BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dalam keperluan pengembangan pemikiran, pemilihan antara ilmu dan filsafat secara metodologis adalah sangat penting. Bila merujuk pada sejarah pemikiran Barat, filsafat merupakan bentuk tertua dari pemikiran rasional yang bersifat pengertian dan dapat mempertanggungjawabkan diri sendiri. Boleh dikatakan meliputi seluruh daerah pemikiran manusia, yang merupakan keseluruhan yang hampir-hampir tidak dibedakan. Dalam perkembangannya, berbagai pengetahuan menyadari obyek dan metodenya sendiri, bahkan mengabsolutkan diri, yang lambat laun memisahkan diri dari filsafat. Para ilmuwan berputus arang dengan filsafat, mengganggap filsafat sama sekali tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terpukau oleh keberhasilan metodenya sendiri dan karena kejelasan serta ketetapan lapangan telaah sendiri, orang lalu menghapus filsafat, dengan keyakinan bahwa mulai sekarang hasil-hasil berbagai ilmu pengetahuan pasti dapat menggantikan dan mengabaikan filsafat. Sejarah pemikiran manusia berevolusi dalam tiga tahap; tahap falsafi di mana pada tahap ini hakikat benda-benda merupakan keterangan terakhir dari semua; dan tahap positivis. Tahap dimana dunia fakta yang dapat diamati dengan panca indera merupakan satu-satunya obyek pengetahuan manusia. Pada tahap terakhir inilah dunia Tuhan dan dunia filsafat telah ditinggalkan. B. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka makalah membatasi permasalahan tentang bagaimana pengaruh positivisme dalam pemikiran hukum, serta apakah aliran positivisme hukum dapat dikategorikan sebagai aliran filsafat dalam hukum.

1

hal. Prinsip-Prinsip Positivisme Sebenarnya pertentangan antara idealis versus materialis. telah berlangsung cukup lama. Secara epistimologis. maka sains berkewajiban untuk memberikan sebuah basis rasional baru untuk tingkah laku manusia. positivisme baru berkembang pesat pada abad ke-19 ketika empirisme mendominasi pemikiran. sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh 1 bahwa empirisme-positivisme mengabaikan masalah moralitas Muhammad Baqir Shadr. Konsep-konsep yang tidak terjangkau oleh penginderaan tidak dapat diterima. dan bersamaan dengan runtuhnya kewibawaan gereja. Meskipun demikian. wajar jika positivisme menolak secara tegas hal-hal yang bersifat transenden. karena mereka tidak lagi percaya kepada doktrin Gereja. metafisis versus positivis. Pola pemikiran demikian. Artinya kemunculan positivisme ini mengiringi kemunculan filsafat. “Tibalah saatnya bahwa setelah berhasil menghancurkan basis religius untuk kesusilaan. artinya antara empirisme dan positivisme tidak dapat dipisahkan. Falsafatuna. yang menawarkan basis pemikiran transendental. Ucapan B. bisa dilacak sampai kepada pemikiran Aristoteles. 1991. ontologis versus empiris. Oleh karena itu. secara historis. sebuah kode etik yang berkenaan dengan kepentingan-kepentingan manusia di atas dunia.1 Adalah ungkapan yang mempertegas transendental. empirisme dan positivisme mendalilkan bahwa panca indera adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan. Oliver berikut ini. ketika ia menyatakan bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa. yang berupaya memisahkan secara tegas antara urusan politik (negara) dengan urusan Gereja (agama). Positivisme lahir dan berkembang di bawah naungan empirisme. Pesatnya perkembangan positivisme terjadi setelah menangnya gerakan sekularisasi.M. Positivisme sama tuanya dengan filsafat. Bandung: Mizan.BAB II PEMBAHASAN A. 56 2 . bukan kepentingan-kepentingan di akhirat”.

yang ghaib. tokoh empirisme.pengalaman. Wilayah metafisika dan hakikat menjadi obyek pemikiran filsafat melalui kontemplasi spekulasi. yang tidak dapat didekati dengan indera-indera kaum positivis. 1983. c. sebab metafisika menarik diri dari tiap usaha untuk verifikasi. itu berarti tidak semua pengalaman dapat disebut benar. Hanya pengalamanlah yang dapat menentukan pemikiran seseorang. b.E. Para positivis menentang ilmu metafisika. Mula Hukum Beberapa Bab Mengenai Hukum dan Ilmu untuk Pendidikan Hukum Dalam Pengantar Ilmu Hukum. Mereka menganggap metafisika sebagai tidak ada artinya bagi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu sebagai akibatnyas. positivisme hanya bersandar pada prinsip-prinsip berikut ini: a. atau seperti apa yang dikatakan Locke. Hanya melalui ilmu-ilmu pengetahuan dapat ditentukan apakah sesuatu yang dialami merupakan sungguh-sungguh suatu kenyataan. van Duyvendijk. hal. Positivisme memandang pengalaman sebagai dasar bagi metode ilmiah. karena dianggap tidak rasinal. “There is nothing in the mind except what was first in the senses” tidak ada apa-apa dalam pikiran/jiwa kecuali harus lebih dulu lewat indera. kebenaran atau ketidakbenaran pendirian tidak dapat ditetapkan2. kemampuan. ataupun hereditas yang dibawa secara fitri. Prinsip ini diambil dari filsafat empirisme Locke dan Hume. Hanya apa yang tampil dalam pengalaman dapat disebut benar. bukan faktor-faktor internal seperti bakat. Oleh karena itu. kecenderungan. Binacipta. apa yang berada di luar batas pengalaman manusia. Algra dan K. Para positivis telah mengucapkan selamat tinggal pada “dunia dewa” dan “dunia hakekat”. tetapi hanya pengalaman yang mendapati kenyataan. N. Pada tahap ini positivisme telah “membuang” filsafat. hal-hal internal yang tidak dijangkau secara akal atau berada di luar akal. 2 3 . tidak menjadi perhatian kaum positivis. Hanya apa yang sungguh-sungguh dapat dipastikan sebagai kenyataan dapat disebut benar. 132.

cit. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. baik dunia fisik maupun dunia manusia. Secara metodologis. Hanya ilmu yang dapat memberikan pengetahuan yang syah. kejadian. Fenomena-fenomena dapat diobservasi dan dieksperimen (empirikal)”. Hanya fakta yang dapat menjadi obyek pengetahuan. Metode Penelitian Komunikasi.3 Secara lebih komplit. 1994. Sains modern bersandar pada empat premis berikut ini: (a) dunia itu ada. c. (c) manusia mengetahui dunia melalui panca indera. 5-6. (b) manusia dapat mengetahui dunia. hal.. Tugas filsafat adalah menemukan asas umum yang berlaku bagi semua ilmu dan menggunakan asas-asas ini sebagai pedoman bagi perilaku manusia dan menjadi landasan bagi organisasi sosial. 57. Metode filsafat tidak berbeda dari metode ilmu. 1985. Semua interpretasi tentang dunia harus didasarkan semata-mata atas pengalaman (empiris-verifikatif). orde. e. atau peristiwa dapat dijelaskan secara sederhana (parsimoni). determinisme. 4 3 4 . parsimoni.5 Muhammad Baqir Shadr. Berbagai fenomena. f. 5 Jalaludin Rahmat.Oleh karena semua kebenaran didapati melalui ilmu-ilmu pengetahuan. et-al. Arief Sidharta. dan (d) fenomena-fenomena di dunia terkait secara kausalitas. determinan. Setiap peristiwa yang terjadi pasti mempunyai sebab. Bandung: Rosda Karya. positivisme meyakini sepenuhnya pada empat dalil “keilmuan”.. atau anteseden (pendahulu) yang dapat diamati (determinan). b. Peristiwa-peristiwa di dunia ini mengikuti urutan yang teratur (orde). Bertitik tolak pada ilmu-ilmu alam. prinsip-prinsip aliran positivisme dikemukakan oleh Arief Sidharta berikut ini:4 a. Berusaha memperoleh suatu pandangan tunggal tentang dunia fenomena. Bandung: Remaja Rosda Karya. Alam semesta memiliki tata aturan tertentu. hal. g. maka tugas filsafat tidak lain dari pada mengumpulkan dan mengatur hasil penyelidikan ilmu-ilmu pengetahuan. melalui aplikasi metode-metode dan perluasan jangkauan hasil-hasil ilmu alam. hal. Prinsip-prinsip positivisme ini selanjutnya mendasari sains modern (sekuler) yang dikembangkan Barat. op. 50. d. dan empirikal.

but people mean. hal. latar belakang pendidikan. fakta-fakta/realitas tidak bermakna. Aliran romantis menganggap bahwa teori/ilmu lahir dari proses kreatifitas yang dimulai dengan imajinasi dan ditopang intuisi. ilmu dimulai dengan serangkaian aksioma yang berasal dari berbagai sumber. Bandung: Unpad. cit. 9-10. yang pada akhirnya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pada obyek yang sama.Penerapan empat kaidah metodologi positivisme ini akan menghasilkan faktafakta yang diperoleh dari external reality. Sedangkan aliran hipotetiko-deduktif menggabungkan dua aliran ini. 169. Herman Soewardi mempertanyakan apakah external reality yang diungkapkan oleh manusia itu exist independently from the mind atau external reality is created by the mind. Perbedaan perspektif dan kerangka rujukan manusia akan membedakan hasil akhir dari pengamatan. positivisme memformulasikan teorinya dari fakta-fakta yang telah diperoleh melalui observasi dan eksperimen. dan simpulkan dalam bentuk teori. ketika menjawab dari mana munculnya ilmu. Menurut aliran ini. Aliran rasional memandang proses ilmu dimulai dari data. 1998. Di samping itu pemikiran manusia juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Kumpulkan sejumlah data. Sehingga sangat mungkin terjadi pengamatan terhadap satu obyek akan melahirkan pemaknaan yang ambigu atau bermakna banyak. hal. Nalar Kontemplasi dan Realita. external reality don’t mean. Dalam hal ini. lalu dicari hubungan antara hukum-hukum teoritis dan fenomena empiris.7 Dalam kaitan ini. Menurutnya ini sulit dipecahkan. situasi emosional. Pemaknaan seseorang pada fakta-fakta akan dipengaruhi oleh frame of reference tertentu. Jalaludin Rahmat. yang menyimpan premis-premis seperti tersebut di atas. cari hubungan-hubungan. 5 . Teori berfungsi sebagai peta yang mengorganisasikan fenomena menjadi kelas-kelas yang dapat dikenal.. kemudian dibuat konsep yang dapat diamati. dan lain-lain. op. 6 7 Herman Soewardi. Saya melihat bahwa fakta-fakta yang diperoleh dari external world akhirnya akan dioleh oleh pemikiran manusia. oranglah yang memberi makna.6 Hal ini pula yang telah melahirkan beberapa aliran yang berbeda.. Kaum positivis memberi makna pada realitas sesuai dengan kerangka rujukan mereka. mana yang sebenarnya.

Netralitas ilmu dikemukakan secara tegas oleh P. 70. 8 6 . 3 Maret. Dan pada akhirnya ilmu pengetahuan yang hanya mengandalkan hasil dari tangkapan panca indera hukum saja tidak akurat –karena keterbatasan panca indera-. hasil dari pemikiran manusia terus dilakukan meskipun merusak lingkungan? Semuanya ini membutuhkan pertimbangan nilai.W. buat negaranya. buat dirinya. Dengan demikian anggapan ilmu itu bebas nilai tidak dapat dipertahankan lagi. hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. penelitian ilmiah. 1948. keputusan ilmiah. sehingga kehidupanku akan gagal dan produktivitas ilmiahku berhenti. atau buat manusia secara keseluruhan. dan nilai-nilai religius. 4.W. Ketika ilmuwan akan melakukan penelitian. karena mengabaikan nilai-nilai kebenaran. Bridgaman berikut ini: 8 Sebab kalau secara pribadi aku harus berupaya agar temuan-temuanku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja. dan tidak pada tempatnya untuk dikemukakan semuanya di sini. No.Dari sejumlah keterangan tersebut di atas. Bridgaman. sampai dengan penerapan ilmu semuanya melibatkan pertimbangan nilai. dan melakukan lobbying di Washington untuk memperoleh perundang-undangan tertentu guna mengontrol penggunaanpenggunaan tersebut.. ia harus memutuskan bahwa penelitian itu penting. nampak bahwa implikasi negatif dari ilmu pengetahuan adalah muncul anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat netral atau bebas nilai. dengan sendirinya menolak nilai-nilai yang bersifat transendental seperti moralitas. Vol. yang tidak dapat dicerna melalui panca indera. tentu aku harus menghabiskan kehidupanku dengan mondar-mandir di antara biro ramal untuk mengetahui penggunaan temuan-temuanku. Aku tak mampu melakukan kedua hal itu. cukuplah disebutkan bahwa setiap tahap proses pencarian ilmu sejak pemilihan masalah ilmiah. keadilan. Scientist and Social Responsibility. Berbagai kritik terhadap anggapan bahwa ilmu pengetahuan ini bebas nilai telah banyak dilakukan orang. Karena ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada dunia yang dapat dicearmati oleh panca indera. hal.tetapi juga pengetahuan tersebut lebih banyak membawa mudarat bagi manusia. dan P. dalam The Bulletin of The Atomic Scientist”. etika. Bolehkan penelitian dilanjutkan meksipun merugikan kehidupan umat manusia saat ini tetapi menguntungkan manusia yang akan datang? Apakah uji coba senjata.

hal. Tidak perlu ada hubungan antara hukum dengan moral. kebenaran. demikian pula positivisme hukum hanya mengenal satu jenis hukum’ hukum positif. Kaum positivisme pada umumnya hanya mengenal ilmu pengetahuan yang positif. Sebenarnya positivisme hukum juga mengakui hukum di luar undang-undang dengan syarat hukum tersebut ditunjuk atau dikukuhkan oleh undang-undang. Hukum adalah perintah-perintah dari manusia (command of human being). Friedman. Sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pengamatan panca indera manusia. Friedman. yang berisi norma-norma ideal. pragmatic positivism. tanpa memandang nilai-nilai dan norma-norma seperti keadilan. analytical jurisprudence. cit. Raja Grafindo Persada. Arief Sidharta. et-al.. apa yang muncul pada realitas kehidupan sosial. 51. 1996. Nilai-nilai ini tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Positivisme hukum selanjutnya memunculkan analytical legal positivism. op. ia menganggap hukum hanya sebagai gejala sosial. kebijaksanaan dan lain-lain yang melandasi aturan-aturan hukum tersebut. Jakarta: PT. atau antara hukum yang ada (dan sein) dengan hukum yang seharusnya (das sollen).. pada dasarnya kaum positivisme hukum tidak memisahkan antara hukum yang ada atau berlaku (positif) dengan hukum yang seharusnya ada. Oleh karena mengabaikan apa yang terdapat di balik hukum. maka positivisme hanya berpegang pada prinsip-prinsip. 10 9 7 . dan keadilan yang seharusnya ada dalam hukum.9 Oleh aliran positivis hukum hanya dikaji dari aspek lahiriyah. Teori dan Filsafat Hukum: Telaah Kritis atas Teori-Teori Hukum (Susunan I). Di samping itu. akan tetapi kaum positivis menganggap bahwa kedua hal tersebut harus dipisahkan dalam bidang-bidang yang berbeda. kesejahteraan.kesejahteraan manusia. Pengamatan Pemikiran Positivisme Hukum Ketika kaum positivisme tersebut mengamati hukum sebagai obyek kajian. b. 147. B. sebagai berikut:10 a. dan Kelsen’s pure theory of law. berupa nilai-nilai kebenaran. W. sebagaimana yang dikemukakan W. hal.

Pemikiran hukum ini berkembang semenjak abad pertengahan dan telah banyak berpengaruh di berbagai negara. menganggap undang-undang sebagai “barang keramat”. Lebih lanjut Jhering memperkenalkan konsep begriffsjurisprudenz (yurisprudensi pengertian) menuju konsep interessenjurisprudenz (yurisprudensi kepentingan).12 Aliran positivisme dan legisme. Konsep ini memamdang berbagai kepentingan hidup manusia sebagai faktor-faktor yang menjadi penyebab dari terjadinya hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti. dan mendorong para penguasa untuk memperbanyak undang-undang sampai seluruh kehidupan diatur secara yuridis. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. serta berlainan pula dari suatu penilaian kritis. dan moralitas. kebijaksanaan. atau pengujian. Problematika Filsafat Hukum. tanpa perlu menunjuk kepada tujuantujuan sosial. Jakarta: Grasindo. dengan tokoh utama Saint-Simon. hal. meskipun perkembangan awal positivisme ini terjadi di Perancis. akan tetapi para pemikir hukum Jermanlah yang menaruh perhatian terhadap kegunaan dari positivisme hukum ini. e. hidup bersama akan berlangsung dengan baik. Mereka berpikir. d. bila terdapat peraturan-peraturan yang baik. Aliran ini mengidentikkan hukum dengan undang-undang. Sebelum positivisme hukum terlebih dahulu ada aliran pemikiran dalam ilmu hukum yaitu legisme. Analisis terhadap konsep-konsep hukum yang layak dilanjutkan dan harus dibedakan dari penelitian-penelitian historis mengenai sebab-sebab atau asal usul dari undang-undang. 1999. pembuktian. yang memiliki kecenderungan Lili Rasjidi. nampak jelas bahwa filsafat positivisme mempunyai pengaruh terhadap filsafat hukum. yang mengedepankan undang-undang tertulis. tidak terkecuali di Indonesia. 1993. Budiono Kusumohamidjojo. mendapat dukungan kuat di wilayah hukum kontinental. dan ia dengan tegas mengatakan bahwa negara adalah satu-satunya sumber hukum. Satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang11. Ketertiban Yang Adil. Aliran legisme. Penghukuman (judgement) secara moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional.c. 59. Dari keterangan singkat di atas berikut prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan kaum positivisme hukum. yang berwujud dengan nama positivisme hukum. 12 11 8 . Adalah Rudolf van Savigny. Menurut Budiono. Keputusan-keputusan (hukum) dapat dideduksikan secara logis dari peraturanperaturan yang sudah ada lebih dahulu. tidak ada hukum di luar undangundang tertulis.

moral.akan adanya kodifikasi hukum. ketiga. Meskipun kaum positivis hukum dengan tegas memisahkan hukum yang ada dengan hukum yang seharusnya ada. sedangkan ilmu pengetahuan empiris memberikan inspirasi terhadap pendekatan fungsional gerakan realis. kedua. op. dan lain-lain. Secara ideal. pemisahan antara wilayah kontemplatif dan wilayah empiris. Namun menerjemahkan idealitas hukum dalam bahasa masyarakat ternyata tidak mudah. setiap jenis peraturan perundang-undangan harus memuat aspek yuridis. Dalam kaitan ini dapatlah dikatakan bahwa menganggap hukum itu bebas dari unsur-unsur non hukum adalah khayalan belaka. 13 W. keempat. dan menganggap hukum steril dari elemen-elemen non-yuridis seperti etika. Aspek yuridis berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: pertama. Friedman menunjukkan bahwa agama mempengaruhi pandangan filsafat dan pandangan politik dari ajaran skolastik. bahkan ada sarjana yang menggagas “teori hukum murni”. Tidak sedikit orang memandang hukum an sich. cit. 9 . Pada jaman Romawi. yang dari berbagai dekrit ini disusun kitab undangundang untuk dijadikan rujukan oleh para administrasi negara dalam menjalankan dan memutus berbagai perkara. prinsip-prinsip etika mempengaruhi filsafat hukum Kant. keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis peraturan perundangundangan dengan materi yang diatur. dan filosofis.13 Jauh sebelumnya. keharusan adanya kewenangan dari pembuat peraturan perundangundangan. hal. ekonomi mendasari filsafat hukum Marxisme. dengan metode mereka sendiri yang khas dan dipengaruhi oleh cara berpikir empirisme. terutama kalau diperintahkan oleh peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Friedman. Semangat kodifikasi ini sebenarnya diilhami pula oleh hukum Romawi. Hukum dan peraturan perundang-undangan pada dasarnya hanyalah merupakan sarana atau lambang yang secara intrinsik dan ideal mengandung kebenaran dan keadilan. akan tetapi dalam kerangka pemikiran hukum aliran positivis tetap dikategorikan sebagai aliran filsafat dalam hukum. Hegel pernah menyebutkan bahwa hukum merupakan pencerminan dari ruh (moralitas). sebagai realitas obyektif tanpa makna. kekuasaan yang menonjol dari raja adalah membuat peraturan melalui dekrit. agama. keharusan mengikuti tata cara tertentu. 2. sosiologis.

kebenaran.keharusan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi tingkatannya. dengan banyak kelemahan. yang menyebutkan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat. Apapun hukum yang lahir selagi telah ditetapkan dalam bentuk undang dan disahkan oleh negara. Aspek sosiologis berkaitan dengan ajaran sociological jurisprudence. memuat nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Adapun aspek filosofis berkaitan dengan isi dari undang-undang tersebut. terdapat kesesuaian antara keinginan atau kebutuhan masyarakat dengan kehendak pembentuk undang-undang. masyarakat dengan mudah mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. negara atau otoritas merupakan satu-satunya sumber hukum. apapun isi dari hukum tersebut. hanya undang-undang yang disebut hukum. Implikasi dari dua prinsip ini adalah bahwa setiap undang-undang yang telah ditetapkan oleh otoritas yang sah harus dianggap hukum yang harus dipatuhi. Musolini di Italia. Kelebihannya adalah jaminan kepastian hukum. dan lain-lain. menindas rakyat atau tidak. akan tetapi bukan hukum yang memuat nilai-nilai keadilan. Pada negara-negara diktator. secara formal kekuasaan berjalan di atas hukum. Dalam kehidupan kenegaraan. kedua. Hukum atau undang-undang akan memiliki legitimasi sosial ketika hukum tersebut sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. melainkan hukum yang memihak pada kepentingan penguasa. khususnya negara yang menganut paham negara kesejahteraan (welfare state) di mana penguasa diberi kewenangan untuk mencampuri kehidupan warga negara dengan menciptakan berbagai instrumen yuridis. Negara atau pemerintah akan bertindak dengan tegas sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam 10 . lahir berbagai aturan hukum yang dijadikan dasar bagi negara atau pemerintah untuk bertindak tanpa peduli apakah hukum yang dilahirkannya itu adil atau tidak. di luar undang-undang tidak ada hukum. C. Positivisme hukum hanya memiliki satu kelebihan. pertama. Implikasi Logis Positivisme Hukum Secara sederhana positivisme hukum menganut dua prinsip dasar. dan perlindungan terhadap rakyat. ia dianggap sah dan harus dipatuhi oleh rakyat. Hal ini pernah berlaku pada masa pemerintahan Nazi-Hitler di Jerman.

tetapi hanya sekedar menerapkan bunyi undang-undang terhadap kasus konkrit. Ketiga. yang hanya berpegang pada undang-undang tertulis yang dijadikan patokan oleh kaum legisme. pernah terjadi pergeseran penerapan hukum. karena itu undang-undang sering tidak mampu mengikuti perkembangan yang pesat tersebut. Menurut Bagir Manan. mengambil jalan yang berbeda dengan putusan tahun-tahun sebelumnya. ekonomi. undang-undang bersifat kaku terhadap perkembangan jaman. perkembangan masyarakat itu berjalan cukup cepat dan kadang-kadang tidak dapat diduga sebelumnya. 1985. hukum tak tertulis ini mempunyai peranan sebagai berikut:14 a) Merupakan instrumen yang melengkapi dan mengisi berbagai kekosongan hukum dari suatu peraturan perundang-undangan. sehingga tugas hakim relatif lebih mudah karena tidak perlu mempertimbangkan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. “Peranan Hukum Administrasi Negara dalam Pembentukan Peraturan perundang-undangan”. b) Merupakan instrumen yang memberikan dinamika atas peraturan perundang-undangan. meskipun masih sama-sama menggunakan pasal yang sama. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin: Ujung Pandang. c) Merupakan instrumen relaksasi atau koreksi atas peraturan perundang-undangan agar lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan. yakni 1365 BW. maka mau tidak mau harus mengakui keberadaan hukum tidak tertulis. Berdasarkan kasus Landebaum Cohen tahun 1919. dan segera tampak bahwa bila penerapan hukum itu hanya berpatokan pada undang-undang tertulis. hukum sering dijadikan alat bagi penguasa. 14 11 . Adapun kelemahannya adalah: pertama. rasa keadilan dan kebenaran yang hidup dalam masyarakat. sosial dan lain-lain. Dalam sejarah perkembangan penerapan hukum. Oleh karena adanya beberapa kelemahan ini. Sebelum Bagir Manan. Kedua. undangundang sebagai hukum tertulis tidak mampu mengakomodasi semua persoalan kemasyarakatan. Seperti diketahui.undang-undang. mustahil undang-undang mencantumkan semua persoalan politik. Karena itu tidak jarang terjadi hukum yang semestinya menjamin perlindungan bagi masyarakat malah menindas rakyat. Makalah pada Penataran Nasional Hukum Administrasi Negara. hakim memutuskan perkara perbuatan melawan hukum. yang berani menentang kekuasaan yang korup. budaya. untuk mempertegas dan melanggengkan kekuasaannya. maka nilai keadilan terabaikan.

dalam mempelajari hukum secara ilmiah akan mengaburkan makna hakikat hukum itu sendiri dan akan mengidentikkan hukum dengan kekuasaan seperti yang disimpulkan oleh Kelsen sendiri dengan mengidentikkan tata hukum dengan tata negara yang memandang keduanya identik dengan tata paksaan”… Hukum adalah produk interaksi antara berbagai gejala sosial dengan nilai-nilai yang diyakini dalam masyarakat. saya akan mengutip sebagian argumen Arief Sidharta berikut ini: “Apriori bagi ilmu hukum. khususnya nilai keadilan. hukum adalah hasil karya cipta manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada kehidupan yang tertib dan terteram. Untuk mempertegas penolakan terhadap positivisme hukum ini. bertumpu pada atau dijiwai oleh nilai-nilai…”Mengabaikan faktor nilai. netralitas nilai itu tidak dapat diterima. yakni ketertiban yang adil. jadi hukum sama dengan undang-undang. c) HR 1942: Penguasa melampaui batas wewenang yang dibolehkan. Tiap kaidah hukum positif adalah hasil penilaian manusia terhadap perilaku manusia yang berorientasi kepada ketertiban yang adil itu. Sebab. b) HR 1941: Penguasa kurang melaksanakan kewajiban dengan baik. dan karena itu.tahun 1919 perbuatan melawan hukum undang-undang. 12 . Contoh pergeseran penerapan hukum dari suasana legalistik menjadi lebih luas dapat dilihat pada perkembangan putusan Hoge Raad mengenai perbuatan melawan hukum oleh penguasa berikut ini: a) HR 1940: Penguasa tidak cukup memperhatikan kepentingan pemilik ternak. Sedangkan setelah tahun 1919 perbuatan melawan hukum tidak hanya sekedar melawan undang-undang tetapi juga melanggar kepatutan dan kesusilaan yang semestinya diindahkan. Hanya dengan ketertiban yang adil manusia berkesempatan untuk mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara wajar. d) HR 1943: Penguasa tidak memperhatikan kepatutan dalam pergaulan masyarakat yang baik terhadap milik orang lain Dari keterangan dan contoh-contoh tersebut jelaslah bahwa positivisme hukum dan legisme mengandung kelemahan yang tidak dapat dipertahankan lagi.

hanya dapat dipahami dalam kaitannya dan nilai-nilai yang mendasarinya. Oleh karena itu. juga secara dogmatis. dalam hukum terdapat dan tercermin berbagai gejala sosial dan nilai-nilai yang melahirkannya. hal. 64-67. hukum dan kaidah-kaidah hukum. et-al.Dengan demikian.. akan tetapi kritikannya dapat digeneralisir pada aliran positivisme pada umumnya. op. cit. 13 .15 Meskipun kritik Arief lebih ditujukan pada tesis Kelsen. di mana Kelsen merupakan bagian darinya. 15 Arief Sidharta.

dan mengedepankan hukum tertulis atau undang-undang sebagai perintah dari orotitas yang sah. pragmatic positivism. yang kemudian mengambil bentuk dalam wujud analytical legal positivism. maka hukum telah kehilangan hakikatnya yaitu nilai-nilai moralitas. dan Kelsen’s pure theory of law. Positivisme hukum memisahkan secara tegas hukum yang ada dan hukum yang seharusnya ada. Karena memisahkan secara tegas dari aspek non-hukum. dan kebenaran. analytical jurisprudence. Filsafat positivisme ini dalam bidang hukum melahirkan aliran filsafat positivisme hukum. 14 . positivisme dan legalisme tidak dapat dipertahankan lagi dalam pergaulan hidup manusia.BAB III PENUTUP Positivisme yang lahir di bawah naungan empirisme merupakan salah satu aliran filsafat yang menjadikan panca indera sebagai sarana utama dalam metode pencapaian pengetahuan. keadilan. memisahkan hukum dari unsur-unsur non hukum. Oleh karena itu.

et-al. Bagir. dan K. Binacipta. “Peranan Hukum Administrasi Negara dalam Pembentukan Peraturan perundang-undangan”. Bandung: Rosda Karya. Shadr. dalam The Bulletin of The Atomic Scientist”. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. 1998. Lili. Vol. Scientist and Social Responsibility. 1985. Sidharta. 1993. 1991. Metode Penelitian Komunikasi. 1999. Ketertiban Yang Adil. Bandung: Remaja Rosda Karya. Kusumohamidjojo. 1994... Hens. Falsafatuna. Budiono.W. P.. Arief. Bandung: Mizan. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin: Ujung Pandang. Makalah pada Penataran Nasional Hukum Administrasi Negara. 4. 1985.DAFTAR PUSTAKA Algra. van Duyvendijk. Jakarta: Rindi Press. No. 3 Maret.E. Kelsen. Jalaludin. Soewardi. Bridgaman. 1948. Problematika Filsafat Hukum. 15 . Bandung: Unpad. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Mula Hukum Beberapa Bab Mengenai Hukum dan Ilmu untuk Pendidikan Hukum Dalam Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Grasindo Manan. N. 1983. 1995. Muhammad Baqir. Herman. Bandung: Citra Aditya Bakti. Rasjidi. Nalar Kontemplasi dan Realita. Rahmat. Teori Hukum Murni (terjemahan).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful