P. 1
Terapi Cairan Dan Elektrolit

Terapi Cairan Dan Elektrolit

|Views: 99|Likes:
Published by yesci

More info:

Published by: yesci on Sep 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

TERAPI CAIRAN dan Elektrolit

Oleh: Yesci Haniversari Nening Fitria

TERAPI CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Penghitungan kebutuhan cairan didasarkan pada
Prinsip cairan masuk = cairan keluar (seimbang). Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makan dan minum, yang normalnya menambah cairan tubuh sekitar 2100 ml/hari, serta dari sintesis di tubuh yang menambah sekitar 200 ml/hari. Kedua hal ini memberikan asupan harian total kira-kira 2300 ml/hari, yang jumlahnya kadang bervariasi pada masingmasing orang bahkan pada orang yang sama pada hari yang

  

Asupan air dan elektrolit ini akan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif sama melalui: - Insensible water loss (baik melalui kulit ataupun traktus respiratorius) Volume dewasa = ±15 ml/kgBB/hari Anak-anak = {30-(tahun)} ml/kgBB/hari - keringat - feses (1 ml/hari) - Produksi urine Dewasa = >0,5-1 ml/kg/jam Anak = 1-2 cc/kg/jam Bayi (<1 tahun) = > 2cc/kg/jam Apabila terjadi gangguan homeostasis cairan pada seseorang, harus segera diberikan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit.

KOMPARTEMEN CAIRAN TUBUH
Tubuh manusia terdiri dari zat padat (40% dari Berat Badan) dan zat cair (60% dari Berat Badan). Total cairan tubuh bervariasi di antara 55-70%, bergantung pada umur dan jenis kelamin.

Cairan tubuh (60%BB) terdiri dari: 1. Cairan intrasel : 40% dari BB 2. Cairan ekstrasel : 20% dari BB, terdiri dari; a. Cairan intravaskular : 5% dari BB b. Cairan interstitial : 15% dari BB 3. Cairan transeluler (1-3% dari BB),meliputi : LCS, synovial, gastrointestinal dan orbital. Bayi mempunyai cairan ekstrasel yang lebih besar dari intrasel, dimana perbandingan ini akan berubah sesuai perkembangan tubuh, sehingga pada dewasa cairan intrasel 2 kali cairan tubuh.

Kebutuhan air dan elektrolit setiap hari :
1. 

Dewasa

Air : 30-35 ml/kg, kenaikan suhu tubuh 1 derajat Celsius ditambah 10-15%  Na+ : 1,5 mEq/kg (100 mEq/hari atau 5,9 g  K+ : 1 mEq/kg (60 mEq/hari atau 4,5 g)

2. Bayi dan anak  Air :  0-10 kg 4 ml/kg/jam (100 ml/kg/hari)  10-20 kg 40 ml + 2ml/kg/jam setiap kg di atas 10 kg (1000 ml + 50 ml/kg di atas 10 kg/hari)  >20 kg 60 ml + 1 ml/kg/jam setiap kg di atas 20 kg (1500 ml + 20 ml/kg di atas 20 kg/hari)  Na+ : 2 mEq/kg  K+ : 2 mEq/kg

Tabel kebutuhan intake cairan berdasarkan umur dan berat badan

No. Umur BB (kg) Kebutuhan Cairan (ml) 1. 3 hari 3 250 – 300

2.

1 tahun

9,5

1150 – 1300

3.

2 tahun

11,8

1350 – 1500

4.

6 tahun

20

1800 – 2000

5.

10 tahun

28,7

2000 – 2500

6.

14 tahun

45

2200 – 2700

7.

18 tahun

54

2200 – 2700

Adapun komposisi elektrolit cairan tubuh normal per hari meliputi Plasma : Elektrolit plasma Interstitial
(mEq/L) Cairan KATION Natrium Kalium Kalsium Magnesium TOTAL ANION Klorida (mEq/L) Cairan 152 4 5 3 164 109 (mEq/L) 142 4 5 3 154 103 145 4 3 1 153 114

Bikarbonat Fosfat Sulfat Asam Organik Protein TOTAL

27 2 1 5 16 154

29 2 1 6 17 164

30 2 1 5 1 153

INTAKE DAN OUT PUT Intake Cairan  Selama aktivitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.

Mengukur Intake Dan Output a. Definisi  Merupakan suatu tindakan mengukur jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh (intake) dan mengukur jumlah cairan yang keluar dari tubuh (out put). b. Tujuan  Menentukan status keseimbangan cairan tubuh klien.  Menentukan tingkat dehidras. c. Prosedur  Menentukan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh, terdiri dari air minum, air dalam makanan, air hasil oksidasi (metabolisme), cairan intra vena.  Menentukan jumlah cairan yang keluar dari tubuh klien, terdiri dari urine, keringat, feses, muntah, insensible water loss (IWL).

Tindakan Untuk Mengatasi Masalah/Gangguan dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan elektrolit

a)

Pemberian cairan melalui infus
Cara menghitung tetesan infus :

1) Dewasa : (makro dengan 20 tetes/ml) Tetesan /menit = Jumlah cairan yang masuk Lamanya infuse (jam) x 3 Atau tetesan/menit = ∑ Keb.cairan x faktor tetesan Lama infuse (jam) x 60 menit Keterangan :  Faktor tetesan infus bermacam-macam, hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes / menit, 15 tetes / menit dan 20 tetes /menit) 2) Anak : Tetesan per menit (mikro) = Jumlah cairan yang masuk Lamanya infus (jam)

b) Transfusi Darah  Transfusi darah merupakan tindakan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan seperangkat alat transfusi pada pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.

Perpindahan cairan tubuh dipengaruhi oleh :
1. Tekanan hidrostatik Yaitu tekanan yang mempengaruhi pergerakan air melalui dinding kapiler.Bila albumin rendah maka tekanan hidrostatik akan meningkat dan tekanan onkotik akan turun sehingga cairan intravaskuler akan didorong masuk ke inerstitial yang berakibat edema. 2. Tekanan onkotik atau tekanan osmotik koloid Merupakan tekanan yang mencegah pergerakan air. Albumin menghasilkan 80% dari tekanan onkotik plasma,sehingga bila albumin cuup pada cairan intravaskuler maka cairan tidak akan mudah masuk ke interstitial.

FAKTOR-FAKTOR MODIFIKASI KEBUTUHAN CAIRAN

Kebutuhan Ekstra :
1. Demam (12 % setiap kenaikan 1°C di atas 37°C) 2. Hiperventilasi 3. Suhu lingkungan tinggi 4. Aktivitas ekstrem 5. Setiap kehilangan abnormal, misal : diare, poliuria

Penurunan kebutuhan : 1. Hipotermia (12 % setiap 1°C di bawah 37°C) 2. Kelembaban sangat tinggi 3. Oliguria atau anuria 4. Hampir tidak ada aktivitas 5. Retensi cairan misal gagal jantung

PEMBERIAN CAIRAN
Pemberian cairan bisa melalui oral, ataupun melalui jalur intravena dengan pemasangan infus. Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:

- Kondisi jaur enteral (via oral) tidak memungkinkan, missal pada pasien penurunan kesadaran, kejang
- Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) - Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) - Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) - “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) - Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi) - Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)

- Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

Jenis infus yang dipasang bisa berupa:

infus set dengan tetesan mikro (untuk anak usia <1 tahun) (1 cc = 60 tetes mikro) infus set dengan tetesan makro (1 cc = 20 tetes

JENIS CAIRAN
Ada dua jenis cairan pengganti cairan tubuh : 1. Cairan kristaloid : merupakan cairan yang mengandung partikel dengan berat molekul (BM) rendah (<8000 Dalton), dengan atau tanpa glukosa. Tekanan onkotik rendah, sehingga cepat terdistribusi ke seluruh ruang ekstraseluler. Contoh cairan kristaloid:

Larutan ionic
1. Ringer Lactate (RL)
Merupakan cairan paling fisiologis jika sejumlah volume besar diperlukan. Komposisi : Na+ 130, K+ 4, Cl- 109, Ca++ 3, Lactate- 28 Indikasi : sebagai replacement therapy, seperti :
 Syok hipovolemik  Diare  Tauma

Catatan utk pemakaian RL
Laktat

yang terdapat di dalam RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat untuk memperbaiki keadaan seperti asidosis metabolik  Kalium yang terdapat di dalam RL tidak cukup untuk maintenance seharihari, apalagi untuk defisit kalium Tidak mengandung gukosa sehingga bila dipakai sebagai cairan maintenance harus ditambah glukosa untuk mencegah terjadinya ketosis

2. Ringer Acetate

Komposisi : Na+ 130, K+ 4, Cl- 109, Ca++ 3, Acetate - 28 Indikasi : digunakan sebagai terapi pengganti cairan pada pasien dengan gangguan hepar, karena metabolisme asetat terjadi di otot, berbeda dengan laktat yang dimetabolisme di hati (hepar).

3. NaCl physiologic (0,9% saline)
Komposisi : Na+ 154 Cl- 154 Digunakan sebagai cairan resusitasi (Replacement Therapy) terutama untuk kasus :
 Kadar Na+ rendah  Keadaan dimana RL tidak cocok digunakan, misalnya pada alkalosis, retensi kalium  Cairan pilihan untuk trauma kapitis  Dipakai untuk mengencerkan darah merah sebelum transfuse

Kekurangan NaCl :  Tidak mengandung HCO3 Tidak mengandung K+  Kadar Na+ dan Cl- relatif tinggi sehingga dapat terjadi acidosis hyperchloremia, acidosis dilutional dan hypernatremia.  o Hartmann’s solution

Non-ionik
1. Dextrose 5% dan
Indikasi : ◦ digunakan sebagai cairan maintenance pada pasien dengan pembatasan intake natrium atau cairan pengganti pada pure water deficit. ◦ Penggunaan perioperatif. Kekurangan : ◦ Tidak mengandung elektrolit ◦ Cairan hipotonik sehingga menambah volume intrasel sehingga dapat mengakibatkan terjadinya edema anasarka (edema seluruh tubuh). ◦ Menyebabkan hiponatremia dan hipokloremia (gangguan keseimbangan elektrolit).

10%

2. Cairan Koloid
merupakan cairan yang mengandung zat dengan BM tinggi (>8000 Dalton), missal protein. Tekanan onkotik tinggi, sehingga sebagian besar akan tetap tinggal di ruang intravaskuler. Contoh:
◦ Plasma Protein fraction: plasmanat ◦ Albumin ◦ Blood product : Fresh Frozen Plasma (FFP), Red Blood Cells ◦ Concentration, Cryoprecipitate

TERAPI RUMATAN (Maintenance Therapy)
Terapi rumatan diberikan untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi, biasanya larutan yang digunakan adalah larutan yang mengandung cukup kalium sesuai dengan kebutuhan harian.  Perhitungan Cairan Rumatan (Bed Rest/tirah baring) :
◦ ◦ ◦ ◦ Volume : 30-40 ml/kgBB/hari Natrium : 2-4 mEq/kgBB/hari Kalium : 1-3 mEq/kgBB/hari Kalori : 25-30 Kcal/kgBB/hari

 Diberikan

dengan kecepatan rat-rata 80 ml/jam (BB = 50 kg) ◦ Pada anak, untuk estimasi kebutuhan cairan m aintenance (rumatan) digunakan rumus 4 : 2 : 1

Berat Badan
0-10 kg pertama 10-20 kg berikutnya Untuk setiap kg di atas 20 kg

Jumlah Cairan
4 ml/kg/jam Tambahkan 2 ml/kg/jam Tambahkan 1 ml/kg/jam

Misal:  Seorang anak usia 12 tahun dengan BB 25 kg. Berapa kebutuhan cairan maintenance-nya? Jawab:  Infus = (4x10) + (2x10) + (1x5) = 65 ml/jam  Kebutuhan sehari (24 jam) = 24 x 65 ml = 1560 ml ∞ 1500 ml  Kebutuhan cairan seseorang dapat dipenuhi melalui oral, intravena (infus) ataupun keduanya.

Sebagai contoh, apabila keseluruhan cairan rumatan diberikan melalui jalur intravena (infus), maka perhitungan tetesan infus, jika digunakan tetesan makro (1 cc = 20 tetes) adalah sebagai berikut

= kebutuhan cairan x tetesan infuse per cc/waktu penghitungan kebutuhan cairan (dalam jam) x 60 menit = 65 x 20 / 1 x 60 = 1300/60 tpm makro = 21,67 tpm makro ∞ 22 tpm makro *keterangan : tpm = tetes per menit

Gangguan/masalah dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan
A) Hipovolume atau dehidrasi : Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan.  Ada tiga macam kekurangan volume cairan eksternal atau dehidrasi, yaitu:
1) Dehidrasi isotonic, terjadi jika kekurangan sejumlah cairan dan elektrolitnya yang seimbang. 2) Dehidrasi hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada elektrolitnya. 3) Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolitnya daripada air.

Macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya : a. Dehidrasi berat
• • • • • • • Pengeluaran/ kehilangan cairan 4-6 L Serum natrium 159-166 mEq/L Hipotensi Turgor kulit buruk Oliguria Nadi dan pernapasan meningkat Kehilangan cairan mencapai > 10% BB

b. Dehidrasi sedang
• Kehilangan cairan 2-4 l atau antara 5-10% BB • Serum natrium 152-158 mEq/L • Mata cekung

c. Dehidrasi ringan, dengan terjadinya kehiangan cairan sampai 5% BB atau 1,5 – 2 L.

B) Hipervolume atau overhidrasi  Terdapat dua manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu, hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial).
Tindakan Dehidrasi: 1. Tentukan defisit 2. Atasi syok: cairan infus 20 ,l/kg dalam 1 jam, dapat diulang 3. Sisa defisit : - 50% dalam 8 jam pertama -50% dalam 16 jam berikutnya Cairan : RL atau NaCL 0,9%

2. Kebutuhan Elektrolit  Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrient, dan sisa metabolisme (seperti karbondioksida), yang semuanya disebut dengan ion.

Jenis Cairan Elektrolit  Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap. Cairan saline terdir dari cairan isotonic, hipotonik, dan hipertonik. Gangguan /Masalah Kebutuhan Elektrolit  Hiponatremia : Suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L, mual, muntah dan diare.

Terapi: Berikan Nacl 3% 1. Na+ ≥ 125 mg/L 2. Na+ ≤ 120 mg/L x 0,6= mg 3. Pediatrik : 1,5-2,5 mg/kg

Restriksi Cairan NaCl 3 % : (140-X) x BB

Hipernatremia
Suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi, yang ditandai dengan adanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering.  Terapi: Kelebihan Natrium : (x-140)xBB x0,6= ..mg Defisit cairan : {(x140)xBBx0,6}: 140=

Hipokalemia
Suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah. Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan.  Terapi: Berikan KCL

◦ K+ > 3 mEq/L oral atau via /NGT: 20-40 m.mol ◦ K+ < 3 mEq/L (4,5-X) x BB x 0,3= mEq Kecepatan: 0,5 mEq/kq/jam;jam;pediatrik: 0,2-mEq/kg/jam

Hiperkalemia
Suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Keadaan ini sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik. Hiperkalemia dditandai dengan adanya mual, hiperaktifitas system pencernaan  Terapi: ECG abnormal: CaCl2 10%, 5-10ml pelan-pelan. Redistribusi Kalium: Insulin 10 unit dan 5% Dextrose 500 ml i.v; natrium bikarbonat 1 mEq/kg i.v pelan-pelan: ß2 agonist albuterol inhaled 10-20 mg. Eksresi Kalium: Loop diuretik (Lasic), dialisa Hiperventilasi, sehingga CO2 turun alkalosis respiratorik K’ masuk intrasel

Hipokalsemia
Kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah. Hipokalsemia ditandai dengan adanya kram otot dan karam perut, kejang,bingung, dll.  Terapi : CaCl2 10%: 3,4 ml atau CaGuconas 10%: 10 ml

Hiperkalsemia
Kelebihan kadar kalsium dalam darah. Terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan. Hiperkalsemia ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, dll, dan kadar kalsium daam plasma lebih dari 4,3 mEq/L  Terapi: NaCl 0,9% +loop diuretik (furosemid) NaCl: perbaiki volume intravaskuler perkusi jaringan aliran darah ke ginjal

Magnesium
Hipomagnesium: kekurangan kadar magnesium dalam darah. Hipomagnesia ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, dll, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 mEq/L.  Hipermagnesium: merupakan kelebihan kadar magnesium dalam darah. Hal ini ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.

Terapi : Emergensi (arrythmia) : MgSO4 10% 0,2ml/kg/dose i.v pelan-pelan

Keseimbangan Asam Basa
◦ Dalam keadaan normal, nilai pH cairan tubuh 7,35 - 7,45. keseimbangan dapat dipertahankan melalui proses metabolisme dengan sistem buffer pada seluruh cairan tubuh dan melalui pernapasan dengan sistem regulasi (pengaturan di ginjal). Tiga macam sistem larutan buffer cairan tubuh yaitu larutan bikarbonat, larutan buffer fosfat, dan larutan buffer protein.

Jenis Asam Basa  Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi osidosis. Keadaan osidosis dapat di sebabkan karena henti jantung dan koma diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium (sodium laktat) dan natrium bikarbonat.

 

Asidosis respiratorik : Merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kegagalan system pernapasan dalam membuang karbondioksida dari cairan tubuh. Asidosis metabolik : Merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan asam. Alkalosis respiratorik : Merupakan suatu keadaan kehilangan CO2, dari paru-paru yang dapat menimbulkan terjadinya paCO2 arteri kurang dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45. Alkalosis metabolik : Merupakan suatu keadaan kehilangan ion hydrogen atau penambahan cairan basa pada cairan tubuh dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan pH arteri lebih dari 7,45.

Perdarahan
variabel Sistolik (mm/Hg) Kelas I < 110 Kelas II >110 Kelas III >90 Kelas IV <90

Nadi (x/i) Nafas (x/i) Mental Kehilangan darah

< 100 16 anxious <750 ml <15%

> 100 16-20 agitated 750-1500 ml 15-30%

> 120 21-26 confused 1500-2000 ml 30-40%

>140 >26 lethargic >2000 ml >40%

Transfusi dengan Whole blood: (Hbx-Hbpasien)xBB x6= ml Packed Red Cell:(Hbx-Hbpasien)xBBx3= ml Bila dipakai cairan kristaloid: 3 kali volume darah yang hilang  Cairan koloid: sesuai jumlah darah yang hilang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->