P. 1
Download Skripsi BK

Download Skripsi BK

|Views: 1,028|Likes:
Published by Dedi Mukhlas

More info:

Published by: Dedi Mukhlas on Sep 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI POSITIF PADA SISWA KELAS XI SMA TEUKU

UMAR SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2006/2007
SKRIPSI Diajukan dalam rangka Penyelesaian Studi Strata Satu untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

SUPRAPTO 1301402048

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

HALAMAN PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan sidang panitia ujian skripsi jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang : Hari Tanggal Panitia Ujian Ketua Sekretaris : Rabu : 20 Juni 2007

Dr.Agus Salim, M.S NIP. 131127082

Drs.H. Suharso, M.Pd. Kons NIP .131754158

Pembimbing Pembimbing I

Penguji Penguji I

Drs. Heru Mugiharso, M.Pd.Kons NIP. 131413234 Pembimbing II

Drs. Soeparwoto NIP. 030368009 Penguji II

Dra. C.Tri Anni, M.Pd NIP. 131633255

Drs. Heru Mugiharso, M.Pd.Kons NIP. 131413234 Penguji III Dra. C.Tri Anni, M.Pd NIP. 131633255

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri dan bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Juni 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SARI Suprapto. 2007. Efektifitas Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok dalam Mengembangkan Konsep Diri Positif pada Siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Skripsi : Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. UNNES. Pembimbing I. Drs Heru Mugiharso, M.Pd. Kons. Pembimbing II. Dra. C.Tri Anni, M.Pd Kata Kunci : Bimbingan Kelompok, Konsep Diri Positif Konsep diri penting bagi individu karena individu dapat memandang diri dan dunianya, mempengaruhi tidak hanya individu berperilaku, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya. Setiap individu pasti memiliki sebuah konsep diri, tetapi mereka tidak tahu apakah konsep diri yang dimiliki itu negatif atau positif. Siswa yang memiliki konsep diri positif ia akan memiliki dorongan mandiri lebih baik, ia dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri sehingga dapat berperilaku efektif dalam berbagai situasi. Namun kenyataan yang terjadi di SMA Teuku Umar Semarang ada sebagian siswa kelas XI yang memiliki konsep diri yang rendah, sehingga perlu upaya untuk meningkatkannya atau mengembangkan konsep diri yang positif salah satunya melalui layanan bimbingan kelompok. Ada pun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peningkatan konsep diri pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 setelah dilakukan layanan bimbingan kelompok secara efektif ?. Ada pun tujuannya adalah untuk meningkatkan konsep diri pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 melalui layanan bimbingan kelompok secara efektif. Subjek penelitian ini sebanyak 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang yang memiliki konsep diri yang rendah dengan menggunakan purposive sampling. Ada pun variabel yang diteliti adalah konsep diri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi sedangkan alat pengumpul data yang digunakan adalah skala konsep diri yang tahap awal diuji tingkat validitas dan reliabilitas. Ada pun dari hasil uji validitas N=30, r tabel 0,361 maka instrumen yang digunakan valid karena r hitung > r tabel. Sedangkan uji reliabilitas dengan rumus alpha dapat diketahui bahwa r hitung = 0,889 > 0,361 maka dapat dikatakan instrumen ini reliabel. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode non parametrik dengan menggunakan uji Wilcoxon. Dari hasil penelitian yang dilakukan di SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian bahwa konsep diri dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok. Hasil uji Wilcoxon diperoleh Zhitung = -15,860 kurang dari Ztabel = (-0,48) atau berada pada daerah penolakan Ho. Hal ini menunjukkan ada peningkatan yang signifikan konsep diri setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif sebagai upaya dalam mengembangkan konsep diri positif siswa. Hendaknya para guru pembimbing dapat lebih banyak memprogramkan layanan bimbingan kelompok untuk membentuk konsep diri positif siswa dan memotivasi siswa agar memanfaatkan layanan bimbingan kelompok sebagai tempat untuk mengembangkan konsep diri positif.

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: ”Konsep diri positif akan membawa kita pada keberhasilan” (Penulis)

Persembahan : Dengan ridho-Mu ya Allah, kupersembahkan skripsi ini kepada 1. Kedua orang tuaku yang selalu mendoakan setiap langkahku. 2. Adikku Nuraeni. 3. Orang-orang yang telah mengisi hatiku. 4. Teman-teman Batang, PPL, Paguyupan KKN, IBM Duta Kost, Wisata GG.

SENYUM Kost, PAWIYATAN Kost, dan SAHABAT kost. 5. Teman-teman BK angkatan 2002 dan 2001 6. Almamaterku UNNES.

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah AWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “ Efektifitas Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok dalam Mengembangkan Konsep Diri Positif pada Siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007”. Ada pun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu peneliti menyampaikan ucapan terimakasih kepada : 1. Rektor Universitas Negeri Semarang Prof.Dr.Sudijono Sastroadmojo, M.Si yang telah memberi kesempatan untuk menimba ilmu di kampus ini. 2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Dr.Agus Salim, M.S yang telah memberikan izin penelitian. 3. Drs.H.Suharso, M.Pd.Kons, selaku Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Heru Mugiharso, M.Pd.Kons, dan Dra. C.Tri Anni, M.Pd selaku Dosen Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah membimbing, memberikan arahan dan motivasi dalam penyusunan skripsi. 5. Drs. Pramuji Nugroho AS., kepala SMA Teuku Umar Semarang, yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di SMA Teuku Umar Semarang.

6. Bu Asri, Bu Anik dan Bu Dian guru pembimbing SMA Teuku Umar Semarang yang telah membantu dalam penelitian skripsi ini. 7. Siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang yang telah menjadi kelompok eksperimen dalam penelitian ini. 8. Bapak ibu dan adikku tercinta, yang selalu menyayangi dan mendoakan setiap langkahku. 9. Teman terbaik dan seperjuangan Anita, Yuli, Hanung, Nurul, Erita teman-teman Duta Wisata Batang, PPL, KKN dan teman-teman kos PAWIYATAN dan SAHABAT : Kardoyo, Sugix, Toni, Andri “Solo”, Hajir, Maksus, Be’ef, Kinjeng, Pram, Denny, Imam, Sadat, Didik, Munif terima kasih atas bantuan, motivasi, masukan, semangat, dorongan dan kebersamaannya selama ini. 10. Pihak-pihak lain yang telah memberikan motivasi, bantuan, dan masukan dalam penyusunan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Tiada sesuatu apa pun yang dapat dipersembahkan selain ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga amal jasa dan amal baiknya mendapat imbalan dari Allah SWT . Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan senang hati peneliti akan menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menambah wawasan pengetahuan di kemudian hari. Akhir kata peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi peneliti pada khususnya dan bagi pembaca semua pada umumnya. Semarang, Juni 2007 Peneliti

DAFTAR ISI Halaman JUDUL SKRIPSI ............................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... PERNYATAAN.............................................................................................. SARI ............................................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................... DAFTAR TABEL........................................................................................... DAFTAR BAGAN ......................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. A. Latar Belakang Masalah................................................................ B. Permasalahan ................................................................................ C. Tujuan Penelitian .......................................................................... D. Manfaat Penelitian ........................................................................ E. Sistematika Penulisan Skripsi ....................................................... BAB II. LANDASAN TEORI ........................................................................ A. Konsep Diri ................................................................................. 1. Pengertian Konsep Diri ........................................................... 2. Jenis-jenis Konsep Diri ........................................................... 3. Isi Konsep Diri ........................................................................ 4. Peranan Konsep Diri ............................................................... 5. Pembentukan dan Pengembangan Konsep Diri ...................... B. Layanan Bimbingan Kelompok .................................................. 1. Pengertian Bimbingan Kelompok ......................................... i ii iii iv v vi viii xi xii 1 1 6 6 6 7 9 9 9 12 16 22 24 33 35

2. Tujuan Bimbingan Kelompok............................................... 37 3. Model Bimbingan Kelompok Dalam Layanan Bimbingan Kelompok ............................................................................................... 38

4. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok.......................... 5. Teknik-teknik Bimbingan Kelompok ................................... 6. Tahap-tahap Bimbingan Kelompok ...................................... C. Keefektifan Layanan Bimbingan Kelompok dalam Mengembangkan Konsep Diri Positif......................................... D. Hipotesis...................................................................................... BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................ A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian...................................... B. Populasi dan Sampel ................................................................. C. Variabel Penelitian .................................................................... D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ........................................ E. Instrumen Penelitian ................................................................. F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ......................................... G. Teknik Analisis Data................................................................. BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... A. Hasil Penelitian ......................................................................... 1. Konsep Diri Sebelum Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok............................................................................ 2. Hasil Pengamatan................................................................ 3. Konsep Diri Siswa Setelah Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok............................................................................ Mengembangkan Konsep Diri Positif................................. B. Pembahasan............................................................................... BAB V. SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. A. B. LAMPIRAN Simpulan ................................................................................... Saran..........................................................................................

39 45 50 56 61 62 62 65 67 69 71 74 76 78 78 78 80 98 99 101 109 109 109 110

4. Efektifaan Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok Dalam

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

DAFTAR TABEL Tabel Halaman 70 71 72 78 79 80 92 99 100 100

1. Format skala konsep diri positif................................................................ 2. Kriteria tingkat konsep diri positif ............................................................ 3. Kisi-kisi instrumen penelitian ................................................................... 4. Konsep diri siswa sebelum pelaksanaan layanan Bimbingan kelompok ................................................................................ konsep diri positif...................................................................................... 6. Hasil pengamatan selama proses bimbingan kelompok ........................... 7. Perkembangan konsep diri siswa .............................................................. 8. Konsep diri siswa setelah pelaksanaan layanan Bimbingan kelompok ................................................................................ 9. Hasil uji Wilcoxon .................................................................................... 10. Hasil pre test dan post test setiap indikator...............................................

5. Jadwal kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dalam membentuk

DAFTAR BAGAN Bagan Halaman 63 68 72

1. Pola kelompok pre test dan post test ......................................................... 2. Hubungan/pengaruh variabel .................................................................... 3. Prosedur penyusunan instrumen ...............................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 113 119 123 126 132 138 140 142 144 146 148 154 160 168 173 191

1. Skala uji coba instrumen ........................................................................... 2. Tabel analisis uji coba angket skala konsep diri positif............................ 3. Perhitungan uji validitas dan reliabilitas skala psikologi.......................... ................................................................................................................... 5. Data hasil tes pengambilan sampel ........................................................... kelompok) ................................................................................................. 7. Rata-rata pre test untuk setiap indikator.................................................... 8. Rekapitulasi hasil post test per individu (setelah pemberian layanan bimbingan kelompok).................................................................. 9. Rata-rata post test untuk setiap indikator .................................................. 10. Analisis deskriptif persentase.................................................................... 11. Hasil uji Wilconxon .................................................................................. 12. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ” Contoh kasus konsep diri negatif”. Pertemuan I (Materi 1)................... konseling dengan topik” Contoh kasus konsep diri negatif” .................... 14. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ”Pengertian dan perlunya konsep diri”. Pertemuan II (Materi 2) ............. konseling dengan topik”Pengertian dan perlunya konsep diri” ................ 16. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ”Isi dan asal usul pembentukan konsep diri”. Pertemuan III (Materi 3)... 17. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan konseling dengan topik ”Isi dan asal usul

4. Kisi-kisi pengembangan instrumen penelitian dan angket skala konsep diri positif

6. Rekapitulasi hasil pre test per individu (sebelum pemberian layanan bimbingan

13. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan

15. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan

pembentukan konsep diri”......................................................................... 18. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ” Mensikapi permasalaan diri dan orang lain”. Pertemuan IV (Materi 4)..................... konseling dengan topik " Mensikapi permasalahan diri dan orang lain” ................................................................................... kepercayan diri”. Pertemuan V (Materi 5)................................................ konseling dengan topik ”Cara meningkatkan kepercayan diri”................ prasangka dan akibatnya”. Pertemuan VI (Materi6)................................. konseling dengan topik”Cara menghindari prasangka dan akibatnya” ........................................................................

196 202

19. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan 207 213 218 225

20. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ”Cara meningkatkan 21. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan 22. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ”Cara menghindari 23. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan 230

24. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik "Cara mengembangkan sikap positif”. Pertemuan VII (Materi 7) ...................... 235 25. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan konseling dengan topik"Cara mengembangkan sikap positif” ................. 240 26. Satuan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan topik ”Cara mengembangkan dan mengarahkan emosi”. Pertemuan VIII (Materi 8) . 245 27. Laporan pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut satuan layanan bimbingan dan konseling dengan topik”Cara mengembangkan dan Mengarahkan emosi” ................................................................................ 249 28. Daftar hadir siswa kegiatan bimbingan kelompok.................................... 254 29. Foto penelitian : Proses kegiatan bimbingan kelompok .......................... 262 30. Foto penelitian : Pemimpin kelompok mengamati kaktifan anggota kelompok .................................................................................................. 263 31. Surat penelitian.......................................................................................... 264 32. Surat keterangan........................................................................................ 268

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam era milinium ini, kita sedang memasuki suatu abad baru yang banyak menimbulkan perubahan dan kemajuan, sekaligus menjadi tantangan. Tantangan akibat perubahan dan kemajuan yang cepat, terjadi baik pada aspek sosial, budaya, dan teknologi. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi akibat perubahan tersebut semakin komplek, baik masalah pribadi, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain. Untuk menghadapi tantangan ini diperlukan kesiapan individu secara fisik dan mental, agar lebih mampu mengatasi berbagai hal dalam mencapai kesuksesan. Bagaimana kita menghadapi tantangan yang ada bisa dimulai dengan berempati, mengubah cara pandang, mengelola emosi dan mengambil resiko. Apabila tidak memiliki referensi nilai, fokus yang positif, dan harga diri maka akan timbul kesulitan dan menemukan sumber daya batiniah yang diperlukan kehidupan. Peserta didik pada usia remaja di sekolah sebagai individu yang sedang berkembang mencapai taraf perkembangan pribadi secara optimal dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai siswa ber-IQ (Intelligence Quotions) tinggi gagal dalam menempuh ujian. Tetapi sering kita dengar pula bahwa banyak peserta didik yang memiliki IQ sedang-sedang saja untuk menangani tantangan-tantangan yang beragam dalam

ternyata mereka berhasil dalam menempuh ujian. Bila kita berpikir bahwa diri kita bisa, maka kita cenderung akan sukses, sebaliknya bila kita berpikir bahwa diri kita akan gagal, maka sebenarnya kita mempersiapkan diri untuk gagal. Dengan kata lain harapan terhadap diri sendiri merupakan prediksi untuk mempersiapkan diri sendiri. Perasaan individu bahwa ia tidak memiliki kemampuan menunjukkan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dipunyainya. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan ia memandang seluruh tugasnya sebagai sesuatu yang sulit diselesaikan. Berbagai penelitian yang dilakukan para ahli menunjukkan, bahwa pandangan individu terhadap dirinya sendiri sangat menentukan keberhasilan yang akan dicapai. Pandangan dan sikap individu terhadap dirinya inilah yang dikenal dengan konsep diri. Konsep diri merupakan pandangan menyeluruh individu tentang totalitas dari diri sendiri mengenai karakteristik kepribadian, nilai-nilai kehidupan, prinsip kehidupan, moralitas, kelemahan dan segala yang terbentuk dari segala pengalaman dan interaksinya dengan orang lain (Burns, 1993:50)”. Konsep diri penting artinya karena individu dapat memandang diri dan dunianya, mempengaruhi tidak hanya individu berperilaku, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya. Setiap individu pasti memiliki konsep diri, tetapi mereka tidak tahu apakah konsep diri yang dimiliki itu negatif atau positif. Siswa yang memiliki konsep diri positif ia akan memiliki dorongan mandiri lebih baik, ia dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri sehingga

dapat berperilaku efektif dalam berbagai situasi. Konsep diri positif bukanlah suatu kebanggaan yang besar tentang diri tetapi berupa penerimaan diri. Siswa yang memiliki konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah faktor yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Dalam hal ini siswa dapat menerima dirinya secara apa adanya dan akan mampu mengintrospeksi diri atau lebih mengenal dirinya, serta kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Namun siswa yang memiliki konsep diri negatif, ia tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri, juga tidak mengenal diri baik dari segi kelebihan maupun kekurangannya atau sesuatu yang ia hargai dalam hidupnya. Masalah dan kegagalan yang dialami peserta didik disebabkan oleh sikap negatif terhadap dirinya sendiri, yaitu menganggap dirinya tidak berarti. Individu yang memiliki konsep diri yang negatif adalah individu yang mudah marah dan naik pitam serta tidak tahan terhadap kritikan yang diterimanya, dengan kata lain individu kurang menerima peraturan/norma yang telah ditetapkan, sehingga ada sifat membrontak pada dirinya yang menentang aturan tersebut. Perilaku siswa yang menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah disebabkan oleh pandangan negatif terhadap dirinya, yaitu dirinya tidak mampu menyelesaikan tugasnya. SMA Teuku Umar Semarang sebagai salah satu sekolah di bawah yayasan Teuku Umar memiliki beberapa peraturan, antara lain : untuk siswa putri diwajibkan untuk berjilbab, melaksanakan sholat dhuhur dan jumat berjamah secara bergiliran dan kewajiban membersihkan ruangan kelas sebelum kegiatan

belajar dimulai bagi yang piket. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru pembimbing di sekolah tersebut diperoleh data bahwa hampir 50% siswa kelas XI mempunyai konsep diri yang belum positif, gejala yang nampak yaitu membolos, hasil prestasi belajar yang rendah, menyontek, membuat gaduh saat pelajaran, berkelahi, adanya siswa yang melanggar tata tertib sekolah, adanya siswa yang memiliki perasaan rendah diri, dan adanya siswa yang mempunyai perasaan tidak mampu melaksanakan tugas. Siswa yang demikian itu dapat dikatakan memiliki konsep diri yang negatif. Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk dapat mengembangkan diri melalui layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling memiliki tujuh jenis layanan yang semuanya merupakan kegiatan bantuan dan tuntutan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya. Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu jenis layanan yang dianggap tepat untuk memberikan kontribusi pada siswa untuk mengembangkan konsep diri positif. Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan

menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah konsep diri yang positif. Asumsi yang dipakai dalam penelitian ini adalah bahwa dalam bimbingan kelompok akan terjadi proses interaksi antar individu. Diharapkan bimbingan kelompok dijadikan wahana pemahaman nilai-nilai positif bagi siswa, khususnya sikap konsep diri positif dibentuk yang tidak hanya dengan pendekatan personal namun dengan pendekatan kelompok seperti bimbingan kelompok yang akan lebih optimal karena para siswa tidak akan merasa terhakimi oleh keadaan sendiri, mereka juga akan merasa mendapat pembinaan dan informasi yang positif untuk pengembangan konsep diri yang positif, apalagi masalah konsep diri merupakan masalah yang banyak dialami oleh remaja sehingga untuk mengefisienkan waktu bimbingan kelompok dimungkinkan lebih efektif dibandingkan layanan konseling individual.

Oleh karena itu untuk membantu siswa agar mempunyai konsep diri yang positif dan semakin stabil, maka peneliti mencoba menyusun program eksperimen melalui layanan bimbingan kelompok dengan judul “Efektifitas Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok dalam Mengembangkan Konsep Diri Positif Pada Siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007“.

B. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : “ Bagaimana peningkatan konsep diri pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 setelah dilakukan layanan bimbingan kelompok secara efektif“.

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan konsep diri pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 melalui layanan bimbingan kelompok secara efektif.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan pengembangan bimbingan

kelompok, dan wujud dari sumbangan tersebut yaitu ditemukannya hasil-hasil penelitian baru tentang bimbingan konseling guna meningkatkan pelayanan bimbingan di sekolah. 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru pembimbing Penelitian ini dapat bermanfaat bagi guru pembimbing di SMA Teuku Umar Semarang dalam melakukan kegiatan layanan bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan jam Bimbingan dan Konseling di kelas seefektif mungkin untuk membantu untuk membentuk konsep diri yang positif pada siswa. b. Bagi peserta didik Dengan mengikuti kegiatan bimbingan kelompok siswa akan terdorong untuk membentuk konsep diri yang positif, terbuka, menghargai orang lain, mau mengendalikan emosi, mengembangkan rasa setia kawan, belajar untuk mempercayai kemampuan diri sendiri, serta belajar untuk memecahkan masalah.

E. Sistematika Penulisan Skripsi Untuk memudahkan pembaca memahami isi skrispi ini, maka dalam penyusunan skripsi ini menggunakan sistematika dan garis besar isinya yang disajikan sebagai berikut : 1. Bagian Pendahuluan 2. Bagian Isi 3. Bagian Penutup

Bagian Pendahuluan

berisi

halaman

judul,

pernyataan,

halaman

pengesahan, motto dan persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar table, daftar bagan serta lampiran. Pada bagian inti dibagi kedalam lima bab yang berturut-turut dapat penulis sajikan garis besar penulisan sebagai berikut : Bab I Pendahuluan, meliputi alasan pemilihan judul, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi. Pada bagian Bab II berisi Landasan Teori, berisi tentang layanan bimbingan kelompok, konsep diri, bimbingan kelompok sebagai salah satu cara pembentukan konsep diri yang positif, dan hipotesis. Pada Bab III Metode Penelitian diuraikan tentang jenis penelitian dan desain penelitian, populasi, sampel, variabel penelitian, metode dan alat pengumpul data, validitas dan reliabilitas instrumen, dan teknik analisis data. Pada Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini berisi tentang hasil-hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Pada Bab V Simpulan dan Saran. Kesimpulan merupakan ringkasan dari kegiatan hasil penelitian, sedangkan saran berisi nasehat atau anjuran dari peneliti berdasarkan hasil penelitian. Bagian akhir dari skripsi ini berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang memuat tentang perlengkapan-perlengkapan dan perhitungan analisis data.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Konsep Diri Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian. 1. Pengertian Konsep Diri Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki

mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya. Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya. Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka

sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi. Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm). Konsep diri

merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya. Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

2. Jenis-jenis Konsep Diri Menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah : a. Ia yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. b. Ia merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain. c. Ia menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain. d. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.

e. Ia mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum

menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya. Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri yang positif. Sedangkan tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah : a. Ia peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.

b. Ia responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat

orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain. c. Ia cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain. d. Ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi

(bermusuhan). e. Ia bersikap psimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Pernyataan lain menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsep diri negatif maupun positif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (Rini,

2002:http://www.e-psikologi./com/dewasa/1670502.htp) a. Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap psimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain. b. Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang. Dengan melihat uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif, yang mana keduanya memiliki ciri-ciri yang sangat

berbeda antara ciri karakteristik konsep diri positif dan karakteristik konsep diri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri positif dalam segala sesuatunya akan menanggapinya secara positif, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Ia akan percaya diri, akan bersikap yakin dalam bertindak dan berperilaku. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri negatif akan menanggapi segala sesuatu dengan pandangan negatif pula, dia akan mengubah terus menerus konsep dirinya atau melindungi konsep dirinya itu secara kokoh dengan cara mengubah atau menolak informasi baru dari lingkungannya. 3. Isi Konsep Diri Sewaktu lingkungan anak yang sedang tumbuh meluas, isi dari konsep dirinya juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan, teman-teman, nilai-nilai dan khususnya orang-orang yang disayangi melalui proses identifikasi. Untuk merumuskan isi dari konsep diri tidaklah mudah, kita berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, namun demikian secara umum isi konsep diri dapat dirumuskan. Menurut Jersild dalam penelitiannya terhadap penelitian anak sekolah dasar dan sekolah menengah yang dikutib Burns (1993:209-210) mendiskripsikan isi dari konsep diri adalah :

a. Karakteristik fisik Karakteristik yang merupakan suatu ciri atau hal yang

membedakan dari individu dengan individu yang lain yaitu, yang mencakup penampilan secara umum, ukuran tubuh dan berat tubuh, dan detail-detail dari kepala dan tungkai lengan. Karakteristik fisik dapat menyebabkan adanya pandangan yang berbeda tiap individu satu dengan individu yang lain tentang dirinya sendiri, contohnya kalau seorang bintang film yang cantik pasti akan dijadikan idola. Hal ini kadang dijadikan masalah, karena individu itu sendiri merasa memiliki kekurangan dibandingkan dengan temannya yang memiliki kelebihan, seperti kurang tinggi, terlalu gemuk, tidak cantik, perasaan ini dapat berkembang menjadi konsep diri yang negatif apabila masyarakat memperhatkan dan menjunjung individu yang mempuyai kelebihan dibandingkan dengan individu yang tidak mempunyai kelebihan. b. Penampilan Penampilan dari setiap individu tentunya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain, hal ini dapat menggambarkan kepribdian seseorang. Penampilan ini mencakup cara berpakaian, model rambut dan make-up, dengan keadaan seperti ini, individu dimungkinkan percaya diri atau tidak. Misalnya, seseorang yang tidak pernah memakai make up suatu saat disuruh temannya memakainya, tentunya pada saat itu

ada perbedaan antara temannya yang sudah terbiasa memakai make up dengan dirinya yang malu dan menutupi wajahnya dengan kain. c. Kesehatan dan kondisi fisik Kesehatan dan kondisi fisik sangat diperlukan bagi setiap individu dalam menjalani hidup ini, terutama dalam mencapai karier. Individu yang mempunyai kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik akan mengakibatkan gangguan kenormalan yang berakibat individu itu merasa tidak aman atau kurang percaya diri, yang berakibat menimbulkan penilaian terhadap dirinya sendiri menjadi negatif, individu yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang baik akan percaya diri bila dibandingkan dengan yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik atau lemah. d. Rumah dan hubungan keluarga Rumah dan hubungan keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal atau ditempati individu saat lahir dan mengenal lingkungan luar. Didalam rumah, hubungan keluarga akan tercipta suasana dan kondisi yang menyenangkan atau tidak, ini dapat dijadikan sebagai suatu informasi, pengalaman, yang dijadikan pegangan hidup individu untuk berinteraksi, untuk itu rumah dan hubungan keluarga yang terjalin dengan baik akan membuat individu senang dan bahagia dengan rumah dan hubungan keluarga yang dimilikinya, tetapi seorang individu yang rumah dan hubungan keluarganya yang tidak terjalin dengan baik, misalnya

kedua orang tuanya sering bertengkar, bercerai atau broken home ini akan menyebabkan individu memiliki pandangan negatif tentang keluarganya. e. Hobi dan permainan Hobi dan permainan sangat berhubungan, karena dari percobaan setiap permainan akan muncul pengembangan hobi, dengan terkuasainya permainan itu, individu akan berusaha mengembangkan kemampuan dan percaya diri terhadap hobi dan permainannya. Individu yang memiliki hobi dan permainan yang dapat dikembangkan secara baik akan terarah dan adanya dukungan dari diri, keluarga dan lingkungan dekatnya, individu akan termotivasi untuk mengembangkannya dan tentunya individu itu akan dipandang lingkungan sekitarnya. f. Sekolah dan pekerjaan sekolah Sekolah merupakan tempat belajar individu dalam tahap pencarian ilmu. Dalam sekolah ada tugas-tugas yang diberikan individu. Individu yang mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu pengumpulan, disinilah terlihat bagaimana kemampuan dan sikap individu terhadap sekolah apakah ia merasa mampu dan berprestasi didalam mengerjakan tugastugas sekolah. Seorang individu yang selalu mendapat nilai tidak bagus ini akan mempengaruhi cara belajarnya atau pandangan individu bahwa dirinya seorang yang cenderung gagal atau bodoh.

g. Kecerdasan Kecerdasan berkaitan dengan status intelektual yang dimiliki individu. Kecerdasan ini ada yang tinggi dan ada yang rendah, dari kecerdasan ini cara berfikir atau daya tangkap individu berbeda, sehingga pandangan dirinya sendiri tentunya juga berbeda-beda, misalnya anak yang memiliki kecerdasan yang baik/tinggi akan dipuji oleh guru, orang tua dan temannya yang kemudian individu itu akan percaya diri saat mengerjakan tugas atau mengikuti tes. h. Bakat dan minat Bakat dan minat yang dimiliki individu itu berbeda-beda walaupun individu itu kembar sekalipun. Seseorang yang memiliki bakat dan minat yang terlatih atau disalurkan akan mengakibatkan individu itu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang dan biasanya timbul perasaan percaya diri bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan berbeda dengan individu yang bakat dan minatnya yang tidak jelas atau asal-asalan, sehingga ini dapat menyebabkan individu putus asa atau tidak percaya diri. i. Ciri kepribadian Ciri kepribadian seseorang ini berhubungan dengan tenpramen, karakter dan tendensi emosional dan lain sebagainya. Ciri kepribadian ini akan mempengaruhi individu dalam bertindak atau dalam berfikir, misalnya seseorang individu yang selalu mengatur, dalam segi kegiatan

individu itu akan selalu mengatur atau berpandangan kalau dia berhak mengaturnya. j. Sikap dan hubungan sosial Sikap dan hubungan sosial yang dilakukan oleh individu akan berpengaruh terhadap orang-orang yang berada disekitarnya, pergaulan dengan teman sebaya. Seorang individu yang ekstrovet cenderung akan senang dengan keadaan ramai dan akan mudah dalam mencari teman atau memulai pembicaraan, hal ini dapat membuat individu itu semakin bertambah wawasan, informasi, pengalaman dan pengetahuan. Sedangkan pada individu yang introvert akan cendeung menutup diri, dan berusaha menjauh dari teman-temannya dengan berpikiran dirinya mempunyai banyak kelemahan. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap dan hubungan sosial ini akan mempengaruhi individu dalam memandang dirinya sendiri, misalnya anak introvert memandang lingkungan yang ditemapti saat ini membosankan dan menyakitkan bagi dirinya sendiri. k. Religius Manusia hidup tidak dapat terlepas dari hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, karena tanpa bantuan dan karunia-Nya, kita tidak bisa hidup. Seseorang yang memiliki segi religius positif akan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, untuk itu religius yang positif ini akan mempengaruhi cara berpikir dan

bertingkah laku atau bertindak yang mengarah kepada penilaian diri yang percaya diri dan positif. Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa isi konsep diri meliputi penampilan, kepribadian, kecerdasan, kesehatan dan kondisi fisik, keluarga, hubungan sosial, penyesuaian dengan orang-orang disekitar dan lawan jenis, bakat dan minat serta hobi. 4. Peranan Konsep Diri Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelas dari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukkan ketidakmampuan dalam perilakunya. Rogers (dalam Burns, 1993:353) menyatakan bahwa konsep diri memainkan peranan yang sentral dalam tingkah laku manusia, dan bahwa semakin besar kesesuaian di antara konsep diri dan realitas semakin berkurang ketidakmampuan diri orang yang bersangkutan dan juga semakin berkurang perasaan tidak puasnya. Hal ini karena cara individu memandang dirinya akan

tampak

dari

seluruh

perilakunya.

Konsep

diri

berperan

dalam

mempertahankan keselarasan batin, penafsiran pengalaman dan menentukan harapan individu. Konsep diri mempunyai peranan dalam mempertahankan keselarasan batin karena apabila timbul perasaan atau persepsi yang tidak seimbang atau saling bertentangan, maka akan terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk menghilangkan ketidakselarasan tersebut, ia akan mengubah perilakunya sampai dirinya merasakan adanya keseimbangan kembali dan situasinya menjadi menyenangkan lagi. Hurlock (1990:238) mengemukakan, konsep diri merupakan inti dari pola perkembangan kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi berbagai bentuk sifat. Jika konsep diri positif, anak akan mengembangkan sifat-sifat seperti kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realitas, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Sebaliknya apabila konsep diri negatif, anak akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri. Mereka merasa ragu dan kurang percaya diri, sehingga menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk pula. Konsep diri juga dikatakan berperan dalam perilaku individu karena seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya akan mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan setiap aspek pengalaman-

pengalamannya. Suatu kejadian akan ditafsirkan secara-berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain, karena masing-masing individu mempunyai pandangan dan sikap berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran-

tafsiran individu terhadap sesuatu peristiwa banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sendiri. Tafsiran negatif terhadap pengalaman disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya sendiri, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya konsep diri dikatakan berperan dalam menentukan perilaku karena konsep diri menentukan pengharapan individu. Menurut beberapa ahli, pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Pengharapan merupakan tujuan, cita-cita individu yang selalu ingin dicapainya demi tercapainya keseimbangan batin yang menyenangkan. Menurut Rakhmat (2005:104) konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Misalnya bila seorang individu berpikir bahwa dia bodoh, individu tersebut akan benarbenar menjadi bodoh. Sebaliknya apabila individu tersebut merasa bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apapun yang dihadapinya pada akhirnya dapat diatasi. Ini karena individu tersebut berusaha hidup sesuai dengan label yang diletakkan pada dirinya. Dengan kata lain sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang, positif atau negatif. 5. Pembentukan dan Pengembangan Konsep Diri Menurut paham religi khususnya islam manusia terlahir dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum tertulis. Dengan demikian konsep diri itu muncul berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan

latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kata lain konsep diri merupakan produk sosial. Anak yang putih tersebut ternoda setelah ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah anak itu terlahir dapat memberikan respon terhadap dunia sekitarnya, maka sejak itu pula kesadaran dirinya muncul menjadi dasar dalam pembentukan konsep dirinya. Konsep diri dihasilkan dari interaksi dua faktor yaitu diri individu itu sendiri dan lingkungan (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:74). Konsep diri yang dimiliki individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari lingkungan individu, karena konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari beribu-ribu pengalaman yang berbeda-beda dan sedikit demi sedikit menjadi satu. Setiap orang dilahirkan tanpa konsep diri. Konsep diri berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang akibat dari interaksinya dengan orang lain. Melalui pengalaman interaksi dengan orang lain dan cara orang lain memperlakukan individu tersebut akan menangkap pantulan tentang dirinya dan akhirnya membentuk gagasan dalam dirinya seperti apakah dirinya sebagai pribadi. Pendek kata, konsep diri individu itu dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Hurlock (1994:132) mengatakan, bahwa konsep diri anak terbentuk pada awal masa kanak-kanak di dalam hubungannya dengan keluarga, yaitu orang tua, saudara-saudara kandung, dan sanak saudara lain yang merupakan dunia sosial bagi anak-anak. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak

mulai membentuk konsep diri yang ideal. Pada mulanya konsep diri ideal ini mengikuti pola yang digariskan oleh orang tuanya, guru dan orang lain di sekitar kemudian meluas pada tokoh-tokoh yang dibaca atau didengar. Keluarga mempunyai peranan yang penting dan paling dini dalam pembentukan konsep diri, karena terdapat banyak kondisi dalam keluarga yang ikut membentuk konsep diri pada anak, yaitu cara orang tua dalam mendidik anak, cita-cita orang tua terhadap anaknya, posisi urutan anak dalam urutan dalam keluarga, identitas kelompok dan ketidaknyamanan lingkungan. Selanjutnya Centi (1993:16-23) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah : a. Orang Tua Dalam hal ini informasi atau cerminan tentang diri kita, orang tua kita memegang peranan paling istimewa. Penilaian yang orang tua kenakan kepada kita untuk sebagian besar menjadi penilaian yang kita pegang tentang diri kita. Sebutan orang tua yang diberikan pada anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu dan individu akan meragukan keberadaan dirinya. b. Saudara Sekandung Hubungan dengan saudara sekandung juga penting dalam pembentukan konsep diri. Anak sulung yang diperlakukan seperti seorang pemimpin oleh adik-adiknya dan mendapat banyak kesempatan berperan sebagai penasihat mereka, mendapat banyak keuntungan besar dari kedudukannya

dalam hal pengembangan konsep diri yang sehat. Sedang anak bungsu yang pada umumnya dianggap seperti anak kecil terus menerus akan mengakibatkan kepercayaan dan harga dirinya lemah. c. Sekolah Tokoh utama di sekolah adalah guru, seorang guru yang sikap dan pribadinya baik membawa dampak besar bagi penanaman gagasan dalam pikiran siswa tentang diri mereka. Untuk kebanyakan siswa, guru merupakan model. Selain itu siswa yang sering mendapatkan prestasi dalam bidang akademik maupun bidang lain, tentu akan memperoleh pujian dan pengahargaan dari banyak pihak di sekolah mulai dari teman, guru, bahkan kepala sekolah. Bagi mereka pujian dan pengahargaan dapat menumbuhkan konsep diri positif karena ada pengakuan dari orang lain yang menerima keberadaan dirinya. Seangkan siswa yang bermasalah akan sering dihukum cenderung memiliki konsep diri negatif. d. Teman sebaya Hidup kita tidak terbatas dalam lingkungan keluarga saja, kita juga punya teman. Teman sebaya merupakan urutan kedua setelah orang tua. Setelah mendapatkan pengakuan dari orang tua individu juga membutuhkan pengakuan dari orang lain yaitu teman sebaya. Peranan individu dalam kelompok sebagai “pemimpin kelompok” atau sebaliknya “pengacau kelompok” akan membuat individu memiliki pandangan terhadap dirinya sendiri (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:78). Dalam pergaulan dengan

teman-teman itu, apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak, ikut menentukan dalam pembentukan konsep diri kita. e. Masyarakat Sebagai anggota masyarakat sejak kecil kita sudah dituntut untuk bertindak menurut cara dan patokan tertentu yang berlaku pada

masyarakat kita. Penilaian masyarakat terhadap diri individu akan membentuk konsep diri individu. Penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk terhadap individu akan membuat individu kesulitan memperoleh melalui gambaran diri yang baik. f. Pengalaman Banyak pandangan tentang diri kita, dipengaruhi juga oleh pengalaman keberhasilan dan kegagalan kita. Konsep diri adalah hasil belajar, dan belajar dapat diperoleh melalui pengalaman individu sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari individu dihadapkan pada keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan studi, bergaul, berolah raga akan mudah mengembangkan harga diri individu. Sedangkan pengalaman kegagalan akan merugikan perkembangan harga diri individu. Pendapat lain menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, yaitu : (Rini, 2002:http://www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).

a. Pola asuh orang tua Pola asuh orang tua menjadi faktor yang penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. Orang tua adalah kontak sosial pertama yang dialami individu, dan apa yang dikomunikasikan oleh orang tua terhadap individu akan lebih menancap daripada informasi lainnya (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:77). Sikap positif yang dilakukan orang tua seperti cinta kasih, perhatian akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri, individu merasa dicintai banyak orang sehingga ia merasa pantas mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada individu manakala orang tua tidak memberikan kehangatan, cinta kasih sayang pada individu, sehingga menimbulkan pemikiran pada individu bahwa dirinya tidak bergharga dan tidak pantas dicintai. a. Kegagalan Kegagalan yang dialami secara terus menerus akan menimbulkan pertanyaan pada diri individu itu sendiri dan membuat individu membuat kesimpulan sendiri bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan, merasa dirinya hanya mempunyai kelemahan sehingga individu merasa tidak berguna, bahkan merasa dirinya hancur. b. Depresi Individu yang mengalami depresi akan memiliki pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatu,

termasuk dalam menilai diri sendiri. Semua hal cenderung dipersepsi negatif. Individu yang depresi akan sulit melihat kemampuan dirinya untuk bertahan menjalani kehidupan, dan biasanya individu ini cenderung sensitif dan mudah tersinggung. c. Kritik Internal Mengkritik diri sendiri diperlukan untuk menyadarkan individu akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritikan terhadap diri sendiri berfungsi sebagai rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan individu dapat diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik. Konsep diri merupakan produk sosial, maka Sullivan

(Rakhmat,2005:101) menjelaskan bahwa individu mengenal dirinya dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Dalam hal ini penilaian orang lain terhadap individu tersebut akan membentuk konsep dirinya sesuai dengan penilaian itu. Misalnya jika individu itu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, dia akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolaknya, individu akan cenderung tidak menyenangi dirinya. Dengan kata lain individu akan termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Pandangan individu tentang keseluruhan pandangan orang lain terhadap dirinya disebut generalized other

atau role taking dan berperan penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. Informasi, pengharapan dan pengertian yang membentuk konsep diri terutama berasal dari interaksi dengan orang lain. Orang tua merupakan orang lain yang paling awal dalam membentuk konsep diri. Selanjutnya yang mempengaruhi konsep diri adalah teman sebaya dan akhirnya

menyumbangkan konsep diri adalah masyarakat. Dengan kata lain konsep diri terbentuk karena umpan balik dari masyarakat. Setelah konsep diri terbentuk maka konsep diri juga mengalami perkembangan, konsep diri berkembang secara bertahap yaitu mulai dari bayi dimana saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Perkembangan konsep diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara. Tahap selanjutnya adalah pada masa anak yang mana keluarga mempunyai peran yang penting dalam membantu perkembangan konsep diri terutama pada pengalaman-pengalaman pada masa kanak-kanak. Suasana keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan yang positif akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan yang positif dan berarti. Hurlock (1994:235), mengemukakan bahwa konsep diri biasanya bertambah stabil pada masa remaja. Hal ini memberi perasaan kesinambungan dan memungkinkan remaja memandang diri sendiri dengan cara yang konsisten, tidak memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain, sehingga

dapat meningkatkan harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu. Selanjutnya Hurlock (1994:172) mengatakan konsep diri selalu menuju kepembentukan konsep diri yang ideal. Konsep diri yang ideal pertama-tama ditentukan oleh orang-orang di sekitar sesuai dengan tingkat perkembangan diri individu. Dengan demikian faktor yang mempengaruhi konsep diri dapat dipisahkan melalui tingkat perkembangan masing-masing individu. Faktorfaktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa balita akan berbeda dengan faktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa kanak-kanak. Demikian pula pada saat individu dalam masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang potensial untuk mengembangkan konsep diri, sebab masa remaja adalah masa yang penuh dengan tekanan yang memungkinkan individu menemukan identitas dirinya. Dengan mencoba berbagai peran, remaja mengharapkan bahwa ia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkembangannya, maka ia juga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan konsep dirinya. Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas yang telah mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, secara jelas dapat dikatakan bahwa konsep diri seseorang bukanlah diwariskan atau ditentukan secara biologis, bukan merupakan bawaan sejak lahir tetapi terbentuk dan berkembang hasil proses belajar melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri pertama kali dibentuk hasil dari individu dengan lingkungan keluarga terutama orang tua seperti sebutan orang tua yang diberikan pada

anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu, saudara kandung seperti perlakuan orang tua kepada anak sulung dan anak bungsu, seterusnya teman sebaya antara lain apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak oleh teman kita, selanjutnya sekolah misalkan seorang guru yang menjadi model bagi para muridnya, masyarakat seperti penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk kepada individu dan yang terakhir pengalaman-pengalaman pribadi seperti kegagalan, depresi dan kritik internal.

B. Layanan Bimbingan Kelompok Bimbingan dan konseling merupakan layanan yang diberikan kepada siswa oleh guru pembimbing yang terdapat dalam pola 17 yang terdiri dari empat bidang bimbingan, tujuh layanan dan lima layanan pendukung. Diantara pemberian layanan tersebut adalah layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan oleh guru pembimbing dalam menangani sejumlah peserta didik. Faktor yang mendasar penyelenggaraan bimbingan kelompok adalah bahwa proses pembelajaran dalam bentuk pengubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku termasuk dalam hal pemecahan masalah dapat terjadi melalui proses kelompok. Dalam suatu kelompok, anggotanya dapat memberi umpan balik yang diperlukan untuk membantu mengatasi masalah anggota yang lain, dan anggota satu dengan yang lainnya saling memberi dan menerima. Perasaan dan hubungan antar anggota sangat ditekankan di dalam kelompok ini. Dengan demikian antar

anggota akan dapat belajar tentang dirinya dalam hubungannya dengan anggota yang lain atau dengan orang lain. Selain itu di dalam bimbingan kelompok, anggota dapat pula belajar untuk memecahkan masalah berdasarkan masukan dari anggota yang lain. Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang menekankan pada proses berfikir secara sadar, perasaan-perasaan, dan perilaku-perilaku anggota untuk meningkatkan kesadaran akan pertumbuhan dan perkembangan individu yang sehat. Melalui layanan bimbingan kelompok, individu menjadi sadar akan kelemahan dan kelebihannya, mengenali ketrampilan, keahlian dan pengetahuan serta menghargai nilai dan tindakannya sesuai dengan tugas-tugas perkembangan. Selain itu layanan bimbingan kelompok memberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial. Anggota dapat meniru anggota lain yang telah terampil dan dapat belajar untuk memberikan umpan balik yang bermanfaat bagi anggota lain. Mereka juga belajar untuk mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperlihatkan perhatian yang sungguhsungguh terhadap orang lain, dan membuat suasana positif bagi orang lain. Suasana memberi dan menerima di dalam bimbingan kelompok dapat menumbuhkan harga diri dan keyakinan diri anggota. Pada layanan bimbingan kelompok anggota saling menolong, menerima, dan berempati secara tulus. Hal ini dapat menumbuhkan suasana yang positif di antara anggota, sehingga mereka merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.

1. Pengertian Bimbingan Kelompok Menurut Gazda (1978) bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekolompok siswa untuk membantu siswa menyusun rencana dan keputusan yang tepat (dalam Prayitno dan Amti, 1999: 309). Pengertian di atas menekankan pada kegiatan pemberian informasi dalam suasana kelompok dan adanya penyusunan rencana untuk mengambil keputusan. Menurut Prayitno (1995: 61) bahwa“Bimbingan kelompok adalah memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, bimbingan kelompok lebih menekankan suatu upaya bimbingan kepada individu melalui kelompok”. Prayitno lebih menekankan dinamika kelompok sebagai wahana mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling yang muncul pada bimbingan kepada individu-individu melalui kelompok. Sukardi (2002: 48) menjelaskan bahwa : Layanan bimbingan kelompok adalah layanan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh bahan dari nara sumber tertentu (terutama guru pembimbing atau konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupan sehari-hari baik individu sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat serta untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan Winkel (1991: 71) mengatakan bahwa “bimbingan adalah proses membantu orang-perorangan dalam memahami dirinya sendiri dan

lingkungannya”.Bimbingan

kelompok

menekankan

bahwa

kegiatan

bimbingan kelompok lebih pada proses pemahaman diri dan lingkungannya yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang disebut kelompok. Apabila konseling perorangan menunjukkan layanan kepada individu atau klien orangperorang, maka bimbingan kelompok mengarahkan layanan kepada sekelompok individu. Bimbingan kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok itu memberi dorongan dan motivasi kepada individu untuk mengubah diri dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki secara optimal, sehingga mempunyai konsep diri yang lebih positif. Bagi siswa, bimbingan kelompok bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan untuk bertukar pikir dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan dan kebutuhan untuk lebih independen serta lebih mandiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka diharapkan para siswa dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dengan demikian bimbingan kelompok adalah proses pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru

pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan dalam penelitian ini adalah membentuk konsep diri positif. 2. Tujuan Bimbingan Kelompok Kesuksesan layanan bimbngan kelompok sangat dipengaruhi sejauh mana tujuan yang akan dicapai dalam layanan layanan kelompok yang diselenggarakan. Tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh Prayitno (2004: 2-3) adalah sebagai berikut : a. Tujuan Umum Tujuan umum dari layanan bimbingan kelompok adalah

berkembangnya sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi anggota kelompok. Sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan bersosisalisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang tidak obyektif, sempit dan terkukung serta tidak efektif. Melalui layanan bimbingan kelompok diharapkan hal-hal yang menganggu atau menghimpit perasaan dapat diungkapkan, diringankan melalui berbagai cara, pikiran yang buntu atau beku dicairkan dan didinamikkan melalui masukkan dan tanggapan baru, persepsi yang menyimpang atau sempit diluruskan dan diperluas melalui pencairan pikiran, sikap yang tidak efektif kalau perlu diganti dengan yang baru yang lebih efektif. Melalui kondisi dan proses berperasaan, berpikir,

berpersepsi dan berwawasan terarah, luwes dan luas serta dinamis kemampuan berkomunikasi, bersosialiasi dan bersikap dapat

dikembangkan.Selain tujuan tersebut yaitu untuk mengentaskan masalah klien dengan memanfaatkan dinamika kelompok. b. Tujuan Khusus Bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik tertentu. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi verbal maupun non verbal

ditingkatkan. Dengan diadakannya bimbingan kelompok ini dapat bermanfaat bagi siswa karena dengan bimbingan kelompok akan timbul interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka memenuhi kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan bertukar pikiran dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan, dan kebutuhan untuk menjadi lebih mandiri. 3. Model Kelompok dalam Layanan Bimbingan Kelompok Menurut Prayitno (1999: 24-25) bahwa dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok dikenal dua jenis kelompok, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas :

a. Kelompok bebas Dalam kegiatannya para anggota bebas mengemukakan segala pikiran dan perasaanya dalam kelompok. Selanjutnya apa yang disampaikan mereka dalam kelompok itulah yang menjadi pokok bahasan kelompok. b. Kelompok tugas Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok tugas arah dan isi kegaiatannya tidak ditentukan oleh para anggota, melainkan diarahkan kepada penyelesaiannya suatu tugas. Pemimpin kelompok mengemukakan suatu tugas untuk selanjutnya dibahas dan diselesaikan oleh anggota kelompok. Dalam penelitian ini, menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan kelompok tugas dimana permasalahan yang dibahas dalam kelompok nanti ditentukan oleh pemimpin kelompok. 4. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok Prayitno (1995: 27) menggemukakan bahwa ada tiga komponen penting dalam kelompok yaitu suasana kelompok, anggota kelompok, dan pemimpin kelompok. a. Suasana kelompok Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling di sekolah. Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh

seorang yang ahli (guru pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Dinamika kelompok berarti suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain (Santoso, 2004:5). Dengan kata lain, antar anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama. Sedangkan menurut Wibowo (2005: 61) mengemukakan: Dinamika kelompok adalah suatu studi yang menggambarkan berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok yang menyebabkan terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencaapi tujuan bersama. Kehidupan kelompok yang dijiwai oleh dinamika kelompok akan menentukan arah dan gerak pencapaian tujuan kelompok. Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media dinamika kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan. Dalam bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri

yang

dimaksud

terutama

adalah

dikembangkannya

kemampuan-

kemampuan sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individuindividu yang berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima, toleran,

mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang kuat merupakan arah pengembangan pribadi yang dapat dijangkau melalui dinamika kelompok yang aktif. Dinamika kelompok itu akan terwujud apabila kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok. Layanan bimbingan kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuantujuan layanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat dicapai secara mantap. Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu dapat memperoleh suatu informasi selain itu individu mendapatkan kesempatan untuk menggungkapkan masalah yang dialami serta dibahas secara bersama-sama oleh anggota kelompok.

Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagai pengalaman. Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan bimbingan kelompok. Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar anggota, anggota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain berusaha bersama untuk dapat belajar dan mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap anggota lain. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berempati dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Saling berhubungan antar anggota kelompok sangat diutamakan. Para ahli menyebutkan ada lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah kelompok tersebut baik atau kurang baik, yaitu : 1) Adanya saling hubungan yang dinamis antar anggota 2) Memiliki tujuan bersama 3) Hubungan antara besarnya kelompok (banyak anggota) dan sifat kegiatan kelompok 4) Itikad dan sikap terhadap orang lain 5) Kemampuan mandiri (Prayitno, 1995: 27)

b. Anggota kelompok Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses kehidupan kelompok. Tanpa anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Kegiatan ataupun kehidupan kelompok itu sebagian besar didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok itidak akan terwujud tanpa keikutsertaan aktif para angota kelompok, dan bahkan lebih dari itu. Dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa kehadiran pemimpin kelompok. Secara ringkas peranan anggota kelompok sangatlah menentukan. Lebih tegasnya dapat dikatakan bahwa anggota kelompok justru merupakan badan dan jiwa kelompok itu. Peranan yang hendaknya dimainkan anggota kelompok sesuai yang diharapkan menurut Prayitno (1995:32) adalah sebagai berikut : 1) Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok. 2) Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok. 3) Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama. 4) Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik. 5) Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok. 6) Mampu mengkomunikasikan secara terbuka. 7) Berusaha membantu orang lain. 8) Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya. 9) Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut. Pemilihan anggota sangatlah penting agar dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar. Peranan para

anggota sangat menentukan keberhasilan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, apabila anggota kelompok tidak bisa membina keakraban, melibatkan diri dalam kegiatan kelompok, mematuhi aturan dalam kegiatan kelompok, terbuka, membantu orang lain maka sulit untuk menuju ketahap demi tahap dalam bimbingan kelompok. Dalam pelaksanaan konseling kelompok ini, peneliti dalam memilih anggota berdasarkan pada jumlah anggota yang seimbang, umur dan kepribadian. Pemilihan anggota kelompok dilaksanakan setelah penyebaran skala psikologi. c. Pemimpin kelompok Pemimpin kelompok adalah orang yang mampu menciptakan suasana sehingga para anggota kelompok dapat belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Menurut Prayitno (1995: 35-36) peranan pemimpin kelompok dalam layanan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut.: 1) Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tangan ini meliputi hal-hal bersifat dari yang dibicarakan maupun mengenai proses kegiatan itu sendiri. 2) Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggotaanggota tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasana perasaan yang dialami oleh anggota kelompok. 3) Jika kelompok tersebut tampak kurang menjurus ke arah yang dimaksudkan, maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan.

4) Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok. 5) Pemimpin kelompok diharapkan mampu mengatur lalu lintas kegiatan kelompok, pemegang atauran permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerjasama serta suasana kebersamaan. Selain itu juga diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti seseorang atau lebih anggota kelompok. 6) Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok. 5. Teknik-teknik Bimbingan Kelompok Penggunaan tehnik dalam kegiatan bimbingan kelompok mempunyai banyak fungsi selain dapat lebih memfokuskan kegaiatan bimbingan kelompok terhadap tujuan yang ingin dicapai tetapi juga dapat membuat suasana yang terbangun dalam kegiatan bimbingan kelompok agar lebih bergairah dan tidak cepat membuat siswa jenuh mengikutinya, seperti yang dikemukakan oleh Tatiek Romlah (2001: 86) “Bahwa teknik bukan merupakan tujuan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pemilihan dan penggunaan masing-masing teknik tidak dapat lepas dari kepribadian konselor, guru atau pemimpin kelompok”. Jadi jelas bahwa selain sebagai alat untuk mencapai tujuan, teknik penggunaan dan pemilihan juga harus disesuaikan dengan karakteristik konselor atau pemimpin kelompok. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam bimbingan kelompok, seperti yang disebutkan oleh Tatiek Romlah (2001: 87) Beberapa teknik yang biasa digunakan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok yaitu, antara lain : pemberian informasi,

diskusi kelompok, pemecahan masalah (problem solving), permaianan peranan (role playing), permainan simulasi (simulation games), karyawisata (field trip), penciptaan suasana keluarga (Home Room). Dari beberapa teknik di atas kesemuanya akan digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok dalam upaya membentuk konsep diri positif, oleh sebab itu akan dipilih beberapa teknik yang sekiranya memenuhi standar yang dapat membantu membentuk konsep diri positif pada siswa, dari kriteria di atas dapat diperoleh beberapa teknik yang bisa digunakan untuk membentuk konsep diri positif siswa antara lain : a. Teknik pemberian informasi Teknik pemberian informasi disebut juga dengan metode ceramah, yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar. Pelaksanaan teknik pemberian informasi mencakup tiga hal, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, penilaian. Keuntungan teknik pemberian informasi antara lain adalah : (a) dapat melayani banyak orang, (b) tidak membutuhkan banyak waktu sehingga efisien, (c) tidak terlalu banyak memerlukan fasilitas, (d) mudah dilaksanakan disbanding dengan teknik lain. Sedangkan kelemahannya adalah antara lain : (1) sering dilaksanakan secara menolog, (2) individu yang mendengarkan kurang aktif, (3) memerlukan ketrampilan berbicara, supaya penejelasan menjadi menarik.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, pada waktu memberikan informasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : 1) Sebelum memilih teknik pemberian informasi, perlu dipertimbangkan apakah cara tersebut merupakan cara yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan individu yang dibimbing. 2) Mempersiapkan bahan informasi dengan sebaik-baiknya. 3) Usahakan untuk menyiapkan bahan yang dapat dipelajari sendiri oleh pendengar atau siswa. 4) Usahakan berbagai variasi penyampaian agar pendengar menjadi lebih aktif . 5) Gunakan alat Bantu yang dapat memperjelas pengertian pendengar terhadap layanan yang disampaikan. b. Diskusi kelompok Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan, dibawah pimpinan seorang pemimpin. Didalam melaksanakan bimbingan kelompok, diskusi

kelompok tidak hanya untuk memecahkan masalah, tetapi juga untuk mencerahkan persoalan, serta untuk mengembangkan pribadi. Dinkmeyer dan Munro dalam Romlah (2001: 89) menyebutkan tiga macam tujuan diskusi kelompok yaitu : (1) untuk mengembangkan terhadap diri sendiri, (2) untuk mengembangkan kesadaran tentang diri, (3) untuk mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan antar manusia. Diskusi kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan kelompok yang penting, hampir semua teknik bimbingan kelompok menggunakan diskusi sebagai cara kerjanya, misalnya permainan peranan,

karya wisata, permainan simulasi, pemecahan masalah, homeroom, dan pemahaman diri melalui proses kelompok. c. Teknik pemecahan masalah (problem solving) Teknik pemecahan masalah merupakan suatu proses kreatif dimana individu menilai perubahan yang ada pada dirinya dan lingkungannya, dan membuat pilihan-pilihan baru, keputusan-keputusan atau penyesuaian yang selaras dengan tujuan dan nilai hidupnya. Teknik pemecahan masalah mengajarkan pada individu bagaimana pemecahan masalah secara sistematis. Langkah-langkah pemecahan masalah secara sistematis adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah Mencari sumber dan memperkirakan sebab-sebab masalah Mencari alternatif pemecahan masalah Menguji masing-masing alternatif Memilih dan melaksanakan alternatif yang paling menguntungkan Mengadakan penilaian terhadap hasil yang dicapai

d. Permainan peranan (role playing) Bennett dalam Tatiek Romlah (2001: 99) mengemukakan : bahwa permainan peranan adalah suatau alat belajar yang mengambarkan ketrampilan-ketrampilan dan pengertianpengertian mengenai hubungan antar manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel denga yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Didalamnya Bennett menyebutkan ada dua macam permainan peranan, yaitu sosiodrama adalah permainan peranan yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Sedangkan kedua adalah psikodrama adalah permainan yang dimaksudkan

agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan-kebutuhannya, dan menyatakan reaksi terhadap tekanantekanan terhadap dirinya. e. Permainan simulasi (simulation games) Menurut Adams dalam Romlah (2001: 109) menyatakan bahwa permainam simulasi adalah permainan yang dimaksudkan untuk merefleksikan situasi-situai yang terdapat dalam kehidupan sebenarnya. Permainan simulasi dapat dikatakan merupakan permainan peranan dan teknik diskusi. Cara melaksanakan permainan simulasi, langkah yang pertama adalah menentukan peserta pemain yaitu terdiri dari fasilisator, penulis, pemain, pemegang peran, dan penonton. Setelah peserta pemain ditentukan, permainan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Menyediakan alat permainan beserta kelengkapannya Fasilisator menjelaskan tujuan permaina Menentukan permainan, pemegang peran, dan penulis Menjelaskan aturan permainan Bermain dan berdiskusi Menyimpulkan hasil diskusi Menutup permainan dan menentukan waktu dan tempat bermain berikutnya

Dari beberapa teknik yang dissebutkan diatas dalam penelitian ini teknik yang akan dipakai adalah teknik pemberian informasi, diskusi kelompok, pemecahan masalah. 6. Tahap-tahap Bimbingan Kelompok Tahap-tahap perkembangan kelompok dalam bimbingan melalui pendekatan kelompok sangat penting yang pada dasarnya tahapan perkembangan kegiatan bimbingan kelompok sama dengan tahapan yang terdapat dalam konseling kelompok. Prayitno (1995:40-60) Tahap-tahap bimbingan kelompok ada empat tahap, yaitu : tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran.. a. Tahap Pembentukan Tahap awal atau tahap permulaan sebagai tahap persiapan dalam rangka pembentukan kelompok. Tahap ini merupakan tahap pengenalan, pembinaan hubungan baik, tahap pelibatan diri atau tahap memasuki diri ke dalam kehidupan suatu kelompok dengan tujuan agar anggota memahami maksud bimbingan kelompok. Pemahaman anggota kelompok akan memungkinkan anggota kelompok aktif berperan dalam kegiatan bimbingan kelompok, yang selanjutnya dapat menimbulkan minat pada diri mereka untuk mengikutinya. Pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan suasana saling mengenal, membina hubungan baik, percaya, menerima dan membantu teman-teman yang ada dalam kelompok.

Fungsi dan tugas utama pemimpin selama tahap ini adalah mengajarkan bagaimana cara untuk berpartisipasi dengan aktif sehingga dapat meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan kelompok yang produktif. Selain itu mengajarkan kepada anggota dasar hubungan antar manusia seperti mendengarkan dan menanggapi dengan aktif. Pemimpin kelompok harus dapat memastikan semua anggota berpartisipasi dalam interaksi kelompok sehingga tidak ada seorangpun merasa dikucilkan. Menurut Prayitno (1995:44) mengemukakan peranan pemimpin kelompok pada tahap awal, yaitu : 1) Menampilkan diri secara utuh dan terbuka 2) Menampilkan penghormatan kepada orang lain, hangat, tulus, bersedia membantu dan penuh emapati 3) Bertindak sebagai contoh Menurut Prayitno (1995:44) kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap awal adalah : 1) Mengungkapkan pengertian dan tujuan kegiatan bimbingan kelompok 2). Menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok 3). Saling memperkenalkan dan mengungkapkan diri 4). Permainan pengahangatan atau pengakraban Penampilan pemimpin kelompok seperti yang diuraikan di atas akan merupakan contoh yang bekemungkinan diikuti oleh para anggota dalam menjalin kegiatan bimbingan kelompok. Dalam tahap ini

merupakan suatu keadaan yang mana para anggota kelompok merasa belum ada keterkaitan kelompok. Oleh karena itu peranan pemimpin

kelompok selain itu ialah merangsang dan memantapkan keterlibatan orang-orang baru dalam suasana kelompok yang diinginkan. Sedangkan kegiatan-kegiatan dalam bimbingan kelompok dalam tahap awal harus dikuasai oleh pemimpin kelompok agar dapat menjelaskan kegiatankegiatan yang akan dilakukan pada tahap awal. Hal ini berguna bagi anggota kelompok sebagai langkah awal untuk menunjukkan

keprofessionalan dari pemimpin kelompok. b. Tahap Peralihan Tahap ini merupakan tahap transisi dari tahap pembentukan ketahap kegiatan. Disebut tahap transisi karena merupakan saat transisi antara awal bimbingan kelompok dengan kegiatan bimbingan kelompok sesungguhnya. Dalam menjelaskan kegiatan apa yang akan dilaksanakan pemimpin kelompok dapat menegaskan jenis kegiatan bimbingan kelompok tugas atau bebas. Setelah jelas kegiatan apa yang harus dilakukan, maka tidak akan muncul keragu-raguan atau belum siapnya anggota dalam melaksanakan kegaiatan dan manfaat-manfaat yang akan diperoleh setiap anggota kelompok. Tahap transisi (peralihan) menurut Prayitno (1995:47) dijelaskan sebagai tahap peralihan yang bertujuan membebaskan anggota kelompok dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya.

Pada tahap ini suasana kelompok mulai terbentuk dan dinamika kelompok sudah mulai tumbuh. Pada kondisi demikian anggota peduli tentang apa yang dipikirkan terhadapnya dan belajar mengekspresikan diri sehingga anggota lain mendengarkan. Menurut Prayitno (1995: 47), peranan pemimpin kelompok pada tahap ini yaitu : 1) Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka. 2) Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kuasanya. 3) Mendorong dibahasnya suasana perasaan. 4) Membuka diri, sebagai contoh, dan penuh empati. Menurut Prayitno (1995:47), kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah : 1) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya. 2) Menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga). 3) Membahas suasana yang terjadi. 4) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota. 5) Kalau perlu kembali kebeberapa aspek tahap pertama(tahap pembentukan). Pemimpin kelompok seyogyanya aktif untuk membantu anggota kelompok, karena para anggota belum dapat berjalan sendiri secara efektif. Kegiatan yang harus dilakukan oleh pemimpin kelompok yang utama adalah meningkatkan keikutsertaan anggota kelompok dalam memasuki ketahap selanjutnya agar menjadi sebuah kelompok yang solid. Pada tahap ini pemimpin kelompok perlu menawarkan kepada anggota

kelompok tentang kesiapan untuk mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu dengan membuka diri secara wajar. c. Tahap Kegiatan Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun kegiatan kelompok pada tahap ini tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika tahap-tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ini akan berlangsung dengan lancar. Prayitno (1995:47) mengemukakan “Tahap ini merupakan inti kegiatan kelompok sehingga aspek-aspek yang menjadi isi pengiringnya cukup banyak”. Pada kegiatan ini saatnya anggota berpartisipasi aktif dalam kelompok, terciptanya suasana mengembangkan diri anggota kelompok, baik yang menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi, mengajukan pendapat, menanggapi pendapat dengan terbuka, sabar dan tenggang rasa, maupun menyangkut pemecahan masalah yang

dikemukakan dalam kelompok. Pada tahap ini pula kegiatan bimbingan kelompok akan tampak secara jelas, apakah kegiatan yang dilaksanakan adalah kelompok bebas atau kelompok tugas, sehingga rangkaian kegiatannya disesuaikan dengan jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok yang bersangkutan.

d. Tahap Pengakhiran (Terminasi) Tahap pengakhiran merupakan tahap terakhir dari kegiatan bimbingan kelompok. Pada tahap ini terdapat dua kegiatan, yaitu penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow-up). Tahap ini merupakan taha penutup dari seluruh rangkaian pertemuan kegiatan bimbingan kelompok dengan tujuan telah tercapainya suatu pemecahan masalah oleh kelompok tersebut. Dalam kegiatan kelompok berpusat pada pembahasan dan penjelajahan tentang kemampuan anggota kelompok untuk menerapkan hal-hal yang telah diperoleh melalui layanan bimbingan kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu pemimpin kelompok berperan untuk memberikan penguatan (reinforment) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut. Pada tahap ini pemimpin kelompok menciptakan suasana yang menyenangkan dan mengesankan, sehingga semua anggota kelompok merasa memperoleh manfaat yang besar dalam kegiatan tersebut serta adanya keinginan untuk mengadakan kegiatan lagi. Menurut Prayitno (1995:60), peranan pemimpin kelompok pada tahap ini adalah : 1) Tetap mengusahakan suasana hangat, bebas, dan terbuka. 2) Memberikan pernyataan dan mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggota. 3) Memberikan semangat untuk kegiatan lebih lanjut. 4) Penuh rasa persahabatan dan empati.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah : 1) Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri. 2) Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan pesan dan hasilhasil kegiatan. 3) Membahas kegiatan lanjutan. 4) Mengemukakan pesan dan harapan. Peranan pemimpin kelompok pada tahap ini yaitu tetap mengusahakan suasana yang hangat. Memberikan pernyataan dan mengucapkan terimakasih atas keikutsertaan anggota serta memberi semangat untuk kegiatan lebih dengan penuh rasa persahabatan dan simpati, di samping itu fungsi pemimpin kelompok pada tahap ini adalah memperjelas arti tiap pengalaman yang diperoleh melalui kelompok dan mengajak para anggota untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari serta menekankan kembali akan pentingnya pemeliharaan hubungan antar anggota setelah kelompok berakhir.

C. Keefektifan Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Positif Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang

tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah konsep diri yang positif. Di dalam kelompok, anggota belajar meningkatkan diri dan kepercayaan terhadap orang lain, selain itu mereka juga mempunyai kesempatan untuk meningkatkan sistem dukungan dengan cara berteman secara akrab dengan sesama anggota. Dalam layanan bimbingan kelompok interaksi antar individu antar anggota kelompok merupakan suatu yang khas yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Karena dalam layanan konseling kelompok terdiri dari individu yang heterogen terutama dari latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing. Bimbingan kelompok merupakan tempat bersosialisasi dengan anggota kelompok dan masing-masing anggota kelompok akan memahami dirinya

dengan baik. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih rela menerima dirinya

sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya, selain itu dalam layanan bimbingan kelompok ketika dinamika kelompok sudah dapat tercipta dengan baik ikatan batin yang terjalin antar anggota kelompok akan lebih mempererat hubungan diantara mereka sehingga masing-masing individu akan merasa diterima dan dimengerti oleh orang lain, serta timbul penerimaan terhadap dirinya. Konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu terhadap totalitas diri sendiri baik tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelebihan dan kelemahannya yang terbentuk dari pengalamannya dan interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar individu. Interaksi yang terus menerus dapat dilakukan dengan konseling kelompok karena dengan layanan konseling kelompok ini para anggota dapat belajar bersama dengan anggota kelompok yang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi, selain itu pemberian alternatifalternatif bantuan yang ditawarkan oleh para anggota kelompok yang lain lebih efektif sebab anggota kelompok tersebut sudah mengalami secara langsung. Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan sesuatu yang dipelajari dan merupakan hasil bentukan dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu yang lain. Dalam kegiatan konseling kelompok akan muncul dinamika kelompok maka individu akan menerima tanggapan dari individu lain. Tanggapan –tanggapan ini akan dijadikan cermin baginya dalam memandang dan menilai dirinya sendiri. Tanggapan atau umpan balik yang cukup, memungkinkan individu untuk

menerima diri sendiri. Penerimaan diri akan mengarahkannya ke kerendahan hati yang merupakan dasar konsep diri yang positif. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi, sehingga orang mampu menyimpan informasi tentang dirinya baik informasi positif maupun negatif. Oleh karena itu segala macam informasi bukan merupakan ancaman baginya. Ia juga mampu menerima orang lain sebagaimana adanya. Baginya hidup adalah proses penemuan. Dengan konseling kelompok individu mengharapkan hidupnya akan lebih baik, dapat memecahkan masalah dan dapat pula membantu orang lain. Dengan ini mereka bertindak lebih berani dan spontan serta memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat. Hidup ini baginya terasa menyenangkan penuh kejutan dan penuh pula imbalan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungan, dengan konseling kelompok siswa dapat berinteraksi dengan anggota lain, mereka dapat berlatih tentang perilaku baru, belajar memberi dan menerima, dan belajar memecahkan masalah berdasarkan masukan dari orang lain. Situasi yang diperlukan untuk mengembangkan konsep diri positif adalah situasi hubungan yang erat dan mendalam dan dalam waktu yang relatif agak lama dalam berinteraksi. Kelompok yang semua anggotanya merupakan teman yang sebaya sering disebut kelompok teman sebaya. Di sinilah mereka dinilai oleh orang lain. Penilaian ini akan dijadikan sebagai cermin dalam memandang dan menilai dirinya sendiri. Mereka dapat membandingkan antara “saya dapat menjadi apa”

dengan “saya seharusnya menjadi apa”. Hasil dari perbandingan ini berupa rasa harga diri. Semakin besar perbedaan keduanya akan semakin rendah harga dirinya. Suasana memberi dan menerima di dalam bimbingan kelompok dapat menumbuhkan harga diri dan keyakinan diri anggota. Anggota akan saling menolong, menerima dan berempati secara tulus. Hal ini dapat menumbuhkan suasana yang positif dalam diri mereka. Terlebih lagi apabila semua anggota kelompok merupakan teman-teman sebaya. Keefektifan layanan bimbingan kelompok telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian eksperimen seperti yang dilakukan oleh Sunarso

dengan judul ”Efektifan layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan kemampuan beradaptasi siswa kelas IA di SLTP Negeri 1 Kedungbanteng Tegal Tahun Ajaran 2002/2003”. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap kemampuan beradaptasi. Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan beradaptasi antara sebelum mendapat layanan bimbingan kelompok dengan sesudah mendapatkan layanan bimbingan kelompok, sehingga dapat dikatakan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi siswa. Dari uraian tersebut di atas jelas bahwa layanan konseling kelompok dapat membentuk konsep diri yang positif bagi anggota-anggotanya, sehingga akan membantu dalam mencapai perkembangan yang optimal.

D. Hipotesis Berdasarkan paparan di atas, maka dapat ditentukan hipotesis penelitian ini adalah : " Konsep diri dapat ditingkatkan melaui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007".

BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian. Dalam meetode penelitian dijelaskan tentang urutan suatu penelitian yang dilakukan yaitu dengan teknik dan prosedur bagaimana suatu penelitian akan dilakukan. Hal terpenting yang perlu diperhatikan bagi seorang peneliti adalah pada ketepatan penggunaan metode yang sesuai dengan objek penelitian dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan penguasaan metode penelitian yang mantap diharapkan penelitian dapat berjalan dengan baik, terarah dan sistematis.

A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu penelitian eksperimen “Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor yang lain yang bisa menganggu“ (Arikunto, 2002:3). Terdapat bermacam-macam desain penelitian baik yang termasuk PreEksperimental atau True-Eksperimental Design. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Pre-eksperimental Design karena tanpa menggunakan kelompok kontrol.

Bagan I. Pola kelompok pre test dan post test 01 X 02 (Arikunto, 2002:78) Keterangan : 01 : Pretest (pengukuran/observasi pertama, konsep diri sebelum diberi layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan skala konsep diri). X : Perlakuan (pelaksanaan layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang). 02 : Postest/kondisi setelah perlakuan (pengkuran/observasi kedua, konsep diri sesudah diberi layanan bimbingan kelompok dengan skala konsep diri yang sama dengan pengukuran yang pertama). Untuk memperjelas eksperimen dalam penelitian ini disajikan tahap-tahap rancangan eksperimen yaitu : 1. Melakukan Pre-test adalah pemberian tes kepada sampel penelitian sebelum diadakan perlakuan yaitu bimbingan kelompok. 2. Memberikan perlakuan (treatment) adalah pemberian perlakuan yaitu layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan kelompok tugas yang akan diberikan selama 8 kali pertemuan dengan durasi 45 menit. Ada pun langkahlangkah prosedur penelitiannya yaitu :

Tahapan-tahapan Konselor sebagai pemimpin Siswa sebagai anggota bimbingan kelompok kelompok kelompok Pembentukan 1. Mengungkapkan pengertian, 1. Anggota memahami tujuan, cara-cara dan asaspengertian, tujuan, caraasas kegiatan bimbingan cara dan asas-asas kelompok kegiatan kelompok 2. Mengadakan perkenalan dan 2. Saling memperkenalkan diri agar saling menampilkan diri secara mengenal, percaya, utuh dan terbuka menerima dan 3. Bersedia membantu dengan membantu di antara para penuh empati, hangat dan anggota tulus 4. Mengadakan permainan 3. Melakukan permainan yang telah disepakati penghangatan/pengakraban 4. Mulai berminat untuk mengikuti kegiatan kelompok Peralihan 1. Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap selanjutnya 2. Menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya 3. Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota 1. Pemimpin kelompok menyampaikan masalah atau topik yang berhubungan dengan konsep diri 2. Mengadakan tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok 1. Anggota terbebas dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya 2. Anggota makin mantap untuk ikut serta dalam kegiatan kelompok

Kegiatan

Pengakhiran

1. Anggota kelompok membahas masalah atau topik yang dikemukakan pemimpin kelompok secara tuntas dan mendalam 2. Anggota kelompok diharapkan dapat secara aktif dan dinamis dalam pembahasan, baik yang menyangkut unsur-unsur tingkah laku, pemikiran ataupun perasaan. kelompok 1. Pemimpin kelompok 1. Anggota menyampaikan pesan mengemukakan bahwa dan kesan mengikuti kegiatan akan segera kegiatan kelompok diakhiri

2. Pemimpin kelompok 2. Merencanakan kegiatan lanjutan menyampaikan kesan dan 3. Merasakan hubungan hasil kegiatan kelompok kelompok dan rasa 3. Membahas kegiatan lanjutan kebersamaan meskipun 4. Mengemukakan pesan dan kegiatan diakhiri harapan

Rancangan pemberian perlakuan layanan bimbingan kelompok
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pertemuan Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Pertemuan V Pertemuan VI Pertemuan VII Pertemuan VIII Materi layanan Contoh kasus konsep diri negatif Pengertian dan perlunya konsep diri Isi dan asal-usul pembentukan konsep diri Mensikapi permasalaan diri dan orang lain Cara meningkatkan kepercayan diri Cara menghindari prasangka dan akibatnya Cara mengembangkan sikap positif Cara mengembangkan dan mengarahkan emosi Waktu 45 Menit 45 Menit 45 Menit 45 Menit 45 Menit 45 Menit 45 Menit 45 Menit

3. Melakukan Post-test sesudah pemberian layanan bimbingan kelompok dengan tujuan untuk mengetahui hasil apakah layanan bimbingan kelompok efektif dalam membentuk konsep diri positif. 4. Proses analisis data, yaitu dengan menggunakan Uji Wilcoxon Match Pairs Test.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah semua individu yang akan dijadikan objek penelitian, yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi, 1994:221).

Untuk keperluan penelitian ini, yang digunakan sebagai populasi adalah siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Tahun Pelajaran 2006/2007 yang berjumlah 143 orang siswa yang terbagi dalam lima kelas. 2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:109). Menurut Hadi (1994:221) sampel adalah sebagian dari populasi. Dengan demikian sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi objek penelitian. Ada pun sampel tersebut sebanyak 10 (sepuluh) siswa dalam satu kelompok. Dalam penelitian ini langkah-langkah pengambilan sampel adalah sebagai berikut : a. Memberikan instrumen skala konsep diri secara keseluruhan kepada populasi yaitu siswa kelas XI. b. Apabila siswa yang konsep dirinya negatif berjumlah lebih banyak dari 10 siswa, maka akan mengambil siswa secara random dengan nilai terendah, yang akan dibuat kelompok dengan harapan mempunyai ciri-ciri yang sama atau homogen. c. Memberikan perlakuan atau treatmen kepada kelompok (10 siswa) yang digunakan sebagai sampel adalam penelitian. Penelitian ini diberikan kepada siswa yang mempunyai konsep diri negatif, maka teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

purposive

sampling

atau

pengambilan

sampel

berdasarkan

tujuan.

Pengambilan sampel bertujuan ini dilakukan dengan cara mengambil subjek, atas adanya tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud adalah membentuk konsep diri positif melalui layanan bimbingan kelompok. Di samping sampel tujuan juga ditetapkan sampel kuota yaitu mendasarkan pada jumlah yang ditentukan. Jumlah yang dimaksud adalah jumlah anggota kelompok. Teknik ini dilakukan berdasarkan pertimbangan jika dibandingkan dengan teknik lain lebih efisien dan efektif, efisien yang dimaksud adalah mempertimbangkan karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya dan efektif dimaksudkan bila langsung melalui studi pendahuluan dapat menentukan sejumlah sampel dengan tepat, dalam hal ini pengambilan sampel berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian yaitu siswa-siswa yang mempunyai konsep diri negatif yang bercirikan sebagai berikut : mempunyai hasil prestasi belajar rendah, melanggar tata tertib sekolah, perasaan rendah diri, perasaan tidak mampu melaksanakan tugas dan membutuhkan pertolongan kelompok untuk memecahkannya.

C. Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002:96). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen.

1. Identifikasi Variabel a. Variabel Independen/ bebas (X) Variabel independen/bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau penyebab. Pada penelitian sebagai variabel bebas adalah bimbingan kelompok. b. Variabel Dependen/terikat (Y) Variabel dependen/terikat adalah variabel yang keberadaannya bergantung pada variabel bebas. Pada penelitian ini sebagai variabel terikat adalah konsep diri. 2. Hubungan antar Variabel Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (X) yaitu bimbingan kelompok dan variabel terikat (Y) yaitu konsep diri. Jadi dalam hal ini bimbingan kelompok sebagai variabel bebas mempunyai pengaruh untuk membentuk konsep diri positif sebagai variabel terikat. Bagan 2. Hubungan/pengaruh variabel. Bimbingan Kelompok (X) 3. Definisi Operasional Variabel a. Konsep Diri Positif Konsep diri adalah cara pandang atau persepsi individu terhadap dirinya sendiri. Individu yang mempunyai konsep diri positif memiliki ciri-ciri : Konsep Diri Positif (Y)

percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima diri apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. b. Bimbingan Kelompok Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan dalam penelitian ini adalah membentuk konsep diri positif. Dalam pelaksanaanya bimbingan kelompok melalui empat tahap yaitu pembentukan, peralihan, kegiatan, dan pengakhiran. Dalam pelaksanaan eksperimen bimbingan kelompok yang terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan 10 anggota, memberikan perlakuan atau treatmen layanan bimbingan kelompok, dilakukan setiap minggu dua kali selama empat minggu dengan frekuensi waktu 45 menit. Perlakuan eksperimen dilakukan di luar jam sekolah.

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data Alat pengumpul data merupakan suatu cara yang ditempuh oleh peneliti untuk memperoleh data yang diteliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi. Skala psikologi adalah skala untuk pengukuran di bidang psikologis. Skala psikologi merupakan alat ukur aspek psikologis atau atribut afektif (Azwar, 2000:3). Sedangkan alat pengumpul data yang digunakan adalah skala konsep diri untuk mengetahui konsep diri siswa.

Pada skala psikologi pertanyaannya merupakan stimulus yang tertuju pada indikator untuk memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan. Format respon yang digunakan dalam instrumen penelitian ini terdiri dari 4 pilihan jawaban dari pertanyaan yang ada. Nilai tengah dihilangkan untuk menghindari kecenderungan responden memilih jawaban yang berada pada nilai tengah tersebut atau jawaban ragu-ragu. Ada pun pemberian skor tersebut adalah SS (Sangat Sesuai) = skor 4, S (Sesuai) = skor 3, TS (Tidak Sesuai) = 2, STS (Sangat Tidak Sesuai) = 1, dan jika pertanyaannya negatif maka skornya SS (Sangat Sesuai) = skor 1, S (Sesuai) = skor 2, KS, TS (Tidak Sesuai) = 3, STS (Sangat Tidak Sesuai) = 4. Instrumen yang berupa skala konsep diri dibuat dalam format sebagai berikut : Tabel 1. Format Skala Konsep Diri Positif Konsep Diri Positif Pertanyaan tentang konsep diri positif Rentangan penilaian pada skala konsep diri positif dalam penelitian ini menggunakan rentangan skor dari 1-4 dengan banyaknya item 60, sehingga interval kriteria tersebut dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut : Pilihan Jawaban SS S TS STS

Skor maksimum Skor minimum Rentang

: 4 X 60 = 240 :1X 60 = 60 : 240 – 60 = 180

Panjang kelas interval : 180 : 4 = 45 Persentase skor maksimum Persentase skor minimum Rentang persentase skor Banyaknya kriteria Panjang kelas interval (4 : 4) X 100% = 100% (1 : 4) X 100% = 25% = 100% - 25% = 75% = (Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah) = rentang : banyaknya kriteria = 75% : 4 = 18,75% Berdasarkan panjang kelas tersebut, maka interval kriterianya : Tabel 2. Kriteria Tingkat Konsep Diri Positif Interval 195 – 240 150 – 194 105 – 149 60 – 104 Interval % 81,26 – 100,00 % 62,51 – 81,25 % 43,76 – 62,50 % 25,00 – 43,75 % Kategori Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah

E. Instrumen Penelitian Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen dilakukan dalam beberapa tahap, baik dalam perbuatan atau uji cobanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini yaitu membuat kisi-kisi

pengembangan instrumen terlebih dahulu, uji coba di lapangan, revisi dan instrumen jadi. Bagan 3. Prosedur Penyusunan Instrumen Kisi-kisi/ pengembangan instrument penelitian Instrumen Uji Coba

Revisi

Instrumen Jadi

Data yang akan diungkap dalam penelitian ini yaitu tentang konsep diri positif oleh karena itu instrumen yang digunakan yaitu berupa skala konsep diri positif . Kisi-kisi yang peneliti kembangkan yaitu aspek-aspek konsep diri positif. Ada pun kisi-kisi pengembangan instrumen penelitian adalah sebagai berikut : Tabel 3. Kisi-kisi Pengembangan Instrumen Penelitian Indikator No. Variabel 1. Konsep Diri Ciri-ciri konsep diri positif 1. Percaya diri a. Merasa b. Merasa yakin yakin dalam 1,2 dalam 5,6 menghadapi masalah pribadi 7,8 berbicara di depan umum Deskriptor No. Item + 3,4 -

c. Merasa menghadapi pekerjaan 2. Merasa setara dengan orang lain 3. Menerima apa adanya a. Merasa

yakin tugas

dalam 9,10 atau bergaul 13,14

11,12

pantas

15,16 19,20 23,24

dengan siapa saja b. Mampu bersaing secara sehat 17,18 dengan siapa saja a. Mampu dirinya akademik. b. Mampu memahami 25,26 27,28 kelemahan dan kelebihan dirinya dalam bidang sosial. c. Mampu memahami dirinya 29,30 dalam bidang pribadi. 31,32 35,36 dalam memahami 21,22 bidang kelemahan dan kelebihan

4. Dapat menyikapi kegagalan

a. Mampu mengambil hikmah 33,34 dari semua peristiwa yang terjadi b. Kegagalan memberikan 37,38

39,40

semangat untuk lebih baik 5. Tidak bersikap hiperkritis lagi a. Menghargai orang lain b. Ikut 6. Optimis merasa senang keberhasilan orang lain c. Tidak suka mengeluh a. Merasa b. Semangat mengembangkan diri. yakin kemampuan yang dimiliki untuk 57,58 59,60 49,50 atas 53,54 51,52 55,56 41,42 atas 45,46 43,44 47,48

Instrumen yang telah dibuat diujicobakan sebelum dipergunakan sebagai pengumpul data. Uji coba ini untuk melihat validitas dan reliabilitas instrumen.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalitan atau kesahihan suatu instrument (Arikunto, 2002:144). Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang akan diukur dan mempunyai validitas tinggi serta dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti . Uji validitas yang dilakukan dengan menggunakan rumus “korelasi product moment” yang dikemukakan oleh Karl Pearson sebagai berikut :

rxy =

{N ∑ X − (∑ X )}{N ∑ X }
2 2 2

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )

Keterangan: r xy
∑X ∑Y ∑ X2 ∑ Y2 ∑ XY

: Koefisien korelasi antar X dan Y : Jumlah skor item : Jumlah skor total : Jumlah kuadrat dari skor item : Jumlah kuadrat dari skor total : Jumlah perkalian skor total dengan skor item : Jumlah responden

N

Berdasarkan uji coba instrument yang telah dilakukan dan dianalisis dengan menggunakan rumus product moment pada taraf signifikasi 5% dan N = 30 dan dikonsultasikan dengan r table 0,361 maka instrumen yang digunakan valid karena r hitung > r tabel. Dari 60 item pada setiap instrumen terdapat 20 item yang tidak valid dan 20 item yang tidak valid, yaitu no 3, 7, 9, 11, 15, 17, 19, 21, 23, 28, 31, 34, 36, 38, 41, 43, 47, 52, 55, 59. Item yang tidak valid lainnya tidak digunakan dalam instrumen penelitian karena setiap indikator sudah terdapat item yang mewakili. Dengan demikian item yang digunakan dalam instrumen penelitian terdapat 40 item. 2. Reliabilitas Reliabilitas atau keterandalan instrumen sebagai alat ukur

dimaksudkan untuk mengetahui sejumlah kebenaran alat ukur tersebut sesuai atau cocok digunakan sebagai alat ukur. Teknik yang uji digunakan adalah rumus alpha, karena skor yang diberikan bukan 1 dan 0. Hal ini sesuai dengan Arikunto (2002:171) bahwa ”untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 menggunkan rumus alpha”. Adapun rumus Alpha adalah sebagai berikut :

∑σb2 ⎡ k ⎤ r11 = ⎢ ⎥ 1⎣ k − 1⎦ σt2 Keterangan:

r 11 k

: Reabilitas instrumen : Banyaknya butir pertanyaan

∑ αb 2 : Jumlah varian butir

Σt2

: Varians total Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian secara keseluruhan

dapat diketahui bahwa r hitung = 0,889 > 0,361 maka dapat dikatan instrument pengukuran konsep diri positif siswa tersebut reliabel.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Dengan analisis data maka akan dapat membuktikan hipotesis dan menarik tentang masalah yang akan diteliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non parametrik, dengan menggunakan uji Wilcoxon karena mengacu pada variabel data yang ada dalam penelitian ini adalah variabel ordinal, selain itu uji Wilcoxon tidak menerapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan penelitian. Di samping menggunakan uju Wilcoxon dalam penelitian ini juga menggunakan

teknik analisis deskriptif persentase. Uji Wilcoxon yaitu dengan mencari perbedaan mean pre test dan post test, ada pun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

T - μt z= = ∂T

n(n + 1) 4 n(n + 1)(2n + 1) 24 T−

Keterangan: T n : Jumlah jenjang yang kecil : Jumlah sampel (Sugiyono, 2005:133)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab IV ini hasil penelitian dan pembahasan tentang efektifitas pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dalam mengembangkan konsep diri positif pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 akan diuraikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.
A. Hasil Penelitian 1. Konsep Diri Sebelum Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok

Konsep diri dari 10 siswa yang diteliti dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Konsep diri siswa sebelum pelaksanaan layanan bimbingan kelompok
No. Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Mean Kriteria 1 13 19 16 17 22 18 16 15 19 16 17,1 R 2 9 12 13 10 7 10 10 10 10 11 10,2 R Indikator 3 4 19 11 17 11 15 10 17 8 17 8 15 8 18 10 14 11 16 11 17 12 16,5 10 R R 5 8 11 10 12 8 11 8 15 12 10 10,5 R 6 18 22 17 21 14 15 18 18 21 17 18,1 R Total Ket.

78 92 81 85 76 77 80 83 89 83 82,4 R

R R R R R R R R R R R

Terlihat dari tabel 4, bahwa 10 responden yang diteliti memiliki konsep diri yang rendah terbukti dari rata-rata skor dalam kategori rendah.

Dilihat dari indikatornya ternyata rata-rata konsep diri yang rendah pada indikator 1 (percaya diri), indikator 2 (Merasa setara dengan orang lain), indikator 3 (Menerima apa adanya), indikator 4 (Dapat menyikapi kegagalan), indikator 5 (Tidak bersikap hiperkritis), indikator 6 (Optimis). Melihat kondisi tersebut maka 10 siswa yang tergolong rendah konsep dirinya diberikan layanan bimbingan kelompok dengan harapan akan terjadi perubahan yang signifikan konsep dirinya. Pemberian layanan bimbingan kelompok dilaksanakan pada bulan Maret 2007 mulai tanggal 6 maret sampai tanggal 29 maret yang sebelumnya pada bulan januari diadakan pre test dulu untuk mengetahui konsep diri siswa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok. Pada waktu pelaksanaan layanan bimbingan kelompok jadwal pertemuan sesuai dengan kesepakatan bersama para anggota kelompok seperti pada tabel berikut : Tabel 5. Jadwal kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dalam membentuk konsep diri positif No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Tanggal Januari 2007 6 Maret 2007 8 Maret 2007 13 Maret 2007 15 Maret 2007 20 Maret 2007 22 Maret 2007 27 Maret 2007 29 Maret 2007 30 Maret 2007 Materi Pre Test Contoh kasus konsep diri negatif Pengertian dan perlunya konsep diri Isi dan asal-usul pembentukan konsep diri Mensikapi permasalaan diri dan orang lain Cara meningkatkan kepercayan diri Cara menghindari prasangka dan akibatnya Cara mengembangkan sikap positif
Cara mengembangkan dan mengarahkan emosi

Post Test

2. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang telah dilakukan selama proses bimbingan kelompok berlangsung dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 6. Hasil pengamatan selama proses bimbingan kelompok No. 1. Pertemuan Pertemuan I (6 Maret 2007) Hasil pengamatan
Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung mulai dari tahap awal atau pembentukan sampai tahap akhir dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap awal secara sukarela tanpa ditunjuk para anggota langsung memperkenallan diri, dari nama, kelas alamat, hoby. Setelah itu diadakan suatu permainan untuk menghangatkan suasana, para anggota sangat antusias sekali dalam mengikuti permainan yang diberikan oleh pemimpin kelompok. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok membacakan contoh kasus yang ada anggota kelompok saling memberikan pendapatnya serta memberikan beberapa tips dalam berpacaran: • Dewi : memang kasus tersebut banyak terjadi dikalangan remaja makanya kita harus mengantisipasi diri kita agar jangan sampai seperti pada kasus tersebut terutama bagi cewek jangan mudah terbujuk oleh rayuan gombal dari para lelaki. Dari kasus tersebut yang melatar belakangi peristiwa itu dari siceweknya meskipun sebenarnya dia cantik ia tidak percaya diri, ia mudah dirayu oleh pacarnya karena dari segi agamanya juga kurang, ditambah lagi suasana sepi dalam rumahnya sehingga bisa terjadi hal tersebut. Kita harus yakin bisa menghadapi setiap masalah masalah. • Agil : Ya tidak semuanya cowok itu perayu dan ngegombal, tapi cewek itu juga seneng digombali he he, iya dari siceknya itu tidak percaya diri mudah saja dirayu oleh cowoknya padahal kalau dia cantik pasti banyak cowok yang suka sama dia dan tentunya lebih baik dari dia termasuk aku, ia tidak berani ngomong tidak sama cowoknya, mungkin dia juga terpengaruh oleh temantemannya yang sudah pernah ML. • Abria : Cewek itu harus hati-hati sama cowoknya, jelekjelek begini meskipun aku gendut hitam tapi aku orangnya PD tapi aku tidak kepedean lho, ya apa yang dikatakan Sharah sama Agil itu benar selain itu kita itu harus bisa menjaga diri kita sendiri baik bagi cewek maupun cowok karena hal tersebut sangat tidak dibolehkan dalam semua agama, kita harus bisa menjaga nama baik diri kita dan

• •

• •

keluarga kita kalau sampai ML terus hamil siapa yang malu coba, kita bisa dikeluarkan dari sekolah maka masa depan kita bisa hancur, pikiran dari cewek pada kasus tersebut sangat sempit hanya karena takut diputus pacarnya saja ia mau menyerahkan keperawanannya. Masak takut kehilangan cowok yang suka ngegombal mending milih aku aja. Kayak aku ini percaya diri, menerima apadanya memahami kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh Allah SWT. Sugeng : Wah jawaban kalian bagus-bagus jadi aku binggung mau jawab apa, ya hampir sama dengan kalian, jadi ada beberapa faktor sehingga peristiwa tersebut bisa terjadi dari diri individu si cewek tersebut memang ia nampaknya orang yang tidak percaya diri, terus kalau dia tidak percaya diri dia tidak mempunyai ketrampilan berkomunikasi tidak bisa memberikan apa yang ada dalam hatinya bahwa sebenarnya ia menolak untuk melalukan hal tersebut, dia tidak bisa mengambil keputusan mana yang benar dan mana yang salah, terus dia itu tidak punya prinsip. Jujur saja aku ini belum pernah punya pacar saya malah kalau dengan cewek itu sedikit grogi. Kalau faktor dari luar ya lingkungan seperti teman, itu sangat berpengaruh sekali terhadap perilaku kita jadi ya kita itu harus bisa memilih teman yang baik, dari segi agama itu mengajarkan kalau hal itu boleh dilakukan setelah kita menikah, dan orang tua juga harus bisa memantau anak-anaknya. Lila : Betul apa yang dikatakan Sugeng saya sama sajalah. Sharah : Kalau menurut saya apa ya, memang kita itu harus bisa menjaga diri kita, kita boleh saja berpacaran tetapi pacaran yang wajar jangan sampai melebihi batas dan melanggar norma. Memang masa remaja itu rawan sekali terhadap hal-hal seperti itu seperti sek bebas, dan narkoba, ya intinya no free sex and no drugs gitu. Arri : Saya juga ingin memberikan pendapat saya bahwa sebaiknya kasus tersebut jangan sampai terjadi pada diri kita, kita harus bisa menerapkan cara yang benar dalam berpacaran kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu kita, kita bisa menyalurkannya kehal-hal yang positif seperti olah raga misalnya. Trinanda : Saya sama seperti yang lain. Chusnul : Saya ini sebenarnya orangnya kurang percaya diri tapi saya akan mencoba memberikan pendapat saya, jadi seperti Sugeng saya itu juga takut terhadap lawan jenis, makanya dengan kegiatan seperti ini saya seneng, mengenai gaya berpacaran pada remaja itu sekarang memang sudah melampau batas, sekarang saja banyak siswa –siswa SMP yang nonton VCD porno sehingga mereka punya keinginan apa yang belum ketahui, maraknya HP yang canggih juga membuat mereka bisa melihat dan menyimpan film porno di hp mereka, sebagai orang tua harus bisa mengontrol anakanaknya betul tidak. Mawar : Betul Chusnul saya setuju, dari pihak sekolah

2.

Pertemuan II (8 Maret 2007)

sekarang sudah banyak melakukan rasia HP yang canggih yang didalamnya ada film pornonya ini salah satu tindakan pencegahan yang bagus. • Agil : Mengenai Tips berpacaran, ya kita harus punya komitmen dengan pacar kita, artinya punya tujuan yang jelas dalam berpacaran. • Sugeng : Kalau saya belum pernah berpacaracan jadi apa ya, ya kalau berpacaran itu harus berpedoman pada nilai-nilai agama dan norma. • Dewi : Kita harus punya prinsip dalam berpacaran, kita tidak usah ikut-ikutan seperti teman yang lain karena pacaran itu hanya taraf penjajagan. • Sharah : Berarti kita berpacaran harus menghargai prinsip masing-masing pihak. • Dewi : Ya iyalah. • Abria : Kita harus punya hak suara yang sama dalam berpacaran artinya tidak egois. Pada pertemuan pertama pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Ini terlihat dari beberapa anggota seperti Abria, Dewi, Agil, Mawar, Chusnul, Arri, Sugeng, Sharah, yang memberikan pendapatnya. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya, meskipun ada dua anggota yaitu Lila dan Trinanda yang hanya mengucapkan kata sama ketika mengeluarkan pendapat dan hanya tersenyum karena merasa malu dan ragu. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung mulai dari tahap awal atau pembentukan sampai tahap akhir dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap awal perkenalan masih dilakukan agar para anggota lebih akrab, secara sukarela tanpa ditunjuk para anggota langsung memperkenallan diri mereka. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai apa itu konsep diri, jenis-jenis konsep diri dan perlunya konsep diri. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa yang dimaksud dengan konsep diri? Anggota kelompok memberi pendapat : • Abria : Konsep diri itu seperti gambaran dari pada diri kita. • Agil : Kalau menurut saya konsep diri itu merupakan pandangan mengenai apa yang ada pada diri kita. • Dewi : Saya sependapat dengan kedua teman saya bahwa konsep diri itu pandangan atau sikap individu terhadap dirinya sendiri. Kemudian pemimpin kelompok menyimpulkan berdasarkan pendapat dari anggota yang dimachingkan dengan materi yang

ada. Ada beberapa jenis konsep diri ada yang negatif dan juga ada yang positif . Konsep diri yang positif antara lain : percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis, sedangkan konsep diri yang negatif ia peka terhadap kritik, ia responsif sekali terhadap pujian, ia cenderung bersikap hiperkritis, ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain, ia bersikap psimis terhadap kompetisi. Anggota kelompok Sharah menanyakan apa Pak yang dimaksud dengan tidak bersikap hiperkritis, pemimpin kelompok menjawab bahwa tidak bersikap hiperkritis itu adalah kita tidak mengeluh, kita mampu menghargai orang lain, senang terhadap keberhasilan orang lain. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan berdasarkan kasus pada pertemuan pertama dilihat dari tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri positif. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya peristiwa yang terjadi pada kasus kemarin : • Sugeng : Dengan melihat kasus kemarin bahwa siceweknya itu tidak memiliki konsep diri yang positif seperti tidak percaya diri ia tidak mampu berbicara kepada pacarnaya, kemudian tidak menerima apa adanya artinya tidak menerima kelebihan dan kekurangannya. • Abria : Kalau saya ia itu tidak mampu menghadapi satu permasalahan, tidak merasa yakin atas kemampuan yang dimilikinya. • Sharah : Menurut saya peristiwa kemarin itu ia tidak merasa setara dengan orang lain sehingga sebenarnya ia cantik tapi ya ngak percaya diri. • Agil : Ya jadi kasus yang terjadi itu karena tidak memiliki konsep diri yang positif. • Arri : Sebaiknya kita harus memiliki konsep diri yang positif agar tidak seperti pada kasus tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Pemimpin kelompok memberikan contoh sebagai gambaran para anggota kelompok tentang perlunya konsep diri. Sering kita jumpai siswa ber-IQ (Intelligence Question) tinggi gagal dalam menempuh ujian. Tetapi sering kita dengar pula bahwa banyak siswa yang memiliki IQ sedangsedang saja ternyata mereka berhasil dalam menempuh ujian. Bila kita berpikir bahwa diri kita bisa, maka kita cenderung akan sukses, sebaliknya bila kita berpikir bahwa diri kita akan gagal, maka sebenarnya kita mempersiapkan diri untuk gagal. Dengan kata lain harapan terhadap diri sendiri merupakan prediksi untuk mempersiapkan diri sendiri. Pemimpin kelompok menanyakan menanyakan apa akah kalian sudah memiliki konsep diri yang positif : • Sharah : Kalau saya ya belum semua kriteria konsep diri positif ada pada saya, tapi saya sudah memiliki percaya diri,

kemudian menerima apa adanya. Dewi : Kayaknya saya juga belum sepenuhnya memiliki konsep diri positif, saya sudah percaya diri, udah mampu berbicara di depan umum, merasa setara dengan orang lain , tidak bersikap hiperkritis. • Abria : Wah kayaknya saya sudah memiliki konsep diri positif seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, tidak bersikap hiperkritis, meskipun belum semua kriteria itu ada pada saya. • Agil : Saya sama seperti yang lain saya sudah bisa percaya diri, merasa setara dengan orang lain, mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan yang terjadi, contohnya saya habis kecelakaan dan hampir patah tulang ini memberikan hikmah bagi saya, menerima apa adanya, tidak bersikap hiperkritis. • Sugeng : Kalau saya ya belum semua kriteria konsep diri positif ada pada saya, tapi saya sudah memiliki percaya diri, kemudian menerima apa adanya, tidak bersikap hiperkritis, dan mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan yang terjadi. • Mawar : Beberapa kriteria sudah ada pada diri saya, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apadanya. • Lila : Kayaknya saya belum mempunyai konsep diri yang positif tapi saya sudah muncul rasa percaya diri saya. • Trinanda : Saya sama seperti Lila sudah muncul juga rasa percaya diri saya. • Chusnul : Saya sedikit-sedikit sudah mulai mempunyai konsep diri yang positif kayak percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apadanya • Arri : Kalau saya memang tidak semuanya kriteria konsep diri positif ada pada diri saya namun saya sudah percaya diri. Pemimpin kelompok menanyakan atau membuat komitmen kepada semua anggota kelompok apakah anggota kelompok akan berusaha untuk mempunyai konsep diri positif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua anggota menjawab bersedia untuk berusaha mempunyai konsep diri positif dan akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini, situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali, meskipun siswa terlihat gugup ingin cepat pulang karena cuaca akan hujan. Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok dalam pertemuan kali ini dapat terlaksana dengan baik terlihat dari beberapa indikator yang sudah muncul. Angota kelompok mendapatkan pemahaman baru dari pengertian konsep diri, jenis-jenis konsep diri dan perlunya memiliki konsep diri •

3.

Pertemuan III (13 Maret 2007)

yang positif. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai isi konsep diri, dan asal-usul pembentukan konsep diri. Pemimpin kelompok memberikan informasi mengenai isi dari pada konsep diri. Pemimpin kelompok menjelaskan isi dari konsep diri mulai dari karakteristik fisik, penampilan, kesehatan dan kondisi fisik, rumah dan hubungan keluarga, hobi dan permainan, sekolah dan pekerjaan sekolah, kecerdasan, bakat dan minat, ciri dan kepribadian, sikap dan hubungan sosial, dan religius. Setelah isi konsep diri selanjutnya asal-usul atau faktor pembentuk konsep diri. Asal-usul konsep diri yaitu orang tua, saudara sekandung, sekolah, teman sebaya, masyarakat dan pengalaman. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk mengemukakan mengungkapkan kelemahan dan kelebihan yang didalamya terdapat sifat-sifat positif dan negatif. Para anggota memberi pendapat tentang dirinya dari kelebihan dan kelemahan yang ia miliki : • Agil : Kelebihan yang ada dalam diri saya yaitu saya yaitu saya orangnya tidak sombong, menerima apa adanya, tidak senang adanya permusuhan. Sedangkan kelemahan yang ada pada saya yaitu saya kadang cepat emosi. • Abria : Kelebihan yang saya miliki yaitu berat badan, saya orangnya humoris, percaya diri, bisa bergaul dengan siapa saja, tidak suka kekerasan. Sedangkan kelemahan yang saya miliki yaitu apabila ada orang yang menyakiti saya saya sulit untuk memaafkannya tetapi saya tidak sampai pada kekerasan. • Dewi : Kalau saya kelebihan yang saya punya itu saya senang membantu teman yang membutuhkan atau suka menolong, tegar dalam menghadapi setiap permasalahan, menghargai orang lain, jujur. Kekurangan atau kelemahan yang saya miliki kadang boros dalam hal keuangan. • Sugeng : Kelebihan saya itu saya orangnya penyabar, percaya diri, menghargai orang lain, jujur, peka terhadap orang lain. Sedangkan kekurangan saya kadang timbul rasa takut terhadap lawan jenis. • Arri : Kelebihan yang saya miliki tidak membeda-bedakan teman, yakin atas kemampuan yang saya miliki, tidak mengeluh. Sedangkan kelemahan saya itu saya orangnya kadang cepat tersinggung, kadang sering mengumpat apabila saya gagal. • Chusnul : Kelemahan saya itu tidak bisa bangun pagi, malas, sering menyontek, tidak bisa dalam pelajaran eksak. Sedangkan kelebihan saya kata orang saya itu orangnya baik, tidak sombong. • Sharah : Kalau kelebihan saya itu saya rajin, setiap ada masalah langsung saya selesaikan, tidak suka menunda-

4.

Pertemuan IV (15 Maret 2007)

nunda pekerjaan. Sedangkan kekurangan saya pelupa. Mawar : Kelebihan yang saya miliki menerima diri apa adanya, pandai bergaul, senang dengan adanya tantangan. Kelemahan saya sama seperti Dewi saya boros dalam hal keuangan. Para anggota akan mengembangkan diri artinya akan berusaha menutupi kelemahan yang ada pada diri mereka. Pemimpin kelompok menanyakan atau membuat komitmen kepada semua anggota kelompok apakah anggota kelompok akan berusaha untuk mempunyai konsep diri positif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari setelah mengetahui faktor-faktor yang membentuk konsep diri positif. Semua anggota menjawab bersedia untuk berusaha mempunyai konsep diri positif. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai bagaimana kita mensikapi permasalahan diri dan orang lain. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya mengenai permasalahan apabila kita punya masalah kemudian ada teman kita yang minta bantuan apa yang harus kita lakukan? • Abria : Melihat masalahnya dari teman kita apa masalahnya berat atau tidak apabila ringan langsung kita bantu dan apabila berat kita bisa menjadi pendengar yang baik, kita bisa beri support atau dukungan, nasehat. • Dewi : Hampir sama seperti Sugeng semampu kita kita bantu masalah teman kita yang enting jangan sampai malah masalah itu menjadi masalah pada diri kita. • Sharah : Kalau saya mending saya menyelesaikan masalah saya dulu biar tidak pusing karena masalah kita belum selesai, kalau masalah kita sudah selesai baru kita membantu masalah teman kita. • Mawar : Kalau saya minta bantuan teman lain dulu karena saya masih memiliki masalah, tetapi secara halus biar teman kita tidak marah kepada kita. • Abria : Kita bantu teman kita yang punya masalah dulu setelah selesai kita selesaikan masalah kita sendiri apabila kita tidak bisa kita bisa minta bantuan kepada teman kita yang kita bantu tadi. • Agil : Menurut saya kita bahas dulu bersama-sama masalahnya kalau tidak bisa kita minta bantuan pada teman yang lain juga,terus masalah kita dibahs bersama-sama juga. • Lila : Kita bantu teman kita karena tidak enak pabila kita langsung menolaknya. • Trinanda : Menurut saya kita harus bantu teman kita yang punya masalah biar nanti masalah kita juga bisa dibantu teman kita. • Chusnul : Ya saya akan membantu teman dulu baru masalah kita. •

5.

Pertemuan V ( 20Maret 2007)

Arri : Kita berusaha bantu teman jangan sampai menjadi beban pada kita. Bagaimana kita mensikapi permasalahan kita? Para anggota menjawab : • Dewi : Saya akan langsung menyelesaikan masalah tersebut dan tidak akan membiarkannya berlarut-larut. • Sharah : Saya akan semaksimal mungkin menyelesaikan masalah kalau tidak bisa baru minta bantuan pada orang lain. • Mawar : Kalau kita menunda-nunda masalah maka masalahnya tidak selesai jadi harus segera diselesaikan. • Agil : Kita harus bisa mengidentifikasi dulu masalahnya, apa yang menjadi penyebab jangan grusah-grusuh lalu kita membuat pilihan atau keputusan yang tepat. • Abria : Menurut saya kita harus memahami dulu masalahnya kita bisa seringkan kepada sahabat kita atau teman terdekat agar dapat menambah jawaban dari persoalan yang kita hadapi. • Trinanda : Saya juga sama seperti yang lain akan menyelesaikan masalahnya langsung itu juga. Bagaimana kita mensikapi permasalahan orang lain? Para anggota menjawab : • Sugeng : Seperti yang saya bilang tadi kita bisa menjadi pendengar yang baik, kita bisa beri support atau dukungan, nasehat. • Arri : Kita bisa memberikan nasehat tapi diberikan pada saat yang tepat. • Chusnul : Kita harus peka terhadap orang lain, kita bisa memberikan simpati kita menolong meringan beban. • Lila : Ya kita beri saran, nasehat yang penting jangan sok pintar. Pada pertemuan keempat pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Ini terlihat dari semua anggota seperti Abria, Dewi, Agil, Mawar, Chusnul, Arri, Sugeng, Sharah, Lila, Trinanda yang memberikan pendapatnya. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara meningkatkan kepercayaan diri yang didalamnya terdapat pengertian percaya diri, karakteristik individu yang percaya diri dan yang tidak percaya diri kemudian bagaimana upaya mengatasi rasa kurang

percaya diri. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa itu percaya diri? Anngota ada yang menjawab : • Agil : Percaya diri itu percaya atas kemampuan yang dimiliki. • Dewi : Percaya diri itu merupakan dorongan yang ada dalam diri dalam rangka menghadapi segala yang ada. • Abria : Kalau menurut saya percaya diri itu ya sikap yang kita miliki dalam menghadapi segala sitauais atau keadaan. Setelah pemimpin kelompok menjelaskan topik kemudian meminta anggota kelompok apabila ada permasalahan yang berkaitan dengan topik yang dibahas kali ini bisa dituangkan kemudian kita bahas bersama-sama. Dari anggota kelompok muncul permasalahan : • Lila : Begini saya punya masalah mengenai ya kurang percaya diri misalkan harus ngomong didepan kelas apalagi dedepan umum. • Trinanda : Masalah saya sama dengan Lila. • Sugeng : Kalau saya memiliki masalah kadang merada tidak percaya diri dengan lawan jenis makanya sampai saat ini saya belum mempunyai pacar. • Chusnul : Saya merasa gori ketika bertanding jadi kadang saya menyerah dulu. Baik setelah kita tahu beberapa permasalahan kita tentukan masalah siapa dulu yang akan kita bahas, para anggota kelompok sepakat untuk memecahkan masalahnya Lila, dengan memberikan tanggapan dan saran sebagai berikut : • Arri : Sebelumnya permasalahan yang melatar belangi itu apa mungkin Lila bisa menjelaskan biar ketika teman-teman mebantu menyelesaikan masalahnya bisa mudah. Jadi begini permasalahannya ketika saya masih duduk di kelas X ada diskusi dalam kelas kemudian saya diminta untuk memberi jawaban kemudian jawaban atau tanggapan saya ditertawakan oleh teman-teman sehingga ini membuat saya malu dan tidak mau lagi untuk memberi jawaban lebih baik saya diam saja. Setelah tahu permasalahannya maka para anggotapun memberi saran : • Abria : Dengan melihat apa yang menjadi masalah kamu saya bisa menganalisis bahwa kamu memiliki satu pikiran yang mana kamu ketika akan menjawab maka akan ditertawakan lagi oleh teman-teman padahal belum tentu. • Agil : Apa yang dikatan Abria betul itu Lil jadi ketika kita punya pikiran yang begitu maka kita tidak akan bisa untuk mengungkapkan pendapat jadi pikiran itu harus dihilangkan. • Arri : Nah setelah kamu menceritakan latar belakangnya kan teman-teman bisa tahu dan mudah dalam memberikan pendapatnya, kalau menurut saya kamu harus punya kemauan dulu atau tekad bahwa saya harus berani ngomong didepan kelas misalnya tanpa mempedulikan apa kata teman. • Dewi : Jadi ada betulnya yang dikatakan oleh Arri tetapi

6.

Pertemuan VI ( 22Maret 2007)

kamu ketika akan memberi jawaban kita pikir dulu artinya kita tahu betul apa yang menjadi persoalan kemudian kemudian dalam benak kita sudah ada jawaban yang relevan sehingga jawaban kita akan bermutu dan ini tidak bakal ditertawakan oleh teman malah kita akan mendapat sanjungan dari teman-teman. • Mawar : Yup saya setuju apa yang dikataka Sharah semua itu merupakan proses pembelajaran jadi kita tidak langsung bisa tetapi harus bertahap. • Sharah : Saya juga setuju. Dengan saran-saran yang diberikan oleh temannya Lila dapat menerima saran dari teman-temannya, Lila memutuskan mulai sekarang dia akan percaya diri tidak akan takut lagi untuk ditertawakan. Ya dengan kegiatan bimbingan kelompok ini masalah saya bisa teratasi saya merasa senang, kemudian saya bisa belajar berbicara meskipun dalam lingkup kelompok. Pada pertemuan kelima pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Siswa sudah dapat membantu memecahkan permasalahan orang lain. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara menghindari prasangka dan akibatnya yang didalamnya terdapat pengertian prasangka, terbentuknya prasangka, usaha untuk menghindari dan menghilangkan prasangka, akibat prasangka. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa itu prasangka? Anggota kelompok menjawab : • Dewi : Prasangka adalah anggapan yang kurang baik kepada orang lain. • Agil : Prasangka itu merupakan perasaan kita kepada orang lain yang bisa bersifat positif maupun negatif. Pemimpin kelompok memberikan contoh apa pandangan kita terhadap seorang pelukis atau seniman?. Anggota kelompok yang menjawab : • Lila : Pasti pelukis itu hidupnya tidak teratur, jorok, tidak pernah mandi. • Abria : Belum tentu semua pelukis atau seniman seperti itu kita harus punya prasangka yang positif. Kamu kan belum tahu sendiri bagaimana kehiduapan pelukis. • Sharah : Apa yang dikatakan Abria benar jadi belum tentu seorang pelukis itu menti jorok, jarang mandi, semprawut acak-acakan rambutnya gondrong tetapi banyak juga pelukis yang bersih.

7.

Pertemuan VII (27 Maret 2007)

Bagaimana pandangan kalian terhadap karakter orang madura? • Trinanda : Ya pasti karakter orang madura itu keras. • Mawar : Belum tentu tidak semua orang madura itu keras. Apabila kalian mendapat nilai lima pada pelajaran matematika apa yang kalian lakukan?. • Dewi : Introspeksi diri mungkin kita tidak belajar dengan sungguh-sungguh. • Chusnul : Ya itu mungkin kesalahan gurunya, gurunya tidak senang pada kita. • Sugeng : Yang dikatakan Sharah itu benar kita harus instrospeksi diri kita dulu kenapa kok sampai nilai kita jelek mungkin kita jarang mengerjakan PR, terus kalau ulangan kita tidak belajar. Misalkan kalian melihat Pak Karto guru matematika, marah kepada Arri sehingga dihukum apa tanggapan kalian? • Abria : Ya saya menganggap bahwa Pak Karto itu orang yang galak dan senang menghukum. • Sharah : Kalau saya tidak setuju mungkin kenapa Arri dihukum karena Arri bandel tidak mengerjakan tugas artau PR jarang mengikuti pelajaran yag penting menghukumnya Pada pertemuan keenam pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif dalam tanya jawab sehingga suasana kelompok terkendali. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara mengembangkan sikap positif yang meliputi pengertian, langkah-langkah menumbuhkan sikap positif dan manfaat bersikap positif. Pemimpin kelompok menanyakan bagaimana sikap positif kita sebagai pelajar?. • Dewi : Kita harus belajar dengan giat, mentaati peraturan sekolah seperti memakai seragam lengkap, datang tepat waktu tidak terlambat, selalu mengikuti pelajaran di sekolah atau tidak membolos. • Mawar : Kita harus sopan terhadap guru, menghormati guru, selalu mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. • Sharah : Selalu mengikuti upacara bendera sebagai bukti cinta tanah air, tidak hanya guru yang dihaormati petugas TU juga harus kita hormati pokoknya menghormati kepada yang lebih tua. • Lila : Kita harus mengerjakan PR atau tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran. • Trinanda : Yang jelas kita sebagai belajar kita harus giat belajar. • Arri : Mengikuti kegaiatan ekstrakurikuler yang

8.

Pertemuan VIII (29 Maret 2007)

diselengarakan di sekolah. Chusnul : Tidak mencemarkan nama baik sekolah. Agil : Membuat prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. • Abria : Tidak boleh menyontek. • Sugeng : Jangan membuat gaduh saatpelajaran. Pertanyaan kedua bagaimana sikap positif kita berada dilingkungan keluarga?. Para anggota menjawab : • Sugeng : Patuh terhadap perintah orang tua, • Agil : Menghormati orang tua, • Dewi : Mentaati norma dalam keluarga, • Abria : Menghargai dan menyangi adik/kakak, • Mawar : Selalu berbuat baik kepada orang tua. Pertanyaan ketiga bagaimana sikap ositif kita dalam lingkungan masyarakat?. Anggota kelompok menjawab • Sharah : Selalu mentaati norma yang berlaku dimasyarakat, • Arri : Menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, • Chusnul : Bersedia menolong tetangga yang mendapat musibah. Sejauh ini pada pertemuan ketujuh saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, jadi dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik ini dapat terlihat dari indikator yang muncul, dan anggota kelompok begitu kompak dalam membahas topik cara mengembangkan sikap positif. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. Pengamatan proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara mengendalikan dan mengarahkan emosi yang meliputi pengertian emosi, macammacam emosi dan cara mengendalikan emosi. Agil memberikan contoh emosi misalnya kita punya barang kemudian dihilangkan oleh teman kita kemudian kita marah kemudian memukul maka kita tidak bisa mengarahkan emosi kita, dan akibatnya kita tidak punya teman kemudian dijauhi teman-teman. Maka kita harus bisa mengendalikan emosi marah kita. Praktikan memberikan contoh apabila teman satu kelompok kita ada yang sakit apa emosi kita dan apa yang harus kita lakukan?. Para anggota menjawab : • Dewi : Emosi yang muncul adalah sedih, dan akan menjenguk teman kita yang sakit. • Chusnul : Apa yang dikatakan dewi benar kita tidak boleh senang masak teman kita sakit kita malah senang kita harus mendoakan dia biar cepat sembuh. • Arri : Dalam ajaran agamapun mengajarkan kita untuk menjenguk dan mendoakan orang yang sakit meskipun orang yang sakit itu orang yang dibenci kita. • •

Contoh yang kedua apabila ada teman kita meraih juara satu dalam lomba bola basket apa emosi kita?.Anggota kelompok : • Abria : Merasa senang dan memberikan selamat kepada teman kita. • Agil : Sama seperti Abri jadi kita harus bangga kepada teman kita karena berprestasi, sehingga kita bisa termotivasi agar bisa seperti teman kita. Contoh ketiga apabila nilai Ari lebih besar dari pada kalian apa yang dilakukan?. Anggota menjawab : • Dewi : Saya merasa iri tetapi saya akan berusaha agar nilai mereka lebih baik dari Ari dengan cara belajar dengan giat. • Mawar : Emosi yang muncul pertama kali memang emosi iri tetapi kita menjadi termotivasi masak nilai saya kok dibawah Arri. • Sugeng : Ya kita termotivasi agar nilai kita lebih tinggi dari pada Ari tapi motivasi yang positif artinya tidak menghalalkan segala cara biar nilainya lebih baik dari pada Arri dengan cara menyontek atau berbuat curang. Dari contoh tersebut para anggota sudah dapat mengarahkan emosi mereka kehal yang positif. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat baik. Sejauh ini para anggota sudah aktif terbuka dalam mengemukakan pendapat, ide, dan tanggapan. Dinamik kelompok dapat terwujud dengan baik, anggota kelompok begitu kompak dalam membahas topik cara mengendalikan dan mengarahkan emosi.

Gambaran tentang perkembangan konsep diri yang ditunjukkan oleh siswa, pada tiap pertemuan dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 7. Perkembangan konsep diri siswa No 1. Nama Siswa Agil P • • • • • Hasil Perkembangan Indikator 1 2 3 V V V Percaya diri V Merasa setara dengan orang lain V Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap Pertemuan 4 5 6 V V V V V

7

8 V

2.

• Chusnul U • • • • •

3.

• Dewi WS • • • • •

4.

• Mawar M • • • • •

5.

Sharah I

• • • • • •

hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis

V V

V

V V

V V V V V V

V V

V V

V V

V V

V

V V V V V V

V

V V V V V

V V V

V

V

V V V V V V V V V V V V V V V

6.

Arri W

• • • • • •

7.

Abria N

• • • • • •

8.

Trinanda

• • • • • •

9.

Lila W

• • • • • • •

Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis

V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

10. Sugeng P • • • • • •

V Percaya diri Merasa setara V dengan orang lain Menerima apa V adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis

V

V V V V V V V

V V

V

Dari tabel diatas dapat diuraikan sebagai berikut pada pertemuan pertama Agil mengalami peningkatan pada indikator percaya diri ini terlihat dari Agil berani dalam mengungkapkan pendapatnya yang sebelumnya Agil merasa malu untuk mengungkapkan pendapat, pada pertemuan kedua Agil mengalami peningkatan dari yang percaya diri Agil sudah mampu merasa setara dengan orang lain, pada pertemuan ketiga Agil hanya menunjukkan aspek percaya diri saja aspek yang lain tidak muncul, pada pertemuan keempat ini Agil dapat tidak bersikap hiperkritis dan optimis, pada pertemuan kelima aspek yang muncul merasa setara dengan orang lain dan dapat menyikapi kegagalan, pada pertemuan keenam dan ketujuh Agil dapat menerima apa adanya, pada pertemuan terakhir rasa percaya diri Agil muncul serta sikap optimis. Peningkatan yang ada pada Chusnul antara lain pada pertemuan pertama percaya diri sudah nampak dan merasa setara dengan orang lain, pada pertemuan kedua masih nampak rasa percaya diri namun aspek yang lain

belum nampak, pada pertemuan ketiga sudah dapat menyikapi kegagalan, pada pertemuan keempat percaya diri muncu lagi dengan aspek dapat menyikapi kegagalan, pada pertemuan kelima masih ada aspek percaya diri dan tidak bersikap hiperkritis, pada pertemuan keenam dapat merasa setara dengan orang lain dan dapat menyikapi kegagalan, pada pertemuan ketujuh tidak bersikap hiperkritis serta optimis, sedang pertemuan terakhir aspek yang muncul hanya menerima apa adanya. Peningkatan yang terjadi pada Dewi, pertemuan pertama yang muncul hanya percaya diri saja, pertemuan kedua juga hanya merasa setara dengan orang lain aspek yang lain belum nampak, sedang pertemuan ketiga percaya diri serta menerima apa adanya, pada pertemuan keempat juga masih percaya diri, pertemuan kelima ada tiga aspek yang muncul percaya diri, tidak bersikap hiperkritis serta optimis, pertemuan keenam muncul merasa setara dengan orang lain dan dapat menerima apa adanya, pertemuan ketujuh dapat menyikapi kegagalan sedang pertemuan terakhir percaya diri, tidak bersikap hiperkritis dan optimis. Peningkatan yang terjadi pada Mawar, pada pertemuan pertama percaya diri sudah nampak, pada pertemuan kedua merasa setara dengan orang lain dan dapat menerima apa adanya, pertemuan ketiga tidak bersikap hiperkritis, pertemuan keempat hanya percaya diri saja, pertemuan kelima percaya diri serta optimis, pada pertemuan keenam Mawar tidak menunjukkan aspek yang muncul, pada pertemuan ketujuh percaya diri dan menerima apa

adanya, pada pertemuan terakhir aspek yang muncul merasa setara dengan orang lain serta optimis. Peningkatan yang ada pada Sharah, pada pertemuan pertama muncul rasa percaya diri dan merasa setara dengan orang lain, pertemuan kedua juga percaya diri namun ada aspek lain yang muncul yaitu menerima apa adanya, pada pertemuan ketiga tidak bersikap hiperkritis, pertemuan keempat percaya diri dan dapat menyikapi kegagalan, pertemuan kelima aspek yang nampak merasa setara dengan orang lain, pertemuan keenam percaya diri dan menerima apa adanya, aspek ketujuh tidak bersikap hiperkritis dan optimis, sedang pada pertemuan kedelapan hanya dapat menyikapi kegagalan saja. Peningkatan konsep diri pada Arri, pertemuan pertama ditunjukkan dengan percaya diri dan menerima apa adanya, pertemuan kedua merasa setara dengan orang lain, pertemuan ketiga dapat menyikapi kegagalan, pertemuan keempat percaya diri, pada pertemuan kelima selain percaya diri aspek yag muncul adalah optimis, pertemuan keenam merasa setara dengan orang lain dan menerima apa adanya, pertemuan ketujuh dapat menyikapi kegagalan dan tidak bersikap hiperkritis sedang pertemuan kedelapan optimis. Peningkatan konsep diri pada Abria, pertemuan pertama terjadi tiga peningkatan yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apa adanya, sedang pada pertemuan kedua hanya percaya diri saja, pertemuan ketiga percaya diri dan dapat menyikapi kegagalan, pertemuan keempat terjadi tiga peningkatan percaya diri, tidak bersikap hiperkritis dan optimis,

pada pertemuan kelima terjadi emapat peningkatan dari percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya dan tidak bersikap hiperkritis, tetapi dalam pertemuan keenam hanya merasa setara dengan orang lain saja, pertemuan ketujuh juga satu aspek yaitu optimis, sedang pertemuan terakhir dapat menyikapi kegagalan dan tidak bersikap hiperkritis. Peningkatan yang terjadi pada Trinanda, pada pertemuan pertama tidak nampak satu aspekpun yang muncul baru pada pertemuan kedua muncul percaya diri dan menerima apa adanya, pertemuan ketiga Trinanda absen karena tidak masuk sekolah sehingga tidak ada aspek yang muncul, pertemuan keempat percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apa adanya, pertemuan kelima dapat menyikapi kegagalan dan optimis, pertemuan ketujuh tidak bersikap dengan orang lain. Peningkatan yang ada pada Lila hampir sama dengan Trinanda pada pertemuan pertama tidak satupun aspek yang muncul, baru pada pertemuan kedua muncul aspek percaya diri dan menerima apa adanya, pertemuan ketiga juga tidak ada peningkatan karena absen tidak masuk sekolah, pertemuan keempat merasa setara dengan orang lain dan menerima apa adanya,
3. Konsep diri Setelah Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok

hiperkritis dan pertemuan terakhir merasa setara

Setelah dilaksanakan layanan bimbingan kelompok selama 8 kali pertemuan, selanjutnya dilakukan post test untuk mengetahui peningkatan

konsep diri. Hasil post test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada tabel berikut : Tabel 8. Konsep diri siswa setelah pelaksanaan layanan bimbingan kelompok
No. Responden 1 1. 25 2. 22 3. 20 4. 23 5. 22 6. 19 7. 22 8. 20 9. 19 10. 21 21.3 Mean T Kriteria 2 13 13 14 15 16 14 18 16 16 17 15.2 T Indikator 3 4 26 16 17 11 30 17 20 11 19 11 19 14 29 18 20 11 18 12 19 15 21.7 13.6 T T 5 14 16 16 11 13 12 18 13 18 13 14.4 T 6 24 24 34 23 27 28 31 26 27 25 26.9 T Total Ket.

118 103 131 103 108 106 136 106 110 110 113.1 T

T T ST T T T ST T T T T

Terlihat dari tabel bahwa 10 responden yang diteliti memiliki konsep diri yang tinggi atau positif terbukti dari rata-rata skor 113,1 dalam kategori tinggi. Dilihat dari indikatornya ternyata rata-rata semua indikator dalam kategori tinggi.
4. Efektifitas Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok dalam

Mengembangkan Konsep diri Positif

Gambaran

tentang

efektifitas

bimbingan

kelompok

dalam

mengembangkab konsep diri positif dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dan uji Wilcoxon dari 6 indikatornya yaitu : percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, optimis.

Tabel 9. Hasil Uji Wilcoxon Indikator Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Total Zhitung - 2.650 - 2.818 - 2.812 - 2.201 - 2.803 - 2.675 - 15.860 Ztabel 0.08 0.05 0.05 0.28 0.07 0.05 0.48 Kesimpulan Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak

Tabel 10. Hasil pre test dan post test setiap indikator Indikator Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis Optimis Total Kondisi Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Mean 17.1 21.3 10.2 15.2 16.5 21.7 10 13.6 10.5 14.4 18.1 26.9 82.4 113,3 Kriteria Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi

Terlihat dari tabel 10, rata-rata skor konsep diri siswa sebelum diadakan layanan bimbingan kelompok sebesar 82,4 dalam kategori rendah dan setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok dapat meningkat menjadi 113,1 dalam kategori tinggi. Dari hasil uji Wilcoxon diperoleh Zhitung = - 15.860 dan kurang dari –Ztabel = (-0.48) atau pada daerah penolakan Ho. Demikian juga untuk setiap indikatornya diperoleh Zhitung < -Ztabel atau pada daerah penolakan Ho. Dengan ditolaknya Ho menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan

konsep diri siswa antara sebelum dan sesudah mengikuti layanan bimbingan kelompok. Hal ini secara signifikan berpengaruh positif terhadap peningkatan konsep diri siswa.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan ada perbedaan konsep diri siswa setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat konsep diri pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok lebih tinggi atau positif dibandingkan sebelum mendapatkan layanan bimbingan kelompok. Konsep diri siswa mengalami perubahan dari yang negatif menjadi positif setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok pada enam indikator konsep diri positif. Adapun peningkatan konsep diri siswa terhadap enam indikator konsep diri positif tersebut antara lain :

1. Percaya diri Peningkatan dalam sikap percaya diri ini dapat dilihat dari perubahan anggota kelompok yang sudah berani untuk mengeluarkan pendapat, yakin dalam menghadapi setiap masalah, serta yakin dalam menghadapi setiap tugas, apabila dibandingkan dengan sebelum mendapatkan layanan bimbingan kelompok. Misalnya dalam kelas ada diskusi kelompok maka anggota kelompok tidak berani untuk mengungkapkan pendapat atau berbicara dalam kelas maka ia akan diam saja. Apabila dikasih tugas oleh guru mata pelajaran sebelum mencoba maka siswa merasa tidak bisa dan merasa sulit untuk mengerjakan. 2. Merasa setara dengan orang lain Peningkatan dalam indikator merasa setara dengan orang lain ini dapat terlihat selama kegiatan bimbingan kelompok seperti siswa tidak mencela atau meremehkan orang lain, siswa tidak sombong atau merasa paling benar, merasa pantas bergaul dengan siapa saja, serta mampu bersaing secara sehat. 3. Menerima apa adanya Peningkatan dalam indikator apa adanya ini siswa sudah mampu untuk memahamai apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki serta motivasi untuk mngembangkan kelebihan yang ia miliki.

4. Dapat menyikapi kegagalan Peningkatan dalam indikator dapat menyikapi kegagalan ini terlihat dari siswa yang mampu mengambil hikmah dari kegagalan dan mempunyai semangat untuk bangkit dari kegagalan. 5. Tidak bersikap hiperkritis Peningkatan yang ada dalam indikator tidak bersikap hiperkritis antara lain siswa tidak mengeluh dengan adanya satu masalah atau tugas, mampu menghargai orang lain, serta merasa senang atas keberhasilan orang lain. 6. Optimis Peningkatan dalam indikator optimis ini terlihat dari semangat para siswa untuk mengembangkan diri serta merasa yakin atas kemampuan yang dimiliki. Berdasarkan hasil kegiatan bimbingan kelompok, ada beberapa kesan yang diungkapkan oleh anggota kelompok, yaitu kegiatan dalam bimbingan kelompok inidapat bermanfaat karena dapat menambah wawasan, pengetahuan, mengakrabkan teman, belajar untuk lebih menerima diri, belajar bergaul, belajar lebih terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, belajar mengungkapkan pendapat, belajar berkomunikasi, belajar memberi dan menerima atau tack in give, belajar memecahkan masalah, lebih peka kepada orang lain, lebih mengerti bahwa orang lain juga punya masalah, belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain. Selain itu kegiatan bimbingan kelompok sangat menyenangkan karena dapat menyelesaikan suatu toipk atau tema dalam setiap

pertemuan secara mendalam dan adanya kerjasama yang baik antara para anggota kelompok dan pemimpin kelompok. Dengan diadakannya kegiatan bimbingan kelompok ini dapat membentuk konsep diri positif pada diri siswa tersebut. Setelah 10 siswa mendapatkan treatment atau perlakuan berupa bimbingan kelompok, ternyata terjadi perubahan dari siswa yang memiliki konsep diri yang rendah setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok mengalami peningkatan yaitu terdapat 2 siswa (20%) yang memiliki konsep diri yang sangat tinggi, 8 siswa (80%) dalam kategori tinggi. Rata-rata skor konsep diri sebelum mengikuti kegiatan bimbingan kelompok adalah 82,4 dalam kategori rendah, dan setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok meningkat menjadi 113,1 dalam kategori tinggi. Ditunjukkan pula dari hasil uji Wilcoxon diperoleh Z hitung = -15.860 yang kurang dari – Ztabel (-0,48) atau berada pada daerah

penolakan Ho. Hal ini menunjukkan ada peningkatan yang signifikan konsep diri setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif dalam mengembangkan konsep diri positif pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa konsep diri pada siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah siswa mendapatkan perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok. Layanan bimbingan kelompok efektif dalam mengembangkan konsep diri positif siswa karena layanan bimbingan merupakan proses pemberian informasi

dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan dalam penelitian ini adalah membentuk konsep diri positif. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah konsep diri yang positif. Di dalam kelompok, anggota belajar meningkatkan diri dan kepercayaan terhadap orang lain, selain itu mereka juga mempunyai kesempatan untuk meningkatkan sistem dukungan dengan cara berteman secara akrab dengan sesama anggota. Dalam layanan bimbingan kelompok interaksi antar individu antar anggota kelompok merupakan suatu yang khas yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Karena dalam layanan konseling kelompok terdiri dari individu yang heterogen terutama dari latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing.

Bimbingan kelompok merupakan tempat bersosialisasi dengan anggota kelompok dan masing-masing anggota kelompok akan memahami dirinya

dengan baik. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya, selain itu dalam layanan bimbingan kelompok ketika dinamika kelompok sudah dapat tercipta dengan baik ikatan batin yang terjalin antar anggota kelompok akan lebih mempererat hubungan diantara mereka sehingga masing-masing individu akan merasa diterima dan dimengerti oleh orang lain, serta timbul penerimaan terhadap dirinya. Dalam penelitian ini mencapai hasil yang maksimal terdapat 8 siswa dalam kategori tinggi yaitu Agil, Chusnul, Mawar, Arri, Trinanda, Lila dan Sugeng sedangkan 2 orang siswa dalam kategori sangat tinggi yaitu Dewi dan Abria, karena dinamika dalam kelompok dapat tercipta dengan baik, para siswa sudah merasa memiliki kelompok, ini terlihat para siswa yang selalu hadir pada saat pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, meskipun ada dua orang siswa yang absen satu kali pertemuan karena berhalangan tidak berangkat sekolah tetapi ini tidak menghambat jalannya proses kegiatan bimbingan kelompok. Para anggota kelompok antusias dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok karena ini berhubungan dengan diri mereka, adanya interaksi yang baik antara anggota dengan anggota yang lain serta anggota dengan pemimpin kelompok, para anggota saling memberikan pendapat dan saran ketika kegiatan berlangsung, tujuan secara umum dari kegiatan ini sudah tercapai seperti dapat mengakrabkan

teman, belajar untuk lebih menerima diri, belajar bergaul, belajar lebih terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, belajar mengungkapkan pendapat, belajar berkomunikasi, belajar memberi dan menerima atau take in give, belajar memecahkan masalah, lebih peka kepada orang lainlebih mengerti bahwa orang lain juga mempunyai masalah, belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain. Dari jadwal kegiatan pemberian layanan ini juga berpengaruh, peneliti menggunakan frekuensi yaitu dua kali dalam seminggu dilakukan karena apabila dilakukan satu minggu sekali ini frekuensinya terlalu lama sehingga membuat siswa jadi lupa dan enggan atau malas untuk mengikuti karena dilakukan selama 8 minggu begitu pula apabila frekuensinya terlalu sering ini akan membuat siswa jenuh dan bosan dari para anggota sehingga ini tidak efektif, dengan pertimbangan hal tersebut maka peneliti menggunakan frekuensi pertemuan dua

kali dalam seminggu dan ini sangat efektif untuk mencapai tujuan ini. Dalam kegiatan bimbingan kelompok ini yang paling utama adalah dengan menggunakan kelompok tugas sehingga terarah apa yang menjadi tujuan dalam penelitian ini, dari topik-topikyang dibahas merupakan pengembangan dari aspek-aspek yang terdapat dalam konsep diri positif, dari tiap pertemuan mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir ini merupakan rangkaian satu kesatuan yang saling berkaitan dari setiap topik yang dibahas sehingga ketika mengikuti kegiatan ini dengan baik maka akan terjadi proses perubahan yang akan mereka alami terutama dalam proses mengembangkan konsep diri yang positif.

Dapat dijelaskan dari teori proses pembentukan konsep diri menurut Centi (1993:16-23) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri antara lain orang tua, saudara sekandung, sekolah, teman sebaya, masyarakat, dan pengalaman sedangkan Calhoun (1995:74) mengatakan bahwa konsep diri dihasilkan dari interaksi dua faktor yaitu diri individu itu sendiri dan lingkungan. Konsep diri yang dimiliki individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari lingkungan individu, karena konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari beribu-ribu pengalaman yang berbeda-beda dan sedikit demi sedikit menjadi satu. Setiap orang dilahirkan tanpa konsep diri. Menurut Sullivan (2005:101) konsep diri merupakan produk sosial, menjelaskan bahwa individu mengenal dirinya dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Dalam hal ini penilaian orang lain terhadap individu tersebut akan membentuk konsep dirinya sesuai dengan penilaian itu. Misalnya jika individu itu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, dia akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolaknya, individu akan cenderung tidak menyenangi dirinya. Melalui

pengalaman interaksi dengan orang lain dan cara orang lain memperlakukan individu tersebut akan menangkan pantulan tentang dirinya dan akhirnya membentuk gagasan dalam dirinya seperti apakah dirinya sebagai pribadi. Pendek kata konsep diri individu itu dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Suasana atau keadaan lingkungan seperti ini ada dalam bimbingan kelompok, seperti yang telah diuraikan sebelumnya di atas sehingga penelitian ini dapat berhasil, bahwa bimbingan kelompok efektif dalam mengembangkan konsep diri positif

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007.

B. Saran

Berdasarkan simpulan tersebut di atas, maka dapat diajukan beberapa saran kepada guru pembimbing dan siswa SMA Teuku Umar Semarang sebagai berikut : 1. Hendaknya para guru pembimbing dapat lebih banyak memprogramkan layanan bimbingan kelompok untuk membentuk konsep diri positif siswa dan memotivasi siswa agar memanfaatkan layanan bimbingan kelompok sebagai tempat untuk mengembangkan konsep diri positif. 2. Melalui program BK hendaknya guru pembimbing membuat kelompokkelompok seperti kelompok OSIS, ekstra yang ada di sekolah sehingga sudah ada dinamika kelompok yang terjalin untuk mendukung pelaksanaan bimbingan kelompok untuk mengembangkan konsep diri positif. 3. Kepala sekolah hendaknya memberikan jam BK pada kelas XI agar program BK dapat terlaksana, khususnya dalam layanan bimbingan kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta : PT. Rineka Cipta Azwar. S. 2000. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Burns, R.B. 1993. Konsep Diri. Jakarta : Arean. Calhoun, James F. Alih Bahasa Prof. Dr. Ny. R. S. Satmoko. 1995. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang : IKIP Semarang Press. Centi, J.Paul. 1993. Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta : Kanisius. Sukardi, Dewa Ketut. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Hurlock, E. 1990. Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta : Erlangga. .1994. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan) Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga. Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok Dasar Dan Profil. Jakarta : Ghalia Indonesia. 2004. Seri Layanan L.6 L.7 Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok. Padang : Jurusan BK FIP UNP Prayitno dan Erman Amti.1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Depdikbud : Rineka Cipta. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya. Rini, Jacinta F. 2002. Konsep Diri. http://e-psikologi.com/dewasa/160502.htm Santoso, Slamet. 2004. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.

Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta. Wibowo,M.E. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan.Sematang : UPT UNNES Press. Winkel,WS. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : PT. Grasindo.

SKALA KONSEP DIRI

Petunjuk Pengisian

1. Bacalah dan pahami setiap pernyataan dengan teliti. 2. Bandingkan kesesuaian isi pertanyaan dengan kondisi Anda sendiri. 3. Pilihlah jawaban dari pernyataan yang dianggap paling sesuai dengan perasaan Anda, karena itulah jawaban sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang Anda alami atau rasakan saat ini. 4. Jawaban Anda tidak akan mempengaruhi nilai akademis Anda maupun hubungan Anda dengan oorang lain. 5. Jawaban Anda adalah rahasia dan tidak akan diinformasikan kepada pihak lain. 6. Berilah tanda silang (X) pada pilihan jawaban dari pernyataan yang Anda pilih jika : SS S TS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan keadaan yang Anda rasakan : Apabila pernyataan tersebut Sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan : Apabila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan STS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan 7. Berusahalah untuk tidak melihat atau bertanya kepada teman Anda, karena Andalah orang yang paling tahu tentang diri Anda sendiri.

Selamat Mengerjakan !!!

SKALA KONSEP DIRI

Nama Kelas

: :

Jenis Kelamin :
No. PERNYATAAN SS S TS STS

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Saya adalah seorang yang yakin dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Saya berpendapat bahwa saya adalah orang yang tegar dalam menghadapi setiap masalah. Saya adalah orang yang mudah putus asa walaupun dihadapkan masalah sekecil apapun. Menurut saya, saya adalah orang yang selalu meminta bantuan pada orang lain setiap ada masalah. Saya adalah orang yang mampu berbicara di depan kelas dengan sempurna. Saya adalah orang mampu pendapat dengan depan umum. Saya berpendapat bahwa saya orang yang suka menolak untuk maju di depan kelas karena saya merasa tidak bisa. Saya merasa tegang/grogi apabila maju di depan umum. Saya adalah seorang yang mampu melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran dengan baik. Setiap saya diberi tugas oleh guru mata pelajaran selalu memberikan hasil yang memuaskan kepada guru tersebut Saya adalah orang yang selalu takut salah apabila mengerjakan suatu tugas. Saya adalah orang yang selalu bingung jika diberi tugas atau pekerjaan rumah (PR). baik di

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Saya berpendapat bahwa diri saya merasa nyaman berteman dengan siapa saja. Dalam mencari teman saya tidak membeda-bedakan status ekomi dan sosialnya. Saya berpendapat bahwa saya merasa khawatir tidak dapat diterima oleh lingkungan masyarakat. Saya merasa minder apabila bergaul dengan temanteman yang lebih pintar. Saya berpendapat bahwa saya mampu menghadapi segala hambatan dalam setiap pertandingan. Saya adalah orang yang mampu bersikap sportif dalam setiap pertandingan. Saya berpendapat bahwa diri saya tidak sederajat dengan peserta lomba yang lain sehingga saya akan menolak mengikuti lomba.

20.

Saya adalah orang yang mudah menyerah apabila mengikuti perlombaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang saya miliki.

21. 22. 23. 24. 25.

Saya adalah orang yang selalu bersyukur atas kelebihan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya selalu mengikuti kegiatan tambahan atau les yang diadakan di sekolah. Saya berpendapat bahwa saya orang yang lemah dalam pelajaran yang berhubungan dengan angka. Saya adalah orang yang mudah menyerah apabila menghadapi soal yang sulit. Saya adalah orang suka menolong orang yang membutuhkan.

26. 27. 28. 29. 30. 31. 32.

Saya berpendapat bahwa saya disenangi oleh temanteman saya. Saya adalah orang yang sulit berkomunikasi terhadap orang yang lebih tua. Saya adalah orang yang senang melakukan aktivitas sendirian karena saya merasa orang lain merepotkan. Saya berpendapat bahwa saya mampu meraih cita-cita yang saya inginkan. Saya adalah orang yang mampu mengembangkan bakat yang saya miliki. Menurut saya, saya tidak mempunyai banyak hal yang saya banggakan. Menurut saya adalah orang tidak punya kelebihan apaapa sehingga kadang-kadang saya merasa sebagai orang yang tidak berguna.

33.

Saya adalah orang yang selalu berprinsip bahwa Tuhan akan memberikan hikmah dibalik semua masalah yang saya alami.

34.

Saya masih bisa tersenyum walaupun saya sedang merasakan kecewa yang teramat sangat akibat kegagalan yang saya alami.

35. 36. 37.

Saya sering mengumpat jika saya gagal mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya adalah orang yang tidak bisa menghargai diri saya sendiri karena kegagalan yang sering saya alami. Menurut saya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

38.

Saya adalah orang yang selalu berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, sehingga saya tidak akan gagal untuk yang kesekian kalinya.

39. 40. 41. 42. 43. 44.

Saya adalah seorang yang mudah putus asa jika gagal. Setiap saya mengalami kegagalan saya menganggap bahwa Tuhan tidak adil kepada saya. Menurut saya, saya tetap menghargai pekerjaan orang lain meskipun kurang sempurna. Siapapun orang yang memberi saran/kritik kepada saya, saya akan menghargai saran tersebut. Saya akan langsung menegur pada saat itu juga, jika saya tidak suka dengan hasil pekerjaan orang lain. Saya adalah orang selalu berbicara sekehendak hati saya ketika ada orang yang sukses, sehingga kadang menyinggung perasaan orang lain. Saya adalah orang yang turut bahagia jika teman saya berhasil dalam meraih sesuatu. Saya akan meniru orang yang mencapai kesuksesan. Saya adalah orang yang tidak bisa menerima jika orang yang saya benci mendapatkan kesuksesan. Saya berpendapat bahwa orang yang berhasil itu karena melakukan kecurangan. Saya adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan kepada saya. Seberat apapun pekerjaan yang diberikan kepada saya, saya akan melakukannya dengan ikhlas. Saya merasa tertekan saat melakukan tugas yang diberikan pada saya. Saya adalah orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.

45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52.

53. 54. 55.

Saya

adalah

seorang

yang

mampu

mengerjakan

pekerjaan dengan baik. Saya tidak akan menyerah mengerjakan sesuatu sebelum mencobanya. Saya adalah seorang yang senang melimpahkan tugas pada orang lain daripada mengerjakannya sendiri, karena saya takut salah. 56. 57. 58. 59. 60. Saya adalah orang yang takut gagal sehingga saya menolak jika diberi kesempatan. Saya adalah orang yang bisa memberikan keputusan yang baik saat menyelesaikan masalah. Saya adalah orang jujur megakui kesalahan apabila saya salah. Saya lebih senang dengan kondisi yang sekarang tanpa adanya perubahan yang lebih baik. Saya adalah orang yang tidak berani mengambil resiko dalam mengembangkan diri.

Terima kasih

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Berdasarkan uji coba instrumen yang telah dilakukan dan dianalisis dengan menggunakan rumus product moment pada taraf signifikasi 5% dan N = 30 dan dikonsultasikan dengan r table 0,361 maka instrumen yang digunakan valid karena r hitung > r tabel. 1. Validitas Dari 60 item pada setiap instrumen terdapat 20 item yang tidak validdan 20 item yang tidak valid, yaitu no 3, 7, 9, 11, 15, 17, 19, 21, 23, 28, 31, 34, 36, 38, 41, 43, 47, 52, 55, 59. Item yang tidak valid lainnya tidak digunakan dalam instrumen penelitian karena setiap indikator sudah terdapat item yang mewakili. Dengan demikian item yang digunakan dalam instrumen penelitian terdapat 40 item. 2. Reliabilitas Uji reabilitas digunakan untuk menilai ketepatan dan keajegan alat yang digunakan dalam mengukur apa yang hendak diukur oleh peneliti. Teknik yang digunakan dalam menguji reliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan rumus alpha. Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian secara keseluruhan dapat diketahui bahwa r hitung = 0,889 > 0,361 maka dapat dikatan instrument pengukuran konsep diri positif siswa tersebut reliabel.

Kisi-kisi Pengembangan Instrumen Penelitian

Indikator No. Variabel 1. Konsep Diri Ciri-ciri konsep diri positif 1. Percaya diri a. Merasa yakin dalam 1,2 menghadapi masalah pribadi b. Merasa yakin dalam berbicara 4,5 di depan umum c. Merasa menghadapi pekerjaan 2. Merasa setara dengan orang lain 3. Menerima apa adanya a. Merasa pantas bergaul dengan 9,10 siapa saja b. Mampu bersaing secara sehat 12 dengan siapa saja a. Mampu kelemahan dirinya akademik. b. Mampu kelemahan dan dan dalam memahami 14 kelebihan bidang yakin tugas dalam 7 atau Deskriptor

No. Item + 3 6 8 -

11 13 15

memahami 16,17 kelebihan

18

dirinya dalam bidang sosial. c. Mampu memahami dirinya 19,20 dalam bidang pribadi. 4. Dapat menyikapi kegagalan a. Mampu mengambil hikmah 22 dari semua peristiwa yang terjadi b. Kegagalan memberikan 24 25,26 23 21

semangat untuk lebih baik lagi 5. Tidak bersikap a. hiperkritis b. kut 6. Optimis c. idak suka mengeluh a. Merasa b. Semangat mengembangkan diri. yakin atas 38,39 untuk 40 kemampuan yang dimiliki merasa senang atas 32,33 35,36 34 37 keberhasilan orang lain enghargai orang lain 27 29,30 28 31

SKALA PSIKOLOGI

Petunjuk Pengisian

1. Bacalah dan pahami setiap pernyataan dengan teliti. 2. Bandingkan kesesuaian isi pertanyaan dengan kondisi Anda sendiri. 3. Pilihlah jawaban dari pernyataan yang dianggap paling sesuai dengan perasaan Anda, karena itulah jawaban sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang Anda alami atau rasakan saat ini. 4. Jawaban Anda tidak akan mempengaruhi nilai akademis Anda maupun hubungan Anda dengan oorang lain. 5. Jawaban Anda adalah rahasia dan tidak akan diinformasikan kepada pihak lain. 6. Berilah tanda silang (X) pada pilihan jawaban dari pernyataan yang Anda pilih jika : SS S TS : Apabila pernyataan tersebut sangat sesuai dengan keadaan yang Anda rasakan : Apabila pernyataan tersebut sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan : Apabila pernyataan tersebut tidak sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan STS : Apabila pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan keadaan yanga Anda rasakan 7. Berusahalah untuk tidak melihat atau bertanya kepada teman Anda, karena Andalah orang yang paling tahu tentang diri Anda sendiri.

Selamat Mengerjakan !!!

SKALA KONSEP DIRI

Nama Kelas

: :

Jenis Kelamin :
No. PERNYATAAN SS S TS STS

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Saya adalah seorang yang yakin dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Saya berpendapat bahwa saya adalah orang yang tegar dalam menghadapi setiap masalah. Saya adalah orang yang mudah putus asa walaupun dihadapkan masalah sekecil apapun. Saya adalah orang yang mampu berbicara di depan kelas dengan sempurna. Saya adalah orang mampu pendapat dengan depan umum. Saya merasa tegang/grogi apabila maju di depan umum. Setiap saya diberi tugas oleh guru mata pelajaran selalu memberikan hasil yang memuaskan kepada guru tersebut Saya adalah orang yang selalu bingung jika diberi tugas atau pekerjaan rumah (PR). Saya berpendapat bahwa diri saya merasa nyaman berteman dengan siapa saja. Dalam mencari teman saya tidak membeda-bedakan status ekomi dan sosialnya. Saya merasa minder apabila bergaul dengan temanteman yang lebih pintar. Saya adalah orang yang mampu bersikap sportif dalam setiap pertandingan. baik di

13.

Saya adalah orang yang mudah menyerah apabila mengikuti perlombaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang saya miliki.

14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Saya selalu mengikuti kegiatan tambahan atau les yang diadakan di sekolah. Saya adalah orang yang mudah menyerah apabila menghadapi soal yang sulit. Saya adalah orang suka menolong orang yang membutuhkan. Saya berpendapat bahwa saya disenangi oleh temanteman saya. Saya adalah orang yang sulit berkomunikasi terhadap orang yang lebih tua. Saya berpendapat bahwa saya mampu meraih cita-cita yang saya inginkan. Saya adalah orang yang mampu mengembangkan bakat yang saya miliki. Menurut saya adalah orang tidak punya kelebihan apaapa sehingga kadang-kadang saya merasa sebagai orang yang tidak berguna.

22.

Saya adalah orang yang selalu berprinsip bahwa Tuhan akan memberikan hikmah dibalik semua masalah yang saya alami.

23. 24. 25.

Menurut saya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Saya sering mengumpat jika saya gagal mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya adalah seorang yang mudah putus asa jika gagal.

26. 27. 28.

Setiap saya mengalami kegagalan saya menganggap bahwa Tuhan tidak adil kepada saya. Siapapun orang yang memberi saran/kritik kepada saya, saya akan menghargai saran tersebut. Saya adalah orang selalu berbicara sekehendak hati saya ketika ada orang yang sukses, sehingga kadang menyinggung perasaan orang lain. Saya adalah orang yang turut bahagia jika teman saya berhasil dalam meraih sesuatu. Saya akan meniru orang yang mencapai kesuksesan. Saya berpendapat bahwa orang yang berhasil itu karena melakukan kecurangan. Saya adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan kepada saya. Seberat apapun pekerjaan yang diberikan kepada saya, saya akan melakukannya dengan ikhlas. Saya merasa tertekan saat melakukan tugas yang diberikan pada saya. Saya adalah seorang pekerjaan dengan baik. yang mampu mengerjakan

29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

Saya tidak akan menyerah mengerjakan sesuatu sebelum mencobanya. Saya adalah orang yang takut gagal sehingga saya menolak jika diberi kesempatan. Saya adalah orang yang bisa memberikan keputusan yang baik saat menyelesaikan masalah. Saya adalah orang jujur megakui kesalahan apabila saya salah. Saya adalah orang yang tidak berani mengambil resiko dalam mengembangkan diri.
Terima kasih

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 3. perlunya konsep diri 4. Kelompok B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan : Pribadi dan sosial : Pemahaman dan Pengembangan : Jenis layanan Bimbingan Judul : Pengertian dan

1. Agar para anggota kelompok mengetahui arti penting dari konsep diri 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari perlunya konsep diri E. Hasil yang ingin dicapai : Siswa dapat mengetahui pentingnya konsep diri positif dan menyadari dirinya apakah dirinya mempunyai konsep diri yang positif atau negatif, setelah itu siswa dapat merubah konsep diri yang negatif tersebut. F. Sasaran Layanan G. Uraian Kegiatan 1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok : Kelompok eksperi.men siswa SMA Teuku Umar Semarang :

e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Praktikan b. Praktikan mengemukakan memberikan topik permasalahan yang selanjutnya dengan didiskusikan dengan anggota kelompok penguatan (reinforcement) mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan : (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto

N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

:

1.

Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai konsep diri yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok bahwa dirinya sadar mempunyai konsep diri yang negatif dan perlunya konsep diri bagi dirinya setelah mengikuti bimbingan kelompok, action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat mengaplikasikan konsep diri positif dalam berperilaku sehari-hari.

2. Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :-

Tindak lanjut bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual.

Semarang,

Maret 2007

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

PENGERTIAN DAN PERLUNYA KONSEP DIRI

Konsep diri bukanlah faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain.
A. Pengertian konsep diri

”Konsep diri merupakan pandangan menyeluruh individu tentang totalitas dari diri sendiri mengenai karakteristik kepribadian, nilai-nilai kehidupan, prinsip kehidupan, moralitas, kelemahan dan segala yang terbentuk dari segala pengalaman dan interaksinya dengan orang lain (Burns, 1993:50)”. Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan :”Konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan”.
b. Jenis-jenis konsep diri

Individu ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah : b. c. d. e. f. g. Percaya diri Merasa setara dengan orang lain Menerima apa adanya Dapat menyikapi kegagalan Tidak bersikap hiperkritis optimis Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan

keegoisan. Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri yang positif. Sedangkan tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah a. terhadap kritik. b. responsif sekali terhadap pujian. c. cenderung bersikap hiperkritis. d. cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. e. psimis terhadap kompetisi.
c. Perlunya konsep diri

Ia Ia Ia Ia

peka

Ia bersikap

Konsep diri penting artinya karena individu dapat memandang diri dan dunianya, mempengaruhi tidak hanya individu berperilaku, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya. Setiap individu pasti memiliki sebuah konsep diri, tetapi mereka tidak tahu apakah konsep diri yang dimiliki itu negatif atau positif. Siswa yang memiliki konsep diri positif ia akan memiliki dorongan mandiri lebih baik, ia dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri sehingga dapat berperilaku efektif dalam berbagai situasi. Konsep diri positif bukanlah suatu kebanggaan yang besar tentang diri tetapi berupa penerimaan diri. Siswa yang memiliki konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah faktor yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Dalam hal ini siswa dapat menerima dirinya secara apa adanya dan akan mampu mengintrospeksi diri atau lebih mengenal dirinya, serta kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Namun siswa yang memiliki konsep diri negatif, ia tidak memiliki perasaan kestabilan

dan keutuhan diri, juga tidak mengenal diri baik dari segi kelebihan maupun kekurangannya atau sesuatu yang ia hargai dalam hidupnya. Referensi : Burns, R.B. 1993. Konsep Diri. Jakarta : Arean. Centi, J.Paul. 1993. Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta : Kanisius. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan : Isi dan asal-usul pembentukan konsep diri : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pemahaman dan Pengembangan :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui isi dan asal-usul dari konsep diri 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari isi dan asal-usul dari konsep diri E. Hasil yang ingin dicapai : Siswa dapat mengetahui dan memahami isi dan asal-usul pembentukan dari konsep diri serta menyadari dirinya faktor-faktor yang membentuk konsep dirinya apakah baik atau tidak. F. Sasaran Layanan G. Uraian Kegiatan : Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang :

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Praktikan b. Praktikan mengemukakan memberikan topik permasalahan yang selanjutnya dengan didiskusikan dengan anggota kelompok penguatan (reinforcement) mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok

H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan

: (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai isi dan asal-usul pembentukan konsep diri yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok setelah mengikuti bimbingan kelompok karena dapat menyadari faktor-faktor yang membentuk konsep dirinya selama ini negatif atau tidak dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat membentuk konsep diri yang positif setelah megetahui faktor-faktor yang membentuk konsep diri. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual.

Semarang,

Maret 2007

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

ISI DAN ASAL-USUL KONSEP DIRI A. Isi konsep diri

Sewaktu lingkungan anak yang sedang tumbuh meluas, isi dari konsep dirinya juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan, temanteman, nilai-nilai dan khususnya orang-orang yang disayangi melalui proses identifikasi. Adapun isi konsep diri adalah sebagai berikut : 1. Karekteristik fisisk 2. Penampilan 3. Kesehatan dan kondisi fisik 4. Rumah dan hubungan keluarga 5. Hobi dan permainan 6. Sekolah dan pekerjaan sekolah
B. Asal-usul konsep diri

7. Kecerdasan 8. Bakat dan minat 9. Ciri kepribadian 10. Sikap dan hubungan sosial 11. Religius

Menurut paham religi khususnya islam manusia terlahir dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum tertulis. Dengan demikian konsep diri itu muncul berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kata lain konsep diri merupakan produk sosial. Anak yang putih tersebut ternoda setelah ia beraksi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah anak itu terlahir dapat memberikan respon terhadap dunia sekitarnya,

maka sejak itu pula kesadaran dirinya muncul menjadi dasar dalam pembentukan konsep dirinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri : 1. Orang tua 2. Saudara sekandung 3. Sekolah 4. Teman sebaya 5. Masyarakat 6. Pengalaman Referensi : Burns, R.B. 1993. Konsep Diri. Jakarta : Arean. Centi, J.Paul. 1993. Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta : Kanisius.

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan 1. Agar para : Cara mengembangkan sikap positif : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pemahaman dan Pengembangan : anggota kelompok mengetahui dan memahami cara

mengembangkan sikap positif 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara mengembangkan sikap positif E. Hasil yang ingin dicapai : 1. Siswa dapat mengetahui, memahami, dan menyadari apakah dirinya mempunyai kemampuan untuk mengembangkan sikap positif atau tidak. 2. Siswa dapat mengembangkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari F. Sasaran Layanan : Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang

G. Uraian Kegiatan

:

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir

d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai cara mengembangkan sikap positif yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan yang dialami oleh anggota kelompok tertuangkan dengan cara mengembangkan sikap yang positif setelah mengikuti bimbingan kelompok dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat mengembangkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :Semarang, Maret 2007 bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

CARA MENGEMBANGKAN SIKAP POSITIF

A. Pengertian sikap positif

Sikap (attitude) adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak atau bertingkah laku (Rudi Mulyatiningsih 2004:20). Sedangkan sikap positif adalah kecenderungan merespon objek secara positif sehingga menunjukkan tingkah laku memperhatikan, menerima, menyukai, dan memperlakukan objek dengan baik. Seseorang yang dikatakan mempunyai sikap positif apabila menunjukkan atau memperlihatkan sikap menrima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma dimana ia berada. Sebaliknya orang yang bersikap negatif apabila ia menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak melaksanakan norma – norma di mana ia berada. Orang yang mempunyai sikap positif akan diterima dengan baik oleh lingkungannya sebaliknya orang yang bersikap negatif akan ditolak oleh lingkungan.
B. Langkah-langkah menumbuhkan sikap positif

1. Menentukan dan menganalisis objek yang akan dikenai dengan sikap positi. Objek yang dapat dikenai sikap positif antara lain tata tertib sekolah, pelajaran, guru, teman sekolah, sahabat, orang tua peraturan lalul lintas, tetangga dan norma.

2. Menentukan tujuan. Pastiak bahwa dengan menyenangi objek yang telah ditentukan tadi anda mendapatkan manfaat bagi diri anda. Sebalinya anda harus bersikap negatif terhadap objek yang merugikan dan tidak mendatangkan manfaat bagi diri anda dan orang lain seperti narkotik, pil ekstasi, dan minuman keras. 3. Selalu mentatai norma yang berlaku. Norma kehidupan mengatur tentang baik dan buruk tingkah laku seseorang. Anda harus selalu bersikap positif terhadap norma-norma kehidupan dengan cara mentaati aturan yang berlaku. 4. Tidak mudah terpengaruh. Artinya anda harus mempunyai kemampuan menyeleksi dan menganalisis pengaruh yang datang dari luar (media massa, teman dan lain-lain). 5. Selalu mengulangi. Bila anda selalu mengulangi sikap positif yang telah anda miliki, anda akan selalu bersikap sama terhadap objek yang sama.
C. Manfaat bersikap positif

1. Meningkatkan disiplin diri 2. Memperoleh hasil yang memuaskan 3. Terhindar dari sanksi Dalam upaya pengembangan sikap positif, langkah-langkah pokok yang perlu dilakukan seseorang adalah menelaah dan memahami sikap dirinya selama ini, baik sikap terhadap keluarga, sikap terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah ataupun sikap terhadap masyarakat.

Referensi : Rudi Mulyatiningsih, 2004.Bimbingan Pribadi, Sosial, Belajar dan Karie. Jakarta : Gramedia

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan : Cara menghindari prasangka dan akibatnya : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pemahaman dan Pengembangan :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui dan memahami cara menghindari prasangka dan akibatnya 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara menghindari prasangka dan akibatnya E. Hasil yang ingin dicapai : 1. Siswa dapat mengetahui, memahami, dan menyadari apakah dirinya mempunyai kemampuan untuk menghindari prasangka dan akibatnya atau tidak. 2. Siswa dapat mempunyai prasangka positif terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari

F. Sasaran Layanan G. Uraian Kegiatan

: Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang :

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan

c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai cara menghindari prasangka dan akibatnya yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan yang dialami oleh anggota kelompok dalam menghindari prasangka dan akibatnya setelah mengikuti bimbingan kelompok dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat berprasangka positif terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :Semarang, Maret 2007 bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

CARA MENGHINDARI PRASANGKA DAN AKIBATNYA

A. Pengertian prasangka

Dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat, barangkali kita pernah mempunyai anggapan yang kurang baik terhadap seseorang. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik yang berupa perasaan tidak simpatik terhadap sesuatu (orang, pekerjaan) sebelum mengetahui sendiri.
B. Terbentuknya prasangka

Faktor-faktor yang menyebabkan orang berprasangka terhadap orang lain : 1. Orang berprasangka dalam rangka mencari “kambing hitam” 2. Orang berprasangka karena dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya 3. Orang berprasangka karena mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan 4. Prasangka timbul karena adanya perbedaan yang menyebabkan perasaan superior 5. Usaha untuk menghindari dan menghilangkan prasangka 6. Usaha preventif (pencegahan) yaitu usaha agar seseorang jangan sampai terkena prasangka, dengan cara menciptakan situasi atau suasana yang tentram damai dan jauh dari permusuhan, menanamkan sikap selalu menerima orang lain dan mau bergaul dengan orang lain meskipun ada perbedaan.

7. Usaha kuratif yaitu usaha penyembuhan apabila anda sudah terkena prasangka yaitu dengan cara berusaha menyadarkan diri bahwa berprasangka itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain serta dapat menempuh dengan cara memperbanyak informasi melalui surat kabar, televisu, buku, dll. 8. Akibat prasangka 9. Tidak mempunyai sahabat 10. Menemukan kegagalan dalam belajar 11. Gagal dalam mencapai cita-cita 12. Menyebabkan permusuhan Referensi : Rudi Mulyatiningsih, 2004.Bimbingan Pribadi, Sosial, Belajar dan Karie. Jakarta : Gramedia

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan : Cara mengendalikan dan mengarahkan emosi : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pemahaman dan Pengembangan :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui dan memahami cara mengendalikan dan mengarahkan emosi 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara mengendalikan dan mengarahkan emosi E. Hasil yang ingin dicapai : 1. Siswa dapat mengetahui, memahami, dan menyadari apakah dirinya mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dan mengarahkan emosi atau tidak 2. Siswa dapat menerapkan cara mengendalikan dan mengarahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari

F. Sasaran Layanan G. Uraian Kegiatan :

: Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan

c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan J. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai cara mengendalikan dan mengarahkan emosi yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok bahwa dirinya menyadari emosi mereka belum labil dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat menerapkan cara mengendalikan dan mengarahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) : Diskusi dan tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing : I. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang

L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Semarang,

Maret 2007

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

CARA MENGENDALIKAN DAN MENGARAHKAN EMOSI

A. Pengertian emosi

Kita sering keliru dalam menggunakan istilah emosi, istilah emosi sering digunakan hanya sebatas pada luapan rasa marah saja. Padahal emosi meliputi semua perasaan seseorang yang terkena pengaruh. Perasaan yang terpengaruh karena adanya rangsang yang ditangkap oleh indera disebut emosi (Rudi Mulyatiningsih, 2004: 11).
B. Macam-macam emosi dan cara mengendalikannya

1. Emosi marah 2. Emosi sedih, susah, duka atau pilu 3. Emosi iri 4. Emosi takut 5. Emosi cinta
C. Cara mengendalikan emosi

Jika anda mengalami emosi maka anda harus dapat mengendalikannya dan dapat mengarahkannya secara positif. Apabila anda tidak dapat mengendalikan emosi dan tidak dapat mengarahkannya secara positif maka akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Ada beberapa cara dalam mengendalikan emosi antara lain :

1. Setiap tindakan anda harus didasarkan pada akal sehat 2. Berpikir tentang akibat negatif yang mungkin terjadi 3. Berusahalah untuk memaafkan kesalahan orang lain Referensi : Rudi Mulyatiningsih, 2004.Bimbingan Pribadi, Sosial, Belajar dan Karie. Jakarta : Gramedia

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan kepercayaan diri 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara meningkatkan kepercayaan diri E. Hasil yang ingin dicapai : Siswa dapat mengetahui, memahami, dan menyadari apakah dirinya mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kepercayaan diri atau tidak, siswa dapat menerapkan cara meningkatkan kepercayaan diri dalam kehidupan sehari-hari F. Sasaran Layanan : Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang : Cara meningkatkan kepercayaan diri : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pengembangan :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui dan memahami cara meningkatkan

G. Uraian Kegiatan

:

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir

d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai cara meningkatkan percaya diri yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok bahwa diri mampu untuk meningkatkan kepercayaan diri setelah mengikuti bimbingan kelompok dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat meningkatkan percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Semarang,

Maret 2007

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

CARA MENINGKATKAN PERCAYA DIRI

A. Pengertian Percaya Diri.

Percaya diri adalah sikap positif seseorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baiak terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya.(Jacinta F. Rini, 2000:www.e-psikologi.com)
B. Karakteristik individu yang percaya diri.

Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang profesional diantaranya : 1. Percaya akan kemampuan diri sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan ataupun rasa hormat dari orang lain. 2. Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterimanya oleh orang lain atau kelompok. 3. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, berani menjadi diri sendiri. 4. Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil). 5. Memiliki internal locus of kontrol (memandang keberhasilan atau kegagalan tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak menyerah pada keadaan serta tidak tergantung pada orang lain). nasib atau

6. Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi terhadap dirinya.
C. Karakteristik individu yang kurang percaya diri.

1. Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok. 2. Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan. 3. Sulit menerima realita diri dan memandang rendah kemampuan diuri sendiri, namun dilain pihak memasang harapan yang tidak realistis terhadap diri sendiri. 4. Pesimis, mudah menilai sesuatu dari sisi negatif. 5. Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil. 6. Cenderung untuk menolak pujian yang ditujukan secara tulus. 7. Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir karena menilai dirinya tidak mampu. 8. Mempunyai eksternal locus of control (mudah menyerah pada nasib sangat tergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan dari orang lain).
D. Upaya mengatasi rasa kurang percaya diri.

Dalam Jacinta F. Rini (2000:www.e-psikologi.com) untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu baru memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa individu yang bersangkutan dapat mengurangi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran berikut yang menjadi pertimbangan untuk meningkatkan rasa kurang percaya diri: 1. Evaluasi secara obyektif. 2. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri. 3. Positive thinking.

4. Gunakan self affermation (berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri). 5. Berani mengambil resiko. 6. Berani mensyukuri dan menikmati rahmat tuhan. 7. Menetapkan tujuan yang realistik. Referensi : Rini, Jacinta F. 2000. Konsep Diri. http://e-psikologi.com/dewasa/160502.htm SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan : Mensikapi permasalahan diri dan orang lain : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pengembangan :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui dan memahami cara mensikapi permasalahan diri dan orang lain 2. Dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara mensikapi permasalahn diri dan orang lain E. Hasil yang ingin dicapai : 1. Siswa dapat mengetahui, memahami, dan menyadari apakah dirinya mempunyai kemampuan untuk mensikapi permasalahan diri dan orang lain atau tidak, 2. Siswa dapat mensikapi permasalahan diri dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari secara positif F. Sasaran Layanan : Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang

G. Uraian Kegiatan

:

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) 1. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas 2. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan 3. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir

4. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai cara mensikapi permasalahan diri dan orang lain yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok bahwa dirinya mampu untuk mensikapi permasalahan diri dan orang lain dengan mengikuti bimbingan kelompok dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat mensikapi permasalahan diri dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari secara positif. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :Semarang, Maret 2007 bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

MENSIKAPI PERMASALAHAN DIRI DAN ORANG LAIN

A. Mensikapi permasalahan diri

Dalam kedudukan kita sebagai sahabat, kekasih, orang tuaperan penolong lain sejenisnya kita sering menerima seseorang yang datang kepada kita untuk mengutarakan masalah pribadi yang merisaukan hatinya serta mengharapkan pertolongan dari kita. Dalam menghadapi seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan kadang kita merasa sanggup untuk membantunya, tetapi kita sendiri dihadapkan pada suatu masalah kita menjadi binggung. Bagaimana sebaiknya cara kita menanggapi permasalahan yang sedang kita hadapi? Satu hal amat penting yang harus selalu kita inggat bahwa tidak akan pernah dapat memecahkan masalah (bagi) orang lain kecuali diri kita sendiri mau berusaha. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut : 1. Orang yang bersangkutan sendirilah yang harus membuat pilihan atau keputusan 2. Orang itu sendiri harus berusaha memahami situasi yang sedang dihadapinya 3. Memahami dirinya sendiri
B. Mensikapi permasalahan orang lain

Satu hal amat penting yang harus selalu kita ingat bahwa tidak akan pernah dapat memecahkan masalah (bagi) orang lain. Adapun caranya sebagai berikut : 1. Menasehati dan memberikan penilaian Nasehat memang biasanya dapat menolong sebagai salah satu sarana untuk memecahkan masalahnya bila diberikan pada saat yang tepat dan relevan. 2. Mengartikan atau memaknai Kita berusaha memaknai masalah orang lain tersebut, apa maksud dari persoalan itu dan pendengar berusaha menjelaskannya. 3. Memberikan dukungan Kita berusaha memberikan dukungan untuk menunjukkan rasa simpati dan memberikan dukungan untuk menolong meringankan beban yang sedang di hadapi.

Referensi : Supratiknya.1994.Komunikasi Antar Pribadi Tinjauan Psikologis.Yogyakarta : kanisius

SMA Teuku Umar Semarang
SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN

A. Judul/spesifikasi Layanan : 1. Judul 2. Jenis layanan B. Bidang Bimbingan C. Fungsi Layanan D. Tujuan Layanan konsep diri negatif 2. Dapat mendiskusikan dan memecahkan masalah yang muncul dari contoh kasus konsep diri negatif E. Hasil yang ingin dicapai : Siswa dapat mengetahui, memahami, dan mendiskusikan dari contoh konsep diri negatif, siswa dapat menerapkan cara yang benar dari contoh kasus tersebut dalam kehidupan sehari-hari. F. Sasaran Layanan : Kelompok eksperimen siswa SMA Teuku Umar Semarang : Contoh kasus konsep diri negatif : Bimbingan Kelompok : Pribadi dan sosial : Pencegahan dan Pemahaman :

1. Agar para anggota kelompok mengetahui dan memahami dari contoh kasus

G. Uraian Kegiatan

:

1. Tahap Awal (Pembentukan) a. Praktikan membuka pertemuan dan mengucapkan salam pembuka b. Praktikan menanyakan kabar para anggota kelompok c. Mengadakan rapport d. Menjelaskan pengertian, tujuan serta asas-asas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok f. Mengadakan perkenalan baik dari pemimpin kelompok maupun anggota kelompok g. Mengajak anggota kelompok untuk permainan untuk menghangatkan suasana 2. Tahap Transisi (Peralihan) Praktikan menjelas kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan mengamati kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Setelah itu menanyakan kepada anggota kelompok mengenai kesiapan mereka untuk melangkah ke tahap selanjutnya. 3. Tahap kegiatan a. Tahap Praktikan mengemukakan topik permasalahan yang selanjutnya didiskusikan dengan anggota kelompok b. Praktikan memberikan penguatan (reinforcement) dengan mengikutsertakan anggota dalam mengikuti diskusi dalam kelompok. c. Praktikan mengawasi jalannya diskusi 4. Tahap Akhir (Pengakhiran) a. Praktikan menyimpulkan topik permasalahan yang telah dibahas b. Praktikan meminta saran dan tanggapan kepada siswa tentang kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilakukan c. Praktikan mengemukakan bahwa kegiatan akan segera berakhir

d. Praktikan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada para anggota kelompok H. Materi Layanan I. Metode K. Waktu dan Tanggal M. Konsultan 1. Rencana penilaian Penilaian pengamatan proses dilakukan saat berlangsungnya pemberian layanan dengan mengamati keaktifan dan kesungguhan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok. Penilaian produk dilakukan pada saat kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan menanyakan kepada anggota kelompok tentang understanding atau pemahaman-pemahaman baru mengenai contoh kasus konsep diri yang negatif yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, confortible atau kenyamanan seperti perasaan-perasaan kelegaan yang dialami oleh anggota kelompok bahwa diri akan berusaha untuk menghindari dari contoh kasus tersebut setelah mengikuti bimbingan kelompok dan action atau komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat menerapkan cara yang benar dari contoh kasus tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tindak lanjut Yaitu dengan membantu siswa yang O. Catatan Khusus :bermasalah dengan mengadakan konseling kelompok atau konseling individual. : (Terlampir) : Diskusi dan Tanya jawab : 45 Menit/ Maret 2007 : Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing :

J. Tempat Penyelenggaraan : SMA Teuku Umar Semarang L. Penyelenggara Layanan : Suprapto N. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut

Semarang,

Maret 2007

Penyelenggara Layanan

Suprapto NIM. 1301402048

MATERI LAYANAN

1. Cerita kasus pacaran antara Dewi dan Donny, Dewi 16 Tahun sedang Donny 17 tahun. Dewi duduk di kelas I SMA, anak yang cantik, gaul, keren tapi sayang dia kurang percaya diri. Sedang Donny mempunyai wajah yang biasa-biasa saja alias gak cakep, tapi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Suatu malam yang kebetulam malam minggu Donny seperti biasa main ke rumah Dewi yang kebetulan Ayah, Ibu serta kakaknya sedang keluar tidak ada di rumah. Jadi Dewi sendirian . Awalnya percakapan seperti biasa namun lama kalamaan tatap mata Donny ada yang lain. Donny mualai bicara dan bertindak macam-macam, namun Dewi tidak sanggup menolak, kata hati ingin menolak namun apa daya mulut tak mampu berkata. Akhirnya Donny memaksa Dewi untuk melakukan hal itu, sebagai buk bahwa Dewi cinta pada Donny, jika tidak maka Dewi tidak cinta dan Donny akan memutuskan Dewi. Dewi binggung, disisi lain tidak ingin melakukan takut hamil, tapi disisi lain Dewi takut kehilangan Donny yang sangat dicintainya. Semua berjalan dengan cepat, Dewi takut dan menyesal telah melakukan hal tersebut, gelisah karena telah melanggar norma dan agama, sedang Donny tenangtenang saja.

Coba kita gali bersama apasih yang sebenarnya menjadi latar belakang peristiwa itu. 2. Faktor yang mempengaruhi gaya berpacaran dan perilaku di atas : a. Faktor internal atau dalam diri : 1). Bagaimana seseorang dapat menilai dirinya sendiri dan menghargai dirinya sendiri. Mulai dari kelemahan atau kekurangan, kelebihan, dan kekuatan dari dirinya yang diberikan oleh Tuhan, sebagai mahkluk yang paling sempurna dan paling mulia. Penghargaan atas dirinya sendiri sangat berpengaruh terhadap rasa percaya dirinya. 2). Ketrampilan berkomunikasi, seseorang berkomunikasi dengan orang lain, mengekspresikan perasaan, keinginan dan pendapat, tentang berbagai hal, penolakan Dewi terhadap Donny, ketegasan Dewi dalam mengambil sikap sangat diperlukan agar diharagai orang lain. 3). Ketrampilan pengambilan keputusan, menyangkut bagaimana seseorang dapat memilih pilihannya sesuai dengan dirinya. Dan tentunya diiringi dengan prinsip yang matang dan mantap. Jadi tidak asal dalam memutuskan sesuatu hal. Seperti Dewi dia tidak memiliki kepercayaan diri dan harga dirinya rendah, tidak mempunyai prinsip, sehingga tidak bisa mengambil keputusan sesuai dengan dirinya. Dia takut kehilangan Donny yang sangat dicintainya, sehingga dia diam dan tidak menolak walaupun dalam hatinya menolak, tapi Dewi diam saja tidak bicara. 4). Harus mempunyai prinsip dan harga diri yang tinggi sehingga siap kalau mau diputus oleh Donny, sebab pria tidak hanya satu. Kecenderungan orang yang tidak pandai berkomunikasi dan tidak punya prinsip apalagi tentang seksualitas, maka pengetahuan dan wawasan minim padahal itu sangat penting. b. Faktor eksternal atau dari luar diri :

1). Orang tua, memberi nasehat langsung atau tidak langsung tentang hal yang tidak pantas dilakukan. Misalnya ketika melihat TV ada adegan ciuman maka ibu bilang matikan TVnya itu dengan maksud adegan itu tidak pantas dilakukan oleh kamu dibawah umur, dan belum menikah. 2). Agama, mengajarkan apa yang boleh dan belum boleh dilakukan misalkan perbuatan seksual sebelum menikah. 3). Teman, mereka sangat berpengaruh dengan perkembangan individu itu, apalagi kalau sedang berbicara tentang seksualitas ditambah dengan promosi maka ketertarikan untuk melakukan akan muncul dan bisa jadi nantinya akan praktik sendiri. 3. Tips pacaran yang aman. a. Harus mempunyai tujuan yang jelas. b. Punya prinsip sendiri, tidak ikut-ikutan karena pacaran itu penjajakan saja. c. Taat pada nilai-nilai agama dan norma yang ada dalam masyarakat. d. Adanya kesempatan bersama untuk saling terbuka dan punya hak suara dan hak bicara yang sama. e. Saling menghargai prinsip-prinsip masing pihak. f. Semua ini harus dilakukan sedini mungkin, jika tidak sepakat, maka jalan masing-masing menginstropeksi diri. hanya taraf

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Topik Permasalahan B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan

: Contoh kasus konsep diri positif : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pencegahan dan Pemahaman : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang

C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu 2. Hari/Tanggal 3. Tempat

: : 45 Menit : Selasa, 6 Maret 2007 : Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Pada tahap pembentukan pemimpin kelompok mengadakan rapport, menanyakan kabar para anggota kelompok kemudian menyampaikan maksud dan tujuan serta asas-asas dalam bimbingan kelompok. Masing-masing anggota kelompok dan praktikan mengadakan perkenalan agar lebih mengenal masing-masing anggota kelompok. Setelah itu praktikan mengadakan kegiatan pengakraban dengan mengadakan permainan. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas, kemudian para anggota kelompok mendiskusikannya secara bersama-sama dimana diharapkan setiap anggota mempunyai gagasan dan pendapat demi terpecahkannya permasalahan dalam kasus tersebut. Praktikan membacakan suatu kasus mengenai pacaran yang banyak terjadi sekarang ini. Para anggota antusias untuk mendengarkan cerita kasus tersebut, setelah praktikan selesai menceritakan kasus praktikan meminta para angota untuk menggali bersama apa yang menjadi latar belakang terjadinya peristiwa tersebut baik dilihat dari faktor internal maupun eksternal. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya mengenai cerita yang disampaikan oleh pemimpin kelompok dilihat dari faktor internal maupun eksternal. Mereka setuju dengan adanya pacaran dengan beberapa alasan. Setelah itu praktikan meminta kepada para anggota kelompok untuk memberikan tips yang baik dalam berpacaran. Anggota kelompok memberikan pendapat-pendapatnya dalam berpacaran yang baik. Setelah itu

praktikan menganalisis berdasarkan berbagai pendapat para anggota yang dipadukan dengan materi yang ada untuk disimpulkan. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena dapat lebih mengakrabkan antar teman, dapat belajar mengungkapkan pendapat, dapat menambah wawasan tentang apa itu bimbingan kelompok, dan siswa dapat menerapkan pacaran yang baik jangan sampai seperti kasus tersebut. Sarannya agar Trinanda dan Lila mau aktif mengeluarkan pendapatnya tidak hanya bilang sama dan tersenyum saja. Selanjutnya pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung mulai dari tahap awal atau pembentukan sampai tahap akhir dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap awal secara sukarela tanpa ditunjuk para anggota langsung memperkenallan diri, dari nama, kelas alamat, hoby. Setelah itu diadakan suatu permainan untuk menghangatkan suasana, para anggota sangat antusias sekali dalam mengikuti permainan yang diberikan oleh pemimpin kelompok. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok membacakan contoh kasus yang ada anggota kelompok saling memberikan pendapatnya serta memberikan beberapa tips dalam berpacaran: • Dewi : memang kasus tersebut banyak terjadi dikalangan remaja makanya kita harus mengantisipasi diri kita agar jangan sampai seperti pada kasus tersebut terutama bagi cewek jangan mudah terbujuk oleh : :

rayuan gombal dari para lelaki. Dari kasus tersebut yang melatar belakangi peristiwa itu dari siceweknya meskipun sebenarnya dia cantik ia tidak percaya diri, ia mudah dirayu oleh pacarnya karena dari segi agamanya juga kurang, ditambah lagi suasana sepi dalam rumahnya sehingga bisa terjadi hal tersebut. Kita harus yakin bisa menghadapi setiap masalah masalah. • Agil : Ya tidak semuanya cowok itu perayu dan ngegombal, tapi cewek itu juga seneng digombali he he, iya dari siceknya itu tidak percaya diri mudah saja dirayu oleh cowoknya padahal kalau dia cantik pasti banyak cowok yang suka sama dia dan tentunya lebih baik dari dia termasuk aku, ia tidak berani ngomong tidak sama cowoknya, mungkin dia juga terpengaruh oleh teman-temannya yang sudah pernah ML. • Abria : Cewek itu harus hati-hati sama cowoknya, jelek-jelek begini meskipun aku gendut hitam tapi aku orangnya PD tapi aku tidak kepedean lho, ya apa yang dikatakan Dewi sama Agil itu benar selain itu kita itu harus bisa menjaga diri kita sendiri baik bagi cewek maupun cowok karena hal tersebut sangat tidak dibolehkan dalam semua agama, kita harus bisa menjaga nama baik diri kita dan keluarga kita kalau sampai ML terus hamil siapa yang malu coba, kita bisa dikeluarkan dari sekolah maka masa depan kita bisa hancur, pikiran dari cewek pada kasus tersebut sangat sempit hanya karena takut diputus pacarnya saja ia mau menyerahkan keperawanannya. Masak takut kehilangan cowok yang suka ngegombal mending milih aku aja. Kayak aku ini percaya diri, menerima apadanya memahami kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh Allah SWT. • Sugeng : Wah jawaban kalian bagus-bagus jadi aku binggung mau jawab apa, ya hampir sama dengan kalian, jadi ada beberapa faktor

sehingga peristiwa tersebut bisa terjadi dari diri individu si cewek tersebut memang ia nampaknya orang yang tidak percaya diri, terus kalau dia tidak percaya diri dia tidak mempunyai ketrampilan berkomunikasi tidak bisa memberikan apa yang ada dalam hatinya bahwa sebenarnya ia menolak untuk melalukan hal tersebut, dia tidak bisa mengambil keputusan mana yang benar dan mana yang salah, terus dia itu tidak punya prinsip. Jujur saja aku ini belum pernah punya pacar saya malah kalau dengan cewek itu sedikit grogi. Kalau faktor dari luar ya lingkungan seperti teman, itu sangat berpengaruh sekali terhadap perilaku kita jadi ya kita itu harus bisa memilih teman yang baik, dari segi agama itu mengajarkan kalau hal itu boleh dilakukan setelah kita menikah, dan orang tua juga harus bisa memantau anakanaknya. • • Lila : Betul apa yang dikatakan Sugeng saya sama sajalah. Sharah : Kalau menurut saya apa ya, memang kita itu harus bisa menjaga diri kita, kita boleh saja berpacaran tetapi pacaran yang wajar jangan sampai melebihi batas dan melanggar norma. Memang masa remaja itu rawan sekali terhadap hal-hal seperti itu seperti sek bebas, dan narkoba, ya intinya no free sex and no drugs gitu. • Arri : Saya juga ingin memberikan pendapat saya bahwa sebaiknya kasus tersebut jangan sampai terjadi pada diri kita, kita harus bisa menerapkan cara yang benar dalam berpacaran kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu kita, kita bisa menyalurkannya kehal-hal yang positif seperti olah raga misalnya. • • Trinanda : Saya sama seperti yang lain. Chusnul : Saya ini sebenarnya orangnya kurang percaya diri tapi saya akan mencoba memberikan pendapat saya, jadi seperti Sugeng saya itu juga takut terhadap lawan jenis, makanya dengan kegiatan seperti ini

saya seneng, mengenai gaya berpacaran pada remaja itu sekarang memang sudah melampau batas, sekarang saja banyak siswa –siswa SMP yang nonton VCD porno sehingga mereka punya keinginan apa yang belum ketahui, maraknya HP yang canggih juga membuat mereka bisa melihat dan menyimpan film porno di hp mereka, sebagai orang tua harus bisa mengontrol anak-anaknya betul tidak. • Mawar : Betul Chusnul saya setuju, dari pihak sekolah sekarang sudah banyak melakukan rasia HP yang canggih yang didalamnya ada film pornonya ini salah satu tindakan pencegahan yang bagus. • • • Agil : Mengenai Tips berpacaran, ya kita harus punya komitmen dengan pacar kita, artinya punya tujuan yang jelas dalam berpacaran. Sugeng : Kalau saya belum pernah berpacaracan jadi apa ya, ya kalau berpacaran itu harus berpedoman pada nilai-nilai agama dan norma. Dewi : Kita harus punya prinsip dalam berpacaran, kita tidak usah ikut-ikutan seperti teman yang lain karena pacaran itu hanya taraf penjajagan. • • • Sharah : Berarti kita berpacaran harus menghargai prinsip masingmasing pihak. Dewi : Ya iyalah. Abria : Kita harus punya hak suara yang sama dalam berpacaran artinya tidak egois. b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah

mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya tetapi ada dua anggota yaitu Lila dan Trinananda yang tidak percaya diri. Kemudian dari Dewi sudah yakin bisa menghadapi masalah. Indikator kedua yang muncul adalah merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain atau mencela, tidak merasa paling bisa atau sombong. Ari dan Chusnul sudah bisa setara dengan orang lain dengan memberikan pendapatnya, dari Chusnul yang sebelumnya kurang percaya diri ia menjadi percaya diri mampu berbicara dalam kelompok. Indikator yang ketiga adalah menerima apa adanya ini ditunjukkan oleh Abria dengan memahami kelebihan dan kekurangannya. Indikator keempat yang muncul adalah tidak hiperkritis yaitu para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain.Adapun komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa mereka dapat menerapkan cara yang benar dari contoh kasus tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Pada pertemuan pertama pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Ini terlihat dari beberapa anggota seperti Abria, Dewi, Agil, Mawar, Chusnul, Arri, Sugeng, Sharah, yang memberikan pendapatnya. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya, meskipun ada dua anggota yaitu Lila dan Trinanda yang hanya mengucapkan kata sama ketika mengeluarkan pendapat dan hanya tersenyum karena merasa malu dan ragu. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik.

b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu contoh kasus konsep diri yang negatif karena kasus seperti ini banyak terjadi dikalangan remaja atau siswa, mereka bisa mencegahnya dan dapat menerapkan cara yang yang benar dalam berpacaran artinya tidak melampaui batas-batas dalam berpacaran dalam kehidupan sehari-hari dan apa kerugiannya jika seperti contoh kasus tersebut. Jadi kegiatan bimbingan kelompok dalam pertemuan kali ini dapat terlaksana dengan baik terlihat dari beberapa indikator yang sudah muncul. kelompok mendapatkan pemahaman baru dari contoh tersebut. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok ini berhasil, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya dan tidak bersikap hiperkritis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan karena memang kasus ini banyak terjadi pada usia remaja. Dinamika nampak dari keaktifan anggota kelompok dengan memberikan pendapatnya, meskipun ada dua anggota yang pasif yaitu Trinanda dan Lila. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah siswa yakin dapat menghadapi masalah, sudah mampu berbicara dalam kelompok, menghargai orang lain, dan menerapkan cara berpacaran yang baik jangan sampai berpacaran yang melampaui batas. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007 Angota

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Topik Permasalahan B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu

: Pengertian dan perlunya konsep diri : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pemahaman dan Pengembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang : : 45 Menit

2. Hari/Tanggal 3. Tempat

: Kamis, 8 Maret 2007 : Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Pada tahap pembentukan pemimpin kelompok mengadakan rapport, menanyakan kabar para anggota kelompok kemudian menyampaikan maksud dan tujuan serta asas-asas dalam bimbingan kelompok. Masing-masing anggota kelompok dan praktikan mengadakan perkenalan agar lebih mengenal masing-masing anggota kelompok. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas, kemudian para anggota kelompok mendiskusikannya secara bersama-sama dimana diharapkan setiap anggota mempunyai gagasan dan pendapat dari kasus pada pertemua pertama. Pada pertemuan kedua praktikan memberikan informasi tentang pengertian, jenis-jenis dan perlunya konsep diri positif. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan berdasarkan kasus pada pertemuan pertama dilihat dari tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri positif. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya peristiwa yang terjadi pada kasus kemarin karena tidak memiliki konsep diri yang positif. Setelah itu para anggota kelompok mengintrospeksi diri mereka apakah mereka sudah mempunyai konsep diri positif atau negatif dan siswa menyadari bahwa perlunya kita mempunyai konsep diri yang positif sebagai salah satu contoh adalah peristiwa yang terjadi pada kasus pertemuan pertama. Setelah itu praktikan menganalisis berdasarkan berbagai pendapat para anggota dengan dimachingkan dengan materi untuk disimpulkan. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena dapat lebih mengakrabkan antar teman, dapat menambah wawasan tentang konsep diri,

belajar berkomunikasi dan siswa dapat menerapkan konsep diri yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung mulai dari tahap awal atau pembentukan sampai tahap akhir dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap awal perkenalan masih dilakukan agar para anggota lebih akrab, secara sukarela tanpa ditunjuk para anggota langsung memperkenallan diri mereka. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai apa itu konsep diri, jenis-jenis konsep diri dan perlunya konsep diri. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa yang dimaksud dengan konsep diri? Anggota kelompok memberi pendapat : • • • Abria : Konsep diri itu seperti gambaran dari pada diri kita. Agil : Kalau menurut saya konsep diri itu merupakan pandangan mengenai apa yang ada pada diri kita. Dewi : Saya sependapat dengan kedua teman saya bahwa konsep diri itu pandangan atau sikap individu terhadap dirinya sendiri. Kemudian pemimpin kelompok menyimpulkan berdasarkan pendapat dari anggota yang dimachingkan dengan materi yang ada. Ada beberapa jenis konsep diri ada yang negatif dan juga ada yang positif . Konsep diri yang positif antara lain : percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis, sedangkan konsep diri yang negatif ia peka : :

terhadap kritik, ia responsif sekali terhadap pujian, ia cenderung bersikap hiperkritis, ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain, ia bersikap psimis terhadap kompetisi. Anggota kelompok Sharah menanyakan apa Pak yang dimaksud dengan tidak bersikap hiperkritis, pemimpin kelompok menjawab bahwa tidak bersikap hiperkritis itu adalah kita tidak mengeluh, kita mampu menghargai orang lain, senang terhadap keberhasilan orang lain. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan berdasarkan kasus pada pertemuan pertama dilihat dari tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri positif. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya peristiwa yang terjadi pada kasus kemarin : • Sugeng : Dengan melihat kasus kemarin bahwa siceweknya itu tidak memiliki konsep diri yang positif seperti tidak percaya diri ia tidak mampu berbicara kepada pacarnaya, kemudian tidak menerima apa adanya artinya tidak menerima kelebihan dan kekurangannya. • • Abria : Kalau saya ia itu tidak mampu menghadapi satu permasalahan, tidak merasa yakin atas kemampuan yang dimilikinya. Sharah : Menurut saya peristiwa kemarin itu ia tidak merasa setara dengan orang lain sehingga sebenarnya ia cantik tapi ya ngak percaya diri. • • Agil : Ya jadi kasus yang terjadi itu karena tidak memiliki konsep diri yang positif. Arri : Sebaiknya kita harus memiliki konsep diri yang positif agar tidak seperti pada kasus tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Pemimpin kelompok

memberikan contoh sebagai gambaran para anggota kelompok tentang perlunya konsep diri. Sering kita jumpai siswa ber-IQ (Intelligence Question) tinggi gagal dalam menempuh ujian. Tetapi sering kita dengar pula bahwa banyak siswa yang memiliki IQ sedang-sedang saja ternyata mereka berhasil dalam menempuh ujian. Bila kita berpikir bahwa diri kita bisa, maka kita cenderung akan sukses, sebaliknya bila kita berpikir bahwa diri kita akan gagal, maka sebenarnya kita mempersiapkan diri untuk gagal. Dengan kata lain harapan terhadap diri sendiri merupakan prediksi untuk mempersiapkan diri sendiri. Pemimpin kelompok menanyakan menanyakan apa akah kalian sudah memiliki konsep diri yang positif : • Sharah : Kalau saya ya belum semua kriteria konsep diri positif ada pada saya, tapi saya sudah memiliki percaya diri, kemudian menerima apa adanya. • Dewi : Kayaknya saya juga belum sepenuhnya memiliki konsep diri positif, saya sudah percaya diri, udah mampu berbicara di depan umum, merasa setara dengan orang lain , tidak bersikap hiperkritis. • Abria : Wah kayaknya saya sudah memiliki konsep diri positif seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, tidak bersikap hiperkritis, meskipun belum semua kriteria itu ada pada saya. • Agil : Saya sama seperti yang lain saya sudah bisa percaya diri, merasa setara dengan orang lain, mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan yang terjadi, contohnya saya habis kecelakaan dan hampir patah tulang ini memberikan hikmah bagi saya, menerima apa adanya, tidak bersikap hiperkritis. • Sugeng : Kalau saya ya belum semua kriteria konsep diri positif ada pada saya, tapi saya sudah memiliki percaya diri, kemudian menerima

apa adanya, tidak bersikap hiperkritis, dan mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan yang terjadi. • • • • Mawar : Beberapa kriteria sudah ada pada diri saya, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apadanya. Lila : Kayaknya saya belum mempunyai konsep diri yang positif tapi saya sudah muncul rasa percaya diri saya. Trinanda : Saya sama seperti Lila sudah muncul juga rasa percaya diri saya. Chusnul : Saya sedikit-sedikit sudah mulai mempunyai konsep diri yang positif kayak percaya diri, merasa setara dengan orang lain dan menerima apadanya • Arri : Kalau saya memang tidak semuanya kriteria konsep diri positif ada pada diri saya namun saya sudah percaya diri. Pemimpin kelompok menanyakan atau membuat komitmen kepada semua anggota kelompok apakah anggota kelompok akan berusaha untuk mempunyai konsep diri positif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. mempunyai Semua anggota menjawab bersedia untuk berusaha konsep diri positif dan akan mengaplikasikannya dalam

kehidupan sehari-hari. b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, dalam hal ini semua anggota sudah mempunyai rasa percaya diri. Indikator kedua yang

muncul adalah merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain atau mencela, tidak merasa paling bisa atau sombong seperti yang dimiliki. Indikator yang ketiga adalah menerima apa adanya. Indikator keempat yang muncul adalah tidak hiperkritis yaitu para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain. Indikator yang kelima adalah dapat menyikapi kegagalan seperti yang dimiliki Agil dan Sugeng. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang konsep diri, dan siswa dapat menerapkan konsep diri yang positif dalam kehidupan sehari-hari. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Pada saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini, situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali, meskipun siswa terlihat gugup ingin cepat pulang karena cuaca akan hujan. Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok dalam pertemuan kali ini dapat terlaksana dengan baik terlihat dari beberapa indikator yang sudah muncul. Angota kelompok mendapatkan pemahaman baru dari pengertian konsep diri, jenis-jenis konsep diri dan perlunya memiliki konsep diri yang positif. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu pengertian dan perlunya konsep diri, mereka tahu tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri positif maupun negatif dan dapat menginstrospeksi diri apakah mereka termasuk orang yang mempunyai konsep diri positif atau negatif. Siswa dapat menerapkan konsep diri yang positif dalam kehidupan sehari-hari. E. Analisis Hasil Penilaian :

Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok ini berhasil, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya, dapat menyikapi kegagalan dan tidak bersikap hiperkritis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan karena materi yang diberikan karena ini berhubungan dengan diri mereka. Dinamika nampak dari keaktifan anggota kelompok dengan memberikan pendapatnya, meskipun para anggota gugup ingin pulang karena cuaca mendung mau hujan. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah percaya diri, para anggota tidak meremehkan orang lain, menerima apa adanya, mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan, tidak mengeluh, belajar berkomunikasi dan menerapkan konsep diri yang positif dalam kehidupan seharihari.

F. Tindak Lanjut

:

Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Topik Permasalahan B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu 2. Hari/Tanggal

: Isi dan asal-usul pembentukan konsep diri : : Pemahaman dan Pengembangan : Layanan Bimbingan Kelompok : Pencegahan dan Pemahaman : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang : : 45 Menit : Selasa, 13 Maret 2007

3. Tempat

: Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 8 siswa dikarenakan ada 2 siswa yang tidak berangkat sekolah. Pada tahap pembentukan pemimpin kelompok hanya mengadakan rapport saja karena pada pertemuan ketiga ini siswa sudah paham maksud dan tujuan serta asas-asas dalam bimbingan kelompok. Dalam pertemuan ketiga ini juga tidak perlu dilakukan perkenalan karena praktikan dan masing-masing anggota kelompok sudah kenal dan akrab, kemudian praktikan langsung menuju pada tahap berikutnya. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas, kemudian para anggota kelompok mendiskusikannya secara bersama-sama dimana diharapkan setiap anggota mempunyai gagasan dan pendapat. Pada pertemuan ketiga praktikan memberikan informasi tentang isi dan asal-usul pembentukan konsep diri. Materi ini merupakan lanjutan dari materi sebelumnya yaitu pengertian dan perlunya konsep diri. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan dan memberikan pendapatnya dari topik yang dibahas. Praktikan menyuruh masing-masing anggota kelompok untuk mengungkapkan kelemahan dan kelebihan yang ia miliki sifat-sifat negatif dan positif mereka serta yang didalamya terdapat sifat-sifat positif dan negatif. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena dapat mengetahui karakter dari teman-temannya, dapat menambah wawasan tentang isi dan asal-usul dari pembentukan konsep diri dan menyadari segala kelemahan dan kelebihan yang dimiliki artinya dapat terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain, serta belajar untuk menerima diri. Saran dari anggota kelompok adalah agar anggota tidak usah malu untuk megungkapkan sifat-sifat negatif

dan positif serta kelebihan dan kelemahan yang dimiliki karena dalam kegiatan ini ada asas kerahasian dan keterbukaan. Topiknya membosankan karena masih konsep diri lagi. Selanjutnya pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai isi konsep diri, dan asal-usul pembentukan konsep diri. Pemimpin kelompok memberikan informasi mengenai isi dari pada konsep diri. Pemimpin kelompok menjelaskan isi dari konsep diri mulai dari karakteristik fisik, penampilan, kesehatan dan kondisi fisik, rumah dan hubungan keluarga, hobi dan permainan, sekolah dan pekerjaan sekolah, kecerdasan, bakat dan minat, ciri dan kepribadian, sikap dan hubungan sosial, dan religius. Setelah isi konsep diri selanjutnya asal-usul atau faktor pembentuk konsep diri. Asalusul konsep diri yaitu orang tua, saudara sekandung, sekolah, teman sebaya, masyarakat dan pengalaman. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk mengemukakan mengungkapkan kelemahan dan kelebihan yang didalamya terdapat sifat-sifat positif dan negatif. Para anggota memberi pendapat tentang dirinya dari kelebihan dan kelemahan yang ia miliki : • Agil : Kelebihan yang ada dalam diri saya yaitu saya yaitu saya orangnya tidak sombong, menerima apa adanya, tidak senang adanya permusuhan. Sedangkan kelemahan yang ada pada saya yaitu saya kadang cepat emosi. : :

Abria : Kelebihan yang saya miliki yaitu berat badan, saya orangnya humoris, percaya diri, bisa bergaul dengan siapa saja, tidak suka kekerasan. Sedangkan kelemahan yang saya miliki yaitu apabila ada orang yang menyakiti saya saya sulit untuk memaafkannya tetapi saya tidak sampai pada kekerasan.

Dewi : Kalau saya kelebihan yang saya punya itu saya senang membantu teman yang membutuhkan atau suka menolong, tegar dalam menghadapi setiap permasalahan, menghargai orang lain, jujur. Kekurangan atau kelemahan yang saya miliki kadang boros dalam hal keuangan.

Sugeng : Kelebihan saya itu saya orangnya penyabar, percaya diri, menghargai orang lain, jujur, peka terhadap orang lain. Sedangkan kekurangan saya kadang timbul rasa takut terhadap lawan jenis.

Arri : Kelebihan yang saya miliki tidak membeda-bedakan teman, yakin atas kemampuan yang saya miliki, tidak mengeluh. Sedangkan kelemahan saya itu saya orangnya kadang cepat tersinggung, kadang sering mengumpat apabila saya gagal.

Chusnul : Kelemahan saya itu tidak bisa bangun pagi, malas, sering menyontek, tidak bisa dalam pelajaran berhitung atau eksak. Sedangkan kelebihan saya kata orang saya itu orangnya baik, tidak sombong.

Sharah : Kalau kelebihan saya itu saya rajin, setiap ada masalah langsung saya selesaikan, tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Sedangkan kekurangan saya pelupa.

Mawar : Kelebihan yang saya miliki menerima diri apa adanya, pandai bergaul, senang dengan adanya tantangan. Kelemahan saya sama seperti Dewi saya boros dalam hal keuangan. Para anggota akan mengembangkan diri artinya akan berusaha menutupi kelemahan yang ada pada diri mereka. Pemimpin kelompok menanyakan atau membuat komitmen kepada semua anggota kelompok apakah

anggota kelompok akan berusaha untuk mempunyai konsep diri positif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari setelah mengetahui faktor-faktor yang membentuk konsep diri positif. Semua anggota menjawab bersedia untuk berusaha mempunyai konsep diri positif. b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya mengenai kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok, Indikator kedua yang muncul adalah merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain atau mencela mengenai kekurangan orang lain kemudian bisa bergaul dengan siapa saja. Indikator yang ketiga adalah menerima apa adanya. Indikator keempat yang muncul adalah tidak hiperkritis yaitu para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang isi konsep diri, dan asal-usl pembentukan konsep diri. Siswa dapat mengetahui karakter dari temantemannya, dan dapat menyadari segala kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Pada saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini, situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, meskipun ada beberapa siswa merasa bosan karena materinya mengenai konsep diri lagi tetapi dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau

aktif

mengemukakan

pendapatnya

sehingga

suasana

kelompok

terkendali. Ada beberapa siswa yang malu untuk mengungkapkan sifatsifat negatif dan positif serta kelebihan dan kelemahannya. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu isi dan asal-usul pembentukan konsep diri, mereka dapat menyadari apakah konsep dirinya dibentuk dengan baik atau tidak serta komitmen para anggota untuk membentuk konsep diri yang positif. Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok dalam pertemuan kali ini dapat terlaksana dengan baik terlihat dari beberapa indikator yang sudah muncul. Angota kelompok mendapatkan pemahaman baru isi dan asal-usul pembentukan konsep diri walaupun ada anggota kelompok yang mengatakan topiknya membosankan karena masih konsep diri lagi. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok ini berhasil, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan meskipun ada siswa yang merasa bosan karena materinya mengenai konsep diri lagi. Dinamika nampak dari keaktifan anggota kelompok dengan memberikan pendapatnya, meskipun ada beberapa siswa yang malu untuk mengungkapkan sifat-sifat negatif dan positif serta kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah siswa dapat memahami kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta semangat untuk mengembangkan diri, dapat terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain, serta belajar untuk menerima diri dan para anggota dapat

mengetahui pembentukan konsep diri dan dapat membentuk konsep diri yang positif. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Topik Permasalahan

: Mensikapi permasalaan diri dan orang lain : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pegembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang : : 45 Menit : Kamis, 15 Maret 2007

B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu 2. Hari/Tanggal

3. Tempat

: Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Seperti biasa pada tahap pembentukan pemimpin kelompok hanya mengadakan rapport saja karena pada pertemuan keempat ini siswa sudah paham maksud dan tujuan serta asas-asas dalam bimbingan kelompok. Dalam pertemuan keempat ini juga tidak perlu dilakukan perkenalan karena praktikan dan masing-masing anggota kelompok sudah kenal dan akarab, kemudian praktikan langsung menuju pada tahap berikutnya anggota kelompok. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya. Pada pertemuan keempat ini praktikan memberikan topik tentang mensikapi permasalahan diri dan orang lain. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan dan memberikan pendapatnya dari topik yang dibahas. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya mengenai permasalahan diri dan orang lain. Para anggota sudah mempunyai keyakinan mampu mengatasi masalah yang dihadapi. Anggota kelompok memberikan pendapat-pendapatnya dalam mensikapi permasalahan diri dan orang lain. Setelah itu praktikan menganalisis berdasarkan berbagai pendapat para anggota dengan dipadukan dengan materi untuk disimpulkan. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena mereka dapat bersiskusi, dapat menambah wawasan tentang bagaimana kita mensikapi permasalahan diri dan orang lain atau belajar memecahkan masalah, dan dapat membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari atau belajar memberi perhatian serta lebih peka kepada orang lain bahwa orang lain juga mempunyai masalah. Sarannya agar makanan yang diberikan pemimpin kelompok mengenyangkan contohnya nasi. Selanjutnya pemimpin kelompok

mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. : : Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai bagaimana kita mensikapi permasalahan diri dan orang lain. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya mengenai permasalahan apabila kita punya masalah kemudian ada teman kita yang minta bantuan apa yang harus kita lakukan? • Abria : Melihat masalahnya dari teman kita apa masalahnya berat atau tidak apabila ringan langsung kita bantu dan apabila berat kita bisa menjadi pendengar yang baik, kita bisa beri support atau dukungan, nasehat. • Dewi : Hampir sama seperti Abria semampu kita kita bantu masalah teman kita yang enting jangan sampai malah masalah itu menjadi masalah pada diri kita. • Sharah : Kalau saya mending saya menyelesaikan masalah saya dulu biar tidak pusing karena masalah kita belum selesai, kalau masalah kita sudah selesai baru kita membantu masalah teman kita. • Mawar : Kalau saya minta bantuan teman lain dulu karena saya masih memiliki masalah, tetapi secara halus biar teman kita tidak marah kepada kita.

Sugeng : Kita bantu teman kita yang punya masalah dulu setelah selesai kita selesaikan masalah kita sendiri apabila kita tidak bisa kita bisa minta bantuan kepada teman kita yang kita bantu tadi.

Agil : Menurut saya kita bahas dulu bersama-sama masalahnya kalau tidak bisa kita minta bantuan pada teman yang lain juga,terus masalah kita dibahs bersama-sama juga.

• • • •

Lila : Kita bantu teman kita karena tidak enak pabila kita langsung menolaknya. Trinanda : Menurut saya kita harus bantu teman kita yang punya masalah biar nanti masalah kita juga bisa dibantu teman kita. Chusnul : Ya saya akan membantu teman dulu baru masalah kita. Arri : Kita berusaha bantu teman jangan sampai menjadi beban pada kita.

Bagaimana kita mensikapi permasalahan kita? Para anggota menjawab : • • • • Dewi : Saya akan langsung menyelesaikan masalah tersebut dan tidak akan membiarkannya berlarut-larut. Sharah : Saya akan semaksimal mungkin menyelesaikan masalah kalau tidak bisa baru minta bantuan pada orang lain. Mawar : Kalau kita menunda-nunda masalah maka masalahnya tidak selesai jadi harus segera diselesaikan. Agil : Kita harus bisa mengidentifikasi dulu masalahnya, apa yang menjadi penyebab jangan grusah-grusuh lalu kita membuat pilihan atau keputusan yang tepat. • Abria : Menurut saya kita harus memahami dulu masalahnya kita bisa seringkan kepada sahabat kita atau teman terdekat agar dapat menambah jawaban dari persoalan yang kita hadapi. • Trinanda : Saya juga sama seperti yang lain akan menyelesaikan masalahnya langsung itu juga.

Bagaimana kita mensikapi permasalahan orang lain? Para anggota menjawab : • • • • b. Sugeng : Seperti yang saya bilang tadi kita bisa menjadi pendengar yang baik, kita bisa beri support atau dukungan, nasehat. Arri : Kita bisa memberikan nasehat tapi diberikan pada saat yang tepat. Chusnul : Kita harus peka terhadap orang lain, kita bisa memberikan simpati kita menolong meringan beban. Lila : Ya kita beri saran, nasehat yang penting jangan sok pintar. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, mampu untuk mengatasi masalah sendiri dan orang lain. Merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain. Tidak hiperkritis yaitu para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain. Optimis ini ditunjukkan dengan anggota yang merasa yakin atas kemampuan yang dimiiliki. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang pemahaman-pemahaman baru tentang mensikapi permasalahan diri dan orang lain yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa mampu untuk menyelesaikan masalahnya dan dapat mensikapi masalah orang lain dalam kehidupan sehari-hari secara positif. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan :

a. Penilaian proses Pada pertemuan keempat pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Ini terlihat dari semua anggota seperti Abria, Dewi, Agil, Mawar, Chusnul, Arri, Sugeng, Sharah, Lila, Trinanda yang memberikan pendapatnya. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu mensikapi permasalahan diri dan orang lain, para anggota sudah yakin akan kemampuannya untuk mengatasi masalah dan dapat membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok dalam pertemuan keempat ini dapat terlaksana dengan baik terlihat dari beberapa indikator yang sudah muncul. Anggota kelompok mendapatkan pemahaman baru tentang mensikapi permasalahan diri dan orang lain serta secara positif siswa dapat dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok ini berhasil, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya, tidak bersikap hiperkritis, optimis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan meskipun ada siswa yang merasa lapar karena mereka pengennya snaknya diganti nasi. Dinamika dalam pertemuan keempat ini sudah baik ini nampak dari keaktifan anggota kelompok dengan memberikan pendapatnya secara terbuka dan

sukarela. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah para anggota sudah yakin akan kemampuannya untuk mengatasi masalah sendiri, lebih peka bahwa orang lain juga mempunyai masalah, belajar memberi perhatian pada orang lain, belajar memberi dan menerima atau tack in give, belajar memecahkan masalah dan dapat membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Topik Permasalahan

: Cara meningkatkan kepercayan diri : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pengembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang :

B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan

1. Waktu 2. Hari/Tanggal 3. Tempat

: 45 Menit : Selasa, 20 Maret 2007 : Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Pada tahap pembentukan pemimpin kelompok hanya mengadakan rapport saja karena pada pertemuan kelima ini siswa sudah paham maksud dan tujuan serta asasasas dalam bimbingan kelompok. Dalam pertemuan kelima ini juga tidak perlu dilakukan perkenalan karena praktikan dan masing-masing anggota kelompok sudah kenal dan akarab, kemudian praktikan langsung menuju pada tahap berikutnya anggota kelompok. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas, kemudian para anggota kelompok mendiskusikannya secara bersama-sama dimana diharapkan setiap anggota mempunyai gagasan dan pendapat. Pada pertemuan kelima ini praktikan memberikan topik tentang cara meningkatkan kepercayaan diri. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan dan memberikan pendapatnya dari topik yang dibahas. Para anggota kelompok saling memberikan pendapatnya mengenai karakteristik individu yang percaya diri dan yang kurang percaya diri serta upaya mengatasi kurang percaya diri. Setelah itu praktikan menganalisis berdasarkan berbagai pendapat para anggota dengan dimachingkan materi yang ada untuk disimpulkan. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena mereka dapat menumbuhkan rasa percaya diri lewat kegiatan bimbingan kelompok yang dilaksanakan, dan siswa dapat menerapkan percaya diri tidak hanya dalam bimbingan kelompok saja tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya

pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara meningkatkan kepercayaan diri yang didalamnya terdapat pengertian percaya diri, karakteristik individu yang percaya diri dan yang tidak percaya diri kemudian bagaimana upaya mengatasi rasa kurang percaya diri. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa itu percaya diri? Anngota ada yang menjawab : • • • Agil : Percaya diri itu percaya atas kemampuan yang dimiliki. Dewi : Percaya diri itu merupakan dorongan yang ada dalam diri dalam rangka menghadapi segala yang ada. Abria : Kalau menurut saya percaya diri itu ya sikap yang kita miliki dalam menghadapi segala sitauais atau keadaan. Setelah pemimpin kelompok menjelaskan topik kemudian meminta anggota kelompok apabila ada permasalahan yang berkaitan dengan topik yang dibahas kali ini bisa dituangkan kemudian kita bahas bersama-sama. Dari anggota kelompok muncul permasalahan : • • Lila : Begini saya punya masalah mengenai ya kurang percaya diri misalkan harus ngomong didepan kelas apalagi dedepan umum. Trinanda : Masalah saya sama dengan Lila. : :

Sugeng : Kalau saya memiliki masalah kadang merada tidak percaya diri dengan lawan jenis makanya sampai saat ini saya belum mempunyai pacar.

Chusnul : Saya merasa menyerah dulu.

gori ketika bertanding jadi kadang saya

Baik setelah kita tahu beberapa permasalahan kita tentukan masalah siapa dulu yang akan kita bahas, para anggota kelompok sepakat untuk memecahkan masalahnya Lila, dengan memberikan tanggapan dan saran sebagai berikut : • Arri : Sebelumnya permasalahan yang melatar belangi itu apa mungkin Lila bisa menjelaskan biar ketika teman-teman mebantu menyelesaikan masalahnya bisa mudah. Jadi begini permasalahannya ketika saya masih duduk di kelas X ada diskusi dalam kelas kemudian saya diminta untuk memberi jawaban kemudian jawaban atau tanggapan saya ditertawakan oleh teman-teman sehingga ini membuat saya malu dan tidak mau lagi untuk memberi jawaban lebih baik saya diam saja. Setelah tahu permasalahannya maka para anggotapun memberi saran : • Abria : Dengan melihat apa yang menjadi masalah kamu saya bisa menganalisis bahwa kamu memiliki satu pikiran yang mana kamu ketika akan menjawab maka akan ditertawakan lagi oleh teman-teman padahal belum tentu. • Agil : Apa yang dikatan Abria betul itu Lil jadi ketika kita punya pikiran yang begitu maka kita tidak akan bisa untuk mengungkapkan pendapat jadi pikiran itu harus dihilangkan. • Arri : Nah setelah kamu menceritakan latar belakangnya kan temanteman bisa tahu dan mudah dalam memberikan pendapatnya, kalau menurut saya kamu harus punya kemauan dulu atau tekad bahwa saya

harus berani ngomong didepan kelas misalnya tanpa mempedulikan apa kata teman. • Dewi : Jadi ada betulnya yang dikatakan oleh Arri tetapi kamu ketika akan memberi jawaban kita pikir dulu artinya kita tahu betul apa yang menjadi persoalan kemudian kemudian dalam benak kita sudah ada jawaban yang relevan sehingga jawaban kita akan bermutu dan ini tidak bakal ditertawakan oleh teman malah kita akan mendapat sanjungan dari teman-teman. • Mawar : Yup saya setuju apa yang dikataka Dewi semua itu merupakan proses pembelajaran jadi kita tidak langsung bisa tetapi harus bertahap. • Sharah : Saya juga setuju. Dengan saran-saran yang diberikan oleh temannya Lila dapat menerima saran dari teman-temannya, Lila memutuskan mulai sekarang dia akan percaya diri tidak akan takut lagi untuk ditertawakan. Ya dengan kegiatan bimbingan kelompok ini masalah saya bisa teratasi saya merasa senang, kemudian saya bisa belajar berbicara meskipun dalam lingkup kelompok. b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir mulai dari awal kegaiatan sampai tahap akhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, mampu untuk mengatasi masalah sendiri dan orang lain. Merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain. Tidak hiperkritis yaitu

para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain. Optimis ini ditunjukkan dengan anggota yang merasa yakin atas kemampuan yang dimiliki. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang pemahaman-pemahaman baru tentang cara meningkatkan percaya diri yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat menerapkan cara meningkatkan percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Pada pertemuan kelima pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Siswa sudah dapat membantu memecahkan permasalahan orang lain. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. b. Penilaian hasil Pada saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini, situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu cara meningkatkan percaya diri dan dapat menerapkan cara meningkatkan percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. Dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, karena anggota kelompok percaya diri dengan aktif mengemukakan pendapatnya sehingga suasana kelompok terkendali, ini juga terlihat dari indikator ang muncul. Sejauh ini para anggota sudah mulai terbuka dalam mengemukakan pendapatnya, Lila dan Trinanda juga nampakya puas dengan jawaban datau saran dari teman-temannya, rasa percaya dirinya menjadi tumbuh dengan sudah tidak akan malu lagi untuk memberikan pendapatnya.

Angota kelompok mendapatkan pemahaman baru tentang mensikapi permasalahan diri dan orang lain serta secara positif siswa dapat dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok ini berhasil, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya, tidak bersikap hiperkritis, optimis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan. Dinamika dalam pertemuan ini sudah baik ini nampak dari keaktifan anggota kelompok dengan memberikan pendapatnya secara terbuka dan sukarela. Anggota kelompok juga sudah mampu untuk memecahkan permasalahan. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah para anggota sudah yakin akan kemampuannya untuk mengatasi masalah sendiri/belajar memecahkan masalah, lebih peka bahwa orang lain juga mempunyai masalah, belajar memberi perhatian pada orang lain, belajar memberi dan menerima atau tack in give dan dapat membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari, belajar lebih terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, mampu untuk percaya diri dengan memberikan pendapatnya dalam kelompok dan akan menerapkannya tidak hanya dalam bimbingan kelompok saja, siswa sudah mampu mempercayai diri sendiri dan orang lain. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Topik Permasalahan

: Cara menghindari prasangka dan akibatnya : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pemahaman dan Pengembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang : : 45 Menit : Kamis, 22 Maret 2007

B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu 2. Hari/Tanggal

3. Tempat

: Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Pada tahap pembentukan pemimpin kelompok hanya mengadakan rapport saja karena pada pertemuan ini siswa sudah paham maksud dan tujuan serta asas-asas dalam bimbingan kelompok. Dalam pertemuan ini juga tidak perlu dilakukan perkenalan karena praktikan dan masing-masing anggota kelompok sudah kenal dan akarab, kemudian praktikan langsung menuju pada tahap berikutnya anggota kelompok. Dalam tahap peralihan pemimpin kelompok menawarkan kepada para anggota apakah sudah siap untuk melangkah pada tahap berikutnya.. Pada pertemuan ini praktikan memberikan topik tentang cara cara menghindari prasangka dan akibatnya. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan dan memberikan pendapatnya dari topik yang dibahas. Pemimpin kelompok memberikan beberapa contoh kepada anggota kelompok dan anggota kelompok memberikan tanggapannya. Setelah itu praktikan menganalisis berdasarkan berbagai pendapat para anggota dengan dipadukan dengan materi yang ada untuk disimpulkan. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka merasa senang mengkuti kegiatan bimbingan kelompok, karena dapat menambah informasi tentang bagaimana cara menghindari prasangka dan akibatnya. Selanjutnya pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam : :

mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara menghindari prasangka dan akibatnya yang didalamnya terdapat pengertian prasangka, terbentuknya prasangka, usaha untuk menghindari dan menghilangkan prasangka, akibat prasangka. Pemimpin kelompok menanyakan ada yang tahu apa itu prasangka? Anggota kelompok menjawab : • • Dewi : Prasangka adalah anggapan yang kurang baik kepada orang lain. Agil : Prasangka itu merupakan perasaan kita kepada orang lain yang bisa bersifat positif maupun negatif. Pemimpin kelompok memberikan contoh apa pandangan kita terhadap seorang pelukis atau seniman?. Anggota kelompok yang menjawab : • • Lila : Pasti pelukis itu hidupnya tidak teratur, jorok, tidak pernah mandi. Abria : Belum tentu semua pelukis atau seniman seperti itu kita harus punya prasangka yang positif. Kamu kan belum tahu sendiri bagaimana kehiduapan pelukis. • Sharah : Apa yang dikatakan Abria benar jadi belum tentu seorang pelukis itu menti jorok, jarang mandi, semprawut acak-acakan rambutnya gondrong tetapi banyak juga pelukis yang bersih. Bagaimana pandangan kalian terhadap karakter orang madura? • • Trinanda : Ya pasti karakter orang madura itu keras. Mawar : Belum tentu tidak semua orang madura itu keras.

Apabila kalian mendapat nilai lima pada pelajaran matematika apa yang kalian lakukan?. • Dewi : Introspeksi diri mungkin kita tidak belajar dengan sungguhsungguh.

• •

Chusnul : Ya itu mungkin kesalahan gurunya, gurunya tidak senang pada kita. Sugeng : Yang dikatakan Sharah itu benar kita harus instrospeksi diri kita dulu kenapa kok sampai nilai kita jelek mungkin kita jarang mengerjakan PR, terus kalau ulangan kita tidak belajar.

Misalkan kalian melihat Pak Karto guru matematika, marah kepada Arri sehingga dihukum apa tanggapan kalian? • • Abria : Ya saya menganggap bahwa Pak Karto itu orang yang galak dan senang menghukum. Sharah : Kalau saya tidak setuju mungkin kenapa Arri dihukum karena Arri bandel tidak mengerjakan tugas artau PR jarang mengikuti pelajaran yag penting menghukumnya dalam batas kewajaran. b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir mulai dari awal kegaiatan sampai tahap akhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya, dapat menyikapi kegagalan, tidak bersikap hiperkritis, dan optimis. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, mampu untuk mengatasi masalah sendiri dan orang lain. Merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain. Tidak hiperkritis yaitu para anggota saling menghargai pendapat anggota yang lain. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang pemahaman-pemahaman baru tentang cara menghindari prasangka dan akibatnya yang dibahas pada saat bimbingan kelompok, komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok

bahwa siswa dapat berprasangka positif terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Pada pertemuan keenam pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik, anggota kelompok mau aktif dalam tanya jawab sehingga suasana kelompok terkendali. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu cara menghindari prasangka dan akibatnya, mereka bisa menererima pemahaman-pemahaman baru agar bagaimana agar kita tidak berprasangka yang jelek kepada orang lain. Para anggota merasa nyaman berada dalam kelompok karena para anggota sudah aktif berbicara, dan para anggota kelompok dapat menghargai pendapat anggota yang lain, ini juga terlihat dari indikator ang muncul. Para anggota mau berkomitmen untuk mempraktekan tentang informasi baru yang telah didapatkannya yaitu menerapkan cara menghindari prasangka dan akibatnya. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok dapat dinilai baik, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya, tidak bersikap hiperkritis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan. Dinamika dalam pertemuan ini sudah baik ini nampak dari keaktifan anggota kelompok dalam tanya jawab dengan memberikan pendapatnya secara terbuka dan sukarela. Aspek yang sikap yang muncul pada pertemuan kali ini adalah

siswa dapat begaul dengan banyak teman, berkomunikasi karena selalu berprasangka baik terhadap semua orang, dan siswa dapat mempunyai prasangka positif terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Topik Permasalahan

: Cara mengembangkan sikap positif : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pemahaman dan Pengembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang :

B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan

1. Waktu 2. Hari/Tanggal 3. Tempat

: 45 Menit : Selasa, 27 Maret 2007 : Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Pemimpin kelompok mengawali kegiatan dengan salam dan menanyakan kabar dari para anggota kelompk. Tahapan-tahapan dalam bimbingan kelompok sudah terlewati dengan baik. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas, kemudian para anggota kelompok mendiskusikannya secara bersama-sama dimana diharapkan setiap anggota mempunyai gagasan dan pendapat. Pada pertemuan ketujuh ini topik yang dibahas adalah cara mengembangkan sikap positif. Setelah itu para anggota kelompok mendiskusikan dan memberikan pendapatnya dari topik yang dibahas. Pemimpin kelompok menanyakan bagaimana sikap positif kita sebagai pelajar?. Para anggota menjawab kita harus belajar dengan giat, mentaati peraturan sekolah seperti memakai seragam lengkap, datang tepat waktu tidak terlambat, selalu mengikuti pelajaran di sekolah atau tidak membolos, menghormati guru, selalu mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. Pertanyaan kedua bagaimana sikap positif kita berada dilingkungan keluarga?. Para anggota menjawab patuh terhadap perintah orang tua, menghormati orang tua, mentaati norma dalam keluarga, menghargai dan menyangi adik/kakak, selalu berbuat baik kepada orang tua. Pertanyaan ketiga bagaimana sikap positif kita dalam lingkungan masyarakat?. Anggota kelompok menjawab selalu mentaati norma yang berlaku dimasyarakat, menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, bersedia menolong tetangga yang mendapat musibah. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat positif yaitu mereka dapat mengambil manfaat dari bersikap positif dan belajar untuk menghargai orang lain. Selanjutnya pemimpin kelompok

mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri dan menutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan terima kasih D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara mengembangkan sikap positif yang meliputi pengertian, langkah-langkah menumbuhkan sikap positif dan manfaat bersikap positif. Pemimpin kelompok menanyakan bagaimana sikap positif kita sebagai pelajar?. • Dewi : Kita harus belajar dengan giat, mentaati peraturan sekolah seperti memakai seragam lengkap, datang tepat waktu tidak terlambat, selalu mengikuti pelajaran di sekolah atau tidak membolos. • • Mawar : Kita harus sopan terhadap guru, menghormati guru, selalu mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. Sharah : Selalu mengikuti upacara bendera sebagai bukti cinta tanah air, tidak hanya guru yang dihaormati petugas TU juga harus kita hormati pokoknya menghormati kepada yang lebih tua. • • • • • Lila : Kita harus mengerjakan PR atau tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Trinanda : Yang jelas kita sebagai belajar kita harus giat belajar. Arri : Mengikuti kegaiatan ekstrakurikuler yang diselengarakan di sekolah. Chusnul : Tidak mencemarkan nama baik sekolah. Agil : Membuat prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. : :

• •

Abria : Tidak boleh menyontek. Sugeng : Jangan membuat gaduh saatpelajaran.

Pertanyaan kedua bagaimana sikap positif kita berada dilingkungan keluarga?. Para anggota menjawab : • • • • • Sugeng : Patuh terhadap perintah orang tua, Agil : Menghormati orang tua, Dewi : Mentaati norma dalam keluarga, Abria : Menghargai dan menyangi adik/kakak, Mawar : Selalu berbuat baik kepada orang tua.

Pertanyaan ketiga bagaimana sikap positif kita dalam lingkungan masyarakat?. Anggota kelompok menjawab • • • Sharah : Selalu mentaati norma yang berlaku dimasyarakat, Arri : Menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, Chusnul : Bersedia menolong tetangga yang mendapat musibah.

b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir mulai dari awal kegiatan samapai tahap akhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, mampu untuk mengatasi masalah sendiri dan orang lain. Merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang pemahaman-pemahaman baru tentang cara mengembangkan sikap positif yang meliputi pengertian, langkahlangkah menumbuhkan sikap positif dan manfaat bersikap positif pada

saat bimbingan kelompok, komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok bahwa siswa dapat sehari-hari. 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses Sejauh ini pada pertemuan ketujuh saat pemberian layanan bimbingan kelompok ini situasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, jadi dinamika kelompok sudah dapat muncul dengan baik ini dapat terlihat dari indikator yang muncul, dan anggota kelompok begitu kompak dalam membahas topik cara mengembangkan sikap positif. Secara keseluruhan proses dalam kegiatan bimbingan kelompok ini berjalan dengan baik. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami informasi-informasi baru tentang bagaimana cara mengembangkan sikap positif dan manfaat apa yang diperoleh dari bersikap positif. Para anggota merasa nyaman berada dalam kelompok karena para anggota sudah aktif berbicara, dan para anggota kelompok dapat menghargai pendapat anggota yang lain, ini juga terlihat dari indikator yang muncul. Para anggota berkomitmen untuk menerapkan informasi baru yang telah didapatkannya yaitu mengembangkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari. E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok dapat dinilai baik, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apadanya. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan. Dinamika dalam pertemuan ini sudah baik ini nampak dari keaktifan anggota kelompok dalam memberikan pendapatnya secara terbuka dan sukarela. Aspek yang muncul pada pertemuan ini adalah siswa sikap terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, dan mengembangkan sikap positif dalam kehidupan

sikap lebih akrab antar anggota kelompok, belajar untuk mengharhai orang lain dan mengembangkan sikap positif. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan. Semarang, Peneliti Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

SMA Teuku Umar Semarang
LAPORAN PELAKSANAAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Topik Permasalahan

: Cara mengembangkan dan mengarahkan emosi : : Pribadi dan Sosial : Layanan Bimbingan Kelompok : Pemahaman dan Pengembangan : 10 siswa kelas XI SMA Teuku Umar Semarang : : 45 Menit

B. Spesifikasi Kegiatan 1. Bidang Bimbingan 2. Jenis Layanan 3. Fungsi Layanan 4. Sasaran Layanan C. Pelaksanaan Layanan 1. Waktu

2. Hari/Tanggal 3. Tempat

: Kamis, 29 Maret 2007 : Ruang BK SMA Teuku Umar Semarang

4. Deskripsi dan Komentar Pelaksanaan Layanan : Pemimpin kelompok mengawali kegiatan dengan salam dan menanyakan kabar dari para anggota kelompk. Kegiatan bimbingan kelompok diikuti oleh 10 siswa. Tahapan-tahapan dalam bimbingan kelompok sudah terlewati dengan baik. Selanjutnya pada tahap kegiatan pemimpin kelompok mengemukakan topik yang akan dibahas yaitu cara mengendalikan dan mengarahkan emosi. Salah satu anggota memberikan contoh emosi misalnya kita punya barang kemudian dihilangkan oleh teman kita kemudian kita marah kemudian memukul maka kita tidak bisa mengarahkan emosi kita, dan akibatnya kita tidak punya teman kemudian dijauhi teman-teman. Maka kita harus bisa mengendalikan emosi marah kita. Praktikan memberikan contoh apabila teman satu kelompok kita ada yang sakit apa emosi kita dan apa yang harus kita lakukan?. Para anggota menjawab emosi mereka yang muncul adalah sedih, dan akan menjenguk teman kita yang sakit. Contoh yang kedua apabila Abria dapat meraih juara satu dalam lomba bola basket apa emosi kita?.Anggota kelompok merasa senang dan memberikan selamat kepada Abria. Contoh ketiga apabila nilai Ari lebih besar dari pada kalian apa yang dilakukan?. Anggota menjawab merasa iri tetapi mereka akan berusaha agar nilai mereka lebih baik dari Ari dengan cara belajar dengan giat. Dari contoh tersebut para anggota sudah dapat mengarahkan emosi mereka kehal yang positif. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat baik yaitu mereka bisa tahu berbagai informasi, bahwa sebenarnya emosi itu tidak hanya marah saja. D. Evaluasi (Penilaian) 1. Cara Penilaian a. Penilaian proses Penilaian proses dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan mengamati sejauhmana keaktifan dan kesungguhan siswa dalam : :

mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tersebut. Pada tahap kegiatan ini setelah pemimpin kelompok mendiskusikan mengenai cara mengendalikan dan mengarahkan emosi yang meliputi pengertian emosi, macam-macam emosi dan cara mengendalikan emosi. Agil memberikan contoh emosi misalnya kita punya barang kemudian dihilangkan oleh teman kita kemudian kita marah kemudian memukul maka kita tidak bisa mengarahkan emosi kita, dan akibatnya kita tidak punya teman kemudian dijauhi teman-teman. Maka kita harus bisa mengendalikan emosi marah kita. Praktikan memberikan contoh apabila teman satu kelompok kita ada yang sakit apa emosi kita dan apa yang harus kita lakukan?. Para anggota menjawab : • • Dewi : Emosi yang muncul adalah sedih, dan akan menjenguk teman kita yang sakit. Chusnul : Apa yang dikatakan dewi benar kita tidak boleh senang masak teman kita sakit kita malah senang kita harus mendoakan dia biar cepat sembuh. • Arri : Dalam ajaran agamapun mengajarkan kita untuk menjenguk dan mendoakan orang yang sakit meskipun orang yang sakit itu orang yang dibenci kita. Contoh yang kedua apabila ada teman kita meraih juara satu dalam lomba bola basket apa emosi kita?.Anggota kelompok : • • Abria : Merasa senang dan memberikan selamat kepada teman kita. Agil : Sama seperti Abri jadi kita harus bangga kepada teman kita karena berprestasi, sehingga kita bisa termotivasi agar bisa seperti teman kita. Contoh ketiga apabila nilai Ari lebih besar dari pada kalian apa yang dilakukan?. Anggota menjawab :

• • •

Dewi : Saya merasa iri tetapi saya akan berusaha agar nilai mereka lebih baik dari Ari dengan cara belajar dengan giat. Mawar : Emosi yang muncul pertama kali memang emosi iri tetapi kita menjadi termotivasi masak nilai saya kok dibawah Arri. Sugeng : Ya kita termotivasi agar nilai kita lebih tinggi dari pada Ari tapi motivasi yang positif artinya tidak menghalalkan segala cara biar nilainya lebih baik dari pada Arri dengan cara menyontek atau berbuat curang.

Dari contoh tersebut para anggota sudah dapat mengarahkan emosi mereka kehal yang positif. Tanggapan dari para anggota kelompok sangat baik b. Penilaian hasil Dilaksanakan setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir mulai dari awal kegiatan sampai tahap akhir dengan melihat indikator yang ada, seperti percaya diri, merasa setara dengan orang lain, menerima apa adanya. Indikator yang terlihat atau muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini adalah percaya diri yaitu para anggota sudah percaya diri ini terbukti dengan mereka sudah mampu untuk berbicara dan memberikan pendapatnya, Merasa setara dengan orang lain, ini ditunjukkan dengan para anggota tidak meremehkan pendapat orang lain.Tidak bersikap hiperkritis seperti senang terhadap keberhasilan orang lain. Para anggota kelompok dapat menambah wawasan tentang pemahaman-pemahaman baru mengenai topik tentang macam-macam emosi, cara mengendalikan dan mengarahkan emosi serta komitmen yang dibuat oleh anggota kelompok dapat menerapkan cara mengendalikan dan mengarahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari 2. Deskripsi dan komentar tentang hasil layanan : a. Penilaian proses

Sejauh ini para anggota sudah aktif terbuka dalam mengemukakan pendapat, ide, dan tanggapan. Dinamik kelompok dapat terwujud dengan baik, anggota kelompok begitu kompak dalam membahas topik cara mengendalikan dan mengarahkan emosi. b. Penilaian hasil Para anggota kelompok sudah memahami topik yang dibahas yaitu cara mengendalikan dan mengarahkan emosi. Para anggota merasa nyaman dengan sukarela dan terbuka mengeluarkan pendapatnya, selain itu para anggota merasa senang telah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok ini terlihat dari indikator yang muncul. Para anggota kelompok akan berkomitmen untuk mempratekkan tentang informasi baru yang telah didapatkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu cara mengendalikan dan mengarahkan emosi.

E. Analisis Hasil Penilaian : Dari proses penilaian yang dilakukan, kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok dapat dinilai baik, ini dapat terlihat dari indikator yang muncul dalam proses kegiatan bimbingan kelompok kali ini yaitu percaya diri, merasa setara dengan orang lain, tidak bersikap hiperkritis. Anggota kelompok dapat menguasai dan memahami materi yang diberikan. Dinamika dalam pertemuan ini sudah baik ini nampak dari keaktifan anggota kelompok dalam memberikan pendapatnya secara terbuka dan sukarela. Aspek yang muncul pada pertemuan ini adalah tidak senang terhadap keberhasilan orang lain, menghargai orang lain, tidak mencela atau meremehkan orang lain, tidak sombong dan siswa dapat mengendalikan dan mengarahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari. F. Tindak Lanjut : Tindak lanjut yang dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan bagi siswa yang berkonsultasi dengan materi yang bersangkutan.

Semarang, Peneliti

Maret 2007

Suprapto NIM. 1301402048

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->