BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dalam keperluan pengembangan pemikiran, pemilihan antara ilmu dan filsafat secara metodologis adalah sangat penting. Bila merujuk pada sejarah pemikiran Barat, filsafat merupakan bentuk tertua dari pemikiran rasional yang bersifat pengertian dan dapat mempertanggungjawabkan diri sendiri. Boleh dikatakan meliputi seluruh daerah pemikiran manusia, yang merupakan keseluruhan yang hampir-hampir tidak dibedakan. Dalam perkembangannya, berbagai pengetahuan menyadari obyek dan metodenya sendiri, bahkan mengabsolutkan diri, yang lambat laun memisahkan diri dari filsafat. Para ilmuwan berputus arang dengan filsafat, mengganggap filsafat sama sekali tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terpukau oleh keberhasilan metodenya sendiri dan karena kejelasan serta ketetapan lapangan telaah sendiri, orang lalu menghapus filsafat, dengan keyakinan bahwa mulai sekarang hasil-hasil berbagai ilmu pengetahuan pasti dapat menggantikan dan mengabaikan filsafat. Sejarah pemikiran manusia berevolusi dalam tiga tahap; tahap falsafi di mana pada tahap ini hakikat benda-benda merupakan keterangan terakhir dari semua; dan tahap positivis. Tahap dimana dunia fakta yang dapat diamati dengan panca indera merupakan satu-satunya obyek pengetahuan manusia. Pada tahap terakhir inilah dunia Tuhan dan dunia filsafat telah ditinggalkan. B. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka makalah membatasi permasalahan tentang bagaimana pengaruh positivisme dalam pemikiran hukum, serta apakah aliran positivisme hukum dapat dikategorikan sebagai aliran filsafat dalam hukum.

1

Bandung: Mizan. telah berlangsung cukup lama. Oleh karena itu. sebuah kode etik yang berkenaan dengan kepentingan-kepentingan manusia di atas dunia. wajar jika positivisme menolak secara tegas hal-hal yang bersifat transenden. Artinya kemunculan positivisme ini mengiringi kemunculan filsafat. metafisis versus positivis. artinya antara empirisme dan positivisme tidak dapat dipisahkan. “Tibalah saatnya bahwa setelah berhasil menghancurkan basis religius untuk kesusilaan. bisa dilacak sampai kepada pemikiran Aristoteles. Konsep-konsep yang tidak terjangkau oleh penginderaan tidak dapat diterima. bukan kepentingan-kepentingan di akhirat”. empirisme dan positivisme mendalilkan bahwa panca indera adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan. Ucapan B. ketika ia menyatakan bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa. Pesatnya perkembangan positivisme terjadi setelah menangnya gerakan sekularisasi. Positivisme lahir dan berkembang di bawah naungan empirisme. Prinsip-Prinsip Positivisme Sebenarnya pertentangan antara idealis versus materialis. Pola pemikiran demikian. 1991. yang menawarkan basis pemikiran transendental. hal. secara historis. Secara epistimologis. maka sains berkewajiban untuk memberikan sebuah basis rasional baru untuk tingkah laku manusia. 56 2 . ontologis versus empiris.M. Meskipun demikian. Falsafatuna. Oliver berikut ini. Positivisme sama tuanya dengan filsafat. yang berupaya memisahkan secara tegas antara urusan politik (negara) dengan urusan Gereja (agama). karena mereka tidak lagi percaya kepada doktrin Gereja.BAB II PEMBAHASAN A. sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh 1 bahwa empirisme-positivisme mengabaikan masalah moralitas Muhammad Baqir Shadr. positivisme baru berkembang pesat pada abad ke-19 ketika empirisme mendominasi pemikiran.1 Adalah ungkapan yang mempertegas transendental. dan bersamaan dengan runtuhnya kewibawaan gereja.

apa yang berada di luar batas pengalaman manusia. N. Para positivis menentang ilmu metafisika. kebenaran atau ketidakbenaran pendirian tidak dapat ditetapkan2. yang tidak dapat didekati dengan indera-indera kaum positivis. tidak menjadi perhatian kaum positivis. Algra dan K. tokoh empirisme. Hanya apa yang tampil dalam pengalaman dapat disebut benar. Pada tahap ini positivisme telah “membuang” filsafat.pengalaman. Oleh karena itu sebagai akibatnyas. Oleh karena itu. Positivisme memandang pengalaman sebagai dasar bagi metode ilmiah. b. yang ghaib. hal. kecenderungan. Para positivis telah mengucapkan selamat tinggal pada “dunia dewa” dan “dunia hakekat”. tetapi hanya pengalaman yang mendapati kenyataan. kemampuan. Mula Hukum Beberapa Bab Mengenai Hukum dan Ilmu untuk Pendidikan Hukum Dalam Pengantar Ilmu Hukum. 132. van Duyvendijk. Prinsip ini diambil dari filsafat empirisme Locke dan Hume. Hanya apa yang sungguh-sungguh dapat dipastikan sebagai kenyataan dapat disebut benar. hal-hal internal yang tidak dijangkau secara akal atau berada di luar akal. karena dianggap tidak rasinal. Wilayah metafisika dan hakikat menjadi obyek pemikiran filsafat melalui kontemplasi spekulasi. c. itu berarti tidak semua pengalaman dapat disebut benar. “There is nothing in the mind except what was first in the senses” tidak ada apa-apa dalam pikiran/jiwa kecuali harus lebih dulu lewat indera. 2 3 . Mereka menganggap metafisika sebagai tidak ada artinya bagi ilmu pengetahuan. Hanya melalui ilmu-ilmu pengetahuan dapat ditentukan apakah sesuatu yang dialami merupakan sungguh-sungguh suatu kenyataan. Hanya pengalamanlah yang dapat menentukan pemikiran seseorang. sebab metafisika menarik diri dari tiap usaha untuk verifikasi. Binacipta. ataupun hereditas yang dibawa secara fitri. positivisme hanya bersandar pada prinsip-prinsip berikut ini: a. 1983. bukan faktor-faktor internal seperti bakat.E. atau seperti apa yang dikatakan Locke.

Semua interpretasi tentang dunia harus didasarkan semata-mata atas pengalaman (empiris-verifikatif). positivisme meyakini sepenuhnya pada empat dalil “keilmuan”. 50. Setiap peristiwa yang terjadi pasti mempunyai sebab. dan (d) fenomena-fenomena di dunia terkait secara kausalitas. b. 1994. Hanya ilmu yang dapat memberikan pengetahuan yang syah.5 Muhammad Baqir Shadr. Bandung: Rosda Karya. hal. Berusaha memperoleh suatu pandangan tunggal tentang dunia fenomena. Hanya fakta yang dapat menjadi obyek pengetahuan. parsimoni. op. Peristiwa-peristiwa di dunia ini mengikuti urutan yang teratur (orde). determinisme. melalui aplikasi metode-metode dan perluasan jangkauan hasil-hasil ilmu alam. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. Fenomena-fenomena dapat diobservasi dan dieksperimen (empirikal)”. Metode filsafat tidak berbeda dari metode ilmu. Prinsip-prinsip positivisme ini selanjutnya mendasari sains modern (sekuler) yang dikembangkan Barat... orde. hal.3 Secara lebih komplit. e. baik dunia fisik maupun dunia manusia. Berbagai fenomena. hal. d. c. atau anteseden (pendahulu) yang dapat diamati (determinan). Metode Penelitian Komunikasi. atau peristiwa dapat dijelaskan secara sederhana (parsimoni). (b) manusia dapat mengetahui dunia. g. Bertitik tolak pada ilmu-ilmu alam. Tugas filsafat adalah menemukan asas umum yang berlaku bagi semua ilmu dan menggunakan asas-asas ini sebagai pedoman bagi perilaku manusia dan menjadi landasan bagi organisasi sosial. Bandung: Remaja Rosda Karya. 4 3 4 . (c) manusia mengetahui dunia melalui panca indera. prinsip-prinsip aliran positivisme dikemukakan oleh Arief Sidharta berikut ini:4 a. et-al. dan empirikal. kejadian. Arief Sidharta. 1985. maka tugas filsafat tidak lain dari pada mengumpulkan dan mengatur hasil penyelidikan ilmu-ilmu pengetahuan. Secara metodologis. cit. Alam semesta memiliki tata aturan tertentu. 5-6. 5 Jalaludin Rahmat.Oleh karena semua kebenaran didapati melalui ilmu-ilmu pengetahuan. 57. Sains modern bersandar pada empat premis berikut ini: (a) dunia itu ada. f. determinan.

Dalam hal ini. Saya melihat bahwa fakta-fakta yang diperoleh dari external world akhirnya akan dioleh oleh pemikiran manusia. positivisme memformulasikan teorinya dari fakta-fakta yang telah diperoleh melalui observasi dan eksperimen. external reality don’t mean. Menurutnya ini sulit dipecahkan. Perbedaan perspektif dan kerangka rujukan manusia akan membedakan hasil akhir dari pengamatan. kemudian dibuat konsep yang dapat diamati. Bandung: Unpad. Nalar Kontemplasi dan Realita. lalu dicari hubungan antara hukum-hukum teoritis dan fenomena empiris. 1998. Herman Soewardi mempertanyakan apakah external reality yang diungkapkan oleh manusia itu exist independently from the mind atau external reality is created by the mind. but people mean. 6 7 Herman Soewardi. Di samping itu pemikiran manusia juga dipengaruhi oleh faktor budaya. dan simpulkan dalam bentuk teori. latar belakang pendidikan. cit. Sedangkan aliran hipotetiko-deduktif menggabungkan dua aliran ini. Sehingga sangat mungkin terjadi pengamatan terhadap satu obyek akan melahirkan pemaknaan yang ambigu atau bermakna banyak. yang pada akhirnya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pada obyek yang sama.6 Hal ini pula yang telah melahirkan beberapa aliran yang berbeda. situasi emosional. Teori berfungsi sebagai peta yang mengorganisasikan fenomena menjadi kelas-kelas yang dapat dikenal. Pemaknaan seseorang pada fakta-fakta akan dipengaruhi oleh frame of reference tertentu.. Kaum positivis memberi makna pada realitas sesuai dengan kerangka rujukan mereka. dan lain-lain. oranglah yang memberi makna. Kumpulkan sejumlah data. op. Aliran romantis menganggap bahwa teori/ilmu lahir dari proses kreatifitas yang dimulai dengan imajinasi dan ditopang intuisi. Aliran rasional memandang proses ilmu dimulai dari data. ilmu dimulai dengan serangkaian aksioma yang berasal dari berbagai sumber. fakta-fakta/realitas tidak bermakna. Jalaludin Rahmat. 9-10. mana yang sebenarnya.7 Dalam kaitan ini. hal. ketika menjawab dari mana munculnya ilmu. Menurut aliran ini. cari hubungan-hubungan..Penerapan empat kaidah metodologi positivisme ini akan menghasilkan faktafakta yang diperoleh dari external reality. 5 . hal. 169. yang menyimpan premis-premis seperti tersebut di atas.

No. nampak bahwa implikasi negatif dari ilmu pengetahuan adalah muncul anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat netral atau bebas nilai. penelitian ilmiah. Karena ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada dunia yang dapat dicearmati oleh panca indera. cukuplah disebutkan bahwa setiap tahap proses pencarian ilmu sejak pemilihan masalah ilmiah. 3 Maret.W.W. Aku tak mampu melakukan kedua hal itu. buat negaranya. yang tidak dapat dicerna melalui panca indera. Vol. Bolehkan penelitian dilanjutkan meksipun merugikan kehidupan umat manusia saat ini tetapi menguntungkan manusia yang akan datang? Apakah uji coba senjata. Netralitas ilmu dikemukakan secara tegas oleh P.tetapi juga pengetahuan tersebut lebih banyak membawa mudarat bagi manusia. Dan pada akhirnya ilmu pengetahuan yang hanya mengandalkan hasil dari tangkapan panca indera hukum saja tidak akurat –karena keterbatasan panca indera-. Dengan demikian anggapan ilmu itu bebas nilai tidak dapat dipertahankan lagi. dan P. hal. karena mengabaikan nilai-nilai kebenaran. sehingga kehidupanku akan gagal dan produktivitas ilmiahku berhenti. ia harus memutuskan bahwa penelitian itu penting. hasil dari pemikiran manusia terus dilakukan meskipun merusak lingkungan? Semuanya ini membutuhkan pertimbangan nilai. Ketika ilmuwan akan melakukan penelitian. 4. keputusan ilmiah. dan melakukan lobbying di Washington untuk memperoleh perundang-undangan tertentu guna mengontrol penggunaanpenggunaan tersebut. 1948. buat dirinya. Berbagai kritik terhadap anggapan bahwa ilmu pengetahuan ini bebas nilai telah banyak dilakukan orang. Bridgaman berikut ini: 8 Sebab kalau secara pribadi aku harus berupaya agar temuan-temuanku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja. 70. etika.Dari sejumlah keterangan tersebut di atas. keadilan. dan tidak pada tempatnya untuk dikemukakan semuanya di sini. dan nilai-nilai religius. Bridgaman. dengan sendirinya menolak nilai-nilai yang bersifat transendental seperti moralitas. atau buat manusia secara keseluruhan. 8 6 . tentu aku harus menghabiskan kehidupanku dengan mondar-mandir di antara biro ramal untuk mengetahui penggunaan temuan-temuanku. dalam The Bulletin of The Atomic Scientist”. Scientist and Social Responsibility. hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. sampai dengan penerapan ilmu semuanya melibatkan pertimbangan nilai..

atau antara hukum yang ada (dan sein) dengan hukum yang seharusnya (das sollen). Nilai-nilai ini tidak dapat ditangkap oleh panca indera. sebagai berikut:10 a. tanpa memandang nilai-nilai dan norma-norma seperti keadilan. Kaum positivisme pada umumnya hanya mengenal ilmu pengetahuan yang positif. pada dasarnya kaum positivisme hukum tidak memisahkan antara hukum yang ada atau berlaku (positif) dengan hukum yang seharusnya ada. Raja Grafindo Persada. demikian pula positivisme hukum hanya mengenal satu jenis hukum’ hukum positif. dan keadilan yang seharusnya ada dalam hukum. cit. berupa nilai-nilai kebenaran. Friedman. Di samping itu. 147. 51.. Arief Sidharta. et-al. sebagaimana yang dikemukakan W. Sebenarnya positivisme hukum juga mengakui hukum di luar undang-undang dengan syarat hukum tersebut ditunjuk atau dikukuhkan oleh undang-undang. Pengamatan Pemikiran Positivisme Hukum Ketika kaum positivisme tersebut mengamati hukum sebagai obyek kajian.. Jakarta: PT. Sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pengamatan panca indera manusia. 10 9 7 . Tidak perlu ada hubungan antara hukum dengan moral. b. W. ia menganggap hukum hanya sebagai gejala sosial. hal.kesejahteraan manusia. Hukum adalah perintah-perintah dari manusia (command of human being). yang berisi norma-norma ideal. kesejahteraan. pragmatic positivism. op. maka positivisme hanya berpegang pada prinsip-prinsip. B. Positivisme hukum selanjutnya memunculkan analytical legal positivism. Friedman. kebijaksanaan dan lain-lain yang melandasi aturan-aturan hukum tersebut. kebenaran. Teori dan Filsafat Hukum: Telaah Kritis atas Teori-Teori Hukum (Susunan I). analytical jurisprudence.9 Oleh aliran positivis hukum hanya dikaji dari aspek lahiriyah. 1996. dan Kelsen’s pure theory of law. apa yang muncul pada realitas kehidupan sosial. hal. akan tetapi kaum positivis menganggap bahwa kedua hal tersebut harus dipisahkan dalam bidang-bidang yang berbeda. Oleh karena mengabaikan apa yang terdapat di balik hukum.

Lebih lanjut Jhering memperkenalkan konsep begriffsjurisprudenz (yurisprudensi pengertian) menuju konsep interessenjurisprudenz (yurisprudensi kepentingan). tidak terkecuali di Indonesia. mendapat dukungan kuat di wilayah hukum kontinental. d. Penghukuman (judgement) secara moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional. yang memiliki kecenderungan Lili Rasjidi. Ketertiban Yang Adil.12 Aliran positivisme dan legisme. Konsep ini memamdang berbagai kepentingan hidup manusia sebagai faktor-faktor yang menjadi penyebab dari terjadinya hukum. Adalah Rudolf van Savigny. akan tetapi para pemikir hukum Jermanlah yang menaruh perhatian terhadap kegunaan dari positivisme hukum ini. Aliran ini mengidentikkan hukum dengan undang-undang. 59. menganggap undang-undang sebagai “barang keramat”. Pemikiran hukum ini berkembang semenjak abad pertengahan dan telah banyak berpengaruh di berbagai negara.c. hidup bersama akan berlangsung dengan baik. dan ia dengan tegas mengatakan bahwa negara adalah satu-satunya sumber hukum. tanpa perlu menunjuk kepada tujuantujuan sosial. serta berlainan pula dari suatu penilaian kritis. meskipun perkembangan awal positivisme ini terjadi di Perancis. e. Problematika Filsafat Hukum. Budiono Kusumohamidjojo. Mereka berpikir. dan moralitas. tidak ada hukum di luar undangundang tertulis. bila terdapat peraturan-peraturan yang baik. nampak jelas bahwa filsafat positivisme mempunyai pengaruh terhadap filsafat hukum. pembuktian. kebijaksanaan. Bandung: Citra Aditya Bakti. Keputusan-keputusan (hukum) dapat dideduksikan secara logis dari peraturanperaturan yang sudah ada lebih dahulu. Analisis terhadap konsep-konsep hukum yang layak dilanjutkan dan harus dibedakan dari penelitian-penelitian historis mengenai sebab-sebab atau asal usul dari undang-undang. Menurut Budiono. 1993. Sebelum positivisme hukum terlebih dahulu ada aliran pemikiran dalam ilmu hukum yaitu legisme. dengan tokoh utama Saint-Simon. Satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang11. Dari keterangan singkat di atas berikut prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan kaum positivisme hukum. 1999. atau pengujian. 12 11 8 . dan mendorong para penguasa untuk memperbanyak undang-undang sampai seluruh kehidupan diatur secara yuridis. hal. yang berwujud dengan nama positivisme hukum. Aliran legisme. yang mengedepankan undang-undang tertulis. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Jakarta: Grasindo.

moral. dengan metode mereka sendiri yang khas dan dipengaruhi oleh cara berpikir empirisme. kekuasaan yang menonjol dari raja adalah membuat peraturan melalui dekrit. dan menganggap hukum steril dari elemen-elemen non-yuridis seperti etika.akan adanya kodifikasi hukum. sebagai realitas obyektif tanpa makna. Friedman. keharusan adanya kewenangan dari pembuat peraturan perundangundangan. prinsip-prinsip etika mempengaruhi filsafat hukum Kant. ekonomi mendasari filsafat hukum Marxisme. hal. Namun menerjemahkan idealitas hukum dalam bahasa masyarakat ternyata tidak mudah. dan filosofis. ketiga.13 Jauh sebelumnya. Friedman menunjukkan bahwa agama mempengaruhi pandangan filsafat dan pandangan politik dari ajaran skolastik. Hegel pernah menyebutkan bahwa hukum merupakan pencerminan dari ruh (moralitas). Secara ideal. akan tetapi dalam kerangka pemikiran hukum aliran positivis tetap dikategorikan sebagai aliran filsafat dalam hukum. Aspek yuridis berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: pertama. keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis peraturan perundangundangan dengan materi yang diatur. bahkan ada sarjana yang menggagas “teori hukum murni”. setiap jenis peraturan perundang-undangan harus memuat aspek yuridis. 9 . agama. kedua. terutama kalau diperintahkan oleh peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Dalam kaitan ini dapatlah dikatakan bahwa menganggap hukum itu bebas dari unsur-unsur non hukum adalah khayalan belaka. Pada jaman Romawi. Semangat kodifikasi ini sebenarnya diilhami pula oleh hukum Romawi. pemisahan antara wilayah kontemplatif dan wilayah empiris. 13 W. dan lain-lain. sedangkan ilmu pengetahuan empiris memberikan inspirasi terhadap pendekatan fungsional gerakan realis. op. Meskipun kaum positivis hukum dengan tegas memisahkan hukum yang ada dengan hukum yang seharusnya ada. keharusan mengikuti tata cara tertentu. keempat. Hukum dan peraturan perundang-undangan pada dasarnya hanyalah merupakan sarana atau lambang yang secara intrinsik dan ideal mengandung kebenaran dan keadilan. cit. yang dari berbagai dekrit ini disusun kitab undangundang untuk dijadikan rujukan oleh para administrasi negara dalam menjalankan dan memutus berbagai perkara. 2. sosiologis. Tidak sedikit orang memandang hukum an sich.

menindas rakyat atau tidak. Positivisme hukum hanya memiliki satu kelebihan. C. secara formal kekuasaan berjalan di atas hukum. hanya undang-undang yang disebut hukum. kebenaran. Implikasi dari dua prinsip ini adalah bahwa setiap undang-undang yang telah ditetapkan oleh otoritas yang sah harus dianggap hukum yang harus dipatuhi. lahir berbagai aturan hukum yang dijadikan dasar bagi negara atau pemerintah untuk bertindak tanpa peduli apakah hukum yang dilahirkannya itu adil atau tidak. Hal ini pernah berlaku pada masa pemerintahan Nazi-Hitler di Jerman. melainkan hukum yang memihak pada kepentingan penguasa. khususnya negara yang menganut paham negara kesejahteraan (welfare state) di mana penguasa diberi kewenangan untuk mencampuri kehidupan warga negara dengan menciptakan berbagai instrumen yuridis. masyarakat dengan mudah mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. yang menyebutkan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat. dengan banyak kelemahan. kedua. dan lain-lain. ia dianggap sah dan harus dipatuhi oleh rakyat. Aspek sosiologis berkaitan dengan ajaran sociological jurisprudence. Musolini di Italia. Kelebihannya adalah jaminan kepastian hukum. Implikasi Logis Positivisme Hukum Secara sederhana positivisme hukum menganut dua prinsip dasar. akan tetapi bukan hukum yang memuat nilai-nilai keadilan. apapun isi dari hukum tersebut. Pada negara-negara diktator. di luar undang-undang tidak ada hukum. dan perlindungan terhadap rakyat. terdapat kesesuaian antara keinginan atau kebutuhan masyarakat dengan kehendak pembentuk undang-undang. Hukum atau undang-undang akan memiliki legitimasi sosial ketika hukum tersebut sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. Dalam kehidupan kenegaraan. negara atau otoritas merupakan satu-satunya sumber hukum. memuat nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Negara atau pemerintah akan bertindak dengan tegas sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam 10 . Apapun hukum yang lahir selagi telah ditetapkan dalam bentuk undang dan disahkan oleh negara.keharusan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi tingkatannya. pertama. Adapun aspek filosofis berkaitan dengan isi dari undang-undang tersebut.

meskipun masih sama-sama menggunakan pasal yang sama. Makalah pada Penataran Nasional Hukum Administrasi Negara. “Peranan Hukum Administrasi Negara dalam Pembentukan Peraturan perundang-undangan”. maka nilai keadilan terabaikan. Ketiga. pernah terjadi pergeseran penerapan hukum. untuk mempertegas dan melanggengkan kekuasaannya. Seperti diketahui. c) Merupakan instrumen relaksasi atau koreksi atas peraturan perundang-undangan agar lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan. ekonomi. undangundang sebagai hukum tertulis tidak mampu mengakomodasi semua persoalan kemasyarakatan. hukum tak tertulis ini mempunyai peranan sebagai berikut:14 a) Merupakan instrumen yang melengkapi dan mengisi berbagai kekosongan hukum dari suatu peraturan perundang-undangan. sehingga tugas hakim relatif lebih mudah karena tidak perlu mempertimbangkan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. yakni 1365 BW.undang-undang. maka mau tidak mau harus mengakui keberadaan hukum tidak tertulis. mustahil undang-undang mencantumkan semua persoalan politik. undang-undang bersifat kaku terhadap perkembangan jaman. karena itu undang-undang sering tidak mampu mengikuti perkembangan yang pesat tersebut. perkembangan masyarakat itu berjalan cukup cepat dan kadang-kadang tidak dapat diduga sebelumnya. Adapun kelemahannya adalah: pertama. sosial dan lain-lain. dan segera tampak bahwa bila penerapan hukum itu hanya berpatokan pada undang-undang tertulis. Oleh karena adanya beberapa kelemahan ini. rasa keadilan dan kebenaran yang hidup dalam masyarakat. hukum sering dijadikan alat bagi penguasa. Kedua. Menurut Bagir Manan. b) Merupakan instrumen yang memberikan dinamika atas peraturan perundang-undangan. 14 11 . Dalam sejarah perkembangan penerapan hukum. Karena itu tidak jarang terjadi hukum yang semestinya menjamin perlindungan bagi masyarakat malah menindas rakyat. yang berani menentang kekuasaan yang korup. 1985. Sebelum Bagir Manan. mengambil jalan yang berbeda dengan putusan tahun-tahun sebelumnya. budaya. hakim memutuskan perkara perbuatan melawan hukum. Berdasarkan kasus Landebaum Cohen tahun 1919. yang hanya berpegang pada undang-undang tertulis yang dijadikan patokan oleh kaum legisme. tetapi hanya sekedar menerapkan bunyi undang-undang terhadap kasus konkrit. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin: Ujung Pandang.

b) HR 1941: Penguasa kurang melaksanakan kewajiban dengan baik. Sedangkan setelah tahun 1919 perbuatan melawan hukum tidak hanya sekedar melawan undang-undang tetapi juga melanggar kepatutan dan kesusilaan yang semestinya diindahkan. Tiap kaidah hukum positif adalah hasil penilaian manusia terhadap perilaku manusia yang berorientasi kepada ketertiban yang adil itu. saya akan mengutip sebagian argumen Arief Sidharta berikut ini: “Apriori bagi ilmu hukum. khususnya nilai keadilan. Contoh pergeseran penerapan hukum dari suasana legalistik menjadi lebih luas dapat dilihat pada perkembangan putusan Hoge Raad mengenai perbuatan melawan hukum oleh penguasa berikut ini: a) HR 1940: Penguasa tidak cukup memperhatikan kepentingan pemilik ternak.tahun 1919 perbuatan melawan hukum undang-undang. hukum adalah hasil karya cipta manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada kehidupan yang tertib dan terteram. yakni ketertiban yang adil. dalam mempelajari hukum secara ilmiah akan mengaburkan makna hakikat hukum itu sendiri dan akan mengidentikkan hukum dengan kekuasaan seperti yang disimpulkan oleh Kelsen sendiri dengan mengidentikkan tata hukum dengan tata negara yang memandang keduanya identik dengan tata paksaan”… Hukum adalah produk interaksi antara berbagai gejala sosial dengan nilai-nilai yang diyakini dalam masyarakat. 12 . dan karena itu. netralitas nilai itu tidak dapat diterima. Sebab. c) HR 1942: Penguasa melampaui batas wewenang yang dibolehkan. Hanya dengan ketertiban yang adil manusia berkesempatan untuk mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara wajar. bertumpu pada atau dijiwai oleh nilai-nilai…”Mengabaikan faktor nilai. jadi hukum sama dengan undang-undang. Untuk mempertegas penolakan terhadap positivisme hukum ini. d) HR 1943: Penguasa tidak memperhatikan kepatutan dalam pergaulan masyarakat yang baik terhadap milik orang lain Dari keterangan dan contoh-contoh tersebut jelaslah bahwa positivisme hukum dan legisme mengandung kelemahan yang tidak dapat dipertahankan lagi.

64-67. 13 . hal. Oleh karena itu. et-al.. cit. dalam hukum terdapat dan tercermin berbagai gejala sosial dan nilai-nilai yang melahirkannya. akan tetapi kritikannya dapat digeneralisir pada aliran positivisme pada umumnya. op. hukum dan kaidah-kaidah hukum. juga secara dogmatis.15 Meskipun kritik Arief lebih ditujukan pada tesis Kelsen. hanya dapat dipahami dalam kaitannya dan nilai-nilai yang mendasarinya. 15 Arief Sidharta.Dengan demikian. di mana Kelsen merupakan bagian darinya.

dan Kelsen’s pure theory of law. dan mengedepankan hukum tertulis atau undang-undang sebagai perintah dari orotitas yang sah. dan kebenaran. positivisme dan legalisme tidak dapat dipertahankan lagi dalam pergaulan hidup manusia. analytical jurisprudence. memisahkan hukum dari unsur-unsur non hukum. Filsafat positivisme ini dalam bidang hukum melahirkan aliran filsafat positivisme hukum. 14 . Karena memisahkan secara tegas dari aspek non-hukum. Oleh karena itu.BAB III PENUTUP Positivisme yang lahir di bawah naungan empirisme merupakan salah satu aliran filsafat yang menjadikan panca indera sebagai sarana utama dalam metode pencapaian pengetahuan. Positivisme hukum memisahkan secara tegas hukum yang ada dan hukum yang seharusnya ada. keadilan. yang kemudian mengambil bentuk dalam wujud analytical legal positivism. maka hukum telah kehilangan hakikatnya yaitu nilai-nilai moralitas. pragmatic positivism.

Bandung: Remaja Rosda Karya. Lili. Rahmat. Falsafatuna. 15 . Jakarta: Rindi Press. 1948. Ketertiban Yang Adil. Nalar Kontemplasi dan Realita. Makalah pada Penataran Nasional Hukum Administrasi Negara. 1995. Teori Hukum Murni (terjemahan).. Problematika Filsafat Hukum. 1985. Bandung: Citra Aditya Bakti. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Unpad. Arief.W. Rasjidi. 1985. Bagir. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin: Ujung Pandang. Herman. van Duyvendijk. No. Vol.E. 1999. 1983.DAFTAR PUSTAKA Algra. Bandung: Mizan. Jalaludin. P. 1993. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 3 Maret. et-al. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. 4.. N. Soewardi. Jakarta: Grasindo Manan. dan K. Sidharta.. Mula Hukum Beberapa Bab Mengenai Hukum dan Ilmu untuk Pendidikan Hukum Dalam Pengantar Ilmu Hukum. Scientist and Social Responsibility. Budiono. 1994. Hens. Shadr. “Peranan Hukum Administrasi Negara dalam Pembentukan Peraturan perundang-undangan”. dalam The Bulletin of The Atomic Scientist”. Kusumohamidjojo. Kelsen. Binacipta. Bandung: Rosda Karya. Muhammad Baqir. 1991. Bridgaman. 1998.