60 60 55

mEngUBAh KotoRAn tERnAK mEnJADI PUPUK oRgAnIK
Meskipun kotoran ternak memiliki segudang manfaat bagi kesuburan tanah dan tanaman, tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati, ketika kotoran baru keluar dari perut ternak maka namanya masih sebagai “kotoran ternak” bukan pupuk kandang atau pupuk organik. Jika kotoran ternak tersebut langsung diberikan ke tanaman, maka yang terjadi bukannya menyuburkan tanaman tetapi sebaliknya dapat menyebabkan tanaman layu bahkan mati. Hal ini di sebabkan kotoran ternak masih “mentah” atau menurut istilah petani masih “panas”.

Kejadian matinya tanaman karena pemberian kotoran ternak mentah secara ilmiah dapat dijelaskan sebagai berikut : Setiap kotoran ternak mengandung unsur karbon (C) dan nitrogen (N). Pada kotoran ternak yang masih mentah, kandungan karbonnya lebih tinggi daripada kandungan nitrogennya, atau dengan kata lain perbandingan C

dan N (C/N ratio) bernilai tinggi. Jika kotoran ternak dalam kondisi seperti ini diberikan pada tanaman maka akan mengundang jutaan bakteri untuk menguraikan rantai karbon. Proses inilah yang disebut proses dekomposisi (penguraian). Proses ini akan menaikkan suhu tanah, jika pupuk dengan kondisi seperti ini diberikan pada tanaman akan menyebabkan kelayuan atau bahkan mengalami kematian akibat meningkatnya suhu tanah yang berpengaruh pada akar tanaman. Kerugian lainnya pada proses

dekomposisi, bakteri tanah akan bersaing dengan tanaman untuk mengambil nitrogen. Bahkan jika nitrogen di dalam tanah kurang maka bakteri akan mengambil Nitrogen dari tanaman. Tentunya hal ini akan merugikan tanaman sebab akan mengurangi persediaan nitrogen bagi tanaman. Akibatnya daun tanaman pun akan menguning karena kekurangan nitrogen. Proses dekomposisi akan berhenti setelah karbon (C) dalam kotoran ternak tinggal sedikit atau perbandingan C/N-nya sudah rendah.

Lestari Desaku

Edisi 2, September 2012

| 39

aPLikasi

kandang. Namun jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan penyusutan unsur hara dalam kotoran ternak tersebut. Dengan demikian perlu adanya usaha untuk menanganinya. Untuk mengubah kotoran ternak menjadi pupuk organik ada beberapa cara, namun yang paling praktis adalah dengan pembuatan kotoran ternak menjadi pupuk bokashi dan dilanjutkan sampai pembuatan pupuk cair organik. Pembuatan kotoran ternak menjadi pupuk cair mempunyai beberapa kelebihan: (a) Proses lebih cepat, (b) Kandungan unsur haranya lebih kompleks karena pencampuran bahan baku tergantung kebutuhan, (c) Aplikasinya sangat mudah yaitu bisa disiram ke tanaman atau disemprotkan, (d) Multiguna sebagai pupuk sekaligus racun serangga apabila pembuatannya dicampur dengan bahan organik beracun (pestisida organik), (e) Mudah diserap tanaman, (f) Ramah lingkungan.
mansyur

Pada kondisi ini kotoran ternak telah mengalami kematangan atau menurut istilah petani sudah “dingin”. Kotoran ternak telah mengalami kematangan inilah yang baik dijadikan sebagai pupuk tanaman. Dengan kata lain kotoran ternak seperti ini telah berubah menjadi pupuk kandang (organik). Pupuk kandang yang telah matang memiliki ciri-ciri : (a) Jika diraba pupuk tersebut terasa dingin,

(b) Jika di remas pupuk tersebut mudah rapuh, (c) Pada kebanyakan pupuk kandang wujudnya telah berubah dari wujud aslinya, (d) Bau aslinya (bau kotoran) telah hilang. Cara mengubah kotoran ternak menjadi pupuk kandang cukup mudah. Sebenarnya dengan membiarkan begitu saja di kandang, dalam waktu tertentu, kotoran ternak akan berubah menjadi pupuk

40 | Edisi 2, September 2012

Lestari Desaku

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->