P. 1
PENGERTIAN INTELEGENSI

PENGERTIAN INTELEGENSI

|Views: 290|Likes:
Published by Mamang Warnet

More info:

Published by: Mamang Warnet on Sep 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2015

pdf

text

original

PENGERTIAN INTELEGENSI

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Wangmuba, Materi Psikologi, Psikologi Umum, Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuankemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi. (sumber: iqeq.web.id)

yang penting faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan. c. berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. dapat kita ketahui bahwa: a. Intelegensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung melalui “kelakuan intelegensinya”. (http://fadliyanur. Dari batasan yang dikemukakan di atas.html) Claparde dan Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. K. Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak.intelegensi menurut “Claparde dan Stern” adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. perhatian. Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemapuan yang dibawa sejak lahir saja. minat dan sebagainya juga mempengaruhi intelegensi seseorang). fantasi. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru.blogspot. d. Oleh karena itu banyak hal atau faktor yang harus kita perhatikan supaya intelegensi yang kita miliki bisa meningkat. Intelegensi itu ialah faktor total berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan. David Wechster (1986). b. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. Berbagai macam tes telah dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang.com/2008/02/intelegensi. dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu. Definisinya mengenai intelegensi mula-mula sebagai kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya. penasaran. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru. Ciri-ciri intelegensi yaitu : .

para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Jones and Conrad (Loree. Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya. 1970 : 78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan Inteligensi. melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan. istilah intellecct berarti antara lain : (1) Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir . yang dapat di tafsirkan anatara lain sebagai berikut : . Dengan menggunakan hasil pengukuran test inteligensi yang mencakup general (Infomation and Verbal Analogies. (2) Suatu rumpun nama untuk proses kognitif. menimbang. 2) Kecakapan mental yang besar.1. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauandan perasaan. dan 3) Pikiran atau inteligensi. dan sebagainya. Menurut English & English dalam bukunya " A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms" . Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini. kecakapan untuk mengamati hubunganhubungan. mengamati atau mengerti. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional (intelegensi dapat diamati secara langsung). menurut kamus WebssterNew Worid Dictionary of the American Language. dan (3) Kecakapan. yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test-retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standfort revision benet test). 2. Intelligence =intellect). Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya. istilah intellect berarti: 1) kecakapan untuk berpikir. (bandingkan dengan intelligence. terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan. terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir.sangat intellegence. dan memahami). Jadi istilah inteligensi menurut para ahli diantaranya menurut Wechler (1958) mermuskaan intelligensi sebagai "keseluruhan ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.

yaitu merumuskan perencanaan strategis. seperti pada usia 12 tahun walaupun secara intelektual remaja itu termasuk anak berbakat atau pintar. maksudnya remaja tersebut mampu memecahkan masalah secara benar. 137-138). berfikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak. Sistem syaraf yang memproses infprmasi berkembang secara cepat pada usia ini. sedangkan remaja mengartikannya sesuatu yang abstrak. lobe frontal. . atau mengambil keputusan. Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N. Pembahasan mengenai sifat hakekat inteligensi. Dalam pada itu harus diingat bahwa penggolongan seperti yang dikemukakan itu hanyalah bersifat teknis bukan prinsip. serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah dari pada berfikir kongkrit. 1995) Pada periode kongkrit. Perkembangan lobe frontal ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan intelektual remaja. sadang hal yang kedua lebih bersifat teknis metodologisnya. Ditinjau dari perkembangan kogninif menurut piaget. Pembahasan mengenai penyelidikan inteligensi itu Hal yang sama lebih bersifat teoritis-konsepsional. Laju perkembangan Inteligensi pada masa remaja-remaja berlangsung sangat pesat. Pada usia 16 tahun berat otak sudah menyamai orang dewasa. 2). anak mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim.1). Adapun pembahasan mengenai inteligensi itu secara teknis pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : 1). secara mental telah dapat berfikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak dengan kata lain. yang berfungsi sebagai kegiatan kognitif tingkat tinggi. Yang menunjukkan wawasan atau perspektif yang luas terhadap masalah tersebut (Sigelman & Shaffer. yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga masyarakat yang mempunyai interes remaja. masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Lobe frontal ini terus berkembang terus sampai usia 20 tahun atau lebih. Sementara proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaannya dari mulai usia 12 – 20 tahun. Sebab kedua hal itu pada hakekatnya tidak dapat di pisah-pisahkandengan tajam. Namun belum bijaksana. Pada masa remaja terjadi reorganisasi lingkaran syarat. dan 2). Remaja. tetapi tidak seterampil remaja yang lebih tua usianya.

bahwa apa yang di selidiki (di test) dengan testinteligensi itu adalah inteligensi umum. karena hal tersebut telah di bahas oleh ahli-ahli filsafat dan kemudian ahli-ahli biologi sebelum psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ahli. daya berfikir dan sebagainya. dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan. 1. belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. terutama disekitar tahun-tahun 1900-1925. misalnya daya mengamati. Konsep-konsep yang timbul dari keyakinan. pilihan pekerjaan. Situasi ini (yang diakibatkan kemampuan abstraksi) akibatnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa. (J. 2. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya. Karenna itu pengukuran mengenai inteligensi juga dapat di tempuh dengan cara mengukur daya-daya jiw khusus itu. pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh didepannya. Cita-cita dan idialisme yang baik.Suriasumantri. (J. Persoalannya sendiri sudah tua sekali. misalnya .S. lebih dari padaitu psikologi itu sendiri. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian diri sendiri. Bagi remaja. daya mereproduksi. corak hidup bermasyarakat. corak perilaku pribadinya dihari depan.Inti persoalan daripada sifat hakikat inteligensi itu dirumuskan dengan pertanyaan : Apakah inteligensa itu ? Pertanyaan ini justru dalam bentuknya yang demikian itu. Hubungan Intelek Dengan Tingkah Laku Kemampuan berfikir abstrak menunjukka perhatian seseorang terhadap kejadian dan peristiwa yang tidak kongkrit. Disamping itu organ sentris masih terlihat dalam pikirannya. B.S. Kemampuan abstraksi mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. 2004 : 122). . terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh. dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstrak akan berperan dalam perkembanangan kepribadiannya. Jadi inteligensi di beri defenisi sebagai taraf umum yang mewakili daya-dayakhusus. menjadi obyek diskusi yang hangat bagi banyak ahli-ahli psikologi. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri. Menurut konsepsi inteligensi ini adalah persatuan (kumpulan yang di persatukan) daripada dayadaya jiwa yang khusus.S : 2004 : 125).

Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. yang juga disebut proporsiproporsi. Dalam berfikir operasional formal. yaitu .Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain. setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. C. ia dapat membuat strategi penyelesaian. Pada umumnya tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat. Anak yang berpikir operasional formal. 1. Pada masa awal remaja. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif disamping deduktif. berfikir opersional juga berfikir kombinatoris.Berhubungan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional. seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. 1. Sifat Deduktif Hipotesis 2. Pada masa ini remaja telah berfikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin. Sifat deduktif hipotesis. Dalam menyelesaikan suatu masalah. Berpikir Operasional juga Berpikir Kombinatoris Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara melakukan analis. kira-kira pada usia 12 tahun. Pada akhirnya pengaruh egosentrisitas pada remaja sudah sedemikian kecilnya. sehingga berarti remaja sudah dapat berfikir abstrak dengan mengikut sertakan pandangan dan pendapat orang lain. maka egosentrisme berkurang. anak berada pada masa yang disebut " Masa oerasi formal" (berfikir abstrak). Kemudian mencari hubungan antra proporsi Yang berbeda-beda tadi. Oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan. 3. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja Intelegensi pada remaja tidak mudah diukur karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. disamping hal yang nyata (riil) (Gliedmen. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu. Yang menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. lebih dahulu Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi . 1986 : 475475) Pada usia remaja ini anak sudah dapat berfikir abstrak dan hitotek. 2.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi perkembangan Intelek Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi/kemampuan berpikir remaja. misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan. yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. dan menunjang keberanian anak memecahkan masalahdan menarik kesimpulan yang baru dan benar. 3) Adanya kebebasan berpikir. Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan intelegensi seseorang tidak dapat diukur.Bila ia mencapai penyelesaian yang betul.menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal. ada yang berpandanganbahwa adalah keliru jika IQ dianggap bisa ditingkatkan. maka remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak. 4. Secara teoritik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin. yakni: 1) Fungsi intelegensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis 2) Berkembangnya usia menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi baru. mak ia juga akan segera dapat memproduksi. Menurut Andi Mappiare (1982: 80) hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain: 1) Bertabahnya informasi yang disimpan(dalam otak)seseorang sehingga ia mampu berpikr reflektif. kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan. Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan intelegendi. secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empiris. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini. pergi ke sekolah tetapi tidak adanya pasilitas yang dibutuhka. Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir.berubah warna. sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif. 2) Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang bisa berpikir proporsional. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan- .

dalam rata-rat IQ mereka lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. Faktor lingkungan Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir. IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal. yaitu menunjukan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai I hanya sebesar 0. Peranan Pengalaman dari Sekolah Terhadap Intelegensi Sejauh mana pengalaman meningkatkan intelegensi anak?Penelitian tentang pengaruh taman indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah : Faktor bawaan atau keturunan Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0. IQ mereka berkorelasi sekitar 0. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. dan hanya 0. Sedangkan di antara 2 anak kembar. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Rata-rataa tingkat IQ asal mereka adalah da atas 110. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-siswa yng tidak memasuki prasekolah sebelumnya.40 – 0.4 skala IQ per seorang siswa. rangsanganrangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi.90.10 – 0. .5 skala IQ perseorang siswa.Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada pra-sekolah)adalah 5.50. Merka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar. Dengan demikian. menunjukan perbedaan kemajuan atau ”gained”. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan. sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient. ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. sekitar 0. Selain gizi. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah.perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional. a. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi.50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya. Inteligensi dan IQ Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ.

yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911. Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Seorang tokoh dalam bidang ini. tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor). Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Pengukuran Inteligensi Pada tahun 1904. maka akan diperoleh skor 1. bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini. Dalam kemampuan yang umum ini. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anakanak sampai usia 13 tahun. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan. sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi. tidak terjadi perkembangan lagi. Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelaskelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). kecakapan. Lewis Terman. Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inteligensi dan Bakat Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test . Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalanpersoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis).Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Di samping alat-alat tes di atas. dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Tahun 1916. Alfred Binet dan Theodor Simon.

dan Interest Inventory. Sampai pada skor IQ tertentu. yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. P. Sumber: Intelegensi dan IQ | Pendidikan http://keluargacemara. Inteligensi dan Kreativitas Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Sebaliknya. yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. J. masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Tetapi lebih tinggi lagi. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen. hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula.com/pendidikan/pendidikananak/intelegensi-dan-iq. Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. Meskipun demikian. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi. tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen. Namun semakin tinggi skor IQ. ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.html#ixzz25mIgtLuy Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial . tapi buktibukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->