A.

Perkembangan kehidupan pada Jaman Orde Baru

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar. Masa Jabatan Presiden Suharto Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan1998. Politik Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orangorang yang terkait denganPartai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasauntuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru. Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasihat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah. Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi. Eksploitasi sumber daya Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparandikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an. Warga Tionghoa Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya

Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di berbagai daerah. Partai Nahdlatul Ulama (NU). Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Padahal.berada di bawah warga pribumi. . Pemilu tahun 1971 diikuti 10 kontestan. terutama ke Kalimantan.XI/MPRS/ 1966 tentang Pemilihan Umum yang dihasilkan Sidang Umum IV MPRS tahun 1966. meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Dengan berlandaskan kepada kedua undang-undang tersebut. pemerintah Orde Baru menyelenggarakan pemilihan umum yang pertama kali pada 3 Juli 1971. dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Timor Timur. Konflik Perpecahan Pasca Orde Baru Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Hal ini berdasarkan pada Ketetapan MPRS No. Partai Kristen Indonesia. Kesenian barongsai secara terbuka. Partai Katolik. Partai Nasional Indonesia (PNI). kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang. yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". dan Irian Jaya. B. Agama tradisional Tionghoa dilarang. dan DPRD. Partai Murba. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). yaitu Golongan Karya (Golkar). Bali dan Madura ke luar Jawa. DPR. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. perayaan hari raya Imlek. yaitu : a. yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah. pemilu kemudian tidak dapat dilaksanakan tepat waktu karena sulitnya menyelesaikan pembahasan mengenai undang-undang pemilu. meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa. Pada tanggal 10 November 1969 DPR-GR menyetujui dua RUU Pemilu dan disahkan Presiden RI tanggal 17 Desember 1969. Kebijakan pemerintah pada Jaman Orde Baru 1. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa. Undang-undang No. pemilihan umum direncanakan akan diselenggarakan selambatlambatnya pada 5 Juli 1968. Kebijakan pemerintah dalam bidang politik Pada awal Orde Baru. Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). dan b. Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Namun. Undang-undang No. dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang. 15Tahun 1969 tentang Pemilihan Umum Anggota-anggota Badan Permusyawaratan/Perwakilan Daerah. yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan. Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Partai Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti). Sulawesi.

cukai. seperti politik. yaitu diikuti tiga peserta saja. Dampak krisis ini berbuntut pada timbulnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Orde Baru. Krisis moneter ini kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi sehingga mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat. dan IPKI. a. Oleh karena itu pemerintah menempuh cara sebagai berikut. Pada pemilu tahun 1977 terjadi penyederhanaan kontestan. program stabilitas dan rehabilitasi. Partai Katolik 3. b. kesehatan. Partai Murba dan IPKI tidak memperoleh kursi. baik dari dalam maupun dari luar negeri. penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. ekonomi. negara bersama aparat ekonominya mendominasi seluruh kegiatan ekonomi sehingga mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi swasta. serta d. 2. Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi Keadaan ekonomi yang kacau sebagai peninggalan masa Demokrasi Terpimpin. pemerintah menempuh cara : . Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan fusi dari NU. Partai Kristen Indonesia 7. pengangguran meluas. PSII. a. . Bangsa Indonesia dilanda krisis teramat berat yang bermula dari krisis moneter. c. pada permulaan Orde Baru program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat inflasi. ekspor migas dan non-migas. Partai Kristen Indonesia. naiknya produksi dan jasa di segala bidang. dan Iain-lain. Pemilihan umum di masa pemerintahan Orde Baru dari waktu ke waktu. seperti pajak. dan kemiskinan merajalela. berupa turunnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar. Partai Katolik. semakin bertambahnya sarana-sarana pendidikan. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan pemerintah. MPR kemudian memberikan predikat kepada Presiden Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Nasional. PNI 20. pada satu sisi memang membawa negara kepada suatu kehidupan yang lebih baik dari pada kondisi sebelumnya. c. yakni Golkar 236. Tatanan ekonomi.dan Perti. ibadah. perumahan. . keuangan dan pembangunan. b. Bahkan atas beberapa keberhasilan menjalankan pembangunan di Indonesia. Parmusi. naiknya pendapatan dan kemakmuran sebagian rakyat Indonesia. PSII 10.MPRS mengeluarkan garis program pembangunan. meningkatnya kemampuan negara dalam menghimpun dana. rusak berat. Perti 2. Kebijakan pada bidang ekonomi Pada masa Demokrasi Terpimpin. yakni program penyelamatan. Namun.Pemilu pertama pada masa Orde Baru ini menghasilkan perolehan kursi DPR. dan sosial. ekonomi. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang mempakan fusi dari PNI. Murba. Parmusi 24. olahraga.Mengeluarkan Ketetapan MPRS No. NU 58. menjelang pertengahan tahun 1997 kemajuan di berbagai bidang itu seperti tidak bermakna apa-apa. Sehingga. Adapun kemajuan yang telah dicapai pemerintahan Orde Baru sebagai hasil pelaksanaan pembangunan sejak tahun 1969 – 1997 antara lain adalah a. Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. serta program pembangunan.XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaruan Kebijakan ekonomi. Pemilu kedua diselenggarakan pada 2 Mei 1977. Golongan Karya (Golkar).

Lembaga perkreditan desa.Cara pemungutan pajak baru bagi pendapatan perorangan dan kekayaan dengan menghitung pajak sendiri dan menghitung pajak orang. serta menghapuskan subsidi bagi perusahaan negara. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. kebijakan ekonomi pemerintah dialihkan pada pengendalian yang ketat terhadap gerak harga barang khususnya sandang. b. Program Rehabilitasi dilakukan dengan berusaha memulihkan kemampuan berproduksi. Untuk melaksanakan langkah-langkah penyelamatan tersebut maka ditempuh cara: . seperti : .rendahnya penerimaan negara . Selama 10 tahun mengalami kelumpuhan dan kerusakan pada prasarana ekonomi dan sosial. Utang-utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan 1970 dipertimbangkan untuk ditunda juga pembayarannya. .awal 1968) Sesudah kabinet Pembangunan dibentuk pada bulan Juli 1968 berdasarkan Tap MPRS No.Membatasi kredit bank dan menghapuskan kredit impor. perbankan disalah gunakan dan dijadikan alat kekuasaan oleh golongan dan kepentingan tertentu. Utang-utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya hingga tahun 1972-1979. Kerja Sama Luar Negeri Keadaan ekonomi Indonesia pasca Orde Lama sangat parah.Mengadakan operasi pajak . 2) Debirokratisasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian.penggunaan devisa bagi impor yang sering kurang berorientasi pada kebutuhan prasarana.terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri . Sejak saat itu kestabilan ekonomi nasional relatif tercapai sebab sejak 1969 kenaikan harga bahan-bahan pokok dan valuta asing dapat diatasi.tinggi dan tidak efisiennya pengeluaran negara . Stabilisasi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus. gerakan koprasi. Program Stabilisasi dilakukan dengan cara membendung laju inflasi.7 miliar sehingga pemerintah Indonesia meminta negara-negara kreditor untuk dapat menunda pembayaran kembali utang Indonesia. Perancis dan dicapai kesepakatan sebagai berikut. dan kurs valuta asing. pangan.32. Sedangkan rehabilitasi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi. Pemerintah mengikuti perundingan dengan negara-negara kreditor di Tokyo Jepang pada 19-20 September 1966 yang menanggapi baik usaha pemerintah Indonesia bahwa devisa ekspornya akan digunakan untuk pembayaran utang yang selanjutnya akan dipakai untuk mengimpor bahan-bahan baku. . Langkah-langkah yang diambil Kabinet AMPERA mengacu pada Tap MPRS tersebut adalah sebagai berikut: 1) Mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan kemacetan.terlalu banyak dan tidak produktifnya ekspansi kredit bank . . Hasilnya bertolak belakang dengan perbaikan inflasi sebab harga bahan kebutuhan pokok melonjak namun inflasi berhasil dibendung (pada tahun akhir 1967.Program pemerintah diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional terutama stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. 3) Berorientasi pada kepentingan produsen kecil.Penghematan pengeluaran pemerintah (pengeluaran konsumtif dan rutin).XLI/MPRS/1968. hutangnya mencapai 2. Perundingan dilanjutkan di Paris. Dampaknya lembaga tidak dapat melaksanakan fungsinya sebagai penyusun dan perbaikan tata hidup masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pelaksanaan Pelita II cukup berhasil pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% per tahun. Peristiwa ini merupakan kelanjutan demonstrasi para mahasiswa yang menuntut Jepang agar tidak melakukan dominasi ekonomi di Indonesia sebab produk barang Jepang terlalu banyak beredar di Indonesia.perumahan. 3. Pelita II Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1974 hingga 31 Maret 1979. 1. karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.Jangka pendek mencakup periode 5 tahun (Pelita/Pembangunan Lima Tahun). sandang. merupakan jabaran lebih rinci dari pembangunan jangka panjang sehingga tiap pelita akan selalu saling berkaitan/berkesinambungan. mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja. Pada awal pemerintahan Orde Baru laju inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun menjadi 47%. perumahan rakyat. Pelita III . Tujuan Pelita I : Untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya. c. inflasi turun menjadi 9. Selama masa Orde Baru terdapat 6 Pelita. 3. Arah dan kebijaksanaan ekonominya adalah pembangunan pada segala bidang. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Sandang. Pedoman pembangunan nasionalnya adalah Trilogi Pembangunan dan Delapan Jalur Pemerataan. dan kesejahteraan rohani. sarana dan prasarana. Pelita I Dilaksanakan pada 1 April 1969 hingga 31 Maret 1974 yang menjadi landasan awal pembangunan Orde Baru. Isi Trilogi Pembagunan adalah sebagai berikut. Perbaikan prasarana. Pelaksanaannya pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Muncul peristiwa Marali (Malapetaka Limabelas Januari) terjadi pada tanggal 15-16 Januari 1947 bertepatan dengan kedatangan PM Jepang Tanaka ke Indonesia. Pembangunan Nasional Dilakukan pembagunan nasional pada masa Orde Baru dengan tujuan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. yaitu : 1. Titik Berat Pelita I : Pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian. 2. Perundingan itu bertujuan membicarakan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan pemberian bantuan dengan syarat lunak yang selanjutnya dikenal dengan IGGI (Inter Governmental Group for Indonesia). Sasaran Pelita I : Pangan.Perundingan dilanjutkan di Amsterdam. . Belanda pada tanggal 23-24 Februari 1967.5%.Jangka panjang mencakup periode 25 sampai 30 tahun . perluasan lapangan kerja. Indonesia mendapatkan penangguhan dan keringanan syarat-syarat pembayaran utangnya. Selanjutnya pada tahun keempat Pelita II. Melalui pertemuan itu pemerintah Indonesia berhasil mengusahakan bantuan luar negeri. Inti dari kedua pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang stabil. Terjadilah pengrusakan dan pembakaran barang-barang buatan Jepang. Sasaran utamanya adalah tersedianya pangan.

Selama dasawarsa 1970-an laju pertumbuhan penduduk mencapai 2. Jika awal tahun 1970-an penduduk Indonesia mempunyai harapan hidup rata-rata sekitar 50 tahun maka pada tahun 1990-an harapan hidup lebih dari 61 tahun. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan. 3. Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya. 4.3% setiap tahun.Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1979 hingga 31 Maret 1984. Posisi perdagangan luar negeri memperlihatkan gambaran yang menggembirakan. Sektor ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Terjadi resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. 6. Indonesia memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6. pangan. Fasilitas sekolah . Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri. Hal ini antara lain dimungkinkan makin meningkatnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat. § Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.6% setiap tahun. Dalam himpunan Tap MPR Tahun 1993 di bidang pendidikan. Kebijakan pada sosial budaya Masa Orde Baru diakui telah banyak mencapai kemajuan dalam proses untuk mewujudkan cita-cita nasional. Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri. Pelita III pembangunan masih berdasarkan pada Trilogi Pembangunan dengan penekanan lebih menonjol pada segi pemerataan yang dikenal dengan Delapan Jalur Pemerataan. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh. Dalam kehidupan sosial budaya. Pelita V Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1989 hingga 31 Maret 1994. Dalam tahun tahun awal 1990-an angka tadi dapat diturunkan menjadi sekitar 1. Sebagai contoh adanya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu sampai di tingkat desa atau RT. dan perumahan. khususnya sandang. masyarakat dapat digambarkan dari berbagai sisi. Pelita VI Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1994 hingga 31 Maret 1999. yaitu: § Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. § Pemerataan pembagian pendapatan § Pemerataan kesempatan kerja § Pemerataan kesempatan berusaha § Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum perempuan § Pemerataan penyebaran pembagunan di seluruh wilayah tanah air § Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.8 % per tahun. Pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Peningkatan ekspor lebih baik dibanding sebelumnya. Pada tahun 1968 fasilitas sekolah dasar yang ada hanya dapat menampung sekitar 41% dari seluruh anak yang berumur sekolah dasar. Pelita IV Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1984 hingga 31 Maret 1989. Dalam kurun waktu yang sama angka kematian bayi menurun dari 142 untuk setiap 1000 kelahiran hidup menjadi 63 untuk setiap 1000 kelahiran hidup. fasilitas pendidikan dasar sudah makin merata. 5.

Kebhinekaan Indonesia dari berbagai hal (suku.) yang mempunyai peluang yang tinggi akan terjadinya konflik. Pada tahun 1990-an jumlah yang tidak atau belum pernah sekolah menurun menjadi sekitar 17%. Berdasarkan Ketetapan MPR No. guna menciptakan stabilitas politik maka pemerintah menempatkan peran ganda bagi ABRI yaitu sebagai peran hankam dan sosial. Dengan Pancasila akan dapat memberikan kekuatan. Sehingga peran ABRI dikenal dengan Dwifungsi ABRI. Dengan penghayatan terhadap Pancasila oleh manusia Indonesia akan terasa dan terwujudlah Pancasila dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. maka masa Orde Baru memunculkan kebijakan yang terkait dengan pemahaman dan pengamalan terhadap dasar negara Pancasila. Sementara itu. Dampak dari pemerataan pendidikan juga terlihat dari meningkatnya tingkat pendidikan angkatan kerja. 4. maupun non-formal sehingga di tradisikan sebagai gerakan Budaya. Karena itulah diperlukan suatu pedoman yang dapat menjadi penuntun dan pegangan hidup bagi sikap dan tingkah laku setiap orang Indonesia. Dalam tahun 1971 hampir 43% dari seluruh angkatan kerja tidak atau belum pernah sekolah. Pertimbangan pengangkatannya didasarkan pada fungsi stabilisator dan dinamisator. Peran ini dilandasi dengan adanya pemikiran bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. budaya. antar golongan dsb. . agama.dasar yang telah dibangun di pelosok tanah air praktis mampu menampung anak Indonesia yang berusia sekolah dasar. ras. Dalam kurun waktu yang sama angkatan kerja yang berpendidikan SMTA ke atas adalah meningkat dari 2. jiwa kepada bangsa Indonesia serta membimbing dalam mengejar kehidupan lahir dan batin yang makin baik menuju masyarakat yang adil dan makmur.II/MPR/1978 ditetapkan tentang P-4 yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Parasetia Pancakarsa). Untuk melaksanakan semua ini dilakukanlah penataran-penataran baik melalui cara-cara formal.8% dari seluruh angkatan kerja menjadi hampir 15%. jumlah rakyat yang masih buta huruf telah menurun dari 39% dalam tahun 1971 menjadi sekitar 17% di tahuan1990-an. Kedudukan TNI dan Polri dalam pemerintahan adalah sama di lembaga MPR/DPR dan DPRD mereka mendapat jatah kursi dengan pengangkatan. Kondisi ini merupakan landasan kuat menuju pelaksanan wajib belajar 9 tahun di tahun-tahun yang akan datang. Kebijakan pada bidang hankam Dalam masa orde baru. Peningkatan mutu angkatan kerja akan mempunyai dampak yang luas bagi laju pembangunan di waktui-waktu yang akan datang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful