PENGERTIAN INTELEGENSI

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Wangmuba, Materi Psikologi, Psikologi Umum, Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuankemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi. (sumber: iqeq.web.id)

blogspot. Dari batasan yang dikemukakan di atas. d. b. berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. minat dan sebagainya juga mempengaruhi intelegensi seseorang). Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru. fantasi. c. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. Oleh karena itu banyak hal atau faktor yang harus kita perhatikan supaya intelegensi yang kita miliki bisa meningkat.html) Claparde dan Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah. penasaran. Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Berbagai macam tes telah dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang.intelegensi menurut “Claparde dan Stern” adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. K.com/2008/02/intelegensi. Definisinya mengenai intelegensi mula-mula sebagai kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya. Intelegensi itu ialah faktor total berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan. pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemapuan yang dibawa sejak lahir saja. perhatian. (http://fadliyanur. dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu. dapat kita ketahui bahwa: a. David Wechster (1986). Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Intelegensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung melalui “kelakuan intelegensinya”. yang penting faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan. Ciri-ciri intelegensi yaitu : .

Jadi istilah inteligensi menurut para ahli diantaranya menurut Wechler (1958) mermuskaan intelligensi sebagai "keseluruhan ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauandan perasaan. dan sebagainya. terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan. melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. istilah intellecct berarti antara lain : (1) Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir . (bandingkan dengan intelligence. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional (intelegensi dapat diamati secara langsung). mengamati atau mengerti. Jones and Conrad (Loree. menimbang. Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini. kecakapan untuk mengamati hubunganhubungan. 1970 : 78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan Inteligensi. dan (3) Kecakapan. para ahli mempunyai pengertian yang beragam. yang dapat di tafsirkan anatara lain sebagai berikut : . Dengan menggunakan hasil pengukuran test inteligensi yang mencakup general (Infomation and Verbal Analogies. Menurut English & English dalam bukunya " A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms" . terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir. Intelligence =intellect). 2) Kecakapan mental yang besar. istilah intellect berarti: 1) kecakapan untuk berpikir. Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya. dan 3) Pikiran atau inteligensi. (2) Suatu rumpun nama untuk proses kognitif. yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test-retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standfort revision benet test). 2. dan memahami). Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan. menurut kamus WebssterNew Worid Dictionary of the American Language.sangat intellegence.1. Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.

dan 2). seperti pada usia 12 tahun walaupun secara intelektual remaja itu termasuk anak berbakat atau pintar. tetapi tidak seterampil remaja yang lebih tua usianya. Ditinjau dari perkembangan kogninif menurut piaget. secara mental telah dapat berfikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak dengan kata lain. Sebab kedua hal itu pada hakekatnya tidak dapat di pisah-pisahkandengan tajam. Perkembangan lobe frontal ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan intelektual remaja. yang berfungsi sebagai kegiatan kognitif tingkat tinggi. Adapun pembahasan mengenai inteligensi itu secara teknis pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : 1). Sistem syaraf yang memproses infprmasi berkembang secara cepat pada usia ini.1). maksudnya remaja tersebut mampu memecahkan masalah secara benar. Pembahasan mengenai penyelidikan inteligensi itu Hal yang sama lebih bersifat teoritis-konsepsional. atau mengambil keputusan. Namun belum bijaksana. sedangkan remaja mengartikannya sesuatu yang abstrak. yaitu merumuskan perencanaan strategis. 2). Lobe frontal ini terus berkembang terus sampai usia 20 tahun atau lebih. Dalam pada itu harus diingat bahwa penggolongan seperti yang dikemukakan itu hanyalah bersifat teknis bukan prinsip. masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Laju perkembangan Inteligensi pada masa remaja-remaja berlangsung sangat pesat. Pada usia 16 tahun berat otak sudah menyamai orang dewasa. 137-138). Yang menunjukkan wawasan atau perspektif yang luas terhadap masalah tersebut (Sigelman & Shaffer. Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N. Pada masa remaja terjadi reorganisasi lingkaran syarat. Pembahasan mengenai sifat hakekat inteligensi. serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah dari pada berfikir kongkrit. anak mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim. sadang hal yang kedua lebih bersifat teknis metodologisnya. Remaja. lobe frontal. Sementara proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaannya dari mulai usia 12 – 20 tahun. berfikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak. 1995) Pada periode kongkrit. yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga masyarakat yang mempunyai interes remaja. .

Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya. Bagi remaja. 1.S : 2004 : 125).S. misalnya . Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri.Suriasumantri. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian diri sendiri. Karenna itu pengukuran mengenai inteligensi juga dapat di tempuh dengan cara mengukur daya-daya jiw khusus itu. karena hal tersebut telah di bahas oleh ahli-ahli filsafat dan kemudian ahli-ahli biologi sebelum psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ahli. Persoalannya sendiri sudah tua sekali. terutama disekitar tahun-tahun 1900-1925. daya mereproduksi.S. belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. (J. Konsep-konsep yang timbul dari keyakinan. terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh. Situasi ini (yang diakibatkan kemampuan abstraksi) akibatnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa. Kemampuan abstrak akan berperan dalam perkembanangan kepribadiannya. pilihan pekerjaan. lebih dari padaitu psikologi itu sendiri. (J. 2004 : 122).Inti persoalan daripada sifat hakikat inteligensi itu dirumuskan dengan pertanyaan : Apakah inteligensa itu ? Pertanyaan ini justru dalam bentuknya yang demikian itu. dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. B. Hubungan Intelek Dengan Tingkah Laku Kemampuan berfikir abstrak menunjukka perhatian seseorang terhadap kejadian dan peristiwa yang tidak kongkrit. Kemampuan abstraksi mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. Jadi inteligensi di beri defenisi sebagai taraf umum yang mewakili daya-dayakhusus. Menurut konsepsi inteligensi ini adalah persatuan (kumpulan yang di persatukan) daripada dayadaya jiwa yang khusus. corak perilaku pribadinya dihari depan. Cita-cita dan idialisme yang baik. menjadi obyek diskusi yang hangat bagi banyak ahli-ahli psikologi. . Disamping itu organ sentris masih terlihat dalam pikirannya. bahwa apa yang di selidiki (di test) dengan testinteligensi itu adalah inteligensi umum. pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh didepannya. 2. misalnya daya mengamati. dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan. daya berfikir dan sebagainya. corak hidup bermasyarakat.

Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif disamping deduktif. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Sifat deduktif hipotesis. seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. 1986 : 475475) Pada usia remaja ini anak sudah dapat berfikir abstrak dan hitotek. Pada akhirnya pengaruh egosentrisitas pada remaja sudah sedemikian kecilnya. maka egosentrisme berkurang. Dalam menyelesaikan suatu masalah. Pada masa awal remaja.Berhubungan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu. kira-kira pada usia 12 tahun. C. ia dapat membuat strategi penyelesaian. disamping hal yang nyata (riil) (Gliedmen. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. 2. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja Intelegensi pada remaja tidak mudah diukur karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Sifat Deduktif Hipotesis 2. yang juga disebut proporsiproporsi. Pada umumnya tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat.Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain. Pada masa ini remaja telah berfikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin. sehingga berarti remaja sudah dapat berfikir abstrak dengan mengikut sertakan pandangan dan pendapat orang lain. selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. 1. Kemudian mencari hubungan antra proporsi Yang berbeda-beda tadi. Anak yang berpikir operasional formal. Dalam berfikir operasional formal. Oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan. berfikir opersional juga berfikir kombinatoris. lebih dahulu Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi . 3. 1. anak berada pada masa yang disebut " Masa oerasi formal" (berfikir abstrak). Berpikir Operasional juga Berpikir Kombinatoris Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara melakukan analis. Yang menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. yaitu . setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting.

Menurut Andi Mappiare (1982: 80) hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain: 1) Bertabahnya informasi yang disimpan(dalam otak)seseorang sehingga ia mampu berpikr reflektif. Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan intelegendi. yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan intelegensi seseorang tidak dapat diukur. dan menunjang keberanian anak memecahkan masalahdan menarik kesimpulan yang baru dan benar. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal. kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi perkembangan Intelek Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi/kemampuan berpikir remaja. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan- . misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan. secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empiris. mak ia juga akan segera dapat memproduksi. Secara teoritik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin. yakni: 1) Fungsi intelegensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis 2) Berkembangnya usia menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi baru. Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir. 2) Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang bisa berpikir proporsional. 3) Adanya kebebasan berpikir.Bila ia mencapai penyelesaian yang betul. pergi ke sekolah tetapi tidak adanya pasilitas yang dibutuhka. ada yang berpandanganbahwa adalah keliru jika IQ dianggap bisa ditingkatkan.berubah warna. sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif. maka remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak. 4.

Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan. IQ mereka berkorelasi sekitar 0. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah : Faktor bawaan atau keturunan Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0. sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient. padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. dan hanya 0. Rata-rataa tingkat IQ asal mereka adalah da atas 110. menunjukan perbedaan kemajuan atau ”gained”. Selain gizi.40 – 0. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.10 – 0. IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.90.50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya. korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi.Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada pra-sekolah)adalah 5. adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-siswa yng tidak memasuki prasekolah sebelumnya.50. rangsanganrangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.20 dengan ayah dan ibu angkatnya. sekitar 0. Faktor lingkungan Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir. ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal. yaitu menunjukan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai I hanya sebesar 0. Inteligensi dan IQ Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ. Dengan demikian. . Sedangkan di antara 2 anak kembar.5 skala IQ perseorang siswa. IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi.4 skala IQ per seorang siswa. Merka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar. a. Peranan Pengalaman dari Sekolah Terhadap Intelegensi Sejauh mana pengalaman meningkatkan intelegensi anak?Penelitian tentang pengaruh taman indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah. dalam rata-rat IQ mereka lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah.perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.

terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anakanak sampai usia 13 tahun. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik. Inteligensi dan Bakat Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Alfred Binet dan Theodor Simon. Pengukuran Inteligensi Pada tahun 1904. tidak terjadi perkembangan lagi. kecakapan. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test . Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa. Di samping alat-alat tes di atas. bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan. dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911. Seorang tokoh dalam bidang ini. Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalanpersoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis).Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Lewis Terman. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelaskelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor). tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi. Dalam kemampuan yang umum ini. yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini. Tahun 1916. maka akan diperoleh skor 1.

Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen. hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Inteligensi dan Kreativitas Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif.html#ixzz25mIgtLuy Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial . Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. tapi buktibukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Sumber: Intelegensi dan IQ | Pendidikan http://keluargacemara. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE).com/pendidikan/pendidikananak/intelegensi-dan-iq. J. yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey. tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen. tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula.dan Interest Inventory. Meskipun demikian. P. masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Namun semakin tinggi skor IQ. Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. Sebaliknya. Sampai pada skor IQ tertentu. ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas. Tetapi lebih tinggi lagi. yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful