P. 1
Proposal

Proposal

|Views: 339|Likes:
Published by Raditya Yudha

More info:

Published by: Raditya Yudha on Sep 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2014

pdf

text

original

ISOLASI SOSIAL ANAK DENGAN KECACATAN NETRA DI KECAMATAN RAJA BASA BANDAR LAMPUNG A.

Latar Belakang Penyandang cacat netra merupakan salah satu kelompok Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Penyandang cacat netra

mempunyai keterbatasan dalam penglihatan mata atau mengalami kesukaran dalam menggunakan matanya. Jadi penyandang cacat netra mengalami kesulitan atau tidak dapat melihat meskipun menggunakan alat bantu. Penyandang cacat netra dapat diklasifikasikan kedalam tiga jenis. Dilihat dari segi kemampuan daya lihatnya, klasifikasi tersebut antara lain penyandang cacat netra ringan (low vision), yaitu mereka yang memiliki kelainan atau kekurangan daya penglihatan, seperti penderita rabun, juling, myopia ringan. Kelompok penyandang cacat netra ini dikenal dengan sebutan low vision (kurang lihat), yaitu mereka yang memiliki visus 5/200 sampai 20/200. Penyandang cacat netra setengah berat (partially sighted) yaitu mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan yang hanya dengan menggunakan kacamata pembesar masih dapat membaca tulisan berhuruf tebal. Mereka memiliki visus kurang lebih 4/200. Penyandang cacat netra berat (totally bind) yaitu mereka yang sama sekali tidak dapat melihat, yang oleh masyarakat umum disebut buta dengan (visus 0). Dari keseluruhan klasifikasi penyandang cacat netra dapat diurut latar belakang kecacatannya dan sejarah kecacatan melalui faktor penyebab

1

kecacatan mulai dari dalam kandungan, sejak lahir masa anak–anak, remaja sampai pada faktor kecacatan pada usia senja. Penyandang cacat netra mempunyai permasalahan yang khusus. Permasalahan tersebut muncul dari sisi mental psikologis, yaitu mengalami rasa rendah diri, kurang percaya diri dan isolatif. Jadi permasalahan tersebut dapat menimbulkan berbagai keterbatasan yang kompleks bagi penyandang cacat netra. Keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang cacat netra menimbulkan hambatan-hambatan bagi dirinya sendiri. Keterbatasan tersebut meliputi keterbatasan fisik mobilitas di dalam gerak dan berpindah tempat, keterbatasan fungsi sosial di dalam berinteraksi dengan lingkungan, keterbatasan kondisi ekonomi, keterbatasan dalam keterampilan kerja produksi serta keterbatasan berkomunikasi dan berelasi dalam menerima informasi dan keanekaragaman pengalaman baru. Setiap anak baik normal maupun anak dengan kecacatan netra memiliki kesempatan yang sama untuk harapan, cita-cita maupun masa depannya, namun harus diakui bahwa anak dengan kecacatan netra memiliki berbagai gangguan dan kelainan dalam kondisi fisik maupun psikisnya sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perilaku

kehidupannya. Permasalahan bagi anak dengan kecacatan netra biasanya ditunjukan dengan perilakunya ketika mereka melakukan aktivitas bersama anak-anak atau remaja normal pada umumnya. Dari beberapa kajian yang telah dilakukan terhadap isolasi anak, menunjukkan anak sering memnjadi kaku, mudah marah, dan bila 2

dihubungkan dengan perilakunya menunjukkan seakan bukan pemaaf dan tidak mempunyai rasa sensitif terhadap orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kesulitan mendasar dalam hal sosialisasi dan bahkan komunikasi. Ketersendirian akibat rasa rendah diri merupakan tantangan dalam melakukan sosialisasi dan penerimaan diri akan kelainan yang dimilikinya. Pada umumnya para penyandang cacat merasa berbeda dengan orang normal serta memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan aktivitas orang normal. Karena berbagai hal itulah mereka cenderung merasa rendah diri apalagi jika mereka merasa mendapat tekanan psikis dari orang terdekat mereka seperti keluarga hingga masyarakat. Berbagai ketunaan tersebut tetunya dapat menjadi pengganggu dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga menyebabkan adanya respon negatif baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain yang secara otomatis dapat menyebabkan gangguan atau tekanan psikologis bagi anak dengan kecacatan netra yang disebut sebagai isolasi sosial sesuai dengan pendapat Mary C. Townsend (1998;252), memberikan defenisi tentang isolasi sosial yaitu: “Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam. Dengan karakteristik: Tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidak matangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan 3

perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain. khususnya bagi anak dengan kecacatan netra dimana anak-anak tersebut membutuhkan layanan kesehatan fisik maupun kejiwaan. dan ancaman untuk tidak memiliki kesempatan dalam memenuhi kebutuhannya misalnya untuk mendapatkan pendidikan formal. Berdasarkan teori di atas tidak dapat dipungkiri memiliki relevansi dengan kondisi realitas saat ini bahwa anak-anak dengan kecacatan netra kerapkali mendapatkan perlakuan negatif seperti tindakan diskriminasi. Karena anak-anak tersebut rentan mengalami stigma negatif dan isolasi sosial oleh keluarga maupun masyarakat terhadap mereka. dibatasi interaksinya. “Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam”. Towsend (1988. Respon negative dari lingkungan dapat memunculkan kesenjangan social bagi anak dengan kecacatan netra dengan lingkungannya. Melihat kompleksnya permasalahan sosial yang menimpa anak dengan kecacatan netra sebagaimana yang dipaparkan di atas. Dari penjelasan tentang permasalahan di atas. sudah sewajarnya kita mencurahkan perhatian yang sungguh-sungguh dalam upaya penanggulangan permasalahan bagi penyandang cacat netra. merasa tidak aman ditengah orang banyak”..252) mendefenisikan tentang isolasi sosial. maka diperlukan upaya-upaya penanganan permasalahan penderita kecacatan 4 .

Bagaimanakah karakteristik informan? Bagaimanakah aspek predisposisi (faktor perkembangan. B. Oleh karena itu maka peneliti tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam penelitian mengenai Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung. Karena apabila hal ini tidak segera ditangani. Masalah Penelitian Berdasarkan Latar Belakang yang telah dikemukakan di atas. 2. Bagaimanakah harapan informan? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara empiris tentang : 5 . yaitu “Bagaimanakah Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra (Studi Kasus Anak di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung)?” Dari latar belakang yang telah diuraikan. dikhawatirkan kemungkinan permasalahannya akan semakin bertambah baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. C.netra. dan kesehatan) infoman? 3. maka Peneliti merumuskan bahwa yang menjadi masalah penelitian. pengetahuan. maka permasalahan penelitian selanjutnya diuraikan pada sub-sub problematik sebagai berikut : 1. Bagaimanakah aspek presipitasi (faktor budaya dan komunikasi) infoman? 4.

6 . Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tentang Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra di Kota Bandar Lampung. 2. 2. 3. Serta diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu pengetahuan dalam model-model pemecahan masalah dan metode penelitian tentang Anak Dengan Kecacatan Netra di Kota Bandar Lampung dan juga pihak lain untuk dapat membantu di dalam pemecahan masalah tersebut. Aspek predisposisi informan (faktor perkembangan. dan kesehatan). serta sebagai bahan pengembangan bagi disiplin ilmu Pekerjaan Sosial dalam menangani permasalahan yang berkaitan Anak Dengan Kecacatan Netra. Aspek presipitasi informan (faktor budaya dan komunikasi). D. Mengetahui harapan-harapan informan.1. Manfaat Praktis Memberikan pengalaman belajar dan menambah wawasan kepada peneliti tentang Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra di kota Bandar Lampung. 4. Karakteristik informan. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. pengetahuan.

Teknik Analisis Data. Anak. Hasil Penelitian. Sasaran dan Pelaksana Program. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA. memuat tentang Kesimpulan dan saran dari hasil Penelitian. Analisis Masalah dan Identifikasi Sumber. memuat teori-teori tentang Isolasi Sosial. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data. memuat tentang Lokasi Penelitian. permasalahan Penelitian. dan Relevansi masalah dengan Pekerjaan Sosial. 7 .E. Kecacatan Netra. dan sistematika Penulisan. Deskripsi Latar dan Sumber Data. BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN. Jadwal dan Langkah-langkah Penelitian BAB IV : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. BAB V : DESAIN PROGRAM PEMECAHAN MASALAH. tujuan Penelitian. Analisis Kelayakan Program dan Indikator Keberhasilan Program. Nama Program. Teknik Pengumpulan Data. memuat tentang Desain Penelitian. memuat tentang Latar Belakang Program. manfaat penelitian. BAB III : METODE PENELITIAN. Sistematika Penulisan KIA BAB I : PENDAHULUAN. memuat tentang latar belakang masalah. Tujuan.

memberikan defenisi tentang isolasi sosial yaitu: “Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam.F.C (1998:152) isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya. (1998. ketidakmampuan untuk berkomunikasi. Tinjauan Tentang Isolasi Sosial 1. & Heacock. atau selalu dalam kegagalan”. 1993. berprestasi. L.J.252).P. individu merasa kehilangan hubungan akrab. Adapun Mary C. Carpenito. Sedangkan menurut Rawlins. P.E. R. Townsend (1998. Dengan karakteristik: Tinggal sendiri dalam ruangan. M. menarik 8 . (1998: 381) Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak.544) juga memberikan defenisi tentang isolasi sosial. Pengertian tentang isolasi sosial Menurut Townsend. “isolasi sosial merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain. menghindari hubungan dengan orang lain”.349). “Isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain. berperasaan. tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir. Rawlins (Budi Anna Keliat.

tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain. pikiran dan prestasi atau kegagalan. Dari definisi diatas memberikan pemahaman bahwa Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena adanya sikap negatif dan mengancam dari lingkungannya sehingga tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik seperti dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain. sehingga berusaha untuk menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain. Ketidak sesuaian atau ketidak matangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. individu merasa 9 . maupun kemampuan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri. Sementara menurut Depertemen Kesehatan RI (1998) memberikan defenisi tentang isolasi sosial yaitu: Isolasi sosial merupakan kondisi individu merasakan kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan. tindakan yang tidak bermakna. merasa tidak aman ditengah orang banyak”. Preokupasi dengan pikirannya sendiri. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. pengulangan. kurangnya kontak mata.diri. memenuhi kebutuhannya.

dan kecemasan. amputasi. 2. 2) Faktor pengetahuan dimana salah satu faktor yang menunjang adalah ketidak tahuan dan kurangnya terhadap informasi yang sebenarnya sehingga terjadi kekeliruan dalam sikap dan adanya respon sosial yang negatif. 3) Faktor kesehatan. yaitu dimana setiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan akan menyebabkan seseorang mempunyai masalah respon sosial yang maladaptif. Aspek-aspek isolasi dibagi ke dalam 2 aspek yaitu : a. arthritis. Kondisi isolasi sosial pada Anak Dengan Kecacatan Netra disebabkan oleh perasaan tidak berharga.kehilangan hubungan akrab karena ketidak mampuan untuk membuat kontak. 10 . Kecacatan fisik (paraplegia. yang biasanya dialami klien dengan latar belakang lingkungan yang penuh dengan permasalahan. kekecewaan. Kanker (kecacatan akibat pembedahan kepala atau leher. Aspek-aspek isolasi sosial Menurut Stuart and Sundeen (1995. pikiran takhayul tentang orang lain).142). Aspek predisposisi yaitu terjadinya perilaku menarik diri akibat pengaruh: 1) Faktor perkembangan. ketegangan. yaitu adanya gangguan pada kesehatan yang bersifat patofisiologis sehingga berhubungan dengan rasa takut akan penolakan yang diakibatkan: Obesitas.

gangguan kepribadian). seperti anggota keluarga yang gagal sehingga diasingkan dari lingkungan sosial. fobia). 11 . Inkontinensia (malu.hemiplegia). b. hepatitis). 2) Faktor komunikasi. Penyakit menular (AIDS. bau tidak sedap). gangguan afektif bipolar. merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan dan juga akibat norma yang tidak mendukung terhadap pendekatan orang lain atau norma yang salah yang dianut keluarga. paranoia. kurang bisa merespon pembicaraan. Masalah komunikasi tersebut antara lain kemampuan bahasa yang terbatas. depresi. Gangguan jiwa (skizofrenia. Gangguan emosional (ansietas yang berlebihan. Aspek presipitasi yaitu gangguan hubungan sosial disebabkan oleh berbagai situasi dan masalah yang berkaitan dengan kehilangan hubungan yang telah terbina atau kegagalan untuk menjalin hubungan tersebut akibat pengaruh: 1) Faktor budaya seperti menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. yaitu dimana masalah komunikasi dapat menjadi kontributor untuk mengembangkan gangguan tingkah laku dan adanya hambatan dalam menciptakan kualitas hubungan yang bermakna terlebih pada hubungan dalam keluarga.

3. 3) Perasaan tidak berguna. Gejala-gejala isolasi sosial Karena isolasi sosial merupakan kondisi yang subjektif. menyalahkan. 1988. 4) Menggambarkan kurangnya hubungan yang bermakna. Adapun gejala-gejala yang ditunjukkan pada individu atau kelompok yang mengalami kondisi isolasi sosial yang dikemukakan oleh Carpenito (Nanda. 2) Ketidakmampuan berkonsentrasi dan membuat keputusan. dan komunikasi disertai emosi yang tinggi. 4) Perasaan ditolak. 12 . Minor 1) Waktu berlalu dengan lambat. 2) Keinginan untuk lebih banyak melakukan kontak dengan orang lain. seluruh kesimpulan yang dibuat berkaitan dengan perasaan sunyi yang dirasakan individu harus divalidasi karena penyebabnya bisa bermacam-macam dan cara individu menunjukkannya pun beragam.adanya sikap selalu mengkritik. 6) Tidak komunikatif. b. 3) Mengeluhkan ketidak amanan dalam situasi social. Mayor 1) Ungkapan perasaan sunyi dan penolakan. 5) Afek sedih dan tumpul.1046) yaitu : a.

bahwa : “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin”. 12) Gagal berinteraksi dengan orang disekitarnya. psikologis atau kejiwaan. para ahli mendefinisikan sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. 10) Aktivitas rendah (fisik atau verbal). Tinjauan Tentang Anak Adapun tinjauan tentang anak meliputi : 1. atau marah. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Pengertian anak Definisi tentang anak sangatlah beragam. G. 11) Tampak depresi. 13) Episode kesedihan yang berlangsung lama akibat kehilangan seseorang yang dicintai atau akibat menurunnya normalitas pada diri orang yang dicintai karena kondisi cacat. kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal”. Anak dapat dilihat dari sisi hukum. 8) Kontak mata kurang. cemas. Sedangkan Konvensi Hak-Hak Anak United Nation Children’s Fundation (UNICEF) mendefiniskan : “Anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun. 9) Preokupasi dengan kenangan dan pemikiran tentang diri sendiri. 13 . Seperti dijelaskan dalam Undang-Undang No.7) Menarik diri.

Tugas Perkembangan Tugas Perkembangan merupakan periode kehidupan tertentu dari kehidupan individu.23 Tahun 2002. Lebih jelasnya batasan usia anak terbagi dalam. Usia 4-6 tahun = Initiative Vs Guilt (Inisiatif Vs Rasa Bersalah) 14 . Adapun Tugas-tugas Perkembangan Anak menurut Erick Erikson (1964. Usia 0-18 bulan = Trust Vs Mistrust (Percaya Vs Tidak Percaya) Usia 18-4 tahun = Outonomy Vs Shame-Doubt (Kemandirian Vs Malu-ragu) c. 2. b. sebagai berikut : a. Tugas perkembangan juga merupakan harapan sosial tentang ketrampilan tertentu yang penting dan pola perilaku yang disetujui pada periode kehidupan individu. Tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan Undang-Undang tersebut di atas. termasuk anak yang masih dalam kandungan”. “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. dan begitupun sebaliknya. Batasan usia tersebut didasarkan pada rentang umur dalam perkembangan kehidupan manusia dari mulai masa pranatal sampai masa tua (60 tahun ke atas). yang jika berhasil akan membawa rasa bahagia atau membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. usia kanak-kanak (2-12 tahun) dan usia remaja (13-18 tahun). dapat disimpulkan bahwa anak adalah mereka yang berumur dibawah 18 tahun.214) yaitu.Menurut Undang-Undang No.

tumbuh. c. pemerintah dan negara. masyarakat. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri dan dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak. d. Usia 12-18 tahun = Identity Vs Diffusion (Jati Diri Vs Difusi) Hak Anak Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. 3. atau anak dalam keadaan terlantar maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain 15 . berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya. dalam bimbingan orang tuanya. Setiap warga negara berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan. berkembang. Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya. 23 Tahun 2002 sebagai berikut : a. Pemerintah Republik Indonesia mengatur tentang hak anak yang tertuang dalam UU RI No. Setiap anak berhak untuk hidup. Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya. dan dipenuhi oleh orang tua. Usia 6-12 tahun = Confident Vs Unconfident (Percaya Diri Vs Rendah Diri) e.d. dilindungi. keluarga. b.

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengna minat dan bakatnya. e. Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik. spiritual. h. sedangkan bagi yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. dan memebrikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengna nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. mencari. Setiap anak erhak untuk istirahat dan memanfaatkan waktu luang. g. bergaul dengan anak sebaya. menerima. bermain. berekreasi.sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya. bakat. khusus anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa. dan sosial. dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi. f. mental. dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri. Dan selain anak sebagai dimaksud diatas. dan berkreasi sesuai dengna minat. bantuan sosial. 16 . i.

5) pelibatan dalam peperangan. 3) pelibatan dalam kerusuhan sosial. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri. 2) Eksploitasi. 5) Ketidakadilan. 4) pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan. m. Kekerasan dan Penganiayaan. wali. 2) pelibatan dalam sengketa bersenjata. Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua. 17 .j. k. atau pihak lain manapun yang ebrtanggung jawab atas pengasuhan. l. Setiap anak berhak memperoleh perlndungan dari : 1) penyalahgunaan dalam kegiatan politik. kecuali jika ada alasan dan atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir. wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud di atas. 6) Perlakuan salah lainnya. 3) Penelataran. Dalam hal orang tua. 4) Kekejaman. maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman. berhak mendapat perlindungan dari perlakuan : 1) Diskrminasi.

Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : 1) Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengna hukum berhak dirahasiakan. yaitu. 4.n. o. penyiksaan. 3) Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. 18 . Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Kebutuhan manusia dapat terpenuhi seandainya ada keserasian antara kebutuhan individu dengan sumber-sumber yang ada di masyarakat. atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Secara umum kebutuhan manusia terdiri dari tiga jenis. p. Kebutuhan Anak Kebutuhan adalah sesuatu yang dirasakan diperlukan. panahanan. atau tindakan pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. Dan penangkapan. kebutuhan fisik (udara. 2) Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

bermain. hiburan dan rekreasi). dapat disimpulkan bahwa anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan kebutuhan dasar. baik kebutuhan fisik (makan. berkelahi. agama). anak 19 . perasaan sayang) dan kebutuhan yang bersifat sosial (aktualisasi diri. kesehatan. tingkah laku sosial).air dan makanan. perhatian dan perlindunga. pakaian). kasih sayang. nakal.247) menjelaskan bahwa didalam perkembangannya anak membutuhkan : “(1) Stabiltas keluarga. kebutuhan psikologis (rasa aman. Abu Hanafi dkk (1991. Brown dan Swanson yang dikutip oleh Gilbert dan Specht (1981) merinci kebutuhan umum anak adalah :“Perlindungan (keamanan). Berdasarkan pengertian di atas. pakaian. depresi. (3) Pemeliharaan fisik dan psikis termasuk disini kehidupan religius”. dan kebutuhan sosial (pendidikan. kasih sayang pendekatan/perhatian dan kesempatan untuk terlibat dalam pengalaman yang positif yang akan menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan mental yang sehat”. bolos sekolah. Permasalahan Anak Permasalahan anak tersebut seperti. 5. mencuri. harga diri dan kepercayaan diri. kebutuhan psikologis (rasa aman. (2) Pendidikan. melawan orang tua/tidak patuh. tempat tinggal dan kesehatan). penyalahgunaan NAPZA. Selanjutnya.

anak akan mengalami hambatan dan perilaku yang ditampilkan terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau berlawanan dengan norma-norma yang ada. dan masyarakat. anak dieksploatasi atau diperlakukan salah. keluarga.menjadi terlantar. dan sebagainya. Permasalahan anak sangat berpengaruh terhadap perilaku yang ditampilkan. Cacat pada indera penglihatan sama artinya adanya hambatan pada reaksi tubuh untuk berfungsi secara optimal. Dalam berinteraksi sosial sesama teman. Tinjauan Tentang Cacat Netra 1. Pengertian Penyandang Cacat Netra Indera penglihatan merupakan salah satu anggota tubuh yang penting dan senantiasa berfungsi bagi individu untuk menuntun anggota tubuhnya yang lain. sehingga produktifitas dan kesempatankesempatan yang dibutuhkan dalam proses pengembangan diri menjadi terbatas atau bahkan hilang sama sekali. Perilaku yang tidak normatif tersebut akan merugikan diri anak. pelecehan seksual. pemerkosaan. H. Arti kata sebenarnya kata tuna netra 20 . Menurut WHO tuna netra adalah seseorang dengan suatu derajat tajam penglihatan pada jarak terbaik setelah koreksi maksimal tidak lebih dari pada jarak tiga meter. keluarga dan masyarakat. agar mampu melaksanakan kegiatan dalam kehidupannya secara tepat kearah obyek yang dituju. seperti anak yang berasal dari keluarga tidak harmonis atau kurang kasih sayang.

b. Klasifikasi Penyandang Cacat Netra Dari segi kemampuan menurut S. Kelompok penyandang cacat netra ini dikenal dengan low vision (kurang lihat). 21 . Mereka memiliki visus kurang lebih 4/200. seperti penderita rabun. penyandang cacat netra dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu : a. Nasution dkk dalam Epi Supiadi. Penyandang cacat netra ringan (Low vision) yaitu mereka yang memiliki kelainan atau kekurangan daya penglihatan. myopia ringan. Penyandang cacat netra setengah berat (partially sighted) yaitu mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan yang hanya dengan menggunakan kacamata pembesar masih dapat membaca tulisan berhuruf tebal. juling. (2004 : 13) daya lihat. meskipun dengan menggunakan alat bantu sekalipun. Dari beberapa konsep diatas menyatakan bahwa tuna netra adalah seseorang yang tidak dapat melihat dengan menggunakan matanya.adalah rusak matanya atau luka pada matanya atau tidak memiliki mata berarti buta atau kurang dalam penglihatan. yaitu mereka yang memiliki visus 5/200 sampai 20/200. Menurut Irham Hosni dalam Epi Supiadi (2004 : 11) bahwa seseorang dikatakan tuna netra kalau kedua penglihatannya mengalami kelainan sedemikian rupa dan setelah dikoreksi mengalami kesukaran dalam menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam memperoleh dan menerima informasi dari lingkungan. 2.

c. dan rasa aman seperti tertuang dalam UU No 4 Tahun 1979 pasal 2 22 . pemeliharaan. Kebutuhan mereka yang utama adalah kebutuhan akan pendidikan. gerak tangan. b. Penyandang cacat netra memerlukan pemenuhan kebutuhan fisik. b. mental. yang oleh masyarakat umum disebut buta dengan (visus 0). Kekakuan dalam bergerak sehingga keadaan kondisi badanya tidak luwes seperti orang normal pada umumnya. Kekakuan sikap dalam bergerak Sering dijumpai bahwa dalam berbicara ekspresi wajah. dan sikap yang diperlihatkan tidak sejalan dengan topik dibicarakan. Berbicara tidak selalu dibarengi ekspresi wajah. Memiliki kepekaan dalam penggunaan fungsi inderanya 4.c. perlindungan. Kebutuhan-Kebutuhan Penyandang Cacat Netra Penyandang cacat netra mempunyai kebutuhan yang sama dengan kebutuhan orang yang normal atau orang yang mempunyai kecacatan yang lain. sikap dan gerak yang tepat Menurut Departemen Sosial (1998 : 6) bahwa ciri – ciri umum anak yang mengalami cacat netra adalah : a. dan kebutuhan sosial. 3. Penyandang cacat netra berat totally bind yaitu mereka yang sama sekali tidak dapat melihat. Karakteristik Cacat Netra Menurut Epi Supiadi (2004 : 8) bahwa ciri-ciri tunanetra adalah: a.

Anak berhak menerima atas perlindungan-perlindungan terhadap lingkungan hidup yang membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar. Usaha-usaha yang telah dilakukan pada umumnya didukung oleh struktur kesempatan kerja bidang pekerjaan yang pada umumnya dikenal. Permasalahan yang paling utama adalah adanya hambatan yang menyangkut lapangan pekerjaan. sedangkan pada bidang pekerjaan lainya sangat terbatas. Jadi permasalahan tersebut dapat menimbulkan berbagai keterbatasan yang kompleks bagi penyandang cacat netra. kurang percaya diri dan isolatif. Penyandang cacat netra harus berhadapan dengan 23 . yaitu mengalami rasa rendah diri. Permasalahan yang dimiliki oleh penyandang cacat netra tersebut dipengaruhi dari dalam dirinya. Kecacatan yang dialami oleh penyandang cacat netra menimbulkan permasalahan khusus dalam mental psikologis. 5. usaha-usaha rehabilitasi sosial. Permasalahan khusus tersebut muncul dari sisi mental psikologis.tentang kesejahteraan anak bahwa: anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Permasalahan Cacat Netra Permasalahan yang khusus dimiliki oleh penyandang cacat netra. yaitu memijat. dan vokasional. Pengaruh pandangan buruk masyarakat terhadap kemampuan kerja penyandang cacat netra menjadikan masalah yang telah ada menjadi bertambah.

Hal ini menimbulkan kesulitan bagi penyandang cacat netra untuk mengakses semua sumber–sumber yang ada. Sehingga agar penyandang cacat netra melaksanakan keberfungsian sosialnya. seperti keterlambatan atau kecanggungan daya gerak atau mobilitas penyandangnya dan komunikasi. Brenda Dubois dan Karla Miley (359-360 ) mengemukakan bahwa secara fisik. yang tidak tersaji dalam bentuk huruf Braille.berbagai permasalahan lain yang terdapat di lingkunganya. komunitas maupun masyarakat). kelompok kecil. Pengertian Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial pada prinsipnya membantu individu maupun kolektivitas (kelompok. Pekerjaan sosial di dalam memberikan 24 . Relevansi Masalah Dengan Pekerjaan Sosial 1. maka penyandang cacat netra harus segera diberikan aksesibilitas dan kemudahan dalam mengakses sumber–sumber untuk memenuhi hak dan kesempatan yang sama akan segala aspek kehidupan dan penghidupan. Penyandang cacat netra akan mengalami hambatan di dalam bergerak dan berpindah tempat serta mengalami keterbatasan dalam menerima informasi dan keanekaragaman pengalaman baru. organisasi. kelompok. Berdasarkan uraian permasalahan tersebut. kurang atau hilangnya penglihatan yang dialami penyandang cacat netra memunculkan karakteristik bermasalah. I. pelayanan sosial dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan penyandang cacat netra tersebut.

Dari pengertian di atas. Tujuan Pekerjaan Sosial Tujuan Pekerjaan Sosial menurut Dean H.20). Sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sehat sesuai dengan tingkat perkembangannya. sebab jika interaksinya terhambat maka anak tersebut tidak mampu melaksanakan fungsionalitas sosial maupun mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini Pekerja sosial mempunyai tanggung jawab untuk membantu mewujudkan pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak. Pekerja Sosial berupaya menciptakan kondisi Anak Dengan cacat netra tidak mengalami hambatan atau pembatasan dalam melakukan interaksi dengan lingkungan dimana dia berada. Tujuan dan Fungsi Pekerjaan Sosial a. profesi pekerjaan sosial merupakan profesi yang berkecimpung dalam kegiatan pertolongan kepada individu. 25 . Hepworth dan Jo Ann Larsen. (Dwi Heru sukoco 1991.pertolongan kepada orang ditujukan untuk membantu mereka yang mengalami masalah dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan maupun pelaksanaan fungsi sosialnya. 2. kelompok dan masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kemampuan dan fungsi sosialnya. dinyatakan sebagai berikut : “The Purpose of Social work is to promote or restore a mutually beneficial interaction between individuals and society in order to improve the quality of life for everyone”.

5) Contribute to development and modification of society policy.Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan untuk meningkatkan atau memulihkan interaksi secara timbal-balik antara individu dengan masyarakatnya merupakan tujuan yang hendak dicapai agar tercipta kehidupan yang berkualitas khususnya kepada anak dengan cacat netra dalam melakukan interaksi sosial di lingkungan dimana dia berada. 3) Facilitate interaction and modify and build new relationships between people and societal resource systems. 3) Memberikan fasilitas interaksi dengan sistem-sistem sumber. adalah sebagai berikut : 1) Help people enhance and more effectively utilize their own problem-solving and coping capacities. 2) Establish initial linkages between people and resource systems. 26 . Fungsi Pekerjaan Sosial Fungsi Praktek Pekerjaan Sosial menurut Allen Pincus dan Minahan (Dwi Heru Sukoco 1991:46). 2) Mengkaitkan orang dengan sistem-sistem sumber. Dari pemaparan tersebut diatas dapat diterjemahkan sebagai berikut : 1) Membantu orang meningkatkan dan menggunakan kemampuannya secara efektif untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan memecahkan masalah-masalah sosial yang mereka alami. 7) Serve as agent of social control. b. 6) Dispense material resource. 4) Facilitate interaction and modify and build relationships between people within resource systems. 4) Memberikan fasilitas interaksi di dalam sistem-sistem sumber.

Pekerja Sosial menyalurkan sumber-sumber yang dibutuhkan oleh keluarga anak dengan kecacatan netra dalam mengakses sumber yang ada. 3. Peranan Pekerja Sosial bila dikaitkan dengan masalah Isolasi Sosial Anak Dengan Cacat Netra.5) Mempengaruhi kebijakan sosial. 6) Memeratakan atau menyalurkan sumber-sumber material. misalnya untuk mendapatkan keringanan di dalam biaya kesehatan anak tersebut. 2) Pekerja Sosial menyalurkan sumber-sumber internal dan eksternal. adalah sebagai berikut : 27 . Bila fungsi Pekerjaan Sosial tersebut dikaitkan dengan masalah isolasi sosial terhadap anak dengan cacat netra. maka fungsi Praktek Pekerjaan Sosial adalah sebagai berikut : 1) Memberikan Pelayanan Sosial sebagai pelaksana kontrol sosial. Pekerja Sosial mengontrol bagaimana hubungan anak dengan kecacatan netra dikeluarga dan lingkungan masyarakat dimana dia berada. Peranan Pekerja Sosial Menurut buku dari Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Jakarta (2005:27). Pekerjaan Sosial adalah salah satu profesi yang memiliki kompetensi dan peranan yang penting dalam penanganan masalah anak dengan cacat netra. 7) Memberikan pelayanan sebagai pelaksana kontrol sosial.

memulihkan kepercayaan diri. dan lain-lain. rasa traumatik. Konselor Pekerja sosial membantu anak dengan cacat netra dalam menghilangkan perasaan-perasaan yang menekan. Pendidik Pekerja Sosial memberikan informasi kepada keluarga berkaitan dengan kecacatan netra. Enabler Peran Pekerja Sosial sebagai enabler. misalnya seperti: Perawatan di Rumah Sakit. d. 28 . memberikan keyakinan. b. yaitu Pekerja Sosial disini berperan untuk membantu anak dengan cacat netra dan keluarganya untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan terutama menghilangkan perlakuan Isolasi Sosial Anak Dengan Cacat Netra baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Broker Peran Pekerja Sosial sebagai broker adalah Pekerja Sosial menghubungkan keluarga dengan sistem sumber yang dapat dimanfaatkannya. pelayanan-pelayanan yang dapat diakses untuk anak dengan cacat netra dan keluarga atau sesuai dengan kebutuhannya. pelayanan psikolog anak. c.a. dan bimbingan bagi penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.

Dalam penelitian ini. yaitu “suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia.e. J. Bogdan dan Tailor dalam Lexy J. Moleong (1975 : 4) mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. pekerja sosial harus berusaha untuk memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap hak-hak klien Anak Dengan Cacat Netra yang dilanggar oleh pihak lain. seperti hak untuk memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. Disamping itu 29 . suatu set kondisi suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Sesuai dengan pendapat Moh Nazir. suatu objek. Alasan peneliti menggunakan metode kualitatif adalah karena peneliti ingin mendapatkan data yang lebih lengkap. agar mampu mendapatkan haknya kembali. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan maksud dapat memperoleh data yang lebih akurat dari diri individu secara utuh. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif agar dapat memberikan penjelasan tentang fenomena yang sedang terjadi atau gambaran tentang proses alamiah dari kondisi Isolasi Sosial Anak di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung. lebih mendalam. kredibel dan bermakna tentang permasalahan penelitian. Advokat Sebagai pembela. (1983: 63) mengenai penelitian deskriptif.

Nazir (1988 : 66). Maxfield dalam Moh. Latar Peneliti mengambil tempat penelitian di salah satu Kecamatan di Bandar Lampung yaitu kecamatan raja basa. sebab-sebab terjadinya isolasi sosial dan akibat yang ditimbulkan karena perlakuan isolasi sosial tersebut. Peneliti mengambil studi kasus sebagai desain penelitian. lembaga. penelitian kasus (Case Study). menjelaskan bahwa: “Studi kasus. sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus. Deskripsi Latar dan Sumber Data 1. Studi kasus dilakukan dengan tujuan agar peneliti dapat memberikan gambaran secara lebih mendetail tentang kondisi isolasi sosial anak dengan kecacatan netra dengan beberapa aspeknya.peneliti ingin mengetahui tentang proses alamiah dari kondisi isolasi sosial anak dengan kecacatan netra. K. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada hasil eksplorasi peneliti dalam mencari informasi 30 . sehingga dapat melakukan penelitian yang mendalam terhadap obyek yang dipilih. adalah penelitian tentang subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. masyarakat. dalam hal ini mengenai “Isolasi Sosial Anak Dengan Kecacatan Netra di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung”. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. kelompok. aspek-aspek. Subjek penelitian dapat saja individu. Sesuai dengan definisi di atas penulis menggali informasi dari 3 anak dengan kecacatan netra di Kecamatan Raja basa Bandar Lampung.

Sumber Data Primer Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari informan utama yaitu keluarga dari anak dengan kecacatan netra yang terdiri dari orang tua. paman. Kecacatan netra itu sendiri juga dijadikan sumber data untuk pembanding tentang adanya perlakuan isolasi sosial yang cenderung dilakukan oleh keluarga. 2. peneliti juga memperoleh data dari informan pendukung seperti tetangga anak dengan kecacatan netra di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung. Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data yang diperoleh langsung dari responden. Selain memperoleh data dari informan utama.tentang anak dengan kecacatan netra. Sumber Data Sumber data yang akan dipergunakan pada penelitian ini meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder. Pemilihan informan mengacu pada pendapat Moleong (2005:132) yang mengatakan bahwa: “Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan 31 . kemudian yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah Anak Dengan Kecacatan Netra Di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung yaitu sebanyak 3 orang. Penelitian kualitatif tidak bergantung pada jumlah responden tetepi lebih menekenkan pada kualitasnya. a. bibi dan anggota keluarga lainnya yang tinggal satu rumah dengan kecacatan netra dan yang paling sering berinteraksi dengan kecacatan netra.

Seperti dijelaskan Mofland dan Mofland dalam Lexy J. Wawancara mendalam (indepth interview) Mohammad Nazir (1998:234) mengemukakan tentang wawancara bahwa: Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya atau pewawancara dengan penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). foto dan data statistik.Moleong (2000 : 112). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data. Diharapkan informan yang telah dipilih di atas dapat memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian serta data yang diperlukan oleh peneliti. peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth interview). L. data yang diperoleh lebih akurat dan hubungan peneliti dengan informan juga lebih akrab serta tidak ada jarak. b. buku. 32 . dokumen pribadi dan dokumen resmi. sumber dari arsip. a. bahwa: ”Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan.kondisi penelitian”. selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain”. Sumber Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh melalui dokumen. Dengan teknik ini. observasi partisipasi (participant observation) dan studi dokumentasi. majalah ilmiah.

Sugiyono (2005:82) mengemukakan bahwa: Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. peraturan. atau karya-karya monumental dari seseorang. ceritera. Dalam pelaksanaannya. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian. wawancara mendalam lebih bebas dari struktur artinya tidak terpaku pada instrumen dan pedoman wawancara yang telah disusun. c. Studi Dokumentasi Berkaitan dengan dokumen. biografi. gambar.Wawancara mendalam merupakan pengembangan dari proses wawancara. dokumen bisa berbentuk tulisan. 33 . Observasi Menurut Jusman Iskandar dan Carolina Nitimihardjo (1411 H:191) menyatakan: “Observasi adalah suatu metode pengumpulan data dimana peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana peristiwa yang mereka saksikan dalam situasi sistem penelitian”. b. Observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara pengamatan untuk memperoleh data dari informan yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi didalam kehidupan informan selama proses penelitian. sejarah kehidupan (life historis). Penggunaan wawancara mendalam dimaksudkan untuk mengumpulkan data secara lebih lengkap dan juga untuk mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam dengan meminta pendapat dan ide-idenya.

Dokumen yang berbentuk gambar. (reliabilitas).kebijakan. Cara pengujian yang dilaksanakan adalah: a. dan transferability (validitas eksternal). M. Data-data yang akan dikumpulkan melalui studi dokumentasi adalah data tentang karakteristik informan. Penerapan teknik-teknik pemeriksaan keabsahan data di atas adalah sebagai berikut: 1. Peneliti langsung melakukan proses penelitian ke lapangan secara cermat 34 . Uji Kredibilitas (credibility) Uji kredibilitas merupakan pengujian kepercayaan terhadap data hasil penelitian. Penggunaan dokumen dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data pelengkap yang berkaitan dengan informan. Ketekunan Pengamatan Ketekunan pengamatan berarti peneliti melakukan pengamatan dengan teliti. rinci dan berkesinambungan. maka pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan beberapa teknik yaitu mengacu kepada teknik yang dikemukakan oleh Sugiyono (2005:121) yaitu: “Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility dependability (validitas internal). sketsa dan lain-lain. gambar hidup. misalnya foto. confirmabililty (obyektifitas)”. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Uji validilitas yang dilakukan peneliti agar dapat mempertanggung jawabkan data secara benar dan akurat.

Kecukupan Referensi Kecukupan referensi berarti adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. b. foto-foto. kepada penderita itu sendiri. c. untuk memastikan kebenaran data lalu dilakukan pengecekan dengan menggunakan teknik observasi. setelah itu peneliti menguraikan secara rinci hasil penelitian dan menelaahnya dibandingkan dengan referensi buku. dan hasil penelitian maupun dokumentasidokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. dan alat bantu 35 . Bahan referensi misalnya rekaman wawancara. dan Staf Panti Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Netra Indra Kesuma Bandar Lampung yang kemungkinan pernah melihat.dan berkesinambungan. Apabila data diperoleh dengan teknik wawancara. atau mengetahui tentang kondisi isolasi sosial tersebut. peneliti perlu melakukan pengecekan data kepada keluarga. mendengar. Untuk memastikan kebenaran adanya kondisi isolasi sosial anak dengan kecacatan netra. atau studi dokumentasi. Triangulasi Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi teknik digunakan untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

3. Pentingnya referensi ini adalah agar data-data yang dikemukakan lebih otentik dan dapat dipercaya. Sedangkan uji konfirmability disebut juga dengan uji obyektifitas penelitian. Audit ini dilakukan oleh pembimbing terhadap aktifitas peneliti dalam melakukan penelitian. N. Miles & Huberman (1992:15-21) dalam Hamid 36 . dan dapat dipercaya. Uji Transferability Uji transferability adalah pengujian hasil penelitian dengan mengacu kepada sejauhmana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain. tetapi hasilnya ada. Kedua pengujian ini dapat dilakukan secara bersamaan oleh pembimbing. Menguji konfirmability berarti menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Rancangan Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. jelas. Tujuannya adalah agar tidak terjadi proses penelitian tidak ada. maka peneliti membuat laporannya dengan memberikan uraian yang rinci. Agar orang lain dapat memahami hasil penelitian sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut. 2. Uji Dependability dan uji Konfirmability Uji dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.perekam data misalnya camera dan tape recorder. sistematis.

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Data mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara yaitu pengamatan terlibat. dan selanjutnya diproses melalui perekaman. peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. pencatatan.Patilima (2005:98) mengemukakan analisis data kualitatif: Data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Matriks rencana kerja penulis dalam melaksanakan penelitian adalah sebagai berikut : 37 . maka penulis dapat menentukan target-target pelaksanaan penelitian sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Jadwal dan Langkah-Langkah Penelitian Berdasarkan matriks rencana kerja. tetapi analisis kualitatif tetap menggunakan katakata yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas Berdasarkan pengertian di atas. sehingga data tersebut mempunyai makna dan dapat dijadikan sebagai data hasil penelitian. Pada saat wawancara. maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi hingga diperoleh data yang kredibel. O. bahwa analisis data kualitatif dimunculkan dalam wujud kata-kata dan disusun dalam rangkaian kalimat sesuai dengan kategori data yang dikumpulkan. pengetikan. wawancara semi terstruktur. Ukuran keberhasilan penulis dalam melaksanakan tugas dapat dilihat dari tercapainya hasil dari tugas-tugas penulis berdasarkan matriks rencana kerja tersebut. bila jawaban belum memuaskan.

Jadwal Dan Penelitian Isolasi sosial Anak Dengan Kecacatan Netra Di Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung No 1 2 3 4 5 6 7 Langkah-langkah Pengajuan Judul Bimbingan Proposal Seminar Proposal Penyusunan instrumen penelitian Pengumpulan Data Pengolahan dan analisis data Penyusunan penelitian 8 Ujian KIA laporan hasil Mart Apr Mei Juni Juli 38 .

Alih bahasa: Iswandari.blogspot.wordpress. Jakarta. Memahami Penelitian Kualitatif. Kopma STKS. 1995. Nursing Diagnosis. Profesi Pekerjaan Sosial dan Proses Pertolongannya. Epi Supiadi. Editor : Budi Santoso . PT. Moh Nasir.com/2009/12/16/cacat/ 39 . Ilmu Keperawatan Jiwa.com/2012/02/gangguan-jiwa-isolasi-sosial. 2005. Metode Penelitian. Metodologi Penelitian Kualitatif. (1995).DAFTAR PUSTAKA Lexy J Moleong. Kajian Masalah dan Pelayanan bagi Penyandang Cacat Netra. 2004.E. Sugiyono. 2002. Bandung. Nanda. Edisi 5.html http://ephie2. 1993. and Classification.(1994). Jakarta: Erlangga Sumber lain http://mantrinews. Bandung. Bandung. Ghalian Indonesia. (2001). Bandung. Dwi Heru Sukoco. Remaja Rosdakarya. Jakarta : EGC. CV Alfabeta. Definition. United Stage Of Philadelphia : America Hurlock. Psikologis Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Kopma STKS. Rawlins.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->