FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN

FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN A. Pengertian Filsafat Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia yang terdiri dari dua suku kata yakni philos yang berarti cinta, atau philia yang berarti persahabatan, dan kata sophos yang berarti inteligensi, kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan. Imam Bernadib menganggap bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philosophos. Kata ini terambil dari kata philos dan sophia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophia atau sophos berarti kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah. Seseorang dapat disebut telah berfilsafat menurut Bernadib, apabila seluruh ucapan dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, cinta terhadap pengetahuan dan cinta terhadap hikmah. Menurut Harun Nasution, falsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata, yakni philein dalam arti cinta dan sophos dalam arti hikmat (wisdom). Harun mengatakan bahwa orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan tabiat susunan kata-kata Arab, yaitu falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Berdasarkan pola kalimat (kata) tersebut, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya falsafah atau filsaf. Lebih lanjut Harun mengatakan bahwa kata filsafat yang banyak digunakan dalam bahasa Indonesia, sebetulnya bukan murni berasal dari bahasa Arab falsafah dan juga bukan murni dari bahasa Barat philosophy. Akan tetapi, kata filsafat ini merupakan gabungan dari keduanya (bahasa Arab dan Barat). Kata fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari bahasa Arab. Berfilsafat menurut Harun adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar-dasar persoalan. Bedasarkan pengertian itulah, maka Harun mendefinisikan filsafat sebagai : • Pengetahuan tentang hikmah; • Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar; • Mencari kebenaran; dan • Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas. M. Rasjidi dan Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa falsafah (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata philosophia, yang terambil dari akar kata philo atau philein yang berarti cinta (loving) dan shopia yang berarti pengetahuan, kebijaksanaan (hikmah atau wisdom). Jadi philosophia artinya cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan atau kebenaran menurut Rasjidi disebut philosophos, dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dengan demikian, philosophos atau failasuf adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usa dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, philosophos atau failasuf adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan dan kebenaran. Rasjidi lebih lanjut menyatakan bahwa meskipun falsafah berasal dari bahasa Yunani sebagai daerah sumber awal kegiatan berfalsafah, tetapi dalam bahasa Arab asli terdapat suatu kata yang mirip dengan makna filsafat, yaitu kata hikmat. Menurut Rasjidi, makna asal dari kata hikmat adalah tali kendali yang digunakan pada seekor kuda untuk mengekang keliarannya. Juga berarti pengetahuan atau kebijaksanaan. Atas dasar itu, maka diambillah kata hikmat sebagai sinonim dari kata filsafat. Karena seseorang yang memiliki hikmat (pengetahuan) itu, seharusnya dapat lebih bijaksana dan dapat membentengi dirinya dari perbuatan rendah dan hina.

Sedangkan kata philosophia itu sendiri terdiri dari dua suku kata. istilah filsafat dilihat dari asal kata philos dan sophia. Apa yang seharusnya diketahui / dikerjakan manusia (dijawab oleh etika). maka menurut Kant persoalan yang menjadi pokok kajian filsafat. maka dapat dipahami bahwa ruang lingkup pembahasan filsafat adalah. yakni pemaparan pendapat yang rasional dengan . Belanda dan Francis). hakikat. philos dan sophia. 1. etika. 2. philosophie (bahasa Jerman. Berdasarkan asumsi itulah. dan 4. yakni philein. Tetapi istilah philosophia dan philosophos (falsafah dan failasuf) itu sendiri baru menjadi popular dan lazim digunakan pada masa Sócrates dan Plato (sekitar abad ke-5 SM). Aristóteles (382-322 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang meliputi kebenaran yang objek kajiannya adalah ilmu metafísica. Imanuel Kant (1724-1804 M) mengasumsikan bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. logika. 3. sebagaimana yang tampak dari kegiatan filosofis yang mencari sumber. dapat dipahami bahwa: 1. 4. Filsafat dapat dipandang sebagai tubuh pengetahuan yang memperlihatkan lepada kita apa yang kita katakan. 2. philos berarti teman. Al-Farabi (870-950 M) seorang filosof Islam mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bagaimana hakekat alam yang sebenarnya. pertama. sophos berarti bijaksana dan sophia berarti kebijaksanaan. Filsafat adalah ikhtiar untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan secara koheren dan menyeluruh (holistic dan comprehensive). semua kata itu berasal dari bahasa Yunani philosophia. keabsahan dan nilai-nilai pengetahuan apapun. ekonomi dan estétika. maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat sebagai kata benda). sistematik dan konseptual untuk memperoleh pengetahuan atau pandangan yang selengkap mungkin mengenai realitas (kebenaran).Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (bahasa Arab). Sampai dimanakah harapan manusia (dijawab oleh agama). maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (filsafat sebagai kata sifat). Apakah yang dinamakan manusia (dijawab oleh Anthropologi). Filsafat adalah wacana tempat berlangsungnya penelusuran kritis terhadap berbagai pernyataan dan asumsi yang umumnya merupakan dasar suatu pengetahuan. Pythagoras dengan rendah hati menjawab pertanyaan tersebut bahwa dirinya adalah pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom). hakekat realitas akhir yang mendasar dan nyata. yaitu. Istilah philosophia ini muncul berawal ketika Pythagoras ditanya tentang apakah ia termasuk orang yang bijaksana. Apakah yang dapat manusia ketahui (dijawab oleh metafisika). Selain itu. Dari pengertian dan definisi filsafat yang dikemukakan oleh para ahli dan filosof sebagaimana tersebut di atas. 3. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan atau menggambarkan dengan kata-kata. Sejarah telah mencatat bahwa istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras pada tahun 572 – 497 SM (sekitar abad ke-6 SM). Kedua. Philein berarti mencintai. Filasafat adalah usaha spekulatif yang rasional. Dengan demikian. Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas. retórika. Plato (427-384 SM) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. dan mengatakan kepada kita apa yang kita lihat. philosophy (bahasa Inggris). istilah filsafat dilihat dari asal kata philein dan sophos. Sedangkan Descartes (1590-1650 M) mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan yang meliputi pengetahuan tentang Tuhan. alam dan manusia. kajian yang berkenaan dengan pencarian kebenaran fundamental dengan cara : (a) argumentatif. Menurut Ali Mudhafir. kata filsafat secara etimologi menurut Mudhafir memiliki dua pengertian yang berbeda. Sejalan dengan Descartes. Pertama.

mendasar (radikal). Cabang Filsafat Dilihat dari kriteria dan sifat berfikir filsafat. Suriasumantri menyatakan bahwa pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup tiga segi. dan hal-hal lainnya. Jujun S. dan aksiologi. ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakekat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. filsafat sebagai reflective thinking. Penalaran filosofis yang dimaksud adalah penalaran yang selalu mengandung ciri-ciri skeptis (meragukan). Maksudnya. Filsafat Idealisme 3. komprehensif (menyeluruh. menyeluruh (holistic. seperti batas ruang. Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakekat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu ? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak ?”. artinya filsafat sebagai aktivitas pikir murni. filsafat sebagai produk kegiatan berpikir murni dan terbentuk dalam suatu disiplin ilmu. comprehensive). penalaran filosofis yang umumnya sibuk menanyakan serta menelusuri makna dan penyebab dasar dari berbagai pengetahuan tanpa mengenal batas apapun. pertama. Dengan kata lain. Filsafat Materialisme * 2. apalagi batas buatan manusia. (b) etika (Baik-Buruk). Menyoal tentang wujud hakiki obyek ilmu dan keilmuan (setiap bidang ilmu dalam jurusan dan program studi) itu apa ? Objek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik. yakni tidak berdasarkan pemahaman inderawi. hakekat pikiran serta kaitan antara zat . dan (c) estetika (IndahJelek).disertai dasar-dasar penalarannya. jadi objek ilmu adalah pengalaman inderawi. yakni (a) logika (Benar-Salah). ilmu. B. ia telah terbentuk dalam perbendaharaan yang terorganisasi dan telah memiliki sistimatika tertentu. meluas). Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakekat yang ada. waktu. dan radikal (sampai ke akar-akarnya). yakni ontos dan logos. Dari teori hakekat (ontologi) ini kemudian muncullah bebrapa aliran dalam filsafat. Filsafat adalah upaya manusia untuk menemukan kebenaran hakiki melalui cara berpikir yang sistematis. Filsafat Dualisme 4. dunia yang dapat dijangkau pancaindera. antara lain : 1. Ketiga cabang pemikiran filsafat itu adalah ontologi. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. baik batas alamiah. Dalam hal ini filsafat merupakan suatu daya atau kemampuan berpikir yang tinggi dari manusia dalam usaha memahami kesemestaan. filsafat kemudian berkembang dan melahirkan tiga cabang besar dan sekaligus sebagai objek kajiannya. agama atau kepercayaan. dan analitis. Filsafat Agnostisisme. Melalui berfikir filsafati. Ontologi Ontologi terdiri dari dua suku kata. Dengan kata lain. Ketiga cabang utama filsafat ini lanjut Suriasumantri. epistemologi. maka filsafat dapat dibedakan dalam dua jenis pengertian. Dari ketiga cabang filsafat ini kemudian berkembang lagi dan masing-masing melahirkan cabang tersendiri. diharapkan manusia menjadi lebih mampu bersikap. adat istiadat. teori tentang ada: tentang hakekat keberadaan zat. Kedua. Filsafat Skeptisisme 5. 1). Seiring dengan perkembangan dan dinamika masyarakat. kegiatan akal piker manusia dalam usahamengerti secara mendalam atas segala sesuatu. Pertama. kritis. kemudian bertambah lagi yakni. (b) non-empirik. Kedua. etnik. Berikut penjelasan ketiga cabang filsafat tersebut dan perkembangannya.

merumuskan hipotesis. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. otoritas (kewibawaan). menyimpulkan dan conlusion. estetika. Dengan kata lain. 2). dan pengalaman biasa. ia bukanlah hakekat. Asia.dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika. Menurutnya. Demikian pula manusia punya idea. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine disebut Tuhan. Kebenaran tetap dan kekal itulah kebenaran yang mutlak. mengumpulkan data. dan sebagainya. karena itu. . teknik. Tata cara. hakekat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Idea kuda itu adalah faham. China. Namun. tetapi terkadang pula merasa ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Epistemologi Epistemologi berasal dari kata episteme yang berati pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. dan itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Benda-benda yang kita lihat atau yang dapat ditangkap dengan panca indera senantiasa berubah. metode ilmiah dan metode problem solving. tua-muda. idea manusia adalah ”binatang berpikir” ( _Êämlãq~1 – Arab). Argumen ontologis kedua dimajukan oleh St. Dengan kata lain. Idea manusia menurut Plato adalah badan hidup yang kita kenal dan bisa berpikir. Idea inilah yang merupakan hakekat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. melakukan verifikasi. tetapi hanya bayangan. Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. putih ataupun belang. Dengan kata lain. baik yang hidup ataupun udah mati. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan. teknik. atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode nonilmiah. kopi atau gambaran dari idea-ideanya. Metode ilmiah adalah cara memperoleh pengeahuan melalui pendekatan deduktif dan induktif. gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini. Plato mencontohkan pada seekor kuda. Menurut Augustine. akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar. metafisika dan politik – menurut Suriasumantri. kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik lagi yang disebut filsafat ilmu. Menurut Plato. Augustine (354 – 430 M). Konsep binatang berfikir atau _Êämlãq~1 ini bersifat universal. akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap (kebenaran yang tidak berubahubah). Sedangkan metode problem solving adalah memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi permasalahan. prasangka. Jadi epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. untung-untungan (trial and error). manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. kajian mengenai organisasi sosial / pemerintahan yang ideal. manusia Eropa. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan/metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan. lelaki-perempuan. etika. epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara. . benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera ini hanyalah khayal dan illusi belaka. atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan. baik itu kuda yang berwarna hitam. terangkum dalam politik. tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. akal sehat (common sense). India. bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini. kedua. mengorganisasikan dan menganalisa data. Idea-idea itu berada dibalik yang nyata dan idea itulah yang abadi. yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan. Kelima cabang filsafat ini – logika. berlaku untuk seluruh manusia besar-kecil.

Kedua. mendeskripsikan. sangat dihawatirkan dan berbahaya jika ilmu dan pengetahuan yang sarat muatan negatif itu dikendalikan atau jatuhnya ke orang-orang yang berakal picik. Aksiologi Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu kehidupan. generalisasi dan hukum-hukum. bingkai atau kerangka pemikiran untuk menerangkan. antara pengetahuan dengan ilmu (science – Inggris) memiliki perbedaan makna utamanya pada penggunaannya. prinsip-prinsip. dimana-mana terjadi krisis-krisis: ketidak-berdayaan. Ilmu penegetahuan itu hanya alat (means) dan bukan tujuan (ends). dan lainnya. 3). Menurut al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Cecep Sumarna bahwa. Dengan kata lain. Rasjidi dan Harifuddin Cawidu bahwa: ”pengetahuan yang didapat dari pengalaman disebut pengetahuan”. C. Pengertian Ilmu dan Pengetahuan Kata ilmu dan pengetahuan adalah dua buah kata yang merupakan kata majemuk. Dari dua bentuk dasar pengetahuan tersebut. yakni ilmu pengetahuan. Namun. . Pengetahuan mempunyai makna yang sama dengan knowledge dalam bahasa Inggris. ternyata kata ilmu dan pengetahuan mempunyai arti tersendiri. kesakitan. keresahan. penginderaan. refleksi. Muhammad Hatta memberikan pengertian yang berbeda antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan. tergantung pada pemakaianya. Temuan itu dapat dipakai sebagai basis. yakni pengetahuan tentang sains. karena ia dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental. yakni bagaimana manusia harus hidup dan bertindak ? Teori nilai atau aksilogi ini kemudian melahirkan etika dan estetika. bertangan besi dan kotor. Dengan kata lain. sehingga dalam penggunaannya sehari-hari selalu dirangkai dan membentuk satu arti. berjiwa kerdil. Secara moral dapat dilihat apakah nilai dan kegunaan ilmu itu berguna untuk peningkatan kualitas kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia atau tidak. Menuurut Hatta sebagaimana dikutip oleh M. kemudian melahirkan tiga macam pengetahuan. Pertama. sedangkan ”yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu”. pengatahuan adalah apa yang kita ketahui. Sekarang coba kita lihat. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan teori-teori. mengantisipasi atau meramalkan sesuatu kejadian secara lebih tepat. filsafat dan mistik. kemerosotan. pengetahuan adalah hasil aktivitas mengetahui. Pengetahuan selalu memberi rasa puas dengan menangkap tanpa ragu terhadap sesuatu. sempit. aksiologi adalah ilmu yang menyoroti masalah nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan itu. misdirection. atau appreaciative responses. kualitas dan harga sesuatu. ketahui atau fahami atau dapatkan melaui pengalaman. kumuh dan jahat. yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan di dalamnya. Substansi ilmu itu bebas nilai (value-free). mengontrol. dan lainnya sebagai dampak mismanagement. Pengertian pengetahuan seperti itulah yang telah membedakannya dengan ilmu yang selalu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari apa yang sekedar dituntut oleh pengetahuan. keterbelakangan. apabila dilihat dalam perspektif keilmuan. ketidak-percayaan. Nilai (values) bertalian dengan apa yang memuaskan keinginan atau kebutuhan seseorang. Pengetahuan merujuk kepada apa yang kita kenal. pengetahuan yang patut digunakan atau diterapkan dalam menjawab kebutuhan praktis. Dalam hal ini. kebodohan. Karena itu. Aksiologi disebut juga teori nilai. dan sektarian. percobaan. mismanipulation. penyuluhan. Pengetahuan berlangsung dalam dua bentuk dasar yang berbeda. pengetahuan yang berfungsi untuk dinikmati dan memberikan rasa puas dalam hati manusia. intuisi. dan lain sebagainya. pelatihan.yakni pengujian hipotesis. kemiskinan. belajar.

Kedua. hingga menjadi kesatuan.” 3. Malik bin Nabi tidak membedakan antara ilmu dengan pengetahuan.” 4. ilmu-ilmu itu dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok yaitu: a. Tetapi secara terminologi ilmu atau science adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri dan syaratsyarat tertentu. Dari segi bahasa. yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu. kata ilmu berasal dari bahasa Arab. Ciri-cirinya adalah memiliki obyek. memiliki sistematika. studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari. Quraish Shihab lebih lanjut mengatakan bahwa ilmu itu ada dua macam berdasarkan perspektif alQuran. Amir Daien Indrakusuma: ”Ilmu pengetahuan adalah uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah.” 2. ’Alima – Arab) secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. yang rasional.” 5. Intaj al-Mustasyriqin wa at-Saruhu Fi al-Fikriy al-Hadits sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab ”Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”. yang disebut ilmu kisbi. kata ilmu digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam Ensiklopedi Indonesia sebagaimana dikutip Rasjidi dirumuskan bahwa: ”Ilmu Pengetahuan adalah suatu sistem dari pelbagai pengetahuan. Ilmu untuk mengembangkan pribadi manusia mencapai ahsani taqwim c. Menurut Quraish Shihab. ’ilm yang berarti kejelasan. tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh. dapat diuji kebenarannya. ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia. yang disebut ilmu ladunni.Ilmu (science – Yunani. Ashley Montagu: ”Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan. memiliki metode. Ilmu untuk memelihara. Pertama. Sedangkan berdasarkan fungsinya. Lebih lanjut Malik bin Nabi mengatakan: ”Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang. Sutari Imam Barnadib: ”Ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek.” Ilmu adalah cabang pengetahuan dengan ciri-ciri tertentu. Ilmu untuk hidup berbudaya dengan sesama manusia d. suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi. Dalam hal ini. mengembangkan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Ilmu untuk ibadah dalam arti khusus atau ritual b. Menurutnya.bidang tersebut. ilmu yang diperoleh karena usaha manusia. deduksi). Ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang . Para ahli telah memberikan rumusan batasan ilmu pengetahuan (science) dengan formulasi yang berbeda-beda. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag memberikan batasan defenisi ilmu. Malik bin Nabi di dalam kitabnya. yang umum dan kumulatif (bertimbun-timbun) dan keempatempatnya serentak. yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu. antara lain : 1. ”ilmu adalah yang empiris. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.

Fenomena-fenomena terkait dengan kausal Dalam upaya quest for knowledge manusia menggunakan segala akal budinya. tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu. Rasio tidak berdusta. ada hubungannya dengan melemahnya penggunaan akal dan nalar. Rasa yang terjaga menjadikan manusia berderajad lebih tinggi dari malaikat. menyatakan hubungan-hubungan dan mendeduksinya (atau menginduksinya). Kita mengembangkan ilmu secermat-cermatnya untuk mengambil manfaat sebesarbesarnya dalam kehidupan manusia. yang harus diupayakan adalah perenungan dalam melakukan nalar. dan diantara kebenaran relatif ini dibagi dua. Ilmu adalah dasar untuk peradaban manusia. sedangkan rasa yang tidak terjaga dari godaan syeitan menjadikan manusia jatuh martabat menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun. . pengkajian. memperoleh pemahaman. Kita mengetahui dunia melalui panca indera 4. yang merupakan kegaiban. etika dan estetika. dan memberikan penjelasan atau melakukan penerapan. kemampuan ini disebut intuisi.” Ilmu (science) merupakan pengetahuan yang menelaah dunia empirik. cara perolehannya melalui observasi. ilmu. sedangkan kebenaran yang dicapai itu sifatnya relatif. Kemampuan rasa terletak pada kreativitas. sedangkan ilmu timur menekankan pada kalbu dan hanya sedikit rasio. Patokan ini disebut inferensi. Kreativitas inilah yang merupakan pemula di segala bidang. sehingga tiadanya rasa tak mungkin ada etika dan estetika. sehubungan dengan pandangan teologis yang terlalu menonjolkan takdir. ialah rasio dan rasa. Bahwa dunia ini ada 2. sebagai pemula keberadaan sains ditetapkan dalam empat asumsi dasar. Semua kemampuan itu berdasarkan ketentuan atau patokan-patokan yang sangat terperinci. Etika (love) dan estetika (beauty) seluruhnya terletak pada rasa. nalar. dalam keadaan murni ia menyatakan secara tegas ya atau tidak. Daya quest for knowledge (penguasaan ilmu) muslim melemah. ialah filsafat yang bersifat ‘spekulatif’ dan ilmu atau sains yang bersifat ‘positif’. Selain itu menyatakan secara kuantitatif atau kualitatif. Sebagai pemula. yaitu: 1. Objek ilmu pengetahuan adalah dunia empirik atau alam materi yang diserap melalui panca indera yang lugas maupun yang dibantu oleh teknologi modern. Akan tetapi kita menghendaki untuk menggunakan rasio dan rasa secara seimbang pada tempat dan takaran yang benar. kemasyarakatan dan perorangan untuk tujuan mencapai kebenaran. atau percobaan yang sistematik. Rasa tidak berpatokan sebagaimana dipunyai oleh rasio. Kemampuan rasio terletak pada membedakan (atau menyamakan) dan menggolongkan (berdasarkan kesamaan itu). karena itu langsung berhubungan dengan tuhan.dipersembahkannya kepada masyarakat. dan perkembangan ilmu diwadahi oleh perguruan tinggi. Kita percaya bahwa kebenaran mutlak diwahyukan tuhan kepada manusia. Bila ilmu barat hanya menyandarkan pada akal atau rasionya saja. Kita bisa mengetahui dunia 3. penginderaan. Dalam sains (yang tidak melandaskan diri kepada tuhan). metodis. dan koheren. Istilah science atau ilmu dalam pengertiannya yang lengkap dan menyeluruh adalah serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami. Rasa adalah media kontak manusia dengan tuhan. dalam rangka pengabdian manusia (sebagai mahluk) kepada penciptanya (khaliq) Ilmu sangat erat kaitannya dengan kebenaran.

ilmuwan muslim – kususnya kaum sufi – memperkenalkan ilmu untuk menggambarkan hirarki keseluruhan realitas wujud yang mereka sebut lima kehadiran Ilahi. 2. variasi terbatas. Sementara syarat-syarat sesuatu dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan adalah harus mempunyai: 1. yaitu alam materi dan nonmateri. Hasil dari pemikiran manusia itulah. sehingga ilmu mengalami loncatan perkembangan dibandingkan dengan loncatan filsafat. Sehingga dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu. Wujud zat ilahi Cara memperoleh ilmu-ilmu tersebut ada dua macam sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab. Walaupun sesungguhnya ilmu lahir dari filsafat. yakni dengan ladunni dan dengan kasbi. dan lain sebagainya. dan 5. maka manusia menggunakan akal pikirannya. maka perkembangan ilmu pengetahuan telah mengalahkan perkembangan filsafat.Ilmu pengetahuan itu timbul disebabkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan dan kemauan manusia untuk hidup bahagia dan sejahtera. pengamatan. ilmu bahasa. humaniora. boleh dikatakan tidak ada batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Alam kejiwaan 3. Ilmu Pengetahuan Alam. Sifat-sifat ilahiyah. Adapun sarana yang digunakan untuk memperoleh ilmu-ilmu tersebut adalah dengan melalui pendengaran. Karena seorang filosof pada zaman tersebut pasti menguasai semua ilmu. rasional. D. Bahkan sebagian mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di alam materi. maka secara garis besarnya objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok. 3. penglihatan (mata). objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan. percobaan dan tes-tes kemungkinan (probability) merupakan cara-cara yang digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. akal dan hati. Berdasarkan berbagai definisi dan pembagian ilmu sebagaimana yang disebutka di atas. menyebabkan manusia membatasi ilmunya pada bidang tersebut. tetapi dalam perkembangannya dan dengan didukung oleh kecanggihan teknologi. Tetapi dengan adanya perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praktis. Sains mutakhir yang mengarahkan pandangannya kepada alam materi. Sedangkan ilmuwan muslim menyatakan bahwa objek ilmu mencakup alam materi dan nonmateri. metode penelitian. sistematika uraian. Karena itu. Sedangkan trial and error (coba-coba). dan pengalihan antar budaya. Tetapi kalau dicermati dari semua definisi atau batasan yang bermacam-macam itu dapat diketahui bahwa ilmu (science) merupakan pengetahuan yang bercirikan sistematik. yaitu : 1. obyek formal sendiri. Alam materi 2. Hubungan antara Filsafat dan Ilmu Serta Objek Kajiannya Dari zaman Plato (348 SM) sampai masa al-Kindi (1209 M). Alam ruh 4. empiris dan bersifat kumulatif. kemudian melahirkan berbagai ilmu pengetahuan seperti: ilmu pertanian. dan 4. ilmu hukum. Bahkan wilayah kajian filsafat seolah menjadi lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya dari pada wilayah kajian . tujuan. Karena itu. kesehatan. Sesungguhnya masih banyak rumusan tentang definisi ilmu (science) yang dikemukakan oleh para ahli ilmu pengetahuan yang tidak dapat disebutkan semua. perikanan.

Di lain pihak berpendapat bahwa keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen itu sendiri. yakni. tetapi aktivitas berfikir ilmuwan sangat berbeda dengan aktivitas berfikir filosof. Di samping itu. yakni kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. tetapi hanya dapat dibuktikan oleh teori-teori keilmuan melalui observasi dan eksperimen atau memperoleh justifikasi kewahyuan. Bahkan pada hal tertentu ilmu menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Dari pandangan dan anggapan yang dikemukakan di atas. Lalu pertanyaannya sekarang. AM. sama artinya dengan melakukan penolakan terhadap kebutuhan riil dari realitas kehidupan manusia yang memiliki sifat untuk terus maju. Saefuddin justru menyatakan bahwa filsafat merupakan sesuatu yang dibutuhkan manusia saat ini. yakni kesimpulannya ditarik setelah malakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteorisasi. Dengan demikian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris. Filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai cabang ilmu. Tugas ilmu menjadi lebih luas. tetapi pada sisi yang lain ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan. sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang komprehensif dan itu tidak dapat diperoleh dalam ilmu. filsafat dapat ditempatkan pada posisi maksimal pemikiran manusia yang pada tarap tertentu tidak mungkin dapat dijangkau oleh ilmu. Selain itu. tidak setiap filosof dapat disebut sebagai ilmuwan. Meskipun cara kerjanya sama. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri. Kebenaran filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat itu sendiri. filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan dapat menjadi pembuka dan sekaligus pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan ’bagaimana sesungguhnya fakta itu. menurut Sony Kerap ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat. Pada kenyataannya hampir tidak ada satu cabang ilmupun yang terlepas atau tidak terkait dengan persoalan filsafat. dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Saefuddin. ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Dari gambaran yang dikemukakan di atas memberikan pemahaman bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan. Kalau ilmu bersifat pasteriori. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan ’bagaimana menjawab pelukisan’. benarkah demikian ? Kartini Kartono (1996) seperti yang dikutip oleh Cecep Sumarna mengemukakan bahwa ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Ilmu bertugas melukiskan. yang luas. Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran. Penjelasan lebih lanjut mengenai aktivitas berfikir ilmuwan dan berfikir filosof dapat dilihat pada pembahsan tentang ciri-ciri berfikir filsafat dan ciri-ciri kebenaran ilmiah. Tegasnya. dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya’. Menurut AM. lahir suatu disiplin filsafat untuk mengkaji ilmu .ilmu. Sedangkan filsafat bersifat priori. yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen. Sebab manusia saat ini lebih membutuhkan ilmu yang sifatnya praktis dari pada filsafat yang terkadang sulit ”dibumikan”. sebagaimana butuhnya manusia terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah. yakni sama-sama menggunakan aktivitas berfikir. ia bersifat spekulatif dan kontemplatif. Dengan demikian. muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini. filsafat dan ilmu sama-sama mencari kebenaran. tidak semua ilmuwan dapat disebut filosof. filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan dianggapnya kurang relevan lagi dikembangkan. sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Menurutnya. menafikan kehadiran filsafat. Sebaliknya. yang umum dan universal (menyeluruh).

kini kembali merajuk hubungan yang mesra antara keduanya (filsafat dan ilmu pengetahuan). kehidupan dan kematian itu ? Dan masih banyak sederetan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikemukakan dalam mengungkap keingintahuan manusia. Persoala-persoalan yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman memperlihatkan gejala perkembangan ke arah yang semakin kompleks. namun manusia dengan naluri tanya dan pikirnya tetap mempersoalkan hal-hal itu lebih jauh. Meskipun ilmu pengetahuan dan agama telah berupaya untuk menjawab persoalan-persoalan itu. Akhirnya muncullah aliranaliran dan konsepsi-konsepsi pemikiran tentang hal-hal tersebut di atas. menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan jawaban dalam masalah-masalah yang sama. Walaupun pola relasi (hubungan) ini dapat berbentuk persamaan dan atau perbedaan antara filsafat dan ilmu. manusia. lalu apakah kematian itu ? kemana ia pergi sesudah mati ? Siapakah yang menciptakan alam. ataukah ia hanya merupakan perpaduan atom-atom seperti halnya benda-benda lain ? Manusia itu hidup. Di samping itu. Kalau zaman dahulu persoalan manusia masih sangat sederhana. Naluri manusia yang selalu ingin tahu dan selalu mempertanyakan segala sesuatu sampai ke radiksnya itulah yang menimbulkan lahirnya filsafat. E. Dalam hal ini filsafat berkedudukan sebagai mediator untuk mencari hubungan-hubungan yang dapat merangkum disiplin yang berbeda-beda itu. yang tentunya mengundang pemikiran yang beraneka ragam pula. lingkungan serta perbedaan ruang dan waktu. maka lambat laun persolan-persoalan itu semakin banyak dan semakin beragam. antara lain: Apakah alam itu sesungguhnya. bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan. di mana manusia memberikan jawaban-jawabannya terhadap persoalan-persoalan tersebut. Karena sifat relatif akal manusia itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan-perbedaan itu. yaitu persoalan alam. manusia dan persoalan tentang Tuhan. Hubungan itu terlihat pada usaha menggunakan filsafat sebagai pisau analisa terhadap disiplin ilmu yang beragam itu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan yang dibicarakan oleh filsafat dari dulu hingga kini tetap berkisar pada tiga masalah pokok di atas – persoalan alam. utamanya tentang alam dan manusia selalu berkembang dan bervariasi dari masa ke masa. Tetapi kalau disimpulkan. seirama dengan perkembangan zaman yang lebih banyak menimbulkan problema. Dengan kata lain. maka semua pertanyaan itu akan berkisar pada tiga persoalan pokok yang selalu dibahas manusia. manusia dan Tuhan –. tidaklah mengherankan dan bukan merupakan sesuatu yang aneh kalau pemikiran-pemikiran yang muncul ke permukaan semakin banyak. Perbedaan kemampuan. filsafat sekarang ini berfungsi sebagai . Dengan demikian terlihat adanya pola relasi antara filsafat dengan ilmu. tetapi apakah hidup itu ?. filsafat yang semula merupakan induk dari ilmu pengetahuan. kemudian ditinggalkan oleh anak-anaknya. apakah hanya ada dalam pikiran dan tidak mempunya wujud secara realitas ?. Kedudukan dan Fungsi Filsafat Bagi Manusia Seperti diketahui bahwa filsafat muncul sebagai manifestasi dari kegiatan berpikir manusia yang selalu mempertanyakan. Ada yang saling bersamaan. Hal-hal yang sering menggoda pikiran manusia untuk selalu mempertanyakannya. sampai ke akar-akarnya tentang hakikat dari realitas yang ada dihadapannya. tujuan dan sasaran ?. Perkembangan itu pulalah yang menimbulkan pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat semakin banyak dan semakin bervariasi.pengetahuan yang kemudian dinamakan filsafat ilmu. menganalisa. Tetapi aspek-aspek filosofis dari ketiga persoalan itu. Siapakah manusia itu sesungguhnya ? apakah akal yang dimilikinya yang selalu berpikir adalah sesuatu yang berbeda dari benda. Oleh karena itu. suatu ketika ia akan mati. apakah ia tunduk di bawah peraturan hukum mekanika ataukah ia tunduk kepada suatu rencana. ada yang bersinggungan dan tidak sedikit yang saling bertentangan.

dan sebagainya. Suriasumantri bahwa cirri-ciri berpikir filosofis adalah: a. Mengapa ilmu dapat disebut benar ? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan ? Apakah kriteria itu sendiri benar ? Lalu benar itu sendiri apa ? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan-pertanyaan pun selalu muncul secara berkelindan. Seorang filosof tidak percaya begitu saja kebenaran ilmu yang diperolehnya. misalnya: filsafat ekonomi. Radikal (radix – Yunani). berurutan dan penuh tanggung jawab c. Ia selalu ragu dan mempertanyakannya. Ia ingin meyakini apakah ilmu yang diketahuinya itu dapat membawa manfaat atau tidak. Ilmu Pengetahuan: Sumber dan Teori Kebenarannya 1. maka filsafat merupakan usaha pendalaman lebih lanjut dari ilmu pengetahuan sebagai suatu hasil berpikir yang mendalam. tidak ada sesuatu yang terlarang untuk dipikirkan b. tetapi mencakup keseluruhan aspek. Sumber Pengetahuan . artinya berpikir logis. artinya berpikir secara menyeluruh. maka dapat disimpulkan bahwa berfilsafat adalah suatu aktivitas yang menggunakan potensi akal seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa dibatasi oleh sesuatu apapun secara radikal. Berdasarkan ciri-ciri filsafat di atas. universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran. F. Sebab filsafat itu sesungguhnya membimbing manusia untuk berpikir secara utuh dan bulat. penuh kesadaran. Seorang filosof tidak puas mengenal ilmu hanya dari perspektif ilmu itu sendiri. tetapi ia ingin melihat hakikat ilmu itu dalam perspektif yang lain. Dewasa ini terlihat dengan jelas filsafat dijadikan sebagai atribut dari satu disiplin ilmu tertentu. Universal. baik yang kongkrit maupun yang abstrak. baru dapat disebut berfilsafat apabila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut: a. tersistematis. filsafat sosial. maka filsafat sangat penting kedudukannya bagi manusia.salah satu sarana dan alat pendekatan interdisiplin yang akan merangkum atau sekurang-kurangnya mencari hubungan antara berbagai disiplin yang bermacam-macam. filsafat sejarah. filsafat politik. Sistemik. filsafat tidak hanya berada di awang-awang seperti yang diduga oleh sebagian orang. Sifat berpikirnya mendasar. Sedangkan menurut Jujun S. tidak tanggung-tanggung. Dari hal-hal seperti tersebut di atas. c. Sifat spekulatif itu pula seorang filosof terus melakukan uji coba lalu melahirkan sebuah pengetahuan dan dapat menjawab pertanyaan terhadap kebenaran yang dipercayainya. filsafat administrasi. Jadi berpikir radikal berarti berpikir sampai ke akar-akarnya. tetapi tidak semua aktivitas berpikir dapat disebut berfilsafat. Sifat berpikirnya menyeluruh. Karen filsafat berusaha mencari jawaban dari berbagai persoalan hidup manusi yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan. Seorang filosof melakukan spekulasi terhadap kebenaran. sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling berkaitan. tetapi ia memiliki nilai praktis dan manfaatnya dapat dirasakan secara kongkrit oleh manusia pada umumnya. tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu. Menurut Cecep Sumarna suatu kerangka berpikir tertentu. Ia ingin menghubungkan ilmu itu dengan aspek-aspek lainnya. Ia ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. sehingga manusia dapat menjawab problema-problema secara interdisiplin. step by step. Dengan demikian. G. b. filsafat hukum. arti dasarnya adalah akar. Sifat berpikirnya spekulatif. Ciri-ciri Berpikir Filsafat dan Teori Kebenarannya Berfilsafat berarti berpikir.

Penganut paham rasionalis mampu membedakan antara ”apakah sesuatu itu yang senyatanya” atau ”bagaimanakah tampaknya barang sesuatu itu”. Tetapi jika ditelusuri lebih jauh melalui karya filosof skolastik . Namun. tetapi itu sudah ada sebelum manusia memikirkannya. empirisme serta intuisi dan wahyu. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman yang dalam perkembangannya melahirkan paham empirisme. Gejala alamiah menurut empirisme bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Kelompok rasionalis ini mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Empirisme Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia didapatkan lewat pengalaman yang kongkrit. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan cara intuisi tidak melalui proses penalaran tertentu. sementara Nietzsche menyebutnya sebagai sumber ilmu yang paling tinggi. Sistem kefilsafatan kaum rasionalis menganggap bahwa dengan sesuatu atau cara lain. Dengan demikian. yakni rasio dan pengalaman.Dalam konteks filsafat Barat Moderen. intuisi . Berikut penjelasan mengenai sumber pengetahuan tersebut. Paham ini sering juga disebut idealisme atau realisme. dapat disimpulkan bahwa sumber pengetahuan adalah rasionalisme. Paham empirisme ini pada perkembangan selanjutnya melahirkan ideologi baru yang disebut naturalisme yang menganggap bahwa hanya alam otentik yang dapat dipercaya. Pengetahuan itu merupakan kumpulan fakta-fakta. c. Mereka yang mendasarkan kebenaran pada rasio dalam perkembangannya melahirkan paham rasionalisme. Ia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. ada dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia. George Barkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776). Tokoh paham rasionalis ini adalah Rene Descartes (1596-1650). bukan penalaran rasional yang abstrak. Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Kedua paham inilah yang menjadi landasan lahirnya ilmu pengetahuan di Barat Moderen. Intuisi dan Wahyu Selain kedua cara di atas. Rasionalisme Menurut penganut rasionalisme bahwa dalam setiap benda terdapat ide-ide terpendam (innate ideas) dan proposisi-proposisi umum (general proposition) yang kemudian disebut sebagai proposisi keniscayaan (necessary atau a priori) yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris. Paham ini beranggapan bahwa seluruh ide yang datang dari pengalaman (experience) dan tidak ada proporsi tentang suatu benda dalam kenyataan yang dapat diketahui sebagai kebenaran yang independen dari pengalaman. Menurut Maslow intuisi sebagai pengalaman puncak (peak experience). Paham ini menganggap bahwa eksistensi objek tergantung pada diketahuinya objek tersebut. Menurutnya. kebenaran itu diukur dari apakah gagasan itu benar-benar memberikan pengetahuan kepada manusia atau tidak. Islam memperkenalkan sumber pengetahuan lain (selain rasionalisme dan empirisme) yaitu. Dengan demikian lanjutnya. menurut Nietzsche intuisi sifatnya sangat personal dan tidak dapat ditransformasi kepada manusia lain. ada hal-hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri dan yang hakikatnya tidak terpengaruh oleh seseorang. intuisi dan wahyu. terdapat pula cara lain sebagai sumber pengetahuan yang disebut intuisi dan wahyu. Premis-premis yang digunakan dalam membuat rumusan keilmuan harus jelas dan dapat diterima. b. ide-ide bukanlah ciptaan manusia. Menurutnya. Tokoh empirisme adalah Jhon Locke (1632-1704). a. Paham rasional menganggap bahwa ilmu lahir dari induk produk sebuah rangkaian penalaran.

jika seseorang menyatakan bahwa ”Soeharto adalah Presiden Republik . menurut Titus. Menurut teori ini. Pernyataan ini adalah benar. b. jika pernyataan yang menyebutkan bahwa (2) ”Dessy adalah gadis yang normal. Lain halnya dengan wahyu. Untuk mencapai kebenaran itu menurut konteks filsafat. yaitu adanya kesesuaian antara pernyataan tentang fakta. maka gagasan itu menjadi benar. Ia hanya dapat dijadikan hipotesis yang membutuhkan analisis lanjutan. Dengan demikian. Brand Blanshard. 2. tidak semua manusia memiliki persyaratan yang sama. Teori ini dianut oleh kaum rasionalis dan idealis. Sebab. suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan konsistensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.tidak dapat diandalkan. menurut teori ini bahwa suatu pernyataan itu dapat dikatakan benar jika berkorespondensi dengan realitas. Smith dan Nolan bahwa bibit-bibit teori ini sebenarnya sudah ada sejak zaman pra Socrates. Teori Korespondensi Teori korespondensi ini dianut oleh kaum realis dan mulai berkembang sejak zaman Aristoteles – Yunani Kuno. korespondensi dan pragmatisme. Ia memberi tahu tentang kehidupan manusia saat ini dan proses selanjutnya yang akan diarungi manusia setelah kehidupannya di dunia. koherensi. alam ini konsisten dan koheren. setelah produk rasional dan empiris melahirkan sekularisme yang mekanistik mengenai relitas. Sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu dapat dimasukkan (incorporated) dengan cara yang tertib dan konsisten dengan perangkat proposisi. paling tidak ada tiga teori yang dapat digunakan untuk mengukur kebenaran itu. ia merupakan sumber pengetahuan dan sekaligus menjadi sumber keyakinan. Agamalah yang menjadi kata kunci dalam wahyu. Paradigma kebenaran akan terasa sangat berbeda antara teori satu dengan teori lainnya karena sangat bergantung terhadap sasaran objek kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu. Artinya. dan inilah yang menjadi ciri khas dari teori kebenaran ini. Dengan kata lain. atau pertimbangan (judgement) dengan situasi yang dilukiskan oleh pertimbangan itu. Teori Kebenaran Pengetahuan Dalam menentukan suatu kebenaran. kebenaran adalah kesetiaan terhadap realitas objektif (fidelity to objektive reality). Eksistensi intuisi ini oleh kaum filosof Barat-Moderen sebenarnya baru diakui di akhir abad ke 20. Ia merupakan pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hamba pilihan-Nya. Oleh karena itu. (1) ”semua manusia yang normal pasti akan menikah”. Apabila sebuah gagasan selaras dengan pasagannya (counterpart) dalam dunia realitas. Sifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya itulah yang dianggap benar. Edgar Sheffied Brightman dan Rudolph Carnap. dan ketika sama sekali tidak ada tempat bagi ruh atau nilai dalam pengetahuan manusia. Ketiga teori yang dimaksud adalah. Suatu contoh. menurutnya. a. Meskipun demikian. Suatu contoh. dan pasti ia akan menikah” adalah pernyataan yang benar pula. Berikut penjelasan mengenai ketiga teori tersebut. Spinoza kemudian mematangkan teorinya ini dan terus dikembangkan oleh penganut aliran ini seperti Francis Herbert Bradly. kenudian dikembangkan oleh Ibnu Sina dan Thomas Aquinas di abad Skolastik. Teori Koherensi Teori koherensi secara teoritis pertama kali dicetuskan oleh Benediet Spinoza dan George Hegel. suatu pernyataan baru dianggap benar apabila materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu berkoherensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koherensi ini memandang bahwa kebenaran adalah sebuah sistem dan seperangkat proposisi yang saling berhubungan secara koheren. Karena pernyataan kedua (2) konsisten dengan pernyataan yang pertama (1).

dapat diriset dan dieksperimen. maka pernyataan itu benar sesuai dengan objek yang bersifat faktual. Ilmu Sebagai Sarana Pengembangan Daya Fikir Secara garis besarnya. Kebenaran terjadi pada suatu gagasan. Kedua. maka ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis. Oleh karena itu. Sebagai hasil atau produk berpikir. berdisiplin.Indonesia yang kedua. sebab banyak kebenaran individual. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat absolut. ilmu sebagai kegiatan dan pengembangan daya pikir (ilmu sebagai kata kerja). ilmu juga dapat dilihat sebagai alat atau sarana pengembangan daya pikir. Objek formal inilah yang membedakan antara suatu ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan lainnya. karena berpikir ilmiah bukanlah berpikir biasa. sehingga tidak ada kata final dalam suatu produk ilmu pengetahuan. sehingga terbuka peluang bagi setiap orang dan setiap saat untuk memperbaiki dirinya. . dan gagasan menjadi benar atau dibuat benar oleh suatu peristiwa. Dengan kata lain. maka pernyataan itu pasti salah. maka sasaran ilmu pengetahuan adalah alam. manusia dan Agama (Tuhan). setelah Soekarno. Dari segi materinya. berkolaborasi dan mampu dilakukan verifikasi. suatu pernyataan dianggap benar apabila melalui pengukuran diketahui ada atau tidak adanya fungsi kebenaran itu terhadap kehidupan praktis. Selain sebagai hasil produk berpikir. William James dan Jhon Dewey. Di sinilah peranan daya pikir manusia untuk terus menerus mengembangkan dan menghasilkan ilmu pengetahuan baru dalam rangka memenuhi hajat atau keinginannya yang semakin berkembang dan beraneka ragam pula. sebab pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas fakta. Pertama. karena Presiden Republik Indonesia yang pertama adalah Soekarno. Dilihat dari sisi ilmu sebagai sarana pengembangan daya pikir. suatu pernyataan menjadi benar atau konsekwensi pernyataan itu benar apabila mempunyai manfaat (kegunaan) praktis dalam kehidupan manusia. tetapi berpikir yang teratur. ilmu sebagai hasil atau produk berpikir (ilmu sebagai kata benda). Ilmu pengetahuan membahas sasaran-sasarannya itu dengan meninjau dari berbagai aspek atau sudut pandang yang disebut objek formal. Menurut mereka. c. ilmu pengetahuan itu dapat dilihat dari dua sisi. Inilah yang lazim disebut ilmu pengetahuan yang mempunyai objek materi dan objek formal. maka ilmu mencerminkan aktivitas dan kegiatan berpikir yang dinamis dan tidak statis. Teori ini muncul dengan background telah berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-19. bermetode dan kebenaran serta ketepatannya dapat diuji secara empiris. dapat diuji validitasnya. Seandainya ada pernyataan yang menyebutkan bahwa ” ”Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama. Menurut penganut teori pragmatisme ini. Tokoh-tokoh teori pragmatisme ini adalah Charles Sanders Peirce. setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun. Teori Pragmatisme Teori pragmatisme ini termasuk teori kebenaran yang paling baru. Karena ilmu sebagai produk akal manusia yang sifatnya relatif. terutama setelah adanya teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin yang menempati posisi signifikan dalam percaturan ilmu pengetahuan. selama berdasarkan pada objek empiris dan menggunakan metode keilmuan yang telah dipersyaratkan. Meskipun persoalan agama ini masih terkadang diperselisihkan oleh para cendekiawan sebagai salah satu sasaran ilmu pengetahuan. kebenaran menurutnya adalah partikular. 3. Oleh karena itu. maka itu sah dan layak disebut sebagai ilmu pengetahuan. bermetode. dan bersistem. Dan objek formal ini pulalah yang menjadikan suatu pengetahuan menjadi disiplin ilmu pengetahuan tersendiri. di mana idea dan konsep yang sedang dipikirkan tidak dibiarkan berkelana tanpa arah dan tujuan. Di sinilah urgensinya ilmu sebagai sarana atau alat pengembangan daya pikir manusia. gagasan yang benar adalah gagasan yang dapat diasimilasi.

Penjelasan rasional dengan kebenaran koherensi tidak dapat memberikan kesimpulan final karena hanya bersifat pluralistik. Tetapi secara garis besarnya. Dalam metode ilmiah. Metode Berpikir Ilmiah dan Ciri-ciri Kebenarannya Untuk sampai kepada kebenaran yang dituju diperlukan suatu jalan atau cara. Sebab seluruh penjelasan rasional yang diajukan. Ia selalu mencari arti terhadap hakikat permasalahan sambil terus melakukan antisipasi yang mungkin akan terjadi. Metode Induktif. Setelah hipotesis tersusun. statusnya hanya bersifat hipotesis (sementara). Teori ini menyatakan bahwa suatu pernyataan itu benar apabila materi yang terkandung dalam pernyatanan itu sesuai dengan objek faktual yang dituju oleh pernyataan tersebut. maka langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis itu dengan mengkomunikasikan atau mengkonfirmasikannya dengan dunia fisik yang nyata. Rasjidi disebutkan bahwa ”metode adalah cara bekerja yang tetap yang dipikirkan dengan seksama guna mencapai tujuan”. menurut urutan tertentu. tergantung kepada objek atau sifat dan jenis ilmu itu sendiri. . 4. yakni suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat khusus (individual) menuju kepada hal-hal yang bersifat umum (universal). perlu prosedur berpikir ilmiah yang dimulai dari hipotesis sebagai pemandu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai. yaitu pengetahuan. Untuk itu. baik pengetahuan humanistik dan historik maupun pengetahuan filsafat dan ilmiah. Metode ini berdasarkan fakta-fakta yang dapat diuji kebenarannya. sehingga hasil yang hendak dicapai tepat pada sasaran. pola kerja. Bermacam-macam cara atau metode yang ditempuh dalam proses mencapai kebenaran ilmiah. Lain halnya dengan Sri Soeripto. teknis dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang sudah ada. Proses pengujian ini lazimnya disebut sebagai pengumpulan data atau fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan atau ditentukan sebelumnya. Jadi metode ilmiah menurut Sri Soeripto adalah suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pemikiran. yakni suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat umum (universal) kemudian atas dasar itu ditetapkan hal-hal yang bersifat khusus (individual). Berikut bagan langkah-langkah dalam melakukan pengujian berdasarkan metode ilmiah. teknik atau jalan yang ditempuh dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun. Metode Deduktif. hipotesis dan pengujiannya melalui studi dilapangan. cara. Dalam Kamus Paedagogik sebagaimana dikutip oleh M. diperlukan proses berpikir dengan menggunakan analisa. menjadikan metode ilmiah sebagai proses perkawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi (proses logico – hypo – tesico – verifikasi). sehingga memberi kemungkinan untuk menyusun berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran tertentu. untuk mencapai pengetahuan yang benar yaitu suatu tatacara. b. Menguji kebenaran melalui metode ilmiah harus secara empirik.Berpikir ilmiah selalu terarah pada suatu tujuan. Kaidah keilmuan senantiasa mendasarkan pemikirannya pada penalaran yang rasional dan empiris. Jalan atau cara inilah yang disebut metode. Metode ilmiah ini mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif dalam membangun sebuah tubuh pengetahuan. Hipotesis disusun secara deduktif dengan berdasarkan premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Dengan kata lain. Ilmu selalu melakukan observasi dan penjelajahan baru terhadap masalah yang dihadapi dari pra anggapan. Adanya penyusunan hipotesis ini. dalam metode ilmiah diperlukan cara kerja berpikir induktif yang mendasari kriteria kebenarannya pada teori korespondensi. menurutnya seperti yang dikutip Cecep Sumarna bahwa metode berarti langkah-langkah yang diambil. metode ilmiah biasanya terbagi kepada dua macam yaitu : a.

hakikat pengetahuan dan sumbernya. Sedangkan pengetahuan dalam arti knowledge adalah apa yang kita ketahui melalui penginderaan. ilmu pengetahuan di samping sebagi hasil produk berpikir. 4. . Jadi filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan. dan pengetahuan. dan sophos yang berarti inteligensi. manusia dan Tuhan. Dilihat berdasarkan fungsinya. Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani. metode. ilmu dibedakan menjadi teoritical science dan applied science / practical science. Sumber pengetahuan adalah rasionalisme. pengalaman. epistemologi yang mengkaji tentang metode atau tata cara memperoleh pengetahuan. Adapun metode berpikir ilmiah adalah dengan deduktif dan induktif. yakni pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri dan syarat-syarat tertentu. atau philia yang berarti persahabatan. dan aksiologi yang membahas tentang nilai dan kegunaan suatu pengetahuan. Berfilsafat berarti berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi. 3. ilmu untuk hidup berbudaya dengan sesama manusia. keterampilan. Objek kajian filsafat adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan alam. tersistematis. sehingga memungkinkan manusia mengembangkan daya pikirnya untuk memenuhi hasrat dan naluri keingintahuannya tentang sesuatu yang diketahuinya sebelumnya. teori korenpondensi dan teori pragmatis. Ilmu dalam arti science adalah pengetahuan. memiliki objek. mengembangkan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. pelatihan. pengalaman. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Sedangkan teori kebenarannya adalah teori koherensi. kebijaksanaan. sistematika dan tujuan serta kebenarannya dapat dibuktikan secara empirik. Karena itu. Ciri-ciri berpikir filsafat adalah radikal. juga sebagai sarana kegiatan pengembangan daya pikir manusia. dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar-dasar persoalan. yaitu philosophia yang terdiri dari kata philos yang berarti cinta. ilmu untuk mengembangkan pribadi manusia mencapai ahsani taqwim. Ilmu pengetahuan dilihat dari cara memperolehnya dapat dibedakan menjadi ilmu ladunni dan ilmu kisbi. Dengan kata lain. percobaan. Filsafat merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan. filsafat adalah induknya ilmu pengetahuan. dan ilmu untuk memelihara. penyuluhan. intuisi. Ditinjau dari segi essensialnya.Langkah-langkah / Prosedur Berpikir Ilmiah H. dan lainlain. 2. universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran. dalam arti kebermanfaatannya terhadap kemaslahatan hidup manusia. ilmu-ilmu itu dapat diklasifikasikan menjadi ilmu untuk ibadah dalam arti khusus atau ritual. Adapun cabang dari filsafat adalah ontologi yang membicarakan tentang wujud hakikat sesuatu objek. empirisme dan intuisis dan wahyu. Kebenaran ilmu pengetahuan merupakan kebenaran relatif tidak absolut.

Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat. Ihktisar Sejarah Filsafat Barat. tetapi pada sisi yang lain ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan dapat menjadi pembuka dan sekaligus pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Pasal 1 ayat 1 tahun 2003. ϖ Semiawan. Cet. Zakiah. dkk. Harun. Ilmu Pendidikan. Jakarta: tp. Jakarta: Pustaka alhusna. ϖ Undang-undang No. 5. 2003. Dengan demikian terlihat bahwa antara filsafat dengan ilmu terdapat pola relasi (hubungan). Cet. 1999. Falsafat Agama. ϖ Semarna. baik dalam bentuk persamaan dan ataupun perbedaan. VIII. Referensi ϖ Ahmadi.Ditinjau dari segi objeknya ilmu dibagi menjadi Natural Science dan Social Science. Jakarta: Bulan Bintang. Filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai cabang ilmu. M. Terbuka. Filsafat dan ilmu sama-sama mencari kebenaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Cet. Jakarta: Teraju. ϖ Shihab. ϖ Hanafi. Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan: Buku Daras Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum Fakultas /Jurusan / Program Studi Pendidikan. dan Harifuddin Cawidu. 2004. Jakarta: PT. M. ϖ Gie. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. 1988. Cet. A. dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya’. 2000. Yogyakarta: Sabda Persada. Ilmu bertugas melukiskan. 2001. ϖ Nasution. Conny dkk. 2005. Ditinjau dari segi prosesnya ilmu dibedakan menjadi Historical Science dan Experimental Science. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan ’bagaimana menjawab pelukisan’. The Liang. Hal ini dapat dipahami bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan. ϖ Suriasumantri.Departemen Agama RI. Kalau ditinjau dari segi pengalaman ilmu dibagi menjadi Empirical Science dan Pure Science. 1996. Rineka Cipta. 1991. Sejarah Ilmu-ilmu dari Masa Kuno samapi Zaman Modern. Sedangkan apabila ditinjau dari segi agama ilmu dapat dibedakan menjadi ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi. sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Quraish. Filsafat Ilmu dari Hakekat Menuju Nilai. Membumikan al-Quran: Fungís dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. . H. XVIII. III. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Bulan Bintang. Cecep. Jujun S. Abu dan Nur Uhbiyati. XVIII. sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan ’bagaimana sesungguhnya fakta itu. Materi Pokok Dasar-dasar Agama Islam. 1981. II.Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Amat.. Bandung: Mizan. ϖ Daradjat. Bandung: Mizan. ϖ ----------------. ϖ Rasjidi. Cet. Jakarta: Univ. 2005. 1998.

com/2007/07/filsafat-dan-ilmu-pengetahuan.html .blogspot.http://ranysutra.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful