P. 1
Peran Psikologi Dalam Perang Dan Militer

Peran Psikologi Dalam Perang Dan Militer

|Views: 877|Likes:
Published by windaastuti9

More info:

Published by: windaastuti9 on Sep 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2013

pdf

text

original

Peran Psikologi dalam Perang dan Militer

Sabtu, 4 Februari 2012 · 11:36 WIB

Janice H. Laurence (Temple University)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Ketika Amerika Serikat diminta untuk menanyakan faktor keberhasilan dalam perang abad ke-20 dan konflik abad ke-21, maka yang dicari adalah jawaban pada bidang-bidang seperti fisika, kimia dan teknologi informasi. Namun ada bidang keilmuan yang memiliki kontribusi dalam perang modern dan tidak terlihat, yaitu psikologi. Menurut Janice H. Laurence, profesor perkembangan dewasa dan organisasi di Temple’s College of Education, bidang psikologi memiliki pengaruh dalam sebuah perang melalui berbagai cara. Sebaliknya, ia mengatakan, perang modern seharusnya memerlukan inovasi dalam bidang psikologi yang memiliki aplikasi jauh melampaui militer. Laurence, yang baru saja pensiun dari Pentagon sebagai direktur penelitian dan analisis di Kantor Wakil Menteri Pertahanan, Personalia dan Kesiapan, telah mengumpulkan sebuah pengetahuan terbaru dari bidang psikologi militer dan menerbitkannya dalam buku berjudul The Oxford Handbook of Military Psychology (Januari, 2012), rilis Temple University (31/1). Topik yang dibahas di buku pegangan ini mencakup bidang klinis, psikologi industri/organisasi, eksperimen, dan sosial. Kontributor dalam buku ini adalah para ahli internasional terkemuka dalam psikologi militer. “Militer merupakan tempat penelitian mutakhir tentang kepemimpinan”, kata Laurence. Penelitian menarik dalam sebuah kepemimpinan saat kelangsungan hidup dan kesejahteraan dipertaruhkan dalam sebuah perang. Psikologi militer sedang membangun pengetahuan yang dapat menginformasikan strategi mengembangkan pemimpin yang efektif. Kondisi perang modern saat ini, memiliki prosedur evakuasi yang cepat dan telah membawa perbaikan dalam psikologi konseling dan klinis untuk mengatasinya.

“Kami melihat perkembangan menarik dalam pengobatan gangguan stres, cara terbaik menangani trauma dan bagaimana membangun ketahanan,” katanya. Daerah lain yang menunjukkan hubungan penting antara militer dan psikologi adalah perekrutan, pelatihan, memotivasi, menjaga, mengelola, mengintegrasikan dan mempertahankan anggota militer. Bahkan aplikasinya dapat diterapkan dalam arena non-militer. “Pengetahuan yang diperoleh dari psikologi militer meningkatkan kehidupan manusia dalam semua domain,” tutup Laurence. (mba)

http://www.psikologizone.com/peran-psikologi-dalam-perang-dan-militer/065114965

SEKILAS TENTANG PENGGUNAAN ILMU PSIKOLOGI DALAM DUNIA MILITER Oleh: Lettu Inf. Ahmad Tris HOMEKEMBALI P ertempuran di zaman modern seperti sekarang ini banyak menggunakan beragam peralatan canpengoperasiannya, tentu saja peralatan ini membutuhkan sumber daya manusia dengan beragam kespesifik sebagai "otak" yang mengoperasikan peralatan tersebut. Tanpa adanya sumber daya manusdalam mengoperasikan, maka peralatan secanggih apapun akan menjadi sia-sia.Manusia sendiri memiliki sedikit kemiripan dengan mesin, karena ia merupakan organisme yang komemiliki kemampuan serta kapasitas yang berbeda. Beberapa kemampuan dan kapasitas yang dimilmerupakan faktor bawaan yang memiliki keterbatasan. Sebagai contoh, kemampuan melihat,manusiketerbatasan dalam situasi yang gelap dan tidak akan dapat melihat dengan jelas. Dikaitkan denganpermasalahan yang dihadapi adalah sejauhmana keterbatasan ini disadari sehingga akan dapat diraperalatan yang dapat memaksimalkan kemampuan manusia, sehingga ia dapat melaksanakan tugassituasi yang sangat sulit sekalipun. Padahal ini dipelajari dalam Psikologi Ergonomik (Human EngineriSelain kemampuan, manusia juga memiliki keterampilan yang biasanya dipelajari dan bukan diwariKepemimpinan dan kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain merupakan salah satu contoyang dipelajari. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam mempelajari sesuatu secaradalam mempelajari hal-hal khusus. Sebagai contoh, mungkin saja seseorang itu secara umum memiliyang tergolong baik dalam kelompok usianya, namun bisa saja dalam mempelajari hal-hal khusus, mkemampuan dalam mempelajari sandi ia memiliki kesulitan. Dalam hal ini peran psikologi sangat dodalam menentukan kapasitas seseorang dalam mempelajari suatu keterampilan secara umum maupkhusus. Psikologi dapat membantu dunia militer dalam menentukan kemampuan apa saja yang dibutugas-tugas tertentu dan bagaimana cara mendapatkan kemampuan itu melalui seleksi dan pelatihaManusia sebagai suatu media pada saat pasukan memenangkan pertempuran seharusnya memperfungsi-fungsi psikologis dari setiap prajuritnya. Psikologi militer

dalam hal ini dapat membantu untukkemampuan dan batas kemampuan yang dimiliki oleh prajurit dan juga bagaimana prajuritnya bereayang dihadapi, termasuk di dalamnya cara berinteraksi sesama prajurit maupun antara prajurit danbaik yang memihak maupun menentang. Selain itu psikologi militer juga membantu dalam mengeta

emosi dan tingkah laku masyarakat sipil yang menentang kita sehingga kita dapat membelokan kepdan memenangkan perang tanpa harus bertempur, inilah tujuan yang ingin dicapai melalui perang p Pemanfaatan Psikologi dalam dunia militer Secara praktis kegunaan psikologi dalam militer dapat dijabarkan dalam bidang-bidang sebagai be• Observasi .Observasi dan bagaimana cara kita mengenali sesuatu memainkan peranan yang penting dalam dSeberapa akurat kita bisa mempersepsi atau mendengar sesuatu seringkali menjadi penentu dalamPenggunaan kamuflase dan kontra kamuflase, pemahaman mengenai medan yang dihadapi, serta kmelihat pada para penerbang merupakan sebagian kecil dari pentingnya persepsi dalam militer. • Kinerja. Permasalahan psikologi militer dalam memahami kinerja prajuritnya terbagi dalam dua hal, yaitu kefisiensi. Keahlian seringkali didapatkan melalui seleksi prajurit-prajurit yang memiliki keahlian tertelatihan. Pengembangan keahlian seseorang bisa juga diasah melalui serangkaian prosedur yang diderupa sehingga dapat memudahkan prajurit untuk menampilkan kinerja yang optimal. Seringkali prosdipelajari agar dapat dikuasai dengan baik, sebagai contoh seorang prajurit tidak mungkin dapat mecara meremas picu secara benar bila hanya diberi tahu tanpa dia mencobanya. Agar dia mampu melmeremas picu yang benar, dia harus mencobanya berkali-kali hingga mahir.Permasalahan lain dalam psikologi militer adalah efisiensi yaitu bagaimana cara mengahasilkan sesubesarnya dengan usaha yang sekecil mungkin. Pertempuran adalah suatu kompetisi dan dalam kommampu menghasilkan lebih banyak dengan usaha yang lebih sedikit akan menjadi pemenangnya. Daaktivitas yang sering dilakukan adalah suatu aktivitas yang berulang dan dilakukan berkali-kali. Hal iagar prajurit dapat mempelajari bagaimana cara terbaik dalam menyelesaikan tugasnya tanpa haruskelelahan yang berarti. Melalui teknik latihan tertentu dapat juga digunakan untuk meminimalisir kelmencegah timbulnya kebosanan.

Hal lain yang berkaitan dengan efisiensi adalah bagaimana angkatmeminimalisir angka kecelakaan yang terjadi serta efek dari makanan, minuman serta obat-obatan tmoral prajurit. • Seleksi Manusia memiliki keragaman yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Keragaman tersebut dalaberkaitan dengan kemampuan dan bakat dalam mempelajari hal-hal tertentu. Untuk memudahkan dproses pendidikan agar tercipta prajurit-prajurit yang handal, maka sangat penting untuk memilih prkemampuan serta bakat yang dibutuhkan sesuai dengan tugas-tugas yang akan dihadapi. Dalam prodigunakan berbagai macam metode yang dianggap tepat, misalnya melalui psikotes, wawancara dangaris besar, seleksi adalah proses untuk menentukan personel yang tepat untuk tugas yang tepat dapada saat seleksi saja. Selama menjalani karir di dunia militer, setiap prajurit harus selalu diukur dankemampuannya seiring dengan perkembangan prajurit tersebut sebagai hasil dari latihan yang didaplembaga pendidikan maupun pengalaman bertugas di satuan.

• Pelatihan Hidup seorang prajurit sebagian bebaik itu latihan sebagai pasukan temsebagai banpur atau banmin. Banyakpendidikan yang diberikan oleh angkpara prajuritnya, baik dalam tingkat tmaupun perwira. Semua pelatihan tedimaksudkan agar prajurit siap mengdiembannya dan mampu melaksanakhasil yang maksimal.Dalam pelatihan, dibutuhkan pemahapsikologi belajar. Seorang prajurit harbagaimana caranya berlatih dan prosterhadap hal yang baru, bagaimanapemahaman merupakan hal yang peHal yang penting adalah bagaimana cagar dapat belajar secara efisien. Prajurit harus belajar bagaimana cara belajar yang baik, bagaimanmasalah yang paling tepat dan bagaimana mengaplikasikan cara belajar yang paling efisien dalam d • Penyesuaian Diri Setiap manusia terlebih prajurit, harus memiliki kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengadihadapinya dan dengan orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Seringkali penyesuaian diri inpersoalan yang besar karena sulit bagi manusia untuk dapat beradaptasi dengan setiap perubahan ydengan baik. Banyak sekali hal yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menyesuaikanmotivasi, moral, emosi, dsb.Motivasi penting untuk mengetahui bagaimana kebutuhan-kebutuhan

berpengaruh pada cara berpikibagaimana kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat menyebabkan konflik yang akan mengarah pada frfrustasi nantinya akan mengarah pada tingkah laku aggresi, apatis atau tingkah laku melarikan diri,seorang prajurit menampilkan tingkah laku penyesuaian diri yang tidak adekuat dengan menampilkaekstrem yang tidak diharapkan. Hal tersebut adalah butir-butir yang penting untuk dijadikan bahan pketika kita berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kondisi penuhMoril pada dasarnya adalah suatu kondisi penyesuaian diri yang sehat dari seorang prajurit terhadapdihadapinya. Prajurit yang memiliki moril baik adalah prajurit yang dapat bekerjasama dengan orangyang sulit sekalipun. Dalam menjaga moril, peran seorang pemimpin sangat dominan dan syarat agapemimpin dapat menjaga moril anggotanya adalah dia harus dapat memahami anggotanya denganEmosi dalam dunia militer biasanya berkaitan dengan rasa takut. Semua prajurit harus memiliki pemrasa takut, menyadari adanya rasa takut dan tidak merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya mertakut ini malah harus digunakan untuk membuat kita menjadi lebih efisien dalam bertempur. • Relasi Sosial Dalam lingkungan militer, perlu memahami pola-pola relasi yang ada dan bagaimana memanfaatksarana agar dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ada empat hal dalam relasi di dunia militerperanan penting, yaitu kepemimpinan, rumor, rasa panik dan relasi dengan orang yang berasal dariberbeda.
http://www.scribd.com/doc/66253799/Perspektif-Dalam-Psikologi-Sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Dinas Psikologi di lingkungan TNI AD merupakan kelanjutan dari Leger Psychologiesche Dienst (LPD, Dinas Psikologi Tentara KNIL -red). Biasa disebut dengan Dispsiad, bertugas untuk melakukan kegiatan psikologis dilingkungan TNI AD, diantaranya terlibat dalam seleksi calon anggota, pengembangan karier dan kepribadian personel anggota, evaluasi kelayakan anggota secara psikologis, mengembangkan penelitian yang berkaitan antara psikologi dan ketentaraan baik dibidang sosial kemasyarakatan, strategi perang, perencanaan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinas_Psikologi_Tentara_Nasional_Indonesia_Angkatan_Darat

PSIKOLOGI : Tentara, Profesi yang Rawan Bunuh Diri Tag : PSIKOLOGI, :, Tentara, Profesi, Yang, Rawan, Bunuh, Diri BERITA - kesehatan.infogue.com - - Berada dalam situasi selalu waspada pada pertempuran dan kelelahan tentu menimbulkan rasa stres. Tak heran bila banyak tentara, terutama yang diterjunkan di medan perang, kemudian mengalami depresi dan dilanjutkan bunuh diri. Tengok saja laporan dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Tahun lalu, ada 143 tentara dan 113 orang dari satuan tugas lainnya yang mengakhiri hidupnya sendiri. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Sementara itu, tahun ini sudah tercatat 100 orang tentara yang sedang bertugas dilaporkan bunuh diri. Karena itu, kini pemerintah AS tengah melakukan penyelidikan mengenai fenomena bunuh diri di kalangan prajuritnya. Hampir setengah juta tentara mengikuti studi tersebut. Dalam studi yang akan berlangsung selama tiga tahun itu, para tentara rekrtutan baru akan diselidiki, khususnya untuk mengetahui faktor kematangan psikologinya. "Dalam 100 tahun terakhir, angka bunuh diri di kalangan tentara meningkat dua kali lipat. Sebelum tahun 2001, hanya separuh dari populasi orang sipil. Tapi kini meningkat pesat," kata Robert Heinssen, direktur penelitian yang diadakan oleh National Institute of Mental Health. Selain wawancara, para tentara itu juga akan diteliti air liur dan contoh darahnya untuk mengetahui ada tidaknya faktor genetik terhadap kecenderungan bunuh diri. Menurut Heinssen, berada dalam situasi peperangan dan stres yang tinggi hanyalah salah satu dari faktor yang kompleks yang mendorong seseorang untuk bunuh diri. Cara individu memecahkan masalah dan bagaimana mereka menghadapi stres juga ikut berkontribusi. Faktor lainnya adalah faktor genetik dan kaitan neurobiologikal. Akumulasi dari berbagai faktor tersebut, bila tidak mendapat saluran yang tepat, sangat potensial menjadi sikap frustasi, yang memicu bunuh diri. Hilangkan stigma Menanggapi studi tersebut, salah seorang anggota keluarga tentara yang bunuh diri, Charles McKinney, mengatakan fenomena tentara bunuh diri akan tetap ada selama budaya militer yang menghalangi orang untuk mencari bantuan kesehatan mental tetap ada.

"Bila stigma (mengenai sakit jiwa) tetap ada dan budayanya belum berubah, semua wawancara dan penelitian itu tak akan mengubah apa-apa," kata McKinney, yang putranya, Jeff McKinney, tewas bunuh diri saat sedang bertugas di Irak. Sersan satu Jeff McKinney telah menjadi tentara selama 19 tahun dan tak punya riwayat kelainan jiwa. Tetapi, pada bulan Juni 2007, rangkaian bom yang diledakkan di pinggir jalan membunuh sebagian anak buahnya. Satu bom meledak tepat di depan kendaraan yang dipakainya untuk patroli. Mengenai hal ini, sang ayah yakin hal itu menyebabkan cedera di kepalanya. "Selain mengalami post traumatic stress disorder, otaknya secara fisik terpengaruh oleh ledakan itu," kata McKinney. Sejak saat itu, Jeff kehilangan nafsu makannya dan tidak bisa tidur selama beberapa hari. Menurut komandannya, Jeff merasa bertanggung jawab pada kematian anak buahnya. Meski jelas depresi, ia menolak untuk menemui psikiater. Sehari sebelum meninggal, komandannya meminta Jeff untuk tidur dan sementara waktu tidak memimpin pasukan berpatroli karena khawatir anak buahnya mulai kehilangan respek. "Banyak tentara yang pulang perang dalam kondisi trauma dan tidak ditangani. Hal ini menimbulkan sindrom seperti kecanduan obat, alkohol, kekerasan dalam rumah tangga, serta bunuh diri. Hal ini terjadi juga pada tentara di Irak atau Afganistan. Seharusnya kita belajar dari pengalaman di Vietnam," kata McKinney yang juga veteran perang Vietnam. "Tentara yang bunuh diri tidak mati di medan perang, tapi mereka mati karena melawan perangnya sendiri. Saya tetap bangga pada putera saya. Ia tetaplah pahlawan bagi kami," kata McKinney. AN Sumber : BBC
http://kesehatan.infogue.com/psikologi_tentara_profesi_yang_rawan_bunuh_diri

psikologi klinis dengan pendidikan militer
“Dimana ada manusia , disitu pasti dibutuhkan psikologi” kalimat itu yang sering diucapkan para mahasiswa psikologi. Memang kalimat tersebut tidaklah salah, karena psikologi menjadi bidang ilmu yang tidak dapat dilepaskan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Banyak bidang ilmu yang selalu terkait dengan psikologi, sehingga peran psikologi tidak dapat dianggap kecil, mulai dari bidang medis, pendidikan, social, komunikasi, hukum dan lain sebagainya bahkan sampai bidang militer pun psikologi masih dapat berperan besar baik mulai dari perekrutan anggota militer, masalah personal dari seorang prajurit hingga dalam hal pendidikan kemiliteran. Tak sedikit pula peran psikologi terutama psikologi klinis didalam dunia pendidikan kemiliteran. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa psikologi klinis hanya berperan dan hanya merentangkan sayapnya pada dunia klinis atau medis yang menerapkan fungsinya sebatas di rumah sakit, rumah sakit jiwa tetapi sebenarnya fungsi psikologi klinis sangatlah luas, bahkan seperti yang telah disebutkan diatas bahwa psikologi klinis dapat memberikan peranannya di bidang pendidikan kemiliteran. Bila kita mengetahui beberapa peran psikologi klinis dalam dunia kemiliteran mungkin dapat merubah pandangan akan sempitnya peran psikologi klinis seperti yang dahulu kita pikirkan. Seperti yang telah diketahui bahwa kemiliteran merupakan bidang yang rawan terhadap penyakit mental dimana banyak timbul suatu konflik, dan ketegangan disekitar mereka. Pendidikan kemiliteran bersifat keras yang berupaya untuk mendidik dan memupuk suatu kedisiplinan, ketangguhan dari seorang prajurit yang nantinya akan berfungsi penuh sebagai benteng Negara. Suatu latihan fisik yang keras yang diberikan dalam 1 x 24 jam selama seminggu terkadang membuat kelelahan fisik bahkan tak hanya fisik saja tetapi juga kelelahan psikis. Karena hal itulah mental atau keadaan psikis prajurit haruslah mempunyai mental yang sehat dan kuat, sedangkan lingkungan disekitar mereka kurang mendukung seperti hukuman yang keras ketika sedikit saja melanggar pada yang diperintahkan, disinilah psikologi klinis mengajarkan para anggota tersebut mengenai bagaimana cara untuk mengorganisasi kesehatan mentalnya dengan menjaga dan mengelola mental mereka, bagaimana agar mereka tidak mudah terserang stress karena tekanan yang dialami selama seminggu penuh. Dari hasil wawancara dengan anggota militer Sersan Mayor Mustain yang telah menempuh pendidikan Tamtama, Bintara dan saat ini bertugas di Kodim 0819 Pasuruan mengatakan bahwa saat beliau menempuh pendidikan memang pendidikannya keras karena itu terkadang ketika latihan diselingi dengan yel-yel, menyanyi yang setidaknya dapat mengurangi ketegangan yang timbul saat latihan. Dan bahkan setiap seminggu sekali para prajurit diberikan suatu hiburan dan disana mereka dapat melepaskan ketegangan yang menumpuk selama seminggu pendidikan. Didalam surat kabar dilansir dikoran nasional “Sedikitnya 21 tentara AS dikirim ke Irak dan kembali ke negerinya melakukan bunuh diri tahun 2003 lalu. Beberapa diantaranya membunuh istri-istri mereka sebelum mereka bunuh diri. Akibatnya banyak tentara AS dievakuasi dari Irak karena masalah kesehatan mental”. Dari kutipan berita tersebut dapat dilihat bahwa banyak beberapa anggota militer dapat dengan mudah terkena gangguan kesehatan mental. Tak hanya itu saja bahkan banyak juga anggota militer yang mengalami Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD ). Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD ) merupakan kondisi yang muncul setelah pengalaman luar biasa yang mencekam, mengarikan, dan mengancam jiwa seseorang seperti bencana alam, kecelakaan hebat, kekerasan seksual bahkan perang. Gejala-gejala PTSD bisa berupa flash back ( perasaan seolah-olah mengalami kembali perasaan traumatic ), mimpi buruk, kacaunya ingatan, serta insomnia, startle reaction ( reaksi kaget yang berlebihan ), hypervigilance ( waspada berlebihan ). Dan penghindaran persisten dari pikiran-pikiran, perasaan, orang, tempat, atau apapun yang dapat membangkitkan ingatan akan peristiwa traumatic yang pernah dialami. Bahkan berdasarkan pengalaman Sersan Mayor Mustain ketika beliau menjalani penugasan didaerah konflik ada salah seorang kawan sekerjanya yang mengalami stress saat berada ditempat penugasan tersebut, dalam penugasan ke suatu daerah selalu

mendadak dan tidak dapat direncanakan sebelumnya. Sehingga psikologi klinis dalam pendidikannya mengajarkan bagaimana seseorang anggota militer untuk dapat menghindari ataupun mengurangi potensi timbulnya PTSD maupun stress saat penugasan tersebut. Psikologi klinis juga memberikan pengetahuan kepada para anggota militer untuk membantu mengetahui derajat stress di suatu daerah yang akan menjadi penempatan anggotanya. Sehingga dengan mengetahui bagaimana derajat stress didaerah tersebut para anggota militer tersebut mengetahui antisipasi serta intervensi apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi derajat stress di daerah tersebut. Seperti saat Murtain menjalankan penugasan didaerah Ternate yang terjadi ketegangan dan perselisihan antar etnis, saat penugasan didaerah tersebut beliau beserta para anggota militer yang juga dikirim ke daerah tersebut berusaha untuk mengatasi konflik yang terjadi dan melakukan beberapa antisipasi dengan jalan sebelumnya mereka mempelajari hal-hal apa saja baik mulai dari territorial sampai ke hal social yang terjadi sehingga mempermudah mereka untuk mengurangi derajat stress didaerah tersebut karena untuk mengurangi derajat stress tersebut karena tidak semua hal dapat diselesaikan hanya dengan kekerasan saja. Setelah melakukan crosscek langsung, memang psikologi klinis memberikan sumbangsih yang besar terhadap pendidikan kemiliteran, tetapi sumbangsih tersebut tidak langsung menjadi bahan ajar atau suatu teori seperti contoh psikologi militer tetapi merupakan tambahan atau selingan maupun aplikasi diantara pendidikan kemiliteran yang diterima para anggota militer tersebut, selingan yang dimaksud bukan berarti selingan yang sambil lalu, tetapi masih memberikan peran besar terhadap pendidikan yang ditempuh sehingga saat mereka terjun langsung ke lapangan masih dapat bermanfaat untuk membantu tugas yang mereka jalani. Melihat dari beberapa orientasi psikologi klinis, dalam kemiliteran pun psikologi klinis dapat menggunakan orientasi learning, psikologi klinis dengan orientasi learning ini umumnya bekerja untuk mendidik agar pihak yang dihadapi mempunyai ketrampilan perilaku baru ( Diantini : 2005 ). Tentara Nasional Indonesia yang merupakan instansi militer yang sebelumnya para anggotanya disiapkan untuk menjaga pertahanan Negara baik dari luar maupun dari dalam, bahkan bila suatu saat perang terjadi. Dan pastinya ke semua hal itu dapat mengorbankan nyawa mereka. Oleh karena itu sulit untuk menyiapkan agar seseorang tersebut dapat lebih siap bila suatu saat haruslah mengorbankan nyawa mereka sendiri. Dorongan-dorongan psikologis yang dapat memicu mereka untuk menjadi tentara yang siap bila harus mengorbankan nyawanya demi Negara. Pangkostrad pernah mengatakan bahwa kesejahteraan “prajurit merupakan latihan”, dorongan-dorongan bahwa kebanggaan merupakan apa yang disumbangkan kepada Negara, keberhasilan merupakan suatu kebanggaan dan kekalahan merupakan suatu yang memalukan, sehingga dorongan-dorongan yang mempengaruhi psikologis mereka yang dapat membuat perilaku baru dan membuat para anggota militer tersebut tidak ragu dan dapat mendorong mereka agar dapat berjuang membela Negara dan melakukan tugas mereka dengan siap sedia kapan pun dibutuhkan. Penugasan didaerah konflik maupun daerah yang telah mengalami bencana selalu membutuhkan suatu ketrampilan untuk menangani permasalahan-permasalahan yang timbul. Tentara Nasional Indonesia yang juga turun tangan untuk membantu meringankan beban rakyat Indonesia dan juga berperan sebagai kekuatan social haruslah dapat diterima oleh masyarakat. Permasalahanpermasalahan yang timbul didaerah tersebut tidaklah sealalu merupakan suatu masalah klasikal dari suatu daerah tetapi terkadang juga merupakan suatu masalah yang dialami tiap personal atau individu yang berada didaerah tersebut. Trauma-trauma, ketakutan-ketakutan, kegelisahan yang dialami oleh warga sipil daerah tersebut tidaklah diabaikan begitu saja, disinilah peran TNI sebagai kekuatan social berperan, sehingga pendidikan sebelumnya yang telah mereka peroleh haruslah dapat diterapkan. Pendekatan-pendekatan psikologis untuk dapat diterima oleh masyarakat harus mereka kuasai, menguasai informasi yang actual, serta mencermati apa saja yang terjadi seperti bagaimana warga didaerah tersebut bersosialisasi, karakter warga yang seperti apa didaerah tersebut, bagimana

pola pikir warga sekitar dan sebagainya. Ketrampilan perilaku baru sebagai orientasi learning dari psikologi klinis membentuk suatu kesadaran bagi para prajurit dalam mengaplikasikan ketrampilan mereka untuk melakukan pendekatan psikologis untuk meredakan kegelisahan, ketakutan warga sipil baik secara personal maupun secara kelompok. Tak hanya itu saja pendidikan untuk memperoleh kemenangan dengan mencapai target psikologis dan bagaimana mereka melakukan pendekatan secara psikologis untuk „membalikkan‟ hati masyarakat yang untuk kemudian mendukung operasi yang dilakukan oleh militer tersebut juga diberikan, karena tak semua hal dapat dilakukan dengan kekerasan yang cenderung menjadi stereotype dari para anggota militer. Oleh karena itu sebelumnya mereka telah diajarkan bagaimana pendekatanpendekatan tersebut dapat dilakukan. Pembinaan Komunikasi Kepemimpinan Sosial merupakan salah satu pembelajaran yang diberikan saat pendidikan berlangsung yang berisi mengenai bagaimana agar komunikasi dapat berjalan dan dapat melakukan pendekatan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya dengan mencapai target psikologis. Psikologi klinis tak hanya memberikan sumbangsih terhadap pendidikan kemiliteran di Tentara Nasional Indonesia tetapi juga pendidikan kemiliteran yang ada di Polisi Republik Indonesia sebelum Polri keluar dari militer tahun 2001. Pada tahun sebelum 2001 Polri masih menganut kemiliteran, dan dalam pendidikannya psikologi klinis juga memberikan sumbangsih yang besar terhadap pendidikan kemiliteran yang ada. Ajun Komisaris Polisi Suprihatin yang lulus dari pendidikan militer polisi pada tahun 1986 mengatakan bahwa ketika berada dalam pendidikan kemiliteran polisi saat itu diajarkan mengenai bagaimana melakukan pendekatan kemasyarakat melalui pendekatan psikologis agar dapat diterima oleh masyarakat, karena setelah lulus dari pendidikan memang seorang polisi akan diterjunkan langsung kedalam masyarakat dan siapkan untuk membantu masyarakat. Cara Memberikan Instruksi atau yang biasa disingkat CMI merupakan pembelajaran mengenai bagaimana melakukan pendekatan ke masyarakat agar masyarakat dapat mendukung dan mensukseskan program dari Polri. Sama seperti yang dikatakan oleh Brigadir Polisi Soni Widarwo yang lulus dari pendidikan Bintara tahun 1998 yang mengatakan bahwa teori untuk mendekatkan kepada masyarakat diajarkan dan juga praktek seperti berupa pidato ataupun sosialisasi ke masyarakat yang diajarkan ketika beliau berada di Pusat Pendidikan yang pendidikan tersebut merupakan dasrit atau dasar prajurit yang harus dikuasai. Pembelaan diri dari kesalahan yang dilakukan kerap kali ditunjukkan oleh pelaku tindak kejahatan, baik dengan penolakan, menyembunyikan fakta yang ada, bahkan sambil menunjukkan raut muka yang tidak bersalah kerap kali dilakukan, karena itulah bagaimana cara untuk meluluhkan ataupun melunturkan kekerasan hati pelaku tindak kejahatan harus dapat para polisi kuasai, sehingga sebelumnya ketika polisi menjalani pendidikan militer di Pusat Pendidikan diajarkan mengenai bagaimana cara untuk meluluhkan hati dan mematahkan kekerasan hati pelaku criminal secara psikologis. Seperti pengalaman Ajun Komisaris Polisi Suprihatin Kepala Polsek Pohjentrek Pasuruan, beliau tidak menggunakan kekerasan ketika harus berhadapan dengan pelaku criminal tetapi secara tegas dan lembut ia mengatakan berusaha untuk membantu mereka bila mereka mau mengakui kejahatannya padahal sebenarnya beliau hanya berusah meluluhkan hati secara psikologis agar pelaku criminal tersebut dapat mengakui kejahatan yang dilakukannya saja tanpa ada maksud untuk meringankan hukuman mereka. Sama juga halnya seperti yang dikatakan oleh Brigadir Polisi Soni Widarwo, beliau mengatakan bahwa sebelumnya ketika pendidikan beliau menerima teori mengenai bagaimana cara untuk meluluhkan dan mematahkan kekerasan hati pelaku criminal secara psikologis, dapat berupa dengan bercanda dan tidak melulu dengan kekerasan juga karena terkadang seseorang semakin tidak mau mengakui kejahatannya bila mendapat kekerasan pula, sehingga dengan bercanda maupun secara lembut bisa dapat membuat mereka mengakui kesalahannya. Pendidikan psikologi mengenai mengapa suatu kriminalitas timbul di masyarakat, serta hal-hal apa saja yang mempengaruhi timbulnya kriminalitas yang nantinya akan digunakan sebagai penyelidikan

dengan menganalisis dan meneliti sebab-sebab kriminalitas timbul atau secara psikologi biasanya disebut dengan psikologi forensik, tapi mungkin istilah ini belum cukup awam ditelinga. AFPHFKK salah satu pendidikan yang mengajarkan mengapa suatu kriminalitas timbul dan terjadi didalam masyarakat. Tak hanya mengajarkan mengapa suatu kriminalitas timbul tetapi juga mengenai intervensi apa yang harus dilakukan, seperti yang dikatakan oleh Brigadir Polisi Satu Bambang, polisi melakukan intervensi dengan melakukan operasi, patroli di suatu lokasi yang rawan terhadap tindak kriminalitas. Undercover atau yang secara awam disebut dengan penyamaran merupakan salah satu trik psikologi yang diajarkan dalam pendidikan, suatu trik yang dapat mempengaruhi, adaptasi serta mengelabui mata para pelaku kriminalitas dalam suatu gerbong criminal. Tak sekedar Undercover yang diajarkan tapi juga bagaimana cara mereka beradaptasi dengan gerbong bahkan markas kriminal tersebut tanpa harus terbongkar kedok asli polisi tersebut tetapi juga penyesuaian agar perkembangan pribadi mereka tidak terganggu dan terpengaruh dari adaptasi ataupun penyamaran yang dilakukan. Hal-hal diatas merupakan bentuk psikologi klinis dalam pendidikan kemiliteran baik di Angkatan Darat maupun di pendidikan Polisi sebelum tahun 2001 yang masih menganut pendidikan kemiliteran. Dan psikologi klinis juga masih memberikan sumbangsihnya berupa sesuatu yang menunjang dari kependidikan yang diperoleh para anggota militer. Assessment klinis dibutuhkan untuk proses pemeriksaan yang akan mengumpulkan data, serta menimbang data yang diperoleh yang nantinya akan digunakan untuk menarik kesimpulan. Fungsi assessment klinis disini adalah untuk mengambil keputusan, melihat gambaran dari seorang anggota militer , hingga menguji gangguan yang terjadi. Beberapa metode assessment yang disebutkan dalam diktat kuliah oleh Diantini Ida V ( 2005 : 4 ) yaitu interview, observasi, dokumentasi, riwayat hidup dan test. Yang pasti tentunya adalah tes psikologi sebelum mereka direkrut yang mengungkap kesehatan mental dari para calon anggota militer, karena seorang anggota militer haruslah mempunyai mental yang kuat dan sehat. Sersan Mayor Murtain mengatakan bahwa sebelum para Tentara ditugaskan ke suatu daerah maka sebelumnya dilakukan assessment klinis yang berupa metode wawancara dan test psikologis baik test yang bersifat obyektif maupun test proyektif, test proyektif yang sering digunakan yaitu test Wartegg. Dimana assessment klinis yang dilakukan adalah untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk pertimbangan dari kelayakan seorang prajurit mengemban tugas yang diberikan serta melihat seberapa jauh kesehatan mental dari seorang prajurit TNI tersebut yang setidaknya akan mencegah timbulnya stress di tempat penugasan tersebut. Tak hanya di militer Tentara saja, di Polri juga memberikan suatu tes psikologi ketika akan memberikan ijin untuk memperoleh dan menggunakan senjata, tak sembarang orang dapat menggunakan senjata dibutuhkan suatu mental yang sehat sehingga seseorang yang membawa senjata tidak dengan seenaknya dan tanpa pertimbangan menggunakannya karena itulah suatu tes psikologi sangatlah dibutuhkan. Dan bila gangguan mental terjadi pada prajurit saat melakukan penugasan maka psikologi klinis membantu prajurit tersebut untuk melakukan penanganan yang tepat melalui beberapa sub dinas yang berada di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, sehingga gangguan-gangguan sedari awal sudah ditangani agar tidak menjadi gangguan serius yang menghambat kerja dari prajurit tersebut. Tak hanya saat melakukan penugasan tetapi juga sampai masalah pribadi yang memungkinkan memunculkan gangguan-gangguan yang nantinya akan menghambat kerja prajurit. Dengan melihat penting dan besarnya sumbangsih psikologi dalam dunia kemiliteran sehingga psikologi telah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari dunia kemiliteran bahkan psikologi telah menjadi sub dinas di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau disebut Dispsiad ( Dinas Psikologi TNI Angkatan Darat ) yang telah berdiri sejak tahun 1950 dan kini telah berusia 56 tahun, dimana bertugas mengawasi memantau perkembangan jiwa prajurit, mulai dari perekrutan prajurit, pendidikan dan latihan, pemilihan prajurit berjenjang hingga kepada proses pemilihan korps. Mungkin hanya sebagian ini yang dapat penulis ungkapkan mengenai peran psikologi klinis didalam

dunia pendidikan kemiliteran dan sebenarnya mungkin masih banyak lagi peran psikologi klinis didalam dunia kemiliteran baik dalam pendidikan, dalam lapangan maupun dalam lembaga kemiliteran di Indonesia baik bagi personil yang ada didalamnya maupun didalam komunitas lembaga.

http://eresshevarah.blogspot.com/2009/01/psikologi-klinis-dengan-pendidikan.html

Beberapapsikolog militer membantu untuk memanfaatkan kemampuan yang rendah dalammerekrut dan merehabilitasi anggota layanan kecanduan narkoba dan terluka.Mereka bertanggung jawab atas pengujian obat dan perawatan psikologis untuk masalah gaya hidup, seperti alkohol dan penyalahgunaan zat. Di zaman modern,nasihat psikolog militer didengar dan dibawa lebih serius dalam pertimbanganuntuk kebijakan nasional daripada sebelumnya.Sekarang banyak psikolog lebih dipekerjakan oleh Departemen PertahananAmerika Serikat dibandingkan dengan organisasi lain di dunia. Karenaperampingan militer pada 1990-an, bagaimanapun, telah terjadi penurunan yangcukup besardalam penelitian psikologis dan dukungan dalam angkatan bersenjata. 3. Manfaat Psikologi Dalam Militer Melalui materi diatas didapatkan beberapa manfaat psikologi bagi militeryaitu pada pengadaan test fisik / bakat dan minat serta kepribadian. Test fisik bermanfaat guna mendapatkan caloncalon polisi yang memiliki jasmani yangbaik contohnya tinggi atau berat badan ideal atau gigi yang baik. Sedangkan testbakat dan minat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan paracalon polisi tersebut. Jadi test psikologi sangat bermanfaat untuk mendapatkanpolisi yang berkepribadian baik, berdisiplin tinggi sehingga dapat melayani danmengayomi masyarakat.Manfaat psikologi pada saat test seleksi adalah penggunaan test psikologi,misalnya test bakat, minat serta kepribadian secara menyeluruh. Test kepribadiandigunakan untuk mendapatkan orang-orang militer yang memiliki kepribadianyang kuat menghadapi tekanan-tekanan dari luar sehingga tidak mengalami gangguan-gangguan mental seperti yang dialami oleh tentara-tentara AmerikaSerikat.Manfaat psikologi yang kedua adalah untuk pemberian terapi psikis bagipara tentara yang mengalami gangguan psikis akibat beban tekanan kerja. Sepertiyang dialami oleh para tentara Amerika yang mengalami gangguan pasca perangselain itu psikologi bermanfaat sebagai pengontrol keadaan psikis para tentara,psikolog sangat dibutuhkan sebagai konsultan para tentara psikolog bisamemberikan saran atau advis bagi para tentara untuk membantu memecahkanmasalahmasalahTes psikologi itu sangat diperlukan untuk seleksi alih golongan daritamtama ke bintang maupun seleksi perizinan calon polisi baru. Ada pula manfaatdari tes tersebut (test psikologi) meliputi tes kepribadian dan tes bakat minat. Teskepribadian bermanfaat untuk mendapatkan calon polisi yang mempunyaikepribadian yang baik (tegas dan disiplin). Kemudian tes bakat minat jugamempunyai manfaat yaitu bisa mengetahui seberapa besar kemampuan calonpolisi tersebut. Tidak hanya tes kepribadian da ntes bakat minat saja tapi masihbanyak tes lagi yang harus dilakukan antara lain tes fisik, TPS kesehatan, tesakademik.Jadi karena kita simpulkan bahwa tes psikologi sangat bermanfaat untuk mendapatkan seorang polisi yang mempunyai kepribadian baik, mempunyai rasadisiplin yang tinggi sehingga dapat melayani dan mengayomi masyarakat semua.Sehingga masyarakat dapat percaya dengan kinerja kepolisian dan masyarakattidak perlu mau lagi dengan kinerja kepolisian. 4. Dinas Psikologi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Dinas Psikologi di lingkunganTNI ADmerupakan kelanjutan dari Leger Psychologiesche Dienst (LPD, Dinas Psikologi Tentara KNIL -red). Biasa disebutdengan Dispsiad, bertugas untuk melakukan kegiatanpsikologisdilingkunganTNI AD, diantaranya terlibat dalam seleksi calon anggota,

pengembangankarierdankepribadianpersonel anggota, evaluasi kelayakananggota secara psikologis, mengembangkan penelitian yang berkaitan antarapsikologi dan ketentaraan baik di bidang socialkemasyarakatan,strategiperang, perencanaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->